Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 06

 Jilid 06

Melihat bungkusan itu, wajah Yunus berubah Tegurnya :

"Kau benar-benar tak menghargai aku."

“Bukan begitu," Lingga Wisnu menyahut cepat. "Nah, sekarang idzinkan aku pergi." segera ia bangkit dari kursinya dan membungkuk hormat pntuk berpamit. Tetapi Yunus menolak pemberian hormatnya. Ia menekap pergelangan tangan Lingga Wisnu. Berkata :

"Jangan! Aku larang engkau pergi!"

Lingga Wisnu kaget berbareng heran. Ia merasakan tangan Yunus sangat lunak.

"Ada satu hal yang hendak aku tanyakan kepadamu, saudara Lingga. Maka aku harap engkau bermalam di sin i."

"A ... aku mempunyai urusan sangat penting sehingga tak dapat aku bermalam di sini. Kelak, kalau urusanku sudah selesai, aku akan singgah dan bermalam di sin i," Lingga Wisnu menolak dengan suara tergagap-gagap.

"Tidak! Kau harus bermalam di sini!" Yunus menaksa.

Tiba-tiba Sondong Rawit yang selama itu duduk diantara mereka, menimbrung. "Kalau saudara Lingga memang mempunyai urusan penting, tak dapat kita memaksanya. Janganlah kita menghambat perjalanannya.

Yunus bersungut-sungut. Wajahnya muram. Setelah menarik napas, ia berkata mengalah:

"Baiklah, kalau engkau segera hendak berlalu. Tetapi bawalah bungkusan ini serta. Saudara Lingga, rumahku memang tak pantas. Engkau tak sudi bermalam dirumahku. Artinya engkau tidak menghargai aku. Baiklah, silahkan."

Lingga Wisnu jadi berbimbang-bimbang. Hatinya merasa tak enak membuat kecewa sahabatnya itu yang bermaksud baik. Tetapi ia harus cepat-cepat berangkat mencari gurunya. Setelah berdiri menimbang-nimbang beberapa saat lamanya, akhirnya menutuskan :

"Saudara Yunus,   engkau   sangat   baik   kepadaku.

Baiklah, malam in i aku menginap di sini.”

Mendengar keputusan Lingga Wisnu, Yunus menjadi girang bukan kepalang. Wajahnya berubah berseri-seri. Terus saja ia berteriak memanggil pembantu-pembantu rumah tangganya. Memberi perint ah :

"Kau sediakan makanan dan minuman hangat!"

Sondong Raw it nampak tak senang hati mendengar keputusan Lingga Wisnu. Meskipun demikian, ia tak meninggalkan tempat itu. Masih saja ia bercokol menemani mereka. Hanya saja ia bersikap membungkam. Yunus sangat gembira. Ia berbicara tentang senandung, dongeng-dongeng rakyat, kepercayaan penduduk, ilmu t ata-berkelahi dan persoalan perang.

... sepertinya ada kalimat terpotong...

Sebab pada saat itu, pikirannya sedang risau hendak menyusul gurunya yang berada dimedan perang secepat mungkin. Terhadap seni budaya dan dongeng-dongeng rakyat, ia kurang tertarik, meskipun bukan perkara asing baginya. Ia berpikir di dalam hati :

'Yunus ini luas pengetahuannya. Akan tetapi tabiatnya aneh ...'

Sebaliknya perhatian Sondong Rawit berbeda dengan adiknya. Nampaknya ia paham benar akan ilmu tata berkelahi. Akan tetapi mengenai seni budaya dan lainnya ia buta sama sekali. Jelas sekali, ia menjadi sebal mendengarkan obrolan Yunus tentang seni budaya dan dongeng dongeng rakyat. Namun tetap saja ia bercokol di atas kursinya.

Lambat laun Lingga Wisnu jadi perasa. Setiap kali ada kesempatan, ia mengalihkan pembicaraan kepada ilmu tata berkelahi. Sondong Rawit lantas merasa memperoleh tempat. Dengan penuh semangat, ia lantas menyambung. Akan tetapi baru saja setengah jalan, Yunus memotongnya. Dan kembali lagi Yunus membicarakan tentang seni budaya atau ilmu perang.

Mau tak mau Lingga Wisnu merasa diri seakan-akan dipaksa untuk mengenal tabiat dan perangai mereka berdua. Yunus seorang pemuda periang hati. Ia berbicara dengan perasaannya dan sebaliknya, Sondang Rawit, dia pendiam tetapi angkuh. Walaupun katanya kakak Yunus, namun kelihatannya segan terhadap adiknya itu. Terasa sekali ia selalu menghindari bentrokan bentrokan. Malahan, manakala Yunus setengah menegur atau setengah menyindir, tak berani ia membalas.

Tak terasa sore hari datang diam-diam. Hidangan sore segera diantarkan para pelayan. Masakannya, minuman dan penganannya lebih lengkap dan hebat dari pada siang hari tadi. Semuanya serba istimewa.

Setelah makan, Yunus yang berada daiam keadaan gembira, segera hendak melanjutkan pembicaraan. Ia ingin berbicara sebanyak banyaknya. Tentu saja menurut selera sendiri. Lingga Wisnu sebenarnya bersiaga melayani. Sebagai seorang tetamu, kedudukannya berada dibaw ah tuan rumah. Tetapi melihat Sondong Rawit yang nampak tersiksa, ia jadi tak enak hati. Maka buru-buru ia berkata :

"Saudara Yunus, aku lelah. Perkenankan aku beristirahat terlebih dahulu."

Yunus nampak kecewa. Tetapi segera ia sadar.

Menyahut :

"Saudara Lingga, semenjak kanak-kanak aku hidup ditengah pegunungan. Jarang sekali di rumahku ada tetamu seperti engkau. Malahan untuk yang pertama kali inilah, aku mempunyai tetamu sendiri. Begitu gembira dan terima kasih hatiku, sampai ingin mereguk dan menikmati semua perasaanku sekaligus. Maafkan perangaiku yang tak tahu diri ini. Sebenarnya, ingin aku menyalakan lampu sebesar-besarnya untuk mengajakmu berbicara. Tetapi ternyata engkau lelah. Baiklah, esok hari saja kita ngobrol lagi." "Saudara Lingga, mari engkau t idur di kamarku saja." tiba-tiba Sondong Raw it mengajak.

"Apa!" Yunus melotot. "Dalam kamarmu mana ada tempat untuk tetamu? Biarlah dia tidur di kamarku!"

Wajah Sondong Rawit berubah.

"Apa?" ia menegas, seolah-olah tak percaya kepada pendengarannya sendiri.

"Ya, kenapa?" sahut Yunus cepat. "Aku sendiri, biarlah tidur bersama ibu."

Sondong Raw it bungkam. Tetapi ia tidak senang mendengar ketetapan itu. Tanpa berkata lagi, ia meninggalkan ruang tamu. Dan kembali lagi Lingga Wisnu menjadi tak enak hati.

"Maafkan dia. Orang gunung memang kerap Kaii kasar," Yunus mengomel.

"Akupun orang gunung. Tak perlu engkau memikirkan diriku berlebih-lebihan," kata Lingga Wisnu.

Yunus tersenyum. Sahutnya tak perduli : "Kau ikutlah aku!"

Dengan membaw a lentera ditangan, ia mendahului berjalan. Lingga Wisnu mengikuti dari belakang. Ia dibawa berjalan melintasi dua pekarangan dalam. Sampai di ruang ketiga, Yunus membelok ke arah utara melalui lorong rumah yang agak panjang. Dan setelah melintasi dinding batas pagar halaman, sampailah ia pada sebuah kamar yang pintunya segera dibukanya. Eh, benar-benar seperti istana raja-raja, bentuk rumah keluarga Dandang Mataun, pikir Lingga Wisnu di dalam hati. Dan begitu pintu terjeblak, mata pemuda itu silau. Bau harum menusuk hidungnya.

Kamar itu terang-benderang oleh nyala lima belas lampu antik. Masing-masing terdiri dari segerombol buah jarak dengan dibebat kapuk. Api menyala terang. Pada tembok sebelah kiri, tergantung sebuah lukisan seorang gadis Kartasura yang terkenal luwes dan cantik. Dan tempat tidurnya, merupakan perabot yang mahal harganya. Di depan pembaringan, terdapat sebuah meja tulis, sepanjang model jaman itu. Kemudian sebuah jambangan dengan bunga seruni. Di dekatnya berdiri sebuah kurungan persegi panjang dengan dua ekor burung nuri yang selalu bergerak-gerak.

Lingga Wisnu semenjak kanak-kanak tak pernah mempunyai kesonpatan melihat tata indah. Ia hidup sebagai yatim piatu dan berada diatas gunung. Tak mengherankan melihat keindahan itu ia menjadi kagum dan benar-benar merasa seperti berada dalam sebuah istana. 

"Ini kamarku," kata Yunus. "Malam in i tidur saja di sin i," setelah berkata demikian, ia keluar kamar tanpa menunggu ucapan tetamunya.

Lingga Wisnu lantas memeriksa seluruh ruangan kamar dengan cermat. Ia biasa hidup di kejar-kejar lawan. Dan seringkali pula melihat tata-muslihat orang. Maka terhadap sesuatu yang baru dan asing, ia selalu menaruh curiga. Apabila tiada kesan-kesan yang mencurigakan, segera ia menutup pintunya. Kemudian perlahan lahan ia menbaringkan diri. Mendadak ia mendengar daun pintu diketuk hati-hati dari luar.

"Siapa?" ia bangkit. Pintu terbuka perlahan-lahan. Muncullah seorang pelayan cantik berumur enambelas tahun. Wajahnya sedap dan nampak, cerdik. Ia datang dengan membaw a sebuah niru.

"Tuan Lingga, sebelum tidur silahkan makan bubur halus lebih dahulu. Kami juga membawa seguci tuak," kata pelayan itu dengan suara halus sambil meletakkan guci tuak di atas meja.

Selamanya, belum pernah Lingga Wisnu bergaul atau berbicara ramah dengan seorang gadis cantik. Gadis cantik yang pernah dilihatnya hanyalah: Damayanti kekasih pamannya, Panjalu. Sedang yang pernah bergaul rapat dengannya adalah Palupi, seorang gadis dusun yang kebetulan berparas biasa saja. Keruan saja melihat seorang gadis rupawan memasuki kamarnya, ia jadi merasa kaku. Ia membalas tersenyum dengan muka bersemu merah.

"Namaku Sekarw ati. Panggillah namaku Wati saja" gadis itu memperkenalkan diri sambil ia tertaw a manis. "Aku diperint ahkan majikan untuk melayanimu. Apabila tuan memerlukan sesuatu, jangan segan-segan memanggilku.''

"Aku eh aku ... untuk sementara tak memerlukan

sesuatu,” sahut Lingga Wisnu kaku. Memang tiada acara lain pada malam itu, kecuali ia hendak tidur. "Baik Kalau begitu perkenankan aku mengundurkan diri." kata Sekarwati. Ia membalikkan. tubuh hendak berlalu. Tiba-tiba ia berputar lagi sambil berkata :

"Oh ya, yang membuat bubur halus itu, majikan sendiri. Tuan makanlah, pasti istimewa.”

Lingga Wisnu tercengang. Ia seperti merasa sesuatu yang meraba kedua belah pipinya, sehingga ia tak mengerti apa yang harus dikatakan Sekarwati waktu itu telah menjauhi sambil tertaw a perlahan. Kemudian menutup pintu dengan hati-hati sebelum tubuhnya hilang dari penglihatan.

Lingga Wisnu menghela napas yang terasa meniadi sesak. Tanpa mengacuhkan sepiring bubur itu ia melompat diatas tempat t idur, segera ia berselimut. Dan begitu berselimut, bau harum menusuk hidungnya.

Mula-mula ia menaruh perhatian kepada penciuman itu, pikirnya :

'Apakah pemuda diseluruh dunia ini, selain aku - menaburi wewangian diatas tempat tidurnya? '

Karena pikiran itu, ia jadi malu sendiri, lantaran merasa diri jorok. Dan selagi pikirannya dirumun persoalan itu, ia telah tertidur pulas dengan tak setahunya sendiri.

Lingga Wisnu kini adalah seorang pemuda yang berilmu kepandaian tinggi. Meskipun tidur lelap panca inderanya perasa sekali. Menjelang tengah malam, tiba- tiba ia tergugah oleh kepekaannya sendiri. Ia seperti mendengar suara. Lantas saja dilemparkannya pandangnya pada jendela kaca yang berada di depannya. "Tuk - tuk - tuk!" dan jendela terketuk perlahan tiga kali. Kemudian terdengar seseorang tertaw a lembut. Setelah itu terdengar bisiknya :

"Saudara Lingga, apakah engkau masih berkelana di dalam   alam   mimpimu?    Lihatlah,    bulan    bersinar ce merlang menerangi bumi. Malam begini sungguh sayang kalau dilalui tanpa bergadang terlebih dahulu. Keluarlah, alam sangat indahnya ...”

Segera Lingga Wisnu mengenal suara Yunus. Ia menajamkan penglihatannya. Di luar jendela kaca, cahaya bulan nampak cerah. Terus saja ia melompat bangun. Sambil memperbaiki letak pakaiannya, ia menyahut :

"Baik. Tunggu sebentar”

Semenjak memasuki rumah keluarga Dandang Mataun, diam-diam perhatiannya tergerak. Sekarang ia menyaksikan untuk kesekian kalinya, lagak lagu tuan rumah yang aneh. Terdorong oleh rasa ingin tahu, terus saja ia membuka daun jendela. Kemudian meloncat keluar. Ternyata di depan kamar itu adalah sebuah taman bunga yang sedang bermekaran.

"Mari!" ajak Yunus yang berada tujuh langkah di depan. Sambil membawa guci tuak, ia berjalan mendahului. Lingga Wisnu lantas mengikuti tanpa membuka mulut sambil menebarkan matanya.

Cekatan Yunus membaw a Lingga Wisnu keluar taman. Setelah berada di luar taman, ia berlari lari cepat menuju ke sebuah bukit yang berada di sebelah barat-daya. Pagar batu diloncatinya. Dan sepak terjangnya seakan- akan tidak menghiraukan segalanya. Lingga Wisnu terus mengikuti dengan tetap berdiam diri. Iapun meloncati pagar dinding itu. Yunus sendiri tidak pernah menoleh. Setelah tiba di puncak bukit, ia menikung dua kali. Dan tibalah pada suatu tempat yang berpemandangan luas. Angin halus meraba tubuh. Dan kebun bunga maw ar yang sedang bermekaran, menebarkan keharumannya. Jenisnya merah merekah dan putih bersih bercampur baur seperti tersulam. Di tengah sinar bulan, alangkah jadi indah bersemarak.

"Indah benar tempat ini. Mirip sebuah pertapaan!" seru Lingga Wisnu kagum di dalam hati. Lalu berkata :

"Saudara Yunus, apakah aku sedang mimpi?"

"Tidak!" sahut Yunus sambil tertaw a manis. "Bunga- bunga ini, aku sendiri yang menanamnya. Kecuali ibu, pelayan-pelayan perempuan, aku larang memasuki petamanan ini.

"Kenapa?" Lingga Wisnu heran.

"Laki-laki terlalu kasar bersentuhan dengan bunga."

"Akh!" Lingga Wisnu terkejut. "Kalau begitu, tak berani aku ..."

"Aku yang membaw amu kemari. Siapapun tak dapat melarangnya," potong Yunus cepat sambil tertaw a. Ia melanjutkan perjalanan menyeberangi petamanan bunga.

Setelah mendaki gundukan pendek, nampaklah sebuah rumah kecil muncul diantara gerombolan bunga sedap-malam. Di rumah kecil itulah tujuan Yunus terakhir. Ia mempersilahkan Lingga Wisnu duduk diserambi depan. "Kau pernah merasakan enaknya tuak?" ujar Yunus. "Tuak? Apa itu?"

"Semacam minuman keras. Terbuat   dari   pohon siw alan. Kau cicipilah barang dua mangkuk. Nanti kau bakal ketagihan! "

Lingga Wisnu tertaw a. Ia melayangkan pandangnya ke bawah. Suatu keindahan meresap di dalam dirinya. Tidak hanya itu. Dirasakannya juga suatu kehangatan yang manis sekali. Entah apa selabnya. Dan untuk beberapa saat lamanya ia berdiri terpaku.

Sekarang, aku akan meniup seruling. Kau boleh mencicipi tuakku." kata Yunus sambil memperlihatkan sebuah seruling ditangan kanannya, katanya lagi :

"Kau bisa memetik kecapi?"

Tak terasa Lingga Wisnu mengangguk.

"Bagus!" seru Yunus girang. Terus saja ia lari memasuki ruangan dalam dan keluar lagi sudah menjinjing sebuah kecapi.

Melihat kecapi itu, teringatlah Lingga Wisnu kepada gurunya, Ki Ageng Gumbrek. Hampir dua tahun lamanya, ia dipaksa mengiringi kehendak gurunya yang bertabiat aneh itu. Tetapi justru demikian, ia kini jadi bisa memetik kecapi. Namun di depan Yunus, ia berkata merendah :

"Saudara Yunus, aku belajar memetik kecapi tanpa guru. Kebiasaanku hanya mengiringi senandung orang. Sama sekali aku tak mengenal sebuah lagupun.”

"Akh, masa?" Yunus tak percaya. "Kau terlalu merendahkan diri." Kemudian acuh tak acuh ia mengangkat serulingnya kedepan mulut. Pada saat itu juga Yunus meniup lagu kegemarannya. Mula-mula perlahan seperti berbisik. Kemudian mengalun t inggi dan melengking menembus kesunyian malam.

Mendengar t iupan seruling itu, Lingga Wisnu tertegun sampai lupa memetik kecapinya. Ia merasa dirinya terbaw a mengapung diantara awan-awan yang bergerak. Aneh! Selama hidupnya, belum pernah ia memperoleh perasaan demikian. Dan apabila Yunus meletakkan serulingnya di atas pangkuannya kembali, ia menghela napas karena kagum. Katanya :

"Saudara Yunus! Tak pernah aku sangka engkau seorang pemuda serba bisa. Mengapa engkau begini cerdas?"

"Akh, jangan mengolok! Mengapa tak kau petik kecapimu? Apakah tiupanku tadi, tak dapat kau iring i? Coba katakan kepadaku, lagu apa saja yang kau ganari?"

"Saudara Yunus, aku berkata sebenarnya bahwa kecerdasan dan pengetahuanmu jauh berada di atasanku. Bagaimana bisa aku memilih sebuah lagu yang indah, sedangkan rasa keindahan itu sendiri belum aku mengerti sebaik-baiknya?" kata Lingga Wisnu sungguh- sungguh. Mau tak mau Yunus tertaw a senang. Di dunia ini, siapakah yang tak seriang memperoleh pujian setulus tulusnya demikian? Sahutnya :

"Benar begitu? Kalau benar begitu, biarlah aku yang memilih lagunya, dan cobalah petik kecapimu!"

Tanpa menunggu jawaban, Yunus lantas meniup serulingnya kembali. Lingga Wisnu menunggu sebentar. Kemudian mulailah ia memetik kecapinya Dan begitu kedua alat tetabuhan itu berpadu, malam sunyi dan bulan purnama terasa menjadi agung.

Dua orang pemuda itu terpekur sejenak, setelah lagu yang dibawakan selesai. Keindahannya yang halus, meresap di dalam perbendaharaan hatinya. Lingga Wisnu sebenarnya sering mengiringi Ki Ageng Gumbrek bermain kecapi. Gurunya yang lain, Kyahi Sambang Dalan pandai meniup seruling pula. Akan tetapi, tiupan Yunus mempunyai bentuk keindahannya sendiri. Dan keindahan itu membaw a suatu perasaan yang aneh, sehingga sampai detik itu belum juga ia menemukan sebab- sebabnya.

"Bagaimana? Dapatkah engkau menikmati keindahannya?" tanya Yunus.

"Sungguh! Selama hidupku, baru malam in i aku seperti mengerti tentang keindahan hidup," sahut Lingga. Wisnu sejadi-jadinya. "Dahulu aku mengira, hidup ini penuh siksa dan derita. Mimpipun tak pernah, bahwa pada suatu kali, aku di beri kesempatan mereguk keindahannya yang sejati, meskipun hanya sesaat saja. Akh, apakah begini kenikmatan sorga yang dijanjikan kepada manusia?"

Yunus tertaw a geli. Kata-kata Lingga Wisnu terlalu berlebih-lebihan. Namun ia segan mengusiknya. Bahkan ia duduk beringsut-ingsut mendekati. Dan begitu berdekatan, Lingga Wisnu mencium bau harum yang meremangkan bulu ronanya. Ini bukan harum bunga mawar yang bertebaran di depannya. Tetapi bau harum

... Tak berani Lingga Wisnu menyelesaikan dugaannya.

"Sebenarnya, engkau senang atau tidak, aku meniup seruling?" t iba-tiba Yunus meminta ketegasan. "Tentu, tentu! Kenapa kau tanyakan? Begitu mendengar tiupan serulingmu, ingatanku terbaw a pada masa-masa lalu, tatkala masih berada diatas puncak gunung Dieng," sahut Lingga Wisnu.

Yunus menoleh, menatap wajahnya. Mulutnya bergerak-gerak hendak mencetak kata-kata, tetapi batal sendiri. Sebagai ganti, ia meniup serulingnya lagi. Dan Lingga Wisnu seolah-olah mempunyai kewajiban untuk segera mengiringkanya dengan petikan kecapi.

Selagi nada lagu memasuki bait-bait pertengahan, tiba-tiba Yunus berhenti dengan mendadak. Seruling yang berada di mulut dihentakkan kebawah. Kemudian dipatahkan menjadi dua bagian.

"Hai, kenapa?" Lingga Wisnu kaget berbareng heran. "Serulingmu sangat bagus. Engkaupun pandai meniupnya. Mengapa kau ?"

Yunus menundukkan kepala. Katanya perlahan: "Belum pernah selama hidupku, aku meniup seruling

untuk    seseorang.    Mereka    semua    hanya    gemar

membicarakan tentang senjata tajam, ilmu tata- berkelahi, perang, uang dan cita-citanya. Hmm!”

"Tetapi aku senang sekali melihat dan mendengar engkau meniup seruling. Tak percayakah engkau pernyataanku ini?" ujar Lingga Wisnu dengan suara tinggi.

"Seumpama benar demikian, engkaupun esok pagi akan pergi jauh. Dan begitu engkau pergi, kesenyapan hidup kembali lagi. Apa perlu aku meniup seruling malam ini?" sahut Yunus suara agak gemetar. Lingga Wisnu tercengang. Oleh rasa tegang, ia berpaling menatap wajah Yunus kuning bersih.

"Memang, tabiatku sangat buruk. Hal itu telah aku sadari," kata Yunus lagi. "Entah apa sebabnya, aku seakan-akan tak dapat menguasai suatu rangsang yang datang tiba-tiba. Aku tahu engkau sebal kepadaku. Meskipun engkau sangat baik kepadaku, akan tetapi hatimu tersiksa karena sifat burukku. Bukankah begitu?"

Lingga Wisnu terdiam, mulutnya seolah-olah terkunci rapat.

"Benar begitu, bukan? Ya, benar begitu," ujar Yunus seraya menghela napas pendek. "Itulah sebabnya, mulai esok hari kau tak bakal sudi melihatku lagi. Malahan, seumpama aku tidak menahanmu, malam ini juga kau ingin sekali meninggalkan rumahku."

Mendengar kata-kata Yunus, mendadak saja Lingga Wisnu merasa menjadi bingung. Itulah disebabkan, semua perkataan Yunus benar belaka. Sulit ia mencoba berkata :

"Saudara Yunus, dalam hidupku, inilah yang pertama kalinya, aku merasa benar-benar merantau. Kau bilang, aku sebal melihat perangaimu. Memang, aku harus membenarkan perkataanmu itu. Tadinya memang aku sebal terhadapmu. Tetapi kini, tidak!"

"Tidak? Kenapa?" Yunus menegas dengan suara perlahan. Ia mengaw asi Lingga Wisnu dengan hati yang cenas dan penuh selidik.

"Sekarang aku tahu, apa sebab engkau bertabiat aneh. Sekarang aku mengerti, apa sebab merasa diri tak dapat menguasai suatu rangsangan yang, datang dengan sekonyong konyong. aku yakin hal itu terjadi lantaran hatimu selalu diliputi perasaan duka-cita. Entah duka-cita apa aku tak tahu. Tetapi pasti begitu,” kata Lingga Wisnu dengan suara yakin. Kemudian meneruskan dengan suara hati-hati :

'Maukah engkau mence ritakan kedukaan hatimu kepadaku?"

Wajah Yunus berubah. Tiba-tiba saja matanya berlinangan. Cepat ia menundukkan kepala dan membuang pandang. Sekian lamanya ia terpekur mencoba menguasai diri. Setelah menegakkan kepalanya kembali, ia menatap wajah Lingga Wisnu seraya berkata perlahan :

"Benar! Engkau seperti dewa peramal. Pandang matamu seperti kuasa menembus kabut rahasia hidup. Baiklah, aku akan menceritakan kepadamu segala penderitaan batinku. Tetapi .... tetapi jangan-jangan engkau lantas memandang rendah diriku, setelah mendengar keadaan diriku."

"Meskipun aku masih muda, seumpama seorang, anak yang belum pandai beringus, aku berjanji, bahwa hal itu tak mungkin terjadi!" seru Lingga Wisnu dengan suara menyala-nyala.

Beberapa saat lamanya, Yunus menatap wajah Lingga Wisnu, mencari keyakinan. Kemudian ia mengumpulkan keberaniannya untuk mengabarkan riw ayat hidupnya. Katanya :

"Baiklah, aku percaya kepadamu. Biarlah aku ceritakan siapa diriku." Lingga Wisnu membalas menatap wajah Yunus. Dengan sungguh-sungguh ia menaruh perhatian dan siap mendengarkan tiap patah kata yang membersit dari mulut Yunus.

"T atkala ibuku masih muda remaja, aku sudah mengintip-intip untuk lahir," Yunus memulai dan sesaat kemudian meneruskan :

"Maksudku, tatkala ibu masih remaja, ia kena diperkosa oleh seorang laki-laki busuk. Dan akibat dari perkosaan itu, lahirlah aku. Kakek tentu saja t idak tinggal diam. Dengan berbekal kepandaiannya, ia melabrak manusia busuk itu. Akan tetapi kakek kalah. Karena penasaran, kakek mengumpulkan sepuluh orang teman- temannya. Dan barulah manusia busuk itu bisa terusir dari rumah. Tetapi dengan demikian, aku jadi tak mempunyai ayah lagi. Nah, tahulah engkau kini, bahwa aku ini anak seorang manusia busuk. Hasil dari suatu perkosaan. Sekarang hinalah aku!"

Lingga Wisnu tahu, tabiat Yunus aneh. Tetapi tak pernah menyangka, bahwa jalan pikirannya aneh pula. Maka buru-buru ia menjawab :

"Engkau sendiri tak dapat disalahkan. Kalau memang harus ada yang disalahkan, haruslah si manusia busuk itu."

"Akh engkau hanya menghibur hatiku saja!" ujar Yunus dengan suara dalam. "Seumpama engkau berada diantara sepuluh orang, yang sembilan orang berpikir lain. Kata mereka, justru diriku adalah yang menyebabkan dan yang membuat ibu serta manusia busuk itu terang nafsunya. Memang dihadapanku mereka tak berani berkata begitu. Tetapi dibelakangku, mereka mencemooh, mencaci dan mengutuk diriku. Merekapun memaki-maki ibu pula.”

m siapa mereka yang berani menghinamu dan menghina ibumu?" seru Lingga Wisnu dengan mata menyala. "Baik, aku berjanji kepadamu hendak membantumu menghajar mereka sampai jera. Manusia jahil mulut itu tidak pantas kita kasihani. Saudara Yunus! Setelah mendengar kisah hidupmu, kini tiada lagi sisa rasa sebal dan jemuku kepadamu. Dan demi Tuhan, sekiranya engkau sudi menganggap diriku sebagai salah seorang sahabatmu, aku pasti akan datang lagi kepadamu dan bersedia menyertaimu ke mana engkau pergi."

"Oh, benarkah itu?" seru Yunus girang. Dan karena rasa girangnya, kedua matanya basah. Rasa haru menyelinap ke dalam lubuk hatinya. Mendadak ia meloncat bangun dan memeluk Lingga Wisnu. Kemudian menandak-nandak kegirangan.

Menyaksikan lagak-lagu Yunus, Lingga Wisnu tercengang. Ia kaget tatkala kena peluk. Lengan nya empuk halus. Bau harum rambutnya, alangkah sedap. Selagi demikian, Yunus menandak nandak. Mau tak mau, ia tertawa geli juga.

"Saudara Lingga, lihatlah. Aku begini girang. Kau tahu sebabnya?" Yunus seperti menguji

"Apakah karena aku bersedia menyertaimu ke mana engkau pergi?"

"Benar. Engkau berjanji dengar sungguh-sungguh, bukan?" Yunus berhenti menandak. Ia menegas. "Tak pernah aku berdusta terhadap siapapun. Guruku sering berkata, bahwa untuk suatu janji, seorang laki-laki harus berani mengorbankan diri sendiri. Kalau perlu, jiwa dan hartanya," jawab Lingga Wisnu dengan suara meyakinkan.

Sekonyong-konyong terdengarlah suara bergemeresak dibawah gundukan. lingga Wisnu melompat bangun dan menoleh ke arah suara itu. Sesosok bayangan muncul diantara gerombol bunga. Terdengar dia mendengus menngerendengi :

"Hmm, dimalam buta kamu mengadakan pertemuan.

Ouh!"

Bayangan itu berperawakan jangkug kurus. Siapa lagi, kalau bukan Sondong Rawit? Wajahnya guram. Ia berdiri sambil bertolak pinggang. Terang sekali, ia dalam keadaan marah.

Yunus terkejut. Tetapi begitu mengenal bahwa orang itu adalah Sondong Rawit, segera ia menegur dengan kata-kata pedas :

"Kau sendiri keluyuran sampai di sini. Kenapa?"

"Kau jawablah pertanyaanmu sendiri!" sahut Sondong Rawit.

"Aku sedang bergadang menikmati bulan purnama dengan saudara Lingga. Apa salahnya?" jawab Yunus cepat. "Dia berada di sin i karena aku undang. Sebaliknya engkau? Siapa yang mengundangku? Coba bilang! Bukankah siapa saja tahu bahwa kalian aku larang memasuki wilayah ini? Di dunia in i, kecuali ibu, siapapun tak diperkenankan memasuki petamananku. Paman Cocak Rawa sendiri yang menetapkan undang- undangnya. Kenapa sekarang engkau berani melanggarnya?"

Sondong Raw it mendengus. Sambil menuding Lingga Wisnu, ia berkata :

"Dan dia? Kenapa dia datang ke mari?"

"Bukankah telingamu tadi sudah mendengar? Dia datang ke mari karena aku undang! Berani engkau mencampuri urusanku?" bentak Yunus.

Tak enak hati Lingga Wisnu menyaksikan pertengkaran mulut itu, lantaran dirinya. Segera ia menengahi :

"Aku kira, sudah cukup kita begadang menikmati cerah bulan. Biarlah aku mengundurkan diri saja."

"Tidak! Jangan pulang dahuki!" Yunus mencegah.

Lingga Wisnu yang sudah berdiri, lalu duduk kembali di tempat semula. Ia melihat muka Sondong Raw it semakin muram. Meskipun dia tak berani membantah kata-kata Yunus, namun jelas sekali hatinya mendongkol.

"Bunga yang aku tanam di sin i adalah hasil jerih payahku sendiri. Bunga tanamanku sendiri boleh aku cabuti, atau aku jual atau aku pertontonkan kepada orang lain." ujar Yunus dengan dengan suara galak. "Siapapun tak dapat mengingkari hakku itu. Sekarang, aku larang engkau menonton bunga-bungaku! Kau dengar?"

"Tetapi, aku terlanjur melihat semua tanaman bungamu." kata Sondong Raw it kekanak kanakan, "Hanya saja, aku belum pernah menciumnya. Sekarang, biarlah aku menciumnya.1' "Tak boleh! Tak boleh!" Yunus melarang menjerit-jerit.

Kali in i Sondong Fawit berani manbangkang. Ia menghampiri serumpun bunga mawar, lalu menciumi bunganya.

Meluap amarah Yunus. Serta-merta ia meloncat dari tempatnya. Sekali melesat ia menyambar tangkai bunga itu, lalu dicatutnya. Setelah dilemparkan ke tanah, ia mencabut yang lain. Demikianlah sampai t iga-empat kali.

"Kau menghina aku! Kau menghina aku!" Yunus menjerit-jerit. “Kenapa kau cium bungaku? Biar aku cabuti saja. Biar kau dimarahi paman. Bukankah kau tahu, siapa saja aku larang melihat bungaku. Kenapa kau malahan menciumi? Biar semuanya aku cabuti saja ..."

Tiba-tiba ia lantas menangis menggerung-gerung sambil mencabuti tanaman bunganya, hebat sepak- terjangnya. Seperti tadi, ia mengamuk. Rumpun-rumoun bunga mawar yang telah dicabutnya dilemparnya ke tanah asal jadi saja. Sebentar kemudian, taman bunganya telah menjadi rusak.

Lingga Wisnu tak dapat mencegah. Ia seperti tergugu melihat w atak Yunus. Tanaman bunganya, benar-benar dicabuti semua. Tangkainya jadi berserakan dan bertebaran seperti jerami.

"Nah, kau sekarang puas, bukan?" jerit Yunus. Sondang Raw it tetap gusar. Akan tetapi dia bungkam.

Melihat kurang-lebih empatpuluh batang bunga mawar tercabut berserakan, ia memutar tubuh dan berjalan dengan penasaran. Tatkala hendak menuruni gundukan, ia menoleh dan berkata: "Aku selalu bersikap baik terhadapmu. Kenapa engkau perlakukan aku begini rupa? Coba pikir baik-baik. Engkau mmpunyai budi pekerti tidak?"

Yunus masih menangis. Jaw abnya pedas :

"Siapa minta kau bersikap baik kepadaku? Jika engkau tak senang melihatku, mengadulah kepada paman! Suruh dia mengusirku dari sini! Malam ini, aku akan tetap berada di sin i dengan saudara Lingga! Nah, adukanlah hal in i kepada paman. Sama sekali aku tidak takut."

Sondong Rawit menghela napas. Ia menundukkan kepala. Hatinya pedih bukan main. Dengan berdiam diri, ia menuruni gundukan.

Setelah bayangan Sondong Rawit hilang dari pengamatan, Yunus kembali memasuki paseban dan duduk disampirg Lingga Wisnu. Kedua pipinya basah kuyup oleh air mata.

"Kenapa sikapmu begitu keras kepada kakakmu sendiri?" tanya lingga Wisnu.

"Dia bukan kakak kandungku” sahut Yunus diantara sedu-sedannya. "Ibuku, puteri eyang Dandang Mataun. Dan dia, anak pamanku yang menguasai rumah eyang. Dia kakak misanku. Akh, seumpama aku mempunyai ayah, pastilah aku tidak tinggal di rumah in i. Dengan mempunyai rumah sendiri, tak bakal aku dihina orang." Berkata demikian, tangis Yunus kian menjadi-jadi.

Lingga Wisnu tetap belum mengerti perangai dan tabiat Yunus yang aneh. Jalan pikirannya sukar dimengerti. Pikirnya di dalam hati 'Rumah ini adalah rumah eyangnya. Kini di kuasakan kepada pamannya. Bukankah tetap satu keluarga? Kenapa dia merasa dihina keluarga pamannya?' berpikir demikian, ia mencoba berkata:

"Aku lihat dia bersikap baik.kepadamu. Engkaulah yang terlalu galak terhadapnya."

Yunus mengangkat kepalanya. Tiba-tiba ia tertaw a.

Sahutan :

"Sekiranya aku tidak bersikap galak kepadanya, pastilah dia bakal memperlakukan aku yang bukan- bukan."

Jawaban Yunus aneh bagi pendengaran Lingga Wisnu. Lagak-lagunyapun bukan manusia lumrah pula Dia bisa menangis menggerung-gerung dan tertawa riang dengan mendadak. Inilah tanda-tanda manusia berbahaya! Walaupun demikian. Karena Yunus seorang yatim seperti dirinya, hatinya bersimpati padanya.

"Ayahku juga mati kena aniaya orang seperti ayahmu." kata Lingga Wisnu menghibur. 'Yaktu itu, aku baru berumur tujuh atau delapan tahun. Ibuku mati pula pada hari itu."

"Apakah engkau sudah menuntut balas?" Yunus menegas.

"Sampai hari ini, aku belum memperoleh kesempatan untuk..”

"Kalau begitu catatlah namaku dalam hatimu! Bila engkau hendak menuntut balas, dengan seluruh hatiku, aku akan membantumu," potong Yunus dengan  suara prihatin. "Tak perduli musuhmu sangat tinggi ilmu kepandaiannya, aku akan membantumu."

Mendengar ucapan Yunus, Lingga Wisnu geli tercampur terharu. Tadinya, ia hendak menghibur dan memberi seri-tauladan, betapa sikapnya terhadap pembunuh-pembunuh ayah-bunda serta saudaranya. Bahwasanya, meskipun hati berdendam sedalam lautan, tidak boleh mengumbar adat seenaknya sendiri. Tetapi sekarang, dia justru dihibur Yunus, malah. Tak terasa terloncatlah kata-katanya :

"Saudara Yunus, aku sangat berterima kasih terhadapmu."

Yunus memegang pergelangan tangan Lingga Wisnu. Dan pemuda itupun membalas pasangannya. Sedang Yunus tak menolak. Ia membiarkan tangannya kena tekap.

"Dalam hal tata-berkelahi, aku kalah beberapa puluh kali lipat dari padamu." katanya. "Akan tetapi mengenai sikap hidup di dalam pergaulan, rupanya engkau belum berpengalaman banyak. Dikemudian hari, aku perlu menyumbangkan pertimbanganku.'

"Akh, kau baik sekali kepadaku," Lingga Wisnu kini benar-benar terharu. "Selama hidupku belum pernah aku mempunyai seorang teman seusiamu."

"Benar begitu? Tetapi tabiatku sangat buruk." Yunus mengaku dengan menundukkan kepalanya. "Yang aku khaw atirkan, jangan-jangan dikemudian hari, aku berbuat kesalahan terhadapmu ...”

"Aku kenal tabiatmu, semenjak pertemuan kita yang pertama," sahut Lingga Wisnu. "Seumpama engkau melakukan kesalahan terhadapku, tidak akan aku rasukkan ke dalam hatiku benar-benar."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, Yunus bersyukur bukan main, sampai ia menghela nafas lega. Tiba-tiba, diluar dugaan ia berkata :

"Tetapi justru demikian, hatiku merasa tak tenang." "Mengapa?"

Yunus tak menjaw ab. Ia makin menundukkan

kepalanya. Dan melihat sikap sahabatnya itu maka Lingga Wisnu semakin heran. Kenapa sahabatnya kali ini begitu lembut? Kebengisan serta kegalakannya lenyap sama sekali dari perbendaharaan hatinya.

"Saudara Yunus," kata Lingga Wisnu dengan suara bergetar. "Sebenarnya ingin aku mengajakmu berbicara. Tetapi ... entah kau sudi mendengarkan atau tidak?"

Yunus menegakkan pandangnya lagi. menjawab meyakinkan:

"Di dalam dunia ini, hanya tiga orang saja yang aku dengar perkataannya. Yang pertama ibuku, kedua pamanku Cocak Raw a dan yang ketiga, ialah ... engkau!"

Hati Lingga Wisnu semakin tergerak. Berkata : "Terima kasih. Kau tenyata menghargai diriku terlalu

tinggi. Sebenarnya, perkataan siapapun, asal saja pantas

harus kau dengar."

"Tidak!" Yunus menolak dengan tegas. "Dalam dunia ini, t iada suatu kewajiban yang berbunyi begitu. Seorang yang berbicara terlalu pantas, biasanya banyak ulatnya. Sebab, kata-kata belum tentu membaw a sikap dirinya - Sebaliknya, seseorang yang memberlakukan diriku sangat baik dan akupun berkenan padanya, meskipun kadangkala kata-katanya tidak pantas, akan tetapi aku dengarkan perkataannya. Sebaliknya, bila hatiku jemu terhadapnya, meskipun kata-katanya pantas didengar, aku akan tetap bersikap tuli

Lingga Wisnu tertawa geli. Ujarnya :

"Saudara Yunus. Cara berpikirmu masih kekanak- kanakan. Sebenarnya, berapa umurmu kini?"

"Delapan atau sembilan belas tahun Dan kau?" "Mungkin lebih tua tiga atau empat tahun,"

Yunus menundukkan kepala. Wajahnya mendadak bersemu merah. Katanya dengan suara perlahan :

"Semenjak kanak-kanak aku hidup sebatang-kara dengan ibu. Tiada mempunyai kakak maupun adik. Bagaimana kalau kita mengangkat saudara saja? Maukah engkau menerimaku sebagai ..."

Lingga Jlsnu seorang pemuda cermat, lantaran digodok oleh pengalamannya yang nahit semenjak belum pandai beringus'. Itulah sebabnya, tak dapat ia menerima Yunus dengan segera. Ia belum kenal Yunus sedalam- dalamnya. Juga ibunya maupun keluarganya. Tercetaklah dalam ingatannya siang tadi, bahwa keluarga Yunus merupakan musuh penduduk. Oleh pertimbangan itu, ia jadi berbimbang-bimbang.

Yunus ternyata perasa. Ia seperti dapat meraba keadaan hati Lingga wisnu. Terus saja ia berputar tubuh dan lari menuruni tanjakan. Keruan saja, Lingga Wisnu jadi terkejut. Cepat ia memburu. Dan dalam sekejab saja bayangan Yunus nampak sudah mulai mendaki bukit yang berada di sebelah depan.

'Dia mudah tersinggung, lantaran tabiatma keras dan aneh. Akh, tak boleh aku mengecewakan hatinya. Dia bisa bersakit hati. Dan kalau sampai hatinya merasa aku lukai, jangan-jangan ..’ pikir Lingga Wisnu sambil memburu. Ia khaw atir, Yunus akan nekat bunuh diri terjun ke dalam jurang. Menilik adatnya yang aneh dan sukar di duga, bukan mustahil ia bisa berbuat begitu. Oleh pikiran itu segera ia menggunakan ilmu sakti Maya Putih warisan Ki Ageng Gumbrek. Dalam beberapa lintasan saja, ia sudah dapat mendahului. Kemudian berdiri menghadang.

Benar saja dugaannya. Yunus berusaha mengelakkan hadangannya dengan nyelonong ke sebelah kiri. Cepat Lingga Wisnu melcmpat menghadang kembali sambil berseru:

"Adikku Yunus! Kau marah padaku?"

Mendengar Lingga Wisnu memanggil adik kepadanya , Yunus girang bukan kepalang. Serentak ia berhenti. Kemudian duduk bersimpuh dan perlahan-lahan menegas dengan hati-hati:

"Benarkah engkau sudi memanggil adik kepadaku? Bukankah diriku tidak cukup berharga untuk kau panggil demikian?"

"Kapan aku tidak menghargaimu?" sahut Lingga Wisnu terharu. "Mari! Di tempat ini kita saling mengangkat saudara. Kau sudi bukan?"

Terus saja Yunus bangkit dan berdiri tegak. Kanudian masing-masing mengiris kulit pergelangan tangannya sampai keluar darah. Setelah itu, mereka memanunggalkan darah mereka masing masing dengan memipitkan pergelangan tangan.

Dengan disaksikan oleh Bumi, Bulan ce merlang dan langit, mereka bersumpah sebagai saudara seia-sekata. Berbareng mereka mencium bumi tiga kali. Lalu, Lingga Wisnu memanggil adik kepada Yunus. Dan Yunus mencium kedua lutut Lingga Wisnu dan menyebut kakak kepada pemuda itu. Perlahan suaranya, lantaran hatinya terharu.

Lingga Wisnu mundur untuk memberi hormat pula.

Sahutnya :

"Selanjutnya, aku akan menanggil namamu saja, agar hati kita terasa lebih dekat. Setuju?"

Yunus tersenyum. Ia memanggut. Jaw abnya: “Sekehendakmulah. Kau panggil diriku apa saja, aku

akan patuh kepadamu."

Lega hati Lingga Wisnu. Kemudian ia mengajak pulang, karena hari sudah larut malam. Yunus tak membantah. Ia kembali kepaseban mengambil guci tuaknya, dan mengembalikan kecapi ketempat semula. Setelah itu dengan berendeng mereka berjalan pulang.

Sampai didepan pintu kamar, Lingga Wisnu berpesan : "Jangan sampai ibu terbangun. Sebaiknya kita tidur

disini saja."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, wajah Yunus merah dengan mendadak. Ia tertaw a manis seraya menolak tangan Lingga Wisnu. Katanya: "Kau ... kau ... sampai besok pagi!" dan setelah berkata demikian, ia lari keluar.

"Aneh!" Lingga Wisnu tercengang. Seperti biasanya, pada keesokan harinya, Lingga Wisnu bangun pada pagi buta. Ia bersemedi dahulu agar memperoleh suatu kesegaran dalam dirinya. Satu jam kemudian, Sekarw ati muncul mengantarkan ia air hangat. Cepat ia melompat dari pembaringan sambil mengucapkan terima kasih. Dan setelah mencuci muka, makan pagi segera tersedia di- hadapannya. Dan selagi makan, Yunus muncul di- amibang pintu memasuki kamarnya.

"Mari k ita makan pagi bersama,'' Lingga Wisnu segera menawari.

Yunus tertaw a. Sahutnya :

"Terima kasih. Apakah kangmas akan melihat suatu keramaian?"

"Keramaian apa?" Lingga Wisnu heran.

"Seorang gadis datang pada pagi hari buta tadi untuk menagih emas. mari kita lihat!"

Sebenarnya Lingga Wisnu ingin minta keterangan tentang kata-kata 'menagih' itu. Tetapi karena Yunus sudah mengajaknya, ia lantas mengangguk. Katanya :

"Baik ..."

Berdua mereka memasuki sebuah gedung yang mempunyai ruangan olah raga: Di ruangan itu mereka melihat seorang gadis sedang bertempur melawan Sondong Rawit. Dan dua orang duduk diatas kursi di luar gelanggang. Yang seorang bersenjata sebatang tongkat, dan lainnya bertangan kosong. Yunus menghampiri orang yang bersenjata tongkat. Ia berbisik, dan orang itu menoleh kepada Lingga Wisnu. Ternyata dia seorang yang sudah berusia lima puluhan tahun lebih. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah banyak ubannya. Ia menatap Lingga Wisnu beberapa saat lamanya dengan penuh perhatian, kemudian memanggutkan kepalanya.

Lingga Wisnu hanya membalas memandang beberapa detik. Kemudian mengalihkan perhatiannya kepada gadis yang sedang bertempur melawan Sondang Raw it. Ia seorang gadis berumur sembilan belas tahunan. Parasnya cantik sekali. Gerak-geriknya gesit. Pakaiannya berw arna merah.

Diam-diam Lingga Wisnu mencoba menduga-duga

siapakah gadis itu. Setelah pertempuran berlangsung sepuluh jurus, hati Lingga YMsnu tercekat. Ia melihat suatu gerakan pedang yang sangat dikenalnya. Ujung pedang itu menyambar pundak Sondong Rawit. Lalu dengan tiba-tiba berobah sasaran menikam leher. Inilah gerakan salah satu jurus

ajaran gurunya, Kyahi Sambang Dalan!

Mereka berdua memang bertempur dengan menggunakan senjata. Gadis itu berpedang. Dan Sondong Rawit bergolok. Masing-masing nampak mahir sekali menggunakan senjata andalannya Tadi gadis itu menyambar pundak. Sondong Raw it segera menangis dengan mengadu tenaga. Dan kena tangkisan Sondong Rawit, pedang gadis itu terpental. Justru pada saat itu, mendadak pedangnya menikam leher. Sondong Raw it kaget samoai me lesat mundur tiga langkah Namun gadis itu tak sudi memberi waktu bernapas. Gesit sekali ia melejit. Sebelah tangan dan kedua kakinya sama-sama bekerja saling menyusul. Menyaksikan hal itu, Lingga Wisnu berbimbang-bimbang. Inilah bukan jurus ajaran gurunya. Pikir Lingga Wisnu :

'Tetapi, bagaimanapun juga, dia musti pernah menerima jurus-jurus ajaran guru. Setidak-tidaknya, termasuk golongan guru. Jangan-jangan dia murid salah seorang saudara seperguruanku Sekiranya dia tidak memiliki ilmu pedang itu takkan mungkin ia bisa membuat Sondong Raw it benar-benar rapat dan kuat sekali.'

Gerak-gerik gadis itu memang cepat dan gesit. Pedangnya, berkelebatan, namun dibandingkan dengan kepandaian Sondong Pawit, ia masih kalah ulet. Tak perduli pedangnya garang bagaikan jari maut, namun dia bukan tanding Sondong Raw it. Lingga Wisnu melihat, dalam beberapa gebrakan lagi, gadis itu akan segera terangsak. Dan ternyata penglihatannya memang tepat. Beberapa jurus kemudian, Sondong Raw it yang sudah tenang kembali, mulai melancarkan serangan serangan yang berbahaya. Dan gadis itu mundur selangkah dengan berputaran.

"Hmm," dengus Yunus. "Dengan bekal kepandaian begitu, sudah berani main labrak kesini." Yunus tertaw a taw ar. Lalu katanya lagi : "Dia bukan tanding kakak misanku. Bagaimana. menurut pendapatmu?"

Lingga Wisnu belum menjawab atau ia melihat berkelebatnya babatan golok Sondong Rawit yang berbahaya sekali. Waktu itu, gerakan lawan nya mulai kendor. Itulah kesempatan sebagus-bagusnya bagi Sondong Raw it untuk memperkembangkan ilmu goloknya. Setelah merangsak beberapa kali, goloknya bergerak melintang. Dan gadis itu terancam pinggang dan lengannya sekaligus.

Hati Lingga Wisnu tercekat. Melihat suatu kegentingan, tanpa berpikir tunjang lagi ia melompat ke gelanggang. Kedua tangannya menyekat garis tengah. Itulah berbahaya sekali, karena kedua-duanya sedang mengayunkan senjatanya. Yunus yang menyaksikan hal itu, memekit kaget. Dan kedua orang tua yang berada di luar gelanggang meloncat bangun. Namun, baik Yunus maupun kedua orang tua itu, tak berdaya lagi untuk menolong Lingga Wisnu terhindar dari bahaya.

Lingga Wisnu sudah barang tentu sadar akan ancaman bahaya itu. Tapi pada detik yang menentukan tangan kanannya menolak serangan Sondong Rawit dengan perlahan. Dan tangan kirinya menangkap pergelangan tangan sigadis dengan perlahan pula. Berbareng dengan gerakan itu ia mengendapkan diri. Dengan demikian, terbebaslah dirinya dari ancaman maut.

Gerakan Lingga Wisnu nampaknya sederhana saja. Hanya akibatnya diluar dugaan siapapun. Tatkala mengendapkan diri, ia menggempur tekanan tenaga mereka berdua dengan ilmu saktinya yang lunak. Begitu terpotong, baik pedang maupun golok, gagal mencapai sasaran. Dalam keadaan demikian, Lingga Wisnu bisa leluasa merampas senjata mereka. Namun ia tak berbuat begitu, karena khaw atir akan menyinggung kehormatan diri Sondong Rawit. Sebaliknya, karena gerakan ilmu saktinya utuh, kuda-kuda mereka berdua kena digempur sampai mundur sempoyongan dua atau tiga langkah. Keruan saja mereka kaget sampai memekik tertahan. Setelah bisa memperbaiki diri, mereka menjadi gusar dengan alasannya masing-masing.

Malahan, hati Sondong Raw it memang sudah dengki terhadap Lingga Wisnu. Di depan adik misannya, harga dirinya runtuh. Ia malu sekali sampai tak bisa pejamkan mata satu malam suntuk. Sekarangpun dirinya dilakukan sangat ringan dihadapan adik misannya itu. Malahan kedua orang tua yang berada di luar gelanggang pula. Tak mengherankan, hatinya menjadi panas

Sebaliknya, gadis itu gusar lantaran mengira Lingga Wisnu membantu Sondong Raw it. Menuruti kata hati, ingin ia menggerakkan pedangnya. Tetapi segera sadarlah dia bahwa kepandaian pemuda itu sangat tinggi. Maka dengan terpaksa ia mengendalikan rangsangan hati. Kemudian mundur dua langkah dan hendak mengangkat kaki.

"Nona, tunggu!" seru Lingga Wisnu. "Ingin aku berbicara denganmu."

"Tak dapat aku melawanmu," balas gadis itu diantara rasa gusarnya. "Tetapi seseorang berkepandaian sekian kali lipat tingginya dariku akan datang mengambil emasnya kembali. Mau berbicara apa lagi?"

Lingga Wisnu maju selangkah seraya membungkuk hormat. Sahutnya : "Jangan engkau menuruti kata hati saja, bersabarlah sedikit. Sebenarnya, siapakah namamu? Bolehkah aku

..."

"Ih .. " Dan gadis itu meludah di lantai. "Tak tahu malu!" dengan sekali loncat, ia sudah keluar pintu

Lingga Wisnu segera mengejarnya. Akan tetapi, ia membiarkan gadis itu mencapai serambi depan dahulu. Kemudian dengan sekali menjejakan kaki, ia melesat bagaikan bayangan. Tahu-tahu ia sudah menghadang di depan gadis itu. Katanya setengah berbisik :

"Sst! Jangan pergi dulu! Aku akan membantumu ..."

Gadis itu tercengang sampai menghentikan langkahnya. Sambil menatap wajah Lingga Wisnu, ia menegas :

“Siapa kau.?” "Aku Lingga!"

Gadis itu mengerutkan dahinya. Ia menatap wajah

Lingga Wisnu dengan tajam. Menguji : "Kau kenal paman gagu?"

Mendengar pertanyaan itu, Lingga Wisnu mengigil. Siapa lagi yang disebut paman gagu itu, kalau bukan paman Ganjur? Terus saja ia memperkenalkan nama lengkapnya :

"Aku Lingga Wisnu. Bukankah engkau Suskandari?"

Mendadak saja, wajah gadis itu berseri- seri. Oleh rasa girang, ia lupa diri. Terus saja disambarnya tangan Lingga Wisnu dan ditariknya mendekat. Serunya : "Benar! Aku Suskandari! Benar benarkah engkau kakang Lingga Wisnu?" tetapi setelah mengucap demikian, justru ia tersadar. Dengan wajah merah, ia melepaskan pegangannya.

Tepat pada saat itu, terdengarlah suara Sondong Rawit :

"Akh, aku kira siapa engkau, saudara Lingga. Kiranya, engkau mata-mata Said atau Mangkubumi yang merembes ke mari ..."

Lingga Wisnu tercengang. Memang, ia mengenal nama Mangkubumi dan Raden Mas Said. Ia mengagumi kegagahan mereka. Tetapi kalau dia kini datang ke rumah keluarga Dandang Mataun atas nama kedua pahlawan itu, sama sekali tidak benar. Maka berkatalah dia memberi keterangan :

"Aku memang kenal nama mereka berdua. Aku kenal pula panglima Sengkan Turunan. Tetapi tak benar apabila aku dikatakan mata-mata mereka. Mengapa saudara bisa menuduhku demikian? Apakah karena aku kenal gadis ini? Dialah sahabatku semenjak kami masih kanak-kanak. Sepuluh tahun lebih kami berdua tak pernah bertemu pandang. Sekarang, bolehkah aku minta keterangan kepadanu, apa sebab engkau bentrok dengan sahabatku ini? Bagaimana pendapatmu, manakala aku memberanikan diri, untuk mendamaikan perselisihan kalian berdua?"

"Apabila emas yang aku minta bisa diserahkan, barulah persoalan selesai," sahut Suskandari.

"Hnm! Begitu gampang?" dengus Sondong Rawit. "Saudara Sondong Rawit, mari aku perkenalkan ..." Lingga Wisnu mencoba meredakan ketegangan! "Dia bernama Suskandari. Seperti kataku tadi, semenjak kanak-kanak kami berdua pernah hidup dibaw ah satu atap. Sampai pada hari in i, lebih dari sepuluh tahun lamanya, kami tak pernah bertemu. Mari, aku perkenalkan ..."

Sondang Rawit tetap bersikap dingin. Ia memandang Suskandari dengan pandang tegang. Dan menyaksikan hal itu, hati Lingga Wisnu menjadi tak enak Buru-buru ia mengalihkan pembicaraan.

Katanya kepada Suskandari :

"Bagaimana engkau segera mengenal diriku?" "Tanda bekas luka di dahimu sebelah kanan!

"Tanda bekas luka?" Lingga Wisnu meraba dahinya dengan tercengang,.

"Bagaimana aku bisa melupakan peristiw a dahulu itu, tatkala engkau dilukai penculik ketika ia mencoba melarikan aku. Seumpama engkau tidak berusaha menolong diriku dengan mati-matian, entahlah akibatnya. Apakah peristiw a itu tak pernah terkenang lagi olehmu?"

Merah wajah Lingga Wisnu. Sambil menurunkan tangan dari dahinya, ia menyahut :

"Tak mungkin aku lupa. Bukankah kita sedang bermain-main?"

Yunus yang selama itu mendengarkan pembicaraan mereka, tiba-tiba menimbrung : ''Kalau masih hendak berbicara, berkepanjangan lagi, masuklah ke dalam!"

Akan tetapi Lingga Wisnu tidak menggubris Gelisah ia minta keterangan kepada Suskandari :

"Sebenarnya, bagaimana asal mulanya engkau sampai bentrok dengan saudara Sondong Raw it?"

"Aku dan kakang Puguh kena pegat," Suskandari memberi, keterangan.

"Puguh?" Lingga Wisnu memotong dengan terperanjat. 'Maksudnu, Aria Puguh, guruku? Puguh yang dahulu berada di rumahmu dalam keadaan luka berat? Masih ingatkah engkau, tatkala mula-mula aku datang ke rumahmu? Bukankah aku datang dengan seorang laki- laki? Dialah Aria Puguh. Aku memanggilnya paman. Apakah dia yang kau sebut kakang Puguh?"

"Bukan! Bukan paman kita Aria Puguh dahulu. Tetapi keponakannya." Suskandari memberi keterangan. "Namanya Puguh juga. Lengkapnya: Puguh Harimawan. Kami berdua mendapat tugas mengaw al sejumlah emas bekal belanja laskar Panglima Sengkan Turunan, Di tengah jalan kita kena pegat seorang jahat. Dialah orangnya!"

Suskandari menuding Yunus. Sekarang, barulah jelas bagi Lingga Wisnu, bahwa uang emas rampasan Yunus, sesungguhnya milik laskas Panglima Sengkan Turunan. Ia pernah melihat Panglima itu, t atkala datang bersama gurunya, Aria Puguh, di lereng gunung Merbabu, sebagai utusan Raden Mas Said. Aria Puguh adalah seorang perw ira kepercayaannya. Sekarang, uang perbekalannya kena rampas. Sudah semestinya ia tak akan tinggal diam. Jangan lagi terhadap kedua orang yang sangat dia hormati itu. Seumpama uang emas itu milik Suskandari atau ibunya, dalam keadaan demikian, ia akan berpihak padanya. Sekalipun terhadap Yunus. Lagi pula, uang emas itu pasti sangat penting untuk perbekalan laskar Panglima Sengkan Turunan. Bisa jadi merupakan perbekalan yang menentukan timbul-tenggelamnya suatu perjuangan. Bukankah Panglima Sehkan Turunan adalah seorang Panglima Raden Mas Said yang sedang bangkit melawan Kompeni Belanda beserta begundalnya? Karena itu, sudah semestinyalah kalau ia membantunya.

Setelah memperoleh keputusan demikian, ia berkata kepada Yunus :

"Adik, maukah engkau mengembalikan uang emas itu kepadanya?"

"Hem!" Yunus mendengus. "Menghadaplah sendiri kepada kedua pamanku itu. Ajaklah beliau berbicara."

Mendengar syarat itu, Lingga Wisnu segera menghampiri. Karena dia sudah menjadi saudara angkat Yunus dan ternyata kedua orang itu adalah pamannya, maka tiada jeleknya bila ia membungkuk hormat kepada mereka. Demikianlah, setelah berhadap-hadapan, Lingga Wisnu berjongkok, dan hendak bersembah.

Orang tua yang memegang tongkat berseru cepat : "Hei! Tak berani aku menerima sembahmu pemuda,

kau bangunlah!"

Di mulut dia berbicara demikian manis. Tetapi setelah menyandarkan tongkatnya pada sandaran kursi, dengan tangannya dia memegang bahu Lingga Wisnu. Kemudian diangkatnya sambil mengerahkan himpunan tenaga saktinya

Lingga Wisnu terperanjat tatkala kena angkat orang tua itu. Apabila membiarkan diri, ia akan terlempar tinggi di udara. Maka segera ia mengerahkan ilma saki 'Mundi', agar badannya jadi seberat gunung. Dengan menggunakan ilmu sakti pemberat badan itu, ia berbasil menyembah dengan tubuh tak bergeming.

Di dalam hati, orang tua itu kaget. Pikirnya didalam hati : 'Hebat bocah ini! Sekian puluh tahun aku melatih menghimpun tenaga sakti. Namun masih tak sanggup aku mengangkat tubuhnya.’ Ia lantas tertaw a berkakakan seraya ia berkata :

"Selamat, selamat! Pantas, keponakanku memujimu sebagai seorang pemuda, yang memiliki ilmu sakti t inggi. Benar-benar tak tercela. Aku membuktikan sendiri."

Yunus yang berada di belakang Lingga Wisnu maju ke samping. Berkata memperkenalkan :

"Inilah pamanku yang ketiga. Namanya Cocak Rawa. Dan dia, pamanku yang kelima. Aku memanggilnya Cocak Ijo," Yunus menuding kepada orang tua yang bertangan kosong.

Baik Cocak Rawa maupun Cocak Ijo membungkam mulut. Mereka seperti tak senang, diperkenalkan namanya kepada Lingga Wisnu. Pemuda itu menjadi perasa. Diam-diam ia mendongkol. Katanya di dalam hati: 'Kalian memang keluarga terhormat Tetapi ayah- bundaku masakan lebih rendah daripada kalian?' Namun ia seorang pemuda yang pandai membawa diri. Segera ia menoleh kepada Yunus. Berkata dengan suara tegas : "Aku minta dengan hormat, agar emas itu segera kau kembalikan kepada adikku!"

"Adik! Adik! Adik!" Yunus jadi dengki. Ia lalu menambahkan :

"Selalu saja kau sebut dia adikku. Begitu besar perhatianmu kepadanya! Mengapa aku tak memperoleh perhatianmu yang layak?"

"Adikku Yunus! Kita semua adalah golongan ksatrya, kalau tak mau disebut sebagai golongan pendekar. Jangan engkau bergurau keterlaluan," kata Lingga Wisnu tak memperdulikan ocehan Yunus. "Emas itu kau rampas, karena engkau tidak mengetahui siapa pemiliknya. Tak apalah! Siapapun bisa berbuat salah. Dan hidup ini cukup lapang untuk memaafkan kesalahanmu itu. Tetapi setelah mengetahui bahwa uang emas itu adalah milik laskar Panglima Sengkan Turunan, sudah semestinyalah kau kembalikan dengan segera. Malahan kita wajib mohon maaf sebesar-besarnya."

Cocak Rawa dan Cocak Ijo jadi tak enak hati Tadinya mereka mengira, bahwa uang emas itu milik seorang saudagar besar yang sedang sial Tak tahunya uang emas itu, milik laskar Panglima Sengkan Turunan. Mereka kenal baik siapa Panglima Sengkan Turunan. Ia seorang Panglima yeng besar pengaruhnya. Sekarang sudah mereka ketahui, bahwa uang emasnya berada di keluarga Dandang Mataun. Seumpama gadis itu bisa diusirnya pergi, Panglima Sengkan Turunan bisa mengirimkan laskarnya Siapa yang mampu menghadapi laskar yang jumlahnya mungkin ribuan orang?

Inilah ancaman yang sangat membahayakan kesejahteraan keluarga Dandang Mataun. Memperoleh pertimbangan demikian, kambali Cocak Rawa tertawa berkakakan. Lalu ia berkata kepada Yunus:

"Anakku, demi persahabatanmu dengan dia, kau kembalikanlah uang emas itu!"

Girang hati Lingga Wisnu mendengar perint ah Cocak Rawa. Inilah suatu keputusan yang bijaksana. Di luar dugaan, Yunus menyahut galak :

"Tidak paman! Tak dapat aku kembalikan uang emas itu!"

Lingga Wisnu tercengang. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Segera ia berkata :

"Oh, ya. Yang sebagian memang berada padaku. Biarlah aku mengembalikannya dahulu kepadanya. Bagaimana?"

"Jika yang sebagian engkau kehendaki, pada saat ini juga akan kuserahkan." ujar Yunus. "Selamanya tak pernah aku menganggap sebungkus emas sebagai barang mustika dunia. Tetapi kalau dia yang menghendaki aku mengembalikan uang emas yang telah aku rampas, hmm. Tak sudi aku menyerahkannya ..." berkata demikian Yunus menuding Suskandari dengan mata berapi-api.

Suskandari menjadi gusar. Ia maju selangkah dan berkata bengis :

"Engkau mau mengembalikan atau t idak? Atau engkau ada syarat-syarat tertentu? Sebutkan!"

Yunus tak menghiraukan reaksi Suskandari Masih saja ia menatap Lingga Wisnu Menegas kepada pemuda itu :

"Sebenarnya engkau berpihak di mana? Dia atau aku?" Memperoleh pertanyaan demikian, Lingga Wisnu jadi berbimbang hati. Hati-hati ia menjawab:

"Sebenarnya aku tidak memihak siapa pun. Hanya saja, aku patuh kepada guruku."

"Gurumu? Siapa gurumu?"

"Guruku salah seorang perw ira penting dalam laskar Panglima Sengkan Turunan'."

"Hmml" dengus Yunus mendongkol. "Pulang balik, engkau hanya membantu dia. Baiklah, emas itu memang berada di sini. Tetapi engkau sendiri tahu, betapa sulitnya aku mempertahankannya. Malahan kalau tidak bernasib baik dan berakal jitu, pastilah jiw aku sudah melayang di tengah perjalanan. Karena aku memperoleh emas itu dengan akal dan keringat, maka engkaupun haruslah merebutnya kembali dengan akal dan keringat pula. Aku beri waktu tiga hari, kau rebutlah emas itu! Tetapi bila dalam waktu tiga hari engkau tak berhasil merebutnya, maka akupun tak akan bersegan-segan lagi terhadapmu." '

Lingga Wisnu menyambar tangan Yunus dan diajaknya menyendiri. Katanya :

"Adikku, semalam engkau berjanji hendak patuh dan taat kepadaku. Tetapi belum lagi setengah hari, kata- katamu sudah berubah. Mengapa?"

"Jika kau perlakukan diriku dengan baik sekali, pastilah aku akan patuh pada setrap patah katamu. Bukankah aku berkata begitu” sahut Yunus cepat. "Apakah aku bersikap tak baik kepadamu?" Lingga Wisnu tak mengerti. "Benarkah aku tak dapat mengambil uang emas itu kembali?”

Kedua mata Yunus menjadi merah basah Lalu ujarnya:

"Baru semalam engkau mengangkat diriku sebagai saudaramu. Tetapi begitu bertemu dengan sahabat lama, engkau sudah tidak menaruh perhatian lagi kepadaku. Seumpama aku hendak mengangkangi emas Panglima Sengkan Turunan apa yang aku andalkan? Paling-paling aku pasti mati dan memang sebenarnya aku harus tahu diri, bahwa di dunia ini tiada seorangpun yang menaruh belas kasih kepadaku."

HatiWisnu tergetar. Namun jawaban Yunus tidak juga membuatnya puas. Berkata memberi pengertian :

"Engkau saudara angkatku. Dan dia, puteri sahabatku. Baik dia maupun engkau, aku pandang sebagai bagian hidupku sendiri. Tiada sama sekali aku membeda- bedakan. Mengapa engkau bersikap kaku begini?"

"Sudahlah. Jangan bicara berkepanjangan," bentak Yunus. "Kalau mempunyai akal, kau ambil saja emas itu dalam waktu tiga hari ...” dan setelah berkata demikian, ia lari ke dalam.

Lingga Wisnu menghela napas. Hatinya masgul luar biasa. Karena menumbuk suatu kegagalan maka terpaksalah ia membawa Suskandari keluar dari rumah keluarga Dandang Mataun. Dan menginap di rumah seorang petani. Di rumah ini Lingga Wafcnu minta keterangan asal-mula terjadinya perampasan uang emas itu kepada Suskandari. Dan Suskandari memberi keterangan terlalu sederhana. Ia seperti belum percaya penuh kepada Lingga Wisnu, Katanya, ia dan Puguh, pada suatu hari berpisah. Dan pada saat itu, emas kawalannya di rampas Yunus. Karena emas itu menjadi tanggung jawabnya, ia lantas menyusul ke rumah keluarga keluarga Dandang Metaun.

"Selanjutnya engkau sendiri menyaksikan bagaimana kesudahannya." Suskandara menutup ceritanya.

Melihat Suskandari berbimbang-bimbang terhadap dirinya, Lingga Wisnu membatalkan niatnya hendak mengetahui latar-belakang persoalannya yang lebih jelas lagi. Ia lantas mempersiapkan diri dalam usahanya hendak merebut uang emas itu kembali dari tangan Yunus.

Pada malam harinya, sekitar jam dua Lingga Wisnu mengajak Suskandari untuk mengintip gerak gerik keluarga Dandang Mataun. Begitu melompat ke atas genting, ia melihat gedung pertemuan terang-benderang oleh nyala api Cocak Rawa dan Cocak Ijo duduk berhadap-hadapan denfan Yunus dan Sondong Pawit. Mereka makan-minum diseling pembicaraan yang menggembirakan, seolah-olah sedang berpesta. Lingga Wisnu mencoba menguping pembicaraan mereka. Siapa tabu, dengan tak sadar mereka menyinggung tentang uang emas disembunyikan. Selagi demikian, ia dengar Yunus berkata seperti kepada dirinya sendiri.

"Bungkusan emas memang ada di sin i. Siapa saja yang merasa diri mempunyai kepandaian, boleh ambil," dan setelah berkata demikian, ia tertaw a melalui dadanya.

Suskandari menarik lengan Lingga Wisnu dan membisik: "Rupanya dia sudah mengetahui kita berada di sini."

Lingga Wisnu mengangguk. Meskipun demikian pandang matanya tak beralih. Ia melihat Yunus meletakkan dua buah bungkusan di atas meja. Segera ia membukanya. Dan terpantullah sinarnya, bergemerlapan. Itulah emas yang dipertaruhkan. Kemudian ia meletakkan pedangnya disampingnya sedangkan Sondong Rawit yang duduk disampingnya meletakkan pula goloknya di atas meja. Kemudian mereka meneguk minumannya dan menikmati panganan yang disediakan.

"Mereka sengaja memperlihatkan emasnya dengan penjagaan yang rapi dan kuat. Tiada jalan lain, kecuali mengadu kekerasan. Perlukah. aku berbuat begitu?" pikir Lingga Wisnu di dalam hati Ia menoleh kepada Suskandari untuk memperoleh pertimbangan. Tetapi gadis itu hanya membungkam mulut saja.

Setengah jam lagi, ia menunggu. Mereka yang berada di dalam gedung tetap saja bercokol diatas kursinya masing-masing. Akhirnya terpaksalah Lingga Wisnu mengalah. Dengan hati dengki, ia mengajak Suskandari pulang kepondokan. Malam itu, mereka merasa gagal merampas emasnya kembali.

Keesokan harinya, Suskandari agak leluasa sikapnya. Ia tak menaruh sangsi lagi kepada Lingga Wisnu. Sekarang ia mengabarkan, bahwa ibunya dalam keadaan sehat walafiat dan seringkali membicarakannya.

Lingga Wisnu lantas saja merogoh saku celananya dan memperlihatkan sebuah gelang emas kecil. Katanya :

"Inilah gelang emas pemberian ibumu, tatkala aku hendak berangkat mendaki gunung Dieng. Dahulu, pergelangan tanganku tidak sebesar sekarang. Karena itu gelang emas pemberian ibumu, hanya kusimpan di dalam saku. Aku selalu membawanya ke mana aku pergi."

Suskandari tertaw a. Ia memperlihatkan lengan Lingga Wisnu dan gelang emas itu. Katanya mengalihkan pembicaraan :

"Sepuluh tahun lebih, kita tak pernah bertemu. Akupun tak pernah mendengar kabar beritamu. Sesungguhnya, selama itu apa saja yang telah kau kerjakan?"

"Setiap hari, aku hanya berlatih dan mendalami ilmu ajaran guru." jaw ab Lingga Wisnu sederhana.

"Pantas saja ilmu kepandaianmu hebat sekali” Suskandari memuji. "Sewaktu kemarin kau menolak tubuhku, kedudukanku gempur...”

"Tetapi dari mana engkau memperoleh ilmu pedang Sekar Teratai?" Lingga Wisnu minta keterangan. "Siapa yang memberimu pelajaran.'

Memperoleh pertanyaan demikian, tiba-tiba kelepak mata Suskandari basah. Jawabnya :

"Kakang Puguh yang mengajari. Bukankah dia termasuk salah seorang murid Sekar Teratai”

Hati Lingga Wisnu tercekat melihat kelopak mata Suskandari yang menjadi basah dengan tiba-tiba.

Tanyanya menegas

"Apakah dia terluka dalam perjalanan itu?" "Tak mungkin dia terluka ..."

"Kalau begitu, mengapa engkau bersedih hati?" "Aku dibiarkan berjalan seorang diri. Dia berpisah dan meninggalkan aku tanpa pamit,” kata Suskandari, menundukkan pandang.

Lingga Wisnu tak mau mendesak. Ia lantas mendalihkan pembicaraan tentang kemungkinannya sebentar malam dalam usahanya merebut kembali uang emas Dan apabila sudah memperoleh kata sepakat mereka lalu bersemedi menghimpun tenaga saktinya masing-masing.

Larut malam, mereka mengintip lagi dari atas atap gedung pertemuan, seperti kemarin malam

Meja itu tetap terjaga oleh empat orang Hanya saja, kedudukan Cocak Ijo ditempati oleh orang lain. Pastilah mereka itu saudara seperguruan Cocak Rawa atau Cocak Ijo. Kalau bukan, pasti pula termasuk anggauta keluarga Dandang Mataun.

Menurut keterangan Yunus, semua pamannya berjumlah lima orang. Bila hanya dua orang menampakkan diri dengan terang-terangan, tentunya yang tiga orang sedang bersembunyi disuatu tempat tertentu.

Lingga Wisnu seorang pemuda cermat, lantaran digodok oleh pengalaman hidupnya semenjak kanak- kanak. Merrperoleh dugaan demikian, segera ia mengkisiki Suskandari :

"Waspadalah, pasti ada beberapa orang yang bersembunyi di sekitar tempat ini. Kita mau mengintip mereka. Jangan-jangan justru kita yang mereka intip."

Suskandari memanggut. Sekonyong-konyong ke dua. alisnya berkerut-kerut. Tanpa minta pertimbangan, ia meloncat turun. Gerakan itu membuat hati Lingga Wisnu terkesiap. Segera ia mengejar dengan maksud mengaw al dari belakang.

Suskandari ternyata mengarah ke belakang, ia mencari dapur dan terus menyalakan api. Sebelum Lingga Wissnu sempat memberi pertimbangan, dapur sudah dibakarnya. Sebentar saja api menjilat tinggi sampai ke atap gedung. Seketika itu juga, seluruh anggauta rumah tangga keluarga Dandang Mataun menjadi kacau-balau. Gugup mereka lari berserabutan mencari air dan merobohkan batang pisang untuk memadamkan api. Dan pada saat itu, Suskandari lari. balik ke atas gedung pertemuan.

Tahulah Lingga Wisnu akan maksud gadis itu. Dia hendak mengalihkan perhatian empat orang yang berada di dalam gedung pertemuan. Dan akal itu memang tepat sekali. Tatkala mereka berdua telah berada di-atas atap gedung pertemuan kembali, keempat orang tadi tiada nampak batang hidungnya. Suskandari girang. Ia merasa diri akalnya berjalan dengan baik sekali. Terus saja ia berseru kepada Lingga Wisnu:

“Mereka sedang sibuk memadamkan api. Mari kita bekerja!" dan segara ia melompat turun melalui jendela. Lingga Wisnupun mencontoh perbuatannya Tetapi, ia berhenti bergelantungan di luar jendela untuk menjaga kemungkinannya.

"Ikut aku!" ajak Suskandari.

Gadis itu tiba di atas lantai dan hendak segera menghampiri meja. Lingga Wisnu terpaksa pula mengikuti. Ia melihat bungkusan emas itu berada di atas meja tanpa penjaga. Dan dengan, bernapsu Suskandari. maju selangkah. Tangannya menyambar. Mendadak saja Lingga Wisnu merasakan suatu keanehan, lantai yang diinjaknya terasa lunak dan bergoyang. Segera sadarlah dia, bahwa lantai itu merupakan jebakan

Cepat tangannya bergerak, menjangkau tubuh Suskandari, sambil melompat kesamping. Tetapi terlambat! Sambaran tangannya gagal.

Pada detik itu juga. Suskandari terjeblos ke dalam lubang jebakan. Lingga Wisnu menjejakkan kakinya pada lantai yang menjeblak kedalam. Tangannya menyambar dan berhasil mencapai tiang yang berada di sebelahnya. Kemudian ia menurunkan kakinya pada dasar tancapan tiang itu. Ia selamat, tetapi kaget dan memikirkan nasib Suskandari.

Dengan jantung berdegupan ia berpaling ke arah jendela. Dan seseorang yang merasa terancam bahaya, biasanya menjadi peka oleh rasa naluriahnya. Apalagi Lingga Wisnu seorang pemuda yang mempunyai pembaw aan cerdas luar biasa. Tiba t iba saja ia menaruh curiga terhadap jendela itu. Menurut dugaannya, pada jendela itulah terletak pesaw at penggerak lantai jebakan. Memperoleh dugaan demikian, terus saja ia melompat hendak menyelidiki.

Selagi badannya terapung di udara, angin tajam menyambar padanya. Tahulah dia, seseorang menyerang dari belakang punggung. Cepat ia menangkis. Suatu bentrokan terjadi. Prak! Dan orang itu terdorong mundur. Namun dia ternyata gesit. Begitu roboh di atas lantai, dia meletik bangun.

Lingga Wisnu tak sudi kena libat. Ia melompat ke atas genting. Tapi orang itupun menyusul dengan sebat pula. Pemuda itu mendongkol juga. Ia memutar pandang. Dan pada saat itu bulu kuduknya menggeridik. Sebab dengan tiba-tiba saja, ia telah kena kepung. Beberapa orang yang berperawakan tak rata memandang padanya dengan bengis.

Yang langsung berhadapan dengan dia seorang berperawakan pendek kecil setengah cebol. Disampingnya seorang laki laki pula berperawakan tinggi besar. Orang itu nampak perkasa seperti tokoh cerita wayang Bima Dua orang itu didampingi empat orang lagi yang bersenjata lengkap. Dan karena mereka berdiri membelakangi cerah bulan, Lingga Wisnu tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Ia lantas mengamat-amati orang yang menyusulnya Ternyata dia Sondong Raw it. Dan begitu melihat Sondang Raw it, segera ia sadar siapakah mereka. Pikirnya di dalam hati: 'Mereka inilah keluarga Dandang Mataun. Hanya saja aku belum tahu maksud mereka sesungguhnya. Apakah benar-benar mereka bermaksud mencelakai diriku? Memperoleh pikiran demikian, ia bersikap waspada dan hati-hati.

Di antara mereka yang mengepung, kecuali Sondong Rawit, ia mengenal tiga orang dengan segera Yang pertama Cocak Rawa. Kemudian Cocak Ijo. Dan yang ketiga, Yunus. Tatkala ia bermaksud hendak menegorrw a, tiba-tiba orang yang berperawakan tinggi- besar tertaw a terbahak bahak. Hebat perbaw anya. Atap yang diinjaknya bergetar dan suara tertawa nyaring sekali.

"Kami berlima tinggal di sebuah dusun yang sepi," katanya nyaring. "Tak pernah kuduga, bahwa pada hari ini salah seorang bawahan Sengkan Turunan sudi mengunjungi rumah kami.”

Lingga Wisnu maju selangkah. Ia memanggut hormat seraya menyahut .

“Perkenaikan, kami, memperkenalkan diriku terhadap - paman sekalian,”

“Tak usah Bukankan engkau bernama Lingga Wisnu?" potong orang itu galak.

Yunus yang berdiri di belakang, mereka maju menengahi. Katanya memperkenalkan paman-pamannya

"Inilah pamanku yang paling tua. Cocak Prahara, namanya. Kemudian pamanku yang ketiga bernama Cocak Abang. Dan yang keempat, Cocak Mengi. Dan dia, kakak misanku yang lain. bernama Cocak Rawun. Dia putera paman Cocak Prahara.'"

Lingga Wisnu memanggut hormat, setiap kali Yunus menyebut nama. mereka masing-masing. Dalam hati ia berpikir' ?

'Rupanya keluarga Dandang Mataun menyematkan nama Cocak sebagai nama keluarga. Yang tertua: Cocak Prahara. Kemudian, Cocak Abang, Cocak Rawa, Cocak Mengi dan Cocak Ijo? Dan anak muda itu mengenakan nama. Cocak Rawun. Apakah dikemudian hari, dia calon pengganti nama keluarga Dandang Mataun?’

Diantara kelima saudara, Cocak Abang beradat berangasan. Dengan serta merta ia menegor:

"Hai anak muda! Usiamu belum seberapa, tapi sudah pandai membakar rumah. Bagus! Sesungguhnya kepandaian apakah yang kau andalkan?" "Itulah perbuatan temanku yang semberono," sahut Lingga Wisnu dengan sopan. "Aku sangat menyesal atas terjadinya pembakaran itu. Syukurlah, api tidak begitu besar. Biarlah esok pagi, ia kusuruh menghaturkan maaf kepada paman sekalian."

Cocak Abang melototkan matanya. Memang api telah kena terpadamkan, akan tetapi hatinya masih saja panas. Cocak Mengi yang berperawakan tinggi-jangkung dengan punggung agak melengkung maju ke depan. Katanya menimbrung :

"Puluhan tahun kami tinggal di sin i. Selama itu belum pernah kami terusik oleh pekerti siapapun. Mereka yang datang kemari hanyalah untuk menghaturkan sembah sesuatu semata. Sebaliknya, engkau masih muda belia dan berani membuat onar di sini. Sebenarnya siapakah gurumu?”

"Guruku berada dalam laskar Panglima Sengkan Turunan." sahut Lingga Wisnu dengan tenang. "Kedatanganku kemari, semata-mata untuk memohon agar paman sekalian sudi

mengembalikan emasnya

Panglima  Sengkan Turunan. Aku berjanji hendak mendesak guruku, agar beliau sudi

berkirim surat kepada paman sekalian untuk menyatakan terima kasih." Cocak Mengi mendengus. Sekian panjangnya, pemuda itu mengoceh. Akan tetapi nama gurunya tidak pernah disinggungnya. Selagi hendak membuka mulut, kakaknya yang-tertua, Cocak Prahara membentak nyaring kepada pemuda itu :

"Siapa gurumu!"

Lingga Wisnu mendeham. Menyahut :

"Guruku jarang sekali berkelana atau memperkenalkan diri. Karena itu, tak berani aku menyebutkan nama beliau. lagi pula bagi paman sekalian tiada artinya sama sekali."

"Hem." Cocak Abang tak sabar lagi. Memang adatnya berangasan. Lantas saja ia memutuskan:

"Jadi engkau masih hendak menyembunyikan nama gurumu? Apakah kau kira, kami tak dapat mengenal gurumu? Kami mempunyai cara lain. Kau berhati- hatilah!" Dan dengan wajah merah padam ia berseru kepada Cocak Rawun :

"Rawun! Cobalah kau bermain-main sebentar dengan bocah itu!"

Seorang pemuda yang tadi diperkenalkan sebagai putera Cocak Prahara, dengan gesit masuk ke gelanggang. Terus saja tangannya bergerak menampar pipi. Kemudian kakinya menyusul membuat suatu tendangan.

Lingga Wisnu mengelak. Dan Cocak Rawun melepaskan tinju kirinya. Pikir Lingga Wisnu :

'Mereka berjumlah banyak. Kalau mereka maju satu persatu, aku bisa celaka karena lelah. Bila aku tidak melawannya dengan cepat, sulit untukku meloloskan diri.'

Oleh pikiran itu, ia menyambut tinju kiri Cocak Rawun dengan berhadap-hadapan. Tangan kanannya berkelebat menyambar tinju itu. Lalu dilemparkan ke belakang sambil melompat ke samping.

Cocak Rawun tak berkesempatan lagi untuk membebaskan dirinya yang kena sambar. Belum lagi ia menancapkan kakinya, tubuhnya sudah tertarik ke depan. Tidak dikehendaki sendiri ia menyelonong ke depan. Tatkala kakinya menginjak atap, genting yang diinjaknya pecah. Dan ia terjeblos ke bawah. Syukurlah pada saat itu, Cocak Ijo masih berkesempatan menyambar dirinya. Sekiranya tidak demikian, pastilah dia bakal terbanting ke lantai. Mukanya merah padam oleh rasa malu. Dengan penasaran ia menyerang lagi.

Lingga Wisnu sudah bersiaga. Sama sekali ia tak bergeming t atkala lawannya menyerang dengan dahsyat. Nampaknya ia hendak mengadakan perlawanan dengan berhadap-hadapan. Tetapi mendadak saja, ia memutar tubuhnya berbareng mengangkat kaki kirinya. Dan Cocak Rawun roboh terjungkal.

Lingga Wisnu ternyata tidak hanya mendupakkan kaki kirinya saja. lapun menggerakkan tangan kanannya selagi kaki kirinya ditarik. Dengan suara deras, tangan kanannya menyambar pant at Cocak Rawun. Ia mencengkeram dan mengangkatnya. Oleh gerakan itu, tak sampai Cocak Rawun mencium tanah. Ia malahan dapat berdiri kembali dengan tak kurang suatu apa.

Bukan main rasa mendongkol Cocak Rawun. Akan tetapi tak dapat ia berkelahi lagi. Ia harus tahu diri. Meskipun matanya masih melotot, terpaksa ia mengundurkan diri.

"Hai, bocah ini benar-benar hebat!" seru Cocak Abang dengan hati gusar. "Biarlah aku mencoba-coba mengadu kepandaian dengan muridnya seorang sakti." Setelah berseru demikian, ia maju sambil menggerakkan kedua tangannya.

Tiba-tiba Yunus melompat kesamping orang tua itu dan berbisik :

"Paman, dia telah mengangkat saudara denganku.

Janganlah paman melukainya”

"Setan! Minggir!" bentak Cccak Abang dengan sengit.

Tetapi Yunus bahkan memegang tangannya dan berkata setengah merajuk :

"Paman tidak melukainya, bukan?"

"Kau lihat saja bagaimana nanti." Sahutnya orang tua itu sambil mengibaskan tangannya yang kena genggam. Dan oleh kibasan itu, Yunus terpelanting mundur beberapa langkah. Hampir hampir saja ia roboh terguling.

Cocak Abang tidak menghiraukan. Dua langkah ia maju menghampari Lingga Wisnu. Bentaknya:

"Kau majulah!"

"Akh, aku tak berani," sahut lingga Wisnu sambil membungkuk hormat.

"Kau tak mau menyebutkan nama gurumu. Maka seranglah aku t iga kali," perint ah Cocak Abang. "Aku ingin melihat sendiri,. apakah aku sanggup mengenal gurumu."

Panas juga hati Lingga Wisnu mendengar dan melihat sikap Cocak Abang yang besar kepala. Setelah menimbang-nimbang sejenak, akhirnya ia berkata dengan suara merendah :

"Kalau begitu, terpaksalah aku mengiringi kehendak paman. Tetapi kepandaianku hanya terbatas. Aku mohon paman berbelas kasihan kepadaku."

"Jangan ngoceh tak keruan!" bentak Cocak Abang. "Siapa sudi mengobrol denganmu? Hayo, seranglah!"

Kembali lagi Lingga Wisnu membungkuk hormat. Dan tiba-tiba tangannya menyambar. Serangan pendek itu membaw a kesiur angin keras. Keruan saja Cocak Abang terperanjat. Sama sekali tak diduganya, bahwa pemuda itu memiliki tenaga himpunan begitu kuat. Buru-buru ia melintangkan tangannya dan hendak menyambar lengan baju Lingga Wisnu tadi menyerang dengan tangan kiri. Begitu melihat Cocak Abang membalas menyerang, gesit ia menarik tangannya kembali. Kemudian dengan tiba- tiba pula, ia menyerang raut muka.

"Hai!" Cocak Abang terperanjat lagi. Itulah suatu serangan yang terjadi sangat cepat. Tak sempat, lagi ia menangkis. Padahal, ia seorang pendekar yang sudah terlalu banyak makan garam Ribuan kali ia menghadapi lawan lawan berat yang mempunyai tata-berkelahi yang berbeda. Namun serangan Lingga Wisnu kali ini adalah yang terhebat. Satu-satunya jalan untuk melepaskan diri, hanyalah melenggakkan tubuhnya ke belakang. Lingga Wisnu tak sudi memberi kesempatan lawan untuk dapat mengadakan serangan balas. Ia bergerak mundur dan kemudian melingkarkan tubuhnya. Gerakan itu seperti memberi kesempatan pada lawan untuk memperbaiki kedudukannya, mengira bahwa Lingga Wisnu hendak melarikan diri. Cepat ia mengulurkan tangannya beri hajaran. Tapi sebelum tangannya sampai pada sasaran, sekonyong-konyong ia merasakan suatu kesiur angin. Dilihatnya kedua tangga Lingga Wisnu bergerak dengan berbareng mirip sambaran seekor ular hendak mematuk sasaran. Sasaran itu mengarah kepada kedua tulang iganya yang dituju.

"Hiha..." ia tertaw a di dalam hati. "Meskipun kau berhasil menyentuh igaku, apa artinya dibandingkan dengan gempuranku."

Cepat luar biasa ujung tangan Lingga Wisnu t iba pada sasarannya dan mengenai pinggang Cocak Abang dengan jitu. Dan terdengarlah suara gemeretak dua kali hampir berbareng. Dan tepat pada detik itu, Lingga Wisnu telah melesat mundur sambil berputaran sebentar. Kemudian berdiri tegak mengawasi lawannya.

Cocak Abang terperanjat dan mendongkol. Ia kena selomot kesombongannya sendiri. Ternyata kekebalannya tak kuasa membendung pagutan ujung tangan Lingga Wisnu yang nampaknya tak bertenaga. Nyatanya, seluruh tubuhnya merasa kesemutan dan sebaliknya, meskipun merasa diri seorang yang kenyang makan garam, namun masih tak dapat mengenal corak tata-berkelahi yang terlalu percaya kepada pagutan tenaga tangan. Tapi dalam pada itu, Yunus kagum menyaksikan kegesitan Lingga Wisnu. Hampir saja ia berteriak memujinya. Sebenarnya dalam jurus tadi, Lingga Wisnu menggunakan jurus gabungan. Mula-mula ia bergerak dengan ilmu ajaran Kyahi Sambang Dalan. Lalu ia menggunakan ilmu kegesitan ajaran Ki Ageng Gumbrek. Dan yang terakhir ia memagutkan tangan dengan ilmu sakti warisan Bondan Sejiw an. Maka tak mengherankan, apa sebab Cocak Abang menjadi bingung.

Tetapi yang heran dan bingung, tidak hanya Cocak Abang seorang. Juga Cocak Prahara dan Cocak Mengi tak kurang-kurang pula. Mereka saling memandang dengan pandang penuh pertanyaan.

Selamanya, Cocak Abang menganggap dirinya seorang pendekar besar. Kali ini, ia kena selomot dalam satu gebrakan saja. Tak mengherankan kehormatan dirinya tersinggung, sekaligus. Dengan serentak ia melompat maju dan menyerang dengan mendadak. Wajahnya merah padam. Alis dan kumisnya terbangun. Gerakan kedua tangannya lalu terdengar membaw a kesiur angin dahsyat".

Hebat perbaw a Cocak Abang. Dibawah sinar bulan ce merlang, kepalanya nampak mengepulkan asap siapapun mengerti, itulah akibat rasa marah yang tak terkendalikan lagi. Gerakan kakinya ayal, akan tetapi mantap. Itulah suatu-tanda bahwa Cocak Abang mempunyai himpunan tenaga sakti yang sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Lingga Wisnu tak berani bermain-main lagi.

Menghadapi serangan Cocak Abang ia mengidapkan diri sanibil mendekat. Dua kali berturut-turut, ia membebaskan diri dengan cara demikian Pada jurus ketiga, diam-diam ia bersiaga mengadakan perlawanan dengan ilmu sakti Sardula Jenar. Dan pada jurus keempat, pertempuran sengit terjadilah.

Tapi justru menghadapi perlawanan Lingga Wisnu, serangan Cocak Abang tidaklah secepat tadi. Gerakannya kini agak kendor. Namun setiap pukulannya mengandung tekanan dahsyat. Setiap kali, apabila tangannya bergerak, angin dahsyat mendahului atau mengiringi. 

Menghadapi tekanan himpunan sakti demikian dahsyat Lingga Wisnu tercekat hatinya. Namun sama sekali ia tak gugup. Sekonyong-konyong ia melihat cahaya merah kuning berada dalam tapak tangan Cocak Abang. Ia terperanjat. Pikirnya di dalam hati :

"Apakah ini yang bernama ilmu Lebur Seketi?"

Teringatlah ia kepada tutur-kata gurunya tentang berbagai ilmu sakti dengan tanda tandanya. Seperti ilmu sakti pukulan Narantaka, Rajah Selandaka, Mandi, Brajadenta dan sebagainya. Dan ilmu sakti Lebur Seketika merupakan ilmu pukulan yang tak boleh mengenai sasaran. Barang siapa kena gempurannya, akan rontok tulang-tulangnya. Memperoleh ingatan demikian, segera ia mengubah tata-berkelahinya. Untuk mencegah pendekatan, kedua tangannya dipukulkan saling susul dengan sebat sekali.

Cocak Abang bersenyum mengejek. Tahulah dia, bahwa Lingga Wisnu segan terhadap ilmu-saktinya. Ia jadi berbesar hati. Lantas saja ia mendesak selangkah demi selangkah. Mendadak saja lengan kanannya terasa nyeri. Kaget ia melesat mundur sambil memeriksa tangannya. Ternyata lengan yang tadi terasa nyeri kelihatan merah dan bengkak. Tahulah dia, lengannya tadi kena sentuh tanpa diketahui karena cepatnya.  Ia pun mengerti, bahwa Lingga Wisnu bermurah hati terhadapnya. Sekiranya menghantam dengan benar- benar, tangan atau lengannya pasti sudah rusak. Meskipun demikian, hatinya penasaran juga. Sayang, tak dapat lagi ia melanjutkan pertempuran itu. Dalam adu kepandaian itu, ia sudah jatuh.

Selagi pertempuran berhenti, Cocak Mengi maju menghampiri Lingga Wisnu. Katanya dengan suara tenang :

''Anak mudai Masih begini muda usiamu. Akan tetapi ilmu kepandaianmu hebat sekali. Marilah ingin aku mencobamu., dengan berbekal senjata”

Lingga Wisnu cepat-cepat membungkuk hormat, sahutnya dengan suara merendahkan hati:

“Waktu aku datang kemari, tak berani aku membekal senjata. Aku datang dengan tangan kosong .. “

Cocak Mengi tertawa memotong. Katanya :

"Kau mengenal adat-istiadat. Bagus! Memang kulihat engkau tak membaw a senjata. Hal itu terjadi karena engkau terlalu yakin kepada kemampuanmu sendiri. Hatimu terlalu besar sehingga keberanianmu sangat mengagumkan. Tidak apalah hanya saja malam in i, engkau harus memperlihatkan kepadaku. Mari, kita melihat-lihat gedung, olah-raga barang sebentar!"

Apa yang dikatakan gedung olah-raga sebenarnya tempat keluarga Mataun berlatih. setelah berkata demikian, Cocak Mengi mendahului melompat turun dari genting. Dan rombongannya ikut turun pula. Maka tak dapat lagi, Lingga Wisnu menolak undangan itu. Terpaksalah ia meloncat turun dari atas genting mengikuti mereka memasuki gedung tempat berlatih.

Tatkala hendak memasuki ambang pintu, tiba tiba Yunus mendekati mengkisiki :

"Di dalam tongkatnya tersimpan senjata jepretan beracun!"

Tercekat hati Lingga Wisnu mendengar kisikan itu. Seumpama tidak memperoleh kisikan itu sama sekali ia tak menduganya. Maka dengan hati berw aspada, ia menebarkan penglihatannya.

Gedung berlatih itu berukuran lebar dan luas sekali. Di dalamnya terdapat tiga panggung persegi panjang. Keluarga Mataun lantas saja berkumpul berkelompok- kelompok. Rupanya mereka semua gemar akan ilmu tata-tempur baik laki- laki maupun perempuan. Mereka hendak menyaksikan adu kepandaian antara Cocak Mengi dari Lingga Wisrru. Malahan, diantara mereka terdapat beberapa anak yang lagi berumur tujuh atau delapan tahun.

Setelah mereka mencari tempat duduknya masing- masing, muncullah seorang wanita setengah umur. Usianya kurang lebih empat puluhan lima tahun. Ia didampingi Sekarw ati, budak Yunus yang lincah dan genit.

"Ibu!" seru Yunus menghampiri.

Wanita itu elok wajahnya, namun mengandung rasa duka-cita. Mendengar seruan anaknya, ia hanya mengerlingkan mata. Sama sekali tak menyahut memperlihatkan wajah jernih. Pandang matanya guram tak bersinar. "Anak muda," kata Cocak Mengi. Di sini banyak terdapat bermacam-macam senjata. Kau hendak menggunakan senjata apa, boleh pilih sendiri," setelah berkata demikian, ia menunjuk sekitar gedung. Pada dinding gedung terdapat deretan berbagai macam senjata.

Lingga Fisnu sadar, bahwa ia sedang menghadapi persoalan yang rumit sekali. Tak gampang-gampang ia memperoleh penyelesaian tanpa kekerasan Namun, ia tak menginginkan akan terjadinya ketegangan yang bertambah hebat. Karena itu tak boleh ia sampai melukai siapapun, meskipun dirinya seumpama terdesak kepojok. Inilah pengalamannya untuk yang pertama kalinya setelah memasuki kancah penghidupan babak kedua. Dan masalah yang sedang dihadapi itu, ternyata sulit luar biasa. Ia berbimbang-bimbang sejenak untuk menentukan sikap.

Yunus semenjak tadi memperhatikan  Lingga Wisnu.

Melihat pemuda itu berbimbang bimbang, ia berseru :

"Pamanku yang ketiga ini paling senang terhadap seorang muda yang berkepandaian tinggi. Pastilah dia tidak akan melukaimu ...”

"Kau tutuplah mulutmu!" potong ibunya dengan suara sengit. Tak usah dikatakan lagi, bahwa wanita itu tiba- tiba saja berpanas hati.

Cocak Mengi menoleh kepada Yunus, berkata:

"Kau lihat saja, bagaimana kesudahannya nanti." Setelah berkata demikian, ia melemparkan pandang Lingga Wisnu. Berkata lagi : "Anak muda, kau menggunakan pedang atau golok panjang?"

Lingga Wisnu terdesak. Mau tak mau ia harus memberikan jawaban. Segera ia menebarkan penglihatannya. Tiba-tiba ia melihat seorang anak berumur empat tahun berada di dekat Sekarwati. Pastilah anak itu salah seorang anggauta keluarga Mataun. Ia hadir oleh orang tuanya dengan membaw a alat-alat permainan, di antaranya terdapat sebatang pedang kayu yang dicat hitam. Dan melihat pedang kayu itu, Lingga Uisnu lantas menghampiri. Katanya lembut :

"Adik kecil, boleh aku pinjam pedangmu? Sebentar saja ..."

Bocah itu ternyata seorang pemberani, sama sekali ia tak takut terhadap seorang asing. Dengan tertaw a ia mengangsurkan pedang kayunya. Dan setelah Lingga Wisnu menerima pedangnya, ia lari ke dekapan Sekarw ati.

"Paman, tak berani aku menggunakan senjata benar- benar," kata Lingga Wisnu menghampiri Cocak Mengi. "Bukankah kita hanya bermain-main saja?"

Sebenarnya, Lingga Wisnu bermaksud merendahkan diri. Akan tetapi bagi Cocak Mengi, justru dianggap menghinanya. Hampir saja orang tua itu, tak sanggup mengendalikan rasa amarahnya. Untuk menghibur dirinya sendiri, ia tertaw a terbahak-bahak. Katanya diantara tertaw anya :

"Memang, akulah yang lagi sial. Puluhan tahun lamanya aku berkelana mencari lawan dan kawan. Selama itu belum pernah aku bertemu dengan seorang yang berani merendahkan diriku. Hm, pernahkah engkau mendengar nama tongkatku: Kyahi Jagabumi? Baiklah, jika benar-benar kau mempunyai keberanian dan kepandaian dewa, hayo kau tabaslah tongkatku kutung!"

Yang disebut tongkat Jagabumi, terbuat dari campuran besi dan baja. Siapapun percaya bahwa tongkat itu takkan mungkin tertabas kutung oleh pedang kayu. Kecuali apabila pedang kayu itu buah tangan dewa sakti. Dan setelah berkata demikian, dengan hati mendongkol Cocak Mengi menyambar tongkatnya dan dibabatkan kearah pinggang Lingga Wisnu. Hebat sarribarannya. Dalam gedung itu lantas saja terdengar suatu berdengung.

Yunus memekik cemas, menyaksikan sambaran tongkat pamannya yang hebat tak terkatakan Pada saat itu, ia melihat tubuh Lingga Wisnu berputar seperti terseret putaran anginnya. Akan tetapi belum sampai tubuh Lingga Wisnu terlempar, tiba-tiba pedang kayu ditangannya bergerak lincah dan menikam pergelangan.

Cocak Mengi mundur sambil menarik tongkatnya. Sebagai gantinya, ia maju selangkah dan menusuk ke arah dada.

'Akh!' seru Lingga Wisnu di dalam hati. 'Kiranya tongkatnya bisa dipergunakan untuk menikam pula. Aku harus berhati-hati.'

Cepat-cepat ia mengelak dan pedang kayunya menetak lengan. Cocak Mengi terperanjat. Ia tahu meskipun hanya pedang kayu, akan tetapi bila menabas lengan bisa mengutungkan. Cepat ia melepaskan pegangannya, sehingga ujung tongkat jatuh menusuk lantai. Tapi tepat pada saat itu, serangannya yang tak kalah dahsyatnya. Hebat gerak-geriknya. Selain sebat, mengandung ancaman mengerikan. Sedikit saja Lingga Wisnu kena tersentuh, pasti akan celaka.

Lingga Wisnu kagum melihat kegesitan dan kesehatan Cocak Mengi. Oleh rasa kagum, ia berkelahi dengan hati- hati dan cermat. Ia selalu mengelak atau menghindari. Dan pukulan tongkat yang tidak mengenai sasaran, menghantam batu lantai hingga hancur berantakan. Keping kepingannya terpelesat ke sana ke mari bagaikan titik hujan. Maka bisa dibayangkan betapa akibatnya, apabila sampai-mengenai tubuh manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Lingga Wisnu tak sudi terpengaruh kedahsyatan tongkat Jagabumi. Segera ia melayani kegesitan lawan dengan ilmu Sepi Angin ajaran Ki Ageng Gumbrek. Tubuhnya bergerak lincah, gesit dan sebab luar biasa. Tak ubah bayangan, ia melesat kesana kenari. Dan setiap kali memperoleh kesempatan, pedangnya menabas dan menikam.

Tak terasa, pertempuran cepat itu telah memasuki jurus duapuluh. Setelah itu, Cocak Mengi kelabakan sendiri. Ia sudah terlanjur membuka mulut besar. Akan tetapi sampai sekian jurus, belum berhasil merobohkan lawannya yang masih berusia muda sekali. Sekian puluh tahun lamanya, ia malang-irelintang tanpa tandingan karena tongkatnya itu. Akan tetapi pada malam itu, ia malah kena dipermainkan seorang bocah cilik. Masakan melawan pedang kayu saja, membutuhkan waktu begitu lama? Dan oleh pikiran itu, ia menjadi gugup. Tak dikehendaki sendiri, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Oleh rasa gopoh dan mendongkol, ia jadi penasaran. Segera ia merubah tata-berkelahinya. Dengan gesit ia mencoba melibat Lingga Wisnu dehgan tongkat andalannya. Gerakannya membuat semua penonton mundur beberapa langkah, karena tersapu angin yang datang bergulungan. Ada di antaranya yang bersandar pada tembok untuk mempertahankan diri.

Setelah merubah tata-berkelahinya, Lingga Wisnu mengakui di dalam hati bahwa orang tua itu merupakan lawannya yang tertangguh selama hidupnya. Tak dapat ia mendekatinya. Sedang pedang kayunya sendiri yang bakal patah menjadi dua tiga bagian.

'Akh, kalau begitu terpaksa aku harus melawannya dengan ilmu gabungan kedua guruku,' ia berpikir di dalam hati. Lalu iapun segera merubah tata- berkelahinya. Gerakannya jadi lambat nampak ayal- ayalan.

Cocak Mengi bergirang hati menyaksikan gerakan Lingga Wisnu yang makin lama makin lambat. Itulah suatu tanda, bahwa dia kehilangan tenaga. Oleh pikiran itu, tak sudi ia sia-siakan kesempatan yang bagus. Begitu memperoleh kesempatan dengan sebat ia menghantamkan tongkatnya.

Lingga Wisnu kelihatan lelah. Dengan ayal-ayalan ia menyambut serangan tongkat Cocak Mengi yang dahsyat tak terkatakan. Yunus yang berada di luar gelanggang berseru cemas. Tiba-tiba ia melihat suatu perubahan yang mengherankan. Pada saat ujung tongkat lewat di depan dadanya, cepat luar biasa Lingga Wisnu menggerakkan tangannya. Tahu-tahu ujung tongkat kena di tangkapnya dengan tangan kiri. Dengan tenaga penuh, ia menghentak sambil menarik. Kemudian pedang kayunya menyambar. Bret! Dan baju Cocak Mengi terobek.

Cocak Mengi kaget bukan kepalang. Pada detik itu pula, telapak tangannya panas luar biasa oleh gentakan Lingga Wisnu. Tak dapat lagi ia mengelakkan diri atau mencoba mempertahankan diri. Satu-satunya jalan, hanya melepaskan genggamannya. Artinya, tongkat andalannya kena direbut lawan. Hal itu sebenarnya sudah merupakan karunia, meskipun memalukan sekali. Coba, seumpama Lingga Wisnu tidak mengenal belas kasih, dadanya sudah kena tikam dengan telak.

Lingga Wsnu tahu keripuhan lawan. Hatinya yang mulia tidak mengidzinkan untuk membuat orang tua itu menanggung malu. Selagi menarik pedang kayunya, ia menyodorkan tongkat yang kena dirampasnya kepada pemiliknya kembali. Gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat dan semu, sehingga hanya seorang ahli saja yang bisa mengetahui.

Sebenarnya, Cocak Mengi sudah merasa mati kutu. Akan tetapi hatinya panas dan mendongkol. Sambil menerima tongkatnya kembali, ia berteriak tinggi sambil menyerang. Itulah kejadian diluar dugaan Lingga Wisnu. Ia heran, apa sebab orang tua itu membandel? Bukankah dia kalah? Apa sebab ia masih menyerang? Tapi tak sempat lagi ia berpikir berkepanjangan. Ia harus mengelakkan serangan tiba-tiba itu. Sebab ia melesat ke samping dengan memiringkan badannya. Lalu melompat mundur.

Cocak Mengi tidak mau mengerti. Sebenarnya kalau mau, Lingga Wisnu dapat menyerangnya dari samping. Tapi ia tak memperdulikan kemuliaan hati pemuda itu. Dengan penasaran, ia menarik tongkatnya. Lalu menyerang, tapi kali ini dibarengi dengan suara berdesir. Dan dari ujung tongkatnya, melesatlah tiga batang paku beracun yang tipis. Sasarannya membidik atas, tengah dan bawah.

Jarak mereka sangat dekat. Maka bisa dibayangkan, betapa bahayanya. Apalagi Cocak Mengi membarengi dengan tusukan. Yunus berseru kaget. Hampir saja ia melompat ke dalam gelanggang, kalau saja tidak kena tarik ibunya.

Lingga Wisnu sudah berjaga-jaga semenjak memperoleh kisikan Yunus. Tapi serangan itu sangat keji. Gesit luar biasa, ia menyapu ketiga paku itu dengan pedang dan ujung bajunya. Itulah jurus simpanan ilmu sakti Sekar Teratai hasil didikan Kyahi Sambang Dalan yang jarang sekali muncul di depan umum. Kalau saja tidak merasa terpaksa, tidak akan Lingga Wisnu menggunakan ilmu simpanan tersebut. Setelah itu, dengan geram ia maju selangkah, dan menekan ujung tongkat Jagabumi dengan pedang kayunya ke lantai.

Itulah suatu peristiw a diluar dugaan Cocak Mengi. Ia tadi sudah merasa pasti, bahwa serangan paku beracunnya akan berhasil. Tak mengherankan, tongkat Jagabumi tidak perlu ditariknya kembali cepat-cepat. Sekarang tongkatnya kena tindih. Suatu tenaga luar biasa besarnya menekan kebawah, memaksa ujung tongkatnya kelantai. Terus saja ia berjagang dan mempertahankan agar tongkatnya tidak tertekan. Akan tetapi pedang kayu Lingga Wisnu terus menekan kebawah sedikit demi sedikit. Dan tatkala ujung tongkat meraba lantai, kaki kirinya menggantikan kedudukan pedang. Tongkat itu diinjaknya.

Keringat dingin membanjiri seluruh tubuh Cocak Mengi. Ia berkutat mati-matian untuk membebaskan tongkatnya. Selagi mengerahkan sisa tenaganya, tiba- tiba Lingga Wisnu meloncat mundur. Oleh perubahan itu, Cocak Mengi terhentak mundur beberapa langkah dan hampir saja ia roboh terjengkang. Ia berhasil mengangkat tongkatnya kembali. Akan tetapi lantai yang terbuat dari batu pualam hijau meninggalkan lobang besar sebesar tusukan ujung tongkat Jagabumi. Dan menyaksikan hal itu, semua hadirin terperanjat dan tercengang.

Tak usah diumumkan lagi. Cocak Mengi yang kalah. Ia mendongkol bukan kepalang. Tak pernah terlint as dalam benaknya, bahwa pada suatu kali ia bakal dikalahkan lawan yang hanya bersenjata pedang kayu. Ia menggigil oleh rasa marah, kecewa dan benci. Dengan kedua tangannya ia melemparkan tongkatnya ke atas wuwungan gedung. Brak! Dan atap gedung olah raga tertembus tongkatnya dengan suara berderakan.

"Tongkatku kena kau kalahkan dengan pedang kayumu. Apa perlunya kusimpan lagi sebagai senjata mustika?" teriaknya dengan wajah merah padam.

Lingga Wisnu tak bergerak dari tempatnya. Ia tahu, orang tua itu sedang mengumbar rasa mendongkolnya. Sebenarnya bukan tongkatnya yang buruk, akan tetapi karena ilmu kepandaiannya kalau jauh dengan Lingga Wisnu. Semua orang tahu akan hal itu. Dan sebenarnya tak perlu Cocak Mengi menutup-nutupi kekalahannya. Diantara keluarga Mataum yang berkumpul di dalam gedung itu, tinggal Cocak Prahara, Cocak Rawa dan Cocak Ijo. Cocak Ijo adalah seorang ahli pembidik senjata jauh. Senjata yang digunakan adalah semacam belati panjang yang tipis. Bentuknya setengah golok setengah pisau. Tajamnya luar biasa. Selain itu mengandung racun dahsyat. Selama hidupnya, belum pernah ia kehilangan sasaran bidikannya. Selalu tepat, dan tak pernah meleset.

Senjata andalannya disimpan dalam sebuah kantong semacam tempat anak panah. Masing masing senjata mempunyai daya berat setengah kilo, dan biasanya senjata bidik terlepas tanpa suara. Tapi senjata bidik Cocak Ijo yang istimewa itu, meraung nyaring seperti seruling. Itulah disebabkan pada ujung goloknya terdapat sebuah lobang sebesar biji asam. Suara itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu santun. Lawan diperingatkan terlebih dahulu agar bersiaga penuh, begitu mendengar suara raungan. Akan tetapi sebenarnya raungan suara itu justru mengacaukan pemusatan lawan. Salah-salah bisa membuat lawan yang kecil hati jadi bingung dan gugup.

Melihat kakaknya gagal menguji ketangguhan Lingga Wisnu, tanpa berbicara lagi ia melompat ke dalam gelanggang. Katanya nyaring :

"Saudara Lingga! Tahun depan umurku lagi mencapai empatpuluh tahun. Jadi, aku masih pantas menyebutmu sebagai saudara. Kau hebat, saudara. Dengan senjata kayu kau bisa mentaklukkan tongkat mustika kakakku. Bagaimana kalau sekarang aku mencoba-coba senjata bidikku?" Setelah berkata demikian, ia mengalihkan kantong kulit yang berada dipunggung ke pinggang.

Lingga Wisnu menatap gerak-gerik Cocak Ijo sebentar. Rasanya tiada gunanya ia mencoba menolak. Maka terpaksalah ia mengangguk. Sahutnya:

"Baiklah, hanya saja tak berani paman menyebut diriku dengan paman. Sebab aku sudah mengangkat saudara dengan kemenakanmu. Harap saja paman sudi bermurah hati terhadapku."

Ia mengembalikan pedang kayu kepada si bocah yang meminjami. Kemudian balik kembali meminjami. Dan kemudian balik memasuki gelanggang. Ia tahu, kali ini bakal menghadapi pertempuran seru. Apa lagi ia menghadapi keluarga Mataun yang termuda. Pastilah dia lebih berangasan dari pada saudara saudaranya yang tua tadi.

Dalam pada itu, semua penonton mundur sampai ke dinding. Mereka tahu senjata bidik Cocak ljo tak boleh dibuat sembrono. Sekali terlepas, maka udara akan dipenuhi golok dan belati yang berterbangan dengan suara meraung, tak mengherankan suasana gelanggang jadi tenang karena malapetaka mengancam pada sembarang waktu. Sebab apabila Lingga Wisnu terpaksa mengelak seniata bidik akan terus meluncur menikam salah seorang penonton yang lagi bernasib sial.

Lingga Wisnu sendiri kala itu terpaksa memeras otak. Bagaimana cara yang sebagus bagusnya untuk melawan senjata bidik Cocak Ijo? Kalau hanya main tangkap, rasanya kurang kena. Karena gerakan itu hanya memperlihatkan suatu kegesitan belaka. Seumpama Cocak Ijo bisa dikalahkan dengan cara demikian, tentunya dia belum puas. Kecuali apabila sanggup menanamkan rasa segan ke dalam hati mereka semua agar Suskandari dibebaskan dengan hormat. Pikirnya: “Dia hendak memperlihatkan kepandaiannya dalam hal membidikkan senjata. Kenapa aku tak menirunya? Dan memperoleh pikiran demikian, segera ia berkata lagi :

"Paman biarlah aku mengambil segnggam batu untuk menghadapi senjata bidik paman yang dahsyat."

Setelah berkata demikian, ia keluar gelanggang dan mengambil seraup batu-batu kerikil yang kecil. Ia sudah memperoleh keputusan hendak melawan senjata bidik Cocak Ijo dengan ilmu ajaran Ki Ageng Gumbrek.

"Silainkan!" katanya setelah memasuki gelanggang kembali.

"Hati-hati!" Cocak Ijo memperingatkan.

Berbareng dengan peringatannya, sebatang golok menyambar dengan suara meraung. Hebat suara raungan itu. Gerakan Cocak Ijo tangkas pula. Maka cepat-cepat, Lingga Wisnu menyentil sebuah batu. Tak! Batu membentur ujung golok. Dan suara raungan itu terhenti, karena batu menyumbat lobang suara.

"Bagus!" Cocak Ijo memuja.. “Kalau begitu tak boleh aku bersegan-segan lagi. Hati-hatilah!"

Dua belati terbang menyambar dengan sekaligus. Dan dua kali pula terdengar bentrokan nyaring. Yang pertama terhajar miring dan menancap pada tiang. Sedang yang kedua runtuh bergelontangan di lantai. Peristiw a itu benar-benar mengejutkan Cocak Prahara yang mengikuti adu kepandaian antara saudara-saudaranya melawan Lingga Wisnu. Betapa tidak? Senjata bidik Cocak Ijo mempunyai berat kurang lebih setengah kilo. Kena tenaga lontaran pembidiknya akan mempunyai daya berat sekian kali lipat. Akan tetapi kena diruntuhkan Lingga wisnu yang hanya bersenjatakan kerikil. Tak usah dikatakan lagi bahwa himpunan tenaga sakti Lingga Wisnu diatas Cocak Ijo.

Wajah Cocak Ijo nampak berubah, begitu menyaksikan runtutnya dua belati. Tapi pada saat itu pula, ia memberondongkan empat belatinya sekaligus. Lingga Wisnu sudah mempunyai dugaan demikian. Ia menyongsong sambitan belati Cocak Ijo dengan empat butir kerikilnya Ting, ting, ting ting! Dan empat belati Cocak Ijo runtuh di atas lantai saling susul seperti tadi.

"Akh! Bagus! Bagus!" seru Cocak Ijo.

Ia seperti menyatakan pujian dengan hati tulus, akan tetapi hatinya sesungguhnya mendongkol bukan main. Segera ia melepaskan mbelatinya sekaligus. Kemudian dua batang goloknya menyusul beberapa detik. Arah, bidikannya memenuhi keblat penjuru. Akan tetapi sasarannya satu. Teriaknya di dalam hati: 'Hmm Coba ingin kulihat, apakah kau mampu meruntuhkan ke enam golok dan kedua golokku yang datang dari berbagai penjuru ...'

Terbangnya delapan senjata bidik Cocak Ijo membawa suara meraung-raung berisik sekali. Kena pantulan sinar lampu, kedelapan senjata bidik itu membaw a cahaya berkeredepan. Tapi sebentar saja, baik suara raungan maupun cahaya berkeredepan itu, padam dengan mendadak, kena benturan enambelas kerikil Lingga Wisnu yang bersuing pula di udara. 'Akh! Benar-benar hebat!” seru Cocak Ijo di dalam hati. Sekarang ia jadi penasaran. Dengan semangat tempur yang menyala-nyala, ia me lepaskan enam batang belati dan goloknya sampai tiga kali berturut-turut saling menyusul. Tak usah dikatakan lagi, betapa berisik suara raung lalu lintas udara.

Cocak Prahara adalah seorang pendekar berpengalaman. Melihat gerak-gerik Lingga Wisnu gesit dan tangkas luar biasa, tahulah dia bahwa pemuda itu pasti murid seorang pendekar yang berkepandaian t inggi luar biasa. Kalau sampai golok atau belati Cocak Ijo melukainya, akan panjang ekornya. Maka buru-buru'ia berteriak mencegah :

"Adik! Jangan menuruti hati panas saja! Tahan!" Tetapi pencegahan itu sudah kasep. Tiga kali berturut-

turut, Cocak Ijo melepaskan senjata bidiknya. Setiap kali ia melepaskan enam batang. Dengan demikian, delapanbelas batang senjata bidik berkeredepan memenuhi udara tak ubah hujan grimis. Adalah tak mungkin untuk menarik kembali.

Lingga Wisnu sendiri bersikap tenang luar biasa menghadapi hujan senjata bidik. Mula-mula ia menebarkan duabelas batu kerikilnya untuk meruntuhkan enam batang golok. Kemudian ia melesat kesana kemari menangkap enam belati susulan. Setelah kena tergenggam ditangannya, ia menyambitkan kembali meruntuhkan enam golok yang menyambar untuk yang ketiga kalinya. Dengan t iga gerakan itu, kedelapan belas senjata bidik Cocak Ijo rontok bergelontangan di atas lantai. Dan yang kena bentur senjata kerikilnya terbang keluar gelanggang menancap pada dinding. Itulah suatu pemandangan yang benar-benar mempesonakan. Mereka semua yang melihat, memekik tertahan oleh rasa heran dan kagum.

Pandang mata Cocak Prahara, Cocak Abang Cocak Mengi, Cocak Rawa dan Cocak Ijo mendadak menjadi bengis. Dengan serentak mereka berteriak nyaring :

"Apakah kedatanganmu ke mari atas perintah Bondan Sejiw an?"

Lingga Wisnu tercengang. Memang, ia tadi menggunakan jurus ilmu w arisan Bondan Sejiw an t atkala menghadapi rumunan golok terbang Cocak Ijo. Tetapi bagaimana mereka berlima, bisa mengenal dengan sekali melihat saja?

Pemuda itu tak tahu, bahwa pada jaman mudanya mereka berlima pernah bertempur melawan Bondan Sejiw an. Tatkala Cocak Ijo dahulu menyerang dengan delapanbelas senjata bidiknya, cara menangkap dan mengadakan perlawanan' Bondan Sejiw an tak beda dengan cara perlawanan Lingga Wisnu yang berhasil memunahkan serangan golok terbang Cocak Ijo, benar- benar tak pernah terlupakan. Di dunia ini hanya dia seorang. Bertahun tahun lamanya, mereka membicarakan dan merundingkan gerakan Bondan Sejiw an yang ternyata merupakan obat pemunah sambaran golok terbang yang ampuh. Gerakan itu tak pernah terhapus dari ingatannya. Bahkan seringkali dibawanya bermimpi. Itulah sebabnya, begitu melihat gerakan perlawanan Lingga Wisnu segera mereka mengenal tanpa ragu-ragu lagi.

Lingga Wisnu tak mengetahui latar belakang sejarah mereka berlima yang bersangkut  paut dengan Bondan Sejiw an. Melawan Cocak Rawit, Cocak Abang dan. Cocak Mengi tadi, ia hanya menggunakan jurus-jurus ajaran kedua gurunya. Tapi setelah merasa terdorong kepojok oleh sarbaran belati terbang Cocak Ijo, dengan tak dikehendaki sendiri mengadakan perlawanan dengan jurus warisan Bondan Sejiw an. Memang warisan ilmu Bondan Sejiw an sudah meresap di dalam darah dagingnya, seolah-olah miliknya sendiri. Karena itu cara menggunakannya secari naluri belaka.

Begitulah tatkala mendengar pertanyaan itu segera ia hendak maiiberi keterangan. Tapi pengalaman hidupnya yang pahit, menahan diri. Ia menaruh curiga terhadap bunyi dan nada pertanyaan mereka. Cara mereka bertanya, mengingatkan dirinya kepada musuh-musuh ayah-bundanya yang bersikap galak dan main paksa. Mulutnya yang Sudah bergerak, segera menutup kembali. Selagi demikian, terlihatlah t iga orang memasuki paseban. Yang berjalan di depan adalah Suskandari yang terbelenggu kedua tangannya. Ia dikawal oleh dua orang yang bersenjata terhunus karena rupanya, baru saja Suskandari dikeluarkan dari lubang jebakan.

Melihat munculnya Suskandari, hati Lingga Wisnu tergetar. Terus saja ia melesat menghampiri Cocak Prahara dan Cocak Baw un segera memburunya dengan senjata andalannya masing masing.

Lingga Wisnu tak menghiraukan. Ia menyusul Suskandari. Tiba-tiba dua pengaw alnya menyerang dengan berbareng. Cepat ia mengendapkan diri. Dan pada detik itu, terdengarlah suatu bentrokan senjata tajam. Itulah bentrokan senjata antara dua pegawai Suskandari dan Cocak Prahara. "Tolol' Minggir” bentak Cocak Prahara dengan hati mendongkol. Lingga Wisnu tadi, tidak mengadakan perlawanan tatkala kena serang dua pengaw al Suskandari. Ia hanya mengendapkan diri, sehingga kedua nedang penyerangnya menyelonong melalui punggungnya. Justru pada saat itu Cocak Prahara dan Cocak Hawun sedang menyerang pula. Dengan begitu senjata mereka berempat jadi berbenturan. Keruan saja, dua pengaw al itu kaget setengah mati. Mereka heran bukan kepalang atas terjadinya benturan itu.

Pada saat itu, Lingga Wisnu mempunyai kesempatan menghampiri Suskandari. Dengan ,sekali tabas,' ia memutuskan tali pembelenggu dengan pedang Suskandari yang masih tergantung di pinggangnya. Kemudian berkata :

"Ini pedangmu!"

"Kak Lingga!" seru Suskandari girang. Cepat ia membuang tali pembelenggunya dan terus menerima pedangnya. Dan baru saja pedangnya dipegangnya, dua batang tombak pendek Cocak Prahara melintang didepannya. Ia terperanjat. Tapi pada saat itu, ia mendengar suara mengaduh. Cepat ia menoleh dan melihat dua pengaw al yang sialan tertumblas tombak Cocak Prahara. Untung Cocak Prahara masih sempat menyasarkan tikamannya hingga hanya mencublas paha. Kalau tidak, mereka berdua pasti akan menjadi sate mentah..

Peristiw a itu terjadi oleh kecekatan Lingga Wisnu yang bisa mengambil keputusan di luar dugaan. Melihat ancaman bahaya, sebat ia menyambar dua pengaw al yang menyerang dari samping dan dibenturkan pada tombak majikannya. Dan setelah itu, ia merenggut tali pembelenggu Suskandari untuk dijadikan alat melawan keganasan tombak Cocak Prahara.

Cocak Prahara pada saat itu mendongkol bukan main. Dengan geram, ia mendupak kedua begundalnya. Kemudian mengulangi t ikamannya kembali. Lingga Wisnu menyambar tangan Suskandari dan dibawanya melompat mundur. Kemudian ia melibat ujung tombak Cocak Prahara dengan tali pembelenggu.

Sudah barang tentu, Cocak Prahara tak sudi kena libat. Untuk membebaskan libatan itu, ia melompat dengan menikamkan tombaknya lagi untuk yang ketiga kalinya. Lingga Wisnu memuji kecekatannya. Tetapi otaknya yang cerdas dapat mengambil tindakan diluar dugaan. Tadi menang ia bermaksud menarik tombak itu, setelah melibatnya. Apabila Cocak Prahara meloncat maju sambil melepaskan tikamannya, ia malahan melepaskan tali libatan. Dan dengan kecepatan luar biasa ia melompat kesamping sambil melindungi Suskandari. Cocak Prahara jadi kehilangan keseimbangan. Tubuhnya menyelonong kedepan sampai dua langkah jauhnya. Kemudian dengan mati-matian ia mempertahankan dirinya dengan menjagangkan kedua kakinya.

Lingga Wisnu mempergunakan kesempatan yang bagus itu. Dengan membimbing tangan Suskandari, ia lari ke serambi depan lalu membalikkan tubuhnya. Ia. berdiri tegak dan menunggu kedatangan mereka dengan sikap tenang luar biasa.

Cocak Prahara jadi panas hati. Ia merasa diri kena dipermainkan seorang pemuda seumpama bocah belum pandai beringus. Maka dengan penasaran dan penuh dengki ia memburu. Keempat saudara dan dua kemenakannya segera menyusul. Dan sebentar saja, mereka bertujuh sudah mengambil sikap mengurung.

"Kau jawablah pertanyaanku! Di mana Kebo Wulung kini berada!" bentak Cocak Prahara dengan menudingkan tembaknya.

"Kebo Wulung? Siapa Kebo Wulung?" sahut Lingga Wisnu heran. Kemudian meneruskan dengan suara sabar: "Marilah kita bicarakan dengan baik-baik. Paman sekalian tak usah bergusar hati terhadapku."

"Apakah kau murid si Kebo Wulung Eondan Sejiw an?" Cocak Prahara tak menggubris. "Apakah kedatanganmu ke mari atas perint ahnya?

Belum lagi Lingga Wisnu membuka mulutnya, Cocak Mengi ikut berbicara. Katanya garang :

"Anak    muda!     Sebelum

terlanjur, berilah kami keterangan sejelas-je lasnya. Coba kau jawab, di mana Bondan Sejiw an kini berada?"

Kedua alis Lingga Wisnu terbangun. Teringatlah dia, bahwa Cocak Obar-abir dan Dandang Gemuling dahulu menyebut Bondan Sejiw an dengan nama Kebo Wulung pula. Maka oleh ingatan itu, segera ia menjawab :

"Dengan sesungguhnya, selama hidupku belum pernah aku melihat wajah Bondan Sejiw an. Bagaimana dia bisa memerint ah aku untuk datang kemari?" "Apa kata-katamu ada harganya untuk kami percayai?" Cocak Mengi menegas.

"Hm, meskipun aku bukan seorang ksatria besar tetapi selama hidupku belum pernah aku berbohong terhadap siapapun," sahut Lingga Wisnu mendongkol. "Secara kebetulan aku bertemu saudara Yunus. Kemudian bersahabat dan datang kemari untuk mengunjungi dan menjenguk kesehatannya. Apakah hal ini ada hubungannya dengan Bondan Sejiwan?"

Mendengar kata-kata Lingga Wisnu, Cocak Prahara berlima agak menjadi tenang. Namun rasa curiga mereka belum hilang. Setelah berdiam sejenak, Cocak Prahara berkata mengancam :

"Kau bisa menyebut nama Bondan Sejiw an dengan lancar. Pastilah engkau mengetahui dan kenal pribadinya. Apabila kau tak mau menyebutkan di mana tempat persembunyiannya, janganlah kau mengharap bisa keluar dari dusun Kemuning. Terus terang saja, dialah buruan kami!"

Tercengang Lingga Wisnu mendengar bunyi ancaman Cocak Prahara. Ia jadi teringat kepada nasib keluarganya yang terus-menerus di kejar-kejar musuh dari berbagai jurusan. Dan teringat hal itu, hatinya sengit. Namun masih bisa ia bersikap sabar dan tenang. Setelah membungkuk hormat, ia menyahut :

"Aku memang kenal namanya. Tapi aku bukan sanak atau kadangnya. Akupun belum pernah melihat dirinya dengan berhadap-hadapan. Apalagi berbicara dengan dia. Hanya saja, memang aku tahu, di mana dia kini berada. Tapi yang aku khawatirkan, barangkali tiada seorangpun yang berani menemuinya ..." Itulah suatu penghinaan bagi Cocak Prahara berlima. lantas saja ia menggerung hebat. Teriaknya :

"Siapa bilang kami tak berani mencarinya? Belasan tahun sudah, kami berusaha mencari dan menemukannya kembali. Kami berlima boleh kau antarkan seorang demi seorang atau dengan berbareng. Sesukamulah! Biarpun dia bersembunyi di ujung langit, kami tidak akan mundur selangkah pun juga. Nah, antarkan kami kepadanya! Atau, berilah kami keterangan di mana dia sekarang be rada."

Lingga Wisnu te rtaw a taw ar. Sebagai seorang pemuda yang banyak mempunyai pengalaman berhadapan dengan musuh-musuh ayah bundanya, lantas saja dia dapat menilai budi-pekerti Cocak Prahara. Sahutnya menggertak :

"Benar-benarkah paman hendak menemuinya?" Dengan hati panas, Cocak Prahara maju selangkah.

Berteriak nyaring :

"Tak salah lagi. Aku memang ingin menemui dia. Di mana?"

Lingga Wisnu mengkerutkan dahi. Bertanya menegas : "Sebenarnya apa maksud paman hendak

menemuinya?"

"Hai, anak muda!" bentak Cocak Prahara. "Kau bocah kemarin sore seumpama belum pandai beringus. Janganlah engkau mempermainkan aku yang sudah ubanan! Kau katakanlah, di mana dia sekarang berada!"

Lingga Wisnu tersenyum melihat lagak lagu orang tua itu yang masih berangasan. Jawabnya : "Kurasa paman masih membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa menemui dia."

"Apa maksudmu?" potong Cocak Prahara.

"Karena dia sudah meninggal dunia." ujar Lingga Wisnu dengan suara tenang.

Mendengar kata-kata itu, mereka semua tercengang. Juga seluruh anggauta keluarga Dandang Mataun yang ikut menyusul ke serambi depan. Dan tiba-tiba terdengarlah pekik Yunus :

"Ibu! Ibu!"

Lingga Wisnu menoleh. Dan pada saat itu, ia masih berkesenpatan melihat ibu Yunus jatuh pingsan di atas kursi. Cepat Yunus mengangkat kepalanya dan diletakkan di atas pangkuannya. Wajah ibunya pucat lesi. Kedua matanya tertutup rapat.

"Hm!" dengus Cocak Mengi dengan bersungut- sungut.

Cocak Rawa berpaling kepada Yunus. Menuding sambil berkata mmerint ah :

"Kau bawalah ibumu masuk ke dalam! Keluarga Dandang Mataun tak boleh memperlihatkan kelemahannya!"

Yunus menangis dengan tiba-tiba. Jawabnya dengan sengit :

"Ibu terkejut tatkala mendengar berita ayah. Kenapa mesti malu? Apa yang harus disembunyikan? Ibu susah! Pedih! Hati ibu kena tertikam!" Mendengar ucapan Yunus, Lingga Wisnu kaget dan berpikir di dalam hati :

'Jadi, Bondan Sejiw an suami wanita itu? Jadi Bondan Sejiw an ayah Yunus?'

Cocak Mengi menegakkan pandangnya mendengar kata-kata Yunus. Dengan menahan luapan marahnya, dia membentak :

"Kakang Prahara! Kau sayang kepada bocah itu Nyatanya dia berani melawan perint ah kakang Cocak Rawa. Idzinkan aku menghajar padanya supaya tak berani lagi ia berlaku kurang ajar!

Cocak Prahara mencoba menengahi. Katanya sengit kepada Yunus :

“Kau bilang Bondang Sej iwan ayahmu? Hayo, kau bawa ibumu masuk ke dalam, cepat!”

Yunus tak berani membantah perintah pamannya yang tertua. Dengan memaksa diri ia menanah ibunya hendak dibawanya masuk ke dalam rumah Sekonyong-konyong ibu Yunus tersadar. Perlahan-lahan ia berkata kepada Yunus :

"Katakan kepada anak Lingga, bahwa aku ingin berbicara esok malam! Banyak yang hendak kutanyakan kepadanya.''

Yunus memanggut dan segera menghampiri Lingga Wisnu. Katanya :

"Masih ada satu hari lagi. Esok malam datanglah kemari lagi untuk mencari emasmu. Aku ingin mengetahui, apakah kau mempunyai kemampuan atau tidak." Setelah berkata demikian, ia mengerlingkan matanya kepada Suskandari. Pandangannya sengit. Kemudian ia memapah ibunya masuk ke dalam.

"Mari adik, kita pergi saja." ajak Lingga Wisnu kepada Suskandari. Dengan memanggut kecil Suskandari mendahului memutar tubuhnya.

"Nanti dahului" seru Cocak Ijo dengan menghalangkan kedua tangannya. "Jawab pertanyaanku satu kali lagi!"

"Hari sudah larut malam, paman." sahut Lingga Wisnu dengan membungkuk hormat. "Lain kali aku datang ke mari untuk memenuhi kehendak paman."

"Tidak! Jawab pertanyaanku dahulu. Tatkala Kebo Wulung mampus, siapa yang menyaksikan? Lagi pula, di mana dia mampus?"

Dengan sebenarnya, Bondan Sejiw an bukan sanak dan bukan kadang Lingga Wisnu. Akan tetapi mendengar lagak pertanyaan Cocak Ijo, ia jadi panas hati. Entah apa sebabnya. Dan seketika itu juga, teringatlah dia kepada Cocak Obar abir dan Dandang Gemuling yang datang ke Gunung Dieng hendak menggerayangi warisan Bondan Sejiw an. Ia berpikir di dalam hati :

"Hm ... apakah aku tak tahu maksudmu sebenarnya? Kau benci terhadap Bondan Sejiw an tetapi hatimu mengincar warisannya. Bagus benar hatimu. Meskipun sampai mati, tidak akan aku memberi keterangan kepadamu."

Dan oleh pikiran itu, ia menjawab dengan mengulum senyum :

"Sebenarnya aku hanya mendengar berita kematian Bondan Sejiw an dari tutur-kata seorang sahabat. Kalau tak salah, menurut sahabatku itu Bondan Sejiw an meninggal di sebuah pulau di Laut Jawa. Karimun Jawa, nama pulau itu."

Cocak Prahara berlima saling pandang dengan keheran-heranan. Mati di tengah pulau Karimun Jawa? Eh, kenapa begitu jauh? Selagi mereka sibuk menebak- nebak, lingga Wisnu ber

kata lagi :

"Nah bila paman sekalian ing in melihat makamnya, 'pergilah 'ke Karimun Jawa! Dari pantai Jepara tidak begitu jauh."

Lingga Wisnu menggunakan pengalamannya untuk mengibuli mereka. Tatkala ayah-bundanya dahulu menjadi orang buruan, pernah ia ikut bersembunyi di Jepara. Dengan demikian ia tahu pasti berapa jauh jarak antara pantai Jepara, dengan Karimun Jawa. Dan setelah berkata demikian, ia membungkuk hormat dan berkata lagi :

"Sekarang perkenankan kami berdua beristirahat dahulu. Hari sudah jauh malam. Dan hawa pegunungan terlalu dingin bagiku.

"Nanti dahulu!" cegah Cocak Rawa. Kedua tangannya dilintangkan menghadang kepergian Lingga Wisnu.

Tak senang Lingga Wisnu dihadang dengan cara demikian. Segera ia menolak lengan Cocak Rawa Tetapi Cocak Rawa tak mau mengerti, sebab ia menekuk lengannya dan mencengkeram. Sasarannya mengarah pergelangan tangan. Lingga Wisnu tak sudi terlibat dalam suatu perkelahian lagi. Begitu tangannya berbenturan, cepat ia menyambar lengan Suskandari. Dengan suatu isyarat, ia mengajak Suskandari meloncat melalui hadangan kaki Cocak Rawa. Ternyata Suskandari seorang gidis cerdas. Ia mendahului melompat dan berhasil melalui hadangan Cocak Rawa dengan selamat.

Cocak Rawa jadi panas hati. Tangan kanannya bergerak meraba pinggangnya. Dan tiba-tiba saja ia sudah menggenggam sebatang cambuk lemas yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang. Cambuk itu termasuk senjata andalannya. Dibuat dari urat kerbau yang kuat luar biasa, karena berlapis logam. Kedahsyatannya melebihi cambuk yang dibuat dari logam penuh. Sebab daya gunanya jauh lebih baik daripada logam yang sifatnya kaku. Kadang-kadang bisa lencang tak ubah sebatang tembak. Kadangkala bisa me lingkar semacam gaetan setajam pisau cukur. Dan dengan satu lecutan, ia menghantam punggung Lingga Wisnu yang telah melalu inya. Betapa bahayanya, tak usah dikatakan lagi.

Lingga Wisnu mendengar kesiur angin mengejar dirinya. Tanpa menoleh, ia melesat maju sambil menyambar tangan Suskandari. Kemudian dengan mengerahkan enam bagian himpunan tenaga saktinya, ia membaw a Suskandari meloncat keatas dinding. Dan cambuk Cocak Rawa menghajar tempat kosong.

Cocak Rawa makin penasaran. Belasan tahun lamanya ia telah melatih diri dengan cambuk andalannya. Selama itu, tak pernah sasarannya gagal. Tetapi anak muda itu ternyata bisa mengelakkan diri dengan mudah saja. Maka ia mengulangi lagi serangannya. Kali Ini mengarah kaki Suskandari yang baru saja mendarat di atas tembok.

Mendongkol hati Lingga msnu menyaksikan kelicikan Cocak Rawa. Mengapa menghantam Suskandari yang kepandaiannya kalah tinggi? Sebat ia mengulur tangan kirinya menangkap ujung cambuk sambil melindungi Suskandari . T atkala itu, kedua kakinya telah mendarat di atas tembok. Dengan mengerahkan tenaga, ia menghentak. Cocak Rawa kaget bukan kepalang. Sama sekali tak diduganya, bahwa Lingga Wisnu mampu menangkap ujung cambuknya.

Waktu melecutkan cambuknya, ia melompat maju pula. Kini tiba-tiba kena hentak Lingga Wisnu dari atas tembok. Karena kalah tenaga, ia terangkat naik. Kedua kakinya jadi bergelantungan Ia jadi kehilangan tenaga. Tak dapat lagi ia berkutik. Dalam detik itu juga, ia jadi menyesal atas kesemberonoannya sendiri. Tadinya ia mengira, dengan menjatuhkan Suskandari dari atas tembok, kedudukan keluarga Dandang Mataun jadi tidak terlalu suram. Tak tahunya ia kini malah kena digelantungkan di udara tak ubah seorang persakitan lagi menjalankan hukuman gantung. Ia mendongkol, panas hati, penasaran, malu dan menyesal.

Cocak Ijo tahu, kakaknya dalam kesulitan. Cepat ia melepaskan golok terbangnya hendak menolong. Bidikannya mengarah pada cambuk. Sebaliknya Lingga Wisnu mengira dirinya kena serang. Cepat ia melepaskan ujung cambuk yang berada dalam genggamannya sambil membaw a Suskandari meloncat turun melintasi tembok. Tepat pada saat itu, sebatang golok menyambar kearah- nya. Dengan gesit ia mendupak selagi melompat. Dan golok itu terpental balik membentur golok kedua. Trang! Kedua golok runtuh bergemelontangan di atas tanah.

Dalam pada itu, Cocak Rawa yang bergelantungan di atas terbanting jatuh, tatkala Lingga Wisnu melepaskan genggamannya. Tepat pada saat itu, ia melihat berkelebatnya sebatang golok yang terpental balik kena dupak Lingga Wisnu Kaget ia melecutkan cambuknya. Maksudnya, hendak menggaet sebelum mengancam dirinya. Di luar dugaan, cambuknya telah terpapas kutung. Keruan saja hatinya mencelos. Dengan mati- matian ia merobohkan, diri di atas tanah sambil bergulingan. Justru pada saat itu, kedua golok yang saling berbenturan, meletik memburu dirinya Ia selamat, tetapi tak urung bajunya masih saja kena sambar sehingga terobek.

Ia bangkit tertatih-tatih. Mulutnya ternganga. Sama sekali tak disangkanya, bahwa dalam keadaan demikian, masih Lingga Wisnu mampu mengadakan serangan balasan dengan menggunakan golok lawan. Cambuknya sendiri terpotong menjadi dua bagian sehingga tak dapat dipergunakan

Cocak Prahara kagum bukan main, sampai ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Adik-adiknyapun begitu juga. Kata Cocak Abang :

"Umur bocah itu belum melebihi dua puluh lima tahun. Seumpama dia belajar ilmu sakti selagi masih dalam kandungan enaknya, kepandaian nya pun terbatas pada masa latihannya. Tetapi kenapa dia memiliki kepandaian jauh melebihi diriku?" Cocak Rawa yang masih penasaran, tak sudi mengakui keunggulan Lingga Wisnu. Ia mencari kambing hitamnya. Teriaknya :

"Bangsat Bondan Sejiw an yang berkepandaian tinggi akhirnya roboh ditangan kita. Masakan kita kini kalah melawan bocah kemarin sore? Besok malam dia datang lagi untuk mencoba mengambil emasnya kembali. Baiklah, besok malam kita mengadakan perlawanan yang sungguh-sungguh.

Dengan bersungut-sungut, mereka membubarkan diri. Pada saat itu, Lingga Wisnu dan Suskandari sudah berada dalam rumah penginapannya, dengan tak kurang suatu apa. Mereka menyalakan lampu penerangan. Suskandari memuji dan mengagumi kepandaian Lingga Wisnu tiada hentinya dan berkata :

"Kakang Lingga. Kakang Puguh Harimawan biasanya memuji-muji kepandaian gurunya. Tetapi aku rasa, kepandaian gurunya tidak akan bisa menandingi kepandaianmu."

"Maksucinu, temanmu yang mengawal barang perbekalan?" Lingga Wisnu menegas.

"Ya," Suskandari mengangguk. Pipinya agak bersanu merah.

"Siapa gurunya?"

"Namanya yang benar, kurang jelas," sahut Suskandari. "Dia menyebut nama gurunya dengan sebutan Botol Pinilis, murid Kyahi Sambang Dalan. Lucu nama itu, Botol Pinilis! Mula-mula aku tertaw a geli mendengar namanya. Sebutan Kyahi Sambang Dalan, lucu pula kedengarannya. Apakah kakang percaya, sebutan Botol Pinilis atau Sambang Dalan adalah nama mereka yang benar?"

Lingga Wisnu mengangguk. Pikirnya di dalam hati : 'Kalau begitu, guru Puguh Harimawan adalah kakang

seperguruanku. Dia harus menyebut paman kepadaku ...'

Teringatlah dia, bahwa pada suatu hari, datanglah dua orang menjenguk gurunya. Mereka bernama Purabaya dan Botol Pinilis. Gurunya memperkenalkan mereka sebagai kakak seperguruannya. Tetapi ia tidak mengharpkan mengabarkan hubungannya dengan Botol Pinilis maupun Kyahi Sambang Dalan kepada Suskandari. Karena hari. sudah jauh malan, segera ia memadamkan pelita. Kemudian mendahului merangkaki tanpat t idur.

Pada malan hari ketiga, Lingga Wisnu memint a kepada Suskandari, agar gadis itu menunggu saja di penginapan. Sehari tadi, ia memikirkan tentang kemungkinan- kemungkinannya. Rasanya lebih baik apabila ia pergi sendirian. Dengan demikian perhatiannya tidak terbagi. Apabila terancam bahaya, tak usah lagi ia memikirkan keselamatan Suskandari.

Suskandari menyadari kepandaian diri sendiri yang belum berarti apabila dibandingkan dengan keluarga Dandang Mataun. Ia, malahan membuat susah Lingga Wisnu saja.

Lingga Wisnu menunggu sampai larut malam. Setelah minta diri kepada Suskandari, berangkatlah dia seorang diri. Seperti kemarin malam, ia mengambil jalan masuk lew at dinding pagar. Begitu mendarat di dalan pekarangan, ia melihat rumah tiada penerangannya sama sekali. Suasananya sunyi-senyap tak ubah suatu perkuburan. Hati-hati ia mendekati serambi depan dari samping. Tiba-tiba terdengar bunyi seruling mengalun tinggi.

"Akh! Inilah seruling Yunus memberi isyarat kepadaku, agar datang kepadanya.” pikir Lingga Wisnu. "Keluarganya licin dan ganas. Namun Yunus masih mengingat azas persahabatan.

Gembira dan penuh syukur rasa hati Lingga Wisnu. Segeraa melompati tembok pagar mengarah datangnya suara seruling. Itulah bukit kemarin lusa dengan taman bunga maw ar dan rumah pesanggerahannya. Segara ia mendaki tanjakan. Dan nampaklah dua sosok tubuh sedang duduk di serambi pesanggerahan. Mereka berdua adalah wanita. Lingga wisnu berhenti mengamat-amati. Ia menunggu bulan purnama muncul dari balik segumpal awan. Dan begitu cahayanya memancar kebumi, nampaklah seorang diantaranya sedang meniup seruling.

"Hai, siapa? Terang sekali, lagu yang ditiup adalah lagu kesenangan Yunus. Gaya dan caranya meniup adalah gaya dan cara Yunus pula," Lingga Wisnu berteka-teki. Ia jadi heran dan curiga. Dengan hati-hati ia lantas menghampiri.

"Lingga! Kakang Lingga!" seru wanita yang meniup seruling itu dengan suara tertahan.

Lingga Wisnu tertegun. Itulah suara Yunus! Tetapi kenapa suara seorang gadis? Apakah dia sedang menyamar? Kenapa itu, tak dapat ia menyahut dengan segera. Setelah berdiam sejenak, barulah ia membuka mulutnya :

"Kau ... kau ... bukankah Yu ..." Yunus memotong perkataan Lingga Wisnu dengan tertaw a geli. Katanya :

"Mari, sebenarnya aku seorang perempuan. Sekian lamanya aku mengkelabuimu. Maafkan aku, kakang. Kau tak tersinggung, bukan?"

Keterangan Yunus ini menambah keheranan Lingga Wisnu. Ia benar-benar terpaku dan merasa diri seolah- olah berada dalam suatu impian aneh. Tetapi sedetik kemudian, teringatlah dia akan lagak-lagu dan sepak- terjang Yunus, perangai dan sifat seorang perempuan. Ia jadi geli sendiri dan rasa kecurigaannya lenyap.

"Namaku Sekar Prabasini. Bondan Sekar Prabasini," kata Yunus. Ia mengerti keadaan hati Lingga'Wisnu. Katanya lagi :

“Yunus adalah nama samaranku." berkata demikian, ia tertaw a manis. Manis sekali!

Dengan mengenakan pakaian wanita, Yunus nampak cantik luar biasa. Alisnya lentik Mata nya jernih-bening. Pipinya penuh. Bibirnya ti pis. Dan perawakan tubuhnya singsat semampai.

Melihat kesan demikian, Lingga Wisnu tertaw a geli di dalam hati. Pikirnya :

'Dasar aku yang tolol! Sampai seorang gadis saja tidak segera aku kenal.'

"Mari kakang, aku perkenalkan kepada ibuku. Ibu ingin berbicara denganmu," kata Bondan Sekar Prabasini menyambut tangan Lingga Lingga Wisnu membiarkan tangannya terbimbing. Justru demikian, wajahnya terasa menjadi panas Sambil berjalan menghampiri ibu Sekar Prabasini ia menarik tangannya perlahan-lahan. Sekar Prabasini pun agaknya tersadar. Dengan tersipu sipu ia melepaskan genggaman tangannya.

"Ibu perkenalkan diriku. Lingga Wisnu," kata Lingga Wisnu dengan suara agak kaku.

Lingga Wisnu membungkuk hormat. Dan ibu Sekar Prabasini segera bangkit dari tempat duduknya. Sahutnya :

"Anak janganlah memakai adat istiadat yang yang berlebih-lebihan. Duduklah!"

Lingga Wisnu menganat-amati ibu Sekar Prabasini. Kedua matanya merah bendul. Wajahnya kucai dan t idak bertenaga. Suatu tanda, bahwa wanita itu dalam keadaan duka cita yang hebat. Pikir Lingga Wisnu di dalam hati :

'Ibu ini pada zaman mudanya telah kena di ganggu iblis. Kemudian lahirlah Prabasini. Kalau begitu, iblis itu adalah Bondan Sejiw an sepantaslah, keluarga Dandang Mataun benci luar biasa terhadap pendekar Bondan Sejiw an. Bahkan nampaknya membenci ibu ini pula. Tatkala Prabasini menyebut Bondan Sejiw an sebagai ayahnya, dia kena bentak. Sebaliknya, begitu mendengar kematian Bondan Sejiw an, ibu ini lantas saja jatuh tak sadarkan diri. Itulah suatu tanda rasa duka-cita yang hebat! Kenapa diantara keluarga Dandang Mataun terjadi suatu perpecahan? Pastilah ada latar belakangnya yang menarik. Mungkin pula menyangkut masalah hubungan antara pendekar Bondan Sejiw an dan ibu ini. Akh, biar bagaimana, aku harus menghibur ibu Sekar Prabasini. ' Dengan menperoleh keputusan demikian, ia menatap wajah ibu Sekar Prabisini. Tetapi sekian lamanya, ibu Sekar Prabisini tetap mengunci mulutnya. Setelah menghela napas beberapa kali, ia berkata memberanikan diri untuk memint a keterangan. Tanyanya :

"Benarkah dia telah wafat? Anak Lingga, apakah engkau melihatnya sendiri?"

Lingga Wisnu tahu, siapakah -yang disebut dia. Itulah Bondan Sejiw an. Dan ia memanggut. Ibu Sekar Prabasini menatapnya sejenak.

Pandang matanya berbimbang-bimbang. Berkata meyakinkan :

"Anak kau sahabat anakku Prabasini. Karena itu tak dapat aku bersikap seperti sekalian pamannya. Percayalah, aku tidak mempunyai rasa permusuhan terhadapmu, maka kuminta sudilah engkau menceritakan wafatnya dengan sebenar-benarnya." ..

Bagaimana sif at dan perangai Bondan Sejiw an sebenarnya masih gelap bagi Lingga Wisnu.

Ia hanya mendengar tutur-kata kedua gurunya belaka Menurut kedua gurunya sepak terjang Bondan Sejiw an aneh serta luarbiasa. Dia boleh digolongkan manusia sesat dan tak sesat. Itulah tutur kata yang berteka-teki. Sebab penilaian terhadap Bondan Sejiw an tergantung pada manusia yang pernah mengenalnya. Yang merasa dirugukan tentu saja akan mengutuknya sebagai manusia iblis. Sebaliknya yang merasa dilindungi, memujanya sebagai juru-selamat. Lingga wisnu mempunyai pendapat sendiri. Kalau kedua gurunya yang dikenal masyarakat sebagai manusia-manusia aneh menyebut Bondan Sejiw an berperangai luar biasa, maka sudah dapat dibayang kan betapa hebat sepak-terjangnya.

Akan tetapi lepas dari persoalan buruk dan baiknya, sesungguhnya Bondan Sejiw an memang manusia luar biasa. Hal itu dapat dinilai dari warisan kepandaiannya. Kalau bukan manusia yang memiliki otak cerdas luar biasa, mustahil bisa mencipta ragam ilmu kepandaian hebat bukan main. Lingga Wisnu mengagumi dengan diam-diam. Dan senenjak manpelajari kitab warisannya, ia mengakui Bondan Sejiw an sebagai gurunya yang ke tiga di dalam hati sanubarinya. Itulah sebabnya ia bersakit hati t atkala keluarga Dandang Mataun menyebut dan memaki Bondan Sejiw an sebagai bangsat. Hanya, karena belum mengetahui latar belakang persoalannya, tak dapat ia mengadakan pembelaan. Benarkah Bondan Sejiw an seorang bajingan yang pantas dikutuk?

Sekarang ia mendengar suara ibu Bondan Sekar Prabasini yang lembut. Dia bersikap lain terhadap Bondan Sejiw an. Padahal dia dikabarkan terusak masa gadisnya. Tetapi menilik sikapnya, pastilah cerita tentang dirinya adalah kabar isapan jempol belaka. Maka ia memperoleh kesan lain terhadap Bondan Sejiw an. Dan dengan kesan itu, ia menjawab pertanyaan ibu Bondan Sekar Prabasini :

"Sebenarnya, belum pernah aku bertemu dengan paman Bondan Sejiw an. Meskipun demikian perhubungan kami seperti guru dan murid. Beliau adalah guruku, karena ilmu kepandaianku ini aku peroleh dari beliau. Lebih baik aku menutup mulut mengenai kematian beliau. Sebab aku khaw atir, makamnya akan terusak oleh tangan-tangan jahat." Tiba-tiba ibu Bondan Sekar Prabasini roboh diatas kursinya. Bondan Sekar Prabasini melompat dan menggoncang-goncang tubuh ibunya. Serunya setengah meratap :

"Bu' Ibu! Kuatkan hatimu! Bukankah ibu ... ingin mendengar keterangan tentang ayah yang sebenarrya?"

Kira-kira sepuluh menit, ibu Bondan Sekar Prabisini roboh dan tak sadarkan diri di atas kursinya. Dan setelah memperoleh kesadarannya dia menangis sedih. Ratapnya:

"Delapanbelas tahun lamanya aku menunggu. Setiap hari, setiap malam. Setiap detik Senantiasa aku berharap dan berdoa, bahwa pada suatu hari dia akan datang membaw a aku dan Prabasini pergi dari rumah terkutuk ini. Akh, mengapa dia sendiri yang mendahului isteri dan anaknya Dan kau Prabasini anakku. Kau belum pernah melihat wajah ayahmu. Tak boleh aku meratapinya?”

Sudah terlalu sering, Lingga Wisnu melihat dan mengalami kepiluan demikian. Tatkala ayah-bundanya dan kedua kakaknya mati dan hilang, betapa sedih hatinya tak dapat terlukiskan lagi. Karena itu bisa menerima ratap-tangis ibu Sekar Prabasini. Tapi adalah membahayakan, apabila membiarkannya dalam keadaan demikian. Setidak-tidaknya, kesehatannya akan terancam bahaya. Katanya menghibur :

"Ibu sudahlah. Jangan diperturutkan rasa hati Akupun pernah merasakan kerisauan hati demikian. Seumpama aku tak dapat menolong diri, pada saat ini tiada lagi Lingga Wisnu di dunia. Paman Bondan Sejiwan kini sudah tenteram dialam baka. Akulah yang mengubur tulang- tulangnya." "Kau? Engkau yang mengubur tulang-tulangnya?" Ibu Bondan Sekar Prabasini mengangkat kepalanya. Dan diantara tetesan air matanya, nampaklah sepercik cahaya tersembul di wajahnya. Katanya lagi : "Oh, budimu sangat besar. Entah bagaimana caraku kelak membalas budimu itu ..."

Setelah berkata demikian, segera ia bangkit dari kursinya. Terus saja ia membungkuk dan memberi hormat serta hendak membuat sembah. Keruan saja Lingga Wisnu kaget bukan kepalang. Buru-buru ia mencegah. Tapi ibu Sekar Prabasini tak mau mengerti. Katanya memberi perintah kepada anaknya :

"Prabasin i! Hayo, kau bersembah kepada anak Lingga!"

Dan sebelum Lingga Wisnu dapat berbuat sesuatu apa, Bondan Sekar Prabasini tiba-tiba saja menjatuhkan diri pada lutut Lingga Wisnu dan membuat sembah. Cepat Lingga Wisnu membangunkannya dan membalas membuat sembah. Setelah itu ia mempersilahkan Bondan Sekar Prabasini kembali duduk di atas kursinya.

Beberapa saat kemudian, ibu Sekar Prabisini sudah dapat menguasai, diri. Ia nampak tenang kembali. Bertanya :

"Apakah dia t idak menulis surat untuk kami berdua?"

Mendengar pertanyaan itu, Lingga Wisnu jadi teringat kepada bunyi pesan Bondan Sejiw an Ia harus mencari seseorang yang bernama Sekarningrum. Tempat tinggalnya di dusun popongan. Dan ia diwajibkan memberi uang sebesar seratus ribu ringgit Apakah ibu Prabasini in i yang bernama Sekarningrum? Menilik bunyi nama gadis itu, agaknya ibu gadis itu bernama Sekarningrum. Tetapi dia disebutkan bertempat tinggal di dusun Popongan. Apakah dia dahulu bertempat tanggal di dussun popongan dan kemudian dibawa sekalian saudara ke Kemuning? Seumpama benar, bagaimana harus memberi uang sebesar seratus ribu ringgit? Dari mana? Menilik bunyi suratnya, Bondan Sejiw an menulis dengan sungguh-sungguh.

Lingga Wisnu jadi sibuk menebak-nebak. Sebab jumlah uang yang disebutkan itu alangkah besar! Siapapun akan mudah tergiur Apakah Bandan Sejiw an tewas karena harta itu? Ia pernah memeriksa peta Bondan Sejiw an. Namun tidak begitu menaruh perhatian, karena seringkali manusia mati dan tersesat oleh harta- benda Dan sekerang pertanyaan ibu Bondan Sekar Prabasini seperti menggugah ingatannya. Hati-hati ia minta ketegasan :

"Maaf,   ibu.    Apakah    ibu    bernama.    Sekar.....

Sekarningrum?"

Ibu Bondan Sekar Prabasini terkejut Wajahnya berubah. Sahutnya dengan suara agak gemetar :

"Benar. Namaku Sekarningrum. Darimana engkau tahu? Siapa yang mengisiki dirimu? Akh, ya.' Pastilah engkau ketahui, dari bunyi surat Bondan Sejiw an. Apakah suratnya kini kau bawa serta?"

Tegang, sikap ibu Prabasini tatkala menunggu jawaban Lingga Wisnu. Pandang matanya seakan-akan tidak berkedip-. Selagi ia menunggu-nunggu jawaban, tiba-tiba Lingga Wisnu melesat keluar serambi. Tangannya menyambar kearah segerombol bunga mawar yang berada didekat tanjakan. Sekarningrum dan Sekar Prabasini kaget dan heran. Dengan pandang penuh pertanyaan, mereka mengikuti gerakan Lingga Wisnu. Kenapa pemuda itu tiba-tiba melarikan diri? Tetapi kemudian terdengarlah suara mengaduh dari balik gerombol bunga. Dan muncullah Lingga Wisnu dengan menggusur seorang laki-laki mati kutu. Dia digabrukkan pada lantai di depan Sekarningrum

"Hai! Paman Cocak Kasmaran!" seru Prabasini heran dengan suara tertahan.

Sekarningrum segera mengenalnya pula. Ia menghela napas panjang. Katanya prihatin kepada Lingga Wisnu :

"Bebaskan dia, anakku. Di sini tiada seorangpun yang memandang kami berdua sebagai manusia berharga. Karena itu mereka dengan enak saja main selidik dan main mengintip semua gerak gerik serta pembicaraan kami berdua."

Suara Sekarningrum terdengar lesu dan patah semangat.   Lingga    Wisnu    segera    membebaskan taw anannya dengan satu tepukan. Dan tawanan itu, yang bernama Cocak Kasmaran, memekik perlahan, dan tersadar. Dengan Cocak Kasmaran, belum pernah Lingga Wisnu mengadu kepandaian Dia adalan salah seorang anggauta keluarga Dandang Mataun yang tidak hadir pada pertempuran kemarin malam.

"Paman Kasmaran," tegur Sekar Prabasini dengan memberungut. "Kami sedang berbicara kenapa paman mengintip? Sama sekali paman tidak menghargai martabatmu sendiri.'

Kedua mata Cocak Kasmaran terbelalak. Ia mendongkol, namun tak membuka mulutnya. Dengan berdiam diri, ia memutar tubuhnya dan melangkah hendak meninggalkan serambi. Pengalamannya sebentar tadi, menyadarkan dirinya bahwa ia bukan tandingan anak muda itu yang dapat mencekiknya dengan sekali sambar. Namun setelah berada beberapa langkah diluar serambi, ia menoleh dan berkata dengan sengit :

"Hai! Engkaulah yang mestinya harus malu terhadap kami, karena melahirkan seorang anak tanpa bapak. Huu! Kau perempuan pandai mencuri laki-laki. Sekarang anak perempuanmu kau ajari pula mencuri laki-laki.”

Itu adalah suatu penghinaan besar terhadap Sekarningrum berdua. Maka dapat dimengerti, betapa tersinggung rasa kehormatan Sekar Prabasini. Dengan tiba-tiba gadis itu menghunus pedangnya dan melompat keluar serambi memburu pamannya. Serunya dengan suara penuh kebencian :

"Kau bilang: apa? Paman, mulut mu kotor sekali!"

Cocak Kasmaran memutar tubuhnya dan berdiri tegak siap untuk bertempur. Bentaknya :

"Apa? Kau hendak melawan kami? Aku datang kemari atas perintah paman-pamanmu semua. Tahu? Kau mau apa?"

"Jika paman hendak berbicara dengan kami, bukankah dapat menunggu esok hari dibawah matahari terang- benderang?' Sekar Prabasini membalas membentak. "Kenapa paman main selid ik dan intip?"

"Hmm!" dengus Cocak Kasmaran. Kemudian ia tertawa melalu i hidungnya. "Kalian memasukkan orang hutan kemari. Sejarah lama akan kalian ulangi lagi! Delapanbelas tahun sudah nama kehormatan keluarga Dandang Mataun merosot akibat perbuatan ibumu. Kau malu, t idak?"

Wajah Sekar Prabasini berubah. Ia menoleh kepada ibunya. Berkata mengadu :

"Ibu, dengarlah kata-katanya. Pantaskah ucapan itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang kusebut paman?"

Cocak Kasmaran hendak membalas dengan ucapan sengit. Tetapi Sekarningrum. mendahului memanggil Sekar Prabisini. Katanya perlahan :

"Prabasin i! Jangan layani dia. Kakang Kasmaran, kau kemarilah! Ingin aku berbicara denganmu.”

Cocak Kasmaran mendengus lagi. Lalu menghampiri dengan sikap tinggi hati Sekarningrum tidak menghiraukan. Katanya kemudian :

"Kami ibu dan anak sudah lana hidup menderita Meskipun demikian kami berdua wajib berterima kasih kepada sekalian paman dan semua saudara-saudaraku. Sebab kami berdua masih di-idzinkan bertempat tinggal di dalam lingkungan keluarga Dandang Mataun. Tentang Bondan Sejiw an belum pernah aku berbicara sepatah katapun kepada Prabasini. Tapi sekarang, setelah ayahnya sudah meninggal dan selagi kakang mengetanui semua peristiw anya, sudilah kakang menolong kami, menuturkan semua yang kakang ketahui tentang diri Bondan Sejiw an kepada anakku Prabisin i dan Lingga Wisnu. Sudikah kakang mengabulkan permintaanku ini?"

"Kenapa aku yang harus menceritakan?" tegur Cocak kasmaran dengan mendongkol. "Inilah urusanmu! Inilah perkaramu! Maka engkau sendirilah yang sebenarnya harus menceritakan asal-mulanya. Apakah karena merasa malu, sehingga engkau minta pertolonganku?"

Sekarningrum menghela napas. Sejenak ia berdiam diri. Kemudian berkata :

"Malu? Apa yang harus aku malukan? Kalau aku minta pertolonganmu, semata-mata karena kakang adalah salah seorang saksi yang pernah berhutang budi kepadanya. Bukankah Bondan Sejiw an pernah menolong jiw amu? Hmm, apakah didalam hatimu tiada lagi terdapat nilai-nilai budi seperti anggauta keluarga Dandang Mataun ?

Mendengar perkataan Sekarningrum, wajah Cocak Kasmaran merah-padam. Sahutnya dengan sengit.

"Baiklah, benar, ia pernah menolong jiw aku. Tetapi kenapa dia sudi menolong jiw aku? Huu ... seorang bangsat seperti Bondan Seiiwan mana mau menolong orang tanpa perhitungan yano melit demi kepentingan diri sendiri? Baiklah biar aku ceritakan semuanya. Memang, kalau engkau yang-bercerita sendiri, pastilah akan kau tambahi bumbu-bumbu yang sedap."

Setelah berkata demikian Cocak Kasmaran mengambil tempat duduk. Kemudian mulailah dia berkata :

"Hai, saudara Lingga dan Prabasini, dengarkanlah! Akan aku mulai menceritakan mengenai seorang bangsat yang bernama Bondan Sejiw an Biarlah aku ceritakan semuanya, biar kamu berdua bisa menilai dan mengetahui betapa jahat si babi Bondan Sejiw an ..."

"Apa? Kau bilang babi? Jika engkau memburuk- burukkan ayah, tak sudi lagi aku mendengarkan semua kata-katamu!" damprat Prabasini Dan kedua kupingnya lantas ditutupnya rapat-rapat.

“dengarkan saja!" kata ibunya “Ayatmu kini sudah meninggal dunia Meskipun ayahmu belum dapat dikatakan sebagai manusia baik. namun apabila dibandingkan dengan keluarga Dandang Mataun, nilai budinya seratus kali lipat lebih tinggi."

"Hmm, jangan lupa, engkaupun termasuk keluarga Dandang Mataun," ujar Cocak Kasmaran dengan tertaw a melalu i hidungnya. Tetapi Sekarningrum bersikap dingin. Sama. sekali ia tidak mengacuhkan ejekan kakaknya. Dan mulailah Cocak Kasmaran bercerita :

"Peristiw a itu terjadi pada duapuluh tahun yang lalu, tatkala itu aku lagi berumur dua puluh satu tahun. Pekerjaanku membantu paman Cocak Temboro, mengaw al barang dagangan ..."

"Huh, dagangan?" gerutu Sekar Prabasini. "Katakan saja terus-terang, barang rampokan...! Malu!"

"Prabasin i! Jangan usil!" tegur ibunya.

Wajah Cocak Kasmaran merah padam. Dan tatkala itu, berpikirlah Lingga Wisnu di dalam hati:

'Rupanya yang disebut anggauta keluarga Dandang Mataun tidak hanya lima orang. Dahulu, dua orang yang bernama Cocak Obar-abir dan Gumuling, mengaku sebagai anggauta keluarga Dandang Mataun sewaktu menggerayangi peti warisan paman Bondan Sejiw an. Sekarang ... sekarang aku mendengar nama Cocak Temboro pula ...’ Dalam pada itu, Cocak Kasmaran sudah dapat menguasai diri. Ia meneruskan ceritanya :

"Pada suatu hari, aku membantu paman Cocak Temboro mengaw al semacam barang di Wonogiri dan pada malam kedua, aku memperoleh kesempatan untuk bekerja di luar: Tetapi aku gagal ..."

"Coba jelaskan, apakah yang kau kerjakan pada waktu itu," potong Sekarningrum dengan suara dingin.

Cocak Kasmaran menjadi gusar. Dengan hati mendongkol, ia berkata sengit :

"Baik! Jadi aku kau suruh berkata terus-terang? Hmm, aku bukannya kau. Aku seorang laki-laki. Kalau berani berbuat, masakan tidak berani menjelaskan? Waktu itu, aku melihat seorang gadis cantik sekali. Malah puteri Bupati Wonogiri . Untuk mengharap bisa mempersunting gadis secantik itu, adalah mustahil sekali. Satu-satunya jalan, hanyalah mendekapnya di tengah malam dan memperkosanya. Demikianlah malam itu aku memasuki kamarnya. Diluar dugaan, gadis itu menolak kehendakku, dengan angkuh. Kareng jengkel, ia aku bunuh. Ternyata dia masih berkesempatan untuk memekik. Dan pekikannya terdengar oleh penjaga-penjaga Kabupaten. Aku terkepung rapat. Dan merasa tak sanggup menghadapi orang begitu banyak, aku lantas menyerah”

Mendengar tutur kata Cocak Kasmaran, bulu kuduk Lingga Wisnu bergidik. Ia heran pula, cara Cocak Kasmaran menceritakan perbuatannya dengan enak saja. Sama sekali tak merasa malu dan menyesal. Mengapa seseorang bisa kehilangan pertimbangan nilai budi pekerti demikian? "Aku dijebloskan dalan penjara." Cocak Kasmaran melanjutkan ceritanya. "Tetapi aku tidak takut Paman Cocak Temboro adalah seorang gagah yang berkepandaian tinggi. Tak ada seorangpun di daerah gunung Law u ini yang bisa menandingi. Aku Percaya asal Paman mendengar kegagalanku ini, pasti dia bakal datang menolong. Akan tetapi sepuluh hari sudah aku menunggu paman tidak juga muncul. Sementara itu surat keputusan mengenai diriku telah datang. Aku diputuskan menjalani hukuman mati, di dalam penjara Wonogiri itu juga. Tatkala orang pengaw al penjara memberi kabar kepadaku tentang keputusan itu, barulah aku merasa takut ...”

“Hm. Aku kira engkau tidak mengenal rasa takut ..." ejek Sekar Prabasini.

Cocak Kasmaran tidak menggubris ejekan keponakannya itu. Ia meneruskan ceritanya :

"Tiga hari kemudian, kepala penjara datang menjenguk kamar sel ku dengan membaw a niru besar berisi sepiring daging dan sebotol minuman keras Aku tahu artinya. Esok pagi aku harus menjalankan hukumanku. Aku tahu, semua orang pasti bakal mati. Sama saja. Akan tetapi cara mati itulah yang menakutkan diriku. Akupun masih sayang kepada diriku sendiri. Aku masih muda belia dan merasa belum puas mereguk kesenangan. Namun aku berusaha menguatkan dan mengeraskan hatiku. Makan dan minuman keras itu, aku sapu habis Kemudian aku menidurkan diri. Tepat pada tengah malam, aku tersadar oleh tepukan perlahan pada pada pundakku. Segera aku bangkit. Dan terdengarlah bisikan ditelingaku: Sst? Jangan bersuara! Aku akan menolong jiw amu! - Setelah berbisik denikian, ia menabas belenggu kaki dan tanganku dengan pedangnya. Alangkah tajam pedangnya! Dengan sekali tabas saja belenggu besi yang menelikung diriku terpapas kutung. Setelah itu, ia menarik tanganku. Dan aku diajak keluar penjara. Sebentar saja, kami berdua telah tiba diluar kota dan berhenti di sebuah surau. Selama diajak lari, aku menurut saja. Memang tak dapat aku berbuat apapun, selain menurut. Bukan main pesat larinya. Tenaganyapun besar sekali, sehingga tak dapat aku melepaskan diri dari tekanan tangannya. Tetapi karena tertarik, aku tidak terlalu lelah. Sampai disurau itu, napasku tidak memburu. Ia melepaskan genggamannya. Kemudian menyalakan sebuah pelita yang terbuat dari minyak buah jarak. Setelah cahaya menyibakkan kegelapan malam, barulah aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Diluar dugaanku, ternyata dia seorang pemuda yang sebaya dengan usiaku. Tadinya aku kira seorang tua yang sudah berusia lanjut, menilik ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi. Peraw akan tubuhnya tegap. Wajahnya tampan luar biasa. Dikemudian hari, ternyata ia baru berumur duapuluh tahun.'

Berkata demikian, ia menyiratkan pandanan kepada Sekarningrum dan Sekar Prabasini bergantian untuk mencari kesan. Setelah itu, ia melanjutkan ceritanya lagi:

"Segera aku membungkuk hormat kepada pemuda itu sambil menyatakan rasa terima kasihku, Hmm. Ternyata dia seorang pemuda yang angkuh dan kepala besar. Sama sekali dia tidak membalas hormatku. Katanya dengan singkat: Aku bernama Bondan Sejiw an. Apakah engkau salah seorang keluarga Dandang Mataun? Aku memanggut. Dalam pada itu, aku memperoleh kesempatan untuk mengamat-amati pedangnya yang dapat menabas rantai belengguku dengan mudah. Itulah sebatang pedang berw arna hitam. Anehnya, ujungnya terpecah menjadi dua semacam mulut ular.

Lingga Wisnu diam-diam bersenyum. Katanya didalam hati : 'Itulah pedang Cunduk Trisula.'

Akan tetapi, ia bersikap membungkam mulut dan membiarkan Cocak Kasmaran melanjutkan ceritanya. Berkatalah orang itu :

"Kutanyakan tempat tinggalnya, akan tetapi ia menjawab dengan suara menggerutu. Katanya: 'Em. Apa perlu kau ketahui. Betapapun juga, di kemudian hari engkau tidak akan merasa berterima kasih kepadaku.' Mendengar ucapan itu, aku jadi sangat heran. Pikirku, ia telah menolong jiwaku. Untuk seumur hidup, pastilah aku akan senantiasa mengingat budinya. Agaknya ia mengerti jalan pikiranku. Katanya lagi: 'Aku menolong jiw amu', demi kepentingan pamanmu yang ke enam, Cocak Temboro! Kau ikutlah aku!' ...

"Dengan hati menebak-nebak, aku ikuti dia. Ia membaw a diriku ke Sragen. Dengan menutup mulut, ia melompat keatas sebuah perahu. Dan aku ikut pula dibelakangnya. Dengan suara pendek, ia memberi perint ah kepada tukang perahu, agar berangkat mengarah ke timur. Aku jadi berlegah hati, karena perjalanan itu mendekati jalan-lintang yang menuju kemari. Artinya, aku tak usah takut lagi kepada hamba- hamba hukum yang mencoba mengejarku

"Bondan Sejiw an mengeluarkan sebentuk senjata dari dalam sakunya. Senjata itu mirip sebuah cempuling pendek. Itulah senjata andalan paman Cocak Temboro. Dan melihat senjata andalan paman itu, aku jadi bertambah heran. Biasanya, tak pernah paman berpisah dari senjatanya. Kenapa senjatanya berada ditangan penolongku?

"Paman adalah sahabat-sahabat karibku! kata Bondan Sejiw an diantara tertaw anya. Ia tertaw a beberapa kali lagi. Tiba-tiba pandang matanya berubah menjadi bengis. Entah apa sebabnya, aku dihinggapi perasaan kaget dan takut.

"Di dalam gubuk itu, terdapat sebuah peti, katanya lagi sambil menunjuk ke dalam gubuk perahu. "Aku menghendaki agar engkau membaw anya pulang. Kau serahkan suratku ini kepada ayahmu dan sekalian para pamanmu!"

"Dengan berdiam diri, aku mengikuti arah telunjuknya. Di dalam gubuk, aku lihat sebuah peti besar yang tertutup rapat sekalj. Kecuali dilibat dengan ikatan tali, terpaku pula.

"Engkau harus membaw a peti ini pulang secepatnya. Jangan engkau singgah dimanapun juga! ia berkata, 'Peti ini harus dibuka oleh tangan ayahmu sendiri!

"Aku mengangguk. Dan ia memberi pesan :

"Sebulan lagi aku akan datang berkunjung kerumahmu. Berilah kabar kepada ayahmu dan sekalian paman-pamanmu yang kau hormati, agar menyambut kedatanganku dengan baik

"Itulah ucapan-ucapan yang tak keruan juntrungannya. Meskpun demikian, aku tanggapi dengan hati lega. Setelah memberi pesan demikian, ia menyambar galah penggayuh, dan dengan sekali menancapkan penggayuh itu di atas permukaan air, ia melompat tinggi di udara. Dan mendarat ditebing sungai dengan selamat.

"Bagus!" seru Sekar Prabasini tanpa merasa.

"Hmm" denpus Cocak Kasmaran dengan mendongkol. Dan tiba-tiba ia meludahi lantai serambi. ‘Bangsat itu memang gesit dan tenaganya besar luar biasa. Tetapi gerak-geriknya benar-benar sukar kuduga. Barangkali ia keturunan malaikat terkutuk."

Tak usah dikatakan lagi, ucapannya membersit dari hati yang mendongkol. Tetapi baik Sekar prabasini maupun Sekarningrum, bersikap tak acuh mereka seolah- olah tidak mengetahui keadaan hati Cocak Kasmaran.

“T atkala itu aku pandang dia sebagai penolongku” Cocak Kasmaran meneruskan ceritanya. “Melihat pandang matanya yang tajam dan bengis, rupanya dia sangat benci kepadaku. Meskipun demikian aku tak mau percaya kepada penglihatanku sendiri Mungkin sekali memang demikian perangainya. Sebab biasanya, seseorang yang berkepandaian t inggi, mempunyai lagak- lagu yang aneh. Karena itu, aku tidak terusik oleh pandang matanya yang bengis. Setelah mendarat, segera aku membaw a peti besar itu pulang. Sepanjang jalan, aku sibuk menduga-duga, tentang peti yang kupanggul diatas pundak. Alangkah beratnya! Pastilah isinya emas, atau perak, atau permata yang tak ternilai harganya. Tentunya, inilah harta-benda berkat usaha paman Cocak Temboro. Aku percaya pula, bahwa semua paman dan ayahku akan menyambut kedatanganku dengan rasa syukur. Dan pastilah mereka akan memberi sebagian harta itu kepadaku sebagai Hadiah. Dan memperoleh keyakinan demikian, aku jadi bersemangat dan girang bukan kepalang. Ternyata dugaanku tidak meleset sama sekali. Ayah dan sekalian pamanku memuji diriku setinggi langit. Kata mereka, baru pertama kali aku keluar rumah namun sudah memperoleh hasil yang tak tercela."

"Siapa bilang, paman tercela?" potong Sekar Prabasini dengan suara mengejek. "Setelah membunuh seorang gadis remaja, engkau pulangnya dengan membaw a sebuah peti besar. Mustahil kalau paman bukan kekasih malaekat ."

"Prabasin i, diam!" tegur ibunya. "Dengarkan cerita pamanmu baik-baik!"

Cocak Kasmaran sendiri tidak melayani ucapan keponakannya. Ia melanjutkan ceritanya. Katanya :

"Malam hari itu, kami berkumpul dipaseban. Ayah menyuruh kami semua menyalakan penerangan sebesar- besarnya. Setelah itu, empat orang pelayan menggotong peti besar itu, dan ditaruh ditengah-tengah paseban. Ayah duduk di paseban dengan keempat isterinya. Dengan satu isyarat mata segera aku melepaskan ikatan tali yang melibat peti besar. Setelah itu semua pakunya aku cabuti sebuah demi sebuah.

"Masih segar dalam ingatanku, tatkala aku mencabuti paku-paku itu. Paman tertaw a geli. Katanya diantara tertaw anya: 'Sebenarnya, gadis manakah yang memikat Temboro sangga ia jadi lupa daratan? Dia hanya menyuruh seorang bocah membaw a pulang petinya Mari!

..Mar ikita lihat mustika apakah yang dikirimkan pulang ini! "Segera aku membuka tutup peti Dan aku dapati sepucuk sampul yang bunyinya begini: Di persembahkan kepada seluruh keluarga Dandang Mataun. Indah, bentuk huruf-hurufnya Terang sekali bukan tulisan paman Cocak Temboro. Maka surat itu aku serahkan kepada paman tertua.

"Kau maksudkan kakek Cocak Kalaseta?” potong Sekar Prabasini.

Cocak Kasmaran mengangguk. Dan sambil menatap Lingga Wisnu, ia berkata :

“Kami keluarga Dandang Mataun, menggunakan nama Cocak didepan nama-nama kami. Ayah kami bernama Cocak Pangabaran. Kemudian keempat pamanku yang bernama : Cocak Kalaseta,Cocak Gemuling, Cocak Temboro dan Cocak Obar-abir.

Lingga Wisnu kenal dan pernah melihat Cocak Gemuling dan Cocak Obar-abir. Mereka berdua mati diatas gunung Dieng, tatkala menggerayangi peti warisan Bondan Sejiw an. Namun ia bersikap diam dalam mendengarkan keterangan Cocak Kasmaran. Kata Cocak Kasmaran melanjutkan ceritanya:

"Paman Cocak Kalaseta menerima surat itu. Akan tetapi ia tidak segera membukanya untuk dibaca. Sebaliknya ia memberi perint ah kepada isteri paman Cocak Temboro, agar membuka bungkusan terlebih dahulu yang berada didalam peti besar. Bungkusan itu terjahit rapih. Kata paman Cocak Kalaseta kepada bibi Temboro :

"Adik, guntingi semua benangnya!" Heran aku mendengar perintah paman Cocak Kalaset a. Kenapa dia perlu bertindak cermat. Sementara itu, bibi Temboro mengambil gunting dan setelah menggunting tali pengikat, dengan kedua tangannya ia membaw a bungkusan itu kepada paman Cocak Kalaseta.

"Mari kita lihat apa isinya!" ujar paman Cocak Kalaseta sambil menjengukkan kepalanya.

Dengan cekatan, bibi Temboro membuka tutup bungkusan. Tiba-tiba menyambarlah delapan atau sembilan anak panah beracun dari dalam bungkusan ...

Sekar Prabasini kaget sampai memekik mendengar peristiw a itu. Sebaliknya Lingga Wisnu sama sekali tidak heran. Teringatlah dia, akan pengalamannya di dalam goa dahulu. Itulah kepandaian dan ciri Bondan Sejiw an membuat jebakan anak panah.

"Syukurlah, aku tidak terburu napsu." kata Cocak Kasmaran memuji d iri sendiri. "Seumpama terbutu napsu dengan membuka bungkusan itu, maka akulah yang akan mati terjengkang sebab sembilan anak panah Itu terbagi dalam dua jurusan. Y ang empat batang langsung menancap dada bibi Temboro. Dan yang lima batang lagi menembus perut paman Cocak Kalaseta. Hebat racun anak panah itu. Hampir berbareng, mereka dua roboh ke lantai tanpa bersuara Darah yang mengucur berubah menjadi hitan. Dan mereka berdua mati tiada berkutik lagi ...

Berkata demkian, Cocak Kasmaran menoleh kepada Sekar Prabasini. Katanya dengan suara mengandung dendam dan ejekan : "Itulah perbuatan ayahmu. Bagus, bukan? Hmm - Dan gemparlah seluruh ruang paseban. Paman Cocak Obar- abir dan paman Cocak Gemuling serentak menoleh kepadaku, mereka menduga buruk diriku Dan menyuruhku membuka bungkusan besar itu. Dengan terpaksa aku menurut. Namun tak berani aku menghampiri atau mencoba meraba bungkusan besar itu. Aku berdiri jauh-jauh dan membuka bungkusan dengan galah penggaet. Ternyata kali ini tiada sebatang anak. panahpun yang menyambar. Dan kau tahu, apakah isinya?

"Apakah isinya?" Sekar Prabasini maembalas pertanyaan dengan pertanyaan.

Tiba-tiba wajah Cocak Kasmaran menjadi merah padam. Wajahnya berubah menjadi bengis. Dengan suara nyaring, ia memekik :

"Itulah mayat paman Cocak Temboro!" Sekar Prabasini terkejut. Parasnya pucat.

Itulah berita yang sama sekali tak diduganya. Dan melihat kepucatan wajah Prabasini, maka ibunya memeluknya. Dan beberapa saat lamanya mereka berdua berdiam diri.

"Nah, kejam tidak perbuatan itu?" seru Cocak Kasmaran. "Sebenarnya, sudahlah cukup dengan pembunuhan saja. Mengapa perlu membungkus mayat paman demikian rapi untuk dikirimkan pulang kehadapan sekalian keluarga Dandan Mataun? Kenapa? Coba jawab, kenapa?"

"Benarkah engkau tidak dapat menjawab pertanyaanmu sendiri?" jawab Sekarningrum. "Benar- benarkah engkau tidak tahu apa sebab ia sampai berbuat demikian terhadap keluarga Dandang Martaun?”

Cocak Kasmaran mendengus. Air mukanya berubah- ubah. Akhirnya berkata :

"Anggap saja aku menang t idak tahu. Karena engkau maha tahu, nah cobalah jawab pertanyaanku itu!"

Sekarningrum melemparkan pandang ke udara bebas yang penuh dengan bintang-bintang dan cahaya bulan. Hatinya nampak tertaw an. Dan lambat lambat ia meruntuhkan pandangnya kepada alam sekitarnya. Kemudian kepada Sekar Prabasini kemudian sambil mengusap-usap rambut anaknya, ia berkata :

"Sekarang, biarlah aku yang meneruskan cerita pamanmu. Waktu itu umurku satu tahun lebih tua dari usiamu sekarang. Akan tetapi sifatku masih kekanak- kanakan. Aku kosong dari segala masalah hidup. Seluruh keluarga memanjakan diriku Segala pemintaanku pasti dikabulkan Tetapi aku tahu! seluruh anggota Dandang Mataun adalah sekumpulan manusia-manusia jahat. Semua bentuk kejahatan pernah mereka lakuan, Karena itu, aku t idak senang terhadap mereka Itulah sebabnya, sama sekali aku t idak bersedih hati t atkala melihat mayat paman Cock Temboro. Atku hanya heran. Kukenal Ilmu kepandaian paman Cocak Temboro. Dialah yang tertinggi diantara sekalian saudaranya. Bagaimana dia dapat ditewaskan? Aku bersembunyi dibelakang punggung ibu. Tak berani aku berbicara sepatah katapun. Ayah memungut surat yang berada ditangan paman Kalaseta. Beginilah bunyinya :

- Kukirimkan mayat saudararrru kemari. Terimalah dengan rasa syukur! Dia memperkosa kakak- perempuanku. Kemudian dibunuhnya. Diapun membunuh ayah-bunda dan dua kakakku lagi. Jadi semuanya lima orang. Yang hidup tinggal aku sendiri, karena kebetulan dapat meloloskan diri. Dan hiduplah aku sebatang kara dari tempat ke tempat. Kini, barulah aku muncul kembali dalam pergaulan.

Hutang darah harus terbayar. Aku harus menuntut balas sepuluh kali lipat. Dan hatiku baru puas. Karena keluarga Dandang Mataun hutang lima jiwa, maka aku harus membunuh limapuluh jiwa dan memperkosa sepuluh anggauta keluarganya. Karena itu, bersiagalah!

=

"Peristiw a itu merupakan lembaran sejarah hidupku yang baru, sehingga bunyi surat Bondan Sejiw an yang menggemparkan terukir kuat dalam ingatanku. Selama hayat masih dikandung badan, takkan tercicir meski sepatah katanya pun."

Lingga Wisnu jadi teringat nasib sendiri. Kalau begitu jalan hidup Bondan Sejiw an sama saja dengan sejarah hidupnya. Diapun kehilangan ayah-bunda dan dua orang saudara-sekandung. Sedang kakak-perempuannya, Sudarawerti, tak keruan rimbanya.

"Kakang Cocak Kasmaran! Benar tidak perbuatan paman Cocak Temboro? Dia. pembunuh seluruh keluarga Bonda Sejiw an atau tidak?" kata Sekarningrum kepada Cocak Kasmaran.

Cocak Kasmaran tidak menjawab. Ia hanya memanggut. Tapi setelah memanggut, tiba-tiba meledak:

"Kami semua hidup sebagai laki-laki. Merampas, merampok, membakar rumah atau membunuh adalah pekerjaan laki-laki. Kenapa aku harus memungkiri perbuatan paman Cocak Temboro? Paman melihat gadis cantik. Hatinya tertambat, tapi gadis itu mungkin tak mau mengerti. Pastilah ia menolak ajakan paman yang bermaksud baik. Dia menyakiti hati paman, sebelum diperkosanya. Kalau paman sampai membunuhnya, itulah sudah semestinya."

"Kenapa yang lain-lain dibunuhnya pula?" damprat Sekar Prabasini.

"Kau anak kemarin sore, tahu apa?" Cocak Kasmaran setengah memaki. “Itulah justru merupakan suatu bukti, bahwa paman terlalu disakiti hatinya."

“Eh, enak saja kau berkata begitu," gerutu Sekar Prabasini. "Sesudah memperkosa lantas melakukan pembunuhan."

"Itulah laki-laki!" sahut Cocak Kasmaran dengan suara gagah. Kemudian menyambung cerita Sekarningrum :

"Setelah membaca surat Bondan Sejiw an, maka ayah tertaw a berkakakan. Kata ayah: Jadi dia hendak datang kemari? Bagus! Dengan begitu, tidak usah

bersusah-payah

mencarinya. Kalau dia bersembunyi, dimana kita harus mencarinya” - Dan pada hari itu juga, ayah mulai bersiap-siap Ayah cermat sekali. Pada malam hari, seluruh keluarga diwajibkan jaga malam dengan bergantian. Malah keesokan harinya, ayah perlu memanggil kedua pamanku lagi.”

Lingga Wisnu heran. Pikirnya: 'Hai, banyak sekali jumlah keluarga Dandang Mataun seolah-olah tiada habis-habisnya.'

Tatkala itu Sekar Prabasini minta keterangan kepada ibunya :

"Ibu, siapa yang dipanggil kedua paman itu? Siapa nama mereka?"

"Itulah kedua eyangmu. Mereka berdua adik nenek!"jaw ab Sekarningrum. "Beliau bertempat tinggal di desa Bulukerta sebelah timur gunung ini Eyangmu yang tertua bernama Argajati. Dan adiknya, Satmata.''

“Merekalah dua orang sakti yang tiada bandingnya di dunia in i," Cocak Kasmaran menyambung dengan suara bangga. "Tapi Bondan Sejiw an benar-benar tak ubah iblis. Entah bagaimana caranya dia bisa mengetahui maksud ayah memanggil kedua pamanku itu. Tiba-tiba saja dua orang utusan ayah, di sergapnya ditengah jalan dan dibunuhnya. Dan semenjak itu, ia muncul seperti malaikat dan menghilang seperti iblis. Setiap malam ia masuk ke dalam rumah kami dan mula-mula mencuri limapuluh batang alat pemotong padi dan dengan alat itu, ia membunuhi keluarga kami Kadang-kadang satu malam sampai sepuluh orang. Mereka mati dengan dada tertancap clurit atau alat pemotong padi. itu. Maka tahulah kami apa sebab ia mencuri limapuluh buah clurit itu. Rupanya ia hendak membuktikan ancamannya, bahwa ia perlu membunuh limapuluh orang keluarga kami demi memuaskan hatinya. Dan sebelum lima puluh orang terbunuh ditangannya, ia takkan berhenti mengancam kedamaian hidup kami."

"Jumlah seluruh keluarga lebih dari seratus orang. Masakan tak dapat melawan seorang saja?" kata Sekar Prabasini..

"Soalnya, dia tak pernah memperlihatkan diri " sahut Cocak Kasmaran. "Dia main sembunyi seperti iblis. Gerak-geriknya tak ubah seperti seekor kucing mengintip sarang tikus. Ia menerkam korbannya apabila kebetulan memencil. Keruan saja, ayah gusar bukan kepalang. Dalam kesibukannya, ayah mengundang belasan pendekar pada setiap malamnya, dengan dalih sedang berpesta. Dengan begitu, setiap malam kami mengadakan pesta makan minum. Berapa banyak harta yang telah kami hamburkan, sudah tak terpikirkan lagi. Ayahpun menyebarkan surat-surat pengumuman untuk menantang Bondan Sejiw an bertempur dengan terang- terangan agar memperoleh keputusan. Akan tetapi Bondan Sejiw an membuta dan tuli. Sama sekali ia tak menggubris surat tantangan ayah. Karena itu satu- satunya jalan hanyalah. mengundang pendekar-pendekar sebanyak-banyaknya dengan melalui pesta-pora. Agaknya Bondan Sejiw an takut melihat jumlah kami yang banyak. Setengah tahun lamanya, ia tidak pernah muncul lagi. Dan pendekar-pendekar undangan ayahpun mulai berpamitan pulang seorang dani se orang.

"Tetapi, begitu rumah kediaman kami kembali sunyi sepi, kakak kami yang tertua, dan dua saudara sepupu kami terdapat mati di dalam kamarnya. Dan keesokan harinya, tiga kemenakan kami, mati tenggelam di dalam empang. Tubuh mereka masing-masing tertancap sebuah clurit. Jelas bangsat itu benar-benar pandai menguasai diri. Ia bisa menunggu kesanpatan dengan sabar sampai setengah tahun lamanya. Dan semenjak itu, setiap sepuluh hari sekali, pasti ada seorang diantara kami yang menjadi korban balas dendamnya Bondan Sejiw an.

"Tukang-tukang peti mati sampai kehabisan persediaan. Maka terpaksalah kami membeli peti-peti mati dari Seragen. Madiun atau Kediri. Sudah tentu kami menutup rapat-rapat peristiw a kematian yang sebenarnya. Kami kabarkan, bahwa dusun kami sedang terserang penyakit menjalar yang dahsyat. Dan untuk mengelabui penduduk, ayah perlu membuat selamatan untuk menggant inya nama desa Popongan jadi Kemuning. Ningrum adikku, pastilah engkau masih teringat pada hari-hari yang menggiriskan hati."

Sekarningrum tidak segera menjaw ab. Dan kini tahulah Lingga Wisnu, apa sebab Bondan Sejiw an menyebut desa kediaman isterinya dengan nama Popongan.

"T atkala itu, seluruh dusun gempar karena rasa takut," kata Sekarningrum setelah berdiam sejenak. "Betapa ayah berusaha untuk menutupi kejadian yang sebenarnya, lambat-laun tersiar juga. Seketika itu juga, penduduk lantas mengungsi ke desa-desa terdekat. Dengan demikian, ayah tidak mempunyai pengharapan lagi untuk bisa memperoleh tenaga peronda. Dan terpaksalah anggauta keluarga meronda dan berjaga- jaga diri pada siang dan malam hari secara bergiliran seperti dahulu. Anggauta-anggauta wanita dan anak- anak disembunyikan di dalam rumah tertentu yang terjaga, rapat. Kami tidak diperkenankan meninggalkan pintu rumah selangkahpun juga." "Meskipun demikian, nada suatu malam, dua iparku lenyap tak keruan," sambung Cocak Kasmaran dengan gigi berceratukan. "Kami semua menduga bahwa kedua iparku itu pasti telah mati di tangan si bangsat. Eh, diluar dugaan, selang satu setengah bulan, mereka berdua mengirim surat dari dusun Walikukun. Mereka berkata, bahwa setelah menulis surat, harus segera mengikuti seorang tengkulak perempuan ke Surakarta. Ternyata mereka berdua telah dijual oleh sibangsat Bondan Sejiw an kepada tengkulak perempuan. Tegasnya, mereka harus melayani tetamu-tetamu lelaki setiap satu hari satu malam duapuluh orang sehingga bisa dibayangkan, betapa menderita kedua kakak iparku itu. Mereka disekap satu setengah bulan. Dan dipaksa melayani duapuluh lelaki setiap harinya. Masyaallah ... pintu besi pun bisa jebol bila diperlakukan demikian."

Mendengar tutur kata Cocak Kasmaran, Lingga Wisnu bergidik. Seluruh bulu rananya meremang. Pikirnya di dalam hati: 'Hebat cara pembalasan dendam paman Bondan Sejiw an. Memang, ia harus membalaskan sakit hati ayah-bunda dan ketiga kakaknya. Akan tetapi setelah penyebabnya sudah kena dibinasakan, mestinya tak perlu lagi ia merajalela begitu mengerikan.’

Dengan menghela napas, Cocak Kasmaran melanjutkan ceritanya :

‘Kedua kakakku mendongkol bukan main mendengar berita itu. Oleh rasa mendongkol dan sakit hati, mereka berdua sanpai jatuh pingsan. Ayah tak dapat berbuat suatu apa kecuali mengirimkan uang penebus kepada tengkulak perempuan tersebut, agar membebaskan kedua menantunya. "Dua tahun lmanya kami dirusak kedamaian hati kami. Dan yang membuat kita mendongkol, setiap tiga bulan sekali, ia mengirimkan surat perhitungan dan peringatan, seolah-olah kami mempunyai hutang yang wajib kami bayar penuh-penuh. Dia mengirimkan daftar nama-nama yang telah dibunuh. Dalam waktu dua tahun itu, sudah berjumlah empatpuluh tiga orang. Dengan begitu, dia masih menagih tujuh jiwa lagi.

"Kami keluarga Dandang Mataun, biasanya malang- melintang tanpa tandingan semenjak puluhan tahun yang lalu. Baik penduduk maupun penguasa setempat tak berani mengganggu gugat sepak terjang kami. Tetapi sekarang, kami dipermainkan oleh seorang lawan, saja yang benar benar bisa membuat hati kami sedih, lelah dan gelisah. Menuruti-hati kami ingin menuntut balas pula secepat-cepatnya agar memperoleh penyelesaian. Akan tetapi bangsat Bondan Sejiw an adalah seorang musuh yang sangat licin dan gagah. Ayah dan beberapa paman kami, pernah bertempur seorang demi seorang. Ternyata mereka bukan merupakan tandingan Bondan Sejiw an yang memang berkepandaian t inggi luar biasa.

"Kami semua jadi putus asa. Rasanya, tiada sesuatu yang dapat kami lakukan, kecuali menunggu datangnya maut. Akhirnya kami bersepakat untuk membuat pembelaan diri dengan cara bergabung. Akan tetapi asal kita sudah bersiaga bertempur dan membuat penjagjfcn rapat, ia tak pernah muncul sampai berbulan-bulan lamanya. Sebaliknya, bilamana lalai sedikit saja, tiba-tiba ia muncul kembali dan membunuh. Demikianlah setelah melampaui masa dua tahun, hutang jiw a kami tinggal tujuh orang. Nah, Prabasini, cobalah jawab dengan terus-terang! Layakkah kita apabila kita membencinya? Pantas atau tidak kita mengutuknya sampai tujuh turunan?"

"Kemudian bagaimana?" ujar Prabasini mengelakkan pertanyaan pamannya.

"Biarlah ibumu saja yang melanjutkan ceritaku ini," sahut Cocak Kasmaran dengan suara lesu.

Lingga Wisnu mengalihkan pandang kepada Sekarningrum. Wajah Sekarningrum nampak berduka seperti menahan suatu penyakit dada, ia berkata perlahan :

"Anakku lingga. Engkau telah meraw at dan mengubur jenazahnya. Biarlah aku berkata terus terang saja. mengenai hubungan kami. Rasanya tidak ada perlunya untuk menyembunyikan sesuatu hal. Hanya saja, setelah selesai aku menceritakan sejarah hubungan kami dengan dia, tolong kau kabarkan sebab musabab meninggalnya. Dengan itu kami ibu dan anak, jadi mengerti keadaannya yang sebenarnya. Dengan begitu ..."

Sekarningrum tak dapat menyelesaikan perkataannya. Ia menangis sedih sekali, sehingga ucapannya tertunda beberapa saat lamanya. Setelah hatinya lega, mulailah dia berkata lagi :

"T atkala itu, aku tidak mengetahui sebab musababnya kenapa dia demikian kejam terhadap keluarga kani. Bahkan kami tidak ingin mengetahuinya. Ayahpun membungkam terhadapku. Ayah, hanya melarang diriku keluar dari pekarangan rumah, meskipun hanya selangkah. Karena t idak memperoleh pkijelasan, aku jadi masgul. Kenapa ayah mendadak saja menawan diriku? Meskipun ayah berusaha menemaniku dengan beberapa iparku, namun hatiku merasa tersiksa. Sebab aku hanya diperkenankan bermain-main di dalam taman saja yang berukuran ciut.

"Pada bulan ketiga, musim bunga tibalah. Petamanan ini penuh dengan bau harum yang segar dan hatiku tak terkendalikan lagi karena ingin menjenguk bunga tanamanku. Tetapi karena sepak terjang Bondan Sejiw an yang ganas, terpaksalah aku bergulat mengatasi gejolak hatiku. Aku harus menyekap diri d i dalam rumah. Pernah pada suatu kali aku ingin membolos seorang diri. Akan tetapi teringat betapa sungguh-sungguhnya, ayah melarangku keluar rumah, maka aku batalkan niatku itu.

"Pada suatu hari, aku bermain-main di dalam taman dengan dua orang iparku yang menempati kanar ketiga dan kelima. Pamanku, Cocak Kasmaran dan Cocak Windupun ikut pula menemani. Jadi jumlah kami lima orang. Aku tertarik pada permainan ayunan. Sebab bila aku bisa berayun tinggi sampai melampaui pagar dinding, pastilah bisa melihat pemandangan yang berada diluar, tembok. Maklumlah, aku sudah cukup lama tersekap. Kira-kira hampir dua tahun. Maka tak mengherankan, hatiku amat rindu melihat kehidupan alam dan kesegaran penglihatan.

"Demikianlah, aku bermain ayun-ayunan, dengan gembira. Setiap kali berayun, aku makin tinggi dan makin tinggi. Pemandangan alam diluar tembok dapat ku jenguk dan kujenguk. Tiba- tiba saja pamanmu Cocak Windu, memekik menyayatkan hati. Sebatang cunduk Trisula menancap di dadanya. Dan ia mati seketika itu juga. Dan pada saat itu ... engkau, kakang Cocak Kasmaran lantas saja melarikan diri. Dan kami bertiga, tidak kau pedulikan lagi . Bukankah begitu?" Merah wajah Cocak Kasmaran. Buru-buru ia menyahut;

"Habis? Seorang diri, tidaklah mampu aku melawannya. Maka. segera aku lari masuk ke rumah untuk mencari bantuan. Coba aku t idak cepat-cepat lari, pastilah aku akan mampus sia-sia saja ..."

"Hm." Sekar Prabasini mendengus. Sebaliknya, ibunya bersikap dingin saja. Katanya melanjutkan ceritanya :

"Aku menyaksikan peristiw a pembunuhan itu dari papan ayunan yang masih berayun dengan cepat. Dan selagi aku kebingungan, karena belum jelas tentang sebaib-musababnya terjadi pembunuhan itu, tiba-tiba kulihat berkelebatnya sesosok bayangan mengarah padaku. Bayangan itu menuruti gerakan ayunan. Sewaktu aku terbaw a papan ayunan menjangkau ketinggian, ia menyambar diriku dan dibawanya terbang. Aku memekik sekuat-kuatnya oleh rasa kaget dan cemas. Sebab, kakiku tidak lagi menginjak papan ayunan. Sedangkan diriku berada di udara hampir mencapai, puncak pohon Susu Anjing. Celakalah, bila sampai terbanting di atas tanah. Apalagi ayunan tadi, diriku terlambung seperti terlemparkan.

"Bayangan yang menyambar diriku memegang tangan kiriku kuat-kuat. Ia membaw a diriku terbang melintasi tembok. Tiba-tiba tangannya menyambar dahan pohon mangga dan dengan begitu lambungan ayunan agak tertahan. Kemudian dengan gesit, ia membawa aku mendarat di atas tanah.

"Aku terhindar dari marabahaya. Tetapi kemudian, ia membaw aku lari dengan memelukku erat-erat.-Dalam bingungku, aku memukuli mukanya. Tatkala, pundakku kena tekan, sekonyong konyongriya lenyaplah tenagaku. Dan tak lama kemudian, aku mendengar suara berisik dibelakangku. Itulah langkah ayahku beramai yang berusaha mengejar diriku yang kena culik.

"Dua jam lagi lenyaplah suara berisik itu. Tahulah aku, bahwa mereka sudah ketinggalan jauh. Dan aku masih saja dibawa lari makin lama makin cepat. Akhirnya, dia berhenti di sebuah goa yang berada disamping jurang curam. Jarak antara goa dan seberang tebing kurang lebih dua puluh meter.

"Ia menepuk pundakku seraya meletakkan aku di atas sebuah batu. Tenagaku pulih kembali. Dan ia memandang diriku dengan bersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba teringatlah aku kepada nasib dua iparku yang pernah terculik. Apakah aku pun akan diiualnya kepada tengkulak perempuan untuk melayani duapuluh orang hidung belang setiap harinya? Daripada hidup demikian, lebih baik aku mati saja. Dan kini, barulah aku menyadari kehendak baik ayahku, dengan menyekapku di dalam rumah terpisah. Teringat hal itu, aku jadi benci kepada diriku sendiri. Terus saja aku melompat membenturkan kepalaku pada batu yang mencongak ditepi jurang.

"Dia terperanjat bukan kepalang melihat perbuatanku itu. Sama sekali tak diduganya, bahwa aku hendak melakukan bunuh diri. Meskipun demikian masih bisa ia- mencegah kenekatanku. Dengan tangkas ia menyambar pinggangku. Namun kepalaku terbentur juga pada batu itu, meskipun tidak keras. Inilah bekas lukanya ..."

Sekarningrum memperlihatkan ujung keningnya yang tertutup rambut. Nampak sekali bekas lukanya. Melihat bekas luka itu, pastilah ia dahulu menderita luka yang tak enteng.

"Maksudnya mencegah kenekatan itu, mungkin sekali terbersit dari hati nuraninya yang baik. Tetapi andaikata ia membiarkan diriku membenturkan kepalaku pada batu, pastilah di kemudian hari. tidak akan menjadi peristiw a yang berlarut larut. Bagi dia sendiri, penggagalan itu mungkin baik akibatnya. Tapi bagiku adalah sebaliknya." Sekarningrum melanjutkan tutur katanya dengan menghela napas beberapa kali. Meneruskan :

"Aku pingsan karena lukaku. Tatkala memperoleh kesadaranku kenbali, aku berada di atas sehelai permadani di dalam goa. Penglihatan itu sangat asing bagiku. Oleh rasa kaget, hampir saja aku tak sadarkan diri lagi. Tetani setelah melihat pakaianku masih tetap keadaan rapih, legalah hatiku. Ternyata dia tak memperkosaku. mungkin sekali disebabkan oleh kenekatanku hendak bunuh diri, ia malahan tidak menggangguku.

"Rupanya dia dihinggapi rasa khawatir tentang diriku. Jangan-jangan aku nekad hendak bunuh diri lagi. Maka selama dua hari dua malam, ia menjagaku sangat cermat. Dia masak sendiri untuk makanku. Sebaliknya, aku tak sudi menjamah masakannya. Aku menangis terus-menerus sampai pada hari keempat. Dan pada hari kelima aku jadi kurus kering.

"Ia mencoba memasak hidangan lezat. Dan dengan sabar membujukku agar mau makan masakan yang dihidangkannya. Tapi tetap saja aku takkan menghiraukan bujukannya. Sekonyong-konyong ia menjambak rambutku, kepalaku ditengadahkannya. Hidungku dipencetnya rapat-rapat. Selagi mulutku terbuka, ia menjejali makanan. Kuahnya dituangkan pula ke dalam mulutku. Karena hidungku terpencet, mau tak mau aku harus meneguknya. Barulah hidungku dibebaskannya. Dan ia tidak lagi menjambak. Tetapi begitu terbebas, aku menyembulkan sisa makanan dan kuah kemukanya. Dengan sengaja aku berbuat demikian, agar ia membunuhku karena marah. Dalam hatiku aku mengharapkan kematian daripada diperkosanya. Pengalaman kedua iparku terlalu mengerikan bagiku.

"Diluar dugaan, ia hanya tertaw a saja. Dengan sabar, ia menyusuti sisa makanan yang menempel dimukanya. Ia menatap diriku beberapa saat lananya. Kemudian menghela napas.

"Aku hendak menyanyikan sebuah lagu untukmu. Kau mau mendengarkan atau tidak?" katanya kepadaku.

"Aku tak sudi mendengarkan!" dampratku

Mendadak saja ia meloncat-loncat kegirangan dan menandak-nandak. Ujarnya :

"Aku sangka, engkau gadis gagu. Kiranya engkau bisa berbicara juga."

Itulah pernyataan diluar dugaanku. Tiba-tiba saja aku tertaw a diluar kesadaranku sendiri, karena ucapannya begitu lucu dan menggelikan. Jadi tadinya ia menganggap aku ini gadis gagu

"Siapa yang gagu?" dampratku lagi. "Aku membungkam mulut karena tak sudi berbicara dengan orang jahat." Dia tak melayani berbicara. Sebaliknya ia lantas saja merebahkan diri di mulut goa. Kemudian menyanyi dan menyanyi dengan suara tinggi mengalun sampai larut malam. Tatkala bulan muncul di udara lew at tengah malam, masih saja ia menyanyi. Senandung berisikan letupan asmara antara dua muda-mudi yang hidup dalam masa madu. Seumurku belum pernah aku keluar rumah. Dan mendengar senandung cinta kasih itu, hatiku tertarik.

"Hmm." Cocak Kasmaran menggerendeng. "Kau bilang tak sudi mendengarkan. Tetapi akhirnya kau dengarkan juga, bukan? Siapa sudi mendengarkan ceritamu yang memuakkan ini? Dan setelah menggerendeng demikian, serentak ia berdiri dan meninggalkan paseban pasanggrahan dengan langkah lebar.

"Ibu' Pastilah dia hendak mengadu kepada paman sekalian," ujar Sekar Prabasini.

"Biar saja, aku tidak takut. Apalagi kakekmu telah meninggal, dunia empat tahun yang lalu. Kedudukan sekalian pamanmu dan diriku sejajar," sahut Sekarningrum.

"Kalau begitu, lanjutkan cerita ibu," desak Sekar Prabasini.

"Entah sampai jam berapa dia bergadang dan tiba-tiba saja aku telah tertidur." Sekarningrum melanjutkan' ceritanya. "Tatkala aku terbangun di pagi hari, dia tak kelihatan. Ha, baiklah aku minggat saja, pikirku. Tetapi setelah melongok keluar goa, aku jadi putus asa. Ternyata goa itu berada pada puncak gunung dekat kepundan. Sama sekali tiada jalan keluar. Hanya orang- orang berkepandaian tinggi seperti dia, baru bisa mencapai goa tempat beradaku dan sebaliknya.

"Kira-kira tengah hari, barulah dia pulang. Ia membaw a berbagai hiasan, pakaian dan bedak. Semuanya itu dipersembahkannya kepadaku. Tapi tak sudi aku menyentuhnya. Malahan aku lemparkan ke dalam jurang. Menyaksikan perbuatanku, ia sama sekali tidak marah. Bahkan dia tertawa gembira sekali.

"Dan malam itu, kembali lagi dia bersenandung untukku. Sebenarnya, tak sudi aku mendengarkan. Akan tetapi betapa aku bisa menutup telinga terus-menerus. Sekali-kali aku dengar bunyi senandungnya juga. Dan keesokan harinya, ia menghilang kembali. Kali ini dia datang dengan membaw a main-mainan. Dan sebuah boneka, ayam-ayaman, burung-burungan, marmut marmutan, kura-kuraan, katak-katakan dan kucing. Dan melihat kucing itu, tak sampai hati aku melemparkannya ke dalam jurang.

"Ia jadi mengerti tata-rasaku. Dan semenjak itu, ia membaw a binatang-binatang hidup yang lembut sifatnya. Seperti ayam, burung, itik dan anjing serta kambing. Dan ia menemani meraw at semua binatang itu. Kadang- kadang ikut bermain boneka pula. Diluar kehendakku sendiri, perasaanku terhadapnya jadi berubah. Tidak lagi aku merasa ngeri atau takut bergaul dengan dia.

"Tetapi pada suatu hari, sekonyong-konyong sikapnya berubah. Ia menatap diriku lama sekali dengan pandang bengis. Tentu saja, aku jadi ketakutan. Dan perasaan ngeri kembali lagi mencekam sanubariku. Aku lalu menangis dan ia menghela napas berulangkali. Kemudian berkata membujuk : 'Sudahlah, jangan menangis!’

Tak berani aku menangis lebih lama., meskipun ingin rasanya menangis sampai mati. Aku takut membuatnya kesal. Jangan-jangan sikapnya yang telah menjadi lunak, bisa kembali bengis dengan tiba-tiba. Tetapi pada malam hari itu aku melihat dia menangis. Menangis seorang diri di luar pintu goa.

Malam itu gelap-pekat. Semenjak sore tadi guntur berdentuman diantara kejapan kilat. Dan Beberapa saat kemudian, turunlah hujan deras. Ia tak memperdulikan semuanya itu. Tetap saja ia menangis sedih dalam keadaan basah kuyup.

Aku jadi tak sampai hati. Sekarang, akulah yang ganti membujuknya. Kataku :

" Masuklah, kau bisa masuk angin."

Namun ia tidak menggubris bujukanku. Aku jadi tertarik. Kataku minta keterangan :

'Kenapa. Kau menangis ?’

Diluar dugaanku, mendadak ia menyahut dengan suara bengis luar biasa. Katanya:

"Besok adalah hari peringatan tahun ke empatbe las matinya ayah-ibu, kakak dan kedua saudaraku. Dalam satu hari saja, keluargaku musnah oleh tangan jahat salah seorang anggauta keluargamu. Karena itu, esok hari aku harus membunuh anggauta keluargamu lagi.  Setidak tidaknya seorang! Tapi rumahmu terjaga sangat kuat dan rapih. Ayahmu mengundang beberapa tokoh pendekar yang berkepandaian tinggi, Seperti Ki Ageng Gumbrek, Kyahi Sambang Dalan dan Ugrasena. Akan tetapi aku tidak takut. Biarlah, kalau aku harus mati ..."

Setelah berkata demikian, ia meninggalkan goa dalam hujan deras. Dan dua hari lamanya, ia tak muncul lagi. Dan entah apa sebabnya, aku jadi selalu teringat padanya. Diam-diam aku berharap, moga-moga ia pulang dengan selamat.

Sekar Prabasini mengerlingku matanya ke Lingga Wisnu, untuk mencari kesan. Ingin membaca keadaan hati Lingga Wisnu terhadap ibunya. Akan tetapi Lingga - Wisnu duduk dengan sangat tenang. Perhatiannya tertarik kepada tutur kata ibunya. Dian-diam, ia bersyukur didalam hati.

0ooo-dw-ooo0

12. BONDA N SEJIWA N

Dalam pada itu, Sekarningrum meneruskan ceritanya :

"Cuaca kian menjadi gelap. Itulah petang hari yang ketiga. Dua tiga kali aku melongok ke mulut goa. Yang aku lihat hanyalah awan gunung yang datang bergulungan. Tapi tatkala aku melongok untuk yang kelima kalinya, nampaklah empat orang berlari-larian mendaki puncak gunung. Gesit gerakan mereka, seakan- akan empat sosok bayangan. Mereka saling kejar- mengejar. "Aku menajamkan penglihatanku. Syukur petang hari belum tiba benar-benar. Masih bisa mataku mengenal dua orang di antara mereka. Yang lari paling depan adalah dia. Yang kedua dan ketiga berdandan pendeta. Mereka bersenjata ce mpuling dan rantai bergigi. Sedang yang keempat, ayah dengan bersenjata tongkat Sarparaja yang terkenal semenjak puluhan tahun yang lalu.

Dengan membaw a pedang hitamnya, ia melayani serangan mereka bertiga. Nampak olehku dengan tegas, bahwa ilmu kepandaian kedua orang pendeta itu sangat tinggi. Dikemudian hari, barulah aku ketahui bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah adik seperguruan Anung Danudibrata aliran Ugrasawa dan adik- seperguruan pendekar Yudhanata aliran Parwati. Namanya Pritanjala dan Jaka Puring. Gesit cara mereka berdua menyerang. Hampir saja rantai dan cempulingnya berhasil menghantam sasaran. Aku terperanjat sampai memekik diluar kehendakku sendiri. Aku mencemaskan keselamatan jiwanya. Tetapi dengan pedang hitamnya, ia berhasil menangkis dan memunahkan serangan mereka. Bahkan pedangnya dapat menahas ujung rantai dan cempuling dengan berbareng.

"Rupanya ayah mendengar gaung pekikanku - Ia menoleh. Dan melihat diriku, ayah melompat keluar gelanggang. Lalu lari mengarah ke goa hendak menghampiri daku.

"Dan melihat hal itu, dia jadi sibuk sekali. Terus saja dia meninggalkan kedua lawannya. Kemudian mengejar ayah. Tentu saja kedua lawannya mengejar pula. "Tak lama kemudian, mereka tiba di dataran ketinggian yang berada didepan tebing seberang goa. Di dataran ini, dia berhasil mengejar ayah dan serta merta ia menyerang ayah. Baru beberapa jurus, kedua pendeta itu datang pula. Dan dia lantas terkepung rapat lagi seperti tadi.

"Ayah tak sudi menyia-nyiakan waktu. Cepat ia melompat mundur dan kembali lagi lari mengarah ke goaku. Aku jadi girang sekali. Teriakku:

"Ayah, cepat! Cepat!"

Seperti kalau, dia mendesak kedua lawannya dan kemudian ayah memburu lagi. Dia berhasil mengejar dan menyerang ayah dengan tikaman tikaman dahsyat. Sebentar saja ayah terdesak. Ia terancam bahaya.

"Selagi aku gelisah memikirkan keadaannya, kedua pendeta itu telah tiba. Segera mereka berdua melancarkan serangan kilat untuk menolong ayah. Dan terpaksalah dia membagi perhatiannya. Dengan demikian, selamatlah ayah dari ancaman bahaya.

"Ningrum! Bagaimana keadaanmu?" ayah berteriak.

"Aku selamat tak kurang suatu apa. Ayah tak usah cemas!" sahutku nyaring.

"Akh, syukur! Ayah bergembira. Tunggu dahulu, biar kubereskan dahulu bangsat mi ...

Setelah berkata demikian, ayah menyerang dengan penuh semangat. Dan pertempuran mati-matian terjadi sangat cepat,

"Saudara Bondan Sejiw an!" seru Pritanjala. "Baik diriku maupun golongan kami tidak mempunyai permusuhan apapun denganmu. Aku hanya harapkan, agar engkau mau mengerti. Kami golongan Ugrasawa ikut campur semata-mata terdorong oleh rasa adil dan kemanusiaan. Perbuatanmu benar-benar keterlaluan. Kami berjanji t idak akan membantu pihak manapun juga, asal engkau sudi menyudahi permusuhanmu dengan keluarga Dandang Mataun. Sudahilah rasa balas dendammu pada hari in i!"

"Hmm, enak saja engkau mengumbar mulutmu!" dampratnya dengan mengertak gigi. "Apakah tak boleh aku melakukan balas dendam demi menentramkan arwah ayah-bunda dan sekalian saudaraku yang terbunuh tanpa dosa apapun?"

"Kami mengerti Tapi engkau sudah banyak membunuh demi memuaskan hatimu sendiri. Aku kira, sudah lebih dari cukup," sahut Pritanjala. "Sekarang, pandanglah diriku. Kupinta agar kedua belah pihak menyudahi persoalan ini."

Tapi dia tidak menggubris. Tiba-tiba saja ia menyerang Pritanjala. Karena itu, pertempuran sengit terjadi lagi kian menghebat. Masing-masing tak sudi mengalah. Pritanjala berkepandaian tinggi. Pekannya Jakapuring yang bersenjata rantai tak tercela pula. Petainya berderun-derun menerbitkan suara angin dahsyat. Meskipun ujungnya telah terkutung, namun tak mengurangi perbaw anya.

"Sebentar saja dia terancam bahaya. Seluruh badannya telah mandi keringat:. Dia terdesak dan terdesak. Tiba-tiba dia mundur dengan senpoyongan. Hampir-hampir ia roboh terguling. Justru pada saat itu, rantai Jakapuring menyambar dirinya. Dengan mati- matian ia berhasil mengelakkan. Tetapi tepat pada saat itu, ia di-papaki cempuling Pritanjala. Kembali lagi ia mengelak dan memutar tubuhnya. Dan pada detik itu, ia melihat kesan wajahku.

"Itulah penglihatan yang menentukan baginya. Dikemudian hari ia memberi keterangan tentang keadaan dirinya pada saat itu. Sebenarnya ia sudah kehilangan tenaga. Tulang belulangnya seakan-akan terlolosi. Tapi begitu melihat kesan wajahku yang menaruh perhatian kepadanya, t iba-tiba terbangunlah semangat tempurnya. Tenaganya serasa pulih kembali. Dengan galak, ia memutar tubuhnya dan pedangnya berkelebatan mengancam maut.

"Ningrum! Jangan takut! Pasti aku dapat menjungkalkan mereka. Kau lihatlah!" serunya.

"Entah bagaimana cara dia menggerakkan pedangnya. Tiba-tiba saja Pritanjala memekik menyeramkan. Dia roboh bergulingan. Ternyata kepalanya terbelah dan tepat di dahinya tertancap cunduk Trisula. Keruan saja ayah. dan Jakapuring kaget bukan kepalang. Dan pada detik itu, dia menyerang ayah.

"Saat itu digunakan sebaik-baiknya oleh Jakapuring. Ia menyerang dari belakang. Tapi dengan gesit, dia dapat mengelakkan gempuran Jakapuring. Ia mendahului memutar tubuhnya sambil melompat kesamping. Namun Jakapuring terus memburunya dengan sabatan melintang. Itulah saat-saat yang berbahaya. Dan kena ancaman bahaya demikian, tiba-tiba tubuhnya menggeliat memutar seperti seekor ular hendak membelit mangsanya. Tangan kirinya menyelonong ke depan dan dua jarinya menusuk mata Jakapuring.

Gerakan itu diikuti dengan seruan nyaring sekali

"Jakapuring terkejut. Cepat-cepat ia mengendapkan kepalanya untuk menyelamatkan diri dari tusukan jari. Selagi demikian, tiba-tiba pedang hitamnya menyambar. Tak ampun lagi tubuh Jakapuring terkutung menjadi dua oleh babatan pedang, ia memekik mengerikan dan mati seketika itu juga."

Sekar Prabasini ikut berseru karena terbenam cerita ibunya. Ia kagum bukan main. Dan ibunya melanjutkan ceritanya lagi :

"Setelah Jakapuring mati, ia menyerang lagi kepada ayah. Tatkala itu, wajah ayah pucat lesi "seperti tiada berdarah. Tak usah dikatakan lagi, bahwa ayah kaget dan ketakutan begitu melihat kedua rekannya yang berkepandaian tinggi mati dengan cepat. Ayah membela diri dengan sembarangan saja. Karena hatinya telah gentar, tak dapat lagi ayah memainkan tongkatnya dengan sempurna. Melihat itu, aku berteriak-teriak :

"Tahan! Tahan!"

Mendengar teriakanku, dia berhenti menyerang. Dan aku berteriak lagi :

"Bawa dia kemari! Dialah ayahku!" Dengan pandang bengis, ia menatap ayah. Katanya membentak :

"Kau pergilah! Aku ampuni dirimu!"

Ayah tercengang. Segera ia memutar tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu aku girang bukan kepalang melihat ayah mendapat ampun. Tetapi sudah dua hari tiga malam aku tidak makan dan minum. Tubuhku terasa lemah. Karena kaget melihat pertempuran dahsyat dan pula oleh rasa girang, mendadak aku roboh diatas tanah.

"Melihat aku roboh, ia melompat ke dalam goa hendak menolongku. Ayahpun ikut pula memburu. Dengan bengis, ayah memandang padanya tatkala menolongku bangun. Aku tidak pingsan hanya kehilangan tenaga saja. Karena itu dapatlah melihat segalanya yang terjadi dengan jelas. Selagi ia menolong membangunkan diriku, tiba-tiba saja ayah mengayunkan tongkat Sarparaja mengemplang Punggungnya. Tentu sekali, serangan gelap itu tak diduganya. Perhatiannya berada padaku penuh-penuh. Kaget aku berseru :

"Awas!"

"Oleh peringatanku, ia kaget sekali. Segera ia memutar tubuhnya dan meloncat ke samping.

Meskipun gerakannya gisit, nanun tongkat ayahku masih saja menghajar punggungnya. Syukur, ia tadi bergerak. Sehingga serangan itu tidak mengenai dirinya penuh-penuh. Selagi memutar tubuhnya, ia berhasil merampas tongkat Sarparaja dan dilemparkannya ke dalam jurang. Kemudian ia melompat dan menyerang ayah dengan kedua tangannya.

"Ayah gugup bukan main. Ia tertegun dan menyesal karena serangannya gagal. Tongkat andalannya terampas pula. Itulah suatu peristiw a yang tak pernah terbayangkan. Biasanya, jangan lagi menyerang dengan cara gelap, sedangkan dengan berhadap-hadapan saja tak pernah ia gagal. Tatkala menghadapi serangan balasan, sama. sekali ayah tidak berusaha mengelak atau menangkis. Ia malahan berdiam diri dengan menutup kedua matanya menunggu maut.

"Dengan mendadak saja, dia membatalkan serangannya. Dia menoleh kepadaku, lalu menghela napas. Kemudian ia memandang ayah dan berkata dengan bengis :

"Nah, pergilah cepat! Jangan tunggu sampai pikiranku berubah. Benar-benar aku tak akan memberimu ampun lagi!"

Tanpa berkata sepatah katapun juga, ayah memutar badannya dan lari secepat-cepatnya.

"Ia mengawasi kepergian ayah, lalu menoleh kepadaku. Tiba-tiba saja ia melontarkan darah. Darahnya menyembur ke bajuku."

Prabasini memekik   tertahan   mendengar   hal   itu.

Katanya setengah menggerendeng :

"Eyang benar-benar tak tahu malu! Dengan berhadap- hadapan, ia tak berani me lawan Tiba- tiba menyerang dari belakang. Itulah bukan perbuatan seorang ksatrya."

Ibunya menghela napas. Sahutnya :

"Sebenarnya, dia adalah musuh kita. Empat-puluh empat anggauta keluarga kita mati dibunuhnya. Kalau sampai memberi peringatan, semata mata oleh rasa kaget, begitu melihat serangan gelap ayah. Mungkin inilah yang dinamakan takdir! Takdir yang meramalkan masa depan yang gelap. Karena peristiw a itu merupakan titik tolak dan asal mula aku dijauhkan dari ikatan keluarga." Ia berhenti sebentar. Kemudian meneruskan ceritanya : "Dengan sempoyongan ia masuk ke dalam goa. Mengambil ramuan obat dan diminumnya. Beberapa kali ia masih melontarkan darah. Aku kaget dan cemas, sehingga menangis diluar kehendakku sendiri. Dan mendengar tangisku, ia jadi gembira. Tanyanya :

"Kenapa kau menangis?"

"Aku menangis karena engkau terluka demikian parah, oleh tangan ayahku dengan cara yang curang," jawabku.

Dia tertaw a senang. Tanyanya menegas : "Jadi. engkau menangis untukku?"

Oleh pertanyaan itu, tak dapat aku menjaw ab dengan segera. Aku jadi berbimbang bimbang dalam keadaan duka cita. Katanya kemudian kepadaku :

"Semenjak pamanmu Cocak Temboro membinasakan seluruh keluargaku, aku hidup sebatang kara. Tiada seorangpun di dunia ini yang menaruh perhatian kepadaku. Apalagi bersedih atau menangis meratapi nasibku. Akan tetapi pada hari ini, aku menyaksikan - seorang menangis untuk diriku. Inilah suatu peristiw a yang berharga tinggi bagiku. Pada hari ini pula, aku telah membunuh empatpuluh empat anggauta keluargamu. Sebenarnya, masih kurang enam orang orang lagi yang harus aku bunuh. Akan tetapi melihat airmatamu, aku berjanji t idak akan membunuh lagi."

0oo-dw -oo0