Pendekar Patung Emas Jilid 24

 
Jilid 24

“Jangan cemas” ujar Wi Ci To dengan perlahan. "Lebih baik kita keluar dari tempat ini terlebih dahulu lalu kalian ceritakan kejadian yang sudah kalian alami kepadaku, kemungkinan sekali aku bisa menebak siapakah orang itu”

Demikianlah mereka berlima segera berjalan keluar dari kamar alat rahasia itu dan menuju keruangan luar, setelah mengadakan pemeriksaan kembali dengan teliti dan memastikan kalau lelaki berkerudung itu benar-benar sudah merat dari istana Thian Teh Kong mereka baru berkumpul dan duduk-duduk di dalam ruangan Khie Ie Tong.

“Eeei di mana baju Ti Kiauw tauw serta San Ho ?” tanya Wi Ci To kemudian.

“Masih ada di dalam ruangan siksa” sahut Ti Then cepat.

“San Ho” seru Wi Ci To memberi perintah. “Coba kau turun ke bawah dan ambil pakaian kalian kemari lalu kita harus cepat-cepat atur langkah kita selanjutnya.

Suma San Ho segera menyahut dan meninggalkan tempat itu untuk balik kembali ke daIam jalan rahasia.

“Tia “ ujar Wi Lian In kemudian. “Janyi pertempuran kita adalah besok pagi, bagaimana tia ini hari sudah sampai ?”

“Aku dengar orang bilang katanya di dalam istana Thian Teh Kong sudah terjadi pemberontakan karena itu sengaja aku lebih pagi datang kemari, , . - eeehm tadi kalian bilang Bun Jin Cu sudah mati, sebenarnya dia mati ditangan siapa?”

“Dia sudah bunuh diri,” sahut Ti Then.

“Kenapa dia harus bunuh diri ?” tanya Wi Ci To keheranan. “Saking kehekinya karena pengkhianatan dari si menteri pintu yang mengingini harta kekayaannya, ternyata dia orang telah mengambil kesempatan sewaktu dia orang tidak siap sudah menotok jalan darah dirinya dan paksa dia untuk mengakui tempat penyimpanan harta kekayaannya, setelah dia orang memberitahu tempat penyimpanan harta kekayaan itu si menteri pintu segera menawan dia untuk mengikuti dirinya masuk ke dalam, akhirnya sudah kena senggol alat rahasia sehingga mereka berdua sama- sama terbinasa di tengah hujan anak panah ...”

oooOOooo

Baru saja dia membicarakan sampai di situ tampaklah Suma San Ho dengan membawa pakaiannya sudah meloncat keluar dari dalam ruangan rahasia.

Ti Then segera menerima pakaiannya dan mengenakannya lalu sekali lagi menceritakan kisahnya sejak meninggalkan benteng Pek Kiam Po. sewaktu dia menceritakan sudah bertemu dengan Hong Mong Ling di atas gunung Kim Teng san di mana dia orang sudah terbinasa kena sambitan batu, air muka Wi Ci To berubah sangat hebat, timbrungnya:

“Siapa yang sudah turun tangan terhadap dirinya? “Boanpwe tidak melihatnya, tetapi. .”

“Apa mungkin sikakek pemalas Kay Kong Beng yang turun tangan?” potong Wi Ci To kembali.

“Tidak mungkin!” sambung Wi Lian In dengan cepat. “Sewaktu Ti Kiauw tauw mengejar turun gunung putrimu menyusul ke bawah bersama-sama dengan si kakek pemalas Kay Kong Beng, sebelum dia dan diriku menemukan mayatnya Hong Mong LIng dia orang belum pernah meninggalkan diriku barang selangkah pun”

“ Kalau begitu menurut kalian siapa yang sudah menyambit mati diri Hong Mong Ling?” tanya Wi Ci To.

“Menurut boanpwe pastilah lelaki berkerudung yang baru saja melarikan diri dari istana Thian Teh Kong itu" “Apa alasanmu?” seru Wi Ci To sambil memandang tajam wajahnya.

“Menurut pengakuan Hong Mong Ling dikarenakan Hu pocu sudah menerima jual beli dengan orang lain maka dia sengaja perintahkan Hong Mong Ling untuk mencuIik pergi nona Wi, waktu Hong Mong Ling mau menyebutkan nama orang yang melakukan jual beli itu ternyata dia sudah dihajar mati oleh sambitan batu itu, dari hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau orang yang turun tangan membinasakan dirinya adalah orang yang mengadakan juai beli Hu pocu itu sebetulnya Ielaki berkerudung itu terus menerus menyusun siasat untuk menawan nona Wi serta boanpwe juga bertujuan untuk mengadakan jual beli dari soal inilah boanpwe berani memastikan kalau orang yang melakukan pembunuhan terhadap Hong Mong Ling pastilah lelaki berkerudung hitam itu”

Air muka Wi Ci To segera berubah menjadi amat keren.

“Apakah dia orang terus menerus berusaha menawan kalian berdua?"

“Benar” sabut Ti Then mengangguk, “Setelah baanpwe serta nona Wi meninggalkan gunung Kim Teng San selama dalam perjalanan kami terus menerus, berpikir siapa lagi yang bisa membayat uang tebusan sebesaf sepuluh laksa tahil perak di dalam Bu lim pada saat ini?

Akhirnya kami teringat pada seseorang, dialah itu pembesar kota atau Sian Thay ya Cuo It San,”

Begitu Wi Ci To mendengar disebutnya nama Sian Thay ya Cuo It Sian air mukanya segera berubah sangat hebat, seketika itu juga dia bungkam dalam seribu bahasa. Terdengar Ti Then melanjutkan kembali pembicaraannya:

“Boanpwse sudah lama mendengar sifat yang lurus dan berbudi dari itu Sian Thay ya Cuo It Sian dan menganggapnya tidak mungkin orang semacam ini melakukan kejahatan, tetapi teringat kembali persahabatannya yang amat rapat sekali dengan Hu Pocu kecuali dia, orang lain sekali pun mem punyai uang tebusan yang lebih banyak pun belum tentu Hu Pocu mau menerimanya, karena itu kami segera mengambil keputusan untuk pergi ke kota Tiong Jin Hu mencari Cuo It Sian guna membicarakan persoalan ini .

Segera dia pun menceritakan kisahnya ketika bertemu dengan Cuo It Sian lalu dimana didaiam kuii Sam Cing Kong termakan obat pemabok dan ditawan di bawah ruang sebuah rumah petani di dusun Thay Hung Cung beserta bagaimana kemudian berhasil meloloskan diri dari kurungan mereka.

Semakin mendengarkan kisah ini air muka Wi Ci To berubah semakin hebat, dari matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali, ujarnya dengan suara yang berat.

“Perkam pungan petani itu apakah merupakan lumbung padi dari Cuo It Sian? “

“Tidak salah” sahut Ti Then sambil mengangguk.

“Salah satu di antara ketiga orang berkerudung itu sebelum meninggalkan tempat itu apakah sungguh-sungguh mengaku anak buah dari Cuo It Sian?” tanya Wi Ci To kembali.

“Benar, dia orang berkata begitu.”

Wi Ci To segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Jika cuma berdasarkan hal itu saja kita belum bisa memastikan kalau orang berkerudung tadi adalah Cuo It Sian bahkan menyawabnya dengan tenang saja kemungkinan sekali mereka memang mem punyai rencana untuk mencelakai diri Cuo It Sian, tetapi kemungkinan juga orang yang melakukan jual beli itu adalah Cu It Sian sendiri, sedangkan orang itu sengaja mengaku terus terang kemungkinan sekali bermaksud agar di dalam hati kita timbul perasaan ke balikannya terhadap mereka dan menganggap Cuo it Sian pastilah bukan pemimpin mereka.”

Wi Ci To termenung berpikir sebentar, akhirnya dia baru menyawab. “Jadi menurut pendapat Ti Kiauw tauw lelaki berkerudung tadi pastilah Cuo It Sian?”

“Benar atau bukan boanpwe tidak berani memastikannya.”

Tiba-tiba dengan sedikit pun tidak ragu-ragu ujar Wi Ci To dengan suara tegas.

“Tetapi Lohu dapat memberitahukan kepada kalian, lelaki berkerudung itu bukanlah Cuo It Sian. “

“Lalu siapakah dia ?”

“Lohu sendiri pun tidak tahu“ sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.

“Tia, dengan berdasarkan apa kau orang tua berani memastikan kalau lelaki berkerudung itu bukanlah Cuo it Sian ?” timbrung Wi Lian In.

“Alasannya ada dua, pertama: Cuo lt Sian adalah seorang pendekar tua yang sifat mau pun tindak tanduknya amat jujur dan berbudi. Lohu sangat memahami dirinya, orang semacam dia tidak mungkin bisa melakukan pekerjaan seperti ini. Kedua, Jika Cuo It Sian mau melaksanakan niatnya ini dia tidak akan berani menggunakan lumbung padinya sendiri untuk berbuat sesuatu.“

“Betui.” Seru Ti Then. “Tetapi boanpwe masih ada satu persoalan yang masih merasa tidak paham, yaitu gudang di bawah tanah yang digunakan untuk mengurung kami ... “

“Orang yang mem punyai gudang di bawah tanah bukan cuma satu dua oran g saja.” Cepat sela Wi Ci To sambil tersenyum.

“Tidak salah. Kebanyakan rumah, gudang di bawah tanah itu dipergunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan tetapi gudang di bawah tanah yang digunakan untuk mengurung kami sangat berlainan sekali dengan gudang-gudang yang lain, di dalam gudang tersebut sudah tertanam tiang besar yang malang melintang tidak keruan dan sangat berbeda dengan tiang besi lainnya, pada dasarnya ada empat buah cabang besi yang satu sama lainnya saling sambung menyambung, jelas sekali tempat itu khusus digunakan untuk menawan jago-jago berkepandaian tinggi dari Bu lim”

Terhadap pertanyaan ini agaknya Wi Ci To tidak dapat memberikan jawabannya, dia cuma mengerutkan alisnya rapat- rapat sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

“Coba bayangkan” ujar Ti Then kembali, “Bilamana lelaki berkerudung itu bukan Cuo It Sian bagaimana di dalam gudang orang lain sudah disediakan peralatan seperti ini?”

“Tidak salah” sambung Wi Lian ln pula.”Orang lain tidak akan tahu kalau di bawah gudang rumah petani itu sudah dipasang perlengkapan seperti ini”

Wi Ci To jadi termenung lama sekali dia berpikir keras akhirnya ujarnya kembali.

“Waktu itu aku orang merasa sangat gusar sekali, sehingga sudah salah mengira kalau setelah menaruh simpatik kepada Mong Ling dan sama sekali tidak menyelidiki lebih lanjut”

Soal ini sudah tentu membuat orang merasa kebingungan, tetapi lohu percaya lelaki berkerudung itu pasti bukanlah Cuo It Sian.

“Tia berani memastikan kalau lelaki berkerudung itu bukan Cuo It Sian. sudah tentu Tia telah tahu siapakah lelaki berkerudung itu bukan?”

“Aku betul-betul tidak tahu.” sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya.

“Lalu sebelum Hu Pocu bunuh diri apakah dia orang tidak memberitahukan sesuatu kepada Tia?” tak tertahan lagi desak Wi Lian In lebih lanjut.

“ Tidak,” sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya, “Dia cuma bilang merasa malu terhadap Tia, sedangkan karena apa dia mau bekerja sama dengan Hong Mong Ling untuk menculik dirimu dia orang sama sekali tidak mau memberi tahu.” “Jikalau memangnya begitu, tidak seharusnya Tia membiarkan dia orang lalu bunuh diri”

Agaknya Wi Lian In merasa sangat tidak puas terhadap penjelasan dari ayahnya, tiba-tiba sambil mencibirkan bibirnya ujarnya kepada Liuw Khiet:

“Liuw Khiet, di dalam istana ini apakah masih ada makanan yang bisa didahar?”

“ Hamba tidak begitu jelas, mungkin masih ada sedikit,” sahut Liuw Khiet dengan sangat hormatnya.

“Kalau begitu kau pergilah cari sedikit, kalau ada bawalah kemari perutku terasa agak lapar.

Liuw Khiet sgera menyahut dan berlalu dari sana.

Wi Lian In memandang hingga bayangan tubuh Liuw Khiet lenyap dari ruangan Khie le Tong lalu baru menoleh kembal kearah ayahnya.

“Tia,” ujarnya dengan perlahan. “Tujuan lelaki berkerudung itu menculik Ti Kiauw tauw serta purtimu sebetulnya hendak memaksa Tia untuk menyerahkan semacam barang ?”

Tidak menanti orang selesai berbicara Wi Ci To sudah gelengkan kepalanya.

“Lohu tidak paham barang apa yang di minta oleh dia orang.” “Dia bilang barang itu sama sekali tidak berharga. Tia, tentunya

tahu bukan barang apa yang sama sekali tidak berharga yang disimpan di dalam loteng penyimpan kitab tetapi baginya merupakan barang yang maha penting ?”

“Lohu banyak menyimpan kitab-kitab serta lukisan-lukisan yang kelihatannya sama sekali tidak berharga padahal merupakan barang yang amat penting sekali.”

“Tetapi dia bilang tidak mau kitab-kitab serta lukisan itu.” Wi Ci To tertawa pahit. “Kalau begitu lohu semakin tidak tahu barang apa yang sebenarnya dimaui dirinya.”

Wi Lian ln sekali lagi mencibirkan dirinya, dengan nada yang amat manya serunya

“Tia, kau sungguh-sungguh tidak tahu ataukah memang sengaja tidak mau beritahu kepada kami ?”

Air muka Wi Ci To segera berubah amat keren.

“Loteng penyimpan kitab yang ada di dalam benteng Pek Kiam Po bukankah kau orang sudah melihatnya sendiri?” serunya dengan nada kurang senang, “Di dalam sana selain kitab serta lukisan apa pun tidak ada lagi”

“Kalau begitu urusan ini sungguh aneh sekali, walau pun lelaki berkerudung itu tidak mengatakan nama dari barang itu tetapi jika didengar dari nada ucapannya jelas dia tahu kalau dia pun mengetahui barang yang dimintanya itu “

“Lalu kenapa dia tidak mau bicara terus terang?” balik tanya Wi Ci To.

“Dia tidak mau bicara terus terang sudah tentu ada sebabnya. “Sudah ., sudahlah, kau tidak usah berpikir sembarangan lagi “

sela Wi Ci To kemudian kurang sabar. "Teniunya dia orang sudah mendengar orang lain bilang kalau lohu mem punyai sebuah loteng penyimpan Kitab yang tidak memperkenankan orang lain masuk atau melihatnya karena itu sudah menganggap di dalam loteng penyimpan Kitab lohu itu sudah tersimpan semacam barang pusaka yang sangat berharga sekali lalu timbullah niatnya untuk merebut.”

“Tidak mungkin begitu.” bantah Wi Lian In dengan cepat. “Jikalau dia orang sama sekali tidak mengetahui barang apa yang dimaui oleh dirinya sendiri bagaimana dia berani mengeluarkan uang sebesar sepuluh laksa tahil untuk membelinya?”

“Menurut apa yang lobu ketahui Hu Pocu sama sekali tidak pernah menerima uang sebesar sepuluh laksa tahil itu.” “Dia sudah bersiap sedia untuk membayar uang sebesar sepuluh laksa tahil perak itu, karena di dalam kantongnya dia membawa selembar uang kertas ”

Agaknya Wi Ci To tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang soal ini mendadak dia bangkit berdiri.

“Kalian tadi bilang Bun Jin Cu sudah mati, dimana mayatnya ?” “Ada di dalam sebuah jalan rahasia di balik tembok ruangan

siksa, dia memberitahu kepada si menteri pintu katanya seluruh

harta kekayaannya disimpan di dalam jalan rahasia tersebut, “sahut Ti Then segera,

“Kalian ikutlah aku masuk ke dalam.” Segera kepada Suma San Ho perintahnya:

“San Ho kau jagalah di atas ruangan ini, bilamana menemui lelaki berkeudung itu , kembali lagi cepatlah kirim tanda bahaya.

“Tecu menerima perintah.” sahut Suma San Ho sambil bungkukkan badannya memberi hormat.

Wi Ci To segera berjalan ke belakang meja panjang dan melongok ke dalam ruangan bawah tanah itu, tanyanya:

“Kita berjalan melalui tempat ini?”

“Benar,” sahut Ti Then perlahan. “Biar boanpwe membawa jalan.”

Selesai berkata dia segera meloncat turun ke bawah.

Wi Ci To serta Wi Lian ln pun ikut meloncat turun ke bawab, sesampainya di bawah tanah Ti Then mengambil obor sebagai penerangan untuk menyulut lampu lentera tadi baru memimpin mereka berdua berjalan masuk ke dalam.

Mereka bertiga dengan cepat sudah tiba di dalam ruangan siksa itu dan berhenti di depan jalan rahasia di balik dinding tersebut, di bawah sorotan sinar lampu terlihatlah dengan amat jelasnya majat dari Bun Jin Cu serta si menteri pintu masih menggeletak ditengah jalan rahasia.

Lama sekali Wi Ci To memperhatikan mayat dari Bun Jin Cu lalu sambil menghela napas panjang ujarnya :

“Seseorang asalkan hidup dengan teratur dan memakai aturan pastilah tidak menemui ajal tanpa terurus”

“Tia, Bun Jin Cu bilang di jalan rahasia itu dia sudah menyimpan harta kekayaannya dalam jumlah yang amat besar, bagaimana kalau kita masuk untuk melihat-lihat?”

“Tidak.” sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. “Tidak perduli ada beberapa banyak harta kekayaannya semua itu bukanlah milik kita”

“Cuma melihat saja kan tidak mengapa?” desak Wi Lian In lebih lanjut.

“Kalau memangnya tidak mau mengambil buat apa pergi melihat?”

“Menurut pendapat boanpwe.”sela Ti Then tiba-tiba, “Jikalau di dalam sana benar-benar sudah tersimpan harta kekayaan dalam jumlah yang amat besar sekali pun kita tidak mengambilnya tetapi paling sedikit harus diatur sedemikian rupa sehingga berguna”

“Bagaimana mengaturnya?”

“Diambil keluar lalu dibagi untuk menolong kaum miskin?” “Ehmm . . , baik sih baik,”sahut Wi Ci To perlahan, “Cuma saja

siapa yang mau percaya kalau harta itu kita ambil guna menolong kaum miskin?”

“Kini ada Liuw Khiet di sini, sewaktu kita membagikan harta kekayaan tersebut kita boleh membawa sekalian dirinya agar dia pun bisa menjadi saksi”

Wi Ci To termenung untuk berpikir sebentar akhirnya dia mengangguk. “Baiklah, kita masuk ke dalam untuk meIihat-lihat . . .apakah alat rahasia yang dipasang di dalam jalan rahasia ini sudah semua?”

“Putrimu kira masih ada alat rahasia yang belum bekerja, biarlah aku menyambitkan semacam barang ke dalam sana untuk memeriksa.”

Wi Lian In segera mengambil sebuah batu cadas lalu dilemparkan ke dalam jalan rahasia yang agak dekat dengan jalan keluar, sewaktu dilihatnya sama sekali tidak terjadi perubahan apa pun dia mengambil kembali sebuah batu dan disambitkan kearah jalan rahasia di depan kedua mayat yang menggeletak ditengah jalan itu, tetapi keadaan tetap tenang-tenang saja, ujarnya kemudian.

“Kelihatannya sudah pada bekerja”

“Hmm, bagaimana kau bisa tahu menggunakan cara ini untuk memeriksa keadaan?” tanya Wi Ci To sambil tertawa.

“Aku belajar dari Ti Kiauw tauw” jawab Wi Lian In tertawa malu sedangkan tangannya menuding kearah Ti Then.

“Bagus . . bagus sekali,” puji Wi Ci To sambil menganggukkan kepalanya. "Tetapi jikalau jalan rahasia ini panjang maka di dalamn ja tentu masih terdapat alat rahasia, maka itu kita tidak boleh cepat- cepat mengambil kesimpulan kalau alat rahasia ini sudah bekerja semua”

Sambil berkata dia bungkukkan badannya mengambil dua buah batu lalu berjalan masuk ke dalam ruangan rahesia itu.

Mereka bertiga melewati mayat dari Bun Jin Cu serta si menteri pintu lalu ber jalan kembali beberapa langkah dengan mengikuti jalan rahasia yang berbelok ke kiri mereka melanjutkan perjalanannya ke depan.

Ti Then dengan membawa lampu lentera berjalan dl belakang Wi Ci To, segera mereka dapat melihat kalau jalan itu semakin lama semakin sempit dan semakin panjang, luasnya cuma ada dua depa sedang kedua belah dindingnya terbuat dari batu yang tidak dibubuhi oleh pasir untuk menguatkannya. Wi Ci To memandang sebentar ke sekeliling tempat itu lalu ujarnya :

“Di dalam jalan rahasia ini pasti ada alat rahasianya, bahkan alat rahasia itu tentu ada di atas dinding.”

Sambil berkala dia melemparkan sebuah batu kearah depan untuk memeriksa keadaan di sana.

Ketika batu itu jatuh ke atas tanah segera terdengarlah suara yang amat nyaring, memecahkan kesunyian tetapi sama sekali tidak tampak adanya alat rahasia yang bekerja.

“Aaah.. tidak ada.” Seru Wi Lian In tegas. Segera dia melempar kembali sebuah batu ke arah dinding yang lain.

Segera terdengarlah suara yang amat keras diikuti suara desiran yang amat nyaring dari dinding sebelah kanan mendadak meluncur keluar ratusan batang tombak yang bersama-sama meluncur ke dinding sebelah kiri.

Tombak-tombak panjang itu dengan amat rapatnya terjejer di atas dinding tembok laksana paku yang memantek di atas kayu membuat seluruh jalan rahasia itu tertutup rapat.

Jikalau orang yang berjalan melewati sana sekali pun ilmu silat yang dimilikinya amat dahsyat tentulah sebentar saja akan berubah menjadi seekor Landak.

Tak terasa lagi Wi Lian In menghembuskan napas dingin,

“Ooooh Thian” serunya. “Untung sekali kita belum berjalan ke dalam”

“Sungguh aneh sekali” timbrung Ti - Then sambil mengerutkan alisnya, “tadi Liew Khiet bilang semua alat rahasia sudah tertutup bagaimana sekarang alat rahasia di tempat ini bisa bekerja?”

“Sebabnya alat rahasia yang ada di dalam jalan rahasia ini bukan diatur dari kamar alat rahasia yang ada di sana” sahut Wi Ci To menerangkan. “Oooh kiranya begitu” ujar Ti Then menjadi paham kembali. “Jadi dengan perkataan lain, selain si anying langit rase bumi berdua siapa pun yang berani melewati jalan rahasia ini tentu sukar lolos dari kematian.”

Wi Ci To mengangguk.

“Selain ini dapat dibuktikan pula kalau di ujung jalan rahasia Ini memang betul-betul tersimpan harta kekayaan dalam jumlah yang amat besar sekali.”

Wi Lian In memandang berates-ratus tombak yang menutupi jalan tadi, dia amat tertegun.

“Kita harus masuk ke dalam melalui mana?” tanyanya.

Wi Ci To segera mengambil lampu lentera yang ada di tangan Ti Then sambil ujarnya:

“Di tempat ini tentu ada alat rahasia untuk membukanya, biarlah lohu periksa sendiri “

Dia mengangkat lam punya memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu bersamaan pula tangannya memukul dinding serta permukaan tanah, akhirnya di ujung permukaan tanah dia dapat menerima suara pantulan yang sangat berbeda, akhirnya dia membongkar jubin yang ada tempat pojokan itu.

Tampak di bawah jubin itu terdapat sebuah lubang kecil, di tengah lubang itu terpendam sebuah tabung besi yang kecil pula sedang di atas tabung besi itu terdapat sebuah alat untuk memegang yang berwarna hitam pekat, jelas sekali itu adalah alat yang digunakan untuk membuka alat rahasia tersebut.

Wi Ci To segera memegang tabung besi itu dan dengan perlahan menariknya ke arah sebelah kanan, terdengar suara yang amat nyaring, tombak-tombak besi yang tertancap di atas dinding tadi dengan perlahan balik kembali ketempat semula.

“Sekarang kita boleh masuk ke dalam bukan?” ujar Wi Lian In kemudian. “Tidak boleh, coba kau lemparkan sebuah batu kembali ke dalam.” seru Wi Ci To memberi perintah.

Wi Lian In segera berjalan keluar dari jalan rahasia itu dan mengambil sebuah batu besar untuk kemudian dilempar ke depan.

“Sreest ....” Tombak besi yang semula sudah tertarik kembali ke tempatnya yang semula sekali lagi meluncur keluar menancap pada dinding yang ada di hadapannya.

Wi Lian In menjadi sangat terperanyat sekali. “Aduh bagaimana bisa jadi?” serunya keras.

Wi Ci To tersenyum.

“Hal ini berarti bilamana kau tidak mengerti caranya berjalan melewati tempat ini tentu akan tersenggol alat rahasia”

“Jika alat rahasianya bekerja tombak-tomabk itu menghalangi jalan hingga kita tidak bisa berlalu jika tidak bekerja kita pun tidak mengerti cara jalannya, bukankah dengan demikian kita dapat masuk ke dalam?” ujar Wi Lian ln sambil kerutkan alisnya.

“Soal itu sangat mudah sekali” Sela Wi Ci To tersenyum. “Asalkan gagang dari tabung besi itu kita ganyal sehingga tidak bergerak lagi maka alat rahasia itu  pun akan mati dengan sendirinya”

Sehabis berkata dari dalam sakunya dia mencabut keluar sebilah pisau belati dan sekali lagi mengembalikan gagang tabung besi itu kea rah sebelah kiri membuat tombak besi itu menyusup kembali ke tempat asalnya, setelah itu pisau belatinya baru ditusuk ke dalam liang kecil menahan daya luncur daripada gagang tabung besi tersebut.

Ti Then yang melihat pisau belati itu sudah selesai menahan gagang dari tabung besi itu, dia orang segera putar tubuh membopon sebuah batu cadas dan dilemparkan kea rah dalam.

Kali ini ternyata alat rahasia itu sama sekali tidak jalan. Wi Lian In menjadi amat girang, serunya keras. “Bagus, sekarang kita boleh masuk bukan?”

Wi Ci To mengangguk, dengan tegakkan badan dia menggetakan kakinya berjalan masuk ke dalam.

Mereka bertiga berjalan kembali beberapa kaki jauhnya, mendadak jalan rahasia itu berubah menjadi tangga-tangga batu yang menurun ke bawah, Wje Ci To segera perintahkan Ti Then untuk balik ke jalan rahasia sebelah depan mengambil lagi dua buah batu cadas lalu dilemparkan ke arah bawah anak tangga batu tersebut.

Sewaktu dilihatnya dari tempat itu sama sekali tidak dapat perubahan apa pun hatinya menjadi terasa amat lega.

Di bawah tangga batu itu merupakan sebuah ruangan batu yang luasnya ada satu kaki lebih, di dalamnya tidak terlihat adanya barang lain kecuali dua buah peti mati yang terbuat dari tembaga.

Kedua buah peti mati tembaga itu membujur berdampingan dan diletakkan tepat di tengah ruangan batu tersebut, kelihatannya sangat menjeramkan sekali.

Tua muda tiga orang sewaktu melihat di dalam ruangan itu kecuali dua buah peti mati tembaga, tidak terlihat adanya barang apa pun tidak terasa lagi dibuat melengak juga.

“Iih.. si anying langit rase bumi menyimpan semua harta kekayaan di dalam peti mati?” seru Wi Lian In sambil menjerit tertahan.

Wi Ci To pun angkat lam punya untuk menerangkan empat penjuru lalu dengan nada yang amat tenang ujarnya :

“Ruangan batu ini agaknya merupakan ujung dari pada jalan rahasia tersebut”

Ti Then segera mengambil kembali dua buah batu yang tadinya disambitkan ke arah tangga batu itu lalu dilemparkan ke tengah ruangan batu tersebut, tetapi sama sekali tidak kelihatan adanya perubahan apa pun dari dalam ruangan, ujarnya kemudian, “Mari kita turun ke sana lihat!”

Mereda bertiga dengan langkah perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan batu itu, sekali lagi Wi Ci To memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu akhirnya deagan nada pasti serunya.

“Tidak bisa salah lagi, kecuali ruangan batu ini tidak ada jalan rahasia atau ruangan batu lagi.”

“Sungguh aneh sekali” ujar Ti Then kemudian mengutarakan keheranan hatinya. “Apakah mungkin si anying langit rase bumi sudah menyimpan seluruh harta kekayaannya di dalam peti mati tembaga tersebut?”

Wi Ci To termenung berpikir sebentar lalu dengan perlahan dia mengusap peti mati yang terbuat dari tembaga itu.

“Jika dilihat keadaannya” ujarnya perlahan. “Kemungkinan sekali Bun Jin Cu menipu si Menteri pintu, dalam tempat ini agaknya sama sekali tidak tersimpan semacam harta kekayaan .. “

“Lalu kedua buah peti mati tembaga ini?” timbrung Wi Lian in dengan ragu-ragu.

“Mereka suami istri berdua tentunya mempersiapkan tempat ini sebagai tempat pekuburan jenasah bagi mereka sendiri,” sambung Wi Ci To kemudian.

Dia meletakkan lampu lentera tersebut ke atas tanah lantas mengangkat kedua peti mati tembaga itu sebentar, ujarnya lagi:

“Peti mati yang ada di sebelah kiri rada enteng sedang peti mati yang ada di sebelah kanan rada berat, kemunkinan sekali peti mati yang berat itu sudah berisikan jenasah dari si anying langit Kong Sun Yauw”

“Bagaimana kalau kita buka penutupnya?” ujar Ti Then mengusulkan.

Wi Ci To berpikir sebentar kemudian baru jawabnya “Kita buka peti mati yang rada enteng itu saja, jikalau di dalamnya kosong melompong berarti juga kalau peti mati yang ada di sebelah kanan itu terbaring jenasah dari Kong Sun Yauw”

Ti Then segera mengangguk dan dengan perlahan membuka penutup peti mati yang ada di sebelah kiri.

Sekali pandang saja segera kelihatan kalau peti mati itu memang betul-betul kosong tak berisi.

“Jika peti mati ini kosong tentunya peti mati yang ada di sebelah kanan berisikan jenasah dari Kong Sun Yauw,” ujar Wi Lian In perlahan. “Tapi kenapa mereka suami istri mau berbuat demikian?”

“Kemungkinan sekali dia orang takut mayatnya dirusak orang lain la!u baru mempersiapkan alat rahasia itu, kejahatan yang mereka suami istri perbuat sudah terlalu banyak sekali sudah tentu dalam hati mereka pun takut kalau ada orang yang merusak mayat mereka setelah mereka mati.”

“Kelibatannya orang jahat yang terlalu banyak melakukan kejahatan setelah mati pun tidak tenang,” ujar Ti Then sambil tertawa pahit.

Dengan perlahan Wi Lian In mengeIus-elus peti mati tembaga yang ada di sebelah kanan, dengan perasaan ingin tahu bercampur rasa takut ujarnya

“Kemungkinan sekali di dalam peti mati ini bukan tersimpan mayat dari Kong Sun Yauw, bagaimana . . . bagaimana kalau kita buka sebentar untuk dilihat?”

“Wi Ci To tidak menyawab sebaliknya kepada Ti Then ujarnya. “Ti Kiauw-tauw, kita berbuatlah sedikit amal, coba kau bawa

jenasah dan Bun Jin Cu dan masukkan ke dalam peti mati yang masih kosong ini.”

Ti Then mengangguk dan balik ke jalan rahasia di bagian depan dan membopong jenasah dari Bun Jin Cu masuk ke dalam ruangan batu, setelah mencabut keluar semua anak panah yang tertancap di badannya barulah dia masukkan mayatnya ke dalam peti dan menutup peti mati tersebut, ujarnya kemudian sambil tertawa:

“Setelah mati dia tentu tahu perbuatan kita ini dan seharusnya mengucapkan terim kasih kepada kita, karena sampai kini kita sudah bantu dirinya mengurusi mayatnya yang terlantar”

“Berbuat baik harus timbul dari hati sendiri, kita tidak mengharapkan adanya ucapan terima kasih buat kita” sela Wi Ci To sambil tertawa.

Air muka Ti Then segera berubah merah.

“Perkataan dari Pocu sedikit pun tidak salah, boanpwe cuma omong guyon saja” sahutnya sambil tertawa malu.

“Ayoh jalan” seru Wi Ci To kemudian sambil balik menaiki tangga batu.

“Tia“ seru Wi Lian In tiba-tiba. “Kita memeriksa lebih teliti lagi sekitar tempat ini, kemungkinan sekali harta kekayaan itu dipendam di bawah ruangan batu itu.”

Wi Ci To tidak menyawab sebaliknya melanjutkan langkahnya menuju keluar.

Wi Lian In cuma bisa meleletkan lidahnya terhadap diri Ti Then terpaksa dengan mengikuti dari belakangnya mereka berjalan keluar dari tempat itu.

Sekembalinya di ruangan Khie le Tong tampak Liuw Khiet membawa senampan makanan sedang menanti, dia tahu Wi Ci To bertiga masuk ke dalam jalan rahasia itu untuk mencari harta karenanya kelihatan sekali air mukanya penuh diliputi ketegangan dan gembira cuma saja dia orang tidak berani membuka mulut untuk bertanya.

Suma San Ho sendiri pun ingin sekali cepat-cepat tahu keadaan di dalam jalan rahasia itu melihat Pocu tidak menyawab tak tertahan lagi tanyanya “Pocu, di dalam jalan rahasia itu apa benar-benar ada harta kekayaan?”

“Tidak ada.” sahut Wi Ci To dengan wajah yang amat serius sekali, “Di dalam jalan rahasia itu ada sebuah ruangan batu, di dalam kurungan batu itu ada dua buah peti mati tembaga, yang satu berisi jenasah dari Kong Sun Yauw sedang yang lain kosong. Ti Kiauw tauw sudah memasukkan jenasah dari Bun Jin Cu ke dalam peti mati yang kosong itu. Selain itu tidak tampak barang Iainnya”

“Ouuww” teriak Suma San Ho dengan amat kagetnya. “Kalau begitu Bun Jin Cu cuma sengaja menipu si menteri pintu”

Wi Ci To mengangguk.

“Tidak, Bun Jin Cu ada harta kekayaan di dalam jumlah yang amat besar di dalam istana ini” timbrung Liuw Khiet secara mendadak.

Wi Ci To segara melirik sekejap ke arahnya, lantas tertawa dingin.

“Kau sangat ingin mendapatkan hartaitu?” tanyanya dengan suara yang amat dingin.

Liuw Khiet menjadi sangat terperanyat sekali.

“hamba tidak berani . . hamba tidak terani” jawabnya gugup. “Liuw Khiet, aku mau bertanya kepadamu” sambung Ti Then

kembali. “Kau kira hara kekayaan lebih penting ataukah nyawa lebih

penting?”

Air muka Liuw Khiet segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, dia menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Sudah tentu . . . sudah tentu nyawa lebih penting, jika tidak punya nyawa bagaimana harta kekayaan itu bisa digunakan?”

“Betul,” seru Ti Then tertawa. “Makanya jika ingin nyawamu panjang janganlah memikirkan harta kekayaan itu lagi, coba kau lihat saja si menteri pintu yang ingin merebut harta kekayaan akhirnya dia harus mengorbankan nyawanya.” Agaknya Liuw Khiet dapat dibuat mengerti, dia menganggukkan kepalanya berulang kali.

“Benar . , - - benar . . .” serunya.

“Di dalam ruangan batu itu benar-benar tidak ada harta kekayaan apa pun,” sambung Ti Then lagi. “Tetapi aku percaya tentu si anying langit rase bumi masih mem punyai sejumlah harta kekayaan yang disimpan di sesuatu tempat, persoalannya tempat disimpannya harta kekayaan itu tentunya sudah dipasangi alat rahasia yang amat lihay sekali, jikalau kau tidak berhati-hati kemungkinan sekali sebelum memperoleh harta kekayaan itu sudah binasa terkena alat rahasianya.”

Liuw Khiet menganggukkan kepalanya berulang kali,

“Perkataan dari Ti Siauw Hiap sedikit pun tidak salah, hamba sudah mengambil keputusan tidak akan memikirkan harta kekayaan itu lagi.”

Selesai berkata dia angkat kepalanya memandang sekejap kearah Wi Ci Tou agaknya ada perkataan yang hendak disampaikan tetapi tidak berani mengutarakan keluar.

“Kau ingin berbicara apa lagi ?” Tanya Wi Ci To kemudian setelah dilihatnya perubahan wajah dari Liuw Khiet.

Mendadak Liuw Khiet jatuhkan diri berlutut di atas tanah, ujarnya

:

“Hamba ada satu permintaan harap Wi pocu mau menerima

hamba untuk dijadikan seorang penjaga atau pelayan di dalam Benteng Pek Kiam Po”

Agaknya Wi Ci To sama sekali tidak menduga dia bisa mengajukan permintaan ini, untuk sesaat lamanya dia dibuat serba salah, ujarnya kemudian setelah berpikir sebentar.

“Ehmmm . . . soal ini ...”

Dengan cepat Liuw Khiet mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali. “Bilamana Pocu mau menerima hamba, sejak ini hari hamba bersumpah untuk berbuat jadi seorang baik-baik” ujarnya setengah mendesak.

“Pocu,” ujar Ti Then kemudian sewaktu melihat Wi Ci To dibuat serba susah. “Hati orang ini tidak jelek terhadap boanpwe untuk menerimanya tidaklah salah.”

“Baiklah.” Sahut Wi Ci To kemudian setelah mendengar perkataan tersebut. “Cuma peraturan perguruan Lohu amat keras sekali, sekali pun seorang penjaga benteng yang kecil pun asalkan perbuatannya sedikit melanggar peratutan tentu akan segera mendapatkan huskuman yang berat, tentang hal ini kau harus memikirkan lebih masak lagi.”

“Baik .... baik hamba sudah menyesali perbuatan hamba tempo hari, hamba akan berusaha untuk memperbaiki semua perbuat an serta sifatku yang jelek, jikalau melanggar peraturan silahkan Pocu segera menyatuhkan hukuman kepada hamba.”

“Baiklah, kalau begitu kau bangun.”

Liuw Khiet menjadi amat girang sekali, setelah menganggukkan kepalanya tiga kali dia baru merangkak bangun dan berdiri di samping dengan amat hormatnya.

Dengan perlahan Wi Ci To menyapu mereka bertiga dan ujarnya: “Kalian bertiga pun harus dahar dulu, sesudah itu masih ada

urasun yang harus diselesaikan.”

“Tia, kita mau bekerja apa lagi? “ tanya Wi Lian ln kemudian. “Nanti sesudah dahar aku baru beritahu kepada kalian.”

Demikianlah, Ti Then, Suma San Ho, Wi Lian In bertiga segera mulai mendahar makanan yang ada di atas meja panjang itu.

Di dalam sekejap saja mereka bertiga sudah menghabiskan semua makanan yang ada di atas nampan, sambil mambersihkan mulutnya ujar Wi Lian la dengan cepat. “Sudah, Tia kau ingin suruh kami berbuat apa ?”

“Kita masing-masin berpencar untuk menyulut api membakar habis istana Thian Teh Kong ini”

Wi Lian ln menjadi melengak,

“Aaaaaa .... istana Thian Teh Kong yang demikian besarnya jikalau harus dibakar semua bukankah terlalu sayang ?”

“Harus dibakar sampai musnah, kalau tidak lain kali tentu ada orang yang bisa menggunakan tempat ini untuk berbuat jahat lagi,”

“Benar,” sambang Ti Then, “Liuw Khiet coba kau pergi cari sedikit minyak . . “

Waktu itu hari sudah, magrib sebuah bangunan istana Thian Teh Kong yang amat megah hanya di dalam sekejap saja sudah berada di tengah lautan api yang berkobar dengan besarnya sehingga suasana di sekeliling tempat itu terasa amat terang sekali bagaikan sang surya yang memancarkan sinarnya dari balik gunung.

Di tengah berkobarnya api yang amat besar itulah tua muda lima orang bersama-sama turun gunung.

Di tengah perjalanan terdengar Wi Lian In bertanya

“Tia, apakah kita tidak berusaha untuk menyelidiki asal-usul dari manusia berkerudung itu?”

“Kita tidak tahu siapakah dirinya, bagaimana bisa pergi mengadakan penyelidikan?” seru Wi Ci To dengan tawar.

“Pergi cari Cuo It Sian” “Tidak bisa!”

“"Kenapa?”tanya Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya. “Apakah Tia merasa dia orang sama sekali tidak mencurigakan?”

“Benar.” Sahut Wi Ci To mengangguk, “Kau tidak boleh menganggap lelaki berkerudung itu adalah Cuo It Sian dikarenakan kau ditawan dan disekap di dalam gudang di bawah tanah milik dirinya.”

“Sejak tadi aku kan sudah bilang jikalau dia orang mau melakukan kejahatan tentu tidak akan berani menggunakan perkam pungannya sendiri.”

“Tetapi sekali pun bukan dia jikalau kita pergi ke sana untuk mengajak dia orang membicarakan persoalan ini kemungkinan sekali masih bisa mendapatkan sedikit keterangan yang berguna” kata Wi Lian In lebih lanjut.

Dengan perlahan Wi Ci To gelengkan kepalanya.

“Sebelum kita memperoleh bukti yang nyata aku tidak akan membuat kesalahan dengan seorang pendekar tua yang mem punyai nama serta kedudukan yang amat terkenal di dalam Bu lim.”

“Tapi kita cuma mengajak dia membicarakan persoalan ini saja . ,

.” desak Wi Lian ln kembali.

“Tidak perlu,” potong Wi Ci To dengan cepat. “Jika ingin menawan orang lelaki berkerudung hitam itu satu-satunya jalan adalah kembali ke dalam Benteng menantikan kedatangannya, kalau memang dia ingin mendapatkan semacam barang dari diriku sudah tentu sejak saat ini dia akan munculkan dirinya berulang kali.”

Wi Lian In tidak berbicara lagi jika dilihat dari wajah ayahnya yang kukuh dan tidak mau pergi mencari Cuo It Sian jelas sekali menunjukkan kalau ayahnya tdak punya maksud untuk menyelidiki hal ikhwal tentang manusia berkerudung tersebut.

Sikapnya yang sama sekali berlawanan dengan keadaan biasanya ini sudah cukup bagi Ti Then untuk membenarkan dugaannya, ia tahu Wi Ci To tentu sedang menyembunyikan sesuatu barang yang tidak menginginkan dirinya ikut mengetahui.

Sambil berkata dia melirik sekejap ke arah Ti Then lalu melemparkan satu senyuman pahit. “Apa boleh buat.” Ti Then cuma bisa angkat bahunya sambil balas mengirim satu senyuman pahit dia tidak mengucapkan sesuatu apa pun.

Dalam hati dia tahu bilamana Wi Ci To tidak mau menyelidiki asal usul dari lelaki berkerudung itu jelas sekali di dalam hal ini tentu ada sesuatu rahasia yang dia orang tidak ingin pun orang lain ikut, sebaliknya walau pun dirinya merupakan seorang Kiauw tauw dari Benteng Pek Kiam Po tetapi bagaimana pun juga merupakan orang luar.

Jikalau dirinya terus menerus memaksa untuk menyelidiki asal usul dari lelaki berkerudung itu berarti juga dia hendak membongkar rahasia pribadinya, hal ini sama sekali tidak berguna bagi dirinya.

Karena itu di dalam hati kecilnya Ti Then sudah mengambil keputusan untuk tidak ikut memberikan pendapatnya mengenai diri lelaki berkerudung itu.

Dengan berdiam diri mereka berlima melanjutkan perjalanannya ke arah depan, sewaktu hamper mendekati kaki gunung Kim Hud san mendadak Wi Ci To yang berada di paling depan memperdengarkan suara tertahannya yang amat perlahan lalu menghentikan langkahnya.

Wi Lian In yang ada di belakangnya menjadi melengak. “Tia, ada urusan apa?” tanyanya.

“Coba kau lihat dari sana muncul seseorang ,” sahut Wi Ci To sambil menuding ke arah jalan gunung yang ada di sebelah depannya.

Ti Then berempat segera mengalihkan pandangannya ke depan, ternyata sedikit pun tidak salah dari jalan gunung di tempat kejauhan tampaklah seseorang yang memakai baju bijau dengan cepatnya berlari mendatang.

“Hey agaknya seorang kakek tua, bahkan kepandaian silatnya tidak jelek “ seru Ti Then pula. “Apa mungkin jagoan berkepandaian tinggi dari pihak istana Thian Teh Kong? “ sela Suma San Ho.

“Lobu kira bukan ...”

“Kalau begitu lebih baik kita bersembunyi dulu, coba kita lihat siapa yang telah datang, setelah itu ...”

“Tidak perlu” potong Wi Ci To sambil tertawa, “tidak perduli yang datang musuh atau kawan, kita tidak boleh bersembunyi.”

Pada waktu mereka sedang berbicara itulah orang tersebut sudah datang semakin mendekat.

Sewaktu mereka berlima dapat melihat, dengan jelas wajah orang tersebut tak tertahan lagi pada menjerit tertahan, agaknya peristiwa ini jauh berada diluar dugaan mereka.

Siapakah yang sudah datang?

Orang itu bukan lain adalah si pembesar kota atau Sian Thay-ya Cuo It Sian.

Ternyata secara tiba-tiba dia sudah munculkan dirinya di atas gunung Kim Hud san.

Ti Then serta Wi Lian In pun merasa jauh berada di luar dugaannya dengan kedatangan dari Cuo It Sian secara tiba-tiba seketika itu juga dari dalam hatinya timbul perasaan curiga, karena mereka segera terpikirkan, jikalau lelaki berkerudung itu adalah penyamaran dari Cuo It Sian maka dia memang ada alasannya untuk cepat-cepat mengembalikan wajah aslinya untuk mencuci bersih kecurigaan yang timhul di hati orang lain.

Di dalam sekejap saja Cuo It Sian pun dapat melihat kedatangan yang mendadak dari Ti Then sekalian, dia agak tertegun tetapi sebentar kemudian sudah menerjang ke hadapan mereka, teriaknya dengan perasaan kaget bercampur girang.

“Wi Pocu, kalian ... kalian baru saja datang dari istana Thian Teh Kong?” “Benar,” sahut Wi Ci To sambil rangkap tangannya menjura. “Sudah lama kita tidak bertemu, Cuo heng, bagaimana ini hari bisa muncul di tempat ini?”

“Haa ,.. , haa , , Lolap memang sengaja datang kemari untuk bertemu dengan kalian.”

“Oohh . “ Seru Wi Ci To lalu kepada Ti Then, Suma San Ho serta Putrinya dia berkata kembali.

“Ti Kiauw tauw, Suma San Ho, In ji kalian cepat datang menghunjuk hormat kepada locianpwe.”

Kiranya walau pun Wi Ci To terhitung manusia berkepandaian tinggi yang kedudukannya amat terhormat tetapi usianya jauh lebih kecil beberapa tahun dari Cuo lt Sian, kerenanya terhadap diri Cuo It Sian dia orang menaruh rasa hormat yang berlebihan,

Walau pun di dalam hati Ti Then, mau pun Wi Lian ln menaruh rasa curiga terhadap diri Cuo It Sian tetapi sebelum mendapat bukti yang menerangkan lelaki berkerudung itu adalah hasil penyamarannya sudah tentu mereka tidak berani berlaku tidak hormat, segera bersama-sama dengan Suma San Ho pada bertindak maju untuk memberi hormat.

oooOOooo

Cuo It Sian yang melihat wajah Ti Then serta Wi Lian In agak tidak beres dia segera tertawa terbahak-bahak.

“Ti Siauw Hiap, nona Wi kalian tidak perlu kuatir, Lolap kali ini sengaja datang ke gunung Kim Hud san bukanlah hendak mengadukan parsoalan ini kepada Wi Pocu.”

Wi Lian lu segera tertawa tawar.

“Urusan hari itu dimana Tit li sudah menyambangi Cuo Locianpwe ayahku sudah mengetahui.”

“Ocoouw begitu?” kepada Wi Ci To ujarrnya.

“Wi Pocu sudah bertemu muka dengan Bun Jin Cu?” “Belum, sewaktu aku orang she Wi sampai ke istana Thian Teh Kong dia sudah bunuh diri.”

Cuo It Sian menjadi amat terperanyat serunya. “Aaaah... kenapa dia bunuh diri?”

“Anak buahnya pada kemarin hari sudah pada mengkhianati dirinya sedangkan anak buahnya yang bernama Menteri pintu telah turun tangan menotok tubuh dirinya dan memaksa dia orang menyerahkan harta kekayaannya, di dalam keadaan gusar dia sudah memancing menteri pintu untuk memasuki sebuah jalan rahasia yang penuh dipasang alat rahasia lalu sengaja menggerakkan alat rahasia untuk bersama-sama menemani ajalnya dengan si menteri pintu itu.”

Mendengar sampai di sini Cuo It Sian semakin terperanyat lagi. “Apa? ternyata ada urusan seperti ini? kenapa anak buahnya

pada mengkhianati dirinya?”

“0rang-orang dari istana Thian Teh Kong sebenarnya merupakan manusia ganas yang sukar diatur” ujar Wi Ci To sambil tertawa. “Mereka sewaktu melihat si anying langit sudah mati segera menganggap seorang wanita tidak mungkin bisa berbuat sesuatu pekerjaan yang amat besar karena itu mereka pada tidak mau mendengarkan perintah si rase bumi lagi dan akhirnya memberontak.

Dengan perlahan Cuo It Sian mengangguk ujarnya sambil menghela napas panjang:

“Orang jahat pasti akan menerima pembalasan yang mengerikan, inilah satu contoh buat kita”

“Tadi Cuo heng bilang ada satu urusan sengaja datang mencari lohu entah urusan apa yang penting? tanya We Ci To kemudian.

Dengan perlahan Cuo It Sian mengalihkan pandangannya melirik sekejap ke arah Ti Then serta Wi Lian ln, lalu baru berkata ujarnya. “Wi Pocu kau tidak tahu, beberapa hari yang lalu di rumah lumbung padiku di desa Thay Peng Cung sudah terjadi suatu peristiwa yang amat mengagetkan, sewaktu Lolap bertanya dengan para petani yang ada di sekeliling tempat itu katanya peristiwa itu kemungkinan sekali ada sangkut pautnya dengan seorang pemuda serta seorang nona, dalam hati loap segera menduga pemuda serta gadis itu kemungkinan sekali adalah Ti siauw hiap serta putrimu karenanya sengaja aku datang kemari untuk bertanya.”

“Tidak salah,” sambung Ti Then dengan cepat, “Sepasang pemuda pemudi itu memang benar boanpwe serta nona Wi”

Air muka Cuo It Sian segera berubah sangat hebat.

“Jikalau demikian adanya pemilik rumah lumbung padi yang ada di sana sebanyak lima orang dibinasakan oleh Ti siauw hiap ?” ujarnya dengan keras.

“Bukan.”

“Kalau bukan siapa yang sudah turun tangan terhadap mereka ?“ seru Cuo It Sian sambil melototi dirinya.

“Mereka dibunuh oleh tiga orang berkerudung, mereka meminyam kesempatan sewaktu boanpwe berdua menginap dikuil Sam Cing Kong secara diam-diam sudah menyelinap ke dalam kuil dan menaruh obat pemabok ke dalam air teh yang dikirim ke kamar boanpwe berdua, sehingga boan pwe berdua tidak sadarkan diri, sewaktu kami sadar kembali boanpwe berdua sudah disekap di dalam sebuah gudang di bawah tanah, akhirnya boanpwe dengan memakai akal berhasil meringkus sa!ah seorang di antara mereka .

.”

Dengan amat jelasnya dia segera menceritakan kejadian yang telah dialami olehnya kepada si pembesar kota.

Air muka Cuo It Sian tampak berubah menjadi terperanyat bercampur gusar, dari matanya memancarkan sinar yang tajam sekali. “Perkataan dari Ti siauw hiap ini apakah sungguh-sungguh?” tanyanya.

“Sedikit pun tidak salah,” sahut Ti Then mengangguk.”Akhirnya boanpwe berdua melakukan pemeriksaan kembali di dalam perkam pungan tersebut, saat itu api sudah padam sedang boanpwe berdua kembali untuk mencari pedang yang lenyap di tengah abu tetapi di dalam ruangan tengah sudah menemukan lima sosok mayat yang sudah hangus terbakar, menurut dugaan boanpwe tentunya semalam ketiga orang berkerudung itu sudah menotok jalan darah kaku serta bisunya sehingga sewaktu terjadi kebakaran sama sekali tidak terdengar suara mereka yang berteriak minta tolong”

Cuo It Sian menjadi setengah percaya setengah tidak, tanyanya lagi,

“Lalu apa tujuan mereka untuk menculik kamu berdua ?” Dengan perlahan Ti Then menoleh arah Wi Ci To, tanyanya. “Wi Pocu bolehkah boanpwe berbicara?”

“H mm m . . katakanlah” sahut Wi Ci To mengangguk.

Waktu itulah Ti Then baru berkata lagi terhadap diri Cuo It Sian yang sudah memperhatikan dirinya terus menerus.

“Mereka bertiga mendapat perintah dari seorang lelaki berkerudung hitam, sedangkan tujuan dari lelaki berkerudung hitam itu sehingga menculik boanpwe berdua ialah hendak menggunakan kami berdua sebagai barang tanggungan untuk memaksa Pocu kami menyerahkan semacam barang.”

Sinar mata Cuo lt Sian segera berkilap-kilap, desaknya lebih lanjut .

“Dia mau memaksa Wi Pocu menyerahkan barang apa?”

“Soal ini dia orang terus menerus tidak mau mamberi penjelasan, katanya cuma sebuah barang yang sama sekali tidak berharga.” Cuo It Sian segera berpaling memandang ke arah Wi Ci To lantas tanyanya:

“Wi Pocu apakah kau tahu barang apa yang diminta olehnya?” “Aku orang she Wi pun tidak mengerti” sahut Wi Ci To sambil

gelengkan kepalanya.

“Pihak lawan mengatakan barang itu tidak berharga tetapi bisa dipikir tentunya sangat berharga sekali buat dirinya, Wi Pocu sebaiknya kau harus mengetahuinya.”

Wi Ci To segera tersenyum.

“Aku orang she Wi benar-benar tidak tahu, di dalam loteng penyimpan kitab aku orang she Wi memang banyak tersimpan lukisan serta kitab-kitab kuno yang kelihatannya tidak berharga padahal sangat bernilai sekali, tetapi pihak lawan bilang tidak menghendaki lukisan atau kitab sehingga membuat aku orang she Wi sendiri pun tidak paham barang apa yang sebenarnya diminta olehnya.”

“Hal ini memang membuat orang menjadi kebingungan” seru Cuo It Sian sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.

Dia berpikir sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ti Then, tanyanya kemudian :

“Jika didengar perkataan Ti siauw hiap agaknya kau orang sudah pernah bertemu dengan dirinya?”

“Benar,” sahut Ti Then mengangguk. “Dia pernah datang ke gunung Kim Hud san pada beberapa jam yang lalu sewaktu masih ada di dalam istana Thian Teh Kong”

Demikianlah dia pun segera menceritakan bagaimana lelaki berkerudung itu hendak bekerja sama dengan Bun Jin Cu lalu peristiwa yang sudah terjadi setelah itu.

Cuo It Sian menjadi sangat terperanyat sekali. “Kalian sudah tahu siapakah mereka itu?” tanyanya. “Dia orang terus menerus memakai kerudung pada kepalanya bahkan sewaktu berbicara sengaja mengubah nada suaranya sehingga kita tidak dapat mengenal dirinya.”

“LaIu menurut Ti Siauw hiap berapa besar usianya?” “Kurang lebih enam puluh tahunan”

“Senyata tajam apa yang digunakan?”

“Tidak membawa senyata tajam,” sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

“Lalu ilmu silatnya termasuk ilmu yang berdasarkan Iwekang ataukah Gwa-kang?”

“Ilmu silatnya termasuk dalam golongan orang yang meyakinkan Iwekang, tenaga dalamnya berhasil dilatih sehingga mencapai taraf yang sangat tinggi cuma saja tidak tahu dia dari aliran mana karena sebenarnya dia belum pernah secara sungguh-sungguh bergebrak dengan boanpwe”

“Bagaimana dengan perawakan badannya?”

“Tinggi besar seperti locianpwe, gemuk kurusnya pun sangat mirip dengan Locianpwe”

“Ehmmm . . .” Alisnya dikerutkan rapat-rapat lalu tanyanya kepada diri Wi Ci To.

“Wi Pocu, apakah kau orang sudah teringat seseorang dari kalangan Bu lim yang mem punyai perawakan seperti itu?”

“Aku ingat akan seseorang” sahut Wi Ci To tertawa. “Siapa?” tanya Cuo It Sian dengan amat girang.

“Si pembesar kota Cuo It Sian.” sahut Wi Ci To sambil tertawa.

Cuo It Sian jadi melengak disusul dengan suatu senyuman pahit menghiasi bibirnya. “Wi Pocu kau orang jangan berguyon, dengan amat kejamnya dia sudah membinasakan orang-orang Lolap, pikirannya pun amat licik Lolap pasti akan mencari dirinya untuk membalas dendam”

“Masih ada satu geguyon lagi yang Locianpwe setelah mendengar tentu akan gusar dan gembar-gembor saking marahnya” timbrung Wi Lian ln secara tiba-tiba.

Cuo It Sian menjadi melengak. “Geguyon apa?” tanyanya. “Malam itu sewaktu masih ada di perkam pungan tersebut

setelah kami berhasil meloloskan diri dari lautan api dan membinasakan orang berkerudung yang kedua, orang berkerudung terakhir sebelum meninggalkan tempat itu sudah memberitahukan suatu berita yang menggetarkan hati. . “

“Dia bilang apa?” tanya Cuo It Sian dengan penuh perhatian. “Dia bilang pemimpin mereka bernama si pembesar kota Cuo It

Sian”

Seketika itu juga air muka Cuo It Sian berubah sangat hebat, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap kearab Wi Ci To sekalian lalu ujarnya.

“Kelihatannya kalian sudah menaruh curiga terhadap Lolap?” “Locianpwe kau jangan marah,” sela Ti Then dengan nada serius

sekali. “Lelaki berkerudung itu memang berkata demikian.”

“Sedang kalian pun percaya terhadap omongannya?” sambung Cuo It Sian sambil tertawa dingin.

“Sudan tentu boanpwe tidak berani percaya perkataan dari orang berkerudung itu jelas sekali menujukkan kalau dia orang sedang sengaja mencelakai diri locianpwe”

Mendengar perkataan tersebut hawa amarah dari Cuo It Sian dengan perlahan mereda kembali, dia segara mengangguk.

“Kelihatannya bukan saja lelaki berkererudung itu hendak mendapatkan barang milik Wi Pocu bahkan ingin mencelakai Lolap. Hmm, sungguh kejam siasatnya sekali panah mendapat dua burung yang mereka laksanakan.”

“Mungkin dia ada dendam sakit hati dengan Cuo heng sehingga berbuat demikian terhadapmu” Tiba-tiba Wi Ci To memperingatkan.

“Selama hidupku Lolap benci orang-orang yang sudah bentrok dergan aku amat banyak sekali, tetapi entah lelaki berkerudung itu merupakan penyamaran dari musuhku yang mana?”

“Ooh yaa masih ada satu urusan yang boanpwe ingin minta penjelasan”' ujar Ti Then lagi, “Pertanyaan ini setelah boanpwe katakan harap locianpwe jangan menjadi marah dibuatnya”

“Urusan apa? “ tanya Cuo It Sian dengan pandangan yang amat tajam.

“Di dalam gudang di bawah tanah itu ada terpendam sebuah tiang besi yang khusus digunakan untuk menyekap tawanan-tawan, apakah di dalam gudang bawah tanah orang lain juga mempunyai barang tersebut?”

“Betul, urusan ini Lolap memang sukar untuk menjelaskannya

....”

Berbicara sampai di sini dia segera menoleh kearah Wi Ci To dan tanyanya.

“Wi Pocu, apakah kau masih ingat kalau lolap mempunyai seorang adik ?”

“Tidak salah, tidak salah” seru Wi Ci To membenarkan. “Urusan itu sudah terjadi pada sepuluh tahun yang lalu.”

“Jelas dari air muka Cuo lt Sian menunjukkan rasa sedihnya, dia menghela napas panjang,

“Dia sudah hidup selama dua puluh satu tahun lamanya di dalam gudang bawah itu, setiap kali lolap teringat dirinya hatiku segera merasakan seperti diiris-iris - . . .” “Aaasaaah ., . , Locianpwe mem punyai seorang adik yang pernah tinggal di dalam gudang di bawah tanah itu?” Tanya Wi Lian In keheranan.

“Benar.” sahut Cuo It Sian sambil mengangguk. “Dia jauh lebih cerdik dari lolap pada usia dua puluh tahun dia sudah berhasil meiatih ilmu silatnya sehingga mencapai pada tarap kesempurnaan tetapi akhirnya dikarenakan jatuh hati dengan seorang nona dan dikarenakan berbagai sebab sehingga tidak berhasil mengawini nona tersebut dia menjadi gila, bergerak sedikit saja lantas turun tangan membunuh orang akhirnya lolap tidak bisa berbuat apa-apa Iagi terpaksa mengurungnya di dalam gudang bawah tanah itu, dia hidup selama dua puluh satu tahun lamanya di dalam gudang bawah tanah tersebut dengan sangat menderitanya, akhirnya dia meninggal dunia karena sakit.”

Berbicara sampai di sini tidak tertahan lagi titik air mata menetes keluar membasahi wajahnya.

“ Oooh kiranya begitu” seru Wi Lian In ikut terharu, “Tidak aneh kalau di dalam gudang tersebut sudah terpendam tiang besi yang begitu kuatnya.”

Sekali lagi Cuo It Sian kerutkan alisnya rapat-rapat.

“Tetapi yang paling aneh bagaimana lelaki berkerudung itu bisa tahu kalau di dalam gudang bawah tanahku itu ada barang seperti itu sehingga bisa menawan kalian berdua ke sana?”

“Hal itu berarti juga kalau lelaki berkerudung itu sangat memahami keadaan dari Locianpwe, atau dengan perkataan lain kemungkinan sekali lelaki berkerudung itu adalah orang yang locianpwe sangat kenal”

“Tidak salah” Cuo It Sian mengangguk, “Tetapi sekarang lolap masih tidak bisa menduga siapakah dia orang “

“Ada satu hari boanpwe pasti bisa menangkap si rase tua itu, sampai waktunya aku tentu akan menyerahkan kepada locianpwe untuk dijatuhi hukuman yang setimpal” “Jikalau lolap yang menangkapnya terlebih dahulu maka lolap segera akan memberi kabar kepada kalian oooh benar, Wi Pocu waktu itu lolap dengar dari Ti siauw hiap yang katanya Hu pocu meninggal karena bunuh diri, apakah bunuh dirinya itu sungguh- sungguh ada sangkut pautnya dengan lelaki berkerudung itu?”

“Ehmmm” sahut Wi Ci To sembarangan lalu bungkam kembali. Air muka Cuo It Sian agak sedikit berubah kurang senang, cepat-

cepat dia berganti bahan pembicaraan.

“Lantas Wi Pocu punya maksud untuk langsung pulang ke dalam Benteng sekarang juga?”

“Benar,” sahut Wi Ci To mengangguk, “Sampai saat ini cita-cita dari lelaki berkerudung itu sama sekali belum mencapai, sudah tentu dia orang tidak akan berpangku tangan saja, kemungkinan sekali dia bisa kembali ke dalam Benteng”

Baru saja berbicara sampai di situ mendadak air mukanya berubah sangat hebat cepat-cepat bentaknya

"Cepat tiarap”

Cuo It Sian, Suma San Ho serta Wi Lian In empat orang segera bisa mendengar suara menyambarnya senyata rahasia yang menampok angin berkelebat kearah mereka dengan cepat tubuhnya bersama-sama membungkuk ke bawah untuk menghindar.

“Braaaaak , .. “ dengan disertai suara desiran yang amat tajam senyata rahasia itu melewati atas kepala kelima orang itu nancap di atas batang pohon di pinggir jalan.

Pada ujung anak panah itu terikatlah secarik kertas putih, jelas sekali pihak-musuh sedang mn menyambit suratnya dengan menggunakan perantara anak panah.

Cuo It Sian, Ti Then serta Suma San Ho yang melihat hal ini bersama-sama membentak keras, tubuh mereka bersama-sama berkelebat menuju ke arah mana berasalnya suara sambitan tadi. Di kedua belah samping jalan gunung itu semuanya merupakan pepohonan yang amat rindang dan rapat sekali sehingga mereka bertiga menubruk ke depan beberapa kaki jauhnya tubuh mereka sudah lenyap di balik pepohonan.

Wi Lian In   pun ingin ikut mengejar tapi keburu ditahan oleh Wi Ci To ujarnya:

“Tidak perlu, ada mereka tiga orang lebih dari cukup”

Liuw Khiet segera meloncat mendekati pohon itu dan mencabut keluar anak panah tersebut yang kemudian dengan sangat hormatnya diangsurkan kepada Wi Ci To.

Sebatang anak panah yang bersurat, pocu silahkan lihat, ujarnya.

Wi Ci To segera menerima anak panah itu dan melepaskan secarik kertas yang terikat pada batang anak panah itu laIu dibacanya.

Sebentar saja air mukanya sudah berubah sangat hebat sekali.

Kiranya pada kertas tersebut bertulisan : “Dipersembahkan kepada Pek Kiam pocu. Wi Ci To.

Tiga pendekar pedang merah dari Benteng kalian, Ih Kun. Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen telah berada ditangan lohu.

Jikalau kalian tidak ingin melihat mereka bertiga dibunuh oleh aku orang, cepatlah persiapkan barang yang sudah lohu ingini itu. Menanti balasan dari saudara.”

Di bawah surat itu tidak tampak adanya nama si pengirim.

Tetapi sekali pandang saja Wi Lian In segera berteriak keras. “Aaaah tentu si lelaki berkerudung itu yang menulis.”

Air muka Wi Ci To berubah menjadi pucat ke hijau-hijauan menahan rasa gusar, dengan dinginnya dia berdiri di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun tetapi barang siapa saja yang melihatnya tentu segera akan mengetahui bagaimana kegusaran yang sedang bergolak di dalam hatinya. “le Kun, Kha Cay Hiong serta Pauw Kia Yen bagaimana bisa terjatuh di tangannya?” tanya

Wi Lian In dengan sangat terperanyat.

Dari sepasang mata Wi Ci To segera memancar keluar sinar mata yang amat tajam sekali, sepatah demi sepatah sahutnya .

“Kepandaian silat mereka bertiga tidak rendah sekali pun tidak berhasil memenangkan pihak lawan belum tentu bisa tertawan oleh mereka tentunya sewaktu mereka berangkat kemari di tengah jalan sudah terkena jebakan yang dipasang oleh mereka”

“Lalu bagaimana baiknya?” tanya Wi Lian In murung. “Jikalau Tia tidak menyerahkan barang itu tentunya mereka bertiga akan dibunuh secara kejam”

Wi Ci To tetap berdiam diri tidak mengucapkan sepatah kata pun sedangkan dari sepasang matanya jelas sekali tampak kegusaran yang sukar untuk ditahan.

Sekali lagi Wi Lian In menghela napas panjang ujarnya.

“Semula aku orang selalu menaruh curiga kalau lelaki berkerudung itu adalah Cuo it Sian. kiranya dugaanku tersebut sebetulya salah”

Baru saja bicara sampai d sini tampak Cuo It Sian, Ti Then serta Suma San Ho bertiga sudah berkelebat mendatang.

Di tangan Ti Then tampaklah seorang lelaki kasar berbaju hijau yang terkena cengkeramannnya.

Ditangan lelaki berbaju hijau itu masih memegang sebuah busur, jeias sekali panah tadi dialah yang memanah.

Melihat hal itu Wi Lian In menjadi amat gusar, teriaknya. “Hoore sudah ketangkap, sudah ketangkap”

Bagaikan sedang menenteng seekor ayam kecil saja dengan amat ringannya Ti Then berkelebat mendatang kemudian dengan kerasnya membanting tubuh lelaki berbaju hijau itu ke hadapan Wi Ci To, ujarnya.

“Tidak salah, budak inilah yang baru saja memanahkan anak panah tersebut”

Dari dandanan lelaki berbaju hijau itu jelas menunjukkan kalau dia merupakan seorang lelaki kasar yang sering berbuat jahat, dia orang yang dibanting ke atas tanah oleh Ti Then segera m merasakan kepalanya amat pening dadanya sesak, untuk beberapa saat lamanya tidak sanggup untuk bangun.

Lama sekali baru kelihatan dia jatuhkan diri berlutut di hadapan Wi Ci To, ujarnya dengan badan gemetar:

“Thay ya am pun . . hamba . , hamba…”

“Siapa namamu?” bentak Wi Ci To dengan amat keras.

“Hamba bernama Mao ji, penduduk dari Lam Khuan Sian “ sahut lelaki berbaju hijau itu dengan badan gemetar.

“Anak panah tadi kau yang memanah?” tanya Wi Ci To kembali. “Benar . . . . benar , , . “ sahut lelaki berbaju hijau itu sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hamba tolol dan tidak tahu

aturan harap Loya mau mengam puni dosa hamba”

“Kau sudah seberapa lama mengikuti lelaki berkerudung itu?” potong Wi Ci To kembali.

“Tidak - . , hamba tidak kenal dengan dia orang, kurang lebih setengah jam yang lalu sewaktu hamba melewati gunung ini dia sudah mencegat hamba, dia orang tanya maukah hamba mencari untung besar sepuluh tail perak, karena hamba kena jiret kerlipan uang perak seberat sepuluh tail perak, dia perintahkan hamba untuk bersembunyi di balik pohon dan sewaktu melihat kalian turun segera anak panah bersurat ini suruh dipanahkan . .”

“Omong kosong” bentak Wi Ci To secara tiba-tiba. Lelaki berbaju hijau itu menjadi sangat terperanyat, dia mengangguk-anggukkan kepalanya semakin cepat lagi.

“Sungguh… perkataan dari hamba .semuanya sungguh-sungguhi

. . coba kau lihat?”

Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sepuluh tahil perak dan ujarnya kembali :

“Coba kau lihat inilah uang sepuluh tahiI perak yang dia orang hadiahkan kepada hamba”

“Kau orang masih tidak mau bicara terus terang ?” bentak Wi Ci To kembali sambil melototkan sepasang matanya besar-besar.

Saking cemasnya hampir-hampir lelaki berbaju hijau itu dibuat menangis, teriaknya dengan terputus-putus:

“Per…perkataan hamba….sungguh-sungguh, jika kau orang . . orang tua tidak percaya hamba . hamba segera . . segera angkat sumpah.”

“San Ho bunuh dia!” perintah Wi Ci To kemudian sambil menoleh ke arah Suma San Ho.

Suma San Ho sudah tahu pocu mereka selamanya tidak pernah membunuh orang secara sembarangan, dia tahu Pocunya ini sedang menakut-nakuti dirinya karena itu dia segera menyahut kemudian mencabut keluar pedangnya dan ditempelkan ke atas lehernya siap ditebaskan ke atas kepalanya.

Saking takutnya lelaki berbaju hijau itu menjerit-jerit seperti babi yang disembelih, teriaknya.

“Oooh . . thay ya am pun . thay ya am punilah hamba, di rumah hamba masih ada seorang ibu yang sudah berusia delapan puluh tahun, hamba tidak boleh mati..”

“Baiklah, lepaskan dia pergi” seru Wi Ci To kemudian sambil tersenyum. Suma San Ho segera mendorong badannya ke depan sambil membentak.

“Sana menggelinding cepat-cepat dari sini”

Bagaikan baru saja mendapatkan rejeki nomplok lelaki berbaju hijau itu segera berteriak kegirangan, sambil menghembuskan napas lega dia merangkak bangun seperti anying yang kena gebuk dengan terbirit-birit melarikan diri dari sana.

“Tia” ujar Wi Lian In sewaktu melihat ayahnya melepaskan orang itu pergi, “Kau orang tua tidak seharusnya melepaskan dia dengan begitu saja kemungkinan sekali dia anak buah dari lelaki berkerudung tersebut”

Wi Ci To tidak berdaya setelah melihat lelaki berbaju hijau itu pergi jauh baru ujarnya kepada Ti Then dengan suara yang amat lirih.

“Ti kiauw tauw coba kau buntuti dirinya, lohu akan menanti kau di dalam rumah penginapan

Ya Lay di dalam kota Ci Kian Sian.

Ti Then segera menyahut dan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh dia berkelebat masuk ke dalam hutan untuk membuntuti dirinya dari tempat kejauhan.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tanab rumput di bawah gunung, tampak lelaki berbaju hijau itu dengan cepatnya berlari menuju ke kota Lan Khuan sian, selama di dalam perjalanannya ini dia beberapa kali menengok ke belakang agaknya dia merasa takut Wi Ci To sekalian mengejarnya.

Sudah tentu jejak dari Ti Then tidak dapat diketahui olehnya, terus menerus menyaga jarak yang tertentu dengan dirinya selama di dalam perjalanan ini dia menguntit dengan sangat berhati-hati sekali. Setelah mengikuti sejauh puluhan lie akhirnya sampailah mereka di dalam kota Lam Khuan sian, begitu masuk ke dalam kota lelaki berbaju hijau itu sudah tidak tampak rasa kaget atau ketakutan.

Dengan badan tegak langkah Iebar dia berjalan dengan seenaknya di tengah jalan, agaknya dia merupakan seorang benggolan yang paling ditakuti di dalam kota Lam Khuan Sian ini banyak orang-orang yang berlalu lalang di tengah jalan ketika bertemu dengan dia orang segera bungkukkan badannya memberi hormat.

Ti Then tetap menguntit dirinya dari tempat kejauhan, setelah melalui jalan raya yang besar mendadak tampak lelaki berbaju hijau itu berbelok ke sebuah jalan kecil dan akhirnya berbelok pula ke sebuah lorong kecil dan mamasuki sebuah rumah yang sudah bobrok.

Baru saja dia mendorong pintu untuk masuk, dari dalam rumah segera terdengar suara seseorang perempuan yang tinggi melengking sedang bertanya.

“Siapa? “

“Aku . . Lo kongmu.” sahut lelaki berbaju hijau itu sambil menutup kembali pintu rumahnya.

Tampaklah seorang wanita setengah baya yang rambutnya awut- awutan tidak karuan berjalan keluar dari dalam rumah, tanyanya.

“Heei kenapa sepagi ini kau orang sudah pulang?”

“Ambillah secawan air teh terlebih dulu”Seru lelaki berbaju hijau itu sambil duduk di atas sebuah kursi.

“Hmmm,” terdengar perempuan yang rambutnya awut-awutan itu tertawa dingin. “Jika dilihat dari modelmu tentunya kau orang berhasil memperoleh suatu jual beli yang agak lumayan ?”

“Sedikit pun tidak salah,” sahut lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa senang. Perempuan yang rambutnya awut-awutan itu segera masuk ke dalam rumah mengambil secawan teh dan diangsurkan kepadanya.

“Lo nio tahu setiap kali kau mem punyai uang tentu badanmu bisa gemetar dengan keras,” Serunya sambil tertawa.

Sehabis minum secawan air teh lelaki berbaju hijau itu segera mengangsurkan cawan kosongnya kepada dia orang ujarnya sambil mengangkat kakinya ke atas kursi.

“Hey nasinya sudah matang?” “Woou…masih terlalu pagi”

“Maknya .... nenek anying" maki lelaki berbaju hijau itu dengan amat gusarnya, “Tentu kau orang berjudi lagi?”

“Tidak salah” sahut perempuan itu tidak mau kalah, “Kau bisa pergi main pelacur di luaran sedang Lo nio tidak pernah pergi cari lelaki unluk main, apa kau tidak terima? kau mau cari gara-gara dengan aku yaaa ?”

Lelaki berbaju hijau itu segera mendengus dingin, dari dalam sakunya dia mengambil keluar sepuluh tahil peraknya dan dengan berat digebrakkan ke atas meja.

“Coba kau lihat barang apa ini?” t eriaknya keras.

Pandangan mata perempuan tersebut terasa menjadi terang, dengan cepat dia merebut uang itu sambil mengusap-usapnya dengan penuh bernapsu, dengan perasaan amat girang bercampur terkejut dan keheranan tanyanya

“Heeey, kau dapat merampas dari mana? “

“Maknya, setiap kali aku punya uang tentu kau menganggap aku mendapatkannya dengan jalan merampas.”

“Kalau tidak kau mendapatkan keuntungan dari toko yang mana

?“ seru perempuan tersebut sambil tersenyum-senyum kuda. “Aku bukan mendapatkannya dari cari untung di toko, aku orang memperoleh uang itu dengan taruhan nyawa“ teriak lelaki berbaju hijau itu dengan mendongkol.

“Oooh. . tidak kusangka kau masih bisa mencari uang juga, eei dengan cara bagaimana kau mendapatkan uang itu ?”

“Sore itu sewaktu aku tiba dibawab kaki gunung Kim Hud san tiba-tiba perjalananku dihadang oleh seseorang lelaki berkerudung..”

“Aduh..”teriak perempuan itu dengan amat keras, “Apakah kau orang tukang todong sudah bertemu dengan perampok?”

“Maknya ... “ sekali lagi lelaki berbaju hijau itu memaki sambil melototkan matanya.

“Kalau bicara perlahan sedikit, neneknya,,. aku orang setiap hari harus gulung sana gulung sini bukankah cuma memelihara kau perempuan cabul. sekarang kau malah maki aku tukang todong..perempuan sundal”

-ooo0dw0ooo-