Pendekar Patung Emas Jilid 19

 
Jilid 19

"Bagus sekali, sewaktu kau mengenakan ikat pinggang ini menggulung sepasang kakinya aku segera kirim satu pukulan ke badannya"

Dengan perlahan Ti Then mengangguk. "Betul sekali" sahutnya tertawa, "Kita harus bekerja sama dengan sangat erat, sekarang kau berdirilah di sana biar aku coba-coba terlebih dulu."

Wi Lian In menurut dan berdiri ditempat dimana dia tidak dapat mundur kembali, ujarnya:

"Kau harus berlatih hingga betul-betul bisa menggulung sepasang kakiku kemudian menarik seluruh tubuhku kearahmu sana."

Perkataan "sana" baru selesai di katakan mendadak terasa olehnya pandangannya menjadi kabur, pinggangnya terasa mengencang seperti juga dililit oleh seekor ular, seluruh badannya meninggalkan permukaan tanah melayang menuju kearah Ti Then.

Dengan gerakan yang amat gesit Ti Then membuang ikat pinggangnya ke atas tanah kemudian sepasang tangannya menerima tubuhnya yang ramping kecil itu dan memeluknya dengan amat kencang.

Dengan mengambil kesempatan itu dengan amat mesranya dia kirim satu ciuman ke atas pipinya, ujarnya dengan perlahan. "Apa betul begitu??"

Saking malunya seluruh wajah Wi Lian In berubah menjadi merah dadu, kepalanya segera disusupkan ke atas dada Ti Then bersamaan pula kepalannya dengan perlahan-lahan memukuli badan Ti Then.

"Kau jahat, aku tidak mau. ." serunya sambil tertawa malu-malu. Ti Then memeluk badannya semakin kencang lagi. "Sejak dulu aku sudah bilang aku lebih jahat dari Hong Mong Ling."

"Ehmm..jika kau sebut namanya lagi aku tidak mau perduli kau lagi."

Ti Then angkat kepalanya kembali, dia segera berganti dengan bahan pembicaraan yang lain.

"Sekarang entah waktu siang atau malam?" "Mungkin sudah tengah malam. "

"Kalau begitu kita harus tunggu beberapa jam lagi bajingan itu baru datang kembali."

"Jikalau misalnya secara tiba-tiba si rase bumi Bun Jin Cu datang kemari kau punya maksud untuk berbuat bagaimana?" tanya Wi Lian In tiba-tiba.

"Kita harus melihat bagaimana sikapnya terhadap kita terlebih dulu, jikalau dia punya maksud untuk turun tangan membinasakan kita, terpaksa kita harus turun tangan untuk mengadu jiwa, kalau tidak lebih baik kita jangan banyak bergerak secara gegabah."

"Jika bisa berhasil menawan dia bukankah sangat bagus sekali, kenapa lebih baik berdiam saja??" tanya Wi Lian In lagi.

"Kepandaian silat dari si rase bumi Bun Jin Cu bukankah kau sudah melihat sendiri, jika mau menggunakan ikat pinggang ini untuk menawan dia mungkin tidak terlalu mudah."

"Tetapi jikalau orang berkerudung itu bukan seorang yang terpenting, buat apa menawan dirinya??"

"Aku lihat manusia berkerudung itu bukanlah seorang yang tidak terpenting, jikalau tidak penting kenapa dia harus mengerudungi wajahnya."

"Masih ada lagi, jikalau dibadannya tidak membawa kunci dari rantai ini bagaimana??"

" Kalau begitu jika si rase bumi Bun Jin Cu mau menolong nyawa dia, harus memberikan kuncinya kepada kita."

"Apa mungkin si rase bumi Bun Jin Cu mau melepaskan kita hanya untuk menolong nyawa orang anak buahnya?"

Ti Then segera angkat bahunya.

"Benar, dia tidak akan melepaskan kita hanya untuk menolong nyawa seorang anak buahnya, tetapi di dalam keadaan seperti ini selain kita harus mencoba untuk menggunakan cara itu, apa kau punya cara yang lain lagi??"

Wi Lian In juga tidak terpikirkan cara yang lebih bagus lagi, terpaksa dia menghela napas panjang, kemudian menundukkan kepalanya rendah-rendah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kurang lebih sesudah lewat tiga jam lamanya, apa yang ditunggu-tunggu Ti Then selama ini sudah muncul. Terdengar suara pintu besi diluar dibuka kemudian suara langkah seseorang yang semakin lama semakin mendekat bergema datang.

Ti Then segera kirim tanda kepada Wi Lian In, sepasang tangan ditekuk di depan dadanya padahal tangan kanannya secara diam- diam masuk ke dalam sakunya mengambil keluar ikat pinggangnya dan siap untuk turun tangan.

Wi Lian In pun segera bergeser ke depan dan duduk di sebelah kanan dari Ti Then, dia cudah bersiap sedia untuk turun tangan menotok jalan darah pihak musuhnya begitu ikat pinggang dari Ti Then berhasil meliliti pinggang lawannya.

Pada saat kedua orang itu baru saja selesai bersiap sedia, pintu besi sudah terbuka dan masuklah orang berkerudung hitam tadi. Pada tangannya dia membawa sebuah tong kayu yang besar agaknya tempat itu sengaja dikirim buat Ti Then berdua membuang kotoran.

Dia menuruni terus tangga-tangga batu itu, sesudah meletakkan tong besar itu ke atas tanah dari dalamnya diambil keluar dua mangkuk nasi dan diletakkan ditempat di mana Ti Then berdua tidak bisa maju lagi. sesudah mengambil kembali mangkuk- mangkuk kosong yang terdahulu, dia baru mendorong tong besar itu ke depan, gerak geriknya amat hati-hati dan teliti sekali agaknya dia terus menerus bersiap sedia terhadap todongan Ti Then yang mendadak.

Ti Then yang melihat dia amat waspada dan tidak gampang untuk turun tangan, di dalam hatinya diam-diam merasa amat cemas sekali, ujarnya kemudian sambil tertawa: "Saudara terus menerus tidak mau beritahukan alasan kenapa menawan kami berdua, agaknya di dalam hal ini ada sebab-sebab tertentu, tetapi ada satu hal tentunya saudara mau menyawabnya dengan berlega hati bukan, sekarang waktu apa?"

Orang berkerudung hitam itu mengambil kembali kedua buah mangkuk yang kosong itu, tertawanya dengan seram.

"Buat apa kalian menanyakan soal itu??" ujarnya dingin.

"Ingin tanya saja, kami di kurung di dalam tempat ini sudah beberapa lamanya?"

"Sekarang waktu pasang lampu, kalian sudah jatuh tidak sadarkan diri selama satu malam"

"Ooh kiranya sudah satu hari satu malam" seru Ti Then agak tertahan "Lalu apa saudara juga tidak mau beritahu alasan apa kalian mau menawan kami??"

"Belum sampai waktunya" jawab manusia berkerudung itu singkat.

"Aku tahu sekarang, kalian tentu sedang menanti Wi Pocu datang memenuhi janyi kemudian baru jatuhi hukuman kepada kita, bukan begitu??"

Manusia berkerudung itu segera memperlihatkan senyumannya yang amat misterius.

"Sedikit pun tidak salah" sahutnya dingin.

"Sekarang si rase bumi Bun Jin Cu apa berada di sini?" Tanya Ti Then lagi.

"Benar" sahut orang berkerudung itu singkat.

" Kenapa dia tidak mau turun bertemu muka dengan kami??" "Jika kalian pengen mati juga tidak perlu begitu cepat- cepat,

pada saat dia bertemu muka dengan kalian berarti juga waktu kalian

untuk meninggalkan dunia ini." "Aku tahu dia pasti benci sekali kepada diriku karena aku sudah bunuh suaminya" ujar Ti Then tertawa.

Manusia berkerudung hitam itu hanya tertawa dingin saja, kemudian putar tubuhnya pergi dari situ.

Tangan kanan Ti Then segera melayang mengebutkan ikat pinggang yang sudah disiapkan ditangannya itu, laksana seekor ular raksasa yang baru keluar dari dalam gua bagaikan kilat cepatnya meluncur ke depan.

"Plaakk" dengan amat tepat sekali ikat pinggang itu melilit seluruh pinggang dari manusia berkerudung hitam itu

Orang berkerudung hitam itu menjadi sangat terperanyat, dengan cepat dia berusaha melepaskan diri dari lilitan tersebut, tetapi pada saat yang bersamaan itu pula seluruh tubuhnya berhasil ditarik meninggalkan permukaan melayang kearah Ti Then.

Wi Lian In segera melayang ke depan melancarkan satu totokan yang dahsyat menghajar jalan darah Ling Thay Hiat di bagian punggungnya, karena itu ketika tubuhnya orang berkerudung hitam itu terjatuh ke atas tanah dia sudah tidak bertenaga lagi untuk bergerak.

Kiranya jalan darah "Ling Thay Hiat" sekali pun merupakan salah satu jalan darah kematian di dalam tubuh manusia tetapi asalkan turun tangan tidak terlalu berat tidak akan sampai mencabut nyawa orang tersebut, karena Wi Lian In masih ingin menggunakan dia sebagai sandera untuk memaksa si rase bumi Bun Jin Cu melepaskan dia serta Ti Then karena itu dia tidak membinasakan orang tersebut.

Dengan cepat Ti Then bergerak kembali menambahi orang itu dengan satu totokan kembali pada jalan darah kakunya, seperti baru saja mendapatkan harta kekayaan dengan cepat dia seret orang itu ke samping.

"Cepat geledah badannya" seru Wi Lian In dengan suara yang lirih. Dengan cepat Ti Then mengulur tangannya merogoh ke dalam saku orang berkerudung itu, tetapi walau pun sudah diperiksa setengah harian lamanya tetap tidak menemukan sesuatu apa pun, tanpa terasa lagi dia merasa sedikit kecewa.

"Hmm dia sungguh-sungguh tidak membawa kunci itu." dengusnya dengan cemas.

Wi Lian In tidak mau ambil diam, tangannya dengan cepat merampas kain kerudungnya itu sehingga terlihatlah suatu wajah yang ramah dan gagah, sedikit pun tidak nampak tanda-tanda pernah berbuat jahat sedang usianya sudah berada di atas lima puluh tahunan. Tidak terasa lagi dia menjadi melengak.

"Orang ini aku tidak kenal, apa kau kenal dengan dia orang?" "Aku juga tidak kenal, sungguh aneh sekali. ." seru Ti Then

sambil gelengkan kepalanya.

"Benar" sambung Wi Lian In lagi dengan air muka penuh perasaan ragu-ragu "Kalau dia memangnya tidak kenal dengan kita, kenapa harus mengerudungi wajahnya??" Ti Then segera menggigit kencang bibirnya:

"Sekarang aku punya suatu perasaan, kemungkinan sekali orang ini bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu itu"

Wi Lian In agak tertegun mendengar keterangan ini. "Ooh. . bagaimana bisa bukan?"

"Pertama, jika orang ini betul- betul anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu, tidak ada alasan buat dia untuk mengerudungi wajahnya, kedua, pertama kali dia datang kemari sepatah kata pun dia tidak mau berbicara, tetapi ketika kedatangannya kali ini dengan amat cepatnya dia sudah mengaku sebagai anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu, hal ini membuktikan bahwa setelah mereka melihat kita sudah salah menganggap dia sebagai anak buahnya si rase bumi Bun Jin Cu untuk menutupi asal usulnya yang sesungguhnya dia sudah mengakui dengan cepat" "Jika orang ini bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu, lalu siapakah dia? Apa tujuannya menawan kita di sini?" tanya Wi Lian In dengan perasaan amat terkejut bercampur heran.

" Cepat kita sadarkan kemudian paksa dia untuk berbicara."

Tetapi .. baru saja mereka membalikkan badan manusia berkerudung hitam itu untuk bersiap menyadarkan dirinya, pintu besi di atas tangga-tangga batu itu mendadak tanpa mengelearkan sedikit suara pun sudah muncul kembali dua orang manusia. Tidak salah, dua manusia berkerudung hitam.

Pada tangan ke dua orang manusia berkerudung hitam itu masing-masing membawa seperangkat busur serta anak panah dan berdiri berjajar di atas tangga batu itu, sikapnya amat dingin dan kaku mirip sekali dua setan yang baru saja keluar dari neraka.

Melihat hal itu air muka Ti Then segera berubah sangat heran, dengan cepat dia lintangkan badan manusia berkerudung hitam itu ke depan Wi Lian In serta dirinya, kiranya dia mau menggunakan tubuh manusia berkerudung hitam itu sebagai tameng dari serangan anak-anak panah, ujarnya dengan tertawa dingin:

"Jika kalian berani lepaskan anak panah untuk memanah kami, maka yang binasa adalah dia terlebih dulu".

Kedua orang manusia berkerudung hitam itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, mereka masing-masing mulai mempersiapkan anak panahnya masing-masing, terdengarlah salah satu diantara mereka berdua dengan suara yang amat dingin dan kaku berkata:

" Kalian mau lepaskan orang itu tidak??"

"Jika kalian mau melepaskan kami pergi, maka kami juga akan melepaskan orang ini"

"Kalau tidak?" ejek manusia berkerudung hitam itu sambil tak henti-hentinya memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin

" Kalau tidak. kami minta dia menemani kami mati" " Kalian tidak akan kami jatuhi hukuman mati, asalkan kalian mau lepaskan dia maka kalian bisa menanti di sini dengan tenang."

"Menanti apa?" desak Ti Then cepat.

"Menanti sesudah usaha kita mencapai keberhasilan maka kalian segera akan mendapatkan kebebasan juga."

"Kalian bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu bukan?" "Benar atau bukan sekarang kalian tidak perlu tahu."jawab orang

berkerudung hitam itu keras.

"Aku mau tahu."

Mendadak orang berkerudung hitam itu terbahak-babak dengan amat keras. "Tetapi siapa yang mau beritahu kepada kalian??"

Ti Then segera menuding kearah orang berkerudung hitam yang berada ditangannya. "Dia bisa beritahu kepada kami" sahutnya dingin.

Suara tertawa dari manusia berkerudung hitam itu mendadak berhenti, sepatah demi sepatah ujarnya dengan suara berat:

"Kalian bila tidak lepaslan dia kembali maka kalian akan mendapatkan suatu pelajaran yang lain dari pada yang lain, kalian lihat saja"

"Suatu perlakukan yang bagaimana??" tanya Ti Then dengan wajah dingin sedang mulutnya tidak hentinya memperdengarkan suara tertawa yang amat menusuk telinga.

" Kalian tidak mungkin akan memperoleh makan" Ti Then angkat kepalanya tertawa terbahak-bahak.

"Tetapi jika kami berdua mati kelaparan, kalian mau menggunakan apa untuk berjual beli dengan diri Wi Pocu??"

"Tidak lama lagi Wi Ci To akan memperoleh berita dari kami, sedang urusan kita dengan dia pun bisa di selesaikan di dalam lima hari ini, kalian tidak makan tidak akan sampai membuat kalian mati kelaparan, hanya saja suatu penderitaan yang agak berat akan menimpa diri kalian, buat apa kamu semua memaksa untuk merasakan penderitaan tersebut??"

"Sebenarnya kalian sedang mengadakan jual beli apa dengan Wi Pocu?"

" Kalian tunggu saja dan tanya sendiri dengan Wi Ci To" jawab orang berkerudung itu dingin.

"Baiklah" sahut Ti Then kemudian sambil angkat bahunya.

"Jika kawanmu memang tidak mau berbicara biarlah aku pergi tanya Wi Pocu sendiri sudah bertemu muka"

Sekali lagi orang berkerudung hitam itu mendengus dengan amat dinginnya. " Kalian betul- betul tidak mau melepaskan dia?"

"Tidak"

Orang berkerudung hitam itu menjadi betul- betul gusar dibuatnya.

"Heee... hee.. kau bangsat cilik agaknya tidak takut mati kelaparan tetapi apa benar-benar merasa tega melihat nona Wi menderita kelaparan???"

"Kalian tldak perlu ikut merasa kuatir, nonamu tidak akan menderita kelaparan" sambung Wi Lian In dengan dingin.

"Tidak urung kalian tidak bisa lolos dari sini, buat apa mencari gara-gara??"

Ti Then tidak mau kalah, segera dia pun menuding kearah orang berkerudung hitam yang berhasil ditawan itu.

"Temanmu ini juga tidak akan solos dari cengkeramanku, apa kalian tidak ingin menolong nyawanya"

Dari sepasang mata orang berkerudung hitam itu segera memancarkan sinar yang amat tajam dan buas sekali, serunya dengan gemas. "Kau bangsat cilik jangan harap bisa mendapatkan berita seperti apa yang kalian inginkan"

"Kau bukanlah dia, kenapa dia tidak mau menyawab semua pertaayaanku???" ejek Ti Then sambil tertawa.

Orang berkerudung hitam itu tidak mau menyawab lagi, dia melirik sekejap kearah temannya yang berada disisinya, kemudian mereka berdua mulai menarik busurnya mengarah ulu hati dari manusia berkerudung hitam yang berada di depan diri Ti Then. Tiba-tiba mereka mulai melepaskan anak panah itu.

Jarak mereka tak lebih hanya lima depa saja, karena itu meluncurnya dua buah anak panah itu bagaikan kilat cepatnya.

Ti Then sama sekali tak menduga pihak lawannya begitu teguh untuk melenyapkan nyawa kawannya sendiri Ketika dilihatnya kedua buah anak panah itu meluncur datang sebetuinya dia mau menyingkirkan orang berkerudung itu ke samping, tapi ketika teringat bilamana dia membawa orang berkerudung itu menyingkir ke samping maka Wi Lian In yang ada di belakangnya akan mengalami bencana, karena itulah disaat yang amat keritis itu dia tetap ragu-ragu dan tidak bergerak sedikit pun dari tempat semula.

Sedang meluncurnya kedua batang anak panah itu pun amat cepat, di dalam sekejap mata saja terdengarlah . . "Bluk . . . bluk. "

kedua batang anak panah itu dengan tepat menghajar ulu hati dari orang berkerudung itu. Melihat hal ini Ti Then menjadi sangat gusar.

"Bajingan bangsat, kalian sungguh amat kejam."

Orang berkerudung hitam itu hanya memperdengarkan suara tertawanya yang amat aneh, lama sekali baru ujarnya.

"Sekarang kalian sudah tidak dapat memaksa dia untuk mengucapkan kata-kata lagi, bagaimana kalau mayatnya kembalikan kepada kami?"

Ti Then takut sesudah mayat itu dilemparkan kembali kepada mereka, lantas mereka melancarkan serangan kembali terhadap dirinya berdua karena itu dia tak mau melepaskan tamengnya dari orang berkerudung tersebut.

Ketika orang berkerudung bitam itu melihat mereka tak mau mengembalikan mayat tersebut, segera angkat kepalanya tertawa- tawa.

"Baiklah jikalau kalian merasa sangat tertarik terhadap mayat tersebut, biarlah aku tinggalkan di sini untuk kalian dahar dagingnya"

Selesai berkata dia putar badan sambil menarik kawan di sebelahnya untuk meninggalkan tempat itu.

Terlihatlah mereka mulai menaiki tangga-tangga batu itu sesudah menutup kembali pintu besi dan menguncinya kembali terdengar suara langkah kakinya semakin lama semakin jauh.

Lama sekali Ti Then berdiri tertegun di sana, kemudian baru meletakkan kembali mayatnya ke atas tanah.

"Dugaanku ternyata tidak salah." ujarnya sambil menghela napas panjang. "Ternyata mereka bukan anak buah dari si rase bumi Bun Jin Cu."

Wi Lian In pun bergeser ke samping tubuh Ti Then, ujarnya sambil memandang mayat tersebut dengan pandangan terperanyat.

"Sungguh kejam, untuk menyaga rahasia mereka ternyata dengan tidak sayang turun tangan jahat membinasakan kawannya sendiri, di dalam dunia ini ternyata masih ada manusia yang tidak berprikemanusiaan"

"Dari hal ini sudah bisa diketahui kalau sekali pun mereka harus mengorbankan dirinya pun tetap berjuang terus sampai mencapai pada tujuannya...memeras ayahmu."

"Tetapi tidak tahu mereka mau Tia menyanggupi ucapannya?" "Hmm, mereka pasti sedang ayahmu untuk menyerahkan

semacam barang" "Betul, otak pimpinan dari orang orang yang menawan kita kali ini pastilah orang yang sudah melakukan jual beli dengan Hu Pocu"

Air muka Wi Lian In segera berubah hebat.

"Tidak salah. . pasti dia orang, sedang manusia berkerudung ini tentu anak buahnya semua"

Dia segera bangkit berdiri dan berjalan bolak balik di sana, ujarnya lagi dengan perasaan murung:

"Bagaimana sekarang baiknya??"

"Bilamana ayahmu sudah setuju untuk menyerahkan barang itu berarti kesempatan buat kita untuk hidup masih ada, tetapi. ."

"Kau pikir Tia bisa serahkan barang itu tidak?" potong Wi Lian In dengan cepat.

" Untuk menolong nyawa kita mungkin dia mau, tetapi bukankah karena kita berdua sudah menyusahkan ayahmu?."

"Tetapi kita tidak bisa meloloskan diri dari sini"

Dengan berdiam diri Ti Then memandangi mayat yang ada di atas tanah itu dengan mata melotot, mendadak seperti baru saja teringat akan sesuatu hal mendadak dia mencabut keluar dua batang anak panah yang tertancap di dalam tubuh orang berkerudung itu, serunya dengan sinar mata penuh gembira:

"Dua batang anak panah ini, mungkin bisa bantu kita untuk meloloskan diri" Semangat Wi Lian In segera timbul kembali.

"Benar" serunya kegirangan, "Kita gunakan kedua batang anak panah ini sebagai senyata rahasia dan berusaha membinasakan mereka."

"Tidak. sekali pun kita berhasil membinasakan mereka untuk meloloskan diri tetap tidak bisa."

"Kalau tidak, kau bermaksud berbuat bagaimana ???" tanya Wi Lian In tertegun. Ti Then segera memperendah suaranya.

"Kita gunakan kedua batang anak panah ini untuk membongkar tiang besi yang tertanam di dalam tanah.

"Apa bisa??" tanya Wi Lian to ragu-ragu. "seharusnya bisa. ."

"Tetapi, jika sewaktu kita sedang membongkar tiang besi ini mendadak mereka masuk lagi, lalu. ."

"Tidak mungkin" potong Ti Then segera.

"Baru saja mereka menghantarkan nasi buat kita makan, di dalam dua tiga hari ini mungkin mereka tidak akan datang lagi"

Pandangan Wi Lian In menjadi bersinar kembali.

" Kalau memang demikian, mari kita mulai bekerja, tetapi entah harus bekerja berapa hari baru bisa membongkar tiang besi ini?"

"Jika di bawah tiang besi ini masih ada besi yang melintang di dalam tanah, paling cepat mungkin kita harus bekerja satu hari penuh baru bisa"

Wi Lian In segera mengambil satu batang anak panah dari tangan Ti Then kemudian mulai berjongkok di bawah tiang besinya dan mulai turun tangan bekerja.

Ti Then pun mulai bekerja untuk membongkar tiang besi itu, ujarnya dengan suara perlahan:

"Hati-hati sedikit, jangan sampai ujung anak panah itu menjadi putus"

Demikianlah bagaikan kilat cepatnya mereka bekerja terus menggali tanah itu untuk berusaha membongkar tiang besi yang mengikat mereka, tidak kurang satu jam kemudian mereka sudah berhasi menggali tanah itu sedalam dua depa lebih.

Tapi semakin mereka bekerja semangatnya semakin berkobar, karena tanah itu tidaklah keras, sehingga Ti Then tidak perlu menggunakan ujung panah, cukup dengan telapak tangan saja sudah bisa bekerja.

Ketika mereka sudah mencapai kurang lebih tiga depa dalamnya mendadak terasa oleh mereka ujung anak panahnya terbentur dengan suatu barang yang amat keras. Wi Lian In segera menjerit keras. "Ada batu"

"Tidak salah, memang batu." seru Ti Then kegirangan. " Kenapa kau malah kegirangan?"

Ti Then dengan menggunakan ujung anak panahnya membersihkan pasir yang ada disekeliling batu itu kemudian telapak tangannya ditusuk keujung pinggiran batu seketika itu juga sebuah batu yang amat besar sudah terangkat dari dalam tanah. Ujarnya sambil tertawa:

"Bukankah demikian satu persatu kita singkirkan batu ini jauh lebih cepat daripada harus membongkar tanah itu?"

Wi Lian In ketika melihat perkataannya sedikit pun tidak salah dia menjadi amat girang.

"Bagus sekali, jika demikian adanya kita bisa membongkar tiang besi itu jauh lebih cepat lagi"

Ti Then sudah mendorong batu pertama ke samping segera bungkukan badan mendorong kembali batu yang kedua. . ketiga.

.ke empat.

Tidak sampai satu jam kemudian mereka sudah berhasil membongkar permukaan tanah sekitar tiang besi itu seluas lima depa dengan dalam lima enam depa ditambah lagi sejumlah tiga puluh buah batu besar sudah berhasil dikeluarkan dari dalam tanah.

"Tiang besi itu sungguh panjang sekali kenapa masih belum teriihat dasarnya?" Tanya Wi Lian In kemudian-

"Mungkin sudah hampir.."

Dikarenakan rantai yang mengikat badan mereka hanya sepanjang tiga depa ke sananya mereka harus bekerja sambil membungkukkan badannya rendah- rendah, sesudah membongkar sedalam satu depa kemudian ternyata tidak salah lagi, mereka sudah dapat melihat ujung sebelah dalam dari tiang besi itu dan dugaan Ti Then sertikit pun tidak salah, pada ujung tiang besi itu dihubungkan lagi dengan empat tiang besi yang melintang.

Keempat tiang besi yang melintang itu ada sebesar batang pedang panjangnya, setiap tiang besi ada tiga depa lebih dengan mendatar lurus di dalam tanah, tidak tahu tiang itu dihubungkan dengan tempat mana lagi.

Ti Then segera merangkul tiang besi itu dan menggoyangkannya beberapa kali dengan sekuat tenaga, alhasil tiang besi itu kelihatan sedikit mengendor, tanpa terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat- rapat.

"Tidak bisa jadi, kita harus membongkar permukaan tanah ini lebih lebar lagi sehingga keempat tiang besi yang melintang itu bisa diangkat keluar."

"Jika kita begitu, mungkin kita harus bekerja satu hari lagi baru bisa lolos" seru Wi Lian In murung

"Kita sekarang sudah bekerja dua jam lamanya mungkin sekarang sudah tengah malam buta,jika kita teruskan pekerjaan ini sekarang juga mungkin ketika cuaca menjadi terang kembali seluruh pekerjaan kita sudah selesai, ayoh, cepat turun tangan."

Demikianlah mereka berdua segera melanjutkan kerjanya kembali menggali tanah di bawah tiang besinya masing-masing.

Ti Then yang bekerja deagan amat giat hanya di dalam beberapa waktu saja sudah berhasil membongkar permukaan tanah sepanjang tiga depa dan saat itulah dia sudah tidak bisa bekerja kembali karena rantai yang mengikat badannya sudah tidak dapat mau kembali. 

Ini merupakan suatu persoalan yang paling berat, rantai yang mengikat badannya mereka hanya sepanjang tiga depa saja, di tambah dengan lengannya paling banyak juga hanya mencapai sejauh empat lima depa dari tempatnya, untuk lebih maju lagi sudah tentu tidak mungkin.

Wi Lian In bekerja jauh lebih perlahan tetapi ketika dilihatnya keadaan Ti Then yang tidak dapat melanjutkan pekerjaan itu tanpa terasa dia pun berhenti, ujarnya sambil menghela napas panjang: "Bagaimana??"

Sepasang mata dari Ti Then mengeluarkan sinar yang amat tajam, dia membuang anak panah itu dan memundurkan diri ke samping tiang besinya itu tubuhnya sedikit berjongkok ke bawah sepasang tangannya dtngan kencang mencekal tiang itu dan menariknya dengan sekuat tenaga.

"Kraaak . . . ." terdengar suara yang amat nyaring bergema memenuhi seluruh ruangan itu, tiang besi itu patah menjadi dua bagian oleh tenaga tarikan dari Ti Then ini.

Melihat kejadian ini Wi Lian In menjadi amat girang. "Kekuatan sakti, coba kita cabut yang lainnya lagi."

Ti Then segera putar tubuhnya menuju kearah tiang besinya sesudah mencoba mencabutnya berulang kali akhirnya dengan timbulkan suara yang amat nyaring tiang besi itu pun putus juga .

Perasaan girang yang meliputi seluruh hati Wi Lian In semakin memuncak. Kita putuskan satu tiang lagi, kita segera akan lolos dari sini".

"Tidak bisa, tidak bisa" jawab Ti Then dengan napasnya yang ngos-ngosan seperti kerbau. "Biar aku istirahat sebentar, aku sudah kerahkan semua tenagaku kini badanku betul- betul terasa amat lelah."

"Kalau begitu biar aku yang coba mencabut"

Dia segera putar badannya. sepasang tanganya dengan erat-erat mencekal tiang besi itu, kuda-kudanya diperkuat mendadak dengan seluruh tenaganya dia mencabutnya ke atas, tetapi sekali pun sudah kerahkan tenaga penuh tiang besi tersebut hanya sedikit bengkok saja. Ti Then segera tarik napas panjang-panjang. "Mari kita coba dengan bergabung."

Sambil berkata tubuhnya pun ikut masuk ke dalam liang, sepasang tangannya dengan erat mencekal tiang besi itu, bersamaan pula tenaga mereka berdua dikerahkan ke luar, tanpa banyak rewel lagi tiang ketiga itu pun berhasil dipatah menjadi dua bagian.

Kini masih tersisa satu tiang lagi, tetapi mereka saat ini betul- betul sudah kehabisan tenaga, jangan dikata untuk mencabutnya hanya untuk mendorong saja mereka sudah merasa tidak kuat.

Mereka berhenti sebentar untuk istirahat, setelah itu sekali lagi dicobanya dan kali ini ternyata berhasil.

Tiang besi yang terakhir ini pun berhasil mereka patahkan menjadi dua bagian.

Tetapi hal ini bukanlah berarti mereka sudah lolos dari kesukaran, karena waktu sekarang dibadan mereka masih ada rantai yang mengikat badan mereka, sedang rantai itu dengan amat kuatnya terikat di atas tiang besi itu, jika mereka ingin lolos dari ruang bawah tanah itu terlebih dahulu harus dapat menerjang pintu besi itu, bahkan sekali pun mau terjang itu pintu besi dibadan mereka masing-masing pun tetap harus membawa sebuah tiang besi yang amat banyak. dengan membawa tiang besi yang amat berat.

Berat tiang besi itu saja sudah ada dua ratus kati, jikalau diluar sana sudah bersiap-siap musuh dalam jumlah yang amat banyak. dengan membawa tiang besi yang demikian beratnya apa mereka bisa meloloskan diri?"

Mereka berdua tampak duduk beristirahat sebentar, ujarnya Wi Lian In pada saat itu

"Bagaimana kalau kita terjang pintu besi itu dengan menggunakan tiang besi ini?" "Jangan, tunggu sebentar . ." seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Masih mau tunggu apa lagi?"

"Kita tangsal perut terlebih dahulu baru cari akal."

Dia bangkit berdiri dan mengambil kedua mangkuk nasi yang dihantar oleh dua orang berkerudung hitam itu, sambil memberikan satu mangkuk nasi kepada Wi Lian In ujarnya sambil tertawa.

"Jika mau adu jiwa kita juga harus makan kenyang dulu, bukan begitu?"

Wi Lian In hanya tersenyum saja sambil menerima mangkuk nasi itu, tidak lama kemudian dia sudah menyikat habis nasi tersebut.

Selesai bersantap mereka berdua baru bangkit berdiri, ujar Ti Then sambil tertawa. "Sudah, sekarang kau mulai berteriak." . Wi Lian menjadi melengak. "Apa?"

"Dari pada harus menggunakan tiang besi ini untuk mendobrak pintu besi tersebut, lebih baik kita pancing mereka datang untuk membukakan pintu buat kita."

Wi Lian In segera merasa cara ini sedikut pun tak salah, dia menjadi amat girang sekali.

"Bagus" serunya "Biar aku mulai berteriak . . . Ehmm, tunggu sebentar . . ."

"Ada apa?"

Mendadak wajah Wi Lien In berubah menjadi merah dadu, dia menundukkan kepala rendah-rendah kemudian ujarnya malu: "Tidak mengapa aku hanya ingin . . ."

"Kau ingin berbuat apa?" tanya Ti Then melengak.

Dengan gemasnya Wi Lian In mendepakkan kakinya ke atas tanah, sahutnya dengan malu malu.

"Aku tidak ingin berbuat apa-apa, aku hanya ingin . . ingin..." Ti Then yang melihat jawabannya terputus-putus tanpa terasa sudah tertawa terbahak-bahak.

"Kau ingin apa cepat katakaniah, buat apa sungkan??"

"Kau . . kau.. berdirilah menghadap ke sana." sera Wi Lian In dengan perasaan amat malu. "Jangan bergerak yaah, jangan menoleh tahu tidak"

Seketika itu juga Ti Then menjadi paham, segera dia memutar tubuhnya membelakangi dirinya dan berdiri tidak bergerak sedikit pun juga. "Sudahlah, sekarang silahkan"

Agaknya Wi Lian In masih merasa tidak lega hatinya ujarnya lagi. "Kau jangan mengintip yeah, kalau tidak. . kalau tidak aku pukul kau"

"Baik, baiklah, sekarang silahkan cepat"

Wi Lian In barulah mulai melepaskan ikat pinggang dan pakaiannya untuk berjongkok menyelesaikan urusan pribadinya, sebentar kemudian dengan perasaan malu dia sudah bangkit berdiri kembali.

"Sudahlah sekarang bagaimana kalau aku mulai berteriak??" tanyanya sambil tersenyum malu.

"Baik, sekarang mulai berteriak." "Harus berteriak bagaimana??"

"Bagaimana pun boleh, asal bisa memancing mereka datang kemari."

"Bagaimana kalau aku berteriak ngeri?" "Baiklah" sahut Ti Then sambil tertawa.

Demikianiah Wi Lian In lantas berteriak ngeri dengan amat panjang dan kerasnya, suara itu penuh diliputi oleh perasaan yang amat takut, kesakitan seperti baru saja digigit oleh setan. Ti Then pun segera memungut dua buah potongan tiang besi tadi, sambil mengangsurkan kepada kepada Wi Lian In ujarnya lagi:

"Bawa barang ini, nanti bisa kita gunakan sebagai pengganti pedang"

Wi Lian In segera menerimanya dan disisipkan ikatan pinggangnya, kemudian bersama-sama dengan Ti Then mengangkat tiang besi itu, siap menerjang kearah pintu-pintu besi tersebut.

Dengan pusatkan seluruh perhatian mereka bersiap sedia, tetapi lama sekali tidak terdengar juga adanya orang yang menuruni tangga-tangga batu itu, tanpa terasa dia menjadi ragu-ragu.

"Kenapa?? kenapa mereka belum datang juga ??" "Sttt, jangan berbicara"

"Bagaimana kalau aku berteriak lagi?" "Tidak perlu, mereka pasti akan datang."

Ternyata dugaan dari Ti Then sedikit pun tidak salah, baru saja dia selesai berbicara dari depan pintu besi itu sudah terdengar suara langkah dua orang yang berjalan dari kejauhan mulai mendekati tempat tersebut. Kemudian disusul dengan suara dibukanya kunci besi itu.

Ti Then yang mengangkat ujung tiang yang berada di depan segera sedikit mengangguk memberi tanda kepada Wi Lian In, setelah itu dengan memperingan langkah masing-masing mereka mulai berjalan menaiki tangga batu itu siap menerjang keluar.

"Kraaaak..." suara yang smat nyaring bergema, pintu besi itu perlahan-lahan mulai membuka.

Yang muncul tidak lain adalah dua orang berkerudung hitam yang tadi, tetapi begitu mata mereka terbentur dengan Ti Then serta Wi Lian In yang berdiri di belakang pintu sambil mencekal tiang besi tersebut saking terperanyatnya mereka sudah berteriak tertahan, salah satu diantara mereka segera menyambar ujung pintu siap untuk di tutup kembali. Tetapi baru saja tangannya mencapai pinggiran pintu itu, Ti Then serta Wi Lian In dengan masing-masing mengeluarkan suara bentakan yang amat nyaring dengan mencekal tiang besi itu sudah menerjang ke luar dari sana.

Berat tiang besi itu ada dua ratus kati di tambah dengan tenaga dorongan mereka berdua sudah cukup sebetulnya untuk menerjang sebuah pintu kota, apa lagi hanya pintu besi yang kecil.

Jika orang sampai kena terjang tiang ini tidak urung seketika itu juga akan binasa ditempat, karenanya orang-orang berkerudung hitam itu dengan amat gugupnya sudah meloncat ke samping untuk menghindarkan diri.

Demikianiah Ti Then beserta Wi Lian In dengan tanpa perduli keadaan disekelilingnya sudah menerjang keluar dari pintu besi itu dengan masih membawa tiang besi yang amat berat.

Diluar pintu besi itu merupakan sebuah rumah yang terbuat dari tanah liat di dalamnya bertumpuk-tumpuk barang-barang pertanyan, sekali pandang saja sudah tahu rumah itu merupakan sebuah gudang pertanyan yang biasanya digunakan untuk menyimpan gandum serta alat-alat bertani.

Ketika Ti Then serta Wi Lian In melihat keadaan ditempat itu tanpa tarasa lagi sudah menjadi melengak, tetapi mereka tidak berhenti sampai di sana ketika dilihatnya kedua orang berkerudung hitam sudah meloncat keluar dari rumah itu itu mereka pun segera menerjang terus keluar dari sana.

Saat ini cuaca menunjukkan hampir terang tanah, keadaan disekeliling tempat itu masih gelap gulita, tetapi pada saat mereka sudah berada diluar rumah itu sekali pandang saja mereka sudah melihat tempat itu adalah sebuah tanah lapang yang biasanya digunakan untuk menjemur padi.

Pada permulaan ketika mereka dikurung di dalam ruangan di bawah tanah di dalam otak mereka masing-masing terus menerus memikirkan di tempat manakah sekarang mereka berada, semula mereka mengira sudah berada diruang bawah tanahnya istana Thian Teh Kong akhirnya tahu juga kalau dugaan mereka salah, tetapi mereka sama sekali tidak menduga kalau mereka sudah berada dirumah seorang petani.

Bagaimana bisa di rumah seorang petani?

Baru saja mereka berdua merasa terkejut dan heran mendadak terdengarlah suara desiran angin yang amat tajam, tampak dua batang anak panah dengan amat dahsyatnya sudah meluncur secara diam-diam kearah mereka.

Sabatang anak panah mengancam Ti Then sedang sebatang lainnya mengancam Wi Lian In.

Ti Then segera bungkukkan badannya ke bawah tiang hesi yang ada ditangan kanannya dengan tepat memukul kearah anak panah tersebut, bersamaan pula bentaknya dengan cemas.

“Lian In, hati-hati”

Dengan kecepatan yang luar biasa Wi Lian In segera mencabut tiang besinya pula untuk memukul jatuh anak panah yang mengancam badannya.

“Cepat mundur ke dalam rumah!” serunya keras.

Baru saja dia selesai berkata tampak dua batang anak panah dengan mengeluarkan sambaran angin yang amat tajam meluncur kembali mengancam mereka berdua.

Sekali lagi mereka pukul jatuh anak-anak panah itu. Terdengar Ti Then berteriak dengan amat keras.

“Mereka berada di ujung rumah di sebelah depan, cepat kita serang ke sana!” “Jangan!” seru Wi Lian In dengan amat cepat, “Kita mundur kembali ke dalam rumah saja, lebih baik kita cari kampak untuk putuskan rantai-rantai ini”

Ti Then segera merasa perkataannya sedikit pun tidak salah, akhirnya bersama-sama dengan Wi Lian In dengan tergesa-gesa mereka mengundurkan diri ke dalam rumah itu dan menutup rapat- rapat pintunya, setelah meletakkan tiang besi itu ke atas tanah mereka mulai mencari alat untuk memutuskan rantai-rantai tersebut.

Tetapi sekali pun sudah mencari disekeliling rumah itu tetap tidak tampak adanya kampak, tetapi ditemuinya sebuah cangkul.

Ti Then segera mengambil cangkul tersebut, ujarnya dengan cepat kepada Wi Lian In:

“Cepat berjongkok, biar aku coba”

Wi Lian In menurut omongannya dan berjongkok lantas meletakkan rantainya ke atas tanah.

“Criiiing!” terdengar suara yang amat nyaring bergema diseluruh ruangan disertai dengan percikan bunga-bunga api, ujung cangkul itu sedikit bengkok tetapi rantainya tetap utuh tidak cedera sedikit pun juga.

“Tidak ada gunanya, cangkul itu tidak berguna” seru Ti Then sambil membuang cangkul itu ke atas tanah.

“Kurang ajar” teriak Wi Lian In dengan amat gusar, “Di sini terdapat begitu banyak alat-alat tetapi sebuah kampak pun tidak kelihatan”

“Tentu sudah disembunyikan oleh mereka, mari kita terjang lagi keluar, bagaimana kalau kita cari di dalam rumah yang lain?”

“Mereka melancarkan serangan dari tempat kegelapan, sukar buat kita untuk berjaga-jaga, lebih baik untuk sementara kita menunggu di sini saja sampai terang tanah” “Begitu pun juga boleh” sahut Ti Then kemudian sambil mengangguk sesudah berpikir sebentar. “Agaknya mereka cuma dua orang saja, baiklah kita tunggu sampai terang tanah baru turun tangan bereskan mereka.”

“Gelegar . . !” mendadak suara yang amat keras bergema memenuhi seluruh ruangan , kiranya pintu kayu depan rumah itu sudah mulai diserang dengan menggunakan batu-batu cadas yang amat besar sehingga menggetarkan dengan amat kerasnya.

“Hmmm..” Ti Then tertawa dingin tak henti-hentinya. “Coba kau lihat mereka malah berani menyerang kita”

“Kelihatan sekali kepandaian slat mereka tidak seberapa, bilamana berani merusak pintu untuk menyerang kita Iebih baik kita tutup jalan mundurnya terlebih dahulu kemudian baru kita tangkap dari dalam.”

“Betul” seru Ti Then tertawa.

“Bluuuk..!” Sekali lagi suara pintu kayu yang terkena gempuran batu besar.

“Mari kita palangkan tiang besi ini di belakang pintu kayu itu”

Seru Ti Then

dengan suara perlahan. ” Jika kita melihat mereka menyerang masuk segera angkat tiang besi itu biar mereka jatuh tersungkur”

Wi Lian In menjadi amat girang sekali. “Pendapat yang amat bagus.”

Mereka berdua satu di sebelah kiri yang lain di sebelah kanan berjongkok didekat pintu kemudian palangkan itu tiang besi di depan pintu untuk menanti dengan amat tenangnya.

Sebuah batu besar mengenai pintu rumah itu lagi membuat pintu tersebut menjadi patah dua bagian dan terpentang ke samping.

Terdengar orang berkerudung hitam itu dengan suaranya yang tertawa seram. “Hey bocah cilik cepat keluar dan menyerah tanpa melawan, kalau tidak kalian

akan merasakan siksaan yang sangat berat”

Ti Then tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.

“Kalian punya kepandaian apa saja silahkan gunakan keluar, aku sekalian sudah siap sedia untuk minta petunjuk.”

“Jika kau bangsat cilik ingin hidup lebih lama cepat menggelinding keluar. “

“Aku tidak ingin hidup, kalian masuklah” jawab Ti Then sambil tertawa nyaring.

“He.. . he .. he.. . kalian sungguh-sungguh sudah ambil keputusan untuk mati didaIam rumah itu?” Tanya orang berkerudung hitam itu sambil tertawa aneh.

“Benar.”

“Bagus, lohu akan memenuhi harapan kalian”

Selesai dia berbicara mendadak terlihatlah segumpal bayangan hitam melayang menuju ke atas atap rumah tersebut.

Kiranya setumpuk rumput kering adanya.

Selesai melemparkan rumput kering itu disusul dengan desiran anak panah berapi meluncur kearah rumput kering tersebut, agaknya rumput itu semula sudah diberi minyak karena itu begitu terkena api segera terbakar dengan amat besarnya.

Kiranya mereka punya maksud untuk membakar Ti Then berdua di dalam rumah batu itu.

Ti Then sama sekali tidak menyangka nereka bisa berbuat begitu, ketika dilihatnya api berkobar dengan amat besarnya dia merasa amat terperanyat, dengan tergesa-gesa dia meloncat keluar sedang kakinya dengan melancarkan satu tendangan kilat menendang rumput-rumput kering yang berapi itu. Tendangan itu dilancarkan bagaikan kilat cepatnya karena itu tidak sampai melukai kakinya.

Siapa tahu kedua orang berkerudung yang berada diluaran ketika melihat dia melancarkan tendangan kilat menyingkirkan rumput- rumput kering tersebut, empat telapak mereka segera melayang melancarkan satu serangan dahsyat.

Terasalah segulung angin serangan yang amat dahsyat bagaikan menggulungnya ombak besar ditengah samudra menggulung tak henti-hentinya kearah rumput kering itu membuat api yang sedang berkobar bergolak dengan dahsyatnya melayang kembali ke dalam rumah itu. 

Ti Then yang badannya masih terikat oleh rantai membuat gerakannya tidak leluasa lagi, karenanya dia tidak sanggup untuk melancarkan serangan juga memukul balik rumput-rumput kering itu, di dalam keadaan yang amat gugup diambilnya cangkul yang menggeletak di atas tanah kemudian menyambut datangnya rumput-rumput kering itu.

Sambarannya kali ini membuat rumput-rumput kering itu menjadi tersebar keempat penjuru dan jatuh di tiang-tiang pintu yang terbuat dari kayu, seketika itu juga rumput-rumput kering yang berapi itu mulai membakar apa yang ditemuinya.

Wi Lian In dengan cepat mengambil sebuah karung goni dan dipukul-pukulkan ke atas tanah dimana api mulai berkobar.

Tetapi baru saja mereka selesai memadamkan api itu tampak segumpal rumput kering serta sebatang anak panah berapi melayang kembali ke dalam, seketika itu juga rumah tersebut terbakar kembali.

Ti Then menjadi amat gusar sekali, makinya.

“Anak jadah cucu kura-kura, Lian In ayoh kita terjang keluar saja adu jiwa dengan mereka”

“Baik, kita bunuh mereka semua” Kedua orang itu segera menerjang keluar, sambil membentak keras mereka menerjang keluar dari rumah itu dengan ditangan kiri dan tangan kanan mereka masing-masing membopong sebuah tiang besi.

Kedua orang berkerudung hitam ketika melihat mereka menerjang bersamaan waktunya melancarkan satu serangan dengan menggunakan anak panah mereka kemudian bersama-sama menyatuhkan diri ke samping bersembunyi ditempat kegelapan.

Di dalam sekejap mata saja ada dua batang anak panah lagi meluncur dari arah Barat serta Utara menyerang ke tubuh Ti Then serta Wi Lian In dengan amat cepatnya.

Kiranya mereka tidak berani bertempur berhadap-hadapan dengan Ti Then,

kini mereka hendak menggunakan kelemahan dari Ti Then yang harus membopong tiang besi untuk melancarkan serangan mendesak dirinya.

Ti Then dengan amat gusarnya membentak keras, mendadak dia melemparkan tiang besi yang dibawanya dan melayangkan tangannya menyambut datangnya sambaran anak panah itu, kelihatannya dia hendak menggunakan anak panah itu sebagai senyata rahasia untuk balas melancarkan serangan kepihak musuh.

Wi Lian In pun segera berbuat sama dengan diri Ti Then, hanya sayang mereka berdua tidak bisa melihat dengan jelas tampat persembunyian mereka berdua karenanya serangan balasan mereka dengan menggunakan anak panah itu tidak sampai mencapai pada sasarannya.

Dengan kecepatan bagaikan kilat Ti Then memungut kembali tiang besi itu kemudian bentaknya :

“Bunuh dulu binatang yang ada di sebelah Timur, ayoh jalan.”

Mereka berdua dengan masing-masing menggotong tiang besi itu dengan cepat berlari menuju kesudut sebelah Timur, tetapi ketika sampai ditempatnya ternyata tidak tampak bayangan musuh. Sedang pada saat yang bersamaan pula dari belakang tubuh mereka meluncur datang dua batang anak panah membokong diri mereka.

Mereka berdua dengan cepat putar tubuhnya memukul jatuh anak panah itu, ketika memandang ke atas tampaklah kedua orang berkerudung hitam itu sudah berdiri di atas atap dua buah rumah.

Dengan amat gusarnya Ti Then membentak keras.

“Kalau kalian betul-betul punya nyali turunlah, kita tentukan di atas permainan senyata”

“Ha ha ha … .jangan cemas” teriak manusia berkerudung hitam itu sambil tertawa terbahak-bahak, “Sebelum kucing menghabiskan tikus hasil mangsanya seharusnya dipermainkan dulu sampai puas"

Ti Then segera menaungut anak panah yang terjatuh ke atas tanah itu dan disambit kembali kearah orang itu, bentaknya:

“Ayo gelinding turun dari sana.”

Anak panah itu meluncur lebih dari pentangan busur tetapi begitu orang berkerudung hitam itu melihat Ti Then melayangkan tangannya tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping beberapa depa jauhnya kerena itu dengan sangat mudah sekali dia berhasil menghindarkan serangan tersebut.

Manusia berkerudung hitam lainnya segera membalas serangan itu dengan memanahkan sebatang anak panah kearahnya, demikianlah saat itu juga antara

pihak terjadilah suatu pertempuran panah yang amat seru sekali. Mendadak ujar Wi Lian In dengan suara perlahan.

“Jangan disambit kembali”

Waktu itu Ti Then baru saja menangkap sebatang anak panah dan siap disambit

kembali, mendengar perkataan itu dia menjadi tertegun. “Kenapa ?” tanyanya. Dengan suara yang amat Iirih sehingga hampir-hampir tidak terdengar sahut Wi Lian In:

“Anak panah yang mereka bawa sudah tidak banyak lagi, asalkan kita terus menerima saja menanti setelah anak panah mereka habis, mereka tidak akan mengapa-apakan kita lagi.”

“Betul” seru Ti Then tertawa. “Labih baik kita maju beberapa langkah ke depan untuk pancing mereka memanah lebih banyak lagi.”

Mereka berdua lantas maju dua langkah ke depan dan berdiri ditepi lapangan untuk penjemuran padi itu.

Kedua orang berkerudung hitam itu ketika melihat mereka berdua bukannya mencari tempat bersembunyi bahkan malah munculkan kini segera memanahkan anak panahnya terus menerus.

Dengan amat gesitnya Ti Then mau pun Wi Lian In meloncat kekanan kekiri untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut, walau pun ditangan mereka harus mengangkat sebuah tiang besi yang amat berat tetapi tidak sebuah pun anak-anak panah itu mangenai badan mereka.

Tidak lama kemudian anak panah dari kedua orang berkerudung hitam itu sudah tinggal tidak seberapa banyak lagi.

“Ha ha ha ha .. . . bagaimana?” Ejek Ti Then tertawa terbahak bahak.

“Terang-terangan kalian tidak bisa mengapa-apakan kami, aku lihat Iebih baik kalian turun saja ke sini untuk bergebrak”

Kedua orang berkerudung hitam itu tidak memberikan jawabannya barang sekejap pun, mereka saling bertukar pandangan kemudian secara tiba tiba bersama-sama menyatuhkan diri ke belakang wuwungan rumah dan lenyap tanpa bekas.

Wi Lian In menjadi melengak dibuatnya.

“Hmmm.. entah mereka berdua menggunakan permainan setan apa lagi?” “Tidak usah takuti mereka, cuma dua orang saja bahkan hari pun hampir terang tanah apa pun yang bakal terjadi kita tidak usah takuti lagi”

“Dekat dekat sini agaknya tidak ada rumah petani yang kedua, entah tempat manakah ini?”

Baru saja Ti Then mau memberi jawabannya mendadak terasalah olehnya dari belakang tubuhnya ada sambaran angin tajam yang membokong dirinya dengan cepat dia bungkukkan badannya sedang tiang besi yang ada ditangannya di balik melancarkan tangkisan.

“Traaaaang . “ suara benturan besi segera bergema disusul dengan percikan bunga api memenuhi angkasa.

Secara diam-diam kedua orang berkerudung itu sudah munculkan diri di belakang

badan mereka berdua, kali ini ditangan masing-masing mencekal sebuah golok besar kelihatannya mereka punya maksud untuk beradu tenaga dengan diri Ti Then berdua.

Ti Then sesudah berhasil menangkis pergi serangan golok pihak musuhnya, tubuhnya dengan cepat berputar balik, tiang besi ditangannya ditekan ke atas kemudian secara tiba-tiba menyerang kearah orang berkerudung hitam yang sedang membokong diri Wi Lian In itu.

Serangannya ini dilancarkan bagaikan kilat cepatnya, hanya sayang ditangan kirinya harus menggendong tiang besi yang amat berat bahkan Wi Lian In yang ada di sampingnya tidak bisa menyesuaikan diri dengan gerakannya karena itu serangan yang dilancarkan ini tidak sampai pada tubuh pihak musuhnya dan mencapai sasaran yang kosong.

Kedua orang berkerudung hitam itu sama-sama tertawa aneh, satu dari sebelah

kiri yang lain dari sebelah kanan bersama-sama mengangkat goloknya melancarkan serangan kembali, tetapi mereka tidak berani langsung menyerang berhadap-hadapan dengan diri Ti Then, setiap serangan mereka pasti ditujukan pada tempat-tempat yang sukar bagi Ti Then untuk bergerak.

Semula di dalam anggapan Ti Then asalkan pihak lawannya mau turun tangan dengan dia maka dirinya dengan amat mudah bisa menggunakan ilmunya yang amat sakti untuk membinasakan mereka berdua, tetapi sekarang sesudah bergebrak beberapa jurus banyaknya dia baru merasa kalau keadaannya tidak semudah apa yang dipikirkan semula.

Ketika dilihatnya Wi Lian In diserang dan dipaksa berada di dalam keadaan amat bahaya, segera serunya dengan gugup:

“Lian In, lepaskan tiang besi itu dan duduklah.”

Wi Lian In yang mendengar perkataan itu segera tahu kalau Ti Then siap menggunakan sikap tenang untuk menguasai lawannya, karena itu dia lantas meletakkan tiang besi itu ke atas tanah dan dia sendiri tanpa ragu-ragu lagi duduk ke atas tanah.

Ti Then pun ikut duduk, merekti berdua duduk dengan punggung menempel punggung sedang tangannya yang lain memutarkan tiang besi itu untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan pihak musuh, demikianlah mereka dengan amat mudahnya berhasil memunahkan setiap serangan musuh.

Kedua orang berkerudung hitam itu menyerang kembali beberapa saat lamanya ketika dilihatnya mereka tidak sanggup melukai diri Ti Then berdua, salah satu diantara orang berkerudung hitam itu segera memberi tanda dan mereka berdua dengan tidak banyak cakap lagi mengundurkan diri ke belakang kemudian melenyapkan diri di balik kegelapan.

“Mungkin mereka mau melepaskan panah-panah lagi, mari kita mundur ke bawah tembok pojokan sana untuk menghindarkan diri dari bokongan pihak musuh.”

Siapa tahu sekali pun mereka sudah menunggu setengah jam lamanya tetap tidak mendengar sedikit gerakan apa pun.

“Heran…” Seru Wi Lian In ragu-ragu. “Apa mereka sudah tahu sukar lantas mengundurkan diri?”

“Aku kira tidak mungkin, mereka pasti tidak akan melepaskan kita dengan begini saja, mereka tentu sedang mempersiapkan suatu penyerangan kembali”

Dengan dinginnya Wi Lian In mendengus.

“Aku tidak percaya mereka bisa melancarkan penyerbuan dengan cara yang lain lagi.”

“Aku hanya tahu mereka tidak lepas tangan begitu saja, untuk menutup penyamaran mereka. “

Perkataannya belum selesai mendadak di sekeliling rumah petani itu bergema

Suara percikan yang amat keras disusul berkobarnya lautan api yang amat dahsyat.

Lautan api itu muncul dari empat penjuru rumah pertanyan itu, hanya di dalam sakejap mata saja gulungan api yang amat dahsyat menggulung ketengah udara dan menge pung semua tempat.

Jelas sekali kedua orang berkerudung hitam itu secara diam-diam sudah menyiram sekeliling tempat itu dengan minyak bakar kemudian menyulut api sehingga membuat api itu baru mulai saja sudah berkobar begitu dahsyatnya, hanya di dalam sekejap mata saja kedua buah rumah itu sudah terbakar menjadi abu.

Air muka Wi Lian In segera berubah amat hebat, teriaknya dengan amat terperanyat.

“Celaka mereka mau bakar kita hidup-hidup.”

Selamanya Ti Then punya nyali yang amat besar dan tidak pernah kacau pikirannya menghadapi berbagai mara bahaya, tapi kali ini ketika dilihatnya empat penjuru semuanya merupakan lautan api yang berkobar-kobar dengan amat dahsyatnya, air mukanya tanpa terasa berubah memucat juga, teriaknya dengan gemas: “Kurang ajar, seharusnya sejak tadi aku punya pikiran kalau mereka bisa melakukan pekerjaan ini”

“Kalau begitu kita cepat-cepat mundur ke liang ruang bawah saja untuk bersembunyi” teriak Wi Lian In dengan amat cemasnya.

“ Tidak bisa, walau pun ruang bawah tanah itu tidak sampai terbakar tetapi kita bisa dipanggang sampai mati.”

Pikiran Wi Lian In menjadi amat kacau, serunya dengan gemetar. “Lalu bagaimana baiknya?”

“Terjang keluar.”

“Tidak mungkin, empat penjuru merupakan lautan api bagaimana kita bisa terjang keluar ? Lebih baik kita bersembunyi di dalam ruang bawah tanah itu saja?”

“Tidak bisa.”potong Ti Then dengan tegas, “Kita tidak bisa bersembunyi di dalam ruang bawah tanah itu lagi..mari ikuti diriku!”

Dia mengangkat tiang besinya kembali bersama-sama dengan Wi Lian In mereka Iari keluar dari rumah itu menuju ketengah lapangan penjemur padi.

Di depan Iapangan penjemuran padi tidak terdapat barang apa pun, karena api yang berkobar di sebelah sana agak lemah, jilatan api tidak lebih hanya enam tujuh depa tingginya.

Pada jarak kurang Iebih tiga kaki dari tembok api itu Ti Then menghentikan langkahnya.

“Mari kita meloncat dari sebelah sini saja.”serunya. Wi Lian In menjadi terkejut bercampur gugup.

“Dengan menyeret tiang besi yang begitu beratnya apa mungkin bisa meloncat keluar?” serunya.

“Bisa, gunakan saja tiang besi itu untuk meloncat keluar, demikian saja, kita Masing-masing menggendong satu pojokan kemudian Iari ketepi tembok lautan api itu kemudian menancapkan ujung yang lain ke atas permukaan tanah, dengan meminyam kekuatan ini kita layangkan badan keluar dari lingkungan tersebut”

Sambil berkata dia member contoh kepada diri Wi Lian In.

Melihat hal itu Wi Lian In menjadi amat terkejut bercampur girang.

“Cara ini sedikit pun tidak jelek, hanya saja kalau tidak berhasil badan kita pasti akan terjatuh ke dalam lautan api”

“Betul” seru Ti Then tersenyum pahit, “Tetapi selain ini tidak ada cara lain lagi”

“Baiklah, daripada mati lebih baik kita tempuh bahaya ini saja, tetapi…”

“Tetapi kenapa?”

Wajah dari Wi Lian In mendadak berubah menjadi merah dadu, dengan perasaan amat malu ujarnya.

“Waktu itu sewaktu masih ada di kuil Sam Cing Koan kau pernah bilang suka padaku, entah itu sungguh-sungguh atau tidak?”

Ti Then sama sekali tidak menduga di saat-saat yang begitu kritis dan membahayakan jiwa mereka dia sekali lagi mengungkit urusan ini membuat di dalam hati diam-diam merasa amat geli juga.

“Sudah tentu sungguh-sungguh” serunya sambil mengangguk.

Wi Lian In dengan perlahan mengangkat kembali wajahnya yang telah memerah itu, tanyanya lagi dengan perasaan malu bercampur girang.

“Kalau begitu, kau punya rencana untuk meminang aku tidak?” “Sudah     tentu”     sekali     lagi     Ti     Then     mengangguk,

“Tetapi….sekarang aku kira bukan waktunya untuk membicarakan

soal ini..” “Tidak” potong Wi Lian In dengan serius, “Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk membicarakan soal ini, jika kau mau meminang aku maka sekarang juga aku sudah menganggap kau sebagai suamiku, dengan demikian jikalau kita sampai mati tertelan oleh lautan api itu kita mati juga sebagai suami istri”

“Kalau kita tidak jadi mati?” tanya Ti Then lagi.

“Kalau begitu dari kedudukan sebagai suami istri kita undurkan sebagai calon suami istri, nanti setelah Tia setuju kita baru resmikan upacara ini”

Ti Then menjadi sangat girang sekali. “Baik, kalau begitu bagus sekali” “Perlu kita berlutut untuk upacara?” “Sesukamu” sahut Ti Then tertawa.

“Kalau begitu kita berlutut menghadap ke langit” seru Wi LIan In sambil tertawa malu, “Sesudah sembahyang dengan langit dan bumi kita masing-masing saling member hormat, bagaimana?”

“Bagus sekali!”

-- 33

Mereka berdua segera berlutut menghadap ke sebelah selatan dan menghormat kepada langit dan bumi setelah itu bangkit berdiri dan saling memberi hormat lagi.

Saat itu Wi Lian In betul-betul merasa amat girang sehingga tanpa bisa dicegah lagi dia sudah menubruk ke dalam pelukan Ti Then dan mengucurkan titik air mata kegirangan.

Mereka berdua saling berpeluk dengan eratnya, masing-masing tidak ada yang buka suara untuk memecahkan kesunyian yang nikmat tersebut. Api yang berkobar disekeliling mereka semakin lama semakin membesar dan akhirnya disekitar tempat itu pun mulai terbakar dengan dahsyatnya.

Lama sekali baru kelihatan Ti Then dengan perlahan mendorong badannya ke samping.

“Mari, sekarang kita lompati tembok lautan api ini”

Mereka berdua dengan tidak banyak cakap masing-masing mencekal satu ujung tiang besi itu kemudian bersama-sama mengangkatnya.

“Ayoh jalan” bentaknya disusuI tubuhnya bergerak menerjang ke depan.

SeteIah berlari sampai ditepian tembok api itu mereka segera meletakkan ujung yang satu dari tiang besi itu ke atas tanah kemudian membentak Iagi :

“Naik!”

Tubuh mereka bersama-sama meloncat ke atas dengan meminyam kesempatan sewaktu tiang itu berdiri mereka bersama- sama meIepaskan ujung tiang besi sehingga dengan begitu tubuh mereka pun ikut melayang ke atas.

Tiang besi itu sebetulnya ada enam depa panjangnya ditambah dengan panjang rantai tiga depa karenanya sekali loncat mereka bisa mencapai setinggi sembilan depa, akhirnya mereka berhasii juga melewati jilatan api setinggi enam tujuh depa itu dengan selamat dan berkelebat menuju kearah luar.

Siapa tahu lebar tembok api itu ada satu kaki, karenanya ketika mereka masing-masing mencapai di atas permukaan tanah empat buah kaki mereka dengan serta merta terjatuh ke dalam lautan api.

Suatu perasaan yang amat sakit menyerang diseluruh kulit kaki mereka membuat Ti Then mau pun Wi Lian in saking sakitnya sudah berteriak keras. Tanpa terasa lagi dengan sekuat tenaga mereka berguling kearah luar dan menyeret pergi tiang besi yang ada ditengah lautan api itu sejauh tiga empat kaki jauhnya dan lolos dari bahaya tersebut.

Ti Then dengan tidak perdulikan perasaan amat sakit yang menyerang kakinya dia dengan sekuat tenaga meloncat ke depan kemudian dengan menyeret Wi Lian In serta tiang besi itu berlari lagi sejauh beberapa kaki.

Tetapi pada saat mereka baru saja lolos dari bahaya ituiah mendadak dari samping kiri kanan mereka berkelebat bayangan manusia kemudian disusul dengan berkelebatnya dua batang golok besar yang memancarkan sinar keperak-perakan, hanya di dalam sekejap saja golok tersebut sudah membabat di pinggiran badan mereka.

Sekali lagi kedua orang berkerudung hitam itu melancarkan serangan kearah Ti Then berdua.

Di dalam keadaan yang amat bingung dan kacau Ti Then tidak sempat mencabut keluar tiang besi yang terselip dipinggangnya untuk digunakan menangkis serangan golok pihak Iawannya, terpaksa dia mengguling ke samping bersamaan pula dia membentak keras dan melancarkan tendangan sapuan kearah kaki musuh.

Dengan tendangan sapuan ini sebetulnya dia tidak mengharapkan bisa mengenai pihak musuhnya, siapa tahu urusan yang berada diluar dugaannya sudah terjadi, orang berkerudang hitam itu ternyata tidak sanggup untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

“Bluuuk . . “ dengan disertai suara teriakan kaget orang berkerudung hitam itu jatuh terlentang di atas tanah.

Pada saat yang bersamaan pula Wi Lian In berhasil menghindarkan diri dari serangan golok orang berkerudung hitam lainnya, di dalam keadaan yang amat cemas tanpa terasa lagi tangannya sudah mencomot segenggam pasir dan disambitnya tepat mengarah wajah pihak musuh. Serangan aneh dengan menggunakan secomot pasir ini kelihatan sekali

berada diluar dugaan orang berkerudung hitam itu karenanya dengan tepat pasir tersebut menghajar wajahnya, mungkin ada beberapa pasir yang masuk ke dalam matanya, terdengar dia berteriak aneh kemudian sambil menutupi wajahnya mengundurkan diri ke belakang dengan tergesa gesa.

Sebaliknya orang berkerudung hitam yang tersapu jatuh oleh serangan Ti Then tadi tidak sempat untuk melarikan dirinya. Ti Then yang melihat dia terjatuh segera menubruk ke atas tubuhnya sedang sepasang tangannya dengan sekuat tenaga mencekik lehernya dan menekan terus ke atas tanah.

Dia betul-betul merasa benci dan gemas atas keganasan pihak lawannya oleh sebab itu sewaktu turun tangan dia sama sekali tidak ragu-ragu. “Kraaak . Suara remuknya tulang-tulang bergema memenuhi sekeliling tempat itu, ternyata tulang leher dari orang berkerudung hitam itu sudah berhasil dicekik remuk olehnya.

Dikarenakan sewaktu turun tangan dia melancarkan serangannya dengan secepat kilat maka sampai suara teriakan ngerinya pun belum sempat diteriakkan dia sudah binasa.

Orang berkerudung hitam yang terkena percikan pasir tadi setelah melihat kawannya binasa saking takutnya seluruh wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi, berulangkali dia mundur ke belakang agaknya dia betul-betul merasa amat takut.

Ti Then menarik kembali tangannya dan bangkit berdiri dengan perlahan, ujarnya dengan amat dingin sambil memandang tajam wajah orang berkerudung hitam itu.

“Kini tinggal kau seorang.”

Sekali lagi orang berkerudung hitam itu mundur beberapa langkah ke belakang, agaknya dia bermaksud melarikan diri dari sana. “Kau tidak akan bisa lari.” Seru Ti Then tertawa dingin. “Kau harus menyerang kami lagi, menyerang sampai kami betul-betul binasa baru boleh pergi, kalau tidak asalkan kami berhasil melarikan diri sini dan menanyakan pada rumah-rumah petani yang ada disekitar tempat ini siapa majikan kalian, aku tidak akan menemui kesukaran untuk mengetahui siapakah otak dari kalian.”

Sepasang mata dari orang berkerudung hitam itu segera berkedip-kedip, mendadak ujarnya.

“Kam pung pertanyan ini adalah lumbung dari Sian Thay-ya, Cuo It Sian, otak pimpinan kita adalah sipembesar kota Cuo It Sian tersebut.”

Selesai berkata sepasang kakinya mendadak menutul permukaan tanah dan lari ke depan, Iaksana segulung asap hitam hanya di dalam sekejap saja dia sudah lari tanpa bekas ditelan kagelapan yang masih mencekam sekeliling tempat itu.

Ti Then seketika itu juga menjadi tertegun.

Perkataan dari orang berkerudung hitam itu membuat hatinya betul-betul tergetar, dia tidak paham apa maksud dari perkataan orang itu, apakah perkataannya itu benar? Apa tujuannya untuk mencelakakan diri si pembesar kota Cuo It Sian ?? Atau memang punya maksud lain ?

Wi Lian In pun dibuat terkejut oleh perkataan tersebut, ketika dilihatnya orang berkerudang hitam itu sudah berlari amat jauh tanpa terasa dia sudah bergumam seorang diri:

“Apa betul perkataannya? Apa betul pemimpin mereka adalah itu pembesar kota Cuo It Sian ?”

Tampak Ti Then menarik napas panjang-panjang.

“Sukar untuk dipastikan.” serunya sambil gelengkan kepalanya berulang kali. “Perkataannya ini boleh dipercaya juga boleh tidak dipercaya. “ “Perkam pungan tani ini apa betul milik si Cuo It Sian atau bukan kita bisa selidiki dengan mudah.”

Ti Then berpikir sejenak, kemudiana baru menyahut.

“ Aku kira tidak salah, perkam pungan tani ini pasti miliknya Cuo It Sian.”

“Bagaimana kau bisa tahu ?” tanya Wi Lian In terperanyat. “Perkataan dari orang itu pastl terselip suatu rencana busuk

Iainnya.kalau memangnya suatu siasat busuk maka tempat yang

dimaksud tentu sungguh-sungguh sehingga membuat kita menjadi percaya, makanya aku rasa ucapannya yang mengatakan perkam pungan tani ini miliknya itu pembesar kota Cuo It Sian sedikit pun tidak salah.”

“Kalau begitu orang yang perintah tangkap dan tawan kita juga betul-betul perbuatan dari Cuo It Sian?”

“Belum tentu” Ti Then gelengkan kepalanya. “Untuk menutupi asal usul yang sebetulnya pihak lawan tanpa ragu-ragu turun tangan melenyapkan kawannya sendiri, kenapa sewaktu mau pergi sudah membocorkan keadaan yang sebenarnya ?”

Tanpa terasa Wi Lian In sudah mengangguk:

“Tidak salah. Tidak salah, dia berkata begita tentu mau menjerumuskan diri Cuo It Sian. “

Sekali lagi Ti Then gelengkan kepalanya.

“Tetapi dia harus tahu juga kalau kita tidak akan percaya omongannya dengan begitu mudah, maka… perkataannya ini kemungkinan juga memang betul, maksud dia berbicara terus terang pasti mengharap dalam hati kita timbul perasaaan tidak percaya memancing kita masuk ke dalam alam kebingungan”

“Sebetulnya kau sedang membicarakan apa?” tanya Wi Lian In melongo. “Maksudku, majikan mereka. Adalah itu pembesar kota Cuo It Sian juga mungkin betul lima bagian karena dia melihat dirinya tidak berhasil mencelakai kita dan

Kita pun bisa bertanya-tanya disekitar tempat ini apalagi sewaktu kita sudah dapat dengar dari penghuni perkam pungan tani ini kalau tempat itu miliknya sipembesar kota Cuo It Sian sudah tentu kita akan mencurigai diri Cuo It Sian, karena dia memberitahu kita terlebih dahulu kalau pemimpin mereka adalah Cuo It Sian agar di dalam pikiran kita timbul perasaan tidak percay, karena dia merasa kita tidak akan percaya atas omongannya”

Saat itu Wi Lian In baru paham tanpa terasa dia mengangguk lagi.

“Tidak salah, jika ditinyau dari sini orang yang menjadi otak dari penangkapan kita kemungkinan sekali perbuatan dari Cuo It Sian. “

“Yah atau bukan, sekarang kita hanya bisa pilih salah satu.”

“Kita boleh pergi Tanya-tanya dulu sekeliling perkam pungan tani ini, tetapi sebelumnya kita harus mencari akal membuka rantai yang mengikat pada badan kita”,

Ti Then tersenyum, sambil menunjuk kearah orang berkerudung hitam yang baru saja dibunuhnya itu ujarnya.

“Jika dugaanku tidak salah, kunci untuk membuka rantai kita ada di dalam badannya”

Wi Lian In segera memperlihatkan perasaan yang amat girang. “Ooooh, bagaimana kau bisa tahu kunci itu berada di dalam

badannya?”

“Tadi sesudah aku bunuh mati orang ini, manusia berkerudung hitam yang lainnya segera mundur ke belakang dengan perasaan amat takut, jika ditinyau dari keadaan kita sekarang ini dengan badan dirantai pada tiang besi yang amat Berat untuk mengejar dirinya pun tidak mungkin bisa berhasil, buat apa harus takut? Karena itu pikiranku segera bergerak, aku pikir…”

“Kunci itu berada dibadannya” sambung Wi Lian In dengan amat girang.

“Betul” seru Ti Then ikut tertawa girang.

Wi Lian In segera meloncat ke samping mayat dari manusia berkerudung hitam itu san mulai memeriksa isi sakunya, mendadak tampak dia berteriak girang kemudian meloncat bangun sambil memperlihatkan dua buah kunci.

“Coba kau lihat” teriaknya keras, “Dugaanmu sedikit pun tidak salah, kunci itu memang ada di dalam sakunya”

Ti Then betul-betul merasa amat girang sekali. “Coba bawa kemari, kita coba” serunya cemas.

Wi Lian In segera menuju ke belakang badannya dan memasukkan salah satu kunci yang ada ditangannya ke dalam lobang kunci rantai tersebut kemudian memutarnya kekanan.

“Klik” rantai sudah terbuka.

Ti Then betul-betul merasa amat girang sekali, cepat-cepat direbutnya kuncinya yang lain dan membukakan rantainya mereka berdua yang bisa bebas kembali dari belenggu tak tertahan sudah pada meloncat kegirangan.

-ooo0dw0ooo-