Pendekar Patung Emas Jilid 10

 
Jilid 10

Sehabis berkata dengan satu kali cengkeraman dia menyambak rambutnya dan angkat seluruh tubuhnya ke atas, jari tangannya dengan lincah tapi cepat bagaikan kilat menotok jalan darah kakunya. Itu Macan kumbang hitam Khie Hoat hanya bisa mendengus dengan sangat berat, badannya seketika itu juga menjadi kaku.

Tangannya yang lain dari Ti Then tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya dengan segera didorong ke depan sehingga rubuh terlentang di atas tanah, kemudian baru putar tubuh mencabut kembali pedang panjangnya membersihkan bekas-bekas darah dan masukkan kembali ke dalam sarungnya

Setelah semuanya selesai barulah dia berlari menuju ke dalam kota Ho Kiang san. Tidak sampai sepertanak nasi dia sudah berada kembali di dalam kota itu.

Saat ini waktu menunjukkan kurang lebih kentongan keempat, sinar rembulan yang memancarkan sinar menerangi jagat pun sudah lenyap dari pandangan, suasana di dalam kota gelap gulita tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun yang berlalu lalang ditengah jalan, sampai penjual makanan dimalam hari pun sudah tidak kelihatan batang hidungnya kembali.

Dia tidak tahu kelenteng tanah itu terletak dikota sebelah mana, terpaksa dengan mengadu untung secara sembarangan mencari diseluruh pelosok kota, akhirnya ditemui juga sebuah kelenteng tanah di sebelah tengah kota tersebut.

Kelenteng tanah itu terletak dipusat kota, karena waktu yang telah sangat lama keadaan diluaran dari kelenteng itu sudah tidak karuan bentuknya, walau begitu lampu yang terdapat di dalam ruangan dalam masih belum terpadamkan, di dalam kelenteng itu masih terang benderang oleh sorotan sinar lampu.

Ti Then tidak berani secara langsung menerjang masuk ke dalam kelenteng itu, karenanya secara diam-diam sesudah memeriksa keadaan disekeiling tempat itu terlebih dulu, sejenak kemudian dia merasa disekeliling kelenteng itu hanya di bawah meja sembahyangan saja yang bisa digunakan untuk menyembunyikan diri, atau dengan perkataan lain itu oh Lui sin atau Malaikat halilintar Khie Ciawpasti membawa Wi Lian In bersembunyi di bawah kolong meja sembahyangan tersebut. segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun berjalan maju ke depan.

Selangkah demi selangkah dia berjalan ke depan meja sembahyangan itu, dengan perlahan-lahan diangkatnya meja sembahyangan tersebut kemudian secara mendadak dengan seluruh tenaga di baliknya meja itu ke samping.

"Braak . . braaak . " suara yang nyaring memecahkan kesunyian yang mencekam dipagi hari buta itu, di bawah meja itu ternyata tidak salah lagi muncul sesosok bayangan manusia yang rebah terlentang di atas tanah.

Orang itu tidak lain adalah Lo-toa dari Kwan si Ngo Koay atau lima manusia aneh dari daerah Kwan si, Malaikat halilintar Khie Ciauw adanya.

Tetapi si Malaikat halilintar Khie Ciauw yang ditemuinya sekarang ini terlentang di tanah tanpa bergerak sedikit pun juga, memang dari mulutnya tidak henti-hentinya malah terlihat darah segar mengalir keluar dengan derasnya. Dia sudah binasa ?

Sebetulnya Ti Then mau melancarkan serangan dahsyat berusaha mencengkeram tubuhnya, tapi begitu dilihatnya keadaan yang mengerikan dari mata malaikat halilintar Khi Ciauw itu tidak terasa rasa terperanyatnya menjerit keras.

Ternyata si Malaikat halilintar Khie Ciauw sudah sudah menemui kematiannya dengan rasa ngeri dan misterius sekali?

Hal ini memperlihatkan kalau ada orang yang mendahului dirinya mengejar datang ke kelenteng tanah ini untuk membunuhnya kemudian merebut pergi We Lian In.

Hal ini begitu berkelebat di dalam pikiran Ti Then segera mengulurkan tangan memeriksa mayat dari Khie Ciauw.

Dirabanya mayat itu masih ada hawa hangat, dalam hati dia tahu pembunuhnya meninggalkan tempat ini belum begitu lama, dengan cepat dia putar tubuh dan meloncat naik ke atas atap kelenteng. Dari atas memeriksa keadaan disekelilingnya. Tapi . . . dengan ketajaman pandangannya tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Sekali lagi dia meloncat masuk ke dalam kelenteng tanah dan memeriksa dengan sangat teliti keadaan disekeliling tempat itu apakah pembunuhnya meninggalkan surat atau tidak, tapi sekali pun sudah dicari ubek-ubekan selama setengah harian jejaknya pun tidak tampak, hatinya tidak tertahan lagi menjadi sangat cemas.

Terpikir olehnya kalau orang yang membunuh mati Khie Ciauw dan merebut pergi Wi Lian In bertujuan atas kitab pusaka Ie Cin Kengnya maka orang itu pasti akan meninggalkan surat baginya untuk berjanyi bertemu di suatu tempat, tapi sampai sekarang tanda-tanda ditinggalkannya surat sama sekali tidak tampak, hal ini memperlihatkan kalau tujuan orang itu tidak terletak pada kitab Ie Cin Keng tersebut melainkan pada Wi Lian In sendiri

Dengan perkataan lain orang itu kalau bukannya si setan pengecut tentu perbuatan dari Hong Mong Ling.

Jika dugaannya ini tidak meleset maka akibat yang diderita Wi Liau In akan jauh berada diluar dugaannya karena Hong Mong Ling pernah berkata, "Barang yang tidak bisa aku dapati tidak akan membiarkan barang itu didapatkan orang lain." Kali ini napsu binatangnya tentu akan diumbarkan ke tubuh Wi Lian In. memperkosa dirinya kemudian membunuh mati. ..

Semakin berpikir dia semakin takut, dengan cepat tubuhnya berkelebat menuju kearah utara.

Dia memilih lari ke arah utara karena punya alasan yang kuat, ketiga arah lainnya tidak mungkin di tempuh oleh orang itu untuk melarikan dirinya. Arah Timur pasti melewati gunung Fan cin san, orang itu pasti melihat sendiri dan menduga banyak jago-jago Bulim yang sedang berangkat menuju kegunung Fan cin san untuk memperebutkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu, karenanya tidak mungkin dia mau ambil arah tersebut.. Arah selatan merupakan jalan yang dilalui Ti Then untuk memasuki ke dalam kota, orang itu tidak mungkin berani menempuh bahaya bertemu dengan dirinya.

Sedang arah barat merupakan jalan menuju ke benteng Pek Kiam Po, di daerah gunung Go bi, sudah tentu orang itu tidak akan mau masuk ke dalam perangkap, karena itulah dia berani pastikan orang yang menculik Wi Lian In itu tentu melarikan diri menggunakan arah utara.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya bagaikan kilat cepatnya dia mengejar ke arah utara, di dalam sekejap saja kota Ho Kiang sian sudah di lalui, dengan mengikutijalan raya dia terus mengejar ke depan.

Tidak terasa lagi tiga puluh li sudah dilalui dengan cepat tetapi sampai waktu itu tetap tidak didapatkanjejak apa pun, sedang cuaca pun mulai terang kembali.

Langkah kakinya semakin lama semakin perlahan, akhirnya dia menyatuhkan tubuhnya beristirahat di bawah sebuah pohon besar, tak henti-hentinya dia menghela napas panjang.

Bagaimana?

Jika tidak berhasil menolong Wi Lian In kembali, dirinya mana punya muka untuk kembali ke dalam Benteng Pek Kiam Po lagi?

Jika tidak untung Wi Lian In menemui kematiannya ditangan Hong Mong Ling, dirinya sudah tentu berhasil meloloskan diri dari kesukaran tapi . . . soal ini sebetulnya mendatangkan keuntungan atau bencana bagi dirinya sendiri?

Majikan patung emas perintahkan dirinya kawin dengan dia sudah tentu dia punya suatu maksud tertentu, jika misalnya dia binasa apakah Majikan patung emas mau berhenti dengan begitu saja?

Tidak mungkin, dia pasti berubah membuat rencana baru lagi, kemudian perintahkan dirinya pergi melakukan suatu pekerjaan yang baru, sedang pekerjaan baru itu kemungkinan sekali merupakan pekerjaan yang jauh lebih sulit dari pekerjaan untuk mengawini Wi Lian In.

oooo0oooo

"Su heng, aku menanti kamu orang di sini saja, ditengah jalan kamu harus berhati-hati."

"Ha ha ha ha . . Jangan kuatir, sekali pun sudah bertemu dengan dia Lohu mau lihat dia bisa berbuat apa terhadap diri Lohu."

Sedang dia berpikir keras mendadak suara bercakapnya manusia memecahkan kesunyian yang mencekam dipagi hari itu, suara itu berkumandang datang dari gundukan tanah di belakang pohonnya itu.

Dengan cepat dia menoleh ke belakang, terlihatlah di atas bukit kecil berpuluh-puluh kaki dari tempatnya sedang ada sesosok bayangan manusia yang berlari menuruni bukit itu.

Orang itu usianya diantara enampuluh tahunan, pada badannya memakai baju berwarna hijau pada tangannya mencekal sebuah tongkat berkepala ular, gerakannya sangat gesit dan lincah dengan kecepatan yang luar biasa dia melayang turun dari bukit kecil itu kemudian berlari menuju kearah kota Hoa Kiang sian.

Begitu Ti Then melihat wajah dari kakek tua berbaju hijau itu tidak tertahan lagi hatinya berdebar sangat keras, pikirnya terkejut: "Aaah . . . bukankah dia majikan ular Yu Toa Hay adanya??"

Majikan ular Yu Toa Hay merupakan jagoan berkepandaian tinggi yang sangat terkenal dari kalangan Hek to, kepandaian silat yang dimiliki bukan saja sangat tinggi sukar diukur bahkan gemar memelihara bermacam macam ular yang berbisa, dimana saja dia pergi kawanan ularnya tentu dibawa serta sehingga begitu bertemu dengan musuh tangguh segera dia akan perintahkan ular-ular beracunnya menyerang pihak musuhnya itu, karena itulah di dalam kalangan Bu lim dia terkenal sebagai seorang iblis yang paling ditakuti oleh setiap orang. Dia .. . secara mendadak kenapa bisa munculkan dirinya di sini ?? siapa orang yang berjalan sama sama dengan dia itu ?? Dengan sendirian dia pergi kekota Hoa Koa san.

Beberapa pertanyaan ini bagaikan kilat cepatnya berkelebat di dalam benak Ti Then, dengan tanpa disadari lagi pikirannya teringat kembali orang yang membunuh mati si Malaikat halilintar Khie Ciauw kemudian menculik pergi Wi Lian In, apakah orang itu kemungkinan sekali perbuatan dari ini majikan ular Yu Toa Hay? semangatnya menjadi bangkit kembali, sesudah dilihatnya bayangan tubuh majikan ular Yu Toa Hay hilang dari pandangan barulah dengan perlahan lahan dia bangkit, setelah melingkari beberapa lingkaran bukit itu barulah dia berjalan menaiki bukit kecil tersebut. Di atas bukit itu muncul suatu hutan bambu yang sangat lebat sekali.

Dia dengan tenangnya menaiki bukit itu kemudian berjalan masuk ke dalam hutan bambu, selangkah demi selangkah maju ke depan dengan perlahan sekali.

Baru saja berjalan beberapa kaki mendadak dari empat penjuru terdengarlah suara desisan ular yang sangat ramai sekali, dengan cepat dia tundukan kepalanya memandang terlihatlah ada berpuluh puluh ular beracun sedang menyusup kearahnya dengan sangat cepat sekali.

Ular itu adalah ular berekor hijau yang sangat beracun sekali.

Ti Then menjadi sangat terkejut sekali, dia tahu dugaannya kalau orang itu tidak lain adalah majikan ular Yu Toa Hay sedikit pun tidak salah, segera tubuhnya melayang ke atas ujung bambu menghindarkan diri dari serangan kawanan ular beracun itu, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melanjutkan berjalan kearah depan.

Agaknya Majikan ular Yu Toa Hay itu sudah membentuk barisan ular disekeliling bukit itu, semakin berjalan ke depan ular-ular beracun yang terlihat pun semakin banyak. Ular-ular itu dengan bebasnya bergerak dan menyusup diantara hutan bambu itu cukup sekali pandang saja bisa menduga jumlahnya di atas ratusan ekor.

Diantara ular-ular beracun itu ada beberapa ekor merupakan ular Pek tok coa yang agaknya pernah mendapatkan latihan khusus, begitu melihat Ti Then berjalan diantara ujung-ujung bambu ternyata dengan cepat mengejar di belakangnya, lidahnya dijilat-jilat keluar agaknya hendak menerkam mangsanya.

Dengan tergesa-gesa Ti Then mencabut keluar pedangnya untuk melindungi badannya, berjalan puluhan kaki lagi mendadak dari tengah hutan bambu itu berkumandang keluar suara jeritan keras dari seorang gadis sambil ujarnya.

"Bangsat tua, aku harus bicara bagaimana hingga kamu orang mau percaya?"

Mendengar suara itu Ti Then menjadi terkejut, karena suara itu tidak lain berasal dari suara Wi Lian In.

Dalam keadaan yang sangat girang diam-diam pikir Ti Then dalam hati:

"Oooh Thian terima kasih atas bantuanmu, akhirnya aku dapatkan dia kembali. Tapi entah siapakah bangsat tua itu . . ."

Ketika dia berpikir sampai di situ terdengar suatu suara yang sangat tua dan serak menyahut dengan gusar.

"Jangan berteriak lagi, tidak perduli kamu orang mau bicara apa pun Lohu tidak akan percaya."

"Hmmm..." terdengar suara dengusan yang sangat dingin dari Wi Lian In. "Aku beritahu padamu, kepandaian silat dia tidak di bawah kepandaian ayahku, jika nanti dia datang kalian tidak lebih hanya ada satu jalan kematian saja yang bakal kalian terima."

"He he he he kepandaian silatnya memang sangat tinggi sekali, tapi.. .jika dia tidak mau serahkan itu kitab pusaka Ie cia Keng kepada kami. Hm hmm.. yang menemui kematian ini hari bukan kita tapi dia." Wi Lian In tertawa dingin tak henti-hentinya:

"Kamu kira kalau bisa bekerja sama dengan bangsat tua she Yu itu lalu bisa berhasil bunuh mati dia?Hmmm jangan mimpi disiang hari bolong."

"Sekali pun tidak bisa." sahut kakek tua itu sambil tertawa terbahak bahak "tapi kita masih punya satu senyata ampuh, heee heee ..."

"Senyata ampuh macam apa?" "Barisan selaksa ular..." "Aaaah..."

"Majikan ular sudah atur barisan selaksa ularnya disekeliling bukit ini, nanti jika bangsat cilik Ti Then masuk ke dalam barisan asalkan dia tidak mau serahkan itu kitab pusaka Ie cin Keng kepada kami....

Hmmm, cukup majikan ular meniup serulingnya maka walau pun kepandaian silat yang dimilikinya sangat tinggi tetap akan berubah menjadi tulang-tulang putih yang bertumpuk di sini."

Agaknya Wi Lian In dibuat ketakutan oleh perkataannya ini sehingga tidak mengucapkan kata-kata lagi.

Ti Then yang bersembunyi diujung bambu begitu mendengar Barisan selaksa Ular.... tiga kata tidak tertahan lagi hatinya terasa bergidik, diam-diam pikirnya:

"Untung itu majikan ular sudah pergi kekota cari aku, kalau tidak asaikan dia menggerakkan barisan selaksa ularnya ini. Haai. entah

bagaimana jadinya"

Ti Then tidak berani berlaku ayal lagi, pedang panjang ditangannya segera digerakkan.. "Sreeet...." dengan satu kali tebasan dia memutuskan beberapa batang bambu yang lembut kemudian dengan sangat ringan melayang beberapa kaki dari tempat semula.

Ditengah suara bentakan yang sangat keras sesosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa menerjang datang dari tengah sebuah hutan bambu kira-kira tujuh kaki dari tempatnya berdiri sekarang ini.

Orang ini merupakan seorang kakek tua yang usianya juga berada di atas enam puluh tahunan, pada tubuhnya memakai pakaian berwarna abu-abu, pada tangannya mencekal sebuah tongkat besi yang berat, satu satunya ciri yang berbeda dengan majikan ular adalah dia merupakan seorang kakek jelek yang bongkok badannya bahkan kepalanya kecil mulutnya pun kecil. Bentuknya mirip sekali dengan seekor kura-kura yang sedang berdiri

Dengan kecepatan yang luar biasa dia meloncat naik ke atas ujung bambu, tongkat besinya disilangkan di depan dadanya melindungi tubuh matanya dengan tajam memeriksa keadaan disekeliling tempat itu tapi begitu dilihatnya ditempat itu tidak terdapat sesosok bayangan manusia pun tidak terasa air mukanya berubah tertegun, gumamnya seorang diri

"Urusan aneh, urusan aneh, apa mungkin ular-ular beracun dari Yu beng sedang berkelahi???"

Kiranya sewaktu dia meloncat naik ke ujung bambu, Ti Then dengan meminyam kesempatan ini sudah meloncat turun ke permukaan tanah, karenanya dia hanya melihat beberapa batang bambu sedang bergoyang dengan tidak henti-hentinya.

Begitu Ti Then mencapai pada permukaan tanah dengan menggunakan kecepatan yang paling luar biasa berkelebat kearah di mana Wi Lian In berada.

Di bawah hutan bambu itu sebetulnya terdapat banyak sekali ular-ular beracun yang bergerak, tapi dikarenakan gerakannya yang terlalu cepat maka tidak ada seekor ular pun yang berhasil menggigit badannya, bahkan diantara ular-ular itu ada beberapa yang berhasil diinyak sampai mati.

Sebaliknya dikarenakan gerakannya yang terlalu cepat, suara yang dikeluarkan dari sambaran angin yang mengenai bajunya pun semakin keras, kakek tua bongkok yang berdiri di atas ujung bambu segera merasakan akan hal ini, sambil membentak keras tubuhnya dengan cepat menubruk kearahnya-

Pedang panjang Ti Then sekali lagi membabat putus bambu- bambu kecil di depannya sehingga bambu itu rubuh kearah kakek tua itu, di dalam sekejap saja tubuhnya sudah menubruk hingga depan wi Lian In.

Saat ini sepasang tangan Wi Lian In diikat ke belakang dan duduk bersandar di bawah batang bambu yang besar, begitu dilihatnya Ti Then muncul di sana saking girangnya dia berteriak:

"Ti Toako cepat tolong aku"

Baru saja Ti Then mengangkat tubuhnya bangun mendadak segulung angin serangan yang sangat santar menyerang punggungnya dengan amat dahsyat, terpaksa dia melepaskan kembali tubuh Wi Lian In, tubuhnya diputar pedang panjangnya dengan hebat menusuk ke depan. "Triiing.."

Pedang panjangnya sekali lagi terbentur dengan tongkat besi kakek bongkok itu sehingga percikan bunga api berkelebat memenuhi angkasa.

Tubuh kakek bongkok itu seperti terkena serangan berat, tubuhnya yang semula menubruk ke depan seketika itu juga rubuh terjengkang ke belakang.

Tapi tubuhnya memang sangat lincah dan gesit sekali, dengan cepat dia bersalto beberapa kali ditengah udara kemudian dengan sangat ringan melayang turun ke permukaan tanah.

Ti Then tidak ambil kesempatan itu menyerang kembali, dengan melintangkan pedangnya di depan dada dia berdiri di depan wi Lian In, tanyanya dengan perlahan. "Nona Wi, siapa kura-kura tua ini ??"

Saat itu Wi Lian In merasa sangat girang bercampur tegang, sahutnya dengan tergesa segera:

"Omonganmu tidak salah, dia memang seorang kura-kura tua ... bernama Kui su atau Kakek kura-kura Phu Tong seng." Diam-diam Ti Then menarik napas panjang, sambil memandang tajam kearah kakek Kura-Kura itu ujarnya dengan dingin.

"Kiranya kamu adalah itu kakek Kura-Kura Phu Tong seng, selamat bertemu, selamat bertemu. ."

Kedudukan kakek kura-kura Phu Tong seng ini di dalam kalangan hek to tidak di bawah Majikan ular Yu Toa Hay, dia pun merupakan seorang manusia bahaya yang punya sifat ganas dan sangat kejam, di dalam dunia kangouw dia bersama dengan Majikan ular Yu Toa Hay disebut sebagai Bulim Ji Koay atau dua manusia aneh dalam Bu lim.

Di dalam Bu lim masih ada satu perkataan lagi yang sangat terkenal sekali yaitu. " Lebih baik bertemu Majikan ular daripada bertemu Kakek kura kura.... karena begitu Kura-Kura menggigit manusia tidak akan melepaskannya kembali begitu juga dengan sifatnya, kecuali orang yang bertemu dengan dia memiliki kepandaian silat yang lebih tinggi dari dirinya, kalau tidak orang yang berani mengusik dirinya jangan harap nyawanya bisa selamat.

Sejak lama Ti Then sudah mendengar nama besarnya ini, dalam hati diam-diam merasa sangat girang dan untung sekali karena jika bukannya Majikan patung emas sudah menurunkan ilmu silatnya yang sangat lihay jika sampai bertemu dengan manusia jahanam yang demikian ganasnya sekali pun pingin mengundurkan diri belum tentu bisa terlaksana dengan sangat mudah.

Tetapi sekarang pihak yang merasa takut adalah kakek Kura-Kura Phu Tong seng.

Sewaktu tongkat besinya tadi bentrok dengan pedang panjang Ti Then, secara diam-diam dia sudah mengerahkan tenaganya sebesar tujuh bagian tapi malah tergeser mundur sejauh satu kaki oleh tenaga pantulan yang dilancarkan Ti Then, peristiwa ini merupakan satu peristiwa hebat yang untuk pertama kalinya dirasakan sejak dia menerjunkan dirinya ke dalam dunia kangouw.

Dengan air muka yang penuh perasaan kaget bercampur ragu, dia memandang melotot kearah Ti Then, beberapa saat kemudian barulah ujarnya dengan perlahan: "Hei bangsat cilik. Kamu orang sudah bunuh mati Majikan ular Yu Toa Hay ???"

"Belum" sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

Agaknya kakek Kura-Kura Phu Tong seng sama sekali tidak bisa terpikirkan bagaimana Ti Then bisa tiba ditempat itu sedemikian cepatnya, karenanya tanyanya lagi: "Kalau begitu dia berada dimana?" Ti Then tersenyum.

"Bukankah dia pergi kekota Ho Kiang sian cari aku?"

"Ooh .... kiranya kau menemukan tempat ini dengan sendirinya, bagaimana kamu bisa tahu kalau kami berada di sini?"

" Itu Malaikat halilintar Khie Ciauw yang beritahu padaku."

"Apa?" ujar kakek Kura-Kura setengah melengak. "Dia belum mati?"

"Sudah mati sangat lama."

Kakek kura-kura itu melengak lagi: "Tadi kamu bilang . ."

"Tidak salah. ." sambung Ti Then dengan cepat. "Sewaktu aku mencari dia di dalam kelenteng tanah itu dia sudah binasa."

Semakin mendengar perkataan Ti Then ini si kakek kura-kura semakin menjadi bingung, ujarnya.

"Kalau memangnya begitu, bagaimana dia bisa beritahu padamu kalau kami berada di sini??"

"Sukmanya belum buyar, karena merasa benci kepada kalian, dia sudah munculkan dirinya kembali untuk beritahukan tempat persembunyian kalian kepadaku."

"Omong kosong" Bentak kakek kura-kura itu, sedang air mukanya berubah sangat hebat. "Selama hidup lohu bunuh orang sampai tidak bisa dihitung jumlahnya, tapi sekali pun belum pernah melihat sukma orang mati bisa muncul lagi. ." "He he he he... kali ini dia munculkan diri untuk beritahu padaku tempat persembunyian kalian, hal ini membuktikan kalau kejahatan yang kalian kerjakan sudah terlalu banyak, sehingga saat kematian kalian sudah hampir tiba." sehabis berkata dia angkat pedangnya mendesak kearahnya.

Kakek kura-kura itu segera merendahkan tubuhnya memperkuat kuda-kudanya, sambil tertawa terkekeh kekeh ujarnya:

"Hee heee ...- jangan keburu senang dulu, belum tentu siapa yang akan binasa hari ini, coba kamu lihat ular-ular beracun yang berada di atas tanah itu, Heee heee... mereka bisa menghabiskan badan seorang manusia hidup-hidup."

Tak henti-hentinya Ti Then terus mendesak ke arahnya, sambil tersenyum-senyum sahutnya.

"Tentang hal ini aku bisa percaya, tapi itu majikannya ular-ular tidak berada di sini, tanpa ada seruling iblisnya ular-ular beracun ini tidak akan menyerang orang."

Mendadak kakek kura-kura itu melayang sejauh beberapa kaki dari tempat semula dan berdiri di atas ujung bambu, dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah seruling bambu, ujarnya sambil tertawa lebar. "Coba kamu lihat, barang apa ini"

Ti Then menjadi tertegun begitu melihat seruling itu, tanyanya cepat. "Barang itukah seruling iblis dari majikan ular?"

"Tidak salah."

"Bagaimana Majikan Ular bisa serahkan seruling iblisnya kepadamu?"

"Dia takut ada orang orang Bu lim lainnya yang datang merebut budak itu sehingga dia atur barisan selaksa ular ini kemudian serahkan seruling iblisnya kepada lohu." Berbicara sampai di sini dia melintangkan serulingnya di bawah bibirnya siap ditiupnya. "Kamu orang sungguh teramat bodoh" ujar Ti Then sambil tersenyum senyum. " Hanya ular-ular berbisa seperti itu mana bisa lukai aku orang ??"

"Hmmm.. hmmm.. mungkin tidak bisa lukai kamu orang, tapi budak itu tak mungkin bisa lolos dari bencana ini"

"Tahukah kamu dia adalah putri dari Pek Kiam Pocu ???" "Tahu.."

"Kamu orang mengandalkan apa sehingga tidak takut padu Wi Pocu?"

"Hee heeee....."sahut kakek kura-kura itu sambil tertawa dingin. "Asalkan lohu dengan Majikan ular berhasil memperoleh kitab pusaka Ie Cin Keng itu tidak sampai butuhkan waktu satu tahun tentu sudah berhasil melatih suatu ilmu silat yang sangat dahsyat sekali, saat itu jangan dikata Wi Ci To sekali pun si kakek Pemalas Kay Kong Beng kami juga tidak akan takut."

"Jangan mimpi yang muluk muluk, pikir dulu urusan yang berada di depan matamu sekarang. Kamu orang tidak mungkin bisa loloskan diri dari pedang naga emasnya Wi Pocu ... coba kamu toleh ke belakang lihat siapa yang sudah datang itu?"

Kakek kura-kura itu berubah sangat hebat sekali wajahnya, dia mengira Wi Ci To sungguh-sungguh sudah menyusup hingga belakang tubuhnya, dengan cepat kepalanya ditoleh ke belakang untuk melihat sedang tongkat besinya bersamaan waktunya menyambar kearah belakang.

Tetapi dengan cepat dia sudah merasa kalau dia terkena pancingan pihak musuhnya, ketika dia sadar kembali saat itu Ti Then dengan mengacungkan pedang panjangnya sudah menubruk datang ke depan tubuhnya.

Kakek kura-kura sebagai seorang jago di dalam kalangan Hek to yang memiliki kepandaian sangat tinggi, saat ini tidak menjadi gugup dengan cepat dia merasa kalau di belakangnya ada orang yang sedang menyerang kearahnya dengan cepat tubuhnya berputar, tongkat besi ditangannya dengan tidak mengubah jurus serangannya. "sreeet ..." dengan santarnya menyapu tubuh Ti Then.

Ti Then dengan cepat mengerahkan tenaga murni ketangannya, pedangnya dengan cepat menyambut datangnya serangan itu.

"Criiing .. ." pedang serta tongkat besi sekali lagi terbentur satu sama lainnya, kedua orang itu agaknya sudah mendapatkan getaran yang sangat keras sekali, tubuh kakek kura-kura melayang kearah sebelah kanan sedang tubuh Ti Then terpental kearah sebelah kiri, begitu mencapai permukaan tanah masing-masing mundur lagi beberapa langkah ke belakang.

Ular-ular beracun yang berada disekeliling tempat itu menjadi sangat terkejut, untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bisa membedakan yang mana musuhnya yang mana kawannya, bersamaan waktunya mematuk kearah dua orang itu.

Kakek kura-kura dengan gusarnya memaki, tongkat besinya dengan cepat menyapu menyingkirkan ular-ular beracun itu, kemudian tubuhnya meloncat ke atas melayang ketempat kejauhan.

Dia punya niat untuk lari ketempat agak kejauhan dari sana kemudian meniup seruling iblisnya untuk memerintahkan ular-ular beracun itu menyerang kearah Ti Then beserta Wi Lian in, karena hanya menghindarkan diri dari Ti Then sejauh mungkin dia baru punya kesempatan untuk membunyikan seruling iblis tersebut.

Ti Then mana mau membiarkan dia meniup seruling iblis itu, sambil membentak keras, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah mengejar kearahnya.

Gerakannya kali ini seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, di dalam sekejap saja sudah mengejar dekat tubuh kakek kura kura itu, pedang panjangnya segera digetarkan mengancam punggung kakek kura kura tersebut.

Kakek kura kura begitu melihat kesempatan untuk melarikan diri digagalkan kembali oleh Ti Then hatinya menjadi teramat gusar, dengan cepat dia putar tubuhnya menyambut datangnya serangan tersebut.

Demikianlah satu muda yang lain tua dengan dahsyatnya bertempur ditengah hutan bambu itu.

Karena ular beracun yang berada di dalam hutan bambu itu semakin lama semakin banyak-maka kedua orang itu sambil bertempur sembari berjaga jaga terhadap serangan ular ular beracun itu, situasinya dengan sendirnya semakin bahaya lagi.

Setelah lewat kurang lebih tiga puluh jurus lebih makin lama kakek kura kura itu terdesak hingga berada di bawah angin, tapi bagaimana pun juga dia mem punyai pengalaman yang sangat luas di dalam dunia kangouw begitu melihat dirinya sukar untuk merebut kemenangan, dia tidak mau meneruskan pertempuran itu, tubuhnya mendadak meloncat ketengah udara kemudian berjumpalitan dan melayang ke atas ujung bambu, dari sana dengan kecepatan yang luar biasa melarikan diri

Dengan cepat Ti Then meloncat ke atas mengejar, bentaknya dengan keras-

"Hey kura-kura tua tinggalkan seruling iblis itu, kalau tidak hmm.... hmmm. jangan coba coba melarikan diri"

Kakek kura kura itu pura pura tidak mendengar, tubuhnya bagaikan terbang cepatnya meloncat dan melayang kearah depan. Ti Then menjadi teramat gusar, bentaknya lagi. "Baiklah. aku harus bunuh kamu kura-kura tua agaknya."

Baru saja dia siap dari mengejar ke arahnya mendadak dari dalam hutan terdengar suara jeritan kaget dari Wi Lian In.

"Aduh .... Ti Toako cepat kemari, ada seekor ular berbisa merambat kemari. ."

Mendengar perkataan itu Ti Then menjadi sangat terkejut sekali, tanpa perduli kakek kura kura itu lagi dengan cepat putar tubuh berkelebat kearah dimana Wi Lian In berada, terlihatlah seekor ular beracun yang sangat besar sedang merambat mendekati tubuh Wi Lian In, lidahnya dijulur-julurkan ke depan siap menggigit mangsanya, dengan cepat tubuhnya melayang ke depan sedang pedang panjangnya disambar dengan hebatnya.

"Sreeett" kepala ular itu segera tertabas hingga lepas dari tubuhnya, sedang tubuh ular itu segera melingkar dan rubuh tidak berkutik lagi.

Setelah itu barulah Ti Then memutuskan tali-tali pengikat tubuhnya, dengan cemas tanyanya:

"Mereka menotok jalan darahmu tidak ??"

"Benar" sahutnya perlahan, " Kura- kura tua itu menotok jalan darah .., Aduh, awas belakangmu."

Pedang panjang Ti Then dengan cepat membabat ke belakang, seekor ular beracun segera menggeletak tidak bernyawa lagi tanyanya kemudian: "Jalan darah apa yang sudah tertotok??"

"Jalan darah kaku"

Telapak tangan Ti Then dengan cepat menepuk kearah pinggangnya, kemudian menarik dia berdiri

"Cepat jalan, kura-kura tua itu mau meniup seruling iblisnya."

Perkataannya baru saja diucapkan, dari tempat kejauhan terdengarlah suara irama seruling yang ditiup secara samar samar berkumandang kemari.

Semula irama dari seruling itu halus dan enak didengar, tapi lama kelamaan bertambah cepat sehingga akhirnya cepat sekali bagaikan sedang mengirim perintah untuk melancarkan serangan.

Suara irama seruling itu kini berubah menjadi tinggi melengking memekikkan telinga, ular-ular beracun yang berada di tengah hutan bambu itu kelihatan mulai mengangkat kepalanya masing-masing, bagaikan bergeraknya berjuta juta ekor kuda mereka bersama-sama bergerak maju ke depan. Ular ular beracun yang semula rebah di sekeliling tubuh Wi Lian In pun seketika itu juga bagaikan kilat cepatnya menyusup dan menerjang ke depan dengan dahsyatnya.

Pedang panjang Ti Then segera diputar sedemikian rupa membunuh mati ular ular beracun yang mendekati kearahnya, teriaknya dengan keras. " Cepat lari... cepat lari..."

Wi Lian In yang diteriaki seperti itu saking cemasnya hampir hampir menangis dibuatnya.

"Tidak bisa." Teriaknya keras. "Darah di dalam badanku belum lancar kembali, aku tidak bisa lari."

Ti Then tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa dia ulur tangannya memeluk pinggangnya yang langsing kecil menggiurkan itu, tubuhnya dengan cepat menyejak tanah dan melayang ke atas ujung bambu.

Walau pun ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat tinggi tetapi untuk bergerak dan melayang terus di atas ujung bambu sambil menggendong sesosok tubuh manusia tidak mungkin bisa bertahan lama, dengan paksakan diri sesudah melayang sejauh tiga empat kaki jauhnya tubuhnya sekali lagi tertekan ke bawah.

Tubuhnya belum saja melayang mencapai permukaan tanah ada berpuluh puluh ekor ular beracun segera menerjang datang dengan cepatnya.

Saking terkejutnya Wi Lian In menjerit keras dan menutup matanya tidak berani melihat lagi, dia mengira kali ini kematiannya sudah menjelang datang, pada saat dia memejamkan matanya itulah pada telinganya terdengar suara samberan angin pedang yang sangat keras, tubuhnya sekali lagi dibawa melayang ke atas-

Kiranya sesudah Ti Then membunuh mati berpuluh-puluh ekor ular beracun itu sekali lagi dia menggendong badan Wi Lian In ke atas ujung bambu. Tapi sesudah menerjang kurang lebih tiga empat kaki lagi, tenaga murninya buyar kembali sehingga tubuhnya tanpa bisa ditahan melayang ke bawah lagi.

Kali ini ular-ular beracun yang menyerang kearahnya semakin banyak, dari jumlahnya yang tadi bagaikan kilat cepatnya ular-ular itu menyusup datang dari empat penjuru.

Pedang Ti Then diputar bagaikan naga sakti melindungi seluruh tubuhnya, satu demi satu dia bunuh habis berpuluh puluh ekor ular beracun itu, siapa tahu baru saja tubuhnya mau meloncat naik untuk ketiga kalinya mendadak kaki sebelah kirinya terasa sangat sakit, hatinya menjadi sangat terkejut, ujarnya dengan perlahan: "Nona Wi, kamu bisa lari sendiri belum saat ini ???"

"Mungkin sudah bisa."

Ti Then segera meletakkan dirinya ke atas tanah, kemudian menyerahkan pedang panjang itu ketangannya, sambil menunjuk kearah sebelah barat ujarnya.

"Lari ke sebelah sana, sesudah lari kurang lebih dua puluh kaki jauhnya kamu sudah lolos dari bahaya ini."

"Kamu?? " tanya Wi Lian In melengak. "Sudah tentu aku juga akan lari." "Oooh..."

Dengan cepat dia meloncat ke depan melewati kurang lebih tiga kaki tingginya setelah tubuhnya melayang turun kepermukaan tanah pedang panjangnya tak henti-hentinya digerakkan membunuh ular- ular beracun itu, sekali lagi badannya melayang setindak demi setindak, sedepa demi sedepa dilaluinya dengan cepat.

Ti Then yang kini sudah bebas dari beban yang berat segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan sangat ringan melayang pada ujung bambu itu, dengan kencangnya dia mengikuti di belakangnya tubuh Wi Liau In. Tapi sesudah melewati kurang lebih puluhan kaki jauhnya mendadak terasa olehnya kaki kirinya semakin lama semakin kaku, semakin lama semakin tidak mau ikuti perintahnya lagi. Dia tahu jika dia tidak cepat-cepat melarikan diri dari tempat itu kemudian menutup jalan darah kakinya sehinggi racun tersebut tidak sampai menyerang jantungnya, maka dirinya tentu akan terbinasa tubuhnya segera meloncat ke depan lagi semakin cepat, dengan sekuat tenaga dia lari ke depan dan melewati badan Wi Lian In yang jauh berada di depan badannya itu.

Di dalam sekejap mata dia sudah berhasil menerjang keluar dari hutan bambu itu dan menuruni bukit tersebut, saat ini seluruh kaki kirinya sudah kehilangan rasa baru saja dia melayang turun dari ujung bambu tubuhna tidak sanggup berdiri lagi, tidak am pun lagi tubuhnya terjengkang ke belakang dan rubuh berguling di atas tanah.

Wi Lian In yang baru saja melayang keluar dari hutan bambu begitu melihat Ti Then terguling jatuh dari atas bukit itu menjadi sangat terkejut, teriaknya: "Ti kauw tauw, kau kenapa ??"

Bukit kecil itu tidak terlalu curam sehingga kecepatan bergulingnya tubuh Ti Then pun tidak begitu cepat, sambil berteriak Wi Lian In sembari mengejar ke bawah, pada jarak kurang lebih satu kaki dari permukaan tanah di bawah bukit Wi Lian In berhasil mengejar sampai dan menarik tubuhnya ke atas-

Seluruh wajah Ti Then kotor oleh pasir dan debu akibat gelindingan tadi, tapi kesadarannya masih tetap normal ujarnya segera dengan cepat:

"Kaki kiriku digigit ular beracun itu, cepat kau totok seluruh jalan darah pada kakiku itu” cepat- ."

Wi Lian In tidak berani berlaku ayal lagi, jari tangannya dengan cepat bergerak menotok seluruh jalan darah pada kakinya, kemudian dengan cemas tanyanya: "Bagaimana baiknya ?"

"Tidak mengapa, meminyam kesempatan kura-kura tua itu tidak mengetahui, cepat kau bimbing aku meninggalkan tempat ini." Wi Lian In segera memasukkan pedang panjang itu ke dalam sarungnya, ujarnya:

"Biar aku bopong kamu lari dari sini "

Dengan tidak banyak omong lagi, dia sebera mengangkat dan menggendong tubuh Ti Then lari dari tempat itu

"Cepat lari ke belakang gundukan tanah diseberang sana."

Wi Lian In dengan menggendong tubuh Ti Then dengan cepatnya lari ke depan, sesudah melewati jalan raya dan lari lagi beberapa ratus tindak sanpailah disebuah bukit dengan hutan bambu yang sangat rapat- Dengan cepat-cepat dia menerobos ke dalam hutan bambu itu. "Sudah cukup," ujar Ti Then lagi.

"Sekarang coba lihat apakah kura-kura tua itu mengejar kemari atau tidak."

Terpaksa Wi Lian in meletakkan tubuh Ti Then ke atas tanah dan balik keluar dari hutan bambu itu, dari tempat kejauhan terlihatlah sesosok bayangan manusia dengan cepatnya sedang melayang keluar dari bukit sebelah sana, dia tahu tentunya si kakek kura-kura Phu Tong seng sedang lari mendatang. Tanpa banyak pikir lagi dia putar tubuh lari kembali ke dalam hutan bambu itu sekali lagi mengendong tubuh Ti Then dan lari meninggalkan hutan tersebut.

"Dia mengejar kemari?" tanya Ti Then dengan cemas. "Benar."

"Kau bisa menangkan dia ??”"

"Tidak tahu" sahut Wi Lian In sambil gelengkan kepalanya. "Kau mau suruh aku turun tangan melawan dia?"-

"Tentang hal ini harus melihat kau punya pegangan untuk menangkan dia atau tidak? Kalau kau merasa punya pagangan yang kuat bisa nenangkan dia boleh juga kita berhenti untuk bertempur lawan dirinya..."

"Tidak." potong wi Lian In dengan cepat. "Kita harus berusaha punahkan racun yang bersarang dikakimu dulu."

" Untuk sementara kaki pun tidak mengapa." "Sekali pun begitu tapi hatiku tidak tenang."

Dengan kencangnya dia menggendong tubuh Ti Then berlari keluar dari hutan bambu itu, sesudah melewati satu bukit ke kecil lagi dia meneruskan larinya ke depan, kurang lebih sudah berlari sepuluh lijauhnya sampaiah mereka disebuah kaki gunung yang tidak mereka ketahui namanya.

"Kau sudah lelah.. ." ujar Ti Then lembut. "Mari kita berhenti dan beristirahat dulu..."

Wi Lian In tidak menyawab, matanya dengan sangat tajam memandang keadaan disekeliling tempat itu, kemudian lari lagi menuju ke atas gunung, sesudah lari lagi sejauh satu dua li barulah dia berhenti disebuah lekukan gunung dilereng gunung tersebut.

Dia meletakkan tubuh Ti Then ke atas tanah, sambil menggunakan ujung bajunya menyeka keringat ujarnya sambil tertawa.

"Mungkin mereka tidak akan menemukan tempat ini bukan?" "Asalkan mereka bukan datang bersama-sama, aku tidak akan

takut kepada mereka, aku percaya masih   punya cukup tenaga untuk bunuh mati kura-kura tua itu."

Dengan perlahan Wi Lian In berjongkok di depannya, sambil menggulung celananya dengan perlahan tanyanya.

"Lukamu berada di sebelah mana?" "Agaknya di atas lutut." Dengan teliti Wi Lian In memeriksa kearah lututnya, terlihatlah dikakinya itu terdapat dua titik luka yang sangat kecil, sambil menggunakan tangannya menekan tanyanya lagi.

"Sakit tidak?-"

"Sedikit pun tidak terasa"

"Lalu bagaimana baiknya?" tanya Wi Lian In sangat cemas-

"Aku sudah kerahkan tenaga murni untuk mendesak racun itu tidak sampai menyerang ke dalam tubuh, tapi jika di dalam enam jam ini tidak berusaha mendesak racun itu keluar dari kakiku, maka kaki sebelah kiri ini akan membusuk dan hancur."

Wi Lian In begitu mendengar perkataan itu tidak terasa menggigit kencang bibirnya.

"Ditubuh majikan ular Yu Toa Hay tentu membawa obat pemunah..."

"Benar-" sahut Ti Then sambil mengangguk- " Hanya mungkin sukar untuk merebutnya"

"Aku bisa pergi ke dalam kota untuk adu jiwa dengan dia, tapi “ sewaktu aku tidak berada di sini jika kakek Kura-kura itu datang cari kamu lalu..."

"Ha ha ha ... soal itu tidak mengapa, walau pun aku tidak bisa bergerak tapi jika dia berani mendekati aku... Hmm aku masih punya tenaga untuk bereskan dia, hanya yang aku kuatirkan adalah kau, mungkin kamu bukan tandingannya...." Wi Lian In mengerutkan alisnya rapat-rapat-

"Dulu aku pernah dengar ayahku bilang katanya kepandaian silat dari majikan ular serta kakek kura-kura hanya satu tingkat lebih tinggi dari pendekar prdang merah dari Benteng Pek Kiam Po kita, perkataan ini entah betul tidak ??..."

"Ehmm.. ." sahut Ti Then kemudian sesudah berpikir sebentar "Tadi sewaktu aku bertempur dengan kakek kura-kura itu, di atas ujung bambu dia bisa bertahan tiga puluh jurus banyaknya, dengan kepandaian seperti itu mungkin tidak lebih tinggi satu tingkat saja."

"Kalau begitu aku sungguh-sungguh bukan lawan dari Majikan ular itu, tapi tidak cari dia tidak mungkin bisa dapatkan obat pemunah."

"Aku sendiri bisa menyembuhkan luka ini." sahut Ti Then sambit tertawa pahit. ¦ sehabis berkata dia mencabut kembali pedang panjangnya.

Air muka Wi Lian In segera berubah hebat, samhil menahan pedangnya ujarnya dengan cemas:

"Jangan., Ini bukan cara yang baik."

"Kau sudah salah menduga" ujar Ti Then sambil tertawa. "Aku bukan bermaksud memotong kaki kiriku ini"

Wi Lian In menjadi melengak. " Kalau tidak kenapa kau cabut pedangku"

"Aku mau robek bekas luka itu dan memaksa darah beracun itu keluar."

"Oooh - - -" agaknya Wi Lian In menjadi sadar, dengan cepat dia menarik kembali tangannya.

"Benar, aku pernah dengar jika seseorang tergigit ular berbisa harus cepat-cepat paksa darah yang mengandung racun itu mengalir keluar dari badan, kalau tidak maka orang itu akan semakin payah. Tapi kau sudah tergigit sangat lama sekali entah cara ini masih bisa digunakan tidak?"

"Kita coba saja."

Sehabis berkata dia memberikan pedang panjangnya, dengan menggunakan ujung pedang menggurat beberapa kali kearah bekas luka kecil pada lututnya itu, segera terlihatlah darah hitam mengalir keluar dengan derasnya. Melihat hal itu Wi Lian In menjadi gugup. "Mari aku bantu kau keluarkan darah beracun itu" Sehabis berkata dia sebera menggerakkan sepasang tangannya mencekal lutut Ti Then itu dan mulai memijit mijit tempat itu sehingga darah hitam yang keluar semakin banyak.

Beberapa saat kemudian darah hitam yang mengalir keluar dari bekas luka itu semakin lama semakin berkurang, tapi seluruh kaki sebelah kiri itu masih tetap merah membengkak.

Mendadak Wi Lian In berlutut di hadapannya, dengan menggunakan mulutnya yang kecil mungil mulai menyedot sisa-sisa dari darah hitam yang tertinggal di dalam lutut itu. Tidak terasa lagi air muka Ti Then berubah merah padam, dengan cemas ujarnya. "Nona Wi, jangan begitu"

Wi Lian In tetap tidak gubris omongannya, dengan sekuat kuatnya dia menyedot sisa-sisa darah hitam itu.

Terpaksa Ti Then memejamkan matanya, sambil menghela napas diam-diam pikirnya.

"Heei.... kelihatannya kehendak Thian memang begitu sehingga menyuruh aku tergigit ular beracun itu. "

Wi Lian In sembari menyedot sembari muntahkan keluar, sesudah berturut turut menyedot dan muntahkan kembali keluar berpuluh puluh kali banyaknya barulah ujarnya.

"Sudah cukup, sekarang aku mau bebaskan jalan darah yang tertotok pada lututmu ini, kau tetap lanjutkan kerahkan tenaga murni berusaha memaksa sisa-sisa sari racunnya keluar tubuh, jangan sampai racun tersebut masuk ke dalam tubuh lagi."

Tangannya dengan cepat bergerak menotok dan menepuk membebaskan jalan darah yang tertotok itu.

Begitu jalan darahnya terbebas dari totokan, darah segera mengucur keluar lagi dari bekas luka itu.

Darah yang mengalir keluar tetap masih darah berwarna hitam, setelah lewat sesaat kemudian barulah makin lama berubah menjadi darah segar, wi Lian In menggunakan jarinya menekan lagi lututnya sambil bertanya . "Coba bagaimana sekarang rasanya"

"Sudah sedikit berasa."

Mendengar hal itu Wi Lian In menjadi sangat girang. "Tidak perlu obat pemunah dari Majikan ular lagi bukan?"

"Benar." sahut Ti Then sambil mengangguk. "sekarang hanya cukup obat dari Tabib biasa sudah akan sembuh kembali."

"Coba kamu berdiri dan jalan."

"Pasti bisa jalan.. ." sahut Ti Then sambil tertawa. "Hanya saja tidak sanggup untuk berlari."

Sambil berkata sembari bangkit berdiri dia berjalan bolak balik beberapa kali di sana, hanya saja jalannya kali ini sedikit pincang seperti orang buntung.

Wi Lian In sangat girang sekali, dia berjalan kearah suatu selokan kecil didekat tempat itu untuk mencuci mulutnya kemudian berjalan kembali ke hadapan Ti Then, ujarnya sambil tertawa:

"Bagaimana kamu bisa temukan aku dibukit itu??"

"Sebelum itu aku harus tanya dulu kepadamu, bagaimana kamu bisa sampai terjatuh ketangan Kwan si Ngo Koay itu?" balik tanya Ti Then sambil tertawa pahit. "Sekali pun Kwan si Ngo Koay punya sedikit nama besar di dalam dunia kangouw, tapi dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini tidak mungkin bisa tertawan dengan begitu mudahnya." Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam. "Aku ditawan mereka selagi tertidur sangat nyenyak."

"Sungguh kamu orang tidak punya sedikit perasaan waspadamu."

"Tidak punya cara lain, begitu aku tertidur sekali pun dunia kiamat juga tidak akan merasa-" "Ehmmm.... malam itu begitu aku dengar ada orang yang berjalan malam di atas atap segera keluar kamar untuk melihat, waktu itu tidak terlihat seorang pun di atas genteng makanya aku segera lari kekamarmu, tapi kamu sudah lenyap diculik orang."

"Mungkin mereka sudah totok jalan darah pulasku." ujar wi Lian In sedikit membela diri "Sehingga aku sama sekali tidak merasa     "

"Di dalam kamarmu aku temukan secarik kertas yang mereka tinggalkan, mereka perintah aku untuk membawa kitab pusaka Ie Cin Keng untuk ditukar dengan kau diluar kota, begitu aku sampai di tanah pekuburan itu segera muncullah empat orang berkerudung

..." segera dia menceritakan kisahnya itu dengan jelas, akhirnya tambahnya lagi.

"Sedang di tanah bukit itu aku bisa menemukan kamu semuanya bergantung pada untung atau tidak saja, aku punya dugaan orang yang menculik kau pergi itu tentu melarikan diri kearah sebelah sini maka karenanya sengaja mengejar kemari, ketika mengejar sampai bawah bukit itu tetap saja tidak mendapatkan tanda-tanda apa pun, hatiku betul-betul merasa gemas dan jengkel sehingga duduk beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba itulah mendadak terdengar suara bercakap cakap dua orang dari atas bukit itu, kemudian melihat pula Majikan ular berlari menuruni bukit tersebut menuju ke dalam kota, hatiku menjadi curiga secara diam-diam memasuki hutan bambu itu dan akhirnya mendengar suaramu"

"Hmmm... hmmm.. ." dengan gemasnya Wi Lian In mendepakkan kakinya ke atas tanah. "Semuanya ini hadiah dari setan pengecut serta bangsat Hong Mong Ling itu, lain kali jika bertemu dengan mereka lagi. "

Mendadak Ti Then menggoyangkan tangannya mencegah dia berbicara lebih lanjut, ujarnya dengan rendah. "Jangan bicara, ada orang datang."

Wi Lian In mendiadi sangat terkejut sambii memandang sekeliling tempat itu tanyanya dengan perlahan. "Dimana?" "Di sana." sahut Ti Then sambil menuding kearah hutan didekat tempat itu

"Agaknya ada dua orang . ."

Wi Lian In semakin menjadi tegang.

"Tentu Majikan ular serta kakek kura-kura itu, cepat kita bersembunyi."

Luka kaki Ti Then belum sembuh seluruhnya sehingga gerakannya pun tidak begitu lincah lagi, mereka karena takut terjerumus kembali ke dalam barisan Selaksa ular segera bersama sama meloncat bersembunyi disebuah liang kecil dekat tempat tersebut.

Di samping liang itu penuh ditumbuhi rumput liar yang sangat tinggi dan lebat, orang yang bersembunyi di bawah rumput-rumput liar itu tidak mudah untuk ditemui kembali.

Baru saja mereka berdua menyembunyikan diri di bawah rumput liar itu terlihatlah dua orang kakek tua munculkan dirinya dari hutan beberapa kaki dari tempat itu dan berjalan kearahnya.

Orang itu tidak lain adalah Majikan ular Yu Toa Hay serta kakek kura kura Phu Tong seng adanya.

Mereka sambil berjalan keluar dari hutan matanya dengan tajam memandang sekeliling tempat itu, terdengar Majikan ular Yu Toa Hay sembari memeriksa sekeliling tempat itu tanyanya:

"Apakah Phu heng betul betul melihat jelas kalau bangsat cilik itu sudah tergigit oleh ular beracun milik lohu itu?"

"Tidak akan salah." sahut kakek kura kura Phu Tong seng itu sambil manggut-manggut. "Sewaktu Lohu mengejar keluar dari hutan bambu itu bertepatan melihat budak itu menggendong dia lari kemari-"

"Kalau begitu tentu mereka melarikan diri ke dalam gunung ini, jika ini hari kita tidak berhasil mendapatkan mereka kembali, penghidupan selanjutnya akan tidak tenang kembali-" "Ehmmm... siapa bilang tidak. Wi Ci To tentu tidak akan melepaskan kita."

"Makanya-" ujar Majikan ular dengan suara yang berat. "Kita harus menangkap mereka kembali kemudian sekalian kita bunuh mati.. ."

"Bangsat cilik itu sudah terluka oleh gigitan ular beracun, mungkin tidak akan melarikan diri terlalu jauh. Mari kita cari secara berpisah saja."

"Baik," sahut Majikan ular sambil mengangguk- "Phu heng memeriksa sebelah sana, biar Lohu yang memeriksa sebelah sini, Ayoh jalan."

Kedua orang itu bersama sama meloncat ketengah udara dan melewati liang itu, satu kiri yang lain kekanan bagaikan terbang cepatnya lari ke depan.

Kakek kura-kura itu melayang tepat di atas Ti Then serta Wi Lian In yang bersembunyi di bawah liang tengah rerumput tebal itu.

Wi Lian In sesudah melihat bayangan tubuh mereka lenyap dari pandangan barulah menghembuskan napas lega, ujarnya:

"Sungguh amat bahaya, asalkan kura-kura tua itu menengok ke bawah segera jejak kita akan diketahui."

"Ehmmm... masih untung Majikan ular itu tidak bawa serta ular- ular beracunnya, jika dia bawa serta ular-ular berbisanya kita tidak mungkin bisa bersembunyi lagi..."

"Ti Toako, menggunakan kesempatan mereka mencari kita ke atas gunung lebih baik cepat-cepat kita kembali ke dalam kota saja"

Sambil berkata dia mengulur tangannya membimbing Ti Then bangun. Tetapi begitu dilihatnya kaki kiri Ti Then tetap tidak bisa bergerak bebas segera ujarnya lagi. "Bagaimana kalau aku gendong saja?" "Aaah jelek sekali." ujar Ti Then sambil tertawa. "Jika sampai dilihat orang lain bukankah sedikit kurang sopan dan tidak sedap dipandang."

"Hemmm....." Dengus wi Lian In sambil cemberut. "Sekarang keselamatan yang paling penting, aku saja tidak takut kau takut apa lagi."

Tubuhnya yang kecil langsing dan mungil itu sebera sedikit menjongkok menggendong tubuh Ti Then pada pangkuannya, kemudian dengan cepat lari menuruni gunung itu.

Di dalam sekejap mata mereka sudah berada ditepi jalan raya yang banyak orang sedang melakukan perjalanan, Ti Then begitu melihat di sana banyak orang tidak terasa merasa malu juga, ujarnya dengan cemas: "Cepat turunkan aku, ada orang yang melihat kita."

Wi Lian In tetap tidak gubris, dengan cepat berlari menuju kearah kota Ho Kiang sian.

"Nona Wi..." ujar Ti Then dengan cemas. "Jarak dari sini ke kota Ho Kiang sian masih ada tiga puluh li jauhnya, apa kau mau gendong aku sampai di dalam kota ??"

"Biarlah lari sampai tidak bisa lari baru kita bicarakan lagi."

Dia tidak mau ambil perduli lagi terhadap orang-orang dijalan yang memandang ke arahnya dengan sinar mata terkejut bercampur keheranan, dengan menundukkan kepalanya dia berlari terus ke depan sehingga sejauh puluhan li, waktu itu keringat sudah mengucur dengan derasnya membasahi seluruh bajunya sedang napasnya pun kempas kempis tidak teratur.

Waktu itu untung saja lewat sebuah tandu besar dengan delapan orang yang menggotong, begitu dia melihat kedelapan orang kuli menggotong tandu tersebut sangat lincah langkahnya segera berhenti, tanyanya: "Hei, di dalam tandu ada orang tidak?"

Ke delapan orang kuli tandu itu melihat seorang nona muda menggendong seorang pemuda melakukan perjalanan ditengah siang hari bolong pada memandangnya dengan sinar mata penuh perasaan heran bercampur terkejut, bersama-sama mereka berhenti. Salah satu

diantaranya menyahut dengan sopan: "Tidak ada, kenapa orang itu?"

"Dia tergigit ular beracun, nyawanya di dalam keadaan sangat bahaya. Harap paman sekalian beriaku baik hati membawa kami ke dalam kota untuk berobat."

Kuli tandu itu begitu mendengar perkataan tersebut segera memerintahkan kawan-kawannya untuk menurunkan tandu tersebut dan membuka pintu tandunya, ujarnya kemudian:

"Urusan tidak boleh terlambat lagi, cepat nona bawa dia masuk.

."

Wi Lian in menjadi sangat girang, dengan tergesa gesa dia

membimbing tubuh Ti Then duduk ke dalam tandu itu, tanyanya lagi: "Aku boleh masuk sekalian???"

"Nona apanya dia ???". "Aku adalah adiknya"

" Kalau memangnya saudara sekandung tidak usah mengikuti adat lagi, silahkan nona duduk sekalian di dalam tandu"

Wi Lian In segera membungkukkan tubuhnya masuk ke dalam tandu, tanyanya lagi: "Paman-paman sekalian apakah orang-orang dari kota Ho Kiang sian ???".

"Benar" sahut kuli itu sambil menutup kembali pintu tandunya. " Kemarin hari kami hantar nyonya hartawan Shie kedesanya, karena perjalanan yang amat jauh baru ini pagi kita berangkat pulang? "

"Kalau begitu bagus sekali, nanti sesudah masuk kota harap hantar kami kerumah tabib sekalian, aku bisa kasih kamu orang uang sebagai imbalannya, Hanya ada satu hal yang kalian ingat jika ditengah jalan ada orang yang menanyakan jejak kami bersaudara jangan sekali kali kalian beritahu pada mereka." Kuli-kuli tandu itu begitu mendengar ada persenan uang hatinya menjadi sangat girang sekali, segera menyahut dengan sangat sopan.

Demikianlah kedelapan orang itu segera mengangkat tandu besar itu melanjutkan perjalanan ke dalam kota Ho Kiang sian.

Di dalam tandu hanya terdapat satu tempat duduk saja, karenanya Wi Lian In terpaksa berjongkok di depan tubuh Ti Then.

Ti Then yang teringat dua kali dia menggendong dirinya melarikan diri bahkan dengan tidak perduli kotor sudah hisapkan keluar darah berbisa pada kaki kirinya tanpa terasa perasaan berterima kasih yang meluap luap memenuhi benaknya, tanpa terasa lagi dia menarik tubuhnya ke dalam pangkuannya sendiri

Air muka Wi Lian in segera berubah menjadi merah padam, tapi dia tidak memberi perlawanan sedikit pun dengan manyanya dia duduk di atas kaki kanannya dan bersandar pada dadanya, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat...

Kedua orang itu siapa pun tidak ada yang buka bicara, masing- masing berdiam diri sambil saling berpeluk pelukan.

Saat ini adalah saat yang paling menggembirakan di dalam lembaran hidup mereka, sebaliknya waktu yang paling menggembirakan juga lewat paling cepat, mendadak mereka mendengar suara pembicaraan orang yang sangat ramai sekali, kiranya mereka sudah masuk dalam kota.

Wi Lian In tidak berani duduk di atas Ti Then lagi, dengan diam diam dia melorot ke bawah dan berjongkok kembali ke depannya. sambil membereskan rambutnya ujarnya dengan perlahan: " Kuda- kita apa masih berada di dalam rumah penginapan?"

"Benar." sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Mereka tidak menemukan kita di atas gunung, mungkin segera akan kembali ke dalam kota menanti kita di dalam rumah penginapan." "Benar, tentu mereka tahu kalau kuda tunggangan kita masih berada di dalam rumah penginapan."

"Heii . . ." ujar wi Lian in lagi sambil menghela napas panjang. "Hanya kuda Ang San Khek itu merupakan seekor kuda jempolan, kalau sampai hilang sungguh sayang sekali."

"Sudah tentu tidak bisa kita buang begitu saja."

"Tapi jika kita kembali kerumah penginapan untuk mengambil kuda itu mungkin segera akan diketahui mereka, mereka tidak mendapatkan kitab pusaka le Cin Keng dan ditambah lagi takut dengan ayahku datang mencari balas, sudah tentu akan bunuh kita untuk menutup mulut."

"Jangan kuatir." ujar Ti Then tetap tenang. "Mereka tidak mungkin berani melakukan pekerjaan itu di dalam kota"

Sedang mereka bercakap cakap mendadak terdengar kuli tandu itu buka suara ujarnya:

"Nona, dijalanan ini ada sebuah kedai obat Hwe Cun di dalamnya ada seorang tabib yang sangat lihay ilmu pengobatannya, bagaimana kalau kita cari tabib itu saja?."

"Baiklah. ."

Tidak lama kemudian tandu itu pun berhenti:

Kuli tandu itu segera membuka pintu tandu mempersilahkan wi Lian In sekalian turun, terlihatlah saat ini mereka sudah berada di depan pintu kedai obat bermerek Hwe Cun itu, segera Wi Lian in membimbing Ti Then turun, sesudah memberi upah beberapa tahil perak kepada kuli-kuli tandu itu barulah bersama sama berjalan masuk ke dalam kedai obat tersebut.

Orang-orang dalam kedai obat itu begitu melihat seorang nona membimbing seorang pemuda berjalan masuk pada memandang kearahnya dengan perasaan heran, tanyanya dengan cepat:

"Ada urusan apa ??" "Cayhe digigit seekor ular berbisa kini datang untuk berobat, apakah Tabib ada di dalam?."

"Ada . . . ada." sahut pelayan itu dengan cepat. . "silahkan kongcu masuk ke dalam"

Wi Lian In dengan membimblug Ti Then berjalan masuk ke dalam kamar yang ditunjuk pelayan itu, saat itu terlihatlah seorang kakek tua sedang memeriksa penyakit seseorang karenanya mereka menanti sebentar baru mendapatkan giliran-

Kiranya kakek tua itulah merupakan tabibnya, dia mempersilahkan Ti Then duduk terlebih dahulu kemudian baru tanyanya. "Badan sebelah mana yang terasa tidak enak?"

"Kaki kiri cayhe digigit ular berbisa."

"Oooh . . . ." sahut Tabib itu sambil mengangguk. "Biarlah Lohu periksa sebentar . . . . Ehmm . . . digigit ular, berbisa macam apa??"

"Ular berekor merah darah."

Tabib itu sembari memeriksa sambil tanyanya lagi: "Kapan digigitnya ?."

"Pagi tadi, kurang lebih dua jam yang lalu. ."

Tabib itu menggunakan jarinya menekan beberapa kali disekitar bekas luka tersebut, ujarnya:

"Kau sudah keluarkan darah-darah yang mengandung bisa itu sehingga kini tidak berbahaya lagi, sesudah diobati dua kali ditambah minum obat penawar segera akan sembuh seperti sedia kala."

Sehabis berkata dia mengambil pitnya dan menulis resep kemudian berikan kepada Ti Then dan memesankan cara-cara penggunaannya.

Sesudah membajar rekening dan mengundurkan diri dari sana lalu menyerahkan itu resep kepada pelayan yang dengan cepat sudah menyediakan obat-obat yang dibutuhkan itu, ujarnya. "Obat ini digunakan sebagai obat luar sedang obat berupa bubuk ini untuk dimakan, setiap lewat dua jam harus menggunakan satu kali."

Ti Then bayar kembali uang obat itu dan digunakan sekalian obat tersebut di sana, setelah itu baru tanyanya. "Kapan bengkaknya akan hilang ??"

"Besok sudah sembuh sama sekali"

Mendengar itu Ti Then menjadi lega hatinya, kepada Wi Lian In ujarnya sambil tertawa:

"Ayo pergi, kita pergi kerumah penginapan itu."

Kedua orang itu kembalilah kerumah penginapan dimana mereka tinggal, pelayan-pelayan dengan air muka penuh perasaan terkejut masing-masing pada merubung menanyakan sesuatu, Ti Then hanya menyawab adanya pencuri yang mencuri barangnya sehingga dia pergi kejar dan tergigit ular beracun, dengan demikian mereka pun menjadi tenang kembali. Tanya Wi Lian In kemudian: "Kuda kuda kami apa masih ada ??"

"Masih . . . masih . . ." sahut pelayjan itu sambil mengangguk. "Kalian berdua apa mau segera berangkat?"

"Tidak" ujar Ti Then perlahan. Kami mau menginap satu malam lagi, besok pagi baru berangkat, Kau pergilah siapkan makanan untuk kami"

Pelayan itu segera menyahut dan mengundurkan diri, Mendadak Ti Then teringat kembali akan si macan kumbang hitam Khie Hoat itu manusia yang menduduki sebagai Lo-ji dari Kwan si Ngo Keay masih tertotok jalan darahnya ditengah tanah pekuburan diluar kota, ujarnya kemudian kepada Wi Lian in"Bagaimana kalau kamu orang kerjakan suatu pekerjaan?"

"Kerjaan apa?" " Kemarin malam Loji dari Kwan si Ngo Koay si macan kumbang hitam Khie hoat tertotok jalan darahnya hingga kini mungkin masih berada di sana, coba kau pergi ke sana lepaskan dia pergi."

"Hmmm . . . kejahatan yang dikerjakan Kwan si Ngo Koay sudah sangat banyak sekali, sekali pun mati juga tidak sayang, buat apa kita pergi urus dia lagi"

"Tidak. ." bantah Ti Then dengan cepat, "Aku sudah bilang sama dia asalkan di dalam kelenteng tanah ditengah kota aku bisa temukan kamu maka setelah pulang aku bebaskan dia pergi, walau pun di dalam kelenteng tanah ditengah kota aku tidak temukan kau tapi hal ini bukan kesalahannya."

"Walau pun begitu . . . hari ini kau lepaskan dia pergi, dikemudian hari dia bisa cari kau untuk membalas dendam."

"Hal itu termasuk persoalan lain lagi..."

Wi Lian In ketika melihat dia sudah ambil ketetapan di dalam hatinya terpaksa mengangguk.

"Baiklah, hanya saja dia berada di tanah pekuburan sebelah mana?"

"Di sebelah barat kota, kau pergilah dengan menunggang kuda Ang san Khek. cepat pergi cepat kembali dan hati-hati jangan sampai diculik orang lagi..."

"Cis. . ." seru Wi Lian in dengan perasaan malu dan manya. "Disiang hari bolong begitu ada siapa yang berani mengganggu aku Wi Lian In? Hmmm, kalau berani ganggu aku jangan harap bisa hidup lagi." sehabis berkata dia berjalan keluar dari kamar.

Ti Then menanti sesudah dia keluar baru menutup pintu kamar dan rebahkan dirinya ke atas pembaringan untuk beristirahat. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu kamar.

"Siapa?" tanyanya sambil bangkit berdiri "Aku." suara dari pelayan rumah penginapan itu berkumandang masuk ke dalam kamar. "Tuan bukankah kamu suruh aku siapkan makanan ?"

"Ehmm . . . masuklah. Pintu itu tidak terkunci." "Baik,"

Pintu kamar dibuka, pelayan rumah penginapan itu dengan membawa makanan berjalan masuk kemudian mengaturnya di atas meja, sedang pada mulutnya gumamnya seorang diri "Sungguh membingungkan sekali, aneh. . . aneh..."

"Ada urusan apa ??"

"Itu . . . seorang lelaki berusia pertengahan secara tiba-tiba menghadang hamba untuk menanyakan segala hal bahkan masih mengajak hamba guyon, sehingga kuah telur ini menjadi sedikit bercecer."

Mendengar perkataan itu hati Ti Then menjadi sedikit bergerak. sambil memandang wajahnya, tanyanya dengan serius. "Lelaki itu tanya apa saja??"

"Dia adalah tamu yang baru datang pagi ini, tadi sewaktu hamba membawa makanan kemari mendadak dia menghadang hamba dan menanyakan apa ada nona yang mau temani dia tidur nanti malam, lalu tanya juga letak rumah pelacuran-

Hamba terpaksa satu demi satu memberikan jawabannya, tapi mendadak dia menuding ke belakang hamba sambil katanya. "Coba lihat, nona itu sungguh cantik." hamba cepat-cepat menoleh ke belakang, "HHuuu . . . sungguh matanya sedikit buta, di belakang hamba mana ada bayangan nona cantik." Ti Then tersenyum.

"Sewaktu kamu menoleh lalu kuah itu secara tiba-tiba tercecer?" "Benar, hanya saja tidak terlalu banyak yang tercecer . . ."

" Orang itu tinggal dikamar sebelah mana?" Pelayan itu menuding ke kamar sabelah kanan. sahutnya. "Dia menginap dikamar ke empat dari kamar sini." "Membawa teman tidak?"

"Tidak." sahut pelayan itu sambil gelengkan kepalanya. . "Dia hanya satu orang saja."

"Ehmmm . . . kini masih berada di dalam rumah penginapan?" "Benar, sesudah mengajak hamba guyon-guyon sebentar lalu

kembali ke dalam kamarnya.."

"Baiklah, kau boleh pergi" ujar Ti Then kemudian sambil mengangguk. Pelayan itu segera membawa nampannya mengundurkan diri dari kamar.

Dengan perlahan Ti Then berjalan mendekati kuah telur yang dimaksud tadi kemudian dibaunya beberapa kali, setelah itu sambil tersenyum memanggil pelayan itu lagi. "Pelayan. "

Waktu itu pelayan tersebut belum jauh meninggalkan kamarnya Ti Then, begitu mendengar suara panggilan segera putar tubuh sambil bertanya. "Kongcu minta barang apa lagi.."

"Oooh tidak. ." ujar Ti Then dengan suara yang keras. "Adikku ada urusan hendak keluar sebentar tapi dengan cepat dia akan kembali, jika kamu melihat dia pulang beritahu padanya aku sedang menunggu dia di dalam kamar untuk makan bersama sama."

"Baik . . . baik. . Tentu aku beritahukan padanya. ."

Ti Then menoleh memandang sekejap kearah kamar di sebelah kanannya itu kemudian menutup pintu kamarnya kembali dan duduk di depan mejanya.

Sambil menyendoki kuah tetur itu dicobanya seteguk, tapi tidak sampai ditelan sesudah dicoba lalu dimuntahkan kembali kepojokan kamar, pada air mukanya terlintaslah suatu senyuman yang amat dingin, pikirnya. "Hmmm kiranya obat pemabok."

Dia berjalan mendekati pembaringan dan merebahkan dirinya, pikirannya dengan cepat berputar memikirkan orang lelaki berusia pertengahan yang hendak menjebak dirinya dengan menaruh obat pemabok pada kuah telur tersebut. Tetapi dengan ditemuinya beberapa orang yang munculkan diri untuk merebut kitab pusaka Ie Cin Keng dia tahu saat ini disekelilingnya terdapat sangat banyak orang yang sedang mengincar kitab pusaka Ie Cin Keng itu dari tangannya, karenanya dia sangat menyesal sudah suruh wi Lian In keluar kota untuk membebaskan diri simacan kumbang hitam Khie Hoat.

Walau pun jarak tanah pekuburan itu tidak jauh dari dalam kota, sekali pun ilmu pedang dari Wi Lian in tidak lemah tapi kemungkinan sekali pun beberapa orang jago berkepandaian tinggi bergabung menjadi satu untuk turun tangan bersama-sama seperti buktinya kakek kura-kura serta Majikan ular itu bekerja sama menculik dia untuk memaksa dirinya menyerahkan kitab pusaka Ie cin Keng kepada mereka.

Semakin berpikir dia merasa semakin cemas, dengan cepat dia bangun kembali sambil gumamnya seorang diri

" Lebih baik aku keluar kota sebentar untuk melihat-lihat."

Baru saja dia berjalan mendekati pintu kamar, mendadak pintu itu didorong oleh orang, terlihatlah Wi Lian In sambil tersenyum berjalan masuk ke dalam.

Melihat munculnya Wi Lian in tanpa menemui cedera apa pun hati Ti Then seketika itu juga menjadi lega. dengan girang serunya: "Oooh kamu sudah kembali."

"Pelayan tadi bilang kau sedang tunggu aku makan." ujar Wi Lian In sambil tertawa.

"Benar kau sudah temui dia???."

"Sudah, aku potong telinganya terlebih dulu baru lepaskan dia pergi."

"Ha ha ha..." ujar Ti Then sambil tertawa serak. "sifatmu persis seperti ayahmu,sedikit dikit suka gotong telinga orang lain Ha ha

ha. ." "Aku potong telinganya untuk peringatkan padanya lain kali jangan suka cepat percaya kabar bohong."

Ti Then segera menutup pintu kamar kembali, sambil gape padanya, katanya lagi:

"Ayoh cepat makan, kuahnya hampir dingin."

Dua orang itu segera duduk saling berhadapan untuk mulai dahar.

Sesudah menelan nasinya terlihatlah Wi Lian In mengambil kuah telur itu untuk diminum, melihat hal itu dengan cepat Ti Then gelengkan kepalanya, sambil tersenyum dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ujarnya: "Kuah itu jangan diminum"

" Kenapa ??" tanya Wi Lian In melengak.

Ti Then segera beri tanda kepadanya untuk memperendah suaranya, kemudian dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ujarnya lagi: "Di dalam kuah itu ada obat pemaboknya."

"Ehmm." Dengus Wi Lian In tidak percaya. " Kau sedang menakut-nakuti aku."

"Aku tidak menipu kau." sahut Ti Then dengan serius. "Ada orang secara diam-diam memasukkan obat pemabok ke dalam kuah itu untuk memaboklan kita orang."

Melihat sikapnya yang sungguh-sungguh dan serius Wi Liau In menjadi amat terkejut sekali.

"Bagaimana kau bisa tahu??"

Segera Ti Then menceritakan apa yang didengarnya dari pelayan tentang lelaki berusia pertengahan itu, akhirnya tambahnya lagi:

"Tadi aku sudah mencobanya dan merasa kalau di dalam kuah itu betul terdapat obat pemaboknya, asalkan kau meneguk satu tegukan saja tanggung secara kontan akan jatuh tidak sadarkan diri" "Siapa lelaki berusia pertengahan itu??" tanya Wi Lian In dengan air muka berubah sangat hebat.

"Masih tidak tahu" sahutnya sambil gelengkan kepalanya. "Menurut pelayan itu katanya dia berada dikamar ke empat dari sebelah kanan kita." Mendadak Wi Lian In bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar. Dengan cepat Ti Then menarik dia kembali, ujarnya sambil tersenyum: "Kau mau berbuat apa?"

"Cari dia."

Ti Then segera tarik dia duduk kembali ke tempat semula, dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ujarnya sambil tertawa:

-ooo0dw0ooo-