Pendekar Patung Emas Jilid 34

 
Jilid 34

“Kalau begitu kita harus menawannya secepat mungkin, dia sudah memperkosa dan membunuh orang jikalau dibicarakan dari dosanya ini kita boleh membasminya terlebih dahulu tanpa menanti pertemuan puncak para jago diatas gunung Hoa San tahun depan”

Wie Ci To termenung berpikir sejenak akhirnya dengan tegasnya dia mengangguk.

“Baiklah, kau tidurlah terlebih dulu,” ujarnya kemudian. “Loohu sekarang juga akan pergi menemui Nyio Cung-cu dan menceritakan seluruh peristiwa ini kepadanya”

Selesai berkata dia segera mengambil mantelnya dan turun dari atas pembaringan untuk pergi dari dalam kamar.

Dengan perlahan Ti Then menghembuskan napas lega, teka teki yang menyelimuti hatinya selama beberapa bulan ini boleh dikata ini hari sudah terpecahkan, tidak terasa diam2 dia sudah memperingati diri sendiri.

Seorang manusia yang benar2 sejati tidaklah seharusnya berbuat kejahatan seperti Cuo It Sian ini sebetulnya dia adalah seorang yang suci dan berbudi, tetapi dikarenakan menuruti hawa napsu didalam hatinya sehingga melakukan pekerjaan yang begitu memalukan bahkan setelah peristiwa itu dia tidak mempunyai keberanian untuk menebus dosanya, akhirnya semakin terjerumus kedalam lembah kehinaan yang lebih mendalam sehingga tidak dapat terhindar lagi dia harus menebus dosa itu hal ini sungguh menakutkan sekali ....

Selanjutnya dia memikirkan dirinya sendiri, teringat dirinya yang diperintahkan oleh Majikan Patung Emas untuk memperisteri Wie Lian In maka keadaannya pada saat itu mirip sekali dengan keadaan dari Cuo It Sian yang sudah memperkosa perempuan itu, untuk berpaling pun sudah terlambat !

Bolehkah dirinya kawin dengan Wie Lian In? Tidak boleh!!!

Tetapi majikan patung emas sudah menerangkan dengan begitu jelasnya, bilamana dirinya tidak mau mendengarkan kembali perintahnya untuk memperistri Wie-Lian In dan bantu dia mencapai pada tujuannya maka terpaksa dia akan melakukan satu tindakan "Kekerasan". Tindakan " Kekerasannya " itu sudah tentu hendak turun tangan membinasakan Wie Ci To serta Wie Lian In, dengan kepandaian silatnya yang begitu dahsyat dan sempurna untuk membinasakan Wie Ci To boleh dikata satu pekerjaan yang amat mudah sekali.

Kalau begitu, jikalau dia mau mengikuti perintahnya dan memperistri Wie Lian In bukankah hal ini sama saja dengan telah menolong Wie Ci To dari kematian, tetapi persoaiannya terletak setelah dia kawin dengan Wie Lian In ... .

Semakin berpikir semakin bingung dan semakin mangkel, selama satu malaman dia tidak dapat memejamkan matanya barang sekejappun.

XXXXX

Hari sudah terang . .

Dengan wajah yang sangat terharu Nyio Sam Pak bersama dengan Wie Ci To berjalan masuk kedalam kamar Ti Then,

Setelah duduk di dalam kamar dia baru menghela napas panjang dan ujarnya,

“Ti Kiauw tauw, tempat terkuburnya jenasah muridku apakah kau masih bisa menemukannya ?”

“Sudah tentu bisa” sahut Ti Then mengangguk- “Sekalipun boanpwee tidak tahu nama dari tempat pegunungan yang amat sunyi tersebut tetapi dengan amat mudahnya boanpwee bisa menemukannya kembali.”

Titik2 air mata mulai mengucur keluar membasahi wajahnya, kemudian sambil gelengkan kepalanya dia menghela napas panjang,

“Tidak kusangka Cuo It Sian sebetulnya adalah seorang manusia yang berhati begitu kejam. tidak aneh kalau muridku sampai kini belum kembali juga, kiranya dia sudah menemui bencana.”

“Karena dia sudah membinasakan Cu Kiam Loojien didadalam hatinya dia baru ambil keputusan untuk membereskan sekalian muridmu karena muridmu bilang mau pergi kegunung Cun San mencari Cu Kiam Loojien untuk mengambil pedang, sedangkan tempat itunya amat dekat sekali dengan gunung Cun San apalagi ditengah malam bisa pula dia takut setelah muridmu menemukan mayat dari Cu Kiam Loojin lantas menaruh curiga dialah pembunuhnya, karena itu tanpa berhenti lagi dia menusuk mati sekalian muridmu,” kata Ti Then.

“Sungguh kejam, terlalu kejam!” maki Nyio Sam Pak dengan amat gusarnya.

“Kali ini orang yang pergi mengundang dia datang kemari adalah putra sulung dari Nyio cungcu atau putra yang kedua ?” tanya Wie Ci To tiba2.

Air muka Nyio Sam Pak seketika itu juga berubah sangat hebat. “Putra sulung loolap Si Ce.” sahutnya sambil mendongakkan

kepalanya. “Maksud Wie Poocu . . . kemungkinan dia bisa turun tangan membinasakan putraku ?”

“Loohu rasa tidak mungkin” sahut Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya. “Sekalipun dia menaruh curiga kalau undangan Nyio heng kepadanya untuk mengunjungi perkampungan Thiat Kiam San Cung adalah bertujuan untuk membalas dendam atas kematian dari muridmu dia pun tidak akan berani turun tangan untuk sekalian membunuh mati putra dari Nyio heng karena sekalipun dia bunuh putramu juga tidak ada gunanya.”

Mendengar perkataan tersebut Nyio Sam Pak baru merasa rada lega.

"Putraku sudah ada tiga, empat hari lamanya meninggalkan perkampungan, sekali pun mengirim orang untuk suruh dia pulang juga tidak bakal kecandak" ujarnya perlahan.

"Kalau begitu kitapun terpaksa harus menggunakan siasat melawan siasat seperti apa yang aku orang She Wie katakan kemarin malam . . . menanti saja kedatangannya!" Sahut Wie Ci To kemudian. "Bilamana dia datang juga untuk memenuhi undangan mungkin setengah bulan kemudian baru bisa tiba ditempat ini" ujar Nyio Sam Pak lagi sambil menggigit kencang bibirnya. "Loolap cuma takut dia orang tidak berani datang untuk memenuhi undangan".

"Kalau begitu kita tunggu dua puluh hari dulu disini bilamana dia tidak datang juga maka kita ber-sama2 pergi ke kota Tiong Cing Hu untuk mengunjungi diri nya".

Nyio Sam Pak segera mengangguk.

"Sewaktu dia tiba di perkampungas Thiat Kiam San Cung waktu itu janganlah sekali-kali membiarkan diapun tahu kalau kita ada didalam perkampungan "Tukas Ti Then pula. "Maka itu Nyio Loocianpwee harus baik2 memberi pesan wanti2 sama orang2 perkampungan agar semuanya baik2 menjaga rahasia ini"

“Soal ini loolap paham” sahut Nyio Sam Pak mengangguk.

Demikianlah mulai hari itu Wie Ci To serta Ti Then pun tinggal didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung.

Didalam sekejap saja sepuluh hari lewat dengan cepatnya . .. sepasang mata serta kedua tempat luka pedang ditangan Ti Then pun sudah sembuh seperti sedia kala, dikarenakan Nyio Sam Pak menaruh rasa terima kasih atas bantuan mereka membasmi Si iblis bungkuk Leng Hu Ih serta anak buah-nya. setiap hari tentu dengan masakan yang paling lezat dia menjamu Wie Ci To berdua, karena itulah sekalipun sewaktu luka Ti Then sudah kehilangan banyak darah tetapi saat ini boleh dikata sudah sembuh kembali seperti sedia kala.

Hari itu putra kedua dari Nyio Sam Pak, Nyio Si Jien sudah kembali kedalam perkampungan dengan membawa dua orang jagoan kelas satu dari Bu lim merekapun merupakan kawan akrab dari Nyio Sam Pak, yang satu adalah Im Si Tiauw Ong atau si kakek tukang pancing Shia Si Yuen sedangkan yang lain adalah toosu dari Bu-tong pay Lam Yang Cu. Setelah mereka meadengar penjelasan dari Nyio Sam Pak dan mengetahui berkat bantuan dari Pek Kiam-Pocu Wie Ci To kawanan iblis bungkuk Leng Hu Ih berhasil dibasmi maka mereka berdua cuma tinggal satu hari saja didalam perkampungan kemudian pada hari kedua pamit diri untuk kembali ketempat asalnya.

Didalam sekejap mata empat hari kembali berlalu dengan cepatnya. Nyio Sam Pak pun menduga ada kemungkinan Cuo It Sian hampir datang karenanya dia segera rnempersiapkan satu kamar rahasia buat Wie Ci To serta Ti Then untuk bersembunyi setelah itu dia mengumpulkan seluruh anggota perkampungannya untuk diberi wanti2 jangan sampai membocorkan rahasia dimana Wie Ci To serta Ti Then berhasil menghancurkan si iblis bungkuk Leng Hu Ih kemudian mertamu selama beberapa lama didalam perkampungan.

Keesokan harinya Nyio Si Ce yang diperintahkan Nyio Sam Pak untuk mengundang Cuo It Sian mendadak muncul kembali didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung seorang diri.

Nyio Sam Pak yang melihat putranya kembali dalam keadaan selamat, hatinya jadi amat lega sekali.

"Si Ce kau sudah kembali?" serunya kegirangan.

"Benar Tia !" Sahut Nyio Si Ce cepat. "Selama dua puluh hari ini apakah Si iblis bungkuk Leng Hu Ih tidak mencari gara2 lagi dengan kita ?”

"Tidak, kau sudah bertemu dengan Cuo It Sian ?".

"Benar, dia telah menyanggupi untuk datang membantu kita mengusir Si iblis bungkuk tersebut ".

"Lalu kenapa dia tidak datang ber-sama2 kau? " tanya Nyio Sam Pak kemudian.

"Dia bilang masih ada urusan yang harus diselesaikan, dan memerintahkan aku untuk pulang dulu. dia bilang dua hari kemudian akan menjusul sendiri kemari ". "Bagus, kau ikutlah Loolap!" ujar Nyio Sam Pak kemudian sambil mengangguk.

Dengan memimpin putranya Nyio Si Ce dia berjalan masuk kedalam kamar rahasia itu, ujarnya kemudian sambil menuding kearah Wie Ci To serta Ti Then yang sedang bermain catur didalam kamar rahasia tersebut.

"Mereka adalah Wie Toa Poocu dari Benteng Pek Kiam Poo serta Ti Then, Ti Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Poo, cepat kau maju menyambut mereka !",

Nyio Si Ce yang mendengar perkenalan dari ayahnya itu semula rada tertegun tetapi sebentar kemudian dengan wajah kegirangan segera maju memberi hormat,

Menanti setelah mereka mengucapkan kata2 merendah barulah ujarnya kembali.

“Si Ce, sekarang kau ceritakanlah keadaanmu sewaktu bertemu dengan Cuo It Sian kepada kita semua”

Nyio Si Ce yang mendengar perkataan tersebut ada sesuatu yang tidak beres segera jadi tertegun,

“Cuo Loocianpwee dia . . . dia kenapa ?” tanyanya keheranan. “Nanti saja aku beritahu padamu. sekarang kau ceritakanlah

dahulu kisahmu”

“Aku melakukan perjalanan siang malam dengan cepatnya pada hari kesembilan sudah tiba di kota Tiong Cing Hu. setibanya didepan rumah Cuo Loocianpwee kebetulan dia sedang keluar rumah dan agaknya mau pergi keluar, ketika melihat putramu datang agaknya dia merasa sangat terkejut sekali dan katanya . Iih ...bukankah kau adalah putra sulung dari Nyio Sam Pak dari perkampungan Thiat Kiam San Cung, Nyio Si Ce? putramu lantas cepat turun dari kuda memberi hormat. Dia tanya kepadaku ada urusan apa datang kekota Tiong Cing Hu, aku menjawab mendapatkan perifctah dari Tia untuk menyambangi dirinya dan ada urusan yang hendak dirundingkan, setelah mendengar perkataan tersebut air mukanya kelihatan rada aneh, lama sekali dia mamperhatikan aku tanpa mempersilahkan aku masuk kedalam rumah. Setelah berada didalam rumah dia baru tanya ada urusan apa putramu suruh datang kemari, aku lantas menceritakan kisah dimana si iblis bungkuk Leng Hu Ih datang ke atas gunung Lak Ban san untuk mendirikan sarang dan mencari gara-gara dengan kita dari perkampungan Thiat Kiam San Cung kemudian mengutarakan sekalian msksudnya minta dia suka membantu.

Dia lalu menanyai keadaan dari si iblis bungkuk Leng Hu Ih dengan amat teliti, setelah itu termenung berpikir beberapa saat lamanya kemudian baru menyetujui, tetapi dia bilang masih ada urusan yang harus dikerjakan terlebih dulu maka itu dia memerintahkan aku untuk kembali dulu dan dua hari kemudian dia baru menyusul kemari.”

Dengan perlahan Nyio Sams Pak mengangguk, kepada Wie Ci Tc lantas tanyanya.

"Menurut Wie Poocu bagaimana ?".

"Bilamana dia telah menyanggupi untuk datang memberi bantuan seharusnya ikut datang pula dengan putramu ..." Sahut Wie Ci To setelah termenung berpikir sebentar.

"Benar. tetapi jika ditinjau dari keadaan ini ada kemungkinan dia tidak berani datang".

"Tidak tentu, jikalau dia tidak datang bagaimana dia orang akan memberi alasannya kepada Nyio Loocianpwee ?? " Sela Ti Then kemudian. "Menurut pendapat boan-pwee tentu dia akan secara diam2 datang kegunung Lak Ban san dulu untuk memeriksa apakah Si iblis bungkuk Leng Hu Ih pernah mendirikan sarangnya diatas gunung ini setelah itu baru datang ke perkampungan kita”

"Bilamana demikian adanya, jikaiau dia melihat sarang itu sudah terbakar belum tentu mau datang!" "Dia pasti datang, asalkan dia orang sudah memeriksa dan mengetahui kalau memang pernah terjadi urusan ini maka dia pati akan datang kemari".

"Bilamana dia datang kemari, lalu loo-lap harus menjelaskan kepadanya dengan cara apa?" tanya Nyio Sam Pak lagi.

"Katakan saja secara tiba2 datang seorang jagoan Bu-lim yang tidak diketahui namanya, dengan seorang diri dia pergi mencari siiblis bungkuk Leng Hu Ih lalu membunuh dirinya dan membakar sarangnya.

"Bilamana kita harus memberi penjelasan secara begini maka kita harus mengirim orang untuk menjaga dibekas sarang itu, kalau tidak bilamana ada kaum penjahat yang tersisa dan ditanyai oleh Cuo It Sian bukankah urusan-akan berabe??" timbrung Wie Ci To.

"Benar! " sahut Nyio Sam Pak mengangguk "Nanti Loolap akan kirim orang untuk pergi kesana"-.

Nyio Si Ce yang mendengar dari pembicaraan orang2 itu agaknya mengandung "Siasat" tidak terasa dalam hati merasa terkejut bercampur ragu2.

"Tia! Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?" tanyanya keberanan. "Kau duduklah" Seru Nyio Sam Pak kemudian dengan wajah

serius. "Aku akan menceritakan kepadamu dengan perlahan …." xxx

Hari ketiga siang sejak Nyio Si Ce pulang kedalam perkampungan mendadak dengan tergesa-gesa Nyio Sam Pak berjalan masuk kedalam kamar rahasia, kepada Wie Ci To ujarnya.

“Dugaan dari Wie Poocu sedikitpun tak salah. Cuo It Sian sudah hampir datang.”

Semangat Wie Ci To segera berkobar kembali.

“Apakah dia pergi memeriksa dulu keadaan dari sarang tersebut?” tanyanya cepat. “Benar,” sahut Nyio Sam Pak sambil mengangguk. “Seorang anak buah Loolap yang diperintahkan untuk menjaga disekitar sarang itu baru saja melepaskan burung merpati yang kirim kabar katanya Cuo It Sian sudah munculkan dirinya di belakang sarang tersebut, bahkan katanya sebentar lagi segera tiba.”

“Apakah dia orang pernah berbicara dengan anak buah dari Nyio heng itu?” tanya Wie Ci To kegirangan.

“Tidak! Loolap perintah dia untuk menyamar sebagai anak buah dari si iblis bungkuk Leng Hu Ih dan bersembunyi di sekeliling hutan itu, begitu ditemui oleh Cuo It Sian maka dia harus mengaku sebagai sisa dari anak buahnya si iblis bungkuk. Akhirnya Cuo It Sian tidak menganiaya dirinya, di atas suratnya dia melaporkan bahwa Cuo It Sian cuma memeriksa sebentar abu dari sarang tersebut setelah itu lantas berangkat menuju kemari.”

Wie Ci To segera mengambil keluar pedang pendek palsu yang persis seperti pedang pendek Biat Hun Kiam itu kepadanya.

“Kalau begitu bagus sekali” serunya sekarang kita harus bekerja sesuai dengan rencana”

Pedang pendek yang mirip dengan pedang Biat Hun Kiam itu adalah pedang yang dicuri si pencuri tiga tangan dari badan Cuo It Sian. Cuo It Sian pernah menggunakan pedang itu untuk menipu Ti Then sekarang Wie Ci To pun ikut menggunakan cara yang sama untuk menipu diri Cuo It Sian-

Setelah menerima pedang itu Nyio Sam Pak segera memasukkanya ke dalam saku.

“Mungkin dia sudah hampir tiba” katanya dengan cepat. “Loolap segera pergi menyambutnya”

Selesai berkata dia segera putar badan berlalu.

Baru saja tiba diluar kamar rahasia itu tampaklah putra sulungnya Nyio Si Ce dengan tergesa-gesa sudah datang. "Tia! Dia sudah tiba didepan pintu perkampungan! " lapornya dengan suara yang perlahan.

Dengan langkah yang cepat Nyio Sam Pak segera berjalan keluar dari pintu perkampungan.

"Cepat buka pintu menyambut! " teriaknya.

Dengan membawa ketiga orang putranya Nyio Sam Pak segera berjalan keluar dari pintu perkampungan-

Tampaklah sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya muncul diatas jalanan luar perkampungnn tersebut,

Gerak gerik dari bayangan tersebut amat cepat sekali, hanya didalam sekejap saja sudah berada kurang lebih sepuluh kaki dari depan pintu perkampungan.

Dia . . . bukan lain adalah si pembesar kota Cuo It Sian!!

Dengan wajah penuh senyuman Nyio-Sam Pak segera merangkap tangannya menjura.

"Cuo-heng, Loo-lap sedikit terlambat menyambut, maaf . . . maaf"..

Cuo It Sian segera tertawa terbahak2, sahutnya sambil menepuk2 pundak dari Nyio Sam Pak;

"Jangan terlalu sungkan2 , . . . Nyio-heng kita adalah kawan lama yang sudah ada puluhan tahun lamanya buat apa masih membicarakan segala macam adat?"

"Haah . . . haaa . . . haaa . . , , ada beberapa tahun tidak bertemu ternyata Cuo heng masih tidak kelihatan tua, sebetulnya Cuo-heng lah yang lebih pandai merawat badan" ujar Nyio Sam Pak sambil tertawa ter-bahak2.

“Mana . . . mana . . . bilamana siauw-te sudah menginjak usia seperti Nyio-heng kiranya tidak bakal bisa sehat seperti diri Nyio heng sekarang ini !" “Mari kita bicara didalam saja” ujar Nyio Sam Pak kemudian sambil menggandeng tangannya.

Mereka segera berjalan masuk kedalam ruangan tengah, setelah duduk Nyio Si Ce lantas menyuguhi air teh.

Kemudian Nyio Sam Pak memerintahkan putranya yang kedua, ketiga dan beberapa orang anak muridnya untuk ber-sama2 maju memberi hormat.

Sesudah semuanya selesai Nyio Sam Pak baru berkata dengan suara yang serius.

“Kali ini Loolap mcngundang Cuo-heng jauh2 datang kemari sungguh merasa tidak enak."

“Aaaah . . buat apa Nyio heng berbicara demikian” seru Cuo It Sian dengan cepat. “Bilamana kawan ada kesusahan sudah seharusnya aku turun tangan membantu apa lagi si iblis bungkuk Leng Hu Ih adalah seorang penjahat Bu lim yang patut dibasmi bilamana Siauwte dapat ikut serta di dalam pembasmian penjahat ini boleh dikata merupakan satu urusan yang patut digembirakan”

“Cuma sayang urusan sudah bisa dibikin bares.”

“Iiih . . bagaimana bisa beres?” tanya Cuo It Sian sengaja memperlihatkan rasa kagetnya.

“Urusan sudah terjadi diluar dugaan, hari itu setelah Loolap memberitahukan Si Cie, Si Jien dua orang bersaudara untuk turun gunung -mengundang Cuo heng serta Im Si Tiauw Ong dan Lam Yang Ci dari Bu tong Pay, mendadak pada hari ketiga putraku yang bungsu Si Ih datang melapor, katanya didepan sarangnya Leng Hu Ih sudah kedatangan seorang jagoan berkepandaian tinggi yang sedang bertempur dengan amat serunya melawan Leng Hu Ih”

“Entah siapakah jagoan Bu lim itu?” timbrung Cuo It Sian-

“Cuo-heng dengarkan dulu Loolap menceritakan urusan ini dengan perlahan lahan, ketika loolap mendengar ada orang yang sedang bertempur seru dengan Leng Hu Ih maka segera loolap mengumpulkan seluruh anak muridku untuk menerjang kesana, siapa tahu setibanya didepan sarang itu tampaklah Leng Hu Ih sudah menggeletak mati sedangkan sarangnya pun sudah berada didalam lautan api.”

“Aaah . . , sudah tentu perbuatan dari si kakek pemalas Kay Kong Beng “ seru Cuo It Sian dengan wajah terperanjat.

“Bukan,” sahut Nyio Sam Pak tersenyum dan gelengkan kepalanya.

Air muka Cuo It Sian segera berubah hebat,

“Kalau tidak tentu perbuatan dari Pek Kiam Poocu Wie Ci To,” Serunya lagi dengan sinar mata yanng berkedip2,

“Juga bukan!”

Dengan pandangan tajam Cuo It Sian memandang diri Nyio Sam Pak tidak berkedip,

“Kalau tidak tentunya Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kjam Poo . . si pendekar Ti Then” sahutnya sepatah demi sepatah.

“Bukan …. bukan “

Rasa tegang dari Cuo It Sian pun segera lenyap tak berbekas, diganti dengan senyuman yang amat ramah menghiasi bibirnya.

“Lalu siapa ?”

Nyio Sam Pak mendehem dulu beberapa kali kemudian baru sambungnya:

"Loolap sekalian yang melihat Si iblis-bungkuk Leng Hu Ih sudah mati tetapi anak buahnya masih ada maka segera menghajar mereka sehingga dibuat kocar kacir tidak karuan, waktu itu Loohu berhasil membunuh Si kupu kupu bunga Hong it Peng, Si manusia banci Ong Cuo Ting. Thian San Ji Lang-' Kiem Hoo dan Kiem Hay, Si ketemu tidak mujur Cang Hiong serta si Siluman bocah dari lembah setan Yu Si beberapa orang”

"Lalu siapa yang telah membinasakan Leng Hu Ih itu ?", "Setelah Loolap berhasil mernperoleh kemenangan segera menangkap seorang penjahat untuk ditanyai. Katanya orang yang berhasil membinasakan Leng Hu Ih adalah seorang kakek tua berbaju hijau yang usianya sudah ada tujuh puluh tahunan, wajahnya amat segar dan berwibawa, ketika dia bertemu muka dengan Leng Hu Ih didepan sarangnya dia orang cuma mengucapkan sepatah kata saja, katanya: "Hey bungkuk kau masih ingat hutangmu pada tiga belas tahun yang lalu ?" setelah itu mereka segera bertempur"

"Tadi sewaktu Nyio-heng sampai di sana dia orang sudah pergi ?” tanya Cuo It Sian-

"Benar !" Sahut Nyio Sam Pak mengangguk. "Setelah dia berhasil membunuh Leng Hu Ih dan membakar sarangnya lantas tanpa mengucapkan kata2 lagi sudah berlalu dari sana".

"Tahukah kau dia meaggunakan senjata apa ?"

"Menurut jawaban dari penjahat itu dia menggunakan pedang” "Sunggug aneh sekali" Seru Cuo It Sian sambil mengerutkan

alisnya rapat2. "Leng Hu Ih mempunyai julukan sebagai raja iblis

dari seluruh Bu-lim. jago2 Bu-lim pada saat ini kecuali si kakek pemalas Kay Kong Beng, Pek Kiam Poocu Wie Ci To serta si pendekar baju hitam Ti Then, siapa lagi yang bisa membinasakan diri Leng Hu Ih ??".

"Loohu sendiripun tidak dapat mengetahui dia adalah Nabi dari mana, cuma saja didalam Bu-lim yang demikian luasnya memang pasti ada beberapa orang jagoan yang berkepandaian amat tinggi sekali tanpa diketahui oleh orang lain".

Lama sekali Cuo It Sian termenung berpikir keras, lalu gumamnya seorang diri:

“Ehmm ... apa muagkin dia . “

“Cuo-heng sudah teringat akan siapa ?” “Seorang yang bernama Boe Beng Loojien” “Boe Beng Loojien?” Tanya nyio Sam pak pura-pura terkejut.

“Benar,” sahut Cuo It Sian mengangguk. Wajahnya berubah amat serius sekali. “Dia adalah suhu dari si pendekar baju hitam Ti Then itu-Kiauw tauw dari benteng Pek Kiam Poo . , tahukah Nyio heng akan si pendekar baju hitam Ti Then- pemuda-ini ?”

“Loolap pernah mendengar cuma tidak begitu jelas, dia adalah pemuda macam apa ?”

“Usianya ada dua puluh tahunan, tetapi kepandaian silat yang dimilikinya amat tinggi sekaii sukar diukur dia pernah mengalahkan pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan,”

Mendengar perkataan tersebut Nyio Sam Pak segera menghela napas panjang,

“Heeei . kepandaian silat dari si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan tidak ada dibawah kepandaian dari Wie Ci To, kalau memangnya si pendekar baju hiram Ti Then bisa mengalahkan dirinya maka kepandaian silatnya jelas jauh diatas kepandaian dari Wie Ci To,”

“Ehmin . . . !” sahut Cuo It Sian mengangguk. "Sekalipun tidak dapat melampaui Wie Ci To, sedikit2nya juga tidak ada dibawah Wie Ci To sendiri!"

“Sebenarnya dia dengan Wie Ci To ada sangkut paut apa?" tanya Nyio Sam Pak kemudian dengan wajah serius.

"Katanya pula si pendekar baju hitam itu Ti Then melakukan perjalanan lewat diluar kola Go-bie dan menemukan murid dari Wie Ci To yaitu Hong Mong Ling menggeletak dijalan dalam keadaan tidak sadar, dia lantas menolongnya kembali ke Benteng Pek Kiam Poo, akhirnya Wie Ci To menemukan kalau Ti Then memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali, karenanya dia diangkat sebagai kiauwtauw didalam Benteng Pek Kiam Poo,"

“Seorang bocah cilik yang baru berusia dua puluh tahunan ternyata berhasil memiliki kepandaian silat yang tinggi sungguh bukanlah satu pekerjaan yang gampang” "Siauw-te pernah dua kali bertemu muka dengan dirinya, dia mengaku suhunya bernama Boe Beng Loojien, mengenai siapakah namanya yang sebetulnya dia sendiripun tidak tahu, tidak perduli perkataannya ini benar atau tidak dengan kepandaian silatnya yang begitu tinggi, kepandaiannya tidak mungkin bisa dimilikinya sejak lahir- dia pasti ada seorang suhu bahkan kepandaian silat dari suhunya itu pasti jauh berada diatas kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng.”

Dengan cepat Nyio Sam Pak menganggukkan kepalanya,

“Benar” sahutnya, “Kalau memangnya kepandaian silat yang dimiliki Ti Then tidak berada dibawah kepandaian silat dari Wie Ci To maka kepandaian silat dari suhunya pasti berada diatas si kakek pemalas Kay Kong Beng.”

“Maka itu siauwte menduga orang yang membinasakan Leng Hu Ih itu ada kemungkinan besar adalah suhunya Ti Then, Si Boe Beng Lojin”

“Hey . cuma sayang kedatangan loolap ada sedikit terlambat, kalau tidak loolap tentu akan berkenalan dengan jagoan yang memiliki kepandaian silat amat tinggi ini”

Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu sambungnya lagi sambil tertawa:

“Heei tapi dengan kejadian itu kedatangan dari Cuo heng dari tempat jauh ini akan sia-sia belaka tetapi tidak mengapa asalkan Cuo-heng ada kesenangan pasti ada yang hendak dibunuh”

“Aaaah    masih ada musuh?” tanya Cuo It Sian melengak.

“Ada!”

“Siapa ?”

“Loolap” sahut Nyio Sam Pak sambil menuding hidungnya sendiri. “Haa haaa kiranya sengaja Nyio-heng mengundang siauw-te kemari sebetulnya hendak memuaskan keinginanmu untuk main catur,” seru Cuo It Sian tertawa keras.

“Kali ini bilamana Cuo-heng tidak mau melayani Loolap untuk bermain sebanyak sepuluh atau delapan kali, Loolap tidak akan melepaskan kau pergi”

“Baik, siauw-te akan melayani sampai akhir”

Saat itulah Cia Pu Leng sudah berjalan masuk ke dalam ruangan, “Suhu, perjamuan sudah dipersiapkan” Lapornya kepada Nyio

Sam Pak,

Nyio Sam Pak segera bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya,

Mereka segera berjalan menuju ke ruangan makan, tampak ditengah ruangan sudah tersedia satu meja perjamuan yang mewah.

Nyio Sam Pak segera mempersilahkan Cuo It Sian untuk menduduki tempat yang teratas sedang dirinya duduk disampingnya kemudian memerintahkan pula Si Ce, Si Jien serta Si Ih untuk menemaninya.

Tua muda lima orang segera angkat cawan dan meneguknya dengan gembira.

"Nyio-heng bilang sudah mengundang pula sikakek tukang pancing serta Lam Yang Ci dari Bu-tong Pay, kenapa mereka tidak ikut datang untuk sama2 bersantap?”

"Mereka sudah datang, tetapi ketika mendengar Leng Hu Ih sudah mati keesokan harinya lalu pada berlalu dari perkampungan”

"Lama sekali tidak bertemu dengan si kakek tukang pancing, dia orang apakah masih suka mancing seperti dulu?"

"Benar, Shia Si Yuen loo-heng ini memang sangat menyenangkan sekali .” "Katanya dia suka mancing ikan dikarenakan untuk menghindari istrinya yang cerewet, lama kelamaan dia maiah terkena demam mancing."

Nyio Sam Pak segera angkat cawannya dan menghormati kembali satu cawan kepadanya, setelah itu baru tanyanya:

"Beberapa tahun ini Cuo-heng sendiri mengisi kekosongan waktu dengan bekerja apa ?”

"Beberapa tahun akhir ini Siauw-te jarang melakukau perjalanan jauh, setiap hari duduk dirumah teh untuk ngomong2."

"Kenapa tidak mencari seorang murid?"

"Siauw-te memang bermaksud demikian, cuma saja untuk mencari seorang pemuda yang mempunyai hati serta sifat yang baik dan jujur bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, bahkan sifat dari Siauw-te pun sangat pemalas. tidak sabaran untuk memberi petunjuk kepada murid maka itu sampai sekarang Siauw-te tidak pernah menerima seorang murid pun”

Nyio Sam Pak lantas tersenyum.

"Sebaliknya Loo-lap mempunyai murid yang tidak sedikit jumlahnya. bilamana Cuo-heng tidak menampik atas kebodohan mereka aku akan hadiahkan seorang muridku agar jadi ahli warismu"

“Haaa . . . haaa , . . Nyio-heng jangan berguyon” ujar Cuo It Sian sambil tertawa terbahak2, “Bagaimana mungkin muridmu boleh diberikan kepada orang lain?”

“Sungguh,” jawab Nyio Sam Pak dengan serius, “Kepandaian dari Loolap ada batasnya, bilamana mereka mengikuti loolap terus sebetulnya tidak bakal bisa memperoleh kemajuan, bilamana Cuo- heng benar benar ada maksud loolap pasti akan memberikan seorang kepadamu, usianya tidak begitu besar cuma dua puluh tiga tahun bahkan sifatnya pun amat bagus sekali,” Cuo It Sian melihat dia orang berkata dengan nada yang serius, tidak terasa sudah tanyanya sambii memperhatikan wajahnya tajam:

“Siapa?”

“Itu orang yang sudah melayani Cuo-heng sewaktu Cuo-heng mertamu di perkampungan Loolap tempo hari,”

“Siapa?” tanya Cuo It Sian agak melengak.

“Sekarang dia tidak ada di dalam perkampungan, Loolap sedang mengirim dia pergi ke gunuog Cun San untuk mengambil kembali sebilah pedang dari Cu Kiam Loojien, tetapi ada kemungkinan sebentar lagi dia bakal kembali... Cuo-heng apa sudah tidak ingat lagi dengan dirinya ?”

Dengan perlahan Cuo It Sian angkat cawannya untuk meneguk habis isinya, lantas dia tertawa terbahak-bahak.

“Kelihatannya siauw-te harus berpikir keras lagi . . eeee „aduh siapa toh namanya? loolap sudah agak lupa.”

“Dia bernama Cau Ci Beng”

“Oooh … benar… benar” sahut Cuo It Sian dengan wajah yang biasa saja. “Agaknya dia mempunyai julukan sebagai si . si . . “

“Si elang sakti !”

“Ehm , „ tidak salah.. tidak salah, memang benar si elang sakti” sahut Cuo It Sian keras, “Bagaimana Nyio heng secara tiba-tiba punya maksud hendak memberikan dia orang sebagai muridnya siauw-te?”

“Dia mempunyai bakat yang amat bagus sekali tidak sampai seberapa lama seluruh kepandaian silat dari Loolap sudah berhasil dipelajari seluruhnya, diam2 Loolap pergi mengadakan pameriksaan Loolap rasa bilamana dia dapat memperoleh seorang guru yang ternama maka di kemudian hari dia tentu akan jadi seorang jagoan Bu-lim. Setelah pikir pulang pergi Loolap rasa cuma Cuo-heng seorang saja semua yang mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan loolap bahkan Cuo-heng memiliki kepandaian silat yang tinggi pula maka itu Loolap rasa hanya Cuo-heng seorang saja yang patut menjadi gurunya itulah sebabnya kenapa Loolap mempunyai maksud untuk memberikannya kepada Cuo-heng”

Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu sambil tersenyum tambahnya:

"Tetapi Loolap tidak terlalu memaksa bilamana Cuo-heng tidak berminat yaa.. sudahlah."

Cuo It Sian tersenyum tawar.

“Urusan ini harus menunggu dia orang menyetujuinya baru bisa jadi. aku lihat lebih baik tunggu sampai dia pulang dulu baru kita bicarakan lagi"

“Baiklah, kita tunggu dia pulang dulu baru dibicarakan kembali.”

Berbicara sampai disini kepada putranya yang ketiga Si Ih lantas tanyanya, " Si Eh, Ci Beng, bocah itu agaknya sudah pergi sangat lama bukan?”

“Benar, sudah ada sebulan lamanya” Sahut Nyio Si Ih dengan hormatnya.

Nyio Sam Pak segera mengerutkan alisnya rapat2.

"Bocah ini segala-galanya baik cuma sayang dia rada suka bermain!" Serunya.

"Nyio-heng apa suruh dia pergi mengambil pedang dirumah kediamannya Cu Kiam Loojien?" tiba2 Cuo It Sian bertanya.

"Benar, tahun yang lalu Loolap pergi melakukan perjalanan kedaerah Lam Huang dan secara tidak sengaja sudah menemukan sebuah besi baja yang bagus, maka loolap lantas serahkan besi itu kepada Cu Kiam Loojien untuk dibuatkan sebilah pedang, bulan kemarin Cu Kiam Loojien datang mengirim surat katanya pedang tersebut sudah jadi maka loolap lantas kirim orang untuk mengambilnya." "Haaaa . . . haaaa . . . walau pun Nyio-heng sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia, tetapi kegemarannya terhadap pedang agaknya belum pernah hilang" ujar Cuo It Sian sambil tertawa.

"Benar . . . benar . . . mari, mari . . kita minum arak."

Mereka berlima kembali saling maneguk satu cawan setelah itu mulai bersantap.

Tiba-tiba agaknya Nyio Sam Pak sudah teringat akan sesuatu, daging yang sudah disumpit dan hendak dimasukkan kedalam mulut mendadak ditarik kembali.

“Aaaah , , benar” ujarnya sambil angkat kepalanya, “Pedang Biat Hun Kiam yang tempo hari Loolap hadiahkan kepada Cuo-heng apakah masih ada ?”

“Masih ada, masih ada, Siauw-te selalu membawanya didalam badan.”

Agaknya Nyio Si Ih tidak mengerti apa yang dibicarakan itu. cepat tanyanya: Apa itu pedang pendek Biat Hun Kiam ?”

“Oooh sebilah pedang pendek dari jaman Cun Ciu, dahulu loolap hadiahkan kepada Cuo heng.”

“Bagaimana macamnya pedang pendek dari jaman Cun Ciu itu ?” tanya Nyio Si Ih lagi dengan wajah ke-heran2an.

“Cuo-heng” ujar Nyio Sam Pak kemudian kepada diri Cuo It Sian. “Sewaktu tempo hari loolap hadiahkan pedang Biat itu kepada

Cuo heng bocah-bocah masih kecil sehingga belum pernah melihat bagaimana bentuk dari pedang Biat Hun Kiam itu, sekarang dapatkah Cuo-heng mengambilnya keluar untuk dilihat-lihat ?”

Cuo It Sian segerai mengangguk, dari dalam sakunya dia mengambil keluar pedang pendek Biat Hun Kiam itu kemudian diangsurkan kepada Nyio Si Ih.

“Hian-tit silahkan melihat” ujarnya sambil tertawa. Nyio Si ih segera bangkit berdiri dan menerima pedang itu dengaa menggunakan sepasang tangannya, setelah itu perlahan mencabut keluar pedang pendek itu.

Ketika dilihatnya pedang tersebut memancarkan sinar yang menyilaukan mata tidak terasa lagi dia sudah memuji.

“Sebuah pedang yang amat bagus,”

“Mari berikan kepadaku” ujar Nyio Si Jien dengan cepat.

Mereka tiga bersaudara segera saling bergilir memandang pedang tersebut, akhirnya Nyio Sam Pak menerima pedang itu. Sembari memperhatikan pedang itu ujarnya.

“Pedang Biat Hun Kiam ini memang merupakan sebilah pedang yang amat bagus sekali cuma saja mendatangkan hawa membunuh yang tidak enak, apakah Cuo heng pernah menggunakan pedang ini untuk membunuh seseorang ?”

“Tidak pernah! " sahut Cuo It Sian sambil gelengkan kepalanya.

Baru saja dia berbicara sampai disitu mendadak dari depan ruangan berkumandang suara terjatuhnya barang yang pecah berantakan.

Cuo It Sian yang didalam hatinya memang sudah menaruh curiga, begitu mendengar suara terjatuhnya barang pecah belah itu dengan cepat meloncat bangun kemudian putar badannya menengok keluar.

"Ada urusan apa?" teriaknya.

Diatas lantai didepan pintu tampaklah pecahan mangkok serta tumpahan kuah yang mengotori seluruh permukaan.

Kiranya seorang pelayan yang membawa satu nampan kuah ayam entah secara bagaimana sewaktu ada didepan pintu itu sudah jatuh sehingga kuahnya tumpah.

"Nyio An, kau kenapa tidak berhati~hati!" Bentak Nyio Sam Pak dengan gusar "Nyio An" si pelayan itu segera memperlihatkan rasa takutnya, dengan badan gemetar sahutnya dengan gugup:

"Ham . . . hamba . , hamba . salah! kaki . . . kaki hamba kena . .

. kena ter ter - . . tersangkut batu . .”

“Cepat ambil sapu dan bersihkan tempat itu !" bentak Nyio Sam Pak lagi dengan gusar.

Nyio An segera menyahut dan dengan ter-gesa2 mengundurkan diri dari sana.

"Hmmm! Usianya sudah lanjut tetapi bekerja selalu saja tidak keruan !" Maki Nyio Sam Pak lagi.

"Nyio-heng tidak usah memaki dirinya lagi" cegah Cuo It Sian dengan cepat. "Kemungkinan sekali kuah itu memang amat panas sekali."

Nyio Sam Pak segera memasukkan kembali pedang pendek itu kedalam sarungnya lalu diserahkan kembali kepadanya.

"Cuo-heng silahkan duduk kembali" ujarnya sambil tertawa, "Budak itu sungguh bodoh, baik2 semangkuk kuah ayam kini malah hancur berantakan tidak keruan !”

Cuo It Sian segera menerima kembali pedang pendek itu, baru saja hendak dimasukkan kembali kedalam badannya mendadak air mukanya berubah sangat hebat, sambil mencabut kembali pedang pendeknya jelas wajahnya berubah semakin seram.

"Nyio-heng sebenarnya kau mau berbuat apa ?" tanyanya sambil memandang tajam diri Nyio Sam Pak.

“Kenapa?” balas tanya Nyio Sam Pak sambil tertawa,

“Bilamana Nyio-heng merasa keberatan untuk memberikan pedang Biat Hun Kiam itu kepadaku lebih baik mintalah kembali secara terus terang, di siang hari bolong buat apa kau melakukan pekerjaan itu?” Sembari berkata tangannya dengan cepat disamber menekan pundak kanan dari Nyio Si Ce.

“Si Ce-heng cepat menyingkir.”

Suara peringatan itu keluar dari mulutnya Ti Then.

Secara diam-diam dia bersama-sama dengan Wie Ci To sudah munculkau dirinya di depan ruangan makan tersebut.

Mendeogar suara peringatan itu Nyio Si Ce segera berjumpalitan kebelakang ber-sama2 dengas kursinya dia mundur kebelakang lantas dengan meminjam kesempatan itu meloncat sejauh dua kaki lebih.

Nyio Si Jien serta Nyio Si Ih bersaudara pun bersama-sama meloncat dua kaki kebelakang meninggalkan meja perjamuan.

Cuo It Sian yang telapak tangannya menekan tempat kosong tubuhnya dengan cepat berputar kamudian menoleh memandang kearah pintu luar,

Begitu melihat Wie Ci To serta Ti Then muncul didepan pintu ruangan, air mukanya seketika itu juga berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

“Heee heee. kiranya Wie Poccu juga sudah datang,” ujarnya sambil tertawa dingin “Kalian terus menerus memfitnah dan mendesak loohu untuk menyerahkan harta kekayaan loohu, kalian sungguh kejam sekali.”

“Hmmmm, orang she Cuo sampai keadaan seperti ini juga ingin sekalian menggigit loohu,”

“Nyio-heng.” ujar Cuo It Sian kemudian kepada diri Nyio Sam Pak.

“Wie Poocu ini demi berhasilnya maksud hati untuk merebut harta kekayaan dari loohu berulang kali dia berusaha memfitnah aku dengan merebut pedang Biat Hun Kiam tersebut, karena dia hendak menggunakan pedang Biat Hun Kiam itu sebagai bukti menuduh siauw-te sudah membunuh orang, kau jangan sampai kena tertipu olehnya,”

Wajah Nyio Sam Pak segera berubah jadi amat keren. Sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap keatas wajahnya lalu dengan dinginnya bertanya;

“Apakab Cuo-heng benar2 tidak pernah membunuh orang ?” "Tidak! Siauw-te buat apa membunuh orang? Seharusnya Nyio-

heng tahu bagaimana aku jadi orang . . .”

"Kalau begitu !" Potong Nyio Sam Pak dengan cepat. "Siapa yang sudah membunuh mati Cu Kiam Loojien serta muridku Cau Ci Beng?".

Selama ini Cuo It Sian selalu menganggap perbuatannya membunuh mati Cu Kiam Loojien serta si elang sakti Cau Ci Beng tidak akan diketahui orang lain. Saat ini mendengar secara tiba2 Nyio Sam Pak mengungkat kembali akan kedua orang itu didalam hati dia merasa sangat terkejut sekali.

"Siapa yang sudah melihat ?” tanyanya tanpa terasa.

"Ti Kiauw-tauw“ Sahut Nyio Sam Pak dengan wajah yang amat adem.

Mendadak Cuo It Sian tertawa keras dengan amat seramnya. "Nyio-heng,   persahabatan   kita   sudah   ada   puluhan   tahun

lamanya, apakah sampai ini hari kau masih tidak memahami sifat

dari Siauw-te? Kenapa bukannya kau mempercayai omongan Siauw- te bahkan sebaliknya mempercayai omongan sembarangan, omongan fitnah dari mereka berdua yang ingin mencelakai Siauw-te

?”

"Mata loolap masih belum kabur, siapa yang benar siapa yang salah masih dapat membedakan dengan jelas " Seru Nyio Sam Pak sambil tertawa dingin. "Apa lagi dari tindak tandukmu tadi yang hendak menawan putraku Si Ce. loolap sudah tahu kalau perkataan dari Wie, Ti dua orang tidak salah!” Sepasang mata dari Cuo It Sian dengan mengandung rasa benci yang amat sangat memandang diri Wie Ci To berdua tanpa berkedip, dari wajahnya tersungginglah satu senyuman dingin yang amat menyeramkan.

"Tidak salah! " ujarnya kemudian. "Cu Kiam Loojien serta muridmu Cau Ci Beng memang loohu yang bunuh tetapi kalian tidak punya bukti, dengan nama baik serta kedudukan yang terhormat dari loohu didalam Bu-lim aku rasa didalam dunia kangouw tidak bakal ada orang yang mempercayai tuduhan j&ng kalian lancarkau kepada loohu!

"Tetapi beberapa patah kata perkataan yang kau ucapkan barusan ini merupakan satu bukti yang nyata !" Sahut Wie Ci To sambil tertawa nyaring;

"Tetapi kecuali kalian, ada siapa yang mendengar pula perkataanku ini?" ejek Cuo It Sian sambil tertawa dingin.

“Masih ada loolap!”

Bersamaan dengan berkumandangnya suara itu didepan pintu muncul kembali seorang.

00O00

58

Dia adalah seorang hweesio tua yang memakai baju lhasa berwarna abu2 dengan ditangannya membawa sebuah tongkat.

Melihat munculnya orang itu air muka Cuo It Sian berubah semakin hebat lagi.

"Siapa kau ?" tanyanya dengan cepat.

Walaupun dia tidak tahu siapakah hweesio tua itu tetapi dia tahu dia orang bukanlah anggota dari perkampungan Thiat Kiam San Cung ini.

Bilamana seseorang yang bukan termasuk orang dari perkampungan Thiat Kiam San Cung mendengar perkataannya tersebut sudah tentu lebih dari cukup untuk menjadi seorang saksi, karenanya hal ini benar2 membuat dia merasa sangat terperanjat.

Dengan sikap yang amat keras dan berwibawa hweesio tua itu bungkukkan badannya memberi hormat:

"Loolap It Ie !"

"Ciangbunjin dari Ngo Thay San. It Ie Sangjien?" tanya Cuo It Sian dengan kaget, tubuhnya tergetar dengan amat keras sekali.

"Benar loolap adanya!" sahut hweesio itu sambil mengangguk.

Air muka Cuo It Sian semakrn pucat lagi. dia percaya dengan nama serta kedudukannya yang ada didalam Bu-lim sekali pun Wie Ci To serta Nyio Sam Pak menuduh dia pernah melakukan pembunuhan dan perkosaan dengan diri mereka sebagai saksinya orang2 didalam Bu-lim sebagian besar tidak akan mau percaya karena itu tadi dia berani mengaku kalau Cu Kiam Loojien serta Cau Ci Beng memang dia yang bunuh, siapa sangka pada saat yang bersamaan It Ie Sangjien dari Ngo Thay San sudah munculkan diri disana.

Dia tahu dengan kedudukan It Ie Sangjien sebagai seorang pendeta yang beribadat tinggi setiap perkataan dan perbuatannya tentu akan dihormati oleh semua orang bilamana dia orang bertindak sebagai saksinya maka bukankah kedudukan akan jadi kepepet.

Nyio Sam Pak yang melihat air mukanya penuh diliputi oleh perasaan terkejut tak terasa lagi dia sudah tersenyum.

“Wie Poocu menduga kau tentu tidak akan mengakui dosa2 tersebut maka mengusulkan kepada Loolap untuk kirim orang pergi ke gunung Ngo Thay San mengundang datang It Ie Sangjien ini, sekarang kau sudah mengaku telah membunuh orang dan It Ie Sangjien pun sudah mendengarnya dengan jelas, kau ada perkataan apalagi yang hendak dikatakan?".

Lama sekali Cuo It Sian termenung akhirnya dia menghela napas panjang. "Hey kau orang she-Wie, hatimu sungguh begitu atos" ujarnya sambil menoleh kearab Wie Ci To. “Loohu dikarenakan menuruti napsu sendiri sehingga melakukan satu perbuatan yang memalukan kau tanpa mengingat perbuatan mulia yang sudah loohu lakukan selama ini didalam Bu-lim memaksa Loohu harus melakukan bunuh diri juga, kau kau sungguh kejam! ".

Berbicara sampai disini tidak kuasa lagi dua titik air mata menetes keluar membasahi pipinya.

Air muka Wie Ci To segera berubah sangat hebat, dengan nada yang amat keren dan serius ujarnya;

"Tanpa sebab kau sudah membunuh anak buahmu sendiri, lalu memperkosa istrinya kau manusia yang tidak lebih menyerupai binatang masih berani membela diri juga ?".

Dengan perlahan Cuo It Sian menundukkan kepalanya rendah2. Ujar Wie Ci To lagi :

"Untuk menutupi dosamu kau sudah menggunakan pelbagai cara yang memalukan untuk mtnculik Ti Kiauw-tau serta Siauw-li bahkan membinasakan pula sekeluarga petani didusun Thay Peng Cung, diikuti membunuh Cu Kiam Loojien serta si elang sakti Cau Ci Beng. Perbuatanmu sungguh kejam sekali".

"Hee . . . heee      Wie Ci To. Di mana dapat mengampuni orang

ampunilah dia orang" ujar Cuo It Sian sambil tertawa seram. "Loohu sudah hidup sampai begini tua apakah kau benar2 ingin merusak nama baik dari Loohu?".

"Perkataan dari Loohu pada tiga tahun yang lalu ini hari masih terhitung." ujar Wie Ci To dengan suara yang berat. "Bila mana kau mau bunuh diri untuk menebus dosa ini maka loohu tidak akan mengumumkan dosamu ini secara terbuka !".

“Bagaimana kalau Loohu menggunakan seluruh kekayaanku untuk menolong orang miskin sebagai tebusan atas dosaku itu, setelah itu loohu akan mengundurkan diri dari keramaian Bu-lim "

serunya lagi dengan ter-sedu2. "Tidak bisa !" Potong Wie Ci To dengan keras.

"Kalau begitu kau benar2 mengingini nyawa dari Loohu ini?" Seru Cuo It Sian sambil tertawa dingin. "Ayoh cepat turun tangan !".

Baru saja kata2 terachir diucapkan mendadak dengan gaya burung bangau menerjang kelangit tubuhnya meluncur keatas atap.

"Braaaak ....!" dengan disertai suara yang amat keras sekali atap rumah itu sudah hancur berantakan sedang tubuhnya dengan melalui lubang diatas atap itu menerjang keluar.

Wie Ci To segera membentak keras, tubuhnya pun segera meloncat naik keatas wuwungan rumah,

Sewaktu dilihatnya Cuo It Sian melarikan diri kebelakang perkampungan diapun dengan cepat mengikuti dari belakang, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay dengan cepatnya dia mengejar dari belakang.

Ti Then serta Nyio Sam Pak dengan cepat mengikutinya pula dari arah belakang untuk melakukan pengejaran.

Cuo It Sian melarikan diri dengan amat cepatnya. hanya didalam sekejap saja dia sudah melewati empat buah rumah bagaikan kilat cepatnya dia melarikan diri terus kedepan.

Tetapi agaknya orang2 didalam perkampungan Thiat Kiam San Cung itu sudah mengadakan persiapan, sewaktu sepasang kaki dari Cuo It Sian menginjak pada atap bangunan yang kelima mendadak tampaklah dari atas wuwungan rumah muncul sesosok bayangan manusia yang dengan dahsyatnya membabat sepasang kaki dari Cuo It Sian.

"Turun !” Bentaknya.

Di dalam keadaan yang ter-gesa2 Cuo It Sian jadi terperanjat sekali, tetapi bagaimanapun dia adalah seorang jago kawakan. tubuhnya dengan cepat menjatuhkan diri kebawah kemudian berbelok kekanan melanjutkan larinya.

Disebelah kanan merupakan bangunan yang berloteng. Siapa tahu diatas loteng itupun sudah ada orang yang bersembunyi disana, baru saja tubuhnya hampir mencapai atas loteng itu mendadak kembali tampaklah seorang yang muncul kembali dari atas bangunan itu sambil melancaikan satu serangan dahsyat kearahnya.

Dengan cepat Cuo It Sian berjumpalitan ditengah udara. karena tidak sempat lagi untuk menangkis lagi datangnya serangan tersebut, sembari mengebutkan ujung jubahnya dia melayang turun keatas tanah.

Wie Ci To, Ti Then, Nyio Sam Pak serta It Ie Sangjien waktu itupun sudah tiba disana dan mengurungnya rapat2.

Cuo It Sian yang melihat dia orang tidak dapat melarikan diri lagi, air mukanya gera berubah jadi pucat pasi.

"Bagus . . bagus" serunya sambil tertawa seram. "Walaupun ini hari loohu tidak bisa meloloskan diri dari kematian tetapi kau orang she-Wie pun jangan harap dapat hidup lebih lama lagi".

Air muka Wie Ci To segera berubah sangat adem.

"Seluruh perbuatan dari loohu selama hidup belum pernah tercela, sekalipun setelah mati kau jadi setan loohu juga tidak akan takut!" sahutnya.

"Tidak salah! " seru Cuo It Sian dengan gusar. "Kau orang she- Wie memang suci bersih dan jujur, tetapi kaupun jangan harap bisa lolos, ada satu hari kau pun akan menyesal sendiri”

"Untuk membasmi penjahat sekalipun loohu harus mati juga tidak akan menyesal!" ujar Wie Ci To lagi sambil tertawa dingin.

“Kau tunggu saja Loohu sejak semula sudah atur satu pasukan aneh yang dapat menghancurkan dirimu, tidak sampai setengah tahun kemudian kau beserta seluruh benteng Pek Kiam Poo jangan harap bisa meloloskan diri dari bencana ini!” Selesai berkata tangan kanannya dengan cepat digaplokkan keatas kepalanya sendiri.

Terdengar suara hancurnya tulang batok kepalanya seketika itu juga hancur berantakan dan berserakan diatas tanah, setelah itu tubuhnya dengan perlahan roboh keatas tanah menemui ajalnya.

Melihat kejadian itu It Ih sagjien segera memejamkan matanya, “Omintobud . , ,siancay „ , ,siancay” serunya berulang kali.

Nyio Sam Pak berdiam diri lama sekali setelah itu dia baru menghela napas panjang.

“Walaupun dia sudah bunuh diri tetapi dia orang sama sekali tidak memperlihatkan rasa menyesalnya . . , heeai . . . sungguh sayang..sungguh sayang..”

“Dia selalu menganggap perbuatan baiknya yang selama ini dipupuk bisa menghapuskan kejahatan yang pernah diperbuat itu siapa sangka sekalipun seorang budiman hanya karena sedikit salah saja maka jasanya yang terdahulu akan ikut lenyap dengan sendirinya, apalagi kejahatan yang diperbuat olehnya kali ini benar- benar merupakan satu kejahatan yang luar biasa.”

“Bilamana bukannya ini hari loolap mendengar dengan mata kepala sendiri akan pengakuannya mungkin loolap masih tidak akan percaya kalau dia pernah melakukan perbuatan dengan memperkosa istri orang lain” ujar Nyio Sam Pak lagi sambil menghela napas panjang, “Dengan sifatnya sebenarnya tidaklah mungkin bisa melakukan pekerjaan semacam itu.”

“Manusia tidak akan terhindar dari sifat kebinatangannya, bilamana tidak dapat mawas diri maka sukar sekali buat kita untuk bisa menghindarkan diri dari perbuatan semacam itu” ujar Wie Ci TO.

“Benar” sambung It Ih sangjien dengan cepat, “Perkataan dari Wie sicu sedikitpun tidak salah, mungkin Cuo sicu bisa berbicara demikian dikarenakan hartanya yang banyak dirumah membuat dia harus bersikap keras dan berwibawa, karenanya untuk memuaskan napsu kebinatangannya dia harus melakukan perbuatan semacam ini”

"Dia bilang sudah mengatur satu pasukan aneh, entah siasat apa lagi itu?" ujar Nyio Sam Pak tiba2 sambil angkat kepalanya memandang kearah diri Wie Ci To.

“Mungkin omong kosong untuk gertakan saja !" Jawab Wie Ci To sambil tertawa dingin.

"Lebih baik Wie Poocu sedikit berhati2, loolap dahulupun mengira dia adalah seorang kawan yang patut untuk diajak sebagai teman, tetapi dari sini sudah dapat dilihat kalau dia orang adalah seorang yang amat licik sekali bahkan suka untuk menggunakan akal, kemungkinan sekali sejak semula dia memang sudah mempersiapkan semacam siasat yang hendak mencelakai Wie Poocu serta Benteng Pek Kiam Poo"

"Ini hari ada It Ih Sangjien yang bertindak sebagai saksi, lain kali bilamana di antara Benteng kami dengan pihak Cuo It Sian terjadi sesuatu urusan, aku rasa mudah sekali untuk dapat dibereskan. . . "

"Sekarang kita hendak mengurus jenazahnya dengan cara bagaimana ?" tanya Nyio Sam Pak kemudian.

"Baik2 menguburkan dirinya saja"

"Baiklah, urusan ini serahkan saja kepada putriku untuk pergi menguruskannya, mari kila kembali keruangan tengah saja".

xxxxx

Keesokan harinya It Ih Sangjien berpamitan pada Nyio Sam Pak serta Wie Ci To untuk kembali kegunung Ngo Thay san.

Wie Ci To yang merasa tidak tenang atas perkataan-perkataan yang sudah diucapkan oleh Cuo It Sian sesaat hendak bunuh diri, setelah menghantarkan It Ih Sangjien pulang diapun segera berkata kepada Nyio Sam Pak:

"Nyio-heng, aku orang she-Wie pun harus pulang". "Tidak!!" cegah Nyio Sam Pak dengan cepat. "Wie Poocu harus tinggai lagi beberapa hari baru pulang".

"Bilamana dilain waktu ada kesempatan kita bertemu lagi, sekarang aku orang she Wie harus pulang ke benteng untuk mengurusi perkawinan".

“Perkawinan siapa?” tanya Nyio Sam Pak melengak. “Putriku.”

Nyio Sam Pak pernah mendengar Ti Then memanggilnya sebagai Gak hu, mendengar perkataan tersebut dia segera memandang sekejap kearah Ti Then.

“Menantu dari Wie Poocu apakah Ti Kiauw tauw ini?” tanyanya sambil tertawa.

“Benar.” sahut Wie Ci To mengangguk.

“Aku orang she Wie sudah berkata bilamana urusan dari Cuo It Sian ini sudah beres aku akan segera melangsungkan perkawinan mereka.”

“Putrimu bisa dijodohkan dengan Ti Kiauw tauw boleh dikata merupakan pasangan yang setimpal” ujar Nyio Sam Pak dengan girang. “Selamat. selamat, sampai waktunya jangan lupa memberi kabar kepada Loolap,”

“Tentu, tentu..” sahut Wie Ci To tertawa.

Mendadak Nyio Sam Pak menarik kembali senyuman yang menghiasi bibirnya itu, lalu ujarnya dengan serius,

“Bilamana Wie Poocu benar-benar bermaksud berangkat ini hari, loolap ada satu permintaan.”

“Nyio-heng silahkan berbicara, asalkan aku orang she Wie bisa melaksanakan pasti akan melakukannya!”

“Sebetulnya bukan satu urusan yang besar cuma saja jenasah dari muridku Cau Ci Beng Loolap ingin memindahkan ia kedalam perkampungan, bilamana tidak menunda perjalanan kalian bagaimana kalau loolap perintahkan Si Ce serta Si Jien untuk mengikuti kalian ? Cukup Wie Poocu suka menujukkan tempat terkuburnya Cau Ci Beng biarlah putraku yang bekerja sendiri”

“Baiklah” sahut Wie Ci To kemudian sambil mengangguk. “Kalau begitu putramu boleh siap-siap untuk melakukan perjalanan.”

Nyio Sam Pak segera menoleh kearah putranya Nyio Si Ce serta Nyio Si Jien.

“Kalian cepatlah mengadakan persiapan, Wie Poocu serta Ti Kiauw tauw sebentar lagi akan berangkat.”

Kedua orang bersaudara itu segera menyahut dan masuk kedalam untuk mengadakan persiapan,

Agaknya Nyio Sam Pak teringat kembali akan sesuatu, mendadak dia bangkit berdiri, "Ooooh benar, kalian berdua tunggulah sebentar, loolap akan pergi kedalam sebentar”

Dengan tergesa-gesa dia meninggalkan ruangan besar, tidak selang lama kemudian dia sudah berjalan masuk kembali kedalam ruangan dengan membawa satu kotak.

Ujarnya kemudian sambil tertawa tawar,

"Putrimu dengan Ti Kiauw-tauw akau melangsungkan perkawinannya, loolap tidak ada barang apa2 cuma sedikit hadiah ini harap kau suka menerimanya"

Air muka Ti Then segera terasa amat panas,

"Tidak . . . Nyio loocianpwee kau jangan berbuat demikian, boanpwee tidak berani menerimanya "ujarnya dengan gugup„

Nyio Sam Pak duduk kembali keterapas semula setelah ltu dia tertawa ter~bahak2.

"Jangan dikata Ti Kiauw-tauw sudah menolong loolap membasmi Si-iblis bungkuk Leng Hu Ih, sekalipun dengan persahabatan antara loolap dengan Wie Poocu kedua hadiah ini harus diberikan juga kepadamu." Sambil berkata dia meletakkan kotak yang semula kesamping kemudian dari dalam sakunya mengambil keluar pula satu kotak yang amat indah itu.

Ketika kotak itu dibuka, tampaklah sebuah intan sebesar jari kelingking muncul di hadapan mata.

“Intan iai adalah pemberian dari seorang kawanku dari daerah Si Ik pada beberapa tahun yang lalu” ujarnya kemudian. “Sekarang loolap akan menghadiahkannya kepada putri Wie Poocu sebagai tanda selamat.”

Intan tersebut berwarna biru dan memancarkan sinar yang berkilauan. jelas sekali harganya tidak ternilai,

Agaknya Wie Ci To juga mengerti bagaimana berharganya barang tersebut, dengan cepat dia gelengkan kepalanya.

“Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi..” tolaknya, “Bagaimana Nyio heng boleh menghadiahkan barang itu kepada siauwli? Bilamana Nyio heng memang bermaksud untuk memberi hadiah maka hadiah itu tidak boleh kelewat seratus tahil perak”

Intan tersebut boleh dikata mempunyai harta sebesar sepuluh laksa tahil.

“Sekalipun berharga sepuluh laksa tahil tetapi barang itupun merupakan benda mati” ujar Nyio Sam Pak tertawa. “Bilamana bukannya kalian datang tepat pada waktunya mungkin loolap beserta seluruh isi perkampungan ini sudah tanpa bernyawa lagi, apakah intan ini masih bisa disimpan?”

“Tidak bisa . . tidak bisa!” seru Wie Ci To terus sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Eeh . . . eeh , . . bukannya disumbangkan untuk Wie Poocu, kenapa kau orang begitu ribut?”

Berbicara sampai disini dia segera mengangsurkan intan itu kepada Ti Then. "Ti Kiauw-tauw harap suka mewakili aku untuk menyerahkan barang ini kepada nona Wie sesampainya didalam Benteng".

Ti Then menoleh memandang kearah Wie Ci To, dia tidak berani untuk menerimanya.

"Wie Poocu, sebenarnya kau tahu bagaimana sifat dari Loolap" ujar Nyio Sam Pak lagi. "Bilamana ini hari kau tidak mau menerimanya maka Loolap akan suruh orang sengaja mengirim benda terebut ke-dalam Benteng Pek Kiam Poo!".

"Baiklah, kau terimalah!" ujar Wie Ci To kemudian sambil mengerutkan alisnya.

Saat itulah Ti Then baru berani menerima intan tersebut.

“Sudah seharusnya boanpwee mewakili nona Wie mengucapkan terima kasih atas pemberian dari Nyio Loocianpwee ini " ujarnya perlahan.

Setelah itu dengan hormatnya dia menjura memberi hormat.

Nyio Sam Pak segera tertawa ter-bahak2 dia mengambil pula kotak yang lebih besar itu.

"Yang ini loolap hadiahkan untuk Ti Kiauw-tauw sebagai hadiah. Sedikit sumbangan ini harap kau suka menerimanya." ujarnya lagi sambil tertawa.

"Barang itu barang pusaka apa lagi ?" Timbrung Wie Ci To dari samping.

Nyio Sam Pak segera membuka kotak itu, dia tersenyum. "Sebuah pakaian yang terbuat dari kulit ! " Serunya.

Pakaian yang terbuat dari kulit itu berwarna putih, diatasnya dengan amat rapatnya tertancap jarum2 yang amat tajam.

Melihat barang tersebut air muka Wie Ci To segera berubah amat hebat "Aaah . . , Luan Wee Cia ?? " Serunya. "Penglihatan Poocu sungguh lihay. memang tameng landak adanya."

Luan Wee Cia atau baju luar tameng landak ini jika dibicarakan di daiam Bu-lim boleh dikata merupakan satu barang yang sangat berharga sekali, jikalau dipakai dibadan boleh dikata mirip dengan sebuah tameng besi yang amat dahsyat tidak perduli senjata atau telapak tangan jangan harap bisa melukai barang seujung rambut pun”

“Tidak, tidak” seru Wie Ci To lagi sambil gelengkan kepalanya. “Barang pusaka yang demikian berharganya seharusnya Nyio heng

...”

“Seharusnya diberikan orang lain” sambung Nyio Sam Pak dengan cepat. “Dan orang yang paling cocok untuk menerima barang tersebut adalah Ti Kiauw tauw”

“Nyio Loocianpwee harap menerimanya kembali, boanpwee tidak berani menerimanya,” tampik Ti Then cepat,

“Apa kau orang baru menerima barang ini bilamana Loolap sudah berlutut dihadapanmu?”

“Tidak. tidak ada urusan semacam ini” teriak Ti Then sambil membelalakkan matanya,

“Ti Kiauw tauw membantu perkampungan kami melenyapkan musuh besar, budi semacam ini apa halangannya kalau loolap berlutut dihadapanmu ?”

Sehabis berkata dia sungguh2 mau jatuhkan diri berlutut.

Ti Then benar2 amat terperanjat sekali, dengan gugup dia meninggalkan tempat duduknya sambil berteriak.

“Sudah. sudahlah boanpwee menerimanya”

“Haaa haaa loolap tidak takut kau tidak menerimanya” seru Nyo Sam Pak sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah menerima pakaian luar tameng landak itu Ti Then segera bungkukkan badannya memberi hormat.

“Barang yang demikian berharganya boanpwee benar-benar tidak berani untuk menerimanya,” ujarnya cepat. “Bilamana dikemudian hari Nyio Loocianpwee membutuhkan sesuatu harap segera kirim orang pergi mencari boanpwee”

“Baik, baik bilamana memang ada kejadian seperti itu Loolap segera akan kirim orang untuk meminjamnya dari tangan Ti Kiauw tauw.”

Saat itulah tampak Nyio Si Ce dua bersaudara dengan membawa buntalan sudah berjalan keluar.

“Baiklah,” ujar Wie Ci To kemudian sambil merangkap tangannya member hormat: “Sekarang juga loohu pamit dulu, setelah hari perkawinan siauwli ditetapkan tentu loohu akan kirim orang untuk memberi kabar kepada Nyio-heng, sampai waktunya Nyio-heng harus dating ber-sama2 dengan putramu”

"Sudah tentu ! sudah tentu !"

Dia menghantar Wie Ci To serta Ti Then sampai diluar perkampungan, setelah

mereka berangkat dia baru balik kembali kedalam perkampungan.

Wie Ci To, Ti Then serta dua bersaudara dari keluarga Nyio masing2 dengan menunggang seekor kuda mengikuti jalan gunung menuruni gunung Lak Ban San tersebut kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kearah Timur.

Selama ditengah perjalanan tidak terjadi peristiwa apa2, pada hari yang kelima mereka sudah tiba dikota Tiang An.

Ti Then dengan mengambil kesempatan itu segera menguangkan kertas uang sebesar lima belas laksa tahil perak yang didapatkan dari tangan Giok Bien Langcoen, Coe Hoay Loo itu kemudian membelikan juga beberapa macam kado buat Wie Lian In. Setelah menginap satu malam didalam kota, keesokan harinya mereka kembali melajutkan perjalanannya.

Sebelum meninggalkan kota Tiang An Ti Then memasukkan uang sebanyak lima belas laksa tahil itu kedalam empat buah karung, kemudian dengan minta bantuan dari Wie Ci To serta dua bersaudara dari keluarga Nyio setiap kali mereka memasuki kota dan menemukan rumah orang miskin secara diam2 lantas memberi beberapa tahil perak kedalamnya.

Demikianlah sembari melakukan perjalanan mereka menyebarkan uang tersebut kepada kaum miskin. Sewaktu memasuki daerah Auw Leng uang sebesar lima belas laksa tahil perak sudah tersebar habis.

Ti Then merasa sangat gembira sekali, ujarnya sambil tertawa: "Beberapa hari ini aku rasakan sebagai hari2 yang paling

berbahagia buatku selama hidupnya !"

"Inilah yang dinamakan berbuat amal paling menyenangkan" Seru bang Wie Ci To sambil tersenyum,

"Harta kekayaan dari Cuo It Sian jika dihitung ada seberapa banyaknya ?".

"Dia adalah manusia yang paling kaya di wilayah daerah Siok Ceng bilamana dihitung dengan sawah dan tanahnya mungkin ada diatas seribu laksa tahil perak".

“Uang yang sebegitu banyaknya bisa menolong banyak orang miskin, hari itu kenapa Gak-hu tidak mau menerima uang tebusannya itu untuk kemudian dibagi bagikan kepada orang miskin

?”

“Tidak, dosa dari seorang manusia tidak dapat ditebus dengan menggunakan uang” seru Wie Ci To dengan keren.

“Dengan kematian ini entah harta kekayaan yang sebegitu banyaknya itu hendak diberikan kepada siapa?”

“Dia ada seorang putra yang sejak semula sudah meninggalkan rumah entah pergi kemana, kali ini setelah mendengar ayahnya bunuh diri kemungkinan sekali bisa pulang untuk mengatur urusan terakhir dari ayahnya”

“Putranya apa bisa bersilat ?”

“Loohu dengar tidak bisa, dia adalah seorang sastrawan yang pernah lulus ujian Negara, agaknya bernama Ing Koei”

“Perkataan yang diucapkan Cuo It Sian sebelum bunuh diri Gak- hu merasa sungguh-sungguh atau bohong ?”

“Loohu sendiri juga tidak jelas…”

”Bilamana urusan ini adalah nyata” sambung Nyio Si Ce dengan cepat. “Dan Wie Loocianpwee merasa sulit untuk dihadap mereka segeralah kirim orang untuk memberi kabar kepada kami- walaupun Tia dia orang tua sudah mengundurkan diri dari dunia kangouw tetapi kami bersaudara nanti akan memberi bantuan kepada Wie loocianpwee untuk sumbang sedikit tenaga.”

“Baik” ujar Wie Ci To sambil tertawa.

Tua muda empat orang sembari berjalan sembari bercakap cakap, kembali berjalan sepuluh hari lagi sampailah mereka di tengah tanah tandus antara gunung Cun san dengan kota Hoa Yong Sian, yaitu tempat dimana Si elang sakti Cau Ci Beng menemui ajalnya.

Ti Then segera turun dari kudanya dibawah pohon tersebut, sambil menuding keatas tanah gundukan dibawah pohon yang rindang itu ujarnya,

“Cau-heng dikubur ditempat ini.”

Nyio Si Ce serta Nyio Si Jien lantas meloncat turun dari kuda, kemudian setelah mencabut keluar pedangnya mereka mulai menggali kuburan tersebut.

Tidak begitu dalam mereka menggali segera tersiarlah bau busuk mayat yang amat menusuk hidung.

Mereka dua orang bersaudara segera berhenti menggali. "Cau sute kau menemui kematian dengan begitu kasihannya !" ujar Nyio Si Jien sambil melelehkan air mata.

Dengan perlahan Nyio Si Jien menoleh kearah Wie Ci To, kemudian ujarnya:

"Wie Loocianpwee serta Ti-heng apakah hendak kembali kedalam Benteng?"

"Loohu akan menuuggu setelah jenazahnya akan dikeluarkan dari tanah baru berangkat”

"Tidak !" Seru Nyio Si Ce dengan gugup, "Wie Loocianpwee serta Ti-heng yang bersusah payah sudah menghantar kami bersaudara sampai disini sudah lebih dari cukup, kini biarlah Si Jien mengikuti Loocianpwee ber-sama2 melakukan perjalanan sampai dikota Hoa Yong Sian untuk membeli kereta- peti mati dan barang2 lain setelah itu Wie Loocianpwee berdua boleh berangkat kembali ke Benteng.”

"Tidak membutuhkan bantuan Loohu?".

“Tidak, urusan yang demikian kecilnya ini, kami bersaudara bisa membereskan sendiri".

“Kalau begitu Loohu berpisah dulu sampai disini, sampai waktunya perkawinan antara Ti Kiauw-tauw serta siauw-li, kalian dua bersaudara harus datang pula untuk minum arak kegirangan".

“Tentu . . . tentu, kami pasti datang" sahut Nyio Si Ce sambil merangkap tangannya memberi hormat.

Demikianlah Wie Ci To, Ti Then serta Nyio Si Jien segera melanjutkan kembali perjalanannya kearah Barat kembali ke kota Hoa Yong Sian.

Tidak sampai dua puluh li mereka sudah berada didalam kota, setelah menemani Nyio Si Jien membeli kereta serta peti mati dan menghantar dia orang melakukan perjalanan, Ti Then serta Wie Ci To baru bersantap siang kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Benteng. Air muka Wie Ci To penuh dihiasi senyuman kegembiraan, ujarnya di tengah perjalanan:

"Kali ini kita dapat membereskan Cuo It Sian dengan begitu mudahnya sungguh berada diluar dugaan . .”

“Benar.” sahut Ti Then mengangguk, “Dengan demikian kita sudah membuang banyak kerepotan dari pada harus melakukan sesuai dengan rencana dimana mengharuskan Gak-hu menyamar sebagai Nyio Sam Pak, walaupun kita berhasil mencuri pedang itu tetapi untuk membereskan nyawanya harus menanti dulu sampai tahun besok setelah Gak hu mengumumkan dosanya di hadapan umum, wah kalau sampai waktu itu baru bisa turun tangan untuk membinasakan dirinya mungkin hati pun sudah mangkel sekali.”

“Cuo It Sian bilang Loohu bernapsu untuk membunuh dirinya terus menerus, berarti pula dia sedang menegur loohu tidak mempunyai hati untuk mengampuni orang lain, kau rasa bagaimana?”

“Tidak, dia yang melakukan pekerjaan jahat dosanya amat besar sekali tidak boleh diampuni lagi.”

“Karena kau akan menjadi menantu loohu maka loohu akan memberi nasehat kepadamu kau janganlah sekali-kali menganggap dengan kepandaian silat yang amat tinggi dan pergi kesana kemari tanpa diketahui orang lain sekalipun melakukan suatu perbuatan salah tidak bakal bisa ketahuan, kau harus ingat akan kata-kata yang mengatakan : Sekaiipun kau bisa mengelabui orang tetapi jangan barap bisa mengelabui dirimu sendiri, apa lagi mengelabui mata hati Lao Thian-ya setiap orang yang percaya berbuat jahat dia tentu akan menerima karma sesuai dengan perbuatannya,”

Ti Then yang teringat akan dirinya yang mendapat perintah dan majikan patung emas untuk pergi memperistri putri orang lain uatuk kemudian melaksanakan satu rencana busuk dalam hati merasa sangat menyesal sekali, saking gemasnya dia kepingin sekali mencari sebuah lubang untuk diterobosi. Dia ingin sekali menceritakan seluruh rencana yang sudah disusun oleh majikan patung emas dan rahasia dimana dia orang telah digunakan oleh majikan patung emas tetapi setelah teringat akan sesuatu dia batalkan kembali maksudnya itu.

Karena sejak bersama-sama dengan Wie Ci To meninggalkan Benteng Pek Kiam Poo sampai kedalam perkampungan Thiat Kiam San Cung dan hingga kini walaupun dia belum pernah bertemu kembali dengan pemuda berbaju biru itu orang yang dikirim majikan patung emas untuk mengawasi gerak geriknya tetapi dia selalu merasa pemuda berbaju biru itu masih mengawasi terus akan dirinya, bilamana sekarang dia membeberkan semua rahasia dari majikan patung emas bilamana sampai terdengar atau terlihat oleh pemuda berbaju biru itu dan dilaporkan kepada majikan patung emas. Walaupun hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia orang tetapi Wie Ci To beserta seluruh anggota Benteng Pek Kiam Poo akan menemui bencana yang luar biasa ada kemungkinan majikan patung emas segera akan turun tangan .... membunuh Wie Ci To atau menculik Wie Lian In!"

Maka itu setelah berpikir bolak balik akhirnya dia merasa lebih baik urusan jangan dibicarakan dulu, menanti setelah dia mendapatkan satu cara untuk menghadapi majikan patung emas waktu itulah dia baru minta ampun dihadapan Wie Ci To.

Wie Ci To yang melihat setelah dia orang mendengar perkataannya itu air mukanya segera kelihatan sangat aneh dalam anggapannya dia mengira perkataannnya sudah terlalu berat, segera dia tertawa.

"Loohu percaya penuh kau pasti bukanlah manusia semacam itu, perkataan yang aku ucapkan ini hari cumalah omongan sepintas lalu saja.”

"Nasehat dari Gak-hu sedikitpun tidak salah, aku orang pasti akan mengingatkan terus didalam hati." "Loohu bisa mempunyai seorang menantu seperti kau dalam hati loohu merasa amat girang sekali " ujar Wie Ci To tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Mendadak terdengar Ti Then menghela napas panjang.

"Seperti Cuo It Sian, orang yang memiliki nama baik didalam Bu- lim setelah melakukan sedikit kesalahan saja maka namanya akan jadi rusak. Sebaliknya kita yang sudah turun tangan memberi hukuman pun menemui banyak kesukaran. coba bayangkan saja disamping harus menghukum dia kita pun harus memberi penjelasan kepada orang2 Bu-lim lainnya. Setelah dipikir-pikir aku rasa membunuh orang2 dari kalangan Hek-to jauh lebih gampang lagi misalnya saja boanpwee sudah membinasakan Giok Bien Langcoen Coe Hoay Loo jelas tidak usah diterangkan lagi orang2 lainpun sudah pada tahu kenapa boanpwee membunuhnya".

"Benar. perkataan tersebut sedikitpun tidak salah. Menghadapi Cuo It Sian, Loohu merasa benar2 merupakan satu pekerjaan yang paling susah”

"Kejadian yang seperti peristiwa Cuo It Sian ini apakah Gak-hu pernah menemuinya lagi ?" tanya Ti Then kemudian dengan meminjam kesempatan ini.

"Sudah tidak ada!" Sahut Wie Ci To sambil gelengkan kepalanya. “Selama hidupnya Gak-hu kecuali mengikat permusuhan dengan

si pendekar pedang tangan kiri apakah tidak pernah mengikat permusuhan dengan jago2 Bu lim lainnya?”

“Tidak ada. buat apa kau menanyakan hal ini?”

“Tidak mempunyai arti yang istimewa, boanpwee cuma sembarangan bertanya saja!” sahut Ti Then tertawa.

Dengan perlahan Wie Ci To menghela napas panjang.

---ooo0dw0ooo---