Pendekar Kidal Jilid 09

Jilid 09

Ing-jun me mang pelayan yang telaten dan cepat meraba keinginan dan perasaan orang, melihat Kun-gi peja mkan mata seperti sedang me meras otak. dia tahu hari ini orang berhasil menawarkan getah beracun, mungkin sekarang sedang me mikirkan cara pembuatan obat penawarnya, maka dia m2 dia seduh sepoci teh, ia taruh di meja kecil di pinggir kursi malas, katanya lirih: "Cu- cengcu, minum teh."

Terbelalak mata Kun-gi, katanya tertawa: "Ing-jun, pergilah istirahat, tak usah kau me layani-ku lagi."

Ing-jun tertawa lebar, katanya: "Baiklah, ha mba mohon diri, hari ini Cu-cengcu pasti lelah, lekaslah istirahat." Lalu dia mengundur kan diri.

Kun-gi berkeputusan mala m ini dia akan menyelidiki coat-sin san- ceng. Sudah tentu iapun menyadari bahwa menyelidiki Coat Sin- san-ceng berarti mene mpuh bahaya besar, tapi tanpa masuk ke sarang harimau cara bagaimana bisa mendapatkan anak harimau? Tanpa mene mpuh bahaya, bagai- mana bisa berhasil dalam penyelidikannya.

Sekarang baru kentongan pertama, belum saatnya dia bertindak. pelan2 dia teguk secangkir teh, karena Waktu masih dini, dia padamkan lentera la lu duduk samadi di atas pe mbaringan-

Kira2 setengah jam kemudian, tiba2 didengarnya langkah cepat tapi ringan mendatangi di luar pintu seperti takut diketahui orang, setiap langkahnya bergerak sedemikian enteng dan hati2. Untung Kun-gi me miliki Lwekang tinggi, kupingnya teramat tajam, kalau orang biasa pasti tidak akan mendengarnya.

Kaget dan heran Kun-gi, orang ini bisa masuk ke pekarangan tanpa diketahui olehnya, setelah orang merunduk dekat pintu baru diketahui, ini me mbuktikan bahwa Ginkangnya sudah cukup tinggi. Dia menyelundup ke pondok para tamu, langsung menuju ke ka mar tidurnya ini, entah kawan atau lawan? Mungkin orang Coat Sin-san- ceng? Atau orang dari luar?

Pada saat dia men-duga2 inilah orang itu sudah berada di depan pintu ka marnya, berhenti, gerak-geriknya sangat hati2, ditunggu sekian la ma dan ternyata keadaan tetap tenang2 saja.

Sudah tentu Kun-gi tidak berani gegabah, dengan sabar dia menunggu perke mbangan. Ternyata orang di luar juga a mat sabar, sudah sekian la manya tetap tidak menunjuk gerakan apa2, hanya berdiri tenang tanpa bergerak.

Ling Kun-gi sudah mendengar suara napasnya yang lir ih, tapi karena orang tidak bergerak. maka dia tetap sa madi di atas ranjang, tidak bergeming juga. Begitulah kira2 satu jam la manya, mendadak Kun-gi yang duduk dikegelapan menyengir sendiri, ia tertawa tanpa bersuara. ia tertawa karena maklum apa yang bakal terjadi. orang di luar tetap tidak bergerak, tapi hidung Kun-gi sudah mengendus semaca m bebauan yang semakin keras me menuhi ruang ka marnya. Kiranya orang di luar tak bergerak karena mempersiapkan diri untuk menggunakan Ngo- king- hoan- bun- hian, asap wangi yang me mbius dan me mbuat orang mabuk.

Bicara soal mengguna kan obat bius, di kolong langit ini mana ada yang bisa menandingi keluarga Un di Ling- la m, kantong sulam pemberian Un Hoan- kun selalu tergantung di dadanya, obat khas bikinan   keluarganya tersimpan di dalam botol,   khusus untuk me munahkan segala maca m obat bius, lalu obat bius macam apa yang ditakuti Ling Kun-gi sekarang?. cuma hati kecilnya merasa heran dan tak habis mengerti. Bahwa orang di luar mengguna kan asap bius, tujuannya tentu me mbius dirinya, lalu apa maksud tujuannya me mbius dirinya? Maka pelan2 tanpa banyak mengeluarkan suara akhirnya dia sengaja menjatuhkan diri, rebah miring. Ingin dia me mbuktikan siapa yang membius dirinya? Apa pula muslihat di balik kejadian ini? Untuk me mbo ngkar teka-teki ini, terpaksa dia harus pura2 terbius.

Bau wangi dalam ka mar sema kin tebal, kira2 sepere mpat jam telah berkelang pula, di luar pintu ke mba li terdengar derap langkah lir ih mendatangi dan berhenti di depan pintu pula .Jelas ada orang kedua yang baru datang, maka terdengar suaranya lirih bertanya: "Sudah kau kerjakan?"

Pendatang pertama menjawab: "Sedang berlangsung."

Orang yang datang belakangan tertawa lirih: "Dia sudah teracun oleh obat pembuyar Lwekang mereka, tenaganya paling2 tinggal tiga puluh persen, kenapa kau bertindak begini hati2?"

"Tugas yang harus kita laksanakan harus berhasil pantang gagal, mau tidak mau harus hati2," sahut orang pertama, setelah merandek dia balas bertanya: "Urusan di dalam bagaima na, sudah beres?"

Orang yang baru datang menjawab: "Sudah beres semua, orangnyapun sudah kubawa ke mari, obat penawarnya juga sudah kuperoleh, hanya tunggu urusan di sini selesai, kau boleh me mber i obat penawarnya, supaya dia lekas bangun, setelah kau pergi, paling2 mereka curiga bahwa kaulah yang me mbebaskan dia, pasti takkan percaya adanya main tukar menukar yang kita lakukan ini."

Mereka ber-cakap2 dengan suara lirih di luar pintu, tapi Ling Kun- gi jelas mendengar percakapan ini, ia bertambah bingung dan tak habis mengerti.

Siapakah kiranya kedua orang yang berada di luar pintu? orang pertama yang menebarkan asap wangi dari luar pintu, ternyata pelayan yang diharuskan melayapi dirinya di Lan-wan, yaitu Ing jun. Sedang yang datang belakangan adalah pelayan pribadi Hian-ih- lo- sat, yaitu Giok-jin adanya. Dari percakapan ini Ling Kun-gi berkesimpulan, se-olah2 mereka meno long seseorang lalu hendak menukar orang itu dengan dirinya, me mangnya mereka bukan sekomplotan dengan Cin-Cu-ling? Urusan agaknya berkembang semakin ruwet. Supaya tidak mengecutkan pihak sana, Kun-gi berkeputusan untuk mengikuti perke mbangan selanjurnya secara dia m2.

Asap wangi masih tebal me menuhi ka mar tidur, pelan2 pintu kamarnya di dongkel dari luar dan terbuka, yang menerobos masuk lebih dulu adalah Ing-jun. Wajahnya yang biasa molek kini kelihatan agak tegang, langkah kakinya begitu ringan tanpa mengeluar kan suara, waktu dia sampai di depan pembaringan, melihat Kun-gi rebah miring, mata terpejam, jelas sudah terbius. Rasa tegangnya segera berubah senyum kemenangan, pelan2 dia mengulur tangan me mba lik kelopak mata Ling Kun-gi, dengan seksa ma dia me mer iksa sekian la manya.

Sudah tentu Kun-gi diam2 saja tanpa bergerak. terserah apa yang akan dilakukan atas dirinya, tapi terasa olebnya jari2 Ing-jun yang menyentuh mukanya rada gemetar, dia m2 ia geli. Untunglah ia berhasil menge labui Ing jun, gadis itu me mba lik badan serta berkata ke arah pintu: "Bolehlah gotong dia masuk ke mar i."

"Dia?" dia m2 Kun-gi ber-tanya2 dalam hati, entah siapa yang hendak digotong ke mar i?

Maka orang di luar segera bertepuk pelahan dua kali, tapi di ma lam nan sunyi ini kedengaran jelas dan nyaring, jelas Giok jin yang bertepuk tangan-

Cepat sekali kerai tersingkap. dua pelayan baju hijau menggotong seorang masuk ke dalam ka mar, Giok jin menurunkan kerai, cepat iapun berlari masuk.

Dia m2 Kun-gi mengintip. ia melihat orang yang dipapah masuk kedua pelayan ini ternyata adalah ciam liong Cu Bun-hoa yang asli. Kedua matanya terpejam, badannya lunglai jelas iapun jatuh pulas oleh asap wangi yang me mbius. Hal ini betul2 me mbuat Ling Kun-gi kaget dan heran, batinnya "Cu-cengcu menjadi tawanan Hian-ih- lo-sat dan dikurung di paseban sana, mereka menolongnya keluar lalu mengir imnya ke mari, apa sih sebetulnya tujuan mereka?"

Maka didengarnya Ing-jun berkata: "Waktu amat mendesak. Giok-jin cici, kalian harus lekas berangkat." Dari bajunya dia keluarkan segulung kertas putih, katanya sambil diangsurkan: "inilah catatan resep obat yang dibuat oleh ling-hoa ci-ci, (pelayan yang berkuasa di ka mar obat Hiat-ko-cay), tiga kali obat2an yang diambil cu cengcu semua dia catat di sini, simpanlah baik2 dan jangan sampai hilang."

Kembali Kun-gi me mbatin: "Kiranya ling-hoa di ka mar obat itu juga seko mplotan dengan mereka, jadi para gadis cantik mole k yang bekerja di sini agaknya dari ko mplotan lain yang sengaja menyelundup ke mar i."

Giok-jin terima gulungan kertas terus   menyimpannya,   dia me mber i tanda pada kedua pelayan, mereka menurunkan Cu Bun- hoa, terus mengha mpiri pe mbaringan, dengan gerakan terlatih dan cekatan mereka angkat Ling Kun-gi beserta kemulnya. Sementara Ing-jun desak Giok-jin angkat Cu Bun-hoa dan dibaringkan di atas ranjang.

Baru sekarang Kun-gi mengerti. Istilah tukar-menukar yang diperbincangkan tadi kiranya menukar Cu Bun-hoa asli dengan dirinya. Jadi mereka berani berbuat sejauh ini, kiranya juga lantaran dirinya berhasil menawarkan getah beracun itu. Hal ini dapat dibuktikan oleh tiga kali catatan Hing-hoa atas obat2an yang pernah dia mbilnya, catatan itu kini berada di tangan Giok-jin dan akan dibawa keluar. Lalu dengan cara apa pula mereka akan mengangkut keluar dari sini? Hal ini lantas menimbulkan persoalan lain pula dalam benaknya. Yaitu bagaimana dirinya harus bertindak? Terus pura2 semaput, terserah apa yang hendak mereka lakukan atau segera me mbongkar mus lihat mere ka?

Otaknya bekerja cepat sekali, setelah dia timbang antara yang berat dan enteng, dia rasa beberapa gadis pelayan molek pasti adalah pion dari suatu ko mplotan lain yang sengaja diselundupkan ke sini, mereka sudah tersebar luas dan menduduki berbagai posisi di dalam Coat Sin-san-ceng ini. Kalau sekarang dia diam saja, terserah apa yang hendak dilakukan mereka, ke mungkinan bisa bertemu dengan dedengkot mereka, kemungkinan pula bisa sekaligus me mbikin terang asal-usul Cin-Cu-ling.

Mendadak ia teringat pada Cek Seng-jiang yang pernah menyinggung na ma Sam-goan-hwe, mungkinkah gadis mole k ini orang2 dari Sa m-goan-hwe? Maka dia berkeputusan me mbiar kan dirinya digotong entah ke mana, yang terang dia akan "bertamasya" menyerempet bahaya.

Waktu itu Ing-jun sudah keluarkan sebuah karung dari bawah kasur, Giok jin me mbantu dia me mbuka mulut karung, dua pelayan yang lain lantas angkat Kun-gi dan didorong ke dalam karung, mulut karung lalu diikat.

"Kebetulan malah," demikian pikir Kun-gi, "aku diangkut ke mari dalam karung, kini diangkut keluar pula dengan cara yang sa ma."

Setelah mulut karung terikat kencang, dengan kuku jarinya Kun- gi me mbuat lubang kecil di atas karung.

Terdengar Giok-jin berkata: "Kita harus segera berangkat, boleh kau beri minum obat penawar padanya, setelah bangun tentu dia tanya tempat apakah ini? Bagaimana bisa berada di sini? Maka boleh kau katakan padanya bahwa Cu-cengcu yang tinggal di sini yang menolongnya. Dia pasti tanya pula padamu ke manakah Cu- cengcu yang tinggal di sini? Maka katakanlah bahwa setelah meno long dia, Cu-cengcu yang tinggal di sini lantas keluar dan suruh dia bersabar, kalau dia masih mengajukan pertanyaan lain, katakan kau t idak tahu apa2 "

Ing-jun mengangguk sa mbil menjawab: "Ya, Siaumoay ingat." "Baiklah, mari kita berangkat," kata Giok-jin,

"Dengan me mbawa karung, entah cara bagai-mana mereka akan

keluar?" de mikian batin Ling Kun-gi sa mbil mengintip keluar. Tampak Ing- jun dan seorang lagi beranjak ke ujung dipan lalu mengangkatnya ke samping, mereka me nyingkap babut lalu menyongke l keluar dua ubin, ma ka tampa klah sebuah lubang gelap di bawahnya. Ternyata di bawah pembar ingan ada sebuah ja lan rahasia di bawah tanah.

Giok-jin mendahului me lo mpat turun, lalu me mberi tanda kepada kedua pelayan lain, lekas kedua pelayan gotong karung ke depan mulut lubang, seorang me lorot turun ke dalam lubang, ing-jun segera bantu mendorong karung masuk ke lubang itu.

Ternyata lorong bawah tanah ini terlalu sempit, mereka harus berjalan dengan merangkak. jadi karung itu terpaksa harus ditarik dan didorong pelan2 terus me luncur ke depan-

Begitulah Kun-gi telah diselundup keluar oleh mere ka..

Pada mala m itu juga, kira2 kentongan kedua, pada jalanan yang tembus dari Liong- bun- kin menuju ke Say-hong-kiu, muncul serombongan orang, ada pejalan kaki ada pula yang naik kuda, jumlah ada dua puluh orang, duduk di atas kuda yang paling depan adalah seorang berbadan tinggi beralis hitam ber mata cekung, usianya sekitar 50-an, mengenakan jubah biru, sikapnya kelihatan kereng dan sedikit dingin angkuh,

Di belakangnya adalah delapan laki2 kekar berlangkah cekatan, kepala terikat kain biru, pakaian-pun serba biru ketat, golok besar terpanggul dipunggung mereka. Menyusul tiga ekor kuda bagus, yang depan ditunggangi seorang pe muda cakap berjubah sutera biru, di belakangnya adalah dua ekor kuda yang ditunggangi dua gadis rupawan, yang sebelah kanan berperawakan ramping sema mpai, dan mengena kan pakaian ungu ketat berikat pinggang merah. Gadis sebelah kiri bertubuh agak pendek tapi cekatan dan lincah, berpakaian serba coklat.

Di belakang tiga ekor kuda ini adalah sebuah tandu yang dipikul empat laki2. Di belakang tandu diiringi delapan ekor kuda pula, penunggangnya semua berseragam hitam, berikat kepala kain hitam pula, tapi semua penunggangnya adalah perempuan yang menggendong pedang. Usia mere ka rata2 sudah lebih dari e mpat puluh, kantong besar tergantung di pinggang masing2, tangan kiri semua me makai sarung tangan terbuat dari kulit menjangan, selintas pandang sudah je las bahwa mereka ahli mengguna kan senjata beracun.

Rombongan cukup besar ini mene mpuh perjalanan dengan langkah cepat, walau mala m gelap dan sunyi senyap kecuali suara derap kuda, rombongan mereka laksana seekor naga panjang hitam yang menyusur ja lan pegunungan-

Kira2 setengah li mereka keluar dari Liong-bun-kiu, mendadak dari hutan sebelah kiri berkumandang sebuah bentakan: "Langit mencipta bumi merancang."

Laki2 paling depan yang menunggang kuda mendengus keras2, hardiknya: "Wakil langit mengadakan ronda."

Pertanyaan tanpa juntrungnya, jawaban singkat tidak menentu artinya. Tapi wibawa dari jawaban ini sungguh t idak terduga, ma ka tampaklah bayangan orang bergerak. di dalam hutan puluhan laki2 berpakaian hitam berlari2 keluar la lu berbaris rapi di pinggir jalan, mereka berdiri tegak hor mat tanpa bergerak.

Seorang laki2 yang mengepala i barisan ini segera ta mpil ke depan me mber i salam hor mat kepada kakek berjubah biru di atas kuda: "Ha mba Kwe cit- lung t idak tahu bahwa Thian-su telah tiba . ."

Dingin kaku sikap laki2 jubah biru, tiba2 dia me mberi tanda gerakan tangan ke belakang. Delapan Busu di belakangnya serempak mengayun tangan kanan ke udara. Di tengah malam yang gelap pekat itu, kecuali terlihat gerakan tangan mereka, tiada apa2 yang kelihatan lagi, tapi hanya sekejap saja, terdengarlah suara gedebukan yang ra mai diselingi percikan api warna biru di depan hutan, kembang api hanya berpercik sekilas lenyap. tapi puluhan laki2 yang berbaris rapi di depan hutan di pinggir ja lan itu satu persatu sama terjungkal roboh tanpa mengeluarkan keluhan apa2.

Kakek berjubah biru itu tidak hiraukan lagi mati hidup mereka, ke mbali ia me mberi tanda ke belakang, lalu keprak kudanya kedepan- Kedelapan Busu seragam biru dibelakangnya serempa k juga me mberi ulapan tangan ke belakang, mereka juga keprak kuda mengikuti langkah kakek, jubah biru.

Begitulah ro mbongan mereka laksana seekor naga hitam yang me lingkar2 mene mpuh perjalanan dijalan pegunungan yang turun naik berputar kian ke mar i.Jarak antara Liong-bun-kin dengan Say- hong kiu kira2 ada 20 an li, sepanjang jalan beruntun mereka dicegat tujuh-delapan pos penjagaan, tapi semuanya dengan mudah dibereskan oleh kedelapan Busu seragam biru, semuanya roboh binasa tersapu oleh percikan kembang api warna biru yang ganas, sampaipun mayat dan tulang belulang merekapun lenyap menjadi cairan darah. Maka dengan leluasa rombo ngan ini terus maju menuju ke Say-hong-kiu.

Tampak dari kejauhan sebuah perkampungan besar berdiri di kaki sebuah gunung yang terletak di sebelah utara, perkampungan ini berada di tanah datar yang dikelilingi gunung. Malam pekat, tak terlihat setitik sinar api, tak terdengar gerakan apa2 pula dari perkampungan besar itu.

Besar perhatian si kakek jubah biru yang berada di atas kudanya terhadap perkampungan di depan sana, tiba2 ia angkat tangan ke balakang, itu tanda barisan di belakang harus berhenti, tanpa bersuara rombongan lantas berhenti di depan hutan.

Gadis lincah baju cokelat yang duduk di kuda sebelah kiri segera keprak kudanya ke depan, tanyanya pada kakek jubah biru: "Pa- congkoan, bagaimana keadaannya?"

Si kakek berjubah biru menggeleng dan berkala, "Tiada apa2, cuma gelagatnya jejak kita sudah diketahui mere ka, la mpu dalam perkampungan dipada mkan se mua, tidak menunjuk gerakan apa2 lagi, jelas mereka sudah bersiap menyambut kedatangan kita."

Nona baju ungu juga keprak kudanya ke depan, katanya sambil mencibir bibir: "Me mangnya kenapa kalau sudah bersiap2. Kita toh tidak akan main sergap. hayolah hadapilah secara terang2an saja." Tengah bicara tandu yang di belakang, itupun tiba di depan hutan, terdengar suara serak nyonya tua berkata dari dalam tandu: "Pa congkoan, kenapa berhenti di sini?"

Ter-sipu2 kakek, jubah biru menjura di atas kudanya, sahutnya: "Maklum Hujin, di dalam perka mpungan t iada na mpak sinar api, mungkin mereka sudah ber-siap2, ha mba kira kita jangan bergerak secara serampangan."

Nona baju ungu segera bicara, "Bu, kita kan hendak berhadapan secara terang2an, tunggu apa lagi?"

Pemuda yang berjubah sutera tertawa, katanya: "Watak adik me mang berangasan, meski kita akan berhadapan terang2an, paling tidak harus tahu dulu gelagat dan keadaan mereka."

Nyonya tua dalam tandu tersenyum, katanya: "Kedua budak ini me mang t idak sabaran, setiba di tempat tujuan, mana mereka ma u menunggu lagi? Pa-congkoan-, sampaikan kartu na maku, suruhlah majikan mere ka keluar mene muiku."

Kakek jubah biru mengia kan, segera dia keprak kudanya ke depan- Delapan Busu di belakangnya serempak juga me mbeda l kuda masing2 me ngikuti langkahnya. Sembilan kuda sa ma-2 berderap ramai, mereka me lewati lapangan rumput terus menuju ke depan perka mpungan, ketika Kakek jubah biru tarik tali kendali, kuda tunggangannya yang me mang pilihan dan terlatih baik segera berhenti tak bergerak lagi. Delapan Busu pengiringnya juga segera menghentikan kuda mereka serta melo mpat turun berdiri berbaris di belakang Kakek jubah biru.

Malam gelap dan sunyi senyap. sudah tentu derap kesembilan kuda itu menerbitkan suara yang gaduh dan ramai, uaranya berkumandang sampa i beberapa li jauhnya, setiba di depan perkampungan serentak berhenti maka keheningan kembah mence kam alam nan gelap gulita ini.

Seyogyanya penghuni perka mpungan ini mendengar kedatangan kuda2 yang ramai ini, tapi suasana tetap sepi tak kelihatan reaksi apa2. Berkilat biji mata Kakek jubah biru, dia terkekeh dingin, katanya sambil angkat tangan kiri: "Maju dan ketok pintu."

Seorang di antara ke delapan Busu mengiakan dan ta mpil ke depan, dengan keras dia gebrakan gelang tembaga di atas pintu sambil berteriak keras2 "Hai, ada orang tidak di dala m?"

Sesaat lamanya baru terdengar suara serak lemah bertanya di dalam: "Siapa di luar? Tengah ma lam buta ma in gedor segala?" Suara orang ini seperti acuh tak acuh dan kemalas2an, pelan2 dia buka palang pintu serta menarik daun pintu, tampak seorang laki2 tua bungkuk, tangan menenteng sebuah la mpu dan diangkat tinggi ke atas.

Sinar la mpu me nyoroti Kakek jubah biru yang bertengger di atas kudanya, demikian pula kedelapan Busu di belakang si tua bungkuk tampak bergidik, serunya gelagapan: "Toa . . . . . Toaya kalian

ada ........ ada keperluan apa, aku si tua reyot .... ..hanya penjaga pintu belaka."

Ternyata dia kira kawanan penunggang kuda ini adalah perampok.

Tajam sinar mata Kakek jubah biru menatap si tua bungkuk, katanya menyeringai dingin: "Tua bangka, lekas laporkan, katakan Tong-lohujin dari keluarga Tong di Sujwan minta berte mu majikan- "

Ternyata orang yang naik tandu itu adalah Tong-lohujin, yang mengiring kedatangannya ada Tong Siau-khing dan Tong Bun- khing kakak beradik, demikian pula Pui Ji-ping yang me mbawa mereka ke mari. Sementara kakek tua jubah biru adalah congkoan keluarga Tong, yaitu Pa Thian-gi.

Si tua kucek2 matanya, katanya sambil meng-geleng: "Toaya mungkin kesasar atau salah ala mat, tempat ini hanya rumah istirahat cengcu kami, biasanya cengcu tinggal di kota, perkampungan ini sekarang kosong tanpa penghuni, kecuali aku si tua bangka ini, tiada orang lain-" Sejenak Pa Thian-gi me lenggong, melihat punggung orang yang bungkuk serta gerak-geriknya yang le mah me mang mirip seorang tidak mahir silat, ma ka dia bertanya: "Siapa she cengcumu itu?"

"cengcu ka mi she Cek." sahut si tua bungkuk. "Siapa na manya?" tanya Pa Thian-gi.

"Beliau bernama Seng-jiang, seorang Wang we (hartawan) di dusun ini, sudah cukup bukan?" Ha-bis bicara, tanpa menunggu jawaban Pa Thian-gi, dia putar tubuh terus gabrukan daun pintu dengan keras. Mungkin hatinya dongkol sehingga si tua bungkuk ini lupa diri, gerakan kakinya tampak gesit dan cekatan-

Sebagai congkoan keluarga Tong, betapa tajam pandangan Pa Thian-gi, walau hanya sedikit gerakan yang tak berarti, namun tak lepas dari penglihatannya. Seketika mencorong biji matanya, bentaknya dengan suara keras: "Nanti dulu, tua bangka h " Tapi

si tua bungkuk sudah tutup pintu, tidak pedulikan seruannya lagi.

Lenyap kumandang bentakan pa Thian-gi, mendadak terdengar gelak tawa seorang yang keras seperti gembreng ditabuh. "Sudah la ma Lohu dengar na ma besar keluarga Tong yang terkenal, kalian sudah ke mari, biar Lohu moho n pengajaran dari kalian." Suaranya keras bergema, kuping sa mpai me ndengung:

Lekas Pui Ji-ping lari mende kati tandu, katanya lirih. "Bu, itulah Thong-pi-thian-ang, "

Ramah suara Tang- lohujin di dalam tandu, katanya tertawa: "Nak, tiada urusanmu, mereka bisa me mbereskan dia." Bahwa keluarga Tong berani me luruk kesarang harimau, sudah tentu mereka telah siap tempur.

Dari sebuah jalan kecil di sebelah kiri sana muncul seorang gede berjubah kuning kela m, wajahnya yang kelam na mpak mengkilap. dia me mang La m- kiang- it-ki Thong-pi-thian-ong adanya. Di belakangnya muncul pula enam laki2 seragam hita m, dengan kerudung kepala hitam pula. Thong-pi-thian-ong me ma kai sepasang teklek yang terbuat dari tembaga, tapi langkahnya tetap enteng dan cepat, keenam orang di belakangnya ternyata juga me miliki kepandaian tinggi, mereka ikut ketat di belakang Thong- pi-thian-ong, selangkah-pun tidak ketinggalan-

Maklumlah La m- kiang it ki, si aneh dari daerah selatan berjuluk raja langit berlengan tembaga ini biasanya malang melintang di daerah selatan, betapa tinggi taraf kepandaian silatnya jarang ada tandingannya di kalangan Kangouw. Tapi e mpat di antara enam laki2 baju hitam di belakangnya jelas me miliki kepandaian yang tidak lebih rendah dari taraf kepandaian Thong- pi-thian-ong. Hal ini dapat dibuktikan dari gerak-gerik mere ka.

Bahwa Pa Thian-gi diangkat sebagai cong-koan keluarga Tong, sudah tentu dia me miliki pengala man dan pengetahuan yang cukup luas, dia m2 ia kaget. namun tidak gentar, lekas dia me mber i tanda ke belakang. . kedelapan Busu dibelakangnya segera tarik tali kendali kuda masing2 terus berpencar menga mbil posisi suatu barisan.

Kejadian berlangsung hanya sekejap saja, wak-tu Thong-pi thian- ong muncul, jaraknya masih sekitar 10 an tombak, tapi baru saja Pa Thian-gi me mberi tanda kebelakang, tahu2 orang sudah berada di depan Pa Thian-gi, terdengar suaranya keras bergenta: "Kau pernah apa dengan keluarga Tong di Sujwan?"

Pa Thian-gi me mberi hor mat, katanya. "cay-he Pa Thian gi, pejabat congkoan keluarga Tong, entah siapa nama julukan tuan?" Sudah tahu tapi dia sengaja bertanya.

Tong pi-thian-ong terbahak, katanya: "Sebagai congkoan keluarga Tong, masakah siapa aku kau tidak tahu?"

Pa Thian-gi menjura pula, katanya setengah mengejek: "cayhe me mang kurang pengala man?"

Mendelik bundar mata Thong-pi-thian-ong, teriaknya gusar: "Aku Thong Ji-hay berjuluk Thong-pi-thian-ong, di mana Lohujin kalian, suruh dia ke mari menjawab pertanyaanku." Pa Thian-gi pura2 kaget, serunya: "o, kiranya Thong-toaya, maaf cayhe kurang hor mat, Lohujin ada di luar hutan, biar cayhe segera lapor kepada beliau."

Terdengar suara Tong lohujin berkata di kejauhan "Tak usahlah, undanglah Thong Ji hay ke- mari saja."

Maka Pa Thian-gi me mbungkuk, katanya: "Lo-hujin mengundang Thong-thian-ong."

Bagai kemilau obor sorot mata Thong-pi-thian-ong, sekilas dia menyapu pandang kedelapan Busu yang terpencar itu, dari kedudukan mereka terang sudah mengatur barisan Pat-kwa, wajahnya yang kelam mengkilap me na mpilkan senyum hina, kata- nya tertawa ejek: "Barisan seperti ini juga berani dipamerkan, me mangnya ma mpu mengurung Lohu?"

"Thong-thian ong tidak pandang barisan ini dengan sebelah mata, boleh silakan masuk saja ke dala mnya," tantang Pa Thian-gi.

"Masuk ya masuk-" jengek Thong-pi-thian-ong, "Lohu ingin buktikan kalian dapat berbuat apa atas diriku?" Dengan langkah lebar segera dia beranjak ke depan sudah tentu enam orang di belakangnya serempak ikut me langkah maju pula.

Terkulum senyuman riang pada wajah Pa Thian-gi, dia putar kudanya ikut di belakang mereka. Ke delapan Busu tadi mendadak saling berlompatan, golok terhunus, mereka berdiri tegak di atas pelana kuda. Kuda mereka me mang sudah terlatih baik, tanpa dikendalikan, posisi barisan tetap tidak berubah, pelan mereka merubung maju dari jarak beberapa tombak mengikuti langkah Thong-pi thian-ong.

Sementara itu, delapan perempuan yang ber-gelung kain yang semula berjajar di belakang tandu sekarang juga keprak kudanya berpencar mengelilingi tandu. Seperti delapan Busu laki2, merekapun menga mbil posisi berpencar, dalam jarak tiga to mbak. berkeliling mengatur barisan Pat-kwa-tin dan siap menghadapi segala ke mungkinan. Sa ma2 Pat-kwa-tin, cuma barisan kaum perempuan lebih kecil dari kedelapan Busu pria, jadi barisan kedelapan Busu perempuan berada dilingkaran dala m, sedang barisan kedelapan Busu pria berada di kalangan luar. Maka terciptalah barisan Pat- kwa lapis dua.

Thong-pi-thian-ong terlalu takabur, tiada musuh berarti yang terpandang olehnya, sudah tentu musuh2 di depan ini dianggapnya tidak berarti. Dengan langkah lebar dia mengha mpiri, enam orang baju hitam di belakangnya mengikuti dengan ketat. tatkala mereka me masuki lingkaran Pat-kwa-tin kecil, tandu itu tiba2 terangkat ke atas, dari sebelah kiri muncul seekor kuda, penunggangnya pemuda berjubah sutera biru, itulah Tong Siau- khing yang menyoreng pedang.

Keadaan sudah memuncak tegang, tak terduga tiba2 Thong-pi thian-ong bertujuh sama2 tersungkur roboh tanpa bersuara. Dari dalam tandu terdengar Tong- lohujin berkata: "Pa congkoan, lekas beri obat penawar kepada mere ka, ingat, jiwa harus dipertahankan." Lalu dia berpesan kepada delapan Busu pere mpuan: "Sekarang kalian yang me mbuka jalan, tak peduli siapa saja yang kesamplo k dengan kalian, bikin mereka roboh keracunan-"

Sementara itu, Pa Thian-gi sudah suruh kedelapan Busu pria menggusur Thong-pi-thian-ong bertujuh.

Kedelapan Busu pere mpuan segera keprak kuda mere ka menerjang ke depan pintu gerbang perkam-pungan besar. Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping mengir ing di sa mping tandu, mereka berhenti di depan pintu gerbang.

Delapan Busu pere mpuan sudah lo mpat turun dan berdiri di undakan, lekas Tong Siau-khing, Tong Bun-khing dan Pui Ji-ping juga melo mpat turun-

Dua pelayan yang mengikuti tandu segera maju menyingkap kerai tandu, dengan berpegang tongkat berkepala burung Hong warna emas Tong-lo-hujin me langkah keluar, katanya sambil menuding, dengan tongkat: "Gempur pintu, tak perlu kita sungkan lagi terhadap mereka." Begitu perintah dikeluarkan, tampak seorang Busu pere mpuan paling depan lantas mengayun tangan, dari telapak tangannya me luncur setitik bayangan hitam langsung menerjang daun pintu gerbang yang keras dan tebal berpaku baja.

"Blang," terjadilah ledakan keras, di tengah ledakan dan percikan api serta ber-gulung2nya asap dan debu, daun pintu gerbang yang kokoh kuat itu hancur ber- keping2.

Pui Ji-ping melelet kaget, katanya heran: "Bun-khing cici, senjata rahasia apakah itu? Begitu hebat kekuatannya."

"Entahlah," sahut Tong Bun-khing, "aku juga tidak tahu."

Dengan tersenyum Tong- lohujin berkata: "Itu-lah Pik-lik-cu ciptaan Hwe-sin (malaikat api) Lo Hoan, dulu dia terkena senjata rahasia musuh yang beracun, untung bersua dengan ayah Siau- khing ma ka jiwanya tertolong, dia me mberi delapan butir granat tangan (Pik- lik-cu) itu, tak kira hari ini kita bisa menggunakannya." Habis berkata segera dia me mberi aba2: "Hayo kita masuk"

Delapan Busu pere mpuan sudah melo los pedang mereka yang ke milau tajam dan berpencar menjadi dua barisan, mereka mendahului menerjang masuk pintu. Dua pelayan perempuan menenteng la mplion me mbuka jalan di depan Tong- lohujin yang me megang tongkat kepala burung Hong, Siau-khing, Bun- khing dan Pui Ji ping meng- iringi di sebelah belakang.

Tiba di pintu kedua, ta mpak si tua bungkuk tadi sa mbil menenteng la mpion berlari2 keluar dengan napas ngos2an, teriaknya marah2: "Kalian ini me mangnya mau berbuat apa?"

Busu pere mpuan paling depan segera me mbentak: "Minggir" Tangan kiri segera terayun ke depan.

Si tua bungkuk ini jalannya tampak se mpoyongan, sudah reyot dan loyo, tapi melihat tangan yang menyerang ini mengena kan sarung tangan kulit menjangan, seketika mendelik kaget dan berubah air mukanya, sebat sekali dia me lejit mundur. Gerakan refleks ini justru me mbongkar kepura2annya, bukan saja dia pandai silat, malah tarap kepandaiannya cukup tinggi, Tapi dia hanya me lejit mundur tujuh kaki, tahu2 iapun roboh terkapar tak bangun lagi.

Maklumlah, Thong-pi-thian-ong yang berkepandaian setinggi itupun tahu2 roboh tanpa suara, betapapun tinggi kepandaian si tua bungkuk ini takkan lebih tinggi daripada si gede itu.

Kiranya keluarga Tong kali ini sudah bersiap dengan segala bekal ke ma mpuannya untuk me luruk ke mari, Tong-bun-bu-sing-san warisan keluarga Tong sudah ratusan tahun sejak nenek moyang mereka tak pernah digunakan di Kangouw, hari ini telah menunjukkan kehebatannya. Bu-sing-san merupakan obat beracun paling ganas milik keluarga Tong, puyer ini tanpa warna tidak berbentuk, kena angin lantas sirna, tidak berbau lagi, dalam jarak setombak. siapa saja asal mencium puyer racun ini pasti terjungkal semaput, dalam jangka se masakan nasi, kalau tidak diberi obat, korban akan mat i keracunan-

Me masuki pintu kedua, mereka tiba di sebuah halaman yang luas, sebelah depan adalah sebuah bangsal besar. Apa yang dikatakan si tua bungkuk tadi me mang tidak bohong, perkampungan sebesar ini, ternyata keadaan sepi lengang, tak tampak bayangan seorangpun.

Tangan kanan pegang pedang, se mentara tangan kiri Pui Ji- ping me megang panah jepretannya dara langsung berlari ke dalam sana, Tong Bun- khing tidak mau ketinggalan, bersama Ji-ping iapun menerjang ke dala m. Kuatir kedua gadis ini mengala mi bahaya, lekas Tong Siau-khing menyusul masuk.

Diiringi pelayan pribadinya yang menenteng lampion, pelan2 Tong-lohujin masuk ke bangsat besar itu, alisnya bertaut kencang, katanya: "Kalian budak kasar ini, jangan kira tempat ini seperti rumah sendiri, tanpa siaga main terjang, kalau ada perangkap di sini, jiwa kalian pasti terancam. "

Ji-ping cekikikan, katanya nakal: "Kau tak usah kuatir Bu, kalau ada musuh di sini, tentu sejak tadi sudah kubereskan mereka." Tengah bicara, Pa Thian-gi buru2 masuk. dan berkata kepada Tong-lohujin- "Lapor Lohujin, tujuh orang yang kita tawan, semuanya bukan musuh."

"Bukan musuh, me mangnya siapa mereka?" tanya Tong-lohujin, "Kecuali Thong-pi thian-ong, enam orang berkerudung itu  di

antaranya ada Lo-cit "

"Lo cit?" seru Tong- Lohujin, "ma ksudmu di- antara enam orang itu ada juga Lo-cit? Lalu siapa kelima orang yang lain?"

"Yang ha mba kenal adalah Kim Ting Kim Kay-thay, ciangbunjin mur id2 pre man Siau-lim-pay, Un It-kiau orang kedua dari keluarga Un di Ling- la m, Kim-hoan siang- coat Siau Hong-kang, Locengcu dari keluarga siau di La m-s iang, mas ih ada dua pemuda, mungkin anak murid mereka."

Terkesiap Tong-lohujin, katanya gemas: "Jahat betul akal keji mereka, jelas mereka menggunakan para tawanan untuk mengge mpur kita sehingga orang sendiri saling bunuh me mbunuh, untunglah telah kita gagalkan ma ksud keji ini." Lalu ia bertanya: "Mana mereka? Apakah se mua sudah siuman?"

"Belum," sahut Pa Thian-gi, "agaknya mereka terbius oleh semaca m obat2an sehingga kesadaran mereka terpengaruh, kawan atau lawan tak terbeda lagi, sampai sekarang mereka belum sadar seluruhnya "

"Ya, sementara ini biarlah mereka dalam keadaan kurang sadar saja." ujar Tong -lohujin "Pa-congkoan, bawa saja mereka ke bangsal ini, kita harus geledah dulu perka mpungan besar ini."

Pa Thian-gi mengia kan, segera dia pimpin ke delapan Busu pria menggotong Thong-pi-thian-ong bertujuh ke sini. Kerudung hitam mereka sudah di-tanggalkan- Pui Ji-ping kenal satu di antaranya, yaitu pemuda berpakaian ketat warna hijau, yaitu putera Kiam- hoan-siang-coat Siau Hong- kang yang bernama Kim-hoan- liok-long Siau Kijing. Tong-lohujin berpesan kepada Pa Thian-gi dan enam Busu perempuan "Kalian berpencar dan adakan pemer iksaan, siapa saja yang kesamplo k boleh kalian turun tangan lebih dulu, kalau mene mukan apa2 hendaklah me mberi tanda suitan, lekas kerjakan"

Pa Thian-gi mengiakan, kedelapan Busu pere mpuan ini biasanya bertugas dibagian belakang, jadi tidak di bawah pimpinannya, maka dia menjura kepada mereka, katanya: "Kita berpencar dari kiri dan kanan saja, kami bergerak dari kiri, silakan Han-koh bergerak dari kanan, kita bertemu di belakang."

Han-koh adalah pe mimpin ke delapan Busu pere mpuan, dia manggut2, katanya: "Petunjuk Pa-congkoan me mang tepat, baiklah kita bekerja menurut petunjukmu." - Maka dua rombongan orang ini segera mela kukan tugas masing2.

Setelah orang banyak keluar, dia m2 Tong Bun- khing me mberi kedipan mata kepada Pui Ji-ping serta angkat dagu ke arah ibunya Ji ping manggut2, dia tahu maksud orang, katanya sambil mende kati Tong- lohujin- "Bu, bersa ma Bun- khing cici biarlah kami juga me meriksa di luar."

"Kalian dua budak ini me mang suka bertingkah, kita datang terang2an,   kini   menduduki   bangsal    ini,    musuh    tetap menye mbunyikan diri tanpa menunjuk reaksi apa2, bahwa mereka ma mpu me mbekuk tokoh2 kosen itu, tentu bukan se mbarang manus ia, belum tentu mereka gentar terhadap kita, sekarang kita di tempat terang, maka jangan kalian mencar i kesulitan-" Lalu dia tuding keluar serta mena mbahkan: "Lihatlah, seorang diri Toakomu berjaga2 di sana, lekaslah kalian bantu dia saja."

"Eh, me mang begitulah ma ksud ka mi," kata Ji-ping ale man-

Belum habis mere ka bercakap. Tong Siau-khing yang berdiri di undakan mendadak menghardik. "Siapa itu?"

Tong Bun-khing tarik tangan Ji-ping, serunya: "Dik, lekas keluar." cepat mereka berkelebat ke luar sana. Terdengar sabda Buddha berkumandang di luar pintu kedua. Maka muncullah tiga pederi tua berjubah abu2, me megang tongkat besi besar, dengan langkah lebar mere ka me masuki pintu kedua.

Mata Ji-ping cukup jeli, selintas dia sudah kenal satu di antara ketiga paderi yang berjalan ditengah, bertubuh kurus pendek adalah Ling-san Taysu, kepala Bun-cu-wan Siau-lim-s i yang pernah ber-sua di Liong- bun-kiu tempo hari, dengan girang segera dia berseru, "Tong- toako, mereka adalah para paderi agung Siau-lim."

Menyusul di belakang ketiga paderi adalah sebarisan panjang para paderi siau-lim-s i yang mengena kan sepatu rumput. semuanya me megang pentung besi atau golok besar, dengan langkah lebar dan rapi masuk ke dala m.

Melihat Ji-ping, lekas Ling-san Taysu merangkap tangan, katanya: "Omitohud, Li sicu sudah ber-ada di sini, tentunya Tong- lohujin juga sudah tiba?"

Tong Siau-khing me mber i hor mat, katanya: "Wanpwe Tong Siau- khing, ibu berada di bangsal sana, silakan masuk para Taysu."

"o, kiranya Tong-siaucengcu," kata Ling-san Taysu, "Pinceng Ling-san, pejabat ketua Bun-cu-wan di Siau-lim-s i."

Lalu dia perkenalkan Hwesio berbadan besar di sebelah kiri yaitu Poh-san Taysu kepala dari Lo-han-tong Hwesio berperawakan sedang di sebelah kanan ialah Tin-san Taysu, ketua Tat- mo wan.

Tong Siau-khing menjura berulang kali, lalu dia ir ingi ketiga paderi tua itu memasuki bangsal itu. Mendengar tiga paderi agung Siau-lim-si juga datang, lekas Tong- lohujin keluar menya mbutnya, kini giliran Tong Siau- khing yang perkenalkan ke-tiga Hwesio sakti itu kepada ibunya.

Tengah bicara, dari luar ta mpa k masuk seorang laki2 tua kecil berbaju lengan panjang warna hijau bercelana kencang, sepatu tinggi, pipa cang-klong tergantung di pinggangnya, di belakangnya ikut tiga laki2 kekar berbaju hijau pula. Begitu dekat laki2 tua baju hijau lantas menjura kepada Ling-san Taysu, katanya: "Siaute su-dah periksa sekeliling sini, perkampungan ini di bangun me mbe lakangi gunung, paling belakang adalah sebuah pagar tembok tinggi lima tomba k, di sana agak luar biasa, di luar tembok ma lah di tumbuhi se mak2 berduri yang subur dan lebat, orang tak mungkin bisa mende kat, kecuali itu tiada tanda lain yang mencur igakan, tiada pos penjagaan yang dipasang secara rahasia."

Ling-san Taysu manggut2, katanya: "Malam itu dengan mata Lolap sendiri menyaks ikan pere mpuan yang mena makan dirinya Thian-su me mbawa Thong- pi-thian-ong dan lain2 masuk ke perkampungan ini . . . . " sa mpai di sini dia merandek lalu berkata pula: "oh Sute, mari kuperkenalkan, inilah Tong-lo hujin dari keluarga Tong di Sujwan." Lalu dia berkata juga kepada Tong- "lohujin- Inilah suteku Oh Siok-ha m te man2 Bu-lim sa ma menjulukinya To-pi-wan (lutung banyak lengan)."

Tong-lohujin tertawa, katanya: "Sudah lama kudengar na ma besar oh-tayhiap. beruntung mala m ini bisa berte mu"

Lekas oh Siok ham menjawab: "Tidak berani. sudah sekian tahun aku tidak berkecimpung lagi di Kangouw."

Poh-san Taysu, ketua Lo-han-tong menimbrung: "Sepanjang jalan me masuki perka mpungan ini apakah Lohujin t idak me ngalami rintangan dan sergapan?

Kata Tong lohujin dengan tersenyum: "Dari Liong-bun- kiu me mang beberapa kali pernah bertemu dengan penjaga2 gelap. setelah tanya jawab berlangsung, semuanya dibereskan oleh Pa- congkoan, tapi setelah tiba di sini, mendadak muncul Thong-pi- thian-ong me mbawa enam cs yang berkerudung, terpaksa mereka kurobohkan, akhirnya baru diketahui bahwa enam orang berkerudung itu adalah orang2 kita sendiri, di antaranya ada Locit dari keluarga kami, Kim Ting Kim-loyacu dari Siau- lim kalian dan lain2." Dia m2 terkejut Ling-san Taysu bahwa tokoh2 ternama itu kini menjadi tawanan Tong- lohujin, katanya: "Keluarga Tong di Sujwan me mang kena maan dengan obat beracun, bahwa Kim-sute dan lain2 dapat ditundukkan, tentunya terkena senjata rahasia beracun kalian-"

Bergetar badan oh Siok-ha m, tanyanya: "Di mana mereka sekarang?"

Maklumlah Kim Ting Kim Kay thay adalah ciangbunjin murid2 preman Siau-lim-pay, bahwa sekarang dia menjadi tawanan Tong- lohujin, hal ini menurunkan derajat dan pa mor pihak Siau-lim-pay.

Tong-lohujin tertawa ramah, katanya sambil menuding ke bawah dinding sebelah barat, "Mereka rebah semua dilantai sana, cuma sekarang jangan kita mengganggu mereka."

"Kenapa?" tanya oh Siok- ha m.

"Agaknya pikiran mere ka terpengaruh oleh se maca m obat bius, tidak bisa me mbedakan kawan atau lawan, agaknya musuh me mang sengaja mengatur mus lihat keji ini supaya pihak kita saling baku hantam sendiri, oleh karena itu terpaksa ku-turun tangan merobohkan mereka, sementara mereka mas ih harus istirahat, tapi oh-tayhiap tidak usah kuatir, dalam menggunakan racun sudah ku- perhitungkan mere ka tidak akan celaka karenanya."

"Siancay Siancay" sabda Ling san Taysu. "Malam itu Lolap sakslkan sendiri dalam beberapa kejap saja tahu2 Cu-cengcu sudah kena dikerjai oleh pere mpuan yang dipanggil Thian-su itu, tentunya kesadarannya juga telah terpengaruh, golongan kalian ahli dalam menggunakan racun, apakah punya   obat   penawar   untuk menye mbuhkan orang2 yang kehilangan kesadarannya itu?"

"Harap Taysu tahu, setiap aliran punya cara tersendiri dalam menggunakan obat pelenyap kesadaran orang, kalau salah pakai obat penawar, malah bisa menimbulkan bahaya bagi sang korban, kalau tidak diadakan pe meriksaan seksa ma, sukar ditentukan kadar racun apa yang mereka gunakan, oleh karena itu sementara kubiarkan mereka jatuh pulas dulu." Tiba2 derap langkah ra mai me ndatangi. cong-koan Pa Thian-gi tampak masuk- me lihat banyak tamu2 Hwesio di dala m, sekilas dia me lengak heran-

"Pa- congkoan," tanya Tong-lohujin, "bagaimana hasil pemeriksaanmu? Apa betul gedung sebesar ini tanpa penghuni?"

Pa Thian gi menjura, katanya: "Lapor Lohujin, perka mpungan ini terdiri dari empat lapis bangunan, bersama IHan koh hamba mengadakan pe meriksaan, di mana2 debu bertumpuk tebal, agaknya me mang sudah la ma tidak dite mpati orang."

Belum Tong lohujin bicara, Ling san Taysu sudah mengerut alis, selanya: "Kukira tak mungkin? Tiga hari yang lalu Lolap menguntit rombongan pere mpuan itu naik tandu masuk ke perka mpungann ini. sarang mereka jelas di perkampungan ini "

Belum habis dia bicara, mendadak kupingnya mendengar suara lir ih seperti bunyi nya muk me mbentak: "Hwesio cilik, sa mbutlah."

"Serrr", serangkum angin kencang t iba2 menerjang tengkuknya.

Keruan Ling-san kaget, lekas dia menunduk mir ing seraya ulur tangan menyambut ke belakang Me mang tangannya berhasil menangkap sesuatu tapi dorongan tenaga besar itu me mbuat berdirinya menjadi goyah, tanpa kuasa dia terdorong maju dua langkah.

Ternyata ada orang menggunakan Thoan- im-jip-bit bicara padanya, kecuali Ling-san Taysu sendiri orang lain tidak mendengar, samberan angin kencang itupun bagai kilat, Poh-san dan Tin-san Taysu yang berdiri di sa mpingpun tidak merasakan apa-apa. .

Semua hadirin hanya melihat mendada k Ling-san Taysu menunduk miring seraya ulur tangan meraup ke belakang, lalu sempoyongan ke depan. Keruan yang paling kaget adalah Poh-san Taysu dan Tin-san Taysu, tanpa berjanji mereka bertanya kuatir "Kenapa Suheng?"

Kejadian berlangsung a mat cepat, sementara Ling-san Taysu sudah berdiri tegak pula, didapati-nya yang berada di telapak tangannya hanya segulung kertas kecil sebesar kacang tanah, keruan hati-nya bertambah kejut.

Maklumlah Ling-san Taysu adalah jago kosen Siau-lim-pay yang me miliki kepandaian tinggi, bahwa orang itu hanya menimpukkan gulungan kertas sekecil itu, tapi Ling-san Taysu sampa i terdorong sempoyongan, betapa tinggi Lwekang penim- puk itu sungguh sangat mengejutkan-

Ling-san Taysu sekarang sudah berusia 70 lebih, di Siau-lim-si dia adalah seorang Tianglo yang amat dihormati, tapi orang itu ternyata me manggilnya "Hwesio cilik."

Betapapun dia seorang paderi sakti yang saleh, mendadak berkelebat suatu pikiran dalam benaknya bahwa orang itu pasti seorang cianpwe yang kosen, gulungan kertas yang ditimpukkan kepada dirinya pasti me mbawa pesan atau petunjuk yang amat berharga. Maka tanpa menghiraukan pertanyaan pada Sutenya, dengan laku hormat dan khit mad dia putar badan serta me mbungkuk ke arah datangnya gulungan kertas tadi.

Melihat kelakuan Suhengnya yang aneh itu, Poh-san dan Tin-san Taysu hanya mengawasi saju dan tidak mengajukan pertanyaan lagi.

setelah me mberi hor mat baru Ling-san Tay-su keluarkan gulungan kertas di telapak tangannya, kertas itu hanya sebesar kuku jari, dengan arang kertas secuil itu tertulis sebaris huruf- kecil yang berbunyi: "Masuk ruang berhala lapis e mpat, dorong patung pemujaan-"

Hanya sekilas me mbaca Ling-san Taysu lantas manggut2, lalu dia bertanya kepada Pa Thian-gi: "Barusan Pa cong-koan bilang perkampungan ini terdiri dari e mpat lapis bangunan, apakah lapis keempat paling belakang itu adalah sebuah ruang berhala?"

"Betul, me mang di gedung lapis kee mpat ada ruang pe mujaan," sahut Pa Thian-gi. Ling-san Taysu tersenyum, katanya: "Tidak salah lagi, sarang rahasia dari komplotan Cin-Cu-ling itu pasti berada di dalam ruang berhala itu?"

Kaget dan heran oh Siok-ha m, tanyanya:

"Darimana Suheng tahu?"

Ling-san Taysu keluarkan gulungan kertas itu dan diperlihatkan kepada orang banyak, lalu men-jelas kan kejadian barusan dengan suara lirih, Sudah tentu orang yang memanggilnya "Hwesio cilik" tidak diceritakannya.

"Ada orang kosen me mberi petunjuk secara dia m2 kepada kita, hayolah jangan kita bekerja la mbat2, kita masuk bersa ma mendobra knya," ajak Tong- lohujin-

Ling-san Taysu berkata: "Kim-sute dan la in2 masih belum siuman, perlu ada orang jaga di sini, oh-sute, kau bersama The Si- kiat bertiga tinggal saja di sini.."

Tong-lohujin juga perintahkan Pa Thian-gi bersa ma kedelapan Busu seragam biru tinggal di bangsal ini.

Maka dibawah petunjuk Han-koh be ra mai2 orang banyak lantas menuju ke belakang. Bangunan lapis kee mpat merupakan lapisan terakhir pula. Pohon2 tua tinggi besar tersebar di pekarangan belakang, orang akan merasa dingin dan seram di te mpat yang le mbab ini.

Setelah menyusuri hala man yang penuh lumut hijau, mereka terus naik keundakan langsung me masuki sebuah ruangan besar dan luas, tepat di tengah ruangan memang terdapat sebuah patung pemujaan, yang dipuja di sini adalah mala ikat ber-tenaga raksasa.

Delapan Busu pere mpuan me langkah masuk lebih dulu terus berjajar di dua sisi, Tong- lohujin beriring dengan Ling-san Taysu dan lain2 ikut masuk. Ketua Lo-han-tong Poh-san Taysu jalan pa- ling belakang, dia me mberi tanda kepada 18 muridnya untuk bersiaga di luar pekarangan. Ling-san Taysu maju beberapa langkah lebih dekat dan me mberi hormat ke arah patung pe mujaan, lalu dia mundur ke mba li. Sementara Tin-san Taysu juga maju me ndorong patung pe mujaan- Tapi patung itu tak berge ming sedikitpun.

"Taysu bertiga harap mundur agak jauh," kata Tong-lohujin, "kita tak tahu cara bagaimana me mbuka alat2 rahasia di sini, terpaksa hancurkan saja Han- koh, kau saja yang turun tangan-"

Sementara itu orang banyak sudah mundur agak jauh, Han-koh mengiakan, dari dalam kantong kulit harimau dia keluarkan sebutir besi bundar sebesar biji kenari, sekali ayun dia timpuk ke arah patung-pemujaan-

"Dar", hebat sekali ledakan ini, patung pe mujuan yang tinggi besar itu roboh ber-keping2. Ta mpa k di belakang patung pe mujaan terdapat sebuah pintu besi, bawah tembok juga sudah berlubang, tapi pintu besi itu tetap utuh tidak kurang sesuatu apapun, tanpa disuruh Han-ko h timpuk lagi sebutir granat tangan ke arah pintu besi. Ledakan keras kembali menggetar ruang pemujaan, kedua daun pintu besi kini roboh berserakan, di belakangnya adalah lorong panjang yang gelap gulita.

"Kalian geledah ke dala m," Tong- lohujin me m-beri aba-aba kedelapan Busu pere mpuan-

Di bawah pimpinan Han- koh kedelapan orang itu segera menerjang ke dalam terbagi dua barisan- Bersa ma Tong Siau- khing bertiga Tong-lohujin mengir ingi Ling-san Taysu masuk lebih jauh, Poh-san Taysu tetap berada paling belakang, dia suruh delapan paderi berjaga di ruang pe mujaan ini, lalu kedelapan paderi yang lain dia ajak masuk ke dala m.

Lorong gelap ini panjangnya puluhan to mbak. mereka tiba di ujung sana dan diadang dinding te mbo k. Han-koh lantas timpukkan granat lagi, debu pasir beterbangan sehingga orang banyak sukar me mbuka mata. Tapi dinding pengadang ja lan sudah jebol. Lekas sekali kedelapan Busu pere mpuan yang tetap berkerudung kain hitam itu menerobos masuk lewat lubang besar itu. Waktu Tong-lohujin dan Ling-san Taysu be-ramai keluar dari lubang te mbok, mereka tiba di sebuah ta man bunga yang a mat luas, mala m re mang2, tampak bayangan pohon dan gardu tersebar di sana-sini.

Waktu orang banyak menga mati keadaan sekelilingnya, mereka berada di depan sebuah bangunan berloteng yang dibangun megah dan mewah, di bagian depan terdapat undakan batu me manjang tinggi, sekarang mereka berada di tengah2 undakan batu yang jebol oleh ledakan granat tangan tadi.

Di antara bayang2 pohon yang gelap di sekitar mereka ta mpak bermunculan bayangan puluhan laki2 bersenjata golok, dari kejauhan mereka merubung maju mengepung.

Pui Ji-ping yang berangasan ajak Tong   Siau- khing   untuk me labrak orang2 itu. Tapi Tong-lo hu-jin lantas mencegah, katanya: "Tak perlu kalian bekerja susah payah " Tiba2 tampak orang2 yang- mengepung mereka itu satu persatu, sama terjungkal roboh tak bergerak lagi.Jelas semuanya terkena Bu sing-san yang lihay dan me matikan-

Dia m2 berkerut alis Ling-san Taysu, lekas dia bersabda dan ko mat-ka mit me manjatkan doa bagi arwah para korban supaya mendapat te mpat tenteram di alam baka.

Pada saat itulah dari arah pintu yang terbuka di depan sana muncul di atas undakan batu   dua   pelayan   perempuan   cilik me mbawa dua la mpion, lalu berdiri di kanan kiri. Segera terdengar pula suara ge mericik sentuhan batu manika m dan perhiasan yang bertaburan di tubuh seorang perempuan cantik jelita, seorang nyonya muda berpakaian puteri keraton pelan2 beranjak keluar, sebelah tangan terpapah dipundak seorang dayang di sebelahnya.

Yang muncul ternyata Hian-ih-lo-sat, wajahnya nan   ayu mena mpilkan rasa kaget dan heran- na mun mulutnya yang kecil mungil mengulum senyum, katanya: "Kalian siapa? Malam buta menjebo l dinding ma in terjang di rumah orang, mau apa?" Sementara itu Pui Ji-ping sudah sembunyi di belakang Tong- lohujin serta berbisik. "Bu, perempuan siluman itulah yang mena makan dirinya Hian-ih- lo-sat."

"Jangan ribut," Tong- lohujin manggut2, "dengar saja apa yang dia katakan-"

Sementara itu Ling-san Taysu sudah perkenalkan diri dan nyatakan maksud kedatangannya. Tapi Hian-ih lo-sat malah menista bahwa kedatangannya mau mera mpok atau me mper kosa kaum perempuan di sini. Sebagai paderi agung yang alim, sudah tentu Ling-san me njadi gelagapan dan t idak ma mpu menjawab.

Tong lohujin tertawa dingin, bentaknya: "Nona tidak usah banyak omong, siapa kau me mangnya kami tidak tahu?"

Kerlingan mata Hian- ih-lo sat me mpesonakan, katanya sambil berpaling ke arah Tong-lo hujin: "Apakah nenek tua ini juga orang dari Siau- lim?"

"Dari keluarga Tong di Sujwan," jengek Tong-lohujin-

Hian-ih- lo-sat pura2 tidak tahu, katanya: "Keluarga Tong di Sujwan? Te mpat apakah itu, belum pernah kudengar."

"Itu tidak penting, satu hal perlu kuperingatkan, komplotan Cin- Cu-ling kalian main culik orang, sekarang kita sudah berhadapan, lekas kau bebaskan para tawanan, kalau tidak jangan menyesal kalau ka mi turun tangan keji."

Sambil me mbetulkan sanggulnya, Hian-ih-lo-sat berkata dengan mengunjuk rasa kaget dan heran: "Apa katamu nenek tua ? Siapa yang harus kubebaskan?"

Pada saat itulah, ke delapan Busu perempuan yang berjaga di sekeliling Ting- lohujin ere mpak berteriak seraya mengayun tangan ke udara. Tapi mere ka bukan menimpukkan senjata rahasia, juga bukan melancarkan pukulan, hanya seperti tanda gerakan tangan aja, Sudah tentu Ling-san Taysu dan lain2 yang tidak tahu apa2 jadi heran- Tong-lohujin menyeringai hina, katanya: "Memang sudah kuduga bahwa Hian-ih- lo-sat pandai menggunakan bubuk racun yang tidak kelihatan, kepandaian rendah ini me mangnya dapat mengelabui mataku?"

Dengan mengangkat tangan me mbetulkan sanggulnya tadi, ternyata secara diam2 Hian- ih-lo-sat sudah menabur kan bubuk beracun yang tidak kelihatan- Keruan kaget dan berubah air muka para paderi Siau- lim.

Hian-ih- lo-sat sendiri juga berubah air mukanya, tapi segera dia cekikikan, katanya: "Nenek tua, ternyata kau memang me mada i untuk lawanku, entah bagaimana kau tahu kalau aku Hian- ih- lo- sat?"

"Perbuatanmu menawan Cu Cengcu secara licik di Liong-bun- kin kusaksikan diatas batu bersa ma Ling-san Taysu ini, berani kau mungkir?" de mikian t imbrung Ji-ping. "Ketahuilah Thong-pi-thian- ong dan lain2 yang kau bius kini sudah sadar seluruhnya, kalian masih ma mpu berbuat apa lagi?"

"Nona cilik," ujar Hian-ih- lo-sat cekikikan, "ma lam ini kalian berada di atas angin, aku hanya sendirian, ma mpu berbuat apa lagi? Tapi kalian harus ingat, Lok san Taysu berempat masih tergenggam di tanganku, kalau terpaksa, ya apa boleh buat, jangan salahkan aku bertangan keji."

Dia m2 kaget Tong-lohujin, katanya dengan suara geram: "Kau berani?"

Tengah bicara tiba2 muncul e mpat bayangan orang melayang ke depan undakan- Itulah seorang Hwesio dan tiga orang preman, orang terdepan adalah paderi berjubah abu2, tangan menenteng tasbih, usianya 6o-an- Mereka bukan lain adalah para tamu agung yang diculik ke Coat Sin-san-ceng, yaitu Lok-san Taysu, Tong Thian- jong, Un It-hong dan Cu Bun-hoa.

Melihat kedatangan Lok-san Taysu, lekas Ling-san, Po san cian Tin-san Taysu me mburu ma ju, seru mereka: "Suheng berhasil menjebo l kurungan musuh" Lok-san Taysu berkata: "Kami bere mpat tinggal di kebun ini, mendengar keributan di sini segera ka mi datang kemar i. Ai, pengalaman pahit ini agak panjang untuk diceritakan"

Sementara itu, Tong-lohujin juga sudah me lihat suaminya, kejut dan girang hatinya, serunya: "Loyacu, kau tidak apa2 bukan?"

Tong Siau-khing dan Tong Bun-khing juga berseru: "Ayah"

"Masih baik," ujar Tong Thian-jong sa mbil mengelus jenggot, "beruntung kedatangan Ling- lote, dia bantu kami me munahkan kadar racun yang mengera m dalam tubuh ka mi, kalau tidak mala m ini tetap takkan bisa ke mari."

Sementara itu Ji-ping sudah me mburu ke de-pan Cu Bun-hoa, teriaknya: "Ling-toako, kau tahu di mana pa manku dikurung?"

"Ji-ping, akulah pa manmu," ujar Cu Bun-hoa.

Berkedip mata Ji-ping, serunya heran, "Lantas di mana Ling- toako?"

"Paman terjebak oleh pere mpuan siluman itu dan dikurung di bawah tanah, mala m tadi Ling- lote menolongku keluar, dia sudah pergi."

"Dia tidak bilang mau ke ma na?" tanya Ji-ping gelisah. "Waktu pa man bangun, Ling-lote sudah t iada lagi."

Mendadak Tong lohujin berseru kaget: "Wah, perempuan siluman itu sudah merat, hayo kejar"

Melihat gelagat jelek. tahu seorang diri takkan mampu melawan musuh sebanyak ini, pada saat orang banyak ribut bicara, diam2 Hian-ih- lo-sat kabur bersama ketiga dayangnya.

Un It-hong tidak berbicara, maka dia bertindak lebih dulu, tapi waktu dia tiba di depan pintu mendadak ia berhentikan- Se mentara itu Lok -san Taysu, Tong thian- bong, Tong-lohujin Cu Bun-hoa serta yang lain juga telah me mburu ma ju. Lekas Un It- hong mencegah: "Se mua berhenti, ada perangkap dalam ruangan-" Waktu semua berhenti, tertampak di dalam ruangan besar itu penuh asap hitam seperti kabut tebal sehingga sulit me mandang keadaan di dala m. "Seperti kabut tebal," ujar Lok-san Taysu.

Tong Thian-jong tertawa dingin,jengeknya: "inilah cek-yu-tok-bu (kabut beracun) lekas mundur" Lalu dia berpaling, tanyanya: "Hujin me mbawa Lan ling-tan?"

"Barang2 yang diperlukan tentu kubawa seluruhnya," ucap Tong- lohujin sambil tersenyum, lalu dia me mber i tanda ke belakang. Han- koh segera tampil ke depan, tangan kiri terayun, tiga bintik cahaya ke milau biru me luncur kedalam ruangan-

"Blang", terdengar ledakan keras dibarengi dengan muncratnya ke mbang api. Bintik2 sinar kemilau biru itu segera menyala dan berkobar waktu terkena asap hitam, terdengar suara mendesis di tengah kabut hitam itu.

Ternyata Lan ling-tan (granat belerang biru) me mang pe munah dari cek-yu-tok-bu atau kabut beracun itu, dalam sekejap kabut gelap yang me menuhi ruangan segera sirna tanpa bekas. Kobaran apipun lantas padam.

Tanpa diperintah Han-koh, pimpin anak buah-nya menerjang masuk lebih dulu, Tong Thian-jong sua mi- isteri, Lok-san Taysu dan lain2 bera mai2 ikut masuk, para paderi Siau- lim menyalakan obor berada di barisan belakang. Ruang besar seketika terang benderang, tapi bayangan Hian- ih-lo- sat sudah tak kelihatan lagi.

Berkerut alis Tong Thianjong, serunya: "Lekas periksa rumah yang ada di sini." - Tangan kiri terayun, dia pukul roboh daun pintu yang menutup ka mar di sebelah kiri.

Tapi hasil pe meriksaan semua orang tetap nihil, tiada bayangan seorangpun di dalam perka mpungan sebesar ini. Bukan saja bayangan Hian-ih-lo-sat tidak kelihatan, para kacung, pelayan dan penjagapun tiada lagi.

"cepat juga perempuan siluman itu me larikan diri," kata Un It- hong gusar. Sementara itu Cu Bun-hoa masih sibuk lihat sana periksa sini, akhirnya dia menuju ke belakang pintu angin, ia mene kan dua kaki di-sela2 dinding, maka terdengarlah suara keresekan, lantai di tengah ruang tiba2 a mbles ke bawah, muncul sebuah lubang bundar yang disambung undakan menjurus ke bawah.

"Lorong bawah tanah," seru Tong Thian-jong, "Pere mpuan siluman, itu lari dari sini."

"Lekas kita kejar," seru Un It-hong.

"Menurut pendapat Siaute," timbrung Cu Bun-hoa, "lorong ini mungkin mene mbus keluar taman, sekarang tentu perempuan siluman itu sudah merat jauh."

Tenaga segera dikerahkan, semua orang dibagi tiga kelo mpok mengadakan penggeledahan, tapi hasilnya tetap nihil, terpaksa mereka keluar dari lubang ledakan semula dan ke mba li ke bangsal.

To-pi-wan oh Siok- ham maju me mber i hor- mat kepada Lok-san Taysu. Tong Thian-jong lalu periksa keadaan Thong-pi-thian-ong bertujuh, dalam setengah jam setelah diberi obat, ketujuh orang berturut2 siuman, melihat orang banyak merubung mereka di dalam ruangan, mereka merasa heran-

Begitu melihat Un It-hong, Thong pi-thian-ong lantas berteriak: "Un-lotoa, tempat apakah ini?"

Melihat Lok-san Taysu dan paderi yang lain, sudah tentu Kim Kay-thay juga kaget dan girang, lekas ia bangkit berdiri, serunya: "Lok-san Suheng sudah lolos."

Setelah banyak mengala mi kesukaran, panjang lebar pembicaraan mereka. Bahwa orang2 yang hi-lang kini sudah dikete mukan dan tertolong semuanya, hanya Ling Kun-gi saja entah ke mana perginya, maka Pui Ji-ping menjadi masgul, seorang diri dia menunggu di serambi luar, ia menengadah mengawas i rembulan, guma mnya: "Ke manakah Ling-toako?"

Terdengar suara Tong Bun- khing cekikikan di belakang, katanya: "Adik Ji-ping, kutahu apa yang sedang kau pikirkan-" Merah muka Ji- ping, o melnya: "cis, kau sendiri yang me mikirkan dia."

oood wooo

Tepat tengah hari, di depan La m-pak-ho, restoran terbesar di kota An-khing yang terletak dija lan timur datang seekor kuda putih yang gagah, sedemikian putih bulunya laksana saiju, tiada bulu warna lain di badannya. Penunggangnya seorang pemuda berjubah hijau, usianya sekitar 19 an, wajahnya putih halus, bibirnya merah, giginya putih, hidang mancung, gagah tapi juga lembut, gerak- geriknya seperti anak sekolahan, tapi pedang tergantung dipinggangnya sehingga ta mpak lebih perwira.

Baru saja pemuda jubah hijau melo mpat turun, pelayan restoran cepat menyongsongnya, sipemuda serahkan tali kendali kudanya kepada pelayan terus melangkah masuk langsung naik ke atas lo- teng, dia pilih meja yang dekat jendela. Waktu itu saatnya makan siang, tamu penuh sesak. untunglah si pe muda mendapatkan tempat duduknya. Sambil menunggu hidangan pesanannya, dia pandang keluar jendela me lihat pemandangan dijalan raya. Tiba2 didengarnya seorang pelayan berkata di sebelah belakang: "Siang kong ini hanya sendirian, silahkan tuan duduk se meja saja di sana."

Waktu pemuda jubah hijau berpaling, dilihatnya pelayan mengiringi seorang pemuda berpakaian ketat warna biru mendatang ke arah mejanya, kursi di seberang mejanya di tarik keluar, lalu pelayan menyilakan ta mu muda ini duduk.

Usia pe muda ini antara 27, alisnya tegak bermata besar, wajahnya bersih kelihatan agak kurus, sebuah buntalan tergendang di pundak. tampak gagang pedang yang beronce menongo l keluar dari buntalannya. Sekali pandang orang tahu bahwa pe muda ini pandai main silat, entah mur id dari golongan mana dia?

Pemuda baju biru turunkan buntalannya dan taruh di pinggir meja, katanya tertawa seraya memberi hor mat pada pe muda baju hijau : "Sungguh menyesal harus mengganggu saudara."

Pemuda baju hijau menjawab tawar: "Tidak apa2." Pemuda baju biru lantas duduk berhadapan dengan pemuda baju hijau, pelayan menyuguhkan pesanan pemuda jubah hyau sembari tanya pemuda baju biru ma u pesan ma kanan apa.

Pemuda baju biru berkata, "Aku harus mengejar waktu dan me lanjutkan perjalanan, arak jangan kau sediakan, siapkan makanan apa saja yang cepat, seporsi bak-pau, minum teh saja."

Pelayan mengiakan terus mengundurkan diri.

Setelah meneguk secangkir teh, pemuda baju biru berkata: "Mohon tanya siapakah she saudara yang terhormat?"

Merah muka pe muda jubah hijau, sahutnya: "Siaute berhama Cu Jing."

"o, kiranya Cu-heng, beruntung bertemu di sini, cayhe Ban Jin- cun," ujar pemuda baju biru, matanya me lir ik cit-sing- kiam milik Cu Jing yang di taruh dipinggir jendela, lalu mena mbahkan dengan tertawa: "Cu-heng me mbawa pedang, tentunya mahir ber main pedang?"

Merah muka Cu Jing, katanya: "Siaute hanya belajar berapa jurus cakar ayam saja, belum se mbabat dikatakan mahir."

Ban Jin-cun tertawa lebar, katanya: "Sekali bertemu rasanya seperti sahabat lama, Cu-heng tak usah sungkan, cayhe yakin Cu- heng bukan se mbarang orang, hari ini dapat berkenalan, sungguh beruntung sekali . . . . " sampai di sini tiba2 sikapnya tampak masgul, katanya: "Sayang Siaute mengala mi petaka, kalau tidak ingin rasanya hari ini makan minum sepuasnya dengan Cu-heng . . .

."

"Ah, saudara Ban pandai bicara," ujar Cu Jing ma lu2.

Pelayan datang pula me mbawa pesanan Ban Jin-cun, ma ka mereka lantas makan minum sendiri, begitu lahap dan bernafsu sekali mere ka ber-santap. tanpa diaadari bahwa seseorang telah berdiri di sa mping meja mereka. Ban Jin-cun segera menyadari adanya seseorang disamping mereka, cepat ia angkat kepala. Cu Jing juga sudah tahu, iapun me lir ik ke atas. Orang yang berdiri di sa mping meja mereka adalah pe muda berusia 25-an, pakaiannya ketat, warna biru tua, mengenakan caping ba mbu, pedang besi terselip di pinggang, alisnya tebal, wajahnya kelam mengkilap. tulang pipinya agak menonjol, mulutnya yang lebar terkancing rapat,   sepasang   matanya   besar   dan me mancarkan sinar terang lagi mendelik pada Ban Jin-cun tanpa berkedip. jelas sikapnya yang garang ini t idak ber ma ksud baik.

"Saudara cari siapa?" tanya Ban J in-cun, menghentikan ma kan- "Kau" sahut pe muda baju biru tua, suaranya kaku dingin.

Merasa belum pernah kenal, Ban Jin-cun merasa heran, tanyanya: "Ada petunjuk apa saudara mencariku?"

"Kau murid golongan Ui-san?" tanya pe muda baju biru tua.

Setiap murid Ui-san se mua menggunakan hiasan ronce pedang warna kuning, soalnya tiga puluh tahun yang lalu keluarga Ban dari Ui-san ber-turut2 pernah menjabat tiga kali Bulim-bengcu, ma ka ronce kuning menjadi simbo l kebesaran margaban dari Ui-san-dan ini sudah diakui oleh kaum persilatan umumnya.

"Betul," sahut Ban Jin-cun, "cayhe Ban Jin-cun, entah saudara dari aliran mana? Adakah ber- musuhan dengan pihak Ui-san ka mi?"

Pemuda baju biru tua menyeringai,jengeksnya: ."Aku datang dari Ciok-bun, aku bernama Kho Keh-hoa."

Mendengar orang datang dari Ciok- bun, berubah hebat air muka Ban Jin-cun, tanyanya dengan suara berat: "Pernah apa kau dengan Liok- hap-kia m Kho cin-hoan?"

"Beliau ayahku almarhum," sahut Kho Keh-hoa.

Mendadak Ban Jin-cun ter-gelak2 katanya: "Ha ha, kebetulan sekali, orang she Ban me mang- nya mau meluruk ke Ciok-bun."

Keluarga Kho dari Ciok-bun adalah marga terke muka dari Liok- hap-bun yang sudah ter mashur di seluruh pelosok dunia, Liok-hap- kiam Kho cin-hoan terkenal dengan ilmu pedangnya yang menjago i Bu-lim, konon tiada seorang musuh yang pernah melawannya lewat tujuh jurus, oleh karena itu umum lantas me mberi julukan Liok-hap- kiam (pedang enam jurus) kepadanya.

Kho Keh-hoa terkekeh, ejeknya: "Akupun dalam perjalanan ke Uisan untuk mencarimu."

Gemeratak gigi Ban Jin- Cun, desisnya: "Bagus sekali, hari ini kita bertemu di sini, marilah kita cari tempat untuk menyelesaikan pertikaian kita ini."

"Boleh kau pilih tempatnya," tentang Kho Keh-hoa.

"Lapangan latihan di pintu selatan, bagaimana?" kata Ban Jin cun setelah berpikir sejenak.

"Boleh saja, cayhe akan berangkat lebih dulu, kalian boleh makan minum sekenyangnya dulu," dingin dan congkak sekali kata2 Kho Keh-hoa. Agaknya dia salah kira bahwa Cu Jing adalah teman Ban Jin-cun, sembari bicara, dengan hina iapun melirik Cu Jing lalu me langkah pergi.

Saking gusar muka Ban Jin-cun me mbesi hijau, ingin dia menje laskan bahwa Cu Jing bukan temannya, tapi Kho Keh-hoa sudah melangkah turun loteng. Ia menjadi kikuk. katanya menyesal: "Dia kira Cu-heng adalah temanku, harap saudara cu t idak berkecil hati." 

Selamanya belum pernah Cu Jing kelana di Kangouw, tapi dia merasakan sikap dan pembicaraan kedua orang tadi penuh dendam, keduanya berjanji duel dilapangan latihan di pintu selatan- Sudah tentu dia tidak tahu pertikaian apa di antara kedua orang ini? Tapi dari sikap masing2 ia yakin bahwa per musuhan kedua orang ini tentu amat mendala m. Maka dengan sikap tak acuh ia berkata: "Dia telah mengundangku juga, sudah tentu aku harus me menuhi undangannya."

"Ini. ..... ai," sikap Ban Jin-cun tampak serba salah, "soal ini tiada sangkut pautnya dengan Cu-heng." Cu Jing tertawa dingin: "Enteng saja saudara Ban bicara, "dia sudah mengundangku, kalau aku t idak hadir berarti nyaliku kecil? Ketahuilah sela manya tak pernah aku mengalah terhadap siapapun."

Ban Jin-cun melenggong, katanya tertawa: "Cu-heng me mang belum tahu duduk persoalannya, keluargaku ber musuhan sedalam lautan dengan keluarga Kho, hari ini kalau bukan dia yang mati biarlah aku yang gugur, pertikaian balas me mbalas di kalangan Kangouw ini, apalagi saudara cu orang luar, lebih baik engkau jangan ikut ca mpur."

Ia rogoh uang receh serta panggil pelayan, katanya: "Rekening saudara cu ini sekalian kubayar." Lalu ia berpaling ke arah Cu Jing serta menjura, katanya: "Ber-hati2lah Cu-heng dalam perjalanan, kalau aku tidak mati, kelak se moga bertemu lagi." Segera dia panggul buntalannya terus turun loteng.

Lama Cu Jing melongo mengawasi Ban Jin-cun yang menghilang di bawah tangga, ia berpikir: "Ban Jin-cun adalah anak didik keturunan keluarga Ban di Ui san, sedang Kho Keh-hoa adalah keturunan keluarga Kho di cioksbun, keduanya bukan kaum jahat, me mangnya ada permusuhan mendala m apakah di antara kedua keluarga besar ini ?"

Bergegas dia berdiri serta menje mput pedang terus me mburu turun ke bawah loteng. Sementara kuda ia t itipkan kepada pelayan restoran serta tanya di mana letak lapangan latihan di pintu selatan itu, lalu dia cepat2 menuju te mpat yang ditunjuk.

Setiba di pintu selatan dia belok menyusuri sebuah gang dan tibalah dia di sebuah tanah lapang berumput hijau, itulah alun2 yang cukup besar dan luas, sayang tempat ini tidak terawat, banyak rumput liar tumbuh subur setinggi pinggang.

Tepat di tengah lapangan sana, berdiri berhadapan dua pemuda, mereka adalah Kho Keh-hoa dan Ban Jin-cun. Karena ingin tahu sebab musabah per musuhan kedua pe muda ini, dia m2 Cu Jing merunduk lebih dekat, lalu sembunyi di belakang serumpun pohon bambu yang lebih dekat dari tengah lapangan. Terdengar Kho Keh-hoa tengah mengejek: "Kau hanya datang sendiri?"

"Me mang cayhe hanya sendirian," sahut Ban Jin-cun.

"Lalu mana kawanmu itu?" jengek Kho Keh-hoa, "kau sembunyikan dalam hutan untuk me mbokongku?"

"Kau menista dan me mfitnah orang," da mprat Ban Jin-cun.

"Masa salah tuduhanku?" jengek Kho Keh-hoa tak kalah sengitnya.

Mengira jejaknya diketahui Kho Keh-hoa, dengan dongkol segera Cu Jing melo mpat keluar, dengusnya: "Kau mengundangku ke mari, me mang-nya salah bila aku hadir?"

Kurang senang ta mpaknya Ban Jin-cun, katanya: "Cu-heng, kenapa kau-pun ikut ke mar i?"

"Apa katamu? Ikut ke mar i?" jawab Cu Jing, "kenapa aku harus ikut orang? orang she Kho tadi menantangku juga, sudah tentu aku harus ke mari."

Kho Keh-hoe ter-gelak2, serunya: "Baik sekali kau berada di sini, anggota keluarga Ban tiada seorangpun yang akan kulepaskan-"

Mencorong benci sorot mata Ban Jin-cun, teriaknya bengis: "Apa yang kau katakan me mang cocok dengan maksud hatiku, setiap insan marga Kho takkan seorangpun kua mpuni jiwanya, cuma saudara cu ini bukan sanak keluarga Ban ka mi, kebetulan tadi kami bertemu di loteng restoran, jadi tiada sangkut pautnya dengan duel kita ini."

"Baiklah, asal dia tidak ikut turun tangan, aku tidak akan pandang dia sebagai musuh," ujar Kho Keh-hoa. "Sreng" tiba2 dia me lolos pedang besi yang terselip dipinggang, bentaknya: "Sekarang kita mulai"

"Bagus sekali," seru Ban Jin-cun, pelan2 ia pun keluarkan pedang dari buntalannya. Sambil angkat pedangnya, berkata Kho Keh-hoa dengan mengertak gigi: "orang she Ban dengarlah, Dengan pedang besi di tanganku ini Kho Keh-hoa akan menagih 28 jiwa besar kecil keluarga kho terhadap marga Ban kalian, setiap insan she Ban merupakan musuh bebuyutan keluarga kami, kau boleh tumple k seluruh ke ma mpuan yang terang takkan kulepas kau pergi dengan selamat."

Menunjuk sorot gusar pada sinar mata Ban Jin-cun, bentaknya beringas: "Tutup bacotmu, bapakmu Kho cin-hoan yang me mimpin segerombolan bangsat berkedok. mala m2 menggerebek perkampungan keluarga Ban ka mi, ayah bundaku dan 19 jiwa lainnya dibantai habis2an, aku bersumpah menuntut balas atas ke matian keluargaku itu, kini kalau tidak kuhancur leburkan tubuhmu, tidak terla mpias dendam kesumatku."

"Keparat kau," damprat Kho Keh-hoa, "yang terang bapakmulah yang me mbawa gero mbolan bandit menyerbu ke rumah kami, 28 jiwa tua muda dicacah hancur luluh, berani kau me mfitnah pihak kami ma lah."

Kaget dan heran Cu Jing mendengar caci- maki dan saling tuduh ini, ia me mbatin: "Kedua-nya bilang ayah mereka me mbawa gerombo lan dan ma in sergap di mala m hari, bukan mustahil dalam persoalan ini ada latar belakangnya?"

Terdengar Ban Jin-cun berjingkrak gusar, ma kinya: "Kau kunyuk. kau yang main tuduh dan me mfitnah."

"Perang mulut tiada gunanya, lihat pedangku" bentak Kho Keh- hoa. "Sret", pedangnya yang pan-jang segera menusuk.

"Serangan bagus." seru Ban Jin-cun, segera ia balas menyerang.

Musuh besar berhadapan, mata sama me mbara, ma ka serangan kedua pihak sa ma2 ganas tanpa kenal ampun lagi, terdengar rentetan bunyi benturan nyaring, keduanya sama menge mbangkan ilmu pedang warisan keluarga masing2 dan saling labrak dengan sengit. Menyaksikan pertarungan sengit ini, berkerut kening Cu Jing, teriaknya keras: "Hai, kalian lekas berhenti, dengarkan o mo nganku."

Tapi kedua pe muda ini sa ma berdarah panas, sudah kesetanan lagi oleh dendam keluarga yang tidak terla mpias, mereka tidak hiraukan seruan Cu Jing, malah gerakan pedang mereka semakin gencar untuk merobohkan musuh.

Melihat seruannya dire mehkan, Cu Jing naik pitam, dengusnya: "Patut ma mpus, kalian tidak mau dengar nasihatku, boleh silakan saling ganyang, mati hidup kalian me mangnya tiada sangkut pautnya dengan aku" Karena marah, dia putar badan hendak tinggal pergi.

Tiba2 seseorang seperti berbisik di pinggir telinganya: "Kau ke mari sebagai penengah, belum me misah kenapa di tinggal pergi"

Cu Jing tertegun, dia berpaling dan Celingukan, tapi tiada bayangan orang lain, keruan ia bingung dan heran- Kalau kuping sendiri salah dengar, tapi jelas ada orang berbisik di pinggir telinganya, tak mungkin salah lagi.

Tengah dia celingukan dengan bingung, suara itu berkata pula "Hai,   Buyung,   kenapa melongo saja? Tidak   lekas kau maju me misah, satu di antara mereka mungkin bisa mati konyol."