Pendekar Kidal Jilid 16

Jilid 16

Lekas Kun-gi balas menjura, sahutnya: "Mana berani, silakan saudara." Kongsun Siang segera memba lik badan dan mengundurkan diri. Terdengar So-yok berteriak: "Silakan Ling- kongcu duduk ke mbali." . Kun-gi menjura kearah sana dan ke mbali ke tempat duduknya.

Sementara itu, sepertiga dari 16 pasangan petanding sudah berhenti, yang masih gebrak sudah mencapa i babak yang menentukan, sinar golok dan cahaya pedang saling samber, gempur mengge mpur Silih berganti a mat Seru. Maklumlah pertandingan ini bukan saja untuk menaikkan gengsi, tapi juga Sekaligus merebut kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi di dalam Pek-hoa-pang Selanjutnya.

Sudah tentu Kun-gi bisa menilai bahwa kepandaian silat orang2 itu tiada yang le mah. So-yok me mang tidak bohongi dia, para Hou- hoat-su-cia Pek-hoa-pang ini me mang mur id2 dari berbagai aliran besar. Dari gaya permainan silat   mereka   Ling   Kun-gi dapat me mbedakan mere ka ini terdiri dari murid2 siau-lim, Bu-tong, Hing- san, Hoa-san dan Go-bi, tapi juga ada murid2 dari aliran Kong-tong, ji-lay, Soat-san, dan aliran lain pula yang dipandang sebagai golongan luar garis yang aneh2 permainannya. Pendek kata ke 32 Hou-hoat-su-cia itu merupakan kumpulan tunas2 muda dari berbagai golongan dan aliran baik dan sesat.

Hal ini sungguh me mbuat Kun-gi tak habis mengerti mereka itu terang adalah perjaka yang belum la ma lulus dari perguruan, cara bagaimana bisa sekaligus berkumpul dan me ndar ma-baktikan diri pada Pek-hoa-pang? Memangnya dengan cara dan akal apa Pek- hoa-pang berhasil menjaring tokoh2 muda yang kosen ini? Mendadak pikirannya jadi jernih, segalanya jadi jelas dan dimengerti olehnya. Terang tanpa disadari mereka juga kena dikerjai Bi-sin- hiang-wan yang dica mpur di dalam makanan. Hanya orang yang telah makan Bi-s in-hiang- wan, lahirnya tetap segar bugar, gagah tak ubahnya seperti orang biasa, kepandaian silat yang dimiliki-pun tidak berkurang tapi jiwa danpikiran mere ka seratus persen dapat diperbudak oleh Pek-hoa-pang.

Beberapa la ma lagi baru orang2 yang bertanding pada babak pertama sudah ada yang kalah dan menang, para wasitpun mengundurkan diri.

So-yok bediri di undakan, dia me mber i petunjuk pada ke-16 Hou- hoat-su-cia yang kalah di medan laga untuk mengundur kan diri ke tempat semula. Sementara 16 peserta yang menang disuruh berkumpul dan berdiri di tengah arena menghadap kearah Thay- siang. Tanpa diperintah sikap mereka ta mpak patuh dan tunduk. serempak mere ka me mber i hor mat.

Thay-siang sedikit manggut, katanya "Bagus sekali, kalian boleh berjuang lebih keras."

So-yok segera mengumumkan: "Sekarang pertandingan babak kedua dimulai, ke-16 pe menang babak pertama tadi dibagi menjadi dua baris saling berhadapan dan boleh me ncari lawan masing2 dan tunggu aba2ku lebih lanjut."

cepat sekali ke-16 pemenang babak, pertama lantas berbaris saling berhadapan ditengah lapangan.

So-yok berpaling kearah kanan, serunya: "sekarang diperlukan delapan wasit lagi, kita panggil saja Bwe-hoa, Lian-hoa, Tho-hoa, Giok- li, Bi- kui, Ci-hwi dan Hu-yong berdelapan-" orang2 yaug disebut na manya beranjak masuk arena.

"Baik, semua siap." teriak So-yok, "mulai kuhitung. satu, dua, tiga "

Delapan orang daripada enam belas petanding ini akhirnya akan tersisih dan tiada hak maju lagi, mereka akan tetap sebagai Hou- hoat-su-cia, sementara delapan orang yang menang diangkat menjadi Hou-hoat, kedudukan setingkat lebih tinggi. Maka pertandingan babak kedua  ini cukup besar artinya bagi mereka, karena ini menyangkut masa depan mereka di Pek-hoa-pang, sudah tentu pertandingan babak kedua ini jauh lebih sengit.

Begitu So-yok mengeluar kan aba2, enam belas orang itu segera mulai saling labrak. Delapan wasit ikut berlo mpatan kian ke mar i, lari sana putar sini mencari posisi lebih baik untuk mengawas i pertandingan.

Duduk di atas undakan batu puala m, sudah tentu Kun-gi dapat menyaksikan dengan jelas di-dapatinya antara kedelapan pasangan orang yang lagi berbaku bantam itu ada empat orang me miliki kepandaian yang agak menonjol dari pada yang lain-Pertama adalah Kongsun siang yang ma inkan Thian- long-kia m-hoat di ujung kiri sana, gerak-geriknya mir ip sekali dengan serigala liar, buas dan serakah. Lawannya adalah murid Bu-tong-pay, kepandaian Liang-gi- kia m-hoat yang dima inkan menciptakan lingkaran2 bundar yang bersusun dan berlapis2, dia hanya bertahan dan jarang balas menyerang.

Dua la innya adalah mur id Go-Bi yang ma inkan Loan-poh-hong- kia m-hoat ( ilmu pedang angin ribut), setiap putaran pedangnya sekencang angin badai yang r ibut, kelihatannya pedangnya menuding ke timur dan menusuk ke barat, gerakannya seperti kalang kabut dan tidak teratur, namun sesungguhnya merupa kan permainan ilmu pedang yang rapi dan mengandung banyak perubahan, sukar ditebak ke mana sasaran pedangnya. Lawannya adalah murid Pat-kwa-bun yang melancar kan ilmu Pat-kwa-kia m- hoat, dia hanya bertahan dengan rapat, tapi lambat laun menjadi kewalahan me mbendung rangsakan pedang lawan dari berbagai penjuru.

orang ketiga adalah pe muda yang me mainkan Hing-san- kia m- hoat, kadang kala dia melejit tinggi menubr uk maju, di tengah udara jumpalitan sembari me lancarkan serangan, se-akan2 pedang dan tubuhnya terbaur   menjadi   satu,   sinar   pedang   kemilau me manjang, naga2nya pemuda ini sudah me mperoleh ajaran ilmu pedang Hing-san-pay murni, lawannya tampak kewalahan dan terdesak dibawah angin-orang keempat adalah laki2 bersenjata kipas lempit, geraknya lincah me layang kesana berkelebat ke sini, kipas le mpit ditangannya bergerak dengan gaya yang gemulai. Lawannya bersenjata Kiu-goan-to yang besar dan berat, sinar golok berkemilau dan menge luarkan suara nyaring dari se mbilan gelang pada goloknya. Dahsyat putaran golok bergelang e mbilan ini.

Sudah tentu Kun-gi dapat mengukur sa mpai di mana tarap kepandaian orang ini, bukan saja gerak-geriknya lincah dan enteng, Lwekangnyapun cukup tinggi. Apalagi setiap kali kipas le mpitnya yang berjeruji besi itu saling bentur dengan golok lawan yang bergelang dan berat itu hanya mengeluarkan suara lir ih, ma lah sekali sendal, lawan yang bertenaga raksasa lantas sempoyongan dengan golok tersampuk pergi, maka dapatlah dibayangkan betapa lihay kepandaian silatnya.

Sudah tentu empat partai yang sedang saling labrak juga berkepandaian lumayan, kalau t idak masakah Pek-hoa-pang ma u menjar ing mereka, cuma kalau kepandaian mereka betul2 diukur dengan kee mpat orang ini, rasanya masih setingkat lebih rendah. oleh karena itu perhatian Kun- gi hanya tertuju pada e mpat orang ini. Dia m2 dia sudah berkesimpulan, empat orang ini nanti pasti akan lulus dengan angka terbaik.

Dugaan Kun-gi me mang t idak me leset, kejap lain Kongsun Siang yang melancar kan Thian- long-kia m-hoat tiba2 merangsak maju lalu menyelinap ke samping kanan murid Bu-tong lawannya, lawan dipaksa menarik pedangnya, sedangkan pedang Kong-sun Siang justru sudah menanti, pada saat lawan menar ik pedang dan ganti gerakan, ujung pedangnya menyelinap masuk menusuk iga lawan- Sang wasit adalah Bwe-hoa, cepat dia berteriak: "Berhenti"

Tapi sudah terlambat, Thian-long- kia m-hoat yang dima inkan Kongsun Siang me mang ganas, sekali serangan dilancarkan, dia sendiri tak kuasa mengendalikan diri sendiri. Terdengar mur id Bu- tong itu mengeluh tertahan, langkahnya sempoyongan, darah mengucur me mbasahi badan.

Terunjuk rasa menyesal pada wajah Kongsun Siang, katanya sambil me njura: "Ji- heng, harap maaf akan kesalahan tanganku ini." Lekas Giok- lan me mber i tanda pada dua pe mbantunya yang berdiri di belakang, lekas mereka maju me mayang mur id Bu-tong itu serta me mbubuhi obat dilukanya.

Sementara itu, keenam pasangan yang lainpun sudah hampir mencapai saat2 yang menentukan. Mungkin terburu nafsu ingin menang dia terlalu yakin akan kekuatan sendiri yang sejauh ini tak berhasil merobohkan lawan, laki2 bersenjata golok gelang sembilan mendadak menghardik, berbareng gerakan goloknya berubah, dengan gencar dia melabrak dengan seluruh kekuatannya. Permainan ilmu goloknya yang berbobot berat benar2 sudah matang, bukan saja gerakannya tangkas, cepat, tapi juga mantap dan tenang, sinar golok berke mbang laksana tabir kemilau, me mbaco k. me mbabat, semuanya mengincar te mpat2 berbahaya di tubuh lawan-

Ilmu golok yang hebat ini me mang luar biasa perbawanya, laki2 bersenjata kipas le mpit tertawa dingin, berbareng dia imbangi rangsakan golok lawan dengan kelincahan tubuhnya, kipasnya berkembang atau mele mpit tak menentu, pakaian hijau yang dipakainya mela mbai2, serangan lawan sederas itu, tapi dia tak pernah mundur, malah balas menyerang tak kalah gencarnya, sekali me mberosot ke sa mping, tahu2 dia malah menerobos masuk ke lingkaran sinar golok lawan-

Badannya berputar cepat sekali, selincah kumbang terbang mencari madu berlo mba dengan kupu2, badannya berkelebat di antara samberan sinar golok yang terang itu, betapapun kencang golok berputar, sejauh itu tak ma mpu menyentuh ujung pakaiannya, sebaliknya kipas le mpit itu kadang2 terke mbang dan tahu2 me le mpit pula tipU gerakannya juga aneh.

"Plak ", sekonyong2 terdengar suara keras, karena tak se mpat menghindar dan menangkia, kipas le mpit lawan tahu2 mengetuk hiat-to dipundak laki2 bergolok, golok terjatuh dan mengeluar kan suara keras, sementara laki2 itu ter-huyung2 beberapa tindak.

Gerak serangan laki2 bersenjata kipas lempit yang memang cepat luar biasa sehingga sang wasit, yaitu Bi-kui yang menyaksikan dengan penuh perhatianpun terlambat dan tak sempat menghentikan pertarungan ini.

Laki2 bersenjata kipas menyimpan kipas le mpitnya serta menjura dengan tertawa: "Terima kasih, saudara sudi mengalah."-cepat iapun mengundurkan diri.

Dia m2 Kun-gi me mbatin: "Entah siapa sebenarnya laki2 bersejata kipas le mpit itu? "

Didengarnya wasit ketiga di tengah arena berseru: "Berhenti." Itulah suara Tho-hoa.

Waktu hadirin me mandang ke sana, lawan laki2 yang mema inkan Hing-san-kia m-hoat ta mpak tergores dipelipianya, secomot rambutnya tercukur rontok, dengan merah ma lu laki2 itu segera mengundurkan diri. Sementara murid Hing-san itu lantas menjura serta menyarungkan pedang terus me ngundurkan diri pula.

Kejap lain Lian-hoa yang jadi wasit pada pasangan kedua juga menyerukan berhenti. Pasangan yang saling labrak adalah murid Gobi pay yang me mainkan ilmu pedang angin r ibut itu me lawan mur id Pat-kwa-bun, kekuatan mere ka boleh dikatakan sa ma kuat. Pat-kwa-kia m-hoat merupakan ilmu silat bertahan yang kokoh dan meyakinkan, gerakan pedangnya mencakup kedelapan penjuru angin, setiap jurusan dijaga dan dibendung rapat, sayang sekali dia berhadapan dengan murid Gobi pay. seperti diketahui ilmu pedang Go-bi-pay yang bergerak laksana angin ribut ini ternyata biaa setenang ikan berenang di dalam air, selincah burung melayang di udara, perubahannya memang me mbingungkan, gerakannya seperti tidak menentu arah yang pasti.

Begitu sang wasit menyerukan "berhenti", ternyata pundak dan lengan baju serta tiga tempat lainnya di tubuhnya sudah tergores robek oleh ujung pedang lawan-Keduanya lantas menjura saling hormat dan minta maaf, lalu mengundurkan diri.

Dalam pada itu pasangan ketiga dan kedelapan juga sudah menentukan kalah dan menang, suara sang wasit lantang menyerukan perte mpuran berhenti. Maka dalam arena kini tinggal dua pasangan yaitu pasangan kelima dan pasangan ketujuh, kedua pasangan ini sa ma tingkat kepandaiannya, ma ka mereka masih tetap bertahan untuk sekian la manya lagi.

Pasangan kelima sama2 mengguna kan senjata yang jarang digunakan kaum persilatan. seorang mema kai sepasang gelang besar kecil, dina makan cu-bo-s iang goan (sepasang gelang ibu- beranak), pada lingkaran luar gelang terpasang gigi runcing mengkilap. begitu bergerak gelangnya, angin mendesir taja m, gigi runcing itu me mancar kan cahaya kehijauan.

Sementara lawannya menggunakan sepasang ruyung pendek. pada batang ruyungnya ini terdapat dua cabang pendek yang me lintang tegak. batang ruyung kelihatan mengkilap biru, terang di lumuri racun, anehnya cara dia pegang senjata berbeda dengan lazimnya, ruyung dia pegang bagian tengahnya, sementara gagang ruyungnya dia sembunyikan di belakang sikut, kadang2 dia gunakan gagang ruyung sebagai tongkat penggebuk. tiba2 dia me mba lik tangan dan dua tangan sekaligus mencecar musuh, gerak dan tipu permainannya agak aneh.

Baru sekarang Ling Kun-gi se mpat me mperhatikan lebih seksama, ternyata permainan aneh ruyung pendek orang ini ha mpir sama ganas dan keji seperti Thian- long-kia m.

Pasangan ketujuh tidak menggunakan senjata, mereka bersilat tangan kosong, seorang melancarkan pukulan atau tutukan silih berganti dengan berbagai gerak raga mnya. Tapi lawannya mahir me ma inkan Pat-siang-ciang (pukulan delapan penjuru angin), lunak dan keras saling berganti sehingga per mainannya semakin mantap dan kekuatannyapun bertambah. Angin kepalan dan bayangan tangan menimbulkan deru angin, tidak kalah ra mainya dari pada pasangan lain yang adu senjata. Sedikit lena dan keserempet angin pukulan lawan, jiwa biaa celaka.

Sang wasit Ci-hwipun terpaksa harus berdiri di luar lingkaran, sikapnya tampak tegang dan penuh perhatian oleh pertempuran yang sengit ini. Terdengar laki2 yang bersenjata gelang me mbentak keras, gigi gelang kirinya tiba2 berhasil menggantol ruyung lawan, seCepat kilat gelang di tangan kanan dengan jurus Thay-san ap ting (gunung Thay menindih kepala) mengepruk batok kepala lawan dengan me mbawa suara ge muruh.

Menghadapi rangsakan hebat ini, laki2 bersenjata ruyung tertawa dingin, cepat badan mendak ke bawah sambil miring menghindarkan serangan lawan tiba2 dia me mberosot ke sa mping sehingga ruyungnya yang tergantol lawan terlepas, di mana sinar biru berkelebat, tahu2 gagang ruyung sudah menyodok ke dada lawan-Me mangnya yang bersenjata elang sudah merasa jeri terhadap ruyung lawan yang dilumuri racun, cepat dia menyingkir, sayang dia tidak menduga tatkala kedua ruyung lawan bekerja, sebelah kaki orang juga ikut menyerampang, begitu dia menyadari bahaya, untuk berkelit sudah terla mbat "Blang", kontan dia tersapu jatuh jauh, pantatnya beradu dengan lantai.

Untung dia me miliki kepandaian tinggi begitu punggung menyentuh tanah, dengan tangkas dia melejit berdiri lagi, kedua gelang terangkat tinggi, dan sudah slap me labrak lawan pula.

"Berhenti" sang wasit Giok-li segera berseru.

Terpaksa orang yang bersenjata gelang me nghentikan gerakannya, tanyanya: "Belum ada yang kalah atau menang, mengapa nona menghentikan pertandingan? "

"Kau tersapu jatuh, sudah terhitung kalah" ucap Giok-li.

Orang itu berkata: "Putusan nona tidak adil, yang kita tandingkan adalah kepandaian menggunakan senjata, walau aku terjatuh, tapi dalam per mainan senjata toh belum kalah, kenapa aku di-putus kalah? "

Laki2 bersenjata ruyung tertawa, selanya: "Kalau Ho-heng tidak terima, boleh kita lanjutkan pertandingan ini."

"Me mangnya, sebelum ada yang menggeletak tak bernyawa di antara kita belum bisa dikatakan kalah dan menang." Berdiri alis Gok- li, bentaknya: “Ho Siang, waktu bertanding kau tersapu jatuh oleh lawanmu, kau tidak mau mengaku kalah? "

Merah mata laki2 bersenjata gelang, jengeknya: "Nona, kau sebagai Tay-cia dan aku adalah Su-cia, kedudukan dan jabatan kita sembabat. belum setimpa l kau ge mbar-ge mbor me manggil na maku, tadi Hu-pangcu sudah mengumumkan cara dan tata tertib pertandingan, bagi yang bertanding menggunakan senjata baru terhitung kalah kalau senjata salah satu pihak menyentuh tubuh lawan, maka aku ingin minta penjelasan dari nona, kapan ruyung Yap Kay-sian pernah menyentuh tubuhku? " karena penasaran dia berani debat dan me lawan putusan wasit.

Lekas So-yok berdiri dan me mbentak: "Ho Siang-sing mundur kau"

Ho Siang-sing, laki2 bersenjata gelang, sekali- ini tak berani bicara lagi, dengan menggerutu terpaksa dia mengundurkan diri.

Kini ditengah arena tinggal pasangan yang adu kepalan-Melihat tujuh pasang yang lain sudah berakhir dan ada yang kalah serta menang, kini tinggal mere ka berdua yang masih terus berhantam tanpa kesudahan, tanpa terasa terbangkit dan berkobar nafsu mereka, serempak keduanya kerahkan sekuat tenaga berusaha merobohkan lawan-

Laki2 yang menyerang dengan kepalan diselingi tutukan itu mendadak melancar kan jurus yang lihay, badan bagian atas mendadak doyong menubruk ke depan. Tatkala tubuhnya bergerak maju kini, kepalan kanan mendadak pura2 menghantam, sementara tangan kiri dengan jari tengah yang terjulur berwarna merah darah, diir ingi hardikan, sejalur angin tutukan menerjang ke tenggorokan lawan-

Menyaksikan jari orang yang menjulur dan mendada k berubah merah darah, tergerak hati Kun-gi, batinnya: "Ilmu yang diyakinkan orang ini tidak mirip cu-sa-ci dari perguruan Gan, lebih mirip Hiat- ing-ci dari aliran liar." Kejadian berlangsung dalam sekejap seperti percikan api. Laki2 yang mema inkan Pat-sian-ciang mendadak melihat sorot mata lawan yang buas mengandung nafsu me mbunuh, diam2 ia sudah siaga. Kini melihat jari lawan yang merah darah menyerang tiba dan hidangnya telah mengendus bau amis yang me muakan, keruan ia terkejut, batinnya: "sebetulnya aku tidak bermaksud me mbunuhmu, ternyata kau malah turun tangan keji lebih dulu padaku." Pikiran ini berkelebat laksana kilat dalam benaknya, sementara sebat sekali dia sudah melo mpat mundur, menyusul tangan kanan terayun, dengan berani dia balas menyerang.

Pukulannya inipun mengandang maksud jahat, ingin me mbunuh lawan pula, apalagi dilancarkan dengan kekuatan yang sudah disiapkan, ma ka angin pukulannya teramat dahsyat.

Begitu tutukan jarinya luput, laki2 yang menyerang dengan Hiat- ing ci (tutukan jari darah bayangan) tahu2 merasa tubuhnya diterjang angin puyuh yang bersuhu dingin sekali, dia tak berani menangkis, cepat2 ia me nggeser ke sa mping.

Me mang terjangan angin yang telah dapat dia hindarkan. Tapi dikala me ngegos itulah mendadak badannya bergetar keras, bergidik dan merinding tanpa kuasa langkahnya sempoyongan mundur ke belakang.

Dipihak la in, laki2 yang menyerang dengan pukulan dingin inipun telah mengendus bau amis yang me mualkan tadi, dia m2 iapun kuatir akan kesela matan sendiri, maka ia tidak menerus kan serangan, lekas dia kerahkan hawa mur ni me lindungi badan, diam2 ia atur jalan darah dan tenaga murninya.

Sebelum wasit yaitu Ci-hwi menyerukan berhenti, kedua orang ini sudah sama berdiri tak bergerak. seluruh hadirin adalah ahli silat, tapi tiada yang melihat jelas apa sebabnya kedua orang ini mendadak sa ma berhenti.

Tadi orang me lihat tutukan jari yang merah darah itu dilancarkan, maka orang banyak mengira dia telah terluka oleh tutukan itu. Ci-hwi sang wasitpun kira demikian, dia ragu2 dan hendak mengumumkan ke menangan laki2 yang main tutukan tadi. Untung dia melenggong sebentar, tahu2 laki2 yang menyerang dengan tutukan itu roboh terjengkang. Keruan Ci-hwi kaget sekali, ia melongo tak ma mpu bersuara.

Maklumlah, bukan saja dia, sampaipun So-yok Hu pangCu yang berdiri di atas undakan batu juga mendelong bingung.

Laki2 berkepandaian tutukan jari berdarah itu seperti jatuh semaput, sekian la ma tak na mpak bergerak atau kelejetan. Malah wajahnya yang semula kuning terang, cepat sekali telah berubah ungu meng hita m.

Dalam pada itu, setelah mengatur napas, laki2 yang main pukulan tadi melihat lawan rebah tak   bergerak.   wajahnya mena mpilkan rasa bangga dan puas. "Cin Te-khong" terdengar Thay-siang yang duduk di atas sana berteriak kereng. Ter-sipu2 orang itu maju beberapa langkah seraya munduk2: "Ha mba disini."

Thay-siang berkata: "Losin suruh Hu-pangcu mengumumkan bahwa dalam pertandingan ini hanya boleh saling ja mah dan dilarang me lukai lawan, kenapa kau me lancarkan serangan me matikan, kini dia terluka parah""

Cin Te-khong munduk2, serunya: “Harap Thay-siang maklum, waktu bergebrak tadi hamba selalu ingat dan patuh akan larangan pertandingan, tak pernah melancarkan serangan jahat, dia lebih dulu menyerang dengan Hiat-ing-ci, untuk me mbela diri terpaksa hamba balas menyerangnya, Han-si-ciang (pukulan sutera dingin) yang hamba yakinkan ini sekali dilancarkan, ha mba sendiri tak kuasa mengendalikan lagi,"

Han-si ciang, hakikatnya hadirin tiada yang pernah dangar na ma ilmu pukulan dingin ini. Dia m2 Kun gi me mbatin: "Entah ilmu maca m apa Han-s i-ciang itu? Kenapa Suhu tidak pernah bilang tentang ilmu ini? "

Thay-siang mendengus: "Pertandingan besar kuadakan ini dilarang me mbunuh sesa manya, hayo lekas keluarkan obat penawar dan cekokan padanya? " Ternyata Han-si-ciang ada obat penawarnya, Cin Te-khong mengiakan dia melangkah mundur kearah laki2 yang menyerang dengan Hiat-ing-ci, dia keluarkan sebuah kotak kecil, mengeluar kan sebutir pil warna merah terus dijejalkan ke mulut orang.

Sesuai na manya, Han-si-ciang me mang pukulan dingin luar biasa, tak heran lawan yang terkena pukulannya seketika beku kedinginan, sampaipun wajahnyapun berubah biru. Setelah dicekoki obat, kira2 semasakan air mukanya yang biru menghitam mulai pudar, tiba2 dia menarik napas panjang terus me mbuka mata.

Dilihatnya Cin Te-khong berdiri di depannya, seketika dia menggerung murka, ia melejit berdiri, secepat kilat jarinya menutuk keulu hati Cin Te-kho ng. Untung Cin Te-khong waspada, hanya sedikit berkelit, dengan mudah dia luputkan diri.

Lekas Ci-hwi berteriak: "Berhenti, kalah menang sudah ditentukan, kalian dilarang gebrak lagi."

So-yok juga lantas berteriak: "Auw Kiu- ciu, mundur kau."

Laki2 itu tak berani bertingkah lagi, dari segera mengundurkan diri.

Sampa i di sini pertandingan seleksi babak kedua telah berakhir, setelah dua kali bertandang secara beruntun, delapan orang telah tersisa dan delapan yang menang diangkat jadi Hou-hoat.

Berdiri di atas undakan batu, So-yok berseru mengumumkan: "Pertandingan babak kedua telah berakhir delapan orang yang menang adalah Kong-sun Siang, me ma inkan Thian-lo ng-kia m-hoat, Ting Kiau menggunakan kipas le mpit beruji besi, Thio Lam jiang dengan Hing-san-kia m hoat, Song Tek-seng menggunakan Loan- poh-hong-kia m- hoat, Lo-Kin-bun menggunakan pedang berkait, Toh Kan-ling bersenjata Boan koan-pit, Yap Kay-sian pa kai sepasang ruyung, Cin Te-khong dengan ilmu pukulan Han-si-ciang, sejak kini mereka diangkat menjadi Hou-hoat dalam Pang kita."

Tepuk tangan nun menya mbut pengumuman ini.. Pek-hoa-pangcu Bok-tan dan Ling Kun-gi juga ikut bertepuk tangan menya mpaikan sela mat.

Terdengar So-yok berseru pula: "Sekarang silakan kedelapan Hou hoat yang baru berdiri ke depan terima lah anugerah medali e mas dari Thay siang."

Di bawah pimpinan Kongsun Siang, kedelapan Hou-hoat itu segera tampil ke muka dan berdiri sejajar menghadap ke atas.

Giok- lan, si congkoan segera me mberi tanda dan seorang gadis beranjak keluar me mbawa na mpan langsung me ndekati Giok- lan- Nampan itu di- lapisi kain sutera, diatas nampan ini tertaruh delapan medali e mas tanda pangkat para Hou-hoat. Menerima na mpan itu Giok- lan lalu me langkah ke tengah. Sementara Thay-siangpun berdiri dan beranjak turun- Secara beruntun So-yok panggil kedelapan Hou-hoat mener ima meda li dari Thay-siang. Hadirin keplok tangan serta berteriak2 hiruk-pikuk.

Sorot mata Thay siang menyapu kedelapan Hou-hoat, katanya: "Losin telah langsung melihat pertandingan kalian, masing2 telah unjuk ke mahiran dan kalian bukan menang secara kebetulan, tapi berkat perjuangan yang gagah, jadi merupakan pilihan tulen di antara ke 32 peserta. Jabatan Hou-hoat dalam Pang kita merupa kan kedudukan yang tinggi dan mulia, selanjutnya diharap kalian bekerja dan berjuang demi kepentingan Pang kita, serta dan berbakti tanpa luntur, Ciptakanlah pahala yang lebih besar dan rebutlah anugrah yang lebih t inggi."

Sampa i di sini dia berpidato hadirin menya mbut dengan tepuk tangan lebih riuh rendah, sampa i sekian la manya keplok ra mai ini tidak berhenti. Terdengar kedelapan Hou-hoat berseru lantang: "Berkat anugrah Tay-siang yang berbudi luhur, kami bersumpah setia me mbe la kepentingan Pang kita sa mpa i titik darah terakhir."

Thay-siang manggut2 pertanda telah menerima sumpah setia para pengikutnya ini, lalu berkata: "Bagus sekali, kalian boleh me mber i hor mat kepada Pangcu." Delapan Hou-hoat yang baru serentak menjura kearah Pek-hoa- pangcu, serunya: "Hamba menyampa ikan hor mat kepada Pangcu."

Pek-hoa-pangcu yang sudah berdiri balas menghor mat, katanya dengan suara merdu. "Kuberi sela mat kepada kalian yang telah naik pangkat jadi Hou-hoat Pang kita, kami ikut ge mbira dan merasa beruntung bagi Pang kita."

Ditengah sorak-sorai yang riuh rendah itu, Thay-siang beranjak balik ketempat duduknya. Lalu Pek-hoa-pangcu juga ke mbali ke tempat duduknya.

Pelan2 Thay-siang menggeser duduk miring kearah Ling Kun-gi, sorot matanya se-olah2 mene mbus cadar hita m, suaranya kale m:

"Ling-siangkong"

Lekas Kun-gi me mbungkuk, tanyanya: "Thay-siang ada petunjuk apa? "

"Ke marin Losin telah bicara dengan kau, akan kuangkat sebagai Hou-hoat Pang kita, entah Ling-s iangkong sudah me mikir kan hal ini belum? "

Dia m2 senang hati kedelapan Hou-hoat yang baru saja menduduki jabatannya, semua berpikir: "Tamu agung yang duduk di bawah Pangcu betapa sih lihaynya, ternyata juga setaraf Hou-hoat saja di dalam Pang kita."

Baru saja Thay-siang selesai bicara, Kun-gi lantas dengan suara lir ih seperti berbisik dipinggir telinganya: "Ling-ko ngcu lekas terima tawarannya"-

Itulah suara Pek-hoa-pangcu, Kun-gi dapat me mbedakan suaranya.

Kun-gi me mang sudah berdiri, sikapnya amat tunduk dan patuh, dia menjura kearah Thay-siang serta berkata: "Berkat junjungan Thay-siang yang maha pengasih, cayhe tak berani menola k tugas mulia ini? " Itulah pertanda bahwa Bi-sin-hiang-wan telah bekerja di dalam tubuhnya. Terunjuk senyuman yang terkulum diujung bibir Thay-siang, katanya manggut2: "Bagus sekali, Losin tahu kalau Ling-s iangkong hanya diangkat sebagai Hou- hoat dalam Pang kita, tentunya rada merendahkan derajatmu ..... " sengaja dia menarik panjang suaranya serta berhenti.

Kun-gi baru saja akan duduk. mendengar kata2 Thay-siang ini, seketika terunjuk rasa gugup dan gelisah, tersipu2 dia menjura, katanya: "Hamba sebagai tunas muda kaum persilatan, bahwa Thay-siang sudi me mupuk ha mba, sungguh me mbuat hamba tidak tenteram lahir batin, kesetiaanku selama hidup rasanya takkan setimpal me mba las kebaikan Thay-siang ini."

Kalau ke marin je las dia takkan sudi menge luarkan kata2nya ini, tapi sekarang dia sudah ma kan Bi-sin- hiang-wan, maka sela ma hidupnya dia hanya akan setia dan tunduk lahir batin terhadap Pek- hoa-pang, terutama terhadap Thay-siang.

Thay-siang manggut2, katanya lebih lanjut: "Jabatan Hou-hoat sebetulnya juga tidak terhitung rendah di dalam Pang kita, terutama cong-hou-hoat dan coh-yu-huhoat, semuanya merupa kan pilihan dari para Hou-hoat, maka setiap Hou-hoat mempunyai hak dan kesempatan untuk menjadi cong-ho u-hoat, apalagi selamanya Losin menguta makan kepandaian sejati, bukan saja kepandaian silatnya, juga kecerdikan dan tindak-tanduknya harus tegas, maka jabatan ini harus diperebutkan secara adil. Sampai di mana tingkatan yang dapat kalian jabat? Itu tergantung sampa i di mana pula tarap kepandaian kalian yang sejati."

Secara tidak langsung kata2nya ini me mberi kisikan bagi Ling Kun-gi bahwa sekarang aku hanya bisa mengangkatmu sebagai Hou-hoat, kalau kau ma mpu dan punya kepandaian boleh kau berusaha me mperebutkan kedudukan cong- hou-hoat. Secara tidak langsung pula dia me mber i pernyataan kepada kedelapan Hou-hoat yang lain bahwa merekapun boleh menca lonkan diri merebut jabatan itu secara adil.

Habis Thay-siang bicara, Giok-lan segera mendekati sa mbil me mbawa na mpan. Thay-siang menje mput sebuah medali e mas dan berkata: "Ling-s iang-kong, ke marilah terima medali e mas sebagai tanda kebesaran Hou-hoat dari Pang kita."

Lekas Kun-gi berdiri dan maju mengha mpir i, sambil menjura dia terima medali e mas itu dengan kedua tangan. Lalu putar ke mba li, tapi dia cukup tahu diri dan tidak berani duduk dikursinya semula, karena kedelapan Houhoat yang lain juga hanya berdiri sejajar di bawah undakan.

Thay-siang sedikit angkat tangan, katanya: "Hari ini kau hadir dalam pertandingan seleksi ini sebagai tamu kehor matan, meski kau sudah terima jabatan Pang kita sebagai Hou-hoat, tapi sekarang kau masih terhitung seorang tamu, boleh silakan duduk saja."

Kun-gi tak berani banyak bicara, lekas dia turut perintah dan duduk di kursinya. Pek-hoa-pangcu Bok-tan dan Hu pangcu So-yok dan cong-koau Giok- lan segera me mberi ucapan sela mat kepada Ling Kun-gi. Tentu saja ke-8 Hou-hoat yang baru merasa sirik dan terbakar perasaannya .

So-yok segera berseru lantang kearah kedua laki2 tua ber jubah biru: "Leng-co houhoat dan coa-yu houhoat, pertandingan hari ini langsung dipimpin oleh Thay-siang, tujuan yang utama adalah me milih seorang cong-houhoat, oleh karena itu jabatan cong yu- houhoat harus sekaligus dipilih ulang ke mbali, maka sebelum seleksi dimula i, kalian harus menyerahkan kemba li mendali e mas tanda kebesaran itu."

Co houhoat Leng Tia-cong dan Yu-houhoat coa Liang segera menge luarkan meda li e mas dan diserahkan ke mbali.

Setelah terima medali e mas itu So-yok berseru lebih lanjut: "Tadi sudah kuumumkan, para Hou-hoat boleh mencalonkan diri untuk merebut cong-hou-hoat dan co-yu-hou-hoat, maka kalian yang ingin ikut bertanding boleh mendaftarkan diri."

So-yok me mbetulkan sanggulnya, lalu berseru pula: "Setiap orang yang didaftatkan atau mendaftar sendiri dianggap Calon untuk jabalan cong-hou-hoat, maka Calon ini harus menghadapi beberapa kali tantangan para Hou-hoat, setelah menang beberapa babak dan nyata kepandaiannya me mang no mor satu, maka dia diangkat menjadi cong- hou-hoat, nomor dua dan ketiga diangkat sebagai Yu-co-hou-hoat.

"Bila calon dikalahkan oleh penantangnya, maka dia dianggap gugur dan penantang yang menang, boleh menerima tantangan para peserta yang lain sa mpai tiada yang melawannya lagi, cuma bagi yang gugur tadi masih ada hak me mperebutkan kedudukan co- yu-houhoat, Caranya seperti yang telah dilaksanakan dalam me milih para Houhoat tadi."

Dia m2 Kun gi me mbatin: "cara yang diumumkan ini terasa cukup berat bagi calon cong-hou-hoat, karena dia harus me nghadani 10 kali tantangan malah setiap kali harus menang baru boleh menduduki jabatan tinggi ini."

Habis me mberi pengumuman, sorot mata So-yok tertuju ke bawah undakan, serunya pula: "Baiklah, aturan pertandingan sudah kuumumkan, kalau hadirin tiada pendapat, sekarang kumula i terima pendaftaran, siapa yang ingin ikut serta boleh me ndaftar padaku"

Lenyap suaranya, tampak co-houhoat Leng Tio-cong angkat tangan sambil berseru: "Ha mba Leng Tio cong mendaftarkan diri.”

“Baik," seru So-yok mengangguk.

Yuhouhoat coa Liang juga ikut acung tangan dan berseru: "Ha mba coa Liang juga me ndaftarkan diri."

So-yok tersenyum sambil mengangguk. "Masih adakah orang lain yang mendaftarkan diri? " beberapa kali dia bertanya, tapi kedelapan Houhoat yang berjajar di depan itu t iada yang bersuara.

Mereka cukup cerdik, ma klumlah, setiap Hou-hoat walau tak mendaftarkan diri menjadi calon cong-houhoat, tapi mereka punya hak untuk menantang calon itu, kalau menang, bukankah berarti mereka sendiri yang akan menjadi calonnya? Apa-lagi dalam situasi sekarang mereka anggap lebih baik menonton saja sambil menunggu perke mbangan selanjutnya baru nanti menentukan pilihan-Sekian la ma So-yok menunggu, tetap tiada orang lain yang daftar lagi, apa boleh buat, akhirnya matanya mengerling tertuju kearah Ling Kun-gi, katanya dengan nada ale man: "Bagaimana Ling- kongcu? "

Lekas Kun-gi menjura, katanya: "Ha mba hanya me miliki kepandaian beberapa jurus cakar kucing saja, mana berani mena mpilkan diri? "

Pek-hoa-pangcu tersenyum, serunya: "Ling-kongcu terlalu merendah diri, pertandingan diadakan secara adil dan terbuka, siapapun boleh ikut, bahwa Ling-kongcu tidak mau mendaftarkan diri, baiklah biar aku yang menca lonkan dia.”

“Ha mba tidak berani" lekas Kun-gi berdiri seraya membungkuk badan.

Mendengar Pangcu mereka mencalonkan Ling Kun-gi, para nona yang hadir seketika menya mbut dengan keplok tangan ra mai, sebaliknya cohouhoat yang bergetar Kin-cay-poan-koan Leng Tio- cong dan Yuhouhoat yang bergetar Sam-gam-sin coa Liang mendelu hatinya, tanpa terasa mereka saling pandang sekilas, keduanya sama mengulum senyum dongkol.

So-yok menyapu pandang hadirin, suaranya lantang: "Ada lagi yang mendaftarkan diri? "

Setelah ditunggu sekian la ma tiada reaksi dari hadirin, akhirnya dia mengumumkan: "Baiklah, pendaftaran ditutup, peserta hanya tiga orang, yaitu Leng Tio-cong, coa-Liang dan Ling Kun-gi"

Sampa i di sini dan berhenti sebentar, mendongak me lihat cuaCa, lalu me nyambung:

"sekarang sudah lewat lohor, pertandingan sementara ditunda, meja perja muan sudah disiapkan dipendopo, seluruh hadirin boleh tangsel perut dulu."

Thay-siang berdiri lebih dulu dan beranjak ke dalam diiringi Pek- hoa-pangcu dan Hu-pangcu. e mpat pelayan berpakaian serba kuning mengikuti langkah mereka. congkoan Giok- lan mengha mpiri, katanya: "Silakan Ling-kongcu." "Silakan congkoan," ucap Kun-gi, "sekarang cayhe adalah peserta pertandingan, Layaknya beriring dengan Leng dan coa berdua."

Giok- lan mengangguk. tanpa bicara segera dia mendahului masuk kedala m.

Tajam dingin sorot mata Leng Tio-co ng, dengan sinis katanya: "Silakan Ling-kongcu." Lalu dia mendahului melangkah ke dala m. Sudah tentu coa Liang juga tidak mau mengalah, dia mengintil di belakang Leng Tio-co ng, Sudah tentu Kun-gi merasakan sikap permusuhan kedua orang, tapi dia tidak peduli, dengan tertawa lebar dia me langkah di belakang mereka.

Meja di tengah pendopo berduduk Thay-siang, Pek-hoa-pangcu dan Hu-pangcu. Meja di sebelah kiri atas diduduki para calon peserta, lebih bawah lagi diduduki para Houhoat dan ke-24 Hou- hoat-sucia. Meja teratas di sebelah kanan diduduki para gadis2 ayu anggota Pek-hoa-pang.

Arak tersedia dalam perjamuan ini, tapi jarang yang berani minum banyak. ma klumlah Thay-siang berada di antara mereka, apalagi sebentar bakal ada pertandingan besar ber mutu dari tingkatan yang lebih tinggi, kalau diri sendiri minum sa mpai ma buk, kapan mereka akan mendapat kese mpatan menyaksikan pertandingan ini. Maka hadirin hanya ma kan ala kadarnya secara tergesa2.

Habis makan Pek-hoa-pangcu dan Hu-pangcu me ngiringi Thay siang ke ka mar sebelah untuk ist irahat. Sementara hadirin yang lain boleh ist irahat dan bergerak bebas sesukanya.

Karena tidak akrab dengan hadirin yang lain, sendirian Kun-gi keluar berjalan2 di pelataran luar. Tiba2 didengarnya seorang menegur di belakangnya: "Ling-kongcu."

Tanpa menoleh Kun-gi kenal suara orang, itulah congkoan Giok- lan yang memanggilnya, dengan tertawa dia menyahut: "congkoan tentu amat letih." Congkoan Giok- lan tertawa, ujarnya: "Memang banyak kerja untuk menyiapkan pertandingan besar ini, tapi tenaga pe mbantu cukup banyak, cukup kubuka suara saja." Tiba2 dia me lirihkan suara, katanya: "sebentar pertandingan bakal dimula i, sikap Leng Tio-cong dan coa Liang a mat ber musuhan terhadapmu, kau harus hati2."

Kun-gi me ngangguk, katanya: "Terima kasih akan perhatian congkoan, akupun sudah ma klum."

"Delapan Hou-hoat yang baru diangkat sudah kau selami kepandaian mereka, tapi terhadap Leng dan coa ini kau belum pernah menyaksikan per ma inan mereka. jiwa mereka Culas dan keji, kalau dia sudah dengki pada mu, ma ka kau harus selalu waspada ..... ." sampa i di sini tiba2 dia gunakan ilmu gelombang suara: "Leng Tio-cong bergelar Kiu-cay-poan-koan, disamping mahir menggunakan sepasang potlot baja, kepandaian tutukannya amat lihay, terutama jurus Kwi-cian-sio k-hou (panah setan menyumbat tenggorokan) sembilan jari menutuk bersama, kabarnya belum ada tokoh Kangouw yang pernah lolos dari jurus ganas ini. Sementara coa   Liang   berasal   dari   Tiang-pek-san   di    luar   perbatasan, ke mahirannya Bu- ing-sin-kun (pukulan tanpa bayangan), setiap gerak pukulannya tiada suara sehingga susah dijaga ......." sampai di sini dia berhenti.

Kiranya Giok-je dan Giok-li ta mpak mendatangi. Sebagai kawan seperjalanan sudah tentu Giok-je a mat kenal Kun-gi, dengan tertawa dia lamas menyapa: "Ling- kongcu, kuaturkan sela mat padamu, obat penawar getah beracun berhasil kau buat, kini sebagai calon cong-houhoat lagi, seluruh persaudaraan kita dalam Pang sama mendoakan supaya kau berhasil menduduki jabatan tinggi itu."

Kun-gi tertawa hambar, katanya: "Terima kasih akan pujian nona, dengan kepandaianku yang tak becus ini, bagaimana biaa terpilih nanti? "

Giok-je me lir iknya, katanya: "Baru sekarang aku mengerti, orang berkedok yang me mukul Dian Tiong-pit dan Hou Thi-jiu di atas perahu itu ternyata adalah Ling-kongcu, sungguh kagum dan terima kasih ka mi terhadapmu."

Kun-gi hanya tersenyum saja tanpa menanggapi, Giok-li berdiri di samping tanpa bersuara, tapi sepasang matanya menatap wajah pemuda ini dengan lekat tanpa berkedip.

"Pat moay, cap sah-moay," kata Giok-lan, "te manilah Ling- kongcu ngobrol sebentar, aku masih ada urusan." Lalu dia putar badan dan berlalu.

Melihat Giok-je dan Giok- li datang o mong2 dengan Kun-gi, Bwe- hoa, Tho-hoa, Hay-siang dan nona2 lain segera berdatangan, sebentar saja Kun-gi sudah dirubung nona2 cantik yang bersendau- gurau serta menggodanya.

"Ting, ting, ting," suara kelinting berkumandang dipendopo. "Nah pertandingan dimulai lagi terdengar seorang berseru.

Bagai penganten yang disambut para pemujanya Kun-gi segera masuk kesana diiringi nona2.

Sudah tentu bertambah iri dan dengki perasaan Leng Tio-cong dan coa Liang terhadap Ling Kun-gi, dia m2 mereka me ngumpat dalam hati. Para Hou-hoat dan Sucia juga mende lik ge mas pula.

Kun-gi tidak ke mbali ke te mpat duduknya, dia langsung berdiri sejajar di samping coa Liang dan Leng Tio-cong di bawah undakan. Sementara empat pelayan baju hitam sudah keluar dari pendopo mengiringi Thay-siang dan Pek-hoa-pangcu, IHu-pangcu. Seluruh hadirin diam me matung dan sama me mberi hor mat.

So yok langsung tampil ke depan, serunya lantang: "Sekarang pertandingan ketiga di   mulai,   babak pertandingan ketiga   ini me mperebutkan jabatan cong-houhoat dan co-yu-houhoat. Atas perintah Thay-siang, ka mi sendiri yang akan me njadi wasit pertandingan ini, waktu pertandingan berlangsung, baik adu jotos atau main senjata, tetap hanya saling jamah dan sentuh saja, dilarang keras melukai atau bermaksud me mbunuh lawan." Hadirin menya mbut pengumuman ini dengan tepuk tangan. Suara So-yok lebih keras lagi: "Baiklah, sekarang persilakan ketiga calon peserta satu persatu menerima tantangan"

Kiu-cay-poan-koan Leng Tio-cong segera mendengus: "Ling- kongcu tunas muda yang serba pandai, didikan Put-thong TaysU yang termashur lagi, bahwa dia rela mengabdi kepada Pang kita, inilah kesempatan yang sUkar didapat, hamba yang tidak becus ini ingin mohon petunjuk beberapa jurus pada Ling kongcu."

Kun-gi bersoja, katanya: "cayhe masih muda dan Cetek pengalaman, masakah berani menandingi co-hou- hoat? "

"Ling-kongcu jangan sungkan," dingin suara Leng Tio-cong, "jabatanku se mula sudah dicopot, sekarang hanya sebagai calon biasa, apalagi kita kan sama2 calon untuk me mperebutkan jabatan cong-hou-hoat, setelah mencalonkan diri, adalah jama k kalau di antara kita harus mentukan siapa unggul dan asor."

"Apa boleh buat, terpaksa cayhe turuti saja ke mauan Leng- heng," ujar Kun- gi, sikapnya tetap ramah dan wajar.

Keduanya lantas beranjak ke tengah gelanggang, So-yok sebagai wasit segera turun dan berdiri disamping. Tanyanya: "Kalian pakai senjata atau adu kepalan? "

"Sela manya hamba tak pernah pakai senjata," ucap Leng Tio- cong,

"kalau Ling-kongcu suka pakai senjata juga boleh."

Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Kalau Leng-heng tidak pakai senjata, sudah tentu cayhe ingin adu jotos saja."

Agak berkerut alis So-yok, katanya menegas: "Thay-siang berpesan wanti2, pertandingan ini menguta makan kepandaian sejati, kedua pihak hanya dibatasi saling sentuh saja, siapapun dilarang melancarkan serangan me matikan, untuk ini jangan kalian lupa diri."

Sebagai kawakan Kangouw sudah tentu Leng Tio-cong merasakan peringatan ini menyudutkan dirinya, supaya tidak me lancarhan Siok-hou-bang kebanggaannya, kalau dalam hati bertambah rasa dengkinya, tapi lahirnya dia bersikap patuh dan mengiakan.

"Baiklah, sekarang kalian boleh mula i," kata So-yok. lalu dia mundur beberapa langkah.

Kiu-cay-boan-koan tetap mengenakan jubah biru, itu berarti dia menjaga gengsi dan mere mehkan Ling Kun-gi. Tapi Kun-gi sendiri juga mengenakan jubah panjang, dia tidak mencopotnya, jubahnya yang longgar mela mba i tertiup angin, sikapnya gagah.

Sementara hadirin merubung ma ju berkeliling setengah lingkaran, banyak orang belum pernah tahu betapa tinggi pe muda sekolahan yang lemah-le mbut ini, hanya Giok-je yang yang pernah menyaksikan kepandaian Ling Kun-gi, ma ka dia tidak ikut merasa kuatir seperti te man2nya.

Perawakan Leng Tio-cong kurus kecil, tapi sorot matanya mencorong dingin dan kejam menatap Ling Kun-gi, kaki kiri maju setengah langkah, telapak tangan mengatup di depan dada. Jelas dia sedang mengerahkan tenaga pada kedua tangannya, seumpa ma panah yang sudah terpasang dibusur dan siap dibidikkan.

Setelah menunggu sekian saat dan melihat Kun-gi tetap diam saja, Leng Tio-cong hilang sabar, tanyanya: "Ling-ko ngcu sudah siap? "

"Silakan mulai Leng-heng," sahut Kun-gi tertawa. Ternyata tanpa me ma kai gaya segala, dia tetap berdiri tanpa bergerak.

Agakya Leng Tio-cong naik pitam melihat sikap Kun-gi yang tidak pandang sebelah mata padanya, dia tertawa katanya: "Baiklah, aku berlaku kasar lebih dulu." Suaranya bagai pekik lutung ditengah hutan melengking menusuk kuping.

Lenyap suaranya tiba2 ia menubruk ke arah Kun-gi, gerakannya lincah secepat kilat,

Sekali berkelebat tahu2 sudah berada di samping kiri Kun-gi, tangan kiri me lintang kesamping dan telapak tangan tegak seperti golok me mbelah ke rusuk bawah. Selanjutnya dia me mutar tubuh, tahu2 sudah berkisar ke belakang Ling Kun- gi, lima jari tangan kanan terpentang mencengkra m tulang punggung. Gerakan serempak ini boleh dikatakan dilaksanakan secepat angin, ma lah satu sama lain sukar di-diraba mana yang serangan betul dan mana yang gertakan belaka.

Dia meyakinkan Eng-jiau-kang, sejenis kungfu yang keji, setiap serangan selalu menyembunyikan gerakan licik, tampa knya dia menyerang dari depan, tahu2 sudah berkisar ke belakang dan mengincar tempat lawan yang lemah, kalau cengkeraman jari2 tangannya mengenai sasaran dengan telak. punggung Kun-gi pasti berlubang. Sudah tentu So-yok melihat betapa keji, serangannya ini dia m2 dia mengerut kening.

Betapapun cepat dan tangkas serangan Leng Tio-cong, tapi Kun- gi juga tidak la mbat, pada kelima jari lawan ha mpir mengena i sasaran, tiba2 Kun-gi berputar, tubuhnya kini berhadapan dengan Leng Tio-cong, berbareng tangan kiri, terangkat dan sedikit menyanggah, dengan tepat dia tahan ruas tulang pergelangan tangan lawan, ia pegang tangan orang terus dibetot keluar, berbareng tangan kanan menutuk ke dada lawan-Tak pernah terpikir oleh Leng Tio-cong lawan bisa bergerak secepat ini, terutama tangan kanannya dipegang lawan sehingga dadanya terbuka, karuan kagetnya tidak kepalang, dalam seribu kesibukannya lekas dia tarik telapak tangan kiri melindungi dada, sementara kaki menjeja k tanah dan me lo mpat ke belakang.

Waktu dia berdiri tegak dan angkat kepala, dilihat Kun-gi tetap berdiri di te mpatnya sambil tersenyum Simpul.   pakaiannya me la mbai terttiup angin, Sikapnya acuh tak acuh seperti tak pernah terjadi apa2.

Betapa gusar Leng Tio-cong, Sekali mundur segera ia rnendesak maju pula, tangan menepuk ke muka, tepukan tangan yang kelihatan enteng ini seketika me mbawa deru angin kencang, sungguh dahsyat perbawanya. Wajah Kun-gi tetap mengulum senyum, na mun dia m2 iapun kaget, batinnya: "Lwekang orang ini ternyata hebat sekali." Segera dia himpun tenaga dan melejit ke sa mping.

Perawakan Leng Tio-cong kurus kecil, gerak-geriknya tangkas cepat, begitu tangan menepuk orangnyapun menubruk maju dan mencengkeram miring ke sa mping. Kecepatan permainannya ternyata sudah diperhitungkan, dia yakin Kun-gi takkan berani menya mbut pukulannya ini dan pasti akan berkelit ke samping, oleh karena itu walau tepukan tangannya tadi membawa da mparan angin kencang, tapi yang dia utama kan adalah cengker mannya ini.

Baru saja Kun-gi berkelit, belum lagi kakinya berdiri tegak, lima jalur angin kencang tahu2 sudah menerjang pundak. cengkera man ini t idak kelihatan di ma na letak keiatimewaannya, tapi pada saat kelima jarinya bergerak ini dia m2 telah menye mbunyikan tiga kali gerak perubahan susulan, cara bagaimana Kun-gi akan me nangkis atau berkelit tetap takkan luput dari ketiga gerak serangan susulan itu. Inilah salah satu jurus Kim-na-jiu-hoat yang lihay sekali dari aliran Eng- jiu-bun.

Penonton me mang tiada yang melihat jelas adanya perubahan susulan dalam cengkera man ini, cuma terdapat orang dari menepuk berubah mencengkera m dan tahu2 pundak Kun-gi ha mpir saja dipegangnya, keruan semua orang berkuatir bagi Ling Kun-gi.

Kejadian berlangsung cepat bagai percikan api, kelima jari Kiu- cay-boan-koan bagai kaitan besi tajam, pada detik2 ha mpir menyentuh pundak lawan, dalam hati dia bersorak girang, wajahnyapun mengulum senyum sinis.

Tak terduga ketika ujung jarinya menyentuh baju dipundak Ling Kun-gi, tiba2 Kun-gi mendak sa mbil berkisar dan tahu2 lenyap dari pandangan. Bukan saja Leng Tio-cong, penontonpun tiada yang me lihat jelas cara bagaimana Kun-gi berhasil menghindarkan diri. Bukan saja meluputkan diri dari cengkera man ganas, dia malah sudah berkisar ke belakang lawan- Begitulah pertandingan itu terus berlangsung dan sudah dapat diduga lebih dulu, akhirnya Ling Kun-gi keluar sebagai juara dan diangkat sebagai cong-hou-hoat, Sebagai co-yu-hou-hoat masing2 adalah Leng Tio-cong dan coa Liang.

Semua anggota Pek-hoa-pang bersorak ge mbira dan suara ucapan selamat datang diri segenap penjuru. Para Hou-hoat yang sudah terpilih juga tunduk kepada pengangkatan itu mengingat Ling Kun-gi me mang telah me mperlihatkan kepandaiannya yang sejati.

Dalam ucapara pengangkatan jabatan baru itu, Thay-siang menyerahkan pula sebilah pedang pusaka "Ih-thian- kiam" kepada Kun-gi dan diputuskan pula ma lam nanti akan diadakan pesta besar.

Petangnya setelah istirahat, datanglah pelayan me mberitahukan kepada Kun-gi bahwa perjamuan sudah siap dan Pangcu serta Hu- pangcu telah menunggu. . .

Kun-gi bergegas menuju kependopo disertai para co-yu-hou-boat dan Hoa-hoat-su-cia.

Ling Kun-gi mengena kan jubah hijau dengan lh-thian- kiam tergantung dipinggang, mendahului rombongannya masuk kependopo, para dara kembang yang sudah hadir la ma bertepuk tangan menya mbut kedatangannya.

Pada meja ujung kanan sana berduduk Pek-hoa pangcu dan Hu- pangcu, merekapun berdiri menyambut kedatangannya. Dalam perjamuan besar mala m ini, Pangcu dan Hu-pangcu adalah tuan rumah. begitu berdiri Pek-hoa-pangcu segera buka suara: "Dengan bersyukur dan senang yang tak terhingga, kita seluruh persaudaraan Pek-hoa-pang menya mbut kehadiran cong- hou-hoat. coh-yu-hou-hoat dan para Hou-hoat serta yang lain2, hidangan arak kami suguhkan untuk merayakan hari bahagia yang takkan terlupakan untuk sela manya ini, silakan-"

Kun-gi rnerangkap tangan, katanya: "Pangcu dan Hu-pangcu mengadakan perja muan ini, ha mba berama i sungguh sangat berterima kasih" Di tengah pendopo berjajar tiga meja besar yang ditata segi tiga. Tamu hari ini adalah cong-hou-hoat, coh-yu-hou-hoat dan kedelapan Hou-hoat, maka meja di tengah diduduki Ling Kun-gi. Leng Tiong-cio ng dan coa Liang bertiga. Meja perta ma di sebelah kiri diperuntukan kedelapan Hou-hoat. Sebagai tuan rumah Pangcu dan Hu-pangcu duduk di meja paling atas sebelah kanan-Lalu ber- turut2 di sebelah kiri adalah ke 24 Hou-hoat-su-cia, Giok-lan congkoan dan 12 Taycia duduk di sebelah kanan dikerubung para dara2 ke mbang.

Perjamuan ini untuk merayakan pengangkatan cong- hou-hoat-su- cia yang baru, walau Pangcu mereka juga hadir, tapi Pangcu lain dengan Thay-siang yang menimbulkan rasa segan dan hormat, oleh karena itu perasaan para hadirin tidak tertekan dan dibatasi, semua riang gembira. Apalagi pada Saat Pangcu dan Hu-pangcu bergantian menyuguh arak, lalu disusul congkoan dan 12 Taycia, sudah tentu dara2 kembang yang lain juga tidak mau ketinggalan, semuanya mencari kesempatan untuk menonjolkan diri. yang susah adalah Ling Kun-gi, entah berapa banyak Cangkir arak telah masuk perutnya yang menjadi ke mbung. De mikian pula para Houhoat yang lain se muapun setengah kelengar karena terlalu banyak menengga k arak. Sebaliknya Pangcu, Hu-pangcu, congkoan dan ke12 Taycia sendiri yang biasanya jarang minum sebanyak ini kini juga sa ma lunglai dan mabuk.

-oo0dw0oo-

Menjelang tengah ma la m. Kun-gi yang sudah mabuk dibimbing dua pelayan yang disuruh Giok-lan ke mba li ke tempat penginapannya semula. Sinar bulan purna ma sedemikian bening dan le mbut, menyorot masuk menyinari jendela ka mar.

Daun jendela di sebelah kanan ka mar tidur Ling Kun-gi masih terpentang lebar, sinar lampu sudah dipada mkan sehingga suasana gelap gulita tak terdapat apa2. Bau arak yang tebal terurar keluar terbawa angin la lu. Kun-gi tengah duduk bersimpuh di atas ranjang, dengan Lwekang yahg tinggi dia desak arak keluar dari badannya sehingga basah kuyup berbau arak. Sekarang dia sudah sadar. Untung juga maka dia baru saja sadar dan duduk semadi. dalam keadaan hening dan tajam indranya, tiba2 didengarnya suara lirih dari pucuk pohon di luar pekarangan sana. Itulah suara pakaian yang tergores ranting pohon, sudah tentu suaranya amat lirih. jelas bahwa Ginkang pendatang ini teramat tinggi. Tergerak hati Kun-gi dia angkat kepala meno leh keluar.

Tampak di antara celah2 dedaunan yang di atas pohon sana seperti berkelebat selarik sinar perak. lalu disusul suara jepretan keras, serumpun bint ik2 perak ke milau secepat kilat menya mber masuk dari jendela. Untung Kun-gi sudah waspada begitu mendengar suara mencurigakan itu segera dia sudah siaga, kalau dia tidak me ndengar suara keresekan tadi, mungkin dia terla mbat dan jiwanya akan me layang oleh serangan gelap yang keji ini.

Tatkala bintik2 perak itu menyamber datang, dia sudah kerahkan tenaga pada kedua lengan bajunya, ia tetap bersimpuh, tapi badannya mengelak mundur ke dalam ranjang. Begitu hujan senjata tiba ia terus kebut kedua lengan bajunya, ilmu sakti ajaran Hoan-jiu- ji-lay yang dina makan "Kian- kun-siu" (lengan baju sapu jagat) segera dikembaskan, bintik2 perak yang tak terhitung banyaknya itu kini digulung seluruhnya. Bak batu jatuh ke dalam hutan tidak menimbulkan r iak gelo mbang apapun.

Pembo kong di atas pohon seketika sadar adanya gejala ganjil, sesosok bayangan hitam segera me layang dari pucuk pohon me lo mpati te mbok pagar terus ngacir keluar pekarangan-

Kun-gi mendengus: "Kau mau lari? " Berbareng dia sendal lengan bajunya, jarum2 yang tak terhitung banyaknya itu dia buang kepinggir dinding sana, segesit tupai ia me lejit keluar jendela terus menguda k ke arah bayangan hitam yang me larikan diri tadi, hanya sekejap bayangannyapun lenyap di kejauhan-sana

oooodwoooo Cahaya bulan yang remang2 kebetulan tertutup oleh awan lalu, sehingga keadaan dalam ka mar se makin gelap lagi. pada waktu itu dari tembo k sebelah t imur sana tiba2 muncul sesosok bayangan tinggi, tanpa mengeluarkan suara bayangan ini meluncur ke arah jendela ka mar Ling Kun-gi, sekali lo mpat dengan gesit dia menyelinap masuk ka mar.

Segala kejadian di dunia ini se-akan2 sudah ditakdirkan, baru saja bayangan hitam tadi menyelinap masuk ka mar, dari arah serambi sana tampak pula bayangan se ma mpai yang ge mula i tengah mendatangi dengan langkah ringan-Inilah seorang nona berperawakan ramping, montok berisi. Sinar bulan tertutup awan tebal, dan sekelilingnya gelap gulita, umpa ma tidak melihat wajahnya, tapi kebentur badan orang yang putih halus dan lembut serta lekuk badannya, yang jelas laki2 siapa yang takkan terpikat, me mang dia inilah nona cantik yang genit dan sedang kas maran.

Langkah yang enteng cepat, tidak mengeluarkan suara. Di tengah ma lam gelap. sepasang matanya berkelap-ke lip seperti bintang dilangit, tiba2 biji matanya mengerling ke sana, kiranya dia me lihat jendela ka mar yang terpentang lebar itu, tanpa terasa mulutnya bersuara kuatir dan penuh perihatin, cepat2 dia mengha mpiri jendela.

Orang di dalam ka mar itu ternyata punya pendengaran yang amat tajam pula, mendengar suara tadi, seketika jantungnya seperti hampir copot, dalam suasana yang kejepit ini terang tak mungkin dia menyingkir lagi, maka cepat2 dia melo mpat ke ranjang, ia menyingkap kela mbu terus menerobos masuk dan merebahkan diri.

Sementara itu bayangan se ma mpai sudah tiba di depan jendela, terdengar omelnya: "Sin- ih itu me mang budak pantas ma mpus, kenapa jendela tidak ditutup,"

Lirih suara orang di luar jendela. tapi orang yang sembunyi di atas ranjang seketika tahu dan dapat me mbedakan siapa gerangan nona yang berada di luar itu, seketika darahnya tersirap. Bayangan ramping itu me mbetulkan letak sanggulnya, lalu dengan suara lirih ale man ia berseru ke dala m: "Ling-toako, kau sudah sadar belum? " Sudah tentu orang di dalam ka mar tidak berani bersuara.

Cekikikan bayangan sema mpai di luar itu, sekali menggeliat pinggang, seperti sengaja mengha mburnya bau harum di badannya, sigap sekali dia me lo mpat masuk ke dekat ranjang. Bau arak masih me menuhi ka mar, sudah tentu iapun merasakan ini, maka alisnya berkerut, tapi suaranya lebih le mbut dan prihatin: "coba lihat, mabuk sampa i begini" Sembar i omo ng tangannya lantas menyingkap kela mbu, jari2 yang runcing halus segera meraba dan menepuk pundak, teriaknya tertahan: "Ling-toako, Ling-toako, bangunlah"

Sudah tentu jantung orang di ranjang seperti hendak melo mpat keluar dari rongga dadanya, dia pejamkan mata dan tak berani bersuara atau bergerak2 Tapi rasanya janggal kalau tidak menyahut, maka dengan samar2 dan bersuara dalam kerongkongan..

Bayangan semampa i itu mengelupas kedok mukanya yang tipis, pelan2 ia me mbungkuk badan, mulutnya meniup pelan ke kuping orang, lalu berkata ale man: "Kenapa kau? "

Betapa besar daya tarik suaranya?

Manusia tetap manusia, apalagi di dalam ka mar yang gelap gulita, satu sama lain toh tak melihat wajah masing2 segera orang itu me megang tangan si ra mping yang lembut halus dan berdesis dengan suara ge metar: "Kau "

Si ra mping biarkan saja tangannya dipegang, tidak menarik juga tidak meronta, suaranya semakin riang dan lir ih: "Aku kuatir akan keadaanmu, maka kutengok ke mar i."

Orang itu menekan suaranya menjadi serak. katanya: "Terima kasih" "Me mangnya siapa suruh kau menjadi Toako- ku . . . . " omel si ramping dengan suara genit menawan hati.

"Kau baik sekali," suara orang itu lebih ge metar.

Si ra mping cekikikan, katanya lirih: "Kau, .... kenapa kau gemetar?"

Begitu dekat jarak mereka, bau badannya yang harum semerbak bikin laki2 manapun akan mabuk kelengar.

Sudah tentu jantung orang yang rebah di atas ranjang itupun berdebur keras, dia tidak bersuara, tapi kedua tangan mendadak merangkul. Dengan menjerit kaget mendadak bayangan ra mping itu-pun menjatuhkan diri ke dalam pelukannya. Tanpa diberi kesempatan orang bicara, bibirnya yang kasar dan hangat segera me lumat bibir si ra mping yang merekah bagai delima. Ternyata si ramping tidak meronta dan biarkan saja dirinya ditindih dan menurut saja apa kehendak lawan jenisnya, sejenak kemudian hanya terkadang terdengar suara rintihan tertahan.

Malam sunyi, debar jantung dua insan sa ma bersahutan, kecuali dengus napas mereka yang se makin me mburu, tak terdengar suara lain-Tapi jari tangan yang kasar mulai nakal, beraksi turun naik me mbuat olah kasar. caranya yang semakin berani ini se makin mantap dan tenang, sebaliknya si ramping jadi ge metar dan mengge liat, menggelinjang, dalam seribu kegelian.

Sayang keadaan gelap gulita sehingga ia tak bisa me lihat warna merah delima nan me mpesona lesung pipit dipipisi ra mping, sorot matanya me mancarkan kenikmatan yang luar biasa, tapi secara langsung dia merasakan suhu badan si ramping semakin hangat dan berkobar, menimbulkan daya tarik yang tak tertahankan. Kini yang gemetar, yang menggelinjang kenikmatan malah si ra mping. Maklumlah kejadian ini me mang sebelumnya sudah di dalam dugaannya, karena kasmaran yang tak tertekan, demi mendapatkan pujaan hati, sehingga tak kuasa menahan buruan kalbu lagi, betapapun dia tidak rela orang lain merebut laki2 yang mengukir di kalbunya ini. Pola lawan jenisnya me mang terlalu keras kalau tidak mau dikatakan terlampau kasar dan bernafsu, tapi sedikitpun dia tidak dendam, malu atau kesakitanpun tidak terasakan lagi, karena semua ini me mang sudah dalam bayangannya, sudah direlakan Yang jelas badannya gemetar, disamping merasa nikmat hatinyapun kuatir dan ce mas. Maklumlah biasanya betapa tinggi harga dirinya? Betapa dirinya penuh wibawa dan diagungkan? Tapi kini segala keagungan, kesucianpun tiada bekas lagi, bak umpa ma burung kecil yang ketimpa mus ibah, pasrah nasib belaka.

Rembulan tidak pernah menongol keluar pula dari balik awan, keadaan tetap gulita di dalam ka mar, setelah mengala mi gejolak me mbara yang me mbawa tautan hati ke sorga loka, lambat laun rangsangan yang me mbara itu mereda dan akhirnya padam me mbuat seluruh tubuh le mas lunglai.

Bayangan ramping itu angkat kepala, suaranya lembut dan aleman: "Toako, kau. ... .

Diciumnya sekali pipi si nona, lalu, berkata orang itu: "Moay-cu (adik), kau harus lekas pergi"

"Kau takut? " tanya bayangan ramping itu.

"Bukan," sahut laki2 itu dengan hangat dan rawan, "bukan takut, tapi aku kuatir bila kau dilihat orang, tentu a mat merugikan pribadimu."

Bayangan ramping itu bersuara dalam mulut. Me mangnya dia berwatak angkuh, tinggi hati, sudah tentu perbuatannya ini pantang kepergok orang, lekas2 dia berdiri serta mengenakan pakaian lagi, lalu katanya berpesan: "Aku pergi, besok persoalan apapun yang dibicarakan Thay-siang, jangan kau "

"Adikku yang baik," sela orang itu, "jangan kuatir, aku sudah tahu ma ksudmu."

"Hm, me mangnya kau berani," kata si ramping sambil angkat jari telunjuk menutul jidat orang, lalu seringan asap bayangannya me layang keluar jendela dan lenyap ditelan gelap. Tiba2 timbul rasa penyesalan dalam benak si laki2, tak berani ayal iapun kenakan pakaiannya, sesaat dia berdiri menjublek di dalam ka mar, akhirnya ia menarik napas panjang, ia mengguma m sendiri: "Ini bukan salahku." Setelah me mbanting kaki, iapun menge luyur pergi melalui jendela .

OodwoO

Beruntun kedua orang ini berlalu, sebetulnya bak umpa ma awan berlalu dan hujan sudah mereda, impian dalam sorgapun sudah tak berbekas lagi, tatkala itu kentongan ketigapun sudah lewat, siapa- pun takkan tahu akan kejadian di dalam ka mar ini. Tapi segala sesuatu di dunia ini justeru sering terjadi di luar dugaan, sesuatu yang dikira tidak di ketahui orang atau iblis justeru bisa bocor di luar dugaan-

Waktu perbuatan mesum dua insan ini sedang berlangsung, sekuntum bunga mawar telah menyaksikan di luar jendela. Dia bukan lain adalah Un Hoan- kun yang menyaru si ke mbang mawar alias Bi- kui. Ia berdiri di bawah jendela, mendengar dengus napas me mbur u dari sepasang manusia yang dibuai nafsu birahi, merah jengah selebar mukanya, sungguh hatinya terasa hancur luluh. Sungguh tak pernah terpikir olehnya laki2 tambatan hatinya ternyata adalah hidung belang yang begini kotor dan tak kenal ma lu. Dia marah, malu, penasaran dan benci, perasaannya hancur berderai, dengan berlinang air mata dia m2 dia tinggal pergi.

00odwo00

Waktu Kun-gi me mburu sa mpa i di atas tembo k tadi, bayangan hitam yang menyerang dirinya dengan senjata rahasia itu sedang me luncur pesat keluar pekarangan-

Dia m2 dia mengerut kening, pikirnya: "Ginkang orang ini a mat tinggi, apalagi dia melangkah lebih dahulu, betapa luas markas Pek- hoa-pang ini, asal dia menyelinap ke te mpat gelap. kemana pula aku akan me ngubernya? " Hati berpikir, tapi kaki tetap mengudak dengan kencang.

Gerak-gerik bayangan hitam itu a mat tangkas dan cekatan, baru saja Kun-gi mela mpaui pagar tembok, didapati bayangan itu sudah berada 20 tombak lebih, tapi mas ih berlari kencang seperti dikejar setan. Mungkin takut me mbuat berisik sehingga jejaknya ketahuan orang Pek-hoa-bun, maka dia tidak berani menuju ke bangunan gedung yang berlapis2 itu, pada hal disana banyak tempat gelap untuk menye mbunyikan diri.

Melihat orang belari2 lurus menuju keluar, sudah tentu kebetulan bagi Kun-gi, dia menguda k terus sambil menge mbangkan ginkangnya. Bayangan didepan ternyata sangat apal tentang liku2 Hoa-keh-ceng ini, jarak mere ka me mang cukup jauh, kebetuan rembulan sembunyi di balik awan lagi sehingga keadaan gelap. kadang2 dia menghilang lalu muncul lagi di antara bayang2 bangunan gedung. Betapapun cepat Kun-gi mengudak tetap ketinggalan-

Hoa-keh-ceng merupakan markas pusat Pek-hoa-pang, banyak terdapat pos penjagaan, bahwa orang ini dapat mengelabui mata kuping para penjaga dan ronda mala m, je las menandakan bahwa orang itu tentu bukan orang luar.

Dalam sekejap mata mereka sudah saling kejar keluar dari pagar tembok Hoa-keh-ceng yang tinggi. Kini mereka berada di lereng sebuah bukit yang penuh ditumbuhi rumput hijau, batu2 gunung terserak di sana-sini, se mak belukar jarang terinjak manus ia.

Melihat Kun-gi terus mengudak dengan kencang, bayangan hitam di depan itu semakin gugup, maka dia mene mpuh jalan belukar dan lari tanpa menentukan arah. Sudah tentu hal ini menimbulkan rasa curiga Kun-gi, pikirnya: "Untuk apa dia me mancingku ke tempat ini, me mangnya disini ada jebakan? "

Tapi dia berkepandaian t inggi dan bernyali besar, umpa ma betul musuh ada bala bantuan di depan sana juga dia tidak gentar. Pula bila orang ini betul adalah anggota Pek-hoa-pang, tentulah salah seorang yang tadi siang telah dikalahkan dalam pertandingan,  karena merasa dengki dan penasaran, maka mala m ini dia hendak menuntut balas dengan me mbokong secara keji dengan senjata rahasia beracun. Walau awak sendiri tidak ingin mencar i musuh, betapapun Kun-gi ingin me mbongkar kejahatannya. Kalau bisa dibujuk agar mene mpuh jalan benar dan menjadi orang baik.

Sekarang mereka saling kejar di lereng bukit yang belukar, tapi tiada suatu tempat untuk menyembunyikan diri, kepandaian Kun-gi me mang lebih tinggi, ma ka jarak kedua pihak telah ditarik pendek. Jelas sebentar lagi dia akan berhasil menyandak musuh, sementara itu mereka sudah saling udak mende kati tepi danau, air danau setenang kaca tertimpa sinar re mbulan menimbulkan cahaya ke milau yang mempesona, sementara kabut mengembang datang mena mbah suasana menjadi redup,

Bayangan hitam di depan tiba2 berlo mpat meluncur ke atas batu gunung yang tinggi, laksana elang yang berhasil menya mber anak ayam, dengan tangkas dia meluncur turun ke balik batu padas besar sana.

Jarak kedua pihak kini tinggal sepuluhan to mbak. beruntun dua kali lo mpatan Kun-gi sudah mengejar tiba. Batu cadas itu setinggi tiga tombak, di bawah adalah air danau, jelas tiada jalan la in untuk me larikan diri, tapi selepas mata Kun-gi menjelajah, Sekelilingnya sunyi senyap tiada kelihatan ada tanda apa2, entah ke mana gerangan bayangan hitam tadi? Me mang te mpat ini dikelilingi belukar, tapi rumput tumbuh hanya setengah pinggang orang, tak mungkin orang se mbunyi di se mak2 rumput, kecuali sudah kepepet maka dia nekat terjun ke air? Inipun t idak mungkin, betapapun lihaynya seseorang main dalam air, begitu dia terjun pasti menimbulkan r iak gelo mbang dan tak mungkin selekas ini tenang ke mbali. Kenyataan air danau setenang kaca, cipratan airpun tak kelihatan.

Berdiri sejenak di atas batu cadas, dia menunggu dan menanti reaksi, tapi tetap tak me mperoleh jawaban, mendadak tergerak hatinya: "Jelas dia tadi lari ke mar i kenapa jejaknya menghilang, kalau dia apal seluk-be luk dalam perka mpungan ini tentu apal juga keadaan luar sini, sengaja aku dipancing ke mari, lalu tiba2 menghilang, me mangnya di bawah batu ini ada jalan lain yang mene mbus entah ke mana? " Segera dia me longok ke bawah mengincar suatu tempat untuk te mpat berpijak. la lu dengan enteng dia melo mpat turun.

Kakinya berpijak pada sebuah batu di antara semak2, betul juga didapatinya bagian bawah ini longgar dan lapang, seperti serambi panjang di rumah gedung layaknya, sebuah jalanan kecil berlumut menjurus masuk ke sela2 batu besar yang tiba cukup untuk berjalan satu orang. Bagian luarnya tertutup rumput tinggi, umpa ma siang hari juga sukar orang menemukan te mpat ini, apalagi dipandang dari atas takkan kelihatan.

Tempo hari Kun-gi mendengar dari Giok-lan yang mengatakan bahwa perahu orang2 Hek-liong-hwe yang menyelundup ke mar i dise mbunyikan di bawah tebing, "Mungkin di sinilah letak dari tebing itu?" otak berpikir, sementara kaki me langkah ke depan-Kira-2 puluhan tomba k ke mudian, tiba2 di-lihatnya seperti ada sesosok bayangan orang rebah tengkurap di atas pasir di depan sana.

Sekali lo mpat Kun-gi me mburu maju, ia dapat me lihat di te mpat gelap. setelah dekat didapatnya orang ini mengenakan pakaian ketat warna hijau, golok terselip dipinggangnya, dandanannya mirip centing Pek-hoa-pang. Setelah diteliti didapatinya pula jiwa orang sudah melayang, sesaat lamanya karena terhantam dadanya oleh pukulan berat.

Terpancar cahaya gemerdep dari bola mata Ling Kun-gi. batinnya: "orang ini jelas adalah centing yang ditugaskan berjaga di sini, golok yang tergantung dipinggangpun belum se mpat tercabut, tahu-jiwa sudah melayang, tentunya orang tadi kuatir centhing ini me mbocor kan rahasianya maka dia di bunuh untuk menutup mulutnya." Waktu dia berdiri tegak. dilihatnya dise mak2 rumput di depan sana ada sesosok mayat pula. orang inipun mengena kan seragam warna hijau berdandan sebagai centing. Kemungkinan dia terpukul mencelat sehingga terlempar sejauh itu, jiwanya jelas sudah amblas. Berkeriut gigi Kun-gi saking ge mas, dia m2 dia berjanji akan mengusut perkara ini dan mencar i tahu siapa gerangan bayangan itu untuk menghukumnya secara setimpal. Kedua centing ini sudah mati beberapa saat, ini berarti pembokong itu tentu sudah pergi jauh dan tak mungkin dikejar lagi, ia putar balik dan akan melo mpat ke atas tebing.

Pada saat itulah mendadak didengarnya suara isak tangis sedih me milukan di atas, isak tangis se-orang pere mpuan, begitu sedihnya sampai tersendat2 dan banting2 kaki.

Heran Kun-gi, waktu ini sudah kentongan ketiga lewat tengah ma la m, me mangnya siapa yang datang kepinggir danau dan bertangisan disini? suara tangis seorang perempuan, tentu dia salah satu dara kembang dari Pek- hoa-pang. Mungkin dia mene mukan ke matian kedua centing, salah seorang centing adalah kekasihnya, maka dia menangis begini sedih?

Tengah Kun-gi menduga2, tiba2 didengarnya perempuan itu berkata sambil sesenggukan: "Ling Kun-gi, oh, Ling Kun-gi, akulah yang buta, sungguh tak nyana kau . . . . . Ai, aku ....... aku juga tidak ingin hidup lagi ......" Suaranya terputus2 oleh sendat tangisnya, lemah dan lirih, tapi di ma lam sunyi ini Kun-gi dapat mendengarnya jelas sekali, terutama setelah akhir kata2nya, langkah kakinyapun terdengar menuju ke pinggir danau. Jelas dia nekat hendak bunuh diri.

Sudah tentu Kun-gi berjingkat kaget, lekas dia berteriak: "Jangan nona" Sebat sekali dia men-jejak kaki mengapung ke atas.

Bahwa di bawah tebing ada orang sudah tentu tidak terpikir oleh si nona, tanpa sadar dia menyurut mundur, bentaknya: "Siapa kau? "

Kini Kun-gi sudah melihat jelas siapa nona di hadapannya yang menangis ini, ia kaget dan keheranan, katanya sambil mengawas i tak berkedip: "Apakah yang terjadi? Bilakah aku pernah berbuat salah padamu " Nona ini bukan la in adalah Un Hoan-kun yang menyamar jadi Bi- kui, air mata mas ih berlinang2 di kelopak matanya, ia terbeliak mengawasi Kun-gi, iapun kaget dan heran, tanyanya: "Kau ......

bagaimana kau bisa berada disini? "

"coba kau dulu yang bicara, kenapa kau sembunyi di sini dan menangis? "

Nanar pandangan Un Hun- kun, katanya dingin: "Tidak. kau dulu yang bicara, bukankah kau mengunt it aku ke mari? " Dia mengenakan kedok sehingga sukar terlihat mimiknya, cuma biasanya dia bersifat lembut dan halus, bijaksana lagi, kata2nyapun ramah, kini dia bicara dingin ketus, jelas gelagatnya jelek.

Dia m2 Kun-gi ber-tanya2 dalam hati, katanya kemudian "Cayhe me mang menguntit seseorang ......." sampai di sini mendadak dia seperti ingat sesuatu, lalu tanyanya gugup: "Waktu kau kemar i adakah kau berte mu dengan seseorang? "

Un Hoan- kun dapat merasakan nada ucapan Kun-gi itu me mang menguntit seseorang, maka dia bertanya siapa yang di maksud?

"Entah siapa dia, dia kejam dan licin, aku menguntitnya sa mpai di sini, sayang dia berhasil lolos, malah dua centing di bawah sana juga dibunuhnya "

Betapapun Un Hoa-kun adalah nona yang cerdik, dia tahu dalam soal ini mungkin ada latar belakangnya yang ber-belit2, segera dia balas bertanya: "Coba katakan, berapa lama kau keluar? "

"Cukup la ma, sedikitnya sudah satu ja m."

Un Hoa-kun mendesak lagi: "Bahwa kau tak tahu siapa dia, kenapa kau menguntitnya ke mari? "

Terpaksa Kun-gi tuturkan   kejadian   yang   dialami,   lalu menya mbung tertawa: "Sudah, kini giliranmu yang bicara, untuk apa seorang diri kau lari ke mari? Tadi seperti kudengar kau tidak ingin hidup segala, me mangnya kenapa? " Mendengar cerita Kun-gi, Hoan-kun sudah tahu akan duduknya persoalan, tapi sebagai seorang gadis perawan yang masih suci bersih, sudah tentu tak mungkin dia mencer itakan adegan mesum yang disaksikannya tadi. Dengan muka merah terpaksa dia menjawab: "Kau tak usah tanya, hatiku amat risau, perlu ja lan2 keluar untuk menenangkan perasaanku, lekas kau ke mbali, lebih cepat lebih baik."

Sudah tentu Kun-gi juga bukan pemuda goblok. iapun merasakan dibalik ucapan Un Hoan kun ini mas ih ada persoalan tersembunyi, maka dia bertanya: "Dari o monganmu kurasakan seperti terjadi sesuatu? "

"Lekas pergi, setelah kemba li kau akan tahu sendiri," kata Un Hoan-kun.

Dirundung berbagai pertanyaan, Kun-gi mas ih menegas: "Kau tidak pulang saja bersa maku? "

"Kalau jalan bersa ma mu, dilihat orang tentu kurang le luasa, kau boleh berangkat lebih dulu, tunggulah aku dipekarangan yang gelap."

"Kutinggal kau di sini, hatiku tidak tenteram, ayolah pulang bersama."

"Bikin jengkel orang saja," ome l Un Hoan-kun, "kalau terla mbat sudah tiada gunanya lagi."

Kun-gi tidak bergerak. tanyanya: "Kau pasti ada urusan, kenapa tidak kau beritahukan padaku? "

"Tiada waktu untuk kujelaskan, hayolah pulang bersama, nanti berpisah di luar tembok, soal ini a mat besar artinya, jangan kau tunda2, pulanglah dulu ke ka mar mu dan kau akan tahu, tapi jangan kau masuk begitu saja, biar aku me mberitahukan Congkoan dulu, ma lam ini aku bertugas bersama Hong-s ian, katakan saja waktu ke mbali kau bersua dengan aku." Mendengar orang berpesan secara serius, se-olah2 ditempat tinggalnya telah terjadi sesuatu, maka Kun-gi mengangguk. katanya: "Baiklah, hayolah pulang."

Mereka tidak bicara lagi, keduanya sama2 menge mbangkan Ginkang dengan cepat tiba di luar pagar tembo k tinggi yang menge lilingi Hoa- keh-ceng. Un Hoan-kun me mberi tanda gerakan tangan terus mela mbung ke atas tembok dan melesat ke belakang sana.

Sementara Kun-gi juga mengapung terus me lejit lebih jauh ke depan-mendadak didengarnya seorang me mbentak tertahan: "Siapa? "-setitik sinar ke milau tahu2 meluncur kemuka Kun-gi.

Sekali raih dengan mudah Kun-gi tangkap senjata rahasia itu, kiranya sebutir pelor perak. sementara mulutnya berseru: "Cayhe Ling Kun-gi"

Dari te mpat gelap ta mpak melo mpat keluar seorang laki2 berseragam hitam, begitu me lihat jelas akan Ling Kun- gi, lekas dia me mbungkuk dengan gugup, katanya: “Ha mba Kho Ting-seng, maaf, kesembronoanku patut dihukum mati "

Laki2 ini adalah salah satu Hou-hoat-su-cia yang dinas jaga, maka dengan tertawa Kun-gi lantas berkata: "Kho-heng tak usah berkecil hati. Cayhe meluncur dari luar te mbo k. adalah jama k kalau menimbulkan rasa curiga. Cuma untuk selanjutnya Kho-heng harus lihat jelas dulu baru boleh turun tangan-"-Se mbari bicara dia angsurkan ke mba li pelor perak itu.

Orang she Kho mengia kan sa mbil menerima pelor peraknya, Kun- gi bertanya pula: "Apakah mala m ini giliran Kho-heng berjaga? "

"Ya," sahut Kho Ting-seng, "ada empat orang yang mendapat giliran jaga, ha mba ditugaskan jaga di sebelah tenggara sini.”

“Apakah Kho-heng tadi me lihat ada orang masuk ke mar i? "

Kho Ting-seng melengak. katanya: "Maksud Cong-hou-hoat ada musuh yang menyelundup ke- mar i? " "o, tidak." ujar Kun-gi, "aku hanya tanya sambil la lu, kalau t iada me lihat ya sudahlah."

"Sejak giliran hamba berjaga tadi terus mondar- mandir di sekitar sini, kalau ada orang menyelundup masuk tentu hamba dapat me lihatnya."

Kun-gi manggut2. "Bagus sekali, baiklah aku mohon diri," setelah balas hor mat, sekali jejak kedua kaki ia lantas melejit t inggi me luncur kepekarangan belakang.

Karena pesan Un Hoan-kun tadi amat wanti2 dan serius, se-olah2 telah terjadi suatu peristiwa di dalam ka marnya, maka sepanjang jalan ini dia tingkatkan perhatian dan kewaspadaan, sinar pelita sudah padam di daerah pekarangan tengah, keadaan sunyi tenang tiada gerakan apa2 yang mencur igakan-

Secara diam2 dia meluncur turun di balik pagar te mbok serta me mperhatikan ka mar tidurnya, dua jendela disebelah selatan tetap terpentang lebar, keadaan hening, lelap seperti dirinya keluar tadi, tiada tanda2 perubahan lainnya puia, keruan ia heran dan ber- tanya2 kenapa Un Hoan-kun mendesak dirinya lekas ke mbali ke kamar tidur? Mengingat nona Un biasanya hati2 dan cer mat, setiap menghadapi persoalan tentu dikerjakan dengan baik dan rapi, tak mungkin kali ini dia menipu diri nya..