Pendekar Patung Emas Jilid 23

 
Jilid 23

Sudah tentu lelaki berkerudung itu pun mengetahui maksud hatinya, karena itu setelah tubuhnya terdesak mundur ke belakang disertai dengan suara bentakan yang amat keras tubuhnya sekali lagi menubruk ke arah depan.

Ti Then yang meloncat kearah dinding di mana tergantung golok baja itu sama sekali tidak segera mencabut keluar golok tersebut. Mendadak dia membentak keras, rantai besi ditangannya dergan sekuat tenaga diobat-obitkan ke depan lalu meluncur terlepas dari tangannya.

Rantai besi itu bagaikan seutas tali dengan kecepatan tinggi meluncur dengan dahsyatnya menghajar tubuh lelaki berkerudung itu.

Agaknya lelaki berkerudung itu sama sekali tidak menyangka Ti Then bisa melakukan hal itu, untuk sesaat lamanya dia terdesak untuk menyingkir ke samping kiri menghindar diri dari sambitan rantai besi itu.

Dan pada saat yang amat singkat itulah Ti Then sudah berhasil mencabut keluar golok baja yang tergantung di atas dinding lalu dengan beberapa kali bacokan berhasil memutuskan otot kerbau yang mengikat kaki kirinya.

Dengan demikian dia sudah bebas dari belenggu.

Setelah tidak ada tiang kayu yang mengganggu gerakannya pun semakin bebas lagi, serangan yang dilancarkan kearah lelaki berkerudung itu menjadi semakin gencar siapa tahu pada saat dia hendak menggerakkan golokya melancarkan serangan itulah lelaki berkerudung itu sudah berhasil meloncat ke hadapan Wi Lian In. Telapak tangan lelaki berkerudung itu dengan cepat ditekan ke atas batok kepala dari Wi Lian ln sembari membentak mengancam :

“Jangan bergerak, sedikit kau bergerak saja Lohu segera akan menyagal budak ini”

Ti Then sama sekali tidak menyangka kalau orang berkerudung itu bisa menggunakan cara yang paling rendah untuk mempersalahi dirinya, dia segera menghentikan langkahnya.

“Heee . . heee - . beranikah kau bertempur secara jujur dengan diriku?” tantangnya dengan wayah adem.

Ketika lelaki berkerudung itu melihat ternyata dia benar-benar tidak berani bergerak maju hatinya merasa agak lega, dia pun tertawa dingin dengan amat seramnya,

“Aku tidak ada keperluan untuk berbuat demikian.” serunya. “Tidak kusangka di dalam Bu lim ternyata masih ada juga

manusia yang tidak tahu malu seperti kau” Dengus Ti Then dengan

amat gusar.

Lelaki berkerudung itu segera menyengir kejam.

"Lohu tidak malu, yang aku takuti cuma tujuanku yang tidak mencapai sukses”

“Sekarang kau tidak akan bisa mencapai tujuanmu lagi, jikalau kau ingini nyawamu cepatlah bergelinding dari sini,”

“Hmm, sekarang Lohu masih ada di atas angin, kenapa harus menggelinding dari sini ?“ Serunya dengan nada mengejek.

Mendadak suaranya berobah menjadi amat keren, dengan gusarnya dia membentak:

“Lepaskan golokmu, kalau tidak jangan salahkan lohu tidak berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap budak ini “

“Ti Kiauw tauw,jangan perduli dirinya “ Teriak Wi Lian In dengan cepat, “Cepat kau serang dia orang, kau tidak usah mengurusi diriku lagi.“ Telapak tangan kiri dari lelaki berkerudung itu dengan cepat dipentangkan di depan dadanya dengan gaya hendak meraba teteknya.

“Kau surgguh-sungguh tidak takut ?” ancamannya sambil tertawa menyengir dengan kejamnya.

Seketika itu juga air muka Wi Lian In berubah pucat pasi, dia tidak berani membuka mulut lagi.

Ketika lelaki berkerudung itu melihat dia tidak berani berteriak lagi kepalanya dengan perlahan ditoleh kearah Ti Then.

“Kau dengar tidak? Lohu perintah kau untuk melepaskan golok tersebut”

Walau pun Ti Then tahu kalau pihak lawannya tidak akan turun tangan jahat dengan membinasakan diri Wi Lian In tetapi dia pun tidak berani menggunakan taruhan nyawa Wi Lian In untuk menempuh bahaya, segera dengan hati uring-uringan dia melemparkan goloknya ke atas tanah, tetapi mulutnya tetap memperdengarkan suara tertawa dingin yang tak henti-hentinya,

“Sekali pun golok ini aku lepaskan tetapi kukira kau belum bisa mengapa-apakan diriku ?"

“He.. hee kau bangsat cilik lihat saja nanti'“ seru lelaki berkerudung itu sambil tertawa seram.

Sehabis berkata mendadak tangan kirinya diulur memeluk pinggang dari Wi Lian In dengan membawa sekalian tiang kayunya dia berjalan menuju ke pintu depan.

Ti Then yang tidak tahu dia orang hendak berbuat apa terhadap Wi Lian ln ketika melihat dia membawa pergi Wi Lian In dari sana hatinya menjadi amat cemas tak terasa lagi tubuhnya maju satu langkah ke depan teriaknya dengan gusar:

“Kau mau berbuat apa terhadap dirinya?”

Telapak tangan kanan dari lelaki berkerudung itu dengan cepat ditekankan kembali ke atas batok kepala Wi Lian In, “Jangan bergerak.” teriaknya kasar, “Apakah kau ingin melihat budak ini menemui ajalnya ditanganku ?”

“Kau hendak membawa dirinya kemana ?“

“Tidak akan meninggalkan ruangan siksa ini. Lohu sudah datang dengan membawa seorang pembantu.“

Diam-diam Ti Then merasa amat terperanyat sekali, tak terasa lagi dia sudah bertanya :

“Kau sudah membawa pembantu ? “

“Benar, dia sekarang berada di depan pintu ruangan siksa ini “? sahut lelaki berkerudung itu dtngaa amat bangga.

Sambil berkata dengan menyeret tubuh Wi Lian In dia mengundurkan diri dari pintu batu itu.

Pada saat dia mengundurkan diri ke depan pintu batu itulah dengan amat gesit tangannya rnelancarkan cengkeraman mengangkat sesosok tubuh manusia ke atas.

Orang itu bukan lain adalah Liuw Khiet yang membawa dia orang memasuki ruangan siksa ini.

Sudah tentu Ti Then tidak kenal dengan Liuw Khiet, ketika dilihatnya tubuh orang itu amat kaku dia orang segera mengerti kalau orang tersebut sudah tertotok jalan darahnya oleh lelaki berkerudung itu, dalam hati dia merasa semakin heran.

“Orang inikah pembantumu?” tanyanya perlahan.

“Tidak salah” sahut lelaki berkerudung sambil mengangguk. “Jika dia menginginkan nyawanya sudah tentu harus menjadi pembantu lohu”

“Siapakah sebenarnya dia orang?" tanya Ti Then kembali.

“Dia bernama Liuw Khiet, yang semula merupakan salah seorang anak buah dan istana Thian Teh Kong yang bekerja di ruang alat rahasia “ “Tentang hal ini aku sama sekali tak menduga, kiranya di tempat ini masih ada dia seorang yang belum meninggalkan istana Thian Teh Kong ini”

“Tidak” bantah lelaki berkerudung itu dengan cepat “Dia sudah pergi dari sini tapi Kembali lagi untuk mencuri harta kekayaan dari Bun Jin Cu, akhirnya dia tidak untung sudah berhasil Lohu tangkap”

Dia melepaskan tubuh Liuw Khiet itu ke atas tanah lalu dengan kerennya dia membentak.

“Hey Liuw Khiet, kau ingin mati atau hidup ?"

“Mau hidup . . mau hidup” sahut Liuw Khiet dengan suara gemetar, “Hamba mau menjadi pembantu dari kau orang tua”

“Kalau begitu sangat bagus sekali“sahut lelaki berkerudung itu sambil tertawa, “Apa yang Lohu perintahkan kau harus melakukannya dengan cepat, tahu tidak ?”

“Tahu . . tahu . , tahu.”

“Kau orang bisa menotok jalan darah ?” tanya lelaki berkerudung itu.

“Sedikit-sedikit saja.”

“Kalau begitu kau pun kenal letaknya jalan darah di tubuh manusia bukan ?” tanya lelaki berkerudung itu lagi dengan suara yang amat dingin.

“Kenal ... kenal”

“Bagus sekali " seru lelaki berkerudung itu dengan amat gembira. “Sekarang Lohu mau membebaskan jalan darahmu yang tertotok lalu kau pergi menotok jalan darah kaku dari bangsat cilik itu, berani tidak ?”

“Asalkan kau orang tua masih menguasai nona Wi itu hamba sudah tentu berani”

“Bagus sekali” teriak Ielaki berkerudung itu lagi dengan amat gembiranya. “Baik-baiklah kau membantu Lohu untuk menguasahi ketiga orang itu, setelah urusan selesai Lohu pasti akan perseni dirimu banyak-banyak bahkan melepaskan kau dari sini.”

“Baik .. baik terima kasih atas kebaikan budi kau orang tua.” “Tetapi bilamana kau orang berani memperlihatkan permainan

busuk seketika itu juga Lohu akan mencabut nyawamu saat itu juga”

“Baik ,. baik, hamba tidak berani” seru Liuw Khiet berulang kali.

Telapak tangan dari lelaki berkerudung itu segera menepuk ke atas badannya membebaskan jaian darah kakunya yang tertotok.

“Nah sekarang bangunlah.”

Liuw Khiet berdiam diri sebentar lalu baru bangkit berdiri, dengan gaya yang amat hormat ujarnya:

“Sekarang aku harus pergi menotok jalan darahnya ?”

“Tidak salah” sahut lelaki berkerudung itu mengangguk. “Sewaktu turun tangan kau harus melancarkannya dengan sekuat tenaga”

“Dia tidak akan melawan bukan?” tanya Liuw Khiet lagi dengan ketakutan sambil melirik sekejap kearah Ti Then.

“Tidak mungkin berani” sahut lelaki berkerudung itu tertawa, “Jika dia berani melawan maka nona Wi inilah yang akan menderita terlebih dulu”

Mendengar perkataan tersebut nyali Liuw Khiet jadi bertambah besar, dengan gaya seekor anying hendak menggigit manusia dengan langkah perlahan dia berjalan mendekati tubuh Ti Then.

“Liuw Khiet” seru Ti Then sambil tertawa. “Kau sungguh amat bodoh, sewaktu kau berhasil menotok jalan darah kakuku maka dia akan turun tangan membinasakan dirimu,, dia selamanya tidak pernah melepaskan siapa pun “

“Cuh, kau bangsat cilik tidak usah banyak omong lagi“ Bentak Liuw Khiet dengan amat gusar “Pandanganku orang tua jauh lebih terang dari dirimu, siapa yang bisa dipercaya aku baru menentukannya sendiri“

“Jikalau kau orang tidak parcaya terhadap omonganku, silahkanlah untuk cepat turun tangan” sahut Ti Then kemudiaa sambil tertawa serak,

“Angkat tanganmu ke atas.” Bentak Liuw Khiet dengan cepat.

Ti Then tertawa dia menurut saja, perintah tersebut dengan mengangkat tangannya ke atas,

Jari telunjuk serta jari tengah dari Liuw Khiet dengan amat tepatnya menghajar jalan kaku dari Ti Then.

Seketika itu juga Ti Then rubuh ke atas tanah.

Saat itulah lelaki berkerudung itu baru bisa menghembuskan napas lega, dia segera meletakkan tubuh Wi Lian In ke atas tanah lalu tertawa ter-babak-bahak.

“Bagus .... bagus sekali. sekarang seret dia orang kemari lalu mengikat tangan serta kakinya dengan menggunakan otot kerbau tersebut, “

Liuw Khiet menyahut dan menarik sepasang kaki Ti Then untuk dibawa menuju ketengah itu antara tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho, setelah itu memungut otot kerbau yang menggeletak di atas tanah.

Dengan perlahan dia memungut dua utas otot kerbau, baru saja tubuhnya hendak berjalan menuju ke samping tubuh Ti Then mendadak air mukanya berubah sangat hebat, sambil membelalakkan matanya lebar-lebar dia memandang ke depan pintu itu lalu berteriak dengan amat keras

“Iiiih siapa kau?”

Ssbenarnya saat ini telaki berkerudung itu sedang berdiri membelakangi pintu batu tersebut, mendengar perkataan itu dengan amat terkejut sekali dia putar badannya ke belakang lalu melancarkan satu serangan dahsyat ke depan. Perubahan yang dilakukan amat cepat sekali, laksana berkelebatnia kilat, siapa tahu setelah melancarkan serangannya itu dia segera menemukan kalau di depan pintu batu itu sama sekali tidak menemui jejak musuh.

Sedang saat dia merasakan kalau di depan pintu tidak tampak adanya orang itulah mendadak punggungoja sudah terhajar oleh satu pukulan yang amat dahsyat sekali.

Orang yang melakukan serangan dahsyat itu bukan lain adalah Ti Then sendiri.

Kiranya Liuw Khiet tadi sama sekali tidaksecara sungguh-sungguh metotok jalan darah kakunya, sedangkan di dalam ruangan siksa itu pun sama sekali tidak terdapat manusia lain.

Setelah lelaki berkerudung itu merasakan punggungnya kena hajar dengan amat keras itulah dia segera merasa dirinya sudah kena tipu, tubuhnya dengan cepat berjumpalitan keluar dari pintu batu itu lalu dengan amat cepatnya melayang keluar dari ruangan bawah tanah itu.

Ti Then segera membentak keras, tubuhnya meloncat ke atas melakukan pengejaran dari belakang.

Liuw Khiet pun dengan tergesa-gesa memungut golok yang ada di atas tanah lalu meloncat ke samping tubuh Wi Lian ln dengan menggunakan golok itu dengan cepat dia memutuskan otot kerbau yarg mengikat tangan kakinya setelah itu menyusul memutuskan otct kerbau yang mengikat tangan serta kaki dari Suma San Ho.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar benar berada diluar dugaan dan Wi Lian In mau   pun Suma San Ho sendiri, Wi Lian In dangan membelalakan matanya memandang kearah Liuw Khiet serunya dengan amat terkejut bercampur girang.

“Kau . . . kau tidak menotok jalan darah kakunya?“

Liuw Khiet setelah memutuskan otot kerbau yang mengikat tangannya Suma San Ho dia segera berjongkok memutuskan otot kerbau yang mengikat kakinya., saat itu dia segera tertawa sahutnya.

"Tidak, bukankah tadi hamba sudah bilang pandangan hamba jauh lebih jelas

siapa yang bisa dipercaya siapa yang tidak bisa dipercaya,” “Bagus sekali” teriak Wi Lian In dengan amat girang sekali. “Kau

jadi   manusia   tidak   jelek   juga,   nanti   kami   tentu   baik-baik

mengucapkan terima kasih kepadamu”

Berbicara sampai di situ tubuhnya sudah menerjang keluar dari ruangan siksa tersebut.

Saat ini Liuw Khiet sudah berhasil memutuskan seluruh otot kerbau yang mengikat tubuh Suma San Ho.

Dengan cepat Suma San Ho meloncat kearah dinding sebelah kiri untuk mencabut keluar sebilah pedang yang tergantung di sana.

Baru saja dia hendak menerjang keluar dari ruangan itu untuk menyusul diri Wi Lian In mendadak tampak Wi Lian In sudah balik kembali ke dalam ruangan siksa itu.

“Kenapa kau?” seru Suma San Ho tertegun.

“Sungguh cepat sekali.” teriak Wi Lian In dengan wayah amat terkejut, “Mereka sudah berlari meninggalkan tempat ini dengan amat cepatnya,”

Air muka Liuw Khiet segera berubah sangat hebat.

“Kalau begitu tentu mereka sudah berlari masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang pernah dipasangi dengan alat-alat rahasia itu. kalau tidak mereka tidak akan lari dengan cepatnya.”

Mendengar perkataan tersebut Wi Lian In menjadi sangat terperanyat sekali.

“Dua buah jalan rahasia itu yang mana baru menuju ke tempat alat rahasia itu" tanyanya dengan cemas. "Jalan di bawah tanah yang berbelok ke kanan dan terus lempeng itu merupakan jalan di bawah tanah yang sudah dipasangi dengan delapan belas buah alat rahasia“

“Bukankah tadi bajingan tua itu bilang sudah berhasil merusak kedelapan belas buah alat rahasia tersebut?“

“Dia sedang omong kosong." seru Liuw Khiet dengan cepat. “Kalau begitu” ujar Wi Lian In kembali “Bagaimana dia sampai di

dalam ruangan siksa ini dengan selamat tanpa melewati kedelapan

belas alat rahasia tersebut??”

“Dia memaksa hamba untuk membawa dia masuk kemari dengan mengambil jalan rahasia yang lain.”

“Kalau begitu” ujar Wi Lian In dengan keheranan, “Kenapa dia tidak melarikan diri dengan melalui jalan rahasia yang semula?“

“Pada ujung jalan rahasia itu terdapat sebuah alat rahasia yang digunakan untuk naik turun” ujar Liuw Khiet menerangkan, ”Mungkin dia melihat waktunya untuk mencapai jalan tersebut tidak sempat lagi makanya dia memilih jalan rahasia yang dipasangi dengan delapan belas alat rahasia itu untuk melarikan diri „ . .cepat, kita pergi lihat “

Selesai berkata dia berlari terlebih dahulu memimpin yang lain untuk berlari ke depan.

Wi Lian In serta Suma San Ho yang mengikuti dari belakang bersamaan sudah bertanya.

“Kau memahami jalan di sini?”

“Paham" sahutnya cepat, “Aku cuma takut tidak sempat menyusul mereka, alat rahasia yang berada di paling depan bernama “Siang Sek Sin Peng “ atau sepasang batu mengepres kue, alat tersebut amat libay sekali“

“Apa itu Siang Sek Sin Peng,?" tanya Suma San Ho kebingungan. “Jikalau kita tidak mengerti bagaimama cara jalannya melalui tempat itu maka bilamana kita menyenggol alat rahasia dari kedua belah dinding akan muncul batu besar, yang bersama-sama menggencet menjadi gepeng, itulah yang dinamakan Siang Sek Sin Peng.”

Wi Lian In yang mendengar kelihayan dari alat rahasia itu hatinya segera merasa berdebar debar.

“Jika bajingan tua itu berhasil digencet mati itulah paling bagus, cuma aku takut .. takut Ti Kiauw tauw pun ikut menemani dirinya.”

“Semoga saja merekajangan sampai begitu ... “ Sela Liuw Khiet dengan ce pat.

Selesai berkata dengan amat cepatnya dia berlari ke depan, mendadak dengan wayah terperanyat dan muka pucat dia menghentikan langkahnya.

“Kenapa??” tanya Wi Lian In dengan cepat sewaktu dilihatnya dia orang ketakutan.

“Coba kajian libat” serunya sambil menuding ke depan.

Wi Lian In serta Suma San Ho dengan cepat mengalihkan pandangan matanya, mengikuti arah yang dituding oleh Liuw Khiet itu. tampaklah kurang lebih tiga kaki dari mereka berdiri jalan rahasia tersebut sudah terhalang oleh dua buah pintu batu yang amat rapat sekali, Wi Lian menjadi bingung, tanyanya.

“Kau tidak bisa membuka pintu batu yang besar itu?“

“Itu bukan pintu batu” seru Liuw Khiet dengan cepat sembari menarik napas panjang-panjang. “Itulah yang tadi hamba maksudkan sebagai alat rahasia Siang San Sin Pek, kedua buah batu itu merupakan batu yang digunakan untuk menggencet ke tengah.

Sedang saat ini kedua buah batu besar itu sudah merapat satu sama lainnya hal ini sudah tentu berarti juga kalau alat rahasia itu sudah menggencet sesuatu.”

Wayah Wi Lian In segera berubah amat hebat, serunya, “Jadi maksudmu, mereka sudah tergencet di dalam?“

“ Kemungkinan sekali memang demikian .. “ sahut Liuw Khiet mengangguk.

Wayah Wi Lian In segera berubah menjadi amat sedih sekali, sambil mencekal tangan Liuw Khiet serunya dengan suara setengah menangis.

“Apa betul-betul tidak ada jalan untuk meloIoskan diri?” Liuw Khiet segera tertawa pahit.

“Panjang kedua buah batu ini ada lima kaki, jikalau sewaktu mereka menyenggol alat rahasia itu dapat segera meloncat mundur kemungkinan sekali bisa lolos . ..tetapi menurut apa yang sudah sering terjadi mereka tidak mungkin berhasil mencapai lima kaki jauhnya di dalam satu kali loncatan saja.”

Mendengar keterangan itu Wi Lian In menjadi amat sedih, mendadak dia menutupi wayahnya dengan tangan lalu menangis terseduh-seduh dergan amat sedihnya.

“Eeeeh jangan menangis,jangan menangis” seru Suma San Ho dengan gugup, “Kita sama sekali tidak mendengar kalau mereka sudah memperdengarkan suara yang mencurigakan, kemungkinan sekali sebelum kedua buah batu besar itu menggencet ketengah mereka sudah berhasil meloncat keluar dari jalan rahasia ini.”

“Kaujangan menghibur diriku,” seru Wit Lian In sambil menangis semakin keras, “Tidak perduli siapa pun tidak mungkin berhasil meloncat sejauh lima kaki hanya di dalam satu kali loncatan saja, dia, . . . dia tentu sudah tergencet di tengah.“

“Dapatkah kau memisahkan kedua buah batu besar itu ?” tanya Suma San Ho kemudian kepada Liuw Khiet.

“Dapat .... dapat “ jawab Liuw Khiet mengangguk. “ Tetapi hamba harus berputar satu jalan yang amat panjang sekali baru bisa sampai di dalam kamar alat rahasia tersebut, aiat untuk membuka alat rahasia “Siang Sak Sia Peng “ ini   pun berada di dalam kamar rahasia tersebut”

“Kalau begitu bagaimana kalau kau pergi membuka alat rahasia ini terlebih dulu ?” ujar Suma San Ho dengan gugup.

“Baiklah, kalian harap tunggu sebentar di sini “

Selesai berkata dengan cepat dia putar badan meninggalkan tempat itu.

Suma San Ho dengan perlahan menoleh kearah Wi Lia n In dan hiburnya dengan kata-kata yang halus:

“Sumoay untuk sementara waktu lebih baik kaujangan bersedih hati dulu, " Ie-heng percaya Ti Kiauw tauw tidak mungkin menemui bencana, dari wayahnya jelas memperlihatkan kalau dia orang bukanlah seorang yang pendek usia . .”

“Sungguh ?” tanya Wi Lian In mendadak sambil angkat kepalanya yang sudah dibasahi oleh butiran air mata itu.

“Sungguh” jawab Suma San Ho mengangguk. “Alisnya panjang sekali hal ini membuktikan kalau dia orang termasuk orang yang panjang umur, dia tidak mungkin bisa mati dengan begitu mudahnya,”

“Kau bisa meramal ?” tanya Wi Lian In tertegun.

“Benar" sahut Suma San Ho sambil tertawa paksa, “Cuma hanya paham sedikit kulitnya saja”

Wi Lian In menundukkan kepalanya kembali sambil menangis tersedu-sedu.

“Jika dia mati aku pun tidak ingin hidup lebih lanjut, kau tahu tidak dia jadi orang amat baik, dia sangat baik sekali terhadap diriku, bahkan kita . . kita , , .”

“Benar, orang budiman akan selalu di lindutgi Thian, dia tidak akan mati” coba hibur Suma San Ho sekali lagi, tak urung nada suaranya menunjukkan kesedihan hatinya pula. “Tetapi aku mengetahui dengan amat jelas kepandaian silat yang dimilikinya, tak mungkin bisa sekali loncat mencapai sejauh lima kaki”

Jika seseorang mencapai pada saat kritis yang mengancam jiwanya kadang kala bias muncul suatu tenaga gaib yang sesuatu luar biasa sekali, Ie-heng percayaTi Kiauw tauw pasti lolos dari mara bahaya ini”

Mendadak Wi Lian In meloncat ke hadapan kedua buah batu raksasa itu lalu berteriak menghadap ke arah celah yang ada di tengahnya:

“Ti Kiauw tauw… Ti Kiauw tauw, kau berada dimana?”

Selesai berteriak dia menempelkan telinganya kearah celah-celah tersebut untuk pusatkan perhatiannya mendengar.

Tetapi dia segera menjadi kecewa, dia sama sekali tidak mendengar sedikit suara pun dari Ti Then.

Suma san Ho segera maju ke depan menariknya ke belakang. “Kemungkinan sekali dia sudah jauh meninggalkan tempat ini”

ujarnya. “Karena itu dia orang sudah tidak mendengar suara

teriakanmu itu”

“Jalan rahasia ini adalah lurus, jikalau dia masih hidup sudah seharusnya mendengar suara teriakanku ini”

“Tadi Liuw Khiet sudah berkata kalau di dalam jalan rahasia ini dipasang delapan belas buah alat rahasia, jikalau alat rahasia tersebut sudah mulai bergerak belum tentu jalan rahasia ini masih tetap lurus seperti semula”

“Itu Liuw Khiet sudah pergi amat lamanya tidak ada beritanya lagi? Apa dia sudah melarikan diri?” gumam Wi Lian In kemudian.

“Tidak mungkin, dia memberi bantuan dulu kepada kita tidak mungkin dia orang akan melarikan diri” “Aku ada satu hal yang tidak paham” ujar Wi Lian In mengemukakan keberatan hatinya. “Kenapa dia orang bias berdiri di pihak kita?”

“Karena dia tahu kita tidak akan membinasakan dirinya” “Sungguh sayang sekali Ti Kiauw tauw tidak berhasil melukai

bajingan tua itu dengan pukulannya tadi” seru Wi Lian In sambil menghela napas panjang. “Jikalau pukulannya tadi berhasil membinasakan dirinya maka sudah tentu tidak akan terjadi peristiwa semacam ini”

“Kenapa tidak?” sambung Suma San Ho. “Tetapi hal ini tidak bias dikatakan karena tenaga dalam Ti Kiauw tauw terkuras pada saat itu dia melancarkan serangan dengan berbaring sudah tentu tenaga dalamnya tidak dapat dikerahkan sepenuh tenaga, apalagi bajingan tua itu…”

Perkataannya belum selesai mendadak terdengar suara berderiknya batu-batuan yang amat ramai, kedua belah batu raksasa yang merapat tadi dengan perlahan mulai bergeser kekanan dan kekiri.

Di dalam sekejap saja batu tersebut sudah kembali menjadi sebuah jalan rahasia.

Walau pun jalan rahasia itu amat gelap tetapi mereka berdua hanya di dalam sekali pandang saja bisa melihat pada batu cadas yang ada di sebelah kanan terbanting sesosok mayat manusia yang kini sudah d buat gepeng oleh gencetan batu.

Dengan suara yang amat keras Wi Lian In menjerit ngeri tubuhnya menjadi lemas seketika itu juga dia jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.

Suma San Ho menjadi amat terperanyat, dengan gugup dia membangunkan badannya kembali sambil berteriak dengan suara yang amat cemas :

“Sumoay, sumoay, kau bangunlah.” Wi Lian In sedikit pun tidak berkutik, biji matanya yang setengah terbuka dan setengah tertutup itu berputar kearah atas, tubuhnya amat lemas jelas sekali dia memang sudah jatuh tidak sadarkan diri.

Suma San Ho berteriak lagi beberapa kali tetapi dia tetap jatuh tidak sadarkan dirinya, terpaksa dia meletakkan kembali tubuhnya ke atas tanah lalu berlari memasuki jalan rahasia tersebut keadaasnya saat ini amat bingung sekali karena dia tahu orang yang sudah kena gencet mati itu pasti Ti Then, dia bisa mengambil kesimpulan ini karena ada sebuah alasan yang amat kuat. Sewaktu alat rahasia itu muIai berjalan lelaki berkerudung itu berlari dipaling depan sehingga dia masih mem punyai harapan untuk meloloskan diri, sebaliknya Ti Then yang melakukan pengejaran di belakang pasti sukar untuk meloloskan diri, hal ini sudah terang jelas sekali dan masuk diakal.

Tetapi sekali pun begitu dia masih mem punyai satu harapan, dia mengharapkan orang yang sudah kena gencet mati itu bukanlah Ti Then.

Dengan langkah yang amat cepat dia terlari mendekati mayat itu, terlihatlah

seluruh tulang dari mayat itu sudah kena gencet sehingga gepeng laksana selembar kertas saja, keadaannya penuh dilumuri dengan darah sehingga karena amat menyeramkan sekali.

Dikarenakan keadaan di dalam ruangan bawah tanah itu amat gelap untuk beberapa saat lamanya dia tidak bisa membedakan yang mati itu Ti Then atau si lelaki berkerudung itu, tiba-tiba dia teringat kembali dengan lampu lentera yang tergantung di dalam ruangan siksa, tubuhnya dengan cepat berlari balik mengambil lampu lentera itu kemudian kembali lagi ke tempat semula.

Dengan meminyam sinar lentera itu dia melakukan pemeriksaan dengan amat telitinya terhadap mayat tersebut sudah lama membeku, hatinya menjadi sangat girang sekali, dengan cepat dia meloncat balik, ke sampinng tubuh Wi Lian ln sembari teriaknya keras : “Sumoy! cepat bangun, orang yang kena gencet mati itu bukan Ti Kiauw-tauw. “

Perkataan ini ternyata amat manjur sekali jika dibandingkan dengan obat mujarab lainnya, seketika itu juga Wi Lian ln sadar kembali dari pingsannya.

“Kau bilang apa ?” tanyanya dengan cemas.

“Ti Kiauw-tauw tidak mati” seru Suma San Ho dengan amat girang-

“Sungguh? “ teriak Wi Lian ln sambil meloncat bangun. “Sungguh.”

Dengan cepat Wi Lian ln merebut lampu lentera yang ada ditangannya dan berlari menuju ke ruangan bawah tanah itu.

Ketika dia dapat melihat “ Lembaran “ mayat itu tak terasa lagi hatinya menjadi bergidik, dengan ketakutan teriaknya :

“Aduh ,.. sungguh sukar sekali untuk dilihat, dia . .orang siapa ? “ “Dia bukan Ti Kiauw-tauw juga bukan bajingan tua itu”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau dia bukan bajingan tua itu?” teriak Wi Lian In dengan terperanyat.

“Coba kau lihat darah dari mayat itu sudah lama membeku,” ujar Suma San Ho sambil menuding kearah mayat tersebut, jikalau yang mati adalah Ti Kiauw-tauw atau bajingan tua itu maka orang yang baru saja mati kena gencet darah yang mengalir keluar tidak mungkia bisa langsung membeku,”

“Tidak salah.” Sahut Wi Lian In setelah memeriksa dengan teliti mayat itu,”Bahkan baju yang dia pakai pun tidak mirip dengan pakaian yang d pakai oleh Ti Kiauw tauw. tetapi siapakah orang ini? “

“Aku duga dia orang tentu salah satu dari anak buah Bunn Jin Cu, kemungkinan sekali orang ini meminyam kesempatan sewaktu semua orang memberontak memasuki ruangan bawah rahasia ini untuk mencari harta siapa tahu sudah kena gencet alat rahasia hingga menemui ajalnya”

Sekali lagi Wi Lian In mengangguk dengan perlahan matanya beralih kearah depan.

“Kalau begitu Ti Kiauw tauw setelah pergi kemana?” tanyanya. “Sudah tentu berada di jalan rahasia sebelah depan, nanti biarlah

kita tunggu Liuw Khiet datang dulu kemudian kita baru…”

Baru saja dia berbicara sampai di situ mendadak terdengar dari dalam ruangan bawah tanah itu berkumandang datang suara seseorang.

“Kalian berdua harap berlega hati seluruh alat rahasia yang ada di dalam ruangan bawah tanah ini sudah hamba tutup”

Suara dari Liuw Khiet dengan amat ringannya berkumandang datang dari suatu tempat yang agaknya amat jauh sekali.

Suma San Ho menjadi melengak, dengan cepat dia menyuruh Wi Lian In mengangkat tinggi lampu lentera itu, saat itulah mereka baru menemukan di at as dinding atap ruangan tersebut terdapat sebuah lubang yang bulat kecil, segera dia angkat kepalanya berteriak :

“Liuw Khiet, kaukah ? “

“Benar” sahut Liuw Khiet dengan keras, “Kalian berdua sekarang sudah berada di tengah-tengah alat rahasia Siang Sek Sia Peng ini. apakah kalian menemukan sesuatu ?”

“Di sini sudah kena gencet seseorang, tetapi dia bukan Ti Kiauw- tauw juga bukan orang berkerudung itu” teriak Suma San Ho dengan keras.

“Oooh ,. kalau tidak siapa yang sudah kena gencet sehingga mati

?” seru Liuw Khiet dengan terperanyat.

“Aku tidak kenal, tetapi darah dari mayat sudah membeku, kelihatannya dia sudah mati dua hari yang lalu.” “Kalau begitu dia tentulah orang dari istana Thian Teh Kong . . “

“Hey Liuw Khiet. kau berada di dalam kamar alat rahasia?” teriak Wi Lian In bertanya.

“Benar"

“Kau yang berada di dalam kamar rahasia dapatkah melihat semua keadaan alat-alat rahasia tersebut?”

“Aku tidak bisa melihatnya secara langsung, tetapi dari perubahan yang terjadi di sini aku bisa tahu alat rahasia mana sudah mulai jalan . .”

“Kalau begitu” potong Wi Lian In dengan cepat. “Sebelum kau menutup semua alat-alat rahasia yang sudah berjalan? “

ooo O ooo

“Sudah ada tiga macam alat rahasia yang bekerja, yaitu” Siang Sek Sia Peng, Thay San Ya Ting - serta - ln Sian Wan“, alat rahasia “ Thay San Ya Ting “ itu terletak jalan rahasia depan kalian, hamba sudah menaikkannya.”

Tidak menanti dia bicara habis Wi Lian In sudah bertanya kembali dengan cemas

“Apakah yang dimaksud sebagai Thay San Ya Ting serta In Sian Wang itu ?”

“Yang dimaksud sebagai Thay san Ya Ting adalah sebuah plat besi yang beratnya dua ribu kati bergerak dari atas atap di jalan rahasia ini menuju ke bawah dan dapat membuat orang menjadi hancur”

“Lalu adakah orang yang kena kena ditindih mati oieh alat rahasia Thay San Ya Ting itu ?” tanya Wi Lian In terperanyat,

“Tidak ada,, tetapi di dalam alat rahasia In Sian Wang agaknya sudah menawan seorang, hamba tidak tahu orang yang ada di dalam alat rahasia In Sian Wang itu Ti siauw hiap atau lelaki berkerudung itu karenanya hamba tidak berani . , . . aduh .” Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak dia sudah menjerit kaget.

Suma San Ho menjadi cemas, tanyanya dengan cepat . “Liuw Khiet, kau kenapa ?”

“Ti, . . , tida .... tidak mengapa . .tidak mengapa .....” seru Liuw Khiet tetapi suara jelas rada gemetar.

“Lalu kenapa kau menjerit kaget ?” tanya Suma San Ho menjadi curiga.

“Seee . . . seekor tikus . . .. baru saja dia berlari melalui atas kakiku ”

Walau pun pada saat ini dalam hati Wi Lian In sedang merasa kuatir atas keselamatan dari Ti Then, ketika mendengar perkataan ini tak urung dia tertawa cekikikan juga.

“Hmm” godanya. “Kau orang adalah lelaki berbadan gede, kenapa sama seekor tikus yang begitu kecil juga takut ? “

Liuw Khiet segera ikut tertawa, tetapi lertawanya sangat dipaksakan.

“Sudah tentu hamba tidak takut dengan tikus, hamba kira sudah kedatangan musuh“

“Hey alat rahasia In Sian Wang itu terletak di mana ? sebetulnya permainan apa itu ? “ sela Suma San Ho.

“Alat tersebut terletak di depannya Thay San Ya Ting yang merupakan sebuah jala besar yang tidak mungkin bisa diputus dengan menggunakan senyata tajam, sekarang di dalam jala itu agaknya sudah menangkap seseorang, kalian cepatlah pergi lihat ke sana. “

Wi Lian In segera berlari dengan amat cepatnya menuju ke depan.

Sumai San Ho pun mengikuti dengan cepat dari belakang, mereka berdua setelah berlari beberapa saat lamanya mendadak merasakan permukaan di hadapan mereka agak melesak masuk beberapa Cun ke dalam.

Wi Lian In segera mengangkat lampu lenteranya untuk memeriksa, tampak di atas dinding jalan rahasia itu terdapat sebuah besi plat yang amat besar sekali, tak terasa lagi ia menghembuskan napas dingin.

“Mungkin inilah yang disebut sebagai alat rahasia Thay San Ya Ting itu?”

“ Tidak salah” sahut Suma San Ho mengangguk. “Jika plat baja yang demikian besarnya terjatuh dari atas tentu seketika itu juga membuat orang tergencet jadi hancur”

Wi Lian ln tidak mau membuang banyak waktu lagi ditempat itu, dengan cepat dia berlari ke depan sambil serunya.

“Hayo cepat kiia melihat alat rahasia In Sian Wang itu”

Mereka berdua berlari kembali beberapa puluh kaki jauhnya, mendadak di hadapan mereka terlihatlah sebuah jalan rahasia yang melesak dalam sekali, disekeliling tempat liang itu tampaklah jeriji- jeriji besi yang dengan amat rapatnya mengurung tempat tersebut.

Wi Lian In serta Suma San Ho cepat-cepat berlari mendekati liang itu dan melongok ke bawah mendadak mereka menemukan dalam liang terkurung sesosok bajangan hitam yang di atasnya tertutup oleh sebuah jala, orang tersebut tidak lain adalah Ti Then.

“Ti Kiauw tauw” teriak Wi Lian ln dengan cepat.

Ti Then yang sedang meronta di dalam In Siang Wan itu ketika melihat Wi Lian In serta Suma San Ho sudah pada datang menjadi amat girang sekali, teriaknya :

“Lian In, Suma Heng, cepat kalian tolong aku keluar dari sini “ “Kau tidak terluka bukan ?” tanya Wi Lian In dengan hati yang

cemas. “Tidak, tetapi jala ini sangat kuat sekali, aku tidak berhasil menjebolnya. ”

“Kau tunggulah sebentar, biar kusuruh Liuw Khiet segera mengereknya ke atas”

Dia segera angkat kepalanya ke atas, ketika dilihatnya di atas tempat itu tidak terdapat adanya lubang untuk berbicara dengan nada mencoba dia segera berteriak:

“Hey Liuw Khiet, kau dengar suaraku bukan?”

Agaknya di ruangan sebelah atas terdapat juga lubang untuk mendengarkan percakapan yang ada di bawah, terdengar suara dari Liuw Khiet segera bergema mendatang.

“Dengar, apakah orang yang yang ada di dalam jala itu adalah Ti Siauw hiap?”

“Benar.” seru Wi Lian In dengan amat girang, “Cepat kau gerakan alat rahasia itu dan menggereknya ke atas”

Liuw Khiet segera menyahut dengan perlahan jala itu dikerek naik ke atas sedang tubuh Ti Then yang terjerumus ke dalam liang itu pun naik ke atas, dengan perlahan permukaan tanah yang tadinya berliang dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun sudah balik kembali seperti keadaan semula.

Dengan tergesa-gesa Wi Lian In serta Suma San Ho membuka jala itu menolong Ti Then keluar.

Ti Then yang berhasil meloloskan diri dari dalam jala In Sian Wang dengan amat gemasnya melancarkan satu tendangan menghajar jala itu.

“Permainan apa ini.” teriaknya gemas.

“Bukannya menangkap bajingan tua itu malahan menahan aku orang“

“Sebenarnya sudah terjadi urusan apa?” tanya Suma San Ho sambil tertawa. Ti Then garuk garuk kepalanya.

“Aku mengejar bajingan tua itu dengan berturut turut melewati dua buah alat rahasia, tidak disangka sewaktu aku mengejarnya sampai di sini mendadak permukaan tanah yang aku inyak sudah menurun ke bawah dan terjatuh ke dalam sebuah jala yang amat besar, masih untung bajingan tua itu hanya memikirkan untuk melarikan diri saja sehingga tidak melihat kalau aku sudah terjebak di dalam alat rahasia itu, jikalau dia melihat aku terjatuh ke dalam jala sudah tentu dia tidak akan melepaskan aku dengan demikian mudah”

“Kalau begitu bajingan tua itu sudah berhasil meloloskan diri dari jalan rahasia ini” timbrung Suma San Ho.

Ti Then menjadi melengak.

“Bagaimana Suma heng bisa tahu kalau dia orang telah lolos dari jala di bawah tanah ini?” tanyanya keheranan.

“Liuw Khiet sekarang masih ada di kamar alat rahasia, dia bilang dari ke delapan belas alat rahasia cuma ada tiga buah saja yang sudah bergerak, dari hal ini jelas membuktikan kalau bajingan tua itu sudah berhasil meloloskan diri dari sini “

“Nyawanya sungguh betuntung sekali “ tak tertahan lagi Ti Then menghela napas panjang, “Pukulanku tadi ternyata sama sekali tidak berhasil merubuhkan dirinya”

“Tadi dengan cara apa kau berhasil meloloskan diri dari Siang Sek Sia Peng itu?" sela Wi Lian In tiba-tiba.

“Apa yang dimaksud Siang Sek Sia Peng itu?" tanya Ti Then melengak.

“Dua buah batu raksasa yang bisa menggencet barang yang ada ditengahnya, bagaimana kau bisa meloloskan diri dari gencetan batu besar yang ada lima kaki panjangnya itu?”

“Oooh kiranya barang itu yang dinamakan Siang Sek Sia Peng” seru Ti Then sambil tertawa. “Hmm, si anying Iangit rase bumi sungguh lucu sekali, ternyala dia orang sudah menyamakan manusian dengan kue”

“Sebenarnya kau menggunakan cara apa untuk meloloskan diri dari sana?” desak Wi Lian In lebih lanjut.

”Gampang sekali, walau   pun di dalam satu kali loncatan aku tidak berhasil mencapai lima kaki jauhnya tetapi asalkan sebelum kedua buah batu besar itu merapat aku bisa menutulkan kakiku ke permukaan tanah di tengah batu lalu meloncat lagi keluar bukankah sudah lolos?“

“Oooh , , . kiranya begitu, tadi aku betul-betul merasa sangat kuatir sekali,” ujar Wi Lian In sambi! tertawa,

“Tadi sewaktu sumoay melihat di dalam Siang Sek Sia Peng itu tergencet mati seorang dia sudah mengira Ti Kiauw-tauw .,„. sudah mati, di dalam keadaan yang amat terperanyat dia sudah jatuh tidak sadarkan diri” sambung Suma San Ho dengan cepat.

“Lalu ?” seru Ti Then kaget.

Suma San Ho segera tertawa terbahak-bahak. “Akhirnya setelah mengetahui kalau orang

yang mati itu bukan Ti Kiauw-tauw dia segera sadar kembali.”

Wayah Wi Lian In segera terasa amat panas, dengan gemasnya dia pelototi diri Suma San Ho.

“Sudah . . sudahlah,jangan bicarakan soal itu lagi” teriaknya cepat dengan hati mendongkol.

“Sewaktu aku lewat di sana tadi aku pun dapat melihat di atas dinding batu ada sesosok mayat, siapakah orang itu ?”

“Orang itu sudah mati dua hari yang lalu aku kira tentulah anak buah dari istana Thian Teh Kong.”

“Ehmmm , . . “ dengan perlahan Ti Then angkat kepalanya memandang kearah jalan rahasia itu. “Sepertinya tadi aku dengar suara Liuw Khiet ada di atas, apakah dia berada di sana ?” “Benar” dia berada di dalam kamar alat rahasia, dia berbicara dengan kita melalui sebuah corong kecil.

“Hey Liuw Khiet, kau meadengar suaraku tidak ?” teriak Ti Then dengan keras.

“Dengar, apakah kau adalah Ti Siauwhiap ?” terdengar suara dari Liuw Khiet berkumandang kembali dari atas ruangan.

“Benar, aku seharusnya mengucapkhn banyak terima kasih kepadamu, bilamana bukannya kau bisa membedakan yang mana jahat yang mana baik kita bertiga tentu akan sukar untuk meloloskan diri dari cengkeraman bajingan tua itu.”

“Aaaah Ti Siauw-hiap tidak usah sungkan-sungkan”

“Bajingan tua itu sudah meloloskan diri dari dalam jalan rahasia ini, kau harus berhati-hati.”

“Baik, hamba bisa.. hamba bisa berhati-hati”

Ti Then segera merasa nada suaranya sangat mencurigakan sekali, dalam hati dia merasa keheranan, segera kepada Wi Lian In serta Suma San Ho ujarnya dengan suara lirih:

“Sungguh aneh sekali, kenapa pada waktu berbicara kenapa suaranya rada gemetar”

“Tadi dia dibikin terkejut oleh seekor tikus, mungkin rasa kagetnya belum hilang” sahut Wi Lian In sambil tertawa.

“Kaget karena seekor tikus?” seru Ti Then keheranan.

“Dia yang bilang sendiri, tadi sewaktu Suma Suheng bercakap- cakap dengan dirinya di dekat alat rahasia Siang Sak Sia Peng mendadak dia menjerit kaget lalu Suma suheng tanya kepadanya ada urusan apa dia jadi kaget, dia bilang baru saja ada seekor tikus meloncat kakinya yang dia kira ada musuh datang sehingga menjadi terperanyat, haa haaa seorang lelaki segede itu ternyata bisa dibuat terperanyat hanya karena seekor tikus saja, sungguh lucu sekali “

Ti Then segera mengerutkan alisnya rapat-rapat. “Tetapi tidak mungkin dia bisa terperanyat sampai seperti itu?“ Berbicara sampai di sini dia segera angkat kepalanya berteriak. “Liuw Khiet, kau tidak mengapa bukan?”

Liuw Khiet tidak menyawab, lewat beberapa saat kemudian dia baru menyawab.

“Tidak mengapa, tidak mengapa”

“Kami mau mengejar musuh lagi, kau lihat lebih baik kami melalui jalan mana sehingga terasanya aman?”

Liuw Khiet tidak langsung menyawab lewat beberapa saat kemudian baru sahutnya.

“Hamba sudah menutup semua alat rahasia yang ada di dalam jalan rahasia ini, kalian bertiga boleh berjalan terus ke depan, tidak selang lama segera akan menemukan kembali jalan keluar”

“Baiklah, sekarang kita baru berada di perjalanan melewati alat rahasia In Sia Wang, di sebelah sana lagi merupakan alat rahasia apa?"

“Alat rahasia selanjutnya bernama „Thian Ciang Kan Liem' “Permainan macam apa itu?' tanya Ti Then tertawa.

“Sewaktu alat rahasia ini digerakkan dari atas atap dinding akan memancar keluar air lima racun atau Ngo Tok Swe, barang siapa yang terkena air beracun ini seketika itu juga akan menemui ajalnya”

“Tempat itu ada seberapa jauh letaknya dari tempat kita sekarang berada?”

“Kurang lebih dua puluh langkah, tetapi hamba sudah menutup alat rahasia tersebut kalian bertiga boleh lewat dengan berlega hati,”

"Baiklah sekarang kami juga akan pergi ke sana” Selesai berkata dengan menggape kearah Wi Lian In serta Suma San Ho dengan dia berjalan dipaling depan mereka melanjutkan perjalanannya kembali.

Berjalan kurang lebih lima belas langkah mendadak dia menghentikan langkahnya tidak bergerak lagi kepada Suma San Ho yang ada di belakangnya dia berkata dengan suara yang amat lirih:

"Suma San Ho tolong pinyamkan pedangmu itu kepada siauw te?"

Suma San Ho segera mencabut pedangnya dan diserahkan kepadanya,

“Ti Kiauw tauw kau mau berbuat apa?” tanyanya keheranan.

Ti Then tidak menyawab, setelah menerima pedang tersebut dia segera angkat pedang itu dan dilemparkan kearah jalan rahasia yang ada di depannya,

“Braaak “dengan menimbulkan suara yang nyaring pedang itu segera menggetarkan di atas tanah sehingga menimbulkan suara yang ribut.

Seketika itu juga Suma San Ho mengerti maksud dari Ti Then, dia segera tertawa ringan.

“Apakah Ti Kiauw tauw tidak   percaya dengan Liuw Khiet lagi ?

“ tanyanya.

“Segala sesuatu lebih baik berhati-hati, bukan begitu?” bisik Ti Then sambil tertawa.

“Sekarang boleh lewat bukan ? “

“Tidak,” cepat Ti Then sambil gelengkan kepalanya. “Kita coba satu kali lagi, coba kau lemparkan sarung pedang itu ke depan.”

Suma San Ho segera mencabut keluar sarung pedangnya dengan mengerahkan tenaga dalamnya dia menyambitkan sarung pedang itu ke depan. Sarung pedang itu jatuh ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang nyaring tetapi alhasil sama saja seperti keadaan semula dari dalam jalan rahasia itu sama sekali tidak memperlihatkan gerak-gerik apa pun.

“Sekarang kita boleh maju ke depan” ujar Ti Then kemudian sambil tertawa.

Mereka bertiga setelah berjalan kembali tiga puluh langkah jauhnya dan dirasakannya sudah berlalu dari alat rahasia “Thian Ciang Kan Liem“ terdengar Wi Lian In sudah bertanya :

“Entah selanjutnya merupakan permainan macam apa?”

“Coba aku Tanya” Ujar Ti Then sambil menghentikan langkah kakinya.

“Hey Liuw Khiet.” teriaknya dengan keras.

“Ti Siauw hiap kau ada perintah apa lagi?” terdengar suara dari Liuw Khiet berkumandang keluar dari atas ruangan.

“Kita sudah melalui alat rahasia Thian Ciang Kan Liem ,coba katakanlah alat rahasia apa lagi yang ada di depan?”

“A!at rahasia itu dinamakan Ong Cong Coat Pit atau menangkap kura-kura di dalam kendi.”

“Apa itu yang dimaksud dengan menangkap kura-kura di dalam kendi ?“

“Sewaktu alat rahasia itu bergerak maka ada dua buah terali besi yang akan meluncur turun ke bawah sehingga orang yang ada di dalamnya kena kurungan”

“Hmmm aku tahu alat rahasia ini sama sekali tidak kelihatan keistimewaannya,”

“Benar” sahut Ti Then membenarkan. “Sewaktu si anying langit rase Bumi bermaksud hendak menangkap musuhnya dalam keadaan hidup maka dia akan menggunakan alat rahasia ini.”

“Alat rahasia itu terletak dimana?” “Berada kurang lebih sepuluh langkah dari tempat kalian sekarang berada, hamba sudah menutup seluruh alat rahasia itu kalian boleh maju terus dengan berlega hati”

“Baiklah, aku akan segera melewati tempat itu.”

Dia orang segera mengangkat pedang panjangnya dan disambitkan kembali ke arah depan.

“Traaang” sekali lagi pedang itu dengan mengeluarkan suara yang amat nyaring terjatuh di atas tanah kurang lebih sepuluh langkah di atas permukaan jalan rahasia itu.

“Braak . .. Braaak “ tidak lama suara pedang yang jatuh ke atas tanah itu bergema diikuti dua buah suara yang amat keras menggeletar memenuhi seluruh ruangan, dua buah terali besi yang amat besar sudah terjatuh ke atas tanah satu terjatuh pada sepuluh langkah di depan mereka sedang yang lain jatuh pada dua puluh langkah dari mereka berdiri.

Wi Lian In yang nampak hal ini menjadi teramat gusar baru saja dia mau membuka mulut untuk memaki Ti Then terburu-buru sudah menutupi mulutnya.

“Jangan marah dulu. sebentar lagi kita baru memaki,” ujarnya suara yang lirih.

Sehabis berkata tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan terali besi itu dan menggoyangkannya dengan amat keras, sembari mendorong sembari teriaknya.

“Hey Liuw Khiet, kau orang sudah berbuat apa?” “Haaa . . . ha . , haa . .”

Suara tertawa yang amat keras dan nyaring sekali bergema datang dari ruangan di atas jalan rahasia itu.

Wi Lian In yang ikut meloncat ke tepian terali besi itu setelah mendengar suara tertawa tersebut air mukanya segera berubah sangat hebat, serunya dengan kaget. “Aaah . . . dia“

“Tidak salah” sahut lelaki berkerudung itu sambil tertawa amat keras “Memang Lohu adanya, haa . .haa . . Liuw Khiet sudah menjual kalian kepadaku“

“Cepat” teriak Ti Then dengan suara amat keras: “Kita bersama- sama coba mengangkat terali besi Ini“

Pada mulutnya berteriak-teriak dengan amat ribut padahal badannya tetap berdiri tidak bergerak, agaknya dia berteriak-teriak secara demikian bertujuan agar lelaki berkerudung yang ada di atas ruangan itu mepgira kalau mereka bertiga sudah terkurung di dalam terali besi itu.

Suma San Ho serta Wi Lian In segera mengetahui maksud hati dari Ti Then mereka   pun segera ikutan berteriak dengan suara yang amat lantang.

“Mari, kita angkat terali besi ini,..”

Pada hal mereka sendiri pun tetap berdiri tidak bergerak.

Sekali lagi terdengar lelaki berkerudung itu tertawa terbahak bahak.

“Lohu nasehatkan kepada kalian lebih baik duduk saja dengan tenang-tenang di sana, kedua buah pintu terali itu sudah tertutup mati, kecuali kalian mem punyai kekuatan selaksa kati hee . . . heee

. kalau tidakjangan harap kalian berhasil mengangkat terali besi ini“

“Hey keledai tua, “ maki Wi Lian In dengan gusar.”Jika kau punya nyali ayoh turun bergebrak satu lawan satu dengan kami”

“Sudah tentu Lohu akan turun” ujar lelaki berkerudung itu sambil tertawa.

“Ayoh kalau mau turun cepat menggelinding ke sini.“

Lelaki berkerudung itu sama sekali tidak memberikan jawabannya, hal ini jelas memperlihatkan kalau dia orang meninggalkan kamar alat rahasia itu untuk berangkat menuju ke kamar alat rahasia menangkap kura-kura di dalam kendi ini.

“Hey keledai tua, kau dengar suaraku tidak?” teriak Wi Lian In kembali.

“Nona Wi, dia orang sudah turun ke sana" terdengar suara Liuw Khiet bergema mendatang.

“Kau , . Liuw Khiet “ seru Wi Lian ln tertegun. “Kau sudah "menjual kami kepadanya“

“Tidak, hamba tidak akan berani menjual kalian kepadanya “ jawab Liuw Khiet ketakutan. “Peristiwa ini terjadi di luar dugaan hamba, tadi secara mendadak dia menerjang masuk ke dalam kamar alat rahasia ini lalu menangkap hamba dan hamba memaksa untuk mendengarkaa perintahnya, kalau tidak . , “

“Cepat bilang, dia akan muncul sebelah mana? “ potong Ti Then dengan cepat.

“Dia berjalan masuk dari jalan rahasia di depan kalian, kurang lebih sekarang sudah ada ditengah jalan “

Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tambahnya. "Sungguh maaf sekail saat ini jalan darah hamba sudah tertotok

aku orang tidak bisa menggerakan alat rahasia itu untuk menolong kalian keluar dari jebakan tersebut”

“Terus terang saja aku beritahukan kepadamu” ujar Ti Then dengan cepat, “Kami sama sekali tidak terkurung di dalam kerangkeng besi itu.”

Mendengar perkataan itu Liuw Khiet menjadi teramat girang. “Sungguh? tanyanya kaget. “Kalian berada dimana?”

“Kami ada di dekat alat rahasia Thian Ciang Kan Liem ini.”

“Bagus sekali” seru Liuw Khiet dengan cemas. “Kalian cepat mundur kembali keluar pintu ruangan siksa lalu memutar dengan mengambil jalan rahasia yang berbelok kesebeiab kanan dan berjalan sampai di ujung, pada dinding ujung jalan itu bakal ada sebuah batu yang bisa terlepas kalian cepat mendorong batu itu ke dalam maka segera kalian akan menemukan dua buah tombol alat rahasiayang berwarna putih serta hitam, kalian tekanlah tombol hitam terlebih dulu maka akan ada sebuah papan meluncur turun ke bawah kalian cepat-cepat berdiri di atas papan tersebut lalu tombol berwarna putih, maka papan itu dengan ce pat akan membawa kalian keluar dari ruangan Khie le Tong - . . cepat,”

Ti Then dengan cepat mengingat kata-kata tersebut lalu menggape ke arah Suma San Ho serta Wi Lian In untuk berlari dengan cepat-cepatnya melalui jalan rahasia semula.

Di dalam sekejap saja mereka bertiga sudah tiba di depan pintu ruangan siksa itu lalu berputar ke kanan dan berlari lagi beberapa kaki hingga mencapai pada ujung jalan.

Dengan diterangi Iampu lentera yang dibawa oleh Wi Lian In Ti Then segera memeriksa di sekitar tempat itu,

Ternyata sedikit pun tidak salah mereka segera menemukan sebuah batu yang sudah kendor, dengan cepat batu itu didorong.

“Kraaak . “ dengan secara otomatis batu itu menyusup ke dalam dinding sehingga muncullah dua buah tombol yang berwarna putih serta hitam.

Dia agak ragu-ragu sebentar lalu ujarnya:

“Tadi Liuw Khiet mengatakan suruh menekan tombol yang hitam dulu bukan ?”

“Tidak salah, menekan yang hitami dulu”

Ti Then segera menekan tombol itu, terdengar sedikit suara yang amat perlahan sebuah papan seluas tiga depa dengan perlahan- lahan meluncur turun ke bawah.

Serentetan sinar terang menyorot masuk ke dalam ruangan bawah tanah, sudah tentu sinar itu berasal dari ruangan Khie le Tong dekat dengan istana Thian Teh Kong itu. Ketika papan yang sedang meluncur turun ke atas permukaan tanah itu mencapai kurang lebih dua kaki dari pintu keluar Ti Then segera menggape ke arah Suma San Ho serta Wi Lian In, ujarnya.

“Mari kita meloncat keluar “

Wi Lian In menyahut, tubuhnya dengan cepat melayang ke atas lalu meloncat keluar dari pintu ruangan itu dan hinggap di tengah sebuah ruangan yang amat besar dari ruangan Khie Ie Tong.

Suma San Ho pun dengan cepat ikut meloncat keluar. Ti Then segera menekan tombol putih itu untuk menggerakkan papan itu naik kembali ke atas sedang dirinya pun ikut meloncat keluar.

Kecepatan meluncur dari papan itu jauh lebih cepat naik ke atas dari pada turun ke bawah, tidak selang lama Ti Then berhasil keluar dari mulut ruangan tersebut papan itu sudah menutupi permukaan tanah, dan tertutup mati.

Waktu itu adalah tengah malam dari hari ketiga, mereka bertiga dengan hati penuh kegirangan memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu lalu memperlihatkan senyuman yang amat gembira.

“Mungkin saat ini keledai tua itu sudah menemukan kalau kita orang sudah tidak berada di dalam terali besi itu” ujar Wi Lian In sambil tertawa,

“Aduh . . . celaka.” Mendadak teriak Ti Then dengan kaget, “Aku sudah lupa menanyakan kepada Liuw Khiet dimana letaknya kamar alat rahasia itu jikalau bajingan tua itu menemukan kalau kita berada di dalam jebakan tersebut sudah tentu dia bisa benci terhadap Liuw Khiet dan membinasakan dirinya.”

“Tidak salah,” sahut Suma San Ho dengan serius. “Hati orang tidak jelek, kita harus berusaha untuk menolong dirinya.”

“Tetapi di dalam istana Thian Teh Kong ini terdapat begitu banyak kamar-kamar, untuk sesaat lamanya aku kira sukar bagi kita untuk menemukan kamar alat rahasia itu, lebih baik aku turun lagi” Baru saja berbicara sampai di sini mendadak dia melihat ke depan pintu ruangan Khie le Tong itu tampak sesosok bajangan manusia berkelebat dengan amat cepatnya dengan segera tangannya menyambar sebuah pot bunga dan disambitkan ke arahnya dengan amat keras.

Suma San  Ho serta Wi Lian In melihat adanya musuh  yang muncul di sana segera lintangkan telapak tangannya di depan dada siap menghadapi sesuatu.

Tetapi, pada saat Ti Then menyambitkan pot bunga itulah dia bisa melihat dengan jelas wayah dari orang tersebut, tak terasa lagi dia sudah menjerit kaget.

Kiranya orang yang baru saja datang itu bukannya lelaki berkerudung melainkan itu Pek Kiam Pocu dari benteng seratus pedang, Wi Ci To adanya.

Ti Then takut pot kembang yang disambit olehnya mengenai tubuhnya, segera dengan hati cemas serunya

“Cepat menghindarkan.”

Dengan sama sekali tidak gugup Wi Ci To memukul jatuh pot bunga itu lalu berjalan memasuki ruangan Khie Ie Tong.

“Kalian pun sudah datang semua ?”tanyanya.

Tetapi di dalam satu kali pandangan itulah dia bisa melihat baik Ti Then mau pun Suma San Ho pada setengah telanyang bahkan melihat pula pada tubuh Ti Then sudah dipenuhi bekas cambukan yang penuh dinodai oleh darah yang sudah membeku, air mukanya segera terlintas suatu rasa yang amat kaget sekali.

“Eeeeh ..kalian kenapa?” tanyanya terperanyat.

Wi Lian In yang melihat ayahnya sudah datang dengan cepat berlari menyambut, teriaknya sambil tertawa.

“Tia, kau pun sudah datang” Dengan cepat Wi Ci To menarik tangan putrinya dan memperhatikan seluruh tubuhnya dengan amat teliti.

“Lian In” ujarnya dengan terkejut, “Agaknya kau pernah dipukuli dengan menggunakan cambuk?“

“Ehmmm . . . tadi aku dipukuli oleh Bun Jin Cu, kami secara tidak sengaja sudah kena alat rahasianya dan di tawan di ruangan siksanya”

“Mana Bun Jin Cu itu bangsat perempuan?” Serunya dengan wajah amat gusar sekali, sedangkan matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.

“Dia sudah mati “

“Aaaah?” dengan perlahan sinar matanya dialihkan kearah Ti Then lalu tanyanya:

“Apakah dia orang dibunuh oleh Ti-Kiauw tauw?”

“Bukan” sahut Ti Then sambiI memberi hormat. “Urusan ini sulit untuk diceritakan secepatnya, biarlah setelah urusan ini beres semua boanpwe baru laporkan urusan ini dengan lebih teliti lagi, sekarang boanpwe harus menolong nyawa seseorang yang berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya . “

“Nyawa siapa orang yang sedang berada dalam keadaan bahaya? “ tanya Wi Ci To dengan pandangan tajam.

“Seorang anak buah dari istana Thian Teh Kong yang bernama Liuw Khiet, dia sudah menolong boanpwe bertiga meloloskan diri dari cengkeraman seorang lelaki berkerudung yang tidak jelas asal usulnya, sedangkan dia orang sekarang sudah tertotok jalan darahnya oleh orang itu dan rubuh di dalam kamar alat rahasia.”

“Kemungkinan sekali lelaki berkerudung itu hendak pergi membinasakan dirinya karena dia sudah menolong kita, cuma saja boanpwe tidak tahu kamar alat rahasia itu terletak di bagian mana dari istana ini, Pocu agaknya jauh lebih memahami hal-hal tentang alat rahasia, dapatkah kau orang tua membawa kami menuju ke kamar alat rahasia itu?”

Walau pun Wi Ci To cuma mendengar sedikit penjelasan saja tetapi melihat sikap Ti Then yang amat serius segera mengetahui kalau urusan ini tidak bisa ditunda lagi, dengan cepat dia putar badannya menuju keluar.

“Kalian cepat ikut Lohu.”

Dengan memimpin diri Ti Then, Suma San Ho serta Wi Lian In dia berjalan keluar dari ruangan Khi Ie Tong itu dan memasuki sebuah ruangan dalam yang amat lebar dan indah sekali.

“Kamar alat rahasia itu berada di bawah ruangan ini” ujarnya kemudian sambil menghentikan langkahnya.

“Tia, bagaimana kau orang bisa tahu?” tanya Wi Lian in dengan amat girang.

“Kemarin sewaktu aku orang berjalan kemari di tengah jalan sudah bertemu dengan seorang jagoan berkepandaian tinggi dari istana Thian The Kong, dia beritahu kepada Lohu kalau istana Thian Teh Kong sudah mengalami penghinaan bahkan memberitahukan kepadaku juga kalau Bun Jin Cu sudah berada di dalam istana bersiap-siap menggunakan alat rahasia untuk menghadapi diriku, di samping itu dia pun menjelaskan letak keadaan dari berbagai alat rahasia yang dipasang di dalam istana Thian Teh Kong ini dan menjelaskan pula letak dari kamar alat rahasianya”

“Bagaimana orang itu mau membocorkan banyak urusan kepada Tia?” tanya Wi Lian In keheranan,

Wi Ci To segera tertawa dingin.

“Semula aku orang juga merasa bingung dengan kejadian ini, akhirnya setelah aku orang pikir masak-masak baru aku ketahui kemungkinan sekali dia orang sudah merampok barang-barang berharga dari istana Thian Teh Kong dalam jumlah yang amat banyak, dikarenakan takut Bun Jin Cu datang mencari balas kepadanya sengaja dia hendak menggunakan tangan Lohu untuk membinasakan dirinya”

“Bagaimana kalau sekarang Wi Pocu terangkan dahulu jalan masuk ke dalam kamar alat rahasia itu?” sela Ti Then dengan hati cemas.

“Di dalam sebuah kamar kosong di dalam ruangan ini, kalian masuklah untuk melihat-lihat” ujar Wi Ci To sambil menuding kearah belakang ruangan itu.

Sambil berkata dia berjalan memasuki pintu ditengah ruangan tersebut.

Ternyata sedikit pun tidak salah, di belakang ruangan itu terdapat sebuah kamar kosong yang amat besar sekali, saat ini pintu itu tertutup rapat.

Wi Ci To segera mendorongnya dan berjalan masuk menuju kesebuah dinding di samping ruangan.

Dengan amat teliti sekali dia orang memperhatikan goretan- goretan yang ada di sana lalu dengan mengarah satu tujuan telapak tangannya melancarkan satu pukulan ke depan,

Batu pada dinding itu dengan cepat terpukul masuk sedalam tiga cun tetapi sebentar kemudian sudah mental kembali seperti sedia mula.

Dan pada saat itulah mendadak dinding tembok itu merekah menjadi dua bagian yang setengah bagian bergeser ke sebelah kiri dan yang lainnya bergeser ke sebelah kanan dan muncullah sebuah ruangan rahasia.

Ditengah ruangan rahasia itu terdapat rentetan anak tanggayang terus memantang ke dalam, suasananya amat gelap sekall sehingga sulit untuk melihat lebih teliti seberapa dalam ruangan bawah tanah itu.

“San Ho,” terdengar Wi Ci To berseru “Ditengah ruangan tadi ada sebuah lampu lentera coba kau ambil dan bawa kemari” Suma San Ho segera menyahut dan mengundurkan diri tidak lama kemudian dengan membawa sebuah lentera dia berjalan kembali ke dalam kamar itu.

Wi Ci To segera menerima lampu itu dan berjalan masuk kedakm ruang rahasia tersebut, tanyanya.

“Kalian tadi bilang lelaki berkerudung itu masih ada di dalam kamnr rahasia ?”

“Semula ada di jalan rahasia tetapi saat ini kemungkinan sekali sudah kembali ke dalam kamar rahasia itu” sahut Ti Then sembari berjalan mengikuti dari belakangnya.

Suma San Ho serta Wi Lian In pun dengan cepat mengikuti dari belakang Ti Then setindak demi setindak berjalan menuruni anak tangga tersebut.

”Apakah dia bukan orang dari istana Thian Teh Kong?” tanya Wi Ci To lagi.

“Bukan, dia merupakan orang dari aliran lain.” “Bagaimana dengan kepandaian silatnya?”

“Tidak jeiek, pendekar pedang merah dari benteng kita tak seorang pun yang bisa melawan dirinya.”

“Kenapa dia dataog kemari mencari gara-gara dengan kalian?” “Omong yang gampang saja, dia pingin penawan diri Lian In

serta hamba untuk dijadikan barang tanggungan untuk memaksa

Pocu . . . “

Saat itu Wi Ci To sudah mulai menuruni tangga yang bawah ketika mendengar perkataan tersebut seketika itu juga dia menghentikan langkahnya.

“Dia mau memaksa Lohu?“ tanyanya dengan sinar mata yang berkelebat tajam.

“Dia orang tidak memberikan penjelasan yang seterang- terangnya” sahut Ti Then tertawa, tetapi bilamana kita nanti berhassil menawan dirinya sudah tentu akan menjadi jelas apa yang sebenarnya dicari”

Wi Ci To termenung berpikir sebentar lalu tidak berbicara lagi, dengan langkah lebar dia berjalan memasuki ruangan bawah tanah tersebut.

Setelah menuruni tengah-tengah sampailah mereka disebuah jalan rahasiayang amat lebar, tua muda empat orang segera melanjutkan perjalanannya kembali dan tiba di depan sebuah pintu besi.

Pintu besi itu cuma dirapatkan saja.

“Inilah yang dinamakan sebagai kamar alat rahasia” ujar Wi Ci To kemudian sambil menuding ke arah pintu besi itu.

Selesai berkata dengan tendangan kilat dia melancarkan serangan kearah pintu besi itu.

Tangan kirinya dia membawa lampu sedang tangan kanannya disilangkan di depan dada lalu dengan sangat berhati-hati sekali berjalan masuk ke dalam,

Dangan mengikuti geseran lampu terlihatlah sebuah kamar alat rahasia yang dipenuhi roda-roda bergerigi serta rantai yang malang melintang tidak karuan muncul di hadapan mereka berempat.

Dikarenakan banyaknya alat yang ada di dalam kamar itu untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bisa melihat apakah di dalam kamar itu ada orang atau tidak, Wi Ci To segera berkata kepada diri Ti Then bertiga:

“Kalian bertiga berjaga-jagalah di pintu keluar ini biar lohu seorang diri mencari-cari ke dalam”

“Tia, kau harus sedikit hati-hati” ujar Wi Lian ln kemudian memberi peringatan.

Wi Ci To segera menyahut dan dengan langkah yang sangat hati- hati dia berjalan memasuki ruangan itu, Lampu lenteranya diangkat tinggi-tinggi sehingga bisa menerangi ruangan jauh lebih luas lagi, dengan berjalan melewati berbagai macam alat rahasia dia melakukan pemeriksaan terus akhirnya sampailah di sebuah roda bergigi yang amat besar dan berhenti bergerak.

“Iih . . di sini berbaring seseorang"

“Hamba . . hamba Liuw Khiet, kau ..” terdengar suara dari seseorang bergema datang.

Ketika Ti Then mendengar suara itu segera berseru. “Pocu, dialah Liuw Khiet, dia orang tidak terluka bukan?“

“Tidak, cuma jalan darahnya ter totok”

Liuw Khiet yang mendengar suara dari Ti Then segera berteriak. “Ti Siauw-hiap cepat kemari tolong”

Sinar mata dari Wi Ci To menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu lalu baru bungkukkan badannya membebaskan jalan darah dari Liuw Khiet.

“Dimana telaki berkerudung itu?” tanyanya. “Sudah lari.”

“Lari kearah mana ?“ tanya Wi Ci To lagi sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

Dengan berusaha keras akhirnya Liuw Khiet berhasil berdiri juga, ujarnya kemudian sambil menuding kearah sebuah pintu di tengah ruang alat rahasia tersebut.

“Agaknya setelah dia orang tahu kau datang kemari segera berlari masuk ke dalam kamar alat rahasia ini dan membuka alat rahasia”Menangkap kura-kura di dalam kendi, setelah itu dengan terburu-buru melarikar diri ke arah jalan keluar yang ada di dekat ruangan Khie Ie Tong” Ti Then,yang mendengar perkataan tersebut dengan cepatnya dia berlari menu ju keluar ruangan depan dan berlari ke arah ruangan Khie Ie Tong.

Jarak antara ruangan Khie Ie Tong sampai ruangan dalam itu ada dua puluh kaki jauhnya karena itu hanya di dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah berada di dalam ruangan Khie Ie Tong, dengan cepat dia berlari ke samping meja panjang itu.

Terlihatlah papan bergerak sudah menurun ke bawah, jika dilihat dari keadaannya kemungkinan sekali lelaki berkerudung itu sudah melarikan diri keluar dari ruangan Khie Ie Tong ini kemungkinan juga dia baru akan meloncat keluar dari jalan rahasia itu.

Ti Then dengan cepat melongok ke dalam tetapi tidak terlihat adanya bajangan dari lelaki berkerudung itu hatinya diam-diam berpikir.

“Aku kira dia sudah melarikan diri dari sini, biar aku periksa sekali lagi”

Begitu pikiran itu berkelebat di dalam benaknya dengan cepat dia orang meloncat masuk ke dalam.

Dia percaya kepandaian silatnya masih bisa menangkan pihak lawannya karena itu hatinya sama sekali tidak merasa takut, setelah meloncat masuk ke jalan bawah tanah dengan langkah lebar dia berjalan maju ke depan.

Setelah berjalan puluhan langkah banyaknya sampailah dia di depan sebuah jalan rahasia yang bercabang, belok sebelah kanan adalah ruangan siksa sedang belok sebelah kiri adalah jalan rahasia yang dipenuhi dengan alat-alat rahasia.

Dia menengok ke arah kedua belah samping tetapi tidak tampak bajangan dari lelaki berkerudung itu juga, segera tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke kamar siksa untuk memeriksanya terlebih dahulu.

Langkah kakinya amat ringan sekali, dengan perlahan-lahan dia berjalan mendekati pintu ruangan siksa itu lalu dengan cepatnya menerjang masuk ke dalam ruangan sedangkan sinar matanya menyapu ke sekeliling tempat itu.

Tetapi dengan amat cepatnya dia sudah menemukan kalau ruangan siksa itu kosong melompong tak tampak sesosok manusia pun, tubuhnya dengan cepat mendekati dinding menyambut keluar sebilah golok dan menerjang keluar kembali menuju ke jalan rahasia yang terpasang alat-alat rahasia itu.

Setelah melewati alat rahasia Siang Sek Sia Peng, Thay san Ya Ting, In Siang Wang serta ‘menangkap kura-kura di dalam kendi’ empat buah alat rahasia terlihatlah kedua buah terali besi yang tadinya menutupi jalan rahasia kini sudah diangkat kembali, segera teriaknya dengan keras:

“Hey Liuw Khiet, Liuw Khiet, kalian masih ada di dalam kamar alat rahasia ?”

“Masih,” sahut Liuw Khiet dari atas ruangan. “Apakah Ti siauw hiap sudah menemukan sesuatu ?”

“Tidak, sekarang aku berdiri di dekat alat rahasia ‘Menangkap kura-kura di dalam kendi’ itu mau mencoba periksa ke tempat a!at- alat rahasia yang lain apakah semua alat sudah ditutup?”

“Biarlah aku periksa sebentar. .” Sebentar kemudian dia baru menyawab:

“Sudah ditutup semua, Ti siauw hiap silahkan lewat dengan hati lega.”

Dengan langkah yang cepat Ti Then segera berlari ke depan, terlihatlah jalan rahasia itu ada yang lebar ada yang sempit bahkan diantaranya terdapat pula beberapa ruangan yang mewah dan sebuah gua yang amat besar, setelah lewat gua itu dia melewati beberapa jalan tikungan yang membingungkan dan akhirnya sampailah di depan sebuah pintu dan muncul kembali di dalam kamar alat rahasia itu. Wi Ci To masih memeriksa seluruh ruangan kamar alat rahasia itu dengan amat teliti ketika dilihatnya Ti Then muncul kembali ke dalam kamar itu dia agaknya dibuat tertegun.

“Bagaimana?” tanyaya.

“Pocu tidak usah mencari kembali, dia sudah melarikan diri dari sini”

“Dia melarkan diri dengan mengambil jalan melalui pintu ruangan Khie Ie Tong itu?” timbrung Liuw Khiet dengan cepat.

“Benar,” sahut Ti Then mengangguk, “Sewaktu aku sampai di depan ruangan Khie IeTong di pintu keluar sudah terbuka, aku kira dia teatunya sudah melarikan diri dari sini”

Wi Lian In yang sedang berjaga di pintu depan segera mendepakkan kakinya ke atas tanah saking gemasnya.

“Aku kira dia belum lari jauh, mari cepat kita kejar“ Sehabis berkata dia mau putar badan untuk mengejar.

“Lian In kembali, jangan kejar lagi!” bentak Wi Ci To dengan cepat.

Mendengar suara bentakan dari ayahnya Wi Lian In segera menghentikan langkahnya:

“Kenapa tidak dikejar?” tanyanya sambil putar badan, “Keledai tua itu jauh Iebih jahat dari Bun Jin Cu, seharusnya kita pergi menawan dia orang untuk tanyai lebih jelas lagi“

“Sewaktu Ti Kiauw-tauw mengejar ke ruangan Khie Ie Tong dia sudah melarikan diri” sahut Wi Ci To menerangkan, “Saat ini kemungkinan sekali dia sudah berada jauh beberapa li dari sini, apalagii kita pun tidak tahu dia melarikan diri dengan mengambil arah yag mana, lebih baik tidak usah dikejar lagi”

“Hmmm, berka!i-kali dia membokong Ti Kiauw tauw serta putrimu, bagaimana kita bisa melepaskan dirinya begitu saja ? “Seru Wi Lian In dengan gemas.

-ooo0dw0ooo-