-->

Pendekar Kidal Jilid 33

Jilid 33

Kota Seng-tek terletak di barat propinsi Jiat-ho, sebuah kota pegunungan yang per mai.

Tahun ke-42 kaisar Khong- hi bertahta, dia mendirikan Pi-s iok- san-ceng di sini, akhirnya dina makan villa raja di Jiat-ho, bangunannya megah dan angker, letaknya di atas puncak yang menghadap danau dan me mbelakangi pegunungan yang indah permai.

Meski kota pegunungan, tapi Seng-tek merupakan pusat pemerintahan di daerah ini. Terutama kaisar Khong-hi sering liburan di sini, tamasya dan berburu binatang. Kehidupan dalam kota cukup makmur ra mai, mes ki kurang sepadan dibanding kotaraja, tapi tak kalah ra mai dan ma kmurnya dari pada ibu kota propinsi la in.

Kota ini mer upakan pusat berkumpulnya suku bangsa Han, Mancu, Mongol, Tibet dan Uigur, orang2 yang berlalu lalang di ja lan raya sama mengenakan pakaian adat suku bangsa masing2, meski berbeda bahasa dan tata cara, tapi mereka dapat bergaul dan bersahabat dengan rukun, masing2 berusaha menurut lapangan kerja sendiri, tak pernah terjadi pertikaian.

Jadi kota gunung ini seperti sebuah perkampungan besar dari lima suku bangsa yang ca mpur aduk, keadaan yang luar biasa ini takkan terdapat di kota2 lain. Jalan raya yang menjurus ke arah timur terhitung tempat yang paling ra mai di seluruh kota, pedagang, restoran, berbagai maca m toko serba ada di sini. Maklumlah Seng- tek merupakan kota terbesar di daerah Ko-pak-gau, kaum pedagang dari segala penjuru sa ma berpusat di sini, kalau bukan berbelanja juga mesti menginap dan bertamasya di kota pegunungan yang sejuk dan nyaman ini, sudah tentu keadaan dalam kota semakin ramai.

Di jalan raya timur yang agak menjurus ke ujung sana terdapat sebuah gang kecil yang melintang berna ma Tam- hoa-pui, agar mengikut i perubahan jaman, gang kecil ini sekarang dina ma kan Khek-can oh-hui, karena di gang kecil ini banyak terdapat hotel atau los men. Di sini ada sembilan hotel besar kecil, yang terbesar adalah Tang sun-can, pintu luarnya saja begitu luas sampai mengguna kan tujuh sayap pintu masuk, di dala mnya beberapa lapis pekarangan dan bangunan, bukan saja kamar2 di sini cukup baik, pelayanan pun istimewa, Tang-sun-ting yang terletak dibilangan paling depan merupakan bangunan yang mewah untuk te mpat makan minum. tamu2 yang tidak menginap juga boleh makan di sini sesukanya. Kalau jalan raya timur ini paling ra mai di seluruh kota, maka gang kecil dengan restoran Tang sun ting dari Tang-sun- can ini adalah paling menonjol di bilangan ja lan raya timur ini.

Padahal dalam satu gang kecil itu ada se mbilan hotel yang sa ma me mbuka restoran pula, konon setelah Tang-sun-ting penuh sesak dan tak kuasa me layani arus ta munya baru ta mu2 yang datang belakangan mau masuk ke restoran yang lain, tapi restoran yang lain setiap hari juga selalu penuh sesak. Usaha dalam satu bidang adalah ja mak kalau bersaing, saling sirik dan dengki, tapi cukong atau pemilik Tang-sun-can ini kabarnya me mpunyai asal-usul yang tidak se mbarangan, bukan saja di seluruh wilayah Jiat-ho dia cukup terpandang, di kalangan pe merintahan juga dia cukup dihargai, hubungan cukup int im dengan para pejabat yang berkuasa dari kelas rendah sa mpai tingkat tinggi, kabarnya majikan Tang sun can me mang punya tulang punggung yang kuat di kotaraja.

Seorang tokoh yang kaya raya, yang punya tulang punggung para pejabat lagi adalah jamak kalau tersohor dan dikenal baik oleh khalayak ra mai di Jiat-ho, kenyataan justeru tidak de mikian. Anehnya, sampaipun pegawai Tang-sun-can sendiri, kecuali tahu majikan mere ka dipanggil Kan loya, segala sesuatu prihal majikannya tiada seorangpun yang tahu. Kan-loya se-olah2 tokoh misterius, orang yang cuma berada di belakang tabir, maka tiada seorangpun yang tahu dan pernah me lihat mukanya.

Oleh karena itu timbul rekaan orang bahwa pemilik Tang sun-can adalah salah seorang pe mbesar di kotaraja yang menana m moda lnya di sini, se mentara Kan-loya tidak lebih hanyalah salah seorang budak yang dipercaya saja untuk mengurus i perusahaannya. Sudah tentu ini hanya rekaan saja, siapapun tiada yang bisa me mbuktikannya.

Pada siang hari itu, di depan pintu Tang-sun-can datang seorang laki2 ber muka merah, usianya paling2 baru empat likuran, mengenakan jubah biru yang sudah luntur warnanya, tapi kuda yang ditungganginya ternyata seekor kuda pilihan yang gagah kekar. Sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia kaum persilatan.

Pelayan yang bertugas di luar pintu segera menerima tali kendali, sementara seorang pelayan lagi maju menyambut sa mbil menjura: "Tuan mau menginap atau mau makan siang sekedar me lepas lelah?"

"Mau menginap," sabut laki2 muka merah.

"Tuan silakan!" pelayan munduk2 sambil menyila kan tamunya masuk ke dala m.

Laki2 muka merah segera melangkah masuk ke dala m, pelayan berkata pula: "Tuan mau ka mar istimewa atau ka mar biasa?"

"Ka mar istimewa," sahut laki2 muka merah singkat.

Mendengar orang mau me nginap di ka mar istimewa, sema kin lebar tawa pelayan, berulang dia mengia kan, katanya: "Tuan tamu she apa dan datang dari mana."

Laki2 muka merah kurang senang, katanya: "Apa2an, nginap di hotel juga harus laporan segala?" "Harap tuan tidak salah paha m," lekas pelayan menjelaskan, "soalnya pihak berwenang di sini se mala m mengeluarkan maklumat, barang siapa menginap dihotel harus didaftar, nama dan asal usul serta alamat asalnya, memang de mikianlah ketentuan setiap tahun bila tiba musimnya orang berburu, bagi tuan2 tamu la ma pasti sudah paham, mungkin tuan baru sekali ini datang ke Jiat ho?"

"O," laki2 muka merah mengangguk maklum. "Baiklah, aku Lim Cu-jing, datang dari Kangla m. Sudah cukup?"

"Tuan me mang suka berterus terang, soalnya daftar harus dilaporkan, harap tuan tidak kecil hati. Mari kutunjukkan ka marnya." pelayan segera bawa Lim Cu jing me masuki sebuah ka mar ka mar istimewa dari Tang-sun-can me mang betul2 istimewa, bukan saja kamarnya besar luas, jendelanya juga berkaca dan pintu angin serba ukiran, perabotnya mewah dan antik, kain seprei dan bantal guling se muanya baru.

"Bagaimana dengan ka mar ini tuan?" tanya pelayan.

Lim Cu jing manggut, pelan2 dia melangkah masuk. Pelayan segera menuang secangkir teh dan disuguhkan, katanya: "Tuan masih ada pesan apa?"

"Sudah tiada," sahut Lim Cu-jing. Pelayan segera mengundurkan diri sambil menutup pintu dari luar.

Lim Cu-jing merebahkan diri di ranjang sesaat la manya, ke mudian me mbuka pintu dan keluar menuju ke Tan-sun-ting. setelah ma kan siang baru dia tanya kasir di mana letak ja lan "Rejeki", sudah itu lalu dia berlenggang ke jalan raya.

Letak jalan Rejeki sudah mendekati pintu gerbang kota selatan, di sini keadaan agak sepi dan tenang, kecuali ada sebuah toko buku dari toko kelontong, tiada orang lain lagi yang berjualan.

Sebetulnya Lim Cu-jing sudah jauh2 hari me ncari tahu keadaan di sini, sudah tentu keadaan ini tidak me mbuatnya heran, sengaja dia mondar- mandir beberapa kali di jalan raya situ baru pelan2 me masuki toko buku, langsung dia menjura kepada seorang tua yang duduk di kursi serta menyapa dengan tawa: "Sela mat siang Lotiang."

Laki2 tua itu sedang berangin2 sa mbil mengisap pipa cangklongnya, melihat Lim Cu jing me masuki tokonya segera dia menya mbut sambit tertawa lebar: "Siangkong mau me mbe li buku apa?"

"Cayhe bukan mencari buku, mohon tanya kepada Lotiang, di jalan Rejeki ini ada sebuah Tin-wan Piaukiok, entah ke mana sekarang pindahnya?"

Laki2 tua me mandang Lim Cu-jing sekilas lagi, katanya: "Agaknya tuan baru pertama kali datang ke Jiat-ho sini? Tin-wan Piaukiok sudah la ma tutup pintu."

Lim Cu-jing pura2 melengak kaget, katanya menegas: "Tin-wan Piaukiok sudah tutup pintu?"

"Kira2 dua bulan yang lalu, Lo-piauthau Lim Tiang-khing meninggal dunia, maka perusahaan itu-pun menghentikan usahanya."

Hou-pian- liong jiau ( ca mbuk harimau cakar naga) Lim Tiang- khing terhitung jago silat kena maan di lima propinsi utara, Liong- hou-ki ( panji naga harimau ) dari Tin-wan Piaukiok sudah jauh menje lajah keluar perbatasan selama tiga puluhan tahun dan belum pernah mengala mi mus ibah apapun.

Lim Cu-jing mengunjuk rasa kecewa, katanya sambil menjura: "Kalau begitu banyak terima kasih atas keterangan Lotiang," segera dia mengundurkan diri.

Beruntun dua hari Lim Cu-jing t inggal di hotel, karena iseng, maka dia sering keluyuran di ja lan raya.

Hati ketiga tengah hari, waktu dia pulang ke hotel, baru saja dia me langkah masuk, pelayan lantas berlari mengha mpiri, katanya: "Lim-ya, pagi tadi datang seorang Jin-ya mencar imu, ha mba bilang engkau sedang pergi, maka Jin-ya itu bilang siang ini akan datang lagi." Lim Cu jing heran, di Jiat ho boleh dikatakan dia tidak punya seorang kenalan siapapun, maka dia bertanya: "Apa dia tidak me mper kenalkan na manya?"

"Tidak, Jin-ya itu cuma bilang te man baikmu."

Lim Cu-jing berpikir katanya. "Aneh, Cayhe selamanya tidak punya teman she Jin."

"Mungkin engkau lupa, untung dia tadi bilang mau datang lagi siang ini."

Lim Cu jing mengia kan dan kembali ke ka marnya. Pelayan segera mengaturkan minuman. Lim Cu-jing tidak tahu siapa orang she Jin itu? Untuk keperluan apa pula mencari dirinya? Sehabis minum baru saja dia duduk di kursi di dekat jendela, didengarnya orang mengetuk pintu, pelan2 daun pintu terpentang, kepala pelayan tadi tampak menongol, katanya dengan tertawa: "Lim-ya, tuan Jin itu sudah datang mencarimu lagi."

Waktu Lim Cu jing berdiri, pelayan sedang berkata pula di luar pintu: "Silakan Jin-ya!"

Maka tertampaklah seorang laki2 berusia sekitar lima puluhan mengenakan jubah sutera panjang warna biru tua melangkah masuk dengan pelahan.

Lim Cu-jing yakin dirinya tidak pernah kenal laki2 ini, tapi karena orang sudah masuk terpaksa dia menya mbut kedatangannya. Sebelum Lim Cu-jing buka suara laki2 itu sudah tertawa sambil menjura, katanya: "Tuan ini tentunya Lim- tayhiap?"

"Cayhe me mang betul Lim Cu jing."

"Aku yang rendah Jin Ji-kui, pagi tadi aku sudah kecelik. majikan kami sudah tak sabar lagi, baru saja habis ma kan siang kami didesak pula datang ke mar i, syukurlah bisa kete mu dengan Lim- tayhiap. Haha, berhadapan muka lebih jelas dari pada mendengar namanya, sungguh menyenangkan dapat berkenalan dengan Lim- tayhiap." Melihat sikap orang yang ra mah dan berseri, kata2nya mengumpak lagi, dia m2 Cu-jing merasa bingung, lekas dia balas menjura dan berkata., "Jin-lotiang terlalu me muji, pagi tadi Cayhe ada urusan dan keluar hingga tuan kecelik, untuk ini Cayhe moho n maaf, mar i silakan Jin-lotiang duduk."

Mereka lalu duduk berhadapan di dekat jendela. Lim Cu-jing menuang secangkir teh, katanya: "Jin-lotiang silakan minum."

Jin Ji kui menerima dengan kedua tangan, tawanya semakin lebar, katanya: "Terima kasih."

"Kedatangan Jin-lotiang entah ada petunjuk apa?" tanya Lim Cu jing ke mudian.

"Cayhe pengurus surat2 di balai kota, atas perintah majikan sengaja kemari menyampa ikan salam kepada Lim-tayhiap," kiranya dia adalah sekretaris walikota di sini.

Tampak serius muka Lim Cu-jing, katanya: "Kiranya Jin-lotiang adalah sekretaris walikota yang berkuasa, mohon maaf akan kelancangan cayhe ini."

"Ah, kenapa Lim-tayhiap bilang demikian, sema lam majikan menerima surat dari istana, baru kami tahu bahwa Lim-tayhiap telah berada di Jiat-ho, maka tadi pagi Cayhe lantas diutus ke- mari, Jiat- ho me mang daerah kecil, tapi Lim-tay-hiap adalah tamu terhormat dari majikan ka mi, apa-pun t idak pantas kalau menginap di hotel."

Dia m2 Lim Cu-jing, sudah maklum apa yang dina makan surat kirima n dari istana pasti kirima n Pho Kek-pui. Maka dia balas menjura. katanya: "Berat kata2 Jin-lotiang, kedatangan Cayhe ke Jiat-ho ini, tujuan semula adalah cari pekerjaan pada seorang paman. Ini urusan pribadi yang sepele, mana berani kubikin repot pada majikanmu?"

"Surat dari istana sudah menjelaskan bahwa Lim-tayhiap punya seorang paman yang me mbuka Piaukiok di Jiat-ho, Lim-tayhiap diundang untuk me mbantu usahanya. maka Lim tayhiap tidak mau bekerja di kotaraja. Tapi dengan bekal kepandaian Lim-tayhiap kalau sampa i terbenam di kalangan Kangouw kan terlalu sayang, dalam surat majikan kami ada pesan betapapun diharus kau me manfaatkan kehadiran Lim-tayhiap serta bakatmu yang tinggi, waktu Cayhe datang tadi, majikan sudah siap menunggu kedatanganmu, harap sudi kiranya Lim-tayhiap datang dan bicara langsung dengan beliau, bagaimana kalau sekarang juga Lim- tayhiap berangkat?"

Lim Cu jing ragu2 katanya: "Cayhe adalah rakyat kecil        "

Sebelum Cu jing habis bicara, Jin Ji kui telah menukas: "Kenapa Lim-tayhiap begini sungkan dan merendah diri, majikan kami adalah anak buah setia yang ditugaskan di sini oleh istana, adalah tugas kami untuk mengundang Lim-tayhiap ke sana, toh kita sudah terhitung satu keluarga. kalau terlalu banyak bicara akan merenggangkan hubungan malah." - Sa mpai di sini dia mendahului berdiri. "Lim-tayhiap, marilah berangkat sekarang, jangan me mbuat majikan me nunggu terlalu la ma,"

Karena didesak, terpaksa Lim Cu jing ikut berbangkit, katanya: "Jin-lotiang sudah bicara sejelas ini, baiklah Cayhe menurut saja."

Jin Ji-kui tergelak2, katanya: "Lim-tayhiap kemba li sungkan lagi. Haha, terus terang, entah mengapa, walau baru pertama kali ini kita bertemu, baru bicara beberapa patah kata saja, namun Cayhe merasa Lim-tayhiap sebagai teman la ma layaknya, agaknya kita me mang berjodoh."

"Malah Jin lot iang, yang terlalu mengagulkan Cayhe selanjutnya harap Lotiang suka me mbantu"

Tidak kepalang senang hati Jin Ji- kui karena diumpak, katanya dengan tertawa: "Kita sekali bertemu seperti kenalan la ma. selanjutnya me mang harus saling bantu." - Tiba2 dia berseru tertahan seperti ingat sesuatu, katanya: "Eh, panggilan Lim-tayhiap tak berani kuterima, usiaku me mang lebih tua beberapa tahun, kalau sudi boleh kau me mbahasakan saudara tua padaku, selanjutnya akan kupanggil kau Lote, bagaimana pendapat Lim- tayhiap?" "Loko sudi mengalah, baiklah Siaute menurut saja " sahut Cu jing.

Jin Ji-kui sema kin girang, dia pegang kencang tangan Lim Cu- jing, katanya: "Baiklah, selanjutnya aku menjadi saudara tua," - Sembari bicara mereka lantas beranjak keluar.

Tiba di luar tampa k seorang perajurit menunggu di luar pintu sambil menuntun kuda. Se mentara kacung kuda tadi juga sudah menge luarkan kuda tunggangan Lim Cu-jing. Serdadu itu bantu Jin Ji-kui naik ke punggung kuda, setelah Lim Cu- jing juga cemplak ke atas kudanya, kata Jin Ji-kui: "Lim- lote, biar Lokoko menunjukkan jalan bagimu." -Lalu dia mengulap tangan. Serdadu itu segera menarik tali kendali dan jalan di depan, Lim Cu jing jalankan kudanya pelan2 mengikut i di belakang. Tidak la ma mereka sudah tiba di balai kota.

Tampak di depan pintu gerbang yang megah itu berdiri sebuah tiang bendera besar dan tinggi, bendera kebesaran walikota berkibar2 ditiup angin. Di undakan pendopo berjajar enam serdadu yang berdinas jaga, semuanya menyoreng golok dipinggang. kelihatan garang dan gagah.

Setelah turun dari kuda, Jin Ji-kui mengajak ta munya masuk lewat pintu sebelah kanan. Tiba di dala m, mereka berada di sebuah serambi panjang yang mene mbus ke pintu kedua, di depan pintu berdiri dua serdadu, waktu Jin Ji-kui datang serentak mereka berdiri tegak me mberi hor mat.

Jin Ji-kui tidak hiraukan mereka, dia terus jalan ke dalam me mbawa Lim Cu-jing me masuki sebuah sera mbi yang berpagar kayu warna merah, di luar pagar adalah taman bunga, di bawah emper ada beberapa sangkar yang berisi berbagai macam jenis burung yang sedang berkicau, suasana di sini terasa tenteram dan sejuk, harum bunga dan kicau burung terasa mengasyikkan.

Sembari jalan Jin Ji-kui berkata lir ih: "To Swe mungkin sudah menunggu di ka mar buku, biar langsung kubawa engkau ke sana saja." "Loko, sa mpai detik ini Cayhe masih belum tahu siapa she dan nama To swe?"

"To swe (walikota) she Pho, satu marga dengan yang kuasa di istana, namanya Bin thay."

"To-swe sedang me meriksa surat dan menyelesaikan urusan dinas di ka mar buku. disanalah letak kantornya pula yang penting, cuma kau boleh tak usah menggunakan adat pe mer intahan, biasanya jarang dia terima tamu dikantornya itu, soalnya beliau pandang Lote bukan orang luar lagi."

"Ya, berkat kebijaksanaan To-swe," ucap Lim Cu-jing.

Kebetulan mereka sudah tiba di depan ka mar buku, tampak di depan taman bunga ada sebaris rumah2 mungil yang dipajang serba antik dan indah, kerai bambu menjuntai turun, suasana di sini sunyi senyap. Di sini terdapat empat pintu panjang, tembo k me manjang mengelilingi bangunan dan taman, pada setiap pintu berjaga dua orang serdadu.

Jin Ji-kui langsung mendekati pintu, ia bersuara lir ih: "lote tunggu dulu sebentar, biar Lokoko masuk me mberi laporan."

Setelah itu dia melurus kan kedua tangan, dia me mbasahi kerongkongan lalu menjura ke arah dalam sa mbil berseru: "Ha mba Jin Ji-kui mengir ingi Lim Cu-jing siap menghadap To-swe."

Baru habis dia bicara, tampa k seorang pengawal baju hijau menyingkap kerai muncul diambang pintu, sekilas dia lir ik kedua orang lalu berkata: "Tayjin me mpersilakan!"

Cepat Jin Ji-kui angkat sebelah tangannya "Silakan Lim- lote!" "Cayhe baru datang, silakan Lokoko dulu," ucap Lim Cu-jing.

Jin Ji-kui terpaksa me langkah masuk dulu, kiranya itulah sebuah

ruang tamu yang cukup besar dan luas. di sini terasa nyaman, pajangan serba serasi, di bagian dalam ada sebuah pintu re mbulan, me lewati pintu bundar ini baru tiba di kamar, buku. Kebetulan dari balik pintu re mbulan ini beranjak keluar seorang laki2 ber muka putih bersih, alisnya gombyok, matanya besar tajam. Orang ini terang adalah walikota she Pho adanya. Dengan pakaian preman yang sederhana, sikapnya kelihatan angker dan berwibawa menanda kan bahwa dia seorang yang disegani.

Bergegas Jin Ji-kui me mbungkuk se mbilan puluh derajat, katanya sambil me ngunjuk Lim Cu-jing: "Lapor Tayjin, tuan inilah Lim Cu- jing adanya."

Lim Cu-jing ikut menjura, katanya: "Rakyat kecil Lim Cu jing menya mpaikan hor mat kepada To-swe Tayjin."

Pho-tujong ( walikota she Pho yang sekaligus me megang kekuasaan militer ) menatap Lim Cu-jing sekian la manya, mukanya yang putih menampilkan secercah senyum, katanya sambil mengangguk: "Lim-congsu tak usah banyak adat, silakan duduk." - Lalu dia mengha mpiri kursi besar berlapis beludru dan duduk disana.

Lim Cu-jing menjura pula tanpa bergerak, katanya: "Di hadapan Tayjin, rakyat kecil maca mku ini mana berani "

sebelum dia habis bicara Pho-tujong telah menyela : "Lim-congsu jangan sungkan, di sini ka mar bukuku, biasanya Lohu tidak suka peradatan, silakan duduk saja."

"Me mang," timbrung Jin Ji-kui ber muka2, "To-swe Tayjin paling suka bebas, Lim-co ngsu boleh duduk saja untuk bicara."

Setelah menyatakan terima kasih, terpaksa Lim Cu-jing duduk di kursi sa mping Pho-tu-jong.

"Ji-kui," ucap Pho-tu-jong, "kaupun duduklah."

Jin Ji-kui mengiakan dengan munduk2, lalu duduk di kursi sebelah Lim Cu-jing.

Pengawal tadi segera menyuguhkan dua cangkir minuman terus mengundurkan diri.

Pho-tujong   mengelus   jenggot,   katanya   dengan   tertawa: "Se mala m Lohu menerima surat dari istana, baru kuketahui bahwa Lim-congs u telah tiba di Jiat-ho, menurut Thio-po yang mengantar surat, kedatangan Lim-co ngsu ke Jiat-ho ini berniat mencari kerja di sebuah Piaukiok milik pa manmu? Piaukiok mana kah milik pa manmu itu?"

"To-swe harap maklum, pa man me mbuka Tin- wan Piaukiok di Jiat-ho ini."

"O, maksudmu Hou-pian- liong-jiau Lim Tiang- khing." ucap Pho- tu-jong, lalu berpaling ke arah Jin Ji kui: "Kalau tidak salah Lim piauthau juga pernah bekerja untuk urusan dinas kita."

Jin Ji-kui berdiri dan menjura, katanya: "Ya, Tin-wan Piaukiok pernah dua kali mengawal upeti, malah Lim-piauthau sendiri yang me mbawanya ke- mar i dari Ki lin."

"Em," Pho-tu-jong bersuara puas, lalu berpaling pula, katanya kepada Lim Cu jing: "Masih ada sedikit kesan Lohu atas Lim- piauthau, apakah dia ke-luarga se marga dengan Congsu??"

"Bukan, hanya kebetulan saja beliau sahabat karib ayahku almarhum," sahut Lim Cu-jing.

"Jadi kau ber maksud kerja di perusahaan pengawalan itu?"

"Bulan lima tahun ini beliau pernah tulis surat padaku supaya aku datang ke Jiat-ho, tapi kemarin waktu aku mendatanginya di jalan Rejeki, konon Piaukiok itu sudah tutup usaha, malah Lim-piauthau sudah meninggal dua bulan yang lalu, keluarganya entah pindah ke mana."

Sambil me ngelus jenggot ka mbingnya, Pho tu-jong bertanya: "Hok-ti keke sengaja suruh Thio-po menyusul ke mar i, kepada Lohu dia perkenalkan Lim-congsu karena Lim-congsu me miliki Kungfu yang luar biasa, sayang kalau bakat sebaik ini di sia2kan, kini Tin- wan Piaukiok sudah tutup usaha, biarlah sementara Lim-congs u bekerja dikantor Lohu saja, biar nanti kuperiksa dan kucarikan lowongan yang sepadan dengan bakat dan kemampuan Lim- congsu" Waktu mendengar Hok-ti- keke tadi sekilas Lim- Cu-jing me lengak, baru sekarang dia mengerti surat dari "istana" yang dimaksudkan kiranya dari Hok-ti-ke ke, hakikatnya dia sendiri tidak tahu di mana Hok-ti (istana marga Hok itu serta siapa pula orangnya. Cuma dia tahu "keke" adalah panggilan bahasa Boan untuk seorang puteri raja.

Mungkinkah Pho Kek-pui? Betul dia she Pho, nama palsu ini sengaja pakai "Kek" yang senada dengan "Ke", jelas yang di maksud adalah "Keke" itu. Tanpa terasa merah muka Lim Cu-jing, sesaat dia jadi bingung dan tak ma mpu bersuara.

Pho tujong me mandanginya dengan tertawa, katanya pula: "Dari Thio-po kudapat tahu bahwa Keke ada menulis surat perkenalan supaya Congsu kemari mencar iku, bila seorang gila pangkat dan kedudukan, sebelum kuundang tentu dia sudah mencariku, namun hal ini tidak kau lakukan, dari hal ini dapatlah kunilai bahwa Lim- congsu seorang yang tak acuh terhadap pangkat dan nama, sungguh harus dipuji."

Karena orang sudah bicara blak2an, terpaksa Lim Cu jing keluarkan surat perkenalan yang ditulis sendiri oleh Pho Kek- pui. Sikapnya sedikit kikuk dan risih, katanya ragu2: "Karena paman sudah meninggal dan menghentikan usahanya, semula aku berniat pulang saja, maka surat perkenalan inipun tidak jadi kusa mpa ikan, kepada To-swe, harap dima klumi."

Meski dalam hati dia menduga "Keke" yang dikatakan Pho-tujong ini adalah Pho Kek-pui, tapi sebelum hal ini terbukti dia tidak berani menyinggung Pho Kek-pui dan tidak berani tanya siapakah Keke itu?

Seterima surat itu Pho-tujong tergelak2, katanya: "Kalau tidak kutanya, surat inipun tidak akan dikeluarkan." - Sekilas dia baca is i surat itu lalu berkata kepada Jin Ji-kui dengan tertawa: "Surat yang dibawa Thio-po sema lam isinya me mang tegas, tapi Lohu kenal itu tulisan Hoa-suya, surat yang ini baru betul2 tulisan Keke pribadi. waktu kecil dulu dia sering naik di punggung Lohu seperti menunggang kuda, ma ka gaya tulisannya a mat kukenal." Agaknya dia bangga bahwa Keke menunggang punggungnya seperti naik kuda, ini lebih me mperjelas bahwa Pho-tujong ini dulu adalah pe mbantu di istana Hok itu.

Habis berkata Pho-tujong angsurkan surat itu kepada Jin Ji-kui, katanya pula: "Ji kui, coba kau ikut pikirkan, di mana baiknya mene mpatkan Lim-lote sesuai bakatnya? Ini tugas dari Keke, maka kau harus lebih perhatikan." - Dari Lim-congsu dia ubah panggilan Lim lote, ini lantaran dalam surat Pho Kek- pui me nyebut "temanku Lim-Cu-jing", nadanya amat hor mat dan mengindahkan terhadap Lim Cu jing. adalah jamak kalau diapun berubah sikap dan bermuka2 demi kelanjutan karirnya.

Dengan laku hor mat Jin Ji kui terima surat itu, sebelah tangan me me lintir kumis, sesaat dia berpikir, katanya kemudian: "Ha mba ada sebuah usul, entah bagaimana pendapat To-swe?"

"Coba jelaskan."

"Di kantor kita ini bukan saja tiada lowongan, umpa ma ada jabatannya juga terlalu rendah, kurang sembabat dengan bakat Lim-congcu "

"Me mangnya ada jabatan yang lebih tinggi di kantor kita di wilayah hat-ho ini?" tanya Pho-tujong.

Jin Ji kui tertawa lebar, katanya: "Hanya kedudukan To-swe saja yang paling tinggi di sini, umpa ma ko mandan barisan jaga di istana paling2 juga cuma berpangkat wakil Tu jong, maka menurut pendapat hamba, lebih baik Lim congsu di masukkan kepasukan bayangkari pasanggerahan, Pertama di sana bukan kantor pemerintahan yang harus selalu dinas, tapi kedudukan lebih tinggi dari pada pejabat pemer intahan biasa, namanya lebih dihor mati. Kedua, kecuali setiap tahun sekali baginda raja cuti dan berburu di sini, hari biasa tiada tugas2 penting. bukankah di sana jauh lebih baik daripada kerja di kantor kita ini? Apalagi To swe sekaligus bisa me mber ikan pertanggungan jawab kepada Keke" Pho tujong manggut2, katanya: "Usulmu me mang baik, kenapa tadi tidak kupikir kesana."-Lalu dia bertanya: "Lantas jabatan apa yang ada di dalam pasukan bayangkari, apa kau tahu?"

"Dalam pasukan bayangkari pasanggerahan baginda terdiri dari tiga barisan, setiap barisan dipimpin oleh seorang ko mandan dan seorang wakilnya, setiap barisan terdiri dari sepuluh kelompok, setiap kelo mpo k dipimpin seorang lagi "

"Cukup," potong Pho-tu-jong "coba kau pergi cari tahu, adakah lowongan pimpinan barisan atau wakilnya? Kalau ada suruhlah Ki jongtay berikan lowongan itu kepada Lim- lote, katakan ini pesan dari istana Hok."

Lekas Jin Ji kui berkata: "Bukankah nanti ma lam Tayjin hendak menja mu Lim-congsu, menurut pendapat hamba, sekalian undang saja Ki-jongtay ke mari, secara langsung To-swe bisa bicara padanya, kan lebih baik?" agaknya laki2 ini pan-da i melihat arah angin, dia sengaja ber muka2 kepada Lim Cu-jing demi kepentingan dirinya kelak.

"Betul," ujar Pho-tu-jong, "pergilah kau suruh orang mengundang Ki-jongtay ke mari."

Jin Ji-kui mengiakan lalu keluar.

Dengan rasa tidak tenteram Lim Cu-jing berkata: "Terima kasih banyak atas kebaikan To-swe, hamba hanya mengharapkan te mpat berteduh, bila menduduki jabatan terlalu tinggi jangan2 akan menimbulkan rasa sirik orang lain."

"Lote tak usah kuatir, jangankan soal ini sudah ditangani sendiri oleh Keke, umpa ma Lohu sendiri yang mengutus orang ke sana, siapa yang berani tidak tunduk padanya? Soal ini pasti Lohu atur dengan baik."

"Budi kebaikan To-swe tidak akan ha mba lupakan sela manya." "Tolo Keke bukan saja adalah anak angkat Seng-cin-ong, malah

ia menjabat sastra di istana timur, kelak ke mungkinan bisa terpilih

sebagai perma isuri, dengan keke sebagai tulang punggung Lote, me mangnya apapula yang dikuatirkan? Haha Lohu dulu juga utusan istana Hok, kini Lote terhitung orang sana pula, kita terhitung orang sendiri, kalau Lohu tidak berusaha me mbantu orang sendiri, me mangnya me mbantu siapa?"

Sekarang lebih jelas bagi Lim Cu jing bahwa istana Hok yang dimaksud ternyata adalah istana Hok-kun-ong, tak heran pengaruhnya begitu besar ( Menurut tradisi bangsa Boan, puteri Kun-ong dipanggil Tolo Keke.).

Tengah bicara Jin Ji-kui sudah ke mbali. katanya sambil menjura kepada Pho-tujong: "Lapor To-swe, ha mba sudah suruh. Pho An pergi mengundang Ki jongtay."

Pho tujong mengangguk. Jin Ji- kui lalu berpaling kepada Lim Cu- jing, katanya: "Seperti biasanya To swe Tayjin saat ini harus menyelesaikan beberapa urusan dinas, silakan Lim-congsu istirahat ala kadarnya di ka mar saja, mala m nanti To-swe akan mengada kan perjamuan untukmu."

Lim Cu jing berdiri dan mohon diri. Setiba di ka mar Jin Ji-kui, Lim Cu-jing bertanya: "Siapakah orang yang Lokoko suruh datang ke mari?"

"Dia ko mandan pasukan bayangkari dipesanggerahan raja, she Ki bernama Seng-jiang, asal orang Kanglam, konon Kungfunya tinggi, sudah la ma dia terjun kepasukan perang, dulu ikut menumpas pemberontakan di Siau- kim- jwan. keberaniannya mendapat penghargaan Hok-kun- ong, tatkala To-swe masih me mimpin barisan bayangkari dia sudah berpangkat kelas tiga, dia berjasa pula dan dinaikkan pangkatnya menjadi ko mandan pasukan bayangkari, hitung2 dia masih ter masuk bawahan To-swe."

Sambil mengobrol mereka me mbuang waktu di ka mar Jin Ji-kui, tak lupa Jin Ji-kui keluarkan seperangkat pakaian baru dan diberikan kepada Lim Cu-jing. .

Menjelang petang Jin Ji-kui berdiri mengajak: "Waktu ha mpir tiba, marilah, supaya To-swe tidak menunggu." Jin Ji-kui me mbawa Lim Cu-jing menyelusuri serambi panjang berliku2 dan akhirnya ke mbali ke taman sebelah barat, di mana terdapat sebuah ruang ma kan.

Baru saja mereka me masuki ruangan, seorang pelayan maju menya mbut: "Tayjin sudah menunggu, harap Jin-loya me mbawa Lim-ya ke dala m."

lekas Jin Ji-kui me mpercepat langkah me mbelo k ke kiri di sana ada sebuah pintu bundar, dua pelayan perempuan baju hijau bergaun putih segera menyingkap kerai menyilakan mereka jalan.

Lekas Lim Cu-jing me langkah masuk dan menjura, katanya: "Maaf me mbuat To swe menunggu."

"Lohu juga baru t iba, silakan kalian duduk," ucap Pho-tujong.. Maka Lim Cu jing dan J in Ji kui duduk di sebelah bawahnya.

Pho-tujong tanya kepada Jin Ji-kui: "Ji kui. kau suruh Pho An mengundang Ki jongtay, sudahkah kau terangkan untuk ma kan ma lam di sini?"

"Ha mba sudah me mberi pesan padanya, sekarang seharusnya dia sudah sa mpa i."

Baru selesai dia bicara, didengarnya di luar pengawal berteriak: "Lapor To-swe, Ki-jongtay telah tiba."

Pho-tujong berseru: "Boleh silakan masuk."

Waktu kerai tersingkap, tampak seorang laki2 tua berperawakan sedang mengenakan pakaian dinas beranjak masuk dengan langkah cepat2, langsung dia me mberi hor mat kepada Pho-tujong, serunya: "Bawahan menya mpaikan hor mat kepada To swe."

Orang ini berusia lima puluhan, wajahnya bersih, cuma tulang pipinya menonjo l tinggi, sekilas pandang orang akan tahu bahwa dia seorang cerdik yang banyak akal muslihat licik. Dia bukan lain adalah Ki Seng-jiang, yang dahulu berkuasa di Coat-seng san-ceng, tapi jabatan sebenarnya adalah wakil Tu jong di daerah Jiat ho ini, ko mandan barisan bayangkari pesanggrahan raja. Pho tujong hanya mengangguk, katanya tertawa. "Seng jiang, di kamar makan sini, segala peradatan boleh dibuang jauh, lekas duduk."

Ki Seng jiang mengiakan dengan berdiri tegak.

Pho tujong berpaling, katanya: "Ji kui, kau tak beritahu kalau makan mala m ini bersifat pribadi."

Sebelum Jin Ji kui menjawab Ki Seng-jiang sudah mendahului: "Lapor To-swe, Ji-kui sudah me mberi pesan pada Pho An tentang perjamuan makan ini, tapi hamba ada tanya kepada Pho An dan mengetahui To swe hendak menja mu utusan dari istana Hok, hamba t idak berani kurang hor mat, ma ka kukenakan pakaian dinas ini."

"Me mangnya kau sok pintar, kau sudah kubilang bersifat pribadi, kenapa harus bertele2 begini? Lekas buka jubah kebesaranmu, nanti kuperkenalkan kalian."

Ki Seng jiang mengiakan, dia me lepas kopiah serta me mbuka jubah, seorang pengawal menyambutnya dan mengundur kan diri.

Pho tujong menunjuk Ki Seng jiang, katanya pada Lim Cu-jing: "Lim- lote, mar i Lohu perkenalkan, dia inilah ko mandan tertinggi dari pasukan bayangkari pesanggerahan raja, Ki-jongtay." - Lalu dia berpaling kepada Ki Seng jiang: "Lim- lote ini bernama Lim Cu-jing, utusan dari istana Hok."

Lim Cu-jing dan Jin Ji-kui sudah berdiri tatkala Ki Seng-jiang masuk. Setelah diperkenalkan lekas Lim Cu-jing merangkap kedua tangan, katanya: "Cayhe Lim Cu-jing, sela mat bertemu Jongtay."

"Kiranya Lim-heng, syukur dapat berkenalan denganmu," Ki Seng-jiang balas menghor mat dengan basa basi ala kadarnya.

"Kalian boleh duduk se maunya," kata Pho-tu-jong.

Tiga orang lantas duduk bersama. Pho tujong merogoh keluar, dua pucuk surat dan diangsurkan kepada Ki Seng jiang, katanya: "Seng jiang, kedua surat ini kiriman dari istana Hok, sepucuk lagi adalah tulisan Keke pribadi, boleh kau baca."

Ki Seng jiang terima dan baca surat2 itu dengan hormat, lalu dile mpit pula serta diaturkan kembali, katanya membungkuk: "Lim- heng adalah utusan istana Hok, kalau To-swe ada perintah yang perlu kukerjakan silakan katakan saja."

"Dugaanmu me mang betul," ucap Pho-tujong, "sebagai utusan istana Hok yang langsung me mbawa surat perkenalan Keke, kalau kita me mberi jabatan rendah, tentu menurunkan pa mor Keke, kupikir lebih baik dicarikan kedudukan di pasukan bayangkari yang kau pimpin, tugas   ini akan   lebih   cocok dengan   bakat   dan ke ma mpuannya."

"Pesan To swe pasti kuperhatikan, cuma mungkin harus sedikit merendahkan derajat Lim-heng ." ucap Ki Seng-jiang.

"Coba kau pikir dalam pasukan bayangkari adakah lowongan wakil pimpinan uta ma, biarlah dia me mbiasakan diri lebih dulu, setelah menyesuaikan diri kelak bila ada kese mpatan dapat mengangkatnya lebih lanjut." Sekali minta jabatan wakil pimpinan, sudah tentu hal ini me mbuat Ki Seng-jiang serba susah, tapi di mulut dia mengiakan.

Lekas Jin Ji kui menimbrung dengan tertawa: "Pasukan bayangkari ada tiga baris pasukan, jadi hanya tiga jabatan wakil pimpinan utama, mungkin Ki jongtay punya kesulitan, maka menurut pendapat ha mba, bagaimana kalau diadakan mutasi, salah satu wakil pimpinan uta ma dipindah ke mar i me mbantu To-swe, Entah bagaimana pendapat To swe?"

"Begitupun boleh. Kelompok ketiga dari barisan keamanan kota masih ada lowongan wakil pimpinan, kalau dibanding kedudukannya ma lah lebih t inggi."

Ki Seng-jiang berpikir sejenak, lalu berkata: "Pesan To swe pasti akan kulaksanakan, baiklah kumutasikan saja wakil ko mandan dari barisan pertama Pian Mi ci ke mari." "Baik, Ji-kui, besok kau siapkan suratnya, Pian Mi ci dimutasikan ke barisan kea manan kota," lalu ia berpaling pula kepada Ki Seng jiang: "Se mentara surat2 Lim- lote tolong kau saja yang mengurus kan."

Ki Seng- jiang me ngiakan, lalu berpaling kepada Lim Cu- jing: "Besok Lim-heng boleh datang ke Le kiong untuk me laporkan diri."

"Terima kasih atas bantuan To-swe dan Jong-tay," kata Cu-jing. "Besok pagi2, biar kute mani Lim lote me laporkan diri." t imbrung

Jin Ji kui.

Esok paginya Jin Ji-kui mengir ingi Lim Cu-jing menunggang kuda menuju ke Pi-sio k-san-ceng. Pesanggrahan lui didirikan di atas bukit, luasnya ada puluhan hektar, sekeliling dipagari te mbok tinggi, di luar tembo k mengalir sungai yang cukup lebar dan dalam. Diantara pepohonan yang menghijau subur tampak beberapa bentuk bangunan megah berloteng tersebar di sana sini. Panora ma di sini tak kalah dengan pe mandangan di puncak2 gunung terna ma seperti Thay-san dan Heng san.

Waktu mereka keluar dari pintu utara, dari kejauhan sudah nampak bukit menghijau per mai, di antara lebatnya dedaunan, di sebelah selatan sana berjajar menjulang tinggi tiga bangunan istana yang angker.

Dari kejauhan Jin Ji- kui me nuding, katanya: "Lim- lote, itulah pasanggerahan raja, maju lagi beberapa jauh kita harus turun dan berjalan kaki."

Kejap lain mereka sudah tiba di tempat ketentuan bahwa pembesar sipil harus turun dari tandu dan pe mbesar militer turun dari kuda, sa mbil menarik kendali kuda mereka terus maju ke depan.

Dari rumah sebelah kanan sudah ada orang keluar menyambut kedatangan mereka, setelah memberi hor mat dia tuntun kedua ekor kuda ke istal. Dari sini menuju ke gedung induk kira2 masih ada setengah li, tapi setiap lima langkah seorang serdadu berdiri tegak berjaga, setiap puluhan tombak ada satu pos penjagaan lagi, semua serdadu yang bertugas di sini bersenjata lengkap.

Belum lagi Jin Ji-kui sampa i di tempat tujuan, dari istana ketiga sebelah kanan beranjak keluar seorang laki2 bergolok dengan ikat pinggang ketat, mema kai topi lancip, dia me mapa k maju serta menyapa: "Ha mba Coh Te-seng, atas perintah Jong-tay sejak tadi sudah menanti kedatangan Jin-loya dan Lim ya."

"Terima kasih, bikin capai Coh heng saja," ujar Jin Ji-kui tertawa, Lim Cu jing balas menjura pula.

"Silakan, biar hamba menunjukkan jalan," ucap Coh Te-seng, lalu mendahului beranjak ke istana.

Bagian dalam istana adalah sebuah lapangan luas yang dialasi papan batu marmer, tak jauh ke depan ada sebuah aliran sungai kecil, di atas sungai dibangun sebuah je mbatan batu putih yang diukir indah.

Tidak jauh dari je mbatan, mereka dihadapi undakan batu yang lebar, tidak tinggi cuma puluhan undakan, di sebelah atasnya lagi adalah istana yang dibangun laksana ja mrut di atas mahkota kerajaan. Pintu gerbang istana tertutup rapat, beberapa laki2 bergolok bertugas jaga di sini.

Coh Te-seng hawa mereka mena iki undakan batu terus menuju ke sebelah kiri, di mana ada sebuah ja lan batu yang dipagari pepohonan tua dan besar mencakar langit. kira2 setengah li perjalanan,

tampak sebuah lapangan rumput yang a mat luas, di tengah lapangan itulah berderet lima bangunan berloteng, di luar pintu berjaga dua laki2 bergolok, seragam pakaiannya mir ip Coh Te-seng. Pada kiri kanan masing2 terdapat bangunan asrama, kelihatan teratur amat rapi. Lim Cu-jing tahu di sinilah letak markas pasukan bayangkari yang bertugas jaga pesanggerahan raja ini.

Baru saja Coh Te seng me mbawa mereka berdua menaiki undakan, tampak Ki Seng jiang telah me mapa k keluar, wajahnya yang bersih tampak cerah, tawanya lebar, katanya: "Jin-lote, Lim lote, maaf akan keterlambatan sa mbutanku."

"Jongtay terlalu sungkan, aku hanya mene mani Lim lote saja."

Lim Cu-jing maju serta me mberi hor mat: "Ha mba datang untuk lapor kepada Jongtay."

Ki Seng-jiang terbahak2, katanya: "Lim lote jangan sungkan, sebelum urusan dinas diumumkan, kau masih terhitung ta mu kita, mari kita bicara di dala m."

Ki Seng- jiang persilakan mereka masuk ke ka mar ta mu dan berduduk. Seorang pengawal keluar menyuguhkan teh.

"Jin-lote," kata Ki Seng Jiang, "apakah surat2 dari To swe sudah diselesaikan?"

"Sudah, sekalian kubawa serta," sahut Jin Ji-kui sa mbil menge luarkan gulungan surat dinasnya dan diangsurkan.

Seterima surat dinas itu Ki Seng jiang me mbacanya sebentar lalu berteriak keras: "Penjaga?"

Pengawal yang jaga di luar pintu mengiakan dan berlari masuk, serunya: "Hamba siap me nerima perintah."

"Pergilah kau panggil pimpinan uta ma barisan kesatu dan wakilnya, Pui Hok-ki dan Pian Mi-ci." de mikian perintah Ki Seng- jiang.

Pengawal itu mengiakan terus mengundur kan diri.

Dari bajunya Ki Seng jiang keluarkan sepucuk surat, dengan tertawa ia berkata kepada Lim Cu-jing: "Lim lote, inilah surat pengangkatanmu, kau baru datang sementara ini untuk beberapa la ma dudukilah jabatan ini." Tampak terharu Lim Cu-jing, dengan gugup dia terima surat pengangkatan itu, lalu berkata dengan sikap tegak: "Terima kasih akan kebaikan Jong-tai, mungkin ha mba tidak sesuai untuk jabatan ini."

"Ini ma ksud To-swe sendiri, apalagi utusan dari istana Hok, me mangnya tidak sesuai apanya? Lote tidak perlu berterima kasih padaku, asal kau bekerja dengan giat, rajin dan baik, bila ada kesempatan pasti kubantu me mberi laporan ke pihak atas."

Setelah kedua orang bicara, lekas Jin Ji-kui menjura, katanya: "Kiong-hi Lim-lote telah me mangku jabatannya."

Dalam pada itu, dari luar ta mpak masuk dua orang, yang di depan seorang setengah umur berperawakan gemuk. wajahnya bulat, alis tebal mata sipit. Laki2 di belakangnya berperawakan sedang, usianya sekitar tiga puluhan enam, tampa k kekar berotot, langkahnya gesit. Tiba di ambang pintu kedua orang berdiri tegap, si gendut itu buka suara: "Ha mba Pui Hok- ki dan Pian Mi-ci datang menghadap."

Ki Seng-jiang manggut2, katanya: "Kalian boleh masuk."

Kedua orang jelas adalah pimpinan uta ma dan wakilnya dari barisan kesatu. Maka Pui Hok- ki dan Pian Mi-ci beranjak ke dalam ruangan besar.

Jin Ji-kui sudah berdiri menyambut, katanya menjura: "Pui-heng, Pian-heng, sela mat bertemu."

Lim Cu jing juga berdiri, tapi dia hanya menyapa dengan anggukan kepala.

Wajah bulat Pui Hok-ki yang ge mbur penuh daging lebih ta mpak berseri tawa, berulang dia balas menjura, katanya: "Jin-lo, kau baik2 saja."

Ki Seng-jiang segera menuding Lim Cu-jing, katanya kepada Pui Hok-ki: "Hok- ki, adik Lim Cu-jing ini adalah utusan istana Hok." - Lalu dia balas perkenalkan kedua orang kepada Lim Cu jing. Mendengar utusan istana Hok, semakin lebar tawa Pui Hok-ki, berulang dia menjura sa mbil basa-basi sekedarnya.

"Kita orang sendiri, hayolah duduk." ucap Ki Seng-jiang.

Dari atas meja Ki Seng-jiang a mbil surat pemindahan dan berkata kepada Pian Mi-ci: "Sela mat Pian-heng, inilah surat pengangkatan untukmu, kau dimutasikan setingkat lebih tinggi ke kantor balai kota menjabat wakil ko mandan barisan kea manan kota, sementara jabatanmu sekarang akan di isi oleh Lim-lote."

Wakil pimpinan uta ma dari barisan bayangkari dimutasikan menjadi wakil ko mandan barisan kea manan kota, menurut jamaknya jabatannya naik setingkat, tapi pasukan bayangkari betapapun adalah tenaga2 ahli dan terdidik yang bisa selalu menda mpingi baginda, kini dimutasikan ke kantor balai kota, berarti sudah keluar lingkungan istana.

Mimik Pian Mi-ci menunjuk perasaan yang aneh, sudah tentu dia juga mengerti, soalnya Lim Cu-jing orang utusan istana Hok, untuk mencarikan jabatan sesuai bagi Lim Cu-jing, terpaksa dirinyalah yang dikorbankan. Tapi ini perintah, terpaksa dia menerima, katanya: "Hamba terima perintah, entah kapan harus laporan?"

"Setelah menyelesaikan surat2 mutasimu di sini, boleh segera kau melapor kan diri ke sana,"

Bahwa penggantinya sudah hadir, adalah jamak kalau dia harus segera menyingkir. Maka Pian Mi-ci mengia kan pula.

Ki Seng- jiang tertawa lebar, katanya: "Pasukan kea manan kota tiada bedanya dengan barisan bayangkari, semua adalah orang kita sendiri, bukankah dulu aku juga bertugas di bawah pimpinan To- swe, malah jabatan Pian-heng sekarang lebih tinggi daripada aku waktu itu."

Pian Mi-ci ke mba li mengiakan, katanya: "Baiklah, sekarang juga hamba me nyelesaikan surat mutasi, bila Jongtay tiada pesan lain, hamba mohon diri saja." "Baiklah, selesaikanlah surat2mu, kebetulan Jin-lote berada di sini, siang nanti kau harus ke mbali, aku akan menja mu kedatangan Lim- lote, sekaligus untuk menja mu perpisahan dengan Pian-heng, biarlah kita berge mbira bersa ma."

Setelah Pian Mi-ci pergi Ki Seng-jiang berpaling kepada Pui Hok- ki, katanya. "Hok-ki, sejak kini Lim-lote termasuk orangmu. boleh kau iringi dia mene mui He-congkoan untuk laporkan diri dan menyelesaikan surat2nya."

Lekas Pui Hok- ki berdiri sa mbil me ngiakan, lalu berkata kepada Lim Cu-jing dengan tertawa, "Lim-heng, bawalah surat2mu, ikutlah aku ke sekretariat."

"Mohon bantuan Pui ling-pan (pimpinan she Pui)," seru Cu jing.

Muka bulat Pui Hok-ki ta mpak berseri, katanya: "Lim-heng jangan sungkan, untuk selanjutnya kita terhitung orang sendiri, saling bantu adalah semestinya." - Karena Lim Cu jing orang utusan istana Hok, maka sengaja dia merapat dan menga mbil hatinya.

Setelah mo hon diri kepada Ki Seng jiang, kedua orang langsung masuk ke istana lebih dala m. He-congkoan adalah Thay-ka m (dayang- kebiri) yang berkuasa di pasanggerahan ini, tahu bahwa Lim Cu-jing utusan istana Hok, sudah tentu pelayanannya berbeda dengan yang lain, setelah dia periksa surat2 yang ada, segera dia isi formulir r iwayat hidup Lim Cu-jing serta na ma tiga turunan leluhurnya, ma ka selesailah soal mutasi ini, Lim Cu jing pula me mpero leh sebentuk medali perak tanda pangkat wakil pimpinan barisan kesatu.

Siang hari itu Ki Seng jiang mengadakan perja muan di ka mar tamu itu, tamunya ada tiga orang, yaitu Lim Cu-jing serta Pian Mi-ci yang kini dimutasikan ke barisan keamanan kota, orang ketiga adalah Jin Ji kui. Sementara para tamu pengiring ada lima, yaitu pimpinan utama barisan kesatu Pui Hok- ki, pimpinan utama barisan kedua Hok Ji-liong, wakilnya Pok Coan-seng, pimpinan uta ma barisan ketiga Pi Si-hay dan wakilnya Keh Tiang-sin. Biasanya jarang ada perjamuan besar macam ini dalam pasukan bayangkari seperti sekarang.

Hanya kedatangan seorang wakil pimpinan uta ma yang baru ternyata Jongtay telah menya mbutnya dengan perja muan sebesar ini, agaknya kecuali menya mbut kehadirannya, sekaligus juga untuk pesta perpisahan dengan Pian Mi-ci, tapi Lim Cu-jing kenyataan duduk di kursi uta ma, jelas perjamuan ini lebih mengutama kan kepada Lim Cu jing. Tiada alasan lain karena Lim Cu-jing adalah orangnya Tolo Keke. Bukankah se mala m To-swe sendiri juga telah mengadakan perja muan menya mbut kedatangannya?

Biarpun para pimpinan uta ma dan para wakilnya ini se mula juga tokoh2 Bu- lim yang sudah la ma berkecimpung di dunia Kangouw, tapi sekali sudah masuk kalangan pe merintahan, siapapun akan ke maruk harta dan pangkat, kalau tidak siapa yang sudi menjua l nyawa, rela menjadi antek dan cakar alap2 kerajaan penjajah?

Pho-tujong juga orang dari istana Hok, untuk apa pula dia harus bermuka2 kepada Lim Cu-jing, hal ini tidak sukar diterka, yakni lantaran Lim Cu-jing didukung oleh seorang yang punya kuasa tinggi di istana Hok, mereka yang cerdik akan lekas me maha mi liku2 ini, maka adalah ja mak pula bila para pimpinan uta ma dan para wakilnya yang hadir dalam perja muan ini berusaha me mikat dan mengikat persahabatan dengan Lim Cu-jing, secara bergiliran mereka menyuguh arak kepada Lim Cu jing.

Lim Cu jing juga tahu dan dapat me lihat gelagat bahwa arak yang disuguhkan padanya adalah arak persahabatan, arak menjilat untuk menarik hatinya.

Hampir selesai perjamuan, seorang pengawal tampak masuk mende kati Ki Seng- jiang serta berbisik di telinganya.

Ki Seng jiang ta mpak melengak, tanyanya: "Mana orangnya?" "Ada di luar," sahut pengawal itu, "tanpa izin Jongtay dia tidak

berani masuk."

Ki Seng jiang mengulap tangan, katanya: "Suruh dia masuk." Pengawal mengiakan sambil meluruskan kedua tangan, setelah me mbungkuk terus mengundur kan diri. Tak la ma ke mudian sudah berjalan masuk pula me mbawa seorang baju hijau. Usia orang ini lima puluhan, mukanya lancip tirus, tubuhnya tinggi kurus, begitu me langkah masuk segera ia me mberi hor mat dan berseru: "Ha mba menghadap Jongtay."

Melihat si baju hijau ini, Lim Cu-jing ta mpak melenggong. Dia kenal orang ini adalah salah satu dari kedelapan Koan-tay Hek-liong hwe, yaitu Tu Hong-seng adanya.

Ki Seng jiang mengangguk, katanya: "Tu-heng tidak usah banyak adat, kau buru2 menghadapku, apakah Cui-congkoan yang mengutus mu untuk minta bala bantuan kesana?"

Kembali Lim Cu jing melenggong mendengar pertanyaan ini, pikirnya: "Agaknya Cui Kin- in berkuasa untuk me merintahkan bantuan dari pasukan bayangkari di pesanggerahan raja ini, bukankah ini berarti jabatan dan kekuasaan Cui Kin-in jauh lebih tinggi daripada Ki Seng-jiang? Bahwa Cong-kam (komisaris umum) Hek-liong-hwe dapat me mer intah dan menguasai pada pasukan bayangkari di sini, me mangnya siapakah dia sebenarnya?"

Tu -Hong seng ta mpak berdiri tegak, sahutnya: "Lapor Jongtai, hamba datang untuk me mberi laporan."

"Urusan apa boleh kau katakan saja."

"Hek liong hwe telah dipukul hancur oleh musuh, Jan-hwecu, Nao-tongcu, Ci tongcu dan Nyo-jilingpun yang ditarik dari pasukan bayangkari di sini se muanya sudah gugur."

Dia m2 Lim Cu-jing mengangguk, pikirnya: "Kiranya Nyo Ci-ko adalah wakil pimpinan uta ma dari barisan bayangkari di sini."

"Prang", muka Ki Seng jiang seketika berubah pucat, cangkir yang dipegangnya terlepas jatuh berantakan, tanyanya gugup: "Bagaimana dengan Cui-congka m?"

"Agaknya Cui-congkam sudah meninggalkan te mpat itu," sahut Tu Hong-seng. Sesaat baru Ki Seng-jiang menenangkan diri, seperti teringat apa2, wajahnya kini menjadi kela m, tanyanya: "Kau tahu siapa saja yang telah menyerbu Hek-liong-hwe?"

"Ha mba hanya tahu kalau mereka adalah orang2 Pek hoa-pang, yang menjadi tulang punggung Pek- hoa-pang adalah kedua puteri Thi Tionghong, pentolan Hek liong-hwe dulu, tapi yang paling lihay di antara mereka Cong-houhoat Pek-hoa-pang yang bernama Ling Kun-gi, konon dia adalah putera Ling Tiang-hong, mur id Hoan-jiu-ji- lay, Hek-liong-hwe boleh dikatakan seluruhnya runtuh di tangan orang she Ling ini."

Berubah pula air muka Ki Seng Jiang, serunya murka: "Lagi2 bocah keparat she Ling itu."

Tu Hong-sing mengeluarkan setumpukan kertas tebal dan diangsurkan, katanya: "Inilah laporan tertulis ha mba, semuanya tercatat dengan jelas di sini."

Seorang pengawal maju me nerima kertas laporan itu dan dihaturkan kepada Ki Seng-jiang. Tapi Ki Seng jiang mengulap tangan, katanya: "Bawalah ke kamar bukuku saja,- - Lalu dia berkata kepada Tu Hong-sing: "Bagus sekali, Tu heng boleh istirahat dulu, sementara boleh kau tinggal di markas, setelah aku mohon petunjuk langsung dari Cui-cong- koan baru kuputuskan tindakan selanjutnya."

Tu Hong-sing mengia kan, katanya sambil me mandang ke arah Ki Seng jiang: "Jongtai, masih ada soal penting yang akan hamba laporkan."

"Yang hadir di sini se mua orang kita sendiri, ada urusan penting atau rahasia apa boleh kau katakan saja." .

Tu Hong sing mengia kan dan berkata: "Waktu hamba keluar perbatasan, di tengah jalan pernah kulihat dua rombongan orang yang mencur igakan, mereka mirip ko mplotan Pek hoa-pang, tujuannya juga ke Jiat-ho sini."

"Ada berapa orang?" tanya Ki Seng jiang. "Jumlahnya tidak banyak, mungkin kuatir menarik perhatian orang, maka mere ka berpencar dalam beberapa kelompok."

Tiba2 terunjuk hawa nafsu membunuh pada wajah Ki Seng-jiang, katanya tertawa dingin: "Berani juga mereka melur uk ke Jiat ho. Hehe, jelas tujuannya adalah mencari perhitungan kepada aku orang she Ki."

Lalu dia mengulap tangan, "Baiklah, kau boleh mundur dulu.

Semala m kau menginap di mana?"

"Ha mba menginap di los men Liong-kip,"

"Lebih baik kau tetap ke mba li ke penginapanmu, perhatikan baik2 orang2 di sekelilingmu, nanti kusuruh orang menghubungimu."

"Ha mba terima perintah," sahut To Hong-s ing terus mengundurkan diri.

Setelah perjamuan usai, Sin Ji kui dan Pian Mi-ci mohon diri, Ki Seng jiang dan lain mengantar sampai di depan pintu. Akhirnya Ki Seng-jiang berpaling kepada Lim Cu jing, katanya: "Lim-heng, tolong kau antarkan Jin loya, sekembalinya langsung ke ka mar bukuku.

Waktu Lim Cu-jing ke mbali setelah mengantar Jin Ji-kui, pengawal Ki Seng-jiang telah menunggunya, katanya: "Jongtai sudah menunggu di ka mar buku, Lim- lingpan silakan ikut ha mba."

Kamar buku terletak di sebelah timur, ruang tengah adalah tempat tinggal Ki Seng-jiang, dinding ka mar buku penuh digantungi lukisan kuno, tepat di tengah kamar terletak rak buku Ki Seng-jiang tampak duduk di belakang rak buku di kursi berukir dan berlapis sutera sulaman, agaknya dia tengah membaca laporan Tu Hong- sing tadi. Tepat di atas kepala pada dinding dibelakangnya tergantung sebilah pedang panjang, coraknya kuno, jelas pedang pusaka juga.

Ki Seng jiang adalah anak pungut Ui-san-it-kia m Ciok-boh Lojin, sudah tentu diapun seorang jago pedang. Pui Hok ki, pimpinan uta ma barisan kesatu tampak duduk di kursi yang me mbelakangi jendela sebelah kiri. Setiba di depan pintu, pengawal itu berhenti serta me mbungkuk, serunya: "Lapor Jong- tay, Lim-jilingpan telah tiba."

"Silakan masuk!" seru Ki Seng-jiang

Lim Cu-jing segera melangkah masuk. "Silakan duduk Lim- heng," ucap Ki Seng-jiang.

Lim Cu jing lantas duduk di kursi sebelah Pui Hok-ki. Ki Seng-jiang menatapnya, katanya kale m:

"Ingin aku mohon sekedar penjelasan dari Lim-heng . . ." Berdetak jantung Lim Cu jing, katanya sambil berbangkit: "Entah soal apa yang Jongtay ingin tanyakan?"

"Lim heng sengaja diutus oleh istana Hok kepada To-swe, tentunya kau memiliki Kungfu yang tidak sembarang, tapi ingin kutanya asal-usul dan aliran dari mana ilmu yang Lim heng pelajari?"

"Menjawab pertanyaan Jongtay, hamba tiada masuk golongan tidak punya aliran, semasa hidup ayahku bekerja di Piaukiok juga, beliau adalah saudara angkat Lim piauthau dari Tin- wan Piau-kiok, ilmu cakar kucing yang kupelajari dari ayah adalah pelajaran kampungan, paling2 hanya bisa main kepalan, telapak tangan, golok dan pedang."

Ki Seng jiang tersenyum, katanya: "Hou-pian- liong-jiu Lim- lopiauthau pernah menggetarkan Kwan-tang, bahwa ayah Lim - heng seangkatan dengan Lo piauthau, tentunya beliau juga seorang persilatan yang punya na ma."

"Waktu ayah almarhum angkat saudara dengan Lim-piauthau usianya masih terlalu muda. Setelah ayah menikah, ibu me larang ayah berkecimpung di Kangouw, katanya usaha di Piaukiok hanya me mpertaruhkan jiwa belaka, penghasilan juga tidak me madai, sebaliknya bahaya yang harus ditempuh teramat besar, lebih baik hidup tenang di ka mpung hala man dengan usaha dagang kecil2an, maka sejak itu ayah lantas putus hubungan dengan Lim- lopiauthau, sampai sekarang sudah dua puluhan tahun lebih "

Agaknya Ki Seng jiang tidak tertarik oleh cerita riwayat hidupnya, katanya: Apakah Lim-heng pernah meyakinkan Ginkang?"

"Se masa ayah masih hidup beliau me mang pernah melatih Ginkang dan Lwekang padaku," kalau hanya ketinggian dua-tiga tombak, saja masih dapat kucapai."

"Itu sudah cukup, nah sekarang Hok-ki, kau mencoba dia."

Pui Hok ki me ngiakan terus berbangkit, katanya dengan tertawa: "Lim-heng, Jongtay ada sebuah tugas rahasia yang teramat penting minta supaya kau menyelesaikannya, tapi pihak lawan se muanya adalah musuh2 tangguh, kuatir Lim-heng mengala mi sesuatu alangan dan tentu akan sukar me mber i laporan kepada To-swe, maka Lim-heng sengaja di undang ke ka mar buku ini, kita perlu mengetahui sa mpai di ma na tingkat ke ma mpuan Lim-heng "

"Ada tugas apa yang akan Jongtay serahkan, umpa ma menerjang lautan api dan terjun minyak mendidih juga hamba tidak akan menolak," seru Lim Cu jing.

Pui Hok ki berkata: "jongtay ingin supaya aku menjajalmu satu dua jurus, Lim-heng jangan sungkan, juga tidak usah ragu2 dan kuatir, boleh turun tangan sekuat tenaga menurut kema mpuan, cukup asal saling tutul atau jamah saja," sembari bicara dia mula i pasang kuda2 serta mena mbahkan: "Lim heng hati2, aku akan turun tangan."Kelima jari tangan kanannya terkembang, bagai cakar ia terus mencengkera m pundak Lim Cu- jing.

Gerakan yang kelihatan la mban ini adalah Kin-na jiu-hoat yang lihay, pimpinan uta ma barisan kesatu ini ternyata me mang me mbe kal kepandaian tinggi, dari jurus permainan ini sudah dapat dinilai ke mantapan tipu, serangannya dengan pakai jari yang keras.

Lim Cu-jing tertawa tawar, ujarnya: "Hamba mana berani "- Sambil bicara badannya masih berdiri tegak tidak mengegos atau berkelit. Tatkala telapak tangan Pui Hok-ki, ha mpir menyentuh pundaknya, mendadak ia berputar ke kanan, kelima jari tangan kiri menegak terus didorong keluar, ujung jarinya menyapu dan menyerempet pergelangan tangan Pui Hok- ki. Gerakan ini merupakan tipu serangan biasa, namanya "mendorong jendela me lihat gunung", gerakan untuk menutup dan me matahkan serangan, jadi kelihatannya tiada yang istimewa.

Tapi Ki Seng-jiang dan Pui Hok- ki adalah jago silat yang cukup tajam pandangannya, sekali Lim Cu-jing bergerak, meski gerakan yang sepele, tapi jelas mengandung gaya perubahan yang menakjubkan, serentak menimbulkan deru angin yang kencang menyerempet pergelangan tangan Pui Hok-ki.

Pada hal jarak pergelangan tangan Pui Hok-ki masih ada satu kaki jauhnya dengan tangan Lim Cu-jing, tapi orang sudah merasakan tangannya seperti tersampuk mistar besi, tiba2 tangannya terasa sakit. Keruan bukan main kagetnya, lekas Pui Hok-ki tarik tangannya seperti orang berjingkat kaget karena keselo mot api, matanya terbeliak menatap Lim Cu-jing, katanya dengan keheranan: "Lim-heng ternyata hebat sekali."

Lim Cu-jing telah melurus kan kedua tangannya. katanya: "Terima kasih atas ke murahan hati Toa-lingpan."

Pui Hok ki tergelak2, katanya: "Jongtai me mang ahli, tentunya sudah menyaksikan sendiri, gerakan menyapu Lim-heng tadilah betul2 menaruh belas kasihan padaku, kalau tidak, pergelangan tanganku ini tentu sudah cacat."

Ki Song-jiang tampa k riang, katanya mengangguk: "Cukuplah, hanya sejurus saja sudah meyakinkan bahwa tiada tugas apapun yang takkan bisa diselesaikan oleh Lim-heng."

"Jongtai terlalu me muji," ucap Lim Cu-jing, -"ha mba ingin tanya, apakah Toa-lingpan juga mahir mengguna kan senjata rahasia?"

"Apa??" seru Pui Hok-ki sa mbil goyang tangan, "Lim-heng ingin bertanding Am-gi denganku? Sudahlah. barusan aku sudah pa mer kebodohan, me mangnya Lim- heng tega me mbikin ma lu aku lagi." "Toa-lingpan jangan salah mengerti, bukan begitu maksud Cayhe, soalnya Jongtai tadi ada tanya soal Ginkang, ma ka ha mba ingin mencobanya."

"Me mangnya untuk apa Lim-heng tanya soal Am-gi?" tanya Pui Hok-ki.

Lim Cu-jing tertawa,   katanya: "Bila Toa-lingpan,   sekarang me mbawa A m-gi, bolehlah dicoba sekarang juga."

Agaknya Ki Seng-ji ing tertarik, katanya kepada Pui Hok-ki: "Hok- ki, baiklah, biarkan dia mencobanya Pui Hok- ki menyengir, katanya: "Inilah perintah, terpaksa aku menurut keinginan Jongtai, biarlah aku konyol sekali lagi."

Pui Hok-ki mengeluarkan tiga batang panah pendek, tanyanya kepada Lim Cu-jing: "Cara bagaimana Lim-heng akan mencobanya?"

"Sebatang saja sudah cukup." ujar Cu jing, lalu dia tuding keluar jendela. "Inilah panah timpuk yang paling kecil, mungkin harus ditimpukkan dengan kekuatan jari. Baiklah, sekarang boleh Toa- lingpan menimpuknya keluar jendela."

Sekenanya Pui Hok-ki je mput sebatang panah dan ditimang2 di telapak tangan, katanya tertawa: "Apa yang harus kubidik?"

"Terserah, Toa-lingpan mau me mbidik lurus ke depan atau ditimpukkan ke angkasa juga boleh."

"Baiklah," sahut Pui Hok-ki, begitu tangan terayun, panah kecil itu lantas me leset keluar jendela,

Pada saat itulah Lim Cu-jing yang berdiri di sa mping Pui Hok- ki mendadak menutul kedua kakinya, badannya melesat lurus ke depan bagai meteor mengejar rembulan, menguda k ke arak panah kecil yang meluncur keluar. Gerakan keduanya sungguh cepat luar biasa.

Ki Seng jiang dan Pui Hok ki tidak pernah bayangkan bahwa tujuan Lim Cu- jing suruh Pui Hok- ki menimpuk panah pendek Itu hanya untuk dikejarnya. Dalam Bu- lim sudah sering orang mende monstrasikan kepandaian menya mbut dan menimpuk senjata rahasia secara berhadapan. Tapi Lim Cu-jing baru menguda k panah setelah panah itu ditimpukkan, bahwa dia sudah mengejar tentu dapat menangkap panah itu. Bila Lim Cu-jing tidak yakin dapat menyandak senjata rahasia itu, tak mungkin dia berani pa mer dihadapan orang dan me mpersulit diri sendiri.

Pikiran mereka berdua sama ma ka dengan mendelong mereka menyaksikan dengan hati berdebar kejadian hanya sepercikan api belaka, belum lagi mereka melihat jelas kejadian sesungguhnya, terasa angin berkesiur, tahu2 Lim Cu-jing sudah melayang masuk pula lewat jendela dan hinggap di hadapan mereka.

Tampak di antara dua jari tangan kanannya menjepit sebatang panah kecil, katanya sambil menjura dengan tertawa lebar: "Jongtai, dihadapan Toa-lingpan Cayhe telah pamer kejelekan,"

Terpancar cahaya aneh pada sinar mata Ki Seng-jiang, katanya tertawa. " Tak heran Keke sa mpai begitu tinggi menilaimu, haha, demonstrasi yang Lim-heng tunjukkan barusan, jangankan dalam pasukan bayangkari kita tiada seorangpun yang mampu menandangi kau, meski jago2 lihay dari istana rajapun sukar mencari bandingannya."

Kedua bola mata Pui Hok-ki terbeliak sekian la manya, akhirnya dia tertawa ngakak serunya: "Dengan bekal kepandaian yang barusan Lim-heng pa merkan, adalah pantas kalau aku menukar jabatan dengan kau, malah terasa kurang setimpal aku menjadi wakilmu."

Lim Cu-jing menjadi gugup, katanya: "Jangan, Toa-lingpan berkata demikian, hamba jadi tidak enak hati."

"Aku bicara sejujurnya," ucap Pui Hok- ki, "dalam jangka sepuluh tahun, Lim- heng pasti menonjol dan me ngungguli jago2 silat manapun, naik pangkat hidup senang, hahaha "

Walau masih tertawa, tapi mimik Ki Seng-jiang tampak kurang wajar mendengar umpakan Pui Hok-ki ini, katanya sambil goyang2 tangan: "Marilah, kita bicara sa mbil duduk." Lalu dia ke mba li ke kursi kebesarannya.

Lim Cu-jing dan Pui Hok- kipun duduk pula di kursi se mula. Menghadap ke arah Lim Cu-jing, pelan2 Ki Seng-jiang berkata:

"Barusan kau telah me lihat orang yang berna ma Tu Hong-seng, dia

adalah Koan-tai dari pihak pe mer intah yang sengaja ditanam dalam Hek-liong-hwe, beberapa hari yang lalu kabarnya Hek- liong- hwe telah dige mpur oleh Pek-hoa-pang dan hancur lebur ...........

"Hek- liong-hwe?" Lim Cu-jing pura2 menepekur, "rasanya hamba pernah mendengar orang me mperbincangkan, tapi nama Pek-hoa- pang, selamanya belum pernah ha mba dengar?"

Ki Seng- jiang tersenyum: "Itulah suatu sindikat gelap yang terorganisir baik dan rapi, tidak pernah terjun ke percaturan dunia persilatan secara terbuka, sudah tentu kau tak tahu, begini dia jemput kertas laporan Tu Hong seng dan diangsurkan, katanya: "Inilah laporan Tu Hong-seng, boleh kau me mbacanya dengan teliti, nanti pasti akan mengerti. Menurut laporan Tu Hong-seng, kaum pemberontak dari Pek-hoa-pang sudah menyusup ke Jiat ho sini, tujuannya jelas mengadakan kembali keonaran dan kejahatan, tadi sudah kusuruh Tu Hong seng agar tetap menginap di los men Liong kip, dan secara dia m2 menyelidik dan mengawasi gerak-gerik mereka, kau orang baru, jelas pihak musuh belum ada yang mengenalmu, maka tugas ini kuserahkan pada mu seluruhnya . . . . .

. . . . "

"Berkat kebijaksanaan Jongtai, maka tugas yang diserahkan padaku pasti akan kukerjakan sekuat tenaga," demikian Lim Cu jing me mber ikan janjinya.

"Tugas Lim-heng yang pertama sekarang adalah, kaupun harus menginap ke Los men Liong kip itu, secara diam2 kau boleh mengadakan kontak dengan Tu Hong seng, bila mene mukan orang yang patut dicurigai, Tu Hong seng t idak leluasa bertemu muka dengan mereka, ma ka tugas mulah yang menyelidikinya secara dia m2 lalu kau mengada kan hubungan dengan Pui Hok- ki, cuma ada satu hal harus Lim heng perhatikan, yaitu jangan terburu nafsu mengejar pahala, supaya tidak mengejutkan pihak lawan."

"Ha mba mengerti," sahut Lim Cu jing.

"Baik, setelah kau baca habis laporan ini boleh segera berlalu, bila tiada urusan penting tidak usah kau sering ke mbali ke markas sini, supaya jejak asal usulmu tidak konangan musuh," lalu dia berpaling dan bicara kepada Pui Hok-ki: "Tugas ini seluruhnya kuserahkan kepada barisan kesatu, dari sini kau boleh langsung bawa Lim- heng ke kesatuanmu, supaya anak buahmu mengena l wakilmu dan Lim-heng kenal juga anak buahnya, bila di luar markas bertemu dalam menja lankan tugas, mereka harus tunduk pada perintah Lim-heng,"

Pui Hok- ki me ngiakan, sa mbil munduk2.

Dikala mereka bicara Lim Cu-jing sudah baca laporan Tu Hong- seng, kejadian hancurnya Hek-liong-hwe seperti yang ditulis dalam laporan Tu Hong-seng me mang sesuai dengan kenyataan. Cuma demi kepentingan pribadinya dia terlalu menonjolkan jasa2 pribadi sendiri, bagaimana dia tertawan musuh oleh obat bius keluarga Un, bagaimana pula dia berusaha menipu musuh tidak gugup sedikitpun meski menjadi tawanan, dan akhirnya berhasil melarikan diri setelah menge labui musuh Dia m2 Lim Cu-jing menghela napas, pikirnya: "Bila manus ia sudah ke maruk pangkat dan harta, sampai matipun dia tidak akan insaf akan kesalahannya."

Akhirnya dia tutup laporan itu serta menaruhnya di atas meja, katanya: "Hamba sudah me mbacanya, Jongtai."

"Dalam laporan Tu Hong seng ini cukup jelas, wajah, usia dan ciri para pemberontak, ini banyak me mbantu bagimu dalam menja lankan tugas, kau me ngingatnya se mua"

"Beberapa orang penting sudah kuingat dengan baik," sahut Lim Cu-jing.

"Baiklah, sekarang kalian boleh berangkat," ucap Ki Seng jiang. Pui Hok-ki dan Lim Cu jing menjura bersama dan mengundurkan diri.

Setelah kemba li di tempatnya, Pui Hok-ki lantas mengumpulkan anak buahnya dan me mperkena lkan Lim Cu-jing kepada mereka, terutama kepada ko mandan ketiga kelompok pasukannya, yaitu kepala kelo mpo k pertama berna ma Go Jong-gi, berusia empat puluhan, muka putih tubuh kurus kecil, mirip pelajar yang lemah le mbut. Kepala kelompo k kedua bernama Ko Siang seng, perawakan sedang, mukanya lonjong kurus, usianya sekitar lima puluhan. Kepala kelompok ketiga berna ma Thio Ih-bin, agak ge muk, usianya juga sudah e mpat puluh lebih.

Akhirnya Pui Hok-ki berkata: "Baiklah, sekarang tiada urusan lain, kalian boleh bubar, Go Jong-gi, kau saja yang tinggal di sini." - Kemudian berkata pula Pui Hok-ki kepada Go Jong-gi: "Lim-heng akan menginap di Tang sun-can untuk melakukan tugas rahasia, untuk ini kutugaskan kau selalu mengadakan kontak dengan Lim- heng, ada pesan dan petunjuk apapun dari Lim-heng harus segera kau laksanakan."

"Ha mba mengerti " sahut Go Jong-gi la lu ia berputar menghadap Lim Cu-jing, katanya: "Jilingpan entah ada pesan apa?"

"Setiap mala m setelah makan ma lam kuharap Go-lingpan datang ke ka marku, supaya hubungan tetap diadakan, kalau ada kejadian atau urusan mendadak satu sa ma lain bisa berunding, entah bagaimana pendapat Go heng?"

"Jilingpan bekerja secara rapi, sudah tentu ha mba terima petunjuk saja."

"Di luar markas harap Go heng tidak me manggilku de mikian lagi, kita saling me mbahasakan saudara saja, untuk ini Go-heng tidak boleh la lai "

Melihat hari sudah sore, Lim Cu-jing lantas menjura kepada Pui Hok-ki, katanya: "Toalingpan, waktu sudah mendesak, biarlah hamba me ngundurkan diri." "Ya, demi tugas, bolehlah segera berangkat," ucap Pui Hok ki.

Setelah minta diri kepada Pui Hok-ki, bersama Go Jong-gi mereka terus keluar markas menuju ke istal, kuda tunggangan Lim Cu jing sudah disiapkan, dia cemplak ke punggung kuda dan berpisah dengan Go Jong-gi, langsung dibedal ke Tang-sun-can.

Waktu itu sudah ma grib, pelayan yang bertugas di luar segera menyongsong kedatangan Lim Cu-jing dan menyapa dengan tertawa : "Lim- ya, kau sudah kembali lagi."

Lim Cu jing mengangguk, dengan tangkas dia melo mpat turun, tanyanya: "Masih ada ka mar?"

"Silah Lim-ya tanya saja di kantor, hamba tugas di luar, kurang terang keadaan di dala m."

Waktu Lim Cu jing me langkah masuk, kasir hotel ter gopoh2 menya mbutnya, Lim Cu-jing bertanya pula: "Ciangkun, masih ada kamar istimewa?"