-->

Pendekar Patung Emas Jilid 03

 
Jilid 03

”Lo-te telah menemui bencana apa yang demikian seriusnya?” ”Tidak ada “ sahut Ti Then sambil gelengkan kepalanya, “Hanya

siauw-te telah menghabiskan harta benda peninggalan leluhurku,

sehingga kini telah berubah menjadi seorang yang amat miskin” Shia Pek Tha tertawa terbahak-bahak, tanyanya :

" Perkataan dari Lo-te ini apa benar benar ?" “Buat apa aku menipu dirimu ?? “

Shia Pek Tha tersenjum ujarnya:

”Kalau begitu aku orang she-Shia benar-benar mengagumi dan memuji dirimu. “

Perkataan dari Shia-heng ini bagaimana bisa diucapkan ??” Tanya Ti Then sambil tertawa kaget.

"Lo-te punya kepandaian silat yang demikian tingginya ternyata dapat hidup tenteram di dalam keadaan yang miskin, tidak pernah menggunakan kepandaian silatnya untuk merampok atau merampas barang orang lain, bukankah hal ini patut dikagumi dan dipuji '???” 

Shia-heng tidak usah terlalu memuji dan kagum terhadap Siauw- te, kemungkinan sekali pada suatu hari bilamana Siauw-te sudah tidak bisa menahan kemiskinan yang menimpa segera akan mendaftarkan diri menjadi anggauta perampok. Baru saja Shia Pek Tha hendak berbicara lagi, mendadak matanya dapat melihat suhunya si pedang naga emas Wi Ci To beserta putrinya Wi Lian In telah berjalan memasuki ruangan itu, dengan nada yang serius ujarnya dengan cepat :

“Suhu telah datang! “

Orang yang disebut sebagai jago nomor dua di dalam Bu-lim ini, pocu dari Benteng Pek Kiam Po sipedang naga emas Wi Ci To sekali pun usianya sudah lebih dari enam puluh tahun tetapi jika dilihat dari wajah serta bentuknya tidak lebih kelihatan baru berusia lima puluh tahunan. Tubuhnya tinggi besar dengan sikap serta tindak tanduk yang halus bagaikan siucay tetapi keren bagaikan baja bahkan sikapnya amat menjenangkan sekali, bila orang yang tidak tahu tentu tidak akan percaya kalau dia merupakan seorang jago berkepandaian tinggi yang memiliki ilmu pedang yang amat lihay, bahkan mungkin menganggap dia sebagai seorang siucay yang hanya tahu akan syair-syair saja.

Agaknya dia telah mendapatkan keterangan yang amat jelas dari mulut Ki Hong oleh karena itu setelah berjalan masuk ke dalam ruangan sedikit pun tidak memperlihatkan sikapnya yang amat terperanyat, dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun juga dia berjalan mendekati tubuh Hong Mong Ling kemudian menggendong tubuhnya dan direbahkan ke atas tanah, tangannya tidak ambil diam sampai di situ saja dengan amat cekatan mengadakan pemeriksaan diseluruh tubuhnya.

Putri dari Wi Ci To jaitu Wi Lian In yang berada di sampingnya dengan wajah yang penuh perasaan kuatir memandang tak henti- hentinya ketubuh Hong Mong Ling, ujarnya dengan agak gugup:

“Dia, dia tidak mengapa bukan ?”

Putri dari Wi Ci To itu memang amat cantik sekali wajahnya, agaknya perkataan dari majikan patung emas sedikit pun tidak salah. Wajah dari Wi Lian In hampir mem punyai kesamaan dengan wajah dari Liuw Su Cen dari sarang pelacur Touw Hoa Yuan, wajahnya berbentuk kuaci dengan alisnya bagaikan bulan, matanya yang cemerlang bagaikan bintang timur, bibirnya yang keciI mungil berwarna kemerah-merahan sehingga kelihatan amat cantik sekali, keadaan serta sikapnya pun jauh lebih agung dan lebih halus jika dibandingkan Liauw Su Cen, Ti Then yang melihat kecantikan wajahnia tak terasa diam-diam memuji tak henti-henti-nya, pikirnya:

“Hong Mong Ling sudah mempunyai bakal istri yang demikian cantiknya ternyata masih pergi bermain cinta dengan seorang pelacur urusan ini memang sedikit mengherankan . .”

Ketika terpikir olehnya kalau Wi Lian In ini kemungkinan sekali akan berubah menjadi bakal istrinya tak terasa lagi jantungnya berdebar dengan amat keras.

”Dapatkah dia berhasil memperistri Wi Lian In yang cantik jelita itu?”

Ketika dia sudah menjadi istrinya, perintah selanjutnya dari majikan patung emas itu akan menjuruh dia berbuat apa lagi?

Apakah dengan meminyam sebutan ‘menantu’ dari dirinya untuk menutupi gerak-gerik selanjutnya kemudian mengadakan gerakan- gerakan untuk mengacau dan menghancurkan benteng Pek Kiam Po ini dari dalam?

Tidak, Majikan patung emas sudah pernah memberi penjelasan kepadanya kalau dia tidak akan memerintahkan dirinya untuk melakukan pekerjaan yang membahajakan orang-orang dari benteng Pek Kiam Po, tetapi perkataannya apa boleh dipercaya?

Kalau begitu sekali pun "Rencana" dari majikan patung emas itu tidak mendatangkan kerugian bagi orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po, apa mungkin "rencana" nya mendatangkan keuntungan bagi benteng Pek Kiam Po ini?

Kalau mendatangkan keuntungan bagi Benteng Pek Kiam Po lalu apakah keuntungan itu?

Ketika Ti Then berpikir sampai di sini tidak terasa lagi dia mulai melayangkan pandangannnya memperhatikan sipedang naga emas Wi Ci To itu. Sampai saat ini juga dalam hatinya dia masih tetap mencurigai kalau Majikan patung emas itu adalah rubahan dari si pedang emas Wi Ci To ini dikarenakan dia hendak melindungi putrinya Wi Lian In tidak sampai dijodohkan dengan seorang pemuda hidung bangor maka dia hendak menggunakan dirinya untuk mengacau dan merusak hubungan cinta antara putrinya dengan Hong Mong Ling, dengan demikian putrinya Wi Lian In bisa dijodohkan dengan dirinya.

Dan kini terlihatlah olehnya pada wajah Wi Ci To memperlihatkan perasaan `tidak suka" dan 'tidak puas" nya terhadap Hong Mong Ling ini.

Sipedang naga emas Wi Ci To sesudahnya memeriksa dengan teliti seluruh tubuh dari Hong Mong Ling, alisnya dikerutkan kencang-kencang ujarnya dengan keren:

“Hm..dia terpukul belakang lehernya terlebih dahulu kemudian baru ditotok jalan darah pingsannya”

”Suhu, dia tertotok oleh cara menotok jalan darah yang macam bagaimana?” tanya Shia Pek Tha.

Cara.menotok jalan darah yang sangat biasa, tidak ada tempat yang terlalu mengherankan “

Sesudah berhenti sejenak dia menoleh kearah Cang Bun Piauw sambil tanyanya:

“Siapa orang ini?”

“Si tikus rakus dari Go bi Cang Bun Piauw”

Si pedang naga emas Wi Ci To sambil menggerakkan tangannya membebaskan jalan darah yang tertotok pada tubuh Hong Mong Ling tanyanya:

“Orang mana tikus rakus dari Go bi itu?”

“Rumahnya tinggal didaiam kota Go bi, dia adalah seorang kongcu yang suka pelesiran, suka judi mau pun mabok-mabokan” Mendengar perkataan itu dengan wajah yang penuh perasaan terkejut Wi Lian In angkat kepalanya, tanyanya pada Shia Pek Tha:

“Pek Tha suheng, kau bilang apa?

Pada wajah Shia Pek Tha segera timbul perasaan bimbang dan sedihnya, sesaat kemudian barulah sahutnya,

“Sumoay, kau tidak usah marah kemungkinan sekali suhengmu telah salah bicara'

“Hmm…Dengus Wi Ci To dengan dinginnya.” cepat katakan dengan jelas kau kenal dengan orang ini ?”

“Tecu hanya tahu tindakan serta gerak gerik dan perbuatan orang ini saja, dengan dirinya sama sekali tidak kenal”

“Hmm..aku lihat dia sama sekali tidak paham ilmu silat.”

“Benar” sahut Shia Pek Tha,” Ajahnya pernah memangku jabatan sebagai pembesar kota sehingga harta kekajaannya amat banyak sekali sedang dia lalu menggunakan nama besar dari bapaknya serta kekajaannya untuk berbuat tidak senonoh diluaran dan menganiaja kaum rakjat yang lemah.”

Dengan-perlahan Wi Ci To putar tubuhnya pergi membebaskan jalan darah dari Cang Bun Piauw, tanyanya lagi.

“Lalu bagaimana mungkin Mong Ling bisa bergaul dengan orang macam ini?”

“Tentang ini tecu juga tidak tahu,” sahut Shia Pek Tha dengan cepat, “Kemungkinan sekali Mong Ling sute sama sekali belum pernah kenal dengan orang ini, hanya mungkin… pokoknya bagaimana keadaan sesungguhnya lebih baik tunggu saja Mong Ling sute sesudah sadar kembali baru kita tanyai”

Wi Ci To melihat Hong Mong Ling belum juga sadarkan diri segera putar tubuhnya mengangguk kepada Ti Then, ujarnya sambil tertawa:

“Inikah si pendekar baju hitam Ti Then ?” “Benar” sahut Ti Then sambil rangkap tangannya memberi hormat.

“ Ha. .. ha... ha . Lohu telah tidak sedikit mendengar cerita mengenai pendekar baju hitam, lohu amat girang bisa bertemu dengan seorang pendekar muda yang amat terkenal di dalam dunia kang ouw.”

“Pocu terlalu memuji” “Siapakah suhu dari Ti-heng ?”

Ditanyai dengan pertanyaan itu Ti Then segera menjadi serba susah, dengan gugup sahutnya:

“Tentang hal ini boanpwe…      ”

“Ha... ha.. ha.. bilamana Tiheng merasa ada sesuatu yang tidak enak untuk dibicarakan lebih baik tidak usah menyawab, orang yang bisa menggembleng seorang pemuda seperti Ti heng ini tentunya merupakan seorang diago tua yang telah lama menyembunyikan diri dan mengasingkan diri dari pengalaman.”

“Tidak salah” sahut Ti Then cepat, “Suhuku memang telah lama mengasingkan diri dari pergaulan, dia orang tua pernah memberi tahu pada boanpwe untuk tidak secara sembarangan mernberitahukan namanya kepada orang lain”

Bagaimana pun juga pengalaman dari Wi Ci To telah amat luas, begitu melihat keadaan itu segera dia tukar pembicaraan, ujarnya lagi:

“ Pada tahun yang lalu Ti-heng pernah membantu Shia Pek Tha memukul mundur musuh tangguh dan ini hari Ti-heng menolong muridku lagi pulang ke dalam Benteng dalam hati Lohu benar-benar merasa sangat berterima kasih.

“Aah..mana, mana . hanya secara kebetulan saja, perlu apa terlalu dipikirkan. “

Saat itulah terdengar suara Shia Pek Tha yang sedang berseru: “Suhu ... Mong Ling sute sudah sadar kembali”

Sinaga mega Hong Mong Ling yang rebah terlentang ditengah ruangan dengan perlahan sadar kembali, sambil mengucak-ucak matanya dia memandang dengan perlahan kesekelilingnya, tetapi ketika dia melihat dengan jelas kalau dirinya sedang rebah ditengah ruangan dalam Benteng Pek Kiam Po dengan cepat segera meloncat bangun.

Pada saat itu pula ketika dilihatnya Cang Bun Piauw berada pula disisi tubuhnya tak terasa air mukanya berubah dengan hebatnya. Dengan dingin ujar Wi Lian In:

“ Hm.. telah terjadi peristiwa apa?”

Hong Mong Ling tidak segera memberi jawaban, dengan wajah yang penuh perasaan terkejut dan ketakutan dia memandang wajah Wi Ci To, Shia Pek Tha serta akhirnya berhenti pada wajah Ti Then.

Dengan pandangan yang amat tajam dia memandang beberapa saat lamanya ke atas wajahnya kemudian dengan bimbang gumamnya:

“Kau..kau     siapa kau? „

“He . . he ,sahut Wi Ci To sambil tertawa dingin: “Dia adalah sipendekar baju hitam Ti Then, juga merupakan in-jin yang telah menolong kau kembali. “

Mendengar perkataan itu dengan cepat sambung Ti Then. “Malam tadi cayhe kebetulan sedang lewat hendak masuk kota

ketika sampai diluar kota telah melihat di samping jalan rebah Hong-heng berdua dengan tidak sadarkan diri, oleh karena cayhe kenal kalau Hong-heng adalah pendekar pedang merah dari benteng Pek Kiam Po ini maka sengaja menolong Hong heng berdua kembali ke dalam benteng.

Ketika Hong Mong Ling dengar kalau Ti Then menemukan dirinya berada diluar kota dalam hatinya baru merasa amat lega sedang perasaan terkejut serta ketakutan yang menghiasi wajahnya pun dengan perlahan mulai lenyap.

Dengan cepat dia bangkit berdiri sambil ujarnya:

“Ooh ... kiranya begitu, kalau begitu cayhe mengucapkan banyak terima kasih dahulu atas budi pertolongan dari Ti-heng,.

Sambil berkata dia merangkap tangannya memberi hormat kepada Ti Then.

Wi Lian In yang berdiri disisinya dengan wajah yang cemberut ujarnya dengan amat dingin:

“Cepat bilang, bagaimana bisa terjadi peristiwa ini?”

Hong Mong Ling melihat sekejap kearah Cang Bun Piauw yang masih belum sadarkan dirinya, pikirnya dalam hati:

“ Hmm ...sekarang dia belum sadar kembali, biar aku tunggu sebentar lagi baru bicara. “

Berpikir sampai di situ, tangannya memegang belakang leher, ujarnya :

“Ehm..bicara sesungguhnya aku sendiri juga tidak tahu telah terjadi peristiwa apa.. .

Wajah Wi Ci To segera berubah, dengan keren bentaknya: “Hmm..Kau dipukul orang hingga tidak sadarkan diri mana

mungkin tidak tahu apa yang telah terjadi ?

Dengan tetap menggosok kedua pelipisnya ujar Hong Mong Ling dengan perlahan, :

“Suhu…kau orang tua tidak usah marah biarlah tecu dengan tenang mengingat-ingat kembali- Heeei…kepalaku masih tetap pusing sekali…aduh.”

“Hmm …sungguh kurang ajar” dengus Wi Lian In sambil depakkan kakinya ke atas tanah. Hong Mong Ling dengan tundukkan kepalanya “berpikir keras” menanti setelah dia melihat Cang Bun Piauw dengan perlahan-lahan sadar kembali barulah angkat kepalanya kembali sambil sahutnya:

--Tecu sekarang sudah teringat kembali peristiwa yang sebenarnya adalah begini, ini hari ketika tecu sampai diluar kota Go bi cuaca sudah hampir gelap, baru saja hendak melangkah masuk kota tiba-tiba di belakang tubuhku terdengar ada seseorag yang sedang berteriak teriak memanggil tecu: Hei . . yang berada di depan bukan kah Mong Ling heng?” ketika tetiu menoleh terliharlah orang itu adalah Cang Bun Piauw adanya”

“He... h.e..Potong Wi Lian In sambil tertawa dingin “bagus sekali kiranya kau sudah berkenalan dengan si tikus rakus dari Go bi Cang Bun Piauw ini”

“In moay jangan salah paham” ujar Hong Mong Ling dengan ketakutan.

“Siau heng sama sekali tidak kenal dengan orang ini, kami tidak lebih hanya punya kesempatan bertemu satu kali saja”

”Hmmm .. lanjutkan !”, bentak Wi Ci To.

Hong Mong Ling ragu-ragu sejenak kemudian barulah sambungnya:

“Ketika tecu melihat orang itu adalah dia maka segera tecu tanya dia punya urusan apa, dia tidak ada hanya katanya baru saja menagih hutang dari desa dan kini akan pulang dalam kota, dia ingin berjalan bersama-sama dengan tecu. Ketika baru saja berjalan tidak jauh mendadak dari samping jaIan meloncat keluar seorang berkerudung menanyakan tecu apakah benar pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po, maka segera tecu membenarkan pertanyaan itu. Siapa tahu orang berkerudung itu tanpa mengucapkan kata-kata lagi segera menjerang tecu.”

Ti Then yang berdiri di samping ketika mendengar ceritera itu diam-diam merasa amat geli, pikirnya. “ Majikan patung emas bilang Hong Mong Ling ini berhati tidak lurus jadi orang amat curang ternyata sedikit pun tidak salah. Didengar dari cerita bohongnya ini sudah tahu kalau kepandaiannya di dalam hal itu amat liehay sekali. “

Sinar mata Wi Ci To memancarkan sinar yang amat tajam potongnya:

“Bagaimana nada suara dari orang berkerudung itu? Berapa besar usianya?”

“Jika didengar dari nada ucapannya agaknya berasal dari daerah San Si, sedang usianya kurang lebih lima puluh tahunan.”

“Pakai senyata?”

“Tidak” sahut Hong Mong Ling dengan cekatan. “Tetapi ilmu telapaknya amat aneh dan liehay sekali, tecu yang didesak dengan serangan telapak yang bertubi-bertubi itu memaksa tecu sama sekali tidak punya kesempatan untuk mencabut pedang menyambut datangnya serangan musuh. Sehingga akhirnya-

…akhirnya belakang leherku terkena gaplokannya sesudah itu urusan selanjutnya tecu tidak tahu sama sekali

Sinar mata Wi Ci To berkelebat tak henti-hentinya, dengan berat ujarnya:

“Kau tidak.tahu kepandaian silatnya dari golongan apa?”

Wajah Hong Mang Ling segera menampiIkan perasaan kecewanya, sahutnya dengan sedikit malu.

“Benar tecu sama sekali tak tahu”

“Ehm..” sambil mengelus jenggotnya Wi Ci To berpikir keras sejenak.- “Didaerah sekitar San-si siapa yang paling hebat dalarn ilmu telapaknya?”

“Apa mungkin Thiat Sah Ciang atau si pukulan pasir besi, Cau Si Pei? “ “Tidak mungkin” sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya, “sekali pun ilmu telapak dari si pukulan pasir besi: Cau Si Pei sangat hebat tetapi dia tidak mungkin memenangkan kalian”

“Tia” seru Wi Lian In. “dia sudah sadar, coba tanyakan pada dirinya”

Wi Ci To ketika melihat Ceng Bun Piauw sudah bangkit dan duduk di atas tanah segera memutar tubuhnya. Sinar matanya dengan amat tajam memperhatikan seluruh tubuhnya,kemudian barulah tanyanya:

“Cang kongcu, dapatkah kau menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin malam dengan amat teliti kepada Lo hu?

“ Kau orang tua apakah majikan dari Benteng Pek Kiam Po?” “Tidak salah! memang lohu sendiri. “ sahut Wi Ci To sambil

mengangguk.

“Selamat bertemu, selamat bertemu. Siauw-cu telab lama rnendengar nama besar dari Wi Pocu, hanya selama ini tidak punya jodoh untuk bertemu, ini hari dapat …”

Wi Lian In yang tahu orang itu merupakan seorang kongcu yang suka pelesiran, judi mabok-mabokan dalam hatinya sudah timbul perasaan bencinya, kini tak tertahan lagi bentaknya dengan keras:

“Tidak usah banyak ngomong, cepat bicara. “

Cang Bun Piauw yang dibentak men jadi berdiri termangu- mangu, segera dengan wajah yang penuh senjuman tengik lanjutnya:

“Baik.. baik. „peristiwa yang sebenarnya adalah begini. Ini hari Siauw seng pergi kedesa Lie-khia-cung untuk menarik pajak sawah, pada saat pulang dan tiba diluar kota secara kebetulan telah bertemu dengan Hong-heng ini, lalu siauw-seng berjalan bersama dengan dirinya, tetapi belum berjalan begitu jauh secara tiba-tiba dari samping jalan meloncat keluar seorang yang berkerudung …” Apa yang diceritakan olehnya persis dengan cerita yang dikisahkan oleh Mong Ling.

Tanya Wi Ci To :

“Sesudah dia merubuhkan muridku, baru memukul rubuh dirimu?”

“Benar “- sahut Cang Bun Piauw sambil mengangguk. “Siauw seng tidak punya dendam dan sakit hati dengan dirinya ternyata dia berani turun tangan terhadap siauw seng, sungguh kurang ajar sekali “

“Hmm sesudah dia pukul rubuh muridku pernah mengucapkan kata-kata apa?”

Cang Bun Piauw menundukkan kepalanya pura-pura berpikir keras, sesaat kemudian baru sahutnya:

“Ooh .. ada, sesudah dia pukul rubuh Hong heng dia pernah tertawa dingin sambil ujarnya: . He he... pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po tidak lebih juga hanya begini saja“ sehabis berbicara segera dia lajangkan tangannya memukul rubuh Siauw seng.

Wi Ci To mengangguk perlahan kemudian dengan perlahan dia menoleh ke arah Hong Mong Ling sambil tanyanya:

“Sebenarnya kau kuat menahan beberapa jurus serangannya?” “Di dalam keadaan yang amat gugup dan kelabakan tecu hanya

berhasil menyambut sepuluh jurus saja”

”He..he..orang yang bisa mengalahkan kau hanya di dalam sepuluh jurus saja tidak banyak”

“Suhu..tahukah kau siapa orang itu?”

“Ehm . aku masih belum bisa mengetahui” sahut Wi Ci To sambil gelengkan kepalanya. ”Apa mungkin musuh bujutan suhu pada masa yang lalu…Co Shu Koay kiam atau sipendekar pedang tangan kiri, Cian Pit Yuan? “ tanya Shia Pek Tha.

”Bila dia orang yang melakukan” sahut Wi Ci To- “ seharusnya dia langsung datang mencari aku, tidak mungkin bisa pergi menjerang Hong Mong Ling”

“Suhu” seru Hong Mong Ling ”Siapa itu sipendekar pedang tangan kiri, Cian Pit Yuan ?

”Seorang pendekar pedang kenamaan yang pada dua puluh tahun yang lalu pernah kalah di bawah ilmu pedangku dan dia pernah bersumpah untuk mencari balas.”

Berbicara sampai di sini dia menoleh memandang Shia Pek Tha lagi, lanjutnya:

“Tidak perduli siapakah orang berkerudung itu, tetapi dia sudah menghina Hong Mong Ling sudah tentu kedatangannya tidak punya niat baik, cepat kau pergi bangunkan beberapa orang pendekar pedang merah untuk menyaga diseluruh tempat sekitar Benteng?.”

Shia Pek Tha segera bungkukkan dirinya menerima perintah dan mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Sesudah memberi perintah pada Shia Pek Tha dengan perlahan Wi Ci To menoleh lagi kearah Hong Mong Ling, ujarnya:

"Mong Ling, kau bawalah Ti-heng beserta Cang kongcu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, besok pagi-pagi suruhlah orang menghantar Cang Kongcu masuk ke dalam kota Go-bi terlebih dahulu”

Hong Mong Ling segera bungkukkan diri menerima perintah, setelah itu kepada Ti Then serta Cang Bun Piauw ujarnya:

“Kalian berdua silahkan mengikuti siautw-te masuk kamar untuk beristirahat.”

Ti Then serta Cang Bun Piauw segera minta ijin pada Wi Ci To dan mengikuti di belakang tubuh Hong Mong Ling ke luar dari ruangan tamu, setelah berjalan beberapa lama sampailah mereka disebuah deret kamar yang memanyang, Hong Mong Ling dengan cepat membuka dua buah pintu kamar, semula dia mempersilahkan Ti Then memasuki salah satu kamar kemudian barulah membawa Cang Bun Piauw kekamar yang lain.

Sesudah masuk ke dalam kamar tangannya segera menutupi pintu dan menjulut lampu, ujarnya kepada Cang Bun Piauw dengan nada yang amat perlahan:

“Sungguh amat bahaja, kurang sedikit saja diketahui rahasia kita”


“Siapa bilang tidak, semula kita masih berada di dalam Touw Hoa

Yuan dan di pukul rubuh oleh Lu kongcu itu, bagaimana akhirnya bisa dibuang diluar kota?”

“Hmm . .mungkin Lu kongcu itu telah membawa kita keluar kota

. kali ini berhasil mengelabuhi mereka tetapi kau harus ingat jangan sekali-sekali sampai keadaan yang sesungguhnya bocor dan diketahui orang lain,

“Ooh . . sudah tentu sudah tentu..

“He…he .”ujar Hong Mong Ling lagi. “Bilamana urusan ini sampai diketahui orang lain dan sumoayku tahu kalau aku pernah pergi main wanita .he . he . . tentu dia tidak mau kawin sama aku lagi, saat itu aku akan membereskan nyawamu. “

Cang Bun Piauw yang diancam seperti itu terpaksa hanya bisa tertawa pahit saja sambil sahutnya

“Kau legakanlah hatimu, orang lain aku berani main-main tetapi terhadap Hong-heng aku tidak akan berani main-main”

“Masih ada” tambah Hong Mong Ling: “Besok pagi sesudah kau pulang ke dalam kota segera pergi ke dalam Touw Hoa Yuan untuk memberi peringatan kepada Ku le, katakan padanya untuk jangan menceritakan urusan kemarin malam kepada orang lain kalau tidak hmm . hm hmm aku tidak akan berbuat sungkan-sungkan lagi terhadap dirinya.” “Baik, baik…siauwate tentu melaksanakan perintah ini dengan sebaik-baiknya”

“Bagus, sekarang kau boleh beristirahat, aku pergi.”

Sehabis berkata segera dia putar tubuh untuk berlalu dari dalam kamar tersebut,

"Hong-heng tunggu sebentar !"-

”Ada urusan apa?" tanya Hong. Mong Ling sambil balikkan tubuhnya,

Cang Bun Piauw menuding kearah kamar sebelah, ujarnya dengan perlahan

”Siauw-te rasa orang ini agaknya pernah kita jumpai, entah bagaimana perasaan Hong-heng?”

“Hm..dia adalah sipendekar baju hitam Ti Then dan merupakan seorang dari kalangan yang punya nama sangat terkenal, kau pernah bertemu dengan dia ?

“Tidak…tidak…” sahut Cang Bun Piauw cepat, “Hanya saja siuaw- te rasa wajahnya sedikit mirip, sedikit mirip dengan bangsat she Lu itu “

Mendengar perkataan itu wajah Hong Mong Ling segera berubah, sinar matanya dengan tajam memandang wajah Cang- Bun Piauw, ujarnya:

“…Tapi ini tidak bisa mungkin terjadi.” “Kenapa tidak mungkin?,”

“Ehm..kau curiga kalau bangsat she Lu itu adalah jelmaan dari dirinya?”

“Sama sekali Cang Bun Piauw tidak pernah berpikir kalau urusan bisa berubah ,demikian seriusnya, mendengar perkataannya itu dia menjadi sangat terperanyat, balik bertanya:

“Kau lihat benar tidak?” Hong Mong Ling menggigit kencang sesaat kemudian barulah angkat bicara lagi, sahutnya.

“Hm..untung saja kau cepat peringatkan diriku, siauw te pun merasa kalau dia mirip sekali degan bangsat she Lu itu, tetapi kalau memang perkataan ini benar apa tujuan darinya untuk berbuat demikian?”

“Mungkin dia hendak menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke dalam Benteng dan melakukan suatu pekerjaan yang tidak menguntungkan bagi keselamatan Benteng Pek Kiam Po"

”Tidak mungkin” Sahut Hong Mong Ling sesudah berpikir sejenak” Alasannya ada dua, pada urusan sebelumnya dia sama sekali tidak tahu kalau kita akan pergi ke Touw Hoa Yuan untuk mencari senang, seperti mungkin bisa menyamar sebagai “Lu kongcu” untuk menunggu kita di sana, ke dua dia adalah jago dari kalangan Pek-to di dalam dunia persilatan dengan Benteng Pek Kiam Po sama sekali tidak punya ganyalan apa-apa, mana mungkin dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk mamasuki Benteng dan melakukan pekerjaan yang tidak menguntungkan bagi Benteng Pek Kiam Po kita ini?”

“Kalan tidak sudah tentu dia punya tujuan untuk merusak perkawinan antara kau dengan nona Wi”

“Tidak mungkin..” sahut Hong Mong Ling sambil gelengkan kepalanya lagi” dia tidak punya alasan untuk merusak perhubungan antara diriku dengan sumoay, kita boleh berbicara satu langkah ke belakang, bilamana dia punya tujuan ini kenapa dia pun ikut membantu kita untuk mangelabuhi mereka ? “

“Bilamana bangsat she-Lu itu adalah jeimaan dirinya, masih ada satu kemungkinan . . . dia ingin merebut bakal istrimu ?”,

Pada air muka Hong Mong Ling segera terlintas senjuman yang amat dingin sahutnya:

“Hmm..dengan wajah serta keadaannya yang amat miskin itu dia masih belum mamadahinya?” Sekali pun pada mulutnya dia bicara demikian padahal dalam hatinya telah timbut perasaan curiganya yang, amat tebal, segera ujarnya lagi:

“Kau beristirahatlah, biar aku pergi menjelidiki keadaan yang sesungguhnya.”

Sehabis berkata segera dia putar tubuhnya berlalu dart kamar Cang Bun Piauw.

Ketika dia berjalan sampai di depan kamar Ti Then dillhatnya suasana kamar itu sudah amat sunyi, dengan perlahan dia angkat tangannya mengetuk kamar itu, panggilnya:.

“Ti-heng “ Ti-heng..Ti-heng kau sudah tidur?”

Dari dalam kamar segera terdengar sahutan dari Ti Then, sahutnjna:

“Ooooh ..siapa? Hong-heng?silahkan masuk “

Hong Mong Ling setelah ragu-ragu sejenak kemudian mendorong pintu dan berjalan masuk, terlihatlah baju luar dari Ti Then telah dilepaskan dan dia sedang berbaring di atas pembaringan. Melihat hal itu dengan cepat dia pura-pura mau mengundurkan diri sambil udiarnya,

“Ooh , kiranya Ti-heng sudah siap hendak tidur, kalau begitu siauw-te telah mengganggu”

“Hong-heng silahkan duduk, “ ujar Ti Then sambil bangkit duduk di atas pembaringan “Siauw-te belum punya maksud untuk tidur, lebih balk kita cerita-cerita saja.

Hong Mong Ling yang mendengar parkataannya persis seperti maksud di dalam hatinya diam-diam merasa amat girang, cepat dia duduk di atas sebuah kursi sambil rangkap tangannya memberi hormat, ujarnya:

“Budi pertolongan dari Ti heng membuat siauw-te bingung harus berbuat bagaimana untuk membalasnya.” ”Ha..Ha..ha…..mana bisa dihitung sebagai menolong nyawamu, harap Hong-heng tidak usah risaukan dalam hati. “

“Nama besar Ti-heng bagaikan halilintar yang memekikkan telinga, sudah lama siauw-te mengandung maksud untuk bertemu dengan Ti-heng, ini hari bisa bertemu muka boleh dikata sangat menjenangkan hati siauw-te.

”Ha…ha .. ha ... mana..mana..Sinaga Mega Hong Mong Ling nama ini jauh- lebih nyaring dan lebih terkenal di dalam Bu-lim.”

Teringat kembali di dalam benak Hong Mong Ling ketika dia di dalam satu jurus saja telah dipukul rubuh oleh “Lu kong cu” tidak terasa lagi telinga serta wajahnya berubah menjadi kemerah- merahan, ujarnya.

“Mana mungkin, kepandaian siauw-te masih terlalu jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan Ti-heng, harap mulai saat ini Ti-heng mau memberi banyak petunjuk kepada siauw-te.”

“Ha… ha .. ha . Hong-heng berbicara demikian mungkin bisa membuat siauwte mejadi malu dengan sendirinya.”

Hong Mong Ling  pun tertawa, sahutnya:

”Ha ... ha, . Ti-heng terlalu merendahkan diri ”

”Ooh :..kali ini Ti-heng berkunjung kekota Go-bi entah punya tujuan apa ?”

”Ooh …siauwte hanya secara tidak sengaja lewat di sini, sebenarnya aku punya rencana untuk mencari kawan bermain.”

“Ini hari Ti-heng dapat berkunjung ke dalam Benteng harap kaki mau tinggal beberapa hari di sini.”

"Baiklah, “ sahut Ti Then tanpa pikir panjang lagi,”Memangnya sudah datang bilamana tidak mengganggu beberapa hari suhengmu juga tidak mungkin mau melepaskan diri siauw-te. “ Hong Mong Ling lihat dia menyanggupi dengan demikian cepatnya tak terasa semakin curiga lagi, sambil tertawa paksa ujarnya:

”Asalkan Ti-heng tidak terlalu kesunyian atas kejelekan Benteng kami, siauw te dengan segala senang hati akan menyambut Ti-heng untuk berdiam beberapa hari lamanya di dalam, Benteng.”

”Baiklah, siauw-te pun punya perasaan simpatik begitu bertemu muka dengan Hong-heng, dalam hatiku merasa amat girang sekali bisa berkawan dengan seorang semacam Hong-heng ini.”

”Ha...ha, mana..mana… siauw-te dengar ilmu pedang dari Ti- heng amat lihay sekali, pada kemudian hari masih mengharapkan petunjuk-petunjuk dari Ti-heng.”

”Memberi petunjuk dua buah kata Siauw-te tidak berani menerima, bilamana saling bertukar pikiran masih jauh lebih bagus lagi.”

Diam-Diam hati Hong Mong Ling semakin girang pikirnya: “Hmm…bagus sekali, kau pendekar baju hitam Ti Then sekali pun

namanya tidak kecil tetapi bilamana bicara dalam hal ilmu pedang

aku masih punya kepercayaan untuk merubuhkan dirimu, menanti besok pagi aku akan mencari kesempatan untuk minta petunjuk darimu, di hadapan orang banyak memukul rubuh dirimu, pada saat ini aku mau lihat kau masih punya muka tidak untuk bertamu di sini.”

Sampai saat ini juga dia masih tetap berani untuk mengambil kesimpulan bahwa Ti Then adalah Lu Kongcu tetapi dia pun tidak berani untuk mengambil kesimpulan kalau Ti Then adalah Lu kongcu oleh karena itulah dia baru mengambil keputusan untuk mengajak dia bertanding ilmu pedang dan mengambil kesempatan itu mebuat malu Ti Then sehingga dia tidak berani berdiam lebih lama lagi di dalam Benteng Pek Kiam Po dengan sendirinya secara tidak langsung dia pun telah melenyaplan sebuah bencana dikemudian hari. Terhadap kemampuannya dengan mengandalkan ilmu pedangnya bisa mengalahkan diri Ti Then dia sudah merasa mem punyai pegangan yang amat kuat oleh sebab itulah semakin berpikir semakin merasa girang, segera dia bangkit mohon diri, ujarnya:

“Hari sudah mendekati pagi Ti-heng silahkan beristirahat, siauwte mohon diri terlebih dahulu”

Sehabis berkata dia memberi hormat lagi dan mengundurkan diri dari dalam kamar.

Sesudah melihat Hong Mong Ling pergi jauh barulah dengan perlahan Ti Then bangkit berdiri untuk menutup pintu kamar dan balik lagi ke atas pembaringan, matanya dipejamkan rapat-rapat.

Padahal dia tidak bisa tidur karena dia merasa bahwa masib banyak urusan yang harus dipikirkan terlebih dahulu, banyak siasat yang harus diselidiki, persoalan pertama yang harus dipikirkan terlebih dahulu adalah:

“Benarkah sipedang naga emas Wi Ci To itu adalab majikan patung emas?”

Tadi dia pernah melakukan pemeriksaan yang amat teliti terhadap sikap serta seluruh gerak gerik dari sipedang naga emas Wi Ci To, tetapi sekali pun telah diperhatikan amat teliti dia tetap tidak bisa mengambil keputusan benar tidak dia adalah majikan patung emas, maka itu kini dia harus memikirkan sebuah "Bukti" dari penjelidikannya itu.

Dengan cara dan siasat apakah dia baru bisa menjelidiki kalau Wi Ci To itu benar atau tidak sebagai Majikan patung emas?

Ooh ..ada. Asalkan bertanya dan menjelidiki sebentar kepada Shia Pek Tha atau Hong Mong Ling apakah, di dalam setengah tahun ini Wi Ci To selalu berada di dalam Benteng atau tidak maka dengan cepat dia akan mengerti benarkah dia majikan patung emas atau bukan. Bilamana selama setengah tahun yang lalu Wi Ci To tidak pernah berada di dalam Benteng Pek Kiam Po maka dia tentu dan pasti adalah Majikan patung emas.

Tetapi bilamana selama setengah tahun yang lalu dia selalu berada di dalam Benteng maka sudah tentu dia tidak mungkin adalah Majikan patung emas.

Bilamana hasil dari penjelidikannya membuktikan kalau Wi Ci To bukan majikan patung emas, lalu apa mungkin majikan patung emas itu adalah sipendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan?

Mengenai "Si pendekar pedang tangan kiri Cian Pit Yuan" ini dia pernah mendengar dan mengetahui kalau dia pun merupakan seorang pendekar yang amat lihay ilmu pedangnya, pada dua puluh tahun yang lalu dia pernah memiliki nama besar yang sejajar dengan nama Wi Ci To di dalam Bu-lim, kemudian di bawah hasutan serta gosokan orang banyak maka kedua orang, itu di hadapan orang banyak telah mengadakan pertandingan untuk menentukan tinggi rendahnya kepandaian masing-masing akhirnya Cian Pit Yuan kalah sedang telinga sebelah kanannnya pun berhasil ditabas oleh pedang Wi Ci To hingga tinggal separuh, sejak saat itulah Cian Pit Yuan lenyap dari dalam Bu-lim sampai saat ini.

Seorang pendekar pedang kenamaan secara tiba tiba mendapat kekalahan ditangan orang lain bahkan sebuah telinganya berhasil ditabas putus, hinaan dan perasaan malu seperti ini sudah tentu membuat hatinya merasa dendam, sedang sakit hati ini pun sudah tentu harus dicari balas.

Tetapi bilamana majikan patung emas itu adalah sipendekar pedang tangan kiri Cuan Pit Yuan, bilamana dia ingin membalas dendam seharusnya turun tangan sendiri, kenapa kini memerintahkan dirinya untuk menjusup ke dalam Benteng bertindak sebagai “Patung emas ?

Dia menggunakan “patung emas” ini untuk mencari kemenangan dari Wi Ci To, apa mungkin dia ingin memenangkan .pertandingan ini dengan tanpa menggunakan kepandaian silat? Oleh sebab Itulah dia semakin merasa kalau Cuan Pit Yuan ini tidak mungkin adalah Majikan patung emas:

Lalu, siapakah sebenatnya Majikan patung emas itu?

Apakah dia sudah mengikuti dirinya masuk ke dalam Benteng Pek Kiam Po ini ?

Atau, apa mungkin dia merupakan salah satu anggota dari Benteng Pek Kiam Po ini?

Beberapa pertanyaan ini membuat dia benar-benar sukar untuk memejamkan matanya sebaliknya masih terdapat banyak sekali urusan yang membuat dia merasa tidak tenteram, sekarang dia sudah memasuki Benteng seratus pedang, sejak saat ini kemungkinan sekali dia bisa menggantikan kedudukan Hong Mong Ling sebagai mantu dari Wi Ci To tetapi sekali pun dirinya dapat dengan sungguh hati pergi mencintai Wi Lian In apabila pada suatu hari Majikan patung emas secara tiba tiba memerintahkan dirinya untuk melakukan sesuatu perbuatan yang tidak mendatangkan kebaikan bagi Wi Ci To, lalu dia harus berbuat bagaimana ?

Bilamana dia menolak perintah dari patung emas ini sudah tentu dia akan membunuh dirinya, kematian dari dirinya tidak perlu disajangkan tetapi bukankah dengan demikian malah merusak kebahagiaan dari Wi Lian In ?

Heeei, apabila kepandaian silat yang dimiliki o!eh Wi Ci To bisa mengalahkan dirinya itulah sangat bagus sekali, tetapi majikan patung emas pernah berkata selain si kakek pemalas Kay Kong Beng tidak mungkin ada orang yang bisa mengalahkan dirinya

Hari telah pagi.

Terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu dari luar. Dengan cepat Ti Then bangkit berdiri dan membuka pintu,

terlihatlah si pedang penembus ulu hati Shia Pek Tha dengan menyinying sebuah buntalan telah berdiri di depan dengan cepat dia memberi hormat ujarnya: ”Ooh .. Shia heng, pagi benar.”

“Ha . -ha .bagaimana tidurmu kemarin malam ???” ujar Shia Pek The sambil melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam kamar.

“Masih baikan, apakah telah menemukan seseorang yang menjelundup masuk ke dalam benteng ??”

“Tidak ada” sahut Shia Pek Tha sambil gelengkan kepalanya, “Kelihatannya orang berkerudung itu sama sekali tidak punya maksud berbuat jahat terhadap benteng Pek Kiam Po ini.”

“Ooh... benar ??,”

Menurut dugaan Ie-heng, tentunya dia merupakan seorang jago berkepandaian tinggi dari dalam Bu-lim yang ingin mencoba kepandaiannya sendiri sehingga dia sengaja dengan wajah yang berkerudung sengaja munculkan dirinya bergebrak melawan Mong Ling sute, sesudah kemarin malam berhasil mengalahkan Mong Ling sute dengan hasil yang puas telah meninggalkan kota Go-bi ini, “

“Ehm . . benar"- sahut Ti Then sambil mengangguk “Kelihatannya mungkin memang demikian “

Shia Pek Tha berbatuk ringan, sambil tertawa ujarnya:

”Tadi siauwheng dengar dari Mong Ling sute katanya Lote sudah menyanggupi untuk berdiam di dalam Benteng selama beberapa hari?”

“Benar, tetapi sudah tentu harus melihat dulu apakah Wi Pocu serta Shia heng man menerima atau tidak.”

”Ha . ..ha…ha… . kenapa tidak mau menerima? Lote sukar sekali bisa berkunjung ketempat ini, kali ini bilamana kau tidak tinggal selama beberapa hari di tempat ini, aku juga tidak akan melepaskan dirimu dengan demikian mudahnya.”

Sehabis berkata dia berhenti sejenak dan memandang seluruh tubuh Ti Then sekejap, tiba-tiba dengan merendahkan suaranya ujarnia lagi: Tetapi ada beberapa urusan yang terpaksa aku harus minta maaf darimu terlebih dahulu”

Ti Then menjadi tertegun dibuatnya, tanyanya cepat: “Ada urusan apa?”

”Ha…ha . . ha. sebelum aku jelaskan urusan ini terlebih dahulu

aku harap Lo-te jangan sampai memandang maksudku yang tulus hati ini sebagai suatu hinaan atau cemoohan terhadap Lo-te.”

“ Sebenarnya urusan apa?“ tanya Ti Then.

“Ha…ha . . kau harus menyanggupi dahulu kalau tidak akan menerima maksud baikku ini sebagai suatu hinaan atau cemoohan, kalau tidak maka “ he…he..maap saja aku tidak berani untuk meneruskan. ”

”Selamanya Shia-heng selalu suka blak-blakan, kenapa ini hari secara mendadak bisa berubah demikian seriusnya?”

“Urusan ini menyangkut perhubungan antara majikan rumah dengan tamu, mau tidak mau harus berbuat demikian. “

“Hee .. kalau begitu baiklah siauw-te menerimanya, cepat Shia- heng silahkan bicara. “

Dengan perlahan-lahan Shia Pek Tha membuka buntalan yang dibawa ditangannya, dari dalam buntalan itu diambilnya seperangkat baju yang sangat baru serta sepasang sepatu yang baru pula, kemudian diangsurkan ke depan Ti Then, ujarnya sambil tertawa.

“Hanya ini saja, barang ini merupakan sedikit penghormatan siauw-heng kepada diri Lo-te harap Lo-te tidak sampai salah paham terhadap maksudku ini?”

Secara tiba-tiba Ti Then menjadi sadar kembali, sambil tertawa terbahak bahak sahutnya: “Sungguh maaf, siauwte kini bertemu di dalam Benteng seharusnya tidak boleh memakai baju yang telah compang camping ini ?

“Ha.... ha . . perkataan bukannya demikian, sekali pun lo te memakai pakaian yang lebih dengkil serta compang-camping pun orang-orang dalam Benteng tidak akan ada yang berani memandang rendah terhadap diri Lo te, hanyalah siauw-heng merasa kalau Lo te seharusnya berdandan baru benar., ada pepatah yang mengatakan bahwa Budha memakai pakaian emas manusia memakai pakaian dari kain? sudah seharusnya Lo te harus yang lebih baik lagi”

Dalam hati Ti Then tahu akan maksud balk yang tulus dari kawan lamanya ini, segera dia membuka pakaiannya yang dengkil itu dan berganti dengan pakaian barunya kemudian barulah dia membereskan rambutnya, seperminum teh kemudian sambil tertawa ujarnya:

“He …he… sampai aku sendiri pun telah tidak kenal ?”

Sesudah bertukar dengan pakaian yang baru ditambah lagi dengan dandanannya yang rapi, di dalam sekejap saja dia telah ‘berubah'" jauh lebih mirip dengan Lu-kongcu lagi.

Ujar Shia Pek Tha sambil tertawa:

“Begini barulah wajahmu yang sesungguhnya, pada waktu yang lalu ketika siauwheng bertemu kau di kota Tiang An, saat itu kau pun gagah dan perlente seperti sekarang?"

Seorang pembantu segera mengangsurkan sebaskom air hangat kepadanya untuk cuci muka, setelah semuanya selesai barulah dengan mengikuti Shia Pek Tha berjalan keluar dari dalam kamar.

Ujar Shia Pek Tha: “Suhuku telah menunggu di dalam ruangan dalam menanti lo-te untuk dahar bersama,, cepat Lo-te ikuti diriku”

Ti Then segera menggerakkan langkahnya mengikuti di belakangnya sambil tanyanya:

“Bagaimana dengan Cang kong-cu itu?” “Sejak tadi sudah dihantar pulang !”

“Sejak perpisahan kita pada tahun yang lalu di kota Tiang An apakah Shia heng pernah melakukan perjalanan keluar Benteng?”.

“Tidak pernah” sahut Shia Pek Tha,”Suhu bilang sifat dari siauw- heng, amat berangasan dan kasar mudah sekali bentrok dengan orang lain maka sengaja tidak perbolehkan siauw-heng untuk mengadakan perjalanan di luaran.”

Dengan meminyam kesempatan inilah tanya Ti Then lagi “ Suhumu juga tidak suka keluar benteng?'"

“Benar, dia orang tua memang pada masa dekat ini jarang sekali melakukan perjalanan keluar Benteng”

“Setengah tahun baru-baru ini apa juga tidak pernah pergi?” “Ehm…"sahut Shia Pek Tha sesudah mengingat ingat sebentar. .

“Pernah satu kali pergi ke kuil Sang Cing Kong di atas Cing Jen mencari Cui Toojin bermain catur, baru pada beberapa hari yang lalu pulang ke dalam benteng, satu-satunya kegemaran dia orang tua pada waktu mendekat ini hanya bermain catur"

Ti Then yang mendengar keterangan itu dalam hatinia menjadi tergerak tanyanya lagi:

“Pada saat dia melakukan perjalanan diluaran apa Shia heng sekalian mengawani?”

Dalam pikiran Shia Pek Tha mengira kalau dia amat menaruh perhatian terhadap cara hidup sehari-hari dari suhunya sebab itulah seluruh pertanyaannya dijawab tanpa ragu-ragu, kini ditanyai dengan pertanyaan ini segera sahutnya “Tidak perlu, dia suka berpesiar seorang diri “

“Jarak dari sini ke Cing Jen kira-kira tiga ratus li jauhnya, ternyata suhumu hanya sengaja ke sana untuk bermain catur dengan Cui Toojin. Ha ha.. . ha , sungguh hebat sekali kegemarannya ini”

Shia Pek Tha pun tertawa, ujarnya:

“Ha..ha..ha… bagaimana pun juga dia orang tua memangnya tidak punya urusan sehingga tidak perlu mengejar waktu, ada kalanya begitu keluar pintu selama setengah tahun lamanya baru pulang, umpama saja kepergiannya kali ini untuk bermain catur catur dengan Cui Toojin saja sudah menghabiskan waktu empat, lima bulan lamanya..”

Ti Then yang mendengar perkataan ini dalam hatinya semakin mantap dugaannya kalau Wi Ci To adalah Majikan patung emas itu, tak terasa lagi pikirnya

“Bagus sekali, kelihatannya kau Wi Ci To ternyata adalah majikan” ku" hanya dikarenakan tidak ingin putrimu dijodohkan kepada Hong Mong Ling ternyata telah memeras otak untuk mengatur siasat semacam ini.

Setelah berpikir sejenak ujarnya lagi:

”Shia heng, agaknya hubungan putri suhumu dengan Mong Ling heng tidak jelek”

“Benar “ sahut Shia PekTha.

“Sejak semula mereka sudah mengikat tali perkawinan mungkin dua tiga bulan lagi mereka akan segera dikawinkan secara resmi.”

“Ooh.. kiranya demikian adanya tidak aneh kalau kemarin malam nona Wi kelihatan demikian tegangnya,”

“Ha ..ha . ha ha ha sumoayku itu memangnya sangat suka dengan Mong Ling sute, melihat dia bersama sama dengan Cang Bun Piauw sudah tentu menjadi tegang.” Kedua orang itu sambil berjalan berbicara tidak terasa lagi telah sampai di. dalam ruangan bagian dalam, terlihatlah di tengah ruangan besar itu telah diatur meja perjamuan sedang si pedang naga emas Wi Ci To beserta seorang kakek tua berbaju hijau telah menanti di sana, sinaga mega Hong Mong Ling berdiri di belakang kedua orang itu.

Begitu dia melihat wajah serta dandanan dari Ti Then yang sangat rajin dan perlente itu mendadak air mukanya berubah hebat, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan seluruh tubuh Ti Then sedang dalam hatinya pikirnya dengan gemas:

“Hmm..tidak. salah kiranya kau adanya. “

Kiranya satu kali pandang saja dia sudah dapat melihat kalau Ti Then yang berdiri di hadapannya saat ini tidak lain adalah Lu kongcu yang memukul rubuh sewaktu berada di dalam sarang pelacuran Touw Hoa Yuan.

Dengan langkah yang amat perlahan Ti Then berjalan masuk ke dalam ruangan, sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah kakek tua berbaju hijau itu, terlihatlah orang itu mem punyai wajah yang amat angker, sikapnya gagah sedang pada janggutnya terurai jenggot berwarna hitam yang amat panjang.

Ketika dia melihat dandanannya itu segera tahu kalau orang itu tentunya adalah sute dari si pedang naga emas Wi Ci To, Hien Liong Kiam atau si pedang naga perak Huang Puh Kiam Pek yang merupakan wakil majikan dari benteng Pek Kiam Po, dengan tidak berpikir lebih banyak lagi dia maju ke depan memberi hormat kepada Wi Ci To sambil ujarnya:

“Boanpwe Ti Then memberi hormat kepada Wi Pocu"

Dengan cepat Wi Ci To angkat tangannya mengulap, ujarnya sambil tersenjum:

“Tidak usah terlalu sungkan, tentunya kemarin malam Ti heng tidak bisa tidur njenyak.??” “Aah mana, mana tidak perlu Pocu tarlalu kuatir, boannwe dapat tidur dengan sangat njenyak"

Wi Ci To segera menuding kearah kakek tua berbaju hijau yang duduk di sampingnya ujarnya:

“Ini adalah sute dari lohu, Huang Puh Kiam Pek”

Ti Then segera memutar tubuhnya dan merangkap tangannya memberi hormat ke pada sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek itu, sambil tersenjum ujarnya.

“Boanpwe Ti Then, memberi hormat kepada Huang Puh cianpwe.


“Ha...h a . “sahut sipedang naga perak itu sambil .tertawa, “Ti-

heng masih muda belia ternyata bisa memiliki kepandaian silat serta ilmu surat yang demikian tingginya, sungguh merupakan jago yang dapat dipandang sebagai pembawa kebahagiaan dalam Bu-lim, “

“Aah . . cianpwe terlalu memuji, boannwe tidak berani menerima."

“Ti heng.” terdengar suara panggilan dari Wi Ci To. “ silahkan duduk, mari kita mulai bersantap. “

Dengan tidak sungkan-sungkan lagi Ti Then segera duduk di samping Wi Ci To.

Sesudah itu kepada Hong Mong Ling serta Shia Pek Tha ujarnya pula:

“Kalian berdua pun duduklah menemani tamu.”

Shia Pek Tha serta Hong Mong Ling segera menyahut secara berbareng, demikianlah tua muda lima orang bersama-sama mulai bersantap sambil bercerita panjang lebar.

Apa yang menjadi bahan pernbicaraan mereka tidak lebih merupakan bahaja-bahaja yang mengancam keutuhan dari dunia persilatan. Sesudah seiesai bersantap, terdengar Wi Ci To buka mulut tanyanya:

“Kali ini Ti Then rnengunjungi kota Go-bi entah punya tujuan apa?”

“ Ooh..tidak ada yang penting pada bulan yang lalu boanwe punya urusan untuk menuju ke telaga Tian Ci, kali ini dalam perjalanan pulang sebenarnia ingin mengunjungi teman-teman untuk bermain.

“Ti-heng apa sudah berd janjj untuk bertemu dengan kawan- kawan?”

“Tidak”- sahut Ti Then. “Temanku itu adalah seorang terpelajar. Waktu yang lalu kami berkenalan dikota Tiang An selama itu selalu dia mengajak boan pwe untuk bermain kerumahnya. Padahal tempat itu sudah sering boanpwe kunjungi sehingga kini pergi atau tidak pergi tidak mengapa.

“Kalau memang demikian adanya” ujar Wi Ci To dengan girang. “Ti-heng kali ini harus berdiam selama beberapa hari di dalam Bentengku yang buruk ini”

“Ha..ha..bisa mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dengan para cianpwe sekalian sudah tentu boan-pwe tidak berani menampiknya, hanya saja..”

Wi Ci To mengulap tangarnya memotong pembicaraan selanjutnya,

"Ti-heng tidak perlu demikian sungkannya, sekali pun lohu tidak tahu asal usul suhumu tetapi lohu tahu kalau kau merupakan seorang pemuda yang berhati tulus, selama hidupku ini lohu paling suka berkenalan dengan seorang pemuda seperti Ti-heng ini, bilamana kau tidak rnenampiknya silahkan berdiam di sini beberapa lama”

Diam-Diam dalam hati Ti Then merasa amat geli pikirnia “Hm..kau menginginkan aku untuk memperistri putrimu sudah tentu dengan sangat gernbira dan tangan terbuka menyambut kedatanganku ini “tetapi pada mulutnya, sahutnya dengan lembut

"Terima kasih atas perhatian dan kecintaan dari Pocu terhadap diri boanpwe?”

Si pedang naga perak Huang Puh Kiam Pek yang selama ini berdiam diri tiba-tiba menambahkan:

“Dengan rnemberanikan diri lohu ingin bertanya apakah suhu dan Ti heng masih sehat-sehat saja?”

“Boanpwe sudah ada tiga empat tahun lamanya tidak bertemu dengan dia orang tua, entah bagaimana keadaan dari dia orang tua mendekat ini..”

Sipedang naga Perak, Huang Puh Kiam Pek tersenjum, ujarnya lagi:

“Ti-heng dengan mengandalkan ilmu pedang menjagoi seluruh dunia kang-ouw melihat muridnya sudah cukup untuk menunjukkan gurunya sudah tentu ilmu pedang dari suhumu telah mencapai pada taraf kesempurnaan yang amat tinggi”

“Tidak berani” sahut Ti Then tetapmerendah. --Bagaimana kehebatan dari kepandaian silat suhuku, boanpwe sukar untuk mengukurnya tetapi keberhasilan dari boanpwe tidak setinggi apa yang cianpwe pikirkan, kalau sembarangan saja masih boleh jadi tetapi bilamana harus dibandingkan dengan seorang jago pedang kenamaan, ha..ha…ha .maaf kalau boanpwe tidak berani meneriman ja”

“ Ha..ha . , ha…” ujar si pedang naga perak, Huang Puh Kiam Pek, “Ti-heng ternyata sangat pandai untuk merendah diri, teringat akan Tiong Lam Siauw Toojin itu juga merupakan seorang jago pedang kenamaan yang sukar dicari tandingannya di dalam Bu-lim tetapi ternyata bisa bergebrak seimbang dengan diri Ti-heng, hanya cukup dari hal tadi saja sudah cukup untuk membuktikan kalau kepandaian silat Ti-heng telah mencapai pada taraf kesempurnaan” “ Ha - ha “ mana, mana, itu hanya secara kebetulan saja tidak bisa terhitung sebagai kepandaian yang sebenaraja.”

“Lohu punya semacam permintaan yang kurang pantas entah Ti- heng mau menerimanya atau tidak”

“Silahkan cianpwe memberi petunjuk” sahut Ti Then cepat.” asalkan boanpwe bisa melakukannya tentu akan melaksanakannya dengan tidak membantah”

“Anggota benteng kami dari atas sampai ke bawah semuanya mengandalkan kepandaian ilmu pedang, oleh karena itu begitu mendengar ada orang yang pandai di dalam permainan ilmu pedang tidak dapat dihindarkan lagi timbul perasaan girangnya, asalkan Ti- heng tidak menyalahkan, ketidak sopanan dari lohu ini maka lo-hu ingin menjuruh seseorang mencoba-coba dengan kepandaian Ti- heng sudah tentu hanya cukup dengan tutulan dianggap selesai. Bagaimana ? ?

“Baik sih baik, hanya takutnya sampai menjadi tidak enak saja.” “Ha…ha.. . siapa menang siapa kalah tidak boleh dimasukkan ke

dalam hati dan tidak dapat disiarkan keluar, bilamana sudah

disebutkan terlebih dahulu sudah tentu tidak sampai merasa enak dengan lainnya bukan?

“Kalau memang demikan adanya, boan-pwe menurut perintah saja.

“ Sipedang naga perak, Huang Puh Kiam Pek segera menoleh kearah Hong Mong Ling sambil ujarnya:

“Mong Ling, cepat panggil seorang pendekar pedang putih datang”

Dia tidak mengundang seorang pendekar pedang merah untuk bertanding denganTi Then sudah tentu hal ini memperlihatkan kalau dia tidak memandang terlalu tinggi kepandaian silat dari Ti Then ini. Agaknya Wi Ci To merasa tidak tenang di dalam hatinya, tetapi dia pun hanya melirik sekejap saja kearah Huang Puh Kiam Pek sedang mulutnya tetap ditutup rapat-rapat.

Hong Mong Ling begitu mendengar susioknya tidak mengirim dirinya untuk bertanding melawan Ti Then di dalam hatinya sedikit merasa kecewa, tetapi sesudah berpikir sejenak dia pun merasa bilamana harus rnengirirn seorang pendekar pedang putih untuk bertanding dengan Ti Then terdahulu jauh lebih baik sehingga dia pun bisa melihat kehebatan dari kepandaiaa silat Ti Then segera dengan sangat hormatnya menyahut dan berlalu dari meja perjamuan.

Ujar Wi T'i To mendadak,

“Pendekar pedang putih dari benteng kami ini sudah tentu bukan tandingan dari Ti- heng, harap nanti bilamana terjadi pertandingan jangan turun tangan lebih ganas"

”Mana. .mana” sahut Ti Then dengan cepat, “padahal kepandaian dari boan-pwe sangat terbatas, kemungkinan sekali masih belum sanggup untuk mengalahkan seorang pendekar pedang hitam dari benteng Pek Kiam Po ini"

“Ha…ha..wajah Ti-heng bersinar tajam. Semangatnya pun sangat mantap. luar tidak sama dengan dalamnya, bilamana lo-hu tidak melihat salah, mungkin diantara pendekar pedang merah dari Benteng Pek Kiam Po ini pun tak ada yang sanggup untuk menerima serangan dari Ti Then.”

“Mungkin Wi Pocu telah salah melihat, pendekar pedang merah dari Benteng Pocu merupakan jago-jago pedang gemblengan mana mungkin boanpwe bisa berhasil menandingi mereka”

Pada saat mereka berbicara saling merendah itulah terdengar suara merdu:

“Selamat pagi”

Air mukanya bening sebening embun pagi. Begitu cantik dan segar.Wi Lian In yang cantik jelita. “Ha..ha..ha..Inyie, cepat datang memberi hormat kepada Ti Siauwhiap, kemarin malam orang lain sudah berhasil menolong Mong Ling kembali kau masih belum juga mengucapkan terima kasih kepada orang”

Saat itulah dengan. resmi Wi Lian In memberi hormat kepada Ti Then samblt ujarnya:

“Ti Siauw-hiap kau baik-baik saja.”

Dengan cepat Ti Then bangkit membalas hormat sahutnya: “Terima kasih atas perhatian nona Wi “

Dengan perlahan sinar mata Wi Lian In berputar kesekeliling ruangan ketika dilihatnya Hong Mong Ling tidak berada di sana dengan perasaan heran bertanya “Tia, dia belum bangun ??.”

“Sudah sudah bangun, hanya saja Huang Puh susiok barn saja memerintahkan dia untuk mengundang seorang pendekar pedang putih datang kemari .”

“ Wi Lian In menjadi tertegun, tanyanya:

“Buat apa memanggil seorang pendekar pedang putih datang ?? “Untuk meminta pengajaran ilmu pedang denganTi siauw hiap”

Perasaan ingin tahu dan tertarik dalam dalam hati Wi Lian In segera timbul, sambil bersorak kegirangan ujarnya : “Bagus sekali sudah lama aku tidak melihat orang bertanding kapan kau mulai ??”

”Menanti sesudah Hong Mon g Ling membawa seorang pendekar pedang putih maka kita boleh mulai “

Perkataanya baru selesai tampak Hong Mong Ling dengan membawa seorang pemuda dari Pendekar pedang putih berjalan memasuki ruangan.

Pendekar pedang putih itu sudah memberi hormat kepada Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek, lalu dia memberi hormat juga kepada Ti Then sambil ujarnya: “Siauw-te Hong Ling An menghunjuk hormat kepada Ti-heng”

Nada ucapannya sekali pun sangat halus dan sopan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang amat buas.

Sekali pandang saja Ti Then sudah tahu kalau pihak lawannya telah mendapatkan banyak petunjuk dari Hong Mong Ling tetapi dia tidak mau pikirkan di dalam hatinya sambil merangkap tangannya membalas hormat sahutnya:

“Selamat bertemu.”

Air muka Wi Ci To terlihat secara mendadak berubah menjadi amat keren dengan sangat serius sekali ujarnya.

“ Ling An, di dalam pendekar pedang putih kau merupakan seorang yang mem punyai sipat paling keras dan paling berangasan, kemungkinan sekali dapat naik menjadi pendekar pedang merah, sekarang aku beri satu kali kesermpatan bagimu untuk bertanding melawan Ti siauw-hiap. Tetapi kemungkinan sekali kau bukan lawannya seumpama sampai bisa menang aku melarang kau untuk menyiarkan berita ini keluar.

“Baik” sahut Hong Ling An sambil bungkukkan dirinya.

"Bilamana kau berani melanggar peritah ini segera dikeluarkan dari perguruan”

Air muka Hong Ling An segera berubah sekali lagi dia membungkukan dirinya sambil sahutnya:

“Baik”

Selesai berbicara tidak menanti lainnya lagi segera Wi Ci To bangkit berdiri ujarnya:

“Baik, sekarang kita semua menuju ke halaman beiakang!”

Wi Lian In yang berdiri di samping menjadi tertegun, tanyanya dengan penuh keheranan:

“Kenapa tidak pergi bertanding dilapangan latihan silat?” “Tidak perlu” sabut Wi Ci To dengan keren, “cepat kehalaman belakang"

Tidak perlu dia menjelaskan sebab-sebab kenapa tidak diadakan dilapangan latihan silat tetapi semua orang asal berpikir sebentar saja sudah tahu artinya, sudah tentu dikarenakan dia hendak melindungi kekalahan yang akan dialami oleh satu pihak maka ingin mengadakan pertandingan ini di hadapan umurn.

Sebaliknya di dalam pandangan Ti Then dia mengira bahwa tentunya dia bertujuan hendak menjelamatkan perasaan malu dari Hong Ling An barulah berbuat dernikian dalam hatinya diam-diam merasa amat geli, pikirnya

“Hm…kau ingin aku tinggal di sini tetapi juga tidak tahu kalau muridmu dipukul hingga kalah oleh diriku, pikiranmu sungguh tajam sekali?”

Segera dengan dipimpin oleh Wi Ci To berjalanlah mereka keluar dari ruangan menuju ke halaman belakang.

Di dalam sekejap saja sampailah rombongan orang-orang itu di halaman belakang, halaman itu tidak begitu luas hanya kurang lebih lima kaki saja besarnya, di atas tanah berlapiskan batu-batu jubin yang besar sehingga sangat cocok sekali untuk bertanding kepandaian silat.

Sesudah Wi Ci To berdiri tegak ditengah halaman, matanya dengan perlahan melirik sekejap ke pinggang Ti Then, terlihatlah dia sama sekali tidak membawa senyata maka tak terasa lagi sambil tertawa ujarnya:

“Ooh.kiranya Ti-heng tidak membawa pedang.?”

“Sebenarnya boanpwe mem punyai sebilah pedang hanya.dikarenakan di tengah jalan kehabisan perbekalan sehingga terpakasa harus menjualnya?”

“Heeei?” sahut Wi Ci To sambil menghela napas ternyata Ti-heng lebih rela menjual pedang sendiri daripada melakukan pekerjaan yang tidak senonoh, sungguh membuat orang amat kagum!” Dengan perlahan dia menoleh kearah Hong Mong Ling sambil ujarnya:

“Mong Ling, cepat lepaskan pedangmu dan pinyamkan kepada Ti-heng!”

“Baik!” sahut Hong Mong Ling sambil melepaskan pedangnya kemudian dengan menggunakan sepasang tengannya diangsurkan pedang itu ke hadapan Ti Then.

Ti Then segera menyambut dan dipandangnya sekejap, pujinya. “Ha . ha sungguh sebilah pedang bagus ?

“Ha ha..bagaimana ? Cocok?.” tanya sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek sambil tertawa.

”Bagus . . bagus sekali !” “Kalau begitu mulailah ?”

Pendekar pedang putih Hong Ling An segera memberi hormat kepada Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek kemudian mencabut keluar pedang panjangnya dan berjalan menuju ketengah halaman, sambil merangkap pedangnya di depan dada ujarnya:

“Ti-heng silahkan memberi petunjuk

“Tidak berani? sahut Ti Then sambil membalas hormat. “harap Hong-heng mau memberikan pelajaran dengan tidak terlalu ganas.”

Sehabis berbicara dia pun berjalan menuju kearah Selatan dan berdiri tegak tidak bergerak.

Hong Ling An melihat dia sudah bersiap-siap, dengan kuda- kudanya diperkuat seluruh perhatiannya dipusatkan ke depan kemudian berturut maju tiga langkah ke depan.

Seluruh perhatiannya dipusatkan ke depan ujung pedangnya bergetar tak henti-hentinya sedang hawa murninya dipusatkan di pusar, sungguh tidak dapat dipandang rendah sikapnya ini. Ti Then   pun dengan cepat maju tiga langkah ke depan, tetapi dia tidak menggunakan gerakan jurus serangan apa pun pedang panjang ditangannya pun masih tetap menunjuk ke bawah, hal ini membuktikan kalau sama sekali dia tidak mau ambil peduli dengan sikap pihak musuh.

Wi Ci To yang melihat hal itu diam-diam. menganggukkan kepalanya agaknya dalam hatinya merasa amat kagum terhadap kemantapan dari Ti Then yang seperti sebuah gunung Thay san itu.

Tetapi sikap serta bentuk dari TI Then yang demikian tenangnya ini di dalam pandangan Hong Ling An membua hawa amarahnya memuncak, dia menganggap kalau Ti Then terlalu sombong sehingga dalam hatinya seger timbul pikiran untuk memberi pelajaran kepada Ti

Then ini di dalam keadaan apa pun juga.

Sinar matanya dengan tajam memandang tubuh Ti Then, langkah kakinya dengan perlahan mulai digeserkan ke depan agaknya. dia sedang menanti suatu kesempatan untuk mengadakan penjerangan dengan amat dahsyat. Siapa tahu sekali pun dia telah bergeser setindak demi setindak tetapi tetap juga tidak berhasil melancarkan satu jurus serangan pun.

Karena dia sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk melancarkan serangannya, sesudah Ti Then maju tiga langkah ke depan selama ini dia selalu tidak bergerak. Tetapi. sekali pun tidak bergerak seluruh tubuhnya terjaga begitu rapatnya sehingga tidak ada lubang kelemahan sedikit pun bisa digunakan untuk menjerang. Bukan saja Hong Ling An yang merasakan kalau tubuh Ti Then terjaga amat rapat sekali sekali pun Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek yang berdiri di samping pun merasakan kalau tubuh Ti Tnen itu amat sukar untuk diserang, oleh karena itulah tidak terasa lagi air mukanya berubah semakin tegang.

Dugaan dari Wi Ci To terhadap diri Ti Then jauh lebih tinggi dari dugaan Huang Puh Kiam Pek, tetapi agaknya dia pun sama sekali tidak pernah menyangka kalau Ti Then ternyata dapat demikian menakutkan. Suasana ditengah kalangan sunyi senyap tak kedengaran suara, mungkin jatuhnya sebuah jarum pun saat itu dapat di dengar dengan nyata.

Berturut-Berturut Hong Ling An mengubah dengan beberapa macam jurus serangan, agaknya ingin memancing Ti Then untuk menggeserkan tubuhnya tetapi selama ini Ti Then terus menerus bagaikan sebuah patung Buddha tetap tidak bergerak sedikit pun juga sedang pada wajahnya tersungging suatu senjuman yang amat manis.

Kedua belah pihak sama-sama mempertahankan diri kira-kira seperempat jalan lamanya tetapi masing-masing tetap tidak ada yang turun tangan terlebih dahulu, terlihatlah wajah Hong Ling An telah mulai basah kujup oleh butiran-butiran keringat yang mengucur keluar dengan sangat deras.

Agaknya dia sudah kelihatan sangat lelah sekali napasnya mulai terengah-engah sedang air mukanya berubah menjadi merah padam.

Dalam hatinya dia merasa amat gemas sekali ingin sekali dengan satu kali serangan mengalahkan diri Ti Then. Makin lama dia mulai kehilangan ketenangannya sedang hatinya pun mulai menjadi kacau dan bimbang.

Wi Ci To begitu melihat keaadan segera tahu kalau dia bukanlah lawan dari Ti Then, sambil menghela napas ajarnya:

“Sudahlah Ling An kau sudah dikalahkan !”

Wajah Hong Ling An segera berubah menjadi merah padam, dia tidak berani lagi untuk melanjutkan pertempuran itu dengan cepat mengundurkan dirinya ke belakang , tangannya dirangkap memberi hormat sambil ujarnya : “kepandaian dari Ti heng amat lihay, siauwte sungguh amat kagum sekali dan terimakasih atas welas kasih dari Ti heng tadi.”

Dalam hatinya dia pun paham bilamana Ti Then punya maksud untuk turun tangan saat ini kemungkinan sekali dirinya sudah dikalahkan oleh karena itu mau tak mau dia pun harus mengucapkan kata-kata ini.

Ti Then segera merangkap pedagnya memberi hormat, sahutnya, “Tidak berani Hong heng terlalu sungkan “

“Heeei…” ujar Wi Ci To sambil menghela napas panjang, “dengan berdiam diri berhasil mengundurkan musuh, ini hari hitung-hitung Lohu telah terbuka mata.

Huang Puh Kiam Pek pun ikut memuji ujarnya: “ Sungguh hebat, sungguh hebat tidak kusangka sama sekali kalau Ti heng dengan usia yang demikian mudanya ternyata telah dapat melatih diri hingga mencapai taraf yang demikian sempurnanya

Sebaliknya dalam hati Hong Mong Ling diam-diam merasa tidak puas ujarnya : “ Suhu biarlah muridmu minta petunjuk beberapa jurus dari Ti heng bagaimana ??

“Heeei ..kau pun bukan lawan dari Ti-heng “

“Tentang hal ini murid mu sudah tahu” sahut Hong Mong Ling, “Tetapi biar pun bagaimana Ti-heng merupakan tamu terhormat dari benteng kita, demikian baiknya kesempatan bilamana tidak minta beberapa petunjuk bukankah sangat sajang sekali?

“Baiklah” sahut Wi Ci To sambil mengangguk, “Kalau memangnya niat untuk minta petunjuk sekarang juga boleh mulai”

Hong Mong Ling menjadi amat girang segera dia minta pedang panjang ditangan Hong Ling An dan turun ketengah kalangan,kepada Ti Then sambil bungkukkan diri memberi hormat ujarnya:.

“Thi-heng silahkan memberi petunjuk”

“Tidak berani “ sahut Ti Then :sambl membalas hormatnya “Pedang ditangan siauwte ini merupakan benda dari Hong-heng, lebih baik Hong heng mernakai ini saja," sambil berkata segera dia melemparkan pedang itu kearahnya. “Tidak perlu” seru Hong Mong Ling dengan keras, “Biar siauwte menggunakan yang ini saja”“

Sambil berkata dia menggerakkan pedangnya mengembalikan pedang tersebut kearah Ti Then, kemudian disusul dengan satu serangan dahsyat.

Wi Ci To yang melihat Hong Mong Ling ternyata menggunakan kesempatan mengembalikan pedang itu telah melancarkan serangan dahsyat dalam hatinya merasa tidak puas, baru saja, dia bendak membentak tetapi siapa tahu saat itu juga dia dibuat menjadi tertegun:

Kiranya di dalam sekejap mata itu juga Ti Then ternyata telah berhasil meloloskan diri dari bahaja.

Kiranya ketika Hong Mong Ling melancarkan serangan dahsyatnya itu bukannya Ti Then mengundurkan diri untuk menghindarkan diri sebaliknya malah maju ke depan entah dengan menggunakan kepandaian apa tahu-tahu dia sudah berkelebat berdiri di belakang tubuh Hong Mong Ling, sedang tangannya menyambar menyambut pedang yang dilemparkan kearahnya tadi.

Sebaliknia begitu Hong Mong Ling melihat di hadapannya telah kehilangan bajangan tubuh dari Ti Then segera dengan cepat dia memutar tubuhnya, lutut sebelah kirinya setengah berlutut di tanah sedang tubuh bagian atasnya berputar dengan cepat, pedangnya dengan membawa sambaran angin yang amat tajam menyapu mendatang.

Kegesitari dari geraknya sungguh membuat setiap orang merasa amat kagum.

Ti Then sudah menduga kalau dia tentu bisa melancarkan serangan ini oleh karena itu begitu dia menyambut pedangnya dengan cepat ditekan ke bawah. “Criing.” dengan tepat sekali dia berhasil menahan sambaran pedangnya.

Hong Mong Ling yang melihat sambarannya tidak mencapai pada hasil segera pedangnya berubah kembali, dengan kecepatan yang luar biasa pedangnya berputar sehingga terlihatlah sinar pedang yang menyilaukan mata memenuhi seluruh angkasa.

“Sret “ sret…berturut-berturut dia melancarkan tujuh kali serangan hebat keseluruh tubuh Ti Then sedang tempat yang diancam pun merupakan jalan darah yang terpenting.

Tujuh kali serangannya sekali pun ada perbedaan waktunya tetapi, di dalam sekejap saja sudah selesai dilancarkan, kecepatannya sungguh luar biasa.

Tetapi Ti Then sama sekali tidak geserkan kakinya setindak pun, pedangnya tetap disambar mematahkan setiap serangannya, ternyata dengan amat mudah dia berhasil memunahkan ketujuh buah serangan dahsyat yang dilancarkan Hong Mong Ling itu.

Ketika sampai pada jurus yang terakhir mendadak terdengar:”Criing… “yang amat nyaring sekali, tubuh Hong Mong Ling bagaikan terpukul oleh suatu tenaga “yang amat besar sekali, tidak am pun lagi tubuhnia dengan terhujung-terhujung mundur beberapa langkah ke belakang.

“Cukup!” terdengar suara bentakan dari Wi Ci To menghentikan pertandingan itu.

Wajah Hong Mong Ling segera berubah menjadi merah padam, sambil melemparkan pedangnya kearah Hong Ling An, dia merangkap tangannya memberi hormat, ujarnya

“Kepandaian Ti-heng sungguh amat hebat sekali, siauwte tak sanggup untuk menahan lebih lama lagi”

“Ha..ha : mana mana, Hong heng terlalu mernuji”

Dia tahu bahwa ketujuh buah serangan pedang yang baru saja dilancarkan oleh Hong Mong Ling itu tentunya merupakan ketujuh buah jurus andalan dari Wi Ci To, semakin dia tahu kalau pihak sana mengandung maksud untuk membereskan nyawanya tetapi dalam hal ini sama sekali dia tidak mengambil perduli, Air muka Wi Ci To berubah semakin jelek lagi, dengan amat gusarnya dia melotot sekejap kearah Hong Mong Ling, kepada Ti Then dengan tertawa yang di paksa ujarnya

“Ilmu pedang yang Ti heng miliki ternyata demikian tingginya sehingga jauh berada diluar dugaan lohu, sungguh tidak malu disebut sebagai jago berkepandaian tinggi dari dunia kangouw”

“Mana.. mana” ujar Ti Then dengan merendah “Bilamana tadi Hong heng menjerang dengan sekuat tenaga kemungkinan sekali boanpwe tidak akan bisa menahan serangan tersebut "

Sehabis berbicara dengan sangat hormat sekali dia menjerahkan pedang ditangannya kepada Hong Mong Ling.

Terdengar Wi Ci To tertawa terbahak bahak, tanyanya “Apakah Ti-heng pernah berpesiar ke atas gunung Go-bi ini?”

“Belum pernah” sahut Ti Then. “Hanya aku dengar di atas gunung Go bi ada puncak Ban hud Ting, Kim Teng serta Jian Pay Teng sebagai tiga tempat yang terindah di atas gunung ini, pada waktu yang lalu boanpwe memang punya niat untuk berpesiar ke sana. “

Dengan perlahan Wi Ci To menoleh memandang kearah Shia Pek Tha, ujarnya

-Pek Tha, kau temanilah Ti-heng berpesiar ke atas gunung, nanti siang cepat pulang untuk makan siang. “

Shia Pek Tha segera membungkukkan diri menyahut, kepada Ti Then sambil tertawa ujarnya.

“ Entah Lo-te ini hari punya minat untuk berpesiar tidak ?” ”Sudah tentu.”sahu Ti Then sambil tersenjum.

Kedua orang itu sesudah berpamit kepada Wi Ci To serta Huang Puh Kiam Pek dua orang segera meninggalkan halaman belakang untuk berpesiar keluar Benteng. Wi Ci To sesudah melihat bajangan tubuh Ti Then lenyap dari pandangan mendadak air mukanya berubah menjadi amat keren, sinar matanya dengan sangat tajam memandang kearah Hong Mong Ling sambil ujarnya dengan berat.

“Mong Ling, kau tahu tidak untuk menjadi seorang pendekar pedang harus memperhatikan hal apa?-.

“Silahkan.suhu memberi petunjuk.” sahut Hong Mong Ling sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.

“He .- . he..” ujar Wi Ci To sambil tertawa dingin. “Bilamana kau sudah lupa maka aku akan memberitahu padamu sekali lagi, seorang yang berlatih ilmu silat yang terpenting adalah jujur, berbudi dan ramah, jangan sekali-sekali merasa sombong bila mendapatkan kemenangan: dan jangan iri atau mendendam bilamana dikalahkan oleh orang lain. “

“Benar suhu” sahut Hong Mang Ling dengan wajah yang penuh bernadakan kekecewaan.

“Hmm… tadi betul-betul kau sedang mengadu jiwa, kelihatannya kau benar-benar benci kepadanya sehingga ingin sekali membunuh dirinya dalam satu kali tusukan karena apa?”

“Muridmu tahu kesalahan, karena muridmu tahu kalau ilmu pedangnya amat tinggi dan hebat maka perasaan ingin menrang segera timbul di dalam hatiku, di samping itu . . .aku ingin .. aku ingin mencoba-mencoba .. “

“Mencoba apa?” bentak Wi Ci To dengan keras.

“Muridmu curiga kalau dia kemungkinan sekali adalah orang berkerudung yang kemarin malam mencegat muridmu ditengah jalan!”

Hati Wi Ci To menjadi tergerak, sambil memandang tajarn kearahnya ujarnya

“Bukankah kemarin kau bilang orang berkerudung itu berusia kurang lebih lima puluh tahunan?”

"Hal ini adalah dugaan dari muridmu berdasarkan suara ucapannya, tetapi mungkin juga suaranya disengajakan begitu” Sinar mata Wi Ci To berkedipit tanyanya lagi

“Dia mem punyai alasan apa menyamar sebagai orang berkerudung memukul rubuh kau kemudian menolong kau kembali?,”

“Tujuannya kemungkinan sekali meminyam kesempatan ini memasuki benteng dengan kedudukan dan pandangan sebagai seorang tamu terhormat, seudah itu secara diam-diam melakukan sesuata pekerjaan yang mendatangkan bencana bagi benteng kita"

-Hm .”Dengus Wi Ci To, ““tetapi benteng kami sama sekali tidak punya ganyalan apa-apa dengan dirinya dia mem punyai alasan apa untuk berbuat sesuatu yang jelek bagi benteng kita?”

“Penyahat di dalam menyalankan perampokannya juga tidak menggunakan alasan yang kuat “

“Tetapi sipendekar baju hitam Ti Then itu bukan merupakan orang dari kalangan Hek-to

”Tidak,” potong sipedang naga perak Huang Puh Kiam Pek. “selama beberapa sekali pun sipendekar baju hitam Ti Then itu bertindak sebagai seorang pendekar budiman tetapi hati manusia ditutup dengan kulit yang tebal siapa pun tidak bisa mengetahui dia seorang yang balk atau seorang yang buruk “

Dengan perlahan Wi Ci To mengalihkan pandangannya kearahnya ujarnya:

Siauw-heng masih tidak dapat terpikir juga dengan menggunakan alasan apa dia memasuki benteng kita untuk melakukan pengacauan :”

“Hmm : dengus Huang Puh Kiam Pek dengan dinginnya, “dia tidak mau menyebutkan asal usul serta nama suhunya, mungkin sekali suhunya adalah sipendekar pedang tangan kiri, Cian Pit Yuan

Wi Ci To mengerutkan alisnya rapa-rapa, ujarnya

.”Tetapi Ti Then sama sekali tidak menggunakan tangan kirinya untuk bergebrak”, “He..he..urusan sudah lewat dua puluh tahun lamanya, kemungkinan sekali Cian Pit Yuan sudah menciptakan ilmu baru yang tidak perlu menggunakan tangan kiri lagi

Tak terasa lagi sambil menggendong sepasang tangannya Wi Ci To berjalan bolak balik_ di dalam ruangan itu, setelah berpikir sejenak ujarnya.

“ Ehm . . Cian Pit Yuan jadi orang tidak terlalu jahat hanya saja sifatnya terlalu berangasan apabila dia hendak membalas dendam atas terpapasnya telinga sebelah kanannya kenapa tidak datang berkunjung sendiri ??”

“ Suhu” seru Hong Mong Ling."Bagaimana pun juga cara berpikir dari seorang pengecut tidak dapat ditangkap oleh pikiran orang budiman, kemungkinan sekali Cian Pit Yuan sama sekali sudah tidak punya maksud untuk mengadakan pertandingan secara blak blakan dengan suhu.”

Wit Ci To menghela napas panjang ujarnya

Bilamana sipendekar baju hitam itu benar benar merupakan murid Cian Pit Yuan, dengan kelihayan dari Ti Then saat ini kemungkinan sekali aku sudah bukan merupakan tandingannya, dia masih punya pegangan yang amat kuat untuk menantang pertempuran secara terang terangan.”

Menurut dugaan dari tecu” ujar Hong Mong Ling. “ mungkin dikarenakan Cian Pit Yuan belum mengetahui kepandaian yang diciptakan itu apa bisa memukul rubuh suhu oleh sebab itulah mengirim Ti Then terlebih dahulu untuk menjelidiki keadaan sesungguhnya"

Wi Ci To mengangguk dengan perlahan sekali lagi dia berjalan bolak balik mengitari ruangan itu, ujarnya kemudian: Apa yang kau duga mernang sangat beralasan sekali tetapi bagaimana pun juga hal ini hanya dugaan belaka, kita tidak dapat menyalahi orang lain sebelum mendapatkan bukti yang nyata . . “ “Tetapi..suhu, mungkin bilamana, kita berhasil mendapatkan bukti kalau dia adalah murid dari Cian Pit Yuan, saat itu sudah terlalu terlambat”

Tiba-tiba Wi Ci To menghentikan langkahnya, dengan pandangan yang amat tajam tanyanya: ”Menurut kau kita harus berbuat bagaimana untuk menghadapinya?”

“Siapa yang turun terlebih dahulu dialah yang kuat, buat apa kita meninggalkan bencana dikemudian hari.”

---ooo0dw0ooo---

”Omong kosong” bentak Wi Ci To dengan amat gusarnya.

Tubuh Hong Mong Ling segera tergetar dengan kerasnya, sambil menundukkan kepalanya sahutnya.

“Bagaimana pun juga seharusnya di dalam pikiran tecu tidak boleh mem punyai pikiran seperti ini, tetapi untuk keutuhan di kemudian hari bila kita tidak berbuat demikian..”

“Tidak usah ngomong lagi” potong Wi Ci To dengan amat gusar. “Sebelum kita berhasil mendapatkan bukti penjelewengan dari dirinya, aku melarang kalian untuk bertindak secara gegabah.

“Baik” sahut Hong Mong Ling dengan sangat hormat. Kemudian kepada Huang Puh Kiam Pek ujarnya pula.

”Sute, kau mengutus dua orang pendekar pedang merah untuk siang malam mengawasi segala gerak gerik dari Ti Then bilamana terlihat sesuatu yang mencurigakan harus segera lapor tetapi seluruh gerak gerik kita jangan sampai diketahui olehnya.

“Baik.”

“Hmm..ooh masih ada lagi, kirim dua orang lainnya siang malam jaga itu loteng penyimpan kitab”

---ooo0dw0o000--- Pada siang hari itu pula terlihatlah Ti Then bersama dengan Shia Pek Tha dengan langkah yang perlahan berjalan kembali ke dalam Benteng. Dengan resmi segera Wi Ci To mengadakan jamuan menyambut kedatangan Ti Then, orang-orang yang menemani Ti Then saat itu masih tetap Huang Puh Kiam Pek, Shia Pek Tha, Hong Mong Ling serta Wi Lian In, di dalam jamuan itu pembicaraan mereka tidak lebih berkisar pada persoalan ilmu pedang dari berbagai partai di dalam dunia persitatan, juga tiba-tiba bahan pembicaraannya telah berputar tentang diri Ti Then. Sambil tertawa ujar Huang Pub Kiam Pek:

“Ti-heng lohu punya sesuatu pertanyaan yang merasa tidak enak untuk ditanyakan, harap kau jangan sempai tersinggung .

"Tidak mengapa.. tidak mengapa, silahkan cianpwe untuk bertanya””

Sambil menuding kearah Shia Pek Tha„ ujarnya:

“Tahun yang lalu, ketika Ti-heng membantu Pek Tha memukul mundur Hoa San Ji koay, pada saat Pek Tha pulang ke dalam Benteng pernah menceritakan hal itu dengan amat teliti sekali, saat itu Pek Tha bilang katakan ilmu pedang dari Ti-heng berada diantara pendekar pedang putih serta pendekar pedang merah dari Benteng kami, dengan bukti dari hari ini terbukti kalau penglihatan dari Pek Tha sama sekali salah besar tetapi sekali pun telah melihat juga seharusnya tidak terlalu jauh perbedaannya, sesudah peristiwa dikota Tiang An ini apa mungkin Ti-heng telah menemui sesuatu peristiwa yang aneh?”

“Tidak ada” sahut Ti Then cepat. “ di dalam satu tahun ini boanpwe memang merasa kepandaianku telah mengalami kemajuan yang amat pesat hal ini kemungkinan sekali dikarenakan pengalaman yang terlalu banyak yang boanpwe alami, hal ini tidak bisa disebut sebagai suatu peristiwa yang aneh.”

“Bilamana dikarenakan dari pengalaman yang didapat, maka asalkan Ti heng berkelana lagi selama beberapa tahun di dalam dunia Kangouw tentunya akan jauh lebih hebat lagi ?” “Cianpwe terlalu memuji, padahal kesempurnaan yang boanpwe dapatkan ini masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kalian berdua Pocu.”

Tiba tiba Wi Lian In membuka mulut bertanya:

“Toako, bagaimana pandanganmu terhadap kami orang-orang dari Benteng Pek Kiam Po ini??”

“Kepandaian dari ajahmu sangat tinggi . . .”

“Kita tidak usah membicarakan soal kepandaian silat “ Potong Wi Lian In dengan cepat.

Ti Then menjadi tertegun sejenak kemudian barulah ujarnya: “Pendekar pedang dari Benteng Pek Kiam Po ini tidak ada

seorang pun yang bukan merupakan pendekar pedang kenamaan jadi orang sangat budiman di dalam dunia kangouw pun sangat sering menolong yang lemah menindas yang kuat, oleh karena itu cayhe amat kagum dan menghormati orang-orang ini”

-ooo0dw0ooo-