Pendekar Kidal Jilid 24

Jilid 24

Laki2 baju hijau sebelah kiri menyeringai dan me mber i tanda. Maka ke delapan laki2 kekar itu serentak bersiul panjang, dari delapan penjuru sere mpak nnereka menubruk ke arah Ling Kun-gi,

Pedang Kun-gi bergerak, tiga jurusan kena di bendungnya, di mana cahaya hijau kemilau dan hawa dingin setajam pisau, kedelapan lawan sama merasakan ayunan pedang Kun gi seperti me mba-co k ke arah mereka, sebelum cahaya pedang menya mber tiba serentak mereka sa ma me lo mpat mundur.

Ringan sekali Kun-gi berputar satu lingkaran, gaya pedangnyapun ikut melingkar, hanya beberapa kali gerakan ini, jala kawat yang mengurung Kongsun Siang dan Ting Kiau sudah dibabatnya rontok ber-hamburan.

Begitu keluar dari jaring berduri, dengan gemas Kongsun Siang segera menyerbu musuh dengan gerungan murka, gayanya mirip amukan serigala kelaparan dibantu kilat pedangnya yang ganas. Ting Kiau juga tidak banyak o mong lagi, dengan kipas terbentang segera iapun merangsak musuh.

Betapapan tinggi dan lihay ilmu pedang kedelapan laki2 itu, tapi Kongsun Siang dan Ting Kiau terlebih lihay lagi, hanya beberapa gebrak saja mereka sudah di atas angin, delapan lawan kena di- desak mundur.

Kun-gi simpan pedang dan melangkah mundur, dengan menggendong tangan dia menonton saja di luar arena.

Long-sing- kiam yang dima inkan Kongsun Siang me mang aneh, bayangannya tampak terjang sana a muk sini, gerak pedangnya secepat kilat, setiap serangan selalu mengincar Hiat-to besar di tubuh lawan sehingga lawan susah berjaga dan sukar menangkisnya.

Sementara kipas Ting Kiau kadang2 tecbentang dan tahu2 mengatup, kalau dibuka bisa digunakan sebagai senjata tajam, kalau dikatupkan bisa digunakan untuk menutuk dan me nusuk, yang diincar juga Hiat-to dan urat nadi lawan.

Kedua orang ini adalah jago2 silat kelas t inggi dari generasi muda masa kini, bahwa gabungan per mainan ilmu kipas mereka ternyata begini hebat, pekarangan kecil di dalam perut gunung ini rasanya seperti dipenuhi bayangan pedang dan kipas.

Dengan kekuatan kedelapan orang bukan saja tidak ma mpu menundukkan dua lawannya, malah terdesak di bawah angin, sudah tentu kedelapan orang itupun ma lu dan gusar, akhirnya mereka lupa akan kerja sama dalam barisan yang sudah teratur, kini masing2 menge mbangkan keahlian sendiri. Kejap lain delapan batang pedang dengan bayangan gelapnya sama menya mbar ke arah kedua orang.

Rangsakan bersama ini tidak dibatasi oleh langkah barisan, serangannya jauh lebih bebas dan berkembang, maka terasa betapa hebat dan bertambah berat tekanan mereka, seketika Kongsun Siang dan Ting Kiau berbalik terdesak ke dalam himpitan serangan lawan.

Ting Kiau menggertak gusar, kipas besi menggentak sekali, dia luncurkan dua batang jarum berbisa, dua lawan yang terdepan kontan a mbruk tanpa mengeluarkan suara.

Tanpa terlihat luka2 pada kedua temannya dan tahu2 tersungkur binasa, keruan enam te mannya mencelos. Sementara pedang Kongsun Siang juga tidak kenal kasihan, tatkala lawan melenga k itulah, pedangnya segera bekerja, suara jeritan kontan terdengar, pedang Kongsun Siang berhasil me nyunduk perut seorang musuh, darah muncrat dan isi perutpun kedodoran. seketika melayang jiwanya.

Dalam sekejap tiga di antara delapan mus uh roboh binasa, ma ka lima orang yang masih hidup menjadi ciut nyalinya, meski kelihatan mereka mas ih bertempur sengit, tapi semangat mereka sudah mengendur, rangsakanpun tidak segencar tadi. Kipas dan pedang Ting Kiau dan Kongsun Siang sebaliknya berkembang se makin hebat, kem-bali lima lawannya kena diserang hingga kelabakan.

Kedua orang baju hijau yang berdiri di undakan sekilas saling pandang, maka terdengar orang di sebelah kiri me mbentak: "Berhenti!"

Me mangnya kelima orang itu sudah terdesak di bawah angin pula, jiwa mereka terancam setiap detik, tanpa perintah tiada yang berani mundur, kini mendengar aba2 berhenti, seperti berlomba saja mereka saling mendahului melo mpat mundur.

Kongsun Siang menarik pedang, katanya tertawa dingin: "Apakah tuan yang ingin turun gelanggang merasakan kelihayan pedang Kongsun-toayamu?"

Dengan kipasnya Ting Kiau menuding lelaki baju hijau di sebelah kanan, katanya dengan tertawa: "Kaupun turunlah, coba rasakan permainan kipas Ting-toaya yang silir2 nya man ini."

Lelaki baju hijau disebelah kiri menyeringai: "Haha, me mangnya betapa kema mpuan Long-s ing- kiam dan Thiancesan kalian, berani bertingkah di hadapan ka mi?"

"Hayolah jangan banyak bacot, kalau tidak percaya turunlah rasakan sendiri," jengek Kong-sun Siang.

"Ji-te," kata laki2 baju hijau sebelah kiri kepada orang di sebelah kanan, "kau turun dan bereskan mereka"

Laki2 baju hijau sebelah kanan mengia kan, sambil me langkah turun ia melo los sebatang pedang lebar berwarna hita m, ia menjenge k: "Kalian bertiga boleh maju bersa ma!"

Kongsun Siang menubruk maju lebih dulu, katanya tertawa: "Tuan a mat takabur, kau turun gelanggang sendirian, sudah tentu Kongsuntoaya akan melayanimu."

Dengan sikap angkuh laki2 baju hijau itu melirik, katanya: "Hanya kau seorang bukan tandinganku." Kongsun Siang naik pita m, serunya: "Memangnya kau ini tandinganku atau bukan juga belum diketahui." "Sret", pedangnya menusuk lebih dulu dari sa mping, maka terlihatlah cahaya kemilau ta-jam berkelebat, menciptakan tiga kelompok cahaya pedang menusuk tiga Hiat-to di tubuh lawan. Serangan Long-sing- kiam dilancarkan dengan gerakan kilat, ma lah khusus menyerang musuh dari arah sa mping, sehingga lawan sering tak ber-jaga2.

Agaknya laki2 baju hijau lawan Kongsun Siang ini me mang me miliki bekal kepandaian yang mengejutkan, hanya tangan kiri bergerak, dia keluarkan serangkum tenaga kuat yang tak kelihatan mendesak serangan pedang lawan, jengeknya dingin: "Coba kaupun sambut sejurus serangan pedangku!" Pedangnya yang lebar itu terayun terus me mbacok dari arah depan.

Gerak bacokan ini hakikatnya tidak menyerupai jurus serangan, tapi begitu pedangnya me mbaco k keluar, seketika terasa adanya dorongan hawa dingin yang timbul dari tajam pedangnya.

Sebat sekali Kongsun Siang tarik balik pedangnya serta menyelinap ke samping. Long-s ing-poh atau langkah serigala yang dia mainkan a mat gesit dan lincah, sekali berkelebat saja mestinya dia da-pat menghindarkan serangan lawan, diluar tahunya si baju hijau yang tadi berdiri di sebelah kanan ini hanya sedikit geser, pedangnya yang lebar itu tetap dengan gaya semula me mbaco k lurus ke muka Kong-sun Siang, Gerakannya tidak begitu cepat, justeru karena gerakan pedangnya tidak mengala mi peru-bahan, maka bacokan pedang ini kini tinggal dua kaki saja dari badan Kongsun Siang.

Keruan tidak kepalang rasa kaget Kongsun Siang, dalam gugupnya ia tak sempat banyak pikir, cepat dia angkat pedang untuk menangkis dengan jurus Thianlong-so m-to. "Trang", kedua pedang saling bentur dengan keras, si baju hijau tetap berdiri tidak bergiming di tempatnya, sebaliknya Kong-sun Siang merasakan lengan kanannya kese mutan pegal dan menyurut mundur. Sejak keluar kandang dan menge mbara di Kangouw, kecuali pernah dikalahkan oleh Ling Kun- gi, baru sekali ini dia benar2 mengala mi kekalahan dan berhadapan dengan musuh tangguh.

Watak Kongsun Siang me mang tinggi hati, hanya segebrak lantas dipukul mundur, selebar mukanya seketika merah me mbara, begitu mundur segera ia menubruk maju pula, beruntun dia menyerang tiga jurus. Tiga jurus ini merupa kan tipu serangan Thianlong- kiam- hoatnya yang paling lihay, sinar pedang menyambar bagai ular sakti.

Si baju hijau hanya tertawa ejek saja, pedang lebar ikut bergerak tiga jurus untuk me mbendung dan me matahkan serangan musuh, sementara tangan kiri bergerak melancarkan tipu merebut pedang lawan, pergelangan tangan kanan Kongsun Siang yang me megang pedang segera dicengkera mnya.

Ilmu silat orang ini ternyata amat aneh dan luar biasa, permainannya kelihatan kasar dan sederhana, tapi setiap gerak serangan justru mengandung t ipu yang lihay dan me matikan, terutama gerakan merebut pedang lawan, kelihatan lucu dan aneh, tampaknya ko mbinasi dari Kim-na-jiu dan Kong-jiu-jip-pe k-yim, ilmu menangkap dan rebut senjata dengan bertangan kosong, Kongsun Siang didesaknya sedemikian rupa sehingga tak mungkin me lawan dengan gerakan la in.

Kalau Kongsun Siang tidak mundur, pedang di tangannya pasti terampas oleh musuh. Bahwa tiga serangan pedang Kongsun Siang semuanya kena dipatahkan oleh pedang lebar lawan, kini tangan lawan yang lain juga mencengkera m ke arahnya, semua ini me mbuatnya naik pita m, mendadak kakinya menendang tangan lawan yang menjulur tiba itu.

Untunglah pada saat yang gawat itu didengarnya desiran lirih serta didengarnya seseorang berkata ditelinganya: "Lekas mundur Kongsun-heng!"

Kongsun Siang tahu itulah suara Ling Kun-gi yang me mberi petunjuk untuk me nyelamatkan diri, tapi kakinya sudah kadang me layang, untuk ditarik turun sudah tidak mungkin, ma ka tangan si baju hijau begitu tersentuh, kaki Kongsun Siang, kelima jarinya segera mencengkera m, tetap mengincar pergelangan tangan Kongsun Siang, malah gerakannya bertambah cepat karena dorongan tendangan kakinya sendiri.

Kongsun Siang sendiri merasa kakinya kesakitan karena dirasakan seperti menendang batang-an besi, sementara tangan kiri lawan sudah me megang gagang pedangnya, Kejadian terlalu cepat dan mas ing2 pihak tidak se mpat berpikir, tatkala itu kelima jari si baju hijau sudah tertekuk hendak me megang pedang lawan, tiba2 dirasakan sesuatu benda menyesap ke telapak tangannya, secara otomatis ia menggega mnya dan seketika dia merasakan kesakitan pada telapak tangannya, lekas dia menunduk dan me mbuka telapak tangan, ternyata yang dia pegang bukan gagang pedang, tapi adalah sebuah duri gantolan yang semula berada di jaring raksasa tadi. Betapa runcing dan tajam duri gantolan yang terbuat dari besi ini, karena digengga m, ujungnya yang runcing sudah menusuk kulit dagingnya, darah segar mengalir deras dan menetes dari sela2 jarinya.

Sementara itu Kongsun Siang sudah me lejit mundur. .

Kalem seperti tidak terjadi apa2 dan seperti tidak merasa kesakitan, pelan2 si baju hijau angkat kepala me ngawasi Ling Kun- gi: "Perbuatanmu bukan?'

Kun-gi tertawa, katanya: "Kusaksikan pedang temanku bakal terampas orang, maka sekadar kubantu dia, kukira toh tiada salahnya? Apalagi Cayhe tidak ber maksud melukai orang, asal tuan tidak mencengkera m dengan kencang, telapak tanganmupun takkan terluka." 

"Bagus", desis si baju hijau, "babak ini belum berakhir, kini kaulah yang maju saja."

Dalam pada itu, Ci Hwi-bing dan si baju hijau di sebelah kiri tampak sedang bicara bisik2. Lalu terdengar si baju hijau sebelah kiri berseru: "Lo-ji, kau mundur, biar aku yang menghadapi Cong- hou-hoat-su-cia dari Pek-hoa-pang ini." Kun-gi tertawa lantang, katanya: " Tuan mau me mberi petunjuk, sudah tentu akan kuiringi, tapi satu hal perlu kau ketahui, kini Cayhe bukan lagi Cong-su-cia Pek-hoa-pang segala "

Si baju hijau di sebelah kiri ta mpak me lengak heran, tanyanya: "Mengapa kau bukan Cong-su-cia Pek-hoa-pang lagi?"

"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan urusan sekarang, tak perlu Cayhe menje laskan."

"Kenapa Tunheng percaya akan obrolannya?" demikian sela Ci Hwi-bing, "kalau dia bukan lagi Cong-su-cia Pek- hoa-pang, buat apa dia melur uk ke mari?'

Dengan sikap sungguh2 Kun-gi berkata: "Sekali orang she Ling bilang bukan, ya tetap bukan, me mangnya persoalan ini harus diperdebatkan?"

Jelilatan sinar mata Ci Hwi-bing, tanyanya: "Tentunya ada alasannya?"

"Tiada alasan apa2, yang terang Cayhe sudah bosan bekerja."

Berputar bola mata Ci Hwi-bing, katanya: "Kalau benar kau sudah keluar dari Pek-hoa-pang, berarti tiada bermusuhan dengan Hek- liong-hwe ka mi, asal tuan suka turunkan senjata, Hwecu ka- mi ma lah ingin mengundangmu, untuk ini aku bisa menjadi perantara." 

"Me mang, Cayhe ingin mene mui Hwecu kalian, entah cara bagaimana Ci-tongcu hendak me mperte mukan Cayhe dengan dia?"

Semakin lebar senyum Ci Hwi-bing, ucapnya. "Sebelum je las maks ud kedatanganmu, terpaksa menyusahkanmu dulu, letakkan senjata dan kututuk beberapa Hiat-tomu, habis itu baru kubawa kau menghadap Hwecu."

"Cong-coh," seru Ting Kiau, "jangan kau tertipu olehnya, bukankah cara itu berarti me njadi tawanan musuh?"

"Jangan salah paham Ling-lote," kata Ci Hwi-bing, "itulah salah satu prosedur bagi orang luar untuk menghadap Hwecu. Terus terang setiap orang yang mau menghadap Hwecu, kedua tangannya harus dibelenggu rantai emas untuk menjaga segala kemungkinan, tapi Ling-lote adalah orang satu2nya yang ingin ditemui Hwecu, maka aku berani a mbil putusan sendiri, hanya beberapa Hiat-tomu yang ditutuk dan kedua matamu ditutup, dihadapan hwecu nanti mungkin aku akan disalahin ma lah."

Kun-gi tersenyum sinis, katanya: "Terima kasih akan kebaikan Ci- tongcu, maksud kedatanganku ini me mang ingin mene mui Hwecu kalian, tapi bukan begitu caraku mene muinya."

Si baju hijau di sebelah kiri mendengus, katanya: "Orang ini begini congkak, tak usah Ci-tongcu banyak o mong padanya lagi, biar kubekuk dia dan gusur ke hadapan Hwecu."

Ci Hwi-bing mengerut kening, dengan lirih dia me mbis iki si baju hijau di sebelah kirinya.

Tampak si baju hijau sebelah kiri mendonga k, sambil ngakak, katanya: "Ci-tongcu tak usah kuatir, setelah dia masuk ke Hwi- liong- tong, me mangnya dia bisa terbang ke langit?"

Kun-gi me mbatin: "Kiranya tempat ini me mang benar Hwi- liong- tong."

Sementara itu si baju hijau sebelah kiri telah turunkan sebatang pedang yang berbadan lebar dari pundaknya, dengan tajam ia tatap Kun-gi, katanya dengan membusungkan dada: "Kabarnya kau murid Hoanjiu-ji-lay, orang she Tun ingin belajar beberapa jurus pada mu."

Melihat usia orang belum terlalu tua, tapi sorot matanya ternyata mencorong terang, jelas me miliki Lwekang tinggi. Maka dengan sabar Kun-gi berkata: "Minta belajar tidak berani, kalau tuan me mang me nantang berkelahi, pasti Cayhe mengir ingi keinginanmu tapi sebelum turun tangan, lebih dulu ingin Cayhe mohon tanya siapa panggilan kalian berdua?"

"Ya, kenapa aku lupa me mperkena lkan kalian," sela Ci Hwi-bing, "inilah Hwi- liong-tong Hutongcu kita Tun Thiankhi, dan inilah ko mandan ronda Hwi- liong-tong Tun Thianlay." Ling Kun-gi mengangguk, katanya: "Beruntung dapat berkenalan di sini, kalian adalah mur id Thiansanpay bukan?"

Tun Thiankhi dan Tun Thianlay sama menggunakan pedang panjang yang berbadan lebar, ter-utama setelah melihat gaya permainan pedang Tun Thianlay tadi mir ip sekali dengan jurus2 ilmu Thiansanpay, di kalangan Bu-lim hanya ilmu pedang Thiansanpay pula yang kelihatannya sederhana tapi setiap gerakannya mengandung intisari ilmu pedang dari berbagai aliran yang paling tinggi. Apalagi ke dua orang ini sama she Tun, mungkin sekali adalah angkatan muda atau keponakan Thiansan tayhiap Tay- mo- sintiau Tun Kui- ih.

Terlihat Tun Thiankhi menarik muka dan menjawab: "Dari aliran mana ka mi orang she Tun, tiada sangkut-pautnya dengan adu pedang ini, lekas keluarkan senjatamu."

Kun-gi tertawa, katanya: "Ih-thiankia m milikku ini tajam luar biasa, me mbacok e mas seperti mengiris tanah, me motong besi seperti merajang sayur, kau harus hati2."

Sembari bicara, pelahan2 terloloslah sebatang pedang panjang yang me mancarkan sinar dingin ke milau.

Sekilas Tun Thiankhi pandang pedangnya, jengeknya: "Pedang itu me mang a mat bagus, entah bagaimana pula ke mahiranmu menggunakannya?" mendadak ia melangkah setapak, pedang lebar ditangannyapun terus me mbacok.

Pedang lebar ini besarnya kira2 sa ma dengan telapak tangan anak kecil, bacokan lurus dari depan menanda kan gerakan yang sederhana, tidak cepat, tak kelihatan di mana letak keanehannya, tapi bacokan ini justeru me mbawa deru angin yang kencang berpusar.

Tidak sedikit ahli2 pedang yang pernah dihadapi Ling Kun-gi, tapi belum pernah dia berhadapan dengan serangan pedang yang begini hebat, diam2 ia terkejut, batinnya: "Agaknya dia sudah mempero leh ajaran murni dari Thiansankia m-hoat." Secepat pikirannya bekerja, tangan terangkat pedangpun bergerak, dia lancarkan jurus Liong- jiau-hoat-hun (cakar naga menyingkap mega), ujung pedang sedikit mendonga k terus menya mpuk ke depan.

"Trang", kedua pedang saling bentur, mendadak terasa oleh Kun- gi dari badan pedang lawan merembes keluar segulung tenaga kuat sehingga pergelangan tangannya tergetar kesemutan. Kalau orang lain, hanya sekali benturan ini tentu pedang akan tergetar lepas dari cekalannya, kini pedang Tun Thianlay ma lahan tersampuk minggir oleh pedang Kun-gi.

Berubah air muka Tun Thianlay, tanpa bersuara kembali pedangnya menabas miring. Menabas adalah gerakan mir ing yang tidak mengandung gerakan variasi, tapi Kun gi sudah dapat merasakan tabasan lawan ini me mbawa tenaga yang hebat.

Tanpa pikir Kun-gi me lo mpat ke atas setinggi dua to mbak.

Begitu tabasan pedangnya luput, sekaligus Tun Thianki berputar, dengan landasan kekuatan menabas tadi, pedang lebarnya terayun balik ke atas.

Di luar tahunya bahwa Ling Kun-gi tengah me lancarkan jurus Sinliong-jut-hun, badannya harus melambung tinggi ke atas, ketika pedang lebar itu me mbalik ke atas, sementara Kun-gi yang me luncur tinggi ke atas itu mulai menukik balik, dengan kepala di bawah dan kaki di atas, yang satu menyerang turun, yang lain menerjang naik ke atas, betapa cepatnya serang menyerang ini, maka terdengarlah dering nyaring benturan kedua pedang, bagai bunyi petasan renteng, suaranya semakin keras me mekak telinga.

Cepat Tun Thiankhi mundur beberapa langkah, dilihatnya pedang lebar miliknya yang terbuat dari baja murni yang biasanya khusus untuk me matahkan senjarta lawan, mata pedangnya kini ternyata gumpil beberapa tempat. Mendadak ia berseru: "'Mundur!" Segera ia putar tubuh terus lari masuk pendopo.

Ci Hwi-bing, Tun Thianlay begitu mendengar seruannya juga lantas mengundurkan diri. Agaknya kelima laki baju hijau itupun sudah terlatih baik, gerak gerik merekapun cekatan, cepat merekapun menghilang masuk ke dalam pendopo. Delapan la mpu kaca dipendopopun seketika pada m.

Kun-gi bertiga seketika merasakan keadaan sekelilingnya gelap gulita, orang2 yang mundur ke pendopo dalam sekejap mata saja telah lenyap entah ke mana.

Ting Kiau ingin menguda k, tapi karena Kun-gi tetap diam saja di tempatnya, maka tak enak dia bertindak sendiri.

Kongsun Siang juga telah me mburu maju, katanya lirih: "Musuh mundur sebelum kalah, mungkin untuk mengatur mus lihat."

Kun-gi manggut2, katanya: "Ucapan Kongsun-heng masuk akal, mari coba2 kita periksa." Dengan me ngacung tinggi mutiara di atas kepala dia menaiki undakan itu.

Saat itu mereka berada dalam gua di perut gunung, tapi orang2 Hwi- liong-tong telah me mbangun tempat ini sede mikian rupa sehingga hampir saja mirip pekarangan dan ruang pendopo umumnya. Tadi mereka bertempur di pekarangan, maka kini mere ka me masuki ruang pendopo.

Setelah mela mpaui tiga tingkat undakan batu, mereka menyusuri serambi panjang yang lebar, tepat di depan mengadang enam pintu batu yang diukir dengan hiasan warna warni, tapi semua pintu terpentang lebar. Kun-gi mendahului masuk ke pendopo, hanya beberapa langkah segera berhenti, dengan pancaran sinar mutiara dia me meriksa keadaan pendopo itu.

Kiranya ruang pendopo atau kamar batu ini luasnya kira2 ada sembilan tomba k, kecuali sebuah meja batu panjang tepat di tengah ruangan ada dua baris kursi batu putih disisi kanan-kirinya, tiada lain benda lagi dalam pendopo ini, keadaan kosong dan gelap.

Pancaran sinar mut iara di tangan Kun-gi hanya mencapai tiga tombak jauhnya, tapi dengan bantuan pancaran sinar yang redup ini Kun-gi dapat me lihat keadaan sekelilingnya yang lebih jauh lagi, kiranya pendopo ini dikelilingi dinding2 batu yang tinggi dan licin, tiada kelihatan bekas2 pintu rahasia di sekelilingnya. Jelas Ci Hwi-bing dari anak buahnya tadi masuk ke te mpat ini, tapi jejak mereka menghilang di sini, ma ka Kun-gi menduga pasti ada pintu rahasia di dalam ruang pendopo ini.

Kongsun Siang ikut masuk dan berhenti di belakang Kun-gi, katanya keheranan: "Tiada pintu dalam pendopo ini, pasti dipasang alat2 rahasia. Ting-heng, mar i kita periksa bersa ma, supaya tidak terjebak oleh mus lihat mere ka."

Ting Kiau merogoh ketikan api dan menyalakan obor kecil yang selalu dibawa oleh setiap insan persilatan, katanya: "Ya, mari kita periksa bersa ma."

Kongsun Siang juga mengeluar kan obor kecilnya. Dengan menyalanya kedua obor kecil ini, maka keadaan pendopo berta mbah terang.

Tampak dinding, lantai dan me ja kursi semuanya terbuat dari batu hijau yang digosok licin meng- kilap laksana kaca, dengan seksama kedua orang berpencar me meriksa tiga arah dinding batu yang kemilau oleh sinar obor mereka, setiap sudut, setiap jengkal lantai yang berlapis batu hijau itu dan tetap tak berhasil mereka temukan apa2.

Obor di taugan Ting Kiau akhirnya menjadi guram karena ma kin pendek, dengan kecewa dia buang obornya sambil berkata gegetun: "Setelah menghadapi kenyataan baru terasa kekurangan, sampa i hari ini baru aku betul2 menyadari kenapa dulu tidak belajar lebih rajin dan tekun kepada guru, kini menyesalpun telah kasip."

Menyusul obor Kongsun Siang juga pada m, katanya pula: "Agaknya alat2 rahasia di sini diciptakan oleh seorang yang betul2 ahli, dengan pengetahuan kita yang cetek ini tak mungkin bisa menyela mi letak kuncinya."

Kedua obor sudah padam, tinggal cahaya mutiara di tangan Kun- gi saja, maka keadaan pendopo ke mba li me njadi re mang2. Kata Kun-gi: "Kalau tak kete mu, tak perlu kita susah payah mencarinya." "Tapi jalan mundur sudah buntu, me mangnya kita harus diam saja terkurung di sini," kata Ting Kiau.

"Mereka mundur sebelum kalah, jelas musuh punya rencana keji, mumpung ada waktu, sebaiknya kita istirahat mengumpulkan tenaga dulu," ujar Kun gi, pelan2 dia mengha mpir i kursi batu dan duduk di sana.

"Sikap tenang Ling-heng ini sungguh mengagumkan, betapapun aku bukan tandinganmu," puji Kongsun Siang.

Kun-gi tersenyum, katanya: "Sejak kecil guruku sudah mendidikku, setiap kali menghadapi kesukaran, kepala harus dingin dan pikiran tetap jernih, supaya kita sendiri tidak kelabakan kehabisan tenaga '' Sa mpai di sini tiba2 dia pakai ilmu gelombang suara: "Setiap saat kemungkinan musuh akan menyerang kita, harus selalu waspada, Kongsun-heng, Ting-heng, kalian boleh ambil posisi sendiri2, tanpa isyaratku jangan se mbarangan bertindak."

Kongsun Siang dan Ting Kiau mengia kan.

Kun-gi keluarkan kantong sulam pe mberian Un Hoankun, dia keluarkan sebuah botol porselen kecil dan menuang dua butir Jing- sin wan dan dibagikan kepada kedua orang, lalu mena mbahkan dengan ilmu suara: "Inilah Jing-sinwan bikinan Ling- la m, khusus untuk menawarkan segala maca m obat bius dan dupa wangi yang me mabukkan, kulumlah dalam mulut kalian." '

Setelah terima pil itu dan dikulum dalam mu- lut, Kongsun Siang dan Ting Kiau lantas mundur berpencar mene mpati posisi di kirikanan, mereka berjongkok di belakang kursi.

Kejap lain Kun-gi masukkan mutiara ke dalam sakunya sehingga ruang pendopo itu menjadi gelap gulita, kelima jari sendiripun tidak kelihatan, begitulah mereka berdiam diri kira2 setanakan nasi, keadaan tetap sunyi, tiada sesuatu reaksi apa2 dari pihak musuh.

Akhirnya Ting Kiau buka.suara: "Cong-coh, agaknya musuh sengaja hendak kurung kita di sini, sela ma tiga hari saja cukup me mbikin kita kelaparan dan kehabisan tenaga, betapa kita kuat me lawan mereka?"

"Tidak mungkin," kata Kun-gi, "te mpat ini sudah merupakan daerah penting Hwi-liong-tong, bahwa selama ini mereka tidak bergerak mungkin karena tengah menghadapi pertempuran terbuka di depan sana dan tenaga tidak mencukupi untuk mengurus kita, dan terpaksa kita dikurung di sini untuk sementara, tapi peduli mereka kalah atau menang, kukira waktunya tidak akan terlalu lama lagi."

"Menurut pendapatku," demikian Kongsun Siang ikut bersuara, "bahwa sela ma ini mereka belum bertindak, pasti ada sangkut pautnya dengan Ling-heng."

"Berdasarkan apa pendapat Kongsun-heng ini?" tanya Kun-gi. . "Apa yang pernah diucapkan Nao Sam-jun di Gu-cu-ki tempo hari

tentunya Ling-heng masih ingat, dia pernah bilang asal Ling-heng sudi menyerah atau mau bekerja demi kepentingan Hek-liong-hwe, kalau Pek-hoa-pang bisa me mber i kedudukan Cong-su-cia, maka Hek-liong-hwe juga sanggup me mber i jabatan Cong-houhoat

kepadamu."

"Soal ini sudah tentu mas ih kuingat," ucap Kun-gi.

"Baru saja kita tiba di Ui- lionggia m, musuh lantas meluruk dari tiga arah mengepung kita, dalam keadaan yang buruk itu Ci Hwi- bing mas ih me mbujuk Ling-heng supaya bekerja untuk Hek- liong- hwe, akhirnya terjadilah pertempuran sengit, Cap ji-sing- siok Hek- liong-hwe berhasil kita tum-pas habis, Lansat-sin Dian Yu-ho k, Ping- sin Tok- ko Siu juga melayang jiwanya, malah Ui- liong-tongpun telah kita ledakkan, hanya Ci Hwi-bing seorang saja yang lolos dari renggutan elmaut, peristiwa besar ini sebetulnya merupa kan pukulan berat baginya, terhadap Ling-heng mestinya dia a mat benci dan dendam "

"Ya, betul, adalah layak kalau dia me mbenciku," ujar Kun-gi. "Tapi tadi waktu Ling- heng me mbobol jaring kawat baja dan Ci Hwi-bing muncul, sikapnya tak na mpak ber musuhan terhadap Ling- heng, malah dia tetap me mbujuk Ling-heng bekerja sa ma dan ma u me mbawa mu mene mui Hek-liong-hwecu. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Hek-liong-hwe Hwecu me mandangmu terlalu penting, kukira pasti ada pesannya kepada anak buahnya."

Kun-gi tertawa, katanya: "Dalam hal apa diriku ini sa mpai dipandang begitu penting oleh mereka?" Dalam hati dia me mbatin: "Pasti lantaran aku bisa menawarkan getah beracun itu."

"Menurut rekaanku;" dernikian ucap Kongsun Siang lebih lanjut, "Hek- liong-hwe mungkin merasa segan dan tak berani berbuat salah terbadap guru Ling-heng, atau mungkin ada sebab la innya. Tapi Hek-liong-hwecu ingin secepatnya merangkul dan menar ik hati Ling- heng, hal ini kukira tidak perlu disangsikan lagi." Ia merande k sebentar, lalu melanjutkan lagi: "setelah Ling heng masuk ke mari, jaring baja mereka tak berguna, Tun Thian khi sendiri juga sadar dirinya bukan tandinganmu, ma ka lekas dia mengundurkan diri, kini kita dikurung di te mpat ini "

"Analisa Kongsun-heng cukup je las," timbr ung Ting Kiau, "tapi apa pula tujuan mere ka mengurung kita di sini?"

"Ruang pendopo ini pasti ada dipasang perangkap yang a mat lihay, walau mereka telah mengurung Ling-heng, agaknya Ci Hwi- bing dan Tun Thiankhi tak berani bertindak sendiri, maka mere ka merasa perlu untuk menghadap Hwecu mereka dan minta petunjuknya, jika perintah Hwecu mereka belum sa mpai di sini, pasti mereka takkan berani se mbarang bertindak."

Ting Kiau menepuk paha, serunya tertawa: "Betul, marilah kita tunggu perintah Hek- liong-hwecu, mau perang atau akan da mai, sebentar akan kita ketahui."

Di kala mereka bicara itulah, mendadak Kun-gi merasakan adanya serangkum bau aneh yang merangsang hidungnya, kepala seketika terasa pening dan berat, tergerak hatinya: "Tepat dugaanku, mereka mau menggunakan dupa bius untuk merobohkan kami bertiga."

Kejadian me mang aneh, baru saja hidungnya mengendus bau wangi yang me mabukkan dan bikin kepalanya pening, kantong sulam yang tergantung di depan dadanya seketika juga menguarkan bau wangi yang semerbak sehingga kapalanya yang pening seketika sirna, pikiran jernih dan badan segar.

Dia m2 Kun-gi merasa kagum dan me mbatin: "Keluarga Un dari Ling- lam me mang tidak malu sebagai cakal bakal ahli obat bius yang telah turun temurun sejak kakek moyang mereka, botol porselen yang hanya tertutup gabus berlubang biasanya tidak pernah menguar kan bau apa2, tapi begitu dupa bius merangsang, obat penawar yang terisi dalam botol seketika pula unjuk khasiatnya."

Karena mut iara sudah tersimpan dalam kantongnya, maka ruang pendopo itu gelap gulita, keadaan sekelilingnya menjadi t idak jelas, tapi Kun-gi yakin bahwa dupa bius itu sudah me menuhi seluruh ruang pendopo, karena terasa juga olehnya bau harum segar dari kantong sula mnya itu terus merangsang keluar.

Kongsun Siang dan Ting Kiau berpencar di kanan-kir i, masing2 duduk di bawah kursi, jadi t iga orang berposisi segi tiga, kini merekapun sudah mengendus bau dupa me mabukkan itu, maka ter- dengar Ting Kiau bersuara heran, katanya: "Cong-coh, kau sudah mencium bukan? Bau dupa ini agak ganjil?"

Dengan menahan   suara   Kun-gi   berkata:   "Musuh   tengah me lepaskan asap dupa wangi yang me mabukkan, Ting- heng jangan bersuara, nanti kalau ada orang masuk kalian harus pura2 rebah terbius, jangan turun tangan secara serampangan, dengarkan tanda tertawaku "

Kongsun Siang berdua mengia kan. Kira2 setanakan nasi lagi, bau dupa dalam pendopo semakin tipis dan akhirnya sirna. Maka dari arah dinding sebelah timur berkumandang suara ge muruh, mendadak dinding yang rapat itu merekah buka, tapi hanya segaris sempit saja. Dikala suara gemuruh mulai berkumandang, Kongsun Siang dan Ting Kiau lekas2 merebahkan diri, mereka mende kam di bawah kursi dengan waspada.

Kejadian berlangsung hanya sekejap saja, setelah suara gemuruh berhenti dan dinding sedikit terbuka itu, keadaan menjadi hening pula, tak kelihatan ada orang masuk. Agaknya musuh tahu diri, karena belum jelas keadaan di dalam mereka tak berani masuk. Beberapa kejap lagi, mendada k sinar la mpu yang terang menyilaukan rata menyorot masuk dari sela2 dinding yang terbelah itu, pendopo yang semula gelap gulita menjadi terang benderang.

Kun-gi duduk bersandar kursi, diam tak bergerak seperti le mas lunglai.

Maka terdengar suara Ci Hwi-bing dari belakang dinding: "Bagaimana keadaan di dala m?"

Seorang menjawab: "Lapor Tongcu, hanya kelihatan orang she Ling duduk le mas di kursi, agaknya sudah terbius se maput."

"Dua yang lain bagaimana?' tanya Ci hwi-bing.

"Tidak kelihatan, mungkin sudah rubuh di lantai, teraling oleh kursi," sahut orang itu.

"Baiklah, coba kalian masuk me meriksa” perintah Ci Hwi-bing. Ternyata sela2 dinding itulah pintunya, pintu terbuka agak lebar,

dua sosok orang berkelebat masuk dari balik dinding langsung mende kati mereka..

Melihat pintu sudah terbuka, sementara dua orang musuh sudah me langkah masuk, maka Kun-gi tidak tinggal diam lagi, mendada k dia tertawa ngakak sambil melo mpat bangun terus menerjang ke arah pintu.

Ilmu silat kedua orang yang masuk ternyata cukup tinggi, begitu Kun-gi menerjang maju mere kapun segera siap siaga, keduanya mundur setengah langkah. "Sret, sret", dua batang pedang hitam mereka me mbabat bersilang berusaha menahan lawan. Kun-gi ayun tangan kanan secepat kilat dia menepuk sekali, segulung tenaga pukulan seketika menahan gerakan pedang lawan sebelah kanan, berbareng tangan kiri mencengkera m lengan orang di sebelah kiri terus ditarik, sebat luar biasa ia terus me luncur ke depan me mberesot lewat di tengah kedua musuh dan me mburu ke arah pintu.

Kongsun Siang dan Ting Kiau mendengar gelak tawa Ling Kun-gi, berbareng merekapun melo mpat berdiri. Sekali tubruk Kongsun Siang menerjang orang di sebelah kiri, berbareng pedangnya menusuk.

Ting Kiau juga t idak kalah cepat dan tangkasnya. belum lagi dia menerjang tiba, kipas le mpitnya sudah bekerja menggaris melintang dengan me mbawa deru angin mengincar muka orang di sebelah kanan.

Sebetulnya kepandaian silat kedua orang yang masuk ini cukup lumayan, walau tidak ma mpu mengha langi Ling Kun-gi, tapi dikala Kongsun Siang dan Ting Kiau menubruk, tiba merekapun sudah bersiap menyambut serangan mereka.

Bahwasanya gerakan Ling Kun-gi tadi me mang cepat luar biasa dan secara mendadak maka dalam segebrak dia dapat bikin kedua lawannya menyingkir serta menerjang lewat, sayang sekali ketika dia ha mpir mencapai pintu batu mendadak dilihatnya bayangan seorang tinggi besar mengadang di depan pintu. Sebelum lawan turun tangan menyerang Kun-gi sudah me ndahului me lontarkan pukulan kilat menghanta m dada lawan.

"Blang", dengan telak telapak tangannya me mukul dada lawan. Tapi Kun-gi sendiri merasa telapak tangannya tergetar pedas kesakitan, ternyata pukulannya seperti me mukul pada batu yang keras, keruan kejutnya tidak kepalang.

Waktu dia mendongak dan melihat lebih jeias, kiranya bayangan orang yang muncul di depan dan mengadang jalannyu adalah patung batu yang tinggi besar. .Karena sedikit teralang ini, pintu batu yang hanya terbuka sedikit itu cepat sekali sudah menutup lagi, sorot lampupun padam sehingga keadaan di ruang pendopo ke mbali menjadi gelap gulita. Begitu keadaan menjadi gelap, kedua orang yang lagi bertempur dengan Kongsun Siang dan Ting Kiau segera pura2 menyerang, habis itu terus me lo mpat mundur. Pada hal pintu batu sudah tertutup, jelas tiada jalan lain untuk me larikan diri. Maka Kongiun Siang menghardik: "Mau lari ke ma na kalian?" Pedang berpindah ke tangan kiri terus menyalakan api, lalu cepat2 dia pindahkan pula pedang di tangan kanan, tangan kiri mengacungkan tinggi kertas yang terbakar di atas kepala.

Pada saat yang sama Ting Kiau juga telah me nyalakan api, serempak mereka lantas mengudak ke pojokan sana, tampak kedua orang berbaju hijau itu telah me la mbung ke sebuah lubang besar dipojok atap sana, sekali berkelebat bayangan merekapun lenyap, cepat sekali lubang besar itupun tertutup ke mbali dan tidak kelihatan adanya bekas apa2. Barulah sekarang mereka maklum bahwa asap dupa tadi kiranya dilepas dari lubang besar di atas atap ini.

Ting Kiau mencak2 gusar: "Kunyuk itu berhasil lolos lagi."

Kongsun Siang menghela napas, katanya: "Alat rahasia yang mengenda likan pendopo ini, kiranya tidak hanya begini saja:"

”Persetan dengan alat rahasia perangkap segala, memangnya kita gentar menghadapinya," seru Ting Kiau marah2 .

Terdengar suara Ci Hwi-bing berkumandang: "Ling Kun-gi, tadi kulepas asap dupa juga demi kebaikanmu, karena hanya jalan itulah satu2nya, sehingga kau lemas tak ma mpu melawan dan terima dibelenggu dan selanjutnya kau pasti akan bekerja bagi ka mi, tak terkira perhitungan Lohu me leset, agaknya aku menila imu terlalu rendah."

Gusar tapi Kun-gi mas ih bisa tertawa, katanya: 'Ci Hwi-bing, sia2 kau menjadi Tongcu dari Hek- liong-hwe, yang kau andalkan hanya alat rahasia dengan segala perangkap ini, kau bisa mengurungku di sini, me mangnya ulah apa pula yang bisa kau lakukan?". . "Ling Kun gi," terdengar kereng suara Ci Hwi bing, "kau harus tahu diri, kalian bertiga seumpa ma kura2 yang berada dalam belanga, kalau Lohu betul2 mau merenggut nyawamu, segampang me mba lik telapak tangan, cuma Lohu masih ingin me mber i kesempatan pada mu, pikirkanlah dua kali lagi, menyerahlah saja dan bekerja untuk Hek-liong-hwe kita, kutanggung masa depanmu akan lebih ce merlang, tapi kalau kau tetap bandel, jangan kau menyesal kalau Lohu t idak kenal kasihan "

Lantang tawa Kun-gi, katanya: "Ci-tongcu, kau ma mpu berbuat apa, silakan lakukan saja, Cayhe tidak pernah mengerut kening menghadapi kelicikanmu."

"Orang she Ling," hardik Ci Hwi-bing beringas, "dengan baik hati Lohu me mberi nasihat, tampaknya kau tidak bisa diinsafkan, sejak kini Lohu me mberi waktu semasakan air mendidih, pikirlah lagi dengan baik, asal kau mau tunduk dan bekerja untuk Hek- liong- hwe, Lohu berani tanggung selama hidup kau tidak akan kekurangan "

"Bangsat keladi," bentak Ting Kiau, "tutup bacotmu yang kotor, kalau berani hayo buka pintu, tandangilah kami dengan kepandaian aslimu."

Terdengar Ci Hwi-bing mendangus sekali, mendadak terdengar suara keretekan, dari atap terjadi hujan anak panah yang tak terhitung banyaknya, semuanya jatuh di lantai depan Ting Kiau, ujung panah yang menyentuh lantai mengeluarkan suara rama i dan me mercikkan le latu api.

Keruan Ting Kiau kaget, cepat dia melompat mundur. Panah ternyata hanya berhamburan sekali, tapi jumlahnya ada puluhan batang, kalau mengenai tubuhnya tentu dirinya sudah menjadi landak. Agaknya musuh sengaja mau mende monstrasikan kelihayan alat rahasianya, buktinya Ci Hwi-bingpun tidak banyak ucap lagi.

Kongsun Siang mengerut kening, dia mengha mpiri Kun-gi, katanya lirih: "Ling-heng, dari hujan panah barusan dapat ditebak kalau alat2 rahasia se macam busur di atas sana tentu dikendalikan orang sehingga panah bisa dibidikan ke segala jurusan, ke manupun kita sembunyi tetap akan terbidik oleh panah musuh, berabe juga bagi kita."

Kun-gi tertawa tawar, katanya: `Ucapanmu me mang betul Kongsun-heng, tapi soal ini ga mpang diatasi, pertama, asal kalian tidak menyalakan api, dalam keadaan gelap gulita, mereka akan kehilangan sasaran bidik. Kedua meja dan kursi yang terbuat dari batu ini a mat kuat dan tebal, bisa kita gunakan untuk berlindang, persoalan yang lain biar kuhadapi sendiri"

'Tapi hujan panah itu sedemikian lebat dan rapat, bukan saja daya bidiknya amat kuat dan kencang, mungkin dilumuri getah beracun pula. Cong-coh '

"Tidak apa," Kun-gi menukas ucapan Ting Kiau, "aku punya akal untuk menghadapinya, nanti kalau musuh menyerang, kalian harus bisa mencari tempat berlindang dengan baik, soal diriku tak usah kalian kuatir."

Dikala mereka bicara terdengar suara Ci Hwi-bing berge ma pula: "Ling kun gi, sudah kau pikirkan belum?"

Kun-gi me mberi tanda kepada Kongsun Siang dan Ting Kiau, nyala api segera dipadamkan, bergegas mereka menyelinap ke bawah meja batu.

Dengan tertawa angkuh Kun-gi berkata: "Cayhe tidak perlu pikir lagi."

Kereng dingin suara Ci Hwi-bing: "Kalian berada dalam kurungan, inilah kese mpatan terakhir, kalian tetap tidak mau menyerah, sekali Lohu me m-beri aba2, kalian akan segera ma mpus tertembus ratusan anak panah."

Kun-gi ter-gelak2, serunya: "Hanya panah me mangnya dapat menggertak dan menakut i aku? Ha-yolah lekas kau perintahkan anak buahmu lepaskan panah untuk menggaruk badanku yang sedang gatal ini." Pada saat itulah kumandang suara seorang perempuan berkata: "Ci tongcu, Hwecu ada perintah."

"Ha mba terima petunjuk," terdengar Ci Hwi-bing menyahut hormat.

Suara perempuan nyaring itu berkumandang pula: "Pengkhianat Ling Kun-gi dari Pek- hoa-pang yang terkurung di dalam Bansiang- thing, kalau mas ih tetap melawan dan tidak mau menyerah, maka Ui-liong-tongcu Ci Hwi-bing diberi kekuasaan penuh untuk menjatuhkan hukuman mati."

"Ha mba terima perintah!" seru Ci Hwi-bing pula.

Agaknya mereka bicara di lapia atas dari ru-angan di mana Ling Kun-gi dikurung, mere ka sengaja bicara keras. supaya didengar oleh Kun-gi. maka pembicaraan mereka terdengar jelas dari sebelah atas.

Kejap lain terdengarlah suara Ci Hwi-bing yang ketus dingin: "Ling Kun-gi, kau sudah dengar bukan?" Nadanya menganca m, maks udnya menekan Ling Kun-gi supaya menyerah saja.

"Me mangnya kenapa kalau Cayhe sudah dengar?" jengek Kun- gi.

"Inilah kese mpatan terakhir untukmu meno long jiwa sendiri, Lohu akan menghitung sa mpai tiga, kalau kau tetap keras kepala, Lohu akan perintahkan me mbidikmu."

Ting Kiau tertawa besar, serunbya: "Umpa ma kaud me nghitung sampai tiga ratus atau tiga r ibu, jangan harap ka mi sudi menyerah."

Ci Hwi-bing tidak hiraukan ocehan Ting Kiau, mulutnya mulai menghitung: "Satu . . . . dua . . . . tiga . . . . " seiring dengan hitungan ketiga, dari pojok atap sana melorot turun selarik sinar la m-pu yang terang benderang, langsung menyoroti tubuh Ling Kun-gi diusul suara bunyi jepretan, sebaria anak panah dibidikkan tiga kaki di depan Ling Kun-gi.

Jelas ini bersifat mengancam, umpa ma betul2 mau merenggut jiwa orang, tentu sudah langsung dibidikkan ke tubuhnya. Sambil menggendang tangan Kun-gi me ndongak tertawa lantang, katanya: "Barisan   panah Ci-tongcu   ini paling   manjur   untuk me mbidik sebangsa rusa, kalau untuk main kayu dihadapanku, kukira terlalu menggelikan." Lenyap suaranya mendadak kedua tangannya terangkat, lengan bajunya yang lebar tahu2 mengebut ke depan.

Yang digunakan ini adalah gerakan Kiankunci (lengan baju sapu jagat) ciptaan Hoanjiu-ji- lay. nampak kedua lengan bajunya yang lebar itu menge mbang bagai layar, barisan panah musuh yang dibidikkan dengan daya keras dan kencang itu belum lagi menyentuh lantai tahu2 sama terpental berserakan seperti daun pohon kering yang digulung angin lesus, langsung terbang keluar pekarangan.

Jelas Ling Kun-gi juga sengaja mau pa mer kepandaiannya dihadapan Ci Hwi- bing.

Sekali jari tengah tangan kiri menjentik, sebuah duri bengkok seketika me lesat dengan suara deru kencang menerjang la mpu kaca yang menyorot turun dari atas atap. Maka terdengar suara "prang" yang keras, kaca pecah apipun seketika padam, ruang pendopo ke mbali menjadi gelap gulita.

Sembunyi di atap sana sudah tentu Ci Hwi-bing me lihat jelas keadaan dalam ruang pendopo, tanpa terasa giginya gemeratak gemas, desianya: "Kalau orang ini tidak dilenyapkan, kelak pasti menjadi bibit bencana bagi kita se mua, hayo siapkan panah, bunuh dia." ia betul2 me mber i perintah.

Satu lampu kaca sudah pecah dirusak oleh Kun-gi, tapi mendadak menyorot lagi tiga la mpu yang lain, ketiganya sa ma2 menyorotkan sinar yang terang menyilaukan mata, secara bersilang dari tiga jurusan menyoroti pendopo. Maka suara jepretan panah menjadi ra mai, hujan panah sa ma berjatuhan dari tiga arah yang berlawanan, lebih hebat lagi di antara samberan anak panah itu tercampur pula berbagai maca m senjata rahasia, seperti paku berbentuk duri ce mara, jarum2 terbang yang le mbut se muanya berwarna hitam, terang berlumuran getah beracun yang jahat dan me matikan.

Hujan panah dan senjata rahasia sungguh lebat dan berseliweran dengan suaranya yang mendenging, Sementara Kongsun Siang dan Ting Kiau yang se mbunyi di bawah meja batu masih tetap me megang senjata untuk menya mpuk panah dan senjata rahasia yang mengincar mereka.

Dari desiran angin yang berseliweran itu Kun- gi dapat me mbedakan sedikitnya ada lima maca m senjata rahasia yang bentuknya kecil dan ringan bobotnya, karena diseling di tengah samberan panah yang berdaya kencang, orang tidak akan berjaga dan menyangka untuk menyampuk dan merontokkannya, diam2 ia kaget juga.

Ruang pendopo ini me mang dipasang segala macam perangkap yang serba lengkap, kalau orang lain tentu sejak tadi jiwa melayang dan tubuh hancur luluh. Walau Kun-gi meyakinkan ilmu pelindung badan, betapapun ia tak berani pandang enteng senjata rahasia yang berbobot ringan, apalagi ada kalanya dia harus me mperhatikan keselamatan Kongsun Siang dan Ting Kiau.

Kejadian sebetulnya teramat cepat, baru saja panah dan senjata rahasia musuh berhamburan, tangan kanan Kun-gi sudah melo los pedang pendek dan dipindah ke tangan kiri, begitu tangan kanan terangkat, Ih thiankiam juga dikeluarkannya. Begitu dua pedang pusaka panjang-pendek keluar dari sarungnya, cahaya yang kemilau menjadikan pendopo ini berta mbah terang, hawa dinginpun terasa menyayat badan.

Tanpa ayal Kun-gi ayun tangan kirinya, cahaya pedangnya yang gemilapan segera me mbungkus sekujur badannya, sementara Ih- thiankiam ditangan kanan menggaris lurus miring mengeluar kan sinar perak ber-lapis2 me mbantu Kongsun Siang dan Ting Kiau merontokan senjata rahasia.

Suara jepretan masih terus berlangsung, ma ka kedua pedang pusaka di tangan Lingkun-gi pun bekerja semakin cepat dan tangkas, sinar pedang hijau kemilau dilingkari sinar perak ta mpa k indah me mpesona, dengan menarikan kedua pedangnya, betapapun lebat hujan anak panah dan senjata rahasia dapat dirontokkan.

Padahal sorot lampu sedemikian terang benderang, tapi bayangan Kun-gi sendiri seakan telah lenyap, hanya cahaya pedang dan kesiur anginnya yang menderu, hawa pedang seolah2 sudah me menuhi seluruh ruang pendopo, panah dan senjata rahasia yang tersentuh oleh cahaya kemilau itu kontan terpental terbang dan tersampuk rontok berserakan di lantai.

Begitu bernafsu Ling Kun- gi menarikan kedua pedangnya, mendadak mulutnya berpekik keras mengalun tinggi bagai pekik naga dan seperti singa mengaum, tiba2 badannya melejit ke atas, bagai bianglala Ih-thiankia m me mantulkan tiga bint ik sinar dingin me lesat ke atas atap, ke arah lubang2 di mana anak panah dan senjata rahasia di ha mbur kan.

Panah dan senjata rahasia itu semua dibidikkan dengan berbagai alat rahasia yang serba lengkap, Ih-thiankiam merupakan pedang pusaka yang dapat me motong besi seperti me ngiris tahu, sekali Ih- thian khiam bekerja, bukan saja segala alat rahasia yang menjadi sasaran dapat dirusakkan, di tengah kerama ian ge meretaknya alat2 yang berantakan itu diseling pula jerit kaget orang2 yang mengenda likan alat2 rahasia itu. Jelas bahwa para pengendali alat rahasia itupun banyak yang terluka.

Begitu me layang turun pula ke lantai langsung Kun-gi pindah pedang pandak ke tangan kanan, sekali jongkok dia raih tiga batang patahan panah terus diayun ke atas, tiga bintik hitam seketika me luncur ketiga sasaran. "Prang", Iampu2 kaca di atas atap seketika tertimpuk pada m.

Semua kejadian berlangsung a mat cepat. setelah alat rahasia musuh berhasil dirusak dengan sendirinya hujan panah dan senjata rahasiapun berhenti, begitu lampu kaca padam pula, ke mbali kegelapan meliputi ruang pendopo. Menyaksikan betapa gagah dan perkasa Ling Kun-gi barusan, Ting Kiau sa mpai me lelet lidah, katanya kejut2 girang: "Cong-coh, pertunjukanmu sungguh a mat mengagumkan."

Kongsun Siang merangkak keluar serta berdiri, katanya sambil menghe la napas: "Setelah kejadian mala m ini baru aku sadar bahwa apa yang kupelajari selama ini dibanding Ling-heng sungguh seperti kunang2 dibanding re mbulan, bagai langit dan bumi perbedaannya."

Kun-gi simpan kedua pedangnya. katanya tawar: "Kongsun-heng terlalu mengumpak, aku hanya mengandal ketajaman kedua pedang pusaka ini, secara untung2an menerjang bahaya"

Ting Kiau ber-kaok2: "Tua bangka she Ci, kau mas ih punya ulah apa lagi, hayo tunjukkan kepada tuan2 besarmu.?"

Suasana di atas hening lelap tak terdengar suara orang, agaknya Ci Hwi-bing sudah tiada di sana. Dua kali musuh tidak berhasil menumpas perlawanan mereka meski sudah terkurung di dalam kamar, sudah tentu timbul rasa jera dan waspada Ci Hwi-bing, ma ka dalam waktu dekat ini terang dia tidak akan beraksi lagi. Maka keadaan sama bertahan pada sikap masing2, Ling Kun-gi bertiga pantang menyerah walau terkurung di dalam pendopo.

Kini pendopo itupun diliput i ketenangan, akhirnya kesunyian terasa menceka m Ling Kun-gi, Kong-sun Siang dan Ting Kiau maklum, keadaan tenang ini merupakan per mulaan dari suatu gempuran musuh yang akan lebih hebat lagi, entah rencana apa pula yang tengah dirancang.

Setelah sekian la ma menunggu sa mbil berdiam diri, akhirnya Kongsun Siang melo mpat berdiri, katanya lirih: "Bukan cara baik kalau cuma berpeluk tangan terima dikurung begini saja, kita harus berdaya untuk menerjang keluar."

"Me mangnya perlu dikatakan lagi?" timbr ung Ting Kiau. "Soalnya pintu batu tadi sudah tertutup, kau ma mpu me mbukanya?"

Mendadak tergerak hati Kongsun Siang, pikirnya: "Pintu batu me mang sudah tertutup, tapi patung batu berbentuk manusia besar itu masih berada di tempatnya tak pernah bergerak lagi, bukankah di situ letak kunci rahasianya?" Karena pikirannya ini, cepat dia keluarkan ketikan dan ma nyalakan api, katanya lirih: "Ling-heng, coba pinjam Ih-thiankia m- mu sebentar."

"Kongsun heng mendapat akal apa?" tamya Kun-gi, dan serahkan Ih-thiankia m.

Menerima pedang pusaka itu, Kongsun Sang berkata dengan suara tertahan: "Kupikir kalau pintu batu itu dikendalikan alat rahasia, asal kita dapat menemukan letak atau bekasnya, alat rahasia yang mengendalikan itu kita rusak pula, dengan kesaktian kekuatan Ling-heng pasti dapat me mbukanya."

"Kongsun-heng dapat mene mukan letak pintu batu itu?" tanya Ting Kiau.

Kongsun Siang tertawa, katanya: "Orang2an batu itu keluar dari balik pintu, kini masih tetap di tempatnya tak pernah bergeser, cara bagaimana patung batu ini bisa masuk ke mar i? Tentu dikendalikan alat rahasia pula, dan alat kendalinya tentu berada di bawah kakinya, asal kita bisa merobohkan patung ini, rasanya akan mene mukan alat rahasianya pula?"

Ting Kiau keplok kegirangan, serunya: "Akal Kongsun-heng me mang bagus, Hayolah, kita coba"'

Kongsun Siang menyalakan api, bersama Ting Kiau mere ka me mer iksa patung batu itu dengan teliti. Kongsun Siang tubleskan Ih-thiankia m kelantai, lalu me mberi tanda gerakan tangan kepada Ting Kiau, mereka mengerahkan tenaga mendorong bersa ma dari kanan-kir i. Betapa besar kekuatan gabungan kedua orang sebetulnya bukan soal sulit untuk merobohkan patung batu itu. Tapi mengingat di bawah patung batu ini ada dikendalikan alat rahasia, maka untuk menggesernya terang tidak mudah.

Tak nyana setelah keduanya kerahkan tenaga mendorong berulang kali, meski mulut ber-kaok2 dan napas ter-sengal2, patung batu itu tetap tidak bergeming. Tapi Kongsun Siang dan Ting Kiau masih tidak putus asa, mereka masih terus berusaha mendorong patung itu.

Sampa i muka merah pada m, akhirnya mereka sendiri yang kehabisan tenaga, tapi patung itu tetap tak tergeser sedikitpun.

"Kalian berhenti saja," akhirnya Kun-gi bersuara, "biar aku mencobanya." Lalu dia menyings ing lengan baju dan mengha mpiri.

Setelah menarik napas Ting Kiau mundur dua langkah dan menga mati patung di depannya, tiba2 timbul sesuatur pikirannya, dia goyang tangan dan berkata: "Cong-coh, aku ingat akan suatu hal."

"Kau ingat apa, Ting- heng?" tanya Kun-gi.

"Patung ini baru menerjang masuk dikala Cong-coh menubruk ke arah pintu tadi sehingga Cong-coh teralang karenanya, pintupun segera menutup pula, begitu bukan?"

"Ya, me mang begitu," jawab Kun-gi.

Kata Ting Kiau lebih lanjut: "Itu berati alat rahasia mendorong patung ini masuk ke mari, maka pintupun tertutup, sebaliknya kalau pintu terbuka lagi, maka patung akan mundur keluar, maka kalau kita ganti cara merobohkanya menjadi mendorongnya mundur, pintu pasti akan terbuka dengan sendirinya."

Kun-gi manggut2, katanya: "Ya, masuk akal alat rahasia yang mengenda likan pintu dan patung batu ini tentu berkaitan, kalau patung ini kita dorong keluar, pintu akan terbuka. Nah, mar ilah kita coba" kedua tangannya menahan perut patung batu. Dari samping Kongsun Siang dan Ting Kiau ikut me mbantu, di bawah aba2 Ling Kun-gi mereka bertiga mula i mendorong.

Kun-gi kerahkan Kim-ko ng-sinhoat, ditambah lagi kekuatan Kongsun Siang dan Ting Kiau, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat kekuatan dorongan ini?

Betul juga dari kaki patung batu segera terdengar suara kretekan, demikian pula dari bawah dinding di pojok sana juga berbunyi gemeratak. Walau patung ini terkendali oleh alat rahasia, toh tak kuat menahan daya dorongan yang hebat ini dan lambat laun mulai tergeser mundur. Begitu patung terdorong mundur, betul juga dinding di depan sana juga tergeser mundur sehingga terbuka sedikit celah2. Melihat akal dan usaha mereka berhasil, tambah semangat Kun-gi bertiga mendorongnya.

Semakin patung terdorong mundur, semakin lebar pula celah2 dinding yang terbuka, kini mereka tidak perlu banyak me mbuang tenaga lagi untuk mendorong patung, karena tahu2 patung itu sudah mundur sendiri ke balik pintu serta menyingkir ke sa mping.

Melihat pintu sudah terbuka lebar, baru saja Kun-gi hendak me langkah keluar, mendadak dirasakannya segulung tenaga menyongsong dirinya, yang diincar adalah dadanya.

Untung sejak tadi Kun-gi sudah siaga akan sergapan musuh dari tempat gelap. Karena bagi seorang yang me mbekal Lwekang tinggi, umpa ma matanya dapat melihat di kegelapan, tapi toh dia perlu sedikit sinar bintang di langit baru bisa melihat sesuatu benda dalam jarak tertentu, kalau di dalam perut gunung yang gelap gulita ini ke ma mpuan matapun takkan berguna juga.

Di waktu mendorong patung, api sudah mereka padamkan, kini pintu sudah terbuka, kedua belah pihak sama2 tidak melihat bayangan lawan. Lwekang Kun-gi a mat tinggi, cepat sekali dia bisa me mbedakan arah bahwa si penyerang tepat berdiri di tengah pintu, serta merta iapun angkat tangan kirinya. "Plak", begitu serangan balasan dia lancarkan mendada k terasa pukulan lawan sedemikian kuat, dalam hati Kun-gi me mbatin: "Jago silat Hwi- liong-tong me mang banyak dan lihay."

Begitu dua jalur pukulan saling berhantam seketika menimbulkan pusaran angin kencang yang menderu keras, tanpa kuasa Kun-gi tergetar mundur setapak.

Pada saat itu pula, didengarnya seorang menjengek, sejalur angin pukulan yang tidak kalah hebatnya mendadak menerjang masuk pula dari luar pintu. Keruan Kun-gi naik pita m, serunya sambil tertawa lantang: "Serangan bagus!" Kini dia balas me ndorong dengan tangan kanan.

Terasa pukulan musuh ini ternyata tidak lebih le mah dari pukulan pertama, tapi Kun-gi kali ini sudah mengerahkan 10 bagian tenaganya, sehingga tidak tergentak mundur,

Dua kali saling hantam dengan musuh, tapi Kun-gi belum juga tahu dan bisa me lihat jelas siapa sebetulnya kedua lawannya, baru saja dia hendak merogoh keluar mutiaranya, mendadak api berpijar, ternyata Ting Kiau sudah menyalakan sebatang obor yang terbuat dari rotan, dari luar pintu berbareng juga menyala dua la mpu kaca yang menyorot masuk ke pendopo. Ta mpa k dua orang tua berbaju hijau tengah beranjak masuk..

Kedua orang tua berbaju hijau sudah sa ma2 ubanan ra mbutnya, usianya sudah di atas setengah abad. Yang di depan berbadan tinggi kurus, matanya tajam mengawasi Ling Kun-gi sa mbil mengu- lum senyum sinis, katanya: "Kau dapat menyambut pukulan kami berdua, kau me mang tidak ma lu sebagai murid Hoanjiu-ji-lay".

Kakek   berperawakan   sedang   di   belakangnya    segera menya mbung: "Di luar sini terlalu se mpit, kalau mau bergebrak hayolah masuk saja, bila kau mau keluar dari sini, kau harus dapat menga lahkan ka mi tua bangka ini."

Bahwa orang sudah melangkah masuk, maka Kun-gi mundur beberapa langkah, katanya dingin: "Kalian ingin bergebrak dengan Cayhe, boleh silakan saja."

Ternyata hanya dua kakek ini saja yang masuk, bayangan orang lain tidak kelihatan, tapi di tempat gelap di luar sana jelas ada orang sembunyi yang siap menyergap.

Kakek tinggi kurus angkat sebelah tangan di depan dada, ia meno leh kepada kakek berperawakan sedang, agaknya dia member i tanda bahwa mereka harus bersiap untuk turun tangan bersama, sekali serang bunuh Ling Kun-gi dan habis perkara, selanjutnya me mbereskan Ting Kiau dan Kongsun Siang. Dengan gagah dan tabah Kun-gi tetap berdiri di te mpatnya, katanya sambil berpaling: "Kongsun-heng, Ting-heng, silakan mundur agak jauh."

Kakek kurus tertawa ter-kekeh2, katanya: "Ya, kalian harus menyingkir yang jauh supaya tidak tersapu roboh oleh angin pukulan Lohu "

"Wut", mendadak tangan di depan dadanya terus menyodok.

Agaknya tenaga sudah terkerahkan sejak tadi, maka tenaga pukulannya ini sungguh a mat keras karena dilandasi kekuatan Lwekang hasil latihan sela ma puluhan tahun. Kakek berperawakan sedang tanpa bersuara berbareng iapun angkat sebelah tangannya menggge mpur punggung Kun-gi.

Kongsun Siang me lo mpat maju sa mbil mencabut Ih thian kiam yang tertancap di lantai, ejeknya: "Sudah sekian tahun la manya Lo- sunsiang-koay angkat na manya, tak nyana cara bertempurnya juga ma in keroyok dan curang."

Begitu melancarkan pukulannya, si kakek berperawakan sedang segera menoleh ke arah Kongsun Siang, serunya: "Kalau begitu marilah kau maju sekalian." Dengan jurus Hing-lanjianli (pagar me lintang r ibuan li ), tangan kirinya segera menepuk lurus ke arah Kongsun Siang.

Kun-gi tidak tahu siapa kedua lawannya ini. Tapi setelah mengadu pukulan, dia tahu bahwa Lwekang kedua kakek a mat tinggi, me lihat lawan mengge mpurnya bersama, serta merta dia ter- gelak2, dua tangan bekerja sekaligus, ke depan dia menangkis kakek kurus ke belakang dia meno lak ge mpuran si kakek sedang, katanya: "Kongsun-heng mundur lah kau, aku sendiri cukup menandingi mereka."

Sebetulnya Kongsun Siang sudah kerahkan Lwekang untuk menya mbut pukulan kakek sedang, dengan kekerasan serta mendengar seruan Ling Kun-gi, terpaksa dia bergerak menubruk miring seperti serigala mengegos dan menyingkir ke sa mping. Lo-sanji-koay mengira betapapun tangguhnya Ling Kun-gi, karena usianya masih terlalu muda, pasti takkan kuat menandingi gempuran mereka berdua.

Tak terduga dua jalur kekuatan hebat lantas menggencet dari depan dan belakang. Mendadak segulung kekuatan lunak yang tidak kelihatan timbul dari badan Ling Kun-gi, sekaligus ge mpuran dahsyat mereka sirna, malah sisa tenaga sendiri berbalik mengge mpur diri sendiri. Keruan tersirap darah ke dua kakek ini.

Kata si kurus tinggi sanbil menatap Kun-gi: "Pada jaman ini, tokoh2 kosen yang ma mpu menandingi ge mpuran gabungan kami berdua bisa dihitung dengan jari, engkoh kecil ini barusan menggunakan ilmu apa, ternyata tetap segar bugar menghadapi gempuran kami?" 

Sejak mendengar na ma kedua orang tua adalah Lo-sanji-koay, maka Kun-gi tahu bahwa kedua orang ini me mang merupa kan pentolan lihay di kalangan hitam, kalau mala m ini jika dia tidak kalahkan kedua musuh ini, dirinya bertiga pasti takkan bisa menerjang keluar. Maka dengan sikap sinis diar balas tatap si kakek kurus, katanya: "Ilmu silat di kolong langit ini masing2 me mpunyai keistimewaan dan keunggulannya sendiri2, umpa ma Cayhe menje laskan, me mangnya kalian berdua me ngetahui?.”

Kakek kurus menarik muka, hardiknya bengis: "Anak ingusan yang masih berbau pupuk, bicara mu begini takabur!" Tangan kanan terulur, kelima jari tangan bagai cakar baja tahu2 mencengkera m ke dada. Jurus Kim-hau-ta m-jiau ( harimau kumbang mencakar ) dilancarkan secepat kilat, kelima jari masing2 mengincar lima Hiat-to di tubuh Ling Kun-gi.

Sejak tadi Kun-gi sudah waspada dan ber-siap2, sekali tubuhnya berkisar berbareng tangan ka-nan menabas mir ing, di tengah jalan dia balas menyerang, kelima jarinya setengah tertekuk terus menangkap pergelangan tangan lawan yang menyerang dadanya. Kim- liong- jiu yang dilancarkan inipun tak kalah cepat dan lihaynya, dengan badan berputar ini, disamping berkelit sekaligus dia balas menyerang. Kakek sedang mengira dirinya me mperoleh peluang, sekali berkelebat dia menyelinap ke depan kiri Ling Kun-gi, telapak tangannya terus menabas mir ing me mbelah pinggang Ling Kun-gi.

Begitu tangan mencengkera m dada lawan, si kakek kurus merasakan juga Kun- gi melancarkan serangan yang sama dengan me megang pergelangan tangannya, malah serangan lawan pakai mengunci gerakannya, keruan ia kaget, lekas dia tarik tangan kanan, berbareng tangan kiri mendorong keluar.

Dengan sendirinya cengkera man balasan Kun-gi juga lantas mengenai   tempat kosong,   tahu2 dirasakan si  kakek sedang me mbe lah piggangnya, ia jadi gusar karena lawan ma in licik, dengan tertawa ejek dia ayun tangan kiri menepuk ke arah lawan, Pada saat itu si kurus t inggi juga me ndorong telapak tangan kiri, tanpa pikir tangan kanan Kun-gi bergerak juga menyongsong ke depan.

"Plak, plok," dua pukulan dari depan dan belakang sekaligus dia sambut dengan tepat, suaranya keras seperti ledakan, sampai telinga Kongsun Siang berdua serasa pekak dan jantung berdetak.

Sebagai murid didik Hoanjiu- ji- lay si kidal, maka Ling Kun-gi pun sudah biasa menggunakan tangan kiri, apalagi dia menjadi gusar menghadapi dua kali pe mbo kongan kakek sedang, maka serang- annya justeru dia titik beratkan pada telapak tangan kiri. Hoan jiu hud-hun (mengebut mega dengan terbalik) yang dilancarkan ini semula tidak menimbulkan gelo mbang angin pukulan, tapi begitu kedua pukulan masing2 saling ge mpur, baru timbul segulung tenaga dahsyat dari telapak tangannya.

Setelah si kakek sedang menyadari betapa dahsyat tenaga pukulan lawan , yang bisa menggetar hancur urat nadi sekujur badannya, untuk mundur sudah tidak mungkin lagi, terpaksa dia menya mbut secara kekerasan, seketika dia rasakan isi perutnya jungkir balik, darah bergolak di rongga dada. Lahirnya me mang tidak kelihatan perubahan dirinya, tapi urat nadi tergetar, darah menga lir balik, tersipu2 dia me lo mpat mundur, mencari peluang untuk mengerahkan hawa murni me nenteramkan gejolak darahnya. Melihat Ling Kun gi sanggup sa ma kuat menandingi pukulan kerasnya, si kakek kurus se makin mur ka, sambil menggertak dia mendesak maju terus menggenjot dan menjotos secara berantai.

Karena rangsakan sengit dan gencar ini, yang kelihatan hanya bayangan pukulan tangan, dalam sekejap beruntun dia telah lancarkan 12 kali pukulan. Bukan saja serangannya secepat kilat dan sederas hujan badai, malah kekuatan pukulannyapun rasanya dapat menghancur kan te mbok besi, deru angin yang kencang sungguh mengejutkan sekali.

Seluruh tubuh Ling Kun-gi terbungkus dalam bayangan pukulan lawan, sehingga dia terdesak mundur dua langkah, kedua tangan bergerak menyilang, menangkis dan menya mpuk, dalam 12 pukulan gencar lawan, dia menyambut e mpat kali dengan keras, sehingga rangsakan gencar lawan dapat ditandingi.

Dengan Cap-ji-lianhoanciang (atau ilmu pukulan berantai duabelas kali) yang lihay ini, menurut dugaan si kakek kurus semula Ling Kun-gi pasti dapat dipukulnya roboh binasa atau terluka parah.

Tak tahunya Ling Kun-gi juga gunakan kedua tangannya secara kekerasan dia sambut serangannya, beruntun adu empat kali pukulan, delapan pukulan yang lain kena ditangkis dan dipunahkan. Keruan se makin besar rasa kagetnya, batinnya: "Dia masih begini muda, bagaimana mungkin me mbeka l Kungfu setinggi ini."

Dalam dua belas pukulan tadi Kun-gi mengadu e mpat kali pukulan secara keras, mendadak bayangan kedua orang berpisah, keduanya sama2 tersurut mundur dua langkah.

Mata si kakek sedang mendelik, bentaknya. "Bocah ini tidak boleh dia mpuni." Mendadak dia menerjang maju, kedua tangan bergerak mencecar Kun-gi dengan telapak tangan, kepalan dan tendangan yang lihay.

Karena dicecar bergantian oleh kedua lawannya, sudah tentu Kun-gi ge mas, serunya tertawa: "Kalian maju bersama, orang she Ling tetap dapat mengalahkan kalian." Di tengah kumandang suaranya, permainan pukulannya mendadak berubah gencar keras dan ganas, telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanan menyerang secara bersilang.

Lo-sansiang-koay termasuk jago kosen kelas wahid dari golongan hitam, setelah beberapa gebrak menghadapi perlawanan Ling Kun- gi, dalam hati mereka maklum kalau cuma me ngandal kekuatan seorang diri untuk merobohkan Ling Kun-gi, jelas tidak mungkin, apalagi sebelum masuk tadi mere ka me mang berniat mena matkan jiwa Kun-gi dengan mengeroyoknya, maka setelah mendengar seruan saudarannya tadi, si kakek kurus tinggi segera ter-bahak2, katanya: "Anak muda, syukurlah kau ma mpu menandingi kami." Sekali berkelebat, tahu2 ia sudah menubruk maju. "Wut, wut", dua kali puku-lan langsung dia me nghantam dengan dahsyat.

Pukulan telapakan dan kepalan Ling Kun-gi dima inkan dengan berbagai variasi sehingga kakek perawakan sedang kena di desaknya mundur, sigap sekali dia me mbalik badan, kedua telapak tangan terangkap lalu didorong lurus mengge mpur dada si kakek tinggi kurus, pukulan dengan kedua tangan ini sungguh bagai gugur gunung dahsyatnya, angin pukulannya menggulung ke depan menerjang si kakek kurus tinggi.

Entah betapa banyak jago2 kosen yang pernah dihadapi si kakek kurus, tapi belum pernah dia saksikan apalagi menghadapi pukulan sedahsyat yang dilancarkan Ling Kun-gi ini, Dia sudah ma klum bahwa lawannya yang masih muda ini me mang ber-kepanda ian tinggi, tapi tak terbayang olehnya bahwa Kungfu Ling Kun-gi ternyata jauh diluar perhitungannya. Kalau dirinya baru me lawan secara keras gempuran Lwekang yang dahsyat ini, ma ka yang kuat akan menang dan yang le mah pasti binasa seketika. sudah tentu si kakek kurus tidak mau me mpertaruhkan jiwanya, cepat dia menarik napas mengerahkan hawa murni, mendada k ia melejit ke udara menghindari sa mbaran angin pukulan Ling Kun-gi.

Dalam pada itu si kakek perawakan sedang yang didesak mundur oleh Kun-gi, me lihat anak muda itu mendorong lurus dengan kedua tangannya, tenaga pukulannya ternyata sedemikian dahsyat dan jiwa saudaranya terancam. Tanpa peduli saudaranya itu akan berkelit atau me lawan dengan keras, dalam sekejap ini jelas Ling Kun-gi tak se mpat menghadapi serangan dirinya. Maka hatinya senang sekali, tanpa bersuara segera dia menerjang maju, telapak tangannya kembali mengge mpur punggung Kun-gi.

Tak tahunya si kakek kurus t inggi ternyata tidak berani melawan secara keras dan mela mbungkan tubuhnya ke udara, karena serangannya luput, dengan cepat tubuh Ling Kun-gi mendada k berputar balik, tenaga pukulan kedua tangannya ikut dia tarik terus menghanta m kesa mping.

Tindakan Ling Kun-gi ini sungguh di luar dugaan si kakek berperawakan sedang, malah tenaga pukulan yang menyapu tiba cepatnya luar biasa, untuk berkelit jelas tidak se mpat lagi, terpaksa dla kerahkan setaker Lwekangnya dengan kedua telapak tangan me lindungi dada, secara keras dia sa mbut serangan lawan.

"Bluk", di tengah benturan keras itu badan si kakek perawakan sedang tampak terpental jauh tersapu oleh pukulan Ling Kun-gi, setelah terbanting jatuh badannya masih ter-guling2 pula, sesaat la manya tak ma mpu berdiri, agaknya lukanya tak ringan. Kejadian berlangsung secepat percikan api, sementara itu si kakek kurus yang mela mbung ke udara berhasil lolos dari gempuran Ling Kun-gi, dari atas dengan jelas dia saksikan saudaranya tersapu jatuh oleh Kun-gi. Padahal dirinyar sedang mela mbutng tinggi, ma kaq dia ke mbangkanr kedua lengan baju dan melayang turun kira2 setombak jauhnya, nafsu membunuhnya segera berkobar, ia menubruk maju pula, dengan jurus Thay-san-ting (gunung Thay-san menindih kepala), segera ia kepruk batok kepala Ling Kun gi.

Kun-gi tahu Lo-sanji- koay yang dihadapinya ini me miliki Kungfu tinggi, ia menjadi tidak sabar lagi, segera ia me lancarkan Mo-ni-in yang sakti. Ia pikir kalau musuh tidak dirobohkan, mala m ini sukar bagi mereka bertiga untuk me loloskan diri dari sarang musuh, ma ka Kun-gi tidak kepalang tanggung melancarkan ilmu sakti simpanannya ini.

Mo-ni- in tidak menimbulkan da mparan angin kencang, tidak menimbulkan gelo mbang kekuatan besar, gerakannya seperti orang bergaya saja meluruskan telapak tangan ke atas, tapi justeru di sinilah letak intisari ilmu sakti aliran Hud yang tiada taranya, yaitu Tat-mo-ciang-hoat.

Si Kakek kurus mendadak merasakan telapak tangan Ling Kun-gi yang menyanggah ke atas menimbulkan tekanan yang kuat sehingga pukulan dirinya kena disanggah dan ditolak pula ke atas, ba-dannya yang menubruk maju tahu2 seperti terapung ke udara. Kejap lain terasa pula tenaga pukulan yang dia kerahkan tahu sirna tak keruan paran oleh getaran me mbalik dari kekuatan lunak di bawah, hawa murni tubuhnya serta merta ikut buyar pula, sampai bernapaspun terasa sesak. "Bluk", kejap lain badannya telah terbanting di lantai, malahan sebelum badannya jatuh nyawapun telah melayang.

Dalam pada itu kakek berperawakan sedang juga sudah terluka parah, melihat saudaranya jatuh tak ma mpu bangun berdiri, kagetnya bukan kepalang, lekas dia merangkak bangun dan berteriak kaget: "Lotoa, kau . . . . . " setelah me mburu ke sa mping saudaranya baru dilihatnya kedua tangan saudaranya menekan dada, biji matanya melotot, darah hitam mele leh dari ujung mulutnya. Kiranya sudah mati karena urat nadi tergetar pecah.

Luluh perasaan kakek berperawakan sedang, air mata bercucuran, tiba2 dia me mbalik dan me lotot pada Ling Kun-gi, desisnya sambil menggertak gigi: "Bocah keparat, keji a mat kau me mbunuhnya."

Kun-gi menyeringai dingin, jengeknya: "Kenapa kau menyalahkan aku, kalau tadi aku yang terpukul kalian, bukankah aku yang binasa sekarang?"

Tanpa bersuara lagi, kakek berperawakan sedang me manggul jenazah saudaranya terus melangkah keluar tanpa berpaling lagi. Lampu kacapun seketika pada m, pendopo ke mbali menjadi sunyi dan gelap gulita,

Pada kegelapan itulah dinding sebelah barat terdengar berbunyi kertekan, agaknya terbuka sebuah pintu. Sementara Kongsun Siang telah serahkan Ih-thian kiam kepada Kun-gi, katanya lirih: "Biar kulihat ke sana."

"Hadapilah segala ke mungkinan dengan hati2," pesan Kun-gi. Seperti lazimnya serigala yang menubruk mangsanya, mendadak

Kongsun Siang menubruk masuk dengan lo mpatan dua kali, dikala

badannya hampir mencapa i dinding sebelah barat, mendadak "sret- stet" dua kali ja lur sa mberan angin. seperti ada dua orang menerjang masuk, Kongsun Siang mahir mendengarkan suara, "cret" kontan pedangnya menusuk.

Dua orang yang me lo mpat masuk kedalam ruang pendopo ternyata memiliki kepandaian tinggi, dalam kegelapan iapun ayunkan pedangnya. "Trang", sekali gerak ia sampuk pedang Kongsun Siang. Malah te mannya yang lain tidak ayal pula, pedangnya menderu menggaris ke tubuh Kongsun Siang.

Tatkala musuh yang pertama menya mpuk pedangnya, sementara tubuh Kongsun Siang sudah me langkah ke sa mping depan sehingga babatan pedang orang kedua mengena i te mpat kosong.

Bergebrak di tempat gelap hanya mengutama- makan ketajaman pendengaran dan kelincahan, karena kedua musuh sa ma2 me lancarkan serangan pedang, walau Kun-gi masih dalam jarak enam to mbak jauhnya, tapi segala gerak gerik musuh dapat diikutinya dengan je las.

Waktu terjaring oleh jala berduri tadi lengan baju dan pundak Kun-gi masih ketinggalan puluhan duri bergantol, selamanya dia tidak pernah menggunakan senjata rahasia, tapi mengingat tujuan kali ini masuk ke sarang harimau, kalau hanya dengan bersenjata pedang saja lawan yang berjarak jauh takkan ma mpu dicapainya, maka dia sengaja me mbiarkan saja duri2 itu tetap bergantung di badannya, siapa tahu nanti berguna pada saat genting. Kini setelah dia mendengar posisi kedua lawan Kongsun Siang, segera dia jemput dua duri dan beruntun dia menyentik dua kali. Muka terdengarlah suara jeritan kaget, agaknya seorang tidak siaga dan kena jentikan duri itu tapi seorang yang lain cukup cerdik, "tring", dengan sigap dia pukul jatuh duri yang menyerangnya.

Dia m2 Kun-gi terkejut, pikirnya: "Ilmu pedang orang ini ternyata amat lihay."

Di kala dia berpikir inilah dari arah timur ke mbali terdengar suara deru angin, ada orang melompat masuk pula. Ting Kiau yang berjaga di sa mping sana lantas menghardik: "Kena!"

Kipasnya seketika bergerak mengetuk pundak kanan pendatang itu. Tapi orang itu se mpat angkat pedangnya menangkis kipas le mpit Ting Kiau.

"Bagus," seru Ting Kiau, beruntun kipasnya menyerang pula empat jurus.

Lawan tetap tidak bersuara, di bawah rangsangan gencar Ting Kiau dia hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya, pedang panjangnya menyampuk pergi datang me munahkan seluruh serangan kipas lawan. Maka berulang kali terdengar suara berdering benturan kedua senjata, empat jurus serangan Ting Kiau dapat dipatahkan seluruhnya oleh orang itu.

Dikala pertempuran berlangsung se makin sengit, terdengar kesiur angin pula, beruntun masuk lagi dua orang menduduki posisi di sebelah timur. Sementara dari pintu sebelah barat melo mpat masuk e mpat orang la lu berpencar. Tapi orang2 yang belakangan ini hanya berpeluk tangan belaka, tidak ikut terjun ke arena.

Dari suara napas mereka Kun-gi dapat mengikuti gerak gerik mereka yang sudah berpencar ini mene mpati posisi tertentu sehingga dirinya bertiga terkepung, dia m2 ia me mbatin: "Agaknya secara diam2 mereka mengatur semaca m barisan di te mpat gelap." Lalu dia kerahkan ilmu gelombang suara berkata kepada Kongsun Siang: "Kongsun-heng, lekas mundur ke sa mpingku saja." Dengan cara yang sama dia panggil Ting Kiau pula. Cepat sekali Kongsun Siang dan Ting Kiau sudah mundur ke kanan-kir inya, Kongsun Siang bersuara lir ih: "Ada petunjuk apa Ling-heng?"

"Mereka sudah me mbentuk se maca m barisan, mungkin sebentar akan mulai bergerak, kita hanya bertiga, maka jarak satu sa ma lain jangan terlalu jauh, kalau kekuatan terpencar menjadi le mah, ma ka kalian kusuruh kumpul di sini.

"Cong-coh, mereka me mbentuk barisan apa?" tanya Ting Kiau. "Entahlah, orang mereka yang masuk berjumlah sepuluh orang,"

kata Kun-gi.

Tengah bicara, mendadak dari pintu timur dan barat melangkah masuk empat laki2 yang masing2 mengacungkan sebuah lentera, mereka berpencar di e mpat penjuru pendopo. Maka ruang pendopo menjadi terang pula seperti siang hari. Sesuai dugaan Kun-gi, ke 10 laki2 maju me ngelilingi arena.

Kesepuluh orang ini terdiri tua muda ca mpur aduk, yang tua sudah beruban rambut dan jenggotnya, yang masih muda berusia sekitar 25-26 tahun, semua mengenakan seragam hijau dengan potongan yang sama pula, di depan dada mereka tersulam naga terbang. Di tangan masing2 menyoreng pedang panjang hitam guram.

Hanya ada seorang perempuan di antara ke sepuluh orang ini, kain hijau me mbungkus rambut kepalanya, usianya sekitar 40-an, wajah dan dandanannya mirip seorang inang yang kejam dan kaku, kulit mukanya yang sudah keriput dibubuhi pupur tebal, sebuah anting2 gelang sebesar buah kelengkeng tergantung di kuping kirinya. Sepuluh orang berdiri berkeliling menjadi sebuah lingkaran, seorang tepat berada ditengah, agaknya pimpinan dari barisan ini. Dan orang yang berdiri ditengah ini adalah wakil Tongcu Hwi- liong- tong yaitu Tun Thiankhi. pedang lebar terhunus ditangannya, dia berdiri di depan sambil bertolak pinggang. Adiknya Tun Thianlay, termasuk satu di antara sembilan orang yang lain, Agaknya Hwi- liong-tong kali ini telah me mboyong seluruh jago2 lihaynya, besar tekad mere ka untuk me mbereskan Ling Kun-gi bertiga.

Anehnya Hwi-liong-tongcu sendiri yaitu Kim-kau-cian Nao Sam jun tidak kelihatan batang hidungnya, bayangan Ui-liong tongcu Ci Hwi-bing juga tidak kelihatan.