-->

Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 07

 Jilid 07

“Aku tidak menjawab. Itulah suatu penghargaan bagiku. Air mataku berharga enam jiw a. Pada saat itu, aku menangis. Hanya saja, tak tahu aku titik berat tangisku itu. Entah terdorong rasa syukur atau duka-cita. Dan dalam rada itu, dia berkata lagi :

"Akupun tidak akan mengganggu anggauta perempuan keluargamu. Semenjak hari ini, aku sudahi saja. Kau tunggulah sampai lukaku sembuh. Dan aku akan mengantarkan engkau pulang dengan tak kurang suatu apa."

Masih saja aku menangis. Akan tetapi kini tahulah aku, membaca perasaanku sendiri. Aku merasa lega hati, syukur dan berterima kasih. Karena oleh air mataku, ia tidak akan melakukan pembunuhan dan mengganggu ipar-iparku. Aku pun ternyata tidak akan diganggunya pula. Dan oleh rasa terima kasih, keesokan harinya aku bersedia menanak nasi baginya dan meraw at lukanya.

Pada suatu hari, ia tak sadarkan diri selama satu hari. Tak tahu aku, apa yang harus aku lakukan. Aku khawatir, ia akan kehilangan jiw anya., Karena bingung, aku menangis dan sampai kedua mataku bendul. Selagi menangis, mendadak ia menyenakkan matanya. Kemudian tertaw a. Katanya :

'"Mengena kau menangis? Aku tidak akan mati ..."

Selang dua hari lagi, benar-benar dia pulih seperti sediakala. Dia bisa bangun sendiri dan berjalan-jalan. Pada malam harinya, ia mengabarkan kepadaku, bahwa akibat serangan ayah adalah sangat hebat. Seumpama, tidak tertolong oleh ramuan obat dan ketabahan hatinya, pastilah dia akan mati. Dan bila dia mati, akupun akan mati kelaparan pula. Sebab, aku tak akan dapat keluar dari goa dengan seorang diri. Sebaliknya, tiada seorangpun keluargaku yang akan berani mendatangi goa. Aku percaya, ucapannya bukan suatu bualan kosong. Sekiranya ada salah seorang anggauta keluargaku yang berani menghampiri goa, pastilah hal itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Bukankah dia dalam keadaan luka parah? Jangan lagi bertempur, sedang menggerakkan tangannya saja dia tak mampu. Diapun sadar akan hal itu. Andaikata aku berniat jahat, itulah kesempatan yang sebaik-baiknya untuk membunuhnya...

"Ibu," potong Sekar Prabasini. "Dia sangat baik terhadap ibu. Maka ibupun wajib membalas budi baiknya." Dan setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Lingga Wisnu. Pemuda itu bersikap dingin. Sama sekali ia tak menghiraukan pandang mata Sekar Prabasini. 

"Dari hari ke hari, kesehatannya semakin maju." Sekarningrum meneruskan ceritanya. "Selama itu, seringkali ia mengajakku berbicara tentang masa kanak- kanaknya. Digambarkannya kepadaku, betapa besar rasa kasih-sayang ayah-bundanya. Kedua kakaknya dan kakak perempuannya pun kasih kepadanya pula. Pernah pada suatu kali, ia sakit panas. Dan ibunda, tidak memejamkam matanya barang sekejappun selama tiga hari tiga malam. Akan tetapi pada suatu malam, datanglah mala-petaka itu. Paman Cocak Temboro memperkosa kakaknya perempuan. Kemudian membunuh ayah bunda dan kedua kakaknya. "Terharu aku mendengar tutur katanya. Ia kejam dan bengis. Akan tetapi bila membicarakan keadaan keluarganya, mendadak saja sikapnya jadi lemah lembut. Itulah suatu tanda, bahwa budi pekertinya sebenarnya baik dan halus. Ia memperlihatkan pakaian kanak- kanaknya yang tersulam indah. Katanya, itulah sulaman almarhum ibunya tatkala dia hampir mencapai umur satu tahun." Berkata demikian, Sekarningrum menarik sehelai pakaian kanak-kanak dari bawah tempat duduknya dan diletakkannya di atas meja.

Lingga Wisnu mengamat-amati sulaman pakaian kanak-kanak itu. Sulaman seorang bayi montok yang telanjang bulat. Wajahnya manis. Dan pandangnya menyenangkan. Rangkaian warna sulaman itu sendiri, indah pula. Tiba-tiba ia jadi terharu sendiri. Teringatlah dia kepada masa kanak kanaknya. Iapun kini tidak berayah-bunda lagi.

"Seperti beberapa hari yang lalu, ia bersenandung lagi untukku," Sekarningrum melanjutkan ceritanya. "Diwaktu senggang, ia memotong dahan kayu dan mengukir boneka-boneka untukku. Katanya, aku adalah satu bocah yang belum mengerti sesuatu.

"Akhirnya sembuhlah dia. Akan tetapi, meskipun sudah sehat seperti sediakala, tiada nampak lagi ketegaran hatinya. Aku jadi heran. Pada suatu hari, aku tanyakan sebab-sebabnya. Jawabannya mengherankan daku. Katanya, dia tak sampai hati meninggalkan aku.

'Kalau begitu, biarlah aku berdiam terus disini menemani engkau" kataku tempa terpikir.

"Mendengar ucapanku, dia girang bukan kepalang. Larilah dia mendaki puncak. Ia memanjat pohon dan mendarat dengan berjumpalitan. Ia lalu berjingkrakan dan menandak-pandak. Kemudian ia menghampiriku lagi dan memperlihatkan sehelai peta yang menunjukkan harta karun terpendam. Katanya, itulah harta-benda raja Airlangga tatkala terpaksa meninggalkan negeri. Untuk melawan raja Sriwijaya, raja Airlangga menyimpan harta- bendanya pada suatu tempat yang dirahasiakan. Itulah harta-benda kerajaan Mataram dahulu."

Mendengar tutur-kata Sekarningrum, Lingga Wisnu mananggut didalam hati. Pikirnya: Jadi itulah peta harta benda yang terdapat di dalam kitab warisan. Pantas dahulu Cocak Obar-abir sampai hati menikam saudaranya sendiri .. -

"Rahasia harta karun Raja Airlangga tetap tersimpan sampai ratusan tahun lamanya, demikianlah ia berkata," Sekarningrum meneruskan tutur katanya. "Dan secara kebetulan saja, ia memperolehnya. Dia berjanji, setelah berhasil membongkar harta karun itu, akan segera datang meminang diriku. Sekarang, aku hendak diantarkan pulang dahulu."

Sekarningrum berhenti sebentar. Wajahnya tiba-tiba berubah. Tatkala melanjutkan ceritanya, suaranya sengit. Katanya :

"T atkala tiba dirumah, semua anggauta keluarga meludah ke tanah begitu melihat diriku. Aku jadi mendongkol dan benci. Akupun sebal terhadap mereka. Mereka semua tidak mempunyai kesanggupan untuk melindungi keselamatan keluarganya. Tapi melihat diriku pulang ke rumah dengan tubuh putih bersih, mereka bersikap merendahkan. Kenapa mereka dahulu bisa bersikap belas kasih kepada kedua iparku yang jelas sekali sudah terusak kesuciannya? Karena itu aku jadi, muak. Dan semenjak hari itu, tak sudi lagi berbicara dengan mereka."

"Ibu, sikapmu benar sekali!" kata Sekar Prabasini. "Bukankah begitu kakang Lingga?"

Lingga Wisnu tidak menyahut. Ia mendengarkan kelanjutan tutur kata Sekarningrum :

"Tiga bulan lamanya aku menunggu kedatangannya. Dan pada suatu malam, aku mendengar suara senandung terpencil dari dinding dinding gunung. Itulah suara dan senandung yang kukenal. Dan aku segera membuka jendela kamarku. Lalu datanglah ia. Dan pertemuan itu membuat perasaanku aneh sekali. Rasa girang, bahagia, syukur, sejuk dan gairah, berada dalam diriku. Itulah suatu rumun perasaan yang belum pernah kurasakan. Dan pada malam hari itu, hiduplah kami sebagai suani-isteri. Kemudian lahirlah engkau... Peristiw a itu terjadi oleh keinginanku sendiri. Jadi bukan karena aku kena perkosa. Itulah pula sebabnya, aku tak pernah menyesal. Maka tidaklah benar, apabila terbetik kabar, bahwa aku diperkosanya." Ia berhenti mengesankan. Meneruskan: "Prabasini, selama itu ayahmu memperlakukan diriku dengan baik sekali. Dia bersikap hormat pula terhadapku. Dan kami berdua saling mencintai."

Lingga Wisnu terharu mendengar tutur kata Sekarningrum. Selain berani, diapun jujur pula. Itulah suatu kisah cinta-kasih yang ruwet akan tetapi mengasyikkan. Lalu menyambung:

"Dan pada waktu itu, ibu memperoleh kisikan tentang harta-karun yang terpendam?" "Benar," sahut Sekamingrum. "Dia berkata, bahwa belum ada kesempatan untuk mencarinya. Akan tetapi dia sudah mengetahui dimana tempat beradanya. Segera kami berdua berunding untuk melarikan diri saja dari rumah. Tatkala pada pagi harinya aku berkemas-kemas, tiba t iba pintu terketuk. Rupanya pembicaraan kami kena dicuri dengar orang. Cepat aku menyembunyikan surat mohon diriku kepada ayah. lalu aku menegang lengannya. Hatiku kecut dan takut.

“Jangan takut,'' katanya membujuk. “meskipun terkepung sepasukan angkatan perang, kita akan dapat meloloskan diri. Percayalah!”

"Setelah berkata demikian, dengan gagah ia membuka pintu. Dan didepan pintu, berdirilah tiga orang yang selamanya aku takuti dan aku hormati. Ayah, paman Gemuling dan paman Obar-abir! Hanya saja, mereka tidak bersenjata sama sekali. Bahkan mereka mengenakan pakaian tidur. Wajah mereka ramah pula, sehingga aku tertegun keheran-heranan. Kata ayah :

"Kami sudah mengetahui persoalan kalian. Rupanya sudah takdir, bahwa kalian sudah jodoh yang telah ditetapkan sebelum lahir. Sebenarnya hal in i merupakan masalah yang sulit. Terus-terang aku katakan, bahwa perhubungan kalian merupakan peristiw a terkutuk. Tetapi karena jodoh kalian agaknya sudah ditakdirkan Tuhan sebelum lahir, maka biarlah kami menerimamu sebagai anggauta keluarga kami. Dengan begitu, selesailah sudah permusuhan yang kini terjadi. Kita sekarang t idak perlu lagi saling mengangkat senjata.

"Mendengar kata-kata ayah, dia berdiam sejenak menimbang-nimbang. Kemudian menyahut : "Apakah kalian masih khawatir aku akan melakukan pembunuhan lagi? Percayalah, aku sudah berjanji kepada Ningrum, tidak akan membunuh atau mengganggu lagi salah seorang anggauta keluarga Dandang Mataun."

"Bagus," seru ayah dengan gembira. "Karena itu, tak dapat engkau memperisteri anakku dengan jalan melarikan diri. Marilah kita berbicara secara baik-baik dari hati ke hati. Lamarlah anakku. Dan aku akan mengaw inkan kalian berdua dengan suatu upacara yang layak."

"Itulah suatu keputusan di luar dugaan. Tadinya, kami mengira akan melalui samodra kesulitan yang berlarut - larut. Tak mengherankan, ia jadi girang bukan kepalang. Memang, sebenarnya tiada maksudnya hendak mengaw ini diriku dengan paksa. Doa restu orang tua dengan segenap keluarga, adalah jalan lurus yang sebaik-baiknya. Tetapi ... akh! Ternyata dia kena jebak ayahku!"

"Apa?" Lingga Wisnu sampai berseru diluar kehendaknya sendiri. "Jadi ayahmu sedang melakukan tipu-muslihat?"

Sekarningrum mengangguk dengan lesu, ia melanjutkan ceritanya. Katanya :

"Ayah memberi kamar samping kepadanya. Dan sementara itu, persiapan upacara pengantin mulai diselenggarakan. Tetapi dia seorang yang hati-hati, cermat dan berw aspada. Tak sudi ia menerima minuman atau makanan pemberian ayah. Samuanya diperiksa dahulu dan diberikan kepada anjing atau kucing sebagai percobaan. Walaupun demikian, masih ia tak pernah menyentuhnya. Untuk makan-minumannya, ia membelinya sendiri d i kedai-kedai makanan.

"Pada suatu malam, ibu datang dengan membaw a sepiring bubur kepadaku. Berkatalah ibu kepadaku, bahwa bubur itu sengaja dimasaknya sendiri untuk bakal menantunya. Sudah barang tentu aku sangat bersyukur melihat sikap ibu yang sudah bersedia menerimanya sebagai menantu penuh-penuh. Tempa curiga, aku membaw a sepiring bubur itu kepadanya. Dia bergembira melihat aku menghantarkan sendiri barang makanan itoi. Ia mengira, akulah yang menasaknya sendiri. Karena itu, tempa curiga dan tempa diperiksanya lagi, ia terus menghirupnya. Tapi sekonyong-konyong wajahnya berubah menjadi pucat. Segera ia bangkit dan berseru :

"Kenapa sampai hati engkau kepadaku?"

Aku kaget sampai pucat pula. Sahutku dengan suara menggeletar :

"Kenapa engkau meracuniku?" teriaknya.

"Racun?" aku berteriak pula dengan suara tertahan ... Sekarningrum berhenti sejenak. Napasnya memburu.

Dan serambi itu mendadak saja terasa menjadi, tegang

dan sunyi. Tiba-tiba terdengarlah suara berisik. Cocak Prahara berlima muncul dari balik gerombol bunga. Teriak Cocak Prahara :

"Eh, Ningrum! Kau tak malu menceritakan riw ayatmu sendiri yang kotor dan busuk itu?"

Wajah Sekarningrum yang bernasib malang itu menjadi pucat, dan kemudian berubah menjadi merah padam. Sahutnya dengan suara tertahan-tahan : "Sembilanbelas tahun sudah aku tak sudi berbicara dengan kalian. Akupun tak pernah berkata sepatah kata juga sampai matinya. Kenapa aku takut menghadapi semuanya ini? Anakku Lingga, kau takut atau tidak menghadapi mereka?"

Lingga Wisnu hendak menbuka mulutnya. Tetapi Bondan Sekar Prabasini telah mendahuluinya. Kata gadis itu :

"Kakang Lingga tak kenal takut terhadap siapapun!" “Bagus,'' Sekarningrum berlea hati. “Kalau begitu, tak

perlu aku menghiraukan mereka. Aku akan melanjutkan ceritaku."

Hebat kata-kata Sekarningrum. Tapi dia nampak sangat lemah seperti orang berpenyakitan. Tapi kini dengan tiba-tiba ia bersikap gagah dan galak. Suaranya tegas dan sengaja dibesarkan. Dengan nyaring ia meneruskan ceritanya :

"Aku lantas menangis. Tak tahu aku apa yang harus aku lakukan. Dengan sesungguhnya aku tak mengerti bahwa bubur itu beracun. Siapakah yang menaruh curiga terhadap ibu kandung sendiri? Hatiku susah bukan main, karena dia menuduhku meracuni. Selagi demikian, pintu kamar terjeblak. Dan beberapa orang dengan bersenjata lengkap menyerbu kamar. Yang berada di depan adalah mereka berlima. Pada tangannya masing-masing nampak senjata andalan mereka. Garang nampaknya, seolah-olah pahlawan tempa tandingan. Sebaliknya, ayah berdiri di luar pintu. Dia memanggilku agar keluar kamar. Dan tahulah aku, begitu aku keluar kamar, dia akan dirajam beramai-ramai. Maka aku menjawab seruan ayah : 'T idak! Aku tidak akan keluar kamar! Kalau ayah hendak membunuh dia, bunuhlah aku dahulu!"

Tatkala itu, Bondan Sejiw an duduk di atas kursi dengan wajah bersungut-sungut. Ia mengira aku bersekutu dengan ayah semua. Hatinya susah dan tiada niatnya hendak melawan. Tetapi begitu mendengar jawabanku, dengan mendadak ia melomoat bangun. Tanyanya kepadaku dengan suara agak sabar :

"Jadi engkau tak tahu kalau bubur ini beracun?"

Aku tak menjawab dengan segera. Piring bubur itu aku sambar dan sisa buburnya kuhirup sebagian. Kataku meyakinkan :

"Sekiranya bubur ini mengandung racun, biarlah aku mati bersamamu!"

Aku hendak menghirup sisanya sampai habis. Akan tetapi ia menyampok piring itu sehingga hancur berantakan di atas lantai. Kemudian ia tertaw a sambil berkata :

"Bagus. Mari kita mati bersama!" Dan setelah berkata demikian terhadapku, ia berpaling kepada mereka. Katanya: "Hmm, kalian menggunakan cara yang rendah sekali dan kotor. Apakah kalian t idak malu?"

Paman Obar-abir yang berangasan meledak :

"Siapa yang meracunmu? Kalau engkau mempunyai kepandaian, hayo keluar! Mari mengadu ilmu!"

"Baik," sahutnya. Dan ia membimbingku keluar kamar.

Digedung olah-raga, ternyata sudah dibangun sebuah panggung yang semula dikatakan sebagai panggung tempat pertemuan pengantin. Dan diatas panggung, sekalian paman dan berlima lalu berdiri berjajar siap bertempur. Namun ia bersikap acuh tak acuh. Sama sekali tak menghiraukan jumlah mereka yang banyak.

"Memang benarlah ucapan paman Obar-abir, bahwa bubur itu tidak beracun. Tetapi di kemudian hari tahulah aku, bahwa bubur itu mengandung ramuan obat tidur serta pelarut tenaga. Barangsiapa menelan ramuan obat itu, akan terkuras habis tenaganya sedikit demi sedikit. Kemudian akan tertidur pulas dan baru tersadar setelah melampaui empatpuluh delapan jam lamanya. Dengan demikian, mereka bermaksud merobohkan Bondan Sejiw an dengan berlagak melalui pertempuran. Mula- mula aku heran, kenapa mereka memilih cara demikian. Tapi segera aku ketahui alasannya. Ternyata di dalam gedung itu, hadir pula beberapa tokoh pendekar aliran Ugrasawa, Parwati dan golongan lainnya. Sedangkan pendekar pendekar golongan Aristi tidak sudi sudi ikut hadir setelah mengetahui pekerti mereka yang hina. Dan. dihadapan tokoh-tokoh pendekar itulah, mereka hendak menjual lagak secara ksatria! Apabila Bondan Sejiw an roboh akibat obat tidur, mereka akan segera menyiksanya ..."

Sampai di sini, wajah Sekarningrum merah-padam. Ucapannya sengit mengandung luapan rasa marah yang sudah lama tertahan dan kini mempunyai kesempatan untuk dilampiaskan. Tatkala, ia hendak meneruskan ceritanya, Cocak Abang berteriak kepada Lingga Wisnu :

"Hai saudara Lingga! Kau berani melayani ilmu sakti gabungan kami yang bernama Pancasakti atau tidak?"

Dua hari yang lalu Lingga Wisnu bersikap segan terhadap mereka, karena mereka adalah paman Sekar Prabasini. Akan tetapi setelah mendengar tutur kata Sekarningrum, lenyaplah rasa hormatnya. Ia kini mendongkol dan muak terhadap mereka. Maka dengan sengit, ia menyahut :

"Hm, kamu hanya berlima saja. Walaupun aku kalian kerubut sepuluh orang, tidaklah aku undur selangkah pun ..."

Tepat pada saat itu, melesatlah sesosok bayangan memasuki serambi sambil berseru nyaring :

"Bocah tak tahu adat! Enyahlah engkau dari sin i!"

Dalam selint asan, Lingga Wisnu melihat perawakan tubuh bayangan itu tinggi besar dan kekar. Rambutnya rereyapan dan terlilit gelang tembaga yang berkilauan. Pakaian yang dikenakannya terbuat dari kulit lembu muda. Kesan dirinya mirip dengan seorang pertapa yang soleh dan sakti. Tapi sebenarnya, dialah seorang bandit besar yang berkeliaran disekitar Gorang-gareng.

Dia memakai nama mentereng, yang diambilnya dari tokoh cerita Maha Bharata yang termashur - Bargawastra. Tapi namanya sendiri sebenarnya Sastra Unyeng. Dan semenjak hidup sebagai pemimpin bandit, ia menghukum siapa saja yang berani memanggil nama aslinya. 

Bargawastra salah seorang anak murid pendekar Satmata, adik kandung ibu Sekarningrum, yang bermukim di dusun Bulukerta. Letak dusun itu berada di sebelah timur gunung Law u. Dia datang ke Kemuning, atas panggilan keluarga Dandang Mataun untuk menerima pembagian rezeki. Itulah emas Suskandari yang kena rampas Sekar Prabasini. Dan ia baru datang disiang hari tadi. Maka tak mengherankan, Lingga Wisnu belum mengenalnya.

Bargawastra sendiri hendak mengambil muka terhadap keluarga Dandang Mataun. Tadi siang, ia mendengar kabar, bahwa emas rampasan itu hendak direbut kembali o leh seorang pemuda yang berkepandaian tinggi. Mendengar hal itu, ia jadi panas hati dan penasaran. Sekarang, ia akan memamerkan kemampuannya menghajar bocah itu. Begitu mendarat di lantai serarribil, terus saja tangannya menyambar.

Lingga Wisnu melihat datangnya serangan mendadak. Gesit ia mengelak. Dan dengan sebat ia menerkam rambut gondrong Bargawastra Kemudian ia bergerak memutar, sehingga tubuh Bargawastra terputar pula seperti gangsingan. Tiba-tiba terkamannya dilegakan. Dan Bargawastra jadi terlempar tinggi. Tak ampun lagi, dia terbanting jungkir-balik menelungkupi gerombol bunga maw ar yang berduri. Seketika itu juga muka dan tubuhnya babak-belur teranjam ratusan duri tajam. Ia berkaing-kaing kesakitan. Sama sekali tak terbayangkan, bahwa dia bakal babak belur hanya dalam segebrakan saja

Menyaksikan hal itu, Sekarningrum tertawa merendahkan. Tempa menghiraukan apa yang sudah terjadi, ia melanjutkan ceritanya dengan suara bergelora. Katanya :

"Pada malam hari itu, mereka berlima mengepung Bondan Sejiw an dengan ilmu gabungan Panca Sakti. Itulah ilmu-gabungan kebanggaan keluarga Dandang Mataun turun-temurun. Ilmu sakti itu belum pernah terkalahkan oleh siapapun juga. Tetapi sebenarnya, dia sanggup melayani. Hanya sayang, ia sudah mereguk obat bius pelarut tenaga. Makin lama gerakannya makin kendor. Nampak sekali kelelahannya. Sulitlah ia untuk melanjutkan perlawanannya lagi. Bahkan untuk bisa lolos saja t iada harapan lagi.

"Dalam keadaan demikian, ilmu gabungan Panca-sakti terlalu rumit baginya ..."

“Ningrun!" bentak Cocak Abang. "Apakah kau hendak membuka rahasia ilmu sakti keluarga Dandang Mataun kepada bocah itu?"

Sekarningrum tidak menggubris bentakan Cocak Abang. Dengan menatap wajah Lingga Wisnu ia meneruskan :

"Jelaslah, bahwa ia ingin merobohkan salah seorang musuhnya, agar dapat memecahkan ilmu gabungan itu. Tetapi kecuali tenaganya nyaris habis, ilmu Panca-sakti adalah suatu persenyawaan. Masing-masing mempunyai kerja-sama yang saling berhubungan dan saling melindungi. Demikianlah, akhirnya dia hampir roboh kecapaian. Tubuhnya sempoyongan semakin hebat. Dan aku berteriak nyaring :

"Jangan pikirkan aku! Pergilah! Pe rgilah! Cepat! Selama hidupku, tak akan kulupakan diramu. Selamatkan dirimu dahulu!"

Hebat suara Sekarningrum t atkala menirukan pekiknya dahulu. Sekar Prabasini sampai bergidik. Sebab pekik ibunya mirip jeritan berbareng ratapan yang menyayat hati. Seperti orang membangunkan seseorang yang t idur pulas, ia berteriak :

"Ibu!" Lingga Wisnu kaget pula. Bulu kuduknya meremang. Dengan was-was ia memandang wajah Sekarningrum. Pandang mata Sekarningrum kelihatan kabur dan kuyu, napasnya memburu. Tahulah dia, bahwa hati Sekarningrum penuh duka, benci, mendongkol dan penasaran. Ia lantas tergugu beberapa saat lamanya.

"Ibu, sudahlah. Esok malam bisa disambung lagi. Sekarang, beristirahatlah dahulu. Aku sendiri hendak menyelesaikan urusanku. Tapi esok malam, aku berjanji hendak datang kembali untuk mendengarkan sambungan ceritanya."  

sampai selesai ..." "Tidak! Tidak!" seru Sekarningrum seperti tersadar. Ia menyambar lengan baju Lingga Wisnu dan ditariknya. Katanya :

"Sembilan belas tahun lebih aku membisu. Sekarang, aku mempunyai kesempatan untuk melontakkan semua isi hatiku. Anakku Lingga. Kau dengarkan dahulu ceritaku Suara itu mengandung suatu permohonan. Maka terpaksalah Lingga Wisnu memanggut seraya menyahut :

"Baiklah. Akan siku dengarkan sampai selesai."

Lega hati Sekarningrum. Perlahan - lahan ia melepaskan cekalannya. Namun ujung jarinya masih menjepit lengan baju Lingga Wisnu. Katanya meneruskan

: "Mereka sebenarnya menghendaki jiw anya. Tapi kecuali itu, yang terlebih penting lagi yalah harta karun! Harta karun raja Airlangga! Rupanya Bondan Sejiw an sudah dapat menduga jauh jauh sebelumnya. Kini dia sudah mempersiapkan diri.

"Demikianlah, akhirnya ia terluka. Dan ia roboh terkulai. Tapi didalam keadaan setengah sadar itu, masih sempat dia mengeluh: Akh, petaku! Dan setelah itu, ia tak ingat sesuatu apa lagi ...

"Hai, bangun dahulu!" teriak paman Cocak Obar-abir. "Kau tunjukkan dahulu dimana harta raja Airlangga itu!"

Paman Obar-abir berteriak demikian sambil melompat memasuki panggung. Jari tangannya menusuk tubuh Bondan Sejiw an di bagian tertentu. Dan akibat tusukan jari itu, Bondan Sejiw an jadi tersadar sebentar. Sahutnya: “Oh, kau menghendaki harta itu? Peta tak ada padaku. Siapa yang berani, ikutlah aku! Dan setelah berkata demikian, kali in i dia benar-benar roboh tak sadarkan diri lagi.

"Mereka semua jadi gempar mendengar jawaban Bondan Sejiw an. Mereka juga ikut menyaksikan perkelahian itu. Bila Bondan Sejiw an disadarkan, hebat akibatnya. Betapa tidak? Kalau obat bius itu punah, mereka semua bukan tandingnya. Sebaliknya, apabila dibunuhnya, peta harta karun itu akan lenyap untuk selama lamanya.

"Mereka semua lantas sibuk berunding. Dan akhirnya ayah mengusulkan suatu penyelesaian yang bagus sekali. Ya, bagus sekali! Bondan Sejiw an hendak digeledahnya dahulu. Apabila peta itu ternyata tiada padanya, urat- urat kaki dan tangan Bondan Sejiw an hendak diputuskan. Kemudian baru dibebaskan. Dua hari laga, meskipun obat bius telah lenyap dari tubuhnya, Bondan Sejiw an sudah menjadi orang cacad. Semua ilmu saktinya lenyap. Bukankah bagus sekali usulnya itu?

"Tetapi mereka tak bersabar lagi. Mereka   pun khaw atir, jangan-jangan Bondan Sejiw an hanya berpura- pura tertidur. Maka merekapun memutuskan urat-urat kaki dan tangan Bondan Sejiw an dahulu. Kemudian baru menggeledah tubuhnya. Tapi tatkala itu, aku telah roboh tertidur ...

"Entah berapa lama aku tertidur. Setelah menyenakkan mata", dihadananku terjadi banjir darah. Banyak aku lihat mayat-mayat bergelimpangan. Bondan Sejiw an t idak nampak lagi di atas panggung. Hatiku jadi berharap-harap cemas. Entah apakah dia berhasil melarikan diri setelah membunuhi lawan-lawannya? Tapi, masih sempat aku menyaksikan, tatkala mereka berlima memutuskan urat-urat kaki dan tangannya. Aku jadi kebingungan. Tak ada yang bisa memberi kabar kepadaku. Gedung pertandingan sunyi senyap. Tetapi syukurlah, bubur yang aku makan tidak begitu banyak, sehingga aku kehilangan kesadaranku hanya selama waktu dua tiga jam saja. Akupun telah dapat berdiri dengan tegak. Dan segera aku mengadakan pemeriksaan. Mayat-mayat itu ternyata bukanlah mayat- mayat keluarga Dandang Mataun. Tetapi mayat-mayat tetamunya yang tadi menyaksikan pertandingan. Apa yang telah terjadi?

Tiba-tiba aku mendengar suara mengerang. Segera aku menghampiri dan kulihat seorang tetamu yang tertusuk kedua matanya. Tak usah aku katakan lagi, bahwa bakal buta dikemudian hari. Akan tetapi jiw anya selamat.

Segera aku menolongnya. Tatkala kena raba tanganku, dia bertanyakan siapa diriku. Mendadak saja dia berkata dengan berani :

"Apakah engkau calon temanten?"

"Benar," sahutku. Ternyata dia seorang pendekar yang tahan sakit. Tempa memperdulikan keadaan dirinya, dia berkata :

"Syukurlah, engkau telah tersadar. Sekarang, sudikah engkau membaw aku keluar dari gedung ini? Aku bernama. Waluyo, berasal dari dusun Karangteleng. Aku bukan teman maupun musuh keluargamu. Kedatanganku kemari semata-mata memenuhi undangan ayahmu. Katanya, ayahmu hendak mengaw inkan dirimu dengan bekas musuhnya. Maka aku datang bersama pendekar Udayana, anak murid Kyahi Basaban."

Mendengar Sekarningrum menyebut nama Udayana dan Kyahi Basaman, hati Lingga Wisnu terperanjat seperti mendengar geledek meledak disiang hari. Itulah nama ayah dan kakek gurunya. Hampir saja ia membuka mulutnya. Syukur Sekarningrum telah mendahului melanjutkan ceritanya:

"Dari mulutnya, aku mendengar kabar, bahwa Bondan Sejiw an berhasil dilarikan. Tatkala pendekar Udayana dan Waluyo tiba digedung pertandingan, mereka masih sempat menyaksikan dia kena siksa. Itulah perlakuan yang semena-mena! Sebagai pendekar-pendekar yang berbudi luhur, mereka tak dapat membiarkan tindakan sewenang-wenang itu berlaku dihadapan matanya. Serentak mereka bergerak hendak melakukan pertolongan. Dan tepat pada saat itu, terjadilah suatu peristiw a perebutan peta yang terdapat pada tubuh Bondan Sejiw an. Mereka saling bertengkar. Dan akhirnya saling bunuh-membunuh!

"Kesempatan itu dipergunakan sebaik baiknya oleh pendekar Udayana. Dengan pertolongan pendekar Waluyo, ia memanggul tubuh Bondan Sejiw an dan dibawanya pergi. Tetapi tidak semua yang hadir kalap oleh peta harta karun itu. Terutama anggauta-anggauta keluarga kami bagian wanita. Mereka berteriak-teriak menyerukan tanda bahaya. Dan pendekar Udayana lantas kena kerubut. Syukur masih ada pendekar Waluyo yang melindungi Selain itu, kebanyakan di antara tetamu, terpancing pada peta harta karun itu. Dengan demikian, kepergian pendekar Udayana t idak mengalami rintangan terlalu sulit. Tetapi walaupun demikian, kedua matanya kena tusuk senjata ayah. Dia masih bisa membalas dengan menghamburkan senjata bidiknya. Ayah bisa menyelamatkan diri. Namun tak urung sebatang senjata bidiknya dapat mengenai paru-parunya juga. Ayah tidak mati, tetapi bidikan itulah yang kelak membawa mautnya beberapa tahun kemudian.

"Dalam pada itu, hawa pembunuhan terus mengiang- ngiang . Paman Obar-abir berhasil mempertahankan diri. Tapi ia terkejut, tatkala melihat Bondan Sejiw an lenyap. Tepat pada saat itu, ayah roboh terkulai pula sambil menuding keluar. Dengan serentak paman Obar-abir melesat keluar mengejar pendekar Udayana. Karena dialah yang membaw a kabur Bondan Sejiw an. Maka sisa para tetamu ikut mengejar pula. Tetapi bukannya mengejar pendekar Udayana, melainkan semata-mata untuk mencoba merebut peta.

"Entah bagaimana akhirnya, akan tetapi di kemudian hari aku mendengar tutur kata mengenai pengejaran itu. Karena memanggul orang, gerakan pendekar Udayana terhalang Merasa diri bakal terkejar, ia menyembunyikan Bondan Sejiw an di balik gerombol belukar yang berada di tepi tebing . Kemudian ia mengadakan perlawanan dan pembelaandiri.

"Tapi beberapa saat kemudian, corak dan tujuan pertempuran itu jadi berubah acak-acakan tak keruan. Itulah disebabkan pengaruh peta harta karun. Kembali mereka saling berebut dan saling bunuh membunuh. Sementara itu, pendekar Udayana mempunyai kesempatan untuk meninggalkan gelanggang. Agar Bondan Sejiw an selamat, sengaja ia membuat penyesatan. Ia lari kearah yang bertentangan. Dan semenjak hari itu, dia t iada kabar beritanya lagi ..."

"Hai! Mengapa kau ngoceh tak keruan? Awas" potong Cocak Abang dengan berteriak nyaring.

"Hmm! Apakah kalian kira aku takut Mati? Kalian boleh membunuhku. Bukankah kalian juga yang membunuh tetamu-tetamu undangan dengan cara keji?" damprat Sekarningrum dengan pandang menyala.

"Keji bagaimana?"

"Kalian pancing mereka memasuki tanah jebakan, kemudian kalian habisi jiwa mereka. Bukankah begitu?"

"Ngacau! Udayana. yang membunuh mereka!" teriak Cocak Abang dan Cocak Ijo dengan berbareng, "Hmm!" dengus Sekarningrum. "Apakah kalian sangka tak ada seorangpun yang menyaksikan peristiw a itu?"

"Siapa orang itu? Siapa?"

"Aku sendiri. Tatkala membimbing pendekar Waluyo keluar dari dusun Kemuning," sahut Sekarningrum dengan suara tegas.

Lingga Wisnu tertegun mendengar perdebatan dan tutur kata Sekarningrum. Samar-samar ia seperti memperoleh penjelasan dan latar belakang sebab- sebabnya ayahnya dimusuhi pendekar-pendekar dari berbagai penjuru. Rupanya ayahnya dipersangkut- pautkan dengan peristiw a Bondan Sejiw an dari masalah pembunuhan pendekar pendekar undangan yang sebenarnya dilakukan oleh keluarga Dandang Mataun. Hanya bagaimana cara keluarga Dandang Mataun menjebak dan membunuh mereka, belum jelas.

"Anakku Lingga," kata Sekarningrum. "Peta yang berada ditangan paman Obar-abir sebenarnya adalah peta yang palsu. Inilah yang aku katakan tadi, bahwa jauh sebelumnya Bondan Sejiw an sudah membuat persiapan untuk mengingusi mereka. Berbulan-bulan lamanya mereka menggali sini dan membongkar sana. Ratusan ribu ringgit telah mereka keluarkan sebagai beaya pencarian harta karun itu. Tapi sebiji kerikil emaspun tak mereka peroleh. Ha-ha ...! Benar-benar memuaskan, dan setidak-tidaknya bisa menghibur hatiku

..."

Cocak Prahara berlima menggeram mendengar ejekan Sekarningrum. Menuruti hati, ingin mereka menerjang dengan serentak. Akan tetapi mereka  takut terhadap Lingga Wisnu. Maka akhirnya mereka hanya mengumpat kalang kabut.

Sekarningrum sendiri tidak menggubris. Setelah tertegun-tegun sejenak, ia meneruskan lagi

"Dia telah tersiksa. Urat-urat kaki dan tangannya telah terputuskan. Walaupun pendekar Udayana telah berhasil menyelamatkan jiw anya, pastilah ia menjadi laki-laki yang tidak berguna lagi. Aku tahu, hatinya keras dan angkuh. Sekarang aku mendengar berita darimu, bahwa engkau meraw at tulang belulangnya. Artinya, dia benar- benar selamat pada waktu itu. Untuk muncul kembali, pastilah dia tak berdaya lagi. Kemudian mati oleh rasa hati dendam dan mendongkol .. "

Lingga Wisnu tak bergerak dari tempatnya, seolah- olah tersihir. Otaknya yang cerdas sibuk merangkai- rangkaikan peristiw a itu. Sekarang, latar belakang sebab- sebab terjadinya pengejaran terhadap ayahnya. Seakan- akan lebih jelas lagi. Itulah mengenai peristiw a pembunuhan dan peta. Ayahnya dahulu pernah menyebut-nyebut jembatan Jala Angin yang berada di puncak Gunung Law u. Apakah maksudnya bukan mengenai Bondan Sejiw an? Atau ... peta harta karun itu yang disebutkan sebagai Tongkat Mustika warisan Ki Sabdhopalon pada zaman Majapahit?

Terjadinya pengejaran terhadap ayahnya, terang sekali suatu fitnah. Sebab ayahnya sama sekali tidak melakukan pembunuhan. Juga tidak ikut serta merebut peta harta karun. Demikianlah bunyi cerita Sekarningrum. Dan rupanya, setelah mengetahui peta itu palsu, rasa mendongkol dan penasaran mereka, ditimpakan pada ayahnya. Maka terjadilah perburuan itu. Alangkah jahat dan keji fitnah itu! Dengan mata menyala, ia lantas mengalihkan pandangnya, kepada Cocak Frahara berlima

Dari halaman serambi depan, Cocak Prahara menantang :

"Hai, Lingga! Kau tadi mendengar ilmu gabungan Panca-sakti. Itulah ilmu sakti kebanggaan keluarga Dandang Mataun Bagaimana? Apakah kau berani mencobanya? Kalau berani, hayo keluar!"

Panas hati Sekarningrum mendengar bunyi tantangan saudaranya. Akan tetapi ia sadar ilmu gabungan itu memang hebat. Bahkan terlalu hebat bagi Lingga Wisnu. Maka dengan menahan diri, ia berkata kepada Lingga Wisnu :

"Kau pulanglah! Jangan layani mereka!"

Lingga Wisnu tahu maksud ibu Sekar Prabasini. Memang, untuk mencoba-coba ilmu gabungan Panca- sakti, bukanlah mudah. Tapi kalau hanya berlawanan seorang demi seorang dari mereka, ia sanggup mengalahkan. Almarhum Bondan Sejiw an sendiri sulit memecahkan rahasia ilmu sakti itu. Terhadap dirinya, Cocak Prahara berlima sudahi bersikap memusuhi. Kuat dugaan mereka, bahwa dirinya mempunyai hubungan dengan almarhum Bondan Sejiw an. Karena almarhum adalah musuh besar mereka, maka d irinya pun dianggap demikian pula. Mereka, berlima adalah manusia-manusia kejam. Dan tidak akan segan-segan menggunakan segala macam tipu-daya. Kemungkinan sekali, dia akan mengalami malapetaka, apabila tidak berhati-hati. Itulah sebabnya dia berbimbang bimbang. "Hmmm! Jadi engjcau tidak berani, bukan?" ejek Cocak Abang. "Kalau begitu, kau berlut utlah dihadapan kami t iga kali! Dan kami akan mengidzinkan engkau pergi dengan selamat."

Itulah suatu ejekan yang menyakitkan hati. Sebelum Lingga Wisnu menyahut, berkatalah: Cocak Mengi menyambung ucapan kakaknya :

"Kau idzinkan dia pergi dengan selamat? Kukira, meskipun sekarang dia sudi berlut ut, sudah kasep!" setelah berkata demikian, ia membentak kepada Lingga Wisnu dengan suara nyaring: "Anak muda, malam ini engkau harus mencoba-coba kepandaian kami berlima!"

Panas hati Lingga Wisnu mendengar ucapan rnereka berdua. Tak sudi ia kalah gertak. Maka menyahutlah ia dengan nyaring pula :

"Kudengar ilmu-gabungan Panca-sakti ciptaan keluarga Dandang Mataun, hebat sekali dan tak terkalahkan. Akan tetapi, sebenarnya aku ingin mencobanya. Sayang saat ini aku letih sekali. Sudikah kalian mengidzinkan diriku beristirahat selama satu jam saja?"

Lingga Wisnu mengganti sebutan paman dengan kalian. Artinya, ia memandang mereka sebagai musuhnya pula. Sebaliknya, mereka tak menghiraukan sama sekali. Memang Lingga Wisnu sudah dipandang sebagai musuh yang harus dibinasakan. Jawab Cocak Abang dengan nada mengejek .

"Baik, satu jam! Tetapi meskipun engkau beristirahat sampai delapan hari, mustahil dapat lolos dari ilmu- gabungan kami!" "Hai, nanti dulu!" seru Cocak Rawa. "Jangan jangan binatang ini sedang merencanakan suatu muslihat. Mari kita bereskan sekarang saja!"

"Jangan!" cegah Cocak Prahara. "Kakakmu sudah mengabulkan permint aannya. Biarlah dia hidup satu jam lebih lama.. Hanya saja, kita harus menjaganya jangan sampai d ia kabur."

"Kalau begitu, suruhlah dia beristirahat di dalam gedung olah-raga!" Cocak Ijo memberi saran, "Di sana kita mengurungnya."

Cocak Prahara menyetujui saran itu. Maka berkatalah ia kepada Lingga Wisnu dengan suara nyaring :

"Hai, kau Lingga! Kau beristirahatlah di dalam gedung olah-raga sana! Dengan begitu, kami tak usah khawatir engkau akan lolos."

"Baik," sahut Lingga Wisnu dengan suara tenang.

Kemudian bangkitlah dia dari tempat duduknya.

Sekarningrum dan Sekar Prabasini menjadi bingung. Ingin mereka mencegah kepergiannya. Akan tetapi sama. sekali tak berdaya. Maka terpaksalah mereka mengikuti Lingga Wisnu memasuki gedung olah-raga. Dan dalam pada itu, Cocak Prahara sudah memberi perint ah kepada anak buah mereka, untuk menyalakan beberapa puluh pelita, yang terbuat dari buah jarak. Seketika itu juga ruang gedung olah-raga terang benderang.

Ternyata di dalam gedung itu, sudah terdapat beberapa orang bersenjata lengkap. Di antara mereka, Lingga Wisnu mengenal tiga orang. Itulah RBhumi alias Rekso Glempo, ketua perserikatan Macan Kumbang. Jaya Tatit dan Zubaedah. Melihat Lingga Wisnu, Pekso Glempo berkata :

"Saudara yang baik hati, kami mendengar engkau diberi kesempatan beristirahat selama satu jam. Kau gunakan sebaik-baiknya. Apabila pelita-pelita itu padam, itulah suatu tanda waktu istirahatmu sudah habis."

Lingga Wisnu tidak menjawab. Dia hanya mengangguk.. Setelah itu ia duduk di kursi yang berada di tengah-tengah panggung.

Cccak Prahara berlima duduk pula di atas kursinya masing-masing. Mereka bersikap mengurung. Merekapun mengendorkan urat-uratnya untuk ikut beristirahat pula. Akan tetapi di belakang mereka, berderet enambelas orang. Diantara mereka nampak Cocak Kasmaran, Cocak. Fawun dan Sondong Raw it.

Lingga Wisnu menebarkan penglihatannya dan dengan sekali melihat, tahulah dia bahwa mereka menduduki penjuru-penjuru tertentu yang sudah diperhitungkan. Pikirnya di dalam hati: 'Memang benar sulit untuk memecahkan barisan mereka.'

Ia duduk dengan tangan berjuntai sambil memeras pikirannya. Menghadapi duapuluh satu orang, rasanya hanya bisa membela diri saja. Untuk mengharapkan dapat meloloskan diri, sangatlah sukar. Ia tahu pula, apabila terkurung terus menerus, lambat laun tenaganya akan terkuras habis. Akhirnya ia akan robch seperti almarhum Bondan Sejiw an. Pikirnya lagi: 'Paman Bondan Sejiw an yang berkepandaian demikian sakti, masih tidak sanggup memecahkan rahasia ilmu gabungan Pancasakti. Apalagi aku ... ‘ Selagi berpikir demikian, tiba-tiba teringatlah dia kepada beberapa halaman terakhir buku warisan ilinu sakti Bondan Sejiw an. Itulah sebuah kitab yang berjudul: 'Kitab Rahasia Keluarga Setan Kobar'. Pada bagian- bagian halaman itu, pernah ia menjadi bingung. Karena tidak dapat menyelami arti dan int inya, sampailah dia perlukan menjenguk goa, untuk melihat gambar-ganbar pada dindingnya. Setelah dicocokkan, barulah dia mengerti! Hanya saja, waktu itu ia belum menyadari dan mengetahui, arti dan int inya. Sebab nampaknya kusut sekali, diantaranya terdapat suatu keterangan, bahwa ia harus menyerang empat sampai delapan penjuru dalam satu gebrakan. Kenapa begitu? Apakah bukan dipersiapkan untuk melayani dan menghadapi serangan musuh yang tiba dengan berbareng dari pelbagai penjuru?

Lingga Uisnu terbenam dalami pikirannya. Ia mereka- reka dan menjenguk latar belakangnya karena rupanya setelah Bondan Sejiw an terlolos dari tangan-tangan musuhnya, bersembunyilah dia untuk memecahkan rahasia ilmu gabungan Panca-sakti keluarga Dandang Mataun. Akhirnya oleh ketekunan dan kekerasan hatinya, berhasilah dia menciptakan ilmu pemunahnya yang istimewa. Seumpama Bondan Sejiw an tidak terpotong urat-urat kaki dan tangannya, pastilah dia akan datang ke dusun Kemuning untuk menuntut balas. Sayang pada saat itu, ia sudah cacad. Namun dendamnya terhadap keluarga Dandang Mataun, bergolak hebat di dalam dirinya. Maka ia berharap, bahwa pada suatu hari, ada seseorang yang dapat menuntutkan dendamnya. Dan disusunlah ilmu sakti dan penemuannya dengan rapih, di dalam kitab dan pada gambar-gambar didinding goa. Dengan sengaja ia membuat penyesatan dan jebakan. Kecuali kitab saktinya dilumuri racun, peti penyimpannya diperlengkapi dengan panah rahasia yang berbisa pula. Semuanya itu dipersiapkan untuk menghalau tangan- tangan kotor keluarga Dandang Mataun yang dibencinya.

'Syukurlah aku telah menemukan kitab warisannya dan dapat memahami serta menyelam: int i serta isinya’ pikir pemda itu didalam rumunan benaknya. 'Dengan bekal ilmu saktinya, kecuali dapat lolos dari marabahaya, akupun akan dapat menuntutkan dendamnya paman Bondan Sejiw an. Akh, arwah paman Bondan Sejiw an pasti akan bersenyum puas, karena tak sia-sialah jerih payahnya t atkala menciptakan ilmu sakti itu.'

Memperoleh pikiran demikian, Lingga Wisnu jadi tegor hati. Kedua matanya yang terpejam menjadi menyinarkan cahaya berkilat. Wajahnya nampak, terang- benderang. Dan pada saat itu nyala pelita hampir habis. Kira-kira seperempat jam lagi, pelita-pelita itu akan padam. Dan itulah suatu tanda, bahwa pertempuran yang menentukan akan segera dimulai.

Cocak Prahara berlima pada saat itupun menyenakkan pula. Mereka heran, t atkala melihat wajah Lingga Wisnu yang terang-benderang. Tak dapat mereka menebak- nebak, apakah yang telah terjadi di dalam diri pemuda itu. Apakah dia sudah mendapatkan jalan keluar untuk bisa kabur dengan selamat? Akh, tak mungkin. ilmu gabungan Panca-sakti tidak memberi kesempatan kepada setiap lawannya untuk bisa kabur. Meskipun demikian, mereka berlima membuka matanya lebar untuk berjaga- jaga kalau-kalau Lingga Wisnu benar benar hendak melesat kabur. Tetapi justru mereka bersiaga demikian, kembali Lingga Wisnu memejamkan kedua matanya. Pemuda itu berusaha mengingat-ingat kembali semua petunjuk- petunjuk sakti di dalam kitab warisan pendekar Bondan Sejiw an. Ia menghafalkan dan mencetak segala gerakan dengan kuat di dalam benaknya. Seolah-olah lagi menekuni kitab warisan, ia memeriksa halaman demi halaman. Tiba-tiba terbacalah kembali kalimat pada bagian 'Penentuan'. Bunyi kalimat itu: 'Dengan sebilah pedang, potonglah jerami goni berserabutan'. Dan membaca kalimat itu, ia kaget bukan kepalang sampai berkeringat.

'Celaka!’ demikian ia menjerit didalam hati. Mengingat pengalaman kemarin, malam in i aku datang kemari dengan tidak membaw a senjata. Dengan demikian, aku tidak akan mengalami kesulitan seperti kemarin. Tak tahunya kini aku dipaksa untuk bertempur. Dan jurus itu, justru menitik beratkan pada tenaga pedang atau golok. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?'

Selama itu, Sekar Prabisini terus memperhatikan keadaan Lingga Wisnu. Ia ikut berlega hati tatkala melihat wajah pemuda itu terang-benderang. Tiba-tiba sekarang dilihatnya pemuda itu seperti kehilangan pegangan. Ia jadi terperanjat dan cemas. Pikirnya :

'Kenapa dia seperti tergoncang? Ia seperti kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Hal in i berbahaya ...' memperoleh pikiran demikian, ia ikut menjadi bingung.

Dalam pada itu., seperti seseorang kehilangan keblat, Lingga Wisnu merenungi nyala pelita pelita yang hampir padam. Ia sibuk bukan main, karena belum memperoleh penyelesaian. Pada waktu itu, datanglah Sukarw ati, pelayan Sekar Prabasini yang cantik, membaw akan secangkir teh panas. Ia menghampirinya seraya berkata mempersil ahkan :

'”Tuan, silahkan minum sebelum mulai.''

Pikirannya Lingga WIsnu sedang kusut. Ia kenal pelayan perempuan itu, sebagai orang kepercayaan Sekar Prabasini. Sikapnya sopan dan menarik, Maka tempa ragu-ragu lagi, ia menyambuti cangkir pemberiannya. Dan terus saja ia tenpelkan pada mulutnya. Tetapi tatkala hendak meneguk isinya, tiba- tiba cangkir yang. tergenggam ditangannya pecah berantakan oleh suatu benturan senjata bidik. Ia kaget. Dan dengan pandang penuh pertanyaan, ia menebarkan penglihatannya. Tepat pada saat itu, masih sempat ia melihat Sekar Prabasini menarik tangannya. Maka tahulah ia, bahwa itulah perbuatan Sekar Prabasini. Dan sadarlah dia, apa artinya.

'Benar-benar berbahaya di sin i,' katanya di dalam hati. 'Kenapa aku jadi begini goblok? Kenapa tak teringat pengalaman paman Bondan Sejiw an? Paman dahulu mengira bubur yang dihirupnya adalah masakan isterinya. Isterinyapun percaya, bahwa bubur itu tak. mengandung sesuatu, karena diperolehnya dari ibu kandungnya sendiri. Sekarangpun, aku menerima cangkir pemberian Sekarw ati, karena dia adalah pelayan Sekar Pra- basini. Kenapa aku tak dapat berpikir bahwa pelayan ini hanya sekedar pelaksana perint ah majikannya?’

Justru pada saat itu, ia mendengar Cocak Ijo meledak mendamprat Sekar Prabasini :

"Binatang’ Ibu dan anaknya memang setali tiga uang! Ada ibunya, ada anaknya! Ibunya bersekutu dengan bangsat. Anaknyapun bersekongkol dengan orang luar pula."

Tapi Sekar Prabisin i tidak gentar menghadapi dampratan Cocak Ijo itu. Dengan berani ia membalas mendamprat :

"Leluhur keluarga Dandang Mataun menang sangat hebat. Nilai budi pekertinya benar-benar setinggi langit, sehingga amal perbuatannya memang luar biasa hebatnya. Mengamal dengan memperbaiki jembatan- jembatan, membuat jalan jalan besar, memberi sedekah kepada orang-orang miskin. Pendek kata, merupakan keluarga yang maha mulia."

Itulah suatu ejekan yang sangat hebat. Karena saja Cocak Ijo murka sampai berjingkrak. Dengan muka merah padam dan dada seakan-akan hendak meledak, ia bergerak hendak menerkam keponakannya. Akan tetapi Cocak Prahara dengan segera menghalanginya. Katanya memperingatkan :

"Jangan terbagi perhatianmu! Mungkin ini suatu tipu muslihat untuk memberi kesempatan kepada bocah itu agar bisa melarikan diri."

Cocak Ijo tersadar oleh peringatan itu. Cepat ia menguasai diri dan duduk kembali di atas kursinya. Dan pada saat itu, kesan cemas yang terbayang diwajah Lingga Wisnu telah lenyap. Serangan senjata bidik Sekar Prabasini memberi ilham kepadanya, di  hati : 

'Akh, benar! Kenapa aku tidak menggunakan senjata bidik saja sebagai ganti sebilah pedang? Dalam hal melepaskan senjata bidik, aku masih berada di atas kepandaian paman Bondan Sejiw an. Bukankah aku mengenakan pula baju mustika pemberian Ki Ageng Gumbrek? Kenapa aku tidak membiarkan saja kena hajaran mereka beberapa kali? Dengan begitu aku mempunyai kesempatan untuk menggempur mereka dan memecahkan ilmu gabungan mereka.’

Dengan pikiran demikian, dalam sekejab saja berseri- serilah wajahnya. Terus saja ia berbangkit dari kursinya dan berkata memutuskan :

"Cukup! Aku sudah cukup beristirahat! Silahkan kalian mulai!"

0ooo-d-w-ooo0

13. Pecahnya Ilmu Panca Sakti

Itulah keputusan yang mengejutkan, karena lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Beberapa tetamu berteka-teki. Akan tetapi Cocak Prahara bersikap acuh tak acuh. Mereka segera memerintahkan anak buahnya untuk menukar dengan pelita-pelita baru. Kursi-kursi pun segera dipinggirkan. Kata Lingga Wisnu :

"Marilah kita tentukan dahulu syarat syarat menang dan kalahnya."

"Syarat menang kalah bagaimana?" Cocak Prahara menegas.

"Bagaimana kalau pihakmu yang kalah dan aku yang menang?"

"Hmm Kalau engkau menang, baw alah emas yang kau kehendaki!" sahut Cocak Prahara. "Sebaliknya apabila engkau tak berhasil, tak usah dibicarakan lagi." Lingga Wisnu tahu akan arti perkataan itu. Jika kalah, artinya jiwanya tak tertolong lagi. Sebaliknya apabila menang, mungkin sekali mereka mempunyai dalih untuk menyangkal. Maka katanya :

"Kalau begitu, bawalah emas itu ke mari. dahulu. Tumpuklah dihadapanku. Bila aku menang, segera akan membaw anya pulang."

Heran Cocak Prahara mendengar ucapan Lingga Wisnu. Terang sekali, ia sudah terkepung rapat. Kenapa masih bisa mengharapkan kemenangan? Apakah pegangannya? Sedangkan Bondan Sejiw an yang berkepandaian tinggi pun tidak manpu meloloskan diri dari ilmu-gabungan Panca-sakti yang dahsyat luar biasa. Oleh pertimbangan itu, mereka menganggap ucapan pemuda itu terlalu sombong. Dan mungkin sekali hanya untuk menghibur diri sendiri.

Ilmu-gabungan Panca-sakti memang merupakan pusaka andalan keluarga Dandang Mataun sejak puluhan tahun yang lalu. Ilmu-gabungan itu dipersiapkan apabila menghadapi musuh sebanyak empatpuluh atau limapuluh orang. Selamanya belum pernah gagal. Dan sekarang, ilmu gabungan itu dilakukan untuk menghadapi seorang. Maka bisa dimengerti apa sebab mereka menganggap bahwa ucapan Lingga Wisnu terlalu sombong dan tak masuk akal.

Sebenarnya, ilmu-gabungan Panca-sakti itu perlu diperlihatkan apabila dalam keadaan terpaksa. Mereka khaw atir akan dijiplak orang. Tetapi karena Lingga Wisnu terlalu tangguh bagi mereka, maka satu-satunya jalan untuk mengalahkannya hanyalah dengan menggunakan ilmu gabungan tersebut. Mereka menebalkan mukanya karena hal itu berarti main keroyok terhadap seorang musuh. Persetan semua ejekan yang bakal terjadi. Bagi mereka yang penting adalah menang. Dengan begitu kewibawaan keluarga Dandang Mataun tidak akan runtuh di dalam pergaulan.

"Hai, Prabasini!" kata Cocak Prahara dengan membusungkan dadanya. "Bawalah kantong emas itu kemari. Ingin aku tahu, clia bisa berbuat apa terhadap keluarga Dandang Mataun!"

Dalam hati, Prabasini menyesali diri sendiri. Jika tahu bakal begini jadinya, pastilah dia akan mengembalikan kantong emas itu tatkala Lingga Wisnu datang memintanya. Sekarang, pemuda itu dipaksa    mempertaruhkan jiw anya. Itulah suatu hal yang tidak dikehendaki.

Sekarang tak dapat ia berbuat lain kecuali patuh kepada perint ah pamannya. Maka dengan lesu ia mengambil kantong emas yang disimpannya. Kemudian ditaruh diatas meja didalam ruang gedung.

"Jangan kau letakkan diatas meja!" tegur Cocak Fawa. "Sontakkan diatas lantai dan aturlah seperti peta!"

Dengan tetap berdiam diri, Sekar Prabasini menyentak kantong enas itu. Kemudian mengatur potongan- potongan enas itis sedemikian rupa sehingga mirip gambar dunia. Dan setelah beres, berserulah Cocak Prahara berlima dengan berbareng : "Mari kita mulai!"

Merekapun dengan serentak menghunus senjata masing-masing. Lingga Wisnu segera bersiaga pula. Akan tetapi tatkala hendak bergerak, tiba tiba terdengarlah suara tertawa bergelagak. Dan terdengar seseorang berkata dengan suara nyaring :

"Saudara Cocak Prahara. Kami Anjar Semaja datang mengunjungi kalian, untuk menanggung dosa!"

Cocak Prahara berlima terperanjat. Anjar Semaja adalah pemimpin gerombolan penyamun yang bergerak antara wilayah Paron sampai Kediri. Kenapa dia datang tempa diundang?"

"Silahkan masuk, saudaraku yang baik!" terpaksa Cocak Prahara mengundangnya masuk.

Belasan orang lantas saja masuk gedung olah raga saling susul. Perawakan mereka tak rata. Ada yang tinggi besar, pendek, gencut dan kurus. Tetapi yang berjalan didepan adalah Anjar Semaja, pemimpin gerombolan Awu-aw u langit yang termashur. Pengaruh dan kewibawaannya tidak di bawah tataran keluarga Dandang Mataun.

Pada saat itu, Lingga Wisnu berpaling kepada Sekar Prabasini. Gadis itu nampak mencoba menenangkan diri meskipun wajahnya tegang Maka teringatlah dia kepada perbuatan Sekar Prabasini tatkala membunuh Jumali dan kawan kaw annya di atas perahu. Mungkin sekali yang datang sekarang ini, adalah pemimpinnya, untuk membuat perhitungan.

Cocak Prahara menyambut kedatangan Anjar Semaja dan mempersilalnkan duduk. Bertanya minta keterangan: "Saudara Anjar, sahabatku. Tengah malam buta engkau mengunjungi gubuk kami. Sebenarnya apakah maksudmu? Ha, kulihat pula rekan Buyut Sodana datang pula. Aii, benar-benar suatu kehormatan besar bagi kami.

Setelah berkata demikian, Cocak Prahara membungkuk hormat kepada seorang tamu yang berada dibelakang Anjar Semaja. Orang itu pesolek. Usianya kurang Lebih empat puluh tahun. Ia berpakaian rapih. dan kedua alisnya dicelak sehingga mirip anak ningrat yang doyan perempuan.

Dengan tertawa biesar, Anjar Semaja membalas teguran Cocak Prashara. Katanya setengah berseru :

"Saudara Cocak Prahara, kau berbahagia sekali! Kau mempunyai seorang keponakan perempuan yang berotak cerdas dan berkepandaian tinggi. Sehingga Jumali dan beberapa kawannya roboh ditangannya. Aku jadi kehilangan pamorku ..”

Heran Cocak Prahiara mendengar ucapan Anjar Semaja. Dia dan keempat saudaranya sebenarnya belum memperoleh laporan tentang sepak terjang Sekar Prabasini berlawan-lawanan dengan pihak Awu-awu Langit. Belasan tahun lamanya terjadi suatu kerja sama antara pihak Awu-aw u Langit dan keluarga Dandang Mataun. Didalam kebanyakan hal kedua pihak saling membagi pekerjaan dan rezeki. Sekarang, Cocak Prahara tengah menghadapi seorang lawan tangguh. Maka tak ingin ia membuat. persoalan baru. Sahutnya dengan sabar :

"Sahabat, sebenarnya apakah yang telah di lakukan oleh keponakanku terhadapmu? Percayalah bahwa kami tidak akan melindungi pihak yang salah. Siapa yang berhutang jiw a harus dibayar dengan jiw a pula. Sebaliknya, siapa yang berutang uang, harus dibayar dengan uang pula. Bukankah demikian?"

Anjar Semaja tidak mengetahui latar belakang persoalan keluarga Dandang Mataun. Ia tak pernah menduga, bahwa pada saat itu Cocak Prahara berlima sudah memandang Sekar Prabasini sebagai musuh yang harus disingkirkan. Karena itu, dia heran mendengar kata-kata Cocak Prahara. Pikirnya di dalam hati :

'Benar-benar mengherankan! Kenapa si tua bangka itu yang biasanya sombong dan tak memandang mata kepada siapapun, kali ini pandai berbicara? Apakah karena dia takut menghadapi rekan Buyut Sedana?’

Dengan pikiran itu, ia menebarkan penglihatannya. Tatkala melihat Lingga Wisnu berada diantara keluarga Dandang Mataun, rasa herannya kian bertambah. Bukankah pemuda itu yang dilaporkan sebagai seorang pendekar muda-belia yang berkepandaian t inggi? Diapun disebut pula sebagai sahabat Sekar Prabasini. Maka kembalilah ia berpikir di dalam hati :

"Tua bangka ini mempunyai seorang pembantu yang hebat sekali. Aku rasa, Buyut Sodana, pun tak akan sanggup melaw annya. Akh, baiklah aku berjaga-jaga. Mungkin dia sedang mengadakan tipu daya. Dia bersikap halus dan lapang. Biarlah akupun bersikap demikian pula.’ Oleh rasa pertimbangan itu segera ia berkata dengan suara tenang :

"Kami, pihak Awu-awu Langit, belum pernah bentrok - dengan pihakmu. Karena itu, dengan memandang keangkaran kalian berlima, biarlah kuselesaikan persoalan Jumali. Aku anggap saja kematiannya terjadi oleh kepandaiannya sendiri yang masih dangkal. Hanya saja, mengenai emas itu," ia berhenti sebentar mengarahkan pandangnya kepada beberapa puluh potong emas yang tergelar di atas lantai. Meneruskan:

"Kami telah mengikuti barang itu berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Kami telah membuang tenaga dan beaya yang tak sedikit. Malahan kami kehilangan jiw a pula. Demi untuk melangsungkan hidup kami, maka ..."

Anjar Semaja tidak menyelesaikan perkataannya. Cocak Prahara mengikuti pandangnya. Begitu melihat pandang Anjar Semaja berada pada potongan emas, hatinya jadi lega. Jadi kedatangan Anjar Semaja bukan untuk mengadakan perhitungan balas dendam. Kalau hanya soal emas saja malah kebetulan. Mereka bisa diperkaitkan dengan Lingga Wisnu. Maka katanya dengan suara terbuka :

"Emas yang saudara sebutkan berada disini. Ambillah jika saudara menghendaki! Kami tidak akan menghalangi.”

Kembali lagi Anjar Semaja heran mendengar ucapan tuan rumah. Kenapa ketua keluarga Dandang Mataun itu demikian baik budi kali ini? Ia tadi menyangka buruk kepadanya. Dengan cermat ia mengamat-amati wajah Cocak Prahara. Benar benar orang itu berkata dengan sungguh hati sehingga oleh kesan itu, ia menjaw ab :

"Saudara Cocak Prahara! Aku harus tahu diri. Aku tidak mau mengambil seluruhnya. Bila kau idzinkan mengambil separo saja, kami semua akan menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga. Emas itu sesungguhnya akan kubuat menunjang keluarga yang kehilangan jiw a serta untuk meraw at mereka yang luka- luka."

"Silahkan! Silahkan ambil sendiri!" Cocak Prahara menyetujui.

Anjar Semaja bangkit dari kursinya dan membungkuk hormat. Setelah mengucapkan terima kasih, segera ia memberi isyarat tangan kepada anak buahnya untuk memunguti emas yang bertebaran diatas lantai. Akan tetapi baru saja tangan mereka meraba potongan emas, tiba-tiba suatu kesiur angin menolaknya. Mereka terdorong mundur. Agar jangan sampai roboh terjengkang, terpaksalah mereka mundur lagi beberapa langkah. Dengan serentak mereka menoleh, dan dihadapan-nya berdiri Lingga Wisnu yang berkata kepada Anjar Semaja dengan tenang :

"Paman Anjar Semaja! Emas ini sesungguhnya uang perbekalan tentara Panglima Sengkan Turunan Karena itu apabila kau rampas, akan besar akibatnya dikemudian hari."

Nama panglima Sengkan Turunan pada waktu itu sangat termashur. Akan tetapi, bagi Anjar Semaja, yang biasa hidup bermajikan atas dirinya sendiri, tidak mengacuhkan. Nama Panglima Sengkan Turunan tiada pengaruhnya sama sekali. Sambil tertaw a melalui dadanya, ia menoleh kepada Buyut Sodana. Katanya :

"Hai, kau dengar sendiri? Kita akan digertaknya dengan nama Panglima Sengkan Turunan!"

Buyut Sodana membaw a sebatang pipa panjang mirip alat penghisap candu. Rokok buatannya sendiri sebesar ibu jari dihisapnya perlahan-lahan dan asapnya dikepulkan ke udara beberapa kali. Sikapnya tenang sekali dan tiada niatnya untuk menyahut ucapan Anjar Semaja. Dia hanya mengerling. Kemudian menatap wajah Lingga Wisnu.

Lingga Wisnu membalas pandangnya. Buyut Sodana yang berusia pertengahan itu, berkesan angkuh dan agung-agungan. Ent ah apa sebabnya, mendadak saja, memperoleh kesan dengki kepadanya. Akan tetapi apabila melihat pandang matanya memiliki sinar tajam dan raut muka yang bersemu kemerah-merahan, percayalah dia, bahwa orang itu pastilah seorang pendekar atau berandal yang berkepandaian tinggi. Karena itu, tak berani memandang ringan. Dengan mengangguk ia berkata rendah hati :

"Apakah paman ikut campur pula dalam soal ini? Siapakah nama paman? Karena aku baru saja merantau, belum me mperoleh kesempatan mengenal nama paman"

Buyut Sodana t idak menjawab. Ia mengepulkan asap rokoknya. Dan kali in i mengarah wajah Lingga Wisnu dengan tepat. Dan tatkala menghisap rokoknya untuk yang kedua kalinya, ia mempermainkan asapnya diantara kedua lubang hidungnya. Seperti dua ekor ular keluar dari lubang persembunyiannya, asap rokok itu berlenggat lenggot mendaki tinggi. Menyaksikan lagaknya, sama sekali Lingga Wisnu tidak menjadi sakit hati. Sebaliknya Sekar Prabasini hendak menegurnya. Tapi pada saat itu juga, Sekarningrum yang berada disampingnya, menggamit pundaknya agar menguasai diri.

Sekar Prabasini menoleh. Ia melihat ibunya menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Sebagai seorang gadis cerdas, tahulah ia artinya. Meskipun hatinya mendongkol, terpaksalah ia menahan diri.

Dalam pada itu, Buyut Sodana sedang membuang sisa rokoknya. Kemudian mengetuk-ketukkan mulut pipanya yang panjang hendak membuang sisa abu dan tombakau. Setelah itu ia menggulung rokoknya yang baru dan disematkan pada pipanya. Lalu dinyalakannya. Kemudian kembali lagi ia menghisapnya dengan nikmat. Dan menyaksikan lakunya yang dibuat-buat itu, Cocak Prahara berlima menjadi tak sabar lagi. Namun karena Buyut Sodana adalah seorang pendekar kenamaan semenjak beberapa puluh tahun yang lalu, sedapat- dapatnya mereka mengendalikan diri.

Ilmu sakti Buyut Sodana bernama Kuntul Haneba. Dua puluh tahun lebih, ia merajalela di Jawa Timur tempa tandingan. Senjata andalannya yang berbentuk sebatang pipa panjang, mempunyai daya kerja yang istimewa. Kecuali dapat dibuat menikam, bisa pula untuk menggaet senjata lawan. Namun selama itu, keluarga Dandang Mataun belum pernah menyaksikan sendiri kegagahannya. Percaya kepada kabar ketangguhannya, mereka berharap agar dia bent rok dengan Lingga Wisnu. Syukur apabila pemuda itu dapat dikalahkan. Dengan begitu, mereka tidak usah menerobos tenaga lagi. Sekiranya tidak berhasil mengalahkannya, setidak- tidaknya tenaga pemuda itu akan berkurang.

Buyut Sodana menyalakan api dan menyulut rokoknya, yang agaknya belum terbakar penuh. Selagi demikian, tiba-tiba melesatlah sesosok bayangan ke dalam ruang gedung sambil berseru:

"Kembalikan emasku!" Bayangan itu mendarat diatas lantai dengan manis sekali. Temyata dia seorang gadis. Hanya selisih beberapa detik, mendarat pulalah seorang pemuda yang berperangai kasar. Kemudian seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun. Ia berdandan sebagai seorang pedagang. Roman mukanya berkesan lucu.

Lingga Wisnu sudah mengenal gadis itu. Dia adalah Suskandari. Ia girang berbareng khawatir dan kaget. Ia girang karena kedatangannya berarti membantu dirinya. Hanya saja, ia belum mengetahui betapa kepandaian kedua kaw an yang di bawanya. Iapun khaw atir memikirkan Sekarningrum dan Sekar Prabasini. Semenjak mereka berdua menentang keluarganya, pastilah Cocak Prahara berlima tidak akan bersegan-segan menganggapnya sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Disamping Cocak Prahara berlima, terdapat gerombolan Awu-aw u Langit dan Macan Kumbang. Pengsn demikian, ia harus berlawan-lawanan dengan tiga kelompok musuh yang tangguh. Kecuali harus bisa membela diri, iapun perlu melindungi Sekarningrum dan Sekar Prabasini. Sekiranya kedua kawan Suskandari itu hanya berkepandaian sedang saja, ia bisa membayangkan betapa dirinya akan dibuatnya. sibuk. Benar-benar suatu keadaan yang tidak menggembirakan.

Pada waktu itu, beberapa anggauta keluarga Dandang Mataun lantas saja menghadang Suskandari dengan kedua kaw annya. Dan pemuda yang berada dibelakang Suskandari lantas saja berteriak menegor :

"Hai! Apa-apaan ini? Hayo, kembalikan emas kami!" Setelah menegor demikian, pemuda itu lantas saja menaiki lantai hendak memunguti potongan-potongan emas yang nampak bertebaran. Dan menyaksikan hal itu, Lingga Wisnu jadi prihatin. Pikirnya didalam hati :

"Akhl Dia pemuda yang sembrono! Pemuda begitu tentu tak dapat diharapkan bisa melakukan suatu pekerjaan besar."

Cocak Kasmaran melihat pemuda itu membungkuk, hendak memunguti potongan-potongan emas. Segera ia mengayunkan kakinya hendak menendang tangan.

"Kakang Puguh Karimawan! Awas!'' Suskandari memperingatkan, begitu melihat gerakan kaki Cocak Kasmaran.

Meskipun seorang pemuda semberono, tetapi ia bermata tajam dan sebat. Ia melompat ke samping untuk mengelakkan tendangan Cocak Kasmaran. Setelah itu ia membalas menyerang dengan kedua tangannya. Tentu saja Cocak Kasmaran tidak sudi mengalah. lapun membela diri dan menangkis dengan kedua tangannya pula. Pres! Empat tangan bentrok dengan menerbitkan suara. Kemudian kedua-duanya terpental mundur beberapa langkah.

Pemuda itu menjadi penasaran. Ia maju lagi hendak merfeilangi serangannya. Tiba-tiba orang berdandan sebagai saudagar itu menyanggah :

"Harimawan! Tahan dahulu!"

Sekarang tahulah Lingga Wisnu siapa pemuda itu. Dialah kawan Suskandari yang ikut mengaw al emas perbekalan laskar Panglima Sengkan Turunan. Bukankah Suskandari menerangkan bahwa emas itu kena dirampas Sekar Prabasini setelah berpisah dari kawannya? Pemuda semberono itu jadinya Puguh Harimawan, keponakan Aria Puguh. Kalau begitu orang yang berdandan sebagai pedagang itu, pastilah kakak seperguruannya sendiri: Botol Pinilis.

Memperoleh dugaan demikian, ia. memperhatikan pedagang itu. Dia bersenjata sebatang cempuling pendek semacam tongkat yang berujung tajam. Dan melihat senjata itu, ia tak bersangsi lagi. Dengan gembira ia melompat menghampiri pedagang itu, kemudian membungkuk hormat. Serunya dengan suara tegar:

"Kakang! Terimalah sembah hormat adikmu Lingga Wisnu!"

Pedagang itu terbelalak. Segera ia menyambar kedua tangan Lingga Wisnu yang membuat sembah. Wajahnya berseri-seri oleh rasa girang sekali. Sahutnya :

Lingga Wisnu! Hai, apakah engkau adik seperguruanku? Kau masih begini muda belia. Akh, benar-benar tak pernah aku sangka, bahwa kita akan bertemu di sin i. Membayangkan atau bermimpi pun tidak!"

Suskandari menghampiri Lingga Wisnu. Berkata : "Kakang! Inilah dia kakang Puguh Harimawan yang

kukatakan kepadamu."

Suskandari memperkenalkan si sembrono, dan Lingga Wisnu menoleh kepada, pemuda itu dan memanggut kecil. Menyaksikan anggukan kecil itu, Puguh Harimawan tak senang hati. "Hai, Harimawan! Kenapa engkau tak tahu tata- santun?" Tiba-tiba Botol Pinilis menegur muridnya :

"Bersembahlah kepadanya. Dialah pamanmu!"

Puguh Harimawan semakin merasa tak senang hati. Bukankah Lingga Wisnu lebih muda dari padanya? Kenapa dia harus bersembah? Namun karena diperint ah gurunya, mau tak mau segera ia menghampiri dan hendak membuat sembah. Sembah itu dilakukan dengan berat sekali.

"Jangan! Tak usah engkau bersembah kepadaku,” cepat Lingga Wisnu mencegah dan menghalangkan kedua tangannya.

Puguh Harimawan yang telah setengah berlutut, segera menegakkan kakinya kembali. Dia hanya membungkuk pendek seraya memanggil paman kepada Lingga Wisnu. Katanya :

"Saudara paman, terimalah hormatku ..."

"Apa itu saudara paman?" tegur Botol Pinilis. "Meskipun usiamu lebih tua dari dia, akan tetapi tataran kedudukannya berada di atasmu. Dia seangkatan dengan diriku."

Merah wajah Puguh Harimawan kena tegur gurunya.

Lingga Wisnu tertawa. Katanya dengan manis :

"Panggil saja aku paman kecil. Kalau perlu istilah saudara pamanpun boleh."

"Ya, paman kecil ... eh, saudara paman ... eh, paman kecil ...” sahut Puguh Harimawan terbata-bata .

Buyut Sodana mau tak mau harus menjadi penonton saja, dalam menyaksikan tata-santun pertemuan adik dan kakak seperguruan serta keponakan murid dengan paman gurunya. Kalau tadi dia memaksa orang agar bersabar kepadanya, sekarang dialah yang kehilangan kesabarannya. Ia mendongkol pula, karena menganggap pekerti mereka tak memandang mata kepadanya. Serta- merta kedua matanya mencilak.

"Kamu semua in i orang-orang macam apa sebenarnya?" tegurnya dengan tinggi hati.

Teguran ini membuat semua orang heran dan kaget. Akhirnya dia sudi pula membuka mulut dan ternyata suaranya nyaring luar biasa, seperti teriakan burung kakak tua. Gelombang suaranya tajam sekali menusuk pendengaran. Akan tetapi Puguh Harimawan tak mengenal takut. Dia maju selangkah seraya menyahut dengan suara sengit :

"Emas ini adalah emas kami. Kenapa kamu curi? Karena itu, terpaksa aku mengajak guruku kemari untuk mengambilnya kembali!"

Buyut Sodana tertaw a melalui hidungnya dan sambil mengepulkan asap rokoknya. Keruan saja Puguh Harimawan mendongkol melihat lagaknya sehingga ia berkata lagi :

"Coba katakan terus terang, sebenarnya kau hendak kembalikan atau t idak? Kalau t idak, hayo maju semua!

Buyut Sodana tertawa dua kali. Suara tertaw anya pun aneh pula. Kemudian menoleh kepada Anjar Semaja. Katanya dengan mengangkat kepala:

"Coba beritahukan kepada budak ini, siapa aku sebenarnya!" Anjar Semaja melakukan perintahnya. Katanya : "Inilah tuanku Buyut Sodana yang termashur

namanya. Kau masih muda belia seumpama belum pandai beringus. Nah, bersembahlah kepadanya!”

Tentu saja Puguh Harimawan belum mengenal siapa Buyut Sodana? Dia mendengar pula bahwa dirinya harus menyembah orang itu. Lantas saja dia mendengus. Sahutnya dengan sikap tak perdulian :

"Aku tak perduli buyut- buyutan segala. Kami datang kemari untuk mengambil kembali emas kami."

Tiba-tiba Cocak Kasmaran yang masih panas hati, maju selangkah sambil berkata mengejek :

"Eh, enak saja kau ngoceh Seperti burung. Kau hendak mengambil emasmu

kembali? Masa begitu gampang! Jika engkau mempunyai kepandaian, kau layani aku dahulu! Kalau sudah, barulah kita berbicara!"

Tak usah dikatakan lagi, Cocak Kasmaran sudah mencanangkan diri dan menantang Puguh Harimawan dengan terang-terangan. Belum lagi mulutnya membungkam, tangannya sudah melayang. Dia ternyata seorang berangasan yang ringan tangan.

Itulah serangan mendadak yang sama sekali tak terduga. Dan pundak Puguh Harimawan terhajar telak. Buk! Keruan saja sikasar itu murka bukan main. Segera ia membalas menerang. Tangan kirinya menyambar dengan cepat sekali. Serangannya mengenai perut. Bluk! Cocak Kasmaran membungkuk karena perutnya jadi mules. Dengan begitu kedua-duanya sama-sama kena gebuk. Beberapa detik kemudian mereka lantas berkelahi rapat seperti kambing.

Kedua-duanya panas hati dan sengit. Lantas saja terdengar suara blak-bluk-blak-bluk yang gencar sekali. Mereka saling mengamuk. Karena menuruti hati panas, mereka t idak manperdulikan pembelaan diri lagi. Mereka memukul awur-aw uran dan tak pernah gagal pada sasarannya. Dan menyaksikan hal itu, diam-diam Lingga Wisnu menghela napas. Pikirnya di dalam hati :

'Kenapa murid kakang Botol Pinilis begini tolol? Seumpama menghadapi musuh tangguh, dengan satu pukulan saja, dia pasti terjungkal roboh. Apakah kakang Botol Pinilis tidak pernah memberi petunjuk-petunjuk?’

Puguh Harimawan bertubuh kuat dan gagah. Hatinya jujur. Tetapi perangainya keras dan sembrono. Botol Pinilis menerimanya sebagai murid karena kejujurannya dan keadaan tubuhnya yang kuat. Tetapi karena berhati keras dan Semberono, pemuda itu tidak begitu cermat menekuni ilmu tata berkelahi. Sekian tahun lamanya ia menjadi murid Botol Pinilis, tetapi belum juga mewarisi dua bagian kepandaian gurunya. Sebenarnya, dibandingkan dengan kepandaian Cocak Kasmaran ia kalah jauh. Syukur tubuhnya kuat, serta tahan sakit Sedang Cocak Kasmaran berkelahi hanya menuruti perasaan hatinya, seakan-akan kalap. Sehingga pukulan- pukulannya terjadi asal saja. Demikianlah, mereka berdua terus saling gebuk makin lama makin hebat. Kemudian tibalah pertempuran itu pada babak akhir. Dengan tinju kanan, Puguh Harimawan menggempur Cocak Kasmaran. Cepat-cepat Cocak Kasmaran mengelakkan diri kekiri. Diluar dugaan, tangan kiri Puguh Harimawan menyambar dengan suatu kecepatan luar biasa. Serangan ini tak dapat dielakkan. Cocak Kasmaran kena terhajar keras sekali. Tubuhnya terbanting dan jatuh terkapar di atas lantai dengan tak sadarkan diri.

Kemenangan ini membuat hati Puguh Harimawan besar dan girang sekali. Ia berbangga hati karena bisa merobohkan lawannya. Dengan mengharap pujian, ia menoleh kepada gurunya. Ia heran dan kaget tatkala melihat wajah gurunya merah padam menahan rasa amarah. 'Hai, kenapa guru bergusar kepadaku? Bukankah aku menang?’ pikirnya menebak-nebak.

Suskandari menghampiri kakak seperguruannya. Wajah sang kakak bengap dan kuping kanannya berdarah. Segera ia menyusuti dengan sapu tangannya. Kata Suskandari setengah berbisik:

"Kenapa engkau sama sekali tidak mengelak satu pukulanpun? Kenapa engkau melawan keras dengan keras?"

"Untuk apa aku mengelak?" sahut Puguh Ha-rimawan. "Kalau aku main elak, pastilah aku tak akan berhasil menghajarnya ..."

Tiba-tiba terdengarlah suara Buyut Sodana yang nyaring luar biasa : "Janganlah engkau terlalu cepat berbesar hati, setelah dapat merobohkan seorang lawan. Eh, anak apakah engkau benar-benar menghendaki emas itu?"

Setelah berkata demikian, Buyut Sodana. melompat dan mengekangi deretan emas yang berserakan di atas lantai. Katanya dengan membusungkan dada :

"Tak peduli engkau menggunakan tinju atau dupakanmu Asal saja engkau mampu menggeserkan kakiku, emas yang berada dibawahku boleh kau ambil semua!"

Semua yang mendengar ucapan Buyut Sodana tercengang. Alangkah terkebur orang itu! Tak usah dikatakan lagi, Puguh Harimawan mendongkol bukan main. Sahutnya dongan sengit :

"Apakah mulutmu dapat aku percaya? Benarkah ucapanmu sudah kau pikirkan panjang panjang? Jangan- jangan engkau menyesal!"

Buyut Sodana tertaw a dengan mengangkat kepala.

Berkata kepada Anjar Semaja :

"Apakah bocah ini waras otaknya? Dia berkata, aku bakal menyesal. Lucu, tidak?"

Anjar Semaja tidak menyahut. Dia hanya jadi tertawa kering. Keruan saja hati Puguh Harimawan mendongkol bukan main. Teriaknya :

“Akan kucoba!"

Si sembrono Menghampiri Buyut Sodana dekat dekat. Kemudian mengerahkan seluruh tenaganya dan mengayunkan kakinya, menghantam kaki Buyut Sodana. Lingga Wisnu yakin, bahwa tendangan Puguh Harimawan mempunyai daya berat dua atau tiga ratus kati. Tidak perdiuli betapa kuat Buyut Sodana, ia pasti kena geser. Kecuali apabila dia mempunyai ilmu gaib diluar nalar manusia. Oleh pertimbangan itu, ingin ia menyaksikan kesudahannya.

Pada saat kaki Puguh Harimawan hampir tiba pada sasarannya, tiba-tiba dengan sebat sekali Buyut Sodana menggerakkan pipa panjangnya memapak tendangan kaki yang hampir tiba pada sasarannya. Tak! Tepat sekali ujung pipanya mengenai lutut. Dan Puguh Harimawan roboh dengan gaya berlutut. Kakinya menjadi kejang dan tak bertenaga lagi.

Buyut Sodana membungkuk membalas hormat Puguh Harimawan sambil berkata :

"Hai! Hai! Jangan bersujut kepadaku demikian rupa!

Tak berani aku menerima sembahmu!"

Bukan main rasa hati Puguh Harimawan. Pada pemuda itu seolah-olah terasa hendak meledak. Itulah suatu hinaan besar baginya. Namun ia tak bertenaga lagi. Diluar kehendaknya sendiri, tubuhnya meiibungkuk- bungkuk seakan-akan sedang membuat sembah. Suskandari terperanjat menyaksikan hal itu. Cepat-cepat ia menghampiri kakak seperguruannya. Kemudian memajangnya dan dibawanya menghadap kepada gurunya. Kata gadis itu dengan suara meminta :

"Paman. Orang itu harus paman hajar biar jera!"

Puguh Harimawan yang mendongkol karena kina diingusi, mendamprat : "Kau manusia busuk! Kau menggunakan akal bulus!

Kau bukannya seorang pendekar!"

Botol Pinilis memijat pinggang dan punggung muridnya. Setelah itu memijit pahanya pula. Sambil memijat-mijat, ia berkata dengan perlahan :

"Masih beranikah engkau semberono di kemudian hari?"

Si semberono memburigkam mulut. Namun ia bersyukur karena tenaganya pulih kembali oleh pijatan gurunya. Dan menyaksikan hal itu, diam-diam Buyut Sodana kagum terhadap si pedagang sama sekali tak diduganya, bahwa dengan suatu pijitan saja, bocah itu dapat dipulihkan tenaganya. Dan selagi ia keheranan, tiba-tiba Botol Pinilis berkata kepadanya :

"Ini sudah masuk perhitungan."

Dan setelah berkata demikian, tangan kanannya menarik cempulingnya. Jelaslah sudah, bahwa ia hendak maju untuk menolong kehormatan muridnya. Dan melihat dia maju, Lingga Wisnu berpikir di dalam hati:

"Kakang Botol Pinilin adalah murid aliran Sekar Teratai yang tertua. Aku adalah adiknya. Dan sudah selayaknya kalau aku yang maju terlebih dahulu." Dan memperoleh pikiran demikian, ia segera berseru kepada Botol Pinilis :

"Kakang, biarlah aku dahulu yang maju. Bila tak berhasil, baru nanti kakang menggantikan."

"Jangan! Biar aku saja yang maju." jaw ab Botol Pinilis dengan perlahan.

Botol Pinilis berbimbang-bimbang untuk mengidzinkan adik seperguruannya mewakili dirinya. Adik seperguruannya itu masih muda. Walaupun gurunya kabarnya telah mewariskan semua ilmunya dengan sempurna, namun ia masih mengkhaw atirkan akan masa latihannya. Kecuali itu, pastilah dia mempunyai pengalaman. Menghadapi Buyut Sodana yang sudah banyak makan garam, bukanlah tandingnya. Kecuali itu, ia tahu bahwa gurunya sangat sayang kepada muridnya yang terakhir itu. Bila sampai terluka, pastilah gurunya bakal berduka. Dia akan ditegur karena dikiranya tidak melindungi. Bila sampai demikian halnya, ia akan menanggung malu seumur hidupnya. Kalau tadi ia membiarkan Puguh Harimawan mencoba mengadu untung, itulah disebabkan semata-mata untuk memberi pelajaran kepada muridnya yang semberono itu, agar dikemudian hari bisa berhati-hati. Dia berharap, agar dengan pengalaman itu, muridnya yang semberono itu menjadi sadar akan kekurangannya. Dan ia akan belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh.

Akan tetapi, Lingga Wisnu tak mau mengerti pertimbangan kakak seperguruannya itu. Katanya dengan perlahan pula :

"Kakang. Dipihak mereka terdapat banyak orang- orang pandai. Sedangkan barisan ilmu gabungan Panca- sakti keluarga Dandang Mataun, sangat berbahaya. Mungkin sekali sebentar lagi akan terjadi suatu pertempuran dahsyat. Kakang seumpama seorang panglima perang yang memegang pucuk pimpinan. Maka sebelum kakang masuk ke gelanggang biarlah adikmu mencobanya dahulu."

Kagum Botol Pinilis mendengar alasan adiknya seperguruan. Dia masih sangat muda, akan tetapi pandai memegang tata santun. Ia melihat kesungguhannya pula. Maka akhirnya dia berkata memutuskan :

"Baik adik, hanya saja hendaklah engkau ber hati- hati!"

Lingga Wisnu memanggut lalu memutar tubuhnya. Perlahan-lahan ia menghampiri Buntut Sodana. Berkata dengan tenang :

"Akupun ingin memperoleh emasku kembali. Bolehkah aku mencoba untung?"

Buyut Sodana dan rekan-rekannya dari golongan Awu- awu Langit heran mendengar dan melihat Lingga Wisnu hendak mencoba untung. Sebentar tadi, Puguh Harimawan yang bertubuh kekar telah dirobohkan dalam satu gebrakan saja. Kenapa bocah ini yang usianya berada dibaw ah pemuda kekar itu, t idak tahu diri? Maka Buyut Sodana menjawab perkataan Lingga Wisnu dengan suara merendahkan :

"Baik. Tetapi kau harus berjanji, tidak akan membuat sembah kepadaku seperti si dogol”

Berkata demikian, ia menghisap pipa panjangnya dan mengepulkan asap rokoknya yang tebal ke udara. Ia sudah bersiaga penuh. Dan seperti Puguh Harimawan, Lingga Wisnu menghampiri tiga langkah. Kemudian mengangkat kaki kanannya hendak menyapu.

Puguh Harimawan yang memperoleh pengalaman pahit tadi, kaget menyaksikan gerakan kaki Lingga Wisnu. Pekiknya cemas :

"Paman kecil, jangan! Dia akan menghantam kakimu dengan pipanya seperti terhadapku tadi!" Cocak Prahara berlimapun tidak mengerti apa sebab Lingga Wisnu yang memiliki kepandaian tinggi mencoba untungnya begitu semberono. Apakah kaki Lingga Wisnu tak mempan kena totok pipa baja Buyut Sodana. Sebaliknya yang diam-diam bersiaga adalah Botol Pinilis. Sebab, meskipun dewa sendiri yang mengkisiki, ia takkan percaya bahwa kaki Lingga Wisnu kebal. Maka pada saat itu, ia sudah mengambil keputusan. Bila Buyut Sodana kembali lagi menghantamkan pipa baja, segera ia hendak menolong adik seperguruan itu. Kemudian menyerang Buyut Sodana yang sombong.

Dalam pada itu kaki Lingga Wisnu sudah bergerak dengan cepat luar biasa. Dan seperti tadi, Buyut Sodana segera memapaki kaki Lingga Wisnu dengan pipa baja. Di luar dugaan gerakkan kaki Lingga Wisnu sebenarnya hanya suatu gertakan belaka. Pada detik hendak kena totokan, ia menarik kembali. Sebagai gantinya, ia menyapu dengan sebelah kakinya yang lain. Buyut Sodana sudah terlanjur menusukkan ujung pipanya. Hatinya terkisap tatkala tusukkannya menumbuk udara kosong. Segera ia sadar akan ancaman bahaya. Tapi pada detik itu, emas yang dikakangi, sudah kena tersapu Lingga Wisnu.

Ternyata Lingga Wisnu tidak hanya puas memperoleh emas. Gerakkan kakinya terus menyambar mencari bidikan yang diarahnya. Keruan saja Buyut Sodana mendongkol bukan main. Mula-mula ia kena diingusi, sekarang ia diserang dengan t iba-tiba. Maka dengan hati mendongkol dan panas, ia menikam pantat Lingga Wisnu.

Lingga Wisnu merendahkan tubuhnya sambil mengelak ke kanan. Kembali lagi kakinya bergerak menyapu emas. Dan dengan dibarengi serangan tangan kirinya, berhasillah ia merampas emas lagi. Hal itu terjadi karena tangan Buyut Sodana sedang bergerak menikam, sehingga daerah pertahanannya jadi kosong.

Lagi-lagi Lingga Wisnu tidak mau sudah dan sekarang, kaki kirinya yang bergerak. Gerakannya sangat cepat, sehingga mendahului gerakan lawan sebelum sempat memperbaiki kedudukannya. Dan untuk yang ketiga kalinya, ia berhasil menyapu beberapa tumpuk emas lagi.

Dalam waktu yang pendek saja, pemuda itu sudah berhasil menyapu tiga tumpuk kepingan emas. Dan yang mengherankan kepingan kepingan emas itu lenyap dari penglihatan seperti tersulap. Tapi sebenarnya dengan suatu kecepatan luar biasa, ia berhasil memasukkan kepingan-kepingan emas itu ke dalam kantong bajunya. Setelah itu ia berdiri dengan tenang bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

"Biarlah aku nyatakan kepadamu, bahwa aku hendak mengambil semua kepingan emas yang berada dalam penjagaanmu," katanya. "Paman Cocak Prahara dan engkau sendiri bukankah sudah berjanji? Barangsiapa yang dapat merampas emas yang dalam penjagaanmu, maka emas itu. boleh menjadi miliknya. Bukankah begitu?"

Pemuda itu tidak menunggu jawaban Buyut Sodana. Sedang Buyut Sodana sedang menyusun bunyi jawabannya di dalam hati, Lingga Wisnu sudah bergerak dengan suatu kesehatan yang mengherankan. Betapa tidak? karena untuk ke sekian kalinya pemuda itu berhasil lagi mengantongi emasnya. Menyaksikan hal itu, Cocak Prahara dengan seluruh keluarganya kagum bukan main. Tak terasa mereka memuji kecerdikan dan kesehatan pemda itu. Juga Anjar Semaja dengan orang-orangnya. Sebaliknya, wajah Buyut Sodana merah padam. Masakan dia bisa diingusi seorang pemuda yang belum bisa kencing. Hatinya yang mendongkol dan penasaran kini mengandung rasa dengki luar biasa. Lantas saja tangannya melayang dan kakinya menendang pergelangan tangan Lingga Wisnu. Itulah salah satu jurus ilmu saktinya yang disegani lawan dan kawan.

Lingga Wisnu tak berani lantas menangkis serangan Buyut Sodana. Ia mundur oleh serangan itu. Kemudian memperhatikan gerakan dua tangan serta kedua kaki lawannya. Itulah gerakan seekor burung. Apakah ini yang dinamakan ilmu sakti Kuntul Haneba seperti tutur- kata gurunya dahulu?

Menghadapi ilmu sakti Buyut Sodana yang luar biasa itu, Lingga Wisnu tidak berani merapatkan diri. Dia bergerak dengan berputaran. Setiap kali ia menghindar atau mengelak, sambil memperhatikan gerakan- gerakannya. Buyut Sodana jadi kesal. Ia memperhebat4 serangannya. Justru demikian, Lingga Wisnu dapat mengelak atau menghindarkan diri dengan cepat pula.

Tatkala Botol Pinilis melihat cara perlawanan Lingga Wisnu, ia berpikir di dalam hati:

'Bocah ini tidak berani bertempur secara berhadap- hadapan. Selalu ia menghindarkan diri dan tak berani mencoba mendekati. Agaknya ia hanya mengandalkan pada kegesitannya semata.' Buyut Sodana pun berpendapat demikian pula. Dan memperoleh kesan itu, kesombongannya lantas membersit di dalam hati. Akh, hanya begini saja kepandaiannya, pikirnya. Lantas ia tertaw a terbahak- bahak sambil melancarkan gempuran terus- menerus . Jelas sekali, bahwa ia mengganggap musuhnya sebagai lawan yang enteng sekali. Ia lupa, betapa tadi Lingga Wisnu dengan kecepatan yang mengagumkan berhasil menyapu kepingan, emas yang berada di dalam penjagaannya.

Beberapa saat kemudian, ia mulai menyulut tombakaunya dan menikmati pipa panjangnya. Tapi pada saat itu, Lingga Wisnu sudah bisa memahami letak inti ilmu kepandaian lawan, diam-diam ia bergirang hati kesombongan Buyut Sodana, karena kesombongan kerapkali membawa suatu kelengahan. Dan kesempatan itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Cepat luar biasa, tiba-tiba tangan kirinya menyambar hidung.

Karuan saja Buyut Sodana terkejut. Tadi, lawannya yang kecil itu sama sekali tak berani mendekati dan menyelonongkan tangan kirinya. Inilah suatu serangan yang tak terduga-duga. Cepat-cepat ia menangkis tangan kiri Lingga Wisnu dengan pipanya. Dan kakinya membarengi bergerak menyapu sasaran.

Diluar dugaan pula, kali in i Lingga Wisnu tak sudi menghindar atau mengelakkan diri. Ia membiarkan kepalanya kena incaran tangkisan pipa. Tapi dengan tiba- tiba saja, tangan kanannya menyambar dan mencengkeram pipa itu. Buyut Sodana terkejut. Ia dalam keadaan kepalang tanggung. Pipanya sudah terlanjur ditangkiskan dengan cepat dan kuat-kuat. Maka tiada kesempatan lagi. untuk menariknya. Dan terpaksalah ia merenggutkan ke atas.

Gerakan ini, justru termasuk dugaan Lingga Wisnu. Selagi Buyut Sodana menarik pipanya ke atas, pinggang kanannya terbuka. Inilah kesempatan yang tak di sia- siakan. Sebat luar biasa, tangan kirinya menotok tulang iganya. Plak!

Buyut Sodana menggeliat mundur. Ia terkejut dan menginsyafi keteledorannya. Akan tetapi sudah kasep. Tahu-tahu tenaganya pudar dan tubuhnya bergemetar diluar kehendaknya sendiri. Dan pada saat itu, ia mendengar suara tertaw a Sekar Prabisini.

Senang Lingga Wisnu mendengar suara tertawa Sekar Prabasini. Dan seperti galibnya seorang pemda yang mendengar suara tertawa seorang gadis yang berkenan di hatinya, timbullah gairah hidupnya! Semangat tempurnya terbangun sekaligus. Terus saja ia menyodorkan pipa yang kena dirampasnya, balik ke mulut pemiliknya dan api tombakau yang sedang menyala, menyelamot bibir atas dan kumis. Keruan saja Buyut Sodana kaget berjingkrak.

"Lingga Wisnu, adikku! Jangan bergurau!" seru Botol Pinilis. Akan tetapi di dalam hatinya, ia kagum menyaksikan kepandaian adik seperguruannya itu.

Mendengar tegoran kakak seperguruannya, Lingga Wisnu menarik pipanya kembali yang tadi menyelomot kumis pemiliknya. Kemudian ia meniup api tombakaunya seolah-olah hendak memadamkan. Tapi karena tiupannya terlalu keras, api tombakau yang menyumpal lubang pipa justru jadi terbang berhamburan mengenai wajah Buyut Sodana. Dan kembali lagi Buyut Sodana berjingkrakan.

Botol Pinilis segera melompat memasuki gelanggang. Melihat Buyut Sodana yang tadi bersikap sombong hati dan kini kena di selomot seorang pemuda kemarin sore, mau tak mau membuat dirinya tertaw a juga. Namun ia sadar, Buyut Sodana tidak boleh dibuat gegabah. Maka cepat cepat ia menolong membebaskan urat-uratnya yang kejang akibat gempuran Lingga Wisnu. Kemudian menyambar pipa yang masih berada di genggaman Lingga Wisnu dan dikembalikan kepada pemiliknya. Dengan berbuat begitu ia berharap menyudahi adu kepandaian itu agar tidak jadi berlarut. Bukan karena takut berlawan-lawan dengan pendekar itu, akan tetapi hadirnya dipihak Dandang Mataun bisa menambah beban yang tidak enteng. Sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, ia merasa perlu menarik simpati terhadap lawannya yang kemungkinan besar bisa menyeberang ke pihaknya.

Buyut Sondana sendiri, tatkala itu masih saja terpukau oleh' kejadian yang menyakitkan hatinya. Sama sekali ia tidak menghiraukan masuknya Botol Pinilis ke dalam gelanggang. Tahu-tahu tangan kanannya telah menggenggam pipanya kembali. Selintasan saja ia melihat betapa sekalian hadirin menertaw akannya dengan nada geli dan merendahkan. Ia benar-benar jadi merasa terhina. Terus saja ia membanting pipanya hancur berentakan. Kemudian dengan langkah panjang meninggalkan gelanggang. Sebentar saja, ia telah melintasi pintu keluar dan bayangan tubuhnya lenyap digelap malam. Anjar Semojo, kawannya sejalan, terkejut melihat kepergiannya. Buru-buru ia lari mengejarnya hendak mencegah. Tahu-tahu ia nampak terpental balik memasuki gedung pertempuran dan mati-matian ia mencoba mempertahankan diri. Sekalipun demikian, tetap saja ia terhuyung mundur beberapa langkah. Maka jelaslah, bahwa tenaga lontaran Buyut Sodana sesungguhnya bukan sembarangan. Walaupun Lingga Wisnu dapat mengalahkan dengan mudah, namun tenaga saktinya ternyata mampu melemparkan seorang pendekar semacam Anjar Semojo, seorang pemimpin berandal nan disegani lawan dan kawan semenjak belasan tahun yang lalu. Maka bisa dimengerti, apa sebab Botol Pinilis bersikap hati-hati terhadapnya. Ketangguhannya tiada berada dibawah Cocak Prahara berlima.

Cocak Prahara bersaudara kagum menyaksikan kepandaian Lingga Wisnu. Akan tetapi mereka tidak terkejut. Jauh-jauh tahulah mereka, bahwa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi. Hanya saja caranya menjatuhkan Buyut Sodana begitu cepat, benar-benar diluar dugaan. Sebaliknya, tidaklah demikian kesan anak- buah Anjar Semojo. Melihat pemimpinnya kena dilontarkan Buyut Sodana, mereka kaget dan panas hati. Kalau Buyut Sodana yang kena dikalahkan bisa melontarkan pemimpinnya dengan mudah sampai mundur sempoyongan, apalagi pemuda itu. Pemimpinnya bukanlah tandingnya yang berarti, apakah yang diandalkan, kecuali mengadalkan jumlah banyak. Maka diam-diam mereka bersiaga menunggu aba-aba.

Dalam pada itu Botol Pinilis heran dan kagum menyaksikan cara Lingga Wisnu tadi merobohkan Buyut Sodana. Pukulannya itu sendiri, termasuk salah satu ajaran ilmu perguruannya Sekar Teratai tingkat tinggi. Tapi yang mengherankan adalah caranya   dia membaw akan pukulan itu membidik sasarannya. Gerakannya sama dengan gerakan tatkala merebut kepingan emas yang berada dalam penjagaan Buyut Sodana. Gerakan demikian, belum pernah ia memperolehnya dari gurunya. Pikirnya di dalam hati :

'Apakah guru pilih kasih? Akh, tak mungkin! Sekalipun guru sangat kasih kepada muridnya yang bungsu ini, tidak akan mengajarkan gerakan-gerakan yang bertentangan dan berbeda titik-tolaknya. Gerakan itu sama sekali bukan gerakan aliran Sekar Teratai. Kalau bukan, lantas siapakah yang mengajar gerakan demikian?’

Puguh Harimawan tentu saja tak dapat membuat suatu perbandingan, penilaian atau ulasan untuk dirinya sendiri. Gerakan paman gurunya yang kecil itu, terlalu cepat baginya. Ia hanya merasa puas, setelah pihaknya memperoleh kemenangan. Dengan wajah terang- benderang, ia menoleh kearah Suskandari hendak membagi rasa syukur. Tapi Suskandari sendiri sudah tertaw a risi Sekar Prabasini yang berada tak jauh dari padanya ikut tertaw a pula. Tertawa senang dan menang. Dan hal itu membuat rasa puas Puguh Harimawan menjadi nikmat.

Pada saat itu tiba-tiba terdengarlah suara Botol Pinilis lantang :

"Saudara Cocak Prahara” Tadi saudara sudah membuat semacam sayembara. Bahwasanya emas akan dikembalikan apabila kami mampu mengambil sendiri dari penjagaan Buyut Sodana. Sekarang Buyut Sodana meninggalkan gelanggang. Artinya dia membiarkan emas tak terjaga lagi. Maka sebelum memunguti emas, perkenankan kami mengucap terima kasih." Dan setelah berkata demikian, ia memberi perintah kepada muridnya:

"Ambil semua emas yang berceceran di atas lantai itu! Hitung, apakah sudah genap. Kurang sekeping, kita wajib mengadakan perhitungan lagi!"

Sebenarnya, emas rempasan itu tidak kurang barang sekepingpun. Botol Pinilis yang berpengalaman, yakin akan hal itu. Kalau dia berkata demikian, maksudnya semata-mata untuk menaikkan harga diri saja. Didepan gerombolan bandit, ia perlu menundukkan sikap garang.

Cocak Prahara yang kenyang makan garam, ternyata tak sudi kalah gertak. Ia membiarkan Puguh Harimawan memunguti emasnya dengan sikap acuh tak acuh. Bahkan ia lantas memejamkan matanya. Sebaliknya t idak demikian halnya Anjar Semojo. Di dalam usahanya hendak merebut emas rampasan itu, ia sudah berkorban jiw a. Itulah sebabnya, ia tak rela melihat Puguh Harimawan memunguti dan mengantongi emasnya kembali tanpa sanggahan. Diantara berkilaunya emas, pandang matanya memancarkan sinar berapi-api. Mendadak saja ia melompat menghampiri dan mendorongkan tangannya. Dan kena dorongan itu, Puguh Harimawan mundur sempoyongan.

"Hai, apa maksudmu. Apakah kau hendak coba coba mengukur tenaga?" bentak Puguh Harimawan mendongkol.

Botol Pinilis maju. Berkata kepada muridnya : "Harimawan, mundur! Dia bukan tandingmu!"

Setelah berkata demikian, Botol Penilis membungkuk hormat kepada Anjar Semojo. Katanya sambil tertaw a :

"Selamat bertemu, kaw an. Akhir-akhir in i usahamu kudengar memperoleh kemajuan, sehingga daerah penggaronganmu bertambah luas. Eh, bagaimana kalau kita main coba-coba?"

"Hm!" Anjar Semojo menggeram. "Siapa sudi membadut dengan tampangmu. Aku Anjar Semojo selamanya malang-melintang tiada rint angan. Tiap orang kenal siapa diriku. Akulah pemimpin gerombolan Awu- awu Langit yang menggetarkan jala langit semenjak belasan tahun yang lalu. Sebaliknya aku belum mengenalmu. Sebenarnya siapakah engkau ini sampai berani membadut gt depanku?"

"Aku? Akh, aku hanya manusia hidup. Namaku pun sangat sederhana," sahut Botol Pinilis tak bersakit hati.

“siapa?" bentak Anjar Semojo.

"Botol Pinilis. Mata pencaharianku berdagang kelontong. Mengapa? Apakah kau mempunyai barang dagangan yang berharga?"

Anjar Semojo mendongkol. Terus saja ia berteriak kepada baw ahannya :

"Bawa kemari senjataku!"

Botol Pinilis ternyata seorang pendekar yang pandai berjenaka pula. Tiap kali berbicara tangan dan kepalanya ikut bergerak-gerak untuk menggelitiki hati lawannya. Mendengar lawannya berteriak hendak menggunakan senjata, ia bersikap dingin saja. Bahkan kepalanya dimiringkan sambil tertaw a melebar.

Senjata andalan Anjar Semojo ternyata sebatang tombak panjang dan besar. Begitu 'menerima senjata andalannya dari saJah seorang baw ahannya, terus saja ia menikam dengan tenaga penuh. Tak usah diterangkan lagi, bahwa hatinya mendongkol luar biasa terhadap Botol Pinilis.

Botol Pinilis tetap saja memiring miringkan kepalanya sambil terttaw a. Dan dengan gesit, ia melompat menghindari. Serunya girang:

"Ha, bagus! Barang daganganmu lumayan juga. Mari kita uji apakah benar-benar ada harganya untuk diperjual-belikan ..,"

Murid Kyahi Sambang Dalan ini ternyata seorang pendekar yang besar nyalinya. Sambil membungkuk mengelakkan setiap serangan, ia memunguti emas yang masih tercecer di atas lantai i Dan menyaksikan hal itu, sadarlah Cocak Prahara bahwa Botol Pinilis bukan sembarang orang. Anjar Semojo ternyata bukan tandingnya.

Kalau aku bertopang dagu saja, emas itu benar-benar akan hilang, pikirnya di dalam hati. Segera ia memberi isyarat mata kepada Cocak Ijo dan Cocak Rawun. Dan oleh isyarat mata itu, Cocak Ijo dan Cocak Rawun melesat memasuki gelanggang sambil berseru :

"Emas bukan batu kerikil yang tiada harganya. Kau bayarlah jiwamu dahulu!"

Menghadapi rangsakan Cocak Ijo dan Cocak Rawun, cepat Botol Pinilis mengendapkan diri. Ia menggeserkan tubuhnya ke kanan dan tangan kirinya menyerang dari samping. Itulah salah satu jurus rumah perguruan Sekar Teratai.

Serangan Cocak Ijo dan Cocak Rawun sebenarnya merupakan jurus gabungan ilmu sakti keluarga Mataun yang dahulu pernah merobohkan pendekar besar Bondan Sejiw an. Itulah gabungan ilmu sakti! Begitu mereka berdua melepaskan salah satu jurusnya, terus saja bergerak hendak maju mendesak. Tiba-tiba mereka melihat Botol Pinilis menggeser ke samping sambil melontarkan serangan. Cepat-cepat mereka mundur. Dan tepat pada saat itu Cocak Rawa dan Cocak Abang menggantikan kedudukannya dengan menangkis serangan Botol Pinilis. Kemudian dengan kecepatan luar biasa tangan Cocak Abang menyelonong menghantam pinggang.

Semenjak Botol Pinilis tamat belajar dan berkelana seorang diri untuk mencari pengalanan belum pernah ia bertemu dengan lawan yang sebanding. Walaupun ia gemar bergurau dan berjenaka, namun tabiatnya cermat dan hati-hati. Dengan berbekal kedua tabiatnya itu, belum pernah ia gagal menghadapi lawan. Sekarang, ia sadar benar-benar, bahwa ilmu Pancasakti keluarga Dandang Mataun hebat luar biasa. Cocak Prahara kini ikut pula memasuki gelanggang. Dengan demikian ia menghadapi lima orang sekaligus. Cepat ia menggeser tubuhnya untuk menghindari serangan Cocak Prahara. Tetapi tiba-tiba Cocak Mengi menggantikan kedudukan Cocak Rawun dan dengan cepat membaw a Cocak Prahara mundur. Dengan dibarengi gerakan lainnya, mereka berlima nampak seolah-olah berubah menjadi beberapa puluh orang. Tubuh mereka berkelebatan seperti bayangan.

Menghadapi tata-pertanpuran demikian, mau tak mau Botol Pinilis menjadi terkejut. Ia tak mengerti, ilmu berkelahi apa yang sedang dilancarkan lawan-lawannya itu. Benar-benar serangan mereka dahsyat luar biasa. Nampaknya kalut , tetapi maju dan mundurnya sangat rapih. Sekian lamanya ia mencoba menyerang. Namun tiada seorangpun yang dapat disentuhnya. Ia kaget, heran dan akhirnya sadar. Buru-buru ia mencoba merubah sikap. Dengan tenang, ia menempatkan diri di tengah-tengah mereka. Sama sekali ia tak mau menyerang. Sebaliknya, ia hanya bertahan dan menangkis apabila kena serang. Tentu saja ia membuat dirinya kena terkurung rapat-rapat.

Melihat Botol Pinilis hanya pandai membela diri, diam- diam Anjar Semojo berbesar hati. Ia tadi bersakit hati karena kena dipermainkan pendekar itu. Sekarang timbullah niatnya hendak membalas dendam. Ia menunggu saatnya yang bagus untuk menikam Botol Pinilis sehebat hebatnya. Dan sekaranglah saatnya yang paling baik, selagi lawannya sibuk berjaga-jaga diri terhadap rangsakan Cocak Prahara berlima.

"Paman Botol Pinilis, awas!" seru Suskandari memperingatkan, gadis itu terkejut melihat berkelebatnya tombak Anjar Semojo.

Botol Piniiis adalah murid Kyahi Sambang Dalan yang telah mewarisi kepandaian gurunya. Seumpama Cocak Prahara tidak menggunakan ilmu gabungan, mereka tidak akan bisa berbuat banyak terhadapnya. Demikian pula menghadapi serangan gelap Anjar Semojo, seorang pemimpin berandal yang berkepandaian tinggi.

Dengan sebat sekali, Botol Pinilis memutar tubuhnya; Berbareng dengan itu, tanganya bergerak. Tombak Anjar Semojo kena di tangkisnya dan kemudian ditangkapnya. Itulah salah satu jurus Sekar Teratai untuk menghadapi lawan yang bersenjata. Ilmu tata berkelahi dengan tangan kosong.

Untuk memahirkan ilmu itu, seseorang harus berlatih terus-menerus. Dan Botol Pinilis telah melatihnya semenjak puluhan tahun yang lalu sehingga tak mengherankan ia dapat melumpuhkan tikaman Anjar Semojo dengan satu kali gerak saja. Kemudian ia menariknya sambil menangkis serangan Cocak Bawa dengan tangan kiri. Kaki kanannya digeserkan setengah langkah untuk mengelakkan tendangan Cocak Mengi. Dengan demikian, ia bisa memunahkan tiga serangka! serangan sekaligus ,

"Akh, hebat! Sesungguhnya ilmu w arisan Sekar Teratai sanggup berlawanan dengan ilmu sakti aliran manapun juga," pikir Lingga Wisnu didalam hati. "Kalau saja Puguh Harimawan bisa mewarisi ilmu warisan Kakang Botol Pinilis, sudah dapat malang-melintang tanpa tandingan."

Selagi berpikir demikian, Lingga Wisnu mendengar Anjar Semojo berteriak kesakitan. Sebagai ahliwaris ilmu sakti Kyahi Sambang Dalan ia sudah dapat menduga gerakan kelanjutan Botol Pinilis. Pastilah Anjar Semojo akan dipaksa mengadu tenaga dan kemudian diangkat tinggi tinggi dan setelah itu, dengan tiba-tiba melepaskan adu tenaga itu. Anjar Semojo kehilangan keseimbangan, karena kehilangan daya perlawanan. Dan pada saat itu, Botol Pinilis menghantam pundaknya sampai patah.

"Bagus!" puji Lingga Wisnu.

Beberapa orang laskar Awu-awu Langit menolong pemimpinnya dengan tergopoh-gopoh. Jayatatit, Zubaedah dan Rekso Glempo menuntut bela. Serentak mereka bertiga menyerang Botol Pinilis. Juga kali in i, Botol Pinilis dapat menunjukkan keahliannya. Dengan kesebatan dan kelincahannya seorang demi seorang dibantingnya ke lantai sambil mengelakkan setiap serangan Cocak Prahara berlima. Dan menyaksikan ketangguhan murid Kyahi Sambang Dalan itu, anak buah Anjar Senojo tidak berani berkutik lagi dari tenpatnya.

"Ha, mari tuan-tuan! Sekarang aku bisa melayani tuan-tuan tanpa gangguan lagi." kata Botol Pinilis kepada Cocak Prahara berlima dengan tertawa lebar.

Cocak Prahara berlima mendongkol. Terus saja mereka melancarkan serangan bertubi-tubi.

Bayangan mereka berkelebatan. Mau tak mau Botol Pinilis mengimbangi dengan kecepatannya pula. Pikir pendekar itu :

'Benar-benar hebat dan berbahaya ilmu gabungan mereka. untuk bisa memecahkan tata perkelahiannya, aku harus dapat merobohkan salah seorangnya ...'

Oleh pikiran itu, segera ia memperhebat daya perlawanannya. Tangan dan kakinya menyambar- nyambar bagaikan kilat menusuk cakrawala; Namun sudah sekian lamanya ia berusaha, tetap saja tak manpu menyentuh lawannya. Mau tak mau ia jadi sibuk sendiri. Cocak Prahara berlima sebenarnya heran dan kagum juga. Sama sekali tak diduganya, bahwa pendekar yang tampahnya mirip orang dusun itu dapat mengadakan perlawanan. Pembelaannya rapat dan rapi, meskipun kena rangsakan serta kepungan hebat.

Sudah barang tentu Botol Pinilis t idak dapat membaca gejolak hati dan pikiran lawannya, seluruh perhatiannya ditumpahkan kepada cara kelima lawannya menyerang dirinya. Adakalanya salah seorang menendang dari depan. Kemudian dengan sekonyong-konyong melesat kesamping. Dan pada saat itu seorang lagi menyerang sengit menggantikan kedudukannya. Yang datang dari sebelah kiri mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Lalu menyambar hendak memeluk. Mau tak mau Botol Pinilis terpaksa mundur. Diluar dugaan lawan yang berada dibelakangnya mengayun kakinya hendak mendupak.

"Hebat! Benar-benar hebat!" pikirnya berkeringat. Makin lama makin hebat cara menyerang Cocak

Prahara berlima. Corak-ragamnya makin beraneka macam. Botol Pinilis merasa diri benar-benar repot. Untuk mengurangi ancaman bencana, segera ia mengeluarkan dua senjata andalannya. Sebatang tongkat pendek dan sebuah bindi tipis mirip perisai. Katanya didalam hati menghibur diri :

'Aku seorang diri, sedang mereka berlima. Rasanya tiada akan melunturkan pamor rumah perguruan, apabila aku terpaksa bersenjata .. '

Dengan pertimbangan demikian, ia kini dapat mengadakan perlawanan makin gigih. Setiap kali ia berusaha mencari jalan keluar membobol pengepungan mereka dengan tusukan serta tikaman tongkatnya yang berujung tajam.

Tak usah menunggu lama lagi, maka Cocak Prahara berlima kerepotan menghadapi tongkat Botol Pinilis yang berbahaya. Hampir hampir mata rantai bobol. Cepat- cepat Cocak Prahara berseru dengan kata-kata sandi :

"Angin t iba! Mari kita pasang layar!"

Cocak Rawun dan Sondong Pawit yang berada di luar gelanggang segera berlari-larian membawa senjata. Kemudian dilempar-lemparkan seolah-olah sedang, melancarkan suatu serangan rangsakan Tapi dengan tiba-tiba saja, ruyung, tombak maupun golok, tongkat besi dan caneti baja sudah berada dalam genggaman majikannya masing-masing.

Pe rtempuran kini makin menjadi seru dan sengit luar biasa. Masing-masing terancan bahaya maut. Mereka yang menyaksikan di luar gelanggang menahan napas oleh rasa tegang dan kagum.

Puguh Harimawan sibuk bukan main, melihat gurunya terancam bahaya pengepungan yang sangat kuat. Terasalah di dalam hatinya, bahwa ilmu kepandaiannya sangat dangkal. Dan yang sama sekali tak berdaya untuk memberi pertolongan atau bantuan. Tetapi ia tidak rela gurunya terancam bahaya begitu dahsyat. Tiba-tiba saja ia melompat hendak memasuki gelanggang dengan memutar goloknya. Diluar dugaan, baru saja ia bergerak, sekonyong-konyong berkelebatlah sesosok bayangan didepannya. Tahu-tahu pundaknya kena ditekan. Ia kaget. Dalam rasa kagetnya ia membabat kan goloknya. Heran! Tangannya tak dapat digerakkan. Pundaknya seperti kena tindih batu sebesar gardu penjagaan. "Kakang Harimawan! Jangan bergerak'. Sayangilah jiw amu!" terdengar suara mencegah maksudnya .

Harimawan menoleh. Ternyata yang menekan pundaknya adalah si paman cilik. Tadi ia menyaksikan betapa Lingga Wisnu dengan mudah saja dapat mengalahkan Buyut Sodana. Dalam hatinya, ia tidak yakin kegagahannya. Tetapi kini barulah ia sadar, betapa dahsyat, tenaga si paman cilik itu. Dengan sekali tekan saja, kedua tangannya seolah-olah lumpuh. Mau tak mau kini ia harus patuh kepada tiap ucapannya.

"Tak usahlah engkau terlalu sibuk. Gurumu masih sanggup melayani mereka," kata Lingga Wisnu sambil menarik tangannya.

Puguh Harimawan mengerinyitkan dahi. Benarkah gurunya masih sanggup melayani kelima lawannya itu? Ia mencoba menyabarkan diri dan berusaha yakin terhadap: penglihatan Lingga Wisnu. Dengan seksama ia mengikuti jalannya pertempuran.

Dalam pada itu, Lingga Wisnu sendiri mengikuti pertempuran itu dengan pengamatan. Kadang kadang ia mendongak kearah genting dengan berdiam diri. Agaknya ia terbentur pada suatu persoalan yang sulit.

Suskandari yang semenjak tadi memperhatikannya, mendekati sambil menegor :

"Kakang Lingga kenapa engkau tidak segera membantu paman Botol Pinilis? Betapa tangguh paman Botol Pinilis, kalau dikerubut lima orang terus-menerus, akan kerepotan juga akhirnya."

Lingga Wisnu tidak menyahut. Dengan suatu gerakan tangan, ia mengharapkan agar Suskandari mundur. Dan Suskandari benar-benar mundur dengan wajah lesu. Sebaliknya Sekar Prabasini diam-diam bersyukur hati, melihat Lingga Wisnu menolak kehadiran Suskandari. Dengan lapang dada, ia kini dapat mengikuti pertempuran di tengah gelanggang yang makin menjadi seram. 

Botol Pinilis mencoba menghantam salah seorang musuhnya. Berulangkali dan makin lama makin cepat. Namun tetap saja, musuhnya tak dapat disentuhnya. Bahkan senjata mereka tak pernah bentrok. Masing- masing berusaha menghindarkan suatu benturan.

Pada saat itu, sekonyong-konyong Lingga Wisnu menghampiri Suskandari. Katanya dengan suara ringan :

"Adik, maafkan sikapku tadi. Aku sedang berusaha memecahkan suatu teka-teki. Sekarang aku sudah berhasil ..."

"Maaf? Apakah yang harus kumaafkan?" sahut Suskandari. "Kau bantulah paman Botol Pinilis."

Lingga Wisnu tertaw a. Pandang matanya berseri-seri.

Sahutnya :

"Teka-teki itu sudah berhasil kupecahkan. Sekarang tidak perlu bercemas-cemas lagi."

Sepasang alis Suskandari berdiri tegak. Dengan pandang menebak-nebak, ia berkata :

"Sebenarnya engkau lagi membicarakan apa? Soal teka-teki itu nanti kita pecahkan bersama, bila pertanpuran sudah selesai."

Mendengar ucapan Suskandari, kembali lagi Lingga Wisnu tertaw a. Sahutnya : “Yang kupikirkan justru tentang pertempuran itu. Cara bertempur merekalah yang kusebut sebagai teka-teki. Coba katakan padaku, bagaimana cara kita menghancurkan barisan Panca sakti mereka. Maka amatilah lagi dengan seksama, betapa mereka tak sudi bentrok."

"Ya, kenapa?" Suskandari kini tertarik hatinya .

"Sebab bentrokan itu sendiri berarti kehilangan waktu. Jadi t itik-tolak ilmu gabungan Panca-sakti ini berdasarkan kecepatan bergerak. Itulah sebabnya, bilamana kita ing in menecahkan mata rantainya, harus mengimbangi dengan kecepatan pula. Tegasnya, kita harus sanggup mengadu kecepatan. Dan barulah kita berhasil."

Suskandari terbangun semangat tempurnya. Tetapi kemudian berkata penuh bimbang :

"Mereka sudah berlatih diri dengan sempurna. Gerak- geriknya gesit dan nampak wajar sekali! Bagaimana kita bisa berlomba mengadu kecepatan dengan mereka?"

Lingga Wisnu bersenyum. Alasan dan kesangsian Suskandari masuk akal. Setelah menatap wajah gadis itu beberapa saat lamanya ia berkata memutuskan :

"Aku akan mencoba. Hanya sekarang, pinjami lah aku tusuk-kondenu."

Dengan pandang penuh pertanyaan, Suskandari mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari emas dan bermata berlian. Kemudian diserahkannya kepada Lingga Wisnu - Kata pemuda itu :

"Aku akan melayani mereka dengan tusuk konde ini." "Akh" seru Puguh Harimawan dan Suskandari berbareng. Mereka kemudian tertaw a lebar. Dalam hati mereka menganggap ucapan Lingga Wisnu, sekedar bergurau saja. Betapa tidak? Meskipun terbuat dari emas, tusuk konde itu mudah sekali patah. Apalagi manakala terbentur senjata tajam yang bertenaga penuh.

Lingga Wisnu tidak menghiraukan kesan hati mereka berdua. Dengan pandang tajam ia berteriak kepada Botol Pinilis :

"Kakang Botol Pinilis! Dari Kurantil injaklah pintu Gedong tengah. Kemudian dari Baruna lew atlah pintu Trenggana."

Itulah istilah-istilah sandi yang hanya di ketahui oleh pendekar kelas utama. Dan mendengar seruan itu, Cocak Prahara berlima terkejut heran. Pikir mereka menebak- nebak: 'Ha, kenapa bocah itu mengetahui rahasia ilmu Panca Sakti? Siapa yang mengkisiki?,

Sebaliknya, Botol Pinilis tidak segera mengerti akan kata-sandi itu. Ia harus berpikir dua kali lipat dahulu sebelum menangkap arti terjemahannya. Lingga Wisnu sendiri tidak perduli, apakah kakak seperguruannya mengerti akan istilah-istilah sandi itu. Setidak-tidaknya dengan membongkar rahasia titik-tolak ilmu Panca sakti, akan mengacaukan pemusatan lawan. Teriaknya berturut-turut :

"Nagapasa menyambar Baruna. Masuk ke dalam segera Muncar dan menghilang lew at Girilaya."

Mau tak mau Botol Pinilis terpaksa berpikir. Apa maksud Lingga Wisnu? Mustahil adiknya seperguruan itu berteriak-teriak tanpa tujuan. Teringatlah dia, bahwa sekian kali ia berusaha menerobos kepungan Cocak Prahara, akan tetapi tetap saja tak berhasil. Apakah Lingga Wisnu bermaksud memberi petunjuk padanya, caranya menerobos barisan ilmu Pancasakti?

Beberapa saat lamanya ia mencoba menterjemahkan kata-kata sandi itu. Kemudian memutuskan di dalam hati:

'Akh, benar!   Dia   membicarakan   keblat   penjuru.

Kenapa tidak kucoba?'

Ia menunggu saatnya yang baik Kemudian dengan tiba-tiba ia melesat ke kiri melalui pintu Gedong Tengen dan melompat ke pintu Nagapasa. Ternyata ia memperoleh lowongan. Segera ia hendak menerobos keluar. Mendadak saja ia mendengar seruan Lingga Wisnu :

"lew at Girilaya! Lew at Girilaya!"

Botol Pinilis terkejut. Girilaya adalah kata sand i Barat daya. Terus saja ia melemparkan pandangnya ke sasaran itu. Tapi di pintu itu Cocak Rawa dan Cocak Mengi menjaga dengan ketatnya. Ia berbimbang-bimbang sejenak. Kemudian memutuskan lagi: ‘Akh, tak mungkin Lingga Wisnu salah melihat,'

Ia percaya benar kepada penglihatan adik seperguruannya yang cerdas dan luar biasa. Segera ia melesat ke Barat daya sambil mengirimkan gempuran. Cocak Pawa dan Cocak Mengi tahu akan tugasnya. Bila musuh datang menyerang, segera mereka memecah diri. Kedudukannya akan digantikan Cocak Prahara dan Cocak Ijo. Itulah rahasia ilmu mata rantai Pancasakti. Tapi baru saja mereka hendak memecah diri, tahu-tahu Botol Pinilis telah menerjangnya. Murid Kyahi Sambang Dalan ini menghantamkan bindi perisai nya ke kiri dan ke kanan untuk mencegah masuknya Cocak Prahara dan Cocak Ijo. Tongkat bajanya mengejar kedudukan Cocak Rawa dan Cocak Mengi yang bergerak hendak memecah diri. Oleh serangan diluar dugaan in i, mereka berempat terkejut. Cepat-cepat mereka merapat hendak bergabung. Tapi dengan gerakan yang cepat luar biasa, Botol Pinilis berhasil lo los dalam sekejab mata saja. Tahu-tahu ia sudah berdiri tegak disamping Lingga Wisnu.

Cocak Prahara tercengang-cengang menyaksikan hal itu. Inilah untuk yang pertama kalinya mereka kehilangan sasarannya. Bagaimana Botol pinilis bisa lolos dari kepungan yang rapat luar biasa? Puluhan tahun merela malang melintang menguji ketangguhan ilmu Panca Sakti. Selama itu tak teralahkan dan tak pernah gagal Oleh Ingatan ini mereka jadi penasaran. Kenyataan sebentar tadi terlalu menyakitkan. Serentak mereka mundur dan merapikan diri Dan berkatalah Cocak Prahara dengan nyaring kepada Botol Pinilis :

"Kau bisa lolos dari mata rantai kubu-kubu Panca Sakti. Artinya ilmu kepandaianmu bukan sembarangan. Ilmu tata berkelahimu mengingatkan kami pada aliran Sekar Teratai. Bagaimana kau sebut sang serba pandai Kyahi Sambang Dalan?"

"Beliau adalah guruku," sahut Botol Pinilis. "Bagaimana, apakah aku menurunkan pamor rumah perguruan Sekar Teratai?"

Cocak Prahara mendengus. Katanya mendongkol : "Hmm, pantas. Corak perkelahianmu membaw a ragam aliran Sekar Teratai. Apakah kau kira kami tak tahu?"

Botol Pinilis tahu, Cocak Prahara berlima penasaran. Ia menghela napas. Kemudian mengalihkan pembicaraan :

"Kita sudah bertempur. Masing-masing sudah berusaha menjatuhkan lawan. Aku kau kerubut dengan berlima. Ternyata aku tak sanggup merobohkan. Begitu pula kalian berlima. Inilah yang disebut orang setali tiga uang. Sekarang, bagaimana baiknya kita mengatur emas itu?" berhenti menebarkan penglihatannya. Kemudian ia menoleh kepada Anjar Semaja. Katanya :

"Urusan perdagangan kita sudah selesaikan? Nah, kau boleh pergi!"

Sebat kata-kata Botol Pinilis bagi pendengaran Anjar Semaja. Sebagai seorang pemimpin berandal, biasanya ia dihormati dan disanjung puji. Sekarang ia kena hina di depan orang banyak.

Celakanya ia merasa diri tak sanggup melawan pula. Maka dengan suara besar, ia menyahut :

"Hei, Botol Pinilis! Jangan engkau pasti dan menepuk dada. Pada suatu hari nanti engkau pasti akan jatuh ditanganku. Aku, Anjar Semojo, masakan dapat kau buat main-main? Hari ini memang aku baru naas. Tapi besok atau lusa, aku akan bangun sebagai Gatutkaca ..."

Botol Pinilis tertaw a. Katanya : "Kalau kau bisa bangun Gatutkaca, jangan lupa pakai baju kaos Ontokusuma! Kalau t idak, kau bakal jadi ayam terondol. Selamat jalan - selamat jalan! Mas Gatutkaca

..."

Bukan main mendongkol Anjas Semojo. Wajahnya sampai merah biru. Tetapi ia mati kutu. Berkelahi kalah, mengadu mulut kalah pula Maka ia terpaksa mengajak pergi rombongannya meninggalkan gedung pertempuran. Di dalam hati ia mengharap, tuannya bersikap acuh tak acuh. Karuan saja hatinya ingin meledak. Beberapa saat kemudian, Cocak Prahara berkata kepada Botol Pinilis :

"Tuan, kau ternyata seorang, pendekar yang berhak hidup pada zaman ini. Kepandaianmu patut kami hargai. Karena itu, perkara emas, baiklah kita atur begini. Kau bawalah yang separuh”

Cocak Prahara selamanya mau menang sendiri. Tapi kali ini ia mau mengalah, mengingat Botol Pinilis adalah salah seorang anggauta Sekar Teratai. Kalau muridnya saja sudah demikian hebat apalagi gurunya. Dan ia tak mau menambah jumlah musuh lagi. Terlalu berat akibatnya, apabila sampai bermusuhan dengan Sekar Teratai. Maka keputusannya itu rasanya sudah cukup pantas dan adil.

Botol Pinilis tertaw a lebar. Katanya :

"Aku menghargai pertimbanganmu. Sayang bahwa emas itu bukan milikku pribadi. Sekiranya demikian, aku akan menerima keputusanmu. Untuk seorang sahabat, kenapa aku terlalu kikir? Tapi emas itu milik laskar Panglima Sengkan Turunan. Uang perbekalan untuk modal melawan kompeni Belanda dengan begundal- begundalnya, Muridku yang tolol itulah yang tadinya diserahi tugas pengaw alan. Tapi ditengah jalan kena rampas salah seorang anggauta keluargamu. Maka aku berkewajiban mengembalikan emas itu seutuh-utuhnya kepada, pemiliknya. Kalau tidak, bagaimana aku harus mempertanggung jaw abkan?"

Selagi Cocak Prahara hendak membuka mulutnya, tiba-tiba Cocak Abang menimbrung. Kata pendekar berangasan itu :

"Perkara emas, jangan diperdebatkan berkepanjangan! Kau boleh membaw anya, asal bisa memenuhi dua syarat„"

"Akh, begitu? Coba katakan syarat apa itu? Sekiranya terlalu berat, aku akan mencoba menawarnya," sahut Botol Pinilis dengan suara tenang. "Bukankah dalam penghidupan ini berlaku pula soal tawar-menaw ar?"

'T idak! Tidak ada tawar-menaw ar lagi!" bentak Cocak Abang sengit. "Syarat pertama: kau harus memberi ganti atas kerugian kami. Dan emas boleh kau bawa!"

"Berapa jumlahnya?" potong Botol Pinilis.

"Bukan soal jumlah atau nilai. Yang penting, engkau harus membawa barang semacam alat penebus. Itulah peraturan kami yang sudah berjalan semenjak aku belum lahir. Artinya,kau menghargai kami."

Botol Pinilis tersenyum seraya memanggut. Tahulah dia, bahwa syarat itu adalah soal kehormatan. Karena itu, tidak lagi ia bergurau. Berkata dengan suara sungguh-sungguh: "Baiklah, akan aku penuhi syarat itu. Esok hari, biarlah aku ke Madiun untuk memilih barang penukar yang cukup berharga. Selain itu aku akan mengadakan pesta perpisahan pula sebagai pernyataan rasa terima kasih. Boleh bukan aku mengundang beberapa orang penduduk? Nah, sekarang, katakanlah syarat yang kedua! Ingin aku mendengar bunyinya."

Cocak Abang kelihatan puas mendengar perkataan serta melihat Botol Pinilis. Kemudian berkata lagi :

"Baik. Syarat kedua sederhana saja. Bocah itu, tinggalkan disini."

"Bocah yang mana?" Botol Pinilis heran "Apakah muridku? Akh, dia seorang yang tolol. Rasanya tiada gunanya ..."

"Bukan. Bocah itu! Bocah yang bernama Lingga Wisnu."

Botol Pinilis terkejut. Pikirnya di dalam hati: 'Lingga Wisnu adalah adik seperguruanku. Dialah murid kesayangan guru. Melihat sikap Cocak Prahara, keiuafc£a Dandang Mataun menghargai guru. Apa sebab sekarang hendak menahan murid kesayangannya? Akh, pastilah ini hanya suatu dalih belaka, untuk menimbulkan gara-gara saja ..'

Botol Pinilis tidak mengetahui latar belakang persoalannya. Bahwasanya Lingga Wisnu mempunyai sangkut-paut dengan kepentingan keluarga Dandang Mataun. Bahwasanya diapun seorang ahli waris pendekar Bondan Sejiw an yang ditakuti, orang pada zamannya.

Lingga Wisnu terlalu mengetahui rahasia keluarga Dandang Mataun dengan pendekar Bondan Sejiw an. Karena itu Cocak Prahara berlima bertekad hendak membinasakan bocah itu. Mereka tahu, kepandaian Lingga Wisnu sangat tinggi. Tetapi mereka percaya, bahwa ilmu Panca Sakti keluarga Dandang Mataun tidak bakal kena dirobohkan.

Dalam pada itu, Botol Pinilis yang tak mengetahui latar belakang persoalannya, mencoba mengendorkan ketegangan baru yang tidak diharapkan, Ia tertaw a lebar. Kemudian mencoba berkelakar. Katanya :

"Adikku seperguruan ini, seorang anak yang doyan makan. Kalau dia kalian harapkan tinggal disini, wah! jangan-jangan dia akan menghabiskan beras persediaan keluarga besar Dandang Mataun. Apakah kalian tidak akan rugi nanti?"

Puguh Harimawan kenal akan watak dan tabiat gurunya. Bila dia bergurau, artinya mengandung ancaman. Pastilah pertempuran seru bakal terulang kembali. Maka dengan tajam, diam-diam ia memegang senjatanya erat-erat.

Cocak Prahara yang masih memegang tombaknya, menyahut dengan suara tegas :

"Adik seperguruanmu tadi, pandai mengajari engkau bagaimana caramu bisa lolos dari mata-rantai jala Panca- sakti. Agaknya dia mengenal ilmu gabungan kami Panca- sakti. Maka biarlah kami mencoba-coba kepandaiannya."

Ilmu gabungan Panca-sakti yang merupakan jala tak tertembus oleh macam kepandaian apapun, terdiri dari lima tataran. Tadi, tatkala menghadapi Botol Pinilis, baru sampai pada tataran kedua. Masih sanggupkah Botol Pinilis menghadapi yang tiga tataran lagi? Mustahil! Cocak Prahara berlima tidak percaya, bahwa di dunia ini masih ada seseorang yang bisa merobohkan ilmu sakti kebanggaan keluarga Dandang Mataun turun temurun.

Botol Pinilis tahu diri Dia seorang pendekar yang cermat dan berhati-hati menghadapi semua persoalan. Tadi ia merasakan, betapa hebat daya perlawanan dan rangsakan ilmu Panca- sakti. Pikirnya di dalam hati :

'Dengan pengalamanku belasan tahun, masih tak dapat aku menembus mata-rantai pertahanannya. Apalagi mencoba mengetahui kunci rahasianya. Apakah Lingga Wisnu sanggup menghadapinya? Ajaran yang diperolehnya sama dengan apa yang aku peroleh dari guru. Walaupun cerdas, dalam hal pengalaman aku menang jauh. Benar dia dapat memberi kisikan dan petunjuk-petunjuk bagaimana caraku bisa meloloskan diri dari kepungan mereka. Tetapi hal itu terjadi, karena dia tidak bertempur langsung. Ku-umpamakan seorang penonton pertandingan catur yang dapat melihat kelemahan lawan. Sebaliknya bila dia bertempur secara langsung, akan lain halnya. Sebab dia tidak memperoleh kesempatan untuk berpikir dan menimbang-nimbang kemungkinan-kemungkinannya sedikit saja salah langkah atau lalai, berarti menghadapi maut. Apakah ... apakah

... akh .... mustahil dia sanggup merobohkan mereka ...'

Oleh pertimbangan ini, dengan hati-hati Botol Pinilis berkata :

"Ilmu sakti keluarga Dandang Mataun tiada keduanya di dunia. Terlalu hebat! Terlalu hebat untuk dicobanya terhadap adikku seperguruan karena dia belum pandai beringus. Lihatlah, usianya pantas kalau menjadi cucu kalian. Benar-benar tidak seimbang dengan kedudukan kalian, apa keuntungannya untuk mempersulitnya? Bila dia pernah berbuat kurang ajar terhadap kalian, biarlah kalian menunjuk seseorang untuk mewakili kalian menghajarnya sampai jera sebagai hukumannya."

Botol Finilis kelihatan bersikap mengalah. Tapi sebenarnya ia mempunyai perhitungannya sendiri. Ia percaya, adiknya seperguruan itu tidak bakal kena dikalahkan bila berlawan-lawanan seorang demi seorang. Bahkan dia masih sanggup menghadapi dua lawan sekaligus. Tadi ia menyaksikan sendiri, betapa Buyut Sodana dapat dirobohkannya dengan mudah.

Cocak Rawa yang pandai membakar hati segera mengetahui Botol Pinilis. Ia tak sudi kalah gertak Maka berkatalah dia sambil mencibirkan bibirnya :

"Sekar Teratai mempunyai nama besar semenjak puluhan tahun yang ialu. Akh, tak mengira sama sekali bahwa anak-anak muridnya kuncup hatinya begitu mendengar nama ilmu Panca sakti. Benar-benar diluar dugaan. Baiklah, kalau begitu, semenjak hari ini orang tak perlu bersegan - segan lagi. terhadap Sekar Teratai. Pan kuharap, kamu menyempaikan salamku kepada gurumu, bahwasanya lebih baik nama Sekar Teratai terhapus saja dari percaturan masyarakat ..."

Puguh Harimawan mendongkol bukan main mendengar ucapan Cocak Rawa. Terus saja ia melompat maju tanpa persetujuan gurunya. Katanya dengan membentak :

"Kau bilang Sekar Teratai" lebih baik lenyap dari percaturan masyarakat? Huh, kau kira kami gentar menghadapi kalian?" "Kalau begitu, kaulah saja yang maju," sahut Cocak Rawa dengan tertawa merendahkan.

Puguh Harimawan benar-benar tidak gentar sedikitpun. Kakinya bergerak hendak melangkah maju. Tiba-tiba tangannya kena ditarik Lingga Wisnu. Kata paman cilik itu :

"Kakang Harimawan. Biarlah aku maju lebih dahulu.

Apabila aku gagal, barulah kakang membantunya diriku." Puguh Harimawan menanggut. Sahutnya :

"Baik. Begitu membutuhkan aku, panggillah namaku

saja, Harimawan atau Puguh begitu saja. Tak usah menyebutku kakang segala. Bukankah kau justru pamanku?"

Lingga Wisnu tersenyum. Ia mengangguk pendek Dan Suskandari tertaw a geli.

"Apa yang kau tertaw akan?" Puguh Harimawan menegur dengan mata melotot.

"Akh, tak apa-apa. Aku hanya ingin tertawa. Dan akupun tertawa” jawab Suskandari manis.

Tak puas Puguh Harimawan mendengar jawaban Suskandari. Ingin ia menegas. Tapi pada saat itu, dilihatnya Lingga Wisnu sudah melompat memasuki gelanggang. Benar-benar dia hanya bersenjatakan sibatang tusuk konde Suskandari.

"Aku Jingga Wisnu. Dengan ini ingin aku berkenalan dengan gabungan ilmu Pancasakti keluarga Dandang Mataun. Selama hidupku belum pernah aku melihatnya!" seru Lingga Wisnu "Hm, pupukmu belum lagi kering. Tapi lagamu seperti pendekar bangkotan!" teriak si berangasan Cocak Abang. "Kau berlagak mengenal rahasia kubu Panca Sakti. Huu, apa sih modalmu?

Lingga Wisnu menatap wajah Cocak Prahara berlima dengan tenang. Ia seperti berpikir sejenak. Kemudian berkata perlahan :

"Ilmu Panca Sakti adalah gabungan ragam ilmu kepandaian yang maha dahsyat. Seumpama bukan paman yang menghendaki, pastilah aku tidak berani untuk mohon agar Panca Sakti diperlihatkan dihadapanku. Paman tadi menyebut kubu Panca Sakti. Bagus! Nah, ingin kulihat bagaimana macamnya!"

"Kakang! Jangan terjebak!" seru Cocak Ijo memperingatkan.

"Jangan terjebak apa" Puguh Harimawan melotot. Kami tidak pernah main jebak-jebakan seperti kamu. Kami selalu berbicara terang dan berhadap-hadapan. Kalau yang kami maksudkan satu, kamipun akan bilang satu. Tetapi kamu Huuu ..."

Mendengar ucapan Puguh Harimawan, kembali lagi Suskandari tertaw a. Lingga Wisnupun tertawa pula. Katanya kepada si semberono :

"Mereka orang-orang berusia lanjut, tidak bakal mempedayakan kita yang masih muda. Kau tak perlu kuatir, kakang Puguh!" Setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Cocak Prahara berlima. Berkata: "Aku sudah siap. Aku harap hendaklah paman sekalian menaruh belas kasihan kepadaku ..." Cocak Prahara heran. Mendengar ucapannya, jelas sekali Lingga Wisnu merasa gentar terhadap Panca Sakti. Akan tetapi, sikapnya sangat tenang. Gerak-geriknya yakin.. Pandang matanya sama sekali tiada membayangkan rasa takut atau cemas. Benar-benar mereka tak dapat menebak hati anak muda itu.

Mereka tahu, Lingga Wisnu berkepandaian tinggi. Maka tak berani mereka menganggapnya sebagai lawan yang ringan. Dengan suatu isyarat tangan, mereka mulai bersiap. Cocak Rawa dan Cocak Abang melesat ke kanan. Ketiga saudaranya mengikuti gerakannya dengan menempati kedudukan masing-masing. Sebentar saja lingga Wisnu sudah terkurung rapat.

Tetapi Lingga Wisnu kelihatannya acuh tak acuh, Sana sekali ia tak bergerak. Bahkan tiba-tiba ia membungkuk memberi hormat. menegas :

"Apakah kita bertempur diluar panggung?"

"Ya Tak usah diatas panggung," sahut Cocak Prahara. "Nah, keluarkan senjatamu!"

Lingga Wisnu tersenyum, kemudian memperlihatkan tusuk konde Suskandari Berkata :

"Paman sekalian adalah angkatan tua. Betapa aku berani melawan paman sekalian dengan menggunakan senjata tajam? Maka biarlah aku menggunakan tusuk konde ini untuk menghadapi paman sekalian."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, baik Cocak Prahara berlima maupun hadirin lainnya terheran-heran Banyak di antara mereka yang menganggap Lingga Wisnu seorang anak yang takabur. Apa artinya sebatang tusuk konde? Semua orang tahu, bahwa tusuk konde amat mudah patah. Betapa mungkin dapat diadu dengan senjata Cocak Prahara berlima yang serba kokoh.

Botol Pinilis membungkam mulut semenjak tadi. Tetapi diam-diam ia mempersiapkan kedua senjat andalannya untuk menolong adik seperguruannya manakala terancam Bahaya. Kepada Puguh Harimawan dan Suskandari ia berkata :

"Musuh kita terlalu kuat, sedang jumlah kita hanya empat orang. Apabila sebentar aku memberi tanda, segeralah kamu berdua meloncat ke atas genting dan larilah secepat cepatnya. Aku dan adik Lingga akan melindungimu untuk menghadang musuh. Jangan kamu berdua memperdulikan kami. Walaupun kami terancam bahaya apapun juga, janganlah kamu mencoba-coba untuk membantu. mengerti?”

Botol Pinilis berpesan demikian, karena mempunyai perhitungannya sendiri. Meskipun seumpama Lingga Wisnu mempunyai kepandaian yang berarti, belum juga dapat menandingi Cocak Prahara berlima. Andaikata diapun membantu pula, juga belum berarti banyak. Tetapi ia percaya, bahwa baik Lingga Wisnu maupun dirinya sendiri, pasti dapat lolos dari bahaya ancaman mereka. Sebaliknya, tidak demikian halnya dengan Puguh Harimawan dan Suskandari, apabila mereka berdua kena kepung. Itulah sebabnya, mereka harus lari mendahului. Dikemudian hari, mereka berdua bisa diharapkan lapor kepada panglima Sengkan Turunan. Sedangkan dia sendiri akan balik kembali setelah memperoleh bantuan dari sahabat sahabatnya. Pastilah gurunya dan Ki Ageng Gumbrek tidak akan tinggal diam. Dan jika mereka semua datang kembali, ilmu Panca sakti keluarga Dandang Mataun pasti bisa dirobohkan. Dia tidak mengharapkan bantuan Lingga Wisnu, sebab meskipun berkepandaian cukup, pastilah masih kurang masa latihannya.

o))0ooo.dw.ooo0((o

Dalam pada itu, semua yang berada di dalam gelanggang pertempuran sudah siap siaga. Tetapi Lingga Wisnu masih belum merasa puas. Nampaknya seakan- akan melihat sesuatu yang masih kurang. Akhirnya ia berkata :

"Paman Cocak Prahara sekalian. Aku berterima kasih karena paman sekalian sudi memberi pengalaman kepadaku. Hanya saja menurut tanggapanku, masih kurang lengkap. Tadi, aku mendengar istilah kubu. Apakah bukan Kubu Penjuru Delapan?"

Cocak Prahara berlima heran tercengang cengang.

Menegas :

"Kubu Penjuru Delapan?"

"Benar. Kubu Penjuru Delapan. Itulah suatu Kubu yang melindungi gerakan Panca Sakti. Bukankah demikian?" sahut Lingga Wisnu. "Nah, aturlah sekalian, agar aku dapat memperoleh pengalaman lebih luas lagi."

Cocak Mengi yang tidak sabaran, lantas membentak : "Bagus! Kau sendirilah yang meminta. Maka jika kau

mampus,    jangan    sesali    siapapun    juga.    Setelah

membentak demikian, ia berpaling kepada Cocak Rawun dan Sondong Rawit. Memerint ah :

"Semua maju!" Oleh perint ah Cocak Mengi, Cocak Raw un dan Sondong Rawit segera mengangkat tangannya memberi isyarat aba-aba. Dan muncullah lima belas orang yang segera bergerak mengepung.

Melihat bertambahnya anggauta lawan yang bergerak di atas gelanggang pertempuran. Botol Pinilis tertegun- tegun. Mulutnya bergerak hendak menegor kesemberonoan adik seperguruannya - akan tetapi pada saat itu pula timbullah pikirannya bahwa tegorannya itu pasti t iada guna nya lagi. Oleh pikiran itu ia batal sendiri. Sekarang ia memperhatikan mereka semua yang sedang bergerak-gerak dan berputar-putar mengurung Lingga Wisnu. Mereka terdiri dari laki laki dan perempuan Gerakan mereka rapih dan cekatan. Matu tak mau ia jadi kagum. Pikirnya didalan hati: 'Belasan tahun aku berkelana untuk menambah pengalaman dan pengetahuan. Tetapi baru kali ini aku melihat barisan Kubu pertahanan yang dahsyat dan rapih. Mereka bergerak dengan berlari-larian. Namun tiada terdengar suara langkahnya sama sekali. Akh, Lingga benar-benar semberono. Melayani lima orang saja, sudah sulit, apalagi menghadapi belasan orang. Bagaimana aku harus menolong menembus mata rantai mereka berlima? Mungkin sekali aku masih mempunyai harapan. Tetapi untuk mencoba menembus sekian orang yang selalu bergerak berlari-larian diluar mata rantai Panca Sakti ... hmm. Rasanya biarpun aku merubah diri menjadi seekor lalat, rasanya tak akan mampu Akh, Lingga, benar-benar kau tak tahu diri ...’

Benar-benar Eotol Pinilis tertegun tegun, dalam keraguannya yang mence maskan dirinya sendiri. Tetapi Lingga Wisnu sendiri nampak tenang tenang saja. Ia menjepit tusuk konde Suskandari dengan jari-jari tangan kanannya. Tangan kirinya dilancangkan ke depan dan ditekuk sedikit seolah-olah seekor ular hendak menyambar mangsa.    Kemudian    kedua    kakinya mulai melebar. Tiba-tiba ia bergerak dan lari berputaran. Setelah empat lima kali, ia berbalik merubah jurusan dengan mendadak pula.

Melihat gerakan Lingga Wisnu, Cocak Prahara berlima memusatkan seluruh perhatiannya. Sedangkan pandang mata mereka tak berani beralih dari gerak-gerik Lingga Wisnu yang penuh teka-teki. Sebab sudah sekian lamanya ia berputar-putar, masih saja belum ada tanda- tandanya hendak menyerang:

Botol Pinilis maupun Cocak Prahara berlima, tidak mengetahui bahwa Lingga Wisnu sebenarnya sedang melakukan ajaran-ajaran warisan pendekar Bondan Sejiw an. Dahulu, tatkala Bondan Sejiw an lolos dari kepungan Cocak Prahara berlima, ia mengeram diri di dalam goanya. Terus-menerus tak kenal berhenti, pendekar yang mengandung dendam kesumat itu mencari-cari jalan keluar untuk dapat memecahkan rahasia Kubu Penjuru Delapan dan kehebatan Panca Sakti. Pada tahun-tahun pertama, belum juga ia berhasil menemukan t itik-tolak apa sebab Kubu Penjuru Delapan dan Panca Sakti bergerak terus saling menyusul, sampai, lawannya kena dirobohkan. Asal yang satu bergerak, empat lainnya menyusul bergerak pula. Begitu terus- menerus, sehingga lambat laun membuat pandang mata lawan kabur. Benar benar ia bingung dan tak dapat mengerti.

Pada suatu hari, Bondan Sejiw an keluar dari goanya. Dengan tertatih-tatih ia merangkak ke puncak gunung untuk mencari hawa segar. Tiba ba ia melihat seekor ular bergerak melingkar dan menegakkan kepalanya. Itulah kodrati gerakan seekor ular apabila merasa terancam bahaya. Ia bersiaga melawan berbareng menyerang. Tetapi dia tak akan menyerang, apabila tidak didahului. Dan melihat tata laku ular itu, timbullan sepercik ilham di dalam benak Bondan Sejiw an. Y a, inilah cara yang praktis sekali untuk memecahkan ilmu Kubu Penjuru Delapan dan Panca Sakti sekaligus.

'Menunggu serangan lawan, kemudian baru bergerak untuk melawan!' katanya berulangkali di dalam hati.

Hatinya menjadi girang. Sebab lambat laun ia memperoleh keyakinan. Dan dengan keyakinannya itu, ia kembali ke goanya mengasah otak. Satu bulan lamanya ia mencoba memahami ilmu sakti kebanggaan keluarga Dandang Mataun, sampai akhirnya diketahuinyalah kelemahannya. Dengan ilmu ular itu sekarang ia sangguo memecahkan pertahanan Kubu Penjuru Delapan dan Panca Sakti. Dan penemuannya itu segera dicatat dalam buku warisannya. Setelah selesai, t imbullah pikirannya di dalam hati :

'Urat-uratku sendiri sudah terputus. Tak bisa aku berkelahi seperti dahulu. Adakah gunanya aku memperoleh rahasia perlawanan ilmu kebanggaan keluarga Dandang Mataun? Aku sekarang berada di dalam goa ini. Seratus tahun lagi ... mungkin seribu tahun lagi ... kitabku baru diketemukan orang. Tetapi pada saat itu, mereka semua sudah mampus! Hmm, benar-benar penasaran hatiku! Tapi baiklah ... meskipun andaikata Cocak Prahara berlima sudah mampus, ilmu kebanggaan mereka pasti ada yang mewarisinya. Kalau tidak ada daya perlawanannya, akan keturunan mereka pasti akan merajalela tanpa tandingan. Aku harap saja kitabku ini akan diketemukan orang dikemudian hari. Syukurlah bila Tuhan mengabulkan bisa diketemukan oleh seseorang yang bisa mewakili diriku membalas dendam selagi Cocak Prahara berlima masih hidup dalam keadaan segar-bugar. Bila hal. in i dikabulkan, ya Tuhanku, aku rela. Kau masukkan neraka sebagai penebusan.

Di alam bakapun Bondan Sejiw an tidak pernah mengira, bahwa pada hari itu seorang anak muda bernama Lingga Wisnu sedang mengadakan perlawanan terhadap kubu Panca Sakti keluarga Dandang Mataun dengan ilmu warisannya. Dia berputar-putar terus tanpa menyerang, untuk menunggu gerakan lawan. Itulah dasar rahasia kitab warisannya. Dan karena ia berlari- larian, semua lawannya ikut berlari-larian pula sambil mengaw askan gerak-gerik dengan cermat.

Lingga Wisnu tidak menghiraukan gerakan lawan Ia terus lari berputaran sekian lamanya. Sekonyong- konyong ia memperlambat diri. Makin lambat dan makin kendor. Namun sama sekali tidak nampak adanya suatu tata muslihat untuk menyerang. Akhirnya, bahkan berhenti sama sekali. Kemudian duduk memeluk lutut. Wajahnya nampak berseri-seri. Keruan saja mereka semua yang melihat perangainya menjadi heran. Seluruh keluarga Dandang Mataun tidak mengetahui, bahwa ini termasuk salah satu tipu-daya untuk melalaikan penjagaan. Disamping itu untuk membuat mereka kehilangan kesabaran pula.

Benar saja! Cocak Abang yang berangasan segera menggerakkan kedua tangannya untuk menyerang. Waktu itu ia berada dibelakang punggung. Lingga Wisnu, sehingga dapat menyerang secara gelap.

"Jangan! Jangan mengacaukan jalur jalur pembelaan!" Cocak Ijo memperingatkan.

Peringatan Cocak Ijo itu menyadarkan Cocak Abang. Segera ia menarik serangannya, kembali. Dan mereka lantas melanjutkan berlari-lari berputaran dengan penuh siaga, menerjang manakala lawannya menyerang. Tetapi Lingga Wisnu tetap duduk memeluk lutut. Mau tak mau manbuat mereka mendongkol Akhirnya saling pandang meminta, pertimbangan.

Cocak Prahara sebenarnya sudah kehilangan kesabarannya pula. Ingin ia memberi idzin adik-adiknya untuk menyerang. Tetapi hal itu bertentangan dengan dasar keharusan int i ilmu gabungan Panca Sakti. Maka meskipun hatinya mendongkol bukan main, tak berani ia melanggar int i keharusannya. Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah mempercepat larinya sambil menggertak-gertak. Iapun memberi isyarat mata kepada sekalian saudaranya agar meninggikan kewaspadaan.

Lingga Wisnu tetap bersikap adem saja. Malahan sekonyong-konyong menguap beberapa kali. Lalu tidur berbaring. Kedua tangannya dibuat alas kepala semacam bantal. Matanya menatap atap sambil diselingi menguap lebar-lebar

Bukan main mendongkol Cocak Prahara berlima. Kalau mereka harus berlari-larian terus, sedangkan lawannya enak-enak bertiduran sambil menguap, bukankah napasnya lambat laun akan kempes sendiri? Enambelas orang pimpinan Cocak Pawun yang harus berlari-larian pula untuk mengaburkan penglihatan lawan, diam-diam dihinggapi kegelisahan demikian juga. Namun secara naluriah mereka seakan-akan tahu, bahwa lawannya itu lagi melakukan suatu t ipu muslihat. Karena itu, meskipun napasnya lambat-laun mengangsur, tak berani mereka lalai sedikitpun. Tetapi mereka bukan Cocak Prahara berlima yang sudah mempunyai masa latihan puluhan tahun lamanya. Sejam kemudian, keringat mulai mengucur membasahi badan dan nafasnya mulai tersengat-sengal.

Dalam pada itu, Lingga Wisnu masih saja enak-enak melakukan peranannya. Berkata didalam hatinya, aku ingin tahu sampai kapan mereka bisa bersabar. Apakah mereka benar-benar mempunyai napas kuda?’ Dan diam- diam ia mencuri pandang untuk mengamat-amati gerakan mereka yanp tak kenal henti. Kemudian berpura- pura merapatkan matanya seolah-olah hendak tidur pulas.

Puguh Harimawan, Suskandari, Sekar Prabasini dan ibunya heran menyaksikan tingkah laku Lingga Wisnu. Dalam hati, mereka merasa lucu. Akan tetapi sesungguhnya diam-diam mereka cemas dan gelisah. Bagaimana kalau tiba-tiba lawannya menyerang dengan berbareng? Masih sanggupkah ia menolong diri?

Hanya Botol Pinilis seorang yang dapat menyadari maksud Lingga Wisnu Pastilah adiknya seperguruan itu sedang menguji kesabaran lawannya. Disamping itu hendak memancing kelengahannya pula. Walaupun begitu, perbuatan adiknya seperguruan itu memang terlalu berani. Bahkan suatu keberanian yang melampaui batas. Kalau saja lawannya menyerang dengan mendadak, apakah dia sanggup terbang menjangkau atap gedung untuk mengelakkan diri?

Pada saat itu, Cocak Prahara benar-benar tidak bersabar lagi. Diam-diam ia bersiap hendak menyerang apabila memperoleh waktunya yang baik. Manakala Lingga Wisnu tenggelam dalam keasyikannya sendiri, tiba-tiba ia memberi isyarat kepada Cocak Ijo dengan kibasan tangan kibasan tangan kirinya. Empat batang golok tahu-tahu menyambar dengan mendadak. Itulah golok terbang Cocak Ijo yang sudah terkenal semenjak belasan tahun yang lalu.

Puguh Harimawan, Suskandari, Sekar Prabasini dan Eotol Pinilis kaget santai memekik tertahan. Sedang ibu Sekar Prabasini menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, karena tak sampai hati menyaksikan peristiw a itu. Betapa tidak, karena empat batang golok terbang Cocak Ijo membidik sasarannya dengan jitu sekali

Sebaliknya pihak keluarga Dandang Mataun bersorak kegirangan. Mampuslah bocah itu! Empat batang golok terbang Cocak Ijo membidik sasarannya dengan jitu dan menancap dipunggung Beberapa orang anggauta barisan Kubu Penjuru Delapan sampai menghentikan larinya. Bukankah musuh sudah mampus?

Tetapi mereka tidak pernah mengira, bahwa tubuh Lingga Wisnu terlindungi baju sakti pemberian Ki Ageng Gumbrek yang tidak mempan oleh senjata tajam macam apa pun juga. Tiba-tiba saja bocah itu melesat bangun. Dan empat batang golok runtuh bergemelontangan di atas lantai . Pada detik itu pula Lingga Wisnu berkelebat melint asi mata-rantai penjagaan Cocak Prahara berlima yang masih tertegun mengaw asi akibat sambaran golok yang mengenai sasarannja. Tahu-tahu terdengarlah jerit lengking Sondong Rawit yang ternyata kena gaplok Lingga Wisnu dan melontakkan darah segar dengan serta merta. Selagi begitu, tubuhnya kena terangkat tinggi tinggi dan terlempar keluar dari garis pertahanan Kubu Penjuru Delapan.

Lingga Wisnu tidak sudi berhenti sampai disitu saja„ Itulah kesempatan yang sebagus-bagusnya. Dan ia hendak menggunakan kesempatan itu dengan sebaik- baiknya. Selagi Cocak Prahara berlima tertegun-tegun dan kelimabelas orang pembantunya terpaku oleh rasa kaget, ia menghantamkan tangan dan menendangkan kedua kakinya bertubi-tubi. Seorang demi seorang roboh tak berkutik. Kemudian dilemparkan kedalam bidang gerak mata-rantai Panca-sakti.

Cocak Kawun dan beberapa anggauta rombongannya sebenarnya memiliki ilmu kepandaian yang t idak rendah. Akan tetapi kepandaiannya se olah-olah terenggut oleh peristiw a yang berada diluar dugaan mereka. Baru saja mereka bergerak dua tiga langkah, Lingga Wisnu sudah berhasil merobohkannya. Dan seperti nasib kawan kawannya, mereka dilemparkan kedalam gelanggang dalam keadaan malang-melintang. Dengan demikian, pecahlah mata-rantai Panca-sakti dan garis pertahanan Kubu Penjuru Delapan keluarga Dandang Mataun Karena daerah geraknya kini tertutup oleh mereka yang kena dirobohkan malang-melintang.

Tentu saja, Cocak Prahara berlima, t idak t inggal diam, selama Lingga Wisnu merobohkan anggauta-anggauta Kubu Penjuru Delapan seorang demi seorang. Mereka mencoba bergerak seirama dengan keharusan dan ketentuan gerakan gerakan Panca-sakti, Tapi gerakan itu terpaksa macet, karena mereka terpaksa sibuk menerima tubuh-tubuh yang dilemparkan Lingga Wisnu kepadanya. Itulah waktu sebaik-baiknya bagi Lingga Wisnu selagi mereka sibuk dalam kerepotannya. Terus saja ia melompat menyerang Cocak Ijo yang tadi begitu gegabah berani melepaskan golok terbangnya.

Kala itu, Cocak Ijo baru saja menerima lemparan tubuh salah seorang anggauta Kubu Penjuru Delapan. Sekonyong-konyong ia melihat berkelebatnya Lingga Wisnu menghampiri dirinya. Hatinya kaget setengah mati. Ia tadi heran dan kecut hati, tatkala melihat keempat batang goloknya tidak mempan. Sekarang, ia justru kena ancaman balas dendam. Dengan tergesa- gesa ia melepaskan empat batang golok terbangnya lagi.

"Mampus! Mampus!" teriaknya berulang kali, untuk membesarkan hatinya sendiri. "Masakan dadamu tak mempan kena golokku?"

Lingga Wisnu tahu, dadanya terancam golok terbang. Akan tetapi ia tak menghiraukan, karena dadanya telah terlindung baju sakti warisan gurunya. Tangannya tetap meluncur mengarah tenggerokan. Prak! Keempat batang golok terbang Cocak Ijo yang tepat mengenai sasaran, runtuh jatuh bergemelontangan diatas lantai. Tapi pada saat itu pula, jari-jari Lingga Wisnu menerkam urat tenggorokan. Seketika itu juga Cocak Ijo roboh dengan melontakkan darah berhamburan.

Bukan main kagetnya Cocak Abang, melihat saudaranya terancam bahaya maut. Segera ia menghantam Lingga Wisnu dengan tongkatnya. Bidikannya mengarah kaki kanan. Biasanya, tidak perduli siapa saja, akan roboh begitu kena terhantam tongkatnya yang disertai tenaga dahsyat.

"Ih, hebat juga!" seru Lingga Wisnu dengan tertaw a. Sebat ia menyambar seorang dan dibuatnya sebagai perisai. Berseru :

"Kau pukullah!"

Untuk kedua kalinya Cocak Abang terperanjat. Ia yakin, Lingga Wisnu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengelak. Diluar dugaannya, ia menyambar seseorang untuk dibuatnya perisai. 'Bangsat!' makinya didalam hati. Dengan mati-matian ia mencoba menarik pukulannya. Karena tidak mungkin lagi, ia hanya dapat membuang tongkatnya kesamping.

"Kakang Prahara, awas!" teriaknya bersakit hati apabila melihat tongkatnya terbang mengarah kedada kakaknya tertua.

Cocak Prahara melihat berkelebatnya tongkat Cocak Abang. Dengan terpaksa ia menangkis. Tombaknya dilintangkan. Dan kedua senjata itu berbenturan sangat nyaring. Api meletik bagaikan kembang api yang kuncup padam.

Selagi mereka berdua sibuk, Lingga Wisnu menerjang Cocak Rawa dengan tusuk konderya. Seperti seekor ular hendak memagut musuhnya, tusuk konde Suskandari dibolang-balingkan kedepan mata. Keruan saja Cocak Rawa terbang semangatnya,

Ia mundur sambil me lindungi dirinya dengan senjata ce meti rantainya. Dengan mati-matian ia mengadakan pembelaan. Tapi serangan Lingga Wisnu saling susul dan merangsak terlalu cepat. Tusuk konde itu seolah-olah berkeredepan menebarkan puluhan butir permata yang menyilaukan matanya. Sekarang barulah ia sadar, betapa hebat senjata istimewa itu. Hampir-hampir melengket dikedua matanya. Ke mana ia bergerak dan berpaling, tusuk konde itu tiba-tiba saja sudah berada didepan kelopak mata. Bagaimana kalau tiba-tiba saja menusuk gundu? Ih, -benar-benar mengerikan’

Dua kali tusuk konde itu menyentuh kelopak mata. Untunglah, masih bisa ia menolong diri oleh kesebatannya. Tetapi semangatnya telah terbang. Tiba- tiba saja ia dihinggapi perasaan takut luar biasa. Itulah kejadian untuk yang pertama kalinya sepanjang hidupnya.

Karena kehilangan semangat, ia jadi kehilangan pengamatan diri. Gerakan pembelaannya jadi kacau. Dengan asal jadi saja, ia mengobat-abitkan cemeti rantainya untuk menggebah rangsakan lawan. Akan tetapi, Lingga Wisnu seperti tidak mempedulikan daya- usahanya. Akhirnya dalam keadaan terdesak, terpaksalah ia melepaskan ce meti-rantainya. Kemudian buru-buru ia menutup kedua matanya dengan tangan.

"Apakah kau masih sempat?" gertak Lingga Wisnu.

Dengan hati panas-dingin, Cocak Rawa bergulingan di atas lantai. Kedua tangannya tetap menutup mata.. Ia memang bisa menyelamatkan matanya, akan tetapi tak dapat mengelakkan hantaman tangan kiri Lingga Wisnu. Tahu-tahu pinggangnya terasa nyeri. Dan ia roboh terjerambah tak berkutik lagi. Cocak Rawa terkenal dengan ce meti rantai nya semenjak puluhan tahun yang lalu. Belasan kali ia merobohkan lawan-lawannya, baik diatas panggung adu- kepandaian maupun di dalam perkelahian wajar. Bahkan ia pernah merobohkan dua belas orang sekaligus dalam suatu pertandingan yang menentukan. Hal itu terjadi, tatkala ia terlibat dalam suatu perkelahian mati-hidup dengan kaw anan warok yang bermukim di pinggang. Gunung Lawu sebelah timur. Dan semenjak itu, namanya terkenal disegala penjuru. Ia dihormati dan disegani orang. Tapi kali ini, ia menumbuk batu. Siapapun tak menduga, bahwa dia bakal roboh dengan mudah sekali di tangan seorang pendekar muda yang baru saja muncul dalam percaturan hidup. Tak mengherankan, seluruh keluarga Dandang Mataun yang menyaksikan peristiw a itu, heran dan kaget setengah mati. Bagaimana mungkin! Tapi kenyataannya memang demikian. Siapapun tak dapat mengingkari pula.

Botol Pinilis tidak terkecuali. Setelah tertegun keheranan, ia sekarang yakin akan kepandaian adiknya- seperguruan itu. Gerakan tangannya benar-benar aneh. Suatu gerakan tangan yang belum pernah dilihatnya. Dari siapakah ia memperoleh kepandaian itu? Tatkala berusia sebaya dia. Karena itu benar-benar aneh. Aneh sekali! Pastilah adiknya-seperguruan itu pernah menerima warisan sakti dari seseorang. Tapi siapa? Siapa lagi kecuali gurunya?

Tentu saja Puguh Harimawan dan Suskandari belum dapat berpikir sejauh itu. Mereka hanya yakin, bahwa Lingga Wisnu berkepandaian tinggi. Nyatanya, dia bisa unggul. Dan menyaksikan hal itu, mereka berdua girang penuh rasa syukur. Begitu girang mereka sampai bersorak tak dikehendaki sendiri.

Sekar Prabasini dan ibunya lain pula kesannya. Meskipun mereka ikut bersyukur di dalam hati, namun tak berani menyatakan rasa syukur dengan terang- terangan. Mereka sudah terlalu lama kena larangan dan terkekang kemerdekaannya sehingga sama sekali mereka tak berani memperlihatkan rasa girangnya bahkan diwajahnyapun.

Bagi Lingga Wisnu sendiri, inilah pengalamannya untuk yang pertama kalinya berlawanan dengan tokoh- tokoh kenamaan. Itulah sebabnya, ia bertempur dengan penuh semangat. Ia bersungguh-sungguh dan sana sekali tak bersegan-segan. Sebab ia sadar akan mengalami bencana apabila lalai lengah sedikit saja. Maka dengan tangan kirinya, ia menggempur musuh dengan menggunakan tipu-tipu jurus Sardula Jenar. Sedangkan tangan kanannya merangsak dengan tipu- tipu warisan Bondan Sejiw an. Ia berhasil mencampur- adukkan demikian rupa, sehingga seumpama. Kyahi Sambang Dalan dan Bondan Sejiw an hadir pada saat itu tidak akan segera mengenal ajaran nya. Kecuali jurus- jurus tertentu. Itupun hanya setengahnya. Maka tidaklah mengherankan, bila Cocak Prahara berlima jadi kelabakan dan seringkali tertegun-tegun diamuk teka-teki terus menerus.

Setelah merobohkan Cocak Rawa dan Cocak Ijo, Lingga Wisnu beralih kepada Cocak Abang. Kembali lagi ia menggunakan kegesitarmya untuk mengancam kedua mata si berangasan dengan membolang-balingkan tusuk konde Suskandari. Dan dirangsak demikian, Cocak Abang kelabakan seperti adiknya tadi. Cocak Prahara kali in i tidak tinggal diam melihat adiknya terancam bahaya. Segera ia menolong dengan mendorong salah seorang muridnya yang rebah melintang didepannya keluar gelanggang. Cocak Mengi yang berada di dekatnya mengerti kehendak kakaknya yang dibutuhkan ilmu Panca-sakti dengan main dupak dan dorong. Dengan demikian, murid-muridnya yang rebah malang melintang dihadapannya tiada lagi. Setelah itu, ia berusaha maiibangun titik-titik mata rantai Panca- sakti untuk mengadakan garis pembelaan, meskipun sudah kehilangan dua orang anggota.

Tentu saja, Lingga Wisnu tidak sudi memberi kesempatan Terus-menerus ia mencecar Cocak Abang, dengan tusuk kondenya. Dengan demikian, usaha Cocak Mengi untuk membangun garis

pertahanan Panca-sakti selalu gagal. Dan sedang Cocak Prahara dan kedua

saudaranya menjadi klabakan, Cocak Abang sudah kena terhajar pundaknya.

Bukan main panas hati Cocak Mengi. Serentak ia menghantamkan penggadanya kearah punggung. Dan Cocak Prahara membarengi dengan menusukkan tombaknya dari depan. Cocak Abang yang sudah kena pukulan, berusaha pula mengimbangi usaha kedua saudaranya dengan sebisa bisanya Ia tahu betapa pentingnya usaha membangun kembali pertahanan Panca-sakti. Itulah satu satunya cara perlawanan yang bisa diharapkan.

Lingga Wisnu mengelakkan serangan kedua lawannya. Dan ia tetap memburu Cocak Abang yang sudah kena digempurnya. Tapi garis pertahanan ilmu Panca-sakti memang hebat. Sekalipun anggautanya kini tinggal tiga orang, namun masih terasa keangkarannya. Mau tak mau, Lingga Wisnu terpaksa mengandalkan kecepatannya bergerak. Tubuhnya berkelebatan bagaikan bayangan. Dan tiba-tiba ia menyelipkan tusuk konde Suskandari pada rambutnya. Kemudian meloncat tinggi keudara. Tangannya menyambar palang atap. Dan ia bergelantungan seperti seekor kera.

Cocak Prahara bertiga tadi mengimbangi kecepatan lawannya dengan gerakan yang cepat pula Tubuh mereka berputar-putar dan berkelebatan dari tempat ke tempat. Seluruh perhatiannya dipusatkan untuk memburu beradanya lawan. Tahu-tahu tubuh Lingga Wisnu lenyap dari pengamatannya Selagi mereka melayangkan pandang untuk mencari tempat beradanya, tiba-tiba serangkum angin turun bergelombang.. Mereka kaget. Dan cepat-cepat mundur. Pengalamannya mengkisiki bahwa serangkan angin itu bukan angin lumrah. Itulah serangkum angin bergelombang yang mengandung serangan berbahaya. Tahu-tahu Cocak Abang dan Cocak Mengi menjerit dengan berbareng Beberapa biji bola timah menghantam mereka berdua. Dan mereka berdua roboh terkulai di atas lantai.

Gugup Cocak Prahara melompat mendekati kedua saudaranya, hendak memberikan pertolongan. Selagi membungkuk, gelombang angin terasa datang menyerang. Ia adalah anggauta keluarga Dandang Mataun yang tertua. Kecuali sudah banyak makan garam, kepandaiannya jauh melebihi sekalian saudaranya. Maka dengan sebat ia memutar tombaknya. Dan belasan biji timah kena ditangkisnya.

"Bn, jangan kau kira bisa mengumbar adat. Apakah kau kira aku b isa kau robohkan dengan senjata bidikmu? Hm, jangan bermimpi!'' bentaknya.

Khawatir bila Lingga Wisnu terus menerus memberondongkan biji-biji timahnya, ia tetap memutar- mutar tombaknya yang dipergunakan sebagai perisai dan alat penggebuk. Diiuar dugaan, tiba-tiba tangannya bergetar. Tombaknya serasa tersangkut pada sesuatu kaitan yang kuat. Kaget ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk merenggut. Tapi kaitan itu sama sekali tak bergeming. Bahkan diiuar dugaannya, tangannya tak kuasa lagi menggenggam tangkai tombak. Kembali lagi ia terkejut. Dan pada saat itu, mendadak saja ia kehilangan pegangan. Gugup ia melompat kesamping. Kedua tangannya diangkatnya berbareng untuk melindungi dada dan mukanya. Kemudian ia mundur beberapa langkah untuk memperoleh penglihatan .

Ternyata tombaknya kena terampas anak muda itu. Betapa dahsyat tenaganya tak dapat diingkari lagi, sampai dapat merampas tombak yang berada dalam genggamannya. Namun ia tak sudi menyerah. Dengan menguatkan diri, ia berteriak menantang :

"Kau ingin menggunakan tombakku? Silahkan! Aku Cocak Prahara belum pernah mundur, biar selangkahpun!"

Dengan tertaw a, Lingga Wisnu turun ke lantai seraya membaw a tombak rampasannya. Sebentar ia menggerakkan tombak rampasannya seakan akan hendak menusuk atau menikam. Tiba-tiba ia berseru :

"Paman! Lihat!"

Dengan sekali ayun, tombak yang berada di dalam genggamannya melesat. Cocak Prahara kaget setengah mati. Dengan rasa putus asa, ia menggerakkan badannya untuk mencoba mengelak. Di luar dugaan, tombak itu bukan membidik dirinya. Akan tetapi lew at disamping kepalanya dan menancap pada tiang agung.

Hebat tenaga lontaran Lingga Wisnu. Tombak itu sampai amblas memasuki tiang. Tangkainya meraung bergetaran. Gedung olah-raga bagaikan akan roboh berantakan. Dan genting diatas rontok berhamburan. Tak mengherankan, banyak di antara hadirin lari berserabutan karena takut kerobohan dinding.

Cocak Prahara berdiri termangu-mangu. Semangatnya runtuh sekaligus. Lesu dan berputus-asa. Dan pandang matanya lantas saja menjadi kuyu. Betapa tidak? Kalau saja tombak itu diarahkan kepadanya, sanggupkah ia mengelakkan diri atau menangkisnya? Meskipun andaikata kepandaiannya kini berlipat sepuluh kali, rasanya kekebalan badannya tidak akan melebihi kekekaran t iang agung. Maka tahulah dia, bahwa Lingga Wisnu bermaksud baik kepadanya. Ia diampuni. Alangkah menyakitkan hati! Rasanya lebih baik mati daripada terhina demikian.

Botol Pinilis mengenal jurus itu dengan, baik. Itulah jurus penghabisan ilmu pandang Sekar Teratai kebanggaan rumah perguruannya. Gurunya baru menurunkan jurus itu kepada muridnya apabila tenaga himpunannya sudah memenuhi syarat-syarat tertentu. Ia pun mewarisi jurus itu, akan tetapi tenaga himpunannya tidaklah sebesar adik-seperguruannya itu. Maka tanpa terasa ia berteriak kagum ?

"Adik Lingga! Benar-benar sempurna timpukanmu.

Mataku kini benar-benar terbuka ..."

Lingga Wisnu menoleh. Ia tertaw a. Kemudian melemparkan pandang kepada Cocak Prahara yang berdiri murung. Dengan rasa pahit pendekar bangkotan itu terpaksa menelan kenyataan. Empat saudaranya telah terkapar rebah didepannya. Mau apa lagi? Murid- muridnyapun tergeletak malang-melint ang pula. Tiba-tiba saja timbullah niatnya hendak bunuh diri. Laki-laki boleh mati dan mampus, tapi tak boleh membiarkan diri terhina. Ia melihat tiang agung, didepannya. Tatkala kakinya hendak bergerak membaw a tubuhnya, suatu pikiran menusuk benaknya :

'Hari ini aku benar -benar runtuh habis-habisan. Akan tetapi, masakan aku membiarkan kekalahan ini tak terbalas? Aku sudah tua, memang. Namun bukankah aku bisa mendidik murid-muridku untuk membangun keangkaran ilmu Panca-sakti dan Kubu Penjuru Delapan yang tiada keduanya di dunia ini?”

Oleh pertimbangan ini, ia dapat bernapas lebih lapang.

Lalu berkata lantang kepada Botol Pinilis : "Kau boleh membaw a emasmu semua!"

Waktu itu Lingga Wisnu sedang datang menghampiri kakaknya seperguruan setelah melihat Cocak Prahara termangu-mangu kehilangan semangat tempurnya. Ia mencabut tusuk konde yang berada dirambutnya, kemudian dikembalikan kepada Suskandari, Gadis itu menerima tusuk kondenya kembali dengan hati girang. Dan pada saat itu ia mendengar ucapan Cocak Prahara. Tapi karena sasaran, ucapannya kepada Botol Pinilis, ia tidak menghiraukan. Dengan penuh perhatian ia mengikuti gerakan tangan Suskandari mengenakan tusuk kondenya.

Sementara itu Puguh Harimawan tidak sudi membuang-buang waktu lagi. Terus saja ia maju memunguti kepingan emas yang bertebaran di atas lantai. Perbuatannya diikut i pandang oleh orang orang yang berada diluar gelanggang. Mereka semua adalah anggauta keluarga Dandang Mataun. Sebenarnya ada juga butiran rasa tak rela. Akan tetapi mereka tak berani berkutik, karena Lingga Wisnu benar-benar dapat merobohkan pemimpin atau ketua mereka.

Cocak Prahara menghampiri Cocak Abang. Si beringasan yang kena timpuk biji timah Lingga Wisnu sama sekali tak dapat bergerak. Seluruh anggauta badannya lumpuh, kacuali kedua gundu matanya yang bergerak-gerak dengan penasaran. Cocak Prahara mencoba menolong. Dengan keahliannya ia mengurut urat-uratnya yang jadi. kaku kejang. Namun sekian lamanya ia berusaha, tetap saja tak berhasil. Heran ia, apa sebab tak berhasil.

Oleh rasa penasaran, ia mencoba mengulangi terhadap ketiga adiknya yang lainnya. Cocak Rawa, Cocak Mengi dan Cocak Ijo. Juga terhadap mereka bertiga, keahliannya macet. Benar-benar hebat serta mengherankan. Akhirnya diakui, bahwa ilmu kepandaian Lingga Wisnu benar-benar berada diatasnya. Hendak ia minta tolong, tapi hatinya segan. Akhirnya melemparkan pandang kepada Prabasini agar mau jadi perantara. Sekar Prabasini kenal watak pamannya itu. Ia berpura- pura tidak mengetahui. Malahan membuang pandang kesamping. Keruan saja orang tua itu mendongkol setengah mati. Ia mendeham. Dan oleh deham itu, mau tak mau Sekar Prabasini jadi terpaksa menoleh. Menegas:

"Paman memanggil aku?"

"Anak jahanam!" Cocak Prahara memaki di dalam hati. "Benar-benar kau berani main gila terhadapku. Awas! Sebentar lagi kau rasakan hukumanku. Ibumupun tidak akan luput dari dosamu, keparat! Namun terpaksa ia menelan kata hatinya itu. Dengan memperlihatkan wajah manis, berkatalah dia:

"Anakku, kau tolonglah empat pamanmu ..." Sekar Prabasini berpura-pura tuli. Menegas : "Apa? Paman bilang apa?"

"Anak jadah!" maki Cocak Prahara didalam hati. "Benar-benar kau berani main gila terhadapku. Awas!" Tapi demi menolong saudara saudaranya, meskipun mendongkol terpaksa juga dia berkata :

"Anakku yang baik. Cobalah mintakan kesediaan sahabatmu itu, agar menolong paman-pamanmu."

Masih saja Sekar Prabasini berpura pura tuli. Bahkan sekarang ia berlagak goblok pula.

"Paman berkata apa? Sahatt? Sahabat yang mana? "Oh! Mudah-mudahan kau digigit iblis!" Cocak Prahara

mendongkol bukan main. Tapi kaLi ini pun terpaksa ia

mengalah pula. Katanya dengan menahan rasa mendongkol : "Bukankah anak Lingga sahabatmu?"

"Oh, dia?" Sekar Prabasini bangkit dari kursinya sambil mencibirkan bibirnya. "Baiklah, akan kukatakan kepadanya. Hanya saja kali ini, paman tidak lagi main paksa, bukan?" Setelah berkata demikian, ia menghampiri Lingga Wisnu dan berkata merendah :

"Kakang Lingga. Pamanku yang baik hati meminta kepadamu, agar sudi menolong paman-paman yang lain. Kau mau, bukan?"

Dengan serta-merta Lingga Wisnu mengangguk dan memberikan jawaban :

"Tentu saja. Tiada niat dalam hatiku, hendak membunuh paman-pamanmu. Kalau aku menyerang mereka, semua karena terpaksa. Biarlah kutolongnya."

Berkata demikian, Lingga Wisnu bergerak hendak menghampiri. Diluar dugaan, Botol Pinilis mencegahnya. Kata kakak seperguruannya itu:

"Adikku Llhkga. Kau benar-benar tak mengerti perkara dagang Pada saat in i, adalah kesempatan sebagus- bagusnya untuk menaikkan harga barang. Untuk menjual tenagapun rasanya cukup berharga pula Masakan tenagamu sama sekali- tiada upahnya?"

Lingga Wisnu tahu, Botol Pinilis jemu terhadap sepak terjang keluarga Dandang Mataun. Dia sendiri tak begitu mendendam mengingat Sekarningrum dan Sekar Prabasini termasuk keluarga Dandang Mataun juga. Namun, tak dapat ia mengabaikan kedudukan kakak seperguruannya. Di perantauan dia berhak berbicara mewakili gurunya. Maka wajiblah ia patuh kepadanya. Sahutnya : "Kakang. Aku adikmu. Sudah semestinya aku tunduk dan patuh kepada tiap katamu."

Botol Pinilis tertaw a puas. Katanya :

"Keluarga Dandang Mataun sudah semenjak puluhan tahun membuat susah penduduk. Mereka menjadi lintah darat yang mengisap darah rakyat jelata. Sepuluh kelompok dusun yang berada dipinggang gunung Lawu ini berada dalam kekuasaan mereka. Mereka seolah-olah keluarga tuan tanah, yang membuat diri mereka majikan atas sekalian penduduk. Tak ada. serumpun keluargapun yang dibiarkan hidup merdeka di wilayahnya. Didalam dua hari in i, aku berkesempatan berbicara dengan penduduk. Mereka muak dan mual terhadap keluarga Dandang Mataun yang sewenang wenang. Semua hasil bumi boleh dikatakan tertimbun di dalam gudang keluarga Dandang Mataun. Karena itu, jika engkau hendak menolong mereka, ingatlah akan nasib rakyat. Mintalah uang dan beras sebagai upahnya. Dan uang serta beras itu kau berikan kepada penduduk untuk meringankan beban hidupnya.

Lingga Wisnu memanggut membenarkan. Ia percaya kata-kata Botol Pinilis tentang penderitaan rakyat. Ia sendiri pernah menyaksikan pengalaman demikian, tatkala mula-mula hendak berkenalan dengan keluarga. Dandang Mataun. Tiada seorangpun yang sudi memberi keterangan atau menunjukkan di mana tempat tinggal keluarga Dandang Mataun. Mereka bersikap bermusuhan. Hanya saja mereka, takut terhadap kekuaraan keluarga Dandang Mataun. Dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan betapa bengis sepak terjang Sondang Raw it tatkala menggebu segerombol petani yang datang untuk minta keadilan. "Benar .. memang keluarga Dandang Mataun sudah lama menindas rakyat," akhirnya ia berkata perlahan. "Hanya saja apa yang harus kulakukan terhadap mereka?"

"Bukankah aku tadi sudah menyinggung tentang upah jasa dan tata-tertib perdagangan?" sahut Botol Pinilis seraya mengelus jenggotnya. "Pendek kata kau harus menuntut upah jasa, dan kau harus melakukan tawar- menawar dengan harga yang pantas. Pendek kata kau harus ..."

Puguh Harimawan kenal akan tabiat dan perangai gurunya. Juga Suskandari tak kecuali. Sebaliknya, Lingga Wisnu yang belum kenal tabiat dan perangai kakaknya seperguruan itu diam menebak-nebak.

"Upah jasa bagaimana? Tawar-menawar harga barang apa?"

Sekar Prabasini, meskipun termasuk keluarga Dandang Mataun, senang mendengar usul Botol Pinilis. Segera ia menyetujui didalam hatinya dan ingin pula menguatkan. Sebagai seorang gadis setengah liar dan biasa pula berhubungan dengan orang-orang yang hidup liar, seringkali ia melakukan tukar-menukar jasa itu. Maka katanya girang :

"Kakang Lingga! Masakan engkau belum dapat mengerti maksud kakakmu?"

Cocak Prahara geram bukan main mendengar ucapan Sekar Prabasini. Gadis itu. terang-terang sudah berpihak kepada lawan. Tapi pada saat itu kedudukannya tak ubah seperti seorang persakitan didepan meja pengadilan. Tak dapat ia maju atau mundur. Dan pada saat itu, terdengarlah suara Botol Pinilis :

"Adik Lingga! Ha, sekarang telah kuperoleh nilai harga yang pantas. Upah menolong tiap jiw a seharga empatratus pikul beras putih."

"Empat ratus pikul?" Lingga Wisnu menegas, seolah- olah tidak percaya kepada pendengarannya sendiri.

"Ya empat ratus pikul beras putih yang mulus dan bersih. Sama sekali tiada antahnya. Apalagi sampai kecampuran beras merah. Dan ukuran timbangannya harus tepat. Meskipun kurang satu cangkirpun tidak boleh," sahut Botol Pinilis dengan gaya seenaknya. Sama sekali ia tidak menghiraukan Cocak Prahara, apakah dia setuju atau tidak. Senang atau mendongkol.

'Tetapi, mereka yang butuh pertolongan berjumlah empat orang. Artinya seribu enam ratus pikul beras!" seru Lingga Wisnu.

"Hai? Kau pandai benar berhitung," ujar Botol Pinilis dengan suara tinggi. "Kau bisa menghitung diluar kepala tanpa cat atan! Kau hebat, adikku. Satu orang empat ratus pikul. Empat orang, artinya empat kali empat ratus pikul. Kau benar-benar pandai berhitung mencongak."

Puguh Harimawan mencibirkan bibirnya mendengar kata-kata gurunya. Apa sih keanehan serta kehebatannya orang menghitung empat kali empat ratus? Akupun bisa segera menghitung diluar kepala, katanya di dalam hati. Ia tak tahu bahwa gurunya itu sudah bergurau menggelitik hati Cocak Prahara.

Dalam pada itu dengan pandang tak perduli, Botol Pinilis berkata kepada Cocak Prahara : "Empat adikmu kini dalam keadaan setengah hidup. Esok pagi hendaklah kau sediakan beras sebanyak seribu enamratus pikul itu. Bila timbangannya tepat, keempat adikmu baru kita tolong. Kalau tidak, coba raw at sendiri. Siapa tahu, engkau mempunyai sahabat seekor iblis atau malaikat penolong. Hendaklah kau ketahui, bahwa beras sebanyak itu bukan bermaksud kita kakangi sendiri . Tapi hendak kubagi-bagii-kepada penduduk yang sudah lama kau hisap darahnya. Mengerti?"

Cocak Prahara tak berani berkutik. Ia benar benar seperti seorang persakitan menunggu keputusan pengadilan. Meskipun hatinya memaki-maki setinggi langit, ia terpaksa mengangguk menyetujui. Tetapi ia masih mencoba:

"Tapi dalam waktu sependek ini, bagaimana caraku dapat mengumpulkan beras sebanyak itu. Isi gudang persediaan atau katakan saja seluruh milik keluarga kami, tidak mencapai jumlah sedemikian besar. Paling banyak hanya tujuh puluh atau delapan puluh pikul.

"Tapi maaf seribu maaf. Keputusan pengadilan sudah jatuh," sahut Botol Pinilis dengan suara dingin. "Namun mengingat engkau adalah gadis itu, biarlah kuperkenankan main cicilan."

"Main cicilan bagaimana?" Cocak Prahara menegas dengan suara mendongkol.

"Bila esok engkau bisa mengumpulkan empat ratus pikul beras putih, adikku akan menolong menyadarkan salah seorang adikmu. Bila kau mampu mengumpulkan delapan ratus pikul, adikku akan menolong menyadarkan dua orang. Tapi seumpama engkau baru bisa mengumpulkan sisanya dalam waktu satu bulan ... yah", kita tunda satu bulan. Kalau kau minta mundur tiga bulan atau setengah tahun atau satu tahun atau lima tahun, boleh saja. Percayalah, adikku pasti mau datang menolong pada waktu-waktu pelunasan itu. Dia tidak bakal mempermain-mainkan jiwa adik-adikmu itu. Bagaimana?"

Bukan main masgul hati Cocak Prahara. Katanya di dalam hati :

'Keempat adikku benar-benar lumpuh. Tak dapat lagi mereka menunggu waktu setengah bulan lagi. Sekarang dia menyediakan waktu pengunduran sampai lima tahun. Hm, bangsat benar! Bukankah kau menghendaki mampusnya keluarga Dandang Mataun? Hm ... rupanya aku benar-benar tidak diberinya kesempatan bernapas. Apa boleh buat. Biarlah esok pagi kuusahakan untuk memenuhi. Kalau mereka sudah tersadar kembali, masakan tak mampu keluarga Dandang Mataun menuntut balas ...’

Oleh pertimbangan itu, dengan hati berat Cocak Prahara memanggut seraya berkata

"Baiklah. Esok hari, beras yang kau pinta akan kami penuhi."

Botol Pinilis tertaw a menang. Sahutnya:

"Akh, benar-benar engkau seorang tengkulak yang mengerti ilmu dagang. Bagus! Semenjak hari ini aku akan selalu berhubungan denganmu untuk mencari barang dagangan yang bagus."

Cocak Prahara membungkam mulut. Ia merasa tak berdaya, meskipun mengerti sedang dipermainkan dan di olok-olok. dan karena pembicaraan sudah selesai, ia meninggalkan ruang gedung pertempuran dengan semangat runtuh.

Lingga Wisnu kemudian menghampiri Sekar ningrum. Ia membungkuk hormat dan minta diri. ia percaya, Cocak Prahara tidak akan mengusiknya, karena masih membutuhkan pertologannya.

"Mari kita beristirahat dahulu, adik," kata Botol Pinilis.

Mereka berempat segera meninggalkan gedung dengan membaw a emas perbekalan. Hati mereka girang bukan main dan bersyukur kepada, kemudahan Tuhan. Dengan langkah tenang, mereka keribali ke rumah penginapannya. Itulah rumah salah seorang penduduk yang miskin.

Tatkala itu fajar-hari telah tiba. Suskandari masuk ke dapur mempersiapkan makan pagi. Ia membuat air teh dan penganan pula Dan sambil bersantap mereka membicarakan kemenangannya. Rasa girang dan syukur menyelimuti hati mereka masing-masing.

"Adik Lingga," kata Botol Pinilis. "Tahukah engkau berapa jumlah murid guru kita?"

"Yang kuingat, hanya kakang Purubaya dan kakang Botol Pinilis," sahut Lingga Wisnu.

Botol Pinilis tersenyum. Katanya lagi :

"Sebenarnya masih ada sepasang murid lagi yang sengaja kita rahasiakan. Itulah suami isteri Sugiri. Isterinya bernama Sukesi, Mereka berdua bermukim di lereng gunung Tangkuban Perahu. Mereka berdua adalah sepasang pendekar yang melindungi duabelas wilayah Jawa Barat, termasuk daerah Banyumas dan sekitarnya. Tatkala kita herempat mendengar berita bahwa guru mempunyai seorang murid lagi yang masih muda belia, kita merasa lucu dan geli. Guru kita memang pandai berkelakar. Tetapi memiliki penglihatannya sendiri yang aneh dan meyakinkan. Kita berempat yakin, bahwa murid yang termuda itu pasti memiliki syarat-syarat yang dibutuhkan guru. Kita lantas berunding. Bagaimana memanggil murid yang berusia muda itu. Kakang Purubaya dan Sugiri mengusulkan agar menyebutmu anak. Maklumlah, sesungguhnya engkau pantas memanggil kami, dengan sebutan paman atau ayah.'

'T api, walaupun masih belum pandai beringus, bukankah paman wajib memanggil kakang Lingga Wisnu sebagai adik? Betapapun juga kedudukannya adalah adik seperguruan paman," potong Suskandari.

"Benar. Tetapi dahulu kita berpendapat bahwa kepandaian adik Lingga tak akan melebihi kepandaian muridku Puguh Harimawan. Bukankah guru sudah lanjut usianya dan Lingga Wisnu masih muda belia belaka? Meskipun dia menerima seluruh warisan kepandaian guru, pastilah baru merupakan kumpulan teori saja. Dia masih membutuhkan masa latihan dua atau tigapuluh tahun lagi," kata Botol Pinilis.

"Dan sekarang? Bagaimana pendapat paman?" "Maksudmu, kenyataannya?' sahut Botol Pinilis sambil

tersenyum puas. Perlahan-lahan ia meneguk air tehnya. Kemudian berkata dengan suara-sungguh-sungguh :

"Dan sekarang, setelah aku menyaksikan dengan mata-kepalaku sendiri, benar-benar aku merasa takluk. Jangan lagi suami-isteri Sugiri sedangkan kakang Purubaya sendiri tidak akan bisa menandingi kepandaian adik Lingga. Adikku Lingga, benar-benar kau penjelmaan guru semasa muda. Bahkan aku yakin waktu guru masih seusiamu., kepandaiannya belum mencapai tataran yang kau capai sekarang. Karena itu, semenjak kini pamor rumah perguruan Sekar Teratai berada padamu. Jatuh dan bangunnya rumah perguruan Sekar Teratai tergantung pada sepak-terjangmu belaka. Sayang, disini tak ada ayam dan daging goreng. Ingin sekali aku merayakan kata-kataku ini sebagai pernyataan rasa syukur dan pengucapan selamat kepadamu."

Setelah berkata demikian, Botol Pinilis berdiri tegak. Sifat jenakanya lenyap dari raut mukanya. Dengan sungguh-sungguh ia meneguk air tehnya kembali- Kemudian membarengi dengan mengunyah penganan lahan-lahap. Dan menyaksikan hal itu, Lingga Wisnupun segera berdiri tegak. Iapun menegak air tehnya untuk menyambut penghormatan kakak seperguruannya. Tentu saja, Puguh Harimawan tak sudi ketinggalan. Si dogol itu segera berdiri gedobrakan karena perutnya menyinggung sudut meja. Kemudian seperti sedang berlomba, ia menghirup air tehnya mendahului Suskandari.

"Adikku Lingga. Benar-benar aku bangga kepadamu. Engkau ternyata seorang anak yang sopan santun, halus budi, cermat dan berhati-hati. Jarang sekali, suatu rumah perguruan menemukan tunasnya begitu sempurna seperti dirimu. Mari adik, kita teruskan makan-minum ini sebagai suatu pesta kecil-kecilan dariku, untuk menghormatimu.'

Mereka kembali duduk. Sambil menggerumiti penganan, berkatalah Botol Pinilis kepada Puguh Harimawan : "Puguh. Manakala engkau memperoleh satu bagian saja kepandaian pamanmu ini, cukuplah sudah untuk menjadi bekal hidupmu malang melintang tanpa tandingan. Setidak-tidaknya akan besar faedahnya untuk, dirimu sendiri."

Puguh Harimawan telah menyaksikan kepandaian Lingga Wisnu dengan mata kepalanya sendiri. Dia ikut berbesar hati dan bangga. Sekarang ia mendengar ucapan gurunya. Segera ia mengerti maksudnya. Terus saja ia ujenghadap kepada Lingga Wisnu dan membungkuk hormat. Katanya :

"Semenjak sekarang, pangillah aku tanpa sebutan kakang lagi. Aku adalah kemenakan muridmu. Dan bila paman sudi menghadiahi barang sejurus dua jurus, aku akan berterima kasih sepanjang hidupku."

"Akh, janganlah berlebih-lebihan memberi hormat kepadaku," ujar Lingga Wisnu. Iapun segera berdiri memberi hormat.

Dikemudian hari, Lingga Wisnu benar-benar memberikan sebagian kepandaiannya kepada Puguh Harimawan. Dan sejak saat itu, si dogol Puguh Harimawan berubah menjadi manusia lain. Berubah menjadi seorang pendekar yang namanya menggetarkan lawan dan kaw an. Juga Suskandari, menerima petunjuk- petunjuk yang berharga. Karena dia adalah pewaris kepandaian ibunya. Dengan cepat sekali ia menjadi seorang pendekar wanita yang gesit dan cekatan luar biasa. Dibandingkan dengan kepandaiannya, kini berlipat sekian kali t ingginya.

0ooo-d.w-ooo0 14. Mencar i Harta Warisan

Pagi hari telah tiba tatkala mereka memasuki kamar tidurnya masing-masing. Satu malam penuh mereka berjuang antara hidup dan mati. Tak mengherankan, mereka cepat sekali tertidur. Tatkala seseorang mengetuk pintu kamarnya, matahari sudah condong ke barat.

"Siapa?" kata Botol Pinilis minta keterangan.

“Utusan keluarga Dandang Mataun," jawab Puguh. Harimawan. "Dia mengirim utusan ke mari. mengharap kehadiran kita."

Botol Pinilis tersenyum. Berkata :

"Benar pandai mereka menemukan pondokan - tempat kita menginap. Baiklah, mari kita bersiap-siap."

Desa Kemuning terletak dipinggang gunung Lawu. Meskipun termasuk daerah makmur, akan tetapi untuk mengumpulkan beras sejunlah itu tidaklah mudah. Cocak Prahara tahu akan hal itu. Tetapi terdorong oleh rasa gelisah dan balas dendam, ia menyebarkan seluruh orang orangnya ke berbagai daerah semenjak fajar-hari tadi. Ke Madiun, Sragen, Taw angmangu— Matisih, Sarangan dan sekitar pinggang gunung. Berkat kesungguhan dan pengaruh uangnya, ia berhasil mengumpulkan jumlah beras yang diminta Botol Pinilis. Tapi akibatnya, harga beras jadi naik. Rakyat jelata tak mampu membelinya lagi Kegoncangan harga pasar itu berjalan sampai beberapa minggu lamanya setelah peristiw a tersebut terjadi. Demikianlah, setelah rombongan Botol Pinilis tiba, Cocak Prahara mempersilahkan Botol Pinilis untuk memeriksa jumlah beras yang dikehendaki. Tapi tentu saja, Cocak Prahara tidak sudi membuang-buang waktu. Ia memerint ahkan supaya beras itu dibagikan kepada penduduk sambil menghitung jumlahnya.

Tidak mengherankan, peristiw a itu benar-benar mengherankan dan mengejutkan seluruh penduduk. Apa sebab, keluarga Dandang Mataun yang terkenal sebagai keluarga lintah darat, mendadak saja berubah menjadi dermawan. Mereka tak tahu peristiw a apa yang telah terjadi di dalam keluarga itu.

Dengan disaksikan Cocak Prahara, Botol Pinilis membagikan beras itu kepada penduduk seadil-ad ilnya. Ia kini bersikap sungguh sungguh dan tak mau mengejek Cocak Prahara lagi. Di dalam hati, ia memuji kesungguhan hati orang tua itu.

Tapi sebaliknya Cocak Prahara makin mendongkol. Rasa dendamnya makin menjadi-jadi saja. Setiap kali Botol Pinilis menuang sebakul beras yang diberikan kepada penduduk, darahnya serasa mengucur sebanyak itu pula. Namun, tentu saja, tak berani ia memperlihatkan kesan hatinya. Diam-diam ia mencuri pandang kepada adiknya, Cocak Ijo. Dialah satu-satunya saudaranya yang tidak pingsan penuh-penuh. Hanya saja, dia lumpuh tak dapat bergerak akibat timpukan timah Lingga Wisnu yang mengenai urat-uratnya tertentu.

Botol Pinilis adalah seorang pendekar yang berpengalaman. Untuk menghajar adat kepada pendekar tua itu, tiba-tiba ia berkata : "Saudara Cocak Prahara. Silahkan engkau saja yang membagi beras. Dengan demikian engkau akan nampak menjadi seorang dermawan benar-benar." Itulah suatu sindiran yang taiam sekali baginya. Namun sekali lagi, ia terpaksa mengiyakan. Dan dengan dibantu oleh orang- orangnya ia membagi-bagikan beras dengan hati mengutuk.

Sampai tengah malam, barulah dia selesai membagi- bagikan berasnya. Setiap kali setelah membagi empatratus pikul, Lingga Wisnu menolong salah seorang saudaranya. Demikianlah, apa bila seribu enam ratus pikul sudah dibagi bagikan habis, keempat saudara Cocak Prahara telah memperoleh kesadarannya kembali. Mereka dapat bergerak seperti sediakala, akan tetapi sebagian besar tenaganya masih punah. Dengan begitu mereka hanya bisa mengunpat-umpat di dalam hati tatkala menyaksikan keluarganya menghambur hamburkan harta bendanya, yang terkumpul sedikit demi sedikit, lantaran terpaksa.

Kira-kira pukul tiga malam, pendapa keluarga Dandang Mataun telah sunyi kembali. Penduduk pulang ke rumah masing-masing karena keempat saudara Cocak Prahara sudah sembuh kembali, Lingga Wisnu bermaksud hendak mengundurkan diri. Dengan membungkuk hormat, ia berkata kepada Cocak Prahara :

"Paman. Hendaklah paman sudi memaafkan diri kami.

Sekarang perkenankan kami kembali ke pondokan."

Belum lagi Cocak Prahara membuka mulut, Botol Pinilis menyambung. Katanya dengan setengah tertaw a

"Saudara Cocak Prahara berlima. Kami tahu, kalian berlima sakit hati karena terpaksa menghamburkan harta benda keluargamu turun menurun. Seribu enam ratus pikul beras, bukanlah suatu jumlah yang sedikit. Tetapi meskipun demikian, mulai, saat ini nama keluarga Candang Mataun tidak lagi seburuk dahulu. Karena perbuatan kalian tadi adalah suatu perbuatan amal.. Pastilah sekalian penduduk sini memuji kebaikanmu diha- dapan Tuhan. Karena itu, aku minta keil&lasan hati kalian."

Botcl Pinilis tidak menunggu jawaban Cocak Prahara. Segera ia mengajak ronibongannya mengundurkan diri. Sekonyong-konyong ia melihat Sekar Prabasini berlari-lari ke serambi depan menghampirinya. Kata Sekarningrum kepada Lingga Wisnu :

"Anakku Lingga, apakah sekarang engkau hendak meninggalkan kami?"

Lingga Wisnu mengangguk. Jaw abnya :

"Benar bibi. Tiada lagi yang kukerjakan di sini. Maka perkenankan kami berangkat sekarang juga."

Tiba-tiba   Sekarningrum    nampak    bergemetaran.

Katanya dengan suara tersekat-sekat :

"Sebenarnya ... sebenarnya di manakah kuburannya? Anakku Lingga, bawalah serta aku untuk menyaribangi kuburannya."

Belum lagi Lingga Wisnu menjaw ab permint aan Sekarningrum, mendadak saja ia mendengar angin menyambar. Ia kaget sempai berpaling ke arah datangnya angin itu. Segera ia melompat dan menyambar empat batang golok terbang yang menyambar ke arah Sekarningrum. Tetapi pada saat itulah ia mendengar Sekarningrum memekik nyaring. Dan tubuhnya roboh terkulai diatas lantai. Ternyata masih ada sebatang golok yang menikamnya. Golok yang menancap pada dirinya rupanya disertai dengan suatu tenaga yang dahsyat luar biasa, sehingga tertancap sangat dalam. Hampir saja gagangnya ikut serta amblas kedalam tubuh wanita itu.

Sekarningrum rebah tak berkutik. Dengan setengah kalap Sekar Prabasini menubruk dan hendak mencabut golok yang menancap di punggung ibunya. Buru-buru Botol Pinilis mencegah. Katanya :

"Jangan. Bila kau cabut, ibumu tak dapat membuka matanya kembali.”

Lingga Wisnu tahu, siapa yang melakukan serangan gelap itu. Dengan geram ia menimpukan keempat golok terbang yang berada dikedua tangannya kepada pemiliknya. Dialah Cocak Ijo!

W atak Cocak Ijo tidak, berbeda jauh dengan w atak Cocak Abang. Ia berangasan dan bengis luar biasa. Mendengar Sekarningrum hendak mencari kuburan Bondan Sejiw an, tak dapat lagi ia menahan diri. Terus saja ia meninpukkan golok-golok terbangnya. Sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, masih sempat ia memperhitungkan hadirnya Lingga Wisnu. Tapi selagi kedua tangan Lingga Wisnu bergerak menyambar empat batang goloknya, maka dengan penuh napsu ia melepaskan sebatang golok lagi. Kali in i, mengarah kepada Sekamingnm. Perhitungannya ternyata tepat, Lingga Wisnu sedang memunahkan empat batang goloknya. Maka tak sempat lagi, ia menyambar sebatang goloknya yang ditimpukkan hampir berbareng. Sekarningrum roboh tak berkutik. Dan ia merasa puas luar biasa,

Dengan tersenyum iblis ia berdiri memandang korbannya. Mendadak ia melihat berkelebat empat batang goloknya mengarah dirinya. Inilah senjata makan tuan! Terus saja ia bergulingan untuk menghindarkan. Seperti diketahui, dialah satu-satunya saudara Cocak Prahara yang tidak perlu pingsan oleh timpukan senjata bidik Lingga Wisnu. Maka tenaga dan kegesitan tidak perlu kurang begitu banyak. Ia berhasil membebaskan diri dari ancaman goloknya. Tapi diluar dugaan, mendadak saja pant at dan pangkal pahanya menjadi kaku kejang. Dan ia roboh terbanting sewaktu mencoba berdiri.

Lingga Wisnu mendongkol dan jemu terhadap pekerti Cocak Ijo. Ia kena diingusi ahli golok itu. Maka iapun hendak membalas dengan caranya pula. Sengaja ia melepaskan empat golok, pastilah Cocak Ijo dapat memunahkan atau mengelakkan diri. Tapi Cocak Ijo lupa, bahwa Lingga Wisnu mempunyai senjata bidik. Itulah senjata bidik yang membuat dirinya kemarin lumpuh tak bergerak. Selagi, ia bergulingan mengelakkan diri, belasan senjate bidik Lingga Wisnu menghantam pantat dan pangkal pahanya. Ia terjungkal. Dan kali in i Lingga Wisnu tidak bersegan-segan lagi Terdorong oleh rasa mendongkol dan jemu, pemuda itu menimpuk dengan disertai tenaga dahsyat. Seketika itu juga, tulang sendi Cocak Ijo rontok patah Urat-uratnya hancur. Dan Cocak Ijo mampus pada saat itu juga.

Dengan hati pedih, Lingga Wisnu menoleh ke arah Sekar Prabasini. Gadis itu memeluk tubuh ibunya erat- erat. Oleh rasa sedih, gadis itu sampai tak mampu mengeluarkan suara tangis lagi. Apa yang dapat dilakukannya hanya menciumi dan mencoba menyadarkan ibunya.

Lingga Wisnu menghampiri dengan hati remuk redam. Ia jadi teringat dengan pengalamannya sendiri, tatkala memeluk dan menangisi jenazah ayah-bundanya. Dahulu ia memeluk dan menangisi jenazah ayah-bundanya didepan orang banyak. Sekarang, Sekar Prabasini mengalami nasib yang sama pula. Ibunya mati terkapar dihadapan para tamu dan seluruh anggauta keluarganya yang bersikap memusuhi. Dan teringat akan hal itu, hatinya terharu bukan main.

Perlahan-lahan pemuda itu meraba tubuh Sekarningrum. Tahulah dia, bahwa wanita malang itu tak dapat tertolong lagi. Satu-satunya harapan hanyalah mencoba menyadarkan barang semenit dua menit. Maka segera ia memijat urat-urat tertentu untuk mengurangi rasa sakit. Dan benar saja, Sekarningrum sadar tanpa menderita rasa sakit. Begitu menyenakkan mata, ia dapat berkata genang tenang kepada anaknya satu-satunya itu dan dengan suara penuh kasih :

"Prabasin i, kau tak perlu bersedih hati. Semua orang akan kembali ke asal-mula Juga dirimu kelak. Sekarang aku dapat menyusul di mana ayahmu berada. Dan aku akan mendampingi dan dapat melayani tanpa gangguan siapapun.”

Sekarningrum tersenyum puas. Dan Sekar Prabasini mencoba bersenyum pula, seolah-olah ikut serta bersyukur terhadap kepergian ibunya hendak menyusul ayahnya di alam baka. Tetapi hatinya hancur luluh tak keruan. Akhirnya dengan menggigit bibirnya, tak dapat  lagi ia membendung butiran-butiran air matanya yang membanjiri pipinya.

Sekarningrum sendiri tidak memperhatikan keadaan Sekar Prabasini. Ia mengalihkan pandang kepada Lingga Wisnu. Katanya :

"Anakku Lingga. Hanya sebuah pertanyaan lagi yang hendak kutanyakan kepadamu. Kupinta kepadamu, agar- engkau menjaw ab sebenarnya. Maukah engkau meluluskan permint aanku ini"

"Tentu saja, bibi. Coba katakan apa yang hendak bibi tanyakan kepadaku," jaw ab Lingga Wisnu dengan sungguh-sungguh, penuh haru.

"Apakah dia meninggalkan surat wasiat? Apakah dia menyinggung-nyinggung namaku?

Air mata Lingga Wisnu bercucuran, tatkala ia terpaksa menjawab :

"Paman Bondan Sejiw an menulis kitab wasiat. Dan dengan bekal itu, aku dapat menghancurkan rahasia ilmu sakti Dandang Mataun, Dengan demikian, aku berhasil mewakili dirinya menuntut balas."

"Akh, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa? Apakah dia tidak menulis surat kepadaku? Apakah dia sama sekali t idak meninggalkan surat wasiat bagiku?"

Lingga Wisnu menggelengkan kepalanya. Menjawab dengan suara perlahan :

"Tidak ..."

Mendengar jawaban Lingga Wisnu, wajah Sekarningrum nampak kuyu. Ia jadi kehilangan sepercik harapan. Katanya dengan suara lemah : "Pasti ia mengira aku berada dipihak saudara saudaraku. Akh, Tuhan menjadi saksi, bahwa aku tidak meracuni dirinya. Yah, tatkala dia minum racun itu, tenaganya benar-benar punah."

"Tidak, bibi!" Lingga Wisnu mencoba menghiburnya. 'T idak! Di alam baka paman tahu, bahwa hati bibi suci bersih ..."

"Dia wafat dengan hati menaruh dendam. Dengan hati pedih dan sedih," Sekarningrun mengeluh. "Ya, pastilah dia mengira, bahwa akulah yang menaruh racun terkutuk itu. Dan meskipun kau bersedia menjadi saksi bahwa aku sesungguhnya berada dipihaknya, sudahlah kasep. Bukankah

dia tak dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri?"

Bukan main rasa haru Lingga Wisnu. Ia tahu ibu Sekar Prabasini sangat kecewa. Akan tetapi tak dapat lain lagi. Memang, Bondan Sejiw an sama sekali tidak menulis surat kepadanya. Tiba-tiba teringatlah dia. Bukankah Bondan Sejiw an menulis surat peta? Dalam tulisannya ia menye-but-nyebut nama Sekarningrum pula. Teringat hal itu, segera ia meraba sakunya dan memperlihatkan sehelai kertas kulit.

"Bibi, lihat!" serunya gembira sambil memperlihatkan surat wasiat itu di depan mata Sekarningrum. Waktu itu Sekarningrum baru saja merapatkan kedua matanya. Kedua lengannya telah menjadi lemah lunglai. Dan begitu mendengar seruan Lingga Wisnu, ia tersentak bangun. Wajahnya segera nampak segar manakala meliliat surat wasiat itu.

"Surat apa itu?" katanya tersekat sekat. "Ya, benar. Itulah tulisan tangannya. Dia menulis apa? Menulis tentang apa?"

Bukan main terharunya Lingga Wisnu menyaksikan perubahan itu. Sekarningrum nampak bergirang hati. Rasa girang yang mendekati gejolak rasa girang kanak- kanak. Maka segera ia mendekati bunyi tulisan yang tertera dipojok peta, agar Sekarningium dapat membacanya sendiri.

Dengan napas sesak, Sekarningrum membaca tulisan suaminya :

'Barangsiapa memperoleh harta terpendam ini, hendaklah mencari seorang perempuan bernama Sekarningrum, yang bertempat t inggal di dusun Popong, Berilah dia seratus ribu ringgit agar hidupnya seperti layaknya seorang perempuan yang mempunyai harga diri

...

Ia berhenti sebentar, seperti sedang berpikir. mendadak berkata setengah berseru :

"Hai! Benar-benar akulah yang dimaksudkan. Dusun Popongan! Artinya hidup terkurung seperti popongan kalau begitu dia tahu penderitaanku. Dan aku, akh jelas sekali... aku diharapkan keluar dari kehidupan keluargaku. Agar aku dapat hidup bebas merdeka seperti layaknya seorang perempuan yang mempunyai harga diri. Akh, anakku Lingga aku menyatakan rasa kasihku. Aku tidak membutuhkan uang Yang ku .. bagiku yang terpenting ialah ternyata dia masih ingat kepadaku. Dalam penderitaannya masih ia memikirkan keadaan diriku Sekarang biarlah aku pergi menyusulnya ...” 

Lingga Wisnu tahu, bahwa tenaga hidup Se-karninrum nyaris pudar. Maka ia menoleh kepada Sekar Prabasini hendak menghiburnya. Tiba-tiba Sekarningrum yang telah memejamkan kedua matanya menyenak kembali. Dia berkata memohon :

"Anakku Lingga. Dua hal lagi aku pinta kesediaanmu. Dan aku mengharapkan engkau menerimanya tanpa taw ar-menaw ar."

"Katakan saja, bibi," sahut Lingga Wisnu. "Aku selalu bersedia melakukan apa saja. permint aanmu, asal saja aku mampu."

"Yang pertama, kuburlah aku di sampingnya. Dan yang kedua .... yang kedua ..."

"Yang kedua ... sebutkan, bibi! Sebutkan bibi!" Lingga

Wisnu mendesak sambil mendekatkan telinganya.

"Yang kedua, kamu ... kamu ..." kata Sekarningrum sambil menunjuk Prabasini. Kemudian ia membagi pandang kepada Lingga Wisnu. Dan kembali lagi kepada Sekar Prabasini. Mulutnya bergerak-gerak hendak mengucapkan sesuatu. Tetapi tiba-tiba ia telah kehilangan tenaga. Kepalanya runtuh kesamping. Dan ia meninggal dalam keadaan tenang dan damai.

Gugup Lingga Wisnu meraba dadanya. Benar-benar napas Sekarningrum t iada lagi. Dan pada saat itu, Sekar Prabasini menubruk dan memeluk ibunya erat-erat. Ia memekik dan menangis menggerung-gerung. Akhirnya pingsan tak sadarkan diri.

Lingga Wisnu terkejut. Ia memeluk tubuh Sekar Prabasini, dan menggoyang-goyangnya.

"Prabasin i! Prabasini!"

"Jangan kuatir, adik. Dia pingsan oleh rasa duka yang luar biasa." Botol Pinilis menghibur.

Setelah berkata demikian, ia manijat urat pernapasan Sekar Prabasini. Tak lama kemudian, gadis itu telah memperoleh kesadarannya kembali. Dengan pandang kosong, ia menebarkan penglihatannya.

"Prabasin i, bagaimana perasaanmu?" tanya Lingga Wisnu dengan suara cemas,

Sekar Prabasini tidak menyahut. Dan kembali lagi Lingga Wisnu menegas. Tetapi tetap gadis itu membungkam mulut.

Botol Pinilis, Suskandari dan Puguh Harimawan memperoleh kesan aneh. Mereka tidak mengetahui hubungan yang terjadi antara Lingga Wisnu, Sekarningrum dan Sekar Prabasini. Terang sekali Sekarningrum dan Sekar Prabasini termasuk keluarga Dandang Mataun. Akan tetapi, apa sebab Saudara- saudaranya membunuhnya? Dan apa latar belakang persoalannya sampai Sekarningrum begitu dekat hatinya kepada Lingga Wisnu?

Selagi mereka bermenung-menung, terdengarlah suara Lingga Wisnu : "Prabasin i, mari. Kau ikut kami. Tak dapat engkau tinggal disini lagi."

Lingga Wisnu berkata dengan suara hatinya. Kedua kelopak matanya berkaca-kaca, namun masih Sekar Prabasini membungkam mulut. Baru, setelah menarik napas dua tiga kali, ia memanggut pendek.

Melihat Sekar Prabasini memanggut, tanpa segan- segan lagi Lingga Wlfcnu menolong Sekar Prabasini berdiri tegak. Kemudian ia memondong tubuh Sekarningrum. Sama sekali tak dihiraukannya keadaan hati Cocak Prahara berlima. Perlahan-lahan ia keluar halaman. Sekar Prabasini - Suskandari dan Botol Pinilis serta Puguh Harimawan mengikutinya dari belakang.

Memang, bukan main panas hati Cocak Prahara bertiga. Mereka merasa diri tidak lagi dianggap sebagai manusia. Mereka dipaksa menyaksikan Cocak Ijo mati dihadapannya. Sudah begitu, kini melihat betapa Lingga Wisnu dan kaw an-kawannya membaw a pergi jenazah saudara perempuannya tanpa minta persetujuannya. Menuruti kata hati, ingin mereka melampiaskan rasa mendongkolnya. Akan tetapi mereka insyaf, Lingga Wisnu dan Botol Pinilis memiliki kepandaian sangat tinggi. Pihaknya sendiri, sudah kehilangan seorang anggauta keluarga yang tangguh. Karena itu, dengan menahan diri, mereka membiarkan Lingga Wisnu dan rombongannya meninggalkan rumahnya tak terusik.

Setelah berada di tengah jalan, Botol Pinilis berkata kepada Puguh Harimawan :

"Aku mempunyai uang seratus ringgit. Baw alah uang ini kepada pemilik rumah yang kita tumpangi, dan kau berikan uang ini kepadanya. Katakan juga, sebelum pagi hari t iba, hendaklah pindah tempat."

Botol Pinilis menyerahkan uang seratus ringgit kepada Puguh Harimawan. Muridnya itu menegas :

"Kenapa dia harus pindah tempat begitu cepat?"

"Apa kau kira keluarga Dandang Mataun memeluk lutut saja, setelah kita pergi? Mereka mendongkol terhadap kita. Rasa mendongkolnya pastilah akan dialamatkan kepada pemilik rumah yang kita tumpangi." sahut Botol Pinilis memberi keterangan. "Terhadap kita, mereka tak dapat berbuat apa-apa. Tetapi begitu kita pergi meninggalkan dusun ini, segera mereka akan turun tangan. Yah, karena petani itu memberi tempat menumpang kepada kita.

Sekarang, barulah Puguh Harimawan mengerti apa sebab pemilik runah itu harus segera berangkat meninggalkan dusun. Sambil menyimpan uang pemberian gurunya, ia memuji di dalam hati. Kemudian bergegas menemui pemilik runah. Ia menyampaikan pesan gurunya, dan karena waktu itu pagi hari belum tiba, maka pemilik rumah itu masih mempunyai kesempatan untuk meninggalkan dusunnya sebelum matahari terbit. Ia mengucapkan terima kasih terhadap maksud baik tetamunya.

Demikianlah, setelah Puguh Harimawan kembali, Lingga Wisnu meneruskan perjalanannya. Sepanjang jalan baik Botol Pinilis maupun yang lain-lain, membungkam mulut. Tatkala sinar matahari mulai merekah diufuk timur, mereka berhenti disebuah gardu penjagaan yang terletak jauh dari dusun. Gardu penjagaan itu telah keropos dindingnya. Tiang-tiangnya nampak tak terpelihara. Maka jelaslah, bahwa gardu penjagaan itu, sudah tak pernah dipergunakan. Di dalam gardu penjagaan inilah mereka beristirahat.

Puguh Harimawan dan Suskandari membersihkan daun-daun kering yang bertebaran di atas lantai. Kemudian dengan hati-hati Lingga Wisnu meletakkan jenazah Sekarningrum. Mereka lantas merubung jenazah itu dengan prihatin.

"Kita apakan jenazah nyonya ini?" Botol Pinilis minta pertimbangan mereka. "Apakah akan kita kubur saja di sin i? Atau akan kita bawa ke kota dahulu untuk dimandikan?"

Lingga Wisnu tak kuasa menjawab. Ia menyiratkan pandang kepada Suskandari, Puguh Harimawan dan Sekar Prabasini., Mereka bertigapun membungkam mulut.

"Seumpama kita membaw anya pergi kekota dahulu, rasanya tak mudah," kata Botol Pinilis lagi. "Pembesar negeri tentu akan minta keterangan kita sejelas-jelasnya. Barangkali kita bisa lolos dari pertanyaannya, akan tetapi kita akan repot memberi jawaban setiap kepala dusun yang kita lalu i. Lagipula, dimana kita akan memandikan jenazah nyonya ini? Karena itu lebih baik kita kubur saja di sin i."

"Tidak, ibu tak boleh dikubur di sini!" bantah Sekar Prabasini. "Bukankah ibu menghendaki agar dikubur di samping ayah? Syukur bisa bersama-sama di dalam satu liang kubur."

'Tetapi dimana kuburan ayahmu?" Botol Pinilis minta penjelasan. Tak dapat Sekar Prabasini memberi keterangan kepada Botol Pinilis. Sesungguhnya ia tak mengetahui di mana kuburan ayahnya. Ia lantas melemparkan pandang kepada Lingga Wisnu :

"Ayahnya terkubur dipuncak gunung Dieng kita." Lingga Wisnu memberi keterangan.

"Diatas gunung Dieng? Gunung Dieng kita?" Botol Pinilis berseru heran. Rupanya Sekar Prabasini heran pula mendengar keterangan Lingga Wisnu. Dan berkata lagi Lingga Wisnu kepada Botol Pinilis :

"Ayahnya adalah pendekar besar Bondan Sejiw an. Dialah pendekar yang pada zamannya terkenal gagah perkasa dan bertabiat aneh."

Umur Botol Pinilis tak jauh selisihnya dengan umur Bondan Sejiw an. Tatkala ia mulai berkelana, kegagahan pendekar Bondan Sejiw an seringkali didengarnya. Ia menaruh hormat terhadap pendekar besar itu. Walaupun tidak selalu menyetujui sepak-terjangnya. Karena itu pula hormatnya terhadap jenazah Sekarningrum naik. setingkat. Jadi. dialah isteri pendekar besar itu? Pikirnya didalam hati. Dan tiba-tiba saja timbullah semangatnya untuk membuat jasa. Setelah berenung-renung sejenak, berkatalah dia kepada Sekar Prabasini :

"Aku ada usul. Mudah-mudahan engkau bisa menerima usulku in i."

Sekar Prabasini menatap wajah Botol Pinilis. Usia Botol Pinilis sebaya dengan paman-pamannya. Maka menyahutlah dia :

"Pastilah usul paman ada harganya untuk di dengar, silahkan, paman." Disebut paman, Botol Pinilis perlu memberi keterangan terlebih dahulu. Berkata sambil menunjuk Lingga Wisnu :

"Usia Lingga Wisnu sebaya denganmu. Meskipun demikian, dia adalah adik seperguruanku dan karena engkau sahabatnya, jangan engkau memanggil paman kepadaku. Panggil saja aku kakang."

Mendengar ucapan Botol Pinilis, Puguh Harimawan tergerak hatinya, Ia mengerling kepada Sekar Prabasini dan berkata di dalam hati :

'Wah, celaka. Kalau dia mananggil kakang kepada guruku, mau tak mau aku harus memanggilnya bibi. Padahal, usianya terpaut sangat jauh cari umurku.’

Tentu saja Sekar Prabasini tidak mengetahui apa yang berkutik di dalam hati Puguh Harimawan. Setelah menyiratkan pandang kepada Lingga Wisnu, ia berkata :

"Baiklah. Mulai saat in i, aku akan memanggilmu kakang. Aku berjanji pula, akan patuh dan taat kepada semua saran-saran kakang."

'Waduh, apa kataku ... Benar-benar dia memanggil kakang terhadap guru,’ Puguh Harimawan mengeluh di dalan hati. 'Pe rempuan cilik in i kenapa begitu gampang saja mengubah sebutan paman menjadi kakang dalam waktu begini singkat? Sama sekali tak nampak keseganannya. Akh, celaka! Sesudah mempunyai paman cilik, sekarang ada bibi cilik lagi ...’

Si dogol itu lantas sibuk seorang diri. Ia bingung menempatkan diri dalam persoalan itu. Maklumlah. Usianya kini sudah hampir mencapai tigapuluh tujuh tahun. Dan oleh tataran kedudukannya, ia harus memanggil paman dan bibi terhadap bocah cilik yang berumur sekitar duapuluh tahun. Busyeeet!

Tentu saja Botol Pinilis tak mengerti apa yang menyebabkan keresahan hati muridnya itu. Ia hanya melihat si dogol duduk bergelisah. Sedangkan pandangnya selalu beralih dari Lingga Wisnu ke Sekar Prabasini. Ia memperhatikan sebentar, kemudian meneruskan berkata kepada Prabasini :

"Ibumu ingin berkubur bersama ayahmu. Keinginan hati ibumu itu, pasti akan kita laksanakan. Adik tak perlu bercemas hati. Soalnya sekarang adalah tata pelaksanaannya. Kurasa alangkah sulit."

"Apa yang menyulitkan?" Sekar Prabasin i. ti dak sabar.

"Jarak antara Gunung Lawu dan Gunung Dieng sangat jauh. Sekarangpun lagi berkecamuk suatu perjuangan rakyat yang menentukan. Maka sudah bisa dibayangkan, betapa sulit perjalanan kita apabila membawa-bawa sesosok mayat. Taruh kata kita sudah berada di kaki Gunung Dieng, masih ada pula satu masalah. Jangan lagi dibebani jenazah ibumu, sedang membaw a diri sendiri saja sudah sangat sukar. Sebab puncak gunung yang kita maksudkan amat terjal, lic in dan sempit. Mungkin sekali adik belum bisa membayangkan keadaan tanah gunung Dieng, karena belum pernah melihat gunung itu?"

Sekar Prabasini bergeleng kepala. Minta ketegasan : "Lalu bagaimana baiknya?"

'Masih ada satu jalan keluar," sahut Botol Pinilis. "Tapi

kurasa jalan hidup inipun belum merupakan jalan keluar sesungguhnya." "Apa itu?"

"Kita bawa tulang-belulang almarhum ayahmu ke mari, kemudian kita kubur bersama-sama dengan jenazah ibumu. Akan tetapi jasmaniah ayahmu kini sudah memperoleh kedamaian dan ketenteraman. Benarkah kita, apabila membongkar kuburannya untuk kemudian kita bawa-bawa pindah ke mari” kata Botol Pinilis minta pertimbangan.

0ooo-d.w-ooo0