Pendekar Patung Emas Jilid 25

 
Jilid 25

“BAGUS ! bagus !" seru perempuan itu kembali sambil tertawa. “Perduli apa, teriak atau tidak berteriak pokoknya tetangga-tetangga kita sudah pada mengerti semua keadaan kita, kau orang masih takut apa lagi?"

“Hm !"' dengus lelaki berbaju hijau itu kurang puas." Tetapi uang sebanyak sepuluh tahil yang aku dapatkan ini hari bukan dapat dari merampas”'

“Scbenarnya sudah terjadi urusan apa?" tanya perempuan yang rambutnya awut-awutan itu dengan nada serius, sedang senyuman yang semula menghias bibirnya kini lenyap tak berbekas lagi. “Lelaki berkerudung itu tanya padaku apakah mau untung sepuluh tahil perak, aku yang melihat wajahnya dalam hati segera tahu kalau dia orang ada urusan yang ingin meminta bantuanku, karena itu aku segera menerimanya, dia lalu mengambil keluar sepuluh tahil perak dan diberikan kepadaku di samping memberikan pula sebuah busur dan sebatang anak panah yang di atasnya terikat segulung kertas “

“Aku tahu, sekarang!" Nyeletuk perempuan itu. "Dia orang minta kau pergi membunuh orang, bukan begitu ?”

Lelaki berbaju hijau itu menjadi sangat gusar sekali.

“Kenapa kau terus menerus memotong pembicaraan orang ?" "Baik - . . baiklah sekarang kau lanjutkanlah perkataanmu !"

"Lalu dia membawa aku menuju ke sebuah jalan gunung di atas gunung Kim Hud-san, dia meminta aku bersembunyi di dalam hutan di samping jalan gunung tersebut, katanya nanti bakal ada lima, enan oraag yang akan turun gunung melalui jalan itu, dia memesan kepadaku kalau melihat mereka turun, panah bersurat ini harus dipanahkan kearah mereka."

"Akhirnya kau berhasil membinasakan salah seorang diantara mereka ?” tanya perempuan itu kembali.

Dengan amat kasarnya lelaki berbaju hijau itu menggebrak meja yang ada di sampingnya.

"Aku suruh kau orang jangan memotong pembicaraanku, kau mengerti tidak?" bentaknya dengan amat gusar.

"Baik. baiklah kau boleh teruskan !"

“Lelaki berbaju hitam itu tidak perinlahkan aku untuk membunuh orang, dia cuma meminta aku memanahkan secarik surat kepada mereka, enam orang yang baru saja turun gunung itu, aku lalu menunggu di dalam hutan selama setengah jam lamanya ternyata sedikit pun tidak salah, ternyata dari atas gunung muncul enam orang, aku segera memanahkan, setelah itu lalu putar ..badan melarikan diri "

"Tidak aneh seluruh badanmu berkeringat bau, lalu bagaimana selanjutnya?” Timbrung perempuan itu kembali.

Lelaki berbaju hijau itu menelan ludah lebih dulu kemudian baru sambungnya.

"Aku belum barhasil lari seberapa jauh segera sudah terkejar oleh seorang tua dan dua orang pemuda, sewaktu aku melihat tidak bisa melarikan diri lagi dari kejaran mereka terpaksa memutar badan memberikan perlawanan sengit kepada mereka "

"Akhirnya kau berhasil dikalahkan?” seru perempuan itu sambil tertawa.

"Jika aku orang kalah saat ini mana mungkin bisa kembali kerumah ?”

“Hm ! hm ! terus terang saja aku beritahu kepadamu si orang tua serta kedua orang pemuda itu semuanya merupakan gentong nasi belaka tidak sampai dua jurus aku sudah berhasil pukul mereka bertiga sehingga jatuh bangun dan akhirnya berlutut di depanku minta diam puni jiwanya, aku yang melihat keadaan mereka sangat kasihan sekali lalu mengam puni mereka”

Mendengar kisahnya ini agaknya perempuan itu tidak mau percaya, sambil mencibirkan bibirnya dia tertawa mengejek.

"Oooh sungguh ??" serunya kurang percaya.

"Sudah tentu sungguh, kapan aku orang pernah menipu dirimu

?” balas teriak lelaki berbaju hijau itu dengan serius. “Lalu siapa lelaki berkerudung itu ?"

“Siapa yang tahu" jawab lelaki berbaju hijau itu sambil gelengkan kepalanya. “Setelah itu aku pun tidak pernah bertemu kembali dengan dirinya, kelihatannya dia menyerupai seorang kakek tua yang sudah berusia lima, enam puluh tahunan, tubuhnya kurus sekali  Ti Then yang bersembunyi di balik rumah setelah mendengar perkataannya sampai di sini segera mendorong pintu berjalan masuk ke dalam.

"Mao Ji !" serunya sambil tertawa, "Coba kau ulangi sekali lagi badan lelaki berkerudung itu apakah kurus sekali?"

Agaknya lelaki berbaju hijau itu mimpi pun tidak pernah menyangka kalau Ti Then bisa membuntuti dirinya sampai di sini, melihat kehadiran dirinya air mukanya segera berubah sangat hebat, sambil berteriak aneh tubuhnya meloncat ke atas sedang tangannya menyambar sebuah kursi yang terbuat dari bambu dan dilemparkan kearah Ti Then.

Ti Then segera ayunkan telapak tangannya mengirim satu pukulan menghantam datangnya kursi bambu itu sehingga hancur berantakan dan tersebar ke atas tanah, tubuhnya dengan mengambil kesempatan ini mendesak maju ke depan lalu mencengkeram baju didada lelaki berbaju hijau itu.

"Jika kau berani sedikit bergoyang saja segera aku orang akan mencabut keluar seluruh. Otot-ototmu satu demi satu!” ancamnya sambil tertawa.

Agaknya lelaki berbaju hijau itu termasuk manusia yang suka menindas yang lemah tapi takut dengan yang keras, kali ini badannya dicengkeram oleh Ti Then segera gemetar dengan amat kerasnya.

“Baa .... baaik I Baik !' sahutnyagugup, “Ada omongan kita bicarakan secara baik-baik .... ada omongan kita bicarakan secara baik-baik"

Air muka perempuan yang rambutnya awut-awutanan itu pun kelihatan amat gugup dan terkejut sekali, dengan cepat dia menyusupkan uang seberat sepuluh tahil perak itu ke dalam sakunya lalu mengambil sapu siap dipukulkan ke atas badan Ti Then. “Ayoh cepat lepas tangan!" jeritnya dengan suara yang melengking tinggi. “Kenapa kau menangkap lakiku?"

Ti Then tidak ambil gubris terhadap dirinya, dia tetap memandang kearah lelaki berbajau hijau itu sambil tertawa, tanyanya:

“Kau sudah melihat betul-betul? Apa tidak salah lelaki itu mem punyai badan yang amat kurus sekali ?''

Dia bisa sangat memperhatikan bentuk badan dari ‘Lelaki berkerudung’ itu karena dia ingin membuktikan “Lelaki berkerudung"' yang memerintahkan lelaki berbaju hijau untuk mengirim surat ancaman ini benar atau tidak sama dengan lelaki berkerudung yang muncul di dalam istana Thian Teh Kong itu, karena menurut apa yang dilihat olehnya lelaki berkerudung yang munculkan dirinya di dalam istana Thian Teh Kong itu mem punyai potongan badan yang tinggi besar, jikalau perkataan dari lelaki berbaju hijau yang mengatakan lelaki yang berkerudung itu mem punyai badan yang amat kurus sekali adalah sungguh-sungguh maka hal ini dengan amat jelas sekali membuktikan kalau ‘Lelaki berkerudung’ yang mengirim surat ancaman ini sama sekali bukanlah lelaki berkedung yang ditemuinya.

Dia merasa hal ini sangat penting sekali, alasan yang paling penting adalah bilamana ‘Lelaki berkerudung’ yang sudah memerintahkan lelaki berbaju hijau itu adalah lelaki berkerudung yang ditemuinya maka jelas sekali menunjukkan si pembesar kota atau Si Sian Thay-ya, Cuo It Sian bukanlah lelaki berkerudung hitam itu, sebaiiknya jikalau lelaki berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau ini sama sekali lain dengan "lelaki berkerudung hitam yang ditemuinya di dalam istana Thian Teh Kong maka keadaan dari Si Sian Thay-ya atau si pembesar kota Cuo It Sian sangat mencurigakan sekali.

Agaknya lelaki berbaju hijau itu saking tegangnya sehingga napasnya serasa sesak sekali, ujarnya kembali dengan gugup : “Beeee . . . benar . . . beee .... benar tubuhnya kurus . . . kurus- sekali”

“ Seberapa tinggi badannya ?? “ tanya Ti Then kembali. “Tidak terlalu tinggi, seperti . . . sepe-perti isteriku ini . . . “

Ti Then segera melirik sekejap ke arah perempuan yang awut- awutan itu lagi, serunya kembali sambil tertawa :

“Kau tidak omong kosong bukan ! “

“Tidak! tidak! perkataan hamba sungguh-sungguh benar tidak ada sepatah kata  pun yang berbohong. “

“Tapi apa yang aku dengar selama setengah harian di luar rumah tadi sudah merasakan di dalam sepuluh patah katamu ada sembilan bagian yang sedang berbohong.”

Wayah lelaki berbaju hijau itu segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, lama sekali dia orang tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun juga.

Air muka Ti Then segera berubah menjadi sangat serius sekali, serunya : “Aku sudah tahu kau orang adalah seorang tukang todong yang terkutuk, kali ini aku am puni nyawa anyingmu. Tapi lain kali jikalau kau orang masih saja melakukan pekerjaan semacam ini heee . . . . heee .... jangan salahkan aku orang akan mencabut nyawamu pada setahun kemudian"

Selesai berkata dengan mengerahkan tenaga dalamnya dia mendorong rubuh ujung tembok dari rumah itu.

Setelah itu dengan perlahan dia menoleh ke arah perempuan dengan rambut yang awut-awutan tadi, tambahnya:

“Lelakimu ini sungguh pandai berbohong, terang-terangan tadi aku melihat dia orang mendapatkan lima puluh tahil perak dari lelaki berkerudung itu sekarang dia bilang cuma mendapat sepuluh tahil perak saja. Heee heee . , kamu orang sudah kena dibohongi”

Sehabis berkata dengan langkah lebar dia berlalu dari sini. Belum jauh dia meninggalkan rumah itu segera terdengar suara bantingan barang-barang yang amat ramai dari dalam rumah tersebut disusul dengan suara makian dari perempuan tersebut : “Bagus, bagus sekali ! Kau lelaki bangsat, pandai juga kamu orang mengkorup uang belanya, terang-terangan orang lain perseni kau sebanyak lima puluh tahil perak sekarang kau cuma mengaku mendapat sepuluh tahil perak saja, cepat serahkan empat puluh tahil perak yang lain, kalau tidak Lo-nio segera akan adu jiwa dengan dirimu !”

"Eeeeei . . . tunggu dulu, tunggu dulu. Kau jangan mau mendengar omongannya, aku betul-betul cuma mendapatkan sepuluh tahil perak dari orang itu . . . Aduh !! "

Selanjutnya terdengarlah suara yang amat berisik sekali bergema dari dalam rumah tersebut.

Dalam hati diam-diam Ti Then merasa sangat geli sekali, dia segera berbelok keluar dari lorong itu melalui jalan besar, saat ini malam hari sudah tiba, perut pun terasa amat lapar, dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk mencari sebuah rumah makan untuk berdahar dulu kemudian baru melakukan perjalanan malam menuju ke kota Ci Kiang sian untuk bertemu dengan Wi Pocu sekalian.

Dengan mengikuti jalan besar, dia kembali berjalan puluhan langkah jauhnya, mendadak di depan sebuah kuil dia melihat banyak orang yang berkerumun mengelilingi sebuah lapangan, dari tengah banyak orang itu terdengarlah suara tambur serta gembrengan yang amat ramai sekali, sekali pikir saja dia segera tahu tentunya ada orang yang jual akrobat sedang mamberikan tontonannya di sana, dengan perlahan dia pun berjalan menuju ke sana.

Tampak orang yang melakukan pertunjukan tersebut adalah seorang kakek tua, seorang pemuda serta seorang nona, saat ini si kakek tua yang ada di tengah kalangan sedang mempertunjukkan Ilmu jari sakti Ci Sin Kang" yang jarang ditemui di dalam Bu-lim, dia orang menggunakan jari tengah serta jari telunjuk dari tangan kanannya menutul permukaan tanah la!u tubuhnya berdiri dengan mengandalkan kekuatan jari tersebut, atau dengan perkataan lain dia menahan seluruh berat badannya dengan mengandalkan kekuatan jarinya itu.

Sungguh merupakan sebuah ilmu kepandaian yang sangat lihay sekali !

Ti Then sama sekali tidak menyangka kalau orang yang melakukan pertunjukan tersebut merupakan seseorang yang memiliki kepandaian silat demikian tingginya, dalam hati merasa sangat terkejut bercampur keheranan.

Dia segera maju ke depan untuk meIihat lebih jelas lagi, tapi sewaktu dia melihat jelas wayah dari orang tua itu seketika itu juga hatinya seperti digodam dengan sebuah palu yang amat besar, seketika itu juga seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya. 

Dengan cepat dia mendesak untuk maju ke barisan yang paling depan lantas teriaknya dengan suara yang amat keras : “Yan Locianpwe ! "

Betul, dia memang kenal dengan orang tua penjual silat ini.

Bukan saja dia kenal dengan orang tua she Yan ini bahkan pada masa yang lalu dia orang masih, mem punyai hubungan yang sangat penting sekali dengan orang tua She Yan ini.

Kakek tua yang sedang mempertunjukkan ilmu “lt Ci Sin Kang" itu sewaktu mendengar ada orang yang memanggil namanya dia segera berhenti bermain dan bangkit berdiri, matanya dengan perlahan menyapu ke sekeliling tempat itu bersamaan pula tanyanya

“Kawan dari mana yang sudah memanggil aku orang ?"

Sewaktu kakek tua itu melihat Ti Then ada di sana air mukanya segera berubah hebat.

“Kau.     Ti Then ?" serunya. Ti Then mengangguk dengan perlahan, jelas sekali wayahnya kelihatan amat terharu sekali.

Wajah kakek tua itu pun terlihat sangat terharu, setelah melototi Ti Then beberapa waktu lamanya mendadak kepada para penonton yang ada di dalam kalangan itu dia merangkap tangannya menjura.

“Saudara-saudara sekalian !” ujarnya sambil tertawa. “Pertunjukan ini hari sampai di sini saja, terima kasih atas kunjungan dari saudara-saudar sekalian!”

Ketika para penonton mendengar dia mau bubaran segera pada meninggalkan tempat itu, uang persenan yang diberikan pun tidak seberapa banyak.

Si pemuda serta sang nona yang mengikuti kakek tua itu agaknya kenal juga dengan diri Ti Then, ketika melihat para penonton pada bubaran mereka bersama-sama berjalan mendekati diri Ti Then, jelas pada air muka mereka memperlihatkan kegemasan serta kebencian hatinya.

Setelah memperhatikan diri Ti Then beberapa saat lamanya terdengar si pemuda itu tertawa dingin.

“Kelihatannya pada waktu dekat-dekat ini kau orang mendapatkan penghasilan yang lumayan juga ?"

Air muka Ti Then sedikit pun tidak berubah sedangkan mulutnya tetap membungkam di dalam seribu bahasa.

Sang nona itu pun segera tertawa dingin, tambahnya :

“Kenapa kau orang tidak berbicara ? Apa mungkin kau sudah tidak kenal dengan kami orang-orang yang hidupnya tergantung menjual silat ?"

Air muka kakek tua itu segera berubah amat keren, bentaknya :

" Wi lh, Lan-ji, jangan kurang ajar kalian, cepat bereskan barang- barang itu dan kembali ke rumah penginapan terlebih, dulu!" Pemuda yang bernama Wi Ih serta nona yang bernama Lan-ji itu tidak berani membangkang perintah dari sang kakek tua, dengan gusarnya mereka melotot sekejap kearah Ti Then lalu dengan uring- uringan berlalu dari sana untuk membereskan gembrengan, tambur serta alat-alat Iainnya yang ada di dalam kalangan.

Tampak kakek tua itu berjalan maju menggandeng tangan Ti Then lalu ujarnya :

" Ayoh pwrgi, kita mencari satu tempat untuk omong-omong".

Dengan berdiam diri Ti Then mengikuti dari samping kakek tua itu dan berjalan ke sebuah rumah makan.

"Bagaimana kalau kita naik ke atas loteng ? " tanyanya sambil menghentikan langkahnya.

"Baiklah, kita minum berapa cawan, " sahut sang kakek tua sambil mengangguk.

Mereka berdua segera naik ke atas loteng rumah makan itu dan mencari sebuah tempat untuk duduk, setelah meminta beberapa macam arak mereka saling berpandangan tanpa ada yang mengucapkan kata-katanya terlebih du!u, agaknya mereka berdua merasa banyak perkataan yang hendak diucapkan tetapi tidak tahu baiknya memulai dari bagian yang mana karena itu sama-sama bungkam diri.

Lama sekali baru terdengar Ti Then yang mula-mula memecahkan kesunyian.

“Kau orang tua sudah ada berapa tahun lamanya melakukan pertunjukan jual silat?" tanyanya.

“Sudah hampir satu tahun lamanya."

“Kenapa kau memilih jalan ini untuk melanjutkan hidup kalian ?" Kakek tua itu segera tertawa pahit.

"Kecuali menjual silat Lohu masih bisa melakukan pekerjaan apa lagi ?" "Aaaai .... semuanya ini dikarenakan kesalahan hamba . . . " seru Ti Then sambil menundukkan kepalanya.

Kakek tua itu pun ikut menghela napas panjang.

"Kau orang tidak usah menyalahkan dirimu sendiri, orang yang sering berjalan malam pun tidak urung akan bertemu juga dengan setan."

''Wi Ih bocah itu tidak jeiek" sambung kakek tua itu lagi. "Dan belum pernah, meninggalkan Lohu sedangkan Lan-ji pun mem punyai perhatian terhadap dirinya, maka itu pada beberapa bulan yang lalu Lohu sudah kawinkan mereka berdua."

“Hal itu bagus sekali !" sahut Ti Then sambil mengangguk.

“Sikap serta tindak tanduk mereka tadi kurang baik terhadap dirimu harap kau orang jangan marah di hati " ujar kakek tua itu lagi.

“Tidak .... tidak ! Mereka memang seharusnya membenci diriku " ujar Ti Then dengan amat murung.

“Kau sudah bertemu dengan dirinya?” “Siapa ?" tanya Ti Then melengak.

“Si Hong Liuw Kiam Khek atau si jagoan pedang yang suka pelesiran, Ing Ping Siauw?”

“Belum ?" jawabnya sambil gelengkan kepalanya. Kakek tua itu segera menghela napas panjang kembali.

“Kau orang apa merasa yaki perbuatan itu dilakukan oleh si jagoan pedang suka pelesiran Ing Ping Siauw ?" tanyanya.

“Di dalam sepuluh bagian ada delapan bagian tidak salah, karena sejak kejadian itu. di dalam Bu-lim tidak pernah terdengar namanya mau pun beritanya lagi. "

000O000 “Janyinya dengan dirimu masih ada setahun Iamanya bukan ?” tanya takek tua itu lagi.

“Benar !"

Sekaii lagi kakek tua itu menghela napas panjang.

“Lohu betul-betul tidak paham apa tujuannya dia orang berbuat demikian ?"

“Aku rasa tentunya demi nama baik dirinya, ada orang bilang si jagoan pedang suka pelesiran, Ing Ping Siauw, si naga mega Hong Mong Ling serta cayhe merupakam tiga orang jago dari angkatan muda, dia orang sangat mengharapkan bisa menduduki pda jagoan yang pertama diantara tiga jagoan angkatan muda lain.”

Baru saja kakek tua itu mau berbicara lagi tampak si pelayan sudah membawa sayur serta arak, dia segera menutup mulutnya kembali.

Menaati setelah pelayan itu mengatur sayur serta arak di atus rneja Ti Then segera bangkit memenuhi cawan dari si orang tua lalu memenuhi juga cawannya sendiri, setelah itu dengan berdiam diri masing-masing menghabiskan isi cawannya sendiri-sendiri.

"Pada akhir-akhir ini kau orang bagaimana ?” tanya kakek tua itu tiba-tiba,

"Cayhe sekarang menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po”

"Apa ?" seru kakek tua itu kaget.

"Cayhe menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po."

"Hal . . hal ini mana mungkin ?" seru kakek tua itu ragu-ragu. "Orang yang bisa menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po seharusnya mem punyai kepandaian silat yang jauh di atas para pendekar pedang merah lainnya yang ada di dalam Benteng, sedangkan kau . . kau , .” “Cayhe sudah menemui suatu kejadian yang aneh dan mendapatkan pelajaran ilmu silat yang amat lihay dari seorang manusia aneh di dalam Bu-lim . . . “

"Siapakah manusia aneh tersebut?"

“Hal inilah cayhe ingin sekali mengutarakannya keluar, tetapi berhubung adanya sebab-sebab yang amat penting pada saat ini cayhe tidak bisa memberitahukan seluruh keadaan dari manusia aneh tersebut harap kau orang tua suka memaafkan."

“Dia bisa melatih ilmu silatmu sehingga melebihi kepandaian silat dari pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po?” tanya kakek tua itu kembali.

"Benar “

"Kalau begitu tentang Ing Ping Siauw sudah tentu tidak ada persoalannya lagi?"

"Benar, tetapi cayhe harus menanti delapan bulan kemudian baru bisa mencari dirinya, sekarang cayhe masih belum bisa."

"Kenapa ?" tanya kakek tua itu melengak.

“Sebab-sebabnya cayhe tidak bisa menjelaskan" sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

“Ehmmm”

“Menunggu setelah semua persoalan ini telah beres tentu cayhe bisa menceritakan seluruh persoalan ini kepada kau orang tua"

“Ehmmm”

“Bagaimana hidup kalian sampai sekarang?" “Masih baik"

“Tapi harus melakukan pertunjukan silat terus bukanlah suatu acara yang baik”

“Sebaliknya Lohu merasa sangat bagus sekali, sekali pun pendapatannya amat sedikit tetapi tidak ada ikatan apa pun." “Tetapi bilamana sampai bertemu dengan orang yang pernah dikenal bukankah..”

“Lohu mengandalkan kepandaian untuk mencari uang kenapa harus malu bertemu dengan orang lain? "

“Cayhe cuma mengharapkan kau orang tua bisa membangun kembali kejayaan serta kewibawaanmu seperti tempo hari."

“Tidak bisa jadi, siapa yang masih percaya dengan Lohu ?" “Kalau begitu bagaimana kalau berdagang?"

“Soal itu harus membutuhkan sejumlah uang." “Kalau lima belas laksa tahil perak cukup tidak?" “Ehm,..berapa?"

Ti Then segera mengambil keluar uang kertas yang didapatkannya dari si Giok Bin Langcun, Cu Hoay Lo lalu diberikan kepada orang tua tersehut, ujarnya :

"Uang kertas ini dikeluarkan oleh gudang uang di kota Tiang An. kau orang tua dengan membawa uang kertas ini bisa pergi mengambil uang sebesar lima belas laksa tahil perak."

"Kau mendapatkan uang sebanyak ini dari mana??" tanya kakek tua itu dengan amat terperanyat sekali.

"Uang itu bukan milik cayhe, pada dua bulan yang lalu secara tidak sengaja cayhe sudah berhasil menawan diri si "Giok Bian Langcun" Cu Hoay Lo, kau orang tua tentunya sudah pernah mendengar nama "Giok Bin Langcun" Cu Hoay Lo bukan ?"

"Ehmm benar!" sahut kakek tua itu sambil mengangguk. "Menurut berita yang tersiar katanya dia merupakan seorang penyahat cabul yang kejahatannya sudah bertumpuk-tumpuk.''

"Benar, waktu itu sewaktu cayhe beserta putri dari Wi Pocu, Wi Lian In karena ada urusan melewati sesuatu tempat telah ditemui oleh Giok Bin Langcun ini, dengan mengambil kesempatan sewaktu cayhe sekalian mcnginap di sebuah rumah penginapan dia secara diam-diam sudah mencampurkan obat pemabok ke dalam makanan kami, akhirnya hal itu sudah ditemui oleh cayhe dan berhasil menawannya, karena dia kepingin hidup terus segera mengambil keluar uang kertas ini untuk menebus nyawanya. . .”

Kakek tua itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, potongnya

:

"Lalu kau orang menerima uang kertasnya ini dan melepaskan

dirinya pergi?"

"Tidak, cayhe menerima pemberian uang kertasnya ini lalu menajatuhi hukuman mati kepadanya."

"Eeeeh .... seharusnya setelah kau orang mau menerima uangnya ini tidas sepantasnya membinasakan dirinya" seru kakek tua itu.

"Sesaat cayhe turun tangan aku sudah menanyainya dengan amat jelas, cayhe dapat tahu kalau uang itu dia berhasil kumpulkan dari hasil rampokannya selama ini, karena itulah cayhe merasa uang itu tidak sah buat menebus nyawanya, apalagi cayhe pun tidak punya perhatian untuk menggunakan uang sebanyak lima belas laksa tahil perak ini, cayhe mem punyai maksud bilamana ada waktu luang mau berangkat menuju ke- Tiang-An antuk mengambil uang tersebut dan dibagikan kepada kaum miskin."

"Kalau begitu Lohu semakin tidak berani menerima uang itu?"' ujar kakek tua kemudian.

"Tidak mengapa!" sahut Ti Then dengan perlahan. "Menanti setelah tahun depan aku barhasil menyelesaikan urusan ini dengan si jagoan pedang suka pelesiran Ing Ping Siuw kau orang boleh mengurangi lima belas laksa tahil buat aku orang."

"Tidak!" seru kakek tua itu sambil gelengkan kepalanya. "Kau bisa bertemu dengan Ing Ping Siuw atau tidak masih merupakan satu persoalan, sekarang lohu tidak bisa menerima pemberian uang tersebut." "Cayhe percaya bisa bertemu dengan Ing Ping Siuw dan menyelesaikan persoalan ini, kau orang tua harap berlega hati untuk menerimanya."

"Tidak perlu!" ujar kakek tua itu sambil gelengkan kepalanya. "Lohu sampai sekarang masih belum miskin benar-benar sehingga makan pun tidak ada, aku tidak perlu membutuhkan uang sebegitu banyak, Lebih baik kau menyimpannya kembali !"

Agaknya Ti Then tahu sifat dari orang tua itu dia pun tidak mau mendesak lebih lanjut, dan memasukkan kembali uang ketas itu ke dalam sakunya.

"Kalau begitu" ujarnya "kemudian. "Kita harus menentukan waktu untuk bertemu muka kembali, kalau tidak di tempai yang demikian luasnya cahe diharuskan pergi ke mana untuk menemui dirimu??"

"Perjanyian dari Ing Ping Siuw masih ada satu tahun lamanya, kalau begitu kita tentukan saja pada hari ini tahun depan kita bertemu muka kembali di bawah loteng Cuan Yen Lo dikota Tiang An."

"Baiklah! Sampai waktunya aku orang tentu akan menunggu."

Kakek tua itu segera meneguk habis isi cawannya lalu memperhatikan diri Ti Then sambil tertawa.

"Sekali lagi Lohu mau beritahu kepadamu, kau orang tidak usah merasa menyesal dikarena urusan itu, Lohu tahu kau orang merupakan seorang pemuda yang jujur maka itu tidak perduli lain kali kau bisa atau tidak menyelesaikan persoalan ini lohu sama sekali tidak memikirkannya di dalam hati."

"Tidak !" seru Ti Then dengan tegas, “Tentang persoalan itu pasti akan cayhe urus sampai selesai.”

''Lohu sangat tertarik dengan kehebatan dan kepandaianmu bisa menyabat sebagai Kiauw-tauw di dalam Benteng Pek Kiam Po" ujar orang tua itu sambil ter senyum. "Dapatkah kau orang menceritakan kisahmu secara bagaimana bisa memasuki Benteng Pek Kiam Po ?"

“Cayhe kenal dengan seorang pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po, dia orang she-Shia bernama Pek Tha yang merupakan anak murid dari Wi Pocu, pada suatu hari. yaitu

setelah cayhe memperoleh kejadian aneh .... sewaktu melakukan perjalanan melalui kota Gobi cayhe sudah bertemu dengan Shia Pek Tha itu, dia kukuh mau mengundang cayhe untuk mertamu di dalam bentengnya, waktu itu Wi Pocu punya keinginan untuk mengetahui kepandaian silat dari cayhe, apakah bisa memenangkan pendekar pedang merah dari Bentengnya lalu dia perintahkan beberapa orang pendekar pedang merah untuk menyajal kepandaian cayhe, akhirnya beberapa orang pendekar pedang merah itu sudah terkalahkan di tanganku, ternyata Wi Pocu jadi orang sangat jujur, bukannya menjadi marah dia malah memuji-muji cayhe bahkan memberi jabatan Kiauw-tauw kepada cayhe, melihat sikapnya yang bersungguh-suugguh terpaksa cayhe menerimanya”

“Sungguh tidak kusangka kau bisa menemui kejadian aneh seperti ini" seru kakek

tua itu sambil memperlihatkan rasa herannya. "Lalu ada urusan apa ini hari kau

datang kekota Lam Khuan sian ini ?"

"Jika membicarakan persoalan ini sukar sekali untuk dijelaskan dengan sepatah dua patah kata saja, persoalan ini dimulai dari muridnya Wi Pocu yaitu Hong Mong Ling main perempuan lacur di tempat luaran ”

Demikianlah dia segera menceritakan bagaimana Hong Mong Ling diusir dari perguruan, bagaimana dia orang bekerja sama dengan Hu Pocu menculik Wi Lian In lalu bagaimana Hong Mong Ling menyiarkan berita bohong di luaran yang menyatakan dirinya sudh memperoleh kitab pusaka "Ie Cin Keng" dari Siauw-lim-Pay lalu bagaimana si anying langit rase bumi merebut kitab tersebut sehingga terjadi peristiwa yang amat panjang.

Sewaktu kakek tua itu mendengarkan, kisah ini tak terasa lagi hatinya merasa sangat terperanyat sekali, tanyanya : .

“Sebenarnya Wi Pocu mem punyai barang pusaka apa toh sehingga membual leIaki berkerudung itu mau melakukan tindakan kejam semacam ini ?"

“Tidak tahu” sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya, “Selama ini Wi Pocu tidak mau mengakui sudah menyimpan semacam barang pusaka atau tidak, cayhe sendiri pun tidak tahu”

Mereka berdua sambil berdahar sambil bercerita tidak terasa lagi hari sudah menunjukkan tengah malam, para tetamu yang bersantap di rumah makan itu pun sudah pada berlalu, akhirnya kakek tua itu bertanya:

“Kalau begitu malam ini juga kau punya maksud untuk keluar dari kota untuk bertemu dengan Wi Pocu?”

“Benar”

“Kalau begitu” ujar kakek tua itu sambil bangkit berdiri, “Kita berpisah dulu di sini, pada hari yang sama tahun depan kita bertemu kembali di loteng Cian Yen Lo di kota Tiang An!”

Ti Then segera memanggil pelayan untuk bikin rekening lalu bersama-sama turun dari loteng dan berpisah di tengah jalan, kakek tua itu kembali ke rumah penginapan sedangkan Ti Then dengan melakukan perjalanan malam meninggalkan kota untuk menunju ke kota Ci Kiang sian yang jaraknya ada ratusan li jauhnya.

Setelah melakukan perjalanan selama satu malam pada waktu hari mendekati terang tanah dia sudah tiba dikata Ci Kiang Sian.

Setelah menemukan rumah penginapan Ye Lay dan bertanya pada pemilik rumah penginapan itu dia segera mengetahui kalau Wi Ci To sekalian memang betul menginap di sana, dengan diantar oleh pelayan dia berjalan mendatangi sebuah kamar. Pelayan itu segera menuding kearah pintu kamar itu, ujarnya :

"Sianseng tua yang she-Wi itu menginap di dalam kamar yang sebelah tengah, mungkin saat ini belum bangun."

Ti Then segera mengetuk pintu sambil berseru : "Pocu, apakah kau orang sudah bangun ?”

Pintu kamar segera terbuka, tampak Wi Ci To sambil tersenyum sudah berdiri di balik pintu.

"Ti Kiauw-tauw kau melakukan perjalanan malam '?" tanyanya. '"Benar,"

"Silahkan masuk.''

Baru saja Ti Then duduk di dalam kamar nya Wi Ci To tampaklah Wi Lian In, Suma San Ho serta s i pembesar kota Sian Thay Ya yang mendengar suaranya dari kamar sebelah sudah pada berdatangan untuk menanyakan jejak dari lelaki berbaju hijau itu.

“Orang itu tentu bukan anak buah dari lelaki berkerudung itu" ujar TiThen kemudian. “Kemarin cayhe menguntit dirinya terus hingga ke dalam kota Lam Khuan sian . . . "

Dia orang segera menceritakan seluruh apa yang didengarnya kepada semua orang.

Sedangkan mengenai orang tua yang ditemuinya dikota tersebut dia orang sama sekali tidak mengungkap barang sepatah kata pun juga.

Wi Ci To segera menghela napas panjang.

"Hal ini sungguh berada diluar dugaanku. Lohu kemarin menyuruh Ti Kiauw tauw membuntuti dirinya tidak lebih cuma takut sudah salah menduga "

"Pihak lawan apakah tidak mengirim berita lagi?" tanya Ti Then kemudian.

"Tidak" "Kemarin tulisan di atas anak panah itu mengatakan apa saja ?" tanya Ti Then kembali.

"Dia bilang tiga orang pendekar pedang merah dari Benteng kita

.... Ih Kun,Kha Hiong serta Pauw Kia Pen sudah terjatuh ke tangannya, dia minta barang yang diinginkan supaya dipersiapkan dan menunggu beritanya."

Ti Then menjadi amat terperanyat.

"Hmm ! ternyata permainanya Iihay juga!”

"Benar” seru Wi Ci To sambi! Tertawa dingin. "Tetapi di kemudian hari ia bakal menyesal su sudah memperlihatkan permainan ini!”

"Kini Wi Pocu punya rencana apa untuk menghadapi mereka ?" "Kini orang kita tidak tahu mereka sudah membawa orang-orang

itu kemana terpaksa kita harus kembali ke dalam Benteng untuk menunggu berita."

"Di atas suratnya apakah dia orang juga tidak menjelaskan barang apa yang ia minta??" tanya Ti Then lagi.

"Tidak" sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya, "Agaknya dia mengira Lohu sudah tahu barang apa yang dia minta itu, pada hal Lohu sendiri sampai sekarang pun masih tidak tahu barang apa yang sebenarnya dia inginkan.”

Ti Then segera menoleh ke arah Cuo It Sian lalu dengan amat sopannya bertanya:

"Apakah Cuo Locianpwe punya rencana untuk ikut bersama- sama kita pergi ke Benteng Pek Kiam Po ?"

"Benar" sahut Cuo It Sian sambil mengangguk. "Dia berani mencari gara-gara dengan Ioolap sudah tentu lolap harus baik-baik memberi pelajaran kepadanya."

Ti Then termenung berpikir sebentar lantas baru ujarnya kembali: “Sekarang dia orang sudah berhasil menawan ketiga orang kita, setelah ada barang tanggungan sudah seharusnya dia orang menampakkan dirinya."

"Lolap percaya dia masih belum berani menampakkan diri secara terang-terangan" ujar Cuo lt Sian sambil tertawa dingin tak henti- hentinya. "Kecuali dia orang sudah tidak sayang dengan nyawanya sendiri."

"Lantas Pocu apa sudah mengambil keputusan untuk menerima ancamannya ini?"' tanya Ti Then kemudian sambil menoleh ke arah Wi Ci To.

"Lohu sendiri sampai sekarang masih belum bisa mengambil keputusan, karena Lohu tidak tahu barang apa yang orang dia mintai, apa lagi seharusnya dia orang memperlihatkan terlebih dulu Ih, Kha serta Pauw tiga orang yang sudah mereka tawan."

"Betul" sahut Ti Then sambil mengangguk. "Kita harus mengetahui terlebih dulu apakah Ih, Kha serta Pauw betul-betul sudah terjatuh ke tangannya setelah itu baru memikirkan beberapa syarat untuk ditukar dengan ketiga orang itu"

Wi Ci To melihat Liauw Khiet berdiri dipintu depan segera perintahnya :

"Liauw Khiet cepat kau perintahkan orang untuk siapkan makanan, setelah berdahar kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini."

Dengan sangat hormatnya Liauw Khiet menyahut dan berlalu dari tempat itu.

Ti Then yang secara tiba-tiba sudah teringat kembali kedua ekor kudanya yang sudah dititipkan di rumah petani di bawah gunung Kim Hud san lantas bertanya kepada Wi Lian In: "Kau tidak membawa kedua ekor kuda kita ?"

"Sudah." sahut Wi Lian In cepat," Kemarin Tia sudah membeli lagi empat ekor kuda jempolan, nanti kita masing-masing menungang kuda untuk kembali ke dalam Benteng." Setengah jam kemudian tua muda enam orang sudah selesai sarapan pagi dan melunasi rekening rumah penginapan, setelah itu bersama-sama naik ke atas kudanya dan malakukan perjalanan menuju ke kota Go-bi,

Jarak kekota Ci Kiang sampai ke kota Go-bi ada tiga empat hari perjalanan, karenanya mereka berenam tidak berani melakukan perjalanan terlalu cepat takut kuda tunggangannya tidak kuat sehingga karena itu perjalanan mereka dilakukan tidak cepat juga tidak lambat.

Di tengah perjalanan tiba-tiba Wi Lian In kirim satu kerdipan mata kepada Ti Then, Ti Then yang melihat hal itu segera tahu kalau dia orang mau mengajak dirinya untuk bercakap-cakap karenanya sengaja dia orang memperlambat lari kudanya.

Akhirnya makin lama mereka berdua ketinggalan semakin jauh dari rombongan, tanya Ti Then kemudian sambil melarikan kudanya berbareng dengan dirinya.

"Ada urusan apa ?"

“Kita semua sudah salah menduga" ujar Wi Lian In sambil menuding kearah Cuo It Sian yang berlari di depan. "Ternyata dia orang bukanlah lelaki berkerudung itu!"

'Sungguh !” sahutnya tegas "Satu orang tidak mungkin bisa berubah menjadi dua orang, kemarin dia berjalan bersama-sama dengan kita, sudah tentu dia tidak bisa pergi menyuruh lelaki berbaju hijau itu untuk mengirim surat tersebut."

"Tetapi lelaki berbaju hijau itu berkata bahwa pada setengah jam sebelumnya orang berkerudung itu baru pergi mencari dirinya, sedangkan dia….. Cuo It Sian sewaktu bertemu dengan kita sampai waktu lelaki itu memanahkan suratnya agaknya belum kelewat setengah jam Iamanya?"

"Benar !" sahut Wi Lian In mengangguk. "Dia berbicara dengan kita lama sekali, pasti ada setengah jam lamanya" "Kalau memangnya demikian dia orang masih tetap sangat mencurigakan sekali” ujar Ti Then sambil tertawa.

"Kenapa?" seru Wi Lian In lertegan. "Apakah dia orang mem punyai ilmu untuk memisahkan diri ?"

"Manusia berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau untuk kirim surat panah tersebut bukanlah manusia berkerudung yang kita temui, melainkan manusia berkerudung yang lain.”

"Bagaimana kau bisa tahu dia adalah orang lain ?'" tanya Wi Lian In keheranan.

"Lelaki berbaju hijau itu bilang orang yang memerintahkan dirinya adalah seorang lelaki berkerudung yang badannya amat kurus sekali, sedangkan, lelaki berkerudung yang kita temui tempo hari sewaktu masih ada di istana Thian Teh Kong mem punyai perawakan yang tinggi besar dari hal ini saja sudah jelas membuktikan kalau dia adalah orang lain."

"Eeei . , . lelaki berkerudung yang melarikan diri sewaktu berada di perkam pungau Thay Peng Cun itu pun agaknya mem punyai perawakan yang amat kurus sekali ?" ujar Wi Lian In secara tiba- tiba.

“Tidak salah, kemungkinan sekali memang dia orang " sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Hmm.Jika dilihat dari hal ini, orang yang ada di depan kita ini sangat mencurigakan sekali ?"

"Jika keadaan ini tidak melihat maka aku sangat mengagumi nyaiinya yang demikian besar" ujar Ti Then sambil tersenyum.

"Kau orang apakah tidak menceritakan urusan ini kepada ayahku

?"

"Tidak, dia terus menerus mengikuti dari samping tubuh ayahmu

lantas suruh dengan cara bagaimana membuka suara??"

"Urusan ini harus cepat-cepat dilaporkan kepada Tia, aku pencaya Tia pun masih mengira lelaki berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau itu adalah lelaki berkerudung yang semula."

"Menanti jika malam nanti kita menginap di rumah penginapan, dengan mengambil kesempatan sewaktu Cuo It Sian tidak ada di samping ayahmu cepat-cepatlah kau menceritakan hal ini kepada beliau.”

Wi Lian In segera mengangguk.

"Tetapi" ujar Ti Then kembali. "Kau tidak boleh tetap ngotot menuduh Cuo It Sian adalah lelaki berkerudung itu, kau cukup memberitahu kepada ayahmu saja lelaki berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau itu sama sekali bukanlah lelaki berkerudung yang kita temui di dalam istana Thian Teh Kong."

"Kalau cuma berkata demikian bagaimana Tia bisa mengerti ?" "Ayahmu itu manusia macam apa ? Ada urusan apa yang dia

orang tidak dapat pikirkan ?" Seru Ti Then sambil tersenyum.

Wi Lian In segera mengangguk, dia tersenyum,

“Tidak perduli lelaki berkerudung itu benar Cuo It Sian atau tidak, menanti setelah kita kembali ke dalam Benteng kemungkinan sekali segera kita orang bisa tahu barang apa yang dia minta sehingga memaksa ayahmu untuk menyerahkan kepadanya !"

Hari itu malam hari sudah menjelang, keenam orang itu   pun baru saja tiba di sebuah kota, mereka segera pada mencari rumah penginapan untuk beristirahat.

Dengan mengambil kesempatan sewaktu Cuo It Sian tidak ada di samping ayahnya Wi Lian In segera menceritakan bagaimana manusia berkerudung yang memerintahkan lelaki berbaju hijau itu sama sekali bukan manusia berkerudung yang mereka temui di dalam istana Thian Teh Kong.

Setelah mendengar perkataan itu agaknya Wi Ci To sama sekali tidak menjadi terkejut atau heran.

"Lalu bagaimana ?" tanyanya sambil tertawa. "Semula aku mengira dia adalah seorang yang sama ternyata dugaan ini salah, kalau begitu . , . kalau, begitu - - ."

"Kalau begitu hal ini berarti juga manusia berkerudung itu adalah anak buahnya dari manusia berkerudung hitam itu" sambung Wi Ci To dengan cepat.

"Selain itu berarti juga ada salah seorang yang harus kita curigai” "In-ji, kau orang jangan pikir yang bukan-bukan" Seru Wi Ci To

kemudian sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Bukannya aku menaruh banyak curiga, tetapi berbagai fakta sudah membuktikan , kalau . . . "

"Sudahlah “ potong Wi Ci To sambil mengulapkan tangannya. "Kita jangan membicarakan persoalan ini lagi, aku ada satu urusan yang hendak aku tanyakan kepadamu”

"Urusan apa ?' tanya Wi Lian In tertegun.

"Urusan ini sebetulnya ibumu yang cocok untuk bertanya" ujar Wi Ci To sambil tertawa perlahan."Tetapi sayang ibumu teiah meninggal dunia maka itu terpaksa akulah yang mewakili dirinya untuk menanyai kau orang. . . . sebenarnya kau punya perhatian tidak terhadap Ti Kiauw tauw ?"

Wi Lian In sama sekali tidak menyangka ayahnya bisa menanyakan soal ini pada saat dan tempat seperti ini, seketika itu juga saking malunya seluruh wayahnya sudah berubah menjadi merah padam.

"Aku tidak tahu. . , . " Serunya sambil menutupi wayahnya dengan kedua belah tangannya.

Wi Ci To segera tersenyum.

"Aku lihat selama beberapa hari Ini kau sudah mulai menaruh rasa cinta terhadap Ti Kiauw-tauw, tetapi sekali pun begitu aku harus bertanya terlebih dahulu kepapamu, kau rasa bagaimana ?" Dalam hati Wi Lian In merasakan hatinya berdebar-debar dengan amat kerasnya, dia merasa terkejut bercampur girang tetapi tangannya tetap menutupi wayahnya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

'"Dengan mengambil kesempatan dia orang tidak ada di sini kau boleh mengutarakan isi hatimu kepadaku, dengan demikian aku pun bisa mengambil inisiatif” desak Wi Ci To selanjutnya.

"Dia . ., . dia .... putrimu merasa dia .... dia tidak jelek . . . !" "Benar !" ujarya Wi Ci To sambil tertawa. "Aku pun merasa dia

orang tidak jelek hanya saja lohu merasa ada berbagai tempat yang benar-benar membuat orang merasa tidak paham!”

"Tia, kau tidak memahami apanya ??" tanya Wi Lian In kemudian dengan malu-malu.

"Lohu sendiri pun tidak bisa mengutarakannya keluar, lohu cuma merasa agaknya dia mem punyai sesuatu rahasia."

"Tetapi aku tidak melihat bagian mananya yang tidak beres." "Kau tentu masih ingat sewaktu si anying langit rase bumi

menyerang Benteng Pek Kiam Po kita pada malam hari bukan ?"

ujar Wi Ci To dengan perlahan. "Malam itu setelah si rase bumi meninggalkan Tebing Sian Ciang lohu sudah mengundang dia untuk kembali ke dalam benteng dan mengajaknya masuk ke dalam kamar bukuku untuk berbicara, waktu itu lohu sangat menaruh curiga kalau dialah Lu kongcu itu lantas dengan sejujurnya lohu minta dia memberitahukan maksud tujuannya, semula dia tidak mau menyawab akhirnya setelah lohu mendesaknya lebih lanjut mendadak dia meneteskan air mata….”

Mendengar sampai di situ Wi Lian ln segera mencibirkan bibirnya.

"Dia memangnya bukan Lu Kougcu itu setelah Tia memaksa dia terus untuk menyawab sudah tentu hatinya terasa tertekan sehingga menjadi sedih hati dan meneteskan air mata " “Tidak . . . . bukan demikian" bantah Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. "Waktu itu lohu cuma bertanya kepadanya apakah ada sesuatu perkataan yang sukar untuk diutarakan atau mungkin ada persoalan yang menyulitkan hatinya, lohu bilang kalau ada tentu aku akan bantu untuk menyelesaikan persoalan tersebut, setelah mendengar perkataan tersebut mendadak dia meneteskan air matanya, dia bilang jikalau lohu mau membantu dirinya untuk menyelesaikan persoalan ini hanya ada satu cara saja yaitu meminta lohu berkelahi dengan dirinya, mengalahkan dirinya !”

"Apa artinya ini?" seru Wi Lian In tertegun.

"Aku sendiri pun tidak paham tetapi dia orang tidak mau menjelaskan lebih lanjut, dia cuma bilang harap lohu untuk sementara waktu mau menganggap dirinya sebagai musuh besar lalu bertempur dengan dirinya, jikalau lohu berhasil mengalahkan dirinya hal ini berarti juga sudah membantu dia menyelesaikan satu persoalan yang menyulitkan sekali."

Sepasang mata Wi Lian In segera terbelalak lebar-lebar, dengan perasaan sangat terperanyat ujarnya :

"ini . . . ini... sebetulnya apa artinya?"

"Dia bilang alasannya sampai kini belum bisa diterangkan, tetapi jikalau lohu berhasil mengalahkan dirinya maka dia mau menceritakan sebab-sebabnya kepadaku."

"Lalu Tia menyanggupinya ?" Tanya Wi Lian In terperanyat.

"Dia mem punyai budi terhadap kita ayah beranak, bagaimana aku bisa mengabulkan permintaannya yang sangat membingungkan ini ?" Seru Wi Ci To sambil tertawa pahit.

"Sampai sekarang dia belum pernah mengatakan sebab- sebabnya !"

"Tidak !"

"Kalau begitu biarlah aku pergi menanyai dirinya !" Selesai berkata dia segera pjtar badan siap berlalu dari dalam kamar.

"Tidak !” Cegah Wi Ci To sambil menarik tangannya. "Kau jangan pergi menanyai dirinya !"

"Kenapa ?" tanya Wi Lian In keheranan.

"Setiap orang tentu mem punyai suatu rahasia yang tidak bisa dikatakan kepada orang lain. sekarang bilamana kau bertanya kepadanya belum tentu dia mau mengutarakannya keluar bahkan lohu merasa rahasianya ini tentu tidak ada sangkut pautnya dengan Benteng kita, karena selama beberapa hari ini menurut pengamatan lohu terhadap dirinya aku sudah dapat melihat kalau dia sama sekali tidak menaruh suatu rencana terhadap Benteng kita, dia

Betul-betul merupakan seorang pemuda yang halus budi dan baik-baik"

"Tetapi kalau memangnya dia mem punyai kesukaran seharusnya kita pergi membantu dirinya" ujar Wi Lian In dengan ngotot.

"Benar!" sahut W ie Ci To sambil mengangguk. "Tetapi satu- satunya jalan untuk membantu dia menyelesaikan kesukarannya adalah menyuruh lohu mengalahkan dirinya dengan menggunakan ilmu silat, coba kau pikir dapatkah hal ini dijalanan?"

"Kalau begitu biar aku pergi bertanya kepadanya, kemungkinan sekali dia mau memberikan jawabannya".

Sekali lagi Wi Ci To gelengkan kepalanya.

"Tidak,jikalau kau bertanya padanya saat ini dia orang bisa salah paham dan menganggap kita ayah beranak masih menaruh curiga terhadap dirinya"

Dia berhenti sebentar lantas sambungnya sambil tertawa.

"Cuma ada suatu waktu di dalam keadaan yang tertentu kau boleh pergi bertanya kepadanya."

"Keadaan bagaimana?” tanya Wi Lian In keheranan. "Setelah kalian menjadi suami isteri !" Wayah Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, saking malunya tak sepatah kata pun bisa diucapkan keluar.

"Setelah kalian menjadi suami isteri berarti juga kita sudah satu keluarga, saat itulah kau boleh bertanya kepada dirinya kemungkinan sekali dia mau mengatakan sebab-sebabnya." ujar Wi Ci To lagi.

"Tetapi Tia masih belum jelas mengetahui asal-usulnya bagaimana Tia begitu tega menjodohkan..”

Baru saja berbicara sampai di sini mendadak dia dapat melihat Ti Then serta Suma San Ho berjalan masuk ke dalam kamar, dengan terburu-buru dia menutup mulutnya. kembali.

Dengan perlahan Wi Ci To angkat kepalanya memandang kearah Ti Then serta Suma San Ho yang baru saja masuk ke dalam kamar itu, ujarnya kemudian sambil tertawa :

“Ti Kiauw-tauw, San Ho kalian keluarlah sebentar, lohu sedang membicarakan suatu urusan dengan Siauw-li”

Dengan sangat hormatnya Ti Then serta Suma San Ho menyahut lalu mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Ketika Wi Lian In melihat mereka sudah mengundurkan diri segera sambungnya kembali dengan suaranya lirih :

"Tia, apakah kau tega menjodohkan kami kepadanya?” Dengan perlahan Wi Ci To mengangguk-

"Bukankah tadi aku sudah bilang dia adalah seorang pemuda yang dapat dipercaya, tidak perduli di dalam hatinya masih menyimpan rahasia apa atau lain kali akan berbuat pekerjaan apa, lohu percaya dia tidak akan membahayakan keselamatan dari Benteng kita."

Wi Lian In segara mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata lagi. "Sekarang aku mau tanya lagi, apakah kau sungguh-sungguh menyenangi dirinya?" tanya Wi Ci To lebih lanjut.

"Siauw-li serahkan Tia yang mengambil keputusan " sahutnya perlahan, dengan air muka yang berobah menjadi merah.

Halaman 47-48 robek/hilang

"Benar, lolap masih teringat beberapa tahun yang lalu Pocu pernahmengalah dua biji catur kepada lolap tetapi akhirnya kita main seimbang, ini hari Lolap mau melihat apakah permainan caturku ada mendapatkan kemajuan atau tidak."

"Bagus sekali !" sahut Wi Ci To dengan girang. "Tetapi kita batasi dua kali permainan saja, besok kita harus masih melakukan perjalanan, ini malam kita orang tidak boleh terlalu banyak capai."

Berbicara sampai di sini segera tolehnya kearah Wi Lian In."

"In-ji, kau pergilah menyuruh pelayan mempersiapkan seperangkat catur !"

Wi Lian In menyahut dan mengundurkan diri dari dalam kamar lalu perintahkan pelayan untuk mengambil alat catur.

Setelah semuanya selesai dia baru pergi mencari Ti Then serta Suma San Ho ujarnya kemudian :

"Ti Kiauw-tauw, Suma suheng, bagaimana kalau kita berjalan- jalan ke kebun bunga ?".

Padahal dia cuma ingin mengajak Ti Then seorang saja, karena melihat Suma San Ho pun ada di situ dia merasa tidak baik untuk meninggalkan dia seorang diri oleh sebab itulah sengaja dia mengajaknya sekalian.

Ternyata Suma San Ho tahu diri juga, sahutnya dengan cepat : "Kalian berdua pergilah, aku tidak ingin pergi."

"Kenapa tidak mau ikut ?" sengaja Wi Lian In mengomel. "Ie-heng merasa lelah sewaktu melakukan perjalanan, lebih baik aku cepat-cepat kembali ke kamar untuk beristirahat."

Selesai berkata dia sengaja memperlihatkan muka setan pada Ti Then lantas kembali ke dalam kamar.

Demikianlah akhirnya Ti Then serta Wi Lian In berjalan ke dalam kebun bunga di belakang rumah penginapan tersebut, agaknya kebun bunga itu tidak pernah terawat karena kelihatan sekali rumput yang tumbuh dengan amat suburnya ....

Walau pun begitu di dalam pandangan Wi Lian In tempat ini merupakan suatu tempat yang sangat indah sekali, bersama-sama dengan Ti Then mereka berjalan menuju ke sebuah gardu lalu duduk berdampingan

"Kau sudah beritahukan urusan itu kepada ayahmu ?" tanya Ti Then kemudian.

"Benar !" sahut Wi Lian In mengangguk. "Tetapi Tia mengatakan aku banyak menaruh curiga terhadap.orang lain dan suruh aku jangan banyak berpikir tidak karuan."

"Kemungkinan juga Cuo It Sian bukanlah manusia berkerudung hitam itu, seharusnya ayahmu jauh lebih jelas dari kita."

Dengan perlahan Wi Lian In mengangguk.

"Saat ini Tia sedang main catur dengan dia orang di dalam kamar

. . . . "

"Tadi ayahmu sedang membicarakan apa dengan kau ?" tanya Ti Then kemudian,

"Coba kau terka !" seru Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

Ti Then tersenyum.

"Apakah kalian sedang membicarakan barang yang diminta oleh manusia berkerudung hitam itu?"

"Bukan !" jawab Wi Lian In sambil mengelengkan kepalanya. "Membicarakan cara-cara untuk menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang??"

"Soal itu tidak ada keharusan untuk mengelabuhi kau serta Suma Suheng !"

"Lalu membicarakan urusanmu ?" seru Ti Then sambil tertawa. "Cuma benar separuh saja."

"Lalu yang separuh membicarakan siapa ?" Tanya Ti Then lagi sambil tertawa serak.

Wi Lian In segera manempelkan bibirnya dekat telinganya lantas dengan nada yang manya sahutnya :

"Membicarakan dirimu."

"Membicarakan tentang apa tentang diriku?" Tanya Ti Then dengan hati menegang.

Wi Lian In segera kirimkan satu kedipan mata yang menggiurkan kepadanya "Coba kau terka lagi?” ujarnya.

"Dia orang tua menasehati dirimu untuk jangan terlalu bergaul rapat dengan diriku?"

"Hihi…hiii…justru sebaliknya!"

Mendengar sampai di situ Ti Then segera menjadi paham kembali, dia tersenyum.

"Kau menceritakan urusan tentang hubungan kita yang sudah mengikat menjadi calon suami istri ?"

"Tidak, baru saja aku mau membicarakan urusan itu dengan Tia mendadak dia balik bertanya kepadaku apakah aku..apakah aku. . . kau mengerti bukan ?"

"Tidak!" sahut Ti Then sambil tertawa.

Dengan manyanya dia segera mencubit lengan Ti Then, serunya dengan suara aleman:

“Jikalau kau pura-pura bodoh terus aku tidak mau berbicara lagi." "Baik baiklah! aku tidak pura-pura bodoh lagi "ujar Ti Then kemudian sambil tertawa terbahak-bahak. "Lantas bagaimana kau memberikan jawabannya kepada ayahmu?”

"Aku bilang aku tidak tahu." "Bagus sekali”

“Kenapa bagus sekali ?” Seru Wi Lian ln sambil mengirim satu kerlingan mata kepadanya.

"Tidak mau dan tidak tahu mem punyai perbedaan yang sangat besar sekali, bukan begitu ?"

"Ehmm .. , . selamanya Tia belum pernah langsung menanyakan urusan ini kepadaku, tadi aku benar-benar merasa sangat malu sekali” ujar Wi Lian In lagi sambil merebahkan dirinya ke dalam rangkulan Ti Then.

"Tidak usah putar-putar lagi, akhirnya bagaimana ?"

"Dia bilang sesudah menolong Ih, Kha serta Pauw tiga orang segera dia orang tua mau mengawinkan kita berdua."

Seketika itu juga Ti Then merasakan hatinya terjeblos ke dalam jurang yang amat dalam sekali, dia merasa hatinya bagaikan dipukul oleh ombak samudra yang tak putus-putusnya.

Urusan ini merupakan satu hal yang dinantikan sejak lama sekali, juga merupakan sebuah urusan yang paling ditakuti olehnya. saat ini dia tidak dapat mengata hatinya girang atau murung, seluruh tubuhnya terasa menjadi sangat tegang sekali, karena dengan demikian berarti juga 'Rencana busuk" dari majikan patung emas sudah hampir mencapai kesuksesan

sedangkan dirinya sebagai seorang patung emas pun bakal mulai memperoleh perintah,

untuk melakukan sesuatu perbuatan yang sama sekali merugikan Wi Ci To bersama putrinya..”

ooooOOoooo Walau pun di dalam hati kecilnya dia sudah mengambil keputusan jikalau majikan patung emas mau perintah dirinya melakukan suatu pekerjaan yang sekali merugikan Wi Ci To beserta putrinya dia akan melakukan perlawanan dengan taruhan nyawa, tetapi setelah dipikir lebih teliti lagi dia   pun merasa bahwa urusan ini tidak bisa diselesaikan dengan kematian dirinya, karena majikan patung emas baru mau memberikan peiintahnya yang kedua selelah dirinya kawin dengan Wi Lian In.

Sedangkan pada saat itu nasi sudah akan menjadi bubur, jikalau dirinya mati bukankah sama saja dengan dirinya sudah merusak kebahagiaan dari seorang nona?

Makanya dia merasakan hatinya sangat bingung sekali.

Saat ini Wi Lian In pun dapat melihat dia orang betul-betul mem punyai pikiran yang ruwet, dengan perlahan tangannya ditepuk- tepukkan ke atas bahunya lalu tanyanya dengan suara yang amat halus:

"Agaknya kau merasa tidak begitu gembira ??"

"Siapa yang bilang??" ujar Ti Then dengan cepat sambil memperlihatkan senyumya.

"Dari sikapmu aku bisa melihat jelas!”

“Tapi belum tentu rasa gembira yang terkandung di dalam hati harus diperlihatkan di atas wayah"

"Tetapi berita ini tidak seharusnya membuat kau orang merasa sangat tidak gembira !"

"Apakah wayahku memperlihatkan kalau hatiku merasa tidak senang?" tanya Ti Then kemudian.

"Sedikit pun tidak salah,"

“Kau sudah salah melihat” seru Ti Then kemudian. "Aku tidak mem punyai alasan untuk merasa tidak gembira, aku cuma..eeei! Ini yang dinamakan ilmu menenangkan hati, yang dimaksud sekali pun gunung ambruk di depan mata tidak menjadi kaget, gembira tidak kelihatan senang, menemui bencana tidak kelihatan murung, malang tidak tampak mengerang.

"Omong kosong! Kecuali tidak suka padaku kalau tidak bagaimana bisa melihat gembira tidak menjadi girang hati?" Sela Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Bukankah aku sekarang sedang girang hati?' Ujar Ti Then cepat- cepat sambil meraperlihatkan tertawanya yang dipaksakan.

“Aku bisa melihat kau sengaja memperlihatkan tertawamu yang dipaksakan”

"Bagaimana bisa jadi ?” ujar Ti Then sambil mengangkat bahunya. "Aku sudah bilang aku tidak mem punyai alasan untuk bergirang hati"

"Bilamana seseorang tidak dapat mengikuti perubahan perasaan hatinya dengan memperlihatkan gembira, marah, murung dan sedih hati hal ini membuktikan kalau membuktikan kalau…”

“Membukikan kalau orang itu adalah seorang yang amat dingin kaku dan tidak berperasaan bukan begitu??" sambung Ti-Then dengan cepat.

"Tapi aku tahu kau bukanlah seorang manusia yang dingin kaku dan tidak berperasaan'

"Kalau begitu sangat bagus sekali”

''Lalu kau mem punyai rahasia apa yang terkandung di dalam hatimu ??" desak Wi Lian In lagi.

"Aku tidak punya rahasia apa-apa !" "Kau sedang menipu aku !"

"Jika semisalnya aku benar-benar ada rahasia hati maka itu berarti juga aku sedang merasa murung apakah dikemudian hari aku bisa memberikan kegembiraan buat dirimu…” "Asalkan kau benar-benar suka padaku tidaklah perlu untuk merasa murung hati" ujar Wi Lian In sambil memandang tajam wayahnya.

"Sudah tentu aku suka padamu   "

Wi Lian ln segera menarik-narik ujung bajunya, lantas ujarnya dengan suara yang perlahan : "Omong sesungguhnya sebetulnya kau mempnyai rahasia atau tidak ?"

Dalam hati Ti Then merasakan hatinya serasa berdesir.

"Haa . . . haaa . - . haaa .... Bagaimana malam ini kau bisa memperlihatkan sikap yang demikian berubah dan tidak seperti biasanya ?" ujarnya sambil tertawa paksa.

"Apa kau orang minta bukti ?"'

"Coba katakan !" ujar Ti Then sambil angkat kepalanya. "Sebenarnya Tia sudah cegah aku untuk jangan menanyakan

urusan ini kepadamu, dia bilang sekali    pun di dalam hatimu

tersimpan sesuatu rahasia tetapi belum tentu mem punyai bahaya bagi kita ayah beranak, sekali pun begitu tapi aku merasa ada pentingnya juga untuk bertanya lebih jelas lagi kepadamu karena sekarang aku sudah menjadi calon istrimu, aku mem punyai hak dan tugas untuk ikut memikul kemurungan hatimu itu !"

Semakin lama Ti Then merasa hatinya semakin tidak tenang, tetapi pada wayahnya masih tetap memperlihatkan sikapnya yang sama sekali tidak menjadi sesuatu urusan apa  pun.

"Jikalau di dalam hatiku tersimpan suatu urusan tentu aku bisa memberitahukannya kepadamu, tapi aku betul-betul tidak mem punyai rahasia apa  pun."

"Kalau begitu" ujar Wi Lian In lagi sambil memandang tajam wa jahnya. "Waktu itu setelah kau berhasil memukul mundur si anying langit rase bumi di atas tebing Sian Ciang dan mengikuti Tla masuk ke dalam ruangan baca di dalam benteng kenapa kau minta Tia untuk berkelahi dengan dirimu ? Kenapa kau bilang apabila Tia bisa mengalahkan dirimu berarti pula sudah membantu kau menyelesaikan suatu urusan yang amat sulit ?"

Ti Then sama sekali tidak menyangka dia bisa secara tiba-tiba menanyakan kembali urusan ini, untuk beberapa saat lamanya dia orang dibuat kelabakan tidak tahu bagaimana baiknya untuk memberikan jawabannya.

"Ooouw    soal ini??" ujarnya agak malu.

"Sekarang juga aku minta penjelasan yang beralasan dari dirimu,"

"Itu…itu ..... sebetulny tidak ada urusan ap-apa!" sahut Ti Then dengan gelagapan. “Waktu Itu kalian terus menerus menganggap aku sebagai Lu kongcu maka dalam hati aku merasa kheki dan ingin sekali . . ingin sekali meningalkan Benteng Pek Kiam Po, tetapi menginginkan aku orang supaya tetap tinggal di sana, hatiku waktu itu benar-benar merasa serba susah bahkan ayabmu terus menerus mendesak aku dan bertanya apakah di daiam hatiku sudah tersimpan satu rahasia.

Di dalam keadaan terdesak mendadak dalam ingatanku berkelebat satu akal. aku pura-pura memperlihatkan kalau aku benar-benar mem punyai sesuatu rahasia hati yang tidak bisa diberitahukan kepada orang lain, dengan mengambil kesempatan itu aku pun mengajak dia untuk berkelahi.

Padahal aku tahu ayahmu pasti tidak akan mau bertempur dengan diriku, saat itu aku sengaja berkata demikian sebetulnya bertujuan agar ayahmu menarah rasa curiga yang lebih besar lagi terhadap diriku sehingga mengijinkan aku meninggalkan Benteng Pek Kiam Po kalian itu!"

“Penjelasan ini sama sekali tidak sesuai dengan keadaan !" Seru Wi Lian In kemudian setelah selesai mendengarkan perkataannya itu.

"Tetapi hal ini merupakan kejadian yang sungguh-sungguh!" Agaknya Wi Lian In merasa sangat tidak puas dengan penjelasannya itu, dia tundukkan kepalanya tidak mengucapkan sepatah kata pun,

Ti Then dengan sikap seperti sengaja seperti juga tidak sengaja menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, lantas bisiknya dengan suara yang amat lirih :

"Lian in, jikalau kau merasa tidak tega hati ternadap aku orang kau boleh beritahukan kepada ayahmu supaja untuk sementara waktu menunda maksudnya untuk menyelenggarakan perkawinan di antara kita !"

Wi Lian In merasa semakin tidak puas lagi, mendadak dia bangkit berdiri.

"Baik, aku segera memberitahukan urusan ini kepada Tia ! "

Selesai berkata dengan gemas dan marahnya dia berlari meninggalkan gardu tersebut.

Dengan, pandangan yang amat sayu Ti Then memperhatikan dia orang berlalu meninggalkan kebun bunga itu, dalam hati dia benar- benr merasa sangat sedih sekali, tetapi dia pun merasa sedikit girang hati.

Dia menganggap bilamana Wi Lian In benar-benar memberitahukan perkataan ini kepada ayahnya maka untuk sementara waktu Wi Ci To tentunya akan menghapuskan pikiran tersebut, walau pun hal ini akan menusuk hatinya tetapi terhadap kehidupan selanjutnya malah mem punyai kebaikan.

Jika dibicarakan dengan perkataan lain, dia menganggap sehari dirinya belum kawin dengan Wi Lian In maka satu hari pula majikan patung emas tidak dapat memberikan perintahnya yang kedua, jika secara demikian berlarut-larut terhadap "Rencana busuk" yang disusun oleh majikan patung emas pun menjadi kurang menguntungkan sebaliknya terhadap dirinya sendiri Wi Ci To dan Wi Lian In sangat "Menguntungkan" sekali. Tetapi apakah Wi Lian In benari pergi ke kamar ayahnya dan meminta dia orang tua untuk sementara waktu membatalkan maksudnya hendak mengadakan perkawinan di antara mereka?

Tidak! Sama sekali tidak!

Dia terus berlari masuk ke dalam kamarnya di rumah penginapan tersebut lantas naik ke atas pembaringan untuk tidur dengan lelapnya.

Keesokan harinya tua muda enam orang sesudah membereskan rekening segera meninggalkan rumah penginapan itu untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Benteng.

Di tengah perjalanan tidak terjadi urusan apa-apa, pada hari keempat siang akhirnya mereka berenam sudah tiba kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po.

Di bawah sambutan yang amat hormat dari beberapa puluh orang pendekar pedang merah Wi Ci To masuk ke dalam Benteng dan duduk di tengah ruangan, tanysnya kemudian kepada si jago pedang penembus ulu hati, Shia Pek Tha :

"Pek Tha, sudah beberapa lama kau kembali ke dalam Benteng

?"

"Hamba sudah ada enam, tujuh hari lamanya kembali ke dalam

Benteng."

"Apakah di dalam Benteng sudah terjadi sesuatu urusan ?” tanya Wi Ci To kembali.

"Tidak."

“Apakah tidak menemukan adanya manusia yang tidak dikenal menyusup ke dalam Benteng kita ?"

"Tidak ada, sejak Pocu meninggalkan Benteng keadaan di sini sama sekali aman tentram tidak t erjadi suatu peristiwa pun." Dengan perlahan Wi Ci To menyapu sekejap kearah para pendekar pedang merah yang berdiri di sampingnya lantas tanyanya:

"Kalian semua pada menerima perintah untuk meninggalkan Benteng guna menawan Hong Mong Liang manusia terkutuk itu, sewaktu kembali ke dalam Benteng ada siapa yang pernah bertemu dengan Ih Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen?"

"Tecu tidak ada yang melihat !" sahut para pendekar pedang merah secara berbareng.

"Bagaimana dengan mereka bertiga?" tanya Shia Pek Tha dengan amat terperanyat.

"Mereka bertiga sudah terjatuh ke tangan seorang manusia berkerudung hitam"

Segera dia menceritakan seluruh kejadian itu dengan sejelas- jelasnya.

Sampai waktu ini masih ada tujuh puluh dua orang pendekar pedang merah yang belum kembali dari tempat luaran, apakah Ih, Kha serta Pauw tiga orang betul-betul terjatuh ke tangan manusia berkerudung hitam itu masih merupakan satu pertanyaan yang mencurigakan bagiku " ujar Shia Pek Tha dengan perlahan.

"Tidak akan' salah lagi !" seru Wi Ci To sambil tertawa dingin tak henti-hentinya. "Manusia berkerudung itu tidak perlu menggunakan omongan bohong untuk menipu kita. Ih, Kha serta Pauw tiga orang pasti sudah terjatuh ketangan musuh !"

Shia Pek Tha termenug berdiam diri.

"Dia minta lohu kem bali ke dalam Benteng untuk menunggu kabar beritanya" ujar Wi Ci To lagi. "Maka di dalam beberapa hari ini pasti ada berita yang akan muncul, kalian seharusnya sedikit berhati-hati lagi."

Selelah semuanya selesai dia segera memerintahkan untuk mempersiapkan perjamuan buat menyambut datangnya si Sian Thay-ya atau si pembesar kota Cuo It Sian. Sore itu dengan membawa mabok Ti Then balik kembali ke dalam kamarnya, si Lo- cia itu pelayan tua segera membantu dia membawakan sebaskom air untuk cuci muka, lalu sambil tertawa pecengis-an ujarnya :

"Ti Kiauw-tauw, katanya Hong Mong Ling itu bangsat cilik sudah mati ?"

"Benar!" sahut Ti Then sambil mencuci muka. "Dia dibinasakan oleh sebuah batu yang disambit oleh manusia berkerudung hitam."

"Sebetulnya manusia berkerudung itu berasal dari aliran mana?"tanya Lo-cia lagi.

"Sampai sekarang masih belum tahu..."

"Hamba dengar si rase bumi Bun Jin Cu pun sudah mati" "Tidak salah, dia sudah bunuh diri !"

Dia orang "kenapa mau bunuh diri?" desak si-Lo-cia lebih lanjut.

Ti Then segera melemparkan handuknya kearah dia lantas menepuk-nepuk bahunya.

“Aku baru saja pulang" ujarnya sambil tertawa. "Sekarang aku orang harus tidur dulu dengan nyenyak lain kali saja aku beritahukan kepadamu."

"Baik .... baik .... baik !" sahut Lo-cia sambil bungkukkan dirinya memberi hormat. "Heee .... heee .... hamba selamanya tidak bisa menghilangkan penyaktt cerewetnya ini, Ti Kiauw-tauw silahkan beristirahat!"

Selesai berkata dengan mengambil baskom air itu dia mengundurkan dirinya dari dalam kamar.

Ti Then segera naik ke atas pembaringan untuk beristirahat, tidak terasa lagi dia sudah tertidur dengan amat nyenyaknya.

Menanti setelah didengarnya ada orang yang mengetuk pintunya dia baru bangun dari pulasnya, ketika melihat keluar jendela terlihatlah hari sudah gelap, dengan tergesa-gesa dia meloncat bangun sambil bertanya :

"Siapa ?”

"Aku !”

Suara dari Wi Lian In !

"Silahkan masuk !" ujar Ti Then kemudian sambil tersenyum. "Kenapa tidak pasang lampu?" tanyanya.

"Aku baru saja cuci muka sebentar, kemudian sudah tertidur dengan amat nyenyaknya.”

Dia segera menyulut lampu kamar dan katanya sambil tertawa : "Apa sudah waktunya untuk tidur malam ?"

"Sudah hampir" sahut Wi Lian In mengangguk. "Aku lihat satu siangan kamu orang terus menerus tutup pintu tidak keluar makanya sengaja aku kemari untuk menjenguk, tidak tahunya kau sedang tidur.”

"Setelah tiba di dalam Benteng hatiku merasa amat tenang sekali, karenanya mudah sekali untuk tertidur nyenyak."

"Hiii ..hii .... kiranya kau pun mem punyai perasaan hati tenang setelah kembali ke dalam Benteng sehingga bisa tertidur dengan amat nyenyaknya" ujar Wi Lian In sambil tertawa. "Aku masih mengira kau dapat bersikap seperti di tempat luaran, melihat kegembiraan tidak senang, menemui bencana tidak murung!"

"Kau orang sungguh pintar sekali mencari kelemahan ucapan orang lain" seru Ti Then sambil angkat bahunya.

"Tia serta Cuo It Sian sedang ngomong-ngomong di dalam kamar buku, bagaimana kalau kita pergi ke sana ?"

"Baiklah, mari kita ke sana.”

“Rasanya kau sudah tidak menaruh rasa curiga dengan Cuo It Sian?” “Rasa curiga sudah tentu masih ada sedikit" ujar Ti. Then sambil tertawa. "Tetapi kalau memangnya ayahmu menyalahkan kita orang terlalu banyak menaruh curiga kepada orang lain lebih baik untuk sementara kita lepaskan rasa curiga tersebut”

"Tla sering menggunakan hati seorang budiman untuk menghadapi pikiran licik manusia rendah, aku merasa kuatir…”

Ti Then termenung sebentar lantas ujarnya sambil tertawa : “Bilamana kau merasa kuatir aku bisa ajarkan satu cara buat

dirimu."

“Coba kau katakanlah !”

"Selama beberapa malam ini kau jangan tidur tetapi sembunyilah diluar jendela Cuo It Sian untuk melakukan pengintaian."

“Kau menganggap jikalau dia adalah manusia berkerudung hitam itu maka dia bisa melakukan gerakannya pada malam hari ?" tanya Wi Lian ln sambil memperhatikan wajahnya.

"Benar “ sahut Ti Then mengangguk. "Kemungkinan sekali diwaktu malam secara bersembunyi-sembunyi dia bisa mendekati jendela dari ayahmu untuk kirim beritanya.”

"Apakah yang kau maksud dengan berita adalah waktu serta tempat untuk saling tukar menukar barang ?" tanya Wi Lian ln perlahan.

"Benar."

"Dapatkah dia orang pergi mencari barang milik ayahku dengan mengambil kesempatan sewaktu ada di dalam Benteng kita ?"

"Tidak mungkin!” sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. "Jikalau dia menganggap barang tersebut bisa dicuri sejak dahulu dia sudah turun tangan untuk mencurinya."

Dengan perlahan Wi Lian ln mengangguk. “Jikalau menyuruh aku seorang diri mengawasi gerak-geriknya dengan seorang diri aku rasa terlalu tidak enak, bagaimana jika kau temani aku?" ujarnya kemudian.

-ooo0dw0ooo-