Pendekar Patung Emas Jilid 09

 
Jilid 09

Dia percaya Hong Mong Ling masih bersembunyi diantara batu- batu cadas yang terbesar itu. segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dengan cepat melayang ketengah batu batu cadas yang terbesar itu untuk menawannya. Siapa tahu walau sudah dicari ke semua tempat, tidak tampak pula bayangan dari Hong Mong Ling.

Eeh ... eh. Bangsat cilik itu sungguh teramat licik. Apa mungkin dia melarikan diri keluar lembah terlebih dulu dari pada si setan pengecut itu?

Atau mungkin dengan pinyam kesempatan ini masuk ke dalam goa kembali untuk menyerang Wi Lian In ??

Pikiran ini begitu berkelebat di dalam benaknya, dia tidak berani berayal lagi, dengan cepat memutar tubuh lari ke dalam gua tadi. Dengan satu kali loncatan dia naik ke atas tebing yang menonjol keluar kemudian masuk ke dalam gua, teriaknya dengan keras. "Nona Wi, nona Wi. ."

Dalam gua suasana tetap sunyi senyap. tidak terdengar suara jawaban dari Wi Lian In.

Hatinya bertambah tegang, makinya dengan gemas. "Kurang ajar. ."

Tanpa menanti lebih lama lagi dia putar tubuh menerjang keluar gua tersebut.

"Aku di sini. ." terdengar suara Wi Lian In muncul ketika mendadak dari balik sebuah cadas di samping gua itu.

Ti Then menjadi melengak. dengan cepat dia putar tubuhnya memandang ke arah dimana berasalnya suara itu, saat itu tampak Wi Lian In baru saja munculkan diri dari balik batu cadas di samping gua itu, tak terasa dengan perasaan heran tanyanya: "Nona Wi, kamu sedang berbuat apa di balik batu itu?"

Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah padam, dengan nada kemalu maluan sahutnya dengan manya. "Buat apa kamu urus aku . ."

Agaknya Ti Then sadar apa yang baru saja terjadi, wajahnya pun kelihatan berubah memerah, sahutnya sambil tertawa malu. "Ooh . . aku kira . . aku kira. ." "Kamu kira aku diculik pergi?" ujar wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya.

"Benar. . " sahut Ti Then sambil mengangguk "Aku pergi kejar itu setan pengecut tapi tidak berhasil kemudian balik mencari Hong Mong Ling, dia juga tidak ada makanya aku kira dia lari masuk ke dalam gua."

"Hemm . . . memangnya kamu tidak punya minat bunuh kedua orang itu, kalau tidak bagaimana mereka bisa lolos?"

"Bukan . . bukan begitu" Bantah Ti Then dengan cemas "Kepandaian silat dari setan pengecut itu memang sangat tinggi, ketika aku kejar dia, tubuhnya sudah berada sangat jauh sekali."

"Tadi kamu bisa bunuh mati dia dengan satu kali tusukan, tapi kamu hanya lukai kulit kepalanya saja."

"Bukannya begitu" ujar Ti Then sambil tersenyum "Aku tidak beri am pun kepadanya, hanya saja dia bisa menghindar dengan cepat."

"Tahukah kamu siapa sebetulnya orang itu??" "Tidak..." sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Malam itu sewaktu dia memasuki dalam benteng, kepalanya juga ditutupi dengan kain hitam, hanya saja suaranya seperti pernah kudengar. Aku merasa suara itu sering aku dengar"

Pada setengah tahun yang baru saja lewat apa nona Wi pernah meninggalkan benteng?" Wi Lian In kelihatan sedikit tertegun, sahutnya: "Tidak pernah, buat apa kamu tanyakan hal ini??"

Ti Then dengan perlahan berjalan bulak balik di sana, sambil tersenyum kemudian ujarnya lagi:

"Nona tadi bilang suara dari setan pengecut itu sering sekali didengar tapi selama setengah tahun belakang ini tidak pernah keluar dari Benteng, makanya kemungkinan sekali setan pengecut itu adalah. . ." "Orang Benteng Pek Kiam Po kita?" tanya Wi Lian In dengan air muka yang sudah berubah hebat.

"Kecuali begitu tidak ada penjelasan lainnya."

Sepasang mata Wi Lian In dipentangkan lebar-lebar, dengan perasaan terkejut bercampur ketakutan ujarnya:

"Tidak mungkin, di dalam benteng Pek Kiam Po kita kecuali ayahku berserta Hu Pocu tidak ada seorang pendekar pedang merah pun yang memiliki kepandaian silat setinggi setan pengecut itu ..."

"Nona selalu bilang kepandaian silat dari setan pengecut itu sangat tinggi, dengan dasar apa nona bisa bicara begitu?"

"Hari kedua sesudah dia menculik aku didekat keresidenan Lok san sian dia bertemu dengan Hong Mong Ling, agaknya dia tahu urusanku dengan Hong Mong Ling dan minta Mong Ling angkat dia sebagai suhu."

Hong Mong Ling melihat orang yang dikempit dia adalah diriku maka mengajukan satu syarat jika di dalam dua puluh jurus dia bisa mengalahkan dirinya dia baru mau angkat dia sebagai guru, akhirnya setan pengecut itu berhasil mengalahkan dia tidak sampai dua puluh jurus, kepandaian silat setinggi itu hanya kau serta ayahku sekalian saja yang bisa melakukan."

Ti Then tersenyum:

"Yang kamu maksudkan aku serta ayah mu sekalian." "Sekalian" dua kata ini menunjuk siapa?"

"Sudah tentu Hu Pocu."

Hati Ti Then segera bergerak, teringat kembali malam ketika dia diculik orang. Pada saat itu Huang Puh Kian Pek sedang bermain catur dengan dirinya diruang tamu dia tidak mungkin bisa setan pengecut itu, tanpa terasa lagi dia gelengkan kepalanya. "Kenapa kamu gelengkan kepala?" tanya Wi Lian In heran. "Tidak mengapa.

." Agaknya Wi Lian In juga sudah mencurigai Huang Puh Kian Pek, sambil mengerutkan alis gumamnya seorang diri. "Apa mungkin perbuatan Hu Pocu?"

"Apa kamu merasa suara dari si setan pengecut itu agak mirip suara dari Hu Pocu?"

Wi Lian In termenung berpikir beberapa saat lamanya: "Bukannya mirip sekali, hanya sedikit mirip ..."

"Hu Pocu adalah sute dari ayahmu, bagaimana dia bisa melakukan pekerjaan seperti ini?"

"Benar." ujar Wi Lian In dengan air muka sedikit bingung dan curiga.

" Hubungannya dengan ayabku sangat erat sekali, sudah sepatutnya tidak melakukan pekerjaan seperti ini, tapi. . . kamu bilang setan pengecut itu adalah orang benteng Pek Kiam Po kita, kalau begitu kecuali dia masih ada siapa lagi?"

"Malam itu apakah si setan pengecut yang masuk ke dalam kamar nona dan menculik pergi?.."

"Agaknya memang betul"

"Bagaimana kamu bisa bilang agaknya memang betul?"

"Sebelum aku diculik agaknya sudah terkena semacam obat mabuk terlebih dulu sehingga apa pun yang sudah terjadi aku tidak tahu, kemudian sesudah kesadaranku pulih kembali barulah aku merasa kalau tubuhku dibawa lari setan pengecut itu keluar Benteng"

"Saat itu aku masih bermain catur dengan Hu Pocu di dalam ruangan tamu" Wi Lian In menjadi melengak.

"Oooh. . .saat itu kalian masih bermain catur di dalam ruangan tamu?"

"Benar." sahut Ti Then sambil mengangguk. "makanya Hu Pocu tidak mungkin adalah si setan pengecut itu." Wi Lian In mengerutkan alisnya lagi dengan rapat:

" Kalau tidak, siapa sebetulnya setan pengecut itu ??"

" Kemungkinan sekali setan pengecut itu memang bukan orang Benteng Pek Kiam Po kita, walau pun aku sendiri juga merasa suara itu sepertinya pernah di kenal . ."

Mendadak dari sepasang mata Wi Lian In memancarkan sinar yang sangat tajam, ujarnya dengan cepat:

"Apa mungkin si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan ??" "Tidak mungkin... tidak mungkin." ujar Ti Then sambil gelengkan

kepalanya "Pedang si setan pengecut itu digantungkan pada pinggang sebelah kirinya dan bukan digantungkan pada pinggang sebelah kanan bahkan sewaktu mencabut pedangnya tadi menggunakan tangan kanan."

"Jika dia betul-betul adalah Cian pit Yuan sudah tentu sengaja akan menggunakan tangan kanannya untuk menutupi wajah yang sebetulnya."

"Omonganmu memang sedikit pun tidak salah, tapi seorang yang sudah terbiasa menggunakan tangan kiri di dalam suatu keadaan yang sangat kritis dan membahayakan jiwanya, dia tidak mungkin bisa mengingat ingat harus menggunakan tangan kanannya."

Agaknya semakin berpikir Wi Lian In merasa semakin bingung, sambil mendepak kakinya ke atas tanah ujarnya. "Huuu . . sudahlah, mari kita pulang saja."

"Jangan" ujar Ti Then dengan cepat. "Nanti sesudah terang tanah baru kita pulang"

" Kenapa ?"

Ti Then duduk kembali ke atas tanah dengan tenangnya. "Serangan terang bisa ditahan serangan menggelap sukar

diduga, kemungkinan sekali mereka sudah pasang jebakan diantara selat yang sempit itu. ." "Kamu masih takuti mereka?" ujar Wi Lian In sambil mencibirkan bibirnya yang kecil mungil itu.

Ti Then yang mendengar perkataannya sangat lucu itu tidak terasa tertawa keras. "Aku tidak takut pada mereka, hanya saja kamu bukan tandingan Hong Mong Ling"

"Hemm. . " dengus Wi Lian In dengan dingin "siapa yang bilang

??"

"Hari itu ketika berada di atas gunung Go bi karena hatiku sedang mangkel dan jengkel sehingga sukar untuk menenangkan hati, karenanya baru berhasil dikalahkan olehnya. Padahal jika betul-betul bertempur hemm . . hemm . ."

Tubuhnya yang langsing genit itu dengan gemasnya dibanting ke atas tanah dan duduk tidak bergerak lagi.

Ti Then tersenyum, tanyanya dengan halus. "Perutmu sudah lapar belum?"

"Belum. ."

"Ayahmu sudah kirim perintah seratus pedang untuk menawan kembali Hong Mong Ling, cepat atau lambat akhirnya akan mati juga kamu tidak usah begitu jengkelnya"

"Ayahku apa pernah keluar cari aku. ."

"Pernah. ." sahut Ti Then sambil mengangguk "Dia pernah keluar Benteng untuk menguntit aku, tapi yang lalu sudah pulang ke dalam Benteng kembali.”

Wi Lian In menjadi terkejut, dengan penuh keheranan tanyanya: " Kenapa ayahku menguntit kamu?.."

"Ayahmu anggap aku sebagai seorang manusia yang patut dicurigai bahkan menuduh aku orang yang menculik kamu pergi, karenanya secara diam-diam menguntit aku dan mengawasi semua gerak-gerikku" Segera dia menceritakan kisahnya sewaktu sesaat memasuki lembah. Dengan perasaan yang tidak tenang ujar Wi Liau In dengan perlahan. "Ayahku mencurigai dirimu juga bukan tidak beralasan"

"Benar, makanya aku sama sekali tidak marah, hanya saja sesudah aku hantar kamu pulang ke dalam Benteng segera akan meninggalkan kalian."

Air muka Wi Lian In berubah hebat. "Kamu mau tinggalkan kami sekalian?" tanyanya.

"Benar. ." sahut Ti Then sambil mengangguk.

"Jadi kamu masih merasa marah terhadap ayahku?" "Tidak. " sahutnya sambil gelengkan kepalanya lagi. "Lalu kenapa mau tinggalkan kami?"

"Aku takut, kawan-kawan di dalam Benteng ada yang tidak tahu urusan yang sebetulnya dan menganggap aku yang merusak perkawinanmu dengan Hong Mong Ling ..."

"Sekali pun kamu punya niat merusak hubungan kita tapi aku tetap merasa sangat berterima kasih terhadap dirimu karena dia pergi main perempuan disarang pelacur adalah urusan yang sungguh-sungguh sudah terjadi.."

"Sekali pun omonganmu sedikit pun tidak salah." ujar Ti Then sambil tersenyum. "Tapi aku merasa jauh lebih baik . ."

"Tidak usah banyak omong lagi" potong Wi Lian In dengan cepat. "Asalkan kamu tanya dalam hatimu sendiri pernah berbuat atau tidak, tidak usah perduli lagi omongan orang lain"

Ketika Ti Then mendengar kata-kata. . Tanya hati sendiri pernah berbuat atau tidak, tidak terasa lagi air mukanya berubah menjadi merah padam.

"Jika kamu sudah ambil keputusan mau meninggalkan benteng Pek Kiam Po sekarang juga silahkan pergi."

"Nona Wi. . . kamu jangan marah.. " "Aku tidak marah, kamu boleh pergi ..."

"Tapi aku mau hantar nona pulang ke dalam benteng terlebih dulu."

"Tidak usah" ujar Wi Lian In dengan sengit, "Aku bisa pulang sendiri, aku tidak mau kamu hantar aku pulang ke dalam Benteng."

"Si setan pengecut serta Hong Mong Ling kemungkinan sekali masih bersembunyi disekitar tempat ini, bagaimana aku bisa tinggalkan kamu seorang diri?"

"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, jika aku terjatuh ketangan mereka lagi biarlah anggap memang itu nasibku."

Berbicara sampai di sini tidak tertahan lagi dia mengucurkan air mata dan menangis tersedu-sedu.

"Nona Wi." ujar Ti Then dengan cemas. "Kamu jangan menangis.

.jangan menangis. . .baiklah aku tidak akan meninggalkan kau lagi"

Wi Lian In dengan cepat memutar tubuh membelakangi dirinya, ujarnya lagi sambil menahan isak tangisnya.

"Aku tidak mau dikasihani orang lain, kau pergilah."

Ti Then termenung sangat lama sekali, kemudian sambil menghela napas baru sahutnya.

"Jika kamu menginginkan aku tinggal di dalam benteng Pek Kiam Po untuk selamanya aku juga bisa menyangupinya. Tapi aku jadi orang punya nasib yang sangat jelek sekali, mungkin bisa membawa kesialan juga kepada orang lain, jika pada suatu hari terjadi suatu urusan kamu janganlah menyesal."

"Apa itu nasib jelek membawa kesialan bagi orang lain? omongan yang tidak karuan itu sepatah pun aku tidak percaya."

"Heeei..." ujar Ti Then dengan nada yang berat. "Aku bilang kemungkinan sekali aku membahayakan ayah ibumu"

Mendadak Wi Lian In putar kepalanya memandang tajam kearahnya. "Apa arti dari perkataanmu itu???" "Tidak punya arti yang istimewa, aku hanya merasa aku jadi orang sangat sialan, bersandar pada pagar. . pagar ambruk. bersandar pada tembok. . tembok jebol."

Mendadak Wi Lian In tertawa cekikikan dengan merdunya, ujarnya: "Bagaimana kamu bisa punya perasaan begitu"

Ti Then angkat bahunya," Kenyataannya memang begitu, umpama saja sesudah aku masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po tidak selang lama sudah ada beberapa peristiwa yang terjadi saling susul menyusul, permulaan Cian pit Yuan yang datang mengacau kemudian muncul si setan pengecut itu . . ."

"Tapi. ." potong wi Lian In dengan cepat. "Kamu berhasil pukul mundur cianpit Yuan dan menolong aku dari cengkeraman si setan pengecut itu."

"Tapi jauh lebih baik tidak sampai terjadi urusan itu" ujar Ti Then dengan perlahan.

"Sejak kamu masuk benteng Pek Kiam Po kami, secara diam- diam aku terus menerus mengawasi gerak gerikmu, aku merasa agaknya kamu punya pikiran di dalam hati, selamanya uring- uringan dan tidak gembira dapat kamu ceritakan karena apa ?"

"Aku tidak punya pikiran dalam hatiku" sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya.

"Apa kamu pernah mengalami suatu peristiwa yang sangat mendukakan hatimu" tanya Wi Lian In sambil memperhatikan wajahnya tajam-tajam.

"Tidak pernah. ."

"Jika betul-betul tidak ada seharusnya kamu jadi seorang yang sangat gembira, dengan usiamu yang masih demikian mudanya sudah berhasil memiliki kepandaian silat demikian tinggi, dikemudian hari jago nomor wahid di dalam dunia akan kau miliki, seharusnya kamu gembira tapi kelihatannya kamu sangat tidak gembira bahkan murung terus." Berbicara sampai di sini mendadak seperti teringat akan sesuatu, pada wajahnya timbul suatu senyuman manis sambil mengangguk ujarnya. "Ooh. . . sekarang aku sudah tahu."

Ti Then menjadi melengak. "Kamu tahu apa??"

Wi Lian In menundukkan kepalanya rendah-rendah, sambil tersenyum malu ujarnya:

"Kamu pernah mencintai seorang nona tetapi kemudian hati nona itu berubah, tidak mau perduli kamu lagi bukan begitu?"

"Ha ha ha. . tidak. . tidak pernah terjadi urusan ini."

"Kau jangan menipu aku" ujar wi Lian In sambil tersenyum malu- malu.

"Tidak. aku tidak menipu kamu. ."

" Kalau tidak, kenapa kau tidak gembira"

"Jika kau anggap aku jadi orang tidak gembira mungkin dikarenakan aku dilahirkan menjadi seorang yang tidak gembira."

"Omong kosong" ujar wi Lian In sambil mendelik kearahnya. "Mana ada orang yang dilahirkan dalam keadaan tidak gembira."

"Ada. ." sahut Ti Then perlahan. "Misalnya seorang bayi yang baru saja lahir di dalam dunia, ayah ibunya saling susul menyusul meninggal dunia sehingga membiarkan anak itu hidup di dalam kemiskinan, hidup tanpa mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, hidup dalam kekurangan. coba kamu pikir sesudah dia menginyak dewasa bisa jadi orang yang lincah dan selalu gembira tidak?"

Wi Lian In teringat kembali riwayatnya yang pernah diceritakan kepada dirinya, kini mendengar perkataan itu segera tahu kalau dia sedang mengatakan dirinya karena itu perasaan simpatik dan kasihan timbul kembali di dalam hatinya, sambil melelehkan air mata ujarnya: "Sewaktu masih kecil kamu memang sangat susah, tapi sekarang sudah lain keadaannya, seharusnya kamu cari kesenangan, jangan pikirkan urusan yang sudah lalu."

Ti Then hanya tersenyum saja, kepalanya ditolehkan memandang keluar gua, ujarnya lagi.

"Hari hampir terang tanah, kenapa kamu tidak istirahat sebentar??."

"Tidak. . aku tidak bisa tidur. . mari kita omong lagi saja. . . kau.

. . kau. . . kau sudah punya idaman hati?" "Belum ada."

Dengan tersenyum malu-malu dan kepala yang ditundukkan rendah-rendah ujar Wi Lian In lagi.

"Kamu . . . kamu tidak ingin menikah?"

"Setiap lelaki yang sudah menginyak dewasa tentu kawin, siapa yang tidak pikirkan? Hanya saja dengan wajah seperti aku ini, mana ada nona mana yang mau jadi istriku?"

"Kamu bolak balikkan kenyataan.. "ujar Wi Lian In sambil tersenyum. "Mungkin kamu yang terlalu pandang tinggi diri sendiri sehingga tidak pandang orang lain"

"... Bukan . . . bukan . ."

"Biarlah sesudah pulang ke dalam benteng aku mau suruh ayahku carikan seorang nona untukmu." ujar Wi Lian in lagi sambil tertawa.

"Jangan. ." ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya, "Urusan perkawinan lebih baik jangan dipaksa, biarlah nanti datang dengan sendirinya."

Wi Lian in menundukkan kepala berpikir sebentar, kemudian barulah ujarnya sambil tersenyum:

"Beritahu padaku, isteri yang kau inginkan merupakan nona macam bagaimana?" "Aku belum pernah pikirkan"

"Kalau begitu kamu pikirlah sekarang juga." "Aku tidak tahu. ."

"Coba pikirkan dengan perasaan. ."

Ti Then menghembuskan napas panjang kepalanya diangkat dan memandang tajam wajahnya kemudian sambil tersenyum sahutnya.

"Bila pada satu hari aku bisa memperoleh seorang istri seperti nona Wi, hatiku sudah merasa sangat puas.."

Air muka Wi Lian In segera berubah menjadi merah dadu, ujarnya sambil tersenyum malu-malu.

"Ehm.. . ayahku sering bilang aku jadi orang terlalu manya, sifatnya pun berangasan sedikit-dikit suka marah, aku bukan seorang nona yang baik"

"Nona yang suka marah itulah nona yang paling menyenangkan, begitu marah pot-pot bunga pada melayang... sungguh menyenangkan sekali."

Dikatai begitu Wi Lian In melototkan mata kearahnya, ujarnya sambil mencibirkan bibirnya.

"Bagus sekali, jika dilihat potonganmu memang jujur tidak kusangka mulutnya licin juga, suka menggoda orang." Ti Then tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.

Tetapi sebaliknya dalam hati dia merasa sangat pahit, karena dia merasa hubungannya dengan Wi Lian In semakin lama semakin erat dan semakin intim. . Tujuan yang diharapkan majikan patung emas juga hampir tercapai. Tidak lama kemudian cuaca sudah terang, Ti Then segera bangkit berdiri ujarnya. "Jalan, kita keluar dari lembah ini."

Kedua orang itu dengan cepat meloncat turub dari atas tebing, Ti Then berjalan menuju kearah tebing seberang membereskan selimut serta barang barangnya kemudian menyerahkan tunggangannya kepada Wi Lian In, ujarnya sambil tertawa.

"Kuda ini sungguh cerdik sekali, jika bukannya kemarin malam dibantu dia kemungkinan sekali aku tidak punya cara untuk menolong kamu keluar."

Wi Lian In tersenyum manis. "Mulai sekarang kuda itu adalah milikmu"

"Tidak. ." sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya. "Aku tidak punya kesempatan banyak untuk menunggang kuda, lebih baik tinggalkan untuk kamu gunakan"

"Kau sungguh-sungguh tidak mau?" "Benar, aku tidak memerlukan. ."

"Kalau begitu biarlah dia pergi hidup sendiri, mari kita pergi"

sehabis berkata dia melepaskan tali lesnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Melihat tindakannya yang aneh itu Ti Then melengak. dengan cepat dia  pungut kembali tali les itu serunya:

"Tunggu sebentar, kamu sungguh-sungguh tidak inginkan kuda ini lagi?"

"Aku sudah bilang, kuda itu aku hadiahkan kepadamu, dengan begitu dia sudah menjadi milikmu jika kau tidak suka maka kuda itu tidak ada majikannya lagi."

Ti Then yang dikatai begitu menjadi serba susah, mau tertawa tidak bisa mau menangis pun tidak sanggup dengan tergesa gesa sahutnya: "Baik, baik, Baiklah, aku mau . . , aku mau, hanya saja ada satu syarat."

Wi Lian In menghentikan langkahnya, sambil menoleh ujarnya tersenyum: "Tentu kau sudah ketularan penyakit setan pengecut itu. syarat apa?" "Kau yang tunggangi dia kembali ke dalam Benteng kemudian kuda itu baru menjadi milikku."

"Aku menunggang kuda, kau jalan kaki ??" "Dijalan aku bisa beli seekor kuda lagi."

Wi Lian In baru mengangguk menyetujui, dia putar tubuh dan meloncat naik ke atas kudanya kemudian dengan perlahan berjalan keluar dari lembah sempit itu.

Ti Then yang takut si setan pengecut serta Hong Mong Ling masih belum mematikan niatnya maka sengaja dia berjalan di depan membukakan jalan bagi Wi Lian In, dengan menghindari batu batu cadas yang tersebar meluas dengan sangat hati-hati dia bergerak ke depan.

Sesudah mengitari tanah yang penuh dengan batu batu cadas, meadadak Wi Lian In menuding ke atas sebuah batu bulat di atas tanah, ujarnya: "Coba lihat, apa itu ??"

Ti Then tolehkan kepalanya memandang ke sana, terlihatlah di atas batu bulat itu terdapat beberapa tetes darah segar, ujarnya kemudian.

"Darah itu mungkin darah yang menetes keluar dari luka setan pengecut itu, kemarin malam kulit kepalanya berhasil kutabas sedikit mungkin, darah yang mengucur keluar tidak sedikit jumlahnya .

"Kita ikuti saja bekas bekas darah itu, mungkin masih bisa temukan kembali mereka berdua."

"Tidak mungkin" ujar Ti Then sambil gelengkan kepalanya. "Luka Setan pengecut itu tidak mungkin masih mengucur darah hingga sekarang, jika kita mau ikuti jejak darahnya mencari mereka mungkin sudah terlalu terlambat."..

"Dia bilang punya dendam sakit hati dengan suhumu entah hal itu benar atau tidak?" "Dia ada sakit hati dengan orang lain kemungkinan tidak pura- pura, tetapi tidak mungkin hasil perbuatan suhuku karena mereka sama sekali tidak tahu siapa sebetulnya suhuku."

Wi Lian In tersenyum, sambil pandang wajahnya ujarnya lagi: "Kau juga tidak tahu nama suhumu, jika mereka katakan belum

tentu kau bisa tentukan apa nama itu nama suhumu atau bukan. Bukan begitu?"

"Tidak salah. ." sahut Ti Then sambil mengangguk. "Tapi dia boleh katakan beberapa ciri-ciri yang menonjol, jika ciri-ciri yang dia katakan kebanyakan mirip dengan ciri-ciri suhuku maka hal ini sudah cukup membuktikan suhuku adalah musuh besarnya."

"Yang paling lucu lagi. Dia ingin tahu nama suhumu tapi tidak berani mengatakan nama serta sebutan sendiri"

"Makanya, kemungkinan sekali tidak punya musuh besar, tujuannya ingin memperoleh dan mengetahui ilmu silat suhuku."

Kedua orang itu sambil berjalan sembari bercerita, tidak lama kemudian sudah keluar dari selat sempit itu kemudian dengan mengikuti jalanan gunung menuruni gununk tersebut.

Pada siang harinya sampailah mereka di kota In Kiang sian, di dalam kota Ti Then membeli seekor kuda kemudian dahar hingga kenyang, setelah itu barulah jalan bersama sama keluar kota menuju kekota Go bi.

Ditengah jalan tidak ada peristiwa yang terjadi, pada siang hari, hari keempat sampailah mereka didaerah keresidenan siok lam. Baru saja melewati suatu tanah tandus yang gundul dan kering ternyata sudah bertemu dengan sebuah peristiwa yang sangat membingungkan. secara mendadak mereka dicegat orang-orang yang menghalangi perjalanan mereka adalah dua orang jago Bu lim yang punya bentuk tubuh kurus dan gemuk, usia dari kedua orang itu kurang lebih lima puluh tahunan. Yang gemuk   punya tubuh yang kekar bagaikan sapi, alisnya lebat matanya bulat besar sedang wajahnya penuh berewok. Pada sepasang tangannya mencekal dua buah senyata kapak yang besar.

Yang kurus mem punyai bentuk tubuh kecil kering seperti mayat, matanya sipit seperti mata tikus, pada janggutnya memelihara janggut kambing yang panjang sedang pada pinggangnya terselip sepasang golok berbentuk sabit.

Dengan perlahan lahan mereka berjalan keluar dari balik batu kemudian berdiri tegak ditengah jalanan, jika dilihat sikap mereka agaknya sudah sangat lama mereka menanti di sana.

Ti Then serta Wi Lian In begitu melihat munculnya dua orang yang sangat aneh itu dengan cepat menahan tali les kudanya, mereka berdua mengira sudah bertemu dengan perampok perampok biasa sehingga tanpa terasa saling bertukar pandangan dan tersenyum ringan.

Air muka kakek yang punya tubuh kurus kelihatan dikerutkan, ujarnya dengan nada menyeramkan.

"Hei orang muda, kaukah yang disebut pendekar baju hitam Ti Then?"

Ti Then yang mendengar pihak lawannya tahu akan nama serta sebutan sendiri segera tahu kalau dia bukan perampok biasa, tak tertahan dia menjadi tertegun dibuatnya, sambil rangkap tangannya memberi hormat, sahutnya.

"Cayhe memang benar adanya, bagaimana sebutan cianpwe berdua? Ada keperluan apa ??"

"Hemm . . hemm . ." dengus kakek kurus itu dengan dinginnya. "Lohu berdua tidak punya she tidak punya nama, hanya ada

satu sebutan, Lohu disebut sebagai Mentri pintu dan yang satu ini disebut sebagai Pembesar jendela"

"Mentri pintu? Pembesar jendela ?" ujar Ti Then melengak. "Tidak salah. ." Ti Then tidak bisa menahan gelinya lagi, dia tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.

" Kalian malaikat-malaikat dari kelenteng mana?" tanyanya. "Kelentengnya disebut istana Tian Teh Kong, tempatnya

digunung Kim Hud san"

Ti Then menjadi sangat terperanyat, tapi dia mengangguk juga sahutnya:

"Kiranya orang-orang dari Thian Kauw Teh Hu atau Anying langit rase bumi"

si pembesar jendela melototkan matanya dengan gusar bentaknya. "Apa anying langit rase bumi? Yang betul Kaisar langit Ratu Bumi"

Kiranya jika menyebut Anying langit Rase bumi, empat kata ini tidak ada seorang pun yang tidak tahu nama ini di dalam Bu lim, mereka merupakan sepasang suami istri pencipta huru hara dibumi, yang laki disebut sebagai Anying langit Kong sun Yau sedang yang perempuan disebut Rase bumi Bun Jin Cu. Bukan saja kepandaian silat yang dimiliki sepasang suami istri ini sangat lihay bahkan jadi orang sangat kejam dan licik. hampir boleh dikata tidak ada tandingannya di dalam golongan Hek to, karenannya ke dua orang itu menduduki kedudukan yang paling tinggi di dalam kaum Hek-to.

Dikarenakan selama hidupnya selalu menduduki tempat yang teratas, harta kekayaannya tidak terhitung banyaknya, mereka mendirikan sebuah istana Thian Teh Kong di atas gunung Kim Hud san dengan mengambil sebutan Kaisar langit ratu bumi.

Suami istri ini bukan saja menguasahi seluruh Liok lim bahkan anak buahnya pun mencapai selaksa lebih, maka itulah kaum pendekar dari golongan Pek to termasuk Pocu dari Benteng Pek Kiam Po, Wi ci to sendiri tidak berani secara terang-terangan bentrok dengan mereka, sebab itulah siapa pun dari kalangan Bu lim jauh lebih jeri setelah mendengar nama Kaisar langit Ratu bumi daripada nama besar Benteng Pek Kiam Po. Sedang kini setelah Ti Then mendengar istana Thian Teh Kong lalu mengubah sebutan Kaisar langit ratu bumi menjadi Anying langit rase bumi, sudah tentu membuat Pembesar jendela itu menjadi amat gusar.

Jika bukannya dari majikan patung emas dia berhasil memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, dia tidak akan berani mengubah sebutan Kaisar langit Ratu Bumi... itu menjadi Anying langit Rase Bumi, tapi kini dia tidak akan takut untuk meloloskan diri dari belenggu majikan patung emas dan sangat mengharapkan bisa bertemu dengan jago-jago Bu lim yang memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, dia sangat mengharapkan ada orang yang berhasil pukul rubuh dia makanya semakin manusia yang berbahaya semakin manusia yang lihay dia semakin ingin coba-coba mengusik mereka. Kini melihat Pembesar jendela itu begitu gusar air mukanya sedikit pun ujarnya sembil tersenyum. "sebutan majikan kalian memangnya Anying langit Rase Bumi, apanya yang tidak betul?"

Pembesar jendela semakin gusar lagi, sambil maju satu langkah ke depan bentaknya dengan wajah meringis menyeramkan. "Bangsat cilik, kamu orang sudah bosan hidup yaah".

si Mentri pintu yang berada di sampingnya dengan cepat menarik dia ke belakang, ujarnya:

"Jite, jangan terburu napsu, biar kita bicarakan lebih jelas dulu baru turun tangan"

"Benar" ujar Ti Then sambil tertawa. "Malaikat penjaga pintu dengan anying penjaga pintu memang sangat berbeda, buat apa kalian begitu galak galak. Ha ha ha ha . . ."

Si menteri pintu dengan cepat angkat kepalanya, dengan pandangan yang sangat tajam dia melirik sekejap kearah Ti Then kemudian dengan wajah dingin kaku ujarnya: "Hemm . . kalian apa baru saja turun dari gunung Fan cing san?"

"Tidak salah" sahut Ti Then sambil mengangguk. "Bagus sekali, lohu berdua mendapatkan perintah dari Thian cunTeh Ho untuk mintakan sebuah barang dari Lo te"

"Hemm . . . hemm . . . selama berpuluh-puluh tahun Thian Kauw Teh Hu menduduki tempat yang tertinggi di dalam Liok lim, harta yang dikumpulkan pun kurang lebih ratusan buah kereta banyaknya, buat apa kalian cari aku seorang yang miskin."

"Hem . . . Thian cun Teh Ho mau cari kau sudah merupakan satu penghormatan yang besar bagimu" ujar menteri pintu itu dengan dingin.

-ooo0ooo-

"Memang benar. . Memang benar." sahut Ti Then sambil berulang kali mengangguk. "Hanya tidak tahu kalian inginkan aku orang serahkan barang macam apa?"

si Menteri Pintu itu segera tertawa dingin tak henti-hentinya. "Buat apa Lo te berpura pura tanya lagi."

Ti Then miringkan kepalanya berpikir sejenak. kemudian sambil tertawa ujarnya: "ooh . . . mungkin kalian menginginkan batok kepala cayhe ini?"

"Maksud Thian cun Teh Ho kami, minta Lo te mau serahkan itu barang tanpa melakukan perlawanan, mereka orang tua mau beri kalian ribuan tahil perak sebagai tanda terima kasih. Kalau tidak terpaksa aku harus penggal kepala kalian untuk dilaporkan."

Nada suaranya sangat dingin kaku tapi tenang, agaknya dalam hati sudah punya pegangan yang kuat tentu berhasil memenggal batok kepala Ti Then itu.

Ti Then yang ditanyai begitu menjadi bingung, sambil mengucak ucak matanya tanyanya lagi.

"Apa kalian menginginkan nona di sampingku ini?"

"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang-orang benteng Pek Kiam Po, Thian Cun kami tidak punya minat terhadap nona Wi ini." " Kalau tidak. " ujar Ti Then sambil mengerutkan alisnya. "Sebetulnya kalian inginkan barang apa?"

Agaknya si pendekar jendela tidak bisa menahan sabar lagi, bentaknya dengan keras.

"Bangsat cilik, kamu orang jangan berpura-pura lagi, lohu nanti tebas kepalamu dengan satu kali bacokan"

Air muka Ti Then berubah menjadi sangat dingin, perlahan-lahan dia meloncat turun dari tunggangannya kemudian berjalan maju tiga langkah ke depan, ujarnya. "Coba kamu tabaskan kepalaku ini."

Mata pembesar jendela itu melotot ke luar, dengan air muka penuh kemarahan dia menoleh kearah si menteri pintu, ujarnya.

"Toako, barang itu pasti berada di dalam badannya. Bangsat cilik ini tidak tahu kebaikan orang lebih baik kita bunuh saja kemudian baru ambil barang itu dari dalam tubuhnya."

"Ehm . . ." sahut menteri pintu itu dengan perlahan kemudian dia putar kepalanya memandang Ti Then dengan jangat dingin. ujarnya lagi.

" Lohu beri satu kesempatan yang terakhir bagimu, cepat serahkan barang itu."

"Tidak"

Bagaikan seekor harimau kelaparan dengan mengaum keras pembesar jendela itu dengan cepat meloncat maju ke depan, kampak raksasa ditangan kirinya dengan dahsyat diayun memenggal kearah teng gorokan Ti Then.

Jurus serangannya sangat kuat dan dahsyat sehingga menimbulkan suara desiran yang sangat kuat ditengah udara, datangnya serangan ini begitu dahsyatnya sehingga orang yang berdiri satu kaki dari sana pun merasakan desiran angin sambarannya itu.

Ti Then tetap berdiri tidak bergerak, menanti kampak pihak musuhnya hampir mendekati tubuhnya barulah badannya sedikit miring ke samping, tangan kirinya secepat kilat mencengkeram menguasahi urat nadi pergelangan tangannya, sedang tangan kanannya bersamaan waktu pula melancarkan satu serangan dahsyat yang dengan tepat menghajar perutnya.

"Bluuk ....." kemudian disusul dengan suara dengusan berat, pembesar jendela itu sama sekali tidak pernah menduga gerakan dari Ti Then bisa demikian aneh dan cepatnya, di dalam keadaan yang sangat terkejut kapak ditangan kanannya dengan cepat diangkat dan ditabas ke atas batok kepala Ti Then, tetapi baru saja kapaknya itu diangkat sampai tengah jalan seluruh tubuhnya sudah berhasil diangkat oleh Ti Then ke tengah udara.

Dengan mengerahkan tenaga yang besar Ti Then segera melemparkan tubuh pembesar jendela itu ketengah udara, bagaikan sebuah layang-layang yang putus benangnya tubuhnya melayang hingga sejauh dua tiga kaki.

"Bluuuk..." punggungnya dengan keras menghajar pohon di belakangnya, seketika juga tubuhnya menjadi lemas bagaikan kapas, sama sekali tidak punya tenaga untuk merangkak bangun.

Sejak semula hingga sekarang tidak lebih hanya makan waktu sekejap mata saja.

Si Menteri pintu yang melihat kejadian ini tidak terasa lagi matanya melotot keluar dengan bulatnya, mulutnya melongo, sedang air mukanya sebentar berubah pucat pasi sebentar lagi berubah menjadi kehijau-hijauan, Perasaan terkejut yang dirasakan saat ini jauh lebih hebat dari perasaan terkejut pada diri Pembesar jendela itu

Sejak lama dia sudah mendengar nama Pendekar pakaian hitam Ti Then ini, dia pun pernah dengar tingkatan kepandaian silat yang dimiliki Ti Then sehingga mereka sudah punya pegangan yang kuat untuk mengalahkan Ti Then tidak perduli siapa pun yang maju dari mereka berdua tapi sekarang, pembesar jendela rubuh ditangan Ti Then tidak sampai satu jurus pun bahkan dipukul hingga tidak kuat bangkit berdiri bukankah hal ini sangat mengejutkan hatinya? Sebetulnya dia berpegangan bahwa gerakannya kali ini pasti mendatangkan hasil, siapa tahu saking terkejutnya tidak tertahan lagi tubuhnya gemetar dengan kerasnya. Ti Then tersenyum, ujarnya setengah mengejek:

"Pembesar jendela itu sungguh sebuah gentong nasi, masa satu gerakan saja tidak bisa bertahan, baiklah seharusnya kini kamu orang sebagai Menteri pintu yang turun tangan menggantikan dia."

Saking takutnya tubuh menteri pintu itu sudah serasa menjadi kaku, dengan wajah penuh ketakutan melotot ke arah Ti Then ujarnya dengan gemetar.

"Ke. . kepandaian . . kepandaianmu ini apa berasal . . berasal dari . . dari kitab pusaka Ie Cin Keng ?"

Ti Then yang mendengar perkataan itu menjadi melengak. " Kitab pusaka Ie cin Keng ?"

"Apa memangnya bukan ?"

"Ha ha ha ha . . yang kamu maksudkan adalah kitab pusaka Ie Cin Keng yang berisikan pelajaran silat Tat Mo Couwsu itu?"

"Benar" sahut menteri pintu sambil menganguk. "Kitab itu sudah hilang sejak ratusan tahun yang lalu, kali ini kamu menemukannya kembali di atas gunung Fan cin san bukan begitu??"

"Ooh . . .jadi barang yang harus aku serahkan adalah kitab pusaka Ie Cin Keng itu??"

Dengan ragu-ragu menteri pintu itu mengangguk. tapi ke lihatan jelas dari air mukanya kalau perasaan takut dan jeri sudah meliputi tubuhnya. Ti Then tersenyum lagi.

"Kalian dengar dari siapa kalau aku menemukan kitab pusaka Ie Cin Keng itu di atas gunung Fan cin san??" "Seseorang yang dapat dipercayai sudah melaporkan hal itu kepada Thian cun Teh Ho kami."

"Siapa orang yang dapat dipercayai itu??" "Lohu belum pernah bertemu, tidak tahu."

Dengan perlahan Ti Then menoleh kearah Wi Lien in, ujarnya sambil tertawa ringan: "Tentu si setan pengecut itu."

"Ehmm, sebuah siasat pinyam golok untuk membunuh orang yang sangat bagus sekali" Ti Then menoleh kembali kearah menteri pintu itu, sambil menepuk-nepuk tubuhnya sendiri ujarnya sambil tertawa:

"Tidak salah, kitab pusaka Ie Cin Keng itu memang berada di sini, ayooh maju rebut"

Agaknya menteri pintu itu tidak punya keberanian untuk melakukan hal tersebut makanya tubuhnya masih tetap berdiri tak bergerak. "Bagaimana?? sudah tidak mau??"

"Ehmm. . . ehmm. . .jika didengar perkataan nona Wi agaknya Lote sama sekali tidak pernah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu??"

"Tidak. .kamu salah, aku memang mendapati kitab pusaka Ie Cin Keng itu."

Dengan perlahan menteri pintu itu menggeserkan tubuhnya kearah Pembesar jendela, ujarnya.

"Kepandaian silat Lo te sangat hebat sekali, Lohu mengaku kalah biarlah kami kembali ke dalam istana Thian Teh Kong dan melaporkan peristiwa hari ini kepada Thian cun Teh Ho, biar Thian cun Teh Ho sendiri yang mengurus."

"Ha ha ha. . ." ujar Ti Then secara mendadak sambil tersenyum... "Tadi sudah galak-galak sekarang mau pergi dengan begitu saja??"

Menteri pintu itu tetap berdiam diri, tubuhnya dibungkuk membantu Pembesar jendela itu bangkit berjalan. Agaknya dia punya minat meninggaikan tempat itu dengan tebaikan muka.

"Tunggu sebentar." bentak Ti Then secara mendadak dengan sangat dingin, air mukanya berubah membesi.

Tubuh menteri pintu itu kelihatan tergetar sangat keras, sambil meletakkan tubuh pembesar jendela ke tanah kembali, ujarnya.

"Walau pun kepandaian silat Lo te sangat tinggi tapi kami orang- orang dari istana Th an Teh Kong bukanlah manusia-manusia yang bisa kau permainkan sesuka hati. . . kau ingin berbuat apa?..."

Ti Then yang melihat keadaannya begitu kasihan dalam hati diam-diam merasa geli, segera ujarnya lagi dengan sangat dingin:

"Tirukan tiga kali menyalaknya anying, kemudian barulah kalian boleh pergi."

Air muka menteri pintu itu segera berubah hebat. dia tahu urusan tidak mungkin bisa selesai dengan mudah. Karenanya tangannya dengan cepat mencabut keluar sepasang goloknya yang berbentuk sabit, teriaknya.

"Siapa yang harus meniru menyalaknya anying masih ditentukan dulu dengan kepandaian masing-masing . "

"Benar. . . . beralasan. Beralasan. Mari. . Mari . . . ayoh serang" ujar Ti Then sambil maju satu langkah ke depan.

"Kenapa kamu orang tidak cabut ke luar pedangmu?" bentak mentri pintu dengan gusar.

"Hemmm... hemmm. . . untuk menghadapi anying-anying penjaga pintu semacam kalian masih belum berhak memaksa aku untuk menggunakan pedang"

Walau pun dalam hati menteri pintu itu sudah merasa jeri tapi keadaan sangat memaksa, karenanya sambil membentak keras tubuhnya menubruk ke depan sedang goloknya dengan hebat membacok tubuh Ti Then. "Sreeet. . . sreeet. . ." goloknya dari sebelah kanan kearah kiri dengan kecepatan luar biasa membacok bahu kiri Ti Then sedang golok lainnya dari sebelah kiri menuju kearah kanan menyambar pinggang Ti Then.

Melihat datangnya serangan dahsyat dengan cepat Ti Then mundur satu langkah ke belakang menghindarkan diri dari bacokan sepasang goloknya, pada saat sepasang goloknya baru saja berkelebat lewat itulah tubuhnya dengan cepat berkelebat ke depan, dengan meminyam kesempatan ini dia melancarkan satu serangan menghajar dadanya.

Jurus serangan ini tidak ada keanehan atau keistimewaannya, mentri pintu itu sendiri juga melihat dengan jelas datangnya serangan itu tapi sekali pun dia mencoba menghindar tetap kalah cepat.

"Bluuk . ." dadanya dengan keras kena hajaran itu.

Tubuh menteri pintu segera rubuh ke atas tanah dengan kerasnya.

Meminyam kesempatan itu Ti Then segera meloncat ke depan, kakinya dengan kuat-kuat menginyak perutnya, ujarnya sambil tertawa dingin: "Ayoh bilang kamu mau tirukan gonggongan anying tidak?"

Air muka Menteri pintu itu berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat dan rubuh terlentang di atas tanah tidak berani bergerak sedikit pun juga. ujar Ti Then lagi dengan dingin

"Ayoh bilang kamu mau menyalak tidak ?? Hemm hemm, jika tidak maujangan salahkan aku mau inyak tubuhmu hingga hancur."

Sambil berkata kakinya mengerahkan tenaga menginyak lebih kuat lagi ke atas tubuh menteri pintu itu.

Dari keningnya kelihatan sekali keringat sebesar butir-butir kedelai mulai mengucur ke luar dengan derasnya, seperti babi yang mau dipotong teriak menteri pintu itu dengan keras: "Baik. .. baiklah, aku teriakan aku teriak.."

Mendengar perkataan itu barulah Ti Then menarik kembali tenaganya, ujarnya. "Ehmm . . . kalau begitu ayoh cepat menggonggong"

Menteri pintu itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa dia buka mulutnya menggonggong. "Au . au . . au. .

Baru berteriak tiga kali air mukanya sudah berubah menjadi merah padam.

Ti Then segera berputar kearah Pembesar jendela yang bersandar di samping pohon, ujarnya.

"Kau mau menggonggong tidak ??"

Pembesar jendela itu tidak berani membangkang, terpaksa dia pun menyalak tiga kali.

Setelah itulah Ti Then baru menarik kembali kakinya yang menginyak perut menteri pintu itu, sambil mundur dua langkah ke belakang ujarnya.

"Cepat pulang dan beritahu sama Anying langit rase bumi, katakan kitab pusaka Ie cin Keng memang berada di dalam sakuku tapi jika mereka inginkan harus datang minta sendiri."

Menteri pintu itu tidak berani membangkang, dengan cepat dia merangkak bangun dan menyelipkan kembali sepasang goloknya ke belakang punggung.

Sesudah membimbing pembesar jendela bangun bagaikan dua orang yang sedang mabok mereka berjalan kearah timur dengan sempoyongan. Teriak Ti Then lagi dengan keras.

"Masih ada, katakan pada Anying langit Rase Bumi aku berada di dalam Benteng Pek Kiam Po sebagai tamu, jika mencari aku di sana, jangan sampai mengganggu orang-orang benteng seujung rambut pun." Menteri pintu Pembesar jendela tidak berani banyak cakap, dengan keadaan yang sangat mengenaskan mereka meninggaikan tempat itu dengan cepat.

Wi Lian In tersenyum ujarnya:

"Kedua orang tua bangkotan itu sedikit pun tidak bersemangat." Ti Then pun segera meloncat naik ke atas kuda, sahutnya. .

"Orang yang menyaga pintu delapan sembilan bagian tidak punya semangat semua" Sambil berkata dia menepuk kudanya melanjutkan perjalanan ke depan.

"Kedua orang itu" ujar Wi Lian In lagi "aku juga pernah dengar, menurut apa yang aku ketahui para cay cu yang mau menyambangi Thian Kauw Te Hu di atas gunung Kim hud san harus memberi sogokan terlebih dulu kepada mereka, jika tidak kasih . .jangan harap bisa bertemu dengan Anying langit rase bumi itu."

"Jago-jago di bawah pimpinan Anying langit Rase bumi itu sangat banyak jumlahnya, entah kerapa kali ini mereka mengirim dua orang gentong nasi seperti itu."

"Terhadap kamu kedua orang itu memang mirip gentong nasi" ujar Wi Lian In sambil pandang wajahnya. "tapi bagi orang lain cukup mereka berdua sudah membuat setiap orang merasa pusing kepala"

"Mungkin juga karena setan pengecut itu tidak memberi penjelasan yang lebih teliti kepada orang-orang Anying langit Rase bumi itu sehingga mereka hanya kirim dua orang gentong nasi tersebut."

"Ti toako" ujar Wi Lian In lagi, " kenapa kamu bilang kitab pusaka Ie Cin Keng itu berada ditanganmu??"

"Sekali pun aku bilang tidak ada belum tentu mereka mau percaya."

"Tapi dengan demikian orang-orang Anying langit Rase bumi tidak akan melepaskan kamu begitu saja.." "Nona Wi kamu salah" sahut Ti Then sambil tersenyum "seharusnya bilang aku yang tidak akan melepaskan mereka,"

"Si Anying langit Kong sun Yau jadi orang ganas kejam, tak berperikemanusiaan, si Rase bumi Bun Jin Cu jadi orang banyak akal dan licik, jika mereka suami istri bergabung menjadi satu, sekali pun ayahku juga belum tentu bisa menangkan mereka, kamu jangan terlalu pandang rendah musuh.."

"Ha ha ha . . . untuk menghadapi aku mereka tidak akan terpikirkan untuk bergabung dan kerubuti aku seorang"

"Sekali pun seorang lawan seorang" ujar wi Lian In lagi "Kau juga jangan terlalu gegabah, menurut apa yang aku dengar kepandaian silat mereka berdua suami istri tidak terpaut banyak dengan kepandaian ayahku."

"Aku tahu."

"Tapi jika kamu punya kekuatan untuk bunuh mereka janganlah ragu-ragu turun tangan, hati mereka berdua suami istri sangat kejam dan ganas, tidak perduli kejahatan apa pun pernah mereka lakukan, sudah seharusnya mereka dibunuh cepat cepat"

"Kau boleh tunggu saja. "

"Heei . . ." ujar wi Lian In lagi sambil menghela napas panjang "setan pengecut itu tentu tidak menyebarkan berita bohong ini kepada Anying langit Rase bumi itu saja, sejak kini kita harus lebih berhati hati lagi."

"Kitab pusaka Ie Cin Keng itu merupakan barang peninggalan Siauw limpay, aku hanya takut hwesio-hwesio dari kuil siauw lim si percaya penuh akan berita bohong ini kemudian datang cari aku, orangnya aku sih aku tidak takut semakin banyak orang yang datang semakin aku merasa gembira."

"Hei . . . hwesio-hwesio Siauw limpay sangat menghormati ayahku, jika sampai mereka datang biarlah ayahku yang beri penjelasan mungkin . ." Kiranya pada saat itu juga di hadapan mereka berkelebat lagi bayangan manusia dengan sangat cepatnya, di hadapan mereka sudah muncul seorang hwesio dari Siauw limpay.

Hwesio itu baru berusia kurang lebih empat puluh tahunan, wajahnya persegi dengan telinga yang sangat besar, tubuhnya gemuk besar pakaian pada dadanya terbuka sedikit sehingga kelihatan perutnya yang buncit besar itu, air mukanya selalu menampilkan senyuman sedang pada dadanya tergantung sebuah tasbeh berwarna hitam, jika dilihat dandanannya mirip sekali dengan Ji lay hud.

Tidak salah lagi, hwesio itu memang berasal dari partai Siauw limpay dan merupakan seorang hwesio pendekar yang sudah terkenal di dalam Bulim . . siauw Mi Leh atau Hwesio berwajah riang.

Air muka Ti Then berubah sangat hebat, dengan cepat dia meloncat turun dari kudanya dan memberi hormat, ujarnya.

" Kiranya Mi Leh Thaysu sudah datang, masih ingatkah taysu kepada tecu?"

"He he he ..." sahut Hwesio berwajah riang itu sambil tertawa terkekeh. "Bagaimana tidak kenal. Pinceng ini hari memangnya datang untuk cari kamu orang."

"Semoga saja jangan karena kitab pusaka Ie Cin Keng itu." "Memang betul, pinceng datang ke sini karena kitab pusaka Ie

cin Keng itu."

"Haaa?" seru Ti Then dengan terkejut. "Apa Taysu sendiri juga mempercayai berita bohong itu?"

"Urusan ini timbul sudah tentu ada sebabnya"

"Benar." sahut Ti Then sambil mengangguk. "sebab-sebabnya ada seorang berkerudung yang menculik nona Wi ini dan membawa dia ke atas gunung Fan cin san, tecu berhasil menolong nona Wi ini dari cengkeramannya bahkan berhasil melukai kulit kepala orang berkerudung itu mungkin karena dendam dan sakit hati karena lukanya itu sehingga dia menyebarkan berita bohong tersebut kemana mana, bahwa aku Ti Then sudah dapatkan kitab pusaka Ie cin Keng itu. ."

Agaknya Hwesio berwajah riang tidak mendengarkan perkataan Ti Then tersebut, sambil tetap tertawa-tawa ujarnya.

"Ti sicu. Waktu itu ketika kita bersama-sama minum arak di atas gunung Ngo Thay san jaraknya hingga sekarang seberapa lama?"

Ti Then yang tidak tahu maksud pihak lawannya begitu mendengar pertanyaan ini, menjadi melengak. "... Agaknya hampir dua tahunan. ."

"Tidak salah. " sahut siauw Mi Leh sambil mengangguk. "Biarlah kita hitung dua tahun saja, pada dua tahun yang lalu sekali pun kamu sudah punya nama terkenal di dalam Bu lim tapi kepandaian silatmu saat itu paling tinggi juga memadahi seorang Pendekar pedang putih dari Benteng Pek Kiam Po, sebaliknya sesudah dua tahun, ini hari hanya cukup menggunakan satu jurus berhasil mengalahkan kedua orang malaikat penjaga pintu dari Anying langit Rase bumi. Coba tahukah kau berapa kali lipat kemajuan kepandaian silatmu?"

"Satu tempat paham yang lain akan ikut sukses, asalkan aku berhasil mengetahui rahasianya sudah tentu akan mendapatkan kemajuan yang sangat pesat."

"Tapi." ujar Hwesio berwajah riang itu lagi. "Walau pun memperoleh kemajuan yang bagaimana pesatnya pun tidak mungkin bisa secepat ini, kecuali kamu sudah dapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng tersebut."

"Thaysu." seru Ti Then dengan serius. "Tecu betul-betul tidak mendapatkan kitab pusaka It cin Keng tersebut, harap thaysu jangan dengarkan berita bohong itu."

"Kamu sudah mendapatkan banyak kebaikan dari kitab pusaka Ie cin Keng itu, untuk bekal dikemudian hari pinceng kira juga sudah jauh lebih cukup. Kenapa kamu orang tidak menggunakan perasaan hatimu berpikir kalau barang itu harus dikembalikan kepada pemiliknya?"

Ti Then yang melihat hwesio itu tetap menuduh dia sudah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu, dalam hati benar-benar merasa tidak senang ujarnya kemudian:

"Sewaktu tecu mengalahkan menteri pintu pembesar jendela tadi, apa Thaysu sudah melihatnya semua ?"

"Benar pinceng melihatnya dengan sangat jelas" sahut Hwesio berwajah riang itu sambil mengangguk.

"Kalau begitu, perkataan selanjutnya antara tecu dengan nona Wi Thaysu juga sudah dengar semua bukan?"

"Tidak salahh" sahut hwesio itu sambil mengangguk lagi "sepatah kata pun tidak ada yang ketinggalan."

"Kalau memangnya begitu seharusnya thaysu tahu keadaan yang sesungguhnya."

"Kalian sejak tadi sudah tahu di samping jalan masih ada orang yang menonton sehingga yang satu menyanyi yang lain menambahi untuk mengelabuhi orang lain, Cara seperti itu hwesio sudah sangat jelas sekali."

"Heei . . omong pulang pergi agaknya Thaysu tidak akan percaya omongan tecu lagi?"

"Ti sicu" ujar Hwesio itu dengan serius. "Demi masa depanmu yang cemerlang lebih baik kembalikan saja kitab itu pada pihak siauw limpay kami"

"Kalau tecu tidak sanggup mengeluarkan kitab pusaka Ie Cin Keng itu, thaysu siap berbuat apa?"

Perlahan-lahan si hwesio berwajah riang itu melepaskan tasbehnya yang tergantung pada dadanya, kemudian ditempatkan ke atas udara ujarnya sambil tertawa. "Ti sicu bisa memandang sejilid kitab pusaka Ie Cin Keng setinggi nyawa sendiri sungguh membuat pinceng tidak menduga."

Tasbeh yang dilemparkan ke atas udara itu ketika jatuh ke atas tanah segera timbul suara gemuruh yang sangat keras.

"Bluuuk. . . ." tasbeh itu tidak dapat dihalangi lagi menancap di tanah sedalam beberapa cun, sungguh suatu kepandaian yang sangat dahsyat sekali.

"Thaysu tecu tidak ingin sampai turun tangan melawan thaysu" ujar Ti Then sesudah melihat demonstrasi kepandaian itu.

"Boleh . . boleh . . asalkan kitab pusaka Ie cin Keng itu kau serahkan kepada pinceng"

"Tecu berani bersumpah, jika tecu pernah mendapatkan kitab pusaka Ie Cin keng itu maka tubuhku akan mengalami keadaan seperti pohon ini"

Sambil berkata tubuhnya, dengan cepat melayang setinggi beberapa kaki kemudian dengan hebatnya dia kirim satu serangan dahsyat kearah pohon tersebut.

Pohon itu mem punyai lebar beberapa depa, tetapi begitu kena serangannya segera patah menjadi dua dan rubuh ke atas tanah dengan menimbulkan suara yang sangat berisik.

Hwesio berwajah riang itu juga merupakan seorang jago yang mengutamakan tenaga pukulan, karenanya begitu dia melihat Ti Then berhasil pukul rubuh sebuah pohon sebesar itu dalam hati segera sadar kalau kepandaiannya masih kalah jauh, tidak terasa lagi air mukanya berubah sangat hebat, ujarnya sambil tertawa kering,

"Suatu pukulan yang sangat bagus, tidak aneh kalau Ti sicu tidak memandang sebelah mata pun kepada diri pinceng."

"Thaysu, kamu masih tidak percayai omonganku?" Hwesio berwajah riang itu tertawa dingin. "Hemm. . . hemm. . pinceng hanya percaya kepandaian silat sicu jauh berada di atas kepandaianku"

Sehabis berkata dia mengambil kembali tasbehnya yang kemudian digantungkan pada dadanya kembali, sesudah itu putar tubuh dan berlalu dari sana dengan langkah lebar.

Ti Then hanya bisa menghela napas perlahan dan berjalan menaiki kuda tunggangannya kembali, dengan berdiam diri dia menyalankan kudanya melanjutkan perjalanan.

Wi Lian In segera menarik tali les kudanya membiarkan tunggangannya itu berjalan disisi Ti Then, ujarnya kemudian:

"Ti Toako Agaknya dia masih tidak percaya. Heei ... kali ini mungkin semakin repot lagi."

"Tidak mengapa, pada suatu hari tentu aku berhasil menangkap setan pengecut itu, asalkan berhasil menawan dia maka berita bohong yang disiarkan pun tidak usah aku pergi jelaskan sendiri"

"Heei . . ." ujar Wi Lian In lagi sambil menghela napas panjang. "Entah dia sekarang berada dimana"

"Mungkin dia bisa datang dengan sendirinya"

"Ciangbunyien dari siauw lim pay tidak sebodoh Hwesio berwajah riang itu, mungkin dia mau percayai omonganmu"

Ti Then hanya tersenyum tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Hari itu menjelang malam mereka berdua sudah tiba di dalam kota Ho Kiang sia untuk beristirahat, sesudah dahar malam di penginapan masing-masing berpisah untuk beristirahat di dalam kamarnya sendiri

Dikarenakan urusan yang terjadi pada siang harinya dalam hati Ti Then sudah waspada, sebab itulah sesudah tidur hingga tengah malam dia tidak berani tidur lagi, segera duduk bersemedi di atas pembaringan. Baru saja lewat kurang lebih setengah jam, urusan ternyata terjadi juga.

"Plaaak. ." suara itu sangat perlahan sekali muncul dari atas atap rumah, jika didengar suara itu agaknya ada orang yang sedang berjalan di atas genteng memecahkan atap.

Dengan perlahan lahan Ti Then turun dari atas pembaringannya kemudian membuka pintu kamar, sekali berkelebat tubuhnya dengan sangat cepat berjumpalitan naik ke atas atap rumah.

Tapi . . di bawah sorotan sinar bintang yang remang-remang di atas atap tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun, tempat itu kosong melompong dan sangat sunyi. Tak terasa dia menarik napas panjang pikirannya.

"Hemm aku tidak akan salah dengar, gerakan orang itu sungguh amat cepat."

Sesudah memeriksa beberapa saat lamanya tetap tidak menemukan hal yang mencurigakan terpaksa dia meloncat turun lagi dan berjalan ke depan kamar Wi Lian In, dengan perlahan diketuknya tiga kali.

Dia takut Wi Lian In tidur terlalu nyenyak sehingga memberi kesempatan kepada pihak musuh sehingga dia pikir mau bangunkan dia memberi peringatan supaya waspada. siapa tahu . . dari balik pintu tidak terdengar suara sahutan dari Wi Lian In.

"Nona Wi ini tentu tertidur sangat nyenyak, kalau tidak waktu itu juga tidak akan terjatuh ketangan setan pengecut itu."

Berpikir sampai di situ dia mengetuk lagi sambil teriaknya keras. "Nona Wi, bangun."

Dari dalam kamar tetap tidak terdengar suara sahutan dari Wi Lian In.

Orang yang berlatih ilmu silat tidak mungkin bisa berbuat begitu Mendadak dia merasa keadaan tidak beres, dengan seluruh tenaga didorongnya pintu itu, tidak sangka pintu itu tidak dikunci sama sekali, begitu didorong pintu itu segera terpentang lebar. Hal ini semakin membuat dia bertambah terkejut, sambil meloncat masuk teriaknya.

"Nona Wi . . Nona Wi. ."

Di dalam kamar tidak disulut lampu, karenanya untuk sesaat dia tidak tahu di atas pembaringan itu ada orangnya atau tidak.

Dia menanti sebentar tapi tidak terdengar suara Wi Lian In juga, segera tahulah dia kalau urusan sudah terjadi, dengan cepat dicarinya korek dan menyulut lampu dalam kamar itu.

Begitu lampu disulut keadaan di dalam kamar menjadi terang benderang. Wi Lian In ternyata tidak berada di dalam kamar.

Selimut di atas pembaringan sudah dike sampingkan tapi tidak terlihat tanda-tanda melawan, agaknya Wi Lian In diculik pergi dalam kedaan tidur sangat nyenyak.

Ti Then merasa sangat terkejut bercampur gusar, sambil mend epakkan kakinya ke atas tanah makinya:

"Bangsat cecunguk. Heeem. . . tidak melihat darah berceceran agaknya mereka tidak puas.. "

Dengan cepat dia putar tubuh siap meninggalkan tempat itu, medadak dia menjadi tertegun dibuatnya, sambil berjalan kearah pintu kamar dirobeknya secarik kertas. Kiranya kertas itu sejak semula sudah ditempelkan orang di balik pintu kamar itu.

Pada kertas itu kira-kira tertuliskan demikian.

" Harap bawa kitab pusaka Ie Cin Keng untuk ditukar dengan orangmu di luar kota dalam tanah pekuburan".

Oooh . . kiranya orang yang menculik nona Wi Lian In bukan setan Pengecut itu, sebaliknya orang lain ? siapa dia ???

Mentri Pintu serta Pembesar Jendela.??

Tidak mungkin, mereka tidak punya nyali sebegitu besar. Apa mungkin Hwesio berwajah riang dari siauw lim Pay ??

Tapi . . dia merupakan seorang hwesio dari partai kenamaan, bagaimana mungkin melakukan pekerjaan semacam ini ??

Hemmm tentu seorang manusia dari golongan Hek to yang belum mau munculkan diri

Berpikir sampai di sini Ti Then tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat dia putar tubuh kembali ke dalam kamarnya, memakai pakaian luar membawa buntaiannya, setelah meninggalkan uang perak dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah penginapan itu.

Pada siang harinya sewaktu bersama sama Wi Lian In masuk ke dalam kota melalui pintu sebelah timur, "ditengah jalan memang pernah menemui sebidang tanah pekuburan. Dalam hati dia tahu orang yang meninggalkan surat itu tentu menunjuk tanah pekuburan itu sebagai tempat pertemuan karenanya dengan cepat dia berlari menuju kepintu kota sebelah timur.

Di dalam sekejap mata dia sudah berada di bawah tembok kota, karena pintu kota yang sudah ditutup dengan cepat dia meloncat naik tembok dan berlari keluar kota. Tidak lama dia sudah tiba di tanah pekuburan itu Teriaknya dengan keras sesampainya di sana:

"Cayhe Ti Then sudah tiba menurut suratmu, hei kawan harap munculkan dirimu."

Ditengah malam buta berada ditengah tanah pekuburan yang sangat menyeramkan keadaannya, jika bukannya seorang yang bernyali besar tidak mungkin berani melakukan hal ini

Lewat sesaat kemudian dari empat penjuru tanah pekuburan itu muncul empat sosok bayangan manusia yang berkelebat mendatang dengan gerakan yang sangat ringan, lincah dan cepat.

Begitu Ti Then melihat munculnya empat orang sekaligus bahkan jika ditinyau ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dalam hati terasa berdesir juga, pikirnya. "Bagaimana bisa muncul sebegitu banyak orang. . Ehmmm. . agak sukar untuk menghadapi mereka sekaligus "

Baru saja dia berpikir sampai di situ, keempat orang itu sudah melayang datang. Ternyata mereka berempat juga merupakan orang-orang yang berkerudung.

Dalam hati Ti Then tahu sebab-sebab mereka mengerudungi wajah mereka, tak terasa sambil tertawa dingin ujarnya:

"Hemmm. . . manusia-manusia pengecut juga tidak berani perlihatkan wajah aslinya, sungguh banyak terdapat di dalam dunia kangouw saat ini"

Keempat orang berkerudung itu tidak mau perduli ejekannya itu, seseorang yang berdiri ditengah membuka mulut secara mendadak, ujarnya dengan dingin. "Barang itu sudah kau bawa?"

"Sudah aku bawa." sahut Ti Then sambil mengangguk. " Kalau begitu cepat serahkan"

"Aku mau menemui nona Wi dulu."

"Dia sangat baik," ujar manusia berkerudung itu. "sesudah kau serahkan barang itu, kami segera lepaskan dia pulang."

"Tidak. " ujar Ti Then tetap pada pendiriannya. "Aku harus melihat dulu nona Wi terluka atau tidak. sesudah itu baru serahkan itu barang kepadamu. ."

"Kamu boleh berlega hati, kami belum punya alasan untuk melukai dia."

"Tidak bisa" sahut Ti Then kukuh pada pendiriannya "sebelum aku bertemu dengan dia, barang itu tidak akan kuserahkan kepada kalian."

Agaknya orang berkerudung itu merasa sedikit keberatan, sesudah termenung berpikir beberapa saat lamanya barulah ujarnya: "Dia tidak berada disekitar tempat ini, kami punya rencana sesudah memperoleh barang itu baru lepaskan dia pulang. "

Ketika Ti Then mendengar wi Lian In tidak berada disekitar tempat ini segera dia mengambil suatu keputusan di dalam hatinya, tanyanya kemudian.

" Kalian masih punya teman?"

"Tidak salah." sahutnya sambil mengangguk.

" Kalian seharusnya membawa nona Wi kemari "

"He he he . . . " Potong orang berkerudung itu sambil tertawa dingin. "Tapi kami kira jauh lebih aman jika menyembunyikan dia ditempat yang lain."

"Ha ha ha ha.      Kalian sudah melakukan suatu kesalaban yang

besar" ujar Ti Then sambil tertawa terbahak bahak "Jika kalian membawa dia kemari mungkin karena takut kalian sakiti dia terpaksa aku serahkan kitab pusaka Ie cin Keng itu kepada kalian. . Tapi sekarang . . dia tdak berada disekitar tempat ini, jadi aku pun tidak usah takut apa-apa lagi"

Perkataan itu begitu selesai diucapkan mendadak tubuhnya bergerak ke depan dengan kecepatan luar biasa menyerang musuhnya.

Agaknya orang berkerudung itu sama sekali tidak menduda kalau Ti Then berani turun tangan menyerang dia, hatinya betul-betul merasa sangat terkejut, dengan cepat dia mundur ke belakang bersamaan waktunya pula pergelangan tangan kanannya membalik siap cabut gedang menyambut datangnya serangan musuh.

Tapi baru saja pedangnya dicabut sampai tengah jalan, tubuhnya baru saja mundur ke belakang itulah terasa suatu sinar pedang yang sangat menyilaukan mata menyambar kearah pinggangnya.

Sinar pedang itu dengan cepat berkelebat sedang tubuh orang berkerudung itu pun seperti tidak terkena serangan, tubuhnya melanjutkan gerakannya mundur hingga sejauh lima enam tindak baru berhenti. saat tubuhnya berhenti itulah mendadak tubuhnya bagian atas dan bagian bawah rubuh dengan arah berlainan, darah segar segera menyembur keluar bagaikan pancuran membuat seluruh permukaan tanah basah oleh ceceran darah itu, kiranya pinggang orang itu sudah tergotong hingga menjadi dua bagian.

Ketiga orang berkerudung lainnya juga menyoren pedang panjang pada punggungnya, tetapi sejak munculkan diri ke dalam dunia kangouw hingga saat ini belum pernah melihat serangan pedang yang bisa dilakukan demikian cepatnya, begitu melihat temannya sudah dibabat putus pinggangnya hanya di dalam sekejap mata, tidak tertahan lagi saking terkejutnya mereka pada berdiri melongo.

Pada saat tubuh orang berkerudung itu rubuh ke atas tanah itulah tubuh Ti Then sudah berkelebat berdiri di hadapan seorang berkerudung yang berdiri di sebelah kiri.

Orang berkerudung itu merasa sangat terperanyat, belum sempat dia cabut pedang kaki kanannya dengan seluruh tenaga melancarkan satu tendangan dahsyat ke arah perut Ti Then.

Sekali pun serangan tendangan ini dilancarkan di dalam keadaan gugup tapi kekuatau dan kedahsyatannya luar biasa.

Bagaimana pun juga serangan pedang Ti Thenyauh lebih cepat satu tindak dari serangannya itu, dengan satu jurus Hong sauw Lok Jap atau angin bertiup menggugurkan daun suatu jeritan ngeri segera berkumandang keluar dari mulutnya. Wajahnya sudab berhasil terpapas separuh oleh serangan silat pedang Ti Then itu.

Sisanya dua orang berkerudung itu melihat kehebatan Ti Then sukar ditahan bahkan hanya sedikit mengangkat tangan sudah berhasil membunuh dua orang kawannya, tak terasa hatinya merasa sangat jeri, kini mana berani maju untuk bergebrak lagi, masing- masing segera putar tubuh melarikan diri dengan cepat-cepat.

Ti Then sejak semula sudah menduga kalau mereka akan melarikan diri, karenanya begitu serangannya berhasil membunuh orang berkerudung yang kedua tubuhnya sudah berputar ditengah udara, bentaknya dengan keras: "Lihat pedang. ."

Pedang ditangan kanannya segera disambit ke depan dengan cepat.

Kecepatan dari serangan ini sukar dibayangkan dengan menggunakan kata-kata.

Kiranya orang berkerudung ketiga yang berdiri di sebelah kanannya pada saat tubuhnya meloncat pergi itulah sudah tertusuk oleh sambitan pedang Ti Then itu, pedangnya menembus dari punggung hingga ulu hatinya dan muncul kembali pada dadanya, terdengar dia menjerit ngeri dengan sangat keras, sesudah berlari sempoyongan beberapa tindak tubuhnya segera rubuh di atas sebuab kuburan yang besar, seketika itu juga menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Ti Then sesudah menyambitkan pedangnya itu tubuhnya tidak berhenti begitu saja, sekali lagi dia meloncat ke depan tangannya dipentangkan lebar-lebar, dengan jangat cepat mengejar kearah orang berkerudung yang keempat.

Hanya cukup dua kali lompatan saja tubuhnya sudah berada beberapa kaki di belakang tubuhnya.

Dengan dingin ujarnya:

"Hemmm . .jika ingin hidup lebih baik berhentilah dengan cepat."

Ketika orang berkerudung keempat yang sedang melarikan diri itu menoleh ke belakang melihat Ti Then sudah berada di belakang tububnya tidak terasa kakinya terasa menjadi lemas, dengan cepat dia menghentikan larinya dan jatuhkan diri berlutut di hadapan Ti Then, ujarnya dengan sedikit merengek:

"Ti . . . Ti siauhiap harap . . harap jangan turun tangan jahat . . turun tangan jahat kepadaku . . ."

" Cepat lepaskan kerudungmu terlebih dulu" Bentak Ti Then dengan keras. Dengan gugup orang ber kerudung itu melepaskan kain kerudungnya sehingga terlihatlah selembar wajah yang sangat jelek yang saat itu sudah berubah menjadi pucat pasi saking terkejutnya, dengan tak henti-hentinya dia mengangguk anggukkan kepalanya.

Dengan pandangan tajam Ti Then memperhatikan terus wajahnya, sesaat kemudian baru tanyanya.

"Ehmm . . . sepertinya aku pernah bertemu dengan kamu orang" "Benar benar ? pada bulan Tiong ciu tahun yang lalu dijalanan

menuju ke Kwan Lok."

"Oooh benar." ujar Ti Then secara mendadak. "Kau adalah Lo Nao dari Kwan si Ngo Koay yang disebut apa Hek . ."

"Benar, aku bernama Hek Pauw atau simacan kumbang hitam Khie Hoat."

" Ketiga orang itu apa saudaramu semua?"

"Benar, mereka adalah Jiko, samko, serta su ko . ."

"Dimana Toako kalian oh Lui si atau malaikat halilintar Khie Ciauw ??"

"Dia ... dia membawa nona Wi menunggu kami di dalam kelenteng tanah ditengah kota."

"Ehmm. . ." sahut Ti Then kemudian tanyanya lagi.

"Kalian dengar dari siapa kalau aku mendapatkan sejilid kitab pusaka Ie Cin Keng"

"Aku dengar dari sinaga mega Hong Mong Ling yang bilang." sahut si macan kumbang hitam Khie Hoat sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah. "Dia bilang kamu sudah dapatkan sejilid kitab pusaka Ie Cin Keng yang mau dipersembahkan untuk Pocu dari Benteng Pek Kiam Po"

"Kalian bertemu dengan si naga mega Hong Mong Ling dimana??" "Disebuah kota keresidenan Tong Jlen sian, ratusan li di sebelah selatan gunung Fan Cin san"

" Kapan ???"

"Sudah lima enam hari lalu"

"Hemmm. . hemmm" ujar Ti Then sambil tertawa dingin "Hanya dikarenakan sejilid kitab pusaka Ie cin Keng,saja kalian berani turun tangan menculik pergi none Wi, nyali kalian sungguh tidak kecil."

Sembari terus menerus mengangguk anggukkan kepalanya ujar Khie Hoat lagi dengan gemetar.

"Sebetulnya kami tidak berani melakukan hal itu, karena melihat kepandaian silat dari Ti siau hiap sangat lihai terpaksa melaksanakan pekerjaan dengan diam-diam sehingga . . . sehingga.

. . ."

"Ehmmm. . sekarang kamu orang merasa kitab pusaka Ie Cin Keng lebih berharga atau nyawa saudara-saudara kalian yang lebih berharga???"

"Sudah tentu nyawa lebih berharga. .. " sahut simacan kumbang hitam Khie hoat sambil melelehkan air mata.

"Heemm. . . Baiklah." ujar Ti Then lagi "Kau rebahlah dulu beberapa saat di tanah pekuburan ini, aku mau pergi ke kelenteng tanah di dalam kota lihat-lihat dulu,jika nona Wi berada di sana maka aku lepaskan satu jalan hidup bagimu, kalau tidak . . . Hmm heemmm . . ."

-oo000oo-