-->

Pendekar Kidal Jilid 12

Jilid 12

Dian Tiong-pit tertawa dingin, setelah ujung pedang Giok-je menyentuh pakaiannya baru mendadak dia menggeser kaki ke belakang, sementara badan ikut berputar, pedang di tangan kanan menabas turun ke bawah dan telapak tangan kiri terayun keatas, dua serangan dilancarkan bersa ma.

Padahal serangan Giok-je sudah keburu dilancarkan, dia m2 ia menge luh, untuk menarik serangan terang tidak keburu lagi, Apalagi tabasan pedang Dian Tiong-pit dilandasi kekuatan besar, maka terdengar suara "trang", pedang Giok-je tergetar lepas jatuh berkelontang di atas geladak, sementara telapak tangan kiri lawan laksana geledek menyamber tahu2 sudah menganca m dada.

Bukan kepalang kejut Giok-je, dalam keadaan gawat ini terang tak sempat lagi menje mput pedangnya yang jatuh, cepat2 ia mendak tubuh seraya melo mpat mundur ke belakang, untung dia lolos dari lubang jarum.

Tapi sebelum dia se mpat bernapas, sambil bergelak tawa Dian Tiong-pit ke mbali ayun pedang setengah lingkar, kaki melangkah setindak. mulut me mbentak: "Kalau t idak me nyerah, jangan salahkan kalau aku tidak kenal kasihan lagi"

Baru saja dia habis bicara tiba2 didengarnya seorang menanggapi dengan suara lantang. "Dian-kongcu, kukira sudah tiba saatnya kau berhenti."

Terkejut Dian Tiong-pit, lekas dia berpaling , seraya membentak: "Siapa?"

Tampak pakaian mela mba i2 tertiup angin, entah sejak kapan seorang telah berdiri di haluan perahu, kepalanya pakai kerudung hitam, sikapnya gagah, katanya setelah tertawa panjang: "Dian- kongcu masa t idak kenal cayhe lagi?"

Kejadian hanya berlangsung dalam waktu yang amat singkat, waktu Dian Tiong-pit menoleh ke sana, Piausu bernama Llok Kian- lam yang tadi tertutuk roboh itu kini ta mpak merangkak berdiri. Sementara kedua laki2 anak buah Thian- kau sing yang menjaga tawanannya kini berbalik kena tertutuk Hiat-tonya dan berdiri kaku ditempatnya. Dan masih ada lagi, Hou Thi jiu danThian kau-sing yang sedang bertempur melawan Ping-hoa dan Liau-hoa itu se mula sudah berada di atas angin, kini merekapun seperti tertutuk Hiat-to- nya oleh orang, yang satu membentang jari2 tangan besinya bergaya seperti hendak menerkam, seorang lagi mengangkat pedang menusuk tempat kosong, hanya bergaya tapi tak bergerak.

Sementara Ping-hoa dan Liau-hoa sudah simpan pedang serta menyingkir kepinggir dengan berdiri tersenyum simpul, jelas se mua kejadian adalah hasil kerja si orang berkedok ini.

Waktu dia muncul di atas perahu, Hou Thi-jiu dan Thian- kau-sing sedang melabrak lawannya, orang ini tiba2 me mbo kong pada saat orang tumple k perhatian menghadani musuh, sudah tentu berhasil dengan gemilang. Tapi apapun yang telah terjadi, bahwa orang ini bisa menutuk Hiat-to Hou Thijiu dan Thian-kau-sing dalam segebrakan saja, terang me miliki ilmu silat yang amat mengejutkan. Sudah tentu perubahan mendadak yang tak pernah dibayangkan ini me mbuat Dian Tong-pit kaget dan pucat mukanya, tapi juga gusar. Tadi pihaknya sudah diatas angin, karena orang berkedok ini mendadak muncul, situasi lantas berubah sama sekali, dari unggul kini menjadi asor, usahanya menjadi gagal total. Karena amarahnya me muncak. serunya murka: "Kau yang me mbekuk mereka?"

"Betul," jawab orang berkedok, "aku tak senang me lihat mere ka ma in keroyok. main cegat menganiaya tiga nona cantik " secara

gamblang dia mengatakan bahwa Giok-je bertiga me mang sa maran gadis2 ayu.

"Siapa kau?" bentak Dian Tiong-pit gusar.

Orang berkedok tertawa, katanya: "Dian-Kongcu tak mengenalku, umpa ma kusebutkan na maku, kau tetap tidak akan kenal aku, betul tidak?"

Gusar dan dangkol Dian Tiong-pit, bentak-nya: "Bagus?" Tiba2 pedangnya bergerak, selarik sinar bersa ma orangnya melesat kencang menerjang ke arah orang berkedok.

Orang berkedok bertangan kosong, sudah tentu dia tidak berani menya mbut secara keras, lekas dia tutul kedua kaki mela mbung tinggi. Melihat orang berkelit dengan melo mpat tinggi, Dian Tiong- pit tertewa dingin, dengan gaya Pek-hung-koan-jit (bianglala mene mbus sinar matahari), sinar pedang berputar, laksana anakpanah menyamber iapun meloncat ke atas me mbayangi lawan-

Mumbul sekitar dua tomba k mendadak di tengah udara orang berkedok mengguna kan gerakan Hun-li-hoan sin (me mbalik badan di tengah awan), pada tangannya sudah memegang sebatang pedang pendek sepanjang satu kaki lebih, ia menukik menyongsong Dian Tiong-pit yang baru menjulang ke atas. "Trang", di tengah udara berkumandang suara nyaring benturan senjata.

Di tengah udara kedua orang bentrok secara keras, lalu bayangan orang segera berpencar, keduanya sama2 meluncur ke bawah. ilmu silat Dian Tiong-pit a mat tinggi, pendengarannya tajam dan matanya jeli, tadi waktu kedua senjata beradu dan merasakan bunyi benturan agak ganjil, waktu dia menatap sambil angkat tangannya, dilihatnya pedang sendiri yang terbuat dari baja murni ujungnya tertabas kutung sepanjang satu dua dim. Bertambah kaget dan marah hatinya, mukanya merah pada m, sambil menghardik dan menubruk maju, pedangnya menerbitkan kesiur angin santer. Serangan dilancarkan dengan a marah yang meluap. dalam sekejap beruntun dan menyerang belasan kali.

Orang berkedok layaninya dengan enteng, katanya tertawa: "Begini besar nafsu Dian-kongcu"-Sebat sekali ia bergerak ke kanan- kiri, badannya meliuk kesana ke mari.

Bagai angin badai rangsakan pedang Dian Tiong-pit, betapa cepat gerak serangannya, tapi ke timur tusukan pedangnya, tahu2 lawan sudah berada di barat, menusuk ke barat, orang tahu2 sudah berpindah ke utara, namun orang berkedok itu tidak pernah balas menyerang.

Tiga belas serangan pedang Dian Tiong-pit   menimbulkan gelo mbang hawa dingin, setombak di sekeliling gelanggang dilingkupi sinar perak laksana naga mengamuk. bayangan orang berkedok seperti tergubat di dala mnya, dari luar kelihatan kelebat sinar pedang yang kemilau itu saban2 ha mpir menabas kutung bayangannya, tapi hanya terpaut serambut saja, tahu2 pedang menya mber ke sa mping, ujung pakaian orangpun t idak ma mpu disentuhnya.

Lama kela maan semakin me mbara amarah Dian Tiong-pit, saking mur ka hampir gila rasanya, hardiknya keras: "Kau berani tampil menca mpur i urusan ini, kenapa tidak berani melawan pedangku ini, ma in kelit dan menyingkir begini terhitung apa? Me mangnya gurumu hanya me mberi pedang pendek saja dan tidak mengajarkan ilmunya?" kata2nya sengit dan cukup pedas menusuk perasaan-

Mendadak si orang berkedok menghentikan gerakannya, katanya tertawa dingin: "Tiong-pit, aku ingin me mberi muka padamu, supaya kau tahu diri dan mundur teratur, ternyata kau berhasrat berkenalan dengan ilmu pedangku, nah awas, hati2lah"

Sembari bicara pedangnya mendadak bergetar, seketika menabur kan delapan atau sembilan larik cahaya dan berjatuhan ke depan Dian Tong pit. Anehnya larikan sinar pedang itu panjang pendek berlainan satu sa ma lain, mana yang kosong dan mana yang betul2 berisi sungguh sukar diraba, perubahannya cepat dan mengandung banyak variasi,

Sejak kecil Dian Tiong- pit sudah dige mbleng meyakinkan ilmu pedang, di bidang ini boleh dikatakan ahli, maka ia kira orang hanya mengabur kan cahaya untuk menge labui pandangannya. Karena menurut kebiasaan, orang2 yang mengembangkan ilmu pedangnya sering juga menciptakan tabir sinar pedang seperti ini, di antara sekian banyak jalur2 sinar yang bertebaran itu terang hanya satu yang merupakan serangan telak. yang lain hanya merupakan bayangan yang me mbikin kabur pandangan lawan-

Maka dalam hati Dian Tiong-pit tertawa dingin, belum lagi lawan merangsak maju dengan sinar pedangnya, cepat ia memba lik tangan kanan, dengan jurus Hun-kong-kik-ing (me mencar sinar menyerang bayangan) iapun menabur kan secercah cahaya pedang dingin, ia malah menyongsong bayangan pedang lawan-

Betapa cepat gerakan kedua pihak yang saling labrak ini, kelihatan dua larik sinar saling gubat sekali lalu berpencar ke mba li, dua kali berkumandang suara berdering. Karena me mandang rendah musuh dan terburu nafsu, Dian Tiong-pit me mbuat perhitungan salah dan menila i rendah larikan sinar pedang lawan, jika satu di antara larikan sinar pedang itu merupakan serangan telak. maka larik sinar yang lain hanya untuk mengabur kan pandangan dan perhatian lawan saja dan tak mungkin menimbulkan suara berdering ber-kali2, kini jelas bah-wa sinar pedang itu semuanya merupakan serangan yang sesungguhnya.

Benturan pedang itu berlangsung dalam waktu yang amat singkat sekali, tapi Dian Tiong-pit sudah merasakan sesuatu yang ganjil, setiap kali tabasan pedang lawan dapat mengikis pedangnya menjadi lebih pendek. pedang yang semula panjang tiga kaki lebih itu kini ha mpir sisa gagangnya saja.

Untunglah laki2 berkedok itu segera berhenti serta mundur, katanya dingin. "Dian Tiong-pit, kau sudah mau mengaku kalah?" Watak Dian Tiong-pit berangasan, tinggi hati dan angkuh, kapan dia pernah tunduk kepada orang lain, selama berkelana di kangouw belum pernah kecundang, apalagi diper mainkan seterunya ini, keruan a marahnya bukan kepalang, ia berteriak. mendadak gagang pedang digunakan sebagai senjata rahasia terus ditimpukkan, serentak kelima jarinya menekuk laksana cakar menyerang dengan jurus Tok-liong ta m-jiau (naga beracun ulur cakar), secepat kilat ia mencengkeram dada musuh,

Maklumlah pada serang menyerang tadi jarak kedua pihak hanya kurang lebih tiga kaki jauhnya, dalam jarak sedemikian dekat, serangan Dian Tiong-pit yang mendadak ini sudah tentu me mbuat orang tidak menduuga dan tidak berjaga2.

Gagang pedang itu ditimpukan sepenuh tenaga, tahu2 sudah me lesat tiba di depan hidung si orang berkedok. sementara kelima jari tangannya tajam laksana cakar bajapun sudah mengincar dada orang.

Si orang berkedok me mang tidak menduga akan datangnya serangan berganda ini, se mentara gagang pedang sudah berada di depan mata terpaksa dia doyong tubuh ke belakang sambil angkat pedang tegak ke atas, "Trang", gagang pedang itu dia sampuk patah menjadi dua potong.

Sementara cakar Dian Tiong-pit yang terpentang itu tahu2 juga sudah menyentuh pakaian si orang berkedok baru saja dia kerahkan tenaga hendak mencengkerann, tiba2 terasa urat nadi tangannya, menjadi kese mutan dan lenganpun menjadi le mas, ternyata pada detik yang menentukan itu pergelangan tangan Dian Tiong-pit sudah terpegang oleh si orang berkedok malah, keruan kagetnya bukan kepalang, lekas dia meronta sekuatnya, tak nyana orang berkedok lebih cepat lagi, tahu2 tangan kiri terangkat, dengan jurus "mendorong perahu menurut aliran air", dengan enteng dia mendorong, maka Dian Tiong-pit tidak se mpat meronta lagi, tanpa kuasa tubuhnya mencelat dan melayang setombak lebih. "Blang", dengan keras terbanting di atas geladak. hampir saja dia terguling jatuh ke sungai. Betapapun kepandaian silat Dian Tiong-pit tidak le mah, begitu badan terbanting di lantai papan, sekali mengerahkan tenaga, dengan lincah ia sudah me letik bangun, begitu berdiri tegak sinar matanya seketika mencorong beringas, sekian saat dia tatap orang berkedok itu, bentaknya: "Sebutkan na ma tuan, orang she Dian akan segera berlalu."

Orang berkedok cudah simpan pedangnya, katanya tertawa: "cayhe tak perlu menyebut na ma segala, kalah menang sudah terang, lekas kau pergi dengan anak buahmu, kelak kita masih akan berhadapan lagi di medan laga." Habis berkata dia malah pergi lebih dulu daripada Dian Tiong-pit, badannya meluncur ke sana dan hinggap di atas sebuah sa mpan-

Sejak orang berkedok muncul dan ke mbali ke atas sampan, kejadian hanya berselang beberapa kejap saja, keruan orang2 Pek- hoa-pang sama melongo kebingungan- Melihat orang mau pergi baru Giok je bersuara: "Tayhiap ini, harap tunggu sebentar"

Orang berkedok itu sudah berada di atas sampan, seperti tidak dengar seruannya, dia melajukan sa mpan itu ke arah belakang sana. Seperti diketahui sa mpan yang dipakai ini sebetulnya adalah salah satu milik Dian Tiong-pit.

Sementara itu Dian Tiong-pit sedang sibuk me mbuka Hiat-to Hou Thijiu, Thian- kau-sing dan kedua laki2 ber muka kuning itu, lalu katanya: "Hayo pergi." Dengan anak buahnya segera mereka berlalu.

Dikala pertempuran berlangsung dengan sengit, dia m2 Kiang-lo toa sudah perintahkan anak buahnya menolong kedua laki2 baju kelabu yang terjungkal ke sungai tadi, kini sudah dlobati lagi.

Dia m2 Giok-je terheran2 melihat orang berkedok itu me ndayung sampannya sedemikian pesatnya ke arah belakang, batinnya: "orang ini tadi muncul mendadak di atas perahu, pergi pula secara tergesa2 dengan sampan Dian Tiong-pit, me mangnya dari mana dia datang?" Melihat Giok-je menjuble k mengawasi ke buritan, Llok Kian-la m bertanya: "Apakah Hoa-kongcu sudah tahu asal-usul orang berkedok itu?"

Giok je menggeleng, ujarnya: "Ilmu silat orang ini a mat tinggi, begitu cepat gerakannya, sukar aku mengikuti per mainannya, entah dari perguruan mana "

Tiba2 Liau-hoa menyeletuk "He, mungkinkah orang itu adalah Cu-cengcu?"

"Hah" mendadak Giok-je berseru. "Lekas kita tengok     "

ooo(000dw000)ooo

Sebelum mulai dengar ra malannya Cu-ki-cu menyulut tiga batang dupa, lalu satu persatu dia suruh Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu Jing me mperkena lkan diri, jadi persoalannya ada pada ketiga batang dupa yang mengeluarkan asap wangi yang me mabukkan ini, siapa saja setelah bicara pasti menyedot bau harum ini, maka cepat sekali merekapun terjungkali roboh. Keruan Cu-ki-cu tergelak kegirangan sambil bangun dari te mpat duduknya.

Mendadak terdengar suara nyaring merdu berkumandang di luar pondok: "Ada orang di dala m?"

Agak terkejut Cu-ki-cu, bentaknya: "siapa?"

"Ka mi mau cari tua Cu-ki-cu" agaknya dia tidak seorang diri.

Cu-ki-cu mengerut alis, sekilas dia pandang tiga orang yang mengge letak di tanah, lalu menyingkap kerai berjalan keluar, tertampak orang telah berada diruang ta mu. Itulah dua pemuda sekolahan yang berusia tujuh-belasan, wajahnya sama cakap dan ganteng.

Sambil mengelus jenggot menguning di bawah dagunya yang jarang itu, Cu-ki-cu pandang kedua tamunya itu sekian saat, setelah batuk2 kering baru bertanya: "Kalian ada perlu apa?" Salah seorang yang lebih tua berkata dengan tertawa: "Ka mi ingin mohon tuan Cu-ki-cu mera malkan nasib kami, apakah kau tuan Cu-ki-cu?"

"Sayang sekali, kebetulan Cu-ki- cu sedang ke luar," sahut Cu-ki- cu.

Pemuda yang lebih muda celingukan, longok sana toleh sini, lalu bersuara heran: "He, mana mereka?"

"Apa kata Siang kong?" tanya Cu-ki-cu.

"Tadi tiga orang teman ka mi sudah ke mari lebih dulu, di ma na mereka?"

Terbayang sinar aneh pada mata Cu-ki-cu, katanya tersenyum: "o, apakah ketiga pemuda yang Siang kong maks ud?"

"Ya, satu di antaranya adalah Piaukoku, dimana mere ka?" tanya pemuda yang lebih muda.

"Me mang tadi ada tiga pemuda ke mar i mau cari Cu-ki-cu, Lohu beritahu bahwa Cu-ki-cu sedang keluar, maka mereka lantas pergi."

Kedua pemuda saling pandang, kata yang lebih muda: "Tidak mungkin, kuda tunggangan Piaukoku masih berada di luar sana, mana mungkin dia sudah pergi?"

Kata Cu-ki-cu kurang senang: "Losiu sudah setua ini, masa berdusta pada kalian?"

Mendadak yang lebih muda itu tertawa lebar, katanya: "Kukira kau ini justeru Cu-ki-cu sendiri, Piauko selalu larang ka mi ikut ke mari, katanya cu- ki-cu t idak suka digangggu orang, supaya ramalannya tepat orang tidak boleh datang ber-bondong2, tentunya Piauko sengaja suruh kau keluar untuk menola k kedatangan ka mi, betul tidak? Hm, aku t idak percaya, mereka tentu sembunyi di dalam."

Habis berkata mendadak dia berteriak keras2: "Piauko" - Tiba2 pula dia menerobos kedala m. Berubah air muka cu- ki-cu, sekali berkelebat dia mengadang seraya me mbentak: "Berhenti" Tangan kanan terus menepuk ke pundak si pe muda.

Sebelum telapak tangannya menyentuh pundak pe muda itu, mendadak dia rasakan punggung tangannya seperti digigit nya muk, seketika seluruh lengan menjadi le mas lunglai dan pati rasa, tenaga yang dikerahkanpun sirna, keruan kagetnya bukan main, cepat dia periksa tangan sendiri, dilihatnya sebatang jarum sulam menancap di punggung tangannya, jarum ini me mancarkan cahaya kehijauan-

Seketika berubah pucat muka Cu-ki-cu, teriaknya ketakutan: "Tong-bun-ceng- bong-cia m (jarum cahaya hijau keluarga Tong)"

Dalam berkata2 ini Cu-ki-cu ke mba li merasa kedua kakinya mulai le mas dan pati raga pula.

Kadar racun pada jarum ke milau hijau ini tidak terlalu keras dan me mang khusus untuk me mbe kuk musuh, yang diincar umumnya adalah kaki dan tangan, musuh seketika akan lena dan tak ma mpu me lawan lagi.

Pemuda yang lebih tua mengejek. katanya: "Betul, kiranya kau kenal juga"

Sambil me ngawasi pe muda yang lebih tua, Cu-ki-cu bertanya: "Kau, Siangkong ini dari. . dari keluarga Tong?"

Yang lebih muda cekikikan, katanya: "Jangan cerewet, berdiri saja di situ"

Pada saat itulah kain gordyn di kamar sebelah timur tiba2 tersingkap. dua laki2 bersenjata golok menerobos keluar. demikian pula dari ka mar sebelah barat juga melo mpat keluar dua orang laki2 bersenjata golok pula, begitu keluar mereka berpencar terus menganca m dengan golok mereka.

Gerakan kee mpat laki2 baju hitam cukup tangkas, begitu lo mpat keluar terus berpencar, dari kerja uhan mereka acungkan golok mengincar kedua pe muda yang terkepung itu. Pemuda yang lebih muda melir ik dan mencibir, katanya tak acuh: "Kalian mau apa?"

Laki2 yang berdiri di muka mereka menyeringai, katanya. "Anak kura2, ini yang dina makan sorga ada pintu tak mau masuk- neraka tertutup rapat kau malah menerjangnya, rupanya kau sendiri ingin ma mpus, jangan menyesal bila tuan besar mu berlaku keja m."

"Ka mi hendak mencari Cu-ki-cu, siapa bilang ingin mati?" ujar si pemuda.

"Tuanmu bilang, kalian anak kura2 ini ta matlah hari ini."

Pemuda yang lebih tua tidak sabar lagi, matanya me mancarkan cahaya terang, katanya dingin: "Dik, tak perlu banyak omong dengan mereka, kaum keroco ini bukan orang baik, enyahkan mereka saja."

Yang lebih muda mengiakan seraya mencabut pedang pendek, berbareng pemuda yang lebih tua juga mengeluarkan sebatang pedang panjang.

Laki2 yang bicara tadi menyeringai hina, katanya tergelak2: "Anak kura2 ini ternyata pandai main silat juga."

Cu-ki-cu yang menyingkir ke sa mping segera menyela: "Mereka adalah anak mur id keluarga Tong dari Sujwan-"

"Berani kau omong, biar kuga mpar muka dan kutamatkan jiwa mu" bentak pe muda yang lebih tua. Sorot matanya yang dingin menyapu pandang, lalu menudingkan pedangnya kepada kee mpat musuh, katanya: "Siapa di antara kalian yang maju lebih dulu."

Laki2 yang bicara tadi berkata pula: "Keluarga Tong kalian sebetulnya tak pernah bermusuhan dengan ka mi, tapi kaliann justeru ma in seruduk ke mar i mencari gara2, umpa ma kalian putera raja juga, hari ini tak boleh dilepaskan lagi"- Golok bergerak. dia me mber i tanda, dua orang laki2 baju hitam segera menubruk ke depan pemuda yang lebih tua. ia sendiri dengan seorang laki2 lain segera meluruk pe muda yang lebih muda, empat orang mengeroyok dua orang. Pemuda yang lebih tua berdiri tenang2 tanpa bergerak. kedua musuh yang menyerbu berpencar dari kanan kiri, yang kanan menabas lengan kanan yang me megang pedang, sementara musuh yang sebelah kiri menggerakkan golok menganca m pinggang.

Ketika senjata kedua musuh hampir menyentuh badan baru pemuda yang lebih tua mengejek. mendadak kaki kiri menggeser mundur berbareng pedang di tangan bergetar, selarik sinar ke- milau segera berputar. "Trang, trang", sekaligus dia tangkis golok kedua musuhnya, pedangnya masih bergerak menabas miring.

Kepandaian silat kedua laki2 ini ternyata tidak lemah, sebat sekali mereka berkelit se mbari angkat golok balas menyerang, gabungan serangan golok mereka cukup gencar dan mengincar te mpat me matikan di tubuh pe muda yang lebih tua.

Sementara pemuda yang lebih muda menge mbangkan ilmu pedangnya yang cukup hebat, sinar pedangnya menyamber seperti rantai ke milau menciptakan bayangan cahaya yang berlapis2.

Hanya beberapa gebrak. kedua musuhnya telah dicecar di bawah angin. Sebetulnya kedua laki2 ini biasanya me mpunyai cara tersendirijlka mengeroyok musuh, tapi entah mengapa hari ini rangsakan sengit mereka t idak ma njur lagi.

Lain halnya dengan kedua temannya yang mengeroyok pemuda yang lebih muda, mereka sudah berada di atas angin- Pemuda yang lebih muda bersenjata pedang pendek. Lwekangnya me mang lebih rendah dan latihan kurang matang, kalau satu lawan satu mungkin lebih unggul, tapi dikeroyok dua, dia betul2 kewalahan, niatnya me lawan dan merobohkan kedua musuh itu, apa daya tenaga tak sampai. Sepuluh jurus ke mudian keadaannya sudah semakin runyam, pedang pendeknya tangkis kanan pukul kiri, gerak pedangnya menjadi kacau dan tak teratur lagi. Sudah tentu hatinya kaget tapi juga gera m, teriaknya: "Kalian kawanan kunyuk yang ingin ma mpus, jangan bikin marah hatiku, nanti kupenggal kepala kalian." Laki2 baju hitam disebelah kiri tertawa, ejeknya: "Anak kura2, pandai juga me mbual." - Sret, sret, tiba2 gerak goloknya dipercepat, dua kali dia me mbaco k dan me nabas.

Pemuda yang lebih muda dipaksa menangkis dan me lo mpat mundur dengan kalang kabut. Laki2 baju hitam tertawa riang, golok dibolang-ba lingkan, mendadak dia mendesak  maju  seraya me mbentak:

"Anak kura, baru sekarang kau tahu rasa"

Belum habis bicara, pada saat mulutnya masih terbuka, mendadak dia menjerit keras dan roboh terjungkaL

Melihat temannya tanpa sebab mendadak terjungkal, keruan laki2 yang lain terperanjat, sedikit lena tahu2 pedang si pe muda sudah menya mber tiba, hendak berkelitpun kasip. baju pundaknya terpapas, walau kulitnya tidak terluka, namun dia sudah patah semangat, bergegas dia jejak kaki dan melo mpat mundur.

Si pe muda meradang seraya me mbentak: "Kaupun jangan harap bisa lari" - Dari balik lengan bajunya tiba2 menyamber keluar sebatang panah kecil le mbut. Baru saja laki2 baju hitam mau berkelit, tapi sudah terlambat, terasa pergelangan kanan yang me megang golok kesakitan, "trang", golok jatuh terlepas di tanah, tanpa kuasa iapun jatuh tersungkur.

Kejadian berlangsung dalam beberapa kejap saja, kedua temannya yang mengeroyok pemuda lebih tua itu sebetulnya sudah berada di atas angin, serta melihat kedua temannya roboh terkena senjata rahasia, mereka menjadi gugup dan ciut nyalinya, sedikit lena pedang pemuda lebih tua segera menusuk iga kiri laki2 yang berada di sebelah kanan-Laki2 itu menjerit keras2, sa mbil mende kap lukanya dia terjung keluar dan me larikan diri. Sudah tentu temannya tak berani bertempur lebih lanjut, segera iapun ngacir masuk ke kamar sebelah barat.

Empat musuh, dua rebah tak berkutik, dua lagi lari mencawat ekor. Tinggal Cu-ki-cu yang masih berdiri di sana seperti patung, wajahnya cemberut kecut, katanya dengan nada yang minta dikasihani: "Siangkong berdua harap tahu, orang2 jahat sudah ada yang ma mpus, yang masih hidup juga terluka melarikan diri, ampunilah jiwa Losiu."

Pemuda lebih   muda   menjengek.   serunya:   "orang   jahat, me mangnya kau tidak jahat?"

"Sungguh penasaran, itu fitnah, Losiu       "

"Bukankah tadi kau bilang Cu-ki-cu tidak di rumah?" ejek pemuda lebih muda.

Cu-ki-cu menghela napas, katanya: "Siang kong tidak tahu latar belakang persoalannya, tadi Losiu bilang Cu-ki-cu tidak ada, maks udku mau me mber i peringatan kepada kalian supaya lekas pergi, karena Losiu diancam oleh kee mpat penjahat tadi dan tak mungkin me mber i penjelasan kepada kalian-"

"Mana Piaukoku bertiga" desak pe muda yang lebih muda.

"Ada, ada," kata Cu-ki-cu sambil menyengir, "mereka se maput terkena dupa wangi, harap Siang-kong a mpuni Losiu, segera kua mbil obat pe munahnya."

Pemuda yang lebih tua sudah simpan pedangnya, dari dalam kantong dia keluarkan sebutir obat dan diangsurkan, katanya: "cabutlah ceng-bong-cia m dan telan obat ini."

Dengan tangan kiri Cu-ki-cu terima obat itu, sambil berterima kasih ia mencabut jarum yang menancap dipunggung tangannya, lalu telan pil itu.

Mengawasi kedua orang yang mengge letak di tanah, pemuda yang lebih tua bertanya sambil menoleh: "Dik, panahmu dibubuhi racun, apakah kedua orang ini masih bisa ditolong?"

Pemuda lebih muda cekikikan, katanya: "Baru pertama kali ini aku gunakan senjata rahasia pe mber ian pa man, paman pernah bilang, dalam setengah jam kalau mereka tidak dlobati, jiwa bisa me layang."

"Kau punya obatnya? Kedua orang ini harus ditawan hidup2." "Ada saja, obatnya kusimpan di dalam kantong." Mendengar percakapan mereka, terunjuk cahbaya aneh pada sorot mata cu-ki- cu, setelah makan obat, lengan kanannya kini sudah bisa bergerak. lekas dia me nuding sa mbil berkata: "Siang kong, silakan ikut Losiu, teman kalian di sebelah timur, Losiu akan ambil obat penawarnya." Dia lantas menyingkap kerai, tertampak tiga orang menggeletak di dalam ka mar, mereka ialah Ban Jin- cun, Kho Keh hoa dan cu-jing.

"Di ma ma kau simpan obat mu, lekas a mbil"

"Kusimpan di ka mar, segera Losiu menga mbilnya," sahut Cu-ki- cu, bergegas dia lari ke ka marnya.

Pemuda yang lebih muda sudah keluarkan obat penawar mende kati kedua laki2 baju hitam, panah dia cabut lalu me mbubuhi obat di te mpat luka serta me mbuka hiat-to, tapi mendadak ia menjer it: "He, kenapa kedua orang ini sudah mati?"

"Tadi kau bilang setengah jam baru racun bekerja, mana mungkin mati?" ujar pe muda yang lebih tua.

"Me mang, tapi mereka. ......" mendadak dia berseru heran: "He,Ji-ko, bukankah ini ceng-bo ng-cia m miiikmu?" .

"ceng-bong-cia m milikku?" seru pemuda yang lebih tua. "Di mana?"

Dilihatnya pada dada kedua laki2 yang rebah di tanah masing2 tertancap sebatang jarum sulam yang kemilau kehijauan, me mang itulah ceng-bong-cia m. seketika alianya menegak. katanya gusar: "Bangsat keparat, kita ditipu olehnya. Cu-ki-cu jelas seko mplotan dengan kawanan penjahat ini."

"Pantas" ujar pe muda yang lebih muda. Jarum yang me lukai dia tadi dia gunakan untuk me mbunuh kedua orang ini. Kenapa mereka dibunuh? Kuatir me mbocor kan rahasia?

"Agaknya kau sudah ta mbah pintar." Sahut pemuda yang lebih tua. "Nah, sekarang kita semprot muka mereka dengan air dingin supaya siuman." "Me mangnya begitu ga mpang?" "Tidak percaya, boleh kau buktikan"

Dari te mpat se mbahyang pe muda yang lebih muda a mbil secangkir kecil air suguhan terus di -semprotkan kemuka ketiga orang.

Ban Jin-cun melo mpat bangun lebih dulu, segera ia menjura kepada mereka, katanya: "Apakah saudara berdua yang menolong kami bertiga?"

Pemuda yang lebih  muda  me mang  ceriwis,  katanya: "Me mangnya Cu-ki- cu mau menolong kalian pula?"

Kho Keh hoa pun sudah berdiri, tanyanya: "Kemana bangsat Cu- ki-cu itu?"

"Dia sudah lari," kata pe muda yang lebih tua.

Yang lebih muda, mendekati Cu J ing, katanya., "Piauko, kau tidak kenal Siaute lagi?"

Sekilas Cu Jing me lengak karena dipanggil Piauko, dengan menatap muka orang ia menjura dan bertanya: "Saudara ini siapa?"

"Kenapa Piauko jadi pelupa, me mang sesama saudara misan kita baru bertemu sekali, mungkin Piauko sudah lupa, entah Ya-khim Piauci baik2 saja?”

Merah muka cu-Jing, tanyanya heran, "Kau. . ."

"Siaute Ling Kun- ping . . . . " tukas pemuda yang lebih muda. Mendadak dia pegang lengan Cu Jing terus diseret ke sana serta berbisik di telinga-nya: "Piauci, aku adalah Ji-ping." Ternyata pemuda ini sa maran Pui Ji-ping, jadi Cu Jing adalah Piaucinya, yaitu Cu Ya-khim.

Cu Ya-khim alias Cu Jing ke mba li me lenggong, ia tatap muka "Ling Kun-ping", katanya: "Jadi kau "

"Aku menya mar," kata Ji-ping lir ih. Mendengar suara orang memang betul Pui Ji-ping, lekas Cu Ya- khim berpesan dengan suara lir ih: "Jangan kau bocorkan rahasiaku."

"Ya, tahu sama tahu," ujar Ji-ping.

Cu Ya-khim genggam tangannya, cepat katanya dengan girang: "Piaute, siapakah dia? Lekas perkenalkan pada Piauko."

Pui Ji-ping menjawab: "Dia adalah nona kedua keluarga Tong dari Sujwan dan berna ma Tong Bun-khing." Lalu dengan suara keras dia tuding pe muda lebih tua dan berkata: "Inilah Tong Bun- khing, Tong-jiko."

Lekas cu Ya khim menjura, katanya: "Kira-nya Tong-heng, sudah la ma siaute ingin berkenalan-"

Tong Bun-khing tertawa, katanya: "Akupun sudah la ma dengar nama besar Cu-heng."

Tak lupa Cu Ya-khim perkenalkan juga mere ka kepada Ban Jin- cun dan Kho Keh-hoa.

Ban Jin-cun lantas berkata: "Entah Tong-heng dan Ling-heng bagaimana bisa mencari ke te mpat ini?"

"Hanya kebetulan saja, kami berdua lewat di Tong-seng, kulihat cu- piauko ter-buru2 mene mpuh perjalanan ke utara, entah apa yang telah terjadi? Maka secara diam2 ka mi mengunt it ke mari," lalu dia ceritakan kejadian yang baru la lu.

"Bangsat itu lari terbirit2, dalam ka marnya ini tentu ketinggalan barang2nya, mari kita periksa bersama," de mikian usul Ban Jin-cun.

Demikianlah waktu mereka sibuk bekerja, tiba2 didengarnya suara deru angin, Ban Jin- can cukup cerdik, lekas dia me mber i tanda kepada yang lain supaya diam, pelan2 dia menyingkap gordyn dan me longok keluar. Dilihatnya seekor burung dara pos tengah hinggap di depan gubuk. seketika tergerak hatinya, lekas dia menerobos keluar. Agaknya burung dara itu cukup terlatih, melihat orang asing yang tidak di kenalnya, segera dia pentang sayap hendak terbang pergi, Sudah tentu Ban Jin-cun tidak berpeluk tangan, sigap dia menje mput sebutir batu terus ditimpukkan, berbareng dia jejak kaki, badan me la mbung ke atas sambil ulur tangan menangkap burung yang meluncur jatuh terkena timpukan batunya. Lekas Cu Ya-khim ikut lari keluar, tanyanya: "Bagaimana Ban-heng?"

Dengan kedua tangan me megang burung dara jin-cun sudah me langkah balik, katanya: "inilah burung dara pos."

Sementara itu Tong Bun -khing, Kho Keh- hoa dan Pui Ji- ping juga sudah keluar. Ban Jin-cun bertanya: "Ada yang ditemukan di dalam rumah?"

"Tiada, kecuali pakaian t iada benda2 lain di rumahnya."

Dari kaki burung dara Ban Jin-cun melepaskan sebuah bumbung kecil, la lu dituang keluarkan secarik kertas gulungan serta dibeberkan dan dibaca, tulisan itu berbunyi:

"segera diperiksa asal usul Kiang-lotoa pemilik warung teh Hin-liong di dermaga An-khing. orang ini ada sangkut pautnya dengan para budak yang lari menculik Cu Bun-hoa palsu, segera bekerja, jangan terlambat. Tertanda Tin.”

Mendelu hati Cu Ya-khim me lihat bunyi "Cu Bun-hoa palsu", batinnya: "Entah siapa yang me ma lsu ayahku?"

Ban Jin-cun angsurkan kertas itu kepada yang lain, katanya: "Peristiwa budak2 lari, entah apa yang terjadi? Agaknya bertambah ruwet persoalan dalam Kangouw."

Mendadak Pui Ji-ping berjingkrak kegirangan sambil goyang2 lengan Tong Bun-khing, teriaknya: "Jiko, jejak Piauko sudah diketahui, tekas kita susul ke An-khing."

"Piaute, apa katamu?" tanya Cu Ya-khim heran- "Siapa Piauko mu itu?"

Jengah muka Pui Ji-ping, katanya sambil mengawasi Tong Bun- khing: "Panjang kalau diceritakan, nanti kujelaskan, sekarang lekas kita susul ke An-khing." Cu Ya-khim meno leh kepada Ban Jin cun dan Kho Keh-hoa, tanyanya: "Ban heng dan Kh-o-heng mau pergi ke An- khing juga?"

"Ka mi hendak cari klo mplotan Hek-liong-hwe. dari tulisan ini dapat kami simpulkan bahwa kasus larinya budak2 ini pasti ada hubungannya dengan Hek liong-hwe, sudah tentu kita akan pergi kesana juga.

Girang Cu Ya-khim, katanya: "Syukurlah, kita masih seperjalanan-"

Mimiknya yang berseri senang itu dia m2 di-perhatikan oleh Pui Ji- ping, dalam hati ia me mbatin: "Agaknya Piauci sudah kasmaran terhadap Ban Jin-cun ini."

ooo(000dw000)ooo

Layar sudah berkembang sehingga perahu laju dengan pesatnya me lawan gelombang o mbak sungai.

Waktu pintu ka mar dibuka, Cu Bun-hoa palsu yang mengenakan jubah biru berjenggot hitam tampak duduk menyandang meja, mata terpejam seperti tertidur. Pelan2 gordyn tersingkap. Giok-je, Ping- hoa dan Liau-hoa satu persatu melangkah masuk. . Setelah berada di dalam ka mar, Liau-hoa lantas berbisik: "Agaknya bukan dia."

Sebelum berlalu tadi. Giok-je telah menutuk Hiat-tonya, kini orang tetap berduduk dalam sikap yang sama, sudah tentu dia bukan orang berkedok tadi.

Giok-je meno leh kepada Liau-hoa maksud-nya supaya jangan banyak bicara, pelan2 dia maju ke depan Ling Kun- gi, dengan seksama ia me meriksa. Baru sekarang dia mau percaya, karena tadi dia menutuk Ki-bun-hiatnya, sampai sekarang kain baju tepat dibawah dada kiri mende kuk ke dalam sebesar kacang, jelas sejak tadi dia t idak pernah bergerak. Tujuannya menutuk Hiat-to orang bukan untuk mencegah orang bergerak. tapi hendak menjaja l apakah kepandaian silatnya sudah pulih kembali. Seperti diketahui, setiap "tamu agung" yang di "bertandang" ke coat- sin- san-ceng semuanya sudah dicekoki racun pe mbuyar Lwekang. Tapi kabar yang menyusul belakangan mengatakan waktu Coat Sin-san-ceng di serbu musuh, Lok-san Taysu berempat sudah pulih kepandaiannya sehingga Hian-ih-lo-sat menga la mi kekalahan total. Cu Bun-hoa asli yang ada di Coat Sin-san-ceng itu adalah usaha selundupan Giok-je sendiri, kalau tiga yang lain sudah pulih kepandaiannya, maka Cu Bun-hoa tentu juga sudah pulih Lwekangnya.

Sejak terjadi peristiwa aneh di Sam-koan-tian mala m itu, di mana secara mendadak dan di luar sadar mereka jatuh se maput serta kedatangan orang berkedok di atas perahu tadi, diam2 Giok-je sudah curiga hahwa se mua itu adalah ulah atau perbuatan orang yang menya mar jadi Cu Bun-hoa ini.

oleh karena itu, sebelum berlalu tadi, dia mbang pintu mendadak dia menutuk dengan kekuatan angin jarinya, kelihatan orang tidak siaga dan tanpa melawan, ini me mbuktikan bahwa racun penawar Lwekang dibadannya masih bekerja. Kini setelah terbukti bahwa kecurigaannya me leset, dia lebih yakin bahwa orang berkedok yang muncul tadi juga bukan orang yang menya mar Cu Bun-hoa ini.

Kalau bukan dia, lalu siapa? Jelas orang itu datang tanpa naik perahu atau sampan, waktu pergi dia bawa sampan orang2 Hek- liong-hwe, meluncur kira2 puluhan to mbak, sampan itu tahu2 sudah berhenti, sementara orang berkedok di atas sampan itupun lenyap tak keruan parannya. Kecuali dia terjun ke air, hanya ada situ ke mungkinan, yaitu dia menyelundup balik ke atas perahu. Analisa ini me mang masuk akal, tapi kini dia harus menumbangkan rekaannya sendiri, sebab kecuali Cu-cengcu palsu ini boleh dikatakan tiada orang lain yang patut dicurigai di atas perahu ini. Sekian la ma Giok-je berdiri menjublek dihadapan Ling Kun-gi tanpa bersuara.

"cici, bukankah engkau hendak me mbuka Hiat-tonya?" kata Ping- hoa. Mendadak tergerak hati Giok-je, la manggut2 dan menepuk sekali dipundak orang untuk me m-buka hiat-tonya, mulutnya bersuara lir ih: "Cu-cengcu bangunlah"

Badan Ling Kun- gi sedikit bergetar, tiba2 dia me mbuka mata, katanya sambil mengawasi Giok-je "Lohu tertidur sambil duduk. entah waktu apa sekarang?"

"Sudah lewat lohor, tiba saatnya ma kan siang," sahut Giok-je,

Ping-hoa dan Liau hong sudah buka tenong dan keluarkan hidengan dan arak ditaruh di atas meja.

Giok-je berpaling, katanya: "Kalian keluar saja."   lalu   ia mena mbahkan: "Cu-cengcu silahkan ma kan-"

Kun-gi berdiri, dilihatnya empat maca m hidangan sudah tersedia di atas meja, sepoci arak dan seteko teh, tanyanya: "Apakah nona sudah makan?"

"Ha mba sudah makan di luar," sahut Giok-je, la mengisi secangkir arak dan disuguhkan kepada Ling Kun-gi, katanya dengan tersenyum manis: "Yang tersedia di perahu hanya hidangan kasar, harap Cu-cengcu makan seadanya saja."

Kun-gi tidak sungkan, baru saja dia angkat cangkir arak hendak minum, mendadak cangkir dia turunkan pula, tanyanya: "Nona2 meno longku keluar dari Coat Sin-san-ceng, tertunya punya maksud tujuan tertentu?"

Giok-je pandang cangkir arak orang, sahutnya: "Cu-cengcu kuatir hamba menaruh racun dalam arak? Kalau begitu biarlah ha mba minum dulu secangkir arak ini."

Kun-gi tertawa, katanya: "Nona tidak menjawab pertanyaanku, itu berarti tidak mau me mberi keterangan-" Tanpa tunggu reaksi si nona ke mbali ia angkat cangkir arak, ujarnya: "Lohu sudah terkena racun penawar Lwekang di Coat Sin-san-ceng, buat apa nona harus taruh racun lagi dalam arak ini, untuk ini Lohu t idak perlu kuatir." Sekali tenggak ia habiskan arak itu. Giok-je tertawa tawar, kembali dia is i cangkir orang, katanya: "Cu-cengcu berhasil menawar kan getah beracun mereka, tentunya tak perlu takut orang menaruh racun di dalam arak."

Kun-gi cukup cerdik, dia tahu orang sengaja hendak me mancing keterangan dirinya tentang getah beracun itu, maka iapun sengaja mengge leng, katanya: "Bicara soal obat penawar getah beracun itu, terus terang Lohu sendiri juga tidak percaya akan hasil yang telah kucapai itu."

"Tong- locengcu dari Sujwan adalah ahli racun di Bu-lim dan terkenal sebagai dedangkotnya racun, sela ma tiga bulan dia tak ma mpu berbuat apa2, namun Cu-cengcu hanya dalam tiga hari berhasil menawarkan getah itu menjadi air jernih, se mua ini jelas me mer lukan pengetahuan luas dan pengala man yang dala m, tak mungkin hanya terjadi secara kebetulan saja."

Kun-gi geli, katanya sambil mengawasi Giok-je. "Jadi nona juga yakin bahwa Lohu pasti bisa me nawarkan getah beracun itu?"

Giok-je menar ik kursi dan duduk di sebelah sa mping, katanya sambil me mbetulkan sanggul ra mbutnya: "Apa perlu dikatakan lagi, bukankah sudah terbukti Cu-cengcu berhasil menawarkan getah beracun itu?"

"Ya, oleh karena itulah Lohu menduga nona me njalankan perintah menyelundupkan Lohu ke luar dari Coat-siu-sau-ceng, tentunya punya tujuan tertentu bukan?"

Giok je me lengos dari tatapan tajam Ling Kun-gi, katanya: "Pandangan Cengcu me mang tajam dan teliti, untuk ini hamba tidak perlu mungkir lagi"

"Kalau begitu, kenapa nona t idak berterus terang kepada Lohu?" "Bukan ha mba t idak ma u menerangkan, soalnya apa yang hamba

ketahui amat terbatas, ini disebabkan oleh kedudukan ha mba, ada

persoalan yang tak boleh dibocorkan kepada orang luar." "Tak banyak yang ingin kuketahui, misalnya nona dari Pang atau Hwe mana, ke mana Lohu hendak dibawa, soal ini tentu nona bisa me mber i keterangan?"

Terunjuk sikap serba salah pada wajah Giok- je katanya setelah menepekur sebentar:

"Bicara terus terang, kami dari.....dari Pek-hoa-pang     "

Sebetulnya Ling Kun-gi sudah tahu, dengan tersenyum dia berkata: "Pek-hoa-pang, bukan saja na manya segar dan enak didengar, tentunya anggota Pang kalian seluruhnya terdiri dari kaum hawa?"

Merah muka Giok-je, tapi dia manggut2. "Ke mana Lohu hendak dibawa?"

"Hal ini ha mba tidak berani menjelaskan."

"Tentunya tujuan kita adalah suatu tempat yang terahasia sekali?

Lalu siapa na ma gelaran Pangcu kalian?"

Berkedip2 bola mata Giok- je, katanya dengan tertawa nakal: "Setelah Cengcu tiba di sana dan berhadapan dengan Pangcu, boleh kau tanya sendiri."

"Jadi nona tak berani menerangkan?""

"Cu-cengcu jangan me mancing, hamba adalah anak buahnya, betapapun hamba t idak berani se mbarang menyebut na ma gelaran Pangcu."

Sesaat lamanya keduanya bungkam, suasana menjadi hening sekejap. Kun-gi sikat hidangan yang tersedia, kejap lain Ping-hoa dan Liau-hoa sudah bereskan piring mangkuk, lalu me nyuguh secangkir teh. Giok-je berdiri serta me mberi hor mat, kata-nya: "Silakan Cengcu istirahat, hamba mohon diri."

Dengan langkah le mbut dia lantas keluar. Beruntun dua hari, kecuali Ping-hoa dan Liau-hoa yang me ladani makan minumnya, Giok-je tidak pernah unjuk diri. Agaknya dia sudah kapok dan berlaku hati2 terhadap Ling Kun-gi, banyak bicara tentu bisa kelepasan o mong, ma ka lebih baik dia hindari bicara atau ngobrol dengan Ling Kun-gi.

Selama itu Kun-gi juga tidak keluar ka mar, tapi dia tahu bahwa kamar te mpat tinggalnya selalu diawasi orang,jelas mereka adalah Liok- piauthau dari Bau-seng-piau- kiok dan anak buahnya. Kamar belakang yang terletak di buritan dan terpisah oleh dinding papan dengan ka mar Ling Kun-gi adalah ka mar tinggal Giok-je bertiga. Selama dua hari ini Giok-je se mbunyi dalam ka mar, dari celah2 dinding papan secara diam2 selalu dia mengawasi gerak-gerik Ling Kun-gi. Tapi Kun-gi pura2 t idak tahu.

Perjalanan dua hari ini mereka lewatkan dengan tenang dan tenteram, tak pernah bentrok atau bersua dengan orang2 Hek- liong-hwe lagi. Hari kedua setelah nakan malam, cuaca sudah gelap, terasa perahu ini seperti me mbelo k me masuki sesuatu selat. Biasanya di waktu petang perahu me mang cari tempat yang terlindung dari hujan badai, tapi hari ini sudah gelap, perahu masih terus laju dengan kecepatan sedang, malah selat ini rasanya terlalu sempit dan belak-belok ke kanan-kir i, ini terasa dari seringnya perahu oleng ke kanan atau ke kiri.

Peralatan perahu ini serba lengkap, tapi tiada me mbawa la mpu atau lentera sehingga keadaan dalam perahu a mat gelap, ma ka para kelasi bekerja mengandalkan ke mahiran dan pengala man saja. Kira2 setengah jam kemudian hingga hampir mende kati kentongan pertama, laju kapal baru mulai terasa tenang, tak lama lagi terdengar suara rantai gemerincing, agaknya kelasi menurunkan jangkar menghentikan perahu, suara ombak berdebur2 kiranya kapal telah merapat di der maga.

Dalam keheningan itulah, tiba2 pintu diketuk pelahan, lalu terdengar suara Liau-hoa berkata: "Apakah Cu cengcu sudah tidur?"

Sengaja Kun-gi mengge liat seperti terjaga dari tidurnya, tanyanya dengan suara parau: "Siapa ?" "Ha mba Liau-hoa," sambut orang di luar pintu, "silakan Cengcu mendarat."

"O,jadi sudah sampa i tempat tujuan ?" tanya Kun-gi, "tunggu sebentar, segera Lohu keluar."

Sengaja dia malas2 mengenakan pakaian, lalu me mbuka pintu. Tampak Liau-hoa menenteng sebuah lampion yang terbuat dari kulit hitam, maka sekelilingnya tetap gelap, cahaya lampu hanya remang2.

Melihat Kun-gi keluar, lekas Liau-hoa me mberi hor mat, katanya: "Malam pekat, harap Cengcu ikuti hamba" Lalu dia mendahului beranjak ke sana.

Mata Kun-gi bisa me lihat di tempat gelap, walau mala m pekat dia masih bisa me lihat jelas keadaan sekelilingnya. Ternyata perahu berhenti disuatu tempat penuh belukar, tak jauh di sebelah depan adalah hutan lebat, lebih jauh lagi adalah tanah pegunungan yang semakin meninggi. Ping-hoa tampa k berdiri dipinggir sungai, tangannya juga me mbawa la mpion berkerudung kulit hita m, agaknya hendak menyambut dirinya. Beberapa tombak di daratan tersebar puluhan orang berseragam hita m, itulah Liok Kiau-la m bersama anak buahnya serta orang2 Kiang-lotoa, semuanya bersenjata lengkap, penjagaan ketat,jelas mereka kuatir kalau dirinya melar ikan diri. Kun-gi anggap tidak melihat, dia ikuti Liau- hoa terus naik ke daratan. Di tempat atas berhenti sebuah kereta yang tertutup rapat, Ping-hoa berhenti di samping kereta, katanya sambil angkat la mpion t inggi: "Cu-cengcu naik ke atas kereta."

Waktu Kun-gi naik ke dalam kereta, tampak Giok-je sudah duduk di situ, disusul Ping-hoa dan Liau-hoa juga naik, keduanya padamkan la mpion, duduk di dua sisi.

Kusir kereta segera tarik tali kendali menjalankan kereta. Dalam kereta gelap gulita, lima jari tangan sendiri juga tidak kelihatan, masing2 duduk tegak tak bergerak dan tak bersuara, maka suasana menjadi hening mence ka m. Akhirnya Kun-gi tidak tahan, setelah menarik napas panjang.dia buka suara: "Kenapa belum sa mpa i juga

?"

Giok-je terpaksa berkata. "Cu-cengcu bisa beristirahat saja, setelah sampai nanti ha mba me mberi tahu."

"Agaknya nona segan berbicara dengan Lohu," kata Kun-gi. "Cengcu adalah tamu agung Pang kita, mana ha mba berani

kurang adat? Soalnya peraturan Pang kami a mat keras, banyak

bicara pasti kelepasan o mong, terpaksa ha mba bungkam saja."

"Me mangnya banyak persoalan yang ingin Lohu ajukan, agaknya sebelum t iba di te mpat tujuan Lohu tidak akan me mpero leh jawaban."

"Betul, kedudukan ha mba rendah, apa yang Cengcu ingin ketahui mungkin ha mba tidak bisa me nerangkan, tapi setiba di te mpat tujuan pasti ada orang yang ditugaskan melayani Cengcu, semua pertanyaan pasti terjawab dengan me muaskan." Habis berkata Giok-je peluk tangan duduk ke belakang serta pejamkan mata. Begitulah tanpa terasa beberapa jam telah berlalu, kereta yang berjalan di atas tanah pegunungan berbatu berguncang dengan hebatnya, kini me ndadak berjalan dengan enteng dan rata, derap kuda-pun terdengar pelahan teratur dan berirama, kiranya kereta sudah berada dijalan raya yang lapang dan rata.

Kira2 satu jam lagi baru kereta berhenti, lima to mbak disebelah kanan sana terdengar ada orang membuka sebuah pintu besar, cepat kereta bergerak pula ke depan. Hanya sejenak lagi akhirnya kereta benar2 berhenti.

Terdengar suara kusir kereta berseru lantang: "Hoa-kongcu sudah sampai, Giok-je sudah berpakaian pere mpuan, tapi orang masih me manggilnya Hoa-kongcu..

Begitu kusir me mbuka pintu, Ping-hoa dan Liau-hoa mendahului me lo mpat turun. Melihat Kun-gi me meja mkan mata, Giok-je kira orang tertidur pulas, maka ia me manggil lirih: "Bangunlah Cu- cengcu, kita sudah sa mpa i." Waktu Kun-gi me langkah turun, dilihatnya dua gadis re maja berpakaian serba hijau me mhawa la mpion berdiri di kanan kiri. Waktu dia angkat kepala ternyata mereka sekarang berada di sebuah pekarangan dari sebuah gedung besar.

"Silakan masuk" kata Giok-je yang turun terakhir dari kereta. Kedua gadis re maja pe mbawa la mpion segera bergerak lebih dulu menunjukkan jalan.

Tanpa bersuara Kun-gi ikut i langkah mere ka me masuki sebuah lorong panjang yang tembus pada sebuah pekarangan, di depan berderet tiga buah petak bangunan, tanaman bunga bertebaran rapi dan teratur, suasana sejuk nyaman. Kedua gadis re maja bawa mereka menuju ke gedang sebelah kiri, langsung dorong pintu terus me langkah masuk, Giok-je berkata: "Silahkan mas uk Cu-cengcu."

Kuw-gi melangkah masuk, ta mpak me ja kursi lengkap, pajangan kamar ini serba berkelebihan, mepet dinding sebelah kiri terdapat sebuah ranjang kayu besar yang terukir indah, kasur seprei dan bantal guling serba baru. Giok-je berada di belakangnya.

Katanya dengan tertawa: "Inilah ka mar untuk Cu-cengcu, ka mar sebelah adalah ruang perpustakaan, entah Cu-cengcu kerasan tidak tinggal di sini?"

Kun-gi tertawa sambil menge lus jenggot, katanya: "Baik sekali, setelah berada di sini, tidak kerasan juga harus kerasan, rasanya Lohu mas ih bisa menyesuaikan diri."

Seorang gadis remaja yang lain datang membawa kan sebaskom air buat cuci muka.

Giok-je segera menuding gadis remaja ini, katanya: "Dia, bernama Sin-ih, khusus tugasnya disini meladeni segala keperluan Cu-cengcu, kalaun perlu apa2 boleh Cengcu berpesan padanya"

Kun-gi pandang nona bernama Sin- ih ini, usianya sekitar tujuh- belasan, alisnya lentik melengkung, wajahnya molek dan mungil, kulitnya yang putih bersemu merah, ditambah pupur yang semerbak, kelihatan agak kurang wajar. Lekas Sin- ih melangkah maju serta me mberi hor mat, katanya: "Ha mba menyampaikan hor mat dan selamat datang kepada Cu- cengcu, ada perlu apa2 silahkan Cengcu pesan saja kepada ha mba."

"Cu-cengcu tentu lelah setelah menempuh perjalanan jauh, biarlah ha mba mengundur kan diri saja," kata Giok je.

Kun-gi tahu orang terburu2 hendak me mberi laporan kepada Pangcunya, maka dengan tertawa dia berkata: "Nona sendiri tentu juga letih dan perlu ist irahat, silakan saja."

Waktu Giok-je keluar, Kun-gi menutup pinggir jendela mencuci muka, belum lagi dia duduk Sin—ih sudah menyuguhkan secangkir teh. Kun-gi mener imanya dan meneguknya sekali la lu ditaruh di meja, katanya: "Lohu ingin t idur, nona tidak usah repot2 lagi."

"Ha mba bertugas disini, kalau sa mpa i Cengcu kurang puas dan pekerjaan tidak beres, bila ketahuan Congkoan, tentu hamba bisa dihukum."

"Tidak, Lohu tidak ingin bikin repot kau, boleh kau pergi tidur juga . Eh, nanti dulu, siapakah Cong-koan kalian?"

"Congkoan berna ma Giok-lan, apa Cengcu ada pesan?" "Tidak, Lohu hanya tanya sambil lalu saja. Kau boleh pergi."

Sin-ih mengundurkan dan merapatkan pintu sambil mengawasi

bayangan orang, diam2 Kun-gi me mbatin: "Nona ini terang mengenakan topeng kulit yang tipis."

Bahwa dirinya me mbe kal Pi-tok-cu dan Jing-sin-tan pe mberian nona Un, maka dia tidak perlu takut terhadap segala racun dan obat bius, walau berada di sarang harimau, hatinya tetap tenteram dan sikapnya wajar. Dia yakin Pek-hoa-pang tentu juga punya tujuan tertentu terhadap dirinya. Malam sudah larut, dia tahu besok pasti banyak urusan yang me libat dirinya, segera dia tanggalkan pakaian terus merebahkan diri. Malam ini dia tidur dengan pulas. waktu bangun hari sudah terang tanah, lekas di kenakan pakaian, buka pintu dan me langkah keluar. Sin-ih sudah menunggu di luar ka mar, melihat Kun-gi keluar segera dia tertawa, sapanya sambil me mbungkuk: "Sela mat pagi Cu-cengcu."

"Sela mat pagi nona" Kun-gi balas menyapa.

"Ha mba tak berani di panggil begitu, panggil na ma ha mba saja" Sin-ih terus lari menuju ke belakang sa mbil berkata: "Ha mba akan bawakan air untuk cuci muka."

Lekas sekali dia sudah ke mbali me mbawa sebaskom air dan handuk hangat, selesai Kun-gi cuci muka, iapun menyiapkan se meja hidangan di ka mar ta mu sebelah, katanya: "Silakan Cengcu sarapan pagi."

Kun-gi melangkah ke ka mar sebelah, tersipu2 Sin- ih tarik kursi menyilakan dia duduk, tanpa bicara Kun-gi habiskan dua mangkuk bubur, habis makan Sin-ih sudah sodorkan sapu tangan putih pula untuk me mbersihkan mulut dan tangan. Pada saat itulah dari luar pekarangan terdengar derap langkah pelahan, tampak seorang perempuan cantik berpakaian serba putih muncul di a mbang pintu. Kecuali ra mbutnya yang hitam legam mengkilap, sekujur badan perempuan cantik ini serba putih laksana salju, sampaipun perhiasan disanggulnya juga berwarna putih,   perawakannya sema mpai, tak ubahnya seperti dewi dari kahyangan. Begitu melihat perempuan cantik ini Sin- ih segera berbisik: "Cu cengcu, Congkoan telah datang."

Mendengar perempuan re maja berpakaian serba putih, ini adalah Pek-hoa-pang Congkoan yang berna ma Giok- lan, lekas Kun gi berdiri. Se mentara itu gadis jelita itu sudah masuk ke ka mar ta mu, dia me mberi hor mat kepada Kun-gi serta menyapa: "Cu-cengcu datang dari jauh, maaf ha mba terla mbat menyambut."

"Terlalu berat kata2 nona, mana Lohu berani menerima kehor matan setinggi ini."

Setelah berhadapan baru Kun-gi me lihat jelas alis orang yang me lengkung bulan sabit seperti dilukis, bola matanya bersinar cemerlang bak bintang kejora, hidung mancung bibir tipis seperti delima merekah, begitu cantik, begitu molek, sikapnya agung berwibawa pula. Cuma kulit mukanya, kelihatan rada pucat. Sekilas pandang Kun gi lantas tahu bahwa gadia secantik bidadari ini ternyata juga mengena kan kedok muka.

Maklumlah gurunya Hoan-jiu-ji- lay, pada 50 tahun yang lalu adalah ahli tata rias, begitu besar dan tersohor na manya di Bu-lim, sebagai murid tunggal yang mewar isi segala kepandaian gurunya, sudah tentu Kun-gi cukup ma hir pula me mbedakan wajah orang apakah dia dirias atau pakai kedok,

Dengan tersenyum manis gadisjelita ini berkata: "Hamba bernama Giok-lan, menjabat Congkoan dalam Pang kita, mohon Cu- cengcu suka me mberi petunjuk,"

Matanya ber kedip2 la lu mena mbahkan dengan tawa manis: "Pangcu dengar Cu-cengcu telah tiba, maka senangnya bukan main dan aku diutus ke mari untuk me mbawa Ceng-cu menghadap beliau."

"Losiu sudah ada di sini, me mang sepantasnya mene mui Pangcu kalian," ujar Kun-gi.

"Pangcu sudah menunggu di Sian-jun-koan, silakan Cu-cengcu?" "Terima kasih, nona silahkan dulu."

Giok- lan segera mendahului berjalan keluar. Tanpa bersuara Kun- gi mengikut di belakangnya. Keluar dari pekarangan mere ka menyusuri sera mbi pinggir rumah, bangunan gedung di sini berlapis2 dikelilingi serambi yang berliku2 pula. Jelas Giok-lan juga mengenakan kedok muka yang buatannya halus dan tipis sekali untuk menyembunyikan muka aslinya. Orang jalan di depan, Kun-gi me lihat kuduk lehernya putih halus, rambutnya yang terurai legam halus bak sutera, langkahnya lembut gemulai, lenggak- lenggok dengan perawakan yang sema mpai, begitu elok menggiurkan, pakaiannya yang serba putih   halus   melambai   tertiup   angin me mbawa bau harum yang menimbulkan gairah setiap laki2. Siapapun apa lagi dia masih jejaka, kalau berjalan di belakangnya, pasti timbul pikiran bukan2. Kun-gi bukan pe muda bergajul, bukan laki2 mata keranjang, tapi toh dia merasa jantung berdebar, pikirannya jadi butek dan napas sesak, berapa jauh dan tempat apa saja yang mereka lewati tidak diperhatikan lagi. Cepat sekali mereka sudah tiba di depan sebuah gedung berloteng yang di luarnya dikelilingi tana man bunga dan pepehonan r indang.

Gedung yang satu ini bangunannya serba ukiran, dicat berwarna warni disesuaikan dengan bentuk ga mbar ukiran sehingga kelihatan semarak, tepat di atas pintu melintang sebuah pigura besar yang bertuliskan t iga huruf "Sian-juu-koan".

Giok- lan berhenti di depan pintu sambil me mba lik badan, katanya: "Sudah sampai, silakan Cengcu masuk"

Kun-gi tertawa, katanya:, "Losiu baru datang, silakan nona tunjukkan jalan."

Giok- lan tertawa, dia bawa Kun-gi masuk ke dala m, kemba li mereka menyusuri sera mbi yang dipagari ba mbu, serambi ini dirancang sedemikian rupa sesuai keadaan taman yang di-petak2, di dalam petak2 yang dipagari bambu itu ditanami berbagai maca m bunga dari jenis yang sukar dicari. Akhirnya mereka tiba di depan tiga deret villa mungil, kerai ba mbu menjuntai menutupi keadaan dalam villa.

Di depan pintu berdiri dua gadis menyoreng pedang, melihat Giok- lan datang me mbawa Ling Kun-gi, mereka me mber i hor mat serta menyambut dengan suara lirih:" Pangcu sudah me nunggu, silakan Congkoan bawa ta mu ke dala m.."

Lalu seorang di antara mereka me nyingkap kerai.

Giok- lan angkat tangannya, katanya: "Silakan Cu-cengcu."

Sedikit mengangguk Kun-gi terus melangkah ke dala m. Di dalam adalah sebuah ruang yang cukup luas,jendela berkaca, meja kursi tampak mengkilat bersih, sampa ipun lantainya yang terbuat dari papan kayupun me mancarkan cahaya kemilau, lukisan menghias sekeliling dinding, pajangannya a mat serasi, mentereng tapi sederhana. Di sebuah kursi cendana besar di sana berduduk seorang perempuan berpakaian gaun kuning, wajahnya tertutup kain sari. Melihat Giok-lan me mbawa Ling Kun-gi segera ia berbangkit, bibirnyapun bergerak, katanya: "Cengcu datang dari jauh, kami terla mbat menyongsong, mohon Cengcu me mberi maaf." Suaranya lembut nyaring, seperti kicau burung kenari.

Sekilas Kun-gi melenggong, perempuan gaun kuning ini terang adalah Pek-hoa-pang Pangcu, tapi dari suaranya jelas usianya tentu masih muda belia. Giok-lan yang ada di samping Ling Kun-gi segera berkata- "Cu-cengcu, inilah Pangcu kami."

Kun-gi tergelak2, katanya sambil merangkap tangan: "Pangcu mengepala i kaum hawa, beruntung Losiu dapat bertemu."

Pek-hoa-pangcu angkat tangan kirinya, kata-nya merdu: "Silakan duduk, Cu-cengcu"

Sambil menge lus jenggot Kun-gi mengha mpir i kursi yang di tunjuk serta berduduk setelah sang Pangcu duduk, Giok-lanpun duduk di kursi sebelah bawahnya. Pelayan remaja berpakaian pupus segera menyuguhkan minuman.

Kun-gi batuk2 lirih, matanya terangkat mengawasi Pek- hoa- pangcu serta member i hor mat, kata-nya: "Pangcu mengutus. nona Giok-je me mbawa Losiu ke mari dari Coat Sin-san-ceng, entah ada keperluan apa? mohon petunjuk.."

"Tidak berani me mber i petunjuk," ujar Pek—hoa-pangcu, "Giok-je me mbawa Cengcu ke mari tanpa mendapat persetujuan Cu-cengcu sendiri, sebagai Pek-hoa pangcu,  kami  mo hon Cu-cengcu me maafkan kesalahan ini, soalnya Pang kami me mang me merlukan bantuan Cu-cengcu yang amat berharga dan besar sekali artinya, untuk itu mohon Cu-cengcu ma klum."

Tutur katanya halus, enak didengar, umpa ma scorang yang sedang naik pitam juga pasti akan reda amarahnya, apalagi Ling Kun-gi me mang punya maksud tertentu, hakikatnya dia tidak pernah merasa sakit hati. Maka dengan mengelus jenggot dia berkata sa mbil tersenyum: "Berat ucapan Pangcu, entah persoalan apa? sukalah Pangcu menje laskan, Losiu siap mendengarkan."

Sorot matanya tajam menatap wajah orang di balik cadar itu. Agaknya Pek hoa- pangcu sadar, sorot matanya yang bersinar di balik cadar lekas me lengos, katanya kalem: "Soal ini menyangkut kepentingan Pang kami, bahwa kami telah mengundang Cengcu ke mari dengan susah payah, sukalah Cengcu me mber i bantuan seperlunya."

"Kalau soal itu a mat penting bagi Pang kalian Losiu pasti akan bekerja sekuat tenaga, silakan Pangcu jelaskan dulu, supaya Losiu dapat menimbangnya."

Senang hati Pek- hoa-pangcu, katanya: "Jadi Cu-cengcu menerima per mohonan kami."

"Pangcu belum menjelaskan persoalan apa sebenarnya."

Giok- lan segera menyela bicara: "Soal ini, Cu cengcu sudah me mpero leh sukses yang besar, tentunya tidak akan menjadi kesulitan lagi."

"O, ya," ajar Pek- hoa-pangcu, "bahwa Cu-cengcu sudah menyanggupi. Pang kita pasti akan me mber i imba lan besar yang setimpal."

Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Tadi Losiu sudah bilang, asal bukan soal yang merugikan orang lain, bukan kejahatan yang me langgar perike manusiaan, sekiranya tenaga losiu mengiz inkan, dengan suka hati akan kubantu, soal imbalan tidak pernah kupikirkan."

Tampak wajah Pek-hoa-pangcu yang tersembunyi di balik cadar mengunjuk rasa melenggong, katanya kagum: "Cu-cengeu berhati bajik, mohon maaf akan kata2ku yang telanjur tadi."

"Pangcu," ujar Giok- lan, "Biarlah ha mba yang menje laskan soal ini kepada Cu-cengcu." Pek-hoa-pangcu manggut2, "Begitupun baik" katanya.

"Sudah setengah tahun pihak Hek- liong-hwe menculik Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-kiau kedalam Coat- sin-san-ceng untuk me mbuat obat penawar getah beracun itu tanpa berhasil, tapi Cu-cengcu dalam jangka tiga hari telah berhasil me mbikin getah beracun itu menjadi air jernih, entah hal ini betul t idak?"

"Ya, kejadian me mang de mikian," sahut Kun-gi, "Tapi "

mendadak ia merandek.

"Tapi apa?" tanya Pek-hoa-pangcu.

"Sebetulnya Losiu sendiripun t idak habis pikir akan kejadian itu." "Lho, kenapa demikian?" tanya Giok- lan.

"Bicara terus terang, waktu itu Losiu sebetul-nya tidak punya pegangan apa2,   hanya secara sekenanya kupungut obat ini dica mpur dengan obat itu, lalu kucoba atas getah beracun itu, demikianlah secara beberapa kali kubuat bubuk obat dari berbagai racikan. tak terduga suatu ketika getah beracun yang kental hitam itu berubah jadi air jernih. Hahaha, setelah getah beracun itu berubah jadi air jernih, Losiu sendiri juga tidak ingat lagi berapa maca m obat yang kuaduk sa mpai menimbulkan hasil yang -positip itu."

"Itu bukan soal sulit," kata Giok-lan, "sedikitnya Cu-cengcu sudah berhasil meski baru langkah per mulaan untuk menawarkan getah beracun itu, selanjutnya pasti tidak akan sulit me mperoleh obat tulennya."

"Sulit, sulit," ujar Kun-gi menggeleng2 "Lo-siu sudah bilang, hasil itu hanya secara kebetulan, hakihatnya tidak punya keyakinan sedikitpun."

Giok- lan tersenyum: "Sela ma tiga hari berada di Coat Sin-san- ceng Cu-cengcu telah mengambil berjenis obat racikan, semua nama obat dan kadar timbangannya sudah dicatat oleh pihak ka mi, menjadi suatu daftar yang terperinci,jadi obat yang tulen untuk menawarkan getah beracun itu pasti terdapat di antara ke12 maca m obat2an itu, asal Cu-cengcu sedikit tekun dan rajin meracik berbagai maca m obat itu, tak sukar me mperoleh obat tulennya."

Kun-gi sudah tahu tentang pencatatan secara rahasia oleh Giok- je di Coat Sin-san-ceng itu, tapi dia pura2 kaget, katanya: "Jadi Pang kalian tahu selama tiga hari itu aku menggunakan ber maca m obat racikan?"

"Pek-hoa-pang me mang jarang berkecimpung di Kangouw, tapi tiada suatu hal atau kejadian di kolong langit ini yang tidak diketahui oleh Pang ka mi, barang apapun yang kami inginkan, umpa ma suatu benda yang paling rahasia di dunia ini juga bisa ka mi usahakan untuk me mperolehnya," demikian kata Giok- lan dengan nada bangga.

Kun-gi pandang kedua orang dengan heran, tanyanya ragu2: "Lalu apa kehendak kalian atas diriku?"

"Cu-cengcu luas pengala man dan cerdik pandai, kenapa tidak menebaknya saja?" kata Giok- lan ma in teka-teki.

Kun-gi sengaja menggeleng sa mbil garuk2 kepala, tanyanya: "Me mangnya Pang kalian juga ingin aku menyelidiki obat penawar getah beracun itu?"

Pek-hoa-pangcu terkikik riang, katanya: "Pandangan Cu-cengcu me mang tajam dan tepat tebakannya."

Tergerak hati Kun-gi, tanyanya: "Pang kalian dan pihak Coat-siu- sau-ceng sama2 ingin me ncari obat penawar getah beracun itu, me mangnya apa tujuanmya?"

"Soal ini terpaksa harus kita rahasiakan untuk sementara, tapi atas nama Pang dan seluruh jiwa anggota kami, aku berjanji bahwa usaha kita ini hanyalah demi mencari obat penawar getah beracun itu,jadi tidak untuk mela kukan kejahatan mencelaka i orang lain, kalau janji ka mi ini dilanggar, Pek-hoa-pang akan tersapu bersih dari permukaan bumi, seluruh anggota kami mati tanpa liang kubur. Tentunya Cu-cengcu dapat menerima sumpah kami dan mau percaya bukan?" "Terlalu berat ucapan nona, baiklah kupercaya saja," ujar Kun- gi.

Giok- lan tertawa: "Jadi Cu-cengcu sudah menerima tawaran kami?"

Tujuan Kun-gi me mbiarkan dirinya diselundupkan keluar dari Coat- siu-sau-ceng dan dibawa ke Pek-hoa-pang ini adalah mencar i jejak ibunya. Tapi persoalan yang dihadapinya ini ke mbali menarik perhatiannya.

Coat Sin-san-ceng, alias Hek-liong-hwe demi me mperoleh obat penawar getah beracun telah mengguna kan muslihat dengan menculik Tong Thian—jong, Un It-kiau dan Lok-san Taysu, serta Ciam— liong Cu Bun-hoa. Kini muncul lagi Pek-hoa-pang yang menggunakan akal mus lihat menyelundupkan dirinya ke te mpat ini, tujuannya ternyata juga mencari obat penawar getah beracun itu, Kenapa mereka sama2 berusaha mencari penawar getah beracun itu?

Apakah sebetulnya getah beracun itu? Bukan mustahil dalam peristiwa ini ada latar belakang yang teramat besar artinya? Sehingga timbul perebutan dan saling gontok kedua perkumpulan rahasia ini? Otak Kun-gi yang cerdik sudah bekerja keras, tapi tak berhasil me mpero leh jawaban yang me muaskan.

Melihat orang menepekur sekian la manya, akhirnya Pek-hoa- pangcu bertanya: "Kenapa Cu-cengcu diam saja?. Berubah pikiran kiranya?"

Kun-gi menduga bahwa ibunya mungkin diculik orang2 Pek- hoa- pang, maka disa mping mengulur waktu mencari kesempatan, dia pura2 bimbang, akhirnya dia angkat kepala dan berkata: "Baik-lah, aku menerimanya."

Cemerlang sinar mata Pek-hoa-pangcu dari balik cadar, katanya tertawa senang: "Apa betul?"

"Losiu sudah terima dan berjanji, sudah tentu akan kutepati" ujar Kun-gi.

"Baiklah," kata Giok-lan. "Pangcu mas ih ada pesan apa?"

"Cu-cengcu sudah setuju, urusan selanjutnya boleh kau saja yang mengaturnya," demikian pesan Pek-hoa-pangcu.

Giok- lan menyia kan.

Pembicaraan sudah diakhiri sa mpai di sini, pelan2 Kun-gi lantas berdiri, katanya sambil menjura: "Pangcu tiada urusan lain, baiklah kuminta diri saja."

Tadi Giok- lan yang me mbawa Kun-gi ke mari, maka iapun ikut berdiri, tapi secara diam2 dia me mber i lir ikan mata kearah Pek-hoa- pangcu.

Mendadak Pek-hoa pangcu mengawasi Kun-gi, katanya: "Silakan Cengcu duduk lagi sebentar."

Terpaksa Kun-gi duduk ke mba li, tanyanya, "Pangcu masih ada pesan apa?"

"Kaupun harus duduk," kata Pek-hoa-pangcu kepada Giok-lan.

Giok- lan tersenyum, iapun duduk pula di te mpatnya..

Menatap muka Ling Kun-gi, berkata Pek-hoa -pangcu: "Masih ada satu hal ingin kami moho n petunjuk Cengcu, entah bagaimana aku harus mula i bicara?"

"Pangcu hendak tanya soal apa?" tanya Kun-gi.

Dengan ragu2 berkatalah Pek-hoa-pangcu: "Kalau kukatakan harap Cengcu tidak berkecil hati."

"Kalau Pangcu anggap perlu dibicarakan, silakan katakan saja" "Ka mi berpendapat bahwa Cu-cengcu sudah setuju bekerja sama

dengan setulus hati dan sejujurnya, ma ka kiranya perlu kami

berterus terang, bila Cu-cengcu sendiri juga punya kesulitan, kamipun tidak akan me ma ksa."

Kun-gi tertawa lebar, katanya lantang: "Seorang laki2 sejati menghadapi persoalan t idak boleh ragu2, bila urusan me mang bisa kubicarakan, tentu takkan kuse mbunyikan." "Syukurlah kalau begitu," kata Pek-hoa-pangcu, sorot matanya yang bening bersinar menatap wajah Kun- gi lekat2,   katanya ke mudian: "Ka mi dengar bahwa Hian- ih-lo-sat telah me mbekuk seorang tua di Liong-bun-oh, setelah mukanya dicuci dengan arak obat, ternyata dia adalah Cu-cengcu dari Liong—bin-san ceng yang tulen, Hian-ih-lo-sat juga sudah me mpertemukan kedua Cu-cengcu tulen dan palsu itu, tentunya hal ini benar2 terjadi?"

Giok-je adalah anak buah Pek-hoa-pang, bukan mustahil kalau hal inipun sudah diketahui oleh Pek-hoa-pangcu. Maka Kun-gi mengangguk, katanya: "Me mang betul ada kejadian begitu."

"Jika de mikian, disinilah letak persoalan yang ingin ka mi ketahui, entah mana di antara kedua Cengcu yang tulen dan palsu?" sa mpa i disini mendadak dia mena mbahkan: "Tadi ka mi sudah bilang, kalau Cu cengeu tak mau menjawab, ka mi tidak akan me ma ksa."

Kun-gi menghe la napas katanya tertawa: "Pangcu memang cerdik, sebagai pimpinan sekian banyak orang pintar, tentunya bisa menebaknya?"

Pek-hoa-pangcu menggigit bibir, katanya sambil tertawa lirih: "Kalau Cu-cengcu sendiri tidak mau menerangkan, terus terang kami t idak dapat meneba knya."

"Ah, kenapa sungkan, kenapa tidak katakan saja bahwa Pangcu curiga bahwa diriku bukan Cu Bun- hoa?"

"Jadi kau ini Cu Bun-hoa?" desak Pek-hoa pangcu. "Aku me mang bukan Cu Bun-hoa," sahut Kun-gi tegas.

Pek, hoa-pangcu melengak, sorot matanya menjadi terang, tanyanya: "Kau bukan Cu Bun-hoa, lalu kau ini "

"Cayhe Ling Kun-gi"

"O,jadi engkau Ling- lotiang, engkau merias wajahmu, betul tidak?"

"Betul, Cayhe menyaru sebagai Cu-cengcu, tujuanku menyelundup ke Coat Sin-san-ceng untuk, mencari jejak seseorang" Agaknya Pek-hoa-pangcu tidak me mperhatikan beberapa patah katanya ini, sekian saat dia awasi Ling Kun-gi, katanya: "Ling-lot iang sudah mau terus terang, setelah berada di dalam Pang kita, ku-kira tidak perlu menyamar lagi, entah sudikah engkau me mperlihatkan wajah aslinya kepada ka mi?"

"Boleh saja" ucap Kun-gi tertawa, "tapi setelah aku mencuci muka, apakah Pangcu sendiri juga sudi me mperlihatkan wajah aslimu?"

"Maksud Ling-lot iang minta kami menangga lkan cadar ini?" "Untuk kerja sa ma dengan sejujurnya, adalah jamak kalau kita

berlaku adil"

"Baiklah," ujar Pek-hoa-pangcu tertawa sambil me mbuka cadar yang menutupi mukanya.

Seketika pandangan Ling Kun-gi terbeliak, itulah seraut wajah nan lembut, ayu rupawan, asri dan anggun, usianya sekitar 24 tahun. Bahwa Pek hoa-pangcu masih sedemikian muda, ma lah cantik jelita bak sekuntum bunga mawar mekar, sesaat lamanya ling Kun-gi sa mpai me njublek, akhirnya dia tergelak2 katanya: "Dengan menya mar Cu-cengcu, Cayhe telah mengelabui Cek Seng- jiang dan Hian-ih- lo-sat, entah di mana Pangcu dan Cong-koan berdua dapat me lihat titik kele mahan sa maranku ini."

Pek hoa-pangcu mengawasinya dengan seksama sekian la manya, akhirnya sama2 tertawa malu, katanya: "Ilmu tata rias Ling-lotiang me mang luar biasa, sedikitpun kami tidak melihat sesuatu yang kurang beres."

Kun-gi tertawa tawar, katanya: "Kalau Pangcu sudah tahu Cayhe ahli dalam ilmu tata rias ini, ma ka betapapun bagus buatan kedok muka yang kalian pakai tetap takkan dapat mengelabui pandanganku."

Pek-hoa-pangcu melenggo ng, katanya: "Pandangan Ling-lotiang me mang tajam luar biasa, kami me mang mengenakan kedok muka, tapi karena adanya larangan dalam Pang ka mi, terpaksa kami tidak bisa berhadapan dengan siapapun dengan wajah asli."

"Lalu nona Giok-je dan lain2 yang menyelundup ke Coat-siu-sau- ceng juga me ma kai kedok muka?"

"Itu dalam keadaan istimewa, sudah tentu mereka terpaksa harus me mperlihatkan wajah asli."

"Tadi Pangcu sendiri sudah bilang minta Cay-he me mperlihatkan wajah asli, ma ka Pangcu seharusnya juga menanggalkan kedok muka mu."

Pek hoa pangcu ragu2, dia berpikir sebentar, katanya kemudian: "Ling-lotiang berkukuh pendapat, terpaksa ka mi me mperlihatkan wajah jelek ka mi."