Pendekar Kidal Jilid 02

Jilid 02

Ling Kun-gi berdiri tegak tanpa berge ming. na mun baju didepan dadanya mendadak mele mbung seperti layar berkembang, maka tepukan sibaju hijau seperti mengenai benda empuk. laksana menepuk permukaan air, seperti kosong tapi masih berisi, seperti mengenai sesuatu tapi mirip me ngenai te mpat kosong, hakikatnya dia tidak kuasa mengerahkan tenaganya, keruan tidak kepalang kejutnya.

Tiba2 Ling Kun-gl kipatkan tangan kirinya, sementara tangan kanan tegak menabas punggung, pergelangan tangan kanan lawan, berbareng dia me mbanting si baju hijau ke atas tanah. Sudah tentu si baju hijau mati kutu, "Blang," dengan keras badannya terbanting dan tidak ma mpu bergerak lagi. Menatap sibaju hijau, Ling Kun-gi me ngan-ca m dengan nada keren: "Serahkan tidak obat penawarnya? "

Dari kumandangnya suara bentakan "Berhenti" seseorang, sampai si baju hijau me nyerang serta dibanting oleh Ling Kun-gi, semua, itu berlangsung hanya beberapa detik saja. Maka terdangarlah orang yang bersuara tadi kembali berseru me muji: "Gerakan bagus"

Ling Kun-gi angkat kepalanya, dilihatnya se-orang berjubah biru, entah sejak kapan sudah berdiri di a mbang pintu sambil meng gendang kedua tangan, Usia laki2 ini sekitar 25 tahun, wajahnya cakap bersih, me mondang buntalan panjang di punggungnya, berdiri sa mbil bertolak pinggang, wajahnya tidak mengunjuk sesuatu perasaan hatinya, sikapnya angkuh. Si baju biru ini ternyata adalah orang yang pernah ditemuinya di kota Kayhong beberapa hari yang la lu.

Sementara itu, si baju hijau sudah berdiri dengan sikap patuh dia me mber i hor mat kepada si baju biru, katanya: "Hamba me nghadap majikan muda,"- Kiranya si baju biru adalah putera majikannya.

Si baju biru mendengus dengan suara hidang, katanya: "Kau me mbuat onar lagi di sini?"

"Ha mba tidak berani," sahut si baju hijau ter-sipu2.

Sorot mata si baju biru me natap Ling Kun-gi, katanya dingin: "Agaknya kita pernah berjumpa entah dimana??"

"Sela manya cayhe belum pernah berkelana di Kangouw," sahut Ling Kun-gi.

"Siapa na ma tuan?" tanya si baju biru.

Tidak menjawab Ling Kun-gi malah balas bertanya: "Dia ini pembantumu?"

si baju biru naik pita m, alis menegak. wajahnya diliputi nafsu me mbunuh, jengeknya: "Betul, nah dalam hal, apa dia berbuat salah terhadap-mu?" Sikap Ling Kun-gi tidak kalah congkak, ujarnya: "Masuk rumah makan ini, pembantumu lantas cari perkara dengan orang, main serang dengan panah beracun lagi, untunglah kena kutimpuk dengan cangkir sehingga tidak mengenai sasaran, tak terduga dengan tangan besinya yang beracun dia main kasar lagi, kukira hanya sedikit perselisihan, kenapa harus mena matkan jiwa orang lain, bukankah perbuatannya terlalu keji, maka kuahrap dia suka menge luarkan obat penawarnya."

cemberut dingin wajah si baju biru, katanya sambil melirik sibaju hijau: "Apa betul demikian halnya?"

si baju hijau tidak berani bersuara, maka si   baju   biru mena mbahkan- "Lekas serahkan obat penawar kepadanya."

Tidak berani me mbangkang, lekas sibaju hijau merogoh kantong menge luarkan botol kecil porselin gepeng, ia menuang sebutir pil terus diangsurkan- Ling Kun gi menerimanya, lalu manggut2 kepada si baju biru dan berkata: "Terima kasih banyak."

"Dia kawanmu?" tanya si baju biru mengawasi laki2 baju abu2 yang mengge letak di lantai.

"Sela manya belum pernah kukenal," sahut Ling Kun-gi tertawa, lalu dia berpaling: "Pelayan, ambilkan segelas air putih."

cepat pelayan me mbawakan air putih yang diminta, Ling Kun-gi lantas pencet dagu laki2 baju abu2 sehingga mulutnya terpentang, pil itu terus dijejalkan ke mulutnya serta dilolohkan beberapa teguk air.

Dikala keributan berlangsung tadi, secara dia m2 si mata satu sudah berdiri me mbayar rekening terus bergegas tinggal pergi.

Sambil mengawasi Ling Kun-gi, si baju biru berkata pula: " Kepandaian tuan me mang hebat, entah dari perguruan aliran mana?"

Ling Kun-gi tertawa tawar, sahutnya: "cayhe, Ling Kun-gi, tidak punya golongan atau aliran segala." "Um," si baju biru mendengus kurang senang, tiba2 dia me mbalik badan serta berkata: "Hayo pergi"- cepat sibaju hijau mengikut di belakangnya.

Dalam hati Ling Kun-gi berkata: "Ternyata inilah yang melindungi si mata satu sepanjang perjalanan ini."

Mendadak dia sadar, dirinya telah perkenalkan diri, kenapa tidak balas tanya nama orang. Dala mpada itu si baju abu2 sudah merangka k bangun, katanya sambil menjura kepada Ling Kun-gi: "Terima kasih atas pertolongan Siang kong."

Ling Kun-gi balas me mberi hor mat, katanya tertawa: "Saudara tidak usah sungkan-".

Lalu si baju abu2 me manggil pelayan, katanya: "Rekening Siangkong ini biar kubayar sekalian, siaanya bolehlah kau ambil." - Si pelayan terima uang sembari munduk2 dan mengucapkan banyak terima kasih.

Kembali si baju abu2 me njura, katanya: "cayhe masih ada urusan, tidak boleh tertunda di sini, maaf aku mohon diri lebih dulu."

orang ter-gesa2 mau pergi setelah jiwanya di tolong, tapi tidak tanya nama penolongnya, jelas dia kuatir kalau Ling- Kun-gi balas tanya namanya. Diam2 Kun-gi me mbatin: "Mungkin kau tidak tahu, si baju biru dan pe mbantu2nya adalah seko mplotan dengan si mata satu dan secara diam2 melindunginya sepanjang jalan-" - Tapi hal ini tak enak dia utarakan, ia hanya tertawa tawar, katanya: "Saudara ada urusan, boleh silakan saja."

Si baju abu2 menjura pula terus putar badan dan keluar. Mengantar kepergian bayangan punggung orang, seketika terasa oleh Ling Kun-gi buntalan kertas yang dibawa si mata satu pasti penting artinya. Setelah menghabis kan dua cangkir arak pula, sementara si baju abu2 juga sudah pergi cukup jauh, maka lekas iapun berdiri terus menuju ke luar kota. Dia tahu setelah di warung tadi dia mende monstrasi-kan kepandaiannya, mungkin si baju biru sudah curiga dan menaruh perhatian terhadap dirinya, ma ka gerak- gerik dirinya selanjutnya tentu kurang leluasa, maka setelah t iba di luar kota, tanpa pikir dia terus menyelinap masuk ke dalam hutan dengan gerakan cepat dan enteng.

Pada saat badannya meluncur ke dalam hutan itulah, tiba2 ia mendengar hardikan nyaring merdu: "Siapa, hayo berdiri?"

Begitu suara berkumandang, di depan muncul sesosok bayangan hijau, berbareng hidung dirangsang bau wangi, sebuah tangan halus putih tahu2 mendorong ke arah dadanya.

Belum lagi jelas melihat bayangan orang, secara refteks Ling Kun-gi gerak tangan kiri menangkap pergelangan tangan yang menyelonong ke arah dadanya ini.

"Eh" itulah teriakan kejut seorang gadis, tangan yang halus itupun tergetar serta ditarik mundur, se mentara mulutnya lantas menda mprat: "Bu jangan bernyali besar, hayo lepaskan" Sepatu yang ujung-nya melengkung tahu2 menendang tanpa bersuara.

Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat sesingkat Ling Kun- gi menerobos ke dalam hutan-

Begitu mendengar suara nyaring merdu, berbareng merasakan tangan yang dipegangnya halus dan licin, sesaat dia melongo dan segera lepas tangan, ber-bareng ia melo mpat mundur. Waktu dia mengawasi tampa k diantara semak pohon sana berdiri seorang gadis jelita berpakaian kuning. Kedua pipinya tampak bersemu merah, kedua biji matanya melotot gusar lagi me mbentak sambil menuding dirinya: "Bajingan tengik, apakah mata mu buta?"

Sesaat Ling Kun-gi terlongong mengawasi gadis je lita ini, secara semberono terobosan di sini dan pegang tangan pula, sebetulnya dia ingin minta maaf, serta mendengar caci maki orang, dia m2 ia mendongkol, pikirnya: "Waktu aku menyelinap ke mar i tadi tak kelihatan bayangan orang, jadi dia menapakku waktu me lihat aku masuk. dia sendiri yang menyerang lebih dulu baru terpaksa kupegang tangannya, kalau tidak, bukankah dadaku terpukul olehnya? Kalau dipikir, bukan aku yang salah?" Tanpa terasa ia tersenyum geli sendiri Melihat orang cengar-cengir mengawasi dirinya, hati si gadis semakin dongkol, namun wajahnya sema kin jengah, kini diapun dapat melihat jelas orang yang berdiri di hadapannya ternyata seorang pemuda gagah dan berwajah cakap. cuma senyumannya itu rada kurang ajar? Kejap la in si nona sudah ce mberut lagi, katanya dengan bibir menyungkit:

"Bajingan kurang ajar, apa yang kau gelikan? Me mangnya kau sudah bosan hidup?" Dingin pancaran sorot mata Ling Kun-gi, suaranyapun kaku: "Nona me ma ki siapa?"

Si nona baju kuning bertolak pinggang, ma kinya sambil menuding Ling Kun-gi: "Me ma kimu, sekali pandang lantas kutahu kau ini bukan orang baik2.

Dimaki tanpa alasan Ling Kun-gi menjadi berang, jengeknya: "Nona tahu aturan tidak? Cayhe yakin tidak pernah berbuat salah, kau sendiri yang muncul tiba2 lantas menyerangku dan me makiku tanpa alasan, me mangnyu aku yang salah?"

"Mau bicara soal aturan?" si nona sema kin galak.. "Matamu tidak buta, kenapa main terobosan ke mari?"

"Aku sudah mengalah, kuharap nona tahu sopan santun, hutan ini toh bukan milik nona, umpa ma orang dilarang masuk, sepantasnya kau bicara lebih dulu "

Merah muka si nona, dia makin dongkol, katanya: "Kularang kau masuk, maka kau tidak boleh masuk,"

" Kenapa tidak boleh masuk?" Ling Kun-gi menegas. "Tidak apa2, kau terobosan, maka kau harus kuhajar."

"cayhe tidak sepandengan nona." jengek Ling Kun- gi, ia putar badan terus tinggal pergi.

Si nona sema kin marah, bentaknya sambit me mbanting kaki, "Berdiri di te mpat mu"

Ling Kun gi me mbalik badan, alisnya menegak. suaranya kereng: " Apa pula kehendak nona?" "Kau menghinaku, lantas tinggal pergi begini saja?" da mprat si nona.

"Siau Yan," tiba2 sebuah suara merdu bak bunyi kelintingan berkumandang dari sebelah dalam hutan sana, "kau sedang ribut dengan siapa?"

Si nona baju kuning Siau Yan, tampak kegirangan, serunya: "Syukurlah engkau datang Sio-cia, lekas kemari." - Dari dalam hutan tampak melangkah keluar sesosok bayangan semampai berpakaian warna merah apel, itulah seorang gadis jelita yang menggiur kan.

03

Terbeliak pandengan Ling Kun-gi, nona ini berperawakan ramping, kulitnya putih halus, raut wajah bundar telur, alis lentik laksana bulan sabit dengan biji mata  bening ce mer lang me mancarkan sinar keagungan yang tak terlawan oleh siapapun.

Tiba2 wajah Ling Kun-gi menjadi panas jengah, baru sekarang dia maklum duduknya perkara, kenapa nona Siau Yan ini berjaga di luar hutan, kiranya nona cantik ini sedang buang air di dalam hutan-

Setelah si nona cantik mendekat, Siau Yan me mber i hor mat, katanya aleman: "siocia, bajingan ini kurang ajar"

Si jelita menarik muka, bentaknya: "Siau Yan, jangan me maki orang" Matanya yang bening tajam mengawasi Ling Kun-gi, kalanya: "Aku sudah dengar, kau lebih dulu menyerang dia, betul tidak?"

"siocia, dia .... karena dia     " Seru Siau Yan tergagap.

"Jangan ceriwis, lekas minta maaf kepada Siang kong ini," perintah si je lita.

Siau Yan me lengak. wajahnya merah padam debatnya: "Siocia dia yang menghinaku, main pegang segala "

"Jangan banyak o mong, hayo minta maaf kepadanya" Ber-kedip2 lagi sinar mata Siau Yan, sejenak dia awasi si nona, lalu berpaling kepada Ling Kun-gi, akhirnya seperti menyadari apa2, tiba2 ia cekikikan sa mbil menutup mulut dengan tangannya, lalu mende kat ke depan Ling Kun-gi serta menjura dan berkata dengan nada menggoda: "siocia suruh aku minta maaf kepada Siang kong."

Sebesar ini belum pernah Ling Kun-gi bergaul dengan kaum hawa, mukanya menjadi merah dan me mbalas hor mat, katanya: "Nona tak usah kecil hati, anggap saja tak pernah terjadi."

Siau Yan cekikikan sa mbil me lir ik. katanya: "Lha kalau sejak tadi kau bilang demikian, kan t idak perlu kita perang mulut."

Ling Kun-gi hanya tertawa saja, ia putar badan hendak tinggal pergi. Tiba2 didengarnya suara merdu tadi berteriak:

"Siangkong ini harap tunggu sebentar"   Senyaring   bunyi kelint ingan teriakannya. jelas yang ber-suara adalah nona jelita itu.

Tanpa terasa merandek langkah Ling Kun-gi dan me mandang ke sana, katanya sambil merangkap kedua tangan: " Entah nona ada petunjuk apa?"

Siau Yan segera menyela "siocia me manggilmu, sudah tentu ada urusan-"

"Siau Yan, jangan banyak mulut," bentak sijelita, lalu berkata pula lir ih kepada Ling Kun-gi: "Kulihat Siangkong berkepandaian tinggi, entah siapa na ma terhormat Siang kong?"

"cayhe Ling Kun- gi" Kun-gi me mperkenalkan diri. "nona    "

"siocia kami she Bun . . .. . . ." sela Siau Yan tertawa sambil me lir ik ma jikannya.

Ling Kun-gi me mber i hor mat pula, katanya " Kiranya nona Bun, maaf cayhe kurang adat."

siau Yan ter-pingka l2, dan katanya pula "Bicaraku belum habis, Siocia berna ma Hoan kun, jadi punya satu bagian yang sama dengan na ma Siangkong. sungguh kebetulan bukan?" Merah selebar muka sijelita. "Siau Yan" Seruannya seperti ingin mencegah, tapi dalam hati se-benarnya merasa senang.

Pada saat itulah tiba2 dari tempat jauh sana berge ma lengking suitan keras. Seketika berubah ro man Bun Hoan- kun, katanya terperanjat: "Agaknya paman sedang me manggilku, bagaimana baiknya."

siau Yan berkata: "Mungkin Ji cengcu akan ke mari, menurut pendapat hamba, lekas siocia dan Siangkong se mbunyi ke dalam hutan saja."

Sudah terbuka mulut Bun Hoan-kun, tapi urung bicara, namun matanya me mandang Ling Kun-gi penuh arti.

Kelihatan gugup dan takut2 sikap kedua nona ini, tapi Ling Kun- gi tetap berditi ditempatnya, ta-nya: "Kenapa cayhe harus ikut sembunyi?"

Tiba2 Bun Hoan-kun menghela napas, katanya rawan- "Tabiat paman a mat buruk." Sorot matanya me mandang ke tempatjauh, lalu me na m-bahkan: "Se moga pa man tidak menuju kesini."

Belum selesai bicara, suitan melengking tadi ke mbali mengalun di udara, dari suara suitan yang keras dan meme kik telinga ini, jelas bahwa jarak- nya sudah jauh lebih dekat.

Hilang senyuman manis yang menghias wajah Bun Hoan-kun tadi, sikapnya tampak gugup dan takut, katanya: "Ling -s iangkong, tiada waktu lagi, lekas ikut aku sembunyi." Segera ia berputar, namun langkahnya tidak bergerak, ia berpaling mengawasi Ling Kun-gi.

Sebetulnya Kun-gi merasa heran dan curiga, na mun me lihat sikap dan mimik Bun Hoan-kun begitu gugup se-akan2 harus dikasihani, ia menjadi tak tega hati, katanya mengangguk: "Baiklah, biar cayhe ikut se mbunyi sebentar di dalam hutan-"

Penuh rasa terima kasih tatapan mata Bun Hoan-kun, pipipun bersemu merah, ter-sipu2 dia putar tubuh dengan setengah berlari masuk ke dalam hutan. Sedikit merandek akhirnya Ling Kun-gi ikut me langkah ke sana.. Siau Yan me ngikut di belakang mereka.

Tidak la ma setelah ketiga orang ini menyelinap se mbunyi ke dalam hutan, ma ka tampa k dari kejauhan datang dua bayangan orang bagai terbang. Diam2 Ling Kun-gi me mbatin dalam hati: " Entah siapa kedua orang ini? Dari langkah mereka yang enteng, terang me miliki Ginkang yang luar biasa."

Tengah pikirannya melayang, tiba2 terasa telapak tangan nan halus le mbut pelan2 menarik tangan kirinya, terdengar bisikan Bun Hoan-kun di tepi telinganya: "Ling-siangkong, pamanku segera tiba, lekas kau berjongkok."

Belum pernah Ling Kun gi bersentuh tubuh dengan gadis belia, bau harumpun merangsang hi-dung, seketika jantungnya berdebur keras, tanpa terasa dia berjongkok ke dalam sema k2. Tapi dia tetap mengintip keluar sana.

Itulah seorang tua kurus berjubah panjang warna kuning kela m, berikat pinggang kain sutera, berusia lima puluhan, roman mukanya merah, de-ngan tulang pipi menonjol, sorot matanya tajam berkilau, punggungnya menyandang sebilah pedang.

Di belakang laki2 tua mengintil ketat seorang -pe muda berjubah kuning muda, kelihatan baru ber-usia dua puluhan tahun, alis lentik, mata berkedip bagai bintang, wajahnya sungguh cakap. bibir tipis merah delima, sayang hidungnya sedikit bengkok. Tetapi dia benar2 terhitung laki2 yang -bagus. Di pinggang si pemuda tergantung sebilah pedang panjang dengan hiasan ronce benang merah diaagangnya, kelihatan gagah dan menar ik sikapnya.

Di kala Ling Kun-gi mengawasi orang, terasa oleh Ling Kun-gi bukan saja jari2 tangan Bun Hoan-kun yang menarik tangannya tadi tidak di- lepaskan, malah pegangan orang se makin erat dan sedikit gemetar.

Sorot mata si orang tua yang tajam berkilau menyapu pandang keseluruh penjuru, sebelah tangannya mengelus jenggot ka mbing dibawah dagu-nya, katanya sambil batuk2 kecil: "Bukankah Hoan-rji berdua tadi menuju ke sini?" . . .

Hor mat dan patuh sekali ta mpaknya sikap sipe muda, sahutnya: "Betul pa man, mungkinkah adik Hoan mengala mi apa2 di tengah jalan?" Si tua batuk2 lagi, katanya dengan tertawa:

"Keponakan tidak usah kuatir, bekal ilmu silat yang dipelajari Hoan-ji cukup berlebihan buat Hoan-ji berkelana di Kangouw. Mungkin mereka istirahat di dalam kota, marilah kau ikut Lohu mencarinya di kota."

Sipe muda mengiakan penuh hor mat, bayangan mereka lantas berkelebat menuju ke arah kota di balik hutan sana.

"Agaknya kedua orang ini tengah mencari nona Bun," de mikian batin Ling Kun-gi, " kenapa dia malah menyembunyikan diri?" Waktu dia ber-paling, tertampak air mata ber-kaca2 di kelopak mata Bun Hoan-kun, tentu saja se makin heran hati Kun- gi. .

Agaknya Bun Hoan-kun sadar bahwa dirinya diperhatikan, cepat dia berdiri, mukanya merah ma lu, katanya getir: "Tadi aku ketakutan, maaf akan sikapku yang tidak pantas, Ling-siang kong . "

Ling Kun-gi pun berdiri, sahutnya: "Nona tak usah berkecil hati." Lalu dia tanya penuh perhatian: . "Apakah pa manmu pe mberang? "

Bun Hoan- kun menggeleng, katanya: "Biasa-nya paman sayang padaku, cuma .... aku tidak ingin pulang ".

"Siccia," Seru Suan Yan, sikapnya gugup, "Ji-cengcu dan Sia u- kong cu pasti akan balik lagi, lekaslah kita pergi."

"Tak usah kau ceriwis," bentak Bun Hoan--kun, "me mangnya aku tidak tahu, kalau aku t i-dak mau pergi, siapa bisa me ma ksaku?"

Lekas Ling Kun-gi berkata: "Kalau nona ti-dak ingin bertemu dengan pa manmu, sebaiknya me mang lekas .pergi saja dari sini."

"Nanti sebentar lagi juga tidak jadi soal," sahutBun Hoan- kun, "Sebetulnya bukan kuingin menghindar i pa man .... " sampa i disini dia ragu, lalu bertanya dengan sikap prihatin: " Kulihat usia Ling siangkong masih begini muda, mungkin baru pertama kali berkelana di Kangouw?"

Ling Kun-gi manggut2, sahutnya. "Betul, ba-ru sekali ini aku keluar pintu."

Tiba2 berseri girang wajah Bun Hoan-kun, dia keluarkan sebuah kantong kecil yang terbuat dari benang sulam sutera, di dalamnya berisi sebuah botol kecil porselin berbentuk bundar gepeng warna putih hijau dan diangsurkan pada Kun-gi. katanya dengan tunduk ma lu2: " Dengan Ling siang- kong baru pertama kali ini aku berjumpa secara kebetulan, tiada barang lain kecuali Jing-s in-tan buatan keluarga kami sekedar sebagai kenangan, obat ini dapat me munahkan segala maca m obat bius, Ling-siangkong baru mulai berkelana di Kangouw. . perlu kau me mbawanya untuk menjaga diri." Dia tidak menjelas kan bahwa kantong sutera itu adalah buatannya sendiri.

Ling Kun-gi me lengak, katanya. "Besar arti pember ian nona, namun cayhe tak berani menerimanya. . ."

Semakin jengah wajah Bun Hoan kun, kata-nya malu2 dan gugup: "Lekaslah terima, Ling-s iang-kong, kau belum pengala man menge mbara di Kang-ouw yang penuh bahaya ini, obat2an ini dapat meno long kesulitanmu."

Lekas Siau Yan tampil kedepan, dari tangan majikannya dia rebut kantong sulam itu terus dijejalkan ke tangan Ling Kun-gi, katanya: "De mi kebaikanmu, kenapa Ling-siangkong ta mpik pe mber ian siocia?"

Me megangi kantong sulam itu, merah muka Ling Kun-gi karena ma lu, mulutnya melo ngo:

"Jangan ini itu lagi," tukas Siau Yan, " kantong itu sula man siocia sendiri, setiap melihat kantong sulam itu berarti Siangkong selalu berhadapan dengan nona."

Sudah tentu gugup dan malu bukan ma in Bun Hoan- kun, ome lnya: "Siau Yan, siapa suruh kau ceriwis?" "Ha mba tidak berani," sahut Siau Yan sambil menyingkir dan me lelet lidah.

Dengan kasih mesra sekilas Bun Hoan- kun me lirik Ling Kun-gi, lalu katanya dengan nada masgul: "Ling - siangkong jagalah dirimu baik2, kami akan berangkat."

Terharu Ling Kun-gi dia menjura sa mbil me- megangi kantong sulam itu, katanya: "Terima kasih nona, harap nona juga jaga diri baik2."

Bun Hoan-kun tertunduk, air mata sudah berlinang, lantas ia beranjak keluar hutan-Siau Yan mengikuti di belakangnya, serunya sambil berpaling: " Ling-siangkong, jangan lupa ma mpir ke Ling lam menengo k siocia."

Lambat laun bayangan mereka se makin jauh dan tak kelihatan lagi, Ling Kun-gi masih berdiri menjublek di luar hutan-Jari2 tangannya membo lak -balik kantong sula man itu, bau harum yang me mabo kkan merangsang hidungnya, masih terngiang ka-ta2 Siau Yan sebelum berpisah tadi: "siocia sendiri yang menyula m kantong itu, me lihat kantong seperti berhadapan dengan siocia sendiri."

Pada saat itulah tiba2 seseorang berkata dengan suara dingin: "Barang apa yang saudara pegang itu?"

Sebetulnya kepandaian silat Ling Kun-gi cukup tinggi, kalau ada orang mende kat masakah tidak diketahui? Soalnya baru pertama kali ini dia jatuh kas maran, dia me megangi barang pember ian sijuita. tak heran dia sampai terlongong lupa diri, Keruan kejutnya bukan main mendengar teguran orang, waktu dia angkat kepala, dilihatnya pemuda jubah kuning tadi sudah berdiri di depannya, mulutnya me-nyungging senyum dingin, matanya menatap tajam dan beringas ke arah kantong sulam yang dipegangnya. Lekas Ling Kun-gi masukkan kantong sulam itu ke dalam bajunya.

"Nanti dulu," cegah pemuda jubah kuning, "barang apa yang kau pegang itu?" Dengan sikap angkuh Ling Kun-gi menjawab: "Apa kau bicara dengan aku?"

Si pe muda jubah kuning menyeringai, katanya dingin. "Apa ada orang ketiga di sini?"

"Sela manya kita belum pernah kenal, ada petunjuk apa?"

Agaknya pemuda jubah kuning kurang sabar. katanya. " Kutanya barang apa yang kau pegang tadi?"

"lnilah barangku sendiri, kenapa kau tanyakan?" jawab Kun-gi tak acuh.

"Aku merasa kenal sekali akan barang itu, coba keluarkan biar kuperiksa."

"Me mang aku harus menurut?"

Berubah ro man pe muda jubah kuning, katanya menganca m sambil me ndekat selangkah. "Keluar-kan tidak?"

Terangkat alis Ling Kun-gi, jengeknya. "Kau mau main kasar?"

Sipe muda seperti me mpertimbang apa2, maka kata Ling Kun--gi seperti tidak didengarnya, sesaat kemudian dia baru berkata. "Mungkinkah barang miliknya?" - "NYA" atau si dia yang dimaksud sudah tentu adalah Bun Hoan-kun. Panas muka Ling Kun-gi, katanya. "Kau sedang mengoceh apa?"

Mendadak sipe muda berseru keras. "Betul, me mang itu kantong yang selalu di- bawa adik Hoan." Tiba2 dengan pandangan penuh ke marahan dia tatap muka Ling Kun-gi, hardiknya beringas: " Kantong sulam itu kau dapat dari mana?"

"Peduli kudapat dari mana?" jengek Ling Kun-gi marah juga. "Barang milik keluarga Un dari Ling- la m, bagaimana mungkin

berada di tanganmu?"

Keluarga Un dari Ling la m, jadi nona Bun itu sebetulnya she Un? Tapi Ling Kun-gi lantas menjawab: "Aku t idak kenal keluarga Un dari Ling- lam yang terang orang lain yang me mberi kantong ini padaku." Berubah air muka si pemuda jubah kuning, tanyanya tak sabar: "Siapa dia?"

"Seorang sahabat. Kau tak mungkin kenal dia." "Katakan, dia she apa?-

"She Bun."

"Laki atau Pere mpuan?" "Dia adalah Piaumoayku."

"Keluarkan kantong itu untuk kuperiksa, asal bukan milik adik dari keluarga Un segera kuke m-ba likan pada mu."

Ling Kun-gi me nggeleng, katanya: "Kau terlalu me ma ksa "

"Jadi kau ingin dipaksa pakai kekerasan?" "Pakai kekerasan aku juga t idak gentar."

"Baiklah, nah   rasakan-" mendadak pergelangan tangannya

bergerak. tahu2 sebuah jarinya menuding ke dada Ling Kun-gi, sekali tutuk lantas menye-rang Hiat-to me matikan, dari sini dapatlah dinilai orang ini berhati keja m.

Ling Kun-gi menya mbut dengan sikap pongah, "Rasakan juga boleh" Dengan enteng tiba2 dia miringkan badan dan berkelit ke samping.

Tapi pada saat ia bergerak itu, mendadak terasa pula sejalur angin kencang yang tidak kelihatan me-nerjang dadanya. Untung Ling Kun-gi sudah me-ngerahkan hawa murni pelindung badan, walau angin pukulan ini menerjang secara mendadak tetap tertolak oleh hawa pelindung badannya sehingga tidak ci- dera sedikitpun. Namun hatinya kaget dan heran, batinnya: " Entah kapan dia lancarkan angin pukulan ini, begini cepat dan tangkas?"

Waktu dia angkat kepala, dilihatnya pemuda jubah kuning mengepal tinju tangan kanan dan kiri me lintang di depan dada, kelihatannya tidak bergerak sedikitpun. Tapi gaya orang sudah cukup mengejut-kan Ling Kun-gi, dia m2 ia berteriak kaget dalam hati: "Bu sing- kun."

Melihat Bu-sing- kun (pukulan tanpa suara) yang dilancarkannya secara diam2 jelas mengenai dada orang, tapi kenyataan lawan tetap segar bugar seperti tak terjadi apa2, mau tak mau berubah air muka pe muda baju kuning, pikirnya : " Kiranya dia telah meyakinkan Hou-s in-cin-khi (hawa murni pelindung badan)." Se mua ini hanya berlangsung dalam sekejap.

Walau dalam hati kedua pihak sa ma kaget, namun mere ka tidak lantas berhenti. Sambil menyeringai tinju kanan si pe muda jubah kuning terbuka, telapak tangannya menepuk ke pundak kiri Ling Kun-gi se mentara tangan kiri menekan turun, dua jari tangannya secepat kilat menutuk Ki-hay-hiat di iga Ling Kun-gi.

Sedikit mir ingkan badan berbareng Ling Kun-- gi lancarkan jurus No-liong-tui-hun (naga marah mendorong mega), secara terbalik dia menapak serangan tangan kanan lawan, sementara tangan kiri seperti menangkis tapi kelima jarinya tergenggam, yang digunakan adalah tipu To-pan -liong- ka (menjungkir balik tanduk naga), dengan mudah dia tangkap kedua jari pe muda jubah kuning.

Dua jurus serang menyerang ini berlangsung dalam waktu singkat, semula terdengar suara plok. tangan kanan Ling Kun-gi dengan telak saling ber-adu dengan telapak tangan kiri pemuda jubah kuning. Terasa oleh pe muda jubah kuning telapak tangan Ling Kun-gi menimbulkan guncangan tenaga yang luar biasa besar dan keras, tanpa kuasa dia tertolak setengah tindak ke kanan- Berbareng terasa pula kedua jari kirinya tahu2 sudah tertangkap Ling Kun--gi yang terus mene likungnya ke belakang.

Semula kedua orang ini berdiri berhadapan, tapi karena lengan si pemuda jubah kuning ditelikung ke belakang, dengan sendirinya badannya ikut berputar, jadi dia kini me mbe lakangi Ling Kun-gi.

Dengan lutut kaki kanan Ling Kun-gi depak pantat orang serta me lepas pegangan tangan kirinya, maka pemuda jubah kuning tersuruk sempoyongan lima langkah ke depan, Lintg Kun-gi tidak mengejar. katanya dingin : "Maaf, aku sih tidak suka main kasar.."

Mendadak pemuda jubah kuning me mba lik badan, wajahnya merah pada m. "Sret", dia cabut pedang yang berkilau, hardiknya bengis: " Keluarkan senjata mu."

Ling Kun-gi tidak acuh, ujarnya,: "Barusan cayhe menaruh kasihan pada mu. tapi kau t idak tahu diri?"

"Hari ini ada kau tiada aku, marilah kita perang tanding pakai senjata."

Bertaut alis Ling Kun-gi, katanya: "Apa perlu sampai demikian?"

^

Seperti dirasuk setan si pemuda jubah kuning menca k: "Jangan

cerewet, jiwamu tetap kubunuh walau tidak pakai senjata." "Kalau de mikian silakan turun tangan saja".

"Baik. Hati2lah," tiba2 pedangnya menutul, batang pedangnya menge luarkan suara mendengung, di tengah jalan tiba2 sinar ke milau berke mbang se-perti tiga kuntum bunga yang me kar.

"Ilmu pedang bagus" Ling Kun- gi berseru me- muji. Sedikit menarik napas, mendadak dia me nyurut mundur t iga kaki.

Melihat lawan berkelit mundur, tapi tetap tidak mau melolos senjata, pemuda jubah kuning, menyeringai dingin, dengan cepat dia mendesak maju seraya mengayun pedang, beruntun dia menyerang tiga kali. Walau hanya tiga jurus, namun sinar ke milau pedangnya sudah me menuhi udara sekitarnya laksana deburan omba k sa mudera yang ber-gulung2.

Ling Kun-gi bergelak panjang, tiba2 kedua tangannya bergerak sekaligus, entah bagaimana tahu2 jari2nya mencengkera m ke tengah tabir sinar pedang lawan, gerakannya ini sangat aneh dan lucu.

Kepandaian pemuda jubah kuning bukan olah2 tingginya, pedang pusaka ditangannyapun tajam luar biasa, ternyata Ling kun-gi berani menangkap tajam pedangnya dengan tangan telanjang, keruan pemuda jubah kuning yang biasanya tinggi hati ini menjadi kaget.

Maklumlah biasanya dia selalu me-ngagulkan diri. na mun dia me mang didikan dari keluarga persilatan terna ma, pengalaman dan pengetahuannya cukup luas dan tinggi, otaknyapun dapat hekerja cepat, pikirnya: "Kalau bocah ini tidak me miliki kepandaian khas, tak mungkin dia berani mengadu tangan dengan pedang pusakaku."

Sebelum dapat menyela mi gerakan lawan- betapapun dia tidak rela kalau pedangnya ketangkap Ling Kun-gi. Sigap sekali dia mundur setengah langkah berbareng pergelangan tangan menyendal, ujung pedang seketika menerbitkan sinar benang beribu banyaknya dan mengurung rapat ke seluruh badan Ling Kun-gi.

Jurus Ban-liu-biau-si (berlaksa jalur daun liu bertaburan) yang dilancarkan ini mengincar seluruh Hiat-to musuh bagian depan, kalau latihan sudah mencapa i tarap tertinggi, hanya sekali tusukan pedang saja dapat me lukai 36 hiato-to me matikan, ilmu pedang ini merupakan salah satu dari tujuh ilmu khas keluarga Siau yang tersohor di daerah Lam siang.

Baru saja sipemuda jubah kuning me lancarkan serangannya, Ling Kun-gi mendadak menghardik keras, tangan kanan menegak terus menabas, sementara tangan kiri secepat kilat meraih ke depan, tangannya merebut pedang lawan- Serangan telapak tangan di kanan dan mencengkera m dari kiri ini dilancarkan secara serentak.

Serangan telapak tangannya menerbitkan angin kencang dan dahsyat, sehingga jurus Ban-liu-biau-s i si pe muda jubah kuning betul2 mir ip dahan2 pohon liu yang tertiup angin dan tercerai berai me layang tak keruan- Sedang kelima jarinya dengan tepat dapat menindih batang pedang orang pula.

Mimpipun tak pernah terpikir oleh pe muda jubah kuning bahwa Ling Kun-gi me miliki Lwekang selihay dan setinggi ini, lekas dia me lejit mundur beberapa kaki dengan darah tersirap. Sudah tentu ia tak tahu bahwa gerakan telapak tangan dari men-cengkeram secara berbareng dari serangan Ling Kun--gi ini me mang me mpunyai asal usul yang luar biasa. Pukulan telapak tangan adalah mo-ni-in, suatu ca-bang ilmu pecahan dari ilmu tingkat tinggi Ih-kin- king, sedangkan cengkera man tadi adalah jit-jiu--pok- liong (tangan kosong mengikat naga), salah satu tipu dari cap-ji-kim-Liong-jiu (dua belas jurus penangkap naga), cuma dia melancarkan serangan lengan tangan kiri, jadi secara terbalik dari jurus2 ilmu silat Siau- lim- pay yang semestinya.

Pada saat pemuda jubah kuning me lo mpat mundur itulah sesosok bayangan lainpun kebetulan meluncur turun di depan hutan sana. Kedatangan orang ini tidak menimbulkan suara, belum lagi kedua orang yang berhantam me lanjutkan gebrakannya, cepat orang itu me mbentak: "Kalian lekas berhenti"

Ling Kun-gi berpaling, yang datang adalah laki2 tua kurus berwajah merah, jubah panjang dengan ikat pinggang sutera, dia inilah pa man Bun Hoan-kun ladi.

Terunjuk rasa girang pada wajah pe muda ju-bah kuning, lekas dia menyambut dengan laku hor mat, "Pa man sudah datang"

Dengan pandangan tajam si orang tua menatap Ling Kun-gi, tanyanya: "Siapakah saudara ini? Kenapa kalian berkelahi?"

"Siautit tidak tahu siapa dia?" sahut pe muda ju-bah kuning, "cuma tadi kulihat dia me megangi kantong sulam mirip milik adik Hoan, maka kutanya dia peroleh dari mana? Ternyata dia tidak menjawab dan tidak mau me ngeluarkan agar dapat kuperiksa."

" o mong kosong, kantong itu pe mberian Piaumoayku, apa sangkut pautnya dengan kau?" bentak Ling Kun-gi. Apa yang diucapkan Ling Kun-gi me mang cukup beralasan, perempuan mana dalam kolong langit ini yang tidak pandai menyula m, barang kenang2an pe mberian adik misan sendiri, mana boleh ditunjukkan kepada sembarang orang.-

Tersenyum orang tua muka merah sa mbil mengelus jenggot, katanya: " Kalian masih sama muda dan berdarah panas, ini hanya salah paham, kini duduk persoalan sudah terang, toh kalian tidak ada permusuhan, buat apa harus bertempur mati2an?"

"Tapi kantong itu jelas milik adik Hoan, Siautit tidak salah lihat," pemuda jubah kuning, masih uring-ur ingan-

Ling Kun-gi mengejek: "Kau terlalu menghina orang, me mangnya hanya keluargamu saja yang bisa menyulam kantongan (sejenis dompet dari kain) begini?" .

orang tua muka merah ter-gelak2, katanya: "Di sinilah letak persoalannya, kalian tidak mau menga lah, semakin debat urusan semakin runya m. Nah marilah, kalau tidak bertempur tidak akan kenal, kalian sama2 muda dan gagah, bagaimana kalau Losiu (aku yang tua) menjadi penengahnya?" Sa mpai di sini dia berpaling kepada Ling Kun-gi dan me m-perkenalkan diri: "Losiu Un It-kiau." lalu dia tunjuk pe muda jubah kuning dan mena mbahkan: "Inilah Lo- llok (anak keena m) keluarga Siau dari La m-s iang, orang suka me manggilnya Kim- hoan-lok- long Siau Ki-jing "

Waktu bicara secara diam2 dia mengedip mata kepada pemuda jubah kuning yang masih ber-sungut2, kemudian dia berpaling dan mengawasi Ling Kun-gi, tanyanya, "Dan saudara? Di mana tempat tinggalmu? Siapa oula saudara yang terhor mat?"

"cayhe Ling Kun- gi dari Ing-cu," Kun-gi menjawab.

"Ling-lote berkepandaian tinggi, entah pernah apa dengan Hoan- jiu-ji- lay, paderi sakti nomor satu yang dulu tersohor di kalangan Bu-lim itu?" kiranya dia sudah dapat meraba asal-usul perguruan Ling Kun-gi.

Kejut juga hati Ling Kun-gi, batinnya: "Bu-kan saja tinggi kepandaian silat orang ini, pengala mannya ternyata juga luas, sekilas pandang lantas tahu seluk belukku. Tapi mes ki kau tahu asal usul perguruanku, me mangnya kau tahu bahwa guruku sengaja suruh aku pa mer kepandaiannya, guru pernah berpesan: "Tunjukkan asal usul perguruan untuk menyembunyikan asal-usul riwayat hidupku." Tapi bagaimana riwayat hidup dirinya, Kun-gi sendiri juga tidak tahu. Sesaat Ling Kun-gi bimbang, jawabnya kemudian: "Beliau adalah guruku."

Terkejut dan terpancar pula mimik aneh pada muka Un it- kiau, katanya ter-bahak2 "Ternyata Ling-lote me mang betul murid paderi sakti, sungguh beruntung dapat bertemu."-Tiba2 sorot matanya menjadi tajam, katanya pula: "Jadi gurumu mas ih sehat walafiat, entah di mana beliau sekarang tinggal?"

"Jejak guru tidak menentu, cayhe sendiri tidak^elas," sahut Kun-

gi.

Un It-kiau manggut2, katanya: " Waktu gurumu me nge mbara di

Kangouw dulu, jejaknya me mang seperti naga di dalam awan yang kelihatan ekornya tapi tidak na mpak kepalanya, tadi Losiu hanya tanya sambil la lu saja."

Lekas Kun-gi menjura, katanya: "cayhe masih punya urusan, tak bisa berdiam la ma, maaf cayhe moho n diri."

"Ling-lote ada urusan, boleh silakan pergi," ujar Un It-kiau.

Ling Kun-gi manggut2 kepada mereka berdua terus melangkah pergi dengan cepat.

Setelah bayangan Ling Kun-gi sudah jauh, terunjuk senyum sinis pada wajah Un It-kiau katanya kepada Siau Ki-jing: "Mari kita kuntit dia"

"Paman juga curiga kepada bocah itu  " ta-nya Siau Ki-jing.

Un It-kiau sedikit manggut, katanya: "Lohu kira munculnya bocah ini di sini tentu ada sebab-nya," tanpa menunggu Siau Kijing tanya lebih lanjut. dia lantas mendahului berlari pergi.

Dengan langkah cepat Ling Kun-gi mene mpuh pula perjalanan cukup jauh, mendadak dia hentikan   langkahnya,   matanya menje lajah keadaan sekeliling, tiba2 dia berkelebat masuk ke dalam hutan dipinggir jalan-

Tujuan perjalanannya ini adalah menguntit si mata satu, tapi karena di Liong- kip tadi terpaksa dia harus mende montrasikan kepandaiannya,   mungkin   laki2   yang    berbaju    biru    sudah me mperhatikan dirinya, jelas gerak gerik dirinya selanjutnya menga la mi kesulitan.

Maka setelah keluar dari kota, dia cari tempat sunyi dan tersembunyi untuk merias diri, tak tahunya dia bersua dengan Un Hoan-kun dan pelayan pribadinya.

Gurunya Hoan-jiu-ji- lay sebelum mencukur ra mbut menjadi Hwesic di Siau-lim-si, Hoan--jiu-ji- lay adalah maling pendekar di kalangan kangouw, pandai tata rias, sudah tentu dalam bidang ini Ling Kun-gi juga seorang ahli. Begitu masuk hutan dia lantas cari tempat se mbunyi, segera ia mer ias dan berdandan diri.

Tak la ma ke mudian dia sudah ubah dirinya jadi seorang tua desa dengan rambut di samping kepala sudah ubanan, jenggot kambing menghias dagunya, setelah membereskan buntalannya. dia simpan pedang di dalam baju, baru saja dia mau keluar, mendada k didengarnya dua orang mendatangi sa mbil ber- cakap2.

Kun-gi merande k. didengarnya seorang yang muda berkata: "Bocah itu cukup licin, jelas tadi dia menuju ke mar i, kenapa jejaknya menghilang?"

Disusul suara serak berkumandang: "Sebetulnya tidak perlu harus mengunt it dia, Lohu hanya merasa . . . ." hanya merasa apa? karena jaraknya semakin jauh, maka tak terdengar. Tanpa melihat bayangan mereka Ling Kun-gi tahu bahwa kedua orang ini adalah Un It -kiau dan Kim-hoau- llok-- long siau Ki-jing.

Dia melenggong mendengar percakapan mereka. batinnya: "Kiranya mereka sedang menguntitku, jangan anggap aku ini mur idnya Hoan-jiu-ji- lay."

Waktu dia tiba di Thay-khong, hari sudah maghrib, rumah2 sudah pasang lentera. Thay khong merupakan kota persimpangan jalan utara dan selatan, meski kota kecil, namun suasana kota cukup ra ma i dalam kota kecil ini terdapat tiga buah hotel. Ling Kun-gi putar kayun sebentar dijalan raya, ia mene mukan jejak si baju biru bersa ma pe mbantunya, mereka tengah ma kan minum di sebuah restoran, tapi dia tidak masuk ke sana, Dengan menghabiskan beberapa keping uang receh, dia mengorek keterangan pelayan hotel, ternyata dengan mudah dan cepat sekali dia menentukan te mpat di mana si mata satu menginap. .Itulah sebuah los men kecil yang kotor di gang yang melintang di sebe-lah timur sana. Maka Kun-gi juga mondok di los men kecil ini. Uang me mang berkuasa, jangan kata manusia, setanpun doyan duit, demikianlah pelayan los menpun mengatur segala keperluan Ling Kun-gi, dia dite mpatkan di ka mar seberang si mata satu.

Semala m suntuk tiada terjadi apa2, hari kedua pagi sekali sebelum si mata satu bangun tidur, Ling Kun-gi sudah mendahului mene mpuh perjalanan- setibanya di luar kota di sebuah te mpat. Kun-gi ubah diri pula menjadi pedagang setengah baya.

Dari toko kelontong tadi dia se mpat me mbe li sebuah payung dari kertas minyak, maka dia sembunyikan pedangnya di dalam payung, payung di bungkus hingga cuma kelihatan gagangnya, orang tentu takkan curiga kalau dia me mbeka l senjata.

Dengan me manggul buntalannya, dia langsung menuju ke Hoay- yang. Dari Thay-khong ke Hoay-yang jaraknya cuma tujuh li. setelah menya mar jadi saudagar. sudah tentu dia tidak boleh jalan terlalu cepat, dengan jalan lambat, diharap si mata satu dapat menyusul dirinya.

Tengah hari ia istirahat di Lo-bong-kip, tak lama ke mudian dilihatnya si mata satu lewat di depan warung dengan langkah cepat. Kejap lain Ling Kun-gi juga sudah mene mpuh perjalanan serta menguntit dari kejauhan-.

Sebelum petang dia tiba di Hoay- yang. Karena si mata satu sudah sampai tempat tujuan, maka tidak berani berlaku lena, begitu masuk kota dengan ketat dia me mbayangi gerak-ger ik orang. Si mata satu sebaliknya me mperla mbat langkah setelah berada dalam kota, sambil berlenggang seperti tuan layaknya dia putar kayun dijalan raya, akhirnya me masuki sebuah restoran berloteng yang bernama Ngo hok ki.

cepat Ling Kun gi juga sudah berada di Ngo-ho k-ki, sekilas pandang, dilihatnya si mtaa satu duduk sendirian di meja timur yang dekat jendela. maka dia me milih meja yang letaknya tidakjauh serta pesan ma kanan-

Hari sudah gelap. tiba saatnya orang makan mala m, lenterapun sudah dipasang terang benderang, maka ta mu2 yang mau is i perut juga ber-duyun2 datang.

Si mata satu dengan asyiknya tenggak arak pesanannya, tapi mata tunggalnya selalu plirak-plir ik me mperhatikan setiap tamu yang baru datang. Sudah tentu Kun gi tahu ma ksud orang, setelah tadi putar kayun dijalan raya, kini si mata satu duduk di tempat yang menyolok, ma ksudnya supaya menarik perhatian orang. Karena Hoay- yang adalah tujuannya yang terakhir, entah kepada siapa dia harus menyerahkan barang yang dibawanya?

Sudah tentu Kun-gi juga perhatikan setiap tamu yang datang, namun para tamu sudah ganti berganti dan pergi datang, tapi selama itu tiada satupun yang me ngadakan kontak dengan si mata satu. Kini ta mu2 yang hadir sudah mulai berkurang, tinggal beberapa orang saja. Agaknya si mata satu tidak sabar lagi setelah me mbayar rekening bergegas dia turun dari loteng restoran-

Kun-gi juga bayar rekening dan menguntit dari kejauhan- Tidak la ma mendadak si mata satu mem-percepat langkah, me mbelo k dua kali dari jalan raya yang satu kejalan raya yang lain, terus menyusur ke arah selatan, dua li ke mudian keadaan di sini sudah mulai sepi dan banyak belukar, tak la ma dia tiba di sebuah biara.

Tampak dia celingukan ke belakang sebentar, mendadak dia me lo mpat ke pagar te mbok terus turun di sebelah dala m. cepat sekali Kun-gi juga menye-linap masuk ke dalam biara lewat samping kanan, di atas tembok dia melihat si mata satu lewat pelataran terus masuk ke dala m, sejenak dia merandek terus me masuki ruang pendopo. Ling Kun-gi tak berani ceroboh dan bertindak la mbat, dengan enteng dia mendahului merunduk masuk ke dalam ruang pendopo. cepat matanya menje lajah sekelilingnya, segera ia melo mpat ke atas besandar yang melintang tepat di tengah ruang itu. Gerak-geriknya sungguh teramat cepat dan cekatan, ruang pendopo ini lebarnya ada belasan tombak. Ling Kun-gi menyelinap masuk dari arah kanan, untung kepandaian si mata satu rendah, su-dah tentu sedikitpun dia tidak tahu.

Mungkin tadi terlalu banyak minum arak. setelah mene mpuh perjalanan jauh, napasnya rada tersengal, maka begitu masuk ruang pendopo, si mata satu terus menjatuhkan diri di atas meja rebah celentang melepaskah lelah.

Tak la ma setelah dia rebah, mendada k di luar terdengar dua kali suara jeritan rintihan tertahan- Malam sunyi senyap. maka keluhan tertahan terdengar amat jelas, letaknya tidak terlalu jauh di luar biara ini, mungkin orang itu kena dibokong orang dan jiwanya terancam.

si mata satu berjingkrak kaget, lekas dia melo mpat bangun, maka dilihatnya sesosok bayangan tinggi laksana setan tahu2 sudah muncul di depan serambi ruang pendopo sana, lambat2 langkahnya, me mbur u ke ruang pendopo.

Kaget dan ketakutan si mata satu, tegurnya suara gemetar: "Siapa ?"

Dari tempat se mbunyinya, sebaliknya Ling Kun-gi dapat melihat jelas bahwa pendatang ini adalah laki2 baju hijau yang lengan kirinya pakai tangan palsu dari besi. Begitu masuk pendopo dia lantas berhenti, suaranya dingin: " Kuantar surat untukmu, apa kau ini si picak kanan-"

Mendengar orang datang mengantar surat, cepat si mata satu menyongsong maju, katanya berseri ketawa: "Bukan, bukan, hamba, ha mba picak kiri bukan picak kanan-" Bayangan kurus tinggi mendengus sekali, dari dalam kantongnya dia merogoh keluar sebuah sa mpul terus diangsurkan, katanya^ "Ambil"

si mata satu menerima dengan kedua tangan. Tanpa bicara lagi bayangan kurus tinggi terus tinggal pergi.

Dia m2 Kun-gi me mbatin dite mpat sembunyinya: "cara sibaju hijau mengantar surat mirip dengan caranya waktu me mberikan surat kepada si baju biru kemar in mala m, surat itu tentu member i petunjuk ke mana harus menyerahkan barang yang dibawanya? Mungkinkah belum sa mpai di tempat tujuan terakhir?"

Setelah terima surat, dengan sikap hormat si mata satu antar si baju hijau pergi, setelah itu dengan seksama dia baca tulisan yang ada di atas sampul surat itu, lalu kembali ketempat dia me-rebahkan diri tadi "cret"., dia menyalakan api dan menyulut sebatang lilin- Lalu dia menga mbil sebatang dupa wangi dan disulut terus ditancapkan pula di atas Hiolo, setelah itu dengan laku hormat dia taruh sampul itu di atas meja.

Kebetulan Ling- Kun-gi se mbunyi di atas belandar, melihat kelakuan si buta yang aneh dan ganjil ini, dalam hati dia merasa heran, dia pu-satkan ketajaman matanya me mandang kearah sampul di atas meja. Lwekangnya me mang sudah tinggi, walau jaraknya cukupjauh, namun huruf di atas sampul masih bisa dibacanya dengan jelas. Bunyinya de mikian: "Sulut dupa di atas Hiolo, habis sebatang baru buka sa mpul ini"

Entah apa maksud dan per ma inan aneh apa pula yang dilakukan penulis surat ini? Yang terang terasa oleh Kun-gi bahwa bungkusan kertas yang mereka   kirim dengan   cara   misterius   ini   tentu me mpunyai arti yang a mat besar.

Dupa itu terbakar dengan cepat, asap dupa mengepul me menuhi ruangan pendopo, tapi asap itupun cepat sekali sudah sirna tertiup angin, tinggal bau wangi saja yang masih merangsang hidung. Agaknya dupa wangi ini terbuat dari kayu cendana asli. Melihat dupa sudah terbakar habis, simata satu lantas ambil sa mpul terus dirobek.

cepat Kun-gi menunduk, dilihatnya si mata satu mengeluarkan secarik kertas, di dalam lipatan kertas terdapat sebutir pil warna putih, di atas kertas tertulis sebaris huruf2 yang berbunyi: "Le-kas telan pil ini, keluar dari pintu selatan, sebelum kentongan kelima sudah harus tiba di Liong-ong--bic"

Me megangi pil putih itu, agaknya si mata satu ragu2, mendadak tampak tubuhnya sempoyongan, hampir saja dia roboh terjungkal. lekas dia jejal-kan pil itu ke dalam mulut, sekalian dia raih kertas itu terus dibakar.

Pada saat itulah, bayangan seorang tiba2 terjungkal jatuh dari belakang patung pemujaan, "Blang" roboh terkulai tak bergerak setelah mengge linding dua kali.

Si mata satu a mat terkejut, dia me lo mpat mun-dur beberapa kaki, dengan mata me lotot dia mengawas i sosok tubuh yang mer ingkal dilantai itu.

Ternyata yang terjungkal jatuh dari belakang patung adalah seorang gadis yang berpakaian coklat, kedua matanya terpejam, rebah tanpa bergerak sedikitpun. Di pinggangnya kelihatan terselip sebatang pedang pendek. jelas iapun seorang persilatan-

Melihat gadis itu rebah terkulai tak bergerak lama2 bangkit keberanian si mata satu, katanya dengan tertawa dingin: "Pantas aku diperintah me mba kar dupa wangi baru boleh me mbuka surat ini, ternyata me mang ada orang menguntit diriku, pihak atas me mang ada perintah, kalau temukan orang menguntit boleh bunuh saja habis perkara, nona cantik, jangan kau salahkan aku berlaku kejam ........." dari samping tubuhnya, dia mencabut sebilah golok terus mendekati. Mendadak seorang me mbentak keras: "Berdiri"

Terasa angin menya mber, tahu2 di depan si mata satu sudah berdiri laki2 setengah baya dengan wajuh kereng, setajam pisau matanya menatap si mata satu, bentaknya pula: " Tidak lekas kau enyah?" Sorot matanya cukup menggetarkan nyali, bentrok dengan sorot mata orang, tanpa terasa si mata satu bergidik, ter-sipu2 dia mengiakan terus putar tubuh dan lari sipat kuping.

Laki2 setengah baya ini adalah samaran Ling Kun-gi, dia tidak hiraukan si mata satu, dia coba me meriksa si nona.

Kedua mata gadis baju cokelat terpejam, bulu matanya panjang me lengkung, wajahnya cantik tam-pak masih ke-kanak2an, pipinya merah seperti buah apel yang masak. hidungnya mancung, mulutnya kecil, usianya paling2 baru tujuh belasan-

Sekirang Ling Kun-gi baru mengerti bahwa dupa yang disulut si mata satu tadi kiranya dupa wangi yang me mbiuskan- Tapi kenapa dirinya tidak kurang suatu apa2. Bukankah dirinya jauh lebih banyak menghirup asap dupa di tempat yang lebih tinggi? Beberapa kejap dia berdiri me lenggong, akhirnya dia ingat akan kantong sulam pemberian Un Hoan-kun, bukankah di dala mnya berisi obat2an piranti menawarkan obat bius. Lekas dia keluarkan kantong sulam itu, setelah ikatan teratas dia buka, di dalamnya berisi sebuah botol gepeng warna pu-tih halus.

Begitu botol gepeng dikeluarkan, bau harum yang menyegarkan seketika merangsang hidung, ter-nyata di atas tutup botol terdapat lima lubang kecil yang berbentuk menyerupai bunga bwe, bau harum teruar dari lubang2 kecil2 ini. Waktu dia teliti lebih lanjut, tepat diperut botol gepeng ini terukir tiga huruf Jing-s in-tan-, di bawahnya terdapat sebaris huruf2 kecil yang berbunyi: "Buatan khusus keluarga Un di Ling- la m."

cepat Kun-gi buka tutup botol kecil ini ternyata terdiri dari dua bagian- lapisan atas berisi puyer warna kuning, lapisan kedua berisi beberapa pil warna hitam sebesar biji kapok. Sekarang Ling Kun-gi baru mengerti, bahwa puyer warna kuning itu adalah obat penawar bau wangi yang me mabukkan, ma ka diatas tutup botol di beri lubang supaya bau harum penawar ini dapat teruar keluar, oleh karena itu botol ini harus di simpan dalam kantong benang sulam dan digantung di atas leher, cukup mengendus bau harum yang teruar dari tutup botol, segala obat bius yang wangi memabukan akan menjadi tawar dengan sendirinya. Sementara pil hitam di bagian bawah itu adalah obat penawar yang harus ditelan-

Jadi gadis baju coklat ini terbius oleh bau wangi, cukup asal botol ini di ciumkan ke dekat hidungnya, tak usah diminumi pil tentu sebentar akan siuman- Betul juga, kira2 sepeminum teh ke- mudian, pelan2 gadis baju cokelat mulai me mbuka kedua mata.

Melihat dirinya rebah di lantai, di sa mpingnya berjongkok seorang laki2 yang tak dikenalnya, ke-ruan kagetnya bukan main, lekas si nona me mba lik tubuh dan berduduk seraya berteriak: "Siapa kau? Kau .... apa yang kau lakukan .... " wajahnya pucat, sctelah duduk baru dia melihat Kun-gi me megangi sebuah botol, sikapnya jelas tidak ber- maksud jahat.

Kun-gi unjuk senyum manis, katanya: "Nona jangan takut, barusan kau terbius oleh bau wangi, akulah yang me mberikan obat penawarnya."

Merah kedua pipi si gadis, kedua biji mata-nya terbeliak mengawasi Kun-gi, lekas dia me mbungkuk badan, katanya: "Jadi paman yang meno- longku, entah bagaimana aku harus menyatakan terima kasih."

Panggilan sekilas me mbuat Ling Kun--gi melenga k. tanpa segera dia sadar bahwa dirinnya sedang menya mar pedagang setengah baya, tanpa terasa dia tersenyum lebar, ujarnya sambil mengelus jenggot pendek dibawah dagunya: "Nona jangan sungkan, kebetulan cayhe lewat sini, kulihat si mata satu itu hendak mence lakai nona. sudah tentu aku t idak boleh berpeluk tangan?"

04

Terbayang rasa kaget dan heran pada wajah si gadis, katanya, "pa man bilang si matu satu itu hendak mencelakai aku? Padahal aku tidak ber- musuhan dan tiada dendam,   kenapa   dia   hendak me mbunuhku?" "Karena kuatir rahasianya bocor, membunuh nona untuk menutup mulut," sahut Kun-gi. -kedip2 mata si gadis baju cokelat, kata-nya ketarik: "Dia punya rahasia apa? Jahat betul orang itu."

Berhadapan dengan gadis yang lucu dan masih punya bersifat kanak2, suaranya merdu lagi, tanpa terasa Kun-gi sampa i mela mun. Melihat Kun-gi menatap dirinya dengan pandangan aneh, merah pula muka si gadis, dengan lir ih dia berte-riak: ....

Teriakan ini me mbuat Ling Kun-gi tersentak kaget, sadar akan sikapnya yang tidak wajar barusan, seketika mukanya terasa panas, dia tertawa tawa, tanyanya: "Bagaimana nona bisa sembunyi seorang diri di sini?"

"Sering pa manku bilang, hotel bukan penginapan yang baik bagi seorang gadis yang mene mpuh perjalanan seorang diri, katanya bisa dihina dan dirugikan orang lain, maka aku pilih biara ini "

Ling- Kun- gi tertawa, ujarnya: "Akhirnya kau lihat si mata satu itu me lo mpat tembok masuk ke mari, maka kau lantas sembunyi di belakang patung."

"Ya," mata si nona berputar, lalu katanya: "kini teringat olehku, sebelum si mata satu masuk ke mari, jelas kulihat bayangan orang berkelebat sekali terus menghilang, se mula kukira pandanganku yang kabur, ternyata paman adanya, jadi kau menguntit si mata satu, betul tidak?"

Dia m2 Kun-gi pikir gadis ini cukup cerdik dan pintar, ma ka dengan tertawa dia berkata: "cayhe hanya ketarik saja dan ingin tahu."

Bahwa Ling Kun-gi ternyata betul menguntit si mata satu, jadi tebakkannya tepat, seketika si gadis baju coklat berjingkrak girang, tanyanya cepat :"Ya, tadi paman bilang karena kuatir rahasianya bocor, maka si mata satu hendak me mbunuhku, soal apa pula yang me mbuat pa man ketarik sa mpai menguntit dia ke dalam biara ini?"

"Dia ditugaskan mengantar sesuatu benda, kulihat gerak- geriknya aneh dan me ncurigakan, ma ka kuikuti dia." si gadis mendesak lagi: "Barang apakah yang dia antar-?"

"cayhe juga tidak tahu, selanjutnya tak perlu aku menguntitnya lagi."

"tahu ke mana tujuan selanjutnya."

"Kalau t idak salah harus dikirim ke Liong--ong- Bio   " tiba2 dia

tersentak sadar, soal ini sebetulnya jangan diberitahu kepadanya, dunia persilatan penuh liku2, kalau gadis ini sa mpai ketarik dan ikut menguntit si mata satu serta kebentrok si baju biru, pasti celakalah dia. Maka lekas dia tutup mulut, lalu alihkan pe mbicaraan, tanyanya: "cayhe mohon tahu siapa na ma harum nona?"

"Aku she Pui....." sahutnya, pikirannya masih tidak me lupakan barang yang diantar si mata satu, maka dia balas bertanya pula: "Liong ong-bio diluar pintu selatan kota, paman mari kita kuntit dia, pasti bisa menyusulnya."

"Hanya ketarik oleh gerak-ger ik si mata satu ma ka aku ke mari untuk melihatnya. Setiap golongan dan aliran persilatan di Kangouw umumnya punya rahasia masing2, orang dilarang mengetahui, apalagi Licng-ong-Bio dari sini ada tujuh li jauhnya, aku punya urusan lain, kukira nona jangan mene mpuh bahaya?"

Si gadis baju cokelat kurang senang, katanya menjengek: "Me mangnya aku takut, paman tidak mau pergi, biar aku pergi sendiri. Em, dia berani kerjai aku dengan dupa wangi, aku harus cari perhitungan sa ma dia, jangan dikira aku dapat dihina dan diper mainkan."

Lekas Ling Kun-gi me mbujuk: "Dia sulut dupa karena kuatir orang mencuri lihat rahasianya, tujuannya bukan hendak me ncelakai nona, kenapa nona harus berurusan dengan orang kasar seperti dia. Nona mene mpuh perjalanan seorang diri, tentunya punya urusan juga, lebih baik mala m ini istirahat di sini, selesaikan dulu urusanmu sendiri"

"Aku keluar ber- ma in2, aku tidak punya urusan apa2, paman take mau pergi, per mis i aku mau pergi sendiri," habis berkata si nona bangkit terus mau pergi. Tapi seperti mendadak teringat apa2, kaki- nya berhenti serta berpaling, tanyanya mengawasi Kun-gi:

"Maaf paman, aku lupa mohon tanya nama pa man-?" "cayhe Ling Kun- gi dari Ing-Ciu."

"Akan selalu kucatat dalam hati, sa mpai ber-te mu, pa man Ling"

Sekali bilang pergi terus pergi, keras juga tabiat nona ini, Kun-gi jadi menyesal, kenapa tadi dia me mberitahu persoalan sebenarnya kepadanya, se orang gadis belia, kalau sampai mengala mi bahaya, bukankah secara tidak langsung aku yang mence-lakai dia? Maka cepat dia berteriak: "Nona Pui, tunggu sebentar"

Si gadis sudah tiba di luar pintu, dia behenti dan bertanya: "Paman Ling mas ih ada urusan apa lagi?"

"Kalau nona ingin pergi, baiklah bersama aku saja," ujar Kun-gi. .

Sudah tentu gadis baju cokelat kegirangan. katanya cekikan- "Paman Ling, kau sungguh baik..." -.Tawanya segar bak sekuntum bunga me kar, pipi-nya yang merah tersungging dua pipit di kanan kiri. Begitu anggun me mpesonakan sa mpai Ling Kun-gi t idak berani me lihatnya lama2, katanya sambil me lengos: "Marilah lekas berangkat."

Gadis baju cokelat me ngangguk. mereka menuju ke pekarangan luar, agaknya si gadis sengaja hendak pa mer, tiba2 dia meluncur mendahului ke depan, dengan enteng ia melayang ke atas terus hinggap di atas tembo k. Gerakannya ini adalah ci-yan--liang-po h (sarang walet mela mpaui gelo mbang), tangkas dan cekatan sekali gerak geriknya.

Ling Kun-gi ikut enjot tubuhnya, katanya sambil tertawa lantang: " Hebat benar Ginkang nona Pui." Gadis mana yang tidak senang dipuji. Dengan r ingan si gadis me luncur turun di luar te mbok, kata- nya berpaling dengan senyum bangga:   "Pa man Ling terlalu me muji"--- Sirap kata2nya mendadak dia menjerit me lengking, wabahnya pucat ketakutan dan ngeri. "Nona kenapa?" tanya Kun-gi.

Si gadis tidak berani berpaling, katanya sambil menuding ke ujung te mbok sana: "Di sana ada dua orang."

Geli Ling Kun-gi, batinnya: "Nona kecil biasanya me mang bernyali kecil" Dengan sabar dia me mbujuk: "Nona tidak usah takut, biar kulihat kesana." Ta mpak di kaki te mbok sana me mang meringkuk dua bayangan orang. Betapa tajam pandangan Ling Kun-gi, sekilas pandang dia lantas mengenali salah satu di antaranya adalah laki2 baju abu2 yang dilihatnya di warung makan di Liong- kip, seorang lagi tentu te mannya.

Mendadak Kun-gi ingat, sebelum laki2 baju hijau muncul, di luar ada dua kalijeritan orang, mungkinkah kedua orang ini sudah dikerjai musuh?

Bergegas dia me lo mpat maju terus me meriksa de-ngan berjongkok, tampak kedua orang ini mer ingkal mir ip udang kering, yang dijemur di panas matahari, kepala dan mukanya berubah kehijauan, jelas mereka me mang kena serangan racun-

Topi bulu yang dipakai laki2 baju abu2 tampa k terpental jatuh, tepat di tengah ubun-ubun kepalanya ada tanda2 bekas keselomot dupa, kiranya dia seorang Hwesio. Tergerak hati Kun--gi, pikirnya. Hwesio Siau lim si, mungkin barang yang diantar si mata satu ada sangkut pautnya dengan lenyapnya Loh-san Taysu, pimpinan Yok- ong-tian dari Siau- lim-pay? "

"Paman Ling," tanya gadis baju cokelat dari kejauhan. "Bagaimana kedua orang itu?"

Pelan2 Ling Kun-gi berdiri, katanya: "Sudah meningga l." "Apakah mereka terbunuh si mata satu?"

Kun-gi rnengeleng: "Bukan, pe mbunuhnya ada orang lain-".

"Apakah orang yang mengantar surat itu?" tanya gadis itu, "tentunya untuk menyumbat mulut mereka? Kulihat dalam perist iwa ini pasti ada latar belakang yang besar artinya." Kuatir orang bertanya berkepanjangan, lekas Kun gi berkata: "Marilah berangkat" Mereka berputar ke pintu selatan, setelah me lo mpat keluar dari tembo k kota, terus menuju ke arah selatan dengan langkah cepat.

Jarak enam-tujuh puluh li tidak terhitung jauh bagi mereka. untung mala m gelap. di jalanan sepi, maka dengan leluasa mereka dapat menge m-bangkan ilmu entengkan tubuh mene mpuh perjalanan dengan cepat.

Betapapun Lwekang si gadis jauh lebih rendah, setelah ber-lari2 sekian la manya, pipinya sudah merah, napasnya mulai sengal2, tapi dia masih berlari setaker kekuatannya.

Kun-gi melihat keadaan orang mulai keletihan, hatinya menjadi tidak tega, terpaksa dia kendorkan larinya, dengan begitu barulah si nona dapat mengimbanginya.

Agaknya sigadis tahu diri, alisnya berjengkit, katanya dengan muka merah, "Pa man Ling, agaknya kepandaian silat mu tidak lebih rendah dari pa manku,"

Siapa pa mannya, sudah tentu Ling Kun-gi tidak tahu?

Tanyanya dengan tersenyum: "Apakah pa manmu berkepandaian tinggi?"

"Sudah tentu kepandaian silat paman tera mat tinggi, aku dan Piauci sama2 belajar kepadanya, Piauciku malah lebih hebat daripada ku, mungkin aku yang terlalu bodoh."

"Usia nona masih begini muda, me miliki ke-pandaian setingkat ini juga sudah lumayan-"

Kata gadis baju cokelat dengan berseri lebar: "Piauci setahun lebih tua daripada ku, bukan saja wajahnya secantik bidadari, kepandaiannyapun jauh lebih tinggi, terus terang aku tunduk lahir batin terhadapnya. Paman Ling, mungkin kau belum tahu betapa anggun dan cantiknya, siapapun pasti tergila2 kepadanya." Tanpa ditanya dia mengoceh dengan lincah dan Jenaka, suaranya me mang merdu dan lucu, dari tingkah lakunya ini dapatlah disimpulkan bahwa gadis ini terlalu polos, bersih dan halus budi pekertinya. Dengan jujur dia puji Piaucinya bak bidadari segala, yang terang dia sendiripun mo lek dan lincah penuh gairah.

Begitulah se mbari mene mpuh perjalanan, mereka ngobrol panjang lebar, setiba di Liong-ong-blo, waktu sudah mende kati kentongan keempat. Liong--ong-Bio berada di pusat kerama ian sebuah pasar yang terletak di selatan kota Hoay-yang, di antara kota Sim-kiu, di dalam kota kecil ini kira2 dihuni dua ratus keluarga. Mereka langsung menuju ke arah barat dan tiba di Liong-ong-Bio (biara raja naga).

"Biara raja naga" ini terasa sepi, liar dan bobrok. te mbok bercat merah, letaknya dipinggir hutar menghadap ke sungai, dulu te mpat ini me mang merupa kan pusat kerama ian penduduk sekitarnya, tapi setelah sekian puluh tahun tak terurus, keadaan sudah serba bobrok dan rusaki

Setiba mereka di depan pintu biara, tampak tak jauh sana mengge letak sesosok tubuh orang, dalam kegelapan tampa k mer ingkuk diam tak ber-gerak.

Gadis baju cokelat kaget, langkahnya merandek. tanyanya: "Paman Ling, menurut kau orang itu sudah mati atau mas ih hidup?"

Sudah tentu Kun gi juga ingin tahu, lekas dia me langkah maju serta memba lik tubuh orang. se-ketika dia bersuara heran, katanya: "Kiranya si mata satu" me mang mayat yang meringkuk kaku di tanah ini betul adalah si mata satu yang mere ka kuntit.

Kulit kepala dan mukanya berwarna hitam, darah hitam meleleh dari mulutnya, mata kirinya yang tunggal melotot keluar, keadaannya sungguh seram menakutkan-Jelas dia mati keracunan-

Mungkinkah laki2 baju hijau pula yang me mbunuhnya? De mikian batin Ling Kun-gi. Dengan teliti ia me meriksa, ternyata tiada bekas luka apa-pun dibadan si mata satu. Selangkah mereka datang terlambat, tahu2 orang sudah binasa, ini berarti sia2 menguntit selama dua hari ini.

Si gadis berdiri jauh, melihat Kun-gi diam saja, dia berseru tanya: "Parnan Ling, kau kenal dia?"

"Inilah si mata satu," sahut Ling Kun-gi.

"o, dia sudah mat i?" tanya si gadis. Ling Kun-gi me ngangguk. "Setelah barang diantar sampa i tempat tujuan, sudah tentu dia

harus dibunuh juga untuk menutup mulutnya," kata si gadis pula.. .

Tergerak hati Ling Kun-gi, cepat ia meraba dada si mata satu, ternyata barang yang tersimpan di kantongnya sudah diambil orang. Pelan2 dia berdiri, tanpa terasa ia menggerunde l: "Kejam juga cara mereka bekerja."

"Apa katamu pa man Ling?" tanya si gadis.

"Dia mati keracunan, mungkin pil yang ada surat tadi juga beracun."

"Bukankah pil itu sebagai penawar dupa wangi itu?"

"Kalau dugaanku tidak me leset, pil itu pasti terdiri dari dua lapisar, lapisan luar me mang penawar obat bius, sedang lapisan dalam adalah racun, ma lah waktu juga sudah diperhitungkan dengan tepat, bila dia tiba di Liong-ong Bio baru racun akan bekerja."

"Barang itu sudah dia mbil orang, pa man Ling, perlukah kita meneruskan pengejaran ini?"

Karena menduga barang yang terbungkus kertas itu ada sangkut pautnya dengan Loh-san Taysu yang lenyap tak keruan paran itu, sudah tentu Ling Kun- gi tidak akan menghentikan usaha penyelidik,an ini.

Si mata satu memang sudah mati, tapi barang yang ia bawa pasti belum mencapai tujuan terakhir, karena kalau barang itu berakhir sampai di Liong--ong-blo, tak mungkin mereka me mbiar kan mayat si mata satu menggeletak de mikian saja dan kalau barang itu belum berakhir sa mpai di sini, dalam waktu sesingkat ini orang menga mbilnya tentu belum pergi jauh, mes ki tidak diketahui siapa pula pengganti si mata satu tapi asal dia bisa mene mukan jejak sibaju hijau dan pe mbantunya, tidak sukar untuk mene mukan jejak si pengantar barang rahasia itu

Maka perasaannya menjadi longgar, katanya kemudian: "Aku hanya ketarik saja, kalau tadi nona Pui tidak ingin ke mari, cayhe juga tidak ingin menca mpur i urusan orang lain. Kini si mata satu sudah mati, sumber penyelidikan sudah putus, kemana pula mencar i jejaknya?" .... lalu dia pandang si gadis serta mena mbahkan: "Nona Pui, dunia persilatan penuh diliput i bahaya, seorang diri, umpa ma kau berkepandaian tinggi, na mun kau belum berpengala man, kukira kaujangan main selidik terhadap rahasia orang lain, kuharap nona langsung pulang saja, aku masih punya urusan lain, tak bisa mengiringi kau lagi, hari segera akan terang tanah kota Sim- kiu tak jauh di depan sana, mari kuantar nona masuk kota, di sana nanti kita berpisah."

Si gadis berkedip. katanya sambil cekikikan: "Pa man Ling, kalau kau punya urusan boleh silahkan saja, aku toh bukan anak kecil, bisa jalan sendiri tak perlu kau antar aku."

Tanpa menunggu jawaban Ling Kun-gi dia terus putar tubuh serta mela mbai tangan, serunya: "Paman Ling, aku berangkat lebih dulu."

Bayangan nona Pui akhirnya ditelan kegelapan, hati Ling Kun-gi seperti kehilangan apa2, terasa hambar. Mendadak disadarinya bahwa dirinya telah menyukai nona jelita berpakaian cokelat yang tidak diketahui na manya ini.

Hari sudah mendekati   fajar,   angin   sepoi2   sejuk.   Kun-gi me mandang sekitarnya sejenak, mendadak tubuhnya mela mbung tinggi laksana burung elang, sedikit kaki menutul te mbok. badannya mengapung lebih t inggi pula terus meluncur ke wu-wungan, dia lewati pekarangan menuju ke belakang dan lo mpat turun di emper rumah, tanpa berhenti dengan sebat dia menuju pekarangan belakang Liong-ong- Bio ternyata terdiri dari dua bangunan te mpat pemujaan, jadi tiada ka mar untuk tempat tinggal.

Ling Kun-gi turunkan buntalannya dan duduk diundakan batu, otaknya bekerja menerawang situasi, dalam hati dia ber-tanya2 siapa pengganti si mata satu, lalu ke mana pula pengantar barang dalam buntalan kertas itu? Dari sini ke barat adalah Siang- cui, ke selatan adalah Sim- kiu dan Leng-cwan. ke timur adalah Thay-go dan Put- yang. Sejak mulai Kay-hong. mereka menuju ke arah tenggara, jadi kalau dirinya menuju ke Thay-ho atau Put- yang tentu tidak akan me leset. Setelah ambil keputusan, dia menengadah melihat cuaca, selarik cahaya emas sudah terpancar di ufuk t imur.

Lekas dia merogoh kantong, mengeluarkan sebuah kotak kecil, inilah bahan obat2an peranti merias yang selalu dibawanya. Dia maklum si baju biru dan pe mbantunya sepanjang jalan melindungi si pembawa barang secara dia m2, terpaksa dirinya harus sering ubah bentuk dengan penya maran yang berbeda baru bisa me ngelabui orang.

Dari dalam kotak dia keluarkan sebutir pil untuk cuci muka, setelah digosok ditelapak tangan terus dipoleskan kemuka sendiri sambil berkaca mirip gadis je lita yang sedang bersolek saja, lekas dia sudah me mbersihkan obat2an yang mengubah bentuk wajahnya. 

Kini dia sudah kemba li pada wajah aslinya sekejap dia mengawasi wajah sendiri pada kaca bundar kecil yang dipegangnya, lalu dia mbilnya sebiji obat bundar warna merah gelap. Baru saja dia hendak mengusap muka sendiri mendadak didengarnya tawa cekikik lir ih tertahan diatas tembo k,

Keruan Ling Kun-gi terperanjat. "Siapa?" bentaknya sa mbil berdiri

"Akulah pa man Ling" terdengar suara merdu menyahut. Tertampak bayangan ramping me layang turun dari atas te mbok, Ling Kun-gi me lenggong, tanyanya: "Kau belum pergi?"

Gadis baju cokelat berdiri di depannya, men-dadak dia menunduk dengan muka jengah, kata-nya sambil me mbanting kaki: "Kiranya kau menya mar yang kulihat tadi bukan wajah aslimu maka na ma Ling Kun-gi yang kau sebut tadi pasti jugabukan na ma aslimu."

Ling Kun-gi menjadi kikuk. katanya malu2 "Aku me mang betul Ling Kun-gi."

Gadis baju cokelat mencibir bibir, katanya "Siapa tahu kau ini tulen atau palsu?"

"Terserah kalau nona tidak percaya," ujar Kun-gi.

Tiba2 gadis baju cokelat unjuk tawa manis, katanya: "Kenapa tadi kau mengelabui aku?"

"Tiada ma ksudku menge labui nona."...

"Kalau tidak, kenapa tidak terus terang padaku, pakai menya mar segala?" .

"Berkelana di Kangouw dengan menya mar, di perjalanan akan jauh lebih leluasa, tidak menar ik perhatian orang."

"Kulihat pasti kau menye mbunyikan sesuatu, apakah karena menguntit si mata satu maka kau merasa perlu menya mar?"

Melihat sikap orang yang polos dan Jenaka. tidak tega Kun-gi berpura2, katanya sambil manggut2: "Benar, aku me mang sedang menguntil si mata satu."

Bahwa tebakannya tepat pula, sungguh senang hati si gadis, katanya cekikikan: "Jadi kau sudah tahu barang apa yang dia antar?"

"Aku betul belum tahu."

"Apakah kau sudah tahu mereka dari golongan ma na?" "juga belum je las bagiku."

"Kalau kau t idak tahu apa2, buat apa kau mengunt it dia?"

Terpaksa Kun gi tuturkan pengala mannya, di Kay-hong tentang seorang salah ala mat me mberi sepucuk surat kepadanya. Asyik dan terbeliak si gadis mendengarkan kisahnya, katanya sambil keplok2: "Sungguh menarik. pa man . . dia sudah biasa me manggil pa man Ling, tanpa terasa dia hampir mengguna kan sebutan itu pula, untung dia lekas sadar dan menghentikan panggilannya.

"Kenapa tidak panggil pa man Ling pula ke-padaku?" goda Kun-gi.

"Siapa sudi panggil kau pa man?" jengek si gadis sa mbil me lerok. "Usia mu beberapa tahun lebih tua belum setimpal kau jadi pa man, kalau jadi Ling-toakosih boleh saja." Namun segera iapun sadar telah kelepasan omong, wajahnya menjadi merah. lekas dia mena mbahkan: "Aku juga tak sudi pang-gil kau Ling toako."

"Terserah maupanggil apa," ujar Kun-gi tertawa geli. "Hari sudah terang tanah, tak baik kita la ma2 di sini, tunggulah sebentar setelah aku ra mpung menyamar.".

"Kau boleh tetap menyamar, aku toh tidak mengganggumu" ujar si gadis ale man.

Tanpa buang waktu, Ling Kun-gi hancurkan pil obat di telapak tangannya terus dipoleskan ke muka sendiri. Dalam sekejap mata, wajahnya yang halus putih dan cakap telah berubah jadi merah gelap berusia setengah baya.

Si gadia menyaksikan dengan mata terbelalak tanpa berkedip dia awasi muka Ling Kun-gi, kata-nya tertawa: "sungguh menyenangkan per mainan ini, tak ubahnya seperti anak perempuan bersolek."

Ling Kun-gi tidak hiraukan ocehannya, dari kotak kecilnya dia keluarkan pula sekeping arang, sebelah kanan pegang kaca, diaores kedua alisnya menjadi lebih tebal, kini dia betul2 berubah jadi yang lain-

Si nona jadi ketarik. tanyanya: "IHei, kau pandai tata rias, dari siapa kau belajar?"

Ling Kun gi bereskan kotak kecil dan disimpan ke dalam baju, katanya tertawa: "Sudah tentu belajar pada Suhu." "Siapakah gurumu?"

"Maaf, guruku pantang diketahui orang, tak bisa kujelaskan-"

Kini hari betul2 sudah terang, kuatir mayat si mata satu ditemukan orang, maka Kun-gi mendesak: "Jangan lama2 di sini, nona tiada urusan, boleh silakan pergi."

lalu dia me langkah lebar keluar biara. "E, eh, tunggu" seru si nona mengejar.

"Nona mas ih ada urusan apa?" tanya Kun-gi sa mbil berpaling. " Kenapa kau tidak menungguku?"

"Nona mau ke ma na?^

"Kau menya mar lagi, bukankah kau hendak mene mukan pengejaranmu?"

"Betul, kenapa?"

"Aku ikut, boleh tidak?"

Kun-gi tertegun, sahutnya menggeleng: "Jangan, nona cantik dan suci, mana boleh seperjalanan ber-sa maku?"

"Kau tidak sudi jalan bersa maku, kenapa kau tuturkan semua kisah ini?" si gadis uring2an-

Ling Kun-gi me lenggong, alisnya berkerut, sa-hutnya: "Kan nona yang tanya jadi kujelaskan."

"Maka itu, aku harus ikut kau."

"Tidak. Kangouw banyak diliputi kejahatan, nona jangan mene mpuh bahaya, dan lagi tidak leluasa nona berjalan bersa maku

. . . . "

"Tidak boleh. tidak le luasa lagi," o mel si nona dongkol, "yang terang kau tidak sudi berjalan dengan aku . . . . " tiba2 dia putar tubuh terus berlari pergi sambil menutup muka dengan kedua tangan- Ling Kun-gi hanya geleng2, dengan langkah ce-pat dia berjalan keluar. Tengah hari dia tiba di perbatasan propinsi An-hwi. Tengah ia ayun langkah, tiba2 didengarnya dari jalanan kecil sana seorang berteriak:

"Bakpau . . . , sic       "

Seorang laki2 berpakaian celana pendek berbaju kutang mendatangi sa mbil me ma nggul sebuah keranjang, setiba di depan Ling Kun-gi dia berhenti dan menyapa sambil tertawa: "Tuan ini mau beli bakpau, masih panas "

Kun-gi mengge leng, belum lagi dia buka suara, mendadak dilihatnya selarik sinar biru berkelebat, sebatang paku beracun me luncur ketenggorokannya. Serangan gelap ini dilakukan dalam jarak dekat dan cepat serta tak terduga lagi. Tak pernah Kun-gi menyangka, maka dia tidak bersiaga, tahu2 pen-jual bakpau ini menyerang dengan senjata rahasia. dalam seribu kerepotan lekas dia menjengkang tubuh ke belakang, sementara jari2 tangan kanan terus menyelentik. "Triing", dengan tepat dia selentik paku itu. Hatinya marah bukan   main,   bentaknya: "Tan-pa   sebab kau me lancarkan serangan kejam, apa tujuanmu?"

Begitu serangannya luput, tanpa menunggu Kun-gi bicara, tiba2 orang itu dorong kedua ta-ngannya, keranjang dia lempar ke arah Kun-gi, berbareng dia melo mpat mundur, kejap lain tangan kanannya sudah melo los   sebilah   golok   baja   yang   berkilau me mancarkan cahaya biru.

Pada saat orang ini me lo mpat mundur, dari dalam hutan beruntun me lo mpat keluar dua orang lagi, dandanan mere ka sama, tangan merekapun bersenjata golok yang serupa, kini mere ka berdiri segi tiga mengadang di depan Ling Kun-gi.

Begitu keranjang itu menerjang dekat baru seenaknya Ling Kun- gi kipatkan tangan, tiba2 keranjang mental balik meluncur lebih cepat menerjang ke arah laki2 yang berdiri di tengah. Sudah tentu bukan kepalang kaget si penjual bakpau, ter-sipu2 dia me lo mpat menghindar. Keranjang itu hancur berantakan menumbuk pohon sebesar paha dan seketika tumbang dan mengeluarkan suara ge- muruh.

Berubah air muka si penjual bakpau,jengek-nya: "Ternyata tuan berkepandaian tinggi."

Terpancar sinar dingin dari biji mata Ling Kun-gi, katanya: "Apa maks ud kalian?"

Penjual bakpau bertanya: "Tuan mau ke mana?" "Apa mau ke mana peduli apa dengan kalian?^

"Ka mi bersaudara mEmang sedang menunggu kedatanganmu,"

ujar si penjual bakpau.

Menegak alis Ling Kun-gi, tanyanya dingin: " Kalian tahu aku siapa?

"Peduli siapa tuan, kami hanya kenal barang yang ada di dalam kantongmu" jawab penjual bakpau.

"Kalian tahu barang apa yang ada di dalam kantongku?"

"Mata kami tidak kelilipan, tuan jangan pura2" ujar penjual bakpau tergelak.

"Kalian tidak bisa me mbeda kan baik-bur uk, pakai serangan me mbo kong lagi, kini mengadang jalanku pula, ingin kutanya, apa sih sebetulnya maksud kalian?"

Penjual bakpau tertawa dingin: "Bagus, seorang Kuncu tidak me lakukan kerja gelap. maks ud kami supaya tuan meninggalkan barang yang kau bawa itu, sudah jelas bukan?."

Tegerak hati Ling Kun-gi, batinnya: "Aku hanya me mbawa sebutir mut iara warisan keluarga serta kantong sulam pe mberian, Un Hoan- kun, kalau ketiga orang ini bukan me ngincar Pi-tok-cu, (mutiara penawar racun), tentw mereka diutus Siau Ki-jing untuk merebut kantong sulam pe mberian nona Un itu." Maka mendadak , dia tertawa keras, katanya: "Betul, barang itu me mang kubawa, entah.. cara bagaimana kalian hendak menga mbilnya?"