Pendekar Patung Emas Jilid 28

 
Jilid 28

1 : Manusia berkerudung utusan Majikan Patung Emas

“Tidak salah,” jawab si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sepatah demi sepatah. “Memang benar ada orang yang sudah memasukkan obat pemabok ke dalam air teh kalian”

“Siapa yang memasukkan obat petnabok itu?” tanya Kwek Kwan Ssn dengan amat terperanyat.

“Aku.”

Kwek Kwan San seketika Itu juga dibuat melengak.

“Haah .... suhu kau orang yang memasukkan obat pemabok itu ke dalam air teh kami?” ujarnya tidak mau percaya.

“Benar . .” sahut si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan mengangguk “Kau merasa ada diluar dugaanmu bukan?” “Tidak salah, kenapa suhu memasukkan obat pemabok itu ke dalam air teh kami sehingga kami jadi mabok?” teriak Kwek Kwan San dengan melototkan sepasang matanya lebar-lebar.

“Karena aku orang tua mau merubuhkan dirinya” jawab si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sambil menuding kearah diri Ti Then yang menggeletak di atas tanah.

Kwek Kwan San benar-benar merasa terkejut. “Suhu kenal dengan dia orang?”

“Sudah tentu aku kenal, dia adalah Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po yang bernama Ti Then “

“Suhu ada dendam sakit hati dengan orang ini?”

“Aku orang tua memang punya dendam dengan Pocu mereka Wi Ci To, sedangkan bangsat cilik ini …aku sih tidak punya ganyalan apa apa”

“Kalau memangnya tidak punya ganyalan hati apa-apa kenapa suhu mau merubuhkan dirinya?” tanya Kwek Kwan San keheranan.

“Karena aku ingin menanyakan satu urusan dengan dirinya, kau pergilah mencari seutas tali”

Kwek Kwan San ragu-ragu sebentar, akhirnya dia masuk ke dalam rumah juga untuk mengambil seutas tali.

Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan segera turun tangan mengikat seluruh tubuh Ti Then dengan cepatnya setelah itu menotok jalan darah dari Ti Then dan memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya.

Tidak selang lama kemudian Ti Then pun dengan perlahan-lahan sadar kembali dari pingsannya.

Ketika dia dapat melihat orang yang berdiri di hadapannya bukan lain adalah si pendekar tangan kiri Cian Pit Yuan dalam hati dia merasa sedikt bergidik, disusul satu senyuman pahit menghiasi bibirnya. “Aaah, kiranya Sang Sim Lojin adalah kau!” serunya.

“Setelah Lohu mengasingkan diri ke atas gunung dan berlatih ilmu pedang dengan susah payah selama dua puluh tahun lamanya tidak kusangka sewaktu menerjunkan diri ke dalam Bu lim untuk kedua kalinya sudah dikalahkan ditangan kau bangsat cilik, bagaimana hal ini tidak membuat Lohu bersedih hati”

“Hal itu dikarenakan ilmu silatmu tidak sempurna, bagaimana bisa menyalahkan diriku?”

“Lohu sama sekali tidak menyalahkan dirimu.”

“Lalu kenapa kau menawan aku seorang?” tanya Ti Then sambil tertawa dingin.

“Karena aku ingin menanyakan satu urusan dengan dirimu.”

“Kau bersikap demikian kasarnya terhadap diriku, kau mengira aku mau menyawab pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan?”

Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan segera tertawa dingin.

“Bilamana kau tidak mau menyawab pertanyaan yang lohu ajukan maka jangan harap bisa meninggalkan tempat ini.” sahutnya.

Ti Then tertawa, dengan perlahan dia mengalihkar sinar matanya kearah wajah diri Kwek Kwan San, “Lote. suhumu memang amat bagus sekali” ejeknya.

ooOOoo

AIR muka Kwek Kwaa San seketika itu juga berubah memerah, dengan menundukkan kepalanya rendah-rendah dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Bangsat cilik!” seru si Cian Pit Yuan dergan suara yang amat berat, “Kau bisa mencari sampai di sini hal ini jelas tidak mengandung maksud baik terhadap Lohu, siapa yang bilang salah kalau Lohu turun tangan dulu?” “Aku sedang melakukan perjalanan lewat di tempat ini, aku sama sekali tidak sedang mencari dirimu” ujar Ti Then sambil tertawa pahit.

“Benar” sambung Kwek Kwan San lebih lanjut. “Suhu, Ti-heng memangnya sedantg melakukan perjalanan lewat di tempai ini, dia bukannya sengaja datang mencari kau orang tua”

“Kau mengerti apa?” bentak Cian Pit Yuan dengan gusarnya sambil melotolt dirinya. “Tempat ini sangat jarang sekali dilalui orang, dia pasti sengaja datang mencari aku orang-tua, kalau tidak mana mungkin bisa tiba di sini?”

Ti Then tiba-tiba tertawa terbahak-bahak

“Sejak semula aku sudah melupakan dirimu sama sekali buat apa aku datang mencari dirimu lagi?” serunya.

“Omong kosong,” bentak Cian Pit Yuan dengan amat gusar. “Wi Ci To takut lohu pergi ke benteng Pek Kiam Po-nya untuk membalas dendam maka dia sengaja mengirim dirimu untuk menyelidiki keadaaan dari lohu, kau kira lohu tidak mengerti akan hal ini?”

“Bagaimana mungkin Wi Pocu kami takuti dirimu yang pergi ke benteng Pek Kiam Po untuk membalas dendam? kau kira kami pihak benteng Pek Kiam Po ada dendam dengan dirimu?”

“Apa mungkin tidak ada?” ejek Cian Pit Yuan dengan dingin. “Tidak ada”

Cian Pit Yuan jadi teramat gurar, dia mendengus dengan amat ademnya.

“Tetapi Lohu merasa punya satu dendam yang sedalam lautan dengan dirinya,”

“Bagaimana kalau suruh muridmu itu menimbangnya dari tengah?”

“Tidak perlu.” “Yang kau maksudkan dengan dendam sedalam lautan tentunya dikarenakan Wi Pocu serta aku berhasil membabat putus sepasang telingamu bukan?”

Cian Pit Yuan yang mendengar lukanya dikorek kembali oleh Ti Then air mukanya seketika itu juga berubah jadi merah padam, dia menggembor dengan amat kerasnya.

“Tidak salah, karena Lohu tidak hati-hati telingaku berhasil kalian tabas sampai putus, maka itu Lohu mau membalas dendam. Pokoknya ada satu hari Lohu pasti akan msnabas putus juga sepasang telinga dari kalian berdua.”

“Soal ini aku sama sekali tidak menolak” jawab Ti Than dengan air muka yang sangat tenang sekali. “Tetapi kau boleh menganggap tersayatnya sepasang telingamu oleh kita adalah satu dendam sedalam lautan, pada mulanya kita melukai kau dengan mengandalkan ilmu silat yang sungguh-sungguh dan sama sekali tidak menggunakan akal licik mau pun siasat busuk, maka itu jika lain kali kau merasa dirimu sudah cukup kuat untuk bergebrak dengan diri kita lebih baik pergunakanlah ilmu silat yang benar, tidaklah benar kalau menganggap kami sebagai satu musuh buyutan yang dendamnya sedalam lautan.”

“Lohu pasti akan memotong sepasang telinga dari kalian berdua” teriak Cian Pit Yuan lagi sambil menggigit kencang bibirnya menahan kegemasan dalam hatinya, “Kalian tunggu saja waktunya”

“Sampai waktunya kami akan menyambut dirimu dengan senang hati, sekarang mari kita bicara terang-terangan saja, perjalananku hari ini bukanlah sengaja datang mencari dirimu.”

“Lohu tidak percaya!”

“Jika aku sengaja datang untuk menyelidiki keadaanmu, aku tidak akan mengikuti muridmu untuk bersama masuk rumah ini.” Seru Ti Then tertawa.

“Kalau begitu ceritakanlah apa maksudmu lewat jalan ini dan kau bangsat cilik mau pergi kemana?” “Maaf soal ini sukar untuk memberi jawaban.” Cian Pit Yuan segera tertawa dingin.

“Jika kau orang suka berterus terang menyawab pertanyaan yang aku ajukan ini Lohu akan segera melepaskan dirimu pergi, kalau tidak heee heee heee seharusnya kau tahu, pada saat ini cukup Lohu angkat jari tangan saja kau segera akan menemui ajalnya.”

“Aku rasa kau tidak akan berbuat demikian”

“Kau mengira Lohu tidak berani membunuh dirimu? seru Cian Pit Yuan sambil tertawa aneh.

“Menurut apa yang ku ketahui kau orang kecuali berpikiran picik dan mem punyai rasa ingin menang yang berlebih-lebihan sebetulnya bukanlah satu orang yang suka membunuh orang dengan sembarangan.”

“Kau terlalu memandang tinggi diri Lohu” “Apa mungkin tidak?” Seru Ti Then.

“Ini hari kau harus menyawab dua buah pertanyaan dari Lohu, kalau tidak Lohu pasti tidak akan melepaskan dirimu”

“Apa itu kedua buah persoalanmu itu?”

“Pertama, beritahu kepada Lohu kau hendak kemana,” ujar Cian Pit Yuan dengan keren, “Kedua, beritahu kepadaku, kepandaian silat yang kau pelajari ini kau dapat dari siapa?”

“Kedua buah persoalan itu sebetulnya mudah saja untuk dijawab,cuma aku mempunyai satu sifat yang kukoay sekali, bilamana aku menyawab pertanyaanmu dengan perkataan yang sungguh atau mungkin mengarangkan satu jawaban hanya bertujuan untuk memperoleh kebebasan hal ini sama saja aku sudah menemui satu kekalahan, aku tidak ingin memperoleh kekalahan ini.”

“Jadi kau tidak mau menyawab?” teriak Cian Pit Yuan dengan air muka penuh diliputi oleh hawa napsu membunuh. “Tidak!”

Cian Pit Yuan segera tertawa dingin dengan amat seramnya. “Haruslah kau ketahui,” ajarnya dingin, “Bilamana malam ini Lohu

turun tangan melenyapkan dirimu, tidak mungkin ada orang yang

bisa tahu atas kejadian ini.”

“Tapi sedikitnya ada dua oraag yang tahu, yang satu adalah kau dan yang lain adalah muridmu itu.”

Dengan perlahan sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan mengalihkan pandangannya ke atas wajah Kwek Kwan San, tanyanya dengan nada mencoba:

“Kwan San, bangsat cilik ini adalah musuh besar suhumu, bagaimana kalau suhu turun tangan membinasakan dirinya?”

“Baik,” sahut Kwek Kwan San mengangguk. “Tetapi suhu kau orang tua haruslah memberi satu kesempatan buat dirinya.”

“Mau kasi kesempatan apa lagi?” tanya Cian Pit Yuan melengak. “Lepaskan dia lantas bunuh dirinya dengan mengandalkan ilmu

silat yang suhu miliki.”

Agaknya Cian Pit Yuan sama sekali tidak menyangka kalau muridnya bisa mengucapkan kata yang demikian ’Gagah’nya, untuk sesaat lamanyadia malah dibuat sangat rikuh. Karena dia pun pernah menyajal kepandaian silat dari diri Ti Then dan di dalam hati tahu bilamaoa dirinya diharuskan mengadakan pertempuran secara adil dengan diri Ti Then maka kesempatan untuk memperoleh kemenangan tidaklah terlalu besar di dalam hatinya justru dia tidak ingin bertempur secara adil dengan dirinya.

Dia agak melengak sebentar tapi sebentar kemudian sudah angkat kepalanya tertawa terbahak-bahak.

“Bagus... Bagus… aku orang mern punyai ahli waris seperti dirimu dalam hati aku benar-benar merasa girang sekali.” Mendengar perkataan tersebat Kwek Kwan San jadi sedikit ketakutan.

“Bilamana tecu sudah salah berbicara harap suhu mau memaafkan” ujarnya dengan cepat.

“Tidak, perkataanmu sedikit pun tidak salah” sahut Cian Pit Yuan sambil gelengkan kepalanya. “Aku orang tua tidak akan membinasakan dirinya di dalam keadaan situasi seperti ini, tetapi aku pun tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, kecuali dia mau menyawab kedua buah pertanyaan yang aku ajukan tadi.”

“Aku tidak akan menyawab kedua pertanyaanmu itu.” Teriak Ti Then sambil tertawa.

“Kalau begitu kau jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat”

“Kalau memangnya demikian bilamana aku punya kesempatan bisa meloloskan diri dari sini, aku tentu tidak berlaku sungkan- sungkan lagi terhadap dirimu.”

“Untuk selamanya kau tidak akan mem punyai kesempatan untuk meloloskan diri lagi,” sahut Cian Pit Yuan sambil tertawa dingin dengan amat seramnya. “Mulai saat ini setiap jsm sekali Lcohu akan menotok jalan darah kakumu, kau tidak bakal bisa melarikan diri.”

“Haaa ..... haaa . . . tapi kau harus ingat dengan pepatah yang mengatakan, orang budiman tentu akan dibantu oleh Tbian kemungkinan sekali ada orang bakal turun tangan menolong diriku.”

“Kau jangan mimpi” Seru Cian Pit Yuan dengan serius ambil tertawa, “Tidak akan ada orang yang bisa sampai di sini apalagi di dalam Bu-lim pada saat ini kecuali si kakek pemalas Kay Kong Beng serta Wi Ci To dua orang tidak akan ada yang bisa menolong dirimu dari tangan lohu.”

Ti Then segera melirik sekejap kearah Kwek Kwan San lantss dia tersenyum. “Hal ini sukar sekali untuk dijawab, kemuungkinan sekali cuma seorang yang berkepandaian sangat biasa pun bisa menolong aku meloloskan diri dari sini”

Agaknya Cian Pit Yuan pun teringat pula dengan muridnya, tidak terasa lagi dia sudah menoleh kearah Kwek Kwan San ke atas dengan wajah yang serius dan keren ujarnya:

“Kwan San, kau tidak akan mengkhianati suhumu bukan?” Agaknya Kwek Kwan san tidak paham dengan kata-kata tersebut,

dia agak melengak.

“Tecu mana berani mengkhianati suhu,” ujarnya.

“Maksudku kau dilarang menolong bangsat cilik ini secara diam- diam” ujar Cian Pit Yuan dengan serius.

“Tecu tidak berani”

“Hey bangsat cilik.” ujar Cian Pit Yuan kemudian sambil menoleh kearah Ti Then dan tertawa dingin. “Lohu bilang satu ysa satu, jikalau kau mau menyawab pertanyaan dari Lohu itu maka Lohu segera akan melepaskan dirimu”

Agaknya Kwek Kwan San pun tidak tega melibat Ti Then tersiksa, tiba-tiba dia nyeletuk, “Benar, Ti-heng, kedua pertanyaan yang diajukan oleh suhuku agaknya tidak terlalu sukar untuk menyawab kenapa kau tidak mau memberi jawabannya?”

“Lepaskan diriku terlebih dulu, setelah itu aku baru kasi jawabannya”

“Tidak.” potong Cian Pit Yuan dengan ketus. “Kau jawab dulu pertanyaanku kemudian lohu baru lepaskan dirimu.”

“Kalau begitu kita tidak usah berbicara lagi.”

“Bangsat cilik” teriak Cian Pit Yuan sambil mendengus dingin. “Tulang badanmu sungguh-sungguh keras sekali.”

“Benar, sudah keras bau lagi.” “Bagus, Lohu mau lihat kau bangsat cilik bisa bersabar sampai seberapa lama,”

Ti Then pejamkan matanya tidak menyawab lagi.

Kepada Kwek Kwan San dengan cepat Cian Pit Yuan memberi perintah.

“Kwan San, bawa dia ke dalam kamar!”

Kwek Kwan San menyahut dan membopong tubuh Ti Then masuk ke dalam sebuah kamar tidur dan meletakkan badan Ti Then di atas pembaringan kemudian dengan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mengundurkan diri dari tempat itu.

Kepada Cian Pit Yuan tanyanya dengan suara yang amat lirih. “Suhu, apa kau orang tua benar-benar mau menawan dirinya

selama beberapa hari di sini.”

Cian Pit Yuan mengangguk, lalu menarik dirinya keluar dari rumah tersebut.

“Kwan San,” ujarnya dengan suara yang amat rendah. “Di dalam hati kecilmu tentunya kau merasa perbuatan dari suhumu ini salah bukan?”

“Tecu tahu suhu amat benci terhadap dirinya,” sahut Kwek Kwan San sambil menundukkan kepalanya. “Karena seperti apa yang dikatakan agaknya telinga suhu sudah dilukai olehnya.”

“Dia memang sudah melukai telingaku sebelah kiri, tetapi aku sama sekali tidak membenci dirinya. Karena ilmu silatnya memang benar-benar bisa mengalahkan diriku, kini suhu menahan dirinya sebetulnya ingin mengetahui asal-usul yang sebetulnya.”

“Dia bilang suhunya bermama Bu Beng Lojin.” “Bukankah hal ini sama saja dengan tidak diberitahu?”

“Suhu, buat apa kau ingin mengetahui asal-usulnya?” tiba-tiba Kwek Kwan San angkat kepalanya dan bertanya. “Karena dia adalah satu-satunya pemuda aneh yang pernah aku temui selama hidupku, tabun ini dia cuma berusia dua pulun tahunan tetapi kepandaian silat yang dimiliki amat dahsyat dan sempurna sekali sehingga sukar diukur.”

“Tadi dia sudah mendemonstrasikan ilmu pedangnya di hadapan tecu, tecu rasa ilmu yang dimilikinya tidak lebih seimbang dengan kepandaian silat yang dimiliki kau orang tua”

“Tidak,” jawab Cian Pit Yuan sambil gelengkan kepalanya. “Kepandaian silatnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari diriku, beberapa bulan yang sewaktu aku pergi ke Benteng Pek Kiam Po untuk menunutut balas saat itu dia mengaku sebagai pendekar pedang hitam dari Benteng Pek Kiam Po tetapi setelah bertempur ternyata aku sudah dikalahkan satu jurus dari dirinya, akhirnya aku baru tahu kalau dia adalah Kiauwtauw dari Benteng Pek Kiam Po…”

Berbicara sampai di sini dengan perlahan dia menghela napas panjang, sambungnya kemudian:

“Hal ini benar-benar merupakan satu peristiwa yang sama sekali tidak terduga semula aku cuma tahu di dalam Bu-lim pada saat ini kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng adalah yang paling tinggi kemudian Wi Ci To dan terakhir aku, tetapi kini sesudah munculnya Ti Then ini dimana kepandaian silatnya tidak berada di bawah aku orang bahkan kelihatannya jauh di atas Wi Ci To membuat aku jadi berpikir, dia orang yang usianya masih sedemikian mudanya sudah memiliki kepandaian silat yang demikian sakti dan dahsyatnya apalagi kepandaian silat dari suhunya sudah tentu jauh lebih lihay lagi”

“Kepandaian ilmu silat dari orang itu tentu jauh berada di atas kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, sedangkan pada berpuluh-puluh tahun ini agaknya di dalam Bu-lim sama sekali tidak pernah terdengar adanya orang yang memiliki kepandaian silat jauh melebihi kepandaian silat dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, maka itu aku ingin sekali mengetahui siapakah sebenarnya suhunya itu” “Sekarang dia tidak mau memberi jawaban atas pertanyaan yang suhu ajukan, suhu pikir mau berbuat apa terhadap dirinya?” seru Kwek Kwan San kemudian.

“Biar dia merasa lapar selama beberapa hari, pada saat itu dia tentu akan berbicara dengan sendirinya”

“Kalau berbuat demikian rada tidak baik suhu kalau memangnya tidak bermaksud membinasakan dirinya lebih baik kita cepat-cepat lepaskan dirinya pergi saja, tidak urung di kemudian hari pun suhu harus melepasksn juga dia orang. Aku kuatir sampai waktu itu sampaidia bisa..”

“Kau tidak perlu kuatir, dia tidak akan bisa berbuat sesuatu terhadap kita.” Potong Cian Pit Yuan dengan cepat.

“Tecu punya satu akal, kemungkinan sekali ada gunanya. “Akal apa?” tanya Cian Pit Yuan sambil memperhatikan dirinya.

“Apa kemungkinan ini hari dia lewat di tempat ini sebetulnya hendak pulang untuk bertemu dengan suhunya, nanti lebih baik suhu lepaskan dia pergi saja kemudian secara diam-diam menguntit dari belakang, kemungkinan sekali dengan berbuat demikian bisa bertemu dengan suhunya.”

Mendengar perkataan itu air muka Cian Pit Yuan sedikit bergerak. “Ehmm... memang satu cara yang amat bagus . .” serunya

kemudian.

Ketika Kwek Kwan San melihat agaknya suhunya mau menerima usulnya tersebut dalam hati dia merasa sangat girang sekali.

“Bagaimana kalau tecu pergi membebaskan dirinya?” tanyanya dengan cepat.

“Jangan keburu. biar aku pikir-pikir dulu.”

“Tecu rasa inilah satu cara yang paling bagus,” sambung Kwek Kwan San lebih lanjut. “Dengan demikian kita bisa menyelidiki asal usul perguruannya bisa pula menghindarkan diri dari bentrokan secara langsung dengan dirinya.”

“Baiklah.” sahut Cian Pit Yuan kemudian sambil mengangguk. “Tetapi kita bebaskan besok pagi saja, besok pagi aku akan berpura-pura pergi meninggalkan rumah lalu kau secara diam-diam melepaskan dirinya pergi, dengan berbuat demikian dia tentu tidak akan menaruh curiga kepada kita.”

“Betul, baiklah kita kerjakan demikiau saja. Sekararg kau tidurlah dulu aku mau pergi menyaga dirinya”

Selesai berkata dia segera putar badan memasuki kamar tersebut.

Setelah masuk kamar dimana Ti Then disekap, ketika melihat Ti Then terbaring di atas pembaringan dia segera menariknya dan merebahkan ke atas tanah.

“Sungguh maaf” serunya sambil tertawa. “Di dalam rumah ini cuma ada dua buah pembaringan saja, malam ini terpaksa kau harus tidur di atas tanah tanpa alas.”

Ti Then segera tertawa dingin.

“Kau bermaksud semalam tidak tidur dan duduk di atas pembaringan untuk menyaga diriku?” tanyanya.

“Benar,” jawab Cian Pit Yuan tersenyum kemudian naik ke atas pembaringan dan duduk bersila, “Lohu tahu kau bisa mengerahkan tenaga dalammu untuk membebaskan diri dari totokan jalan darah, karena itu aku hendak korbankan tidak tidur satu malam untuk setiap setengah jam sekali menotok kembali jalan darahmu.”

Tiba-tiba Ti Then tertawa terbahak-bahak.

“Haa .... haa cuma sayang perhitunganmu kali ini rada meleset, karena aku cuma membutuhkan seperempat jam saja sudah bisa mengerahkan tenaga dalam untuk membebaskan diri dari totokan.”

“Seperempat jam?” tanya Cian Pit Yuan sambil mendengus dingin. “Tidak salah, seperempat jam sudah cukup.”

“Di dalam Bu-lim pada saat ini sekali pun sikakek pemalas Kay Kong Beng sendiri pun belum tentu bira membebaskan diri dari totokon jalan darah hanya di dalam seperempat jam saja, bagaimana kau orang bisa?”

“Kay Kong Beng tidak dapat tetapi aku bisa melakukanuny” sahut Ti Then tertawa,

“Agakaja kau sudah kena totok selama seperempat jam bukan ?” “Benar.”

Cian Pit Yuan segera tertawa terbahak-bahak.

“Kalau begitu kenapa sampai sekarang kau masih belum bisa bergerak?” tanyanya mengejek.

“Siapa bilang aku belum dapat bergerak?"

Sewaktu Ti Then mengucapkan kata yang terakhir itulah terdengar suara terputusnya tali yang mengikat badannya bergema memenuhi seluruh ruangan.

Cian Pit Yuan jadi sangat terperanyat, dengan cepat bagaikan kilat dia mcloncat turun dari atas pembaringan lalu sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong ke depan menghajar badan Ti Then yang masih menggeletak di atas tanah itu.

Dengan cepat Ti Then meloncat bangun dari atas tanah menghindarkan diri dari datangnya serangan gencar itu disusul tubuhnya meloncat bangun, di tengah suara tertawanya yang amat keras telapak tangannya segera melancarkan satu pukulan menghajar pinggangnya.

Walau pun Cian Pit Yuan melakukan gerakannya dalam ksadaan yang amat kritis tetapi dia sama sekali tidak gugup, melihat serangannya mencapai pada sasaran yang kosong dengan cepat kaki kanannya ditarik ke belakang, tubuhnya berputar setengah lingkaran lalu dengan menggunakan telapak tangannya menangkis datangnya serangan Ti Then yang amat dahsyat. Ti Then ysng melihat serangan gsncarnya tidak mencspai pada sasaran serangan yang kedua segera menyusul datang, telapak kirinya dengan menggunakan jurus banteng menerjang langit menyerang kening kanan musuhnya.

Dengan cspat Cian Pit Yuan menundukkan kepalanya menghindarkan diri dari serangan tersebut kakinya dengan gencarnya melancarkan tendangan kilat ke depan.

“Bangsat cilik!” bentaknya dengan keras. “Ayoh kita bertempur diluaran saja”

Telapak kanan dari Ti Then segera dibabat ke bawah menyambut datangnya tendangan kaki kirinya, segera tertawa.

“Di dalam kamar bukankah sama saja?” serunya mengejek.

Mendadak Cian Pit Yuan mengundurkan diri ke belakang hingga punggungnya terbentur dengan tembok ruangan dengan mengambil kesempatan itulah dia segera mengerahkan tenaga dalamnya menghajar hancur tembok yang menghalangi perjalanannya itu.

“Braaak . . !” dengan disertai suara yang amat keras tembok itu kena hajar satu lubang yang besar dengan cepatnya tubuhnya melayang keluar dari kamar.

Bagaikan bayangan saja Ti Then menguntit terus dari belakangnya.

“Hey Cian Pit Yuan, kau mau melarikan diri?” teriaknya sambil tertawa keras.

“Baru saja dia selesai berkata mendadak dari samping tubuhnya berkumandang datang suara seorang asing yang amat halus tapi keren dan berwibawa sekali:

“Sudah .. sudahlah Ti Then, kau tidak usah membuang banyak waktu lagi di tempat ini,” ujarnya.

Orang yang baru saja berbicara itu bukan lain adalah manusia berkerudung itu. Lelaki berkerudung berbaju biru itu jika didengar dari suaranya serta dipandang dari perawakannya jelas merupakan seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan, dia berdiri kurang lebih tiga kaki di depan pintu rumah dengan pada tangan-kirinya mengempit seseorang, Kwek Kwan San.

Entah dengan cara bagaimana Kwek Swan San sudah dikuasainya, saat ini badan dengan amat lemasnya bergantungan di atas tangannya dan sama sekali tidak kelihatan bergerak.

2 : Menyambung pedang patah

Cian Pit Yuan pun mendengar juga suara itu, sewaktu dilihatnya manusia berkerudung itu mengempit muridnya sendiri untuk sesaat lamanya dia dibuat teramat gusar sekali.

“Siapa kau?” teriaknya dengan keras.

Lelaki berkerudung itu segera tertawa ringan.

“Cian Pit Yuan” serunya. “Jika orang tidak terlalu ingin tahu mungkin usiamu masih bisa diperpanjang beberapa tahun lagi”

Dengan cepat Cian Pit Yuan menoleh kearah diri Ti Then lantas tanyanya dengan suara yang amat berat.

“Kalian berasal dari satu golongan?”

“Ooooh bukan. . . . bukan . . “ sahut manusia berkerudung itu tertawa. “Cuma secara diam-diam aku sudah memasuki kamarmu lantas membebaskan jalan darah yang tertotok dari Ti Then.”

“Haaa - - haahaa - . saudara sungguh keterlaluan” seru Ti Tben dengan cepat.

“Ha ha . . . haaa , . “ mendengar suara dari Ti Then itu manusia berkerudung tersebut segera tertawa terbahak, “Dikolong langit pada saat ini masih belum ada orang yang bisa membebaskan dari pengaruh totokan hanya di dalam waktu seperempat jam saja, kalau mau berbohong jangan berlebihan.” Cian Pit Yuan segera maju satu langkah mendekati manusia berkerudung itu dengan wajah penuh perasaan gusar teriaknya lagi.

“Kalau kalian bukan berasal dari satu golongan kenapa secara diam-diam membantu dia melepaskan totokan jalan darahnya? Lalu kenapa kau  pun menculik anak muridku?”

“Semuanya demi kebaikanmu sendiri,” sahut manusia berkerudung itu sambil tertawa, “Aku tidak tega melihat kau terbinasa di tangan Ti Then.”

“Kentut makmu” teriak Cian Pit Yuan dengan amat gusar.

Manusia berkerudung itu sama sekali tidak jadi marah oleh makian tesrebut, kepsda diri Ti Then lantas ujarnya.

“Ti Then, kau boleh pergi.”

“Saudara hendak menyatuhkan hukuman yang bagaimana terhadap guru bermurid itu?” tanya Ti Then sambil memperhatikan diri manusia berkerudung itu.

”Soal ini kau tidak usah ikut campur.”

“Walau pun dia orang bukanlah seorang manusia baik-baik tetapi muridnya Kwek Kwan San itu tidak jelek, cayhe berharap jangan sampai melukai dirinya.”

“Aku menyanggupi untuk tidak melukai diri Kwek Kwan San, kau boleh berlega hati.”

“Eeeh . . . aku boleh bertemu lagi dengan dirimu?”

“Kau barus tahu kita tidak ada keperluan untuk bertemu muka kembali.”

Ti Then terpaksa angkat bahunya.

“Sebetulnya saudara apa dia orang?” tanyanya kemudian.

Yang dia maksud sebagai “Dia” sudah tentu adalah Majikan patung emas itu. Tadi, setelah manusia berkerudung itu membebaskan jalan darah dari Ti Then dengan menggunakan kesempatan sewaktu Cian Pit Yuan guru bermurid sedang bercakap-cakap diluar rumah, dengan amat cepatnya Ti Tben sudsh bisa menduga kalau manusia berkerudung berbaju biru ini tentulah manusia yang sudah dikirim oleh majikan patung emas untuk mengawasi dan membuntuti dirinya, karena majikan patung emas takut setelah dia mendapatkan potongan pedang itu tidak mau cepat-cepat kembali ke dalam benteng, karenanya dia lantas kirim orang untuk mengawasi seluruh gerak geriknya.

Ternyata manusia berkerudung itu memang orang yang dikirim oleh majikan patung emas, mendengar perkataan tersebut dia segera manyawab:

“Soal ini kau tidak perlu tahu”

“Tentu kau ahli warisnya bukan?” seru Ti Then lagi aambil tertawa.

“Perkataanmu sudah terlalu banyak,” seru manusia berkerudung itu kurang senang.

“Aku ada satu perasaan, agaknya kita pernah bertemu disuatu tempat.”

“Kau jangan omong sembarsngan”

“Sungguh,” sahut Ti Then sambil tertawa, “Walau pun saudara berkerudung tetapi aku bisa merasakan dari sepasang matamu itu.”

“Sebetulnya kau orang mau pergi tidak?” teriak manusia berkerudung dengan keras.

Ti Then angkat bahunya lantas masuk ke dalam rumah mengambil buntalan serta pedangnya kemudian naik ke atas punggung kuda Ang Shan Kheknya, sambil merangkap tangannya memberi hormat kepada Cian Pit Yuan serunya tertawa:

”Hey Cian Pit Yuan, aku msu pergi dulu! Jikalau kau orang mau membalas dendam atas terpotongnya telingamu pada tiga bulan kemudian aku akan menanti kedatanganmu di dalam benteng Pek Kiam Po.”

“Ada satu hari Lcohu pasti akan datang!” teriak Cian Pit Yuan dengan amat gusar.

Ti Then segera menyentak tali les kudanya lalu melarikan kudanya meninggalkan rumah tersebut untuk melanjutkan kembali perjalanannya dengan mengikuti jalan gunung yang ada.

---ooo0dw0ooo---

Pada hari yang ketujuh belas sore Ti Then sudah berada di dalam kota Hoa Yong Sian yang jaraknya tinggal beberapa ratus li dari gunung Cun San.

Di dalam kota itu dia menginap satu malam dirumah penginapan 'Im Hok' untuk kemudian pada keesokan harinya setelah menitipkan kudanya di rumah penginapan itu dia melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Pada suatu magrib akhirnya dia sampai di atas gunung Cun San tersebut.

Cun san, disebut juga sebagai gunung Siang san dengan luas puncak tujuh li merupakan satu gunung yang amat indah sekali.

Di atas gunung kecuali ada kuil Siang te Bio serta kuil Cong Sin si yang terletak di kaki gunung, pemandangan di atas jalan amat indahnya, bahkan banyak kaum pelajar yang berpelancongan di sana.

Hari itu Ti Then sudah tiba di depan pintu kuil Cong sin si di bawah kaki gunung, ketika dilibatnya ada seorang hwesio sedaog bersapu membersihkan rontokan dedaunan ia segera maju menjura.

“Lao suhu, permisi..” serunya.

Si hwesio tua itu dengan cepat meletakkan sa punya dan merangkap tangannya memberi hormat.

“Siauw sicu ada petunjuk apa ?” tanyanya dengan halus. “Aku dengar di atas gunung Cun san seorang Cu Kiam Lojin, entah tahukah Lo-suhu dia tinggal di gunung yang sebelah mana ?” tanya Ti Then cepat.

“Siauw-sicu mencari dia apa mau membuat pedang?” “Benar.”

Si hwesio tua itu segera menuding kearah sebuah lembah yang ada di depan kuilnya,

“Siauw-cu boleh naik ke atas gunung dengan mengikuti lembah tersebut, dan carilah Liong Hauw Ji Tong, bilamana kau orang berjodoh kemungkinan sekali bisa bertemu dengan Cu Kiam Lojin itu.”

“Apakah Cu Kiam Lojin tinggal di dalam gua Liong Hauw Ji Tong?”

“Benar” sahut hwesio tua itu mengangguk, “Ada kalanya dia tinggal di dalam gua naga, ada kalanya juga tinggal didaiam gua macan. tetapi sekali   pun tahu dia ada di dalam gua belum tentu kau bisa bertemu muka dengan amat mudah.”

“Kenapa ?” tanya Ti Then keheranan.

“Apakah Siauw sicu tidak tahu begaimana keadaan dari gunung tersebut?” tanya si hwesio tua tertawa.

“Cayhe tidak tahu, harap Lo-suhu mau memberi petunjuk.” “Gunung Cun san di atasnya tanah padahal tengahnya kosong,

dan ada berates-ratus ruangan mau pun gua yang saling berhubungan satu sama lainnya, Jikalau Cu Kiam lojin tidak membuat pedang kebanyakan tinggal di salah satu ruangan diantara beratus ruangan tersebut, maka itu mau mencari dia tidak terlalu gampang.”

“Apa sungguh ada keadaan seperti itu?”

“Benar atau tidak siauw-sicu boleh pergi melihatnya sendiri Jikalau siavw sicu tidak menemukan apa yang aku katakan maka anggap saja perkataan dari pinceng adalah bohong tetapi kalau slauw sicu menemui apa yang kukatakan sudah tentu sicu akan tahu kalau perkataan dari pinceng bukanlah bohong.”

Mendengar perkataan tersabut Ti Then segera tersenyum. “Baiklah, terima kasih atas petunjuk dari Losuhu, cayhe akan

segera mengadu untung”.

Selesai berkata dia segera merangkap tangannya memberi hormat dan putar badan melanjutkan kembali perjalanannya.

Dengan mengikuti lembah gunung dia berjalan beberapa saat lamanya, sehingga menemukan juga gua naga serta gua macan, dia melakukan pemeriksaan beberapa saat lamanya disekeliling gua tersebut akhirnya dia mengambil keputusan untuk memasuki gua naga terlebih dahulu.

Tetapi pada saat dia sedang menggerakkan langkah mendadak dari dalam gua berkumandang datang suara pembicaraan manusia, dalam hati dia merasa amat terperanyat.

Dengan cepat tubuhnya mengundurkan diri ke belakang lantas bersembunyi di balik sebuah batu besar di sekeliling tempat itu.

Wi Ci To sudah memberi pesan wanti-wanti kepadanya untuk jangan sampai diketahui pihak lawan sewaktu hendak mencuri potongan pedang dari Cuo It Sian maka itu begitu dia mendengar ada suara pembicaraan manusia dengan cepat dia menduga salah satu diantara mereka pastilah diri Cuo It Sian, karenanya dengan cepat dia menyembunyikan dirinya.

Sebentar kemudian suara pembicaraan manusia semakin lama semakin dekat, tampaklah dari dalam gua naga muncul dua orang tua.

Salah satu diantara mereka adalah seorang kakek tua berjubah kuning dengan wajah yang amat segar, rambut serta jenggot yang berwarna putih memenuhi seluruh wajahnya. Sedang orang yang terakhir bukan lain adalah Cuo It Sian itu si pembesar kota.

Kakek tua berjubah kuning itu sudah tentu adalah Cu Kiam Lojin Kan It Hong, dia dengan mengikuti Cuo It Sian si pembesar kota berjalan keluar dari gua naga dan berhenti di depan pintu gua, ujarnya sembari mendongakkan kepalanya memandang keadaan cuaca.

“Hari sudah hampir gelap. Lebih baik Cuo heng bermalam satu malaman saja di sini, lalu berangkat pulang pada keesokan harinya”

“Tidak” tolak Cuo It Sian dengan cepat, “Aku orang she Cuo benar-benar punya urusan penting yang harus diselesaikan, aku harus cepat-cepat pulang untuk membereskannya”

“Jikalau aku tahu setelah mengambil pedang Cu heng segera mau pulang, Lolap seharusnya mengundurkan pembuatan pedang itu beberapa hari kemudian.” seru Cu Kiam 1oojin sambil tertawa.

Cuo lt Sian yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa. “Ha..ha..Kan-heng tidak perlu menyesali, setelah lewat beberapa

hari aku orang she Cuo tentu akan datang lagi kemari untuk

bermain catur dengan diri Kan-heng”

“Lolap tinggal di sini benar-benar membuat aku merasa tersiksa adalah dikarenakan tidak memperoleh lawan permainan catur yang setangguh Cuo-heng, permainan catur yang paling tinggi di sekitar tempat ini cumalah ketua kuil Siang hui bio, tetapi usianya sudah amat lanjut pandangan matanya pun sudah tidak seberapa jelas lagi dia tidak begitu suka main catur lagi.”

Dengan perlahan Cuo It Sian memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu terlebih duu, lantas dia tertawa lagi.

“Sudahlah, aku orang she-Cuo harus mengucapkan terima kasihku kepada Kan-heng, karena sudah menolong aku menyambungkan kembali pedang tersebut, bilamana di kemudian hari ada waktu luang aku tentu akan datang mengganggu Kan-heng lagi, sekarang silahkan Kan-heng kembali ke dalam gua” Selesai berkala dia rnerangkap tangannya mengambil perpisahan.

“Bagaimana kalau lolap menghantar Cuo heng sampai di tengah jalan?” ujar Cu Kiam Lojin.

“Aaah tidak berani. Iiih - . - Kan-heng, coba kau lihat, siapa yang ada di belakangmu?”

Air muka Cu Kiam Lojin segera berubah sangat hebat, dengan tergesa-gesa dia menoleh kearah dalam gua.

Dengan mengambil kesempatan itulah mendadak Cuo It Sian melancarkan satu pukulan dahsyat yang dengan amat tepat sekali menghajar batok kepala dari Cu Kiam Lojin itu, dikarenakan tenaga pukulan yang disalurkan keluar amat dahsyat dan berat sekali segera terdengarlah suara benturan yang amat keras sekali tanpa berteriak sepatah kata pun tubuh Cu Kiam Lojin sudah rubuh ke atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa.

Ti Then yang bersembunyi di balik batu sewaktu melihat secara tiba-tiba Cuo It Sian turun tangan membinasakan diri Cu Kiam Lojin, untuk sesaat lamanya saking terperanyatnya hamper-hampir dia menjerit keras.

Peristiwa ini benar-benar sangat mengejutkan sekali. sebetulnya mereka berdua berbicara dengan baik-baik sedikit percek-cokan pun tidak ada, sungguh tidak terkira ternyata Cuo It Sian bisa turun tangan secara tiba-tiba membinasakan diri Cu Kiam Lojin.

“Kenapa dia mau membinasakan diri Cu Kiam Lojin? Apakah dia orang mem punyai ikatan permusuhan sedalam lautan dengan diri Cu Kiam Lojin?

Tidak, Bilamana dia orang mem punyai dendam sedalam lautan dengan diri Cu Kiam Lojin dia orang tidak mungkin bisa pergi mencari Cu Kiam lojin untuk membetulkan pedangnya yang patah.

Berbagai macam pikiran dengan amat cepatnya berkelebat memenuhi benaknya, darah panas yang mengalir di dalam tubuh terasa bergolak dengan amat kerasnya, saking terharunya atas kejadian itu hamper-hampi dia meloncat keluar untuk membinasakan diri Cuo It Sian. Tetapi akhirnya dia berhasil menahan pergolakan di dalam hatinya itu, dia teringat bahwa untuk membinasakan diri Cuo It Sian sebetulnya bukanlah satu peristiwa yang amat sulit setiap saat setiap waktu dia masih bisa mencabut nyawanya.

Sekarang persoalannya bilamana dirinya segera munculkan diri dan turun tangan membinasakan dirinya walau pun dapat mmperoleh pedang pendek itu tetapi dia takut setelah kematian dari dirinya maka pedang pendek itu akan kehilangan semacam daya yang amat berharga.

Dia bisa mem punyai dugaan ini semuanya dikarenakan sewaktu dilihatnya Cuo It Sian masih ada dalam Benteng Pek Kiam Po, sebenarnya Wi Ci To mem punyai kesempatan yang sangat baik untuk membinasakan diri Cuo It Sian, sedangkan waktu itu Wi Ci To sama sekali tidak turun tangan bahkan akhirnya pernah memesan wanti-wanti kepadanya untuk mencuri pedang tersebut sewaktu Cuo It Sian tidak berada.

Walau   pun dia tidak bisa memahami alasannya tetapi dia tahu Wi Ci To berbuat demikian sudah tentu ada satu sebab-sebab tertentu.

Karena itu dia mengambil keputusan untuk mengikuti pesan dari Wi Ci To dan mencuri kembali pedang pendek itu kemudian setelah menanti Wi Ci To mendapatkan hasil dari perbuatannya ini dia baru turun tangan membinasakan si bajingan tua yang berhati licik dan kejam dengan bersembunyi di balik kulit sebagai pendekar tua yang bijaksana.

Karena itu walau pun dia merasa amat gusar melihat kematian dari Cu Kiam Lo-jin di tangannya tetapi dia masih tetap bersembunyi di balik batu dengan amat tenangnya.

Cuo It Sian yang berhasil dalam satu kali pukulan membinasakan Cu Kiam Lo-jin pada wajahnya segeralah memperlihatkan satu senyuman yang amat licik sekali, dengan cepat dia memutar balik jenasah dari Cu Kiam Lojin lalu gumamnya seorang diri. “Kan It Hong, sebenarnya diantara kau dan aku tidak mem punyai dendam sakit hati apa pun,. sebetulnya Lolap tidaklah seharusnya turun tangan membinasakan dirimu, tetapi untuk melenyapkan saksi berbicara, Lolap mau tidak mau harus turun tangan membinasakan dirimu juga untuk menutupi kesalahan ini, aku akan membantu untuk menguburkan mayatmu sehingga mayatmu tidak sampai berserakan tanpa terurus”

Selesai berkata dia menggendong mayat dari Cu Kiam Lojin dan balik kembali ke dalam gua.

Kurang lebih setengah jam kemudian baru tampak dia berjalan keluar lagi dari dalam gua naga, saat ini cuaca sudah sangat gelap.

Beberapa saat lamanya dia berdiri di depan mulut gua, lalu dengan menggerakkan tubuhnya dia berkelebat menuju kearah Barat.

Menanti setelah bayangannya lenyap dari pandangan Ti Then baru muncullah dirinya dari balik batu besar dan menguntitnya dari tempat kejauhan.

Setelah menuruni gunung Cun san, Cuo It Sian rnelanjutkan kembali perjalanannya menuju kearah Barat, kurang lebih dia berlari lagi sejauh lima puluh li dan sampailah disuatu tempat pegunungan yang amat sunyi, waktu itulah dia baru berhenti.

Dengan perlahan dia menengok sekejap kesekeliling tempat itu lantas baru duduk di bawah pohon dan menyeka keringat yang mengucur keluar membasahi wajahnya, dari dalam saku dia mengambil keluar sebilah pedang pendek dan dipermainkan beberapa saat lamanya, akhirnya dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dan memejamkan matanya untuk beristirahat.

Ti Then pun bersembunyi di balik semak-semak kurang lebih dua puluh kaki dari tempat itu dan berjongkok tidak bergerak, sedang dalam hati diam-diam pikirnya. “Mungkin dia sudah lelah karena lari terlalu lama sehingga sekarang harus beristirahat sebentar ”

Baru saja pikiran tersebut berkelebat melewati benaknya mendadak dari atas tidak jauh dari Cuo It Sian tampak secara tiba- tiba berkelebat datang satu bayangan hitam.

Melihat akan hal itu Ti Then merasakan hatinya agak tergetar, pikirnya dalam hati:

“Hmm,.. kiranya dia sedang menantikan kedatangaa seseorang..” Tetapi dugaannya ternyata salah.

Agaknya orang yang melakukan jalan malarn itu bukanlah orang yang sedang dinantikan oleh Cuo It Sian, karena begitu Cuo It Sian melihat orang yang melakukan jalan malam itu mendekati dirinya dengan cepat dia meloncat bangun.

“Siapa?” tanyanya dengan suara yang amat berat.

Agaknya orang yang sedang melakukan perjalanan malam itu merasa sangat terkejut sekali, dengan cepat dia menghentikan langkah kakinya lalu menyilangkan telapak tangannya di depan dadanya.

“Kau adalah . . , Aaaah bukankah kau orang tua adalah Cuo It Sian Cuo Lo cianpwe si pembesar kota?” serunya terkejut.

Di bawah sorotan sinar rembulan dapat dilihat orang yang melakukan perjalanan malam itu berumur empat puluh tahunan, wajahnya gagah dan'merupakan seorang berusia pertengahan yang mem punyai semangat tinggi.

Air muka Cuo It Sian kelihatan amat ragu-ragu sekali dengan amat telitinya dia memperhatikan beberapa saat lamanya lelaki berusia pertengahan itu.

“Kau siapa?” tanyanya kemudian sesudah memperhatikan orang beberapa saat lamanya. Sikap dari orang berusia pertengahan itu sangat menghormat sekali, dia segera merangkap sepasang tagannya menjura.

“Boan pwe Cau Ci Beng. dengan gclar Sin Eng atau si elang sakti.”

“Kau kenal dengan lolap ?” tanya Cuo It Sian lagi.

“Benar.” sahut si elang sakti Cau Ci Beng mengangguk, “Suhuku adalah Thiat Kiam Ong atau si kakek pedang baja Nyio Sam Pak, pada tiga tahun yang lalu bukankah Cuo Lo cianpwe pernah membantu dia orang tua membebaskan diri dari satu bencana kemudian Cuo locianpwe masih bertamu di dalam perkam pungan Kiam San Cung kami dan waktu itu bpanpwe yang meladeni diri kau orang tua”

“Tidak salah . ., tidak salah . .. “ seru Cuo It Sian jadi paham kembali. “Sekarang lolap sudah teringat kembali, bagaimana keadaan dari suhumu pada rnasa-masa ini?”

“Suhu di dalam keadaan selamat dan sehat.” Cuo It Sian segera tersenyum.

“Lolap sudah amat lama sekali belum pernah bertemu dengan suhumu,” ujarnya.

“Suhuku pun sering merindukan diri Cuo locianpwe.”

“Lolap sendiri juga tidak melupakan suhmu . . Coba kau lihat, pedang pendek Biat Hun atau pembasmi sukma yang suhumu hadiahkan kepada lolap tempo hari masih lolap simpan terus di dalam sakuku.” ujar Cuo It Sian sambil tertawa.

Dia segera mengambil keluar pedang pendek itu dan digoyang- goyangkan di hadapannya Cau Ci Beng lantas disimpan kembali ke dalam sakunya.

Mendengar keterangan tersebut diam-diam Ti Then merasa sangat terperanyat sekali, pikirnya. “Kiranya pedang pendek itu adalah pedang hadiah dari si kakek pedang baja Nyio Sam Pak “ Mengenai si kakek pedang baja Nyio Sam Pak ini dahulu dia pernah mendengar orang bercerita katanya, si kakek pedang baja ini merupakan orang jagoan pedang yang sudah lama mengasingkan diri dari dalam kalangan dunia persilatan, dalam ilmu pedangnya kecuali Wi Ci To yang bisa menandingi boleh dikata jarang sekali menemui tandingannya, tetapi dikarenakan usianya yang sudah lanjut maka beberapa tahun yang lalu dia sudah cuci tangan terhadap urusan dunia ramai.

Sekali pun begitu anak murid yang diterima amatlah banyak sekali, karenanya sekali pun dia orang tua sudah lama mengundurkan dirinya tetapi nama perkam pungan Thiat Kiam San Cung masih sangat terkenal di dalam Bu-lim bahkan mendapat sanjungan dan penghormatan dari orang lain.

Karena seperti Juga Wi Ci To, sikakek pedang baja ini pun menerima murid dan mendidik anak muridnya untuk berbuat jujur dan bersikap pendekar.

Saat ini sewaktu Si elang sakti Cau Ci Beng memperlihatkan pedang hadiah dari suhunya itu ada air mukanya segera memperlihatkan senyuman girangnya.

“Bilamana suhu dia orang tahu kalau Cuo locianpwe begitu sayang terhadap pedang pendek Biat Hun ini tentu dia orang tua sangat girang sekali, kenapa ditengah malam buta ini Locianpwe berlari-lari di tempat luarau?”

“Pada malam tadi Lolap sedang mengejar seorang penyahat pemetik bunga dari kota Gak Yang, tidak disangka sewaktu sampai di sini sudah kena terlolos olehnya, karena itu aku lantas beristirahat di sini sejenak.”

“Penyahat pemetik bunga yang mana?” tanya Cau Ci Beng dengan serius.

“Dia mengerudungi wajahnya dengan menggunakan secarik kain, karenanya lolap sama sekali tidak bisa tahu siapakah dia orang” Dengan gemasnya Cau Ci Beng menghela napas panjang.

“Penyahat pemetik bunga yang ada di dalam Bu-lim memang tidak sedikit jumlahnya, aku dengar itu "Giok Bin Lang Cu' Cu Hoay Lo yang sudah berbuat banyak sekali kejahatan telah dibinasakan oleh Ti Then itu Kiauw-tauw dari benteng Pek Kiam Po.”

000odwo000

“EHHMMM.Lolap pun mendengar orang berkata begitu, cuma tidak tahu sungguh-sungguh atau cuma berita isapan jempol saja”

“Kemungkinan sekali bukan lain isapan jempol,” ujar Cau Ci Beng sambil gelengkan kepalanya. “Belum lama boanpwe pernah bertemu dengan seorang pendekar pedaug merah dari benteng Pek Kiam Po, boanpwe dengar berita tersebut dari penlekar pedang merah itu.”

“Malam ini Cau Hian tit datang kemari sedang ada urusan apa?” “Boanpwe mendapat perintah dari suhu untuk pergi ke gunung

Cun san untuk meminta sebilah pedang dari Cu Kiam Lojin”

Mendengar perkataan tersebut air muka Cuo It Sian rada sedikit berubah.

“Eeeei...pergi mengambil sebilah pedang ?”

“Benar, suhu sudah memesan suruh Cu Kiam Lojin membuatkan sebilah pedang dan hari ini sudah jadi, pada setahun yang lalu sewaktu suhu berpesiar kedaerah Lam Huang secara tidak sengaja dia orang tua sudah menemukan sebuah besi baja yang amat bagus sekali, lantas dia menyerahkan besi itu kepada Cu Kiam Lojin untuk membuatkan sebilah pedang, pada akhir-akhir ini dia orang tua mengirim surat kepada suhu yan katanya pedang tersebut sudah jadi, karenanya boanpwe sekarang diperintahkan untuk pergi mengambilnya.”

“Oooh    kiranya begitu.”

“Locianpwe kenal dengan Cu Kiam Lojin ini ?” tanya Cau Ci Beng lagi. “Kenal…” sahutnya mengangguk.

Cu Kiam Lojin berturut-turut sudah membuatkan empat bilah pedang buat suhu dia orang, sekarang yang boanpwe bawa ini adalah satu diantaranya.”

“Kan It Hong adalah seorang akhli yang berpengalaman di dalam membikin pedang, setiap pedang yang dibuat oleh dia orang pastilah merupakan sebilah pedang yang amat bagus sekali.”

“Benar,” jawab Cau Ci Beng mengangguk, “Boanpwe sudah menggunakan pedang ini selama sepuluh tahun lamanya, sampai sekarang pedang ini masih tetap tajam tanpa memperoleh sedikit kerusakan apa pun”

“Lolap sekali pun ada jodoh pernah bertemu beberapa kali dengan Kan It Hong tetapi pedang yang dibuat lolap sama sekali belum pernah melihatnya, dapatkah Cau hiantit meminyamkan pedang itu kepadaku sebentar?”

Cau Ci Beng segera mencabut keluar pedangnya lalu dengan menggunakan sepasang tangannya diangsurkan ke depan.

Cuo It Sian segera menerima pedang itu dan memperhatikannya di bawah sorotan sinar rembulan.

“Ehhh, ternyata memang sebilah pedang yang sangat bagus sekali,” pujinya berulangkali, “Cau hiantit sudah membinasakan berapa banyak orang dengan menggunakan pedang ini?”

3 : Kehilangan jejak Cuo It Sian

“Boanpwe sudah membinasakan puluhan orang, tetapi yang perlu diterangkan, manusia-manusia yang boanpwe bunuh kebanyakan adalah kaum penyahat yang sudah sering melakukan pekerjaan-pekerjaan durhaka, dan selama ini belum pernah membinasakan seorang manusia baik pun..” “Sebaliknya Lolap pernah membinasakan seorang manusia baik…” seru Cuo It Sian sambil membelai pedang tersebut dan menghela napas pendek.

“Ooh…benar?” seru Cau Ci Beng melengak.

“Benar, Lolap terang-terangan tahu kalau dia adalah seorang manusia baik, tetapi mau tidak mau aku harus membinasakan dirinya.”

“Lalu kenapa?”

Cuo It Sian tidak menyawab, dengan pandangan mata yang melongo dia memperhatikan pedang yang ada di tangannya kemudian baru angkat kepalanya dan bertanya.

“Kali ini Cau hian-tit melakukan perjalanan seorang diri ?”

“Benar” sahut Cau Ci Beng mengangguk, “Boanpwe dengan seorang kawan sudah berjanyi untuk bertemu kembali beberapa hari yang akan datang di kota Hoa Yong Sian, karena takut tidak sampai kecandak waktunya maka terpaksa boanpwe melakukan perjalanan dengan siang malam, aku punya perhitungan setelah terang tanah nanti boanpwe sudah bisa tiba di atas gunung Cun san”

Dengan perlahan Cuo It Sian mengangguk.

“Kalau memangnya demikian, Cau Hian-tit cepat-cepatlah melakukan perjalanan,” ujarnya kemudian.

Selesai berkata pedang panjang yang ada ditangannya mendadak ditusuk ke depan menghajar ulu hati dari Cau Ci Beng.

Cau Ci Beng lantas berteriak ngeri dengan amat menyayatkan hati. sepasang tanganya mencekal kencang-kencang pedang panjang itu sedang air mukanya memperlihatkan rasa kaget yang bukan alang kepalang, sambil melotot kearah Cuo It Sian serunya gemetar:

“Lo . . . Locianpwe kenapa . . . ke napa . .!” Bicara sampai di sini dia tidak kuat untuk bertahan lebih lama lagi, tubuhnya rubuh ke atas tanah dan menemui ajalnya seketika itu juga.

Cuo It Sian segera menghela napas panjang.

“Kenapa aku membinasakan dirimu?” serunya dengan terharu. “Hei…alasannya karena sewaktu kau tiba di gua naga di atas gunung Cun San kemungkinan sekali bisa menemukan tempat terkuburnya Kan It Hang dan dari penemuan mayat dari Kan It Hong yang terbunuh oleh orang lain jika dihubungkan dengan penemuan mala mini dengan lolap bukankah kau orang bisa timbul rasa curiga. Lain kali mungkin kau bisa menceritakan kisah ini kepada orang lain dan orang pastilah akan menaruh curiga kalau Kan It Hong adalah lolap yang turun tangan membinasakannya.”

Dengan perlahan dia menggelengkan kepalanya lantas menghela napas panjang lagi.

“Kesemuanya ini adalah alasan lolap kenapa terpaksa aku harus turut membinasakan dirimu. bagaimana kau mati tidak meram sukmamu pergi mencari Wi Ci To untuk membalas dendam ini karena dialah yang memaksa lolap harus melakuka jalanan ini.”

Selesai berkata dia segera memungut kembali pedangnya dan mulai menggali tanah untuk mengubur mayat dari Cau Ci Beng.

Ti Then yang melihat kejadian itu di dalam hati benar-benar merasa sangat terkejut bercampur gusar, makinya diam-diam:

“Bajingan tua, kau patut menemui kematianmu, kau sudah membinasakan orang kini malah mengalihkan dosanya kepada orang lain”

Terhadap kematian dari Cau Ci Beng ini ia merasa amat menyesal sekali, karena sewaktu dia mendengar perkataan yang terakhir dari Cuo lt Sian tadi secara samar-samar dia sudah merasakan kalau Cuo It Sian bermaksud hendak melenyapkan saksi hidup.

Pada waktu itusebetulnya dia mem punyai kesempatan untuk kirim suara memberi peringatan kepada diri Cau Ci Beng, tetapi dikarenakan dia belum benar-benar yakin kalau Cuo It Sian benar mau turun tangan membinasakan Cau Ci Beng di samping dia pun memikirkan perintah yang dibebankan kepadanya maka membuat dalam hatinya sedikit ragu-ragu sewaktu keadaan sangat kepepet itulah untuk memberi peringatan sudah tidak sempat lagi skhingga tidak berhasil menolong nyawa dari Cau Ci Beng.

Diam-diam dia menggigit kencang bibirnya, dalam hati pikirnya: “Pokoknya ada satu hari aku tentu akan mengumumkan seluruh

kejahatan dari kau bajingan tua di hadapan orang-orang Bu-lim kemudian menghancurkan badanmu sehingga berkeping-keping.”

Agaknya Cuo It Sian sendiri pun takut I kalau sampai diketemukan oleh orang lain, gerak-geriknya amat cepat dan tidak selang kemudian dia sudah berhasil menggali liang yang amat besar dan memasukkan mayat Cau Ci Beng ke dalam liang tersebut kemudian menutupnya kembali dengan tanah, semuanya telah selesai dia baru putar badannya melarikan diri ke sebelah Barat.

Ti Then tetap menguntitnya dari arah belakang. Dia tidak berani terlalu dekat dengan dirinya.

Ketika sang surya muncul kembali di ufuk sebelah timur Cuo It Sian sudah tiba di kota Hoa Yong Sian.

Ti Then segera mengikuti masuk ke dalam kota tersebut, ketika dilihatnya Cuo It Sian sembari berjalan di tengahi jalan kepalanya menengok ke kanan menengok ke kiri dia segera tahu kalau dirinya sedang mencari rumah penginapan, teringat kuda Ang Shan Khek nya masih dititipkan dipenginapan Im Hok tidak terasa diam-diam doanya:

“Lebih baik jangan dibiarkan dia masuk ke rumah penginapan Im Hok tersebut, kalau tidak aku akan menemui kesukaran untuk turun tangan.”

Dia mem punyai rencana untuk meminyam keempatan sewaktu Cuo It Sian menginap di rumah penginapan dia segera berusaha untuk mencuri pedang pendek tersebut. Sebaliknya di rumah penginapan Im Hok sudah ada nama serta kudanya yang tertinggal di sana, karenanya dia tak ingin Cuo It Sian masuk ke dalam rumah penginapan Im Hok itu sehingga membuat urusan selanjutnya jadi berantakan.

Akhirnya rasa kuatir itu lenyap juga dari benaknya.

Cuo It Sian menginap di sebuah rumah pemginapan kecil dengan nama Ban Seng.

Ti Then segera tahu dia sengaja mencari sebuah penginapan kecil karena takut sampai ditemui oleh orang-orang yang dia kenal, bersamaan pula dia tahu tentunya dia sedang melakukan siasat siang mendekam malam bergerak paling sedikitnya dia akan mendekam di penginapan Ban Seng itu seharian lamanya.

Segera dia mengambiI satu siasat pula. Dia segera membeli seperangkat sepatu dan pakaian baru kemudian dengan menggunakan beberapa macam barang untuk mengubah wajahnya sete!ah itu baru berjalan ke luar kota dan mencari sebuah tempat yang sunyi untuk mulai menyamar.

Terhadap ilmu mengubah wajah dia mem punyai satu pengalaman yang cukup sempurna, tidak lama kemudian dia sudah berhasil menyamar sebagai seorang pedagang pertengahan.

Setelah menyembunyikan sepatu, pakaian serta pedangnya dia baru berjalan kembali lagi ke dalam kota.

Setelah memasuki kota dia langsung menuju kerumah penginapan Ban Seng, ketika dilihatnya ada beberapa orang tamu sedang membayar rekening siap meninggalkan tempat tersebut dia segera menanti di samping,

Tidak lama kemudian terlihatlah seorang pelayan maju memberi hormat kepadanya: “Khek-koan.. kau . .”

“Mau mencari kamar,” sahut Ti Then dengan cepat.

“Baik . . . baik.” sahut si pelayan sambil membungkukkan badannya, silahkan Khek koan mengikuti hamba.” Selesai berkata dia segera putar kepalanya berjalan masuk ke dalam.

“Apa tidak perlu tinggalkan nama?”

“Tidak usah. . : tidak usah, silahkan kau orang beristirahat dulu ke dalam kamar, nanti baru….”

“Tidak” potong Ti Then dengan cepat, “Aku mau menulis namaku terlebih dulu, nanti sore ada kemungkinan seorang teman akan kemari mencari aku”

“Kalau begitu silahkan ikuti hamba pergi ke sana” sahut pelayan itu sambil menghentikan langkah kakinya.

Dia memimpin Ti Then menuju ke kamar kasir dan mengambil sebuah kitab untuk kemudian membukanya pada halaman yang terakhir menyilahkan Ti Then menulis namanya.

Tidak salah lagi pada nama tamu yang terakhir dia menemukan tinta bak yang masih belum kering benar, tetapi nama yang ditulis bukannya ‘Cuo It Sian’ tiga kata melainkan Cu Khei Kui.

Ti Then yang tidak menemukan nama ‘Cuo It Sian’ diantara nama-nama tersebut dia segera menuding ke atas nama Cu Khei Kui tersebut.

“Nama orang ini sungguh berarti sekali”

“Benar” sahut sang pelayan sambil tertawa. “Nama ini adalah nama dari seorang tamu yang baru saja menginap di rumah penginapan kami.”

Ti Then segera menulis namanya dengan sebutan Ciau Cuang di belakang nama Cu

Khei Kui tadi sambil meletakkan kembali pitnya ke atas meja dia berkata sambil tertawa.

“Aku adalah seorang pedagang, dan paling suka membicarakan soal rejeki atau sial, nama orang ini adalah Khei Kui, tolong beri aku satu kamar yang persis disarnpingnya saja, biar aku pun ikut kecipratan rejeki.”

“Boleh.. boleh, tetapi tetamu tua itu baru mau tidur, dia berpesan kepada hamba untuk jangan membangunkan dia, maka . …”

“Aku pun hendak pergi tidur sebentar “ potong Ti Then dingan cepatnya. “Aku tidak akan membangunkan dirinya”.

“Kalau begitu bagus sekali. Khek koan kau ingin makan?” tanya pelayan itu kemudian dengan cepat.

“Baiklah, ambilkan beberapa macam sayur dan bawa ke dalam kamarku”

Demikianlah si pelayan itu segera memimpin dia masuk ke dalam rumah penginapan dan membuka pintu kamar tepat di samping kamar dari Cu Khei Kui dan membiarkan Ti Then masuk, kemudian mempersiapkan makanannya.

Ti Then segera masuk ke dalam dia segera mepetkan badannya dengan tembok untuk mendengarkan suara yang ada di sampingnya dengan penuh perhatian,

Dia cuma mendengar suara napas yang agak keras dari Cu Khei Kui itu, dia tentu pihak lawan sudah tertidur dengan amat pulasnya, segera dia pun mengundurkan diri ke samping pembaringan dan mulai memikirkan cara-cara untuk mencuri pedang pendek itu.

Tidak lama kemudian si pelayan sudah menghidangkan sarapan pagi.

“Khek koan,” serunya. “Makanan pagimu sudah datang.”

“Baik,” sahut Ti Then sengaja mengganti nada ucapannya. “Setelan makan aku pun mau tidur, kau tidak perlu melayani aku lagi.”

Dengan amat hormatnya pelayan itu menyahut. setelah meletakkan sarapan itu di atas meja dia segera mengundurkan dirinya. Setelah bersantap pagi Ti Then pun membaringkan badannya ke atas tempat pembaringan melanjutkan pemikirannya cara-cara untuk mencuri pedang tersebut.

Akhirnya dia memperoleh dua cara :

Pertama, sewaktu Cuo It Sian ada urusan dan meninggalkan kamarnya.

Dan kedua, Sewaktu dia berganti pakaian atau sedang mandi.

Tetapi kedua buah cara itu baru bisa dilakukan menanti setelah dia sadar kembali dari pulasnya, tetapi kapan dia baru sadar kembali dari pulasnya?

“Ehmm, dia baru saja tertidur sudah tentu paling cepat siang nanti baru bangun, lebih baik kini dirinya  pun tidur sebentar.

Berpikir sampai di sini dia tidak melanjutkan kembali pemikirannya, segera dia memejamkan matanya dan tertidur dengan nyenyaknya.

Siapa tahu baru saja dia tertidur tidak lama, mendadak dari luar kamar berkumandang datang suara yang amat ramai sekali.

Terdengar si pelayan itu dengan suara yang cemas sedang berteriak:

“Eei . ,. . eei nona, kau sedang berbuat apa?”

Disambung dengan suara yang amat merdu dan nyaring dari seorang gadis memberi jawabannya:

“Nonamu sedang cari orang” “Kau sedang cari siapa?” “Kau tidak usah ikut campur”

“Nona, kau…kau..menuntun anying itu, tentunya bukan sedang perintah dia untuk menggigit orang bukan?”

“Bukan!”

“Lalu.. kenapa kau menuntun anying itu datang kemari?” “Tadi aku sudah bilang aku sedang mmencari orang, apa telingamu sudah tuli?”

“Tetapi…tetapi…”

“Kalau kau banyak bicara lagi nonamu segera akan perintah Cian Li Yen ini untuk menggigit dirimu terlebih dulu”

Ti Then yang mendengar disebutnya nama ‘Cian Li Yen’ tiga buah kata tidak terasa lagi menjadi sangat terkejut sekali, dengan gugup tubuhnya meloncat bangun kemudian serunya di dalam hati:

“Aduh . . celaka, bagaimana dia bisa sampai di sini?”

Pada saat dia ingin membuka pintu kamar itulah mendadak dari pintu kamar sebelah luar terdengar suara gonggongan anying sangat ramai sekali, kemudian disusul suara dari Wi Lian In berkata:

“Cian Li Yen, apa tidak salah kamar ini?”

Sekali lagi anying itu menggonggong dengan amat kerasnya bersamaan pula terdengar suara kuku anying yang mulai mencakar pintu kamar.

Diam-diam Ti Then menghela napas panjang, pikirnya: “Habis..habis sudah. Cuo It Sian yang ada di kamar sebelah

sesudah mendengar suara itu tentu akan kabur”

Dia takut Wi Lian In berteriak memanggil namanya terpaksa dia segera maju ke depan membuka pintu kamar.

“Ada permainan setan apa? Siapa yang sudah membawa seekor anying gila mengganggu orang?” teriaknya dengan gusar.

Wi Lian In yang berdiri di depan pintu di dalam anggapannya orang yang ada di dalam kamar sudah tentu adalah diri Ti Then, ketika dilihatnya orang yang ada di depan matanya sekarang bukan lain adalah seorang lelaki berusia pertengahan dengan memelihara jenggot pendek pada janggutnya seketika itu juga dia melengak.

“Kau siapa?” serunya dengan air muka yang sudah memerah. “Cayhe Ciau Cuang” sahut Ti Then dengan nada suara yang sengaja diperberat, “Nona ada keperluan apa datang mencari cayhe?”

Untuk beberapa saat lamanya Wi Lian In dibuat kelabakan juga dengan paksa dia menarik anying ‘Cian Li Yen’-nya.

“Maaf, maaf aku sudah salah mencari orang,”serunya kikuk. “Sungguh membingungkan, hmmm..” seru Ti Then sambil

mendengus perlahan.

Selesai berkata dia hendak menutup pintu kamarnya kembali.

Siapa sangka si anying ‘Cian Li Yen’ itu tidak mau mengakui kesalahannya, melihat Ti Then hendak menutup pintu dengan cepat tubuhnya kembali menubruk ke depan dan menggonggong dengan ramainya kearah diri Ti Then.

Dengan sekuat tenaga Wi Lian In segera menarik anyingnya ke belakang,

“Binatang jahanam !” makinya dengan gusar. “Matamu betul- betul sudah buta”

Si anying ‘Cian Li Yen’ itu tetap tidak mau mengaku salah, kakinya diangkat ke atas dan tak henti-hentinya menggonggong dengan menghadap diri Ti Then.

Si pelayan yang ada di samping sewaktu melihat kejadian ini dia jadi semakin keras lagi, teriaknya berulang kali.

“Coba kau lihat, aku tadi Tanya kau mencari siapa kau orang tidak mau menyawab, sekarang anyingmu sudah membangunkan tetamu kita semua sungguh kurang ajar..sungguh kurang ajar sekali”

“Cepat, tarik dia keluar” teriak Ti Then pula sambil mengulapkan tangannya, “Kalau tidak jangan salahkan aku segera akan pukul anying itu dengan menggunakan tongkat” Wi Lian In menganggukkan kepalanya berulangkali lantas dengan sekuat tenaga menarik anying Cian Li Yen-nya untuk mengundurkan diri dari situ.

“Ayoh jalan…ayoh jalan,” bentaknya dengan keras, “Kau anying goblok, anying konyol tunggu saja pembalasanku sekembalinya dari sini”

Pada saat itulah dari pintu kamar Cu Khei Kui yang ada di samping kamar Ti Then terbuka dengan perlahan disusul bergema datangnya suara seorang kakek tua.”

“Ada urusan apa yang begitu ramai dan ributnya?”

“Aduh, habislah..” batin Ti Then diam-diam dia merasa hatinya berdebar dengan amat keras.

Dia berpendapat bahwa ketika Cuo It Sian berjalan keluar dari kamarnya dan melihat Wi Lian In seorang diri ada di sana, dia tentu akan menawan diri Wi Lian In, pada saat itu dirinya harus turun tangan memberi bantuan dengan begitu bukankah ‘penyamaran’- nya akan jadi berantakan?

Atau dengan perkataan lain, seluruh usahanya yang susah payah ini hancur berantakan sampai di sini.

Tetapi sewaktu dia orang sedang menghela napas panjang dikarenakan kejadian inilah mendadak dia dibuat tertegun sesudah melihat wajah dari Cu Khei Kui itu.

Kiranya Cu Khei Kui yang baru saja keluar dari kamar itu bukanlah si pembesar kota Cuo It Sian melainkan adalah seorang kakek tua yang berperawakan kurus sekali.

Dengan mata terbelalak mulut melongo Ti Then memperhatikan kakek tua itu tajam-tajam untuk beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia selalu menganggap Cu Khei Kui itu adalah adalah diri Cuo It Sian, siapa tahu dugaannya ternyata adalah salah besar, kesalahannya kali ini benar-benar amat lihay sekali. Kalau memangnya Cu Khei Kui ini bukanlah Cuo It Sian, lalu Cuo It Sian yang sebsnarnya tinggal di kamar sebelah mana?

Begitu pikiran tersebut berkelebat di dalam benaknya, ketika dilihatnya Wi Lian In sudah hendak meninggalkan halaman rumah penginapan tersebut dia segera berteriak dengan keras:

“Nona, tunggu sebentar!”

Sembari berteriak dia mengejar ke depan dengan langkah yang cepat.

“Ada urusan apa?” tanya Wi Lian In setelah mendengar perkataan tersebut, dia berhenti dan putar badannya.

“Cayhe sekarang sudah jadi paham kembali bukankah nona sedang menggunakan penciuman anying ini sedang mencari seseorang?”

Sskali pun perkataanmu itu sedikit   pun tidak salah lalu kau orang mau apa?” Seru Wi Lian In ketus.

“Anying nona itu sudah mencari sampai di sepan kamar cayhe kemungkinan sekali tidak salah orang yang sedang nona cari ada kemungkinan pernah tinggal di dalam kamarku itu.”

“Ehmmm…. kemungkinan sekali memang demikian” Seru Wi Lian

In.

Mendadak Ti Then memperendah suaranya, ujarnya dengan

cepat:

“Aku adalah Ti Then, kau pergilah dulu sebentar kemudian aku akan menyusul datang.”

Berbicara sampai di sini dia segera memperkeras suaranya. “Kenapa nona tidak pergi ke tempat pemilik rumah penginapan

ini untuk memeriksa daftar nama tetamu? Kemungkinan sekali dari sana bisa ditemukan kembali.”

Wi Lian In agak melengak dibuatnya, tetapi sebentar kemudian dia sudah mengangguk berulang kali. “Tidak salah…tidak salah” serunya dengan cepat, “Biarlah aku periksa sebentar”

Selesai berkata dengan terburu-buru dia menarik anying Cian Li Yen-nya untuk berlalu dari sana.

Setelah melihat bayangan dari Wi Lian In lenyap dari pandangan Ti Then baru tertawa, putar badan dan ujarnya sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Nona ini sungguh amat lucu sekali…”

Si pelayan itu segera menjura berulang di depan Ti Then serta Cu Khei Kui.

“Maaf..maaf, sudah mengganggu kalian, maaf..” serunya sambil tertawa paksa.

Cu Khei Kui tidak menyawab, dia putar badan berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya dan menutup pintu kembali.

Sedangkan Ti Then segera menarik tangan si pelayan itu ke samping.

“Aku mau bertanya kepadamu,” ujarnya dengan suara yang amat lirih sekali, “Pagi ini orang yang memasuki rumah penginapanmu kecuali aku beserta si kakek tua she Cu itu masih ada siapa lagi?”

“Sudah tidak ada lagi,” sahut pelayan itu sambil gelengkan kepalanya.

“Sungguh?” tanya Ti Then keheranan. “Sungguh,” sahutnya mengangguk.

“Tetapi kurang lebih dua jam sebelum aku memasuki rumah penginapanmu ini agaknya aku pernah melihat seorang kakek tua berjubah hijau memasuki rumah penginapan ini, kakek tua berjubah hijau itu mem punyai perawakan tinggi besar.”

“Betul, betul..” sambung pelayan itu dengan cepat, “Memang pernah ada seorang kakek tua berjalan memasuki rumah penginapan kita ini, tetapi dia tidak menginap di sini.” “Kenapa?”

“Siapa yang tahu?” sahut pelayan itu sambil merentangkan tangannya ke samping.

“Semula dia punya rencana untuk tinggal di sini selama beberapa hari lamanya tetapi setelah bersantap pagi mendadak dia bilang ada urusan penting yang harus diselesaikan, dengan terburu- buru dia membayar rekening lantas meninggalkan tempat ini.”

“Kalau begitu dia pernah masuk ke dalam kamar?” “Benar, kamarnya ada tepat di hadapan kamarmu.”

Sambil berkata dia menuding kearah sebaris kamar, lantas tanyanya lagi secara tiba-tiba.

“Khek-koan, kau kenal dengan Lo-sianseng itu?”

“Tidak kenal, Cuma saja aku tahu siapakah dia orang adanya….dia adalah..ehmmm..dia adalah seorang yang sangat luar biasa sekali.”

Si pelayan itu jadi ingin tahu lebih lanjut, desaknya kemudian. “Bagaimana hebatnya?”

“Dia adalah seorang penulis yang paling terkenal pada saat ini.

Setiap tulisannya bisa laku sepuluh tahil perak.”

“Aaaah..” teriak pelayan itu sambil menjulurkan lidahnya. “Setiap tulisannya bisa laku sepuluh tahil perak? Oohh Thian..”

“kamar yang baru saja ditinggali apa sudah kau beresi?” “Belum”

“Kalau begitu mari kita pergi ke kamarnya untuk memeriksa jikalau bisa menemukan tulisan-tulisannya yang dibuang kemungkinan sekali kita bisa untung besar”

“Belum” sahut si pelayan itu dengan cepat. “Agaknya dia tidak pernah membuang semacam barang pun.” “Kalau begitu, mari kita pergi mencari” sahut Ti Then menarik ujung bajunya.

Selesai berkata dia segera berjalan menuju kekamar tetamu yang amat panjang.

Si pelayan yang melihat dia begitu bernapsunya terpaksa ikut dari belakangnya dan membukakan pintu kamar dimana Cuo It Sian pernah ditinggali.

“Hamba berani bertaruh dengan Khek koan" ujarnya tertawa, “Lo-sianseng itu sama sekali tidak membuang tulisan apa pun juga”

Ti Then tidak mengambil bicara, dia segera berjalan masuk ke dalam ruangan dan memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu, akhirnya di bawah sebuah pembaringan dia menemukan sepasang sepatu yang berbau amat busuk dan sudah berlubang, dalam hati dia merasa sangat girang sekali sambil memungut sepatu tersebut ujarnya.

“Sepasang sepatu bobrok ini apakah peninggalan dari Lo- sianseng itu?”

“Benar, apakah barang itu pun sangat berharga?” tanya si pelayan itu sambil tertawa.

Dari dalam sakunya Ti Then mengambil secarik kain lalu membungkus sepatu itu dengan sangat berhati-hati dan dimasukkan kembali ke dalam sakunya.

Setelah itu dia mengambil pula sebuah hancuran uang perak yang disusupkan ke dalam tangan pelayan itu.

“Boleh bukan aku membawa pergi sepasang sepatu bobrok ini ?”

Si pelayan itu jadi kebingungan, dia memandang ke atas hancuran keping perak yang ada di tangannya lantas memandang pula ke arah Ti Then dengan pandangan keheranan.

“Khek-koan.” ujarnya. “Dengan uang sebanyak ini paling sedikit kau masih bisa membeli dua pasang sepatu baru” “Tetapi aku labih suka sepasang sepatu bobrok ini” sahut Ti Then tertawa. “Karena barang yang pernah dipakai oleh seorang penulis terkenal sangat berharga sekali.”

“Hamba tidak paham” ujar pelayan itu sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Sudahlah..” ujar Ti Then sambil menepuk-nepuk pundaknya. “Karena diganggu nona tadi setan tidurku pun sudah diusir keluar dari dalam badanku, aku segera mau meninggalkan rumah penginapan ini, coba kau pergi menghitung rekeningku.”

“Kau mau pergi ?” tanya pelayan itu melengak.

Ti Then segera berjalan dari kamar itu untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.

“Benar.” jawabnya. “Tetapi kau boleh berlega hati, aku sanggup untuk membayar uang sewa kamar selama satu hari penuh.”

Sskembalinya di dalam kamarnya send:ri dia lantas memeriksa apakah barangnya ada yang ketinggalan setelah itu baru berjalan keluar untuk membayar rekening, akhirnya meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Sekeluarnya dari pintu rumah penginapan itu dia sudah menemukan Wi Lian In serta si anying Cian Li Yen-nya sedang menanti di ujung jalan, dengan cepat dia berjalan menuju kearahnya dan lewat dari samping badannya.

“Tunggulah aku dipintu sebelah timur” ujarnya denan suara yang amat lirih.

“Sudah terjadi urusan apa ?” tanya Wi Lian In dengan cemas.

Ti Then tidak menyawab, tapi melanjutkan kembali perjalanannya kearah depan.

-ooo0dw0ooo-