Pendekar Patung Emas Jilid 31

 
Jilid 31

IA BERHENTI sebentar untuk tukar napas lalu sambungnya lagi ”Dikemudian hari setelah boanpwe benar-benar yakin dialah yang

membinasakan diri Hong Mong Ling maka di dalam pikiranku segera

berkelebat satu ingatan. Boanpwe merasa pastilah ada seseorang yang menyamar sebagai dirinya dan setiap hari ada dirumahnya dikota Tiong Cing Hu untuk melindungi seluruh gerak geriknya, kali ini dia pergi ke tempat Cu Kiam Lojin untuk membetulkan pedangnya bahkan mem punyai maksud untuk membunuhnya pula, sudah tentu dia menyuruh orang yang menyamar sebagai dirinya itu untuk setiap hari berlalu lalang di dalam kota Tiong Cing Hu agar semua orang melihatnya, dikemudian hari apabila ada orang yang menaruh curiga terhadap dirinya dan menudub dialah yang sudah membunuh Cu Kiam Lojin maka saat itulah dia akan meminta penduduk disekitar kota Tiong Cing Hu untuk bertindak sebagai saksi kalau dia orang sama sekali belum pernah meninggalkan kota Tiong Cing Hu barang setapak pun."

"Memang demikian adanya " sahut Wi Ci To sambil mengangguk. "Kali ini Lohu pergi kekota Tiong Cing Hu setiap hari bisa melihat dia pergi main catur di dalam sebuah rumah penyual teh, selama itu Lohu selalu tidak mengetahui kalau dia adalah Cuo It Sian palsu, sampai pada tengah malam suatu hari di sana untuk keempat kalinya Lohu masuk ke dalam rumahnya untuk mencuri pedang pendek itu mendadak Lohu sudah menemukan ada dua orang Cuo It Sian muncul di tanah lapangan halaman belakangnya saat itulah Lohu baru tahu dia orang sebenarnya punya seseorang yang sengaja menyamar sebagai dirinya . . "

"Waktu itu apakah pocu tidak mendengar dia membicarakan soal dia orang sudah menggunakan sebilah pedang pendek yang lain ditukar dengan pedang Biat hun Kiam yang asli?" tanya Ti Then kemudian.

"Tidak!" sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya." Hal itu boleh dikata adalah kesalahan Lohu sendiri yang terlalu bernapsu dan gegabah, ketika Lohu mendengar Cuo It Sian mengatakan "Sudah dicuri dikota Hok Hong Sian" maka di dalam anggapanku kau sudah berhasil mendapatkannya. karena itu secara diam-diam aku sudah mengundurkan diri dari sana, dan tidak melanyutkan mencuri dengar pembicaraan mereka."

"Lalu seharusnya bagaimana baiknya ?”

Wi Ci To termenung berpikir sebentar mendadak sambil menengok kearah depan pintu ujarnya :

"Lian In, kau masuklah!" Mendengar perkataan tersebut Ti Then jadi melengak, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa.

"Aaaaah     kiranya Lian In sedang mencuri dengar diluar kamar

.. ”

Tampak pintu kamar dengan perlahan-lahan didorong ke dalam kemudian tampaklah Wi Lian In dengan wajah yang masih diliputi oleh rasa malu berjalan masuk ke dalam kamar baca itu.

”Tia. ” serunya malu, "Pendengaranmu sungguh tajam sekali, aku baru saja samppai ditempat ini.”

”Kalau begitu orang yang mencuri dengar diluar kamar sejak tadi tentunya bukan kau orang melainkan budak setan lainnya,” ujar Wi Ci To sambil tertawa gemas.

Ait muka Wi Lian In seketika itu juga berubah memerah.

„Hmm.“ dengusnya, „Tia sungguh pintar sekali memaki orang dengan jalan berputar, aku tidak cuma berdiri sebentar saja diluar kamar.“

„Apa yang aku bicarakan dengan Kiauwtauw kau sudah mendengar semuanya, sekarang aku mau bertanya kepadamuo kau punya akal apa yang baik?“ ujar Wi Ci To sambil tertawa.

„Hal ini harus melihat maksud hati dari Tia, jikalau Tia sudah mengambil keputusan untuk merebut kembali pedang Biat Hun Kiam itu maka aku bsserta Ti Kiauw tauw terpaksa harus pergi mencuri lagi“

„Sudah tenta lohu punya maksud hati untuk merebut kembali pedang pendek itu.

Cuma saja jikalau kita tidak mencarikan satu akal yang bagus rasanya tidak akan mudah mendapatkan hasil.“

Tiba-tiba tampak Ti Then bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu kamar untuk menengok sebentar keadaan ditempat luaran, setelah dilihatnya tidak ada jagoan pedang dari Benteng yang berada disekeliling tempat itu dia baru berputar kembali dan berkata dengan suara yang amat lirih sekali :

„Boanpwe punya satu akal, cuma saja tidak dapat dibicarakan secara terus terang“

„Coba kau katakanlah,“ ujar Wi Ci To sambil memandang tajam wajahnya.

Ti Then segera maju satu langkah mendekati badannya lantas bungkukkan badannya membisikkan sesuatu ketelinganya, akhirnya dia menambahkan :

„Pocu rasa bagaimana dengan siasat ini?”

Air muka Wi Ci To segera memperlihatkan rasa girangnya, dengan cepat dia mengangguk.

"Siasat ini bagus sekali, kita boleh coba. . . , Coba . . . kita boleh coba-Coba!" Serunya.

"Cuma saja tidak tahu bagaimana dengan perawakan badannya?"

"Lohu sendiri pun sudah ada tujuh, delapan tahun lamanya tidak pernah bertemu dengan dirinya, bagaimana perawakan badannya lohu sendiri juga tidak begitu jelas, tetapi bagaiamana pun kita harus pergi melihatnya pula, sampai waktunya kita mengambil keputusan kembali."

"Eeeei. . . . sebetulnya ada urusan apa?” tanya Wi Lian In tidak sabaran lagi.

"Lian In!" ujar Wi Ci To tersenyum dan menoleh kearah putrinya. "Siasat dari Ti Kiauw-tauw yang begitu baik untuk mencuri kembali pedang itu, untuk kali ini terpaksa kau tidak boleh mengikutinya."

"Asalkan aku mengetahui alasan yang melarang aku ikut pergi sudah tentu aku tidak akan pergi !" Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya. "Sudah tentu mem punyai alasan yang tidak memperbolehkan kau ikut, bilamana kali ini kau tetap ngotot untuk ikut maka semua siasat dari Ti Kiauw tauw tidak bisa dijalankan lagi.”

Wi Lian In segera kirim satu kerlingan mata yang amat gemas terhadap diri Ti Then tanyanya dengan wajah yang penuh rasa tidak senang.

”Apa tokh sebetulnya siasat yang kau usulkan itu?”

”Bila kau menyanggupi untuk tidak ikut pergi maka aku baru beritahu kepadamu” sahut Ti Then tersenyum,

”Kau tidak mau bicara juga tidak mengapa” teriak Wi Lian In semakin tidak senang, ”Pokoknya aku masih punya seekor anying Cian Li Yen untuk membuntuti dirimu.”

Mendadak air muka Wi Ci To berubah jadi amat keren sekali, ”Kali ini jikalau kau menggunakan anying Cian Li Yen untuk

membuntuti lohu serta Ti Kiauw tauw lagi maka aku tidak akan

mengakui sebagai putriku lagi.“

Wi Lian In yang melihat ayahnya berbicara dengan demikian serius dan keren tidak terasa lagi dia jadi bergidik.

”Tia, kau hendak pergi bersama-sama dengan Ti Kiauw-tauw ?” tanyanya terperanyat.

”Benar, kami mau pergi menyambangi seseorang kemudian baru pergi kekota Tiong Cing Hu untuk mencuri pedang.”

”Mau menyambangi siapa ?“ tanya Wi Lian In lebih lanjut,

„Kau kemarilah, aku akan memberitahukan siasat dari Ti Kiauwtauw itu.”

Wi Lian In segera berjalan mendekati ayahnya. Wi Ci To pun lantas memberitahukan siasat dari Ti Then itu dengan suara yang amat lirih.

Selesai mendengar Wi Lian In mengangguk. „Kira-kira harus membutuhkan beberapa lama?" tanyanya.

“Paling cepat juga satu setengah bulan,” sahut Wi Ci To setelah berpikir sebentar.

“Aku setuju tidak ikut pergi, tetapi tentunya aku boleb pergi ketempat lain untuk jalan-jalan bukan ?”

”Kau ingin pergi kemana?” ”Tiang An”

”Mau berbuat apa?“

„Aku sudah sebesar begini tetapi selamanya belum pernah pergi kekota Tiang An, aku ingin mencari pengalaman sekalian membeli barang aku dengar katanya barang yang ada di-ibu kota jauh lebih baik dari barang-barang di kota lain.“

”Kalau mau main, kesempatan di kemudian hari masih amat banyak“ ujar Wi Ci To tertawa. „Sedangkan mengenai pembelian barang, jikalau barang itu adalah keperluan untuk perkawinanmu nanti, kau boleh berlega hati aku bisa kirim orang untuk pergi beli barang-barang tersebut buatmu.“

Air muka Wi Lian In segera berubah memerah sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah ujarnya.

”Siapa yang mau pergi beli barang keperluan kawin, aku cuma ingin membeli sedikit barang saja.”

”Tidak perduli kau hendak membeli barang apa   pun sebelum lohu berhasil merebut kembali pedang pendek Biat Hun Kiam itu kau dilarang meninggalkan benteng seorang diri, jikalau kau tidak mau mendengar omonganku maka aku tidak akan menyayangi dirimu.”

Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya.

”Tia, kau takut aku terjatuh kembali ke tangannya Cuo It Sian bajingan tua itu?”

”Benar.” ”Soal ini sebetulnya Tia tidak perlu kuatir, perjalanan putrimu kali ini menuju kekota Tiang An adalah . ..”

Medadak Wi Ci To ulapkan tangannya memotong pembicaraan selanjutnya.

”Biarlah lohu beritahu satu persoalan lagi kepadamu. . ”

Sehabis berkata dia menarik dirinya ke samping badannya lalu membisikkan sesuatu perkataan kepadanya.

Selesai mendengar perkataan tersebut air muka Wi Lian In segera berubah merah padam, dengan rasa amat malu sekali dia menutupi wajahnya sendiri.

”Tidak, aku tidak mau.”

Dengan menundukkan kepalanya dia lari keluar dari kamar baca tersebut.

Wi Ci To segera tertawa terbahak-bahak.

Ti Then yang melihat perubahan wajah antara ayah beranak itu dia segera mengetahui tentunya Wi Ci To sudah mengatakan sesuatu kepada putrinya, sehingga membuat dia merasa malu sekali.

„Pocu, kau orang tua memberitahukan soal apa kepadanya ?“ tanyanya sambil tertawa paksa.

„Lohu beritahu kepadanya, bilamana dia tidak baik-baik tinggal di dalam Benteng maka aku tidak akan membiarkan dia kawin“

Ti Then segera tersenyum, lalu dengan cepat mengalihkan bahan pembicaraannya.

”Pocu punya rencana berangkat kapan ?” ”Bagaimana kalau besok pagi ?” ”Boanpwe ikuti saja keputusan dari Pocu.”

”Kalau begitu kita berangkat besok pagi saja.” ”Baikiah,” ujar Ti Then sambil merangkap tangannya menjura. ”Pocu silahkan beristirahat, boanpwe ”

”Ti Kiauw-tauw, silahkan duduk lagi” tiba-tiba Wi Ci To mengulap tangannya memutuskan perkataan selanjutnya. ”Lohu masih ada perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirimu.”

Terpaksa Ti Then duduk kembali. “Pocu ada petunjuk apa?” tanyanya.

Dengan sinar mata yang amat tajam Wi Ci To memperhatikan wajahnya, dia tersenyum,

”Ada satu persoalan yang selama ini Lohu belum pernah menanyakan kepadamu, pernahkah kau kawin?” tanyanya.

”Belum” sahut Ti Then dengan hati berdebar-debar amat keras sekali.

”Kalau begitu bagus sekali” seru Wi Ci To kegirangan. ”Aku mau tanya satu persolan lagi, bagaimana pandanganmu terhadap putriku itu?”

Wajah Ti Then segera berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus saking malunya.

”Lian In ba . . . bagus sekali,” sahutnya sambil tertawa malu- malu.

”Selama hidupku lohu cuma mem punyai seorang putri dia saja, maka itu rasa sayangku kepadanya amat berlebih-lebihan, tetapi jika dilihat dari tindak tanduknya sifatnya boleh dikata tidak jelek.”

”Benar, benar . . ”

”Bilamana Ti Kiauw-tauw tidak menampik, bagaimana kalau Lohu jodohkan saja kepadamu”

”Boanpwe tidak becus di dalam sega1a-galanya, mungkin tidak memadai untuk mendapatkan diri Lian In,” sahut Ti Then sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah. ”Ti Kiauw tauw tidak usab terlalu merendahkan diri, pemuda yang demikian baiknya seperti dirimu boleh dikata selama hidupku lohu baru untuk pertama kali menemuinya maka bilamana kita bicarakan memadai atau tidak seharusnyalah putrikulah yang tidak memadai,”

”Tidak berani, pocu terlalu memuji.”

”Bilamana kau mem punyai perhatian khusus terhadap putriku maka setelah berhasil mencuri pedang pendek itu, lohu segera akan menguruskan perkawinan kalian, tetapi bila kau tidak punya perhatian juga tidak mengapa, bagaimana?”

”Pocu bisa memandang tinggi boanpwe . boanpwe merasa sangat berterima kasih sekali,” seru Ti Then dengan gugup. ”Cuma saja , , Cuma saja . ,”

”Cuma saja bagaimana?”

”Cuma saja boanpwe bisa jadi seorang Kiauw tauw yang baik tetapi belum tentu bisa jadi seoraog menantu yang baik”

Mendengar perkataan tersebut Wi Ci To segera tertawa

”Soal ini Lohu tidak akan merasa kuatir, omong terus terang saja Lohu sudah memperhatikan dirimu lama sekali, terhadap seluruh tindak tandukmu lohu boleh dikata sudah mengetahui amat jelas sekali.”

”Tapi boanpwe merasa.. . merasa boanpwe bukanlah . . bukanlah seorang manusia baik” seru Ti Then tertawa pahit.

”Tidak” seru Wi Ci To dengan tegas, ”Kau adalah seorang pemuda yang amat bagus dan berhati jujur, walau pun dalam hatimu ada kemungkinan sudah tersembunyi satu rahasia yang tidak dapat diberitahukan kepada orang lain tetap! tidak perduli apakah rahasia itu lohu berani memastikan kalau kau adalah seorang manusia yang dapat dipercaya.”

Dalam hati Ti Then merasa semakin menyesal lagi. ”Dugaan dari Pocu sedikit pun tidak salah, Boanpwe mem punyai suatu rahasia yang tidak dapat diberitahukan kepada orang lain . . ” serunya terharu.

Wi Ci To segera goyangkan tangannya mencegah dia orang untuk melanjutkan kembali perkataannya.

”Kalau memangnya tidak boleh diberitahukan kepada orang lain lebih baik tidak usah dibicarakan lagi” ujarnya sambil tertawa ramah, ”Lebih baik sekarang kita bicarakan soal perkawinan saja, bilamana tidak setuju maka Lohu tetap adalah Pocu-mu sedangkan kau pun tetap merupakan Kiauw-tauw diri Lohu,”

Sampai keadaan seperti ini boleh dikata situasi dari Ti Then seperti naik di atas pungguag macan mau turun pun tidak sanggup lagi. Terpaksa dia menigggalkan tempat duduknya dan jatuhkan diri berlutut dihadapas Wi Ci To lantas menyalankan penghormatannya.

”Gakhu, ada dia di atas, terimalah satu penghormatannya.”

Wi Ci To benar-benar merasa sangat girang sekali, dengan cepat dia ulur tangannya membimbing dia bangun kemudian tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.

”Haaa , . ha. bagus sekali. lain kali setelah kembali ke dalam Benteng lohu pasti akan mencarikan satu hari yang bagus untuk kawinkan diri kalian.”

Ti Then segera bangkit berdiri, tangannya dilurus ke bawah dan berdiri tidak bergerak, dia tidak tahu haruskah hatinya merasa murung atau girang, keadaannya amat mengenaskan sekali.

”Satu-satunya syarat yang harus kau terima adalah setelah kau kawin dengan putriku maka kalian harus tetap tinggal di dalam benteng, dan kau pun tetap menyabat sebagai Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po” sambung Wi Ci To lagi sambil tertawa.

“Baik”

”Kau punya usul lain?” tanya Wi Ci To lagi. “Tidak ada” “Kalau begitu sekarang kau boleh kabarkan berita bagus ini kepada Wi Lian In bersamaan pula peringatkan kepadanya untuk jangan meninggalkan benteng setelah kita pergi, jika kau yang mengatakannya dia malah mau mendengar, pergilah!”

Ti Then segera menyahut dan mengundurkan diri dari kamar baca itu setelah menyalankan penghormatan kembali.

Setelah itu dia baru berjalan menuju kamar Wi Lian In.

Sesampainya di depan kamar Wi Lian In tampaklah pada waktu itu si budak Cun Lan sedang berjalan keluar dari dalam ruangan.

Dia segera menghentikan langkah kakinya. ”Siocia ada di kamar?” tanyanya.

”Ada,” sahut Cun Lan singkat. ”Tolong panggil dia keluar.”

”Ti Kiauw tauw kenapa kau tidak mau masuk sendiri ke dalam?” ujar Cun Lan sambil tertawa.

”Aaa . . . aku . aku boleh masuk ?” tanya Ti Then malu-malu. ”Sudah tentu boleh.” sahut Cun Lan sambil tertawa geli.

Selesai berkata bukannya masuk ke dalam kamar untuk melapor sebaliknya malah lari keluar.

Ti Then tak dapat berbuat apa-apa lagi terpaksa dia melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar.

”Lian In . , , , Lian In , ,” teriaknya berulang kali. ”Siapa ?”

Suara dari Wi Lian In berkumandang keluar dari dalam kamar, jika didengar dari nada suaranya jelas membawa serta tertawa yang ditahan-tahan agaknya dia sudah tahu Ti Then yang datang tetapi sengaja bcr pura-pura tolol.

”Aku” sahut Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya. ”Siapa kau?” tanya Wi Lian In lagi tetap tidak munculkan dirinya. ”Si tikus membuat lubang Bun Ih” sahut Ti Then tertawa.

”Kau hendak cari siapa ?” ”Mau cari calon istriku . .”

„Siapa calon isterimu itu ?“ “Wi Lian In”

“Sungguh besar nyalimu, jikalau didengar Tia mulutmu tentu akan ditampar sampai keluar darah,”

“Aku tidak takut, aku memangnya mendapat peritah dari ayahmu sengaja datang mencari calon istriku.”

Ketika Wi Lian In mendengar perkataannya yang terakhir ini bagaikan segulung angin kencang dengan cepatnya berlari keluar, jelas sekali kelihatan biji matanya yang jeli mengandung rasa girang yang bukan alang kepalang.

”Kau . .kau bilang apa?” tanyanya girang bercampur malu-

”Aku mendapat perintah dari Gakhu dia orang tua untuk datang kemari mencari calon istriku.” seru Ti Then sambil menepuk dadanya sendiri.

Di hadapan Ti Then, Wi Lian In tidak merasa malu lagi seperti sewaktu ada di hadapan ayahnya, mendengar perkataan ini dia segera menarik tangan Ti Then,

”Tia bilang apa?”

”Dia orang tua tanya aku maukah mengawini dirimu sebagai isteriny, bilaman mau maka dia menyuruh aku berlutut dan menyalankan penghormatan besar kepadanya “

”Lalu kau sudah jalankan?” tanya Wi Lian In dengan sangat cemas.

“Sudah,” sahut Ti Then mengangguk. Wi Lian In jadi amat girang sekali. “Lalu bagaimana?” tanyanya cepat.

“Dia bilang setelah kita berhasil mendapatkan pedang pendek itu maka dia akan mengawinkan kita berdua, tetapi ada satu syarat.”

”Syarat apa?”

”Sebelum kita balik kembali ke dalam Benteng kau dilarang meninggalkan Benteng, kalau berani melanggar batal.”

”Aku tidak pergi sudahlab, buat apa kau membicarakan soal itu demikian seriusnya” seru Wi Lian In sambil tertawa,

”Kau adalah putri kesayangan dari ayahmu, kau tidak boleh membuat dia merasa kuatir, begitulah tindakan seoraag anak yang berbakti kepada orang tuanya.”

Wi Lian In segera mengangguk.

„Aku bersumpah tidak akan keluar pintu benteng barang selangkah pun,” serunya kemudian.

„Jika di dalam Benteng kau merasa megganggur bolehlah kau bantu aku membuatkan beberapa stel pakaian, sekarang apa pun aku tidak punya sampai waktunya kswin kalau diharuskan memakai baju yang kuno dan jelek bukankah akan menggelikan para tamu saja?”

„Baiklah,“ sahut Wi Lian In sambil mengangguk berulang kali.

„Aku bisa pergi ke dalam kota untuk membeli bahan kain yang paling bagus untuk membuatkan tiga lima stel pakaian buat dirimu, ada lainnya?“

”Tidak ada”

”Kapan kau berangkat?” ”Besok pagi.”

Wi Lian In yang mendengar kekasihnya hendak berangkat meninggalkan dirinya Begitu cepat jelas dari air mukanya memperlihatkan rasa keberatannya,

”Aku ada banyak persoalan yang hendak dibicarakan dengan dirimu, bagaimana kalau kita duduk-duduk di dalam kebun burga?” tanyanya.

”Baiklah.”

Sesampainya di dalam kebun bunga akhirnya Wi Lian In tidak berbicara terlalu banyak, mereka berdua dengan berdiam diri saling berpelukan dengan mesranya.

Malam itu sehabis bersantap malam Wi Ci To mengumpulkan semua jago pedang merah yang ada di dalam Benteng dan mengumumkan kalau besok bendak keluar Benteng bersama-sama dengan Ti Then untuk membereskan satu urusan sesudah memesan wanti-wanti dan menyerahkan seluruh pekerjaan yang ada di dalam Benteng kepada anak muridnya dia membubarkan semua orang dan mengundurkan diri ke kamar untuk beristirahat.

Ti Then pun kembali ke dalam kamarnya sendiri, si pelayan tua Locia dengan matanya yang sipit berjalan masuk ke dalam kamar membawa seteko air teh panas.

”Ti Kiauw tauw, aku dengar kau hendak keluar benteng lagi?” tanyanya.

"Tidak salah, besok harus berangkat.” ”Kali ini kau hendak pergi kemana?" "Rahasia ini tidak boleh dibocorkan."

"Aku budak tua masih mendengar satu berita bagus lagi, berita baik ini tentunya Ti Kiauw-tauw boleh membocorkannya bukan?”

"Berita baik apa?" tanya Ti Then pura-pura bodoh-

Si Locia segera tertawa haa haa hi hi, ”Aku dengar katanya Pocu telah menjodohkan sio-cia kepadamu, bukan begitu?" "Kau dengar berita ini dari siapa?" tanya Ti Then sambil tertawa tawar.

"Semua jago pedang yang ada di dalam benteng sudah pada tahu."

”Mereka dengar dari siapa?"

"Katanya Sio-cia memberitahukan soal ini kepada Cun Lan, dan Cun Lan lah yang membocorkan ke tempat luaran."

'Hmmm! budak itu memang sangat cerewet sekali!" Si Lo-cia segera tertawa.

"Peristiwa yang patut digirangkan oleh siapa pun ini, kenapa Ti Kiauw-tauw mengelabuhi kita juga ?" ujarnya.

"Teringat akulah yang merusak hubungan perkawinan antara dirinya dengan Hong Mong Ling aku merasa sedikit tidak enak”

Senyuman yang menghiasi bibir Lo-cia segera lenyap tak berbekas diganti dengan satu wajah yang serius,

"Ti Kiauw-tauw bagaimana bisa berkata demikian ?" ujarnya keras. "Bangsat cilik itu sudah terpikat oleh kecantikan wajah seorang pelacur rendahan hal ini sudah merupakan satu persoalan yang amat memalukan sekali, bagaimana kau bisa berkata dirimulah yang telah menghancurkan ikatan perkawinan mereka ?"

"Jago-jago pedang yang ada di dalam Benteng setelah mendengar berita ini, bagaimana tanggapan mereka.?"

"Semuanya setuju, mereka menganggap sio-cia memang paling pantas kalau dijodohkan dengan diri Ti Kiauw-tauw!” Sahut Si Lo-cia dengan cepat.

"Tidak ada seorang pun yang merasa tidak setuju ?"

"Tidak ada! Tidak ada !" Sahut Lo-cia dengan cepat gelengkan kepalanya. "Baiklah, Lo-cia, kau kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat aku pun mau pergi tidur."

" Baik .... baik . . , ” sahut Lo-cia tertawa lalu bungkukan badannya memberi hormat. "Ti Kiauw-tauw pun. silahkan beristirahat"

Sehabis berkata dia segera mengundurkan diri dari sana.

Ti Then berjalan mendekati depan jendela, setelah mendengar Lo-cia telah kembali ke kamarnya sendiri dia baru mengambil lampu dan mengetuk di depan jendela tiga kali, selesai memadamkan lampu dia baru naik ke atas pembaringan untuk tidur.

Dia berbaring di atas pembaringan tidak bergerak sedikit pun, tetapi dalam hati dia merasa pikirannya amat tajam sekali, bahkan benar-benar membingungkan hatinya.

Wi Ci To mengatakan pedang pendek itu adalah palsu walau pun hal ini berada diluar dugaannya semula tetapi dia merasa sangat gembira sekali, karena dengan demikian dia bisa melarikan diri lagi dari waktu yang sudah ditetapkan, dia tidak takut untuk dikawinkan cepat-cepat dengan Wi Lian In tetapi di hadapan Wi Ci To sudah bilang mau menjodohkan putrinya kepadanya, hal ini membuat harapannya jadi musnah! Dia selalu mengharapkan Wi Ci To bisa menghapuskan maksud hatinya ini.

Sekarang akhirnya datang juga kenyataan tersebut.

"Siasat serta rencana" yang disusun oleh majikan patung emas akhirnya jadi kenyataan juga, setelah lewat satu setengah bulan kemudian dia bakal jadi suami istri dengan Wi Lian In. Sewaktu dia sudah jadi suami dari Wi Lian In maka majikan patung emas bisa memerintahkan perintahnya yang kedua, apakah perintahnya itu? Mencuri sebuah barang dari Wi Ci To yang sama sekali Tidak berharga"

”Benar !” Majikan patung emas berkata demikian, tetapi perkataan ini tidak tentu benar, jikalau apa yang diminta majikan patung emas adalah semacam barang yang sama sekali "Tidak berharga" kenapa dia tidak memintanya sscara terbuka kepada diri Wi Ci To ? Sebaliknya menyusun rencana yang demikian ruwetnya untuk menyalankan maksudnya itu?

Maka itu satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil olehnya adalah :

Barang yang diminta majikan patung emas itu tentulah barang yang paling disayang dan paling disenangi oleh Wi Ci To!

Kalau memangnya barang itu adalah barang yang paling disayangi oleh Wi Ci To jikalau dirinya mengikuti perinlah dari majikan patung emas dan mencuri barang tersebut bukankah dengan demikian sudah membuat dosa terhadap mertuanya Wi Ci To? merasa berdosa dengan istrinya Wi Lian In?

Berdosa terhadap Wi Ci To masih tidak begitu memberatkan, tetapi kalau berdosa terhadap Wi Lian In hal ini merupakan satu kesalahan yang maha besar bagaimana aku boleh merusak kebahagian dari seorang nona!

Satu-satunyanya jalan adalah segera meninggalkan benteng Pek Kiam Po, tidak lagi menjadi patung emasnya majikan patung emas, tetapi dengan demikian majikan patung emas pasti tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja,

Kalau dirinya mati memang sama sekali tidak perlu disayangkan, tetapi bagaimana dengan kerugian yang diderita oleh Yuan Lociaopwe gara-gara dirinya?

Teringat akan diri "Yuan Locianpwe” .... orang tua penjual silat itu ... hatinya semakin merasa seperti diiris-iris, sangat menderita sekali, karenanya sekali pun sudah bolak-balik lama sekali dia tidak bisa tidur juga.

Kurang lebih mendekati kentongan ketiga itulah dia baru dengan perlahan tertidur dengan pulasnya.

Tetapi pada saat itu juga mendadak terdengar suara dari majikan patung emas berkumandang masuk ke dalam telinganya. "Ti Then, ada urusan apa kau mencari aku?" tanyanya.

Ti Then segera membuka matanya kembali, tampak majikan patung emas sudah menurunkan patung emasnya ke samping pembaringannya, dia segera bangun duduk.

"Apa kau tidak mendengar sedikit berita pun?" tanya Ti Then dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suara pula.

"Aku cuma tahu Wi Ci To sudah pulang, lainnya sama sekali tidak tahu,"

"Kalau begitu sekarang aku mau beritahu kepadamu satu berita baik dan satu berita jelek, harap setelah kau mendengar berita baik itu jangan kelewat girang dan setelah mendengar berita jelek jangan kelewat marah."

"Hmmmm!" dengus majikan patung emas dengan dingin. "Kau bangsat cilik pinter juga putar-putar dulu kalau bicara. cepat katakanlah!"

"Aku beritahu dulu berita jelek . . . besok pagi aku mau meninggalkan Benteng Pek Kiam Po lagi"

"Mau apa ? tanya majikan patung emas cepat,

Ti Then tidak menyawab melainkan melanjutkan kembali kata- katanya

"Wi Ci To minta aku pergi bersama-sama dirinya, paling cepat satu setengah bulam kemudian baru pulang."

"Mau apa?" desak majikan patung emas lebih lanjut. "Cari pedang.”

"Eehmm?”

"Pergi ke kota Tiong Cing Hu untuk mencuri pedang pendek Biat hun Kiam milik Cuo it Sian itu lagi !"

"Hmm ! apakah Cuo It Sian mem punyai pedang pendek Biat Hun Kiam yang kedua ?” "Tidak ada, dia cuma ada sebilah saja."

"Kalau memang cumanya sebilah, bukankah pedang tersebut sudah kau curi kembali?"

"Tidak, aku sudah kena tertipu oleh siasatnya Cuo It Sisn, pedang yang aku curi pulang bukanlah pedang pendek Biat Hun Kiam yang sebenarnya."

"Bagaimana bisa terjadi ?”

"Cuo It Siaii menduga tentu kami bisa berusaha uatuk mencuri kembali pedang pendek itu maka dia menyembunyikan pedang Biat Hun Kiam yang asli sebaliknya membawa satu pedang tiruan yang persis seperti Biat Hun Kiam di dalam badannya, kami tidak menduga dia bisa berbuat demikian- karenanya sudah tertipu."

"Wi Ci To yang memecahkan rahasla ini ?” "Benar.”

"Kalian bakal mencuri kembali pedang Biat Hun Kiam asli dengan menggunai cara apa ?"

"Wi Ci To bilang setelah sampai di kota Tiong Cing Hu baru mencari akal lagi..." sahut Ti Then dengan cepat,

"Harus membutuhkan satu setengah bulan lamanya ?"

"Benar, kau tahu Cuo It Sian adalah seorang rase tua yang amat licik, dia tidak akan menyembunyikan pedang-pendek Biat Hun Kiam itu di suatu tempat yang mudah dicuri orang lain."

"Hmmm ! sungguh banyak urusan yang terjadi !"

"Sekarang aku mau memberitahu satu berita yang baik, ini hari Wi Ci To sudah menjodohkan Wi Lian In kepadaku”

"Dia bicara bagaimana ?"

”Dia tanya kepadaku maukah aku memperistri putrinya, jikalau aku mau maka aku disuruh menyalankan upacara penghormatan terlebih dulu maka aku melaksanakan permintaannya itu.” ”Dia bilang kapan baru melaksanakan perkawinan kalian?”

”Sudah tentu setelah berhasil mencuri pedang pendek Biat Hun Kiam dan kembali ke dalam Benteng”

”Apakah dia tidak mengucapkan syarat apa?”

”Ada, dia minta aku tetap tinggal di dalam Benteag Pek Kiam Po dan melanjutkan menyabat sebagai Kiauw-tauw, dan aku sudah setuju.”

”Soal ini sedikit pun tidak jelek”

”Apa yang kau rencanakan sudah bakal jadi kenyataan bukan?” sindir Ti Then.

”Ehmm . . .”

”Sekarang kau beleh beritahu apa tujuanmu yang sebenarnya?” ”Tidak dapat.”

”Lebih baik kau beritahu kepadaku saja barang apa yang kau inginkan itu jikalau aku merasa bisa kuambilkan sekarang juga aku bisa pergi mencurinya untukmu, kalau barang itu tidak dapat aku ambil sekali   pun aku sudah kawin dengan Wi Lian In juga sama saja tidak bakal bisa ambilkan buat dirimu"

”Barang yang aku kehendaki cuma bisa diambil setelah kau menikah deagan Wi Lian In” seru majikan patung emas dengan tegas.

”Kalau besitu tidak ada halangannya bukan kalau memberitahukan sekarang juga kepadaku?” desak Ti Then lebih laajut.

”Waktunya belum tiba, tidak berguna memberitahukan urusan ini kspadamu”

”Kalau waktunya sadah tiba tetapi aku tidak mengambilkan buatmu kau mau berbuat apa?” ”Kalau demikian adanya maka kau tidak bakal lolos dari krmatian.”

”Jikalau kau menghendaki aku melakukan satu pekerjaan yang merugikan Wi Ci To ayah beranak aku lebih baik mati saja.”

”Sejak dulu aku sudah bilang barang yang aku minta sama sekali tidak bakal mencelakai Wi Ci To ayah beranak beserta seluruh jago pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po, kau takut apa?” bentak majikan patung emas dengan gusar.

”Kalau tidak bakal mendatangkan bencana buat mereka kenapa kau tidak minta kepada Wi Ci To dengan terbuka saja?”

”Persoalannya maukah Wi Ci To menyerahkan barang itu kepadaku”

”Hal ini membuktikan kalau barang itu sama sekali bukanlah suatu barang yang sama sekali tidak berharga.”

”Terhadap dirinya boleh dikata barang itu sama sekali tidak berharga, lain kali kau bakal bisa tahu kalau perkataanku ini sama sekali bukan omong kosong.”

”Aku lihat, lebih baik kau turun saja kemari dan bunuh diriku.” ”Hmm, kau kepingin melawan?” teriak majikan patung emas

dengan gusar. ”Benar.”

”Kenapa?”

”Karena aku tidak mau berbuat sesuatu pekerjaan yang menyalahi diri Wi Ci To beserta putrinya,”

”Kau sama sekali tidak mau percaya terhadap tanggungan yang aku ucapkan?”

”Jikalau barang yang kau minta itu sama sekali tidak bakal mendatangkan bencana buat Wi Ci To ayah beranak beserta seluruh jago pedang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po maka sekarang kau tidak ada keharusannya untuk menyembunyikan urusan tersebut, sebaliknya kini kau tidak mau memberitahu dengan berterus terang hal ini membuktikan kalau barang yang kau mintai itu pasti bakal mendatangkan bencana buat Wi Ci To ayah beranak serta seluruh jago pedang dari Benteng Pek Kiam Po-”

”Kau sama sekali sudah salah menduga”

”Tapi aku percaya dugaanku sedikit pun tidak salah.”

”Apakah kau sudah mengambil keputusan sekali pun mati tidak bakal melakukan pekerjaanku?”

”Benar.”

”Kalau begitu terpaksa aku harus membunuh mati dirimu”

”Hem, jangan ngomong terus, ayoh cepat turun kemari dan mulai turun tangan.”

”Aku tidak perlu turun, cukup dengan menggunakan patung emas ini saja sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawamu.”

ocoOooo

”KALAU BEGITU silahkan mulai turun tangan.”

”Aku mau pergi bunuh dulu dua orang kemudian baru datang kemari lagi untuk membunuh dirimu.”

Berbicara sampai di sini majikan patung emas segera menarik kembali patung emasnya ke atas.

Ketika Ti Then mendengar dia mau pergi membunuh dua orang terlebih dulu hatinya jadi sangat terperanyat sekali,

”Kau mau pergi bunuh siapa?” tanyanya.

”Wi Ci To ayah beranak” sahut majikan patung emas sepatah demi sepatah dengan amat dinginnya.

Seluruh tubuh Ti Then segera tergetar dengan amat kerasnya. ”Tidak, tunggu dulu” teriaknya terperanyat.

”Ada apa?” tanya majikan patung emas tertawa dingin. ”Kau berdasarkan alasan apa mau pergi membunuh mati mereka ayah beranak?”

”Tanpa alasan.”

”Kau sedang menggertak diriku?”

”Tidak” potong majikan patung emas dengan suara yang amat dingin sekali.

”Sebetulnya aku hendak menggunakan cara yang amat halus untuk mendapatkan barang itu, tetapi kalau memangnya kau tidak ingin jadi patung emasku lagi terpaksa aku harus pergi dengan menggunakan kekerasan, kejadian ini terpaksa harus aku lakukan.”

”Mau pergi merampas belum tentu harus membunuh mati mereka ayah beranak” tiba-tiba Ti Then nyeletuk, ”Terang-terangan kau sedang menggertak diriku.”

”Kalau memangnya menggertak dirimu kau mau apa?” seru majikan patung emas itu sambil memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan-

Dalam hati Ti Then benar-benar merasa amat bingung dan sedih sekali, pikirannya kacau tak terhingga.

Dia tahu pihak musuhnya sedang menggertak dirinya dan memaksa dirinya untuk melanjutkan mendengarkan perintahnya lagi tetapi bilamana dirinya tidak mau menurut-dia bisa sungguh- sungguh pergi membunuh mati Wi Ci To ayah bcranak dengan kepandaian silat yang demikiao tingginya dari majikan patung emas, Wi Ci To pasti bukan tandingannya.

Di dalam benaknya segera berkelebatlah berbagai ingatan kemudian dengan cepatnya mengambil satu keputusan.

Jikalau dirinya menerima perintahnya terus pergi kawin dengan Wi Lian-In, pergi mencurikan semacam barang milik Wi Ci To walau pun mendatangkan satu bencana terhadap diri Wi Ci To ayah beranak tetapi bagaimana pun juga bencana masih jauh lebih ringan daripada ancaman membunuh yang dilancarkan majikan patung emas pada saat ini.

Karena itu diam-diam dia menghela napas panjang.

”Baiklah,” ujarnya kemudian dengan menggunakan ilmu uutuk menyampaikan suara, ”Boleh dihitung kau cukup ganas, aku menyerah.”

Majikao patung emas segera tertawa,

”Lain kali kau bisa tahu kalau aku orang sama sekali tidak ganas, justru karena aku tidak ingin mencelakai mereka ayah beranaklah maka aku baru suruh kau pergi mencuri barangnya, jikalau berganti dengan orang lain, dia tidak akan bersikap demikian.”

”Sudah . , sudahlah kau pergi sana, aku mau tidur” usir Ti Then sambil mengulapkan tangannya.

”Aku mau memberi peringatan lagi kepadamu, jikalau kau berani secara diam-diam merusak semua rencanaku maka segala akibat harus kau tanggung sendiri.”

Sehabis berkata dia menutup kembali atap rumah dan lenyap tak berbekas.

Dengan gemasnya Ti Then menggerutuk giginya, diam-diam dalam hati makinya.

”Iblis, kau benar-benar iblis tua yang banyak berdosa.”

Dia tidak berhasil memadamkan rasa gusar yang membakar hatinya, sepasang matanya dengan berapi-api memandang ke atas atap, dari gelap berubah jadi terang dia sama sekali tidak pernah memejamkan matanya sedikit pun.

Setelah terang tanah dia baru turun dari pembaringan untuk cuci muka kemudian berjalan menuju ke ruang makan untuk bersantap pagi bersama-sama dengan Wi Ci To. Wi Ci To yang melihat sepasang matanya merah membengkak jadi merasa keheranan.

”Ti Kiauw tauw, kemarin malam kau tidak bisa tidur?” tanyanya. ”Benar, teringat sudah kana tipu oleh Cuo It Sian selama satu malaman aku tidak dapat tertidur barang sekejap pun.” sahut Ti Then sambil tertawa malu.

”Cuma sedikit urusan saja tidak perlu kau pikirkan terus di dalam hati,”

”Baik”

”Setelah bersantap kita segera akan berangkat, . kali ini kau harus tukar dengan kuda yang lain, kau tidak dapat menunggang kuda Ang San Khek lagi”

”Benar.” Sahut Ti Then membenarkan. ”Masih ada satu persoalan lagi, boanpwe duga Cuo It Sian kemungkinan sekali sudah kirim orang untuk mengawasi gerak-gerik kita dari luar Benteng, maka setelah kita keluar dari pintu Benteng ada kemungkinan dibuntuti oleh mereka, maka itu lebih baik kita sedikit berganti wajah saja kemudian jangan keluar dari pintu sebelah depan.”

”Baik, kita berbuat demikian saja” sahut Wi Ci To sambil mengangguk.

Demikianlah setelah bersantap pagi mereka berdua segera kembali ke dalam kamarnya masing-masing untuk menyamar, Wi Ci To menyamar sebagai seorang sastrawan tua sedangkan Ti Then menyamar sebagai seorang siucay muda.

Demikianlah setelah memilih dua ekor kuda jempolan di bawah hantaran Shia Pek Tha serta para jago pedang merah lainnya Wi Ci To serta Ti Then meninggalkan benteng dengan melalui pintu benteng sebelah belakang.

Setelah mengitari satu lingkaran besar mereka baru memilih satu jalan gunung untuk kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.

Satu jam kemudian tua muda dua orang itu sudah jauh meninggalkan benteng Pek Kiam Po dan melanjutkan perjalanan menuju kearah sebelah utara, Ditengah perjalanan Wi Ci To tiba-tiba menoleh ke belakang lantas ujarnya

”Agaknya tidak ada orang yang sedang membuntuti kita bukan ?”

”Kita sudah berganti wajah apa lagi turun gunung dengan menggunakan jalan lain, bilamana ada orang juga yang membuntuti diri kita maka pihak lawan boleh dikata pendengarannya amat luas.”

”Benar juga perkataanmu.”

”Apakah pedang pendek itu dibawa serta?”

”Sudah kubawa” sahut Wi Ci To sambil menepuk-nepuk badannya.

”Pedang Biat Hun Kiam dari Cuo It Sian itu apakah ada sarung pedangnya?”

”Sebetulnya ada cuma saja kemungkinan sudah hilang.”

”Semoga saja kali ini kita bisa berhasil mendapatkan pedang tersebut dengan lancar.”

„Siasatmu amat bagus sekali“ ujar Wi Ci To. „Asalkan tidak terjadi urusan lain lagi seharusnya kita bisa mendapatkan hasil.”

„Setelah mendapatkan kembali pedang pendek itu, dapatkah boanpwe mengetahui Gak-hu hendak berbuat apa?”

Wi Ci To termenung berpikir sebentar akhirnya sahutnya:

„Pertama-tama Lohu cuma bisa beritahu padamu sedikit saja, setelah Lohu dapatkan pedang pendek tersebut pada bulan permulaan tahun depan aku mau membawanya ke atas gunung Hoa San untuk mengadakan pertemuan dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng, Yuan Kuang Thaysu dari Siauw lim Pay serta Ciangbunyin dari Bu tong Pay Leng Cing Ceng Tojin.“

„Kalau begitu pedang pendek Biat Hun Kiam ini ada sangkut paut yang amat erat sekali dengan pertemuan di atas gunung Hoa san itu?“ „Lohu tidak dapat menyawab pertanyaanmu lagi,“ sahut Wi Ci To tersenyum.

„Benar,“ sahut Ti Then dengan gugup. „Sejak kini boanpwe tidak akan menanyakan urusan ini lagi“

“Bukannya sengaja Lohu memperlihatkan kemisteriusan sebaliknya hal ini meyangkut keselamatan dari Bu lim, makanya tidak boleh bocor barang sedikit pun”

”Setiap diadakannya pertemuan puncak para jago di atas gunung Hoa san apakah mengharuskan Gak hu serta si kakek pemalas Kay Kong Beng, ciangbunyin dari Siauw lim Pay dan ciaogbunyin dari Bu tong Pay untuk mengikutinya?” tanya Ti Then mengalihkan bahan pembicaraan selanjutnya,

„Benar,” sahut Wi Ci To mengangguk, „Sebetulnya pertemuan itu cuma satu tempatnya berkumpul para kawan lama dan bukannya tempat satu pertenuan yang bermaksud merebut gelar jagoan.”

„Tempo hari boanpwe dengar dari ciangbynyin Siauw lim Pay berkata, agaknya di atas pertemuan Hoa san ini juga khusus untuk membereskan pertikaian yang terjadi di dalam Bu lim?”

„Benar, kami empat orang saling berjanyi untuk setiap tiga tahun berkumpul satu kali di atas gunung Hoa san, sebenarnya tujuan kami cuma untuk mempererat persahabatan diantara kita sendiri, hal ini disebabkan karena kecuali si kakek pemalas Kay Kong Beng seorang di antara kami bertiga mem punyai anak murid yang sangat banyak sekali dan sering terjadi keributan di dalam Bu lim, karena itu kami sebagai pemimpinnya harus mem punyai satu ikatan persahabatan yang erat sehingga dengan demikian suatu percek- cokan diantara anak buah kita bisa diselesaikan dengan baik-baik.”

Dia berhenti sebentar untuk tukar napas kemudian sambungnya. ”Tetapi waktu serta tempat berkumpulnya kami berempat

semakin lama semakin di ketahui oleh orang banyak, demikianlah diantara mereka ternyata banyak yang sudah naik ke atas gunung memohon kita membereskaankesukaran yang mereka hadapi, lama kelamaan pertemuan Hoa san ini dari hubungan empat partai kini jadi satu pertemuan Bu lim yang amat ramai sekali.”

”Bukankah hal itu bagus sekali?” seru Ti Then cepat. Wi Ci To segera tertawa pahit.

”Benar,” sahutnya, ”Tetapi kadang-kadang kami menghadapi juga persoalan yang benar-benar membuat orang sukar untuk memecahkannya.”

”Dengan nama besar serta kedudukan dari Gak-hu serta tiga orang cianpwe lainnya

apakah masih ada juga persoalan yang tidak berhasil diselesaikan?”

”Benar, ada kalanya urusan yang kami hadapi bukanlah dapat dibereskan cuma dengan kepandaian serta nama kita.”

”Gak-hu sering membereskan pertikaian yang terjadi di dalam Bu lim, sudah tentu banyak kenal dengan orang-orang Bu lim bukan?”

”Benar” sahut Wi Ci To mengangguk-”Orang yang sedikit punya nama tentu Lohu kenal, buat apa kau menanyakan urusan ini?"

”Aku ingin sekali mengetahui di dalam Bu lim pada saat ini apakah ada orang yang memiliki kepandaian silat seperti yang dimiliki si kakek pemalas Kay Kong Beng?”

”Ada seorang” ”Siapa?”

”Sayang lohu sendiri juga tidak kenal” sahut Wi Ci To tertawa. ”Siapakah nama serta sebutan orang itu?”

”Bu Beng Lojin.”

Ti Then jadi melengak tapi sebentat kemudsan wajahnya sudah berubah memerah.

”Kepandaian silat dari suhuku apakah benar-benar ada di atas kepandaian dari si kakek pemalas?” ujarnya tertawa. Kiranya pada beberapa bulan yang lalu sewaktu tidak lama dia memasuki benteng Pek Kiam Po, Wi Ci To pernah menanyakan tentang asal-usul perguruannya,dia tidak dapat mengatakan gurunya adalah majikan patung emas makanya dia lantas menyebutkan seorang kakek tua tanpa nama yang sudah mewarisi kepandaiannya itu, kini mendadak Wi Ci To menyebut kembali ”Bu Beng Lojin” empat buah kata membuat hatinya rada sedikit tidak tenang.

”Tidak salah,” sahut Wi Ci To mengangguk. “Walau pun Lohu belum pernah bertemu dengan suhumu tetapi lohu berani memastikan kalau kepandaian silat dari suhumu jauh berada di atas dari kepandaian si kakek pemalas Kay Kong Beng.”

”Perkataan dari Gak-hu ini apakah diambil kesimpulan dari kepandaian yang boanpwe miliki ?”

”Benar, kau sendiri terhadap kepandaian silat yang kau miliki apakah masih merasa tidak jelas ?”

”Boanpwe merasa tenaga dalamku masih terlalu rendah . . .” ”Tidak” seru Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. ”Dengan

kepandaian yang kau miliki saat ini sebenarnya sudah jauh melebihi dari lohu sendiri.”

”Gak-hu, kau jangan bicara demikian, sedikit kepandaian dari boanpwe ini mana berani dibandingkan dengan diri Gak-hu” seru Ti Then dengan gugup.

Wi Ci To tersenyum.

“Sungguh,” serunya. “Kau pernah mengalahkan si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan di dalam kurang dari seratus jurus sedangkan tingkatan lohu dengan Cian Pit Yuan kira-kira terpaut sedikit saja, bilamana lohu bermaksud hendak mengalahkan dirinya, kecuali harus bertempur mati-matian sebanyak tiga-lima ratus jurus jangan harap bisa memperoleh hasil, maka itu dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini boleh dikata jauh berada di atas kepandaian dari Lohu." Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang kemudian sambungnya lagi:

”Sedangkan perbedaan antara Lohu dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng cuma satu tingkat saja, karena itu dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang sekali pun tidak bisa melampaui diri si kakek pemalas Kay Kong Beng tetapi suhumu pasti jauh lebih dahsyat dari diri si kakek pemalas Kay Kong Beng."

"Omong terus terang saja sekali pun kepandaian dari boanpwe tidak rendah tetapi pernah dikalahkan di tangan seorang pemuda yang satu tingkat dengan diriku" ujar Ti Then tiba-tiba.

Wi Ci To sedikit melengak.

“Sungguh?” tanyanya sambii memandang tajam wajahnya. "Sungguh !" sahut Ti Then mengangguk.

"Siapakah dirinya ?"

”Si "Hong Liuw Kiam Khek" Ing Peng Siauw !" "Aaaah kiranya dia orang !"

"Gak hu tahu tentang orang ini bukan ?”

"Tahu !" sahut Wi Ci To mengangguk, "Dua tahun yang lalu lohu pernah bertemu satu kali dengan dirinya dan dengan mata kepala lohu sendiri bisa melihat dia mengalahkan dua orang jagoan berkepandaian tinggi dari kalangan Hek to, tetapi jika dilihat dari gerakan tubuhnya itu agaknya tidak seberapa lihay jika dibandingkan dengan dirimu."

Ti Then tidak ingin mengatakan kalau sewaktu dia dikalahkan oleh si "Hong Liuw Kiam Khek" Ing Peng Siauw belum belajar kepandaian silat dari majikan patung emas, karenanya dia segera berbohong:

"Kemugkinan sekal dia sengaja menymbunykan kekuatan yang sesungguhnya sehingga Gak hu sama sekali tidak dapat melihatnya," ”Ehmm . . . kemungkinan sekali memang demikian," sahut Wi Ci To mengangguk. "Tetapi . . Lohu selalu merasa bahwa sekali pun dia adalah seorang jagoan muda yang amat menonjol tetapi jika dibandingkan dengan bakat serta keadaanmu agaknya dia tidak dapat menandingi dirimu, bagaimana kau bisa dikalahkan olehnya ?"

Ti Then segera tertawa pahit.

”Kemungkinan sekali dikarenakan dia terjun di dalam dunia kangouw rada pagian sehingga pengetahuannya jauh lebih matang dari diri boanpwe sendiri " ujarnya.

”Siapakah suhumu ?"

"Tidak tahu!" sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya, "Boanpwe pernah mengadakan penyelidikan kepada banyak orang tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui asal-usul perguruannya.”

"Kenapa kau dikalahkan olehnya?” ”Setahun yang lalu!"

"Kenapa kau bergebrak dengan dirinya?"

"Persoalan ini jika dibicarakan terlalu panjang sekali” ujar Ti Then sambil menghela napas ringan„ Tempo hari Gak-hu pernah bertanya kepadaku apakah boanpwe ada rahasia yang tidak dapat diutarakan keluar, lebih baik sekarang juga boanpwe ceritakan urusan ini . . "

Wi Ci To yang mendengar dia hendak menceritakan rahasia yang selama ini terpendam di dalam hatinya tidak terasa lagi air mukanya sedikit berubah.

”Jikalau kau merasa hal ini tidak leluasa untuk dibicarakan lebih baik tidak usah diucapkan saja. Lohu pernah berkata kepada Wi Lian In tidak perduli kau mengandung rahasia yang macam apa pun Lohu percaya kau adalah seorang pemuda yang berhati lurus dan jujur."

"Tidak, urusan ini sebetulnya tidak ada halangannya untuk diberitahukan kepada Gak-hu, sebenarnya mau menceritakan urusan ini kepada Gak-hu tetapi karena boanpwe takut urusan ini sampai tersiar ditempat luaran sehingga mendatangkan satu kekacauan maka selama ini boanpwe tidak pernah membicarakannya,"

Dia bcrhenti sebentar lantas sambungnya lagi:

"Di dalam kota Tiang An dahulu pernah ada sebuah perusahaan ekspedisi "Yong An-Piauw-kiok" yang merupakan perusahaan terbesar diseluruh negeri tentu Gak-hu tahu bukan ??"

"Tahu!“ sahut Wi Ci To mengangguk, "Piauw-tauw dari Yong An Piauw-kiok itu bernama Kim Kong So atau si tangan baja Yuan Siauw Ci, aku dengar kepandaian silat yang dimilikinya tidak lemah selamanya barang kawalannya belum pernah gagal bahkan menurut apa yang lohu dengar dagangannya bagus sekali."

"Cuma sayang Yong An Piauw-kiok pada setahun yang lalu sudah hancur dan tutup”

Wi Ci To jadl melengak.

„Iiih    kenapa tentang urusan ini lohu belum pernah mendengar

orang berkata ?" tanyanya.

"Heey . . . tidak lama berselang piauw kiok itu sudah ditutup gara-gara perbuatan dari seorang piauw-sunya."

"Siapakah piauw su itu ?" tanya Wi Ci To sambil memandang tajam wajahnya.

"Dialah boanpwe sendiri."

Agaknya Wi Ci To merasa berita ini berada diluar dugaannya, dengan amat terperanya dia bertanya:

"Aaaa, . . kiranya kau pernah menjadi piauw-su di perusahaan ekspedisi Yong An Piauw-kiok ?"

"Benar !" sahut Ti Then mengangguk "Ada satu kali secara kebetulan boanpwe bisa berkenalan dengan si tangan baja Siauw Ci, dia mengundang boanpwe untuk bekerja di perusahaan ekspedisinya, semula boanpwe menolak tetapi akhirnya setelah mendapatkan desakan berulang kali akhrnya boanpwe menerimanya juga."

"Nama besar dari perusahaan ekspedisi Yong An Piauw-kiok sudah menggetarkan seluruh kolong langit, setiap piauw-su yang ada diperusahaannya boleh dikata merupakan jago-jago pilihan, ada banyak orang yang mau masuk pun tidak dapat kini si tangan baja Yuan Siauw Ci ternyata mengundang kau untuk memasuki perusahaannya hal ini jelas membuktikan kalau dia amat memandang tinggi dirimu."

"Benar“ Sahut Ti Then membenarkan, "Piauw-su di dalam perusahaan itu semuanya berjumlah tujuh puluh orang banyaknya, masing-masing semuanya merupakan jagoan Bu-lim yang berilmu tinggi dan memiliki pengalaman yang amat luas sekali, sembarangan mengirim seorang pun sudah dapat membereskan satu urusan maka itu barang siapa ssya yang bisa jadi piauw-su di dalam perusahaan tersebut namanya segera akan terkenal di dalam Bu-lim”

”Kau bekerja berapa bulan di perusahaan tersebut?" tukas Wi Ci To.

"Cuma tiga bulan lamanya dan melidungi dua buah barang kawalan, yang pertama aku mengikuti seorang piauw-su pergi mencari pengalaman dan kedua kalinya pergi mengawal sendiri sebuah barang kawalan rahasia, siapa tahu baru saja meninggalkan kota Tiang An selama tiga hari peristiwa ternyata sudah terjadi..”

”Sebetulnya barang apa?” tanya Wi Ci To terkejut bercampur heran.

"Satu peti mutiara, intan serta permata yang berharga seratus dua puluh laksa tahil perak”

"Ooouuw, . . suatu barang kawalan yang begitu berharganya !" Seru Wi Ci To sambil menghembuskan napas panjang. ”Benar, pemilik barang itu adalah seorang pembesar negeri yang mem punyai pangkat tinggi, tujuannya adalah kota Thay Yuan Hu yang semuanya ada seribu li jauhnya, dikarenakan jumlah yang terlalu besar itulah apalagi perjalanan yang demikian jauhnya ini Yuan Piauw-tau merasa untuk melindungi barang kawalan secara terang-terangan terlalu bahaya maka itu dia mengambil keputusan untuk melindungi barang kawalan tersebut secara diam-diam, dia bertanya kepada para Piau-su yang ada di dalam perusahaan siapa yang berani melindungi barang itu, mungkin dikarenakan jumlah yang terlalu besar ternyata diantara piauw-su piauw-su itu tidak ada yang berani menerima. .”

„Lalu kau beranikan diri untuk menerima?"

"Benar" Sahut Ti Then mengangguk, „Saat itu Yuan Piauw-tauw pun sangat setuju kalau boanpwe yang bertanggung jawab, alasannya karena boanpwe belum lama memasuki perusahaan tersebut, sehingga orang yang mengetahui pun belum banyak, karena hal itulah ada kemungkinan pcrhatian dari semua orang tidak bisa dicurahkan kepada boanpwe semuanya."

„Hal ini sedikit pun tidak salah!"

"Tetapi Yuan Piauw-tauw jadi orang ternyata amat teliti sekali, dia kirim dulu seorang piauw-su yang pura-pura sedang melindungi barang kawalan itu melakukan

perjalanan, setelah lewat dua hari kemudian dia baru mengijinkan boanpwe untuk meninggalkan kota Tiang An dengan mengawal barang-barang tersebut."

Dengan sedihnya dia menghela napas panjang tambahnya: "Demikianlah pada hari ketiga sewaktu ada dikota Cong Koan,

ternyata aku sudah

bertemu dengan si Hong Liuw Kiam Khek Ing Peng Siauw...” ”Sebelum kejadian itu diantara kalian apa saling kenal ?” tanya

Wi Ci To. "Ada satu kali kami memang pernah bertemu, karena boanpwe melihat kepandaian silatnya menonjoi jadi orang pun sangat bagus maka di dalam hati aku sudah timbul rasa simpati, maka itu ketika untuk kedua kalinya bertemu muka di sebuah rutnah makan dikota Cong-kwan kami saling bersantap di dalam satu meja, dia bilang dia mau pergi ke Thay Yuan Hu untuk mencari encinya sedang boanpwe pun bilang ada urusan mau pergi ke kota Thay Yuan Hu pula, demikianlah dia lantas mau berjalan bersama-sama dengan boanpwe, boanpwe yang merasa dia adalah seorang dari kalangan lurus maka dengan hati girang meluluskannya...”

”Apakah kau pernah memberitahukan soal kawalan barang berharga itu ?" timbrung Wi Ci To tiba-tiba.

”Tidak” sahut Ti Then gelengkan kepalanya.

”Atau mungkin secara tidak berhati-hati kau sudah memperlihatkan barang berharga itu kepadanya ?"

"Juga tidak, sebelum dia memperlihatkan wajah aslinya yang menyengir kejam selamanya tidak pernah memandang sekeap pun terhadap buntalan yang ada pada punggung boanpwe!"

"Jikalau demikian adanya dia tentu dari tempat lain berhasil mendapatkan kabar kalau kau sedang mengawal sejumlah barang kawalan menuju ke kota Thay Yuan Hu, maka itu sengaja munculkan dirinya dikota Cong Kwan."

"Kemungkinan sekali memang demikian" sahut Ti Then membenarkan." Tetapi yang aneh sewaktu Yuan Piauw-tauw menerima barang kawalan itu mereka membicarakan di dalam suasana yang amat rahasia sekali, kecuali Piauw-su yang ada di dalam perusahaan sampai anak buah lainnya pun tidak tahu, bagaimana mungkin dia bisa memperoleh berita ini ?"

"Kemungkinan sekali Piauw-su yang ada di dalam perusahaan itulah yang sudah membocorkan keluar.”

"Tidak . . . tidak mungkin !" sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya." Walau pun Yong An Piauw-kiok mem punyai tujuh puluh orang Piauw-su tetapi setiap piauwsu sudah pernah memperoleh pengawasan yang amat lama sekali dari Yuan Piauw-tauw,”

Setelah merasa aneh Wi Ci To segera tertawa dingin.

"Lohu tidak percaya kalau si Hong liuw Kiam Khek Ing Peng Siauw mem punyai ilmu untuk meramal kejadian yang akan datang."

"Hal ini sudah tentu, karena itulah boanpwe baru merasa sangat keheranan"

"Kau bilang majikan dari pemilik barang itu adalah seorang pembesar, siapakah namanya? dan apa jabatannya ?”

"Sampai saat ini boanpwe sendiri juga tidak tahu siapakah sebenarnya orang itu karena dia pernah memohon kepada Yuan- Piauw tauw untuk merahasiakannya, orang yang bekerja sebagai pengawal barang memang mem punyai kewajiban untuk merahasiakan namanya karena itu Yuan Piauw-tauw selama ini selalu tidak mau menyebutkan siapakah nama yang sebenarnya.”

”Bagus, sekarsng lanjutkanlah lagi"

"Hari itu menunjukkan siang hari setelah kami bersantap dirumah makan tersebut ternyata dia sudah berebut untuk membayar rekening makanan setelah itu kita bersama-sama keluar kota, baru saja berjalan enam, tujuh puluh li hari sudah menjadi gelap, boanpwe segera usulkan untuk mencari penginapan sebaliknya dia bilang malam hari hawanya amat nyaman sekali dan mau melanjutkan kembali perjalanannya sejauh puluhan li lagi, boanpwe tidak curiga kepadanya maka itu menurut saja permintaannya dan melanjutkan kembali perjalanan ke depan.

Siapa tahu baru saja berjalan empat lima li jauhnya dan tiba disatu tempat yang amat sunyi dia menghentikan langkah kakinya, sambil mendougakkan kepalanya memandang rembulan ujarnya

"Ti heng, malam ini tanggal berapa ?" "Tanggal empat." ”Kalau begitu masih ada sebelas hari itu sampai batas waktu yang terakhir."

"Urusan apa ?”

"Siauw-te sudah tertarik dengan seorang nona, dia adalah seorang Putri hartawan dengan memiliki potongan wajah yang amat cantik menarik, siauw-te kepingin memperistri dirinya tetapi hartawan itu mengatakan siauw-te terlalu miskin, dia tidak mau mengawinkan putrinya kepadaku..”

"Lalu bagaimana baiknya?"

"Nona itu menaruh rasa cinta yang mendalam sekali terhadap diri siauw-te dan sanggup untuk lari dari rumah bersama-sama dengan siauwte tapi sudah Siauw-te tolak maksudnya ini, siauw-te bilang kalau lari dari rumah hal itu sangat memalukan sekali”

"Betul, perkataan dari Ing-heng ini sedikit pun tidak salah" "Akhirnya Siauw-te pergi menemui ayahnya, begitu bertemu

Siauw- te segera bertanya dia mau minta uang berapa banyak baru mau mengawinkan putrinya kepadaku, coba kau terka dia bilang bagaimana?”

"Dia bilang apa?"

"Hmmm, dia minta seratus laksa tahil perak!” "Oooohh...Thian!”

"Benar! ternyata jauh lebih mahal dari emas" "Lalu akhirnya bagaimana?"

"Siauw-te mengabulkannya”

"Aaaah. . . Ing-heng punya seratus laksa tahil perak?" "Tidak punya”

"Lalu, . . . lalu . . . Ing-heng punya rencana pergi meminyam seratus laksa tahil perak?" "Tidak salah, ternyata dia tidak jelek juga, dia sudah memberi batas waktu selama satu bulan kepada Siauwte untuk pergi meminyam."

"Aku rasa tidak mudah untuk memperolehnya." "Siauw-te kira belum tentu.”

"Ehmmm??"

”Asalkan Ti-heng suka meminyamkan kepada Siauw-te "

"Ing-heng jangan berguyon!"

"Sungguh, sekarang Ti-heng pinyamkan dulu kepada Siauw-te, dua tahun kemudian dari seperti ini juga Siauw-te akan kembalikan semua uangmu itu beserta bunganya! Perkataan yang sudah Siauw- te katakan selamanya tidak pernah diingkari"

"Haaaaa ... . haaa . . . cuma sayang Siauw-te tidak punya Seratus laksa tahil perak!"

"Intan permata yang ada dibadan Ti-heng itu bukankah berharga di atas seratus laksa tahil perak ?"

Waktu itu boanpwe yang mendengar perkataannya ini diam-diam merasa sangat terperanyat sekali, boanpwe lantas tanya dia tahu darimana kalau boanpwe membawa intan permata yang bernilaikan lebih dari seratus laksa tahil perak, dia tertawa dan menyawab kalau mendengar dari orang lain lalu boanpwe tanyai pula apa dia bermaksud merampok barang kawalanku, dia bilang kalau boanpwe tidak pinyamkan kepadanya maka dia akan turun tangan merampok barang kawalan tersebut".

Berbicara sampai di sini wajah Ti Then segera tersungginglah satu senyuman dengan perlahan-lahan sambungnya

”Boanpwe yang melihat perkataannya seperti tidak sedang guyon dengan cepat cabut keluar pedang siap menghadapi serangannya, dia yang melihat sikap boanpwe itu segera tertawa terbahak-bahak dan berkata:"Bagus . . . bagus sekali, kita boleh bertanding dengan pedang, kita lihat siapa lebih lihay diantara kita, bilamana siauw-te kalah maka aku segera akan lari pergi dari sini-tetapi bilamana Ti- heng yang secara tidak beruntung aku kalahkan maka minta permata-tersebut harus kau tinggal . . . , demikianlah pada waktu itu juga kami segera bertempur dengan amat serunya . .”

“Dia membawa pembantu tidak?” tukas Wi Ci To lagi,

"Tidak, sejak permulaan sampai terakhir dia mengalahkan boanpwe sama sekali tidak pernah kelihatan munculnya orang yang ketiga !"

"Kepandaian silatnya jauh lebih tinggi darimu?" tanya Wi Ci To lagi.

"Hal ini tidak begitu menyolok, ditengah pegunungan yang amat sunyi itu bertempur dengan susah payah sebanyak seribu jurus lebih, ketika mendekatinya

terang tanah akhirnya boanpwe dikalahkan satu jurus dan terkena tusukan pedangnya pada bagian kakiku”

”Tidak dapat mengetahui asal-usul ilmu silatnya?” ”Benar, tidak tahu”

”Akhirnya harta kekayaan tersebut berhasil dia rampas?”

”Benar, sewaktu boanpwe terkena tusukannya dan rubuh ke atas tanah dengan mengambil kesempatan itulah dia merebut buntalan yang berisikan intan permata itu, sesaat sebelum meninggalkan tempat itu dia berkata bahwa dua tahun kemudian dia akan mengembalikan barang itu beserta bunganya, dia berjanyi dengan boanpwe untuk bertemu kembali dua tahun kemudian, di tempat ini juga, setelah itu dia segera berkelebat pergi dari sana.”

Wi Ci To segera menghela napas panjang.

”Heeei ..... sungguh tidak disangka si Hong Liuw Kiam Khek, Ing Peng Siauw sebenarnya adalah manusia semacam itu akhirnya kau berhasil menemukan dirinya?” ”Tidak” sahut Ti Then tertawa pahit, ”Sejak dia berhasil memperoleh harta kekayaan itu jejaknya lantas lenyap tak berbekas, walau pun boanpwe serta seluruh piauw-su yang ada di dalam perusahaan ekspedisi Yong An Piauw kiok sudah dikerahkan semuanya dan mencari ke semua tempat tetapi tidak menemukan jejaknya juga.”

”Lalu bagaimana tanggungjawab orang she Yuan itu terhadap pemilik barang tersebut?”

”Dikarenakan persoalan inilah seluruh harta benda dari Yuan Piauw-tauw jadi ludas untuk mengganti kerugian tersebut, dengan demikian perusahaan Yoang An Piauw-kiok pun hancur berantakan”

”Tidak aneh kalau setiap hari keadaanmu amat murung sekali, kiranya kau merasa tidak tenang dikarenakan sudah menghancurkan kejayaan dari Yong An Piauw kiok.”

”Yang membuat boanpwe merasa lebih sedih adalah seorang Piauw tauw yang mentereng dari sebuah perusahaan ekspedisi yang besar ternyata kini sudah terlantar di dalam Bu lim dengan menjual silat sebagai biaya hidup.”

”Hei . . hal ini memang patut menerima simpatik dari orang lain” seru Wi Ci To sambil menghela napas panjang.

”Maka itu boanpwe pernah bersumpah untuk mencari dapat harta yang sudah di rampok oleh Ing Peng Siauw itu, sebelum berhasil mencapai maksudku ini aku tidak akan berdiam diri”

”Bilamana sejak semula kau menceritakan urusan ini kepada diri Lohu maka lohu bisa perintahkan seluruh jago pedang yang ada di dalam Benteng untuk bantu kau mencarikan kabar dari dirinya”

”Justru boarpwe takut kalau berita ini sampai tersiar didaiam Bu- lim sehingga memancing datangnya incaran dari jago-jago kalangan Hek-to, dengan demikian bukankah urusan jadi semakin berabe?”

”Asalkan pesan wanti-wanti kepada mereka untuk jangan membocorkan rahasia ini bukankah urusan sudah beres?” Ti Then segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

”Boanpwe ingin sekali pergi mencari dirinya sendiri, kemudian mengajak dia bertempur hingga salah satu diantara kita ada yang mati.”

”Dia bilang dua tahun kemudian hendak dikembalikan entah perkataannya itu sungguh-sungguh atau cuma bohong belaka.”

”Hmmm.. sudah tentu omongan setan” seru Ti Then sambil tertawa dingin.

”Menanti setelah urusan yang menyangkut diri Cuo It Sian ini bisa dibikin beres maka lohu segera akan menggerakkan semua jago pedang merah yang ada di dalam Benteng untuk pergi mencari jejaknya, lohu tidak percaya kalau jejaknya tidak dapat ditemukan kembali . . oooh, kalau memangnya ini hari kau sudah membuka rahasiamu itu kepadaku, lohu mau tanyakan kembali satu persoalan yang mencurigakan hatiku, tempo hari sewaktu lohu mengutarakan maksudku hendak membantu dirimu kau pernah bilang asalkan lohu mau berkelahi kemudian mengalahkan dirimu hal ini sama juga sudah membantu kau membereskan satu persoalan yang rumit, sebetulnya apa maksud dari perkataanmu itu?”

Ti Then segera tertawa malu.

“Padahal hal itu sebetulnya tidak mengandung maksud yang mendalam, semula Gak hu masih menganggap boanpwe adalah Lu Kong-cu yang pernah pergi ke sarang pelacuran Touw Hoa Yuan, karena di dalam hati boanpwse ingin sekali meninggalkan Benteng Pek Kiam Po, sedang waktu itu pun Gak-hu memaksa boanpwe untuk tinggal beberapa hari di sana boanpwe tidak mendapatkan cara untuk manolak permintaan itu karenanya sengaja boanpwe berkata demikiao agar Gak-hu menaruh rasa curiga semakin mendalam lagi terhadap boanpwe, dengan begitu boanpwe bisa meninggalkan tempat itu dengan leluasa.”

“Oooh ... kiranya begitu ..” seru Wi Ci To sambil tertawa. Mendadak Ti Then menuding kearah tempat kejauhan. “Coba lihat” serunya. “Bukankah itu kota Tan Leng Sian?”

Wi Ci To segera angkat kepalanya memandang ternyata sedikit pun tidak salah di hadapannya muncul sebuah kota yang cukup besar, dia segera mengangguk.

“Tidak salah, itu memang kota Tan Leng sian,” sahutnya. ”Ini hari kita sudah melakukan perjalanan sejauh seratus li.”

Dengan perlahan-lahan Ti Then menengok ke sebelah Barat, dia lantas berkata lagi:

”Sang surya sudah turun gunung, hari ini kita mau menginap di kota Tan Leog sian ataukah melakukan perjalanan malam?”

”Kita beristirahat saja.”

Hari berlalu dengan amat cepatnya, tidak terasa sepuluh hari sudah berlalu tanpa terasa, siang hari itu mereka sudah tiba ditepi gunung Lak Ban san didaerah Gong Si.

Dengan termangu-mangu Ti Then memandang kearah rentetan pegunungan Lak Ban san yang lenggak lenggok dengan terjalnya itu.

”Tempat ini boanpwe baru untuk pertama kali datang ke sini, pemandangannya sungguh tidak jelek” ujarnya.

”Lohu sudah ada dua kali ke sini, perkam pungan Thiat Kiam san ada diseberang gunung yang paling atas itu.”

”Bagaimana hubungan persahabatan antara Gak hu dengan si kakek pedang baja Nyio Sam Pek?” tanya Ti Then.

”Tidak begitu rapat, tetapi juga tidak punya ganyaian sakit hati apa-apa.”

”Menurut berita yang tersebar katanya ilmu pedangnya amat lihay?”

“Tidak salah” sahut Wi Ci To mengangguk. “Di dalam Bu lim pada saat ini namanya boleh dikata termasuk di dalam kesepuluh nama jagoan yang terkenal di Bu lim, tetapi dia sudah sangat lama mengundurkan dirinya, jarang sekali orang-orang yang menyebut namanya lagi,”

”Berapa banyak anak muridnya?”

“Anak muridnya yang menonjol cuma ada puluhan orang saja tetapi baik lelaki

Perempuan, tua muda kecil semuanya pada berlatih ilmu silat, pangaruhnya amat besar sekali.”

”Kita harus mengembalikan wajah kita yang asli bukan ?” ”Benar.”

Tua muda dua orang segera turun dari atas kuda dan mencari sebuah sumber air untuk mencuci bersih penyamarannya, setelah masing-masing berganti pakaian mereka baru melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke atas gunung.

-ooo0dw0ooo-