Pendekar Patung Emas Jilid 21

 
Jilid 21

Walau   pun dalam hati Wi Lian In merasa amat terperanyat, tetapi dengan perasaan curiga tanyanya pula

“ Bilamana kau anak buah dari istana Thian Teh Kong kenapa mukamu kau tutupi dengan kain kerudung?”

“Hee ?. hee .. karena akulah majikan yang baru dari istana Thian Teh Kong"

“Hmmmm” Dengus Wi Lian In dengan amat dingin. “Kecuali Si rase bumi Bun Jin Cu sudah modar, kalau tidak dari istana Thian Teh Kong tidak akan muncul pemimpin baru. "

“Ha..ha.. kau bodoh, bodoh amat, sekarang si rase bumi Bun Jin Cu kan sudah menjadi istriku. “

Mendengar perkataan ini Wi Lian In semakin terperanyat, pikirnya: “ Jikalau si rase bumi Bun Jin Cu itu benar-benar sudah mendapatkan seorang suami yang baru maka sebagai pemimpin baru dia mem punyai cara berpikir yang berbeda pula, dia memang mirip sekali dengan lagak seorang pemimpin. “

“Omong kosong “ Teriaknya kemudian sembari berusaha menenangkan pikirannya. “Bun Jin Cu baru saja kehilangan suaminya, dia tidak mungkin mau mencari suami yang baru sebelum suaminya dikubur satu bulan lamanya”

“Tetapi dia mau tidak mau terpaksa harus berbuat demikian “ sahut lelaki berbaju hitam yang berkerudung itu, “Karena dia sangat memerlukan bantuan dari seorang suami untuk menyelesaikan pekerjaannya pada esok hari. “

Wi Lian In segera merasa perkataannya ini beralasan juga, seketika itu juga kepercayaannya terhadap “Kematian” Ti Then pun menjadi bertambah tebal beberapa bagian hatinya terasa semakin terkejut lagi.

"Kau jangan omong sembarang di sini.” Bentaknya dengan teramat gusar. “Kau tahu bagaimana macam Ti Kiauw tauw kami? dengan mengandalkan kepandaianmu yang seperti monyet kepanasan jangan harap bisa melukai dirinya.”

“Kau tidak tahu siapakah aku yang sebetulnya, bagaimana bisa tahu pula kalau aku tidak sanggup untuk melukainya?" Balas seru lelaki berbaju hitam yang berkerudung itu sembari tertawa dingin.

“Aku tidak mau perduli siapa kau orang” teriak Wi Lian ln dengan amat gusarnya, “Di dalam Bu lim pada saat ini kecuali si kakek pemalas seorang jangan harap bisa menemukan orang yang bisa mencelakai jiwanya. “

“Heee .. . heee .... aku bisa anggap perkataanmu itu sedikit pun tidak salah tetapi alat-alat rahasia yang dipasang di dalam istana Thian Teh Kong kami sudah cukup untuk menghancur lumurkan seluruh isi badannya” Wi Lian In pun tahu bagaimana hebat serta dahsyatnya a!at-alat rahasia yang dipasang di dalam istana Thian Teh Kong, kepercayaannya kali ini semakin bertambah beberapa bagian lagi.

Di dalam keadaan yang amat sedih bercampur gusar dia segera membentak keras, tubuhnya sambil menubruk maju ke depan teriaknya

“Aku akan adu jiwa dengan kau orang”

Sepasang tangannya dipentangkan di tengah udara, jari-jari tangannya ditegangkan bagaikan baja lalu melancarkan serangan dahsyat mencukil kearah sepasang mata pihak lawan.

Lelaki berkerudung itu segera tertawa panjang, telapak tangannya dengan gaya “ Tong Ci Pay Kwan Im” atau bocah cilik menyembah dewi Kwan Im menyambut datangnya serangan tersebut, bersamaan pula kaki kanannya diangkat melancarkan tendangan kilat menghajar lambungnya.

Ketika Wi Llan ln melihat serangan yang dilancarkan pihak lawan ternyata tidak jelek dia tidak berani berlaku gegabah lagi, tubuhnya dengan amat cepat miring ke samping sepasang telapak tangannya dengan amat cepat membabat kearah kaki kanan pihak Jawan yang menendang dirinya.

Telapak kiri lelaki berkerudung itu cepat cepat menyambar ke samping. “Plaak.” dengan keras lawan keras dia tangkis datangnya serangan dari Wi Lian In itu.

Wi Lian In segera merasakan tangannya seperti terbentur dengan baja yang amat kuat, telapak tangan kanannya terasa amat sakit sekali sehingga tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur dua langkah ke belakang.

Dengan pertempuran ini masing-masing pihak sudah merasa amat jelas bagaimana kehebatan ilmu silat lawannya, jelas di dalam hal tenaga dalam lelaki berkerudung itu jauh lebih tinggi beberapa tingkat dari diri Wi Lian In. Wi Lian In yang melihat tenaga dalam dirinya tidak sanggup memenangkan pihak lawan cara bertempurnya segera berubah, serangan-serangan yang dilancarkan banyak kosong dari pada nyata dia tidak ingin menyambut datangnya serangan pihak lawan denganke ras lawan keras kembali.

Dari ayahnya dia pernah belajar sebuah ilmu telapak yang khusus ditujukan untuk melawan pihak musuh yang memiliki tenaga dalam jauh Jebih tinggi dari dirinya, ilmu tersebut disebut sebagai ilmu telapak “Lok Hoa Ciang” atau ilmu bunga berguguran, segera tanpa berpikir panjang lagi dia mengeluarkan seluruh jurus dari ilmu telapak bunga berguguran untuk menyambut datangnya serangan dari pihak musuh.

Untuk beberapa saat lamanya lelaki berkerudung itu segera terdesak mundur terus oleh keampuhan dari ilmu telapak itu, tetapi semakin lama akhirnya dia berhasil juga mengetahui kunci kelemahan dari ilmu telapak bunga berguguran itu, di dalam sepuluh jurus kemudian dia sudah berhasil memunahkan seluruh serangan pihak lawan di atas angin kembali.

Wi Lian ln yang hatinya bercabang karena memikirkan keselamatan dari Ti Then membuat perhatiannya pun menjadi tidak tercurahkan di dalam pertempuran ini, ketika diiihatnya ilmu telapak bunga berguguran sudah digunakan habis tetapi masih belum juga berbasil mendapatkan kemenangan hatinya terasa semakin bertambah kacau, serangan yang dilancarkan menjadi kacau balau sehingga berturut turut dia terdesak mundur terus oleh serangan musuh.

Lelaki berkerudung itu tidak mau melepaskan barang satu detik pun, dia terus menerus melancarkan serangan gencar mendesak mundur Wi Lian In sedangkan mulutnya memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.

“Heee ..hee , , budak liar-“ ejeknya dingin. “Jikalau kau orang mau menemukan mayat kekasihmu lebih baik serahkan saja kau orang tanpa melawan, aku segera akan membawa kau naik ke atas gunung untuk menemuinya “ Baru saja dia orang habis berkata mendadak wajah Wi Lian In berubah sangat girang sekali, teriaknya dengan cemas.

“ Aaaah.. „ Ti Kiauw tauw sudah datang “

“ Haaa ,, haa , mayatnya pun sudah mulai dingin” seru lelaki berkerudung itu sambil tertawa terbahak-bahak. “Kau jangan ngibul tidak karuan, dia orang tidak akan bisa muncul kembali di sini hee,, hee, kau mengharapkan dia orang bisa datang menolong dirimu? mimpi, hii, hii, kau orang sedang mimpi di siang hari bolong”

Wi Lian In yang melibat dia orang sama sekali tidak dibuat takut oleh gertakannya ini dalam hati semakin percaya lagi kalau Ti Then sudah binasa di dalam istana Thian Teh Kong, saking sedih hatinya permainan siiatnya  pun menjadi bertambah kacau balau.

Melihat kesempatan yang amat baik lelaki berkerudung itu dengan cepat maju melancarkan titiran serangan gencar mendadak kakinya menyapu kearah kaki Wi Lian In dengan cepatnya sembari membentak keras

“ Kau rubuhlah."

Wi Lian ln tidak sempat menghindarkan diri lagi, kakinya terkena sapuan tersebut dengan amat cepatnya.

"Bruuuk.” Tubuhnya dengan amat keras terbanting ke atas tanah tidak bisa berkutik lagi.

Lelaki berkerudung itu segera tertawa terbahak-bahak, jari tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat melancarkan serangan totokan ketubuh Wi Lian In.

Mendadak . . . .

“Lian In kau jangan gugup, aku datang” Suara seseorang yang amat berat secara tiba-tiba berkumandang keluar dari dalam sebuah hutan yang amat lebat.

Jika didengar dari nada suaranya orang itu mirip sekali dengan diri Ti Then. Seluruh tubuh lelaki berkerudung itu terasa bergetar dengan amat kerasnya jelas sekali dia benar-benar merasa terperanyat.

Tanpa memperdulikan lagi diri Wi Lian ln yang menggeletak di atas tanah dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas pohon kemudian berlalu dengan terbirit-birit.

Wi Lian ln benar-benar dibuat teramat girang, cepat-cepat dia meloncat bangun lalu berseru dengan keras.

“Then ko, apa betul kau orang yang datang?"

Terdengar suara ujung baju yang tersampok angin berderu mendatang, mendadak di depan tubuhnya berkelebat datang sesosok bayangan manusia.Tetapi orang itu bukanlah Ti Then, melainkan seorang pendekar berusia pertengahan.

Wajah pendekar berusia pertengahan ini cukup tampan, pakaiannya merupakan sebuah jubah enghiong yang bersulamkan seekor naga dari emas pada pinggangnya tersoren sebilah pedang, sedang pada ujung pedang tergantunglah sebuah kain yang berwarna merah.

“Kau, Suma suko” seru Wi Lian In agak tertegun dengan membelalakkan matanya.

Kiranya pendekar berusia pertengahan ini bukan lain adalah salah satu pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po yang bergelar “Mo lm Kiam Khek” Suma San Ho adanya.

Begitu tubuh si Mo Im Kiam Khek-Suma Sin Ho. melayang turun ke atas permukaan tanah dengan cepat dia melintangkan padangnya di depan dada. matanya menyapu sekejap ke empat penjuru lalu ujarnya dengan cemas.

“Sumoay- di mana musuhnya? “

Dalam hati Wi Lian In merasa sangat kecewa sekali karena orang yang datang bukanlah diri Ti Then, tetapi dalam hati dia pun merasa amat terkejut bercampur heran karena dia sama sekali tidak menyangka di dalam keadaan yang sangat berbahaya pendekar pedang merah ini bisa tepat munculkan dirinya di sana, dengan pandangan termangu mangu dia orang memperhatikan diri Suma San Ho.

“Suma Suko. bagaimana kau orang bisa sampai di sini? “ Bukannya memberi jawaban dia malah balik bertanya.

“Ie heng tahu besok pagi Wi Pocu ada janyi dengan pihak istana Thian Teh Kong- karenanya aku bermaksud malam ini mengadakan penyelidikan dulu terhadap situasi pihak musuh karena itu aku sengaja datang ketempat sini. tadi aku dengar kau berteriak Ti Kiauw Tauw sudah datang,.... .sebenarnya sudah terjadi urusan apa??? Ti Then sudah pergi kemana??? siapakah orang yang sudah menyerang dirimu tadi ??? “

Mendengar pertanyaan itu tak tertahan lagi titik-titik air mata mengucur keluar dengan derasnya membasahi seluruh wajah Wi Lian ln.

“ Ti Kiauw tauw sudah binasa.” ujarnya sembari menangis terisak-isak.

“Sungguh?” Teriak Suma San Ho dengan amat terkejut. “Jadi yang dimaksud sebagai mayat pun sudah mendingin olteh orang itu adalah diri Ti Kiauw tauw.”

“ Benar.” Sahut Wi Lian In mengangguk, suara tangisannya semakin lama semakin keras. “Dia bilang Ti Kiauw Tauw sudah terjebak oleh alat rahasia dan kini sudah meninggal“

“Lalu siapakah orang itu?” Tanya Suma San Ho dengan semakin cemas lagi.

“ Seorang lelaki yang berkerudung, dia menyebut dirinya sebagai suami si rase bumi Bun Jin Cu yang baru, pemimpin baru dari istana Thian Teh Kong.”

“Tetapi aku rasa hal ini tidak mungkin” Seru Suma San Ho kaget. “Aku    pun merasa demikian, si rase bumi Bun Jin Cu tidak

mungkin mau kawin lagi dengan begitu cepat, - tetapi perkataan dari lelaki berkerudung itu sangat beralasan sekali, dia bilang Bun Jin Cu sangat membutuhkan seorang suami untuk menggantikan ayahku, perkataan ini …”

“Perkataan ini tidak dipercaya.” Potong Suma San Ho dengan cepat.

Wi Lian In menjadi melengak.

“Kenapa tidak boleh dipercaya? Bun Jin Cu memang seharusnya membutuhkan seorang yang memiliki kepandaian silat amat tinggi untuk membantu dia orang menghadapi musuh-musuhnya untuk memenangkan pertempuran esok pagi dia seharusnya mengorbankan semuanya demi tercapainya cita-cita ini,”

“Tidak benar, tidak benar” ujar Suma San Ho sambil gelengkan kepalanya berulang kali. “Berita yang le heng dapatkan sama sekali tidak ada yang menganggap soal Bun Jin Cu sudah kawin lagi”

"Kau sudah memperoleh berita apa? “ tanya Wi Lian In melengak.

“ Kemarin sore le heng mendengar banyak orang yang berbicara katanya orang-orang pihak istana Thian Teh Kong sudah pada menghianati diri Bun Jin Cu, katanya karena mereka melihat si anying langit Kong Sun Yau sudah modar dan mengetahui juga perjanyiannya dengan Wi Po cu esok hari mereka segera merasakan kalau pemimpin mereka tidak akan sanggup mengalahkan orang- orang benteng Pek Kiam Po karenanya bersama sama mereka sudah berkhianat dan melarikan diri turun gunung sesudah merampok seluruh kekayaan yang ada di dalam istana , . . apakah kalian tidak pernah mendengar adanya berita ini?”

“Tidak pernah, apakah sungguh hal ini sudah terjadi?” tanya Wi Lian ln terkejut.

“Kemungkinan besar hal ini sudah terjadi, karena di tengah perjalanan le-heng sudah menemui beberapa orang anggota istana Thian Teh Kong ketika mereka melihat diri le-heng ternyata sudah pada berlarian menyauhi diriku tanpa berani memberikan perlawanannya “

"Jika hal ini benar-benar sudah terjadi maka lelaki berkerudung tadi pasti bukanlah suami yang baru dari si rase bumi Bun Jin Cu” seru Wi Lian In mendadak, “karena jika Bun Jin Cu mau kawin dia tentu mencari seorang yang memiliki kepandaian silat amat lihay, jikalau dia sudah mem punyai seorang suami yang memiliki kepandaian silat amat lihay anak buahnya sudah tentu tidak akan menghianati dirinya lagi, bukan begitu? “

“Kapan kau serta Ti Kiauw-tauw tiba di sini ?”

“Sebelum malam hari sudah tiba di sini, Ti Kiauw-tauw bilang mau naik ke gunung untuk menyelidiki jejak musuh di dalam istana Thian Teh Kong dan menyuruhi aku menunggu di sini, aku sudah menunggu dua jam lamanya mendadak muncul lelaki berkerudung itu, kepandaian silatnya sangat lihay sekali aku tidak bisa mengalahkan dia “

“Tetapi.. “ ujar Suma San Ho kemudian sambil mengerutkan keningnya setelah berpikir sejenak. “Jika dia orang bukan orang pihak istana Thian Teh Kong lalu mengapa sudah turun tangan membokong dirimu ? maka , . .”

“Aaaah ... sekarang aku baru tahu” tiba-tiba teriak Wi Lian In dengan keras. “Dia tentunya pemimpin dari tiga orang berkerudung yang terdahulu, dia bukan lain tentu yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu kita.”

Suma San Ho yang mendengar perkataan ini segera dibuat menjadi bingung, sambil mengucak-ucak matanya dia bertanya:

“Siapakah ketiga orang berkerudung itu? siapa yang sudah mengadakan jual beli dengan Hu Pocu kita ?”

Persoalan ini jika diceritakan amat panjang sekali, lebih baik kita pergi memecahkan teka teki mati hidupnya Ti Kiauw tauw serta keadaan dari istana Thian Teh Kong dulu, lalu aku baru menceritakam seluruh persoalan kepadamu” “Baiklah” jawab Suma San Ho mengangguk. “Tetapi le heng percaya Ti Kiauw tauw belum menemui bencana, dia pasti masih hidup “

Mendengar perkataan ini Wi Lian In menjadi amat girang, tanyanya,

“Dengan berdasarkan apa kau berani memastikan, kalau Ti Kiauw tauw belum menemui bencana?“

Suma San Ho segera tersenyum.

“Tadi secara mendadak kau berteriak “Ti Kiauw tauw sudah datang” apakah sengaja sedang memancing jawaban dari pihak lawan? “

“Benar, tetapi bangsat itu sama sekali tidak dibuat kaget oleh perkataanku itu, bahkan sebaliknya malah tertawa terbahak bahak, dia bilang mayat dari Ti Kiauwtauw sudah mendingin maka aku jadi merasa sangat kuatir terhadap keselamatan Ti Kiauw tauw"

“ Ti Kiauw tauw sudah pergi selama dua jam lamanya dan belum kembali juga, kemungkinan sekali dia memang sudah terjatuh ke tangan si rase bumi Bun Jin Cu tetapi dia pasti belum menemui kematiannya alasannya, pertama: Besok pagi Bun Jin Cu akan mengadakan pertempuran melawan Wi Pocu jikalau malam ini dia berhasil menawan diri Ti Kiauw tauw maka dia tidak akan cepat- cepat penghukum mati dirinya sebaliknya menahan dirinya untuk menguasahi Wi Po cu pada keesokan harinya. Kedua : tadi aku sewaktu Ie-heng menirukan nada suara dari Ti Kiauw tauw dengan berkata “Aku datang” lelaki berkerudung itu cepat-cepat melarikan diri dari sini, hal ini berarti juga kalau Ti Kiauw tauw belum mati, jika dia sudah mati mengapa lelaki berkerudung itu segera melarikan diri sesudah mendengar suaranya?“

“Benar, benar sekali“ Seru Wi Lian In dengan amat girang. “ Tetapi lebih baik kita menyeiidiki urusan ini sampai jelas terlebih dulu . „ , ayoh jalan“ Wi Lian In dengan cepat berlari menuju ke atas gunung, Suma San Ho pun mengikuti dari belakangnya sambil berlari tanyanya dengan suara keras,

“ Sumoay, apakah Pocu tidak berjalan bersama-sama dengan kalian ?”

“Tidak, Tia berangkat dulu satu hari sebelum kita berangkat, katanya

dia mau menawan diri Hong Mong Ling. Ooooh benar, aku mau memberitahukan satu hal kepadamu, itu bangsat yang tidak tahu malu Hong Mong Ling sudah menemui ajalnya.”

“Aaaah??? dia mati di tangan siapa?” tanya Suma San Ho tertegun.

“Dia sudah dibinasakan oleh lelaki berkerudung tadi. aku percaya orang berkerudung tadi pastilah orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu kita.”

“Sebetulnya sudah terjadi urusan apa?”

“Baiklah aku sekarang juga menceritakan urusan ini kepadamu, sebenarnya urusan adalah begini, setelah aku serta Ti Kiauw tauw meninggalkan benteng karena waktu itu masih ada dua puluh hari lamanya dengan waktu perjanyian dengan Bun Jin Cu maka Ti Kiauw tauw mengajak aku berpesiar kegunung Kim Teng San . . .”

“Kim Teng San?” sela Suma San Ho terperanyat. “Bukankah gunung Kim Teng San merupakan tempat kediaman dari si kakek pemalas Kay Kong Beng, kalian sudah bertemu dengan dia orang? “

“Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk menemui Kay Kong Beng itu tetapi sesampainya di atas gunung Kim Teng San karena tidak ada tempat indah yang bisa dinikmati maka kami mengambil keputusan untuk pergi ke rumah kediaman Kay Kong Beng.

Siapa sangka sewaktu tiba di depan gua tempat tinggal Kay Kong Beng di atas puncak gunung Kim Teng San ternyata kami sudah menemukan itu bangsat cilik Hong Mong Ling sedang berlutut di depan gua memohon Kay Kong Beng untuk menerimanya sebagai murid..”

Sewaktu dia menyelesaikan ceritanya mereka berdua sudah tiba di punggung gunung, yaitu tepat di depan kuil yang sudah terbakar hangus itu.

Melihat asap yang masih mengepul di antara tumpukan puing- puing tak terasa lagi Suma San Ho sudah berkata.

“Kelihatannya berita yang tersiar dalam dunia kang ouw adalah sungguh-sungguh terjadi, istana Thian Teh Kong agaknya memang benar-benar sudah menemui pengkhianatan”

“Tidak tahu bagaimana dengan keadaan istana Thian Teh Kong- nya sendiri?” ujar Wi Lian In sambil memandang ke tempat kejauhan. “Jikalau di sana pun sudah terbakar musnah hal ini berarti juga Ti Kiauw-tauw tidak mungkin sudah terjebak di dalam alat rahasia yang dipasang di dalamnya.

“Benar” jawab Suma San Ho mengiakan. “Kemungkinan sekali istana Thian Teh Kong belum sampai terbakar musnah, jikalau sudah hancur lebur mana mungkin Bun Jin Cu tetap berdiam ditempat ini ? Ti Kiauw tauw pun tidak mungkin pergi sedemikian lamanya.”

Seketika itu juga Wi Lian ln merasakan hatinya mulai murung kembali, tanyanya dengan amat cemas :

“Jarak dari sini ke istana Thian Teh Kong masih seberapa jauh?” “Tidak terlalu jauh lagi, mari ikuti diriku"

Dengan dipimpin oleh Suma San Ho mereka berdua segera melakukan perjalanan kembali ke depan, setelah melewati sebuah tebing yang terjal mendadak Suma San Ho menghentikan langkahnya, ujarnya dengan suara perlahan sambil menuding kearah sebuah bayangan hitam di atas gunung yang ada diseberangnya.

“Coba kau lihat, itulah istana Thian-Teh Kong” Saat ini pagi hari sudah mulai mendekat, sinar rembulan telah lenyap dari udara membuat suasana di sekeliling tempat itu amat gelap sekali, ditengah kegelapan cuma terlihat sedikit sinar lampu yang memancarkan keluar dari dalam istana Thian Teh Kong ditempat kejauhan, keadaan pada saat itu amat menyeramkan sekali.

“Kau lihat bagaimana?” tiba-tiba bisik Wi Lian ln dengan suara perlahan.

“ Selama di dalam perjalanan menuju ke tempat ini sama sekali kita tidak menemukan kaum perampok yang berjaga-jaga di sekitar tempat ini, jelas sekali istana Thian Teh Kong sudah menemui bencana tetapi jika ditinyau dari keadaan ini agaknya istana Thian Teh Kong itu sama sekali tidak menemui cedera, sudah tentu Bun Jin Cu pun masih ada di sana..”

“Jika demikian tidak salah lagi Ti Kiauw tauw pasti sudah tertawan olehnya” sambung Wi Lian In dengan hati yang berdebar- debar keras.

“Ehmmm..coba kau lihat baiknya kita masuk ke dalam istana sekarang juga atau menanti sesudah terang tanah?”

“Sudah tentu sekarang juga,”

“Tetapi suasana di dalam istana itu amat gelap sekali “ seru Suma San Ho ragu-ragu, “ apalagi kita pun tidak tahu bagaimana keadaan di dalam istana tersebut, jikalau sampai terjebak oleh alat rahasia mereka . . .”

“Jika kau tidak berani masuk tunggulah di tempat ini saja biar aku masuk seorang diri” Potong Wi Lian In cepat.

Tubuhnya dengan cepat melayang ke arah istana Thian Teh Kong itu.

Dengan terburu-buru Suma San Ho memburu ke depan. “Nona Wi kau jangan salah paham” ujarnya dengan suara yang amat lirih, bukannya nyali le-heng kecil tetapi aku rasa kita harus bekerja dengan berhati-hati”

Saat ini Wi Lian In cuma ada satu tujuan saja di dalam hatinya yaitu mengetahui keadaan yang sebenarnya dari Ti Then terhadap keselamatan dirinya sendiri sama sekali dia tidak mengambil pikiran lagi, mendengar perkataan itu dia segera tertawa dingin.

“Setelah kita tiba di istana Thian Teh Kong asal jangan masuk ke dalam rumah bukankah alat-alat rahasia itu sama sekali tidak bisa mengapa-apakan diri kita?”

“Sekali pun begitu lebih baik kita sedikit berhati-hati “ ujar Suma San Ho perlahan, “Kemungkinan sekali masih banyak orang yang tidak menghianati diri Bun Jin Cu.”

Wi Lian In tidak berbicara lagi, dengan beberapa kali loncatan dia melayang turun di depan istana Thian Teh Kong itu.

Ketika dilihatnya terdapat banyak mayat-mayat yang bergelimpangan di depan istana itu dia menjadi tertegun.

“liih „ . orang-orang ini apakah dibunuh mati oleh Ti Kiauw tauw?”

Suma San Ho segera berjongkok memeriksa keadaan dari mayat mayat tersebut lalu gelengkan kepalanya,

“Bukan, orang-orang ini sudah mati kurang lebih sudah mati satu hari lamanya “

“Lalu siapa yang melakukannya? “ tanya Wi Lian In heran. “Kemungkinan sekali dilakukan oleh Bun Jin Cu sendiri“

”Tidak salah “ Seru Wi Lian In menjadi panas kembali, “Dia melihat orang orang ini pada mengkhianati dirinya sudah tentu sangat marah sekali, karenanya dalam keadaan marah dia lalu turun tangan kejam membinasakan mereka semua” Dia berhenti sebentar untuk menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu tambahnya lagi.

“ Jika dilihat dari keadaan ini di dalam istana masih ada orang lain tidak?”

“ Menurut apa yang le heng ketahui di antara anak buah si anying langit rase bumi cuma ada dua orang saja yang tidak mungkin mengkhianati diri mereka,”

“Siapa?” Tanya Wi Lian ln sambil memandang kearahnya dengan tajam.

“Si menteri pintu serta Pembesar jendela. dua orang ini paling setia terhadap si anying langit rase bumi, kini sekali pun si anying langit sudah modar tetapi mereka tidak mungkin mau mengkhianati diri Bun Jin Cu”

Mendengar disebutnya nama-nama itu Wi Lian ln segera tertawa dingin.

“Jika cuma kedua orang ini saja kita tak perlu terlalu takut lagi, kepandaian silat mereka aku orang sudah pernah menyajalnya, aku kira tidak ada yang bisa dibanggakan”

Dia berjalan menuju ke samping sesosok mayat lalu memungut sebilah pedang panjang.

“Ayoh jalan” ujarnya sambil berjalan menuju ke pintu depan, “Kita lihat-lihat ke dalam”

Setelah mereka berdua keluar memasuki pintu depan, apa yang dilihat keadaan di sana mirip sekali seperti yang ditemui Ti Then semula di dalam istana penuh bergelimpangan mayat-mayat yang kebanyakan kehilangan lengannya, kaki atau kepalanya, darah yang mulai membeku berceceran di semua tempat membuat keadaannya sangat mengerikan sekali.

Suma San Ho yang merupakan seorang pendekar yang memiliki nama terkenal di dalam Bu lim entah sudah menemui berapa banyak pertempuran yang ngeri tetapi ketika melihat suasana di dalam istana itu tak terasa lagi dengan membelalakan matanya dia menghela napas panjang.

“Sungguh tidak kusangka istana Thian Teh Kong yang sudah memimpin kaum Liok-lim selama puluhan tahun lamanya kini sudah mendapatkan akhir yang demikian mengenaskan“

“Bilamana pada hari biasa si anying langit serta rase bumi bisa baik-baik menarik anggotanya sudah tentu tidak akan terjadi pengkhianatan semacam ini “

Mereka berdua dengan melintangkan pedang di depan dada melakukan pemeriksaan kembali di sekeliling tempat itu, ketika dirasanya tak tampak sesosok manusia yang masih hidup dan dengan segera mereka melanjutkan langkahnya masuk ke dalam istana itu dan tiba di depan ruangan Khie Ie Tong tersebut.

Mendadak dari dalam ruangan Khie Ie Tong berkumandang keluar suara rintihan yang amat lemah sekali.

Suara itu sepertinya dikeluarkan oleh seorang yang sudah mendekati ajalnya, kedengarannya amat mengerikan sehingga mendirikan bulu roma.

Wi Lian In serta Suma San Ho yang mendengar suara ini bersama sama menjadi amat terkejut, cepat-cepat tubuhnya membungkuk ke bawah dan pusatkan perhatiannya untuk mendengar.

Beberapa saat kemudian terdengar Suma San Ho berbisik dengan suara yang amat lirih kepada Wi Lian In :

“ Agaknya suara itu berasal dari seorang rampok muda“

“ Tapi aku rasa suara itu mirip sekali dengan suara Ti Kiauw- tauw” bantah Wi Lian In.

Air muka Suma San Ho segera berubah sangat hebat. “ Oooooh . . . benar ?“ Wi Lian In segera pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan kembali suara itu beberapa saat lamanya, akhirnya dengan wajah berubah amat hebat bisiknya:

“ Aaaah    semakin didengar aku rasa semakin mirip “

“ Jika dia orang adalah Ti Kiauw-tauw bagaimana dia orang bisa terluka di dalam ruangan Khie Ie Tong ini ?”

“Tentu sewaktu dia memasuki ruangan Khie Ie Tong ini untuk mengadakan pemeriksaan sudah tersenggol alat rahasia dan terhajar semacam senyata rahasia.”

“Tidak bisa jadi “ seru Suma San Ho mengemukakan kecurigaan hatinya. “Jikalau Bun Jin Cu melihat dia sudah terluka tentu segera menawan

dia orang untuk disimpan di dafam penyara, dia tidak mungkin membiarkan dia orang berbaring di sana terus”

“ Tetapi jika Bun Jin Cu sudah meninggalkan istana Thian Teh Kong ini?”

Sinar mata Suma San Ho segera berkelebat, akhirnya dia mengangguk juga.

“Ehmmm tidak salah, kemungkinan sekali Bun Jin Cu sudah meninggalkan

tempat ini…coba kau berteriaklah untuk lihat-lihat adakah reaksi dari dalam ruangan”

Wi Lian In segera bangkit berlari dan berteriak ke arah ruangan Khie Ie Tong itu,

“Hey . . di dalam ada orangkah ?

Dari tengah ruangan tersebut segera menyahut suara seorang dengan nada terputus-putus.

“Lian. . In . . kau… kau ..ce . , . pat     daaa - ., datang .” Kecuali Ti Then siapa orang lagi yang bisa memanggil dirinya dengan sebutan Lian In?

Wi Lian In menjadi sangat girang sekali dia menoleh dan menggape kearah Suma San Ho lalu bertindak menuju ke ruangan Khie Ie Tong tersebut

“Tunggu dulu” cepat Suma San Ho menarik tangannya. “Kenapa?“ teriak Wi Lian In dengan amat gusar.

Suma San Ho tidak ambil perduli terhadap dirinya yang merasa kurang senang terhadap tindakannya ini, teriaknya keras :

“Ti Kiauw tauw, di dalam sana adakah alat rahasia ?”

“Kaaau .. . . kau .. kau siapa ?” Suara rintihan dari Ti Then segera bergema kembali.

“Cayhe adalah Suma San Ho dari pendekar pedang merah “. “Aiaa . . . aaaalat .... alat rahasia di sini - - - di si ni sudah ....

sudah berjalan . . . kaaa .... kalian cepat .. , cepat masuk . tolong . .

tolong . . aaaku . . - aku . - - aaa . “

“ Aku datang” Wi Lian In tidak bisa menahan golakan hatinya dengan cepat dia berkelebat masuk ke dalam ruangan tersebut.

Suma San Ho yang melihat sumoaynya berlari masuk segera mengikutinya dari belakang mereka berdua dengan cepat menerjang masuk ke dalam ruangan Khie Ie Tong yang amat gelap gulita itu.

Untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bisa melihat Ti Then sebenarnya sudah terluka diarah sebelah mana, Wi Lian ln jadi bingung serunya kembali,

“ Ti Kiauw iauw, kau berada di mana?“

Baru saja ucapannya selesai mendadak permukaan tanah yang diinyak oleh mereka sudah membalik kearah dalam. Seperti halnya dengan Ti Then mereka pun tidak punya kesempatan untuk melarikan diri, bersama-sama tubuhnya meluncur jatuh ke bawah.

Lalu seperti juga dengan Ti Then mereka berduaan terkurung di dalam kerangkeng besi di bawah tanah itu.

Wi Lian In menjadi sangat terperanyat, teriaknya berulang kali “Aduh celaka... kita kena tipu, kita kena tipu,”

Suma San Ho lalu mencabut keluar pedangnya dan membacok kearah kurungan besi tersebut tetapi tidak berguna, besi terali itu terbuat dari baja murni yang tidak mungkin bisa dihancurkan dengan menggunakan pedang biasa, dia menjadi menghela napas panjang.

“Sungguh jahanam sekali “ makinya dengan gusar. "

“Semuanya adalah kesalahanku” ujar Wi Lian ln dengan wajah sangat malu, “Aku sama sekali tidak mendengar kalau suaranya ternyata palsu”

“ Heee, heee, semuanya dikarenakan kelihayan dari permainanku untuk menirukan nada suara dari kekasihmu itu “

Dengan diiringi suara tertawanya yang kegirangan si rase bumi Bun Jin Cu sudah muncul pada ujung kurungan besi itu.

Bersamaan dengan suara terbukanya pintu batu, pada ujung dinding dengan perlahan-lahan terbuka ke samping, serentetan sinar yang amat terang memancar masuk dalam ruangan.

Dengan wajah penuh senyuman Bun Jin Cu muncul di depan pintu, lalu tangannya menekan tombol pada dinding, kurungan besi itu dengan cepatnya sudah meluncur ke depan tubuhnya.

“Hii.. . . bii . penghasilanku malam ini sungguh bagus sekali “ ujarnya tertawa cekikikan, “Di dalam satu malaman aku sudah berhasil memperoleh tiga ekor ikan besar “ Wi Lian In benar-benar dibuat sangat gusar sekali, kakinya dengan cepat melancarkan tendangan dahsyat menghajar besi kurungan tersebut. f

“Nenek bangsat” makinya dengan amat gusar “Kau sudah apakan Ti Kiauw-tauw kami ?”

“Kau ingin cepat-cepat bertemu dengan dia bukan ?“ ejek Bun Jin Cu tertawa.

Sudah tentu Wi Lian ln sangat mengharapkan bisa bertemu dengan diri Ti Then untuk mengetahui mati hidupnya, tetapi dia tidak memberikan jawabannya, sepasang matanya dengan amat gusar melotot ke arahnya dia kepingin sekali menerjang keluar dari kurungan lalu kirim satu bacokan membinasakan dirinya.

“Nona Wi” ujar Bun Jin Cu kembali sambil tertawa. “Aku tahu kau sangat suka kepada dirinya, tetapi aku orang mau memberi nasehat kepadamu lebih baik perasaan cintamu ini kau tarik kembali, karena untuk hidupmu kali ini tidak mungkin bisa memperoleh jawabannya lagi”

Wi Lian In ketika mendengar perkataan itu menjadi amat terperanyat.

“Kau sudah mencelakai dirinya ?” Bentaknya dengan amat gusar. “Apakah dia orang tidak seharusnya modar?” Balas tanya Bun Jin

Cu sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding tembok.

Wi Lian In benar-benar dibuat teramat gusar sambil menggetarkan pedangnya dia menantang.

“Lepaskan aku keluar, aku mau menyagal kau nenek tua yang jelek.”

Bun Jin Cu tenang-tenang saja seperti baru melihat harimau betina yang sedang kalap dia tersenyum-senyum.

“Perkataan kau orang sungguh lucu sekali, mana mungkin aku mau melepaskan dirimu hanya untuk membunuh diriku?” “Mari kita adakan pertempuran yang menentukan mati hidup kita, coba lihat kau yang mati atau aku yang hidup,” teriak Wi Lian In kembali.

“Heee . . - hee .. , , aku tidak akan berbuat demikian,” ujar Bun Jin Cu sambil gelengkan kepalanya,” Aku sudah berbasil menawan dirimu, buat apa kau paksa aku untuk membuang tenaga dengan percuma?“

“Perempuan cabul, nenek tua yang jelek, tidak aneh kalau anak buahmu pada menghianati dirimu, kau.. . , , kau tidak cukup bersikap sebagai pentolan perampok perempuan“

“Hiii ..- hiii . .,hiii . . . ayo maki, maki terus sepuas hatimu, nanti aku mau suruh kau menangis terus.”

“Bun Jin Cu.” Tiba-tiba Suma San Ho menimbrung- “Kau punya rencana menghukum kita dengan cara apa?”

“Kau tunggu saja nanti,”

“Heee … heee . , .aku mau peringatkan satu hal kepadamu” ujar Suma San Ho kembali sambil tertawa dingin, “Pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po sudah pada kumpul di atas gunung ini, jikalau kau kepingin hidup cepat lepaskan kita dari sini”

Mendengar perkataan tersebut Bun Jin Cu segera angkat kepalanya tertawa terbahak bahak.

“Pendekar pedang merah dari benteng Pek Kiam Po kalian itu masing-masing macam apa? kini aku orang sudah berhasil menawan nona Wi yang terhormat ini, sekali pun datang seratus orang Wi Ci To aku pun tidak akan takut.”

“Tapi bilamana kami mati kau pun jangan harap bisa meloloskan diri dengan selamat”

Bun Jin Cu tertawa semakin keras lagi.

“Perkataanmu ini kemungkinan sekali tidak salah, tetapi sejak semula. aku orang sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi, ini hari aku orang bisa menghukum mati Ti Then serta nona Wi ini sekali pun pada kemudian hari harus binasa ditangan Wi Ci To sedikit pun aku tidak merasa menyesal”

“Ti Kiauw-lauw sudah membinasakan suamimu, kalau kau orang mau membalas dendam ini kami tidak bisa berkata apa-apa lagi, tetapi Wi Sumoay kami ini tidak   punya dendam apa-apa dengan kau orang, kenapa kau pun ingin membinasakan dirinya?“

Bun Jin Cu segera tertawa, “Sewaktu ada dialas tebing Sian Ciang dia sudah mengejek diriku, karena itu setelah aku orang membuat dia merasakan penderitaan yang amat hebat lalu sekalian membasminya dari muka bumi “

Wi Lian In segera menjerit keras, teriaknya

“Sekarang juga aku mau mengejek dirimu lagi, kau kehilangan suamimu memang pantas, bagus sekali kematiannya ini namanya takdir buat kau orang, tahu tidak perempuan cabul ?“

Air muka si rase bumi Bun Jin Cu berubah sangat hebat.

“Menteri pintu, pembesar jendela, kalian masuk kemari” panggilnya dengan keras.

“Baik”.

Ditengah suara sahutan tampak dua orang berjalan masuk ke dalam pintu dan muncul di belakang tubuh Bun Jin Cu.

“Bawa mereka ke dalam ruangan siksa” perintahnya kepada kedua orang itu.

Selesai berkata dia berjalan meninggalkan tempat itu.

Ketika si menteri pintu melihat dia berlalu dari sana dari wajahnya segera terlintas senyumannya yang amat seram, dengaa perlahan dia ke ujung ruangan dan menekan sebuah tombol di sana.

Dengan disertai suara gesekan yang amat keras kurungan besi dimana Wi Lian In serta Suma San Ho berada dengan perlahan mulai menurun ke bawah dan masuk ke dalam kolam air itu.

Atau dengan perkataan lain, mereka pun mendapatkan penyambutan seperti yang dialami Ti Then.

Kurang lebih seperempat jam kemudian, menteri pintu baru menekan tombol kembali untuk mengerek naik kurungan besi tersebut.

Saat Wi Lian In serta Suma San Ho yang ada di dalam kurungan besi itu sudah jatuh tidak sadarkan diri, bagaikan dua ekor ayam yang tercebur ke dalam air dengan lemasnya mereka menggeletak di dasar kurungan.

Si pembesar jendela segera memandang ke arah Wi Lian In, wajahnya sudah penuh diliputi oleh napsu jahat, ujarnya dengan cengar cengir.

“Nona yang begitu cantiknya kalau dibinasakan sungguh sayang sekali . .”

“Haa , . haa , , bagaimana, kau sudah mengilar.: “ Goda si menteri pintu tertawa terbahak bahak.

“Cuma aku tidak enak untuk mengusulkan permintaanku ini“ “Bagaimana kalau Lohu yang mewakili dirimu?“

“Apakah Hujin setuju? “

“Jangan kuatir” seru si menteri pintu tersenyum “Menanti setelah Wi Ci To pun berhasil ditawan aku kira hujin tentu menyetujuinya, kau menggunakan barang apa untuk mengucapkan terima kasihnya kepadaku?”

Si pembesar jendeia segera tertawa terbahak-bahak. “ Kita menteri pintu pembesar jendeia, kau suka harta aku suka perempuan sudah tentu aku menggunakan uang untuk mengucapkan terima kasihku kepadamu"

“Berapa ?“

“Bagaimana kalau seratus tahil perak" “Baik, kita putuskan demikian.”

Demikianlah mereka berdua lalu membuka pintu kurungan besi itu dan menggotong tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho keluar.

Setelah diberi pertolongan seperlunya ketika melihat mereka hendak sadar kembali dari pingsannya kedua orang itu segera menotok jalan kakunya, setelah itu dengan seorang membopong sesosok tubuh berjalan keluar dari sana.

Setelah melewati sebuah lorong kecil dan melewati sebuah pintu, sampailah mereka di dalam sebuah ruangan siksa yang agak lebar.

Di dalam ruangan siksa itu sudah tersedia berbagai macam alat siksa yang sangat menyeramkan.

Si rase bumi Bun Jin Cu duduk di atas sebuah kursi yang tertutup dengan sebuah kulit macan, beberapa kaki di hadapannya berdirilah tiga buah tiang kayu yang pada tiang tengah sudah terikat seseorang.

Orang itu bukan lain adalah Ti Then.

Sepasang tangan serta sepasang kakinya terpentang lebar-lebar yang masing-masing bagiannya sudah terikat kencang-kencang di atas tiang kayu tersebut, baju bagian atasnya sudah terbuka sehingga terlihatlah dadanya yang sudah dipenuhi dengan bekas- bekas cambukan, setiap bekas cambukan masih mengalirkan darah segar.

Jelas sekali dia baru saja memperoleh pukulan yang kejam sehingga jatuh tidak sadarkan diri. Setelah si menteri pintu dan pembesar jendela menyeret tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho masuk ke dalam ruangan siksa terdengar Bun Jin Cu sudah berkata.

“Ikat mereka di atas tiang kayu itu lalu bebaskan jalan darahnya“ “Perlukah membuka pakaian mereka? “ tanya si pembesar

jendela tiba-tiba sambil lertawa.

“Pakaian dari Suma San Ho boleh di buka, pakaian Wi Lian In jangan”

Air muka si pembesar jendela segera memperlihatkan rasa kecewanya.

“Kenapa tidak ditelanyangi sekalian?“ tanyanya tertawa nyengir. “Lo Ciauw, kau orang semakin tua semakin menjadi“ goda Bun

Jin Cu sambil tertawa cekikikan,"Kau sudah mengambil perhatian khusus dengan budak itu?”

Air muka si pembesar jendela segera berubah memerah, dia tertawa dengan malu-malu.

“Hamba tidak berani “ sahutnya perlahan.

“Ehmmrnm … " kenapa kau orang sudah berlaku sungkan?“ Goda si menteri pintu sembari mengikat tubuh Suma San Ho ke atas tiang kayu.

Dengan mengambil kesempatan itulah si pembesar jendeIa tertawa cengar cengir tanyanya:

“ Hujin, kau bermaksud berbuat apa terhadap budak ini? “

“Nanti sesudah berhasil tawan Wi Ci To sekalian kita baru menghukum mereka dengan perlahan-lahan, tapi kau jangan kuatir aku tahu kesukaan dari Lo Ciauw kau orang, sebelum aku menghukum mati dirinya aku akan kasih kesempatan buat kau orang untuk menikmati tubuhnya..”

Si pembesar jendela menjadi amat girang. “Baik . . . baik . . “ sahutnya berulang kali. “Terima kasih hujin.. terima kasih hujin,”

“ Masih ada kau Lo si, nanti setelah dendam sakit hatiku terbalas aku orang akan perseni dirimu sebanyak-banyaknya. Hey.. di tengah tiupan angin taupan kita bisa mengetahui mana yang rumput mana yang bukan, ditengah kesusahan baru ketahuan siapa yang setia siapa yang tidak, tidak ku sangka sama sekali diantara ribuan orang banyaknya cuma kalian berdua saja yang mau setia kepadaku”

“Hujin kau jangan bicara sembarangan lagi “ bantah si menteri pintu dengan cepat. “Hamba sama sekali tidak menaruh minat terhadap perempuan “

Bun Jin Cu segera tetawa. “Kau tidak suka perempuan apakah tidak suka pada harta pula?“

“Harta? siapa yang tidak suka padanya?” ujar si menteri pintu sambil tertawa malu. “Tetapi saat ini seluruh harta kekayaan yang ada di dalam istana Thian Teh Kong sudah dirampok habis-habisan.

. “

“Tidak, terus terang saja aku beritahukan kepada kalian, harta kekayaanku masih amat anyak sekali“

“Sungguh?” tanya si menteri pintu dengan amat girangnya.

“Kau sudah tertarik?” Goda si rase bumi Bun Jin Cu kembali sambil melirik sekejap kearahnya.

Dengan gugup si menteri pintu gelengkan kepalanya berulang kali.

“'Tidak tidak . . hamba ikut bergembira buat diri hujin.. ternyata hujin sudah merasakan hal yang bakal terjadi di kemudian hari sehingga menyimpan sebagian besar dari harta kekayaannya ke dalam suatu tempat yang tersembunyi, dengan demikian . . dengan demikian bisa digunakan oleh Hujin untuk melanjutkan hidup di kemudian hari “ “ Heeey . . . harta kekayaan yang tersimpan bernilai di atas jutaan tahil perak banyaknya, untuk beberapa keturunan pun tidak akan habis dipakai”

“Kalau begitu bagus sekali, untuk beberapa keturunan pun tidak akan habis dipakai "

“Biarlah menanti setelah aku berhasil membalaskan dendam buat suamiku aku akan mengambil keluar sebagian untuk menghadiahkan kepadamu, sedikit-dikitnya aku harus beri seratus ribu tahil perak buat kau orang.”

”Tidak .. . tidak, hamba tidak berani menerimanya” Tolak si menteri pintu dengan cepat.

“Kenapa ?”

“Hamba tidak ikut mengkhianati diri hujin bukanlah dikarenakan mengharapkan persenan yang begitu banyak dari hujin” jawab si menteri pintu dengan serius, ”Hamba cuma mengharapkan bisa mengikuti hujin untuk selamanya untuk membalas terima kasihku atas perhatian yang di berikan hujin kepada kami.”

Agaknya Bun Jin Cu dibuat terharu juga oleh kata-katanya ini, matanya menjadi memerah hamper-hampir butiran air mata menetes keluar.

“Aku tahu kalian berdua sangat setia kepadaku, tetapi sejak Thian Cu binasa aku sudah merasa berputus asa, nanti biarlah setelah urusan selesai semua aku mau cari sebuah tempat yang tidak pernah didatangi manusia untuk melanjutkan hidupku selanjutnya, karena itu kau tidak usah sungkan-sungkan lagi, perkataan yang sudah aku katakan selamanya tidak akan berubah kembali, sampai waktunya aku pasti akan menghadiahkan seratus ribu tahil perak kepadamu“

“Budi kebaikan dari hujin hamba menerimanya saja di dalam hati” ujar si menteri pintu serius pula “ Tetapi hamba tidak akan menerima uang barang satu peser pun dari hujin” Agaknya si pembesar jendela merasa keheranan atas kebaikan hati dan kesetiaan dari menteri pintu ini, tak tahan lagi dia berseru :

“Lo si selama hidupnya kau orang paling suka dengan uang perak yang putih berkilauan, kenapa kali ini kau menolak pemberian dari hujin?“

“Tidak salah, lohu selama hidupnya memang paling suka dengan uang perak” jawab si menteri pintu dengan wajah berubah keren. “Bahkan boleh di kata saking senangnya sampai tidak bosan- bosannya, tetapi uang yang lohu sukai adalah uang orang lain, bukan uang dari Hujin“

Ketika si pembesar jendela melihat wajahnya yang serius tak terasa lagi sudah menjulurkan lidahnya.

“Hee . heee, , , tidak kusangka kau Lo si ternyata seorang manusia yang berbudi “

Bun Jin Cu yang melihat mereka sudah selesai mengikat tubuh Wi Lian In serta Suma San Ho ke atas tiang lalu ujarnya sambil tertawa:

"Sudah, sudahlah, sekarang kalian boleh keluar berjaga-jaga di sana, jikalau menemukan Wi Ci To sudah datang cepatlah datang memberi kabar kepadaku”

Si menteri pintu serta pembesar jendela segera menyahut dan mengundurkan diri dari dalam ruangan siksa itu.

Bun Jin Cu lalu bangkit berdiri dan mengambil segentong air dan disiramkan ke atas wajah Ti Then, setelah meletakkan kembali gentong tersebut dia mengambil sebuah cambuk dan kembali ke kursinya semula.

“Hmmm “ dengusnya dingin. “Kali ini aku mau lihat kau bangsat busuk merasa tidak “

Tidak lama kemudian Ti Then sudah sadar kembali dari pingsannya. Dia segera memperdengarkan suara tertawanya yang mendirikan bulu roma, ujarnya:

“Hey bangsat cilik, coba kau angkat kepalamu siapa yang sudah ada dikanan kirimu ??? “.

Dengan perlahan Ti Then angkat kepalanya, ketika melihat Wi Lian ln yang ada di sebelah kiri serta Suma San Ho yang ada di sebelah kanannya dia menjadi sangat terperanyat.

“Bukankah dia adalah “ Mo Im Kiam khek “ Suma San Ho, kenapa kau pun tawan dirinya ?”

“ Dia datang bersama-sama dengan kekasihmu, aku dengan tanpa membuang sedikit tenaga pun sudah berhasil menawan mereka berdua”'

“Tentu kau menggunakan papan terbalik yang ada di dalam ruangan Khie Ie Tong ?” Seru Ti Then tertawa pahit.

“Sedikit pun tidak salah” jawab Bun Jin Cu mengangguk. Walau pun papan terbalik itu merupakan satu macam alat rahasia yang paling sederhana tetapi kegunaannya amat besar sekali, kemungkinan sekali dengan alat itu aku   pun berhasil menawan Wi Ci To tanpa membuang banyak tenaga.”

Dengan perlahan Ti Then menghela napas panjang.

“Aku betuI-betul merasa tidak paham, sebetulnya siapakah musub besar yang sudah membinasakan suamimu?”

Bun Jin Cu segera tertawa dingin tak henti-hentinya.

“ Malam itu sewaktu ada di atas tebing Sian Ciang jika bukannya Wi Ci To datang tepat pada waktunya dan melancarkan pisau terbang sehingga memutuskan angkinku kau bangsat cilik tidak akan berhasil membinasakan suamiku, maka itu seluruh orang- orang dari Banteng Pek Kiam Po merupakan musuh besarku”

“ Hmm, tentu selama ini kau merasa cuma suamimu seorang saja yang tidak patut untuk menerima kematiannya ?“ "Benar"

“Tapi aku rasa cuma orang yang bisa berjaga diri saja yang tidak seharusnya binasa“

Bun Jin Cu mendadak meloncat bangun dan kirimkan satu pukulan cambuk ke atas badannya, dia tertawa dingin dengan seramnya.

“Kau orang tidak usah banyak bicara dengan aku, aku tidak ingin berbicara soal apa pun dengan kau “

Berbicara sampai di sini dia menarik rambut Wi Lian ln dan mendongakkan kepalanya ke atas lalu mendengus dengan amat dingin.

“Kau budak jelek, tidak mau sadar-sadar juga?”

"Cuh . .” mendadak Wi Lian In meludahkan riak ke atas wajahnya yang dengan tepat menghajar hidung Bun Jin Cu.

Si rase bumi menjadi amat gusar sekali, dia mundur dua langkah ke belakang lalu mengangkat cambuknya kirim satu cambukan ke atas tubuhnya.

Wi Lian In segera merasakan badannya amat sakit sekali, dengan menahan sakit dia melototkan matanya memandang dia orang dengan amat gusar.

Ti Then yang melihat kejadian itu segera merasakan hatinya seperti diiris iris dengan amat gusar dia meronta sekuat tenaga lalu bentaknya dengan keras.

“Tahan, perempuan cabul kenapa kau pukul badannya?“ oooooOooooo

Mendengar perkataan itu Bun Jin Cu menghajar tubuh Wi Lian In makin keras lagi, sembari memukul ujarnya tertawa melengking.

“ Aku sengaja akan memukul dia, aku mau lihat kau merasa sedih tidak ?“ Saat ini Suma San Ho pun sudah sadar kembali dari pingsannya, ketika dilihatnya Wi Lian In mendapatkan hajaran yang begitu kejam seketika itu juga dia menjadi amat gusar.

“Perempuan sundal. Nenek jelek. kenapa kau tidak memukul aku saja?” teriaknya dengan mata melotot.

“ Kau tunggu saja sebentar lagi akan tiba giliranmu “

Sembari berkata cambuknya bagaikan titiran air hujan dengan kerasnya dihajarkan ke atas tubuh Wi Lian ln.

Ti Then benar-benar dibuat gusar oleh tindakannya ini, sambil membentak keras sepasang tangannya mengerahkan seluruh tenaga untuk meronta.

“ Kraak , . “ tiang kayu yang mengikat tangannya seketika itu juga terputus menjadi dua bagian.

Kiranya tali yang digunakan untuk mengikat sepasang tangan serta sepasang kakinya itu merupakan otot kerbau yang sangat kuat, semula dia pernah mencoba untuk memutuskannya tetapi tidak berhasil kini melihat Wi Lian In memperoleh hajaran yang demikian kejam membuat dia orang dalam keadaan amat gusar segera mengeluarkan suatu tenaga gaib yang amat hebat sekai membuat tiang kayu tersebut menjadi patah.

Tetapi walau pun kayu itu patah orang masih tidak sanggup untuk meninggalkan tiang kayu itu karena sepasang kakinya masih terikat di atas tiang.

Ketika Bun Jin Cu melihat dia sudah berhasil meronta sehingga tiang kayu menjadi putus dengan cepat tubuhnya meloncat ke belakang lalu melancarkan serangan menotok jalan darah kakinya.

Ti Then tidak bisa menghindar lagi terasa seluruh tubuhnya menjadi linu seketika itu juga anggota badannya tidak bisa bergerak. Bun Jin Cu segera berputar ke depan badannya, sambil bertolak pinggang memperlihatkan sikapnya yang menantang, dia tertawa genit.

“Sejak tadi aku sudah tahu lebih baik aku pukul dia daripada memukul dirimu sekarang tentu puas bukan?"

”Kubunuh kau bangsat Perempuan.” Teriak Ti Then dengan amat gusarnya.

“Bilamana kau bangsat cilik berhasil meloloskan diri dari istana Thian Teh Kong ini aku akan menantikan kedatanganmu kembali, tetapi sekarang aku orang tetap mau memukul dia, kau baik-baiklah berdiri nonton di sana.”

Selesai berkata pinggulnya digoyang-goyangkan lalu berjalan ke hadapan Wi Lian In dan dengan perlahan mulai mengangkat cambuknya.

Suma San Ho yang melihat kejadian ini benar benar tidak kuasa menahan hawa amarahnya,bentaknya keras

“Perempuan sundal kenapa kau tidak berani pukul aku ? Mari kau ke sini kalau berani pukul aku saja “.

Bun Jin Cu pura-pura tidak mendengar, cambuknya diangkat tinggi-tinggi lalu dengan sekuat tenaga dihajar ke atas tubuh Wi Lian In.

Pada waktu dia menghajarkan cambuknya yang pertama itulah mendadak pintu ruangan siksa itu dibuka, tampak si pembesar jendela dengan wajah gugup berlari masuk.

“Ada urusan apa?” tanya Bun Jin Cu dengan cepat sewaktu dilihatnya wajah si pembesar jendela amat gugup.

“Lapor kepada hujin, di dalam istana sudah kedatangan seorang manusia yang sangat misterius” ujar sipembesar jendela dengan cepat.

“Siapa ?” tanya Bun Jin Cu kaget. “Tidak tahu, dia memakai baju berwarna hitam, wajahnya berkerudung kepandaian silatnya tidak jelek, sewaktu dia sudah berada di belakang tubuh hamba, saat itulah hamba baru merasa . .

.”

“Lalu bagaimana dengan Lo-si ? “ tanya Bun Jin Cu kaget.

“Lo-si tidak mengapa, manusia misterius itu sama sekati tidak menyerang hamba sekalian, dia cuma bilang mau bertemu dengan Hujin untuk membicarakan sebuah juai beli.”

“ Dia tidak mau menyebutkan namanya? Tanya si rase bumi ini semakin terperanyat.

“ Benar, tetapi dia berkali-kali mengutarakan bahwa dia bukan datang kemari mencari gara-gara melainkan hendak membicarakan sebuah barang dagangan.”

“Barang dagangan apa?“

“Dia biiang setelah bertemu dengan hu jin baru mau membicarakannya sendiri”

Bun Jin Cu segera tertawa dingin.

“Hmm.. aku kira tentu dialah Wi Ci To itu, da ingin memancing aku keluar dari sini“

“Tidak. . . bukan, bukan dia.” Cepat si pembessr jendela gelengkan kepalanya. “Dari bentuk tubuhnya sangat mirip dengan diri. Wi Ci To“

"Sebelum aku berhasil menawan diri Wi Ci To aku orang sudah mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan ruangan di bawah tanah ini, coba kau keluar tanya padanya mau membicarakan soal juai belii barang apa, bilamana dia tidak mau bicara terus terang katakan saja aku tidak ingin membicarakan persoalan ini dengan dirinya itu“

“Baik” sahut si pembesar jendela dan berlalu dari sana. Sepasang mata dari Bun Jin berputar-putar mendadak dia melepaskan cambuk dan pergi menutup pintu setelah itu baru duduk kembali ke kursinya sambil melirik sekejap kearah Ti Then, Wi Lian ln serta Suma San Ho tiga orang.

“Kalian jangan bergirang dulu “ ujarnya sambil tertawa dingin. “ jika orang yang baru saja datang itu hendak menolong kalian maka jangan harap dia orang bisa melakukannya, saal ini kecuali kami orang-orang dari istana Thian Teh Kong tidak ada seorang   pun yang bisa menerobos masuk ke dalam ruangan siksaan ini“

Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tambahnya, “Sedang aku orang pun  sudah mengambil keputusan untuk

mempertahankan tempat ini, tidak perduli siapa yang sudah datang aku sudah memastikan diri untuk tidak keluar “

Wi Lian ln serta Suma San Ho yang mendengar dari mulut si pembesar jendela itu mengatakan orang yang baru saja datang adalah “Seorang yang misterius” segera mengetahui orang itu tentulah lelaki berkerudung tadi, karenanya terhadap “ Pendatang"" itu sama sekali tidak menaruh harapan, dalam hati Ti Then tergerak juga oleh perkataan ini, walau pun dia juga menduga “Pendatang” itu kemungkinan sekali kaum komplotan dari orang-orang berkerudung yang munculkan diri di dusun Thay Peng Cung tetapi dia pun merasa kemungkinan sekali “Pendatang “ itu adalah orang dari benteng Pek Kiam Po, segera dia pun tertawa dingin.

“Hmmm, sesudah istana Thian Teh Kong rata dengan tanah, tempat ini pun bisa digali dengan perlahan-lahan, akhirnya liang rasemu ini bakal terbongkar juga “

Mendadak..

Suara ketukan pintu memecahkan kesunyian kembali.

Dengan amat gesit Bun Jin Cu meloncat ke samping pintu lantas tanyanya dengan suara keras.

“Siapa? Lo-Ciauw?” “Benar, hamba adanya” sahut orang itu.

“Apakah orang tersebut sudah berhasil menerjang masuk ke dalam istana?”

“Belum” jawab pembesar jendela dengan sangat hormat, “Dia masih berdiri di luar ruangan Khie Ie Tong”

Mendengar sampai di sana, Bun Jin Cu baru merasa lega, dia segera membuka pintu membiarkan si pembesar jendela berjalan masuk.

“Dia berbicara apa lagi?”

“Dia masih tidak mau menjelaskan persoalannya, tapi dia menjelaskan juga barang apa yang hendak diperjual belikan dengan diri hujin”

Berbicara sampai di sini dia melirik sekejap kearah Ti Then serta Wi Lian ln lalu tertawa terbahak-bahak.

“ Urusan apa yang begitu menggelikan ?” tanya si Bun Jin Cu keheranan.

“ Sungguh menggelikan, sungguh menggelikan sekali, haa ....

haaa    “

Melihat dia orang tidak memberikan jawaban juga Bun Jin Cu segera mengerutkan keningnya.

“Sebenarnya dia mau membicarakan perdagangan apa dengan aku?”

“Dia bilang mau membeli kedua orang itu dari tangan hujin “ sahutnya sambil menuding ke arah Ti Then serta Wi Lian In.

“ Ooh dia mau membeli kedua orang ini ?”

“ Benar, dia bilang mau membayar seratus ribu tahil perak kepada hujin untuk membeli kedua orang tersebut“

Wajah si rase bumi Bun Jin Cu segera berubah adem, dia tertawa dingin. “Perkataanku sedikit pun tidak salah bukan ? jikalau dia orang bukan Wi Ci To sendiri tentulah salah satu pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po.”

“Tidak mungkin “ Bantah si pembesar jendela gelengkan kepalanya.

“Hamba berani memastikan kalau dia orang bukanlah pendekar pedang merah dari benteng Pek Kiam Po,”

“Sungguh?” Seru Bun Jin Cu kurang percaya.

“Benar, jikalau orang-orang dari benteng Pek Kiam Po mendengar kalau ketiga orang ini sudah terjatuh ketangan hujin mereka pasti akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berusaha menolong mereka meloloskan diri, dengan sifat mereka tidak mungkin pihak sana mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli mereka bertiga karena jikalau mereka sampai membeli mereka bertiga bukankah nama dari Benteng Pek Kiam Po akan hancur?”

Bun Jin Cu segera merasakan perkataannya ini sediki t pun tidak salah, tanpa terasa lagi dia sudah mengangguk.

“Hmmm . . . pemikiranmu ini memang sangat beralasan sekali .

.”

“Apa lagi..” sambung si pembesar jendela itu lagi, ”Orang itu

cuma bilang mau membeli Wi Lian In serta Ti Then dua orang dan sama sekali tidak mengungkat-ungkat Mo Im Kiam Khek, bilamana orang itu berbasal dari benteng Pek Kiam Po sudah tentu dia pun akan membeli sekalian diri Mo Im Kiam Khek.”

“Benar, sangat beralasan, lalu apakah dia orang juga mengatakan tujuannya untuk membeli Ti Then serta Wi Lian In?”

“Benar, dia bilang dia orang ada dendam sakit hati dengan Wi Ci To, dia hendak menggunakan kedua orang ini untuk menguasahi diri Wi Ci To.” “ Kalau memang demikian tujuannya sama seperti apa yang aku orang cita-citakan.”

“ Bagaimana dengan keputusan hujin?”

”Hmmm…” dengus si rase bumi dengan amat dingin. “ Kau pergi beritahu kepadanya, jangan dikata seratus ribu tahil perak sekali pun satu juta tahil perak aku juga tidak akan menjual mereka kepadanya.”

“Baik,” sahut si pembesar jendela lalu berlalu dari sana dengan terburu-buru.

Bun Jin Cu segera menutup pintu kembali, kepada Ti Then bertiga dia menyengir.

“Kalian sudah dengar belum? musuh besar dari We Ci To sungguh banyak sekali.”

Ti Then bungkam tidak berbicara.

“Di antara kalian bertiga adakah yang tahu siapakah orang itu ?” tanyanya lagi sambil tertawa.

“Bilamana kau orang kepingin kenapa tidak keluar sendiri untuk melihat-lihat?” Seru Ti Then dengan amat dingin.

“Aku orang sama sekali tidak tertarik dengan dirinya “

“ Sebaliknya orang itu sangat tertarik kepadamu” sambung Suma San Ho dengan cepat. “Dia bilang dialah suamimu yang baru.”

“ Suma San Ho apakah badanmu benar-benar merasa gatal?“ teriak si rase bumi tertawa keras.

“Hal ini sungguh-sungguh terjadi, tadi sewaktu masih ada di bawah gunung dia sudah membokong nona Wi dan mengaku sebagai majikan baru dari istana Thian Teh Kong, dia bilang dialah suamimu yang baru.”

“ Aaaah sungguh ??? “. “Jika kau tidak percaya kenapa tidak keluar untuk bertanya sendiri ? “

“Lalu tahukah kau siapakah dia orang?” tanya Bun Jin Cu lagi sambil tertawa.

“Baiklah”

“Berapa besar usianya? bagaimana wajahnya?”

“Wajahnya berkerudurg sehingga tidak bisa dilihat, tetapi jika didengar dari suaranya dia tidaklah terlalu tua, bahkan kepandaian silatnya tidak rendah aku rasa dia dia orang sangat cocok untuk dijadikan suamimu yang baru”

Wajah Bun Jin Cu segera berubah memerah, dengan nada malu- malu ujarnya.

“Bangsat, kau pun merasa kuatir juga terhadap perkawinan aku orang? “

Baru saja Suma San Ho mau memberi jawaban mendadak dari pintu luar terdengar kembali suara ketukan pintu,

“Lo ciauw?” tanya Bun Jin Cu dengan cepat. “Bukan, hamba adanya “ Suara dari menteri pintu,

Bun Jin Cu segera membuka pintu membiarkan si menteri pintu berjalan masuk,

“Bagaimana dengan Lo ciauw?'- tanyanya cepat. “ Dia tidak mengapa “

“ Lalu bagaimana dengan orang itu?™-

“Dia masih ada di sana, dia minta hamba masuk ke dalam untuk memberi nasehat kepada hujin, dia bilang jikalau hujin tidak ingin menjual tawanan itu dia sangat mengharapkan hujin mau mengubah cara dengan bekerja sama dengan dia orang untuk bersama sama menghadapi Wi Ci To. hamba rasa . . . “ Berbicara sampai di sini dia segera menutup mulutnya rapat- rapat.

“Kau rasa bagaimana ?“

“Hamba rasa orang itu sangat bernapsu sekali untuk ikut bersama kita bahkan kepandaian ilmu silatnya amat tinggi, tadi di depan hamba dia sudah mempamerkan satu tenaga pukulannya dimana hanya dalam satu kali sambaran saja patung singa di depan ruangan Khie le Tong sudah berhasiI dihancurkan”

Air muka Bun Jin Cu segera berubah sangat hebat, serunya “Patung arca singa yang ada di depan ruangan Khie le Tong

dibuat dari bahan yang sangat keras, jikalau dia orang bisa

menghancurkan benda tersebut berarti puIa tenaga dalamnya mencapai pada tarap kesempurnaan.”

“Benar, maka itu hamba rasa jikalau hujin mau bekerja sama dengan dia orang kemungkinan sekali bisa mendirikan kembali kewibawaan dari istana Thian Teh Kong kita untuk melanjutkan menjagoi Bu-lim”

Sepasang mata dari Bun Jin Cu segera berkedip-kedip tanyanya: “ Dia tetap tidak mau bicara terus terang soal asal usulnya?“

“ Benar, dia bilang jikalau hujin mau bekerja sama dengan dia maka setelah menjadi orang sendiri sudah tentu dia orang tidak akan menyembunyikan asal usulnya”

“Jika kau dengar dari suaranya kau kira berapa besar usianya ?” “Mungkin enam puluh tahun ke atas”

Bun Jin Cu menjadi amat gusar, teriaknya kalap: “Ooooh , , , , kiranya seorang kakek tua celaka.”

Si menteri pintu yang melihat secara mendadak dia menjadi gusar dalam hati menjadi keheranan. “Dia . . . dia .. walau pun usianya sudah lanjut tetapi bukan seorang kakek tua celaka, tubuhnya tinggi kekar perkataannya pun amat nyaring dan berwibawa membuat orang yang mendengar merasa amat kagum.

“Tidak mau, tidak mau” teriak si rase bumi Bun Jin Cu dengan amat gusarnya. “Aku tidak mau bekerja sama dengan dia orang, kau suruh dia orang cepat menggelinding dari sini “

“Hujin kau jangan marah dulu” Ujar si menteri pintu mendadak dengan memperendah suaranya. “Dia orang benar-benar punya maksud untuk bekerja sama dengan kita, bahkan dia memberikan sebuah nota uang sebesar seratus ribu tahil perak, katanya jika hujin setuju..”

“Tidak usah banyak omong lagi” potong si rase bumi Bun Jin Cu sambil mengulapkan tangannya, “kau sendiri pun tidak usah banyak komentar suruh dia cepat-cepat menggelinding dari sini.”

Si menteri pintu segera tertawa, dari wajahnya terlintas sifat liciknya.

“Hujin tunggu dulu, dia masih mengatakan sesuatu, tapi hujin jangan marah setelah mendengar perkataan ini “

“Bukankah dia orang bilang mau memperistri diriku?” Sambung Bun Jin Cu cepat.

“Bukan.”

Bun Jin Cujadi tertegun.

“Kalau tidak, dia mengatakan apa?”

Si menteri pintu melirik sekejap ke arah Ti Then bertiga lalu merendahkan suaranya.

“Perkataan ini lebih baik jangan sampai mereka bertiga ikut mendengar . .”

Si rase bumi Bun Jin Cu segera menarik dia orang untuk maju beberapa langkah ke depan lalu baru ujarnya “Sekarang kau berbicaralah”

Menteri pintu segera menempelkan bibirnya ke samping telinga dan berkata dengan suara yang amat lirih,

“Dia bilang jikalau hujin tidak menginginkan uang yang seratus ribu tahil perak itu maka dia bersedia untuk menghadiahkan uang seratus ribu tahil perak itu kepada . . . Lohu”

Kata terakhir “ Lohu” segaja diperkeras, dan pada saat yang bersamaan

pula jari tangannya melancarkan serangan menotok jalan darah kaku pada tubuh Bun Jin Cu.

Air muka Bun Jin Cu segera berubah sangat hebat, sepasang matanya terbelalak, dengan perasaan amat gusar bentaknya:

“Lo si„ kau berbuat apa?”

Perkataan terakhir baru selesai diucapkan tubuhnya sudah rubuh ke atas tanah.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat Bun Jin Cu sangat terperajat, demikian juga dengan Ti Then bertiga yang terikat di atas tiang kayu, mereka sama sekali tidak menyangka si menteri pintu bisa ikut berkhianat juga.

Si menteri pintu segera tertawa seram. Sikapnya sudah berubah sangat ganas dan kejam sekali, sambi memandang kearah Bun Jin Cu yang tertotok di atas tanah ujarnya dengan perlahan.

“Mau apa? Hee . , . hee . . , hee ... jika kau orang belum jelas biarlah lohu mengulangi lagi, dia bilang jikalau hujin tidak mau menerima uang sebesar seratus ribu tahil perak itu maka dia rela menghadiahkan uang tersebut kepada diri Lohu. “

Air muka Bun Jin Cu sudah berubah menjadi pucat kehijau- hijauan, dia tahu perbuatan apa yang hendak dilakukan si menteri pintu terhadap dirinya, di samping merasa terkejut bercampur ketakutan dia pun merasa sangat gusar, bentaknya. “ Budak bangsat nyalimu sungguh besar kau sudah bosan hidup lebih lama lagi?”

“Heee .. . hee . . .Hujin yang baik, kau orang jangan marah- marah dulu” Seru si menteri pintu sambil tertawa seram. “Di dalam keadaan seperti ini kau jangan menyalahkan tindakan dari Lohu ini“

“Kau pingin berbuat apa?” Teriak si rase bumi dengan penuh perasaan gusar bercampur kaget.

“Jual mereka berdua untuk mendapatkan uang tambahan yang tidak terduga,” jawab si menteri pintu sambi! menuding ke arah Ti Then serta Wi Lian In.

“Bagus, bagus sekali, tidak kusangka kau pun mengkhianati diriku” seru Bun Jin Cu sambil meneteskan air mnta saking mangkelnya. “ Tetapi sewaktu aku hendak memberi uang sebesar seratus ribu tahil perak kepadamu tadi kenapa kau tidak mau terima

? mengapa sekarang hanya Jikarenakan uang sebesar seratus ribu tahil perak pula kau mengkhianati diriku?”

“Haaaa , haaa , , , kau terlalu memandang rendah keinginanku, jikalau Lohu cuma menginginkan seratus ribu tahil perakmu buat apa aku orang menanti sampai hari ini batu berkhianat? terus terang saja aku beritahu kepadamu, sejak semula Lohu sudah tahu kalau sebagian besar harta kekayaanmu sudah kau sembunyikan di suatu tempat karena tidak tahu tempat penyimpannya maka aku tidak ikut kawan-untuk mengkhianati kau ”

“Kau jangan mimpi” Teriak Bun Jin Cu gusar, “Kau jangan harap bisa memperoleh harta kekayaan tersebut.”

Pada wajah menteri pintu segera terlintaslah senyuman yang amat licik dan kejam.

“Tidak, Lohu tahu kau masih tidak ingin mati kau tentu bisa berikan barang barang itu kepadaku, bukan begitu ? “

“Sekali pun aku harus mati aku bersumpah tidak akan menyerahkan barang-barang itu kepadamu.” Teriak Bun Jin Cu sambil menggigit bibir menahan kemangkelan hatinya yang sudah memuncak.

“Bagus sekali, kalau kau orang memangnya tidak takut mati lohu pun tidak ingin membinasakan dirimu, tetapi Lohu bisa memotong sepasang kakimu lalu menghancurkan kecantikan wajahmu sehingga kau berubah menjadi seorang nenek tua yang sangat jelek dan cacad” 

Mendengar ancaman itu air muka Bun Jin Cu segera berubah menjadi pucas pasi, dengan amat gusar dia melototkan matanya kearahnya, akhirnya sambil menghela napas panjang dia berkata dengan nada yang amat sedih

"Lo-si, kau berlaku demikian kepada ku apakah tidak merasa kalau tindakanmu itu terlalu kejam?'"

"Begitulah.” ujar simenteri pintu sambil tertawa serak, “Hujin, kau tahu aku pun tahu kita semua suka membicarakan persoalan dengan baik-baik”

“Kau terlalu bodoh, orang yang ada di depan itu sekarang menyanggupi dirimu untuk menyerahkan uang sebesar seratus ribu tahil perak tetapi setelah kau menyerahkan kedua orang itu kepadanya maka dia akan turun tangan membunuh dirimu” ujar si rase bumi memberi peringatan.

Soal ini Lohu sejak tadi sudah memikirkannya" Sela si menteri pintu sambil angkat bahunya. “Sebelum aku orang mendapatkan uangnya Lohu tidak akan turun tangan menyerahkan mereka berdua kepada dirinya, tentang hal ini kau boleh berlega hati “

“Tapi kemungkinan juga uang tersebut adalah palsu . . “

“Tidak akan palsu, Lohu sudah memeriksa nota uang tersebut dengan teliti, aku kenal dengan tandannya yang ada di atas, Lohu pun mem punyai simpanan uang di dalam gudang uang itu”

“Lo Ciauw apakah ikut juga mengkhianati diriku?” Akhirnya tanya Bun Jin Cu dengan sedih “Tidak, dia orang kecuali paling doyan perempuan terhadap hujin sangat setia”

Bun Jin Cu menjadi sangat girang teriaknya.

“ Bagus sekali, akhirnya masih ada juga orang yang tidak mengkhianati diriku”

“Tetapi sungguh amat sayang” Seru menteri pintu menyengir, “Tidak beruntung dia … dia sudah mati “

-ooo0dw0ooo-