Pendekar Kidal Jilid 35 (Tamat)

Jilid 35 (Tamat)

Cu-jing me mbatalkan niatnya mundur, rasa curiganya bertambah tebal, dengan langkah lebar dia melejit maju, didapatinya di atas ranjang rebah pula seorang perempuan. Perempuan yang rebah di ranjang ini ditutupi ke mul yang bersulam sepasang burung Hong, yang kelihatan hanya wajahnya yang putih halus, rambutnya terurai awut2an.

"bola mata orang yang jeli tengah terbeliak mengawas inya, mulutnya mengeluarkan suara "Uh, uh," agaknya dia telah meronta di dalam kemul. Begitu pandangan Lim Cu jing bentrok dengan wajah perempuan di dalam ke mul itu seketika dia terjingkrak kaget. Dia bukan lain adalah Pui Ji-ping adanya. "Ping- moay," seru Cu-jing gugup, tanpa ayal dia me mburu ke depan ranjang, berbareng terus menyingkap ke mul.

Begitu ke mul tersingkap seketika Cu-jing tersirap kaget, selebar mukanya seketika merah jengah. Ternyata Pui Ji-ping yang terbungkus selimut telanjang bulat tidak mengena kan seutas benangpun, kaki dan tangannya terpentang lebar dan terikat oleh tali sehingga badannya telentang dengan kaki tangan terpentang lebar. Badannya yang montok putih dengan bagian tubuh yang menggiurkan terpampang di depan matanya,

Tidak sedikit Cu-jing berkenalan dengan gadis2 cantik, tapi adegan bugil seperti yang dilihatnya sekarang belum pernah terjadi, keruan jantung terasa hampir me lo mpat keluar, sesaat dia tertegun dan tak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya dengan tersipu2 dia tarik ke mul pula untuk menutup badan si nona.

Melihat orang yang muncul mendadak ini adalah Ling- toako yang dirindukannya siang dan mala m, kini terlihat keadaan dirinya yang bugil begini, keruan malu Ji-ping tak terkatakan, tapi dia juga kejut dan girang. Malu karena keadaan yang bugil ini sudah terpampang di depan orang, selanjutnya bagaimana dia harus menjadi orang? Kejut dan girang karena Ling-toakonya akhirnya dapat mene mukan dia dan meno longnya.

Kedua pipinya tampak merah, matanya terpejam rapat, tak terasa air matapun me leleh.

Lekas Lim Cu jing tenangkan hati, dia ingat meno long orang harus cepat. Apabila mulut Pui Ji-ping hanya bersuara "uh-uh", mungkin mulutnya tersumbat sesuatu.

Cepat Cu jing mengangkat dagu orang, tangan yang lain mengorek mulut si dara dan mengeluarkan segumpal kapas.

Saking gugup dan ma lu ha mpir saja Pui Ji-ping me nangis, katanya mewek2: "Toako, kau tidak perlu ragu, lekas lepaskan ikatan kaki tanganku." Betul, berada disarang harima u, sembarang waktu ke mungkinan dipergoki musuh.

Tanpa ayal Cu-jing segera bekerja, tapi dia tidak berani menyingkap ke mul lagi, hanya kedua tangan yang terjulur masuk, dia kerahkan tenaga pada jari2 tangan, sejak mulai dari pergelangan tangan yang terasa, halus terus naik ke lengan, satu persatu dia jepit putus tali pengikatnya.

Celakanya ditubuh Pui Ji-ping mas ih ada e mpat tali pengikat, untuk me mutus kee mpat tali inilah dia merasa serba susah. Tali pertama me lingkar dari depan dada tepat di atas "bukit" Pui Ji- ping terus melingkar ke belakang, tali kedua melingkari pinggangnya, dua tali yang la in masing2 me mbe lenggu paha dan pergelangan kaki.

Meski teraling ke mul, tetap tangannya akan menyentuh bagian badan yang mo ntok dan lunak itu, tidak kepalang ma lu Pui Ji-ping, tepaksa dia pejamkan mata, jantungnya berdetak laksana deburan omba k sa mudra.

Untunglah tali yang mengikat dadanya lekas sekali sudah terputus. Sudah tentu Cu-jing dapat merasakan gerakan badan Pui Ji-ping sehingga kedua tangan yang me mang ge metar itu semakin bergetar, jantungnya serasa mau me lo mpat keluar. Untunglah putusnya tali pengikat telah menyadarkan pikirannya, diam2 dia merasa malu sendiri, lekas dia meraba ke bagian pinggang, beruntun dia putus pula tali pengikatnya. Kini dia tinggal me mutus tali yang melingkari paha dan kaki. Mungkin sudah teramat lama Pui Ji-ping terbelenggu hingga jalan darahnya terganggu, badan terasa ke meng, seketika kaki tangan tak ma mpu bergerak, dia meringkuk dalam ke mul serta berseru pelahan: "Toako. lekas carikan pakaianku "

"O, ya" sahut Cu-jing, dilihatnya di atas kursi sana ada setumpukan  pakaian,  lekas  dia  me mburu  kesana  serta me le mparkannya ke ranjang.

"Toako," seru J i-ping. Malu2, "lekas kau putar ke sana." Tanpa bicara Cu-jing berputar me mbe lakanginya.

Bergegas Pui Ji- ping kenakan pakaiannya, me makai kaos kaki dan sepatu, lalu melo mpat turun dari ranjang, begitu berdiri lantas dilihatnya perempuan tua yang menggeletak di pinggir ranjang, seketika dia naik pita m, bentaknya: "Keparat yang pantas mampus!"

- Kakinya terus mendepak dada pere mpuan tua itu. "Ping- moay," seru Cu-jing, "apa yang kau lakukan?"

Merah mata Pui Ji-ping, katanya: "Toako, kau tidak tahu, untuk menjilat majikannya perempuan bejat ini me mbe lejeti aku dan mengikatku di atas ranjang, bila kau datang terlambat, mungkin aku

..... terpaksa harus mati saja." Habis bicara pecahlah tangisnya, lantas dia menubr uk ke dalam pelukan Lim Cu-jing alias Ling Kun-gi.

Dalam perjalanan tadi dia sudah mengusap obat riasnya, dengan wajah adanya sebagai Ling kun-gi dia hendak menuntut balas sakit hati keluarga dan dendam seluruh anggota Hek- liong-hwe. Sejak kini Ling Kun- gi t idak perlu me nggunakan na ma sa maran lagi.

Kiranya tanpa sengaja Pui Ji-ping yang minggat ini akhirnya tiba juga di Jiat-ho dan mendapat tahu tempat tinggal Ki Seng-jiang, maka secara diam2 dia menyelundup ke dalam taman ini hendak me mbunuh Ki Seng-jiang, sayang dia tertawan malah. Ki Seng-jiang me mbuka kedoknya dan tahu bahwa dia seorang perempuan, dasar bandot, maka timbul niatnya yang jahat hendak berbuat tidak senonoh. Loteng mungil ini me mang te mpatnya untuk berfoya2 dan me lakukan perbuatan mesumnya, entah berapa banyak perempuan baik2 telah ternoda olehnya. Jelas perempuan tua itu adalah pembantunya yang me lakukan kejahatan, depakan Pui Ji-ping tadi ternyata me mbuatnya muntah darah, jiwapun melayang seketika.

Dengan kasih sayang Kun-gi me mbelai ra mbut Pui Ji-ping, katanya: "Hayolah Ping- moay, kita buat perhitungan dengan bangsat tua itu."

"Sayang tiada pedang di sini, aku harus cari senjata dulu." "Kau ingin bersenjata, nah, pakailah pedangku ini," dia keluarkan Seng-ka-kia m untuk Ji-ping.

Mereka me lo mpat ke bawah loteng, Ing-jun ternyata masih berdiri di bawah pohon, melihat mereka turun cepat dia me mapa k maju, katanya dengan tertawa: "Selamat Ling- kongcu berhasil meno long nona Pui."

"Siapa kau?" bentak Pui Ji-ping sa mbil menuding dengan pedangnya.

"Ping- moay, dia nona Ing-jun, orang Pek hoa-pang."

"Toako, jelas dia seko mplotan dengan nenek bejat itu, diapun me mbantunya mengikat aku."

"Me mang betul," ujar nona Ing-jun, "tapi nona Pui jangan lupa, Liu-pocu aku pula yang menutuknya roboh, sebetulnya sejak lama aku bisa me mbebaskan nona, soalnya majikanku berpesan, katanya biarkan nona menderita sedikit, tunggu saja biar Ling-kongcu yang meno longmu."

Merah jengah muka Ji-ping, tanyanya dengan bersungut: "Siapa majikanmu?"

Ing-jun tertawa penuh arti, katanya: "Hamba menunggu di sini untuk me mbawa kalian mene mui ma jikanku."

"Ki Seng-jiang berada di mana?" tanya Kun-gi.

"Ling-kongcu dan nona Pui tak usah banyak tanya, mari ikut hamba saja," ucap Ing-jun.

"Baiklah," akhirnya Kun-gi mengangguk, "silakan nona tunjukkan jalan."

Dengan tersenyum Ing-jun beranjak pergi, Kun-gi dan Ji- ping sama mengintil dibelakangnya.

Pepohonan dalam ta man betul2 r imbun, mala m gelap lagi, meski banyak gardu2 pemandangan yang tersebar di sana sini, tapi hanya kelihatan bayangannya saja tanpa terlihat ada sinar pelita, akhirnya mereka di depan sebuah gedung bertingkat lima.

Gedung ini serba ukiran, diko mbinasikan dengan cat warna warni yang serasi, maka kelihatan megah dan angker. Di depan terdapat lima susun undakan batu mar mer. Taman seluas ini seluruhya gelap gulita, hanya gedung berloteng inilah cahaya lilin mas ih terang benderang, mungkin di sinilah Ki Seng-jiang berte mpat tinggal.

Ing-jun me mbawa kedua orang berhenti di depan pintu serta me mbungkuk, serunya: "Ling-kong-cu, nona Pui silakan mas uk!"

Walau berbagai persoalan mengganjal hatinya, tapi Ling Kun-gi bersikap wajar seperti tak acuh, dengan langkah lebar dia masuk kedala m. Itulah sebuah pendopo yang besar, meski tidak se mewah ruang atau kamar yang lain, tapi meja kursi yang ada di sini se mua serba antik, di ruang pendopo inipun tak kelihatan bayangan seorangpun, sudah tentu hal ini me mbuat Kun-gi berta mbah bingung dan keheranan, me mangnya Ki Seng-jiang sedang main kucing2an dengan dirinya?

Tatkala dia masuk ke ruang pendopo itulah, dari balik pinto bundar di sebelah kanan sana muncul seorang laki2 kurus tua berpakaian kuning te mbaga, kulit mukanya merah, tulang pipinya menonjo l, sorot matanya berkilat tajam, berdiri sa mbil menggendong kedua tangan, katanya sambil menggapai: "Ling hiantit, kenapa baru sekarang datang?"

Kun-gi melenggong sejenak, cepat dia me njura, serunya: "Kiranya kau pa man mertua."

Laki2 kurus tua berjubah kuning te mbaga ini me mang Jicengcu keluarga Un dari Ling-la m, Un It-kiau adanya.

Un It-kiau tertawa, katanya: "Semua sudah berada di sini, lekas ke mari."

Bertambah bingung hati Kun-gi, sambil mengiakan dia ikut ke sana, Pui Ji-ping dan Ing-jun ikut di belakangnya. Itulah sebuah ka mar buku, lilin besar terpasang terang benderang, kecuali Un It-kiau, di dalam ka mar buku masih ada tiga orang, begitu melangkah masuk seketika Kun gi tertegun pula. Ke- tiga orang itu adalah Un It-hong Un locengcu, Un Hoan-kun dan Bok-tan. Di atas kursi ukiran berlapis kulit di sana, duduk dengan lunglai seorang yang tengah dicarinya, yaitu komandan pasukan bayangkari di istana raja kota Jiat-ho ini, Ki Seng-jiang adanya.

Meski dia duduk di kursi kebesarannya, tapi kedua bola matanya terbeliak, mukanya mena mpilkan rasa gusar, kaget dan takut pula. Bagi seorang ahli sekali pandang akan tahu bahwa Hiat-tonya telah tertutuk sehingga tidak bisa berkutik kecuali biji matanya yang jelilatan.

Dalam hati Kun-gi sudah maklum apa yang telah terjadi, dengan kehadiran Un-locengcu di sini, seluruh penghuni ta man keluarga Kauw ini pasti sudah terbius seluruhnya, tak heran sepanjang ja lan dirinya tak pernah mene mui r intangan. Lekas dia me mburu maju dengan me mbungkuk diri, serunya: "Siausay (menantu) menghadap Gakhu (mertua)."

Dengan muka jengah lekas Pui Ji ping berlari ke arah Bok-tan dan Un Hoan-kun, teriaknya: "Cici, ternyata kalian juga datang."

"Adik Ji-ping, bikin susah kau saja," ujar Bok-tan, lalu dia berbisik di telinganya: "Sejak tadi aku datang bersa ma Un-cici, sebetulnya kami sudah harus meno longmu, tapi Un-Cici usul supaya dia saja yang menolongmu, ini keputusan yang kita a mbil setelah disepakati bersama, adikku yang baik, meski kau agak tersiksa tapi imbalannya cukup me mada i, kau t idak salahkan ka mi bukan?"

Sudah tentu Ji -ping maklum ke mana juntrungan kata2 Bok tan itu, sebagai gadis suci masih muda sampa i dilihat dan diraba oleh Ling Kun- gi dalam keadaan bugil, me mangnya kepada siapa dia harus menikah? Kiranya semua ini me mang dirancang oleh Bok-tan dan Un Hoan-kun, maksud mereka me mang baik, hati Ji-ping menjadi terharu. Dengan muka merah dan melelehkan air mata dia tetap pura2 mengo mel: "Kalian me ma ng berengsek, selanjutnya bagaimana aku harus jadi manusia?" Dengan suara lirih halus Un Hoan- kun me mbujuk: "Adik Ji-ping, jangan menangis, urusanmu serahkan saja kepada ka mi."

Mereka bertiga saling berbisik, se mentara di sebelah sana Un It- hong tengah berkata kepada Ling Kun-gi: "Hiansay, waktu amat mendesak, orang she Ki sudah kupunahkan ilmu silatnya, kini tinggal tunggu kedatanganmu, lekaslah kau turun tangan."

Berlinang air mata Ling Kun-gi, katanya dengan dada sesak dan tersengal haru: "Malam ini Siausay mencarinya untuk me mbuat perhitungan ke matian ayah dan para pahlawan Hek-liong-hwe, berkat bantuan Gakhu, Siausay merasa sangat berterima kasih."

Lalu dia melangkah maju, bentaknya dengan mendelik dan menuding Ki Seng jiang: "Bangsat keparat she Ki, kau tahu siapa aku?"

"Ling-hiantit," kata Un It-kiau. "Hiat-to bisunya tertutuk, dia tak bisa bersuara."

Kun-gi angkat sebelah tangannya menepuk jidat orang, Hiat-to bisu orang dibukanya. Ki Seng-jiang segera menggeram gusar, teriaknya: "Kalian kaum pe mberontak ini berani bertingkah di sini, kalian berani me mbunuh Lohu, mungkin kerajaan takkan me mber i ampun pada kalian."

"Tua bangka keparat," hardik Kun-gi, "ke matian di depan mata masih berani kau menggertak orang dengan nama kerajaan? Sejak kecil kau dididik oleh Ciok-boh Lojin dari Ui-san, Ciok-boh Lojin terkenal bajik dan me mpunyai cita2 luhur demi negara dan bangsa, beliau adalah salah satu dari kedelapan Houhoat Thay-yang-kau, sungguh tak kira kau manus ia berjiwa kerdil, gila pangkat dan tamak harta, sudi me njadi antek bangsa la in, menindas rakyat bangsa sendiri de mi me ngejar pahala untuk junjunganmu, tak segan2 kau menjual Hek-liong-hwe sehingga menimbulkan banyak korban jiwa, hari ini aku menuntut balas sakit hati ayahku dan menuntut keadilan bagi para patriot Hek-liong-hwe. Ketahuilah, setiap penghianat bangsa adalah beginilah akhirnya, Tu Hong-seng sudah kubunuh, segera aku akan mencari Ci Kun jin pula, kepalamu harus ku penggal dan kubawa pulang. Pelan2 dia terima pedang dari Pui Ji-ping, pedang pendek yang kemilau itu tampa k mengkilapkan hawa ke hijau2an.

Pucat pasi muka Ki Seng- jiang karena kejahatannya dibeber, tapi dia seorang yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan, meski pedang sudah menganca m tenggorokan dan tidak mengunjukkan rasa takut dan jeri bentaknya malah: "Nanti dulu, Lohu ingin bertanya padamu."

"Katakan! Bentak Kun-gi. Kau inilah Ling Kun-gi?" "Tidak salah."

"Katamu kau telah me mbunuh Tu Hong-seng?"

"Kau kira Tu Hong-seng   dijadikan   umpan   di hotel untuk me mancingku masuk perangkap? Ketahuilah, secara terang2an aku berlenggang masuk ke sana, setelah kubunuh Tu Hong-seng dengan berlenggang pula aku keluar, sampaipun petasan yang kau kirim kepadanyapun tak pernah se mpat diusiknya, kau percaya?"

"Itu tidak mungkin." teriak Ki Seng-jiang serak.

Kun-gi tersenyum, katanya: "Biar kuberitahu padamu, dengan sedikit mengguna kan akal, barisan kesatu dari barisan ketiga pasukan bayangkari kebanggaanmu itu telah kubikin saling bunuh sendiri."

"Kau . . . . " desis Ki Seng-jiang dengan menggreget.

Sebelum orang bicara lagi Kun- gi sudah merogoh keluar sebuah medali perak dari sakunya, katanya sambil me mbentang telapak tangan ke muka orang: "Karena aku ini Jilingpan, ma ka punya hak dan kuasa untuk me merintah mereka, sekarang kau sudah mengerti?"

Mendelik mata Ki Seng-jiang, suaranya gemetar geram: "Kau Lim Cu-jing!" "Betul, karena tidak ingin me mbunuhmu di dalam istana, ma ka kubiarkan kau hidup sehari lebih la ma," habis berkata pedang pendeknya bekerja, batok kepala Ki   Seng-jiang   seketika mengge linding jatuh.

Sejak tadi Un It-kiau sudah siapkan sebuah kantong kertas minyak, lekas dia masukkan batok kepala Ki Seng-jiang ke dalam kantong kertas minyak itu. Un It-hong keluarkan sebotol Hoa- kut- san, dengan ujung jarinya dia mencukil sedikit bubuk obat terus ditaburkan ke leher Ki Seng-jiang yang putus, lekas sekali sekujur badan Ki Seng-jiang lumer menjadi cairan darah.

Kun-gi simpan pedangnya, katanya: "Gakhu kalian harus lekas keluar kota dari bergabung dengan ibu di Pek-hun-am, Siausay akan mencari Ci Kun-jin dan me mbuat perhitungan dengannya, paling la mbat sebelum terang tanah pasti akan kususul kalian di sana."

"Biar aku ikut kau," sela Bok tan.

"Aku juga mau ikut," Un Hoan- kun t idak ma u ketinggalan. .

Biasanya Pui Ji-ping pasti tidak mau ketinggalan, tapi mala m ini dia hanya menunduk saja dengan muka merah dan tak berani bersuara.

"Ci Kun-jin adalah majikan Tang-sun-can," ujar Kun-gi, "untuk me mbunuh dia aku seorang diri sudah lebih dari cukup. kalian tak usah ikut, tunggu saja di luar kota bersama ibu." - Lalu dia menjura pada Un-cengcu berdua, sekali berkelebat bayangannya melayang keluar jendela dan lenyap ditelan kegelapan.

0-00-0dw0-00-0

Tang-sua-can adalah bangunan tujuh deret, setiap deret dibatasi pekarangan luas. Lapis ketujuh dan terakhir adalah daerah tempat tinggal sang majikan, untuk bangunan lapis ketujuh ini dibuat sedemikian rupa sehingga terasing dari enam lapis yang lain. barisan depannya dipagari tembok setinggi dua tombak, di luar tembok menga lir selokan lebar dan dalam, pepohonan tampa k rindang dan tumbuh subur serta terawat baik, tanahnya jauh lebih luas pula dari keenam lapis yang lain, pintunya terbuat dari papan besi yang bercat merah, dua singa2an tembaga bertengger di kiri- kanan pintu, mungkin setiap hari dibersihkan hingga kelihatan mengkilap.

Kedua daun pintu besi ini sepanjang tahun tertutup rapat, untuk masuk ke bilangan terakhir ini dari Tang-sun-can ini harus lewat pintu sa mping terus masuk lengkong dan sera mbi panjang sejak mulai deretan rumah kelima. Seperti diketahui lapis keenam merupakan ka mar2 hotel yang khusus diperuntukkan orang2 yang berduit, maka pintu2 di sini yang mene mbus ke segala penjurupun selalu terkunci.

Biasanya majikan Tang-sun-can jarang keluar menerima ta mu, umpa ma terpaksa harus keluar juga selalu dikawal oleh lima laki2 kekar jago silat.

Tidak banyak orang yang pernah melihat tampang majikan Tang- sun-can, mungkin dia sadar kejahatan yang pernah dia lakukan dulu teramat banyak, dosanya bertumpuk, takut musuhnya menuntut balas, maka sela manya dia mengera m diri bersama para gundiknya, tak pernah keluar bila tidak a mat penting.

Sudah tentu Ling Kun-gi tidak masuk lewat serambi, iapun tidak mengus ik orang2 di Tang-sun-can., Tapi dikala dia hinggap di atas tembok pagar lapis ketujuh, dua bayangan orang laksana dua ekor elang menubruk kearahnya, salah seorang diantaranya menghardik galak: "Siapa kau?"

Kepandaian orang2 ini kalau dinila i dari kaum Busu yang biasa bekerja mengawal para Cukong, boleh dikatakan terhitung kelas satu, sayang mereka berhadapan dengan Pendekar Kidal Ling Kun- gi. Dengan tertawa Kun-gi berkata: "Inilah aku!" Hanya dua patah kata yang dia ucapkan, tapi kedua bayangan yang menubruk tiba itu seketika jatuh gedebukan terbanting ke tanah.

Tanpa me mbuang waktu Kun-gi me la mbung tinggi dan me luncur jauh ke depan ke atas loteng tengah sana. Waktu itu kentongan ketiga sudah lewat, waktu sudah amat mendesak, sekilas matanya menyapu pandang keadaan sekelilingnya, tampak di atas loteng yang tujuh tingkat ini hanya ada sebuah jendela di sebelah kanan tingkat ketiga yang me mancarkan cahaya. Tanpa ayal Kun-gi me luncur ke sana.

Kiranya itulah ka mar agak kecil, tanpa per mis i Kun-gi langsung menerobos masuk lewat jendela, dalam ka mar seorang gadis remaja lagi me ncopot pakaian hendak tidur, begitu merasakan angin berkesiur, sinar pelitapun menjadi gura m, tahu2 dihadapannya berdiri seorang pe muda cakap, jantungnya seketika berdebar, dengan menjerit kaget dia menyurut mundur.

Kun-gi tersenyum ra mah padanya, katanya: "Nona jangan takut."

Rasa takut agaknya merangsang benak si gadis.. mukanya merah ma lu, katanya gemetar: "Kau apa keinginanmu?"

"Cayhe mau mencar i Kian- lopan, dia tinggal di mana?"

Mengawasi Kun- gi, berubah air muka si gadis, mimiknya menunjukkan rasa kecewa, sambil menggigit bibir dia menggeleng, akhirnya menjawab: "A ku aku tidak tahu."

Kun-gi maju selangkah, katanya: "Cayhe takkan menyakit i nona, tapi kalau nona tidak mau menerangkan, terpaksa aku menggunakan kekerasan."

"Sreet". dia melo los pedang yang kemilau terus menuding ke dada si gadis.

Wajah si gadis yang se mula merah seketika berubah pucat, serunya gemetar: "Kau mau me mbunuhku?"

Tenang suara Kun-gi: "Aku tidak akan me mbunuhmu, asal kau tunjukkan te mpat tinggal Kian- lopan, jiwa mu akan kua mpuni."

"Dia . . . . . . dia tidur di ka mar Sa m-ih-thay." "Di mana letak ka mar Sa m-ih-thay?"

"Ka mar ketiga bagian belakang." "Kau tidak mendustai aku?" "Aku menjawab sejujurnya."

"Baik," ujung pedang Kun-gi tiba2 menutul dari balik pakaian dia tutuk Hiat-to penidur orang, lewat jendela dia melo mpat ke wuwungan terus melejit ke belakang, di sini merupakan pekarangan yang teramat indah, di sebelah depan ada deretan kamar bertingkat pula.

Untuk mengejar waktu Kun-gi terus berlo mpatan beberapa kali, dikala kakinya menginjak payon seberang rumah sana, tiba2 ia dengar suara hardikan disusul sa mberan angin senjata tajam yang me-nyerang dari belakang. Dua sosok bayangan orang menubruk tiba dari kanan-kiri dengan cukup ganas.

Dari gerak serangan yang keji ini dapatlah dinilai bahwa kedua penyerang ini me miliki kepandaian yang cukup tangguh. Tapi Kun-gi terang tidak gentar, tanpa memba lik badan, tangan kanan terayun ke belakang, terdengar suara erangan tertahan disusul suara "bruk" orang jatuh di atas genteng, penyerang di sebelah kiri terguling ke bawah rumah.

Tangan kanan yang terayun ke belakang itu sekalian meraih dan menggentak, golok tebal dari penyerang sebelah kanan berhasil dipegangnya lalu disodok balik dan mengenai dada tuannya, tanpa bersuara orang inipun terjungkal ke bawah.

Dengan jatuhnya kedua orang yang gedebukan keras ini pasti mengejutkan banyak orang, tapi Ling Kun gi tidak peduli lagi, cepat ia me mukul jendela ka mar ketiga di depannya terus menerobos masuk.

Itulah sebuah ka mar yang dipajang mewah, sayang keadaan kamar gelap gulita, tapi jelas kelihatan di atas ranjang tidur dua orang, mereka terkejut bangun mendengar suara gaduh di luar, tapi saking ketakutan keduanya meringkuk berpelukan di dalam selimut.

Kun-gi sulut la mpu sehingga ka mar itu menjadi terang, lalu dia me mbentak ke arah ranjang: "Kian- lopan, keluarlah kau." Ranjang tampak bergoyang keras, sebuah tangan yang gemetar tampak menyingkap kela mbu, seraut muka kurus t irus menongo l keluar, kulit muka si tua bangka ini ta mpak pucat, dengan takut dia me lorot turun mengenakan sepatu. Usia laki2 ini sekitar lima puluhan, rambut sudah beruban, kumisnya jarang2 jenggotpun hanya secomot, matanya yang sipit me mbentuk segi tiga me mancarkan rasa takut.

Setelah dia melihat orang yang bertolak pinggang di dalam kamarnya ternyata hanya seorang pemuda yang bertangan kosong, rasa kedernya lantas lenyap sebagian besar, lekas dia tenangkan diri lalu unjuk tawa kecut, katanya munduk2: "Congsu ini ma lam buta berkunjung ke mari, entah ada keperluan apa?"

Dalam pada itu suara r ibut telah terjadi di bawah loteng banyak orang berteriak2 menangkap maling cahaya oborpun kelihatan terang.

Kun gi tidak hiraukan kegaduhan di bawah, tanyanya dengan suara kereng: "Kau inikah Kian-lopan, pemilik Tang-sun-can?"

Mendengar orang bicara dengan nada ramah, apa lagi orang2nya sudah ribut di bawah loteng timbul nyali si tua kurus, katanya mengangguk: "Lo-s iu me mang orang she Kian, silakan Congsu utarakan ma ksud kedatanganmu, asal Losiu ma mpu "

Mendengar orang bicara dengan nada ramah, apa lagi orang2nya sudah ribut di bawah loteng timbul nyali si tua kurus, katanya mengangguk: "Lo-s iu me mang orang she Kian, silakan Congsu utarakan ma ksud kedatanganmu, asal Losiu ma mpu "

"Tutup mulut mu!" hardik Kun-gi bengis, sorot matanya tiba2 me mancar berapi "A ku tidak ingin me meras harta mu."

Kian-lopan menelan air liur, tanyanya: "Lalu Congsu ?"

"Jawab pertanyaanku, apakah asalmu she Ci?"

Bergidik si tua tirus, sahutnya tergagap: "Bukan, bukan, Losiu she Kian. Kian artinya ....." mungkin dia tidak melihat bahwa Ling Kun-gi menyelipkan pedang pendeknya di pinggang, mendadak dia berteriak keras: "Tolong! Ada ma ling di sini."

"Sret", selarik sinar terang terayun dari tangan Kun-gi, ujung pedangnya yang tajam ke milau menganca m di depan hidung Kian- lopan, jengeknya: "Orang she Kian, berani kau mungkir akan kuiris dulu hidungmu. Lekas katakan, bukankah kau ini Ci Kun jin?"

Saking ketakutau Kian- lopan manggut2, sahutnya: "Ya, ya, aku .

. . . . aku me mang Ci Ci Kun jin."

Beringas muka Kun gi, tanyanya: "Baik, jawab pula pertanyaanku, dulu kau pernah menjadi sekretaris Kok thay yang menjabat Gubernur Shoatang?"

"Congsu," kata Ci Kun jin dengan muka kecut, "hal itu sudah la ma berselang."

Batang pedang Ling Kun- gi yang mengancam hidung orang tampak ge metar saking menahan e mosi. serunya bengis: "Bagus sekali, tentunya kau masih ingat kejadian dua puluh tahun yang lalu, pernah kau mengusulkan muslihat keji kepada si bangsat tua Kok-thay itu untuk menghancur kan Hek-liong hwe di Kun-lun-san, ratusan patriot bangsa telah gugur karena muslihatmu, Ki Seng- jiang sudah ku-pengga l kepalanya, kini menjadi giliranmu."

Pucat bagai kertas muka Ci Kun-jin, tiba2 dia menjatuhkan diri menye mbah berulang2 seraya berseru: "Ampun Congsu, Losiu dipaksa untuk me lakukan itu."

"Tiada a mpun bagimu, aku datang ke Jiat-ho ini untuk me nuntut balas ke matian para pahlawan Hek-liong-hwe, menuntut balas sakit hati kematian ayahku, siapapun yang menjadi pengkhianat bangsa dan sudi menjadi antek penjajah akan mene mui ajalnya sesuai dengan ganjaran perbuatannya, dan lagi supaya kau mengerti aku inilah Ling Kun-gi, putera Ling Tiang- hong, Hwecu Hek- liong- hwe dulu, kau sudah dengar je las?"

Habis bicara, "crat", begitu sinar pedang berkelebat, batok kepala Ci Kun-jin mencelat dari batang  lehernya. Sekali tendang Kun-gi le mpar jasad Ci Kun jin, dengan kalem dia masukkan batok kepala orang ke dalam kantong kertas minyak terus melo mpat keluar jendela, dalam sekejap bayangannya sudah lenyap.

Besoknya kota Jiat-ho jadi geger, komandan tertinggi pasukan bayangkari yang paling berkuasa di istana raja ternyata menghilang tanpa jejak, Tu Hong-seng yang tinggal di los men Liong-kip juga mati, cukong atau pe milik Tang-sun-can "Kian-lopan" juga mat i terbunuh dengan kepala terpenggal, lebih celaka lagi adalah kelo mpo k barisan perta ma pasukan bayangkari telah dihajar habis2an oleh kelo mpo k ketiga dari pasukan yang sama, kedua pihak jatuh korban cukup banyak. .

Menurut dugaan kejadian ini adalah berkat kerja dan rencana keji kaum pe mberontak yang mau menuntut balas. Maka keempat pintu kota kini ditutup rapat, rakyat tidak diperbolehkan keluar masuk, seluruh kota dirazia, digeledah untuk menangkap kaum pemberontak.

ooooo0dw0ooooo

Pada persimpangan jalan sebelah barat kota Jiat-ho, di bawah sebuah pohon besar diparkir sebuah kereta ,yang di tarik seekor kuda, kusir keretanya adalah seorang laki2 tua ber muka kuning. Dalam kereta duduk e mpat orang perempuan, ibu beranak, menantu dan seorang pelayannya. Sang mertua kelihatan berusia enam puluhan, menantunya adalah perempuan muda yang cantik jelita, puterinya adalah gadis remaja yang baru berusia delapan belas, pakaian mereka sederhana, jelas mereka dari keluarga menengah.

Tak jauh di sebelah sana ada dua orang penjual kain kelilingan, seorang berusia lima puluhan, tingkah lakunya lucu seperti orang sinting, seorang tahu laki2 lima puluhan, mukanya merah, tubuhnya kurus.

Dalam jarak satu panahan maju ke depan lagi, mas ih ada kelo mpo k orang, keadaannya jauh lebih mentereng, mereka adalah ayah beranak lima orang, ada laki2 ada perempuan, sang ayah berwajah putih bersih, jenggot hitam menjuntai di dada, mengenakan jubah biru bersulam ke mbang, sepatunya tinggi terbuat dari kulit, seorang lagi adalah pemuda bersama tiga orang adik pere mpuannya. Si pe muda berperawakan kekar gagah, demikian pula ketiga nona itu sa ma cantik dan segar bak bunga baru me kar. Masih ada lagi dua kacung yang merawat kuda. Dilihat dari dandanan mereka, ke mungkinan adalah keluarga berpangkat yang sedang lewat dan istirahat. paling tidak kaum bangsawan entah dari mana.

Tiga kelo mpok orang ini meski sa ma istirahat di te mpat yang berlainan, tapi kelihatan mereka seperti sedang menunggu orang, entah siapa? Karena mereka sering berpaling ke arah kota di mana jalan raya itu menjurus,

Tentunya para pembaca maklum orang2 ini ialah Thi hujin, Bok- tan, Pui Ji-ping bersama pelayan Ing-jun, kakek yang jadi kusir adalah Ting Kiau.

Kedua penjual kelilingan adalah Un It hong, sementara lima orang di bawah pohon sana adalah Cia m- liong Cu Bun-hoa, Cu Ya- khim, Tong Siau-khing, Tong Bun- khing dan Un Hoan-kun, kedua kacung adalah Ban J in-cun dan Kho Keh-hoa.

Mereka sudah berjanji dengan Ling Kun-gi untuk menunggu kedatangannya di sini. Mereka sudah menunggu sekian la manya, selagi hati t idak sa-bar dan gelisah terta mpak dari ujung jalan raya sana   muncul setitik bayangan orang meluncur sepesat   kuda me mbeda l.

"Nah itu Toako sudah datang" Pui Ji ping mendahului berteriak sambil berjingkrak girang.

Yang datang me mang Ling Kun-gi, ia me mbawa sebuah buntalan kertas minyak, jelas isi kantong adalah batok kepala Im si boan- koan Ci Kun -jin.

Kun-gi langsung menuju kereta, setelah dekat dia lempar buntalan kertas minyak itu terus menjatuhkan diri berlutut, air matanya bercucuran, serunya: "Bu, syukurlah anak berhasil menuntut balas   sakit   hati ayah,   menebus   dendam kesumat ke matian para pahlawan Hek- liong hwe."

Sambil berlinang air mata Thi hujin manggut2, katanya: "Anak baik, bangunlah, ibu sudah tahu jelas me mang tidak ma lu kau sebagai putera Ling Tiang hong, sebagai cucu yang baik dan berbakti terhadap kakak luar mu, hayolah kita lekas berangkat."

Bok-tan mengeser tempat duduknya, dengan suara merdu mesra dia berkata: "Marilah kau naik ke kereta."

Tanpa bicara Kun gi lo mpat ke atas kereta. Tanpa diperintah lagi Ting Kiau menurunkan kerai terus lari ke depan sa mbil mengayun cambuk: "Tar", kuda segera mencongklang kedepan, menyusul Un It-hong, Un It kiau dan lain2 mence mplak kuda mas ing2 dan menyusul dari kejauhan.

Jalan raya ini menjurus ke Pak-kau, tiga kelompok berangkat sendiri2, sudah tentu tidak menarik perhatian orang. Tapi baru kira2 tiga li jauhnya mereka mene mpuh perjalanan, tampak di kejauhan di tengah jalan raya berduduk tersimpuh lima orang Lama berkasa merah yang berusia lanjut.

Mereka bersemadi tak bergeming, mes ki kereta semakin dekat tapi mereka anggap tidak melihat dan tak mendengar. Cepat sekali keretapun berlari, tiba di depan mereka. . Dari kejauhan Ting Kiau sudah ber siap2, kira2 tiga tombak jaraknya dia tarik tali kendali menghentikan lari kudanya, tapi kereta masih terseret maju setombak lebih.

"Ting lotoa," kata Thi hujin, "ada kejadian apa di depan?"

Ting Kiau menyahut: "Lapor Lothay, ada beberapa Lama mengadang di tengah jalan." Lalu dia me na mbahkan dengan suara lir ih: "Agaknya mereka ber maksud kurang baik."

Maka terdengar salah seorang La ma yang tertua paling tengah angkat kepala dan bersuara kalem: "Maksud ka mi bukan jahat, Lolap berlima hanya ingin mene mui satu orang." Bok-tan segera berbangkit, katanya sambil menyingkap kerai: "Losuhu, kami kaum pere mpuan ingin lekas masuk kota, jangan kalian salah ala mat."

"Mana mungkin Lolap salah mencari orang?" ucap La ma tertua, "bukankah dalam kereta kalian ada Siau-sicu she Ling?" - Jelas mereka ingin me mbuat perhitungan dengan Ling Kun gi.

Thi-hujin mengerut kening, katanya lirih: "Kelima orang ini seperti kaum La ma."

"Siancay. Siancay," ucap La ma tertua, "rekaan Hujin me mang betul."

"Bu, kalau mere ka menunjuk diriku, biarlah anak turun bicara dengan mereka," kata Kun gi.

"Kedatangan mereka berma ksud tidak baik, kau harus hati2," demikian pesan Bok-tan.

"Biar aku juga turun," seru Ji- ping.

Lekas Thi- hujin me nariknya, katanya: "Anak Gi boleh turun dan tanyai mereka, kau tak usah turut ca mpur."

Kun-gi lantas me langkah turun, tampa k kelima La ma ini masing2 menduduki   satu   posisi   tertentu,    semuanya   duduk   semadi me meja mkan mata hingga berbentuk sebuah lingkaran, cepat dia menjura, sapanya: "Para Suhu hendak mencari Cayhe, entah ada petunjuk apa?"

Lama tertua yang menjadi pemimpin me mbuka kelopak matanya, kedua tangan terkatup di depan dada, katanya: "Omitohud! Apakah Siausicu inilah Ling Kun-gi?"

Kun-gi mengangguk, sahutnya: "Betul, Cayhe me mang Ling Kun- gi."

"Ada suatu soal ingin kutanya kepada Siausicu," kata La ma tua. "Soal apa, silakan bicara." "Lolap punya seorang mur id, bernama Pat-toh, apakah dia mati terbunuh oleh Siau-sicu?"

Bergetar hati Kun-gi, seperti diketahui La ma kasa merah yang bernama Pat-toh mati ditangan bibinya sebagai Maha Pangcu Pek- hoa-pang, tapi sang bibi sekarang sudah wafat, biarlah dirinya yang me mikul tanggung jawabnya. Maka dia me ngangguk, katanya. "Betul, mur idmu itu adalah Hek-liong-hwe Houhoat, Cayhe menuntut balas pada Han Jan-to atas kematian ayah almarhum, tapi mur idmu mena mpilkan diri, terpaksa dia gugur di bawah pedangku."

Sikap La ma tua tetap tenang tanpa marah sedikitpun, katanya mengangguk: "Lolap dengar Siau-sicu ini murid didik Hoan-jiu-ji- lay, sudah lama Lolap dengar nama besar Hoan-jiu-ji-lay, sayang selama puluhan tahun belum pernah berte mu, bahwa Siau-sicu ma mpu me mbunuh mur idku, itu tandanya Kungfumu sudah tinggi, ilmu pedangmu pasti juga amat lihay, Lolap dan para Sute ingin menjaja l dan menyaksikan ilmu pedang Siausicu, bagaimana menurut pendapat Siausicu?"

Dia m2 tersirap darah Kun-gi, sungguh tak nyana bahwa kelima Lama tua ini adalah guru dan pa man guru Pat-toh yang lihay itu. Kungfu Pat-toh pernah dia saksikan sendiri, tarapnya jelas tidak lebih rendah daripada Thay-siang, bahwa kelima La ma tua ini adalah guru dan pa man gurunya, mereka terang me miliki kepandaian yang lebih t inggi dari-pada Pat-toh.

Sebelum Kun- gi me mber i tanggapan, Lama tua sudah berkata lebih lanjut: "Lolap juga dengar bahwa Siausicu mahir mainkan Hwi- liong-sa m- kia m, dengan gaya jungkir balik dan terapung di udara sambil menyerang musuh, Lolap lima bersaudara akan duduk bersimpuh di te mpat mas ing2 dan takkan bergerak dari tempat duduk ini, asalkan Siau-sicu dapat mencelat keluar dari tengah lingkaran kami ma ka kami berlima akan menyerah kalah."

Agaknya dia sudah tahu jelas bahwa Hwi- liong-sa m- kiam harus dike mbangkan dengan badan terapung dam jumpa litan di udara, dikatakan pula bahwa mereka berlima takkan bergerak dari duduknya, lalu cara bagaimana mere ka akan turun tangan? Bila Kun-gi betul2 menge mbangkan Sin- liong-jut-hun, dengan mudah dia dapat mela mbung dan jumpalitan keluar dari dalam lingkaran, kenapa La ma tua ini berani bertaruh begitu.

Tak tahan Bok-tan lantas melo mpat turun dan berdiri di samping Kun-gi, katanya: "Maksud Lo-suhu akan bertempur dengan tenaga kalian berlima, kalau demikian biarlah ka mi berdua menghadani kalian,kan boleh?"

Sekilas La ma tua me lir iknya, katanya hambar: "Li-s icu ini lebih baik mundur saja."

Dia m2 Kun-gi sudah perhatikan kelima La ma tua ini me mang luar biasa, mereka duduk dengan   posisi Ngo   hing   (lima   unsur), ke mungkinan akan me mbentuk se maca m barisan pedang yang lihay, dirinya telah mempelajar i Hwi- liong- kiu sek, bisa jadi mampu mengatasi keroyokan lima lawan. Tapi Bok-tan hanya me mbeka l tiga jurus ilmu pedang, mungkin takkan kuat bertahan, maka dia berkata:

"Losuhu ini hanya ingin menjaja l ilmu pedang yang pernah kupelajari, me mang lebih baik kau undurkan diri saja." - Lalu dengan menggunakan ilmu gelombang suara diam2 ia me mbis iki: "Aku sudah berhasil me mpelajar i sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin, umpa ma t idak menang juga aku masih ma mpu me mpertahankan diri, bila kau berada di sa mpingku, mungkin ma lah mengha mbat gerak- gerikku."

Sementara itu derap kaki kuda ra mai mendatangi, kiranya rombongan Cu Bun-hoa telah tiba. Melihat Kun-gi berda mpingan dengan Bok-tan menghadapi lima La ma yang bersimpuh di tengah jalan raya. Tong Bun-khing dan Un Hoan kun segera, melejit dari punggung kuda mereka terus hinggap di kiri kanan Ling Kun-gi.

Dengan suara merdu Un Hoan-kun bertanya. "Apa yang terjadi, mereka me ncegatmu? Ini soal mudah, biar aku yang bereskan mereka." Cepat Kun-gi goyang tangan mencegah, katanya: "Hoan-moay jangan semberono, lekas kalian mundur ke belakang."

Di dalam kereta Thi hujin hanya tenang2 saja, katanya: "Anak Gi betul, kalian mundur saja, biar anak Gi menghadani para Losuhu ini"

Terpaksa Bok-tan, Un Hoan-kun, Tong Bun- khing turuti nasehat Thi-hujin.

Lama tua tertawa tawar, katanya: "Siausicu sudah siap?"

Sudah tentu Kun-gi tak berani gegabah, segera dia keluarkan Seng ka-kia m. Se mentara kelima La ma itupun menge luarkan senjata yang bentuknya seperti pedang tapi bukan pedang, panjang dua kaki, bentuknya rada aneh, belum pernah ada senjata semacam ini. Maklum, senjata ini me ma ng khas kaum La ma, na manya Hiap- ciang-hiap. Bentuknya seperti pedang, pada gagangnya digubat benang mas dan bertatahkan mutu manika m, batang pedang hanya sepanjang satu kaki dan berke milauan taja m, ujungnya berbentuk gurdi yang runcing bulat, bentuknya lebih mirip kepala ular.

Setelah mengeluarkan senjata masing2, para Lama tetap bersimpuh, mata terpejam kepala sedikit menunduk, sikapnya tidak seperti jago yang siap tempur. Tapi Kun-gi yang sudah berdiri di tengah mereka merasakan secara langsung bahwa kelima La ma ini tengah mengerahkan Lwekang pada batang senjata ampuh mereka, meski belum lagi bergerak, tapi senjata itu sendiri sudah menimbulkan perbawa yang tidak kecil.

Kun-gi tahu pertempuran ini merupakan adu kekuatan yang besar artinya, apakah dirinya ma mpu menandingi kekuatan gabungan kelima La ma sakti ini masih merupakan tanda tanya besar. Maklumlah, dia tidak kenal senjata apa yang digunakan lawan? Belum diketahui pula dengan cara bagaimana musuh akan mulai menyerang?

Orang kuno sering bilang: harus tahu kekuatan sendiri dan dapat mengukur kekuatan lawan, setiap kali bertempur tentu menang. Kini hakikatnya Kun-gi tidak kenal musuh2nya, bagaimana mungkin dia bisa me mpersiapkan diri. Terpaksa dia berdiri diam menanti gerakan lawan lebih dulu.

Cukup la ma mereka bertahan, kedua pihak tetap diam saja tanpa bergeming, akhirnya La ma tertua itu me mbuka suara: "Siau-sicu berhati2lah." - Berbareng Hiap-ciang-hiap yang tegak di depan dadanya bergetar, segulung hawa getaran senjatanya yang kemilau itu terus menyambar ke depan laksana anak

panah menerjang ke tengah alis Ling Kun gi.

"Inilah hawa pedang," dia m2 tersirap darah Ling Kun-gi, tanpa ayal dia ayun pedang pendek untuk balas menyerang. Ayunan pedangnya menimbulkan cahaya benderang dingin laksana kilat dan telak sekali me mbendung sa mberan hawa pedang yang diluncurkan Lama tua itu.

Tatkala La ma ini menyerang, empat La ma yang lainpun serentak menggetar senjata masing2 ikut me-nyerang, terdengarlah deru angin kencang me mberondong ke tengah kalangan tertuju kepada Ling Kun-gi. Tiada cahaya yang menyilaukan, tak terlihat bayangan pedang, hanya hawa pedang yang terasa dingin sehingga hawa sekitar gelanggang seakan2 beku.

Sekuatnya Kun-gi mengerahkan segala ke ma mpuannya baru kelima jalur hawa pedang lawan terbendung di luar lingkup cahaya pedangnya, tapi orang yang menonton tidak mengerti sa ma bertanya2 dalam hati bahwa kelima La ma itu cuma duduk tak bergerak, kenapa Kun-gi berma in pedang sekencang dan sehebat itu.

Hanya Thi-hujin, Un It hong, Cu Bun-hoa dan Bok-tan yang sedikit banyak dapat merasakan, walau kelihatan kelima La ma ini duduk dia m, tapi ke mungkinan mereka sudah mulai melancar kan serangan entah dengan cara apa kepada Ling Kun-gi. Kalau tidak tak mungkin anak muda itu me mutar pedang dengan mengerahkan Lwekang sehebat itu.

Lima jalur hawa pedang terus bertambah kuat, gempurannya semakin dahsyat, makin la ma ma kin tebal dan menjadikan serupa jaring hawa pedang di sekeliling tubuh Ling Kun-gi, tapi semua ini tidak kelihatan bentuknya, hanya Kun gi merasakan langsung akibat dari kehebatan ilmu yang tiada taranya ini.

Di dasar Hek-liong tam Kun-gi telah berhasil me mpelajari sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin, dalam permainan ilmu pedangnya boleh dikatakan dia sudah ma mpu menge mbangkan segenap perubahan ilmu pedang itu.

Akan tetapi kelima ja lur hawa pedang itu secara bergiliran mengge mpurnya dengan tekanan yang dahsyat, setiap jalur hawa pedang se-olah2 mengandung kekuatan yang ma mpu menggugurkan gunung.

pada hal Hwi-liong-kia m- hoat harus dimainkan dengan cara mengapung di udara, di bawah tekanan hawa pedang musuh yang ketat ini jelas dirinya takkan ma mpu melo mpat terbang ke atas.

Apa yang dikatakan Lama tertua itu memang tidak salah, asal dapat keluar dari lingkaran mereka, maka anggaplah mereka yang kalah. Meski hebat ilmu pedang Ling Kun-gi, karena tiada kesempatan dike mbangkan, apalagi tekanan hawa pedang terasa tambah berat, kelima jalur hawa pedang seakan2 telah menutup rapat di atas kepalanya, malah seberat gunung menindihnya sehingga la ma kela maan dia hampir tak kuasa berdiri lagi.

Terpaksa Kun-gi pusatkan segala perhatian dan bertahan mati2an, dalam hati dia sudah mulai gelisah, pikirnya: "Agaknya hari ini aku bakal gugur di bawah hawa pedang para La ma ini."

Seorang kalau menghadapi jalan buntu, walau tahu mungkin tiada harapan, tapi dalam sanubarinya tetap akan timbul secercah pikiran untuk mengejar hidup meski itu hanya merupakan harapan kosong. Apalagi teringat bahwa ibunda dan para kekasihnya tengah menonton di luar gelanggang, sekali2 dirinya tak boleh mati begitu saja. Dikala dia menghadapi jalan buntu inilah, tiba2 dia teringat akan ajaran semadi yang terdiri tiga gambar peninggalan Tiongyang Cinjing di dinding gua itu, ketiga ga mbar se madi ini merupa kan rangkaian pula dari kese mbilan jurus ilmu pedang. Entah dari mana datangnya ilha m, tiba2 terpikir olehnya kalau ke lima La ma sa ma duduk bersimpuh, senjata berdiri tegak di depan dada, dengan kekuatan Lwekang mereka menyalurkan hawa pedang untuk mengge mpur dirinya, kenapa dirinya tidak meniru cara mereka saja?

Karena itu segera dia pusatkan pikiran, pedang yang se mula dia putar naik-turun tiba2 diam tegak di depan dada, begitu semangat terhimpun dia pusatkan tenaga pada batang pedangnya, pelahan2 dia mulai lakukan gaya sesuai dengan gambar pertama pelajaran semadi itu.

Sungguh aneh, hawa pedang kelima La ma yang se mula terasa semakin gencar dan berat itu, begitu dia mulai dengan gaya semadinya, tekanan yang berat itu seketika menjadi enteng. Padahal kelima La ma itu tak pernah kendur mengerahkan Lwekangnya untuk mengge mpurnya, ma lah terasa keadaan sudah mencapai puncaknya, kelihatan sebentar lagi mereka akan berhasil me mbunuh lawan, se-konyong2 terasa kekuatan hawa murni Ling Kun-gi melindungi badan melalui saluran pedangnya berta mbah hebat gempuran hawa pedang mereka hanya mampu mencapai tiga kaki di luar lingkaran badan musuh, sedikitpun tak ma mpu mendesak maju lagi.

Perlu diketahui mereka berlima sudah me musatkan pikiran, tenaga dan kekuatan lahir hatin untuk mengerahkan hawa pedang dan mengge mpur lawan, pandangan matanya hanya tertuju ke pucuk senjata sedikitpun tidak boleh terpecah perhatiannya. maka mereka tidak tahu bahwa kini Ling Kun-gi tengah duduk se madi di tengah lingkaran.

Sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiongyang Cinjin sudah diapalkan benar oleh Ling Kun-gi, tiga jurus yang terakhir dari rangkaian kedua belas jurus ilmu pedang itu meski hanya bergaya duduk se madi, tapi satu sa ma la in merupa kan ikatan yang erat, cuma sela ma ini belum berhasil diselaminya dengan baik. Kini setelah dia mengulang dalam praktek pada saat menghadapi musuh tangguh, terasa pikiran menjadi terang, seperti me mperoleh ilham sehingga segala kesukaran yang dihadapinya selama ini mendada k menjadi terang seluruhnya. tekanan musuhpun la mbat lain terasa semakin ringan, baru kini betul2 dia sadari meski ketiga gaya duduk ini mirip orang bersemadi, hakikatnya merupakan ajaran ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada taranya.

Maka dengan pedang pendek dipegangnya lebih kuat dan mantap, hati bersih pikiranpun jernih, mulailah dia mela kukan gaya selanjutnya dari ga mbar kedua. Seketika terasa benar perubahannya, bukan saja pikiran tenang hatipun seperti kosong tanpa disadarinya semangat telah bersatu padu dengan pedang secara langsung dia berlanjut ke gaya ketiga, sehingga dengus napasnya seolah menderu kencang mengandung kekuatan yang ma mpu me mbobo l dinding.

Tekanan hebat dari kelima jalur hawa pedang lawan t iba2 terasa sirna tak berbekas lagi. Lapat2 didengarnya Pui Ji-ping berteriak kaget dan heran: "He, kenapa kelima La ma itu?"

Ling Kun-gi tertarik dan merasa heran, pelan2 dia kendurkan kekuatannya, setelah menarik napas panjang mulai dia me mbuka mata, maka dilihatnya kelima La ma tua itu sudah sa ma mengge letak di tanah tanpa mengeluarkan suara, sejak tadi sudah melayang jiwanya.

Tong Bun-khing, Bok-tan dan Un Hoan-kun tampak mengunjuk rasa kejut dan heran, tanpa berjanji mereka sama berlo mpatan maju, dengan penuh perhatian dan kuatir sere mpak mere ka bertanya: "Kau tidak apa2?"

Kun-gi melo mpat bangun, pedang disimpan serta berkata: "Terima kasih atas perhatian kalian, syukurlah aku lolos dari ujian berat ini berkat doa kalian, kelima La ma ini tadi sama mengguna kan Ngo heng-kia m-khi."

Pui Ji-ping tidak mau ketinggalan, dia me lo mpat turun dari kereta, tanyanya sambil mende kat: "Toako, apa yang dinama kan Ngo-hing- kia m- khi?" Belum Kun gi menjawab mendada k dia meno leh ke arah timur, wajahnya sedikit berubah, katanya: "Ada orang datang." "Di mana?" tanya Pui Ji ping ikut berpaling.

Maka terdengar derap kuda yang dilarikan kencang se ma kin mende kat dan sekejap saja sudah tiba, penunggangnya kiranya mahir benar mengenda likan kuda, begitu kendali ditarik dan kuda berhenti, langsung dia melo mpat turun seraya merogoh keluar sampul surat, dengan sikap hor mat langsung dia mende kati Kun-gi, katanya: "Hamba mendapat perintah Pho kongcu untuk mengantar surat ini, harap Kongcu terima.."

Kun-gi terima surat itu, terasa olehnya laki2 pengirim surat ini seperti pernah dikenalnya, tanpa menunggu jawaban Kun-gi orang itu menjura sekali terus mence mplak kudanya dan dikaburkan lagi.

Mengawasi punggung orang mendada k Kun-gi ingat, orang ini adalah orang yang semalam mengantar surat padanya. Lekas dia periksa sampul surat yang terdapat sebaris tulisan indah berbunyi: "Disa mpa ikan kepada Ling- kongcu, pribadi."

Dia keluarkan secarik kertas yang berbau harum, surat ini berbunyi:

Yang terhor mat Ling-kongcu Ling Kun gi,

Kami dari keluar bangsawan, belajar kepandaian di Swat-san, sejak kecil menyendiri dan tinggi hati, semua laki- laki di jagat ini tiada yang pernah menjadi perhatianku, tapi sejak berkenalan dengan tuan di tepi Hek-liong-tam, setelah pertarungan naga terbang (Hwi-liong- kia m-hoat) lawan Burung Hong menari (Hwi- hong-kia m-hoat), dengan kekalahan itu baru ka mi sadar bahwa di jagat ini kiranya ada laki2 sehebat tuan, hati yang beku selama ini seketika mencair dan bergelora.

Sayang kami ber musuhan dengan tuan, terpaksa mengundurkan diri dengan hati ha mpa. Kali ini kuketahui tuan akan me lakukan perjalanan ke Jiat-ho, maka dengan menya mar sebagai Pho Kek-pui kita telah bersahabat, makan minum r iang ge mbira bersama, terhiburlah hati nan merana ini, dua kali surat kirimanku rasanya cukup melimpahkan perhatianku, hanya itu pula yang dapat kupersembahkan kepada tuan, hal inipun telah mengingkar i keluarga dan mendurhakai leluhur, sungguh harus disesalkan. Waktu tuan terima suratku ini, ka mi sudah berangkat ke barat, ke mbali ke atas gunung, selamanya akan berbakti untuk ajaran agama. Teriring salam hangat dan bahagia.

Cui Kin-in

Sampa i sekian la ma Ling Kun- gi terlongong me megangi surat itu. Kiranya Cui Kin- in adalah Pho Kek-pui puteri pangeran istana Hok. Dia pula yang menyaru jadi pelajar baju putih waktu menolong dirinya di istana. Cui Kin-in adalah gadis aneh dan hebat pula, seorang gadis ro mantis juga.

Melihat Kun-gi terlongong sehabis me mbaca surat, maka beramai orang banyak merubung maju ikut me mbaca surat itu. Habis me mbaca mere kapun sa ma me nghela napas sa mbil menggeleng.

TAMAT