Pendekar Patung Emas Jilid 26

 
Jilid 26

"TIDAK, aku tidak dapat menemani kau orang !”sahut TI Then sambil gelengkan kepalanya.

"Kenapa ?” tanya Wi Lian In dengan kurang senang.

"Di dalam Banteng sebelum mendapatkan perintah dari ayahmu aku tidak leluasa untuk sembarangan bergerak"

"Jikalau Tia nanti menyalahkan kau biarlah aku ssorang diri yang menanggung.”

"Aku orang bukannya takut dimaki oleb ayahmu sebaliknya karena kedudukanku sebagai Kiauw-tauw seharusnya menghormati ayahmu" ujar Ti Then mengharapkan.

"Baiklah, jikalau kau tidak mau menemani aku biarlah aku ajak Pek Tha suheng untuk menemani aku orang !" Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Bagus, aku setuju !”

Dengan sangat tidak senang Wi Lian In berlalu dari sana.

Malam hari itu sekali lagi Wi Ci To menyamu diri Cuo It Sian, semua orang minum arak dan bersantap dengan gembiranya, setelah ngobrol ke sana ke sini akhirnya masing-masing kembali ke kamarnya sendiri-sendiri untuk beristirahat.

Ti Then yang sekembalinya ke dalam kamar segera mandi lalu naik ke atas pembaringannya untuk tidur.

Dia tahu majikan patung emas tentu akan munculkan dirinya ditengah malam untuk menanyai kejadian serta kemajuan yang dicapai dengan Wi Lian In selama satu bulan lebih ini, dalam hati dia terus berpikir untuk mencari jawaban yang akan diberikan nanti.

Ternyata sedikit pun tidak salah, kurang lebih pada kentongan ketiga majikan patung emas sudah munculkan dirinya beserta dengan patung emasnya dari atas atap rumah.

Kali ini Ti Then sudah bangun dari pulasnya sebelum majikan patung emas menurunkan patung emasnya, dengan mata melotot lebar-lebar dia memperhatikan sepasang tangan yang agak samar- samar membuat atap kamarnya lalu melihat juga patung emas itu dengan perlahan-lahan diturunkan ke samping pembaringan, dalam hati diam-diam dia orang merasa sangat terperanyat sekali pikirnya:

"Kenapa tiap kali dia munculkan dirinya di atas atap rumah selama ini tidak pernah ditemui oleh para pendekar pedang yang melakukan perondaan di sekeliling Benteng ?? apa mungkin dia benar-benar sudah berhasil melatih ilmu untuk melenyapkan diri ?

"Ti Then, kau bangunlah !"

Terdengar suara dari majikan patung emas dengan amat Iembutnya berkumandang datang dari atas rumah.

Ti Then segera bangun dan menggoyang-goyangkan patung emas tersebut, serunya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara .

"Aku tahu malam ini kau bisa datang” Majikan patung emas pun segera tertawa.

"Aku pun tahu kau orang sedang menunggu aku"

"Kau ada banyak pertanyaan yang hendak kau ajukan bukan ?" "Benar!" sahut majikan patung emas itu singkat.

"Ehmmm..kau boleh mulai bertanya !"

"Kau bicaralah ! Ceritakan seluruh kejadian yang kau alami sejak meninggalkan benteng Pek Kiam Po sampai kembali lagi ke dalam benteng" "Jika demikian adanya, bercerita sampai pagi pun belum tentu bisa selesai" seru Ti Then dengan keras.

"Katakan saja yang penting-penting”

"Setelah kami meninggalkan Benteng Pek Kiam Po karena jarak waktu perjalanan dengan si rase bumi, mengambil keputusan untuk pergi kegunung Kim Teng San terlebih dahulu untuk main-main. ..”

"Hey bocah Cilik !" Potong majikan patung emas tiba-tiba. "Kau orang sengaja pergi kegunung Kim Teng San apakah hendak mempamerkan kepandaian silatmu di hadapan si kakek pemalas Kay Kong Beng itu?"

"Apa arti dari perkataanmu ini?" serunya.

"Tahun yang lalu kau pernah pergi ke tempatnya meminta dia menerima kau sebagai muridnya tetapi dia tidak mau menerima, di dalam hatimu sudah tentu merasa gemas juga terhadap dirinya bukan ? kini kau sudah berhasil mempelajari kepandaian silat dari diriku, kau sengaja mau memamerkan di hadapannya bukan begitu

?"

"Tidak benar “ Jawab Ti Then sambil gelengkan kepalanya. "Dia orang tidak mem punyai alasan untuk harus menerima aku sebagai muridnya sehingga aku pun tidak punya alasan untuk membenci dirinya apa lagi sengaja pergi ke tempat tinggalnya untuk mempamerkan kepandaian silatku !"

"Ehmm . . , sekarang teruskan !”

"Semula kami pun tidak ingin pergi menemui Kay Kong Beng tetapi kemudian Wi Lian In bilang sekali pun dia orang belum pernah bertemu muka dengan jago nomor wahid di dalam Bu-lim saat ini dan terus menerus mengajak aku untuk menyambanginya, akhirnya aku membawanya juga pergi ke atas puncak, siapa tahu sewaktu hendak tiba di depan gua tempat Kay Kong Beng itulah mendadak kita menemukan Hong Mong Ling sedang berlutut di depan gua itu . . . " Dengan amat tenangnya majikan patung emas mendengarkam semua kisahnya, menanti setelah didengarnya Hong Mong Ling telah dibinasakan oleh seorang dengan menggunakan sambitan batu sewaktu dia orang mau memberi tahu nama dari orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu segera diselanya :

"Sudah tentu orang itu adalah orang yang telah melakukan jual beli dengan Huang Puh Kiam Pek ?"

“Sedikit   pun tidak salah, dia membinasakan Hong Mong Ling agar dia menutup mulut untuk selama-lamanya."

"Lantas kau berhasil menemukan orang ini?” tanya majikan patung emas lagi.

"Tidak” gerak geriknya sangat cepat sekali, waktu aku bersama- sama dengan nona Wi melakukan pemeriksaan di sekeliling tempat itu ternyata sama sekali tidak menemukan sedikit pun jejak yang mencurigakan, akhirnya kita teringat kembali kalau di dalam Bu-lim saat ini orang yang bisa membayar uang sebesar satu laksa tahil perak kecuali si anying langit rase bumi cuma ada Sian Thay-ha atau si pembesar kota Cuo It Sian saja karenanya kami mengambil keputusan untuk pergi mencari Cuo It Sian .. "

Dia segera menceritaikan seluruh kisahnya dengan amat jelas sekali, tidak selang lama kemudian seluruh kejadian yang dialaminya sudah selesai diceritakan.

“Jika demikian adanya Cuo It Sian itu ini memang merupakan seorang yang sangat mencurigakan sekali" ujar majikan patung emas kemudian.

"Ya atau tidak aku tidak berani bicara sembarangan," “Seharusnya Wi Ci To mengetahui akan hal ini.”

"Aku pun berpikir demikian !"

"Wi Ci To bilang dia orang tidak tahu barang apa yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu, menurut aku tentunya merupakan omong kosong belaka !” ujar majikan patung emas lagi dengan perlahan.

"Aku pikir tentunya kau tahu bukan barang apa yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu ?"

"Aku tidak tahu!"

"Tentunya aku pun berbicara tidak sesungguhnya!” Sambung Ti Then segera.

“Aku bukannya manusia berkerudung hitam itu bagaimana aku orang bisa tahu barang apa yang diminta dirinya?”

"Aku percaya kau orang tentunya merupakan orang-orang dari satu golongan, barang yang diminta pun tentu sama!"

"Haaa. . haaa. . . . bagaimana kalau kita bertaruhan?" ujar majikan patung emas sambil tertawa.

"Taruhan apa?"

"Bilamana dikemudian hari kau tahu kalau barang yang diminta manusia berkerudung itu sama dengan barang yang aku minta kau boleh tidak usah menjadi patung emasku lagi, sebaliknya jikalau barang yang aku minta sama sekali berbeda bagaimana kalau kau orang jadi patung emasku lagi untuk selama satu tahun"

Ti The a segera merasakan hatinya bergidik.

"Tidak mau. . . . tidak mau.    " serunya dengan gugup.

"Kau sudah takut?" ejek majikan patung emas sambil tertawa. "Benar!" sahut Ti Then sambi! memperlihatkan tertawanya yang

amat pahit. "Aku yang jadi patung emas sudah merasakan sangat menderita sekali, jikalau harus jadi patung emas selama satu tahun lagi bukankah nyawaku pun akan ikut Ienyap?"

"Kalau begitu seharusnya kau orang mau percaya kalau tujuanku sama sekali berbeda dengan tujuan dari manusia berkerudung hitam itu!” "Aku percaya       aku percaya !" sahut Ti Then berulang kali,

"Ehmm      bagaimana hubunganmu dengan Wi Lian In ?" tanya

majikan patung emas lagi.

"Seperti keadaan semula, tidak baik juga tidak jelek."

Mendengar perkataan itu majikan patung emas menjadi amat gusar.

“Hal ini berarti juga kau orang belum mengeluarkan kepandaianmu terhadap dirinya, bukan begitu ?" bentaknya dengan keras.

"Coba kau pikirlah lebih teliti, kejadian yang sudah aku alami selama satu bulan ini, kami benar-benar tidak mem punyai kesempatan untuk berCintaan dan bermesra-mesraan !"

"Aku tidak percaya !” Seru majikan patung emas. "Jikalau diantara kalian yang satu punya rasa Cinta sedang yang lain tidak punya maksud berbuat begitu sekali pun kalian dijebloskan ke dalam neraka tingkat kedelapan belas juga sama sekali tidak punya selera untuk berkasih-kasihan."

"Aku nasehatkan kau lebih baik jangan keburu-buru, urusan semacam ini tidak bisa dipaksa!"

"Aku pun menasehatkan padamu" seru majikan patung emas sambil tertawa dingin." Jikalau kau ingin cepat-cepat bebaskan diri dari belenggu, cepat-cepat memperistri dirinya !"

"Jikalau Wi Ci To mem punyai maksud untuk mengawinkan putrinya kepadaku kemungkinan sekali sudah hampir"

"Dia orang pernah memberi tanda kepadamu?"

"Belum" sahut Ti-Then sambil gelengkan kepalanya, "Sekarang dia orang sedang merasa risau karena ketiga orang anak buahnya terjatuh ke tangan manusia berkerudung hitam itu, mana dia orang punya selera untuk mengurusi urusan ini?” "Kalau memangnya begitu apa yang kau artikan dengan ‘Mungkin sudah hampir itu’? kau berdasarkan apa berani berkata demikian ?"

"Aku sedang berpikir jikalau aku bisa menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang lolos dari 'belenggu manusia berkerudung hitam itu kemungkinan sekali dia bisa mengawinkan putrinya kepadaku”

"Tidak salah !" sahut majikan patung emas itu membenarkan. "Hal ini membutuhkan berapa waktu lamanya?"

"Soal ini tidak bisa diketahui dengan pasti sskarang kami sedang menunggu berita dari manusia berkerudung hitam itu, menanti selelah ada berita darinya aku segera akan melakukan sesuatu gerakan, uma saja. "

“Cuma saja apa?"

“Aku takut dia orang tidak memperkenankan aku ikut campur di dalam urusan ini”

“Yang kau maksudkan Wi Ci To ?"?" tanya majikan patung emas. “Benar!” jawab Ti Then sambil mengangguk. "Dia tidak mau

memberitahukan barang apa yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu kemungkinan sekali dia pun tidak memperbolehkan aku untuk membantu dia orang pergi menolong orang karena jikalau aku ikut di dalam gerakannya maka akhirnya kemungkinan juga aku pun bisa ikut mengetahui “rahasia" nya !”

"Tetapi dia pun tidak mungkin membiarkan ketiga orang anak buahnya kehilangan nyawa bukan?"

"Sudah tentu, tetapi dia bisa pergi seorang diri untuk menyelesaikan urusan ini dengan manusia berkerudung hitam itu."

"Aku kira tidak mungkin, kecuali dia rela menyerahkah barang yang diminta pihak lawan kalau tidak dia pasti akan membawa pembantu di dalam menyelesaikan urusan ini”

"Jikalau dia membutuhkan tenaga bantuanku sudah tentu aku akan membantunya dengan hati rela dan menolong kembal Ih, Kha serta Pauw tiga orang, saat itu bilamana dia mem punyai maksud untuk mengawinkan putrinya kepadaku kemungkinan sekali segera akan mengutarakannya keluar."

"Baiklah., aku menunggu beritamu !” akhirnya seru majikan patung emas itu dengan perlahan.

“Kalau aku sudah ada janyi sebelumnya dengan dirimu sudah tentu aku bisa melakukannya dengan sepenuh hati, tetapi aku tidak berani memastikan aku pasti bisa memenuhi harapanmu, tidak perduli bagaimana pun juga perkawinan adalah, merupakan satu soal yang maha besar, hal ini kau seharusnya mengerti jelas terlebih dahulu."

Sebenarnya majikan patung emas sudah menarik patung emasnya naik ke atas untuk berlalu dari sana, mendengar perkataan itu mendadak dia berhenti sehingga membiarkan patung emasnya bergantungan ditengah udara.

"Apa arti dari perkataanmu itu ?” tanynya.

“Aku bilang belum tentu aku berhasil mencapai apa yang diharapkan."

“Kecuali kau sengaja mengacau jalannya rencanaku ini kalau tidak pasti akan berhasil" ujar majikan patung emas sambil tertawa dingin. "Karena Wi Lian In sudah menaruh rasa Cinta kepadamu !. Kalian berdua sudah sama-sama jatuh Cinta dan sama-sama senang pada yang lainnya!"

“Tetapi masih ada searang Wi Ci To” sambung Ti Then dengan amat cepat. "Jikalau dia orang tidak mem punyai maksud untuk mengawinkau putrinya kepadaku, sekali pun Wi Lian In menaruh Cinta kepadaku secara bagaimana pun juga tidak berguna."

Majikan patung emas termenung berpikir sebentar, lalu dengan suara yang amat ketus dan dingin teriaknya :

“Apakah kau orang sudah menceritakan hubungan diantara kita kepada Wi Ci To secara diam-diam ?"

"Tidak…!” "Kalau begitu” sambung majikan patung emas lagi. "Dengan watak serta kepandaian silatmu ditambah pula dengan jasa yang kau peroleh buat benteng Pek Kiam Po, Wi Ci To pasti akan menerima dirimu sebagai menantunya!”

Ti Then termenung tidak menyawab lagi.

"Tapi menurut aku” sambung majikan patung emas lagi, "Tidak perduli kau berhasil bantu dia untuk menolong Ih, Kha serta Pauw bertiga atau tidak, setelah urusan ini beres semua dia pasti akan mengawinkan putrinya kepadamu, kalau tidak……kalau tidak hal ini berarti kau pernah secara diam-diam memberitahukan kepada Wi Ci To kalau kau orang sama sekali tidak punya maksud untuk mengawini putrinya, sampai waktu itu aku tidak berlaku sungkan- sungkan lagi terhadap dirimu!”

Ti Then tetap bungkam diri tidak berbicara.

Dengan perlahan majikan patung emas menarik kembali patung emasnya ke atas sambil ujarnya kembali :

"Pokoknya kau orang boleh berlega hati, kau tidak usah takut kalau lain kali aku menyuruh kau mencelakai Wi Ci To, Wi Lian In atau anak buahnya, sekali lagi aku terangkan tujuanku sama sekali tidak ada jeleknya terhadap semua orang yang ada di dalam Benteng Pek Kiam Po ini”

"Tidak ada jeleknya apakah mungkin ada baiknya ?"

Waktu itu majikan patung emas sudah menarik kembali patung emasnya, ketika mendengar perkataan tersebut dia lantas menyawab :

“Boleh dikata sangat menguntungkan dirimu, karena Wi Ci To yang punya menantu seperti kau boleh dikata sangat menguntungkan dirinya."

“Kalau begitu apakah tujuanmu baru berhasil setelah aku berhasil memperistri diri Wi Lian In ?” “Bukan, tujuanku adalah . , .. baiklah ! Aku bisa beri sedikit keterangan buat dirimu. Cuanku pun sama dengan tujuan dari manusia berkerudung hitam itu yaitu ingin mendapatkan semacam barang yang tidak berharga dari Wi Ci To, Cuma saja barang yang aku minta sama sekali berbeda dengan barang yang diinginkan oleh manusia berkerudung hitam itu !”

"Kalau memangnya sama sekali tidak berharga buat apa kau orang berusaha begitu keras dengan bersusah payah hendak mendapatkanaja ?”

"Karena dia sangat penting buat diriku" sahut majikan patung emas itu dengan tegas. "Kita ambil contoh saja bilamana aku sedang membangun satu rumah tetapi kekurangan sebuah batu bata sebaliknya di daiam Benteng Wi Ci To mem punyai kelebihan batu bata maka itu aku ingin mendapatkan batu bata milik Wi Ci To ini terhadap dirinya boleh dikata sama sekali tidak menemui kerugian apa pun sebaliknya jika dibicarakan buat aku orang dengan barang itu maka rumahku akan segera jadi.... sudahlah, untuk malam ini sampai sekian saja, kau pergilah tidur!”

Dia mengulur keluar tangannya yang samar-samar untuk menutup atap kamar lantas bagaikan bertiupnya angin sudah berlalu dari sana tanpa mengeluarkan sedlkit suara pun.

Dengan termangu-mangu Ti Then memandang ke atas jendela, penjelasan dari majikan patung emas ini bukan saja tidak membuat dia menjadi jelas atas beberapa persoalan yang membingungkan hatinya bahkan semakin membingungkan lagi, sudah tentu dia paham apa yang diminta oleh majikan patung emas itu bukanlah sebuah batu bata seperti perkataannya tadi, perkataan biar pun ini tidak lain Cuma perumpamaan saja, tetapi di dalam hati dia berpikir:

“Kalau memangnya barang yang diminta oleh majikan patung emas itu sama sekali tidak ternilai sehingga menyerupai sebuah batu bata apa lagi merupakan barang 'Sisa"' dari Wi Ci To, kenapa dia orang tidak mau memintanya dari Wi Ci To secara berterus terang ? Sebaliknya menggunakan berbagai macam tindakan untuk bersusah-payah memperolehnya ?” Karena itulah dia menanggap perkataan dari si majikan patung emas itu sama sekali tidak benar!

Dengan bersusah-payah dia memeras seluruh otaknya untuk memecahkan persoalan ini, sampai terang tanah dia tidak bisa memejamkan matanya kembali.

Pagi Itu setelah dia orang selesai sarapan pagi dengan Wi Ci To serta Cuo It Sian dikarenakan dari manusia berkerudung hitam itu masih belum ada ''Berita'" yang datang semua orang tidak ada pekerjaan untuk dilakukan. Cuo It Sian segera mengusulkan kepada Wi Ci To .

"Wi Pocu !" ujarnya, "Dari pada menganggur bagaimana kalau kita main catur di dalam kamar bacamu ?"

"Bagus sekali !" sahut Wi Ci To sambil mengangguk. "Hari itu sewaktu masih ada di rumah penginapan kita masing-masing menang satu kali, ini hari kita harus menentukan siapa yang menang siapa yang kalah !”

Demikianlah mereka berdua segera masuk ke dalam kamar baca untuk main catur.

Menanti setelah mereka pergi dalam ruangan Wi Lian In buru- buru berbisik kepada Ti Then dengan suara yang amat lirih :

"Kemarin malam aku bersama-sama dengan Pek Tha suheng mengawasinya satu malam akhirnya sama sekali tidak menemukan apa pun."

"Jikalau dia adalah manusia berkerudung hitam itu maka ini hari atau malam ini tentu akan mengadakan sesuatu gerakan, kalian awasi lagi satu malam !"

Wi-Lian In segera menguap beberapa kali, ujarnya:

"Semalaman tidak tidur sungguh lelah sekali, aku mau pergi tidur dulu!"

"Benar, kau harus beristirahat dulu, nanti biarlah aku yang melakukan pengawasan." "Jikalau kau menemukan sesuatu cepatlah datang kekamarku untuk beritahukan kepadaku."

"Tentu” sahut Ti Then mengangguk.

Setelah Wi Lian In pergi dia segera berjalan menuju ke kamar baca dari Wi Ci To pikirnya mau menonton jalannya permainan catur tersebut, tetapi baru saja berjalan sampai di bawah loteng penyimpan kitab itu mendadak terlihatlah Shia Pek Tha berjalan dari depan, dia segera- tertawa.

"Ti Kauw-tauw, bagaimana kalau kita mencari satu tempat untuk ngobrol ?"

Dalam hati Ti Then tahu dia mau membicarakan soal apa, segera dia mengangguk.

"Baiklah, mau kemana ?”

"Kekebun bunga saja, di sana agak tenang dan sepi"

Sesampainya di dalam kebun bunga mereka berdua segera duduk di dalam sebuah gardu bersegi enam, terdengar Shia Pek Tha membuka pembicaraan terlebih dahulu:

"Kemarin malam aku bersama-sama nona Wi melakukan pengintaian semalaman di depan kamar Cuo It Sian tentunya Ti Kiauw-tauw tahu bukan ?"

"Tahu!" jawab Ti Then sambil mengangguk. “Semula dia minta siauw-te yang menemani tetapi siauw-te segera merasa hal itu tidak pantas karenanya aku suruh dia pergi mencari Shia-heng "

Ar muka Shia Pek Tha segera berubah menjadi sangat murung. "Ti Kiauw-tauw!" ujarnya. "Kau mengira Cuo lt Sian itu apakah

ada kemungkinan adalah manusia berkerudung hitam itu ?"

"Jika dilihat dari jejak serta keadaannya memang dia orang sangat mencurigakan sekali, tetapi siauw-te tidak berani memastikan kalau dia oranglah manusia berkerudung hitam itu." "Tapi Cuo It Sian merupakan seorang jago tua yang namanya sangat terkenal di dalam Bu-lim, bagaimana mungkin dia mau melakukan pekerjaan seperti ini?"

“Siauw-te pun berpikir demikian. , .”

“Yang dimaksudkan berbagai bukti oleh Ti Kiauw tauw tadi sebetulnya maksudkan beberapa hal ?"

"Pertama : sifat dari Hu Pocu kau, aku semuanya mengetahui jelas, jikalau orang yang melakukan jual beli bukan kawan karibnya dia tentu tidak mau menyanggupi untuk melakukan pekerjaan yang menyalahi Pocu kita, sedangkan Cuo It Sian itu adalah kawan karib dari Hu Pocu bahkan dia orang sangat kaya sekali, cuma dia orang saja yang bisa membayar sepuluh laksa tahil perak. Kedua : Tempat untuk mengurung sauw-tauw serta nona Wi di bawah gunung bawah tanah adalah di dalam rumah tani di-desa Thay Peng Cung yang merupakan milik Cuo It Sian, walau pun hai ini bisa di artikan kemungkinan sekali manusia berkerudung itu sengaja mau mencelakai diri Cuo It Sian tetapi setelah Siauw-te pikirkan masak- masak siauw-te merasa manusia berkerudung itu tidak akan mem punyai nyali untuk bersama-sama menyalahi Benteng Pek Kiam Po serta diri Cuo It Sian.

"Ketiga: Sewaktu Pocu bersama siauw-te sekalian enam orang baru saja keluar dari istana Thian Teh Kong, Cuo It Sian sudah muncul di sana bahkan tidak lama kemudian ada orang yang memanahkan surat ancaman itu, jika ditinyau dari urutan yang terjadi . secara tiba-tiba dan bersamaan itu sesungguhnya dia bertujuan untuk membersihkan kecurigaan serta nama baiknya, dengan berdasarkan tiga hal ini siauw-te segera menaruh curiga kalau Cuo it Sian itulah simanusia berkerudung hitam itu.”

Dengan perlahan Shia Pek Tha mengangguk.

"Tetapi" ujarnya lagi memperlihatkan ragu-ragunya. "Jikalau dikatakan Cuo it Sian adalah manusia berkerudung hitam itu lalu barang apa yang sebenarnya dia kehendaki seharusnya Pocu kita mengetahuinya dengan jelas, kenapa Pocu bilang sama sekali tidak tahu ?”

“Soal ini seharusnya Shia-heng mengetahui dengan sendirinya" sahut Ti Then sambil tertawa.

oooOOOooo

Dari sepasang mata Shia Pek Tha segera memancar keluar sinar yang berkedip-kedip, dengan wajah penuh perasaan terperanyat serunya:

"Apa mungkin Pocu kita sengaja tidak mau memberitahu ??"

Ti Then cuma tertawa saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun,

"Benar!" seru Shia Pek Tha sambil mengangguk. "Di dalam loteng penyimpanan kitab dari Pocu kita ini selamanya tidak memperbolehkan orang lain untuk memasukinya aku kira di dalamnya tentu sudah di simpan semacam barang ,, . , "

Ti Then tetap tersenyum tidak mengucapkan sepatah kata pun,

Mendadak Shia Pek Tha angkat kepalanya memandang tajam ke atas wajahnya.

"Aku dengar katanya Pocu pernah membawa Ti Kiauw-tauw serta nona Wi memasuki loteng penyimpan kitab tersebut?” tanyanya dengan suara perlahan.

"Benar”

"Dapatkah Ti Kiauw-tauw menceritakan keadaan di dalam loteng penyimpan kitab itu?”

“Boleh, tetapi Pocu merasa kurang senang kalau orang lain mengetahui rahasianya, jikalau Shia-heng sudah mengetahui akan hal ini lebih baik yangan secara sembarangan memberitahukan kepada orang lain,"

"Tentang hal ini sudah tentu, harap kiauwtauw berlega hati." seru Shia Pek Tha dengan cepat. “Di dalam loteng penyimpan kitab dari Wi Pocu yang penting sebenarnya tersimpan suatu kisah cinta…”

Segera dia menceritakan bagaimana pada waktu dahulu Wi Ci To sudah kawin dengan seorang perempuan yang bernama "Su Sia Mey" yang bermain bersama-sama sejak kecil lalu bagaimana meninggalkan rumah mencari guru silat kenamaan karena rindu Su Sin May jatuh sakit dan meninggal dunia sehingga hal ini membuat hatinya terasa amat sedih sekali, karena rindunya lantas dia membuat sebuah lukisan dari wajah Su Sin May dan disembunyikan di dalam loteng penyimpan kitab itu . .

Sudah tentu cerita dari Wi Ci To ini adalah sebuah cerita bohong sesuai dengan pemberitahuan dari majikan patung emas itu tetapi saat Ini dia terpaksa harus menceritakan "Cerita bohong” ini kepada Shia Pek Tha.

Setelah selesai mendengar kisah itu dengan perasaan amat terperanyat Shia Pek Tha berseru :

"Tidak kusangka sama sekali Wi Pocu bisa mem punyai suatu kisah cinta yang mengharukan, tetapi barang yang dikehendaki oleh manusia berkerudung hitam itu tentunya bukan lukisan dari Su Sin May itu-bukan?”

"Menurut dugaan siauw-te pasti bukan''sahut Ti Then sambil mengangguk. "Karena kisah cinta itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain"

“Kalau begitu . . . “ seru Shia Pek Tha Sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat. “Kemungkinan sekali Pocu kita masih mem punyai rahasia lain yang belum diutarakan keluar”

"Pocu kita adalah ssorang jagoan Bu lim yang sangat mengagumkan dan patut kita hormati, maksudnya siauw-te kira tidak seharusuja kita orang pergi menyelidiki rahasianya."

"Sudah tentu, sudah tentu” sahut Shia Pek Tha sambil mengangguk. "Tetapi yang membuat aku orang merasa sangat heran sekali adalah : Baik dia orang tua mau pun lelaki berkerudung hitam itu kenapa tidak ada yang mau menyebutkan nama mau pun macam dari barang tersebut ?"

"Soal ini siauw-te sendiri pun tidak jelas”

Dengan perlahan Shia Pek Tha angkat kepalanya memperhatikan wajahnya, lantas tanyanya dengan perlahan.

"Ti Kiauw-tauw! Kau rasa dapatkah Pocu kita menyerahkan barang yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu untuk ditukar dengan nyawa Ih, Kha serta Pauw tiga orang ?"

"Siauw-te tidak tahu."

“Aku rasa dia orang tidak mungkin dapat duduk tidak bergerak melihat Ih, Kha serta Pauw tiga orang dibunuh orang lain” ujar Shia Pek Tha lagi sambil menghela napas panjang.

"Sebelum manusia berkerudung hitam itu datang kemari untuk mengirim berita mengenai waktu serta tempat untuk saling tukar barang lebih baik untuk sementara waktu kita anggap saja menusia berkerudung hitam itu adalah Cuo It Sian, secara diam-diam kita meneruskan pengawasannya terhadap semua gerak gerik dia orang. Bagaimana pendapat dari Shia-heng ?"

"Sampai saat ini terpaksa kita harus berbuat demikian" sahut Shia Pek Tha sambil mengangguk.

Sampai di situ Ti Then segera bangkit berdiri.

"Sekarang mereka sedang bermain catur di dalam kamar baca, siauw-te pikir mau pergi ke sana untuk melihat-lihat. Lain hari kita berbicara lagi!" Serunya kemudian.

Mereka berdua segera berjalan keluar dari kebun bunga. Shia Pek Tha melanjutkan perjalanannya menuju kehalaman luar sedangkan Ti Then berjalan menuju ke pintu luar dari kamar baca Wi Ci To, melihat pintu tersebut tertutup rapat dia orang lantas maju ke depan untuk mengetuk pintu.

"Siapa?" Terdengar suara dari Wi Ci To berkumandang keluar dari dalam kamar baca. "Boanpwe !'

"Oooo . - silahkan masuk"

Ti Then segera mendorong pintu dan berjalan masuk ke dalam, terlihatlah Wi Ci To serta Cuo It Sian ternyata benar-benar sedang saling berhadap-hadapan main catur, cepat-cepat dia rangkap tangannya menjura.

“Boanpwe dengan besar nyali datang menonton jalannya permainan catur ini tentunya tidak mengganggu kalian berdua bukan ?"

"Tidak.. . tidak" sahut Wi Ci To cepat sambil tertawa.

Ti Then lantas mengambil sebuah bangku dan duduk di samping mereka, terlihatlah di atas papan catur kelihatan tinggal beberapa biji catur saja, tak tertahan lagi tanyanya.

"Sudah main satu babak ?" "Belum, baru babak pertama."

"Ouww . . . sungguh perlahan . sekali “ ujar Ti Then sambil tertawa.

"Kenapa tidak?” Timbrung Cuo It Sian itu si pembesar kota sambil tertawa pula, "Biasanya Pocu kalian selalu bermain gesit dan cepat siapa sangka permainan babak ini ternyata sangat lambat sekali”

"Penjagaan dari Cuo-heng semakin lama semakin dahsyat dan semakin membingungkan aku orang she Wi jikalau tidak ingin babak ini menemui kekalahan sudah seharusnya bermain dengan sangat berhati-hati sekali."

Mendengar perkataan dari Wi Ci To ini Cuo It Sian segera tertawa terbahak-bahak.

"Lebih baik Pocu cepat mengambil keputusan, jikalau berpikir terlalu lama sering sekali permainan ini akan menjadi permainan catur yang busuk” Lama sekali Wi Ci To memperhatikan papan catur serta biji caturnya, setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya dia baru meletakkan satu biji caturnya ke atas papan catur kemudian dia menoleh ke arah Ti Then,

“Tadi Lohu mengalah dua biji catur kepadanya, kelihatannya memang benar-benar sangat berat sekali. .” ujarnya sambil tertawa.

Ti Then cuma tersenyum-senyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sekali lagi Wi Ci To tertawa.

"Sewaktu bermain catur di dalani rumah penginapan itu kita masing-masing menang satu kali, permainan kali ini merupakan permainan untuk menemukan siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah karenanya lohu harus mamenangkannya "

Mendadak Cuo It Sian memajukan satu biji caturnya ke depan, dia tenawa tergelak dengan amat kerasnya.

"Sekarang adalah Lohu yang menguasai kalangan, jika ingin menang seharusnya mengeluarkan satu jurus jalan aneh!" ujarnya keras.

"Ehmmm…memang harus dicarikan sebuah jalan yang aneh sekali."

"Kalau begitu bunuh saja " Timbrung Ti Then tiba-tiba. Air muka Wi Ci To berubah menjadi amat keren sekali.

"Tidak, waktunya belum tiba” Serunya perlahan. "Sekarang terpaksa kita harus mengikuti permainannya dengan jalan saling buntut membuntuti, menanti ada kesempatan yang baik kita baru kasih satu serangan total yang membuat dia orang gelagapan tidak karuan." 

Sembari berkata dia memajukan biji caturnya kembali.

Cuo It Sian segera mengambil satu biji caturnya ditaruhkan ke atas papan, ujarnya sambil tersenyum-senyum mengejek: “Jikalau Pocu ingin bermain uber-uberan dengan Lolap terpaksa Lolap harus melakonkan suatu pertempuran cepat-cepatan dengan diri Pocu !”

“Coba kau lihat!” seru Wi Ci To kemudian sambil menoleh kearah diri Ti Then. '"Dia orang meminyam kesempatan sewaktu aku mengalah berulang kali kepadanya dia mau menggunakan permainan paksaan, sungguh menjengkelkan sekali!"

Ti Then yang selama ini mendengarkan pembicaraan mereka segera merasakan kalau ucapan mereka tidak mengenai permainan catur saja melainkan menyangkut suatu kata-kata rahasia yang menyangkut suatu peristiwa besar, tidak terasa lagi hatinya berdebar-debar dengan amat kerasnya, dalam hati pikirnya.

"Apa mungkin si pembesar kota ini benar-benar adalah manusia berkerudung hitam itu ? Tetapi jika dilihat dari sikapnya yang amat tenang sekali laksana batu karang kemungkinan sekali memang betul dia orang adanya. Hmm! sungguh besar ju ga nyalinya dia orang ternyata berani saling berhadap-hadapan dengan Pek Kiam Pocu Wi Ci To yang namanya sudah meggetarkan sungai telaga”

Berpikir sampai di sini tidak terasa dia melirik sakejap kearah diri Cuo It Sian.

“Bagaimana? apakah kau juga minta lolap bertindak terlalu ganas, terlalu kejam?” ujar Cuo It Sian sambil tertawa sewaktu melihat dia orang melirik kearah dirinya.

"Tidak berani !" ujar Ti Then dengan cepat. ''Dalam hati boanpwae sedang berpikir : jikalau Pocu tidak mengalah aku kira kau orang tua tidak bisa bermain dengan demikian enaknya."

Cuo It Sian segera tertawa terbahak-bahak, “Sudah tentu. .

.sudah tentu ! permainan catur dari Pocu kalian jadi lebih tinggi dari kepandaian Loiap, jikalau dia orang tidak mau mengalah bagaimana Lolap berani diam-diam dengan dia orang!”

Ti Then cuma tertawa saja tidak memberikan jawabannya, sekali lagi dia orang berpikir: "Benar jikalau perkataan ini dimaksudkan dia orang sudah menguasai Ih, Kha serta Pauw tiga orang, Wi Ci To memang benar- benar tidak leluasa untuk turun tangan"

Terdengar Cuo It Sian sudah melanjutkan lagi kata-katanya : “Permainan ini mirip sekali dengan tindakan yang dipakai oleh

manusia berkerudung hitam itu, kepandandaian silatnya tidak bisa memadahi kepandaian silat dari Pocu kalian sehingga dia harus berusaha menggunakan akan menawan Ih, Kha serta Pauw tiga orang terlebih dulu kemudian baru memaksa Pocu kalian. Lolap percaya beritanya sudah hamper tiba di sini !"

"Perumpamaan ini memang paling sesuai !" ujar Wi Ci To sambil tertawa keras.

"Benar !" sambung Ti Then sambil tertawa juga. "Cuo Locianpwe berbicara demikian seperti juga kau adalah manusia berkerudung hitam itu “

"Bilamana Lolap adalah manusia berkerudung hitam itu maka urusan bisa kita selesaikan dengan mudah” ujar Cuo It Sian tiba-tiba sambil tertawa.

"Bagaimana perkataanmu ini bisa kau ucapkan?” Tanya Ti Then keheranan

“Kalian boleh turun tangan menawan Lolap lalu memaksa Lolap untuk melepaskan orang yang sudah ditawan."

"Perkataan itu ini sedikitpun tidak salah cuma sayang Locianpwe bukanlah manusia berkerudung hitam itu"

Walaupun pada mulutnya ia berbicara demikian padahal di dalam hati diam-diam pikirnya:

“Benar! sedikit pun tidak salah! jikalau dia benar-benar adalah manusia berkerudung itu kenapa Wi Ci To tidak mau melakukan hal ini?

Kini Wi Ci To tidak mau berbuat demikian berarti juga kalau dia bukanlah manusia berkerudung hitam itu, ataukah dia mem punyai kesulitan sehingga tidak bisa turun tangan membuat dia ragu-ragu dan takut untuk turun tangan?"

Di tengah tertawa serta ngobrolan yang ramai kedua orang tua itu melanjutkan permainan catur mereka, Wi Ci To tetap bermain dengan amat lambat sekali, entah dia betul-betul sedang berpikir keras atau sengaja mengulur waktu?

Sampai siang hari sudah lewat permainan catur babak pertama baru selesai, dan hasilnya adalah seri.

Wi Ci To segera tertawa terbahak-bahak :

"Haaaaa, . .. .haaaaa. .. .haaa . , . seri memang paling bagus ! damai jauh lebih baik”

“Tetapi lolap tidak ingin damai atau seri, nanti sore sekali lagi kita adu kepandaian!” Seru Cuo It Sian sambil tertawa.

Sorenya mereka kembali melanjutkan kembali permainan catur mereka di dalam kamar baca, Ti Then pun tetap menonton jalannya pertandingan itu dari samping.

Permainan catur kali ini Wi Ci To main semakin lambat lagi, menanti setelah hari menunjukkan tengah malam permainan tersebut baru sampai di tengah jalan agaknya perhatian Wi Ci To tidak terletak pada permainan catur tersebut, dengan tak hentinya dia bergumam terus :

“Aneh, kenapa masih belum datang juga?”

"Kemungkinan sekali mereka sedang mengadakan persiapan, setelah persiapan mereka selesai sudah tentu akan datang ber tanya." sahut Cuo It Sian tetap tenang.

"Mari kita pergi bersantap dulu !" ujat Wi Ci To kemudian sambil bangkit berdiri.

"Tetapi permainan catur kita belum selesai !" Jawab Cuo It Sian sambil memandang kearah papan catur tersebut.

“Kita lanjutkan sesudah bersantap," Mereka bertiga segera pergi menuju ke ruangan makan, mendadak tanya Wi Ci To:

"Ti Kiauw-tauw, selama satu harian ini kenapa In-ji tidak ada?

Dia pergi kemana?”

Baru saja ucapannya selesai terdengarlah suara dari Wi Lian In berkumandang datang dari tempat luaran.

"Tia ! aku sudah datang !” teriaknya.

Disusul dengan munculnya seorang gadis ke dalam ruangan makan tersebut.

"In-ji, hari ini kau pergi kemana ?" Tanya Wi Ci To.

"Aku tidak pergi kemana pun, seharian ini aku beristirahat di dalam kamar”

“Kau sudah tidur satu harian penuh ?"

“Benar” Sahut Wi Lian In dengan malu-malu. "Pada waktu-waktu yang lalu aku tidak pernah tidur dengan nyenyak, karenanya ini hari aku tidur sepuas mungkin."

"Haaaoayaaa .... kau budak semakin lama semakin malas . . . "

Berbicara sampai di situ dia segera mempersilahkan Cuo it Sian untuk ambil duduk.

Sewaktu mereka berempat sedang bersantap mendadak terdengar Wi Lian In membuka mulut bertanya.

"Tia, apakah sudah ada berita dari manusia berkerudung hitam itu ?"

"Belum !" jawab Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. "Entah di dalam cupu cu punya dia orang sedang menjual obat apa!”

"Sungguh aneh sekali !” ujar Wi Lian In keheranan. "Dia meminta kita orang kembali ke benteng untuk menunggu beritanya, kini kita sudah dua hari kembali ke dalam Banteng tetapi belum juga mendapat berita dari dirinya, , , “ "Kecuali dia orang sudah tidak menginginkan barang dari Wi Pocu, kalau tidak cepat atau lambat dia pasti akan kirim berita buat kita" Sahut Cuo It Sian dengan cepat.

Dengan perlahan Wi Lian In menoleh ke arah Ayahnya, lantas tanyanya.

"Apakah Tia rela menyerahkan barang itu untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang ?"

''Sampai saat ini lohu masih belum mengambil keputusan" jawab Wi Ci To setelah termenung berpikir sebentar. "Karena lohu masih tidak tahu barang apa yang dia orang minta”

Wi Lian ln tidak bertanya lagi, dengan berdiam diri dia melanjutkan santapannya.

“Ti Kiauw-tauw, nanti lohu minta tolong kau orang mau memeriksa keadaan di sekeliling tempat ini, serangan terang- terangan bisa dicegah, serangan bokongan sukar diduga, kita harus berhati-hati menghadapi mereka."

“Baiklah”

“Ayoh jalan !" ujarnya kemudian kepada Cuo It Sian." Kita melanjutkan permainan catur yang belum selesai tadi !"

Setelah kedua orang itu meninggalkan ruangan makan Wi Lian In segera bertanya kepada Ti Then dengan suara yang amat lirih :

“Apa kau orang sudah menemukan sesuatu yang mencurigakan

?"

“Tidak."

“Kalau begitu kemungkinan sekali dia bukanlah manusia

berkerudung hitam itu?"

“Kita tidak bisa berkata begitu, aku kira lebih baik kita meneruskan pengawasan kita secara diam-diam !"

"Selama seharian ini apakah dia orang terus menerus bermain catur dengan Tia di dalam kamar baca ?" tanya Wi Lian In lagi. "Benar “ sahut Ti Then sambil mengangguk. "Aku masih ingat perkataanmu tempo hari, bukankah permainan ayahmu amat cepat sekali ?"

"Tidak salah, permainan catur ayahku itu memang amat cepat, selamanya dia orang paling merasa tidak sabaran untuk berpikir keras."

"Tetapi permainannya hari ini dengan Cuo It Sian ternyata sama sekali berbeda dengan keadaan biasanya, permainannya kali ini sangat lambat sekali."

"Kemungkinan sekali Tia terlalu kuatir atas keselamatan dari Ih, Kha serta Pauw tiga orang sehingga sama sekali tidak mem punyai minat untuk bermain catur ?"

"Jikalau dia orang tidak mem punyai minat untuk bermain catur seharusnya bermain lebih cepat lagi" Sela Ti Then perlahan.

“Kalau tidak, lalu apa artinya ?” Tanya Wi Lian In keheranan. "Aku merasa agaknya di dalam benak ayahmu sedang

memikirkan sesuatu urusan untuk cepat-cepat mengambil keputusan, dia orang bukannya sungguh-sungguh sedang bermain catur melainkan sedang memikirkan satu urusan yang lebih penting,"

"Perkataanku tadi kan tidak salah, pasti sedang memikirkan cara- cara untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang dari belenggu manusia berkerudung hitam tersebut"

"Kini berita dari manusia berkerudung belum tiba, apanya yang bisa dipikirkan?" Ujar Ti Then sambil mengerutkan alisnya rapat- rapat. "Makanya aku pikir tentunya ayahmu bukan sedang memikirkan persoalan untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang, melainkan sedang berpikir perlukah dia orang pergi menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang atau tidak,”

“Tentunya urusan ini ayahmu tentu akan menceritakan suatu cara untuk menolong mereka !" "Belum tentu" ujar Ti Then sambil tertawa. "Di dalam pikiran kita nyawa Ih, serta Pauw tiga orang sangat penting sekali tetapi kemungkinan juga barang dari ayahmu itu jauh lebih penting dari nyawa Ih, Kha serta Pauw tiga orang!"

Wi Lian In termenung tidak berbicara. "Sekarang kau pergilah ke kamar baca untuk melihat mereka bermain catur sedang aku mau periksa sebentar sekeliling tempat ini."

Selesai berkata dia berjalan keluar dari ruangan makan itu.

Dia melalui pintu Benteng berjalan keluar lantai dengan mengikuti tembok benteng melakukan perondaan disekeliling tempat itu.

Setelah semuanya diperiksa dengan amat teliti dia baru kembali ke dalam Benteng dengan mengambil jalan dari pintu Benteng yang semula.

Baru saja dia orang memasuki benteng, mendadak tampak Wi Lian In berlari mendatang, tak terasa lagi dengan perasaan heran tanyanya : "Eeeeei . . . kenapa kau pun ikut keluar?”

"Tia tidak memperbolehkan aku ikut menonton” seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Kenapa?” Tanya Ti Then keheranan.

“Dia meminta aku pergi memeriksa di sekeliling tempat ini untuk berjaga-jaga jangan sampai ada musuh yang menyusup ke dalam Benteng .... coba kau piker kita memangnya sedang menanti kedatangan dari pihak musuh kenapa sekarang diharuskan berjaga- jaga jangan sampai ada musuh yang menyusup kembali ?”

“Benar” sahut Ti Then sambil mengangguk. “Apalagi semua pendekar pedang kita sudah bersiap siaga di dalam Benteng, sebetulnya tidak perlu ditambah kau seorang lagi…apakah mungkin hal ini dikarenakan pelbagai sebab lantas ayahmu sengaja menyuruh kau orang keluar?”

"Aku pun berpikir demikian !” Ti Then termenung berpikir sebentar, mendadak teriaknya. “Aaaaah…mungkin…mungkin..biar aku pergi lihat !”

Sehabis berkata dengan langkah yang amat cepatnya dia berlari masuk ke dalam Benteng.

Di dalam sekejap saja dia sudah tiba di depan kamar baca itu, tampak keadaan di dalam kamar itu terang benderang agaknya masih ada penghuninya di dalam kamar itu, segera dia orang maju ke depan untuk mengetuk pintu.

Tetapi sekali pun dia sudah mengetuk pintu berulang kali dari kamar itu tetap tidak terdengar suara dari Wi Ci To yang sedang bertanya.

Dalam hati diam-diam dia terasa tergetar amat keras, dengan cepat teriaknya.

“Pocu! Pocu ! Bolehkah boanpwe masuk ke dalam?”

Suasana di dalam kamar itu tetap sunyi senyap tidak terdengar sedikit suara pun.

Dia segera tahu urusan tentunya terjadi suatu perubahan, dengan cepat tangannya mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam.

Terlihatlah di tengah kamar baca itu masih tergeletak papan catur serta biji caturnya, sebaliknya bayangan dari Wi Ci To mau pun Cuo It Sian sudah tidak nampak lagi.

“Iiih…mereka pergi kemana?”

Dengan cepat dia berlari masuk ke dalam kamar dan melakukan pemeriksaan dengan teliti, terlihatlah keadaan di dalam kamar baca itu sama sekali tidak tampak kacau balau, dalam hati dia merasa semakin terperanyat lagi.

Dengan kecepatan dia balik badan berlari keluar dari kamar baca dan bertanya kepada dua orang pendekar pedang hitam yang sedang berjaga di depan loteng penyimpan kitab itu. "Apakah kalian melihat Poca beserta Cuo Locianpwe meninggalkan kamar baca itu ?"

"Tidak !" Sahut kedua orang pendekar pedang hitam itu bersama-sama, "Sejak Pocu serta Cuo Locianpwe masuk ke dalam kamar sampai kini mereka belum pernah keluar."

Ti Then segera menduga kemungkinan sekali Wi Ci To serta Cuo It Sian sudah keluar melalui jendela di belakang kamar baca itu, dengan cepat tubuhnya meloncat kembali ke dalam kamar baca tersebut.

Terlihatlah di dalam kamar baca itu semuanya ada dua buah jendela sedang kedua buah jendela itu sampai kini masih tertutup rapat-rapat, dia segera maju ke depan untuk mendorongnya tetapi walau pun sudah didorong dengan sekuat tenaga tetap tidak terbuka juga membuat hatinya bertambah cemas lagi. Pikirnya:

“Sungguh aueh sekali, jikalau mereka keluar melalui jendela itu sudah seharusnya jendela ini tidak dapat ditutup kembali dari dalam kamar, sedangkan kedua orang pendekar pedang hitam yang menyaga di depan Loteng penyimpan kitab itu pun bilang tidak melihat mereka berdua keluar dari dalam kamar lalu apakah mereka sudah berhasil meyakinkan ilmu meienyapkan diri ? Ehemmm…benar! tentunya mereka keluar dari atap rumah, biar aku naik ke atas untuk memeriksanya !"

Berpikir sampai di situ tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas atap rumah, terlihatlah atap-atap rumah itu sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda yang pernah dibuka orang, jelas sekali Wi Ci To serta Cuo It Sian tidak mungkin keluar dengan melalui tempat tersebut.

Jalan keluar dari kamar baca itu kecuali pintu kamar cuma ada dua jendela atau atap rumah, sekarang atap itu pun kelihatan tidak mungkin bisa dilalui sedangkan mereka berdua pun tidak keluar melalui pintu kamar, lalu bagaimana mereka bisa lenyap ?

Bagaimana dua orang manusia hidup bisa lenyap secara tiba-tiba dari dalam kamar tersebut ? Apa mungkin mereka sudah berhasil meyakinkan ilmu untuk melenyap diri ?

Tidak ! tidak mungkin terjadi urusan ini !

Dia orang segera merasakan urusan ini amat gawat sekali, dengan cepat tubuhnya meloncat turun ke bawah kemudian berteriak dengan kerasnya kearah kedua orang pendekar pedang hitam, yang berjaga di luar loteng penyimpan kitab itu:

"Cepat panggil nona serta pendekar merah untuk berkumpul di sini, Pocu seru Cuo Locianpwe sudah lenyap”

Kedua orang pendekar pedang hitam itu tetap berdiri tegak, dari wajahnya jelas memperlihatkan sikap yang serba salah.

"Lapor kepada Ti-Kiauw-tauw !" ujar mereka berdua secara berbareng. "Sebelum cayhe memperoleh perintah dari Pocu tidak berani melalaikan tugas kami."

Ti Then sedikit mengerutkan alisnya ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dan berlari menuju ke halaman depan, teriaknya dengan keras :

"Heeeei     Lian ln ! saudara-saudar sekalian kemarilah semua . ,

. . Pocu serta Cuo Locianpwe sudah lenyap tak berbekas”

Baru saja dia selesai berteriak segera terlihatlah Wi Lian In beserta lima, enam orang pendekar pedang merah pada berlari mendekat, tanyanya dengan amal terperanyat :

"Ada apa ?"

"Pocu serta Cuo Locianpwe telah, lenyap!”

Baik Wi Lian In mau pun keenam orang pendekar pedang merah itu segera menjerit kaget, air muka mereka berubah sangat hebat sekali.

"Bagaimana lenyapnya ?”

"Semula mereka masih ada di dalam kamar bermain catur, tetapi tadi sewaktu siauw-te mau masuk ke kamar baca itu ternyata sudah menemukan mereka tidak ada di dalam kamarnya bahkan kedua orang saudara yang berjaga di depan loteng penyimpan kitab itu pun bilang mereka tidak melihat kedua orang tua itu berjalan keluar”

"Apa mungkin mereka keluar melalui jendela ?" tanya. Shia Pek Tha dengan sangat terperanyat.

“Tidak, baik kedua buah jendela mau pun atap kamar itu semuanya tertutup amat rapat, siauw-te sudah memeriksanya dengan teliti…mereka tidak mungkin melalui tempat tersebut.”

“Bagaimana bisa terjadi urusan ini?” seru Shia Pek Tha kembali dengan amat terperanyat.

“Mari kalian ikut aku pergi memeriksa!” tiba-tiba Wi Lian In berteriak keras.

Di tengah suara teriakannya itulah dia sudah berkelebat menuju ke depan.

Semua orang segera mengikutinya dari belakang dan bersama- sama berlari menuju ke depan kamar baca, setelah mengadakan pemeriksaan dengan amat teliti akhirnya terbukti jendela itu sama sekali tidak terbuka sedangkan atap itu pun tidak memperlihatkan tanda-tanda pernah dibuka oleh orang lain.

Shia Pek Tha segera berlari keluar dan bertanya kepada kedua orang pendekar pedang hitam yang sedang berjaga di depan loteng penyimpan kitab itu.

“Kalian benar-benar tidak melihat Pocu serta Cuo Locianpwe keluar dari dalam kamar?”

"Benar!" sahut kedua orang itu secara berbareng. “Cayhe sekali pun melihatnya dengan amat jelas sekali Pocu serta Cuo Locianpwe memang benar-benar tidak pernah keluar dari dalam kamar”

“Hal ini sungguh aneh sekali!” sela Ki Tong Hong salah satu dari pendekar pedang merah itu dengan keras. “Mereka tidak pernah keluar dari pintu, juga tidak keluar dari jendela mau pun dari atas atap rumah tetapi bagaimana tidak pernah kelihatan manusianya?”

Sekali lagi semua orang berlari masuk ke dalam kamar baca itu dan mengadakan pemeriksaan yang amat teliti sekali terhadap seluruh isi kamar tersebut.

Mendadak dari atas meja buku Ki Tong Hong mengambil keluar secarik kertas putih sambil teriaknya keras :

"Coba lihat, Pocu sudah meninggalkan sepucuk surat!”

"Ditujukan buat Ti Kiauw-tauw beserta semua pendekar pedang merah yang ada di dalam Benteng”

“Lohu baru saja memperoleh sepucuk surat dari manusia berkerudung hitam yang mengajak lohu pergi kesuatu tempat untuk membicarakan persoalan ini. Lohu segera mengajak Cuo-heng melakukan perjalananan cepat untuk memenuhi janyi itu. Kalian semua harus tetap tinggal di dalam Benteng dan melakukan penjagaan yang lebih ketat lagi. Jangan sekali-kali ada yang meninggalkan benteng sehingga bisa digunakan kesempatan itu bagi pihak musuh. Sekian”

Semua orang yang pada mengerubung untuk membaca surat itu segera pada berubah wajahnya, air muka mereka penuh diliputi oleh perasaan terkejut bercampur heran.

Karena sekali pun mereka sudah membaca surat yang ditinggalkan oleh Pocu mereka dan mengetahui kalau Pocu mereka bersama-sama dengan Cuo It Sian sudah pergi memenuhi janyi dengan manusia berkerudung hitam itu tetapi mereka semua masih tidak paham dengan cara apa mereka bisa meninggalkan kamar baca itu?

Masih ada lagi, surat yang dikirim oleh manusia berkerudung hitam itu dengan cara bagaimana bisa dihantar masuk ke dalam Benteng?

Sejak Wi Ci To berenam kembali ke dalam Benteng, oleh karena mengetahui kalau dari pihak manusia berkerudung hitam itu bakal ada berita yang hendak dikirim datang maka penjagaan di dalam Benteng itu sudah diperkuat berkali-kali lipat sehingga mereka semua percaya jikalau benar-benar ada orang luar yang mau masuk ke dalam Benteng pasti tidak akan lolos dari pengawasan para pendekar pedang yang melakukan penjagaan di sekitar Benteng itu.

Sebaliknya kini ternyata manusia berkerudung hitam itu bisa lolos dari pengawasan para pendekar pedang dan mengirim surat tersebut ke dalam Benteng bahkan Pocu mereka serta Cuo It Sian pun secara tiba-tiba dan amat misterius sekali bisa meninggalkan Benteng Pek Kiam Po tanpa diketahui, bukankah hal ini merupakan suatu urusan yang berada diluar dugaan mereka?

Karenanya untuk beberapa saat lamanya mereka cuma bisa saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya Wi Lian In lah yang memecahkan kesunyian itu terlebih dahulu, setelah ragu-ragu sebentar akhirnya dia berkata:

“Aku tahu secara bagaimana Tia serta Cuo Locianpwe bisa meninggalkan kamar baca itu!”

Mendengar perrkataan tersebut tidak terasa lagi semangat semua orang berkobar kembali.

“Mereka dengan cara apa meninggalkan tempat ini?” Tanya mereka berbareng.

Dengan perlahan Wi Lian In melirik sekejap kearah sebuah lemari pakaian yang ada di dalam kamar itu, lantas ujarnya:

“Di dalam kamar baca ayahku ada sebuah jalan rahasia di bawah tanah yang bisa berhubungan dengan sebuah gua di atas tebing Sian Ciang..”

“Ooh..kiranya begitu!” seru semua orang dengan amat terperanyat. “kalau begitu Pocu beserta Cuo Locianpwe tentunya berjalan keluar melalui jalan rahasia ini.”

“Dimana mulut jalan rahasia itu?” tanya Shia Pek Tha kemudian. “Di dalam lemari tersebut” sahut Wi Lian In sambil menuding kearah lemari yang ada di dalam kamar itu.

Dengan wajah yang amat terkejut bercampur heran Tanya Ki Tong Hong kembali sambil memandang kearah lemari tersebut:

"Kenapa kami semua tidak tahu kalau ditempat ini ada sebuah jalan rahasia?”

“Ada satu kali” ujar Wi Lian In menerangkan. “Sewaktu Tia menemukan kalau satu gua di atas tebing Sian Ciang itu menghubungkan tempat tersebut dengan tanah di bawah Benteng kita lantas secara diam-diam dia orang tua sudah menghubungkan tempat ini dengan jalan rahasia ini yang siap-siap digunakan untuk mengundurkan diri jikalau ada sesuatu kejadian yang berada di luar dugaan”

Dia berhenti sebentar, lalu sambungnya lagi:

“Karena Tia takut saudara-saudara secara tidak berhati-hati sudah membocorkan urusan ini keluar maka itu dia orang tua tidak sampai memberitahukan urusan kepada kalian semua.”

“Tetapi kenapa Pocu harus keluar dengan melalui pintu rahasia ini?” tanya Shia Pek Tha.

“Mungkin dia tidak ingin kita semua mengikuti dirinya.”

“Bilamana Pocu tidak memperbolehkan kita ikut asalkan dia orang tua kasih perintah siapa orang yang berani melanggar perintah dari Pocu?”

“Aku berani melanggar!” ujar Wi Lian In sambil tertawa.

“Tidak salah!” seru Shia Pek Tha sambil tertawa serak. “Tentunya Pocu takut kau secara diam-diam mengikuti dirinya karena itu secara sembunyi-sembunyi dia orang sudah berlalu dari dalam jalan rahasia ini”

"Tetapi kalau memangnya Pocu tidak ingin jalan rahasia ini diketahui oleh kita semua kenapa justru membiarkan Cuo Locianpwe mengetabuinya?" Tanya Ki Tong Hong mengemukakan rasa heran di dalam hatinya. "Walau pun Cuo Lo-Cianpwe merupakan seorang pendekar yang mem punyai nama besar tetapi bagaimana pun juga dia adalah orang luar!”

“Soal ini aku juga tidak paham. . . "Sahut Wi Lian In perlahan. "Masih ada lagi, kenapa Pocu tidak membolehkan kita semua ikut

pergi?

Bukankah semakin banyak orang yang pergi harapan untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang bertambah besar?”

“Kemungkinan sekali hal ini merupakah salah satu syarat yang diajukan manusia berkerudung itu, mungkin dia cuma mengijinkan PoCu serta Cuo Lo-Cianpwe dua orang saja yang pergi memenuhi janyi”

Dengan perlahan dia menoleh kearah Ti Then, lalu tanyanya: “Ti Kiauwtauw, kau bagaimana?”

“Mungkin memang demikian adanya” sahut Ti Then sambil tertawa.

Sekarang di dalam hatinya semakin merasa kalau Cuo It Sian ada delapan bagian merupakan manusia berkerudung hitam itu, cuma saja dikarenakan urusan ini menyangkut suatu rahasia dari Wi Ci To yang tidak bisa diberitahukan kepada orang lain maka dia tidak ingin mengatakan kecurigaan di dalam hatinya.

“Tapi tulisan yang ditinggalkan oleh Pocu sudah tertulis amat jelas supaya kita semua menyaga Benteng lebih ketat lagi dan tidak diperkenankan meninggalkan tempat ini”

“Untung saja yang kau maksudkan sebagai kita tidak termasuk aku di dalamnya” sahut Wi Lian In sambil tertawa.

Ti Then menjadi melengak. “Bagaimana tidak termasuk kau?” “Bukankah tulisan yang ada di dalam surua itu menulis kalau surat tersebut ditujukan buat Ti Kiauw-tauw beserta seluruh pendekar pedang merah yang ada di dalam Benteng?”

"Tapi kau pun salah satu dari pendekar pedang merah!" Seru Ti Then sambil tertawa.

“Tidak!” bantah Wi Lian In sambil gelengkan kepalanya. “Tia menganggap aku sebagai putrinya. Selama ini dia tidak pernah menganggap aku sebagai salah satu pendekar pedang merah dari Benteng kita.”

“Jadi maksudmu kau ingin pergi mengejar?” “Benar!” sahut Wi Lian In mengangguk.

"Baru saja kau bilang sendiri kemungkinan sekali saat ini Pocu serta Cuo Locianpwe sudah meninggalkan jalan rahasia itu dan tidak mungkin bisa kecandak, buat apa kau pergi mengejar?”

“Aku punya cara untuk mengejar Tia!” “Cara apa?” tanya Ti Then heran. “Sebentar lagi tentu kau orang akan tahu!”

Selesai berkata dia segera berlalu dari dalam kamar baca itu.

Shia Pek Tha yang melihat tindak tanduknya itu segera mengerutkan alisnys.

"Dia tentu akan membawa anying sakti untuk mengejar jejak Pocu, tetapi… bagaimana kita memperbolehkan dirinya meninggalkan, benteng seorang diri?”

“Apa itu anying sakti?” tanya Ti Then lagi.

“Benteng kita mem punyai seekor anying srigala yang bisa mengejar seorang, asalkan bisa mengambil barang dari Pocu kau membiarkan dia menciumnya maka dia bisa mengejar diri Pocu tidak perduli dia orang kemana pun.”

“Kiranya demikian, kalau begitu sangat bagus sekali!” “Tidak, kita tidak boleh membiarkan dia pergi seorang diri!”

“Aku kira siapa pun tidak bisa menahan maksudnya ini” ujar Ti Then sambil tertawa.

“Lalu apakah Ti Kiauwtauw mau pergi bersama-sama dirinya?” “Tidak bisa jadi” seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya. “Pocu

sudah memberi perintah agar siauwte tetap tinggal di dalam Benteng, bilamana siauwte pergi dan di dalam Benteng terjadi sesuatu urusan, bukankah siauwte akan kesalahan?”

“Bilamana musuh bisa menyerang kita, dsngan kekuatan dua puluh orang mungkin masih bisa memberikan perlawanan, tentunya hal ini harap Ti Kiauw-tauw berlega hati" ujar Shia Pek Tha dengan cepat.

“Tidak salah” Nyeletuk Ki Tong Hong. “Apalagi tidak perduli sudah terjadi urusan apa pun di dalam Benteng kita agaknya jauh lebih penting untuk melindungi keselamatan dari nona Wi !”

"Tetapi siauw-te sendiri tidak bisa melanggar perintah dari Po-Cu

?" seru Ti Then Coba mempertahankan diri.

“Ti Kiauw-tauw bisa menjelaskan kepada Pocu, karena hendak melindungi kesalamatan dari nona Wi terpaksa kau orang harus meninggalkan benteng”

Melihat mereka berdua terus mendesak dirinya terpaksa Ti Then mengangkat bahunya.

“Biarlah nanti siauwte coba-coba untuk menasehatinya kembali, jikalau dia orang tetap kukuh mau mengejar terpaksa siauwte harus mengawasinya”

Tidak selang berapa lama ternyata dugaan dari Shia Pek Tha sedikit pun tidak salah, Wi Lian In dengan membawa seekor anying yang amat besar berjalan masuk ke dalam kamar baca.

Anying raksasa itu mem punyai perawakan badan yang amat besar dan kuat sekali, sepasang matanya memancarkan sinar yang berkilauan, sepertinya mau menggigit semua orang yang ditemuinya, keadaannya amat menakutkan sekali!

Dengan menuntun sang anying, Wi Lian In berjalan masuk ke dalam kamar lalu mengambil keluar sepasang sepatu dari Wi Ci To dan membiarkan anying itu membauinya, setelah itu barulah ujarnya:

“Sepatu itu adalah sepatu milik ayahku, kau baiklah menciumnya lalu kita pergi mengejar Tia, tahu tidak?”

Anying itu segera membaui sepasang sepatu dari Wi Ci To itu lantas sambil menggonggong berlari mendekati lemari tersebut.

Ti Then segera tertawa.

“Nona Wi lebih baik jangan pergi!” ujarnya.

“Tidak bisa, tentunya kau tahu bukan kenapa aku harus pergi?”

Beberapa perkataan ini kecuali Ti Then serta Shia Pek Tha siapa pun tidak paham apa arti dari perkataan itu, kiranya dia sudah merasa kalau Cuo It Sian kemungkinan sekali adalah manusia berkerudung hitam itu, karena dia takut ayahnya terjebak ke dalam pancingannya, karena itu memaksa untuk pergi menyusul.

“Aku percaya ayahmu pasti tidak akan terjadi sesuatu urusan apa pun, lebih baik kau tetap tinggal di dalam Benteng saja!” ujar Ti Then dengan perlahan.

Wi Lian In tidak mau menggubris perkataan itu, dengan cepat dia membuka lemari itu dan menarik sebuah pedang pada dasarnya, begitu papan itu ditarik keluar maka segeralah terlihat sebuah mulut jalan rahasia muncul di hadapannya.

Sambil menarik anying tersebut untuk memasuki ke dalam lemari ujarnya kemudian:

"Ayoh Cian Li Yan masuk ke dalam..”

Kiranya anying itu bernama Cian Li Yan atau simata seribu li. Si Cian Li Yan segera merangkak ke atas lemar dan menyusup masuk ke dalam jalan rahasia itu sambil memperdengarkan suara gongongannya yang amat ramai.

"Selamat tinggal!" seru Wi Lian In kemudian sambil melambaikan tangannya kepada semua orang.

Selesai berkata dia pun melangkah masuk ke dalam jalan rahasia tersebut.

“Nona Wi, tunggu sebentar!” teriak Shia Pek Tha mendadak.

Wi Lian In segera menoleh dan kirim satu senyuman kepada semua orang.

"Siapa yang berani menghalangi diriku aku akan suruh Cian Li Yan menggigitnya terlebih dulu" ujarnya.

"Tetapi jikalau ada orang yang mau ikut kau pergi ?” tanya Shia Pek Tha sambil tertawa.

Wi Lian In dengan perlahan melirik sekejap kearah Ti Then lantas dengan nada mengejek serunya :

"Siapa yang punya nyali untuk ikut aku pergi ?" "Aku !" sahut Ti Then cepat.

"Bukankah kau orang mau menyaga Benteng?" Seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Aku kira ayahmu tentu akan menganggap melindungi dirimu jauh lebih penting daripada menyaga Benteng Pek Kiam Po ini.”

"Tapi aku tidak membutuhkan perlindungan dari orang lain”

Selesai berkata dengan cepat dia menerobos masuk ke dalam jalan rahasia tersebut.

Ti Then pun dengan cepat mengikuti dari belakangnya, setelah masuk ke dalam jalan rahasia itu dia orang segsra merasakan keadaan di sana sangat gelap sekali sehingga tidak dapat melihat bayangan Wi Lian In yang ada di depannya, dia orang menjadi gugup.

“Nona Wi, kau dimana?” teriaknya dengan keras.

“Aku di sini!” sahut Wi Lian In dari tempat kurang lebih puluhan kaki dalamnya.

Ti Then segera berjalan maju ke depan sembari berjalan ujarnya lagi.

“Jalan rahasia ini sungguh gelap sekali, kenapa tidak memasang lampu?”

“Jika kau orang takut gelap lebih baik jangan ikut” teriak Wi Lian In sambil tertawa.

Mendadak Ti Then menghentikan langkahnya.

"Aku orang benar-benar takut tempat yang gelap, kalau begitu kau pergilah sendiri!”

Baru saja dia selesai berkata tampaklah jalan rahasia itu sudah diterangi oleh lampu yang memancarkan sinarnya dengan amat terangnya.

Tampak Wi Lian In dengan membawa sebuah lampu lentera berdiri kurang lebih dua kaki di dalam jalan rahasia itu, teriaknya sambil tertawa geli.

“Jika kau orang tidak mau datang, lihat saja lain kali aku menggubris dirimu atau tidak !”

Sambil tersenyum Ti Then segera maju mendekati dirinya.

Demikian mereka berdua segera melanjutkan perjalanannya sambil berjalan berdampingan, mendadak terdengan Cian Li yan itu anying yang ada di depan menyalak dengan amat kerasnya.

“Ada urusan apa?” tanya Ti Then dengan cepat.

“Di depan sana ada sebuah pintu batu, dia yang tidak bisa lewat sudah tentu menyalak terus…” jawab Wi Lian In menerangkan. Beberapa langkah kemudian ternyata tidak salah lagi, di depan jalan rahasia itu terdapatlah sebuah pintu batu yang menghalangi perjalanan selanjutnya, sedangkan itu anying “Cian Li Yan” berdiri didekat pintu sambil menyalak tak henti-hentinya.

Wi Lian In segara maju ke depan membuka pintu batu itu dan membiarkan "Cian Li Yan" si anying meneruskan perjalanannya ke depan. ujarnya :

"Pintu batu itu sebetulnya tertutup rapat, sekarang ternyata cuma dirapatkan saja, hal ini membuktikan kalau ayahku memang benar-benar pernah melalui jalan rahasia ini”

"Apakah jalan rahasia ini tidak dipasangi alat rahasia ?"

"Tidak" sahut Wi Lian In dengan sambil gelengkan kepalanya. "Di depan sana ada sebuah pintu besi yang bisa dibuka tutup secara otomatis, setelah melewati pintu besi itu maka tempat yang di depannya adalah gua alam”

ooOOoo

MEREKA berdua segera mengikuti jejak si anying" Cian Li Yan" berjalan masuk ke dalam, kurang lebih setelah berjalan puluhan langkah ternyata di dalam jalan rahasia itu kembali muncul sebuah pintu besi yang menghalangi perjalanan mereka.

Wi Lian In segera mencekal gelang besi yang ada di atas pintu dan memutarnya kekiri lantas kekanan, dengan perlahan pintu itu terbuka lalu bergeser sendiri ke sebelah kanan. Ternyata sedikit pun tidak salah di balik pintu itu merupakan sebuah gua alam yang berliku amat panjangnya.

Setelah melalui pintu besi itu Wi Lian In segera memutar kembali gelang baja yang ada di atas pintu tersebut sehingga pintu tersebut bergeser kembali ke tempat semula, kemudian barulah bersama- sama dengan Ti Then melanjutkan kembali perjalanannya mengikuti jejak anying “Cian Li Yan” yang sudah lari terlebih dulu di depan. Tidak lama kemudian kedua orang beserta sang anying tersebut telah berjalan keluar dari sebuah gua yang amat sempit dan muncul di samping sebuah hutan lebat di belakang bukit Sian Ciang.

Tampak anying itu membaui lagi sekeliling tempat itu, kemudian dengan disertai suara gonggongannya yang amat keras ia berlari menyusup ke atas gunung.

Arah yang dituju ternyata adalah puncak gunung Go-bi ini untuk mengadakan pertemuan dengan ayahku"

“Jikalau manusia berkerudung hitam itu adalah Cuo It Sian maka tempat yang mmenurut dugaannya merupakan tempat yang paling cocok untuk bertemu dengan ayahmu adalah di atas gunung Go-bi ini.”

“Kau rasa manusia berkerudung hitam itu apa mungkin sipembesar kota Cuo It Sian?” tanya Wi Lian In dengan ragu-ragu.

“Di dalam sepuluh bagian ada delapan tidak akan salah”

“lalu Tia bisa keluar Benteng bersama-sama dengan dirinya dikarenakan kemauannya sendiri ataukah dipaksa olehnya?”

"Soal ini aku orang tidak bisa mengetahui jelas, kita harus menunggu sesudah bertemu dengan mereka baru bisa mengetahui keadaan yang sebenarnya."

“Jika membicarakan di dalam soal ilmu silat Tia jauh lebih tinggi tingkatannya daripada dirinya, tetapi saat ini dia sudah menguasai Ih, Kha serta Pauw tiga orang, maka, …………Ehmmmm….kau rasa ayahmu bisa menyerahkan barang itu kepadanya, karena menolong orang lebih penting, dia orang tua tidak bisa melihat anak buahnya dibunuh orang lain kecuali……”

"Kecuali bagaimana ?” tanya Wi Lian In cepat.

"Kecuali barang itu jauh lebih berharga dari pada nyawa dari Ih, Kha, Pauw tiga orang, tetapi aku penrcaya di dalam dunia ini tidak ada barang yang jauh lebih berharga dari pada nyawa manusia." "Benar !' sahut Wi Lian In mengangguk. "Tetapi sifat ayahku amat jujur sekali, selamanya dia tidak pernah mendapatkan tekanan dari orang lain, jika permintaan dari pihak lawan sangat keterlaluan atau mungkin dia orang juga lebih menegangkan setelah dia orang menyerahkan barang yang diminta kepada pihak lawan, aku rasa Tia tidak akan menyanggupi permintaannya itu."

“Jikalau dikarenakan ayahmu tidak menyerahkan barang tersebut sehingga menyebabkan Ih, Kha serta Pauw tiga orang menemui kematian yang amat mengerikan aku kira ayahmu pasti akan mengerahkan semua jago pedang yang ada untuk menyelesaikan urusan ini dengan pihak mereka.”

“Semoga saja keadaan jangan sampai begitu jelek..” seru Wi Lian In segera.

Berbicara sampai di sini mereka berdua tidak membuka mulut kembali, dengan mengikuti anying tersebut mereka melanjutkan perjalanan dengan berdiam diri, karena mereka berdua merasa kalau larinya "Cian Li Yan” semakin lama semakin cepat, hal ini membuktikan kalau "tujuan" mereka sudah tidak jauh lagi.

Setelah melewati hutan yang lebar dan melanjutkan perjalanan kembali sejauh satu, dua li sampailah mereka di depan sebuah tebing yang sangat curam sekali.

Cian Li Yan segera membaui tebing tersebut dan mendongakkan kepalanya memandang ke atas tebing sambil menyalak tak henti- hentinya.

Ti Then segera tahu kalau Wi Ci To serta Cuo It Sian tentunya ada di atas tebing curam tersebut.

"Lian In cepat suruh dia jangan menyalak lagi " teriaknya dengan suara yang amat lirih.

Wi Lian In segera meloncat ke samping badan anyingnya. “Sudah..sudahlah jangan menyalak lagi” serunya sambil mebelai

lehernya. “Kau baik-baiklah menunggu di tempat ini jangan

bergerak, tahu tidak?” Cian Li Yan itu segera menggoyang-goyangkan ekornya dan berbaring di bawah tebing tersebut tidak bergerak lagi.

Setelah itu Wi Lian In menggape kearah Ti Then memberi tanda supaya bersama-sama melayang ke atas tebing, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan meluncur naik ke atas tebing yang amat curam itu.

Tinggi tebing itu ada dua puluh kaki yang merupakan batu-batu karang yang selapis demi selapis, karenanya mereka berdua yang mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya hanya di dalam sekejap saja sudah berhasil tiba di atas puncak tersebut.

Baru saja mereka berdua menginyakkan kakinya di atas puncak tebing itu mendadak dari samping badannya terdengar suara bentakan yang sangat keras sekali:

“Berhenti! kalian tidak diperkenankan datang kemari !"

Orang baru saja membentak itu bukan lain adalah si pembesar kota Cuo It Sian.

Dia berdiri di atas tebing sebelah utara, di belakang badannya masih ada empat orang, yaitu lelaki berkerudung hitam yang perawakannya kurus kecil (sekali pandang saja Ti Then mau pun Wi Lian In segera bisa mengenal kembali kalau orang itu adalah manusia berkerudung yang berhasil meloloskan diri sewaktu ada di perkam pungan Tay Peng cung), sedangkan ketiga orang lainnya adalah Ih Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen yang mereka tawan.

Mereka tiga orang diikat di atas sebuah pohon Siong di samping tebing yang amat curam, sepasang tangan mau pun kakinya terikat dengan amat kuatnya sehingga tidak dapat bergerak sedikit pun.

Sedangkan Wi Ci To berdiri di hadapan Cuo It Sian berlima kurang lebih delapan kski di depannya, waajahnya amat murung sekali jelas dia orang sudah menemui kesulitan. Dari pemandangan waktu itu jeias sekali memperlihatkan kalau manusia berkerudung yang mereka cari selama ini bukan lain adalah Sian Thay-ya atau si pembesar kota Cuo It Sian adanya !

-ooo0dw0ooo-