-->

Pendekar Patung Emas Jilid 14

 
Jilid 14

Baru saja dia berbicara sampai di situ mendadak Anying langit Kong sun Yau berdiri jauh di hadapannya membuka mulut.

"Wi Pocu" ujarnya sembari tertawa "Kita pun lebih baik main- main sebentar".

Sembari berkata mereka suami istri berdua sudah menggeserkan langkah kakinya berjalan menuju kearah Wi Ci To serta Hung Puh Kian Pek.

Kiranya mereka suami istri berdua sudah melihat kalau keempat malaikat iblis mereka lama kelamaan akan tidak sanggup melawan Ti Then lagi, ditambah lagi ketika memandang kearah wajah Wi Ci To serta Huang puh Kian pek secara samar-samar sudah perlihatkan senyuman gembiranya, mereka segera tahu kalau urusan sedikit tidak beres, karenanya mereka berdua tidak ingin bertanding secara satu persatu lagi, sebaliknya menghendaki Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek pun ikut bergebrak secara bersama-sama.

Semua gerak-gerik mereka berdua ini bukan lain adalah pendapat dari si Rase bumi Bun Jin Cui, di dalam anggapannya jika mereka suami istri berdua sudah bergebrak melawan Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek maka kedua belas orang malaikat iblis lainnya pun bisa menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan bersama-sama mengerubuti diri Ti Then.

Dengan gerakan serempak ini sekali pun Ti Then memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi pun akan binasa juga, jikalau Ti Then sudah mati maka mereka delapan belas orang bisa bersama- sama mengerubuti Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek sehingga dengan demikian mereka berdua bisa dibinasakan dengan lebih mudah.

Begitu Wi Ci To dengar si anying langit Kong sun Yau menantang untuk bergebrak, dengan disertai tertawanya yang amat nyaring, sahutnya. "Bagus sekali, seharusnya kita pun tidak boleh menganggur."

Selesai berkata bersama-sama dengan HHuang puh Kian Pek mereka berdua bersama-sama maju ke depan menyambut kedatangan musuh-musuhnya.

Ti Then yang melihat dari pihak Wi Ci To pun sudah siap-siap untuk turun tangan, cepat-cepat dia memperkencang serangannya, dia tidak ingin main petak-petakan dengan keempat orang malaikat iblis itu lagi karenanya dengan mengerahkan ilmu yang sebenarnya dia mulai melancarkan serangan gencar ke arah musuh-musuhnya, terlihat pedang ditangannya secara mendadak berkelebat menyambar tubuh keempat orang itu.

Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa, segera terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang dan menggema diseluruh penjuru.

Pertama-tama si malaikat iblis yang bersenyatakan Trisula menerima bagiannya terlebih dulu, sebuah lengan kanannya sudah putus tersambar pedang dari Ti Then. Belum selesai jeritan ngeri yang pertama berhenti, si malaikat iblis yang menggunakan toya sebagai senyatanya sudah menjerit ngeri, akibat yang diterimanya jauh lebih menyeramkan lagi, sepasang kakinya sudah tertabas putus sedang tubuhnya dengan kalapnya sedang bergulung-gulung di atas tanah sembari menjerit-jerit.

Kedua orang malaikat iblis yang bersenyatakan pedang serta golok begitu melihat kedahsyatan dari Ti Then bahkan hanya di dalam satu gebrakan sudah berhasil melukai kedua orang kawannya tanpa terasa sudah menjerit kaget nyali mereka menjadi pecah dengan tergesa-gesa mereka melarikan diri mundur ke belakang.

Tetapi....baru saja sepasang kaki mereka meninggalkan permukaan tanah terlihatlah serentetan sinar pedang berkelebat ke empat buah kaki mereka sudah terpisah dari badannya masing- masing dan terjatuh ke atas tanah dari tengah udara.

Untuk beberapa saat lamanya itu si malaikat iblis yang bersenyatakan pedang mau pun golok siapa pun tidak merasa kalau sepasang kaki mereka sudah terbabat putus, tubuhnya dengan cepatnya melayang sejauh enam tujuh kaki jauhnya kemudian baru melayang turun ke atas permukaan tanah.

Pada saat itulah mereka baru merasakan kesakitan yang luar biasa, ketika mereka sadar kalau sepasang kakinya sudah putus barulah mulai menjerit-jerit kesakitan.

Si anying langit rase bumi yang melihat anak buah mereka menerima bagian yang begitu mengerikan tanpa terasa air muka mereka sudah berubah menjadi pucat pasi, mereka merasa terkejut bercampur gusar sehingga untuk beberapa waktu lamanya sudah melupakan Wi Ci To serta Huang puh Kian Pek yang sudah berjalan mendekat, agaknya mereka sudah dibuat tertegun oleh pemandangan yang mengerikan itu.

Yang membuat mereka sangat terkejut adalah sewaktu Ti Then melawan keempat orang malaikat iblisnya terang-terangan sudah terdesak di bawah angin bahkan sewattu bertempur semakin payah, bagaimana di dalam sekejap mata saja sudah berhasil memperoleh kemenangan, bahkan kemenangan diperoleh dengan begitu mudahnya??

Perlahan-lahan si anying langit Kong sun Yau menghirup nafas panjang kemudian baru memutar kepalanya memandang ke arah dua belas orang malaikat iblis lainnya yang sedang memandang Ti Then dengan perasaan amat terperanyat.

" Cepat kalian berempat turun membantu mereka menghentikan mengalirnya darah" Teriaknya dengan keras. Dari antara kedua belas orang malaikat iblis itu segera terlihat empat orang berjalan maju ke depan membantu menotokkan jalan darah dari malaikat iblis yang bersenyatakan pedang serta golok itu, salah satu dari antara mereka sesudah memeriksa keadaan luka dari kawanmya segera memberi laporan kepada si anying langit Kong sun Yau.

“Lapor pada Thian Cun, keempat orang ini harus segera ditolong.”

“Kalau begitu cepat bawa mereka ke luar.”

Demikianlah keempat orang malaikat iblis itu dengan seorang menggendong seorang kawannya bagaikan kilat cepatnya berlari keluar dari Benteng.

Ketika Ti Then melihat di dalam kalangan kini hanya tinggal delapan orang malaikat iblis saja di dalam hati diam-diam merasa sangat girang.

“Hey Anying langit Rase bumi.” Teriaknia lantang sembari tertawa nyaring , “Malaikat-malaikat iblismu terlalu goblok seperti gentong nasi semua, lebih baik kalian berdua saja yang maju sendiri.”

Perkataannya baru saja diucapkan selesai mendadak kedelapan orang Malaikat iblis itu dengan disertai suara bentakan yang amat keras bersama-sama menubruk ke depan.

Tetapi bersamaan waktunya pula sesosok bayangan kecil yang amat langsing berkelebat masuk ke dalam kalangan dari arah yang berlawanan menyambut datangnya salah satu malaikat iblis dari kedelapan orang lainnya.

Dia bukan lain adalah Wi Lian In.

Ti Then yang melihat munculnya pujaan hatinya seketika itu juga semangatnya berkobar kembali, dengan disertai suara bentakan yang amat nyaring pedang pusakanya melancarkan serangan dahsyat menggulung ketujuh orang malaikat iblis lainnya. Di dalam sekejap saja suatu pertempuran yang amat sengit berkobar kembali.

Sejak kecil Wi Lian In sudah mendapat didikan yang amat keras di dalam kepandaian silat apalagi di dalam ilmu pedangnya, kini sesudah mengumbar hawa amarahnya temyata menyerupai seekor harimau betina dengan ganasnya mencecer terus pihak musuhnya, hanya di dalam sekejap mata saja dia sudah berhasil memaksa malaikat iblis yang bersenyatakan siangkiam ini terus mundur ke belakang.

Wi Ci To yang melihat putrinya sudah turun tangan dalam hati segera tahu bahwa dia tidak akan dapat dikalahkan oleh seorang malaikat iblis saja karena itu dengan cepat dia cabut keluar pedangnya sendiri kemudian kepada si Anying langit Rase bumi ujarnya sembari rangkap tangannya memberi hormat :

"Silahkan saudara-sandara memberi petunjuk”

Dalam hati si Anying langit Rase bumi diam diam merasa berlega hati karena mereka mem punyai dugaan bahwa ketujuh orang malaikat iblis yang menge pung Ti Then seorang diri tidak akan terkalahkan karena itu dengan mengipas-ngipaskan kipas yang berada ditangannya dia menyawab:

“Tidak usah terlalu sungkan, silahkan Wi Pocu memberi petunjuk”

Dari dalam sakunya si Rase bumi Bun Jin Cu pun mengambil keluar sebuah angkin berwama kuning yang dalam satu kali sentakan sudah berubah bentuk seperti sekuntum bunga.

“Hu Pocu..” ujarya kepada Huang Puh Kian Pek sembari tertawa merdu, kita pun harus main-main sebentar.

Huang Puh Kian Pek hanya sedikit mengangguk saja sesudah mencabut keluar pedangnya dia bergeser ke samping lima langkah kemudian baru ujarnya:

“Silahkan..” Demikianlah mereka berempat segera memperkuat kuda- kudanya masing-masing, bagaikan empat ekor jago yang siap bertempur masing-masing saling melotot kearah pihak musuhnya tanpa berkedip.

Perlahan lahan… langkah kaki masing masing pihak mulai bergerak dan bergeser, dengan lambat tapi mantap berkali kali sitengubah gaya serangan yang berbeda-beda, suasana pertempuran yang amat sengit mencekam keadaan diseluruh kalangan membuat sebuah lapangan latihan silat yang cukup luas itu terasa begitu sumpek dan panas Hal ini membuat setiap pendekar pedang putih mau pun hitam yang berjumlah dua ratusan orang itu merasa amat tegang sekali bahkan terasa sukar untuk bernapas dibuatnya.

Pertempuran ini mem punyai sangkut paut yang amat besar terhadap masa depan, masing-masing pihak mem punyai sangkut paut atas mati hidupnya mereka berempat juga mem punyai sangkut paut atas jaya atau runtuhnya Benteng Pek Kiam Po mau pun istana Thian Teh Kong.

Wi Ci To tidak malu disebut sebagai jagoan pedang yang termashur dalam sepuluh tahun ini, waktu ini walau pun harus menghadapi musuh yang amat tangguh tapi. air mukanya masih tetap tenang-tenang saja, seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada ujung pedangnya sedang tenaga murni sudah mulai disalurkan keluar dari pusarnya, kelihatannya perasaan hatinya sudah dilebur menjadi satu dengan pedang yang berada ditangannya itu.

Air muka si Anying langit Kong Sun Yau pun kelihatannya tenang-tenang saja hanya perbedaannya walau pun pada wajahnya tersungging senyuman tapi dari sinar matanya jelas mengandung napsunya untuk membunuh.

Saat ini Huang Puh Kian Pek beserta si Rase bumi Bun Jin Cu pun sedang memusatkan seluruh perhatiannya kearah pihak musuh, mata mereka berdua saling melotot tidak ada yang mau kalah sedang kakinya bergerak ke samping sedikit demi sedikit, agaknya mereka tidak ada yang mau melancarkan serangan terlebih dahulu, masing-masing menantikan kesempatan yang baik untuk kirim satu serangan dahsyat yang mencabut nyawa pihak musuhnya.

Setiap sedetik waktu berlalu suasana terasa semakin menegang sedangkan suasana pembunuhan pun terasa semakin menebal.

Mendadak .. serentetan sinar pedang yang amat menyilaukan mata dengan disertai desiran angin serangan yang amat tajam berkelebat dan menyambar kearah tubuh si Rase bumi Bun Jin Cu.

Serangan itu bukan lain dilakukan oleh Huang Puh Kian Pek sendiri, tubuhnya dengan cepat meloncat ketengah udara kemudian bagaikan seekor naga yang keluar dari gua dengan cepat menyambar kearah diri si Rase bumi Bun Jin Cu.

Si Rase bumi Bun Jin Cu segera membentak nyaring, tubuhnya yang langsing kecil berputar putar ditengah udara, kaki kirinya dengan kecepatan yang luar biasa disambar ke depan kemudian dengan gaya menubruk meluncur kembali ke bawah,angkin kuning ditangannya dengan disertai sambaran angin yang amat tajam melilit kearah leher Huang Puh Kian Pek.

Angkin yang terbuat dari kain itu semula merupakan barang yang amat lemas tapi sesudah disentakkan olehnya seketika itu juga berubah menyerupai sebuah cambuk panjang sehingga mengeluarkan suara peletakan yang amat nyaring.

Huang Puh Kian Pek yang meiihat serangannya gagal tubuhnya cepat-cepat berguling ditengah udara, setelah berhasil menghindarkan diri dari lilitan angkin kuning itu pedang panjangnya cepat-cepat membabat ke samping mengancam angkin kuning yang sedang menyambar kearahnya itu.

Tapi angkin kuning dari si Rase bumi Bun Jin Cu ini jauh lebih gesit dan lincah daripada sebuah cambuk panjang, terlihat tangan kanannya menekan ke bawah menarik kembali angkin kuningnya dan tepat berhasil menghindari serangan pedang dari Hung Puh Kian Pek itu, bersamaan pula angkinnya dikebaskan ke samping mengancam sepasang kaki dari Huang Puh Kian Pek, serangan ini dilakukan amat cepat dan merupakan suatu jurus serangan yang amat indah.

Dengan cepat Huang Puh Kian Pek bersuit panjang, pedangnya bagaikan kilat cepatnya diputar disekeliling tubuhnya, tubuhnya berguling ke samping kemudian secara tiba tiba melancarkan satu tusukan kearah depan.

Seketika itu juga antara mereka berdus terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit.

Sebaliknya pada saat itu Wi Ci To beserta si Anying langit Kong Sun Yau tetap dengan tenang tapi mantap bergeser sedikit demi sedikit ke samping mengelilingi kalangan, setiap langkah geseran mereka berdua terasa seperti diganduli oleh barang seberat ribuan kati. Keadaannya amat tegang dan menyeramkan.

Lewat lagi beberapa saat lamanya agaknya si Anying langit Kong Sun Yau sudah merasa tidak sabaran lagi mendadak tubuh menubruk ke depan dengan sangat dahsyat sekali, kakinya berdiri melengkung bagaikan busur sedang kipas ditangannya menotok kearah musuh dengan sambaran mendatar.

Tenang bagaikan Perawan bergerak bagaikan tupai meloncat, hanya di dalam sekejap saja dia sadah menyerang ke hadapan Wi Ci To.

Ujung kaki Wi Ci To cepat-cepat menutul permukaan tanah, tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping kiri menghindarkan diri dari serangan kipas tersebut tetapi dia tetap tidak melancarkan serangan balasan.

Si Anying langit Kong Sun Yau tertawa dingin, jurus serangannya mendadak berubah kipasnya ditekan ke bawah sedang tubuhnya berputar menerobos dari sebelah kanan dengan dahsyatnya mengancam jalan darah “Cang Bun Hiat” pada pinggang kiri Wi Ci To.

Kecepatan perubahan jurus serargannya ini dilakukan begitu cepat laksana sambaran petir. Tubuh Wi Ci To sekali lagi bergeser ke samping menghindarkan diri dari serangan musuh, ujung pedangnya sedikit diangkat bagaikan naga yang muncul dari dalam air secara tiba”tiba menusuk kearah leher pihak lawannya.

Tusukan ini dilakukan jauh lebih cepat dari serangan pihak musuh.

“Serangan yang bagus” bentak si Anying langit Kong Sun Yau dengan keras kakinya tetap tidak bergerak hanya tubuhnya mendadak berputar dengan mengunakan kipasnya dia menangkis datangnya tusukan tersebut.

“PlaaaK” Pedang dan kipas terbentur menjadi satu sehingga mengeluarkan suara aduan yang amat nyaring, seketika itu juga mereka berdua masing-masing di paksa mundur dua langkah ke belakang.

Dengan mundurnya ini mereka berdua sama-sama tidak mau melepaskan kesempatan yang bagus ini, tidak menanti kakinya berhasil berdiri tegak mendadak si Anying langit Kong Sun Yau sudah menubruk ke depan kembali, kipasnya di balik secara hebat menotok kearah lambung Wi Ci To. Jurus serangannya amat aneh tetapi indah sekali.

Wi Ci To dengan dingin mendengus dengan tergesa-gesa tubuhnya menyingkir setengah tindak ke samping, pedangnya ditekan ke bawah dengan menggunakan jurus-Hay Teh Ci Sah atau menusuk ikan hiu didasar laut dia balas menggencet kipas pihak musuhnya.

Sianying langit Kong Sun Yau yang melihat serangan pertamanya tidak memperoleh hasil serangan kedua segera menyusul datang, kipasnya diputar setengah lingkaran kemudian dibabat ke depan, terlihatlah serentetan sinar putih berkelebat menyapu wajah Wi Ci To.

Kedua orang itu berusaha menggunakan kesempatan baik yang ada untuk merebut kemenangan tapi sesudah bergebrak sebanyak dua tiga puluh jurus keadaan masih tetap seperti semula, siapa pun tidak ada yang berhasil merebut di atas angin.

Waktu itu Ti Then berhasil memancing pihak lawannya, sengaja dia perlihatkan sedikit tempat kelemahannya membuat seorang malaikat iblis dengan bersenyatakan golok panjang menyerang dari beIakang tubuhnya, pada saat yang bersamaan pula dia putar tubuhnya sedang pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa menyambar dan menghajar pihak musuhnya.

“Aduh..”

Dengan disertai suara teriakan yang amat keras dan mengerikan simalaikat iblis bersenyatakan golok panjang itu rubuh ke atas tanah dan binasa seketika itu juga.

Tempat yang menyebabkan kematiannya tidak bukan tepat di atas alisnya, Ti Then yang membunuh seorang musuhnya segera membentak keras lagi, jurus pedangnya berubah dengan dikelilingi oleh sinar pedang kebiru-biruan pedangnya menyapu dua orang malaikat iblis yang berada di sebelah kanannya.

Belum sempat kedua orang, malaikat iblis itu melihat bagaimana datangnya serangan itu kedua buah batok kepalanya sudah melayang meninggalkan lehernya, dengan disertai semburan darah segar yang amat deras kedua benda itu bergelinding di atas tanah.

Dengan demikian malaikat iblis yang menge pung diri Ti Then kini hanya tinggal empat orang saja.

Ketika mereka melihat kawannya satu per satu berhasil dibunuh pihak musuh tanpa terasa pikirannya menjadi kacau juga, ternyata mereka tidak berani menge pung kembali, masing-masing berusaha untuk mundur ke belakang mengundurkan diri dari ancaman maut.

Si Rase bumi Bun Jin Cu yang melihat Ti Then berhasil mambunuh mati tiga orang anak buahnya kembali mendadak dia meloncat keluar dari kalangan.

“Semua berhenti, dengar perkataanku dulu” teriaknya dengan keras. Mendengar suara teriakan itu si Anying Langit Kong Sun Yau segera menghentikan serangannya dan meloncat mundur ke belakang, sedang si malaikat iblis bersenyatakan siang kiam yang sedang bertempur dengan serunya melawan Wi Lian In saat ini juga sudah meloncat mundur.

Hanya di dalam sekejap mata pertempuran yang amat seru sudah berhenti semua.

“Kong Sun Hujin ada perkataan apa? “ Tanya Wi Ci To sembari tersenyum.

Dari wajah si Rase bumi Bun Jin Cu pun kelihatan mulai tersungging senyuman, kepada Wi Ci To sembari tertawa ujarya:

“Wi Pocu, bilamana ini hari kami suami istri mengakui kekalahan kepada kalian, apa kamu mengijinkan kami keluar dari sini ?”

“Ha ha ha .selamanya Lohu belum pernah melakukan pembersihan sampai seakar-akarnya, tetapi maksud tujuan saudara sekalian belum tercapai bagaimana mau pergi begitu saja ?”

Si Rase bumi Bun Jin Cu segera mencibirkan bibimya, dengan lagak manya ujarnya.

"Kita tidak kuat melawan kalian kalau tidak pergi dan tetap tinggal di sini mau berbuat apa lagi?”

“Hmmm…” dengus Ti Then secara mendadak. “Kalian sudah tidak maui itu kitab pusaka le Cin Keng ?”

Si Rase bumi Bun Jin Cu segera menghela napas panjang. “Kau terlalu lihay, sudahlah.” ujarnya dengan perlahan.

"Jika kalian timbul niat kembali untuk minta kitab itu kalian boleh pergi cari aku secara pribadi” ujar Ti Then lagi sembari tertawa dingin. “Tapi aku larang kalian mengacau orang-orang Benteng Pek Kiam Po karena beberapa hari lagi aku sudah bukan orang Benteng Pek Kiam Po lagi.” “Kami bisa cari kau lagi” seru Si Rase bumi Bun Jin Cu, “Ini hari kau sudah bunuh sembilan orang kami, hutang ini bagaimana pun harus akutagih. Gunung nan hijau tetap berdiri selamanya, air tenang mengalir sepanjang masa kita bertemu kembali lain waktu.”

Berbicara sampai di sini kepada si Anying langit Kong Sun Yau tanyanya.

“Hey lelaki bangsat, bagaimana?”

Si Anying langit Kong Sun Yau segera mengangguk, kepada kelima orang Malaikat iblis yang masih hidup ujarnya.

“Angkat mayat-mayat itu, ayoh kita pergi”

Kelima orang malaikat ibis itu segera menyahut, cepat-cepat mereka menggotong mayat yang membujur di atas tanah beserta kedua buah batok kepalanya, dengan mengikuti Si Anying langit Rase bumi mereka cepat-cepat berlalu dari sana.

Di atas permukaan tanah kini hanya tertinggal titik-titik darah segar yang tetap membasahi dan mengotori tempat itu.

Sesudah melihat rombongan si Anying langit Rase bumi lenyap di balik pintu Benteng barulah terdengar Wi Ci To menghela napas panjang.

“Heei. tidak kusangka bisa berakhir begitu”

“Suheng kau seharusnya jangan melepaskan mereka pergi” ujar Huang Puh Kian Pek yang berdiri disisinya, “Selamanya si Anying langit Rase bumi belum pernah menderita kerugian sedemikian besarnya, ini hari kita melepaskan harimau pulang gunung tidak sampai satu bulan kemudian mereka pasti akan datang kembali, sewaktu lain kali mereka datang kembali tentu bukan dua puluh orang saja yang dibawa bahkan mungkin bisa sampai dua ratus orang atau dua ribu orang banyaknya.”

“Soal ini kau tidak perlu kuatir” hibur Wi Ci To dengan suara perlahan. “Nanti biarlah aku kirim perintah seratus pedang kembali untuk panggil semua pendekar pedang merah pulang.”

Berbicara sampai di sini barulah dia menoleh kearah Ti Then, “Ti Kiauw-tauw bagaimana kalau kita berbicara di dalam saja ?” ujarnya.

Ti Then melirik sekejap kearah Wi Lian In yang berdiri menyauhi dirinya itu ketika melihat wajahnya sangat adem ujarnya kemudian.

“Jika Pocu ada perkataan silahkan dibicarakan di sini saja”

Air muka Wi Ci To berubah menjadi amat keren, sesudah termenung berpikir beberapa saat lamanya barulah ujarya.

“Tadi karena keadaan yang sangat mendesak Lohu sudah berbicara sedikit kurang sopan tentunya Ti Kiauw-tauw tidak menganggap sungguhan bukan ?”

“Itu adalah urusan yang nyata seharusnya Pocu berbicara begitu” sambung Ti Then dengan cepat.

“Tetapi maksud Lohu yang sebenarnya…”

“Boanpwe paham” potong Ti Then dengan cepat. “Pocu serta Hu Pocu mau membuang waktu memberi bantuan boanpwe merasa sangat berterima kasih sekali. budi kebaikan ini pada kemudian hari tentu boanpwe balas”

Wi Ci To tertawa pahit,

“Ti Kiauw-tauw sudah salah artikan perkataan Lohu” ujarnya dengan serius, “Bilamana bukannya Ti Kiauw tauw beri bantuan pada ini hari tentu Benteng kami sudah mengalami malapetaka yang amat hebat, karena itu seharusnya lohu yang megucapkan terima kasih kepadamu”

“Tidak, urusan ini ditimbulkan karena boanpwe pribadi”

“Jika bukannya Ti Kiauw tauw keluar Benteng untuk menolong putriku tidak mungkin bisa timbul peristiwa ini” Ti Then tidak mau tarik panjang persoalan ini lagi, ujarya kemudian:

“Pocu masih ada perkataan apa lagi yang hendak disampaikan, jika tidak ada boanpwe mau mohon diri terlebih dulu”

Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi salam perpisahan.

“Tunggu sebentar” ujar Wi Ci To dengan cemas ketika dilihatnya Ti Then mau pergi, “Lohu ada urusan yang hendak minta petunjuk darimu”

Sambil menggendong tangannya dia berjalan bolak balik ditempat itu, kemudian dengan menghela napas panjang ujarnya.

“Hingga sekarang Lohu masih tidak paham . . sejak Ti Kiauw- tauw masuk ke dalam Benteng kami segala perbuatan dan tindak tandukmu sama sekali tidak mem punyai maksud jahat, tapi... dapatkah Ti Kiauw tauw menjelaskan kepada Lohu secara terus terang kenapa kau pergi menyamar sebagai Lu Kongcu?”

“Tentang urusan ini maaf boanpwe tidak bisa memberitahu” Potong Ti Then dengan cepat.

Kening yang dikerutkan semakin mengencang kembali, dengan mata yang amat tajam Wi Ci To memandang terpesona kearahnya.

“Kalau begitu jawablah perkataan lohu ini .. “ ujarnya kemudian. “Kau mengaku tidak kalau Lu Kongcu itu adalah hasil

penyamaranmu?” “Mengakui”

“Apa tujuanmu?" desak Wi Ci To lagi.

“Tetap seperti perkataan tadi, maaf tidak bisa kukatakan.”

Wajah Wi Ci To kelihatan berkerut-kerut agaknya di dalam hati dia merasa amat gusar sekali, hanya saja tidak sampai diumbar keluar, sekali lagi dia berjalan bolak balik disekeliling tempat itu. “Dua hari lagi boanpwe akan memgembalikan ketiga ratus uang perak itu kepada Pocu” ujar Ti Then lagi. “Selain itu boanpwe akan menginap dirumah penginapan Hok An di dalam kota hingga menanti hwesio-hwesio dari Siauw lim pay datang dan

membereskan kesalah pahaman ini, dalam hal ini jika Pocu mau minta petunjuk,-silahkan kirim orang ke rumah penginapan Hok An untuk panggil boanpwe”

Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi hormat lalu kepada Huang Puh Kian Pek serta Wi Lian In, setelah itu cepat- cepat dia putar tubuh berjalan keluar meninggalkan Benteng.

Saking jengkelnya seluruh tubuh Wi Ci To gemetar dengan amat kerasnya, sambil mengibaskan ujung bajunya dengan langkah lebar dia berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ki Hong itu pendekar pedang hitam ketika melihat Ti Then mau pergi dengan cepat berlari sambil menuntun kuda Ang Shan Khek itu.

“Ti Kiauw tauw, ini tungganganmu” ujarnya.

Ti Then tidak banyak bicara, segera dia meloncat naik ke atas tunggangannya kemudian melarikan kudanya menuju kekota Go bi dengan cepatnya.

Sesampainya di rumah penginapan Hok An siang hari sudah lewat, sesudah makan kenyang segera dia meninggalkan rumah penginapan kembali untuk mencari tahu berita tentang rombongan si Anying langit Rase bumi itu.

Dia bisa melakukan hal ini disebabkan karena jejak orang-orang si Anying langit Rase bumi itu sangat mencurigakan sekali, setelah mereka kehilangan sembilan orang malaikat iblisnya pastilah tidak akan berdiam begitu saja, bahkan sewaktu dia melihat si Rase bumi Bun Jin Cu mengaku kalah padanya mukanya memperlihatkan suatu rencana yang tersembunyi, kemungkinan sekali mereka sudah merencanakan suatu penyerbuan secara diam-diam ke dalam Benteng Pek Kiam Po sehingga bisa menutupi kembali perasaan malu atas kekalahannya pada siang hari, oleh sebab itulah dia mau mengetahui jejak mereka untuk kemudian mengawasi segala gerak geriknya secara teliti.

Tetapi walau pun dia sudah berlari dan mencarinya diseluruh penjuru kota tetap tidak tampak jejak mereka, bahkan tak seorang pun yang melihat orang-orang dengan dandanan semacam itu memasuki kota.

Karenanya terpaksa dia pulang kerumah penginapan untuk beristirahat.

Tidak lama malam hari pun menjelang.

Semakin berpikir dia merasa semakin tidak tenang, akhimya cepat-cepat dia turun dari pemharingan dan keluar kamar, kepada seorang pelayan ujarnya.

“Hey Pelajan, aku mau keluar kota untuk menyambangi seorang kawanku ini malam tidak akan tidur di sini harap kau menyagakan kamarku ini, pada kemudian hari tentu aku beri upah kepadamu”

“Baik, balk..” sahut pelayan ini dengan gembira. “Sekarang juga hamba sediakan kuda buatmu” Selesai berkata dia putar tubuh dan berlalu dari ssna. Dengan gugup Ti Then segera berteriak.

“Tidak usah, tidak usah ...aku tidak naik kuda.” “Kongcu mau heluar kota bagaimana tidak naik kuda?”

“Temanku itu berdiam tidak jauh dari kota, lebih baik aku berjalan kaki saja.”

Sekeluarnya dari rumah penginapan dengan cepat dia berjalan keluar dari pintu kota sebelah Barat, dilihatnya disekitar tempat itu sudah tidak ada orang barulah dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya berlari menuju ke atas gunung Go-bi. Tidak sampai setengah jam kemudian sampailah dia ditengab gunung Go-hie di atas tebing Sian Ciang tepat di belakang Benteng Pek Kiam Po.

Dengan diam-diam dia mengitari sekeliling tebing Sian Ciang itu untuk periksa satu kali, ketika dilihatnya para pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Po hanya berjaga-jaga di bawah tebing saja hatinya segera merasa tidak tenang, pikirnya.

“Mungkin Wi Lian In tidak menyampaikan usulku itu kepada Wi Ci To, Tebing Sian Ciang ini merupakan tempat yang paling baik bagi musuh untuk menyerang Benteng Pek Kiam Po, bagaimana dia tidak kirim orang untuk menyaga?”

Jika dilihat pada tengah malam Tebing Sian Ciang ini rnirip sekali dengan sebuah tangan raksasa yang sedang merangkul sungai perak dan sedang memetik bintang serta rembulan bentuknya amat megah dan angker sekali,

Dia memilih tempat-tempat yang baik mudah untuk digunakan mendaki diantara dinding tebing yang amat curam bagaikan seekor kera dengan merambat dan memanyat terus ke atas.

Tidak selang lama dia sudah berhasil mencapai puncak tebing, perlahan-lahan dia mulai duduk di samping tebing yang berhadapan dengan Benteng Pek Kiam Po. Ketika melihat ratusan lampu yang sedang menyinari seluruh Benteng tanpa terasa hatinya merasa kecewa, teringat olehnya sewaktu kemaren hari dia duduk berdampingan dengan Wi Lian En, waktu itu merasa mesranya Wi Lian In bersandar pada tubuhnya berkata dengan merdunia, Jika kau tidak bisa dipercaya maka di dalam dunia ini tidak ada orang yang bisa dipercaya lagi, tapi sewaktu dirinya seIesai beli obat di dalam kota Ku le serta Liauw Su Cen dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan sudah datang, hal ini tentu sangat melukat hati Wi Lian In. Heeei, omong pulang pergi semuanya ini adalah karena ketololan sendiri, jika waktu itu dia tidak mau belajar kepandaian silat dari majikan patung emas tentu tidak akan sampai terjadi peristiwa semacam ini, dosa yang dibuat dirinya sungguh amat berat.

“Braaak„ mendadak suara runtuhnya pasir serta batu-batuan berkumandang datang dari tebing di sebelah belakangnya.

Ti Then merasakan hatinya tergetar, cepat-cepat tubuhnya melayang dan bersembunyi di balik sebuah tempat yang tidak terlihat oleh manusia, dia berdiam diri tak berani bergerak, dengan tajamnya memperhatikan semua gerak gerik di sebelah sana.

Ada orang datang.

Sedikit pun tidak salah baru saja dia menyembunyikan diri terdengarlah suara seseorang sedang berkata.

“He .. he .tebing Sian Ciang ini, sungguh sukar didaki “ Segera terdengar suara jawaban dari orang lainnya

-Jika mudah untuk didaki bagaimana Wi Ci To berani berlaku begitu gegabahnya sehingga tidak kirim orang untuk berjaga?”

Kemudian terdengar suara dari si Rase bumi Bun Jin Cu sedang berkata,

“Kalau jalan sedikit hati hati, jangan sampai ada batu yang tertendang jatuh ke bawah tebing,”

“Benteng Pek Kiam Po berada ditepian tebing sebelah sana, ayo kita lihat-lihat sebelah sana" suara Si Anying langit Kong Sun Yau menyambung perkataan dari istrinya.

Bersamaan berhentinya suara pembicaraan muncullah bayangan manusia satu persatu sebanyak sepuluh orang , . mereka bukan lain adalah Si Anying langit Rase bumi beserta kedelapan orang malaikatnya,

Pada punggung masing-masing pada membawa anak panah serta busurnya sedang ditangan membawa gentong-gentong berisikan minyak tanah yang mudah terbakar dengan tenangnya mereka melanjutkan perjalanan menuju kepingiran sebelah Benteng Pek Kiam Po.

Ternyata dugaan Ti Then sedikit pun tidak meleset, Si Anying langit Rase bumi benar-benar hendak menyerang Benteng seratus pedang dengan jalan membongkong secara diam.

Ti Then tahu bahwa bokongan mereka ini jika sampai berhasil maka dari pihak

Benteng Pek Kiam Po menderita kerugian yang amat besar, karenanya dia tidak berani berlaku ayal lagi, dari samping badannya dia mengambil sebuah batu

kerikil yang tidak begitu besar kemudian secara diam-diam disambitkan kearah Benteng Pek Kiam Po.

Dia sangat mengharapkan sambitan batunya ini berhasil mengenai atap rumah di dalam Benteng itu, sehingga mengejutkan semua orang yang berada di dalam Benteng agar mereka semua tahu kalan di atas tebing Sian Ciang sudah kedatangan musuh.

Pada saat dia sedang menyambitkan batu kearaha Benteng itulah rombongan

Si Anying langit Rase bumi itu sudah tiba di pinggiran tebing yang mengarah Benteng Pek Kiam Po. Terdengar Si Rase bumi Bun Jin Cu berkata sembari tertawa ringan.

“Hey lelaki bangsat, bagus bukan akalku ini?”

“Hey ....jika kau bisa dapatkan akal itu sejak semula dari pihak kita tak akan kehilangan sembilan orang” Seru si Anying langit Kong Sun Yau sembari menghela, napas panjang.

“Semula aku mana tahu kalau bangsat cilik She Ti itu memiliki kepandaian silat begitu mengerikan, aku mengira dengan menggunakan kesempatan sewaktu pendekar pedang merah mereka tidak berada di dalam Benteng dengan kekuatan kita dua puluh orang, sudah cukup, siapa tahu…” “Hei.. tidak usah banyak omong kosong lagi, ayoh kita cepat- cepat turun tangan”

Demikianlah mereka bersepuluh segera melepaskan anak panah serta busur dari tubuhnya untuk mulai mengangkat batu-batu besar.

Yang mereka ambil kebanyakan merupakan batu-batu cadas yang amat besar bahkan setiap batu itu mem punyai berat tiga sampai lima ratus kati ke atas, dengan batu yang begitu besar ditambah dengan daya lemparan dari atas tebing setinggi ratusan kaki, jangan dikata manusia sekali pun banguna Benteng yang kokoh juga akan hancur oleh serangan ini.

Salah seorang malaikat iblis yang sedang mengambil batu-batu cadas tiba-tiba bertanya.

“Baiknya dilempari batu dulu atau dengan panah berapi?”

“Kita lempari batu dulu” jawah si Rase bumi Bun Jin Cu singkat. “Betul” Teriak Si Anying langit Kong Sun Yau membenarkan usul

isterinya itu.

“Jika kita menggunakan panah api terlebih dulu sebelum sampai di dalam Benteng pasti sudah diketahui.”

“Hanya tidak tahu Wi Ci To tidur di sebelah mana, jika tahu cukup mengarah kamarnya kita lempari sebuah batu cadas pasti dia akan kegencet menjadi jadah, seru salah seorang malaikat iblis.

“Masih ada sibangsat cilik she Ti itu, di dalam Benteng Pek Kiam Po hanya dua orang ini saja yang paling menakutkan, jika salah satu diantara mereka terkena hingga yang lainnya tidak perlu kita takut lagi”

Si rase bumi Bun Jin Cu mengangguk membenarkan perkataannya itu.

“Agaknya antara bangsat cilik itu dengan Wi Ci To sudah terjadi suatu urusan yang tidak menyenangkan, kau dapat meiihat tidak?” tanyanya. “Tidak salah” jawab Si Anying langit Kong Sun Yau. “Agaknya bangsat cilik itu mau meletakkan jabatannya sebagai Kiauw tauw sedang Wi Ci To tidak setuju, ternyata dia meminta bangsat cilik itu pada saat itu juga mengembalikan uang tiga ratus tahilnya baru memperbolehkan dia pergi. Ha ha ha orang bilang Wi Ci To jauh lebih menghargai sikap manusia dari pada harta kekayaan, kelihatannya tidak begitu . .”

Pada saat mereka sedang berbicara itulah dua buah batu cadas yang amat besar sudah disiapkan.

Ti Then segera merasa bahwa dia tidak seharusnya berdiam diri terus melihat mereka melanjutkan pekerjaannya untuk mengumpulkan batu-batu cadas yang besar, diam-diam diambilnya beberapa butir batu kerikil kemudian membentuk keras dia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya sedang kerikil ditangannya dengan tenaga besar disambit kearah musuhnya.

Si Anying langit rase bumi sekalian sama sekali tidak pernah menduga kalau di atas tebing masih ada orang lain, karenanya begitu Ti Then membentak keras bagaikan sambaran geledek disiang hari bolong seketika itu juga membuat mereka saking terkejutnya sudah meloncat ke atas. Dikarenakan loncatannya inilah ketiga orang malaikat iblis yang berdiri di belakangnya tepat menerima hajaran dari sambitan batu Ti Then itu yang mengenai lambung mereka, seketika itu juga darah berceceran sedang tubuh mereka bertiga bergulung-gulung ditatas sambil menjerit-jerit kesakitan.

Sambitan batu dapat mencelakai hingga dalam tubuh sebetulnya merupakan kejadian yang tidak masuk akal, tetapi hal yang sebenarnya sedikit pun tidak ada anehnya karena dengan tenaga dalam yang berhasil di !atih Ti Then hingga saat ini sudah boleh dikata mencapai pada taraf menyambit dengan daun melukai tubuh orang, apalagi kini yang dibuat sambitan adalah batu kerikil yang tajam sudah tentu tanpa bisa ditahan lagi sudah menembus lambung mereka bertiga. Si Anying langit Rase bumi yang melihat munculnya Ti Then secara tiba-tiba itu sudah berhasil melukai ketiga orang anak buahnya tanpa terasa air muka mereka sudah berubah amat hebat, sembari berteriak aneh mereka bersama sama menubruk ke depan mengancam tubuh Ti Then.

Sejak semula Ti Then sudah bikin persiapan untuk menghadapi pertempuran yang amat sengit ini, karenanya setelah dia menyambit batu-batu itu cepat cepat pedangnya dicabut keluar dan dilintangkan di depan dadanya.

Ketika dilihatnya Si Anying langit rase bumi bersama sama menubruk kearahnya dengan cepat bukannya mundur malah sebaliknya memapaki datangnya serangan mereka berdua, tubuhnya maju dua langkah ke depan sedang pedangnya dengan amat dahysat dibabat kearah mereka.

Serentetan sinar kemerah-merahan yang amat menyilaukan berkelebat memenuhi seluruh angkasa, ujung pedangnya dengan tajam menusuk ketubuh Si Anying langit kemudian melanjutkan serangannya kearah Si Rase bumi yang berada disisinya, di dalam satu jurus mem punyai dua gerakan serangan yang berbeda sungguh hebat sekali.

Si Anying langit bukanlah manusia bodoh, sewaktu tubuhnya menubruk ke depan senyata kipasnya sudah dipersiapkan terlebih dulu.

Tubuhnya bergerak miring sedikit ke samping dengan menggunakan jurus “Sun Hong Si Cwan” atau mengikuti angin melajukan perahu dia memunahkan tusukan pedang yang datang dari Ti Then ini kemudian sewaktu sepasang ujung kakinya mencapai tanah senyata kipasnya sekali lagi dengan menggunakan jurus “Giok Li Cuan Suo atau gadis cantik memakai baju mengancam jalan darah Thai yang Hiat sebelah kiri dari Ti Then.

Si Rase bumi yang berada ditengah udara pun menggerakkan angkin kuningnya. “Sreet..” Laksana seekor ular emas dengan gesitnya menyambar dan menggulung ujung pedang Ti Then.

Cepat-cepat Ti Then membungkukkan badannya sambil mengibaskan pedangnya ke samping, tubuhnya sekali lagi berputar ke samping pedangnya bagaikan segulung sinar api yang amat dahsyat balas menggulung kearah musuh-musuhnya.

Bersamaan waktunya Si Anying langit rase bumi meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan itu, kipas beserta angkin kuning itu sekali lagi menyerang secara berbareng membabat kearah batok kepala serta melilit pinggang Ti Then.

Mereka bertiga masing-masing dengan mengerahkan ilmu silat andalan masing-masing berusaha untuk berebut melancarkan serangan, seketika itu juga terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit sekali.

Sembari melancarkan serangan-serangan yang dahsyat Si Rase bumi Bun Jin Cu tak henti-hentinya melirik keseluruh penjuru, ketika dilihatnia dari dalam Benteng Pek Kiam Po tidak tampak bayangan manusia pun yang muncul hatinya baru merasa agak lega.

" Hey bangsat cilik” teriaknya sembari tertawa.”Ini malam kau pasti binasa,”

“Ha ha ha ha ha…” Suara tertawa dari Ti Then semakin lama semakin bertambah nyaring, “Yang binasa pada malam ini haruslah menunggu sebentar lagi baru bisa dipastikan.”

Si Rase bumi Bun Jin Cu sudah merasa pasti kalau mereka suami istri berdua pasti bisa membereskan dirinya, hanya dia, kuatir terhadap manusia-manusia dari Benteng Pek Kiam Po, karena itu dengan nada memancing, ujarnya.

“He..hee ... menurut pengetahuanku, orang-orang dari benteng Pek Kiam Po sudah pada tidur semua.?”

“Tidak salah, tidak salah. Orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po sudah pada tidur semua, hanya kalian orang-orang dari istana Thian Teh Kong saja yang belum tidur,” Ketika si Rase bumi Bun Jin Cu mendengar dia tidak mau mengaku secara terus terang hatinya malah dibuat menjadi tidak tenang, ketika dilihatnya kelima orang malaikat iblis lainnya sedang berdiri dengan termangu-mangu tanpa terasa sudah membentak keras.

“Kalian berlima hanya berdiri termangu-mangu di sana mau tunggu apa lagi? Cepat dorong batu-batu itu ke bawah kemudian melepaskan panah-panah berapi ”

Sesudah mendengar perintah itu dari antara kelima orang malaikat iblis itu segera terlihatlah dua orang sudah mengangkat dua buah batu besar kemudian dilemparkan kearah bawah.

Sedang sisanya tiga orang menumpahkan minyak dan digosokkan pada ujung anak panah, sesudah disudut dengan api panah-panah itu mulai dipanahkan kearah Benteng. “Sret . . sret : , “Sebuah demi sebuah anak-anak panah berapi itu bagaikan sambaran kiiat cepatnya meluncur ke bawah bersarang di atas atap- atap Benteng Pek Kiam Po.

Dua buah batu cadas yang didorong ke bawah agaknya sudah mencapai sasaran pada atas atap rumah, dari kejauhan hanya terdengar suara benturan yang amat keras bergema memenuhi seluruh tempat.

Ti Then yang dike pung rapat-rapat oleh si Anying langit rase bumi tidak sanggup untuk menahan gerak gerik mereka, terpaksa dengan sekuat tenaga dia melancarkan serangan-serangan dahsyat mencecer diri Anying langit rase bumi berdua, tapi bagaimana pun juga Si Anying langit Rase bumi merupakan jago-jago berkepandaian tinggi dari Bu-lim yang sudah amat terkenal apalagi kini mereka suami isteri turun tangan bersama sama, baik di dalam menyerang mau pun dalam bertahan mereka bisa bekerja sama begitu rapatnya membuat Ti Then yang sudah menyerang dua tiga puluh jurus dengan gencar masih tetap tidak berhasil menduduki di atas angin. Ketika dilihatnya kelima orang malaikat iblis itu dengan tak henti- hentinya memanahkan panah-panah berapi kearah genteng dia menjadi cemas, mendadak pedangnya dengan disertai sambaran angin yang amat tajam menyapu sepasang kaki Si Anying langit, bersamaan pula tangan kirinya diayunkan ke depan dengan gaya hendak menyambitkan senyata-senyata rahasia. Bentaknya.

“Lihat serangan”

Dengan meminyam kagempatan sewaktu si Anying langit merangkap kipasnya untuk melindungi dada dan si rase bumi dibuat tertegun cepat-cepat dia. meloncat keluar dari ke pungan kemudian bagaikan sambaran angin cepatnya menubruk kearah kelima orang malaikat iblis itu.

“Hati-hati!” teriak Si Anying langit Kong Sun Yau dengan perasaan amat cemas.

Pada waktu itu kelima orang malaikat iblis itu sedang berdiri menghadap kearah luar tebing sedang seluruh perhatiannya pun sedang dipusatkan pada panah-panah berapi itu, begitu rnendengar suara bentakan itu dengan gugup mereka putar tubuh sembari mengangkat busur masing-masing untuk menangkis datangnya serangan, kemudian dengan berbareng mereka melancarkan serangan dahsyat kearah Ti Then.

Pedang ditangan Ti Then dengan disertai angin sambaran yang amat tajam menyapu kearah mereka.” ...triing- …triing.. triing “ Suara yang amat nyaring bergema ditengah malam itu, tiga buah busur diantara kelima orang itu sudah berhasil dibabat putus oleh pedangnya itu.

Pada saat yang bersamaan itu pula mendadak dia merasakan kaki kanannya seperti dililiti oleh ular kemudian disusul dengan segulung tenaga yang amat besar menarik seluruh tubuhnya ke belakang.

Kiranya angkin kuning dari Si Rase bumi Bun Jin Cu secara diam- diam sudah berhasil meliliti kakinya kemudian dengan seluruh tenaga menarik tubuhnya ke atas membuat tubuh Ti Then dengan menimbulkan suara yang amat keras rubuh terjengkang di atas tanah.

Jatuhnya kali ini adalah kepalanya terlebih dulu mengenai tanah membuat otaknya terasa amat sakit dan pening, pandangannya menjadi kabur dan berkunang-kunang hampir-hampir membuat dirinya jatuh tidak sadarkan diri.

Walau pun dia tidak sampai jatuh pingsan tapi keadaannya semakin jelek lagi, Si Anying langit Kong Sun Yau yang berdiri di samping ketika melihat dia terjatuh ke atas tanah senyata kipasnya cepat-cepat ditutul ke depan mengancam jalan darah Ling Thay Hiat pada punggungnya.

Di dalam keadaan yang amat kritis ini Ti Then sama sekali tidak melihat adanya serangan kipas dari Si Anying langit Kong Sun Yau bahkan kepalanya yang pening dan pandangannya yang kabur membuat pendengarannya menjadi hilang dayanya. Tapi dia dapat menduga Si Anying langit Kong Sun Yau pasti menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk melancarkan satu serangan yang mematikan kearahnya, karena itu begitu tubuhnya terjatuh ke atas tanah cepat-cepat dia berguling kearah samping bersamaan pula dengan membabi buta dia melancarkan satu serangan dahsyat.

Disaat-saat yang amat bahaya itulah dia berhasil meloloskan diri dari serangan si anying langit Kong Sun Yau yang mematikan itu….serangan senyata kipas dari Si Anying langit pun mengenai tempat yang kosong.

Tetapi Ti Then belum sama sekali lolos dari mara bahaya, angkin kuning dari si Rase Bumi Bun Jin Cu dengan eratnya masih mengait pada kaki sebelah kanannya.

Kiranya angkin kuning dari si Rase bumi Bun Jin Cu ini sangat jahat sekali, pada sebuah bagian dari angkin itu dipasang beribu”ribu kail-kail kecil yang amat tajam sekali, bentuknya mirip dengan mata kail untuk memancing ikan tapi semuanya terbuat dari emas. Begitu mengenai tubuh musuh maka semua kail-kail emas itu akan menusuk masuk ke dalam tubuh sehingga sukar sekali meloloskan dirinya.

Kini kaki kanan dari Ti Then pun sudah terkena pancingan=pancingan emas itu sehingga sukar buat dirinya untuk bergerak walau pun tidak terasa sakit olehnya di dalam pertempuran ini tapi untuk meloloskan diri janganlah harap.

Dia tahu bilamana dirinya mau meloloskan diri dari angkin itu satu-satunya jaIan hanya membabat putus angkin tersebut. Tapi baru saja dia bermaksud membabat angkin tersebut Si Rase bumi dengan gesitnya sudah menyentak tubuhnya meninggalkan permukaan tanah, bagaikan seutas Iayang-layang tubuh Ti Then dengan kerasnya ditarik berlari keempat penjuru.

Sedang itu Si Anying langit Kong Sun Yau bagaikan bayangan saja dengan eratnya mengikuti terus disisi tubuhnya, senyata kipas yang berada ditangannya dengan tak henti-hentinya melancarkan serangan gencar mengancam seluruh tempat bahaya dari Ti Then.

Dengan perkataan lain : Ti Then yang sudah dipermainkan dan diombang ambingkan Si Rase bumi Bun Jin Cu dia pun harus melancarkan serangan dan mangobat abitkan pedangnya untuk memusnahkan semua serangan-serangan dahsyat serta serangan maut yang mengancam seluruh tempat penting pada tubuhnya, keadaannya pada saat ini betul-betul amat bahaya sekali.

Situasi dan keadaan yang seperti ini di dalam jarang sekali terjadi karena itu sampai kelima orang malaikat iblis itu pun dibuat terpesona oleh keadaan semacam ini.

Sembari menarik tubuh Ti Then dan berlari-lari tak henti-hentinya Si Rase bumi Bun Jin Cu sempat berkata sembari tertawa merdu.

“Hey lelaki bangsat. Kenapa tidak cepat-cepat turun tangan. “ “Ha ha ha ... .sudah hampir..sudah hampir” teriak Si Anying

langit Kong Sun Yau sembari tak henti-hentinya melancarkan serangan mautnya.”Aku tidak percaya bangsat cilik ini bertahan lebih lama Iagi . . .” Baru saja perkataannya selesai diucapkan mendadak…. suatu parubahan timbul secara mendadak.

Serentetan sinar terang yang amat tajam dan menyilaukan mata dengan menerjang angin berkelebat datang. “Plaaak-, angkin kuning menjadi dua bagian.

Apakah terputus oleh babatan pedang Ti Then?”

Yang memutuskan angkin kuning itu hanyalah sebilah pisau terbang yang amat tipis.

Kemunculan pisau terbang itu sangat mendadak sekaii, Si Rase bumi Bun Jin Cu yang sedang menarik dengan sekuat tenaga seketika itu juga menjadi terhuyung-huyung kehilangan keseimbangannya, hampir-hampir dia terjatuh ke dalam jurang.

Tetapi kejadian yang muncul diluar dugaan ini memberi suatu akibat yang jauh lebih parah, jauh lebih mengerikan lagi bagi Si Anying langit Kong Sun Yau.

24

Semula dia memangnya sedang melancarkan serangan gencar mengancam diri Ti Then, tetapi begitu angkin kuning itu terputus maka tubuh Ti Then pun menjadi berhenti, sebaliknya Si Anying langit Kong Sun Yau yang dengan napsunya sedang melancarkan serangan tidak sanggup untuk berhenti di dalam waktu seketika itu juga karenanya jarak antara dirinya dengan Ti Then pun menjadi amat dekat, dengan meminyam kesempatan itulah Ti Then sudah melancarkan satu serangan yang tepat menembus lambungnya.

Untuk beberapa saat lamanya dia menjadi tertegun, tetapi ketika dilihatnya pada lambungnya sudah tertembus oleh pedang Ti Then saat itulah tanpa bisa ditahan lagi dia menjerit ngeri dengan amat kerasnya.

PerIahan-lahan tubuhnya rubuh ke tanah dan saat itu juga putuslah napasnya. Melihat kejadian itu Si Rase bumi Bun Jin Cu menjadi amat terperanyat dengan suara amat kaget teriaknya.

“Hey Ielaki bangsat, kau kenapa?”

Waktu itu Ti Then dengan kecepatan yang luar biasa sudah meloncat dari atas tanah, sesudah mencabut keluar pedangnya dari lambung Si Anying langit Kong Sun Yau barulah dia berdiri di samping.

Bagaikan seorang yang kalap dengan cepat si Rase bumi menubruk ke atas mayat suaminya, matanya dipentangkan lebar- lebar sedang bibirnya dengan gemetar berkemak-kemik.

“Lelaki bangsat, kau…kau sudah mati?”

Agaknya dia tidak percaya kalau suaminya bisa mati, tapi kini dengan mata kepala sendiri dia melihat suaminya memang betul- betul sudah binasa, tak tertahan lagi butir-butir air mata mengalir keluar dengan amat derasnya.

Semula suara tangisannya tidak terdengar lama kelamaan isak tangisnya semakin menjadi, dan akhirnya bagaikan guntur yang membelah bumi dia menangis dengan kerasnya sembari gembar gembor tidak karuan:

Pada saat itulah terlihat tiga orang berlari dengan amat cepatnya mendekati tempat itu.

Ketiga orang itu bukan lain adalah Po cu dari Benteng Pek Kiam Po, Wi Ci To, Hu Pocu Huang Puh Kian Pek beserta Wi Lian In.

Wajah mereka semua sudah berubah amat dingin dan angker, dengan tajamnya memperhatikan Si Rase bumi yang sedang menangis dengan sedihnya di atas mayat si Anying langit. Tanpa berkata-kata lagi mereka bersama-sama mencabut keluar pedangnya masing-masing kemudian secara serempak menyerang kelima orang malaikat iblis itu. Jika dilihat dari perubahan wajah mereka, jelas kelihatan kalau mereka bertiga amat gusar sekali bahkan sudah ambil keputusan untuk membasmi orang-orang dari istana Thian Teh Kong.

Baru saja mulai kelima orang malaikat iblis itu sudah dipaksa berada di bawah

Angin.

Kiranya kedelapan orang malaikat iblis yang dibawa anying langit rase bumi malam ini selaln setiap orang membawa seperangkat anak panah beserta busurnya sama sekali tidak membawa senyata tajam lainnya, saat ini kelima orang malaikat iblis itu terpaksa harus menggunakan busur untuk mengdakanperlawanan, sedang busur itu bukanlah senyata yang sesuai untuk bergebrak karena itu baru saja mulai mereka sudah dipaksa berada di bawah angin dan terdesak mundur terus.

Wi Ci To serta Huang Puh Kian Pek masing-masing melawan dua orang malaikat iblis, terlihatlah sinar pedang berkelebat tak henti- hentinya, diantara sambaran angin yang amat tajam suara jeritan ngeri saling susul menyusul. Empat orang malaikat iblis sudah terbinasa di bawah pedang mereka.

Sedang malaikat iblis yang melawan diri Wi Lian In saking terdesaknya terus mengundurkan diri ketepi tebing, akhirnya dia pun terjatuh ke dalam jurang dan binasa seketika itu juga.

Setelah semuanya beres mereka bertiga baru putar tubuhnya dan berjalan mendekati rase bumi yang saat ini sedang menangis dengan amat sedihnya di samping mayat suaminya.

“He..he..Bun Jin Cu, kau berdiri” Teriak Wi Ci To sepatah demi sepatah dengan tegasnya.

Bagaikan sama sekali tidak menclengar suara bentakan itu Si Rase bumi Bun Jin Cu masih tetap menangis dengan amat sedihnya.

Sepasang mata Wi Ci To segera berubah menjadi amat seram, dengan keras bentaknya tagi. “Bangun!”

Si Rase bumi Bun Jin Cu tetap duduk di atas tanah sembari menangis tersedu-sedu kelihatannya dia memang betul-betul sangat berduka sehingga terhadap peristiwa yang terjadi disekeliling tempat itu sama sekali tidak punya minat untuk mengurusnya,

Wi Ci To adalah seorang jagoan yang punya nama terhormat di dalam Bu-lim pada saat ini, sudah tentu dia tidak mau melancarkan serangan bokongan kepada Si Rase bumi, ketika dilihatnya dia tetap tidak ambil perduli alisnya kelihatan dikerutkan rapat-rapat, agaknya dia sudah dibuat jengkel oleh kelakuannya itu.

“Hmm. . hm..Bun Jin Cu” teriak Wi Lian sembari tertawa dingin. “Yang binasa ini hari bukan hanya suamimu, kedelepan belas

malaikat iblis yang kau bawa pun sudah ada tujuh belas orang yang binasa, kenapa kau tidak menangisi juga bagi mereka?”

Setelah mendengar ejekan itu mendasak Si Rase bumi Bun Jin Cu menghentikan suara tangisannya, sesudah menggendong mayat suaminya segera dia berjalan meninggalkan tempat itu.

Melihat mereka sama sekali tidak digubris sekali lagi Wi Ci To mendengus dengan amat dingin..

“Bagaimana ? begitu saja mau pergi “ujarnya dengan dingin.

Dengan perlahan Si Rase bumi Bun Jin Cu menghentikan langkahnya, dengan menahan isak tangisnya dia bertanya.

“Kau mau berbuat apa ?”

Dari nadanya ini ternyata mengandung sedikit “ Genit.

“ Dua buah batu cadas tadi sudah membunuh mati empat orang pendekar pedang kami.” Bentak Wi Ci To dengan suara berat.

“Itu masih terhitung tidak berat” Bantah Si Rase bumi Bun Jin Cu sembari menangis. “Aku sudah ditinggal suamiku bahkan ketujuh belas orang anak buahku pun sudah binasa semua.” Wi CiTo menjadi amat gusar.

“Tapi semua urusan ini ditimbulkan oleh kalian!” Bentaknya.

“Aku tidak mau mengurus, aku tidak mau bergebrak dengan kalian” teriak si rase bumi sembari menangis tersedu sedu, “Kalian, mau membunuhku cepatlah turun tangan. Aku tidak percaya kau berani turun tangan dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak mengadakan perlawanan “

Saking jengkel dan marahnya air muka Wi Ci To sudah berubah pucat kehijau hijauan. Bentaknya dengan keras:

“Bun Jin Cu, kau janganlah sengaja perlihatkan mimik wajah yang patut dikasihani, kau adalah perempuan macam apa Lohu sudah tahu amat jelas sekali “

“Aku kehilangan suami apa tidak patut untuk menangis sedih?,” bantah Si Rase bumi itu sambil menahan isak tangisnya.

“Tia” teriak Wi Li an In tiba-tiba sembari berjalan maju, “Tida usah banyak omong dengan dia, biar putrimu yang bereskan”

Selesai berkata dia angkat pedangnya siap ditusuk ketubuh Si Rase bumi itu.

Wi Ci To tahu putrinya masih bukan tandingannya, dia takut putrinya akan terluka ditangannya karena itu segera menarik tangannya mencegah.

“Kau cepat mundur” ujarnya,

Dengan cepat dia menarik Wi Lian In ke belakang kemudian sambil melototkan sepasang matanya dia membentak kembali.

“Sebenarnia kau mau turun tangan tidak?”

“Aku sedang bersedih hati, tidak punya tenaga untuk bergebrak dengan kalian, jika betul-betul mau turun tangan baiknya kita tentukan waktu saja.” ujar Si Rase bumi kemudian. “Bagus sekali, kapan?”

“Akhir bulan depan. Aku mau menyambut kedatangan kalian di istana Thian Teh Kong. Bagaimana?”

Wi Ci To termenung berpikir sebentar kemudian baru mengangguk, menyetujui.

“Pasti dating” serunya.

Dengan perlahan Si Rase bumi Bun Jin Cu putar kepalanya menghadap kearah Ti Then, sambil menahan isak tangis ujarnya.

“Bangsat cilik, sampai waktunya kau pun ikut datang. Kau sudah bunuh suamiku selama hidupku ini aku mau balaskan dendam”

Selesai berkata dia membopong mayat suaminya, sembari menangis tersedu-sedu perlahan-lahan dia menuruni tebing tersebut.

Sesudah bayangan tubuh Si Rase bumi lenyap dari pandangan barulah Huang Puh Kian Pek berjalan ke samping tebing, sambil menengok ke bawah ujarnya.

“Masih untung apinya bisa dipadamkan dengan cepat”

“Ehmm…” sahut Wi Ci To perlahan kemudian dia menoleh kearah Ti Then.”Ti Kiauw-tauw, seharusnya Lohu kini mengucapkan terima kasih kepadamu.”

“Wi Pocu tidak usah sungkan-sungkan, hal ini adalah tugas dari boanpwe “

“Bagaimana kau bisa tahu akan hal ini?” tanya Wi Ci To. “Hanya dugaan saja.”

Perlahan-lahan pada air muka Wi Ci To mulai memperlihatkan perasaan menyesal sembari menghela napas panjang ujarnya lagi:

“Lohu sama sekali tidak menduga mereka bisa melakukan tindakan semacam ini..” Ti Then berdiam diri tidak mengucapkan sepatah kata pun, perlahan-lahan dia berjalan ke samping sesosok mayat dari sana disobeknya sekerat kain kemudian dibungkuskan pada luka dikakinya.

Wi Lian In yang melihat kakinya kuyup oleh darah segar agaknya dia merasa sedikit tidak tega, fetapi untuk maju menegur dia merasa malu juga sehingga akhirnya dia paksakan diri untuk tetap berdiam.

“Bungkus dahulu untuk sementara, nnti sesudah kembali ke dalam Benteng baru diberi obat” ujar Wi Ci To tiba-tiba.

“Tidak perlu” jawab Ti Then cepat, “Boanpwe tidak punya rencana untuk mengganggu kembali Benteng kalian. Pocu serta Hu Pocu sekalian silahkan

kembali ke dalam Benteng untuk beristirahat”

Wi Ci To tertawa pahit, cepat-cepat dia potong perkataan dari Ti Then yang belum selesai itu:

“Bagaimana? Apa Ti Kiauw-tauw sekarang sudah tidak sudi menginyakkan kakinya ke dalam Benteng Lohu ini kembali ?”

“Bukan begitu” sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya, “Boanpwe hanya merasa sangat menyesal, maka ... maka..”

“Sesudah urusan dibikin terang untuk menyesal pun masih belum terlambat” potong Wi Ci To kembali, “Marilah ikut lohu kembali ke dalam Benteng”

“Nanti dulu” teriak Ti Then mendadak “Yang Pocu maksudkan sebagai menanti sesudah urusan dibikin terang sebetulnya mengandung maksud apa ?”

Wi Ci To tersenjum.

“Pokoknya hingga saat ini Lohu masih belum seratus persen menganggap kau adalah jelmaan dari Lu Kongcu itu, bukan begitu

?” ujarnya. “Tetapi boanpwe sudah mengaku di di depan Pocu sendiri”

“Itulah kesalahan Lohu sendiri, seharusnya Lohu tidak boleh menaruh perasaan curiga terhatiap diri Ti Kiauw-tauw”

“Ti Kiauw-tauw “ sambung Huang Puh Kian Pek dengan cepat. “Sekali pun kau punya maksud untuk meninggalkan benteng

kami, sekarang seharusnya kau mau ikut kami untuk duduk-duduk sebentar di dalam Benteng, untuk berangkat besok pagi pun belum terlambat”

Mendengar perkataan itu segera Ti Then mengangguk dan bangkit berdiri, sambil menuding kearah tujuh sosok mayat yang menggeletak di atas tanah ujarnya kemudian.

“Bagaimana dengan mayat-mayat ini ?”

“Sesudah terang tanah biar Lohu kirim orang untuk memberesinya, mari sekarang kita pulang ke Benteng dulu.”

Selesai berkata dia segera berjalan terlebih dulu memimpin yang lainnya.

Tua muda empat orang sesudahnya turun dari atas tebing Sian Ciang dan kembali ke dalam Benteng terlihatlah banyak sekali pendekar pedang hitam mau pun putih sedang berkumpul di depan dua buah bangunan.

Kiranya dua buah bangunan rumah yang terkena serangan batu besar tadi sehingga tiang penyanggahnya menjadi putus dan ambruk ke bawah, saat ini terlihat berpuluh-puluh pendekar pedang hitam sedang membereskan runtuhan itu, sedang tidak jauh dari tempat itu terlentang empat sosok mayat yang sudah hancur keadaannya.

Wi Ci To berjalan mendekati keempat sosok mayat itu, sesudah termenung dengan sedihnya barulah tanyanya kepada Ti Then.

“Sebelum kedua buah batu raksasa ini jatuh ke bawah pernah ada sebuah batu kecil yang jatuh tepat di atas atap loteng penyimpan kitab ini, apakah itu batu sengaja Ti Kiauw-tauw lemparkan kemari”

“Benar” sahut Ti Then sambil mengangguk. “Boanpwe punya dugaan si anying langit rase bumi bisa membawa anak buahnya naik ke atas tebing Sian Ciang ini untuk menyerang Benteng Pek Kiam Po tetapi boanpwe tidak berani pastikan mereka pasti ke sana, menanti sesudah melihat mereka tiba di atas puncak gunung barulah menggunakan batu untuk kirim peringatan, boanpwe mengharapkan batu ini bisa membangunkan Wi Pocu sekalian”

“Heeei .. untung saja ada batu dari Ti Kiauw-tauw yang memberi peringatan, kalau tidak mungkin malam ini banyak orang dari Benteng kita yang akan menemui kematiannya.”

Berbicara sampai di sini dia menoleh kearah Huang Puh Kian Pek dan lanjutnya kembali.

“Sute, kau tetap berada di sini beri pe¬rintah kepada mereka untuk bersihkan tempat ini, aku punya urusan hendak dibicarakan dengan Ti Kiauw tauw”

“Baiklah suheng silahkan”

Maka dengan memberi tanda kepada Ti Then untuk mengikuti dirinya dengan perlahan Wi Ci To berjalan menuju dalam ruangan.

Dari belakang Ti Then beserta Wi Lian In dengan berdiam diri mengikuti diri Wi Ci To berjalan masuk ke dalam kamar bukunya, sesampainya di depan pintu tiba-tiba ia membalikkan badannya dan berkata kepada Wi Lian In.

“In ji, kau kembalilah kekamar untuk beristirahat”

Wi Lian In merasa ragu-ragu sebentar,agaknya dia tidak punya muka untuk berdiam lebih lama lagi, terpaksa dia menyahut dengan perlahan dan kembali kekamarnya.

Sesudah itu barulah Wi Ci To membuka piatu kamar mengajak Ti Then duduk di dalam kamar, ujarnya dengan tersenyum. “Malam ini Ti Kiauw-tanw berhasil membasmi si Anying langit Kong Son Yau berarti juga sudah membantu orang-orang Bu-lim membasmi saorang penyahat besar, membuat orang merasa sangat girang”

“Jika bukannya Pocu tiba pada saat yang bertepatan dan menyambitkan pisau terbang sehingga memutuskan angkin kuning dan si Rase bumi mungkin boanpwe pun ikut menemui bencana, karena itu kematian dari si Anying langit seharusnya merupakan jasa dari Pocu sendiri.” Ujar Ti Then tetap merendah.

“Mana mungkin, mana mungkin…”

Ti Then segera berganti bahan pembicaraan, ujarnya kemudian, “Pocu memerintahkan boanpwe datang kemari entah punya

petunjuk apa?”

Senjuman yang menghiasi bibir Wi Ci To segera lenyap tanpa bekas, dengan mimik yang amat sedih tapi serius ujarnya sesudah menghela napas panjang.

“Lohu sangat mengharapkan bisa berbicara secara blak-blakan dan terus terang dengan diri Ti Kiauw tauw tentang urusan yang terjadi baru-baru ini..”

Dia berhenti sebentar kemudian lanjutnya lagi.

“Hingga sampai saat ini Lohu tetap dibuat bingung . . . sejak Ti Kiauw-tauw memasuki Benteng hingga hari ini tidak kurang tidak lebih selama satu bulan, tapi di dalam satu bulan ini pertama-tama Ti Kiauw-tauw sudah bantu Lohu memukul mundur Cian Pit Yuan, kemudian menolong putriku dari perkosaan Hong Mong Ling, lalu menolong nyawa dari putriku dari tangan si setan pengecut, ditambah lagi malam ini Ti Kiauw-tauw sudah membantu Benteng kami terhindar dari mara bahaya. Semua perbuatan dari Ti Kiauw- tauw ini membuat Lo hu merasa sangat berterima kasih sekali, budi kebaikan dari Ti Kiauw-tauw semacam ini kami orang-orang pihak Benteng Pek Kiam Po harus berbuat bagaimana pun tetap akan membalas budi ini, atau dengan perkataan lain jika Ti Kiauw-tauw punya permintaan kepada Lohu atau menghendaki nyawa Lohu maka semuanya akan Lohu penuhi. tetapi .. . Hey, sekarang Lohu mau menanyai suatu urusan kepada diri Ti Kiauw-tauw, sebetulnya kau punya permintaan apa terhadap Benteng kita ini ?”

Ti Then yang melihat perkataan itu diucapkan begitu jujur dan tulus hati dalam hati merasa sangat tidak enak sekali tetapi untuk tetap menyaga rahasia dari Majikan patung emas dia tidak mungkin bisa menceritakan rahasia dari Majikan patung emas itu, karenanya terpaksa dia gelengkan kepalanya.

“Tidak ada” sahutnya. “Boanpwe sama sekali tidak ada permintaan”

Agaknya Wi Ci To tetap merasa ragu-ragu.

“Apa Ti Kiauw-tauw tidak percaya terhadap kejujuran Lohu ini?” tanyanya.

“Bukan begitu, boanpwe tahu maksud Pocu adalah sungguh- sungguh dan sejujurnya.”

“Kalau begitu silahkan Ti Kiauw-tauw katakan, asalkan Lohu bisa malakukan sekali pun terhadap Benteng kita tidak ada keuntungannya Lohu tetap akan meluluskan permintaan dari Ti Kiauw-tauw itu.”

Ti Then menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Boanpwe benar-benar tidak punya permintaan apa-apa” ujarnya tegas.

“Hey.. tetapi “ Dia menghela napas panjang, “Jika Ti Kiauw-tauw betul betul tidak punya permintaan apa-apa terhadap Lohu, lalu kenapa .. ini bukannya Lohu menaruh curiga, karena ada berbagai macam bukti yangmembuktikan Ti Kiauw tauw adalah jelmaan dari Lu kongcu, jika Ti Kiauw tauw tidak punya permintaan apa-apa kenapa harus berbuat begini ?”

Agaknya dia takut Ti Then dibuat marah oleh perkataannya ini, karena itu sambungnya kembali.

“Ti Kiauw tauw harap jangan marah, sekarang Lohu tidak mau menyembunyikan kembali perasaan hati Lohu karena budi yang diberikan Ti Kiauw tauw kepada kami sudah cukup untuk memaafkan suatu kesalahan”

Ti Then betul-betul dibuat terharu dan menyesal oleh perkataan ini, tanpa dia rasa butir-butir air mata setetes demi setetes mengucur keluar.

Titik air mata ini merupakan yang pertama kali dikeluarkan dari matanya sejak dia mengerti akan urusan, karena dia teringat kembali akan penderitaan dirinya sebetulnya merupakan seorang yang mengutamakan kejujuran dan kebenaran tetapi dia dipaksa dan diharusnkan untuk berbuat sesuatu pekerjaan yang melanggar nalurinya.

Ketika Wi Ci To melihat dia menangis secara tiba-tiba, jadi melengak dibuatnya.

“Ti Kiauw tauw kau kenapa ?” tanyanya.

Ti Then menundukkan kepalanya tidak menyawab.

Dengun termangu-mangu lama sekali Wi Ci To memandang kearahnya, kemudian tanya lagi dengan perlahan.

“Beritahu kepada lohu, apakah kau punya rahasia yang susah dikatakan secara terus terang?”

Ti Then tetap berdiam diri tidak menyawab.

Dengan perlahan Wi Ci To menghela napas panjang,ujarnya. “Dengan usia Lohu sekarang ini boleh dikata cukup untuk

menjadi ajahmu tetapi kau boleh menganggap Lohu seba¬gai pamanmu, kau boleh menceritakan ra¬hasia hatimu kepada Lohu kecuali memang betul-betul tidak dilaksanakan, kalau tidak lohu mau berkorban untuk menyelesaikan urusanmu itu. Bagaimana?”

Ti Then mengusap kering air matanya dengan menggigit kencang bibirnya berkata. “Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan urusan ini, tetapi sesudah boonpwe katakan Pocu tentu tidak akan mengabulkan bahkan sekali pun pocu menyetujuinya belum tentu bisa berhasil”

“Jika Ti Kiauw tauw menghendaki rembulan yang berada di atas langit tentu Lohu tidak mungkin bisa melakukannya selain itu Lohu berani berkorban untuk menyelesaikan dan membantu persoalan Ti Kiauw tauw itu"

Ti Then tetap menggelengkan kepalanya.

“Urusan ini pasti pocu tidak akan menyanggupinya” ujarnya. “Wi Ci To tersenyum.

“Kenapa tidak Kiauw tauw katakan?” serunya perlahan.

Ti Then angkat kepalanya memandang tajam ke atas wajahnya, kemudian sepatah demi sepatah barulah ujarnya:

“Jika Pocu betul-betul mau bantu boan-pwe menyelesaikan urusan yang amat sukar ini hanya ada satu cara …gunakan kepandaianmu untuk mengalahkan.diri boanpwe”

“Kau bilang apa?” tanya Wi Ci To.

“Untuk sementara Pocu boleh menganggap boanpwe sebagai musuh yang tak bisa diam puni lagi kemudian berkelahi dengan diri boanpwe. Jika Pocu berhasil mengalahkan diri boanpwe hal itu berarti juga sudah mernbantu menyelesaikan suatu persoalan yang sulit”

Sebetulnya Wi Ci To merupakan seorang yang memiliki kecerdasan tinggi tetapi sesudah mendengar perkataan dari Ti Then ini betul-betul dibuat bingung, tanpa terasa dengan mata dan mulut melongo dia pandang wajah Ti Then, lama sekali baru gumamnya.

“Lohu tidak paham kau sedang membicarakan apa?”

“Alasannya boanpwe tidak bisa terangkan, tetapi jika pocu sanggupi permintaan boanpwe ini dan sesudah berhasil mengalahkan diri boanpwe maka alasan dan sebab-sebabnya tentu akan boanpwe ceritakan”

Agaknya Wi Ci To tidak berani percaya terhadap telinganya sendiri, sekali lagi tanyanya dengan teliti.

“Coba kau ulangi sekali ini, kau bilang meminta lohu menganggap kau sebagai musuh besarku kemudian berkelahi dengan kau, jika bisa kalahkan dirimu berarti sudah membantu kau melepaskan diri dari suatu persoalan rumit, apa betul begitu?”

“Benar” sahut Ti Then sembari mengangguk. “Hanya satu- satunya jalan ini saja yang bisa membantu boanpwe menyelesaikan urusan ini.”

“Lohu tetap tidak paham” ujar Wi Ci To lagi sambil gelengkan kepalanya.

Dengan nada yang hampir mendekati merengek ujar Ti Then lagi.

“Besok pagi, di atas gunung yang sunyi baiknya kita pergi bertanding bagaimana?”

“Tidak, urusan ini Lohu tidak bisa mengabulkan” sahut Wi Ci To kembali sambil gelengkan kepalanya.

Lama sekali Ti Then termenung berpikir keras, mendadak dengan air muka mengandung perasaan bermusuhan ujarnya:

“Jika boanpwae yang menantang Pocu mau untuk bergebrak melawan boanpwe ?”

Seketika itu juga Wi Ci To dibuat melengak, kemudian sembari tertawa pahit ujarnya.

“Ti Kiauw-tauw, kau betul-betul membuat Lohu bingung.” “Pocu, lebih baik lakukanlah satu kali ini”

Berkali-kali Wi Ci To gelengkan kepalanya, “Lohu tidak bisa menganggap Ti Kiauw tauw sebagai musuh besarku, juga tidak bisa bertanding denganmu,” ujarnya tegas. “Apa Pocu takut dikalahkan oleh boanpwe?” seru Ti Then sembari tertawa dingin.

“Ha..ha gelombang belakang mendorong gelombang di depan, orang-orang baru menggantikan orang-orang lama, jika Lohu terkalahkan ditangan Ti Kiauw tauw sudah pasti tidak akan menaruh sakit hati kepadamu, persoalannya yang utama kita bukanlah musuh yang benar-benar, Lohu tidak tega untuk berbuat demikian terhadap dirimu”

Tanpa terasa Ti Then sudah betpikir di dalam hatinya. “Perkataannya   ini   memang   betul,   dengan   kepandaiannya

memang besar kemungkinan sukar untuk mengalahkan aku, jika kini

ditambah dengan perasaan ragu-ragu lagi sudah tentu jangan harap bisa kalahkan diriku?”

Tanpa terasa dia sudah menghela napas perlahan, ujarnya kemudian sambil bangkit berdiri.

“Kalau begitu biarkan boanpwe pergi” “Kemana?”

“Kembali kerumah panginapan”

“Tidak” seru Wi Ci To dengan serius, “Sejak ini hari kau masih tetap Kiauw tauw dari Benteng kami, kau harus tinggal di sini”

“Lebih baik Pocu jangan terlalu percaya kepada diri boanpwe, mungkin pada suatu hari boanpwe bisa melakukan banyak kejahatan di dalam Behteng.”

“Tidak mengapa" seru Wi Ci To sembari tertawa riang, “Tadi Lohu sudah bilang budi yang kau berikan kepada Benteng kami sudah terlalu banyak, sekali pun boleh dianggap penerimaan dirimu pada ini hari sebagai Kiauw tauw sama saja seperti memelihara harimau meninggalkan bencana dikemudian hari juga tidak mengapa”

Dia berhenti sebentar, kemudian dengan air muka serius ujarnya: “Tapi sekali pun mungkin Ti Kiauw tauw akan melakukan banyak kejahatan di dalam Benteng kami, lohu hanya punya satu permintaan”

Ti Then berdiam diri menanti perkataan selanjutnya.

“Maksud perkataan lohu ini, tidak perduli kau melakukan pekerjaan jahat macam apa pun lohu tidak akan menegur dirimu, hanya loteng penyimpan kitab dari lohu itu jangan sekali-kali kau selidiki. Bagaimana? setuju bukan?”

Tak tertahan lagi tanya Ti Then.”Sebetulnya loteng penyimpan kitab itu menyimpan rahasia apa?”

“Maaf lohu tidak bisa beri keterangan” ujar Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. “Pokoknya sekali pun kau menginginkan nyawa lohu pun boleh asalkan jangan mengintip loteng penyimpan kitab itu”

“Omong sejujurnya, boanpwe sendiri juga tidak tahu lain kali bisa melakukan pekerjaan jahat apa saja terhadap Benteng Pek Kiam Po ini” ujar Ti Then sambil tertawa pahit.

“Bagus sekali, sekarang Ti Kiauw tauw boleh kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.

Ti Then segera memberi hormat kembali ke dalam kamarnya dengan mambawa perasaan hati yang amat berat.

Dikarenakan perubahan yang terjadi tadi maka si Lo-cia itu pelayan tua yang melayani dirinya pun belum tidur, melihat Ti Then kembali kekamarnya dia menjadi amat girang sekali, sambil ikut masuk ke dalam kamar ujarnya sembari tertawa :

“Ti Kiauw-tauw, akhirnya kau kembali juga. Heeei, kemarin hari secara tiba-tiba Ti Kiauw-tauw meninggalkan Benteng untuk beberapa waktu Iamanya membuat budakmu betul-betul merasa sangat bingung, sedang pocu serta siocia pun tidak mau beritahu kepada budak tuamu, membuat budakmu selama beberapa hari ini betul-betul merasa bingung” “Lebih baik kau tidur saja” ujar Ti Then tertawa tawar.

Bukannya pergi si locia malah maju mendekati dirinya, ujarnya dengan suara rendah.

“Apa bukan Ti Kiauw tauw meninggalkan Benteng karena sudah berkelahi dengan siocia kita ?”

“Ehmmm, benar “

“Sekarang sudah baik kembali bukan?” tanya si Lo-cia dengan perasaan ingin tahu.

“Benar”

“Itu baru bagus sekali, Hi hi hi . Budakmu selalu merasa kalian sebetulnya merupakan pasangan yang setimpal, jika bisa mengikat diri sebagai suami istri sebetulnya sangat..“

“Lo cia kau sedang bicara apa ?”

Mendadak dari belakang tubuhnya muncul suara yang amat dingin sekali.

Lo cia menjadi amat terperanyat, ketika dia putar tubuhnya terlihatlah Wi Lian In dengan air muka adem sudah berdiri di depan pintu tanpa terasa sambil tertawa paksa ujarnya.

“Hi..hi hi ..siocia budakmu tidak bicara apa-apa, hi hi hi . .” “Cepat pergi tidur” bentaknya lagi.

Si Lo cia tidak berani membangkang segera dia menyahut dan berjalan keluar dari kamar sambil tersenyum senyum.

Dengan tajam Wi Lian In pandang beberapa waktu ke atas wajah Ti Then, kemudian dengan dingin tanyanya.

“Aku boleh masuk ?” Ti Then tertawa pahit.

“Nona Wi sudah tidak satu kali saja masuk ke dalam kamar, kenapa sekarang harus sungkan-sungkan? ujarnya. Dengan perlahan Wi Lian In berjalan masuk ke dalam kamar kemudian duduk di atas kursi, sebentar seperti mau bicara tetapi akhirnya menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Air muka yang adem kini sudah berubah menjadi wajah yang diliputi oleh perasaan malu.

“Nona Wi apa juga mau tanya kepadaku kenapa aku menyamar sebagai Lu Kongcu?” tanya Ti Then cepat.

“Aku sudah tahu kenapa kau berbuat begitu”

Diam-diam Ti Then menjadi amat terperanyat, ujarnya: “Ooh, kau..kau sudah tahu?”

“Benar” sahut Wi Lian In sambil tersenyum malu. “Kemarin malam sudah aku dapatkan jawaban ini “ Ti Then menjadi tertegun.

“Bagaimana .. bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku terus menerus berpikir jelas sekali kau bukan seorang jahat, tapi kenapa berbuat begitu? Jika bilang kau mau masuk ke dalam Benteng dengan membawa suatu rencana busuk tetapi kau sudah bantu Tia memukul mundur sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan kemudian dua kali menolong aku, karena itu sesudah pikir bolak balik akhirnya aku paham apa sebabnya kau berbuat begitu.”

Diam-diam dalam hati Ti Then merasa semakin ragu-ragu, tanyanya.

“Kau sudah paham bagaimana?’

Sambil tersenyum Wi Lian In melirik sekejap kearahnya, kemudian dengan suara perlahan menyahut.

“Hm. Kau masih berlaga pilon.”

“Dapatkah kau jelaskan kau sudah paham tentang apanya ?” tanya Ti Then lagi dengan perasaan ragu-ragu. Perlahan-lahan Wi Lian In menoleh ke depan pintu kemudian baru ujarnya dengan perlahan.

“Beritahu padaku, pada waktu yang lampau kau pernah bertemu aku dimana?”

Ti Then semakin bingung oleh perkataan ini. “Dulu… aku bertemu denganmu di tempat mana...”

Wi Lian In segera melotot kearahnya, kemudian dengan malu- malu dia tundukkan kepaIanya.

“Kalau memangnya kau menginginkan aku kenapa tidak berani bicara secara terus terang saja” ujarnya lirih. “Kau.. kau..sedikit pun tidak punya sifat jantan.”

Secara mendadak Ti Then paham kembali apa yang dimaksudkan olehnya, diam-diam dalam hati merasa amat geli sekali, pikirnya.

“Kiranya dia sudah paham akan hal ini ternyata dia sudah anggap aku pernah betemu dengan dia pada waktu yang lalu kemudian menaruh rasa cinta kepadanya, karena itu baru menyamar sebagai Lu Kongcu untuk merusak ikatan perkawinannya dengan Hong Mong Ling”

Wi Lian In melihat dia berdiam tidak menyawab di dalam anggapannya dia sudah mengaku karenanya dengan tertawa malu ujarnya.

“Sebetulnya hal ini tidak bisa menyalahkan kau menggunakan cara yang tidak jujur ini, sewaktu kau bertemu dengan ku mungkin waktu itu aku sudah mengikat janyi dengan Hong Mong Ling, karena kau punya maksud . . untuk mendapatkan aku maka sudah gunakan cara ini, aku. aku tidak akan menyalahkan kau”

Ti Then hanya tersenyum tidak menyawab.

“Tadi sewaktu berada di dalam kamar buku kau sudah bicarakan soal apa saja dengan Tia ?” tanyanya lagi. “Ayahmu mengharapkan aku mau beritahu secara terus terang kanapa aku menyamar sebagai Lu kongcu. aku . . . “

“Kau sudah beritahukan urusan ini kepada Tia?” tanya Wi Lian In cepat.

“Belum” sahutnya sambil gelengkan kepalanya “Aku tidak tahu harus berbicara bagaimana baru baik , . “

“Urusan ini sudah tentu kau merasa tidak enak untuk bicara, tapi aku percaya Tia tentu bisa menduga sampai di sana.”

“Ayahmu mengharapkan aku mau tinggal di sini”

“Benar” ujar Wi Lian In cepat, tadi pagi aku yang beritahukan kepadanya aku bilang kau pasti bukan seorang yang jahat.”

“Aku harap kau jangan terlalu percaya kepadaku”

Wi Lian In tidak memberi komentar lagi, matanya perlahan dialihkan pada kaki kanan dari Ti Then yang terluka, tanyanya:

“Kakimu sudah kau beri obat ?”

“Belum, aku kira tidak begitu penting, lukanya hanya diluaran saja, tanpa obat pun bisa sembuh dengan sendirinya”

Wi Lian In segera bangkit betdiri. “Biar aku pergi ambil obat”

Selesai berkata dia segera putar tubuh dan berlari dengan cepatnya meninggalkan kamar untuk pergi ambil obat.

-ooo0dw0ooo-