-->

Pendekar Kidal Jilid 28

Jilid 28

Tabasan pedang berlalu, darahpun muncrat berhamburan, lengan kanan Ban hoa kiam kena ditabas kutung sebatas pundak. Beruntung   dia,    masih    sempat    mengegos    dengan   segala ke ma mpuannya di sa mping kain lengannya berhasil menahan sebagian kekuatan   tabasan   lawan,   badan   roboh   terus mengge linding jauh ke sana.

Waktu Thay-siang mengenda likan luncuran pedang melukai musuh, saat itu pula terasa pundaknya mendadak ditepuk orang. Inilah se maca m pukulan yang tidak kelihatan bentuknya, datangnya juga tak menge luarkan suara, padahal tubuhnya tengah terapung, laksana anak panah yang me luncur dan tak mungkin dihentikan. Setelah pedang menabas musuh dan kaki hinggap di tanah, baru dia merasakan akan serangan gelap dari musuh tadi, pukulan yang mengenai pundaknya tadi mes ki terasa enteng malah seperti tidak terasa, tapi luka dala mnya hakikatnya sudah teramat berat. Inilah ilmu Toa-jiu-in dari aliran Ih-ka-bun (Yoga).

Kalau orang la in merasakan luka dala mnya sangat parah, tentu akan berusaha mengerahkan tenaga untuk menye mbuhkan luka dalam sendiri, dengan bekal dan latihan Thay-siang, ke mungkinan luka2nya masih terobati dan jiwa bisa tertolong. Tapi dasar wataknya angkuh, keras hati dan suka menang, sela manya dia pandang rendah orang la in, sudah tentu dia tidak peduli akan keadaan diri sendiri dan ingin menuntut balas. Begitu kaki hinggap di tanah, mengikuti putaran pedang tiba2 badanpun mengisar balik, mata2nya mendelik beringas di balik cadarnya, hardiknya keras: "Kaukah yang me mbokong Losin."

Lama kasa merah yakin Toa jiu- insinkang yang dilancarkan tadi umpa ma lawan t idak ma mpus seketika juga pasti terluka parah, paling tidak is i perutnya remuk dan takkan ma mpu bertempur lagi, kenyataan Thay-siang masih kelihatan segar malah menantang. Dia bergelak tertawa, serunya: "Tidak salah, pukulan tadi me mang hud- ya yang melancarkan."

"Bagus sekali," desis Thay-siang murka. Mendadak ia melejit ke atas terus menerjang musuh.

Bahwa setelah terkena pukulannya, Thay-siang masih ma mpu me lejit ke atas melancarkan serangan sehebat ini, keruan tidak kepalang kejut La ma kasa merah, lekas dia ayun tangan kanan serta menepuk sekuatnya. Ilmu yang diyakinkan adalah ilmu Yoga, Lwekangnya sangat tangguh, tepukan yang dilandasi kekuatan besar ini terang berbeda dengan pukulan me mbokong tadi. Maka segulung tenaga dahsyat segera menerjang lapisan sinar pedang..

Agaknya dia tidak tahu bahwa Thay-siang sudab kalap, jurus yang dilancarkan ini adalah "Naga ber-tempur di tegalan", jurus kedua dari Hwi-liong-kia m-hoat. merupakan jurus paling kuat; dari paling hebat perbawanya.

Cahaya pedang ber-lapias kemilau itu tiba2 berubah bintik2 dingin laksana kunang2 beterbangan mengha mbur ke e mpat penjuru. Setelah melancar kan dua kali pukulan, La ma kasa merah sudah menyurut mundur cukup jauh, tapi dua muridnya berdiri di kanan-kir inya tadi justeru terlambat bergerak, di mana sinar pedang berhamburan, seketika terdengar dua kali jeritan ngeri dibarengi darah muncrat ke mana2, kedua orang ini tertabas menjadi ber- keping2 oleh sa mberan sinar pedang. Waktu Thay-siang menarik pedangnya, dilihatnya Lama kasa merah sudah mundur seto mbak jauhnya, maka dia menghardik pula: "Ke mana kau akan lari?" Kembali dia menubruk maju.

Sungguh mimpipun La ma kasa merah tak pernah menduga bahwa Thay-siang begini lihay, dengan mata sendiri dia saksikan kedua mur idnya hancur lebur, ia menjadi mur ka juga, teriaknya kalap: "Hud-ya takkan me mberi a mpun pada mu!" Belum habis bersuara, kedua tangan sudah me mukul tiga kali secara beruntun.

Tiga pukulan ini dilancarkan dengan hati berang, maka kekuatan pukulannya betul2 dahsyat sehingga badan Thay-siang yang menerjang dengan terapung di udara juga sedikit tertahan.

Waktu Thay-siang menubruk kedua kalinya, kemba li La ma kasa merah me lontarkan pukulannya pula, badan Thay-siang tertolak berhenti.

Beruntun tiga kali Thay-siang berlo mpatan, di kala melancarkan serangan ketiga kalinya, jaraknya dengan Lama kasa merah tinggal beberapa kaki lagi, tiba2 ia meloncat lurus ke atas, mendadak ia berteriak nyaring mena mbah perbawa serangannya, dengan kepala di bawah dan kaki di atas dia menukik dengan tubrukan yang lihay, Ih-thiankia m ditangannya menaburkan cahaya perak    yang me mbendung ja lan mundur La ma kasa merah.

Kaget dan gusar pula La ma kasa merah, beruntun dia mundur tiga langkah, kedua tangan memukul ke atas susul menyusul, karena bertangan kosong, telapak tangannya yang lebar dan besar itu menyerupai ka mpak yang me mbelah sehingga menimbulkan letupan hawa yang dahsyat, letupan hawa ini semakin tebal menghimpun hawa dingin yang - me mbungkus sekujur badannya. Maka tubrukan sinar pedang Thay-siang dari atas itu dapat ditolaknya ke mba li.

Kalau yang satu mengge mpur sekuat tenaga dan bertahan dengan kukuh, se mentara yang lain menyerang dengan cara menubruk seperti elang menya mber ayam, sinar pedang berpusar kencang, kedua pihak bertahan kira2 setanakan nasi la manya dan masih tetap setanding.

Kepala gundul La ma kasa merah sudah ditahuri butiran keringat, badanpun basah kuyup seperti kehujanan, padahal Thay-siang harus melancar kan serangan dengan badan terapung. sudah tentu dia jauh lebih banyak menguras tenaga, lama2 sinar pedangnya menjadi guram dan tidak selihay se mula.

Melihat kese mpatan baik ini, mendadak La ma kasa merah menghardik sekali, sekuatnya dia   kerahkan   tenaga   dan mengge mpur dengan merangkap kedua telapak tangan mendorong ke atas.

Dengan rangkapan kedua tangan mendorong ke atas ini, ma ka timbullah kekuatan yang dahsyat, hawa serasa meluber menimbulkan deru yang gegap ge mpita. Pada saat yang sama Thay- siang pun menjerit melengking, suaranya mengalun menimbulkan gema panjang, cahaya pedangnya yang hampir pudar tadi t iba2 menyala pula lebih terang,   berubah   selarik   bianglala   terus me mbe lah turun ke bawah.

Kedua pihak sere mpak me lancarkan serangan paling dahsyat yang me matikan dengan seluruh sisa kekuatan sehingga sinar pedang dan angin pukulan menimbulkan rentetan suara aneh. Lekas sekali sinrar pedang dan angin pukulanpun sirna tak berbekas lagi.

Setelah melontarkan pukulan terakhir dengan sisa kekuatannya, Lama kasa merah cepat2 melo mpat mundur, Kasa merah yang dipakainya ta mpak berlubang dan sobek di beberapa tempat oleh tusukan dan goresan pedang, keadaannya tampa k konyol.

Thay-siangpun sudah berdiri tegak di tanah, rambutnya awut2an, cadar yang menutup mukanya sudah kabur entah ke mana, roman mukanya me mbes i hijau. Kedua orang sa ma2 mengunjuk rasa le lah kehabisan tenaga, dada naik turun dengan napas tensenggal2.

Sesaat mendelik kepada La ma kasa merah, akhirnya Thay-siang bersuara lebih dulu: "Anjing asing, berapa jurus lagi kau ma mpu menya mbut pedangku?" Sekali berputar, sinar hitam Ih-thiankia m ke mbali menerjang maju. Hwi-liong-sa m- kiam hakikatnya sudah dia yakinkan dengan se mpurna, maka setiap kali melancar kan serangan, badan selalu melayang di udara, menambah perbawa serangan sehingga lebih hidup laksana naga sakti.

Dua gebrakan terdahulu sudah meyakinkan La ma kasa merah bahwa Lwekang Thay-siang tidak lebih unggul dari pada dirinya, kalau lawan tidak me nggunakan Ih-thiankia m, pedang pusaka yang lihay, dia yakin dirinya pasti lebih unggul dan sejak tadi sudah merobohkannya. Tapi setelah berlangsung dua gebrakkan barusan, dia insaf bahwa tenaga murni sendiri sudah terkuras terla mpau banyak, untuk bertempur lebih la ma je las keadaan fisiknya tidak mengizinkan, ma ka dia pikir akan secepatnya mengakhir i pertempuran ini dengan rangsakan gencar.

Di luar dugaan Thay-siang juga mengandung ma ksud yang sa ma, ma lah terus mendahului, kali ini dengan jurus "naga sakti muncul dari mega," hal ini betul2 di luar perhitungannya,   maka dia me mbentak gusar: "Biar Hud-ya mengadu jiwa dengan kau!" Dengan telapak tangan kiri beruntun dia me mukul dua kali, berbareng badan berkisar ke sebelah kiri.

Sinliong-jut-hun   dilancarkan   Thay-siang    dengan    segala ke mahirannya, tekadnya teramat besar untuk me mbelah badan paderi asing ini untuk mela mpiaskan denda mnya, jelas kekuatan pedangnya yang tajam ini takkan ma mpu dibendung hanya dengan dua kali pukulan telapak tangan.

Ketika sinar pedang me mbelah tiba, La ma kasa merah sudah menyingkir   mundur, tangan kanan sejak tadi telah disiapkan me lontarkan pukulan Toa-jiu- in,  sekali me mbalik dengan gerakan me lintang miring tangannya menyampuk ke arah Thay-siang yang menubruk tiba, berbareng ia menyeringai dan me mbentak: "Perempuan bangsat, lihat pukulan. . ."

Dia kira dengan menyurut mundur beberapa kaki sudah cukup jauh untuk menghindari hawa pedang Thay-siang. Di luar tahunya bahwa Sinliong-jut-hun yang dike mbangkan Thay-siang kali ini dilontarkan dengan badan  terapung diudara, tapi karena sudah menjiwai ilmu pedang ini, maka gaya serang-annya dapat dia ubah sesuka hati sendiri, ma ka badan yang seharusnya terapung ke atas kini di ubah dengan meluncur ke depan. Pada hal dengan meluncur lurus ke depan inipun baru merupakan gaya permulaan dari Sinliong-jut-hun, dan gerak susulannya adalah melancar kan serangan dari udara. Dari sinilah diperoleh na ma Hwi- liong-sa m- kiam Hwi- liong atau naga terbang, karena ketiga jurus ini harus dilancarkan dengan badan terapung di udara.

Begitu meluncur tiba, melihat La ma kasa merah mengegos ke samping, diam2 Thay-siang menjengek, badan tiba2 berputar, berbareng pedangpun bekerja. Kejadian bagai percikan api cepatnya dan sukar disaksikan dengan mata, tampak pancaran sinar hijau ke milau menyapu dengan dahsyatnya.

Lama kasa merah tak se mpat berkelit lagi, terdengar lolong panjang yang mengerikan, di ma-na cahaya pedang itu menya mber lewat, badan kekar besar si Lama kasa merah seketika terpental roboh mandi darah. Kejap lain Thay-siangpun sudah berdiri di samping mayat La ma kasa merah, nafsu me mbunuh yang menghias i wajah Thay-siang sudah sirna, kini kelihatan pucat pias, untuk berdiripun dia harus bertopang pada pedangnya, dadanya turun naik menghe mbuskan napas berat dan sesak, terdengar ia berguma m: "Anjing asing, akhirnya kau ma mpus dipedangku!" Suaranya serak lirih dan le mah, badannya bergoyang dan akhirnya iapun roboh terjungkal.

Sementara itu, dengan sebilah pedang panjangnya Yong King- tiong   sedang   menunjukkan   ketangkasannya,    beruntun    dia me lancarkan Thianlo- kia m-hoat dari Kunlunpay yang telah lama pu- tus di kalangan Kangouw, kee mpat Houhoat Hek- liong- hwe telah dijagalnya satu persatu, jubah hijaunya berlepotan darah. demikian pula jenggot dan mukanyapun basah dan kotor oleh keringat tercampur percikan darah musuh.

Delapan jago pedang Hek liong hwe yang me nonton di luar arena sama berdiri me matung dengan terbelalak, agaknya mereka takjub dan jeri melihat kehebatan Congkoan mereka, tiada seorangpun yang berani maju lagi.

Tiga kelo mpo k pertempuran sengit yang ber-langsung di pinggir "kolam naga hitam" kini dua kelo mpo k di antaranya sudah berakhir. Kini tinggal Thi-hujin yang masih mene mpur Han Janto dengan segala kekuatannya, makin gebrak makin seru dan ra mai.

Maklumlah kedua orang ditelurkan dari satu perguruan, sama2 hasil didikan Lohwecu yang tidak pilih kasih, apa yang diyakinkan Han Janto juga diyakinkan Thi-hujin, de mikian pula sebaliknya, bergantung dari latihan dan pena mbahan variasi masing2 saja yang berbeda, apalagi taraf permainan mereka sudah sama2 mencapa i puncaknya.

Ratusan jaurus kemudian, mereka tetap bertahan sama kuat. Sudah tentu Thi-hujin lebih diburu nafsu untuk merobohkan lawan demi menuntut balas sakit hati sang suami, ma ka dia lebih getol menyerang, suatu ketika mulutnya melengking nyaring, sekujur badan seperti dibungkus sinar pedangnya terus menusuk lurus ke depan. Yang di-lancarkan ini sudah tentu adalah Sinliong-jut-hun, salah satu dari Hwi- liong-sam- kia m.

Melihat lawan menggunakan Hwi-liong-sa m-kia m, sudah tentu Han Janto tidak berani ayal, iapun bersiul panjang, badanpun terbungkus bayangan hitam gelap me la mbung ke atas, yang dia ke mbangkan juga jurus Sinliong-jut-hun.

Dua larik sinar pedang yang satu mencorong terang dan yang lain guram gelap menjulang tinggi ke udara, seperti bianglala yang mene mbus tabir matahari.

Mendadak terdengar dering nyaring benturan kedua senjata, percikan apipun bertahuran menghias angkasa. Dua sosok bayangan orang sama me luncur turun, terpancar cahaya terang laksana rantai perak disertai benturan nyaring me meka k telinga.

Sekonyong2 selarik bianglala ke mba li menjulang ke udara disusul bianglala kedua juga me la mbung ke atas, di tengah udara kedua jalur bianglala saling bentur dan gubat menimbulkan gema suara yang ramai. Untuk merebut kese mpatan kedua orang berusaha saling mendahului, Hwi- liong-sam- kiam me mang ilmu pedang yang harus dilancarkan dengan badan mengapung, tapi pelajaran yang diyakinkan keduanya, sama2 bersumber dari satu perguruan, ma ka bila yang satu me la mbung ke udara, lawannyapun ikut mengapung ke udara, salah satu tiada yang mau me ngalah.

Begitulah dari per mukaan bumi kedua orang berte mpur sa mpai ke udara, dan dari udara kembali berhantam di atas tanah, keduanya masih terus serang menyerang mengembangkan tipu permainan mas ing2, tapi tiada yang lebih unggul atau asor, kekuatan tetap seimbang.

Karena keduanya belajar dari satu sumber, betapapun banyak ragam perubahan ciptaan masing2, tetap tidak kelihatan lebih menonjo l daripada yang la in, se-olah2 mereka seperti sedang latihan belaka, sedikitpun tidak kelihatan letak kehebatan mereka, jadi pertempuran adu jiwa yang sengit ini justeru tiada seorangpun yang ma mpu mengungguli lawan serta merobohkannya. Kini keadaan semakin tegang, sekarang hanya soal Lwekang siapa yang lebih asor dan tak tahan, dia yang akan roboh lebih dulu dan itu berarti jiwa akan melayang.

Bagi orang lain yang menyaksikan pertempuran adu jiwa ini kelihatannya amat menakjubkan dan me ngerikan, terutama dering benturan senjata kedua orang yang bergelombang me mekak telinga sungguh sangat mengganggu perasaan orang, jantung serasa mau me loncat keluar.

Dengan mendelong Kun-gi mengikuti pertempuran sengit ibunya yang melabrak Han Janto, sudah tentu hatinyapun sudah getol menuntut balas ke matian ayahnya, tapi dia lebih prihatin akan keselamatan ibunya. Semakin me muncak perte mpuran itu, begitu tegang sehingga napaspun terasa sesak.

Disa mping itu iapun menerawang serta menyela mi jurus No- liong-bankhong (naga murka melingkar di udara) jurus ketiga dari Hwi- liong- kia m-hoat, bila diubah menjadi jurus ketujuh seperti lu- kisan yang dit inggalkan oleh Tiong-yang Cinjin di dinding gua itu, dikala badan terapung dan me lancarkan serangan badan berputar ke kiri, gaya pedang ditekan ke bawah, maka dengan mudah pedang akan menusuk Hiat-to tertawa Han Janto yang terletak dipinggang kanan. Sebaliknya bila diganti dengan jurus kese mbilan, ujung pedang sedikit ditarik serta menyongkel ke atas, iapun akan berhasil menusuk tenggorokan Han Janto, sasaran yang me matikan.

Secara diam2 dia ikut i pertempuran ini sa mbil putar otak gambar peninggalan Tiong-yang Cinjin di dinding gua yang sembilan jurus itu semuanya dilancarkan dengan badan terapung, sejak mula i jurus pertama terus, berlanjut sampai jurus kese mbilan seperti berkelebat dalam benaknya, terasa bila dirinya sendiri yang mengguna kan jurus2 ilmu pedang itu, cukup lima jurus saja pasti dirinya dapat me mbinasakan Han Janto.

Tapi ibunya justeru melarang dia turun tangan, soalnya sejak dua puluh tahun yang lalu beliau sudah bersumpah akan menuntut balas ke matian sua minya dengan kedua tangan sendiri.

Dikala dia menonton dengan terpesona, tiba2 jeritan menyayat hati menyentak lamunannya, Karena terkejut Ling Kun- gi berpaling, dilihatnya sekali tabas Thay-siang telah berhasil me mbunuh La ma kasa merah, dia bertopang dengan batang pedangnya, mukanya pucat pasi. Malah badannya mulai se mpoyongan dan akhirnya jatuh terkulai.

Kun-gi me lo mpat ke sana serta berjongkok di sa mping orang. Yong King-tiong juga ikut me mburu maju, menyaksikan keadaan Thay-siang seketika dia me ngerut kening, katanya lir ih: "Luka2 Jikohnio agaknya cukup parah."

"Apakah Lopek tahu di mana letak luka2 Thay -siang?" tanya Kun-gi.

"Pasti anjing asing ini, meyakinkan ilmu Yoga, kemungkinan Jikohnio terkenan Toa-jiu-in."

Lekas Kun-gi papah Thay-siang, tangan kiri mene kan Ling-tai-hiat di punggung orang, pelan2 dia salurkan hawa murni ke tubuhnya. Betapa tangguh Lwekang Thay-siang, cukup mendapat sedikit bantuan tenaga dari luar sebagai pendorong hawa murni sendiri, dengan lekas sekali orangnya setengah pingsan segera siuman serta me mbuka mata. Melihat Kun-gi lagi menyalur kan tenaga mur ni ke tubuhnya, agaknya dia amat terharu dan manggut2, katanya tak bertenaga: "Nak, kaukah ini."

"Jangan Thay-siang berbicara         "

"Nak, tak usah kau membuang tenaga, lepas tanganmu, aku masih kuat bertahan."

"Luka2 Thay-siang tidak ringan, tapi dengan landasan kekuatan sendiri sela ma puluhan tahun ini, asal berhasil menuntun hawa murni ke tempatnya semula, setelah beberapa kejap bersemadi, dengan cepat kesehatan Thay-siang pasti akan se mbuh."

"Me mang betul, apa yang kau maksud aku sudah tahu, tapi Losin dua kali terkena Toa-jiu-in keparat gundul itu, keduanya mengenai tempat fatal di tubuhku, keadaanku cukup parah dan tak berguna lagi, tak usah kau me mbuang hawa mur nimu, hentikanlah, mumpung keadaan Losin belum me mburuk, masih ada o mo ngan yang hendak kubicarakan dengan kau."

Tapi Kun-gi tidak segera lepas tangan, katanya: "Apakah Thay- siang tidak berusaha menyembulikan diri?"

"Tak usah banyak bicara nak, dua tempat isi perutku sudah hancur, umpa ma ada obat dewa juga tiada gunanya, syukur aku masih kuat bertahan berkat peyakinan Lwekang selama puluhan tahun, hawa murniku belum lagi buyar, beberapa kejap aku masih kuat bertahan, umpa ma kau bantu me nyalurkan hawa murni juga tiada gunanya. Sebelum ajal ini, Losin ingin bicara dengan kau, waktu a mat mendesak, lekaslah duduk di sa mpingku."

Yong King-thong dapat me lihat air muka Thay-siang sudah mulai berubah, lekas dia menimbrung: "Ling- kongcu, Jikohnio ingin bicara, lekas kau berhenti saja."

"Thay-siang . ." dengan ragu2 akhirnya Kun-gi menar ik tangan. Lwekang Thay-siang me mang amat tinggi, meski Kun-gi tarik tangan menghentikan saluran tenaga dala m, hakikatnya tidak me mbawa pengaruh besar bagi keadaannya, mukanya me mang amat pucat, katanya menukas: "Nak, jangan me manggilku Thay- siang, aku adalah bibimu, kau panggil aku bibi saja."

Terasa oleh Kun-gi, perempuan yang berwatak keras sejak muda sampai lanjut usia ini, kini keadaannya betul2 sudah parah, walau orang berhati keji, untuk me mbunuhnya tak segan2 dia mengorbankan banyak jiwa orang la in, tapi apapun yang telah terjadi, jelek2 dia adalah adik kandung ibunya, apalagi keadaannya sekarang ibarat dian yang sudah kehabisan minyak. Maka pelan2 Kun-gi berlutut, mulutpun berteriak haru tersendat : "Bibi! "

Thay-siang tertawa haru, katanya: "Anak baik, bibimu berbuat salah terhadap kakek luarmu, mengingkari ayah bundamu, demikian pula terhadap kau . . ."

"Kejadian yang sudah la lu, biarlah tak usah diungkat kembali, bibi tak usah bicara urusan ini lagi."

"Orang menje lang ajal, apa yang dikatakan adalah bajik, perbuatanku dulu yang me mang tidak dilandasi cinta kasih dan kebajikan, sekarang menjadi penyesalan yang a mat mendala m."

Setelah Kun-gi menghentikan tambahan hawa murni, kalau Thay- siang tidak menggunakan tenaga, berkat latihannya puluhan tahun dia masih kuat bertahan beberapa kejap lagi, tapi setelah berbicara beberapa patah, lambat laun terasa keadaannya sema kin gawat.

Agaknya hawa murni dalam tubuhnya mulai buyar sehingga suara yang keluar dari kerongkongan pun menjadi le mah dan lirih, tapi dia masih berusaha berbicara: "Nak, kau sudah masuk ke Hek- liong-ta m, sembilan jurus ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin yang terukir didinding pasti sudah kau pelajari dengan baik, Ih-thiankia m ini diperoleh kakek luar mu di dalam ka mar batu didasar kolam itu, hanya pedang inilah yang bisa menge mbangkan sembilan jurus ilmu pedang itu hingga puncaknya, lekaslah kau terima . . . . " sampai di sini mendadak dia ter-batuk2, napaspun ter-sengal2.

Pada saat itulah, terdengar benturan nyaring senjata me mekak telinga dan me nggetar sukma, tanpa tertahan Kun-gi menoleh, dalam beberapa kejap ini, ternyata ibunya sudah terdesak di bawah angin.

Pedang panjang di tangan Hati Janto dimainkan sesakti naga hidup, sinar pedangnya yang semula redup kini mulai menyala meski tetap re mang2, sementara ibunya masih bertahan mati2an, permainan me mang mas ih teratur, tapi mau tidak mau dia menjadi cemas juga.

Mendelong pandangan Thay-siang yang sudah pudar, katanya lir ih: "Nak, jangan hiraukan aku, lekas maju ke sana, Toaci bukan tandingan Han Janto, hanya Ih thiankiam yang dapat menundukkan dia "

Sambil mengawasi Thay-siang, Kun-gi ragu: "Tapi, bibi    "

Kata Thay-siang dengan ter-senggal2: "Jangan hiraukan aku, aku akan segera mangkat . . . .O. nak, masih ada satu hal, semula aku ingin menjodo hkan Bok-tan padamu, Bok-tan anak baik, tapi kalau kau suka So-yok, aku juga tidak menentang, boleh kau pilih dan putuskan sendiri, di antara kedua anak ini, kau harus pilih salah satu, kelak setelah punya anak, jangan lupa berikan satu di antaranya untuk marga Thi supaya tidak putus turunan "

Kembali suara benturan nyaring me meka k telinga, terdengar Han Janto tertawa latah: "Thi Ji-gio k, berapa jurus lagi kau ma mpu menandangi aku?"

Bergetar hati Kun-gi, pelan2 Thay-siang ulur tangannya yang gemetar, katanya gugup: "Nak . . . . lekaslah "

Pelan2 Ling Kun-gi merebahkan Thay-siang, katanya: "Bibi istirahat saja, keponakan pasti "

"Ingat pesanku," ucap Thay siang le mah, "setelah kalian punya anak . . . . aku ingin me mungut satu " Kun-gi mengangguk dengan berlinang air mata, tak sempat bicara lagi, dia jemput Ih-thiankia m terus melo mpat ke sana. Ih- thiankiam berubah selarik sinar hijau me luncur di tengah udara sambil berteriak keras: "Bu, biar anak yang me mbereskan bangsat durjana ini."

Putaran pedang Han Jan to yang kencang itu sudah bikin Thi- hujin terdesak di bawah angin, dia mengejek sambll tertawa senang: "Bagus, kalian ibu dan anak boleh maju bersama, supaya menghe mat waktu dan t idak me nghabiskan tenagaku."

Sebagai seorang yang sudah kenyang mencicipi asam gara mnya percaturan Kangonw, baru habis kata2nya, seketika dia merasakan keganjilan dari sa mberan sinar pedang Ling Kun-gi, belum lagi lawan menerjang tiba, hawa pedang yang dingin tajam terasa sudah mence kam perasaannya. Sudah tentu dia kenal baik Ih-thiankia m di tangan Ling Kun-gi yang tajam luar biasa ini. Keruan mence los hatinya. pikirnya: "Kepandaian silat bocah ini ternyata tidak lebih asor dari ibunya." Sebat sekali dia berkisar ke sa mping, berbareng pedangnya menabas miring.

Ilmu pedangnya boleh dikatakan sudah mencapai tingkatan tertinggi, ma ka perhitungan waktunya sudah tentu a mat tepat, begitu tebasan pedang terayun ke depan, pada saat itu pula Ling Kun-gi akan hinggap turun di tanah, malah dalam waktu yang sama pula dia berhasil menghindar kan ancaman pedang Ling Kun-gi dengan berkelit ke sa mping. Walau tebasan pedang itu dilancarkan sambil berkelit, tapi deru angin pedangnya ternyata keras sekali.

Dikala me layang turun tadi. Kun- gi sempat mengegos kesa mping, namun dia toh merasakan tekanan hawa perdang musuh, hawa murni pelindung badannya me mper lihatkan kea mpuhannya, pakaiannya tampak mele mbung, mau tidak ma u ia terkejut juga, batinnya: "Keparat ini me mang lihay,"

Begitu Kun-gi hinggap di tanah, Thi-hujin lantas tanya dengan gugup: "Nak, bagaimana keadaan adik?" "Lekas ibu menengo knya, bibi terluka parah, mungkin tak bertahan lagi," sahut Kun-gi.

Tersirap darah Thi-hujin, teriaknya: "Baik, hadapi dia dengan baik, lebih baik kalau kau bekuk hidup2, ibu akan jaga bibimu." Cepat dia me mburu ke te mpat Thay-siang merebahkan diri.

Han Jan to menyeringai, serunya: "Lihat pedang, anak muda!" Sekali berkelebat bayangannya, orangnyapun mendesak maju, selarik sinar ke milau langsung me mbelah.

Pedang Kun-gi   pelan2   didorongnya   ke   depan,   mulutnya me mbentak: "Orang she Han, ibu berpesan untuk me mbe kukmu hidup2, kalau tidak dalam beberapa jurus saja pasti kubereskan jiwa anjingmu ini."

"Anak bagus," teriak Han Janto ter-gelak2, "agaknya kau lebih congkak daripada bapakmu "

Mendengar orang menyinggung ayahnya, semakin berkobar dendam Kun-gi, sekali menghardik, pedang dia pindah ketangan kiri, dengan sengit ia mencecar dengan serangan maut. Dengan pedang di tangan kiri, dia coba menge mbangkan ilmu pedang Tat- mo-kia m- hoat secara kidal, pedangnya me mancarkan cahaya dingin, rangsakannya sengit dan ketat. Tat-mo-kia m-hoat ajaran Siau-lim-s i me mang terkenal ketat, kini dima inkan secara kidal oleh Ling Kun- gi, permainan yang serba berlawanan dengan aslinya ini kelihatan lebih aneh dan banyak ragamnya, orang sukar berjaga dan meraba arahnya.

Mengingat pesan ibunya tadi agar me mbekuk lawan ini hidup2, maka dia kombinasikan juga per-ma inan telapak tangan kanan dengan Cap-ji-kim-liong jiu yang lihay, jari2 tangan kadang2 menutuk mencengkeram, me megang, menarik, menyodok dan maca m2 gerakan lain yang diincar adalah Hiat-to Han Janto. Perubahannya serba aneh dan lihay.

Han Janto terhitung ahli pedang juga, kapan dia pernah menyaksikan atau berhadapan dengan lawan yang ma in pedang secara kidal? Yang dimainkan justeru berlawanan dari ilmu pedang aslinya?. Karena belum mene mpatkan diri pada posisi yang meyakinkan, dia terdesak mundur, batinnya: "Apa yang dimainkan bocah ini pasti ilmu pedang ciptaan Hoanjiu-ji- lay, sungguh aneh dan lihay," Hati berpikir se mentara pedangnya bergerak melingkar2, di sa mping bertahan iapun berusaha balas me nyerang, rangsakan Ling Kun-gi yang aneh2 ternyata dapat ditandingi dengan sengit pula.

Puluhan gebrak ke mudian Han Janto menjadi hilang sabar, sambil mengeluarkan suara aneh, mendadak ia meloncat ke udara sambil pedang terayun, pedang berubah sejalur bayangan hitam menjulang tinggi ke udara. Diam2 Kun-gi tertawa dingin, iapun tidak mau ketinggalan, sekali pedang menggaris iapun enjot tubuh melejit ke atas.

Padahal Han Janto sudah tiga tombak di udara, melihat Ling Kun- gi juga meniru perbuatannya, diam2 ia bergirang dan menyeringai. Karena kali ini dia mela mbung lebih dulu, Kun-gi mengejar selangkah agak terlambat. Dikala Han Janto mencapai ketinggian tiga tombak, Kun-gi baru mencapa i dua tombak, sudah jelas posisinya lebih menguntungkan. Pada keadaan yang menguntungkan inilah mendada k dia putar haluan, dengan menukik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, pedang hitam di tangannya melingkar2 me mbawa bayangan hitam bagai ja la menyebar ke empat penjuru, kepala Ling Kun-gi menjadi sasaran langsung.

Thi-hujin yang menyaksikan di sebelah sana menjadi kaget, teriaknya gugup: "Awas anak Gi" Maklum, di tengah udara orang sukar bergerak leluasa seperti di atas tanah, sekali kesempatan di dahului lawan, maka awak sendiri akan menjadi bulan2an.

Bagai percikan lelatu api singkatnya, dikala Kun-gi menjulang ke atas mencapai ketinggian dua tombak, badannya yang masih terus menerobos naik itu mendada k me liuk minggir terus menerjang dari samping, secara tepat dan indah dia berhasil me nghindarkan jaring pedang Han Jan to yang lihay. Seperti diketahui Han Janto buru2 me nukik turun ketika dia mencapai ketinggian tiga to mbak ma ka terjangan Ling Kun- gi dari samping ini bukan saja berhasil meluputkan diri dari serangan pedang lawan, ma lah sekaligus mengungguli lawan dan berada di sebelah atas Han Janto.

Hal ini dengan je las disaksikan oleh Han   Janto waktu dia ke mbangkan serangannya, gaya Ling Kun- gi ternyata amat aneh dan luar biasa seperti naga sakti yang hidup, tahu2 bayangannya sudah menerobos lewat lebih tinggi di sebelah atasnya, seketika dia insaf keadaan berbalik tidak menguntungkannya. Untunglah sela ma puluhan tahun meyakinkan Hwi-liong-sa m-kia m, ketiga jurus ilmu pedang ini boleh dikatakan sudah mendarah-daging dengan jiwa raganya, sudah tentu permainannya dapat terkendali sesuai jalan pikirannya.

Begitu menga mati gerakan Ling Kun-gi yang aneh, segera dia me mberatkan badan, seperti burung merpati yang melingkupkan sayap dan menukik ke bawah, bayangan pedang hitam seketika kuncup, secepat meteor dia jatuh anjlok ke bawah. Soalnya dia kuatir Kun-gi bakal menyerang dari atas, maka dia merasa perlu buru2 melayang turun.

Di luar dugaan Ling Kun-gi tidak lantas menyerang, tapi iapun mengejar turun pula. Sudah tentu kali ini Han Janto lebih dulu mencapai tanah. Diam2 dia tertawa dingin, pikirnya: "Bocah keparat, bila kau lancarkan serangan dari udara mungkin tuanbesarmu dapat kau kalahkan, tapi kesempatan sebaik ini kan sia2kan, ke mbali aku mendahului anjlok ke bawah, nah, sekarang rasakan pedangku."

Pikiran berjalan tanganpun bergerak, sebelum Kun-gi hinggap di tanah, mendadak dia menghardik sekali, pedang hitam di tangannya ke mbali menaburkan jaringan sinar me nggulung ke arah Kun-gi.

Kun-gi belum se mpat hinggap di tanah, mendadak ia ter-gelak2, bagai angin menghe mbus dahan pohon, tiba2 tubuhnya melayang ke sana, Ih-thiankia m me mancarkan cahaya hijau me manjang, bayangan pedang tampak ber-lapis2 balas menyerang dari sebelah atas.

Betapa hebat dan cepat gempuran kedua pihak ini, begitu cahaya pedang kedua pihak saling bentrok maka terdengarlah suara rentetan nyaring benturan senjata. Sesosok bayangan orang tahu2 menerjang keluar dari lingkaran sinar pedang. Itulah Han Janto, jubah abu2 bersulam naga yang indah itu sudah koyak2 di beberapa tempat, pedang panjang tiga kaki di tangannyapun telah terpapas kutung tinggal satu kaki lebih. Setelah mundur beberapa langkah, mendadak dia menggerung gusar, dia timpukkan pedang kutung sebagai senjata rahasia mengincar dada Ling Kun-gi.

Begitu kutungan pedang lepas dari tangan, sebat sekali dia putar tubuh sambil menjejak kedua kaki, bagai burung yang sudah ketakutan mendengar suara jepretan, cepat2 dia berlari secepat terbang keluar le mbah.

Jurus tandingan yang dilancarkan Ling Kun-gi dalam gebrak terakhir ini adalah jurus ke 7 dari ilmu pedang peninggalan Tiong- yang Cinjin yang terukir di dinding gua itu. Maklum, baru pertama kali ini dia ke mbangkan, latihan belum matang, apalagi mengingat pesan ibunya untuk me mbekuk lawan hidup2, maka Han Janto sempat lolos dari jaringan sinar pedangnya. Kini melihat orang menyerang dengan pedang kutung sebagai senjata rahasia, segera ia menya mpuk, "trang", pedang kutung kena diketuk jatuh, mulutnyapun menghardik:. "Mau lari ke mana?"

Baru saja Kun-gi hendak mengejar, didengarnya seorang bersuara dengan nada berat berwibawa: "Dia tidak akan lolos." Sesosok bayangan orang meluncur tiba dan tahu2 sudah mencegat jalan lari Han Janto, ma lah sekaligus dia lancarkan sekali pukulan telapak tangan. Pencegat ini adalah Yong King-tiong.

"Yong King-tiong," Han Janto berteriak kalap   "berani kau mer intangi aku!" Tangan kanan menyodok se mentara telapak tangan kiri mengge mpur. "Blang", telapak tangan kedua orang beradu dengan telak, masing2 tergentak mundur satu langkah. Betapapun Han Janto sudah mengala mi pertempuran seru sejak tadi, tenaganya banyak terkuras karena adu pukulan secara keras ini, dadanya tampak naik turun, napasnya me mburu.

"Han Janto," bentak Yong King-t iong mendelik, "keadaanmu sudah payah, lebih baik kau menyerah saja."

Tertampak oleh Han Janto, delapan jago pedang seragam hitam berdiri di belakang Yong King-tiong, se muanya gagah me meluk pedang, naga2nya mereka sudah dibujuk dan tunduk pada Yong King-tiong, kini keadaan awak sendiri sudah terpencil, dia tahu gelagat yang tidak menguntungkan ini. Cepat sekali otaknya bekerja, tiba2 ia me mbentak: "Pengkhianat bernyali besar, me mangnya kalian mau berontak?" belum habis bicara, kedua telapak tangan terangkap, dengan sekuatnya dia mengge mpur maju, berbareng kaki kanan menendang dada Yong King-tiong. Dalam sekali gebrak ini tiga jurus serangan sekaligus dilontarkan.

Yong King-tiong tertawa, kedua telapak tadgan berputar ke atas lalu dari depan dada. pelan2 dia dorong ke depan, dengan jurus Ji- liong-huncui (dua naga me mbagi air), dia berusaha me matahkan serangan Han Janto, menyusul tubuh mengapung ke atas, berbareng kaki kanan juga menyepak kaki kanan Han Janto yang menendang datang. Kedua jarus serangan inipun dilontarkan secepat kilat. "Blum" "plak", benturan keras serasa menggoncang bumi, empat telapak tangan beradu lebih dulu disusul kaki masing2pun berhanta m. Posisi kedua pihak berbeda, ma ka kesudahannya segera tampak siapa lebih unggul dan asor.

Selama dua puluh tahun ini Yong- King-t iong tak pernah unjuk kepandaian aslinya, betapa tangguh Lwekangnya, begitu anjlok turun dia hanya bertolak mundur selangkah. Tidak demikian dengan Han Janto yang sudah mulai le mah, darah serasa ha mpir tumpah dari mulutnya, tanpa terasa dia terhuyung tiga tindak. Sekuatnya dia tahan darah yahg hampir menye mbur dan menahan sakit luka2 dalamnya, baru saja dia hendak putar badan, mendadak kedua pundak terasa pegal kaku, tulang pundak kanan kiri tahu2 telah terpegang orang, seluruh tenaganya seketika lunglai, mana dia ma mpu meronta atau melawan lagi?

Maka didengarnya suara Ling Kun-gi me mbentak di belakang: "Han Janto seharusnya kau tahu, sejak tadi orang she Ling sudah berada di belakangmu"

Terdengar seruan Thi-hujin dari sana: "Anak Gi, jaga dia, jangan sampai dia menggigit putus lidahnya."

Kun-gi berpaling katanya: "Ibu tak usah kuatir, anak tidak akan me mber i kesempatan padanya untuk bunuh diri." Tangan kiri segera menutuk Ah-bunhiat di belakang leher Han Janto.

Thi-hujin me ndekatinya, sekali raih, dia tarik kedok muka orang, desisnya dengan menggereget: "Bangsat she Han, dikala kau menjua l Hek- liong-hwe dulu, pernah kau pikirkan akan nasibmu seperti sekarang ini?"

Dulu Han Janto berwajah tampan, putih halus, ro mannya yang agak kurus dulu kini ta mpak ge muk.

Cuma hidang betetnya yang tidak berubah, tapi bentuk dan rona mukanya sekarang me mpertebal perasaan orang akan jiwanya yang culas dan keji.

Kini jiwa raga sudah jatuh ke tangan musuh, Hiat-to tertutuk, badan lemas lunglai, jangankan melawan untuk merontapun tak ma mpu lagi, akhirnya dia pasrah nasib me mejamkan mata saja tanpa bersuara. Sebetulnya memang dia tidak ma mpu bersuara karena Ah-bun hiat tertutuk.

"Anak Gi," kata Thi hujin, "kau gusur dia marilah, kita ke pusara ayahmu, secara hidup2 akan kukorek ulu hatinya untuk se mbayang arwah ayahmu . . . . . . . ." tanpa terasa suaranya tersendat dan pilu, air matapun bercucuran.

Kun-gi menahan isak tangisnya, katanya terguguk: "Apakah pusara ayah berada di sini?" Dengan berlinang air mata Thi-hujin me njawab: "Tidak salah, ayahmu dikebumikan di le mbah sebelah timur sana."

"Kongcu," Yong King-tiong menimbrung, "serahkan saja. Han Janto pada mereka." Lalu dia berputar ke arah kedelapan jago pedang seragam hitam, katanya: "Kalian gusur dia, pergilah ke Say- cu-kau."

Dua diantara jago pedang itu segera tampil ke depan, bahu kanan kiri Han Janto dike mpit terus berjalan mendahului didepan.

'Hujin", kata Yong King-t iong, "biarlah Lo-siu berangkat dulu." Lalu dia mengikuti kedelapan jago pedang itu berangkat lebih dulu.

Kun-gi celingukan ke sekelilingnya, bayangan Thay-siang tidak kelihatan, tapi di pinggir Hek-liong-ta m sana bertambah satu gundukan tanah, cepat dia bertanya. "Bu. apakah bibi sudah wafat?"

Ber-kaca2 mata Thi-hujin, katanya mengangguk: "Adik sudah mangkat, dua puluh tahun perselisihan dengan ibu, sampai detik2 sebelum ajalnya baru dia sadar dan insaf akan kekhilapannya, dia punya sebuah angan2, minta supaya kau menya mbung keturunan keluarga Thi, ibu sudah menerima dan berjanji padanya, ibu juga termasuk anggota keluarga Thi, maka adalah pantas kalau kaulah yang harus meneruskan keturunan keluarga Thi . . . . " ia angkat kepala la lu mena mbahkan: "Mari!ah kita susul mereka."

Kun-gi mengintil di belakang ibunya. Jalan kecil ini berliku dan belak-belok, seperti berputar di lereng gunung, kecuali lumut yang licin dan berbahaya, rumput atau tetumbuhan lain tiada yang bersemi di sini.

Kira2 setengah li jauhnya, setelah me mbelo k sebuah pengkolan pinggang gunung, betul juga tam-pa k di tengah selat gunung yang diapit dinding curam menjulang tinggi terdapat sebuah batu nisan. Yong King-tiong bersa ma kedelapan jago pedang yang menggus ur Han Janto sudah menunggu di depan pusara itu, delapan jago pedang itu berpencar berjaga terhadap segala ke mungkinan. Mengikuti langkah ibunya Kun-gi, tiba di depan pusara, tampak di atas sebuah batu nisan besar bertatahkan huruf yang berbunyi "Pusara almarhum Hwecu Ling Tiang-ho ng".

Yong King-tiong menjura kepada Thi- hujin, katanya: "Tempat ini terselubung dari tiga jurusan, kalau orang2 Hek- liong- hwe mendengar kabar mungkin bisa me luruk ke mari, hal itu akan mendatangkan kesukaran bagi kita. Hujin, Kongcu, silakan bersembahyang, Lobsiu akan bertugas di mulut le mbah sana untuk menjaga segala ke mungkinan."

Thi-hujin mengangguk, katanya: "Pendapat   Yong-congkoan me mang betul, kalau de mikian bikin capai dirimu saja."

"Hujin terlalu sungkan, ini me njadi tugas dan kewajiban Losiu," ucap Yong King-tiong, dua jago yang menggusur Han Janto ditinggalkan, enam jago pedang yang lain dia bawa naik ke atas ngarai sana."

"Anak Gi," ucap Thi-hujin, "punahkan saja ilmu silat orang she Han, baru kau buka Hiat-tonya."

Kun-gi mengiyakan sa mbil mengha mpir i Han Janto, pelan2 telapak tangannya menepuk pundak orang untuk me mbuka Hiat-to orang, berbareng dua jari tangan kiri secepat kilat menutuk Kui-hay- hiat. Kontan badan Han Jan to mengejang dan gemetar keras, sambil meraung keras ia jatuh terguling.

Tanpa me mbuang waktu beruntun Kun- gi unjuk ke mahiran ilmu tutukannya, cepat sekali ke mbali dia tutuk Pak-liong dan Bweliong kedua Hiat-to ditubuh orang, terakhir dia menutuk pula Pek-hwehiat di ubun2 kepala Han Janto.

Seperti balon yang ke mpes Han Janto roboh di tanah, badan lunglai tak ma mpu bergerak, pelan2 dia angkat kepala, kedua bola matanya mendelik berwarna merah menatap Thi-hujin, serunya dengan suara serak: "Thi Ji-giok, kau bunuhlah aku. Berilah

aku ke matian secepatnya." Me mbesi hijau muka Thi-hujin, teriaknya murka: "Me mberi ke matian secepatnya? Kau keparat yang lupa leluhur, rela menjadi budak musuh dengan menjua l bangsa dan negara, kau sampah persilatan, kau mencelakai sua miku, betapa banyak patriot yang kau bunuh, ingin aku me mbeset kulit mu dan mencacah dagingmu, syukurlah Thian maha adil, hari ini kau terjatuh di tanganku, akan kukorek ulu hatimu hidup2 . . . . . . . " maki punya maki amarahnya semakin me muncak, mendadak ia me mburu maju, kaki me layang, muka Han Janto ditendangnya sekali. Bentaknya: "Hayo berlutut, mintalah a mpun dan akui segala dosa dan kejahatanmu dulu."

Karena ilmu silatnya sudah punah, Han Janto meraung kesakitan karena tendangan itu, sesaat lamanya mulutnya masih mengerang dan merintih, mukanya basah kuyup oleh butiran keringat sebesar kacang, tiba2 ia merangka k ke depan batu nisan serta bergelak tertawa dengan mendongak: "Thi Ji-giok," serunya, "kepada siapa aku harus berlutut? Kau kira di sini kuburan suamimu?"

Thi-hujin melenggong, tanyanya terkesiap: "Apa? Tulang suamiku tidak dalam kuburan ini?"

Han Janto menyeringai sera m: "Ketahuilah, ini hanya segundukan tanah belaka, hakikatnya tiada tulang belulang Ling Tiang-hong."

"Kau bohong," teriak Thi-hujin, "bukankah batu nisan ini sudah terukir na manya?"

"Kau tahu tempat apakah ini?" jengek Han Janto, "tempat ini dina makan Say-cu-kau (mulut singa) karena tiga jurusan terkepung buntu, bisa masuk tapi keluar sukar, me mang sengaja kubuat kuburan palsu ini untuk menjebak kedatanganmu, dasar kau yang mujur dan diberkati umur panjang, sela ma ini tidak pernah muncul, maka kuburan palsu inipun tetap berada di sini."

Dia m2 Kun-gi maklum kenapa Yong King-tiong merasa perlu hawa enam jago pedangnya untuk berjaga di mulut le mbah di atas ngarai sana. Tak tertahan dia membentak, gusar: "Keji benar perbuatan kalian." "Lalu di mana tulang jenazah suamiku?" tanya Thi-hujin, "di mana kalian menguburnya?"

"Biar terus terang kuberitahu padamu, Ling Tiang-ho ng adalah pengkhianat Hek-liong-hwe dan Hwecu buronan, walau dia sudah ma mpus, tapi pihak pe mer intah tetap harus me meriksa jenazahnya .

. . . "

Bagai dihunjam belati perasaan Thi-hujin, badannya sampai gemetar menahan gejolak hati, desisnya sambil menggertak gigi: "Sa mpaipun jenazahnya juga tidak kalian bebaskan?"

Sudah tentu darah Kun-gi juga mendidih, lekas dia papah sang ibu, katanya sambil berlinang air mata: "Bu, tenangkan hatimu."

"Durjana, katakan siapakah yang berkeputusan tentang hal ini?" .

"Hal ini jangan salahkan aku," ujar Han Janto, "Im-si-boankoan Ci Kun jin dan Ki Seng jiang berdualah yang mengajukan tipu muslihat ini, bila buronan tertangkap harus segera diserahkan kepada pihak yang berwenang "

"Siapa itu Ci Kun jin?" tanya Thi-hujin.

'Ci Kunjin adalah penasihat gubernur Soa-tang dua puluh tahun yang lalu. Dia pula yang mengatur dan merencanakan penyerbuan ke Hek- liong-hwe.”

"Di mana dia sekarang?"

"Setelah Kok Thay, gubernur Soatang meninggal, dia lantas meninggalkan gelanggang pe merintahan, konon dia sekarang berada di Jet-ho."

"Dan Ki Seng-jiang," ucap Kun-gi, "apakah Cengcu dari Coat- seng-sanceng?'

"Dia adalah anak angkat Ciok-boh Lojin dari Ui-san, kepandaian silatnya amat tinggi, sejak la ma dia sudah berkiblat pada kerajaan, waktu itu dia sudah menjadi Siwi kelas tiga istana raja yang tergabung dalam Sinki-eng yang tersohor itu " "Dan sekarang?" sela Thi-hujin.

"Sekarang dia berkuasa di Pi-sok-sanceng." "Pi-sok-san ceng? Di mana letaknya?"

"Sanceng terletak di Jet-ho, namanya saja perkampungan, yang benar itulah sebuah pesanggerahan yang mir ip istana."

"Haa," Thi-hujin menggera m, "meski berada di istana raja, tetap akan kurenggut jiwa anjingnya." Sampai di sini me ndadak dia tatap Han Janto, hardiknya beringas: "Masih ada pesan apa kau?"

Sesaat Han Janto pandang Thi hujin dengan mendelong, katanya ke mudian: "Tiada pesan apa-apa, aku me mang berutang dan patut me mbayar padamu, dapat mati ditanganmu, tiada yang perlu kusesalkan lagi."

"Baik!" dengus Thi-hujin. Pedang terangkat terus menusuk ulu hati orang.

Sambil berlutut di tanah Han Janto sudah pejamkan mata. "Bles" ujung pedang menghuja m ke dalam dadanya, giginya gemerutuk menahan sakit pelan2 badannya lantas roboh terjengkang ke belakang, darah segera muncrat bagai anak panah.

Thi-hujin me narik pedang, darah menga lir dan bertetesan di ujung pedangnya, dengan pedang menopang bumi, air matanya bercucuran, kepalanya menengadah, mulutnya berguma m: "Tiang- hong, akhirnya berhasil aku menuntut sakit hatimu, dengan tanganku sendiri kubunuh keparat ini, tapi meski berhasil aku menuntut balas, lalu di ma na kau? Aku tetap takkan berhasil mene mui kau, sela manya takkan bisa mene mukan kau " tak

tertahan akhirnya dia menangis ter-gerung2.

Kun-gi berlutut di atas tanab, katanya dengan berlinang air mata: "Bu, kau telah menuntut balas, di alam baka ayah pasti juga tahu, ibu harus merasa lega hati, anggaplah aku telah berbakti kepada ayah, musuh telah kutawan hidup2." "Nak, ucapanmu hanya untuk menghibur ibu saja, yang benar orang sudah mati, mana dia bisa tahu? Menuntut balas adalah kewajiban setiap orang hidup, meski aku sudah bunuh Han Janto, me mangnya dia bisa menge mbalikan sua miku dan ayahmu?" mendadak pandangannya menatap jauh ke depan, rona mukanya mena mpilkan tekad yang keras untuk menuntut balas, katanya tegas : "Tapi aku masih harus mene mukan Ci Kunjin dan Ki Seng- jiang kedua bangsat itu, patriot bangsa yang gugur harus menuntut balas pula, supaya manusia di kolong langit ini tahu bahwa durjana penjual bangsa dan negara akhirnya pasti mendapat ganj-aran setimpal."

"Bu, kau sudah menuntut balas sakit hati ayah, kedua orang itu serahkan saja kepada anak, de mikian pula tulang jenazah ayah, anak pasti akan mene mukannya ke mbali," de mikian janji Kun-gi kepada ibunya.

Menyinggung tulang jenazah suaminya, tak tertahan Thi-hujin mencucurkan air mata pula, katanya sedih: "Urusan sudah berselang dua puluh tahun, ke mana kau akan me ncarinya?"

"Mereka mencelaka i ayah, pasti menguburnya pada suatu tempat, tentunya ada orang tahu di mana beliau dikubur," kata Kun- gi.

Tengah ber-cakap2, mendadak berkumandang suara benturan senjata dari sebelah atas. Thi-hujin segera me lengak, katanya kuatir: "Agaknya ada orang bertempur dimulut lembah, lekas kita tengok ke sana."

Me mang hanya ada satu jalan keluar dari Say-cu-kau, mungkin kawanan bangsat dari Hek-liong-hwe mendapat kabar dan menyusul tiba sehingga terjadilah perte mpuran dengan Yong King-tiong serta kedelapan jago pedang yang berjaga di mulut le mbah.

Bergegas Thi-hujin bersama Kun-gi berlari ke arah mulut le mbah. Dalam sekejap itu, tampa k tanah kuning di atas gundukan bukit sudah berceceran darah segar, empat jago pedang anak buah Yong King-tiong tampak mengge letak binasa dengan tenggorokan tertembus pedang, cara kematian keempat orang ini serupa satu dengan yang lain.

Pemimpin ro mbongan musuh adalah seorang gadis berpakaian serba putih yang berparas jelita, tampak alisnya lencik, matanya bundar menyerupai mata burung Hong, wajahnya bulat telur cerah bagai bunga mawar, sikapnya agung me mpesona. Cuma sikapnya yang dingin kaku ta mpak serius dan berwibawa, orang menjadi keder dan tak berani me mandangnya terlalu la ma.

Empat gadis lagi berada pada dua sisi gadis baju putih, semuanya me megang pedang yang berlepotan darah segar. Paling belakang adalah sebarisan delapan laki2 baju hijau ketat, mereka adalah orang2 dari Ceng-liong-tong.

Dia m2 ce mas Ling Kun-gi, dirinya pernah bergebrak dengan jago2 pedang anak buah Yong King-tiong, tarap kepandaian ilmu pedang mereka boleh diagulkan, sejak mendengar benturan senjata tadi sampai dia berlari tiba di te mpat ini, paling hanya beberapa kejap saja, entah cara bagaimana keempat jago pedang itu terbunuh oleh pedang para gadis2 jelita ini?

Terdengar Yong King-tiong tengah bicara sambil menjura: "Walau Cui-tongcu telah me mbunuh e mpat jago pedangku, tapi ada Losiu di sini, jangan harap Cui-tongcu bisa melampaui diriku untuk ke bawah sana.”

Ternyata gadis baju putih ini adalah Cui-tongcu dari Ceng-liong- tong.

Sorot mata Cui-tongcu yang dingin sekilas melirik ke arah Thi hujin dan Ling Kun- gi yang mendatangi, katanya mengejek: "Yong King tiong, kau me mang berhasil, nah itu mereka telah keluar dari Say-cu-kau."

Agaknya Yong King-tiong naik pitam, serunya:

"Peduli kau ini utusan maca m apa dari kotaraja, Losiu tetap ingin menjajal kepandaianmu."

"Wut" tiba2 dia menghantam lebih dulu. "Kau ingin gebrak dengan aku?" ejek Cui-tongcu, tiada tampak bergeming, kaki tidak bergerak, hanya badan sebelah atas sedikit bergeliat, dengan mudah dia sudah me luputkan diri dari pukulan Yong King-tiong, Segulung angin pukulan kencang menya mber lewat di atas pundaknya.

Setelah menghindari samberan angin pukulan, Cui-tongcu mengejek: "Peranan penting sudah tiba, aku ma las bergebrak dengan kau."

Selama dua puluh tahun ini Yong King-tiong menye mbunyikan diri dengan sabar, kepandaian aslinya yang tinggi tak pernah dipa merkan, kini sepak terjang dirinya sudah terang2an, maka dia merasa tidak perlu takut lagi bertindak blak2an, melihat pukulannya dapat dihindarkan lawan, hatinya semakin murka, ke mbali dia me lontarkan pukulan. Gempuran ulangan ini sudah tentu lebih hebat lagi kekuatan pukulannya, angin pukulan segera mencrpa dengan dahsyatnya.

Cui-tongcu menanggapi dengan tak acuh dan dingin: "Kau kira aku tidak berani melawanmu?"

Kali ini dia me mang t idak berkelit, tangannya yang halus bergerak me mutar, entah bagaimana dia me mba lik telapak tangan, tahu2 dia sambut pukulan Yong King- Tiong dengan kekerasan pukulan pula. Dua pukulan dahsyat saling bentrok di udara menimbulkan suara keras, ternyata setali tiga uang alias sa ma kuat.

Sudah tentu kesudahan adu kekuatan pukulan ini a mat di luar dugaan Yong King-t iong, soalnya dia hanya tahu bahwa Cui-tongcu ini berkepandaian tinggi, tapi tak pernah terpikir bahwa gadis selembut ini me miliki Lwekang setangguh ini.

Thi-hujin ikut kaget, tanpa terasa dia menatap orang lebih tajam, tanyanya: "Yong-congkoan, siapa-kah nona ini?"

"Nona ini?" sabut Yong King- Tiong, "dia inilah pengawas utusan kotaraja, Cui Kinin yang menjabat Ceng-liong-tong Tongcu, atau lebih je las lagi Han Janto hanyalah seorang pemimpin boneka saja, kekuasaan Hek- liong-hwe hakikatnya berada di tangan perempuan ini.”

Cui Kinin tertawa manis, katanya berseri: "Jelas sekali caramu me mper kenalkan diriku," kata nya ditujukan kepada Yqng King- tiong, tapi dia mengirim senyuman manis ke arah Ling Kun-gi. Semula sikapnya dingin kaku, tapi seri tawanya ini betul2 laksana bunga mekar di musim se mi, segar me mpesona.

Thi-hujin menar ik muka, jengeknya: "Kau bangsa Ki-jin (golongan bangsawan)?"

"Apakah aku orang Ki-jin atau bukan, apa sangkut pautnya dengan kau?" sahut Cui Kinin.

"Kalau betul kau Ki-jin, aku tidak akan melepas mu," ancam Thi- hujin.

"Paling mati di tanganmu?" tanya Cui Kinin dingin. "Betul, aku pula yang me mbunuh Han Janto." "Kau ini Thay-siang (maha ketua) Pek-hoa-pang." "Bukan."

"Lalu siapa kau?"'

"Akulah janda Ling Tiong-hong, buronan yang dicari oleh kalian gerombo lan cakar alap2."

"O, kiranya Ling-hujin," ucap Cui Kinin, matanya melir ik ke arah Ling Kun-gi, tanyanya: "Siapa pula dia?"

"Cayhe Ling Kun-gi," lekas Kun-gi bersuara sambil menjura.

Tanpa terasa Cui Kinin me mandangnya beberapa kali, katanya ke mudian: "Cong-hou-hoat-su-cia dari Pek- hoa-pang?"

"Cayhe bukan anggota Pek hoa-pang lagi." "Lho, mengapa bukan?"

"Kukira Cayhe tidak perlu menjelaskan pada- mu." "Ya, betul, kau masuk ke Ui- liong-tong," berapa jiwa orang yang telah me layang di tanganmu," kata Cui Kinin sa mbil melirik Leliong- cu yang tergantung di pinggang Ling Kun-gi. "Kupikir, mungkin kau inilah putera Ling Tiang- hong, betul tidak?"

"Betul, kedatangan Cayhe untuk menuntut balas sakit orang tuaku."

Cui Kinin. mengge leng dan berkata kalem: "Kalian sudah me mbunuh Han Janto, sakit hatipun sudah terbalas, betul tidak?"

"Setiap cakar alap2 kerajaan adalah musuh besar ka mi," Thi- hujin berkata tegas.

"Tera mat luas arti perkataanmu, hanya kalian ibu beranak ditambah seorang Yong King-tiong? Hek- liong-hwepun belum tentu dapat kalian kuasai."

"Aku bisa masuk ke mar i, sudah tentu juga bisa keluar," jengek Thi-hujin.

Kembali Cui Kinin melirik ke arah Ling Kun-gi, katanya: "Kukira tidak mungkin, sulit kalian bisa mene mbus pertahananku, tapi . . . .

. . " suaranya sengaja dia tarik panjang. "Tapi apa?" bentak- Thi-hujin.

Gigi Cui Kinin nan rata seperti biji ketimun menggigit bibir,

katanya kemudian setelah tepekur sekejap: "Aku ada sebuah syarat, entah kalian mau terima tidak?"

"Kau ada syarat apa?" tanya Thi-hujin.

"Han   Janto   meski   hanya   Siwi   kelas   tiga,   kalian   telah me mbunuhnya, itu berarti kalian me mbunuh pe mbesar kerajaan, sepak terjang seorang pe mberontak tulen "

"Tutup mulut mu!" bentak Thi-hujin.

"Jangan naik pitam Ling-hujin, dengarkan penjelasanku." "Baik, katakan!" "Kau menuntut balas sakit hati sua mi atau dendam orang tua, hal ini boleh dianggap sebagai peristiwa balas me mbalas kaum persilatan umumnya, aku takkan menarik panjang soal ini "

sebagai "pengawas" yang berkuasa besar dari kotaraja, sudah tentu dia punya hak dan kewajiban me mutuskan sesuatu menurut hematnya sendiri..

Terdengar Cui Kinin berkata lebih lanjut: "Kecuali Yong King-tiong sebagai Congkoan Hek-liong-hwe dan sekarang sekongkol dengan pembeberontak, aku t idak me mberi kebebasan padanya, tentang kalian ibu beranak, asal Ling-kongcu sudi menyerahkan Leliong-cu, aku akan me mber i putusan me mberi izin pada kalian untuk meninggalkan tempat ini, meninggalkan Kunlunsan dengan sela mat, bagaimana?"'

Ternyata yang diincar adalah Leliong-cu. Jelas tujuannya untuk mendapatkan buku daftar anggota Thay-yang-kau yang disimpan dalam ka mar batu di dasar kolam naga hita m, sedemikian besar arti dan pentingnya buku daftar itu, sampai ke matian Han Janto boleh dire mehkan. Me mangnya Han Janto hanyalah seorang tamak yang mengejar keuntungan pribadi, peranannya tidak penting lagi bagi kerajaan. Dari sini dapat disimpulkan tugas apa yang dipikul Cui Kinin di dalam Hek-liong-hwe.. Sudah tentu di luar tahunya bahwa buku daftar anggota Thay-yang-kau itu sudah dimusnahkan oleh Ling Kun-gi.

Belum habis Cui Kinin bicara, mendadak Yong King-tiong mende lik gusar, katanya sambil bergelak tawa: "Cui-tongcu tidak akan me mbebaskan Losiu, me mangnya Losiu perlu dibebaskan olehmu?"

"Yong-congkoan," Thi- hujin me ngulap tangan: "biarlah aku menjawab pertanyaannya."

"Baiklah Hujin," ujar Yong King-tiong

Kaku dan ketus sikap Thi-hujin, katanya: "Pendapat Cui-tongcu me mang tidak keliru."

"Jadi Ling-hujin me nerima usulku?" "Cui-tongcu anggap harga jiwa kami ibu beranak lebih tinggi daripada mutiara ini? Tapi bagi pandanganku justeru sebaliknya, mut iara ini berlipat ganda lebih berharga daripada jiwa raga kami berdua. Karena mutiara ini menyangkut laksaan jiwa manus ia yang tersebar luas di utara dan selatan sungai besar, oleh karena itu kami ibu beranak sekali2 tidak mau se mbarangan menyerahkan mutiara ini kepada siapapun, kecuali Cui-tongcu me miliki kepandaian dan dapat merebutnya dari tangan ka mi."

Cui Kinin me lenggong sebentar, katanya: "Jadi Ling-hujin ingin bergebrak dengan aku?"

"Keadaan sekarang bagaikan anak panah yang sudah terpasang dibusur yang terentang lebar tidak bisa tidak harus dibidikkan, selain berhantam mungkin tiada jalan lain lagi."

"Baiklah kalau begitu," ucap Cui Kinin.

"Cui-tongcu," ujar Thi- hujin, "kau pakai senjata atau "

Melihat kedua orang siap bergebrak, tak tertahan Yong King- tiong ter-bahak2, serunya: "Tunggu sebentar Hujin."

"Ada apa Congkoan?" tanya Thi-hujin.

"Maafkan Hujin," ucap Yong King-tiong, "barusan Cui-tongcu bilang Losiu bersekongkol dengan pemberontak, dosanya tak terampunkan, bahwa Losiu hidup terhina dan sengsara selama 20- an tahun di sarang penyamun ini, kini tibalah saatnya akan kuberitahu kepada Cui-tongcu bahwa Yong King-tiong adalah laki2 sejati, sebagai bangsa Han yang cinta bangsa dan tanah air leluhurnya, anggota Thay-yang-kau yang setia, sebagai Hek-liong- hwe Cong-koan dari Hek-liong-hwe yang menentang kerajaan Ceng dan berusaha membangkitkan ke mba li kerajaar Bing, jadi bukan antek Hek-liong-hwe yang dikua-sai cakar alap2 kerajaan Ceng, padahal di dalam pandangan kalian para cakar alap2 kerajaan ini, tentunya Losiu dianggap sebagai pengkhianat, kenapa harus ditambahi e mbe l2 sekongkol dengan pe mberontak segala." Cui Kinin tidak berbicara, tapi sorot matanya yang tajam dingin mana mpilkan hasrat me mbunuhnya yang mula i berkobar.

Yong King-t iong tidak peduli, katanya lebih lanjut: "Jabatan dan kedudukan Cui-tongcu di sini cukup istimewa, Komisaris besar utusan kerajaan yang mengusai Hek-liong-hwe ini, kalau Cui-tongcu sudah     menyatakan     takkan      melepaskan     Losiu,      demi me mpertahankan diri adalah pantas kalau aku mohon pengajaran dulu pada Cui-tongcu, karena itu, pertarungan Hujin me lawan Cui- tongcu ini harap ditunda dulu, biarlah Losiu yang me mbuka perang tanding ini."

Cui Kinin bersikap se makin dingin, katanya mengejek: "Bagus sekali, bahwa kau sudah mengakui seluruhnya, sebagai Komisar is umum dari Hek-liong-hwe, sudah se mestinya kalau kulabrak kau lebih dulu." Sa mpa i di sini mendadak dia menoleh, katanya: "Harap Ling-hujin tunggu sebentar." Sikapnya   angkuh seolah2   tidak me mandang sebelah mata kepada Yong King-tiong.

Setelah beradu pukulan tadi Yong King-tiong tahu bahwa lwekang perempuan ini a mat tangguh, taraf kepandaiannya agaknya tidak lebih rendah dari dirinya, sudah tentu dia tak berani pandang ringan lawannya yang muda ini, maka di kala orang bicara, diam2 ia kerahkan hawa murni me mpersiapkan diri. Segera dia merangkap kedua tangan, katanya menjura: "Baiklah, siiakan Cui -tongcu me mber i petunjuk."

Cui Kinin nielirik sekejap ke arahnya, suaranya dingin: "Apakah ma in kepelan, telapak tangan atau pakai senjata, Yong-congkoan lebih suka yang mana, silakan pilih sendiri?"

"Losiu sih terserah saja apa kehendakmu?"

"Baiklah, adu kepelan dan pukulan telapak tangan saja." "Silakan Cui-tongcu mulai dulu."

Cui Kinin melangkah maju dua tindak, ia me mbetulkan dulu sanggul rambutnya, katanya: "Baiklah, aku mulai lebih dulu." tangannya terayun dan menepuk sekali. Jubah hijau Yong King-tiong ta mpak mele mbung dan me la mbai, sigap sekali dia sudah menyingkir beberapa kaki, berkelit sa mbil balas menyerang, serangan balasannya ternyata tidak kalah cepatnya.

Cui Kinin tidak me nghiraukan serangan balasan ini, beruntun dia gunakan kedua tangan me mukul pula secara bergantian, jadi menyerang untuk menandingi serangan lawan. Begitu mulai gebrak kedua orang sama bunjuk ke mahirand ilmu pukulan daan kesebatan gebrak badan, serangan semakin gencar, jurus demi jurus se makin cepat dan lihay, ba-yangan kedua orang maju mundur saling berputar dan melejit kian ke mari, keduanya sama gesit dan tangkas.

Dengan tekun Kun-gi mengikuti perte mpuran kedua orang, pandangannya amat tajam, sudah tentu dia tidak dikaburkan oleh kecepatan gerak yang terselubung oleh bayangan kepelan kedua orang. Terasa Kungfu Yong King-tiong ternyata beraneka ragam, dalam setiap gerakan kedua kepelan tangannya ternyata mengandung tipu2 Siau- lim, Bu-tong, Hoa-san, Go-bi dan Liok-hap, serta Pat-kwa-bun dan lain2 aliran kelas tinggi, meski jurus yang satu tidak berurut dan bergandeng dengan jurus selanjutnya, tapi perubahan dan variasinya dapat dia ma inkan dengan ma hir dan leluasa, tak pernah putus dan macet. Seolah2 dia sudah mahir betul akan ilmu kepalan dari berbagai aliran itu serta diko mbinasikan dengan baik, ma lah perbawanya juga a mat mengejutkan.

Tangan Cui Kinin tetap terselubung di dalam lengan bajunya, tapi jari2 tangannya yang runcing halus sering terjulur keluar dikala mencengkeram, menutuk dan menabas, permainan lincah cepat dan rangsakannya deras, bagai bidadari menyebarkan bunga, bayangan telapak tangannya yang putih mu-lus itu bertaburan bagai kuntum bunga, jari2nya yang runcing dengan kuku2nya yang panjang lak- sana jarum perak, setiap gerakan tutukannya amat aneh dan lihay, agaknya iapun telah keluarkan seluruh ke mahirannya. Terutama gerakan tangan dibarengi dengan per ma inan langkah yang gesit dan me mbingungkan, meski Yong King-t iong mencecar dengan pukulan keras, dia dapat berkelit ki-an ke mar i, Ujung bajupun tak ma mpu disentuh lawan.

Sekejap saja, keduanya sudah saling labrak lima-ena m puluh jurus, keadaan tetap berimbang, tiada satu pihak yang me mpero leh keuntungan.

Thi-hujinpun saksikan pertempuran ini tanpa berkedip, la ma2 roman mukanya menunjukkan mimik aneh penuh keheranan dan kaget, tanyanya berpaling: "Anak Gi, kalau kau yang melawan dia kau yakin dapat, mengalahkan dia?"

"Ilmu pukulan dan gerak langkahnya serba aneh, paling2 anak hanya sama kuat melawannya, untuk mengalahkan dia agak sulit juga, tapi anak yakin sekali pukul dapat me mbunuhnya."

Thi-hujin mengangguk, katanya: "Kalau perempuan ini tidak dilenyapkan, kelak pasti me nimbulkan mara bahaya bagi kita."

Tengah bicara, di tengah gelanggang yang sedang berhantam sengit itu terdengar suara Cui Kin in yang merdu: "Berhenti!" Sesosok bayangan tiba2 melo mpat keluar dari arena serta mundur beberapa langkah dan berdiri tak bergerak.

Yong King tiong juga menar ik kedua tangan, katanya dengan lantang: "Ada petunjuk apa Cui-tongcu?"

"Apakah Kim-biansanjiu dari Kunlun yang kau lancarkan barusan ini?" tanya Cui Kinin.

"Losiu tidak menganut sesuatu aliran, bermain sekenanya saja asal dapat menghadapi lawan, tak kupusing apakah Kim-bian atau bukan segala."

"Meski Kim-biansanjiu dari Kunlunpay merupakan kombinasi dari inti ilmu silat yang ada di dunia ini, di dala mnya mengandung kesaktian yang tiada taranya, aku tidak percaya tidak ma mpu me mecahkannya."

Yong King-tio ng tersenyum lebar, katanya: "Cui-tongcu, boleh kau coba me mecahkannya." "Baik, akan kutunjukkan pada mu," jengek Cui Kinin. Mendadak kedua tangan dilancarkan bersama, beruntun dia menyerang tiga jurus. Setiap jurus pukulan menimbulkan kekuatan dahsyat yang menerpa ke depan.

"Serangan bagus," Yong King-tio ng menghardik dengan pujiannya. Kaki berdiri sekukuh tonggak, kedua tangan berjaga di depan dada, beruntun iapun me lontarkan tiga kali pukulan.

Inilah cara adu pukulan secara keras, maka terdengarlah benturan, ternyata tiada satu pihak yang lebih unggul. Cui Kinin tertawa dingin, kedua ta-ngan kembali melancarkan lima kali pukulan secara berantai, Gelombang pukulannya bagai badai ber- gulung2 menerjang dengan hebat.

Dia m2 Yong King-tiong tersirap darahnya, perempuan muda berusia dua puluhan ini bagaimana mungkin me miliki Lwekang seampuh ini? Hati berpikir, keadaan sudah me ndesak, tak mungkin dia mundur, maka tenaga dia kerahkan di kedua lengan, mendada k mulutnya menghe mbuskan serangkum hawa, lima kali ia menyongsong pukulan lawan.

Kali ini tangan kedua pihak sa ma2 dilandasi kekuatan penuh, begitu pukulan saling beradu, udara menjadi bergolak dan meleda k dengan dahsyatnya.

Jenggot ubanan Yong King-t iong ta mpak bergerak me la mbai, jubah hijaunyapun seperti terhembus badai, tanpa kuasa badannya terhuyung dua langkah ke belakang. Kini siapa unggul siapa asor sudah kelihatan, Cui Kinin adalah anak pere mpuan muda beliau, meski ilmu silatnya maha tinggi, jelas latihannya lebih cetek daripada Yong King-tiong.

Setelah menga la mi adu pukulan lima kali, wajahnya yang jelita bagai bunga mekar di musim semi itu seketika berubah pucat, beruntun ia tersurut lima langkah. Belum lagi berdiri tegak dan napas masih sengal2, mendadak alisnya menegak, sepasang mata burung Hongnya me mancarkan ke milau biru, nafsu me mbunuhnya berkobar, hardiknya: "Nah, hati2lah kau." Tangan kiri bergerak naik turun menjaga keseimbangan dan akhirnya berhenti di depan dada, sementara telapak tangan kanan tegak bagai golok pelan2 didorong keluar.

Mehhat gerakan telapak tangan orang, seketika berubah hebat air muka Yong King-t iong, teriaknya tertahan: "Toa-jiu-in dari Ih- ka bun!" Mulut berteriak lekas kedua tangannya melindungi dada, ke mbali kakinya menyurut lebih jauh, matanya menatap tajam, sikapnya a mat tegang.

Pada detik gawat itulah didengarnya Ling Kun-gi berteriak: "Mundurlah pa man Yong, jurus ini biar Siautit yang menyambutnya." Belum habis bicara, bayangannya sudah berkelebat mengadang di depan orang. Jaraknya dengan Cui Kinin hanya satu tombak, ia berdiri tegak dengan, menekan telapak tangan kiri kebawah, telapak tangan kanan tegak mir ing, dari kejauhan dia ikuti gerakan Cui Kinin.

Baru saja dia hendak me lancarkan Mo-ni- in dari aliran Hud, Mendadak dari tempat kejauhan sana terdengar bentakan serak bertenaga kuat. "Jangan muridku!" Suaranya bergema di angkasa, seperti disuarakan dari te mpat yang jauh, tapi kedengaran amat jelas seperti berbicara berhadapan.

Kun-gi tersentak kaget mendengar seruan ini, lekas dia menarik tangan dan me mbatalkan serangannya, tanpa terasa dia mendonga k dan berteriak: "Ya Suhu!"

Perlu diketahui bahwa Mo-ni-in adalah ajaran sakti aliran Hud peranti menundukan dan me mecahkan ilmu hita m, kekuatan dan perbawanya tiada taranya. Walau Kun-gi belum lagi se mpat me lontarkan pukulan, tapi gaya dan kuda2 yang sudah dia tunjukkan laksana anak panak terpasang dibusur yang terpentang dan siap dilepaskan dengan keku-atan dahsyat. Hawa murni sudah me lingkupi sekujur badannya, dalam jarak beberapa kaki sudah padat diliputi kekuatan sekukuh te mbo k baja yang tidak kelihatan.

Toa-jiu-in yang dilontarkan Cui Kinin meski la mbat, tapi tekanan yang keluar dari pukulan hebat ini sungguh laksana gugur gunung yang menimpa. Beberapa kaki menerjang ke depan Ling Kun-gi ternyata Toa-jiu-in mene mukan pengalang seteguh gunung, bagai air bah yang terintang bendungan.

Air mengalir tersibak ke penjuru la in, meski kuat dan keras daya terjangnya, tapi kebentur kekuatan sekukuh baja ini, sedikitpun kekuatan Toa-jiu-in tak ma mpu maju lebih lanjut.

Begitu tenaga pukulannya menghadapi rintangan, segera Cui Kinin lantas me mperoleh f irasat jelek, terasa dinding tak kelihatan sekeras baja pertahanan lawan me mbendung terjangan Toa-jiu-in, dirinya, daya tolak balik bukan olah2 dahsyatnya, kalau tidak mau dibilang berlipat ganda ma lah, keruan kagetnya bukan main. Pikirnya: "Toa-kok-su pernah bilang bahwa Toa-jiu-in adalah ilmu sakti dari Ih-ka-bun yang tertinggi, tiada ilmu pukulan maca m lain dikolong langit ini yang ma mpu menandinginya, memangnya ilmu apa pula yang di-pertontonkan pemuda ini? Ta mpaknya dia belum lagi me lontarkan kekuatan pukulannya, lantas me mbatalkan niatnya. Kepada siapa pula dia me manggil Suhu?"

Kiranya dia tidak mendengar suara serak tua yang kumandang seperti dari tempat jauh, karena ilmu gelo mbang suara itu hanya ditujukan kepada seseorang, maka hanya Kun-gi saja yang mendengarnya.

Sudah tentu Yong King-Tiong dan Thi-hujin juga tidak mendengar, tapi "Ya, Suhu" seruan Ling Kun-gi tadi jelas didengar oleh se mua orang.

Terunjuk mimik bingung dan heran pada wajah Thi-hujin, tanyanya: "Anak Gi, apakah maksudmu Taysu juga datang?" Sudah tentu pertanyaan ini juga dia kirim dengan ilmu gelo mbang suara.

Kun-gi mengangguk, dia balas menjawab dengan ilmu yang sama: "Ya, barusan sebelum anak me lancarkan serangan kudengar peringatan Suhu yang me larang anak menggunakan Mo-ni-in."

"Aneh kalau begitu," ucap Thi hujin.. Cui Kin in juga tahu diri, lekas dia tarik serangannya, tanyanya sambil menatap Kun-gi: "Kau berani turun galanggang mewakili Yong King-tiong, kenapa berhenti setengah jalan?"

Menghadani tatapan mata orang yang bundar jeli, diam2 terkesiap Kun-gi, sesaat dia menjadi bingung, katanya kemudian : "Bukankah Cui-tongcu juga berhenti setengah jalan?" Sudah tentu dia tidak mau me njelaskan duduk persoalan sebenarnya.

Berkedip mata Cui Kinin, katanya : "Ingin aku tanya, ilmu apa yang barusan hendak kau lancarkan?"

Sudah tentu Kun-gi tidak mau berterus terang, katanya tertawa tawar : "Sungguh menyesal, jurus yang akan Cayhe lancarkan tadi tidak punya na ma."

Sedikit berubah rona muka Cui Kinin, katanya sambil menjengek: "Kenapa tidak kau bilang tak sudi me mberitahu? Tidak ma u menje laskan ya sudahlah, memangnya siapa yang pingin tahu?" tanpa menunggu reaksi Ling Kun-gi dia mena mbahkan: "Kau berani tampil ke muka, tentu ingin bergebrak dengan aku, biarlah kita tentukan siapa menang dan kalah."

Dengan kalem tapi angkuh Kun-gi berkata "Caybe menurut saja kehendak Cui-tongcu."

"Kudengar ilmu pedangmu a mat lihay, marilah kita bertanding senjata?"

"Katakan saja caranya, pasti Cayhe iringi keinginan Cui-tongcu."

Dengan lekat Cui Kinin menatap Kun-gi sekilas, katanya sambil mencibir: "Hm, kau angkuh sekali."

"Sela manya me mang beginilah watak Cayhe," sahut Kun-gi.

Terunjuk rasa gusar pada wajah Cui Kinin, dia mela mbai ke arah dayang berpakaian hijau di belakangnya. Tampak seorang gadis baju hijau segera maju sambil menjinjing sebilah pedang, dengan hormat dia angsurkan senjata itu kepada majikannya. Pelan2 Cui Kinin me lolos pedangnya, sebilah pedang panjang tiga kaki me mancarkan ke milau hijau menyilaukan mata, itulah sebilah pedang yang tipis tajam luar biasa. Tiba2 Cui Kinin pegang gagang pedang dengan kedua tangannya terus dibentang ke samping, ternyata pedang seta serangka ini merupakan sepasang pedang, dengan tangan kirikanan mas ing2 me megang sebatang pedang, Cui Kinin melangkah maju beberapa tindak. katanya dingin: "Ling Kun- gi, keluarkan senjatamu"

Kun-gi tertawa lebar. "Creeng", tangan kanannya terangkat, tahu2 Ih-thiankia m sudah terlolos.

Terbeliak Cui Kinin, tanpa terasa dia berseru me muji: "Pedang bagus!"

Dengan menenteng pedang Kun-gi tidak me mbuka jubah juga tidak pasang kuda2, hanya seenaknya saja dia menjura dan berkata: "Silahkan Cui-tongcu!" Makin wajar seenaknya dia menjura, semakin kentara sikapnya yang gagah dan ta mpan.

Sesaat Cui-Kinin melenggong dibuatnya, kedua tangan tetap terbentang, me megang sepasang pedang, sesaat wajahnya bersemu merah jengah, tanyannya: "Kau tidak menanggalkan jubah?"

Umumnya orang yang turun gelanggang mau bertandang harus mencopot jubahnya, kecuali yakin akan kepandaian sendiri yang lebih unggul daripada lawannya,   kalau tidak jubah   itu akan me mpengaruhi gerak-geriknya. Tapi hal ini apa pula sangkut pautnya dengan Cui Kinin, kan menguntungkan dia ma lah"

Kun-gi tertawa lebar, katanya: "Tidak apalah"

"Ini kan bertanding pedang, senjata tak bermata, kau tidak kuatir aku me mungut keuntungan dalam hal ini?"

"Tidak apa, tidak apa," jawab Kun-gi.

"Kau so mbong." jengek Cui Kinin mencibir pula sekali gentak, kedua bilah pedang ditangannya bergetar menggaris bundar menciptakan dua lingkaran sinar pedang sebesar mulut mangkuk, tapi dia belum me nyerang, kedua pedang tetap berhenti di depan dada, katanya dingin: "Ling Kun-gi, apakah aku yang harus turun tangan lebih dulu?"

"Boleh silakan Cui-tongcu," ucap Kun-gi.

Terpancar sinar me mbara pada sorot mata Cui Kinin. "Baik," serunya.

Lenyap suaranya pedang di tangan kanan mendadak me mbentuk tabir cahaya kemilau, deru hawa dingin setajam pisau dengan secepat kilat menya mbar ke depan.

Ling Kun-gi bergerak mundur, mir ing setengah langkah, sementara Ih-thiankia m sudah pindah ke tangan kiri, ujung pedang menegak ke atas terus menyampuk ke depan. Panjang Ih-thiankia m ada empat kaki, satu kaki lebih panjang daripada pedang umumnya, maka sebelum pedang Cui Kinin menyerang tiba sudah kena diketuk pergi. "Trang", ternyata sepasang pedang Cui Kinin juga pedang mestika, kalau tidak sekali bentur tadi tentu sudah terpapas kutung.

Lenyap suara benturan, Cui Kinin lantas mengejek, bayangannya berkelebat lincah, tahu2 dia menyelinap ke samping kanan Kun-gi, pergelangan tangan berputar, secepat kilat ia menusuk iga kanan lawan. Gerakan tubuh serta gaga pedangnya sungguh lincah menakjubkan.

Yong-King-tiong yang menonton di luar gelanggang sampai berjingkat kaget, teriaknya tanpa terasa: "Awas Ling-kongcu! " Belum habis dia bicara, keadaan sudah berubah..

Ternyata setelah pedang di tangan kiri Kun-gi   berhasil menya mpuk pedang Cui Kinin, waktu Cui Kinin menyelinap ke kanan, cepat sekali diapun sudah pindah pedang ke tangan kanan pula dan menahan ke bawah, "Trang," kembali kedua pedang beradu.

Tusukan Cui Kin in ke mba li dipatahkan, tapi Cui Kinin me mang hebat, selicin belut badannya tiba2 berputar, kakinya seperti tidak menyentuh tanah, tahu2 bayangannya sudah berada di depan Kun- gi. Seiring dengan putaran tubuhnya pedang kanan ikut berputar menusuk ke pundak kiri, sementara pedang kiri ditarik mundur lalu me mbabat pinggang.

Bukan saja cepat perubahan tipu serangannya kedua pedangpun bergerak menyilang dengan tusukan dan me mbabat dengan lihay dan sukar diduga.

Agaknya Kun-gi sengaja pamer kepandaian, pedang kembali dia geser ke tangan kiri, tusukan pedang lawan kearah pundaknya ke mbali ditangkisnya, lalu dia ke mbalikan pula pedang ke tangan kanan untuk menangkis tebasan pedang lawan yang mengincar pinggangnya.

"Trang, tring!" dua kali secara beruntun ha mpir terjadi bersama, suara pertama adalah tangkisan pada pedang lawan yang menusuk pundak, suara kedua yang lebih keras adalah sampukan keras pada pedang lawan yang me mbabat pinggang.

Karena kedua kali bentrokan keras ini, kedua pedang Cui Kinin tergetar sehingga tak kuasa mengendalikan badan, langkahnya tersurut mundur, terpaksa dia tarik kedua pedang sambil menatap tajam Ling Kun-gi, katanya dingin: "Kau me mang hebat sekali."

”Cui-tongcu terlalu me muji!", ucap Kun-gi tawar.

"Kenapa kau hanya bertahan dan tidak balas menyerang?"

"Gerak pedang Cui-tongcu teramat lincah dan cepat, bahwa Cayhe mampu menangkis sudah beruntung, mana ada kese mpatan balas menyerang?"