-->

Pendekar Kidal Jilid 34

Jilid 34

Kasir ini bersikap hor mat berlebihan, katanya munduk2: "Hamba tidak tahu bahwa Lim-ya adalah tamu agung sehingga pelayanan kurang baik, harap Lim-ya me mberi maaf sebesar2nya, rekening Lim-ya beberapa hari yang lalu sudah dilunasi seluruhnya oleh Jin loya, kamar yang Lim-ya perlukan sekarang masih ada, mari silakan periksa, entah menco coki selera Lim ya tidak?"

Tang-sun-can adalah hotel terbesar di seluruh Jiat-ho dengan restorannya pula, waktu itu lampu baru saja dipasang, restorannya bertingkat lima dengan lima ruangan makan yang besar, luas dan nyaman, seluruhnya sudah ha mpir dipenuhi tetamu.

Dengan enteng, Lim Cu-jing me langkah ke atas loteng, seorang pelayan menyambutnya dengan tertawa: "Tuan hanya seorang diri, silahkan ikut hamba." - Lalu dia berlari kecil di depan, dalam suasana yang riuh rama i dan penuh sesak, untuk mencari te mpat duduk diruang ma kan seluas ini me ma ng bukan soal ga mpang.

Pelayan membawa Lim Cu-jing ke sebuah meja yang dekat jendela menghadap jalan raya, setelah menarik kursi dia menyila kan dengan tertawa: "Silakan tuan duduk di sini saja, tamu cukup banyak, terpaksa satu sama lain saling menga lah."

Pada meja itu sudah ada dua orang, pedagang yang sedang makan minum sa mbil berundang soal dagang. Maka merekapun tidak hiraukan kedatangan Lim Cu-jing, Cu-jing juga tidak pedulikan mereka, seorang diri dia pesan makanan serta menunggu dengan sabar.

Dikala dia berduduk itulah, sekilas dilihatnya dimeja sebelah kanan sana duduk tiga orang. Seorang nenek sudah ubanan rambutnya, seorang lagi nyonya muda jelita, dari dandanan mereka seperti ibu mertua dengan menantunya, Seorang lagi yang duduk di depan mereka adalah kakek kurus ber muka kuning, meski se meja tampak sikapnya a mat hor mat dan munduk2.

Begitu melihat ketiga orang ini, hampir saja Lim Cu-jing berteriak. Soalnya ketiga orang ini adalah sa maran ibunya, Bok-tan dan Ting Kiau. Walau mereka sudah berganti rupa, tapi Lim Cu-jing tetap dapat mengenalnya.

Mengapa ibu juga berada di Jiat-ho? Demikian dalam hati dia bertanya2.

Maka Lim Cu-jing angkat poci menuang secangkir teh, dengan pura2 menikmati air teh panas yang dihirupnya sedikit de mi sedikit Lim Cu jing gunakan ilmu gelombang suara berkata kepada nenek itu: "Bu, bagaimana kaupun datang ke mari?"

Nenek itu me mang sa maran Thi-hujin, mendengar bisikan suara Ling Kun-gi, sekilas tampak dia melengak, lekas sekali dia berpaling, segera iapun dapat me lihat Lim Cu-jing. Karena dia sedang makan, sudah tentu orang lain tidak perhatikan bila bibirnya lagi bergerak bicara, dengan ilmu yang sama dia menjawab: "Anak Gi, kau sudah mene mukan Ki Seng-jiang? Sorenya setelah kau berangkat, nona Pui mendadak minggat, mungkin diapun menyusul ke Jiat-ho ini, maka ibumu bersa ma Un-cengcu dan Cu-cengcu terbagi dalam t iga rombongan mencari jejaknya ke mana2, sayang tidak ketemu." Mencelos hati Lim Cu jing mendengar kabar ini, Tu Hong-seng bilang di jalanan pernah melihat beberapa kelompok kaum pemberontak, jelas yang dilihat adalah rombongan ibunya dengan rombongan Un-cengcu dan Cu cengcu. Untung Ki Seng-jiang serahkan tugas ini padaku, kalau tidak bukankah segala persoalannya akan terbongkar, Yang menjadi beban pikirannya kini adalah Pui Ji-ping, me mang nona itu pernah belajar ilmu rias untuk menya mar ala kadarnya, bila ketiga rombongan orang yang mencarinya ini bertemu muka secara langsung juga pasti tidak mengenalnya lagi.

Nona ini me mang binal, sifat kanak2 masih menghayati setiap gerak langkahnya yang suka iseng, apa saja yang dipikirkan lantas dikerjakannya. Yang dikuatirkan adalah si nona bertindak secara ceroboh. bukan saja bakal menggagalkan rencananya,   malah me mbawa kesulitan pula.

Sesaat pikirannya jadi kusut dan gelisah, dia memegang cangkir pura2 seperti orang minum pelan2, dengan ilmu gelo mbang suara dia ceritakan pengala mannya sela ma berada di sini.

Thi-hujin terdiam sebentar, katanya kemudian: "Anak Gi apa kau tidak merasakan semua ini terlalu mudah kau peroleh? Bukan mustahil pihak lawan me mang sengaja mengatur semua ini untuk menjebakmu kedalam perangkapnya?"

"Ibu tidak usah kuatir, hal ini tidak mungkin, anak juga tidak semudah itu kena tipu mereka."

"Ini daerah kekuasaan mereka, apapun kau harus hati2," demikian pesan Thi-hujin.

Bok tan duduk di samping Thi-hujin, sudah tentu segera diapun merasakan adanya tanda2 yang tidak beres ini, tak tahan dia bertanya: "Apakah popo kurang selera ma kan hidangan di sini?"

Dengan tersenyum Thi-hujin menggeleng lalu me mber i tahu dengan suara lirih. Bok-tan menjadi jengah dan melirik ke arah Lim Cu-jing. Selanjutnya Lim Cu-jing beritahu bahwa Tu Hong-seng juga sudah berada di Jiat-ho sini serta telah me laporkan kepada Ki Seng jiang tentang jejak mereka, maka dia anjurkan setelah mene mukan Pui Ji ping harus cepat2 meninggalkan Jiat-ho supaya tidak mengganggu rencananya, juga jangan menginap di hotel, carilah rumah penduduk saja.

"Baiklah, besok ka mi akan pindah keluar kota," demikian ucap Thi-hujin, "ibu belum se mpat mengadakan kontak dengan Un- cengcu dan Cu-cengcu, entah di mana sekarang mereka berada, tapi ini soal sepele, asal ibu meninggalkan tanda rahasia akhirnya pasti dapat bertemu dengan mereka."

Lim Cu-jing mengucapkan syukur. Kebetulan pelayan datang me mbawa kan pesanan makanannya.

Thi-hujin, Bok-tan dan Ting Kiau sudah selesai ma kan, beriring mereka berdiri, Ting Kiau merogoh kantong me mbayar rekening dan turun ke bawah.

Tak la ma kemudian Lim Cu jing pun turun dari loteng. Saat itu suasana di jalan raya masih ra mai. Sekeluar dari Tang-sun-can, Lim Cu jing langsung menuju ke los men Liong kip.

Los men Liong-kip jauh lebih kecil, letaknya juga di ujung gang, maka ta mu2 yang menginap di sini kebanyakan adalah kaum pertengahan atau orang2 yang kurang mampu keuangannya. Pada hal dalam gang ini mas ih ada delapan hotel yang lain, Tu Hong seng justeru menginap di los men yang paling kecil dan murah, tujuannya sudah tentu supaya tidak diperhatikan orang.

Seperti lazimnya pelayan segera menyambut kedatangan Lim Cu- jing dengan sikap ra mah yang berkelebihan, "Toaya ingin kamar, meski kecil tapi ka mar ka mi cukup bersih untuk ist irahat."

"Cayhe hanya ingin mencari seorang teman saja," ucap Lim Cu jing.

Mendengar orang bukan cari ka mar, tawa dan sikap ramah si pelayan seketika kuncup, tapi melihat dandanan dan perawakan Lim Cu-jing gagah, tak berani dia bersikap se mbarangan, tanyanya: "Toaya hendak cari siapa?"

"Adakah seorang tuan Tu yang menginap di sini?"

Mendengar orang she Tu yang menginap di ka mar kelas satu yang dicari, ke mbali mekar tawa si pelayan, katanya sambil munduk2 pula: "Ada, ada, kiranya tuan adalah kenalan Tu-toaya, silakan, silakan, biar kutunjukkan tempatnya."

Dengan langkah lebar segera si pelayan berlari2 ke dalam serta berteriak: "Tu-ya, ada kenalan- mu mencarimu."

"Siapa?" pintu ka marpun terbuka, begitu melihat Lim Cu jing, sekilas Tu Hong-seng tertegun, lekas dia menjura dan menyapa: "O, kiranya Ji.."

Cepat Lim Cu-jing melangkah maju, tukasnya dengan tertawa: "Cayhe Lim Cu-jing, Tu-heng tidak kira akan kedatanganku bukan?"

- Sembari bicara berulang kali dia me mber i tanda kedipan mata, maks udnya supaya tidak me mbocorKan rahasia dirinya di depan pelayan.

Sebagai kawakan Kangouw, segera Tu Hong-seng paham maks udnya, maka dia tertawa katanya:

"Sungguh tak nyana kedatangan Lim-heng, lekas silakan duduk di dala m. Hahaha, inilah yang dina makan dirantau kete mu orang sekampung." Lengan Lim Cu-jing digenggam serta digoyang2kan, lalu menyilakan ta munya masuk. dia berpesan kepada pelayan: "Pelayan, lekas bikin teh."

Pelayan mengiakan dan mengundur kan diri.

Tu Hong-seng segera tutup pintu, cepat dia me njura, katanya: "Ha mba tidak tahu kedatangan Jilingpan, harap dimaafkan."

Lim Cu-jing mengulap tangan, katanya tertawa bangga: "Tu- heng, me mangnya tempat apa di sini? Lebih baik kita saling me mbahasakan saudara saja." "Ya. . . . . silakan duduk Lim-heng," sejenak Tu Hong-seng tergagap.

Lim Cu jing tidak sungkan, dia duduk di kursi sebelah sana. Pelayan telah datang pula membawa dua cangkir kosong dan sepoci teh wangi panas.

Tu Hong-seng mengisi secangkir penuh, dengan sikap menjilat segera dia aturkan ke depan Lim Cu jing, katanya: "Silakan minum Lim-heng."

"Terima kasih," ucap Lim Cu-jing, lalu dia duduk dengan bersikap kereng, katanya tegas: "Laporan Tu-heng sudah kubaca dengan seksama." Padahal laporan Tu Hong-seng diserahkan kepada Ki Seng jiang, bahwa dia mengatakan sudah me mbaca laporan itu, berarti dia adalah orang terpercaya dari Ki Seng-jiang.

Dari Ki Lok, kacung Ki Seng-jiang, Tu Hong-seng sudah mendapat tahu bahwa Jilingpan yang baru ini adalah utusan dari istana Hok, asal usulnya tentu luar biasa. Sudah tentu sikapnya sangat hormat, lalu ia mohon petunjuk, katanya: "Entah bagaimana pendapat dan petunjuk Lim- heng?"

Lim Cu jing tertawa tawar, mendadak dia berbisik: "Jongtai serahkan perkara ini padaku untuk menyelesaikannya , ada beberapa soal yang ingin kutanyakan kepada Tu heng."

"Ada soal apa yang kurang jelas, boleh Lim- heng tanyakan, bila kutahu tentu kujelaskan."

"Yang ingin kutanyakan adalah beberapa kelo mpok orang2 Pek hoa pang yang pernah Tu heng lihat di tengah jalan itu, entah di mana Tu-heng me lihat mereka? Berapa orang dan siapa saja mereka?"

"Tengah hari kedua setelah aku keluar dari perbatasan, di daerah kim kou-tun kulihat seorang tua dan muda beserta dua nona, laki2 tua muda itu aku tidak mengenainya, tapi kedua nona itu sudah kukenal baik."

"Siapa kedua nona itu?" "Lim-heng sudah me lihat laporanku itu, tentunya juga tahu bahwa dari Ceng liong tam Yong King-tiong dan Ling Kun-gi pernah meno long dua laki dan dua perempuan, dua nona yang kulihat itu adalah nona2 yang ditolong keluar dari Ceng-liong-ta m itu, kalau tidak keliru she Tong dan she Cu."

"Laki2 tua muda yang dimaksud tentu Cu Bun-ho dan Tong Siau- khing," de mikian pikir Lim Cu-jing. Dengan mengangguk dia me mber i ko mentar, "Ya, tapi belum tentu mereka menuju ke Jiat-ho sini, apakah mere ka pernah me lihat Tu-heng?"

"Tidak," tutur Tu Hong-seng lebih lanjut. "waktu aku melihat mereka, mereka sudah naik kuda hendak berangkat, kuatir jejakku konangan, maka aku menginap di hotel, petangnya kulihat pula rombongan orang lain."

"Siapa pula ro mbongan ini?"

"Dua laki2 kurus me mbawa seorang gadis, mereka menunggang kereta keledai, merekapun menginap di Kim- kau-tun, gadis itu juga sudah kukenal juga, dia berna ma Un Hoan-kun, orang dari keluarga Un di Ling lam yang pandai menggunakan obat bius, aku pernah merasakan kelihayan obat bius si budak centil itu, karena itulah aku menjadi tawanan mereka."

"Ke mudian Tu-heng me lihat kelo mpo k siapa pula?"

"Tidak, karena hari kedua sebelum terang tanah aku sudah buru2 me lanjutkan perjalanan ke Jiat-ho sini."

Lim Cu jing tersenyum, katanya: "Di tengah jalan Tu-heng hanya me lihat beberapa gadis yang kau kenal itu, berdasar apa kau berani menyimpulkan bahwa tujuan mere ka ke Jiat-ho? Dan lagi hanya beberapa nona2 manis belaka, me mangnya apa yang bisa mereka lakukan?"

"Benar," sahut Tu Hong- seng yakin, "je las mereka bertujuan ke Jiat-ho, walau hanya dua kelompo k ini saja yang kulihat, tapi kuduga pasti ada beberapa rombongan yang lain pula, termasuk Ling Kun-gi di dala mnya, bocah she Ling itu katanya murid Hoan-jiu  ji lay. ilmu silatnya tinggi, lawan yang paling tangguh di antara mereka."

"Bahwa Pek hoa-pang bermusuhan dengan Hek-liong bwe itu merupakan pertikaian orang2 Kangouw, sebetulnya tiada alasan mereka meluruk ke Jiat-ho sini."

"Lim-heng, mungkin kau belum tahu, tujuan mereka ke Jiat-ho ini mungkin hendak menuntut balas kepada Jongtai."

Pura2 kaget dan heran Lim Cu-jing, ia bertanya: "Kawanan pemberontak ini berani menuntut balas apa kepada Jongtai? Apakah mereka ber musuhan dengan Jongtai?"

"Agaknya Lim-heng me mang tidak tahu, dulu Hek- liong-hwe didirikan untuk me lawan pe merintahan kerajaan kita, beberapa jago kosen dari istana raja menjadi korban di sekitar sarang Hek- liong- hwe, waktu itu Ki-jo ngtai baru berpangkat kelas tiga di pasukan bayangkari, dia pula yang ditugaskan untuk mengusut perkara ini, dialah yang me mbujuk aku dan kawan2 la in untuk menyerah dan berbakti kepada kerajaan sehingga Hek- liong-hwe akhirnya dapat kita gempur dan duduki, belakangan kerajaan mengangkat Ki- jongtai secara resmi sebagai komisaris Hek- liong-hwe, akupun dinaikkan pangkat menjadi Koan-tai."

Dia m2 Lim Cu jing me mbatin: "Jadi yang menjual Hek- liong-hwe dulu kaupun ikut a mbil bagian, kau me mang pantas ma mpus." Tapi Cu-jing pura2 me lenggong, lekas dia merangkap tangan katanya: "Jadi sela ma dua puluhan tahun ini Tu-heng sudah ikut Jongtai, maaf Cayhe berlaku kurang hor mat."

"Mana berani," terbayang rasa bangga pada mimik muka Tu Hong-seng, katanya: "Coba Lim- heng bayangkan. Maha Pangcu Pek-hoa pang adalah puteri Thi-hwecu Hek- liong- hwe yang dulu, setelah Hek liong-hwe kita rebut, mana mereka mau melepas kan Ki jongtai?"

Lim Cu jing mendengus, katanya: "Memangnya mereka berani berontak di wilayah Jiat-ho?" Tujuan Lim Cu jing ke mari adalah untuk me licinkan jalan dalam peranannya untuk berma in sandiwara menyelidiki   beberapa kelo mpo k pe mberontak sesuai yang dilaporkan Ki Seng- jiang oleh Tu Hong seng, sudah tentu dia harus mencari hubungan pada Tu Hong-seng serta me mbukt ikan alibinya mala m ini berada di te mpat Tu Hong-seng, Tapi dari pe mbicaraan ini, secara tak terduga dia me mpero leh dua bahan pertimbangan yang a mat berharga.

Pertama, Tu Hong-song ternyata adalah salah satu dari anggota Hek-liong-hwe yang khianat, menjual perkumpulan dan pemimpinnya kepada kerajaan, mungkin Yong King-tio ng sendiri tidak tahu akan hal ini.

Kedua, Tu Hong-song hanya melihat jejak kelo mpo k Cu Bun- hoa dan Un It-hong di Kim-kou-tun, jejak mereka selanjutnya belum diketahui dengan pasti.

Setelah mengobro l sekian la manya pula, maka Lim Cu jing berdiri, katanya: "Tiba saatnya aku harus mohon diri, supaya tidak menarik perhatian lawan, aku menginap di bilangan belakang Tang- sun-can, perkara ini oleh Jongtai sudah diserahkan padaku dan Tu- heng diminta me mbantu, bila Tu-heng mene mukan apa2 harap sewaktu2 me mberi kabar ke sana"

"Sudah tentu," ucap Tu Hong-seng dengan sungguh2, "Lim-heng adalah orangnya Ki-jongtai dan juga atasanku, aku akan tunduk dan patuh pada segala perintah Lim- heng."

Setiba di depan pintu Tu Hong seng masih ma u mengantar keluar. Lekas Lim Cu-jing berkata: "Tu- heng tak usah mengantar, jangan kita perlihatkan jejak di sini." -Lalu dia tarik daun pintu menutupnya dari luar terus melangkah pergi.

Waktu tiba di hotel, kentongan pertama sudah la lu, setelah me mada mkan la mpu, lekas Lim Cu-jing lepas jubah, segesit kucing dia menyelinap keluar melalui jendela. Dengan Ginkang yang tinggi laksana segumpal asap dia mela mbung .tinggi ke atas terus berlo mpatan di antara wuwungan rumah ke arah utara. Tak la ma kemudian, Pit-sio k-san-ceng yang megah dan angker sudah kelihatan dari kejauhan. Dia m2 Lim Cu-jing melo mpat turun ditempat gelap, dengan me minja m bayang2 rumah penduduk dia menyelinap kian ke mar i dan akhirnya tiba di te mpat sepi, dengan gerak kecepatan yang luar biasa dia meluncur kekaki tembo k, tanpa menge luarkan suara, dengan ringan dia hinggap di te mbok istana.

Pagi tadi dia sudah apalkan letak asrama pasukan bayangkari, matanya yang tajam sekilas menyapu pandang sekelilingnya, tempat di mana ia berada kebetulan di sebelah selatan, dari sini ada sebuah jalanan datar menjurus ke asrama pasukan bayangkari itu, jalan lebar ini dipagari pohon2 tua dan tinggi besar, sangat baik untuk te mpat se mbunyi.

Tapi jarak pepohonan itu mas ih ada puluhan, tomba k dari tembok, di tengah masih dipisahkan sungai kecil. Tapi Lim Cu-ling tidak banyak pikir, ia meneliti sebentar, seringan burung ia menutul permukaan air, terus melambung tinggi pula dan hinggap di seberang sungai. Hanya sekali tutul pula badannya meluncur maju dan sekali berkelebat ia sudah meluncur ke pinggir hutan di bawah bukit, sebat sekali bayangannya ditelan kegelapan dibalik hutan, setangkas kera dia lompat ke atas pohon terus berlompatan di antara pucuk pohon.

Untung dia berlo mpatan seperti terbang. di pucuk pohon, dari sini didapatinya jalan berbatu di bawah, pada setiap pengkolan pasti dijaga oleh dua orang. Malah ada pula barisan ronda yang mondar- mandir.

Betapapun villa di sini adalah tempat kedia man raja, meski baginda jarang menetap di sini, tapi aturan dinas tetap berlaku, maka penjagaan tetap amat ketat dan keras.

Berlo mpatan terbang di atas pohon Lim Cu-jing tidak perlu kuatir jejaknya akan konangan, apalagi tanpa rintangan, cepat sekali dia sudah me mbe lok ke la mping gunung dan tiba di belakang pekarangan besar di belakang asrama pasukan bayangkari. Dari ketinggian dia menyapu pandang sekelilingnya, lalu seringan daun jatuh dia menukik turun menyusur tanah lapang yang bersemak2, sekali kakinya menutul, ke mba li ia me la mbung ke atap rumah.

Asrama pasukan bayangkari a mat luas, luar dalam seluruhnya ada tiga lapis bangunan, untung siang tadi Lim Cu-jing pernah ke mari, sedikit banyak dia masih apal tempat ini. Dengan gerakan yang luar biasa cepat, langsung dia me nuju ke ka mar Ki Seng jiang.

Selamanya keadaan di sini tetap aman, tak pernah terjadi onar, mimpipun mereka tak mengira ada orang yang berani menyelundup ke mari, walau ada penjagaan, hakikatnya mereka tidak waspada. Maka dengan leluasa Lim Cu-jing terus maju ke depan tanpa konangan. 

Sebelah utara ka mar buku merupakan kebun bunga yang luas, karena kamar buku merangkap kantor kerja Ki Seng jiang, ma ka kebun itu dipagari te mbok. Dengan enteng Lim Cu jing melayang turun di kebun bunga ini, sekali berkelebat dia menyelinap maju ke bawah jendela, kertas jendela dia tusuk berlubang dengan jari lalu mengintip ke dala m.

Waktu sudah menjelang kentongan kedua, sudah tentu kamar buku itu kosong tiada orang. Pelan2 Lim Cu jing menyongkel jendela lalu melejit masuk ke ka mar buku. Matanya dapat melihat jelas ditempat gelap, maka langsung dia mengha mpiri kursi yang berlapis kain sutera tempat duduk Ki Seng-jiang, sekilas dia mene liti meja, laporan Tu Hong-seng t iada lagi, maka pelan2 dia berduduk, pelahan ia me narik laci.

Pada detik2 itulah tiba2 ia mendengar suara "trak, trak", dari sandaran kursi me ndadak menjepret keluar tiga jepitan baja.

Batangan besi menerobos dari bawah ketiak kanan kiri menjepit dada, yang kedua menjepit pinggang dan yang ketiga menjepit kaki kanan kiri. Sudah tentu pada sandaran tangan masing2 juga menjepit keluar borgol tangan, tapi kedua tangan Lim Cu-jing tadi sedang menar ik laci sehingga tidak terborgol.

Kejadian a mat mendada k, keruan Lim Cu jing kaget setengah mati. Laci sudah tertarik, tumpukan kertas laporan Tu Hong-seng me mang berada dalam laci. Tapi badan Lim Cu jing sudah terjepit di kursi, kecuali kedua tangan, sekujur badan tak ma mpu bergerak lagi.

Untunglah kedua tangan masih bebas, hal inilah yang menghibur dan menabahkan hatinya, ia yakin dirinya masih ma mpu me loloskan diri. Lebih celaka lagi begitu ketiga jepitan itu me mbelenggu badannya, agaknya alat rahasiapun telah bekerja, tepat di atas dinding di belakang kursi itu mendadak terdengar dering kelinting yang berbunyi ramai. Malam gelap nan sunyi, maka suara alarm ini kedengaran jelas dan berkumandang jauh, sebentar lagi seluruh penghuni asra ma ini akan bangun dan me mburu ke sini.

Lim Cu jing agak gugup, dia coba me mbetot jepitan di depan dada, tapi jepitan ini tera mat kukuh, maklumlah terbuat dari besi baja. Cepat ia keluarkan Seng-ka-kia m, pedang disusupkan, "Creeng", dengan mudah jepitan baja di depan dada dan pinggang terpotong putus, sigap sekali Lim Cu-jing terus berdiri.

Didengarnya dari ka mar sebelah berkumandang bentakan keras: "Pe mberontak beryali besar, berani bertingkah di istana raja." - Kain gorden tersingkap, tampak Ki Seng-jiang dengan pakaian ringkas menerobos masuk sa mbil menenteng Yu-liong- kiam dan langsung menubruk ke arah Lim Cu-jing.

Lim Cu-jing se makin gelisah, dari kejauhan tangan kiri menepuk menyongsong kedatangan Ki Seng-jiang, cepat2 tangan kanan menggerakkan pedang pendek untuk me mutus jepitan yang mengacip kakinya, dengan mudah kedua jepitan inipun dia putuskan.

Ki Seng-jiang me mang tidak malu sebagai ko mandan pasukan bayangkari, gerak-geriknya gesit dan tangkas, padahal dia sedang menubruk dengan sengit, tapi begitu melihat Lim Cu jing menyongsong dengan pukulan tangan, deru angin kencang terasa mengiris mukanya, badan yang terapung itu, lekas2 miring kesamping, sementara pedang ia pindahkan ke tangan kiri, cepat sekali tangan kanan me mukul ke depan. Dua angin pukulan bentrok mengakibatkan suara keras menimbulkan pusaran kencang, terasa oleh Lim Cu-jing, meski Ki Seng jiang me lontarkan pukulan dikala badannya terapung, ternyata kekuatannya setanding dengan tenaga angin pukulannya, mau tidak mau dia merasa kagum dan mencelos hatinya.

Pada saat itulah tampak cahaya benderang, Ki Lok berlari keluar dari balik ka mar sebelah sambil me mbawa la mpu sorot jarak jauh, sasarannya tepat ke badan Lim Cu-jing.

Kedua mata Ki Seng-jiang tampak mende lik tajam menatap Lim Cu-jing, setelah menggera m sekali dia tanya: "Anak muda, siapa kau?"

Tak perlu kau tanya siapa aku," jengek Lim Cu-jing. Se mbari bicara pelan2 tangan kanan menekan ke dalam laci di mana laporan Tu Hong-seng berada. Soalnya laporan ini menyangkut jiwa beberapa orang, jika Ki Seng-jiang sampai melapor kannya ke istana, tentu buntutnya teramat panjang.

Melihat orang mengulur tangan ke dalam laci, Ki Seng jiang mengira orang hendak mencur i laporan itu, keruan ia gusar, hardiknya: "Lepaskan!"

Sekali berkelebat dia menubruk tiba, tangan kanan terayun, sinar pedangpun menyapu tiba.

Tapi Lim Cu-jing tidak mundur juga tidak berkelit, pedang pendek me mancarkan cahaya gemilang, begitu kedua sinar pedang saling bentrok menimbulkan suara nyaring menusuk telinga, hanya sekejap saja kedua orang sudah saling bergebrak tiga kali.

Tampak selarik sinar pedang dingin menggar is lewat di antara perut dan dada Ki Seng-jiang. Selama hidupnya belum pernah Ki Seng jiang menghadapi ilmu pedang seaneh dan selihay ini, keruan darahnya tersirap, lekas dia menarik napas mendekuk dada serta menyurut mundur sekuatnya, tapi tak urung baju di depan dadanya koyak tergores oleh tajam pedang pendek Lim Cu jing itu. Dikala pedangnya berhasil paksa mundur Ki Seng- jiang inilah, mendadak Lim Cu-jing mendengar sebuah suara halus lirih: "Lekas mundur Lim-heng, kalau tertunda pasti tak keburu lagi!"

Karena, suara bisikan tera mat lirih dan halus, sukar bagi Lim Cu jing me mbedakan suara siapa?"

Muka Ki Seng jiang tampak me mbes i hijau, pedang melintang di depan dada, hardiknya bengis: "Kau ini Ling Kun-gi!" - Hanya murid Hoan-jiu ji- lay yang mahir menggunakan pedang dengan tangan kiri, ma ka segera ia dapat mengena lnya. . .

"Tidak salah," sahut Lim Cu jing, Mendadak pedangnya mendahului bergerak menjadi selarik sinar kilat menerobos jendela diikuti luncuran badannya.

Berdiri alis Ki Seng-jiang, hardiknya: "Masih ingin lari ke ma na kau?" - Segera ia mengudak dengan suatu tubrukan. Tapi dikala hampir saja mencapai jendela, mendadak didengarnya sebuah suara me mbentak: "Awas!" - Serangkum jarum le mbut tahu2 bertaburan ke arah dirinya.

Maklumlah dikala Cu-jing menyentuh alat rahasia sehingga menimbulkan dering alarm sa mpai dia menerjang keluar jendela terpaut hanya beberapa kejap saja, begitu mendengar suara peringatan tadi, tahu2 segenggam jarum menyongsong mukanya dari sebelah atas, sebagai jago yang berpengalaman, lekas Ki Seng jiang kebutkan lengan baju disertai angin pukulan kencang, sementara dengan paksa dia mengerem tubuhnya terus mencelat balik delapan kaki jauhnya. .

Pada saat itu pula, dua orang penjaga di luar telah me mburu datang. Demikian pula para pimpinan utama dari ketiga barisan pasukan bayangkari karena mendengar dering peringatan be ramai2 juga me mburu t iba Ki Seng-jiang menca k2 gusar seperti kebakaran jenggot, bentaknya murka: "Kalian gentong nasi se mua, hayo lekas kejar!"

Waktu Lim Cu jing menerobos keluar dari jendela, dilihatnya di atas tembok di taman belakang sana berdiri seorang pelajar berjubah putih tengah member i tanda lambaian tangan kearahnya, berbareng ia pun mendengar suara lembut lir ih: "Lekas ke mari Lim- heng, mundurlah dari arah datangmu tadi."

Semula Lim Cu-jing mengira ada seorang kenalan atau orang pihak sendiri yang me mbantunya, kini setelah jarak agak dekat baru dia lihat bahwa pemuda pelajar ini sela manya belum pernah dikenalnya, keruan ia melenga k, tanyanya: "Saudara ini "

"Jangan banyak tanya," kata pemuda pelajar baju putih, "lekas kau menyingkir dulu."

"Dan kau       "

"Lekas pergi aku tidak apa2" habis berkata mendadak dia me la mbung tinggi, berbareng menghardik: "Awas!" - Tangan terayun, dia ha mburkan segenggam jarum ke arah jendela.

Lim Cu-jing tidak sempat bicara lagi, segera ia melambungkan tubuh setinggi mungkin, kaki ke mba li me nutul di atas te mbok, seenteng burung ia melayang turun di tanah berumput, sekali lo mpat lagi dia menerobos masuk ke dalam hutan. Waktu dia berpaling, bayangan pemudi pelajar baju putih sudah tidak kelihatan lagi, tapi dilihatnya tujuh delapan bayangan orang sama muncul dari kamar Ki Seng-jiang me ngejar ke arah yang berlawanan dengan arah dirinya ini."

Lim Cu-jing maklum bahwa pe muda pelajar baju putih sengaja me mancing musuh mengejar ke arah yang berlawanan, supaya dirinya dapat me larikan diri dengan le luasa. Bila dia tidak apal akan seluk beluk villa raja ini, tak mungkin dia dapat meno long dirinya, me mangnya siapakah dia?

Benak berpikir sementara langkah Lim Cu-jing tak pernah berhenti, dengan menge mbangkan Thin-liong-ih-bong-sin- hoat dia berlo mpatan dari pucuk pohon yang satu melayang kepucuk pohon yang lain. Meski terjadi geger dan keributan besar di villa raja itu, tapi seperti apa yang dikatakan pemuda baju putih, sepanjang jalan ini keadaan tetap tenang tidak terlihat adanya gerakan sama sekali. Dengan le luasa akhirnya Lim Cu jing mengundur kan diri dari villa raja langsung ke mbali ke dalam ka marnya terus tidur.

Dalam hati dia mas ih me mikir kan kesela matan pemuda pelajar baju putih, entah orang sudah selamat meninggalkan tempat itu tidak? Padahal dirinya tidak mengena lnya, entah dari mana dia tahu dirinya she Lim? Tengah layap2 hampir tertidur, tiba2 di dengarnya derap kaki orang mendatangi dan berhenti di depan ka marnya. Terdengar pelayan berkata, "Lim-ya tinggal di dalam ka mar ini, mungkin sudah tidur, biar hamba mengetuk pintu." - Lalu terdengar daun pintu diketuk pelahan dari luar dua tiga kali pelayanpun berteriak dengan suara tertahan: "Lim-ya, Lim-ya, engkau bangunlah sebentar."

Dengan suara di buat2 Lim Cu-jing bertanya: "Siapa?"

"Ada seorang teman datang mencarimu, katanya ada urusan penting," sahut pelayan.

Maka didengarnya suara Go Jong-gi berkata: "Lim- heng, inilah aku, Go Jong-gi."

Lim Cu-jing me mbuka pintu dengan mata masih kelihatan sepat, me lihat Go Jong- gi, dia terbelalak, serunya: "Me mangnya ada urusan apa?"

Agaknya Go Jong -gi gugup dan tidak sabar, lekas dia tarik orang masuk ke ka mar, katanya:

"Ada huru-hara di villa, Ki-to suruh aku ke mari me manggilmu sebentar."

Lekas Lim Cu-jing pakai jubah luarnya, tanyanya: "Ada huru hara apa?"

"Ki-to sedang menunggu, biar nanti kuceritakan di tengah jalan," ujar Go Jong gi.

Lim Cu-jing me ngiakan, bergegas mereka ke- luar, sementara pelayan sudah menyiapkan kuda Lim Cu-jing. Go Jong-gi juga datang naik kuda, langsung mereka ke mbali ke istana. Di tengah jalan secara ringkas Go Jong-gi ceritakan kejadian yang diketahuinya. Yang dikuatirkan Lim Cu-jing adalah keselamatan pe muda baju putih, ma ka dia pura2 kaget dan bertanya: "Ada kejadian begini? Entah tertangkap tidak penyatron itu?"

"Entahlah, Jongtai mendesakku ke mari menje mput Lim-heng, agaknya pembuat onar itu belum tertangkap, seluruh kekuatan dipencar untuk mencari jejaknya."

Tergerak hati Lim Cu-jing, pikirnya: "Dari nada bicaranya, agaknya Ki Seng-jiang menaruh curiga terhadap diriku? Hm, soalnya aku kurang leluasa turun tangan membunuhnya di istana, karena kejadian ini akan me nimbulkan banyak kesukaran la in, bila samaranku betul2 konangan, hanya pengawalnya yang berkepandaian cakar ayam itu me mangnya ma mpu mengurung dan menangkapku?"

Cepat sekali mereka sudah tiba di istana, suasana terasa tegang, penjaga berbaris dengan senjata terhunus, anak panah terpasang di busur, semua siap siaga mirip menghadapi serbuan musuh.

Go Jong-gi bawa Lim Cu-jing langsung ke asrama pasukan bayangkari di belakang istana. Lampu tampak terang benderang di kamar Ki Seng-jiang, tapi suasana hening, tampak Ki Seng jiang dengan muka bersungut, duduk di kursinya.

Lim Cu-jing masuk diiringi Go Jong-gi. Lim Cu-jing menjura, katanya: "Jongtai me manggil ha mba, pasti ada pesan apa2."

"Duduklah," ucap Ki Seng-jiang mengulap tangan. "Ada pembunuh yang me mbuat onar di sini, kau sudah tahu?"

"Di jalan ha mba mendengar cerita Go lingpan," sahut Cu-jing.

Ki Seng jiang tertawa dingin, dia tuding kursi kebesarannya, katanya: "Coba kau periksa."

Cu jing maju dan pura2 kaget, katanya: "Kursi Jongtai dirusak orang," "Kursiku ini dibuat seorang ahli dari kota raja, di dala mnya terpasang alat rahasia, kecuali aku siapapun yang duduk di situ pasti akan terbelenggu oleh jepretan besi, tak nyana Ling Kun gi keparat itu ternyata bernasib mujur, meski sudah terbelenggu tapi kedua tangannya masih bebas. Kalau orang lain, karena jepitan besi itu terbuat dari baja, betapapun tak mungkin bisa melo loskan diri, tapi keparat itu memiliki pedang pusaka, dengan mudah dia berhasil me motong putus jepitan besi . . . . " lalu dia menyambung: "Coba kau tarik laci itu."

Cu-jing segera menarik laci, sekilas dia berpaling ke arah Ki Seng-jiang, maksudnya minta petunjuk apa yang harus dia lakukan lagi.

"Coba kau periksa, apakah kertas laporan Tu Hong-seng itu ada kelainan?"

Hamba tidak me lihat adanya tanda2 tidak benar? Me mangnya ada orang yang menukarnya?"

"Coba kau balik satu le mbar pertama "

Segera Lim Cu-jing ulurkan tangan tapi setumpukan kertas laporan yang kelihatan utuh itu begitu tersentuh jari lantas remuk menjadi bubuk, keruan dia berjingkat kaget, teriaknya: "He, apa yang terjadi?"

Ki Seng- jiang terkekeh, katanya : "Inilah Tu-yang-kang, salah satu daripada ke 72 ilmu Siau-lim-pay, kekuatannya dapat melebur emas dan mere muk batu."

"Jadi Ling Kun-gi adalah mur id Siau-lim-pay?" seru Lim Cu jing. "Dia mur id Hoan jiau ji-lay. Hoan-jiau ji-lay pernah berdiam dua

puluh tahun di Siau lim si, konon sela ma seratusan tahun ini tiada

seorangpun murid Siau-lim si yang ma mpu sekaligus me mpelajar i beberapa ilmu sakti, tapi Hoan-jiau ji- lay sendiri sekaligus dapat mencakup sepuluh maca m lebih, malah seluruhnya a mat mahir."

Lim Cu jing angkat kepala, katanya- "Laporan Tu Hong-seng ini sudah hancur, apakah perlu suruh dia bikin lagi?" Ki Seng-jiang mengangguk, katanya: "Betul, maka itulah kusuruh kau ke mari, kalau laporan Tu Hong-seng dihancurkan, ma ka keselamatan jiwa Tu Hong-seng sendiri pasti terancam, keadaannya jelas amat berbahaya, tapi kemungkinan Ling Kun-gi dan kawan2nya belum tahu jejaknya, maka tugas uta ma yang terpenting sekarang selekasnya harus kau suruh dia bikin pula laporan itu, lalu suruh seluruh anggota kelo mpo k pertama menyamar dan berpencar di Liong-kip untuk melindunginya secara diam2, kita gunakan dia sebagai umpan "

Belum habis bicara didengarnya langkah orang mendatangi, terdengar Pui Hok-ki berseru di luar: "Ha mba Pui Hok- ki dan Pi Si- hay datang melapor."

"Masuk!" sahut Ki Seng-jiang.

Pui Hok-ki dan Pi Si-hay beriring masuk, melihat kehadiran Lim Cu-jing, mereka menyapa dengan anggukan kepala.

Sebelum kedua orang itu berbicara, Ki Seng-jiang mendahului tanya: "Bagaimana hasil pe meriksaan kalian?"

Pui Hok-ki menjura, katanya: "Hamba sudah periksa seluruh pelosok, tapi tiada ta mpak jejak penyatron itu."

Ki Seng-jiang melirik ke arah Pi Si-hay, tanyanya: "Pemuda baju putih itu me mbantu Ling Kun- gi dan lari ke arah barat, apa kalian berhasil mengejarnya?".

Sikap Pi Si-hay tampak kikuk, katanya: "Hamba sudah periksa seluruh istana bilangan barat, dari depan sampai belakang, tapi jejak musuh tidak kelihatan "

Sebelum orang bicara habis, Ki Seng- jiang sudah berjingkrak gusar: "Me mangnya mereka tumbuh sayap dan bisa terbang menghilang?"

Tiba2 terdengar seorang berseru didepan pintu: "Ha mba Hok Ji- liong datang melapor."

"Masuk," bentak Ki Seng-jiang. Baru saja Hok ji-liong me langkah masuk, Ki Seng-jiang sudah tanya: "Kaupun tidak berhasil mene mukan jejak pe mbunuh itu, betul tidak?"

Hok Ji- liong menunduk sa mbil mengiakan..

"Blang", Ki Seng-jiang menggebrak meja dengan gusar, teriaknya: "Kalian gentong nasi semua, pemberontak mengacau ke asrama kita, mereka hanya dua orang, sedang kalian berpuluh orang tak berhasil menangkapnya?"

Tiga pimpinan uta ma dari ketiga barisan pasukan bayangkari sama menunduk tanpa berani bersuara. Sesaat kemudian, Pui Hok- ki pula yang berkata: "Lapor Jongtai, menurut pandangan ha mba, Ling Kun gi dari orang berbaju putih itu teramat apal akan seluk beluk istana ini, mereka buron ke jurusan Jiang-cio k, daerah belukar yang sepi dan jarang diinjak manus ia, penjagaan kitapun terlemah di sebelah sana, asal lolos ke balik gunung sana, maka sukarlah ditemukan."

Ki Seng-jiang mengiakan, lalu katanya dengan tetap muring2: "Pi Si-hay, tugaskan sekelompo k barisanmu keJiang-cio k, penjagaan di daerah belukar itu harus diperketat,   beritahukan pula kepada ko mandan regu yang bertugas di sana, Liok-koantai, suruh dia me mper kuat penjagaaan, jangan lalai."

Pi Si hay mengiakan sa mbil me mbungkuk.

Sesaat Ki Seng jiang berpikir, katanya kemudian: "Kukira orang berbaju putih itu adalah Pek-hoa-pangcu Bok-tan, cuma bagaimana mungkin mereka begitu apal akan seluk beluk istana kita ini?"

Pui Hok ki kaget dan heran, tanyanya: "Jong-tai mengira si baju putih itu pere mpuan?"

Kata Ki Seng jiang sambil menge lus jenggot: Waktu Ling Kun-gi menerobos keluar, baru saja aku hendak mengejar, kudengar dia me mbentak "awas", meski sengaja dia tekan suaranya, tapi mana dapat kelabui aku? Jelas itu suara orang pere mpuan, dan lagi Bwe- hong-cia m yang ia sa mbitkan itu kebanyakan dipakai oleh kaum perempuan, perawakan orang  itupun  ra mping  se ma mpai, ke mungkinan dia ma lah Pek-hoa-pang Pangcu."

Dia m2 Lim Cu jing merasa heran, mengingat kejadian semala m, nyata pengalaman Ki Seng-jiang me mang luas, apa yang dikatakan tidak salah, pelajar baju putih itu berperawakan ra mping, suaranya juga nyaring merdu, tidak mirip suara laki2. Tapi jelas dia tahu bahwa pemuda pelajar baju putih bukan Bok-tan, malah belum pernah dikenalnya. Lalu siapa dia?

"Peduli siapa mereka, kota Jiat-ho ini jangan disamakan dengan Hek liong hwe," demikian Ki Seng-jiang menggebrak meja pula, "pe mberontak takkan kubiarkan bertingkah di depan hidungku, dalam tiga hari kuminta kalian harus me mbekuk Ling Kun-gi dan orang berbaju putih itu, paling tidak kalian harus melapor jejak mereka kepadaku."

Ketiga pimpinan utama pasukan bayangkari mengiakan bersa ma.

Ki Seng-jiang menoleh, katanya: "Lim-heng boleh pulang, dua hal kuserahkan pada mu. Pertama, lindungilah kesela matan Tu Hong- seng secara diam2, suruh dia membuat laporan itu pula secepatnya. Kedua, periksalah seluruh los men dan hotel di kota ini, adakah orang2 yang patut dicurigai."

"Ha mba terima tugas," sahut Lim Cu jing terus mengundurkan diri.

Ki Seng-jiang berkata pula: "Go Jong gi, lekas kau bawa anak buahmu ke kota, suruh mereka berdandan menurut keinginan masing2, sebelum mala m tiba sudah harus berpencar me masuki los men Liong-kip. Beritahu mereka supaya hati2 jangan menimbulkan perhatian orang lain atas penyamaran mereka dan lagi mereka dilarang berjudi dan berkumpul lebih dari tiga orang, dilarang minum2, siapa melanggar perintah akan kupenggal kepalanya."

Go Jong-gi me luruskan badan dan mengiakan, segera dia hendak keluar. Tunggu sebentar. Ki Seng jiang menanyainya, "setelah kau sampaikan perintahku ini harus lekas ke mba li, masih ada perintah lain untukmu."

Kembali Go Jong-gi me ngiakan terus mengundur kan diri.

Ki Seng- jiang menyapu pandang ketiga pimpinan uta ma barisan, katanya: "Kalian boleh pergi istirahat, setelah terang tanah perintahkan seluruh anak buahmu keluar untuk mencari info. Ohya, harus ingat, Lim Cu-jing sudah kuperintahkan mengawasi setiap penginapan, ma ka tugas kalian perhatikan saja ruma h2 penduduk."

"Jongtai   " Hok Ji- liong ragu2 untuk bicara.

"Jangan banyak bicara," Ki Seng-jiang menukas sa mbil mengulap tangan, "kerjakan menurut perintah, tapi ingat, jangan me mukul rumput mengejutkan ular."

Meski hati merasa heran dan tidak tahu ke mana juntrungan perintah Jongtai, tapi tiga pimpinan uta ma ini tak berani banyak bicara lagi, serempak mereka mengiakan dan mengundurkan diri.

Tak la ma ke mudian Go-Jong-gi sudah ke mbali setelah menya mpaikan perintah.

Ki- Seng jiang lantas bertanya: "Waktu kau tiba di Tang-sun-can tadi apakah Jilingpan tidur di ka marnya?"

Go Jong gi melenga k, cepat dia membenar kan. "Pelayan hotel yang mengantar mu ke ka marnya?" tanya Ki Seng jiang pula.

"Betul," sahut Go Jong gi.

"Kau yang mengetuk pintu atau pelayan yang mengetuk?" "Pelayan yang mengetuk."

"Jilingpan tidur nyenyak?"

"Agaknya, tapi pelayan mengetuk dua kali Jilingpan lantas me mbuka pintu."

"Kau ikut mas uk ke ka marnya?" "Jilingpan me mang suruh ha mba masuk." "Apa saja yang dia katakan padamu?"

"Setelah Jilingpan suruh pelayan pergi, dia lantas tanya hamba ada urusan apa? Hamba bilang disuruh Jongtai mengundangnya pulang," la lu dia ceritakan kejadian tadi dengan jelas.

Ki Seng-jiang hanya mengangguk2 mendengar ceritanya: "Apakah ha mba berbuat salah?" tanya Go Jong-gi was2.

Ki Seng-jiang tersenyum, katanya: "Tidak, aku hanya ingin tahu apakah Jilingpan cukup cerdik dalam menunaikan tugasnya? Dia kutugaskan ke Tang-sun-can secara rahasia, asal-usul kita sekalian tidak boleh bocor. Sudah t iada urusan lain, kau boleh pergi. Tapi jangan kau bocorkan pertanyaan yang barusan kuajukan pada mu, tahu tidak?"

Go Jong-gi mengia kan dan mengundurkan diri.

Ki Seng jiang mondar- mandir dalam ka marnya sambil menggendong tangan, mulutnya mengguma m: "Kalau begitu, jadi aku yang terlalu banyak curiga padanya."

-000-OdwO-000-

Dalam pada itu setelah meninggalkan istana, Lim Cu-jing terus larikan kudanya, waktu itu baru menjelang kentongan kee mpat. jalan raya masih sepi lenggang tiada orang, kudanya berlari kencang lagi, dalam sekejap saja dia sudah kembali ke Tang-sun- can. Kacung yang biasa mengurus kuda belum lagi bangun, seorang pelayan melihat dia ke mba li segera lari menya mbut serta menerima kudanya.

Lim Cu-jing langsung ke mbali ke ka marnya, baru saja melangkah masuk pintu, mendadak terasa olehnya ada seseorang berada di kamarnya, keruan dia melengak, tapi tenang saja dia menutup daun pintu la lu dengan suara kereng me mbentak: "Siapa?" Dari pojok dinding yang gelap sana berkelebat keluar bayangan seorang, sahutnya lirih: "Inilah aku Ting Kiau."

Kini Lim Cu-jing dapat melihat jelas orang yang sembunyi di kamarnya ini me mang Ting Kiau yang menya mar jadi kakek, dia bertanya heran: "Ada keperluan apa Ting-heng sa mpa i ke mari?"

"Baru sekarang Ling-heng ke mbali, dari mana kau?" tanya Ting Kiau.

"Cayhe baru kembali dari istana. setelah terang tanah seluruh pasukan bayangkari akan menggeledah kota dengan pakaian preman, Ting-heng jangan la ma2 tinggal di dalam kota."

"Lohujin sudah pindah ke Pek- hun-an di luar kota, cuma beliau kuatir akan kesela matanmu maka suruh aku ke mari me mberi kabar padamu. Ki Seng-jiang adalah ko mandan tertinggi pasukan bayangkari, kalau turun tangan di istana, perkaranya bisa menjadi besar dan pasti menimbulkan akibat yang luar biasa, maka Ling- heng dipesan supaya tidak turun tangan di istana "

Lim Cu jing alias Ling Kun-gi tertawa, katanya: "Ibu terlalu kuatir bagiku, maksud beliau cukup kupaha mi. Kalau tidak mala m tadi sudah kubunuh keparat she Ki itu."

"Aku disuruh me mberitahu kepada Ling-heng bahwa keluarga Ki Seng-jiang tidak di sini, tapi dia punya seorang gundik yang tinggal di taman keluarga Kauw di barat kota, dalam sepuluh hari sedikitnya ada lima hari dia ngendon di rumah gundiknya itu."

"Darimana Ting-heng tahu hal ini?" tanya Cu-Jing heran.

Ting Kiau tertawa, ucapnya: "Kudengar Pangcu Pek-hoa-pang telah menyelundupkan seorang dara kembangnya yang bernama Ing-jun, sekarang dia bekerja di sana."

Nama Ing jun tidak asing lagi bagi Lim Cu-jing, waktu di Coat- seng-san-ceng dulu yang melayani dirinya juga Ing-jun adanya. Akhirnya dia me ng-hela napas, ujarnya: "Pek-hoa-pang cukup lihay dalam menana m mata2nya ke pihak musuh." "Hari ha mpir terang tanah, aku harus lekas menyingkir dari sini."

"O, Ting heng, ada suatu hal, seke mbali nanti tolong kau tanyakan kepada nona Bok-tan, dulu gubernur Shoatang yang bernama Kok-thay punya seorang sekretaris yang bergetar Im-si- boan koan Ci Kun jin, konon kini menye mbunyikan diri di Jiat ho sini, entah dia tahu tidak hal ini? Sudah beberapa hari ini kucari tahu, hasilnya nihil."

"Baiklah soal ini akan kusa mpaikan, bila ada kabarnya segera kulaporkan ke mari," habis berkata Ting Kiau tarik pintu terus menyelinap keluar.

Setelah Ting Kiau pergi, Lim Cu-jing bersemadi sebentar, haripun terang tanah.

Setelah makan pagi Lim Cu jing keluar dari Tang-sun-can langsung menuju los men Liong-kip. Di depan pintu dia melihat anggota2 barisan kesatu yang menyamar sebagai pedagang, seorang mengenakan topi berbentuk runcing tinggi, mengena kan baju pendek dari kain kasar, tangan me megang pecut, mirip kusir kereta dengan lahapnya tengah makan pagi. Agaknya kamar los men penuh dihuni ta mu, karena belum ada ka mar kosong, terpaksa mereka menunggu di luar.

Lim Cu-jing anggap tak kenal mereka, langsung dia berlenggang ke dalam menuju ke pintu ka mar Tu Hong-seng, sekilas dilihatnya Go Jong-gi juga menya mar dan t inggal di ka mar sebelah Tu Hong- seng, pintu kamarnya terbuka lebar. Pelan2 Lim Cu-jing lewat di depan ka marnya, Go Jong-gi ter sipu2 maju menya mbut.

Lim Cu jing celingukan, dilihatnya tiada orang, segera dia merendahkan suara bertanya: "Semuanya sudah menginap di sini?"

"Di sini hanya ada lima ka mar kelas satu, seluruhnya sudah dihuni orang, sisanya yang lain hanya ka mar2 biasa." Sahut Go Jong-gi.

Lim Cu jing mengangguk, katanya: "Baiklah, kau tidak usah cari hubungan dengan Tu heng." Go Jong gi mengiakan terus mengundurkan diri tanpa bersuara lagi. Lim Cu jing langsung mendekati pintu dan mengetuk pelahan dua kali, teriaknya: "Tu-heng, sudah bangun??

Mendengar suara Lim Cu jing, lekas Tu Hong-seng menyahut: "Lim-heng, sejak tadi aku sudah bangun!. silahkan masuk!" - Cepat dia me mbuka pintu menyila kan orang masuk, lalu menutup pintu pula, katanya: "Silahkan duduk Lim heng."

Lim Cu jing duduk di kursi dekat jendela, lalu tuturnya: "Semala m ada onar di istana."

Terbelalak kaget Tu Hong-seng, tanyanya: "Ada onar di istana, ada orang menyelundup ke sana?"

"Ya," jawab Lim Cu-jing,   "dengan   Tun-yang-kang menghancur kan laporan Tu heng, dengan pedang pusaka yang tajam luar biasa dia me motong besi belenggu di kursi Jongtai pula, setelah bergebrak tiga jurus pedang dan sekali pukulan dengan Jongtai, dia melarikan diri."

"Berhasil melo loskan diri?" seru Tu Hong seng kaget, "tujuannya ke sana untuk menghancur kan laporanku itu, bahwa dia ma mpu lolos dari tangan Jongtai, maka ilmu silatnya pasti amat tinggi, entah siapa dia?"

Lim Cu jing menengadah, katanya: "Ling Kun-gi."

"Ling Kun gi," tanpa terasa Tu Hong-seng bergidik ngeri, mukanya mengejang, mulutpun mengguma m: "Masa dia, betulkah dia sudah datang ke mari?"

"Agaknya Tu-heng a mat takut padanya?" tanya Cu-jing.

"Bila dia sudah tiba di Jiat-ho, pasti takkan me mberi a mpun padaku. kalau laporanku telah di hancurkan, me mangnya dia mandah me mbiar kan mulutku bercerita lagi?"

Lim Cu jing tertawa dingin: "Tu-heng kan seorang kawakan Kangouw yang kenyang mengecap pahit getirnya kehidupan, kepandaian silat mu cukup tinggi, kenapa menyinggung Ling Kun-gi lantas ketakutan begini rupa?"

Tu Hong keng menyengir, katanya: "Ada yang tidak Lim-heng ketahui, bocah she Ling itu adalah murid Hoan-jiu-ji-lay. Han-hwecu juga bukan tandingannya, dengan sedikit kepandaianku ini mana aku ma mpu menandangi dia."

Dalam hati Lim Cu-jing me mbatin: "Mungkin tiga jurus saja jiwa mu akan melayang " - Dengan bertopang dagu lalu dia berkata: "Tu-heng mengagulkan dia begitu lihay, aku jadi ingin menjajalnya."

- Dengan tertawa tawar dia lantas menambahkan: "Tapi Tu-heng tak usah kuatir, Jongtai sudah pikirkan kesulitanmu ini, maka aku diperintahkan me lindungimu. pagi hari ini kawan2pun telah kukerahkan ke mari, dengan menya mar mereka juga menginap di los men ini, asal dia berani datang, entah mati atau hidup pasti kubekuk dia."

Sedikit lega hati Tu Hong-seng, katanya sambil menghela napas: "Entah ada petunjuk apa pula dari Jongtai untukku?"

Lim Cu-jing tertawa, katanya: "Ya, ada perintah dari Jongtai supaya kau mengulangi laporanmu,"

"Ya, ya, pasti segera kuselesaikan," sahut Tu hong-seng, lalu tanya: "Apakah Jongtai me mbatasi berapa la ma harus kuselesaikan laporanku?"

""Batas waktu sih tidak ada, kupikir lebih baik Tu-heng kerjakan secepatnya."

"Lim-heng benar, pasti segera kukerjakan,"

"Baiklah, lekas Tu heng tulis," ucap Cu jing berdiri, "aku tidak mengganggumu lagi, kau boleh bekerja dengan tenang, sekeliling kamar mu ini sudah dijaga ketat, apabila di siang hari bolong, pasti dia takkan berani bertindak, nanti ma lam aku datang pula."

"Sela mat jalan Lim-heng, aku tidak mengantar," seru Tu Hong- sing. Sekeluar dari los men Liong- kip, dia m2 Cu jing berpikir, jejak Ki Seng jiang sudah diketahui, entah di ma na pula Im-s i-boan-koan C i Kun-jin itu menyembunyikan diri? Sebelum mene mukan jejak Cu Kun-jin, tak mungkin dia turun tangan me mbunuh Ki Seng jiang. Sebab begitu Ki Seng- jiang ma mpus, seluruh kota Jiat-ho ini pasti gempar dan begitu mendengar berita ke matian Ki Seng-jiang, Ci Kun-jin akan segera angkat langkah seribu, ma ka tugasnya akan lebih sulit lagi.

Menurut laporan Ting Kiau, Ki Seng-jiang punya seorang gundik yang tinggal di taman bunga keluarga Kauw di sebelah barat kota, untuk ini dia merasa perlu untuk menyelidik ke sana. Kini dia me mpero leh tugas menyelidiki penduduk, kebetulan bisa digunakan sebagai alasan untuk keluyuran kian-ke mari.

Dia berlenggang di ja lan raya seperti orang tamasya, setiap jalan pasti dia perhatikan dengan seksama, entah itu warung makan, kedai minum, sarang judi, atau tempat mesum. Tapi hakikatnya dia tidak kenal ta mpang Ci Kun-jin, kota Jiat-ho sebesar ini, laksana mencari jarum dalam lautan belaka. Akhirnya dia tiba di kota sebelah barat, haripun sudah lewat lohor.

Kota barat letaknya lebih menjurus ke utara, rumah penduduk cukup padat. Berdiri pada persilangan jalan, Lim Cu-jing jadi bingung sendiri. Soalnya Ting Kiau hanya me mberitahu bahwa gundik Ki Seng-jiang ada di taman keluarga Kauw di kota barat, padahal dimana letak taman keluarga Kauw dia sendiri tidak tahu, orang yang lalu lalang di jalan raya sinipun tidak banyak, apalagi kurang leluasa untuk mencari tahu pada penduduk sete mpat.

Bahwa sekarang dia belum punya rencana turun tangan pada Ki Seng-jiang, bila yang dia tanyai kebetulan ada hubungan keluarga dengan keluarga Kauw, bukankah urusan bisa runyam ma lah.

Sebagai komandan tertinggi pasukan bayangkari, Ki Seng-jiang cukup disegani penduduk kota Jiat-ho, tempat kedia man pribadinya di rumah gundiknya itu tidak diumumkan secara terbuka, tapi hal ini sudah menjadi rahasia umum, bila keluarga Kauw itu ada hubungan dengan gundiknya, bukan mustahil kaki tangan kepercayaannya juga melindungi keluarga itu?

Akhirnya Lim Cu-jing a mbil keputusan akan maju lebih lanjut untuk menyelidiki daerah ini. Tak tersangka baru beberapa langkah dia beranjak, dilihatnya di pinggir jalan di ujung gang sana terdapat sebuah batu pertanda perbatasan dari satu jalan dengan jalan yang lain, di atas batu tertulis "batas milik keluarga kauw". Kiranya gang yang lebarnya cukup untuk jalan dua buah kereta berjajar ini bukan jalan umum, tapi milik pribadi keluarga Kauw. Maklum gang yang beralas batu gunung putih licin ini me njurus ke pintu gerbang sebuah bangunan gedung yang besar.

Gang ini panjangnya ada seratusan meter, daun pintu gerbang yang bercat merah tertutup rapat, sepasang gelang baja warna hitam bergantung di daun pintu. Tak perlu disangsikan lagi di sinilah letak gedung keluarga Kauw. Agaknya orang she Kauw pemilik gedung dan ta man ini punya pangkat dan harta yang berlimpah.

Sebagai tokoh yang disegani maka Ki Seng-jiang mendapat pinjam te mpat yang biasanya untuk istirahat para pembesar yang lagi cuti di Jiat-ho sini.

Jalan yang cukup lebar ini dipagari pohon yang tinggi, suasana di sini sunyi, tanpa terasa Lim Cu-jing menyusuri lorong panjang ini dan akhirnya me mbe lok ke kanan menyusuri sebuah sungai kecil, menyeberang jembatan batu dan maju lebih lanjut, di sana keadaan agak belukar, tapi di kejauhan sana tampak tembo k kota. Lim Cu- jing maju lagi beberapa jauh, kini dia berada di sebelah belakang taman atau gedung megah keluarga Kauw.

Akhirnya Lim Cu-jing naik sebuah bukitan yang cukup tinggi, dari sini dia dapat melihat jelas keadaan sekelilingnya, ternyata tanah milik ke-luarga Kauw bagian belakangnya dipagari te mbok t inggi, di luar tembo k mengalir sebuah sungai kecil, cuaca me mang sudah remang2, tapi masih ta mpak adanya pepohonan, tanaman bunga, gardu dan tempat duduk di tengah taman serta bangunan berloteng. . Setelah menyaksikan sendiri letak tempat yang dicari, maka legalah hati Lim Cu jing, dia merasa tidak perlu lama2 tinggal di sini, menyusuri jalan datangnya tadi ia kembali menuju ke arah timur.

Waktu itu hari sudah petang, penduduk mulai menyulut pelita, tiba di jalan raya timur, suasana mala m ini mula i rama i pula, tengah dia mengayun langkah tiba2 ia mendengar seorang menghardik lir ih: "Awas!" - Lenyap suara peringatan itu, didengarnya pula samberan angin kencang yang mengarah belakang kepalanya.

Terkejut Lim Cu-jing, di tengah jalan raya seramai ini kiranya ada juga orang berani menyerang dirinya. Sudah tentu Cu-jin tidak gentar menghadapi sergapan siapapun, tanpa meno leh tangan kirinya seperti meraih ke belakang, dengan mudah dia sa mbut serangan senjata rahasia itu.

Begitu senjata rahasia itu terpegang, seketika ia merasakan bobot senjata rahasia ini a mat ringan, tidak mirip senjata rahasia umumnya, kiranya itu hanya segulung kertas. Apalagi suara peringatan "awas" tadi cukup merdu seperti sudah dikenal olehnya.

Pemuda pelajar baju putih yang muncul mendadak mala m itu, waktu menimpukkan segenggam Bwe-hoa-cia m ke arah Ki Seng- jiang juga menghardik dengan kata yang sa ma, jelas nada keduanya mirip. Ki Seng-jiang yang cukup kawakanpun dapat me mbeda kan suara itu keluar dari mulut seorang gadis.

Reaksi Lim Cu-jing cukup cekatan dan cepat, sigap sekali dia sudah berputar balik. Tapi suasana pasar mala m saat itu masih ramai, orang berjubal di jalan raya, sudah tentu jejak pelajar baju putih tak dilihatnya. Mungkin mala m ini dia tidak berpakaian putih, pendek kata Cu-jing tak berhasil mene mukan orang yang diharapkan.

Gulungan kertas tergenggam di telapak tangan, dia tahu mela lui secarik kertas ini orang ingin menya mpaikan sesuatu khabar padanya, semala m dia sudah muncul me mbantu dirinya me loloskan diri dari sini dapat disimpulkan bahwa dia kawan dan bukan lawan. Sungguh sema lam ia tak menduga bahwa Ki seng-jiang tidur dika mar bukunya, bila tiada bantuan pelajar baju putih, untuk menerjang   keluar dari kepungan   musuh   jelas tidak   mudah. Me mangnya siapakah nona ini, kenapa begini misterius?

Malam ini dia menyambitkan gulungan kertas ini, me mangnya ada berita penting apa yang hendak disa mpaikannya padanya? Kini dia harus mencar i te mpat untuk me mbuka dan me mbaca gulungan kertas ini.

Segera dia ayun langkah ke depan serta perhatikan kiri-kanan jalan raya, kebetulan tak jauh dilihatnya ada sebuah warung arak, langsung dia masuk ke sana dan duduk di meja paling pojok serta me mesan ma kanan.

Sekilas   Lim   Cu-jing   celingukan,    dilihatnya    tiada    orang me mperhatikan dirinya, pelan2 dia buka gulungan kertas serta me mbaca tulisan di kertas itu.

Seketika berubah air mukanya. Surat itu berbunyi:

"Te manmu menginap di rumah penduduk di pintu selatan jejaknya sudah konangan, kalau tidak lekas ditolong mungkin terlambat!" Dibagian bawahnya ada sebaris huruf kecil berbunyi: "Kian Te-jin alias Ci Kun-jin ia lah Cukong yang me miliki Tang-sun- can, bersama ini kusa mpaikan keterangan rahasia ini."

Kejut dan girang bukan main hati Lim Cu-jing di samping kuatir pula akan kesela matan te mannya, tapi siapakah teman yang dimaksud dalam tulisan ini? Apalagi jejaknya sudah konangan, padahal hari sudah gelap, dirinya tidak tahu di ruma h penduduk mana te mannya menginap? Bagaimana pula mencarinya? Iapun girang karena Ci Kun-jin yang dicarinya ubek2an selama beberapa hari ini akhirnya diperoleh beritanya dengan mudah. Karena senang hampir saja dia lupa pada pesanan makanannya, untung pelayan datang menyuguhkan arak, ia hanya minum dua teguk, tak se mpat dia ma kan hidangan yang dipesan terus berbangkit, setelah meninggalkan beberapa keping uang perak, tanpa pa mit dia berlari keluar. Setiba ditempat sepi dan tiada orang, cepat dia mengusap mukanya, obat rias di mukanya seketika rontok, la lu ia berlari ke pintu selatan. Dia tidak tahu di mana letak Ki-ti-pong? Maka dia tanya penjual mi di tepi jalan, lalu me nuju ke sana.

Ki-ti-pong adalah sebuah gang, rumah2 yang me magar i gang sempit ini kebanyakan gubuk2 reyot, setiba di ujung gang dilihatnya di te mpat gelap sana berdiri satu orang. Orang ini berpakaian biru, bertopi lebar yang ditekan rendah, melihat ada orang datang, orang itu melangkah ke depan pelan2.

Sebelum orang buka suara Lim Cu-jing sudah mendahului tanya dengan suara rendah: "Kau dari barisan keberapa?"

Orang itu tampak melenggo ng dan menatap tajam Lim Cu-jing, tanyanya kemudian: "Apa katamu, siapa saudara?"

"Kau tidak mengena lku, tapi pasti kenal ini?" ucap Cu-jing sa mbil me mbuka tangannya, di telapak tangannya mengge letak sebentuk medali perak, me lihat medali perak itu, orang itu tertegun dan bersuara lirih: "0, kau Jilingpan . . . . " ter-sipu2 dia menjura.

Cu-jing pegang lengan orang, katanya: "Di sini jangan disa makan di dala m, saudara tidak usah banyak adat, mari kita bicara sambil berjalan supaya tidak menimbulkan curiga orang."

Dengan gugup orang itu perkenalkan diri: "Ha mba Thio Si-jut, anggota kelompok ketiga dari barisan ke satu, barusan berlaku kurang adat harap "

Cu jing tertawa: "O, kiranya Thio heng kita sama2 belum kenal, kesalahanmu bukan soal, aku Lim Cu-jing, baru kemarin mala m me mangku jabatan ini, kali ini Jongtai menyerahkan penyelidikan rumah2 penduduk padaku, barusan kuterima perintah rahasia Jongtai, adakah sesuatu yang mencurigakan dalam pengawasan Thio-heng di tempat ini?"

Menurut laporan, rumah kelima di depan sana kemarin mala m datang seorang tua dan seorang muda mengiringi dua nona, logat mereka dari daerah selatan, gerak-gerik mereka me ncurigakan." Cu-jing pikir tua- muda dan dua nona, jelas itulah Cu Bun-hoa bersama Tong Siau- khing, Tong Bun- khing dan Cu Ya- khim. Sa mbil mengangguk dia bertanya: " Mereka mengadakan gerakan apa"

"Tiada gerakan apa2" sahut Thio Si-jut, "sejak ke marin mere ka tidak pernah muncul."

Lim Cu-jing pura2 mengerut kening, katanya: "Lingpan hanya suruh kau seorang saja?"

"Ada seorang lagi berjaga di ujung sana, dia bernama Kiang It kui."

Lim Cu-jing mendengus, katanya: "Mereka ada empat orang. Lingpan kalian hanya menugaskan dua orang di sini, bukankah terlalu ceroboh?"

"Ya, ya," Thio Si jut unjuk senyum getir, "ha mba hanya diperintahkan menga mati gerak gerik mereka secara diam2. Lingpan sudah me mberi laporan kepada Toalingpan, katanya pada kentongan kedua nanti akan me mbekuk mere ka."

"Kalau kee mpat orang ini bukan kaum pe mberontak bagaimana?" tanya Lim Cu jing.

"Toalingpan pernah berpesan, lebih baik salah menangkap seratus orang, daripada seorang pemberontak lolos."

"Me mang betul ucapannya." ujar Lim Cu-jing, "coba kau tunjukkan te mpatnya padaku."

Thio Si jut kaget. katanya "Jilingpan, kau ........ dia mengawasi Lim Cu-jing, lalu berkata pula: "barusan Toalingpan ada pesan, karena tenaga belum terkumpul, ka mi dilarang bergerak supaya tidak menggagalkan rencana."

"Aku tahu, Jongtai langsung me mber i perintah padaku untuk menyelidiki keadaan di sini, kau harus tunjuk tempatnya supaya aku bisa ikut mengawasi, kalau sampai mereka melarikan diri, kau berani tanggung jawab?" Thio Si jut tak mau menanggung ris ikonya, lekas dia munduk2: "Ya, ya, biarlah hamba tunjukkan tempatnya." - Lalu dia mendahului me masuki gang se mpit itu.

Tujuh delapan langkah ke mudian mendadak Thio Si jut berhenti, katanya dengan lirih: "Rumah di depan itulah."

Cu jing melihat rumah yang ditunjuk adalah sebuah gubuk bobrok, di depan pintu ada sebuah gerobak dorong yang sudah rusak, sekali pandang orang lantas tahu bahwa penghuni rumah ini adalah penjaja kelilingan.

Tiada sinar pelita dalam ruma h, keadaan gelap gulita dan tak terdengar suara apapun, mungkin penghuninya sudah tidur nyenyak

"Itu kan rumah pedagang kelilingan," ucap Lim Cu jing. "Ya, me mang rumah itulah," sahut Thio Si-jut.

Mendadak Lim Cu-jing me nutuk belakang kepala Thio Si-jut, berbareng tangan kanan   mencengkeram lengan   orang, sekali ke mpit dia bawa orang melejit maju ke depan pintu, terus mengetuk pintu.

Tapi dari dalam rumah tiada reaksi apa2. Cu-jing jadi gelisah, ke mbali dia mengetok dua kali. Tetap tiada terdengar suara orang di dalam rumah. Cu jing kerahkan tenaga pada jari terus menonjok daun pintu, sekali tutul daun pintu lantas tembus dan berlobang, dia dekatkan mulutnya ke lubang serta bersuara dengan Lwekangnya ke dalam rumah: "Adakah orang di dala m."

Orang di luar rumah takkan me ndengar suaranya, tapi yang berada di dalam dapat mendengar dengan terang. Betul juga, terdengar seorang tua bersuara serak bertanya: "Siapa di luar? Tengah mala m buta ada keperluan apa?"

Dia m2 Lim Cu-jing geli mendengar suara ini, itulah suara Ciam- liong Cu Bun-hoa, betapa-pun dia masih mengenalnya dengan baik.

"Waktu a mat mendesak, lekas Cu-cengcu buka pintu," desis Cu- jing. Sayup2 terdengar suara gemerisik la mba ian pakaian orang, jelas ada beberapa orang me mburu keluar dari belakang rumah, semuanya berjaga dan sembunyi di belakang pintu. Sudah tentu semua ini takkan dapat mengelabui pendengaran Lim Cu-jing yang tajam menyusul sinar api menyala, langkah berat dan pelahan terdengar beranjak ke-luar, tak lama ke mudian daun pintupun pelan2 terbentang. Seorang laki2 bungkuk berdiri di tengah pintu, katanya: "Saudara ada urusan apa?"

Sekali pandang Lim Cu-jing lantas kenal kakek yang pura2 bungkuk ini me mang Cia m-liong Cu Bun-hoa adanya, sebelum orang me lanjutkan pertanyaan, segera ia menyelinap masuk dengan menge mpit Thio Si jut sambil berkata lir ih: "Cu-cengcu lekas tutup pintu."

Pada pintu yang menembus ke belakang berdiri seorang gadis remaja, dia bukan lain adalah Cu Ya khim. Di belakang pintu sa mar2 terlihat sembunyi dua orang lagi, jelas mereka adalah Tong Siau- khing dengan Tong Bun-khing yang menyamar.

Baru saja Lim Cu-jing berdiri di ruang ta mu, Tong Siau-khing sudah lekas2 merapatkan pintu, berempat mereka mengepung Lim Cu-jing di tengah, agaknya mereka siap bertindak bila perlu.

Tapi belum lagi Cu Bun-hoa bertanya pula, semua orang kini dapat melihat jelas siapa orang yang menyelinap masuk sambil menge mpit seorang lagi. Hampir bersa maan Tong Bun- khing, Cu Ya khim dan Tong Siau-khing berseru girang: "He, Kau!"

Mata Cu Bun-hoa bercahaya, katanya tertawa: "Darimana kau tahu ka mi berada di sini? Eh, siapa dia?"

Setelah me letakkan Thio Si-jut di lantai, Lim Cu jing menjura kepada Cu Bun- hoa, katanya: "Cu-cengcu, duduk persoalannya kini tak sempat kujelaskan jejak kalian di sini sudah konangan musuh, orang ini adalah cakar alap2 dari pasukan bayangkari, pada kentongan kedua nanti mereka akan menggerebek kalian, maka Cu- cengcu berempat harus lekas menyingkir, ibu kini t inggal di Pek hun-am di luar pintu kota barat, sementara lebih baik kalian pindah ke sana saja. Cayhe masih ada urusan penting lain yang harus segera kubereskan, baiklah aku moho n diri dulu." Lalu dia putar badan hendak pergi.

"Kau mau ke mana?" lekas Tong Bun khing bertanya.

"Disebelah lorong sana masih ada seorang cakar alap2, Cayhe akan bereskan dia."

"Bagaimana kita bereskan orang ini?" tanya Cu Bun- hoa.

"Sudah kututuk hiat-to ke matiannya, biarkan dia di sini, lekas kalian berangkat saja, setelah urusanku selesai Cayhe akan menyusul ke Pek-hun-a m."

Habis bicara Cu-jing tarik daun pintu terus menyelinap keluar dan menghilang.

Dengan cepat Lim Cu-jing tiba di ujung gang, dari kejauhan dia me lihat adanya bayangan orang yang berdiri di bawah e mper.

Betapa cepat gerakan Lin Cu-jing, dikala orang itu terkejut karena merasa kedatangan orang, tahu2 Lim Cu-jing sudah berada di depannya. Ternyata orang ini cukup cerdik, sebat sekali dia berkisar, berbareng tangan kanan meraba golok di pinggangnya, tegurnya dengan kaget: "Siapa kau?"

"Kau ini Kiang It- kui, betul tidak?" kata Lim Cu-jing dengan suara kereng.

Keadaan gelap gulita, orang itu tak dapat melihat jelas muka Lim Cu-jing, tapi mendengar Lim Cu-jing menyebut namanya, dia bertanya kaget: "Kau kenal aku? Kau "

Terbukti bahwa orang ini Kiang It-kui, maka Lim Cu-jing tidak mau banyak o mong lagi, mendadak ia menutuk Hiat-tonya sehingga semaput, dia raih badan orang terus dike mpitnya dan dibawa lari.

Waktu dia ke mba li ke gubuk bobrok itu, Cu Bun hoa bere mpat sudah tak kelihatan bayangannya, kiranya mereka sudah pergi. Setelah menurunkan Kiang it hui, Cu jing tutup pintu depan, lalu dia buka jendela belakang dan keluar dari situ, dengan cepat ia kembali ke penginapannya.

Sudah tentu anggota pasukan bayangkari yang ditugaskan di los men Liang- kip untuk me lindungi kesela matan Tu Hong-seng tiada yang berani tidur, mereka tidak berani minum arak atau berjudi. Biasanya bila mereka kumpul bersa ma, kalau tidak judi pasti minum arak, ini sudah merupakan kerja rutin mereka, tapi ma lam ini tiada satupun yang berani melanggar perintah.

Go Jong gi adalah pimpinan mere ka, sudah tentu dia kelihatan lebih sibuk, daun pintu ka marnya hanya dirapatkan saja, jangankan tidur, rasa kantukpun harus ditahan. Dia tahu betapa berat tugas mereka melindungi jiwa Tu Hong-seng.

Kelo mpo k pertama barisan bayangkari merupakan satuan yang paling unggul daripada seluruh pasukan, bukan saja mereka pandai silat dan me me miliki Ginkang tinggi, merekapun mahir menggunakan senjata rahasia, kini mereka sudah tersebar di sekitar kamar Tu Hong-seng dan menunggu datangnya musuh.

Tapi ini hanya merupakan salah satu langkah permainan Ki Seng- jiang yang banyak mus lihatnya.

Dia mas ih ada langkah kedua, yaitu seluruh anggota kelo mpok kedua dan ketiga di bawah pimpinan mas ing2 juga terpencar menginap di hotel2 sekitar los men Liong- kip.

Menurut perhitungan Ki Seng-jiang, asal Tu Hong-seng ma mpu bertahan dua tiga jurus terhadap Ling Kun-gi, maka orang yang bertugas jaga di losmen Liong-kip akan   berbondong2   keluar me mbantunya. Begitu terjadi kegaduhan di los men Liong-kip, ma ka orang2 yang sembunyi di hotel2 lainpun akan segera me mburu tiba.

jangankan manus ia, burungpun jangan harap bisa lolos dari kepungan ketat ini. Ki-Seng-jiang sudah me mberi pesan, mati atau hidup Ling Kun- gi harus ditangkap. Langkah kedua yang diatur Ki Seng-jiang ini cukup rahasia dan hati2 sekali, sa mpaipun Lim Cu-jing dan Go Jong-gipun t idak tahu sa ma sekali. Dikala Lim Cu-jing beranjak me masuki gang di mana letak deretan hotel2 itu, di ujung jalan sudah berdiri seorang laki2 kekar berpakaian hijau tua, melihat Cu-jing, lekas ia me ma pak maju, sapanya dengan tertawa: "Apakah ini Lim-ya?"

Lim Cu-jing melenggong, tanyanya: "Kau     "

Belum habis Cu-jing bicara orang itu sudah menambahkan dengan tertawa: "Hamba me ndapat perintah Jin-suya, ada sepucuk surat harus disampaikan kepada Lim-ya," dari sakunya dia menge luarkan sepucuk surat dan diaturkan dengan kedua tangan.

Jin-suya adalah Jin Ci-kui. Sekilas Cu jing berpikir, lalu ia terima surat itu. Setelah me mberi hor mat orang itupun me langkah pergi.

Dia m2 Cu-jing berpikir: "Kini sudah ha mpir kentongan pertama, untuk keperluan apa Jin Ci-kui suruhan orang me ngantar surat padaku?" - "Ai, tidak benar, darimana dia tahu aku baru kembali lalu suruhan orang menunggu di sini?"

Dilihatnya laki2 tadi berjalan dengan cepat, bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan.

Hati Cu jing se makin heran dan curiga, lekas dia sobek sa mpul surat, hanya secarik kertas sempit dan beberapa huruf yang berbunyi: "Awas hati2, Ki Seng-jiang telah pasang kaki tangannya secara diam2 di hotel2 sekitar los men Liong-kip, langkahmu harus hati2."

Tulisan ini tiada dibubuhi tanda tangan, tapi dari gaya tulisannya jelas mir ip peringatan sema lam dengan timpukan gulungan kertas itu, ma ka dapatlah diterka bahwa penulisnya adalah satu orang.

Mau tidak mau Cu-jing me lenggong heran, siapakah orang ini? Berulang dia me mbantu dan menyampa ikan peringatan, darimana pula dia peroleh berita rahasia sepenting ini?

Cu-jing merobek kertas itu, dengan langkah lebar dia lantas me masuki Tang-sun-can. Ia mende kati ka mar Go Jong- gi, lekas sekali Go Jong gi me mbukakan pintu, melihat yang datang Lim Cu- jing, dia menghela napas lega. katanya sambil me mbungkuk: "Lim- heng telah datang."

Cu jing me ngangguk, tanyanya: "Di sini tiada terjadi apa2?" "Aman, orang2 kita berjaga ketat siang mala m, syukur Lim heng

telah ke mari."

"Aku akan menengok Tu heng, masih ada tugas penting lain yang harus kubereskan selekasnya," lalu Cu jing . menuju ka mar Tu Hong-seng serta mengetuk dua kali.

Sudah tentu Tu Hong-seng belum t idur, lekas dia me mbuka pintu. Lim Cu-jing me langkah masuk, katanya tertawa: "Tu-heng belum tidur?"

Cepat Tu Hong-seng merapatkan pintu, katanya: "Semula aku merasa aman di sini, tapi melihat gelagatnya aku merasa tidak tenteram."

"Sekeliling ka mar Tu heng sudah dijaga ketat, kukira Tu heng tidak usah kuatir."

Kecut senyum Tu Hong-seng, katanya: "Lim-heng bukan orang luar, biarlah kubicara terus terang, Ki-jongtai sengaja suruh kutinggal di sini, tujuannya adalah me mbuat perangkap, aku dijadikan umpan untuk menjebak Ling Kun-gi. Padahal kutahu ilmu pedang Ling Kun-gi a mat tinggi, paling-paling hanya beberapa jurus saja dapat ku-tandingi dia. Barusan aku berbaring sambil me meluk pedang."

Me mang Lim Cu-jing melihat di ranjang mengge letak sebilah pedang, tanpa terasa dia tertawa, katanya: "Tu heng terlalu hati2, bukankah Tu-heng yakin sanggup menandingi beberapa jurus? Bila dia berani masuk ke ka mar ini, Tu- heng boleh berteriak saja dan kawan2 pasti akan keluar me mbantumu?"

"Teori me mang de mikian, tapi aku harus waspada, kabarnya Ling Kun-gi pandai menyamar, ma ka se hari2an ini sampaipun kacung yang mengantar minum dan makan juga kucurigai, sebetulnya aku harap2 cemas supaya dia lekas datang, dengan kekuatan orang banyak dapat kita menumpasnya maka legalah hatiku," lalu dia menuding gulungan kertas di pinggir ranjang serta mena mbahkan "Barusan Jongtai suruh orang mengantar petasan, katanya bila me lihat jejak Ling Kun-gi, aku harus le mparkan petasan itu keluar jendela, orang2 yang me mbantuku akan segera berdatangan."

Dia m2 Lim Cu jing berpikir: "Surat rahasia yang disampaikan pelajar baju putih itu kiranya tidak salah, bila petasan meledak, orang2 yang dipendam dalam hotel sekitar sini pasti akan segera me mbur u tiba." - Dengan tersenyum ia lantas berkata: "Perhitungan Jongtai me mang baik, tapi bila Ling Kun gi betul2 datang, mungkin Tu-heng tak ada kese mpatan mele mpar kan petasan itu."

Tu Hong-seng berjingkat kaget dan ketakutan. Dengan tersenyum Cu-jing berkata pula: "Bukankah Tu-heng barusan bilang Ling Kun gi pan-da i menyamar? Mungkin sekarang dia sudah berdiri di depanmu dan kau sendiri mas ih belum tahu."

Sedikit berubah air muka Tu Hong-seng.

Cu jing me langkah maju setindak, katanya katanya: "Mungkin, Cayhe inilah Ling Kun-gi."

Berdetak jantung Tu Hong-song, keringat dingin sudah mengucur, katanya dengan menyengir: "Ah, Lim heng suka guyon saja dengan aku."

Meski Lim Cu-jing lagi me ndekat selangkah, tapi karena dia adalah Jilingpan, maka Tu Hong-seng tidak berani menyurut mundur.

Tangan kiri Lim Cu jing secepat kilat bergerak mencengkeram urat nadi Tu Hong-seng.

"Kau       " Tu Hong-seng berteriak kaget.

Tanpa me mber i kesempatan bicara Cu- jing menutuk pula Ya- bun-hiat yang membuatnya bisu, katanya tertawa: "Sekarang Tu- heng sudah tahu siapa aku ini bukan bukan?" Karena urat nadi dipencet, Tu Hong-seng menjadi le mas, kulit mukanya berkerut gemetar, keringat dingin berketes2 membasahi jidat dan mukanya.

Lim Cu-jing merendahkan suara dan berkata dengan kale m: "Mungkin Yong lopek tidak tahu bahwa dulu kaupun menjual Hek- liong hwe, lantaran kau juga salah satu daripada ke 36 panglima maka beliau menga mpuni kau. Tentunya kini masih ingat pesan dan petuah apa yang diberikan Yong-lo pek sebelum melepas mu pergi, kita adalah keturunan Ui-te, bangsa Han yang jaya, maka kau diharapkan menjadi ma nusia baik2, tak nyana jiwamu ini ke maruk harta dan pangkat, watak bejat-mu me mang sukar diperbarui, baru sekarang kau harus mengala mi nasib jelek ini."

Tu Hong-seng ber kedip2 mukanya yang pucat ketakutan, ber gerak2 seperti mau minta a mpun atau ingin me mbe la diri, tapi suaranya tidak keluar.

Habis bicara Lim Cu-jing lantas menutuk ulu hatinya, berbareng tangan kiri menarik tubuh orang dan dilempar ke atas ranjang dan ditutupi selimut seperti orang tidur layaknya. Lalu dia menarik daun pintu, lalu cepat2 ia menuju ka mar Go Jong-gi, langsung dia dorong pintu dan masuk: "Go-heng, segera kau pilih enam orang yang mahir menggunakan senjata rahasia, suruh mereka ikut aku."

Go Jong gi me ngiakan, tanyanya sambil mengawasi Lim Cu jing: "Lim-heng hendak suruh mereka ke mana?"

"Sudah kuselidiki pada sebuah rumah penduduk ada sembunyi kaum pemberontak, akan kubawa mereka untuk me mbekuk orang, kau tak usah banyak tanya."

Toalingpan pernah berpesan agar seluruh anggota bayangkari tunduk pada perintah dan petunjuk Lim Cu-jing, maka Go Jong gi tak berani banyak bicara, setelah mengiakan dan bertanya pula: "Lim-heng suruh mereka berkumpul di mana?"

"Suruh mereka keluar dari pintu belakang hotel ini, setiba di ujung jalan sana, mereka harus tunggu perintahku di tempat gelap, sementara kau dan e mpat orang yang lain harus tetap siaga di sini, setapakpun tak boleh pergi."

Go Jong-gi mengia kan terus bergegas keluar.

Lim Cu jingpun segera keluar, tidak la ma dia menunggu di ujung jalan kecil sana, maka orang2 yang dia inginkan pun berdatangan.

Cu jing me mber i tanda gerakan tangan, segera beberapa orang berlari mendatangi. Cu jing me mbawa mereka ke suatu tempat gelap yang tersembunyi, dia hitung jumlah orangnya ada enam orang, katanya: "Barusan apakah Go lingpan sudah menjelas kan kepada kalian?"

Salah seorang menjawab sambil me mbungkuk: "Lapor Jilingpan, Go-lingpan sudah pesan, katanya Jilingpan akan me mberi tugas khusus kepada kami, maka ka mi disuruh tunduk pada perintahmu."

"Betul," ucap Cu-jing dengan menahan suara, "tadi sudah berhasil kuselidiki suatu ruma h penduduk yang menye mbunyikan kaum pe mberontak, mereka akan berte mu pada kentongan kedua ma lam nanti, kita harus siapkan lebih banyak senjata rahasia, pada saatnya nanti tanpa bersuara dapat kita bereskan mereka dengan senjata rahasia.

Keenam orang itu serempak mengiakan.

"Baiklah, kalian sekarang ikut aku," ucap Lim Cu jing. Lalu dia mendahului me lo mpat ke sana diikuti keenam orang itu, cepat sekali mereka sudah tiba di te mpat yang di tuju.

Melihat cuaca Cu jing taksir temponya sudah dekat kentongan kedua, kira2 setengah jam lagi gerakan akan segera dilaksanakan, maka dia pimpin keenam orang itu me masuki ja lan se mpit yang jorok itu.

Sebelumnya dia menerawang keadaan di sekitar sini maka dia sebar keenam orang itu ke atas wuwungan rumah penduduk di sekitarnya, masing2 di pesan menyiapkan senjata, diserukan sebelum lawan mendekati ruma h penduduk no mor lima mereka di larang turun tangan. " Setelah mengatur, dia m2 Lim Cu jing berge mbira, pikirnya: "Setelah kentongan kedua nanti, biarlah kalian saling cakar dan baku hantam sendiri."

Sigap sekali Cu-jing melo mpat turun, dengan menge mbangkan Ginkang langsung dia berlari sekencang angin menuju ke kota barat, tujuannya adalah kebun bunga keluarga Kauw.

Malam pekat, tembok tinggi me magari taman yang lebat ditanami pepohonan, alam se mesta ditabiri kabut tebal.

Karena taman ini menjadi kedia man pribadi ko mandan pasukan bayangkari maca m Ki Seng-jiang yang cukup berkuasa dan disegani, meski berkepandaian tinggi dan nyalinya besar, betapapun Cu jing tidak berani gegabah, setelah hinggap di atas tembo k, dengan seksama dia periksa keadaan sekeliling-nya,   setelah itu baru me layang turun.

Letak di mana dia turun kebetulan berada di sisi sebuah gunung2an yang tersembunyi, sebuah jalan beralas batu putih tampak menjurus ke sana menuju sebuah gardu kecil gardu pemandangan kecil ini dikelilingi pepohonan yang terawat baik dengan daunnya yang rimbun menghijau.

Sudah tentu Cu-jing tidak se mpat perhatikan panora ma indah dalam ta man, baru saja dia hendak melo mpat ke sana, tiba2 didengarnya nyekikik tawa geli seseorang, suaranya nyaring merdu, jelas suara seorang perempuan.

Di te mpat seperti ini, meski itu hanya cekikik tawa seorang perempuan, tapi bagi pendengaran Lim Cu-jing sungguh a mat mengejutkan, lekas dia berhenti beraksi serta pasang mata ke sekelilingnya.

Sebetulnya tak perlu dicari lagi, karena di tengah pepohonan yang rimbun sana pelahan2 telah muncul sesosok bayangan sema mpai. Belum lagi Cu-jing melihat jelas siapa bayangan ramping itu, orang berbadan sema mpa i itu, sudah bersuara: "Lim-kongcu baru datang, sudah la ma ha mba menunggu di sini." Nona ini berpakaian hijau pupus dengan gaun putih mulus, perawakannya tinggi sema mpai, kuncirnya yang besar dan kelam tampak menjuntai di kedua pundaknya, cuma kedua tangannya menutupi muka sambil miringkan badan lagi sehingga tak terlihat jelas ro man mukanya. Dandannya mirip seorang pelayan.

Sekilas me lenggong Lim Cu jing lantas bertanya dengan merendahkan suara: "Nona " Bayangan ramping. itu cekikikan

pula, katanya: "Memangnya Ling-kongcu sudah tidak me ngenal-ku lagi? Hamba adalah Ing jun." - Baru sekarang dia berputar menghadap ke mari.

Betul, me mang dia Ing-jun adanya, kini Cu-jing dapat melihat jelas, raut muka bundar laksana biji kwaci yang manis, bola matanya yang jeli, waktu tertawa sungguh menggiurkan.

Lim Cu-jing menghela napas lega, tanyanya sambil menatap Ing jun. "Dari mana nona tahu Cayhe akan datang?"

Ing-jun tertawa manis, katanya dengan nada misterius: "Kongcu tak usah tanya, waktu amat mendesak, lekas ikut ha mba."

Tindak tanduknya aneh dan misterius serta tetap nakal seperti waktu berada di Coat-sin-san-ceng, tiada pertanyaan yang dijawabnya secara langsung,   habis bicara   terus putar tubuh me langkah pergi, dari laporan Ting Kiau, Cu-jing tahu bahwa Ing- jun adalah mata2 yang ditanam di sini oleh Pek-hoa-pang, ma ka dia tidak menaruh   curiga,   tapi   dia   tetap   waspada,   tanyanya: "Ke manakah nona hendak me mbawaku?"

Sambil berjalan Ing-jun menjawab: "Ha mba akan me mbawa mu ke suatu tempat untuk me nolong seseorang."

"Menolong orang" tanya Cu-jing heran. "Menolong siapa? ." "Setiba di te mpat tujuan, Kongcu akan tahu sendiri," dia tetap

tidak mau menjelaskan.

Sambil bicara merekapun telah beranjak cukup jauh, dia m2 Cu- jing merasa heran dan bingung, karena Ing-jun berlenggang dengan cepat dan terang2an seperti tidak takut dilihat orang, mau tidak mau hal ini menimbulkan rasa curiga, maklumlah Ing-jun hanya seorang pelayan pribadi, mungkin dia me mperoleh kisikan dari sang Pangcu Bok-tan agar menunggu dan menyambut dirinya, tapi itu mestinya dilakukan dengan se mbunyi2, me mbawa seorang luar, apalagi di tengah mala m buta, tapi dia berjalan seperti berada di rumah sendiri, tidak kuatir dilihat orang.

Walau merasa urusan agak mencur igakan, tapi dia berkepandaian tinggi, nyalipun besar, apalagi tujuan kedatangannya me mang hendak mencari Ki Seng-jiang, peduli musuh bersiap atau tidak menunggu kedatangannya, akhirnya toh harus bergebrak mati2an.

Dengan langkah mantap Cu-jing terus mengikut i langkah Ing-jun dengan cepat, tak lama ke mudian tiba di depan sebuah bangunan mungil berloteng.

Mendadak Ing jun berhenti dan menuding ke atas loteng, katanya: "Orang yang harus Kongcu tolong berada di loteng ini, biarlah ha mba berjaga di sini, silakan kau naik ke atas."

Lebih je las lagi bahwa Ki Seng-jiang me mang telah mengatur perangkap di loteng ini. Dia m2 Cu-jing tertawa dingin, pikirnya: "Ki Seng-jiang, seumpa ma kau sembunyi di sarang harimau dan rawa naga tetap akan kupancung kepala mu, hanya sebuah loteng sekecil ini me mangnya dapat mengurung aku?"- Meski berpikir de mikian, tapi dia bersikap wajar dan tertawa malah, katanya: "Terima kasih atas petunjuk nona."

"Kongcu harus lekas bekerja, biarlah hamba menunggu di sini saja" ujar Ing-jun tersenyum penuh arti.

Cu-jing tidak bicara lagi, dengan enteng dia meloncat ke atas dan hinggap di sera mbi loteng tingkat kedua. Lantai kedua ini ada tiga deret kamar, semua gelap gulita tiada tampak sinar lampu dan tak terdengar suara orang, daun pintu yang terukir indah hanya sedikit dirapatkan saja. Sejenak Lim Cu-jing   merandek,   lalu   dia menge luarkan Le liong-cu dan mendorong pintu sa mbil melangkah masuk. Le-long-cu me mancar kan cahaya kemilau di te mpat gelap, di bawah penerangan mutiara ini Cu-jing dapat keadaan kamar, seketika ia melenggong. Ka mar perta ma rupanya ruangan kerja, kamar ke-dua ka mar tidur yang dipajang indah dan mewah, tapi keadaan sunyi senyap tak terlihat bayangan seorangpun, jelas di sini tak ada perangkap apapun.

Disa mping curiga Cu-jing menjadi bingung pula, di lihatnya di sebelah kanan terdapat sebuah pintu, kerai menjuntai menutupi pintu, karena cahbaya Le liong-cu rentengan mut iara itu menimbulkan ke milau yang beraneka warnanya.

Tiba2 Cu-jing tersentak kaget dan teringat pada orang yang harus ditolongnya seperti apa yang di katakan Ing jun, katanya berada di atas loteng, mungkin berada di ka mar sebelah, cepat ia menyingkap kerai dan masuk.

Baru saja maju selangkah, hidangnya dirangsang bau harum semerbak, ada almari pakaian berkaca, sebuah meja rias mungil, ranjang berkela mbu sutera yang bersulam indah.

Inilah ka mar perempuan. Sekilas Cu-jing melenggong, baru saja timbul niatnya hendak keluar. Tiba2 dilihatnya tak jauh di depan ranjang sana tanpa bergerak dan tidak bersuara rebah seorang perempuan tua berbaju hijau, sekilas pandang bagi seorang ahli akan segera tahu bahwa pere mpuan tua ini tertutuk hiat-tonya.