Pendekar Patung Emas Jilid 29

 
Jilid 29

DALAM HATI Wi Lian In merasa amat heran bercampur terkejut, tetapi dia tahu Ti Then berpesan demikian tentu ada sebab- sebabnya kareoanya tanpa bertsnya lebih lanjut dia segera mensrik anying Cian Li Yen-nya untuk berlari menuju kearah pintu kota sebelah Timur.

Ti Tben segara berjalan melewati sebuah jalan kecil lantas berdiri di pojokan lorong, secara diam-diam dia memperhatikan semua orang yang berjalan mengikuti dari belakang Wi Lian In, setelah dilihatnya bayangan dari Wi Lian In telah lenyap di ujung jalan dan betul-betul yakin kalau tidak ada orang yang membututinya dari belakang dia baru berani melanjutkan kembali langkahnya untuk mengejar diri Wi Lian In.

“Mari ikut aku,” serunya,

“Ada orang yang membuntuti kita?” Tanya Wi Lian In dengan cepat.

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa kau begitu berhati-hati dan gerak-gerikmu begitu rahasianya.”

“Aku mau tidak mau harus mengadakan persiapan, karena ada seseorang yang kemungkinan sekali sudah mengetahui jejakmu.”

“Siapa?”

“Nanti saja aku beritahukan kepadamu” sahut Ti Then dengan cepat,

Selesai berkata dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju ke tempat dimana pada pagi hsrinya dia menyembunyikan pakaian serta pedang panjangnya.

Matanya dengan perlahan memeriksa sebentar keadaan disekeliling tempat itu setelah dirasakannya tidak ada orang dia baru duduk di atas tanah rumput. “Kau duduklah” ujarnya kemudian.

Wi Lian In segera duduk saling berhadapan dengan dirinya.

“Eei . . . kenapa kau menyamar dengan wajah yang begitu jeleknya?” tanyanya sambil teriawa.

Lama sekali Ti Then memperhatikan dirinya, kemudian balik tanyanya:

“Lalu kenapa kau ikut keluar dari Benteng?"

“Aku harus tahu apa alasanmu meninggalkan Benteng tanpa psmit,” sahut Wi Lian In sambil mengerutkan alisnya.

“Bilamana aku adalah ayahmu maka aku harus keras-keras mengbajar pantatmu.”

“Apa alasanmu meninggalkan Benteng tanpa pamit aku harus mengetahuinya dengan jelas” teriak Wi Lian In dengan gusar.

“Apa Shia Pek Tha tidak menjelaskan kepadamu?”

“Aku tanya kepadanya, dia bilang tidak tahu maka secara diam- diam dengan membawa anying Cian Li Yen aku meninggalkan Benteng. karena cuma anying Cian Li Yen saja yang bisa mengejar dirimu, kau jangan harap bisa melepaskan dtri dari diriku.”

“Kali ini aku meninggalkan Benteng sebetulnya sedang pergi membereskan satu persoalan yang diperintahkan oleh ayahmu, aku sama sekali tidak bermaksud meninggalkan benteng Pek Kiam Po untuk selama-lamanya” ujar Ti Then memberikan penjelasannya.

Lalu kenapa kau tidak memperbolehkan aku mengetahui ?” tanya Wi Lian In kurang senang.

“Karena aku takut kau akan ikut keluar maka itu aku tidak membiarkan kau mengetahuinya. "

“Seharusnya kau mengetahui sifatku, bilamana kau memberitahu secara terus terang kepadaku kemungkinan sekali aku masih mau berdiam di dalam Benteng.” “Mungkinkah ?” tanya Ti Then sambil tertawa pahit,

“Sudah . . , sudahlah,” seru Wi Lian In sambil tertawa meringis. “Sekarang aku sudah ikut keluar Benteng, lebih baik kau ceritakan dulu apa tugas yang sudah diberikan ayahku untuk kau laksanakap”

Ti Then melirik sekejap memandang kearah anying Cian Li Yen yang sedang berbaring di sampingnya, kemudian baru bertanya

“Kau menggunakan anying Cian Li Yen ini membuntuti diriku apakah pernah melewati gunung Bu Leng san ?”

“Benar,” sahut Wi Lian In mengangguk.

“Di atas gunung ada sebuah rumah gubuk, kau menemukan sesuatu di sana?” tanya Ti Then lebih lanjut.

“Benar, agaknya kau pernah menginap satu malam di dalam gubuk tersebut bukan begitu?”

Sekali lagi Ti Then mengangguk, “Lalu sewaktu kau memasuki rumah gubuk itu apakah sudah menemukan seseorang di sana ?” tanyanya.

“Tidak, majikan rumah itu adalah seorang penebang kayu, kemungkinan sekali dia sedang naik ke atas gunung untuk mencari kayu”

Ti Then yang mendengar perkataan tersebnt dia segera mengetahui kalau Wi Lian In sama sekali tidak bertemu dengan si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan. Kwek Kwan San serta si manusia berkerudung berbaju biru yang dikirim

majikan patung emas untuk mengawasi geraK geriknya itu karenanya dia lantas berkata:

“Tidak salah, aku sudah menginap satu malam di rumah pencari kayu itu untuk kemudian pada keesokan harinya meninggalkan tempat itu.”

“Bilamana aku datang setengah hari lebih pagi kemungkinan sekali masih bisa bertemu dengan dirimu, kemudian agaknya kau melanjutkan perjalanan menuju kearah sebelah Timur dan menuju ke gunung Cun san bukan demikian ?” ujar Wi Lian In.

“Betul, kalau memangnya kau pernah datang ke gunung Cun san sudah seharusnya kau paham apa tugasku kali ini bukan?”.

“Aku mengejar terus sampai di depan mulut gua di atas gunung Cun san, tetapi agaknya kau tidak memasuki gua tersebut sebaliknya bersembunyi di belakang sebuah batu cadas yang besar, apakah kau sedang menyelidiki seorang yang berada di dalam gua tersebut?” 

“Ehmmm..” sahut Ti Then mengangguk, “Tahukah kau siapa yang bertempat tinggal di dalam gua tersebut?”

“Tidak tahu.”

“Gua tersebut bernama gua naga, tempat itu adalah tempat tinggal dari si Cu Kiam Lojin Kan It Hong”

“Aaah , . kiranya Cu Kiam Lojin tinggal di dalam gua itu, buat apa kau pergi mencari dirinya?” tanya Wi Liau In dengan sangat terperanyat.

“Aku bukan pergi mencari dia, sebaliknya sedang menanti kedatangan seseorang”

“Aah... sekarang aku sudah paham” “Ehm..”

“Bukankah kau sedang menanti kedatangan Cuo It Sian?”

“Benar,” sahut Ti Then mengangguk. “Ayahmu mengira ada kemungkinan dia bisa pergi mencari Cu Kiam Lojin untuk membetulkan pedangnya, karena itu sengaja memerintahkan diriku untuk pergi ke gunung Cun san menanti dan curi kembali pedang itu”

“Lalu apakah dia sudah datang ke sana?” “Sudah.” “Lalu kau berhasil mencuri potongan pedang itu?” “Tidak.”

“Kenapa tidak mau merampas dengan terang-terangan”

“Ayahmu memerintahkan diriku untuk mencuri potongan pedang itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan dirinya, dia orang tua melarang aku merampas dengan terang-terangan.”

“Maksudnya?”

“Ayahmu tidak memberi keterangan”

“Apa Cu Kiam Lojin sudah berhasil menyambung kembali potongan pedang tersebut?”

“Sudah.”

“Kau boleh mengadakan hubungan dengan Cu Kiam Lojin untuk mencuri kembali potongan pedang tersebut”

“Sebetulnya aku pun mem punyai maksud untuk bertindak demikian, cuma saja kedatanganku rada sedikit terlambat. Sewaktu aku tiba digua naga di atas gunung Cun san, Cu Kiam Lojin sudah berhasil menyambungkan potongan pedang dari Cuo It Sian itu sedang bersama-sama keluar dari gua aku takut jejakku sampai diketahui oleh Cuo It Sian maka sengaja aku bersembunyi di belakang batu besar.”

“Akhirnya kau membuntuti Cuo It Sian terus sampai ke kota Hoa Yong Sian?” timbrung Wi Lian In.

“Benar,” jawab TiThen membenarkan. “Tetapi aku hendak menceritakan satu peristiwa yang menyedihkan terlebih dulu …… sesaat sebelum Cuo It Sian meninggalkan gunung Cun san mendadak dia sudah turun tangan jahat terhadap diri Cu Kiam Lojin.”

“Iih…kenapa dia turun tangan jahat terhadap Cu Kiam Lojin ?” tanya Wi Lian In terperanyat. “Dia membinasakan diri Cu Kiam Lojin ada kemungkinan dikarenakan dia tidak ingin membiarkan orang lain tahu kalau pedang pendek tersebut sudah pernah patah menjadi dua untuk kemudian disambung kembali.”

“Perkataan apa itu?”

“Aku tidak tahu, tetapi aku percaya putusnya pedang pendek itu kemungkinan, sekali sudah menyimpan satu rahasia yang tidak memperkenankan orang lain untuk mengetahuinya,”

“Tia tentu tahu rahasia terputusnya pedang itu.” “Benar.”

“Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri dia membunuh Cu Kiam Lojin?”

“Benar,” jawab Ti Then mengangguk, “Sewaktu aku headak masuk ke dalam gua naga uutuk mencari Cu Kiam Lojin mendadak dari dalam gua berkumandang keluar suara orang yang sedang berbicara.”

Segera dia menceritakan kisah dimana Cuo It Sian membinasakan diri Cu Kiam Lojin kemudian bagaimana ditengah jalan membinasakaa pula anak murid dari si si kakek pedang baja Nyio Sam Pek yaitu si elang sakti Cau Ci Beng.”

Ketika Wi Lian In mendeugar kalau pedang pendek Biat Hun milik Cuo It Sian itu sebenarnya adalah hadiah dari si kakek pedang baja Nyio Sam Pek dia semakin merasa terkejut bercampur heran.

“Jika demikian adanya rahasia yang menyelimuti pedang pendek milik Cuo It Sian ini mem punyai hubungan dan sangkut paut yang sangat erat sekali dengan si kakek pedang baja Nyio Sam Pek?”

“Aku rasa tidak ada.”

“Tidak ada?” seru Wi Lian In keheranan.

“Betul, jika didengar dari perkataan si elang sakti Cau Ci Beng, pada beberapa tahun yang lalu Cuo It Sian pernah membantu Nyio Sam Pak membebaskan diri dari suatu bencana yang amat membahayakan nyawanya, untuk membalas budi kebaikan ini Nyio Sam Pal lantas menghadiahkan sepotong pedang pendek Biat Hun itu kepada Cuo It Sian setelah itu Nyio Sam Pak sama sekali belum pernah bertemu kembali dengan dirinya maka terputusnya pedang pendek Biat Hun ini agaknya sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri Nyio Sam Pak.”

Dengan perlahan Wi Lian In menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu” ujarnya kemudian, “Dia dapat turun tangan membinasakan diri Cau Ci Beng kesemuanya dikarenakan takut Cau Ci Beng menemukan jenasah dari Cu Kiam Lojin di dalam gua naga kemudian menaruh curiga kalau dialah yang sudah turun tangan membunuh orang tua itu.

“Tidak salah” sahut Ti Then membenarkan, “Tempat dimana dia bertemu dengan Cau

Ci Beng cuma ada lima puluh lie jauhnya dari gunung Cun san, dia takut Cau Ci Beng menemukan mayat dari Cu Kiam Lo jin lantas menaruh curiga terhadap dirinya”

oooOooo Halaman 13-14 robek

“Setelah mengetahui dia merasa ada yang mengikuti, aku mengambil keputusan untuk menyamar dan ikut menginap di dalam rumah penginapan tersebut bersamaan pula dengan ini mencari kesempatan yang baik untuk mencuri kembali potongan pedang itu, siapa tahu akhirnya aku sudah salah menganggap orang lain”

Ketika Wi Lian In mendengar dia sudah salah menganggap Cu Khei Kui sebagai Cuo It Sian tidak kuasa lagi sudah tertawa geli.

“Masih untung saja Cu Khei Kui itu bukanlah diri Cuo It Sian” ujarya.

“Apa artinya?” Tanya Ti Then melengak. Wi Lian In tersenyum.

“Bilamana Cu Khei Kui itu adalah diri Cuo It Sian maka dengan perbuatanku tadi berarti juga sudah membocorkan pekerjaanmu, kau tentu akan membenci diriku setengah mati,” sahutnya.

“Betul,”sahut Ti Then sambil tertawa, “Tetapi untung saja dengan perbuatanmu itu dengan cepat aku bias mengetahui kesalahan anggapanku, jikalau kau tidak dating ke sini kemungkinan sekali aku harus menunggunya sampai nanti malam baru tahu kalau aku sudah salah menganggap orang lain sebagai diri Cuo It Sian, waktu itu kemungkinan sekali dia orang sudah melarikan diri jauh-jauh"

“Kalau sekarang kita melakukan pengejaran masih bisa kecandak tidak?” tanya Wi Lian In kemudian.

“Kemungkinan sekali”

“Untuk sementara tidak mungkin pulang ke rumah.”

“Tidak perduli dia hendak lari kemana pun aku masih ada satu cara untuk mendapatkannya” ujar Ti Then tertawa.

“Kau hendak mencari dengan cara apa?”

Ti Then segera menuding kearah anying Cian Li Yen itu, dia tertawa.

“Menggunakan Cian Li Yen untuk mencari jejaknya.”

“Bilamana kita hendak menggunakan Cian Li Yen seharusnya ada semacam bararg dari Cuo It Sian baru bisa dilaksanakan,”

Dari dalam sakunya Ti Then segera mengambil keluar sepasang sepatu bobrok yang ditemukannya di dalam kamar Cuo It Sian itu.

“Barangnya ada di sini.” serunya.

Melibat hal itu Wi Lian In jadi amat girang sekali.

“Barang ini adalah barang peninggalannya?” tanyanya cepat. “Benar,”jawab Ti Then mengangguk. “Bagus . . bagus sekali” teriaknya, “Mari kita segera melakukan pengejaran.”

“Ayahmu tidak menghendaki kau ikut keluar dikarenakan dia takut kau terjatuh kembali ke tangannya.”

“Kau jangan berpikir hendak mengusir aku pulang” sela Wi Lian In cepat.

“Kalau begitu kau harus mengubah dulu wajahmu, dengan demikian sewaktu mendekati dirinya tidak sampai bisa ditemui oleh dirinya”

“Baiklah, nanti setelah sampai di dalam kota aku akan mencari seperangkat baju -lagi dan barang-barang untuk mengubah wajah, eei, kuda Ang Shan Khek-mu ada dimana?” ujar Wi Lian In kemudian.

“Aku titipkan di rumah penginapan Im Hok di dalam kota. “Karena kali ini aku keluar dari benteng secara diam-diam maka

tidak sampai menunggang kuda, entah di dalam kota bisa tidak nembeli seekor kuda?”

“Kita pergi lihat-lihat saja.”

Sehabis berkata dia mengambil keluar pakaian serta pedangnya dari balik semak dan bangkit berdiri.

Mereka berdua segera berjalan kembali ke dalam kota. Ti Then kembali terlebih dahulu kemmah penginapan Im Hok untuk mengambil kembali kuda Ang Shan Kheknya, lantas membeli bahan- bahan untuk mengubah wajah buat Wi Lian In dan akbirnya di pasar kuda membeli seekor kuda untuk kemudian melanjutkan perjalanan keluar dari kota.

Sekeluar dari pintu kota sebelah Utara mereka berdua mencari sebuah hutan untuk membiarkan Wi Lian In mengubah wajahnya sendiri. Ketika berjalan keluar kembali dari dalam hutan itu dari seorang nona yang cantik Wi Lian In kini sudah berubah menjadi seorang perempuan berusia pertengahan yang banyak berkeriput.

Kepalanya diikat dengan secarik kain berwarna bijau pakaiannya memakai seperangkat baju amat besar sekali dengan sebuah tahi lalat menghiasi di bawah bibirnya, kelihatan dia jauh lebih jelek beberapa bagian.

“Selama di dalam perjalanan kali ini kita mau saling memanggil sebagai suami istri atau saudara saja?” tanya Ti Then kemudian sambil tertawa.

“Sesukamu,” sahut Wi Lian In sambil tertawa pula.

“Lebih baik kita jelaskan terlebih dulu sehingga jangan sampai di depan orang lain memanggil aku Niocu kepadamu sedang kau memanggil koko kepadaku”

“Bilamana harus jadi suami isteri kemungkinan sekali kau tidak ma uterus terang, lebih baik kakak beradik saja” ujar Wi Lian In sambil tertawa malu.

Ti Then tidak banyak berbicara, dari dalam sakunya dia mengambil keluar kembali sepatu dari Cuo It Sian itu lantas diberikan kepadanya.

“Sekarang kau berikanlah barang ini biar dicium Cian Li Yen”

Wi Lian In segera menyambut barang tersebut dan diciumkan kepada anyingnya

Cian Li Yen.

“Hey Cian Li Yen,” serunya, “Kita mau pergi mencari dia orang, kan bawalah kami Ke sana”

Cian Li Yen lantas mascium sepatu itu beberapa saat lamanya dan kemudian berlari di tempat itu, agaknya dia tidak menemukan hawa dari Cuo It Sian disekitar tempat ini terbukti dengan cepatnya ia sudah menuju ke jalan raya.” Ti Then serta Wi Lian In dengan cepat melarikan kudanya mengikuti dari belakangnya, setelah berlari sampai di atas jalan raya tampaklah Cian Li Yen berlarian bolak balik lari di atas jalan raya tersebut, agaknya dia masih belum menemui juga bau dari Cuo It Sian, akhirnya dia berdiri tidak bergerak di depan kuda Wi Lian In.

Kemungkisan sekali Cuo It Sian tidak melalui tempat ini, lebih baik kita bawa Cian Li Yen kembali ke kota terlebih dulu, biar dia mencari mulai dari rumah penginapan Ban Seng itu saja” ujar Ti Then kemudian.

“Baiklah,” sahut Wi Lian In.

Dia segera menarik tali les kudanya dan melanjutkan perjalanannya kembali ke kota Hoa Yang Sian.

Dengan disertai suara gonggongan yang keras Cian Li Yen dengan cepat berlari terlebih dulu ke depan.

Tetapi sewaktu berada dua puluh kaki dari pintu kota mendadak di sebuah perempatan jalan si Cian Li Yen, anying itu berhenti berlari dan mulai menciumi tanah di sekeliling tempat itu, kemudian angkat kepalanya dengan disertai suara gonggongan yang keras ia berlari kembali menuju kea rah Barat laut.

Dengan cepat Wi Lian In melarikan kudanya mengikuti dari arah belakang.

“Dia sudah mendapatkan bau badan dari Cuo It Sian,” teriaknya cepat.

“Kalau begitu perintah dia untuk melanjutkan kejarannya kearah depan”

“Cian Li Yen, apa jalan ini?” Tanya Wi Lian In kepada anyingnya sambil menuding kearah satu jalan.

Sekali lagi si anying Cian Li Yen menggonggong kemudian berlari melalui jalan raya tersebut. Ti Then serta Wi Lian In segera melarikan kudanya di dalam kota kecil itu, dia segera memerintahkan Wi Lian In untuk memanggil kembali si anying Cian Li Yen.

“Aku mau melihat-lihat dulu ke dalam kota” ujarnya kemudian, “Bilamana tidak menemui dirinya di dalam kota, kita baru melanjutkan kembali pengejaran kita”

“Lebih baik kau masuk ke kota dengan berjalan kaki saja” seru Wi Lian In dengan cepat. “Kemungkinan sekali dia kenal dengan kuda Ang Shan Khek-mu itu”

Ti Tben segera merasakan perkataan tersebut sedikit pun tidak salah, dia lantas turun dari kudanya dan menyerahkan tali les kuda tersebut kepadanya untuk kemudian melanjutkan perjalanannya masuk dalam kota dengan berjalan kaki.

Kota kecil ini cuma punya satu jalanan saja dengan tujuh, delapan puluh rumah penduduk, di pinggir jalan ada rumah penginapan ada pula rumah makan.

Ti Then dengan mengikuti jalan raya itu memeriksa keadaan disekeliling tempat itu dengan sangat teliti, tetapi walau pun sudah sampai di ujung jalan tidak menemukan juga jejak dari Cuo It Sian, terpaksa dia berjalan keluar menyambut dirinya.

“Khek koan…” serunya. “Tidak masuk ke dalam untuk beristirahat sebentar?”

“Terima kasih” sahut Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya. “Cayhe sedang mencari seorang tua, apakah Loheng pagi ini pernah melihat seorang kakek tua berbaju hijau yang lewat di sini?”

“Ada . . ada .. bukankah kakek itu mem punyai perawakan tinggi besar dengan rambutnya yang sudah pada memutih?” ujar pelayan itu cepat.

“Benar ,. Benar” sahut Ti Then dengan amat girang. Pelajan itu segera menuding kearah ujung jalan tersebut. “Kurang lebih satu jam yang lalu dia berlalu dengan melewati tempat ini dan melanjutkan perjalanannya ke sana.”

Ti Then benar-benar merasa sangat girang sekali, dia segera rangkap tangan menjura

“Terima kasih atas petunjukmu” ujarnya tergesa-gesa, “Lain kali jika lewat di sini lagi aku tentu akan mampir di rumah makanmu”

Selesai berkata dengan langkah yang tergesa-gesa dia berjalan balik keluar kota itu kemudian memberi tanda untuk berrangkat kepada diri Wi Lian In.

Sambil meloncat naik ke atas kudanya dia berkata:

“Dia sudah tidak ada di dalam kota ini lagi, mari cepat kita berangkat.”

“Kau sudah mengadakan pencarian dengan teliti?” tanya Wi Lian In lagi.

“Aku sudah bertanya dengan seorang pelayan dari rumah makan, dia bilang pada satu jam yang lalu Cuo It Sian baru saja lewat dari kota ini.”

“Kalau begitu,” seru Wi Lian In dengan amat girang sekali. “Sebelum matahari terbenam nanti kita pasti bisa mengejar dirinya”

“Kita cuma bisa mencuri tidak boleh merampas, maka itu lebih baik menanti setelah dia menginap di rumah penginapan kita baru mencari kesempatan untuk turun tangan.” ujar Ti Then sambil melarikan kudanya melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan.

“Entah jalan raya ini berhubungan dengan kota mana..”

“Aku sendiri juga tidak tahu, pokoknya ada Cian Li Yen yang membawa jalan dan tujuan kita yaitu cuma mendapatkan Cuo It Sian kembali, kita tidak usah takut sampai tersesat jalan”

Sambil berbicara mereka berdua melarikan kudanya melewati kota kecil itu dengan dipimpin oleh si anying Cian Li Yen yang berlari dipaling depan, kurang lebih mengejar lagi dua puluh li jauhnya sampailah mereka d sebuah dusun kecil.

Waktu ini hari sudah mendekati siang, Ti Then seperti juga semula menghentikan kudanya diluar dusun lantas dia sendiri masuk mencari di sekeliling dusun setelah tidak melihat adanya bayangan dari Cuo It Sian dia baru berjalan keluar dari dusun tersebut.

Dengan membawa Wi Lian In akhirnya dia berjalan masuk kembali ke dalam dusun dan bersantap di sebuab rumah makan kecil, dari mulut sang pelayan mereka baru tahu kalau dusun ini bernama Khao Kia Ciang.

Akbirnya dengan mengikuti jalan raya itu mereka berjalan kembali sejauh tujuh puluh lie dan sampailah di sebuah kota besar yang bernama Kong An.

Demikianlah setelah selesai bersantap mereka melanjutkan perjalanannya kembali menuju kearah Barat laut dengan dipimpin oleh si anying Cian Li Yen, karena di dalam pikiran mereka berdua menduga tentunya Cuo It Sian menginap satu malam dikota Kong An sian. Karena itu mereka melarikan kudanya cepat menuju ke sana.

Sewaktu mendekati magrib akhirnya mereka berdua sampai juga dikota Kong An sian, Ti Then segera menambat kuda tunggangannya diluar kota.

“Lebih baik kita titipkan kuda kita dirumah penduduk diluar kota saja, bagaimana pendapatmu?” tanyanya.

“Baik, di sebelah sana ada rumah penduduk.”

Dia segera melarikan kudanya menuju ke rumah penduduk yang ditemuinya itu.

Sesampainya di depan pintu rumah penduduk itu terlihatlah seorang katek tua sedang bermain dengan seorang bocah cilik yang sedang belajar berjalan di sebuah lapangan penjemuran beras. Ti Then segera turun dari kudanya dan merangkap tangannya menjura.

“Lo-tiang. permisi.”

“Oooo . - silahkan, silahkan, Lo-te ada keperluan apa?” sahut kakek tua itu sambil balas memberi hormat.

“Kedua ekor kuda dari cayhe kakak beradik..”

Baru saja dia berbicara sampai pada kata-kata yang terakhir mendadak dia merasakan hatinya tergetar dengan amat kerasnya.

Karena kembali ada seorang kakek tua berbaju hijau yang secara tiba-tiba saja berjalan keluar dari dalam ruangan rumah petani itu.

Sedang kskek tua berbaju hijau itu bukan lain adalah Cuo It Sian itu si pembesar kota,

Hal ini benar-benar berada diluar dugaan mereka, mereka sama sekati tidak menyangka kalau Cuo lt Sian bisa munculkan dirinya dari rumah petani tersebut.

Di dalam sekejap itulah Ti Then cuma merasakan saking kagetnya hampir-hampir sukmanya ikut melayang tetapi bagaimana pun juga dia mem punyai satu sikap yang tidak gugup di waktu menghadapi masalah ini, dengan cepat dia pura-pura tidak kenal, memperhatikan pihak lawannya dan melanjutkan kata-katanya:

“Kuda ini adalah keturunan mongol yang amat bagus sekali, karena kami membutuhkan uang pesangon maka salah satu diantaranya akan kami jual”

Dia menuding ke arah kuda Ang Shan Khek yang ada di sampingnya.

“Kuda ini amat bagus sekali, cuma tidak tahu Lo-tiang membutuhkan tidak seekor kuda” ujarnya. “Bilamana membutuhkan cayhe sanggup menjualnya dengan harga yang sedikit lebih murah,”

Wi Lian In yang melihat secara tiba-tiba Cuo It Sian munculkan dirinya dari dalam ruangan rumah petani itu dia pun merasa sangat terkejut sekali, ketika mendengar pada soal yang amat kritis itulah Ti Tuen bisa berpura-pura mau menjual kuda tidak terasa lagi diam- diam dia merasa kagum atas kecerdikan dari Ti Then ini.

“Benar, kuda kami ini membelinya dengan harga enam puluh tahil perak,” sambungnya dengan cepat, “Bilamana Lo-tiang bermaksud mau membelinya kita bisa kurangi dengan beberapa tahil lagi.”

Ketika kakek tua itu mendengar perkataan tersebut dia segera gelengkan kepalanya.

“Biar pun lo-te kurangi separuh pun lo-han tidak membelinya,” ujarnya tersenyum.

Ti Then segera memperlihatkan rasa kecewa.

“Kalau begitu terpaksa kami harus menjualnya di pasar penjual kuda” ujarnya kemudian.

Dia takut Cuo It Sian mengetahui wajah aslinya maka itu sembari berkata dia segera menarik kuda Ang Shan Khek-nya untuk berlalu dengan cepatnya dari sana.

Mendadak Cuo It Sian maju mendekati kearah diri Ti Then sembari berteriak dengan keras:

“Lote, tunggu dulu.”

Dalam hati Ti Then merasa hatinya semakin menegang, terpaksa dengan keraskan kepalanya dia putar badannya kembali.

“Lo-tiang ini, apakah kau bermaksud hendak membeli kuda ini?” ujarnya sambil tertawa paksa.

Sambil tersenyum Cuo It Sian berjalan mendekati kuda Ang Shan Khek itu dan ulur tangannya untuk membelai. “Ternyata memang benar-benar seekor kuda yang amat jempolan sekali...” serunya memuji.

“Pandangan mata lo-tiang ini sungguh luar biasa sekali,” sambung Ti Then dengan cepat sambil memperlihatkan senyumannya yang kepaksa.

“Kuda ini memang betul-betul seekor kuda jempolan yang sukar ditemui walau pun cayhe tidak berani mengatakan di dalam sehari kuda ini bisa menempuh seribu li tetapi untuk melakukan perjalanan tiga, lima ratus li di dalam satu hari agaknya sama sekali tidak ada persoalan lagi.”

Agaknya Cuo It Sian pun sudah mengenal akan kuda Ang Shan Khek itu, pada air mukanya segera memperlihatkan senyuman yang amat licik sekali.

“Lote, kau mendapatkan kuda ini dari mana?” tanyanya. “Be... beli... beli dari daerah Mongol.”

“Kiranya tidak begitu bukan?” seru Cuo It Sian sembari memandang dirinya dengaa sinar mata yang amat tajam sekali.

Ti Then sengaja m«nperlihatkan wajah yang sedikit ketakutan tetapi dipaksa untuk menenangkan hatinya, dia segera memperlihatkan satu senyuman yang kurang enak dipandang.

“Bagaimana kau bisa bijara begitu?” serunya. “Karena Lobu pernah melihat kuda ini.”

“Eeeei... kau... kau orang tua pernah melihat kuda ini?” tanya Ti Then pura-pura terkejut.

“Benar,” jawab Cuo It Sian sambil tertawa. “Bahkan tahu juga nama dari kuda itu, dia bernama Ang Shan Khek bukan begitu?”

“Tidak... tidak... tidak...” teriak Ti Then sengaja ketakutan lalu dengan gugupnya mundur beberapa langkah ke belakang. Dengan amat cepatnya Cuo It Sian segera bergerak maju ke depan telapak kirinya dengan dahsyatnya mencengkeram dada dari Ti Then.

“Cepat bicara,” bentaknya dengan keras. “Kau mendapatkan kuda Ang Shan Khek ini dari mana?”

Saking takutnya seluruh tubuh Ti Then gemetar dengan amat kerasnya.

“Ada omongan kita bicarakan baik-baik... ada omongan kita bisa bicarakan baik-baik “ serunya dengan gugup.

“Aduh...” teriak Wi Lian In pula yang ada di samping. “Lotiang ini kenapa kau mencengkeram koko-ku?”

Cuo It Sian itu sipembesar kota sama sekali tidak memperdulikan dirinya, dengan sekuat tenaga dia menggoyang-goyangkan badan Ti Then.

“Kau mau bicara tidak?” serunya dengan suara yang amat berat dan dingin sekali. Jikalau tidak mau bicara lohu sekali pukul hancurkan badanmu.

“Baik... baik, aku bicara...” seru Ti Then cepat.

“Heei... sebetulnya begini, kuda ini... kuda hamba... hamba dapat mencuri dari seorang pemuda.”

“Pemuda itu kurang lebih berusia dua puluh tahunan, wajahnya tampan dengan memakai baju berwarna hitam betul tidak?” seru Cuo It Sian sambil tertawa dingin.

Pada air muka Ti Then segera memperlihatkan rasa terperanyatnya yang bukan alang kepalang.

“Benar, benar,” jawabnya. “Bagaimana kau orang tua bisa tahu?” Cuo It Sian tidak menyawab, sekali lagi dia tertawa dingin.

“Dia bukankah bernama Ti Then?” tanyanya. “Hamba tidak tahu siapakah dirinya.” Ti Then menyawab sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Pada beberapa hari yang lalu waktu hamba berjalan melewati kota Lok san Sian mendadak hamba dapat melihat pemuda itu dengan menunggang kuda menginap disebuah rumah penginapan, ketika hamba melihat kuda itu adalah seekor kuda jempolan rasa serakah segera meliputi hatiku, maka pada malam hari itu juga hamba segera mencuri kuda tersebut.”

“Nyali kalian sungguh tidak kecil.” bentak Cuo It Sian dengan keras.

“Hamba harus mati... hamba harus mati...” teriak Ti Then dengan seluruh tubuhnya gemetar amat keras, “Harap... harap kau orang tua suka lepaskan hamba satu kali ini.”

“Apa kau benar tidak tahu siapakah pemuda tersebut?” tanya Cuo It Sian kembali dengan suara yang amat berat.

“Hamba benar-benar tidak tahu, dia... dia ada hubungan apa dengan kau orang tua?”

“Dia adalah Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Po. Orang-orang Bu-lim menyebut sebagai si pendekar baju hitam Ti Then.”

“Oooh... Thian,” teriak Ti Then dengan amat kerasnya.

“Kiranya dia adalah Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Po, sipendekar baju hitam Ti Then adanya... lalu kau... kau orang tua adalah... adalah Pocu dari Benteng Pek Kiam Po... sipendekar pedang naga emas Wi Toa Pocu?”

“Benar,” sahut Cuo It Sian sambil mengangguk sedang dan mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa yang amat dingin sekali.

“Heeei tidak kusangka ini hari aku bisa bagitu sialnya,” seru Ti Then dengan wajah minta dikasihani, “Tidak kusangka sama sekali hamba sudah mencuri kuda dari Kiauw tauw Benteng Pek Kiam Po dan kini hendak menjualnya kepada Wi Toa Pocu.” Wi Lian In- pun dengan cepat berjalan maju memohonkan am pun.

“Kau orang tua kalau memangnya adalah Wi Toa Pocu yang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw seharusnya tidak memikirkan dosa dari kami manusia rendah, mohon Wi Toa Pocu suka mengam puni diri kokoku satu kali.”

Cuo It Sian melirik sekejap kearahnya, lantas kepada Ti Then tanyanya dengan suara keren

“Siapakah namamu?”

“Hamba bernama Bun Ih dengan julukan si tikus pembuat lubang sedangkan adikku bernama Bun Giok Kiauw dangan julukan kucing malam.”

Cuo It Sian segera mendengus dengaa amat dinginnya.

“Cukup didengar dari julukan kalian kakak beradik Lohu sudah tahu kalau kalian adalah manusia-manusia rendah yang sering melakukan kejahatan. Seharusnya lohu turun tangan memberi hukuman mati kepada kalian, tetapi mengingat kalian baru untuk pertama kalinya terjatuh ketangan lohu maka kali ini aku kasih kesempatan buat kalian untuk mengubah sifatmu yang jelek itu, cepat menggelinding pergi.”

Berbicara sampai di sini dia segera mendorong badan Ti Then dengan keras membuat dirinya jatuh berguling-guling di atas tanah dengan amat kerasnya.

Dengan terburu-buru Ti Then merangkak bangun, lantas berkali- kali menjura.

“Terima kasih Wi Pocu mau memberi am pun kepada kami, hamba kakak beradik sejak ini hari tentu akan mengubah kelakuan kami untuk membalas budi kebaikan dari Pocu.”

Berbicara sampai di sini dia segera putar tubuh dan kirim satu kerdipan mata kepada Wi Lian in untuk kemudian bersama-sama melarikan diri dari sana. Wi Lian In- pun dengan cepat meloncat naik ke atas kuda tunggangannya siap melarikan kuda tersebut dari sana.

Pada saat itulah terdengar Cuo It Sian yang ada di belakang sudah membentak dengan suara yang amat dingin sekali.

“Kuda itu pun sekalian tinggal di sini.”

Dia agak melengak dibuatnya tetapi tidak berani membangkang terpaksa cepat-cepat meloncat turun dari kudanya lantas sambil mengikuti diri Ti Then melarikan diri dengan cepat dari sana.

Dua orang manusia seekor anying bersama-sama melarikan diri ketempat yang amat sunyi sekali, kurang lebih setelah berlari satu, dua li dan dilihatnya Cuo It Sian tidak mengadakan pengejaran Ti Then baru mengajak Wi Lian In untuk menyusup masuk ke dalam sebuah hutan.

Mereka berdua mencari sebuah hutan untuk duduk beristirahat. Lama sekali mereka saling berpandangan kemudian tidak tertahan lagi sudah tertawa terbahak-bahak.

“Aku sudah hidup dua puluh satu tahun lamanya tetapi selamanya belum pernah menemukan urusan yang demikian menggelikan” ujar Ti Then kemudian sambil tertawa.

“Kenapa tidak” sambung Wi Lian In segera. “Urusan ternyata begitu tepatnya. sama sekali aku tidak menduga bisa bertemu dengan dirinya di tempat tersebut.”

Ti Then segera menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal “Yang aneh, bagaimana dia bisa menginap dirumah petani

tersebut?” ujarnya.

“Kemungkinan sekali petani itu pun merupakan anak buahnya,” seru Wi Lian In memberikan usulnya.

“Tidak mungkin,” sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya, “jarak dari tempat ini kekota Tiong Cing Hu ada seribu li lebih, tidak mungkin dia bisa mem punyai anak buah ditempat ini.” “Kalau tidak kenapa dia tidak menginap di dalam kota saja?”

Dengan perlahan-lahan Ti Then angkat kepalanya, dan memandang dirinya dengan pandangan mata yang amat tajam sekali.

“Kemungkinan sekali dia takut di dalam kota sudah bertemu dengan orang yang pernah dia kenal karena itu sengaja dia pinyam rumah petani itu untuk menginap satu malam,” ujarnya kemudian.

“Jarak tempat ini dengan gunung Cun san sudah amat jauh sekali kenapa dia masih takut dengan orang lain?” ujar Wi Lian ln dengan cepat.

“Aku kira tentunya begini kemungkinan sekali di dalam kota Tiong Cing Hu sama juga ada seorang Pembesar Kota Cuo It Sian lagi.”

“Kau bilang apa?” Wi Lian In melengak.

“Dengan perkataan lain saja, tentunya dia sudah mengatur seorang penggantinya di dalam rumahnya itu sehingga membuat penduduk disekeliling tempat itu menganggap dia orang belum pernah meninggalkan kota Tiong Cing Hu barang selangkah pun. Dikarenakan hal itu sudah tentu dia tidak dapat bertemu dengan orang-orang yang pernah dikenalnya di tengah jalan.”

“Kau berdasarkan akan hal apa bisa mengambil kesimpulan demikian?” tanya Wi Lian In kebingungan.

“Pada beberapa hari yang lalu karena kita menaruh curiga dialah orang yang sudah mengadakan jual beli dengan Hu Pocu serta diam-diam membinasakan Hong Mong Ling pernah pergi kekota Tiong Cing Hu untuk mencari dirinya sewaktu kita bertemu muka tentunya kau masih ingat apa yang diucapkan untuk pertama kalinya bukan?”

“Dia bilang apa?” tanya Wi Lian In.

“Sewaktu dia melihat kita sedang menaruh rasa curiga terhadap dirinya, dia pernah bilang selama setengah tahun lamanya ini dia sama sekali belum pernah meninggalkan kota Tiong Cing Hu barang selangkah pun, bahkan berkata juga kalau penduduk disekitar tempat itu setiap hari bisa melihat dirinya, bukan begitu?”

“Benar... benar...” sahut Wi Lian In sambil menganggukkan kepalanya berulang kali. “Dia memang pernah mengucapkan kata- kata tersebut.”

“Tetapi, ternyata dia bisa membinasakan Hong Mong Ling di atas gunung Kim Teng san. Sedangkan orang-orang di kota Tiong Cing Hu setiap hari bisa melihat dirinya? maka itu aku percaya tentu dia mem punyai seorang pengganti. Dia hendak menggunakan tubuh seorang penggantinya menutupi seluruh gerak geriknya yang sebetulnya sedang direncanakan.”

“Kalau memangnya demikian maka bila mana dia berbuat sesuatu pekerjaan yang jahat ditempat luaran siapa pun tidak akan bisa menduga kalau pekerjaan itu adalah hasil perbuatannya,” seru Wi Lian In dengan terperanyat.

“Benar,” sahut Ti Then membenarkan. “Maka itu dia harus menghindarkan diri dari pertemuan dengan orang-orang yang pernah dikenal olehnya.”

“Dia berbuat demikian tentunya tujuan yang sedang dicari adalah hendak mencuri potongan pedang dari ayahku.”

“Benar” sahut Ti Then mengangguk.

Wi Lian In segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Aku benar-benar tidak paham sebetulnya potongan pedang itu mem punyai rahasia apa?” ujarnya.

“Aku percaya ada suatu hari kita bisa mengetahui keadaan yang sesungguhnya.”

“Sekararg kita harus berbuat bagaimana?” ujar Wi Lian In kemudian sambil menghela napas panjang.

“Lanjutkan kuntitan kita, ada kesempatan segera turun tangan mencuri pedang tersebut.” “Menurut pandanganmu, dia benar-benar tidak mengenal kita atau cuma berpura-pura saja?”

“Kemungkinan sekali tidak, jikalau dia sudah kenal dengan kita air mukanya tidak akan setenang itu.”

“Tetapi kedua ekor kuda itu kita harus mencari akal untuk mencurinya kembali,” seru Wi Lian In.

“Kemungkinan sekali dia menginap dirumah petani itu, besok pagi sesudah menanti dia pergi kita baru menuntunnya kembali.”

“Lalu malam ini kita mau menginap di mana?” “Masuk ke dalam kota saja.”

“Kalau begitu mari kita segera berangkat” ujarnya Wi Lian In kemudian sambil bangkit berdiri.

Mereka berdua segera berjalan keluar dari hutan itu untuk melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam kota dan mencari sebuah rumah penginapan untuk masing-masing masuk ke dalam kamarnya sendiri-sendiri beristirahat.

Keesokan harinya setelah bersantap pagi mereka berdua lantas membajar rekening dan meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Wi Lian In yang melihat hari masih amat pagi sekali, segera dia menghentikan langkahnya.

“Lebih baik kita terlambat sedikit tiba di sana, kalau pergi terlalu pagi kemungkinan sekali dia masih belum meninggalkan tempat tersebut” ujarnya.

“Sejak semula dia sudah meninggalkan tempat itu.” Jawab Ti Then sambil tertawa.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Wi Lian In melengak, Ti Then tersenyum.

“Kemarin malam pada kentongan ketiga aku sudah keluar kota satu kali” ujarnya. “Bagus sekali yaaa, ternyata kau melakukan gerak gerikmu dengan amat rahasia, kenapa tidak beritahukan kepadaku terlebih dulu?” seru Wi Lian In sambil melototkan matanya lebar-lebar.

“Jangan marah dulu” ujar Ti Then tertawa. “Aku rasa jika pergi seorang diri jauh lebih leluasa sehingga tidak sampai ditemui olehnya.”

Air muka Wi Lian In segera berubah sangat hebat, dia merasa benar-benar tidak senang.

“Aku tahu, tentunya kau benci karena aku mengikuti dirimu terus, bukankah begitu?” serunya sambil mencibirkan bibirnya.

“Kalau memangnya begitu kemarin malam aku bisa langsung membuntuti dirinya.”

Wi Lian In segera kirim satu kerlingan mata kepadanya.

“Sewaktu kau tiba dirumah petani itu, apa dia sedang siap-siap mau berangkat dari sana?” tanyanya.

“Benar,” jawab Ti Then mengangguk.

“Kenapa kau tidak segera kembali kerumah penginapan untuk membangunkan aku lantas bersama-sama menguntit dirinya?” omel Wi Lian In lebih lanjut.

“Dia orang yang mengambil keputusan untuk berangkat ditengah malam berarti juga kalau dia sudah menaruh rasa curiga terhadap diri kita berdua bilamana pada waktu itu kita membuntuti dirinya maka pastilah jejak kita segera akan di temukan olehnya.”

“Tetapi sekarang kemungkinan sekali dia sudah berada ditempat yang amat jauh sekali” seru Wi Lian In.

Ti Then segera menuding kearah si anying Cian Li Yen yang ada disisi badannya.

“Kita ada Cian Li Yen sebagai penunjuk jalan tidak takut dia akan terbang ke atas langit,” ujarnya. Pada waktu bercakap-cakap itulah tanpa terasa mereka berdua sudah keluar dari pintu kota.

Tidak lama kemudian mereka sudah tiba di depan rumah petani itu. Pada waktu itu sikakek tua yang kemarin sedang dengan bocah cilik pada saat ini sedang menyapu diluar halaman, ketika dilihatnya Ti Then serta Wi Lian In berjalan kearahnya tanpa terasa air mukanya sudah berubah sangat hebat.

“Buat apa kalian datang kemari lagi?” tanyanya kurang tenang.

Ti Then sambil tersenyum segera merangkap tangannya memberi hormat,

“Cayhe kakak beradik sengaja datang untuk meminta kuda kami. Silahkan Lotiang suka menuntun keluar kedua ekor kuda itu dan kembalikan kepada kami.”

“Kedua ekor kuda itu kalian dapatkan dengan jalan mencuri, kalian begitu berani datang kemari lagi?” seru kakek tua itu.

“Bilamana tidak berani kami tidak akan kemari.”

“Pergi, pergi.” Teriak kakek tua itu sambil mengulap tangannya berulang kali. “Kedua ekor kuda itu sudah tidak ada dirumah Lohan lagi.”

“Sudah dibawa pergi orang itu?” tanya Ti Then kemudian.

“Benar, dia sudah berangkat pada tengah malam kemarin.” “Haaa... haaa... aku tahu kalau Lo Tiang sedang berbohong,

hiii... bukan begitu?” Seru Ti Then sambil tertawa.

Sepasang mata kakek tua itu segera melotot keluar lebar-lebar. “Kalau bicara lebih baik kalian sedikit tahu sopan,” serunya

dengan amat marah. “Lohan sudah hidup sampai sekarang, selamanya belum pernah berbohong.”

“Cuma sayang kali ini kau sudah berbohong,” sambung Ti Then dengan cepat. “Jikalau kalian tidak mau pergi lagi Lohan segera akan lapor kepada pengadilan biar mereka tangkap kalian,” ancam kakek tua itu kemudian.

Air muka Ti Then segera berubah sangat hebat sekali.

“Boleh, boleh... silahkan Lotiang pergi melapor, cuma saja... Heee... jikalau kau tidak cepat-cepat bawa kedua ekor kuda itu keluar cayhe segera akan turun tangan membakar habis rumah serta gudangmu itu.”

Mendengar ancaman tersebut sikakek tua itu benar-benar merasa sangat terperanyat sekali.

“Cis... kalian pembegal kuda, nyali kalian sungguh besar,” teriaknya dengan keras.

“Ditengah siang hari bolong kalian juga berani memperlihatkan keganasan kalian?”

Wi Lian In agaknya merasa sikap dari Ti Then ini terlalu kasar dan buas. Dengan diam-diam dia menyawil ujung bajunya.

“Koko,” ujarnya dengan suara yang amat lirih kemudian. “Sama sekali perkataan dari lo tiang ini benar, kedua ekor kuda itu pastilah sudah dibawa pergi oleh orang itu.”

“Tidak,” sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. Wi Lian In jadi melengak.

“Kau melihat sendiri dia pergi dengan tangan kosong?” tanyanya. “Benar,” sekali lagi Ti Then mengangguk.

Si kakek tua itu jadi mencak-mencak saking gusarnya.

“Jikalau kalian tidak percaya boleh pergi mencari disekeliling tempat ini,” teriaknya dengan keras.

“Bagaimana kalau aku menirukan apa yang sudah kalian bicarakan?” ujarnya Ti Then kemudian sambil tertawa dingin.

“Kau mau bicara apa?” tanyanya melengak “Kemarin malam sewaktu orang itu mau pergi dia pernah berkata demikian: Loheng kedua ekor kuda ini lohu tidak mau, baiknya aku hadiahkan kepada kalian saja. Hnm waktu itu ternyata kau berlaku sungkan sungkan dan cepat menyawab:

Tidak... tidak.. Lohan tidak berani menerimanya, lebih baik kau Lo sianseng bawa pergi saja. Orang itu lantas tertawa dan berkata lagi. Kau tidak usah sungkan-sungkan lagi, di dalam Benteng Lohu masih ada beratus-ratus ekor kuda jempolan, lohu sama sekali tidak akan memandang tinggi kedua ekor kuda ini.

Mendengar perkataan tersebut air mukamu segera memperlihatkan rasa kegirangan. Cuma saja kemudian kau menyawab dengan agak murung. Cuma saja jikalau kedua orang pembegal kuda itu datang lagi Lo han harus berbuat bagaimana untuk menghadapinya?

Dijawab oleh orang itu. Mereka tidak akan berani datang kemari lagi, bilamana Lo heng takut, tidak urung untuk sementara waktu bawalah kedua ekor kuda itu untuk dititipkan pada tetangga, bilamana mereka datang lagi untuk meminta kudanya Lo heng boleh bilang saja kuda tersebut sudah Lo hu bawa... beberapa patah kata itu tentunya ceyhe tidak salah berbicara bukan?”

Mendengar perkataan tersebut air muka sikakek tua itu segera berubah jadi pucat kehijau-hijauan.

“Kau... kau sudah mendengar semua pembicaraan kami?” tanyanya.

“Tidak salah” sahut Ti Then Sambil mengangguk. “Bahkan aku masih melihat putramu menuntun kedua ekor kuda tersebut meninggalkan tempat ini.”

Kakek tua itu jadi amat sedih sekali, dengan cepat dia berteriak keras.

“Hok Lay..... Hok Lay. ”

Dari dalam ruangan itu segera meloncat keluar seorang petani berusia pertengahan yang pada tangannya mencekal sebuah tongkat pikulan yang berat, dengan amat gusarnya dia berteriak- berteriak terhadap diri Ti Then.

“Bajingan. sungguh besar nyalimu, kaliau mau pergi tidak? kalau tidak pergi juga lohu segera akan menghajar putus sepasang kaki anying kalian.”

Ti Then segera tertawa, dari dalam sakunya dia mengambil sekerat perak.

“Begini saja,” ujarnya kemudian sambil menimang-nimang uang perak itu. “Cayhe beri uang perak ini kalian sebagai uang ganti rugi, bagaimana?”

Petani berusia pertengahan itu segera memperlihatkan sikapnya untuk berkelahi, dia melintangkan tongkat pikulan itu ke depan.

“Tidak.” Teriaknya keras. “Kedua ekor kuda itu bukan milik kalian, kalian tidak berhak untuk memintanya kembali.”

“Bukan milik kami apa mungkin milik kalian?” seru Ti Then sambil tertawa dingin.

“Tidak salah,” jawab petani berusia pertengahan itu dengan amat ketusnya.

“Lo sianseng itu berkata sendiri kalau kedua ekor kuda itu dihadiahkan kepada kami. Sudah tentu kedua ekor kuda itu adalah milik kami.”

Sepasang mata dari Ti Then dengan perlahan menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sebuah batu putih menggeletak ditengah lapangan dia segera berjalan menuju ke sana dan meraba sebentar batu itu.

“Batu ini sungguh besar sekali,” serunya sambil tertawa. “Tentu ada tiga ratus kati beratnya bukan?”

“Kau hendak berbuat apa?” teriak petani berusia pertengahan itu dengan gusarnya sambil maju dua langkah ke depan. Dengan menggunakan sepasang tangannya Ti Then mengangkat batu besar itu kemudian dipindahkan ketangan kanannya dan diangkat dengan menggunakan satu tangan.

“Coba kau lihat, kau percaya bisa menangkan aku tidak?” ujarnya sambil tertawa.

Sembari berkata dia berjalan mengelilingi lapangan tersebut.

Batu putih itu paling sedikit ada dua ratus kati beratnya, tetapi di dalam tangannya kelihatan sangat enteng sekali seperti sedang mengangkat kapas saja.

Kali ini petani berusia pertengahan itu benar-benar dibuat terperanyat sampai termangu-mangu, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar untuk beberapa saat lamanya dia tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun.

Kakek tua itu semakin dibuat terperanyat lagi, dengan gugup serunya,

“Sudah.... sudahlah Hok Lay, kau tidak usah banyak beribut dengan dirinya lagi, cepat tuntun kedua ekor kuda itu bawa kemari dan kembalikan kepada mereka.”

Agaknya petani berusia pertengahan itu masih tidak mau kalah, dengan uring-urungan teriaknya,

“Kau jangan mengira tenagamu besar lalu kami takut dengah dirimu, cukup aku berteriak maling aku mau lihat kalian akan melarikan diri kearah mana,”

Tangan kanan dari Ti Then segera ditekuk kemudian didorong kearah atas dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melemparkan batu putih tersebut beberapa kaki jauhnya ketengah udara lantas tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa... haaa... haaa... asal kau berteriak maling aku segera lemparkan batu ini ke atas atap rumah kalian,” ancamnya.

Melihat kejadian itu sipetani berusia pertengahan itu tidak berani banyak bercakap lagi saat inilah dia baru tidak berani mengumbar nafsunya lagi. Sambil melempar tongkat itu ke atas tanah dengan uring-uringan dia pergi dari sana.

Tidak lama kemudian kedua ekor kuda itu sudah dituntun kembali.

Ti Then segera menyusupkan uang perak itu ketangan sikakek tua tersebut kemudian menerima tali les kudanya dan bersama sama dengan Wi Lian In melarikan kudanya meninggalkan tempat itu.

Mereka berdua dengan cepatnya berlari menuju kejalan raya, saat itulah terdengar Wi Lian In berkata sambil tertawa,

“Untung sekali kemarin malam kau sudah datang, kalau tidak kita benar-benar bakal tertipu oleh mereka ayah beranak.”

“Hal ini tidak bisa menyalahkan mereka ayah beranak dua orang, mereka sama sekali tidak tahu kalau kedua ekor kuda itu sebenarnya adalah milik kita berdua, dia mengira kalau memangnya Cuo It Sian sudah menjetujui untuk menghadiahkan kedua ekor kuda itu kepada mereka, hal ini berarti juga sudah menjadi miliknya.”

“Kemarin malam Cuo It Sian berangkat menuju kearah mana?” tanya Wi Lian In kemudian.

Ti Then segera menuding kearah sebelah Barat.

“Dia melanjutkan perjalanannya melalui tempat itu, kelihatannya dia bermaksud untuk kembali kekota Ciong Cing Hu.”

Mendadak Wi Lian In menarik tali les kudanya untuk menghentikan perjalanannya.

“Coba kau ambil keluar sepatu milik Cuo It Sian itu dan berikan kepada si anying Cian Li Yen agar dia membauinya kembali” ujarnya. “Baik,” sahut Ti Then dan dia segera mengeluarkan sepatu itu dan membiarkan si anying Cian Li Yen untuk menciuminya beberapa kali.

Setelah itu tampaklah si Cian Li Yen, segera berputar beberapa kali di atas jalan raya untuk mencari jejaknya, setelah itu diiringi suara gonggongannya yang amat keras ia lantas berlari menuju ke arah sebelah Barat.

Mereka berdua dengan cepat mengikutinya dari belakang.

Hari kedua, orang berserta anying itu sudah tiba disebuah kota untuk bersantap sesudah beristirahat sebentar lantas melanjutkan kembali perjalanannya.

Menanti mendekati magrib mereka sudah melakukan perjalanan seratus lie dan sampailah disebuah kota yang bernama Ngo Hong Sian.

Wi Lian In segera memerintahkan anyingnya Cian Li Yen untuk berhenti, setelah itu kepada Ti Then ujarnya.

“Apa mungkin dia ada di dalam kota ini?”

“Dia berangkat kemarin malam jika ditinyau dari kekuatan kakinya saat ini kemungkinan sekali sudah meninggalkan kota kurang lebih lima puluh lie jauhnya maka itu dia tidak mungkin masih ada di dalam kota ini.”

“Dia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki tidak mungkin bisa menandingi kita yang menunggang kuda, kemungkinan sekali dia sedang beristirahat di dalam kota,” ujar Wi Lian In memberikan pendapatnya.

“Kemarin dia sudah menginap satu malam dirumah petani itu sedangkan jarak antara kota Kong An Sian dengan tempat ini tidak lebih cuma beberapa ratus li saja, sudah tentu dia tidak akan mau masuk kekota, aku rasa ini hari tidak mungkin dia berani nginap di dalam kota.” “Coba kau lihat,” ujar Wi Lian In kemudian sambil menuding kearah sianying Cian Li Yen. “Cian Li Yen terus mau lari masuk ke dalam kota, jelas sekali dia pernah masuk ke dalam kota, lebih baik kita sedikit berhati-hati.”

“Dia memang pernah masuk ke dalam kota.” Ujar Ti Then sambil tersenyum. “Tetapi aku berani bertaruh saat ini dia pasti sudah tidak ada di dalam kota lagi.”

“Baik, mari kita masuk ke dalam kota untuk memeriksa.”

Selesai berkata dia segera sentak kudanya untuk berjalan memasuki pintu kota.

Cian Li Yen masih tetap berlari memimpin jalan di depan, setelah berlari melewati beberapa buah jalan akhirnya dia berhenti sebentar di depan sebuah rumah makan dan menciumi beberapa kali tempat disekeliling tempat itu setelah itu baru melanjutkan kembali larinya kearah sebelah depan.

Ti Then segera tersenyum.

“Kelihatannya dia pernah berhenti sebentar di dalam rumah makan ini” ujarnya sambil menyengir.

“Tadi kau bilang dia tidak berani masuk ke dalam kota, kenapa sekarang terbukti dia berani berhenti di dalam kota?”

“Kemungkinan sekali dia yang melakukan perjalanan jauh merasa lelah dan lapar maka itu sengaja memberanikan dirinya untuk masuk kota bersantap.”

Baru saja mereka bercakap cakap sampai di situ mendadak tampak anying Cian Li Yen berbelok memasuki sebuah lorong kecil. Mereka berdua cepat-cepat melarikan kudanya melanjutkan kuntitannya.

“Aduh aku sudah lapar,” ujar Wi Lian In secara tiba-tiba, “Mari kita makan dulu di sini kemudian baru melanjutkan kejaran kita.”

“Tidak,” potong Ti Then cepat, “Kita cuma bisa membeli sedikit barang saja untuk kemudian dimakan diluar kota.” Ketika itulah mereka bisa melihat ujung jalan terdapat sebuah rumah makan segera kudanya dilarikan menuju ke sana dan Ti Then meloncat turun dari kudanya untuk membeli sedikit ransum untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya kearah depan.

Selama di dalam perjalanan ini Cian Li Yen berbelok-belok lagi beberapa lorong dan tikungan, akhirnya sampailah disebuah jalanan yang amat sunyi sekali.

Lama kelamaan akhirnya Wi Lian In merasakan juga akan sesuatu, dia tertawa,

“Dugaanmu sedikit pun tidak salah dia tentu takut ditemui oleh orang-orang yang pernah dia kenal karena itu sengaja mencari jalan yang jarang sekali dilalui orang,”

“Jika dilihat dari keadaan sekarang ada kemungkinan dia sudah berjalan keluar melalui pintu kota sebeelah selatan.”

“Dugaannya sedikit pun tidak salah”

Tidak lama kemudian si anying Cian Li Yen sudah memimpin mereka berlari menuju ke kota sebelah selatan dan berlari terus menuju keluar kota.

Kurang lebih setelah meninggalkan kota sejauh satu li sianying Cian Li Yen berhenti berlari dan membaui sesuatu di pinggir jalan lalu bergonggong tiada hentinya

“Eeei    sudah terjadi urusan apa?” tanya Wi Lian In keheranan.

“Biar aku turun ke sana untuk lihat-lihat?”

Dengan cepat dia meloncat turun dari atas kuda dan berjalan menuju ke samping jalan untuk memeriksa.

Terlihatlah di atas tanah rumput sudah dibasahi hampir separuh bagian bahkan tercium bau yang amat menusuk hidung, dalam hati seketika itu juga tahu apa yang sudah terjadi.

Dengan cepat dia menepuk-nepuk badan si anying Cian Li Yen. “Cian Li Yen jangan menggonggong lagi jarak kita dengan pihak musuh sudah amat dekat sekali kau janganlah sembarangan menyalak, nanti malah jejak kita konangan.”

“Ada barang apa tuh di atas tanah rumput itu?” tanya Wi Lian In.

“Dia sudah kencing di sana.” Sahut Ti Then sambil naik ke atas kuda tunggangannya. “Sehingga membuat tanah rumput itu jadi basah kemungkinan sekali setengah jam yang lalu dia kencing di sini.”

“Kalau jarak kita dengan dirinya mungkin sekali tidak sampai sepuluh li saja,” ujarnya Wi Lian In.

“Benar, karenanya sejak sekarang gerak gerik kita harus jauh lebih berhati-hati lagi.”

Dia segera mengangsurkan makanan yang dibelinya tadi kepadanya.

“Mari, kita sembari makan sembari melanjutkan perjalanan ujarnya lagi.”

Wi Lian In segera mengambil satu biji bakpau buat sianying Cian Li Yen-nya kemudian baru mengambil satu biji lagi buat dirinya sendiri, ujarnya kemudian sembari bersantap,

“Kalau kita membuntuti dirinya terus menerus seperti ini aku rasa bukanlah satu cara yang bagus, kita harus mencari satu akal untuk turun tangan mencuri pedang itu...”

“Benar,” sahut Ti Then sembari makan bakpaunya. “Tetapi aku masih belum mendapatkan cara untuk mencuri pedang tersebut...”

“Bilamana dia mau menginap dirumah penginapan ada kemungkinan kita mem punyai kesempatan untuk turun tangan mencuri. Tetapi jikalau dia tidak mau menginap dirumah penginapan lalu kita mau berbuat apa?”

“Jarak dari sini ke kota Tiong Ting Hu masih ada beberapa hari lamanya baiknya secara perlahan-lahan saja kita mencari kesempatan untuk turun tangan.” Padahal bukannya dia tidak punya siasat untuk mencuri pedang tersebut sebaliknya dia tidak ingin memperoleh pedang tersebut dengan cepat.

Karena dia tahu begitu dia berhasil mendapatkan pedang pendek itu dan diserahkan kepada Wi Ci To maka ada kemungkinan sekali dirinya segera akan dikawinkan dengan Wi Lian In, dia tetap tidak ingin menikah dengan Wi Lian In di bawah perintah dari majikan patung emas, karena itu dia hendak sengaja mengulur waktu lebih lama lagi.

Tetapi dia pun tahu si manusia berkerudung berbaju biru, pemuda yang dikirim majikan patung emas untuk mengawasi gerak geriknya sedang mengawasi dirinya terus menerus, maka itu dia harus mau tidak mau memperlihatkan juga sikap sedang berpikir dan mencari siasat untuk mencuri pedang itu.

Sudah tentu Wi Lian In sama sekali tidak mengetahui akan hal ini. Terdengar dia berkata lagi,

“Tidak perduli bagaimana pun, kita harus berhasil mencuri pedang pendek itu sebelum dia tiba dirumahnya di kota Tiong Cin Hu. Bilamana membiarkan dia pulang ada kemungkinan kita akan menemui kesukaran sewaktu turun tangan mencuri pedang itu.”

“Aku rasa hal ini belum tentu,” bantah Ti Then segera, “Kemungkinan sekali setelah dia tiba dirumah, kita malah lebih mudah untuk turun tangan.”

“Bagaimana bisa jadi?”

“Setelah sampai dirumah sudah tentu dia tidak akan membawa pedang pendek itu di badannya terus menerus, asalkan... Iiih”

Mendadak dia memperdengarkan satu jeritan kaget bersamaan pula menghentikan kudanya.

“Ada urusan apa?” tanya Wi Lian In dengan sangat terperanyat sekali. “Baru saja aku menemukan di atas jalan raya berkelebat sesosok bajangan manusia hitam.”

Air muka Wi Lian In segera berubah sangat hebat.

“Apa mungkin bajangan hitam itu adalah dirinya?” dengan suara yang amat lirih.

“Ada kemungkinan,” sahut Ti Then sambil mengangguk. Wi Lian In jadi merasa sangat tegang.

“Dia pastilah sudah menemukan diri kita bagaimana kita sekarang?” tanyanya gugup.

“Biar aku cari satu siasat...” seru Ti Then termenung berpikir sebentar.

“Bagaimana kalau mengundurkan diri?” ujar Wi Lian In memberikan usulnya.

“Tidak,” jawab Ti Then dengan cepat. “Kita tidak boleh mengundurkan diri diri. harus pura-pura tidak mengetahui akan hal ini dan tetap melanjutkan perjalanan menuju ke depan.”

“Bilamana dia munculkan dirinya untuk menghalangi perjalanan kita?” tanya Wi Lian In lebih lanjut.

“Kalau begitu kita pura-pura merasa sangat terkejut kemudian melarikan kudanya untuk lari berpencar, jangan sekali-kali turun tangan melawan dirinya.”

“Melarikan diri secara berpencar?” seru Wi Lian In sambil mengerutkan alisnya.

“Benar, jikalau dia mengejar aku maka kau melarikan diri dulu kekota Ngo Hong sian dan tunggu aku di sana, aku pasti bisa meloloskan diri dari kejarannya. “Ayoh jalan, sikap kita harus seperti tidak menemukan apa-apa.”

Setelah berbicara sampai di sini dia segera melarikan kudanya untuk melanjutkan perjalanan kearah depan. Wi Lian In segera mengikuti dari sampingnya. Mereka berdua sembari makan bakpaunya bersama-sama melanjutkan perjalanannya ke depan. Sikap mereka tenang-tenang saja tanpa terdapat perubahan apa pun.

“Koko...” tiba-tiba Wi Lian In membuka mulutnya berbicara. “Kuda Ang Shan Khek yang kita dapatkan dari Ti Kiauw tauw dari benteng Pek Kiam Po itu agaknya tidak mudah untuk melepaskannya, untuk keselamatan kita lebih baik lepaskan saja.”

Ti Then paham apa maksud dari perkataannya ini, segera dia menyambung.

“Tidak, jikalau aku takut banyak urusan aku tidak akan begitu berani merampas kembali kuda itu dari tangan sipetani tua tersebut.”

“Tetapi,” ujar Wi Lian In lagi, “Bilamana sampai bertemu kembali orang she Wi itu kemungkinan sekali kita bakal menemui kesulitan.”

“Jangan kuatir, kita tidak mungkin bisa ketemu lagi dengan dirinya” ujar TI Then tertawa.

Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras sekali berkumandang keluar dari dalam hutan di samping jalan diikuti munculnya seorang lelaki kasar.

Lelaki ini berusia kurang lebih tiga puluh tahunan, wajahnya kurus kering perawakannya juga tidak terlalu tinggi dengan memakai baju berwarna hitam dan pada tangannya mencekal sebilah golok yang memancarkan sinar yang berkilauan.

Jika dilihat dari potongan wajahnya yang amat buas dan kejam sekali, jelas sekali dia adalah seorang pembegal dan bukannya Cuo It Sian sipembesar kota itu.

Baik Ti Then mau pun Wi Lian In, yang melihat akan hal ini diam- diam pada menghembuskan napas lega. Mereka cuma takut bertemu muka dengan Cuo It Sian, jikalau terhadap orang lain mereka masih tidak memandang sebelah mata pun. Ketika lelaki berbaju hitam itu meloncat turun ketengah jalan segera dia mengangkat goloknya dan dengan buasnya membentak.

“Jikalau kalian maui nyawa cepat serahkan buntalan serta kuda itu.”

Ternyata sedikit pun tidak salah, dia orang bukan lain adalah seorang pembegal jalan.

Wi Lian In segera tertawa cekikikan dan menghentikan kudanya. “Aduh.... celaka. aku sudah bertemu dengan sipembegal jalan.”

Sipembegal jalan itu sewaktu melihat pada wajah mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa ketakutan barang sedikit pun juga, dia sendiri malah merasa kurang aman dengan cepat tubuhnya maju kembali satu langkah ke depan kemudian mengangkat goloknya siap dibacok ke depan.

“Ayoh cepat turun dari kuda,” bentaknya dengan kasar. “Kalau tidak Toaya-mu segera akan bacok-bacok kepala kalian jadi dua bagian.”

“Jikalau kau mengingini buntalan serta kuda kami lebih baik tanya dulu  dengan Cian Li Yen-ku itu,” ujar Wi Lian In sambil tertawa.

Si pembegal jalan itu jadi melengak. “Siapa itu Cian Li Yen?” tanyanya.

Wi Lian In segera menunjuk si anying Cian Li Yen yang ada di depan kudanya.

“Itulah dia,” jawabnya.

Sipembegal jalan itu melirik sekejap kearah sianying Cian Li Yen itu lantas memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan.

“Macan- pun Toaya-mu bisa bunuh apalagi cuma seekor anying.

Hee..... hee..... sungguh lucu sekali ” “Kalau kau berani ayoh kau maju........ kau boleh coba-coba rasanya digigit oleh Cian Li Yen ”

Ti Then yang melihat Wi Lian In hendak memerintahkan anyingnya untuk melancarkan serangannya kearah sipembegal jalan itu dengan gugup dia mencegah.

“Tidak..... jangan, kau jangan memerintahkan sianying Cian Li Yen untuk menggigitnya dulu.”

Dengan perlahan Wi Lian In putar kepalanya dan kirim satu senyuman manis kepadanya.

“Kau tidak usah kuatir terhadap diri Cian Li Yen, dia sudah memperoleh latihan yang amat keras sekali.... dengan kekuatannya sudah cukup untuk memberi perlawanan terhadap seorang jagoan berkepandaian tinggi dari dalam Bu-lim.”

“Aku tahu,” ujar Ti Then sambil tertawa, “Yang aku kuatirkan kalau Jin-heng ini sampai digigit Cian Li Yen dan menemui ajalnya.”

Berbicara sampai di sini dia segera menoleh kearah sipembegal jalan itu lalu ujarnya sambil tertawa

“Aku lihat wajahmu rada sedikit kukenal agaknya aku pernah bertemu dengan dirimu disuatu tempat. siapa namamu??”

“Tidak usah banyak omong,” bentak sipembegal itu sambil melototkan matanya lebar-lebar, aku mau tanya kalian ingini harta atau jiwa? ayoh cepat jawab.”

Lama sekali Ti Then memperhatikan dirinya dengan amat teliti tanpa memberikan jawaban, akhirnya secara tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak.

“Haa... haa sekarang aku sudah teringat kembali,” sahutnya. “Bukankah kau adalah si Sam Su Tou Ji atau sipencuri tiga tangan Kauw Ban Li?”

Mendengar disebutnya nama itu airmuka sipencuri tiga tangan segera berubah sangat hebat sekali, terburu-buru dia mundur satu langkah ke belakang, sepasang matanya yang seperti tikus dengan tajamnya berkedip-kedip beberapa kali.

“Kawan kau berasal dari golongan mana? kenapa kenal dengan diriku?” tanyanya dengan terperanyat.

“Jika dibicarakan sebenarnya kita adalah termasuk kawan lama,” ujar Ti Then sambil tertawa.

Seketika itu juga sipencuri tiga tangan dibuat melengak lagi. “Kawan yang aku sipencuri tiga tangan Kauw Ban Li pernah

temui tidak akan terlupakan kembali,” ujarnya.

“Sudah tentu, sudah tentu,” sahut Ti Then sambil mengangguk. “Dahulu kau tidak pernah bertemu dengan wajahku semacam ini maka sudah tentu kau tidak kenal lagi?”

“Lalu apakah kawan sedang menyamar?” tanya sipencuri tiga tangan dengan terperanyat.

“Benar.”

Walau pun sipencuri tiga tangan masih tidak tahu siapakah sebenarnya sipedagang berusia pertengahan yang ada di hadapannya saat ini, tetapi dia tahu sudah bertemu dengan seorang jagoan dari Bulim, tidak terasa lagi dia sudah mundur satu langkah ke belakang.

“Kawan siapakah sebetulnya kau?” tanyanya.

“Kurang lebih dua tahun yang lalu kita pernah bertemu muka dikota Tiang Ang hari itu aku hendak naik ke atas sebuah loteng rumah makan sedang kau mau turun dari atas loteng, lagakmu seperti orang sedang kemabokan dan sewaktu turun sudah menabrak diriku... sudah ingat bukan?”

“Tidak salah,” sahut Si pencuri tiga tangan dengan wajah yang sudah berubah memerah dia angkat bahunya ke atas. “Cayhe memang pernah berkeluntungan selama dua tahun lamanya di dalam kota Tiang An, di dalam dua tahun ini memang setiap hari cayhe berada di dalam keadaan mabok terus. Entah siapakah sebetulnya kau orang.”

“Seharusnya kau masih ingat dengan diriku” ujar Ti Then sambil tertawa, “Karena setelah kejadian itu kau pernah berkata dengan aku, kau bilang baru untuk pertama kalinya kau tertangkap sewaktu menyalankan operasimu.”

Air muka sipencuri tiga tangan segera berubah semakin riku sekali.

“Sesungguhnya aku semuanya sudah mengalami tiga kali gagal dalam pekerjaanku, pertama kali tertangkap ditangan sipendekar baju hitam Ti Then, sedangkan kedua serta ketiga kalinya air sungai menenggelamkan kuil raja naga aku sudah mencopet kawan berasal dari satu jalan.”

“Dan akulah orang yang untuk pertama kalinya menangkap dirimu itu” sambung Ti Then sambil memperendah suaranya.

“Kau adalah....” teriak sipencuri tiga tangan dengan sangat terperanyat.

“Stt.... jangan menyebut nama serta julukanku, kalau tidak aku segera akan suruh kau merasakan bagaimana rasanya kalau otot serta urat nadi di-pisah-pisahkan.”

Mendengar perkataan tersebut si pencuri tiga tangan jadi semakin terkejut dengan cepat dia mengucek-ucek matanya lalu dengan seluruh kekuatannya melototi diri Ti Then.

“Apa betul dirimu ?”

Ti Then segera mengangguk dan tersenyum.

“Hari itu kau berpura-pura mabok dan menumbuk aku sewaktu naik ke atas loteng, mengambil kesempatan itu kau sudah mencuri uang perakku, tetapi segera bisa aku ketahui, aku lantas kirim satu totokan merubuhkan dirimu, tubuhmu lantas terjatuh ke bawah loteng sehingga membuat seluruh wajah dan badanmu bengkak- bengkak menghijau setelah itu.” Sipencuri tiga tangan yang mendengar perkataan itu sampai di sana dengan cepat dia membuang golok yang ada ditangannya dan jatuhkan diri berlutut untuk kemudian menganggukan kepalanya.

“Hamba ada mata tak berbiji, ternyata kali ini sudah berani mengganggu kau Ti.. Ti.. “

“Jangan sebut namaku,” seru Ti Then dengan cepat.

Seluruh tubuh si pencuti tiga tangan segera tergetar dengan amat kerasnya.

“Baik... baik... sahutnya dengan gugup. Hamba harus mati, silahkan kau orang suka memaafkan aku sekali ini lagi, lain kali hamba bersumpah tidak akan berbuat jahat lagi dan tidak akan melakukan perbuatan yang memalukan ini lagi.”

“Sekarang kau berdirilah, jangan terus menerus berlutut,” ujar Ti Then sambil tertawa.

“Kalau kau suka memaafkan diriku dan mengam puni lagi diriku maka hamba baru berani berdiri,” ujarnya sipencuri tiga tangan sambil tetap melanjutkan anggukan kepalanya.

“Semuanya kau sudah membunuh berapa orang?” tanya Ti Then kemudian.

“Seorang pun aku tidak membunuh,” sahut sipencuri tiga tangan sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Omong kosong.”

“Sungguh,” seru sipencuri tiga tangan merengek. “Golok dari hamba ini selamanya cuma digunakan untuk menakut-nakuti orang yang lewat di sini saja, setetes darah pun belum pernah terciprat dari golok tersebut.”

-ooo0dw0ooo-