Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 09

 Jilid 09

Songgeng Mintaraga yang semenjak tadi membungkam mulut, lalu ikut berbicara. Katanya :

"Saudara Srimoyo, sebenarnya berapa harga gedungmu itu?"

"Dua bulan yang lalu aku membeli gedung itu. Kubeli dengan harga tigaratus ringgit," sahut Srimoyo.

"Karena rekan Lingga hendak melawanmu atas namaku, biarlah aku wakili pula dirinya. Engkau mempertaruhkan gedungmu, seharga tigaratus ringgit. Akupun akan bertaruh pula atas nama rekan Lingga sebesar tigaribu ringgit," kata Songgeng Mintaraga. "Bila rekan Lingga tak sanggup melawan kedua pedangmu, uang sebesar tigaribu ringgit boleh kau ambil. Sekiranya masih belum puas boleh kau menuntut padaku” setelah berkata demikian, ia berbisik kepada Rara Witri. Rara Wi- tri segera masuk kedalam ruang dalam. Kemudian keluar kembali sambil membawa uang tiga ribu ringgit yang disusun rapih diatas sebuah niru perak.

Didalam hati, sesungguhnya Songgeng Mintaraga masih sangsi terhadap kemampuan Lingga Wisnu.. Ia hanya tahu, Lingga Wisnu datang untuk mencoba melindungi dirinya. Itulah suatu perbuatan yang tak ternilai harganya. Ia tak menghendaki pemuda itu mengorbankan jiw a bagi dirinya. Itulah suatu perbuatan yang tak ternilai harganya. Karena itu ia melipatkan nilai harga pertaruhan. Maksudnya, dengan uang sebesar itu, Srimoyo berdua akan bisa membatasi diri dengan melukainya saja.

Kayat Pece kepala gerombolan penyamun gunung Slamet bergembira menyaksikan pertaruhan itu. Tigaribu ringgit Alangkah besar jumlahnya. Seusianya, belum pernah ia memperoleh rezeki sebesar itu. Kerapkali untuk duapuluh atau tigapujuh ringgit saja ia sudah melakukan suatu pembunuhan. Untuk tigaribu ringgit, mau ia mengampuni seratus kepala manusia .. Maka berserulah ia :

“Bagus, inilah taruhan yang maha adil. Saudara Amir Hamzah dan Srimoyo, jangan kau bunuh dia. Cukuplah sudah apabila kalian lukai saja. Aku menjagoi kamu berdua," berkata demikian, ia mengeluarkan sepotong emas murni dari dalam sakunya dan dilemparkan diatas meja. Berteriak: "Aku mau bertaruh tiga lawan satu. Emasku ini kira- kira berharga seratus ringgit. Hayoo, siapa berani bertaruh, denganku?"

Tak ada seorangpun yang berani menerima tantangannya, Didalam hati mereka masing-masing mereka percaya bahwa Amir Hamzah dan Srimoyo akan dapat mengalahkan Lingga Wisnu. Karena itu siapa sudi bertaruh untuk menjagoi Lingga Wisnu? Diluar dugaan, tiba-tiba Rara Witri meloloskan gelang emasnya. Kemudian ditaruh diatas meja. Berkata tegas kepada Kayat. Pece.

"Paman, Gelang ini tidak hanya terbuat dari emas murni. Tapipun ditaburi beberapa butir berlian. Aku taksir harganya seribu atau duaribu ringgit. Aku pertaruhkan atas nama kakang Lingga. Dengan begitu tidak hanya tiga lawan satu, tapi sepuluh law an satu. Bagaimana? Apakah paman puas?"

Kayat Pece terkejut melihat gelang berkeredepan diatas meja. Terus saja ia menghampiri dan memeriksa gelang itu- Berkata

"Benar. Harga gelangmu ini mungkin sekali bisa mencapai duaribu ringgit. Biarlah aku tambah dengan lima batang emas lagi. Dengan begitu benar-benar tepat, tiga lawan satu. Setelah berkata demikian, kepala gerombolan penyamun itu benar-benar meletakkan lima batang emas lagi diatas meja. Kemudian berkata dengan tertaw a :

"Anak cantik, kudoakan mudah-mudahan engkau menang. Dengan begitu, enam batang emas in i akan menjadi milikmu. Dikemudian hari apabila mendapat jodoh, tak perlu lagi engkau minta hadiah emas kaw in, hi-ha-ha ..."

Ayu Sarini yang semenjak tadi terbungkam mulutnya karena pedangnya kena dipatahkan Lingga Wisnu, tiba- tiba mengambil sisa pedangnya yang buntung. Dilemparkannya pedang buntung itu diatas meja sambil berkata :

"Aku juga ikut bertaruh. Inilah taruhanku!"

"Siapa kesudian bertaruh dengan pedang buntung?" damprat Sekar Prabasini.

"Kau tak mengerti maksudku? Akupun bertaruh satu lawan tiga. Bila pihakku kalah, tikamlah aku tiga kali. Sebaliknya bila pihakmu kalah, aku akan menikamnu sekali saja dengan pedang buntungku ini. Jelas?"

Sudah barang tentu sekalian yang mendengar keheran-heranan. Itulah macam pertaruhan yang belum pernah mereka saksikan. Jago-jago kenamaan yang ikut mendengar bunyi pertaruhan itu sampai bergeleng kepala. Hebat benar pendekar wanita Sekar Teratai ini. Agaknya ia terlalu bersakit hati terhadap putra Bondan Sejiw an yang memperolokkan kecantikannya.

Sekar Prabasini benar-benar tajam lidahnya. Dengan tertaw a lebar ia menyahut :

"Wajahmu begitu cantik molek. Bagaimana sampai hati aku menikammu tiga kali? Biarlah aku menggarit mukamu yang cantik itu tiga kali saja."

Bukan main mendongkolnya Ayu Sarini. Tubuhnya sampai bergemetaran menahan luapan darahnya. Nawaw i, suami Ayu Sarini meledak : "Hai, bocah! Aku nanti akan ikut serta merobek mulutmu!"

Tetapi Sekar Prabasini tidak bersakit hati. Ia melawan kata-kata sengit Nawaw i dengan tertaw a semakin lebar- Sebaliknya Rara Witri tak puas menyaksikan Nawawi ikut mencampuri macam pertaruhan. Katanya sengit :

"Kau hendak membantu isterimu? Akupun ikut serta. Aku nanti akan menabas hidungmu dan kedua tanganmu. Dengan begitu, kau t idak akan bisa memeluk isterimu yang cantik lagi."

"Bagus, akupun nanti akan memotong buah dadamu," kata Nawaw i dengan panas hati. "Saudara Kayat Pece, sudikah engkau menjadi saksi pertaruhan ini?"

Kayat Pece hidup sebagai penyamun semenjak mudanya. Seringkali ia melakukan pembunuhan. Tetapi menghadapi macam pertaruhan itu, hatinya ngeri. Tak berani ia membayangkan betapa Sarini nanti tergores mukanya dan Nawaw i bakal tak berhidung dan tak bertangan. Sebaliknya, kalau jago Rara Witri kalah, gadis itu bakal kehilangan buah dada! Bukankah sayang sekali? Maka berkatalah ia menyadarkan diri :

"Nyonya Sarini dan nona Rara, kalian berdua adalah wanita. Lebih baik kalian bertaruh bedak dan gincu daripada mempertaruhkan pipi dan buah dada. Bukankah pipi dan buah dadamu bukan milikmu sendiri? Itulah milik suami dan orang-orang tercentu yang kalian kehendaki. Bukankah begitu? Hi-ha-ha ..."

Baik Ayu Sarini maupun Sekar Prabasini merasa panas wajahnya mendengar kata-kata Kayat Pece. Tetapi Rara Witri seperti kalap. Kata gadis itu dengan sengit : "Perempuan itu telah mengutungi lengan kakak seperguruanku Pramana. Maka aku nanti akan menembus kedua matanya sampai buta!"

Mendengar ucapan Rara Witri, Kayat Pece terbungkam. Dendam gadis itu rasanya beralasan. Tiba- tiba Genggong Basuki berkata :

"Kalau Nawawi membela Ayu Sarini, sudah sewajarnya. Karena dia adalah isterinya. Sebalikya, aku lihat engkau terlalu baik terhadap adik Bondan Sejiw an. Kenapa?"

Betapapun sengitnya hati Rara Witri pada saat itu, merah juga mukanya kena tegor demikian. Cepat-cepat ia mengalihkan pembicaraan:

"Kau sendiri hendak bertaruh apa? Bukankah engkau kakak Nawawi dan Ayu Sarini dalam rumah perguruan Sekar Teratai?"

Semenjak tadi Sekar Prabasini mendongkol menyaksikan sepak terjang ketiga pendekar Sekar Teratai itu. Belum Genggong Basuki sempat menjawab, ia berkata nyaring :

"Biarlah aku yang bertaruh dengan dia." '"Bertaruh apa?" Genggong Basuki menegas, "Tiga lawan satu." sahut Sekar Prabasini.

"Tiga lawan satu bagaimana?"

"Kalau jagoku kalah, didepan hadirin aku akan memanggilmu eyang tiga kali. Sebaliknya, bila jagomu yang kalah, kau cukup memanggilku eyang sekali saja- Bagaimana?" Itulah bunyi taruhan yang sama sekali tak diduganya. Alangkah jauh berlawanan dengan bunyi taruhan antara Ayu Sarini dengan Rara Witri. Mau tak mau mereka yang mendengar bunyi taruhan itu tertawa geli. Sebaliknya Genggong Basuki merasa diri terhina benar-benar. Maklumlah, ia merasa diri seorang pendekar besar. Masakan demikianlah bunyi pertaruhan itu? Katanya:

"Siapa sudi bergurau denganmu? Baiklah begini saja. Bila jagomi menang, aku akan mencoba coba pedangku denganmu."

Sekar Prabasini tak sudi mengalah. Sahutnya :

"Kalau begitu,, kau menganggap ilmu pedangmu lebih tinggi daripada ilmu pedang Sapta Praha, kebanggaan rumah perguruan Parw ati?"

"Aku anak murid Sekar Teratai," sahut Genggong Basuki. "Pendekar Amir Hamzah dan Srimoyo adalah anak murid Parwati. Tiap golongan dan aliran mempunyai corak kepandaiannya masing-masing. Jangan kau mimpi akan bisa mengadu domba antara golonganku dengan Parw ati."

Amir Hamzah merasa jemu sudah mendengar mereka adu mulut. Serunya nyaring :

"Sudahlah. Sekarang, hai bocah! Mari kita mulai"

Setelah berkata demikian, ia mendahului menggerakkan pedangnya. Srimoyo segera mengikuti. Hebat corak serangan mereka berdua. Pedang mereka berderuh-deruh dan datang dari arah yang berlawanan. Tata-kerja kaki mereka cepat dan gesit Mereka menempati arah-arah bidik tertentu. Dan gerakan pedang mereka saling menyusul dan saling berlipat. Empat jadi delapan. Delapan jadi enambelas. Enambelas menjadi tiga-puluh dua. Dan tigapuluh dua berubah menjadi enamjruluh empat. Maka bisa dibayangkan betapa cepat dan dahsyat ilmu pedang Saptaprahara.

0odwo0

Memang, jurus ilmu Sapta Prahara merupakan ilmu pedang kebanggaan kaum Parwati. Walaupun demikian, Lingga Wisnu masih teringat akan uraian Bondan Sejiwan didalam buku warisannya bahwa masih saja terdapat kelemahan-kelemahannya.

Menurut Bondan Sejiw an, Prangwedani tetap yakin bahwa jurus Sapta Prahara, tiada ada keduanya, siapapun tak sanggup memecahkan. Waktu itu Bondan Sejiw an berdiam diri saja. Tetapi setelah pulang ke goanya, ia benar-benar menciptakan jurus pemunahnya.

Demikianlah, tatkala keluarga Mataun bertempur melawan dirinya, diantara tetamu undangannya terdapat beberapa ahli pedang kaum Parwati. Mereka membantu keluarga Dandang Mataun.

Kesempatan itu dipergunakan untuk membuktikan perkataannya. Benar saja, jurus ciptaannya benar benar dapat memunahkan dan menggagalkan setiap jurus ilmu pedang Sapta Prahara. Dan pengalamannya itu ditulisnya jelas dalam buku peninggalannya. Lingga Wisnu telah membacanya dengan tamat dan hafal di luar kepala. Karena itu menghadapi serangan Amir Hamzah dan Srimoyo, hatinya sama sekali t idak gentar.

Lingga Wisnu mengandal kepada kegesitannya. Setiap serangan digagalkan dengan elakan-elakan yang cepat luar biasa. Hal itu membuat hati Amir Hamzah dan Srimoyo penasaran. Namun mereka tetap berkelahi dengan mantap. Meskipun setiap tikamannya dapat dielakan, tapi mereka mendesak terus-menerus. Bahkan makin lama makin cepat, sehingga membuat hadirin kagum luar biasa.

"Bocah itu memang gesit gerakannya. Mungkin benar dia adik seperguruan atau murid Bondan Sejiw an," kata Kayat Pece kepada Sastra Demung yang duduk disampingnya. Dan orang tua dari aliran Ugrasawa itu mengangguk. Jaw abnya :

"Karena usianya masih muda, mungkin sekali ia lambat-laun kalah menghadapi ilmu pedang kaum Parwati yang memang hebat. Hm, sungguh sayang! Malah jarang sekali seorang pemuda seusia dia memiliki kegesitan dan kecepatan gerak seperti dia.

Penglihatan Sastra Demung hampir mendekati kebenarannya. Waktu itu, Srimoyo menusuk dada Lingga Wisnu. Dan Amir Hamzah membarengi mengarah kekiri. Kemudian menikam lambung kanan Lingga Wisnu dengan tiba-tiba. Keruan saja kedudukan Lingga Wisnu terjepit. Tak dapat lagi ia mengelakkan diri. Semua jalan mundur, tercegat. Akan tetapi pemuda itu nampak t iada gugup sama sekali. Diluar dugaan, ia mengendapkan diri. Kakinya mendupak. Setelah itu ia membenturkan kepalanya ke perut Amir Hamzah. Untung, ia tidak menggunakan tenaganya penuh-penuh. Walaupun demikian, pendekar itu terpelanting mundur dan hampir saja roboh terjengkang.

Itulah kejadian yang sama sekali tak terduga. Dalam terkejutnya, Srimoyo membabatkan pedangnya untuk mencegah serangan susulan. Ternyata Lingga Wisnu hanya mundur menghindari sampai tiga kali berturut- turut. Tentu saja hal itu membuat hati Srimoyo penasaran. Makinya :

"Binatang! Kau hendak lari kemana?"

Sebenarnya, Lingga Wisnu berkelahi dengan membatasi diri. Kalau mau, Amir Hamzah tadi sudah dapat dirobohkan. Hal itu disebabkan, karena masih mengharapkan suatu perdamaian. Tapi setelah dirinya dimaki sebagai binatang, timbullah rasa marahnya. Pikirnya didalam hati :

‘Kalau aku tidak membuat takluk benar benar rasanya sulit meyakinkan mereka. Akupun masih ingin mencari kesempatan menghajar ketiga murid kakang Purbaya yang keterlaluan itu. Mengulur waktu berarti membuang- buang tenaga tiada gunanya. Biarlah kurampungi saja ...’

Memikir demikian, ia melesat menyambar gelas minumannya. Dua tiga kali ia meneguk. Kemudian melompat kembali ke tengah gelanggang sambil berkata nyaring :

"Nah, seranglah aku! Kepandaianmu masih terlalu jauh dibawahku."

Bukan main marah Srimoyo direndahkan demikian. Terus saja ia menyerang setengah kalap. Amir Hamzah cepat-cepat mencegah. Katanya :

"Adik! Jangan sampai kau terjebak tata-muslihatnya.

Ia sengaja membuatmu marah."

Peringatan Amir Hamzah membuat Srimoyo tersadar. Cepat-cepat ia mengendalikan diri dan mengikuti irama gerak-pedang kakak seperguruan. Ia merangsak dari kiri. Dan kakaknya seperguruan memotong dari kanan. Namun Lingga Wisnu masih dapat juga lolos. Ia melesat keluar gelanggang, dan berkata kepada Sekar Prabasini :

"Adik Carikan aku minuman segar! Atau tuangkan gelasku yang kosong itu!"

''Baik!" seru Sekar Prabasini gembira. Ia tahu, Lingga Wisnu benar-benar hendak memancing hawa amarah lawannya. Maka bukannya ia mengisi gelas, akan tetapi memperhatikan gerakan pemuda itu yang tiba-tiba saja menyambar kursi disampingnya.

"Kau isilah! Pedang mereka cukup kulaw an dengan kursi ini," kata Lingga Wisnu.

Benar-benar Lingga Wisnu melawan pedang mereka dengan kursi. Setelah melihat Sekar Prabasini mengisi gelas minumannya, ia melemparkan kursi kedepan sehingga membuat lawannya mundur. Kemudian melompat sambil menyambar gelas. Sekali teguk, habislah isi gelas itu. Lalu ia menyambar sepotong paha ayam. Dan sambil ia menggerogoti paha ayam, lalu berkata :

"Apakah kalian masih saja tak percaya, bahwa ilmu pedang Sapta Prahara banyak sekali terdapat lubang kelemahannya? Sudah begitu, kepandaianmu berdua masih berada jauh dibawahku. Bagaimana kalian bisa mengharapkan dapat melukai aku? Kau tak percaya? Biarlah aku melayanirnu sartibil menggerogoti paha ayam ini”

Tentu saja panas hati Amir Hamzah dan Srimoyo. Sekarang mereka tidak dapat lagi mengendalikan diri. Masing-masing ingin menancapkan pedangnya ketubuh pemuda itu. Maka kacaulah ketentuan-ketentuan jurus Sapta Prahara yang membutuhkan suatu kerja-sama rapih.

Lingga Wisnu menghindari tiga tikaman mereka- Kemudian melompat keluar gelanggang dan meneguk gelasnya yang sudah diisi kembali oleh Sekar Prabasini. Setelah itu ia menghadapi mereka kembali sambil mengoceh :

"Nah,. lihatlah betapa tolol kamu berdua. Apakah kamu tidak tersadar juga, bahwa aku melawanmu dengan tangan kosong belaka? Tak dapatkah kau berpikir, bagaimana akibatnya bila aku melawanmu dengan pedang pula? Akh, benar-benar kan tolol. Setotol kerbau buduk!"

"Kau berkata apa?" Sekar Prabasini menegas dari luar gelanggang. "Kerbau buduk? He-e benar-benar mereka

sepasang kerbau tolol!"

Mendengar kata-kata Sekar Prabasini, dada Amir Hamzah dan Srimoyo serasa akan meledak. Dengan

menggerung, mereka menyerang Lingga Wisnu berbareng. Tapi Lingga Wisnu dapat menggelakkan dengan mudah sekali, Kata pemuda itu

:

"Aku adalah utusan Bondan Sejiw an, pendekar besar. Tugasku untuk mendamaikan kamu sekalian. Ingatlah, bahwa tanah air membutuhkan tenaga kamu sekalian. Kenapa   kamu   bertengkar   hanya   soal   pembalasan dendam perorangan belaka? Kuperingatkan tadi, bahwa kamu sebenarnya kena diperalat dua orang penghianat. Sekarang ini, mereka baru mencari akal untuk dapat meloloskan diri. Eh, jangan bermimpi! Sebentar aku akan menghajarmu ..."

Berkata demikian, tiba-tiba ia menimpuk Srimoyo dengan tulang kaki ayam. Kaget Srimoyo mundur mengelak. Dan pada detik itu pula, Lingga Wisnu menjepit ujung pedang Amir Hamzah dengan paha ayamnya. Pemda itu mengerahkan himpunan tenaga saktinya. Membentak :

"Lepas!"

Berbareng dengan bentakannya, ia menarik. Dan pedang Amir Hamzah kena ditariknya sampai meliuk kelantai. Amir Hamzah sendiri terjerunuk kedepan dan berusaha mati-matian mempertahankan diri dengan menjagangkan kedua kakinya. Oleh rasa kaget.,, malu dan putus asa karena tak mampu mempertahankan pedangnya, ia mengambil keputusan terakhir. Ia melepaskan genggamannya, kemudian membiarkan diri terseret daya tarik Lingga Wisnu sambil melepaskan pukulan geledeknya.

Amir Hamzah, sesungguhnya cerdik juga. Akan tetapi Lingga Wisnu tahu menebak jalan pikirannya. Gesit ia menjejakan kedua kakinya, dan tubuhnya melesat t inggi diudara, sambil membawa pedang rampasan. Melihat Srimoyo maju hendak kakaknya, ia menyambitkan tulang paha ayamnva. Kali ini dia mengerahkan himpunan tenaga sakti nya tujuh bagian. Dan kena gempuran himpunan tenaga saktinya pedang srimoyo terpenta kesamping Lingga Wisnu tak sudi sia-siakan kesempatan yang baik. Dengan berjumpalitan diudara ia menyambar pedang Srimoyo sebelum runtuh dilantai. Hebatnya lagi. kaki kanannya masih sempat mendupak urat pingang Srimoyo sehingga pendekar itu rnendadak saja mati kutu.

"Kamu berdua sebenarnya belum pernah melihat t ata- kerja ilmu pedang rumah perguruanmu sendiri yang menjadi kebanggaan aliran Parwati. Nah sekarang lihatlah! dengan seorang diri aku dapat melakukan jurus- jurus pedang Sapta Prahara” seru Lingga Wisnu setelah turun diatas lantai.

Dan dengan dua pedang rampasannya, pemuda benar-benar melakukan jurus-jurus Sapta Prahara, Kedua pedangnya berkelebatan dari kiri dan kanan. Arah bidik dan titik-tolaknya bertentangan. BIla yang kanan menyerang, yang kiri mempertahankan diri, Begitulah sebaliknya. Narnpaknya kusut akan tetapi sesungguhnya membahayakan lawan, Itulah jurus-jurus ilmu pedang Sapta Prahara yang asli dan dapat dipertontonkan Lingga Wisnu dengan mahir sekali.

Tak mengherankan semua hadirin tercengang- cengang menyaksikan kepandaian Lingga Wisnu mempertontonkan kemahirannya melakukan jurus-jurus ilmu pedang Sapta Prahara. Tidak hanya para angkatan mudanya, tapi juga Songgeng Mintaraga Sastra Demung.. Genggong Basuki, Taw on Remit, Naw aw i, Ayu Sarini, Kayat Pece, Suramerto, Mangun Sentono dan sekalian anak murid Songgeng Mintaraga, Itulah suatu kejadian yang tak terbayangkan sebelumnya. Kedua pedang Lingga Wisnu makin lama makin nampak berseliweran. Cahayanya berkeredepan kena pantulan sinar lampu. Dan angin menderu-deru tiada hentinya. Setelah enampuluh empat jurus selesai, terdengarlah seruan pemuda itu, dan tiba-tiba saja kedua pedang itu melesat ke atas dan menancap dalam pada penglari atap rumah. Itulah ilmu timpukan pedang Sekar Teratai yang istimewa. Botol Pinilis dahulu pernah kagum menyaksikan kemahirannya. Maka tidak mengherankan, bahwa semua hadirin bersorak bergemuruh menyatakan rasa kagumnya. Mereka bertepuk tangan dan bersuitan. Dengan terang-terangan mereka menyatakan pujian. Dan apabila suara bergemuruh itu mulai reda, terdengarlah suara gembira Sekar Prabasini yang diucapkan dengan nyaring :

"Ha-ha! Nah, sekarang bakal ada orang memanggil eyang kepadaku!"

Genggong Basuki tergugu. Raut mukanya nampak merah-biru karena rasa mendongkol dan malu. Ia menekan hulu pedangnya erat-erat, siap untuk bertempur. Dan Kayat Pece kemudian tertawa :

''Rara Witri! Kau menang! Nah, bawalah semua emasku." setelah berkata demikian, ia mendorong keenam batang Emasnya ke depan Rara Witri.

Senang hati Rara Witri melihat kejujuran dan sifat jantan Kayat Pece. Ia bangkit dari kursinya dan membungkuk hormat. Sahutnya :

"Paman, biarlah aku mewakili paman memberi hadiah kepada semua hadirin. Apakah paman rela apabila jumlah nilai pertaruhan kita kubagi rata kepada hadirin?" "Semua emasku adalah milikmu. Kau bakar atau kau buang adalah hakmu." jawab Kayat Pece.

Rara Witri mengangguk hormat. Kemudian ia berkata nyaring kepada murid-murid ayahnya:

"Saudara-saudara, diatas meja terdapat setumpuk benda yang bernilai harga kurang lebih tigaribu ringgit. Inilah jumlah nilai uang enam batang emas paman Kayat Pece dan sebuah gelang permataku. Ayah mengundang saudara-saudara sekalian untuk menghadiri pesta pertemuan ini. Sayang sekali, ayah tak sempat melayani saudara saudara sekalian dengan baik. Karena itu, emas dan gelang permataku ini esok hari akan aku jual dan hasil penjualannya akan kubagi rata kepada saudara- saudara sekalian. Siapa saja, termasuk anggauta- anggauta pengiring para pendekar kenamaan, kuperkenankan mengambil bagiannya."

Keputusan Rara Witri sangat bijaksana. Baik pihak Srimoyo maupun murid-murid Songgeng Mintaraga merasa puas. Mereka semua nampak berseri seri wajahnya. Hanya Amir Hamzah dan Srimoyo yang jadi bermurung hati. Mereka mendongkol, karena dikalahkan. Mereka malu, karena tadi sudah terlanjur membuka mulut besar.

Songgeng Mintaraga dapat membaca keadaan hati mereka berdua. Dengan sikap hormat, pendekar tua itu berkata kepada hadirin :

"Saudara-saudara sekalian. Sewaktu muda, perangaiku memang keras dan berangasan. Perangai itulah yang membuat aku kesalahan tangan sampai membunuh kakak saudara Srimoyo. Peristiw a itu betapapun juga membuat hatiku menyesal dan malu. Sekarang perkenankan aku bersembah kepada saudara Srimoyo sebagai pernyataan maafku ..." ia berhenti sebentar menoleh kepada puterinya. Berkata :

"W itri! Kau pun harus bersembah kepada pamanmu Srimoyo."

Rara Witri tahu diri. Ia mendahului ayahnya membuat sembah kepada Srimoyo, Dan pendekar itu tak dapat berbuat lain, kecuali membalas sembah mereka berdua. Ia tadi sudah berjanji, hendak menyudahi persengkataan manakala kena dikalahkan. Sebagai seorang ksatria, wajib ia memegang janji. Lagipula bunyi dua helai surat kesaksian menyatakan pula tentang kesalahan kakaknya. Karena itu t iada lagi alasan yang kuat untuk melanjutkan persengketaan itu. Pikirnya didalam hati :

'Masih beruntung, aku tidak sampai terluka. Lagipula Songgeng Mintaraga sudi bersembah padaku dihadapan umum. Inilah suatu penyelesaian terhormat. Masakan aku tak mau menerima?'

Tapi tepat pada saat itu ia seperti melihat bayangan almarhum kakaknya. Tak terasa kedua matanya berkaca- kaca.

"Saudara Srimoyo," kata Songgeng Mintaraga dengan manis. '"Mengenai pertaruhan itu, biarlah aku yang mewakili dirimu. Besok aku akan mencarikan sebuah gedung untukmu. Atau aku akan membangunkan sebuah gedung baru sebagai pengganti gedungmu untuk kedua utusan pendekar Bondan Sejiwan ini."

"Tidak' seru Sekar Prabasini. "Kita semua adalah golongan ksatria.. Ucapan kita jauh lebih berharga dari pada harga gedung itu sendiri. Mengapa hendak menjilat ludah sendiri?"

Hadirin heran mendengar kata-kata Sekar Prabasini. Songgeng Mintaraga telah menjanjikan sebuah gedung baru. Pasti lebih indah dari pada gedung Srimoyo yang nampak kuna. Kenapa Sekar Prabasini menolak? Apakah pemuda itu hendak membuat malu Srimoyo benar- benar? Mereka tentu saja tak tahu, bahwa kemarin malam Sekar Prabasini menemukan tanda-tanda sandi yang dicarinya.

0oo-dw -oo0

Songgeng Mintaraga membungkuk hormat pada Sekar Prabasini. Katanya mengambil hati :

"Anak muda. Budimu setinggi gunung terhadapku. Jiwaku sendiri belum termadai sebagai penebus budimu itu. Tapi sekarang, sudilah engkau menolong diriku sekali lagi. Aku mempunyai sebidang tanah yang luasnya empat kali lipat luas gedung saudara Srimoyo. Perkenankanlah tanah ku itu sebagai pengganti perkarangan dan rumah saudara Srimoyo yang kalah dalam pertaruhain ini.

Sekar Prabasini bersenyum. Dasar tajam lidahnya, dapat ia menjaw ab dengan tenang :

"Tadi, dia hendak membunuhmu. Seumpama engkau hendak mengganti jiwamu dengan luas tanahmu itu, dapatkah ia menerima pemohonanmu itu?"

Mendengar kata-kata Sekar Prabasini, Songgeng Mintaraga tak dapat membuka mulutnya. Memang, Srimoyo pasti tak mau sudah. Walaupun ia bersedia menyerahkan seluruh harta bendanya, tiada gunanya. Maka berkatalah ia kepada Rara Witri :

"W itri! Utusan pendekar Bondan Sejiw an tetap menghendaki gedung itu. Kalau begitu, antarkan uang taruhannya tigaribu ringgit ini kepada pamanmu Srimoyo sebagai pengganti harga gedungnya."

"Sudahlah," cegah Srimoyo. "Simpanlah uangmu baik- baik. Aku seorang laki-laki pula yang tahu menghargai mulut. Kakang Songgeng Mintaraga, maafkanlah aku. Aku datang kemari sesungguhnya untuk membalaskan dendam kakakku. Karena merasa diri tak ungkulan melawanmu, aku membaw a sahabat-sahabat undangaku. Sekarang permusuhan ini kusudahi sampai disini saja- Besok aku akan pulang kekampung dan akan menggantungkan pedangku untuk selama-lamanya. Karena itu, biarlah gedungku menjadi milik kedua tuan ini." Ia berhenti sebentar berpaling kepada Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini. kemudian menghadap sahabat- sahabatnya. Setelah membungkuk hormat ia berkata :

"Saudara-saudara datang kerana oleh ajakanku. Ternyata aku gagal membalaskan dendam kakakku dan ternyata pula kakakkulah yang salah dalam persengketaan ini. Maafkan aku membalas budi saudara sekalian yang memerlukan datang dari jauh. Idzinkanlah aku membalas budi saudara-saudara sekalian dikemudian hari. Sekarang perkenankan aku maribungkuk hormat terhadap saudara saudara sekalian sebagai pernyataan terima kasihku."

Terharu hati Lingga Wisnu mendengarkan kata-kata Srimoyo. Ternyata pendekar itu bersifat jantan dan dapat merubah sikap pula. Setelah hadirin saling hormat, berkatalah ia kepada Srimoyo :

"Saudara Srimoyo! Biarlah aku memanggilmu dengan paman Srimoyo, karena usiaku sesungguhnya jauh berada dihawahmu. Kepandaian paman Amir Hamzah dan Srimoyo, sebenarnya berada di atasku. Karena itu, tak perlu paman berdua menggantung pedang." Dan setelah berkata demikian, ia berdiri dan membungkuk hormat.

Semua hadirin tercengang mendengar pernyataan Lingga Wisnu. Tak usah disangsikan lagi, bahwa Lingga Wisnu menang secara meyakinkan. Siapapun takkan sanggup melawan pedang Amir Hamzah dan Srimoyo sambil menggeragoti paha ayam dan meneguk minuman. Kenapa dia berkata, bahwa kepandaian dua pendekar Parwati itu berada diatasnya?

"Tidak! Tidak! Kau tak perlu membesar-besarkan hatiku. Aku kalah, dan kalau sudah kalah ya memang harus kalah. Mengapa engkau berkata, bahwa kepandaianku berada diatasmu? Janganlah keterlaluan menghina diriku," ujar Airur Hamztt Mendongkol.

"Apa yang kukatakan adalah benar. Kepandaian paman berdua benar-benar berada diatasku. Paman berdua tidak percaya?" sahut Lingga Wisnu Kemudian meneruskan memberi keterangan :

"Pendekar Bandan Sejiw an sebenarnya bukan kakakku seperguruan atau guruku. Hanya secara kebetulan saja, aku memperoleh sekelumit kepandaiannya. Aku diajari bagaimana mengalahkan paman berdua. Karena jauh- jauh sudah dapat menduga akan terjadinya persengketaan ini. Aku disuruh melawan paman berdua dengan cara berandalan untuk memancing kemarahan paman berdua. Kemudian dengan suatu akal, aku akan memperoleh kemenangan. Akal itu, dia pula yang mengajari. Dengan demikian, sesungguhnya paman berdua kalah melawan pendekar Bondan Sejiw an. Dan bukan kukalahkan. Aku hanya pelaksananya semata- mata.

"Jadi kau bukan adik atau murid Bondan Sejiw an?" Amir Hamzah heran.

"Benar. Karena itu, paman tak usah malu bila dikalahkan. Sebab, sesungguhnya di jaman ini kepandaian Bondan Sejiw an kukira tiada yang sanggup menandingi. Maafkan . .. sedang guru paman sendiri, guru Prangwedani bukan tandingannya pula. Apalagi paman berdua." ujar Lingga Wisnu.

Sebenarnya ucapan Lingga Wisnu menyakitkan hati Amir Hamzah dan Srimoyo. Benarkah gurunya kalah dengan Bondan Sejiw an? Namun hati mereka menjadi tenang, karena perbandingan itu menghibur rasa kekalahannya. Dengan ikhlas Amir Hamzah membungkuk untuk membalas hormat Lingga Wisnu tadi. Kemudian berkata dengan suara merendah

"Anak muda, kau telah membuat cerah muka kami berdua. Perkenankan aku menghaturkan rasa terima kasihku tak terhingga. Bolehkah aku mengenal namamu berdua?"

"Aku sendiri bernama Lingga Wisnu. Dan dia ... eh, sebenarnya dia benar-benar putera pendekar Bondan Sejiw an," sahut Lingga Wisnu Amir Hamzah dan Srimoyo menunggu Sekar Prabasini memperkenalkan namanya. Tapi gadis itu yang mengenakan pakaian laki-laki itu, membungkam mulut. Maka tahulah mereka, bahwa dia berkeberatan mempernalkan namanya. Mereka lantas mengambil keputusan hendak segera berangkat. Dengan berbareng mereka membungkuk hormat kepada Songgeng Mintaraga. Berkata :

"Kami telah membuat susah kakang Songgeng Mintaraga. Sekarang perkenankan kami berangkat. Maafkan segala-ga lanya."

Cepat-cepat Songgeng Mintaraga membahas hormat mereka. Menyahut dengan suara manis :

"Adik sekalian, sekiranya t idak terjadi peristiw a in i, tak dapat aku bersahabat, Besok pagi aku datang mengunjungi adik sekalian."

"Tak usah," ujar Srimoyo. "Kami berdua akan meninggalkan -Wonogiri malam ini juga."

Mereka berdua memutar tubuhnya. Selagi hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar seruan Sekar Prabasini kepada Ayu Sarini:

"Hai! Bagaimana tentang pertaruhan pedang buntung?"

Rara Witri baru saja berlega hati melihat ayahnya luput dari bahaya maut. Karena itu tidak menginginkan lagi terjadi suatu ketegangan baru. Siapa tahu, ketegangan itu akan merubah keputusan Srimoyo. Maka cepat-cepat ia berkata: "Bagaimana kalau kita bergadang di dalam rumah?

Soal kecil itu, rasanya tak perlu di ungkat-ungkat."

Tetapi,   selamanya,    Sekar    Prabasini    mengotot.

Jawabnya sambil menuding Genggong Basuki:

"Dia belum memanggil eyang kepadaku. Karena itu, persoalan belum boleh dianggap selesai. Coba seumpama jago mereka yang menang, kita masing- masing akan kebagian tikaman pedang buntung sebelum sempat menyebut eyang tiga kali kepadanya."

Dalam hati Rara Witri membenarkan ucapan Sekar Prabasini. Tetapi ketegangan baru itu tidak dikehendaki . Sebaliknya Genggong Basukii dan Ayu Sarini mendongkol dan penasaran mendengar ucapan Sekar Prabasini. Sebab mereka berdualah yang tertusuk kehormatannya dengan langsung

Tiba-tiba saja, mereka melompat berbareng ke tengah gelanggang. Tetapi Genggong Basuki tidak menghampiri Sekar Prabasini. Sasaran rasa mendongkol dan malunya dialamatkan kepada Lingga Wisnu. Katanya sambil menuding;

"Kau menimpuk pedang kepenglari. Itulah timpukan gaya Sekar Teratai. Darimana kau mencuri ilmu itu? Sebenarnya kau siapa? Hayo,- bilang”

Nawaw i yang mendampingi istrinya semenjak tadi, ikut pula masuk kegelanggarg. Berkata ia membantu kakaknya seperguruan :

"Kaupun tadi menggunakan jurus-jurus Sardula Jenar.

Sebenarnya dari mana kau mencuri ilmu kami itu?" Lingga Wisnu sama sekali tak menduga, bahwa akan terjadi suatu ketegangan baru. Dalam hati ia memaki Sekar Prabasini yang membuat gara-gara itu. Namun ia tertaw a menghadapi kekasaran mereka. Sahutnya :

"Mencuri? Mencuri dari mana?"

"Kau bangsat kecil!" maki Ayu Sarini dengan wajah kalap. "Kau masih menyangkal?"

Lingga Wisnu tertaw a lebar sambil bergeleng kepala. Kemenakan, muridnya itu benar-benar galak. Sewaktu hendak membuka mulutnya, terdengar Genggong Basuki tertaw a melalu i dadanya. Lalu berkata menegas :

"Kalau. tidak mencuri, dari manakah engkau memperolehnya?”

Kembali lagi Lingga Wisnu tertaw a. Sejenak kemudian menjawab dengan tenang :

''Aku tak perlu mencuri. Karena aku murid Sekar Teratai."

Mendengar jawaban Lingga Wisnu, rombongan Genggong Basuki yang terdiri dari murid-murid aliran Sekar Teratai tercengang keheranan. Mereka saling pandang mencari pertimbangan. Dan pada saat itu Ayu Sarini maju selangkah. Sambil menuding ia berkata sengit : 

"Hai, bangsat kecil. Apakah kau sebenarnya orang gila! Bukankah kau tadi selalu membawa-bawa nama Bondan Sejiw an? Kenapa sekarang mengaku sebagai murid Sekar Teratai? Ha, ini namanya. yang palsu bertemu dengan yang tulen. tahu, dari mana kami bertiga ini. Buka telingamu baik-baik! Kami bertiga adalah murid rumah perguruan Sekar Teratai. Tahu?"

Lingga Wisnu tidak bersakit hati didamprat demikian.

Tetap saja ia bersikap sabar dan tenang. Ujarnya

"Seperti kunyatakan tadi, bahwa pendekar Bondan Sejiw an sesungguhnya tiada mempunya hubungan dan sangkut paut dengan diriku. Aku hanyalah salah seorang sahabat putera pendekar Bondan Sejiwan. Tentang kamu bertiga sebenarnya sudah kuketahui jauh-jauh sebelumnya. Jadi tegasnya; kita ini adalah sesama aliran dan sesama golongan."

Nawaw i terhenyak. Rupanya ia bisa berpikir agak sabar. Setelah Terdiam sejenak, ia berkata hati-hati :

“Semua murid eyang guru dan paman guru, kukenal dengan baik. Sebenarnya kau murid siapa?"

"Akulah murid Ki Sambang Dalan," jawab. Lingga Wisnu,

Mendengar jawaban Lingga Wisnu, mereka bertiga kaget sampai berjingkrak. Kata Nawaw i minta keyakinan pada isterinya :

"Sarini! Bocah in i ngoceh tak karuan. Apakah kau pernah mendengar kabar, bahwa eyang guru mempunyai seorang murid lagi?"

Ayu Sarini semenjak tadi sudah tak dapat menahan amarahnya lagi. Mendengar pertanyaan suaminya, ia menjawab sengit:

"Eyang guru seumpama bermata dewa. Mustahil dia mempunyai murid penipu. " Lingga Wisnu tertaw a melalui dadanya. Pikirnya didalam hati :

'Murid kakang Purbaya in i cepat sekali berpanas hati. Pikirannya cupat pula. Seumpama pedangnya masih utuh, pastilah dia akan segera menikamku. Dengan pikiran itu, ia berkata :

"Benar, Ki Sambang Dalan memang bermata dewa. Bahkan kakang Purbayapun sebenarnya sudah harus memiliki mata dewa. Apa sebab dia menerima murid sambarangan saja? Benar-benar tak kumengerti”

Srimoyo, Amir Hamzah, Songgeng Mintaraga, Sastra Demung, Kayat Pece, Kartolo dan sekalian hadirin tercengang mendengar cara Lingga Wisnu menanggil kakang terhadap pendekar Purbaya. Dia dapat menyebut nama pendekar kenamaan itu. Mustahil dia bukan salah seorang anggauta rumah perguruan aliran Sekar Teratai.

Sebaliknya Genggong Basuki bertiga justru tertusuk kehormatannya, karena si penipu kecil itu menyebut nama gurunya dengan enak saja. Maka bentak Naw aw i menegas ;

"Sebenarnya dari manakah engkau memperoleh ilmu rumah-perguruan Sekar Teratai?"

Pendekar itu masih saja mengira, bahwa Lingga Wisnu seorang penipu yang hendak mempermainkan mereka bertiga. Itulah sebabnya, meskipun agak bisa berpikir tenang, namun tak urung kehilangan kesabarannya juga,

"Bukankah sudah kukatakan?" sahut Lingga Wisnu dengan suara tetap sabar. "Guruku bernama Ki Sambang Dalan. Dialah yang disebut pendekar sakti tanpa bayangan ...” Nawaw i melemparkan pandang kepada Genggong Basuki minta pendapatnya. Kakak seperguruannya itu berdiri tertegun dengan membungkam mulut. Tadi, ia menyaksikan sendiri betapa tinggi ilmu kepandaian Lingga Wisnu. Tatkala memperkenalkan diri sebagai anak murid Sekar Teratai, ia setengah percaya. Mungkin sekali ia murid paman gurunya Botol Pinilis atau murid Sugiri- Sukesi. Tetapi setelah mendengar bahwa bocah itu mengaku sebagai murid eyang gurunya, keraguannya lenyap. Pastilah bocah itu seorang penipu besar. Betapa mungkin? Eyang gurunya terkenal sebagai seorang pendekar yang selalu merantau dari tempat ke tanpa tempat. Masakan dalam perantauannya ia menerima seorang murid yang masih muda belia? - Bagaimana cara mendidiknya? Dewapun tak akan sanggup merubah seorang anak muda belia menjadi seorang pendekar yang tinggi ilmu kepandaiannya dalam sekejap mata. Malahan, seumpama bocah itu mengaku sebagai murid suami-isteri Sugiri Sukesih pun masih menyangsikan juga. Bukankah usia suami-isteri Sugiri-Sukesi hampir mencapai lima puluh lima tahun? Masakan mereka berdua mau menerima murid semuda bocah itu. Semua orang tahu, bahwa untuk memiliki ilmu kepandaian setaraf bocah itu, paling tidak harus melampaui masa dua atau tiga puluh tahun. Yakinkah suami-lsteri Sugiri Sukesi bahwa umur mereka akan bisa mencapai delapan puluh lima tahun, sehingga mau menerima seorang murid yang masih ingusan? Semuanya t idak masuk akal! Maka berkatalah ia mengejek :

“Kalau begitu engkau adalah pamanku. Bukankah begitu, paman yang baik?” “Jangan menyebut paman kepadaku. Aku pun tidak mau menerima pula sebutan sang pendekar gagah atau sebutan-sebutan lainnya. Kalau kalian bertiga menyebut diri sebagai keponakan-keponakanku, akupun sulit menerimanya," sahut Lingga Wisnu dengan tenang.

Panas kedua telinga Genggong Basuki mendengar jawaban Lingga Wisnu. Berkata mencoba :

"Paman yang baik, tolong berilah kami nasehat. Apakah kami bertiga tadi mencemarkan pamor rumah perguruan sehingga paman mencela guruku menerima murid-murid seperti kami bertiga? Hayoo, berilah kami nasehat! Kasihanilah keponakan-keponakan muridmu ini

... Ha-ha-hal"

Genggong Basuki tertaw a oleh rasa mendongkolnya. Dia sendiri sudah berumur tigapuluh delapan tahun. Dengan sengaja ia menyebut Lingga Wisnu paman berulangkali. Lalu membahasakan diri sebagi keponakan muridnya. Tentu saja hal itu membuat geli sekalian romgongan Srimoyo

hingga mereka tertaw a berkakakan.

Mendengar suara rcmbongan Srimoyo, barulah wajah Lingga Wisnu berubah dengan sungguh-sungguh.

Katanya dengan suara berw ibawa

“Jika kakang Purbaya atau kakang Sugiri berdua berada disini, pastilah mereka akan menampar mulutmu!" “Kau bilang apa? Keparat! Jangan ngoceh tak keruan!" bentak Genggong Basuki sambil menghunus pedangnya.

Menyaksikan hal itu. Genggong Mintaraga sibuk tak keruan. Cepat-cepat ia melerai. Kata nya kepada Genggong Basuki :

"Saudara Genggong Basuki; kuharap kata-kata anak Lingga jangan dimasukkan ke dalam, hati. Mari kita lanjutkan menikmati hidangan”.

Dengan kata-katanya ini, jelaslah bahwa Songgeng Mintaragapun tidak percaya terhadap keterangan Lingga Wisnu. Usia mereka terpaut jauh. Masakan bocah itu paman Genggong Basuki bertiga? Tetapi, hati Genggong Basuki sudah telanjur panas. Tak mempedulikan permint aan Songgeng Mintaraga, ia membentak mengguruh kepada Lingga Wisnu :

"Bangsat kecil! Meskipun andaikata engkau menyembah diriku tiga kali, dan kemudian menyebut kami bertiga paman atau bibi, sudah tak terampuni lagi."

Semenjak tadi, Sekar Prabasini mendongkol mendengar Genggong Basuki bertiga menyebut Lingga Wisnu sebagai bangsat kecil, menuruti panasnya hati, ia meledak :

"Hei, cucunda Genggong Basuki! Sebelum engkau dipanggil paman, harus menyebut diriku eyang dahulu!'

Lingga Wisnu menoleh, ia khaw atir kawannya itu akan menimbulkan gara-gara baru lagi. Cepat ia mencegah :

"Adik, janganlah engkau bergurau. Liatlah akibat gara- garamu aku menghadapi kesulitan.” Setelah berkata demikian, ia menatap wajah Genggong Basuki. Berkata : "Sebenarnya belum pernah aku bertemu dengan kakang Purbaya, kakang Sugiri dan ayunda Sukesi. Kaian bertigapun berusia jauh lebih tua dari padaku. Memang tak pantas kalian Menyebut diriku sebagai pamanmu. Akan tetapi, sepak terjang kalian bertiga benar-benar tak pantas. Dan memalukan sekali."

Terbangun sepasang alis Genggong Basuki. Darahnya mendidih dan berdeburan didalam dada. Oleh rasa gusar yang tak terbangun lagi, badannya sampai menggigil. Lalu tertaw a berkakakan melepaskan ledakan hatinya. Kemudian berkata dengan suara menggeletar :

"Akh, bocah edan! Jadi kau benar-benar hendak memberi nasehat kepada kami? Coba katakan padaku, apakah kesalahan kami bertiga? Salah seorang sahabat kami dalam kesulitan. Apakah kami tidak boleh membantu?"

Lingga Wisnu berdeham dua kali. Menjawab tak langsung :

"Pendiri Sekar Teratai mewariskan duabelas angger- angger kepada kita semuanya. Kau tahu bukan, bunyi pantangan angger ketiga, kelima, ketujuh dan kesebelas? Kenapa kau langgar? Ccba baca"

Genggong Basuki terhenyak. Pikirnya, bocah ini bisa menyinggung-nyinggung soal angger-angger dua belas rumah perguruan. Sebenarnya siapakah dia?

Selagi berpikir demikian, Ayu Sarini tak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja ia menimpuk Lingga Wisnu dengan pedang buntungnya, sambil berteriak sengit : "Coba tangkap! Ingin aku menguji kepandaian murid Sekar Teratai!"

Melihat berkelebatnya pedang buntung, maka Lingga Wisnu sama sekali tak bergerak dari tempat duduknya. Ia menunggu sampai ujung pedang hampir menyentuh dirinya. Tiba-tiba tangan kirinya ditengadahkan, sedang tangan kanannya di angkat tengkurap. Kemudian dengan cepat sekali ia mengadukan kedua tangannya seperti lagi bertepuk. Plok! dan pedang buntung Ayu Sarini. kena ditangkapnya. Itulah salah satu tata-tipu muslihat rumah perguruan Sekar Teratai yang bernama Cengkeraman Rajawali.

"Bukankah ini tata-muslihat ilmu cengkeraman rajawali? Cocok atau tidak dengan aslinya?” ia menegas.

Kembali Genggong Basuki terhenyak heran. Juga Nawaw i. Didalam hati mereka berkata :

'Benar. Memang ajaian rumah perguruan Sekar Teratai. Hanya saja, kenapa bocah ini bisa melakukannya dengan sempurna? Guru sendiri belum tentu mampu berbuat demikian ,..'

Ayu Sarinipun tercengang keheranan sampai tertegun- tegun Ia merasa diri seperti mati kutu. Tatkala mengalihkan pandang, ia melihat suaminya menghampiri pemuda itu. Berkatalah suaminya dengan nada hati-hati :

"Memang benar. Engkau telah menggunakan salah satu ajaran tata-muslihat perguruan kita. Tetapi sekarang, aku ingin mencoba-coba kepandaianmu supaya terbuka mataku.''

"Kakang Nawawi. Eh, biarlah aku memanggilmu kakang saja, mengingat perbedaan usia," sahut Lingga Wisnu dengar sabar. "Gurumu terkenal dengan sebutan pendekar Narantaka pula. Dengan begitu, pastilah engkau telah mewarisi ilmu sakti Sardula Jenar dan Sapu Jagad. Apakah engkau sudah dapat membelah batu dan menghancurkan batang besi?"

Nawaw i sekararg tidak berani lagi merendahkan ucapan-ucapan Lingga Wisnu. Dengan hati-hati ia menjawab:

"Akh, aku baru saja belajar kulitnya. Tak berani aku berkata bahwa aku sudah belajar de..... ada kalimat kurang...

"'Tidak usah engkau merendahkan diri, kakang.” ujar Lingga Wisnu. "Seumpama engkau sedang berlatih ilmu tangan kosong dengan gurumu dan gurumu benar-benar menggunakan seluruh kepandaiannya, berapa jurus engkau dapat melawannya ?”

“Sepuluh jurus yang pertama," jaw ab Naw aw i cepat

“Benar-benar sepuluh jurus ?” Lingga wisnu menegas. “Benar. Sepuluh Jurus. Sebab seringkali aku berlatih

berlawan-lawanan. Hanya saja setelah meningkat ke jurus sebelas dan seterusnya aku dalam kesulitan.”

“Bagus. Gurumu terkenal dengan sebutan Narantaka. Kepandaiannya berkelahi dengan tangan kosong sudah sangat sempurna. Karena itu sungguh mengagumkan bahwa engkau sanggup melawannya sampai sepuluh jurus. Tak mengecewakan engkau membaw a-bawa nama gurumu”

“Akh, sebenarnya kepandaianku masih terpaut jauh dengan kemahiran guru, “ kata Naw aw i Sudah barang tentu Ayu Sarini tidak senang suaminya benar-benar mengakui Lingga wisnu sebagai paman gurunya, maka tegurnya dengan suara menyesali.

"Kakang Nawaw i" Apakah hatimu sudah meringkas kena gertak bocah itu?"

Nawaw i kaget seperti tersengat lebah. Katanya : "Akh, ya."

“Akh ya, bagaimana?" Lingga Wisnu menegas. "Apa

yang harus kubuktikan lagi agar engkau percaya bahwa aku adalah paman gurumu?”

"Mari kita mencoba-coba sebentar. Bila engkau ..." "Oh, begitu?" potong Lingga Wisnu. "Baiklah, bila

engkau dapat melayani aku sampai lima jurus, kau boleh berkata kepada siapapun bahwa aku penipu besar. Setuju?"

0oo-dw -oo0

Mendengar kata-kata Lingga Wisnu, Genggong Basuki bertiga heran berbareng lega hati. pikir Genggong Basuki di dalam hati :

“Bocah ini benar-benar besar mulut. Mustahil engkau sanggup merobohkan Nawaw i dalam lima jurus saja?' dengan pikiran itu ia berkata :

"Baiklah! Akulah yang menghitung."

Genggong Basuki dan Ayu Sarini mundur keluar gelanggang. Dan semua hadirin melepaskan pandangnya kearah Lingga Wisnu dan Nawaw i dengan penuh perhatian. Nawaw i benar-benar tak berani merendahkan Lingga Wisnu. Hatinya penuh kebimbangan. Karena itu ia bersikap hati-hati. Ia membungkuk hormat sebagai layaknya seorang keponakan terhadap pamannya. Lalu berkata :

"Bila nanti ternyata masih terdapat kekurangan- kekuranganku, haraplah sudi memberi saran dan nasehat."

Perlahan-lahan   Lingga    Wisnu    menghampirinya.

Setelah bersiaga bertempur, ia berkata :

"Jurusku yang pertama adalah Kidang Kumba.. Kau mengertikan? Nah, sambutlah." -

Nawaw i tercengang mendengar perkataan Lingga Wisnu. Ia jadi geli sendiri, pikirnya di dalam hati :

'Hmm, engkau hendak menggunakan tipu muslihat, bukan? Dimanakah pernah terjadi seseorang memberitahukan ragam sebelum menggempur lawan? Kalau tidak bertujuan mengakali? Kidang Kumba membidik sasaran atas. Pastilah engkau hendak menyerang bawah. Nah, biarlah aku menjaga perut. Bila te benar-benar menyerang perut, aku akan membarengi menyodok dadamu.. ' setelah berpikir demikian, ia memanggut sambil menyahut :

"Baik. Kau seranglah I"

Berkata demikian, Nawawi mempersiapkan kedua tangannya. Benar-benar ia hendak melindungi perutnya. Pemuda itu berseru :

"Hai! Kenapa kau tak percaya?" Ia menunda serangannya. Dan berseru lagi: "Tangkislah dengan kedua tanganmu! Kau tak akan sanggup menyongsong pukulan dengan sebelah tangan."

Nawaw i terperanjat. Sama sekali tak terduga duga, bahwa Lingga Wisnu benar-benar menyerang dengan jurus Kidang Kumba. Masih untung, Lingga Wisnu menunda serangannya. Kalau tidak, hidungnya pasti akan menyemburkan kecap merah. Teringat akan himpunan tenaga Lingga Wisnu yang dahsyat tadi, gugup ia menyusulkan sebelah tangannya. Dengan begitu benarlah kata Lingga Wisnu, bahwa ia harus menapak pukulannya dengan dua belah tangannya. Bres! Tubuhnya tergetar dan mundur selangkah bergoyangan.

"Bagus!" Seru Lingga Wisnu memuji. "Sekarang, seranganku yang kedua terdiri dari tiga jurus sekaligus yang kugabungkan menjadi satu. Jurus Gajah Marabah, Guntur Geni dan Sardula langking menerkam jantung. Bagaimana engkau hendak melawannya?"

Tanpa berpikir lagi, Nawaw i menjawab:

"Aku akan meramahkan dengan t iga jurus pula. Jurus Tinjomaya, Bramasta dan Garuda Yaksa.”

"Dua yang benar. Tapi yang ketiga, tidak tepat," ujar Lingga Wisnu seperti seorang guru mengajar muridnya.

Memang, sengaja ia berlaku demikian untuk membuat Nawaw i takluk benar-benar.

"Kau tak percaya? Mari kujelaskan. Titik penjagaan Garuda Yaksa berada disekitar dada. Tujuannya memunahkan sambil membalas menyerang. Bila lawan akan. mengadu tenaga, itulah bagus. Kalau tidak, terpaksalah engkau membalas menyerang. Untuk menyerang balik, kau harus menarik jari-jarimu dahu lu yang sudah terlanjur terbuka menjadi suatu cengkeraman. Kemudian memutar pergelangan untuk kau buat tenaga tolak. Dengan demikian, engkau meninggalkan separo garis pertahananmu. Karena itu, kau takkan sanggup menahan gempuranku jurus Sardula lengking menerkam jantung."

"Kalau begitu aku akan menggunakan jurus Habra Markata," sahut Nawaw i cepat.

"Ha, itu benar!" ujar Lingga Wisnu. "Nah sambutlah!"

Sambil berkata demikian, Lingga Wisnu melancarkan serangannya. Cepat dan gesit sekali, Nawawi mengadakan pembelaan. Ia menjaga tangan kanan lawan. Akan tetapi tangan kanan Lingga Wisnu hanya terangkat sedikit. Sedang tangan kirinya tiba-tiba yang menerjang sasaran. Seru Lingga Wisnu :

''Dalam suatu perkelahian, kau tak boleh terlalu kokoh memegang keharusan jurus-jurus ajaran. Semuanya bisa berubah menurut keadaan. Pastilah gurumu pernah berpesan demikian."

Diperlakukan sebagai kanak-kanak, lambat laun Nawaw i mendongkol juga. Diam-diam ia mempersiapkan serangan balasan apabila sudah dapat memunahkan t iga jurus serangan itu. Tetapi kegesitan dan kecepatan gerak Lingga Wisnu diluar perhitungannya.

Sebat luar biasa Lingga. Wisnu melejit kekiri dengan membuka dadanya. Cepat-cepat Naw aw i menjodohkan tangannya. Tapi mendadak pergelarannya kena tekap dari ditarik. Buru-buru ia menahan diri dengan menjagangkan kedua kakinya kuat-kuat. Ternyata Lingga Wisnu tidak hanya menarik saja. Ia melesat kesamping dan tiba-tiba sudah berada dibelakang punggung Nawaw i.

Ia menggempur pantatnya, sebelum Naw awi sempat memutar tubuhnya. Plok, dan kedua kaki Nawaw i gempur garis pertahanannya. Ia terhunyuk ke depan. Dan baiu bisa membalikkan tubuh setelah berjuang dengan susah-payah.

"Bagus,”seru Lingga Wisnu gembira. "Sekarang jurusku yang kelima. Jurus terakhir. Hati-hatilah, aku hendak menagunakan jurus 'menyembah keblat'.

Nawaw i heran. Bukankah jurus 'menyembah keblat' itu hanya digunakan untuk permulaan kali sebagai penghormatan kepada lawannya bertanding? Jurus itu sama sekali t idak masuk hitungan.

Lingga Wisnu rupanya   dapat   membaca hatinya.

Berkata :

"Apakah kau sangka jurus menyembah keblat hanya untuk upacara saja? Apakah kau kira jurus itu tiada faedahnya untuk menghadapi lawan? Sebenarnya kau harus dapat meraba apa maksud pendiri aliran Sekar Teratai menciptakan jurus itu. Yakinlah bahwa tiada satu juruspun ciptaan pendiri Sekar Teratai yang tidak dipersiapkan untuk melumpuhkan lawan agar dapat merebut kemenangan. Kau lihat sajalah, kalau tidak percaya!"

Setelah berkata demikian, ia mengedapkan tubuhnya dan meliuk seakan-akan gendewa. Tangan kanannya membuat tinju dan ditekap oleh tangan kirinya. Kemudian membuat gerakan membungkuk hormat. Ia maju selangkah dan kedua tangannya menyerang dengan berbareng. Semuanya itu dilakukan dengan cepat dan tiba-tiba.

Gugup Naw aw i mengadakan pembelaan. Tahu-tahu pahanya kena tinju. Tubuhnya terhuyung dan mundur roboh. Tepat pada saat itu, Lingga Wisnu melompat menyambarnya. Ia menjagangnya beberapa saat, lalu direbahkan dengan perlahan- lahan dan hati-hati.

Nawaw i melompat bangun. Terus saja ia membungkuk hormat dan berkata dengan hormat :

"Maafkan paman. Mataku terlalu lamur sehingga t idak mengenal paman dengan segera."

Cepat-cepat Lingga Wisnu   membalas   hormatnya.

Menjawab :

"Mengingat, usia kakang lebih tua, lebih baik kita saling menyebut kakak-adik saja."

"Akh, tak berani aku berbuat demkian. Mungkin paman jauh lebih senang, manakala kusebut dengan adik. Akan tetapi bijla guru mendengar, apa jadinya?" sahut Nawaw i cepat. "Lagi-pula ilmu kepandaian paman benar-benar luar-biasa dan berada jauh diatas tingkatanku. Lima jurus tadi, benar-benar jurus ilmu Sardula. Paman telah meribuka mataku. Dikemudian hari, aku akan menekuni petunjuk-petunjuk paman yang sangat berharga itu."

Nawaw i benar-benar memegang perkataannya. Dikemudian hari ia berlatih menurut petunjuk-petunjuk Lingga Wisnu. Dan ia menjadi seorang pendekar kenamaan yang jarang sekali tandingannya. Sampai berusia lanjut, ia menghormati paman gurunya yang muda belia itu. Pada saat itu, Lingga Wisnu hanya tersenyum. Tak dapat ia menolak alasan Nawawi. Memang, kalau guru Nawaw i akhirnya mendengar betapa sikap muridnya itu terhadap dirinya, bisa-bisa dikutungi kedua lengannya.

Genggong Basuki dan Ayu Sarini kini tak dapat lagi bersangsi, setelah menyaksikan Lingga Wisnu dapat merobohkan Naw aw i dengan lima jurus. Walaupun demikian, Genggong Basuki masih yakin akan ketangguhannya sendiri. Pikirnya di dalam hati :

'Aku memang murid tertua pendekar Purbaya. Akan tetapi ilmu pedangku, kuperoleh dari paman Sugiri dan bibi Sukesi. Dia tadi selalu melawan musuhnya dengan tangan kosong. Mungkin dia hebat dalam tata-berkelahi dengan tangan kosong. Tapi belum tentu ia mahir dalam ilmu pedang.'

Selagi berpikir demikian, Ayu Sarini berseru kepadanya:

"Kakang, kau belum mencoba ilmu pedangmu."

Itulah pucuk dicinta ulam tiba alias kebetulan sekali. Terus saja ia menghadap Lingga Wisnu. Berkata dengan suara angkuh ;

"Tuan! Sekarang giliranku. Aku biasa menggunakan pedang. Karena itu law anlah aku dengan pedang pula."

Genggong Basuki sudah merubah sebutan bangsat kecil menjadi tuan. Sedikit banyak ia sudah menghargai. Akan tetapi sebutan tuan itu sendiri, kurang sedap dalam pendengaran Lingga Wisnu. Apalagi dia bersikap tinggi hati. 'Rupanya dia terlalu yakin pada kepandaian sendiri. Mungkin sekali ia sudah mencapai tataran kesempurnaan.' pikir Lingga Wisnu di dalam hati. 'Melihat gerak-geriknya, gurunya tidak hanya satu. Biarlah kuminta keterangannya.’

Memperoleh pikiran demikian, ia bertanya minta keterangan :

"Menurut kabar, engkau adalah murid tertua kakang Purbaya. Tapi kakang Purbaya sesungguhnya seorang ahli tata-berkelahi dengan tangan kosong. Sebaliknya kau terkenal dengan pedangmu. Apakah kabar itu tidak benar?"

"Benar atau t idak, apa perduli tuan?" sahut Genggong Basuki cepat. "Aku memang murid tertua pendekar Purbaya. Ilmu pedangku kuperoleh dari suami isteri Sugiri-Sukesi, paman dan bibi guruku. Kenapa? Apakah aku tidak berhak lagi menyebut diriku sebagai murid Sekar Teratai? Paman Botol panilispun pernah mengajari aku satu dua jurus. Apakah aku t idak berhak membaw a- bawa nama rumah perguruan Sekar Teratai?"

'Akh, scmbong benar manusia in i?' pikir Lingga Wisnu lagi di dalam hati. 'Sifat dan perangainya ternyata jauh berbeda dengan Naw aw i. Pantas sepak terjangnya keterlaluan. Biarlah kuhajarnya benar-benar, agar dikemudian hari tidak merusak nama baik rumah perguruan Sekar Teratai. Mungkin sekali, dia akan biia merubah sepak terjangnya setelah kuberi pengalaman pahit. Mudah-inudahan ...'

Memperoleh keputusan demikian, Lingga Wisnu menyahut dengan menegakkan kepala. Katanya : "Untuk mengadu pedang bukanlah soal sulit. Hanya saja, setelah kau kalah wajib engkau mendengar perkataanku. Barangkali tidak terlalu sedap bagi pendengaranku."

“Sekarang belum ada keputusan siapa yang menang dan kalah. Karena itu kalau tuan hendak berbicara tentang menang dan kalah adalah terlalu pagi. Tuan buktikan dahulu!" ujar Genggong Basuki dengan mengulum senyum. Kemudian ia melintangkan pedangnya didepan dadanya dan mengambil tempat di sebelah kiri.

"Kakang Genggong Basuki! Pedang tidak boleh kau angkat terlalu tinggi. Dia adalah paman guru kita!" seru Nawaw i,

Tetapi Genggong Basuki t idak menggubris seruan adik seperguruannya’.itu. Ia tahu, peraturan tata-tertib rumah perguruan Sekar Teratai. Bahw asanya apabila angkatan muda berlatih pedang dengan angkatan tua, maka pedang angkatan muda tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Sebab gerakan pedang itu sendiri merupakan tata- tertib kehormatan. Kecuali itu,- anggauta angkatan muda tidak diperkenankan berdiri disebelah kiri Tapi pada saat itu ia. menganggap Lingga Wisnu bukan paman gurunya. Karena itu dia menempati setelah kiri dan mengangkat pedangnya tinggi diatas dada. Dengan tangan kiri ia menggenggam hulu pedang kemudian menantang :

"Silahkan, tuan!"

Betapa sabar Lingga akhirnya mendongkol juga. Meskipun demikian ia tidak segera menerima tantangan Genggong Basuki. Ia menoleh Kepada Songgeng Mintaraga dan berkata :' "Paman Songgeng! Maafkan, aku tadi memanggil paman dengan saudara. Sebab pada saat itu aku memperkenalkan diri sebagai adik seperguruan pendekar Bondan Sejiw an ..."

"Akh, tak mengapa. Janganlah meributkan hal itu. Itulah perkara kecil yang sama sekali tak ada harganya dibicarakan," Jawab Songgeng Mintaraga.

"Terima kasih, paman. Sekarang, bolehkah aku meminta pertolongan beberapa murid paman untuk membaw akan sepuluh batang pedang kemari?"

"Kenapa tidak? Janganlah engkau bersegan-segan terhadapku. Apa artinya sepuluh batang pedang? Jiw aku sendiri kini adalah seumpama milikmu. Tentu saja murid- miridku akan bersedia melakukan perint ahmu dengan ikhlas." Ujar Songgeng Mintaraga.

Rara Witri yang mendengar percakapan itu segera, memberi tanda kepada beberapa murid ayah nya agar mengambil sepuluh batang pedang. Segera mereka masuk kedalam rumah dan datang kembali dengan membaw a sepuluh batang pedang. Mengingat Lingga Wisnu telah menolong jiw a gurunya, mereka bahkan memilihkan pedang-pedang yang istimewa. Kemudian kesepuluh batang pedang itu di letakkan diatas meja yang berada tak jauh dari Lingga Wisnu.

Semua hadirin mengarahkan pandangnya kepada Lingga Wisnu, mereka berteka-teki dan mencoba menebak apa maksud Lingga Wisnu menghendaki sepuluh batang pedang dibawa kehadapannya- Apakah dia hendak memilih sebatang di antaranya? Akan tetapi diluar dugaan, Lingga Wisnu justru memungut pedang buntung Ayu Sarini. Kemudian sambil tertaw a ia berkata: "Biarlah aku memakai pedang buntung ini saja."

Sudah barang tentu para hadirin tercengang keheranan. Bagaimana mungkin sebatang pedang buntung dapat melawan pedang Genggong Basuki? Banyak diantara mereka menganggap pemuda itu terlalu sombong dan takabur. Sebaliknya Genggong Basuki merasa diri direndahkan. Ia gusar bukan kepalang. Bentaknya :

"Benar-benarkah engkau hendak menggunakan pedang buntung itu?"

"Kau boleh mulai menyerang " sahut Lingga Wisnu sambil menjepit pedang buntung itu diantara ibu jari dan jari telunjuknya.

"Kau benar-benar tak memandang mata padaku Jika kau nanti mampus jangan sesalkan diriku!" teriak Genggong Basuki. Ia kini merubah sebutan tuan dengan engkau. Artinya, ia tak dapat menguasai diri lagi Ia lantas memutar pedangnya. Dan diantara cahaya pedangnya yang berkilauan, ia menggerung :

"Awas!"

Genggong Basuki benar-benar menikam. Arah bidikannya kepada pundak kanan. Menurut perhitungannya, itulah bagian yang lemah. Sebab Tangga Wisnu, hanya dapat, menjepit pedangnya. Dengan demikian, tak dapat ia bergerak leluasa.

Ruangan serambi depan Songgeng Mintaraga yang terisi kurang lebih empat ratus orang, sepi dengan t iba- tiba. Mereka semua membungkam mulut dan mengarahkan seluruh perhatiannya ke gelanggang pertempuran. Mereka melihat, betapa cepat dan dahsyat serangan pedang Genggong Basuki yang disertai himpunan tenaga sakti. Tatkala ujung pedangnya hampir mencapai sasaran, sekonyong-konyong Lingga Wisnu menangkis dengan pedang buntungnya. Kedua senjata tajam itu lantas saja berbenturan.

Setelah suara nyaring pedang lenyap dari pendengaran, para hadirin terperanjat dan tertegun keheran-heranan. Mereka mendengar suara pedang patah dan runtuh bergemelontangan diatas lantai. Ternyata itulah pedang Genggong Basuki yang mendadak saja patah menjadi tiga bagian. Bagaimana bisa begitu? mereka bertanya-tanya di dalam hati. Ilmu tangkisan apakah yang digunakan Lingga Wisnu untuk membabat pedang Genggong Basuki sampai patah?

Selagi hadirin tercengang keheran-heranan, Lingga Wisnu menuding ke meja samping. Berkata:

"Jangan khaw atir! Aku telah minta kepada paman Songgeng Mintaraga agar menyediakan sepuluh batang pedang. Nah, tukarlah pedangmu yang buntung itu. Kau boleh memilih sesuka hatimu."

Sekarang, barulah hadirin mengerti, apa sebab Lingga Wisnu tadi memohon sepuluh batang pedang kepada Songgeng Mintaraga. Dan yang heran dan menyesal, adalah Rara Witri dan beberapa murid yang mengambil sepuluh batang pedang itu. Kalau tahu begitu, tidak bakalan mereka memilihkan pedang yang justru istimewa.

Genggong Basuki terperanjat berbareng gusar luar biasa. Tanpa membuka mulutnya ia membuang pedang buntungnya. Kemudian melompat ke meja sambil menyambar sebilah pedang. Setelah itu menerjang Lingga Wisnu dengan sekonyang konycng. Terdorong oleh rasa gusarnya, ia menyerang sehebat-hebatnya seumpama seekor kerbau gila hendak merobek-robek siapapun yang merintanginya. Dengan seluruh tenaganya, ia membabat kebawah.

Otak Lingga Wisnu memang cerdas luar biasa dan ia menduga, bahwa Genggong Basuki hanya menggertak saja. Karena itu tak sudi ia menangkis atau melompat tinggi. Dan dugaannya tepat benar. Genggong Basuki benar-benar mengurungkan sasaran bidikannya, Tiba- tiba saja pedangnya di tarik dibuatnya menikam perut. Melihat berkelebatnya pedang, Lingga Wisnu segera menangkis dengan mengerahkan himpunan tenaga saktinya..

Tak!

Dan untuk kedua kalinya, pedang Genggong Basuki patah menjadi tiga bagian. Tak mengherankan, Genggong Basuki menjadi kalap. Tanpa menunggu perkataan Lingga Wisnu ia telah melompat keluar gelanggang dan menyambar sebilah pedang lagi. Kemudian mengulangi serangannya dengan dahsyat. Akan tetapi, untuk yang ketiga kalinya, pedangnya patah lagi dalam segebrakan saja. Sekarang larutlah sebagian besar kesombongan hatinya. Ia berdiri tertegun bagaikan patung yang tak pandai membuka mulut. Ia heran dan penasaran.

"Hai, tuan kecil!" seru Ayu Sarini dari luar gelanggang. "Kenapa engkau melawan ilmu pedang kakang Genggong Basuki dengan ilmu iblis? Apakah ini namanya mengadu kepandaian?" Lingga Wisnu merasa dirinya kena tegur. Segera ia melempar pedang buntungnya. Kemudian ia mengambil dua batang pedang. Yang sebatang diberikan kepada Genggong Basuki. ia berpaling kepada pendekar wanita yang garang itu sambil ber senyum. Katanya :

"Ini bukan ilmu iblis, nyonya. Kau mengaku murid Sekar Teratai. Masak tidak mengenal ilmu sakti Esmu Gunting?"

Selagi ia berbicara, tiba-tiba Genang Basuki menggunakan kesempatan itu. Dengan kecepatan kilat, ia menikam punggung Lingga Wisnu dan setelah itu baru ia berteriak :

"Awasi"

Lingga Wisnu tahu kecurangan lawannya. Namun ia tak bersakit hati. Sambil mengelak kesamping, ia menirukan bunyi teriakannya seraya menggerakkan pedangnya :

"Awas!"

Genggong Basuki menyerang dengan tipu-tipu ajaran suami isteri Sugiri-Sukesi ltulah ilmu pedang pengejar angin atau Mayang Seta. Kali ini tidak sudi ia membiarkan pedangnya sampai kena bentrok. Ia bergerak sepesat angin. .itulah keistimewaannya ilmu pedang Mayang Seta yang berint ikan pada kecepatan bergerak. Dengan ilmu pedang itu, Ki Sambang Dalan pada zaman mudanya dikenal sebagai pendekar tiada bayangan, juga Genggong Basuki sudah semenjak belasan tahun lamanya, disebut sebagai pendekar tanpa bayangan. Selama itu, ilmu pedang dan kecepatannya memang tiada lawannya. Maka tidak mengherankan betapa ia yakin kepada kemenangannya.

Tapi mendadak, ia terkejut bukan main. Pantatnya seperti terbentur sebuah benda dingin. Cepat ia memutar pedangnya sambil membabatkan Namun pantatnya masih saja tertempel benda dingin itu- Kali ini ia benar- benar-kaget sampai punggungnya berkeringat dingin. Untuk membebaskan diri, ia menubruk kedepan sambil menjatuhkan diri. Kemudian melompat tinggi jauh ke depan lagi. Tetapi masih saja pantatnya terasa dingin.

Dalam sekejapan tadi, ia melihat benda apakah yang terasa dingin pada pant atnya. Itulah ujung pedang Lingga Wisnu. Keruan saja ia sibuk bukan main. Sekali lagi ia menjatuhkan diri sambil bergulingan. Namun ke mana saja ia bergerak, ujung pedang Lingga Wisnu tetap menempel pantatnya. Karena putus asa, ia jadi nekat. Pedangnya diputar berserabutan. Ha, sekarang terjadi ujung pedang Lingga Wisnu tidak lagi menempel dipantatnya. Tapi t atkala hendak berdiri, tahu-tahu ujung pedang sudah berada di depan dadanya. Kalau saja Lingga Wisnu menyorongkan pedangnya sedikit saja, tamatlah riwayatnya sebagai pendekar tanpa bayangan.

0oodwoo0

Ia kini benar-benar merasa takut dan bingung. Itulah perasaan takut dan bingung untuk yang pertama kalinya dialaminya. Selamanya, ia membanggakan diri sebagai seorang ahli pedang tercepat diempat penjuru dunia, sampai sudah tidak merasa malu menyematkan sebutan sebagai pendekar tanpa bayangan seperti eyang gurunya. Kini, ternyata ia mati kutu menghadapi kegesitan Lingga Wisnu yang bisa bergerak cepat pula seperti dirinya. Bahkan kecepatan Lingga Wisnu berada di atasnya.

Lingga Wisnu mengamat-amati, wajah Genggong Basuki yang pucat lesi. Seluruh tubuhnya bermandikan keringat. Betapun juga ia jadi iba hati. Bukankah Genggong Basuki kemenakan muridnya sendiri? Adalah keterlaluan sekali bila dibuatnya malu dihadapan umum. Maka segera ia menarik pedangnya dan mundur selangkah.

"Inilah pedang Sekar Teratai yang sejati," katanya. "Apakah engkau belum

pernah mempelajarinya?"

Genggong Basuki melompat bangun sambil menggibriki pakaiannya. Diam-diam ia menenangkan diri sambil mengatur pernapasannya kembali. Kemudian menjawab dengan menundukkan kepala :

"Itulah ilmu pedang Mayang Seta."

"Benar." kata Lingga Wisnu. "Kau sudah mengenal namanya. Masakan belum mampu menguasai?"

Genggong Basuki mencoba menguasai diri. Perlahan- lahan ia menegakkan kepalanya. Kemudian menyahut :

"Marilah mengadu pedang dengan cara yang wajar!

Ilmumu terlalu campur-aduk." "Campur aduk bagaimana?" Lingga Wisnu heran. "Yang kupergunakan adalah ilmu pedang Sekar Teratai yang aseli. Baiklah, kalau kau belum merasa puas. Lihat, akulah kini yang mendahului menyerang. Coba kau pertahankan!"

Lingga Wisnu benar-benar menyerang, Perlahan-- lahan cara menyerangnya. Dan Genggong Basuki segera menggerakkan pedangnya untuk menangkis.. Setelah itu dengan suatu kecepatan ia hendak lakukan serangan balasan. Tetapi pada saat itu mendadak saja Lingga Wisnu menekan pedangnya. Buru-buru ia menarik pedangnya. Heran! Pedangnya seperti kena tempel sebatang besi berani yang kuat luar biasa. Ia jadi sibuk.

Melihat Genggong Basuki sibuk dalam usahanya hendak menarik pedangnya, Lingga Wisnu tersenyum. Dua kali ia memutar pedangnya. Dan pergelangan tangan Genggong Basuki ikut terputar dua kali pula. Sekarang ia menariknya dengan mengerahkan himpunan tenaga sakti tujuh bagian. Dan pedang Genggong Basuki kena direnggutnya dan dilemparkan keatas lantai.

"Bagaimana? Apakah kau masih ingin mencoba lagi?" kata Lingga Wisnu sabar.

Rasa penasaran Genggong Basuki makin menghebat. Ia sekarang jadi nekad, Dengan membungkam mulut ia menyambar sebatang pedang lagi dari atas meja. Kemudian menyerang pundak kiri Lingga Wisnu. Sekarang ia menikam dengan cara yang lain. Pedangnya ditusukkan dan ditarik silih berganti dengan cepat. Ia sadar, bahwa dalam hal mengadu himpunan tenaga sakti, merasa diri kalah jauh. Lingga Wisnupun tidak memutar pedangnya lagi. Setelah mengelakkan beberapa tikaman Genggong Basuki. ia menikam dada si bandel itu. Itu lah serangan yang hebat sekali. Mau tak mau Genggong Basuki harus menangkis. Trang! Dan untuk kesekian kalinya pedang Genggong Basuki jadi terlepas dari genggamannya. Kali ini sampai mental t inggi keudara hampir mencapai langit- langit.

Genggong Basuki benar-benar menjadi kalap. Tak sudi ia menunggu pedangnya turun dari udara. Dengan sekali meloncat, ia menyambar sebatang pedang baru lagi. Kemudian maju lagi hendak menyerang.

"Apakah benar-benar engkau tak mau menyerah?" Bentak Lingga Wisnu. Ia lantas membolang-balingkan pedangnya mematikan daerah gerak

Genggong Basuki. Dan diancam gerakan pedang demikian.. Genggong Basuki terpaksa membatalkan maksudnya, Namun masih saja ia mencoba membebaskan diri. Ia mengelak sambil menarik tubuhnya kebelakang. Menyaksikan kehandalannya, Lingga Wisnu jadi mendongkol. Ia menggertak sambil menyambar kaki sibandal itu, dengan perlahan.

Namun karena himpunan tenaga saktinya sangat besar, tubuh Genggong Basuki terangkat naik dan akhirnya roboh terbanting diatas lantai. Kemudian Lingga Wisnu mengancamkan ujung pedangnya pada tenggorokan Menegas :

"Benar-benar kau tak mau menyerah?"

Selama hidupnya, belum pernah Genggong Basuki terhina seperti pada saat itu. Ia mendongkol, gusar dan malu bukan main. Karena tak dapat menguasai diri, akhirnya ia jatuh pingsan.

Ayu Sarini melompat kedalam gelanggang melihat kakaknya rebah tak berkutik. Segera ia menyerang kalang-kabut an sambil berteriak :

"Kalau kau bunuh dia, bunuhlah kami berdua pulaI" Tergetar hati Lingga Wisnu mendengar teriakan Ayu

Sarini dan melihat keadaan Genggong Basuki. Wajah

Genggong Basuki pucat-lesi. Kedua matanya melotot menatap langit-langit. Kedua gundu matanya sama sekali tak bergerak. Tubuhnya tak berkutik pula. Benar- benarkah ia mati karena penasarannya? Ia lantas membungkuk hendak memeriksa pernapasan. Pada saat itu, ia melihat berkelebatnya kedua tangan Ayu Sarini menyerang dirinya. Tak sudi ia mengelak atau mencoba melawannya. Ia hanya mengerahkan himpunan tenaga saktinya kuat-kuat sambil membenturkan baju mustikanya yang tak mempan oleh senjata tajam macam apapun. 

"Jangan khawatir! Kakakmu belum mati," kata Lingga Wisnu setelah memeriksa pernapasannya. Tetapi Ayu Sarini sudah kalap. Kedua tangannya terus menggebuki punggung Lingga Wisnu asal jadi saja. Setiap kali membal, ia menambah tenaga pukulannya. Keruan saja Nawaw i yang berada di luar gelanggang terkejut menyaksikan isterinya memukuli paman gurunya. Terus saja ia melompat dan menarik tubuh Ayu Sarini.

"Lepas! Lepas! Biarlah aku ikut mati!" seru pendekar wanita itu. "E-eh - lepas bagaimana? Kau tak boleh ikut mati. Bukankah engkau isteriku dan aku suamimu? Kau baru boleh mati manakala akulah yang terjengkang mampus," ujar Nawawi membadut. Rupanya dengan cara demikianlah ia harus melayani watak isterinya yang angin-anginan itu.

Tetapi Ayu Sarini tetap menbandal. Ia menjagangkan kedua kakinya karena emoh kena tarik. Dan kedua tangannya masih saja berserabutan memukuli Lingga Wisnu, meskipun agak terenggang. Maka terpaksalah Nawaw i menggerahkan tenaganya untuk menarik mundur. Karena masing-masing saling berkutat, akhirnya mereka jadi tarik-tarikan sendiri. Sebenarnya itulah pemandangan yang lucu sekali. Tetapi mengingat tabiat Ayu Sarini yang garang dan ganas, tiada seorangpun yang berani tert aw a.

"Eh, kau bandel sekali!" seru Nawaw i geram. "Bukankah aku suamimu?"

Sekar Prabasini yang semenjak tadi memperhatikan mereka berdua, perlahan-lahan menghampirinya. Berkata menawarkan jasa :

"Biarlah kutolong. Biar kugigit pant atnya! Aku ingin tahu, apakah pantatnya keras atau tidak?" '

Mendongkol hati Ayu Sarini mendengar ucapan Sekar Prabasini. Tapi teringatlah dia bahwa pemuda itu benci kepadanya. Bagaimana kalau dia benar-benar membuktikan ancamannya. Kalau pantatnya sampai kena gigit seorang pemuda di depan unum, wah, bisa runyam. Oleh karena itu, ia segera menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh di atas lantai. Kemudian menangis karena mendongkol. "Hai, kenapa menangis? Aku kan belum sampai menggigit pantatmu?" teriak Sekar Prabasini tersenyum

Sebenarnya Naw awi ikut tersinggung. Betapa juga, bukankah Ayu Sarini isterinya yang syah? Bagaimana ia bisa membiarkan pant at isterinya dibicarakan seorang pemuda didepan umum? Tapi mengingat pemuda itu adalah sahabat paman gurunya, terpaksa ia menelan rasa kehormatannya. Sekonyong-konyong, di luar dugaan, Ayu Sarini melompat bangun dan menggempur pundak Sekar Prabasini.

Itulah serangan "yang terjadi sangat cepat dan tiba- tiba. Sekar Prabasini tak sempat mengelak atau menangkis. Sedangkan Lingga Wisnu tak mau menghalang-halang i. Maka pundak Sekar Prabasini benar-benar kena gebuk. Sekar Prabasini kaget sampai berteriak tertahan. Tetapi pada saat itu juga, Ayu Sarini memekik tinggi. Kemudian duduk mendeprok sambil memjijat mijat kedua tangannya. Pekiknya :

"Aduh tanganku! Tanganku!"

"Kenapa tanganmu?" tanya suaminya gugup. Ia kaget tatkala melihat tangan Ayu Sarini menjadi bengkak kemerah-merahan. Sekejap itu pulalah tahulah ia, bahwa hal itu terjadi akibat kena pentalan himpunan tenaga sakti Lingga Wisnu. Pantas saja, Lingga Wisnu tak mau menangkis atau mencoba menghalang-halangi tatkala Ayu Sarini menyerang Sekar Prabasini. Sebaliknya rombongan murid-murid para pendekar, mengira bahwa bengkaknya tangan Ayu Sarini adalah akibat menyerang Sekar Prabasini. Karena Sekar Prabasini tadi diperkenalkan sebagai putera Bondan Sejiw an, mereka percaya bahwa pemuda itu berkepandaian t inggi. Oleh pekik Ayu Sarini, Genggong Basuki tersadar. Segera ia berdiri dan membungkuk hormat tiga kali kepada Lingga Wisnu. Katanya:

"Paman Lingga. Benar-benar aku menyesal. Aku seorang keponakan yang tak tahu diri. Sekarang sudilah paman menolong Ayu Sarini?"

Sikap Lingga Wisnu berbeda dengan tadi. Ia bersikap kaku dan berw ibawa. Sama sekali ia t idak mendengarkan permint aan Genggong Basuki. Sahutnya pendek :

"Apakah kau insyaf atas kesalahanmu?"

Tak berani Genggong Basuki berkeras kepala seperti tadi. Ia menundukkan kepala. Lalu menjawab :

"Ya, paman. Aku salah. Aku bersalah merobek-robek surat kesaksian kakang Songgeng Mintaraga. Juga tidak seharusnya aku membantu kakang Srimoyo."

Lingga Wisnu menghela napas. Katanya memberi nasihat :

"Memang, aku sangat menyesal apa sebab kau merobek surat kesaksian itu. Hampir saja kau menimbulkan korban entah berapa puluh orang. Karena itu, hendaklah engkau bisa berpikir panjang sebelum berbuat. Tentang sikapmu membantu paman Srimoyo, sama sekali tidak salah itulah perbuatan setia-kawan yang sejati. Karena itu, engkau bahkan harus dipuji. Hanya saja kau belum tahu kedudukan paman Srimoyo sebenarnya."

Genggong Basuki heran. Bertanya : "Bukankah kakang Srimoyo salah seorang pendekar Parwati yang kenamaan? Apa maksud paman menyangsikan kejujurannya?"

"Kau tadi belum sampai membaca bunyi pantangan kelima angger-angger Sekar Teratai." jawab Lingga Wisnu tak langsung.

"Paman tadi menyuratiku membaca pantangan yang ketiga, ketujuh dan kesebelas," kata Genggong Basuki. "Pantangan ketiga, ialah larangan membunuh tanpa sebab Ayu Sarini telah melanggar pantangan ini. Karena itu wajib ia memohon maaf kepada kakang Songgeng Mintaraga dan membayar kerugian."

"Huh ...," dengus murid-murid Songgeng Mintaraga dengan berbareng. "Masakan tangan kutung hanya memperoleh ganti rugi saja? Enak saja kau bicara."

Genggong Basuki merasa pihaknya bersalah. Maka ia menutup mulut. Lingga Wisnu kanudian mengarahkan pandangnya kepada Songgeng Mintaraga dan sekalian muridnya. Berkata dengan nyaring :

"Perbuatan keponakan muridku memang keterlaluan. Aku menyesal sekali. Tunggulah sampai luka rekan Pramana sembuh. Aku akan berdaya upaya sampai dia dapat menggunakan sebelah tangannya dengan sempurna. Ilmu itu bukan berasal dari rumah perguruan Sekar Teratai'

Mereka semua tahu, betapa tinggi ilmu kepandaian Lingga Wisnu. Bila pemuda itu bersedia menjadi guru Pramana, adalah menguntungkan sekali, Lagi pula, dia sudah menolong jiw a gurunya. Maka mereka menerima usul Lingga Wisnu dengan puas. Setelah suasana reda kembali, Lingga Wisnu melanjutkan perkataannya kepada Genggong Basuki :

"Sekarang, bagaimana bunyi pantangan yang ketujuh?"

"Itulah larangan memutuskan suatu hal tanpa diselidiki dahulu. Sedangkan bunyi pantangan yang kesebelas, ialah larangan bergaul dengan penjahat. Siapakah yang paman maksudkan dengan penjahat? Kakang Srimoyo adalah seorang pendekar."

Mereka yang hadir dalam pesta perjamuan itu, tentu saja tidak mengenal bunyi angger-angger rumah perguruan Sekar Teratai. Kecuali anak-anak murid rumah perguruan itu sendiri.

Begitu mendengar bunyi angger kesebelas mereka semua terkejut. Genggong Basuki dikatakan Lingga Wisnu melanggar pantangan, karena bergaul dengan penjahat. Apakah: mereka rombongan penjahat? Didalam hal ini, Srimoyolah yang sangat tersinggung. Dengan berjingkrak ia berseru :

"Apakah aku seorang penjahat ?”

Mendengar seruan Srimoyo, cepat-cepat Ling ga Wisnu menyahut :

"Paman Srimoyo, janganlah salah paham. Bukan paman yang kami maksudkan."

"Lantas siapa?" Srimoyo menegas. Sastra Demung dan lain-lainnya ingin pula memperoleh ketegasan.

***dw*** Lingga Wisnu menyapu hadirin dengan pandang matanya yang tajam. Kemudian berhenti kepada Suramerto dan Mangun Sentono yang nampak duduk meringkas diantara tetamu. Tatkala Lingga Wisnu hendak membuka mulutnya, tiba-tiba masuklah beberapa murid Songgeng Mintaraga menendang Pramana. Murid-murid itu menyampaikan kabar gembira kepada Pramana, setelah Lingga Wisnu menyatakan bersedia mewariskan suatu ilmu kepandaian kepadanya. Oleh rasa syukur dan girang hati, Pramana minta dihadapkan kepada Lingga Wisnu agar bisa menyampaikan rasa terima kasih, lukanya yang masih basah tidak dihiraukan.

Lingga Wisnu kagum kepada ketahanan dan kemauan keras Pramana. Ia membalas hormat tatkala calon muridnya itu menghaturkan rasa terima kasihnya. Wajah Pramana pucat lesi, namun sikapnya gagah luar biasa.

"Tuan telah menyelamatkan jiw a guruku. Sekarang malahan bersedia pula menjadi guruku. Budi tuan besar benar tak terbalas lagi. Aku hanya bisa menghaturkan rasa terima kasihku yang tak terhingga ..."

"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Panggil saja aku adik. kakang atau saudara," sahut Lingga Wisnu.

"Akh, bagaimana aku bisa memanggil demikian? Walaupun usia tuan lebih muda dari padaku, namun kedudukan tuan sebagai guru. Maka perkenankan, aku memanggil guru terhadap tuan. Sekiranya tidak diperkenankan, aku akan memanggil dengan sebutan tuan atau tuanku." kata Pramana dengan sungguh- sungguh. Tak dapat Lingga Wisnu mengatasi alasan Pramana. Ia menoleh kepada Songgeng Mintaraga. Berkata :

"Paman, Tak kusangka, bahwa murid paman sangat gagah dan cerdik sekali. Khawatir kalau akan menarik kesanggupanku, maka cepat-cepat ia datang untuk menyatakan rasa terima kasihnya meskipun masih menderita luka parah."

Songgeng Mintaraga tertaw a, sahutnya : "Anak Lingga, kau pandai berkelakar."

Dan demikianlah, setelah menyatakan rasa terima

kasih berulangkali, Pramana digendong kembali dan dibawa masuk ke dalam kamarnya. Lingga Wisnu mengikuti dengan pandang matanya. Kemudian beralih kepada Ayu Sarini yang masih merint ih-rint ih.

“Lengan Pramana, engkaulah yang menabas. Luka yang dideritanya sepuluh kali lipat sakitnya dari pada lukamu. Walaupun demikian sama sekali ia tak merint ih atau mengerang." Lingga Wisnu berkata. Kemudian ia menghampiri hendak memeriksa.

"Jangan raba! Aku isteri orang!" damprat Ayu Sarini. "Tak perlu kau menolong aku! Aku mati atau tidak, apa perdulimu?"

Panas muka Lingga Wisnu didamprat demikian. Ia merasa malu dan serba salah. Sebentar ia melemparkan pandang kepada Sekar Prabasini hendak minta jasa- jasanya. Akan tetapi Sekar Prabasini mengenakan pakaian laki-laki. Diapun tak dapat menyentuh kulit Ayu Sarini. Akhirnya, teringatlah dia kepada Rara Witri, Maka dengan suara lembut ia berkata : "Adik, maukah engkau mewakili diriku?"

Tepat pada waktu Rara Witri hendak mengangguk, terdengarlah pintu gerbang tergedor dari luar. Memang, setelah pesta perjamuan mulai, pintu gerbang rumah Songgeng Mintaraga merupakan Markas Besar Laskar Lawu yang tertutup rapat. Itulah sebabnya, Suramerto dan Mangun Sentono tak dapat berkutik. Dan pada saat hadirin menoleh, pintu gerbang itu terjebak lebar.

Dan masuklah dua orang yang berdandan sebagai petani dusun.

Hadirin terkejut. Siapakah mereka berdua itu yang sanggup membuka pintu gerbang dari luar? Pastilah mereka bukan sembarang orang.

Seperti saling berjanji, hadirin mengamat-amati mereka. Yang berjalan disebelah kiri; seorang laki-laki berusia lebih kurang 55 tahun. Dan yang berada di sampingnya seorang perempuan sebaya umurnya. Dia menggendong seorang anak berumur dua atau tiga tahun. Pandang mereka tajam luar biasa. Dan tiba-tiba saja Ayu Sarin i melompat bangun dan lari menyongsongnya sambil berseru girang :

"Paman Sugiri! Bibi Sukesi!"

Nawaw i dan Genggong Basuki pun ikut lari menyongsong. Naw aw i menirukan seruan isterinya. Sedang Genggong Basuki menanggilnya sebagai guru. Maka sekarang tahulah hadirin, bahwa mereka berdua adalah dua suami-isteri Sugiri-Sukesi - murid Ki Sambang Dalan yang berkekepandaian sangat tinggi.

Lingga Wisnu tak dapat berdiam diri saja. Mendengar seruan Ayu Sarini, segera ia mengikuti Genggong Basuki dan Nawaw i menyongsong mereka Dengan sekilas pandang ia menatap wajah kedua kakaknya seperguruan itu. Sugiri berwajah sederhana. Dia nampak matang dan sifatnya tenang berw ibawa. Sedang Sukesi berwajah galak. Kesannya tak beda dengan Ayu Sarini.

Ayu Sarini memperlihatkan kedua tangannya kepada Sukesi seperti hendak mengadu. Tatkala Lingga Wisnu hendak membungkuk hormat, Sukesi sedang menundukkan pandang kepada dua tangan Ayu Sarini yang bengkak. Kedua alisnya bergerak gerak. Sambil mengurut-ngurut, ia bertanya :

"Kenapa?"

Itulah pertanyaan yang diharap-harapkan - Terus saja Ayu Sarini berputar sambil menuding Lingga Wisnu. Dengan masih menahan rasa mendongkol dan penasarannya, ia menjawab :

"Bibi, dialah orangnya. Dia mengaku sebagai paman guru. Tapi ia melukai kedua tanganku dan mematahkan pedang pemberian bibi."

Lingga Wisnu terkejut. Jaw aban Ayu Sarini benar- benar mengandung racun. Iapun menyesal apa sebab sampai mematahkan pedang Ayu Sarini. Kalau saja ia tahu bahwa pedang itu pemberian kakaknya seperguruan, pastilah tidak akan perbuat begitu. Maka cepat-cepat ia membungkuk hormat sambil berkata mohon maaf :

“Sama sekali tak kuketahui bahwa pedang itu pemberianmu. Maafkan kelancangan adikmu ..."

"Adik? Adik dari mana?" dengus Sukesi heran. Pendekar wanita itu lantas berpaling kepada suaminya. Mereka berdua saling pandang. Kata Sukesi minta pembenaran :

"Kabarnya, memang guru mempunyai seorang murid muda belia. Apakah dia? Kalau benar dia, kenapa tak tahu diri?"

"Belum pernah aku bertamu dengan dia,.'’ sahut suamirya pendek.

"Hmm .,." dengus Sukesi . "Meskipun andaikata dia mewarisi seluruh kepandaian guru, mestinya harus sadar dan tahu diri. Bahwasanya ilmu kepandaian itu tiada batasnya. Kalau merasa diri sudah pandai, diatasnya masih ada dewa. Dewapun harus tahu diri pula, bahwa diatasnya masih ada Yang Menguasainya. Hm ... baru saja ia memperoleh sekelumit kepandaian., lantas saja menghina yang lemah. Pantaskah itu? Seumpama Ayu Sarini salah, bukankah masih ada gurunya? Biarlah dia yang menegur. Kita berdua hanya bisa memperingatkan saja."

"Kakang Genggong Basuki juga menerima hinaan, bibi." Ayu Sarini mengadu

"Apa?" Sukesi terperanjat. Sepasang alisnya terbangun. "Ha, kami berdualah yang wajib menghajarnya bila dia salah. Kenapa paman gurunya ikut campur?"

Lingga Wisnu merasa diri bersalah. Lalu menjawab : "Kalau begitu, maafkan kelancangan adikmu.”

"Kau telah mematahkan pedang pemberianku. Artinya

kau sama sekali tidak menghargai kakakmu," kata Sukesi sengit. "Andaikata guru sangat sayang kepadamu, masakan engkau lantas berlagak dan sama sekali tidak menghargai kakakmu seperguruan?"

Lingga Wisnu bungkam. Dan segenap hadirin jadi tak enak hati. Mereka melihat betapa galak pendekar wanita itu. Kata-katanya makin lama makin sengit. Tanpa mengusut latar belakangnya, lantas saja menjatuhkan palu hukuman. Alangkah keterlaluan!

***0odwo0***

16. Pertempuran Kacau

Murid-murid Songgeng Mintaraga gelisah bukan main. Sebaliknya Srimoyo, Amir Hamzah, Genggong Basuki, Nawaw i dan Ayu Sarini mendapat angin baru. Mereka kini bisa menegakkan kepalanya kembali. Tak usah menunduk lagi karena merasa malu dan segan.

"Bibi!" kata Ayu Sarini. "Setelah mengaku sebagai paman guru, tiba-tiba diapun datang membaw a-bawa nama pendekar Kebo Wulung."

"Kebo Wulung siapa? Bondan Sejiw an, maksudmu?" potong Sukesi sengit.

"Benar, Bondan Sejiw an! Dia selalu mengagul- agulkannya. Dan atas nama pendekar itu pula ia merobohkan kakang Genggong Basuki dan kakang Nawaw i ..."

Mendengar kata-kata Ayu Sarini, cuping hidung Sukesi bergerak-gerak. Suatu tanda, bahwa darahnya meluap- Dan melihat hal itu, Lingga Wisnu tetap bersikap sabar dan mengalah. Sebenarnya tak sengaja suami isteri Sugiri dan Sukesi datang pada pesta perjamuan itu. Sudah satu tahun lebih, mereka merantau untuk mencarikan obat anaknya satu-satunya. Itulah anak yang digendong Sukesi. Kaswasih, namanya. Menurut para ahli, Kaswasih mendelita penyakit dalam semenjak didalam kandungan. Terjadi akibat goncangan hebat, tatkala ibunya berkelahi melawan seorang musuh tangguh. Dan untuk bisa menyembuhkan penyakit dalam itu, mereka harus menemukan sebutir atau dua butir buah mustika yang jarang sekali terdapat dalam dunia. Tetapi sebagai orang tua, mereka tak kenal lelah dan putus asa. Dari tempat ke tempat, mereka merant au. Tapi selama itu, Kaswasih bertambah kurus dan kurus. Tak mengherankan, mereka jadi cemas dan gugup. Menuruti nasehat seorang tua, mereka mendaki Gunung Lawu menghadap Kyahi Basaman dan melihat penyakit yang diderita Kaswasih, Kyahi Basaman teringat kepada Lingga Wisnu. Cucu muridnya itupun dahulu menderita penyakit macan: demikian. Entah bagaimana kabarnya. Kyahi Basaman tidak mendengar lagi.

Dengan lemah-lunglai suami-isteri Sugiri Sukesi melanjutkan perjalanannya Kalau Kyahi Basaman saja tidak sanggup mengobati, siapa lagi yang dapat menolong? Tatkala memasuki daerah Wonogiri mereka mendengar kabar, bahwa muridnya berada dikota itu. Teringatlah mereka bahwa muridnya selalu berjalan bersama Ayu Sarini dan Nawawi. Diapun banyak sahabatnya. Mungkin sekali dia bisa menolong. Maka berangkatlah mereka mencarinya. Dan demikianlah,, mereka tiba di rumah Songgeng Mintaraga. Sukesi memang seorang pendekar yang keras tabiatnya. Gampang sekali tersinggung hatinya. Apalagi pada waktu itu ia sedang bersedih hati memikirkan anaknya. Mendengar muridnya kena hina, ia bersakit hati. Hinaan itu sendiri seolah-olah penghinaan terhadap anaknya yang kurus kering seperti monyet kecil. Tadinya ia masih mau bersabar karena Lingga Wisnu disebut paman guru oleh Ayu Sarini. Tetapi satelah mendengar pula bahwa Lingga Wisnu datang dengan membaw a- bawa nama Bondan Sejiw an, ia merasa seperti ditantang. Seketika itu juga ia berpaling kepada suaminya dan minta keterangan dengan suara sengit :

"Coba katakan padaku, apakah Kebo Wulung masih hidup?"

"Menurut kabar, ia sudah meninggal. Tetapi apakah benar demikian, hanya Tuhan yang tahu." jaw ab Sugiri. Pendekar ini masih bisa bersikap tenang, meskipun hatinya berduka.

Sekar Prabasini mendongkol menyaksikan Lingga Wisnu kena tegur pulang-balik, dengan kata-kata kasar. Iapun mendengar Sukesi menyinggung-nyinggung nama ayahnya pula. Nada suaranya mengejek dan merendahkan. Keruan saja tak dapat ia menahan diri. Terus saja membentak :

"Kau bilang, diatas manusia masih ada dewa. Kenapa kau menghina orang?"

"Kau siapa?" Sukesi membalas membentak dengan gusar.

"Dialah anak manusia Bondan Sejiw an." Ayu Sarini memberi keterangan. Mendengar keterangan Ayu Sarini, sekonyong konyong tangan Sukesi bergerak. Di antara sinar lampu, nampaklah sebuah benda berkeredep menyambar Sekar Prabasini. Kaget Lingga Wisnu menyaksikan hal itu. Hendak ia mencegah tetapi sudah tidak terburu lagi. Pada saat itu Prabasini memekik. Pundak kirinya kena terhajar paku Cundamanik, meskipun sudah berusaha mengelak. Oleh rasa kaget. Lingga Wisnu melompat dan memegang pundak Sekar Prabasini. Dilihatnya paku Cundamanik itu menancap dalam dipundak kiri.

Sekar Prabasini kesakitan. Tak dapat lagi ia menahan diri. Hendak ia membalas menyerang tetapi buru-buru Lingga Wisnu mencegahnya. Berkata membujuk :

"Jangan bergerak! Biar aku menolongmu dahulu."

Dengari dua jarinya, Lingga Wisnu menjepit ujung paku Cundamanik, Ia mencabut perlahan-lahan dan tetap. Ia berlega hati, karena paku itu tidak bercabang. Setelah tercabut kira-kira tigaperempat bagian, ia mengerahkan himpunan tenaga saktinya. Dan paku Cundamanik dapat di cabutnya. Kemudian dilemparkan keatas lantai.

Rara Witri menghampiri dengan membaw a sapu tangan. Ia menyerahkan sapu tangan itu kepada Lingga Wisnu. Dengan sapu tangan itu Lingga Wis nu menyusuti darahnya. Setelah bersih Rara Witri menyerahkan sapu tangan lagi.. Dan segera Lingga Wisnu membalutnya.. 

"Dengarlah perkataanku," bisik Lingga Wisnu sambil membalut. "Jangan layani dia."

"Kenapa?" Sekar Prabasini bertanya dengan hati penasaran. "Kita berdua harus menghormati. Merekalah kakak seperguruanku. Karena itu tak dapat aku berlawan- lawanan."

Sekar Srabasini menatap wajah Lingga Wisnu dan melihat pemuda itu bersungguh-sungguh, terpaksalah ia memanggut dengan lesu. Meskipun hatinya mendongkol dan penasaran bukan main., tapi ia terpaksa menahan diri.

Lingga Wisnu bersyukur melihati Sekar Prabasini menguasai diri. Ia khawatir, mengingat tabiat kaw annya itu gampang sekali meluap darahnya. Sekarang, meskipun menderita luka, masih sudi mendengarkan sarannya. Itulah suatu tanda bahwa Sekar Prabasini agaknya mau melakukan apa saja demi kepentingannya Keruan saja ia bergirang hati dan merasa bahagia.

Sukesi menunggu sampai Lingga Wisnu selesai membalut luka Sekar Prabasini. Sebagai seorang yang termasuk golongan pendekar besar, perlu ia membawa sikapnya demikian. Kemudian berkata dengan mencibirtan bibir :

"Aku sendiri belum pernih bertemu dengan pendekar yang menamakan dirinya Kebo Wulung. Kabarnya ia seorang sakti yang berkepandaian sangat tinggi, sampai kemasyurannya menggetarkan jagad. Tetapi, ternyata anaknya tak dapat mengelakku sambaran pakuku saja. Padahal, aku hanya mencoba-coba. Kalau begitu, apakah Kebo Wulung hanya bernama belaka?"

Sekar Prabasini melemparkan pandang kepada Lingga Wisnu. Kalau menuruti kata hatinya, ia ingin membalas mendamprat. Tetapi ia sudah berjanji kepada Lingga Wisnu, tidak akan melayani Sukesi. Sebaliknya pada saat itu, Lingga Wisnu tertegun-tegun seperti kehilangan pegangan. Di dalam hati pemuda itu berpikir

'Ayuna Sukesi benar-benar berada dalam kesalah- pahaman yang hebat. Jika aku bantah, ia pasti akan merasa ku tentang. Rasa marahnya akan menghebat jadinya. Biarlah aku berdiam diri saja.'

Rupanya Sukesi bisa rnenebak kesulitan Lingga Wisnu. lalu berkata memutuskan

"Kau membungkam mulut. Apakaj karena kau segan berbicara dihadapan hadirin? Atau kau sengaja mengesan pada kami, bahwa engkau benar-benar anggauta Sekar Teratai sehingga demi menjaga pamor rumah perguruan tak sudi bertengkar dengan kami? Baiklah, tak jauh dari sin i terdapat Sebuah bangunan rusak. Itulah bangunan dari tangsi Kompeni Belanda yang telah ditinggalkan. Nah, aku harap engkau esok hari datang menemui kami, menjelang matahari tenggelam. Kami ingin mencoba kepandaianmu, apakah benar-benar engkau Adalah adik seperguruan kami”'

Semua orang tahu. Meskipun Sukesi seolah-olah sudah setengah mengakui bahwa Lingga Wisnu adik seperguruannya dan walaupun maksudnya hanya untuk mencari keyakinan dengan jalan menguji kepandaian pemuda itu, sebenarnya merupakan tantangan belaka Tak mengherankan, Songgeng Mintaraga yang merasa berhutang budi terhadap Lingga Wisnu, jadi sibuk dan berkhaw atir. Cepat-cepat ia berdiri. Dan setelah membungkuk hormat dengan Merangkap kedua tangan didepan perutnya, ia berkata dengan suara rendah :

"Tuan sekalian adalah sepasang pendekar besar pada jaman in i. Pendekar Sukesi terkenal ilmu pedangnya Mayang Seta. Dan pendekar Sugiri temashur sebagi seorang sakti bertangan guntur. Maka bukan kepalang girang hati kami atas kedatangan tuan sekalian. mengundang saja, sebenarnya t iada keberanianku. Maka

—"

"Hm ..." Sukesi memotong dengan mendengus. Ia menoleh pada suaminya Tapi suaminya nampak gelisah- Pendekar itu jadi tak enak sendiri memperoleh penghormatan berlebih-lebihan, karena usianya sebaya dengan Songgeng Mintaraga. Bahkan Songgeng Mintaraga lebih tua dan kedudukannya sebenarnya tinggi di masyarakat sebagai komandan Laskar Lawu yang terkenal.

"Anak Lingga datang kemari, bukan bertujuan untuk membuat malu murid tuan berdua, kata Songgeng Mintaraga mencoba menjelaskan, dia datang karena mendengar aku dalam kesulitan dan bermaksud mendamaikan suatu persengkataan, Ketiga murid tuan berdua mengetahui sendiri dengan jelas. Karena itu, perkenankan aku esok pagi menyelenggarakan suatu pesta tersendiri untuk menyambut kedatangan tuan berdua, Juga sebagai pernyataan syukur dan gembira atas bertemunya tuan berdua dengan adik seperguruan Sekar Teratai ..." 

Tetapi Sukesi tidak merasukkan kata-kata Songgeng Mintaraga didalam pendengarannya. Dia bahkan membuang mukanya. Tatkala Songgeng Mintaraga menyinggung istilah adik seperguruannya, ia seperti diingatkan. Terus saja berkata menegas kepada Lingga Wisnu :

"Bagaimana? Kau berani datang atau tidak?" "Dimanakah aku harus menemui ayunda berdua? Meskipun kakang dan ayunda hendak melukai aku, takkan berani mengelak ..." sahut Lingga Wisnu.

"Hm ... siapa yang mengidzinkan engkau memanggil aku "ayunda?" dengus Sukesi galak. "Tulen atau palsu tentang dirimu, harus kubuktikan dahulu. Jangan panggil ayunda dahulu kepadaku. Juga aku melarang engkau memanggil kakang terhadap suamiku. Tunggu sampai aku mengujimu dan baru kita membicarakan tentang panggilan itu. Mario"

Sukesi menarik tangan Ayu Sarini dan mendahului berjalan meninggalkan pesta perjamuan- Baik Lingga Wisnu maupun Songgeng Mintaraia tak berani mencegahnya. tertegun-tegun tatkala mengikuti kepergian mereka dengan pandang matanya. Tiba-tiba Lingga Wisnu melihat sesuatu yang bergerak diantara hadirin. Terus saja ia lari melesat sambil berteriak :

"Hei, tunggu!”

Semenjak tadi Lingga Wisnu selalu membagi pandang dan perhatiannya kepada Suramerto dan Mangun Sentono yang nampak duduk diantara hadirin. Disampingnya duduk pula seorang berkumis dan bercambang tebal dengan peraw akannya yang tinggi besar. Lingga Wisnu belum kenal siapakah dia. Tapi melihat keakrabanya, pastilah ia termasuk sekutu mereka berdua. Kesan orang itu gagah, Pandangnya berpengaruh. Dikemudian hari Ia memperkenalkan diri sebagai seorang pendekar Ugrasawa. Orang' menyebutnya dengan nama Truno- taruna.

Tatkala Songgeng Mintaraga memperlihatkan dua helai kesaksian, Suramerto dan Mongun Sentono mulai gelisah. Mereka berdua berbisik bisik dengan wajah berubah Kemudian Lingga Wisnu Menyinggung- nyinggung tentang kawanan penjahat. Syukur suami- isteri Sukesi-Sugiri datang, Sewaktu Lingga Wisnu mengarahkan pandangnya kepada mereka berdua. Sekarang yakinlah mereka, bahwa bocah itulah yang, mencuri surat perint ah dan dua helai surat kesaksian kemarin malam

Segera mereka berbisik kepada Trunotaruna agar meninggalkan pesta perjamuan saja. Tetapi Tru-notaruna tak mau bergerak dari tempat duduknya. Katanya :

"Tunggu- sampai pada saatnya."

Mereka berdua menghela nafas Namun nampak tunduk. Maka jelaslah, bahwa Trunotaruna berpengaruh besar terhadap mereka berdua. Dan tatkala menyaksikan betapa Lingga Wisnu menjadi jinak menghadapi suami isteri Sugiri-Sukesi, mereka berdua diam-diam ikut bersyukur dan girang. Mereka memuji kebesaran Tuhan atcs kemarahannya. Justru pada saat itu, Trunotaruna lalu berkata :

"Sekarang saatnya yang baik. Nanti, bila suami -isteri Sugiri-Sukesi meninggalkan pesta perjamuan, kita bertiga mengikuti seakan akan pengiringnya. Kalian berdua menusup diantara rombongan Sekar Teratai. Kukira, Lingga Wisnu takkan berani berbuat apa-apa."

Suramerto dan Mangun Sentono mendengar saran Trunotaruna. Maka begitu Sukesi memutar tubuh hendak meninggalkan pesta perjamuan cepat cepat mereka berdua mendekati rombongan murid. Dan apabila rombongan murid mulai bergerak hendak mengikuti Sugiri-Sukesi keluar serambi , cepat-cepat ia mendahului. Akan tetapi pandang mata Lingga Wisnu benar-benar tajam. Gerak-gerik mereka tak luput dari pengamatannya, meskipun lagi menghadapi kesulitan.

0odwo0

Sebaliknya Sukesi salah paham. Ia mengira, Lingga Wisnu hendak mencegah kepergiannya atau menghalangi sebentar. Sebagai seorang pendekar yang merasa berkedudukan t inggi, tak senang ia diperlakukan demikian. Semua ucapan dan gerakannya merupakan undang-undang yang tiada batal oleh alasan apapun. Maka bentaknya :

"Benar-benar kau manusia busuk tak tahu diri! Kau berani mengganggu aku?"

Membentak demikian, ia memutar tubuhnya seraya melayangkan tangannya. Arah sasarannya kepala, Itulah salah satu macam serangan yang biasanya tak pernah gagal. Ia melatihnya terus menerus selama tigapuluh tahun lebih dengan suaminya, Pernah ia meruntuhkan tujuhbelas ekor burung yang terbang bertebaran dengan seraangannya itu. Bisa dibayangkan betapa cepat dan bahayanya.

Hati Lingga Wisnu tercekat, Cepat ia mengelak. Tangan Sukesi lewat diatas pundak dan menyerenpet selint asan- Meskipun demikian ia merasa pedas sekali. Insyaflah ia, bahwa kakaknya seperguruan itu benar- benar tinggi ilmu kepandaiannya. Sebaliknya, Sukesi terperanjat heran. Ia jadi penasaran. Cepat ia membalikkan tangan dan membabat pinggang, Kali ini ia mengerahkan tenaganya. Menghadapi serangan ini, Lingga Wisnu merasa wajib menahan diri. Ia menjejakkan kakinya dan meloncat mundur melintasi meja dan kursi Dengan demikian, dua kali berturut-turut Sukesi gagal serangannya. Karena masih megendong anaknya, tak dapat ia bergerak dengan leluasa. Teringat pula bahwa ia telah memutuskan untuk mengadu kepandaian esok petang, terpaksa ia menelan rasa mendongkol dan penasaran- Dan ia meneruskan berjalan dengan membimbing tangan Ayu. Sarini.

Suramerto dan Mangun Sentono tidak sudi kehilangan kesempatan yang bagus itu. Juga Trunotaruno yang berada dibelakangnya. mereka lantas menerobos keluar rombongan dari lari secepat-cepatnya.

"Hai! Mau lari kemana? Berhenti!" seru Lingga Wisnu. Karena terpaksa melompat untuk menghindarkan serangan Sukesi, jaraknya kini kian menjauh dari mereka bertiga. namun - Lingga Wisnu tidak mau kehilangan mangsanya. Tak ubah seekor burung, ia terbang melintasi kursi dan meja. Tangannya berkelebat dan menyambar Trunotaruna, yang roboh kena cengkeraman Lingga Wisnu.

"Ih, celaka!" Tronotaruna mengeluh didalam hati. "Baru saja aku keluar dari rumah perguruan, kena dirobohkan seorang bocah dengan satu gebrakan ..." Dan baru saja ia mengeluh demikian, tubuhnya dilemparkan Lingga Wisnu balik dan jatuh dilantai serambi depan

Dalam pada itu, Suramerto dan Mangun Sentono sudah berhasil lolos dari p intu gerbang. Waktu itu bulan sipit nampak remang-remang-tersapu awan hitam. Suasana malam gelap pekat, Benar-benar Tuhan melindungi mereka berdua. Begitu melintasi tirai malam, tubuh mereka tiada nampaklagi. Mereka seperti hilang teraling ib lis.

Lingga Wisnu tak berani mengejar. Ia tahu, mereka berdua jago yang mempunyai kepandaian tinggi. Kalau tidak, masakan pantas menjadi sahabat Songgeng Mintaraga yang dihormati. dan disegani pendekar itu. Dalam malam gelap, mereka bisa menyedang balik.

"Biarlah untuk sementara mereka kabur. Aku sudah berhasil menangkap kaw annya seorang Pastilah aku dapat manperoleh keterangan dari mulutnya," pikir Lingga Wisnu. Ia lantas manutar tubuhnya hendak balik kembali memasuki gerbang. Sekonyong-konyong ia mendengar suara seseorang berseru kepadanya' :

"Hai, sahabat kecil! Baru sepuluh - tahun aku tidak bertemu denganmu. Dan kepandaianmu sudah maju begini pesat! Selamat! Selamati”

Goncang hati Lingga Wisnu mendengar suara itu. Itulah suara yang pernah dikenalnya dan senant iasa meresap di dalam perbendaharaan hatinya. segera ia menoleh dan melihat seorang tua mengempit Suiamerto dan Mangun Sentono. Orang itu berkumis dan berjenggot awut-awutan. Rambut, alis, kumis dan jenggotnya sudah putih semua. Siapa lagi kalau bukan Ki Ageng Gumbrek pendekar sakti yang dahulu mewarisi ilmu berlari kepada Lingga Wisnu.

"Guru!" seru Lingga Wisnu girang. Terus saja ia lari menghampiri dan bersembah.

Ki Ageng' Gumbrek tertaw a berkakakan. Sahutnya : "Eh, semenjak kacau perutmu berubah Dahulu kau tak sudi menyebutku guru. Akupun tak sudi engkau menyebut aku sebagai gurumu, Kau menyembah pula padaku. Apa-apaan, nih .... Hai, coba lihat, siapa dia yang berada dibelakang- ku!"

Lingfla Wisnu mengalihkan pandang Ia melihat. seorang laki-laki berusia kurang lebih 48 tahun. Rambutnya sudah setengah beruban. Wajahnya menceritakan suatu perbendaharaan pengalaman yang matang- Dan melihat orang itu; Lingga Wisnu kian menjadi girang. Dialah Arya Puguh yang dahulu melindungi mati-matian sampai nyaris mengorbankan jiw anya sendiri. Cepat ia lari menghampiri dan merangkulnya erat-erat.

"Paman!" serunya penuh haru. "Paman cepat menjadi tua."

Arya Puguh tertawa senang. Sama sekali ia tak bersakit hati atau tersinggung. Sahutnya :

"Inilah penanggungan orang yang hidup dalam kancah perjuangan. Perhatian hidup terlalu terbagi-bagi."

Lingga Wisnu memeluknya kian erat. Alangkah jauh beda keadaannya dengan Ki Ageng Gumbrek. Meskipun usia orang tua itu sudah lanjut, namun raut wajahnya nampak segar bugar.

"Tapi paman tak kurang suatu apa, bukan?" kata Lingga Wisnu.

"Seperti kau lihat, hidungku tetap satu. Tiada yang kurang." sahut Arya Puguh. Mereka berdua lalu berjalan bergandengan tangan. Hati mereka berdua terharu tergoncang pertamuan itu. Kalau saja tidak mendengar suara Srimoyo, mereka tidak, akan tersadar.

"Hai!" seru pendekar itu. "Kakang Suramerto dan Mangun Sentono adalah tetamu undanganku. Kenapa kau perlakukan demikian?"

Lingga Wisnu seolah-olah tidak menggubris seruan Srimoyo. Ia menghadap kepada Songgeng Mintaraga. Kemudian para hadirin. Memperkenalkan mereka berdua yang baru datang:

"Beliau ini Ki Ageng Gumbrek, salah seorang guruku. Dan dia Arya Puguh, salah seorang pembantu Panglima Sengkan Turunan. Dia seorang ahli imu bertangan kosong. Mahir dalam ilmu sakti SarduJa Jenar. Sewaktu mula-mula belajar berkelahi, dialah guruku yang pertama."

Ketua-ketua rombongan, terperanjat mendengar nama Ki Ageng Gumbrek. Nama itu tidak lagi asing bagi mereka. Namun pendekar sakti itu, tak berketentuan tempat tinggalnya. Ia bergerak dari tempat ke tempat tak ubah iblis. Namun ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Termasuk golongan angkatan tua yang sejajar dengan guru mereka semua. Karena itu, serentak mereka membungkuk hormat. Dan menyaksikan mereka membungkuk hormat, sekalian hadirin buru-buru berdiri tegak menyambut kedatangan pendekar berambut aw ut- awutan itu.

"Sudahlah, sudahlah! Jangan menghormat orang seperti malaikat!" seru Ki Ageng Gumbrek. "Aku adalah manusia yang sebenarnya tiada gunanya. Kerjaku hanya makan nasi atau menabuh kecapi. Sama sekali tiada perhatianku terhadap masalah penghidupan yang hanya meruw etkan hati melulu. Tapi pada suatu hari aku mendengar beberapa orang berkusak-kusuk hendak menjual jasa terhadap kompeni Belanda. Ha, inilah lain! Seseorang boleh jahat, boleh jadi maling! Tapi kalau sampai mau menjual bangsa dan negara kepada orang asing adalah keterlaluan! Maka tak dapat lagi aku t inggal berpeluk tangan. Segera aku menyusul kemari. Kudengar malam ini, para pejuang kesejahteraan bangsa dan negari sedang berkumpul. Nah, hendak kulaporkan penghianat-penghianat itu kemari ..."

"Siapakah yang berhianat?" Srimoyo tersinggung. Sebab dia merasa sibuk melahirkan suatu persekutuan balas dendam akhir-akhir in i. "Apakah mereka bertiga? Mereka adalah pendekar- pendekar kenamaan Ugrasawa semenjak belasan tahun yang lalu ..."

"Benar. Di.antaranya, mereka bertiga inilah." jawab Ki Ageng Gumbrek dengan tegas.

Kaget dan heran, Srimoyo mendengar bunyi jawaban Ki Ageng Gumbrek. Membela :

"Tidak mungkin! Mereka bertiga adalah sahabatku semenjak belasan tahun yang lalu. Akh, tanganlah memfitnah demikian. Fitnah lebih jahat daripada membunuh!"

Ki Ageng Gumbrek tersenyum lebar. Sambil membanting Suramerto dan Mangun Setono di atas lantai, ia menjawab :

"Aku adalah orang baik. Belum pernah aku memfitnah orang, mendendam atau mencampuri masalah penghidupan. Secara kebetulan sekali, tatkala aku hendak mencuri ayam di kota, mendengar kusak-kusuk mereka. Mereka berada ditangsi Belanda. Dan merencanakan hendak menghancurkan Laskar Perjuangan anak-Adik Raden Mas Said Maka ku.ikuti mereka dan kuamat-amati sepak terjangnya. Kenapa aku memfitnah?"

Srimoyo adalah seorang pendekar yang seringkali menggunakan perasaannya semata dari pada pertimbangan akalnya. Ia jadi tersinggung. Menaikkan suaranya :

"Apakah paman mempunyai bukti?"

Ki Ageng Gumbrek- tertaw a bekakakan. Menyahut : "Bukti! Masakan aku perlu mempunyai bukti untukmu?

Ucapan Ki Ageng Gumbrek sudah menjadi jaminan. Apa yang kukatakan, itulah Undang undang yang berlaku."

Tentu saja, siapapun tak dapat menerim dengan alasan ini. Srimoyo jadi panas hati Berkata tak senang hati :

"Apakah alasannya untuk bisa mempercayai, terhadap setiap patah perkataan paman?"

Sekarang Ki Ageng Gumbrek yang ganti tersinggung kehormatannya. Dengan gundu mata berputar, ia membentak

"Kau murid Prangwedani, bukan? Gurumu sendiri t idak berani mengucap demikian terhadapku. Kenapa kau begitu?"

Sastra Danung yang mengetuai rombongan anak murid Ugrasawa tak senang mendengar kata-kata Ki Ageng Gumbrek. Itulah kata-kata seseorang yang ingin menang sendiri. Ia lantas maju menghampiri Srimoyo. Tatkala itu Lingga Wisnu cepat-cepat bertindak. Ia kenal perangai dan tabiat gurunya. Kalau sampai kalap, akan jadi kacau-balaulah. Segera ia memperlihatkan dua helai surat. Berkata kepada Srimoyo :

"Paman, tolong kau bacakan bunyi surat ini, agar hadirin dapat mendengar dan mengadili."

Dua kali sudah Srimoyo dikacaukan oleh lembaran surat itu. Yang pertama, surat kesaksian. Dan yang kedua, adalah surat ini, yang kini berada ditangannya. Dengan hati   berdegupan,   ia   membaca.   Dan   baru

membaca beberapa deret kalimat, ia kaget sampai berjingkrak. Itulah surat perint ah patih Pringgalaya terhadap Suramerta dan Mangun Sentana. Surat perint ah untuk mengadu damba para pendekar dan laskar perjuangan, agar saling bunuh-membunuh. Dan mereka berdua dibantu oleh seorang kepercayaan

Komandan Kompeni Belanda di Surakarta, bernama

Truno Taruna. Surat perintah itu diperkuat oleh dua tanda tangan dan dua cap jabatan. Tanda tangan Patih Pringgalaya dan Komandan Kompeni - Belanda.

0oodwoo0 Setelah Srimoyo selesai membaca surat itu, para hadirin gempar. Kartolo, ketua rcmbongan - Puji Rahayu, melompat dan mendekati Truno Taruna. Membentak :

“Benarkah engkau anak murid Ugrasawa?"

Truno Taruna dalam keadaan runtuh semangat. Tak dapat ia segera menjawab. Ia menoleh kepada Sastra Demung. Dan Sastra Demung jadi tak enak hati. Maklumlah dia ketua rombongan Ugrasawa. Terus saja ia menghampiri sambil menegas :

"Jawablah pertanyaan rekan Kartolo!"

Truno Taruna mati kutu. Merasa terdesak kepojok, mendadak ia jadi nekad. Kumisnya bergerak. Kedua gundu matanya bergerak-gerak. Menjaw ab pendek :

"Benar. Aku anak murid Ugrasawa."

"Bohong!" bentak Sastra Denung. 'belum pernah aku melihat tampangmu. Kau murid siapa?"

"Aku bawahan Musafigiloh, murid Panembahan Panyingkir."

"Kalau begitu, kau pengacau Jahanam Musafigiloh sudah lama meninggalkan rumah perguruan. dia seorang penghianat terkutuk. Kau menyebut-nyebut namanya Bagus!" bentak Sestra Demung sengit. Tangannya melayang. Dan Truno Taruna dihajar pulang-balik sampai kedua pipinya babak-belur.

"Kau menghajar orang yang tidak berdaya. Apakah tidak malu?" teriak Truno taruna. "Aku rmemang pengikut Musafigilloh Dia memang seorang pendekar yang mengerti kehendak zaman dan tidak lama lagi seluruh Jawa ini akan diduduki kompeni Belanda, Karena itu, Musafigilloh bergabung dengan kompeni Belanda. Bukan sebagai penghianat tetapi justru hendak memajukan bangsanya pula. Musafigilloh bercita-cita agar negeri kita menjadi sebuah negara merdeka. Duduk sama rendah, berdiri sama tinagi dengan bancpa lain di dunia in i. tidak lagi menjadi hamba--sahaya Su ltan atau Sunan yang hidupnya Sesungguhnya hanya menjadi budak besar belaka."

Belum lagi selesai Truno Taruna menyatakan isi hatinya, tinju Sastra Demung sudah mendarat di dadanya. Dan kena pukulan itu, Truno Taruna roboh tak sadarkan diri. Menyaksikan hal itu, semua hadirin puas. tetapi Suramerta dan Mangun Sentana terbang semangatnya. Mereka sadar akan bahaya yang mengancam dirinya, mereka jadi berputus asa."

Sastra Demung perlu mencerahkan nama rumah perguruannya yang tercemar oleh Truno Taruna- Katanya nyaring :

"Memang sudah semenjak lama menjadi suatu kerincuhan Sidalam rumh perguruan kami. Panembahan Panyingkir mati oleh suatu penghianatan. Peristiw a itu terjadi sepuluh tahun yang laiu. Musafigilloh adalah murid penghianat yang menamakan diri Panembahan Panyingkir. Tetapi sesungguhnya, pembunuh panembahan Panyingkir itu ialah seorang Cina bernama Lie Kong. Salah seorang mata-mata Belanda yang berkepandaian sangat tinggi. Tegasnya, meskipun Musafigilloh be rada di dalam rumah perguruan kami, bukan termasuk anggauta Ugrasawa Dia dan Lie Kong adalah seumpama dua duri yang mengeram di dalam tubuh. Untung ketua kami, Anung Damidibrata segera dapat bertindak cepat. Namun mereka berdua sudah berhasil menghilang dari rumah perguruan atas petunjuk-petunjuk seorang bernama Truno Taruna. Dia tadi mengaku diri sebagai pengikut Musafigiloh. Pasti dialah orangnya. Sekarang, karena sudah ternyata kejahatannya, sebaiknya kita bunuh saja."

"Jangan! Biarkan mereka hidup sehari dua hari lagi." Lingga Wisnu mencegah. "Biarlah dia memberi keterangan yang lebih luas lagi tentang mata-rant ai penghianatannya. Kukira akan sangat berguna bagi kelanjutan perjuangan kita."

Lingga Wisnu sesungguhnya punya alasannya sendiri. Mendengar Sastra Demung menyebut seorang bernama Musafigilloh, teringati lah dia kepada pengalamannya sepuluh tahun lalu, tatkala dia datang ke rumah perguruan Ugrasawa dengan Kyahi Basaman. Dialah dahulu seorang anak yang memiliki otak cerdas luar biasa, sampai pula Kyahi Basaman mengaguminya. Kalau sekarang dia dinyatakan sebaaai seorang penghianat, pantilah tidak bekerja seorang diri. Ia percaya, bahwa mata-rantai pengkhianatan itu pasti terlebar sangat luas.

Saran Lingga Wisnu disetujui hadirin. Anak murid Songgeng Mintaraga lalu menggusur Truno Taruna ke dalam kamar tahanan. Dan karena sudah larut malam, pesta perjamuan ditutup.

Dan pada saat itu. Srimoyo menghampiri Songgeng Mintaraga. la menyesal bukan main, bahwa atas kebodohannya - kalau saja Lingga Wisnu tidak ikut mencampuri peristiw a persengketaan itu. pastilah perbuatannva akan menimbulkan bencana besar bagi perjuangan semesta. Alangkah besar dosanya. Dosa yang tak terampuni lagi. Oleh karena itu, ia minta maaf kepada Songgeng Mintaraga dan menyatakan terima kasih Kepada Lingga Wisnu. Katanya lagi :

"Saudara Lingga, rasa terima kasihku tak terhingga. Mataku benar-benar lamur sampai tidak mengerti diriku menjadi kuda tolol. Inilah akibatnya orang yang terburu napsu. Yang hanya menuruti gejolak napsu pribadi. Andaikata saudara tidak membukakan kedua mataku, dosa yang bakal kuderita tiada lagi memperoleh keampunan.

"Akh, siapapun akan berbuat demikian dan sesaat karena tidak menyadari. Paman berani mengakui kesalahan, Itulah, suatu bukti, bahwa paman sesungguhnya seorang kasatria. Kalau aku mengetahui Sinimerto dan Mangun Sentono, itulah suatu kebetulan belaka." Lingga Wisnu membesarkan hati. Kemudian ia menceritakan betapa supt perintah itu diperolehnya.

Lega hati Srimoyo mendengar tutur kata Lingga Wisnu. Segera ia mengajak rombongannya pulang. Sementara tetamu-tetamu lainnya bubaran pula. Songgeng Mintaraga memasukkan Suramerto dan Mangun Sentono ke dalam kamar tahanan. Ia berjanji kepada Lingga Wisnu hendak mencari keterangan sebanyak-banyaknya dari mulut mereka

0odwo0

Sekarang sunyilah suasana serambi rumah Songgeng Mintaraga. Songgeng Mintaraga. membaw a Arya Puguh beristirahat di kamar sebelah. Sedang Sekar Prabasini tetap mendampingi Lingga Wisnu yang duduk berbicara dengan Ki Ageng Gombrek. "Kau bawa saja dia kekamarmuI" ujar Ki Ageng Gumbreg kepada Rara Witri.

Sudah barang tentu, wajah Rara Witri berubah hebat. Masakan dia disuruh membawa seorang pemuda ke kamarnya? Karena tidak berani membantah perintah Ki Ageng Gumbrek, ia hanya berpura-Jrura tidak mendengar.

Ki Ageng Gumbrek tertaw a lebar. Ia dapat membaca keadaan hati gadis itu. Katanya :

"Neng! diapun seperti engkau. Masakan tak tahu?"

Rara Witri terbelalak. masih ia tak percaya. Menoleh kepada Lingga Wisnu dan minta keyakinan :

"Apakah dia ..."

"Ya .. " Lingga Wi snu mengangguk dengan tertaw a.

Lalu berkata kepada Sekar Prabasini

"Perananmu sudah cukup. Pakaianmu bukankah menyiksamu?"

Luka dipundak mengganggu ketegaran Sekar Prabasini. Ia nampak letih dan kesakitan. Sahutnya malas:

"Pakaianku dirumah penginpan. Kalau aku merasa terbelenggu, tinggal membuka penutup kepala ini. Kenapa susah-payah?"

Lingga Wisnu kenal tabiatrya. Gadis itu tidak boleh dipaksa. Maka ia mengalihkan pembicaraan kepada Ki Ageng Gumbrek:

"Bagaimana guru bisa segera tahu, bahwa ia seorang wanita?* "Namanya pun kukenall juga. Bukankah dia Sekar Prabasini?" sahut Ki Ageng Gumbrek.

"Hai, dari siapa guru mengetahui namanya?" Lingga Wisnu heran,

"Dari mulutmu." jawab Ki Ageng Gumbrek.

Lingga Wisnu saling pandang dengan Sekar Prabasini. Tatkala hendak minta keterangan, Ki Ageng Gumbrek berkata :

"Sebenarnya sudah lima hari ini aku dan pamanmu mengikutimu dengan diam-diam. Kalau aku lantas mengetahui temanmu berjalan itu, sudahlah pantas. Aku senang, karena ternyata engkau seorang kasatria benar. Sama sekali tak mengganggunya. Lagi pula ilmu kepandaiaranu maju sangat jauh. Meskipun belum tentu dapat menjajari gurumu, akan tetapi aku sudah bukan tandingmu lagi ..."

"Guru memuji aku berlebih-lebihan," kata Lingga Wisnu dengan muka merah. "Seumpama benar, itupun berkat ajaran dan petunjuk-petunjuk guru dahulu."

"Aku membicarakan keadaanmu sekarang Dan bukan dahulu," potong Ki Aaeng Gumbrek.

"Sekarangpun aku seringkali menemui kesukaran- kesukaran juga. Alangkah senangku, bila memperoleh petunjuk-petunjuk guru."

"Begitu? Ha, hal itu sangat mudah, apabila kau pintakan kepada tuan rumah sebotol atau dua botol minumai keras. Tuan rumah tidak kikir, bukan?" ujar Ki Ageng Gumbrek dengan tertaw a lebar. Rara Witri jadi sibuk. Lantas saja ia berlari-larian masuk kedalam kamar dan kembali dengan membaw a empat botol minuman keras. Sudah barang tentu, Ki Ageng Gumbrek girang bukan kepalang. Terus saja ia meneguk sebotol habis.. Lalu berbicara dengan nerocos seolah-olah tak dapat lagi menguasai mulutnya. Akhirnya berkata :

"Kalau kau ingin mengetahui persekutuan - penghianatan, pergilah sekarang juga. Aku sendiri sudah mempunyai kawan berbicara. Inilah botol-botolku ..."

"Eyang!" tiba-tiba Sekar Prabasini berseru.

"Eyang?" Ki Ageng Gumbrek membelalakkan matanya. "Kau sahabat muridku, karena itu panggillah aku paman. Lagi pula aku tidak mempunyai isteri. Selamanya jejaka. Kalau saja aku mau kau panggil paman adalah karena terpaksa saja."

Sekar Prabasini tertaw a. Lucu, guru Lingga Wisnu yang seorang ini. Lalu memperbaiki diri. Katanya :

"Baiklah. Mulai saat ini aku akan menyebutmu paman. Tadi paman berkata, bahwa paman sudah mengikuti kami berdua. slama lima hari yang lalu. Kalau begitu pasti tahu pula sepak terjang kakak-seperguruan kakang Lingga. Bagaimana pendapat paman?"

''Mereka memang keterlaluan. Maksudku si perempuan itu!” sahut Ki Ageng Gumbrek sambil menepuk botolnya. 'Biarlah besok aku membantumu."

"Tapi sebenarnya tak ingin aku berlawan-lawanan dengan mereka," ujar Lingga Wisnu. "Apakah guru sudi mendamaikan saja?" "Apa yang kau takutkan?' suara Ki Ageng Gumbrek meninggi. "Hajar saja perempuan galak itu! Seumpama gurumu menegormu, katakan saja bahwa akulah yang memerint ahmu!"

Lingga Wisnu kenal adat Ki Ageng Gumbrek yang angin-anginan itu. Tak dapat pendekar tua itu diajak berbicara berkepanjangan. Tapi mendengar dia sanggup membantu, hatinya terhibur. Dan karena melihat Ki Ageng Gumbrek terbenam dalam minuman keras, Lingga Wisnu mengajak Sekar Prabasini kembali ke rumah penginapan.

Sudah barang tentu Songgeng Mintaraga dan Rara Witri menjadi sibuk. Dengan sungguh sungguh mereka mengusulkan agar Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini menginap saja di rumahnya,

"Besok aku menginap disini," kata Lingga Wisnu. "Sekarang ini, idzinkan dia berganti pakaian dahulu."

Karena Lingga Wisnu bersungguh-sungguh hendak mengantar Sekar Prabasini dahulu ke rumah penginpan, Songgeng Mintaraga dan Rara Witri tak berani menahannya. Dengan terpaksa mereka melepas pemuda yang telah menolong jiwanya.

"Aku mesti segera balik," kata Lingga Wisnu meyakinkan "Bukankah kedua guruku berada disini ?”

Lega hati Songgeng Mintaraga mendengar janji Lingga Wisnu yang meyakinkan hatinya. Maklumlah, belum sempat ia membalas budinya. Dan setelah Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini keluar gerbang, cepat ia menyediakan beberapa botol minuman lagi untuk Ki Ageng Gumbrek. Kemudian Rara Witri masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.

Waktu itu kira-kira pukul tiga menjelang pagi hari, tatkala Lingga Wisnu dan Sekar Prabasini berjalan keluar rumah Songgeng Mintaraga mereka berjalan bergandengan, karena, malam hari sangat pekat. Dunia agaknya terancam hujan lebat.

"Bagaimana? Apakah kita kembali ke rumah penginapan?" Sekar Prabasini minta keputusan.

"Hari sudah larut malam. Penjaga penginapan mungkin sudah tidur lelap. Bagaimana kalau kita melihat- lihat rumah peninggalan paman Srimoyo?" Lingga Wisnu usul.

"Bagus. Tapi kurasa tidak perlu tergesa-gesa. Bukankah dia berjanji dengan hendak segera meninggalkan rumah kediamannya itu? Lebih baik kita berjalan mengadakan penyelidikan. Bukankah gurumu tadi berkata, bahwa ingin menyaksikan persekutuan penghianatan, sebaiknya kita cepat-cepat berangkat."

Lingga Wisnu seperti teringatkan. Terus saja ia membaw a Sekar Prabasini berjalan cepat. Tetapi dimana dia harus pergi? Tiba-tiba teringatlah dia pula kepada tempat pertemuannya dengan kedua kakaknya seperguruan besok petang.

"Mari, kita meninjau bangunan bekas tangsi Belanda itu. Ingin kutahu, apa sebab ayunda Sukesi memilih tempat itu." ajak Lingga Wisnu.

Sekar Prabasini mengangguk. Sambil menahan rasa nyerinya, ia mencoba mengikuti Lingga Wisnu yang berjalan cepat. Sebenarnya, rasa kantuk dan lukanya mengganggu ketegaran tubuhnya. Tapi entah apa sebabnya, rasa gairah hidupnya selalu bersedia berada didamping Lingga Wisnu. Rasa enggan sekali, bila berpisah dari padanya. Walaupun demikian, luka tetap luka. Lambat laun pundak dan lengannya terasa menjadi kaku juga. Tak dapat lagi ia menggerakkan tangannya dengan leluasa. Diam-diam ia mengeluh. Tatkala hendak menyatakan rasa gangguan itu, terdengar Lingga Wisnu berkata :

"Adik, sifat ayunda Sukesi menyerupai Ayu Sarini. Kedua-duanya senang bersenjata pedang. Apakah mereka berdua memang guru dan murid? Memilik Ayu Sarini menperoleh pedang dari ayunda Sukesi, mungkin dia muridnya. Bukankah Genggong Basuki menyebut ayunda Sukesi sebagai gurunya pula,-meskipun dia murid kakang Purbaya."

Sekar Prabasini tertawa melalui hidungnya, menyahut: "Kau selalu memikirkan mereka dan sama sekali tidak

memikirkan diriku."

Ditegor demikian, barulah Lingga Wisnu teringat akan luka yang dideritanya. Pikirnya :

“Aku mempunyai himpunan tenaga sakti pelindung jasmani. Sebaliknya dia tidak. Akh, benar benar aku tak memperhatikan lukanya ...'

Memperoleh pikiran demikian, dengan suara minta maaf dia menyahut :

"Lukamu tidak begitu membahayakan, adik..”

Lingga Wisnu hendak meraih lengan. mendadak ia melihat t iga bayangan melintasi ketinggian. Cepat Lingga wisnu membaw a Sekar Prabasini bersembunyi di balik batu kurang lebih berjarak seratus meter, pandang mata Lingga Wisnu mengenali bayangan yang berada di depan itu.

“Hai” ia berbisik terkejut kepada berbisik Sekar Prabasini. “Genggong Basuki! Dia tadi berangkat bersama ayunda Sukesi dan kakang Sugiri. Kenapa dia berada disini ? Apakah dua orang dibelakangnya ayunda....bukan! Mereka laki-laki semua !”

"Tahan mereka!" sahut Sekar Prabasini. "Untuk apa?"

"Gurumu berkata, bahwa ada persekutuan

penghianatan. Kalau ingin tahu, kita harus segera berangkat. Kau tadi heran pula terhadap Genggong Basuki. Dia murid kakakmu Purbaya yang tertua. Kenapa dia murid kedua kakakmu Sukesi dan Sugiri? Ingat pulalah tutur kata pendekar Sastra Demung, tentang sepak terjang Musafigilloh. Siapa tahu, diapun pengikut Musafigilloh," ujar Sekar Prabasini.

Lingga Wisnu seperti tersadarkan. Meskipun tuduhan demikian sangat samar-samar, tapi entah apa sebabnya, perasaaanya seperti membenarkan perkataan Sekar Prabasini. Terus saja ia melemparkan pandangnya kepada t iga sosok bayangan yang berlari-lari d idepannya Sekarang ia melihat suatu keanehan. Genggong Basuki seperti di kejar dua orang. Siapakah mereka? Pikirnya sibuk :

'Genggong Basuki terlalu yakin kepada kepandaiannya sendiri. Tidak gampang-gampang ia menyerah. Kenapa kini membiarkan diri kena di kejar orang? Pastilah pengejarnya bukan sembarang orang ...'

"Cepat tahan I" bisik Sekar Prabasini.

Lingga Wisnu percaya. Kaw annya berjalan itu cerdas otaknya. Diapun banyak pengalamannya. Pastilah dia menpunyai alasan, apa sebab menyuruh menahan larinya Genggong Basuki. Maka cepat-cepat ia memungut sebutir batu. Kemudian ditimpukkan. Tepat timpukan Lingga wisnu. Genggong Basuki roboh terjungkal. Pan dua orang pengejarnya segera menangkapnya.

"Genggong Basuki, kau tolol!" bentak laki-laki berperawakan sedang.

"Hm ..." Genggong Basuki menggerendang. "Musafigiloh. Kau boleh mencincang aku atau membunuh aku, tapi jangan mencoba menghina aku."

"Siapa yang menghinamu?" Musafigiloh tertawa terbahak-bahak. "Semenjak dahulu aku berusaha membantumu. Tidak hanya untuk merebut kedudukan semulia-mulianya bagimu, tapipun calon isteri yang cantik luar biasa ..."

Hati Lingga Wisnu tergetar. Itulah lagu suara yang paling berkesan di dalam hati sanubarinya. Suara seorang pendekar Ugrasawa yang cerdik luar biasa. Yang dahulu pernah mengelabui kakek-gurunya Kyahi Basaman. Menurut keterangan Sastra Demung, dialah murid musuh rumah perguruan Ugrasawa bernama Lie Kong yang membunuh Pane mbahan Panyingkir. Dan dalam beberapa detik itu, teringatlah Lingga Wisnu kepada pengalamannya yang pahit. Hampir saja ia mati kena tangan jahat orang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir itu.

'Nampaknya Genggong Basuki menghadapi kesukaran.’ pikirnya didalam hati. 'Aku harus menolongnya. '

Oleh pikiran itu, tangannya meraba raba mencari segumpal tanah. Tiba-tiba Sekar Prabasini menyentuh tangannya. Berbisik perlahan sekali :

"Sabar dahulu. Dia menyebut kedudukan dan calon isteri yang cantik. Apakah kau tak tertarik?"

Genggong Basuki seperti mati kutu dihadapan Musafigilloh. Ia nampak gelisah. Namun keberanian serta sifat bandelnya, tiada sama sekali. Mau tak mau, Lingga Wisnu heran benar. Apakah dia takut menghadapi keroyokan Musafigilloh dan temannya? Walaupun kalah, tiada alasannya dia menundukkan kepala seakan-akan moncong kerbau kena tuntun majikannya.

“Aku salah seorang anggota rumah perguruan Sekar Teratai. Tak boleh aku bergaul dengan orang jahat," kata Genggong Basuki. "Kenapa kau menyebut-nyebut tentang kedudukan dan ..."

Musafigilloh tertaw a terbahak-bahak lagi dan memotong perkataan Genggong Basuki. Lalu membentak:

"Bahwasanya engkau anak-murid Sekar Teratai, aku sudah tahu semenjak dahulu. Kenapa? Apakah kau t idak tertarik lagi? Baiklah, kalau begitu calon isterimu kukangkangi sendiri. Kau tak perlu lagi berhubungan dengan aku. Bukan kah aku orang jahat?" Genggong Basuki hendak membuka mulutnya. Tiba- tiba orang yang berada disamping Musafigilloh menyambung :

"Kau belum memberi laporan kepada kami. Lalu berusaha kabur ditengah malam buta. Apakah kau menghendaki kami membongkar rahasiamu d ihadapan Ki Sambang Dalan? Ha-ha-ha! Aku ingin melihat tampangmu, apakah kau masih berani mengaku sebagai anak murid Sekar Teratai."

Terkejut hati Lingga Wisnu mendengar orang itu menyinggung-nyinggung nama Ki Sambang Dalan yang ketua rumah perguruan Sekar Teratai. Apa maksudnya dengan kata-kata membongkar rahasia? Ia melihat Genggong Basuki bergelisah bukan kepalang, setelah mendengar ancaman itu. Pastilah rahasia yang sangat menentukan! Pikir Lingga Wisnu di dalam hati. Dia berani menentang tentang janji kedudukan dan calon isteri yang cantik luar biasa. Tapi begitu mendengar istilah membongkar rahasia, ia nampak gelisah. Sebenarnya rahasia apakah yang menggelisahkan dirinya?

"Aku bukan kabur. Tapi aku tak mau berbicara di sini," kata Genggong Basuki dengan suara bergetar.

"Kenapa?" bentak Musafigilloh. "Guruku berada di sini."

"Guru yang mana lagi?" ejek Musafigilloh. Kemudian

tertaw a melalui hidungnya. Ia menoleh kepada kawannya membagi pandang.

Lingga Wisnu seolah-olah melihat wajah Genggong Basuki berubah. Menjaw ab dengan menahan rasa mendongkolnya : "Kenapa lau mendesak aku terus-menerus?" “Selamanya aku baik terhadapnu. Tapi kau selalu

menyusahkan aku. Ingat pulalah kedudukanku. Aku bertanggung jawab langsung kepada pemerintah"sahut

Musafigilloh. Kemudian ia menambahkan kepada temannya. “Manusama! Kau jelaskan kepadanya apa sebab kita mencarinya.”

Sekarang tahulah Lingga Wisnu siapa orang itu.

Menilik namanya, dia berasal dari Maluku.

Kata Manusama kepada Genggong Basuki :

"Mayor De Pool sudah berkenan menerimamu. Beliau menaruh kepercayaan hingga kau diberinya tugas penting. Kau ditugaskan untuk meracun pendekar- pendekar yang sedang berkumpul di sin i. Kenapa tak kau laku kan?"

"Tak dapat aku berbuat begitu. Selain tak berdaya, kedua guruku tiba-tiba datang pula.” jaw ab Genggong Basuki.

"Guru, guru. Selalu saja kau menyebut nyebut guru untuk menyusahkan kami berdua,” gerendeng Musafigilloh. "Apakah engkau hendak membangkang perint ah Mayor De Pool? Kau tahu sendiri, apa hukumannya terhadap seorang kepercayaannya yang menghianati."

"Bunuhlah aku!" tantang Genggong Basuki cepat. "Memang aku tak pantas lagi hidup di dunia. Aku seorang yang berdosa besar. Setiap kali memejamkan mataku, bayangan guruku selalu berada dihadapanku ." "Berkali-kali kau menyebut guru. Guru yang mana?" potong Musafigilloh.

"Guruku yang pertama. Purbaya” sahut Genggong Basuki dengan suara menggeletar. "Karena itu, aku akan sangat berterima kasih bila kau mau membunuhku."

"Baik!" bentak Manusama jengkel. Orang itu mencabut pedang pendeknya dan mengayunkan tangannya.

"Tahan!" cegah Musafigilloh. "Manusama b ila dia tetap membangkang, tak perlu kita sendiri yang membunuhnya. Biarlah dia mempertanggung-jaw abkan kesalahannya sendfiri. Nah, kita bebaskan saja dia!"

"Membebaskan? Lantas, bagimana kita ber-tanggung jawab terhadap atasan??' seru Manusama dengan suara menebak-nebak.

"Dia membunuh gurunya sendiri, Purbaya. Dia berdosa terhadap diri sendiri dan rumah perguruannya. Pastilah dia akan dibunuh oleh kaumnya sendiri. Apa perlu kita bersusah payah mengotori senjata?"

0oodwoo0

Ucapan Musafigilloh itu tak ubah halilint ar menyambar hati Lingga Wisnu. T atkala mengadu kepandaian dengan Genggong Basuki, ia melihat kehandalan dan kekurang- ajaran kemenakannya itu. Walaupun Naw awi sudah memperingatkan, namun tetap ngotot. Rupanya dia bermaksud membunuh gurunya sendiri. Hai, mimpipun rasanya takkan pernah terjadi.

‘Kenapa dia sampai membunuh gurunya?’ pikir Lingga Wisnu pada detik itu. 'Dan kenapa pula kakang Purbaya bisa dibunuhnya? Walaupun Genggong Basuki memiliki ilmu pedang ajaran kakang Sugiri-Sukesi. rasanya belum cukup sebagai bekal membunuhnya. Kakang Sugiri- Sukesi sendiri, belum tentu bisa...’

Mendadak terlint aslah bayangan cerita Sekarringrum, tentang teraniayanya pendekar Bondan Sejiwan. ‘Apakah kakang Purbaya juga kena racun sebelum terbunuh?’ pikir Lingga Wisnu. Dan hatinya terdoncang hebat.

"Musafigilloh!" kata Genggong Basuki dengan suara bergemetaran. "Kau sudah t’bersumpah tidak akan membocorkan rahasia in i. Kenapa kau membuka mulut?'"

Musafigilloh tertaw a taw ar. Sahutnya :

"Kau ini hanya ingat sumpahku saja. Tetapi lupa kepada sumpah sendiri. Kau sudah bersumpah padaku, bahwa mulai waktu itu kau akan patuh   kepada perint ahku. Sekarang, katakan terus terang, engkau atau aku yang melanggar sumpah? - Kalau kini aku membuka rahasia, adalah didepan orang kita sendiri, Manusama akan menutup mulut selama engkau tidak membangkang perint ahku."

"Baik. Tapi betapapun juga aku tak akan mau mengulangi sejarah dengan meracun para pendekar sebelum me mbunuhnya. bukannya takut kepada mereka, tetapi karena aku jelek-jelek tergolong seorang kasatrya, juga. Apalagi engkau justru menghendaki aku membunuh semua pendekar, termasuk kakek guru dan guruku. tak dapat aku berbuat demikian," sahut Genggong Basuki.

Mendengar kata-kata Genggong Basuki, benarlah dugaan Lingga Wisnu. Kakak seperguruannya mati terbunuh oleh racun atau dibunuh setelah punah tenaganya. Pada saat itu, ia mendengar Musafigilloh tertaw a lagi. Kita larang itu:

“Kakang Genggang Basuki- Siapakah yang tidak mengetahui bahwa engkau seorang kasatrya dan bukannya aku menyuruhmu membunuh mereka dengan racun jahat. Aku hanya menghendaki supaya mereka lumpuh. Kemudian kita tawan. Sekarang, marilah kita rundingkan dibenteng tangsi Kasunanan. Di sana, kawan- kawan sudah berkumpul. Mayor De Pool hadir pula."

"Kenapa ke sana?" Genggong Basuki terkejut. "Mengapa?"

"Kedua guruku justru mengadakan perjanjian di tangsi itu dengan seseorang."

"Kapan?"

"Esok petang. Setelah matahari tenggelam."

"Akh, kalau begitu kebetulan," kata Musafigilloh sambil menyarungkan pedangnya perlahan lahan. "Lagi pula, apabila cepat hadir, sebelum matahari terbit, sudah selesai. Dan esok petang kita bisa mengepung gurumu beramai-ramai. Kau tak usah ikut serta. Meskipun kedua gurumu ggagah perkasa, masakan bisa melawan kita yang berjumlah banyak?"

Genggong Basuki hendak menyatakan  pendapatnya.

Tiba-tiba Musafigilloh menyambung perkataannya. :

"Putri pendekar Sri Ngrumbini itu memang cantik bagaikan bidadari- Namanya sedap pula didengar Suskandari. Nama yang merdu bukan main. Di dalam dunia ini, sukarlah dicarikan tandingnya. Sayang sekali, manakala dia kau serahkan kepadaku."

"Musafigilloh! Lidahmu benar-benar jahat!" teriak Genggong Basuki.

"Bagus! Bagus!" Musafigilloh tertaw a menang. Ia meraba-raba kantongnya, kemudian memperlihatkan sebuah benda. Karena suasana malam itu gelap. Lingga Wisnu hanya melihatnya dengan samar-samar. Ia menoleh kepada Sekar Prabasini. Gadis inipun bernapsu pula ingin melihat benda itu. Dan pada saat itu, terdengar Genggong Basuki berseru tertahan :

"Hai! Itu kan tusuk kondenya .-!"

"Benar. Apakah kau tak percaya? Lihat" kata Musafigilloh. Ia menarik pedangnya. Kemudian melemparkan trusuk konde itu tinggi di udara dengan tangan kirinya. Trang! Ia menetak tusuk konde itu dengan pedangnya.

Lingga Wisnu menggunakan tusuk konde Suskandari sebagai senjata melawan pedang dan golok keluarga Dandang Mataun. Ia tahu, bahwa meskipun tidaklah sekuat senjata pusaka, namun tidak gampang-gampang kena dipatahkan senjata tajam. Apalagi Musafigilloh hanya menetaknya. Perbuatannya itu hanya untuk membuktikan kepada Genggong Basuki, bahwa tusuk konde Suskandari memang lain bila dibandingkan dengan tusuk konde lumrah.

"Kau lihat buktinya, bukan?" ujar Musafigilloh. "Tusuk konde manakah yang tahan tetakan pedang, kalau bukan tusuk konde seorang pendekar? Kau periksalah lebih cermat lagi! Bukankah ini deretan huruf-huruf namanya? Tusuk konde ini dulu milik ibunya ..."

"Musafigilloh ...l" kata Genggong Basuki dengan suara parau. "Bagaimana engkau memperoleh tusuk konde itu? Dari siapa? Dimana dia sekaradg? Berapa waktu yang

]alu, dia selalu berada dengan paman Botol Pinilis."

Musafigilloh tersenyum. Ia menoleh kepada Manusama. Berkata :

"Manusama, mari kita berangkat! Mulai sekarang kita tidak memerlukan manusia seperti dia lagi."

Musafigilloh tidak hanya menggert ak saja. Ia membuktikan ucapannya. Dengan langkah lebar, ia mengarah ke utara. Manusama mengikuti dari belakang.

"Musafigilloh!" seru Geiggong Basuki. Apakah Suskandari kau taw an? Paman Botol Pinilis bermusuhan dengan pihakmu. Karena Suskandari mengikuti paman dia selalu berada ditengah tengah para pendekar yang menentang kompeni Belanda. Apakah dia jatuh ditangkap kompeni? Hidup atau sudah mati?"

Musafigilloh berhenti melangkah. Menoleh sambil menjawab :

"Benar. Suskandari memang berada dalam tangan kami. Dia benar-benar seorang gadis cantik. Aku sendiri belum beristeri. Biarlah kumohon idzin kepada Mayor De Pool. agar dia diserahkan kepadaku. Bila aku bermaksud mengaw ininya, pastilah diidzinkan."

Genggong Basuki menjerit tertahan. Katanya sambil menghampiri :

"Tak dapat kau berbuat begitu. Bukankah dia .. " "Benar.". Musafigilloh menghela napas. "Sebenarnya, seorang kasatrya t idak akan merenggut isteri kawannya. Percayalah, Musafigilloh lebih menghormati tali persahabatan dari pada tergiur paras cantik. Tetapi dia belum menjadi isterimu. Lagipula engkau akan menghianati kami. Karena itu, tiada lagi persahabatan antara kita berdua. Tegasnya, mulai saat ini, tiada lagi suatu ikatan apapun diantara kita. Masing-masing boleh berbuat sesuka batinya."

Genggong Basuki tergugu. Beberapa saat kemudian barulah dia berkata minta belas kasihan:

"Musafigilloh dan saudara Manusama. Maafkanlah aku. Pikiranku lagi kusut. Aku merasa bersalah kepada kalian.”

Musafigilloh tertawa terbahak-bahak. Serunya :

"Nah, beginilah baru benar! Sekarang aku dapat memberi jaminan, bahwa Suskandari pasti   akan   menjadi isterimu.

Tetapi, ingat! Kau harus melaksanakan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Bila sudah berhasil meracun pendekar- pendekar terutama aliran Parwati, artinya, hari pernikahanmu sudah dekat. Setelah itu, pendekar pendekar aliran Aristi. Sementara aku membasmi rumah perguruan Ugrasawa, hendaklah engkau menaruhkan bubuk racun terhadap guru dan kakek gurumu. Percayalah, aku tidak akan membunuh para pinisepuh Sekar Teratai. Cukup kalau kami tawan hidup hidup. Kau sendiri tidak perlu berkecil hati, seolah-olah berdosa terhadap gurumu. Sebab kedudukan gurumu dalam hal ini, hanyalah merupakan jalanan dalam mencapai nasib baikmu yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Kelak pemerint ah yang syah, tidak akan melupakan jasamu. Kau akan diangkat menjadi seorang Adipati dan jaminan yang layak selama hidupmu. Dan disamping itu seorang isteri secantik bidadari, Nah, siapapun akan merasa iri hati kepadamu."

"Janganlah engkau berbisa tentang pangkat segala.

Cukuplah sudah, apabila ..."

Musafigilloh tertaw a. Berkata mengalihkan penbicaraan :

"Oh, ya. Bagaimana kau tadi bisa jatuh?"

"Entahlah. Barangkali akulah yang sedang sial. Rupanya kakiku menyaruk batu. Secara kebetulan membalik memukul betisku." sahut Genggong Basuki.

Pengakuan Genggong Basuki membuktikan betapa ahli Lingga Wisnu dalam ilmu melempar.

Genggong Basuki sama sekali tak pernah menduga bahwa dirinya kena serangan gelap. Dia hanya merasa terpukul oleh kepingan batu yang secara kebetulan mengenai betisnya. Batu itu tepat membentur salah satu urat yang membuat kakinya kejang dengan tiba-tiba. Dan kemudian jatuh karena kehilangan keseimbangan.

"Bukan sial, namanya. Tetapi mujur!" seru Musafigilloh dengan tertaw a. "Itu suatu tanda bahwa engkau bernasib baik dan sudah ditakdirkan bakal menjadi suami seorang isteri yang sangat cantik. Sebab, seumpama betismu tidak terpukul pentalan batu, kami berdua tidak akan sanggupi mengejarmu. Dan engkaupun tak akan tersadarkan dari kesesatanmu, Apabila-sampai terjadi demikian, bukan saja namamu akan hancur tetapi usaha kitapun akan gagal bubar. Kecuali itu, Suskandari yang cantik jelita akan menjadi isteri Musafigilloh."

Musafigilloh berbicara seolah-olah sedang bercanda. Tetapi tiap patah katanya, tak ubah sebilah pisau tajam menusuki hati Genggong Basuki. Pendekar yang galak itu, tiba-tiba saja kehilangan kegarangannya. Dengan menghela nafas ia berkata perlahan :

"Jadi ... ke mana aku harus pergi?"

"Kau. ingin bertemu dengan Suskandari atau tidak?" sahut Musafigilloh dengan suara menang lalu menambahkan lagi: "Mari kita ke benteng Kasunanan dahulu menghadap Mayor De Pool. Setelah beres aku antarkan engkau menemui Suskandari. Percaya sajalah, Suskandari akan menjadi milikmu. Dan seumur hidupmu kau akan| berterima kasih kepada Musafigilloh."

"Baik. Mari kita pergi" kata Genggong Basuki. "Sebenarnya, bagaimana Suskandari sampai bisa berada dalam tanganmu?"

"Itulah berkat pertolongan letnan Manusama." jawab Musafigilloh sambil tertaw a. Ia berpaling kepada Manusama dan mengejapkan moanya. "Ha, baru kali ini aku menyebut dihadapanmu bukan? Sebagai seorang perw ira, besar kekuasaannya. Meskipun begitu, dia bersedia mengalah terhadapku. Selagi dia makan-minum di sebuah warung dengan ketiga pembantunya, ia melihat tiga orang yang menarik perhatiannya. Setelah diselidiki, ternyata tokoh-tokoh yang ada harganya untuk diambil. Letnan Manusama membiarkan yang tua tak terusik. Tetapi yang dua orang, Ha-ha-ha. Tetapi kau tak usah cemas. Legakan hatimu, karena calon isterimu yang cantik kami perlakukan sebagai tetamu yang terhormat."

Lingga Wisnu mengeluh. Tiga orang yang disebutkan itu, siapa lagi kalau bukan Botol Pinilis, Suskandari dan Harimawan? Teringat akan uang bekal laskar Panglima Sengkan Turunan, ia jadi sibuk. Pikirnya :

'Dengan susah payah kakang Botol Pinilis merebut uang perbekalan kembali dari tangan keluarga Dandang Mataun. Sekarang Harimawan tertaw an. Jangan-jangan uang perbekalan berada padanya. Jika sampai, kena terampas oleh pihak kompeni, kesulitannya untuk merampas kembali sepuluh kali lipat jadinya ...'

Memperoleh pikiran demikian, segera menajamkan telinganya. Ia yakin, kakak seperguruannya itu tidak akan tinggal diam. Apalagi bila uang perbekalan itu sampai kena terampas. Dia pasti bersedia mengorbankan jiw anya. Tetapi baik Musafigilloh maupun Manusama, tidak menyinggung lagi soal penangkapan itu. Keruan saja ia jadi bingung.

"Kakang Genggong," kata Musafigilloh sambil menyarungkan pedangnya, "Bila kau sudah berhasil melumpuhkan, para pendekar Parwati, semenjak itu akan bertambah-tambah kekuatan kita. Apalagi, bila kaum Ariati, Ugrasawa dan Sekar Teratai sudah dapat kukuasai. Hem, kita tinggal menggertak saja kepada pihak kompeni, untuk minta sebagian tanah. Kita akan menjadi majikan, tanpa banyak kesulitan. Kau tak perlu menyangsikan hadirnya Letnan Manusama. Walaupun dia orang Maluku, tetapi didalam hatinya, ia tak mau menjadi budak Belanda selama hidupnya." Musafigilloh berbicara dengan suara tegar dan yakin seolah-olah seluruh pendekar di segenap penjuru sudah dikuasinya. Genggong Basuki dan Manusama ikut menyatakan rasa syukurnya pula. Kadang-kadang mereka menyumbangkan tertaw anya. Tetapi bunyi tertaw anya pahit.

"Kau ingin bertemu dengan calon isterimu, bukan? Dia sekarang berada di Sukoharjo. Mari kita berangkat." kata Musafigilloh menutup perkataannya.

Ia mendahului berjalan. Manusama mendampingi. Dan Genggong Basuki mengikuti dengan terpincang-pincang. Habislah sudah segala keangkeran dan kegarangannya. Di serambi rumah Songgeng Mintaraga tadi, dia bersikap angkuh serta t inggi hati. Pandang matanya meremehkan siapa saja yang berada di penglihatannya. Sekarang dengan Musafigilloh, ia tak ubah seekor anjing yang sibuk mengibas-ngibaskan ekornya.

Lingga Wisnu tahu, apa sebab kemenakan muridnya itu bersedia berhamba kepada Musafigilloh. Kecuali tergila-gila terhadap Suskandari, dia merasa berdosa karena membunuh gurunya sendiri. Benar-benar manusia pengecut dari berbahaya! Lingga Wisnu belum pernah bertemu dengan pendekar Purbaya. Akan tetapi ia merasa dirinya wajib menuntut keadilan. Dan tiba-tiba saja ia bergerak hendak mengejar si laknat itu.

Sekar Prabasini agaknya sudah dapat menebak hatinya. Cepat menyanggah

"Jangan! Kau tak akan dapat berbuat seorang diri. Kalau kau dapat mengetahui penghianatannya, hanyalah karena kebetulan saja. Dapatkah engkau memaksa gurumu dan sekalian saudara mempercayai laporanmu? Kedudukanmu pada saat ini tidak menguntungkan. Kedua kakak seperguruanmu curiga padamu. Bila mereka mendengar matinya paman Purbaya lew at mulutmu, justru engkaulah yang mula-mula akan ditangkapnya. Sebab, siapapun, tak akan percaya paman Purbaya mati di tangan muridnya. Akupun tidak, seumpama aku salah sarang murid gurumu. Apa arti kepandaian Genggong Basuki, bila dibandingkan dengan gurumu? Apalagi jika engkau membunuh Genggong Basuki pula ... Karena itu, paling kita harus mencari saksi. Dan saksi itu kecuali kedua kakak seperguruanmu yang rnencurigaimu, setidak-tidaknya seorang pendekar tua seperti Ki Ageng Gumbrek."

Lingga Wisnu seperti tersadar dari tidur lelap. Tak dapat ia membantah pendapat Sekar Prabasini. Bahkan diam-diam ia heran, apa sebab kali. ini Sekar Prabasini bisa berbicara begitu panjang dan matang. Perlahan- lahan ia mengamat-amati wajahnya. Kemudian berkata terharu :

"Benar. Hatiku kalut sehingga pikiranku tidak bekerja. katakan padaku, apakah yang harus kulakukan"

Sekar Prabasini tersenyum lebar. Sahutnya;

"Mereka akan berunding di tangsi Kasunanan. Kalau engkau ingin mengetahui corak persekutuan itu lebih luas lagi, berangkatlah sekarang. Aku sendiri akan mencoba mencari saksi."

"Siapa-"

"Ki Ageng Gumbrek dan paman Songgeng Mintaraga." jawab Sekar Prabasini. "Tapi awas, kalau kau ing in melihat Suskandari, jangan tinggalkan aku!" Lingga Wisnu tertawa geli. Kumat lagi w ataknya, pikir pemuda itu. Selagi hendak membuka mulut, Sekar Prabasini berkata lagi :

"Kau cukup meninggalkan tanda-tanda tertentu sepanjang jalan. Dan aku akan segera menyusulmu. "

Sekar Prabasini tidak menunggu persetujuan Lingga Wisnu. Setelah berkata demikian ia pergi. Lingga Wisnu tertegun. Aneh, perasaannya. Dahulu ia dapat pergi atau. berpisah tanpa kesan. Sekarang, begitu gadis itu meninggalkannya ia merasa seperti kehilangan. Dengan pandang terlongong-longong ia mengikuti kepergian Sekar Prabasini dengan gundu-matanya, sampai bayangannya hilang digelap malam.

0oodwoo0

Setelah menghela napas, ia mengalihkan pandang kearah menghilangnya Musafigilloh bertiga. Dipusatkannya perhatiannya, Kemudian lari mengejar. Dari SeJatan ia berlari-larian kearah utara. Tetapi setelah lari beberapa waktu lamanya, tiada sesosok bayanganpun yang terlint as dihadapannya. Suasana larut malam itu sunyi malah.

"Ke mana mereka pergi? Celaka! Aku harus meninggalkan tanda-tanda arah kepergianku. Akan tetapi aku sendiri belum memperoleh kepastian, pikir Lingga Wisnu di dalam hati.

Kalau dipikir, baru beberapa menit ketiga orang itu pergi. Tetapi dalam waktu sesingkat itu mereka pergi lenyap seperti tertelan iblis. Tanda-tanda dan jejaknya sama sekali tak terlihat. Walaupun demikian, ia percaya akan dapat mengejarnya.

Baru saja ia sampai diperbatasan kota, tiba-tiba muncullah seseorang dari gerombolan rumput. Orang itu muncul sambil menarik goloknya. Cepat Lingga Wisnu melompat. Bagaikan anak panah, tubuhnya berkelebat melewatinya.

Crang itu heran. Apakah ia salah melihat? Bukankah tadi dilihatnya sesosok bayangan berkelebat mendatangi. Kenapa tiba-tiba lenyap? Orang itu berce lingukan menebarkan penglihatannya sambil mergucak-ucak mata. Tetap saja tak dapat menangkap bayangan Lingga Wisnu, yang melintas sangat cepat dan lenyap dibalik tabir malam.

Hampir satu jam Lingga Wisnu berlari larian ke sana ke mari, akan tetapi masih belum memperoleh petunjuk- petunjuk. Tiba-tiba ia melihat sebuah bangunan yang menarik perhatian. Bangunan itu bertingkat dua. Tegak berdiri sangat tinggi dan dilindungi pagar tembok yang sangat kokoh. Dan melihat bangunan itu, Lingga Wisnu berpikir :

'Apakah ini yang dinamakan tangsi Kasunanan?'

Samar-samar ia melihat sinar api. Dan melihat sinar api itu, ia berpikir lagi :.

“Katanya Kompeni Belanda pernah mempunyai tangsi di daerah sini. Gedung mana lagi yang pantas menjadi tangsi Belanda, selain bangunan ini? Tapi mengapa ada sinar lampu? Ha, jangan jangan inilah gedung yang dikatakan Musafigilloh sebagai tempat pertemuan ...’ Selagi ia berpikir demikian, sekonyong konyong melesatlah sesosok bayangan keluar dari sebuah jendela. Gerakan orang itu cepat luar biasa. Dan dalam sekejap mata. saja lenyaplah bayangannya. Sekiranya bukan Lingga Wisnu yang bermata tajam, berkelebatnya bayangan itu tak akan tertangkap oleh penglihatan. Tak usah dikatakan lagi, bahwa orang itu memiliki kepandaian yang sangat, tinggi. Siapa? pikir Lingga Wisnu, ia lantas menghampiri bangunan itu.

Setibanya disamping gedung, dengan menjejakkan kakinya, Lingga Wisnu melesat ke atas tembok pagar. Sekonyong-konyong hatinya tergetar. Ia mendengar suara orang yang sangat dikenalnya. Itulah suara Cocak Abang, salah seorang anggota Dandang Mataun yang berangasan. Dia berbicara dengan Manusama, dibawah rindang sebatang pohon. Kata Cocak Abang :

"Musafigilloh benar-benar seorang yang tak tahu diri. Dia bukan wakil pemerint ah. Bukan pula ketua aliran. Tapi lagaknya seperti seorang pembesar. Malam sudah mendekati pagihari. Kenapa kita harus berkumpul lagi?"

Manusama mendeham. Lalu menjaw ab :

Gembira hati Lingga Wisnu mendengar percakapan itu. Siapa lagi yang dibicarakan, kalau bukan Suskandari dan Harimawan. Hati-hati ia mendekati jendela dan mengintai ke dalam. Ternyata pertemuan itu dilangsungkan disebuah pendapa dalam yang tertutup oleh bangunan tinggi.

Cocak Abang dan Manusama mencampurkan diri di antara hadirin yang berjumlah kira-kira enam puluh orang. Seorang Belanda berpakaian militer duduk diatas kursi. Musafigilloh yang berdiri didepannya berkata nyaring :

"Saudara Genggong Basuki sudah sadar kembali., dialah murid tertua aliran Sekar Teratai angkatan kedua. Bila si tua Sambang Dalan sudah mampus, kurasa dialah yang bakal menggantikan menggantikan kedudukannya."

"Dan gurunya?" potong orang Belanda itu. "Bukankah gurunya sudah mati?"

“Tetapi betapapun juga, dia seorang yang tinggi akalnya. Oleh petunjuknya, aku dapat membekuk dua orang penting. Yang perempuan dibaw anya ke Sukoharjo. Dan yang muda disekap disini."

“Hem, apanya yang hebat?" dengus Cocak Abang. "Bocah dogol itu pernah kami tangkap dirumah kami."

“Akh, ya, ha-ha-ha ... orang Belanda itu tertawa terbahak-bahak. "Bukankah dia mat' karena makan racun Arsenikum?"

"Benar. Itulah berkat jasanya mayor," kata Musafigilloh.

Sekarang tahulah Lingga Wisnu, bahwa orang Belanda itulah yang disebut-sebut sebagai Mayor De Pool.

"Tapi, mayor ..." kata Musafigilloh lagi "Dideoan hadirin in i, hendaklah dia keterangannya apa sebab sampai hati membunuh gurunya sendiri. Dengan keterangannya sendiri, sejarah kelak tidak akan mengutuki kita."

"Benar! Benari Ya, kenapa kau sampai hati membunuh gurumu sendiri?" tanya Mayor De Pool. Genggong Basuki nampak mendongkol memperoleh pertanyaan demikian. Sebelum menjawab, ia mengerlingkan matanya kepada Musafigilloh. Katanya dengan suara terpaksa :

"Hal itu karena demi membalas budi saudara Musafigilloh yang sangat besar. Aku sangat kagum dan rela mengabdi padanya."

Musafigilloh tertaw a menang. Ujarnya :

"Kakang Genggong Basuki! Semua yang hadir disini adalah teman-tanan sendiri, kakang tak perlu bersegan- segan. Katakanlah dengan terusterang saja. Kakang bisa berbicara dengan bebas. Baiklah, kalau kakang masih saja merasa segan, biarlah aku yang mewakili dirimu," ia berhenti minta idzin. Kemudian berkata nyaring kepada Mayor De Pool.

"Puteri seorang pendekar wanita bernama Sri Ngrumbini adalah seorang gadis yang cantik luar biasa. Gadis itu bernama Suskandari. Dengan saudara Genggong Basuki, usianya terpaut tujuh belas tahun. Antara gurunya dan pendekar Sri Ngrumbini sudah terjadi kata sepakat, bahwasanya Mereka berdua kelak akan hidup sebagai suami-isteri. Di luar dugaan, gadis itu jatuh hati kepada seorang pendekar muda bernama Lingga Wisnu. Eh, bukan begitu. Dia dirampas pendekar muda itu."

"Dimana" Mayor De Pool menegas.

"Menurut kabar, mereka berdua pernah berkenalan tatkala masih kanak-kanak. Kemudian mereka berjumpa kembali di rumah keluarga Dandang Mataun. Salah seorang anggauta keluarga Mataun hadir disini. Dia bersedia menjadi saksi," kata Musafigilloh lancar. Kemudian menoleh mencari tempat Gocak Abang. "Ha, itulah dia. Teman seperjuangan kita yang baru, saudara Cocak Abang.”

Cocak Abang yang berdiri di samping Manusama, menganggut. Dan melihat anggukan Cocak Abang, Mayor De Pool nampak puas.. Ia mengalihkan pandangnya lagi kepada Musafigilloh yang belum selesai berbicara. Kata pemuda itu :

“Oleh rasa marah, kakang Genggong Basuki minta bantuanku. Aku bersumpah hendak membantunya. Dan rupanya alam membantu maksud kita yang baik. Secara kebetulan, dia bisa kita tangkap bersama si dogol ..."

Mendongkol Lingga Wisnu mendengar kata-kata Musafigilloh. Jelas sekali, bahwa keterangan pemuda itu banyak sekali bohongnya. Akan tetapi hadirin seperti kena sihirnya. tereka menelan saja semua ucapannya.

Mayor De Pool tertaw a terbahak-bahak. Serunya :

"Aku tidak bisa menyalahkan atau mencela kelemahan saudara Genggong Basuki. Semenjak dahulu kala, orang bersedia mati demi calon isterinya yang cantik jelita. Bila mereka berdua kelak terangkat jodohnya, hm ... siapapun akan merasa beriri hati."

Berbagai bayangan berkelebat didalam benak Lingga Wisnu. Ia jadi teringat tatkala tadi berhadapan-hadapan dengan Genggong Basuki. Kemenakannya itu seperti mengenal dirinya. Walaupun terbintik rasa hormatnya, akan tetapi dia membandal karena dengki. Kenapa? Dia pulalah yang terus mengacau. Akh, sama sekali tak terduga, bahwa hal itu terjadi karena ada latar belakangnya. Itulah mengenai Suskandari.

“Hm, benar-benar gila! Benar-benar edan, kalau dia bersedia berhianat dan membunuh gurunya, karena tergila-gila paras cantik. Atau sebenarnya penghianatan itu terjadi setelah membunuh gurunya? Hai, kenapa dia sampai begitu tersesat?' pikir Lingga Wisnu seorang diri.

Dalam pada itu, Musafigilloh masih melanjutkan perkataannya :

"Suskandari kami tangkap dengan si dogol. Kabarnya dia murid paman guru kakang Genggong-Basuki yang bernama Botol Pinilis. Orang itu bersahabat erat dengan Panglima Sengkan Turunan. Pastilah si dogol itu mendapat keterangan tentang laskar Panglima Sengkan Turunan. Bahkan menurut saudara Cocak Abang, dia pulalah yang pembaw a uang bekal laskar berandal."

Mayor De Pool seperti diingatkan. Segera memberi perint ah :

“Coba bawa masuk taw anan itu!"

Jantung Lingga Wisnu berdegupan. Ia memutuskan hendak menolong pemuda itu, bila dia terancam bahaya. Segera ia merangkak mendekati ruang pertemuan itu.

Hampir berbareng dengan gerakannya, empat orang menggusur seorang tahanan dari dalam kamar sebelah. Dialah Harimawan. Tangannya terbelenggu. Meskipun demikian, nampak gagah dan tak mengenal takut. Tatkala lewat di depan Musafigilloh, ia merbuka mulutnya dan menyemburkan ludahnya. Musafigilloh mengelak. Tangannya melayang menampar pipi. Plok!! Tak dapat Harimawan menghindari. Seketika itu juga, pipinya bengkak membiru.

"Binatang! Kau berlut utlah dihadapan Mayor De Pool!" bentak serdadu yang mengiringkan.

Harimawan memang seorang pemuda yang bandel dan berani. Sama sekali ia tak mau berlutut atau mengangga. Bahkan dengan tiba-tiba ia menyemburkan ludahnya. Karena jaraknya sangat dekat Mayor De Pool tak dapat mengelakkan dan gundulnya kena dihinggapi sebuah gumpalan ludah Harimawan yang kental beriak.

Musafigilloh mendongkol bukan main. Sekali melompat, ia mengayunkan kakinya. Dan pemuda itu roboh terjungkal diatas lantai.

''BangsatI Apakah kau benar-benar sudah bosan hidup?" makinya.

Harimawan meletik bangun. Garang ia membalas membentak :

"Hmm, kau kira aku takut mati? Kau boleh membunuh aku sekarang juga. Tapi jangan harap kau bisa mengorek mulutku!”

Musafigilloh bisa menahan diri. melihat Mayor De Pool menyusuti ludah Harimawan, perlu ia menaikkan derajat perw ira itu dihadapan hadirin. Katanya nyaring :

"Mayor! Pemuda ini memang luar biasa. Kepandaiannya melebihi keempat murid Ki Sambang Dalan. Karena itu, tak boleh kita menganggap enteng padanya ..." "Betulkah itu?" Mayor de Pool menyahut cepat. Wajahnya yang suram agak menjadi jernih. "Bagaimana dengan gurunya sendiri? Masakan dia lebih unggul?"

Musafigilloh mendeham. Menjaw ab:

"Murid Ki Sambang Dalan lima orang. Botol pinilis, Purbaya, Sugiri-Sukesi dan Lingga Wisnu. Mereka berlima, kecuali Lingga Wisnu, kalah dalam hal apa saja. Maka betapa penting arti dia, tak usah kita jelaskan lagi"

Cocak Abang dan Manusama tercengang mendengar keterangan Musafigilloh tentang kepandaian Harimawan. Sebab kedua-duanya pernah menyaksikan kepandaian murid Botol Pinilis itu. Tapi tak lama kemudian tahulah mereka, apa sebab Musafigilloh mengangkat-angkat kepandaian Harimawan. Maksudnya untuk menolong muka Mayor De Pool yang kena semprot ludah.

"Hoo, jadi dia murid Botol Pinilis? Siapa namanya?" Mayor De Pool minta keterangan.

"Harimawan," jaw ab Musafigilloh.

"Jadi, dia kemenakan berandal Lingga Wisnu itu? Bagusi Benar-benar besar jasamu!" Mayor De Pool menghadiahkan pujian dengan tertaw a lebar.

"Petang tadi. Lingga Wisnu meruntuhkan nama para pendekar beruntun-runtun. Mereka lantas menyatakan bersedia berada dibawah perintahnya. Maka dapatlah dia kita buat semacam barang tanggungan, agar Lingga Wisnu menjadi jinak."

Tercengang Lingga Wisnu mendengar percakapan itu. Mereka bisa menyebut dan membaw a bawa namanya begitu lancar. Agaknya mereka sudah agak lama mengenal namanya. Mungkin sekali, namanya sudah dibuat penbicaraan mereka.

"Binatang," maki Harimawan. "Kau jangan bermimpi yang bukan-bukan. Pamanku itu hanya tunduk kepada eyang guru. dia seorang yang gagah perkasa. Biarpun kamu semua maju berbareng, belum pantas menandingi sepatunya saja .. "

Cocak Abang yang pernah merasakan ketangguhan Lingga Wisnu, merah padam wajahnya. Tetapi Musafigilloh yang pandai berpikir, tertaw a terbahak- bahak. Katanya :

"Harimawan! Kau memuji paman-gurumu terlalu tinggi. Karena itu, ingin sekali kami bertemu dan berkenalan. Kebetulan sekali, kau sekarang berada disin i. Biarlah malam in i, kau kusekap disin i. Aku tanggung, paman gurumu itu akan datang kemari menolongmu. Dan pada saat itu, kami semua muncul. Aku ingin tahu, dia dapat berbuat apa!"

Harimawan marah bukan kepalang. Itulah suatu perbuatan licik dan terkutuk. Serunya :

"Kau seperti kura-kura yang hanya berani memperlihatkan punggungnya, tetapi memnyembunyikan kepalanya. Kalau kau menganggap diri seorang pendekar, tantanglah pamanku itu secara berhadap- hadapan.”

Musafigilloh tidak bersakit hati kena damprat demikian. Ia bahkan tertawa kian nyaring. Katanya lagi :

"Akh, ternyata kau cinta benar kepada paman gurumu itu. Agaknya harganya melebihi uang perbekalan yang kau bawa. Bukankah engkau yang membaw a uang perbekalan itu?"

Harimawan terkesiap. Ia merasa terjebak. Namun ia tak merasa gentar. Setelah berdiam diri sejenak, ia menjawab

"Benar. Memang aku yang membaw a uang perbekalan. Duaribu keping uang emas."

"Ha, bagus! Sekarang, dimana uang itu?"

"Apakah kalian benar-benar menginginkan uang itu?" Harimawan menegas, Ia sekarang hendak menggunakan kecerdikannya. Pikirnya di dalam hati ;

'Pastilah dia menginginkan uang itu. Aku harus berpura-pura akan menunjukkan di mana uang perbekalan itu berada. Sebelumnya aku minta agar membebaskan belengguku. Setelah bebas, bukankah aku dapat melawannya? Meskipun mati, barangkali masih dapat aku membunuh dua atau tiga orang ...'

Oleh pikiran itu, hati Harimawan menjadi tenang. Tetapi Musafigilloh bukanlah tandingannya dalam hal mengadu kepandaian maupun kecerdikan. Ia seperti dapat membaca isi hati Harimwan. Sahutnya :

"Memang benar, kami membutuhkan uang itu. Jumlahnya cukup lumayan untuk beaya menguburmu secara baik-baik. Bukankah uang perbekalan itu telah kau telan?"

Harimawan tertegun. Didalam hati ia mengutuk kalang-kabut . Dasar w ataknya keras hati ia lantas mengikuti jebakan Musafigilloh. Katanya: "Benar. Uang perbekalan itu memangnya sudah kutelan. Lihatlah, perutku menjadi buncit!"

"Oh, begitu?" Musafigilloh tertaw a terbahak-bahak. "Kalau begitu, biarlah kuperiksa isi perutmu. Dengan begitu, aku dapat membuktikan kepada hadirin, bahwa ucapanmu tidak dusta,''

Musafigilloh tidak hanya menggertak. Benar benar ia hendak membuktikan ucapannya. Ia menghunus pedangnya dan diancamkan ke perut Harimawan. Membentak :

"Coba, katakan sekali lagi, bahwa uang perbekalan itu berada di dalam perutmu!"

"Kau tak percaya? Buktikanlah sendiri." Bukankah sudah aku katakan, bahwa engkau boleh membunuhku dimana saja atau kapan saja. Tapi jangan harap dapat mengorek mulutku."

Setelah berkata demikian, Harimawan menyemburkan ludahnya. Tetapi Musafigilloh bukan Mayor De Pool. Sekali menggerakkan kepalanya, ia bisa mengelakkan semburan ludah. Kali ini hatinya panas. Terus saja ia bergerak hendak menikam perut Harimawan. Sekonyong- konyong melesatlah sesosok bayangan kedalam ruang pertemuan itu sambil membentak.

"Inilah Lingga Wisnu!"

---o0odwo0o---

Musafigilloh memutar tubuhnya. Tangan kirinya menyambar kearah leher. Tapi dengan gerakan yang sangat indah, bayangan itu dapat mengelak. Ternyata bayangan itu seorang pemuda sangat tampan, dengan mengenakan ikat kepala persegi empat dan pakaian singsat.

Lingga Wisnu tersirap darahnya. Segera ia mengenali, siapa pemuda itu. Dialah Sekar Prabasin i yang menyamar sebagai seorang pemuda.

“Hai, begitu cepat dia datang,' pikirnya.

Oleh perasaan girang dan syukur, ia sampai berseru tertahan. Untunglah pada saat itu ruang pertemuan jadi sibuk, semua hadirin lagi bersiaga bertempur.

Mereka yang hadir pada pertemuan itu, belum mengenal Sekar Prabasini. Kecuali Genggong Basuki dan Cocak Abang. Mereka berdua mempunyai dendamnya masing-masing. Genggong Basuki mendongkol, karena Sekar Prabasini adalah teman Lingga Wisnu yang ikut menertaw akan kekalahannya. Dan Cocak Abang berdendam hati, karena gadis itu anak musuh besarnya. Karena gara-garanya, keluarga Dandang Mataun sampai mengalami kekalahan. Cocak Ijo sampai mati pula. Karena itu, mereka berdua segera bergerak hendak maju. T atkala itu terdengar Musafigilloh membentak :

"Sebenarnya siapa engkau? Pastilah engkau bukannya Lingga Wisnu!"

"Aku Lingga Wisnu. Murid kelima Kyahi Sambang Dalan," jawab Sekar Prabasini. "Mengapa engkau menangkap kemenakan muridku? Bebaskanlah dia! Dalam segala halnya, akulah yang bertanggung jaw ab!"

Pada saat itu sekonyong-konyong terdengar suara tertaw a melalui hidung. Dialah Cocak Abang dan kata pendekar berangasan itu : "Anak jadah! Kau bisa mengelabuhi orang. Tetapi mataku belum lamur. Mungkin sekali hadirin belum pernah melihat dan mengenal Lingga Wisnu, tapi kau tahu sendiri bukan? Aku telah mengenal iblis itu dengan baik," ia kemidian berpaling kepada Mayor De Pool. Berkata seperti mengadu :

"Mayor, sebenarnya dia seorang perempuan. Dialah keponakanku. Namanya Sekar Prabasini. Tatkala meninggalkan rumah, ia berangkat bersama-sama dengan Lingga Wisnu dan Botol Pinilis. Karena itu, kita harus bersiap-siaga."

Mendengar laporan Cocak Abang, Mayor De Pool segera berteriak nyaring :

"Letnan Manusama. Bawa beberapa orang berjaga- jaga di luar tangsi. Hajar setiap musuh yang hendak mencoba masuk."

Letnan Manusama memberi hormat. Dalam sekejab mata terdengarlah teriakan-teriakan anak buahnya yang bersiap-siap menyambut kedatangan musuh. Menyaksikan hal itu, wajah Sekar Prabasini berubah. Segera ia bertepuk tangan memberi tanda sandi. Dan melompatlah dua orang pendekar melewati pagar tembok. Merekalah Songgeng Mintaraga dan Aria Puguh.

"Tangkap mereka!" perintah Musafigilloh.

Empat orang serdadu segera menerjang. Akan tetapi mereka bukan tandingan Songgeng Mintaraga berdua. Dalam tiga jurus saja, mereka semua sudah terluka. Letnan Manusama cepat-cepat membantu dengan pedang ditangan. Tetapi Aria Puguh yang berada disamping Songgeng Mintaraga melepaskan pukulan yang termasyur. Itulah pukulan Sapu Jagad yang dahulu pernah diajarkan kepada Lingga Wisnu.

Seketika itu juga Letnan Manusama terpental mundur tujuh langkah.

Cocak Abang tentu saja tak tinggal diam. Begitu melihat Letnan Menusama terpental mundur dalam satu gebrakan saja, segera ia melesat ke gelanggang dan menghantam Songgeng Mintaraga dengan pukulan yang menerbitkan deru angin dahsyat. Lingga Wisnu segera mengenal pukulannya. Itulah salah satu jurus Sapta Prahara, ilmu sakti kebanggaan keluarga Dandang Mataun dengan sekaligus. Kemampuan masing-masing tidak begitu nampak. Sekarang, ia kagum terhadap pukulan Cocak Abang. Benar-benar dia seorang pendekar yang tangguh dan berbahaya. Pantaslah, kakak- seperguruannya, Botol Pinilis, selalu mencemaskan dirinya tatkala memasuki gelanggang.

Songgeng Mintaraga tak berani ayal lagi. Cepat-cepat ia mengerahkan ilmu saktinya yang bernama Rajah Pideksa. Ilmu sakti Rajah Pideksa adalah ilmu pukulan yang mengandung racun. Masih teringat segar didalam benak Lingga Wisnu, betapa Aruji dahulu menderita hebat tatkala kena pukulan ilmu itu. Untunglah, dia tertolong oleh Palupi, sehingga jiw anya dapat diselamatkan.. Maka begitu kedua sakti berbenturan, baik Cocak Abang maupun Songgeng Mintaraga terhuyung satu langkah.

Ilmu sakti Sapta Prahara, mengandung tenaga keras dan murni, sedang ilmu Rajah Pideksa lembek dan dingin. Kedua pendekar itu masing-masing sudah melampaui masa latihan sepuluh tahunan. Himpunan tenaga sakti mereka sudah mencapai tataran tinggi. Dalam bentroknya tangan yang pertama tadi, himpunan tenag sakti mereka kira-kira sebanding.

Cocak Abang terkejut. Suatu hawa yang sangat dingin menembus urat pergelangan tangan dan menusuk sampai ke ketiak. Sebaliknya Songgeng Mintaraga kena terserang hawa panas, sehingga darahnya bergolak dalam rongga dadanya. Ia terperanjat dan menentang lawannya dengan pandang tajam. Sekilas pandang, ia melihat betapa pucat wajah Cocak Abang. Gundu matanyapun menjadi merah. Itulah suatu tanda bahwa racun dingin Rajah Pideksa menyerang urat-urat nadi lawannya, sehingga Cocak Abang harus mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk membendungnya. Menyaksikan hal itu, diam-diam ia bergirang hati. Katanya didalam hati:

‘Syukurlah, himpunan tenaga saktinya masih kalah setingkat denganku. Walaupun demikian, dialah lawanku yang terberat selama ini.'

Segera ia mengambil keputusan untuk mendahului menyerang. Ia maju selangkah dan menghantam lagi dengan Rajah Pideksa. Tenaga sambarannya bergelombang memenuhi empat penjuru. Dengan demikian, tak dapat Cocak Abang mengelak. Mau tak mau ia harus membendung gelombang racun Rajah Pideksa dengan pukulan Sapta Prahara.

Memang tenaga kedua pendekar itu, benar-benar sebanding. Hanya saja sif at ilmu sakti yang dimiliki masing-masing agak berbeda. Ilmu sakti Sapta Prahara adalah warisan leluhur Cocak Abang. Dandang Mataun dahulu memperolehnya, dari hasil masa bertapanya. Karena itu sifatnya murni bersih. Sebaliknya, Rajah Pideksa adalah ilmu sakti yang mengandung racun. Dengan demikian, meskipun himpunan tenaga sakti mereka sama kuat, namun kedudukan Cocak Abang agak merugikan. Sebab, sebagian tenaganya harus digunakan untuk membendung dan menugusir hawa beracun. Untuk dapat mengimbangi tenaga lawan, ia harus mengerahkan tenaga jauh lebih besar. Itulah sebabnya, setelah mengadu himpunan tenaga sakti tiga kali, Cocak Abang lantas saja terpukul mun dur.

Disudut lain, Aria Puguh menghadapi keroyokan Letnan Manusama dan Sersan Rabun. Letnan Manusama berperawakan tinggi tegap. Dan Sersan Rabun berperawakan pendek bulat. Kedua duanya bersenjata pedang. Karena itu, Aria Puguh terpaksa pula melawan mereka dengan pedangnya. Walaupun dikerubut dua orang, dia nampak tangguh dan dapat berkelahi dengan hati mantap.

Dengan rasa cemas, Musafigilloh mengikuti pertempuran Cocak Abang dengan Songgeng Mintaraga. Sebagai salah seorang keluarga Dandang Mataun, Cocak Abang memiliki tenaga pukulan yang dahsyat luar biasa- Pendekar itu sudah terkenal namanya semenjak puluhan tahun yang lalu. Kenapa kali in i ia tak dapat bertahan menghadapi adu tenaga dengan lawannya? Napasnya sudah mulai tersengal-sengal. Keadaanya sudah payah sekali, sesudah mengadu tenaga yang ke sembilan kalinya. Musafigilloh kenal w atak dan perangai keluarga Dandang Mataun. Biasanya tak sudi memperoleh bantuan. Tetapi dia sedang menghadapi kekalahan. Masakan akan dibiarkan saja? Memperoleh pikiran demikian, segera ia mencabut pedangnya dan menyerang Songgeng Mintaraga. Hebat jurus serangannya. Begitu pedangnya berkelebat, Songgeng Mintaraga terpaksa meompat mundur. Dan Cocak Abang dapat bernapas lega, kini. Mereka berdua lantas mendesak Songgeng Mintaraga dengan hebatnya.

Setelah Songgeng Mintaraga dan Aria Puguh turun kegelanggang, sebenarnya Sekar Prabasini ingin segera melarikan diri. Tetapi ia kena dicegat Genggong Basuki yang menyerang dengan pedangnya. Dalam mengadu ilmu pedang. Sekar Prabasini bukan lawan Genggong Basuki. Dalam keadaan terdesak, gadis itu melepaskan pukulan-pukulan aneh yang diperolehnya dari kitab warisan ayahnya. Ia mempelajari pukulan-pukulan itu apabila sedang beristirahat. Manakala kurang je las, ia memperoleh keterangan dari Lingga Wisnu. Walaupun belum pernah berlatih dengan sungguh sungguh, namun pukulan-pukulan itu adalah warisan ayahnya yang memang aneh Sifatnya dan dahsyat luar biasa. Bagaikan kilat ia melepaskan tiga pukulan berantai. Itulah pukulan pukulan yang dicangkok ayahnya dari sari-sari ilmu pedang Ugrasawa, Parwati dan Aristri.. Sedangkan tikaman yang keempat adalah sari-sari ilmu pedang Sekar Ginabung.

Genggong Basuki terperanjat bukan kepalang. Oleh kagetnya, hampir-hampir saja ia tak dapat menangkis. Untung, ia memiliki gerakan yang cepat luar biasa. Dengan menjejakkan kakinya, ia melompat mundur. Kemudian melesat maju dari samping sambil menyambarkan pedangnya.

Mayor De Pool, yang selama itu memperhatikan jalannya pertempuran, ikut menarik pedangnya pula. Melihat Genggong Basuki kena terdesak mundur, ia segera melorpat membantu. Dengan demikian, Sekar Prabasini kena dikerubut dua orang.

Ilmu pedang Genggong Basuki sudah mencapai tataran kesempurnaan. Dalam pertempuran panjang Sekar Prabasini bukan tandingnya. Apalagi dia memperoleh bantuan Mayor De Pool. Walaupun Sekar Prabasini mengenal bermacam-macam sari ilmu sakti, perlahan-lahan ia jadi terdesak mundur.

Semuanya itu tak terlepas dari pengamatan Lingga Wisnu. Segera ia hendak muncul dan menolong Sekar Prabasini. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara Ki Ageng Gumbrek yang muncul diatas pagar tombok. Sambil menggeragoti paha ayam, orang tua itu berteriak nyaring :

"Hei, anakku perempuan! Kau mundurlah saja. Inilah pertempuran antara laki-laki laki-laki. Engkau sendiri nanti saja bertempur dengan Lingga Wisnu ."

Orang tua itu lantas tertaw a terkekeh-kekeh. Dan wajah Sekar Prabasini terasa panas. Menuruti hatinya ingin ia mendamprat. Tetapi betapa ia memperoleh kesempatan? Waktuitu Genggong Basuki dan Mayor De Pool menyerang ia secara berbareng. Maka jawabnya :

"Baik kek. Manusia in i mengaku sebagai anak murid Sekar Teratai. Tetapi nyatanya, ia menjadi budak Belanda. Karena itu, meskipun aku seorang perempuan ingin menghajarnya. Kau tolonglah menghajarnya."

"Apanya yang harus kuhajar? Gundu matanya atau gundu anunya? Bilanglah'!" sahut Ki Ageng Gumbrek dengan tertaw a semakin riuh. Kali ini Sekar Prabasin i benar-benar merah wajahnya. Sebagai seorang gadis, tak dapat ia membayangkan gundu yang lain, kecuali gundu mata. Namun secara naluriah, tahulah dia gundu apa yang dimaksud oleh si tua itu. Maka cepat ia mengalihkan pembicaraan : 

"Harimawan ternyata anak murid Sekar Teratai yang setia. Tolonglah dia! Jangan lupakan dia!"

"Baik ... baik!" sahut Ki Ageng Gumbrek sambil terbatuk-batuk. "Anak yang baik, pasti mempunyai gundu yang baik pula."

Sudah barang tentu, pembicaraan mereka berdua tidak terlepas dari pendengaran Mayor De Pool. Segera perw ira in i berteriak-teriak pada anak buahnya untuk mencegat gerakan maju Ki Ageng Gumbrek yang masih bercokol diatas pagar dinding. Tapi Ki Ageng Gumbrek bukan manusia lumrah. Kepandaiannya setaraf dengan Kyahi Sambang Dalan. Selagi anak-buah Mayor De Pool bersiaga dibawah pagar dinding, tiba-tiba ia menimpukkan tulang paha ayamnya. Hebat akibatnya. Meskipun hanya tulang paha ayam, akan tetapi disertai tenaga dahsyat. Dan dengan suara mengaung, tulang paha ayam itu menyambar kearah Mayor De- Pool.

"Hai, buduk! Kau harus mampus dahulu!" teriak Ki Ageng Gumbrek.

Mayor De Pool seperti terpaku tatkala melihat tulang paha ayam mengarah padanya. Tapi karena belum takdirnya mati, seseorang mengulurkan tangan untuk menolongnya. Itulah Musafigilloh.

Pendekar muda ini, memang seorang yang memiliki perasaan tajam dan kecerdikan yang mengagumkan. Begitu mendengar pembicaraan Sekar Prabasini dan Ki Ageng Gumbrek, ia sudah dapat menduga. Meskipun yang dibicarakan adalah Genggong Basuki, namun tahulah dia bahwa sasaran Ki Ageng Gumbrek justru kepada Mayor De Pool. Pada detik yang sangat berbahaya, ia mendorong Mayor De Pool. Kena tenaga dorongan, perwira itu terpental mundur ke belakang sebatang pilar besi penjangga atap rumah Dan tepat pada saat itu, tulang paha ayam Ki Ageng Gumbrek menghantam pilar itu. Pilar itu patah menjadi tiga bagian. Genting atap lantas saja runtuh berhamburan. Dan bagaikan kejapan kilat, Ki Ageng Gumbrek tahu-tahu sudah berada di depan Musafigilloh. Betapa cepatnya ia mampu bergerak, sukar dilukiskan lagi.

Keadaan menjadi kalut . Mereka yang berada di dalam ruang pertemuan itu melompat mundur menghindari. Kesempatan itu dipergunakan sebaik baiknya oleh Sekar Prabasini. Gadis itu lantas meninggalkan Genggong Basuki.

Sekar Prabasini sudah hampir mencapai pintu gerbang, tatkala tiba-tiba kakinya kena disambar tiga batang pedang. Hati Sekar Prabasini seolah-olah terbang, dan seluruh tubuhnya menjadi dingin. Ia tergencet dari belakang dan dari depan. Dengan mati-matian, ia berhasil mengelakkan dua pedang yang menyambar dari depan. Tetapi yang dari belakang tepat sekali menghantam kakinya. Untunglah, pedang yang menghantam kakinya itu, bukan bagian yang tajam. Itulah gerakan pedang yang membalik setelah luput dari sasaran. Walaupun demikian karena yang menghantam memiliki himpunan tenaga yang kuat luar biasa, ia rcboh di atas tanah. Orang yang merobohkan Sekar Prabasini adalah Genggong Basuki. Dalam keadaan kalut ., tak sudi ia melepaskan mangsanya. Melihat Sekar Prabasini hendak kabur, ia melompat mengejar.

Tatkala itu Letnan Manusama dan Sersan Rabun

menghadang. Itulah kesempatan yang bagus sekali. Begitu Sekar Prabasini sibuk menangkis kedua pedang lawannya, ia menikam dari belakang dan sasarannya ternyata dapat dihindari. Namun dengan kecepatan kilat, ia menarik pedangnya dan kembali bagian tumpulnya m menghantam kaki Sekar

Prabasini. Setelah itu maju selangkah dan membalikkan pedangnya. Karena berniat hendak menangkap gadis itu hidup-hidup, ia menghantamkan hulu pedangnya.

Pada saat itu sekonyong-konyong pedang Letnan Manusama berkelebat menangkis gagang pedang Genggong Basuki. Dan berbareng dengan peristiw a itu, nampaklah sesosok bayangan melesat keluar dari dinding pagar dengan kecepatan yang sulit dilukiskan.

Genggong Basuki berpaling kepada Letnan Manusama.

Dan membentak dengan suara mendongkol sekali :

"Mengapa engkau membiarkan dia kabur dan menangkis pedangku?"

"Menangkis?" Letnan Manusama melotot. "Bukankah engkau yang memukul balik gagang pedangku? Kenapa ?"

"Jangan bergurau! Ayo kejar!"

---oo0dw0oo-

Mereka segera memburu keluar. Di samping pintu gerbang, mereka bertemu dengan seorang Kopral yang patah kakinya sehingga tak dapat berdiri lagi. Segera mereka menghampiri dan menanyalah Letnan Manusama:

"Mana dia?"

"Siapa?" Kopral itu terbelalak.

"Perempuan tadi ... Yang lari melintasi pagar tembok." "Perempuan yang mana? Kami tak melihat seorang

manusiapun." Kopral itu heran.

Letnan Manusama gusar bukan main. Bentaknya :

"Apa kau buta? Kalau kau tidak bertemu dengan manusia, kenapa kakimu patah? Setan kau! Jelas sekali, perempuan itu melintasi pagar tembok. Kenapa matamu tak melihat?"

Seorang serdadu datang menghampiri kopral itu, sambil membangunkan rekannya :

"Letnan! Yang melompat melint asi pagar tembok adalah kopral ini. Aku ikut jadi saksinya, bahwa tiada seorangpun yang lari keluar tangsi."

Mau tak mau Letnan Manusama menggaruk garuk kepalanya. Menegas agak sabar : "Kenapa engkau yang melompat pagar tembok?" Dengan tergegap-gegap dan menahan rasa sakit,

Kopral itu menjaw ab :

"Aku ... aku ... kena ditangkap dan .. dan dilemparkan keluar."

"Siapa yang melemparkan?

"Entah. Tadi Letnan membicarakan seorang perempuan. Kalau dialah yang lari keluar, maka dia pulalah yang melemparkan diriku, sehingga kakiku patah."

Tak dapat Letnan Manusama mengumbar rasa marahnya. Dia menghadapi suatu kenyataan. Kopral itu patah sebelah kakinya. Pastilah bukan akibat dipatahkan dengan tangannya sendiri. Teringat akan tegoran Genggong Basuki, ia menoleh kepada pendekar itu dan bertanya minta keterangan :

"Mengapa engkau tadi memukul pedangku? Apa maksudmu? Apakah engkau sudah hendak beringkar- lagi? Bukankah engkau sudah berjanji di hadapan kami akan setia dan taat pada perint ah? Jangan engkau mencoba mempermainkan kami I"

Genggong Basuki meluap darahnya. Namun karena merasa diri berada dibawah perint ah, ia menahan darahnya yang bergolak. Jawabnya ;

"Sebenarnya bukan aku yang memukul pedangmu. Tapi justru engkaulah yang menangkis pedangku sewaktu aku hendak memukul kepala perempuan itu."

"Omong kosong!" bentak Letnan Manusama. "Apa perlu aku memukul gagang pedangmu? Hei, janganlah engkau memandang rendah padaku. Kau tahu, aku seorang Letnan. Mencapai tingkatan perwira tidaklah mudah. Pangkat ini tidak hanya kuterima semacam hadiah dari kakek. Tetapi aku tebus dengan darah dan kesetiaanku. Kau berkata, aku memukul gagang pedangmu, seolah olah sengaja memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk melarikan diri. Apakah engkau menuduhku seorang penghianat?" ia berhenti mengesankan dan sambil memelototkan matanya. Berkata lagi :

"Sekarang, aku bertanya kepadamu, apa sebab engkau tidak menggunakan ujung pedangmu? Kenapa engkau hanya memukul dengan gagang pedang? Hm.. jangan Kau mencoba mengelabui mataku. Ingat aku seorang Letnan. Seorang perwira Kompeni Belanda!"

Diberondong dengan pernyataan dan tuduhan demikian, betapapun juga tersinggung kehormatan Genggong Basuki. Dia adalah seorang pendekar yang angkuh. Sebagai murid pendekar Purbaya yang tertua, ia memiliki kepandaian yang tertinggi diantara saudara- saudara seperguruannya. Apalagi, ia mewarisi pula ilmu pedang Sugiri-Sukesih. Karena itu, ia dihormati oleh saudara-saudara seperguruannya. Bahkan paman gurunya sendiri, Sugiri dan Sukesi, menghargainya pula. Sekarang ia kena hina oleh seorang Letnan. Tuduhan seolah-olah ia membantu Sekar Prabasini meloloskan diri, merbuat darahnya bergolak hebat. Dengan merah padam ia menjawab :

"Jangan engkau menuduhku dengan sembarangan saja. Walaupun engkau seorang Letnan tak layak berbicara demikian dihadapanku. Jelek-jelek aku mempunyai kedudukan pula, yang setaraf dengan kedudukanmu. Jelas sekali, engkaulah yang memukul gagang pedangku. Kenapa engkau justru berbalik menuduhku? Coba, dapatkah engkau membuktikan bahwa akulah yang memukul pedangmu?”

Semenjak tadi Letnan Manusama berkesan kurang baik terhadap Genggong Basuki. Kalau saja Musafigilloh tadi tidak mencegahnya, ujung pedangnya sudah menikam perut pendekar itu. Maka ia membentak pula :

"Binatang! Kau benar-benar menghina   seorang perw ira. Kau bilang , kedudukanmu setaraf dengan kedudukanku. Apa kedudukanmu dalam aliran rumah perguruan? Apakah rumah perguruan Sekar Teratai setaraf kedudukannya dengan kedudukan Kompeni Belanda yang menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara? Binatang! Enak saja kau mengumbar mulut."

Setelah memaki demikian ia membabatkan pedangnya dengan sungguh-sungguh. Genggong Basuki pun segera menangkis tanpa segan-segan lagi. Begitu kedua pedang itu berbenturan, mereka berdua mundur setengah langkah. Genggong Basuki terkejut. Tangannya tergetar dan panas. Sama sekali tak diduganya, bahwa orang Maluku itu mempunyai himpunan tenaga yang kuat. Bahkan lebih unggul dari tenaganya sendiri. Sebaliknya letnan Manusama tak kurang-kurang pula rasa terkejutnya. Lengannya mendadak terasa pegal. Pikirnya didalam hati :

'Pantaslah Musafigilloh mengharapkan tenaga bantuannya. Dia memiliki tenaga yang luar biasa dahsyatnya, setelah berpikir demikian, ia membentak kalap "Benar berani engkau melawanku? Sebenarnya engkau hendak membantu kami atau seorang mata- mata?"

Letnan Manusama hendak mengulangi serangannya. Tiba-tiba sesosok bayangan menangkis pedangnya, letnan Manusama menoleh. Dan melihat Musafigilloh berada didepannya sambil berkata:

"Manusama! Sabar dahulu!"

"Ha, Musafigilloh! Coba adililah peristiw a ini!" teriak Letnan Manusama.

Musafigilloh mengalihkan pembicaraan. Bertanya : "Kemana larinya perempuan tadi?"

"Ha, justru itulah soalnya." Sahut Letnan Manusama. "Dialah yang melepaskan."

"Aku!" bentak Genggong Basuki. "Apa keuntunganku melepaskan dia?"

Selagi mereka bertengkar. Ki Ageng Gumbrek, Songgeng Mintaraga dan Aria Puguh sudah tiada nampak batang hidungnya lagi. Melihat Sekar Prabasini terbebas dari kepungan serdadu, mereka menyerang kesana- kemari dengan sepenuh tenaga Setelah itu dengan berbareng mereka keluar pagar tembok. Dan sebentar saja tubuh mereka lenyap dari penglihatan.

**)o0oo-d-w -oo0o(**