-->

Pendekar Kidal Jilid 11

Jilid 11

Gadis gaun panjang menoleh sekejap lalu melengos pula, katanya. "Bubuk obat yang kau taburkan di mukanya tadi tentu Hoa-kut-san (puyer pelebur tulang), tujuannya untuk melenyapkan jenazah si korban, agaknya dia tidak ingin orang tahu, asal-usulnya, maka suruh kita menaburkan puyer pelebur tulang itu pada wajahnya supaya tidak meningga lkan bekas."

Kejap lain kedua nona ini sudah beranjak me masuki kelenteng bobrok yang sudah la ma tidak dihuni dan dirawat, kecuali untuk bangunan di bagian depan masih kelihatan utuh, bagian belakang boleh dikatakan sudah runtuh, rumput sudah tumbuh tinggi di sana- sini.

Dari tangan si nona baju hijau, gadis gaun panjang terima kantong kain kecil itu serta menge luarkan isinya, ada tiga maca m barang di dalam kantong, yaitu sekeping besi t ipis, bagian depan terukir sekuntunt bunga mawar, sebuah kedok muka yang tipis halus terbuat dari karet dan sebatang tusuk kundai, di ujung tusuk kundai terdapat hiasan bunga mawar warna ungu. Keping besi itu diberikannya kepada nona baju hijau, kata si gadis gaun panjang: "Mungkin inilah tanda pengenal mereka, dia minta kau me mbuat lingkaran di beberapa tempat di atas tembok di mana saja yang kau sukai, sekarang kita bakar saja barang peninggalannya ini."

"Dia kan sudah meninggal, buat apa aku harus meninggalkan tanda rahasia segala?" gerutu gadis baju hijau. "Memangnya siapa akan perhatikan lingkaran hitam di dinding rumah orang?"

"Kukira orang2 Pek-hoa-pang mereka sering mondar- mandir di sini, itulah tanda rahasia untuk me lakukan hubungan di antara mereka, tanda yang kau buat pasti akan menimbulkan perhatian pihak mereka" se mbari bicara dia mendekati Hiolo, lalu katanya pula sambil berpaling: "Siau Yan keluarkan ketikan apimu."

Pada saat itulah, dari kejauhan tiba2 berkumandang derap kaki kuda ke arah kelenteng ini, tiba2 gadis gaun panjang me mba lik badan, katanya lirih: "Ada orang datang"

"Lekas, Siocia bakar saja dan kita kembali ke penginapan," kata si nona baju hijau.

Tak se mpat lagi ujar gadis gaun panjang, "agaknya mereka me mang me luruk ke mar i, lekas se mbunyi" ia celingukan, lalu Siau Yan ditariknya menyelinap ke belakang t iga patung besar yang dipuja di kelenteng ini.

Baru saja mereka berjongkok di belakang patung yang penuh gelaga dan berdebu tebal itu, suara derap kuda sudah berhenti di depan kelenteng, dari suaranya yang ramai ke mungkinan ada empat- lima orang penunggang kuda yang datang, entah untuk apa mereka datang ke kelenteng bobrok pada ma lam gelap begini?

Tampak dua bayangan orang melompat masuk ke dalam kelenteng, sinar bulan purnama di luar cukup terang, kedua orang ini ta mpa k berperawakan sedang, semua me makai baju dan celana setelan hijau, masing2 menggendong buntalan panjang di belakang punggung, kakinya mengenakan sepatu tinggi, langkahnya ringan cekatan, jelas mereka me miliki kepandaian yang tidak rendah. Begitu masuk ke ruang se mbayang, sorot mata mereka tampak bercahaya terang, dengan seksama mereka me meriksa sekelilingnya, lalu berpencar ke kanan-kiri, masuk ke arah belakang.

Entah apa yang mereka periksa dan cari, sesaat kemudian mereka sudah putar balik, seorang yang berperawakan lebih tinggi berkata, "Bagaimana, Poa-heng, di sini saja?". .

orang itu manggut2, katanya: "Tempat ini me mang agak sepi, boleh saudara Siang istirahat di sini." Se mentara te mannya itu sedang mengeluarkan ketikan api lalu menyalakan lilin, keadaan ruang sembahyang menjadi terang.

Lekas gadis gaun panjang tarik ujung baju si nona baju hijau, mereka mengkeret ke dalam yang lebih gelap. dari situ mengintip keluar.

Sementara itu dua orasg telah masuk pula sa mbil menggotong sebuah karung besar, orang di sebelah kiri bertubuh kurus agak pendek, lagaknya seperti anak sekolahan, sementara orang di sebelah kanan adalah kacung pe mbantunya, karung besar yang mereka gotong tampa k agak berat, entah barang apa yang ada di dalamnya?.

Pelan2 dan hati2 sekali kedua orang itu gotong karung itu lalu ditaruh di depan meja se mbahyang, pemuda sekolahan itu menarik napas sambil menggeliat, katanya pada kedua orang yang masuk duluan. "syukur tiba di sini, setiba di tepi sungai besok pihak atas akan mengutus orang menyambut kita, tugas kalian berdua menjadi selesai, dua hari ini me mbikin susah kalian saja."

"Nona terlalu me muji," kata kedua orang yang masuk duluan, "tugas kami adalah Hou-hoa (pengawal bunga/wanita), ini adalah tugas rutin kami."

Ternyata pemuda sekolahan itu adalah sa maran seorang nona. Sementara kacung itu keluarkan sebatang lilin serta disulutnya terus ditancapkan diatas meja. Keruan kedua orang yang se mbunyi di belakang patung menjadi gelisah, pikir mere ka:

"celaka, agaknya mereka hendak ber mala m di sini, ka mi sembunyi di tempat sempit dan sekotor ini, bagaimana baiknya?"

Tengah gadis gaun panjang menimang2, tiba2 didengarnya, derap seekor kuda tengah mendatangi pula dari kejauhan, lekas sekali   muncul seorang baju hijau dari luar kedua tangannya me mbopo ng buntalan besar.

"Kau sudah me ne mui Kang- lotoa?" tanya pemuda sekolahan, me mapak kedatangan orang itu.

Pendatang itu meletakan buntalan besar itu di depan pe muda sekolahan, sahutnya dengan napas memburu: "Sudah kute mui. Wah, Giok je cici, aku me ndengar sebuah berita besar "

Pemuda sekolahan itu angkat kepala, katanya:

"Berita apa, kau sa mpa i me mbedal kuda mu begitu cepat?" Sembari bicara dia buka buntalan besar itu, Ternyata isinya adalah makanan, ada pangsit, bakpau, sayur asin dan makanan lainnya yang masih mengepul panas.

"Pe muda" berna ma Giok-je itu lantas berpaling dan me manggil: "Marilah kita se mua ma kan bersa ma"

Kiranya kedua laki2 yang masuk duluan tadi adalah Hou hoa-su- cia, duta pelindung bunga.

mereka duduk mengelilingi buntalan berisi makanan itu serta me lalapnya dengan lahapnya.

Si baju hijau yang baru datang duduk di samping "pe muda" sekolahan berna ma Giokje itu, katanya: "Kabarnya Coat Sin-san- ceng sudah bobol dan hancur."

"coat-sin san-ceng hancur" ta mpak pemuda sekolahan melengak kaget, "darimana kau dengar kabar ini?" "Kang-lotoa yang bilang," kata si baju hijau, "berita ini dapat dipercaya, Kang-lotoa sudah mendapat petunjuk dari atas, dia diperintahkan me mbantu orang2 kita yang melar ikan diri bersa ma orang2 warung teh di Hin- liong itu."

"Kau tahu siapa gerangan yang menghancurkan coat-sin-san Ceng?"

"Konon orang Siau- lim-pay bergabung dengan Lohujin keluarga Tong dari Sujwan." . .

"Cek Seng-jiang me mang tiada di sana, lalu bagaimana Hian-ih- lo-sat?"

"Melarikan diri, bagaimana keadaan yang sebenarnya, pihak luar belum tahu je las."

"Lalu kee mpat ta mu agung yang berada di sana?"

"Kabarnya semula Hian- ih-lo-sat hendak gunakan mereka sebagai sandera, tak tahunya racun pembuyar Lwekang di tubuh mereka sudah punah, tatkala orang2 keluarga Tong dan para Hwesio me- nyerbu tiba, keempat tamu agung itupun mendadak berontak. me lihat gelagat tidak menguntungkan, Hian- ih-lo-sat lantas lari me lalui lorong bawah tanah."

"Beberapa bulan sudah berselang, sejak Lok-san Taysu, Tong Thian-jong dan Un It-hong dikurung di sana tak pernah terjadi suatu apa, tak nyana setelah Cu-cengcu ini datang, racun pembuyar Lwekang mereka lantas punah, bukan mustahil semua itu gara2, Cu-cengcu ini."

Kedua nona yang mencuri dengar dari te mpat persembunyian mereka tergetar hatinya, pikir mereka: "Kiranya ayah diculik mereka."

"Giok-je cici" terdengar seorang berkata dengan suara tertahan: "katanya orang yang kita tukar itu adalah Cu-cengcu tulen, orang yang kita gusur keluar ini hanyalah barang tiruan belaka." "Entah siapa dia?" ujar "pe muda" sekolahan, "dia berhasil me munahkan getah beracun, juga me munahkan racun penawar Lwekang di tubuh Lok-san Taysu bertiga, jelas kalau diapun seorang ahli dalam bidang racun."

Si baju hijau cekikikan, katanya: "Bukankah kita me mang me mer lukan tenaga ahli seperti dia ini?"

Baru saja dia habis bicara, kelima orang yang duduk berkeliling itu tiba2 sama mengge liat dan menguap kantuk. tubuh merekapun limbung dan akhirnya rebah di lantai. Gadis gaun panjang berkata: "Siau Yan, mari turun tangan"

"Siocia, jadi kau yang merobohkan mereka?" tanya si nona baju hijau tertawa.

Gadis gaun panjang me lo mpat turun mendekati karung besar itu, ujarnya: "Aku akan me nolong seseorang."

"Menolong orang? Dima na dia?" "Di dalam karung ini."

"Siocia tahu siapa yang ada di dalam karung ini?"

"Entahlah, tapi dia pasti orang baik2, kebetulan kita pergoki, mana boleh me mbiarkan mereka menculiknya pergi?"

"Siocia, apakah lagi pengikat karung ini harus dipotong?" se mbari bicara Siau Yan sudah keluarkan sebatang golok kecil me lengkung.

Baru saja dia bergerak hendak me motong tali pengikat karung, tiba2 didengarnya seorang berkata:

"Nona Siau Yan, jangan kau potong dengan pisau."

Nona baju hijau alias Siau Yan berjingkat kaget, tanyanya terbelalak: "Kau bisa bicara?"

orang dalam karung tertawa, katanya: "Aku tidak bisu, sudah tentu bisa bicara."

"Siapa kau? Dari mana tahu aku berna ma Siau Yan?" "None Siau Yan, bukalah dulu mulut karung ini supaya aku keluar, nanti kujelaskan-"

Gadis gaun panjang mengangguk sa mbil berkata kepada siau Yan: "Lepaskan tali pengikatnya"

Sambil me lepaskan tali pengikat mulut karung Siau Yan, berkata: "Aku tahu, tadi kau dengar Siocia panggil na maku, betul tidak?" Setelah tali terlepas, dia terus me mbuka mulut karung lebar2..

Orang dalam karung pelan2 merangkak bangun dan berdiri.

Perawakan orang ini tinggi, mengenakan jubah hijau pupus usianya sekitar 45, wajahnya putih cakap. jenggot hitam menjuntai menyentuh dada. cuma kedua alisnya terlalu go mbyok, orang akan merasa wajahnya berwatak kejam dan suka me mbunuh. sepasang matanya tampak bersinar, terang seolah2 pandangannya dapat meraba jalan pikiran orang, dan orang akan jeri beradu pandang dengan dia.

Gadis gaun panjang jarang menge mbara di Kangouw, sudah tentu dia tidak kenal siapa laki2 ini, tapi sekilas me lihat sorot mata orang, dia merasa sudah apal dan mengenalnya dengan baik, tak merasa jantungnya berdebar2.

Laki2 berjenggot hitam me mber i hor mat, katanya tertawa: "Sungguh cayhe tak sangka dapat berte mu dengan nona Un disini."

Melengak si gadis gaun panjang, matanya terbeliak. lekas dia balas me mber i hor mat dan berkata lirih: "Entah dimanakah cianpwe bisa kenal diriku?"

Laki2 jenggot hitam tersenyum, katanya: "Aku sudah mengubah wajah sudah tentu nona tidak mengena lku lagi."

Siau Yan periksa sini dan pandang sana, sekian lama dia menatap wajah orang, la lu me nyeletuk: "Siapakah kau sebenarnya?"

"cayhe Ling Kun- gi," kata laki2 jenggot hita m.

Seketika merah jengah muka si gadis gaun panjang mendengar nama yang disebut laki2 jenggot hitam, kaget dan girang pula hatinya. Ling Kun-gi, me mangnya perjaka ini yang selalu menjadi kenangan dan pujaan hatinya?.

"Kau ini Ling siangkong" teriak Siau Yan tidak percaya, "Kenapa tidak mirip. sejak kapan Ling siangkong me me lihara jenggot?"

Ling Kun-gi tertawa, katanya "Tadi aku sudah bilang, aku telah mengubah wajahku." Lalu dia dia merogoh keluar kantong benang sulam serta diacungkan ke depan Siau Yan, katanya: "Sekarang percaya tidak?"

Semakin jengah muka si gadis gaun panjang, serunya girang: "Siau Yan, me mang betul dia, masakah suara Ling siangkong tidak kau kenali lagi?"

"Hihi, lucu dan menarik sekali, kenapa Ling siangkong menya mar begini?" seru Siau Yan-

"Aku sedang menya mar sebagai cia m-liong Cu Bun-hoa, cengcu dari liong-bin-san-ceng." Lalu Kun-gi berpaling ke arah si gadis bergaun panjang dan katanya pula: "Waktu di Coat Sin-san-ceng, cayhe pernah berkumpul tiga hari dengan ayah nona "

Ternyata gadis gaun panjang adalah Un Hoan-kun, sebelum Ling Kun-gi bicara habis, dia sudah menyeletuk: "Bagaimana ayahku?"

"Ayahmu bersa ma Lok-san Taysu dan Lo- cengcu keluarga Tong dari sujwan semua berada di Coat Sin-san-ceng, mereka sama2 kena racun pembuyar Lwekang, maka kepandaian silat terganggu banyak sekali "

Berkerut alis Un Hoan- kun, teriaknya kuatir: "Lalu bagaimana?

Me mangnya siapa penghuni Coat Sin-san-ceng itu?"

"Nona tidak usah kuatir, ayahmu bertiga sudah kuse mbuhkan, dari pe mbicaraan orang2 ini tadi, agaknya Coat Sin-san-ceng sudah diserbu dan bobol oleh para Hwesio Siau-lim serta Lohujin dari ke- luarga Tong, tentunya ayahmu bertiga juga sudah bebas"

"Waktu coat- sin-san-ceng bobol, apakah Ling-siangkong tidak berada di sana?" tanya Un Hoan-kun. Ling Kun-gi tertawa, katanya: "cayhe sudah diselundupkan keluar oleh mereka," Melihat bungkusan besar berisi ma kanan, perutnya seketika keroncongan, katanya pula dengan tertawa: "Sudah dua hari aku berada di dalam karung, perutku sudah berontak minta di isi."

"Mereka tidak me mberi kau ma kan?" tanya Siau Yan merasa kasihan-

"Mereka me mbius ku dengan asap wangi, beberapa Hiat-toku ditutuk pula, seorang yang pingsan sela ma beberapa hari sudah tentu tidak perlu makan," sembar i bicara Kun-gi mende kati buntalan makanan terus duduk bersila, tanpa sungkan dia co mot bakpau dan pangsit terus dima kan dengan lahap . .

Un Hoan-kun dan Siau Yan ikut merubung maju seperti ingat sesuatu, Siau Yan bertanya: "Ling siangkong, kenapa tadi kau me larang aku me motong tali itu?"

"Aku hanya ingin keluar sebentar dan mengis i perut, nanti aku harus meringkuk dalam karung pula, kalau dipotong talinya, bukankah akan menimbulkan curiga mere ka?"

Un Hoan-kun me mandangnya penuh rasa mesra, tanyanya: "Ling siangkong sengaja me mbiarkan diri di culik mereka, maksudmu hendak menyelidik ke sarang harimau."

Ling Kun-gi manggut2, katanya: "Betul, sudah beberapa bulan ibuku hilang, dengan menyaru cu cengcu dan menyelundup ke Coat Sin-san-ceng tujuanku untuk mencar i ibundaku."

Prihatin sikap Un Hoan-kun, katanya: "Apa Ling siangkong perlu bantuanku?"

Haru dan terima kasih Ling Kun-gi, katanya: "Tujuanku hanya mencari ibu, tiada niat bentrok dengan mereka, cayhe yakin tidak akan mengala mi bahaya, maksud baik nona kuterima di dalam hati."

Menatap orang, lirih suara Un Hoan- kun: "Tapi kau akan dibawa ke markas pusat Pek-hoa-pang, kau seorang diri, bagaimana hatiku takkan- . . . ." sebetulnya dia hendak mengatakan "takkan kuatir", tapi sampai di situ dia berhenti, mukanya merah jengah dan menunduk.

Melihat sikap orang yang malu2, tanpa terasa berdebar juga jantung Ling Kun-gi, katanya:. "Jing sin-tan pemberian nona selalu kubekal, Pi tok-cu warisan keluargakupun selalu kuge mbo l, aku tidak takut obat bius, tidak gentar racun, dengan kepandaian sejati, walau berada di kubangan naga atau sarang harimau, cayhe yakin cukup ma mpu untuk menyela matkan diri." Sa mpai di sini dia tertawa, lalu mena mbahkan- "Hanya satu kuharapkan bantuan nona, yaitu setelah aku kenyang nanti, tolong ikat pula mulut karung ini setelah aku masuk kedala mnya, jangan sampai mere ka curiga."

"Aku tahu" ujar Un Hoan- kun manggut2.

"Syukur, mala m ini bertemu dengan nona, kalau tidak tentu aku kelaparan entah berapa hari lagi," kata Kun-gi berdiri, dia menghabiskan belasan pangsit dan beberapa biji bakpau. "Nona Un, harap jaga diri baik2, cayhe mohon diri." Lalu dia masuk kembali ke dalam karung. . . .

Siau Yan lantas mengikat ke mbali mulut karung dengan tali yang ada.

Dengan suara lirih Un Hoan-kun berpesan: "Ling-siangkong harus hati2 dan waspada, menghadapi setiap persoalan-"

"Kalau nona pergi, tolong pada mkan api lilin, lalu berikan obat penawar pada mereka."..

"Jangan kuatir, aku bisa bekerja. tanpa meningga lkan bekas apapun" sahut Un Hoan-kun. Lalu dia berpesan kepada Siau Yan: "Enduskan obat penawar kepada mereka, kita harus lekas pergi."

Siau Yan mengiakan, lalu berseru: "Ling-s iang-kong, kami pergi ya"

"Sa mpai berte mu lagi." ujar Kun-gi di dalam karung. . Siau Yan keluarkan obat penawar, dengan kuku jari dia selentik sedikit bubuk kehidung orang2 itu.. Sementara Un Hoan-kun meniup padam api lilin, cepat2 mereka berkelebat pergi dan menghilang.

Sampa i sekian la manya, kelima orang yang rebah di lantai sa ma me mbuka mata. orang she Siang yang bertubuh sedang itu, segera me lo mpat bangun, dia menyalakan api, dan menyulut lilin, ruang sembahyang ke mba li terang.

"Sret" sementara laki2 she Phoa melo los pedang, setangkas kera segera dia melo mpat ke atas wuwungan, tak kalah sebatnya orang she Siang segera ikut me lo mpat keluar ke arah la in.

"Pe muda" Giokje, segera berpesan "Liau-hoa, Ping-hoa, lekas kalian periksa apakah mulut karung pernah disentuh orang?"

Kedua orang itu mengiakan, bersama mereka mengha mpiri karung serta me mer iksa dengan teliti, la lu kata Liau-hoa: "Tidak apa2, karung ini mas ih terikat kencang, tak pernah disinggung orang."

"Aneh sekali, lalu kenapa tanpa sebab kita jatuh terpulas bersama." ujar "Pe muda" Giok-je,

"Tadi angin bertiup kencang sehingpa lilin padam, aku hanya merasa keadaan mendadak jadi gelap"

"mana pernah terpulas?"

"Me mangnya akupun tetap berada di sini, hanya sekejap api padam dan Siang sucia segera menyalakan api." Sela Ping-hoa.

"Tidak mungkin- . . ." ujar Giok-je, sementara itu tampak orang she Phoa dan she Siang telah melo mpat masuk.

"Ada yang aku te mukan, Phoa sucia?" tanya Giokje,

Orang she Phoa menggeleng, katanya: "Aku naik ke wuwungan, penduduk di sekitar sini tidak ada, sejauh beberapa li dapat kulihat, tapi tidak ada bayangan orang." orang she Siang juga berkata: "Bagian belakang juga tiada orang." Ternyata mereka lalai akan buntalan ma kanan yang tertaruh di lantai, paling tidak beberapa buah pangsit dan bakpau telah dilangsir ke perut Ling Kun-gi. Mereka tiada menduga api yang mendadak padam dalam sekejap itu, siapa yang mampu mencur i makanan mereka? Waktu makan tadi mere ka sedang ma kan minum, hilang beberapa pangsit dan bakpao tentu dikira dima kan oleh mereka sendiri.

Liau-hoa si kacung tiba2 bergidik, katanya jeri: "Giok- "cici" mungkin di sini ada setan."

Merindang juga bulu kuduk Ping-hoa, katanya sambil celingukan: "Ya, angin tadi terasa dingin semilir me mbuat aku mer inding"

Walau merasa curiga, tapi "Pe muda" Giok-je tak bisa berbuat apa2, katanya: "Jangan membual, makanan sudah dingin, hayolah dihabiskan bersa ma."

-ooo0dw0ooo-

Dari penuturan si mawar hitam Cu Jing mengetahui bahwa Ban Jin-cun mungkin menga la mi bahaya di tengah jalan, entah kenapa jantungnya jadi dag-dig-dug, sema lam suntuk dia gulak-gulik tak bisa nyenyak. Untung dia menunggang kuda Giok- liong- ki, larinya jauh lebih kencang daripada kuda biasa, walau Ban Jin-cun dan- Kho Keh hoa sudah berangkat dulu setengah hari, tapi dia yakin, masih bisa menyusul mereka, Baru saja hari terang tanah dia sudah ber-siap2 terus berangkat keluar kota.

Cu Jing jarang keluar pintu, tapi jalan yang harus dite mpuhnya ini sudah apal sekali baginya, sepanjang jalan dia bedal kudanya, sampai tengah hari dia t iba di Tong-seng, sepanjang jalan ini tidak dilihatnya bayangan Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa, hatinya semakin murung dan gelisah.

Tanpa masuk kota dia ma mpir di warung makan di pinggir jala n dan makan sekenyangnya. Tak lama ke mudian dia sudah congklang kudanya melanjutkan perjalanan- Beberapa jam ke mudian dia tiba di Sha-cap-li-poh, dipinggir jalan ada orang menjual minuman.

Pesat sekali Cu Jing me mbedal kudanya, tapi sekilas ia melihat di dalam barak penjual minuman ta mpak bayangan Ban Jin-cun bersama Kho Keh-hoa yang sedang minum sa mbil istirahat, keruan hatinya girang, lekas dia hentikan kudanya terus melo mpat masuk. serunya tertawa: Ban-heng, Kho-heng, kirauya kalian berada di sini, beruntung aku bisa susul kalian"

Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa berdiri menyambut kedatangannya. "Silakan duduk Cu-heng" kata Kho Keh-hoa.

Cu Jing duduk di sa mping mere ka, dia minta secangkir teh.

Mengawasi Cu Jing, Ban Jin-cun bertanya: "Cu-heng menyusul ke mari, entah ada urusan apa?"

Merah muka Cu Jing, katanya: "Kalau tidak ada urusan buat apa jauh2 aku me nyusul ke mari?"

Tanpa tunggu pertanyaan lagi, dia balas bertanya: "Kalian tidak menga la mi sesuatu kesukaran dalam perjalanan?"

"Tidak." sahut Ban Jin-cun heran, "Cu-heng mengala mi kejadian apa?"

"Jadi mereka belum bergerak" Cu J ing menghela napas lega. "Cu-heng mendengar berita apa?" tanya Kho Keh-hoa.

"Se mala m aku berte mu seorang anggota Pek-hoa-pang," demikian tutur cu-Jing, "dia bilang komplotan jahat Hek- liong- hwe mungkin hendak me lakukan pencegatan terhadap kalian- . . "

"Pek-hoa-pang?, Hek-lio ng-hwe?" tanya Ban Jin-cun kepada Koh Keh-hoa. "Belum pernah kudengar na ma ini, saudara Kho tahu?"

"Aku juga belum pernah dengar," sahut Kho Keh-hoa. "Cu-heng, apa pula yang dikatakan?" tanya Ban Jin-cun. Sementara pemilik warung seorang kakek tua menyuguhkan secangkir teh, Setelah orang pergi baru Cu Jing menceritakan pengalamannya se mala m.

"Hek- liong-hwe" ujar Ban Jin-cun, "kukira suatu sindikat gelap dari Kangouw, me mangnya punya permusuhan apa mereka dengan keluarga kita,? Kenapa ingin main bunuh?"

"Me mangnya kita hendak cari mereka, kebetulan biar mereka rasakan kelihayan kita" kata Kho Keh hoa.

Cu Jing mengge leng, katanya: "orang2 itu jahat dan banyak mus lihatnya, bahwa aku susul kalian ke sini karena kuatir kalian tidak tahu apa2 dan dikerjai mere ka tanpa sadar"

"Terima kasih atas perhatian Cu-heng" kata Ban Jin-cun.

Panas muka Cu Jing, matanya memancar kan cahaya, katanya: "Sesama saudara, kenapa sungkan?"

"Hayolah kita berangkat, "ajak Kho Keh-hoa.

Ban Jin-cun keluarkan uang bayar rekening, bertiga lantas keluar menuntun kuda. Tanya Ban Jin cun. "Kalian tahu di mana letak tempat tinggal Cu-ki-cu di -Pa k-sia m-san?"

"Kabarnya dia bersemaya m di cit-sing-wan (ngarai tujuh bintang)," ujar Cu Jing, "cuma aku belum pernah ke sana."

"Asal tempat itu ada namanya, tidak sulit mene mukannya," ujar Ban Jin-cun.

Cu Jing menuntun kuda, Ban Jin-cun dan Kho Keh-hoa tidak me mbawa tunggangan, ma ka Giok-liong- ki diumbar jalan sendiri. Untung jarak Pak-s ia m-san hanya ena m-tujuh li saja, dengan cepat mereka sudah tiba dite mpat tujuan, yang tampak hanya gunung gemunung, entah di ma na letak cit-sing- wan itu?. . .

Dikala mereka berjalan sa mbil Celingukan, dari jalan kecil di la mping gunung sana ta mpak seorang penebang kayu sedang mendatangi. Ban Jin-cun lantas menapak maju, katanya sambil me mber i hor mat: "Numpang tanya pada Toako ini, entah di mana letak cit sing- wan?"

Sekilas penebang kayu menga mati mereka lalu, menuding ke timur, katanya: "Dari sini ketimur kira2 lima li, di sana ada Mo-thian- hong (bukit pencakar langit) disanalah letaknya cit-sing-wan." Lalu dia pikul kayu dan pergi.

Melihat langkah orang yang ringan dan tangkas seperti orang biasa berlari, diam2 tergerak hati Ban Jin-cun, katanya ragu2: "langkahnya enteng dan cekatan, agaknya seorang persilatan-"

Begitulah mereka terus menuju ke timur, Giok- liong- ki terus mengintil di belakang Cu Jing Jarak lima li sebentar saja sudah mereka te mpuh, me mang di depan me ngadang sebuah puncak yang bertengger tinggi mene mbus awan, pepohonan yang tumbuh lebat, sungai menga lir menge lilingi bukit, pe mandangan per mai, hawa sejuk. Mereka maju terus menyusuri sungai terus menanja k ke atas, di lamping gunung mere ka mendapatkan sebuah gubuk beratap alang2 kering terdiri dari t iga petak berjajar.

Ban Jin-cun berhenti, katanya: "Disini hanya ada gubuk ini, mungkin itulah te mpat se mayam Cu-ki-cu."

Tiba di bawah bukit Cu Jing lantas tepuk kudanya dan berkata: "Giok liong-ki, kau diam disana saja, kalau ada orang mengganggumu, cukup kau mer ingkik panjang sekali saja, tahu tidak?"

Kuda ini sudah paham kata2 orang, matanya berkedip2 seraya bersuara pelahan serta manggut2.

"Baiklah, mari ke atas," ajak Cu Jing.

Tiba di depan gubuk mereka berhenti, Ban Jin-cun berteriak: "Ada orang di dala m?"

"Siapakah di luar?" ada orang me nyahut di dalam gubuk.

"Ka mi bersaudara kemar i mohon berte mu dengan Cu- ki-cu Totiang," kata Ban Jin-cun. Daun pintu yang terbuat dari ba mbu dibuka pelan2, muncullah seorang kakek enam puluhan, pipinya ke mpot jenggot jarang2 menghiasi dagu, me makai jubah butut warna biru yang sudah luntur warnanya. Sorot matanya jelilatan seperti mata tikus, dengan seksama dia a mati mereka bertiga sebentar la lu bertanya: "Kalian cari Cu-ki- cu ada keperluan apa?"

Mendengar nada orang, Ban Jin-cun tahu bahwa orang ini pasti Cu-ki-cu sendiri. Se mula dia me mbayangkan Cu-ki-cu yang terkenal di kalangan Kangow tentu seorang Tojin yang berpakaian bersih, bersikap agung, seorang pertapa yang berwibawa dan welas asih. Tapi kakek dihadanan mereka ini berkepala botak berjenggot jarang, mukanya tirus lagi, sekujur badannya tinggal kulit pembungkus tulang, keruan hatinya merasa kecewa, tanyanya: "Apakah Lotiang ini adalah Cu-ki-cu Totiang."

Sebelah tangan mengelus jenggotnya yang jarang2, kakek itu tersenyum, katanya: "Losiu me mang Cu-ki-cu, silakan kalian duduk di dala m."

"Ternyata me mang Totiang adanya," ujur Ban Jin-cun me mberi hormat. "cayhe bersaudara sudah lama kagum akan na ma besar Totiang, kami sengaja ke mari mohon petunjuk." bera mai mere ka lantas masuk ke dalam gubug.

Di dalam rumah hanya ada sebuah meja kayu, empat kursi rapuh tanpa ada perabot lainnya lagi.

Setelah silakan tamunya duduk, Cu-ki-cu batuk2 kering, lalu berkata dengan nada menyesal.

"Lohu orang gunung, sela ma hidup jarang kedatangan tamu, gubugku yang reyot ini tidak sesuai untuk melayani tamu, harap kalian duduk seadanya saja," sembari bicara dia sudah mendahului duduk di kursi paling dala m.

Ban Jin-cun bertiga lantas duduk, katanya: "Kami bersaudara sengaja mengganggu ketenangan Totiang, mohon Totiang suka me mber i penerangan kepada kami." "Jadi kalian minta Losiu mera mal?" tanya cu- ki-cu

"Totiang sudah la ma terkenal, luas pengalaman dan pengetahuan, terhadap segala peristiwa dan seluk- beluk Kangeuw amat apal, kami bertiga ke mari mohon petunjuk satu hal kepada Totiang."

"Tentang apa?" tanya Cu-ki-cu.

Dari dalam kantongnya Ban Jin-cun keluarkan buntalan kain kecil terus dibeberkan di atas meja, isinya adalah sebentuk senjata rahasia bersegi delapan, dengan kedua tangan dia angsurkan benda itu, katanya: "Totiang luas pengalaman, entah pernahkah melihat senjata rahasia maca m ini?"

Begitu melihat bentuk senjata rahasia itu, tampak berubah air muka Cu-ki-cu, dia terima bersa ma kain buntalannya, dengan seksama dia bolak- balik me meriksanya, katanya kemudian: "Sungguh a mat menyesal, Losiu hanya tahu senjata rahasia ini dibubuhi racun jahat. kadar racunnya keras sekali, bentuk senjata rahasia seperti ini me mang belum pernah kulihat."- lalu dia bungkus ke mbali serta dikembalikannya kepada Ban Jin-cun.

Sudah tentu Ban Jin-cun me lihat perubahan air muka orang waktu melihat senjata rahasianya tadi, jelas orang sengaja tak mau bicara terus terang, maka dia bertanya lebih lanjut: "Apakah Totiang pernah dengar di kalangan Kangouw ada suatu perkumpulan gelap yang bernama Hek-liong-hwe?"

Cu-ki-cu tertawa sambil mengelus jenggot, katanya: "Sudah 20 tahun Losiu mengas ingkan diri di sini, jadi sudah la ma terasing dari percaturan Kangouw, tapi Losiu dapat me mberitahu, 20 tahun yang lalu t iada Hek- liong-hwe dikalangan Kangouw."

Ban Jin-cun menoleh kepada Kho Keh-hoa, sorot matanya seakan2 menyatakan sia2 kedatangannya ini, mereka bertiga sama kecewa.

Seperti dapat meraba isi hati mereka, Cu-ki-cu tertawa sambil me megang jenggotnya, katanya.- "Lo-siuorang gunung, sejak lama lepas dari percaturan Kangouw, tentunya mengecewakan kalian bertiga, tapi Losiu bisa mera mal, biarlah kalian kura mal saja, mungkin dari ra ma lanku dapat kulihat gejaia2 yang dapat kuberitahukan, entah bagaimana pendapat kalian."

Bahwa Cu-ki-cu pandai mera mal me mang sudah terkenal di Kangouw, kini dia bilang mau mera mal mereka, sudah tentu sangat kebetulan. "Harap Totiang suka me mberi petunjuk dan petuah," kata Ban Jin- cun.

Pelan2 Cu-ki-cu berdiri, katanya: "Kalian ikut Losiu." Lalu dia putar masuk ka mar di sebelahnya.

Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu J ing mengikuti di belakangnya.

Itulah sebuah ka mar yang dipisah jadi dua, bagian depan adalah kamar prakteknya, tepat di tengah dinding bergantung sebuah gambar Pat-kwa, ada sebuah meja, di mana ada sebuah hlolo, bumbung ba mbu berisi batang2 bambu kecil bertulisan serta enam keping uang te mbaga, segelas air putih, ada bak. pensil dan kertas, sebuah kursi mepet dinding, jadi tempat luangnya hanya cukup untuk tiga orang berdiri saja. Bagian belakang kamar tertutup kain gordyn, agaknya kamar tidurnya.

Dengan gerakan tangan Cu-ki-cu suruh mereka berdiri jajar di depan meja, lalu dengan gayanya tersendiri dia duduk di kursi. Terlebih dulu dia menyalakan api menyulut tiga batang dupa wangi, entah apa yang diucapkan, mulutnya berko mat-ka mit, la lu satu persatu dia tancapkan dupa itu di atas hlolo, wajahnya tampak serius dan khidmat, katanya kepada mereka bertiga: "Soal apa yang ingin kalian tanyakan, boleh kalian berdoa menghadap gambar Pat kwa di belakangku ini, tapi tidak boleh bersuara."

Mereka menurut dan menghadap gambar Pat-kwa dengan sedikit mendonga k, mata mengawasi ga mbar Pat-kwa serta berdoa di dalam hati. Se mentara Cu-ki-cu jemput keenam keping mata uang tembaga terus dimasukkan ke bumbung ba mbu yang lain, pelan2 dia menggoncang bumbung itu sehingga menge luarkan suara berisik, la lu satu persatu dia keluarkan mata uang te mbaga itu dan dijajar di atas meja, dengan melotot dia awasi keenam mata uang.

Sesaat kemudian baru dia angkat kepala mengawasi mere ka bertiga, sikapnya kelihatan aneh, katanya: "Sekarang kalian satu persatu sebutkan nama masing2."

"cayhe Ban Jin cun" Ban Jin-cun mendahului bersuara. sorot mata Cu-ki-cu menatap Kho Keh-boa. "cayhe Kho Keh-hoa."

Sorot mata Cu-ki-cu lantas beralih ke arah arah Cu Jing. "cayhe bema ma Cu Jing."

Pada saat itulah mendadak dari bawah gunung terdengar suara ringkik Giok-Liong-ki yang panjang dan ketakutan- Cu-ki-cu mendadak mendelik, terbayang senyuman sadis pada mukanya, sekali raih dia ambil bumbung ba mbu terus digabrukan keras- keras di atas meja seraya tertawa: ."Kalian tidak segera roboh, tunggu apa lagi?" Belum habis dia berkata, Ban Jin-cun, Kho Keh-hoa dan Cu Jing mendadak merasakan kepala pusing dan pandangan menjadi gelap. kedua lutut le mas lunglai, tanpa berjanji mere ka sama jatuh terkapar.

Ooood woooo

Ling Kun-gi meringkuk di dalam karung dan sema lam telah berlalu.

Fajar baru menyingsing, Giok- ji segera perintahkan Liau-hoa dan Ping hoa angkut karung besar itu ke atas kuda, tanpa membuang waktu mereka berangkat, setelah keluar kota langsung menuju ke sungai.

Kota An-khing terletak di utara tiang-kang, merupakan kota yang penting di darat dan di air maka suasana di sini a mat ra mai. Giok-ji berlima tidak hiraukan kera maian sekitarnya, mereka langsung mengha mpiri sebuah perahu besar, seorang yang berpakaian kelasi segera me mapak, katanya sambil menjura: "Ha mba menya mbut kedatangan Hoa- kongcu "Pe muda " Giok-ji bertanya: " Kau inikah, Kiang-lotoa?"

Sikap tukang perahu sangat hormat, sahutnya: "Ya, ya, hamba adalah Kiang- lotoa. Perahu berada di depan sana, silakan turut hamba."

Mereka menuju ke barat, kira2 lima puluhan meter, betul juga di mana ada sebuah perahu besar dan t inggi.

Mereka turun punggung kuda, seorang me masang sebuah papan besar, empat laki2 berpakaian ketat lantas keluar me mberi hor mat kepada Giok-je, kata salah seorang: "Kami mendapat perintah menya mbut kedatangan Kongcu"

"Bikin repot kalian saja," kata Giok- je, lalu ia berpaling kepada Ping-hoa berdua: "Naikkan dulu karung itu ke atas perahu."

Kedua Hoa-hoat-su-cia segera menjura, katanya: "Semo ga Kongcu sela mat sampai di te mpat tujuan, kami berdua tidak menghantar lebih lanjut." mereka ce mpla k kuda terus pergi.

Giok-ji bertiga naik ke atas perahu baru keempat laki2 berpakaian ketat ikut melo mpat naik, terakhir adalah Kiang- lotoa, segera dia perintahkan pembantunya pasang layar dan melajukan perahu ke tengah sungai.

Daripada mer ingkuk di dalam karung, kini Ling Kun-gi bisa tidur nyaman di atas kasur, ternyata setiba di atas perahu Giok-ji suruh Ping-hoa berdua keluarkan Ling Kun-gi serta ditidurkan di pembaringan- Dia keluarkan sebutir pil dan dimasukkan ke cangkir berisi teh terus dicekokkan pada Ling Kun-gi, katanya: "Kira2 setengah jam lagi baru dia akan siuman, kalian ikut aku keluar." pelan2 pintu ka mar lantas ditutup dari luar.

Sudah tentu Kun-gi mendengar percakapan mere ka. Setelah mereka keluar segera dia membuka mata, ternyata dirinya berbaring di dalam ka mar yang bersih dan sederhana, dinding dile mbari kain kuning, lantai papan tampak mengkilap. Kecuali dipan dimana dia rebah, di bawah jendela sana terdapat sebuah meja kecil persegi dan sebuah kursi. Kalau perahu ini tidak bergoyang turun naik serta mendengar suara percikan air, orang tidak akan mengira bahwa ka mar ini berada di dalam perahu.

Dia m2 Ling Kun-gi me mbatin: "Entah perkumpulan maca m apa Pek-hoa-pang mereka?"

Satu hal sudah meyakinkan dia bahwa anggota Pek-hoa-pang semua terdiri dari kaum wanita, ma lah setiap orang me makai na ma ke mbang. inilah perjalanan serba romantis, tamasya yang aneh dan menyenangkan-

Dari Coat Sin-san-ceng dirinya diselundup ke-luar, entah apa tujuannya? Ke mana pula dirinya akan dibawa? Bahwa dirinya dibawa naik perahu, me mangnya mar kas mereka berada di sepanjang pesisir sungai besar ini?

Langkah pelahan me ndatang dari luar, lekas Kun-gi peja mkan mata, waktu pintu terbuka, yang masuk hanya seorang, Kun-gi me mbatin: "Agak-nya mereka sudah ganti pakaian perempuan- "

Setelah orang itu maju ke dekat pe mbaringan sengaja Kun-gi mengge liat, lalu berbangkit. Pelan2 dia me mbuka mata. Pandangan pertama hinggap pada tubuh sema mpa i menggiur kan seorang gadis nelayan berpakaian warna hijau. Usianya enam- belasan, berwajah bulat telur, bola matanya bundar besar dan hitam bening, pipinya bersemu merah, sikapaya malu2. Wajahnya memang tidak begitu cantik, na mun cukup menggiurkan hati setiap laki2:

"Cu-cengcu sudah bangun," sapa pelayan baju hijau.

Sudah tentu Kun-gi tahu gadis inilah yang bernama Liau-hoa, tapi dia sengaja bersuara heran, katanya: "Siapa kau? Mana Ing-jun?" ing-jun adalah pelayan yang melayani segala keperluannya di coat- sin-san-ceng.

"Ha mba adalah Liau-hoa," pelayan itu menekuk lutut me mberi hormat.

"Te mpat apakah ini?" tanya Kun-gi sa mbil me nyapu pandang ke sekitarnya. "Rasanya seperti di atas kapal?" Liau-hoa menyilakan sa mbil menunduk. Kun-gi ta mpa k kurang senang, katanya mendengus: "Apa yang terjadi? Kalian mau bawa Lohu ke mana lagi?"

"Ha mba tidak tahu," sahut Liau-hoa takut2.

Kun-gi tahu orang sengaja bohong, tapi melihat sikap nona itu jeri dan ma lu2, tak enak dia bertanya lebih lanjut.

Mengawasi Kun-gi, Liau-hoa bertanya dengan suara lembut: "Apakah Cu-cengcu mau sarapan pagi?"

"Lohu belum lapar."

"Baiklah ha mba a mbilkan air teh saja," bergegas dia hendak mengundurkan diri, jelas hendak me mberi laporan kepada Giok-je,

"Tak usahlah Lohu t idak haus. Ada persoalan yang ingin kutanyakan, apakah di atas kapal ini ada orang yang berkuasa?"

"Harap cengcu tunggu sebentar, hamba akan panggil Giok je cici ke mari."

"Giok-je, kan pelayan pribadi Hian- ih-lo-sat itu? Apa kedudukannya tinggi?" sengaja Kun-gi bertanya, secara tidak langsung dia ingin tahu betapa tinggi kedudukannya Giok-je didalam Pek-hoa-pang.

Liau- hoa manggut2 sa mbil mengiakan terus melangkah pergi dengan buru2.

Tak la ma ke mudian, tampak dengan langkah le mbut gemulai Giok je menyingkap kerai dan masuk ke kamar, katanya sambil me mber i hor mat kepada Kun-gi: "Cu-cengcu me manggil ha mba, entah ada urusan apa?" Perawakannya me mang yahut, setelah ganti pakaian perempuan kelihatan lebih menarik setiap laki2 yang me mandangnya.

"Ada satu hal ingin Lohu minta keterangan nona," kata Kun-gi. "Terlalu berat ucapan cengcu, entah soal apa yang hendak

ditanyakan?" "Lohu ingin tahu ke mana diriku hendak di- bawa?" "Soal ini "

"Nona tidak mau menjelaskan?"

Giok-je tertawa manis, katanya: "Lebih baik Cu-cengcu ajukan persoalan lain saja, asal ha mba bisa menjawab tentu kuterangkan-"

"Pintar dan licik juga gadis ini," demikian ba-tin Kun-gi, katanya: "Baiklah, Lohu ingin tanya, nonakan anak buah kepercayaan coh- siancu, tentu kau tahu seluk-beluk Coat Sin-san-ceng, entah bagaimana asal-usulnya?"

"0, mereka         "

"Apakah nona tidak mau menerangkan? Baiklah persoalan ini tak usah dibicarakan-"

Giok-je me lir iknya sekali, katanya kemudian dengan sikap apa boleh buat:- "Mereka adalah orang2 Hek liong- pang."

"Hek- Liong-pang? Belum pernah kudengar na ma ini?"

"Jejak mereka serba tersembunyi, umpa ma berkecimpung di Kangouw juga belum tentu diketahui orang, sudah tentu Cu-cengcu belum pernah mendengarnya."

"Apa kedudukan Cek Seng jiang di Hek- Liong-pang?"

"Mereka hanya me manggilnya cengcu, apa kedudukannya hamba tidak tahu."

"Lalu, coh-s iancu?"

"Ha mba tahu dia adalah salah satu dari Su-toa-thian-su (e mpat besar rasul langit), tugasnya mengawasi daerah selatan"

"Apakah tujuan mereka menculik Lok-san Taysu bertiga hanya lantaran getah beracun itu?"

"seharusnya demikian- "

"Nona bukan orang Hek- Liong-hwe?" "Darimana Cu-cengcu tahu ha mba bukan orang dari Hwe itu?"

"Kalau kau orang mereka, tak mungkin me mbongkar rahasia mereka."

Giok-je tertawa, ujarnya: "Cu-cengcu me mang a mat cer mat."

Sampa i di sini pe mbicaraan mereka, tiba2 Liau- hoa muncul di pintu, katanya: "Giok- je cici, harap keluar sebentar"

Giok-je melangkah keluar, tanyanya: "Ada apa?" di ambang pintu dia me mba lik dan berkata: "Cu-cengcu, hamba mohon diri sebentar."

Mendadak dia angkat jari terus menjentik, dari balik lengan bajunya menyamber keluar sejalur angin kencang meluncur ke Hiat- to Ling Kun-gi. Gerakannya aneh dan cepat, di luar dugaan lagi, Kun-gi pura2 tidak tahu, dia duduk di kursi tanpa bergerak, hatinya dia m2 kaget, batinnya: "Tak nyana gadis semuda ini me miliki kepandaian begini tinggi, aku me mandang rendah dirinya."

Maklumlah Kun- gi sendiri meyakinkan hawa murni pelindung badan, asal pikiran bergerak dan hati ada niat, hawa murni dalam tubuhnya akan timbul daya perlawanan, walau cepat jentikan Gioknje, tak mungkin bisa menutuknya pingsan-

Melihat Kun gi duduk me matung dan tidak bergerak. segera Giok-je menyelinap keluar, tanyanya: "Ada apa sih?"

"Kiang lotoa melihat di belakang perahu kita ada dua kapal besar menguntit dari kejauhan-"

"Mungkin orang2 Hek liong-hwe?" kata Giok-je, "Cu-cengcu "

"Tidak apa2, aku telah menutuk Hiat-tonya."

Lalu mereka keluar dan naik keatas dek, entah apa pula yang mereka bicarakan-

Kun-gi tersenyum, pelan2 dia mendekati jendela, dengan ujung jarinya dia me mbuat lubang kecil pada kertas jendela, lalu mengintip keluar, air sungai luas menyentuh langit di kejauhan, tak kelihatan bayangan apa2, agaknya kedua kapal yang dicurigai masih menguntit dari jarak yang jauh sekali.

Pada saat itulah tiba2 didengarnya suara gaduh air bergolak dari buritan, kejap lain mendadak sebuah sa mpan yang laju cepat tahu2 muncul kira2 tiga to mba k di sebelah belakang.

Dia m2 Kun gi me mbatin: " Apaknya kedua pihak akan bentrok."

Ter-sipu2 Giok-je menuju ke belakang. Sikap Ping-hoa tampak tegang, serunya: "Giok-je cici, lekas ke mar i, kedua sa mpan itu sudah makin dekat."

"Jangan kita perlihatkan diri, belum waktunya biar mereka yang menghadapi," kata Giok-je, mereka yang dia maksud adalah keempat laki2 berpakaian ungu itu.

Sembari bicara mere ka mene mpelkan muka ke jendela yang teraling kain, tampa k ke dua sa mpan itu sedang melaju me mecah gelo mbang ke arah sini, jaraknya tetap bertahan puluhan tombak. Tak la ma ke mudian kedua sa mpan itu tiba2 berpencar ke kanan- kiri terus berlaju lebih cepat mendahului ke depan-

"Keparat, jelas mereka sengaja hendak cari perkara pada kita" kata Giok- je,

Terdengar suara Kiang- lotoa berkata di luar: "Nona, kedua sampan ini menunjuk tanda2 sengaja menunggu kita."

"Kiang- lotoa," seru Giokrje, "Kau sudah lihat betul, siapakah orang di atas sa mpan?"

"Mereka berada di dalam barak perahu, ke-cuali dua orang yang pegang dayung, hamba tidak me lihat orang yang lain-"

"mereka sengaja mau cari perkara, nanti juga pasti unjuk diri." "Ya, hamba mohon petunjuk nona."

"Jangan hiraukan dulu, lajukan perahumu seperti biasa." Kiang-lotoa mengiakan, baru saja dia hendak mengundur diri. "Kiang- lotoa," tiba2 Giok-je me manggilnya pula.

Lekas Kiang- lotoa berhenti dan menyahut hor mat: "Nona masih ada pesan apa?"

"Di An-khing kau sudah tinggal beberapa tahun, situasi di perairan sini tentu apal, belakangan ini adakah orang2 Hek- Liong- hwe yang muncul diperairan?"

"Terus terang nona, belum pernah hamba mendengar nama Hek- liong-hwe, terutama di perairan sini sela manya tenang2 saja tak pernah terjadi seperti hari ini."

"Jadi, mereka me mang betul2 mau cari perkara pada kita," dengus Giok je, "kau boleh pergi urus tugas mu. o, ya, kau harus tetap berdiam di An-khing, kalau t idak terpaksa jangan kau bocorkan asal usul dirimu, nanti kalau kedua pihak bentrok, kau bersama2 kawanmu tidak usah turut campur, kalian menyingkir saja, anggaplah perahumu ini kita sewa." Kiang- lotoa mengia kan dan mengundur kan diri.

Baru saja Giok-je ke mba li ke kursinya, terdengar Ping-hoa berkata: "Giokje cici, di belakang kita muncul pula dua sa mpan-"

"Bagaimana kedua sa mpan yang laju ke depan tadi?" "Kok tidak kelihatan-"

"Mereka kerahkan empat sampan, agaknya hendak turun tangan di air" ujar Giok-je,

Belum habis dia bicara Liau-hoa sudah berteriak pula, "Giok-je cici, itu dia dua sa mpan yang lewat tadi kini putar balik pula."

Giok je menuju kejendela sebelah kiri serta melongo k keluar, waktu itu hawa sejuk dan angin menghe mbus sepoi2, tiada gelo mbang tiada badai, air tenang2 saja, sementara kedua sa mpan di belakang sudah sema kin dekat.

Giok-je merogoh sebuah kaca tembaga dari dalam bajunya, badan sedikit miring terus me mandang haluan perahu yang mereka naiki ini, empat sampan jadi dalam posisi mengepung, setelah jarak semakin dekat laju sa mpanpun diperla mbat.

Tiba2 pada sa mpan sebelah kiri sana menyelinap keluar seorang laki2 jubah hitam panjang, mukanya kelabu kaku, berdiri di depan sampan dan me mbentak: "Hai, tukang perahu, me mangnya matamu buta, hayo hentikan perahumu"

Pada waktu yang sama muncul pula dua orang di sampan sebelah kanan, muka mereka kuning seperti ma la m, keduanya me mbe kal pedang panjang. Agaknya mereka betul2 hendak turun tangan-

Sesuai petunjuk Giok- je, lekas Kiang-lotoa perla mbat laju perahu lalu me nghentikannya di tengah2 sungai.

Arus sungai cukup deras sehingga perahu besar mereka terseret miring, Kiang-lotoa bersama beberapa kelasi dengan gugup sibuk bekerja, sedapat mungkin mereka kendalikan perahu supaya tidak oleng.

Sementara seorang laki2 setengah baya muncul di depan perahu, dengan mendelik dia pandang orang2 di atas sampan,jengeknya dingin: "Siang hari bolong, kalian mencegat perahu, me mangnya mau apa?"- Di belakang laki2 setengah baya berbaju abu2 ini mengintil dua laki2 kekar bergolok berpakaian ketat.

Dingin sorot mata si muka kuning kaku di atas sa mpan sana sekilas dia lirik laki2 setengah baya baju kelabu, tanyanya: "Tuan ini siapa?"

Laki2 setengah baya baju kelabu berkata dengan kereng: "cayhe Liok Kian-la m dari Ban-ceng-piaukiok di La m-jiang." Lalu dia menarik muka dan balas bertanya: "cayhe sudah sebutkan na ma, saudara harus perkenalkan diri? Apa tujuan kalian mencegat perahu di tengah sungai?"

"Tiga budak yang melarikan diri rupanya menyewa pengawal?

Ketahuilah, kami sedang menguber budak2 yang lari itu." Liok Kian lam menjengek. katanya, "Saudara salah ala mat, ka mi sedang mengantar Hoa-kongcu dari La m-jiang, orang Kangouw menguta makan kebenaran, untuk itu harap kalian me mberi muka kepada ka mi."

Berkedip2 mata si muka kuning, ia menyeringai dan berkata: "Tuan besar mu sela manya belum pernah dengar di La m-jiang ada Ban-seng-piaukiok segala, hayolah, periksa perahu ini" Kedua laki2 baju hitam di sa mpan sebelah kiri mengiakan, sampan mere ka mendadak menerjang maju, kedua laki2 itu terus melo mpat keatas perahu sini.

Mendelik mata Liok Kian-la m, bentaknya: "Saudara tidak patuh aturan Kangouw, jangan salahkan kalau kami tidak kenal kasihan-" Sembari bicara dia me mberi tanda kepada kedua laki2 di belakangnya.

Sejak tadi kedua laki2 ini me mang sudah pegang golok. sigap sekali mereka berkelebat maju me mapak kedua laki2 muka kuning yang menubruk tiba, maka terjadi perte mpuran sengit dihaluan perahu.

Si muka kelabu tergelak2, serunya: "Agak-nya sebelum melihat peti mati saudara Liok ini tidak akan mengucur kan air mata, biarlah Tin-toaya sempurnakan kau." sekali menutul, dia keluarkan gaya It- ho-coan-thian, tubuhnya mela mbung tinggi terus menukik turun ke arah Liok Kian- la m, kelima jarinya terpentang dengan jurus Hwe- ing-kik-tho (burung elang menerka m kelincil) terus mencengkra m batok kepala lawan-

Melihat serangan orang agak aneh dan lihay, Liok Kian- lam tidak berani pandang rendah mu-suh, kaki geser mundur setengah tindak. sementara tangan kiri me mutar terus menutuk pergelangan tangan si muka kelabu.

”Jeng-bun ci (jari mene mbus awan)," seru si muka kelabu tertawa aneh, "kiranya saudara murid Hoa -san-pay." Mendadak ia mendesak maju, tangan kiri me nggunakan jurus lay-san-im-ciang menebas lurus kedepan, cara turun tangan orang ini rada aneh, gerakannya me mbawa deru angin kencang lagi sehingga Liok kian- lam kena didesak mundur selangkah.

Tapi Liok Kian- lam juga bukan lawan enteng, setelah dia menyingkir dari tebasan telapak tangan si muka kelabu, cepat iapun menge luarkan pedang, "sret", tahu2 pedangnya me mbabat miring dari samping bawah.Jurus ini merupakan gerakan kombinasi di samping meluputkan serangan musuh sekaligus balas menyerang gerakannyapun cepat leksana kilat.

Si muka, kelabu yang merangsak dengan bernafsu tidak menduga sa ma sekali, ha mpir saja dia kecundang, dalam kesibukannya, lekas ia tekuk kedua kaki me lo mpat mundur, untung dia terhindar dari babatan pedang Liok Kian la m.

Berhasil mendesak lawan, sudah tentu Liok Kian-la m tidak me mber i peluang lagi, sembar i menghardik iapun me lo mpat tinggi, pedangnya menge mbangkan jurus Hoat-bun-kay-loh (menyiba k awan me mbuka jalan) ia mencecar musuh lebih sengit.

Dikala tubuh me la mbung mundur itulah, si muka kelabu juga telah mengeluarkan pedang, ia segera menangkis, "trang", kedua pedang beradu, keduanya sama terpental dan meluncur turun di atas geladak.

Begitu kaki menginjak lantai perahu si muka kelabu perdengarkan tertawa gusar, pedang panjangnya berwarna hitam legam terus merangsak pula dengan beringas.

Liok Kian-la m me mang mur id Hoa-san-pay, Hoa-san-kia m-hoat yang dia ma inkan me mang lincah dan tangkas sekali, maju mundur sangat cepat, setiap jurus permainannya matang dan mantap. Ke- dua orang sama melancarkan ilmu pedangnya, sinar perak laksana ular sakti berkelebat naik turun dan saling gubat dengan bayangan hitam yang menga muk seperti naga mengaduk air, pertempuran semakin me muncak dan seru.

Sementara itu, kedua sampan di belakang sudah mendekati perahu, di atas sampan masing2 berdiri seorang berjubah hijau, mukanya lonjong kurus, kulitnya kuning semu hijau, tampangnya kelihatan kejam, seorang lagi berwajah agak ta mpa m, itulah seorang pemuda berjubah biru yang bersikap angkuh, pedang tergantung di pinggangnya, bajunya mela mbai dit iup angin, kelihatan gagah dan berwibawa sekali.

Kedua orang ini lebih mir ip majikan dan kacung, jarak sa mpan mereka mas ih dua to mba k lebih dari perahu besar, tiba2 si kurus jubah hijau me mbentang kedua lengan, tahu2 tubuhnya melejit ke atas dan bersalto sekali di tengah ualara terus meluncur ke arah perahu. Gerakan ini sangat tangkas, sedikit kakinya menutul di pinggir perahu, tubuhnya terus berkelebat ke depan menembus sinar pedang yang silau dan langsung, me luncur ke dalam perahu.

Pada saat itulah seorang laki2 yang berdiri di luar pintu menghardik sekali terus mengadang, di mana pedangnya bergetar, kontan ia menusuk dua Hiat-to si jubah hijau.

Tapi sijubah hijau tak berkelit juga tak menangkis, tangan malah dia angkat terus menyentak ke pedang lawan- Sudah tentu gerakan ini di luar dugaan laki2 berpakaian ketat yang berjaga di depan pintu, betapa tajam pedangnya ini, tapi orang ini berani me lawan pedangnya dengan tangan telanjang? Sekilas me lengak. tahu2 didengarnya suara keras beradu, pedang panjangnya telah kena dijepitjari lawan-

Ternyata lengan kiri sijubah hijau kelihatan berwarna hijau ke- coklat2an, kelima jarinya runcing kaku seperti baja, jelas itulah jari2 yang terbuat dari besi. Jadi lengan kirinya itu adalah tangan palsu yang terbuat dari besi, dari warnanya yang mengkilap itu, jelas jari2 besi itu telah dilumur i racun jahat.

Kejadian begitu cepat laksana percikan api, begitu tangan besinya berhasil menjepit pedang panjang lawan, tangan kanan sijubah merah lantas menghanta m ke muka lawan pula.

Sebenarnya kepandaian laki2 berpakaian ketat itu tidak rendah, tapi lantaran pedang dijepit lawan, sedetik dan melengak. tahu2 pundak kiri sudah kena dita mpar oleh angin pukulan lawan, walau dia bisa bergerak cepat sehingga tubuhnya tidak terpukul telak, tapi samberan angin pukulan yang mengenai tubuhnya juga tidak ringan.

Terasa tulang pundak kirinya sakit luar biasa, hampir saja ia jatuh kelengar, tatkala tubuhnya terlempar hampirjatuh, sigap sekali kakinya me layang menendang ke ulu hati sijubah hijau.

Sijubah hijau menjengek: "Tong- long- cui, ternyata kau murid Tong- long- bun. " Jari besi tangan kirinya segera mencengkera m ke tungkak kaki orang.

Setelah pundak kiri teriuka, sudah tentu gerak-gerik laki2 baju ketat ini menjadi kurang tangkas, tapi mengingat mati- hidup jiwa sendiri terletak pada gerak tendangan kakinya ini, maka dengan nekat dia meyerempet bahaya dan melancarkan serangan, harapannya cukup bertahan untuk sementara waktu lagi.

Sekali berhasil sijubah hijau kerjakan kedua tangannya dengan kencang, beruntun tangan kanan menggempur dengan gencar, sehingga laki2 baju ketat didesaknya mundur keripuhan-

Sementara itu perte mpuran sengit di haluan perahu di depan sana semakin sengit, senjata terus berdenting keras, mendadak terdengar suara "byuur", salah satu dari laki2 baju ketat warna kelabu yang melawan kedua musuh baju hitam tercebur ke air dengan luka parah. Sementara seorang lagi juga sudah terluka, tapi dia bertahan mati2an dengan nekat.

Melihat anak buahnya bukan tandingan lawan2nya dan tahu gelagat jelek. sema kin berkobar a marah Liok Kian- la m, kedua matanya mendelik dan me mbara seperti terbakar, pedang berputar laksana tabir cahaya, sekuat tenaga dia mengge mpur musuh. Sayang musuh yang satu ini berkepandaian tinggi, meski sudah seratus jurus ke mudian dia tetap tak ma mpu merobo hkan lawan-

Setelah musuhnya jatuh ke air, salah seorang baju hitam menjadi tiada lawan lagi, maka sa mbil menenteng pedang segera dia me lurukpada musuh yang sedang di cecar kawannya. Memangnya sudah terdesak di bawah angin, kini digencet lagi dari depan dan belakang, sudah tentu dia bukan tandingan kedua musuhnya, hanya beberapa gebrak saja, dia kena terbabat oleh lawan di depan, lengan kanannya terbacok putus. Laki2 baju ketat warna kelabu menjer it ngeri, saking kesakitan dia jatuh se maput, serempa k musuh di belakangnya ayun kaki menendangnya tertempar jatuh keair juga.

Liok Kian- lam jadi beringas, bentaknya: "Biar aku adu jiwa dengan kalian- Tiba2 dia gentak pedang menabur kan tabir kemilau, ia bertekad gugur dan menyerang dengan gencar, yang dicecar adalah Hiat-to me matikan ditubuh si muka kelabu.

Rangsakan gencar ini dilakukan tanpa mengingat kesela matan jiwa sendiri, sudah tentu sijubah hijau tidak mau diajak gugur bersama, dia berkelit mundur berulang2. Liok Kian-la m me mpero leh peluang untuk mencecar lebih sengit, serangannya semakin ganas hingga si muka kelabu juga kerepotan-

Sementara itu, pemuda jubah biru yang sejak tadi hanya menonton di atas sampannya tiba2 melo mpat ke atas perahu, gerak tubuhnya sungguh amat aneh dan cepat sekali, hanya sekali berkelebat bayangan biru, tahu2 dia sudah berada di tepi perahu, dari kejauhan jarinya menuding, sekali tutuk dia me mbikin Liok Kian- lam lumpuh tak berdaya.

Tatkala melancarkan serangan gencar, tiba2 Liok Kian- lam merasakan pinggang kese mutan, badan lantas tersungkur ke depan, pedangnya menusuk tembus ke dalam papan geladak yang tebal itu.

Lekas si muka kelabu ra mpas senjata lawan, member i hor mat kepada pemuda jubah biru, kata-nya: "Terima kasih atas bantuan Kongcu."

"Tin-s incu tidak usah sungkan," kata pemuda jubah biru. Ternyata si muka kelabu adalah Thian-kau-s ing, si bintang anjing langit.

Thian-kau-s ing me langkah ma ju, sekali cengkeram dia jinjing tubuh Liok Kian- la m, sementara tangan lain menekan punggung orang, katanya kepada si jubah hijau. "Hou-heng, harap berhenti." lalu dia me mbentak laki2 baju kelabu "Kawan ini supaya dengarkan, Liok- piauthau kalian sudah berada di tangan orang she Tin, kalau kau tidak ingin dia ma mpus, lekas minggir dan buang senjata."

Sijubah biru segera tarik tangan seraya melo mpat mundur, lalu berdiri di belakang pe muda jubah biru.

Laki baju kelabu me mang sudah terluka, ter-desak di bawah angin lagi, melihat Liok Kian lam tertawan musuh, e mpat orang kawannya hanya tinggal dirinya seorang, jelas lebih2 bukan tandingan musuh, terpaksa dia  melo mpat  mundur sambil me lintangkan pedang, katanya setelah menarik napas panjang: "Kalian sebetulnya orang dari golongan mana? Sela ma ma lang me lintang di utara dan selatan belum pernah pihak Ban-seng piaukiok berbuat salah kepada kawan2 Kangouw "

Sebelum orang habis bicara Thian-kau-sing segera menukas, "Saudara tak usah banyak omong, tadi sudah kujelaskan kepada Llok- piauthau, tujuan kami adalah budak2 yang melar ikan diri itu, tiada sangkut pautnya dengan piaukiok kalian, sekarang ada Dian- kongcu kami di sini, lekas suruh orang2-mu keluar, biar kami geledah perahu ini."

Pada saat itulah terdengar suara merdu nyaring menanggapi: "Aku ada di sini, kalian main cegat, melukai para Piausu, perbuatanmu mir ip penjahat, memangnya apa maksudmu?" Dari dalam perahu me langkah keluar seorang pe muda sekolahan berjubah hijau dengan kepala dibungkus kain. Di belakangnya kanan kiri mengintil kacungnya dengan langkah ringan dan mantap mereka beranjak ke depan, Ketiga orang ini terang adalah Giok-je bersama Ping-hoa dan Liau- hoa.

Laki2 baju kelabu segera mengha mpir i, katanya dengan nada penuh sesale "cayhe berama l bukan tandingan mereka, tak ma mpu bertanggung jawab sebagai pelindung, sehingga Kongcu dibuat kaget "

Dengan tak acuh Giok je menukas: "Bukan salah kalian." Dingin dan tajam sorot mata pemuda jubah biru menatap Giok je bertiga seperti ingin mencari apa2, tanyanya: "Kalian dari mana dan mau ke mana?"

Giok-je mendengus seperti sengaja mere mehkan mereka, katanya: "Apakah aku harus menjawab?"

"Apa yang kutanyakan, mau atau tidak hartus kau menjawabnya," dengus pe muda jubah biru.

Seperti apa boleh buat Giok-je berpikir sebentar, lalu berkata: "Baiklah, cayhe Hoa Siang- yong dari An-khing, mau pergi ke Lam- Siang."

Waktu orang bicara, pemuda jubah bieu sedikit miringkan muka me mber i isyarat kepada sijubah biru yang berdiri di sa mpingnya. Tanpa bersuara sijubah biru tiba2 mengayun tangan kanan, tampak dua titik sinar cokelat me lesat terbang terpencar ke arah Liau -hoa dan Ping-hoa.

Sejak keluar Liau-hoa dan Ping-hoa sudah bersiaga, dia m2 merekapun perhatikan setiap gerak-ger ik lawan- Melihat sijubah hijau menimpukkan dua titik coklat ke arah mereka, keduanya bersama menge luarkan pedang, sekali sinar dingin berkelebat, "Ting, ting", dua panah kecil berwarna kehijauan tersampuk jatuh di atas geladak. Betapa cepat dan tangkas gerakan mencabut pedang serta menyampuk itu sungguh a mat mengagumkan-

Pemuda jubah biru tersenyum, sorot matanya bercahaya, katanya: "Budak hina, kalian lari dari coat- sin-san-ceng dan menyaru sebagai laki2, me mangnya aku tak bisa mengenali? Kini berhadapan dengan Kongcu, tidak lekas kalian le mparkan pedang dan menyerah saja?

Tenang saja sikap Giok-je, katanya sambil menatap tajam: "Apa katamu? Aku t idak mengerti."

"Giok je, kau masih berani mungkir, atas dirimu?" bentak pemuda-jubah biru. "Kalau bicara harap tuan tahu aturan, cayhe Hoa Siong- yong, penduduk asli kota Lam jiang, siapa itu Giok-je?" menghadapi situasi yang berubah secara mendadak ini ternyata dia tidak kaget, sikapnya tetap tenang.

Pemuda jubah biru naik pita m, katanya sambil me nuding: "Hou Thi-jiu, tangkap dia"

Ternyata pemuda jubah biru ini adalah Dian Tiong-pit, anak angkat Cek Seng-jiang yang berkuasa di coat-sin-san-ceng itu, sijubah hijau adalah Hou Thi-jiu. Mereka ditugaskan menangkap ketiga budak yang melarikan diri ini.

Mendapat perintah majikannya, Hou Thi-jiu segera berkelebat maju ke depan Giok-je, kata-nya dingin: "Giok-je, kau masih inginkan aku orang she Hoa turun tangan?"

Pucat muka Giok-je saking marah, serunya murka: "Kurang ajar, kalian berani menghina orang sekolahan, seorang lelaki sejati seperti orang she Hoa ini kalian anggap sebagai budak pelarian, sungguh kurang ajar"

"Jangan cerewet, kalau tidak ma u menyerah, terpaksa aku tidak sungkan terhadapmu,"

kelima jari Hou Thi- jiu terulur terus mencengkera m pundak Giok

je,

Kini Giok-je menya mar pe muda sekolahan, sudah tentu dia tidak

sudi turun tangan terhadap budak keluarga orang -lain? Sambil menggeser selangkah dia berpaling, katanya "Hoa wok. layani dia beberapa jurus."

Hoa wok adalah Ping-hoa, dia menyahut sekali terus me lo mpat maju, pedang di tangan menuding sa mbil me mbentak: "Kau ini barang apa? berani kurang ajar terhadap Kengcu kami?" -Sret, pedangnya lantas me mapas ke pergelangan tangan Hou Thi-jiu.

Hou Thi-jiu terkekeh2, katanya: "Budak jelita, kau ini Ping-hoa atau Liau-hoa?" Secepat kilat tangan besi segera mencengkera m pedang. Ping-hoa menggetar batang pedang sehingga menerbitkan cahaya, ia menusuk tiga Hiat-to sekaligus. Lekas Hou Thi jiu gunakan tangan kiri menangkis, dia sa mbut serangan lawan secara keras. Dia pikir lawan adalah pere mpuan yang baru berusia belasan tahun, betapa tinggi lwekang dan ilmu silatnya mana kuat menandingi tangkisan lengan besinya, sekali tangkis dan kepruk pedang lawan tentu terpental lepas.

Tak terduga kenyataan justeru diluar perhitungan Hou Thi-jiu, tatkala lengannya menangkis ke atas, "trang", serangan Hoa-ping me mang dia punahkan, tapi orang tidak tergetar mundur atau terlepas pedangnya, keruan ia kaget, tahu2 pedang Hoa-ping sudah turun ke bawah terus me motong ke la mbung Hou Thi-jiu. Jurus ini dina makan It-yap-cu-khiu (sele mbar daun di mus im rontok), gaya pedangnya mantap dan cepat, "bret", baju di depan dada Hou Thijiu terobek panjang satu kaki lebih.

Keruan Hou Thi-jiu marah, lengan kiri turun naik, segera dia lancarkan serangan gencar, tampak di dalam tabir cahaya warna cokelat kehijauan itu, jari2 besi yang runcing itu selalu mengincar batok kepala Ping-hoa.

Sudah tentu Ping-hoa tidak berani lena, pedang dia putar secepat angin, iapun bergerak cepat melayani kecepatan lawan, tubuhnya terselubung tabir cahaya kemilau, gerakannya cepat dan banyak variasinya lagi, dengan balas menyerang dia hadapi rangsakan lawan-

Seperti diketahui Dian Tiong-pit adalah anak Cek Seng jiang, cengcu Coat Sin-san-ceng, iapun murid kesayangan Jek-tongcu, atasan Thian-kau-sing, maka sedapat mungkin dia me lakukan apa saja untuk menjilat pe muda ini, kini me lihat Hou- Thi jiu melabra k lawan, tanpa disuruh dia me labrak maju, katanya menyeringai, "Kalian tiga budak ini, di hadapan Dian kongcu masih berani me mbangkang, besar benar nyali kalian-"

Laki2 baju kelabu yang sudah terluka itu segera melo mpat maju, hardiknya beringas: "Berani kau melangkah maju, aku tidak sungkan2 lagi." Thian-kau-s ing me nyeringai sadis, jengeknya, "Kau ingin ma mpus apa susahnya, orang she Tin cukup angkat sebelah tangan saja untuk menyempurna kan keinginanmu."- "Sreng", dia cabut sebatang pedang tipis dan se mpit.

"Sim-piauthau," kata Giok-je, "luka dipundakmu belum diobati, kau mundur saja, orang ini biar dibereskan Hoa Lok."

Hoa Lok adalah Liau-hoa. Mendengar kisikan Giok-je segera dia mendahului kedepan, katanya: "Kongcu suruh aku bereskan dia, Sim-piauthau, silakan mundur." Habis kata2nya dengan jurus Ham- bwe-pan-jun (ke mbang Bwe menya mbut mus im se mi), pedangnya tiba2 menutul ke iga kiri Thian-kau-s ing.

cepat Thian-kau-sing menangkis, di luar tahunya bahwa setiap anggota Pek-hoa-pang pernah meyakinkan Pek hoa-kia m-hoat, sekali gebrak. sinar pedang yang ceplok2 seperti rangkuman bunga bermunculan silih berganti, jumlahnya se makin ber-ta mbah2.

Tenaga pembawaan pere mpuan me ma ng tidak sekuat laki2, tapi ilmu pedang yang mereka yakinkan ini justeru teramat lincah dan tangkas sekali untuk mena mbal kekurangan ini.

Ilmu pedang Thian-kau-s ing aneh dan ganas, tapi sudah tujuh- delapan jurus me layani Liau-hoa tetap tak kuasa mene mpatkan diri diposisi yang lebih unggul, keruan ia bertambah gusar, mulutnya berkaok2, pedang menyamber ke kanan-kiri, bayangannya laksana segumpa l awan hitam yang bergolak naik turun-

Hanya menghadapi dua budak saja Hou Thi-Tjiu dan Thian-kau sing sekian la manya tidak bisa menang, keruan pancaran sinar mata Dian Tiong-pit sema kin me mbara, katanya mengulum senyum sinis: "Agaknya me mang kalian berasal-usul luar biasa, hari ini tak bisa kulepas kalian pergi begini saja." ia mendesak maju beberapa langkah serta me mbentak: "Giok je budak keparat, keluarkan pedangmu, dalam 10 jurus jiwa mu akan kurenggut."

Insaf keadaan serba salah, Giok-je juga pantang mundur, dia tahu kepandaian Dian Tiong-pit sangat lihay, dirinya terang bukan tandingannya, maka sedapat mungkin sejak tadi dia bersikap tenang, malah Ping-hoa dan Liau-hoa sudah diberi pesan supaya tidak sembarang bertindak. Kini keadaan sudah mendesak dan terpaksa dia harus ambil putusan nekat, katanya: "Dian-kongcu terlalu mendesak, terpaksa kita harus menentukan kalah dan menang baru urusan bisa berakhir, baiklah, akan kulayani kehendakmu." Pelan2 dia copot jubah hijau bagian luar, tampak dia mengenakan pakaian ketat, "sreng", pedang, dilolos lalu berdiri tenang dan tegak.

Dingin pancaran mata Dian Tiong-pit, katanya: "Budak keparat, masih tidak mau mengaku kau ini Giok-je, budak pelarian?"

"Siapa bakal ma mpus di antara kita belum bisa ditentukan, setelah kau mengalahkan pedang di tanganku boleh kau mengoceh seenakmu sendiri," jengek Giok-je,

Berkobar nafsu membunuh Dian tong-pit, sambil menggerung gusar pelan2 dia mencabut pedang, tapi sedapat mungkin dia bersabar, katanya menuding dengan pedang. "Asal kalian serahkan orang yang menyaru Cu Bun-hoa itu, aku akan menaruh belas kasihan terhadap kalian.Jadi tujuannya mengudak ke mari adalah orang yang memalsu Cu Bun-hoa itu. Persoalan tiada lain karena Cu Bun-hoa palsu itu sudah berhasil menawar kan getah beracun.

Giok-je tertawa dingin: "o mongan Dian-kongcu sungguh lucu dan mengge likan kita toh belum bergebrak, menang atau kalah belum ketentuan, bukankah o monganmu ini terlalu dini diucapkan"

Me mbesi muka Dian Tiong- pit, jengeknya: "Baik, setelah kuringkus kau, masa kau bisa mungkir?"

Tiba2 bentaknya mengguntur: "Budak keparat, lihat pedang" Angin kencang terus menampar, tenaga kuat bagai gelombang dingin t iba2 menyerang berbareng selarik sinar menya mber menusuk ke perut lawan-

Giok-je me mang sengaja me mancing ke marahannya, melihat Dian Tiong- pit me lancarkan serangan dengan gusar, dia m2 ia senang, lekas dia me lo mpat ke sa mping, berbareng pedang di tangan kanan berputar melint ir pedang lawan, bagai kilat berkelebat tahu2 ia mendesak maju dan sekaligus dia melontarkan tiga kali tusukan-

Dian Tiong-pit tertawa menghadapi tiga tusukan ini, sekali ayun pedang, dia punahkan serangan lawan terus balas menyerang. Tampak ceplok2 bunga bertaburan, sinar ke milau berkelebat me mbawa sa mberan angin dingin, begitu sengit dan me munca k pertempuran ini sehingga ta mpaknya laksana puluhan ekor ular perak sedang terjang kian ke mari diantara taburan bunga.

Puluhan jurus ke mudian, mendada k Giok-je merasakan pergelangan tangan bergetar, pedangnya kena dibentur oleh pedang Dian Tiong-pit dan menerbitkan suara ge merincing nyaring, kedua pedang terbuat dari baja murni, untung tiada yang cidera, Giok-je tetap bergerak dengan lincah, sebat sekali dia gunakan langkah ou-kut-lo u-poh (bergerak dengan menekuk lutut), tahu2 sudah berkisar ke kanan Dian Tiong-pit, tiba2 ujung pedangnya menusuk ke pinggang orang seperti ular me manggut.