Pendekar Patung Emas Jilid 27

 
Jilid 27

Jelas sekali orang yang mengadakan jual beli dengan Hu Pocu untuk mencuri semacam barang milik Wi Ci To lalu membinasakan diri Hong Mong Ling di atas gunung Kim Teng san dengan sambitan batu bukan lain adalah perbuatan dari Cuo It Sian si pembesar kota ini. Sekali pun di dalam hati Wi Lian In sudah punya dugaan kalau manusia berkerudung itu adalah Cuo It Sian tetapi sekarang setelah melihat dengan mata kepala sendiri kalau Cuo It Sian benar-benar adalah manusia berkerudung itu tidak urung merasa terkejut bercampur gusar juga, alisnya dikerutkan rapat-rapat.

“Cuo It Sian, kiranya benar kau adanya!” teriaknya dengan amat gemas.

Cuo It Sian segera tertawa terbahak-bahak.

"Sedikit pun tidak salah !" sahutnya ketus, "Cama saja kalian mengetahui hal ini sudah terlalu lambat”

“Hmm…! Aku rasa sedikit pun tidak lambat” seru Wi Lian In sambil tertawa dingin.

Selesai berkata pergelangan tangan kanannya membalik dan mencabut keluar pedang panjangnya lalu berjalan ke depan maju mendesak kearah diri Cuo It Sian.

“In-ji, jangan sembarangan bergerak!” bentak Wi Ci To dengan amat cepat.

Cuo It Sian segera mengundurkan satu langkah ke belakang dan berdiri diantara Kha Cay Hiong serta Pauw Kian Yen telapak tangan kanannya ditekan pada jantung Kha Cay Hiong sedang telapak nya menekan dada dari Pauw Kia Yen. “Benar..! Bagus sekali, ayoh maju satu langkah lagi !” serunya sambil tertawa terbahak-bahak. “Lolap terpaksa main adu jiwa dengan kalian !”

Si manusia berkerudung hitam yang badannya kecil kurus itu pun segera melintangkan goloknya ke atas leher dari Ih Kun, dia bersiap sedia asalkan Wi Lian In maju menyerang maka goloknya akan segera ditabaskan ke atas kepala dari In Kun.

Wi Lian In yang melihat keadaan seperti ini terpaksa menghentikan langkah kakinya.

"Kalian sungguh tidak berguna ! gentong nasi !” teriaknya dengan amat gemas. “Hey bajingan tua ! terus terang saja aku beritahu kepadamu, para pendekar pedang dari Pek Kiam Po kami sudah mengepung tempat ini rapat-rapat, jikalau kau berani turun tangan membinasakan ketiga orang itu maka kalian berdua jangan harap pula bisa lolos dari kematian !"

Cuo It Sian sama sekali tidak menjadi jera ketika mendengar ancaman tersebut, sekali lagi dia tertawa terbahak-bahak.

“Mati? haaa. . . , haaa. haaa. Lolap sama sekali tidak menaruh rasa takut terhadapnya, sejak semula Lolap sudah mengambil keputusan jikalau malam ini tujuanku tidak tercapai maka aku segera akan adu jiwa dengan kalian l"

"Kenapa?

Air muka Cuo It Sian segera berubah menjadi amat keren. “Kita tak perlu tahu!” serunya sambil mengejar kejam.

“Tia ! Sebetulnya dia orang minta barang apa?” Tanya Wi Lian In sambil menoleh kearah ayahnya.

Wi Ci To tidak langsung memberikan jawabannya, lama sekali dia termenung berpikir keras akhirnya baru jawabnya:

“Sebuah potongan pedang..” "Hey orang she Wi, kau berani melanggar peraturan yang sudah lolap tentukan” teriak Cuo It Sian dengan air muka yang berubah sangat hebat.

Wi Ci To tertawa tawar.

"Aku orang she Wi cuma berbicara sampai di sini saja, apa halangannya?” ujarnya dengan dingin.

“Asalkan kau orang berani berbicara sepatah kata lagi, Lolap terpaksa akan adu jiwa dengan kalian!”

“Aku orang she Wi merasa perbuatan dari Cuo heng ini cuma mendatangkan bencana buat dirimu sendiri !"

“Sebenarnya kau mau serahkan itu barang atau tidak?” teriak Cuo It Sian dengan keras, napsu mulai menyelimuti wajahnya.

Wi Ci To dengan perlahan merogoh dan mengambil keluar potongan pedang tersebut lalu tertawa.

“Sejak aku orang she Wi tahu kalau Cuo heng berhasil menawan mereka bertiga, aku orang she Wi sudah mengetahui kalau aku orang tidak bisa mempertahankan ptongan pedang ini lagi” ujarnya perlahan. “Tetapi dapatkah kau orang menyambung kembali kedua potongan pedang itu seperti sedia kala?”

Gagang pedang yang menghubungkan gagang dengan tubuh pedang itu cuma ada enam tujuh cun saja panjangnya, pedangnya pun amat kecil dan memancarkan sinar yang menyilaukan mata, agaknya tidak salah lagi pedang itu merupakan satu pedang pusaka.

Cuo It Sian yang melihat Wi Ci To sudah mengambil keluar potongan pedang itu air mukanya jelas kelihatan sangat terharu sekali.

"Potongan yang sebelah lagi Lolap sama sekali tidak membuangnya" ujarnya denga suara yang amat berat. “Maka itu dapat mengembalikan seperti keasalnya atau tidak bukanlah urusan yang penting..cepat kau lemparkan kemari!” Dengan hati yang keberatan Wi Ci To mempermainkan potongan pedang tersebut, agaknya dia pun merasa amat sayang untuk melemparkan pedang tersebut kepadanya, ujarnya dengan perlahan:

“Aku orang she Wi sudah menyimpan ptotongan pedang ini ada tiga tahun lamanya, sekarang sebetulnya aku merasa amat sayang sekali untuk diserahkan kepadamu…”

"Jikalau kau tetap menginginkan barang tersebut..hmmmm! hmm! Jelas sekali keiga nyawa anak muridmu sukar untuk dipertahankan lebih lama lagi!” ancam Cuo It Sian dengan seramnya.

"Karena itulah aku orang she Wi harus tunduk kepala terhadap pengaruh jahat untuk pertama kalinya" ujar Wi Ci To sambil menghela napas panjang.

Dia berhenti sebentar, mendadak sinar matanya dengan amat tajam sekali perhatikan diri Cuo It Sian, lantas tambahnya:

“Tetapi, anak murid dari aku orang she Wi sudah mengepung puncak ini masa kalian percaya bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat ?”

"Lolap berdua percaya masih bisa menyingkir dari sini dalam keadaan selamat”

"Kalian tetap akan membawa ketiga orang ini?” tanya Wi Ci To lagi,

"Tidak, asalkan kau orang melemparkan potongan pedang itu kepadaku, maka lolap segera akan melepaskan mereka bertiga, perkataan yang aku sudah ucapkan selamanya tidak akan aku tarik kembali !”

Wi Lian In yang melihat ayahnya sudah ada maksud untuk saling bertukar barang dengan pihak lawan hatinya merasa sangat cemas sekali, walau pun dia orang sama sekali tidak mengetahui seberapa berharga potongan pedang itu tetapi dia tahu barang tersebut tentu sangat berharga sekali. "Tia, kau sungguh-sungguh mau bertukar syarat dengan dirinya

?” tak kuasa lagi dia bertanya.

“Benar. " sahut Wi Ci To mengangguk.

Dengan perlahan Wi Lian In menoleh ke arah Ti Then, maksudnya dia mengharapkan Ti Then bisa mencarikan akal untuk merebut kembali posisi mereka yang amat terdesak ini.

Ti Then segera gelengkan kepalanya dengan perlahan, agaknya dia tidak  punya kekuatan itu.

Karena tempat dimana dia berdiri sekarang ini ada sebelas, dua belas kaki jauhnya dari Cuo It Sian berada, dia merasa dirinya tidak punya kekuatan untuk mencegah Cuo It Sian jikalau dia orang mau turun tangan membinasakan seseorang.

Cuo It Sian yang melihat kejadian ini dalam hati merasa amat girang sekali, senyuman bangga segera menghiasi bibirnya.

"Wi pocu. kau masih tunggu apa lagi? " tanyanya sambil tertawa dingin.

"Baiklah, kau sambutlah !”

Selesai berkata dia segera ayunkan tangannya melemparkan potingan pedang tersebut kepadanya.

Cuo It Sian dengan cepat menyambutnya, seperti baru saja mendapatkan harta karun dengan cepat dia memasukan barang tersebut ke dalam sakunya.

"Bagus , , , bagus sekali….” ujarnya sambil tertawa, “Pertukaran kita kali ini sama sekali tidak merugikan siapa pun aku mengharapkan kau bisa melupakan kejadian ini dan mengharapkan pula agar persahabatan diantara kita masih terikat rapat, lain kali jikalau ada kesempatan luang tentu aku akan pergi ke rumahmu untuk main catur lagi.”

Berbicara sampai di sini dia segera kirim satu kerdipan mata kepada manusia berkerudung hitam yang berperawakan kurus kecil itu lantas bersama-sama mengundurkan diri ke belakang pohon. Manusia berkerudung dengan perawakan yang kurus kecil itu pun dengan gerakan yang amat cepat menyorenkan goloknya ke atas pinggang lalu bersama-sama mengundurkan diri ke belakang pohon.

Di dalam sekejap saja mereka berdua sudah mencekal sebuah tali yang terikat di atas pohon itu lalu dengan cepatnya bergantungan melayang ke atas  puncak yang lain !

Kiranya sejak semula mereka sudah mempersiapkan cara-cara untuk meloloskan diri dari sana, di atas sebuah pohon Siong yang besar di   puncak gunung sebelah depan mereka sudah mengikat dua utas tali yang ujung sebelahnya lagi diikat pada puncak sebelah sini, saat inilah dengan menggunakan tali itu mereka berkelebat menuju ke puncak yang lain sehingga dengan demikian bisa jauh meninggalkan kejaran dari Wi Ci To sekalian.

Wi Ci To, Ti Then mau pun Wi Lian In yang melihat mereka berhenti melayang ke puncak seberang segera bersama-sama menubruk ke depan.

Tetapi sewaktu tiba di samping badan Kha, pauw serta Ie tiga orang, Cuo It Sian serta lelaki berkerudung hitam itu sudah melayang sejauh lima kaki lebih, bahkan dengan amat cepatnya sudah lenyap di tengah kegelapan malam.

Wi Lian ln jadi amat cemas sekali.

“Tia ! Biar putrimu yang melindungi ketiga suheng, kau dengan Ti Kiauwtauw cepatlah melakukan pengejaran !” ujarnya cemas.

"Tidak perlu, kita tidak mungkin bisa menyandak dirinya, biarkan saja mereka pergi ! " ujar Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.

“Tetapi potongan pedang itu. Bukankah Tia ingin merebutnya kembali 7?"

Agaknya di dalam hati Wi Ci To mem punyai satu pikiran sendiri. "Ehmmm . , . “ sahutnya. "Aku bisa dengan perlahan-lahan

mencarikan satu cara untuk merebutnya kembali.” "Sekarang mereka belum pergi jauh jika Tia pergi mengejar bersama-sama dengan Ti Kiauw-tauw kemungkinan sekali masih bisa menyandak mereka !”

"Kau tidak tahu " ujar Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya kembali. "Jikalau aku sekarang pergi mengejar, di dalam keadaan yang kepepet kemungkinan sekali dia akan menghancurkan potongan pedang tersebut, dengan demikian…Haaii…sekarang kalian lepaskanlah ikatan ketiga orang itu !”

Ti Then segera turun tangan melepaskan tali yang mengikat badan Pouw Kia Yen, sedangkan Wi Lian In dengan menggunakan pedangnya memutuskan tali yang mengikat tubuh Kha Cay Hiong serta Ih Kun.

Agaknya mereka bertiga sudah tertotok jalan darahnya, karena itu setelah talinya terlepas mereka masih berdiri di bawah pohon dengan amat kakunya, sedikit pun tidak bisa bergerak.

"Apa kalian sudah tertotok jalan darah kaku serta bisunya ?” tanya Wi Ci To kemudian.

Kha, Ih serta Pauw bersama-sama mengedip-ngedipkan matanya, jelas dugaan dari Wi Ci To ini sama sekali tidak salah.

Wi Ci To dengan cepat turun tangan membebaskan jalan darah dari mereka bertiga, lantas baru tanyanya:

“Bagaimana kalian bisa kena tawan oleh Cuo It Sian ?"

Dengan wajah amat menyesal Ih, Kha serta Pauw tiga orang bungkukkan badan menjura.

“Sewaktu tecu sekalian mendengar suhu mau menemui janyi di atas istana Thian Teh Kong maka tecu bermaksud untuk berangkat ke sana memberi bantuan siapa tahu sewaktu sampai ditengah jalan dan menginap disebuah rumah penginapan, mendadak di dalam makanan kami sudah ditaruhi obat pemabok..” Agaknya selama beberapa hari ditawan ini mereka bertiga sama sekali tidak diberi makan, karena itu badannya terasa amat lemas sekali sampai berbicarapa pun tidak bertenaga.

“Baiklah kalian duduklah untuk beristirahat,” perintah Wi Ci To Kemudian.

Ih, Kha serta Pauw tiga orang segera-duduk di atas pohon, terdengar Pauw Kia Yen melanjutkan kembali pembicaraannya.

“Tecu bertiga selama ini dikuasai oleh manusia berkerudung yang kurus kecil itu sampai pada lima hari yang lalu mereka baru memberi tecu sekalian sedikit makanan..”

“Kami tidak tahu kalau pemimpin mereka adalah Cuo It Sian itu si pembesar kota" sambung Ih Kun kemudian, " Sampai pai tadi suhu datang bersama-sama dengan dia orang, kami baru paham sebanarnyasudah terjadi urusan apa”

“Tia ! " tiba-tiba Wi Lian In menimbrung. “Sebenarnya potongan pedang itu mengandung rahasia apa?”

“Lohu tidak bisa menjelaskannya.”

“Kenapa tidak boleh dijelaskan?” Tanya Wi Lian In lagi dengan nada kurang senang.

“Karena Lohu sudah menyanggupi dirinya untuk tidak membocorkan rahasianya ini”

“Tia ! Kenapa kau orang begitu memegang janyi dengan manusia semacam dia?” serunya cemberut.

"Tidak perlu dia orang bersifat bagaimana, kalau lohu sudah menyanggupi maka di dalam urusan ini aku harus tetap pegang janyi" ujar Wi Ci To dengan vvajah serius. "Itulah sifat dari Ioohu yang lohu pegang teguh sejak dahulu."

"Pocu baru malam ini tahu kalau lelaki berkerudung yang muncul di istana Thian Teh Kong itu adalah dirinya, ataukah. . . , ."' tiba-tiba Ti Then menimbrung. "Sejak semula lohu sudah tahu !" potong Wi Ci To dengan cepat.

“Lalu kenapa sewaktu dia mertamu di Benteng, pocu tidak mau turun tangan menawannya?”

"Kalau berguna sejak semula lohu sudah turun tangan" ujar Wi Ci To sambil tertawa pahit.

“Kenapa tidak berguna?” Tanya Ti Then keheranan.

“Dia tidak takut mati, bukankah tadi terang-terangan kalian dengar sendiri beberapa kali dia berkata mau mengadu jiwa? Perkataan tersebut bukanlah cuma gertak sambal belaka.”

“Kenapa dia tidak takut mati?” tiba-tiba Wi Lian In nyeletuk.

"ln-ji, kau jangan berusaha mengorek sampai dasar kuali” seru Wi Ci To sambil tertawa.

"Putrimu masih ada satu pertanyaan lagi, seharusnya Tia menyawab dengan sejujur-jujurnya“

"Persoalan apa ? "

“Dia. ..Cuo It Sian sebetulnya orang baik atau orang jahat ?” "Orang baik !”

“Kalau begitu kenapa dia orang menggunakan cara yang begitu rendah untuk merebut potongan pedang milik Tia?”

“Karena potongan pedang itu sebenarnya adalah barang miliknya!”

Mendengar perkataan ini, Ti Then, Wi Lian In serta Ih, Kha, Pauw tiga orang pada melengak semua.

“Apa?” tanyanya berbareng, “Potongan pedang itu miliknya?” “Benar!” sahut Wi Ci To mengangguk.

Hal ini benar-benar merupakan satu urusan yang jauh berada diluar dugaan mereka, kiranya potongan pedang itu adalah barang milik Cuo It Sian. Sebelum kejadian ini Ti Then sekalian selalu menganggap Cuo It Sianlah yang sudah menggunakan cara yang paling kotor untuk merebut barang milik Pocu mereka, siapa tahu urusan yang benar malah ke balikannya, kiranya Cuo It Sian menggunakan cara-cara rendah ini tidak lebih untuk merebut barang miliknya sendiri.

“Tia! Jadi maksudnya..kau…kau sudah merebut potongan pedangnya?” tanya Wi Lian In dengan perasaan yang amat terperanyat sekali.

Wi Ci To dengan perlahan gelengkan kepalanya. “Lalu kenapa tidak dikembalikan kepadanya?”

"Pertanyaan ini Ioohu tidak bisa menyawabnya, karena setelah menyawab pertanyaan ini berarti juga aku sudah membocorkan rahasia tersebut!"

Dia berhenti sebentar, lalu dengan perlahan pada wajahnya terlintaslah suatu senyuman yang amat dingin sekali, tambahnya:

"Walau pun potongan pedang itu adalah barang miiiknya tetapi lohu tetap akan berusaha menggunakan akal untuk merebutnya kembali !"

“Kenapa?” tanya Wi Lian In dengan terperanyat. Dengan perlahan Wi Ci To gelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa memberitahukan kepadamu sekarang ini” sahutnya perlahan.

Kepalanya didongakkan ke atas langit nan gelap, lantas dia menarik napas panjang.

"Sudahlah, mari kita kembali ke dalam Benteng!”

Tua muda enam orang segera menuruni puncak gunung itu, di tengah perjalanan sembari memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu mendadak Wi Ci To tertawa geli. “Eeeh In-ji!” serunya. “Bukankah kau bilang seluruh jago pedang dari Benteng Pek Kiam Po sudah mengurung gunung ini rapat- rapat? Kiranya kau orang sedang berbohong!”

“Sebetulnya putrimu memang bermaksud untuk menakut-nakuti diri mereka..” sahut Wi Lian In sambil tertawa tawar.

Wi Ci To kembali memimpin melakukan perjalanan lagi. “Bukankah lohu sudah tinggalkan surat di dalam Benteng yang

memerintahkan kalian menyaga Benteng? Kenapa kalian mengejar

kemari?” ujarnya lagi. “Tentu kau yang memaksa Ti Kiauwtauw untuk mengejar kemari bukan?”

“Benar…” seru Wi Lian In kurang senang.

Karena dia orang tidak berhasil memperoleh seluruh rahasia itu karena di dalam hati merasa sangat tidak senang sekali.

Kembali Wi Ci To melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba sepertinya saja teringat akan sesuatu urusan mendadak dia menghentikan langkahnya.

“Oooh benar, kurang sedikit saja Lohu lupa memberitahu kepada kalian..” ujarnya.

Ti Then sekalian pun pada menghentikan langkahnya. “Pocu ada pesan apa?” tanyanya.

Dengan perlahan Wi Ci To putar badannya menghadap kearah mereka, lalu dengan wajah yang amat serius dia pandangi mereka denpan amat tajamnya.

"Peristiwa malam ini aku larang kalian membocorkannya keluar, termasuk juga kepada para jago pedang yang ada di dalam Benteng, mengerti!”

“Jikalau para saudara dari Benteng menanyai tecu, maka tecu harus bagaimana memberikan penjelasannya?” tanya Kha Cay Hiong kemudian. “Katakan saja kalau tujuan dari orang berkerudung itu menculik kalian sebetulnya mau merampas pedang yang lohu bawa ini dan bermaksud menghina lohu, untung saja mendapatkan bantuan dari diri Cuo It Sian sehingga akhirnya berhasil menolong kalian lolos dari tawanannya, Sekarang Cuo It Sian sedang pergi mengejar lelaki berkerudung hitam tersebut"

Mendengar perkataan itu dengan wajah yang amat tidak senang Wi Lian In mencibirkan bibirnya,

"Tia tidak mau memberitahu rahasia tentang potongan pedang itu masih tidak mengapa, kenapa sampai diculiknya jago pedang kita oleh Cuo It Sian puni harus dirahasiakan ?"

"Tidak salah” seru Wi Ci To dengan suara yang amat berat. "Urusan ini menyangkut suatu pergolakan yang amat hebat di

dalam Bu-lim, kalian janganlah membocorkan di tempat luaran”

“Jikalau pocu menggunakan alasan yang mengatakan manusia berkerudung itu bertujuan untuk menghina diri pocu, seharusnya kau orang tua pikirkan satu alasan yang lebih tepat lagi baru bisa” sela Ti Then kemudian

“Alasan ? beritahukan saja ada kemungkinan dia orang mempunyai rasa sakit hati dengan Lohu, selama hidupku lohu selalu bertindak adil dan banyak menyalahi orang-orang dari kalangan Hek-to, alasan ini sudah tentu bisa diterima, bukan ?”

“Ada satu hal yang kermungkinan sekali tidak bisa diterima !" sambung Wi Lian In dengan cepat.

"Soal yang mana ?" tanya Wi Ci To sambil mengalihkan pandangannya yang amat tajam ke atas wajahnya.

"Jika dia menculik pada jago kita dengan bertujuan untuk menghina Tia, sudah seharusnya Tia tidak bisa melepaskan dirinya dengan begitu saja, tetapi kini sebaliknya Tia malah bersama-sama kita pulang ke dalam benteng, bukanlah hal ini sangat lucu sekali ?” "Benar. . ., , benar, . .” seru Wi Ci To sambil tersenyum, “Kalau begitu lohu tidak jadi pulang ke dalam Benteng bersama-sama kalian ! "

Mendengar perkataan itu kini malah Wi Lian In yang dibuat tertegun.

“Jika Tia tidak ikut kami pulang, lalu…”

“Lohu sudah mengambil keputusan untuk pergi mengejar Cuo It Sian dan berusaha untuk merebut kembali potongan pedang tersebut !” potong Wi Ci To dengan cepat.

“Putrimu juga ingin pergi !"'cepat seru Wi Lian ln.

“Tidak bisa jadi, jikalau kau ikut aku pergi mungkin malah bisa menyulitkan pekerjaanku !”

Wi Lian In segera mencibirkan bibirnya.

"Sampai kapan putrimu baru tidak menyulitkan pekerjaan kau orang tua?” serunya kurang senang. j

“Kali ini jikalau kau ingin ikut lohu maka kau orang tentu akan menyulitkan urusan !”

Wi Lian In yang melihat perkataan dari ayahnya amat atos dan keren sekali, di dalam hati segera paham kalau ayahnya sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan dirinya ikut, sekali pun memohon juga tidak berguna terpaksa dia berdiam diri tidak berbicara lagi.

“Ingat !" tiba-tiba Wi Ci To berbicara lagi dengan wajah yang berubah amat keren. " Kalian jangan sekali-kali membocorkan rahasia tentang lelaki, berkudung hitam itu adalah diri Cuo It Sian, siapa saja yang berani melanggar lohu segera usir dia dari perguruan ! ".

Dalam hati Ih, Kha serta Pauw merasakan hatinya berdesir, dengan cepat mereka pada menjura bersama-sama.

"Tecu turut perintah !” "Kau pun sama juga” ujar Wi Ci To lagi sambil melototi diri Wi Lian In. " Asalkan kau berani membocorkan rahasia ini maka lohu tidak akan menganggap kau sebagai putriku lagi ! "

Agaknya Wi Lian In selamanya belum pernah mendengar ayahnya berbicara dengan demikian seriusnya, sehingga dalam hati dia rada merasa sedih.

"Baiklah, putrimu tidak akan memberitahukan kepada orang lain" sahutnya sambil mengangguk.

Mendadak Wi Ci To menarik tangan Ti Then, ujarnya:

"Ti Kiauw-tauw, kau ikutilah Lohu ke samping untuk berbicara sebentar, lohu ada urusan yang harus dipesankan kepadamu !"

Dengan menarik tangan Ti Then dia berjalan beberapa langkah ke tempat kejauhan, setelah dirasanya jarak dengan putrinya serta Ih, Kha serta Pauw tiga orang rada jauh dia baru berhenti,

"Ti Kiauw-tauw." ujarnya dengan suara yang amat lirih, "Maukah kau orang membantu lohu untuk mencuri kembali potongan pedang tersebut ?”

“Hamba turut perinlah dari Pocu" sahut Ti Then cepat sambil mengangguk kepalanya.

“Bagus sekali !” Teriak Wi Ci To kegirangan. "Setelah Cuo It Sian berhasil merebut kembali potongan pedangnya kemungkinan sekali dia akan menyembunyikan barang itu ke dalam rumahnya, ada kemungkinan juga pergi memjari "Cu Kiam Lojin" atau siorang tua pelebur pedang untuk menyambungkan pedang yang putus jadi dua bagian itu ... Ti Kiauw-tauw tahu bukan dengan Cu kiam Lojin ini ?"

“Tahu" sahut Ti Then sambil mengangangguk. "dia adalah ahli lebur pedang yang paling terkenal dikolong langit pada saat ini, menurut apa yang hamba dengar katanya dia bertempat tinggal di atas gunung Tong Ting Cun san”

“Benar, si "Cu Kiam Lojin" ini bernama Kan It Hong, bukan saja dia pandai membuat sebilah pedang bagus bahkan bisa pula menyambung sebilah pedatng yang sudah patah menjadi dua bagian sehingga tidak kelihatan sedikit bekasnya pun Lohu sangat mengharapkan Ti Kiauw-tauw mau mewakili Ioohu untuk pergi ke gunung Cun san satu kali, jikalau kau menemukan Cuo It Sian pun ada di tempat itu dan sedang membetulkan pedangnya maka usahakanlah untuk mencuri potongan pedang itu kembali."

“Baiklah.”

“Urusan ini sangat penting sekali” pesan Wi Ci To lagi dengan nada sungguh-sungguh. “Kau boleh berangkat meninggalkan Benteng pada besok hari secara diam-diam, janganlah sampai membiarkan In-ji mengetahuinya.”

“Baik!”

“Kau boleh menanti selama tiga bulan lamanya di atas gunung Cun san setelah lewat tiga bulan kemudian jikalau tidak melihat Cuo It Sian pergi ke sana juga kau kembali ke dalam Benteng untuk membuat laporan."

"Tetapi, jikalau tidak berhasil mencuri bolehkah aku pergi merampas?" tanya Ti Then kemudian.

''Tidak, harus dicuri bahkan jangan sampai ditemui kalau kaulah yang melakukan pekerjaan tersebut."

Mendengar perkataan itu Ti Then segera tertawa.

“Bilamana Boanpwe tidak berhasil mencuri barang tersebut Pocu jangan marah lho... karena boanpwe belum pernah melakukan pekerjaan seperti ini,"

Wi Ci To pun tertawa.

"Lohu memerintahkan Ti Kiauw-tauw untuk berlaku sebagai pencjuri dalam hati sebetulnya Ioohu merasa tidak enak, tetapi Ti Kiauw-tauw boleh melakukan tugas tersebut dengan hati yang tenang, karena pekerjaan ini sama sekali bukanlah suatu pekerjaan yang jahat, semua alasan serta sebab-sebabnya lohu tentu akan menjelaskan kepadamu dikemudian hari." "Baiklah, boanpwe percaya potongan pedang dari Pocu ini pasti mem punyai kegunaan yang sungguh-sungguh"

Wi Ci To tidak berbicara lagi, dengan memegang tangan Ti Then dia berjalan kembali ke hadapan Ih, Kha, Pauw serta putrinya.

"Sudahlah, kalian boleh pulang, ke dalam Benteng !" ujarnya kemudian.

Pada wajah Wi Lian In segera diliputi oleh kecurigaan yang menebal, dengan pandangan yang aneh dia memperhatikan ayahnya serta diri Ti Then, lalu ujarnya.

"Tia ! kau orang tua apa mau mengejar Cuo It Sian ?"

“Tidak salah ! " sahut Wi Ci To sambil mengangguk, “Lohu kemungkinan sekali langsung pergi kerumahnya di kota Tiong Cing Hu maka itu kemungkinan sekali tidak bisa langsung pulang ke rumah, kalian harus baik-baik tinggal di dalam Benteng sebelum lohu pulang ke dalam Benteng kalian dilarang berkeliaran sendiri di luaran, tahu tidak ?”

“Tetapi jikalau Tia menemui hal yang ada di luar dugaan, putrimu bagaimana bisa mengetahuinya?”

"Di dalam tiga bulan jikalau Tia belum pulang ke Benteng juga, saat itulah baru boleh meninggalkan Benteng untuk mencari Lohu.”

Selesai berkata tubuhnya segera meloncat ke depan, bagaikan segulung asap hitam hanya di dalam sekejap saja sudah berada di tempat yang jauh sekali.

Wi Lian In dengan pandangan tajam memperhatikan bayangan ayahnya hingga lenyap dari pandangan, lantas dengan cepat tanyanya kepada diri Ti Then:

“Tadi ayahku membicarakan soal apa dengan kau ? '' "Tidak tahu !” Sepasang mata Wi Lian In segera melotot lebar-lebar. "Kau barani tidak beritahu kepadaku ?" serunya manya.

"Jikalau boleh membiarkan kau tahu, ayahmu pun tidak perlu memberitahukan hal itu secara diam-diam”

Agaknnya Wi Lian In dibuat bertambah kheki, dengan cepat dia berhenti berjalan.

"Sekarang ayahku sudah tidak ada di sini, bukankah tidak ada halangannya kau memberitahukan urusan tersebut kepadaku ?”

"Aku sebagai Kiauw-tauw dari benteng Pek Kiam po bagaimana boleh memberitahukan tugas rahasia yang diperintahkan oleh ayahmu ? maukah kau orang jangan nembuat aku jadi serba susah

?”

Wi Lian In sekali lagi menjejakkan kakinya ke atas tanah lalu berjalan lagi dengan cepat.

Ti Then, Ih Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen pun dengan membawa serta si anying Ciaa Ii Yen mengikuti di belakangnya berjalan kembali ke dalam Benteng.

Setelah berjalan beberapa saat kemudian mendadak Wi Lian In menghentikan langkahnya kembali, terdengar dengan seorang diri dia bergumam:

"Kenapa potongan pedang itu bisa miliknya Cuo It Sian? Kalau memangnya barang milik Cuo It Sian kenapa dia tidak mau minta kembali barang itu secara terbuka ?"

Ti Then yang ada di belakangnya sewaktu melihat mulutnya berkemak kemik seorang diri segera tertawa geli.

"Eeei kau jangan berpikir sembarangan ," serunya. Wi Lian In tetap seperti orang gendeng . . .

"Tia adalah seorang yang jujur, kenapa dia mau merampas barang milik orang lain?” ''Ayahmu bisa menguasahi barangnya Cuo It Sian sudah tentu ada alasan yang kuat, kau janganlah dikarenakan urusan ini lantas menaruh rasa curiga terhadap perbuatan ayahmu."

"Tetapi aku merasa Tia rada sedikit aneh , . . . " seru Wi Lian ln lagi ragu-ragu.

“Apakah sebab-sebabnya dilain hari tentu ayahmu bisa memberi penjelasan dengan sendirinya.”

" Lalu kenapa tidak dijelaskan sekarang saja ?"

"Ayahmu tidak mau memberi penjelasan pada saat ini sudah tentu ada alas an-alasa tertentu”

“Masih ada lagi” ujar Wi Lian In lagi dengan perlahan " Tadi terang-terangan ayah bilang tidak mau pergi mengejar Cuo It Sian, tetapi seteIah aku bilang tidak seharusnya dia kembali ke Benteng kenapa secara mendadak pula dia mau pergi mengejar diri Cuo It Sian, dia . . apakah dia sungguh-sungguh pergi mengejar diri Cuo It Sian ?"

"Sudah tentu sungguh-sungguh, kali ini ayahmu sudah bersiap sedia pergi ke kota Tiong Cing Hu untuk mencari diri Cuo It Sian.”

Dengan perlahan Wi Lian In menghela napas panjang lalu melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.

Lima orang dengan cepatnya sudah tiba di dalam Benteng, mereka segera dirubung oleh para jago untuk memanyakan pengalamannya, Ti Then serta Wi Lian In pun segera menceritakan kisahnya waktu mereka bisa dikibuli.

Setelah semuanya selesai masing-masing baru kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat.

Ti Then yang kembali kembali ke kamarnya segera menyulut lampu minyak dan mengetuk tiga kali ke depan jendela, setelah itu baru naik ke atas pembaringan untuk beristirahat.

Dia bersiap-siap hendak mencerirakan perintah dari Wi Ci To yang menyuruh dia  pergi mencuri potongan  pedang itu kepada majikan patung emas, karena perjalanannnya kali ini harus memakan waktu selama tiga bulan lamanya, sewaktu dirinya kembali dari gunung Cun san maka boleh dihitung dia sudah jadi patung emas selama tujuh bulan lamanya, saat itu jaraknya dengan " Kontrakan waktu " sudah tinggal lima bulan lagi, terhadap dia majikan patung emas boleh dikata kepulangan tiga bulan ini merupakan satu "kerugian " yang amat besar sekali, kemungkinan sekali karena urusan ini maka “rencana busuk" nya tidak bisa mencapai kesuksesan, maka itu dia harus memberikan penjelasannya.

Sudah tentu terhadap tugas yang diberikan Wis Ci To kali ini dia merasa sangat girang sekali, karena hal ini merupakan satu kesempatan yang paling baik buat dirinya untuk mengundurkan waktu berakhirnya perjanyian ini. Maka dia mengambil keputusan sekali pun perjalanannya kali ini menuju ke gunung Cun san bisa memperoleh hasil dengan amat lancar, dia pun baru akan kembali ke dalam Benteng setelah tiga bulan lamanya.

Sewaktu dia tertidur sampai tengah malam, ternyata patung emas dari majikan patung emas itu muncul juga dari atas atap rumah.

"Ti Then !'" terdengar majikan patung emas dengan mengerahkan ilmu untuk menyampaikan suaranya memanggil dirinya..

"Cepat kau ceritakan kisahmu sewaktu pergi menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang !”

"Aku mengundang kau datang kemari memangnya hendak memberitahukan urusan ini kepadamu.."

"Kalau begitu cepatlah berbicara !"

"Ternyata Cuo It Sian itu si pembesar kota adalah manusia berkerudung itu !"

"Sejak semula sudah ada di dalam dugaanku !" "Pada malam tadi'" ujar Ti Then kemudian, "Dia mengajak Wi Ci To main catur di dalam kamar bacanya, akhirnya mendadak mereka lenyap secara bersamaan,

Nona Wi segera memastikan kalau mereka keluar melalui sebuah jalan rahasia yang ada di dalam kamar baca itu, lantas dengan membawa seekor anying sakti Cian Li Yen mengikuti mereka"

"Jalan rahasia itu menembus sampai dimana ?” tanya majikan patung emas ingin tahu.

"Di dalam sebuah goa di belakang tebing "Sian Ciang, aku bersama-sama dengan nona Wi sesudah keluar dari goa itu dengan mengikuti anying sakti tersebut lantas melakukan pengejaran terus yang akhirnya sampailah disebuah tebing yang amat curam, di atas tebing curam itu terdapat sebuah puncak yang agak luas, kami segera naik ke atas puncak itu, terlihatlah Cuo It Sian dengan seorang lelaki berkerudung yang kurus kering sedang naenguasahi Ih, Kha serta Pauw tiga orang, kiranya barang yang diminta oleh Cuo It Sian adalah sebuah potongan pedang, itulah bukan lain sebuah gagang pedang yang amat pendek sekali, kalihatannya amat berharga sekali "

"Eeeei . , .- , kiranya potongan pedang itu yang dicari, lalu Wi Ci To apa menyerahkan kepadanya ?" tanya majikan patung emas lebih lanjut.

''Sudah diberikan. !'"

"Hmmmm ,     orang she Cuo itu sungguh lihay sekali !"

"Setelah dia berhasil memperoleh potongan pedang itu bersama- sama dengan si lelaki berkerudung yang kurus kecil meninggalkan tempat itu, sesaat sebelum pergi dia masih mengundang Wi Ci To untuk pergi main catur di rumahnya !”

"Sungguh berarti sekali. lalu Wi Ci To mengadakan pengejaran tidak ?”

"Tidak segera pergi mengejar " jawab Ti Then. " Dia menyuruh kami jangan membocorkan rahasia dari Cuo It Sian ini terlebih dahulu kemudian memberi perintah juga kepadaku, setelah itu baru

.pergi mengejar”

"Kau di perintahkan untuk berbuat apa ?" tanya majikan patung emas lebih lanjut.

"Soal ini nanti sada aku baru memberitahukan padamu, sekarang aku mau membicarakan soal potongan pedang itu terlebih dulu, . . sungguh mengherankan sekali . ... kiranya potongan pedang itu sebetulnya adalah barang milik Cuo It Sian, sungguh lucu tidak ?"

“Ehmm, . . memang aneh sekali . . ."

"Aku sungguh tidak mengerti, kalau memangnya potongan pedang itu adalah milik Cuo It Sian sendiri kenapa dia tidak minta kembali secara terus terang saja ? sebaliknya menggunakan cara- cara yang begitu rendah untuk turun tangan ? sedangkan Wi Ci To pun merupakan seorang dari kalangan lurus yang biasanya bertindak jujur dan pendekar, kali ini dia sudah manginginkan barang milik orang lain ? bahkan mengusahakan juga mau merebut kembali potongan pedang itu ?"

"Benar!" seru majikan patung emas itu memperdengarkan suara keheranannya juga. "Urusan ini memang benar-benar membuat orang kebingungan, apa mungkin potongan pedang itu sudah mengandung suatu rahasia yang amat penting?"

"Pastilah begitu !" teriak T i Then membenarkan. "Bahkan rahasia itu pastilah mem punyai hubungannya dengan mereka berdua sehingga terjadilah suatu perebutan yang tidak terbuka, yang satu ingin merebut yang lain ingin mempertahankan terus”

“Tidak salah, , : .tidak salah..”

“Tetapi" ujar Ti Then lagi: "Tidak perduli rahasia itu mem punyai sangkut paut dengan urusan apa pun, menurut pandanganku maka Wi Ci To berada didalarn kedudukan lurus sedangkan Cuo It Sian berada di dalam kedudukan jahat”

"Ehmmm, , , apa benar ?” seru majikan patung emas dengan suara yang tidak yakin. “Benar!" sahut Ti Then mengangguk.

“Karena untuk mendapatkan potongan pedang itu Cuo It Sian ternyata tidak jeri-jerinya membunuh dan mencelakai orang lain, bahkan masih ingin bekerja sama

dengan si rase bumi Bun Jin cu, pekerjaannya ini tidak sesuai dengan sifat asli seorang pendekar sejati !”

"Lalu kau kira bagaimana dengan cara yang aku lakukan saat ini?".

"Tindakanmu rada kalem tidak seperti Cuo It Sian yang amat ganas dan kejam tetapi … jika dikatakan lihay juga tidak cukup lihay!"

"Apa maksudmu ?" tanya majikan patung emas sambil tertawa. "Karena kau minta aku kawin dulu dengan nona Wi. hal ini sedikit

keterlaluan ".

"Aku membantu kau mendapatkan seorang istri yang amat cantik dan genit dan membantu Wi Lian In mencarikan seorang suami yang tampan bahkan membantu Wi Ci To mencarikan seorang menantu yang amat bagus sekali, apanya lagi yang jelek ?”

"Jikalau kau orang tidak bertujuan, hal itu memang amat bagus sekali ! " seru Ti Then dengan cepat,

"Sudah. . . . sudahlah. . . . kau jangan omong kosong lagi ! " potong majikan patung emas kemudian. " Tadi kau bilang Wi Ci To sudah perintahkan dirimu untuk melakukan satu tugas sebetulnya tugas apa itu ?”

"Dia minta aku pergi mencuri kembali potongan pedang tersebut” "Bukankah dia sudah pergi sendiri?”

“Dia   punya rencana pergi merebut barang itu di rumahnya Cuo It Sian, tetapi dia   pun merasa ada kemungkinan Cuo It Sian pergi ke atas gunung Cun-san untuk mencari Ciu Kiam Lojin untuk bantu dia menyambungkan kembali pedangnya yang sudah patah jadi dua bagian itu, karenanya sudah perintahkan diriku untuk meminyam kesempatan tersebut mencurinya kembali.."

“Hmmm !” dengus majikan patung emas itu dengan cepat. "Jarak dari sini menuju ke gunung Cun san selama tiga bulan lamanya, jikalau waktu itu tidak melihat juga Cuo It Sian pergi mencari Ciu Kiam Lojin maka tiga bulan kemudian akan baru boleh pulang ke dalam Benteng.''

Mendengar berita itu agaknya majikan patung emas dibuat cemas sekali.

"Maknya ... dengan begitu bukankah perkawinanmu dengan Wi Lian In juga harus diundurkan paling cepat tiga bulaa lagi “ teriaknya dengan gemas.

"Aku tahu pekerjaan ini sangat menggangu sekali terhadap rencana yang kau susun tetapi coba kau pikir dapatkah aku menolaknya ?"

oooOOooo

“Sudah tentu kau tidak bisa menolaknya . . . persoalannya sekarang. . . , setelah lewat tiga bulan kemudian berarti di dalam satu tahun sudah tinggal lima bulan saja, jikalau diantara waktu itu timbul kembali persoalan bukankah tujuanku jadi berantakan ?" 

"Bilamana tujuanmu sampai berantakan, hee. . . hee, . . bukanlah kesalahanku" sahut Ti Then cepat.

"Hmm! jikalau rencanaku gagal maka orang yang paling gembira tentunya kau kan ?" seru majikan patung emas dengan dingin,

"Mana.     mana. .”

Dengan dinginnya majikan patung emas bertanya kembali. “Kenapa Wi Ci To memerintahkan kau berjaga selama tiga bulan

lamanya baru boleh pulang kembali ?"

"Alasannya mudah sekali, dia sudah mengambil keputusan untuk merebut kembali potongan pedang tersebut." "Hmm ! Hmm ! sungguh kurang ajar sekali.." teriak si majikan patung emas dengan teramat gusar.

“Dia bahkan memerintahkan aku untuk meninggalkan Benteng secara diam-diam dan jangan sampai membiarkan nona Wi, karena alasannya dia orang takut sampai putrinya terjatuh kembali ke tangan Cuo It Sian, makanya aku mem punyai rencana untuk meninggalkan Benteng secara diam-diam besok pagi, entah kau orang punya perintah lain tidak ?"

Lama sekali majikan patung emas berpikir keras, akhirnya dia menyawab :

"Setelah kau orang berhasil mendapatkan potongan pedang itu kau harus cepat-cepat kembali ke dalam Benteng, aku larang kau berkeliaran lebih lama lagi di tempat luaran !"

"Hal ini sudah tentu !"

"Aku sudah mengambil keputusan untuk secara diam-diam mengirim orang untuk mengawasi seluruh gerak gerikmu, jikalau aku mengetahui kalau kau belum pulang juga walau pun potongan pedang itu sudah kau dapatkan. . . .hmmm. , . ,hmmm. . .! aku segera bunuh dirimu!"

"Kau punya hak untuk berbuat begitu?'serunya membantah. "Rencana yang sudah aku susun harus mencapai hasil, lain waktu

setelah kau

kembali ke dalam benteng jikalau di dalam satu bulan Wi Ci To belum juga menyiarkan berita perkawinan putrinya dengan dirimu, maka waktu itu terpaksa aku melakukan perintahku yang kedua!"

"Perintahmu yang kedua ini adalah.      ” tanya Ti Then.

"Aku perintah kau orang cepat mengawini diri Wi Lian In !"

Ti Then segera merasakan hatinya tergetar amat keras dia tertawa pahit. "Jikalau kau demikian adanya memungkinan sekali urusan malah jadi kacau tidak karuan!" serunya.

"Tidak mungkin ! sewaktu Wi Ci To tahu kau dengan putrinya sudah melakukan hubungan gelap maka satu-satunya cara buat dia orang dia. , . , .adalah, . . mengawinkan dirimu secepatnya !"

"Dia mungkin akan turun tangan membunuh diriku." "Tidak mungkin !"

Ti Then segara termenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun

Dengan perlahan majikan patung emas menarik kembali patung emasnya ke atas, tambahnya :

“Kau harus ingat, aku bisa mengirim orang secara diam-diam mengawasi seluruh gerak gerikmu, sewaktu kau berhasil mendapatkan potongan pedang itu dan tidak kembali juga, tanpa banyak rewel lagi aku segera akan turun tangan membinasakan dirimu !":

Selesai berkata dia segera menarik seluruh patung emasnya ke atas atap dan menutup kembali atapnya lalu pergi.

Dengan mandongakkan kepalanya ke atas atap Ti Then diam- diam merasa geli pikirnya:

"Untung saja kau tidak melarang aku pergi. . . :"

Dia mengira asalkan dia orang tidak terlalu keburu untuk pergi mencuri potongan pedang dari Cuo It Sian itu maka dia masih mem punyai waktu yang banyak untuk berkeliaran selama tiga bulan ditempat luaran, karena itu terhadap gentakan dari majikan patung emas dia sama sekali tidak merasa murung,

Keesokan harinya, baru saja dia selesai bersantap pagi tampaklah pelayan perempuan Cun Lan sudah menghadap datang.

“Ti Kiauw tauw !” ujarnya sambil menjura, “Siocia mengundang kau untuk berbicara di dalam kebun bunga” “Baik, beritahu kepadanya sebentar lagi aku akan ke sana.” Cun Lan segera menyahut dan meninggalkan tempat itu.

Sekembalinya ke dalam kamar Ti Then segera membereskan pakaiannya secara diam-diam dan diletakkan di dalam kamar, setelah itu dia pergi mencari Shia Pek Thad an ujarnya kepadanya:

“Shia heng, siauwte sudah mendapatkan perintah dari Pocu untuk melakukan suatu tugas, setelah aku meninggalkan Benteng maka semua urusan di sini kaulah yang mengurus”

“Pocu suruh Ti Kiauwtauw melakukan pekerjaan apa?” Tanya Shia Pek Tha keheranan.

“Maaf, pocu sudah pesan wanti-wanti kepada siauwte untuk jangan memberitahukan urusan ini kepada orang lain, harap Shia heng suka memaafkan.”

Dengan perlahan Shia Pek Tha mengangguk. “Apa nona Wi juga ikut pergi?” ujarnya.

“Dia tidak pergi. Pocu minta siauwte pergi seorang diri saja.”

“Kalau memang begitu lebih baik Ti Kiauwtauw pergi secara sembunyi-sembunyi saja jangan sampai membiarkan dia orang tahu.”

“Benar !” sahut Ti Then sambil mengangguk. “Baru saja dia perintahkan Cun Lan untuk datang mengajak siauwte ngobrol di kebun bunga, nanti tolong secara diam-diam Shia-heng bawa kuda Ang San Khek itu keluar, dan tunggu aku di pintu Benteng setelah siauw-te bercakap cakap beberapa patah kata dengan diirinya siauwte segera mau berangkat "

"Baiklah, kepergian dari Ti Kiauw-tauw kali ini entah membutuhkan waktu seberapa lama ?”

"Tidak tentu, paling cepat satu, dua bulan, paling lambat yaa tiga empat bulan” "Urusan yang hendak Ti Kiauw-tauw kerjakan kemungkinan sekali ada hubungannya dengan manusia berkerudung hitam bukan?''.

Ti Then segera tertawa,.

"Maaf, siauw-te tidak bisa naemberitahu..”

"Baiklah “ ujar Shia Pek Tha pula sambil tertawa. "Aku pergi mempersiapkan kuda buat Ti Kiauw-tauw ".

Selesai berkata dia segera berjalan menuju ke kandang kuda.

Ti Then yang berjalan ke kebun bunga segera tampaklah olehnya Wi Lian In sedang duduk seorang diri di tepi bunga teratai, agaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

Dengan perlahan dia duduk di samping badannya lantas bertanya:

"Ada urusan apa ?”

Wi,Lian In segara memutuskan sebatang ranting pohon Liauw dan dikoyakan ke dalam air kolam:

"Perkataan yang Tia ucapkan kemarin malam kepadamu tentunya kau mau memberitahukan kepadaku bukan ?” ujarnya dengan perlahan.

"Sebelum aku menyawab pertanyaanmu ini, aku mau menanyakan satu urusan dulu kepadamu . . „ , kau .suka tidak kalau aku menghormat ayahmu ?”

“Baik.. ., baik, . . . kau tidak mau bicara yaa sudahlah ! buat apa kau orang mengambil perkataan yang tidak berat untuk menekan aku ?” seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

Ti Then segera tersenyum.

“Kau adalah putri ayahmu, seharusnya kau orang lebih percaya dan lebih menghormati ayahmu sendiri daripada aku ". "Bukannya aku tidak percaya atau tidak menghormati ayahku, aku cuma ingin tahu apa yang dia orang tua bicarakan dengan dirimu ".

"Kemarin malam kan aku sudah bilang, jikalau ayahmu memperbolehkan kau tahu kenapa harus berbicara secara pribadi dengan aku orang."

Dengan sedihnya Wi Lian In menghela napas panjang.

"Aku tahu ayahku adalah seorang yang baik" ujarnya. "Tetapi terhadap urusan yang menyangkut diri Cuo It Sian ini setelah berpikir semalaman aku tetap tidak mengerti, aku tidak tahu kenapa ayah ngotot mau mendapatkan kembali potongan pedang milik Cuo It Sian itu ? sedangkan Cuo It Sian sendiri pun kenapa tidak mau meminta langsung kepada ayahku secara terbuka ?"

"Tentang urusan ini ayahmu tidak pernah memberitahukan kepadaku, sehingga aku sendiri pun tidak tahui”

"Apakah ayahku meminta kau orang membantu dirinya untuk melakukan satu urusan?” tanya Wi Lian la kemudian sambil melototi dirinya.

"Bukan !" sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. Mendadak Wi Lian In tersenyum.

"Sungguh-sungguh bukan ?" tanyanya. "Sungguh !” sahut Ti Then dengan serius. "Ini hari kau ingin berbuat apa ?”

"Tidak ingin berbuat apa-apa, cuma sada sat ini aku ada satu urusan yang harus diselesaikan secepatnya , , "

"Urusan apa?” tanya Wi Lian In cepat.

Ti Then sengaja memperlihatkan wajah kemalu-maluan lalu tertawa. "Aku ingin pergi mengentengkan badan sebentar ! bilamana kau tidak merasa kelamaan, tunggulah sebentar. . . . nanti kiia ngomong-ngomomg lagi."

Mendengar perkataan itu air muka Wi Lian In segera berubah memerah dengan malunya dia cemberut.

"Hmmm ! membosankan, sana. , sana. , . . “ serunya.

Ti Then segera bangkit berdiri dan ujarnya lagi sambil tertawa: "Kau harus tunggu aku di sini, menanti aku kembali lagi ke sini

dan membicarakan. suatu urusan yang penting kepadamu”

Selesai berkata dengan gaya ada urusan genting dia berlari keluar dari kebun bunga itu.

Sekembalinya dari dalam kamar dengan membawa buntalan dan pedangnya dia segera berlari menuju kepintu Benteng.

Mendekati pintu benteng dia bertemu dengan Ki Tong Hong itu si pendekar pedang merah, dia yang melihat Ti Then membawa buntalan dan gerak geriknya tergesa-gesa segera maju bertanya :

“Ti Kiauw-tauw kau mau kemana ?”

"Ada urusan mau pergi ke kota sebentar..”

“Apa bukan melakukan perjalanan jauh?” Tanya Ki Tong Hong sambil tertawa menyengir.

"Bukan..”

"Kalau begitu kenapa harus membawa buntalan?" desak Ki Tong Hong lebih lanjut.

Untuk sesaat Ti Then tidak ada perkataan untuk menyawab, “Kau orang boleh pergi bertanya dengan Shia-heng !"

Sehabis berkata dia segera merangkap tangannya memberi hormat lalu keluar dari pintu Benteng.

Shia Pek Tha sejak semula sudah menanti diluar Benteng dengan menuntun kuda Ang Shan Khek itu, melihat Ti Then berlari mendatang dia segera datang menyongsong dan memberikan tali les kudanya kepada dia orang.

Ti Then segera menerima tali les dan meloncat naik ke atas punggung kudanya. Di tengah suara bentakannya yang amat nyaring dia melarikan kudanya turun gunung.

Dia tahu jikalau Wi Lian In mendengar kalau dirinya meninggalkan Benteng dia tentu akan mengejarnya, karena itu selama perjalanan dia terus melarikan kudanya dengan amat cepat sekali.

Hanya di dalam sepertanak nasi kemudian dia sudah menuruni pegunungan Go-bi dan berlari di jalaa raya yang datar.

Setelah itu dia melarikan kudanya pula menuju ke arah timur. Selama di tengah perjalanan tidak menemui kejadian apa-apa,

pada siang hari ketujuh dia sudah memasuki daerah Oh Kiang dan

menaiki gunung dari Bu Leng san.

Pemandangan disepanjang jalan amat indah sekali, akhirnya dia memperlambat lari kudanya untuk melanjutkan perjalanan dengan perlahan-lahan, dia orang benar-benar dibuat mabok oleh keindahan alam sekitar tempat tersebut.

Dia berjalan . . - berjalan terus, tidak terasa lagi hari sudah menjadi gelap.

Pandangan yang terlihat di hadapannya cumalah lereng-lereng gunung terjal ini saling sambung menyambung, tak terasa lagi gumamnya seorang diri :

"Aaaa . . . celaka, ini kemungkinan sekali aku harus menginap ditempat terbuka."

Baru saja dia selesai bergumam, mendadak dari samping hutan ditengah gunung berjalanlah keluar seorang tukang pencari kayu yang usianya masih sangat muda sekali.

Pemuda itu mem punyai perawakan yang tinggi kekar dan sangat berotot, wajahnya tampan dengan pada ikat pinggangnya tersoren sebilah kampak pendek, pundaknya memikul satu pikulan kayu bakar sedangkan langkahnya amat mantap sekali, jelas dia merupakan orang yang pernah belajar ilmu silat.

Ti Then yang melihat wajah pemuda sangat menarik rasa simpatik segera menyelimuti dirinya, dia berjalan ke samping badan pemuda itu lantas menjura: “Lo-te maaf mengganggu !”

Pemuda itu segera menghentikan langkah kakinya, dia mengangguk sebagai balasan menghormat,

“Aaah.. Lo-heng tentu orang yang sedang melakukan perjalanan bukan ?”

“Benar . . benar, tolong tanya dari tempat ini menuju kekota yang terdekat masih ada seberapa jauh ?".

“Lo-heng mau pergi kemana ?”

“Kesebelah sana!” sahut Ti Then segera sembari menuding kearah Utara.

"Tempat itu menuju kekota Ih Hong, kalau menunggang kuda paling cepat juga ada setengah hari perjalanan !”

"Iiih. . . kalau begitu sesampainya di kota tersebut sudah tengah malam buta?" teriak Ti Then amat terkejut.

"Benar, bilamana Lo-heng tidak menampik. silahkan menginap satu malam di rumah gubukku?”

“Lote tinggal digunung ini?" “Benar, tidak jauh dari sini." "Tidak mengganggu?"

"Apa ganggu mengganggu, di rumah gubukku cuma siauw-te seorang saja" sahut pemuda sambil tertawa, Ti Then jadi keheranan. "Oooh. . Lote tinggal di atas gunung seorang diri ?"

"Benar !” jawab pemuda itu sambiI menganggukkan kepalanya. "Setelah orang tuaku mati satu-satunya ciciku juga kawin, sekarang dirumahku cuma tinggal aku seorang diri saja."

"Lalu Lote menggantungkan pencari kayu sebagai penghidupan sehari-hari ?" tanya Ti Then lagi.

"Benar!" sekali lagi pemuda itu mengangguk. "Ada kalanya aku berburu adakalanya pula aku mencari kayu di hutan."

"Lalu siapa namamu?"

“Aku she Kwek bernama Kwek Kwan San, lalu kau ?" "Aku adalah Ti Then!"

Pemuda Kwek Kwan San itu segera tersenyum ramah, ujarnya:

“Bagaimana Ti-heng? kau orang jadi bermalam dirumahku tidak?" "Baik?" Sahut Ti Then dengan amat girang, Malam ini terpaksa

aku orang mengganggu satu malam !"

Agaknya Kwek Kwan San itu pun menaruh rasa simpatik terhadap diri Ti Then, mendengar dia menyanggupinya hatinya terasa amat girang sekali.

"Kalau begitu silahkan Ti-heng mengikut diri siauw-te !”

Sehabis berkata dia berjalan terlebih dahulu mengikuti jalan gunung tersebut.

Ti Then pun turun dari kuda dan mengikuti dari sampingnya, setelah berbelok-belok di jalan pegunungan yang agak lebar kini mereka berbelok ke dalam sebuah jalan usus kambing yang amat sempit sekali.

Setelah melalui lagi beberapa ratus langkah tampaklah tidak jauh dari mereka sekarang berada berdirilah sebuah rumah gubuk.

"Itukah ramahmu ?" tanyanya segera. "Benar !” jawab Kwek Kwan San mengangguk. "Rumahku jeiek harap jangan dibuat geguyon"

"Mana . . . mana , . . Lo-te tinggal di sini seorang diri apakah tidak terlalu kesepian ?" tanya Ti Then gugup.

"Dahulu aku memang rada kesepian tetapi sekarang sudah tidak, karena baru-baru ini Siauw-te sudah mengangkat seorang suhu, dia orang tua sekarang berdiam bersama-sama dengan siauw-te !"

"Oooh . . . kiranya begitu! laiu siapa, kah sebutan dari suhumu ?" tanya riThtE kemudian

"Sebutan suhuku amat aneh sekuli, dia dipanggil sebagai Sang Sim Lojin atau si kakek tua berduka hati, sedangkan siapakah nama yang sesungguhnya selama ini dia orang tua tidak pernah mau memberitahukannya kepada siauw-te . , ,”

"Sang Sim Lojin ?” tanya Ti Then terperanyat. "Benar. Sang Sim Lojin !”

"Kenapa dia orang berduka ?"

“Entahlah..” sahut Kwek Kwan san sambil gelengkan kepalanya. “Dia sekarang ada di dalam rumah?”

“Ada, suhuku jarang sekali keluar pintu”

"Jika dilihat dari langka lo-te yang begitu mantap sudah tentu kepandaian silatnya amat hebat, kenapa kau orang masih menggantungkan pencarian kayu bakar sebagai biaya hidup ?"

“Mana . : . . mana . . . “ ujar Kwek Kwan San sambil tertawa malu. "Siauw-te cuma berhasil mempelajari sedikit permainan kaki saja, jika dibandingkan dengan orang lain masih terpaut sangat jauh sekali”

Sewaktu mereka bercakap-cakap itulah tanpa terasa sudah tiba di depan rumah gubuk itu. Kwek Kwan San segera meletakkan kayu bakar yang dipikulnya tadi ke atas tanah lantas berjalan masuk ke dalam rumah. "Suhu . . suhu . . . “ teriaknya keras "Kita sudah kedatangan seorang tetamu."

Tetapi sewaktu dia berjalan masuk ke dalam rumah tidak terasa lagi air mukanya rada sedikit tertegun.

“Iih . suhu, dia orang tua sudah pergi ke mana ?" jeritannya kaget.

Ti Then pun ikut berjalan masuk ke dalam, ternyata di dalam ruangan itu memang benar-benar kosong melompong dan sama sekali tidak kelihatan jejak dari "Sang Sim Lojin" itu, lantas ujarnya :

"Kemungkinan sekali suhumu sudah keluar dari rumah."

Pada wajali Kwek Kwan San segera terlintaslah satu perubahan yang amat aneh lantas dengan perlahan mengangguk.

"Benar .... Ti heng silahkan duduk biarlah siauw-te pergi mencarinya sebentar”

Selesai berkata dia segera putar badan dan berjalan keluar.

Ti Then pun segera duduk di atas ruangan tersebut, matanya dengan perlahan menyapu sekejap keseluruh dinding ditempat itu, ketika dilihatnya di atas dinding sudah tergantung sebilah pedang panjang dengan sarung yang amat kuno sekali dalam hati diam- diam berpikir:

"Oooh . . . kiranya si Sang Sim Lojin ini pun merupakan seorang jagoan pedang entah bagaimana kepandaiannya di dalam permainan pedang ? dan mengapa mem punyai sebutan sebagai Sang Sim Lojin?”

Sewaktu pikirannya berputar dengan keras itulah terdengar Kwek Kwan yang ada diluar sedang berteriak keras:

"Suhu .... suhu . . . kau ada dimana ?” Suara teriakannya semakin lama semakin perlahan dan semakin lama semakin kecil agaknya dia sudah berada di tempat yang amat jauh sekali. Kurang lebih seperempat jam kemudian tampaklah Kwek Kwan San dengan wajah yang amat sedih sekali berjalan masuk kembali ke dalam rumah, alisnya dikerutkan rapat-rapat.

"Aneh sekali, entah suhu dia orang tua sudah pergi ke mana ?" "Apa suhumu jarang keluar?”

“Benar!” jawab Kwek Kwan San mengangguk. "Selama beberapa bulan ini setiap kali siauw-te pulang dari mencari kayu dia pasti menunggu di dalam rumah, entah mengapa ini hari sudah keluar rumah. haaaai..entah dia orang sudah pergi kemana ?”

"Jikalau mau pergi ke tempat kejauhan seharusnya dia orang tua meninggalkan surat sebagai pemberitahuan"

"Benar ... sungguh aneh sekali ..” Seru Kwek Kwan San keheranan tidak ada habisnya.

"Apa mungkin sudah menemui peristiwa lain ?"

"Jikalau sudah terjadi urusan, dengan kepandaian silat yang dimiliki oleh suhu dia orang tua seharusnya bisa menghadapi dengan mudah, kepandaian silat dari dia orang tua amat hebat sekali”

" Pedang itu apakah milik suhumu ?” tanya Ti Then kemudian sambil menuding kearah pedang yang tergantung di atas dinding itu.

“Tidak salah!” sahut Kwek Kwan San mengangguk.

“Kalau begitu” ujar Ti Then lagi, “Dapatkah suhumu pergi ke sekitar tempat ini untuk berjalan-jalan? Bilamana sudah terjadi peristiwa yang diluar dugaan pedang itu tidak seharusnya masih tergantung di atas dinding.”

Mendengar penjelasan dari Ti Then itu dengan perlahan perasaan murung yang menyelimuti wajahnya mulai luntur. “Perkataan dari Ti heng sedikit pun tidak salah” sahutnya rada girang, “Silahkan kau tunggu sebentar, biar siuwte masuk ke dalam untuk mempersiapkan makanan”

Selesai berkata dia berjalan masuk ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian nasi panas dengan beberapa macam sayur asin sudah dihidangkan di atas meja.

Kwek Kwan San kembali berjalan keluar dari rumah untuk menengok, lalu dengan keheran-heranan ujarnya :

"Sungguh aneh sekali, bagaimana dia orang belum kembali juga?"

"Coba tunggu sebentar lagi”

Kwek Kwan San segera kembali ke dalam rumah. “Tidak, mari kita makan dulu" ujarnya kemudian.

Dia mempersilahkan Ti Then duduk dan mengambilkan dua mangkuk nasi yang satu diangsurkan kepada Ti Then dan yang lain buat dia sendiri, lantas bersama-sama bersantap.

Sembari makan tanya Ti Then lagi:

“Lo-te tahun ini umur berapa?” “Delapan belas.”

“Kau punya maksud untuk selamanya menggantungkan pencarian kayu baker untuk biaya hidup?”

"Tidak, lain kali setelah kepandaian silatku berhasil aku latih hingga mencapai pada taraf yang tinggi siauwte punya rencana untuk jadi Piauw-su, aku dengar jadi piauwsu paling mudah mencari uang, bukan begitu?”

"Benar, tetapi juga sangat berbahaya sekali " sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Guruku pernah bilang, asalkan siauw-te mau berlatih selama tiga tahun lamanya maka dia tanggung siauw-te bisa jadi jagoan nomor satu, saat itu untuk jadi piauw-su bukanlah satu soal yang sulit "

"Jadi piauwsu bukan saja harus mem punyai kepandaian silat yang amat tinggi bahkan pengalamannya   pun harus amat luas sekali "

"Aku tahu " sahut Kwek Kwan San mengangguk, “Aku beleh menyabat sebagai pengawal rendahan terlebih dulu. ooohh yaa, Ti- heng bekerja apa ?”

"Cayhe menyabat sebagai Kiauw-tauw dari Benteng Pek Kiam Po”

Agaknya Kwek Kwan San belum pernah mendengar nama dari Benteng Pek Kiam Po ini, mendengar perkataan tersebut dia jadi tertegun.

"Apa itu Benteng Pek Kiam Po?” tanyanya.

"Benteng Pek Kiam Po adalah satu aliran di dalam Bu-lim yang cukup besar pengaruhnya, markas besarnya ada di gunung Go-bi, apakah suhumu belum pernah membicarakan soal Pek Kiam Po ini kepadamu ?”

"Tidak!" sahut Kwek Kwan San sambil gelengkan kepalanya. "Suhu kecuali setiap hari memberi pelajaran ilmu silat kepada siauw- te, apapan tidak pernah dibicarakan.”

"Di dalam Bu-lim pada saat ini setiap jago yang pernah terjunkan diri ke kalangan kang-ouw pasti akan tahu kalau di atas gunung Go- bi ada sebuah Benteng Pek Kiam po, suhumu tidak pernah mengungkatnya kepada mu mungkin dikarenakan perhatiannya cuma dipusatkan pada pemberian pelajaran ilmu silat."

"Apakah orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po   pun berlatih ilmu pedang semua?" tanya Kwek Kwan San lagi.

"Benar !”

"Siapakah Pocunya ?"

"Si pedang naga emas Wi Ci To.” “Apakah ilmu pedangnya sangat tinggi sekali?”

"Dia mem punyai nama harum sebagai Bu Lim Cit Ji Kauw-jin atau jagoan nomor dua dari seluruh Bu-lim,"

Agaknya Kwek Kwan San menaruh perhatian khusus terhadap urusan ini, desaknya lebih lanjut:

"Lalu siapakah si jagoan nomor wahid di dalam seluruh Bu-lim saat ini ?”

"Si kakek pemalas Kay Kong Beng, tetapi dia bukan orang benteng Pek Kiam Po kami, dia berdiam di puncak gunung Kim Teng San “

"Ilmu pedang dari suhuku di dalam pandangan siauw-te amat dahsyat dan liehay sekali, entah dapatlah kepandaian silatnya dibandingkan dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng serta pocu dari Benteng Pek Kiam Po tidak ? "

"Cayhe belum pernah melihat ilmu pedang dari suhumu, sehingga sukar buatku untuk menyawab pertanyaan ini "

"Ada satu hari suhu pernah mendemontrasikan permainan pedangnya buat siauw-te lihat, dia menancapkan tiga batang bambu ke atas tanah lantas di dalam satu kali babatan saja sudah berhasil menebas putus ketiga batang bambu tersebut, tetapi bambu yang cuma diberdirikan itu sama sekali tidak rubuh”

"Kalau begitu kepandaian ilmu pedang dari suhumu memang sangat dahsyat sekali " seru Ti Then tertarik.

"Jika dibandingkan dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng serta Pocu dari Ti-heng rasanya bagaimana?”

"Hmmmm..mungkin hampir sama”

"llmu pedang dari Ti-heng tentunya sangat lihay bukan?”

"Mana. . mana. , ,” ujar Ti Then sambil tersenyum, "Cayhe masih terpaut jauh" "Tadi Ti-heng bilang kau menyabat sebagai apa di dalam Benteng Pek Kiam Po?"

"Cong Kiauw-tauw."

“Apa yang dimaksud dengan Kiauw-tauw itu ?" tanya Kwek Kwan San lagi

"Kedudukan Kiauw-tauw ada di bawah Pocu seorang dan bertugas untuk memberi pelajaran ilmu silat kepada seluruh jagoan pedang yang ada di dalam Benteng."

Mendengar penjelasan itu Kwek Kwan San jadi terperanyat "Jagoan pedang yang ada di dalara Benteng Pek Kiam Po apakah

usianya sederajat dengan usia dari Ti-heng ?” tanyanya lagi.

“Tidak, jagoan pedang di dalam Benteng Pek Kiam Po yang berusia sekecil cayhe cuma ada beberapa orang saja “

"Lalu bagaimana Ti-heng bisa menyabat sebagai Kiauw-tauw dari para jago di dalam Benteng Pek Kiam Po" tanya Kwek Kwan San lagi sambil berseru keheran-heranan.

"Hal ini dikarenakan , . , Ehmm, pertanyaan dari Lo-te ini sungguh-sungguh membuat cayhe sukar untuk memberi jawaban.."

"Ooooh sekarang aku paham sudah tentu ilmu pedang dari Ti heng jauh melebihi kepandaian silat dari para jago pedang lainnya sehingga diangkat sebagai Kiauw-tauw, bukan begitu ?”

Ti Then sambil tertawa segera mengangguk. Kwek Kwan San jadi amat girang sekali, serunya:

“Dapatkah Ti-heng memperlihatkan sedikit kepandaian untuk siauwte lihat?”

“Haa..haa..siauwte tidak berani memperlihatkan kejelekanku di hadapan kalian!” serunya dengan cepat sambil gelengkan kepalanya cepat. “Ti-heng kenapa sungkan?” ujar Kwek Kwan san dengan terburu- buru.

“Siauw-te cuma ingin mengetahui bagaimana taraf kepandaian silat yang aku miliki sekarang ini jika dilihat dari kepandaian yang Ti- heng miliki. Siauw-te sejak belajar ilmu pedang dari suhuku dia orang tua sampai saat ini belum pernah mengetahui bagaimana hasil dari latihanku itu jikalau Ti heng mau sedikit memperlihatkannya maka Siauw-te segera akan tahu seberapa tinggi kepandaian yang aku miliki."

“Tapi…jikalau sampai suhumu pulang dan menemuinya bukankah terlalu tidak baik . . . ," ujar Ti Then kembali berusaha menampik.

''Suhuku kemungkinan sekali ada urusan pergi ke kota, aku rasa dia orang tua tidak mungkin bisa kembali dengan cepat,"

"Kalau begitu setelah selesai makan bilamana suhumu belum kembali juga, cayhe akan memperlihatkan sedikit kejelekan." akhirnya Ti Then mengabulkan.

Kwek Kwan San jadi amat girang sekali. "Bagus sekali, mari kita cepat makan !”

Selesai berkata dengan lahapnya dia menghabiskan nasinya.

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah kenyang benar- benar. Kwek Kwan San tidak sempat membereskan mangkok sumpitnya segera dia memohon lagi kepada diri Ti Then :

"Ti-heng bagaimana kalau mendemonstrasikan sekarang saja !” "Baik, mari kita keluar rumah."

Mereka berdua segera jalan keluar dari rumah gubuk itu, Ti Then memungut tiga batang bambu dan diletakkan di atas tanah lalu mencabut keluar pedang panjangnya, dia tertawa. "Cayhe pun mau jajal mengayunkan cara seperti suhumu, jikalau jelek Ioo-te jangan tertawa Iho. ." "Tidak mungkin, tidak mungkin. Ti-heng silahkan bermain" seru Kwek Kwan San dengan cepat.

Ti Then segera pusatkan pikirannya, lantas kakinya maju satu langkah ke depan, pedang yang ada di tangannya dengan cepai bagaikan sambaran kilat dibabat ke depan.

…Sreeeet. ….. ditengah bekelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata pedangnya sudah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Sedang ketiga batang bambu itu pun masih tetap berdiri tidak bergerak dari tempatnya, dengan lurus bamboo-bambu tersebut masih berdiri di atas tanah.

Sepasang mata dari Kwek Kwan San terbelalak lebar-lebar melototi ketiga bambu tersebut, beberapa saat kemudian dia baru berjalan mendekati bambu tersebut menyenggolnya dengan perlahan.

Ketiga batang bambu tersebut segera putus dan jatuh berantakan di atas tanah, air mukanya segera berubah, dia merasa terkejut bercampur kagum sehingga tidak terasa lagi menarik napas panjang-panjang. “Oooh. . . . Ilmu pedang dari Ti-heng ternyata seimbang dengan ilmu pedang dari suhuku, kau orang bagaimana bisa berhasil melatih sehingga demikian hebatnya?”

Ti Then cuma tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia tidak ingin memberitahu kalau dirinya bisa mematahkan lima batang bambu sekaligus, karena dia tidak ingin menghilangkan kepercayaan seorang murid terhadap suhunya.

Lama sekali Kwek Kwan San mematung melongo kearahnya, lantas dengan ragu-ragu serunya:

"Kau. . , usiamu masih muda, bagaimana kau orang berhasil melatih ilmu pedangmu sehingga demikian tingginya ?”

"Cayhe berlatih ilmu pedang sejak berumur lima enam tahun sehingga dengan demikian bisa memperoleh kesuksesan seperti ini, tetapi jikalau membicarakan tenaga dalam mungkin Cayhe masih kalah jika dibandingkan dengan suhumu”

Dengan amat kagumnya Kwek Kwan San memperhatikan dirinya terus menerus ujarnya kemudian:

"Siauw-te baru belajar ilmu pedang beberapa bulan saja, entah sampai kapan baru bisa berhasil mencapai seperti apa yang dimiliki Ti-heng saat ini ?”

"Bakat lo-te amat bagus sedang pikirannya pun amat tajam sekali, asalkan mau berlatih dengan giat lima tahun kemudian pastilah kau orang bisa berhail mencapai taraf seperti ini”

“Tetapi.. “ bantah Kwek Kwan San.lagi. " Lima tahun kemudian sewaktu siauwte berhasil mencapai pada taraf seperti Ti-heng saat ini, maka pada waktu itu kedahsyatan dari ilmu silat Ti-heng entah sudah menanyak seperti apa ?”

Ti Then segera tertawa geli,

"Lo--te kau tidak boleh berpikir demikian " ujarnya keras, “Ada pepatah yang mengatakan satu gunung, lebih tinggi dari gunung yang lain, ditengah yang hebat pasti ada yang jauh lebih hebat, cayhe cuma bisa begini saja dapat dihitung seberapa tingginya?”

Agaknya Kwek Kwan San rada kikuk juga oleh perkataannya tadi, dia tertawa malu dan ujarnya :

" Benar. siauw-te tidak seharusnya menginginkan diriku jauh lebih tinggi dari orang lain”

Ti Then segera memungut kembali ketiga batang bambu itu dan dilempar ke tempat kejauhan.

"Nanti sewaktu suhumu pulang lebih baik Lo-te jangan mengungkat-ungkat soal ini, mau bukan ? " ujarnya.

"Ti heng takut kalau suhuku mencari kau orang untuk diajak bertanding ?" "Benar !” jawab Ti Then tertawa, "Suhumu adalah seorang locianpwe dari Bu-lim, cayhe seharusnya menaruh hormat kepadanya ".

Suhu dia orang tua jadi orang memang amat baik sekali, bilamana dia tahu kalau ilmu pedang Ti-heng amat tinggi sekali, dia orang tua pasti akan ikut merasa bergirang hati ".

"Suhumu mem punyai julukan sebagai si kakek tua bersedih hati, tentunya pada masa yang lalu sudah menemui suatu pengalaman pahit yang mendukakan hati-nya. . . " ujar Ti Then tiba-tiba.

"Ada satu kali, dia pernah beritahu kepada siauw-te. katanya di dalam Bu-lim dia mem punyai dendam dengan seorang jagoan berkepandaian tinggi, cuma saja dia tidak pernah memberitahukan siapakah nama si jagoan berkepandaian tinggi itu?”

“Suhumu mem punyai rencana hendak membalas dendam?” tanya Ti Then.

"Agaknya memang begitu, karena di samping dia orang tua menurunkan ilmu silat kepadaku dia pun setiap hari berlatih dengan rajinnya”

Mereka berdua sembari bercakap-cakap sembari berjalan kembali ke dalam rumah, Kwek Kwan San segera membereskan mangkok sumpit dan dari dalam dapur membawa keluar sepoci teh panas.

Dia mengambil secawan buat Ti Then lalu mengambil pula secawan buat dirinya sendiri, ujarnya lagi :

"Ilmu pedang dari Ti-heng belajar dari siapa ?"

"Cayhe pernah mengangkat seorang suhu yang mem punyai julukan sebagai Bu Beng Lojin ".

" Bu Beng Lojin ?" tanya Kwek Kwan San keheranan.

"Benar " sahut Ti Then sambil meneguk air tehnya satu tegukan. "Suhuku sama dengan suhumu, dia pun mem punyai satu pengalaman di masa lampau yang amat menyedihkan hatinya…” Baru saja dia berbicara sampai kata-kata yang terakhir mendadak terlihatlah olehnya tubuh Kwek Kwan San bergoyang tidak henti- hentinya seperti seorang lagi kemabokan terhuyung-huyung dan sempoyongan tidak karuan.

Tidak terasa lagi di dalam hati Ti Then merasa sangat terperanyat.

"Iiih... Lo-te kau kenapa?” tanyanya.

"Heran..kepalaku..oh. . .kepalaku.” seru Kwek Kwan San sambil memegang kepalanya sendiri dan mengerutkan alisnya rapat-rapat.

Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak cawan yang ada ditangannya terjatuh ke atas tanah sedang tubuhnya pun ikut rubuh ke atas tanah, . . .secara tiba-tiba dan sangat aneh sekali dia jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Ti Then yang melihat kejadian itu menjadi sangat terperanyat sekali, dengan cepat dia meletakkan cawan air tehnya ke atas meja lalu berjongkok ke samping badan Kwek Kwan San dan membimbingnya bangun.

"Hey Lo-te.. Lo-te.. kau kenapa ?'" teriaknya.

Pada saat itulah mendadak dia pun merasakan kepalanya sangat pening sekali, dalam hati dia merasa sangat terperanyat, pikirnya:

"Celaka. . .! pasti ada orang yang memasukkan obat pemabok ke dalam air the ini !”

Dengan cepat dia meletakkan badan Kwek Kwan San ke atas tanah dan berusaha bangkit berdiri, tetapi pada saat itulah kepalanya terasa semakin pening sehingga membuat matanya berkunang-kunang tubuhnya terhuyung-huyung dengan sempoyongan akhirnya tidak kuasa lagi rubuh ke atas tanah dan jatuh tidak sadarkan diri.

Baru saja dia jatuh tidak sadarkan di ri ke atas tanah, dari pintu rumah gubuk itu tampaklah berkelebatnya sesosok bayangan manusia diikuti munculnya seorang manusia aneh. Orang aneh ini berusia kurang lebih enam puluh tuhunan, tubuhnya sedengan sedang rambutnya awut-awutan dan amat kotor dengan kepala yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, ditambah lagi dengan sepasang matanya yang memancarkan sinar yang amat tajam sekali membuat orang yang melihat dirinya seperti juga me lihat mayat hidup yang baru saja bangkit dari dalam kuburan.

Siapakah orang itu ?

Bukan lain, dialah, si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan adanya ! Si pendekar aneh dari Bu-lim yang telinga kanannya berhasil dipapas putus oleh Wi Ci To pada masa yang lalu dan terpapas lagi telinga kirinya oleh Ti Then pada beberapa bulan yang lalu ternyata sudah munculkan dirinya di depan rumah gubuk di atas.gunung Bu Leng san ini.

Begitu tubuhnya berjalan masuk ke dalam rumah, matanya dengan amat tajam melirik sekejap ke atas badan Ti Then yang menggeletak di atas tanah lalu memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin sekali, setelah itu dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebotol obat dan mengambil keluar sebutir untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya Kwek Kwan San.

Tidak selang lama kemudian Kwek Kwan San sadar kembali dari pingsannya.

Dengan perlahan sepasang matanya dipentangkan, sewaktu dia bisa melihat jelas orang yang ada di hadapannya bukan lain adalah si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan dengan amat girangnya dia segera meloncat bangun.

"Suhu" teriaknya. '' Kau sudah pulang ?"

Tetapi sebentar kemudian dia sudah melihat tubuh Ti Then yang rubuh tidak sa¬darkan diri di atas tanah serta cawan air teh yang berserakan di atas meja, seketika itu juga dia teringat kembali dengan kejadian yang baru saja berlangsung itu, teriaknya. "Aduuuh ... bagaimana bisa jadi ? Tadi tecu dengan Ti-heng ini -

. “

"Bukankah sudah jatuh tidak sadarkan diri ?" Potong .si pendekar

pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sambil tertawa.

"Benar “ teriak Kwek Kwan San dengan sangat terperanyat." Tecu mendadak merasakan kepalaku pening dan berputar amat cepat lalu jatuh tidak sadarkan diri, saat itu agaknya Ti-heng masih baik-baik saja . . bagaimana sekarang pun dia juga jatuh tidak sadarkan diri ?"

"Karena kalian berdua sudah terkena obat pemabok !” jawab si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan sambil tertawa dingin.

“Aaaah terkena obat pemabok ??" tanya Kwek Kwan San dengan sangat terkejut sekali.

-ooo0dw0ooo-