Pendekar Kidal Jilid 26

Jilid 26

Terpaksa Kun-gi duduk ke mba li ke kursinya, dengan seksama dia menerawang tindak-tanduk si jubah hijau, me mang terasa sikap orang tidak ber ma ksud jahat terhadap dirinya, cuma untuk apa dia me mbawa ku ke ka mar batu ini, kenapa pula mendadak tinggal pergi? Dan untuk apa pula kepergiannya ini?

Kalau orang luar tidak boleh masuk ke mari, kenapa dikatakan pula bahwa tindakannya ini t idak mengandung ma ksud jahat terhadap diriku? Biarlah jawabannya kutunggu kedatangannya nanti.

Terbayang olehnya pesan sang guru yang wanti2 bila menghadapi marabahaya yang serba rumit, kepala harus selalu dingin dan pikiran harus tetap tenang, setengah mala man ini dia telah mene mpuh bahaya dan selalu terhindar dari renggutan elmaut, kini tanpa sengaja berhasil menyelundup ke tempat ini, kenapa lagi harus kuatir, biarlah segala sesuatunya terserah kepada takdir.

Kira2 setanakan nasi sejak si jubah hijau keluar, bayangan orang tetap tidak kunjung datang.

Setelah putar kayun dan berjuang mati2an di sarang musuh ini, kini baru Kun-gi me mperoleh kesempatan istirahat, sambil duduk di kursi, dia m2 dia telah mulai menghimpun se mangat dan me mulihkan kesegaran badannya.

Dalam keheningan itulah, tiba2 didengarnya langkah le mbut mendatangi. Sekilas Kun-gi tertegun, dirinya sedang berse madi, kamar ini rapat dikelilingi dinding batu, umpa ma betul ada pintu rahasianya paling tidak dirinya pasti mendengar dulu suara pintu terbuka Tapi kenyataan tak pernah dia mendengar suara pintu terbuka, lalu dari mana suara langkah orang bisa masuk ke mari? Serta merta iapun rne mbuka mata, maka dilihatnya seorang gadis berbaju hijau sambil menjinjing sebuah tenong makanan tengah me langkak masuk dari pintu di dinding sebelah kanan. Pintu itulah di ma na tadi si jubah hijau berlalu, padahal pintu itu tadi sudah dia raba dan coba mendorongnya, tapi tertutup rapat dan tidak bergeming sama sekali. Bagaimana pula nona baju hijau ini bisa masuk tanpa mengeluarkan suara. demikian pula daun pintu batu itu nampak bergerak hidup dan licin, setelah gadis baju hijau berada di ka mar pintupun lantas me mba lik dan menutup rapat pula.

Begitu berada di dalam ka mar, sepasang mata si gadis yang je li serta merta terpentang lebar, ia lihat yang duduk di dalam ka mar ini adalah seorang pemuda cakap, tanpa terasa mukanya menjadi merah jengah, lekas ia menunduk.

Dengan ter-gopoh2 dia mengha mpiri dipan, tenong dia taruh di atas dipan lalu me mbukanya satu persatu, dari tenong yang susun empat itu dia keluarkan beberapa maca m hidangan, sepoci arak wangi dan sepiring bakmi goreng, hidangan ini dia taruh di atas meja, setelah menuang secawan arak dan menaruh sepasang sumpit, lalu dia me mberi hor mat kepada Ling Kun-gi, suaranya kedengaran merdu: "Barusan Congkoan ada pesan, mungkin Kongcu sudah lapar, beliau perintahkan hamba menyiapkan hidangan ini, silakan Kongcu mencicipinya."

"Terima kasih nona," ucap Kun-gi sambil mengangguk dengan tertawa. "Ada sebuah hal ingin kutanya kepada nona, entah suka me mber itahu tidak?"

Mengerling si gadis baju hijau, katanya: "Entah apa yang ingin Kongcu tanyakan?"

"Congkoan yang barusan nona katakan, apakah kakek berjubah hijau dan berjenggot panjang itu'

"Sudah tentu beliau," sahut si gadis baju hijau.

"Bolehkah nona me mberitahu, siapakah na ma Congkoan?"

Si gadis melenga k, katanya: "Kongcu adalah te man beliau, me mangnya belum tahu na ma Cong-koan ma lah?"

"Kalau Cayhe tahu, buat apa bertanya pada nona?" Berkedip mata si gadis, katanya kemudian: "Kalau Congkoan tidak beritahu pada Kongcu, ha mba tidak berani banyak bicara, lebih baik Kongcu langsung tanya padanya."

"Agaknya nona tidak mau me mberitahu. Baiklah, kutanya soal lain saja, di sini te mpat apa, nona sudi me mberitahu bukan?"

Ternyata si gadis malah balas bertanya: "Kongcu sudah berada di sini, me mangnya kau tidak tahu te mpat apakah ini?" .

"Cayhe hanya tahu sedikit, cuma belum kubuktikan."

Si gadis tertawa cekikik, katanya: "Syukurlah kalau Kongcu sudah tahu, kenapa harus tanya lagi, silakan sarapan, hamba moho n diri saja." Bergegas dia lantas mengundurkan diri. .

Tiba di dekat dinding, dengan seenaknya jarinya yang runcing halus mendorong, pintu batu lantas terbuka dengan mudah, mendadak dia berpaling, katanya dengan senyum lebar: "Mohon maaf Kong-cu, sebelum mendapat izin, soal apapun hamba tidak berani bicara" Begitu pintu berbalik lagi dengan cepat, dinding sudah tertutup rapat pula.

Me mangnya Kun-gi sudah merasa lapar, tapi berada disarang musuh, setiap saat menghadapi ba-haya, sebelum jelas duduk persoalannya dan tahu siapa si jubah hijau yang serba misterius ini, betapapun dia tidak berani me ngusik hidangan itu.

Tidak la ma setelah gadis baju hijau berlalu, waktu daun pintu terbuka lagi, tampak si jubah hijau melangkah masuk, tangannya me mbawa sebuah botol kecil warna hitam dan ditaruh di atas meja, ia melirik hidangan yang belum terusik, seketika dia mengunjuk rasa heran, katanya: "Mengingat Ling-kongcu baru saja mengala mi pertempuran sengit sela ma setengah mala man, tentu perut sudah kosong dan badan letih, ma ka kusuruh Siau-tho menyiapkan hidangan ini, me mangnya kenapa? Kongcu kuatir Losiu menaruh racun dalam hidangan ini?" Tanpa terasa dia ter-bahak2 sambil menge lus jenggot, katanya pula: "Yakinlah bahwa dalam hidangan ini tiada ditaruh racun, Kongcu boleh silakan ma kan, tak perlu kuatir" Kun-gi menyengir, katanya: "Umpa ma betul di dalam hidangan ini ditaruh racun, Cayhe juga tidak perlu gentar."

Kemudian berkata pula si jubah hijau: "Jadi kenapa Kongcu tidak me ma kannya?"

"Cayhe baru saja bertemu dengan Lotiang di lorong gelap tadi, sebelum saling kenal, musuh atau kawan juga belum menentu, maka tak suka aku se mbarangan bertindak."

Mendadak si Jubah hijau tertawa sambil mendongak, katanya: "Me mang tepat alasan Kongcu. Baiklah, Losiu Yong King-tiong, seharusnya aku adalah kawan dan bukan lawan Kongcu, sudah cukup bukan keteranganku?"

"Sekarang boleh Yong-lot iang beritahu padaku, apa maksud tujuanmu me mbawaku ke mar i?"

Yong King-t iong menggeleng2 kepala, katanya: "Belum saatnya, silakan Kongcu makan minum dulu, Losiu akan tuturkan secara pelahan."

"Kenapa Lotiang me ma ksaku makan dulu baru sudi me mberi penjelasan?"

"Kongcu, masih ada sebuah tugas yang teramat berat harus kau laksanakan dengan sukses, tanpa mengisi perut untuk menunjang kekuatan dan semangatmu, bagaimana kekuatan pisikmu bisa bertahan?"

Heran Kun-gi, tanyanya: "Tugas berat apa yang harus kulaksanakan?"

"Ya, ya, tugas ini amat penting dan besar artnya. lekaslah Kongcu ma kan dulu."

Walau merasa heran dan curiga, tapi orang baru   mau menje laskan setelah dirinya mengisi perut biarpun didesak lagi juga percuma, apalagi perutnya me mang sudah keroncongan, ma ka dia berdiri dan berkata: "Baiklah, Cayhe mengganggu sebentar." Dia mengha mpiri dipan dan mulai makan minum dengan lahapnya. Yong King-t iong diam saja, dia duduk disebuah kursi di depan dipan. Memang perut sudah lapar, maka dengan cepat hidangan yang ada telah dilalap habis oleh Kun-gi, cuma sepoci arak yang disediakan itu hanya dia minum dua cangkir kecil.

Sehabis Kun-gi makan, Yong King-tiong tersenyum puas, dia bertepuk tiga kali. Gadis baju hijau tadi segera mendorong pintu dan masuk, setelah me mberesi se mua mangkok piring segera mengundurkari diri ke sa mping.

Yong King-tiong berkata: "Lohu hendak merundingkan persoalan penting dengan Kongcu, boleh kau berjaga di luar ka mar, tanpa izinku siapapun dilarang masuk ke mari."

Gadis baju hijau mengiakan terus keluar, pintu batupun menutup pula.

Yong King-tiong menga mbil dua cangkir arak dan ditaruh di meja pendek di atas dipan, katanya: "Kongcu silakan duduk ke dala m."

Tahu orang akan mulai me mbicarakan soal penting, segera Kun- gi mundur ke belakang, Yong King tiongpun duduk bersila di atas dipan saling berhadapan.

Kata Yong King-tiong ke mudian: "Mutiara di pinggang Kongcu ini, bolehkah Lohu me lihatnya?"

"Sudan tentu boleh," sahut Kun gi. Lalu dia copot ikatannya dan diserahkan.

Bolak-ba lik Yong King-tio ng menga mati mutiara itu dengan seksama, mendadak matanya ber-kaca2 menge mbeng air mata, tanyanya kemudian dengan suara ge metar: "Inilah CinCu-ling tulen dari Hek- liong-hwe, entah darimana Ling-ko ngcu me mpero leh mut iara ini?"

Semakin besar rasa curiga Kun-gi, katanya: "Mutiara ini adalah warisan keluarga, jadi jelas bukan milik Hek-liong-hwe."

Mencorong sorot mata Yong King-tiong, tanyanya: "Kongcu tahu akan na ma mut iara ini?" "Le liong-pi-tok-cu."

"Pi-tok-cu, sesuai na manya, mutiara ini dapat menawarkan segala macam racun?"

"Betul"

Mendadak Yong King-tiong berdiri, dari meja tengah dia jemput botol hitam kecil yang dibawanya tadi, serta menga mbil mangkuk kosong, katanya: "Entah mutiara Kongcu ini dapatkah menawar kan racun di dalam botol ini?" la lu dia buka tutup botol dan menuang cairan hitam kelam ke dalam mangkuk kosong tadi.

Sorot mata Kun-gi tertuju ke dalam mangkuk, mulutnya mendesis: "Getah beracun."

Tanpa minta persetujuan Kun-gi, langsung Yong King-tiong angkat Le liong-pi-tok-cu terus dice mplungkan ke dalam getah beracun di dalam mangkuk. "Cess", suara mendesis keras dan kepulan asap tebal seketika bergolak dari dalam mangkuk, begitu asap lenyap getah beracun yang semula kental gelap di dalam mangkuk itu kini berubah menjadi air bening.

Dengan gemetar Yong King-tio ng angkat mangkuk berisi air jernih itu dengan kedua tangannya, sekian lamanya ia kesima mengawasi air jernih itu, mimik mukanya tampa k haru dan pilu, air mata pelan2 mele leh me mbasahi pipi, mulutnya berguma m: "Me mang inilah Leliong-cu tulen, me mang inilah CinCu-ling     '

Tiba2 ia letakkan mangkuk, la lu angkat Leliong-cu terus berlutut menye mbah beberapa kali, serunya sambil menengadah: "Se moga arwah Hwecu di alam baka maklum, bahwa ha mba rela hidup

tertekan dan dihina sela ma 20 tahun ini, syukurlah kini tiba saatnya untuk me mbuat perhitungan." Sampai di sini dia berdoa, tak tertahan lagi air matanya lantas bercucuran.

Kun-gi diam saja menyaksikan tingkah laku orang yang dianggapnya aneh dan semakin tebal rasa curiganya. Masa Leliong- cu warisan keluarganya ada sangkut pautnya dengan Hek-liong- hwe? Tengah dia me lenggong, dilihatnya Yong King-t iong menyeka air matanya sambil berdiri, dia sodorkan Le liong-pi-tok-cu, sorot matanya mendadak berubah tajam dingin menatap wajah Kun-gi, sikapnya serius dan teguh, katanya dingin: "Kau berna ma Ling Kun gi?"

Kun-gi terima ke mbali Leliong- cu, sahutnya:

"Betul, Cayhe me mang Ling Kun-gi."

Yong King-t iong manggut2, katanya: "bagus sekali, sudah 20 tahun Losiu menunggumu, sekarang hanya ada satu kesempatan hidup bagimu, nah, loloslah pedangmu, lawanlah Losiu dengan sekuat tenagamu." Tangan terangkat, "creng, tahu2 dia sudah me lolos sebatang pedang pandak warna hitam gelap.

Sikapnya yang semula ra mah dan kini mendadak berubah bermusuhan sungguh me mbingungkan Kun-gi. Katanya dengan me lenggong: "Lo-tiang ada per musuhan apa dengan Cayhe?"

Yong King-tio ng tampak gelagapan oleh pertanyaan ini, tapi mendadak dia berjingkrak murka, serunya: "Tak usah banyak tanya, kalahkan dulu pedang ditanganku, bicara lagi nanti belum terlambat.'

Kata Kun-gi bimbang: "Lotiang me mbawa ku ke mari hanya untuk bertanding?"

"Jangan banyak o mong, nah, keluarkan senjatamu." ”Jadi kita betul2 harus berkelahi?"

"Kalau kau ingin keluar dari ka mar ini dengan hidup, kalahkan dulu Losiu."

Pelahan Kun-gi me lolos Seng-ka- kia m, katanya: "Baiklah, silakan Lotiang me mulai. ."

Yong King- t iong sudah tak sabar, jengeknya: ""Nah hati2 lah?" Pedang pendek ditangannya bergetar, selarik sinar gelap tiba2 me mbabat dari sa mping, terasa oleh Kun-gi gerakan menyapu miring yang kelrihatan sepele itni, ternyata meqnimbulkan tekarnan yang amat berat.

Dia m2 Kun-gi kaget dan me mbatin: "Betapa hebat dan sempurna kepandaian ilmu pedang orang ini, sungguh luar biasa." Pedang pandak ditangannya segera bergerak menutul ke depan terus menyontek ke atas.

Sementara itu pedang ditangan Yong King-tiong ta mpak bergoyang naik turun, sekaligus dia menyerang tiga jurus dalam sekali gerakan. Tiga jurus serangan ini menimbulkan lingkaran sinar gelap yang menimbulkan tekanan hawa pedang yang berlapis dan menebal, kekuatannya sungguh bukan olah2 dahsyatnya,.

Begitu gebrak Kun-gi lantas terdesak dibawah angin, hampir saja dia tak ma mpu menge mbangkan ke mahirannya, terpaksa dia mundur tiga langkah baru dapat menghindar i rangsakan lawan. Maklumlah darah mudanya gampang terbakar, karena terdesak hatinya merasa penasaran, mendadak dia menghardik keras, Seng- ka-kia m mendadak dia pindah ke tangan kiri, ia melo mpat maju, pedang menusuk serta me mbabat dan me motong, Tat-mo-kia m- hoat dari Siau-lim-pay seketika dia kembangkan, ilmu silat pelindung Siau-lim-pay yang amat dibanggakan ini setelah dimainkan secara kidal oleh Ling Kun-gi ternyata berbeda pula perbawa serta gaya permainannya, setiap jurus permainan yang berlawanan dengan kebiasaan umum ini, sudah tentu jauh lebih rumit dan lebih lihay pula serta sukar diselami.

Sekilas Yong King-tiong tampak melenga k, katanya keheranan: "Kau ini mur id Hoanjiu-ji-lay?"

Ling Kun-gi mengejek: "Lotiang me mang punya pandangan tajam."

Di tengah percakapan ini, gaya pedang kedua orang tetap bergerak laksana kilat saling sa mber, masing2 ke mbangkan ke ma mpuan ilmu pedangnya, sedikitpun tak menjadi kendur. Dalam kamar batu yang agak sempit ini la ma kela maan terasa semakin dingin diliputi hawa pedang yang bergolak, sungguh amat dahsyat adu kekuatan kedua jago pedang kelas wahid ini, Lekas sekali lima puluh jurus telah lalu dalam pertempuran sengit ini.

Ilmu silat Yong King-tiong ternyata amat luas, rumit dan serba bisa, gaya pedangnyapun aneh, setiap jurus serangan pasti mencakup tipu2 pedang dari berbagai aliran kena maan di Kangouw, jurus2 yang semestinya tidak berhubungan, tapi dapat dimainkannya secara berantai dengan wajar dan bebas olehnya, maka daya serangannya terasa semakin berat dan me ngejutkan.

Ling Kun-gi juga menge mbangkan Tat- mo kia m-hoat dengan tangan kidal, tapi menghadapi perlawanan Yong King-t iong yang berpengalaman dan me mbekal banyak ragam ilmu pedang, se-olah2 sekaligus dia menghadapi puluhan maca m ilmu pedang dari berbagai aliran kelas tinggi dan lihay, keruan lama kela maan dia merasa kewalahan.

Apalagi Lwekang lawan teramat tangguh setiap gerak pedangnya. terasa satu lebih berat dari yang lain, schingga tekanan yang timbulpun se ma kin hebat, dan secara bergelombang mengge mpur Kun-gi, perma inan pedang Kun-gi selalu terkunci dan dihadang, hampir saja dia tidak ma mpu menge mbangkan pedangnya.

Di tengah adu   kekuatan   ini,   terdengar   Yong   King-tiong me mbentak: "Ling Kun-gi, me mangnya kecuali Tat- mo-kia m-hoat yang kau pelajari dari Hoan jiu-ji-lay ini, kau tak pernah me mpelajar i ilmu warisan keluarga mu?"

Tergerak hati Kun- gi mendengar seruan ini, pikirnya: "Ilmu warisan keluarga? Yang dimaksud tentunya Hwi-liong-sa m kia m?" Tanpa terasa ia mengikuti gerak pikirannya, tiba2 mulutnya bersiul badanpun segera melejit tinggi ke atas, pedang memancar kan cahaya kemilau hijau, pada saat terapung di udara, pedang pandak dia pindah ke tangan kanan, dengan ringan pergelangan tangannya bergetar me mbundar, lapisan sinar pedang bagaikan hujan beterbangan me mancur ke segenap penjuru Iiu bertaburan ke atas kepala, Yong King-t iong. Sinar pedang Yong King-t iong bertaburan, beruntun dia lancarkan jurus Giok-toh tio-thian dari Kunlunkia m-hoat, lalu Sam- hoa-kik-t ing dari Bu-tong-pay dan Pat-poh-thianliong dari Tat- mo- kia m-hoat milik Siau lim-pay. Namanya saja ketiga jurus ini terdiri dari tiga aliran ilmu pedang, tapi di tangan Yong King-tiong ketiga jurus ini diko m-binasikan dan dilancarkan dalam satu rangkaian gerak tipu yang lihay. Maka terdengarlah suara "tring-tring" yang ramai.

Pedang pandak hitam Yong King-t iong ternyata terpapas kutung ber-keping2 oleh Seng ka- kiam Ling Kun-gi, tapi untung dia berhasil me loloskan diri dari lingkupan sinar pedang Ling Kun-gi, tiba2 dia ter-bahak2 sambil me mbuang gagang pedangnya, katanya: "Harap berhenti Ling-kongcu!" Mendengar seruannya Kun-gipun berhenti, di lihatnya Yong King-tiong berwajah cerah penuh rasa r iang, kedua tangan terangkap bersoja, katanya dengan air mata ber-kaca2: "Me mang itulah Sin liong jut-hun, ternyata kau me mang Ling seheng adanya, maafkan akan kekasaran Losiu barusan."

Tanya Ling Kun-gi dengan nada heran: "Dari mana Lotiang tahu bahwa jurus yang kulancarkan tadi adalah Sin liong jut hun?"

Yong King tiong tertawa, katanya: "Hwi- liong-sa m- kiam merupakan ilmu pedang pelindung Hwe kita, bagaimana Losiu tidak mengenalnya? Cuma sudah dua puluh tahun lebih Losiu tidak pernah melihatnya lagi." Keterangannya terasa aneh dan sukar dimengerti.

Seperti diketahui Hwi-liong-sa m-kia m atau tiga jurus ilmu pedang naga terbang adalah ilmu pedang warisan keluarga Ling Kun-gi, bahwa Pek-hoa-pang menganggapnya sebagai Tinpang. sam-kia m (tiga-jurus ilmu pedang pelindung-Pang), kini Yong King-tiong mengatakan pula sebagai Tinhwesa m-kia m, atau tiga jurus ilmu pedang pelindung Hek-liong-hwe.

Semakin bingung Kun-gi, ia yakin di balik semua ini pasti ada latar belakangnya, maka dia ber-tanya: "Lotiang " Yong King tiong goyang2 tangannya, katanya: ”Silahkan Kongcu duduk saja, bila kabut sudah mulai timbul di Hek- liong-ta m, Losiu akan me mbawa mu ke sana."

Kun-gi bagai orang linglung mendengar ucapan orang yang tidak dimengerti ini, tanyanya: "Untuk apa Lotiang hendak me mbawaku ke Hek- liong-tam?"

Heran dan kaget sorot mata Yong King-tiong, katanya sambil menatap tajam: "Apakah sebelum Kongcu ke mari, ibumu tidak me mber itahukan apa2 pada mu?"

"Lotiang juga kenal ibundaku?"

"Ibumu adalah Hwecu-hujin (nyonya Hwecu), bagaimana Losiu tidak mengenalnya."

"Hwecu-hujin", sebutan atas ibundanya ini me mbuat kepala Kun- gi serasa ha mpir meleda k, matanya terbeliak, tanyanya: "Apa ucapmu, Yong-lotiang?"

"O, harap Kongcu tidak salah paham, maksud Losiu adalah Hwecu dari perkumpulan kita pada dua puluh tahun yang lalu, jadi bukan Hwecu sekarang yang gila hormat dan tamak harta, pengkhianat yang menjua l kawan de mi mengejar kedudukan."

"Dari nada pernbicaraannya", demikian batin Kun-gi, "mungkin ayah adalah bekas Hwecu dari Hek-liong-hwe dua puluh tahun yang lalu, tapi kenapa selama ini ibu tidak pernah me mbicarakan hal ini padaku."

Karena itu sorot matanya serta merta mencorong tajam, tanyanya menatap Yong King-tiong: "Apakah Lotiang t idak salah mengenal orang?"

Sambil mengelus jenggot, Yong King-tiong tertawa, katanya: "Kongcu me mbawa Leliong-cu,  barusan  kusaksikan  sendiri me lancarkan Hwi- liong-sa m- kia m, kau she Ling lagi, mana mungkin Losiu salah mengenalimu."

"'Tapi kenapa ibu tidak pernah menyinggung se mua ini padaku?" Sejenak Yong King-tio ng berpikir, katanya kemudian sambil menghe la napas: "Hal itu tak perlu dibuat heran. Dahulu waktu ibumu lolos dari kejaran elmaut, betapa banyak manus ia yang rendah martabatnya telah mengejar jejaknya, dunia me mang luas, hampir saja dia tiada te mpat berteduh, setelah menga la mi segala penderitaan syukurlah Kongcu dilahirkan, tapi kekuatan musuh makin bertambah besar dan merajalela, sebagai perempuan yang le mah, sebatang kara lagi, mungkin juga dia anggap Kongcu masih muda usia, maka soal dendam kesumat keluarga belum diberitahukan padamu."

"Dendam kesumat", dua patah kata ini seketika menggelorakan darah di rongga dada Ling Kun-gi, katanya haru: "Lotiang, tadi kau bilang ayahku almarhum dulu adalah Hwecu Hek-liong-hwe, apakah ke mudian beliau mengala mi bencana dicelakai musuh?"

Muram rona muka. Yong King-tiong, katanya: "Tatkala Hwecu tertimpa mus ibah, boleh dikatakan beliau gugur sebagai pahlawan bangsa, seharusnya Losiu mengikut i langkah Hwecu ke alam baka, bahwa selama 20 tahun aku mencari hidup ini lantaran kutahu setelah Hujin berhasil lolos, dia sedang mengandung, kuda mba kan akan datang suatu hari, akan tibalah saatnya menuntut balas secara total, bila Losiu mati demikian saja, musibah besar yang penuh rahasia itu pasti takkan diketahui orang luar." Sa mpai di sini tak tertahan matanya bercucuran, tangisnyapun sesenggukan.

Kun-gipun dirundung kesedihan, air mata me mbasahi selebar mukanya. "Duk", tiba2 dia berlutut serta menyembah ber-ulang2, serunya: "Luhur, budi Lotiang, cita2mu yang penuh pahit getir, pasti dulu engkau adalah kawan seperjuangan ayahanda almarhum, sudikah kiranya engkau menceritakan duduk periatiwa yang sebenarnya."

Yong King-t iong menyeka air matanya dia me mbimbing Kun-gi bangun, katanya: "Lekas engkau berdiri, jangan kau menyiksa Losiu lagi, selama 20 tahun ini, saat seperti inilah Losiu nanti2 kan, cuma terlalu panjang untuk berkisah peristiwa la ma, kita hanya ada waktu singkat saja, paling2 hanya kukisahkan secara ringkas, nanti setelah Kongcu berhasil menga mbil barang itu baru akan kuceritakan lebih jelas."

"Hanya ada waktu singkat saja?" demikian pikir Kun- gi, "barang apa pula yang harus kua mbil? Pastilah suatu barang yang a mat penting artinya."

Kembali dua orang duduk berhadapan, Yong King tiong menghirup secangkir teh, lalu katanya: Cerita ini harus kumulai dari masa gugurnya Siante (Kaisar Gi-cong almarhum di medan bakti sehingga menimbulkan pe mberontakan laskar rakyat di mana2, Tuan Puteri   dengan   badan   sucinya   akhirnya   masuk   biara me mpe lajari aga ma, tapi beliau sela manya takkan lupa akan dendam keluarga dan kejatuhan negara, secara diam2 dia masih me mbangun kekuatan terpendam untuk me mbalas denda m, sela ma puluhan tahun berkecimpung di Kangouw, akhirnya beliau dapat menyusun kekuatan para pahlawan bangsa di berbagai daerah."

Sampa i di sini ceritanya dia menarik napas panjang, setelah menghirup napas segar baru menuturkan kiaahnya: "Waktu itu ada seorang panglima she Thi. setelah pasukannya kalah dan dihancurkan musuh, dia berhasil menyusun sekelo mpok kekuatan yang dipelopori kaum persilatan, di Kunlunsan inilah mere ka akhirnya me mbentuk Hek-liong-hwe dengan mengibarkan panji perlawanan kepada penguasa kerajaan . . . . . . .

"Jadi panglima she Thi itulah yang mendirikan Hek-liong-hwe, bahwa Kunlun san dipilih sebagar markas pusatnya karena di perut gunung ini terdapat banyak lorong2 gua ciptaan alam yang ber-liku2 me mbingungkan, tembus kian ke mari laksana sarang tawon, asal sedikit dipugar atau diperbaiki te mpat ini akan me njadi te mpat tersembunyi yang paling a man dan rahasia, musuh takkan mudah mene mukan te mpat ini."

"Jadi lorong2 gua ini sudah menga la mi pe mugaran waktu itu," kata Kun-gi.

"Lorong2 gua ini se mula me mang ciptaan alam tapi lebih banyak pula yang dipugar oleh tenaga manusia, hampir 30 tahun lamanya Lohwecu me mugarnya," demikian tutur Yong King-tiong lebih lanjut, "di waktu me mbuat lorong te mbus di gua gunung yang harus me lewati celah2 batu gunung tanpa sengaja Lohwecu mene mukan sebuah ruang gua lain, di atas dinding dalam gua itu terga mbar bentuk manus ia yang sedang bermain pedang, kabarnya gambar itu adalah peninggalan Tiong-yang Cinjin dari Coancinkau, di sana Lohwecu berhasil menyela mi dan me mpelajar i tiga jurus ilmu pedang yang tiada taranya, yaitu Hwi- liong-sa m- kia m."

"Na ma Lohwecu she Thi itu apakah Tiong-ho ng?" tanya Kun-gi.

Yong King-tiong manggut2, katanya: "Kiranya Ling- kongcu pernah dengar cerita orang," tanpa tanya dari siapa Kun-gi mendapat tahu, Yong King-tio ng melanjutkan kiaahnya: "Pernah Losiu dengar cerita dari Lohwecu bahwa ilmu pedang yang tertera di dinding sebetulnya bukan cuma tiga jurus saja, maklumlah usianya pada waktu itu sudah setengah abad, dibatasi bakat dan usia, maka hanya tiga jurus itu saja yang dapat dipelajarinya dengan baik . . . .

. . Ai, terlalu jauh aku ngelantur."

Kini nadanya menjadi lebih kale m: "Dikala me mbuat lorong tembus ke pusar bumi itu pula Lohwecu mene mukan suatu sumber racun, air yang mengalir dari sumber itu beracun, bukan saja kental, warnanya juga hitam gelap, manusia mati seketika bila tersentuh meski hanya satu tetes saja "

”Getah beracun!" seru Kun-gi tanpa terasa.

"Betul," ujar Yong King-tiong manggut2, "akhirnya kita na makan air itu getah beracun. Kemudian lohwecu me mbuat sebuah perigi kecil, getah beracun itu dialirkan ke dalam perigi itu, dari situlah timbulnya la ma Hek- liong-tam."

Setelah sekian lamanya mendengar kisah orang dengan sabar, tapi orang tetap belum menyinggung soal ayahnya, diam2 Kun-gi resah dan gelisah.

Yong King-t iong malah menghirup secangkir teh pula baru me lanjutkan ceritanya: "Dalam usia setengah baya itu, Lohwecu tetap belum dikurniai putera, padahal waktu itu kebetulan sedang mus im ke marau panjang, di- mana2 geger kelaparan, rakyat hidup tertindas. Pada suatu ketika Lohwecu turun gunung, pulangnya me mbawa seorang orok pere mpuan dan diangkat sebagai puterinya dan dina makan Ji-giok, Thi-hujin me mandang orok pere mpuan ini sebagai anak kandungnya sendiri, amat kasih sayang. Tak nyana dua tahun kemudian, Thi-lohujin malah me lahirkan sendiri seorang puteri dan diberi nama Ji-hoa. Sekejap mata 20 tahun telah lalu, sepasang kakak beradik inipun tumbuh dewasa laksana kembang me kar, Lohwecu tidak pernah membeda kan kedua puterinya ini, setiap ada waktu senggang, dia ajarkan ilmu silat kepada kedua nona ini "

Mendengar sampai di sini, lapat2 Kun-gi sudah dapat meraba dan mengerti, di antara sepasang kakak beradik ini pasti satu di antaranya adalah ibundanya dan seorang lagi pastilah Thay-siang dari Pek-hoa-pang.

Terdengar Yong King-tio ng melanjutkan ceritanya: "Waktu itu tuan puteri mulai bergerak di daerah Kangla m, dia sendiri yang me mimpin gerakan2 di sana, partai2 besar persilatan memang tidak kelihatan turut campur, tapi secara diam2 mereka me mbantu dengan segala daya upaya, malah para muridnya dianjurkan untuk me mbantu sekuat tenaga dengan menyaru kaum persilatan umumnya dan ikut me mbentuk barisan2 penentang kerajaan lalim yang berkuasa. Musim semi tahun itu, Siau-lim Hongtiang Kay-to Taysu me mperkenalkan seorang pemuda kepada Lohwecu untuk menjadi anggota Hek-liong-hwe, pemuda ini she Ling berna ma Tiang-hong, mur id Kay-te Taysu satu2nya dari golongan pre man."

"Apakah dia ini ayahku almarhum?" tanya Kun-gi, "Padahal ibunda me mber i tahu padaku bahwa ayah berna ma Swi-toh."

"Kongcu masih muda, bahwa ibumu tidak menceritakan kiaah masa lalu ini, sudah tentu diapun tak akan me mber itahukan na ma terang ayahmu," sambil mengawasi reaksi Ling Kun-gi sejenak, lalu dia mena mbahkan, "waktu itu ayahmu juga baru berusia likuran tahun, berwajah cakap dan gagah, masih segar dalam ingatan Losiu tatkala dia baru t iba di Hek-liong-hwe, Lohwecu me mber i jabatan kepala barisan ronda, kalau tidak salah ayahmu   kepala dari kelo mpo k ke21, Losiu dari kelo mpok ke 22, sering kami bertugas bersama, satu lama lain saling me mbantu, oleh karena itu hubunganku cukup akrab dengan ayahmu."

Kun-gi segera berdiri tegak khidmat dan bersoja, katanya: "Ternyata paman adalah sahabat karib ayah almarhum, maaf akan kekurangajaran Siautit barusan."

"Kongcu tak usah banyak adat," ucap Yong King- tiong, "Losiu hanya seorang hamba dari ayahmu, mana berani dijajarkan sebagai kawan karibnya segala?"

"Ayahmu masih muda tapi sudah punya cita2 luhur, matang dalam pengala man dan sempurna dalam tata kehidupan, tindak tanduknya tegas dalam menja lankan tugas, dalam waktu tiga tahun, dari seorang kepala ronda sekaligus dia sudah berhasil menanjak ke atas karena jasa2nya dan diangkat menjadi Hwi-liong-tong Tongcu, dia merupakan orang kepercayaan yang selalu menda mpingi Lohwecu, bukan saja Hwecu sudah ada ma ksud untuk mengawinkan puteri sulungnya padanya, malah kelak ke mungkinan akan mewaria kan jabatan Hwecu Hek-liong-hwe '

Sampa i di sini, kemba li dia menghirup secangkir teh, setelah kerongkongan basah baru dia bercerita pula: "Tiga tahun sejak ayahmu berada di Hek liong-hwe, pada mus im rontok tahun itu Lohwecu lantas mengawinkan puteri sulungnya Ji-giok dengan ayahmu, tapi pada mala m pengantin ayah bundamu itulah, nona Ji- hoa mendadak menghilang, minggat entah ke mana "

agaknya masih panjang lebar ceritanya, tapi seperti rada hal2 yang sengaja hendak dia se mbunyikan, ma ka cerita ini dia putus sa mpa i di sini.

Sudah tentu Kun-gi dapat menangkap arti pembicaraan orang, ceritera Yong King-tiong pada bagian terakhir ini agak kabur, secara tidak langsung dia mau bilang bahwa minggatrya nona Ji-hoa lantaran ada sangkut pautnya dengan pernikahan ayah bundanya. Tapi sebagai seorang anak, sudah tentu tak enak Kun- gi mendesak ceritera orang akan kejadian masa lalu ayah bundanya, maka dia hanya mendengarkan tanpa bersuara dan tidak me mberi reaksi apa2.

"Lohwecu sudah berusia lanjut, bahwa puteri tunggalnya mendadak minggat, sudah tentu Lohwecu sua mi iateri sangat bersedih, terutama Lohujin, saking kangen dan menguatir kan keselamatan puterinya itu, akhirnya dia jatuh sakit dan rebah diranjang tak bisa bangun lagi. Pada waktu itulah pihak kerajaan juga mendapat berita bahwa Hek-liong-hwe sedang siap2 hendak bangkit dan berontak, ma ka jago2 keraton yang berkepandaian tinggi diutus untuk me ncari jejak dan menggeledah seluruh pelosok pegunungan Kunlunsan. Tapi pihak kita juga sudah mendapat kabar, apalagi markas pusat Hek-lio ng-hwe berada di perut gunung, sudah tentu kawanan alap2 kerajaan itupun tak berhasil menuna ikan tugasnya.”

Tak tertahan akhirnya Kun-gi menyeletuk: "Me mangnya Hek- liong-hwe berpeluk tangan me mbiar kan kawanan cakar alap2 itu bertingkah di depan pintu mar kasnya?"

"Di sinilah letak keberhasilan Lohwecu dalam bertindak dan berkeputusan, maklumlah kekuatan kerajaan pada waktu itu sedang mencapai kejayaannya, pahlawan2 bangsa yang tersebar di berbagai tempat sudah tidak sedikit yang menjadi korban demi me mpertahankan kekuatan, maka Hwecu berkeputusan t idak ma u sembarang bertindak."

Sampa i di sini mendada k dia menghela napas, katanya pula: "Tapi sungguh t idak pernah terduga bahwa, di antara para Siwi (jago pengawal raja ada seorang muridnya Sinswi-cu. Perlu diketahui bahwa seluruh peralatan rahasia yang terpasang di lorong2 gua dalam mar kas kita ini diciptakan oleb Sinswi-cu, sudah tentu muridnya juga paham akan ilmu ciptaan gurunya, maka di bawah petunjuknya jago2 keraton segera menyerbu masuk lewat Ui-liong-tong. Karena rahasia sudah terbongkar, terpaksa Lohwecu bertindak cepat dan tegas, kalau satu saja dari cakar alap2 musuh lolos, buntut peristiwa ini tentu amat panjang, maka ma lam itu seluruh kekuatan kita dikerahkan, untunglah delapan belas jago kerajaan akhirnya berhasil ditumpas seluruhnya. Lohwecu sendiri dalam pertempuran sengit itu berhasil me mbinasakan lima jago alap2, tapi beliaupun terluka oleh senjata rahasia beracun salah seorang musuh yang terbunuh "

"Leliong-cu dapat menawarkan segala ma cam racun di dunia ini, apakah Lohwecu "

"Betul, Leliong cu me mang dapat menawarkan segala maca m racun di dunia ini, tapi Lohwecu terluka oleh jarum beracun yang ditiupkan oleh orang Biau, jarum tiup itu le mbut seperti bulu kerbau, orang yang terkena jarum itu sendiripun tidak merasakan apa2, padahal Lohwecu sendiri dengan penuh se mangat telah menumpas musuh2nya, hakikatnya beliau tidak tahu kalau dia kena dibokong orang. setelah musuh tertumpas seluruhnya dan kembali ke ruang pendopo, racunpun sudah merangsang jantung, mendadak beliau jatuh pingsan. Waktu itu belum ada orang yang tahu Hwecu terkena jarum berbisa, orang banyak mengira beliau kehabisan tenaga dalam usianya yang sudah lanjut setelah me mbunuh para musuhnya, tapi setelah tabib berusaha member i pertolongan dan dia tetap dalam keadaan pingsan, saat itu barulah diadakan pemeriksaan dan berhasil mene mukan setitik hitam di pundak kiri Hwecu, seorang ahli me mastikan bahwa titik hitam itu adalah bekas tusukan jarum le mbut yang a mat beracun, lekas Leliong-cu dikeluarkan untuk menawarkan racunnya, namun sayang sudah terlambat, sebelum fajar menyingsing beliaupun wafat, sepatah katapun tak se mpat dia meninggalkan pesannya.

"Selanjutnya bagaimana?" kata Kun-gi.

"Suatu organiaasi tak boleh tanpa pimpinan, ma ka dihadapan layon Lohwecu, kami mengadakan rapat dan secara mutla k mengangkat ayahmu untuk mengisi jabatan Hwecu yang kosong itu."

"Dan cara bagaima na pula ayah almarhum di celakai orang?" tanya Kun-gi. Tiba2 Yong King-t iong menghela napas panjang, katanya ke mudian: "Waktu itu ayahmu baru berusia likuran tahun, baru empat tahunan berada dalam Hek- liong-hwe, berkat bimbingan Lohwecu-lah dia me mpero leh ke majuan pesat, dari seorang kepala ronda terus menanjak menjadi Tongcu dari Hwi-liong-tong, sebelum Lohwecu wafat beliau me mang sudah sering me mperbincangkan tentang ahli warisnya dengan orang banyak, maka pengangkatan ayahmu sebagai Hwecu menggantikan Lohwecu mendapat dukungan mutlak. Tapi Hek-liong-hwe sudah berdiri sejak tiga puluh tahun yang lulu, meski ayah-mu me miliki kecerdikan dan kepandaian yang tinggi, betapapun dia masih terlalu muda dan cetek pengalaman, sukar dia me mikul beban berat dan menunaikan cita2 dan harapan orang banyak "

"Itu berarti ada sementara orang merasa sirik dan kurang senang akan pengangkatan ayah?"

"Bukan begitu soalnya," ucap Yong King-tiong, "se mula beberapa Tianglo (tertua) yang dahulu ikut Lohwecu mendirikan Hek- liong- hwe me mang merasa ayahmu terlalu muda, sukar me mikul tugas berat, tapi setelelah Lohwecu mangkat, selama setahun Hek-liong- hwe di bawah pimpinan ayahmu, ketenaran Hek-lio ng-hwe justeru lebih menjulang tinggi di kalangan Kangouw, kebesaran Hek-liong- hwe boleh dikatakan belum pernah terjadi sejak sejarah berdirinya selama tiga puluh tahun, akhirnya beberapa Tianglo itu baru betul2 merasa bahwa pilihan Lohwecu atas ayahmu me mang tepat dan bijaksana, maka dengan sekuat tenaga mereka menyokong dan bantu kerja keras, sampa ipun Ceng-liong-tong Tong-cu Han Janto yang selamanya bertentangan pendapat dengan ayahmupun berubah pendirian dan mendukung sepenuhnya kepemimpinan ayahmu, tahun itu boleh dikatakan masa jaya2nya Hek-liong- hwe."

"Jadi siapakah biang keladi yang mencelaka i ayah?" tanya Kun-gi bingung.

Rawan sikap Yong King-tiong, katanya setelah menghela napas: "Bahwa delapan belas jago ko-sen kerajaan tiada satupun yang ke mbali dalam menuna ikan tugas, sudah tentu pihak kerajaan tidak berpeluk tangan. Setelah diselidiki, akhirnya diketahui bahwa ke18 jago kosen dari keraton itu seluruhnya terbinasa di tangan orang2 Hek-liong-hwe, sudah tentu kaisar sangat murka me mpero leh laporan ini, ma ka gubernur Soa-tang diperintahkan untuk menghancur leburkan kaum pe mberontak.”

Ling Kun-gi berjingkat, serunya: "Pihak kerajaan hendak menumpas dengan pasukan besar?"

"Menghadapi pasukan besarpun Hek-liong-hwe tak pernah gentar, umpa ma berlaksa bala tentara sekaligus menyerbu pegunungan Kunlunsan juga takkan me mbawa hasil yang diharapkan, yang mengge maskan justeru di dalam Hek- liong- hwe kita sendiri ternyata ada manusia gila yang lupa akan ajaran leluhur dan terima menjadi antek musuh dan menjual bangsa.".

Bergetar hati Kun-gi. "Siapa?"b, teriaknya terd-beliak. "Yaitu Hek-liong-hwe Hwecu yang sekarang, Han Janto,"

Rasa geram bergejolak dalam rongga dada Kun-gi, tanyanya:

"Cara bagaimana dia berhasil menjual Hek liong- hwe kepada musuh?"

"Gubernur Soa-tang Kok Thay adalah antek perdana menteri Hokun yang berkuasa di istana, semula Kok Thay adalah bajingan yang sering mengisap darah rakyat dengan penindasan kejam, waktu dia me mperoleh perintah dari istana, bukan saja ketakutan juga kebingungan sa mpa i ter-kencing2. . . dia punya seorang penasihat yang bernama Ci Kunjin, bergelar Im-su-boan koan (hakim akhirat), kabarnya orang ini dulu adalah tabib kelilingan di Kangouw, entah bagaimana akhirnya bisa me mpero leh pangkat dan kedudukan dikalangan pemer intahan dan menjadi orang kepercayaan Kok Thay, dari nasihat dan petunjuk Ci Kunjin inilah kejahatan Kok Thay se makin merajalela, de mikian juga dalam hal ini, dia pula yang mencari akal muslihat keji, dia bilang bahwa pasukan besar pasti takkan berhasil, ma ka dia menulis beberapa huruf di telapak tangannya sebagai usulnya." "Tipu muslihat apa yang dia tulis di telapak tanganya?" tanya Kun-gi.

"Me mberantas pe mberontak dengan pe mberontak." "Me mberantas pe mberontak dengan pe mberontak?"

"Betul, mus lihatnya ini boleh dikatakan a mat keji, tujuannya

adalah me mecah belah, dia me mancing dengan harta benda serta pangkat, jika bukan manus ia gila yang durhaka, mana mungkin berhasil mengaduk di dalam Hek liong- hwe kita?"

Setelah menarik napas panjang, akhirnya Yong King-tiong meneruskan: "Mungkin juga lantaran sudah ditakdirkan, kebetulan Han Janto si keparat itu berselisih paham dengan ayahmu, akhirnya ma lah ayahmu yang mendapatkan jabatan Hwecu, lahirnya me mang kelihatan dia ikut mendukung, tapi dendam hatinya ternyata semakin mendala m.

"Perlu diketahui bahwa Han Janto adalah putera adik angkat Hwecu sendiri, ayahnya gugur di medan laga demi me mbela panji kebesaran Hek-liong-hwe, sela ma ini Lohwecu me mandangnya sebagai keponakan, malah kedudukannyapun terus menanjak dan akhirnya diangkat sebagai Ceng-liong-tong Tongcu, jika tiada ayahmu, me mang mungkin dialah yang akan mewarisi jabatan Hwecu kelak."

Cerita ini kedengarannya cukup jelas, tapi siapapun pasti akan merasa bahwa dibalik cerita ini ada sesuatu yang sengaja ditinggalkan sehingga orang sehingga rangkaian cerita ini hakikatnya tidak se mpurna.

Kun-gi berkata: "Umpa ma betul dia berselisih dengan ayah, itukan persoalan pribadi, tidak seharusnya dia menjual Hek- liong- hwe."

"Itulah yang dikatakan mabuk harta dan gila pangkat, dia lupa bahwa bapaknyapun gugur di tangan musuh, soalnya pihak kerajaan berjanji bila dia berhasil dengan usahanya, bukan saja tidak menjatukan hukuman padanya sebagai pemberontak, malah dia akan diangkat menjadi pe mbesar, ada hadiahnya lagi, oleh karena janji muluk2 inilah sehingga dia rela menjual kawan demi mencari keuntungan pribadi, sekaligus untuk ber- muka2 dan me mba las denda m, secara suka rela dia menyerahkan peta rahasia dari seluruh mar kas pusat ini sebagai usahanya. pertama mendar ma baktikan diri pada kerajaan '.

Pucat wajah Kun-gi, katanya: "Di bawah gerebegan ketat jago2 kosen pihak kerajaan, Hek-liong-hwe masih tetap jaya malah berkembang se makin besar, semua itu berkat lorong2 rahasia di dalam gunung ini, orang luar tiada yang tahu rahasianya, bahwa dia rela menyerahkan peta rahasia markas pusat, itu berarti telah menyerahkan seluruh kekuat-an Hek-liong-hwe kepada musuh.

Terkepal kencang kedua tangan Yong King-tiong, katanya dengan geregetan: "Memangnya tiga puluh tahun lebih Lohwecu mendirikan Hek-liong-hwe, betapa jerih payah Sinswi-cu menciptakan alat2 rahasia itu, sejak itu se mua terjatuh ke tangan musuh."

"Bagaimana kejadiannya, harap paman suka menceritakan," pinta Kun-gi.

Jelek sekali air muka Yong King-tiong, sorot matanya setajam pisau, katanya sambil mengertak gigi: "Penegak Hek liong-hwe, kecuali Lohwecu masih ada sembilan Tianglo lagi, mereka sehidup semati dalam perjuangan sebagai saudara angkat, waktu Lohwecu meninggal mas ih ada lima Tianglo saja yang hidup, usia mereka waktu itu juga sudah lebih setengah abad, keparat she Han yang durhaka itu bukan saja menyerahkan peta rahasia kita, ternyata diapun tega berlaku keja m, di bawah hasutan dan petunjuk cakar alap2 musuh, secara diam2 ia telah menaruh racun, beruntun kelima Tianglo kita dibunuhnya "

"Apakah tiada orang yang me mbongkar muslihatnya ini?" tanya Kun-gi.

"Tidak, kerja keparat itu a mat cer mat, cerdik dan licik lagi, apalagi racun yang dia gunakan pemberian dari istana raja, para korban tidak meninggalkan bekas keracunan, dalam waktu satu bulan kelima Tianglo kita itu beruntun meninggal satu per-atu, sudah tentu peristiwa ini menimbulkan kecurigaan, tapi para Tianglo itu kelihatan mati dengan wajar, tidak ada gejala2 aneh sedikitpun, meski dalam hati se mua orang menaruh curiga, tapi tiada yang bisa berbuat apa2 ",

Alis Kun-gi menegak, desisnya geram: "Bangsat keparat itu me mang pantas dicacah lebur ber- keping2."

"Dua puluh tahun yang lalu, pada mala m Toanngo (Pek-cun), hampir dua bulan sejak Tianglo terakhir meningga l dunia, selama itu tak pernah terjadi apa2 dalam Hek-liong-hwe kita, ma ka kewaspadaan kita menjadi kendor, Toanngo adalah hari raya besar, setiap tahun seperti lazimnya Hwecu pasti mengumplkan ketiga Tongcu dan tiga puluh enam panglima untuk berpesta pora di ruang pendopo, demikian pula para kepala ronda dari mas ing2 seksi juga diundang "

"Ke mbali dia menggunakan racun?" tak tertahan Kuangi bertanya.

Yong King-tiong t idak rnenjawab langsung, katanya: "Dikala hadirin ma kan minum dengan riang ge mbira, seorang she Sim, kepala ronda dari Ceng-liong-tong, tiba2 berlari masuk dengan ter- buru2, langsung dia ber-bis ik2 ditelinga Han Janto" tampak Han Janto mengunjuk wajah berseri, segera dia bangkit dan berkata dengan suara lantang: "Hadirin sekalian, hari ini adalah hari raya Toanyang, kebetulan para saudara hadir di sini, ada beberapa patah kata ingin kusampaikan. Hek- liong-hwe kita sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu, tujuan semula adalah me mbangkitkan ke mbali kerajaan Beng, tapi selama 30 tahun ini pernerintahan Boan sudah amat kukuh dan sudah berkuasa di seluruh negeri, harapan untuk me mbangkitkan kerajaan Beng sudah nihil, dengan kekuatan kita yang hanya beberapa gelintir manusia ini jelas takkan ma mpu me lawan kekuasaan raksasa kerajaan seka-rang, bak telur me mbentur batu belaka, daripada ber-tahun2 kita tetap hidup di perut gunung, jarang sekali me lihat sinar matahari, apalagi selama 30 tahun ini tiada kemajuan yang kita capai, orang kuno juga bilang adalah bijaksana kalau kita tunduk pada firman Thian, sebaliknya menentang takdir pasti akan hancur lebur, maka menurut he matku, lebih baik kita menyerah kepada kerajaan Boan saja, kita terima pengampunan dan anugerahnya, masa depan kita masih terbentang luas di depan mata. Kira2 begitulah pidatonya waktu itu. Ai, sungguh me ma lukan bahwa dia berani bicara serendah itu."

"Bagaimana reaksi ayah pada waktu itu?" tanya Kun-gi.

"Waktu itu hadirin mengira dia terlalu banyak menenggak arak, maka kata2nya ngelantur, tapi hal itupun sudah merupaka pelanggaran serius yang tidak boleh didiamkan, sudah tentu hwecu tidak berpeluk tangan, segera dia membantak: `Hantongcu, gila kau, berani kau omong sekotor itu, menur ut aturan kita, kau pantas dihukum pancung dan dipreteli anggota badanmu.'

"Han Janto ma lah terbahak mendongak, serunya: 'Ling Tiang- hong, jangan kau pa mer kewibawaanmu sebagai Hwecu dihadapan tuan Hanmu ini, coba pentang lebar matamu, kalian kaum pemberontak ini, jangan harap satupun bisa lolos.'

Mendadak ia me mbanting cangkir  arak  di  tangannya. Me mbanting cangkir adalah isyarat, maka dalam sekejap dari delapan pintu rahasia yang ada   di ruang pendopo sekaligus me mberondang keluar puluhan jago2 kosen kerajaan."

"Kekuatan inti Hek- liong-hwe berada se mua di ruang pendopo, kecuali mereka mengguna kan senjata rahasia yang amat jahat, masa puluhan cakar  alap2  musuh  tak  ma mpu mereka me mberantasnya?" tanya Kun-gi.

Berkerut gigi Yong King-tiong, katanya pedih dengan suara berat: "Cakar alap2 itu tiada yang menggunakan senjata rahasia, tiada pertempuran yang terjadi di ruang pendopo karena tiada perlawanan sedikitpun dari kita, dengan mata mendelong se muanya di telikung dan dibelenggu tanpa bisa berkutik."

Mencelos hati Kun-gi, serunya: "Se muanya terkena racun?!" Guram sorot mata Yong King-tiong, katanya: "Di dalam arak Han Janto telah mencampurkan bubuk pele mas tulang, semua orang kehilangan daya tahannya, apalagi untuk melawan "

"Bagaimana ayah?" tanya Kun-gi gugup.

Berlinang air mata Yong King-tiong, katanya: "Waktu itu Losiu sudah menjabat Hek liong-hwe Congkoan, karena tugas maka aku tidak hadir dalam perjamuan itu, kejadian ini akhirnya kudengar dari cerita orang. Melihat gelagat tidak me nguntungkan. Hwecu menggigit lidah dan bunuh diri, dia gugur sebagai pahlawan bangsa dalam tugasnya.".

Bercucuran air mata Kun-gi, tiba2 dia menjatuhkan diri dan berlutut, ratapnya: "Yah, anak berjanji pasti akan membunuh bangsat she Han itu dengan tanganku sendiri untuk me mbalas sa-kit hatimu."

Sambil menyeka air mata Yong King-tiong berkata: "Kongcu tak usah sedih, setelah kembali dari Hek- liong-tam, pasti dengan mudah kau dapat menuntut balas, me mangnya bangsat she Han itu dapat lari ke mana?"

Kun-gi bangkit berdiri, mendadak dia tanya dengan prihatin: "Lopek (pa man), cara bagaimana ibu dapat melar ikan diri waktu ilu?"

"Mungkin sudah suratan takdir, ibumu waktu itu sudah bunting, karena sering muntah2, maka dia tidak hadir dalam perjamuan, kawanan cakar alap2 itu sedang sibuk menerima tugas dan berebut kedudukan, apalagi di- mana2 masih ada perlawanan, maka ibumu mendapat kese mpatan lari setelah mendengar perubahan situasi, ketika mere ka sadar, namun ibumu sudah lolos lewat jalan rahasia.."

"Bangsat she Han itu sudah menjual Hek-liong-hwe, cara bagaimana dia bisa menjadi Hwecu Hek-liong-hwe pula?"

"Dengan menjual Hek- liong-hwe berarti dia telah berjasa besar bagi kerajaan, kini dia sudah menjadi pemimpin ko mandan pasukan bayangkari keraton, di sa mping kedudukan sa mpingannya sebagai Hek liong-hwe Hwecu, dan semua ini merupa kan suatu rencana keji yang mengandung banyak mus lihat."

"Me mangnya ada mus lihat keji apa pula?" tanya Kun-gi heran. Yong King-tiong menengga k secangkir teh, katanya kemudian:

"Se mua ini ada sangkut pautnya dengan Losiu, demikian pula erat hubungannya dengan Kongcu sendiri."

"O," Kun-gi me longo keheranan.

"Dua puluh tahun yang la lu, kelompok2 penentang kerajaan Boan dan pembangkit kerajaan Beng tersebar luas di selatan dan utara sungai besar, semuanya berada di bawah ko mando Tuan Puteri, sebagian   tertumpas   oleh   musuh,    banyak    pu-la    yang menye mbunyikan diri dan sejak itu tiada gerakan2 lagi, hanya Hek- liong-hwe karena me mpunyai kedudukan strategis, maka dia tetap berdiri jaya dan menjulang di kalangan Kangouw, boleh dikatakan Hek-liong-hwe merupakan kelo mpo k terakhir yang mas ih aktip. Bahwa pihak kerajaan sekarang masih tetap me mpertahankan Hek- liong-hwe tujuanya adalah untuk menggaruk sisa gerakan rakyat yang terpendam, maksud uta ma mereka adalah menumpas habis ke akar2nya kaum patriot yang hendak me mbangkitkan kerajaan Beng

. . . ''

"Me mangnya ini ada sangkut paut apa dengan dia dan aku?" dia m2 Kun-gi me mbatin dalam hati..

"Kecuali itu mas ih ada sebab la innya pula," sa mbung Yong King- tiong, "ini ada hubungannya dengan Hek-liong-ta m "

Mendengar orang ke mbali menyinggung Hek-liong-ta m, padahal tadi dikatakan bahwa pihak kerajaan menyerahkan kekuasaan pimpinan Hek-liong-hwe kepada keparat she Han itu ada sangkut pautnya dengan diriku, kini dikatakan pula ada hubungan dengan "kolam naga hitam", maka dapatlah disimpulkan bahwa di kolam naga hitam itu tentu tersembunyi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan dirinya. Sebelum Kun-gi me ndesak, Yong King-tiong telah melanjutkan kisahnya. "Kemudian Losiu di-tawan, karena dia anggap paling akrab dengan ayahmu, sela ma setahun lebih aku disekap dalam penjara, belakangan Losiu me ndapat tahu bahwa ibumu berhasil lolos dengan me mbawa lari Leliong-cu dan musuh tak berhasil mene mukan jejaknya, maka Losiu pikir harus bertahan hidup, malah aku berusaha untuk tetap memegang jabatan Congkoan dalam Hek- liong-hwe, karena dalam me mangku jabatan itulah baru aku punya harapan untuk menunggu kedatangan Kongcu, maka terpaksa aku merendahkan diri terima diperintah dan dihina, malah sengaja kubocorkan juga sesuatu rahasia besar yang cukup penting sebagai penebus hukumanku "

Mendengar sampai di sini tak tertahan Kun-gi bertanya: "'Entah rahasia penting apa yang Lopek bocorkan kepada mereka?"

"Kecuali ibumu hanya Losiu seorang saja yang tahu akan rahasia ini," ujar Yong King-tio ng ter-tawa, "yaitu sebuah kamar gua yang terletak di dasar Hek-liong-tam yang dulu dite mukan Lohwecu di waktu me mbuat lorong rahasia, di dalam ka mar gua itulah ada peninggalan ga mbar yang terukir di dinding tentang ilmu pedang maha sakti dari peninggalan Tiong-yang Cinjin. Waktu Tuan Puteri mengadakan inspeksi ke Hwe kita, beliupun berpendapat bahwa letak kamar gua itu a mat strategis dan rahasia, maka daftar nama dan tokoh2 dari berbagai aliran besar yang ikut menjadi anggota Thay-yang-kau (agama me muja matahari) disimpannya juga di sana, mengingat betapa penting beratnya tugas serta tanggung jawab ini, ma ka Lohwecu minta kepada Sinswi-cu untuk menciptakan suatu alat rahasia, dari gua sebelah atas mengalir kan getah beracun ke dalam ka mar gua itu, sehingga terciptalah kolam naga hitam itu."

"Lopek me mbocorkan rahasia ini kepada musuh, bukankah berarti menjual seluruh anggota Thay-yang-kau yang didirikan oleh Tuan Puteri?"

"Teguran Kongcu kuterima dengan lapang hati, soalnya kalau Losiu tidak me mbocor kan rahasia ini, tak mungkin aku me mpero leh kepercayaan mereka, itu berarti tak mungkin aku menjabat Cong- koan di Hek- liong-hwe, mana mungkin pula sela ma dua puluh tahun ini aku me nunggu tibanya Kongcu?"

"Yang terang Lopek telah mengorbankan jiwa, para anggota Thay-yang-kau, me mangnya apa pula gunanya meski telah berhasil menunggu kedatanganku. ."

"Terus terang Losiu juga pernah bersumpah berat di hadapan ma laikat Matahari, masa aku berani menjual sesa ma saudara anggota? Apalagi soal ini menyangkut laksaan jiwa para anggota yang lain umpawa daftar itu betul2 terjatuh ke tangan musuh, itu berarti Losiu menjadi manusia yang paling berdosa di dunia ini, seribu kali ke matiankupun belum mengimpasi dosa2ku"

"Bukankah Lopek bilang sudah me mbocor kan rahasia ini kepada mereka?"

"Tadi Losiu bilang, oleh Lohwecu Sinswi-cu diminta me mbuat suatu saluran getah beracun sehingga hakikatnya ka mar gua itu berada di dasar kolam naga hita m, jelasnya kamar gua itu terletak dua puluhan tombak di dasar kolam, setetes getal saja dapat me layangkan jiwa manusia, apalagi getah sedalam dua puluhan tombak, umpa ma dewa atau mala ikatpun takkan mungkin selulup ke dasarnya."

"O," sampa i di sini baru Kun-gi paha m, "aku mengerti!'

Mengerti soal apa? Yaitu kenapa pihak Hek- liong-hwe dan Pek- hoa-pang sama berlomba berusaha mencari obat penawar getah beracun.

Kini jelas tujuan Hek-liong-hwe adalah untuk menga mbil daftar nama anggota Thay-yang-kau. Demikian pula Thay-siang dari Pek- hoa-pang, tujuannya tentu pada ajaran ilmu pedang yang tertera di dinding gua peninggalan Tiong-yang Cinjin.

Kini persoalannya se makin je las lagi bahwa Thay-siang Pek- hoa- pang itu adalah puteri tunggal Lohwecu yang minggat, yaitu nona Ji-hoa. Dengan mengelus jenggot Yong King-tio ng bertanya: "Kongcu mengerti soal apa?"

"Bahwa Hek-liong-hwe sengaja menculik Tong- losianseng dari Sujwan, Unlocengcu dari Ling- la m, Lok-san Taysu dari Siau-lim-s i serta Cu-cengcu pemilik Liong-binsanceng, mereka ditekan dan diperas untuk menciptakan obat penawar getah beracun, tujuannya terang adalah daftar anggota yang berada di dasar kola m."

"Betul," Yong King-tiong mengangguk, "tapi ada satu hal yang mereka lupakan, yaitu kenapa ibumu me mbawa lari pula Leliong- cu."

"Leliong-cu, apakah dapat menawarkan getah beracun dalam kola m?"

"Agaknya ibumu tidak menjelas kan seluruh persoalan ini kepada Kongcu, tak heran kau kebingungan.”

"Me mangnya masih ada rahasia lainnya?" tanya Kun- gi terbeliak. "Leliong-cu me mang dapat menawarkan segala maca m racun2

aneh di dunia ini, tapi mut iara itu masih punya khasiat lainnya pula, yaitu masuk air tidak basah, ma ka iapun dina ma kan juga Huncui- cu," sampai di sini dia menatap Kun-gi, katanya pula. "sekarang tentu Kongcu ma klum kenapa Losiu rela hidup terhina sela ma dua puluh tahun ini, karena dengan penuh harapan menunggu kedatangan Kongcu."

"Jadi Lopek ingin Siautit terjun ke dasar kolam masuk ke ka mar gua itu?"

Mendadak sikap Yong King-tiong tampa k serius, katanya: "Betul, kini Kongcu me mikul dua tugas berat yang amat penting artinya. Pertama untuk menuntut balas ke matian ayahmu kau harus pelajari seluruh ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin secara lengkap, karena sejak kecil Han Janto dibimbing dan diasuh oleh Lohwecu, Lohwecu telah mengajarkan segala ke ma mpuannya tanpa batas kepadanya, apa yang ibumu ajarkan pada mu, tentu diapun bisa, bicara soal Hwi-liong-sa m-kia m, dalam hal Lwekang jelas dia lebih kuat daripada kau, maka hanya bila kau berhasil me mpelajar i seluruh ilmu pedang itu secara lengkap baru kau akan bisa menga lahkan dia."

Ling Kun-gi tertunduk sa mbil me ngiakan.

"Kedua, daftar anggota Thay-yang-kau yang tersimpan dalam kamar gua itu harus segera kau hancur leburkan."

"Lho, kenapa dihancurkan malah?"

"Daftar itu dibuat pada puluhan tahun yang lalu, waktu itu Tuan Puteri ada kontak dengan semua aliran dan golongan patriot hendak bergerak dan penguasa sekarang, tapi hal itu ber-larut2 sampai sekarang, padahal kerajaan Boan kini sudah bercokol kukuh dan kuat berkuasa, di samping kelo mpo k2 anggota Thay-yang-kau yang tersebar luas di-mana2 banyak yang sudah bubar atau tida aktif lagi, maka daftar anggota itu sudah tidak berarti pula, tapi bila daftar ini terjatuh ke tangan pihak kerajaan, entah betapa banyak jiwa yang akan menjadi korban, daripada menimbulkan bencana bukankah lebih baik dihancurkan saja"

Kun-gi berdiri, katanya: "Siautit perhatikan pesan ini, lalu bagaimana cara untuk pergi ke Hek-liong-ta m?"

"Silakan duduk Kongcu, Hek- liong-ta m dibangun oleh Sinswi-cu secara cermat dan mengagumkan sekali, umpa ma sudah me miliki Leliong- cu, kalau tidak tahu cara mengatasi dan tidak punya kunci rahasia pembukanya juga sia2 belaka. Setelah meningga lkan ka mar ini kita takkan boleh berbicara lagi, maka di sini Losiu perlu menje laskan semua rahasia yang ada di dalamnya kepadamu," sembari bicara dari lengan bajunya dia merogoh keluar segulung kertas yang terbuat dari kulit do mba, terus dibeber di atas meja.

Dia menuding gambar2 yang tertera diatas kertas, katanya: "Luas kolam ini dua puluh e mpat tombak: pada dinding curam sebelah utara terdapat sebuah patung batu berbentuk kepala naga, pancuran getah beracun keluar dari mulut kepala naga ini, getah beracun terus mengalir tidak pernah putus, dengan Pia-houkang (ilmu cicak merayap) kau harus melorot turun ke bawah sa mpa i dasar kola m, untung Leliong-cu dapat me mberi penerangan, di bawah kau bisa melihat sebuah gelang baja yang kuning mengkilap, dengan tenaga Tay-lat-kim-kong-jiu-hoat dari Siau-lim-s i, tariklah sekuat tenagamu, maka aliran getah dari mulut naga akan berhenti, sementara getah di dalam ko-la m akan mengalir keluar me lalui delapan lubang ke je mbangan yang tersembunyi di dasar lain, volume air akan cepat menurun, di dasar kolam terdapat sebuah batu karang yang menonjol keluar ke permukaan, setelah itu baru kau lepaskan gelang baja itu dan me lo mpat ke atas batu karang, ke mbali dengan Tay-lat-kiwi- kong-jiu kau harus menggeser sebuah batu bundar raksasa di atas batu ka-rang itu, di bawah batu itulah ada jalan rahasia menuju ke ka mar gua "

"Kalau air berhenti mengalir dari mulut naga. air kolam akan menurun, apakah orang-orang Hek-liong-hwe tidak akan tahu?" tanya Kun-gi.

"Pertanyaan bagus," ujar Yong King-tiong, "bagian dalam di antara himpitan tebing curam da-ri Hek- liong-tam itu setiap waktu tertentu pasti menimbulkan kabut tebal, terutama pada kentongan keempat dan kelima, begitu tebal kabut di sana sampa i berdiri berhadapanpun takkan bisa melihat wajah lawan, kabut akan pudar dan sirna setelah fajar menyings ing, para penjaga di luar lembah dilakukan secara bergiliran, maka tak perlu kuatir akan di ketahui orang, sekarang kau harus perhatikan lukisan ini serta mengingat letaknya di luar kepala."

"Baiklah, Siautit sudah mengingatnya."

"Bagus sekali," ujar Yong King-tiong, dia je mput kertas kulit kambing itu lalu mere masnya serta di-gosok2 di antara kedua telapak tangannya, kertas kulit ka mbing itu seketika hancur luluh dan berhamburan di lantai.

"Lopek,"   seru   Ling   Kun-gi   kaget,   "kenapa   kau menghancur kannya?" Yong King-tiong menghela napas, katanya: "Kondcu sudah datang, gambar ini tidak perlu disimpan lagi, lebih baik dihancurkan saja."

Lalu dari kantong bajunya dia keluarkan sebuah benda kuning emas yang berbentuk ikan emas sepanjang dua dim, dengan hati2 dan serius dia serahkan mainan ikan e mas itu, kepada Kun-gi, ka- tanya: "Inilah salah satu dari benda Hek-liong-hwe yang paling rahasia dan a mat penting serta besar artinya. Leliong cu dikuasai oleh Hwecu sendiri, sementara ikan e mas ini diserahkan kepada Cong-koan untuk menyimpannya, di dalam perut ikan ada tersimpan kunci untuk me mbuka ka mar gua di dasar kola m, beruntung hal ini hanya diketahui oleh Hwecu dan Hek- liong-hwe Congkoan saja, sudah dua puluh tahun lebih Losiu menyimpannya, aku sendiri belum pernah me lihatnya tentang cara me mbukanya, hanya Hwecu sendiri yang tahu, setelah berada dilorong menuju ke ka mar gua itu boleh kau bekerja menurut keadaan, untuk ini lo-siu tak bisa me mber i petunjuk apa2 lagi."

Kun-gi terima mainan ikan e mas itu, terasa bobotnya amat enteng, badan dan ekor ikan dapat bergerak, sisiknya mengkilap, mirip sekali dengan ikan asli, bagus sekali pe mbuatannya."

Yong King tiong berdiri, katanya: "Baiklah, sekarang hampir kentongan kee mpat, mar ilah kita berangkat."

Kun-gi ikut berdiri. Sekali kebut Yong King-tiong padamkan api lilin dan mengha mpir i dipan batu dan didorongnya pelan2. Melihat caranya mendorong, jelas dipan batu itu a mat berat, ma ka terdengarlah suara geseran gemuruh dari dasar lantai.

Akhirnya Yong King-tio ng berpaling, katanya: "Inilah alat rahasia yang kutiru dari ciptaan Sinswi-cu, maka tiada orang kedua yang tahu akan pintu rahasia ini, me mang terla mpau berat tapi yakin takkan konangan oleh siapapun . . . . . . . ." waktu bicara dipan batu sudah terdorong mundur lima kaki, tapi dia masih terus mendorongnya. Dari bawah lantai ta mpak mulai t imbul gerakan seiring dengan dorongan dipan batu itu, maka tampaklah sebuah lubang persegi di bawahnya. "Apakah se mua ini bikinan Lopek sendiri?" tanya Kun-gi.

Yong King-t iong sudah berhenti mendorong, katanya tertawa: "'Sudah tentu, Losiu me mpunyai dua belas ahli pedang sebagai bnak buah, tapi kecuali Siau-tao tadi, tiada bseorangpun yang menjadi orang kepercayaanku, untuk me mbuat pinto rahasia ini, aku sudah menghabiskan waktu 10 tahun."

Setiap mala m sela ma 10 tahun, tanpa tidur dan mengenal lelah me mbuat jalan rahasia di bawah tanah, betapa besar semangat dan ketekunan kerjanya sungguh harus dipuji.

Dari dalam kantongnya Yong King-tiong mengeluarkan sebuah bumbung te mbaga, kiranya sebuah obor, langsung dia menerobos turun lebih dulu ke dalam lubang di bawah tanah, katanya: "Biarlah Losiu me nuujukkan jalannya:."

"Creet" di bawah dia menyalakan obor terus melangkah turun me lalui undakan batu.

Kun-gi mengikuti langkahnya, kira2 puluhan undakan ke mudian baru jalan terasa datar dan lebar. Yong King-tiong serahkan bumbung obor kepada Kun-gi. lalu me mba lik, ternyata diatas dinding ada terasang roda besi, dengan kedua tangan dia pegang roda besi terus diputarnya pelan2. Kelihatan dia mengerahkan tenaga dan memutarnya dengan kuat. Setelah roda besi bergerak, dari dalam dinding lantas berkumandang suara gemur uh, papan batu di atas kepalanya mulai bergerak terus menutup seperti asalnya.

Ternyata Yong King-bong tidak berhenti, ia masih terus me mutar roda, Kun-gi tahu orang sedang menga lihkan dipan batu ke te mpat asalnya.

Kira2 tiga puluhan putaran ke mudian pelan2, Yong King-tiong menghentikan kerjanya, katanya dengan tertawa: "Alat rahasia ini teramat berat, kalau dibandingkan ciptaan Sinswi-cu, bedanya bagai langit dan bumi, tapi Losiu sudah merasa puas. Seorang yang asing dalam ilmu peralatan rahasia seperti ini ternyata dapat juga menciptakan alat2, rahasia seberat ini dengan kedua tangan sendiri."

"Bagi seseorang yang teguh iman dan penuh kerja yang tak kenal putus asa pasti akan mencapai cita2nya, bahwa Lopek seorang diri dapat me mbuat lorong rahasia ini, sungguh harus dipuji."

"Siang mala m yang kuharapkan hanya satu, yaitu semoga Kongcu dapat masuk ke dasar kolam dengan sela mat, menghancur kan daftar anggota Thay-yang-kau dan mempelajar i ilmu pedang peninggalan Tiong-yang Cinjin dengan se mpurna, sehingga semua aliran dan golongan di kalangan Kangouw bisa bertahan hidup sejahtera, demikian purla anak cucu para pe mbesar kerajaan   yang   terdahulu    yang    tersebar    di   mana2    bisa me mpertahankan kehidupan keluarganya, asal bibit2 Thay-yang-kau masih ada dan bersemi dalam sanubari mereka, pasti akan datang suatu ketika kekuatan perlawanan terhadap pemer intahan kerajaan yang lalim, sehingga bangsa dan tanah air dapat bebas dari jajahan musuh, itulah cita2 Losiu.

Di sa mping itu akan kubantu Kongcu  sekuat  tenaga me mberantas para penjahat dan keparat jahanam itu untuk menuntut balas sakit hati Hwecu, Losiu terhina sela ma dua puluh tahun ini, umpa ma kedua cita2 ini berhasil dengan baik, matipun aku bisa mera m," sa mpai di sini, mendadak dia bersuara lirih: "Awas, Kongcu, di depan ada sebuah pengalang batu raksasa, jangan kau me mbenturnya."

Maklumlah lorong ini dibuka oleh Yong King-tiong seorang diri dengan kedua tangannya, sudah tentu bentuknya tidak selebar dan serata lorong gua lainnya. Bukan saja terasa naik turun, demikian pula langit2 gua juga banyak terdapat batu2 padas yang menongo l keluar, maka mereka harus jalan setengah merunduk, sudah tentu Ling Kun-gi bisa berjalan hati2 karena matanya bisa melihat di tempat gelap apalagi ada penerangan obor.

Begitulah kira2 semasakan air akhirnya mereka tiba di ujung lorong, di mana terdapat sebuah dinding pengalang. Yong King- tiong berdiri tegak, ke mbali dia serahkan bumbung obor kepada Ling Kun-gi, di bawah penerangan ta mpak di dinding terdapat pula sebuah roda besi sebesar mulut mangkuk besar. Dengan kedua tangan Yong King-t iong pegang roda besi itu serta mendorongnya pelan2, katanya: "Turun dari sini, kira2 lima to mbak tingginya baru akan sa mpai di tanah datar dan letaknya tepat di sebelah kiri Hek- liong-ta m, apa yang Losiu uraikan tadi apa kau sudah ingat betul?"

"Siautit mengingatnya dengan baik," sahut Kun-gi.

Begitu didorong sekuat tenaga oleh Yong King-tio ng, sebuah batu besar bentuk bulat pelan2 lantas terdorong keluar, maka terbukalah sebuah mulut bundar di dinding, tak ubahnya seperti jendela sebuah gedung. Di roda ternyata ada sebuah rantai besi sebesar lengan tangan, maka batu besar bulat yang terdorong keluar itu tidak sampai jatuh ke bawah.

"Baiklah kau boleh turun," ucap Yong King-tiong, "ingat, sebelum fajar kau sudah harus naik ke mari, itu berarti kau hanya punya waktu satu kentongan (kira2 satu jam) berada di ka mar gua di dasar kola m, nanti Losiu akan me mbantumu dari pinggir kola m." 

"Siautit akan perhatikan pesan Lopek," sahut Kun-gi, lalu dia menerobos keluar dari lubang bulat itu, tampak di luar gua sudah diliputi kabut tebal yang ber-gulung2, pemandangan serba remang2, tiada sesuatu apapun yang bisa dilihatnya. Maka pelan2 dia menarik napas dan mengerahkan tenaga, sekali enjot tubuh terus terjun ke bawah.

Didengarnya suara lirih, tapi jelas dari sebelah atas: "Bekerja hati2 Kongcu, Losiu doakan kau berhasil."

"Dari peta tadi Kun-gi sudah tahu jelas letak Hek-liong-ta m, kalau tidak melo mpat turun ke te mpat yang gelap gulita begini pasti selangkah pun takkan ma mpu beranjak. Karena tempat dia berpijak itu adalah balok batu yang letaknya per-sis di pinggir kola m, selangkah saja lebih maju, kaki akan me nginjak tempat kosong dan terjerumus ke Hek-liong-tam. Sebetulnya dia me mbawa Leliong-cu, di te mpat gelap sinar mut iara dapat mencapai setombak jauhnya, tapi kabut tebal di sini laksana awan hitam yang pekat, maka Leliong-cu hanya bagai sinar kunang2 belaka, paling hanya ma mpu menyinari dua kaki.

Hakikatnya Kun-gi juga tidak perlu me lihat, karena dalam benaknya sudah terlukis ga mbaran akan letak kolam naga hitam di bawahnya, sejenak dia berdiri menenangkan hati, lalu menggere met menyusur dinding gunung terus maju ke arah kanan.

Kabut me mang a mat pekat, pancuran air yang gemer icik dari mulut kepala naga di sebelah depan sana masih terdengar jelas, dengan cermat Kun-gi me mperkirakan jaraknya tinggal delapan tombak lagi, maka langkahnya se makin ber-hati2.

Tengah berjalan, tiba2 terasa sebelah kakinya menginjak te mpat kosong, ternyata balok batu yang dibuat jalanan sudah berakhir. Untung dia selalu waspada, karena punggung mene mpel dinding, meski kaki menginjak te mpat kosong tubuhnya tidak segera jatuh ke bawah, segera dia kerahkan ilmu pek-houkang, dengan cara mera mbat seperti cicak dia terus menggeremet maju.

Tak la ma kemudian dia sudah mera mbat tiba di bawah kepala naga, sudah tentu iapun tidak bisa melihat kepala naga, cuma suara pancuran saja yang dia dengar di atas kepalanya dan jatuh ke bawah.

"Di sinilah te mpatnya," demikian pikir Kun-gi, sementara badannya sudah mulai melorot turun dengan cepat. Sekejap saja dia, sudah melorot tujuh to mbak, suara pancuran dalam kolom terdengar semakin keras. Kiranya   dia   sudah   hampir   t iba diper mukaan air, selepas matanya memandang kabut hitam tetap tebal, hakikatnya dia tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya.

Untung badannya tidak keciprat setetes airpun, maka dia lantas kerahkan Jiankintui, badannya terus melorot lebih turun lagi sehingga sepuluhan tomba k telah dicapainya, sungguh aneh bin ajaib, ternyata badannya tidak menjadi basah oleh air kola m. Sementara suara pancuran terdengar ber-ada di sebelah atas, jelas bahwa dirinya kini sudah tenggelam di dalam air kola m. Dia m2 dia me mbatin: "Leliong-cu me ma ng mestika aneh di dunia ini, masuk air tidak menjadikan badanku basah sedikitpun."

Mengingat waktu amat berharga, maka dia tidak ayal lagi, dia terus meluncur ke bawah, betapa cepat gerakan badannya, tahu2 kakinya sudah menginjak dasar kola m. Setelah berdiri tegak, kabut sudah tiada lagi, tapi sekelilingnya seperti di-bungkus kegelapan me lulu, berada dalam air, mes- ki badan dan pakaian tidak basah, tapi tekanan gelombang air terasa berat juga sehingga badan ikut terombang-a mbing.

Di te mpat nan gelap pada dasar kolam ini, Leliong-cu me mancarkan cahayanya yang gemilang, setombak jauhnya dapat disinarinya. Kun-gi tidak banyak pikir, dengan seksama dia periksa sekelilingnya, betul juga dilihatnya delapan tombak ditengah sana, terdapat sebuah benda bundar warna hita m, ternyata itulah gelang baja yang dicarinya itu. Dengan girang cepat dia mengha mpir i, aneh sekali menghadapi kenyataan di depan matanya, setiap kali dia bergerak maju, air di sekitar badannya seakan2 tersibak ke pinggir me mber i peluang dia berjalan maju, sedikit gerakan inipun ternyata menimbulkan reaksi cukup besar sehingga air kolam bergolak keras.

Setelah dekat dia lebih perhatikan lagi,   benda bundar itu me mang betul adalah gelang baja sebesar mulut mangkuk. Tanpa ayal dia mula i mengerahkan Tay-lik-kim-ko ng-sim-hoat, dengan kedua tangan pegang gelang baja, pelan2 dia mulai menariknya ke atas.

Jangan dikira gelang ini benda kecil, ternyata waktu ditarik beratnya ribuan kati, umpa ma Kun-gi tidak pernah meyakinkan Kim- kong-sim-hoat ja-ngan harap dia ma mpu menariknya bergerak.

Mendadak tergerak pikiran Kun-gi: "Waktu Suhu mengajarkan Kim- kong-sim-hoat beliau pernah bilang : 'Jangan kau kira pelajaran semadi sela ma tiga tahun ini merupakan ajaran berat, kelak juga pasti me mpero leh manfaatnya.' Memangnya Suhu sudah tahu bahwa hari ini aku bakal menggunakan ilmu ini dalam Hek-liong-ta m ini?" "Ayah juga murid didik Siau-lim, malah mur id Ciangbun Hong- tiang Kay-to Taysu dan belakangan diperkenalkan kepada kakek luar, waktu beliau diutus ke Hek-liong-hwe mungkin sebelumnya sudah direncanakan untuk mewariskan jabatan hwecu kepada ayah, karena kalau bukan murid Siau-lim dan tidak pernah meyakinkan Kim- kong-sim hoat, siapapun takkan ma mpu menarik gelang baja ini

. . . . . . "

Selagi berpikir itulah, sekeliling dasar kolam terdengar suara gemuruh, air menga lir ge merojok, air dalam kolam laksana diaduk mulai berkisar dan bergolak dengan hebat. Dari suaranya yang gemu-ruh, sedikitnya ada delapan tutup pintu air yang terbuka sehingga air mengalir keluar. Sudah tentu dengan menyurutnya air, tekanan air dengan gejo-laknya yang semakin besar terasa amat berat. Tapi Kun-gi tetap kerahkan ilmu Kim- kong-s im-hoat, kedua tangan dengan kencang berpegang pada gelang baja, meski air dalam kolam berpusar dengan hebat, laksana batu karang yang kukuh dia tetap berdiri di te mpatnya tanpa bergeming.

Kira2 setanakan nasi kemudian, ge muruh air yang me mbanjir keluar itu se makin reda, pusaran airpun mengecil dan tekananpun sirna, keadaan dalam kolam kembali menjadi tenang. Tahu sudah tiba saatnya, pelan2 Kun-gi lepaskan gelang baja yang dipegangnya terus maju lurus ke depan. Dia mas ih ingat batu karang yang terlukis dalam ga mbar kulit ka mbing, letaknya tepat di tengah dasar Herk-liong-ta m.

Luas Hek-liong-ta m hanya dua puluh empat tombak, dari arah manapun kau maju jaraknya tetap sama sekitar dua belas tombak, asal dirinya maju dua belas tombak, pasti akan mencapai batu karang..

Karena berada di dalam air, sudah tentu tidak bisa maju cepat2, tapi setiap langkahnya dia perhitungkan dengan baik, kira2 sepuluhan tomba k, lapat2 dilihatnya sebelah depan terdapat banyak batu2 karang yang berserakan, di bagian tengahnya mir ip gugusan sebuah bukit yang tegak menjulang di tengah kola m. Tanpa banyak pikir Kun-gi me lo mpat maju, kakinya hanya menutul tepi karang dan cepat sekali badannya sudah me ncapai puncak karang.

Puncak karang itu sudah di luar per mukaan air, keadaan sekelilingnya terasa gelap gulita pula ter-bungkus kabut tebal. Puncak karang ini ternyata meruncing kecil ke atas, tempat untuk berpijak paling hanya beberapa kaki lebarnya, cepat sekali Kun-gi sudah mene mukan batu raksasa yang bundar itu.

Batu ini mirip bola tepat bertengger di pucuk karang, besarnya kira2 dua-tiga kaki, mendekati batu bulat itu Kun-gi langsung kerahkan Kim-kong-s im-hoat, kedua tangan me meluk batu bulat terus pelan2 mengangkatnya ke atas. Batu ini hakikatnya rata dan tiada tempat untuk berpegang, apalagi sudah sekian puluh tahun terendam dalam air, bagian luarnya terbungkus lumut yang amat licin, tapi dengan mengerahkan tenaga kesepuluh jarinya Kun-gi dapat meme luk batu bulat itu dengan kencang, sekuatnya dia angkat pula sehingga batu itu mulai berge ming.

Ternyata batu ini me mang benar2 bulat mirip bola, cuma separo di antaranya sudah terendam dalam lumpur dan merekat dengan batu karang seperti berakar layaknya, waktu diangkat dari bawah seakan ada daya tarik yang amat kuat memperta-hankannya. Tapi setelah batu bola itu terangkat naik setinggi satu kaki, daya tarik ke bawah itu ternyata sirna, malah batu bulat itu berputar dan pelan2 bergerak ke atas.

Waktu Kun-gi menunduk, ternyata tepat di bawah batu bulat tersambung sebatang besi bulat sebesar lengan, kini dia t idak perlu me mbuang tenaga lagi, besi penyanggah itu telah mengangkat batu bulat itu semakin tinggi. Maka muncullah sebuah lubang bundar di bawah batu bulat, lubang di bawahnya tampak gelap tak kelihatan dasarnya.

Kun-gi segera melangkah masuk dan turun ke dalam lubang bundar itu, lapat2 dilihatnya ada undakan batu yang menjurus turun diapit dinding yang sempit. Lorong berundakan ini hanya cukup untuk jalan satu orang, maka seseorang yang berjalan turun tak mungkin menga mati keadaan sekelilingnya, ter-paksa kedua kakinya saja yang menggeremet maju. Kira2 lima puluhan undakan batu ke mudian, mendadak lorong se mpit ini belok miring, terasa oleh Kun-gi bahwa lorong undakan ini dari lurus me nurun menjadi berputar melingkar, ma lah lingkaran ini agaknya amat besar. Menurut perhitungannya, seolah2 dia berjalan melingkari sebuah kamar batu bulat yang besar sekali, paling tidak ada puluhan tombak luasnya.

Tak la ma ke mudian, undakan batupun berakhir waktu Kun-gi angkat kepala, kiranya kini dirinya berdiri diserambi yang cukup lebar, serambi ini ternyata me mang me mbundar. Rekaannya ternyata tidak salah, serambi yang me mbundar ini melingkar i sebuah ka mar batu yang berbentuk bulat.

Kamar batu ini terdapat sebuah pintu besar warna merah darah. Sudah tentu pintu batu ini ter-tutup rapat. Beberapa langkah Kun-gi beranjak maju, didapatinya ka mar ini ada beberapa pintu, malah bentuk se muanya sama dan bercat merah pula.

Karena kamar ini bulat, jarak pintu2 itu sama, lalu pada pintu manakah dirinya harus masuk?

Maka dia teringat akan perkataan Yong King-tiong: `Hek- liong- hwe Congkoan hanya dikuasai ikan emas ini, sementara Hwecu menyimpan Leliong-cu, kecuali Hwecu tiada orang lain yang tahu bagaimana me mbukanya." Bahwasanya Yong King-tiong belum pernah datang kemari, sudah tentu sebelumnya juga tidak terpikir dibawah sini terdapat pintu sebanyak ini sehingga me mbingungkan.

Maju lebih lanjut, dilihatnya pintu bercat merah di sini juga tertutup rapat dan kukuh tak bergeming, tiada lubang kunci lagi, me mangnya ikan e mas yang di terima dari Yong King-t iong ini untuk apa? Serta merta dia mengeluar kan ikan emas itu, dengan seksama dia perhatikan dan dibolak-ba lik sekian la manya.

Ikan e mas ini terang bukan terbuat dari emas atau perak, bukan tembaga juga bukan dari besi, kalau ditaruh di telapak tangan, kepala dan ekornya bisa bergerak seperti ikan hidup sungguhan, tapi kecuali pe mbuatannya yang elok dan bagus, sungguh sukar diraba di mana letak keistimewaannya? Yong King-t iong bilang diperut ikan ada tersimpan kunci rahasia untuk me mbuka pintu di sini, lalu bagaimana harus mengeluarkannya? Dengan seksa ma dia bolak-balik ikan e mas itu sekian la manya, sungguh dia tidak habis mengerti cara bagaimana me mbuka perut ikan dan mengeluar kan kunci dari dala mnya.

Kedua tangan coba pegang ekor ikan, tatkala dia perhatikan sisik ikan yang ke milau itu serta me mikir kan di sisik mana kah kiranya letak rahasianya untuk me mbuka perutnya? Tak terduga waktu tangan kanannya pegang kepala ikan, tanpa sengaja jarinya menyentuh mata ikan sebelah kanan, segera terdengar suara "klik" yang lirih, tertampak mulut ikan yang semula terkatup kini terpentang, dari mulutnya ini menjulur keluar sepotong bumbung kecil halus warna kuning e mas. .

Penemuan yang tidak terpikir sebelumnya ini sudah tentu a mat menggirangkan, dengan hati2 dia lolos bumbung halus itu, panjang bumbung kuning ini hanya setengah dim, enteng sekali, belum lagi dia se mpat perhatikan lebih lanjut, bumbung halus kecil itu tahu2 sudah merekah dengan sendirinya, di tengahnya tersimpan segulung kertas tipis.

Hati2 Kun-gi me mbeber gulungan kertas tipis itu, lebarnya juga hanya setengah dim, begitu tipis dan halus sekali kertas ini, entah terbuat dari bahan apa, di atas kertas tipis ada gambar sebuah Pat- kwa. Pada setiap segi dari pintu2 itu terdapat kata penjelasannya, tulisannya kecil pula, tapi tulisannya a mat rapi jelas. Menurut penjelasan itu, pada delapan pintu itu tiga di antaranya merupa kan jalan penyelamat, sementara lima yang lain bisa menyesatkan dan me mbahayakan, keluar masuk dari setiap pintu juga ada ketentuannya, sekali salah langkah fatal akibatnya.

Dengan seksa ma Kun-gi menghitung dengan penuh perhatian, letak dari ja lan penyela mat berada di barat laut dan timur laut, maka dia ingat2 letak dari kedua pintu ini, la lu dia gulung pula ker- tas itu serta dimasukkan ke dalam bumbung, dengan jarinya dia sentuh mata kiri ikan sehingga mulut ikan terpentang, dia masukkan pula bumbung kuning itu ke dalam mulut ikan, lekas jarinya menarik balik letak mata ikan, "klik", mulut ikan ke mba li terkatup rapat. Setelah menyimpan ikan e mas itu ke dalam saku, Kun-gi beranjak menuju ke pintu sesuai petunjuk tadi.

Delapan pintu dari ka mar bundar ini bentuknya serupa tanpa tanda2 tertentu, orang jadi sukar me mbedakan mana ja lan penyelamat dan mana yang menyesatkan. Apalagi berada di dasar bumi ini sukar me mbedakan arah. Tapi Kun-gi menga mbil patokan gambar di mana ujung undakan batu berada, ujung undakan batu terletak di selatan maka bila diurutkan dari selatan menuju ke timur diteruskan ke utara, maka akhirnya dia akan tiba pintu penyela mat yang terletak di barat laut.

Dalam hati dia sudah perhitungkan pintu penyelamat adalah pintu keenam dari selatan, kini dia sudah berada di depan pintu keenam menurut perhitungannya, maka tanpa ragu lagi segera dia mendorongnya.

Kedua daun pintu warna merah itu ternyata dengan mudah terbuka. Kun-gi langsung masuk berkat cahaya mutiara, dengan seksama dia a mat2i keadaan kamar, itulah sebuah lorong panjang selebar satu tombak, kedua sisi dindingnya terbikin dari mar mer hijau, demikian pula lantainya dile m-bari mar mer warna-warni yang indah sekali. Kecuali itu tiada sesuatu benda apapun yang menarik per-hatiannya.

Lorong ini kira2 sedalam lima to mbak, di ujung lorong diadang dinding batu pualam, dinding war-na hijau ini terdapat sebuah pintu warna hijau pupus, belum lagi dia beranjak lebih lanjut daun pintu warna hijau itu pelan2 terbuka sendiri. Tanpa ayal Kun-gi masuk ke situ, setelah dia berada di balik pintu, daun pintu itupun menutup sendirinya.

Sudah tentu Kun-gi t idak peduli, karena setelah dirinya masuk dia sudah merancang rencana untuk keluar lewat jalan lain. Tapi setelah dia berada di belakang pintu seketika dia me lenggong. Karena menur ut rekaannya, kamar di belakang pintu hijau ini pasti adalah ka mar batu di mana ilmu pedang peninggalan Tiong- yang Cinjin terukir di dinding. Tak nyana yang terpampang di hadapannya sekarang tak lebih hanyalah sebuah kamar batu bentuk bulat seluas dua tomba k, kecuali sekeliling tetap ada delapan pintu yang terpencar, tepat di tengah ka mar terdapat sebuah Hiolo besar terbuat dari tembaga setinggi manusia, selain itu tiada benda lainnya lagi.

Dia m2 Kun-gi menggerutu dalam hati, batinnya: "Tempat ini hakikatnya tidak sesuai dengan ka mar batu yang diceritakan Yong King Tiong, me mangnya aku salah masuk dari pintu yang keliru?" Karena merasa bimbang, serta merta langkahnyapun berhenti.

Pada saat dia melongo itulah tiba2 dilihatnya Hiolo tembaga yang tinggi itu pelan2 bergerak me mutar.

Sebetulnya Kun-gi juga maklum bahwa ka mar2 disini adalah buah karya Sinswi-cu, setiap pintu me miliki alat rahasia yang berbeda, kalau tidak, setelah dirinya me masuki pintu tadi pintu hijau batu pualam itu takkan mungkin bisa menutup sendirinya. Dari sini dapatlah disimpulkan, sejak dirinya mula i me masuki pintu dari barat laut tadi, alat2 rahasia di sini sudah mulai bergerak seluruhnya, maka berputarnya Hiolo raksasa inipun tak perlu dibuat heran.

Setelah direnungkan dengan kepala dingin, akhirnya dia berkeputusan untuk berdiri tegak tak bergerak saja, akan dia saksikan perubahan yang terjadi selanjutnya.

Setelah Hiolo tembaga itu berputar satu lingkaran, tiba2 malah ambles turun ke bawah lantai, maka terunjuklah sebuah lubang bundar di lantai mar mer.

Tergerak pikiran Kun-gi, pikirnya: "Mungkinkah ka mar batu yang dimaksud berada di bawah lubang itu?"

Baru sekarang kakinya hendak bergerak, mendadak iapun berpikir pula: "Tak mungkin, kalau aku turun, cara bagaimana pula kunaik ke mari, padahal ka mar bulat ini terdapat delapan pintu yang mirip satu sama yang lain dan sukar dibedakan, bagaimana aku bisa me mbedakan pintu yang ma-na mer upakan ja lan hidup untuk keluar? Bila kesasar, akibatnya tentu fatal."

Karena itu diam2 ia me mperhitungkan, kini dia berdiri ke arah sana, pintu di belakangnya adalah jalan hidup masuk ke ka mar ini, untuk keluar harus lewat ka mar kedua dari sebelah kiri.

Maka dia menge luarkan tiga batang duri runcing, satu dia taruh di lantai sebagai tanda tempatnya berpijak, lalu dia menuju lubang di tengah ka mar itu.

Setiba di pinggir lubang dia me longak ke bawah, lubang di bawah ini kosong melo mpong t iada undakan batu segala, keadaannyapun gelap gulita. Ling Kun-gi tidak berani bertidak gegabah, Leliong-cu dia keluarkan, di bawah penerangan cahaya mu-tiara baru dia bisa me lihat bahwa di bawah adalah sebuah ka mar batu yang besar dan luasnya mir ip ka mar atas di mana sekarang dia berada. Hiolo tembaga tadipun ta mpak tegak di tengah ka mar bawah, tinggi lubang kira2 ada dua to mbak.

Dengan hati2 Kun-gi julurkan dulu kedua kakinya terus menerobos turun, sebelumnya dengan tepat sudah dia perhitungkan, begitu tubuhnya me layang turun dan sebelum menyentuh Hiolo dengan tangkas ia jumpalitan sekali sehingga badannya anjlok tepat di sebelah Hiolo.

Setelah berdiri tegak dia angkat tinggi Leliong-cu sa mbil mengawasi keadaan ka mar, ternyata bentuk kamar di bawah ini bulat telur, pada dinding di depan kanan-kiri me ma ng terdapat gambar ukiran yang taja m, tepat di bawah dinding di depannya terdapat sebuah meja sempit panjang yang terbuat dari batu hijau, di atas meja sempit ini tertaruh sebuab kotak kecil dari kayu cendana, agaknya dalam kotak cendana itulah daftar anggota Thay- yang-kau disimpan, di samping itu terdapat sebuah tatakan lilin dengan sisa lilin yang tinggal separo.

Hiolo te mbaga terletak tak jauh di depan meja, kecuali semua ini tiada benda lainnya lagi, pada dinding pualam di depannya sebetulnya terdapat sebuah pintu, tapi kini sudah tersumbat oleh batu hijau.

Sedikit menerawang, mengingat waktunya amat mendesak, ma ka kerja pertama yang harus segera dia lakukan adalah menghancur kan daftar anggota Thay-yang-kau, sisa waktunya untuk me mpelajari lebih mendala m ilmu pedang yang terukir di dinding, berapa banyak berhasil dia pelajari bergantung dari waktu dan kecerdasannya. Setelah berkeputusan, segera dia mendekat meja se mpit, dikeluarkan ketikan api serta menyulut lilin.

Lalu kotak cendana dia angkat kesa mping, ge mbo k te mbaga dia tabas putus dengan Seng-ka-kia m serta me mbuka tutupnya, ternyata kotak cendana setinggi dua kaki ini terbagi dua susun, susun atas dibatasi kayu yang amat cetek sekali, di mana terdapat buku tulisan tangan, pada sampul buku tertera huruf2 yang berbunyi "Thay-yang-yam-sim- hoat"

Tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Mungkin ini buku catatan Tuan Puteri dari hasil ciptaannya."

Ia coba me mba lik le mbaran pertama, tampa k le mbar perta ma me muat ilmu pelajaran Thay-yang-sinkang, disusul lagi adalah Thay-yang-cay, Thay-yang-hu-hoat-pat sek, buku setebal sepuluh le mbar ini ternyata penuh tulisan hurup2 bergaya indah, dipinggir tulisan terdapat pula ga mbar dan keterangannya.

"Inilah ilmu ciptaan Tuan Puteri, sudah tentu tak boleh dihancurkan," demikian batin Kun-gi, dengan hati2 dan le mpit buku tipis ini la lu disimpan ke dalam sakunya.

Di lapisan bawah kotak terdapat tiga buku tebal yang penuh tertulia nama dan ala mat tokoh2 silat dari berbagai aliran, pada sampul buku pertama terdapat judul yang berbunyi "daftar anggota Thay-yang-kau, pahlawan pejuang kerajaan Beng pada jaman Ting- bin."

Secara iseng Kun-gi me mbalik beberapa halaman, dilihatnya nama tokoh2 kena maan dari Siau-lim, Hoa-san, Bu-tong, Liok-hap bun, Pat-kwa-bun dan lain2 aliran, ada pula orang2 Thianli kau, Toa-to hwe, Kay-pang, Tong-thing-pang dan banyak Pang atau Hwe lainnya, ada pula keluarga dari marga Ban di Ui-san, demikian pula orang2 dari keluaga Tong dari Sujwan serta keluarga besar persilatan lainnya yang kena maan di Kangouw.

Dia m2 Kun-gi menghela napas, bahwa untuk me mbangkitkan lagi kerajaan leluhurnya betapa berat dan susah payah Tuan Puteri telah berkelana di Kangouw, daftar nama tokoh2 persilatan yang kesohor serta gembong2 dari golongan hitam dan aliran putih ini sebagai bukti nyata bahwa dengan dukungan kaum patriot bangsa dari kaum persilatan, usaha Tuan Puteri masih mengala mi kegagalan, ini hanya boleh dikatakan takdir me ma ng sudah me nghendaki demikian.

Apa yang dikatakan Yong King-tiong dalam hal ini me ma ng tidak salah, bila ketiga buku daftar ini terjatuh ke tangan pihak kerajaan yang berkuasa sekarang, meski banyak tokoh2 yang namanya tercantum dalam daftar ini sudah almarhum, tapi anak cucu mereka akan tetap ditangkap dan dipancung kepalanya, kalau hal ini betul2 terjadi betapa luas rentetan penangkapan besar2an ini, sungguh akan banyak sekali korban jiwa manus ia yang tidak berdosa. Maka dia tidak banyak lihat lagi, ketiga buku dia tumpuk di atas meja, ia mengerahkan Lwekang pada kedua tangannya pelan2 dia mene kan tumpukan buku itu.

Kira2 sepemasakan air ke mudian baru dia menar ik tangannya, sekenanya dia menepuk sekali, maka tumpukan tiga buku itu seketika berha mburan me njadi bubuk le mbut tercecer di lantai.

Dua tugas sudah dia laksanakan satu, kini tiba saatnya dia mulai me mpe lajari dan menyela mi ajaran ilmu pedang peninggalan Tiong- yang Cinjin di dinding. Maka dia melewati meja se mpit mende kati dinding serta me mandang dengan cer mat.

Dinding pualam seluas satu to mbak ini terukir seorang kakek berdandan sebagai Tosu (ima m) duduk bersimpuh, gayanya duduk bersimpuh ini ta mpak bayangan perubahan dari tiga gaya lanjut-an, gaya yang satu dengan yang lain agak aneh dan berbeda, perubahan gaya si ima m mirip seorang yang lagi melangkah di tengah awan, tam-pak hidup dan mengagumkan sekali.

Di sa mping ukiran si ima m tua bersimpuh di-beri keterangan sebagai petunjuk latihan terdiri da-ri empat baris tulisan. Sambil berdiri me matung me musatkan daya pikirnya, Kun-gi terpesona sekian la manya, tapi kemudian ia seperti berhasil menyela mi sesuatu, terasa bahwa ilmu yang ter-ukir di dinding ini adalah ilmu latihan pernapasan tingkat tinggi dari aliran To (Tau). Setelah yakin apal benar akan gambar ini baru Kun- gi pindah ke dinding kiri.

Dinding di sini berbentuk agak panjang, dari kanan ke kiri seluruhnya ada enam ga mbar ukir-an, seorang yang sedang bermain pedang, ada yang sedang me lo mpat, menus uk dan menabas, gayanya indah dan mengagumkan.

Tiga ukiran dibagian terdepan adalah Hwi-liong-sa m- kia m, cuma tiada huruf keterangan di dinding, juga tiada nama gaya dan gerakannya, kini jelas bahwa nama2 Sinliong jut hun, Liong-janih-ya dan jurus lainnya adalah nama2 pemberian Lohwecu (kakek luar) sendiri.

Dari gambar pertama ber-turut2 dia pelajari sampai gambar keenam, setiap gambar dia perhatikan dengan segenap daya pikirnya, setiap gerak jurus dan variasinya dia ikuti dengan cer mat, di samping jari2 tangan bergerak seperti pedang menirukan gaya permainan ga mbar ukiran.