-->

Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 05

 Jilid 05

Selanjutnya, semenjak hari itu tak pernah Lingga Wisnu mengabaikan ajaran-ajaran gurunya meskipun sesaat saja. Tak terasa tiga tahun telah lew at. Usia Lingga Wisnu kini sudah mencapai tujuh belas tahun. Racun Pacarkeling yang mengeram di dalam tubuhnya sekali-kali kumat pula. Akan tetapi berkat obat pemunah buatan Palupi, dapatlah ia mengatasi. Malahan tubuhnya kini menjadi kuat sekali. Ia tumbuh menjadi seorang yang tegap dan gesit geraK geriknya. Seperti biasanya, Kyahi Sambang Dalan pada saat-saat tertentu turun gunung selama dua atau tiga bulan. Setiap kali akan bepergian, selalu ia mengajari pelbagai ilmu sakti. Apabila ia pulang lantas meniliknya. Setelah merasa puas ia memberi tambahan lagi. Demikianlah, hatinya puas karena memperoleh seorang murid yang rajin sekali dan berotak cerdas luar biasa.

Pada waktu itu tahun 1752. Pada suatu hari Kyahi Sambang Dalan mengeluarkan sebuah lukisan. Ia memberi hormat kepada lukisan itu. Ia memerint ahkan pula kepada Lingga Wisnu agar berbuat demikian. Kemudian berkatalah dia dengan suara terang :

"Lingga, tahukah engkau siapa beliau? Beliau adalah mendiang kakek guruku. Nama beliau, Jaka Puring, pendiri rumah perguruan Sekar Teratai in i. Dan tahukah engkau apa sebab pada hari ini engkau kuperintahkan memberi hormat kepada cikal bakal Sekar Teratai?"

Lingga Wisnu menggelengkan kepala.

Kyahi Sambang Dalan kemudian masuk kedaiam kamarnya. Ia keluar lagi monbawa peti kayu berukuran panjang. Peti itu diletakkan di atas meja. Apabila tutupnya dibukanya, berkeredeplah suatu sinar gemerlapan. Sinar itu begitu menyilaukan mata. Lingga Wisnu menjenguknya, dan ia kaget tatkala melihat sebatang pedang yang panjangnya sembilan puluh tiga sentimeter.

"Apakah guru bermaksud hendak mengajariku ilmu pedang?" ia menegas dengan suara gemetar. Kyahi Sambang Dalan manggut. Ia mengeluarkan pedang tajam itu dan memberi perint ah dengan suara angker:

"Kau berlututlah! Dan dengarlah perkataanku!"

Hati Lingga Wisnu tergetar. Selama t iga tahun menjadi murid, baru pada hari itu ia mendengar gurunya bersikap angker dengan mendadak. Keruan saja ia lantas bersimpuh di hadapannya.

"Pedang, adalah raja dari pelbagai ratusan macam senjata." Kyahi Sambang Dalan mulai. "Tetapi pedang merupakan senjata yang paling sukar diajarkan dan dipelajari. Tetapi engkau berotak cerdas dan hatimu keras pula. Aku yakin bahwa engkau sanggup manpA aj arinya. Ilmu pedang kaum kita, kaum Sekar Teratai, sudah beralih tiga kali ditangan ahliwarisnya. Syukur alhamdulillah, makin lama ilmu pedang Sekar Teratai makin memperoleh kemajuan. Pada umumnya, seorang guru biasanya merahasiakan satu ilmu pukulan yang menentukan terhadap ahliwarisnya, untuk berjaga jaga diri. Dengan demikian, ahliwaris yang di kemudian hari melahirkan angkatan-angkatan baru makin lama makin bertambah kurang kepandaiannya. Syukurlah kita tidak memilih cara demikian. Kita tidak perlu berjaga-jaga menghadapi murid-murid, asal saja sebelum kita menerima murid harus mengkajinya benar-benar. Setelah memperoleh seorang murid, yang tiada celanya, semua rahasia ilmu warisan Sekar Teratai harus diwariskan dengan sepenuh-penuhnya. Bahkan di anjurkan agar tiap-tiap ahliwaris pedang ini. di kemudian hari harus dapat menambahi dan melengkapi ilmu-ilmu sakti yang sudah diwarisinya. Dengan demikian, pada tiga ratus atau empat ratus tahun kemudian, apabila ahliwaris Sekar Teratai melahirkan zaman baru, jadi bertambah maju. Ilmu pedang kita memang sulit untuk dipelajari. Tetapi apabila engkau sudah memahami, di dunia ini tiada tandingnya lagi. Mulai pada hari in i, aku hendak mengajarimu ilmu pedang. Akan tetapi engkau harus bersumpah terlebih dahulu bahwa engkau tidak akan membunuh seseorang yang tidak berdosa atau bersalah!"

Dengan bersembah Lingga Wisnu menyahut :

"Pada hari in i, guru hendak mewariskan ilmu pedang kepadaku. Apabila dibelakang hari aku membunuh seseorang yang sama sekali t idak bersalah atau berdosa, biarlah aku terbunuh pula oleh seseorang."

"Bagus!" seru gurunya. "Nah, bangunlah!"

Lingga Wisnu bangkit dan berdiri dengan tegak. Kata gurunya lagi ?:

"Aku tahu, engkau berhati mulia. Tidak bakal engkau membunuh seseorang tanpa alasan tertentu. Hanya saja, masalah dunia ini sangat rumit. Benar atau salah sukar dibuktikan, hanya tulen dan palsu, lambat laun akan kau ketahui juga. Karena itu mulai saat ini engkau harus belajar bisa membedakan antara yang benar dan yang palsu. Asal hatimu jujur, bersih dan penuh cinta kasih pada setiap insan, aku percaya di kemudian hari, engkau tidak akan main bunuh terhadap seseorang yang sama sekali tidak bersalah atau berdosa. Karena itu kau ingat- ingatlah pesanku tadi! Jujur, bersih dan cinta kasih!"

Lingga Wisnu memanggut.

"Sekarang, kau lihatlah!" akhirnya Kyahi Sambang Dalan mengakhiri khotbahnya. Dengan sebat ia memegang hulu pedang dengan tangan kanannya. Kemudian tangan kirinya diletakkan di atas bagan pedang itu, dan mulailah ia melakukan jurus- jurus ilmu pedang Sekar Teratai. Pedang yang bergemerlapan itu lantas saja menyinarkan cahaya berkilauan.

o))00-dw-00((o

10. Warisan Aneh

Sudah tiga tahun Lingga Wisnu berguru kepada Kyahi Sambang Dalan. Baik pendengran maupun penglihatannya jauh melebihi Aria Puguh dan guru- gurunya yang lampau. Meskipun demikian, ia tak dapat mengikuti gerakan pedang Kyahi Sambang Dalan yang cepat luar biasa. Yang tertangkap oleh penglihatannya hanya berkelebatnya sinar berkilauan menyilaukan kedua matanya. Tahu-tahu kesiur angin tajam lew at di depan hidungnya. Dan pedang itu tertancap bergetaran pada batang pohon yang berada di depan pertapaan. Itulah tenaga lemparan yang luar biasa dahsyatnya. Lingga Wisnu kagum sampai ternganga mulutnya.

"Bagus!" seru seseorang yang berada di belakang punggung Lingga Wisnu.

Lingga Wisnu kaget sampai berjingkrak. Selama tiga tahun berada di atas gunung, tiada suara lain yang didengarnya, kecuali suara guru dan si gagu. Sekarang, dengan mendadak saja, ia mendengar suara asing bagi pendengarannya. Dan suara itu tiba-tiba saja muncul di sebelah belakang punggungnya. Keruan saja ia kaget dan heran. Cepat ia berpaling. Dan di depan matanya berdiri seorang laki-laki mengenakan pakaian pendeta. Laki-laki itu berkumis jembros dan juga berjenggot sejadi-jadinya. Seperti rambutnya, kumis dan jenggotnya sudah putih semua. Dengan kedua matanya yang bulat bundar, ia tersenyum berseri-seri. Kedua tangannya digendongnya di belakang punggung, sehingga sikapnya mirip seorang majikan besar.

Pendeta itu berjubah abu-abu. Setelah memuji Kyahi Sambang Dalan, ia berkata:

"Barangkali, sepuluh tahun lebih aku tidak melihat engkau menggunakan pedangmu. Sama sekali tak kusangka, engkau telah memperoleh kemajuan demikian rupa!"

Kyahi Sambang Dalan tertaw a lebar. Sahutnya : "Kakang Gumbrek! Malaikat mana yang telah

membaw amu sampai ke mari? Eh, Lingga! Cepat engkau bersembah kepada beliau!"

Lingga Wisnu segera menghampiri Ki Ageng Gumbrek. Dan kemudian berlut ut dihadapannya Lalu bersembah. Akan tetapi buru-buru Ki Ageng Gumbrek mencegah. Ia membangunkan Lingga Wisnu seraya menolak :

"Jangan! Jangan! Jangan begitu! Aku bukan raja atau keturunan malaikat!" ia berkata dengan tertaw a lebar seraya membungkuk hendak menolong Lingga Wisnu bangun.

Akan tetapi Lingga Wisnu tidak membiarkan dirinya kena angkat. Sebagai biasanya, seseorang yang mengetahui tentang ilmu sakti, secara wajar ia lantas mengerahkan tenaga saktinya. Itulah sebabnya, tidak mudah Ki Ageng Gumbrek mencegah pemberian hormatnya. Orang tua itupun hanya hendak mencobanya.

"Sambang Dalan!" kata Ki Ageng Gumbrek kemudian. "Telah sepuluh tahun lamanya tak pernah aku bertemu denganmu. Tak tahunya, engkau mengeram di sini untuk mendidik muridmu. Inilah suatu karunia besar bagimu. Pada saat engkau menjangkau hari akhirmu, masih bisa engkau memperoleh seorang murid berbadan bagus sekali."

Kyahi Sambang Dalan girang atas pujian Ki Ageng Gumbrek. Dengan sahabatnya itu, seringkali ia bersenda gurau. Serunya senang:

"Kakang Gumbrek! Engkau seorang pendekar berkepandaian tinggi. Kalau aku memperoleh karunia Tuhan, pastilah engkau akan memperolehnya pula. Soalnya kini, tinggal menunggu waktu saja!"

"Hai, hai! Engkau pandai pula berkhotbah!" kata Ki Ageng Gumbrek sambil tertaw a.

"Sayang, pada hari in i sama sekali aku tak beruang. Dengan cuma-cuma saja terpaksa aku terima sembah muridmu ini. Apa yang harus kubayarkan?"

Mendengar perkataan Ki Ageng Gumbrek, hati Kyahi Sambang Dalan tergerak. Teringatlah dia, bahwa Ki Ageng Gumbrek memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya. Alangkah baiknya, seumpama dia sudi mewariskan salah satu dari ilmu kepandaiannya itu kepada Lingga Wisnu. Hanya saja, selama hidupnya tak sudi ia menerima murid.

Dengan ingatan demikian, Kyahi Sambang Dalan berkata kepada Lingga Wisnu : "Lingga Wisnu. Ki Ageng Gumbrek berjanji kepadamu hendak memberi hadiah kepadamu. Hayoo, cepat- cepatlah bersembah mengaturkan terima kasih."

Lingga Wisnu benar-benar seorang pemuda cerdik. Segera ia mengerti maksud gurunya. Maka cepat-cepat ia bersembah sambil mengucapkan terima kasih.

Ki Ageng Gumbrek tertaw a terbahak bahak. Katanya : "Bagus, bagus! Tetapi, untuk dapat menjadi manusia

engkau harus berhati jujur dan polos! Jangan engkau mencontoh pekerti gurumu yang tebal kulit mukanya. Betapa tidak? Begitu mendengar aku hendak memberikan sesuatu, belum-belum ia sudah memaksamu menghaturkan terima kasih. Tetapi, tak apalah! Pada hari ini, hatiku sangat gembira. Biarlah aku memberimu sebuah kenang-kenangan”

Setelah berkata demikian, ia meraba jubahnya. Lalu mengeluarkan sebungkus kain. Apabila Lingga Wisnu membukanya, ternyata gumpalan kain itu berupa baju berw arna hitam mirip kaos. Bahannya seperti dari kulit. Akan tetapi mengkilat seperti sutera.

Selama hidupnya, baru pada hari itulah, Lingga Wisnu melihat baju berbahan demikian. Tentu saja ia menjadi terharu hatinya, tatkala menerima hadiah yang tak pernah dimimpikannya.

"Kakang Gumbrek! Jangan engkau bergurau!" tegur Kyahi Sambang Dalan. "Bagaimana engkau menyerahkan baju mustika itu kepada anak ini?"

Ki Ageng Gumbrek tidak menggubris. Sebaliknya, men dengar ucapan gurunya, Lingga Wisnu terkesiap. Jadi, pikirnya di dalam hati. Baju mirip kaos itu, sebuah baju mustika?

Cepat-cepat ia mengangsurkannya kembali kepada Ki Ageng Gumbrek. Tetapi orang tua itu menolak. Katanya :

"Aku tidak sekikir gurumu. Kalau aku sudah memberikan sesuatu kepada seseorang, tidak akan kutarik kembali. Nah, ambillah!"

Masih saja Lingga Wisnu tidak berani menerima pemberian hadiah itu. Ia berpaling kepada gurunya.

"Jikalau begitu kehendakmu, baiklah. Nah, Lingga! Kau terimalah hadiah itu. Dan bersembahlah menghaturkan terima kasihmu."

Lingga Wisnu menurut. Ia bersembah sekali lagi sambil menghaturkan rasa terima kasih. Lalu dengan wajah sunpguh-sungguh, Kyahi Sambang Dalan berkata kepadanya :

"Lingga. Sesungguhnya inilah sebuah baju mustika yang tiada taranya. Konon kabarnya, baju ini dahulu milik Empu Kapakisan. Untuk memperoleh baju mustika itu, Ki Ageng Gumbrek telah mempertaruhkan jiw anya sendiri pula!"

Kali inipun Lingga Wisnu menurut. Segera ia mengenakan baju mustika itu. Dan sambil berjalan, Kyahi Sambang Dalan menghampiri pohon untuk mencabut pedangnya. Ujarnya :

"Baju mustika Bnpu Kapakisan itu, semenjak dahulu kebal terhadap semua senjata tajam."

Diluar dugaan, setelah berkata demikian, tiba-tiba ia menyabatkan pedangnya ke pundak Lingga Wisnu. Keruan saja pemuda itu kaget bukan kepalang. Hendak ia mengelakkan diri, akan tetapi sudah terlambat. Dalam hal kesebatan Lingga Wisnu masih kalah terlampau jauh dari pada gurunya. Satu-satunya jalan yang dapat di lakukan hanyalah melompat. Namun pada saat itu pundaknya telah kena sabatan pedang. Ia kaget bercampur heran dan girang, tatkala dirasakannya sabatan itu sangat ringan. Dan pedang itupun terpental balik. Sedang Lingga Wisnu sendiri sama sekali tak terluka. Maka dengan serta merta untuk ke sekian kalinya ia bersembah lagi kepada Ki Ageng Gumbrek.

Ki Ageng Gumbrek tertaw a lebar. Katanya:

"Baju mustikaku sangat buruk. Tatkala engkau bersembah kepadaku, pastilah engkau bersembah hanya menuruti perint ah gurumu. Tetapi kali ini, aku tahu hatimu benar-benar puas. Bukankah begitu?"

Merah muka Lingga Wisnu kena sindir Ki Ageng Gumbrek. Meskipun demikian, hatinya penuh haru, girang dan hormat. Kembali lagi ia bersembah.

Ki Ageng Gumbrek tidak memperdulikan pekerti Lingga Wisnu. Ia berkata lagi :

"Beberapa kali, baju mustika   itu telah menolong jiw aku. Sekarang, kuberikan kepadamu. Asal saja, gurumu t idak mengganggu diriku. Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang dapat melukai diriku, meskipun aku tidak mengenakan baju mustikaku lagi."

Setelah berkata demikian, Ki Ageng Gumbrek tertawa berkakakan. Rupanya ia sangat puas. Dan ityahi Sambang Dalan pun tertawa. Ia berkata pula : "Hai, pendeta bangkotan! Kau menjual cerita gede di depan muridku. Dalam hal ilmu kepandaian, tak dapat aku melawanmu. Akan tetapi dikolong langit in i memang banyak sekali orang-orang yang berkepandaian sangat tinggi."

Ki Ageng Gumbrek tersenyum. Sahutnya:

"Akh! Kita berdua tak boleh menggunakan pedang atau senjata tajam lainnya. Mari, kau ambillah kecapimu, dan aku akan membaw a serulingku!"

"Apakah kita akan mengadu kepandaian dengan kecapi dan seruling?" Kyahi Sambang Dalan tertaw a.

"Benar," sahut Ki Ageng Gumbrek tertaw a gelak. "Caramu memetik kecapi, benar-benar membuat hatiku ketajlhan mendengarkannya."

"Baiklah!" jawab Kyahi Sambang Dalan. "Telingaku ke tagihan pula mendengarkan tiupan serulingmu. Kau datang dari jauh dan sudi mendaki gunungku. Tak bakal aku mengecewakan hatimu. Hai, apakah kau membawa pula tempurung nasi dan tempat minum?"

Mereka berdua lantas sibuk dengan keakhliannya masing-masing. Ki Ageng Gumbrek meniup seruling. Dan Kyahi Sambang Dalan memetik kecapinya. Perpaduan keakhliannya masing-masing serasi dan selaras, sehingga membersitkan suatu pendengaran yang indah. Mereka bermain terus-menerus tiada henti-hentinya sampai jauh malam hari. Sedang si gagu yang menyelenggarakan makan minumnya.

Selama itu Lingga Wisnu menunggu disamping mereka, sama sekali ia tak mengerti permainan mereka. Meskipun demikian, lantaran bisa menangkap keindahan dan kemerduannya, ia mencoba mengerti dengan mengamat-amati gerak jari-jari gurunya mementil tali-tali kecapi. Gurunya lantas mengajari cara memetik kecapi.

Ilmu memetik kecapi terbagi dalam kelompok kelompok perpaduan nada. Tegasnya, selain memperindah gaya lagu, ikut serta menentukan iramanya. Karena tidak mengutamakan lagu, tata- lagunya berbeda dengan ilmu meniup seruling.

Nampaknya mudah dipelajari, tetapi sesungguhnya untuk menjadi seorang ahli, sulit liku-likunya. Sebab apabila belum mengenal lagunya terlebih dahulu, akan sulit menentukan keserasiannya. Namun Lingga Wisnu mempunyai pembawaan alamiah yang luar biasa. Sekali mendengar dan sekali melihat ia sudah paham liku- likunya. Ia tertarik karena liku-likunya berkesan seolah- olah kelompok tata-mus lihatnya yang diatur dalam jurus-jurus pula. Tatkala Ki Ageng Gumbrek dan gurunya beristirahat, ia menekuni dan mercoba menyelami. Menjelang fajar hari, jari-jarinya mulai bisa bergerak dengan lancar.

Ki Ageng Gumbrek benar-benar seorang yang keranjingan dalam hal seni lagu. Mendengar irama kecapi Lingga Wisnu yang mulai bisa dinikmati, terus saja ia terbangun. Tanpa segan-segan ia membangunkan Kyahi Sambang Dalan dan berkata mengajak :

"Mari! Kita bermain lagi!"

Kyahi Sambang Dalan tertaw a geli menyaksikan tetamunya yang tak lelah itu. Sahutnya :

"Aku tak bersemangat lagi untuk mengiringi lagumu.

Kau beristirahatlah dahulu!" Terpaksallah Ki Ageng Gumbrek beristirahat. Akan tetapi di dalam kamar peristirahatannya, pendengarannya selalu terganggu oleh petikan kecapi Lingga Wisnu. Tertatih-tatih ia bangun lagi dan menghampiri pemuda itu. Kemudian ia mencoba menerangkan bagaimana caranya memetik kecapi. Ia membagi tangga nada menjadi t iga bagian. Dan masing- masing pembagian tangga nadanya mempunyai beberapa kelompok-kelcmpok iringan lagu. Semuanya itu diajarkan dengan tulus ikhlas kepada Lingga Wisnu.

Semenjak itu Lingga Wisnu mulai belajar memetik kecapi dengan sungguh-sungguh. Tiga hari t iga malam ia bertekun. Dan selama itu gurunya dan Ki Ageng Gumbrek berbicara terus-menerus mengenai seni sambil sekali-kali meniup seruling dan memetik kecapi. Pada hari ke empat, Kyahi Sambang Dalan berkata kepada Ki Ageng Gumbrek:

"Pada hari in i biarlah kita beristirahat dahulu. Aku harus mengajarkan ilmu pedang kepadanya terlebih dahulu."

Alasan itu kuat, sehingga Ki Ageng. Gumbrek tak dapat menaw ar-nawar lagi. Tetapi menunggu Kyahi Sambang Dalan memberi pelajaran ilmu pedang kepada Lingga Wisnu, dirasanya sangat membosankan. Tak mengherankan, begitu Kyahi Sambang Dalan selesai memberi pelajaran, segera ia menarik tangan sahabatnya itu dan diajaknya bertempur melalui seruling dan kecapinya.

"Mari! Kita bermain lagi!" ajaknva dengan penuh napsu. Kyahi Sambang Dalan sebenarnya lelah. Akan tetapi karena tak sampai hati mengecewakan sahabatnya itu, terpaksalah ia melawani. Begitulah terjadi satu bulan lebih. Setiap kali selesai melatih muridnya haruslah ia menyediakan waktu untuk melayani tetamunya. Apabila Kyahi Sambang Dalan nampak kurang semangat sedikit saja, tetamunya itu menjadi seperti tersiksa. Dan semuanya itu tak pernah lepas dari perhatian Lingga Wisnu.

Oleh rasa iba terhadap gurunya, setiap kali memperoleh kesempatan, terus saja ia berlatih. Dalam sebulan itu, ternyata ia sudah mahir.

Pada suatu hari, menjelang fajar, ia memetik kecapinya. Tahu-tahu Ki Ageng Gumbrek sudah berada di belakangnya meniup serulingnya. Inilah kejadian yang sangat menggembirakan. Maka dengan hati-hati dan seksama, Lingga Wisnu lalu mengiringkan tiupan lagu Ki Ageng Gumbrek.

Ternyata sama sekali ia tidak salah. Keruan saja Ki Ageng Gumbrek menjadi bertambah semangat. Pujinya :

"Eh, anak! Engkau benar-benar cerdik. Kalau engkau berlatih terus menerus, pastilah dapat mengalahkan gurumu."

Dua tiga kali Ki Ageng menguji. Ia meniup lagu Asmaradana, Dandanggula dan Pangkur. Semuanya dapat diiringkan kecapi Lingga Wisnu dengan sempurna. Memperoleh kenyataan ini, lantaran rasa girang yang meluap-luap, Ki Ageng Gumbrek berkata :

"Baiklah kita atur begini saja sekarang, setiap kali engkau dapat mengiringkan tiga laguku, aku akan mengajarimu semacam ilmu kepandaian. Bagaimana? Setuju atau tidak?"

"Biarlah aku minta pendapat guruku terlebih dahulu," sahut Lingga Wisnu.

Ki Ageng Gumbrekpun tahu, seorang murid tak boleh melancangi gurunya. Maka ia menyetujui. Katanya :

"Baik. Kau tanyalah kepada gurumu!"

Lingga Wisnu lari mencari gurunya. Ia mengabarkan kehendak Ki Ageng Gumbrek. Tentu saja Kyahi Sambang Dalan girang bukan kepalang. Itulah yang diharap- harapkannya semenjak sebulan yang lalu. Ia tahu Ki Ageng Gumbrek seorang pendekar yang berilmu kepandaian tinggi. Hanya saja tabiatnya aneh. Tak senang ia menerima murid. Sebaliknya apabila sekali sudah berjanji tentu akan ditepatinya. Dan hal itu terjadi, karena orang tua itu begitu ketagihan mendengarkan permainan perpaduan suara antara kecapi dan seruling.

Lantas saja Kyahi Sambang Dalan menarik tangan Lingga Wisnu dan diajaknya menghadap Ki Ageng Gumbrek. Ia menyuruh muridnya bersembah untuk menghaturkan rasa terima kasih. Kemudian dfua sendiri berkata kepada Ki Ageng Gumbrek :

"Kakang Gumbrek! Engkau hendak menyempurnakan ilmu kepandaian muridku. Akupun menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepadamu."

Dalam pada itu Lingga Wisnu sudah berlimbah. Tetapi buru-buru Ki Ageng Gumbrek menolaknya. Katanya :

"Jangan, jangan! Aku tidak menerimamu sebagai murid. Apabila engkau menghendaki pelajaranku, engkau harus mengiringkan tiga laguku terlebih dahulu. Bukankah ini suatu jual-beli? Dimana ada pembicaraan antara guru dan murid?"

Kyahi Sambang Dalan tertaw a. Dengan cepat ia menyahut :

"Apakah maksudmu, engkau berkata seperti itu?" “Dalam hal ilmu pedang dan ilmu pukulan, dikolong

langit in i engkau tiada lawannya. Aku takluk kepadamu,

sebaliknya dalam hal ilmu berlari dan menyambitkan senjata bidik, aku kira ilmu kepandaianku tidak mengecewakan."

"Memang siapapun tahu, bahwa engkau anak siluman! Hanya saja ilmu kepandaianmu yang istimewa itu jangan kau bualkan disini," kata Kyahi Sambang Dalan sambil tertaw a gelak.

"Apakah engkau mencela kepandaianku?" ujar Ki Ageng Gumbrek agak kurang senang.

Kyahi Sambang Dalan tertawa. Sambil menggelengkan kepalanya, ia menyahut :

"Di dalam dunia ini, siapakah yang dapat menandingi ilmu berlarimu? Engkaupun seorang ahli senjata bidik yang tiada tandingan. Karena itu, kami berdua mengucapkan rasa terima kasih kepadamu."

Ki Ageng Gumbrek dapat dibuat mengerti. Ia pun lantas tertaw a. Katanya:

"Bukankah adil pertimbanganku? Setiap kali muridmu mengiringkan tiga laguku, aku lantas memberi pelajaran sejurus dua jurus kepadanya." "Engkau tidak hanya adil. Malahan bermurah budi pula," sahut Kyahi Sambang Dalan cepat. Dan setelah berpikir demikian, ia berpikir di dalam hati:

'Pendekar bangkotan ini benar-benar licik dan lucu. Akan tetapi dia seorang laki-laki sejati. Sekali menyanggupkan diri, ia tak akan menarik janjinya kembali. Inilah suatu rezeki besar bagi Lingga Wisnu.'

Laju berkata memutuskan:

"Baiklah kita atur begini saja. Yang kukhaw atirkan adalah justru Lingga Wisnu. Jangan-jangan ia menyianyiakan waktunya yang sangat berharga. Karena itu, setiap kali sudah

mengiringkan tiga lagumu, engkau harus segera mengajarkan sesuatu kepadanya. Dengan demikian, ia tidak akan sia-siakan kesempatan yang bagus ini. Sekarang, engkau boleh meniup seruling sesuka hatimu. Delapan atau sepuluh kali, masa bodo!"

Ki Ageng Gumbrek

girang bukan kepalang. Demikian pula Lingga Wisnu. Tanpa sia-siakan waktu lagi, mereka berdua lantas mengambil tempatnya masing-masing. Ki Ageng Gumbrek meniup serulingnya dan Lingga Wisnu memetik kecapi mengiringi. Mereka duduk berhadap-hadapan seolah-olah dua orang pendekar besar lagi mengadu ilmu kepandaian.

Enam kali mereka mengumandangkan lagu panjang dan pendek. Dan Ki Ageng Gumbrek pun menepati janjinya. Katanya :

"Kali in i aku hanya mengajarimu sejurus ilmu petak. Meskipun hanya sejurus, tetapi faedahnya sangat besar Tubuhmu akan terasa ringan dan kalau sudah mahir, bayangannya saja sulit terlihat. Nah, kau perhatikan gerakanku dengan sungguh-sungguh!"

Setelah berkata demikian, Ki Ageng Gumbrek bergerak. Tahu-tahu tubuhnya sudah berada diatas pohon. Tatkala turun dengan berjungkir-balik, sudah berada kembali di depan Lingga Wisnu. Keruan saja Lingga Wisnu kagum bukan main. Ia merasa diri seakan- akan terpukau. Apabila tersadar, ia bersorak dan bertepuk tangan dengan setulus hati.

"Sekarang, mulailah berlatih!" seru Ki Ageng Gumbrek. Dan pendeta aneh itu segera mengajarkan jurus tersebut. Dan untuk menangkap intisarinya, Lingga Wisnu berlompatan kian-kemari melemaskan urat- uratnya. Mula-mula ia merasa kebingungan. Lambat-laun ia merasa diri memperoleh kemajuan. Untunglah, Ki Ageng Gumbrek ternyata telaten dalam menurunkan pelajarannya. Dengan cermat dan tak bosan-bosan ia memberi contoh serta memberi petunjuk int i-int i rahasianya.

Pada hari kedua, Lingga Wisnu tak memperoleh tambahan, meskipun sudah mengiringkan enam lagu lagi. Tetapi pada hari ketiga dan keempat, ia mendapat tambahan dua jurus sekaligus. Setelah memasuki hari keempatbe las, barulah dia memperoleh tambahan sejurus, dua jurus secara teratur. Bahkan pada bulan berikutnya, Ki Ageng Gumbrek mulai mewariskan rahasia ilmu bidiknya.

Empat bulan lamanya ia belajar ilmu bidik. Tatkala pelajaran mulai menginjak pada bagian membidik sasaran dengan t igapuluh lima senjata bidik sekaligus, ia membutuhkan waktu tujuh bulan. Dengan demikilan, tak terasa satu tahun lewatlah sudah. Sekalipun demikian, Ki Ageng Gumbrek tak bosan-bosan meniup serulingnya dengan iringan kecapi Lingga Wisnu. Melihat mereka begitu akrab, Kyahi Sambang Dalan bersyukur di dalam hati. Ia tahu, apa sebab Ki Ageng Gumbrek betah bertempat t inggal pada suatu tempat sampai satu tahun lebih. Itulah disebabkan karena orang tua itu berkenan hatinya terhadap muridnya. Maka ia berpesan kepada si gagu, agar melayani Ki Ageng Gumbrek dengan sebaik- baiknya.

Pada suatu hari, selagi Lingga Wisnu berlatih disamping kedua gurunya, tiba-tiba terdengarlah suatu auman hebat. Serentak ia menoleh dan melihat si gagu sedang berhadap-hadapan dengan seekor harimau tutul. Menyaksikan si gagu dalam bahaya, tanpa berpikir panjang lagi Lingga Wisnu segera melompat dan lari menghampiri. Pada saat itu, harimau tutul telah melompat serta menerkam si gagu. Si gagu nampak marah. Ia melejit kesamping dan mendaratkan pukulannya. Tetapi bertepatan dengan saat itu, sesosok bayangan berkelebat. Itulah Kyahi Sambang Dalan yang menyambar lengan si gagu dan dibawanya menjauhi. Kemudian Kyahi Sambang Dalan berseru kepada Lingga Wisnu : "Lingga! Biarlah engkau yang melayani harimau itu!"

Lingga Wisnu tahu, gurunya sedang mengujinya Terus saja ia melompat menghadang titik balik harimau tutul itu. Akan tetapi entah apa sebabnya, tiba-tiba saja harimau tutul itu memutar tubuhnya, serta berjalan menjauhi. Lingga Wisnu melesat dan menggerakkan tangannya memukul pantat. Oleh rasa sakit, binatang buas itu mengaum dan memujar tubuh sambil mencengkeram.

Lingga Wisnu mengelak dan melompat ke samping. Kemudian tangannya bergerak hendak menyerang. Akan tetapi t iba-tiba saja ia merasakan suatu ancaman bahaya datang dari belakang punggungnya. Tahulah dia dirinya sedang diserang dari jurusan lain. Tak sempat lagi ia memutar tubuhnya. Dengan menjejak tanah ia melompat tinggi. Kemudian dengan berjumpalitan ia mendarat di atas tanah dengan tak kurang suatu apa. Begitu membalikkan tubuhnya, ia melihat penyerangnya, seekor harimau kumbang.

Sebenarnya, semenjak berada di atas gunung Dieng, belum pernah ia berkelahi. Walaupun demikian, sama sekali ia tak takut menghadapi kedua binatang buas itu. Segera ia menyerang dengan menggunakan tipu-tipu ilmu sakti Sardula Jenar. Menyaksikan perkelahiannya, Kyahi Sambang Dalan bergembira. Katanya di dalam hati:

'Bocah ini benar-benar tidak sia-siakan capai lelahku.” Tetapi setelah   mengamat-amati sekian   lamanya,

Lingga Wisnu ternyata hanya dapat menyakiti kedua

binatang itu saja. Pukulannya sama sekali tak bertenaga. Ia jadi heran. Apa sebab jadi demikian? Kyahi Sambang Dalan tak tahu bahwa dalam diri Lingga Wisnu mengeram racun jahat Pacarkeling yang memunahkan sebagian tenaganya.

"Sambut pedangku!" seru Kyahi Sambang Dalan yang tak sempat menyelidiki sebab-sebabnya.

Lingga Wisnu melompat menyambiit pedang tetapi pada saat itu, kedua harimau lari menubras nubras menerjang belukar. Lingga Wisnu mengejar selint asan. Tiba-tiba dua sosok bayangan menyambar dari kiri- kanan. Cepat ia menggerakkan pedangnya sambil melesat kesamping. Ternyata penyerangnya adalah dua ekor kera hampir setinggi dirinya.

"Jangan bunuh!" tiba-tiba terdengar Ki Agung Gumbrek berseru.

Lingga Wisnu mengangguk. Kemudian dengan pedangnya ia mendesak. Ia dapat bergerak dengan gesit. Saban-saban ia menyabat atau menikam. Dan diserang secara demikian, kedua binatang itu, berlompat-lompatan dengan gesit pula. Sekiranya mau, Lingga Wisnu dapat menikamnya dengan mudah. Akan tetapi ia hanya melukainya saja pada lengan, pundak, kepala dan kedua kakinya.

Diperlakukan demikian, kedua binatang itu, nampaknya mempunyai perasaan. Mereka mengerti, lawannya tidak berniat membinasakan. Tatkala mereka melompat menjauhi, lawannya tidak mengejar. Lingga Wisnu malahan berhenti menggerakkan pedangnya dan hanya mengawasi saja.

Bagaikan insan manusia, kedua kera itu memekik tinggi. Kedua tangannya ditutupkan ke kepalanya. Lalu merebahkan diri sambil menjiratkan pandang menohon ampun.

Lingga Wisnu datang menghampiri. Ia mengerti, kedua binatang itu menyerah kepadanya. Si gagu jadi girang. Dengan berlari-larian ia masuk ke dalam rumah dan keluar kembali dengan membaw a dadung sebagai pembelenggu.

Mula-mula kedua binatang itu mencoba memberontak. Mereka memekik-mekik sambil memperlihatkan kedua baris gigi mereka. Akan tetapi tenaga si gagu jauh lebih kuat. Akhirnya mereka menyerah saja. Dan sama sekali tak berani melawan.

Baik Kyahi Sambang Dalan maupun Ki Ageng Gumbrek memuji kegesitan Lingga Wisnu. Mereka menganjurkan agar dia belajar lebih tekun lagi dan bersungguh- sungguh. Keruan saja, Lingga Wisnu menjadi girang dan penuh syukur mendengar pernyataan kedua orang tua itu. Iapun merasakan sendiri betapa bagus hasil latihannya. Di samping itu, ia memperoleh dua binatang hutan yang seekor jantan dan yang satunya betina. Oleh rasa girangnya, Lingga Wisnu mencarikan buah-buahan untuk diberikan kepada kedua binatang itu.

Selang sepuluh hari, kedua binatang itu menjadi jinak sekali. Keduanya mengerti akan kesayangan Lingga Wisnu terhadap mereka. Sekarang mereka tak perlu diikat dadung lagi. Tiada niat mereka untuk kabur.

Lingga Wisnu memberi nama 'Kapi' kepada si Jantan dan 'Kutil' kepada yang betina. Agar mereka paham akan namanya masing-masing, Lingga Wisnu membiasakan memanggil namanya setiap kali bertemu. Ki Ageng Gumbrek dan Kyahi Sambang Dalan tertaw a menyaksikan pekerti Lingga Wisnu, dan ikut bergembira menyaksikan kedua binatang itu telah menjadi jinak.

Dan setelah Lingga Wisnu yakin kedua binatang itu benar-benar jinak, ia membebaskannya.

Kini dengan merdeka Kapi dan Kutil mencari makan sendiri. Kadang-kadang mendaki sampai ke puncak gunung. Kemudian terjadilah suatu peristiw a yang membuat suatu penemuan yang aneh sekali.

Seperti biasanya, Kapi dan Kutil mendaki puncak gunung untuk mencari makanan. Dengan berani, Kutil memanjat dinding gunung. Tiba-tiba saja kakinya tergelincir. Tak ampun lagi lepaslah pegangannya, sehingga jatuh ke dalam jurang.

Dinding gunung itu sangat curam dan mempunyai kedalaman empat sampai limapuluh meter lebih. Keruan saja Kapi kaget bukan main. Segera ia menjenguk dari tepinya. Ia melihat Kutil tersangkut pada cabang pohon yang tumbuh di depan sebuah goa kosong. Mulut goa itu nampak hijau berlumut. Pada mulut goa inilah Kutil berpegangan. Namun tak dapat ia naik atau turun. Dengan demikian ia nampak tergantung-gantung pada ketinggian tebing gunung.

Meskipun daya pikir dan perasaan seekor kera tidak sesempurna manusia, akan tetapi binatang itu banyak akal. Dalam sibuknya, Kapi lari pulang mencari Lingga Wisnu. Tatkala itu majikannya sedang berlatih pedang. Ia lantas memekik-mekik tinggi tiada hentinya sambil berjingkrakan. Lingga Wisnu heran. Ia menghampiri dan mengamat-amati tubuh Kapi. Di sana sini terdapat beberapa tusukan diuri pepohonan. Sedang kesan wajahnya nampak ketakutan. Segera ia mencari paman Ganjur, si gagu, untuk di ajak menyelidiki kehendak binatang itu.

Ternyata Kapi memutar tubuh dan berlari-lari menghampiri jurang. Sesampainya di tepi jurang, Kapi memekik-mekik sambil menjenguk ke bawah. Lingga Wisnu dan Ganjur, si gagu, segera menghampiri dan melihat Kutil dalam bahaya. Dengan cepat Lingga Wisnu lari pulang untuk mengambil tali. Kemudian dilemparkannya tali itu ke dalam jurang. Sedang ia mengikat ujungnya pada lengannya dan lengan Ganjur.

Kutil dalam keadaan sangat lelah. Namun tatkala melihat menyambarnya tali, segera ia menangkapnya. Dan dipegangnya erat-erat. Pada saat itu Lingga Wisnu dan si gagu menariknya ke atas. Ternyata ia terluka di beberapa tempat. Syukur tidak begitu hebat. Kemudian dengan memperdengarkan pelikan berulangkali, ia memperlihatkan kedua telapak tangannya.

Heran Lingga Wisnu tatkala melihat dua benda tajam menancap pada telapak tangan si Kutil. Ia mencoba mencabutnya, namun benda itu tertancap sangat kukuhnya. Si Kutil lantas memekik kesakitan.

'Apakah di sini ada musuh?' Lingga Wisnu bertanya kepada dirinya sendiri. Ia menjadi curiga. Segera ia menghampiri tebing jurang dan mengamat-amati ke dalamnya. Ia melihat sebuah goa kosong. Pada mulut goa itulah tadi si Kutil terkatung-katung. Apakah di dalam goa itu terdapat senjata bidik? Tetapi senjata bidik tak akan dapat bekerja tanpa ada yang melemparkannya. Lantas siapa? Apakah di dalam goa itu terdapat seorang musuh yang sedang bersembunyi? Rasanya tidak mungkin! Letak goa itu sangat terpencil. Dengan berbagai pikiran, Lingga Wijsnu mengajak si gagu pulang untuk mencari kedua gurunya. Setelah bertemu, ia menceritakan pengalamannya. Mendengar keterangan Lingga baik Ki Ageng Gumbrek maupun Kyahi Sambang Dalan, ikut merasa aneh. Ki Ageng Gumbrek adalah seorang pendekar ahli senjata bidik. Melihat bentuk senjata bidik yang tertancap pada telapakan tangan si Kutil, ia berkata :

"Aku seorang yang gemar sekali akan senjata bidik. Pelbagai senjata bidik pernah kulihat. Akan tetapi senjata bidik ini, yang berbentuk seperti kelabang, baru untuk pertama kali inilah kulihat. Sambang Dalan! Kali ini runtuhlah kedudukanku sebagai seorang ahli senjata bidik."

Kyahi Sambang Dalan menatap sahabatnya. Kemudian berkata mengusulkan :

"Coba keluarkan dahulu senjata bidik yang menancap pada telapakan binatang ini!"

Bergegas Ki Ageng Gumbrek masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sebuah pisau kecil.

Dengan pisau itu ia membedah te apakan tangan si Kutil untuk, mengeluarkan senjata bidik yang aneh itu. Agaknya, si Kutil tahu maksud baik Ki Ageng Gumbfrek hendak menolong dirinya. Sama sekali ia tidak memberontak. Setelah benda yang menancap pada telapakan tangan tercabut, lukanya segera diobati dan dibalut . Binatang itu nampak puas dan segera pergi mengikuti Kapi mencari makan.

Dua senjata bidik itu panjangnya kurang lebih tiga senti. Berbentuk seperti kelabang. Bersungut dua. Kedua sungut itu sekecil dan setajam jarum. Warna keseluruhannya hitam gelap dan kotor berlumut. Tetapi setelah Ki Ageng Gumbrek mengerik lumutnya, benda itu nampak mengkilap. Ternyata terbuat dari emas murni.

"Pantas, timbangannya berat. Kiranya terbuat dari emas murni!" seru Ki Ageng Gumbrek. "Sungguh berbahagia dan mulia orang yang memiliki senjata bidik begini. Sebab kalau bukan seorang hartaw an, tidak mungkin membuang buang emasnya. Bukankah setiap kait ia melepaskan senjata bidiknya berarti kehilangan paling t idak dua puluh gram?"

Sekonyong-konyong Kyahi Sambang Dalan terperanjat. Tak terasa ia berseru :

"Inilah senjata bidik yang bernama Cunduk Trisula!" "Cunduk Trisula?" Ki Ageng Gumbrek menegas

dengan wajah tercengang. Ia terdiam sejenak. Lalu berkata meneruskan: "Kau maksudkan Bondan

Sejiw an pemiliknya? Bukankah kabarnya dia telah wafat sejak belasan tahun yang lalu" Sambil berkata demikian, sekali lagi ia memeriksa senjata bidik yang berada ditangannya lalu wajahnya benar-benar nampak terkejut, berunya :

"Tidak salah! Benar dia”

Ia membolak-balikkan senjata bidik berbentuk kelabang itu. Di bagian perutnya tertera sebuah ukiran kecil berbunyi: BONDAN. Dan pada bagian perut senjata bidik yang kedua, terdapat ukiran berbunyi: SEJIWAN.

"Guru! Siapa Bondan Sejiw an itu?" Lingga Wisnu bertanya kepada Kyahi Sambang Dalan yang masih saja tercengang sejak tadi. "Kelak akan kuberi keterangan," sahut gurunya setelah berdiam beberapa lama. Setelah menimbang-nimbang sebentar, meneruskan :

"Kakang Gumbrek, coba katakan kepadaku mengapa senjata bidik ini bisa berada di dalam goa itu?"

Ki Ageng Gumbrek tidak segera menjawab. Ia mengerinyitkan keningnya. Wajahnya jadi tegang. Tak terkecuali Kyahi Sambang Dalan. Keruan saja Lingga Wisnu mendengarkan dengan berdiam diri. Sama sekali ia tak mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan. Ia hanya mendengar kata-kata pembunuhan akibat permusuhan dan pembalasan dendam. Kalimat-kalimat lainnya, masih gelap baginya.

"Jadinya, Bondan Sejiw an datang memasuki daerahmu untuk menyingkirkan diri dari musuh-musuhnya?" kata Ki Ageng Gumbrek menegas.

Kyahi Sambang Dalan tak berani menyatakan dengan pasti. Ia nampak berbimbang-bimbang. Sahutnya :

"Mengingat kepandaiannya, sebenarnya tak ada perlunya, ia menyingkir jauh-jauh sampai kemari. Bersembunyi ditempat yang sunyi sepi, baginya merupakan alasan yang kurang kuat."

"Mungkinkah dia belum mati?" Ki Agung Gumbrek seperti menguji.

"Dia seorang luar biasa," jawab Kyahi Sambang Dalan. "Selama ini kita hanya mendengar namanya belaka. Dan belum pernah bertemu dengan dirinya. Memang, kabar berita mewartakan bahwa dia telah meninggal dunia. Akan tetapi sebab-sebabnya atau bagaimana caranya dia meninggal, tiada seorangpun yang dapat memberi keterangan!

"Dia memang aneh sepak-terjangnya "

Ki Ageng Gumbrek menghela nafas "Ada kalanya dia kejam sekali. Tetapi tak jarang pula dia berbuat mulia. Dengan demikian, apakah dia seorang jahat atau seorang yang mulia hati, orang hanya dapat menduga- duga saja. Beberapa kali pernah aku mencoba mencarinya. Namun senantiasa gagal."

“Sudahlah. Tiada gunanya kita menduga-duga saja. Kyahi Sambang Dalan memutuskan: "Baiklah, besok pagi kita menjenguk goa itu."

Keesokan harinya Kyahi Sambang Dalan mengajak Ki Ageng Gumbrek, Lingga Wisnu dan Ganjur menjenguk goa dengan membaw a senjata serta tali dan perlengkapan lainnya. Lingga Wisnu berada di depan sebagai penunjuk jalan. Lantaran dialah yang mengetahui letaknya goa itu.

"Guru," betkata Lingga Wisnu minta keterangan. "Pernah aku mendengar seseorang menyebutkan nama Bondan Sejiw an. Menurut orang itu, dialah cikal bakal atau pendiri himpunar Ngesti Tunggal. Apakah Bondan Sejiw an yang memiliki senjata bidik itu adalah Bondan Sejiw an pendiri himpunan Ngesti Tunggal?"

"Dalam dunia ini apakah hanya dia seorang saja yang bernama Bondan Sejiw an?" ujar gurunya. "Pada zaman Majapahit, pernah hidup seorang yang bernama Bondan Sejiw an pula. Dialah putera Prabu Braw ijaja ke V."

Mendengar ujar gurunya, Lingga Wisnu tak bersemangat lagi untuk meminta keterangan yang lebih jelas. Di tepi jurang, ia membantu gurunya dan Ganjur mengikat tali pada sebatang pohon yang tumbuh di atas tebingnya. Kemudian mendengar gurunya berpesan kepada Ki Ageng Gumbrek :

"Hati-hati”

Ki Ageng Gumbrek manggut. Cepat ia mengikat pinggangnya dengan ujung tali yang tertambat pada pohon. Kemudian dengan pertolongan Ganjur dan Lingga Wisnu, ia dikerek turun perlahan-lahan. Di depan mulut goa yang berlumut itu, ia berdiri mengamat-amati. Mulut goa penuh kabut, sehingga tanahnya tak nampak jelas. Hatinya tercekat, meskipun ia seorang jago, yang sudah kenyang makan garam.

Dengan tertegun ia mengaw asi ke dalam goa terus- menerus. Biasanya, pandang mata seseorang lambat laun bisa menyesuaikan, dalam kegelapan.

Setidak-tidaknya akan bisa menangkap penglihatan walaupun dalam samar-samar. Namun penglihatan Ki Ageng Gumbrek malahan makin menjadi guram. Akhirnya ia memperoleh kesimpulan, tentulah goa itu sangat dalam. Ia kemudian maju meraba-raba menyelidiki ruang masuk. Dan ternyata sempit. Ia berbimbang-bimbang sebentar. Apakah dirinya bisa memasuki pintu sempit itu?

Ki Ageng Gembrek adalah seorang yang keras hati. Tak sudi ia mundur, sekalipun menghadapi kenyataan yang tidak memungkinkan Setelah membungkus sebelah tangannya, segera ia memasukan ke dalam mukit goa itu. Meskipun seorang pemberani, namun tak berani ia semberono. Perlahan-lahan tangannya meraba-raba dan tiba-tiba membentur suatu benda tajam. Benda tajam itu menancap pada mulut goa. Ia menduga itulah Cunduk Trisula, senjata bidik berbentuk kelabang. Segera dengan hati-hati ia mencabutnya. Lalu meraba-raba lagi dan mencabut yang kedua. Demikianlah, sampai tujuhbelas biji. Ia berniat hendak maju meraba-raba lagi, akan tetapi teringatlah dia kepada Ganjur dan Lingga Wisnu yang menahan tubuhnya dari atas tebing. Mereka berdua pasti sudah merasa lelah.

"Tarik!" segera ia berteriak memutuskan.

Teriakannya terdengar oleh Kyahi Sambang Dalan. Guru Lingga Wisnu itu segera memerint ahkan agar menarik Ki Ageng Gumbrek keatas dengan perlahan- lahan. Kira-kira dua tombak dari atas tebing, Ki Ageng Gembrek menjejakkan kakinya pada batu lambing. Dengan begitu cepat sekali Ki Ageng Gumbrek telah berada diantara teman-temannya.

"Lihat ini!" serunya kepada Kyahi Sambang Dalan. Guru Lingga Wisnu itu segera memerint ahkan agar menarik Ki Ageng Gumbrek ke atas dengan perlahan- lahan. Kira-kira dekat, maka Ki Ageng Gembrek memperlihatkan tujuh belas batang senjata bidik Cunduk Trisula yang digenggamnya erat-erat. Bentuknya sama dengan senjata bidik yang menancap pada telapak tangan si Kutil.

"Sambang Dalan. Kita memperoleh harta karun! Emas begini banyak... “ Ia tertaw a berka- kakan.

Sebaliknya wajah Kyahi Sambang Dalan menjadi bersungguh-sungguh. Sahutnya kemudian: "Hantu itu menyimpan bendanya didalam goa. Apakah maksudnya? Benda apa lagi yang terdapat dalam goanya? Biarlah aku yang melihat."

"Percuma saja engkau turun ke bawah!" Ki Ageng Gumbrek mencegah. "Mulut goa terlalu sempit. Tubuhmu tak akan dapat memasukinya."

Kyahi Sambang Dalan menundukkan kepalanya. Ia diam berpikir. Tiba-tiba Lingga Wisnu berkata minta pertimbangan :

"Guru, apakah aku diperkenankan menyelidiki?" "Betapa mungkin?" sahut Ki Ageng Gumbrek dengan

tertaw a panjang. "Jurang begini dalam. Apakah engkau

berani?"

"Aku berani, paman." kata Lingga Wisnu.

"Guru, aku diperkenankan ikut menyelidik atau tidak?" Kyahi Sambang Dalan masih terbenam dalam pikiran.

Kata guru yang bijaksana itu di dalam hati :

'Orang jahat itu menyimpan senjata bidiknya di dalam goa. Pastilah mempunyai maksud-maksud tertentu. Sebaliknya, apabila tidak diselidiki, benar-benar sayang. Akan tetapi siapa tahu, justru di dalam goa itu tersimpan suatu ancaman bencana? Kalau bocah ini kuidzinkan ia pergi seorang   diri,   tidakkah   akan   membahayakan jiw anya?”

Memperoleh pertimbangan demikian, ia lantas berkata:

"Aku mengkhaw atirkan bencana yang mengancam dirimu." "Aku dapat berlaku waspada, guru," Lingga Wisnu mendesak.

Melihat muridnya demikian berani dan bernapsu, akhirnya Kyahi Sambang Dalan mengangguk dan berkata:

"Baiklah. Tetapi, engkau harus mencoba menyalakan

api terlebih dahulu sebelum memasuki goa. Manakala api itu padam,        janganlah

engkau memaksa dirimu memasuki."

"Aku tahu, guru." sahut Lingga Wisnu Dan    cepat-cepat    ia

mempersiapkan sebatang obor. Sedang pedangnya segera dihunusnya.     Dengan

pedang dan obor di tangan, ia dikerek turun perlahan- lahan seperti Ki Ageng Gumbrek.

Cepat sekali Lingga Wisnu telah sampai di mulut goa; Teringat pesan gurunya, ia menyulut obor terlebih dahulu. Ternyata tidak padam. Ia jadi girang. Kemudian dengan hati-hati ia merayap memasuki mulut goa. Tali yang mengikat di pinggangnya tak dilepaskannya. Setelah merayap kira-kira limabelas meter jauhnya, terowongan yang dilalu inya mulai mendaki. Ia maju terus perlahan dengan perlahan. Kira-kira tiga meter lagi, sampailah dia pada tempat terbuka. Dapatlah ia berdiri tegak. Setelah mengatur pernapasannya sejenak, ia maju terus.

Beberapa saat kemudian, jalan yang ditempuhnya menikung dan memasuki kelokan serta tikungan, empat lima kali. Ia jadi semakin berwaspada. Dengan menggenggam pedangnya erat erat, ia maju terus. Tatkala berjalan kira-kira lima belas meter lagi, ia tiba di sebuah kamar batu. Segera ia manasuki sambil memajukan obornya. Tiba-tiba ia terperanjat, sampai ia mengeluarkan keringat dingin.

Di atas sebuah batu yang berada ditengah tengah kamar, duduk sesosok kerangka yang lengkap tak ubah manusia hidup. Kedua tangannya terletak di atas pangkuannya. Dengan mata tak berkedip dan jantung menekan-nekan, Lingga Wisnu mengaw asi kerangka itu. Setelah itu, barulah ia memeriksa ruang-ruang kamar. Syukurlah t iada suatu penglihatan, yang mengerikan lagi.

Belasan Cunduk Trisula menancap malang-melint ang di atas tanah mengitari kerangka itu. Sebatang pedang panjang terletak di sampingnya.

Pada dinding kamar terdapat sederet lukisan manusia berukir. Sikapnya berlain-lainan, mirip seseorang yang sedang menghadapi tata muslihat lawan. Lingga Wisnu mengamat-amati dengan penuh perhatian. Akhirnya tahulah dia, bahwa lukisan-lukisan itu menggambarkan seseorang lagi berlatih tata-berkelahi tertentu. Hanya saja   ia   tak   mengerti   maksudnya.   Apalagi,    letak int isarinya. Pada ujung gambar terdapat tujuhbelas patah kata berukir pula. Lingga Wisnu mendekati dan membacanya : "Mustika berharga, ilmu sakti rahasia. Diberikan kepada siapa yang memasuki pintuku. Tetapi janganlah menyesal, manakala kena bencana. "

Lingga Wisnu masih mengamat-amati dan memperhatikan hal itu, tatkala tiba-tiba seseorang memanggilnya. Itulah suara gurunya yang memanggil namanya di depan mulut goa. Dengan bergegas ia merayap balik.

Ki Ageng Gumbrek dan Kyahi Sambang Dalan yang berada di atas jurang, gelisah setelah menunggu sekian lamannya. Mereka tak berani menarik tali pengikat lantaran takut Lingga Wisnu telah melepaskan diri dari ikatannya. Mereka menyabarkan beberapa waktu lagi. Tetapi tetap saja Lingga Wisnu tidak muncul. Kuatir bocah itu menemui bencana, Kyahi Sambang Dalan memutuskan untuk menyusul. Demikianlah, setelah sampai d i mulut goa, segera ia memanggil-manggil nama muridnya. Hatinya lega luar biasa, begitu mendengar muridnya menyahut.

Dengan tanda teriakan, Ki Ageng Gumbrek dan Ganjur lantas menarik tali pengikat. Sebentar saja Kyahi Sambang Dalan dan Lingai Wisnu sudah berada di atas tebing. Seluruh tubuh Lingga Wisnu berlepotan lumpur, debu dan lumut. Pakaian yang dikenakannya kotor dan wajahnya nampak tegang. Ki Ageng Gumbrek dan Kyahi Sambang Dalan tahu, bahwa hal itu terjadi lantaran bocah itu pasti menemukan atau melihat sesuatu yang luar biasa. Maka mereka membiarkan bocah itu tenangkan hatinya terlebih dahulu. Dan benar saja, setelah dapat tenangkan hatinya kanbali, Lingga Wisnu kemudian menuturkan pengalamannya. "Pastilah tidak salah lagi, itulah kerangka Bondan Sejiw an," ujar Kyahi Sambang Dalan. "Akh, tak pernah kusangka, seorang pendekar yang sakti luar biasa, akhirnya mati di tempat sesunyi ini. Sungguh sayang!"

"Apakah arti tujuhbelas patah kata pesannya itu?" tanya Ki Ageng Gumbrek minta pendapat rekannya.

Kyahi Sambang Dalan tak segera menjawab ia merenung beberapa saat lamanya. Lalu menyatakan pendapatnya :

"Rupanya Bondan Sejiw an menyimpan suatu benda berharga dalam goanya. Hanya kita tak tahu mustika apa yang disimpannya itu. Dia seorang pendekar yang memiliki ilmu maha sakti. Pastilah dia tidak akan membiarkan ilmu saktinya itu musnah dari percaturan hidup. Dengan cara-cara tertentu, pastilah dia menyimpannya di dalam goanya. Mungkin ia menunggu seorang yang berjodoh dengan pengucapan hatinya untuk mewarisi ilmu kepandaiannya. Sayang, dia seorang yang hidup dengan menuruti pertimbangan perasaannya sendiri Ia sama sekail tak beragama. Lantas mendirikan Himpunan manusia-manusia liar dengan nama: 'Ngesti Tunggal’. Benar-benar kapir!

Hati Lingga Wisnu tercekat. Bondan Sejiw an, yang mati di dalam goa itu, ternyata benar-benar Bondan Sejiw an cikal-bakal Ngesti Tunggal yang kemarin dielakkan gurunya. Keruan saja perhatiannya menjadi bertambah. Dalam pada itu Kyahi Sambang Dalan meneruskan perkataannya :

"Rupanya ia menghendaki, agar yang memasuki pintunya, bisa melanjutkan cita-citanya. Jadi istilah pintu itu bermakna cita-cita atau kaumnya atau pahamnya. Tetapi mungkin pula berarti pintu besar yang mengandung malapetaka.”

"Pendapatmu rasanya tidak meleset terlalu jauh " Ki Ageng Gumbrek menyetujui. "Hanya, keajaiban apa yang terdapat dalam goanya, sungguh sulit diduga-duga."

Kyahi Sambang Dalan menghela napas. Berkata lagi : "Jelek-jelek   kita ini   manusia beragama.   Setidak-

tidaknya kita mengenal Tuhan. Karena itu tak boleh kita

mengharapkan warisan mustika dari orang kapir. Tetapi justeru kita merasa mengambar jalan ketuhanan, kita harus menunjukkan kebesaran dan kelapangan hati. Biarlah Lingga Wisnu esok pagi menjenguk goanya kembali untuk mengubur kerangkanya sebagai mustinya manusia yang pernah hidup. Betapapun juga kita harus menghormatinya sebagai seorang sesepuh. Karena itu, engkau Lingga, sewaktu hendak menguburnya, engkau wajib bersembah padanya. Panjatkan doa kehadapan Ilahi agar diampuni semua dosanya. Dengan cara demikian, kita semua dapat menghormatinya sebagai manusia wajar dan layak. Kita boleh tak sepaham dengan pendiriannya, tetapi sebagai manusia kita semua adalah makhluk Tuhan dan anak Tuhan”

Lingga Wisnu mengangguk. Dan Ki Ageng Gumbrek seiring dengan kata-kata Kyahi Sambang Dalan. Ia bahkan menyatakan rasa kagumnya. Katanya :

"Kaupun seorang aneh pula! Seorang yang pandai berkhotbah, pantasnya harus hidup didekat mesjid. Kenapa engkau justru bermukim di atas gunung sesunyi ini?" "Itulah soal kenikmatan! Kenikmatan bersembah kepada Tuhan serta sekalian alam!" jawab Kyahi Sambang Dalan. Dan mendengar jawaban itu Ki Ageng Gumbrek kian menjadi kagum. Dua t iga kali ia menghela napas.

Keesckan harinya Lingga Wisnu membekal pacul dan alat-alat lainnya peranti mengubur mayat. Ia diantarkan paman Ganjur. Kyahi Sambang Dalan dan Ki Ageng Gumbrek tak ikut serta karena menganggap tiada bahayanya. Mereka hanya menyertakan restunya dan membekali lima batang obor yang berisi minyak pembakar penuh.

Ganjur mengerek Lingga Wisnu turun dengan perlahan-lahan. Setelah tiba di mulut goa, dengan cekatan Lingga Wisnu merayap memasuki goa. Begitu sampai di dalam ruang kamar, segera ia menancapkan batang obornya. Lalu mulai menggali lubang. Berbagai pikiran dan ingatan berkelebatan di dalam benaknya. Teringatlah dia kepada nasib ayah-bunda dan kakaknya yang mati tak dikubur. Tak dikehendaki sendiri, mengalirlah air matanya. Pikirnya di dalam hati :

'Dialah Bondan Sejiw an pendiri Ngesti Tunggal. Meskipun berkesan liar, namun para anggautanya berw atak ksatrya. Sebenarnya, bagaimana sesungguhnya?” kata Lingga Wisnu di dalam hati. Tentu saja ia tak dapat menjaw ab pertanyaannya sendiri itu.

Demikianlah, setelah selesai menggali lubang kubur ia membungkuk hormat dan bersembah kepada kerangka Bondan Sejiw an. Katanya di dalam hati :

"Kami bernama Lingga Wisnu. Secara kebetulan saja kami menemukan jazat paman. Pada hari ini, kami hendak mengubur jazat paman. Semoga tenanglah arwah paman di alam baka. Baru saja ia mengucapkan kata-kata demikian, hatinya mendadak menjadi sedih. Teringatlah dia kembali kepada kedua orang tuanya, kakaknya dan dirinya yang kini hidup yatim-piatu. Ia lantas menangis menggerung-gerung. Tiba-tiba saja, tengkuknya seperti kena raba tangan halus dan dingin. Itulah angin lembut yang datang dari luar goa. Lingga Wisnu bergidik. Bulu tengkuknya meremang. Serentak ia menegakkan kepala dan berputar mengarah liang kubur.

Untuk menenangkan hati, ia menjajaki. Dirasanya masih kurang dalam. Maka mulailah ia menggali lebih dalam lagi. Tanah yang kena sint uh paculnya ternyata kian menjadi lunak. Ia jadi gembira dan bekerja dengan cepat. Tiba tiba paculnya memperdengarkan suara membeletuk. Itulah akibat suatu benturan dengan benda keras. Rasanya bukan batu. Lalu apa? Besi?

Ia mengambil obornya lalu menyuluhi. Ia heran karena pada dasar tanah itu terdapat selembar papan besi. Tertarik akan hal itu, ia memacul sekitarnya. Benar-benar papan besi yang berjumlah beberapa lembar. Lalu ia mengangkatnya. Dibawahnya terdapat sebuah peti besar berukuran enampuluh sentimeter persegi. Terbuat dari besi pula. Terdorong oleh rasa ingin tahu, Lingga Wisnu mengangkat peti besi itu. Timbangan beratnya sedang. Dapatlah ia mengira-ira bahwa isinya tidak terlalu banyak. Lantaran tak terkunci, dengan mudah ia dapat membukanya. Di dalamnya ternyata amat dangkal. Kira- kira hanya setinggi empat senti saja. Keruan Lingga Wisnu menjadi bertambah-tambah heran. 'Mengherankan!' seru Lingga Wisnu di dalam hati. Ukuran petinya besar dan tinggi. Kenapa pendek saja dalamnya?

Ia menemukan sepucuk surat bersampul, yang berisi delapan patah kata di atas sampulnya. Bunyinya begini :

= Barang siapa memperoleh petiku, kuperkenankan membuka isi sampul suratku. =

Di dalam sampul terdapat dua pucuk surat bersampul pula yang berukuran lebih kecil. Semuanya terbuat dari kulit kerbau. Sampul surat yang pertama berkepala: 'Cara membuka peti' Dan yang kedua: 'Bagaimana mengubur tulang-tulang’.

Setelah membaca sampul surat itu, Lingga Wisnu baru mengerti bahwa peti besi itu berlapis. Ia mengangkat dan menggoyang-goyangkannya. Kali in i ia mendengar bunyi benda bersentuhan. Namun hatinya tak tertarik akan segala warisan Bondan Sejiw an yang disebutkan sebagai mustika. Yang terasa dalam hatinya, hanyalah kepiluan dan keharuan. Katanya di dalan hati :

'Paman. Kalau aku mengubur tulang-tulangmu sebenarnya kulakukan demi tulang-tulang kakakku Umardanus, yang mati di dalam jurang. Moga-moga dengan menguburkan tulang-tulangmu, seseorang mengubur pula tulang-tulang kakakku. Oh, Tuhan! demikianlah harapanku. Tentang mustika yang kau janjikan, biarlah diwarisi oleh seorang pendekar yang tepat'.

Lingga Wisnu kemudian membuka sampul surat kulit yang kedua. Dalamnya terdapat selembar kulit t ipis yang bertulisan. Bunyinya demikian : "Leluhurku bernama Bondan Sejiw an, pendiri aliran Ngesti Tunggal. Beliau hidup pada jaman Sultan Agung memerint ah negeri. Keturunan dan pewarisnya menyematkan nama Bondan Sejiw an pula. Sampai di tanganku sudah melalui empat angkatan. Maka gelarku sebenarnya Bondan Sejiw an ke V. Namaku sendiri: Panyuluh. Dan semenjak ini lenyaplah sudah keturunan Bondan Sejiw an. Karena aku tak diberi kesempatan mempunyai keturunan ..

Sampai di sin i Lingga Wisnu berhenti membaca. Pikirnya di dalam hati: 'Apakah ini alasan guru, apa sebab beliau mengelakkan pertanyaanku tentang nama Bondan Sejiw an, pendiri Ngesti Tunggal? Tetapi, apa sebab kemarin ia menyebut kerangka paman Bondan Sejiw an ini sebagai pendiri Ngesti Tunggal? Apakah keturunannya memang selalu disebut-sebut sebagai cikal bakal Ngesti Tunggal? Secara kebetulan aku menyebutnya paman. Kiranya tak begitu salah ...

Ia meneruskan membaca :

"Sekiranya kau sudi mengubur tulang-tulangku maukah mendengarkan pesanku? Setelah kau gali lubang, tolong, gali lebih dalam lagi kira-kira satu meter. Dan tanamlah tulang-tulangku di situ. Berada di dalam liang kubur yang dalam rasanya aku akan bebas dari gangguan segala kutu-kutu dan semut."

Terharu hati Lingga Wisnu membaca surat Bondan Sejiw an. Katanya di dalam hati :

'Paman, aku akan membuatmu puas. Aku akan menggali lebih dalam lagi, mematuhi pesan terakhirmu.' Dan kembali Lingga Wisnu menggali liang kubur lebih dalam lagi. Kali ini tanah penuh batu. Tak mudah Lingga Wisnu memacul seleluasa tadi. Sebentar saja ia telah bermandikan keringat. Tatkala paculnya hampir mencapai enam puluh sentimeter dalamnya, mendadak ujungnya membentur sebuah benda keras sehingga menerbitkan suara gemerincing.

Karena telah memperoleh pengalaman, meskipun heran, Lingga Wisnu menggali terus. Dan kembali lagi ia menemukan sebuah peti tesi berbentuk persegi dan berukuran lebih kecil.

'Pendekar gagah luar biasa in i benar-benar aneh,' pikirnya di dalam hati. 'Entah benda apa lagi yang disimpannya di dalam peti ini?'

Ia mengangkat peti itu dan dapat membuka tutupnya dengan mudah. Dan seperti tadi ia mendapatkan selembar kulit t ipis yang memuat beberapa deret kalimat. Manakala ia membacanya, hatinya kaget bukan kepalang sehingga keringatnya mengucur deras.

Beginilah bunyi tulisan itu :

"Engkau benar-benar seorang yang baik hati dan jujur. Karena engkau mendengar pesanku sudah selayaknya aku wajib membalas kebaikan hatimu. Yang pertama dengan ramuan obat mustika. Yang kedua: benda mustika. Dan yang ketiga: ilmu sakti warisan leluhurku.

Manakala engkau membuka peti besar, dari dalamnya akan menyambar anak-anak panah beracun. Surat dan peta yang berada di dalamnya palsu semua. Malahan beracun juga! Biarlah orang-orang jahat menerima hadiahnya yang setimpal. Barang yang tulen, berada dalam peti kecil in i. Pastilah engkau telah mandi keringat. Kau telanlah ramuan obat mustika yang berada dalam lapisan atas"

Meskipun bunyi surat itu meyakinkan, namun Lingga Wisnu tak berani melancangi gurunya. Lagi pula, tujuannya memasuki goa bukanlah mengarah mustika yang terpendam di dalamnya. Ia di tugaskan mengubur kerangka seorang leluhur. Maka tak boleh dirinya terpancang pada bunyi surat, sehingga mengabaikan tujuan semula. Sadar akan hal itu, cepat-cepat ia meletakkan dua peti besi ditepi liang. Lalu dengan sikap penuh hormat ia mengebumikan tulang-tulang kerangka Bondan Sejiw an. Kemudian dengan hati-hati ia memendam dan meratakan sampai rapih. Setelah meletakkan batu tempat duduk-almarhum di atas pekuburan sebagai nisan, ia bersembah tiga kali. Sedang pjedang almarhum t idak disentuhnya.

Setelah selesai melakukan kewjjiban. Dengan tak langsung, selama dia sudah menjadi ahliwaris Bondan Sejiw an. Akan tetapi dia tidak memikirkan hal itu. Dengan membaw a dua peti almarhum, Lingga Wisnu keluar kamar. Sampai di t ikungan ia berhenti terow ongan menjadi sempit. Ia mengamat-amati. Hatinya lega, karena sempitnya terowongan ternyata teratur oleh rencana bangunan. Rupanya Bondan Sejiw an sengaja mengatur danikian rupa, untuk mencegah masuknya seseorang dengan leluasa ke dalam goanya. Memperoleh pikiran demikian, cekatan ia membongkar susunan batu- batu penyempit. Dengan begitu apabila gurunya kini menghendaki, bisa leluasa masuk ke dalam goa? lantaran terowongan menjadi cukup lebar. Setibanya di mulut goa, Lingga Wisnu memanggil Ganjur, si gagu agar menarik tali pengikat. Lalu dengan berlari-larian ia pulang mencari gurunya.

Ki Ageng Gumbrek memeriksa surat surat wasiat. Di dalam hati ia terperanjat. Kyahi Sambang Dalan yang ikut pula memeriksa surat- surat, tak terkecuali. Tatkala menibuka sampul surat 'petunjuk membuka peti ia membaca dengan nyaring :

= Di kiri-kanan peti terdapat pesaw at rahasia. untuk membuka, sentakkan kedua tanganmu dengan berbareng. Lalu bukalah penutupnya.=

Ki Ageng Gumbrek dan Kyahi Sambang Dalan kagum bukan main. Itulah jebakan yang mengerikan. Coba, seumpama Lingga Wisnu serakah, sehingga tidak mengubur jenazah almarhum terlebih dahulu ? lalu membuka petinya lantaran bernapsu, pastilah, ia bakal tersambar pesaw at rahasia yang tentu ? mengancam jiw a.

Kyahi Sambang Dalan menyuruh Ganjur mengambil sebuah tong besar. Ukuran tong itu setinggi peti besi.. Lalu ia membuat dua lubang. Kemudian peti besi dimasukkan ke dalamnya dan bagian atas tong itu ditutupnya dengan papan.

“Mari!" Ki Ageng Gumbrek mengajak Lingga Wisnu.

Berdua, mereka memasukkan sebelah tangannya masing-masing, lewat lubang tong dan memegang sisi peti bagian pelatuk. Setelah saling memberi isyarat, dengan berbareng mereka menyentakkan pelatuk yang dipegangnya. Penutup peti terdengar menjeblak. Lalu. terdengar pulalah suara beruntun-menancap pada papan penutup. Dan tong tergetar karenanya.

Lingga Wisnu menunggu beberapa saat. Apabila suara-getaran terhenti, ia hendak membuka papan penutup tiba-tiba gurunya menarik lengannya sambil berseru mencegah :

"Tunggu!"

Baru saja Kyahi Sambang Dalan menutup mulutnya, terdengarlah kembali suara 'susulan seperti tadi. Lingga Wisnu, jadi mengerti. . . maksud gurunya menarik lengannya. Sekarang, ia berpaling kepada gurunya. Dan gurunya bersikap 'menunggu' sekian lamanya.

"Nah, sekarang balik!" akhirnya guru yang bijaksana itu membuka suaranya. Dengan dibantu oleh Ganjur, Lingga Wisnu membalikkan tong dan. diangkatnya. Dan papan penutup yang tertinggal di atas lantai penuh tertancap anak-anak panah. Semuanya berjumlah duapuluh tujuh batang. Kyahi Sambang Dalan, Ganjur dan Ki Ageng Gumbrek mencabuti sekalian anak panah yang tertancap itu dengan jepitan. Setelah diletakkan diatas meja, masih saja mereka takut menyentuhnya.

Kyahi Sambang Dalan menghela napas. Katanya dengan suara kagum :

"Bondan Sejiw an benar-benar manusia yang pandai berpikir jauh dan dalam sekali. Rupanya, dia khawatir, serangan pertama akan dapat dielakkan. Lalu diatur demikian rupa, sehingga terjadi serangan susulan setelah serangan pertama reda."

Ki Ageng Gumbrek mengeluarkan peti besi dari dalam tong. Setelah lapisan penutup terbuka, ia memeriksa dalamnya. Disini, terlihatlah isinya penuh dengan urat- urat kerbau kering malang-melint ang. Inikah alat pesaw at penjepret anak-anak panah yang saling menyusul. Susunannya seperti jebakan t ikus. Sekali kena tarik, pesaw atnya segera bekerja menjepretkan panah puluhan batang jumlahnya. Benar-benar hebat.

Dengan menggunakan jepitan, Ki Ageng Gumbrek menyingkirkan urat-urat kerbau yang tidak bekerja lagi. Dibawahnya terdapajt sejilid kitab berjudul: Kitab sakti rahasia keluarga Setan Kobar. Sebutan Setan Kobar itu siapa lagi yang dimaksudkan, selain Bondan Sejiw an? Rupanya ia sadar, bahwa dirinya disebut setan atau iblis atau siluman o leh masyarakat umum - karena dianggap kapir. Lalu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Setan Kobar.

Dengan terus menggunakan jepitan. Ki Ageng Gumbrek meribalik-balik lembaran isi kitab. Isinya penuh dengan huruf-huruf kecil, gambar-gambar, peta, keterangan dan contohnya serta gambar berbagai senjata tajam. Dan semua makin menjadi kagum.

Setelah itu Kyahi Sambang Dalan membuka peti besi lainnya yang berukuran lebih kecil. Ia menemukan sejilid kitab lagi. Baik bentuk dan isinya serupa. Akan tetapi apabila diamat-amati dengan seksama, ternyata berbeda Baik mengenai bentuk hurufnya, gambar-gambarnya dan petanya. Justru inilah kitab warisan yang sebenarnya.

"Benar-benar Bondan Sejiw an berotak luar biasa." Puji Ki Ageng Gumbrek. "Untuk menghadapi orang yang tak sudi mengubur kerangkanya, dia telah mengasah otaknya demikian rupa hingga membuat kitab palsu serta panah beracunnya. Bukankah semuanya itu dipersiapkan setelah ia meninggal dunia? Kenapa ia bersiaga begitu rupa terhadap orang yang masih belum diketahui termasuk buruk dan baik?"

"Menurut kabar berita, memang ia seorang yang cupat pandangannya," kata Kyahi Sambang Dalan. "Baiknya ia tahu diri, sehingga mau menyebut diri sendiri dengan sebutan Setan Kobar. Tetapi akhirnya ia mengalami kematian demikian rupa. Di sebuah goa yang sunyi sepi seakan akan benar-benar setan atau siluman."

Ki Ageng Gumbrek memanggut-manggut sambil menghela napas. Ujarnya:

"Aku sendiri bukan seorang muslim yang baik. Kau sendiri menamakan diriku, pendeta bangkotan. Tetapi, rasanya apabila dibandingkan dengan dia, masih lumayan diriku."

Kyahi Sambang Dalan tertawa. Kemudian memberi perint ah kepada Lingga Wisnu dengan sungguh- sungguh:

"Lingga, kau simpanlah dua peti ini dan semua isinya. Bondan Sejiw an adalah seorang kapir yang berpemandangan sempit. Kitabnya pun pasti akan membuat sesat orang. Karena tiada faedahnya, janganlah engkau membacanya. Apalagi untuk mempelajarinya."

Lingga Wisnu patuh kepada gurunya. Kedua kitab warisan Bondan Sejiw an dikembalikan kepada tempatnya semula. Setelah menutup kedua peti besi, ia menyimpannya di bilik tengah. Cara mengaturnya meniru Bondan Sejiw an mengatur kedua peti warisannya di dalam goa. Semenjak itu Lingga Wisnu melanjutkan latihan- latihannya bertambah tekun dan rajin. Ki Ageng Gumbrek demikian sayang kepadanya, sehingga mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya yang istimewa. Itulah ilmu membidik dan ilmu kegesitan. Selang beberapa bulan kemudian orang tua itu berpamit turun gunung untuk kembali hidup berkelana seperti yang dilakukan semenjak zaman mudanya.

Lingga Wisnu sebenarnya merasa berat berpisahan. Namun tak dapat ia mencegah kehendak Ki Ageng Gumbrek itu. Selanjutnya ia belajar terus dibaw ah pimpinan tunggal, Kyahi Sambang Dalan yang juga telah mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya kepada murid yang berbakat dan rajin serta ulet itu. Dan empat tahun lew atlah sudah. Lingga Wisnu kini sudah berusia duapuluh dua tahun.

Sepuluh tahun lamanya Lingga Wisnu berada di atas gunung Dieng. Sekarang dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang berkepandaian tinggi. Dari Kyahi Sambang Dalan ia memperoleh ilmu pedang dan pukulan tangan kosong. Sedang dari Ki Ageng Gumbrek ia menjadi seorang ahli pembidik senjata jarak jauh dan ilmu kegesitan. Empat ilmu kepandaian itu, digabungkannya menjadi satu. Dibandingkan dengan ilmu kepandaiannya si Ganjur atau bekas-bekas gurunya yang dahulu, ia berada jauh diatas mereka. Hanya, mengenai tenaga pantulan ia masih sangat lemah. Itulah disebabkan lantaran racun jahat Pacarkering masih tetap mengeram di dalam dirinya. Pernah hal ini dibicarakan kepada kedua gurunya itu. Akan tetapi baik Kyahi Sambang Dalan maupun Ki Ageng Gumbrek tak dapat mengatasi. Mereka hanya dapat membesarkan hatinya, bahwa pada suatu kali racun yang mengeram dalam dirinya itu pasti akan menjadi susut dan akhirnya musnah sama sekali.

Dalam pada itu, karena belasan tahun tak pernah turun gunung, Lingga Wisnu buta mengenai percaturan dunia. Apa yang terjadi dibawah gunung, sama sekali gelap baginya. Ia hanya mendengar tutur-kata kedua gurunya itu saja. Sebaliknya, percaturan duniapun tidak mengetahui bahwa Kyahi Sambang Dalan dan Ki Ageng Gumbrek, kini mempunyai seorang murid penutup.

Pada suatu pagi, pada permulaan musim semi selagi Lingga Wisnu bertekun berlatih dengan di temani kedua ekor keranya, si Kapi dan si Kutil. Tiba-tiba muncullah Ganjur dengan menggerak-gerakkan tangannya. Tahulah Lingga Wisnu, gurunya memanggilnya. Tidak ayal lagi, ia segera berhenti berlatih. Kemudian dengan cepat ia masuk ke dalam kamar gurunya. Ia heran tatkala melihat dua orang asing yang berpaw akan tinggi besar berdiri disamping gurunya. Selama berada di atas gunung Dieng, selain Ki Ageng Gumbrek, tiada seorangpun yang pernah mendaki mengunjungi pertapaan gurunya. Siapa mereka berdua, sama sekali ia belum kenal.

"Lingga, inilah kakang Umarsidik dan kakang Kasidha!" Kyahi Sambang Dalan memperkenalkan kedua tetamunya. "Nah, kau perkenalkan dirimu."

Karena gurunya memanggil mereka dengan sebutan kakang, Lingga Wisnu menduga bahwa mereka adalah sahabat-sahabat gurunya. Lantas saja ia maju menghampiri. Memberi hormat sambil berkata secara sopan :

"Paman, perkenalkan ..." Baru saja Lingga Wisnu menyebut kata-kata paman, kedua orang itu buru-buru membalas hormatnya sambil menyahut :

"Jangan memanggil kami paman. Justru kamilah yang harus menyebut dirimu paman."

Lingga Wisnu tercengang. Bagaimana ini? Masakan mereka berdua memanggil dirinya paman? la jadi berteka-teki.

Kyahi Sambang Dalan tertaw a berkakakan. Katanya : "Mari mari! Kalian bertiga duduklah sejajar!"

Baik Lingga Wisnu maupun kedua tetamunya, lantas duduk diatas kursinya masing-masing yang sudah disediakan oleh si Ganjur. Diam-diam Lingga Wisnu mengamat-amati kedua tetamunya itu. Mereka berdua berdandan sebagai petani. Gerak-geriknya gesit, hanya kesan wajahnya tegang dan pemalu.

Dalam pada itu Kyahi Sambang Dalaii masih tertaw a. Kemudian memperkenalkan kedua tetamunya kepada Lingga Wisnu. Katanya:

"Belum pernah sekali juga engkau mengikuti aku turun gunung. Maka tak mengherankan, Lingga bahwa engkau tidak mengetahiii tingkat derajatmu. Kedua tetamu kita ini, Umarsidik dan Kasidha, adalah murid keponakanku. Mereka memanggilku eyang. Dengan sendirinya, karena engkau adalah muridku, maka mereka akan memanggilmu, paman. Akan tetapi karena usia mereka jauh lebih tua dari pada dirimu, lebih baik kalian bertiga berkedudukan sesama saudara dan sederajat saja. Lingga harus memanggil Umarsidik dan Kasidha dengan sebutan kakang. Sebaliknya, Umarsidik dan Kasidha hendaklah memanggil Lingga Wisnu dengan sebutan adi."

Baik Lingga Wisnu maupun kedua tetamu gurunya menjadi lega hati kini, setelah mendengar penjelasan Kyahi Sambang Dalan. Menurut tingkatan, memang sudah sepantasnya Umar sidik dan Kasidha memanggil paman kepada Lingga Wisnu. Karena Lingga Wisnu murid Kyahi Sambang Dalan yang berkedudukan sebagai eyang mereka. Akan tetapi Lingga Wisnu yang lagi berumur duapuluh dua tahun, sudah barang tentu tak enak rasanya apabila dipanggil paman oleh mereka yang sudah berumur empatpuluh tahun lebih. Sekarang gurunya memutuskan sederajat dan setingkat saja. Keruan saja bocah itu bersyukur didalam hati. Rasa kekakuannya hilang sebagian besar. Dan yang dirasakannya kini suatu keakraban yang nyaman.

"Kedua kakakmu ini datang dari Sukawati. Mereka berdua bekerja dibawah panglima Sengkan Turunan dan Arismunandar, kedua-duanya, panglima Pangeran Samber Nyawa." Kyahi Sambang Dalan memberi keterangan. "Karena telah terjadi suatu peristiw a yang penting untuk dirundingkan, maka esok pagi aku harus turun gunung untuk menghadap Pangeran Samber Nyawa."

Tercengang Lingga Wisnu mendengar keterangan gurunya. Peristiw a Sukawati? Apa itu? Waktu itu, permulaan tahun 1755. Pemerintah Belanda rupanya merasa tak tahan lagi menghadapi pemberontakan Mangkubumi I dan Raden Mas Said.

Seperti diketahui, pada tahun 1749, Gubernur Hogendorff berhasil memaksa Paku Buwana II menanda tangani penyerahan Mataram kepada Belanda. Sama sekali tak diduganya, bahwa ia bakal menghadapi akibat, penyerahan itu. Laskar Mangkubumi I dan Raden Mas Said amat kuatnya. Maka Guberhur Hogendorff diganti oleh Gubernur Hartingh. Gubernur ini diperkenankan berunding dengan Mangkubumi maupun Raden Mas Said dengan kekuasaan penuh untuk memberi hak dipertuan kepada salah seorang pangeran yang berontak itu. Penasehat-penasehat di negeri Belanda menganjurkan pula supaya ia sedapat mungkin menimbulkan perpecahan antara kedua orang pangeran itu. Tipu- muslihat Belanda ini pernah dilakukan juga untuk mengatasi pemberontakan Ratu Bagus Boang dan Ki Tapa di Banten. Kini, hendak dipergunakan lagi untuk menghadapi Mataram. Dan tipu muslihat ini akhirnya berhasil juga. Kepada Raden Mas Said dijanjikan :

- kedudukan sebagai putera mahkota Mataram dan pangkat patih apabila ia menyerah.-

Akan tetapi Raden Mas Said menolak. Gubernur Hartingh nyaris berputus asa. Maklum lah, Belanda sudah kehabisan tenaga maupun uang. Sebab pada tahun- tahun itu pemerintah Belanda lagi menghadapi empat tokoh pemberontak yang gagah perkasa. Merekalah Ratu Bagus Boang, Ki Tapa dan Mangkubumi I serta Raden Mas Said.

Gubernur Hartingh lantas mengarahkan sasarannya kepada Pangeran Mangkubumi I dengan perantaraan seorang Arab. Kepada Pangeran Mangkubumi I, Belanda menyatakan kesanggupannya untuk-mengakui :

1. Kedaulatan Mangkubumi I atas daerah-daerah yang didudukinya sekarang. 2. Kedaulatan itu disertai gelar: Putera Mahkota.

Tetapi Pangeran Mangkubumi I menolak pula. Sayang sekali, justru pada saat itu terjadilah suatu perselisihan dengan Raden Mas Said. Kedua laskar tentara pemberontak itu lantas saling menyerang. Walaupun demikian, Belanda tak dapat mematahkan kekuatan tentara yang saling bertentangan itu. Hal itu disebabkan karena sesungguhnya Belanda sudah tak mampu lagi berkutik. Maka dicarinyalah jalan yang semudah mudahnya dan semurah murahnya dengan melalui perundingan perundingan dan janji janji.

Akhirnya Belanda berhasil memikat hati Pangeran Mangkubumi I dengan taw aran yang setinggi-tingginya. Bunyinya . sebagai berikut :

- Pangeran Mangkubumi menerima separo kerajaan Mataram dan diakui sebagai raja yang berdaulat atas daerah-daerah yang terpaksa diserahkan kepadanya, karena sudah dikuasi penuh oleh laskar Mangkubumi I. -

Pangeran Mangkubumi I kena terjebak. Ia menerima taw aran Belanda itu yang dianggapnya pantas dan terhormat. Maka ditetapkanlah pembagian Mataram menurut jumlah penduduk. Masing- masing 87.050 cacah jiw a untuk Pangeran Mangkubumi I dan 85.450 cacah jiw a untuk Susuhunan. Adapun daerah yang masuk dalam wilayah kekuasaan Pangeran Mangkubumi I meliputi :

- Sebagian dari Pajang, Mataram, Kedu dan Bagelen, Madiu, Bojanegoro, Mojokerto, Grobogan dan sebagian dari Pacitan. Sedangkan daerah kekuasaan Susuhunan meliputi sebagian dari : - Pajang, Mataram, Kedu dan Bagelen, Banyumas, Kediri, Ponorogo, Wirasaba (Surabaya), Blora dan Jagaraga yang terletak di sebelah barat Madiun.

Dengan terjadinya peristiw a itu, maka pecahlah kerajaan Mataram yang dahulu dipersatukan dengan susah-payah oleh Sultan Agung. Dan perjanjian pembagian ini terjadi di desa Giyanti pada tanggal 13 Pebruari 1755.

Raden Mas Said yang ditinggalkan oleh sekutunya melanjutkan peperangan dengan hebat. Meskipun Belanda sekarang dapat membahayakan kedudukannya, akan tetapi Raden Mas Said pantang menyerah. Inilah yang disebut Kyahi Sambang Dalan peristiw a Sukaw ati, karena-pemberontakan kedua pangeran itu, dimulai dari daerah Sukawati pada tahun 1745. Sudah barang tentu semua peristiw a itu sama sekali tak diketahui oleh Lingga Wisnu. Seumpama diapun berada di tengah masyarakat, semuanya itu akan luput dari perhatiannya.

"Kali ini aku diperkenankan ikut-serta, bukan?" katanya. "Sekiranya belum diperkenankan menjenguk eyang dan sekalian paman-paman guruku biarlah aku mencari paman Puguh."

Kyahi Sambang Dalan tertaw a mendengar permohonan Lingga Wisnu. Bocah itu ternyata tak pernah melupakan mereka yang pernah melepas budi kepadanya. Ujar Kyahi Sambang Dalan :

"Pada saat in i dunia kacau-balau. Kawan dan lawan sukar dibedakan. Tadinya, Pangeran Mangkubumi bersatu dengan Raden Mas Said. Sekarang mertua dan menantu itu berbalik saling menyerang. Yang celaka adalah paraanggauta laskar. Mereka tak tahu arti dan faedahnya suatu perundingan perdamaian. Mereka kini jadi terumbang-ambing. Menang, inilah waktunya yang tepat bagimu untuk turun gunung mengamalkan ilmu kepandaianmu sekalian menuntut balas musuh ayahmu. Hanya saja masih berat hatiku untuk mengijinkan ..."

"Mengapa? Apakah kepandaianku belum cukup untuk menuntut dendam ayah?"

"Itupun termasuk salah satu alasanku," sahut Kyahi Sambang Dalan. "Kecuali itu masih ada alasan lain lagi yang lebih penting. Coba kau pertimbangkan.''

Kyahi Sambang Dalan memberi isyarat mata kepada Umarsidik dan Sasidha. Mereka berdua lantas keluar pendapa agar tidak mengganggu pembicaraan antara guru dan murid itu. Setelah berada sendirian dengan muridnya, berkatalah Kyahi Sambang Dalan :

"Kematian kedua orang tuamu sangat menyedihkan. Sebaliknya, keadaan negara ini, jauh lebih menyedihkan. Perpecahan antara Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said meramalkan alamat yang mengerikan di kemudian hari, apabila t idak cepat-cepat kita tanggulangi bersama. Kau hendak menuntut balas kematian ayah- bundamu. Itulah bagus! Tetapi, tahukah engkau dengan pasti siapa sebenarnya pembunuh ayah-bundamu? Kedua orang tuamu sendiri tatkala masih hidup masih belum memperoleh pegangan. Itulah menurut tutur katamu dahulu. Apalagi engkau! Bagaimana kalau engkau sampai salah membunuh? Jika sampai terjadi demikian, maka engkau akan menambahi kekacauan dan kesuraman bangsamu. Sedang urusan negara merupakan perkara besar. Dan urusan pribadi menjadi sangat kecil apabila dibandingkan. Aku yakin, arw ah ayah-bundamu akan mengutukmu pula bila perbuatanmu itu akan menambah kemuraman perjuangan bangsamu."

Lingga Wisnu terkejut. Ucapan gurunya itu bukan tak mungkin terjadi. Sebab musuh orang tuanya, yang sesungguhnya, memang belum diketahuinya dengan pasti. Seketika itu juga tubuhnya dirasa menjadi panas dingin.

"Urusan negara adalah urusan besar! Dan urusan pribadi adalah urusan kecil, kataku tadi." Kyahi Sambang Dalan mengulangi perkataannya. "Itulah sebabnya aku berkeberatan mengijinkan engkau mengadakan balas dendam pada saat ini. Siapa tahu, musuhmu justru memegang kendali perjuangan yang menentukan. Karena itu engkau harus berani bersabar dan berhati- hati. Manakala demikianlah keadaannya, maukah engkau mengorbankan kepentingan pribadimu? Jika engkau berjanji-dan sanggup bersikap begitu, aku akan mengijinkan. Syukurlah, apabila musuh besarmu itu bukan salah seorang pejuang yang penting."

Bergolak hati Lingga Wisnu mendengar ucapan Kyahi Sambang Dalan yang agung dan berwibawa. Tak terasa ia mengangguk.

"Bagus!" seru gurunya setengah bersorak. "Ilmu kepandaianmu kini telah mempunyai dasarnya. Memang, segala bentuk ilmu kepandaian itu tiada batasnya. Akan tetapi aku telah mewariskan seluruh kepandaianku kepadamu. Aku percaya dengan berpegang kepada ilmu kepandaian yang telah kau pahami itu, engkau akan bisa berbuat lebih banyak lagi. Hanya saja, jangan menganggap dirimu sudah sempurna, sehingga merasa tiada tandingnya. Inilah pantangan yang maha besar! Sebaliknya, bertekunlah di setiap waktu, agar memperoleh kemajuan pesat. Besok aku akan berangkat. Setelah dirimu merasa mendapat keyakinan, engkau boleh menyusulku di markas Panglima Sengkan Turunan!"

Lingga Wisnu girang bukan kepalang?. Segera ia berjanji hendak patuh kepada segala pesan gurunya. Dan mendengar janji dan kesanggupannya Lingga Wisnu, Kyahi Sambang Dalan memberi tahu rahasia-rahasia pergaulan dan tanda-tanda sandi kaumnya. Setelah itu ia berkata menambahi :

"Kau jujur dan berhati-hati. Aku percaya kepadamu. Akan tetapi engkau masih muda belia. Semangatmu sedang berkobar-kobar. Maka pesanku yang harus kau ingat-ingat ialah tentang godaan paras cantik. Menghadapi godaan ini, engkau harus waspada luar biasa. Sejarah hidup manusia sudah banyak membuktikan dan mewartakan tentang seorang gagah- perkasa yang akhirnya roboh di tangan seorang perempuan cantik, sehingga dirinya kena malapetaka dengan namanya rusak untuk selama-lamanya. Kau ingat-ingatlah hal ini baik baik!"

Pada keesokan harinya, sebelum terang tanah, Lingga Wisnu sudah bangun. Dengan dibantu Ganjur, ia menyalakan api dan menanak nasi. Setelah makanan siap, ia pergi ke kamar gurunya untuk mempersilahkan gurunya makan pagi. Namun kamar gurunya telah kosong. Rupanya, gurunya telah berangkat pada tengah malam bersama sama dengan Umarsidik dan Kasidha diluar pengetahuannya. Ia jadi terlengang-longang. Dengan pandang kosong pula ia mengawasi pembaringan gurunya. Kesannya, sunyi menyayatkan hati.

o)oo0dw 0oo(o

11. Bondan Sekar Prabasini

Tetapi apabila teringat diapun bakal turun gunung, hatinya sangat girang. Bukankah ia bakal bisa bertenu dengan eyang serta paman-paman gurunya, Aruji serta Palupi? Oleh rasa girang, ia berlari-larian mencari paman Ganjur. Paman gagu yang baik hati itu, pasti akan ikut menjadi girang. Diluar dugaan, paman Ganjur itu ternyata sebaliknya. Paman gagu itu memutar tubuhnya

dan dengan wajah berduka keluar dari dapur.

Lingga Wisnu jadi terharu. Sepuluh tahun lamanya ia berkumpul, bersenda dan bergaul bagaikan saudara kandung sendiri. Sekarang bakal berpisah. Tak

mengherankan, paman yang baik hati itu jadi berduka.   Menimbang   hal

itu, hampir saja ia membatalkan niatnya hendak turun gunung supaya dapat berkumpul terus dengan si gagu.

Dengan cepat sembilan hari lewatlah sudah. Selama itu Lingga Wisnu terus berlatih memahirkan semua pelajarannya dengan rajin dan bersungguh-sungguh. Semenjak kanak-kanak ia hidup dikejar-kejar musuh. Maka tahulah dia, apa arti ilmu kepandaian yang tinggi itu. Dengan berbekal ilmu kepandaian yang tinggi, tak perlu lagi ia berkecil hati menghadapi bahaya yang mengancam dengan tiba-tiba.

Malam hari itu, setelah makan malam, ia duduk terpekur menghadap perdiangan. Sebagai pengisi waktu ia membaca sejilid kitab pelajaran. Kira-kira satu jam lamanya, ia terbenam dalam isi kitab. Tiba-tiba Ganjur masuk dengan menggerak-gerakkan tangannya. Orang gagu itu hendak mengabarkan, bahwa seseorang telah memasuki dataran pertapaan Kyahi Sambang Dalan dengan diam diam.

"Oh, begitu? Biarlah kuperiksanya." kata Lingga Wisnu. Tetapi baru saja bergerak hendak keluar pintu, Ganjur mencegahnya. Orang gagu itu memberi isyarat mata, bahwa ia sudah memeriksanya dan ternyata tiada nampak jejaknya. Meskipun demikian, Lingga Wisnu merasa belum puas. Dengan mengajak Kapi dan Kutil, ia meronda sekeliling pertapaan. Ia tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan. Setelah yakin tiada yang bakal mengganggu ketenteraman pertapaan, ia kembali dan menidurkan diri.

Kira-kira tengah malam, ia tersentak bangun mendengar teriakan Kapi dan Kutil. Serentak ia berloncat duduk dan memasang pendengaran. Sekonyong-konyong ia mengendus bau wangi Hatinya tercekat. Sebagai murid Ki Sarapada, meskipun dalam impian, dan anak didik Palupi tahulah ia arti bau wangi itu. Itulah bau wangi ramuan obat pembius, seperti yang pernah dilakukan oleh Palupi, terhadap Janggel, Panjisangar, Roha dan sebaliknya. Mereka semua adalah ahli-ahli racun yang tiada taranya dijagad ini. Keruan saja ia berteriak:

''Celaka!"

Buru-buru ia menahan napas, lalu meloncat turun. Alangkah kagetnya, tatkala dirasakan tenaga kedua kakinya lenyap tak keruan. Tatkala menginjak lantai batu, mendadak terhuyung huyung dan hampir roboh.

'Obat pemunah Palupi!' tiba-tiba suatu ingatan menusuk benaknya. Tangannya meraba-raba kantong bajunya. Baru saja ia menelan sejumput, tiba-tiba pintu terjeblak. Dan muncullah sesosok bayangan melompat memasuki kamar. Sebilah golok menyambar padanya.

Kepala Lingga Wisnu terasa pusing sekali. Akan tetapi tak sudi ia membiarkan dirinya kena sabatan golok. Sadar akan ancaman bahaya, ia mengelak dengan mengendapkan kepalanya. Tangan kanannya berkelebat membalas menyerang. Bayangan itu ternyata gesit.. Ia berputar dan menya- batkan golok ke lengannya.

Menghadapi lawan gesit, Lingga Wisnu tak mau bekerja setengah matang. Terus saja ia melejit dan menyusulkan tangan kirinya. Tepat bidikannya. Dengan menggunakan sisa tenaganya, tangan kirinya berhasil menghantam pundak. Dan bayangan itu berteriak kesakitan. Tubuhnya menjadi limbung. Nampaknya dia heran, apa sebab pemuda itu t idak segera roboh setelah menghisap uap racunnya. Dia tidak tahu, lawannya mengantongi bubuk ramuan obat dari tabib istimewa. Sayang baru menelan sedikit, sudah terlibat dalam suatu perkelahian. "Apakah dia masih mampu melawan?" terdengar suara lain bertanya.

Lingga Wisnu tak gentar menghadapi dua lawan. Ia bergerak hendak mendahului menyerang. Sekonyong- konyong penglihatannya berputar. Kepalanya terasa menjadi berat. Tak ampun lagi, ia roboh tak sadarkan diri.

Entah berapa lama ia tak berkutik. Tiba-tiba ia tersadar. Itulah akibat bekerjanya bubuk pemunah racun. Hanya sayang, ia tadi menelan sangat sedikit. Walaupun demikian, bubuk pemunah yang hanya sejumput itu masih mampu mengusir pengaruh haw a berbisa. Seluruh tubuh Lingga Wisnu terasa lemas dan nyeri. Tatkala mencoba hendak menggerakkan kedua tangan dan kakinya, ia terperanjat bukan main. Ternyata kedua tangan dan kakinya telah terbelenggu.

Dengan penasaran ia menjiratkan pandangnya. Kamarnya telah menjadi terang-benderang. Dilihatnya kedua orang itu sedang asyik menggeledah kamarnya. Peti pakaian dan segalanya yang tersusun rapi, dibongkarnya hingga morat-marit.

'Celaka!' ia mengeluh di dalam hati. Kemudian ia mengikuti diri sendiri oleh rasa sesal dan kesal. Baru satu minggu, gurunya meninggalkan pertapaan, ternyata tempat bermukimnya kena digerayangi pencuri-pencuri. Dan ia sama sekali tak berdaya berbuat sesuatu. Kalau nanti ada yang hilang, bagaimana ia hendak mempertanggung jaw abkan kepada gurunya? 'Nasibku ini memang sial. Baru menghadapi begini saja aku tak mampu. Apalagi berangan-angan menuntut balas ayah- bunda segala. Huh ... Huh ... Pantas guru belum mengijinkan aku turun gunung. Nyatanya selain aku tolol, tak berguna pula ...

Sekalipun demikian, ia sesungguhnya seorang pemuda yang cerdik dan cepat reaksinya. Segera ia berpura-pura masih tak sadarkan diri dan menutup kedua matanya kembali. lalu mengintai dari cela-cela pelupuk mata mengikuti gerak-gerik mereka berdua.

Yang sedang membungkuki bongkaran peti, seseorang yang berperaw akan kurus-kering. Sedang yang lain, berperawakan pendek-gemuk dan berdandan sebagai pendeta. Orang inilah yang tadi kena pukulannya.

'Dalam pertapaan ini terdapat benda berharga apa, sampai mereka menggerayangi tempat ini?' pikir Lingga Wisnu di dalam hati dengan mendongkol. 'Paling-paling aku mempunyai sisa uang seratus perak pemberian guru sebagai bekal perjalanan. Jangan-jangan mereka justru musuh-musuh ayah yang mencium beradaku disini. Celaka kalau begitu! Belum lagi aku turun gunung, su- dan kedahuluan ... Tetapi, mengapa mereka t idak lantas membunuhku saja? Apa perjlu menggeledahi peti pakaianku? Pastilah ada yang dicarinya. Aku dibiarkan hidup untuk persediaan, manakala mereka tak dapat menemukan barang yang dicarinya lantas mereka akan mengcmpes mulutku. Kalau begitu, apakah musuh- musuh guruku? Melihat gerak-geriknya, mereka bukan orang sembarangan.

Sambil berpikir pulang-balik, Lingga Wisnu mencoba merenggutkan tali pengikat. Ia mengerahkan tenaganya dengan diam-diam. Ia terkejut setengah mati. Ternyata tenaganya punah sama sekali Pada saat itu sekonyong- konyong, si gemuk yang berdandan sebagai pendeta berteriak kegirangan :

"Cocak Obar-abir! Ini dia!"

Si kurus, yang dipanggil Cocak Obar-abir, menoleh. Wajahnya berubah cerah. Ia melihat kawannya sedang menyeret peti besi dari kolong pembaringan. Itulah peti besi warisan Bondan Sejiw an.

Berdua, mereka mengangkat peti besi itu, dan diletakkan di atas meja. Dengan berbareng mereka membuka tutup besi itu, serta mengeluarkan sejilid kitab. Setelah pelita didekatkan, terbacalah judul buku itu: Kitab sakti Rahasia Keluarga Setan Kobar. Begitu terbaca judulnya, mereka lantas tertaw a berkakakan dengan riuh.

"Kakang Gumuling! Benar dugaanmu. Ternyata memang berada di sini!" Cocak Obar-abir berseru girang. "Tak sia-sia usaha kita selama lima belas tahun. Akhirnya ketemu juga I"

Gumuling tertaw a lebar. Lebar sekali. Lalu dengan pandang melotot ia membuka-buka lembarannya yang penuh dengan huruf-huruf kecil, peta serta gambar- gambarnya. Saking garangnya ia sampai menggaruk- garuk punggung daun telinganya.

Sekonyong-konyong Cocak Obar-abir berteriak kaget: "Hai! Mau lari ke mana?"

Sambil berteriak demikian, ia menuding ke arah Lingga Wisnu. Pemuda ini jadi terkejut. Ia menyadari bahwa sikap pura-puranya ketahuan dan saat itu, Gumuling melihat pula kearahnya. Di luar dugaan, Cocak Obar-abir menggerakkan tangan kanannya. Sebentar saja, dan punggung Gumuling tertancap sebilah belati sampai ujungnya muncul didadanya. Setelah itu, Cocak Obar-abir meloncat mundur sambil menghunus pedangnya. Ia bersikap membela diri dengan mengandalkan pedangnya pada tenggorokan Gumuling.

Gumuling kaget kena tikam belati dengan mendadak. Ia menoleh. Kesan wajahnya tak terlukiskan. Terkejut, menyesal, benci, muak, mengutuk, menangis dan dendam. Sesaat kanudian tertaw a kosong melolong. Lalu berkata :

"Hoaha ... hoaha ... Limabelas tahun kita mengikat persahabatan. Limabelas tahun bersatu padu mencari ini

... Sekarang berhasil... hoaha lalu ... saudara yang mulia

hati hendak mengangkangi sendiri ... Benar-benar adil

..... Hoaha ... Kenapa belum-belum sudah menurunkan tangan jahat ... ha .. ha .. ha ... hi ..."

Itulah suara tertawa yang hebat dan seram kesannya, sampai Lingga Wisnu bergidik seluruh bulu romanya. Ia melihat Gumuling menggerakkan tangan kanannya hendak mencabut belati yang menancap punggung sampai menembus dadanya. Akan tetapi tangan itu tak berhasil mencapai punggungnya. Dengan serta merta ia mendorong ujung belati yang menembus dadanya, ke dalam. Dan pada saat itu ia memekik tinggi. Ia roboh terguling. Terlihat kakinya berkelojotan sebentar. Lalu terdiam ...

Cocak Obar-abir menunggu beberapa saat lamanya. Ia khaw atir, temannya itu lagi menggunakan tipu-muslihat. Lantas saja ia menikamkan pedangnya dua kali berturut- turut untuk meyakinkan hatinya. Dan menyaksikan hal itu, seluruh tubuh Lingga Wisnu menjadi panas dingin. Alangkah kejam orang itu sampai tega membunuh sahabatnya sendiri!

"Kakang Gumuling, maaf." tiba-tiba Cocak Obar-abir berkata. "Kita tidak hanya bersahabat saja, tetapi kitapun sesama saudara seperguruan. Ilmu kepandaianmu berada diatasku. Seumpama aku tidak mendahului engkaupun akan membunuhku iuga. Karena itu, terpaksa aku.. Humm!"

Mendengar perkataan Cocak Obar-abir, hati Lingga Wisnu tambah bergidik. Jadi, bukan hanya sahabat? Mal han sesama saudara seperguruan! Alangkah bengis oAng ini! Benar-benar bengis dan kejam!

Cocak Obar-abir sebenarnya tidak tahu bahwa Lingga Wisnu sudah sadar semenjak tadi. Dua kali ia tertaw a seram. Lalu ia menyentil angus sumbu pelita agar nyalanya jadi bertambah terang. Kemudian ia mengambil meja dan membolak-balik lembaran kitab. 'Kitab Sakti Rahasia Keluarga Kobar. Dia begitu bergembira, sehingga membaca dengan mulutnya. Lalu berkata :

"Bondan Sejiw an! Mengapa engkau menamakan ilmu saktimu dengan istilah 'Setan Kobar?' Bukankah ini rahasia ilmu sakti Kebo Wulung yang kau bangga- banggakan? Eh, kau bisa membadut juga..."

Kembali lagi ia membuka-buka lembaran kitab sakti. Diantaranya terdapat dua tiga halaman yang saling menempel dan melekat lantaran tersimpan terlalu lama. Cocak Obar-abir lantas menempelkan jari tangannya ke lidahnya. Dengan kuluman ludahnya itu, ia melepaskan lembaran-lembaran yang berlengket. Demikianlah yang dilakukan berulangkali, setiap kali ia menjumpai lembaran- lembaran yang ber lengket.

Tiba-tiba teringatlah Lingga Wisnu, bahwa kitab yang berada di peti besar itu beracun.

Karena kitab itu sesungguhnya kitab yang palsu. Kalau begitu, Cocak Obar-abir bakal keracunan. Teringat akan hal itu, ia kaget. Tak kehendakinya sendiri ia berseru tertahan.

Mendengar suara Lingga Wisnu, Cocak Obar-abir menileh. Tepat pada saat itu pandangnya tertumbuk pada kedua mata Lingga Wisnu yang mengabarkan rasa takut. Lantas saja ia bangkit dari kursinya. Kemudian menghampiri mayat Gumuling yang mati menelungkup! lantai. Dicabutnya pisau belatinya yang tertancap dipunggung Gumuling. Setelah itu ia menghampiri Lingga Wisnu.

"Kita berdua sebenarnya tidak pernah bermusuhan." katanya dengan suara bengis. "Akan tetapi pada hari in i, terpaksalah aku membunuhmu.”

Hebat ancaman kedua matanya. Sambil mengangkat pisau belati, ia tertawa melalui hidungnya dua kali berturut-turut. Selagi hendak menancapkan pisau belatinya kepada Lingga Wisnu, sekonyong-konyong ia seperti teringat sesuatu. Ia membatalkan niatnya, kemudian berkata :

"Jika aku lantas saja membunuhmu, sampai diahirat engkau pasti belum mengerti sebab-sebabnya. Aku datang dari keluarga Dandang Mataun. Namaku sendiri Cocak Obar-abir, Kami sekeluarga bermusuhan dengan Panyuluh Bondan Sejiw an. Baik kami maupun dia sudah memutuskan tak sudi hidup bersama dalam kolong langit ini. Kami atau dia yang harus mati. Hal itu disebabkan karena ia memperkosa adik seperguruanku. Kemudian kabur kenari. Belasan tahun lamanya aku mencarinya hampir ke seluruh penjuru dunia. Tak tahunya, ia meninggalkan warisan kepadamu. Entah apa. hubunganmu dengan dia. Yang terang apabila engkau tidak kubunuh, di kemudian hari akan membuat onar saja. Karena itu, biarlah kau menuntut balas kepadaku, setelah menjadi hantu. Carilah aku ke dusun Popongan, tempat bersemayam keluarga Dandang Mataun! Ha-ha- ha!"

Belum lagi Cocak Obar-abir mendpup mulutnya, mendadak ia limbung. Ia terhuyung huyung mengarah Lingga Wisnu. Keruan saja Lingga Wisnu terkejut bukan main. Inilah saat-saat yang menentukan mati-hidupnya. Seketika itu juga datanglah tenaganya secara gaib. Terus saja ia merenggutkan tali pembelenggu tangan dan kakinya. Entah dari mana datangnya tenaga dahsyat itu. Barangkali demikianlah yang terjadi pada setiap mahluk hidup, apabila berada dalam bahaya yang mengancam jiw a. Itulah tenaga naluriah. Tenaga mempertahankan hidupnya. Dan dengan tenaga itu Lingga Wisnu berhasil merenggutkan tali pembelenggunya. Serentak ia melompat maju, hendak mendahului menyerang. Tetapi sebelum dapat melakukan sesuatu, Cocak Obar-abir roboh terjengkang dengan mendadak. Belatinya terlempar jauh, kedua kakinya berkelojotan. Lalu diam tak berkutik. Sesaat kanudian dari mata, hidung dan telinganya mengalir darah hitam meruap-ruap mirip buih kuda kelelahan. Lingga Wisnu tercengang. Itulah akibat racun kitab palsu Bondan Sejiw an. Pendekar besar yang sudah lama pulang ke alam baka itu masih bisa merenggut jiw a manusia yang sebentar tadi masih hidup dalam keadaan segar-bugar. Hebat ataukah jahat dia? Dalam hal ini Lingga Wisnu merasa berhutang budi. Coba, seumpama Cocak Obar-abir tidak mati keracunan, pastilah dirinya yang kini mati terkapar tertancap belati seperti Gumuling. Dan teringat betapa Cocak Obar-abir mati terkena racun, ia jadi kagum luar biasa terhadap perhitungan pendekar besar Bondan Sejiw an. Jelas sekali, Bondan Sejiw an adalah seorang pendekar yang nampaknya terlalu mengenal tabiat dan perangai musuh-musuhnya. Seumpama Ki Ageng Gumbrik menyaksikan kekejaman Cocak Obar-abir pula, tentu akan hilang sebagian prasangka buruknya terhadap pendekar besar yang disebut sebagai orang kapir dan munafik itu, tidak hanya membuat kitab palsu sebagai jebakan saja, tetapipun mengatur pula secermat-cermatnya agar racunnya tidak hanya menyentuh tangan belaka. Sedapat mungkin merasuk ke dalam tubuh. Dengan memperhitungkan tabiat lawan yang sangat jahat dan serakah, sengaja ia melengketkan beberapa lembar halaman diantaranya. Tepat sekali dugaannya. Lawannya menggunakan kuluman ludah sebagai pengurai halaman kitab yang berlengket. Dengan setiap kali menempelkan jarinya pada lidah, berarti memasukkan racun ke dalam mulut. Dan akhirnya matilah Cocak Obar-abir tanpa ampun lagi.

Lingga Wisnu terpaku beberapa saat lamanya. Tiba- tiba tenaganya yang tadi datang untuk sesaat, lenyap lagi. Dan ia kembali roboh terkulai. Lebih seperempat jam ia rebah tak berkutik. Setelah bahaya yang mengancam jiw anya lenyap, seluruh tubuhnya terasa lelah luar biasa. Itulah akibat pudarnya rasa tegang. Tetapi ia sadar, bahwa dirinya tak boleh dalam keadaan demikian terlalu lama. Rumah terlalu sunyi dan mengerikan. Dengan tak munculnya paman gagu sekian lamanya, pastilah ia dalam keadaan gaw at.

Dengan sisa tenaganya ia meraba saku celana. Kemudian menelan obat pemunah yang tinggal beberapa butir. Itulah obat pemunah buatan Palupi yang dikirimkan satu tahun sekali lew at Arya Puguh. Meskipun belum dapat memunahkan racun Pacarkeling yang mengeram di dalam tubuhnya namun setidak-tidaknya dapat membantu kesehatannya. Demikian, setelah menelan obat pemunah itu, tangan dan kakinya dapat digerakkan kembali seperti sediakala.

Segera ia lari keluar kamar dan melihat Ganjur terbelenggu dengan kedua mata terbuka lebar. Tubuh paman gagu itu tak bergeming. Cepat cepat Lingga Wisnu menolong membebaskannya. Tak jauh dari tempat itu, Kapi dan Kutil menggeletak tak berkutik pula. Dengan hati cemas pemuda itu menghampiri. Ternyata kedua binatang itu telah terbang nyawanya akibat tangan jahat.

Hati Lingga Wisnu terpukul penuh haru. Dengan kedua binatang itu ia bergaul beberapa tahun lamanya. Dalam hatinya, mereka berdua tak ubah anggauta keluarganya sendiri. Sekarang mereka mati akibat malapetaka terkutuk. Jadi pekiknya semalam merupakan suara mereka yang peng habisan untuk pendengaran Lingga Wisnu. "Apa yang telah terjadi?" tanya Lingga Wisnu dengan suara menggeletar.

Paman Ganjur menjawab dengan gerakan gerakan tangannya. Ia menceritakan bahwa ia kena dipukul dari belakang. Sebelum dapat melawan ia sudah kena belenggu. Gerakan-gerakan tangannya mewartakan pula, bahwa hidungnya mencium bau-bauan yang melumpuhkan tenaganya. Lingga Wisnu tak berkata lagi. Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah menghela napas. Pengalaman si Ganjur tiada bedanya dengan pengalamannya sendiri.

Tatkala pagi hari tiba, dengan bantuan Ganjur, Lingga Wisnu membaw a keluar mayat Cocak Obar-abir dan Gumuling untuk dikuburkan di halaman. Teringat akan peti besi yang membaw a bencana, ia membawanya keluar pula dan dimasukkannya ke dalam liang kubur sekali. Kemudian ia mengubur pula si Kapi dan si Kutil tak jauh dari kuburan Cocak Obar-abir dan Gumuling.

Pada malam harinya, oleh rasa sunyi Lingga Wisnu teringat akan pengalamannya. Ia bergidik dengan sendirinya, apabila terbayang ancaman yang sangat berbahaya itu. Tatkala peti besi Warisan Bondan Sejiw an diketemukan, ia belum lagi berumur duapuluh tahun. Kini umurnya menanjak hampir duapuluh tiga tahun. Oleh. kesibukan latihan-latihannya, hampir saja ia melupakan tentang peti besi tersebut. Sekarang, setelah menyaksikan betapa Cocak Obar-abir saling memperebutkan dan saling mencurigai, hatinya tergerak untuk melihat isi kitab warisan yang asli. Pikirnya di dalam hati : 'Limabelas tahun lamanya, mereka mencari terus menerus. Mereka saling mengadu jiw a. Seumpama wariian pendekar Bondan Sejiw an t idak berharga sekali, tak bakal terjadi demikian. Sebenarnya, apakah yang tertulis dalam kitab itu?'

Tiba-tiba teringatlah pula Lingga Wisnu kepada katapkata kedua gurunya yang melarangnya membaca isi kitab warisan pendekar luar biasa itu. Ia jadi berbimbang-bimbang sekian lamanya. Dalam hajinya timbul suatu pertengkaran yang seru. Akhirnya ia menjenguk kolong pembaringan. Peti besi kecil itu, disimpannya di sebelah dalam, peti yang besar. Karena terletak di dalam, peti kecil itu teraling oleh peti besar sehingga tak terlihat Gumuling. Orang yang bernasib sial itu rupanya tergugah napsunya begitu melihat peti besar berada di depan matanya.

Lingga Wisnu menyeret peti kecil itu. Peti tersebut sudah berdebu dan bergalagasi. Dengan hati-hati ia mengambil kitab warisan yang asli. Ia membuka-buka halamannya dan memperhatikan semuanya dengan sungguh sungguh. Dalam hal ilmu pukulan dan cara melepaskan senjata rahasia keterangannya jauh berbeda dengan ajaran Ki Ageng Gumbrek dan Kyahi Sambang Dalan. Bedanya terletak pada kelicinannya.

'Hampir saja aku mati di tangan orang jahat. Bagaimana aku harus melayani orang-orang semacam mereka, kalau aku nanti sudah turun gunung?' pikirnya di dalam hati. 'Kenapa aku t idak mau mempelajari warisan ini? Setidaknya untuk pembelaan diri. Kecuali itu sebagai tambahan pengetahuan pula. Pastilah ada harganya dari "pada sama sekali t idak mengetahui.' Oleh pikiran ini, Lingga Wisnu lalu membacanya dengan teliti, cermat dan seksama. Diperhatikan gerak- gerik letak kaki dan tangan yang tertera pada gambar. Tiga hari tiga malam ia membaca terus-menerus. Makin lama keterangan-keterangannya, gambar dan titik-tolak gerakan jurus-jurusnya terasa asing baginya. Syukurlah, ia memiliki pembaw aan alam yang cerdas luar biasa. Sekali mendengar, apalagi sampai bisa membaca, lantas saja meresap dalam ingatan dan perasaannya. Dahulu, tatkala berada di atas rumah perguruan Argapura, ingatannya bisa menangkap ajaran Panembahan Panyingkir dengan sekali mendengarkan saja, sehingga mengejutkan tokoh rahasia itu. Juga tatkala berada di atas gunung Merapi. Ia memiliki ilmu ketabiban yang tinggi, berkat diperolehnya lew at mimpi belaka. Demikian pula kali ini. Tanpa guru, otaknya yang cerdas luar biasa, menolongnya. Pada hari ke-empat, ia sudah dapat melakukan pelbagai ilmu pukulan menurut ajaran kitab pendekar Bondan Sejiw an menghadapi suatu kesulitan. Itulah pada bagian pelajaran yang tiada contoh-contoh gambarnya sama sekali.

Ia mengulangi lagi dan membaca lebih tertib dan seksama. Namun tetap saja tak menolong. Seperti seorang buta yang menumbuk jalan buntu, akhirnya ia memutuskan :

'Biarlah aku memeriksa kunci rahasia ilmu pedangnya.

Barangkali ada sangkut-pautnya'.

Dengan pikiran itu ia memeriksa bagian ilmu pedang. Terus ia melatih diri. Pada mulanya, semua berjalan dengan lancar. Tetapi lambat laun ia tertumbuk lagi pada jalan buntu. Tiba- tiba teringatlah Lingga Wisnu kepada gambar-gambar yang terukir pada dinding kamar Bondan Sejiw an. Apakah gambar-gambar itu sebagai keterangan tulisan, yang sama sekali t iada contohnya?

Teringat ini, ia tak memperdulikan waktu lagi. Dengan ditemani paman Ganjur dan menibekal obor serta tambang, ia menuruni jurang. Sebentar saja ia sudah berada dalam goa. Karena mulut goa telah dilebarkan, maka dengan gampang saja ia dapat menerobos masuk dengan berjalan tegak.

Sampai di dalam kamar Bondan Sejiwan, Lingga Wisnu membesarkan nyala obornya. Kemudian mengamat- amati dan memperhatikan lukisan lukisan di dinding yang menggambarkan sikap seseorang menggerakkan tangan dan kakinya. Dasar berotak cemerlang, dengan cepat saja Lingga Wisnu memperoleh penjelasan tentang gambar-gambar itu. Semuanya merupakan bagian penjelasan ajaran-ajaran Bondan Sejiw an yang tertulis di dalam kitab warisannya. Keruan saja ia jadi girang bukan main.

Di dalam kamar itu Lingga Wisnu berlatih dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang terdapat pada gambar ukiran. Makin lama makin ia merasa menjadi lancar. Dan gerakan-gerakan itu diulanginya beberapa kali* sampai didalam ingatannya.

"Terima kasih," kata Lingga Wisnu sambil bersembah ke arah kuburan Bondan Sejiw an yang berada di depannya. Tiba-tiba terlihatlah pedang kehitam-hitaman yang masih menggeletak di atas tempat duduk almarhum yang kini dijadikan nisan. Aneh bentuk pedang itu. Setengah berbentuk pedang dan setengah berbentuk keris. Bagiannya melengkung tiga kali dan pada ujungnya terdapat semacam sungut kelabang. Sungut ini bentuknya seolah-olah dipersiapkan untuk menggaet senjata lawan.

"Pedang apa ini?" pikir Lingga Wisnu di dalam hati. Dengan obornya ia meneliti. Pada hulunya terdapat sederet huruf berbunyi: Pedang Kebo Wulung.

Selagi mengamat-amati dan mengagumi bentuk pedang itu, pandang matanya melihat seonggok senjata bidik yang berbentuk kelabang dan bor. Itulah senjata bidik yang istmewa sekali. Tanpa ragu-ragu lagi Lingga Wisnu memungutnya dan mengantonginya. Ingatannya terus berjalan lagi. Kini teringat kepada pesan tulisan pendekar luar biasa Bondan Sejiw an yang tertera pada sampulnya. Bahasanya, sebagai upah saja, diperkenankan menelan ramuan obat mustika. Ramuan obat mustika apakah yang dimaksudkan? Lingga Wisnu jadi berteka-teki.

Tatkala kembali ke rumah pertapaan segera ia mencari bungkusan obat tersebut yang terletak dalam lapisan peti sebelah atas. Sebagai seorang yang pernah hidup disamping Palupi, dengan segera dapatlah ia membedakan antara racun dan obat. Mengingat bahwa ramuan obat yang disebutkan sebagai ramuan obat mustika itu berada dalam peti kecil, pastilah bukan barang beracun. Dengan tak ragu-ragu lagi ia terus menelannya.

Tetapi alangkah terkejutnya! Tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. Seluruh tubuhnya menjadi panas-dingin. Beberapa saat kemudian Lingga Wisnu melontarkan darah kental hitam. Dengan sekuat tenaga ia merangkak- rangkak menghampiri, pembaringannya. Belum lagi tangannya dapat meraba tepi pembaringan ia roboh terkulai.

Entah berapa lama ia berada dalam keadaan tak sadar. Tahu-tahu ia merasa diri berselimut di atas pembaringannya. Dilihatnya paman Ganjur duduk disisi pembaringan dengan pandang cemas. Begitu melihat Lingga Wisnu menyenakkan mata, dengan hati girang paman Ganjur yang baik hati itu memeluk dan menciuminya. Kemudian dengan gerak gerik tangannya, paman yang baik hati itu menanyakan kesehatannya.

"Kenapa aku?" tanya Lingga Wisnu.

Ganjur memberi keterangan dengan isyarat tangannya.

"Aku pingsan? Berapa lama?" Lingga Wisnu minta keterangan.

Ganjur, paman yang baik hati itu menunjukkan tiga jari tangannya di depan hidungnya. Dan dengan tangannya pula ia mengabarkan bahwa Lingga Wisnu melontakkan darah terus-menerus dalam tiga hari itu. Paman Garflur menunjuk pada bentong bentong merah yang melumuri pembaringannya. Dan memperoleh keterangan itu, serentak Lingga Wisnu bangkit. Pemuda itu heran, mengapa dirinya, tiba-tiba merasa ringan sekali. Tak dikehendaki sendiri Lingga Wisnu berseru girang.

"Paman, lihat! Aku bisa bergerak begini lincah. Oh, paman ... apakah darah kental ini bukan racun Pacarkeling yang sekian tahun lamanya mengeram di dalam diriku?" Ganjur tidak mengetahui tentang masalah racun Pacarkeling. Ia hanya melihat wajah Lingga Wisnu bersinar cerah. Itulah pernyataan suatu luapan rasa girang luar biasa. Mengapa girang?

Lingga Wisnu minta kepada paman Ganjur supaya membersihkan tempat tidurnya. Setelah membersihkan diri, dengan perlahan-lahan ia mencoba menerangkan tentang racun Pacarkeling yang telah lama mengeram di dalam tubuhnya. Memperoleh perasaan bahwa keadaan tubuhnya kini tiba-tiba menjadi ringan dan gesit, ia menduga bahwa gumpalan darah hitam kental itu pastilah racun Pacarkeling. Ganjur bisa menerima keterangannya Lingga Wisnu. Sekarang ia jadi mengerti. Apa sebab Lingga Wisnu berkurang tenaganya setiap kali melontarkan pukulan-pukulannya. Ia jadinya ikut bersyukur dan girang hati, apabila racun Pacarkeling benar-benar bisa terenggut dari tubuh Lingga Wisnu oleh obat mustika warisan Bondan Sejiw an.

Untuk mengatur keseimbangan tenaganya, Lingga Wisnu membutuhkan istirahat enam hari lamanya. Setelah itu dengan tiada bosannya ia meyakinkan semua ajaran yang terdapat dalam kitab peninggalan Bondan Sejiw an. Kemudian Lingga Wisnu juga mencoba menyelami ilmu pedang dengan menggunakan pedang Kebo Wulung. Hasilnya sungguh mengagumkan. Kecuali jauh lebih serasi dan cocok, tajamnya luar biasa pula. Dengan sekali tabas, terpotonglah batu pegunungan. Keruan saja Lingga Wisnu girang bukan main. Benar benar sebilah pedang mustika.

'Mungkin sekali pendekar besar Bondan Sejiw an sesat perjalanan hidupnya. Akan tetapi kepandaiannya harus dikagumi.' Lingga Wisnu memberi pertimbangan dan penilaian terhadap almarhum pendekar luar biasa Bondan Sejiw an. Dan makin Lingga Wisnu menyelami ilmu-ilmu sakti almarhum, makin ia kagum. Dalam hati pemuda itu menaruh hormat setinggi-tingginya.

Enam bulan lewatlah sudah. Sekarang sampailah Lingga Wisnu pada t iga lembar terakhir. Tiba-tiba saja ia menemukan jalan buntu seperti dahulu. Dengan seksama pemuda itu mengulangi membaca kalimat-kalimat nya. Kemudian mencoba memecahkan dan menyelami dengan perbandingan ilmu sakti warisan Kyahi Sambang Dalan dan Ki Ageng Gumbrek. Tetap saja ia terbentur pada masalah yang tak terpecahkan. Ia jadi heran dan kagum bukan main. Benar-benar ilmu sakti Bondan Sejiw an merupakan suatu perbendaharaan ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Jangan lagi menggunakan ajaran ilmu sakti pendekar-pendekar lain, sedangkan ajarannya, seumpama seseorang telah dapat mewarisi bagian ilmu saktinya yang telah terbaca, tak akan dapat membentur bagian yang terakhir ini.

Tiga hari tiga malam penuh Lingga Wisnu mencoba menyingkap tabir teka-teki itu. Waktu itu bulan gede memancarkan sinarnya diluar pertapaan. Teringatlah Lingga Wisnu akan pengalamannya, sewaktu Cocak Obar-abir dan Gumuling, menyusup ke dalam rumah. Hampir-hampir saja ia menemui malapetaka. Maka pikirnya di dalam hati:

'Ilmu sakti pendekar Bondan Sejiw an ini bersifat luar biasa. Aku tak sanggup memecahkan teka-teki yang terakhir. Walaupun demikian, aku sudah memiliki sebagian besar ilmu saktinya dan aku harus bersyukur serta berterima kasih. Dengan berbekal sebagian besar ilmu saktinya, rasanya aku sanggup menghadapi lawan- lawan berat betapa licinnya pun. Sebaliknya apabila kitab warisannya ini sampai terbaca oleh orang-orang berhati kejam dan bengis, bahaya besar pula. Dari pada jatuh di tangan mereka, lebih baik kubakarnya saja ...'

Oleh pikiran itu, Lingga Wisnu lalu menyalakan api. Kedua kitab warisan pendekar Bondan Sejiw an lantas dibakarnya. Sekian lamanya nyala api membakar kedua kitab warisan itu. Akan tetapi aneh! Selagi lembaran- lembaran kedua kitab itu menjadi hangus, kulit penutupnya hanya menjadi hitam saja.

'Kenapa tak terbakar?' pikir Lingga Wisnu dan ia mencoba membesetnya. Tetapi tak berhasil. Meskipun kedua tangannya kini bertenaga kuat luar biasa. Lingga Wisnu memperhatikan kulit buku itu, dengan seksama. Setelah dipencet dan disentil pada tempat-tempat tertentu, tahulah Lingga Wisnu bahwa kulit buku itu terbuat dari tembaga bercampur logam tertentu. Kekuatannya mirip dengan baju mustika hadiah Ki Ageng Gumbrek, yang tak mempan senjata tajam maupun api.

Dengan menggunakan pisau, Lingga Wisnu lalu membuka kedua lapisan kulit buku tersebut. Ia heran tatkala menemukan dua lembar kulit lembu yang tipis sekali. Setelah diperhatikan ternyata merupakan deretan kalimat dan peta. Lingga Wisnu membaca : =Siapa memperoleh harta terpendam ini, hendaklah mencari seorang perempuan bernama Sekamingrum yang bertempat tinggal di dusun Popongan. Berilah dia seratus ribu ringgit agar dapat menyambung hidupnya seperti layaknya seorang perempuan yang mempunyai harga diri! =

'Apa artinya in i?' pikir Lingga Wisnu di dalam hati. 'Pendekar besar Bondan Sejiw an nampaknya seorang tinggi hati. Bunyi kalimatnya seolah-olah seorang panbesar yang dipertuan!'

Sekarang Lingga Wisnu memeriksa lembaran kulit yang kedua. Itulah gambar contoh contoh ilmu pukulan. Tatkala diperhatikan dengan seksama, ia terkejut berbareng girang. Ternyata itulah kunci jawaban jurus- jurus pada tiga lembaran terakhir yang memacetkan latihannya. Sekarang, hatinya penuh syukur dan berulangkali menghela napas lantaran kagum. Terasa sekali bahwa semuanya sudah diatur demikian rupa sehingga ahliwaris yang dikehendaki pendekar itu, terpaksa harus mencari penjelasannya dalam lipatan kulit kitab. Benar-benar cermat dan hebat!

'Kalau begitu peta gambar yang mengabarkan tentang harta terpendam, pastilah bukan suatu lelucon belaka,' pikir Lingga Wisnu di dalam hati. Sekiranya tidak demikian, apa perlunya petanya disimpan sangat rapi? Beliau menghendaki agar membagi harta terpendam kepada seseorang yang bernama Sekarningrum. Sebagai upah jasanya, dikabarkan kunci jawaban jurus-jurus lembaran terakhir, yang memang merupakan int i sari seluruh ilmu w arisannya. Kedua lembar kertas itu lantas disimpannya rapih- rapih di dalam kulit kitab semula. Kemudian ia rajin berlatih. Dan enam hari lewatlah sudah. Sekali lagi ia memperhatikan pesan pendekar Bondan Sejiw an tentang seseorang yang bernama Sekarningrum. Hidupkah dia pada jaman ini? Jangan-jangan Sekarningrum hidup pada jaman angkatan kakek-moyangku.

Pada hari ketujuh ia memasukkan kulit kitab warisan ke dalam buntalannya yang sederhana. Kemudian mengucap selamat berpisah kepada paman Ganjur. Dengan air mata berlinangan, paman gagu yang baik hati itu mengantarkannya sampai di pinggang gunung.

Berat rasa hati Lingga Wisnu berpisahan dengan Ganjur. Paman gagu itu tak ubah ayah kandungnya sendiri. Tetapi justru teringat akan itu timbullah semangat penuntutan dendam di dalam hati Lingga Wisnu. Bukankah maksudnya yang utama hendak mencari musuh ayah-bundanya yang membuat bencana maha besar terhadap keluarganya. Dan oleh ingatan itu sekaligus berkobar kobarlah darah mudanya. Dan dengan menegakkan dada, ia meninggalkan pinggang gunung Dieng.

Inilah untuk pertama kalinya ia berjalan seorang diri. Setelah sepuluh tahun lamanya ia tersekap di atas gunung, benar-benar membuat dirinya terasing dan asing dari semua penglihatannya yang berada di depan matanya. Semuanya, seolah-olah serba baru baginya. Tatkala sampai di batas kota yang berada di kaki gunung, ia melihat gerakan tentara. Pada tiap-tiap tempat tertentu terdapat penjagaan tentara rakyat yang berada membantu perjoangan Pangeran Mangkubumi I dengan sukarela. Mereka melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang melintasi penjagaan.

Melihat penjagaan keras itu, teringat kembalilah Lingga Wisnu kepada pengalamannya. Untuk menghindarkan rasa kecurigaan, ia menyimpan Kebo Wulung serapih mungkin. Lalu mengambil jalan pegunungan. Dengan demikian beberapa kali ia bisa lolos dari pemeriksaan para penjaga.

Empatbelas hari dan empatbelas malam Lingga Wisnu berjalan terus-menerus dengan mengambil jalan berputar. Ia beristirahat hanya pada malam hari. Dan meneruskan perjalanan menjelang fajar. Dari dusun Sapuran ia mengarah ke timur laut. Dusun-dusun yang dilalu inya tak terhitung lagi jumlahnya. Setelah tiba di dusun Wonosegara ia memasuki hutan belukar dan tiba di dusun Tangen pada hari ke duabelas. Sebenarnya dusun Tangan sangat dekat dengan Sukowati tempat gurunya berada. Akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia mengenal daerah Sukowati. Tak mengherankan, ia tersesat sampai jauh ke timur. Dan pada hari ke empatbelas tibalah Lingga Wisnu di dusun Trinil.

Dusun Trinil terletak di tepi Bengaw an Solo. Pedagang pedagang besar yang mengangkut barang dagangannya lew at sungai, berhenti di dusun itu sebelum memasuki kota Ngaw i. Maka dusun Trinil mengundang tengkulak- tengkulak yang datang dari kota-kota di daerah Jawa Timur. Dengan demikian, pada dewasa itu dusun Trinil menjadi pusat perdagangan.

Di dusun inilah, Lingga Wisnu baru mengetahui bahwa daerah Sukowati sudah jauh terlint asi. Untuk balik kembali ke arah barat, beberapa pedagang menyarankan agar menggunakan rakit atau perahu tambang saja. Kecuali menghemat waktu, perjalanan itu tidak begitu meminta tenaga pula.

Demikianlah, setelah bersantap Lingga Wisnu mencari perahu tambang sewaan yang berlayar mengarah ke barat. Ia mendapat sebuah perahu besar. Pemiliknya seorang doyan duit. Namanya Kertomidin alias Demalung. Penyewanya seorang pedagang besar bernama Nitigurnito. Ia seorang peramah dan usianya kurang lebih empatpuluh sembilan tahun. Oleh gerincing uang, Kertomidin memberanikan diri untuk minta idzin kepada Nitigurnito agar menerima Lingga Wisnu di dalam perahu yang sudah disewanya. Dan ternyata Nitigurnito tidak berkeberatan.

Pada waktu Kertomidin hendak menjalankan perahunya, seorang pemuda nampak berlari-lari kencang mendatangi. Pemuda itu berteriak-teriak pula meminta tempat menumpang ke Sragen. Katanya, dia mempunyai persoalan yang penting di kota itu.

Lingga Wisnu tertarik hatinya t atkala mendengar suara teriakan pemuda itu yang kedengaran nyaring dan halus. Dia pun heran pula tatkala melihat wajahnya. Pikirnya di dalam hati:

"Apakah benar di dunia ini terdapat seorang pemuda yang begini cakap?”

Pemuda itu umurnya kurang-lebih duapuluh tahun. Kulitnya kuning-halus. Mokanya bersemu dadu dan membaw a-bawa buntalan di punggungnya. Buntalannya terbuat dari kain mirip kantong beras. Nampaknya terisi penuh. Nitigurnito berkenan terhadap pemuda itu. Dengan ramah ia mengijinkan si tukang perahu agar menerimanya sebagai penumpangnya yang baru. Sudah barang tentu Kertomidin alias Demalung yang sangat doyan duit, girang bukan kepalang. Buru-buru dipasangnya sebuah tangga papan untuk menyambut kedatangan pemuda itu. Tetapi begitu pemuda itu menaruhkan kakinya di atas perahu, Lingga Wisnu terkejut. Ia merasakan, betapa perahu sekonyong- konyong seperti melesak ke dalam air. Ia heran, sebab pemuda itu berperaw akan kurus dan berat tubuhnya tidak akan melebihi limapuluh kilogram. Apa sebab dia demikian berat? Apakah karena buntalannya yang nampak besar itu?

Begitu mendarat di atas perahu, pemuda itu memberi hormat kepada Nitigurnito dan Lingga Wisnu. Ia menyatakan rasa terima kasihnva. Kemudian memperkenalkan namanya, Yunus. Karena mendapat kabar ibunya sakit keras, maka pada hari itu ia bermaksud cepat-cepat menyambangi. Nampaknya pemuda itu, yang bernama Yunus, menaruh perhatian kepada Lingga Wisnu.

"Saudara Lingga," katanya. "Mendengar lagu suaramu, pastilah engkau bukan penduduk sini."

"Benar," jawab Lingga Wisnu. "Aku dibesarkan di sekitar kota Wonosobo. Inilah untuk yang pertama kalinya aku berada di dekat perbatasan Jaw a Tengah."

"Dari Wonosobo? Kalau begitu, pastilah saudara Lingga mempunyai urusan besar disini."

"Akh, tidak. Aku berjalan hanya untuk melihat dunia." Lingga Wisnu memberi keterangan. Selama perahu berlayar, mereka berdua asyik berbicara. Tiba-tiba dua buah perahu datang dengan cepat. Bagaikan anak panah, kedua perahu itu mendahului. Yunus mengawaskan kedua perahu itu yang lenyap di tikungan sungai sebelah depan dengan cepatnya.

Kira-kira menjelang jam dua tengah hari, saudagar Nitigumito yang baik budi itu mengundang mereka berdua, menemaninya makan siang. Lingga Wisnu menghabiskan tiga piring nasi, sedang Yunus hanya sepiring. Selama makan dan minum, gerak-gerik Yunus nampak berkesan makin halus.

Dan baru saja mereka selesai makan siang, terdengarlah suara air terkayuh. Lalu nampaklah dua buah perahu lew at di samping. Sebuah diantaranya amat menarik perhatian. Seseorang yang bertubuh besar berdiri di ujung perahunya sambil mengerlingkan matanya beberapa kali. Yunus nampak tak senang hati. Sepasang alisnya terbangun dengan tiba-tiba. Matanya bersinar tajam dan wajahnya berubah merah padam. Lingga Wisnu heran menyaksikan perubahan wajah kawannya itu. Pikirnya di dalam hati :

'Dia begini muda dan cakap. Apa sebab romannya bisa berubah menjadi sengit dengan mendadak?'

Yunus melihat kesan wajah Lingga Wisnu yang memancarkan pandang heran. Cepat-cepat ia tersenyum. Dan kembalilah wajahnya yang lemah lembut. Sikapnya halus dan menawan seperti sediakala. Tatkala itu, Kertomidin alias Demalung, datang menyuguh air teh hangat. Untuk mengalihkan kesan Yunus segera menghirup air tehnya. Tak disangkanya, rontokan tehnya masih terapung apung seperti kerumun ratusan anak nyamuk Idih! alangkah jorok dan kasar! Tak dikehendaki sendiri ia mengerutkan alis. Dan cawan teh diletakan di atas meja pendengan dengan perasaan kesal.

Semuanya itu tak luput dari pengamatan Lingga Wisnu. Untuk pertama kalinya ini, ia merantau seorang diri tanpa kawan tanpa sanak keluarga. Kecuali berbekal pengetahuan yang diperolehnya dari beberapa gurunya dan pengalaman hidupnya semasa berumur delapan tahun, tiada sekelumit pengalaman lagi. Untunglah, dia seorang pemuda yang memiliki karunia Tuhan. Otaknya hidup dan perasaannya tajam. Melihat kesan dan gerak- gerik Yunus, ia memperoleh suatu perasaan, bahwa antara pemuda itu dan penumpang empat perahu yang lew at dan berpapasan tadi, pasti terselip suatu perkara. Hanya saja, tak dapat ia menebak, perkara apa yang pernah terjadi. Oleh pikiran itu, diluar kehendaknya sendiri ia mengawasi dua perahu yang tadi lewat dengan cepat.

Menjelang petanghari, perahu singgah di sebuah dusun. Karena haus kepada penglihatan - Lingga Wisnu menyatakan diri hendak turun ke darat. Ia mengajak Nitigurnito menemani. Tetapi saudagar itu menolak, lantaran tak dapat meninggalkan barang dagangannya. Katanya :

"Lagi pula apa keuntungannya mendarat di sebuah dusun yang sunyi sepi? Apa yang dapat di lihat dan dinikmati? Inilah dusun mati tak ubah sebuah kuburan panjang. Tiada lain kecuali tegalan, sawah dan pengempangan ikan." Jelas sekali maksud Nitigurnito. Dia hendak berkata, bahwa hanya orang yang hidupnya tak ubah seekor katak di dalam tempurung, yang masih bisa tertarik penglihatan sekitar dusun yang sunyi itu. Akan tetapi Lingga Wisnu tak bersakit hati. Ia seorang pemuda yang jujur terhadap dirinya sendiri. Memang, bukankah dia seorang pemuda yang sekian tahun lamanya tersekap di atas dusun? Maka ia bersenyum ihlas, menerima sindir itu. Dan seorang diri ia turun ke darat. Sampai lew at magrib ia berjalan keliling dusun dan memasuki kedai minuman. Setelah membeli beberapa butir buah-buahan, barulah ia kembali ke perahunya, hendak ia memanggil Nitigurnito dan Yunus untuk menemani menggerumuti buah-buahannya, tetapi mereka berdua ternyata sudah tenggelam di dalam selimutnya. Setelah berenung- renung sejenak, iapun lantas merebahkan diri pula.

Pada tengah malam, terdengarlah suara suitan (siulan tajam) panjang samar-samar. Pendengaran Lingga Wisnu tajam luar biasa. Segera ia terbangun dari mimpinya, dan dengan diam-diam ia merapikan pakaiannya.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara pengayuh perahu meraba permukaan air. Terang, ada sebuah perahu mendatangi. Dan dengan tiba-tiba Yunus terbangun dari tidurnya. Ia bangkit dan duduk dengan mendadak. Wajahnya nampak tegang diantara cahaya pelita perahu yang menyala samar-samar. Ternyata ia tidur tanpa membuka pakaian dalamnya. Dari bawah selimut nya, ia menghunus sebatang pedang panjang. Kemudian ia berjalan memburu bagian depan perahu. Sikapnya garang dan ganas. Keruan saja Lingga Wisnu terkejut dan heran. Pikirnya menebak-nebak : 'Apakah dia salah seorang kaki-tangan pembajak yang sengaja menyelundup ke dalam perahu ini untuk mengincar barang-barang dagangan paman Nitigurnito? Kalau begitu, tak boleh aku berpeluk tangan saja ...'

Semenjak di perjalanan, Lingga Wisnu menyimpan pedang Kebo Wulung serapi mungkin. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan sembarangan memperlihatkan di depan orang. Sebab pedang Kebo Wulung di tangan majikannya dahulu, pasti sudah sangat terkenal. Ia sendiri belum tahu pasti, apakah majikan pedang pusaka itu dahulu seorang pendekar budiman atau seorang pembunuh kejam yang dibenci orang di seluruh dunia. Menimbang demikian, sedapat mungkin ia sembunyikan serapi-rapinya. Pendek kata, ia tak bakal menggunakannya sekiranya tidak terlalu terpaksa. Itulah sebabnya memperoleh rasa curiga terhadap Yunus, ia hanya menyelipkan belatinya di pinggangnya dan memperlengkapi beberapa butir senjata bidiknya. Kemudian dengan hati-hati ia mengintai di balik gubuh perahu.

Beberapa saat kmudian, perahu yang terdayung dari arah depan telah menghampiri perahu penumpang kian dekat. Terdengar suara kasar di atas perahu itu :

"Hai, saudara Yunus! Apakah benar benar engkau tidak menghargai suatu persahabatan?"

"Kalau benar bagaimana? Kalau tidak, kau mau apa?" balas Yunus dengan suara nyaring.

"Hm! Dengan susah payah kami menguntitnya mulai dari Surabaya. Tetapi engkau dengan enak saja memegatnya dan memakannya." kata orang itu. Oleh suatu tanya jawab yang,nyaring dan berisik itu, Nitigurnito terbangun dari tidurnya. Segera ia mengintai dari balik gubuk perahu. Ia kaget setengah mati begitu melihat suatu penglihatan yang menggeridikkan bulu romanya. Empat perahu datang menghampiri berlerot an dengan memasang puluhan obor yang menyala terang. Belasan orang berdiri berjajar dengan membaw a senjata andalannya masing-masing. Keruan saja ia bergemetaran dan mulutnya berce ratukan dengan tak dikehendaki sendiri.

Lingga Wisnu menghampiri dan membesarkan hatinya.

Katanya membujuk:

"Paman tak usah takut. Perselisihan itu bukan berkisar memperebutkan harta paman."

Sebagai seorang pemuda yang memiliki kecerdasan luar biasa, dengan cepat saja ia dapat menebak tujuh bagian persoalan yang terjadi di depan matanya. Pastilah hal itu mengenai suatu perebutan rezeki antara Yunus dan gerombolan pembajak itu. Tapi selagi ia hendak memberi penjelasan kepada Nitigurnito, tiba-tiba terdengarlah bentakan Yunus setengah berteriak :

"Harta benda di kolong langit ini, apakah milikmu?" "Letakkan dua ribu ringgit emas itu diatas geladak!

Mari kita bagi seadil-adilnya. Engkau separoh dan kami separoh," ujar seorang berperaw akan pendek kecil yang di perahu kedua. "Lihatlah! Jumlah kami banyak. Walaupun begitu, kami rela-menerima separoh bagian. Bukankah kami sudah mau mengalah?"

"Huh! Jangan bermimpi yang bukan bukan!" jawab Yunus setelah menyemprotkan ludah sejadi-jadinya. Dua orang yang berdiri di belakang si pendek kecil nampak menjadi .gusar. Berkata kepada orang yang membuka mulutnya pertama tadi :

"Kakang Jumali! Apa perlu kita mengadu mulut dengan bangsat itu." dan setelah berkata demikian, dengan tiba-tiba mereka berdua melesat dan turun di geladak perahu penumpang. Rupanya mereka beradat berangasan dan gampang sekali tersinggung kehormaftan dirinya.

Menyaksikan kedua perampok meloncat keperahunya, Nitigurnito roboh ketakutan. Katanya menggigil :

"Anakku ... eh .. saudara Lingga. Lihat! Lihat! Mereka bakal kalap ...!"

Lingga Wisnu menarik lengan saudagar itu dan dibawanya mundur sambil membesarkan hatinya dengan kata-kata lemah-lembut:

"Paman, jangan takut! Masih ada aku ..."

Pada detik itu, Yunus mulai memperlihatkan giginya. Kakinya bergerak dan mendupak seorang yang tiba terlebih dahulu di atas geladak. Begitu kena dupakannya, orang itu terbalik dan tercebur di dalam sungai. Yunus tidak hanya menggerakkan kakinya saja. Pedangnya menyambar orang kedua. Dialah orang yang beradat berangasan. Dan melihat menyambarnya pedang, buru buru ia menangkis dengan goloknya. Tapi pedang Yunus luar biasa tajam. Begitu membentur, goloknya terkutung. Belum lagi dia bisa berbuat sesuatu, ujung pedang menikam pundaknya. Tiada ampun lagi, dia roboh terjengkang bermandikan darah. "Jumali! Perahuku bukan panggung untuk mempertontonkan badut-badut semacam mereka!" ejeknya Yunus dengan tertawa merendahkan.

"Bangsat!" maki Jumali. Kemudian berteriak kepada salah seorang bawahannya yang berada di sampan ketiga. "Saleh! Angkut Bolot kemari!"

Saleh membaw a seorang temannya. Dengan berbareng mereka melompat di atas geladak dan memapah Bolot yang tertikam lengan kanannya dan rekan Bolot yang tadi tercebur ke dalam sungai, waktu itu, sudah berenang dan merangkaki perahunya. Inilah suatu tontonan yang menyakitkan hati kawanan perompak itu.

"Kami yang bernaung dibawah ketua kami, Anjar Semoyo, selamanya belum pernah bentrok dengan pihakmu. Mengapa engkau main serampangan saja? Apakah lantaran terlalu yakin pada kekuatan diri sendiri? hm, hm. Meskipun keluarga Dandang Mataun pernah merajai lautan dan daratan, masakan kami takut? Janganlah engkau menganggap, bahwa kami bisa kau buat permainan!” teriak Jumali setengah kalap.

Mendengar kata-kata keluarga Dandang Mataun, hati Lingga Wisnu tercekat. Teringatlah dia kepada Cocak Obar-abir dan Gumuling yang datang di atas gunung Dieng hendak mencuri kitab warisan Bondan Sejiw an. Katanya di dalam hati :

'T atkala Cocak Obar-abir hendak membunuhku, bukankah dia menyatakan diri salah seorang anggauta keluarga Dandang Mataun?' Terus saja ia memasang telinganya tajam-tajam : Yunus mendengus. Lalu menjawab teriakan Jumali : "Kau mengangkat-angkat keluargaku. Bagus! Tapi

lebih baik janganlah engkau mencoba mengambil hatiku. Jago godogan biasanya memang pintar mengambil hati

lawan, setelah merasakan pedasnya sebuah dupakan saja!"

Diejek damkian, Jumali meluap darahnya. Nanun masih bisa ia menguasai hatinya. Menegas:

"Kau tegaskan sekali lagi! Kau bisa menghargai arti suatu persahabatan atau tidak?"

"Persetan dengan semuanya itu! Selamanya aku majikan atas diriku sendiri. Kalau aku berkenan, tak perlu aku memperdulikan segala pertimbangan." sahut Yunus.

"Berbicaralah yang lebih jelas lagi!" ujar Jumali. "Jembatan yang kulalui jauh lebih banyak dari pada yang pernah kau lintasi. Sudah sewajarnya, aku harus berpegang pada t ata santun pergaulan. Tapi tata-santun bukan berarti aku sudah merasa taluk padamu. Kau mengerti? Nah, nyatakan yang tegas! Jangan menggunakan kata-kata berputar tak keruan juntrungannya karena kalau memang tiada jalan lagi, barulah kita mencoba-coba ketajaman senjata. Dengan begitu, dikemudian hari aku tak bakal dituduh Ketuamu, main kuasa-kuasaan terhadap bocah ingusan ..."

Dengan ucapannya itu, teranglah bahwa Jumali segan dan menghargai Ketua keluarga Dadang Mataun. Sebaliknya Yunus malahan menjadi besar kepala. Dengan tertaw a melalu i hidungnya, ia berkata :

"Dengan berbekal kepandaian badut, kalian mencoba hendak terbinaku? Eh, kalian benar-benar tak tahu diri." Sampai disitu, tahulah Lingga Wisnu bahwa mereka bakal mengadu senjata. Baginya, latar belakang pembicaraan itu sudah jelas. Jumali atau pihak Anjar Semoyo sedang mengincar mangsanya. Tapi kedahuluan Yunus. Jumali jadi tak senang hati terhadap keluarga Dadang Matuan dan dia minta bagian. Tapi Yunus menolak. Pemuda ini tipis perawakannya. Di manakah dia menyimpan harta rampasannya? Pastilah yang berada di dalam bungkusannya itu. Pikir Lingga Wisnu :

'Mereka berdua setali t iga uang. Sama-sama jahat dan sama-sama penyamun. Biarlah mereka bercakar-cakaran. Apa peduliku?'

Dalam pada itu perkelahian mulai terjadi. Perahu penumpak milik Kertomidin cukup leluasa untuk dibuat gelanggang mengadu senjata. Dengan membaw a sepuluh orang Jumali melompat ke dalam perahu penumpang. Ia membaw a sebilah golok besar mirip golok penyembelih kerbau. Di depan Yunus, ia membungkuk hormat sebagai suatu tata-sant un. Rupanya ia mau mengesankan, bahwa dirinya adalah seorang yang mengerti tentang tata-tertib. Katanya :

"Sekalian teman-temanku ini bukanlah tandingmu. Aku tahu! Karena itu, biarlah aku mewakili mereka mencoba- coba ketajaman pedangmu. Pedang Dandang Mataun yang merajai wilayah Gunung Law u!"

"Hm." dengus Yunus. "Kau hendak maju seorang diri atau main kerubut?"

Jumali   tercengang   sejenak.   Kemudian   tertaw a.

Sahutnya dengan mendongakkan kepalanya : "Kau benar-benar bocah tak tahu diri. Kau anggap apa aku ini? Kau masih mempunyai teman, suruhlah dia keluar dari dalam gubuk perahu! Biarlah dia menjadi saksi agar dikemudian hari aku tidak dituduh orang berbuat sewenang-wenang terhadap salah seorang anggauta keluarga Dandang Mataun." Setelah berkata demikian, ia berseru lantang: "Sehabat seperjalanan! Silahkan engkau menjadi saksinya!"

Dua orang bawahannya menghampiri gubuk perahu. Sambil menjengukkan kepalanya ke dalam gubuk, mereka berkata mempersilahkan kepada saudagar Nitigurnito dan Lingga Wisnu :

"Sahabat! Kami mengundang kalian untuk menjadi saksi keramaian ini!"

Saudagar Nitigurnito menggigil ketakutan. Tak dapat ia memberi jawaban, dengan pucat lesi ia berpaling kepada Lingga Wisnu mencari pertimbangan. Kata Lingga Wisnu meyakinkan :

"Paman, mereka hanya menghendaki kita untuk menjadi saksi saja. Mari kita keluar."

Lingga Wisnu menarik dan membimbing lengan Nitigurnito keluar gubuk. Sementara itu, Yunus sudah tak sabar lagi. Lantang ia berkata :

"Jadi kau benar-benar membutuhkan saksi? Baik! Tapi tontonan apakah yang hendak kau pamerkan kepada saksi?"

Setelah berkata demikian pedangnya terus saja menusuk pinggang. Jumali bertubuh besar dan tak ubah anak raksasa. Meskipun demikian gerakannya gesit dan ringan. Dengan sebat ia menangkis. Goloknya berkelebat ke samping, kemudian berputar dan menabas. Inilah suatu pembelaan diri yang hebat sekali. Tatkala mata golok hendak memagas leher sekonyong-konyong berbalik dan hanya bermaksud membenturkan punggungnya. Jelas sekali, maksudnya ia tak sampai hati memagas leher atau membelah kepala Yunus dengan sekali tabas.

Tetapi Yunus tak sudi menerima budi baik itu. Sambil memberondongkan tiga t ikaman sekaligus, ia berteriak :

"Tak usah engkau berlagak seperti seorang dermawan. Hayo, keluarkan semua kepandaianmu!”

Berbareng dengan teriakannya, Yunus merangsak terus menerus sehingga Jumali hampir tak mempunyai kesempatan untuk menangkiss. Tiba-tiba ia kaget t atkala ujung pedang Yunus hampir saja menyentuh bajunya. Itulah terjadi, lantaran hatinya terlalu hatinya menyaksikan lagak lagu Yunus yang congkak dan tak memandang mata terhadapnya. Gugup ia melesat mundur kesamping dan sambil membabatkan goloknya. Hatinya tergetar mengingat kejadian sebentar tadi. Nyaris ? dadanya tertembus pedang si congkak.

"Anak sambel ini benar-benar patut dihajar babak- belur", makinya didalam hati. Terus saja ia membalas menyerang dengan dahsyat. Goloknya menabas-nabas dan berseliweran dengan sebatnya.

Yunuspun tak kurang-kurang gesitnya. Gerakan pedangnya makin fana makin cepat. Ia pandai mengelakkan diri dan pedangnya tiada hentinya memunahkan setiap bentuk serangan. Sudah begitu, berkali-kali ujungnya menyelonong menusuk dada, pinggang dan perut. Setelah lew at beberapa jurus, Lingga Wisnu segera mengetahui bahwa ilmu pedang Yunus lebih tinggi setingkat daripada ilmu golok Jumali. Meskipun Jumali banyak makan garam dan goloknya jauh lebih berat daripada pedang, namun sama sekali ia tak berdaya menghadapi kelincahan Yunus. Lambat-laun, ia bahkan

mulai merasa kewalahan. seperempat jam kemudian, pernapasannya mulai terdengar        mengorong.

Keringat membasahi sekujur badannya dan gerak-geriknya    mulai lamban.  Sebaliknya rangsangan   Yunus, bertambah hebat.

Sekonyong-konyong

Yunus berteriak melengking. Dan berbareng dengan auman teriakannya, ujung pedangnya berhasil menikam paha Jumali yang menjerit kaget sambil melompat mundur. Wajahnya menjadi pucat. Tangan kirinya mengayun. Tiga batang panah paku menyamber beruntun.

Yunus benar-benar cekatan. Diserang dengan mendadak, sama sekali ia tak nampak bingung. Dua kali pedangnya menyapu dua buah paku yang menyambar padanya. Sedang paku ketiga dihindari dengan mengelakkan diri. Ia baru hendak mengumbar mulutnya, tatkala diluar perhitungannya kedua paku yang dapat disapunya justru meletik menyambar dada Lingga Wisnu. Melihat hal itu, ia memekik terkejut. Tadinya ia mengira Lingga Wisnu seorang pendekar muda yang lagi menyamar. Tapi melihat pemuda itu sama sekali tak bergerak atau tak berdaya sesuatu untuk menghindari letikan dua paku yang akan menembus dadanya, ia jadi kaget dan berkhawatir. Pada detik itu juga, ia hendak meloncat untuk menolong. Tiba-tiba ia melihat suatu keanehan. Kedua paku Jumali itu tepat sekali mengenai dada Lingga Wisnu, namun runtuh dengan begitu saja di atas geladak. Sama sekali tak melukai pemuda itu. Dan dia kelihatan diam saja seakan- akan tidak pernah terjadi sesuatu.

Ketiga sampan Jumali menyalakan obor terang benderang. Semua orang menyaksikan, bagaimana kedua paku Jumali meletik dan mengenai dada Lingga Wisnu. Setelah melihat kesudahannya, mereka semua tercengangan dan saling pandang! Kemudian dengan berbareng pula mereka mengaw askan Lingga Wisnu. Pemuda itu pastilah berilmu kepandaian t inggi, meskipun pakaian yang dikenakan mirip pakaian seorang pemuda kota kecil.

Tentu saja, siapapun tak tahu bahwa dada Lingga Wisnu terlindung baju mustika pemberian Ki Ageng Gumbrek. Baju itu tak tertembusi serta tak mempan tertikam senjata tajam betapa keraspun.

Jumali seorang perompak berpengalaman. Ia melihat Lingga Wisnu tak roboh kena letikan senjata pakunya. Pada saat itu, ia melihat pula Yunus tertegun karena kaget. Itulah kesempatan yang sebagus-bagusnya baginya. Terus saja ia menimpukkan tiga batang panah pakunya lagi. Yunus menjerit lantaran kaget. Serangan gelap itu sulit sekali untuk dihindari. Iapun tak berdaya untuk menangkis dengan pedangnya. Satu-satunya gerakan yang dapat dilakukan, hanyalah mengendapkan diri. Memang, dapat ia mengelakkan paku yang pertama. Tapi dua paku lainnya tepat sekali membidik sasarannya. Secara wajar ia memejamkan matanya menunggu nasib. Dan mendadak pada detik itu, terdengarlah suara benturan nyaring. Ia menyenakkan matanya dan di lihatnya kedua paku itu runtuh terpelanting di atas geladak.

Yunus seorang pemuda yang tajam mata. Sekali menggerakkan gundu-matanya, ia melihat gerakan tangan Lingga Wisnu. Dialah yang menolong jiwanya. Hal itu terjadi, karena Lingga Wisnu sebal menyaksikan Jumali berlaku curang. Segera ia memungut dua batang panah paku yang tadi jatuh runtuh di depannya setelah membentur dadanya. Dan dengan dua batang panah paku itu, ia memunahkan serangan paku Jumali yang hampir saja mengenai sasaran.

Dengan rasa terima kasih sebesar-besarnya, Yunus mananggut kepada Lingga Wisnu. Kemudian melemparkan pandangnya kepada Jumali dengan sengit. Ia mendongkol dan timbullah rasa bencinya. Dengan serta-merta ia meletik tinggi dan menyerang Jumali setengah kalap.

Meskipun Jumali heran melihat gagalnya panah pakunya, namun la segera tersadar terhadap kedudukan Lingga Wisnu. Siapa lagi kalau bukan perbuatan pemuda itu. Itulah sebabnya, ia bisa mendahului gerakan dendam Yunus. Goloknya mendahului menabas, tatkala Yunus masih berada di udara. Yunus terkejut melihat berkelebatnya golok. Gesit ia melejit kesampdng untuk mengelak. Baru ia mencecarkan pedangnya. Kali ini, dia bersungguh- sungguh. Beberapa saat kemudian, pedangnya berhasil menembus iga. Jumali menjerit kesakitan dan goloknya runtuh bergemelontangan.

Masih belum puas Yunus berhasil melukai iga lawan, ia melompat menghampiri dan menahaskan pedangnya. Cress! Paha Jumali terkutung. Dan pemimpin perompak itu roboh pingsan!

Anak buahnya kaget bukan kepalang menyaksikan pemimpinnya roboh pingsan. Dengan berbareng mereka maju menyerang sambil menolong Jumali terhindar dari maut. Yunus seolah olah terbakar hatinya. Ganas ia menyapu semua senjata yang mengarah padanya. Dan kembali lagi tujuh orang kena dilukai. Mereka roboh dengan bercucuran darah.

Menyaksikan hal itu, Lingga Wisnu jadi tak sampai hati. Serunya setengah membumjuk:

"Saudara Yunus, sudahlah! Ampuni mereka!"

Tetapi Yunus sedang serigit-sengitnya. Ia melukai dua orang lagi. Sisa perampok lainnya jadi kuncup hatinya. Buru-buru mereka mencebur di dalam sungai menyelamatkan diri. Tak sanggup mereka menghadapi amukan pemuda itu yang sudah menjadi kalap.

Dengan mundurnya sisa perompak, Jumali jadi tak dapat tertolong. Masih ia roboh pingsan dengan berlumuran darah. Yunus mendekati dan mengayunkan pedangnya. Seketika itu juga kepala Jumali tertabas kutung. Dengan sekali menggerakkan kakinya, ia mendupak tubuh Jumali dan tercebur di dalam sungai. Kemudian ia mencublas kepala Jumali. Setelah disontek tinggi, ia melemparkannya pula ke dalam sungai!

Itulah suatu perbuatan yang mengejutkan dan diluar dugaan Lingga Wisnu. Ia jadi tak puas menyaksikan perangai Yunus. Perbuatannya keterlaluan! Ia sudah memperoleh kemenangan. Apa sebab menuruti gelora hati yang panas sehingga tak memberi kesempatan hidup kepada lawannya? Bukankah Jumali sudah cukup tersiksa setelah pahanya terkutung sebelah? Diapun tadi bersikap hati-hati pula, sebelum memutuskan persoalan dengan, mengadu senjata. Seumpama dialah yang menang pastilah dia tak berani memperlakukan Yunus dengan senibarangan. Dia tadipun bersikap segan dan hormat kepada Ketua keluarga Dandang Mataun.

Nitigurnito nampak duduk terjongkok dekat gubuk perahu dengan pandang terlongong-longong. Itulah penglihatan seorang yang tergempur oleh rasa takut dan ngeri. Dengan pandangan itu, menambah hati Lingga Wisnu pepat serta penuh sesal. Selagi demikian, pemuda itu melihat Yunus menabasi ketujuh orang lawannya tadi. Seorang demi seorang dilemparkan ke dalam sungai sehingga permukaan air menjadi merah.

Menyaksikan perbuatan Yunus yang bengis dan kejam itu, perompak-perompak lainnya segera kabur dengan sampannya. Masing-masing hendak berusaha menolong jiw anya sendiri.

Lingga Wisnu benar-benar tertegun menyaksikan sepak-terjang pemuda itu yang ganas luar biasa. Semenjak bayi ia dikejar-kejar lawan dan seringkali ia menyaksikan seorang mati tertikam didalam suatu perkelahian. Akan tetapi belum pernah ia melihat salah seorang lawannya sekejam Yunus.

"Mengapa engkau perlu mengutungi kepala mereka? Bukankah mereka hanya bertujuan hendak merampas uangmu semata?" Lingga Wisnu ingin memperoleh penjelasan. "Merekapun gagal pula. Artinya uangmu sama sekali tak berkurang. Kenapa main membunuh?"

Yunus melototi. Sahutnya sengit :

"Apakah engkau tak melihat sendiri betapa licik mereka? Mereka main kepung. Melakukan serangan gelap dan main keroyok. Seumpama aku jatuh di tangan mereka, entah perlakuan apa yang bakal menimpa diriku. Huh! Setelah pernah menolong jiw aku, janganlah engkau lantas menganggap diri, bisa memberi nasehat atau menegor aku dengan sembarangan saja. Tahu?"

Lingga Wisnu terbungkam. Itulah jawaban yang tak pernah diduganya. Katanya di dalam hati :

'Benar ujar Jumali tadi. Bocah ini sama sekali tak mengenal nilai-nilai budi.'

Yunus sendiri nampak tak pedulikan. Ia sibuk menyusut pedangnya pada tepi perahu setelah mencelupkan di dciam permukaan air. Setelah jadi bersih, ia menyarungkan dengan cermat. Tiba- tiba saja kesengitannya hilang. Kemudian tertawa manis sekali. Katanya ramah :

"Saudara Lingga, engkau telah menolong jiw aku. Aku sangat berterima kasih kepadamu."

Inilah perubahan dan pernyataan di luar dugaan pula. Untuk yang kedua kalinya, Lingga Wisma terhenyak. Tanpa membuka mulutnya, ia memanggut. Heran dia menyaksikan perangai Yunus. Mula-mula ia berkesan lemah lembut. Tiba-tiba saja berubah menjadi seorang pemuda yang kejam bengis. Dan setelah memenggali kepala lawan dan menyemprot dirinya, kembali lagi ia bersikap manis serta lembut hati. Dia seakan-akan manusia berhati serigala atau serigala berhati manusia. Selama hidupnya, baru untuk yang pertama kali itulah ia berkenalan dengan seorang yang berperangai demikian.

Dalam pada itu, Yunus memanggil Kartomidin dan empat pembantunya yang selama dalam perjalanan bertugas mendayung perahu. Dengan upah besar, ia menyuruh mereka membersihkan darah yang tercecer di atas geladak. Mereka semua kecuali takut, sesungguhnya bermata duitan. Lagi-pula, bukankah perahu itu perahunya sendiri pula. Sekalipun tak diperint ah, merekapun bakal mmbersihkan juga noda-noda darah itu. Maka tanpa membuka sepatah katapun, mereka lantas saja bekerja.

"Paman Kartamidin, setelah selesai tolong sediakan makanan malam untuk kita semua. Inilah uangnya!" kata Yunus menambahi perintahnya.

Tatkala itu, sekitar sungai kembali padam. Geladak hanya terpantuli cahaya pelita remang-remang. Untuk menghindar pandangan orang, Kartomidin melanjutkan perjalanan. Menjelang fajar hari, hidangan telah selesai dimasak.

Yunus mengundang Lingga Wisnu dan Nitigurnito makan bersama. Sambil makan, dia membuka mulutnya. Sama sekali ia tidak menyinggung soal pertempuran tadi. Juga tidak membicarakan tentang ilmu tata-berkelahi sedikitpun juga.

"Saudara Lingga," katanya riang. "Angin meniup lembut. Bulan cerah pula. Hawa segar seolah-olah menembus perasaan kita. Apakah tidak tepat kalau kita bergadang? Kau bersenandunglah dan aku yang menimpali!"

Lingga Wisnu pernah belajar memetik kecapi tatkala mengiringi kemauan Ki Ageng Gumbrek di atas gunung Dieng. Senandung dan lagu, bukan merupakan hal asing baginya. Tapi untuk meladeni Yunus yang berperangai aneh Itu, hatinya segan. Sahutnya asal jadi saja :

"Sama sekali aku tak pandai bersenandung. Maafkan."

Yunus bersenyum. Matanya berkilat tajam. Lalu mengalihkan pembicaraan.   Katanya   setengah memerint ah:

"Kau minumlah suguhanku!"

Dengan tenang, perahu penumpang meluncur di atas permukaan air. Pulau yang bersemarak di udara sudah cenderung ke barat. Itulah suatu tanda fajarhari berada di ambang. Meskipun demikian Yunus dan Lingga Wisnu masih saja asyik berbicara dengan mencegluk minumannya. Lingga Wisnu hidup beberapa tahun di atas gunung. Ia biasa minum minuman keras untuk mengusir dingin hawa yang meresapi tubuhnya. Karena itu, ia dapat melayani minum beberapa cawan banyaknya. Sebaliknya, yang mengherankan adalah Yunus. Masih berusia muda dia, tetapi kuat pula mencegluk beberapa cawan minuman geras. Apakah diapun hidup diatas gunung, sehingga minuman keras tidak asing lagi baginya?

Sekonyong-konyong Yunus melemparkan cawannya. Dengan sekali menjejakkan kakinya, ia meletik ke belakang buritan dan merebut kemudi. Setelah merampas pengayuhnya pula, ia membelokkan ke kiri dan perahu bergeser arah.

Lingga Wisnu tercengang. Kenapa pemuda itu mempunyai perangai yang bisa berubah dengan mendadak? Ia menajamkan mata dan telinga. Samar samar ia mendengar sampan terkayuh. Dan muncullah sebuah sampan yang laju dengan-amat cepatnya. Apakah hubungannya dengan sepak terjang Yunus yang tiba-tiba menjadi kalap seperti kerasukan roh jahat?

Teka-teki itu tak usah menunggu jaw abannya terlalu lama. Begitu sampan yang bertentangan arah itu mendekati perahu penumpang, tiba-tiba Yunus menggerakkan kemudinya lagi. Perahu bergeser arah dan membentur sampan yang datang sangat laju.

"Hai!" Lingga Wisnu kaget sampai berteriak.

Sampan yang terbentur perahu Kartomidin, memuat lima orang. Anak-buahnya mencoba mengelakkan. Tapi perahu yang manbentur sampan itu, terlalu besar perbandingannya. SiajjLa saja mereka berusaha sekuat tenaga. Brak! Dan ujung sampan itu mendongak tinggi karenanya ujung yang lainnya tenggelam dalam. Tepat pada saat itu, tiga bayangan melesat t inggi di udara dan mendarat di geladak perahu Kartomidin. Gerakannya gesit dan ringan sekali. Kini, tinggal dua orang yang masih berada didalam sampan. Merekalah juru-mudi dan pembantunya. Karena terikat pada pekerjaannya, tak sempat lagi mereka menolong dirinya. Dengan berteriak kaget, mereka tercebur di dalam sungai. "Tolong!" serunya nyaring.

Air yang datang dari kelokan, berarus deras. Oleh benturan itu, permukaan air seperti terkocak. Arus sungai berubah menjadi gelombang gelombang pendek tapi kuat. Dalam keadaan demikian, juru-mudi dan pembantunya itu terseret putaran air sehingga menghadapi bencana. Kalau saja terdapat kerajaan buaya di dalam sungai, bakal terjadi suatu penglihatan yang mengerikan.

'Bocah ini benar-benar kejam,' pikir Lingga Wisnu di dalam hati. Dengan sekali tarik, ia menguraikan lingkaran dadung perahu. Kemudian ia menggigit ujungnya. Sebentar ia menunggu saat timbulnya dua orang itu yang tercebur ke dalam sungai. Lalu dengan menggigit ujung dadung, ia melesat tinggi di udara. Kedua tangannya dikembangkan dan menyaibar dua orang itu yang muncul dipermukaan air. Oleh pantulan dadung yang terikat pada tiang perahu, tubuhnya balik seperti pegas. Dan dengan membaw a dua orang itu pada kedua tangannya, ia mendarat di atas geladak. Indah gerakannya, sehingga mereka yang menyaksikan kagum luar biasa.

"Bukan main!" mereka berseru tertahan. Dan diantara seruan ketiga orang yang baru saja tiba di atas geladak, terdengar pujian Yunus pula.

Lingga Wisnu meletakkan kedua orang itu di atas geladak tak ubah dua karung goni. Kemudian ia duduk kembali pada tempatnya semula. Diam-diam ia mengerling kepada ketiga penunggang sampan yang tenggelam. Yang pertama: seorang laki-laki berusia kurang-lebih lima puluh tahun. Tubuhnya kurus kering, berkumis jarang. Yang Kedua, berumur kurang-lebih empat puluh tahun, tubuhnya kekar dan kasar. Dan yang ketiga seorang perempuan berumur tigapuluh tahunan.

Sambil tertaw a guram, orang tua itu berkata kepada Lingga Wisnu :

"Tuan muda, engkau jempolan sekali. Siapakah gurumu? Siapa pula namamu?"

Lingga Wisnu bangkit dari tempat duduknya. Dengan memanggut hormat, ia menyahut

"Orang menyebut nama kependekanku saja: Lingga! Kedua tuan itu terancam bahaya. Aku jadi tak sampai hati membiarkan mereka mati tenggelam. Maafkan atas kelancanganku. Sekali kali bukan maksudku hendak memamerkan kepandaian diri."

Orang tua itu tercengang mendengar suara Lingga Wisnu yang bernada sopan dan halus. Kemudian ia berpaling menghadapi Yunus. Berkata tajam :

"Pantas, engkau berkepala besar! Tak tahunya engkau mempunyai seorang pembantu berkepandaian tinggi. Apakah dia salah seorang sahabatmu?"

Wajah Yunus berubah merah padam. Tegurnya: "Engkau seorang berusia tua. Kau hargai dirimu

sendiri, agar tak perlu menerima cercaanku yang tak enak."

Lingga Wisnu teringat akan ketajaman lidah Yunus. Dia sendiri seorang panuda yang senantiasa menghargai seorang tua di atas kehormataannya sendiri. Karena itu, hatinya tak enak apabila menyaksikan adu-mulut yang akan menyeret dirinya. Pikirnya di dalam hati: 'Mereka semua nampaknya bukan orang baik-baik pula. Kalau aku membiarkan diriku terseret arus, rasanya ...' Terus saja ia berkata tegas :

"Aku dan saudara Yunus ini, baru saja berkenalan. Itupun secara kebetulan pula, lantaran berada di sebuah perahu yang sama. Jadi, tidak tepat apabila disebut sebagai suatu sahabat. Perkenalan bukanlah berarti persahabatan! Meskipun demikian ingin aku mengemukakan sebuah saran. Apabila diantara kamu terjadi suatu perselisihab, hendaklah diusahakan agar menjadi damai saja. Dengan begitu kamu semua tidak akan merusak sendi-sendi perdamaian yang perlu kita himpun selama hidup."

Ini bukan saran, tetapi sebuah pidato. Tak mengherankan, Yunus yang berw atak angin-anginan mendadak membentak sambil melotot :

"Geladak perahu bukan lantai surau! Mengapa engkau berkhotbah dan mengoceh tak keruan? Jika engkau takut, melompatlah ke darat!"

Untuk yang ketiga kalinya, Lingga Wisnu tertumbuk batu. Pikirnya di dalam hati:

'Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang pemuda sekasar dia ...'

Begitu menyaksikan sikap galak Yunus terhadap Lingga Wisnu, yakinlah orang tua itu bahwa mereka, berdua memang bukan sahabat. Keruan saja hatinya girang bukan kepalang. Serunya ramah kepada Lingga Wisnu :

"Saudara Lingga! Kau tidak menpunyai tali persahabatan dengan bocah itu. Ha, bagus sekali! Aku mengucapkan selamat. Tunggulah sebentar, kalau persoalanku dengan bocah itu sudah beres nanti kita berbicara. Boleh kita mengikat tali persahabatan."

Lingga Wisnu tidak menjaw ab. Ia hanya mengangguk dan mundur keluar gelanggang. Dan orang itu lantas menghadapi Yunus. Berkata menyabarkan diri :

"Bocah! Usiamu masih muda sekali. Tetapi, perbuatanmu sangat bengis. Jumali memang bukan tandinganmu. Tak mengapa kalau hanya kau lukai. Akan tetapi, mengapa kau menghendaki jiwanya pula?"

"Aku seorang diri, sedang mereka berjumlah banyak. Peraw akan tubuh merekapun kuat dan perkasa. Sudah begitu, mereka main keroyok pula. Kalau aku tidak melawan dengan keras, apakah yang bakal terjadi atas diriku?" balas Yunus dengan suara garang. "Kau kini mendadak menegur pula. Hmm, apakah engkau tidak bakal ditertaw ai orang, karena mau menang sendiri terhadap seseorang yang berusia jauh lebih muda? Jika engkau merasa mempunyai kepandaian, mengapa tidak engkau sergap sendiri mangsa itu? Mengapa menunggu sampai aku sudah berhasil? Coba katakan, siapakah diantara kita ini, yang lebih jujur! Aku atau engkau."

Perkataan Yunus diucapkan dengan halus tetapi tajam. Dan orang tua itu jadi bungkam di buatnya. Sekonyong- konyong seorang perempuan tua yang berdiri diantara mereka membuka mulut: "Hai bocah cilik! Orang tuamu terlalu memanjakan dirimu. Lantaran itu, engkau tak mengerti tentang adat- istiadat. Siapakah ayah ibumu? Masakan mereka tak pernah mengajarimu, agar engkau bisa menghargai orang tua yang usia nya jauh diatasmu?"

"Huh!" dengus Yunus. "Tak usah dia perlu berusia lanjut, kalau saja bisa menghargai diri sendiri, masakan aku tak akan menaruh hormat kepadanya? Orang tua semacam kalian, harus aku hormati dan aku hargai apanya?"

Merasa kena selomot, orang tua itu tak dapat lagi menguasai rasa gusarnya. Tangannya melayang dan menggempur hiasan perahu. Dan kena gempurannya, hiasan kayu itu hancur berantakan.

Melihat tenaga besi orang tua itu, Yunus berkata : "Hai, kakek! Siapa yang tak kenal kepandaianmu yang

hebat itu? Semenjak dahulu aku tahu. Sekiranya ingin

pamer kepandaian, seyogianya kau pertontonkan dihadapan sekalian paman-pamanku.”

Disemprot demikian, rasa gusar orang tua itu kian menjadi-jadi. Bentaknya :

"Hem, kau hendak menggertak dengan menyebut paman-pamanmu? Siapa paman-pamanmu itu? Sekiranya sekalian paman-pamanmu dan kakekmu mempunyai kepandaian tidak bakal membiarkan ibumu kena diperkosa orang. Tak nanti pula, engkau dilahirkan sebagai anak haram ..."

Meluap hawa amarah Yunus. Wajahnya merah padam. Tetapi diantara luapan rasa amarahnya, terdapat rasa duka, malu dan pedih. Justru demikian, kesan diwajahnya mendadak menjadi seram suram. Matanya menyala bagaikan api.

Laki-laki yang bertubuh kekar dan perempuan yang berada disampingnya, tertaw a berkakakan melihat kesan waj ah Yunus. Mereka seakan-akan melihat suatu tontonan yang lucu. Dan pada saat itu, Lingga Wisnu menatap wajahnya. Ia nampak mengalirkan air mata. Dan melihat air mata itu, diam-diam Lingga Wisnu heran dan terharu. Pikirnya :

'Yunus lebih berpengalanan dari pada diriku. Mengapa ia menangis?”

Berpikir demikian, tiba-tiba Lingga Wisnu seperti tersadar. Akh, dia menanlis lantaran terhina, pikirnya. Dia seorang diri. Dan diperlakukan rendah oleh segerombolan orang tua. Dan memperoleh kesadaran ini, Lingga Wisnu merasa di pihak Yunus. Itulah disebabkan karena ia teringat akan nasib sendiri, yang hidup sebagai anak yatim piatu. Segera timbul keputusannya hendak membantu pemuda itu.

Orang tua itu, yang sudah berhasil membuat Yunus menangis nampak jadi puas. Katanya menang :

"Hai! Apa perlu menangis? Apa gunanya? Sekalipun engkau menangis seribu kali sehari, tetap saja dirimu seorang anak yang dilahirkan dari suatu perkosaan. Bukankah begitu? Nah, serahkan emas itu. Kamipun tidak akan serakahi. Kami akan menyisihkan sebagian sebagai hak hidupnya janda Jumali."

Yunus mendongkol sampai tubuhnya menggigil. Akan tetapi, menghadapi mereka ia merasa dirinya tak mampu. Dengan menangis seru, Yunus berteriak : "Jika kalian hendak membunuhku, bunuhlah! Bagaimanapun akibatnya, aku tak akan menyerahkan emas itu!"

"Hmm, begitu?" dengus orang tua itu. Tiba-tiba saja ia menyambar jangkar besi yang beratnya duaratus kilo. Dengan enteng, ia melemparkannya ke tepi. Dengan demikian perahu penumpang lantas saja berputar-putar kena kait. Tak lama kemudian berhent sama sekali. Tak usah dikatakan lagi, bahwa pameran kepandaian untuk yang kedua kalinya ini, membuktikan bahwa tenaga orang tua itu memang luar biasa kuat.

"Nah, kau serahkan tidak emas itu?" gertaknya. Dengan tangan kiri, Yunus menyusut air matanya.

Menyahut :

''Baiklah, akan aku serahkan. Tunggu sebentar!"

Setelah berkata demikian, larilah ia memasuki gubuk perahu. Kemudian keluar lagi sambil membawa bungkusan sepanjang guling yang nampaknya berat sekali. Orang tua itu buru-buru mengulurkan kedua tangannya, hendak menerima buntalan itu.

"Ih, begitu gampang?" dengus Yunus. Dan dengan mendadak-saja ia melemparkan buntalannya itu ke dalam sungai. Hebat akibat lemparan itu. Selain menerbitkan suara hebat, permukaan air pun muncrat tinggi di udara. Kemudian ia menantang dengan suara nyaring : 

"Jika kalian berani membunuhku, nah bunuhlah aku sekarang! Kalau kalian menghendaki emas itu, huh! Jangan mimpi!” Laki-laki yang bertubuh besar itu, gusar bukan kepalang. Terus saja ia mengayunkan goloknya hendak membelah tubuh Yunus yang menjengkelkan hatinya. Sudah barang tentu, Yunus tidak t inggal diam. Serentak ia menghunus pedangnya pula. Dan menangkis. Sebentar saja mereka bertenpur dengan sengit.

Laki-laki bertubuh besar lawan Yunus itu, bernama Jaya Tatit. Sebagai orang yang berperaw akan tinggi- besar, sudah selayaknya kalau tenaganya besar pula. Namun gerak-geriknya kaku. Goloknya menyambar- nyambar membabat dan menahas tiada hentinya. Hanya saja, tak pernah dapat menyentuh Yunus yang bisa bergerak gesit. Malahan setelah mengelak dua kali, pemuda itu mulai membalas.

"Tahan! Tahan dahulu!" seru orang tua itu.

Mendengar seruan orang tua itu, Yaya Tatit terus mundur. Dan orang tua itu maju selangkah dengan pandang tajam. Berkata :

"Seekor harimau memang melahirkan anak harimau. Itulah engkau, bocah! Ayahmu menang hebat. Kalau engkau sekarang bisa berkelahi, sudah selayaknya. Hanya saja, kalau dibiarkan maka lambat laun kau bisa jadi kurang ajar. Masakan kau tidak menghargai aku?"

Tak jelas gerakannya. Tahu-tahu ia sudah berada di depan Yunus. Tetapi Yunus sendiri sudah bersiaga penuh. Dengan pedang panjangnya, ia menusuk. Cepat tusukannya. Sayang, orang tua itu terlalu tangguh baginya. Dengan bertangan kosong saja, ia dapat mengelakkan diri. Kemudian mulai merangsak. Mau tak mau, Yunus berkelahi dengan mundur. Ingin ia membuat suatu-pembalasan. Akan tetapi tak memperoleh hasil karena rangsakan orang tua itu demikian cepatnya, sehingga ia tak memperoleh kesempatan sedikitpun juga. Meskipun tangannya menggenggam pedang panjang, namun tiada gunanya sama sekali.

Dengan sekali melihat, tahulah Lingga Wisnu bahwa orang tua itu bukan tandingnya Yunus. Dalam segala hal, dia berada diatas pemuda itu. Dan dugaannya ternyata tepat sekali. Setelah melakukan serangkaian serangan, lengan Yunus kena dicengkeramnya. Seketika itu juga runtuhlah pedang Yunus. Dan lengannya mendadak saja menjadi lemas.

Begitu pedangnya runtuh bergemelontangan di atas geladak, orang tua itu menyontek dengan sebelah kakinya. Kena sontekannya, pedang Yunus membalik ke atas. Tangan kirinya bergerak menangkap ujungnya. Kemudian tangan kanannya bergerak. Dan pedang itu patah menjadi dua bagian. Keruan saja Yunus kaget setengah mati sampai wajahnya menjadi pucat.

Berkatalah orang tua itu :

"Jika aku tidak memberimu tanda mata pada salah satu bagian tubuhmu, pastilah engkau makin meremehkan diriku. Jangan khaw atir, aku hanya ingin menggores pipimu saja." setelah berkata demikian, ujung patahan pedang itu bergerak hendak menggoret pipi Yunus.

Yunus kaget bukan kepalang. Dengan muka pucat- pasi, ia meloncat mundur. Tetapi dengan mudah saja, orang tua itu dapat mengejarnya. Tangan kirinya yang memegang patahan pedang mulai bergerak menjangkau. Dan Yunus menjerit ketakutan.

'Ih!” hati Lingga Wisnu terce kat. 'Jika pipinya yang kuning halus itu sampai kena tergores, dia bakal menderita cacat seumur hidupnya. '

Pada saat itu Yunus sudah menjerit lagi dengan suara putus asa. Cepat Lingga Wisnu merogo bajunya. Ia menemukan sebuah kancing, dan segera direnggutnya. Lalu disentilnya.

"Trang!"

Orang tua itu terkejut, selagi hatinya mulai menjadi girang lantaran akan segera bisa menggores pipi Yunus yang montok. Tangan kiri yang memegang patahan pedang tergetar. Lengannya lantas menjadi kesemutan. Dan patahan pedang yang berada dalam genggamannya runtuh di atas geladak.

Menyaksikan hal itu, Yunus lega luar biasa. Kalau sedetik tadi ia dalam ketakutan, mendadak saja hatinya kini berbalik menjadi beringas. Sekali melompat, ia berlindung dibelakang punggung Lingga Wisnu dan terus saja memegang lengannya. Lalu mendamprat :

"Hai, kampret tua! Kau benar-benar berlagak. Hayoo, ke mari. Kalau berani!"

Orang tua itu sebenarnya bernama Bhumi. Tetapi orang-orang menyebutnya sebutan Reksa Glempo. Dialah pemimpin Ki Rekso dengan Macan Kumbang, gerombolan penyamun yang bergerak di sekitar pegunungan Kendeng. Ilmu andalannya Esmu Gunting. Selamanya belum pernah ia berkelahi dengan menggunakan senjata. Dengan kedua tangan yang tajam mirip sebuah gunting, cukup ia merajai daerah sekitar pegunungan Kendeng, Ngawi dan lembah gunung Law u. Sekarang, mendadak saja ia mempunyai pengalaman baru. Karena timpukan sebuah kancing baju saja, pedang yang berada di dalam genggamannya bisa runtuh diatas geladak. Sedang lengannya jadi kesemutan pula. Padahal ia memiliki tenaga luar biasa besarnya. Inilah suatu peristiw a yang belum pernah dialami selama hidupnya. Pikirnya di dalam hati :

"Ih, kenapa bocah itu mempunyai tenaga sebesar ini?"

Jaya Tatit yang berdiri disamping Zubaedah segera sadar, akan kehebatan Lingga Wisnu. Dan Zubaedah, perempuan setengah umur peserta Rekso Bhumi, mempunyai kesan penglihatan yang sama pula. Pikirnya di dalam hati :

"Emas sudah terbuang di dasar sungai. Kalau terpaksa mengadu tenaga dengan pemuda itu, nampaknya akan berlarut -larut . Apa perlunya?"

Dan dengan pertimbangan itu, ia lantas saja berseru kepada Rekso Bhumi :

"Sesepuh *), sudahlah! Dengan memandang muka kepada sahabat kita Lingga, sebaiknya kau beri ampun saja bocah biadab itu!"

*) Sesepuh = Ketua

"Huh!" dengus Yunus selagi Reksa Bhumi belum dapat membuka mulut. "Setelah melihat orang berkepandaian tinggi, lantas saja hendak mengangkat kaki. Ih, lagakmu benar-benar lagak bangsat. Terhadap orang yang kiranya lemah, berani main hina. Tetapi begitu ketumbuk batu, buru-buru berani hendak bersimpuh. Huuu ... Mentang- mentang jadi begal pasaran ..."

Bukan main tajam mulut Yunus, sampai Lingga Wisnu mengerutkan dahinya. Pikirnya di dalam hati :

"Bocah ini benar-benar seperti kanakkanak. Baru saja lolos dari lubang jarum, mulutnya sudah begini jahil. Apakah dia tak bisa melihat gelagat?"

Kena ketajaman kata-kata Yunus, Zubaedah terdiam. Ia jadi serba salah. Melayani, salah. Tidak melayani, salah pula. Sebaliknya, Rekso Bhumi yang berpengalaman, bisa mencari jalan lain. Katanya ramah kepada Lingga Wisnu :

"Saudara, kau hebat! Kebetulan sekali rembulan sudah condong jauh ke barat. Sebentar lagi udara bakal terang- benderang kena cahaya matahari. Bagaimana kalau kita berolah raga sebentar?"

Ketua perkumpulan Macan Tutul, Rekso Bhumi alias Rekso Glempo, telah menantang. Dalam hatinya, memang ingin mencoba-coba ilmu saktinya Esmu Gunting yang telah ditekuninya selama dua puluh tahun lebih. Mengingat usia Lingga Wisnu yang masih muda belia, ia yakin bahwa dirinya bakal menang.

Lingga Wisnu jadi berbimbang-bimbang. Pikirnya di dalam hati :

"Jikalau aku melayaninya, meskupun belum pasti kalah, akan tetapi setelah bergerak satu dua jurus, berarti pula aku telah membantu Yunus. Rekso Bhumi ini meskipun sudah keriputan, nampaknya pendekar dan lic in jalan pikirannya. Apakah guna faedahnya aku menanam bibit permusuhan kepadanya?" Dan oleh pikiran itu, cepat-cepat ia membungkuk memberi hormat. Katanya:

"Selama hidupku, baru untuk pertama kali in ilah aku merantau. Karena itu, aku belum tahu tingginya gunung dan tebalnya bumi. Paman Rekso Bhumi, bila dibandingkan dengan kepandaianmu, kepandaianku ini sama sekali tiada arti. Karena itu, bagaimana aku berani melayani paman?"

Rekso Bhumi alias Rekso Glempo tersenyum. Pikirnya di dalam hati: 'Tak aku sangka, meskipun masih begini muda, pandai membaw a diri. Inilah kesempatan sebaik- baiknya untuk mengundurkan diri secara terhormat, maka berkatalah dia :

"Sahabat Lingga, engkau bersegan segan terhadap diriku. Mengapa?"

Tiba-tiba ia menghampiri Yunus, sambil melototkan matanya, katanya kasar :

"Di kemudian hari, meskipun tulang tulangku telah keropos, masih ada waktu untuk menghajarmu. Tahu?"

Setelah berkata demikian, ia menggapai Jaya Tatit, lalu mengajaiknya pergi :

"Mari!" ajaknya.

Sekonyong-konyong Yunus, si mulut jahil, berseru : "Hai,   orang   tua!   Lagakmu   saja seperti seorang

pendekar besar. Melihat hebatnya kepandaian saudara

Lingga, terus saja engkau mencari alasan mundur. Bukankah begitu?"

Yunus sengaja mengejeknya untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. Kecuali itu, ingin pula ia menyaksikan Rekso Bhumi alias Rekso Glempo bertempur melawan Lingga Wisnu. Di dalam hati ia percaya, bahwa ilmu kepandaian Lingga Wisnu lebih tinggi dari pada si tua bangkotan itu.

Rekso Bhumi alias Rekso Glempo jadi serba salah. Dadanya panas, serasa hendak meledak. Namun masih bisa ia menguasai diri. Berkata kepada Lingga Wisnu :

"Saudara Lingga, meskipun usiamu masih muda, akan tetapi engkau mengenal arti kata suatu persahabatan. Itulah sebabnya aku memanggil saudara kepadamu. Mari, mari kita bermain segebrak dua gebrak saja! Biar bocah jahil yang tak tahu diri itu, tidak mengira bahwa aku t idak mempunyai keberanian."

Lingga Wisnu sebenarnya tak senang hati pula mendengar mulut jahil Yunus. Mendengar ucapan Rekso Bhumi alias Rekso Glempo, ia menyahut :

"Paman, mengapa engkau mendengarkan ocehan seorang anak? Aku kira dia hanya melepaskan kata-kata sejadi-jadinya saja."

"Engkau tak usah kuatir, saudara Lingga, akupun tidak akan berkelahi dengan sungguh-sungguh," ujar Rekso Bhumi mendesak.

Dan pada saat itu, Yunus berkata lagi dengan suara tajam :

“Mulutmu memang bilang tidak takut. Tetapi hatimu sebenarnya berdegupan. Sekiranya tidak begitu, tanganmu yang ganas masakan tinggal diam saja? Idiih! Masih bisa engkau ngomong tentang persahabatan pula? Tetapi memang! Memang! Memang lebih baik jangan bertempur saja! Tetapi demi Tuhan, sampai seusia ini belum pernah aku menyaksikan kelicikan seorang ketua gerombolan penyamun seperti dirimu. Maka dari itu, lebih baik engkau jangan bertempur saja!"

Meluaplah hawa amarah Rekso Bhumi. Di luar kehendaknya sendiri, tiba-tiba tangannya bergerak menampar wajah Lingga Wisnu. Akan tetapi belum sampai pada sasarannya, cepat ia menarik tangannya kembali. Lantas berkata :

"Saudara Lingga! Mari! Mari! Aku ingin belajar kenal dengan ilmu kepandaianmu."

Didesak demikian rupa, Lingga Wisnu tak dapat mundur lagi. Segera ia melompat ke tengah gelanggang. Berkata dengan suara hormat :

"Baiklah. Hanya saja, sudilah paman menaruh iba kepadaku ..."

"Kau baik sekali, sahabat Lingga! Silahkan!" sahut Rekso Bhumi alias Rekso Glempo dengan suara menantang.

Lingga Wisnu tertegun sejenak. Meskipun ia baru untuk pertama kalinya merantau seorang diri, tetapi semenjak belum bisa beringus sudah kenyang mengenal lagak-lagu seorang pendekar. Maka tahulah dia, apabila tetap membaw a sikap merendahkan diri terus-menerus, berarti pula ia merendahkan orang tua itu. Segera ia mengayuhkan pukulan jurus Sardula Jenar yang pertama. Sasaran yang dibidiknya adalah dada lawan.

Rekso Bhumi tercengang. Juga kedua rekannya. Tadinya, mereka bertiga mengira, pemuda itu berkepandaian tinggi. Sama sekali tak terduga, bahwa pukulannya begitu sederhana saja. Seperti diketahui, jurus-jurus ilmu tata berkelahi Sardula Jenar, memang sangat sederhana. Pukulan-pukulannya mirip pukulan- pukulan ajaran pengantar tata-berkelahi tataran permulaan. Sama sekali tiada tipu-tipu muslihat atau keistimewaannya. Seorang pendekar rendahanpun bisa memunahkan tiap serangan-serangannya dengan mudah. Malahan seorang tukang pukul biasapun, akan sanggup melawan dengan baik, asal saja memiliki tenaga jasmani yang kuat. Itulah sebabnya, Yunuspun yang merasa diri terlanjur membuka mulut besar, kecewa bukan main sampai dahinya pucat.

Sebaliknya, Rekso Bhumi alias Rekso Glempo girang bukan kepalang. Dengan hati mantap, mulailah dia menyerang..   Setiap   pukulannya,   disertai   himpunan

tenaga wkti, sehingga terdengar suara berderu-deru. Ia yakin dapat merobohkan Lingga Wisnu dalam tiga       jurus       saja.

Sekiranya tidak

demikian, paling tidak, akan bisa membuat pemuda itu kelabakan.

Diluar dugaan, gerakan-gerakan

pemuda itu yang nampaknya sederhana saja, ternyata

gesit dan-licin luar biasa. Betapa dia menghujani pukulan-pukulan deras dengan berbagai tipu tipu muslihat t inggi, tetap saja tak mampu menyentuh tubuh Lingga Wisnu. Keruan saja ia jadi terkejut dan terheran- heran. Dirasakannya suatu keanehan yang tak dapat dimengerti. Mengapa pukulan pukulan dan gerakan- gerakannya yang sederhana itu, tak dapat terkejar oleh pukulan lintang Esmu Gunting yang termasyur kecepatannya semenjak puluhan tahun yang lalu? Sama sekali ia tak pernah mimpi, bahwa nun jauh di atas puncak gunung Dieng, seorang petapa sakti bernama Ki Sambang Dalan, telah berhasil meniupkan nyawa baru ke dalam jurus-jurus Sardula Jenar yang sederhana. Dan pemuda itu telah mewarisinya dengan sangat sempurna. Iapun tak pernah mengira pula, bahwa seorang pendekar besar yang lainnya, yang bernama Ki Ageng Gumhirek, telah mewariskan ilmu kepandaian 'Maya Putih' kepada pemuda itu. Maka di tangan pemuda itu, Sardula Jenar mendadak saja berubah kemujijatannya. Tubuhnya berkelebatan tak ubah bayangan maya.

Keruan saja Rekso Bhumi alias Rekso Glempo makin.lama makin menjadi sibuk. Bagaimana ia berusaha, tetap saja tak dapat mendekati tubuh Lingga Wisnu. Ia malah merasa diri kena libat terus-menerus. Akhirnya ia berpikir di dalam hati: 'Teranglah sudah, bahwa ia tidak berniat menggebuk aku, agar aku tak usah menanggung malu. Meskipun demikian, kalau kesudahannya aku tidak dapat berbuat sesuatu, bocah biadab anak jadah itu akan memperolokkan juga. Lantas bagaimana baiknya?

Dirumun pikirannya sendiri, kesibukannya berubah menjadi rasa cemas. Dengan serta merta ia menghimpun seluruh kepandaiannya. Lalu melancarkan serangan dengan sungguh-sungguh dan cermat. Gerakannya dipercepat, sedang tiap pukulannya maribawa ancaman maut. Meskipun demikian, tetap saja nihil, seakan-akan tiada bedanya dengan pukulan-pukulannya yang pertama.

Pada saat itu Lingga Wisnu berpikir di dalam hati : 'Sesungguhnya tidak mudah orang memiliki ilmu 'Esmu

Gunting' setinggi dia. Aku harus berani mengalah, agar dia tak usah menanggung malu menghadapi mulut jahil si Yunus ...' setelah memperoleh keputusan demikian, ia sengaja menggelincirkan sebelah kakinya. Seketika itu juga geraknya menjadi ayal.

Rekso Bhumi girang melihat adanya suatu lowongan. Tetapi di dalam hati, tiada niatnya hendak mencelakai pemuda itu. Ia hanya ingin merobek kain bajunya saja, artinya ia sudah dapat memperoleh kemenangan.

Demikianlah, dengan cepat diterkamnya pundak Lingga Wisnu. Bidikannya tepat. Tetapi kesudahannya, ia heran bukan kepalang. Jelas sekali, terkamnya sudah berhasil mencengkeram daging. Tiba-tiba daging yang dicengkeramnya itu menjadi keras dan licin. Ia kaget dan cengkeramannya luput seperti seseorang menangkap belut yang t iba-tiba lolos dari tangannya. Hai! Mengapa? Ia tak tahu, bahwa hal itu terjadi berkat baju mustika Ki Ageng Gumbrek yang dihadiahkan kepada pemuda itu beberapa tahun yang lalu.

Lingga Wisnu tahu diri. Ia lantas melcmpat mundur sambil berkata :

"Aku menyerah!"

"Akh! Kau sengaja mengalah!" sahut Rekso Bhumi setengah mengeluh. Tetapi dengan rela hati ia tersenyum sambil membungkuk hormat. Justru pada saat itu, si mulut Jahil menimbrung : "Memang dia mengalah. Kau tahu atau t idak? Syukur

kalau engkau tahu!"

Merah padam wajah Rekso Bhumi alias Rekso Glempo disemprot Yunus. Sebagai seorang pemimpin suatu perkumpulan, tersinggunglah kehormatannya. Segera ia hendak membuka mulutnya untuk mempertahankan harga dirinya, mendadak terjadilah suatu peristiw a lain. Di seberang sungai, beberapa puluh orang datang berbondong-bondong, dengan membaw a obor menyala. Mereka berteriak-teriak ribut :

"Mana bocah itu? Bawa ke mari! Kami ingin mengerat- erat dagingnya demi menenteramkan arwah Jumali!"

Yunus menoleh. Melihat datang puluhan orang hendak menuntut balas kepadanya, mau tak mau hatinya menjadi kuncup. Segera ia memipitkah tubuh kepada Lingga Wisnu.

"Karsongali! Bawalah seseorang ke mari!" perint ah Rekso Bhumi.

Dengan cepat, sampailah rombongan itu di tepi sungai. Akan tetapi, perahu Kertomidin atau Demalung, berada agak jauh dari tepi. Dua orang lantas terjun ke dalam air. Mereka berenang timbul-tenggelam seakan- akan dua ekor ikan terbang. Dalam sekejapan saja sudah meloncat ke atas geladak.

"Bungkusan emas sudah dilemparkan bocah biadab itu ke dalam air. Panggil teman-temanmu dan cari bungkusan emas itu!" teriak Rekso Bhumi alias Rekso Glempo sambil menuding ke arah terlemparnya bungkusan emas. Dan menerima perint ah ketuanya, mereka berdua lantas saja terjun ke sungai lagi.

Yunus yang memepetkan badannya pada Lingga Wisnu, menarik lengan pemuda itu dan berkata dengan suara memohon :

"Mereka hendak membunuh aku. Tolonglah aku dari ancaman mereka!"

Lingga Wisnu menoleh. Ia melihat wajah Yunus yang sedih mengibakan hati. Lantas saja ia mananggut.

"Kalau begitu, kau tariklah jangkarnya selagi mereka sibuk mencari bungkusan emas itu," bisik Yunus dengan suara penuh syukur.

Gerak-gerik Yunus sudah barang tentu tidak lepas dari perhatian Rekso Bhumi. Melihat pemuda itu berbisik-bisik kepada Lingga Wisnu, segera ia bertindak. Akan tetapi ia kalah sebat. Tiba-tiba saja Yunus menyambar sebuah bangku tempat bergadang yang terletak di tepi dinding perahu. Lalu dilemparkannya ke arah ketiga musuhnya.

Inilah kejadian di luar dugaan. Jaya Tatit dan Zubaedah yang tidak mengira sama sekali bakal d iserang secara mendadak, tak sempat lagi mengelakkan diri. Mereka berdua tercebur ke dalam air.

Rekso Bhumi masih senpat menangkis sambaran bangku itu. Dengan tangannya yang kuat bagaikan besi, ia menangkap kaki bangku itu. Lalu dengan sekali remas, kaki bangku itu menjadi patah berantakan. Berbareng dengan itu, ia melompat ke tepi perahu. Ia bebas dari serangan Yunus, akan tetapi bingung melihat kedua rekannya tercebur ke dalam sungai. Inilah karena ia mengetahui bahwa kedua rekannya itu tak pandai berenang. Sedang Karsongali dan kawannya pada saat itu sudah menyelam ke dasar sungai dan jaraknya agak jauh. Tetapi ia seorang yang berpengalaman. Segera ia menjangkaukan bangku yang berada ditangannya, sambil menggenggam sebelah kaki bangku itu erat-erat. Maksudnya agar mereka berdua dapat menyambar ujung kaki bangku masing-masing sebelah. Kemudian segera akan di hentakkan ke atas.

Tiba-tiba saja dia teringat kepada Yunus. Hatinya sangat panas. Menuruti kata hatinya tak sudi ia membiarkan bocah itu tak berbalas. Maka ia lemparkan bangku itu ke sungai sambil berseru :

"Apungkan diri kalian dengan memegang bangku itu sebagai alat pengapung! Bocah itu biarlah kuhajarnya mampus dahulu!"

Berbareng dengan seruannya, ia menyambar penggayuh salah seorang anak-buah Kertomidin alias Demalung. Yunus pun berbuat demikian pula. Dengan membolang-balingkan penggayuh itu sebagai penggada, Yunus melindungi mukanya rapat-rapat .

"Kau tariklah jangkarnya, cepat” serunya kepada Lingga Wisnu.

Dengan sebat Lingga Wisnu menyambar tali jangkar, kenudian dihentakkan. Dan jangkar itu terangkat naik dari g ili-gili dan  melayang ke perahu. Hebat perbaw a jangkar yang sedang melayang itu. Nampaknya seperti wajar saja akan jatuh di atas geladak. Tetapi sebelum itu, mendadak saja bisa menyelonong menyambar dada Rekso Bhumi. Keruan saja orang tua itu kaget. Buru-buru ia melompat menyingkir. Yunuspun berbuat demikian pula. Dengan demikian, mereka jadi berpisah. Dan pada saat itu, perahu bergerak mengikuti arus sungai. Sedang Lingga Wisnu menyambar jangkar yang akan jatuh di atas geladak dengan tenang-tenang saja.

Rekso Bhumi kagum menyaksikan tenaga Lingga Wisnu yang dapat menyambut datangnya jangkar yang berat. Selagi demikian, hatinya tercekat pula melihat bergeraknya perahu makin lama makin cepat. Kalau sampai terpisah dari kawan-kawannya, bakal celaka. Maka dengan sekali menjejakkan kakinya, ia melesat ke tebing sungai. Tatapi, perahu sudah terlanjur bergerak menjauhi tebing sungai, jaraknya melebihi lima belas meter.

Dengan sekali melihat, tahulah Lingga Wisnu bahwa orang itu tak akan mampu mencapai tebing. Buru-buru ia mengangkat jembatan perahu dan melemparkan ke atas air. Waktu itu Rekso Bhumi sudah mengeluh. Tak dapat dielakkan lagi, bahwa ia bakal tercebur di dalam air. Selagi demikian, ia melihat berkelebatnya selembar papan didepannya. Betapa girang rasa hatinya, tak terkatakan lagi. Terus saja ia mendarat pada papan itu. Kemudian dengan menjejakkan kakinya, ia meloncat ke darat. Dalam hati ia merasa sangat berterima kasih kepada pemuda itu, berbareng mengaguminya.

"Hai!" seru Yunus mendongkol. 'Untuk kesekian kalinya berbaik hati terhadap orang tua itu. Heh, sebenarnya engkau hendak membantu aku apa dia? Biarkan dia tercebur ke dalam sungai. Bukankah dia t idak bakal mati?" Lingga Wisnu tahu tabiat pemuda itu aneh. Karenanya tak mau ia melayani. Terus saja ia masuk ke dalam gubuk dan merebahkan diri. Yunus tambah mendongkol. Ingin ia mendampratnya, akan tetapi Lingga Wisnu bersikap membungkam mulut. Maka terpaksalah dia merangkaki gubuknya pula dengan bersungut-sungut.

Keesokan harinya, tatkala matahari hampir condong ke barat, sampailah perahu Kertomidin alias Demalung di Kedungbarang. Lingga Wisnu menghaturkan terima kasih kepada Nitigurnito atas pertolongannya menumpang di perahu. Kemudian memberikan bayaran kepada Kertomidin alias Demalung. Tetapi, Nitigurnito mencegah. Katanya :

"Jangan! Biarlah aku yang membayar beaya perjalananmu!" saudagar ini bahkan merasa berhutang budi terhadap pemuda itu. Seumpama tak ada dia, barang-barangnya bakal diludaskan o leh perompak- perompak tadi malam.

Lingga Wisnu tak mau mengecewakan kehendak Nitigurnito yang ingin menbalas jasa. Setelah menghaturkan rasa terima kasih, segera ia berpamitan. Diluar dugaan, Yunuspun hendak mendarat pula. Kata pemuda itu kepada Nitigurnito :

"Aku juga tahu, bahwa engkau tak akan mengijinkan aku pula untuk membayar beaya perjalanan. Tetapi aku tak sudi kau perlakukan demikian. Aku seorang penumpang. Dan aku akan tetap membayar," dan setelah berkata demikian, ia meraup segenggam uang emas dan ditaruhnya di atas meja.

"Pak Kertomidin alias Demalung! Inilah merupakan beaya perjalananku. Kau ambillah!" Kertomidin alias Demalung sebenarnya seorang mata duitan. Tetapi setelah mengenal perangai dan tabiat penumpangnya yang muda itu, tak berani ia menerima pembayaran itu lantaran takut kena salah. Maka dengan lagak berpura- pura goblok, ia menyahut :

"nDoromas .. eh, aku tak mempunyai uang kecil sebagai ..."

"Siapa yang ingin kau kembalikan kelebihan pembayaranku?" bentak Yunus. "Ini untukmu semua!"

Kertomidin tercengang. Mulutnya sebenarnya sudah mengilar. Tetapi, ia tak berani buru-buru menerima rezeki itu. Ia jadi nampak berbimbang-bimbang. Sahutnya bergemetaran :

"Tak usah sebanyak itu ... tak usah sebanyak i ..." "Eh, kau cerewet juga?" bentak Yunus. "Berapa aku

mau memberimu, itulah hakku sendiri. Apa perlu engkau mengoceh tak keruan? Apakah engkau ingin perahumu

aku lubangi biar tenggelam?"

Diancam demikian, Kertomidin alias Dema- lung kaget seperti tersambar petir. Gugup ia menyahut :

. "Oh, kalau begitu ... terima kasih, terima kasih ..." dan dengan tangan bergemetaran ia memungut tumpukan uang emas itu.

Yunus kemudian membuka bungkusannya. Begitu terbuka, sinar bergemerlapan memantul keluar oleh cahaya matahari. Dengan serta merta ia meletakkan di atas atas meja. Lalu dihitungnya. Semuanya berjumlah tigaratus potong mas. Ia membagi menjadi dua bagian. Yang sebagian segera dimasukkannya ke dalam bungkusan pakaiannya dengan cekatan, dan sebagian lagi d isorongkan ke depan Lingga Wisnu.

"Ini bagianmu!" katanya.

"Apa?" Lingga Wisnu tercengang.

Yunus tertaw a puas. Dan wajahnya mendadak saja kelihatan manis. Katanya :

"Apakah engkau mengira aku benar-benar telah membuang emas rampasan in i ke dalam sungai? Huh, masakan aku setolol itu. Mereka boleh mencari dan menggerayangi seluruh dasar sungai. Sekiranya berhasil, mereka bakal menemukan sebungkusan batu saja." setelah berkata begitu, ia lantas saja tertaw a geli.

Lingga Wisnu menghela napas. Yunus lebih muda dari pada dirinya. Tetapi umur semuda itu sudah bisa mengelabui Rekso Bhumi alias Rekso Glempo, seorang pemimpin gerombolan penyamun, yang sudah banyak makan garam. Benar-benar mengagumkan!

"Saudara Yunus! Aku tak membutuhkan uang emas itu. Kau ambillah sendiri. Kalau tadi aku membantumu, bukanlah lantaran uang emasmu," kata Lingga Wisnu.

"Tetapi ini pemberianku-kepadamu," sahut Yunus cepdj:. "Uang emas ini, bukannya engkau yang merampas. Jadi bagianmu, merupakan uang emas halal! Kenapa engkau berlagak sebagai seorang pendekar berhati palsu?"

Lingga Wisnu tetap menggelengkan kepala. Ia tak mau menerima uang emas pemberian Yunus.

Nitigurnito adalah seorang saudagar besar. Dalam tata hidup persoalan harta benda, bukan merupakan hal asing baginya. Akan tetapi melihat kedua pemuda itu, ia heran sekali. Yang seorang tak dapat menghargai arti uang emas. Dan yang lainnya menganggapnya masalah ringan. Yang seorang mendesak hendak memberi, dan yang lain menolak dengan keras. Selama hidupnya yang telah melampaui setengah abad, belum pernah ia melihat peristiw a demikian.

"Tak perduli engkau mau apa tidak, aku harus memberikannya kepadamu." kata Yunus dengan suara nyaring. Sekonyong-konyong ia melcmpat ke darat.

Lingga Wisnu te rtegun. Tetapi segera tersadar. Ia pun melompat memburu. Akan tetapi Yunus dapat berlari kencang. Sayang, ia ketemu batunya. Dengan sekejapan saja Lingga Wisnu dapat mendahuluinya.

"Tunggu!" kata Lingga Wisnu sambil memegat larinya. "Kau bawa sajalah emasmu

ini!"

Yunus mencoba menerobos melalu i samping

- Namun sia-sia belaka. Tanpa mampu ia melintasi Lingga Wisnu. Dalam sengitnya, sekonyong- konyong ia menyerang wajah Lingga Wisnu.

Lingga Wisnu menangkis serangannya. Dengan

tangan kiri ia menolak. Sebenarnya ia tidak gunakan tenaga saktinya, akan tetapi Yunus kena didorong tiga langkah. Merasa dirinya tak akan sanggup lolos dari pegatan Lingga Wisnu, mendadak saja Yunus menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh di atas tanah. Dengan tiba-tiba pula menangis sedu-sedan.

"Apakah aku menyakitimu?"

Lingga Wisnu minta keterangan dengan perasaan cemas. Ia mengira tangkisannya tadi, membuat Yunus kesakitan lengannva.

"Siapa bilang aku kesakitan?" seru Yunus sambil melompat bangun. Dengan tiba-tiba saja ia melesat tinggi melampaui Lingga Wisnu yang sedang berjongkok.

Lingga Wisnu jadi tercengang-cengang. Dengan mata tak berkedip, ia mengaw askan kepergian Yunus yang tak lama kemudian lenyap dari penglihatan.

Benar-benar aneh tabiatnya. Lingga Wisnu bergumam seorang diri. Ia kagum akan kecerdikan pemuda itu. Tetapi ia heran pula, terhadap tabiatnya yang aneh. Dengan hati geli, terpaksalah ia membawa bungkusan emas yang diperuntukkan baginya, pikirnya sambil berjalan memasuki kota :

'Tak enak hatiku, sebelum dapat mengembalikan emas ini kepadanya. Aku membantunya hanya semata-mata bukan karena uangnya. Kalau aku menerima emasnya, seolah-olah menerima bagianku, dikemudian hari, bukankah aku bisa dituduh orang bersekutu dengan dia?'

0oo-dw -oo0

BAGIA N II (bagian I nya mana yee hi hi ) Pada malam harinya Lingga Wisnu menginap di sebuah losmen milik seorang Tionghoa asal Hokkian. Di dalam kamarnya, berbagai pertimbangan memenuhi pikirannya. Tujuannya memasuki wilayah Sukowati hendak mencari gurunya. Tak terduga, ditengah jalan ia menemukan suatu peristiw a yang mengikat. Bagaimana kelak ia harus mempertanggung jaw abkan emas yang dibawa bawanya itu kepada gurunya. Rasanya susah ia memberikan pertanggungan jawab. Maka makin kuatlah ketetapannya hendak mencari Yunus sampai ketemu. Kemudian emas itu harus diserahkan kembali. Kalau dia menolak, akan ditinggalkannya saja.

Keesokan harinya, ia segera berangkat mencari jalan menuju ke dusun Kemuning. Ternyata dusun itu berada di sebelah barat gunung Law u. Untuk mencapai dusun itu, setidak-tidaknya membutuhkan waktu dua hari.

Gunung Lawu, bagi Lingga Wisnu mempunyai kesan yang mendalam dalam hati Lingga Wisnu! Di gunung itulah sekalian saudara dan ayah-bundanya menemui ajalnya. Di gunung itu pulalah sekalian paman guru dan eyang gurunya bermukim. Selain itu, gunung Lawu merupakan gunung keramat bagi penduduk disekitarnya. Mereka percaya, bahwa Resi Hancman betapa di puncaknya. Resi Kanoman adalah salah satu tokoh dalam ceritera Ramayana. Ia seekor kera putih, panglima raja Ramadewa yang hidup pada zaman ribuan tahun yang lalu. Meskipun seekor kera, tetapi sifat kasatryanya bisa mencuri hati orang, sehingga namanya tetap abadi di sepanjang masa.

Pada zaman abad pertengahan, puncak gunung Law u menjadi pusat perhatian orang lagi. Dialah satu-satunya putera Majapahit yang berhasil melarikan diri tatkala kerajaan Majapahit runtuh kena serbu tentara Islam dari Denak Bintara. Putera Majapahit itu menpunyai pusaka sakti umbul-umbul dan tambur. Barangsiapa berlindung dibawah umbul-umbul sakti itu, dirinya t idak tampak oleh penglihatan orang. Dan tambur itu sendiri, bisa memanggil roh-roh halus dan tentara siluman. Pada saat itu, dari mulut kemulut dibisikkan orang, bahwa Raden Mas Said sedang bertapa di bawah kepundang gunung dengan maksud hendak memperoleh warisan pusaka sakti tersebut.

Dan dari gunung Law u itu pula, diramalkan orapg bahwa Ratu Adil bakal mengatur tata-tertib di tanah Jawa di kemudian hari, apabila negara berada dalam bencana keruntuhan.

Demikianlah, maka gunung Lawu akan tetap keramat dan abadi dalam hati penduduk.

Dalam usahanya mencari keluarga Dandang Mataun, Lingga Wisnu berjumpa dengan seorang petani perempuan. Lantas saja ia bertanya :

"Bibi, bolehkah aku minta petunjukmu?"

Petani perempuan itu menatap wajahnya. Dengan ramah ia menyahut :

"Tentu. Tetapi aku ini orang dusun, nak. Petunjuk apa yang akan kau minta?"

"Tahukah bibi, dimana keluarga Dandang Mataun bertempat tinggal?"

Mendadak saja, wajah perempuan itu berubah.

Keramahannya tadi lenya. Lalu menyahut kasar: "Aku tak tahu. Cari saja sendiri!" setelah menyahut demikian, ia melanjutkan pekerjaannya.

Lingga Wisnu heran. Apa sebab perempuan itu tiba- tiba berubah sikapnya? Sambil berjalan ia mencoba menebak-nebak teka-teki itu. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pedagang keliling. Ha, mungkin dia bisa memberi petunjuk, pikirnya. Lantas saja ia menghampiri sambil bertanya :

"Saudara, bolehkah aku numpang bertanya? Di manakah tempat tinggal keluarga Dandang Mataun?"

Pedagang keliling itu berhenti. Ia mengamat-amati dirinya. Menegas :

"Apa perlu saudara menanyakan tempat tinggal keluarga itu?"

"Aku hendak mengembalikan bungkusan titipannya." "Kalau begitu, saudara sahabatnya, bukan? Kau cari

saja sendiri. Apa perlu bertanya kepadaku?"

Untuk kedua kalinya, Lingga Wisnu heran. Selain itu, ada perasaan malu menyelomot lubuk hatinya. Mengapa orang itu tiba-tiba jadi kasar? Apakah penduduk sekitar gunung Lawu memang manusia-manusia kasar? Akh, tidak mungkin! Eyang guru dan sekalian paman gurunya termasuk penduduk sekitar gunung Law u. Almarhum ayahnyapun pada zaman mudanya, bermukim di salah satu pinggang gunung Lawu itu.

Sekarang ia mencari seorang kanak-kanak yang berumur kurang dari sepuluh tahun, untuk mencari keterangan. Seorang kanak-kanak dibawah umur sepuluh tahun, masih bersih tabiatnya. Setelah menyesapkan dua buah kelip di dalam tangannya, ia bertanya ramah :

"Adik, tahukah engkau tempat tinggal keluarga Dandang Mataun?"

Anak itu sudah menggenggam mata uang pemberiannya. Tetapi tiba-tiba saja mengembalikannya sambil menuding :

"Kau mencari rumahnya? Itu! Istana besar itu!" dan setelah berkata demikian, bocah itu lari menjauhi.

Kembali Lingga Wisnu heran. Tetapi dia sesungguhnya bukan pemuda yang tak pandai berpikir. Semenjak ia bertemu dan melihat perubahan sikap petani perempuan, segera dapat menebak delapan bagian. Kalau saja ia minta keterangan lagi kepada seorang pedagang keliling dan seorang bocah, semata-mata lantaran ingin memperoleh keyakinan. Bukankah orang yang memperkenalkan namanya dengan Cocak Obar-abir dahulu itu, pernah menyebut dirinya sebagai salah seorang anggauta keluarga Dandang Mataun? Menilik sepak-terjangnya dia seorang bengis, dan kejam. Terhadap saudaranya sendiri, sampai hati ia membunuhnya demi memperoleh kitab sakti warisan. Juga Yunus, adalah seorang pemuda yang kejam dan aneh tabiatnya.

Bagi orang dusun yang berwatak dan hidup sederhana, tabiat Yunus yang aneh itu pastilah dibencinya.

Rumah yang disebut sebagai istana oleh si bocah cilik, sebenarnya bukanlah sebuah istana dalam arti kata yang benar. Rumah itu hanya besar dan berhalaman luas. Kesannya mentereng dan angke. Letaknya di sebuah bukit yang terlindung oleh gerombol pepohonan lebat.

Dari dalam halaman yang luas, Lingga Wisnu mendengar suara riuh orang. Kemudian muncullah duapuluh empat orang petani dengan membaw a pacul dan kapak. Petani-petani itu berkerumun dan merundingkan sesuatu di luar pagar batu. Kemudian masuk halaman lagi, sambil berteriak-teriak :

"Hai, kamu keluarga Dandang Mataun! Kamu telah membunuh tiga orang teman kami! Jangan enak-enak berpeluk lutut! Masakan kalian boleh berbuat semena- menanya? Hayo, ganti jiwa ketiga teman kami itu!"

Diantara mereka, terdapat delapan orang perempuan yang membiarkan rambutnya kusut masai dan terurai reriapan. Mereka menangis menggerung sambil memaki- maki. Melihat hal itu, terdengarlah hati Lingga Wisnu. Ia jadi teringat pada pengalaman hidupnya sendiri yang merasa di perlakukan tidak adil oleh hidup. Maka ia mendekati. Kemudian bertanya :

"Sebenarnya, apa yang telah terjadi?"

Seseorang menoleh kepadanya. Menjaw ab:

"Saudara nampaknya seorang pendatang. Pastilah engkau tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Keluarga Dandang Mataun merupakan tataran tinggi diantara penduduk sini. Se menjak dahulu, keluarga itulah yang memegang kendali penghidupan. Mereka semua pandai berkelahi, sehingga menjagoi wilayah sin i.

"Mereka keluarga tuan tanah yang bengis. Kekayaannya adalah himpunan darah kami. Kemarin mereka mendatangi nenek Dimeja, menagih uang sewa tanah. Nenek Dimeja minta waktu penglunasan pembayaran sewa tanah dalam beberapa hari saja. Mereka menjadi gusar. Nenek Dimeja yang sudah keropos tulang-belulangnya itu, didorong dengan kasar. Tentu saja kena dorong mereka, ia mundur sempoyongan dan jatuh terbaik. Kepalanya membentur batu. Dan ia mati pada saat itu juga. Anak dan keponakan nenek Dimeja menuntut balas. Mereka melabrak dengan nekad. Tetapi kena dihajar roboh sehingga luka-luka berat. Apakah tindakan mereka itu tidak kejam?"

Selagi orang itu memberi keterangan kepada Lingga seorang petani lain sedang menumbuk numbukkan bajaknya pada pintu depan, yang ditutup rapat. Dan pemuda-pemuda lainnya melempari batu.

Sekonyong-konyong terjeblaklah pintu depan. Sesosok bayangan melesat keluar. Sebelum orang-orang melihat bayangan itu dengan tegas, tujuh orang temannya telah roboh terpelanting. Kepala mereka lantas saja bermandikan darah!

'Dia keji sekali!' pikir Lingga Wisnu. Dia lantas menajamkan matanya, agar memperoleh penglihatan yang lebih jelas lagi.

Bayangan itu berperawakan jangkung kurus. Kulit mukanya bersemu kuning. Dengan sepasang alisnya yang berdiri tegak, siapa saja akan segera memperoleh kesan, bahwa dia seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Kalian benar-benar sekumpulan anjing dan babi!" bentaknya garang. "Mengapa kalian merusak rumah kami? Apakah kalian tak mengenal peraturan?" Biasanya, orang mendamprat untuk memperoleh jawaban. Tetapi sebelum para petani sempat membuka mulutnya, dia bergerak lagi dengan gesit. Tujuh orang terlempar jatuh menungkrap di tanah.

'Hebat tenaga orang ini,' pikir Lingga Wisnu. "Seperti potongan jerami saja, ia melemparkan orang. Pastilah dia salah seorang keluarga Yunus. Kalau dia dahu lu menyertai Yunus, tak perlulah aku membantunya. Kegesitan dan kekuatannya, bisa menandingi Rekso Bhumi dengan leluasa sekali ...'

Pada waktu itu, seorang petani berusia kurang lebih empatpuluh tahun memajukan diri. Ia diikut i oleh dua orang pemuda yang berdiri di sampingnya. Kata orang itu :

"Kamu telah membunuh orang. Masakan kami hanya berhak menabuhkentung saja? Benar, kami ini sekumpulan manusia-manusia miskin. Tetapi kami bukan sekumpulan anjing atau babi seperti katamu itu. Jiwa kamipun sama harganya dengan jiw a kalian! Hidung sama-sama satu dan telinga sama-sama dua."

Orang jangkung kurus itu tertaw a mendengus lalu menjawab :

"Jika belum aku mampuskan beberapa orang lagi, rasa-rasanya kamu anjing-anjing in i masih saja menggonggong tak keruan." sekali berkelebat, ia menangkap petani yang membuka mulutnya itu. Tiba- tiba tubuhnya kena dijunjung tinggi. Kemudian dilemparkan keluar pagar batu :

"Enyah!" bentaknya nyaring. Kedua orang pemuda yang menyertai petani itu, menjadi gusar. Berbareng mereka menyerang dengan paculnya. Yang diserang menangkis dengan tangan kirinya. Dan kedua pacul mereka kena di hentakkan tinggi di udara jatuh di atas tanah. Selagi mereka berdiri terkejut, orang jangkung kurus itu sudah berhasil menangkap tengkuknya masing-masing. Kemudian diangkatnya tinggi tinggi dan dilemparkan kearah sebuah batu besar. Jelas sekali maksud orang jangkung kurus itu, dia hendak menghancurkan kepala mereka pada batu. Keruan saja gerombolan petani-petani yang lain menjerit kaget.

Lingga Wisnu mengambil keputusan hendak melihat gelagat dahulu, meskipun hatinya ikut menjadi panas menyaksikan lagak-lagu orang jangkung kurus itu. Pikirnya :

'Aku ingin bertemu dengan Yunus. Kalau belum-belum aku menerbitkan perkara, bukankah bakal menghadapi kesulitan?'

Tetapi, pada waktu itu dia melihat melayangnya tubuh kedua pemuda itu hendak terbentur pada batu. Kalau dibiarkan saja, kepala mereka berdua bakal pecah berantakan. Meremanglah bulu tengkuknya. Mendadak ia lupa kepada segala pertimbangannya. Terus saja ia melesat dengan menggunakan ilmu bayangan Maya Putih ajaran Ki Ageng Gumbrek, lantaran kesempatannya yang sempit. Dengan kedua tangannya, ia menangkap tubuh mereka berdua, dan diturunkan perlahan-lahan di atas tanah.

.. ada bagian kalimat yg lewat.. Berseru demikian, ia menepuk tengkuk Lingga Wisnu dengan disertai tenaga sakti. Hebat tenaga sakti yang dikerahkan. Tadi, ia terkesiap tatkala menyaksikan kegesitan pemuda itu. Ia merasa pasti, bahwa dia bukan seorang pemuda sembarangan. Maka dalam mengerahkan tenaga saktinya, ia tidak mau kepalang tanggung. Lingga Wisnu tak sudi tengkuknya kena dihajar orang. Ia mengendapkan diri sedikit. Maka tepukan si jangkung kurus lew at disamping telinganya. Dan pada detik itu Lingga Wisnu berpikir :

'Sebenarnya, aku hendak datang sebentar malam. Tak tahunya, aku kini terlibat dalam kesulitan. Tetapi demi menolong jiw a kedua pemuda itu, apa lagi yang dapat aku lakukan, selain menyambar tubuh mereka berdua selagi masih berada di udara? Maka untuk mengurangi rasa tak senang si jangkung kurus, ia t idak membalas.

Kali in i, orang jangkung kurus itu benar-benar terkejut. Pikirnya :

'Anjing-anjing dan babi-babi itu berani memasuki pekarangan. Tak tahunya, mereka mempunyai jago andalan,' memperoleh pikiran demikian, ia membentak sengit :

“sahabat! Apakah engkau jago undangan mereka untuk mempersulit kami?"

Lingga Wisnu menutar tubuh. Membungkuk untuk memberi hormat sambil menjawab :

"Maafkan kelancanganku. Sebenarnya tiada sangkut- pautku dengan mereka. Kalau aku mengulurkan tangan, semata-mata karena melihat adanya ancaman jiw a. Saudara mempunyai kepandaian tinggi. Kenapa adatmu tiada beda dengan orang-orang dusun itu?"

Menyaksikan sikap hormat Lingga Wisnu, orang jangkung kurus itu heran. Iapun mendengar tutur- bahasa Lingga Wisnu yang diucapkan dengan halus. Dia memuji pula kepandaiannya. Rasa curiga dan amarahnya lantas saja lenyap sebagian. Tanyanya :

"Sebenarnya engkau siapa, sahabat? Apa sebab engkau ikut-ikut an pula mengunjungi rumah kami?"

"Namaku Lingga." sahut Lingga Wisnu. "Apakah salah satu sahabatku keluarga Dandang Mataun tinggal di sin i?"

"Siapa sahabat itu? Akupun salah seorang anggauta keluarga Dandang Mataun."

"Sahabatku itu bernama Yunus. Usianya kurang lebih delapan atau sembilan belas tahun. Parasnya cakap sekali dan mengenakan pakaian seorang pelajar."

Orang jangkung kurus itu lantas memanggut- manggut memaklumi. Kemudian berputar menghadapi gerombolan petani yang belum bubar juga. Dengan sikap bengis ia menantang :

"Apakah kalian hendak mencari mampus? Mengapa masih saja berjubel di sini?"

Melihat Lingga Wisnu berbicara dengan si orang jangkung kurus itu seperti sahabat lama, gerombolan petani jadi berbimbang-bimbang. Mereka melihat, Lingga Wisnu tadi berkepandaian tinggi pula. Maka seorang demi seorang lantas memutar tubuh dan pergi. Sebentar saja, mereka telah bubar seperti sekawanan burung sawah kena halau.

"Sahabat, mari masuk!" undang si jangkung kurus.

Lingga Wisnu menerima baik undangan itu. Segera ia mengikutinya dari belakang, memasuki halaman rumah yang luas. Rumah itu sendiri, memang seperti istana. Berpendapa luas dan bertiang sentausa. Di dinding tengah, terbacalah sederet tulisan yang berbunyi: “Dandang Mataun lahir dan mati seorang diri.”

Alangkah sombong bunyi tulisan itu. Akan tetapi penuh yakin akan kekuatan diri sendiri. Lingga Wisnu lantas menyiratkan pandang kepada perabotan rumah yang serba mentereng. Diam-diam ia heran. Pikirnya :

"Perabotan ini terdiri dari barang-barang mahal. Sedang rumah ini berada di atas gunung. Perlengkapan demikian, kalau bukan karena besarnya pengaruh, pastilah lantaran kekejamannya memaksa penduduk untuk mencari alat pengangkutnya. Seumpama kedua- duanya tidak, tentunya keluarga ini kaya raya sehingga mampu membeli dan mendatangkan perabot runah yang mahal-mahal dari jauh.”

Lingga Wisnu tahu, bahwa hati tuan rumah masih merasa tak senang terhadapnya, walaupun nampaknya ia ramah. Itulah sebabnya, ia bersikap merendahkan hati dan berhati-hati.

"Aku harap saudara mau memanggil sahabatku Yunus, agar aku bisa menyerahkan barangnya," ia berkata merendah. "Yunus adalah adikku," sahut orang itu. "Aku sendiri bernama Sondong Rawit. Adikku sedang bepergian. Kau tunggu sajalah!"

Sebenarnya tak ingin Lingga Wisnu berada di dalam rumah keluarga itu lama-lama. Tetapi ia harus mengembalikan bungkusan emas itu kepada Yunus. Maka terpaksalah ia menyabarkan diri. Namun sampai siang hari Yunus tak muncul-muncul juga. Ia jadi gelisah. Apakah bungkusan emas itu diserahkan saja kepada Sondong Rawit? 'Akh, rasanya kurang kena,' ia berpikir pulang - balik.

Dalam pada itu, Sondong Raw it memanggil pembantu- pembantu rumah tangganya, menghidangkan makan siang. Lezat lauk-pauknya. Ayam goreng, daging, ikan kali dan sayur-mayur. Benar-benar keluarga Dandang Mataun memiliki harta bertimbun. Lingga Wisnu menggerumuti hidangan makan siang itu dengan berdiam diri. Dalam hati ia mencoba menjauhkan kesan- kesannya yang buruk. Namun, ia tetap, seorang pemuda jujur. Makin ia berusaha menjauhi, makin merumunlah kesan kesan buruknya.

Sampai matahari condong ke barat, Yunus belum juga muncul. Habislah sudah kesabarannya. Lantas ia meletakkan bungkusannya di atas meja. Sekarang ia menutuskan hendak menyerahkan barang itu kepada Sondong Rawit saja. Bukankah dia salah seorang anggauta keluarganya. Y ang penting di dalam hal in i, yalah: janganlah dirinya membawa-bawa emas yang tidak syah. Maka katanya : "Saudara Sondong Raw it. Inilah bungkusan milik adikmu. Tolong, sampaikan kepadanya! Sekarang idzinkan aku ..."

Belum selesai ucapannya, ia mendengar suara orang tertaw a riuh datang dari luar rumah. Diantaranya terdengar suara tertaw a seorang perempuan. Ia merasa kenal bunyi tertaw a itu dan segera saja ia menoleh. Bukankah itu suara tertaw a Yunus? Dan benarlah dugaannya. Di antara mereka, nampak Yunus berjalan bergandengan.

"Ha, itulah adikku sudah pulang!"kata Sondang Raw it. Ia bangkit dari kursinya dan keluar pendapa hendak menyambut kedatangan mereka. Dan Lingga Wisnupun akan ikut serta, akan tetapi, Sondang Rawit buru-buru mencegahnya. Katanya dengan suara memerint ah : 

"Saudara Lingga! Duduk sajalah ditempatmu!"

Lingga Wisnu heran. Akan tetapi tak dapat ia membangkang kehendak tuan rumah. Setelah menunggu sekian lamanya, tetap saja Yunus tak muncul dihadapannya. Sebaliknya yang menenuinya lagi adalah Sondong Raw it. Sewaktu hendak minta penjelasan, Sondong Rawit berkata ramah :

''Adikku lagi ganti pakaian. Sebentar lagi ia akan keluar menemui saudara."

Masih pemuda itu menunggu munculnya Yunus sekian lamanya. Tatkala Yunus akhirnya muncul, wajahnya nampak berseri-seri. Katanya setengah berseru :

"Saudara Lingga! Bukan rnain syukurku engkau sudi mengunjungi rumahku." "Engkau lupa membaw a bungkusanmu,” sahut Lingga Wisnu langsung seraya menuding, kepada bungkusan yang tadi diletakkan di atas meja.

0ooo)-dw-(ooo0