Pendekar Patung Emas Jilid 11

 
Jilid 11

"Buat apa, bukankah lebih bagus kalau kita tunggu dia masuk sendiri kemudian baru turun tangan????"

"Tunggu dia masuk sendiri ???" tanya Wi Lian In melengak. "Tidak salah, tunggu dia masuk sendiri"

"Benar." sahut Wi Lian In kemudian sambil mengangguk. agaknya dia sudah paham arti perkataan itu tanpa terasa senyuman segera menghiasi bibirnya.

"Sst . . .jangan bicara lagi" Tiba-tiba Ti Then memperingatkan diri Wi Lian In. "Mungkin dia sudah berada di depan kamar kita" Dengan suara yang diperkeras sengaja Wi Lian In angkat bicara lagi. "Malam ini kita harus lebih berhati-hati, kemungkinan orang itu akan datang lagi"

"Yang harus hati-hati adalah kau, lebih baik malam ini kamu orang jangan tidur"

" Kitab pusaka Ie cin Keng itu sudah kau bawa?" Ti Then mengerutkan alisnya rapat-rapat. "Benar" sahutnya terpaksa. "Dibawa dalam badan jauh lebih aman rasanya"

"Heei . . sungguh menjengkelkan, entah siapa yang sudah menyiarkan berita kalau kau telah mendapatkan kitab pusaka Ie cin Keng itu, semula menteri pintu serta pembesar Jendela dari Anying langit Rase bumi, kemudian disusul Hwesio berwajah riang dari Siauw limpay, Kwan si Ngo Koay, Majikan ular serta terakhir kakek kura-kura."

"Sejak kini entah masih ada seberapa banyak anying-anying bajingan yang datang merebut"

"Ie Cin Keng kan kitab ilmu silat yang berisikan kepandaian tertinggi di dalam Bu lim waktu ini, barang itu merupakan impian dari setiap jago dalam dunia kangouw tidak bisa, disalahkan mereka kalau pada datang merebut..."

Wi Lian In mengambil sendok kemudian diaduk adukkan pada mangkok yang berisikan kuah telur itu sehingga mengeluarkan suara yang nyaring.

"Kuah telur ini sudah dingin, bagaimana kalau suruh pelayan memanasi terdebih dulu??"

"Tidak perlu." sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya, "Aku suka makan yang dingin, kau tidak mau biar aku yang makan."

Sambil berkata dengan menggunakan sendok dia mengetuk beberapa kali pada pinggiran mangkok. "Ting . . . ting . . ." disusul suara sedang menghitup kuah tanda rasanya yang sedap.

"Coba lihat" seru Wi Lian In sambil tertawa ..... "Seperti sudah lama tidak makan"

"Selamanya aku memang paling suka kuah telur." "Coba aku teguk sesendok. "

Sambil berkata dia pun menggunakan sendoknya mengetuk pinggiran mangkok kemudian suara sedang menghabiskan kuah itu. "Rasanya enak bukan??? " tanya Ti Then sambil tertawa. "Ehmmm     tidak seberapa".

"Ini yang dikatakan kesukaan setiap orang tidak sama, sejak kecil aku sudah suka makan kuah telur "

"Aaaaah kenapa??"

Berbicara sampai di sini, badan bersama-sama dengan kursinya terjengkang kearah belakang.

Wi Lian In dengan cepat meloncat-loncat bangun sambil menjerit keras. "Aduh, kau kau kenapa ???"

Ditengah suara jeritan kaget itu mendadak pintu kamar dengan mengeluarkan suara yang keras sudah didorong oleh seseorang, seorang lelaki berusia pertengahan dengan potongan seorang siucay sambil tersenyum berjalan masuk. Tanyanya: "Nona, sudah terjadi urusan apa??"

Wi Lian In sama sekali tidak menduga pihak lawannya berani masuk sebelum dirinya ikut jatuh tidak sadarkan diri, untuk beberapa saat lamanya dia menjadi tertegun. "Kau . . . kau siapa

???"

Dengan perlahan lelaki berusia pertengahan itu menutup kembali pintu kamar kemudian membungkukkan badannya memberi hormat.

"Cayhe orang-orang kangouw menyebutku sebagai pemuda berwajah tampan Cu Hoay Lo menemui nona"

Begitu Wi Lian In mendengar kalau pihak lawannya adalah Giok Bin Longkun itu manusia cabul yang gemar pipi licin tidak terasa air mukanya berubah sangat hebat, serunya:

"Kiranya kau adalah Giok Bin Longkun . . kau . . . kau datang kemari punya tujuan apa?"

Selesai berkata tubuhnya mulai bergoyang kemudian dengan perlahan lahan rubuh ke atas tanah jatuh tidak sadarkanr diri Bibir Giok Bin Longkun itu manusia cabul kelihatan sedikit bergerak sehingga kelihatan sebaris giginya yang putih bersih sambil tertawa ringan ujarnya.

"Apa tujuanku? Nona Wi ini sungguh terlalu tolol       kalau

memangnya sudah tahu sebutanku Giok Bin Longkun bagaimana tidak tahu maksud tujuanku? He he he "

Die berhenti sebentar, senyuman yang menghiasi bibirnya pun berubah semakin menyeramkan, ujarnya lagi sambil tertawa:

"Tapi aku harus mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu terlebih dulu kemudian baru beri kesenangan kepadamu."

Dengan perlahan dia berjalan ke samping tubuh Ti Then kemudian berjongkok di sisinya.

Tangannya mulai diulur ke dalam saku Ti Then untuk memeriksa

. . . mendadak dia menjerit, sangat keras badannya tidak kuasa lagi terbanting dengan amat kerasnya ke atas tanah.

Kiranya urat nadi tangan kanannya sudah dicengkeram Ti Then dengan kerasnya.

Ti Then yang berhasil mencengkeram tangan kanannya segera membanting tubuhnya ke atas tanah, dirinya dengan mengikuti gerakan tersebut bangkit berdiri dan memutar lengan kanannya itu ke belakang  punggung.

Perasaan terkejut dalam hati Giok Bin Longcun tidak kecil, di dalam keadaan yang sangat lemas tubuhnya memutar ke kiri, sedang dua jari tangan kirinya dengan kecepatan bagaikan kilat menusuk kearah sepasang mata Ti Then-

Ti Then tertawa dingin, dengan tangan kirinya dia menangkis serangan pihak lawan sedang tangannya yang lain dengan sekuat tenaga mengangkat lengan kanannya ke atas.

"Pleetak    " Lengan kanannya itu segera terputus dari ruasnya. Giok Bin Langcun menjerit kesakitan, saat itu dia tak bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan, kepalanya dengan lemas ditundukkan ke bawah.

Wi Lian In pun dengan cepat meloncat bangun, tangannya dengan cepat menyambak rambutnya dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, kemudian dengan menggunakan telapak tangannya dia menghadiahi wajah Giok Bin Langkun keras-keras, terlihatlah bekas- bekas telapak yang merah menghiasi pipinya.

Seluruh wajah Giok Bin Longkun sudah berubah menjadi merah membiru dan mulutnya pun darah segar mengucur keluar dengan derasnya, sampai waktu itulah Wi Lian In baru melepaskan tangannya, ujarnya sambil tertawa dingin " Giok Bin Langcun, coba sekali lagi katakan perkataanmu tadi."

Giok Bin Langcun mana berani buka mulutnya, terpaksa dia membungkam seribu bahasa.

"Bangsat cabul ini sudah merusak perempuan banyak sekali sehingga pembesar berbagai tempat punya niat untuk menangkap dia, tidak disangka ini hari bisa terjatuh ketangan kita."

"Kau punya rencana serahkan bangsat cabul ini kepada pembesar??."

Dia menggelengkan kepalanya, " Manusia seperti ini sesudah ditangkap harus dibunuh mati, jika diserahkan pada pembesar mungkin dia masih bisa melarikan diri"

"Benar, cepat kita turun tangan."

Dengan cepat Ti Then menggerakkan tangannya mendorong badan Giok Bin Langcun ke atas tanah, dengan kakinya menginyak perutnya, ujarnya dengan amat dingin: "Hei Cu Hoay Lo, kau orang masih ada pesan terakhir tidak ??"

Air muka Giok Bin Langcun berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya. "Aku . . . aku di Tiang an masih punya simpanan uang . . . sebesar . . . sebesar lima belas laksa tahil . . ."

"Hmm. . ." Dengus Ti Then dengan amat dingin- "Orang bilang Giok Bin Langcun seorang yang sangat kaya dan gemar akan harta, ternyata berita ini sedikit   pun tidak salah . . . lalu apa yang kau maui ???"

"Aku rela menyerahkan uang itu kepadamu asalkan kau orang mau mengam puni jiwaku satu kali ini . . ."

"Lalu dengan cara bagaimana aku pergi menerima uang sebesar lima belas laksa tahil dari gudang uang itu ??."

Ketika Giok Bin Langcun melihat Ti Then punya maksud untuk menerima, air mukanya sedikit berubah.

"Di dalam badanku ada secarik kertas tanda bukti untuk menerima uang tersebut"

Ti Then segera bungkukkan badannya memeriksa sakunya dan mengambil keluar secarik kertas tanda bukti penerima uang yang dimaksud itu, sesudah dibolak balik melihat sekejap barulah ujarnya sambil tertawa.

"Uang-uang ini apakah hasil tabunganmu dari perampoaan serta pembegalan yang kau lakukan selama beberapa tahun ini?"

"Buat apa Ti Lo te menanyakan hal ini?" sahut Giok Bin Langcun sambil tertawa pahit.

" Harus aku tanya sampai jelas, sebetulnya benar atau tidak?" "Benar."

" Kalau uang itu hasil membegal dan merampok dus berarti bukan uangmu sendiri, maka itu kau tidak bisa menebus nyawamu dengan uang-uang ini."

Air muka Giok Bin Langkun segera berubah amat hebat. " Kalau begitu kembalikan kertas uang itu. ." Ti Then menyimpan kertas uang itu ke dalam sakunya, ujarnya sambil tertawa:

"Aku bisa mengambil uang-uang itu pada waktu yang tepat kemudian disebar dan di bagi-bagikan kepada orang-orang miskin dengan demikian aku pun sudah membantu kau untuk meringankan dosa-dosamu."

Sehabis berkata begitu, kakinya dengan sekuat tenaga menginyak jalan darah Tan Thian Hiat pada tubuhnya.

Seluruh tubuh Giok Bin Longcun hanya terlihat tergetar dengan amat kerasnya, air muka yang semula pucat pasi kini berubah semakin putih lagi, ujarnya dengan gemetar: "Bangsat . . kau sungguh kejam."

Ti Then menarik kembali kakinya, sahutnya dengan amat dingin. "Kau masih ada kesempatan hidup selama setengah jam, diluar

kota ada sebidang tanah pekuburan, kau cepatlah pergi ke sana

mencari satu tempat yang baik"

Dengan perlahan Giok Bin Langcun bangkit berdiri, dari mulutnya menyembur keluar darah segar dengan amat derasnya, kemudian dengan jalan sempoyongan dia membuka pintu kamar dan menerjang ke luar dengan cepat, lenyap dari pandangan Wi Lian In baru tersenyum, ujarnya.

"Inyakanmu tadi apa sungguh-sungguh bisa membinasakan dirinya?"

"Tidak salah. ." sahut Ti Then sambil mengangguk: "sekali pun dewa turun dari kahyangan pun tidak mungkin bisa menolong dia. ."

"Membasmi seorang bajingan cabul memang merupakan suatu pekerjaan yang paling mulia."

"Ehm      mari kita lanjutkan dahar kita. " ujar Ti Then kemudian

sambil membetulkan bangkunya yang rubuh ke tanah. Keesokan harinya bengkak pada kaki Ti Then pun sudah kempis kembali, kedua orang itu sesudah membayar rekening kamar bersama sama berjalan meninggalkan kota itu.

Ujar wi Lian In ditengah perjalanan: "Perjalanan kita masih ada tiga hari lamanya baru sampai dirumah, semoga saja jangan terjadi urusan lagi."

"Aku kira tidak bisa terhindar lagi."

"Kau mengira masih ada orang yang akan menghalangi perjalanan kita selanjutnya?"

"Tidak salah" sahut Ti Then sambil mengangguk.

Sepasang alis Wi Lian in dikerutkan kencang-kencang, sedang senyuman yang menghiasi bibirnya pun bilang lenyap.

"Akibat yang diterima Kwan si Ngo Koay serta Giok Bin Langcun apa belum cukup memberi peringatan kepada mereka"

"Mungkin ada sebagian yang merasa takut lalu mengundurkan diri, tapi Majikan ular serta kakek kura-kura itu tidak akan berpangku tangan" Tidak terasa perasaan sedih dan cemas menghiasi seluruh wajah Wi Lian In.

"Dengan kepandaian silatmu saat ini sudah tentu tidak akan takuti mereka berdua, tapi ular-ular berbisa dari Majikan ular itu sukar untuk dihadapi, jika dia atur barisan selaksa ular ditengah jalan lalu bagaimana dengan kita?"

"Begitu melihat mereka munculkan dirinya jangan segera turun tangan melawan mereka, terjang dulu dua tiga li kemudian baru berhenti dan lawan mereka, dengan demikian kita tidak mungkin bisa terjerumus ke dalam barisan selaksa ular mereka lagi"

Wi Lian In mengangguk sesudah dirasanya cara ini sangat beralasan sekali. "Kalau begitu baiknya kita berbuat seperti itu saja .

. ."

Kedua ekor kuda tunggangan mereka berdua dengan cepatnya melanjutkan perjalanan ke depan, pada siang harinya sampailah mereka disebuah kota kecil untuk beristirahat dan dahar, setengah jam kemudian sekali lagi mereka menaiki kuda tunggangannya melanjutkan perjalanan ke depan.

Sesudah keluar dari kota kecil itu bayangan asap rumah serta manusia semakin lama semakin jarang dan akhirnya tidak terlihat lagi sama sekali, pemandangan yang sunyi senyap disekeliling tempat itu menambahkan suasana yang menyeramkan.

Agaknya di dalam hati Ti Then sudah merasakan sesuatu, ujarnya kepada Wi Lian In dengan perlahan-

"Mulai sekarang kita harus bertindak lebih berhati hati lagi" "Ehmmm . . ." sahut Wi Lian In sambil mengangguk. "Mungkin

sudah hampir tiba."

Setelah lewat setengah li kemudian di hadapan mereka berdua ternyata tidak salah lagi muncul seseorang yang berdiri dengan tegaknya ditengah jalan..

-0000000-

Muncul pengemis yang sudah amat tua dengan rambut yang sudah memutih semua.

Pada tangannya mencekal sebuah tongkat kayu pada tubuhnya memakai baju dari bahan yang amat kasar dan kuat, panca inderanya tidak begitu jelek sekali hanya saja pada wajahnya terlihat beberapa bekas kulit yang memutih sehingga wajahnya kelihatan seperti peri yang baru muncul dari kuburan.

Begitu Ti Then melihat orang munculkan diri ternyata seorang pengemis tua dalam hati sedikit merasa diluar dugaan, dia sama sekali tidak bisa mengingat kembali apakah di dalam Bu lim ada manusia semacam ini, karenanya dengan suara yang perlahan tanyanya pada Wi Lian In. "Tahukah kau siapa orang itu?"

"Tidak tahu" sahutnya sambil gelengkan kepalanya. "Aku belum pernah dengar di dalam Bu lim ada seorang nenek yang jadi pengemis" "Dia menghalangi perjalanan kita agaknya mengandung niat jahat"

"Seorang nenek pengemis yang tidak diketahui asal usulnya buat apa kita takuti dirinya, nanti biar aku yang hadapi dia"

Ketika mereka berdua berbicara sampai di situ tunggangan mereka sudah tiba di hadapan nenek pengemis itu.

Ti Thenlah yang pertama-tama menahan tali les kudanya, sambil memberi hormat ujarnya: " Entah bagaimana sebutan Toa nio ini? Kenapa menghalangi perjalanan kita?"

"Aku disebut orang sebagai Tang Lo Kui so atau nenek iblis penghalang jalan" sahut nenek pengemis itu dengan air muka tidak berubah sedikit pun juga, "selamanya pekerjaanku adalah minta sedekah pada orang-orang yang melakukan perjalanan"

"Ha ha ha ha . ." tidak tertahan Ti Then tertawa terbahak-bahak. "Dengan menghalangi orang yang melakukan perjalanan hanya untuk minta sedekah bukankah terlalu tidak pakai aturan?"

"Perkataan dari siauw Ke heng ini sedikit pun tidak salah" sahut Nenek iblis penghalang jalan itu sambil tertawa juga. "Hanya saja dengan cara ini minta sedekah selamanya aku belum pernah meleset"

"Lalu Toa nio inginkah apa?"

"Biarlah siauw ko sembarang beri apa saja"

Mendengar jawaban itu diam-diam Ti Then menggerutu, dengan nada mencoba tanyanya lagi.

"Toa nio inginkan uang atau barang yang lain?"

"Mau uang." sahut Nenek iblis penghalang jalan itu "Tapi bila di dalam tubuh siauw ko ada barang yang jauh lebih berharga dari uang perak sedang siauw ko rela diserahkan padaku maka aku akan menerimanya dengan penuh perasaan gembira." "Cayhe hanya punya uang perak saja, barang yang lain tidak ada lagi."

"Kalau begitu beri aku uang perak itu saja." "Ehmmm . . . kenalkah Toa nlo kepada cayhe?"

"Tidak." sahut nenek iblis penghalang jalan itu. "selamanya aku tidak pernah punya pikiran untuk kenal dengan siapa pun juga." Ti Then termenung berpikir sebentar.

"Jika cayhe tidak beri uang kepada mu, kau punya niat berbuat apa?"

"He he he      " Tertawa nenek iblis penghalang jalan itu dengan

amat seramnya. "sesudah bertemu nenek iblis penghalang jalan jika tidak mau bongkar harta sendiri untuk menderma, hal itu merupakan pekerjaan seorang yang amat tolol."

"Ha ha ha . . . bukannya cayhe sayang terhadap beberapa tahil uang perak tersebut, aku takut Toa nio tidak pandang sebelah mata pun terhadap uangku itu."

"Hal ini harus tergantung pada siauwko mau beri berapa, kalau beberapa tahil perak saja sudah tentu aku tidak akan mau."

Dari dalam sakunya Ti Then mengambil keluar uang perak seberat sepuluh tahil kemudian dilemparkan kearahnya. "Sepuluh tahil perak ini coba Toa aio lihat cukup tidak ??"

Nenek iblis penghalang jalan itu segera menyambut uang yang dilempar kearahnya itu, sesudah ditimang timang beberapa saat ditangannya segera dilempar kembali kearah Ti Then, ujarnya:

"Aku kembalikan padamu, terlalu ringan."

"Sebetuinya Toa nio minta berapa baru merasa puas" Tanya Ti Then sambil menerima kembali uang peraknya itu. "Paling sedikit seratus tahil perak."

Mendengar perkataan itu Wi Lian in yang berada disisi Ti Then menjadi amat gusar, bentaknya dengan nyaring: "Nenek jelek, aku lihat matamu sudah buta agaknya, baiklah, aku beri barang ini saja kepadamu."

Tubuhnya yang kecil ramping dengan cepat melayang turun dari atas tunggangannya, serentetan sinar putih berkelebat dari pinggangnya, dengan kecepatan yang luar biasa menotok ke hadapan tubuh nenek iblis penghalang jalan itu.

Nenek iblis penghalang jalan hanya tertawa terkekeh kekeh dengan seramnya, tubuhnya dengan cepat meloncat mundur beberapa kaki ke belakang sedang mulutnya teriaknya dengan keras:

"Tunggu sebentar, kau sudah tidak maui nyawa kekasihmu itu

???"

Wi Lian In yang mendengar perkataannya sedikit mengherankan menjadi melengak, sambil menghentikan serangannya dengan gusar tanyanya: "Kau bilang apa ???"

"Jika dia tidak aku beri obat penawar nyawanya tidak akan kuat bertahan satu jam lagi" . sahut nenek iblis penghalang jalan itu sambil menuding kearah Ti Then-

"Omongan nenekmu"

Pedang panjangnya digetarkan, sekali lagi dia menubruk kearahnya.

Dengan cepat seru Ti Then begitu melihat gerakannya itu: "Jangan bergerak, perkataan dari Toa nio ini sedikit pun tidak

salah."

Begitu Wi Lian In mendengar Ti Then mengakui perkataannya itu dalam hati menjadi sangat terkejut, dengan gugup dia menahan serangannya kemudian menoleh kearah Ti Then-"Sudah terjadi urusan apa??"

"Aku terkena racun yang berbahaya.."

"Kau terkena racun ?? " tanya Wi Lian In melengak. "Benar." sahut Ti Then sambii mengangguk. Toa nio ini sesudah menerima uang perak itu secara diam-diam sudah melapisi uang itu dengan semacam racun yang sangat berbahaya kemudian baru dikembalikan kepadaku, kini tangan kananku sudah kaku tidak sanggup diangkat kembali"

Lengan kanannya dengan lemas melurus ke bawah tanpa bergerak, agaknya memang benar sudah terkena racun.

Seketika itu juga Wi Lian in menjadi amat gusar sekali, sambil menuding ke arah nenek iblis penghalang jalan itu makinya.

" Nenek jelek terkutuk, kau berani menggunakan cara yang kotor melukai orang lain aku adu jiwa dengan kau"

Tubuhnya sekali lagi menerjang ke depan, pedangnya dengan kecepatan bagaikan kilat menusuk dadanya.” Jangan bergerak" seru Ti Then cepat.

Terpaksa Wi Lian In menghentikan gerakannya kembali, dengan uring-uringan serunya "Kau takut apa? sesudah ahu bunuh nenek busuk ini segera aku rebut obat penawar itu untuk mengobati kau"

"Tidak mungkin . .." seru Ti Then sambil gelengkan kepalanya. ".. Terlambat. . Racun Toa nio ini sangat lihay sekali, kini racun itu sudah meresap ke dalam badanku"

"Lalu bagaimana baiknya?" tanya Wi Lian In dengan perasaan terkejut bercampur cemas...

Dengan perlahan Ti Then angkat kepalanya memandang nenek iblis penghalang jalan itu, sambil tertawa sedih ujarnya:

"Toa- nio racunmu ini apa namanya. . ternyata begini lihay kerjanya"

"He he he . . ." Tertawa lagi nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat menyeramkan. "obat itu adalah suc Hun si Kok bun atau racun pencabut sukma penghancur tulang, cukup terkena sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh seseorang."

Tubuh Ti Then bergoyang dengan kerasnya, tanyanya lagi. "Toa nio, kenapa kau mau bunuh aku dengan menggunakan racun itu?"

"He he he . . . aku belum tentu pasti membunuh kau, asalkan kau bisa mengabulkan permintaanku segera akan memperoleh obat penawar tersebut."

"Seratus tahil uang perak itu?"

"Itu hanya omongan guyon saja." Sahut nenek iblis penghalang- jalan itu sambil gelengkan kepalanya, "Sekali pun kau beri selaksa tahil uang perak kepadaku belum tentu aku mau menerimanya. ."

"Kalau begitu apa yang dimaui Toa nio?" "Kitab pusaka Ie cin Keng. ."

"Heeei .... sayang . . . sayang. ." Seru Ti Then sambil menghela napas panjang. "Kitab pusaka Ie cin Keng itu sudah tidak berada ditanganku lagi"

"Hmmm . . . hmmm . . jangan menipu aku, kitab pusaka Ie cin Keng saat ini masih berada tanganmu"

"Sungguh." seru Ti Then dengan air muka serius. "Kemarin ketika masih berada di dalam kota Ho Kiang Sian secara diam-diam cayhe sudah suruh seseorang mengirim kitab pusaka Ie cin Keng itu bawa pulang ke dalam Benteng Pek Kiam Po." Dengan sangat dingin nenek iblis penghalang jalan itu mendengus.

"Kau perbolehkan aku memeriksa badanmu?"

"Boleh . . boleh. ." sahut Ti Then sambil mengangguk. "Jika kau temukan maka aku akan sembahkan kitab itu kepadamu tanpa syarat."

Ketika nenek iblis penghalang jalan itu mendengar dia menyawab dengan begitu ringannya dalam hati dia sedikit percaya juga, ujarnya kemudian. "Baiklah, aku mau percaya omonganmu itu. sekalang aku mau beri waktu pada kalian berdua. Kau harus mengusahakan di dalam dua hari ini mengejar kembali kitab pusaka Ie Cin Keng itu."

"Tapi orang itu sudah berangkat satu hari satu malam, bagaimana aku bisa mengejarnya?"

"Hemmm . . . mudah sekali." sahut ttenek iblis penghalang jalan itu sambil menunjuk kearah Wi Lian in- "Kuda tunggangan budak itu merupakan seekor kuda jempolan, seharusnya dia bisa mengejar orang itu."

"Tapi kau sudah bilang aku hanya bisa bertahan satu jam saja . .

. ."

"Kau suruh dia pergi kejar." potong nenek iblis penghalang jalan itu dengan cepat, "sedang kau tinggal bersamaku, aku bisa memberi sedikit obat penawar untukmu sehingga racun itu tidak sampai bekerja lebih cepat"

"Ehmm . . . suatu ide yang sangat bagus" sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Jika kau sudah setuju cepat suruh dia berangkat."

Dengan perlahan Ti Then menoleh kearah Wi Lian In, ujarnya: "Nona Wi, kau pergilah mengejar orang itu kembali."

"Tapi setelah aku berhasil mengejar orang itu, kita harus bertemu dimana?"

Deggan menggunakan tongkatnya nenek iblis penghalang jalan itu menuding ke arah utara, ujarnya:

"Di sebelah sana ada sebuah hutan cemara yang sangat rapat, kau sudah dapat melihat belum?"

Segera Wi Lian in menoleh kearah yang ditunjuk. terlihatlah kurang lebih satu li dari tempat itu terdapat sebidang tanah yang ditumbuhi pohon cemara dengan rapatnya, segera dia mengangguk. "Ehmm ... sudah tahu" "Kita akan menanti kau di dalam sebuah kuil bobrok ditengah pohon cemara itu, Pada hari lusa saat seperti ini jika aku tidak melihat kau kembali dengan membawa kitab pusaka Ie Cin Keng itu maka aku segera akan bunuh mati dia"

Wi Lian in tidak mengucapkan kata-kata lagi, segera dia meloncat naik ke atas kuda Ang san Kheknya dan dilarikan dengan cepat ke depan.

Nenek iblis penghalang jalan itu sesudah melihat bayangan wi Lian in lenyap dari pandangan barulah ujarnya kepada Ti Then- "Ayoh jalan, kita tunggu di dalam kuil bobrok itu"

"Cayhe kini merasa setengah badan sudah menjadi kaku, jika naik kuda mungkin bergerak sedikit saja segera akan terjatuh"

"Tangan kirimu masih bebas, gunakan tangan kirimu untuk mencekal tali les kuda"

"Bukankah kau bisa beri aku sedikit obat pemunah?"

"Tunggu sesudah tiba di dalam kuil bobrok itu kita bicarakan lagi"

Ti Then tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa mengikuti perkataannya dengan menggunakan tangan kiri mencekal tali les kuda, sesudah duduk tenang barulah dengan perlahan dia jalankan kudanya menuju kearah hutan cemara itu.

Nenek iblis penghalang jalan pun segera mengikuti dari belakang tubuhnya, ujarnya dengan geram... "Hey cepat sedikit larinya, jangan perlahan lahan seperti itu."

Ti Then tetap tidak ambil perduli dengan perlahannya dia maju ke depan, ujarnya kemudian-

"sungguh aneh sekali, dahulu bagai mana cayhe belum pernah dengar sebutan Toa nio ini ??"

"Dulu aku tidak disebut Nenek iblis penghalang jalan" "Lalu siapa nama Toa nio yang sebetuinya ??" "Aku sudah ada dua puluh tahun lamanya tidak pernah berkelana di dalam dunia kangouw, Pada dua puluh tahun yang lalu aku disebut sebagai "Tok Mey Jin" atau perempuan cantik berbisa."

"Oooh . ." seru Ti Then kaget. "Kiranya Toa nio adalah Tok Mey Jin yang pernah menggetarkan dunia kangouw Pada masa yang silam, tapi . . . cayhe dengar sewaktu muda Toa nio sangat cantik sekali bagaimana kini bisa berubah menjadi begini rupa ???."

"Kau tanya belang-belang putih Pada wajah ku ini??." "Benar, kenapa bisa begitu??."

"Sesudah kau ketahui sebutanku, sudah tentu tahu juga ilmu andalanku yang paling utama bukan ??"

"Tahu" sahut Ti Then sambil mengangguk. . "Katanya Toa nio paling gemar menyelidiki berbagai macam racun, kau adalah jago ahli di dalam penggunaan racun".

"Belang-belang putih pada wajahku ini akibat dari penyelidikan racun-racun itu."

"Ooooh kiranya begitu" seru Ti Then sambil memandang kearah wajahnya.

"Hanya dikarenakan gemar bermain racun mengakibatkan wajah yang cantik menjadi jelek, bukankah hal itu terlalu sayang???"

"Sudah tentu sedikit tidak berharga, hanya saja akhirnya aku berhasil membuat suatu racun yang tanpa bandingan di dalam Bu lim pada saat ini."

"Tapi apa gunanya???"

"Hmm.. . hmm... jika tidak berguna ini hari kau tidak akan mengikuti aku dengan demikian penurutnya . "

"Aduh. . . celaka. ." Teriak Ti Then tiba-tiba. "Kaki kiriku sudah tidak bisa bergerak lagi."

"Jangan berteriak lagi, nanti sesudah sampai dikuil aku beri kau sedikit obat penawarnya" Sesaat mereka bercakap cakap itulah mereka berdua sudah memasuki hutan cemara itu.

Kuil bobrok yang dimaksud merupakan kuil gunung yang terletak ditengah tengah hutan cemara itu, walau pun dari luaran kelihatannya sudah rusak dan hampir roboh tapi masih cukup aman untuk digunakan sebagai tempat meneduh dari hujan-

Sesampainya di depan kuil itu Ti Then hanya merasakan sepasang kakinya sudah menjadi kaku tidak bisa bergerak lagi, ujarnya kemudian sambil memegang kencang kudanya. "Aku tidak bisa bergerak lagi."

Nenek iblis penghalang jalan itu segera mencengkeram baju punggungnya kemudian menyeret dia ke dalam kuil tersebut. Tapi baru saja berjalan hingga ruangan dalam mendadak matanya terbentur dengan sesuatu. secara mendadak air mukanya berubah sangat hebat teriaknya.

"Bagus sekali, siapa yang tidak tahu diri ..."

Berbicara sampai ditengah jalan mendadak tubuhnya tergetar amat hebat kemudian rubuh terjengkang dengan perlahan kearah depan-

Kiranya dia sudah melihat di atas dinding di dalam ruangan kuil itu tertuliskan delapan hurup yang amat besar .

" Nenek iblis penghalang jalan, saat kematianmu sudah tiba."

Hanya saja untuk sesaat lamanya dia sama sekali tidak menduga kalau di dalam kuil itu sudah bersembunyi seorang musuh pada saat dia memaki dengan perasaan gusar bercampur terkejut itulah terlihatlah sesosok bayangan tubuh manusia secara mendadak berkelebat dari belakang pintu kuil, satu kali totokan dengan tepat menghajar jalan darah Yu Ming Hiat pada punggungnya .

Karenanya sebelum dia selesai berbicara tubuhnya sudah rubuh ke atas tanah. Orang yang bersembunyi di balik pintu kuil kemuuian membokong melancarkan serangan kearah Nenek iblis penghalang jalan itu bukan orang lain melainkan Wi Lian in adanya.

Tubuh Ti Then ikut dengan Nenek iblis penghalang jalan itu rubuh ke atas tanah ujarnya sambil tertawa:

"Sejak tadi sulah kuduga kau bisa berbuat begini."

Sambil tersenyum Wi Lian in membimbing dia bangkit berdiri. "Bagaimana rasanya sekarang????"

"Seluruh badanku tidak bisa bergerak lagi".

Wi Lian In segera membimbing tubuhnya bersandar Pada dinding kuil kemudian membalikan badan nenek iblis penghalang jalan itu, tangannya dimasukan ke dalam sakunya mengambil keluar tiga buah botol kecil yang terbuat dari batu pualam.

Terlihatlah di dalam ketiga botol itu berisikan obat-obat bubuk dengan warna kuning, putih serta hitam, Melihat hal itu tanpa terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat-rapat. "Heeei . . yang mana merupakan obat penawar?" tanyanya. "Lebih baik sadarkan dia terlebih dulu kemudian baru bertanya lebih jelas"

Wi Lian In terpaksa meletakan kembali ketiga buah botol porselen itu, sesudah menotok jalan darah kaku pada tubuh Nenek iblis penghalang jalan itu barulah dia membebaskan jalan darah Yi Ming Hiat nya.

"Hei . . kali ini kau yang sudah menolong jiwaku" Ujar Ti Then sambil menghela napas panjang. "seharusnya kali ini aku mengucapkan terima kasih kepadamu"

"Hemm, kenapa sungkan-sungkan begini"

Ti Then tersenyum, dengan cepat dia berganti bahan pokok pembicaraan. " Nenek iblis penghalang jalan ini sebetulnya merupakan Tok May Jin Han Giok Bwe yang pernah menggetarkan dunia kangouw pada masa yang silam, tentu kau pernah dengar sebutan itu bukan?"

"Oooh" jerit Wi Lian in dengan amat terkejut. "Tapi aku dengar Tok May Jin Han Giok Bwe merupakan seorang yang paling cantik dalam dunia kangouw sedangkan dia kini merupakan seorang nenek yang amat jelek?"

"Dia bilang belang-belang putih pada wajahnya itu merupakan akibat dari percobaannya terhadap obat beracun-"

"Tidak aneh kalau dia sangat lama tidak munculkan dirinya di dalam Bu lim, kiranya dia malu untuk bertemu dengan orang . . . Hmm, kau sudah sadar kembali"

"Tidak salah," Nenek iblis penghalang jalan itu memang sudah sadar kembali.

Agaknya dia sedang berusaha menggerakkan tubuhnya, terlihatlah pada belang-belang putih pada wajahnya itu memancar keluar sinar merah yang samar-samar. Makinya dengan amat gusar.

"Budak jelek, kiranya kau"

Wi Lian In segera maju ke depan menggampar pipinya dengan amat keras. "Ayoh maki lagi, aku segera akan cabut mulutmu" .

Terpaksa Nenek iblis penghalang jalan itu mendengus saja tanpa berani memaki lagi.

"Hey aku tanya kau, kau mau mati atau mau hidup???" Tanya Wi Lian In dengan keren.

"Aku pilih mati, cepat kau turun tangan-"

Wi Lian in menjadi melengak "Kau cari mati??" "Ehmm. "

Wi Lian In mengambil kembali ketiga buah botol dari atas tanah, tanyanya: "Ketiga macam obat bubuk ini yang mana merupakan obat penawar ??"

"Tidak tahu"

Wi Lian In menjadi amat gusar, bentaknya setengah menjerit: "Kamu tidak mau bilang nanti aku bunuh kau. ."

"Ehmm     hemmm tunggu apa lagi ???"

Melihat sifatnya yang ketus seperti batu cadas itu untuk beberapa saat Wi Lian In dibuat serba salah, sambil menggigit kencang bibirnya kemudian baru ujarnya lagi.

"Asal kau mau beritahu botol yang mana berisikan obat penawar, bagaimana kalau aku lepaskan kau?"

" Hemmm . . hemmm . . . jangan harap" sahut nenek iblis penghalang jalan itu tetap dengan nada yang amat dingin-

Wi Lian in dibuat tidak bisa berkutik lagi, terpaksa dia menoleh kearah Ti Then minta pendapatnya.

"Dia tidak mau mengaku botol yang mana berisi obat penawar, lalu bagaimana baiknya?"

"Kau dengar saja perintahku kemudian melaksanakannya . ..

sekarang cabut pedangmu."

Wi Lian In menurut dan mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung. " Kemudian ?"

"Kerek keluar biji matanya"

Wi Lian In segera menempelkan ujung pedangnya ke pinggiran kulit mata sebelah kanan Nenek iblis penghalang jalan itu, lagaknya seperti sungguh-sungguh hendak mengorek keluar biji matanya.

Air muka nenek iblis penghalang jalan itu segera berubah pucat pasi bagaikan mayat, teriaknya ngeri. "Jangan . . aku nanti beri tahu"

"Hmm . . cepat katakan-" "Bubuk yang kuning adalah obat penawar itu"

"Lalu bagaimana cara menelannya?" tanya Wi Lian In lagi sambil menarik kembali pedangnya.

"Hmm . ." Dengus nenek iblis penghalang jalan itu dengan gemasnya. "Minumkan satu tetes sudah cukup"

Dengan cepat Wi Lian in mengeluarkan bubuk obat berwarna kuning itu pada telapak tangannya kemudian disodorkan ke hadapan Ti Then-"Kau bukalah mututmu, biar aku yang bantu kau."

"Tidak, berikan dia terlebih dulu"

Wi Lian In berpikir cara ini pun memang benar, maka dengan langkah perlahan dia berjalan kembali ke samping tubuh nenek iblis penghalang jalan itu, bentaknya. "Buka mulutmu, cepat kau makan dulu obatmu ini"

"Heeei . . sudahlah, tidak kusangka kegagahanku pada masa yang silam harus habis dihari ini. . Hoi. . bubuk putih itu baru obat penawar yang sebenarnya"

"Nenek busuk." Maki Wi Lian in dengan gusar. "Jika bukannya Ti Toako selalu waspada kurang sedikit kau tipu mentah-mentah lagi"

Sehabis berkata dia membuang botol obat berwarna kuning itu ke atas tanah dan mengambil bubuk yang berwarna putih, sesudah mengeluarkan sedikit diangsurkan kedekat mulutnya.

"Ayooh... kau makan dulu obat ini"

Nenek iblis penghalang jalan itu tidak melawan, dengan buka mulutnya lebar-lebar dia menelan habis obat bubuk itu.

Setelah ditunggu beb erapa saat Wi Lian in tetap tidak melihat perubahan apa pun pada dirinya, barulah dia mengeluarkan lagi bubuk itu dan diberikan pada Ti Then-

Begitu obat itu masuk ke dalam mulutnya Ti Then segera merasakan suatu hawa dingin merembes masuk ke dalam perutnya kemudian hawa dingin itu berubah menjadi suatu aliran yang amat pangs mengaliri seluruh badannya, dalam hati dla tahu obat itu memang betul-betul obat penawar, tanyanya kemudian-

"Hoy nenek iblis penghalang jalan, bubuk kuning itu sebetuinya obat apa?"

"Mie Hun Yok atau obat pembingung sukma, siapa saja yang menelan obat itu segera akan menjadi gila."

"Ehmm . . . lalu bubuk hitam itu adalah bubuk sun Hun si Kok hun tersebut?"

Baru saja nenek iblis penghalang jalan itu hendak memberikan jawabannya mendadak seperti sudah mendengar sesuatu air mukanya terlihat berubah sangat hebat sekali, dengan perasaan terkejut bercampur cemas ujarnya:

"Aduh celaka. Hey budak cepat bebaskan jalan darahku, kalian segera akan berubah menjadi setumpukan tulang-tulang putih."

Melihat sikapnya yang sungguh-sungguh dan amat serius tidak urung wi Lian in dibuat merasa terkejut juga, bentaknya: "Kau jangan omong kosong"

"Benar" seru Ti Then juga. "Hoy nenek iblis penghalang jalan apa arti perkataanmu itu ? Kenapa kalau kita tidak bebaskan jalan darahmu maka kita akan berubah menjadi tulang-tulang putih?"

"Yu Toa Hay sudah bawa kawanan ular berbisanya kemari" "Sungguh??" Tanya Ti Then dengan amat terperanyat sehingga

hampir-hampir meloncat bangun- "Kenapa aku sama sekali tidak dengar suaranya?"

"Dia masih berada kurang lebih ratusan kaki jauhnya dari kuil ini, sudah tentu kau tidak mungkin bisa dengar."

"Lalu bagaimana kau bisa mendengar suaranya? " Tanya Ti Then dengan penuh keheranan-

"Aku sendiri juga tidak dengar, tapi ketika tadi ada angin yang bertiup datang ditengah tiupan angin itu secara samar-samar membawa bau yang amat amis sekali. Ular- ular berbisa dari Majikan ular Yu Toa Hay itu aku paling jelas mengetahuinya, hawa itu memang tidak salah lagi bau dari ular-ular berbisanya." Berbicara sampai di sini dia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lagi: " Cepat bebaskan aku kalau tidak mungkin akan terlambat."

Dengan perlahan Ti Then bangkit dan berjalan keluar dari kuil untuk melihat ujarnya kemudian sambil kembali ke dalam ruangan.

"Tentu dia atur barisan selaksa ularnya terlebih dahulu disekeliling kuil ini dengan perlahan-lahan, jika kau tidak percaya omonganku nanti jangan menyesal"

"Aku bisa percaya omonganmu itu, tapi menunggu sesudah dia munculkan diri baru bebaskan dirimu kiranya juga belum terlambat."

"Tapi sesudah kau melihat munculnya dia saat itu sudah sangat terlambat" ujar nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat gusar.

"Yaaah . . . terserah." seru Ti Then sambil angkat bahunya. "Kemarin pagi aku sudah pernah menyajal ular- ular beracunnya, walau pun aku tergigit oleh ularnya itu tapi tidak selihay apa yang aku duga sebelumnya, aku percaya masih punya kekuatan untuk melawan mereka."

Sebaliknya ketika Wi Lian In mendengar mereka sedang membicarakan soal ular air mukanya tidak terasa berubah menjadi amat murung. ujarnya dengan cemas. "Kini kau sudah bisa turun tangan belum?"

"Sudah". sahut Ti Then sambil mengangguk. "Seluruh badanku sudah bisa bergerak semua. ."

"Hemmm . . hemmm . . , kau jangan terlalu tidak pandang barisan selaksa ularnya majikan ular itu." Timbrung nenek iblis penghalang jalan itu sambil mendengus. . "Keadaan pada kemarin pagi aku sudah melihat semuanya, saat itu majikan ular tidak berada di atas bukit itu sedang di atas bukit pun banyak tumbuh bambu dengan lebatnya sehingga kau masih bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhmu untuk melarikan diri, tapi situasi pada tempat ini sangat lain-" Ti Then tersenyum.

"Sekali pun tidak sama aku juga ingin menyajal, melarikan diri bagaimana pun juga bukan suatu cara yang tepat."

"Hemm . . . di dalam dunia kangouw saat ini hanya aku seorang yang bisa memecahkan barisan selaksa ularnya Majikan ular itu,jika kau pingin bertempur melawan mereka tentu akan menemui binasa"

Mendengar perkataan itu dalam hati diam-diam Ti Then merasa sedikit bergerak. sambil memandang tajam wajahnya dia bertanya lagi.

" Kau punya cara apa untuk menolak dan memecahkan barisan selaksa ularnya"

"Kau bebaskan jalan darahku dulu, aku segera akan melaksanakannya untuk kalian lihat."

"Tidak." sahut Ti Then ketus. "Kau bicara lebih dulu."

" Kalau aku beritahukan kepadamu kau mau melepaskan aku tidak???"

"Asalkan kau tidak cari gara-gara lagi kepadaku untuk minta kitab pusaka Ie cin Keng yang kau maksud itu sudah tentu aku mau melepaskan kau pergi"

Nenek iblis penghalang jalan menundukkan kepalanya termenung berpikir sebentar kemudian barulah sabutnya:

"Baiklah, bubuk obat berwarna kuning itu bisa melawan barisan selaksa ularnya Majikan ular, cepat kau ambil bubuk itu dan sebarkan disekeliling kuil, dengan demikian kita tidak akan takut lagi terhadap serangan ular-ular berbisa itu."

000000

BAGIAN 19

TI THEN segera memungut botol yang berisikan bubuk bewarna kuning itu, sambil memperhatikan botol tersebut ujarnya. "Tadi kau bilang isi bubuk kuning ini adalah obat Mie Hun Yok. apa bubuk ini juga bisa digunakan untuk memabokkah ular- ular berbisa?"

"Tidak salah. .." sahut nenek iblis penghalang jalan itu sambil mengangguk.

"Bubuk Mie Hun Yok ku itu bisa membuat kesadaran orang menjadi kacau, juga bisa digunakan pula untuk menggilakan binatang-binatang buas."

"Tapi jika ular- ular berbisa itu menjadi gila, bukankah malah semakin sukar untuk menghadapinya? "

"Di dalam bubuk kuning itu sudah aku campur dengan belerang, jika ular- ular berbisa itu mencium baunya belerang mereka tidak akan berani menyerbu ke dalam kuil lagi . . . sudahlah, jika kau tidak mau membebaskan jalan darahku, cepatlah sebarkan bubuk kuning itu disekeliling kuil, jangan banyak omong lagi."

Ti Then tersenyum, segera dia meloncat ketengah kuil dan membuang penutup botolnya, sesudah itu barulah menyebarkan bubuk kuning tersebut kesekeliling kuil bobrok itu, di dalam sekejap saja sudah terlihatlah bubuk kuning itu dengan berbentuk lingkaran melingkari kuil itu. Ujarnya kemudian- .

"Hei nenek iblis penghalang jalan, aku mau beritahu sesuatu urusan kepadamu"

"Hemm . . kau mau ingkari omonganmu" Dengus nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat dingin..

"Bukan, nanti sesudah menghancurkan barisan selaksa ularnya Majikan ular aku segera akan melepaskan kau pergi, aku mau bilang sebetuinya aku tidak memperoleh itu kitab pusaka Ie Cin Keng seperti yang sudah disiarkan di dalam Bu lim, berita itu sengaja disebarkan oleh setan pengecut serta si naga mega Hong Mong Ling dari benteng Pek Kiam Po untuk bertujuan mencelakaiku"

"Hemm . . siapa itu setan pengecut?" tanya nenek iblis penghalang jalan itu lagi sambil mendengus. "Tidak tahu, dia memakai sebuah kerudung dari kain hitam pada wajahnya sehingga tidak kelihatan air muka yang sebetuinya, karena itu aku memanggil dia sebagai si setan pengecut, dia menyelusup masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po menculik pergi nona Wi, akhirnya aku temui mereka dan melukai sedikit kulit kulit kepalanya dan menolong nona Wi kembali, mungkin karena dia tidak bisa mengalahkan aku sengaja sekongkol dengan Hong Mong Ling menyebarkan berita kosong itu, mengatakan aku sudah memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng yang sudah lama hilang itu"

"Aku pernah dengar katanya Hong Mong Ling itu hendak dikawinkan dengan nona Wi ini, bagaimana secara mendadak bisa bentrok dengan pihak Benteng Pek Kiam Po?"

"Soal ini .." sahut Ti Then tersenyum. "Sebenarnya soal ini dikarenakan sifatnya yang jelek dan suka pelesir, sering sekali secara diam-diam dia keluar dari Benteng cari perempuan, berita ini akhirnya diketahui nona Wi sehingga begitulah Wi Pocu di dalam keadaan gusar sudah putuskan hubungan ini, dia mengira akulah yang sudah merusak hubungannya itu karenanya di dalam keadaan gusar sudah melakukan pekerjaan ini"

"Walau pun aku tidak tahu jelas persoalannya, tapi kau memang mungkin sengaja hendak merusak perkawinan mereka"

"Benar atau bukan aku wegah debat dengan kau, asalkan kau mau percaya kalau aku tidak mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu sebentar lagi pasti aku lepaskan kau pergi, setelah itu aku harap kau jangan datang mencari gara-gara lagi kalau tidak jangan salahkan pedangku tidak kenal am pun. Aku sudah bunuh mati tiga orang kini tidak mungkin akan memperlakukan istimewa terhadap dirimu..."

Baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengar suara mendesis yang sangat perlahan tapi ramai berkumandang datang dari delapan penjuru angin-Air muka Wi Lian In berubah amat hebat, teriaknya: "Majikan ular sudah datang" Dengan perlahan Ti Then mencabut ke luar pedangnya, ujarnya sambil tertawa dingin-"Lebih balk kakek kura-kura Phu Tong song itu pun ikut datang kemari"

Baru saja dia bicara terdengarlah si majikan ular Yu Toa Hay sudah berteriak dengan amat keras dari luar kuil:

"Hey nenek tua yang berada di dalam kuil, cepat keluar untuk bicara"

"Hmmm . . . hmmm . . . kalau mau buang kentut cepat dilepaskan- balas nenek iblis penghalang jalan itu dengan amat dingin.

Majikan ular Yu Toa Hay berdiam sebentar tidak bicara, kemudian ujarnya lagi: " Kenapa kau tidak keluar"

"Homm . . .jika mau temul aku cepat bergelinding masuk. ."

"Ha ha ha ha . . . baiklah. ." sahut majikan ular Yu Toa Hay sambil tertawa terbahak bahak. "Kita bicara secara begitu pun boleh juga, sekarang beritahu dulu pada lohu kau menyebut dirimu sebagai Nenek iblis penghalang jalan tapi selamanya Lohu belum pernah mendengar sebutan ini di dalam Bu lim, siapa sebetulnya kau ??"

"Hei manusia jelek jangan berkentut di sana, orang lain mungkin takuti kau sebagai Majikan ular tapi aku tidak akan takut."

"Ha ha ha . . . kalau tidak takut kenapa tidak berani keluar untuk bertemu ?"

Dengan perlahan Nenek iblis penghalang jalan itu menoleh kearah Ti Then sambil ujarnya dengan perlahan

" Cepat bebaskan totokan jalan darahku, biar aku keluar menemui bangsat jelek itu"

"Tidak bisa" sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. "Jika kau berbalik muka dan berdiri satu garis dengan mereka bukankah menambah kerepotan bagiku." Nenek iblis penghalang jalan itu menjadi teramat gusar. "Kau sudah sebarkan bubuk Mie Hun Yok itu disekeliling kuil, masih takut apa lagi?"

Ti Then dengan perlahan menyandarkan tubuhnya ke samping jendela dekat pintu kuil itu untuk melongok ke depan, terlihatlah majikan ular Yu Toa Hay sedang berdiri kurang lebih sepuluh kaki dari kuil bobrok dimana mereka berada, sedang ular-ular beracunnya persis berdiri di depannya menanti perintah penyerbuan, segera dia mengundurkan kembali kesisi nenek iblis penghalang jalan itu sambil sahutnya dengan perlahan-

"Ular-ular beracunnya kini berada kurang lebih lima kaki dari bubuk Mie Hun Yok yang kita sebar pada sekeliling kuil ini sedang dia pun masih berdiam diri menanti. Aku harus menunggu dulu kehebatan dari obat Mie Hun Yok mu itu, jika sudah membuktikan kalau bubuk itu cukup untuk menahan serangan ular-ular itu, barulah aku mau bebaskan dirimu."

"Hmmm . .." Dengus nenek iblis penghalang jalan itu sedikit mangkel "Kau bangsat cilik sungguh banyak curiga, apa kau kira aku sudah menipu kalian-"

"Hm jika kau tidak pandai menipu orang, aku pun tidak akan terkena racun sue hun si Kok bun mu yang lihay itu"

Baru dia selesai bicara terdengar majikan ular Yu Toa Hay yang berada diluar kuil sudah menggember dengan keras: "Hoi Nenek jelek, kenapa kau tidak bicara?"

"Mataku sudah mulai mengantuk. malas kalau suruh bicara dengan kau tua bangkotan"

"Kau apakan bangsat cilik itu?" "Dia belum mati"

"Hei nenek jelek" seru majikan ular lagi dengan keras. "Kau percaya budak itu sungguh-sungguh pergi mengejar kitab pusaka Ie Cin Keng itu untukmu?"

"Sudah tentu" "Lohu beritahu padamu, kau sudah tertipu"

"Ooh begitu??" sahut Nenek iblis pengbalang jalan itu dengan perasaan wegah.

"Pagi ini Kakek kura-kura pernah mengikuti jejak mereka sejak meninggalkan kota Ho Kiang sian makanya ketika kau menghalangi perjalanan mereka kemudian menawan bangsat cilik itu dia sudah melihatnya semua dengan amat jelas, kau kira budak itu sungguh- sungguh pergi mengejar kitab pusaka Ie Cin Keng itu? Ha ha ha. . .

. sesudah ampai ditengah jalan budak itu suduh putar jalan menuju kemari, lohu sekali pandang aja sudab tahu kalau budak itu punya maksud untuk menolong orang, karenanya tidak lanjutkan menguntit dirinya. Kemungkinan sekali budak itu kini sudah bersembunyi di dalam kuil itu."

" Kalau betul lalu bagaimana?" seru Nenek iblis penghalang jalan itu setengah jengkel.

"Budak itu bukan tandinganku, dia tidak sanggup memukul rubuh aku dia jangan harap bisa memperoleh obat penawar itu."

"Hoy nenek jelek, dari pada kita saling bentrok satu sama lainnya lebih baik kita rundingkan secara bersama-sama saja, sesudah kau memperoleh kitab pusaka Ie Cin keng itu bagaimana kalau kita bertiga sama sama mempelajarinya ??"

"Huei bangsat tidak tahu diri, kau boleh pergi mimpikan impianmu yang lucu itu."

"He he . . .jika kau tidak mau menyanggupi terpaksa hanya satujalan kematian yang akan kau terima."

"Kentutmu. "

"Cukup lohu meniup seruling ini, maka di dalam sekejap saja badanmu hanya tinggal tulang-tulang putih yang bertumpuk."

"Kentutmu kali ini semakin bau lagi."

Agaknya majikan ular Yu Toa Hay sudah dibuat gusar oleh omongannya yang ketus itu, teriaknya tiba tiba. "Phu heng, baik-baik jaga belakang kuil, jangan sampai membiarkan nenek jelek ini melarikan diri."

segera terdengarlah suara sahutan dari kakek kura-kura Phu Tong seng yang agaknya berasal dari belakang kuil.

"Yu heng harap legakan hati, sekali pun nenek jelek itu punya sayap juga jangan harap bisa meloloskan diri"

"Hoy nenek jelek" seru Majikan ular lagi dengan keras. .. "sekali lagi lohu beri waktu bagimu untuk pikir-pikir, jika. ."

"Telur busuk mulut makmu" Potong nenek iblis penghalang jalan itu sambil memaki.. . "kau masih punya kepandaian selihay apa silahkan gunakan semua, tidak perlu menggonggong lagi seperti anying busuk ditempat ini. ."

"Baiklah" Teriak majikan ular dengan amat gusar, "Kau boleh coba coba rasakan kelihaianku"

Tidak lama kemudian terdengarlah mengalunnya suara irama seruling yang amat merdu berkumandang memenuhi seluruh penjuru tempat.

Ti Then serta Wi Liau Iri dengan tergesa-gesa meloncat ke depan jendela untuk melongok ke depan, terlihatlah kawanan ular-ular beraCun itu setelah mendengar suara irama seruling tersebut segera menjulurkan lidahnya dan mulai bergerak seekor demi seekor mendekati kuil bobrok tersebut.

Sebaris demi sebaris, seekor demi seekor bagaikan adanya berlaksa tentera yang sedang menyerbu terlihat sinar yang sangat menyilaukan mata memancar keluar dari sekitar tanah kuil itu, kurang lebih lima ratus ekor ular berbisa sudah mulai menyerbu datang.

Melihat hal itu tanca terasa lagi bulu kuduk Wi Lian In pada berdiri, ujarnya dengan perlahan.

"Jika bubuk Mie Hun Yok di atas tanah itu tidak mempan, ini hari kita akan alami nasib yang lebih mengenaskan lagi" "Kau pergilah menyaga pintu belakang" ujar Ti Then kemudian- " Untuk sementara jangan sampai membiarkan kakek kura-kura itu menemui dirimu, tidak perduli bubuk Mie Hun Yok itu mempan atau tidak. nanti kita serbu mereka secara mendadak supaya mereka menjadi kelabakan setengah mati"

"Ehm . ." sahut Wi Lian In sambil mengangguk kemudian dengan sekali lompatan berdiri bersiap-siap di samping jendela dipintu belakang kuil itu, Beratusan ekor ular berbisa bagaikan riak ombak di tengah sungai dengan dahsyatnya mulai mendekati kuil itu lagi.

Suara irama seruling yang bergema semakin lama semakin cepat, sedang gerakan ular itu pun semakin lama semakin cepat bagaikan kilat, di dalam sekejap mata saja ular-ular beracun yang paling depan sudah mendekati lingkaran bubuk Mie Hun Yok yang tersebar disekeliling kuil itu.

Begitu ular-ular beracun itu mencium bau dari bubuk Mie Hun Yok bagaikan baru saja terkena percikan api seketika itu juga putar tubuh dan berputar balik ke belakang.

Jika dipandang dari tempat kejauhan pemandangan tersebut persis seperti ombak yang memukul pantai kemudian membalik lagi.

Tapi walau pun begitu tidak seekor pun dari ular-ular beracun itu yang berhasil melewati garis tersebut.

Melihat hal itu majikan ular Yu Toa Hay menjadi amat terperanyat, dengan cepat dia menghentikan tiupan serulingnya.

"Phu heng, bagaimana keadaan di belakang?"

"Keadaannya tidak menguntungkan-.." seru Kakek kura-kura yang berada di belakang kuil dengan amat terkejut. "Ular-ularmu itu pada bentrok dan saling membunuh sendiri"

"Neneknya. " Teriak majikan ular dengan amat gusar. "Tentu nenek jelek itu sudah sebarkan suatu barang disekeliling kuil itu ....

anying kentut maknya" Dengan cepat dia melintangkan serulingnya kembali membunyikan irama yang lain, agaknya dia mau menarik tenteranya itu

Tapi ular-ular beracun itu sudah kehilangan kendalinya oleh sebab pengaruh obat Mie Hun Yok tersebut, begitu mendengar suara seruling itu selain diantara sebagian kecil yang berhasil meloloskan diri dari bencana, sebagian besar ular-ular beracun itu sudah pada bentrok dan saling membunuh diantara sesamanya, suasana menjadi sangat ramai sekali.

Melihat ular-ular berbisanya tidak mau mendengar perintah, Majikan ular Yu Toa Hay semakin gusar bercampur terkejut, sambil meloncat-loncat menahan hawa amarahnya dia berteriak dengan keras.

"Hoy, nenek bangsat. Kau menggunakan barang apa mengganggu ular-ular lohu itu?"

"Hahahaha menggunakan bekas air pencuci kaki makmu"

Majikan ular Yu Toa Hay tidak bisa menahan kegusarannya lagi, sambil mengaum keras sekali lompat menerjang kearah kuil itu.

Ti Then begitu melihat dia menerjang ke dalam kuil dengan cepat jari tangannya melancarkan totokan membebaskan jalan darah kaku pada badan nenek iblis penghalang jalan itu, kemudian sekali lagi meloncat ke balik pintu untuk bersembunyi.

"Braaaakl ." Dengan menimbulkan suara yang amat keras pintu kuil itu terlempar jauh terkena tendangan dahsyatnya. Waktu itu darah yang mengalir di seluruh badan nenek iblis penghalang jalan itu belum lancar kembali, karena dia belum punya tenaga untuk merangkak bangun, terlihatlah sengaja dia rebah terlentang di dalam kuil dan pura-pura pejamkan matanya.

Begitu majikan ular Yu Toa Hay berhasil menendang rubuh pintu kuil sekali pandang saja dia sudah melihat nenek iblis penghalang jalan yang rebah di atas tanah itu, dia tidak tahu kalau sebelumnya nenek iblis panghalang jalan itu tertotok jalan darahnya, melihat sikapnya yang tidak pandang musuh dalam hati dia menganggap dia sengaja berbuat begitu, sehingga mau tak mau dia dibuat tertegun- juga, teriaknya dengan keras:

"Nenek bangsat. Cepat bangun, lebih baik kita tentukan siapa yang kuat siapa yang lemah saat ini juga."

"Eh ... eh ... ." Seru nenek iblis penghalang jalan itu dengan setengah jengkel "Dari tadi aku sudah bilang kalau bicara sedikit perlahan, aku sudah mau tidur kau ganggu lalu . . hei bangsat tua kau mau berbuat apa"

Majikan ular Yu Toa Hay begitu melihat dia tidak pandang sebelah mata pun kepada dirinya saking gusarnya air mukanya tanpa terasa sudah berubah merah padam dengan melototkan sepasang matanya bentaknya dengan keras:

"Ayoh bangun, kalau tidak jangan salahkan lohu turun tangan terlebih dulu."

Nenek iblis penghalang jalan yang melihat Ti Then bersembunyi di balik pintu kuil segera dalam hati tahu kalau keadaannya tidak berbahaya. Segera dia balikkan tubuhnya dengan wajah menghadap ke belakang ujarnya dengan perlahan:

"Oooh bagus sekali, coba punggungku ini gatal cepat garukkan yang keras."

Bagaimana pun juga pengalaman majikan ular itu amat luas, melihat dia berbuat begitu segera tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres, karenanya dia tidak berani langsung masuk ke dalam kuil, melainkan dengan berdiam diri di depan kuil sepasang matanya menyapu sekejap ke sekeliling ruangan itu, tanyanya dengan suara berat: "Dimana bangsat cilik itu"

"Sudah aku telan hidup,hidup," sahut nenek iblis penghalang jalan itu seenaknya.

" Nenek bangsat bagus sekali perbuatanmu, lohu mau lihat seberapa tinggi kelihayanmu" Ditengah suara bentakan tangan kanannya diayunkan dengan menggunakan seruling iblis ditangannya sebagai senyata rahasia, dengan dahsyatnya dia menyambit mengarah punggung nenek iblis penghalang jalan itu.

"Sreeeet" suara yang amat memekikkan telinga bergema di dalam ruangan kuil itu.

Sepasang tangan nenek iblis penghalang jalan itu segera menekan tanah, tubuhnya dengan cepat melayang kurang lebih tiga depa ke atas menghindarkan diri dari sambitan seruling iblis itu kemudian dengan sedikit mengubah gerakan dengan ringannya dia melayang ke bawah kembali dengan sikap bersila, dengan air muka penuh senyuman mengejek ujarnya.

"Hey Yu Toa Hay. Kau sungguh begitu tidak mampu"

"Hmm . ." Dengus Yu Toa Hay dengan amat dingin. " Lohu masih mengira kau tidak berani ambil keputusan-"

"Ayoh kalau berani masuk ke sini"

"Kau yang keluar." Bentak majikan ular Yu Toa Hay sambil mengetukkan tongkat berkepalakan ular itu ke atas tanah. "Lapangan diluar sangat lebar kalau kau berani, ayoh keluar kita bertanding di luar."

Mendadak .... suara teriak aneh dari kakek kura-kura Phu Tong Seng berkumandang keluar dari belakang kuil,jika didengar dari suara jeritan itu jelas dia sudah menemui serangan yang diluar dugaannya.

Air muka majikan ular segera berubah sangat hebat, dengan cemas teriaknya. "Phu heng kau kenapa?"

Terdengar suara bentrokkan senyata tajam yang sangat ramai diiringi dengan bentakan nyaring berkumandang datang, kemudian terdengar suara teriakan dari kakek kura-kura Phu Tong Seng itu.

"Yu heng, budak itu berada di sini . ." Ti Then yang mendengar Wi Lian In sudah turun tangan melawan kakek kura-kura dalam hati segera merasa kuatir, dia tahu dengan kepandaian silat Wi Lian In sekarang masih bukan tandingar dari kakek kura-kura itu, jika bertempur lama kelamaan dia pasti akan kalah, karenanya dia tidak berani berlaku ayal lagi, dengan perlahan dia putar tubuh keluar dari balik pintu itu.

Majikan ular yang melihat munculnya Ti Then secara mendadak dari balik pintu dalam hati betu1-betul merasa sangat terkejut sekali, dengan tergesa gesa dia meloncat mundur ke belakang.

Tapi .... hampir bersamaan waktu sepasang kakinya meninggalkan permukaan tanah untuk mengundurkan diri ke belakang, serentetan sinar pedang dengan amat cepatnya sudah berkelebat di depan tubuhnya. "Aduh. . ."

Suatu jeritan yang amat mengerikat segera berkumandang keluar dari mulutnya.

Tubuhnya melanjutkan gerakannya meloncat mundur ke belakang, sedang sebuah lengan kirinya beserta tongkat berkepala ular yang sudah terputus menjadi dua menggeletak jatuh tepat di depan pintu kuil.

Kakek kura-kura yang sedang bertempur amat seru dengan Wi Lian In di belakang kuil ketika mendengar suara jeritan ngeri dari majikan ular dengan cepat segera tanyanya. "Yu heng, kenapa kau?"

Majikan ular tetap tidak menyawab, dengan menahan memancarnya darah segar dari lengan sebelah kirinya dengan cepat dia balik tubuh dan melarikan diri dari sana.

Bersamaan waktu itu juga Ti Then pun meloncat setinggi tiga kaki melewati kuil bobrok itu dan meloncat turun ke belakang lapangan kuil itu.

Terlihatlah Wi Lian In sedang bertempur amat seru melawan kakek kura-kura Phu Tong seng, lengan kiri kakek kura-kura itu terlihatlah basah oleh darah yang mengalir keluar, kelihatannya luka itu berasal dari tusukan Wi Lian In yang menyerang secara tiba-tiba. Tapi dikarenakan luka itu bukan tempat yang penting maka tidak sampai membahayakan jiwanya.

Saat ini tongkat kayunya diputar dan dimainkan dengan amat dahsyat sekali, angin sambaran yang menderu membuat pasir pada beterbangan memenuhi angkasa ternyata dia berhasil merebut kedudukan di atas angin.

Tapi . . ketika dilihatnya Ti Then munculkan diri dari balik kuil itu semangat bertempurnya seketika itu hilang lenyap tersapu dari dalam badannya.

Dia tahu kelihayan dari Ti Then dan bisa menduga tentu majikan ular sudah terluka ditangan Ti Then, karena itulah begitu melihat munculnya Ti then di sana dia tidak berani bertempur lebih lama lagi, tongkatnya dibabat ke depan kemudian meloncat keluar dari lingkaran kalangan siap untuk melarikan diri.

Melihat hal itu Ti Then tertawa keras, teriaknya : “Hey kura-kura tua, mau melarikan diri mudah saja, tapi lengan kirimu itu harus kau tinggal”

Berkatanya belum selesai tubuhnya sudah meloncat ketengah udara, kemudian menubruk kearahnya.

Walau pun kakek kura-kura itu melarikan diri terlebih dahulu tapi bagaimana pun juga ilmu meringankan tubuhnya bukan tandingan Ti Then, belum beberapa jauh dia sudah tersusul oleh Ti Then, terpaksa dia balikkan tubuhnya untuk memberi perlawanan.

Dengan seenaknya Ti Then melancarkan serangannya sejurus demi sejurus tak putus-putusnya memaksa kakek kura-kura itu setiap kali mundur satu langkah ke belakang, ketika sampai pada jurus yang ketiga puluh mendadak terdengar Ti Then membentak keras:

“Kena !”

Lengan kiri kakek kura-kura itu dengan diiringi suara bentakannya itu terlepas dari tempat semula. Dia menjadi melengak untuk beberapa saat lamanya kemudian baru menjerit ngeri, tubuhnya dengan sempoyongan mundur beberapa langkah kemudia tak tahan lagi terjatuh ke atas tanah dengan amat keras.

Ti Then tidak melanjutkan serangannya lagi, sambil mengibas- ibaskan pedang ujarnya:

“Cepat pergi, kalau tidak nyawamu pun segera kucabut sekalian!”

Dengan menahan perasaan sakit kakek kura-kura itu menggunakan tangan kanannya menutupi bekas luka itu kemudian dengan menundukkan kepala melarikan diri dengan cepatnya dari sana.

Dengan demikian pertempuran pun sudah berakhir, di atas tanah hanya tertinggal ular-ular beracunnya majikan ular Yu Toa Hay yang sedang saling gigit menggigit dengan amat serunya, membuat orang yang melihat pemandangan itu tidak terasa bergidik juga.

Dengan perlahan Wi Lian In menggunakan tangannya membereskan rambutnya yang terurai tidak karuan, ujarnya dengan perlahan.

“Majikan ular itu juga kau kutungi lengan kirinya?”

“Benar, manusia semacam mereka ini walau pun binasa juga tidak ada harganya, tapi Thian maha agung dengan terputusnya satu lengan mereka kemungkinan sekali sejak kini tidak berbuat jahat lagi”

Wi Lian In memandang lagi kearah bangkai-bangkai ular beracun yang saling bunuh membunuh itu, ujarnya sambil tertawa.

“Bubuk Mie Hun Yok-nya nenek iblis penghalang jalan itu amat lihay sekali, dimana dia sekarang?”

“Masih berada di dalam kuil”

“Kau punya maksud berbuat apa terhadap dia?” “Lepaskan saja !”

“Itu pun baik juga” sahut Wi Lian In sambil berjalan menuju ke dalam kuil.

“Tidak perduli bagaimana pun juga jika tidak ada bubuk Mie Hun Yok-nya itu barisan selaksa ularnya majikan ular juga tidak bisa kita pecahkan dengan demikian mudahnya”

Kedua orang itu dengan perlahan berjalan ke depan kuil kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan, tapi seketika itu juga mereka dibuat tertegun.

Kiranya nenek iblis penghalang jalan itu sudah tidak berada lagi di dalam kuil itu.

“Hemm..larinya sungguh amat cepat” seru Wi Lian In sambil tertawa.

“Mungkin dia takut kita ingkar omongan kita karenanya secara diam-diam sudah melarikan diri”

“Ayoh..kita pun harus pergi juga” ujarnya kemudian sambil putar tubuh berjalan keluar dari dalam kuil.

“Kuda Ang San Khek-mu itu?”

“Aku tambat di pohon cemara di belakang kuil”

Kuda tunggangan Ti Then berada tepat di bawah tangga depan kuil itu, dengan menggunakan pedangnya dia menyingkirkan bangkai-bangkai ular berbisa disekitarnya kemudian dengan menuntun kuda tunggangnya meninggalkan tempat itu.

Kedua orang itu sesudah menemukan kembali kuda Ang San Khek yang ditambat di belakang kuil barulah bersama-sama meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke depan.

“Heei…” ujar Wi Lian In di tengah perjalanan, “Majikan ular, kakek kura-kura serta nenek iblis penghalang jalan sudah bisa kita lalui, entah selanjutnya masih ada siapa lagi yang datang mencari gara-gara?” “Siapa tahu? Aku sangat mengharapkan bisa memperoleh keterangan kitab pusaka Ie Cin Keng itu”

“Ilmu silat yang termuat di dalam kitab pusaka Ie Cin Keng itu belum tentu lebih tinggi dari kepandaian silatmu sekarang ini, kau mendapatkannya buat apa?”

“Berikan orang lain”

Wi Lian In menjadi melengak. “Apa arti perkataanmu?”

“Jika kitab pusaka Ie Cin Keng itu aku berikan kepada orang pertama yang datang merebut, maka orang-orang dari Bu-lim lainnya segera akan tahu kalau aku tidak ada kitab pusaka Ie Cin Keng lagi, dengan begitu mereka pun tidak akan datang mencari gara-gara lagi”

Mendengar penjelasannya itu Wi Lian In baru paham, tanpa terasa dia tertawa geli ujarnya.

“Cara ini bagus sekali, bagaimana kalau kita buat sejilid kitab pusaka Ie Cin Keng yang palsu kemudian diberikan kepada orang lain?”

“Tidak bisa…” sahut Ti Then cepat sambil gelengkan kepalanya, “Hal ini semakin merepotkan kita”

“Untung saja tiga hari lagi kita akan tiba di rumah, asalkan sudah berada di dalam benteng Pek Kiam Po kita tidak akan takut urusan lagi.

“Aku kira belum tentu, masih ada orang-orang dari Anying Langit Rase Bumi serta hwesio-hwesio dari Siuw lim pay harus kita hadapi”

“Soal itu gampang sekali kita selesaikan” ujar Wi Lian In sambil tertawa, “Orang-orang dari Anying Langit Rase Bumi bisa kita selesaikan dengan mengandalkan kepandaian silat, sedangkan hwesio-hwesio dari Siauw lim aku kira dengan kedudukan ayahku di dalam Bu-lim perkataannya bisa dipercaya oleh mereka” “Heeeei…semoga saja memang demikian”

Kuda tunggangan mereka berdua dengan cepatnya melanjutkan perjalanan ke depan, tidak lama kemudian sampailah mereka di depan sebuah kota yang cukup besar, Tanya Ti Then kemudian.

“Ini kota Kiong An bukan?” “Ehmm..benar”

“Malam ini kita istirahat dulu di dalam kota,besok pagi kita lanjutkan perjalanan kembali”

Wi Lian In angkat kepalanya memandang sekejap keadaan cuaca, ujarnya kemudian.

“Jarak hingga hari gelap masih ada setengah jam, kita masih bisa melanjutkan perjalanan sejauh sepuluh lie”

Ti Then tersenyum.

“Sebelum hari gelap carilah penginapan, kokokan ayam jago tanda pagi hari tiba, pernahkah kau dengar perkataan ini?”

“Kepandaian silatmu sangat lihay, kita takut apa lagi?” Ti Then tersenyum lagi.

“Aku teringat akan petunjuk dari ayahku, menemui jembatan turunlah dari kuda, menemui tebing janganlah berebut, menginap waktu hujan turun hati-hati orang yang berjalan malam, kokokan ayam jago menandakan pagi hari, jika bisa mengikuti perkataan ini maka selama mengadakan perjalanan tidak akan menemui bencana.”

“Baik..baik..mari kita menginap dulu di dalam kota malam ini”

Hari lewat dengan amat cepatnya, tidak terasa tiga hari sudah dilewati tanpa terjadi suatu urusan apa pun.

Malam hari itu kedua orang akhirnya sampai juga ke dalam Benteng Pek Kiam Po dengan selamat. Wi Ci To itu pocu dari Benteng Pek Kiam Po begitu mendengar putrinya kembali dengan selamat menjadi amat gembira sekali, dengan cepat dia menyambut sendiri kedatangan mereka, ujarnya dengan girang sambil mencekal kencang tangan putrinya.

"In-ji, kau tidak terluka bukan?"

Saking girangnya Wi Lian In tidak bisa menahan menetesnya titik-titik air mata, sahutnya dengan girang. "Tidak Tia, kau lihat putrimu baik baik bukan?"

Wi Ci To mencekal kencang juga tangan Ti Then, dengan menahan penuh berterima kasih ujarnya."Ti Kauw tauw, lohu entah harus berbuat bagaimana untuk mengucapkan terima kasih ini . . ."

"Hal ini adalah kewajiban boanpwe, harap Pocu jangan pikirkan di dalam hati. ."

Dengan menggandeng tangan Ti Then serta putrinya Wi Ci To segera balik tubuh berjalan kembali ke dalam Benteng. "Ayoh jalan, kita bicara di dalam saja"

Tua muda tiga orang segera berjalan masuk keruangan dalam dan duduk saling berhadap-hadapan. Ti Then tahu tentunya dia ingin sekali mengetahui kejadian yang sudah terjadi, segera dia menceritakan dengan amat jelas seluruh kejadian serta peristiwa yang terjadi ditengah jalan.

-ooo0dw0ooo-