Pendekar Kidal Jilid 25

Jilid 25

Sebelum la mpu menyala tadi Ling Kun-gi su-dah menar ik mundur Kongsun Siang dan Ting Kiau, kini mereka berdiri dalam posisi segi tiga. Kebetulan Ling Kun-gi berhadapan dengan Tun Thianki, sekilas sorot matanya menyapu, dengan angkuh dia berkata: "Kukira kalian mau pa mer barisan apa, ternyata saudara Tun pula yang unjuk gigi."

"Orang she Ling," seru Tun Thiankhi, "kau tahu barisan apakah ini?"

”Cayhe tidak perlu tahu barisan apa segala, yang penting aku bisa mengobrak abriknya."

"Keparat sombong," teriak Tun Thiankhi, "kau ma mpu mengobra k-abrik Cap coat kia m-tin? Bila barisan betul2 sudah kugerakkan, tanggung kepala mu akan terpenggal seketika, bukan saja jiwa me layang, tubuhpun mungkin akan tercacah luluh"

Tanpa diminta dia sudah terpancing menyebutkan nama barisan ini, yaitu Cap-coat-kiam-t in (barisan pedang top sepuluh). Mungkin ancamannya terlalu me mbual, tapi dari pernyataannya ini dapat pula dinila i bahwa barisan pedang ini pasti me miliki kehebatannya yang tidak boleh di pandang enteng. Apalagi kesepuluh orang pelaku2 barisan ini se mua me miliki Lwekang yang sukar diukur tingkatannya sorot matanya tajam, pedang terpeluk di depan dada, mereka berdiri tegak sekukuh gunung, sekilas pandang orang sudah akan ma klum bahwa mereka adalah ahli2 pedang yang berkepandaian tinggi.

Terutama Tun Thianlay, sebagai ko mandan ronda Hwi-liong-tong, kedudukannya saja tidak rendah, tapi dia toh merupakan satu saja di antara ke 10 orang   ini, bukan   karena jabatannya sebagai ko mandan ronda lantas dia harus lebih di agulkan. Dari sini dapat pula disimpulkan bahwa se mbilan orang yang lain me mpunyai jabatan yang sejajar dengan komandan ronda. Bagi setiap insan persilatan kalau dia ingin angkat na ma ma ka dia harus me miliki kepandaian sejati. Bahwa 10 orang ini terpilih dan ikut dalam Cap coat kia m- tin, ma ka tak perlu disangsikan bahwa mereka me mang jago2 kosen kelas wahid dari Hwi-liong-tong.

"Orang she Ling," bentak Tun Thianlay, "kalau sekarang kau buang pedang dan menyerah mas ih se mpat menyela matkan jiwa mu." Dia tetap menghendaki Ling Kun-gi menyerah.

"Agaknya kau yang menjadi pemimpin Cap-coat-kiam-tin," demikian kata Kun-gi sa mbil menatap Tun Thiankhi, kukira tak perlu banyak bicara lagi, silakan mulai gerakkan barisanmu."

"Kalau barisan bergerak, umpa ma kau tumbuh sayap juga jangan harap bisa lolos," jengek Tun Thiankhi.

Kun gi tertawa, katanya: "Kalau aku ingin lari, buat apa harus kuluruk ke Hwi- liong-tong sini."

Tun Thiankhi mendengus, pedang lebarnya terayun ke atas terus me mbe lah lurus ke arah Ling Kun-gi. Bacokan pedangnya ini ternyata merupakan aba2 pula bagi barisan pedangnya. ma ka barisanpun segera bergerak, sepuluh batang pedang hitam serentak menyerang ketengah dari arah posisi masing2. Hawa pedang segera menimbulkan kesiur angin dingin.

"Awas, hadapi musuh dengan hati2," bentak Kun-gi. Gerakannya sebat luar biasa, Ih-thiankia m dia pindah ke tangan kiri, bayangannya tiba2 menyerobot ke sebelah kiri dengan jurus Tiang- hong-toh-yam, dari kanan me nyapu ke kiri. Sedang tangan kanan menge luarkan pula Seng-ka- kiam yang pandak, dengan tipu Yantiau thian ka, ujung pedangnya menutul ke arah pedang lebar Tun Thiankhi.

Serempak pedang Kongsun Siang dan kipas Ting Kiaupun sudah bergerak, tapi sapuan pedang Kun-gi ke arah kiri laksana mata rantai yang kuat paling tidak lima batang pedang musuh di sebelah kiri telah kena dibendungnya. Agaknya Tun Thian khi tidak ingin berhantam secara keras dengan Ling Kun-gi, di tengah jalan gerak pedang lebarnya berubah, sekali mundur la lu dilancarkan pula, kali ini menusuk iga kiri Kun-gi.

Sekaligus Kun-gi menangkis, serangan lima orang musuh, cahaya Ih-thiankhia m mencorong terang, pedang bergerak dari atas ke bawah dengan tipu Sinliong-wi-thau (naga sakti berpaling kepala). "Trang", ke mbali dia tangkis pedang lebar Tunthiankhi. Tak berhenti sampai di sini, badannya ikut bergerak dari kiri ke kanan, pedang pandak di tangan kanan menyerang dengan jurus Liong jiau-hoat- hun (cakar naga menyingkap mega), cahaya hijau kemilau sekaligus mendesak   tiga   orang    di   sebelah    kanan,    pedangnya   itu me mancarkan cahaya menyilaukan, di bawah landasan Lwekangnya yang tinggi lagi, maka perbawanya hebat luar biasa, tiga orang di sebelah kanan dipaksa me lo mpat mundur.

Sekali gebrak, delapan musuh dari Cap coat-kia m tin telah dibikin kerepotan.

Seorang kakek ubanan di sebelah kanan tam- pak me mbentak gusar: "Cepat juga bocah ini ber-gerak.”

Di tengah suara bentakannya, mendadak dia me lo mpat ke atas, sinar pedang berkelebat, beruntun dua jurus dia mencecar Ling Kun-gi. Seorang lagi me mbarengi menerjang maju, pedangnya menusuk perut.

Pedang pandak Kun-gi cepat menyampuk ke kanan, sedikit menggetar pedang, hawa pedang di sertai kemilau cahayanya menge lilingi badan, sekaligus dua serangan lawannya kena dibendungnya di luar lingkaran.

Melihat betapa tangkasnya Ling Kun gi, bertambah murka Tun Thiankhi, sembari menggerung, lengan kanan terangkat, pedang lebarpun menggar is sebuah lingkaran di tengah udara, berbareng dia menubruk maju, sejalur bayangan hitam tahu2 me mbelah ke batok kepala Ling Kun-gi. Karena gerak lingkaran pedang lebarnya ini maka ke10 pelaku Cap-coat-tinmendadak bergerak saling pindah te mpat, setiap kali me langkah pindah tempat pasti menusuk sekali. Begitulah secara bergantian 10 orang terus saling berganti posisi disertai pula tusukan pedang mereka.

Hal ini menimbulkan perubahan yang amat gawat bagi Kun-gi bertiga. Karena setiap berubah posisi, ke10 orang itu pasti menusuk sekali, ma lish setiap tusukan pedang mengincar Hiat-to me matikan yang harus di sela matkan sebelum se mpat balas menyerang, tapi begitu kau menangkis dan balas menyerang, lawan sudah melo mpat pergi ke te mpat lain, sementara pedang orang lain segera ganti menganca m Hiat-tomu. Lebih hebat lagi ka-rena ke10 orang ini semua adalah ahli pedang yang me miliki kepandaian t ingkat tinggi, setiap ju-rus ilmu pedang yang mereka lancarkan me miliki keistimewaannya sendiri2, ada yang lincah, ada yang bertenaga kuat, ada pula yang menyerang secara enteng dan ganas, seperti ma in sulap saja, gerakkannya sukar diikuti mata. Baik serangan lincah, berat, ganas atau serba me mbingungkan, yang jelas setiap jurus serangan mereka ini se muanya lihay me matikan.

Barisan pedang ini terus bergerak secara sere mpak berganti kedudukan, cara kerja sama dalam menyerangpun a mat serasi, sungguh menakjubkan dan a mat mengagumkan.

Lawan yang terjatuh ke dalam lingkaran barisan, betapapun tinggi kepandaian silatnya, dalam situasi seperti ini pasti kerepotan setengah mati, tangkis sana tak sempat me mbendung serangan yang lain, serba terdesak. Empat lentera yang menerangi pendopo cukup benderang, bayangan orang melulu yang tampa k berseliweran di tengah desir angin pedang,   hakikatnya sukar me mbedakan wajah orang lagi.

Deru samberan angin pedang begitu kencang, tapi tak pernah terdengar suara dering pedang sa-ling beradu. Maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan berbahaya keadaan Ling Kun-gi bertiga. Tun Thian khi merupakan kunci atau poros dari barisan ke sepuluh jago pedang ini, dia pun mengikuti gerak barisan, bersama dengan sepuluh orang yang lain bergerak berpindah posisi, lompat sana menyelinap ke mari, cuma gerak-geriknya lebih leluasa dan bebas tidak terikat oleh gerakan sere mpet kawannya. Sehingga setiap gerakannya bukan saja tidak menjadi penghalang dan rintangan para teman2nya, malah selalu me mberi peluang dan me mudahkan sepuluh orang ahli pedang itu melancar kan serangannya. Apalagi setiap perkembangan perlawanan musuh selalu berada dalam pengawasannya, kemanapun bergerak yang diperhatikan hanya Ling Kun-gi saja, gaya permainan pedang lebar ditangannya kelihatan amat sederhana, tapi yang benar setiap jurus pedangnya selalu dapat kerja sama dengan ke sepuluh pedang temannya.

Thiansan kia m-hoat me mang a mat sederhana, setiap tusukan tampaknya hanya serangan yang sepele, lugu dan tidak main gertak, tapi Ling Kun-gi justeru harus tumplek perhatiannya lebih banyak untuk me layani serangannya daripada me mecah sisa perhatiannya untuk menghadapi rangsakan pedang ke10 musuhnya.

Sungguh perte mpuran yang cukup sengit, hebat dan dahsyat, pertempuran yang adu tenaga, dan pikiran tapi juga pertempuran adu kecerdikan. Selama Kun- gi menge mbara, baru pertama kali ini dia menghadapi pertempuran sengit dan amat me meras keringatnya seperti sekarang ini. .

Sebelas pedang hitam yang dilumuri racun jahat berkelebat kian ke mari menimbulkan lapisan angin kencang yang selalu menerjang ke tengah lingkaran. Terpaksa Kun-gi peras segala ketangkasannya, dengan pedang panjang-pendek ditangan, dia menggaris dua lintang me mbujur miring, cahaya pedangnya tampak kemilau terang menyilaukan, sekuat tenaga dia bendung seluruh rangsakan musuh. Bukan saja ia harus perhatikan perubahan permainan barisan lawan, langkah kakinya harus selalu berkisar dan pindah kedudukan, serangan setiap pedang dari segala arah yang beraneka tipu dan jurusnya, malah iapun harus pusatkan pikirannya untuk menghadapi Tun Thiankhi.

Tun Thian khi bersikap dingin kereng dan juga kejam, terutama ilmu pedangnya yang kelihatan sederhana dan tumpul, tapi hakikatnya mengandung tipu daya yang amat keji, gerakan pedangnya mantap dan berat, tapi mengandung variasi perubahan yang lincah dan enteng, agaknya dia betul2 sudah me m-pero leh intisari ajaran Thiansankia m-hoat.

Sudah tentu yang me mbuat Kun-gi kuatir adalah kesela matan Kongsun Siang dan Ting Kiau. Kalau bertanding satu lawan satu, dengan bekal kepandaian silat kedua rekannya ini, kiranya cukup untuk menandingi setiap musuh, tapi di tengah kepungan la-wan yang selalu berkisar dan hanya   kelihatan   ba-yangan   yang berlo mpatan kian ke mari, maka Kun-gi harus me mbantunya pula me mbendung serangan musuh untuk menyela matkan mere ka.

Pertempuran berjalan sedemikian rupa dahsyatnya sehingga terasa bagai langit mendung dan bumi gelap, sinar pedang dan deru angin bergolak laksana ge mpa bumi.

Keempat laki2 yang me mbawa la mpu sebagai penerangan dalam pendopo ini terdesak mundur mepet dinding.

Kun-gi  ke mbangkan  ilmu  pedangnya  dengan  seluruh ke ma mpuannya, setelah puluhan jurus, dia lantas merasakan gejala yang tidak menguntungkan pihaknya.

Perlu diketahui bahwa dari gurunya dia me miliki bekal berbagai maca m ilmu sakti, ilmu simpanannya itu sebetulnya bisa dike mbangkan dengan ko mbinas i ilmu pedangnya, tapi sekarang kedua tangan harus pegang pedang serta menghadapi rangsakan musuh, hakikatnya tiada kesempatan bagi dia untuk menge m- bangkan ilmu saktinya. Umpa ma Hwi-liong-sa m-kia m dengan jurusnya yang bernama Liong-jan in (naga berte mpur di tegalan), ilmu pedang yang khu-sus untuk menghadapi keroyokan musuh banyak tapi karena Kongsun Siang dan Ting Kiau ada di sampingnya, sulit baginya untuk menge mbangkannya, Dia yakin asal sebelah tangannya dapat bekerja secara semestinya, dua atau tiga musuh pasti dapat dia robohkan, tapi keadaan sekarang amat mendesak, tak mungkin dia melepaskan salah satu dari kedua pedang pusakanya.

maka sekarang pedang, di tangan kiri digunakan me lindungi badan, sementara pedang di tangan kanan bantu Ting Kiau bertahan,   lalu   bergantian   dengan   pedang   ditangan   kanan me lindungi badan sendiri, pedang di tangan kiri menyampuk pedang musuh untuk meno long Kongsun Siang.

Sejauh ini perte mpuran berlangsung, keadaan Kongsun Siang dan Ting Kiau betul2 sudah payah, mereka benar2 mengharapkan bantuan, untung Kun-gi telah bantu me mbendung sebagian besar serangan musuh, kalau tidak sejak tadi pasti mereka sudah terkapar tak bernyawa lagi.

Barisan pedang musuh me mang lihay, tapi kipas le mpit Ting Kiau masih bergerak dengan tangkas juga, tangkis kiri sampuk kanan, keadaannya sudah terdesak dan hanya mampu me mpertahankan diri belaka, sudah tentu hatinyapun gugup dan gelisah.

Maklumlah di dalam rangka kipas besinya itu ada tersimpan jarum2 berbisa, bila dia me mperoleh sedetik peluang me mbuka lebar kipasnya, jarum2 berbisa akan segera me mberondong keluar, paling tidak beberapa musuh pasti akan dilukai, sayang selama ini keadaannya amat gawat, tak pernah dia me mperoleh kese mpatan, kalau situasi begini ber-langsung lebih la ma tentu jiwa mereka akan terancam.

Kun-gi cukup paham, Kongsun Siang dan Ting Kiau juga maklum, tapi cara bagaimana mereka harus mengubah posisi dan merebut situasi? Sukar untuk mengatakannya. Beberapa gebrak telah berlangsung pula,   Kun-gi betul2 sudah kerahkan segala   daya ke ma mpuannya, tapi barisan pedang musuh justeru semakin rapat dan ketat, serangannya terang makin berat dan gencar.

Semula Kun-gi bertiga berdiri dalam formasi segi tiga dalam jarak cukup rapat, karena tekanan barisan pedang musuh terasa semakin berat, mereka semakin mundur dan jarak mereka tinggal dua tiga kaki. Apalagi seorang harus bertahan untuk me lindungi jiwa t iga orang, sedikit lena satu di antara mereka bertiga akan roboh binasa. Jelas keadaan gawat ini tidak boleh berlangsung terlalu la ma.

Di tengah pertempuran sengit itu, mendadak Ting Kiau berteriak: "Cong-coh, tolong kau bantu aku menahan musuh." Se mbar i berkaok kaki Ting Kiau lantas menyurut mundur.

Sudah tentu Kun-gi kaget, Seng-ka-kia m di tangan kanannya segera menyapu dengan tipu Hing-lanjianli (pagar me mbentang ribuan li), selarik cahaya hijau segera menggulung ke depan, berbareng dia bertanya: "Ting- heng apakah kau terluka?"

Daya-pedangnya yang menyapu ini sungguh hebat sekali, sedikitnya empat batang pedang musuh yang menganca m tubuh Ting Kiau telah dipatahkannya di tengah jalan.

Mendengar teriakan Ting Kiau, Tun Tiankhi mengira me mperoleh kesempatan baik, begitu Ling Kun gi menyapukan pedang tangan kanan, segera ia berkelebat maju tepat berhadapan dengan Kun-gi, pedang lebarnya dengan deru angin yang keras menusuk ke dada, serangan terjadi secepat kilat menya mbar.

Sementara itu pedang Kun-gi berhasil me matahkan e mpat pedang musuh, iapun mendapat jawaban Ting Kiau yang lagi beringas: "Ha mba baik2 saja' Belum lenyap teriakannya, kipasnya tiba2, menjeplak terbuka dibarengi suara menjepret, serumpun jarum2 halus bagai bulu kerbau segera menya mbar ke depan mengarah orang2 yang berada di depannya.

Kun-gi t idak kira bahwa Tun Thiankhi dapat menyelinap maju sedemikian cepat dan tangkas, untuk me mutar pedang me mbela diri jelas tak keburu, se mentara pedang lebar lawan sudah satu kaki di depan dadanya, jangankan Ih-thiankia m panjangnya e mpat kaki, sementara Seng-ka-kia m yang pendek juga ada dua kaki panjangnya, untuk di-tarik balik menangkis je las tidak mungkin. Sekilas darahnya tersirap, menghadapi bahaya timbut hasrat nekat menyerempet bahaya, jari2 tangan kanan yang menggengga m pedang tiba2 sedikit mengendur, jari tengah mendadak menjentik ke bawah pedang panjang musuh. Yang dilancarkan ini adalah It- cay-siankang (selentikan jari sakti), sejalur angin selentikan yang keras seketika menerjang ke depan "Creng", tepat pedang lebar lawan kena diselentiknya sehingga mental ke sa mping.

Pada saat yang sama di tengah gelak tawa Ting Kiau yang beringas, terdengar pula gerungan gusar dan jeritan yang menyayat hati.

Yang tertawa beringas adalah Ting Kiau yang berhasil menyambit serumpun jarum2 berbisa. Yang menggerung gusar dan menjerit kesakitan adalah empat orang baju hijau yang keempat pedang mereka kena disa mpuk pergi oleh pedang Ling Kun-gi. Dua orang sempat melihat bahaya, sembari menggerung gusar mereka putar pedang bagai kitiran sambil me lo mpat mundur, celakalah dua temannya yang melo mpat maju belakangan, baru sa-ja mereka mene mpati posisi, tahu2 jarum Ting Kiau sudah me mapa k mereka, untuk menangkis tidak mungkin, berkelitpun tidak bisa, kontan mereka menjerit ngeri dan roboh binasa.

Mendengar gerungan gusar dan jeritan ngeri apalagi pedangnya terjentik miring lagi, keruan Tun Thiankhi kaget setengah mati, hampir saja dia tak kuasa me megang pedangnya lagi.

Bahwa jentikannrya berhasil me matahkan serangan musuh, Kun- gi segera kerjakan kedua tangannya, dengan mengembangkan Tay- beng-jance (burung galak menge mbang sayap), dua larik sinar pedangnya, tiba2 bercerai ke kanan-kiri menyapu dan dibarengi tendangan kaki mengge ledek ke arah depan dengan tipu To-sing to, Ling Kun-gi me nendang sa mbil me ngapungkan badan ke udara.

Karena pedang tersampuk miring sehingga dada Tun Thiankhi terbuka, sementara jarak mereka sedemikian dekat, untuk berkelit sudah tidak mungkin lagi. "Blang", dengan telak tendangan Kun-gi tepat mengenai dadanya, mulut menguak keras, badan seketika mence lat me la mpaui kepala orang banyak sa mbil menye mbur kan darah dan ter-banting keras di luar arena, napasnya putus seketika. Dua orang roboh binasa terkena jarum berbisa, Tun Thiankhi yang pegang kendali dan menjadi pimpinan barisan Cap-coat-kia m- tin ini juga binasa ditendang Ling Kun-gi, pelaku2 barisan yang lain tidak tahu kalau Tun Thiankhi sudah putus napas, dikala pertempuran me muncak begini sengit dan seru mendadak terjadi perubahan fatal, keruan barisan pedang menjadi kalang-kabut

Sejak mula i gebrak Kongsun Siang selalu terdesak di bawah angin, betapa gusar dan penasarnya sungguh tak terkatakan, kini me lihat ada peluang, mendadak dia menggertak keras, segera ia menubruk maju, pedangpun bekerja. "Creet", seorang baju hijau kena ditusuk iga kirinya, agaknya amarahnya betul2 me muncak, begitu ujung pedang a mbles ke iga lawan, menyusul teras dipuntir, seketika orang itu menjerit ngeri, dadanya berlobang besar dengan tulang iganya terpapas kutung seluruhnya.

Berhasil menendang roboh Tun Thiankhi, su-dah tentu semangat tempur Ling Kun-gi bertambah besar, sekali ayun tangan kiri, Ih- thiankiam me mancarkan cahaya kemilau menggulung kedepan, empat orang baju hijau tepat berada di depannya. Baru saja tangan kiri Kun-gi bergerak, tangan kanan dengan pedang pandak bergerak pula, ditengah ke milau cahaya pedangnya me mancarkan bintik2 sinar yang dingin. Kiranya Ling Kun-gi telah ke mbangkan jurus Hing- ho-liu-sa dari Tat-mo- kiam hoat yang hebat.

Empat orang berbaju hijau di depannya itu menjadi mati kutu menghadapi gerakan kedua pedang Ling Kun-gi, untuk menangkispun tak ma mpu lagi, terpaksa mereka mundur t iga langkah. Bahwa kedudukan barisan sudah goyah, para pelakunya juga sama berguguran lagi, maka Cap-coat-kia m-tin itu se makin kacau, kini kee mpat orang inipun terdesak mundur, maka pecahlah barisan pedang kesepuluh orang yang amat dibanggakan kedahsyatannya oleh Hek- liong-hwe itu.

Beruntun dua kali gerakan pedang Ling Kun-gi menahan kee mpat orang, Ting Kiau dengan kipas le mpitnya juga mencegat seorang lawan dengan per mainan kipasnya yang lihay. Di sebelah kiri Kong- sun Siang dengan gerungan mir ip serigala kelaparan menge mbangkan Thianlong-kia m-hoat, seluruh kekuatan dia kerahkan, badan bergerak setangkas 'serigala mencari mangsa di tengah gerombolan ka mbing", sinar pedangnya timbul selulup, dua orang musuh kontan dirobohkan.

Cap-coat-kiam-tin yang dibentuk dengan mengutama kan saling bantu, ber-pindah2 posisi serta saling isi dari para pelakunya yang me miliki kepandaian ilmu silat beragam itu, kini sudah tercerai-berai menjadi tiga kelo mpo k pertempuran yang berjalan sendiri2, terpaksa mereka kini harus menganda l kekuatan sendiri untuk mengadu jiwa.

Melihat Cap-coat-tin sudah pecah, semakin berkobar se mangat tempur Kun-gi, segera ia berteriak lantang: "Kongsun- heng, Ting- heng, tahan dan kurung mereka, jangan lepaskan satupun di antara mereka."

"Sret",   beruntun   tiga   kali   gerakan   pedang   Ling   Kun-gi me mancarkan cahaya pedang kemilau me mbendang empat orang berbaju hijau yang mencoba berpencar, tiba2 pedang pandak di tangan ka-nannya dia tusukan ke bawah tanah sehingga tangan kanannya sekarang tidak bersenjata.

Terdengar seorang kakek diantara musuh itu menggerung gusar, bentaknya: "Bocah keparat she Ling, kau kira kalian sudah pasti menang?"

Mendadak ia menerobos maju, pedang menu-suk lurus ke depan. Pedang itu berwarna hitam gelap menimbulkan deru angin yang keras.

Kun-gi tahu kakek ubanan ini berkepandaian paling tinggi di antara empat lawan yang ditahannya, karena dia pikir harus secepatnya mengakhiri pertempuran di sini, ma ka timbul niatnya me lenyapkan orang ini lebih dulu, segera ia me mbentak: "Sebutkan nama mu agar dapat kunilai apakah setimpal aku merenggut jiwa mu?".

Berbareng tangan kanan bergerak menepuk sekali, segulung tenaga lunak tak kelihatan menyong-song tusukan pedang lawan, tusukan pedang si kakek ternyata kena di tahannya dan me mbelo k ke sa mping.

Terkesiap si kakek, dia tarik tangannya, pedang dia tarik mundur, tapi secepat kilat dia tusukkan pula lebih keras, mulutpun menghardik:? "Lohu He Ho-bo ng adanya!"

"O, kiranya kau inilah Jit-poh-tui-hun (tujuh langkah mengejar sukma)", jengek Ling Kun-gi dingin."iblis laknat dari kalangan jahat yang membunuh mangsanya tak pernah berkedip. Bagus sekali, kedua tanganmu sudah berlumuran darah, dosamu keliwat takaran, hari ini tak dapat kua mpuni jiwa mu."

Sambil bicara dia luruskan lengan kanan ke depan, pelan2 telapak tangannya menepuk.

He Ho-hong menjadi gusar, da mperatnya: "Bocah keparat, jangan kau . . . . " sebetulnya dia hendak bilang "jangan kau takabur", tapi kata2 yang terakhir belum se mpat dia ucapkan, mendadak rona mukanya berubah hebat. Duk duk duk, tiba2 ia tergentak mundur beberapa tindak, mulut terbuka darahpun menye mbur, pelan2 badannya roboh tersungkur.

Sudah tentu kaget dan ngeri ketiga temannya menyaksikan kawannya gugur, satu di antaranya tiba2 menghardik kalap: "Hayolah kita adu jiwa dengannya!" Tiga batang pedang segera menya mbar ke depan dengan berbagai tipu ilmu pedang masing2.

Tangan kiri Kun-gi berayun beberapa kali,   Ih-thiankia m me mancarkan sinar terang, bukan saja serangan lawan dapat dipunahkan, malah badan ketiga lawan seolah terbungkus dalam sinar pedangnya, Kun-gi lantas me mbentak: "Kali-an bertiga satu persatu sebutkan nama sendiri2, ingin kutahu apakah kalian penjahat yang pantas dihukum mat i atau tidak?" Tangan kirinya menge mbangkan Tat- mo-kia m-hoat, inilah ilmu pedang pelindung Siau-lim-si, setelah digubah oleh Hoan jiu ji-lay, kini dikbe mbangkan Ling dKun-gi dengan taangan kiri, terbnyata perbawanya jauh lebih meyakinkan. Dalam sekejap saja ketiga musuh sudah terbungkus oleh cahaya pedang yang menyilaukan, la ma2 mereka menjadi pusing tujuh keliling, mata berkunang2, meski sudah terdesak dan terancam jiwanya, tapi ketiga orang tetap bandel, mereka tetap putar pedang me lawan dengan nekat.

Akhirnya Kun-gi menjadi tidak sabar, katanya sambil mendengus: "Kalian tidak mau mengenalkan diri, jelas durjana kejam kelewat takaran dosanya dan pantas dihukum mati." Belum habis ucapannya, pedang panjang ditangan kanan sudah melancar kan tiga kali serangan, dia tahan serbuan bersama ketiga musuh, berbareng sebelah kakinya menyurut mundur, tangan kanan terangkat, kembali dia menepuk sekali, yang diincar adalah laki2 yang bermuka jelek dengan daging besar menonjol di mukanya. Sudah tentu laki2 muka buruk ini kaget dan ketakutan, sekuatnya dia putar pedang me lindungi badan, tapi Mo-ni- in yang dilancarkan Ling Kun-gi mana bisa ditahan oleh daya putaran sebatang pedang. Ia menggerung tertahan, pedangnya terlempar, badan terhuyung dan akhirnya roboh tersungkur.

Dalam beberapa gebrak saja dua orang di antara empat lawan telah digasak binasa, sudah tentu dua orang yang masih sisa hidup menjadi kaget dan ketakutan, serempak mereka menyerang beberapa kali, begitu menyurut mundur, sigap sekali mereka putar badan sambil melo mpat berpencar kedua arah dan lari keluar.

Kun-gi me lotot gusar, serunya: "Kalian ingin lolos dari tangan orang she Ling, me mangnya begini mudah?" Tangan kanan mencabut Seng- ka-kia m yang menancap di tanah, sekali timpuk dia sambitkan pedang pandak itu ke arah punggung orang baju hijau yang tengah berlari ke arah pintu batu.

Begitu pedang pandak terlepas dari tangan, segera iapun melejit tinggi me ngudak ke arah orang berbaju hijau yang lain.

Mimpipun orang yang lari ke arah kanan tidak pernah menduga bahwa Ling Kun-gi akan menimpuknya dengan pedang pandak seperti le mbing, ketika dia mendengar sa mberan angin kencang, untuk berkelit sudah tidak keburu lagi. Di tengah teriakan kejutnya, tahu2 Seng-ka-kia m telah menusuk punggung dan tembus keluar dada, orang itu masih lari beberapa langkah baru ke mudian tersungkur ma mpus.

Seorang lagi lari ke arah berlawanan, ia sedang girang karena dirinya hampir mencapai pintu, mendadak pandangannya menjadi silau oleh berkelebatnya cahaya kemilau, Kun-gi ternyata sudah menukik turun mengadang di depannya.

Sekilas kaget segera orang itu mengayun tangan kirinya, segulung asap tebal tiba2 menye mbur keluar, sementara pedang di tangan kanan menyerang dengan jurus "mendorong perahu mengikut i arus air", dada

Kun-gi ditusuknya, malah sambil menyeringai seram dia menda mperat: "Anak bagus, kau terlalu pandang rendah diriku, si "pedang dalam kabut" ini."

Bu-tiong-kia m atau "pedang dalam kabut" cukup menyeramkan juga julukannya ini, dapat pula kita bayangkan betapa kejamnya orang ini, pastilah dia ge mbong penjahat yang sudah kelewat takaran kejahatannya.

Asap itu kalau bukan mengandung obat bius tentu mengandung racun, tapi Kun-gi tidak takut racun tidak gentar obat bius, dengan tegap dia tetap berdiri di tengah pintu, tangan kanan terangkat, dengan jari telunjuk dan jari tengah dia jepit ujung pedang lawan yang menusuk dadanya itu.

Bahwa pedangnya kena dijepit jari2 Ling Kun-gi, tapi Bu-tiong- kiam t idak kelihatan kaget dan gugup, dia hanya menyurut setengah tindak, sebelah tangan terangkat serta mengulap, katanya tiba2 sambil me nyeringai saja: "Anak muda, robohlah, robohlah!'

Kun-gi tetap berdiri, tak bergeming, jengeknya: "Kau kira asap racunmu dapat merobohkan aku orang she Ling? Nah pergilah kau!" Pedang yang dia jepit dengan kedua jarinya mendadak dia dorong ke depan. Melihat Kun-gi tidak roboh seperti yang dia harapkan, Bu-tiong- kiam sudah mulai jera, belum lagi dia lepas pedang dan hendak me lo mpat mundur, tahu2 gagang pedang sendiri yang dipegangnya telah tergentak mundur oleh dorongan Kun-gi dan "duk" dengan telak menyodok dadanya, tanpa mengeluarkan, suara pelan2 dia sendiri yang roboh terjiengkang malah.

Sementara itu mus uh yang dihadapi Ting Kiau adalah Tun Thianlay, ko mandan ronda Hwi- liong-tong.

Senjata yang dipakainya adalah pedang panjang dan lebar, Thiansankia m-hoat yang dia mainkan ta mpak begitu mahir, meski dia tidak me miliki Lwekang sekuat engkohnya, Tun Thianki, tapi dalam gerakan yang amat sederhana itu, mengandang banyak perubahan yang tidak kalah lihaynya, malah setiap gerak tipu serangannya tidak tanggung2 dan cukup keji.

Sementara kipas Ting Kiau kadang2 terbentang dan tahu2 mengatup, kalau terbentang laksana kampak besar, me mbe lah tegak atau membabat miring, deru anginnya cukup keras mengir ia kulit. Kalau kipas dile mpit merupakan tongkat besi sepanjang satu kaki peranti menutuk dan menyodok, di sa mping untuk mengincar Hiat-to dapat pula untuk me lukai setiap anggota badan lawan.

Di antara babak pertempuran yang terus berlangsung sengit ini adalah Kongsun Siang yang mengala mi tekanan paling berat. lawannya dua orang, seorang berusia 40-an, berjambang pendek, permainan ilmu pedangnya lebih mirip ilmu golok, pedangnya yang berat itu lebih sering me mbacok dan me mbabat.

Seorang lagi adalah satu2nya perempuan di dalam barisan Cap coat kiam-tin, usianya sudah lebih 40, tapi mukanya masih mengenakan pupur tebal dan gincu yang berwarna menyala, kupingnya dihiasi sepasang anting2 gelang sebesar telur ayam, anting2 besar ini gondal gandul mengikuti gerak per mainan senjata di tangannya, kecuali pupur, gincu dan anting2 dikupingnya itu orang sukar mene mukan ciri2 pere mpuan pada badannya yang kekar besar ini. Tapi ilmu pedangnya ternyata lincah, cekatan, ganas dan keji, segala sifat buas yang ada pada binatang seolah2 tercakup seluruhnya di dalam per ma inan pedangnya.

Cukup payah dan memeras keringat juga Kongsun Siang menghadapi kedua lawannya ini, tiga orang dalam for masi segi t iga sedang seorang menyerang dengan sengit selama puluhan gebrak, meski belum tampak kalah, tapi juga belum ada tanda2 Akan dapat mengungguli kedua lawannya.

Si baju hijau yang berpedang dengan gaya permainan ilmu golok agaknya tidak sabar lagi, dengan menggerung gusar tiba2 pedangnya berputar kencang, tampak bayangan gelap ber-lapis2, laksana gelo mbang menggulung tiba.

Sejak tadi Kongsun Siang sudah berusaha menghindari benturan senjata dengan lawan, dalam keadaan kepepet seperti sekarang ini, umpa ma dia berusaha untuk me nghindar lagi juga sudah tidak keburu lagi. Maka terdengarlah dering nyaring me mekak telinga dari benturan dua senjata yang bentrok secara keras, Kongsun Siang merasa telapak tangan sendiri tergetar pegal dan pati rasa, beruntung dia mundur dua langkah, tiba2 sebuah hardikan mengguntur di pinggir telinganya, perempuan baju hijau di sebelahnya telah menubruk maju sa mbil me mutar pedangnya laksana angin lesus menggulung mangsanya.

Sigap sekali Kongsun Siang menubruk ke depan, sementara pedangnya memba lik kebelakang menusuk pere mpuan itu, tapi baru saja gerakan mengegos sa mbil me nyerang ini dia lancarkan, jalur hitam dari bayangan pedang lain tahu2 sudah menyapu tiba pula dan mengincar bagian bawah badannya. Keruan tidak kepalang kaget Kongsun Siang, cepat2 dia berkelit pula, tapi tak urung pahanya tergores luka juga, darah segera meleleh me mbasahi celananya.

Untunglah pada saat itu Ling Kun-gi telah menyimpan pedang pandaknya dan segera me mbentak: "Kongsun-heng, mundur lah kau.". Kongsun Siang tidak hiraukan seruan ini, sambil me nggerung dia tinggalkan pere mpuan baju hijau lawannya, mendadak dia menubruk ke arah laki2 berewok bersenjata pedang, Sret, sret, sret, sret secepat kilat dia lontarkan tujuh serangan ganas dan lihay dari Thianlong-kia m.

Bahwa Cap-coat-tin sudah pecah, kini Kongsun Siang meninggalkan dia, sudah tentu sangat kebetulan bagi perempuan baju itu, tanpa peduli mati hidup te mannya, segera dia melejit mundur terus berkelebat ke arah pintu sebelah kiri.

Tak terduga Ling Kun-gi ternyata bergerak lebih cepat lagi, tahu2 dia sudah mencegat di depannya, hardiknya: "Nona sebutkan dulu julukanmu."

Melihat orang sudah menyimpan pedang, dengan bertangan kosong berani mencegat dirinya lagi, seketika perempuan baju hijau yang berpupur tebal menjengek: "Siapa nona besarmu ini, setelah kau me lihat ini pasti akan tahu" Mendadak tangan kirinya terayun, entah cara bagaimana cepat sekali dia sudah kenakan sarung tangan, segenggam pasir beracun segera dia sebarkan ke arah Ling Kun-gi.

Menegak alis Kun-gi, wajahnya tampak bercahaya dan penuh wibawa, serunya sambil tertawa lantang: "Toanhuntok-sa" (pasir beracun perenggut nyawa), me mang kau tidak perlu sebutkan nama mu lagi."

Sambil bicara dengan enteng dia angkat lengan bajunya terus mengebut, taburan pasir beracun la-wan tahu2 tergulung seluruhnya, malah terus diha mbur balik menyerang tuannya.

Sudah tentu mimpipun perempuan baju hijau tidak pernah menyangka bahwa Ling Kun-gi akan berbuat seperti itu, sembari menjer it kaget, belum lagi dia se mpat menyingkir, pasir beracun miliknya sendiri tahu2 sudah mengena i badan sendiri, asap hitam segera mengepul dari seluruh badannya, pelan2 iapun roboh terkulai dan binasa. Dalam ruang pendopo yang cukup luas ini kini tinggal e mpat orang lagi yang masih terus berhantam dengan sengit. Ting Kiau dengan kipas le mpitnya masih saling serang dengan Tun Thian lay yang bersenjata pedang lebar, keduanya berebut kesempatan dan mengejar ke menangan. Sayang sekali jarum beracun yang tersimpan dalam kerangka kipasnya sudah habis terpakai, dalam keadaan mendesak ini terang tak se mpat lagi dia me masang dan mengisi jarum2nya, terpaksa dia andalkan ke mahiran ilmu kipasnya menghadapi ilmu pedang musuh.

Setelah perempuan baju hijau tewas, Kongsun Siang kini hanya menghadapi satu lawan, seluruh perhatian dapatr dia tumple k ketpada lawan yangq satu ini, makar Thianlong-kia m dapat dia ke mbangkan dengan lancar dan gencar, ia melo mpat kian ke mar i setangkas serigala, tiba2 terjang ke kiri, tahu2 menubruk ke kanan, sinar pedangnyapun ikut bergaya laksana kilat,

Sebetulnya cukup keras dan ganas juga -per mainan ilmu pedang bergaya golok si laki2 berewok, tapi Thianlong-kia m Kongsun Siang sangat lihay dengan gerakan2 aneh dan membingungkan sehingga lawan dibuat pusing mengikuti gerakkannya, akhirnya hanya bertahan saja dan tidak segarang tadi.

Karena paha tergores luka pedang lawan, betapa geram hati Kongsun Siang, dendam rasanya tidak terlampias sebelum lawannya roboh termakan   pedangnya,   padahal   pahanya   masih   terus me lelehkan darah berwarna hitam hingga me mbasahi lantai.

Yang terkejut adalah Ling Kun- gi, melihat darah hitam di paha Kongsun Siang, baru dia ingat bahwa pedang lawan dilumur i getah beracun, segera dia berseru: "Kongsun-heng, lekas mundur." Tangan terayun, dia me mbelah ketengah antara kedua lawan yang lagi berhantam seru.

Pedang Kongsun Siang terayun kencang, serangannya gencar seperti orang kalap, pikirannya sudah mulai kabur, cuma dia terlalu apal dan mahir mengguna kan ilmu pedangnya, maka kaki bergerak tanganpun bekerja secara otomatis. mendadak dia tersentak mendengar seruan Ling Kun-gi, serta merta gerakannya sedikit merandek, badan bagian ataspun tampak bergontai lemah, akhirnya sempoyongan dan jatuh terduduk dengan lunglai di lantai.

Pukulan telapak tangan ke tengah2 kedua lawan yang lagi berhantam oleh Ling Kun-gi itu ternyata tepat pada waktunya, gerakan telapak tangannya menimbulkan sejalur angin lunak mena- han luncuran pedang laki2 berewok berilmu golok aneh itu, sigap sekali dia me lejit maju ke sa mping Kongsun Siang. Bersa maan waktunya laki2 berewok itupun melo mpat mundur, begitu me mba lik terus lari keluar pintu.

Tak sempat lagi Ling Kun-gi menghiraukan musuh, kesela matan Kongsun Siang lebih uta ma, lekas dia keluarkan Leliong-pi-tok-cu, celana Kong-sun Siang yang sudah basah dan lengket dikulit dia sobek, mutiara itu segera dia gosok dan digelindingkan beberapa bali pulang pergi diper mukaan kulit dagingnya yang terluka.

Dalam pada itu Tun Thianlay masih me labrak Ting Kiau mati2an, bahwa teman-te mannya sudah binasa dan ada yang melarikan diri, tinggal dia seorang yang masih berhantam me mpertahankan jiwa, sudah tentu semakin luluh se mangat tempurnya, suatu ketika dia pergencar gerak pedang lebarnya, dengan sengit dia menyerang tiga kali, setelah Ting Kiau dapat diaesaknya mundur, lekas dia me lo mpat ke belakang, gerakannya masih tangkas meski sudah kehabisan tenaga setelah bertempur sekian la manya, tahu2 bayangannya sudah berkelebat keluar pintu.

Sudah tentu Ting Kiau tidak berpeluk tangan, segera ia menghardik: "Orang she Tun, ke mana kau mau lari" Tanpa pikir segera ia mengejar ke sana.

Kun-gi sendiri tengah mengerahkan Lwekang me mbantu menye mbuhkan luka Kongsun Siang, mendengar hardikan Ting Kiau, lekas dia berpaling seraya berteriak: "Ting heng, musuh sudah kalah, tak usah dikejar." '

Sementara itu empat laki2 yang berdiri di e mpat pojok me mbawa la mpion tadi secara diam2pun telah me mada mkan api serta menghilang entah lari ke mana. Kini t inggal Ling Kun-gi dan Kongsun Siang dua orang saja yang berada di dalam pedopo yang gelap itu.

Hati Kun-gi amat gelisah, tapi Kongsun Siang pingsan keracunan, terpaksa dia harus menolongnya lebih dulu. Untung Pi-tok-cu adalah obat mujarab untuk menawar kan bisa getah beracun, tak seberapa la ma kadar racun yang mengera m di luka Kongsun Siang sudah me leleh keluar bersa ma darah hitam, setelah luka dipaha rasanya tidak me mbahayakan lagi, segera dia menyobek jubah sendiri untuk pembalut luka orang.

Kongsun Siang menarik napas panjang dan pelan2 me mbuka mata, teriaknya: "Ling- Leng. . . . ." Belum habis dia bicara mendadak suara ge muruh sayup2 mulai timbul seperti datang dari bawah tanah.

Tergerak hati Kun-gi, katanya: "Mungkin mereka sudah mulai mengerjakan alat perangkap, lekas kita tinggalkan tempat ini." Sambil me mapah Kongsun Siang segera ia berdiri.

"Ling-heng," ujar Kongsun Siang sambil meronta., "biar Siaute berjalan sendiri."

Sementara suara gemuruh yang bergema se makin keras dari bawah bumi, se makin dekat dan keras. Waktu Kun-gi angkat kepala, dilihatnya pintu batu sebelah timur dan barat mulai bergerak menutup, lekas dia berkata: "Luka Kongsun-heng belum se mbuh, marilah kupapah saja."

Dengan tangan kiri setengah menge mpit pinggang orang, dengan beberapa kali gerakan mereka sudah meluncur ke arah pintu timur yang jaraknya lebih dekat. Ternyata di luar pintu adalah sebuah lorong panjang yang beralaskan batu2 hijau, tidak cukup untuk jalan dua orang berjajar, tampak patung batu tadi kini sudah menggeser mundur ke dinding dan bergerak lagi.

Baru beberapa langkah Kun-gi berjalan sa mbil setengah menyeret Kongsun Siang, terdengar suara gedubrakan keras, pintu batu dibelakangnya sudah tertutup rapat dengan mengeluar kan suara gemuruh. Kongsun Siang menegakkan badannya, dengan kuatir ia tanya: "Ling-heng, mana Ting-heng? Dia tidak keluar?"

"Dia mengejar seorang musuh yang lari ke pintu barat tadi," tutur Kun-gi.

Pintu batu sudah tertutup tapi suara gemuruh di bawah tanah masih terus berge ma, Dia m2 Kun-gi merasa heran, akhirnya dia kerahkan Lwekang dengan ketaja man matanya dia periksa keadaan sekelilingnya. Nyata dinding sekelilingnya tetap utuh tak nampa k perubahan apa2, tanpa sengaja ia mendongak melihat ke atap. Seketika ia me lonjak kaget, ternyata batu besar yang tepat di atas lorong tengah menindih turun pelan2. Betapapun tabah hati Ling Kun-gi, meski t idak sedikit musuh2 tangguh yang pernah dia kalahkan, tapi belum pernah dia menghadapi keadaan gawat seperti ini, tanpa banyak pikir tekas dia kempit Kongsun Sing terus kabur ke depan secepatnya.

Lorong sempit ini ternyata sepuluhan tambak panjangnya, sepanjang itu batu yang berada di atas lorong sama2 ambles ke bawah, ke manapun berlari dan betapapun cepat ingin menyingkir tetap akan sia2 belaka, karena batu atap di bagian depan lorong yang bakal dilalui juga telah mulai menggeser ke bawah,

Tiba2 di ujung lorong Kun-gi diadang oleh dinding batu pula, jelas tiada jalan keluar untuk menyelamatkan diri, se mentara batu atap masih terus menindih turun sema kin rendah dan sudah ha mpir menyentuh kepala, saking bingungnya akhirnya dia menghela napas putus asa, katanya: "Kongsun-heng, agaknya mala m ini kita bakal terkubur di tempat ini."

Luka paha Kongsun Siang belum sembuh, tapi sekuatnya dia berdiri sa mbil bertopang di badan Ling Kun- gi, keadaan sudah amat mendesak, tapi mereka tetap berlaku tenang, dengan ketaja man matanya dia berusaha me mer iksa dinding di sekitarnya.

Mendadak kaki kirinya yang tidak terluka dia ulur dan menendang sekuatnya ke dinding sebelah kiri bawah, lalu menginjak pula sekeras2nya lantai di depan kakinya. Terasa lantai yang terpijak kakinya anjlok turun, ternyata lantai yang diinjaknya itu dapat bergerak, waktu dia angkat kakinya, lantai itu terangkat naik pula ke tempat asalnya, kalau tidak diperhatikan orang takkan tahu kalau di situ ada rahasianya

Dalam pada itu batu di atas kepala sudah merosot sema kin rendah, mereka sudah tak bisa berdiri tegak lagi, dengan setengah berjongkok mere ka mundur mepet dinding, tapi pada detik2 yang menentukan itulah, mungkin karena menginjak lantai yang melesat turun oleh injakan Kongsun Siang tadi, tahu2 dinding di sebelah kiri mereka tanpa suara telah bergerak dan terbukalah celah2 yang cukup lebar.

Kongsun Siang menghela napas lega, katanya:

"Syukurlah jalan keluarnya kena kutebak dengan jitu. Ling-heng, lekas keluar” Lalu dia mendahului me nerobos keluar.

Setelah berada di luar, Kun-gi berkata lega sambil tertawa: "Untung Kongsun-heng paham juga akan per ma inan peralatan rahasia itu, kalau t idak kita sudah tertindih hancur lebur,"

"Blum!" selagi mereka bicara itulah batu besar di lorong itu sudah anjlok, besarnya tepat memenuhi sepanjang lorong, tiada yang sedikitpun yang tersisa.

Dia m2 Kun-gi berkeringat dingin, batinnya: "Entah bagaimana keadaan Ting Kiau, mungkinkah iapun kejatuhan batu, semoga dia lolos dari elma ut."

Di luar lorong ternyata masih ada lorong lagi yang di pagari dinding tinggi, cuma lorong di sini sedikit lebih lebar. Dengan mengacungkan Leliong cu di atas kepala, Kun-gi me mbuka jalan di sebelah depan, sementara luka di paha Kongsun Siang sudah dibalut, maka dia bisa bergerak lebih leluasa, dengan ketat dia mengikut i langkah Ling Kun-gi.

Lorong panjang ini a mat gelap, bayangan setanpun tidak kelihatan, tapi dengan hati2 dan waspada mereka terus menggere met maju. Kira2 puluhan to m-bak ke mudian, dari kegelapan dibelokan sebelah depan sana berkelebat sinar pedang yang menyamber laksana kilat, begitu cepat dan lihay sa mberan sinar pedang ini, tahu2 sudah me mbabat miring mengincar pinggang Ling Kun-gi.

Untunglah Kun-gi sela!u pasang kuping dan pasang mata lebar2, serangan terjadi mendadak dan sukar dijaga, lawan yang sembunyi agaknya me mang lihay, sampai dengus napaspun t idak terdengar, sehingga tak tersangka, kalau musuh tiba2 me lancarkan serangan gelap selihay ini..

Secara otomatis begitu melihat sinar pedang menyamber tiba, Kun-gi ayun tangannya menepuk ke batang pedang lawan, padahal ujung pedang lawan sudah dekat pinggangnya, untunglah tepukan tangannya yang bertenaga kuat mampu menggetar pergi pedang lawan.

Si pe mbo kong ternyata berkepandaian tinggi, tahu2 pedangnya ditarik balik, dalam kegelapan yang menguntungkannya, dia lo mpat ke belakang, berbareng dua bintik sinar dingin tahu2 me luncur ke arah Ling Kun- gi.

Kun-gi mendengus, sekali lengan bajunya mengebut, kedua bintik sinar itu seketika tergulung ke dalam gerakan Kian kut siu, sekali sendal lagi kedua bintik kemilau itupun jatuh ke tanah.

Gebrak ini berlangsung dalam sekejap, dengan cepat Kun-gi menguda k maju seraya me mbentak, sekali berkelebat dia sudah menerobos ke te mpat belokan, dilihatnya sesosok bayangan orang tengah menyurut ke tempat gelap di lorong sebelah depan sana. Segera dia menghardik: "Masih mau lari ke ma na kau?"

"Wut" kontan tangan kanannya me mukul ke depan.

Di dalam lorong yang se mpit dan me manjang ini kecuali berkelahi secara kekerasan, tak mungkin berkelit lagi, apalagi pukulan Kun-gi ini dilancarkan sa mbil me ngudak maju dengan kencang tenaga pukulannya laksana badai menerjang ke punggung orang itu. Padahal orang itu tengah mengayun langkah sekuatnya lari ke depan, tiba2 terasa kesiur angin kencang di belakangnya, sebagai orang yang telah berpengalaman, dia tahu bahwa Ling Kun-gi tengah menyerang dirinya dengan pukulan dahsyat, kalau me lawan secara keras, mungkin dirinya ma mpu me matahkan sebagian kekuatan pukulan lawan, itu berarti jiwa masih mungkin tertolong. Pikiran bekerja secara cepat pula badannya me mbalik, iapun menghardik tak kalah kerasnya: "Biar aku adu jiwa dengan kau!" Kedua tangan terulur lurus me nyongsoug ke depan.

Setelah dia me mbalik tubuh, baru terlihat jelas wajah orang itu, kiranya dia adalah laki2 berewok yang tadi berhasil lolos dari ruang pendopo, sorot matanya yang buas dan liar jelalatan me mancar kan rasa takut dan kalap, mukanya tampa k beringas, pukulan Kun gi ini menggunakan Mo-ni-in, mes ki laki2 berewok cukup cekatan dan bertindak tepat, toh dia tidak kuasa menghadapi pukulan sakti ini. Kontan dia rasakan dada seperti dipukul goda m, darah bergolak, kepala pusing, pandangan berkunang2, mulut terpentang megap2, napaspun ter-sengal2.

Dengan sinis Kun-gi tatap muka orang, katanya dingin: "O, kiranya kau!"

Sorot mata laki2 berewok kini ta mbah liar, dengan melotot dia awasi mutiara di tangan Ling Kun-gi rona mukanya akhirnya mbena mpilkan rasa heran dan jera, bentaknya: "Berdiri, tahan dulu, ada omongan ingin kutanya kau." Pedang siap di depan dadanya, ujung pedang teracung ke depan mengincar dada Ling Kun-gi, agaknya dia kuatir kalau Kun-gi menyergapnya.

Kun-gi berdiri lima kaki di depan orang, tanyanya: "Masih ingin omong apalagi?"

"Apakah yang berada di tanganmu itu CinCu-ling?" tanya laki2 berewok.

"Betul,” ucap Ling Kun-gi sinis, "inilah CinCu-ling."

Mendadak berubah hebat air muka laki2 berewok, bibirnya tampak rada ge metar, suaranya serak: "Kau she Ling." Heran Kun-gi, katanya: "Betul, aku she Ling."

Mendadak laki2 berewok putar tubuh, dengan langkah tergopoh dia berkelebat ke ujung kanan dinding sana.

Pertanyaan orang menimbulkan rasa ingin tahu Ling Kun-gi, hardiknya: "Berhenti!" Lengan kanannya terayun, dia lontarkan segulung angin pukulan yang keras dan kuat, sasarannya bukan badan laki2 berewok, tapi mengincar dinding batu di depan orang, jadi dia berusaha mencegat orang me larikan diri.

Kepandaian si berewok ternyata harus dipuji juga, merasakan tekanan berat dari depan, sebelum dirinya menumbuk tenaga kuat itu, cepat dia meng-hentikan gerak badannya, teriaknya beringas: "Apa maumu?"

Kun-gi ulur telapak tangannya yang me megang Leliong-cu, tanyanya: "Kau kenal mutiaraku ini?"

"Siapapun kenal akan CinCu- ling," sahut laki2 berewok.

"Kau salah satu dari tiga pnluh enam panglima itu bukan?" tanya Kun-gi.

Melihat Kun-gi berdiri menatap dirinya lekat2, seperti menunggu jawabannya, seketika timbul a marahnya, katanya dengan ketus: "Betul!"

Mendadak dua jari tangan kirinya menco lok ke dua mata Ling Kun-gi, berbareng pedang di tangan kanan menusuk ke la mbung. Serangannya itu amat keji dan secara mendadak, pikirnya betapapun tinggi kepandaian Ling Kun-gi pasti akan kecundang di bawah pedangnya.

Tak terduga tangan Ling Kun- gi mendadak menangkap pergelangan tangan kanannya yang me megang pedang.

Tahu2 laki2 berewok merasakan pergelangan tangan kesakitan, keruan ia kaget, belum lagi dia meronta, jari2 orang sekeras tanggam telah pencet urat nadinya sehingga badannya le mas lunglai,    tapi   dia   tetap   beringas,    teriaknya:   "Jangan   kau me ma ksaku."

"Cayhe hanya ingin bertanya . . . . . . . " belum Ling Kun-gi bicara, laki2 berewok sudah berteriak lagi: 'Tak usah banyak tanya, biar tuan besar mu serahkan nyawa padamu."

"Agaknya kau punya kesulitan sehingga tak mau bicara "

timbul rasa heran Kun-gi me lihat laki2 berewok berdiri me matung dia m, tapi kejap lain dilihatnya wajah orang sudah berubah gelap, tiba2 darah hitam me leleh dari ujung mulutnya, pelan2 ia roboh terkulai.

"Ling-heng," Kongsun Siang bersuara di samping Kun-gi, "dia bunuh diri dengan minum racun."

Ling Kun-gi lepaskan pegangannya, katanya sambil mengerut alis: "Kalau dia berani bunuh diri mene lan racun, kenapa tidak berani bicara terus terang?"

"Kukira dia a mat me matuhi peraturan Hek- liong-hwe sehingga tidak berani me mbocor kan rahasia perkumpulannya, dari nada bicaranya bahwa dia tetap pegang rahasia karena persoalan ada sangkut pautnya dengan CinCu-ling di tangan Ling- heng."

"Akupun merasa begitu, waktu melihat mutiaraku ini, kulihat rona mukanya mena mpilkan mimik yang aneh."

"Kudengar dia tanya apakah kau She Ling, kalau tanpa sebab, tak mungkin pada saat2 gawat begini dia mengajukan pertanyaan ini."

"Analisa mu me mang tepat, sayang dia sudah meninggal, sepatah katapun tak berhasil kutanya kepadanya."

"Tapi dia juga bilang ma u serahkan nyawanya padamu, lalu kenapa dia harus bunuh diri dengan menelan racun pula?"

"Ya, kalau diselami kata2nya tadi me mang aneh dan patut dicurigai." "Oleh karena itulah aku berpendapat bahwa soal ini ada sangkut pautnya dengan mutiara di tangan Ling-heng ini," merande k sebentar Kongsun Sianp lalu bertanya: "Entah dari mana pula Ling- heng me mperoleh Cincu-ling ini?"

"Mutiara ini adalah warisan leluhurku, nama aslinya Leliong-pi- tok-cu, khasiatnya dapat menawarkan segala maca m racun, jadi bukan berna ma CinCu- ling.”

"Aneh kalau begitu, bagaimana pula mutiara ini bisa mirip dengan tanda kepercayaan Hek-liong-hwe?"

"Hal ini aku sendiri juga tidak tahu, atas perintah guru aku menge mbara ke Kangouw, tujuannya adalah untuk me nyelidiki CinCu-ling "

Sembari bicara mereka berjalan terus kedepan, tanpa terasa akhirnya sampa i di ujung lorong dinding batu kembali me ngadang jalan mereka.

Kun gi menghentikan langkah, katanya sambil menoleh: "Lorong ini sudah tiba di ujungnya, coba Kongsun-heng periksa apakah ada pintu rahasianya?"

Kongsun Siang maju dua langkah, katanya: "Yang kuketahui juga sedikit saja, entah dapat ku-temukan tidak rahasianya," dengan seksama tangannya mula i meraba se mentara matapun me meriksa dengan cermat, terasa seluruh dinding batu ini licin dan rata laksana kaca, tak terlihat adanya garis pemisah dari bekas sebuah pintu. Akhirnya dia mengerut kening pedang dia tanggalkan, dengan gagang pedang dia ketuk2 dinding, lalu mene mpelkan kuping mendengarkan dengan teliti.

Pada dinding bagian depan agaknya tiada pintu yang dapat ditemukan, terpaksa dia membalik ke arah lain, kini dia periksa dinding sebelah kiri, dari atas ke bawah dia periksa dengan teliti, sementara mulutnya mengoceh: "Dalam perut gunung ini se mula me mang sudah banyak gua ciptaan ala m, kemudian mere ka tambahi dan atur sedemikian rupa dengan bangunan berbagai alat rahasia, semua ini menunjukkan hasil karya seorang yang betul2 ahli dalam bidang ini, padahal aku hanya me mpero leh sedikit pelajaran bidang ini dari guru, sungguh tak   ma mpu   aku mene mukannya "

Tengah bicara, entah bagaimana secara kebetulan ia menyentuh alat rahasianya di dinding batu itu, mendadak terbuka sebuah pintu tanpa mengeluarkan suara. Pintu batu yang terbuka ini tampaknya bisa bergerak secara otomatis, padahal Kongsun Siang sendiri tidak menduga sehingga dia bersuara kaget, tapi sigap sekali dia sudah menerobos keluar sana.

Pintu ini bergerak cepat dan licin, begitu Kongsun Siang menerobos keluar dari sebelah kanan, pintu itu lantas me mutar balik dan "blang", tertutup rapat pula.

Kejadian betul2 di luar dugaan, Ling Kun-gi berdiri cukup dekat, tapi dia tidak sempat menahannya. Kini sekali pintu tertutup rapat baru dia terjaga kaget, serta merta ia berteriak: "Kongsung-heng!" Tangan segera menepuk ke pintu.

Dengan mudah Kongsun Siang mendorong terbuka pintu itu, jelas pintu ini bisa bergerak bebas, maka dia bisa menerobos keluar, ma lah daun pintu sudah berbalik arah, tapi tepukan tangan Kun-gi yang kuat ini ternyata tak berhasil menggoyahkan daun pintu batu ini.

Keruan ia gugup, tanpa pikir kembali Kun-gi menghanta m pula, kali ini pukulannya berlipat ganda lebih keras, bukan saja daun pintu tetap tak bergeming, ma lah telapak tangan sendiri terasa sakit.

Pikirnya: "Kongsun Siang tadi hanya meraba2 daun pintu dan tanpa sengaja menyentuh alat rahasianya, jadi alat rahasianya pasti berada di atas daun pintu, kenapa tidak kucari dengan seksa ma?"

Sambil   mengacungkan   Leliong-cu,   dari   atas   segera   dia me mer iksa ke bawah dengan hati2.

Periksa punya periksa, sekian la manya dia tetap tidak mene mukan tanda apa2, kecuali garis lurus yang lapat2 kelihatan dari bekas celah pintu, tiada tanda2 lain yang dite mukan, apalagi alat rahasia untuk me mbuka pintu batu ini. .

Sungguh Kun-gi t idak habis mengerti dan ha mpir tidak percaya akan kenyataan yang dihadapinya ini, bahwa dinding batu setebal ini, ternyata terpasang sebuah pintu yang dapat bergerak bebas bolak-balik secara cepat.

Yang jelas Kongsun Siang baru saja menerobos ke balik sana lewat pintu batu licin rata ini. Tiga orang datang bersama, kini tinggal dirinya seorang saja. Di antara delapan Houhoat Pek-hoa- pang hanya Kongsun Siang yang bergaul paling akrab dengan dirinya, mes ki t idak pernah bicara persoalan pribadi, betapapun dia tidak tega berpeluk tangan begini saja.

Beruntun dua kali Kun-gi me mukul pintu itu tetap tak bergeming, jalan keluar tiada, keruan dia naik pita m. Mengingat dirinya terkurung di pendopo dan teralang oleh patung batu tadi, akhirnya dia berhasil mendorong mundur patung dan terbukalah ja lan keluarnya, kenapa sekarang ini tidak mencobanya? Kali ini dia sudah berniat pakai kekerasan mengge mpur hancur dinding batu di depannya, maka pelan2 dia mundur dua langkah, dua tangan bersilang di depan dada, pelan2 dia kerahkan Kim- kong-sim-hoat, mendadak kakinya melangkah setindak ke depan, sementara mulutnya menghe mbus napas keras2 sa mbil menggerung seperti banteng ketaton, kedua tanganpun mendorong ke depan.

Kim- kong-sim-hoat adalah salah satu dari 72 ilmu ajaran Siau- lim yang hebat, merupakan Hud-buns inkang (ilmu sakti dari aliran Hud) yang paling tingg, begitu kedua tangan mulai mendorong pelan2, segulung tenaga tidak kelihatan segera timbul dan menerpa ke depan. "Blum!" begitu menerjang pintu batu, seluruh lorong gua di perut gunung ini serasa bergoncang keras, pasir beterbangan dan berguguran dari atas. Tapi pintu yang tadi bisa bergerak licin dan bebas ini ternyata tetap tertutup tak bergeming. Celakalah Kun-gi, karena tenaga saktinya tak berhasil menjebo l roboh pinto batu, kekuatan sendiri malah menerjang balik me mukul dirinya sehingga dia terpental mundur beberapa langkah. Padahal lorong gua ini hanya lima kaki lebarnya, begitu dia tertolak mundur dengan daya tolak yang keras, punggungnya me mbentur dinding sebelah kiri di belakangnya. Tak nyana begitu punggungnya menyentuh dinding belakang, terasa dindingnya bergerak, seolah2 dia mendorong sebuah daun pintu yang tak terpalang, mendadak dinding di belakang menjepla k terbuka. Karena tidak menduga Kun-gi tak dapat menguasai diri, ia sempoyongan hingga puluhan langkah baru jatuh terduduk.

Kini baru Kun-gi melihat jelas, daun pintu di dinding belakangnya inipun dapat bergerak bebas, setelah dirinya terjatuh masuk, daun pintu segera me mutar balik dan tertutub rapat pula. Sigap sekali Kun-gi melo mpat berdiri, ia coba mendorong daun pintu, ternyata tak bergeming sedikitpun.

Sejenak Kun-gi berdiri me matung. Pada keheningan itulah mendadak dia mendengar suara rintihan yang lir ih dan le mah.

Waktu dia amat2i keadaan sekelilingnya, ternyata di balik pintu ini adalah sebuah lorong pula yang sempit me manjang ke sana, suara rintihan le mah itu terdengar dari sebelah depan. Maka sambil mengangkat tinggi mutiara yang me mancarkan sinar redup, dia me langkah ke sana.

Semakin dekat suara rint ihan se makin jelas, setelah me mbelo k ke kiri, tak jauh di depan sana terlihat seseorang meringkuk di atas tanah. Betapa tajam pandangan mata Ling Kun-gi, sekilas pandang dia lantas mengenali orang yang rebah itu adalah Yu-hou-hoat Sam- gansin Coa Liang adanya. Dengan kaget lekas dia me mburu maju dan berjong-kok disa mping orang, tanyanya: "Coa-heng, di mana kau terluka?" Cepat ia angkat tubuh orang dan dibalik telentang.

Tertampak dada kiri, la mbung kanan Coa Liang terluka oleh pedang, baju bagian depan dada, sudah lengket dengan kulit dagingnya oleh cairan darah yang berwarna hitam. Goresan luka pedang ini tampa k a mat dalam dan parah, agaknya sukar dise mbuhkan dan jiwapun sukar tertolong. Dengan Lwekangnya yang tangguh maka Coa Liang dapat bertahan sekian lamanya, tapi juga su-dah kempas- ke mpis, mendengar panggilan Kun-gi, pelan2 dia me mbuka matanya, tampak sinar matanya sudah guram menatap Ling Kun-gi sekian la manya, mulut terpentang dengan bibir gemetar, seperti ingin bicara.

"Coa-heng ingin bicara apa?" tanya Kun- gi.

Dengan mengerahkan tenaga Coa Liang mengangguk. Dia m2 Kun-gi mengerut kening, jiwa Coa Liang je las sudah di ambang maut, terutama luka2 di dada kirinya amat dalam dan melukai paru2 dan jantung, kalau dia bantu mengerahkan hawa murni ke tubuhnya, darah pasti takkan berhenti mengalir keluar. Tapi kalau tidak dibantu keadaannya sudah kempas-kempis, untuk bicarapun sudah tidak ma mpu lagi, sesaat dia jadi bimbang.

Dengan sorot mata yang pudar Coa Liang me mandang Ling Kun- gi, sorot matanya menandakan hatinya amat gelisah dan resah.

"Coa-heng ingin Cayhe bantu menyalurkan hawa murni, supaya kau dapat mengeluar kan is i hatimu," tanya Kun-gi

Dengan kaku dan gerakan berat Coa Liang mengangguk. Berat perasaan Kun-gi, pelan2 dia ulurkan tangan menekan tepat ubun2 kepala Coa Liang, lalu pelan2 dan sabar dia mulai salurkan hawa murninya ke badan orang.

Karena Lwekang Coa Liang sendiri a mat tinggi sehingga dia masih kuat bertahan sekian lama, kini mendapat bantuan saluran hawa murni Ling Kun-gi, sekuatnya dia coba menarik napas, dua kali bernapas dengan enteng, maka bola matanyapun mula i bergerak, kejap lain tangan kanannyapun dapat bergerak dengan gemetar, mulut megap2 beberapa kali, suaranya terdengar amat lir ih serak: "Cu . . . . cukong (majikan) . . . . " hanya beberapa suku kata keluar dari mulutnya, darah hitam tiba2 menyembur keluar dari luka di bawah la mbungnya, suara ngorokpun terjadi ditenggorokannya, pelan2 kepalanya lantas tertekuk le mah tak bergerak lagi. Hanya dua patah kata se mpat dia ucapkan, nyawapun me layang.

Dengan rawan Ling Kun- gi me narik tangannya, pelan2 dia berdiri, dan me mbatin: "Laki2 baju hitam yang kulihat di atas bukit mala m itu ternyata adalah Sam-gansin Coa Liang, entah siapa pula

`majikan' yang ia maksudkan? Apa pula ma ksud tujuannya menyelundup dan jadi mata2 di dalam Pek-hoa-pang?"

"Dia menudingkan jarinya ke arah lorong depan sana sambil menyebut 'majikan', maksudnya terang hendak beritahukan padaku bahwa   majikannya   menuju    ke    lorong   sana,    kenapa    ia me mber itahuku hal ini padaku?"

"Mungkinkah majikannya menghadapi mara bahaya, supaya diriku lekas meno longnya? Ya, pasti majikannya menghadapi bahaya, maka dia berusaha menge luarkan dua patah kata me mber itahukan arah kepergian majikannya, maksudnya, jelas ingin aku pergi menolongnya."

Segera ia menjura ke arah jenazah Sam-gansin, katanya: "Coa- heng tak usah kuatir, Cayhe segera akan menyusulnya ke depan sana." Cepat2 ia beranjak ke lorong yang lebih dala m.

Majikan yang dimaksud Coa Liang sudah tentu seorang gembong persilatan yang punya kedudukan tinggi sebagai Pangcu atau ketua suatu aliran, ber-ilmu silat tinggi, tapi dari sikap dan mimik Coa Liang menjelang ajalnya yang resah dan gelisah tadi, dapatlah dibayangkan bahwa majikannya pasti mengala mi mara bahaya di lorong2 se mpit ini.

Maka Kun-gi tak berani ayal dan ceroboh, untuk menghadapi musuh yang mungkin menyergap setiap saat, dia merasa perlu menggunakan kedua tangannya, maka Leliong-cu dia gantung di di ikat pinggangnya, tangan kiri berjaga di depan dada, tangan kanan me lolos pedang pandak, pelan2 dia menggeremet maju terus mengikut jalaran lorong yang belak-belok, kira2 ratusan langkah dia mene mpuh perjalanan, membe lok tiga kali, selama itu mata kupingnya bekerja dengan tajam, sekonyong2 didengarnya di sebelah depan ada derap kaki yang a mat ringan.

Begitu mendengar langkah orang Kun-gi lantas tahu bahwa orang ini me miliki Ginkang yang tinggi, di dalam lorong se mpit yang belak-belok ini ternyata dia dapat berlari sekencang itu seperti kuda binal yang lepas dari kekangan.

Pada saat Kun-gi berdiri bimbabng di ujung pengkolan itu, ma ka bayangan orang itupun sudah muncul di ujung yang lain. Itulah seorang laki2 yang sekujur badannya terbungkus pakaian hita m, pedang ditangannyapun berwarna hitam lega m.

Karena Leliong-cu tergantung dipinggangnya, begitu Kun-gi me lihat orang, sudah tentu orang itu pun segera melihat dirinya, jarak kedua orang sekarang mas ih belasan kaki jauhnya, tapi cepat sekali orang itu sudah mengha mpiri di depan Ling Kun-gi.

Pedang terangkat dengan gaya menganca m, bentaknya dengan suara kereng: "Siapa kau?"

"Katakan siapa kau?" Kun-gi balas menjenge k.

Sekilas orang itu me mandang mutiara di pinggang Kun-gi, katanya kemudian: "Kau me mbawa CinCu-ling, tentunya sudah tahu kalau di te mpat ini dilarang ma in terobosan tanpa ijin Hwecu, siapapun berani masuk ke Hek-liong tam akan dihukum mat i.'' Ternyata dia mengira Kun-gi adalah orang Hek- liong-hwe.

Sungguh tak pernah terpikir dalam benak Kun-gi, secara kebetulan dia main terobosan dan kini berada di Hek-liong-ta m (kolam naga hita m), kalau tempat ini dina makan Hek- liong-ta m, pasti ada sebuah kolam di sini. Dan nama Hek-liong-hwe mungkin dipungut karena adanya kolam naga hitam pula, dari sini dapat pula disimpulkan kalau pusat kekuasaan Hek-liong-hwe pasti berada di Hek-liong-ta m ini pula.

Maka Ling Kun-gi. lantas bertanya: "Apakah di sini letak mar kas pusat Hek-liong-hwe?" "Jadi kau bukan orang Hek-liong-hwe?'" tanya orang itu me lengak heran.

"Tidak pernah Cayhe mengaku orang Hek-liong-hwe."

Pedang menuding, orang itupun me mbentak dengan aseran: "Siapa na ma mu, datang dari mana!'

"Cayhe Ling Kun-gi, sudah tentu datang di luar sana."

"Peduli siapa kau, setelah masuk ke mar i, kepala mu harus dipancung!" segera pedangnya menusuk tenggorokan.

"Tahan sebentar!" seru Kun-gi.

Orang itu menghentikan gerakannya, katanya dingin: "Masih ada urusan apa lagi?"

"Bolehkah tuan beritahukan padaku, apakah Hek- liong-tam adalah pusat kekuasaan Hek-liong-hwe???

''Tanyakan persoalanmu ini kepada Gia m- lo-ong saja," seru orang itu. "Sret" pedangnya segera menusuk.

Tangan kanan bergerak, Seng-ka-kia m di tangan Ling Kun-gi me mancarkan cahaya terang di kegelapan. "Trang", tusukan pedang lawan kena di sa mpuknya ke sa mping.

Si baju hitam me ndengus gera m, katanya:

"Agaknya tuan me miliki kepandaian tangguh pula." "Sret" ke mbali pedangnya menusuk lurus.

”Ilmu pedang orang ini cukup cepat dan lincah, ilmu silatnya terang tidak lemah, mungkin dia penjaga daerah terlarang ini, terpaksa aku harus me mbekuknya lebih dulu," demikian batin Kun- gi.

Sebat sekali gerak-ger ik si baju hitam, pedangnya berkelebat kian ke mari sehingga sukar diraba ke mana serangannya. Ilmu pedangnya bukan saja bergerak laksana kilat menyambar, setiap tabasan dan tusukannya dilandasi kekuatan yang tangguh, beruntun tiga jurus Seng-ka-kia m di tangan Ling Kun-gi balas menyerang, jadi kedua pihak berebut kesempatan untuk menundukkan lawan.

Dalam lorong yang se mpit itu, di bawah penerangan cahaya mut iara yang redup, terjadilah perang tanding ilmu pedang yang cukup hebat dan sengit, kalau pedang Ling Kun-gi se makin me mancarkan cahaya terang, adalah pedang lawannya semakin terasa berat tekanan serangannya, hawa dingin serasa hampir me mbe ku diruangan lorong se mpit itu.

Puluhan jurus ke mudian baru la mbat laun Kun-gi berhasil me mbendung serangan lawan. Bahwa ilmu pedang kebanggaannya diungguli lawannya yang muda ini, si baju hitam naik pita m, sampa i me m-bentak2 pedangnya berkelebat semakin cepat dan merangse k terlebih sengit lagi. Tapi dia lupa akan satu hal, rangsakan cepat dan sengit ini merupa kan adu kekuatan secara kekerasan pula. Padahal pedang di tangan Ling Kun-gi adalah senjata pusaka yang tajam luar biasa..

Setelah pedang kedua pihak berdering nyaring saling beradu, pedang hitam di tangan si baju hitam terpapas putus berkeping, tinggal gagang pedang saja yang masih tergenggam di tangannya. Sekilas si baju hitam melenga k, baru saja dia hendak me lo mpat mundur. Tahu2 Kun-gi mendesak maju, ujung pedangnya menganca m di dada si baju hita m, para bentakannya kereng berwibawa: "Berani kau bergerak, kurenggut jiwa mu! "

Sinar kemilau pedang Ling Kun-gi yang menganca m dada terasa menyilaukan mata, si baju hitam tidak berani bergerak. wajah nyapun berubah pucat beringas. serunya mur ka: "Apa kehendakmu?"

Tiba2 Kun-gi unjuk senyum ra mah, katanya: "Cayhe hanya ingin tanya sedikit, lebih baik tuan menjawab sejujurnya."

"Soal apa yang ingin kautanyakan?"

"Pertama, apakah Hek- liong-ta m adalah mar kas pusat Hek- liong- hwe?" ”Aku tidak tahu,"

"Apa betul kau tidak tahu?"

"Tugasku hanya meronda di lorong2 tertentu, siapapun tanpa izin Hwecu bila berani keluyuran dilorong ini haras dihukum mati, soal lain aku tidak perduli"

”Jadi lorong ini menjurus ke Hek-liong- ta m, betul?" "Betul."

"Bagus, ingin kutanya pula satu hal, barusan seseorang masuk ke mari?"

"Orang2 yang tugas ronda di sini bergiliran pada saat2 tertentu, baru saja kudatang, tak kulihat dan tiada laporan ada orang luar masuk ke mar i!'

Heran Kun-gi, pikirnya: "Sa m-gansin Coa Liang terluka dua tusukan pedang, pada saat2 ajalnya masih berusaha menunjukkan bahwa majikannya menuju kearah sini, kenapa jejaknya tidak dilihat mereka?"

Segera dia bertanya pula: "Saudara barusan datang dari arah Hek-liong-ta m? Nah, sekarang tolong kau menunjukkan jalannya bagiku."

Belum si baju hitam menjawab, mendada k sebuah suara dingin menanggapi: "Lepaskan dia, dia tidak akan tahu jalanan yang menjurus ke Hek- liong-ta m."

Datangnya orang ini tak menimbulkan suara sedikitpun, padahal Kun-gi cukup yakin akan ketajaman pendengarannya.

Dia m2 Kejut hati Kun-gi, waktu dia meno leh, dilihatnya tak jauh di belakang si baju hita m, berdiri seorang tua berjubah hijau. Dalam keremangan tampa k perawakan orang tua ini tinggi kurus, wajahnya dingin berwibawa, sorot matanya berkilat tajam, jenggot kambing di dagunya. Dinilai dari sikap dan dandanannya, orang akan segera maklum orang tua ini pasti me miliki ilmu silat yang maha t inggi dan kedudukannya terang jauh lebih tinggi daripada si baju hita m.

Pelan2 Kun-gi mundur setapak sa mbil menu-r unkan pedang pandaknya, katanya dengan tertawa ramah: "Kalau begitu, biarlah Cayhe bertanya padamu saja, Lotiang (pak tua)." Meski pedang sudah dia turunkan, tapi dia tetap waspada, apalagi berhadapan dengan lawan yang tangguh, dia m2 ia ma lah kerahkan hawa murni pelindung badan dan siap siaga.

Lekas si baju hitam mundur ke sa mping dan me mber i hor mat kepada si jubah hijau. Agak la ma si jubah hijau menatap mutiara yang bergantung di pinggang Ling Kun-gi, akhirnya pandangannya beralih ke wajah Kun- gi, suaranya terdengar tenang: "Tuan bisa mene mukan te mpat ini, ketabahanmu sungguh harus dipuji, bolehkah kutahu na ma mu?"

"Cayhe Ling Kun-gi!"

Mendadak terpancar cahaya terang yang me mbayangkan rasa senang pada bola mata si jubah hijau, katanya sambil ma nggut2: "Baik sekali!"

Mendadak tangannya terayun, "plak", dengan telak dada si baju hitam yang berdiri di sa mpingnya kena digabloknya kebras.

Padahal sdi baju hitam berdiri tegak hor mat melurus kan kedua tangannya, sudah tentu tak pernah terpikir olehnya bahwa si jubah hijau akan me mbunuhnya, tentu saja ia tak sempat berkelit, tanpa menge luarkan suara dia roboh binasa.

Tanpa hiraukan korbannya si jubah hijau menatap Ling Kun-gi, katanya: "Tambahi sekali tusukan pedangmu pula."

Kejadian di luar dugaan, keruan Kun-gi melenggong, bahwa si baju hitam sudah terpukul ma mpus mengge letak di tanah, buat apa dirinya harus menus uknya pula? Maka dengan kesima dia awasi si jubah hijau: "Dia "

"Waktu amat mendesak, lekas kau tusuk dia, kita harus selekasnya meninggalkan te mpat ini." Semakin heran dan bingung Kun-gi. "Kau..." dia ragu2 sambil mengawasi orang.

Si jubah hijau goyang tangan dia menyela, suaranya tiba2 berubah ramah dan kale m: "Tidak le luasa kita bicara disini, lakukan seperti petunjukku, pasti t idak salah."

Kun-gi mas ih bingung apa maksud kata2nya, yang terang si baju hitam sudah ma mpus, tiada soal bila dia mena mbahkan sekali tusukan, toh orang tidak akan mender ita, biarlah nanti mencar i kesempatan mengorek keterangan dari si jubah hijau. Maka tanpa bicara segera dia angkat pedang menusuk telak di ulu hati si baju hitam.

Si jubah hijau manggut2, katanya: "Marilah kau ikut aku." Lalu dia me mba lik berjalan menuju ke lorong sebelah sana, langkahnya enteng dan mantap, tanpa berpaling lagi, seolah2 kehadiran Kun-gi yang mengintil di belakang tidak menjadi perhatiannya lagi.

Kun-gi sendiri masih bingung apakah si jubah hijau kawan atau lawan? Cuma terasa tindak tanduk orang agak misterius, tapi dia tetap mengikuti langkah orang.

Lorong di perut gunung yang gelap gulita ini mas ih belak- belok kian ke mari, dalam jarak dua puluh langkah pasti me mbelo k sekali, entah ke kanan atau ke kiri, ternyata si jubah hijau tidak menyalakan obor atau penerangan lainnya, agaknya dia sudah apal sekali dengan liku2 jalan lorong disini, malah langkahnya se makin dipercepat.

Kira2 30 to mbak ke mudian, mendada k dalam kegelapan di sebelah depan seseorang me mbentak: "Siapa?"

"Aku!" sahut si jubah hijau. Hanya beberapa patah kata tanya jawab ini dan Kun-gi sudah ikut me mbelok tiba, dilihatnya di depan mencegat seorang baju hitam pula, melihat si jubah hijau segera dia menyurut minggir serta berdiri dengan laku hormat, katanya kepada si jubah hijau: 'Ha mba sampaikan hor mat kepada Congkoan." Si jubah hijau hanya me mba las hor mat orang, dengan anggukan kepala, sementara kakinya masih me langkah maju, begitu tiba di depan orang mendada k tangannya terayun menepuk dada si baju hitam. Gerakannya a mat cepat dan tangkas, si baju hitam terang tidak bersiaga, sudah tentu sekali hantam kena dengan telak, hanya mulutnya saja yang sempat menguak pendek, tubuhnya terus roboh terkulai.

Dalam hati Kun-gi berkata: "Orang2 berbaju hitam yang bertugas di lorong gelap ini tentu me miliki kepandaian silat yang amat tinggi, tapi hanya sekali angkat tangan si jubah hijau telah me mbinasakan mereka, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian silat si jubah hijau ini."

Seperti tidak pernah terjadi apa2, Si jubah hijau terus melangkah ke depan sambil berkata dengan kereng: "Lekas tusuk dia sekali lagi."

Setelah dua kali orang me mbunuh orang ber-baju hitam, sedikit banyak Kun-gi sudah agak ma klum ke mana maks ud tujuannya, agaknya orang sengaja hendak membantunya,   maka   setelah me mbunuh anak buahnya sendiri ia menyuruhnya menusuk lagi dengan pedang supaya tidak me mbocorkan rahasia perbuatannya.

Kenapa si jubah hijau mau me mbantunya? Mungkin dia salah mengenali diriku, agaknya dirinya disangka sebagai orang sekomplotan dengan "majikan" yang dimaksud oleh Sa m-gansin Coa Liang? Dari sini dapatlah diduga bahwa si jubah hijau ini pasti agen yang dipendam di dalam Hek-liong-hwe oleh sang "majikan" itu, maka tanpa berbicara, sekali pedangnya bergerak, dia tusuk ulu hati si baju hitam yang sudah menggeletak binasa itu.

"Lekas jalan," tiba2 si jubah hijau me mberi isyarat, kakinya berlari kencang seperti terbang, Terpaksa Kun-gi ikut berlari kencang pula.

Setelah me mbelok dua kali, tiba2 si baju hijau me nghentikan langkah, tangan terangkat menekan dua kali di kiri- kanan dinding, lalu me mba lik badan, katanya: "Lekas masuk!" segera dia mendahului menerobos ke situ.

Setelah dekat baru Kun-gi me lihat jelas di antara dinding batu yang licin itu sudah terbuka celah2 panjang yang cukup untuk seseorang menyelinap masuk, orang itu tampa k menunggu di sebelah dala m, tanpa ragu2 segera dia me nyelinap masuk juga.

Baru beberapa langkah tiba2 didengarnya suara "duk" sekali, celah2 dinding telah merapat pula. Lorong di sini agaknya me mang ciptaan alam, bukan saja amat se mpit, jalannyapun tidak rata dan hanya cukup dilewati seorang, malah dinding batu di kanan kiri juga penuh ditumbuhi lumut dan batu2 padas yang runcing, kalau tidak hati2 kepala pasti bisa benjut dan pakaian robek.

Si jubah hijau berjalan a mat cepat. Karena ada penerangan dari mut iara di pinggangnya sudah tentu Kun-gi tidak bakal ketinggalan. Kira2 sepeminuman teh ke mudian, setelah turun naik dan lika-liku, sebelah depan agaknya sudah tiba di pangkal lorong karena sebuah dinding te mbok mengadang di situ.

Si jubah hijau menekan di atas dinding, ma ka terdengarlah suara gemeruduk yang berge ma di dinding, pelan2 dinding batu itu mulai bergerak dan terbukalah selarik celah2 lubang..

Sambil tersenyum si jubah hijau meno leh, katanya: "Silakan." Lalu dia mendahului me langkah masuk.

"Sarang Hek-liong-hwe berada di perut gunung" demikian pikir Kun-gi, "Lorong2 di sini te mbus ke segala penjuru, betapa besar proyek pembuatan lorong di perut gunung ini? Tidak sedikit jumlah aliran yang berdiri di Kangouw, kenapa pula Hek- liong- hwe me mbuang waktu dan tenaga begini besar untuk me mbangun markasnya di perut gunung? Me mangnya mereka punya rahasia tersembunyi yang lain?" otak berpikir, tapi kaki segera beranjak ke dalam.

Di belakang pintu batu kiranya adalah sebuah kamar batu kecil, kecuali beberapa kursi yang ter-buat dari batu dan sebuah dipan batu pula, tiada perabot lain, tapi kursi dan dipan batu ta mpa k mengkilap bersih.

Tepat di tengah ruangan di atas meja bundar yang dikelilingi kursi2 batu itu tertaruh sebuah lampu, entah minyak apa yang digunakan, ternyata sinarnya cukup terang.

Setelah Kun-gi dipersilakan masuk, ke mba li si jubah hijau menekan dinding sebelah atas kiri, pelan2 pintu batu itupun menutup ke mba li, se mentara si jubah hijau sudah me mbalik badan sambil angkat sebelah tangan: "Silakan duduk Kongcu!"

Tapi Kun- gi tidak segera duduk, dia merangkap kedua tangan menjura, katanya: "Lotiang me mbawaku ke mari, tentunya punya petunjuk yang berharga."

Si jubah hijau tertawa lebar, katanya ramah: "Silakan Kongcu duduk saja, memang ada urusan yang perlu Lohu bicarakan, cuma sekarang belum tiba saatnya."

Dengan gagah Kun-gi duduk dikursi batu, tanyanya: "Kenapa dikatakan saatnya belum tiba?"

Si jubah hijau tertawa, katanya: "Orang luar takkan berani masuk ke mari, harap Kongcu suka tunggu di sini, Losiu akan keluar sebentar dan cepat2 kemba li."

Tanpa jawaban Kun-gi segera dia melangkah ke dinding sebelah depan, tiba2 dia menoleh dan berkata pula dengan tertawa: "Jangan Kongcu banyak curiga, tindakan Losiu ini pasti menguntungkan Kongcu," lalu dia mendorong, dinding batu di depannya segera menjeplak terbuka.

Ternyata dinding batu itu merupa kan pintu hidup yang bisa bergerak setiap kali tersentuh, begitu si jubah hijau melangkah keluar, secara otomatis pintu itupun menutup ke mbali tanpa menge luarkan suara sedikitpun.

Betapapun tindak tanduk orang cukup mencurigakan, ma ka begitu orang lenyap di balik pintu, Kun-gi segera berdiri me mbur u ke pintu dinding itu, waktu dia angkat tangan mendorongnya, ternyata pintu batu yang barusan menutup tak berge ming lagi.