-->

Pendekar Kidal Jilid 19

Jilid 19

Dengan bimbang Loh-bi-jin bertanya: "Apa betul tidak perlu menugas kan beberapa orang lain untuk me njaganya?"

"cayhe sudah menutuk beberapa Hiat-tonya, sementara dia kehilangan kepandaian silatnya, nona Cukup bekerja menurut rencana yang telah kuatur itu."

"Ha mba mengerti," sahut Loh-bi-jin, dia me mbalik kepintu lalu me manggil "Kalian masuk lagi seorang."

Seorang dara kembang mengia kan dan me langkah masuk. Kata Loh-bi-jin sa mbil menuding: "Kalian gusur dia keluar."

Cu-cu tiruan alias Bi-kui dan dara kembang baru ini mengiakan, mereka angkat tubuh Hay-siang terus dibawa keluar.

Loh-bi-jin tidak berani gegabah, lekas dia me mbungkuk: "Hamba mohon diri " cepat2 dia ikut keluar menjaga Hay-siang.

So-yok bertanya: "Ling-heng, Cu-cu masih ada dikamar ku, apa tindakanmu terhadapnya?"

"orang ini lebih penting dari Hay-siang, kita harus mengo mpes keterangan dari mulutnya, sebentar kumohon Hu pangcu sendiri yang mengo mpes dia."

"Kenapa aku yang mengo mpesnya?" tanya So-yok.

"Karena Hu pangcu juga menjabat kepala Hukum, biasanya me laksanakan peraturan sekokoh gunung, seluruh anggota Pang kita sa ma segan dan hor mat kepada mu, kalau Hu pangcu yang tanya dia pasti dia takut dan mau bicara terus terang."

So-yok mencibir,jengeknya: "Kenapa tidak katakan saja ini perempuan galak dan bawel." "Sebagai pelaksana hukum yang harus me megang teguh peraturan sudah tentu Hu pangcu harus bermuka kaku dingin tanpa kenal belas kasihan terhadap yang salah," ujar Kun-gi.

Cerah sorot mata So-yok. katanya tersenyum: "Kau me mang pandai bicara"

Tampak kerai tersingkap. ternyata Bi-kui telah ke mbali. Kini dia telah ganti seperangkat pakaian warna hijau kembang, mengena kan kedok muka Bi- kui yang asli lagi.

"Kiu- moay," seru So-yok heran, "kenapa kau ke mbali?"

Bi-kui me mberi hor mat, katanya tertawa: "cong-su-cia suruh hamba untuk me ndengarkan apa2 yang terjadi di sini."

"o." So-yok bersuara singkat, lalu dia bertanya sambil menatap Kun-gi: "Sekarang boleh mula i?"

"Waktu a mat mendesak. lebih Cepat lebih baik," ujar Kun gi.

So-yok me mbalik, katanya kepada Pek-hoa-pangcu: "Toaci silakan duduk di atas," Lalu dia berkata kepada Giok-lan dan Bi- kui: "Sekarang harap Sa m- moay dan Kiu- moay gusur Cu-cu keluar."

Ruang sidang ini adalah te mpat kedia man Thay-siang, tanpa dipanggil para pelayan tidak berani masuk, ma ka sekarang terpaksa Giok- lan dan Bi- kui harus kerja sendiri, atas perintah So-yok mereka gusur Cu-cu keluar dari ka mar.

Kun-gi serahkan sebutir obat mencuci bahan rias pada Giok-lan dan Giok- lan langsung mencuci bersih wajah Cu-cu dengan obat yang diterimanya itu. Cu-cu yang asli baru berusia 17- an, ternyata gadis yang menyamar jadi Cu-cu ini kelihatan juga baru berusia 17- an-

So-yok duduk pada kursi disebelah bawah te mpat duduk Pek- hoa-pangcu, lalu me mberi tanda anggukan Kepada Giok-lan dan Bi- kui.

Sekali gablok Giok- lan buka tutukan hiat-to Cu-cu. seketika gadis yang menyaru Cu-cu me mbuka mata dan mendapati dirinya rebah di lantai, sesaat dia melenggong, waktu dia angkat kepala, di lihatnya Pangcu, Hu pangcu, cong-su-cia dan la in2 berada di Sekelilingnya. diam2 hatinya terkesiap. bergegas dia merangkak dan menye mbah, serunya: "Hamba menyampa ikan se mbah hor mat kepada Pangcu, Hu pangcu "

Tegak alis So-yok. hardiknya: "Tutup   mulutmu,   tiada dara ke mbang seperti dirimu dalam Pang kita, ketahuilah, Hay-siang sudah mengaku terus terang, maka bicaralah secara blak2an juga , me mangnya kau ingin disiksa dulu?”

Gemetar gadis yang menyaru Cu-cu, katanya sesenggukan sambil mende kam di lantai: "Pangcu, Hu pangcu, ha mba sungguh penasaran-"

"Kiu- moay," kata So-yok angkat tangan, "serahkan sebuah cermin padanya, biar dia melihat tampangnya sendiri."

Bi-kui me ma ng sudah me nyiapkan sebuah cermin bundar terus diangsurkan. Gadis penya mar Cu-cu masih belum tahu kalau ma ke- up dimukanya sudah dicuci, begitu me lihat wajah sendiri di cer min seketika merasa terbang sukmanya, mukanya pucat, bibir gemetar tak ma mpu bicara lagi.

"Hay-siang berani coba me mbunuh Thay-siang, kini telah dijatuhi hukuman mat i,"

Demikian geram So-yok katanya dingin. "Sepatah kata saja kau berani bohong, jangan harap kau bisa hidup."

Dia m2 Kun-gi me mberi isyarat kedipan mata kepada Pek-hoa- pangcu. Segera Pek-hoa-pangcu buka suara: "Cu-cu, mengingat usia mu masih muda belia, mungkin lantaran dipaksa dan diancam orang sehingga kau menyelundup ke tempat kita ini, tapi asal kau suka bicara terus terang, akan kuberi kelonggaran padamu,jiwa mu akan dia mpuni, sebaliknya kalau berkukuh dan tidak menyadari kesalahanmu, ke matian Hay-siang akan me njadi contoh bagimu."

Semakin takut dan gemetar gadis yang menyaru Cu-cu, tangisnya terisak. katanya: "Pangcu dan Hu pangcu harap periksa, semula aku adalah pelayan yang ditugaskan di bawah cui- tongcu, lantaran Ci-Gwat-ngo yang ditugaskan di sini bilang wajahku mirip Cu-cu, demikian juga usia kami sebaya, maka aku disuruh menyaru jadi Cu-cu dan menyelundup ke mari. cui-tongcu menahan ibuku, katanya kalau aku gagal menunaikan tugas ibuku akan dibunuhnya. Mohon Pangcu dan Hu pangcu menaruh belas kasihan terhadap nasib jelekku ini dan a mpunilah diriku."

Ci-Gwat-ngo yang di-katakan ini sudah tentu adalah perempuan yang menya mar jadi Hay slang.

"cara bagaimana kalian menyelundup ke mari"" tanya So-yok.

Tutur gadis yang menyamar Cu-cu: "Bagaimana cara Gwat-go cici masuk ke mari aku tidak tahu, kira2 tiga bulan yang lalu aku diantar ke suatu te mpat yang dekat dengan Hoa keh-ceng, lalu Gwat-go cici me mancing Cu-cu keluar serta menutuk Hiat tonya, sejak itu aku dibawanya masuk Hoa- keh-ceng."

"Kau tahu berapa lama Ci-Gwat-ngo menyelundup ke mari setelah menyaru jadi Hay-siang" tanya So-yok.

"Entah, hamba tidak tahu," sahut gadis itu, "agaknya sudah cukup la ma"

"Setelah kalian berada disini, cara bagaimana pula mengadakan kontak dengan pihak Hek- liong-hwe?"

"Itu urusan dan tugas Gwat-go cici, aku sendiri t idak je las, kalau tidak salah ada seorang lain lagi yang bertugas dalam hal ini." Kun- gi manggut2, tapi dia diam saja tidak me mberi ko mentar.

Tiba2 Bi-kui menyelutuk: "Biasanya kalau berte mu dengan Ci- Gwat-ngo, bagaimana sebutanmu kepadanya?"

"Di muka umum aku me manggilnya cici dan dia me manggilku Cu- cu," sahut gadis itu.

"Kau pernah me lihat orang yang ditugaskan me ngadakan kontak rahasia dengan dia?" tanya So-yok. "Pernah kulihat sekali," tutor gadia itu, "dia mengenakan kedok. di mala m hari lagi, jadi sukar melihat wajahnya? Tapi Gwat-go cici juga mengena kan kedok, mungkin orang itu juga tidak tahu siapa sebetulnya Gwat-ngo cici."

"Mereka sama2 mengenakan kedok. untuk berhadapan dan saling kenal tentu digunakan tanda2 rahasia yang diperlukan?" sela Bi-kui lagi.

"Waktu itu Gwat-ngo cici menyuruhku berjaga di sekeliling tempat itu, waktu kami sa mpai di te mpat tujuan, orang itu sudah ada di sana, aku hanya melihat orang itu angkat sebelah tangan kanan serta menekuk jari telunjuk. se mentara Gwat-ngo cici menggerakkan tangan me mbuat lingkaran ditengah udara lalu menutul ke-tengah2 lingkaran."

"Sudah cukup?" tanya So-yok berpaling ke arah Kun-gi.

Lekas Kun-gi menjura, katanya: "Memang Hu-pangcu lebih berhasil. Ya, sudah cukup,"

"Sa m- moay," kata So-yok. "tutuk Hiat-tonya, sementara sekap dia di ka mar Hay-siang, tugaskan beberapa orang lagi untuk menjaganya." Giok-lan menutuk Hiat-to orang terus mengempitnya keluar.

"congkoan, biar ha mba bantu menggusurnya keluar," kata Bi-kui. "Tidak usah," ujar Giok-lan me noleh," kau mas ih punya tugas

sendiri.

Bi-kui putar tubuh serta member i hor mat kepada Kun-gi, katanya: "Entah cong-su-cia mas ih ada pesan apa?"

"Nona sudah dengar apa yang dikatakan tadi, maka boleh kau bekerja sesuai rencana se mula."

"Ha mba terima tugas," sahut Bi-kui. Setelah me mberi hor mat kepada Pangcu dan Hu pangcu segera dia mengundurkan diri.

Bertaut alis Pek-hoa-pangcu, matanya yang bundar besar terbelalak, bibirnya yang tipis bak delima  merekah bergerak2, tanyanya: "cong-su-cia, di atas kapal kita ini adakah mata2 yang lain lagi?"

Kun-gi menepekur sebentar, katanya kemudian: "Sekarang masih sukar dikatakan, asal rencana ku berjalan dengan lancar, kukira perkara ini segera akan terbongkar."

Sampa i di sini t iba2 dia menjura: "Hari ha mpir terang tanah, Pangcu dan Hu-pangcu sudah lelah setengah mala m, sekarang bolehlah istirahat, hamba t idak punya urusan lagi dan mohon diri."

Fajar menyingsing, sang surya mulai me ma ncarkan cahayanya yang terang benderang.

Lilin masih menyala di ruang makan tingkat kedua. Di atas meja2 yang berbentuk segitiga itu sudah ditaruh beberapa maca m sayur dan bubur yang masih mengepul serta senampan besar bakpau yang banyak jumlahnya.

Kini tiba saatnya sarapan pagi, dari setiap pintu kamar di tingkat kedua beruntun menongo l keluar para Busu yang berpakaian seragam Hijau pupus (Hou hoat) dan hijau kelabu (Hou-hoat-su- cia), mereka berbaris menjadi dua baris, tiada seorangpun yang bicara. Tak la ma kemudian pintu ka mar disebelah kanan terbuka, munculah coh-houhoat Kiu-cay-boan-koan Leng Tio-cong dan Yu- houhoat coa Liang. Hanya cong-su-cia saja   seorang   yang mene mpati sebuah ka mar tersendiri pada tingkat kedua ini, coh- yu- hou hoat berdua menempati satu kamar, sementara yang lain2 empat orang satu ka mar.

Setelah coh-yu-hou-hoat muncul, para Hou-hoat dan Hou-hoat- su-cia segera me mbungkuk badan lalu menegak pula se mbar i berseru: "Hor mat kepada coh- yu-hou- boat."

Kulit muka Leng Tio-co ng yang tirus itu kelihatan me mancarkan senyum lebar yang licik, sebelah tangannya mengelus jenggot kambing di bawah dagunya, katanya manggut2 dengan mata menyapu hadirin: "Kalian cukup pagi, silakan se mua duduk." Barang bukti berupa Sam- lo-ling dan jubah hijau dite mukan di kamar Ling Kun-gi, sejak mala m tadi tak ta mpak bayangan Kun-gi setelah digusur naik ke tingkat atas menghadap Thay-siang. Mereka juga tahu bahwa para dara kembang berbaris naik ke tingkat atas serta turun pula tak kurang suatu apa. Sejauh ini Thay-siang tidak pernah me manggil coh-yu-hou-hoat untuk dimintai keterangan, jelas Thay-siang amat ma rah akan usaha pembunuhan atas dirinya, mungkin secara diam2 Ling Kun gi sudah dijatuhi hukuman mati, Cuma berita ini belum diumumkan saja.

Kalau Ling Kun-gi dihukum mati, maka jabatan cong-su-cia akan kosong, secara langsung se-bagai coh- houhoat, Leng Tio-cong akan dinaikkan pangkatnya mengisi jabatan cong su-cia itu. Karena itulah sikap Leng Tio cong ta mpak r iang dan bersemangat langsung dia menuju ke meja di sebelah kiri terus duduk, serta merta dia melirik kursi di tengah itu yang masih kosong, baru saja ia hendak bersuara menyuruh hadirin mulai makan, sekilas di lihatnya pintu ka mar di ujung kiri sana tiba2 terbuka.

Cong- hou-hoat-su-cia Ling Kun-gi dengan lh-thian-kia m di pinggang dengan jubah hijau yang longgar mela mbai tiba2 muncul dengan langkah tenang. Tiada seorangpun tahu kapan Kun-gi ke mbali ke ka marnya, sudah tentu hadirin kaget dan melenggong. Sikap Ling Kun-gi yang wajar dengan senyum kemenangan dan gagah lagi se-o lah2 tak pernah terjadi apa2, agaknya perkara yang menimpa dirinya telah berhasil dibereskan dengan baik.

Setelah melenga k sebentar, hampir seperti berlo mba saja hadirin berdiri menya mbutnya. Dengan tertawa lebar Kun-gi berkata: "Silakan duduk saja" Dengan langkah tetap dia menuju te mpat duduknya.

Tajam tatapan mata Sa m-gan-s in coa- Liang, tanyanya: "cong-coh tidak apa2 bukan?"

Tawar tawa Kun-gi, ucapnya: "Terima kasih atas perhatian coa- heng, kalau Thay-siang sendiri berpendapat peristiwa itu tidak menyangkut diriku, sudah tentu tiada apa2 pada diriku." Kiu-cay-boan-koan Leng Tio-cong berkata: "orang berani coba me mbunuh Thay-siang dan me mf itnah cong-coh lagi, ini me mbuktikan bahwa di kapal kita ini ada mata2 musuh, maka soal ini harus diselidiki sa mpa i sedala m2nya, entah bagaimana petunjuk dan perintah Thay-siang selanjutnya."

"Betul juga ucapan Leng-heng," ujar Kun-gi. "Walau Thay-siang amat murka, soalnya perkara ini tiada sumber yang dapat dijadikan sumbu penyelidikan, untuk me mbongkar jejak mereka tentu a mat sukar, Kini hanya ada satu cara "

"cara apa?" tanya Leng Tio-cong.

"Tunggu saja, nanti dia akan me mperlihatkan jejaknya sendiri." "Kalau selanjutnya dia tidak mengadakan aksi apa2, lantas kita

tidak ma mpu menangkap dia" kata Sa m-gan-s in-

Tengah bicara, kerai tersingkap. tampak para peronda yang bertugas malam hari telah ke mbali. Mereka adalah Hou hoat Kongsun Siang dan Song Tek seng, Hou- hoat-su-cia Kik Thian-yu, Ki Yu-seng, Kho Thing song dan Ho Siang-seng. Keng-sun Siang pimpin mereka me mber i hor mat serta me mberi laporan: "Lapor cong coh, se mala m suntuk keadaan a man tenteram, ha mba bera ma i telah menunaikan tugas dengan baik."

Yang dikuatirkan oleh Kun-gi adalah kesela matan Kongsun Siang, kini me lihat orang ke mba li dengan segar bugar, maka dia tersenyum lebar sambil manggut2, katanya: "Kalian sudah letih se mala m suntuk. lekas duduk dan ma kan." Sorot matanya satu persatu menyapu wajah keenam orang, entah sengaja atau tidak ia melirik dua kali kearah Ho Siang-seng.

Kongsun Siang berlima menjura lagi sekali lalu menuju tempat duduknya masing2.

Kemudian Kun-gi bertanya:, "Apakah luka2 Nyo Keh-sian dan Sim Kian-sin sudah lebih baik?"

"Mereka sudah bisa turun ranjang dan berjalan beberapa langkah," sahut Leng Tio-co ng, "cuma ha mba kira kesehatan mereka belum pulih seluruhnya, ma ka kusuruh koki mengantar makanan ke ka mar mereka saja."

"Ya, baik," ujar Kun-gi. Setelah makan Kun-gi langsung ke mba li ke ka marnya pula, dia m2 Kong-sun Siang ikut di belakangnya. Tapi Kun-gi tidak ajak orang bicara, agaknya dia menaruh perhatian kearah jendela, ma ka begitu masuk ka mar langsung dia me nuju ke jendela, dengan teliti dia me meriksa dan meraba. Kejap lain tampa k rona mukanya sedikit berubah, dalam hati dia mengumpat: "Bedebah, besar sekali nyali orang ini."

Melihat orang hanya me mperhatikan jendela tanpa hiraukan dirinya, Kongsun Siang kira orang tidak tahu akan kedatangannya, maka dia berteriak: "Ling- heng." Kun gi me mbalik badan, katanya tertawa: "Silakan duduk Kongsun heng."

Teko di meja masih me ngepulkan bau harum, Kongsun Siang menga mbil dua cangkir lalu mengisinya penuh, katanya sambil duduk di kursi sebelah: "Kudengar se mala m ada perkara pembunuhan di atas kapal"

"Kongsun-heng sudah tahu?" ucap Kun-gi.

"begitu ke mbali dan tiba di kapal aku lantas mendengar kabar ini," ujar Kongsun siang, sembar i bicara tangannya mengambil sebuah cangkir teh yang di isinya tadi, katanya pula: "orang berani menye mbunyikan barang bukti di ka mar Ling-heng, bagaimana Ling-heng akan me nghadapi persoalan ini?"

Kun-gi tertawa tawar, sebelum bicara kedua matanya tiba2 menatap tangan Kongsun Siang, serunya dengan suara rendah: "Tunggu dulu, ku- kira air teh ini tidak boleh diminum."

Kongsun Siang sudah angkat cangkir dan menyentuh bibir, dia me lengak mendengar seruan Kun-gi, katanya sambil menatap cangkir ditangan-nya: "Ling-heng kira orang menaruh racun dalam air teh ini?"

"Apakah dia menaruh racun belum bisa dipastikan, tapi setelah aku keluar barusan, terang ada orang masuk ke mari." "Dari mana Ling-heng tahu?"

"orang itu masuk me lalui jendela, jejaknya tak bisa menge labuhi mataku? Mungkin karena gagal me mfitnah diriku, ma ka dia gunakan cara licik lainnya, segala benda yang ada di kamar ini bisa di- pandang mata, untuk melaksanakan t ipu daya terhadapku, kecuali menggunakan racun, kukira tiada cara lain yang lebih baik lagi."

Kongsun Siang melenggo ng, katanya: "Agaknya Ling-heng amat teliti dan hati2, biasanya aku cukup cer mat, kalau akal licik kaum persilatan umum-nya takkan bisa menge labuhi diriku, tapi dengan menaruh racun di dalam air teh yang mas ih mengepul hangat seperti ini jelas sukar diketahui mus lihatnya, nyata aku tak dapat me mbedakan tipu daya musuh ini."

"Aku hanya menduga saja, apa betul air teh ini beracun biarlah kucoba," ujar Kun-gi, dia sobek kain gordyn jendela yang terbuat dari wool terus direndam ke dalam air teh. Ujung kain sobekan masuk air dan jadi basah, tapi tidak menimbulkan reaksi apa2, tidak bersuara juga tidak menimbulkan asap tebal, tapi setelah Kun-gi mengangkatnya tinggi2, ujung kain wool yang terendam air itu tampak berubah hitam gelap seperti hangus terbakar.

Berubah air muka Kongsun Siang, serunya: "Lihay betul racun ini, tak berwarna dan tidak berbau, jadi sukar diketahui." Kelam air muka Kun-gi, dia menenekur tanpa bersuara.

"Kalau de mikian, orang yang menyembunyikan barang bukti di kamar ini dan orang yang menaruh racun dalam air teh ini pasti perbuatan satu orang. "

"Yang menye mbunyikan barang2 bukti adalah Hay-siang dan dia sudah tertangkap," demikian batin Kun-gi. Maka ia lantas berkata. "Kukira bukan perbuatan satu orang saja."

Kongsun siang berjingkrak. tanyanya: "Maksud Ling-heng mata2 musuh yang terpendam di kapal ini bukan hanya seorang saja?"

"Me mang t idak cuma seorang saja," kata Kun-gi, "kalau hanya seorang, apa yang mampu dia lakukan? Saat ini aku me mang belum punya keyakinan, tapi aku tidak akan me mberi kelonggaran kepada mereka."

Kongsun Siang tepuk dada, katanya: "Bila Ling- heng me mer lukan tenagaku, tugas berat apapun takkan kutolak."

"Me mang ada tugas yang perlu bantuan Kong-sun-heng, kalau tiba waktunya pasti akan kuberitahu pada mu."

-oodwoo-

Gudang yang berbau apek dan penuh ditimbuni barang2 makanan dan benda rongsok terletak di tingkat paling bawah dari kapal besar ini, di-batasi oleh sebuah dinding papan yang tebal, gudang yang terletak di tengah kapal itu dijadikan dua bagian, depan dan belakang, sehingga kedua bagian ini satu sama lain tidak bisa berhubungan- Bagian belakang dibagi pula menjadi dua ka mar gudang besar, kamar disebelah depan peranti menyimpan ma kanan dan persediaan air, pokoknya kedua rangsum. Sedang kamar belakang adalah tempat tidur para kelasi. Kelasi yang berjumlah dua puluh orang itu hanya mene mpati sebuah ka mar tidur besar, sudah tentu keadaannya serba kotor dan sumpek,   baunya apek dan le mbab. Paling belakang ada lagi sebuah ruangan, letaknya dipantat kapal, tempatnya sempit dan doyong mir ing, tak mungkin orang bertempat tinggal di sini, jadi keadaannya kosong.

Sementara bagian depan hanya terdapat sebuah ruang besar dan sebuah ka mar kecil, ruang besar itu te mpat para dara kembang tidur, mereka adalah dara2 manis yang le mbut dan belia, ranjang yang mereka pakai selalu bersih dan rapi, sudah tentu tidak sekotor dan sumpek seperti tempar para kelasi itu.

Siapapun asal bukan perempuan, bila masuk ruang besar ini pasti hidungnya akan terangsang oleh bau parfum yang wangi semerbak. bau pupur yang harum, se mangat akan ikut terbang ke-awang2.

Kamar kecil itu diperuntukkan Loh-bi-jin yang diserahi tugas mengawasi dan me mimpin para dara kembang ini, ma ka seorang diri dia me mperoleh fasilitas yang lebih baik. Kecuali ruang besar dan ka mar kecil ini ada pula ruang depan yang kosong, keadaanya seperti pantat kapal, bagian depan kapal inipun serong, cuma miringnya menjurus ke atas, jadi berlawanan dengan buritan yang miring ke bawah.

Ci-Gwat-ngo alias perempuan yang menyaru Hay-siang itu dikurung di ruang depan yang mir ing ini. Se mua dara kembang hanya tahu bahwa seseorang semala m coba me mbunuh Thay-siang, mata2 musuh telah ditangkap. tapi tiada orang tahu kalau perempuan inilah yang menyamar jadi Hay-siang dan hidup rukun sekian la manya dengan mereka.

Me mang tata tertib Pek hoa pang amat keras, sesuatu hal yang tidak diberitahukan. Siapapun di-larang mencari tahu atau bisik, ma in kasak kusuk. Teruta ma sema lam Loh-bi jin sudah me mber i peringatan kepada mereka, peristiwa sema lam dilarang bocor meski hanya sepatah kata, oleh karena itulah tiada yang berani sembarang buka suara.

Ci-Gwat-ngo sudah tertutuk oleh ilmu tutuk khas perguruan Ling Kun-gi, ilmu silatnya sementara telah dibekukan sehingga tak ma mpu berbuat apa2, tapi dia tetap harus dijaga. Menjadi tanggung jawab Loh-bin- jin untuk me nugaskan e mpat dara kembang bergiliran menjaganya, sudah tentu keempat dara kembang ini sudah mendapat pesan Loh-bi-jin bahwa dikala menjaga C i-Gwat- ngo sedapat mungkin ajak orang bicara panjang lebar, seCara halus diharapkan bisa mengorek keterangannya. seperti diketahui walau disiksa oleh tutukan Ling Kun-gi, tapi ci Gwat ngo tetap bandel tidak mau buka suara. Maka Caranya lantas diubah diusahakan dara2 ke mbang ini akan berhasil mengoreknya dalam obrolan2 yang telah direncanakan lebih dulu.

Ternyata Ci-Gwat-ngo me mang terla mpau bandel, meski para dara kembang itu hampir kering ludahnya mengajaknya bicara, dia tetap bungkam seribu bahasa, ma lah peja mkan mata lagi, anggap tidak me lihat dan t idak me ndengar.

Maklumlah, kalau dia pantas menyamar Hay-siang sebagai mata2 terpendam di te mpat musuh, sudah tentu dia pernah mengala mi gemblengan dan ujian berat, hanya beberapa gelintir dara2 ke mbang pingitan ini masa bisa mengore k keterangan dari mulutnya?

Sehari telah lalu tanpa terasa. Sejak pagi sampa i mala m, dua dara kembang yang bertugas gagal me mperoleh keterangan- Bukan saja tak berhasil ajak orang bicara, malah makanan yang diantar sejak pagi hingga mala m tidak pernah diusiksnya, semUa dibawa keluar tanpa disentuh sedikit-pun- Hanya gagal mene lan pil beracun, perempuan ini ingin menghabisi jiwa sendiri dengan mogo k ma kan.

Kini telah tiba saatnya makan ma la m, terdengar langkah2 mende kati, seorang dara muncul di ruang depan sa mbil menenteng rantang makanan, kiranya tiba saatnya pula ganti piket.

"Siu- kui cici, kau boleh ke mba li untuk makan," Yang datang ternyata Cu-cu. .

Pintu terbuka, dengan menenteng rantang makanan yang dibawanya siang tadi, Siu-kiu mencibir, katanya uring2an: "Buat apa kau bawa makanan itu? Sungguh menyebalkan, setengah hari ini hanya menemani orang sekarat belaka," dengan ber-sungut2 ia lantas berlari keluar.

Cu-cu tersenyum mengawasi perginya, pintu gudang dia tutup pula serta menggantung la mpu di atas paku, lalu pelan2 dia turunkan rantang makanan, cepat dia putar tubuh mengha mpiri C i- Gwat-ngo seraya me manggil dengan suara lembut: "cici, kau tidak apa2 bukan?"

Ci-Gwat-ngo yang meringkal itu tiba2 me mbuka mata, sesaat dia mengawasi Cu-cu, katanya: "Kau?"

Cu-cu mengangguk. tanyanya penuh perhatian "Kau tidak apa2 bukan?"

Sambil mengawasi orang Ci-Gwat-ngo bangun berduduk. sekali raih dia tarik tangan kiri Cu-cu sa mbil menunduk. entah sengaja atau tidak dia me mandang pergelangan tangannya, sorot matanya tiba2 me mancarkan rona yang aneh, lalu dia geleng2, katanya: "Siau-koay, syukurlah kau ke mari, hiat-toku tertutuk oleh bocah she Ling itu, tenagapun tak ma mpu kukerahkan-"

"cici," lir ih juga suara Cu-cu, "Hiat-to mana yang ditutuk? Biar kubantu kau me mbukanya . "

Kecut tawa Ci-Gwat-ngo, katanya: "Tutukan khas perguruannya apalagi yang ditutuk adalah urat nadi besar, jangankan dengan ke ma mpuanmu yang Cetek ini, umpa ma seorang ahli yang punya kepandaian 10 kali  lipat  daripada mu  juga  takkan  bisa me mbukanya."

Bertaut alis Cu-cu, katanya kuatir: "lalu bagaimana?"

"Apa boleh buat, ingin matipun aku tidak ma mpu lagi, terpaksa biarlah begini saja."

Kesal dan masgul Cu-cu, katanya: "Apakah mereka bakal me mbebaskan kau?"

Ci-Gwat-ngo mendengus: "Mereka ingin mengo mpes keteranganku."

Cu-cu pura2 kaget, katanya: "Sudah kau katakan?"

"Tidak," berhenti sesaat, lalu Ci Gwat Ngo tertawa, katanya: "Kau kira aku mau bicara? Eh, waktu kau ke mari, bagaimana pesan mereka padamu?" .

Cu-cu menekan suaranya lebih rendah: "Waktu mau ke mar i Loh- bi-jin me manggilku ke ka marnya, dia suruh aku me ngajak kau mengobro l dan nanti me mberi laporan padanya tentang apa saja yang telah kita bicarakan."

Ci-Gwat-ngo mendengus lagi, katanya. "Mereka ingin mengaka li pengakuanku,jangan mimpi,"

Cu-cu berpaling mengawasi rantang makanan, katanya: "Cici, seharian kau tidak makan apa2, mana kau kuat bertahan, kau harus makan." "Tidak!! aku tidak akan makan, cukup asal kau telah ke mar i."

Dengan mata terbelalak Cu-cu bertanya: "Cici, masih ada pesan apa?"

"o, ya," Ci-Gwat-ngo bersuara, "ada sebuah tugas harus kau lakukan-"

"Apa Cici hendak suruh aku me mberitahukan seseorang?"

"Kau tahu siapa orang yang perlu kau beritahu?" Ci- Gwat-ngo balas bertanya.

"Bukankah orang yang pernah kulihat tempo hari? Tapi aku tidak tahu siapa dia,"

Berkelebat sinar dingin pada sorot mata Ci- Gwat-ngo, katanya: "Tak perlu kau tahu siapa dia."

"Lalu cara bagaimana aku harus me mberitahu padanya?"

"Asal kau mondar- mandir tiga kali di atas dek tingkat kedua sebelah kanan, lalu akan datang orang itu mengajak kau bicara."

"Itu gampang, waktu naik ke kapal Loh Bi-jin pernah bilang bila merasa sumpe k berada di tingkat bawah, siapapun boleh naik ke tingkat dua setelah me mperoleh persetujuannya untuk cari angin, api tapi, cara bagaimana orang itu aku ajak aku bicara?"

"Kau tahu tanda2 gerakan tangan kita untuk pertemuan itu?" "Ya, tahu."

Ci-Gwat-ngo berpikir sebentar, katanya: "Cukup asal kau bilang: Rembulan yang ha mpir terbenam tidak benderang lagi, pasang laut akan se makin tinggi. Dua patah kata ini sudah cukup,"

"Apa maksud dan gunanya kedua patah kata itu?"

"Me mberi tahu padanya bahwa aku telah tertangkap. bila ada berita apa2 dari pihak atas biar dia sendiri yang a mbil keputusan." Cu cu ingat betul2, tiba2 dia cekikik tawa, katanya: "Rembulan saat ini me mang ha mpir terbenam, umpa ma ocehanku didengar orang juga tidak menjadi soal"

"o", Ci Gwat- ngo bersuara dalam mulut.

Seperti ingat sesuatu, mendadak Cu-cu mengerut kening, katanya: "Tapi aku harus ganti piket setelah larut malam nanti, bagaimana baiknya?"

"Tidak jadi soal, janji pertemuanku mengadakan kontak dengan dia setelah kentongan kee mpat nanti."

Cu-cu mengangguk. katanya: "Baiklah, akan kuingat baik2."

Dia awasi Ci- Gwat-ngo, lalu berkata pula: "Cici, sedikit2 kau harus makan untuk menjaga kesehatan-"

Dingin kaku muka Ci-Gwat-ngo. "Tidak perlu," sahutnya. "Tapi kau "

"Jangan banyak omong, cukup asal kau sampaikan pesanku tadi."

"Cici jangan kuatir, pasti kusa mpa ikan pesan-mu itu,"

"Berani kau menjua l aku, kapan saja seseorang akan merenggut jiwa mu."

Terunjuk rasa jeri dan takut pada wajah Cu-cu, katanya: "Masa cici tidak percaya lagi padaku"

Melihat orang ketakutan, Ci-Gwat-ngo ganti sikap. katanya dengan suara le mbut: "Sudah tentu aku percaya padamu, kalau tidak takkan ku-serahkan tugas rahasia ini padamu, tapi kau harus hati2, bocah she Ling itu lebih cerdik dan tajam penciuma nnya dari pada anjing pelacak." .

"Aku akan berlaku hati2, mereka takkan tahu apa yang kulakukan.".

Ci-Gwat-ngo manggut2, katanya: "Syukurlah, legalah hatiku." Waktu berlalu dengan cepatnya. Mungkin belum tengah mala m, tapi pintu sudah gudang itu sudah berkeriut terbuka setelah rantai gembo kan berdering nyaring, seseorang memanggil lirih: "Cu-cu Cici lekas buka pintu, tiba saatnya aku menggantimu."

Kalau dihitung dengan waktu yang tepat, saat mana sebetulnya baru lewat kentongan kedua. Sudah tentu se mua ini sudah diatur dengan baik2. Cepat2 Cu-cu tarik pintu lalu menga mbil rantang makanan beranjak   keluar,   seorang dara   kembang yang lain me langkah masuk dan menutup pintu dari sebelah dala m.

Begitu keluar dari ruang kurungan di depan itu, sambil menjinjing rantang makanan, langsung Cu-cu menuju ke ka mar Loh-bi-jin untuk me mber i laporan kerjanya. Tapi tak la ma setelah dia masuk. tampak pintu ka mar terbuka, muncul seorang gadis belia tinggi sema mpai mengenakan gaun panjang warna putih, dengan langkah gemulai dia menyusuri tangga naik ke atas kearah tingkat kedua sebelah kiri. Dia bukan lain ialah salah seorang dari 12 Tay-cia yang bernomor sembilan yaitu Bi-kui adanya.

Sudah tentu Kun-gi belum tidur, dia masih menunggu kabar baik. Baru saja kentong kedua ber-bunyi lantas didengarnya langkah kaki mende kati ka marnya, ketukan pintu pelahanpun terdengar, suara seorang gadis merdu berkata di luar: "Cong-su-cia."

"Siapa?" tanya Kun-gi.

"Ha mba Bak-ni," sahut gadis di luar, "Atas perintah Pangcu, Cong-su-cia dipersilahkan naik ke atas."

Kun-gi me langkah keluar, katanya mengangguk: "Silakan nona ke mbali dulu, segera aku menyusul."

Bak-ni atau si melati terus mengundur kan diri.

Kun-gi merapatkan pintu ka marnya terus naik ke tingkat ketiga. Tampak Bak- ni dan Swi-hiang bersenjata lengkap berjaga di luar pintu, melihat Kun-gi tiba, mereka me mbungkuk ke dalam seraya berseru: "Lapor Pangcu, Cong-su-cia telah tiba." Suara Pek-hoa- pangcu berkumandang dari dala m: "Silakan mas uk." Bak-ni dan Swi-hiang menyingkap kerai kiri- kanan se mbari me mbungkuk hor mat: "Silakan Cong-su-cia masuk."

Tanpa bersuara Kun-gi masuk ke dala m, dilihatnya Pek-hoa- pangcu, Hu pangcu dan Giok- lan serta Bi-kui sudah duduk menge lilingi meja bundar. Melihat Kun-gi masuk, Pek-hoa-pangcu mendahului berdiri, suaranya nyaring le mbut: "Silakan duduk Cong- su -cia."

Sudah tentu So-yok, Giok-lan dan Bi-kui ikut berdiri pula.

Dengan berseri tawa So-yok tak mau ketinggalan, katanya: "Muslihat Ling-heng ternyata amat manjur, lekas duduk dan dengarkan kabar ge mbira."

Kun-gi me njura, katanya: "Pangcu, Hu pangcu, Congkoan dan Taycia silakan duduk." Lalu dia tarik sebuah kursi dan duduk di sebelah kiri yang masih kosong, tanyanya sambil menoleh kepada Bi-kui: "Nona berhasil mengorek keterangan apa?"

So-yok mendahului bicara: "Bukan saja mengorek keterangan, ma lah ma lam ini kita akan dapat membekuk seluruh mata2 musuh yang mengendon di kapal kita ini."

Dengan tertawa Pek-hoa-pangcu berkata: "Ji-moay me mang berwatak keras dan terburu nafsu, duduk persoalannya biar dijelaskan dulu oleh Kiu- moay, Cong-su-cia sendiri yang memimpin operasi ini, dia harus mendengar laporan selengkapnya baru akan me mber ikan petunjuk dan perintah selanjutnya."

Sedikit me mbungkuk Kun- gi berkata: "Berat ucapan Pangcu untuk diterima." Lalu dia menga mati Bi- kui, katanya: "Bagaimana, hasil kerja nona? Kurasa Ci-Gwat-ngo adalah perempuan yang licin dan cerdik, apakah samaran nona tidak diketahui olehnya?"

"Aku yakin akan ilmu tata rias Cong-su-cia teramat lihay, sedikitpun dia tidak mengunjuk perasaan curiga padaku," lalu Bi- kui ceritakan pengalaman dan pe mbicaraannya tadi dengan ringkas dan jelas. Setelah mendengar laporan itu, Kun-gi angkat kepala, katanya: "Sekarang baru kentongan kedua, mas ih dua jam lagi baru kentongan kee mpat "

"Dengan waktu yang cukup kita dapat mempers iapkan diri lebih matang, sekarang silakan Ling-heng   mengatur tipu daya dan me mber i ko mando," ujar So-yok.

Tawar tawa Kun-gi, katanya: "Memberi ko ma ndo, terus terang Cayhe tidak berani."

Pek-hoa-pangcu lantas berkata: "Thay-siang sudah serahkan kekuasaan kepada Cong-su cia me mbongkar perkara ini, termasuk aku, Ji-moay dan Sam-moay seluruhnya siap tunduk dan patuh akan petunjuk mu, ma ka tidak perlu kau sungkan."

"Sebetulnya persoalan ini cukup sederhana," ujar Kun-gi,"kalau betul bangsat itu muncul di dek sebelah kanan dan ajak bicara dengan nona Bi-kui, ha mba yakin masih punya cukup waktu untuk me mbe kuknya hidup2."

"Lalu kami bagaimana? Me mangnya kau suruh kami meno nton saja?" sela So-yok.

"Hu pangcu dan Congkoan harap sembunyi di atas dek tingkat ketiga sebelah kanan, begitu melihat orang itu muncul, setelah nona Bi-kui saling me mberi tanda gerakan tangan, kalian boleh segera terjun ke bawah mencegat jalan mundurnya," merandek sebentar, Kun-gi menatap Bi-kui: "Cuma ada satu hal, harap nona suka perhatikan-"

"Hal apa?" tanya Bi-kui

"Nona harus tetap menyaru dan berpura2 lebih lanjut, bila mendadak dia muncul, kau harus pura2 bersikap gugup dan ketakutan sembari mundur, jangan sekali2 kau berusaha merintangi dia,"

"Kenapa de mikian?" tanya Bi-Kui. "Bangsat itu pasti me mbawa So m- lo sing atau senjata rahasia lain yang jahat, umpama nona tidak berusaha mer intangi dia, mungkin karena rahasia sudah terbongkar, dia bisa turun tangan keji untuk menutup mulut nona. Betapa dahsyat kekuatau Som-lo- ling itu sukar dihindarkan dari jarak dekat, maka kau harus pura2 takut sambil mundur sejauh mungkin untuk menyela matkan diri dari segala ke mungkinan."

Haru dan terima kasih Bi kui, katanya dengan prihatin: "Dan kau, kau tidak takut diserang oleh dia?" Setelah mulut bersuara baru dia sadar, betapa kasih mesra kata2nya dihadapan Pangcu dan Hu pangcu bertiga.

"Me mang," timbrung Pek-hoa-pangcu, "dalam keadaan kepepet musuh bisa berlaku nekat, maka kaupun harus hati2."

"Terima kasih atas perhatian kalian, Cayhe punya cara untuk menghadapinya,"jawab Kun-gi.

"o, ya," kata   Pek-hoa-pangcu,   "apakah Cong-su-cia   tidak me mber i tugas padaku?"

"Pangcu sebagai pimpinan tertinggi dalam Pek-hoa-pang, hanya menghadapi mata2 musuh saja mengapa harus turun tangan sendiri, cukup asal duduk saja di sini menunggu berita ge mbira."

Baru saja dia habis bicara, terdengar suara Bak-ni berkata di luar: "Lapor Pangcu, Taycia Loh-bi-jin ada urusan penting mohon bertemu dengan Pangcu."

"Lekas suruh dia masuk." So-yok mendahului bersuara. Kerai tersingkap. dengan gopoh dan tegang loh-bi-jin menerobos masuk.

"Cap go moay," tanya Pek-hoa-pangcu, "apa yang terjadi?"

Dada Loh-bi-jin masih turun naik, napasnya ter-sengal2, ia me mbungkuk kepada Pek-hoa-pangcu dan berkata: "Lapor Pangcu, Ci-Gwat-ngo yang dikurung di bawah gudang ternyata telah bunuh diri dengan menggigit putus lidahnya sendiri." "Apa?" mendelik mata So-yok. "keparat itu bunuh diri dengan menggigit putus lidah sendiri, me mangnya kau tidak suruh orang menjaganya?"

Loh-bi-jin me mbungkuk, serunya: "Setelah Kiu-ci (Bi-kui) pergi, Ci-Gwat-ngo dijaga oleh Ting-hiang, dia terus meringkel tak menghiraukan orang lain, setelah Ting-hiang me lihat darah yang berceceran dikepalanya baru tahu kalau dia sudah mati me nggigit lidah."

"Gentong nasi se mua," o me l So-yok. "seorang lumpuh saja tidak ma mpu me njaganya, kau tahu dia pesakitan penting yang berusaha me mbunuh Thay-siang?"

Loh-bi-jin menunduk. sahutnya: "Hamba ke mari untuk minta hukuman pada Pangcu dan Hu pangcu "

"Kesalahan tidak bisa dijatuhkan kepada orang yang menjaganya, mungkin Ci- Gwat-ngo mengira setelah menyuruh Cu- cu menya mpaikan kabar jelek tentang dirinya berarti dia sudah menuna ikan tugas terakhir, hidup juga hanya tersiksa belaka, ma ka dia nekat bunuh diri. Me mangnya dia meringkel tanpa buka suara, jangan kata orang lain, umpama kita sendiri juga takkan menduga sebelumnya, sekarang lekas nona Loh turun saja, ke matian C i-Gwat- ngo jangan sekali2 sa mpa i bocor."

Haru dan berterima kasih sorot mata Loh-bi-jin kepada Ling Kun- gi, katanya: "Waktu hamba kemar i tadi sudah me mberi pesan kepada Ting-hiang, kularang dia me mbocor kan kejadian ini."

"Baiklah, lekas kau turun saja," ujar Pek-hoa- pangcu. Loh-hi-jin mengiakan dan mengundurkan diri.

"Kalau Cong-su-cia tiada pesan lainnya, hamba juga ingin mohon diri saja," kata Bi- kui.

"Nona harus ingat perkataanku tadi, waspadalah selalu" pesan Kun-gi.

"Ha mba mengerti," sahut Bi-kui, dia menyingkap kerai terus keluar. Akhirnya Kun-gi juga berdiri, katanya: "Waktu masih ada satu setengah jam, Pangcu dan Hu-pangcu boleh istirahat, hamba juga mohon diri dulu."

Tersenyum manis Pek-hoa-pangcu, katanya: "Tunggulah sebentar Coh-su-cia, tadi sudah ku-suruh Sa m- moay ke dapur me mber i tahu koki untuk me mbuat beberapa nyamikan supaya kita tidak kelaparan tengah mala m ini."

Terbeliak So-yok. katanya tertawa riang: "Toaci, kenapa aku tidak tahu?"

Pek-hoa-pangcu tertawa lebar, katanya: "Memang kupesan Sam- moay supaya tidak me mberitahukan pada mu, supaya kau kaget dan kegirangan, malah kusuruh buatkan ma kanan kege maranmu. "

So-yok cekikikan, katanya: "Ya, tentunya bolu mawar, Toaci sunggub baik hati." Lalu dia berpaling kepada Kun- gi, katanya: "Tadi sudah kupikir lebih baik Ling- heng tetap di sini saja, dari tingkat ketiga ini bukan saja bisa menyaksikan dengan jelas, umpama harus menubruk turun mencegat musuh juga lebih le luasa dan cepat."

"Banyak terima kasih atas kebaikan Pangcu, baiklah terpaksa hamba me ngganggu," demikian ucap Kun-gi. .

Kerai tiba2 tersingkap. tampak Toh cian ber-sa ma Siang-hwi mengusung sebuah baki besar berjalan masuk dan diletakkan di meja bundar sana. Lalu dengan hati2 me mbuka tutup baki dan menge luarkan e mpat tatakan, di atas tatakan masing2 berisi bolu mawar, manisan kenari, pangsit udang dan goreng kepiting. Menyusul Swi hiang juga masuk me mbawa sepanci bubur sarang burung, di hadapan e mpat orang masing2 dia isi se mangkok penuh bubur sarang burung itu lalu mengundurkan diri.

Dengan sumpitnya So-yok jepit sepotong bolu mawar dan ditaruh di lepek Ling Kun- gi, katanya riang: "Ling-heng,aku paling suka makan bolu   mawar,   wangi   lagi   empuk.   manis   tapi   tidak me mbosankan, coba kaupun mencicipi." Merah muka Kun-gi, katanya: "Terima kasih Hu pangcu, biarlah aku a mbil sendiri."

So-yok melerok. katanya: "Ling-heng sekarang adalah cong-su- cia kita, kedudukanmu sejajar dengan Hu pangcu yang kujabat, kenapa selalu kau mas ih me mbahasakan ha mba pada diri sendiri?"

Pek-hoa-pangcu juga angkat sumpit yang terbuat gading, dijepitnya sepotong pangsit udang dan diangsurkan kedepan Kun-gi, katanya dengan tertawa: "Aku suka pangsit udang karena warnanya putih seperti batu jade, coba cong su-sia me n-cicipi."

Muka Kun- gi yang jengah tampak berkeringat, berulang kali dia nyatakan terima kasih, katanya: "Silakan Pangcu makan juga."

Giok lan menjadi geli sendiri, katanya sama tengah: "Toaci dan Ji-ci tidak anggap cong-su-cia sebagai orang luar, kenapa cong-su- cia malah sungkan dan ma lu2? Kukira cong-su Cia suka ma kan apa saja boleh silakan a mbil sendiri, kalau ma in sungkan begini perut takkan bisa kenyang."

"Sa m- moay me mang betul," ujar So-yok. "me mang itulah Cirinya, kita tidak anggap dia orang luar, dia justeru anggap dirinya orang asing."

"Ah. masa," ujar Kun-gi ma lu2 "cayhe tidak beranggapan demikian."

Giok lan Cekikian geli, katanya: "Sebelum datang ke Pang kita mungkin cong-su-cia jarang bergaul dengan anak pere mpuan, betul tidak?"

"Ya, me mang demikian," sahut Kun- gi manggut.

Biji mata So-yok mengerling, katanya tertawa: "o, pantas, maka kau selalu pe malu."

Penuh kasih mesra lirikan Pek-hoa-pangcu, katanya tersenyum: "Sudahlah, jangan ngobrol saja, mar i makan mumpung masih hangat." Di bawah penerangan la mpu yang redup, berhadapan dengan tiga nona secantik bidadari, dengan tutur kata le mah le mbut lagi, perasaan laki2 mana yang takkan melayang keawang2. Selesai sarapan, pelayan mengangkuti peralatan serta menyuguhkan sepoci teh wangi.

Lambat laun sang waktu mendekati kentongan kee mpat. Bulan sabit yang sudah doyong ke barat masih bercokol di cakrawala, bintang kelap-kelip menghiasi angkasa, cuaca re mang2.

Tiada sinar pelita di atas kapal besar ini, se mua penghuni sudah terbuai dalam impian- Hanya ditempat yang gelap dekat daratan sana kelihatan bayangan beberapa orang, mereka berpencar mondar- mandir sa mbil berdiri celingukan. Itulah para Hou-hoat-su- cia yang bertugas ronda.

Mendadak sesosok bayangan langsing se ma mpa i muncul dari tangga kayu tingkat terbawah, langkahnya pelan ringan dan hati2 manjat ke atas dek- di tingkat kedua. Dilihat bentuk tubuh dan dandanannya, jelas dia adalah salah seorang dara ke mbang.

Langkahnya enteng tidak menge luarkan suara, pelan2 dia beranjak ke haluan kapal menyusuri pagar, kepalanya mendonga k me mandang bulan sabit yang ha mpir tenggelam diufuk barat, pandangannya sayu seperti orang me la mun.

Dia bukan lain adalah Un Hoan-kun yang menya mar Bi-kui. ma lam ini Bi- kui palsu ini menyaru jadi cu- cu pula menjalankan rolnya sesuai rencana Ling Kun-gi.

Berdiri sejenak di haluan, dia menunggu dengan sabar, serta me lihat tiada reaksi apa2 di sekitarnya, pelan2 dia putar tubuh beralih ke dek sebelah kanan. Angin mala m meniup sepoi2 sehingga dia tampa k suci dan anggun, setiap langkahnya beralih la mban dan ringan- Tapi gayanya sedemikian indah ge mulai.

Kalau langkah kakinya la mban dan tenang mantap. sebaliknya jantung tiga orang yang mengintip dari tingkat ketiga justeru berdebar2 tegang. So-yok sembunyi di haluan depan, Giok— lan mene mpatkan dirinya di buritan yang gelap. tugas mereka adalah mencegat musuh begitu melihat Bi- kui (Cu-cu) me mberi tanda. Tapi kekuatan yang utama berada di tangan Ling Kun-gi, dia harus mendadak   muncul,   secara sigap dan tangkas harus berhasil me mbe kuk lawan sebelum sempat turun tangan atau melarikan diri. Maka dia se mbunyi di te mpat yang paling dekat bagian kanan deretan kamar, badannya mepet dinding tanpa bergerak.

Lamban langkah Bi- kui, secara dia m2 iapun sudah kerahkan hawa murninya, seperti panah yang siap terpasang dibusurnya tinggal me lepaskannya.

Bayangan Cu-cu yang anggun ini dari haluan sudah tiba di buritan mela lui dek kanan, lalu dari buritan putar balik pula ke haluan, langkahnya tetap pelan dan penuh perhitungan-   Dia me mang t idak tahu bahwa saat itu  seseorang  sedang me mperhatikan dirinya, tapi dia yakin bahwa gerak-gerik dirinya tentu sudah diincar orang dari tempat Se mbunyinya. Karena dia me lakukannya sesuai janji tempat dan tepat pada waktunya, dia me lakukan isyarat pula yang sudah ditentukan sebelumnya.

Kini dia sudah putar balik, menuju ke buritan lagi, supaya orang yang me mperhatikan dirinya di tempat gelap itu me lihat lebih jelas, maka setiap langkah kakinya itu bergerak a mat pelan sekali..

Ada kalanya dia menunduk kepala seperti memikirkan sesuatu, lalu me nengadah me mandang ke te mpat jauh seperti me ngenang masa sila m, sementara jari jemar inya menguce k2 sapu tangan sutera di tangannya.

Bagi orang yang tidak tahu duduk persoalannya tentu mengira nona ini sedang menunggu sang kekasih ditengah mala m buta dan hendak mengadakan pertemuan rahasia, karena tidak sabar menunggu ma ka dia mondar- mandir menghabiskan waktu.

Dia m2 Kun-gi manggut2, batinnya: "Walau hanya sandiwara, tapi dia dapat main dengan baik sekali, seperti kejadian sesungguhnya."

Kini sudah putaran yang ketiga. Dari haluan dia melangkah ke buritan pula, lalu ke mbali lagi ke haluan, Kalau orang itu akan muncul maka dia akan keluar di tengah perjalanan antara buritan ke haluan ini.

"Nah, tibalah saatnya," demikian batin Kun- gi, dia sudah menarik napas panjang, matanya menatap tajam ke arah Bi-kui, iapun pasang kupingnya yang tajam sa mbil me lir ik sekitarnya, ke segala sudut ke mungkinan dari ma na orang itu akan muncul.

Inilah detik2 yang menegangkan, karena hal ini amat penting, maka dia merasa perlu tahu dari arah mana orang itu akan muncul. Karena dari mana dia keluar mungkin pula dari arah itu juga dia akan mundur dan Kun-gi harus bersiaga mencegat jalan mundurnya, kalau tidak jangan harap akan bisa menawannya hidup2.

Tatapan Kun-gi ikut bergerak mengikut i lang- kah Cu-cu, dari buritan sampai ke haluan kapal-. Kini dia sudah selesai menjalankan isyarat yang telah dijanjikan sebelumnya, pulang pergi tiga kali, lalu berdiri tegak di haluan kapal.

Orang yang ditunggu dan harus keluar itu tetap tidak kunyung tiba. Sudah tentu Cu-cu tidak akan bergerak lagi, terpaksa dia tetap berdiri tenang di haluan, menyongsong he mbusan angin mala m, bersikap pura2 seperti orang kelelahan dan sedang ist irahat.

Sebetulnya pikirannya timbul tenggela m, gelisah dan masgul pula. "Kenapa dia belum muncul juga?"

Sudah tentu yang gelisah bukan hanya dia seorang. So-yok lebih risau lagi, tangannya sejak tadi sudah menggenggam gagang pedang, alisnya bertaut dan sudah habis kesabarannya menunggu. Giok lan biasanya sabar dan tenang, kini iapun ikut gelisah pikirnya: "orang itu tak mau muncul, bisa jadi dia sudah tahu akan rencana kita hendak menyergap dia, tapi rasanya tidak mungkin-"

Walau   gelisah   Kun-gi   tak   pernah   lena,   matanya   tetap me mperhatikan Cu-cu yang berdiri disana, dia masih berharap sesuatu perubahan akan terjadi, dia menunggu penuh kesabaran- Tak ubahnya seperti seseorang yang me mancing ikan, sedikit bergeming, ikan yang akan terpancing bisa terkejut dan lari.. Cu-cu mas ih berdiri di haluan tingkat dua. Tiga orang yang sembunyi di tingkat ketiga juga tetap berjaga2 penuh waspada. Detik demi detik telah berlalu, orang seharusnya muncul tetap tidak kunjung datang. Lama2 Ling Kun-gijadi kesal.

"Mungkinkah orang itu tidak akan muncul? Kenapa dia tidak keluar? dalam soal ini tentu ada sebab musababnya."

Mengingat sebab musabab ini, seketika dia teringat adanya beberapa gejala yang mungkin me njadikan orang itu merasa curiga dan bertindak hati2. Umpa manya: "Apakah betul isyarat yang dituturkan Ci-Gwat-ngo? Tapi setelah dia berpesan kepada Cu-cu untuk melaksana kan tugasnya sesuai apa yang dia jelaskan, lalu bunuh diri, jelas bahwa isyarat yang dia tuturkan takkan salah. Kalau isyarat ini t idak salah, kenapa orang itu t idak muncul? Mungkinkah dia curiga dan tahu akan rencananya? Tapi inipun tidak mungkin"

Mendadak ia teringat kepada Ci-Gwat-ngo suruh Cu-cu mondar- mandar tiga kali di atas kapal, me mangnya isyarat untuk menya mpaikan sesuatu berita? Mungkinkah rahasia Cu-cu tiruan ini sudah diketahui oleh Ci-Gwat-ngo?

Karena yang ditunggu tetap tak kunjung tiba, sudah tentu Cu-cu alias Un Hoan-kun masih tetap ia berdiri di tempatnya, kini dia sudah berdiri setanakan nasi la manya, tapi orang itu tetap tidak kunjung datang.

Kun-gi menjadi sadar bahwa langkah pionnya kali ini jelas gagal total, kalah oleh Ci-Gwat-ngo yang telah mati dan sukses menuna ikan tugas. Maka dia tidak perlu ragu lagi, dengan ilmu suara dia berkata kepada Cu-cu: "Nona tak usah me nunggu-nya lagi, dia tidak akan datang, kembalilah ganti pakaian dan segera naik ke mari."

Mendengar seruan Kun-gi, sekilas Cu-cu melengak. dengan kepala tunduk pelan2 dia beranjak turun lewat tangga terus ke bawah. Habis bicara Kun-gi lalu me mberi tanda gerakan tangan ke arah Giok lan dan So-yok terus mendahului masuk ke dalam. So-yok menyongsong kedatangannya sambil bertanya: "Bagaimana Ling- heng?"

"Marilah kita bicara di dalam saja," ajak Kun-gi. "Apakah rahasia kita sudah bocor?" tanya So-yok.

Kun-gi menggeleng, katanya: "Mungkin kita tertipu malah."

"Tertipu?" seru So-yok. "Dit ipu siapa?" "oleh Ci- Gwat-ngo," kata Kun-gi.

Melihat mere ka bertiga masuk, Pek-hoa-pangcu lantas bertanya: "Jadi apa yang dibicarakan Ci- Gwat-ngo itu bohong belaka?"

"Paling tidak separo yang dikatakannya hanya bualan belaka," sahut Kun-gi.

Pek-hoa-pangcu melenggong, tanyanya: "Bualan apa maks udnya?"

"Kita diperalat olehnya untuk me mber i kabar kepada te mannya."

Pek-hoa-pangcu me lengak, tanyanya: "Maksud cong-su-cia bahwa Ci-Gwat-ngo sudah tahu tipu daya yang kita atur?"

"Mungkin de mikian," kata Kun-gi.

Tengah bicara ta mpak Bi-kui berjalan masuk. tanyanya: "Kenapa cong-su-cia me manggilku ke mbali?"

"Umpa ma nona menunggunya lagi satu ja m, dia tetap takkan keluar," ucap Kun-gi. "cong-su-cia kira apa yang dikatakan Ci-Gwat- ngo hanya bualan belaka"

Tanpa menjawab Kun-gi mende kati meja, di-je mputnya secangkir air teh terus ditenggaknya, lalu berkata: "Silakan duduk nona, Ceritakan pula sejelasnya pe mbicaraanmu tadi dengan C i-Gwat- ngo."

Bi-kui me lenggong, katanya: "Maksud cong-su-cia penyamaranku telah diketahui oleh Ci-Gwat-ngo?" "coba nona bayangkan kembali secara cermat, sejak kau masuk ke sana sa mpai pe mbicaraan kalian yang terakhir."

Bi-kui duduk disebuah kursi, katanya: "Hamba menggant ikan Siu- kin mengantar makan mala m padanya, setelah siu-kin pergi, ha mba lantas menutup pintu, la mpu kugantung di dinding, setelah menurunkan rantang makanan kuha mpir i dia, kupanggil dia dan tanya: cici, kau tidak apa2 bukan? Se mula Ci-Gwat-ngo rebah tak bergerak. mendengar suaraku tiba2 ia me mbuka mata, suaranya lir ih terCengang: Kaukah? - Ha mba manggut2 sambil tanya: Kau tidak apa2? - Dengan susah payah dia merangka k berduduk, sambil menarik tanganku, katanya dengan menunduk: Siau- moay, - syukurlah kau telah datang

Mendadak Kun-gi angkat tangan, "Tunggu sebentar nona, dia menarik tanganmu yang mana?"

"Tangan kiri."

"Waktu dia berduduk, apakah selalu tunduk kepala" Bi- kui mengiakan sa mbil mengangguk.

Kun-gi meno leh ke arah Giok- lan, katanya: "Minta tolong congkoan, suruhlah orang me mbawa Cu-cu ke mar i."

Giok- lan mengiakan terus mengundur kan diri, tak la ma ke mudian ia me mbawa Bak-ni dan Swi-hiang me mapah Cu-cu masuk.

Bi-kui tidak tahu dalam hal apa dirinya berbuat salah dan sudah diduga oleh Ling Kun-gi, maka dengan melongo ia pandang Cu-cu yang di-gusur masuk.

Kun-gi mengha mpir i dan pegang tangan kiri orang, betul juga ditemukan sebuah tahi la lat ke-cil di ujung bawah telapak tangan kiri Cu-cu, meski keCil tahi lalat itu, hanya sebesar lubang jarum, tapi warnanya hitam legam, kalau tidak diteliti me mang sukar mene mukannya. Maka dia mendengus sekali, katanya: "Hek liong- hwe me mang Cermat bekerja, sampai orang utusan mereka juga sudah diberi tanda khusus di badannya, umpama orang luar bisa menya marnya juga sukar me ngelabui orang mere ka sendiri." "Jadi tanda ini sudah mere ka tato sebelum di utus keluar?" tanya So-yok. Kun-gi manggut2.

"Tangannya sudah di tato, tak heran Ci-Gwat-ngo menarik tanganku serta me meriksa dengan telit i, cermat dan cerdik serta licin betul orang ini."

Kun-gi me mber i tanda supaya Cu-cu digotong keluar, katanya: "Tangannya sudah di tato sele mbut ini tanpa kita ketahui, inilah kecerobohan kita. kesalahan yang kecil dan tidak di sengaja, tapi mengakibatkan gagalnya urusan besar."

"Apakah ha mba perlu meneruskan bercerita?" tanya Bi-kui. Kun-gi menggeleng dan berkata: "Sudahlah."

"Bahwa dia sudah tahu aku Cu-cu palsu, sudah tentu apa yang dia katakan padaku juga tak-dapat dipercaya," ujar Bi- kui pula.

"Ci-Gwat-ngo me mang cerdik dan licin, walau dia tahu bahwa Cu- cu dipalsukan orang lain, tujuannya sudah tentu untuk mengorek keterangan dari mulutnya, ma ka dia sengaja mengatur tipu untuk balas menipu kita, dan nonalah yang diperalat untuk menyampaikan berita buruk tentang dirinya."

"Hah, ha mba yang menya mpaikan beritanya?" teriak Bi-kui kaget.

"Ya, dia minta padamu supaya mo ndar- mandir t iga kali di atas dek tingkat kedua setelah kentongan keempat, mungkin itulah salah satu cara untuk mengadakan kontak secara rahasia, karena lena dan kurang hati2, kita ma lah kena diselomoti mere ka."

"Bangsat keparat yang pantas ma mpus" dengus So-yok gusar.

Pek-hoa-pangcu manggut2, katanya: "Analisa cong-su-cia amat masuk akal, dia tahu kita pasti mela kukannya sesuai pesannya, maka dia rela gigit putus lidah sendiri mencar i jalan pendek. cong- su-cia, lalu bagaimana tindakan kita selanjutnya?"

Bercahaya sorot mata Ling Kun-gi, tiba2 dia tersenyum, katanya: "Walau Ci-Gwat-ngo licik dan licin, tapi para begundalnya itu sudah berada dalam genggaman tanganku, kuyakin mereka tidak akan bisa lolos."

Terbelalak mata So-yok. serunya girang: "Jadi kau sudah tahu siapa mereka? coba sebutkan na ma2 mere ka."

"Wah, ini   " Kun-gi ragu2.

"Kenapa? Kau tidak mau me nerangkan?" desak So-yok.

"Maaf Hu-pangcu, sekarang belum kuperoleh bukti nyata, sudah tentu Cayhe tak bisa menuduh seseorang yang tidak terbukti me lakukan kesalahan."

"Kau me mang suka jual mahal," So-yok merengut.

”Ji- moay," sela Pek-hoa-pangcu, "apa yang dikatakan cong-su-cia me mang tidak salah, sebelum me mpero leh bukti yang nyata, tak bisa kita me mfitnah seseorang sehingga me mbikin orang penasaran, untuk me mbongkar ko mplotan ini ke-akar2nya kita harus bekerja penuh kesabaran."

"Baiklah, aku takkan banyak bertanya lagi, lalu apa yang harus kita kerjakan, tentunya cong-sucia bisa me mberi petunjuk?" tanya So-yok.

Kun-gi tertawa, katanya: "Urusan selanjutnya kuyakin dapat menyelesaikannya ditingkat kedua, ma ka Pangcu, Hu-pangcu dan congkoan selanjutnya boleh tidak usah turut Ca mpur."

"Apakah tenaga hamba masih dibutuhkan cong-su-cia?" tanya Bi- kui.

"Untuk se mentara tiada tugas nona lagi, setelah orang itu dapat kubekuk, nona boleh tampil sebagai saksi."

"Eh, agaknya kau yakin benar akan rencanamu," ucap Bi- kui dengan melerok.

"Me mangnya jabatan cong-su-cia harus sia2 berada ditanganku." Pek-hoa-pangcu menatapnya penuh rasa kasih mesra dan prihatin, katanya: "Thay-siang me mang tidak meleset menila i dirimu."

oooodwoooo

Kapal besar itu laju mengikut i arus sungai Tiang- kang, kini sudah me masuki wilayah propinsi An-hwi dan ha mpir sa mpai perbatasan Kang-soh.

Sejak terjadi usaha pembunuhan atas diri Thay-siang dan barang bukti ditemukan di ka mar Ling Kun-gi, Thay-siang ternyata tidak menaruh curiga padanya. Bukan saja Ling Kun-gi t idak di-hukum, ma lah dia tetap menjabat cong-su-cia dan diberi kuasa untuk me mbongkar peristiwa pe mbunuhan ini. Dan peristiwa ini akhirnya tiada kelanjutannya dan terbengkalai demikian saja.

Beruntun dua hari keadaan a man tenteram tak terjadi apa2 lagi, perasaan semua prang mulai tenang dan lupa akan kejadian yang lalu. Kapal terus berlayar sesuai haluan yang ditunjuk dan berlabuh ditempat yang sudah ditentukan pula, selanjutnya tidak ditemukan rintangan apa2, tiada kapal musuh yang menguntit, seolah2 Hek liong-hwe tidak tahu bahwa Thay-siang-pangcu Pek-hoa-pang pimpin sendiri pasukan intinya untuk menyerbu ke sarang mereka. Secara tidak langsung ini me mbuktikan bahwa sarang Hek- liong- hwe yang menjadi tujuan utama mereka letaknya tentu masih teramat jauh sekali.

Hari ketiga setelah Cu-cu palsu menyampaikan berita dengan cara mondar- mandir tiga kali di atas dek sebelah kanan, Menjelang senja kapal berhenti pada kaki bukit Liang-san sebelah timur.

Gunung Liang-san dibatasi sebuah aliran sungai sehingga terbagi timur dan barat, umpama sebuah pintu bagi Tiang-kang yang panjang dan luas, maju lebih lanjut adalah Gu-cu-san, karena letak gunung itu menonjol keluar dan menjurus ke tengah sungai, maka dia juga dina makan Gu-cu- ki. Enam sa mpan yang berisi para peronda yang dinas malam sudah mulai bergerak diperairan sekitarnya, malam ini para peronda itu tetap dibagi dua kelo mpo k. Kelo mpo k pertama dipimpin oleh Houhoat cin Tek khong ditemani Houhoat-su-cia Kho Ting-seng yang pandai menggunakan pelor perak. seorang lagi adalah Ji Siu- sang, murid Bu-tong-pay, tugas mereka adalah 10 li perairan perbatasan timur dan barat gunung Liang-san- .

Kelo mpo k yang lain dipimpin oleh IHouhoat Liang ih-Hun, dua Houhoat su-cia yang mene mani adalah Ban Yu-wi dan Sun Ping- hian. sepuluh li sebelah selatan perairan kaki gunung Liang-san menjadi daerah operasi mereka, tegasnya 20 li sekitar kapal yang ditumpangi Thay-siang itu kapal lain milik siapapun dilarang mende kat.

Waktu turun kapal Cin Te-khong telah me mber i tahu kepada Kha Ting-song danJi Siu-seng:

"Ji-heng, Khong- heng, daerah operasi kita lain dengan daerah yang harus dijelajah oleh kelompok Liang Ih-jun, dalam jarak 20-an li mereka masih biaa saling kontak secara leluasa, sebaliknya bagian kita ini kalau ma ju lagi adalah Gu-Cu-ki dibawah lereng gunung adalah perka mpungan kaum nelayan, besar kemungkinan musuh bersembunyi di sana, maka kita harus hati2, menur ut hematku dalam kelo mpok kita ini harus me mbagi tugas,

Kho-heng ke sebelah timur,Ji-heng ronda sebelah barat, aku akan tetap berada di tengah sebagai poros untuk me mber i bantuan ke segala jurusan, setiap setengah jam kita berte mu sekali di utara Gu-cu-ki, semoga tidak akan terjadi apa2."

Kho Ting-seng dan Ji Siu-seng berkata bersama: "Rencana kerja cin-houhoat me mang baik, ka mi menerima pe mbagian tugas ini."

Begitulah mereka bertiga lantas berpencar ke utara menurut arah masing2 yang telah dirancang-. Kira2 menjelang kentongan pertama turun hujan rintik2, permukaan air menjadi pekat diliput i kabut yang semakin tebal, dalam jarak sedikit jauh sudah tidak kelihatan apa2 lagi. Setiap sampan kecil yang mereka pakai rata2 menggunakan tenaga dua orang pendayung, keduanya duduk di haluan dan buritan, sisa tempatnya di tengah hanya cukup untuk duduk dua orang, karena bentuknya yang kecil dan pendek, maka sa mpan ini bisa laju cepat sekali di per mukaan air.

Sampan yang berlaju ditengah itu meluncur lurus ke utara Gu-cu- san, seorang laki2 berpakaian hijau ketat tengah me mberi aba2. orang ini adalah Cin Te-khong, perahunya langsung menuju ke utara dengan sendirinya lebih cepat dan dekat daripada Kho Ting- seng dan Ji Siu-seng yang harus berputar ke arah t imur dan barat.

Utara Gu-cu-ki ini adalah pesisir belukar yang ditumbuhi se mak2 gelaga, air sungai Tiang- kang yang mengalir sa mpa i daerah ini terbagi dua cabang aliran, menuju ke timur dan barat, mela mpaui dan ke mudian bergabung ke mbali.

Oleh karena itu daerah pesisir sungai ini sepanjang tahun terdampar oleh arus air yang deras sehingga dinding batu padas menjadi terjal. Kini Cin Te-kho ng sedang me mber i petunjuk kepada kedua pe mbantunya untuk menggayuh sa mpan ke arah utara di mana tepi sungai lebih rendah dan rata.

Tepi air ditumbuhi daun welingi yang lebat, arus air di sinipun agak lambat. Sesuai petunjuk Cin Te-khong kedua orang menggayuh sampan itu me la mpaui tetumbuhan welingi dan akhirnya berhenti di tepian. Hujan gerimis ternyata juga sudah berhenti.

Supaya kedua sampan lain tahu tempat di mana dia berdia m, maka Cin Te-khong suruh anak buahnya me masang la mpu angin, sementara dia sendiri duduk di sa mpan- Kira2 setanakan nasi ke mudian, Kho Ting seng dan Ji Siu sengpun menyusul t iba dengan kedua sa mpan mereka.

Cin Te-khong menya mbut kedatangan mereka, katanya: "Kalian sudah letih tentunya."

Kho Ting-seng menjura, katanya: "Sudah lama cin-houhoat tiba di sini?" Cin Te-khong tertawa, katanya: "Baru saja, kalian harus berputar, sudah tentu sedikit terla mbat."

Cepat sekali kedua perahu itupun merapat di darat. Kata Ji Siu- seng: "Untung cin-houhoat menyulut pelita di sini, kalau tidak sukar mene mukan te mpat ini."

"Keadaan sekitar sini aku paling apal, arus air di sinipun tidak deras, tempat ini paling cocok untuk berteduh dari hujan angin, di daratan sebelah sana ada tanah lapang berumput, kita bisa duduk atau merebahkan diri sa mbil mengawasi situasi perairan, ada gerakan apapun di air tentu tak lepas dari pandangan kita. Hayolah kita mendarat, sudah kubawakan arak dan hidangan, mari ma kan minum sepuasnya."

"cin-houhoat," kata Ji Siu-seng, "kita bertugas meronda keadaan perairan sini, janganlah kita lena?"

Cin Te-khong tertawa dengan pongahnya, katanya: "Ji-heng terlalu jujur, me mangnya se mala m suntuk kita harus mo ndar mandir diper mukaan air melulu, sekali2 patrolikan sudah Cukup, kita juga perlu istirahat. Apalagi sambil ma kan minum di sana kita sekaligus bisa mengawasi situasi perairan, setelah istirahat sejenak. kita harus periksa juga keadaan hutan sekitar sini."

Lalu dia mendahului melo mpat ke sana dan menambahkan- "Hayolah, aku naik lebih dulu." ..

Mendengar bakal makan minum sepuasnya, Kho Ting-seng segera tertawa, katanya: "Ji-heng, situasi daerah ini cin-houhoat apal seperti me mbaca telapak tangannya sendiri, kita turuti saja kehendaknya."

Lalu dia melo mpat ke daratan juga. Terpaksa Ji Siu-seng ikut me lo mpat naik.

Apa yang dikatakan Cin Te-khong me mang tidak salah, tidak jauh dari tepi danau adalah sebuah tanah lapang, lereng di depan adalah hutan yang cukup lebat, di depan hutan inilah terdapat tanah berumput yang datar. Cin Te-khong sudah mendahului duduk di atas rumput, katanya dengan tertawa: "Kho-heng,ji-heng, lekas duduk, sayang mala m ini tiada rembulan, ma kan minum di te mpat gelap rasanya jadi kurang nikmat."

Kho Ting-seng dan Ji Siu-seng juga lantas duduk di tanah berumput, se mentara anak buah Cin Te- khong sudah menjinjing sebuah guci arak dari atas sampan, tiga mangkuk dan sebungkus makanan di taruh di tengah mereka. Waktu bungkusan di-buka, ternyata isinya ada babi panggang, ayam goreng, dendeng dan telur asin segala.

Ji Siu-seng bertanya heran- "cin-houhoat dari mana kau peroleh makanan sebanyak ini?"

Sambil mera ih poci arak Cin Te-khong mengisi penuh mangkuk kedua orang lalu mengis i mangkuk sendiri, katanya setelah meneguk araknya: "Asal punya duit, setanpUn bisa kita perintah, tahu mala m ini aku bertugas, diam2 kusogok koki untuk menyiapkan ma kanan ini. Hawa sedingin ini, siapa tahan bergadang semala m suntuk tanpa minum arak?"

Lalu dia Celingukan- "Hayolah, kalian jangan sungkan, sikat dulu makanan ini" se mbari omong dia a mbil paha ayam terus dilalap.

Kho Ting-seng angkat mangkuk araknya, katanya: "cin-houhoat, kuaturkan seCawan arak ini."

Sambil menggerogoti paha ayam Cin Te-khong angkat mangkuk araknya dan ditenggak habis, ka-tanya menoleh ke arah Ji Siu-seng: "Kenapa Ji-heng tidak minum arak?"

"Aku tidak biasa minum arak." sahut J i Siu-seng.

"Me mangnya Ji-heng kenapa?" ejek Cin Te- khong. "Tidak bisa minum juga harus mencicipi sedikit, terus terang, arak yang kubawa ma lam ini paling cocok dengan makanan yang kubawa, sengaja kusediakan untuk J i-heng pula."

"Ah, mana berani kuterima kebaikan cin-ho uhoat," ujar Ji Siu- seng. Mendadak Cin Te-kho ng menarik muka, katanya: "Ji-heng kira aku berkelakar denganmu? Terus terang se mua hidangan ini me mang khusus kusediakan untukmu. Kau tahu apa ma ksudku?"

"Ha mba tidak tahu, harap cin-houhoat menje laskan," kata Ji Siu- seng.

Cin Te-khong tergelak2, katanya: "Berapa kali manusia mabuk dalam hidup ini? Kusediakan makan minum mala m ini untuk me mperte mukan duplikat seorang kepada Ji-heng."

"o, duplikat siapa itu?" tanya Ji Siu seng.

"Duplikat yang kubawa ke mar i ini punya nenek moyang yang sama dengan Ji-heng," lalu beruntun dia tepuk tangan tiga kali, serunya keras2: "Ji-heng, kau boleh keluar sekarang."

Lenyap suaranya, tampak dari hutan sana beranjak keluar seorang dan menjura pada Cin Te-khong, katanya: "Hamba sudah datang." Cin Te-khong menuding Ji Siu-seng, katanya:

"Inilah Ji-houhoat, murid Bu-tong-pay, kalian harus berkenalan dengan akrab."

Malam pekat,Ji Siu-seng sukar melihat wajah orang, cuma terasa olehnya perawakan dan dandanan orang ini agak mir ip dirinya, walau merasa heran, lekas ia menjura, katanya: "Mohon tanya siapa nama Ji- heng yang mulia."

orang itu pelan2 mende kati sa mbil berkata: "Siaute bernama Ji Siu-seng, mendapat perintah untuk menggantikan kau."

Ji Siu-seng berjingkat kaget dan mundur selangkah, tangan me megang gagang pedang dan bertanya mendelik ke arah Cin Te- khong: "Cin-houhoat, apa maksudmu ini?"

Cin Te-kho ng menyeringai, katanya: "Kenapa Ji-heng bersikap sekasar ini? Maksud perjamuan yang kusediakan ini adalah untuk menya mbut kehadiran Ji-heng ini, sekaligus untuk mengantar keberangkatan Ji-heng pula." Sampa i di sini tiba2 dia menar ik muka serta menghardik: "Tunggu apa lagi, lekas turun tangan " Belum habis dia bicara, tahu2 terasa pinggang sendiri menjadi kaku. Didengarnya seorang berbisik dipinggir telinganya: "Maaf Cin- houhoat, sementara bikin susah dirimu."

Ternyata yang bicara adalah anak buahnya yang pegang gayuh di sampannya, yaitu Li Hek kau, Hong-gan-hiat dipinggang Cin Te- khong telah ditutuknya.

Kejadian berlangsung dalam sekejap mata, tahu gelagat tidak menguntungkan Ji Siu-seng lantas me lolos pedang, hardiknya: "Cin Te-khong, Jadi kau ini mata2 Hek liong-hwe, apa yang hendak kau lakukan atas diriku?"

Seorang anak-buah Cin Te-khong yang la in berna ma Ong Ma-cu, sambil berdiri di sana dia pegang sebuah kotak perak yang kemilau, itulah So m-lo- ling adanya, ia minta petunjuk kepada Cin Te-khong: "Cin-houhoat, menurut perintahmu Ji siu-seng yang mana yang harus kubidik?"

Cin Te-khong tetap   duduk   di   sana,   keringat   ber-ketes2 me mbasahi kepala dan selebar mukanya, tapi mulutnya tetap terkancing.

Mengawasi Ji Siu-seng palsu, tiba2 kelasi berna ma Ong Ma-cu itu angkat kotak gepeng perak ditangannya sambil tertawa, katanya: "Me mangnya saudara ini belum me lihat jelas? Kenapa tidak lekas menyerah untuk dibelenggu, me mangnya perlu ku-turun tangan?"

Baru sekarang orang yang menyamar Ji Siu-seng itu tahu gelagat jelek. mendadak dia me lo mpat mundur terus hendak melarikan diri.

Ong Ma-cu ter-gelak2, katanya: "Aku tidak menyerangmu dengan Som lo- ling ini lantaran ingin me mbekukmu hidup2, me mangnya kau bisa melarikan diri?"

Melihat bangsat yang menyaru dirinya hendak lari Ji Siu-seng segera menghardik:

"Keparat, ke mana kau lari?" Baru saja dia hendak menubruk maju, kelasi tadi telah bergelak tawa, serunya: "Ji heng, tak usah dikejar, dia tidak akan bisa lolos." Betul juga, belum kata2 Ong Ma-cu itu berakhir, dari arah depan sana dua bayangan orang tampak berkelebat maju me mapak Ji Siu- seng palsu seraya me mbentak: "Berdiri saja kawan, jangan lari."

Ji Siu-seng me lihat jelas, kedua orang yang mencegat Ji Siu-seng palsu adalah anak buah di sa mpan Kho Ting-seng, ia merasa heran dan kaget, dilihatnya anak buah yang pegang kotak gepeng perak telah menyimpan benda itu. "Sreng", tahu2 dia telah melo los sebatang pedang panjang, teriak-nya: "Song-heng, Tio-heng, kitakan sudah berjanji, orang ini serahkan padaku ......" sekali lo mpat dia sudah menubruk tiba disa mping mus uh, kata-nya: "Saudara, keluarkan senjata mu."

Baru sekarang Ji Siu-seng sadar duduk persoalannya, serunya: "Aha, kiranya Kongsun-houhoat adanya." Kongsun houhoat ialah Thian long- kiam Kongsun Siang.

Terdengar seorang anak buah yang berdiri di sa mping Cin Te- khong itu tertawa lantang, katanya: "Betul, dia me mang kongsun- houhoat, boleh Ji-heng duduk saja, sekarang marilah minum arak sepuasnya."

Kembali J i Siu-seng me longo kaget, lekas dia menjura dan berteriak heran: "He, engkau kiranya Cong-su-cia adanya."

Anak buah bernama "Li Hek kau" se mentara itu sudah mencuci obat rias diwajahnya. katanya tersenyum: "Ya, aku me mang Ling Kun-gi."