-->

Pedang Sakti Tongkat Mustika Jilid 04

 Jilid 04

Sebaliknya, seseorang pernah bemimpi tercebur dalam sumur. Ia terbangun lantaran rasa kagetnya. Inilah mimpi terlalu pendek Dan untuk mimpi sependek itu, ia membutuhkan waktu hampir satu malam suntuk.

Demikian pula pengalaman Lingga Wisnu.

Dalam mimpinya ia bertemu dengan Ki Sarapada, guru Palupi yang sudah meninggal. Kemudian berada di dalam pondokannya hampir satu bulan penuh. Selama itu, ia bertekun mempelajari semua himpunan rahasia ilmu- sakti ketabiban yang tiada keduanya di dunia. Mimpi dalam keadaan pingsan in i, hanya berlangsung . selama tiga hari saja. Ajaib. Tetapi yang lebih mengherankan lagi ialah pengalamannya dalam mimpi itu.

Siapapun tidak akan percaya, bahwa Lingga Wisnu dikemudian hari akan mengenal segala rahasia ilmu sakti ketabiban, lantaran mimpinya itu. Palupi yang mendengarkan tutur katanya, berkali-kali menghela napas lantaran herannya.

Gadis in i lantas mengujinya dengan berbagai pertanyaan sulit. Dan Lingga Wisnu dapat menjaw ab dengan tepat sekali. Malahan bocah itu pandai mengemukakan soal-soal sulit yang membuat palupi harus berpikir keras sebelum memperoleh jawabannya.

Demikianlah, selama dua tahun Lingga Wisnu dirawat Palupi. Selama itu Aruji sudah dapat disembuhkan. Tatkala berpamit, kejadiannya seperti dalam mimpinya. Bocah itu mengantarkan jauh-jauh. Lalu balik pulang ke pondokan Palupi seorang diri. Hanya saja, waktu itu tiada hujan lumpur atau kilat mengejap, yang membuat ia sadar dari mimpinya. Sebaliknya, alam bahkan nampak ce merlang sekali. Langit terang benderang. Angin meniup sejuk dan bunga Badjra Rinonce sedang merekahkan bunga-bunga birunya yang indah.

Tatkala Lingga Wisnu memasuki usia lima belas tahun, pada suatu hari Palupi menemukan sesuatu yang aneh sekali yang terjadi di dalam tubuh bocah itu. Beberapa kali ia mencoba kepekaan urat-urat Lingga Wisnu. Akan tetapi ternyata urat-urat Lingga Wisnu seperti tiada berperasaan lagi. Gadis itu mencoba menyelami dan menggunakan cara-cara lain yang lebih cermat. Akan tetapi betapapun dia berusaha, racun Pacar keling yang mengeram di dalam sumsum Lingga Wisnu sana sekali tak dapat dikeluarkan. Belasan hari lamanya Palupi mencari sebab sebabnva namun masih saja gelap baginya.

Seorang gadis pendiam. Hampir tiga tahun Lingga Wisnu bergaul dengan gadis itu akan tetapi boleh dikatakan pemah berbicara berkepanjangan. Dia bekerja sendiri dan memecahkan berbagai persoalan sendiri pula. Pada hari itu karena tak tahan menghadapi teka teki yang masih gelap baginya. Ia minta keterangan kepada Lingga Wisnu. Katanya sambil menghela nafas :

“Ilmu sakti kakek gurumu memang sangat tinggi, Akan tetapi, rupanya dalam ilmu ketabiban kakek gurumu masih sangat asing. Boleh dikatakan tiada berpengalaman sama sekali. Itulah sebabnya ia malahan membuat celaka dirimu. Jelas sekali, engkau terkena racun hahat Pacar Keling. Namun dia bahkan membantu menembus jalan-jalan darahmu, sehingga seluruh urat nadi di dalam tubuhmu menjadi terbuka semua. Benar- benar hal itu membuat dirimu celaka”

Lingga Wisnu kenal watak Palupi. Biasanya gadis itu diam dan tenang serta tak mengacuhkan segala kejadian di luar dirinya. Sekarang ternyata ia kata-kata yang agak keras. Jelaslah bahwa gadis itu menyembunyikan marahnya, maka buru-buru ia menjawab :

“Itulah Perbuatan Panyingkir. bukan eyang guru”

Meskipun Palupi gadis Pendiam dan ketiga saudaranya berhati busuk namun hati Lingga Wisnu berkenan kepadanya. Ia menganggap Palupi tak ubahnya seperti saudara seperguruannya sendiri. Maka dengan tulus ikhlas ia menceriterakan pengalamannya semenjak kanak-kanak sehingga datang ke rumah perguruan eyang gurunya. Ia mengenal berbagai cabang ilmu sakti berkat warisan orang tuanya. Ayahnya mewarisi tata ilmu sakti aliran Aristi. Sedangkan ibunya mewarisi ilmu sakti aliran Panembahan Larasmaja. Dengan jelas pula ia menceritakan bagaimana tatkala ia bertenu dengan seorang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir.

Dahulu, tatkala Lingga Wisnu dibaw a masuk ke dalam padepokan Argapura, ia kena kebasan tangan salah seorang saudara seperguruan Anung Danudibrata, sehingga jatuh tertidur. Tetapi berkat tata ilmu sakti warisan ibunya, yang justru bertentangan dan berlawanan dengan t ata ilmu sakti dari aliran Argapura, begitu kena kebut lantas saja terjadilah suatu perlawanan yang wajar. Dan Lingga Wisnu tersedar dari tidurnya! Dasar ia seorang anak cerdik, berpura-puralah ia masih tertidur pulas. Namun dengan diam-diam ia mendengarkan percakapan antara Anung Danudibrata dengan keempat saudara seperguruannya .

Karena pembicaran itu tahulah Lingga Wisnu bahwa Anung Danudibrata dengan keempat saudara seperguruannya sama sekali belum mewarisi seluruh ilmu sakti aliran Ugrasawa. Satu-satunya tokoh di Argapura yang sudah berhasil menyelami ilinu sakti warisan Resi Ugrasawa hanyalah panembahan Panyingkir seorang.

Memang, ilmu sakti warisan Resi Ugrasawa, tidaklah mudah. Jarang sekali anak keturunannya dapat mempelajarinya. Rata-rata murid-murid keturunannya hanya mencapai tingkatan ke tujuh. Dan yang sudah menyelami sampai tingkat ke sembilan hanyalah Panembahan   Panyingkir.    Sayang   ia    terlalu    aneh w ataknya. Puluhan tahun lamanya ia selalu menutup diri di dalam kamar dan tak pernah bergaul dengan sekalian saudara-saudara seperguruannya. Walaupun demikian karena merasa diri bukan ketua Argapura, ia menghormati Anung Danudibrata sebagai pengganti almarhum gurunya. Sedangkan terhadap Saptawita, Jarot, Hasan Hidayat dan Saroni sama sekali ia tak mengacuhkan.

Setiap tahun sekali, peraturan padepokan Argapura mengharuskan anak-anak muridnda menguji kepandaiannya masing-masing. Akan tetapi justru pada hari yang sangat penting itu, Panembahan Panyingkir selalu jatuh sakit sehingga tak dapat hadir. Tentu saja banyak diantara mereka yang lantas menaruh curiga kepadanya Benarkah dia sakit atau hanya pura-pura saja? Namun tak berani mereka mencoba-coba menanyakan. Itulah sebabnya, baik Anung Danudibrata dan sekalian tokoh sakti padepokan Argapura, sama sekali tidak mengetahui sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Panembahan Panyingkir. Dan Anung Danudibrapa pun tak pernah mau mendesak agar merrperlihatkan ilmu kepandaiannya. Tetapi sekarang, lantaran kena desak Kyahi Basaman, mau tak mau Anung Danudibrata teringat kepada Panyingkir. Mula-mula ia ragu, kemudian teringat pula ia mengutus Saptaw ita menghadap Panembahan Panyingkir dengan membaw a tongkat ketua.

Demikianlah, dengan diantarkan oleh salah seorang anggota Padepokan Argapura, Lingga Wisnu dibawa menghadap Panembahan Panyingkir dan masih teringat dia akan kata-kata Panembahan Panyingkir yang gelak:

"Kau siapa dan darimana datangmu, tak perlu aku menanyakan."

Suara itu datang dari balik dinding. Suaranya sama sekali tak mirip suara seorang Panembahan yang saleh, kesannya seolah-olah dia sedang berhadapan dengan seorang algojo yang hendak menjatuhkan golok besarnya. Namun dia bersikap mendengarkan saja. Kata orang itu lagi:

"Duduklah! Dengarkan baik-baik. Aku akan menguraikan int isari ilmu sakti warisan Resi Ugrasawa. Aku hanya menguraikannya sekali saja. Kau sanggup mengingat-ingatnya atau tidak, tergantung kepada nasibmu belaka. Ketua kami memerint ahkan agar aku menurunkan ilmu sakti warisan Resi Ugrasewa kepadamu. Sebenarnya inilah perint ah yang sangat mengherankan. Namun aku tak perduli. Kau sendiri saksinya, bahwa hari ini aku tunduk dan patuh kepada perint ah ketua biara. Bagaimana? Apa kau sudah siap? Nah aku akan mulai ..."

Semenjak tadi Lingga Wisnu tertarik perhatiannya kepada suara orang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir. Suara itu datang dari balik tembok. Sebenarnya hal itu tak perlu diherankan. Setiap tokoh sakti dapat melakukannya hanya yang membuat Lingga Wisnu tercengang adalah bahwasanya orang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir ini, dapat berbicara dengan wajar, seolah-olah sedang berhadap- hadapan muka. Lingga Wisnu yang sudah berpengalaman banyak, bertemu dan berbicara dengan tokoh-tokoh sakti yang mengejar-ngejar ayah bundanya, diam-diam tercekat hatinya. Benar-benar dia merupakan tokoh sakti yang tiada taranya.

Dalam pada itu, orang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir terus saja menguraikan rahasia ilmu sakti warisan Resi Ugrasawa. Ia tidak memperdulikan apakah Lingga Wisnu sudah siap atau belum. Tanpa berkeputusan dia membuka mulutnya terus menerus selama dua jam. Dan sama sekali ia tak memberi penjelasan tentang apa yang sudah dikatakan. Apalagi mengulanginya dan sejenak kemudian dia berkata memutuskan:

"Nah, selesailah sudah aku menguraikan rahasia ilmu sakti warisan Resi Ugrasawa. Sekarang terserah kepada nasibmu, apakah engkau sanggup mengingat-ingatnya atau tidak."

Untuk membesarkan hati Panembahan Panyingkir, Lingga Wisnu lantas saja menyahut: "Semua uraian tuan sudah dapat kuingat dengan baik."

Mendengar ucapan Lingga Wisnu, orang yang menamakan diri Panonbahan Panyingkir terkejut. Segera berkata menguji :

"Coba, aku ingin mendengar!"

Tanpa menaruh prasangka sedikitpun, Lingga Wisnu mengucapkan kembali ajaran-ajaran Panembahan Panyingkir dengan lancar di luar kepala. Dari awal sampai akhir ternyata hal itu membuat orang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir tercengang bukan main. Benar-benarkah di dunia ini ada seorang bocah yang memiliki daya ingatan begitu hebat? Ia terpaku beberapa saat lamanya.

Anung Danudibrata memberi perint ah kepadanya agar ia mengajarkan rahasia ilmu sakti warisan Resi Ugrasawa kepada Lingga Wisnu sampai bocah itu dapat memahami. Sebenarnya di dalam hatinya ia tidak rela sama sekali. Hanya lantaran tunduk kepada ketua, terpaksalah ia melakukan. Terdorong oleh rasa hati t idak rela, ia membuka mulutnya asal jadi saja. Sama sekali tak pernah terduga, bahwa bunyi hafalan rahasia ilmu sakti warisan Resi Ugrasawa yang cepat dapat tertangkap oleh daya ingatan Lingga Wisnu yang luar biasa. Demikianlah, setelah merenung beberapa saat lamanya, berkatalah dia :

"Coba, biarlah kulihatnya urat-urat nadimu. Kudengar suaramu t idak lancar. Pastilah engkau menderita sesuatu

..." Dan apabila kedua tangan Lingga Wisnu di serahkan kepadanya lewat lubang dinding, mulailah dia menembusi jalan darah bocah itu. Dia seorang tokoh sakti maha hebat. Himpunan tenaga saktinya luar biasa tingginya. Dan dengan himpunan tenaga sakti itulah, dia menembusi seluruh jalan darah Lingga Wisnu.

Palupi bermenung-menung setelah mendengar cerita Lingga Wisnu. Tiba-tiba ia berkata setengah berseru :

"Adik Lingga! Pendeta itu sangat jahat padamu!" Keruan saja Lingga Wisnu terkejut mendengar sernan

Palupi itu. Sahutnya gagap :

"Baik aku maupun dia tak pernah saling mengenal.

Apa gunanya ia mencelakakan diriku?"

"Coba, apa yang telah dikatakan kepadamu, setelah ia selesai menembusi seluruh jalan darahmu?" Palupi menegas.

"Dia mengulangi kata-katanya yang tadi bahwa dia tak perlu mengenal namaku, tak perlu tahu pula dari mana asalku dan aliranku," jawab Lingga Wisnu sungguh- sungguh.

Dan mendengar jawaban Lingga Wisnu, Palupi tersenyum. Katanya :

"Hmm! Seumpama aku Panembahan Panyingkir maka akupun tak perlu menanyakan namamu dan dari mana engkau datang, serta apa pula golonganmu. Sebab dengan sekali menyentuh tanganmu saja, tahulah aku bahwa dirimu adalah anak murid Kyahi Basaman. Bukankah engkau pernah menerima pelajaran-pelajaran tata ilmu sakti warisan Resi Aristi lew at ayahmu? Akupun akan segera tahu pula, bahwa di dalam dirimu mengeram racun yang sangat berbahaya. Kenapa dia justru menembusi jalan darahmu? Bukankah dengan demikian, dia justru memang sengaja hendak mencelakai dirimu?"

Lingga Wisnu terpukau. Selagi hendak membuka mulutnya, Palupi telah mendahului :

"Eyang gurumu seorang yang sangat jujur, diapun agaknya tidak begitu paham akan azas-azas pengobatan sehingga sama sekali tidak mencurigai seseorang. Ia menganggap tabiat semua orang seperti dirinya sendiri."

"Seumpama Panembahan Panyingkir berbuat demikian, apakah tujuannya? Dan apa pula maksudnya?" Lingga Wisnu mencoba manbantah.

"Apa alasan sesungguhnya, akupun tak tahu. Barangkali karena engkau terlalu jujur terhadapnya. Engkau bisa menghafal semua ajarannya di luar kepala tanpa salah sedikitpun. Untuk alasan in i saja cukuplah sudah seseorang membunuhmu."

"Kenapa begitu?" Lingga Wisnu heran.

"Kau ingat tabiat dan sepak terjang ketiga saudara seperguruanku? Seumpama mereka mendengar dirimu dengan tiba-tiba saja dapat menguasai rahasia ilmu ketabiban almarhum guru, pastilah engkau bakal dituduhnya telah mencuri buku warisan guru. Merekapun akan segera membunuhmu !”

"Kata eyang guru, pendiri Padepokan Argapura adalah murid tertua Resi Roma Harsana. Biara Argapura merupakan menara aliran suci. Dan sudah seratus tahun Argapura memimpin aliran-aliran pendekar-pendekar sadar. Kupikir, meskipun benar didalam padepokan Argapura mungkin terdapat beberapa orang yang berpikiran sempit dan berjiwa rendah, namun rasanya tak mungkin berbuat serendah itu. Apalagi eyang guru meniadakan pertukaran pula semacam jual beli. Tukar menukar ini jauh lebih menguntungkan pihak Argapura dari pada aliran Aristi, sebab eyang guru terikat janji tak boleh mempelajari rahasia ilmu sakti aliran Ugrasawa yang diajarkan kepadaku."

"Hmm, aliran pendekar-pendekar sadari" potong Palupi dengan suara dengki. "Ayahbunda dan saudaramu bukanlah mati lantaran keganasan tangan orang-orang yang menamakan diri golongan pendekar-pendekar sadar, lantas saja mereka berbuat semena-mena terhadap pendekar pendekar yang digolongkan aliran tersesat dan liar. Alangkah keji cara mereka mengadili Pendekar-pendekar dari golongan mereka belum tentu merupakan manusia baik. Sebaliknya para pendekar Ngesti Tunggalpun belum tentu busuk semua."

Kata-kata Palupi ini benar-benar mengenai lubuk hati Lingga Wisnu. Bocah itu lantas saja teringat pada peristiw a pembunuhan kedua orang tuanya dan saudaranya di atas gunung Lawu. Memang, ayah bunda dan saudaranya mati di tangan mereka yang menamakan diri para pendekar aliran suci dan sadar. Tatkala melihat mayat ayah bundanya, mereka nampak berduka cita. Akan tetapi di dalam hati masing-masing justru berkata bahwa kematian ayah-bundanya sudah pada tempatnya. Kesan demikianlah yang selalu teringat dalam lubuk hati bocah itu. Tentu saja terhadap eyang guru dan paman- paman gurunya, belum pernah ia menyatakan kesan hatinya itu. Kini Palupi dengan sengaja atau tidak, tiba- tiba membongkar rahasia yang tersimpan dalam lubuk hidupnya. Hatinya lantas saja tergoncang, seperti tersentak ia menangis menggerung-gerung.

"Sejak jaman dahulu, manusia hidup dan mati sebenarnya tanpa teman dan tanpa kawan. Hanya anehnya, setelah berada bersama-sama di dalam dunia yang sama ini pula, mereka lantas bersaing dan bermusuhan," kata Palupi menghibur. “Karena teringat pada peristiw a ayah bundamu, engkau menangis. Akan tetapi bila engkau tidak mati, di kemudian hari pasti banyak manusia-manusia yang akan membuatmu menangis menggerung gerung lagi."

Mendengar kata-kata Palupi, Lingga Wisnu lantas berhenti menangis. Sambil mengusap air matanya ia menatap wajah gadis itu. Katanya sulit :

"Jadi, orang yang menamakan dirinya Panembahan Panyingkir itulah ... sesungguhnya musuh besar ayah- bundaku?"

Palupi tidak segera menjawab. Ia tersenyum rahasia seperti biasanya. Iapun tidak melayani lagi. Setelah memutar tubuh, ia mengambil cangkulnya dan berangkat ke ladang meraw at bunga Brajarinonce seperti yang dilakukan pada setiap hari.

Sampai petang hari, dia baru muncul kembali. Wajahnya yang tadi siang nampak guram, kini menjadi cerah. Katanya dengan suara gembira:

"Baiklah, adik Lingga. Sebenarnya hatimu bergolak hebat lantaran ingin membalaskan dendam ayah-bunda dan saudaramu. Sayang, penyakitmu terlalu berat. Meskipun aku masih sanggup mempertahankan jiw amu dengan ramuan obatku, tetapi untuk memusnakan racun yang sudah mengeram di dalam sungsummu, benar- benar aku merasa tak sanggup. Akan tetapi membiarkan dirimu menjadi manusia tak berguna lantaran racun Pacarkeling, rasanya kurang tepat pula. Meskipun penyakitnya berada di dalam tubuhmu tak dapat disembuhkan namun setidaknya engkau harus dapat membalas dendam kepada musuh-musuh ayah- bundarnu. Dengan demikian, engkau akan membuat arwah ayah bundamu dan saudaramu tenteram di alam baka. Besok pafi, biarlah kuantarkan engkau kepada seseorang. Dia seorang sakti yang berilmu kepandaian tinggi. Aku akan memohon kepadanya agar dia sudi mewariskan ilmu saktinya kepadamu. Dan selama itu, aku akan menjaga kesehatanmu agar tidak lumpuh karena racun Pacarkeling. Bagaimana, apa engkau setuju?"

Sudah tentu hati Lingga Wisnu girang bukan kepalang. Begitu girang dia sampai menandak-nandak. Lalu berseru:

"Terima kasih, oh Ayunda! Terima kasih! Berapa lama aku hidup, memang semenjak aku turun dari padepokan Argapura, t idak kupikirkan lagi. Akan tetapi hatiku selalu gelisah manakala teringat arw ah-arwah ayah bunda dan saudaraku yang masih menanggung penasaran. Aku berjanji kepadamu dan juga kepada diriku sendiri serta berjanji kepada hidupku, bahwasanya apabila aku sudah mewarisi sekalian ilmu sakti pamanmu, akan cepat-cepat melaksanakan balas dendam ayah-bunda dan saudaraku."

Lingga Wisnu tak berani minta keterangan tentang siapakah orang yang dijanjikan itu. Selamanya Palupi bersikap rahasia. Akan tetapi ia percaya bahwa gadis itu bermaksud baik terhadap dirinya. Hanya saja gerak geriknya sangat sukar ditebak. Dan malam itu Lingga Wisnu tak dapat tidur dengan nyenyak. Hatinya sangat girang karena janji Palupi. Memang ia sudah mengantongi beberapa ragam ilmu sakti yang diwarisi dari ayah-bundanya. Akan tetapi keragamannya masih seperti cakar ayam. Sekarang apabila ada seseorang yang sudi memberi petunjuk-petunjuk, bukankah dia akan menjadi orang yang berarti di kemudian hari? Meskipun, mungkin sekali belum boleh diandalkan untuk menghadapi musuh besar ayah-bundanya, namun setldaknya sudah merupakan tataran persiapan balas dendam. Dan dengan bekal tata ilmu sakti yang teratur itu, dia akan bisa menanjak ketataran kesempurnaan dikemudian hari.

Orang yang dijanjikan itu bernama Kerdhana. Ia bermukim dipinggang gunung Merapi bagian timur. Orangnya berperawakan pendek ketat. Seperti Palupi, dia seorang pendiam pula. Saudara seperguruannya berjumlah t iga. Jabrik, Puthaksa dan Wirupaksa.

Satu tahun lamanya Lingga Wisnu menerima dasar- dasar pelajaran mereka berempat. Yang bernama: ilmu sakti Sardula Jenar. Dan selama itu Palupi tak pernah meninggalkan. Setiap kali habis berlatih, selalu ia memeriksa keadaan tubuh Lingga Wisnu. Setiap malam ia menggpdok ramuan obat-obatan tertentu untuk mengikis habis racun Pacarkeling.

Pada suatu hari datanglah Palu menghampiri. Kata gadis itu dengan berbisik: "Adik Lingga, gurumu menghendaki engkau berkemas- kemas sebentar malam. Sekarang ini ke empat gurumu telah mendahului berangkat. Dan esok pagi engkau bersama aku disuruh mengikuti jejak mereka."

"Ke mana?" Lingga Wisnu heran.

"Gurumu akan selalu meninggalkan tanda-tanda disepanjang jalan. Lihatlah, kita berdua masing-masing diberinya sebatang panah hijau. Panah hijau ini semacam tanda pengenal dijalan" jawab Palupi cepat. Dan setelah menyerahkan sebatang anak panah kepada Lingga Wisnu, ia berkata meneruskan: "Pada saat ini negara sedang kacau balau. Pangeran Mangkubumi sudah bertekad bulat untuk mendirikan kerajaan baru. Dan kita ini, tergabung dalam himpunan laskar perjuangan yang membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi menegakkan keadilan. Kompeni Belanda dan laskar Kasunanan adalah musuh-musuh kita. Aku tahu, engkau bukan salah seorang anggauta Ngesti Tunggal. Akan

tetapi keempat gurumu semua termasuk tokoh-tokoh pembantu Pangeran

Mangkubumi. Terserah padamu, apakah engkau berada dipihak gurumu atau tidak."

Mendengar kata-kata Palupi, Lingga Wisnu merenung. Sejak di rumah perguruan Kyahi Basaman, tahulah   ia   bahwa   Ngesti

Tunggal membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi menentang   kebijaksanaan   Patih   Pringgalaya.   Eyang gurunya pun menggabungkan diri dengan laskar Raden Mas Said. Karena baik Pangeran Mangkubumi maupun Raden Mas Said menentang pihak Belanda, rasanya t idak tercela apabila dia kini berpihak kepada keempat gurunya untuk membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi. Setelah memperoleh pertimbangan demikian, ia menyahut :

"Ayahku murid aliran Aristi yang membantu perjuangan Raden Mas Said membangun kerajaan baru. Kurasa akupun tidak akan kena damprat eyang guru dan sekalian paman guru, manakala aku berada di pihak Pangeran Mangkubumi. Tegasnya, seumpama aku ini seorang penumpang perahu, akan tunduk patuh kepada pemegang kemudinya. Hanya saja tentang panah hijau ini, benar-benar aku tak mengerti maksudnya."

Palupi tersenyum. Jaw abnya:

"Meskipun engkau kini telah menjadi menusia lain, akan tetapi engkau masih tergolong pelajar lemah. Tidak selayaknya engkau berkelana turun Gunung seorang diri. Karena ini aku di perint ahkan untuk selalu menyertaimu. Tetapi karena akupun hanya pandai ilmu ketabiban saja, keempat gurumu memandang perlu untuk memberikan tanda pengenal pencegah bencana di perjalanan demi keselamatan kita berdua."

Lingga Wisnu memeriksa panah hijau yang berada di tangannya. Dia boleh berotak cerdas, akan tetapi tak dapat menemukan keanehannya. Akhirnya ia mengira bahwa panah hijau itu hanya semacam benda yang membaw a alamat baik saja. "Baiklah, ayunda. Aku sangat berterima kasih atas perhatian guru." Berkata demikian ia segera menyimpan panah hijau itu ke dalam bungkusannya.

Keesokan harinya, berbareng dengan munculnya matahari di t imur, mereka berdua berangkat dengan naik kuda. Mereka menempuh perjalanan perlahan-lahan. Dan menjelang petang hari, tibalah mereka di sebuah kampung.

"Kita singgah di sin i," kata Palupi. Mereka lantas mencari pondokan, untuk dapat beristirahat satu malam penuh. Dan pada esok harinya mereka meneruskan perjalanan kembali. Mereka melew ati dusun-dusun yang pernah dirampok Kompeni Belanda. Banyak penduduknya yang mati terbunuh. Dan menyaksikan bekas-bekas kekejaman Kompeni Belanda, Lingga Wisnu jadi teringat akan nasibnya sendiri. Lantas saja ia mengaburkan kudanya untuk melupakan kesan-kesannya itu.

Waktu itu tengah hari tepat dari arah depan kelihatan seorang penunggang kuda mendatangi dengan mengaburkan kudanya secepat angin. Debu tebal membubung keudara. Tatkala berpapasan, orang itu berpaling. Akan tetapi baik Ling ga Wisnu maupun Palupi bersikap acuh tak acuh.

Baru mencapai perjalanan lima atau enam kilometer, mereka mendengar derap kaki kuda datang dari arah belakang. Makin lama. derap itu terdengar makin nyata. Tatkala Lingga Wisnu berpaling, ia melihat seorang penunggang kuda be-roman gagah, nampak memakai ikat kepala hijau. "Aneh sekali gerak-gerik orang itu!" kata Lingga Wisnu setelah penunggang kuda itu melintasi. "Bukankah yang berpapasan dengan kita tadi pula?"

"Memang, orang itu pula yang tadi datang dari depan dan berpaling sewaktu berpapasan." Palupi pun sebenarnya memperhatikan secara diam diam. Ia tidak menjawab pertanyaan Lingga Wisnu. Ujarnya :

"Sebentar lagi, kalau dia balik kembali, kau larikan kudamu secepat-cepatnya."

Lingga Wisnu terperanjat. Ia minta keterangan : "Apa? Apa ia penyamun?"

"Kau lihat sajalah. Lima kilometer lagi di depan kita,

pasti akan terjadi suatu peristiw a," kata Palupi. "Dan kita tidak akan dapat mundur lagi. Rasanya, satu-satunya jalan hanyalah mencoba menerjang untuk meloloskan diri."

Mendengar kata-kata Palupi, hati Lingga Wisnu menjadi gelisah. Ia menatap wajah Palupi. Gadis itupun nampaknya tegang sendiri. Sebenarnya ingin Lingga Wisnu minta penjelasan lagi. Akan tetapi melihat wajah Palupi begitu tegang , ia membatalkan diri. Dan dengan berdiam diri ia mengikuti kuda Palupi.

Kira-kira empat kilometer lagi, tiba-tiba terdengarlah mengaungnya sebatang anak panah di tengah udara. Kemudian nampak tiga penunggang kuda melint ang ditengah jalan. Melihat mereka, Lingga Wisnu segera maju ke depan dan mengangguk hormat. Ujarnya :

"Aku bernama Lingga Wisnu. Dan kawanku ini bernama Palupi. Kita berdua sedang melakukan perjalanan jauh. Sama sekali kita tidak membawa harta benda yang berharga. Apakah kami berdua diperkenankan lewat?"

Walaupun masih merupakan pemuda tanggung, akan tetapi Lingga Wisnu mempunyai pengalaman banyak dalam riwayat hidupnya. Itulah pengalamannya tatkala selama delapan tahun terus menerus dikejar-kejar lawan. Dia pandai membawa diri. Karena itu berhadapan dengan mereka bertiga yang melintangnya kudanya di tengah jalan, segera ia berkata merendah.

Seorang diantara mereka tertaw a melalu i dadanya, sahutnya :

"Kami kekurangan uang. Karena itu tolong pinjami kami uang seratus ringgit saja."

Lingga Wisnu tercengang. Ia berpaling kepada Palupi minta pertimbangan. Dalam pada itu sipenunggang kuda yang berikat kepala hijau yang tadi mondar-mandir dengan kudanya, membentak :

"Kami hendak pinjam uang seratus ringgit. Kamu ngerti apa tidak?"

Mendengar bentakan itu, Lingga Wisnu menjadi gusar.

Tak sudi ia kalah gertak. Sahutnya membentak pula :

"Sudah belasan tahun aku berkelana, belum pernah aku bertemu dengan orang yang sekurang ajar engkau!"

Mendengar bentakan Lingga Wisnu, mereka bertiga tertaw a. Alangkah lucu ucapan bocah itu. Sudah belasan tahun berkelana. Memang meskipun apa yang diucapkan Lingga Wisnu sedikit banyak mengandung kebenaran, akan tetapi mengingat usianya, siapapun tentu tidak akan percaya. Orang berikat kepala hijau itu lantas berkata lagi :

"Baiklah, taruh kata engkau sudah belasan tahun berkelana seorang diri. Apakah engkau pernah melihat seorang yang bisa memanah seperti aku?"

Setelah berkata demikian, ia mengambil busur dan peluru. Dengan beruntun ia melepaskan tiga peluru ke udara. Setelah itu ia melepaskan anak panahnya. Dan ketiga peluru itulah sasarannya. Jitu sekali bidikannya. Ketiga peluru itu pecah menjadi enam bagian dan runtuh berbareng meluruk ke bawah. Lingga Wisnu ternganga- nganga menyaksikan kepandaian orang itu. Justru demikian, tiba-tiba lengan kirinya terasa sakit. Ternyata ia terkena panah dengan tak setahunya.

Pada saat itu orang ketiga yang berperawakan pendek dan berewok, tiba-tiba menyambarkan cemetinya. Dengan sebat Lingga Wisnu menggerakkan kudanya untuk mengelakkan diri. Ia berhasil menggagalkan serangan orang itu.

Akan tetapi selagi demikian, mendadak cemeti itu berbalik arah. Kini melilit golok yang diselipkan dipinggangnya. Dan berbareng dengan gerakan itu, tiba- tiba Lingga Wisnu melihat berkelebatnya sebatang pedang memapas tali bungkusan yang berada dipunggungnya. Kena babatan pedang, bungkusannya jatuh di atas tanah.

Dan   setelah   mengambil   bungkusan   itu   dengan ce metinya, orang itu lantas mengaburkan kudanya.

"Terima kasih!" kata penunggang kuda yang berikat kepala hijau sambil tertaw a senang. Dan setelah berkata demikian, dia lantas menyusul temannya. Sedang orang yang berada disampingnya mengeprak kudanya pula. Sebentar saja ketiga penyamun itu hilang dari penglihatan.

Lingga Wisnu jadi sangat lesu. Ia sangat berduka dan mendongkol. Ia merasa diri tiada guna. Ia telah belajar tata berkelahi satu tahun lamanya. Namun menghadapi tiga penyamun itu saja tak dapat ia berbuat sesuatu yang berarti.

"Mari kita jalan terus!" ajak Palupi dengan suara tenang. "Masih untung, jiw a kita tidak diarahnya.."

Lingga Wisnu menundukkan kepalanya. Dengan tetap berdiam diri ia mengikuti Palupi meneruskan perjalanan.

Kira-kira setengah jam mereka berjalan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda sangat berisik. Lingga Wisnu menoleh. Hatinya tercekat, karena yang datang adalah mereka bertiga tadi. Apalagi yang mereka kehendaki? Apakah belum merasa puas telah memperoleh uang? Dan kini hendak merenggut jiw a? Memperoleh dugaan demikian, bulu kuduk Lingga Wisnu bergidik dengan sendirinya.

Ketiga penyamun itu dapat mengejar Lingga Wisnu dan Palupi dengan cepat sekali. Selagi mereka berdua saling memandang dengan wajah penuh pertanyaan, tiba-tiba ketiga penyamun itu melompat dari kudanya masing-masing. Lalu membungkuk hormat. Kata orang berikat kepala hijau itu :

"Akh, ternyata kalian berdua orang sendiri. Maaf, maafkan! Kami tak kenal kalian, sehingga telah berbuat keliru. Harap kalian berdua memaafkan perbuatan kami tadi."

Si pendek berewok lantas saja menyerahkan bungkusan Lingga Wisnu yang tadi dirampasnya. Ia menyerahkan kembali dengan kedua tangannya. Dan Lingga Wisnu jadi terheran-heran. Hatinya penuh pertanyaan. Itulah sebabnya tak berani ia menyambuti bungkusannya sendiri. Ia berpaling kepada Palupi minta pendapatnya.

Ternyata gadis itu memanggutkan kepalanya. Dengan wajah tenang sekali. Maka Wisnu segera menerima kembali bungkusannya.

"Perkenankan kami bertiga mengenal nama kalian berdua, agar dikemudian hari kami tidak berbuat keliru lagi."

“Bukankah tadi kami sudah memperkenalkan diri? Aku Lingga Wisnu, dan kaw anku ayunda Palupi." sahut Lingga Wisnu.

Orang berikat kepala hijau itu senang. Sambil menegakkan badannya ia menyahut :

"Nama bagus, Aku sendiri bernama Galong. Dan kedua temanku ini bernama Gandu dan Tanjung. Kalau tadi adik segera memperlihatkan tanda panah hijau kepada kami, pastilah kami segera mengerti. Untungnya kami bertiga t idak sampai melukai dirimu."

Mendengar kata-kata Galong, barulah Lingga Wisnu. khasiat panah hijau yang dibawanya. Sewaktu berkemas- kemas di rumah perguruan, ia menyimpannya di dalam bungkusannya. Coba seumpama disimpan dibalik bajunya, bukankah dia bakal kehilangan bungkusannya yang berisi uang pula?

"Pastilah adik berdua hendak mendaki gunung Merbabu, bukan?" Menegas Galong. "Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama. Saudara kita berdua, Gandu dan Tanjung berasal dari Madura. Meskipun demikian mereka bisa menangkap bahasa kita, asal saja bahasa sehari-hari."

Galong berbicara dengan nada ramah, akan tetapi hati Lingga Wisnu tetap bimbang. Betapapun juga melihat mereka berdua bekerja sebagai penyamun, sedang kata- kata penyamun tak dapat dipercaya penuh. Maka jawabnya mengelak :

"Kami berdua tak mempunyai tujuan tertentu."

Mendengar jaw aban Lingga Wisnu, Galong nampak tersinggung. Wajahnya berubah merah. Katanya menegur :

"Kami bertiga datang dari Jawa Timur. Ratusan kilometer telah kami tempuh siang malam, lantaran tiga hari lagi himpunan laskar perjuangan Mangkubumi akan mengadakan pertemuan besar di atas gunung Merbabu. Kenapa kalian t idak sudi mendaki?"

Pilu juga hati Lingga Wisnu mendengar teguran itu. Dengan sesungguhnya, ia tak mengerti tujuan perjalanannya. Di sepanjang jalan Palupi selalu membungkam mulut dan tak pernah memberi keterangan. Akan tetapi dia memang seorang pemuda yang berpembaw aan dapat menangkap suatu keadaan dengan cepat sekali. Maka dengan suara wajar ia berkata: "Apakah pertemuan itu sangat penting artinya?"

"Tentu saja!" sahut Galong dengan suara tetap mengandung kegusaran. "Bukankah kita diharuskan datang menghadiri pertemuan itu untuk menghormati panji-panji Imogiri?"

Kembali Lingga Wisnu bingung. Apa itu panji panji Imogiri? Meskipun dia seorang pemuda yang cerdas sekali, akan tatapi pergaulannya dalam percaturan hidup masih sempit.

Apa yang dinamakan panji-panji Imogiri itu sesungguhnya hanyalah merupakan suatu lambang perjuangan saja. Itulah terjadi pada tahun 1749.

Pada tahun itu kedaulatan Mataram diserahkan dengan percuma dan tanpa alasan kepada pemerint ahan Belanda. Sri Pakubuwana wafat. Mataram bersama dengan susuhunan dimakamkan. Tidak di Imogiri, tempat pemakaman raja-raja Mataram, akan tetapi di Batavia

*).

Seperti yang telah dijanjikan Belanda, putera mahkota diangkat menjadi susuhunan Paku Buwana III sebagai pengganti almarhum ayahnya. Akan tetapi seluruh Keraton marah besar terhadap penyerahan Mataram itu. Timbullah kini berbagai golongan di dalam istana yang membahayakan Sri Pakubuwana III. V.O.C. lantas saja bertindak.

Dengan alasan demi menyelamatkan Sri Paku Buwana III, beberapa Pangeran yang menentang Belanda ditangkap dan diangkut ke Semarang. Nasib pangeran- pangeran itu belum dapat diketahui sejarah, hingga kini. Peristiw a penculikan pangeran-pangeran itu dijadikan hari lambang perjuangan membebaskan Mataram dari cengkeraman Belanda. Dan panji-panji Imogiri dijadikan sebagai peringatan adanya pangeran-pangeran yang diangkut Belanda ke Semarang. Panji-panji Imogiri memperingatkan pula kepada sekalian rakyat, bahwa Belanda hendak mengimogirikan **) kerajaan Mataram dan Susuhunan. ***)

*) Sekarang Jakarta.

**) mengimogirikan = membunuh atau meniadakan selaras dengan pengertian bahwa Imogiri tempat pemakaman raja-raja.

***) Baca: R. Moch. Ali S.S. "Perjoangan Feodal Indonesia", halaman 191. Penerbit Ganaco N.V., Bandung - tahun 1963.

Lingga Wisnu tidak mengetahui semua kejadian itu. Tak mengherankan, kepalanya menjadi penuh teka-teki tentang apa yang disebut panji-panji Imogiri. Namun dasar seorang pemuda cerdas, lantas saja ia memutuskan :

"Kita baru saja bertemu dan berkenalan. Karena itu wajib aku merahasiakan tujuan perjalanan. Bukankah begitu? Mari, mari kita berjalan bersama-sama."

Mendengar kata-kata Lingga Wisnu, Galong lantas manggut-manggut penuh pengertian. Wajahnya berubah menjadi girang. Dia tertaw a lebar sambil menyahut :

"Memang telah kuduga bahwa adik hendak menyembunyikan maksud sebenarnya. Bagus! Akupun akan bersikap demikian terhadap seseorang yang belum pernah kukenal." Sampai disitu, berlima mereka berjalan sama sama melanjutkan perjalanan mendaki gunung Merbabu. Galong memimpin perjalanan. Setiap kali berjumpa dengan rombongan-rombongan atau garudu-gardu penjagaan, ia hanya menggerakkan tangannya saja. Gerakan-gerakan tangannya ternyata besar khasiatnya. Rumah-rumah di sepanjang jalan bersiaga penuh untuk menerima kedatangan mereka berlima. Juga rumah- rumah makan yang disinggahi tak sudi menerima pembayaran. Perlayanan terhadap mereka berlima sangat manis sekali.

Selang dua hari tibalah mereka diatas pinggang gunung Merbabu sebelah Utara. Diatas gunung ini barulah Lingga Wisnu mengembarakan penglihatannya dengan bebas merdeka. Di segala penjuru ia melihat ratusan orang berlerot t iada putusnya mendaki gunung. Pakaian mereka warna-warni. Cara dandanannya berbeda-beda pula. Perawakan mereka pun macam- macam. Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang jangkung dan ada yang pendek. Sebaliknya yang boleh dikatakan sama ialah bahwa mereka semua memiliki gerakan yang gesit. Diantara mereka banyak yang sudah kenal dengan Galong, Gandu dan Tanjung.

Lingga Wisnu dan Palupi bersikap tidak ingin tahu dengan rahasia mereka. Itulah sebabnya, selagi mereka berbicara, mereka berdua sengaja berdiri jauh-jauh. Walaupun demikian pendengaran mereka yang tajam dapat menangkap logat bahasa orang-orang yang datang mendaki gunung Merbabu itu. Ternyata mereka yang datang mempunyai logat Banyumas, pantai utara, Jaw a Timur serta orang-orang yang hidup di selatan gunung Merapi. Mengapa mereka mendaki gunung di sini beramai-ramai? Sebenarnya Lingga Wisnu sangat ingin memperoleh keterangan dari Palupi, akan tetapi tatkala itu Palupi tiba-tiba bersembunyi. dibalik sebuah batu besar. Sewaktu muncul kembali, ia sudah mengenakan pakaian laki- laki.

Malam itu Galong membaw a rombongannya bermalam di kaki Gunung. Dan keesokan harinya, ia memimpin rombongannya mendaki gunung Merbabu sebelah Utara. Selagi bersantap, tiba-tiba terdengarlah seruan orang sambung-menyambung :

"Pangeran Natayuda datang!"

Mendengar seruan sambung-menyambung itu delapan orang berdiri serentak. Kemudian berlari-lari menyambut kedatangan orang yang diserukan.

"Mari kita lihat!" ajak Lingga Wisnu. Palupi tidak membantah. Segera diikutinya bocah itu dengan langkah panjang.

Seperti berbaris, mereka yang mendaki gunung Merbabu berdiri dengan rapih dan tenang. Tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda, dan muncullah seorang pemuda berumur dua puluh tahun. Kudanya berjalan perlahan-lahan. Manakala me lihat jumlah penyambutnya terlalu banyak, segera ia melompat turun dari kudanya.

Seorang berperaw akan tinggi besar, muncul diantara gerombolan orang. Orang itu segera menyambut kuda Pangeran Natayuda. Segera Pangeran Natayuda menyerahkan kendalinya. Dia sendiri lantas berjalan dan memanggut hormat kepada para penyambutnya. Melihat Lingga Wisnu yang masih berkesan kanak-kanak, ia tertegun sejenak. Kemudian bertanya dengan manis:

"Siapakah saudara ini?"

"Aku bernama Lingga Wisnu." sahut Lingga Wisnu pendek. "Apakah tuan, yang disebut Pangeran Natayuda?"

"Akh, jangan memanggil aku tuan," potong Pangeran Natayuda dengan tertaw a ramah. "Panggil saja namaku: Natayuda."

Lingga Wisnu tertarik akan sikap pangeran itu yang sopan. Segera ia membungkuk hormat. Dan dengan tersenyum Pangeran Natayuda berjalan mengarah penginapan yang disediakan.

Lingga Wisnu benar-benar tertarik hatinya. Selagi tertegun, tiba-tiba Palupi meniup telinganya. Kata gadis itu:

"Dia seorang Pangeran! Kita berdua ini keturunan orang lumrah. Rupanya dia berpengaruh. Inilah kesempatan baik, apabila engkau hendak bersahabat dengan dia. Kalau engkau bisa berbicara dari hati ke hati dengan Pangeran itu, setidaknya martabatmu akan naik."

Geli hati Lingga Wisnu mendengar kata-kata Palupi. Akan tetapi pikiran gadis itu menarik hati pula. Lantas saja ia menyusul ke rumah penginapan, mencari Pangeran Natayuda.

Di depan kamar Pangeran Natayuda, ia sengaja berbatuk kecil. Kemudian mengetuk pintu perlahan- lahan. Ia mendengar suara seseorang sedang membaca buku di dalam kamar itu. Begitu pintu terbuka dan muncullah Pangeran Natayuda dengan wajah berseri- seri.

"Dalam rumah penginapan sesunyi ini. Saudara Lingga sudi datang kemari. Inilah bagus sekali," kata Pangeran Natayuda dengan suara ramah.

Lingga Wisnu masuk. Dan nampak di depan matanya sejilid buku dan sehelai peta diatas meja. Itulah sehelai peta dari sebuah kerajaan baru. Khaw atir ia bakal dicurigai Pangeran Natayuda cepat-cepat ia mengalihkan pandangnya. Dan pada saat itu Pangeran Natayuda minta keterangan kepadanya asal usul dirinya.

Lingga Wisnu tidak menyembunyikan riw ayat hidupnya. Dengan terus terang dia berkata bahwa dirinya adalah putera pendekar Udayana yang menemui ajalnya di atas gunung Lawu. Kemudian dia kini berada dipinggang gunung Merapi untuk menyembuhkan penyakitnya.

"Oh!" Pangeran Natayuda berseru tertahan. "Ayahmu seorang pendekar yang putih bersih. Kami juga menghargainya ..."

Mendengar Pangeran Natayuda menghargai diri ayahnya, hati Lingga Wisnu tergerak. Lantas saja ia merasa dekat sekali dengan Pangeran itu. Dengan kata- kata ia menyahut :

"Penghargaan Pangeran terhadap almarhumah, sangat mengharukan hati kami. Akan tetapi tak berani kami menerima penghargaan Pangeran yang terlalu tinggi."

Pangeran Natayuda tertaw a lebar. Ujarnya: "Adikku inilah yang dinamakan jodoh. Kita bisa bertemu di sini dan berbicara dari hati ke hati. Besok adik akan mendaki gunung pula, bukan? Biarlah esok kuperkenalkan kepada pendekar pendekar gagah dari seluruh Nusantara ini. Adik bisa membuktikan sendiri bahwa mereka semua mengenal nama ayahmu dan menghargai kemegahannya. Kutanggung adik akan merasa gembira sekali."

Bangga juga hati Lingga Wisnu mendengar kata-kata Pangeran Natayuda. Segera ia berbicara panjang lebar tanpa segan-segan lagi. Ia membicarakan tentang kancah perjuangan, ilmu tata sakti dan ilmu ketabiban yang dikenalnya. Dan mendengar tutur kata Lingga Wisnu, diam-diam Pangeran Natayuda tercengang. Pikir Pangeran Natayuda di dalam hati:

“Bocah narrpaknya luas sekali pengetahuannya. Jarang sekali aku menjumpai seorang bocah seperti dia. Bocah seperti dia sangat dibutuhkan oleh Pangeran Mangkubumi. Biarlah kubawanya serta di dalam pertemuan-pertemuan resmi. Siapa tahu dikemudian hari ada gunanya.”

Mereka berdua berbicara sampai larut malam sekaji. Apabila suasana d i situ bertambah sunyi senyap, barulah Lingga Wisnu kembali ke kamarnya. Palupi ternyata belum me mejamkan matanya.

Seperti biasanya, ia menunggu kedatangan Lingga Wisnu dengan setia. Dan dengan semangat menyala- nyala Lingga Wisnu segera menceritakan pengalamannya bergaul dengan Pangeran Natayuda. Seperti biasanya juga, Palupi bersikap mendengarkan saja. Wajahnya sangat tenang dan tiada nampak perobahan atau kesan sesuatu. Entah dia ikut bersyukur lantaran perkenalan itu atau tidak, hanya malaikat dan Tuhan sendiri yang tahu.

*** 0o-dwe-o0 ***

Pada hari keempat, adalah hari pertama tahun 1754. Itulah hari yang dijanjikan Pangeran Natayuda hendak membaw a Lingga Wisnu untuk diperkenalkan dengan para pendekar gagah yang datang dari segala penjuru. Sebelum bertemu dengan Pangeran Natayuda, ia dan Palupi dibagi Galong mendaki dan menuruni bukit-bukit tak keruan juntrungnya. Kadang-kadang setelah sampai di pinggang gunung, dibawanya turun ke kaki gunung kembali. Kadangkala melintasi pedusunan dan lamping bukit. Dan seperti kanak-kanak belajar berjalan, ia dibawa pula beringsut-ingsut dari keblat ke keblat. Walaupun hati Lingga Wisnu kerapkali merasa kesal, namun tahulah dia bahwa maksud Galong untuk menyesatkan penglihatan orang-orang tertentu yang tidak dikehendaki.

Tatkala Lingga Wisnu hendak berangkat meneruskan perjalanan mendaki puncak gunung. Palupi datang menghampiri dan menyerahkan sebuah kantong berisi ramuan obat. Kata gadis itu:

"Di dalam pertemuan besar in i mungkin kita berdua akan duduk berpisahan. Maka kau bawalah kantong obat pemunah racunmu ini. Setiap kali dirimu merasa akan kumat, cepat-cepatlah menelan t iga butir."

"Engkau akan ke mana?" Lingga Wisnu tercekat.

"Aku? Akupun berada diantara para hadirin. Hanya saja, rasanya akan mengganggu dirimu. Sebab pastilah Pangeran Natayuda akan membaw amu duduk kesampingan. Kalau akupun duduk mendampingimu, akan menimbulkan berbagai pertanyaan."

"Kenapa begitu?" Lingga Wisnu tidak mengerti.

Palupi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum manis. Kemudian mendahului berangkat meninggalkan kamarnya.

Menjelang tengah hari, sampailah mereka di pinggang gunung. Belasan orang berdiri menyambut dengan niru penuh hidangan. Setelah berhenti sebentar untuk bersantap dan minum serta beristirahat pula, mereka yang mendaki gunung meneruskan perjalanannya keriba|i. Sejak itu terus menerus terdapat gardu-gardu penjagaan yang ketat main tanya dan periksa kepada setiap orang yang datang dan melintasi penjagaan. Walapun demikian, cara mereka bertanya dan memeriksa sangat sopan. Tatkala giliran memeriksa t iba pada Lingga Wisnu dan Palupi, Pangeran Natayuda hanya memanggutkan kepala dan lantas saja mereka diijinkan melintasi penjagaan tanpa pertanyaan lagi. Malahan barisan penjaga bersikap hormat terhadap rombongannya.

'Sungguh berbahaya,' kata Lingga Wisnu di dalam hati. Makin sadarlah ia betapa besar pengaruh Pangeran Natayuda. Ia bergirang dan bersyukur di dalam hati karena sonalam dapat berbicara secara akrab sekali. Hanya saja belum dapat menduga-duga apa yang bakal terjadi nanti.

Tatkala magrib tiba, sampailah mereka di atas gunung. Ratusan orang berdiri dan berbaris dengan rapih. Mereka menyambut kedatangan para tetamu. Sikap mereka angkar. Tetapi begitu melihat kedatangan Pangeran Natayuda, pemimpin laskar itu, lantas saja maju menyambut. Kemudian dengan bergandengan tangan mereka berdua masuk ke dalam sebuah rumah pasanggrahan yang besar.

Di kiri-kanan pasanggrahan itu terdapat berpuluh- puluh bangunan yang berpencaran letaknya. Yang paling besar adalah rumah tadi, yang dimasuki Pangeran Natayuda. Sama sekali ada pagar pagar ketat dan kokoh, sehingga keadaannya tiada mirip dengan sarang berandal. Di atas banyak bangunan-bangunan itu yang terpancang sehelai bendera berwarna hijau dan kuning. Itulah bendera yang disebut orang dengan nama bendera Pare Anom.

Bagi Lingga Wisnu sama penglihatan itu merupakan pengalaman baru. Belasan tahun ia lakukan berkelana, akan tetapi baru kali inilah ia merasa berkumpul dengan ratusan manusia yang nampaknya bersatu padu. Dengan penuh selidik ia mengamati wajah setiap orang yang dilihatnya. Mereka semua bergaul sangat rapat sebagai sahabat. Akan tetapi, wajah mereka nampak berduka. Inilah anehi

Palupi yang berpakaian sebagai pemuda, mendapat sebuah kamar bersama Lingga Wisnu. Karena mereka berdua termasuk dalam rombongan Pangeran Natayuda, pelayanannya lebih sempurna. Akan tetapi hidangan yang disajikan hanya berupa nasi putih dan sayur mayur belaka. Sama sekali t iada daging atau ikan basah.

"Ayunda," kata Lingga Wisnu. "Guru katanya berada di sin i. Dan kita kinipun berada di sin i pula. Mengapa guru tidak cepat-cepat menemui kita? Apakah mereka justru tidak menghendak pertemuan kita?"

Palupi hanya mendengus, Sama sekali ia tidak menjawab atau memberi keterangan. Lingga Wisnu yang kenal tabiat Palupi, tak mau mendesak pula. Akan tetapi dengan demikian ia jadi bermenung-menung seorang diri. Kepalanya penuh teka-teki yang tak dapat segera menemukan jaw abannya.

Pada keesokan harinya, tanggal 2 Januari 1754, Palupi dan Lingga Wisnu dibangunkan sebelum pagi hari tiba. Setelah mandi dan makan pagi, mereka berdua berjalan- jalan menyusur tepi kepundan gunung. Kali in i mereka melihat orang-orang yang cacad tubuhnya. Ada yang hanya memiliki sebelah tangan atau sebelah kaki dan wajah wajah bekas sabetan senjata tajam. Itulah suatu bukti, mereka baru saja datang dari medan pertempuran. Sebenarnya ingin Lingga Wisnu memperoleh keterangan tentang diri mereka, akan tetapi Palupi segera membaw anya pergi.

Pada siang sampai sore hari, barang hidangan yang dibawa masuk ke dalam kamar melulu sayur mayur belaka. Semuanya ini kian menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam hati Lingga Wisnu. Katanya di dalam hati.

'Siapakah mereka yang cacad tubuhnya itu? Kenapa sekalian hadirin berwajah muram? Mereka nampaknya bergaul sangat rapat, akan tetapi selalu membungkam mulut. Dan apa maksudnya hidangan yang disajikan hanya sayur mayur belaka? Memang di atas gunung sukar mendapat daging. Tetapi pertemuan secara besar- besaran ini tidak terjadi secara kebetulan belaka. Mestinya jauh sebelumnya mereka sudah bersiap-siap. Masakan t iada terdapat seiris daging saja?'

Dan malam seperti kemarin, tiba lagi. Seseorang mengetuk pintu kamar Lingga Wisnu. Berkata dari luar ambang pintu :

"Pangeran Natayuda mengundang saudara Wisnu untuk menyaksikan upacara pertemuan ini."

Lingga Wisnu berpaling kepada Palupi. Gadis itu menundukkan kepalanya dengan sikap acuh tak acuh. Agaknya jauh-jauh sudah dapat menebak akan adanya undangan ini. Katanya:

"Berangkatlah! Jangan lupa, kau bawa pula obat pemunah racun Pacarkeling.”

"Dan ayunda?" Lingga Wisnu menegas.

"Aku dapat mengurus diriku sendiri," jawab Palupi dengan suara dingin. "Kau tak usah memikirkan aku. Percayalah, selama engkau berada di sini, aku tetap mendampingimu!"

Oleh jawaban itu hati Lingga Wisnu menjadi tenteram. Segera ia mengikuti pesuruh tadi memasuki sebuah bangunan besar yang berada di tengah-tengah pasanggerahan.

Pangeran Natayuda ternyata menunggu dirinya di depan pintu pasanggrahan. Setelah ia menggabungkan diri dengan rombongannya, segera Pangeran itu masuk ke pasanggrahan. Begitu masuk ke dalam pasanggrahan, perhatian Lingga Wisnu terbangun. Ia melihat bermacam-macam senjata tertancap di atas tanah semacam pagar. Semuanya delapan belas macam. Dan masing masing senjata menyinarkan sinar gemerlapan oleh pantulan cahaya dian yang dinyalakan terang benderang. Jumlah orang-orang yang berada di dalam pasanggerahan itu kurang lebih tiga ribu orang. Inilah suatu jumlah yang luar biasa. Mau tak mau Lingga Wisnu menjadi heran. Kenapa orang sebanyak itu bisa berkumpul di atas gunung yang sunyi sepi itu.

Di tengah ruangan, Lingga Wisnu melihat rangkaian gambar sebagai hiasan dinding. Setelah diamati, sekalian gambar itu memperlihatkan lukisan serdadu-serdadu Kompeni Belanda bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang yang ditangkapnya. Dibawah lukisan itu terdapat sederet tulisan yang berbunyi: semoga Tuhan menerima arwah pendekar-pendekar pencinta bangsa dan negara. Amien.

Membaca tulisan itu, hati Lingga Wisnu terkesiap. Siapakah mereka yang disebut sebagai pendekar pencinta bangsa dan negara? Pemuda itu belum pernah mendengar peristiw a berdarah yang terjadi di dalam istana Kartasura setelah Sri Paku Buwana III naik takhta. Mereka sesungguhnya para pangeran, yang diculik dan diangkut Kompeni Belanda, ke Semarang. Bagaimana nasib mereka, hanya Tuhan sendiri yang tahu.

Lingga Wisnu kemudian menebarkan penglihatannya ke semua penjuru. Bendera berkibar-kibar menghiasi dinding pertemuan. Terdapat pula berbagai macam alat senjata dan pakaian kuda serta topi perang. Dari ruang ke ruang terdapat semboyan-semboyan yang berupa tulisan. Karena kurang jelas, tak dapat Lingga Wisnu membacanya. Akan tetapi yang lebih menarik perhatiannya ialah wajah para pengunjung yang semuanya nampak muram dan berduka. Pemuda itu menjadi bingung. Apakah semua yang memasuki pasanggrahan wajib berduka cita

? Kalau memang diw ajibkan denikian, dia harus berduka cita terhadap siapa?

Seorang laki-laki berperawakan tinggi kurus tiba-tiba berdiri dari kursinya. Setelah membuat sembah terhadap hadirin, berkatalah dia dengan suara nyaring:

"Saudara-saudara hadirin, marilah kita mulai bersembahyang!"

Semua orang lantas melakukan sembahyang.

Pangeran Natayuda menjadi imamnya. Lingga Wisnu yang sedikit banyak pernah mendapat tuntunan bersembahyang dari kedua orang tuanya, juga ikut bersembahyang. Hanya saja ia tak tahu tujuan sembahyang itu. Tetapi setelah orang tinggi kurus itu berkhotbah tentang gugurnya para pangeran yang diangkut Kompeni Belanda ke Semarang, hati bocah itu terkesiap. Entah apa sebabnya tiba-tiba hatinya bergelora. Darahnya meluap dan semangatnya berkobar- kobar. Teringat akan nasib ayah-bunda dan saudaranya yang mati t iada berkubur, justru lantaran dikenal sebagai sepasang pendekar yang tinggi ilmu kepandaiannya, tak dapat lagi ia menahan air matanya. Meskipun ayah bukan seorang pangeran, akan tetapi nasibnya mirip sekali dengan para Pangeran yang diangkut ke Semarang, justru lantaran mereka dianggap berbahaya bagi yang sedang berkuasa.

Selagi bersedu-sedan, sekali lagi ia terperanjat tatkala hadirin tiba-tiba berteriak seperti kalap. "Kalau di dunia ada dua matahari, bagaimana kita bisa hidup aman dan damai? Hancurkan Kompeni Belandal Atau kita akan hancur sendiri!”

"Benar, kembalikan gunung-gunung dan pohon pohonku!"

"Hidup! Basmi semua malapetaka dunia!"

"Benar. Kembalikan tanah-tanah dan sungai- sungaiku!"

"Hidup Pangeran Mangkubumi!" "Cincang Patih Pringgalaya!" "Dia sudah mampus!"

"Membasmi rumput harus sampai ke akar-akarnya!

Bunuh semua anak keturunannya!”

Dan makin lama teriakan-teriakan itu makin menjadi kalap. Masing-masing meledakkan isi hatinya. Dan teringat akan lawan-lawan ayah bundanya yang bersembunyi, di belakang tabir, tanpa merasa Lingga Wisnu ikut berseru pula :

"Gempur orang-orang yang mengaku diri golongan Suci! Hancurkan padepokan Argapura! Cincang orang yang menamakan diri Panembahan Panyingkir!"

Sekalipun ia berseru kalap, akan tetapi suaranya tenggelam dalam keriuhan teriakan-teriakan hadirin yang berjumlah dua-tiga ribu orang.

Orang jangkung kurus yang memimpin upacara sembahyangan itu, mengangkat kedua tangannya. Hadirin yang berteriak-teriak kalap menjadi tenang kembali. Apabila suara kalap tadi sudah padam, berkatalah dia dengan nyaring:

"Para utusan daerah diberi kesempatan untuk melaporkan keadaan daerahnya masing masing kepada Pangeran Natayuda. Silahkan!"

Seorang laki-laki yang duduk di sebelah barat, segera bangkit dari kursinya. Berkata:

"Musuh kita sesungguhnya adalah Kompeni Belanda. Sri Paku Buwana II, Susuhunan Kartasura, sesungguhnya hanya boneka belaka. Karena itu sedapat mungkin kita harus mencari kepala-kepala Kompeni Belanda dan bukan kepala-kepala orang-orang yang kebetulan mengabdi kepada Sri Paku Buwana III!"

Suara itu nyaring luar biasa, sehingga Lingga Wisnu terkejut. Sama sekali tak diduganya bahwa seseorang bisa mempunyai suara demikian nyaring. Berkata orang itu lagi:

"Saudara-saudara seperjuangan ...!”

Selagi orang itu hendak meneruskan perkataannya, tiba-tiba terdengarlah suara nyaring sambung- menyambung di luar perkemahan :

"Panglima Aris Munandar, utusan Raden Mas Said datang untuk ikut serta memeriahkan pertemuan ini!"

Mendengar seruan itu, Pangeran Natayuda bangkit dari kursinya. Berkata menyambut:

“Saudara-saudara sekalian! Marilah kita sambut utusan Raden Mas Said!" Semua hadirin kenal siapa Raden Mas Said. Dialah menantu pangeran Mangkubumi yang menyulutkan pemberontakan sekitar Kartasura.. Ia dibanntu Panembahan Martapura dan laskarnya tersebar mulai dari Madiun, Bojanegara dan Wonogiri. Ia ditakuti baik pihak lawan maupun kawan. Karena sikap tegasnya terhadap lawan, ia disebut dengan Pangeran Samber Nyawa. Maka begitu mendengar aba-aba Pangeran Natayuda, maka sekalian hadirin lantas saja bangkit dari kursinya masing-masing.

Pintu pasanggrahan terbuka lebar. Dua orang masuk membaw a dua obor besar. Kemudian berjalan mendahului menyusur garis kiri dan garis kanan seolah- olah merupakan batas jalan. Tak lama kemudian masuklah tiga orang yang mengenakan pakaian singsat.

Yang berjalan di depan, seorang laki-laki kurang lebih berumur empat puluh tahun. Romannya bengis, pakaian yang dikenakan sangat sederhana terbuat dari kain kasar. Dia mengenakan sepatu rumput tanpa kaus kaki. Rambutnya kusut masai dan lengan bajunya nampak usang. Kesan pribadinya seperti petani yang gagal dalam masa panen. Akan tetapi dia sebenarnya seorang panglima andalan Pangeran Samber Nyaw a. Dialah yang disebut orang Panglima Sengkan Turunan. Asalnya memang seorang petani dari daerah Wonogiri. Akan tetapi karena jasa-jasa dan keberaniannya serta kesetiaannya, ia dilantik oleh Raden Mas Said, menjadi salah seorang panglimanya.

Orang kedua, yang berjalan di sebelah kiri adalah seorang berkulit kuning bersih. Dia seorang ningrat. Pandangnya tajam dan cemerlang. Pakaian yang dikenakan bersih pula, bahkan berkesan mentereng. Usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun. Namanya Aris Munandar.

Dan orang ketiga adalah seorang laki-laki yang berperawakan tinggi kekar. Kulitnya hitam lekam seperti kulit manggis. Usianya belum melebihi tigapuluh tahun. Meskipun demikian, pandang matanya berwibawa penuh. Gerak-geriknya gesit. Dialah Aria Puguh, salah seorang pengawal pribadi Pangeran Samber Nyawa yang termashur.

Sampai di depan gambar-gambar lambang perjuangan, mereka bertiga berdiri tegak. Kemudian membungkuk hormat. Itulah suatu pernyataan duka cita dan penasaran atas hilangnya beberapa pangeran yang tiada beritanya. Setelah itu, Panglima Sengkan Turunan berkata kepada Pangeran Natayuda :

"Junjungan kami, Raden Mas Said, dengan ini menyampaikan salam perjuangan kepada paduka. Junjungan kami ikut berduka cita atas hilangnya beberapa pangeran pecinta bangsa dan negara karena diculik Belanda. Rasa dukacita junjungan kami dinyatakan dengan memaklumkan perang kepada kompeni Belanda beserta antek-anteknya. Junjungan kami kini sudah menduduki lembah gunung Lawu. Setiap kali bersiaga untuk bekerja sama antara laskar Pangeran Mangkubumi."

Kata-kata Panglima Sengkan Turunan sebenarnya sederhana, akan tetapi, kesannya menarik hati. Lantaran kesederhanaannya itu, justru mengasi lihat wataknya yang tulus ikhlas dan jujur. Maka para hadirin riuh rendah bertepuk tangan. Pangeran Natayuda bangkit dari kursinya - Dia membalas hormat Pangeran Sengkan Turunan :

"Terima kasih, terima kasih. Saudara-saudara kita yang hilang diculik kompeni Belanda sebenarnya bukan milik pangeran Mangkubumi, akan tetapi adalah milik saudara-saudara pula. Karena itu sudah sepatutnyalah kita bekerja sama dengan laskas Raden Mas Said. Tetapi sebelum kami membicarakan hal in i, perkenankan kami mengenal nama saudara."

"Orang menyebut kami Senkan Turunan. Jabatan kami, salah seorang panglima Raden Mas Said, akan tetapi sebenarnya kami ini hanya seorang dusun yang dilahirkan di pojok desa Wonogiri ."

Kembali lagi para hadirin mendengar betapa jujur dan tulus hati utusan Pangeran Samber Nyawa itu. Sekali lagi mereka bertepuk tangan riuh.

"Jadi saudaralah yang terkenal dengan nama Panglima Senkan Turunan?” kata Pangeran Natayuda. "Nama saudara sangat kami kagumi. Dengan ini perkenankan kami atas nama saudara-saudara yang hadir dalam pertemuan ini untuk ..."

Belum lagi Pangeran Natayuda menyelesaikan kata- katanya, tiba-tiba Arya Puguh, tetamu yang berkulit hitam lekam, melesat ke pintu. Dengan menebarkan pandangnya ke arah hadirin dengan mata penuh selidik, ia bersikap menghadang. Sudah tentu semua hadirin heran menyaksikan hal itu. Setelah kena pandang, mereka berbalik mengawasi utusan Pangeran Samber Nyawa itu. Pada saat itu, Arya Puguh mendadak menuding dua orang berusia pertengahan yang duduk di antara hadirin. Terus membentak:

"Bukankah kamu   berdua   begundal   Pringgalaya?

Mengapa berada di sini?"

Kata-kata itu membuat kaget sekalian hadirin. Semua yang hadir tahu belaka siapakah Patih Pringgalaya. Dialah sumber kekacauan dan kerincuhan. Dengan t idak sepengetahuan Sri Paku Buwana III, ia melaporkan kepada Gubernur Jendral Belanda Baron van Imhoff tentang perselisihan hasil sebidang tanah antara Pangeran Mangkubumi dan dirinya sendiri. Dan sebenarnya dia sama sekali tidak mempunyai wewenang dalam hal itu. Tetapi laporan itu sendiri sesungguhnya mempunyai tujuan tertentu. Dengan pengaduan itu sekaligus ia hendak berkata kepada pe merint ah Belanda, bahwa didalam pemerint ahan Susuhu- nan sama sekali tiada yang pandai mengemudikan negara, sehingga perlu mohon bantuan Jendral Baron van Imhoff untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Disarnping itu, ia mempunyai maksud pula hendak mengadu domba antara Pangeran Mangkubumi dan kakaknya, Sri Paku Buwana II sedang latar belakang sesungguhnya ia iri hati atas kegagahan Pangeran Mangkubumi, yang dapat menindas pemberontakan Sukawati. Sepak terjang Patih Pringglalaya inilah yang mengakibatkan pemberontakkan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said, yang kemudian hari mengakibatkan runtuhnya kerajaan Mataram. Sekarang para hadirin mendengar tuduhan Aria Puguh bahwa kedua tetamu yang berada di antara mereka adalah begundal Patih Pringgalaya. Benarkah tuduhan itu? Dua orang yang kena tuding itu tetap saja duduk di atas kursinya. Yang pertama seorang laki-laki kira-kira berusia empatpuluh tahun. Mukanya licin dan sikapnya sopan sekali. Perawakannya tinggi semampai, sedang yang kedua, bertubuh pendek ketat. Ia berkumis dan berjenggot tebal. Kulitnya kehitam-hitaman, sehingga mengingatkan orang kepada kulit seorang Arab. Ia nampak terkejut, tatkala kena tuding. Akan tetapi pada detik itu pula ia dapat bersikap tenang kembali. Ia menegas sambil tertaw a :

"Salah lihat?" bentak Aria Puguh. "Bukan kah engkau Sersan Titiprana dan kawanmu itu Letnan Srinadi? Hem! Dengan kedua kupingku aku mendengar sendiri kasak kusukmu di rumah penginapan. Lantas kamu berdua menelusup ke mari. Siapapun akan segera tahu, apa maksudmu menyelundup ke mari. Dengan tanda-tanda sandi engkau akan memberi kabar kepada Kompeni Belanda atau anjing-anjing Pringgalaya untuk segera menyerbu ke mari. Bukankah demikian? Ya, begitulah kasak kusukrnu di dalam penginapan."

Mendengar kata-kata Aria Puguh, orang yang disebut Sersan Titiprana segera menghunus goloknya, lalu melompat menerjang dan segera hendak menyerang. Akan tetapi kawannya, Letnan Srinadi segera mencegahnya. Dengan sikap tenang, Letnan Srinadi berkata :

"Raden Mas Said adalah yang terkenal dengan sebutan Samber Nyawa, menantu Pangeran Mangkubumi. Meskipun menantu, akan tetapi siapa pun tahu, bahwa dia mempunyai cita-citanya sendiri. Tatkala dahulu menyulutkan api pemberontakan di sekitar Sukawati, ia kena dihancurkan laskar Pangeran Mangkubumi. Apakah kekalahannya yang telah mencoreng mukanya itu, akan dibiarkan saja?. Siapapun tak akan percaya. Dan sekarang dia mengutus kamu berdua menghadap Pangeran Natayuda sebagai wakil Pangeran Mangkubumi, bukankah kau bermaksud untuk mengacau balau di sini? Aha, kau benar-benar pandai memutar balik keadaan."

Suara Letnan Srinadi halus tetapi tajam. Kata-katanya mempunyai pengaruh besar sehingga para hadirin yang mendengar jelas menjadi bimbang.

Sengkan Turunan mengenakan pakaian seorang petani. Akan tetapi ia seorang peperangan ulung yang cerdik dan segera saja dapat menanggapi pandang hadirin yang berbalik curiga kepada pihaknya. Segera ia mencampuri berbicara. Tanyanya :

"Engkau siapa tuan? Bukankah engkau Letnan Srinadi?

Tadi tuan belum menjawab tuduhan saudaraku.”

Mendapat pertanyaan demikian, Letnan Srinadi tergugu. Mulutnya nampak bergerak hendak mengungkap kata-kata, akan tetapi berhenti di kerongkongannya. Menyaksikan hal itu Pangeran Natayuda segera menghampiri. Tanyanya menegas:

"Apakah benar, engkau anak buah Patih Pringgalaya? Atau engkau salah seorang kerabat Pangeran Mangkubumi? Kalau aku tak salah dengar, kau tadi berbalik menuduh utusan Pangeran Samber Nyaw a hendak membuat kekacauan di sini sebagai pembalas dendam majikannya terhadap Pangeran Mangkubumi. Kalau begitu, engkau benar-benar kerabat Pangeran Mangkubumi. Akan tetapi kenapa aku tak pernah kenal dirimu? Apakah mataku yang sudah lamur? Saudara, coba jaw ab yang benar!"

Tak dapat Letnan Srinadi berpura-pura dungu lebih lama lagi. Segera ia mengerling kepada Sersan Titiprana dan memberi isyarat mata. Sersan Titiprana meloncat, iapun segera menyusul. Malahan dia lantas membabat wajah Aria Puguh dengan pedangnya.

Gerak-gerik Letnan Srinadi mirip seorang banci. Akan tetapi gerakannya gesit sekali.. Dalam sekejab mata ia menghujani dada Aria Puguh dengan tikaman-tikaman berbahaya.

Utusan Pangeran Samber Nyawa datang ke pasanggrahan semata-mata untuk menyatakan rasa setia kawan.   Sama   sekali   mereka   tidak   mempersiapkan

senjata. Itulah sebabnya serangan Letnan Srinadi dan Sersan Titiprana yang bekerja sama rapi dan cepat, membuat sekalian hadirin terperanjat dan cemas. Di antara mereka lapat-lapat seperti telah pernah mendengar nama letnan Srinadi. Kalau tak salah dia salah seorang perw ira   andalan   Patih

Pringgalaya yang dahulu pernah tertangkap Raden Mas Said dan kemudian dibebaskan kembali. Hal ini disebabkan lantaran Letnan Srinadi diwaktu itu berkedudukan sebagai duta. Dan membunuh duta adalah tabu bagi pejuang-pejuang Raden Mas Said. Walaupun demikian untuk memberi sedikit hajaran, Letnan Srinadi di sunati hampir habis.

Aria Puguh ternyata seorang berkepandaian tinggi. Dengan gerakan sebat luar biasa, tangan kirinya t iba-tiba mendahului gerakan pedang Letnan Srinadi. Ia mengendapkan tubuhnya sedikit, lalu tangan kanannya menyambar, menghantam sersan Titiprana. Karena tubuhnya sudah merendah maka ia tak khaw atir kena tikaman pedang Letnan Srinadi.

Menyaksikan kesehatan Aria Puguh, tanpa merasa para hadirin bersorak-sorak memuji. Dengan seorang diri saja kedua tangannya dapat melabrak kedua penyerangnya dengan sekaligus. Dan kedua penyerangnya itu ternyata dapat diundurkan; Sebab apabila kasep sedikit saja, mereka pasti akan kena tercengkeram tangan perkasa Aria Puguh.

Kini para hadirin berubah menjadi girang dan berada dipihak Aria Puguh. Tadinya, banyak diantara mereka yang hendak membantu. Menyaksikan kesehatan dan kegagahan Aria Puguh, mereka lantas saja menonton.

Hebat cara perlawanan Aria Puguh. Kedua tangannya menyambar-nyambar tiada hentinya dengan cepat dan sebat. Letnan Srinadi dan Sersan Titiprana dibuat sibuk tak keruan. Mereka berdua kini sadar pula bahwa mereka yang tadinya hendak mengepung Aria Puguh, kini malahan kena kepung rapat-rapat. Mereka berdua tak ubah tercebur ke dalam sarang harimau yang setiap saat mengancam jiw anya. Itulah sebabnya mereka berkelahi sambil mundur perlahan-lahan. Kemudian dengan tiba- tiba mereka merangsak maju mendesak dengan maksud, apabila Aria Puguh kena didesak mundur, dengan sekali menjejakkan kaki mereka hendak melarikan diri lew at pintu depan.

Akan tetapi Aria Puguh bukan pendekar yang mudah kena diingusi. Ia berkelahi sangat hati-hati. Mula-mula membela diri, kini berbalik menyerang. Tak perduli ia bertangan kosong, ternyata berkali-kali ia   dapat merint angi maksud kedua penyerangnya dengan rapat sekali. Kedua kakinya yang teguh tetap menjaga ambang pintu, sehingga Letnan Srinadi maupun Sersan Titiprana tiada memperoleh kesempatan untuk bisa lolos dari penjagaannya.

Dalam seribu kesibukan Letnan Srinadi menjadi nekad. Tangan kirinya menghunus pedang dengan ukuran pendek. Dengan demikian ia menggunakan sepasang pedang, panjang dan pendek. Kemudian merabu dan merangsak Aria Puguh dengan mati-matian. Ia harus bisa merobohkan lawannya itu sebelum tercapai maksudnya mendekati pintu. Sersan Titiprana yang berada disampingnya, rupanya mengerti pula maksud kawannya. Segera ia bergulingan di tanah dan membabat kedua kaki Aria Puguh. Inilah cara berkelahi yang sangat berbahaya. Setiap saat Aria Puguh bakal kena dikutungi. Kalau bukan kakinya, pastilah tangannya. Tetapi Aria Puguh nampak tenang-tenang saja. Ia dapat diundurkan beberapa langkah. Walaupun demikian langkahnya tidak menjadi kacau. Bahkan sebentar kemudian ia berbalik dapat mendesak lagi, sehingga kedudukannya kembali seperti semula.

Pe rtempuran mereka makin lama menjadi makin seru. Bayangan mereka berkelebatan menyambar-nyambar sehingga mengaburkan penglihatannya para hadirin. Letnan Srinadi nampak menjadi gemas sekali. Ingin ia bisa mengutungi tubuh lawannya dengan cepat. Oleh hasrat itu, lantas saja ia merangsak maju. Tepat pada saat itu mendadak ia mendengar Sersan Titiprana memekik kesakitan. Pedangnya terpental ke udara dan tangannya terkulai ke bawah. Dan pada saat itu, muncullah seorang laki-laki dalam gelanggang menyambar pedang yang terpental ke udara. Ternyata dia adalah Wirupaksa, guru Lingga Wisnu.

Berbareng dengan terlemparnya pedang ke udara, Aria Puguh menendangkan kakinya. Tak ampun lagi, Sersan Titiprana terjungkal, roboh. Tepat nada saat itu, kaki kirinya melayang menendang Letnan Srinadi pula.

Letnan Srinadi ternyata lebih gesit dari pada Sersan Titiprana. Masih dapat ia meloloskan diri dari sambaran kaki. Pedangnya berkelebat membalas menyerang. Lagi- lagi yang di arah adalah kedua kaki dan tangan Aria Puguh.

Aria Puguh ternyata tidak hanya perkasa dan gagah saja, akan tetapi gesit pula. Ia membiarkan ujung pedang Letnan Srinadi nyaris menyentuh dadanya. Dan tiba-tiba ia memiringkan tubuhnya. Tangannya berkelebat menyambar hulu pedang dan ditariknya dengan suatu hentakan. Keruan saja Letnan Srinadi kaget setengah mati. Tak dapat ia mempertahankan pedangnya. Terpaksa ia melepaskannya. Dan pada saat itu tangan kirinya yang membaw a pedang pendek menikam.

Aria Puguh melihat berkelebatnya pedangnya Letnan Srinadi, cepat sekali ia memutar pedang rampasannya dan menangkis. Trang! Api meletik berbareng dengan suara nyaring yang mengaung-ngaung memenuhi ruang pasanggrahan. Dan celakalah letnan Srinadi! Selagi tangannya tergetar karena adu tenaga itu, tiba-tiba saja Aria Puguh mengulangi serangannya lagi. Dan pedang pendeknya terpental runtuh di atas tanah. Karena ia tidak bersenjata lagi, terpaksalah ia mundur dan mundur.

Aria Puguh tertaw a panjang. Sambil tertaw a tangan kanannya menyambar dada. Letnan Srinadi mati kutu. Tubuhnya kena diangkat tinggi di udara. Diluar dugaan tangan kiri Aria Puguh secara tiba-tiba saja menyambar celana Letnan Srinadi dan direnggutkan ke bawah. Berbareng dengan suara memberebetnya kain, celana Letnan Srinadi kena dicopot ke bawah. Dengan sertamerta, Letnan Srinadi jadi bertelanjang bulat dari pinggang ke bawah. Dan semua hadirin lantas saja melihat suatu pemandangan yang mengherankan. Itulah bekas sunatan yang hampir habis!

Seperti membawa sebuah benda saja, Aria Puguh lantas menghadapkan muka Letnan Srinadi kepada hadirin seraya berkata nyaring:

"Saudara-saudara sekalian, lihatlah yang terang! Dia menjadi banci lantaran apa? Dahulu dia menjadi duta kepercayaan Patih Pringgalaya menghadap majikan kami. Inilah upahnya orang yang tidak tahu malu. Orang demikian patut disunati sampai habis!"

Baru sekarang para hadirin sadar. Mereka yang tidak mengerti latar belakang terjadinya peristiw a penyunatan itu segera mendapat keterangan dari teman-temannya, yang mendengar kabar. Sebentar saja mereka dapat diyakinkan oleh bukti itu. Sekarang mereka mengalihkan pandang kepada belalai Letnan Srinadi yang nampak terkutung, hampir habis. Lantaran lucu, mereka semua tertaw a lebar. Lantas berjalan menghampiri dan mengepung Letnan Srinadi, yang kini tidak hanya pucat lesi tapipun merah padam karena malu.

Aria Puguh lalu menyerahkan Letnan Srinadi dan Sersan Titiprana kepada panitya pertemuan. Semua hadirin kagum dan memuji-muji kegagahannya. Pangeran Natayuda kemudian menghampiri Letnan Srinadi yang sedang ditelikung bersama Sersan Titiprana. Tanyanya menegas :

"Kau mengenakan pakaian seragam perwira Susuhunan. Sesungguhnya engkau laskar Susuhunan ataukah laskar kompeni Belanda? Dan apa maksudmu menyelundup ke mari? Coba katakan kepada kami, berapa teman-temanmu yang kau bawa kemari dan bagaimana caranya engkau bisa menyelundup ke mari?"

Baik Letnan Srinadi maupun Sersan Titiprana membungkam. Dua-tiga kali Pangeran Natayuda mencoba membujuk, namun tetap saja gagal. Dan melihat kebandelan itu, Pangeran Natayuda lalu mengerdipi seorang anggauta panitya pertemuan. Orang itu lantas maju bersama empat orang kawannya. Kemudian membaw a Letnan Srinadi dan Sersan Titiprana keluar pasanggrahan. Nasib kedua mata-mata itu tidak hanya disunati saja, tetapi dikutungi kepalanya pula.

"Jika tiada pertolongan saudara bertiga, tentu sekali kami bakal mengalami bencana," kata Pangeran Natayuda Panglima Sengkan Turunan. Setelah itu ia memberi hormat menyatakan rasa terima kasihnya.

Buru-buru Panglima Sengkan Turunan membalas hormatnya. "Akh, itupun hanya secara kebetulan saja. Selama di tengah Jalan kami melihat dua orang tadi yang gerak- geriknya sangat mencurigakan. Selagi mereka menginap, kami bertiga mengintainya. Kesudahannya kami segera mengetahui dan mengenal siapa mereka sebenarnya. Rupanya mereka berdua belum insyaf kalau kami intai, sehingga berbicara kasak-kusuk dengan leluasa."

Sementara Pangeran Natayuda berbicara dengan Panglima Sengkan Turunan, Wirupaksa mendekati Aria Puguh. Dengan menggoncang goncangkan tangannya, ia menjabat tangan utusan Pangeran Samber Nyawa yang gagah itu. Dan tatkala Panglima Sengkan Turunan dibawa Pangeran Natayuda untuk membicarakan masalah-masalah yang resmi, ia membawa Aria Puguh keluar pasanggrahan. katanya sambil berjalan mencari tempat yang sepi:

"Saudara Puguh! Walaupun kita baru bertemu pada hari in i, akan tetapi rasanya aku seperti bertemu dengan seorang sahabat kekal. Dapatkah saudara memandang demikian pula terhadapku? Aku disebut orang Wirupaksa."

"Akh, kangmas Wirupaksa! Meskipun aku belum pernah bertemu dengan kangmas, akan tetapi nama kangmas sangat termashur di antara kami. Kangmas salah seorang perwira laskar Pangeran Mangkubumi. Beberapa kali kangmas menghancurkan Kompeni Belanda dan melindungi rakyat. Itulah perbuatan yang sangat mengagumkan diriku. Sekarang aku bertemu muka dengan kangmas, rasa hatiku girang bukan main!"

Wirupaksa tertaw a lebar. Katanya: "Akh, jangan memuji berlebih-lebihan kepadaku. Kaupun seorang yang hebat pula." Setelah berkata demikian, ia mengalihkan pembicaraan: "Siapakah gurumu?"

Memperoleh pertanyaan itu, wajah Aria Puguh berubah, sahutnya:

"Guruku bernama Kyahi Solihin. Satu tahun yang lalu beliau gugur di medan perang Sokaw ati."

Tatkala itu Kredana menyusul. Ia sempat mendengar jawaban Aria Puguh. Dia seorang berhati tulus. Setelah saling memandang dengan Wirupaka , ia berkata:

"Kyahi Solihin seorang pendekar yang kami kagumi juga. Tetapi maaf, sekalipun Kyahi Solihin berkepandaian tinggi, akan tetapi dibandingkan dengan saudara, masih jauh terpautnya."

Aria Puguh berdiam diri. Ia tidak segera menyahut.

Nampak sekali ia berbimbang-bimbang.

"Memang benar. Seringkali kepandaian seorang murid melebihi gurunya sendiri. Akan tetapi cara saudara melayani kedua mata-mata tadi benar-benar mengagumkan. Kalau tak salah, kepandaian yang kau perlihatkan bukan berasal dari Kyahi Solih in."

Aria Puguh merasa diri terdorong ke pojok. Setelah berbimbang-biirbang sejenak, ia menjawab:

“Kangmas Wrpupaka. berdua adalah saudaraku seperjuangan. Rasanya tidak selayaknya apabila aku terus menerus main bersembunyi. Memang setelah guru wafat, aku bertemu dengan seorang yang aneh. Dia menaruh iba kepadaku dan mengajarkan beberapa jurus ilmu pukulan sakti. Aku belajar kepadanya selama enam bulan. Dan aku di suruh bersumpah untuk tidak menyebutkan namanya. Lantaran itu, maafkanlah aku apabila t idak bisa menjawab pertanyaan kangmas."

Wirupaksa dan Kredana melihat Aria Puguh menjawab pertanyaannya dengan sungguh-sungguh karena itu buru-buru Wirupaksa berkata :

"Kalau begitu, maafkan kami berdua. Apa sebab aku mohon jawaban siapa gurumu, semata-mata lantaran kami berdua mempunyai urusan yang sangat penting."

"Apakah itu?" Aria Puguh menegas. "Sekiranya dapat aku melakukan, coba jelaskan kepadaku. Bukankah kita saudara-saudara seperjuangan? Kenapa bersegan-segan terhadapku?"

Wirupaksa memanggut. Setelah itu bersama Kredana ia mencari dua saudara seperguruannya: Jabrik dan Putaksa. Kemudian mereka berempat berbicara dengan berbisik-bisik.

"Kau hendak bicara apa?" tanya Jubrik.

"Aku hendak membicarakan utusan Pangeran Samber Nyawa, Aria Puguh," jawab Wirupaksa dengan sungguh- sungguh. "Kita berempat tiada sanggup melawan ilmu kepandaiannya. Sedangkan menurut penglihatanku, dia seorang jujur."

"Kecuali mengenai gurunya. Dia tidak mau berbicara terus terang." Kredana menambahi.

Wirupaksa segera menuturkan pembicaraannya dengan Aria Puguh. Lalu menerangkan maksudnya. Sudah satu tahun Lingga Wisnu belajar kepada kita. Kita berempat hanya memberinya dasar dasar belaka. Sedangkan dia anak seorang pendekar suci bersih. Kalau kita tidak bisa menolong bocah itu membalaskan dendam ayah-bundanya, rasanya kitapun ikut bertanggung jawab terhadap arw ah-arwah di alam baka. Eyang guru murid kita, Kyahi Basaman, adalah seorang pejuang yang berada di pihak Pangeran Samber Nyawa. Karena itu apabila pendidikan selanjutnya kita pasrahkan kepada Aria Puguh, rasanya t idak salah. Akan tetapi, bagaimana caranya kita menyerahkan kepadanya?"

"Tiada halangannya kita berbicara terus terang kepadanya." Jabrik memberi saran. "Kita mengajukan permohonan. Diterima atau tidak tergantung belaka kepada nasib murid kita."

"Bagaimana apabila hal in i kita bicarakan terlebih dahulu dengan Pangeran Natayuda?" Putaksa usul.

Usul in i segera memperoleh persetujuan dan mereka berempat segera menemui Pangeran Natayuda yang sudah selesai mengadakan pembicaraan secara resmi dengan utusan Pangeran Samber Nyawa. Pangeran Natayuda memangnya tertarik kepada

Lingga wisnu. Semalam, setelah Lingga Wisnu kembali ke kamarnya, segera ia memanggil mereka berempat yang menjadi guru Lingga Wisnu. Karena itu setelah mendengar alasan Wirupaksa berempat, ia menyetujui maksud mereka. Katanya:

"Akan tetapi lebih sempurna apabila kalian mengetahui dulu bagaimana pendapatnya saudara Aria Puguh, sebelum mengambil keputusan." Wirupaksa berempat segera menemui Aria Puguh kembali. Jabrik bertindak sebagai penyambung lidah. Katanya :

"Saudara Puguh. Tadi saudaraku Wirupaksa belum sempat memberi keterangan tentang apa sebenarnya yang kami sebut urusan penting. Baiklah sekarang kami terangkan saja kepadamu. Kemudian, terserah kepadamu apakah engkau bisa menerima usul kami atau tidak."

Setelah berkata demikian, segera menuturkan riw ayat hidup Lingga Wisnu. Kemudian ia menyudahi dengan kata-kata:

"Anak itu mempunyai masa depan gemilang di kemudian hari. Kami berempat mencoba mendidik dalam hal ilmu pengetahuan dan ilmu kepandaian. Otaknya sangat terang dan bahannya baik sekali. Daya ingatannya jauh melebihi kita berempat. Baru satu tahun dia belajar kepada kami, kepandaian kami sudah dihirupnya habis. Dia masih sangat muda. Sedangkan banyak hal-hal yang terjadi di dunia in i belum diketahuinya dan diinsyafinya. Kami berempat berpendapat, bahwa apabila anak itu berada dibawah asuhanmu, akan memperoleh kemajuan pesat. Sebaliknya apabila tetap di tangan kami, sukar sekali ia memperoleh kemajuan ..."

Mendengar alasan Jabrik berempat, Aria Puguh diam menimbang-nimbang. Sejenak kemudian ia berkata :

"Jadi, saudara-saudara sekalian mengharap aku mendidiknya?" Wirupaksa, Kredana, Jabrik dan Putaksa menganggut berbareng. Sahut Jabrik:

"Kami tadi memperoleh kesempatan menyaksikan ilmu kepandaianmu. Ternyata ilmu kepandaian itu sepuluh kali lipat t ingginya dari pada ilmu kepandaian kami berempat. Itulah sebabnya apabila saudara tidak sudi menerima dia sebagai murid, pastilah arwah almarhum Udayana akan tetap penasaran. Sebaliknya, apabila saudara menerimanya, arwah almarhum Udayana dan isterinya akan berterima kasih kepadamu."

Setelah berkata demikian, Jabrik berempat lalu membungkuk hormat. Keruan saja Aria Puguh tercekat hatinya. Buru-buru ia membalas hormat dan berkata :

"Kangmas berempat sangat menghargai aku. Sudah sepantasnya bila aku menerimanya. Hanya sayang, sekarang ini aku berada dalam laskar perjuangan. Siang dan malam tiada waktu tertentu. Setiap kali aku dikirimkan ke medan perang melakukan tugas. Seringkali pula aku bertempur melawan tentara Belanda atau laskar Susuhunan. Entah berapa lama lagi umurku. Itulah sebabnya, meskipun aku membaw a murid kangmas sekalian akan banyak gagalnya dari pada hasilnya. Sebab, sama sekali aku tidak mempunyai waktu senggang untuk mendidiknya. Selain itu keselamatannya selalu terancam."

Alasan itu masuk akal, sehingga Jabrik dan tiga saudaranya menjadi putus asa. Di lain pihak, melihat mereka berputus asa maka Aria Puguh menjadi gelisah. Katanya tak jelas seolah-olah kepada dirinya sendiri :

"Ada seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian seratus kali lipat dari pada aku. Jika dia sudi menerima murid kangmas berarrpat, benar benar merupakan karunia Tuhan ..." sampai di situ mendadak saja ia menggoyang-goyangkan kepalanya. Lalu berkata lagi: "Tidak! Tidak mungkin! Ini tak mungkin bisa terjadi ..."

Jabrik ber empat heran. Wirupaksa yang berdarah panas lantas saja minta keterangan:

"Siapa orang itu?"

"Itulah orang aneh yang kusebutkan tadi." jawab Aria Puguh. "Kepandaiannya tiada batasnya dan ia hanya mengajarkan selama enam bulan saja. Meskipun demikian, aku sudah dapat memiliki kepandaian seperti kini. Padahal apa yang ku warisi itu barulah ku litnya saja

..."

"Siapa orang aneh itu?" Wirupaksa menegas.

Suaranya bernada girang bukan kepalang.

"Dia aneh tabiatnya." Aria Puguh memberi keterangan. "Dia mengajariku ilmu kepandaian Walaupun demikian, dia melarangku menyebutnya sebagai guru. Diapun melarangku memberi tahukan kepada siapa saja tentang nama dan tempatnya. Itulah sebabnya hatiku berbimbang-bimbang, apakah dia sudi menerima murid kangmas ber empat, sebagai muridnya."

"Di mana tempat tinggal orang aneh itu?" tanya Kredana.

"Tadi aku sudah berkata, aku dilarang menyebutkannya. Dia sebenarnya aku sendiri tidak tahu. Agaknya dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Mungkin sekail dia seorang perantau yang berjalan dari tempat ke terrpat dan datang maupun pergi seenaknya sendiri. Ke mana perginya dan kapan datangnya, tidak pernah memberi kabar kepadaku."

Jabrik ber empat merasa kewalahan memperoleh keterangan dari Aria Puguh. Sekarang t inggal satu usaha lagi dengan memanggil Lingga Wisnu menghadap. Bocah itu lantas diperkenalkan kepada Aria Puguh.

Senang Aria puguh melihat Lingga Wisnu yang beroman cakap dan bertubuh sehat sekali. Tatkala ia minta keterangan sampai dimana Lingga Wisnu belajar kepada Wirupaksa berempat, bocah itu segera dapat menjawab dengan rapi sekali. Tiba-tiba bertanyalah Lingga Wisnu dengan tak segan-segan lagi kepada Aria Puguh:

"Paman Puguh. Tatkala paman merobohkan dua mata- mata tadi, pukulan apakah yang paman gunakan?"

Aria Puguh tertaw a lebar. Tak pernah disangkanya, bocah itu memperhatikan. Jawabnya:

"Itulah salah satu pecahan ilmu sakti Sardula Jenar, yang pernah kau pelajari juga."

“Mengapa begitu cepat dan dahsyat? Kedua mataku sairpai tak sanggup mengikuti gerakannya." ujar Lingga Wisnu.

"Apakah engkau ingin mempelajari ilmu pukulan itu?" Tentu saja tawaran itu menggirangkan hati. Lingga

Wisnu seorang anak yang cerdas pula. Lantas saja

menyahut :

"Jika paman sudi mengajariku, ajarilah aku."

Aria Puguh   menoleh   kepada   Wirupaksa   empat.

Katanya kemudian: "Setelah pertemuan ini, aku ditugaskan untuk tetap hadir diantara saudara-saudara seperjuangan, seminggu atau dua minggu. Biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk menurunkan beberapa jurus ilmu sakti kepada murid kangmas berempat."

Tentu saja Jabrik berempat girang bukan kepalang. Cepat-cepat mereka menghaturkan terima kasih. Sedangkan Lingga Wisnu lantas pula membungkuk hormat.

Pada hari ketiga pertemuan resmi, boleh dikatakan sudah selesai. Antara Panglima Sengkan Turunan sebagai utusan Pangeran Samber Nyawa dan Pangeran Natayuda yang mewakili Pangeran Mangkubumi, sudah terjadi kata sepakat untuk di lakukan suatu perserikatan. Masing- masing pihak bertekad untuk menggempur Kompeni Belanda sampai Kerajaan Mataram dikembalikan utuh seperti semula. Maka dengan tercapainya kata sepakat itu, pada hari keempat pertemuan antar angkatan dibubarkan

Pangeran Natayuda segera mengantarkan para tetamunya untuk berpisahan. Mereka pulang dengan hati puas dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Puncak Gunung Merbabu yang sunyi sepi lantas saja tergetar kena perbawanya.

Panglima Sengkan Turunan pulang ke daerahnya berserta Aris Munandar. Sedang Aria Puguh tetap berada di atas gunung menemani Pangeran Natayuda sebagai wakil laskar Pangeran Samber Nyawa. Dan Jabrik berempat selalu menemani. Sebaliknya, selama hari-hari itu Lingga Wisnu mencari di mana beradanya Palupi Ia sadar apa sebab keempat gurunya tiba-tiba menyerahkan dirinya kepada Aria Puguh. Itu semua berkat pengaruh Palupi. Dan gadis yang selalu bersikap rahasia itu, kian menjadi teka-teki besar baginya. Siapakah sesungguhnya Palupi? Pastilah dia bukan seorang gadis sembarangan!

Di atas   meja,   ia   menemukan   sepucuk   surat.

Sederhana saja bunyinya. Begini :

= Adikku Lingga

Aku telah mendengar kabar dari keempat gurumu.

Hatiku girang bukan kepalang.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh! Jangan lupa obat Pemunah racun Pacarkeling. Setiap kali engkau harus menelannya. Dan jangan sampai kau buang=

Terharu dan geli hati Lingga Wisnu, membaca surat Palupi. Dibuang? Masakan dibuang? Dan teringat akan jasa-jasa Palupi yang merawat dirinya begitu cermat dan sabar, membuat hatinya sangat pilu. Seumpama tidak teringat bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata sebagai persiapan balas dendam demi ketenteraman arwah ayah-bundanya, pastilah dia sudah turun gurung untuk mencari gadis itu. Apabila gadis itu kembali ke pinggang gunung Merapi, ia rela pula untuk menyusulnya. Akhirnya ia menghibur diri: Baiklah, apabila aku sudah mewarisi ilmu sakti paman Aria Puguh, belum kasep rasanya aku menyusulnya kembali ke pinggang gunung Merapi.

Pada malam itu ia tidur sekamar dengan ke empat gurunya. Waktu itu panitya pertemuan masih sibuk membereskan perkemahan. Karena itu masing-masing sibuk dalam urusannya sendiri. Aria Puguh yang beroleh kamar penginapan di depan kamar Lingga Wisnu dan guru-gurunya, datang menyambangi. Kata orang gagah itu:

"Kangmas Wirupaksa sekalian. Begitu aku melihat murid kangmas, hatiku sangat tertarik. Siapakah namanya?"

"Lingga Wisnu," jawab Jabrik.

"Rupanya dia sudah memperoleh dasar-dasar ilmu sakti Sardula Jenar. Ini sangat memudahkan untuk menerima ajaran jurus-jurus sakti yang ku peroleh dari orang aneh itu. Sebab orang aneh itu sesungguhnya mewariskan rahasia int i ilmu sakti Sardula Jenar kepadaku. Sebab itu aku-akan meniru dan mencontoh cara menurunkan ajarannya kepadaku dahulu. Akan tetapi tentu saja aku tak dapat membuat bocah itu bisa mewarisi dengan sempurna, lantaran waktunya sangat sempit. Namun diatas segalanya ini masih ada Tuhan yang maha ajaib. Selain Tuhan yang maha ajaib, masih ada harapan lagi yang boleh kita andalkan, yaitu bakat dan pembaw aan, kerajinan serta keuletan calon pewarisnya. Menimbang semuanya itu perkenakan, aku mengundang namanya saja dari pada sebagai guru dan murid. Sebab nyatanya tak dapat aku berjanji akan terus menerus meniliknya."

"Alasan saudara kurang tepat," ujar Wirupaksa. "Apabila Lingga Wisnu sudah menerima pelajaran darimu satu atau dua gebrak saja, artinya dia sudah menjadi muridmu, dan saudarapun berhak menyebut diri sebagai gurunya. Akh, saudara Aria Puguh, hatimu terlalu sederhana!" Aria Puguh dapat menerima alasan Wirupaksa ber empat, akan tetapi pendiriannya tak dapat diubahnya lagi. Tetap saja ia hanya mengakui dirinya sebagai paman angkat saja, sedang Lingga Wisnu sebagai anak angkatnya. Karena itu Wirupaksa berempat terpaksa menerima keputusan Aria Puguh.

Mereka berempat tahu, bahwa Aria Puguh bakal menurunkan warisan-warisan ilmu sakti tinggi, yang tentu saja tak boleh dilihat seseorang. Itulah sebabnya Wirupaksa berempat segera pindah kamar, dan Lingga Wisnu tidur dengan Aria Puguh.

Aria Puguh menunggu sampai mereka berempat masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia membawa Lingga Wisnu berjalan ke luar penginapan. Malam hari kala itu sangat pekat, sehingga baik Aria Puguh maupun Lingga Wisnu tak dapat melihat tubuhnya masing- masing. Kata Aria Puguh:

"Ilmu kepandaianku ini kuperoleh dari seorang sakti yang telah berusia lanjut. Aku sendiri belum berhasil menyelami sampai ketataran kesempurnaan. Meskipun demikian, apabila hanya untuk melayani pendekar- pendekar kelas dua atau kelas tiga, rasanya sudah cukup. Tatkala aku mewarisi ilmu pukulan ini, orang aneh itu memaksa aku untuk bersumpah kepadanya. Bahwasanya semenjak itu tak boleh aku menghina orang-orang yang berkelakuan baik atau mencelakai seseorang tanpa alasan."

Lingga Wisnu seorang anak cerdas. Segera ia mengerti maksud Aria Puguh. Katanya di dalam hati :

'Sebelum menerima ajarannya aku diwajibkan bersumpah dengan berlutut. Aku dibaw anya berjalan ditengah alam yang gelap pekat. Maksudnya bukan aku berlutut kepadanya, akan tetapi kepada diriku sendiri dan bersarbah kepada orang aneh yang memiliki ilmu pukulan sakti yang akan diajarkan.”

Memperoleh pikiran demikian, segera ia berlut ut benar-benar. Sumpahnya:

"Aku Lingga Wisnu, dengan ini bersumpah, kepada diriku sendiri, kepada penilik ilmu sakti akan diajarkan kepadaku, kepada bumi dan langit serta Tuhan serta sekalian alam. Bahwasanya setelah aku mewarisi ilmu sakti ini tidak akan kupergunakan untuk menghina orang- orang yang bertabiat baik dan mencelakai seorang tanpa alasan. Apabila ternyata dikenudiap hari aku melanggar janji ini, paman Aria Puguh boleh datang kepadaku, untuk membunuh diriku."

Mendengar sumpah Lingga Wisnu, Aria Puguh tertaw a.

Ujarnya:

"Bagus! Berdirilah tegak kembali dan dengarkanlah! Tahukah engkau, ilmu sakti apakah yang hendak kuajarkan kepadamu?"

"Pastilah ilmu sakti yang terelok di dunia ini!" jawab Lingga Wisnu dengan suara penuh semangat.

Sekali lagi Aria Puguh tertaw a. Berkata:

"Inilah ilmu sakti Sapu Jagad! Esok pagi bisa kita mulai

..."

Aria Puguh berkata esok pagi, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya melesat. Gerakan itu mengherankan dan mengagumkan Lingga Wisnu. Gurunya yang baru itu, lenyap dari pengamatannya. Tatkala menoleh, gurunya sudah berada di belakang punggungnya dan menepuk pundaknya.

"Kau tangkaplah aku!" seru gurunya.

Lingga Wisnu telah memperoleh dasar-dasar ajaran ilmu sakti Sardula Jenar dari ke empat gurunya, Wirupaksa, Kredana, Jabrik dan Putaksa. Kecuali dasar pembaw aannya baik, diapun seorang anak yang ce rdik dan cerdas luar bias. Maka begitu mendengar seruan Aria Puguh, ia tidak segera memutar tubuhnya untuk menangkap. Akan tetapi mengendapkan pundaknya dahulu, kemudian baru tangan kirinya digerakkan. Dan tangan kanannya tiba-tiba menyusul menyambar sambil mendengarkan kesiur angin gerakan tubuh gurunya.

Dan pada saat itulah, kedua tangannya tiba-tiba menyamber ke arah kaki.

"Bagus! Inilah cara menangkap yang tiada celanya sama sekali!" seru gurunya. Namun sambaran yang bagus itu tiada berhasil. Sebaliknya sekali lagi pundaknya kena ditepuk. Lingga Wisnu terkejut, secepat kilat ia memutar tubuhnya, tetapi tubuh gurunya lagi-lagi luput dari pengamatannya.

Menghadapi kecepatan gerak gurunya itu, otak Lingga Wisnu yang cerdik lantas saja bekerja. Terinaatlah dia ajaran-ajaran keempat gurunya yang pernah memberinya dasar-dasar rahasia ilmu sakti Sardula Jenar. Sekarang, tidak lagi la memutar tubuh atau menyambar sasaran. Sebaliknya, selangkah demi selangkah ia berjalan mengarah ke sebuah batu besar setinggi gubuk. Begitu menghanpiri, segera ia memutar tubuhnya dengan dinding batu di belakang punggungnya. Kemudian berseru girangi "Guru. Sekarang tak dapat lagi guru menyelinap dibelakang punggungku. Aku dapat melihat gerakan guru!"

Inilah suatu kecerdikan yang mengagumkan Aria Puguh. Dengan berdiri di depan sebuah batu besar, tak dapat lagi ia menyelinap di belakang punggung bocah itu. Maka sambil tertaw a ia berkata :

"Bagus! Bagus sekali! Kau cerdik dan mempunyai bakat besar! Dikemudian hari pastilah dapat engkau mewarisi ilmu sakti Sardula Jenar dengan sempurna!"

Keesokan harinya, Aria Puguh mulai memberi pelajaran jurus-jurusnya. Dalam beberapa hari saja selesailah sudah, seratus delapan jurus yang mempunyai tiga perubahan pada setiap gerakannya. Mengelak dan menyerang silih berganti, sehingga semua jurusnya berjumlah tiga ratus duapuluh empat.

Seperti diketahui, Lingga Wisnu memiliki otak yang cerdas luar yang jarang terdapat di dunia. Baru saja diajari tiga kali sudah dapat menghafal dan memahami semuanya. Bahkan dengan perlahan lahan ia dapat pula melakukan gerakan-gerakan jurus ilmu sakti Sapu Jagad dengan tepat sekali. Menyaksikan hal itu, diam-diam Aria Puguh bergembira bukan kepalang. Terus saja ia mulai memecahkan intisari jurus-jurus yang sudah dipahaminya itu. Pandai sekali Aria Puguh meresapkan ajarannya ke dalam perbendaharaan muridnya. Sebaliknya, Lingga Wisnu yang mempunyai bekal otak cerdas luar biasa dan bersungguh-sungguh, dengan mudah saja dapat menangkap sernua keterangan dan penjelasan gurunya. Inilah yang dinamakan suatu perjodohan. Gurunya rajin, ulat dan telaten, sedangkan muridnya memiliki sorangat penuh dan bersungguh sungguh. Pada setiap malam, tigapuluh jurus dengan pecahan-pecahannya dan perubahannya dapat dilampaui dengan cepat serta sempurna. Apabila sedang berlatih, bocah tanggung itu tidak mengingat waktu lagi. Tahu-tahu fajar hari telah tiba.

Pada pagi hari ke-empat, t atkala Aria Puguh berjalan- jalan menghirup udara segar, tiba-tiba ia melihat Lingga Wisnu masih saja asyik berlatih. Ia jadi kagum akan kemajuan yang keras. Setelah memperhatikan selintasan, ia menjadi heran, lantaran muridnya dapat melakukan int i rahasia ilmu Sapu Jagad dengan sempurna. Padahal ia baru saja mengajarkannya. Keruan saja ia bersyukur dalam hati. Dengan berjingkit ia menghampiri muridnya. Kemudian melompat dengan mendadak serta menghantam punggung muridnya.

Lingga Wisnu kala itu sedang bertekun menyelidiki jurus ke sembilan puluh delapan. Tiba t iba ia mendengar kesiur angin tajam mengancam punggungnya. Cepat luar biasa ia berputar tubuh sambil meloncat ke sarrping. Tangan kanannya di tabalkan untuk menangkis berkelebatnya kaki selagi menendang dirinya. Akan tetapi begitu mengenali siapakah penyerangnya, segera ia menarik tangkisannya.

"Paman Puguh" seruhnya girang. "Jangan berhenti! Hayo, serang terus!" sahut Aria Puguh dengan tertaw a. Ia mendahului menyerang kepala.

Dengan cepat Lingga Wisnu mengelakkan diri. Kakinya dimajukan selangkah, agak kesamping dan dari situ ia mulai mengirimkan serangannya mengarah pinggang. Inilah jurus ke sembilan puluh delapan.

"Bagus! Begitulah seharusnya!" puji Aria Puguh. Guru ini segera menangkis dan kembali menyerang.

Lingga Wisnu melayani serangan gurunya beberapa jam lamanya. Seringkali ia salah langkah dan gurunya segera membetulkan, sehingga ia jadi sangat bersyukur. Semangat tempurnya makin lama makin menghebat. Terus-menerus ia melayani gurunya, sehingga habislah semua tiga ratus dua puluh arrpat jurus. Namun gurunya enggan berhenti. Bahkan dia menyerang lagi dan mengulang semua jurus-jurus pukulan sampai beberapa kali. Dan Lingga Wisnu sendiri seolah-olah memperoleh suatu mustika yang tak ternilai harganya. Dengan tak disadari sendiri ia telah menggenggam beberapa macam rahasia pukulan ilmu sakti Sapu Jagad, yang belum pernah diperolehnya dari keempat gurunya dahulu.

"Sekarang marilah kita beristirahat" ajak Aria Puguh setelah melihat muridnya itu mandi keringat. Akan tetapi selagi duduk beristirahat ia mulai memberikan berbagai penjelasan penjelasan penting. Dan apabila melihat muridnya sudah cukup beristirahat, kembali lagi ia melatihnya dengan sungguh-sungguh.

Mereka berdua, guru dan murid, terus menerus berlatih sampai tiba saat bersantap pagi hari. Kemudian kembali mereka berlatih lagi sampai matahari condong ke barat. Setelah makan siang, lagi-lagi mereka berdua berlatih sampai jauh malam. Tegasnya, mereka berhenti beristirahat apabila waktu makan tiba. Tak terasa, tujuh hari lew atlah sudah. Pada malam hari kedelapan, Aria Puguh berkata kepada Lingga Wisnu :

"Anakku, apa yang kumiliki kini sudah kuberikan kepadamu. Sekarang tinggal caramu sendiri meyakinkannya. Apabila menghadapi musuh, seseorang akan mengandal pada tujuh bagian latihannya dan tiga bagian pada kecerdasannya kalau kau hanya mengandal kepada latihanmu saja akan sukarlah memperoleh kemenangan. Sebaliknya apabila engkau hanya mengandal kepada kecerdasanmu belaka, hasilnya sama pula. Engkau tidak akan berdaya, karena engkau melupakan latihanmu. Kedua unsur itu harus saling mengisi."

Dengan bersungguh-sungguh Lingga Wisnu

merasukkan nasehat gurunya itu ke dalam

perbendaharaan hatinya. Di kemudian hari ia dapat membuktikan kebenaran pesan itu. Karena rajin berlatih dan dibantu oleh kecerdasan otaknya, ia berhasil melandaskan dendam orang tuanya yang mati tak berliang kubur.

"Esok pagi aku harus bergabung kepada Panglima Sengkan Turunan kembali," kata Aria Puguh lagi. "Maka semenjak malam in i engkau harus sanggup berlatih seorang diri."

Merah kedua mata Lingga Wisnu yang mendengar ucapan gurunya itu. Hampir-hampir saja tak sanggup ia menahan linangan air matanya. Benar dia baru berkumpul beberapa hari saja, akan tetapi sepak terjang gurunya itu sangat menawan hatinya. Dia seorang yang manis budi mengajarnya dengan sungguh-sungguh.

Aria Puguh sebenarnya seorang peperangan yang ulung. Seringkali ia melihat berbagai peristiw a yang menggoncangkan hatinya. Walaupun demikian, melihat muridnya itu mendadak menundukkan kepalanya, hatinya tak urung menjadi terharu juga. Terus saja ia mengusap-usap rambut bocah itu. Katanya dengan suara membujuk:

"Lingga, jarang sekali aku bertemu dengan seorang yang berbakat dan cerdik sebagai engkau. Hanya sayang sekali, kita berdua t idak di perkenankan berkumpul lebih lama lagi."

"Bagaimana kalau aku ikut paman saja, bergabung dengan Panglima Sengkan Turunan?" Lingga Wisnu mencoba.

"Engkau masih begini keci , Lingga. Belum bisa engkau hidup di dalam kancah peperangan." sahut Aria Puguh,

Lingga Wisnu hendak menjawab ucapan gurunya itu. Mendadak terdengar suara teriakan kaget yang sangat riuh. Bulu kuduknya lantas saja meremang dengan tak dikehendakinya sendiri! Dan bersama gurunya, ia lari mendaki tanjakan. Begitu melihat apa yang terjadi dibawah gunung, mereka berdua kaget bukan kepalang.

Seluruh gunung menjadi terang benderang oleh nyala api yang datangnya dari bawah. Lalu nampaklah berbagai senjata berkilauan. Itulah gabungan tentara Belanda dan laskar Kasunanan, yang dengan tiba-tiba saja telah mengurung puncak gunung Merbabu. Pendekar-pendekar gagah yang bergabung dalam laskar perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said, baru saja bubar. Yang masih berada di atas gunung tidak begitu besar jumlahnya. Inilah suatu masalah yang menyulitkan! Merekapun tidak berjaga-jaga atau memperoleh berita terlebih dahulu tentang sergapan tentara Belanda dan laskar Kasunanan itu. Hal itu disebabkan lantaran penjaga-penjaga yang berada di gardu-gardu penjagaan telah terbunuh semuanya. Dengan demikian, tiada seodangpun diantara mereka yang dapat memberi tanda bahaya.

Lingga Wisnu sendiri kala itu sedih bukan main, lantaran harus berpisah dengan keempat gurunya yang pernah mendidiknya dengan sungguh-sungguh. Inilah perpisahan yang amat menyakitkan hatinya. Perpisahan yang tiada kata-kata selamat jalan atau selamat berpisah, lantaran di paksa oleh keadaan. Apa yang dapat dilakukannya hanyalah membungkuk hormat beberapa kali terhadap mereka. Katanya tersekat-sekat :

"Paman Kardana, paman Jabrik, paman Putaksa. Sampaikan hormatku kepada paman Wirupaksa yang ... aku ... " Tak dapat Lingga Wisnu menyelesaikan kata- katanya. Tenggorokannya seakan akan tersumbat. Tatkala ia mencoba menguasai diri, Pangeran Natayuda telah mendahului. Kata Pangeran Natayuda :

"Adikku, jangan engkau berpisah dari gurumu, Aria Puguh. Kau dengarkan setiap perkataannya."

Lingga Wisnu masih berkutat dengan perasaan sendiri. Untuk menjaw ab kata-kata Pangeran Natayuda, ia hanya dapat memanggut. Dalam pada itu, suara berisik ditengah gunung terdengar semakin hebat. Itulah suatu tanda bahwa tentara Belanda dan laskar Kasunanan sudah mulai mendaki bukit yang berada di depan.

"Mari!" ajak Jabrik. "Saudara Aria Puguh, kau berangkatlah sebentar lagi, setelah kita berhasil menyesatkan musuh."

Mereka senua lantas mulai bekerja. Jabrik melihat Aria Puguh tidak bersenjata, maka cepat cepat ia melemparkan goloknya kepadanya sambil berkata setengah berseru :

"Saudara Aria Puguh, sambutlah ini!"

"Aku tidak membutuhkan senjata apapun!" sahut Aria Puguh. Ia menyambar golok Jabrik selagi golok itu sedang melayang di udara. Tatkala hendak dikembalikan kepada pemiliknya, Jabrik sudah lari jauh, sehingga ia membatalkan niatnya.

"Mari!" katanya kepada Lingga Wisnu. Dengan membaw a golok ditangan kanannyaa, ia menarik lengan Lingga Wisnu dengan tangan kirinya. Kemudian dibawanya lari mengarah utara.

Dengan berlari-larian, mereka berdua mengitari belakang pasanggrahan. Dari sana cahaya api nampak terang benderang. Dan diantara nyala api itu, nampak tentara Belanda dan laskar Kasunanan mendaki puncak gunung berlapis lapis. Entah berapa jumlahnya. Merekapun mulai menembakkan senjata apinya. Ada pula diantara mereka yang melepaskan anak panah bagaikan hujan.

Menyaksikan hal itu, Aria Puguh merandek kemudian ia balik memasuki dapur dan muncul kembali dengan membaw a dua buah wajan. "Inilah tamengmu!" katanya kepada Lingga Wisnu sambil menyerahkan sebuah wajah kepadanya. "Mari!"

Dengan berlompatan, mereka berdua memasuki kabut gelap. Dan pada saat itu terdengarlah teriakan serdadu- serdadu Belanda dan laskar Kasunanan sambung menyambung :

"Kejar! Kejar!"

Dan laskar Kasunanan serta serdadu-serdadu Belanda itu berserabutan mengejar mereka berdua sambil memanah dan menembakkan senjata api.

Atela Puguh berjalan dibelakang. Dengan perisai bajanya yang istimewa ia menangkis setiap anak panah dan senjata api tentara Belanda yang menghujani mereka. Di tengah kesibukan itu tameng istimewanya menerbitkan suara berisik membisingkan telinga. Lingga Wisnu sendiri seperti mengerti akan tugasnya sebagai pembuka jalan. Ia maju dengan bersenjata tombak pendek. Tatkala kena pegat serdadu-serdadu yang sedang merangkaki tebing, terus saja ia menyerang. Dan belasan serdadu kena dirobohkan dengan gampang. Akan tetapi tombak pendek itu merupakan senjata yang tidak tepat baginya. Gerakannya tidak begitu leluasa. Itulah sebabnya, setelah kena keroyok serdadu dan laskar Kasunanan lainnya, ia hanya dapat melindungi diri.

Tak lama kemudian sampailah mereka dipinggang gunung. Baru saja mereka melepaskan napas lega, terdengar suara riuh lagi. Pasukan serdadu Belanda yang dipimpin oleh seorang perw ira tiba-tiba saja menerjang dari samping. Perw ira itu rupanya bermaksud hendak menangkap Aria Puguh dan Lingga Wisnu hidup-hidup. Itulah sebabnya ia melarang serdadu-serdadunya melepaskan peluru. Sebaliknya, dengan pedang panjang di tangan ia memimpin pasukannya mengepung rapat rapat. Aria Puguh menangkis sebatang pedang perw ira itu. Dalam satu bentrokan ia mengetahui bahwa perw ira itu bertenaga besar. Maka dengan sebat ia membalas menyerang.

"Maju" Perwira itu memberi aba-aba kepada serdadunya.

Tak sudi Aria Puguh melayani perwira itu lama-lama. Dengan melindungan tameng istimewanya ia mengancam perw ira itu dengan golok pemberian Jabrik. Ia menikam sambil membentak. Dan celakalah perwira itu. Tulang iganya kena tusuk sehingga ia berteriak kesakitan.

Sewaktu Aria Puguh mencabut senjatanya, ia menoleh. Ternyata Lingga Wisnu tak terlihat lagi. Bukan main terkejutnya. Dengan pandang beringas ia mengembarakan pandangnya. Di sebelah kirinya ia melihat kerumun serdadu-serdadu sambil berteriak-teriak kalap. Segera ia melompat dan menerjang. Dan kena terjangannya, beberapa serdadu mundur dan menyibakkan diri dengan menderita luka-luka parah. Ternyata Lingga Wisnu dikepung oleh t iga orang serdadu yang bersenjata pedang panjang. Tombak pendeknya sudah terlepas dari tangannya. Ia melawan dengan jurus-jurus ilmu sakti Sardula Jemar dengan tangan kosong. Meskipun terdesak, namun masih bisa ia mempertahankan kedudukannya. Menyaksikan hal itu, tanpa bersuara lagi Aria Puguh melompat menerjang. Seorang serdadu roboh terjungkal dan menyusul yang kedua. Dengan demikian tertolonglah Lingga Wisnu. "Mari!" ajak Aria Puguh. Dan sambil menarik tangan Lingga Wisnu, ia menyibakkan beberapa serdadu yang masih menghadang di depannya.

"Kejar!" seru beberapa serdadu. Dan mereka lantas saja mengejar beramai-ramai sairb il berteriak sambung- menyambung.

Mendengar teriakan sambung-menyambung itu sepasukan serdadu yang berada di sebelah kiri turun menerjang. Aria Puguh membalikkan tubuh, dan menikam. Dua serdadu roboh tertikam dengan sekaligus. Kemudian ia menerjang yang ketiga yang mencoba merangsak dari depan. Serdadu itu menjerit tinggi. Menyaksikan hal itu, serdadu-serdadu lainnya yang sedianya hendak menerjang bersama-sama, tak berani mendesak lebih jauh. Mereka merandek seperti patung- patung tak bernyaw a. Tentu saja hal itu merupakan kesempatan yang bagus sekali bagi Aria Puguh. Cepat cepat ia menyambar Lingga Wisnu dan kemudian didukungnya. Dengan menggunakan ilmu saktinya, ia kabur sepesat angin. Setelah dua ratus meter meninggalkan lawan, barulah ia menurunkan muridnya itu di atas tanah.

"Apakah engkau terluka?" Aria Puguh minta keterangan.

Lingga Wisnu mengusap mukanya. Tangannya menyentuh barang bergernyik. Buru-buru ia memeriksa tangannya dalam cahaya bulan remang-remang. Dan ia melihat cairan merah. Itulah darah segar. Keruan ia terkejut, hatinya tercekat pula tatkala melihat wajah gurunya berlepotan darah. Gugup ia berseru :

"Paman! Darah ... darah ...!" "Tidak apa. Inilah darah serdadu serdadu yang kena tikamanku," sahut Aria Puguh. "Kau terluka atau tidak?"

"Tidak," jaw ab Lingga Wisnu.

"Bagus," Aria Puguh bersyukur. Terus saja menggandeng Lingga Wisnu seraya berkata :

"Mari, kita harus pergi secepatnya!"

Mereka  lantas menyelusup diantara pepohonan, menghindari bahaya. Setelah berjalan kira-kira setengah jam lamanya, sampailah mereka di suatu lembah yang sama sekali tiada pohonnya. Tatkala Aria Puguh melongok ke bawah, nampak cahaya terang di

beberapa tempat. Puluhan serdadu berjalan mondar- mandir dengan menyandang senjata. Keruan saja hatinya terkejut bukan main. Tak terasa ia berseru tertahan :

"Akh! Tak dapat kita lewat di situ. Kita harus mengambil jalan lain. Di sin i pun tiada semak belukar untuk berlindung."

Dengan tetap membimbing tangan Lingga Wisnu, Aria Puguh membelok ke kanan. Berjalan kira kira tiga ratus meter sampailah dia di depan sebuah goa buntu yang panjangnya hanya dua meter. Goa itu tertutup oleh seriak belukar. Karena tiada pilihan lain, Aria Puguh membaw ah masuk Lingga Wisnu ke dalam goa itu untuk bersembunyi dan melihat keadaan.

Lingga Wisnu merasa sangat lelah. Meskipun semenjak kanak-kanak hidup selalu dikejar-kejar oleh musuh-musuh ayah-bundanya, akan tetapi baru pada malam itulah dia bertempur secara berhadap-hadapan. Maka begitu merebahkan diri, ia lantas tertidur nyenyak. Aria Puguh segera mengangkat tubuhnya dan dipeluknya serta dipangkunya. Setelah itu ia menajamkan pendengarannya agar dapat mengikuti perkembangan keadaan medan perang. Di luar goa, suara riuh rendah belum juga berhenti. Kemudian ia mendengar suara gemerotok keras. Dan udara tiba-tiba menjadi terang benderang oleh nyala api. Tahulah dia, bahwa perkemahan yang didirikan oleh himpunan laskar perjuangan di atas gunung Merbabu, telah dibakar musna oleh tentara-tentara penyerbu. Hatinya panas bukan main.

Satu atau dua jam kemudian, terdengarlah suara terompet mengalun di udara. Itulah suatu tanda bahwa komandan tentara Belanda memanggil laskar-laskarnya agar berkumpul dan turun gunung. Hati Aria Puguh lantas saja berdebar-debar. Pendengarannya yang tajam segera menangkap langkah-langkah kaki mereka berderapan. Hatinya mengeluh dengan sendirinya. Betapa tidak?

Ia mendengar langkah-langkah serdadu penyerbu semakin mendekati goa persembunyiannya sehingga hatinya cemas bukan kepalang. Kalau sampai serdadu- serdadu itu menemukan goa persembunyiannya ... entah apa jadinya. ***0dw0***

Tiba-tiba terdengarlah seseorang duduk di luar goa. Untunglah goa persembunyiannya teraling gerombol semak-belukar, sehingga orang itu tidak melihat dirinya. Dengan menggengam senjata pemberian Jabrik erat-erat dan tangan kirinya menekap mulut Lingga Wisnu, ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Ia terpaksa menekap mulut Lingga Wisnu lantaran khaw atir bocah itu terkejut dan berteriak.

Beberapa saat lamanya tiada terdengar sesuatu. kecuali langkah- langkah sibuk. Lalu tiba-tiba terdengar seseorang membentak :

"Bawa ke mari anjing itu!"

Kemudian terdengar beberapa orang menyeret seseorang berjalan ayal-ayalan. Pastilah itu seorang taw anan yang diseret beberapa serdadu secara paksa.

"Menurut penglihatan salah seorang pembantu kita, engkau menyerahkan senjatamu kepada seseorang. Siapa dia? Dan siapa pula bocah tanggung itu?"

Itulah bentakan seseorang yang memberi perint ah kepada beberapa serdadu membaw a tawanannya. Suaranya nyaring bagaikan genta pecah.

Dan oleh suara nyaring itu, Lingga Wisnu benar-benar tersadar dari tidurnya. Syukur jauh-jauh sebelumnya Aria Puguh telah menekap mulutnya. Maka begitu melihat Lingga Wisnu tersadar dari t idurnya, segera ia membisiki:

"Diam ..." Dalam pada itu orang yang memiliki suara nyaring luar biasa tadi, terdengar membentaknya lagi :

"Kau mau bilang apa tidak? Kalau engkau tetap membandel, kukutungi sebelah kakimu terlebih dahulu!"

"Jika engkau hendak mengutungi kakiku, lakukanlah!" tantang seorang dengan suara tajam. "Aku, Jabrik, masakan takut kau kutungi? Meskipun kau kutungi kedua kaki dan tanganku, aku tidak akan merint ih atau menyesal. Kau boleh mengutungi kepalaku sekali! Huh!"

Mendengar suara Jabrik, Lingga Wisnu jadi terkejut.

Serunya tertahan : "Paman Jabrik ...!"

"Ssstti Jangan bergerak!" bisik Aria Puguh.

"Jadi benar-benar engkau tak sudi mamberi keterangan? Baiklah!" lagi-lagi orang yang bersuara nyaring tadi membentak.

"Cah!" terdengar jawaban Jabrik. Dari dalam goa, Lingga Wisnu dapat membayangkan bahwa gurunya tentulah meludahi orang itu. Tiba-tiba ia terkejut t atkala mendengar erang gurunya: "Aduh!"

Suara orang itu disusul dengan suara terbantingnya benda berat. Rupanya sebelah kakinya benar-benar dikutungi. Karena itu Lingga Wisnu tak dapat Biguasai diri lagi. Ia merengut dari tekapan tangan Aria Puguh.

"Paman Jabrik!" Lingga Wisnu memekik sambil terus menerjang ke luar goa

Begitu keluar dari mulut goa, ia melihat seseorang mengayunkan goloknya ke arah tanah. Di antara cahaya api, ia melihat seseorang rebah menggeletak berlumuran darah. Itulah gurunya, Jabrik!

Dengan rasa gusar bukan kepalang, ia menerjang dengan salah satu jurus ilmu saktinya Sardulo Jenar yang mengandung ancaman maut.

Orang yang sedang mengayunkan goloknya itu memekik tinggi, begitu kena pukulan Lingga Wisnu. Matanya berkunang-kunang dan mundur sempoyongan dengan tak dikehendaki sendiri. Selagi demikian, lengannya pun terasa sakit. Sedang goloknya kena terampas.

Lingga Wisnu tidak kepalang tanggung. Setelah berhasil menghantam orang itu dan merampas senjatanya, ia membacoknya pula. Meskipun belum memiliki himpunan tenaga sakti, akan tetapi tenaga jasmaninya sudah cukup membuat somplak pundak serdadu itu. Saking sakitnya, orang itu menjerit tinggi dan jatuh terkapar di atas tanah tak sadarkan diri.

Sebenarnya di depan goa terdapat beberapa serdadu yang bersikap mengurung taw anannya. Namun peristiw a itu terjadi dengan sangat cepat dan tiba-tiba. Lantaran kaget, mereka jadi tertegun saja. Dan setelah melihat kawannya jatuh terkapar, barulah mereka tersadar. Serentak mereka menerjang, sambil berteriak-teriak.

Lingga Wisnu tidak gentar. Dengan golok rampasannya, ia menyerang dan membela diri. Sewaktu berada dalam bahaya, tiba-tiba meloncatlah seseorang dari dalam goa, dengan membaw a senjata rantai berkilauan. Ternyata rantai itu terbuat dari perak murni. Begitu digerakkan di udara remang-remang, lantas saja berkeredepan menyilaukan mata. Dialah Aria Puguh, yang meloncat keluar goa untuk melindungi Lingga Wisnu dan dengan sekali menggerakkan senjata rantainya, beberapa serdadu menjerit kesakitan. Senjata mereka terpental ke udara.

Keruan saja serdadu-serdadu itu kaget bukan kepalang. Beberapa orang yang masih berada di luar gelanggang, lantas saja berseru seru mengabarkan tanda bahaya. Sigap luar biasa Aria Puguh menyambar Lingga Wisnu dan dibaw anya lari turun gunung. Dan pada saat itu mereka berdua dihujani anak panah serta tembakan senjata api.

Tiba-tiba diantara serdadu-serdadu yang kalang kabut itu, muncullah empat orang yang gerakannya sangat gesit. Dengan sekali melihat, tahulah Aria Puguh bahwa mereka berempat memiliki ilmu kepandaian tinggi pula. Seorang diantara mereka memasang gendewanya dan melepaskan anak panah.

Aria Puguh kala itu lari sambil mengempit Lingga Wisnu. Ia berlompatan ke sana ke mari untuk menghindari sambaran anak panah dan mesiu senjata berapi. Tatkala mendengar kesiur angin tajam mengancam tengkuknya, cepat-cepat ia mengendapkan diri. Dan t iga batang anak panah lew at di atas kepalanya dengan bersuling nyaring.

Tetapi justeru karena mengendapkan diri, langkah Aria Puguh menjadi terhenti. Pada saat itu, seorang diantara ke tiga musuh yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi melepaskan tiga anak panah lagi. Ketiga anak panah itu mempunyai arah bidikan yang berbeda-beda. Yang pertama mengarah kepada Lingga Wisnu. Yang kedua mengarah Aria Puguh dan yang ketiga menjaga gerak larinya. Melihat ancaman bahaya itu, Aria Puguh memutar senjata rantainya. Dan ketiga panah itu runtuh di tanah dengan sekali kebasan.

"Paman! Biar aku turun saja!" seru Lingga Wisnu dengan semangat tempur yang menyala.

Aria Puguh menurunkan Lingga Wisnu sambil berkata: "Kamu lari dulu!"

Mereka berdua telah terpisah agak jauh dari tentara

Belanda dan laskar Kasuhunan. Akan tetapi keempat orang yang masih mengejarnya seolah-olah bayangannya sendiri. Dengan cepat mereka telah tiba dihadapannya.

"Sahabat! Letakkan senjatamu!" salah seorang diantara mereka berseru. "Kau serahkan dirimu! Kami berjanji akan memperlakukan dirimu baik-baik!"

Hati Aria Puguh mendadak menjadi sebal ketika mendengar suara orang itu. Ia menjadi mendongkol. Sambil lari ia memindahkan senjata di tangan kirinya, kemudian ia menpersiapkan senjata sumpitannya yang terbuat dari paku-paku berujung tajam. Ia menunggu sampai orang itu datang dekat. Dan dengan t iba-tiba ia melepaskan senjata bidiknya t iga batang sekaligus.

Orang yang mengumbar suaranya tadi sama sekali tidak menduga bahwa Aria Puguh memiliki senjata bidik istimewa. Tatkala melihat berklebatnya tiga batang paku, ia kaget setengah mati. Tanpa ampun lagi ia roboh terjengkang.

Kedua paha orang itu tertancap sebatang paku, sedang tangan kanannya dapat hadiah sebatang paku pula. Sebaliknya, ketiga kawannya tidak memperdulikan ancaman bahaya. Mereka mengejar terus seperti saling berlomba.

Melihat datangnya ketiga orang itu yang semakin lama makin dekat, Aria Puguh berkata kepada Lingga Wisnu seperti sedang bergurau:

"Anakku, sepasang golok orang itu tepat sekali untuk dirimu. Biarlah kurampasnya sekali untukmu i"

Setelah berkata demikian, Aria Puguh memindahkan senjata rantainya ke tangan kanannya kembali, kemudian melompat maju menghampiri salah satu musuhnya yang bersenjata sepasang golok. Terang sekali maksudnya, ia hendak membuktikan ucapannya. Akan tetapi orang itu ternyata bukan lawan lemah. Ia mendahului menyerang berulangkali. Untuk beberapa waktu lamanya, Aria Puguh belum berhasil mencapai maksudnya.

Selagi Aria Puguh berkutat dengan orang itu, kedua musuhnya menghampiri Lingga Wisnu. Masing-masing bersenjata sebatang pedang panjang dan ruyung besi. Inilah bahaya bagi Lingga Wisnu, karena dia tidak bersenjata sama sekali. Golok rampasannya tadi tertancap pada pundak orang yang orang yang hendak membunuh gurunya, Jabrik. Maka dengan tangan kosong ia mencoba membela diri.

Aria Puguh menjadi mendongkol dan kebat- kebit. Sadarlah dia, bahwa dirinya tidak boleh terlibat terus menerus oleh napsunya hendak merampas sepasang golok lawan. Cepat-cepat ia melesat mundur sambil memutar tubuhnya. Senjata rantainya diayunkan dan menghantam orang di dekat Lingga Wisnu yang bersenjata ruyung. Maka terdengarlah suara "Prak!" Kena pukulan senjata rantai Aria Puguh, orang yang bersenjata ruyung itu terhuyung mundur. Justeru pada saat itu Lingga Wisnu sedang mengayunkan kakinya. Tepat sekali tendangannya sehingga meskipun tidak sampai mengeluarkan darah, orang itu terguling di atas tanah dengan memaki-maki kalang-kabut.

Kejadian itu membangkitkan rasa amarah orang ketiga. Dengan sebatang pedang ditangan ia menerjang dan menabas, sementara secepat kilat Aria Puguh melompat dan menangkap pergelangan tangannya. Kedua orang itu lantas berkutat mengadu tenaga.

Pada saat Aria Puguh berkutat mengadu tenaga dengan orang yang bersenjata pedang itu, yang bersenjata sepasang golok dan ruyung datang mengeroyok. Mereka menyerang dari sebelah belakang. Juga orang yang tadi roboh kena paku Aria Puguh, kini juga dapat bangun pula. Dengan masih menggenggam tombak panjang ia maju tertatih-tatih, kemudian menikam. Akan tetapi sasarannya adalah Lingga Wisnu.

Inilah saat-saat berbahaya bagi Aria Puguh dan Lingga Wisnu. Meskipun demikian Aria Puguh tidak menjadi bingung atau berputus asa. Sambil berseru nyaring, ia menghajar orang yang bersenjata ruyung. Kena pukulannya, orang itu roboh terjengkang. Begitu hebat cara robohnya sehingga ia menubruk kaw an sendiri yang sedang berjalan tertatih-tatih sambil menggenggam tom- bak panjang hendak menikam Lingga Wisnu. Karena tadi sudah menderita luka, tak dapat ia mempertahankan diri tatkala kena tubruk kaw annya. Dengan demikian ia ikut terguling pula diatas tanah. Masih syukur, mereka tidak sampai saling menikam. Dengan cepat Aria FUguh melompat merampas ruyung. Kemudian dengan ruyung ini ia menangkis sepasang golok yang menyambar dirinya. Setelah itu ia menarik tangan Lingga Wisnu dan diajaknya lari secepat mungkin. Ia tak sudi terlibat terus menerus lantaran serdadu Belanda dan laskar Kasuhunan sudah mulai bergerak mendekati.

Sekarang keempat lawannya tidak berani melawan lagi. Mereka mulai sadar, bahwa lawannya itu bukan lawan sembarangan. Namun membiarkan buruannya lolos dengan begitu saja, sudah barang tentu mereka tak rela. Seperti berjanji, mereka lantas saja melepaskan senjata jarak jauh. Itulah senjata sumpitan yang bentuknya seperti panah-panah kecil.

Sambil melindungi Lingga Wisnu, Aria Puguh menangkis sambaran senjata bidik dengan ruyung dan rantainya. Kadangkala ia melompat atau mengelak sambil menyingkirkan Lingga Wisnu dari berbagai serangan yang saling menyusul. Namun karena harus melindungi Lingga Wisnu, gerakannya tidak segesit biasanya.

Satu kali ia harus menarik Lingga Wisnu kedadanya terlebih dahulu, untuk menangkis sambaran senjata bidik. Kali ini ia terlambat. Tiga batang anak panah meraung membuntutinya. Dua anak panah bisa dielakkan. Akan tetapi yang ketiga mengenai jitu paha kirinya. Dia terkejut, sebab mula-mula tiada terasa sakit sama sekali! Mendadak lama-lama menjadi gatal. Tahulah dia bahwa anak panah itu mengandung racun jahat. Segera ia mengerahkan tenaganya untuk berlari lebih kencang lagi. Tetapi justeru demikian racun yang merayap di dalam dirinya bekerja kian merunyam. Kakinya lantas saja terasa kaku, sehingga tak dapat lagi dilangkahkan. Malahan beberapa saat kemudian ia roboh terguling.

"Paman!" Lingga Wisnu berteriak lantaran kaget bukan main. Hampir saja ia terguling pula.

Ditengah keremangan malam, keempat penyerangnya samar-samar melihat robohnya Aria Puguh. Begitu mendengar teriakan Lingga Wisnu, mereka bertambah yakin. Lantas saja mereka berlomba untuk mengejar.

"Lingga!" seru Aria Puguh "Lari! Cepat! Aku akan menahan mereka!"

Lingga Wisnu kenyang pengalaman pahit. Melihat gurunya roboh, ia seperti teringat akan nasib ayah- bundanya sendiri. Maka tanpa perdulikan bahaya, segera ia melompat ke samping gurunya dan bersikap hendak melindungi.

"Lingga! Dengan kepandaianrnu ini, sanggupkah engkau melindungi diriku?" kata Aria Puguh terharu, ia tahu muridnya itu sangat cerdas.

Akan tetapi sama sekali tak mengira bahwa ia berbakti pula meskipun baru bergaul selama delapan hari saja.

Dalam pada itu keempat penyerangnya sudah datang semakin dekat. Mereka semua bersenjata dan bermaksud hendak menawan buruannya hidup-hidup. Yang membaw a sepasang golok dan sebatang pedang panjang memutar ke sebelah belakang dari Lingga Wisnu, dan menerjang berbareng. Yang di arah adalah betis kanan.

Lingga Wisnu menjadi terkejut ketika melihat serangan itu. Ia mengelak dengan melompat. Sudah barang tentu Aria Puguh tak sudi tinggal diam. Meskipun kaki kirinya tidak dapat digerakkan, akan tetapi ia memaksa diri berbangkit.

Tadi ia berhasil merampas ruyung besi. Maka tanpa berpikir panjang lagi ia segera menimpukkannya kepada orang yang bersenjata sepasang golok. Orang itu kaget bukan kepalang sampai ia tak sempat mengelakkan diri. Kepalanya terhantam ruyung itu. Dan pada saat itu pula Aria Puguh melesat menubruk lehernya. Krak! Dan orang itu terguling roboh, tak bernapas lagi.

Inilah peristiw a hebat bagi ketiga lawannya. Orang yang bersenjata pedang panjang lantas saja memutar tubuhnya dan lari terbirit-birit. Sedang kedua kawannya segera menyusul pula. Apalagi yang seorang telah terluka pundaknya semenjak tadi.

Aria Puguh sendiri nyaris kehilangan tenaga. Darahnya mengucur tiada hentinya. Kaki kanannya beku tak dapat digerakkan lagi. Namun tak sudi ia menyerah dengan keadaan itu. Dengan menguatkan hati ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Kemudian dengan bantuan ruyung rampasannya ia mencoba bangkit. Ia sadar, bahwa ketiga musuhnya tadi lari untuk kembali lagi dengan membaw a bala bantuan. Kesempatan untuk melarikan diri hanya sedikit saja.

"Mari!" ia berkata mengajak.

Dengan menyeret kakinya ia berjalan selangkah demi selangkah, dengan bantuan ruyung rampasannya. Lingga Wisnu berjalan di sebelah kanannya. Ia memasang pundaknya untuk memeluk lengan gurunya dan membiarkan dirinya digelendoti. Dengan demikian perjalanan agak lancar juga. Akan tetapi setelah berjalan beberapa ratus meter, keadaan Aria Puguh bertambah hebat. Rasa beku yang memendam sebelah kakinya tadi perlahan-lahan naik ke tangan. Dan t iba-tiba saja tangan itu kehilangan tenaga. Ia tahu, itulah racun jahat yang sedang bekerja. Segera ia memindahkan ruyung rampasannya ke tangan kiri dan melanjutkan berjalan sedapat-dapatnya. Sedangkan Lingga Wisnu tak mengerti tentang bekerjanya racun jahat itu. Yang dirasakan, Aria Puguh menggelendot makin berat. Meskipun ia mandi keringat, namun tetap membungkam mulut. Tetapi setelah berjalan dua tiga kitametdt lagi, rasa lelahnya tak tertahankan lagi.

"Paman, didpan nampak sebuah rumah. Mari kita beristirahat di sana," katanya sambil menuding ke depan. "Bukankah kita bisa bersembunyi di rumah itu?"

Aria Puguh msmanggut sambil mengumpulkan sisa tenagnya. Begitu tiba di depan pintu, habislah tenaganya. Ia roboh terkulai. Lingga isnu mencoba menahannya, akan tetapi gagal. Ia menjadi sangat terkejut.

"Paman!" ia memekik. Gugup ia membungkuk hendak membangkitkan. "Paman, bagaimana?"

Hampir bersamaan dengan waktu itu, terbukalah pintu rumah. Dan seorang perempuan berusia pertengahan muncul di ambang pintu. Melihat munculnya perempuan itu, Lingga Wisnu lantas saja berkata mengadu :

"Bibi! Kami di kejar-kejar tentara Belanda. Pamanku ini terluka. Bolehkah kami menumpang satu malam saja di sin i?” Perempuan itu seorang petani. Ternyata ia murah hati. Segera ia memanggut dan memanggil seorang anak tanggung kira-kra berusia delapan atau sembilan belas tahun untuk membantu menggotong Aria Puguh masuk. Kemudian ia direbahkan di atas dipan panjang yang terbuat dari bambu.

Aria Puguh sebenarnya luka parah. Akan tetapi karena tangguh dan memiliki himpunan tenaga sakti kuat, ia tidak pingsan atau kalut pikirannya. Meskipun kaki dan tangannya beku sebelah, dengan tenang-tenang saja ia minta kepada Lingga Wisnu agar mengambil pelita yang menyala di dinding. Dan dengan penerangan pelita itu ia memeriksa lukanya.

Mereka yang melihat luka terkejut, karena kaki kirinya tidak hanya bengkak saja tetapi pun nampak matang biru dan bergenik. Kesannya mengerikan. Tiba-tiba saja tatkala Lingga Wisnu melihat luka itu, terbanglah ingatannya kepada mimpinya yang ajaib. Ia seperti pernah melihat luka demikian dan pernah pula mempelajari cara pengobatannya. Dan oleh ingatan itu terus saja ia menerkam pundak Aria Puguh.

"Paman! Luka dipundakrnu harus kubalut dahulu!" katanya.

Segera ia merobek lengan bajunya dan menggunakannya sebagai pembalut . Mula-mula ia membalut pundak Aria Puguh keras kencang. Setelah itu ia membalut paha untuk mencegah menjalarnya racun jahat ke jantung. Apabila telah dikerjakan dengan rapih, dengan hati-hati ia mencabut senjata sumpitan beracun yang masih menancap pada paha. Begitu tercabut darah hitam meleleh keluar. Melihat darah hitam itu, Aria Puguh menundukkan kepala. Ia bermaksud hendak menghisap darah hitam itu dari lukanya. Akan tetapi mulutnya tak sampai. Lingga Wisnu lantas saja melakukannya menggantikan. Ia menghisap berulang-ulang dan memuntahkannya di atas tanah: Setelah menyedot dan menghisap kira-kira empat puluh kali, barulah luka itu mengalirkan darah merah.

Aria Puguh menghela napas lega. Katanya dengan suara haru:

"Alhamdulillah. Ternyata bukan racun yang sangat berbahaya. Lingga, kau kumurlah cepat-cepat."

Perempuan petani milik rumah itu semenjak tadi berdoa dengan maksud menolong meringankan penderitaan Aria Puguh. Dan mendengar ucapan Aria Puguh, ia girang bukan kepalang. Dan untuk menyatakan rasa syukurnya, ia berdoa panjang pendek dengan giat sekali.

Keesokan harinya, pemuda tanggung itu keluar rumah untuk melihat keadaan gunung. Lewat tengah hari ia datang dan melaporkan bahwa tentara Belanda tiada nampak seorangpun lagi. Berita itu melegakan hati Lingga Wisnu. Akan tetapi melihat keadaan Aria Puguh yang mengkhaw atirkan, ia menjadi gelisah. Benar, bengkaknya mulai kempes, tetapi suhu badannya naik tinggi sehingga seringkali mengigau.

Dua tahun lebih Lingga Wisnu berada di samping Palupi. Banyak pula pengetahuannya tentang obat- obatan. Apalagi dia pernah bermimpi ajaib bertemu dengan Ki Sarapada. Meskipun demikian, ia tak dapat berbuat sesuatu, malahan ia nampak menjadi bingung. Hal itu disebabkan karena untuk pertama kali itulah ia meraw at orang sakit.

"Denmas *)," kata perempuan petani pemilik rumah. "Racun yang berada di dalam tubuh pamanmu agaknya belum terkuras habis. Apakah denmas mempunyai daya upaya untuk menanggulanginya?”

Lingga Wisnu mengerutkan dahinya. Sebenarnya, dengan ilmu pengetahuannya dapat ia menolong Aria Puguh dengan segera. Akan tetapi, di atas gunung, dapatkah ia menemukan ramuan obat-obatan yang diperlukan? Karena itu oleh pertanyaan pemilik rumah, ia jadi pepat. Sahut asal jadi saja :

"Apakah dusun ini dekat dengan kota yang menjual ramuan-ramuan obat?"

"Limabelas pal dari sini terdapat sebuah kota. Mungkin sekali di kota itu denmas bisa bertemu dengan seorang tabib pandai pula."

Jingga Wisnu menghela napas. Mengingat saran itu sangat baik, segera ia berkata memutuskan :

"Baiklah. Aku akan pergi ke kota."

Pemilik rumah itu ternyata seorang petani yang benar- benar baik hati. Ia meminjam gerobak berikut kerbaunya dari tetangga sebelah kemudian disuruhnya mengantarkan Lingga Wisnu dan Aria Puguh turun gunung. Aria Puguh direbahkan di dalam gerobak, sedang Lingga Wisnu duduk di samping Dikun, si pemuda tanggung yang memegang kemudi.

*) Denmas = tuan Dikun mengantarkan sampai ke kota. Dengan pertolongannya pula, Lingga Wisnu memperoleh sebuah rumah penginapan. Setelah semuanya beres segera ia kembali pulang. Nampaknya berjalan sangat lancar dan sederhana saja. Akan tetapi gerobak itu sesungguhnya semenjak lama dikunt it beberapa mata-mata laskar Kasunanan. Begitu melihat Lingga Wisnu membaw a Aria Puguh memasuki rumah penginapan, mata-mata itu segera lari kencang melaporkan kepada atasannya.

Lingga Wisnu masih mempunyai beberapa ringgit sisa uang bekalnya. Dan dengan uang itu ia mencari beberapa ramuan obat yang diperlukan. Karena selama itu ia belum pernah memasuki kota, ia mengajak seorang pelayan ynagai penunjuk jalan. Setelah memperoleh ramuan obat yang diperlukan, segera ia pulang ke rumah penginapan. Sama sekali ia tak tahu bahwa dua orang polisi telah menguntitnya secara diam-diam.

Tiba di rumah penginapan, segera ia memasak ramuan obat-obatnya. Dalam pada itu Aria Puguh masih tetap rebah di tempat tidur dengan kepala panas bagaikan api. Belum lagi air mendidih, delapan orang pilisi tiba-tiba memasuki rumah penginapan dan membaw a rantai pembelenggu. Seorang yang mengenakan pakaian preman menuding kepada Lingga Wisnu seraya berkata:

"Dialah orangnya!"

Seorang polisi lantas membentak :

"Hai! Kau pelarian dari gunung, bukan?" Lingga Wisnu kaget tak terkira. Tak tahulah ia apa yang harus dilakukan. Akhirnya dalam bingungnya ia menjawab sekenanya saja :

"Bukan ..."

Polisi itu tertawa terbahak-bahak. Katanya : "Bukankah engkau membaw a-bawa seseorang yang

luka parah? Kenapa dia terluka?"

"Siapa yang terluka?" Angga Wisnu berlagak bodoh.

Polisi itu tertawa terbahak-bahak lagi sambil menggerincingkan rantai belenggunya. Bentaknya :

"Kau jangan mimpi bisa mengibuli aku? Apa aku perlu memeriksa kamarmu?"

Hati Lingga Wisnu tergetar. Takut akan ancaman itu ia lari masuk ke dalam kamarnya dan mencoba membangunkan Aria Puguh. Pada saat itu terdengar rombongan polisi tadi berteriak nyaring:

"Berandal Merbabu bersembunyi di dalam rumah penginapan ini. Kepung. Jangan biarkan lolos!"

Oleh teriakan-teriakan nyaring itu, Aria Puguh tersadar. Karena kaget, ia bangkit dengan segera. Maksudnya hendak duduk dan menurunkan kakinya di lantai. Akan tetapi tak dapat ia bergerak dengan leluasa. Begitu kakinya meraba lantai, ia justeru roboh terguling. Dan pada saat itu masuklah rombongan polisi mengepung kamarnya.

Dalam bingungnya, Lingga Wisnu tidak menolong gurunya bangun. Sebaliknya ia melompat di ambang pintu dan berdiri untuk merint angi. Dan rumah penginapan itu lantas saja menjadi berisik. Para tetamu melompat keluar dari kamalnya masing-masing dan berkumpul dipekarangan untuk menyaksikan hamba- hamba negerl melakukan penangkapan dan penggeledahan terhadap buruannya yang disebutkan sebagai berandal dari gunung Merbabu. Akan tetapi begitu melihat Lingga Wisnu, mereka menjadi keheran- heranan. Apakah pemuda tanggung itu perlu digerebeg sekawanan polisi yang berjumlah delapan orang?

Dalam pada itu seorang polisi melemparkan rantai belenggunya ke leher Lingga Wisnu. Bocah itu mundur mengelakkan diri. Sama sekali ia tidak berkisar dari ambang pintu. Niatnya sudah teguh, untuk mencegah kawanan polisi memasuki kamar. Bagaimana akibatnya nanti, tak masuk dalam pikirannya.

Polisi itu malu karena tak mampu membekuk seorang anak tanggung. Sedang dia merasa diri sudah berpengalaman belasan tahun lamanya. Lantaran malu, i menjadi gusar. Tangan kirinya bergerak dan menyambar tengkuk.

Lingga Wisnu tak gentar melihat datangnya serangan. Ia menangkis sambaran tangan yang hendak mencengkeram tengkuknya. Ia menggunakan salah satu jurus ilmu sakti Sardula Jenar. Dan begitu tangannya membentur sasaran, polisi itu mundur sempoyongan. Dia menjadi gusar setengah mati. Sambil memutar tubuh, kakinya menendang dan mulutnya memaki:

"Anjing haram"

Lingga Wisnu menang gesit. Melihat berkelebatnya kaki ia mengelak ke samping. Dengan kedua tangannya ia menangkap kaki itu, terus diangkat dan didorong dengan keras. itu juga polisi tadi terlempar dan jatuh terbanting di atas tanah

Tetamu-tetamu yang berkumpul dipekarangan, menjadi kagum dan bersorak tak terasa. Terhadap rombongan polisi Belanda mereka nampaknya tak senang. Meskipun bukan termasuk gerombolan pemberontak, mereka berpihak kepada Lingga Wisnu. Mungkin sekali lantaran melihat Lingga Wisnu seorang pemuda tanggung yang sama sekali tidak bersenjata atau berteman. Namun kedelapan polisi itu nampak beringas dan bengis. Mereka jadi tak puas, dan bersyukur tatkala melihat Lingga Wisnu berhasil melemparkan seorang polisi sampai terbanting di atas tanah.

Ketujuh polisi lainnya heran menyaksikan ketangguhan Lingga Wisnu. Mereka mengira anak itu mempunyai ilmu gaib. Segera mereka saling memberi isyarat kemudian menerjang berbareng. Diantara mereka ada yang bersenjata pedang, golok dan penggada kayu. Dan menyaksikan gerakan mereka, para tetamu kaget, takut dan bingung. Mereka mundur dengan sendirinya.

Meskipun Lingga Wisnu kini sudah mewarisi ilmu sakti Sardula Jenar dari Aria Puguh, akan tetapi tenaganya masih lemah. Lagi pula ia belum berpengalaman. Itulah sebabnya, menghadapi keroyokan demikian, ia menjadi bingung.

Dalam saat-saat yang berbahaya itu, tiba-tiba melompatlah seseorang dari kamar sebelah. Orang itu bertubuh besar dan berkulit hitam. Dengan sekali lompat, ia telah berada di depan Lingga Wisnu dan terus menggerakkan kaki dan tangannya. Entah bagaimana caranya bergerak, secara tiba-tiba saja polisi-polisi yang bersenjata tajam itu kena terampas senjatanya dan dilemparkan berjungkir balik. Kemudian ia mendesak, menyerang dan menerjang ke kiri dan ke kanan, sampai ketujuh polisi itu babak belur. Setelah itu ia berteriak nyaring seperti kerbau menguak. Aneh suaranya!

"Siapa kau?" seorang polisi menegur. "Kami hendak menangkap penjahat. Jangan ikut campur!"

Orang itu seperti tuli. Sekali menggerakkan tangan, ia menjambret dada polisi itu dan mengangkatnya tinggi- tinggi. Kemudian dilemparkan hingga polisi itu melayang- layang bagaikan layangan putus, dan roboh di atas tanah tak sadarkan diri. Menyaksikan hal itu kawanan polisi yang lain bubar berderai dan lari berserabutan keluar rumah penginapan.

Orang itu kemudian berpaling kepada Lingga Wisnu. Ia membuka mulutnya dan tangannya bergerak-gerak, tetapi mulutnya tiada mengeluarkan suara apapun, kecuali: ah, uh, ah, uh. Maka tahulah Lingga Wisnu bahwa orang itu gagu. Dan apa yang dikehendaki sangat mudah ditebak.

Beberapa saat lamanya Lingga Wisnu bingung menebak-nebak. Akan tetapi dia memang anak cerdas luar biasa. Segera ia mengamat-amati gerakan tangan dan gerakan mulut orang itu. Selagi mengamat-amati mendadak orang itu mengangkat tangannya ke atas lalu ditabaskan ke bawah. Kedua kakinya digerakkan, dan tahu-tahu ia sudah melakukan jurus-jurus ilmu sakti Sardula Jenar, dari jurus pertama sampai jurus kesepuluh Setelah itu ia berhenti. Sikapnya menunggu. Otak Lingga Wisnu yang cerdas luar biasa segera dapat mengerti kehendaknya. Buru-buru ia menjaw ab dengan melanjutkan jurus kesebelas sampai jurus kelima belas. Dan melihat Lingga Wisnu dapat melanjutkan jurus-jurus ilmu sakti Sardula Jenar, si gagu tertaw a lebar sambil memanggut-manggutkan kepalanya. Sekonyong konyong ia melompat sambil mengulurkan tangannya. Tahu-tahu Lingga Wisnu dipondongnya dan hendak dibawanya pergi.

Lingga Wisnu teringat gurunya yang masih rebah di dalam kamar. Dengan girang ia menuding kamarnya. Si gagu rupanya mengerti gerakan tangannya. Segera ia masuk ke dalam kamar sambil menggendong Lingga Wisnu. Terhadap Lingga Wilnu ia seolah-olah menemukan mustika yang tak ternilai harganya.

Tetapi begitu melihat wajah Aria Puguh yang pucat lesi bagaikan mayat, orang itu nampak kaget sekali. Buru-buru ia menurunkan Lingga Wisnu dan menghampiri Aria Puguh. Ia memijit-mijit menyadarkannya. Kemudian kedua tangannya digerakkan.

Oleh pijitannya, Aria Puguh tersadar. Begitu melihat siapa yang memijitnya, wajahnya bersinar terang. Iapun segera menggerakkan kedua tangannya sambil menunjuk pahanya.

Orang itu mengerti arti gerakan tangan Aria Puguh. Seketika itu juga ia bekerja. Dengan tangan kiri ia membimbing Lingga Wisnu dan dengan tangan kanannya ia memondong Aria Puguh. Kemudian dengan langkah lebar ia keluar kamar dan meninggalkan rumah penginapan. Ia lari sangat pesat begitu tiba di jalan, tak perduli berat tubuh Aria Puguh hampir mencapai delapan puluh kilo.

Baik pemilik rumah penginapan maupun para pelayan, tak ada yang berani merint angi. Semuanya menyaksikan kegagahannya. Seorang diri saja ia sanggup mengundurkan delapan orang polisi.

Malah yang seorang dibanting roboh sampai pingsan tak sadarkan diri. Terhadap orang segagah itu, siapakah yang berani mencoba-coba merintangi kehendaknya?

Namun pihak kepolisian tidak mau sudah. Dua orang mata-matanya segera menguntitnya. Tentu saja mereka tak berani berada terlalu dekat. Mereka menguntit dalam jarak dua puluh langkah. Tujuan mereka hanya ing in mengetahui di manakah tempat tinggal si gagu itu. Setelah mereka ketahui, mereka akan menyulutkan tanda-tanda tentu untuk mencari bala bantuan.

Aria Puguh masih tak sadarkan diri. Ia tak tahu bahwa dirinya dibawa kabur oleh si gagu dari rumah penginapan. Si gagu sebaliknya tidak mengetahui bahwa dirinya selalu dibayangi dua orang mata-mata. Tetapi tidak demikian halnya dengan Lingga Wisnu yang cerdik. Ia melihat dua orang yang selalu mengikuti. Diam-diam ia menarik tangan si gagu. Dan dengan merronyongkan mulut ia memberi kabar. Si gagu lantas berpaling. Namun ia bersikap acuh tak acuh. Dengan berlagak pilon ia lari terus dengan cepat. Lingga Wisnu dibawanya lari kencang melint asi tegalan-tegalan sepi. Kira-kira tiga atau empat kilo meter lagi, tiba-tiba si gagu meletakkan Aria Puguh ke atas tanah. Agaknya dia hendak beristirahat untuk menghilangkan rasa lelahnya. Tetapi tahu-tahu dengan sekonyong-konyong ia membalikkan tubuhnya, dan melesat ke belakang. Dalam dua tiga enjotan saja, ia sudah sampai kedepan mata-mata itu yang kaget setengah mati.

Itulah serangan diluar dugaan. Dalam kaget dan takutnya, kedua mata-mata itu segera memutar tubuh. Niatnya hendak mengangkat kaki. Namun sudah kasepi Si gagu sangat cepat gerakannya. Sebelum mereka berdua dapat menggerakkan kaki, tangan si gagu sudah menghempaskannya. Tak ampun lagi mereka roboh di atas tanah.

Orang   gagu    itu bekerja tidak  kepalang tanggung. Melihat kedua lawannya       roboh, tangannya mencengkeram  rambut mereka.    Kemudian diangkat   tinggi-tinggi dan dibenturkan   ke sebuah  batu    yang berada  di   pinggir tegalan.  Prak!    Tak ampun dan tak sempat

lagi kedua mata-mata itu berteriak. Mereka mati dengan kepala pecah!

Setelah menamatkan riw ayat hidup kedua mata-mata itu, si gagu kembali menghampiri Aria Puguh. Dengan enteng sekali ia mengangkat tubuh Aria Puguh dan dibawanya berlari lagi. Larinya cepat bagaikan terbang.

Celakalah Lingga Wisnu! Pemuda ini mencoba lari sekencang-kencangnya, agar dapat menjajarinya. Usahanya sia-sia belaka, meskipun ia telah mengerahkan seluruh kesanggupannya. Makin lama ia makin tertinggal. Akhirnya ia merasa tak sanggup lagi. Dan dengan napas tersengal-sengal ia menghentikan langkahnya.

Si gagu menoleh. Ia berhenti pula sambil tersenyum. Melihat Lingga Wisnu kehabisan tenaga, ia menghampiri dengan wajah ramah. Lalu menyambar tubuhnya dan digendongnya. Dengan menggendong dua orang, ia lari kencang lagi. Malahan kini larinya lebih kencang, dibandingkan dengan semula, lantaran ia tidak usah menunggu-menunggu Lingga Wisnu.

Setelah berlari-lari sekian lamanya, ia membelok ke kiri dan lari mengarah ke sebuah gunung. Ia mendaki dengan cekatan. Dan sama sekali tak mengenal lelah. Dalam sekejab mata saja dua bukit telah dilaluinya. Tiba- tiba nampak sebuah gubuk di depan lamping gunung. Dengan langkah tetap ia menghampiri gubuk itu.

Seseorang yang berada di ambang pintu lari menyambut. Dia seorang perempuan berumur tiga puluh tahun lebih. Dia memanggut kepada si gagu dan si gagu pun membalas anggukannya. Nampaknya ia heran melihat si gagu membaw a-bawa dua orang dalam gendongannya. Segera ia mengajak masuk.

"Suskandari! Kau sediakan t iga mangkok air teh!" seru perempuan itu.

Dari dalam kamar terdengar jawaban. Dan muncullah seorang gadis kecil membaw a niru berisi tiga mangkok air teh. Ia nampak heran begitu melihat si gagu. Kemudian ia memandang kepada Aria Puguh dan mengamat-amati Lingga Wisnu. Kedua matanya jernih bening dan meresapkan penglihatan. Gadis kecil inilah yang bernama Suskandari. Umurnya kurang lebih duabelas tahun dan manis kelihatannya.

Setelah menyiasati Suskandari pandang mata Lingga Wisnu beralih kepada perempuan muda itu. Dia seorang perempuan yang cantik, mukanya putih bersih dan halus. Bibirnya manis dan suaranya meresapkan pendengaran. Meskipun pakaiannya sederhana, pribadinya berkesan agung. Dengan ramah ia bertanya kepadanya:

"Umurmu sebaya dengan anakku. Siapa namamu?

Bagaimana engkau bisa bertemu dengan dia?"

Waktu itu Lingga Wisnu sudah diturunkan ke tanah. Mendengar lagak lagunya, tahulah ia bahwa si gagu adalah sahabat nyonya rumah itu. Maka dengan tulus ia menceritakan pengalamannya.

Ibu Suskandari kemudian memperkenalkan namanya. Ia bernama Ngrumbini. Dan setelah memperkenalkan namanya, ia masuk ke dalam lalu keluar lagi dengan membaw a dua botol ramuan obat. Lingga Wisnu melihat: bubuk putih dan merah. Terbaw a oleh rasa girangnya, segera ia menyendoknya sedikit dan diadukkan ke dalam air teh. Setelah itu ia menegukkan ke dalam mulut Aria Puguh.

Ngrumbini heran menyaksikan Lingga Wisnu mengerti tentang obat-obatan. Segera ia berkata :

"He, engkau semuda ini sudah mengerti tentang ilmu ketabiban?"

Oleh perkataan itu Lingga Wisnu tersadar. Wajahnya menjadi merah. Buru-buru ia membungkuk hormat dan memint a maaf atas kelancangannya dan berkata :

"Maaf, bibi. Maafkan aku ..."

Tetapi Ngrumbini t idak merasa tersinggung, Ia bahkan tertaw a manis sekali. Katanya:

"Bagus! Tak usah engkau bersegan segan terhadapku. Rupanya engkau murid seorang tabib pandai. Kalau aku boleh bertanya, siapa gurumu?"

"Sebenarnya aku tidak mempunyai guru. Hanya secara kebetulan saja aku mendapat kesempatan belajar mengenai obat-obatan dipinggang gunung Merapi."

Ngrumbini mengira. Lingga Wisnu tidak mau memperkenalkan nama gurunya. Oleh pertimbangan t ata santun, tak mau ia mendesak. Berkata mengalihkan pembicaraan:

"Apakah engkau membutuhkan alat-alat tertentu?" "Benar. Apakah bibi mempunyai pisau kecil? Aku harus

mengiris lukanya."

Ngrumbini segera menyediakan pisau kecil yang dimint anya. Dengan cekatan Lingga Wisnu mengiris luka Aria Puguh. Setelah itu ia memborehkan dengan obat bubuk kuning. Ia menunggu sebentar. Kemudian luka itu dicucinya kembali dan diborehi bubuk kuning lagi. Tiga kali ia mencuci dan memborehi luka Aria Puguh. Dan menyaksikan hal itu Ngrumbini bertambah keheran- heranan. Makin percayalah ia bahwa Lingga Wisnu pastilah murid seorang tabib sakti. Selang beberapa waktu, Aria Puguh membuka mulutnya. Ia memperdengarkan suara tak jelas.

"Anakku, engkau benar-benar seorang tabib pandai, Dia ketolonganl" seru Ngrumbini dengan suara girang.

Dengan isyarat tangan, ia memanggil si gagu. Ia minta tolong kepadanya agar ia membaw a Aria Puguh masuk ke dalam kamarnya. Dan tatkala si gagu membaw a Aria Puguh masuk ke dalam kamar, Ngrumbini menutup botol obatnya sambil ia berkata kepada Lingga Wisnu :

"Mari, kuperkenalkan dengan anakku, dia bernama Suskandari. Mulai sekarang tinggallah bersama kami di sin i."

Lingga Wisnu memanggut.

"Meskipun engkau tidak memperkenalkan nama gurumu, aku bisa menebak delapan bagian. Lantaran engkau menyebutkan gunung Merapi." kata Ngrumbini. "Apakah engkau kenal tabib sakti Ki Sarapada?"

Ngrumbini tidak menunggu Lingga Wisnu membenarkan dugaannya, dengan tersenyum manis ia masuk ke belakang. Dan dengan dibantu Suskandari ia menanak nasi dan menyembelih ayam. Sebaliknya Lingga Wisnu lelah sekali. Oleh rasa kantuknya, dengan tak dikehendaki sendiri ia tertidur ditepi meja. Kepalanya terletak diatas tangannya yang bersilang diatas meja. Apakah dunia hancur pada saat itu, berada di luar ingatannya.

Keesokan harinya, baru saja matahari muncul di udara, Suskandari sudah menarik tangan Lingga Wisnu. Kata gadis cilik itu : "Mari, cuci muka!"

Lingga Wisnu tersentak dari tidurnya. Ia mengucak- ngucak matanya. Tiba-tiba teringatlah dia kepada Aria Puguh. Serentak ia menyahut:

"Aku hendak melihat paman dahulu. Bagaimana lukanya ..."

"Paman Ganjur telah membaw anya pergi semenjak fajar hari tadi." kata Sukandari.

Lingga Wisnu terperanjat mendengar perkataan Suskandari. Menungkas:

"Paman Ganjur? Siapa paman Ganjur?"

"Paman Ganjur ... si gagu ..." jawab Suskandari dengan tertaw a.

Hati Lingga Wisnu tercekat. Menegas dengan wajah berubah:

"Dibawa ke mana paman Aria Puguh?"

Suskandari hendak menjaw ab. Tetapi pada saat itu, Lingga Wisnu tiba-tiba melompat dari kursi dan lari memasuki kamar, benar-benar kosong. Tiada Aria Puguh maupun Ganjur, si gagu.

Hati Lingga Wisnu terpukul. Terus saja ia roboh terkulai.

"Ibu! Ibu!" teriak Suskandari memanggil ibunya. Ngrumbini datang dengan cepat. Meliha keadaan

Lingga Wisnu roboh terkulai ia berkata membesarkan

hati Suskandari: "Tak apa. Kecuali terkejut, semalam perutnya belum kemasukan sebutir nasipun. Sebentar lagi ia akan siuman kembali."

Setelah berkata demikian, ia menghanpiri Lingga

.Wisnu dan memijid—m ijid pundaknya. Bisiknya :

"Anakku, pamanmu terluka parah sekali, ia perlu memperoleh pertolongan seorang tabib pandai. Engkau mengenal obat-obatan. Pastilah engkau mengerti pula bahwa obat bubuk kuning semalam hanya merupakan obat darurat saja. Bukankah begitu?"

Lingga Wisnu mengangguk. Dengan suara kalap ia menyahut:

"Benar, bibi. Aku hanya memberikan pertolongan pertama. Ia kena racun senjata rahasia yang sangat jahat. Kalau tidak cepat-cepat memperoleh pertolongan yang sempurna, sebelah kakinya bisa mati selama- lamanya."

"Anakku Lingga," seru Ngrumbini kagum, dan menambahkan lagi: "Dari mana engkau memperoleh pengetahuan ketabiban begini sempurna?"

Lingga Wisnu terhibur hatinya tatkala mendengar ucapan Ngrumbini. Jawabnya:

"Secara kebetulan saja aku berada dipondok salah seorang murid terpandai tabib sakti Ki Sarapada."

"Oh!" seru Ngrumbini dengan suara tertahan. "Pantaslah. Engkau mahir sekali dalam pengetahuan ilmu ketabiban. Kalau tahu begini aku tidak akan mengijinkan Ganjur membaw a Aria Puguh pergi."

Lingga Wisnu menghela napas. Katanya: "Sebenarnya, paman dibawa ke mana?"

"Ganjur membaw anya menghadap seseorang. Orang itu berilmu kepandaian t inggi. Dan pada zaman ini, kukira hanya dia seorang yang dapat menyembuhkan. Kau tunggu saja di sini. Apabila sudah sembuh, pamanmu pasti akan datang ke mari menjengukmu."

Lingga Wisnu tahu, apabila gurunya mendapat pertolongan seorang tabib pandai, pastilah lukanya akan dapat disembuhkan. Hanya saja, lantaran kata-kata Ngrumbini bersikap menghibur, hatinya jadi sedih. Beberapa saat lamanya ia termangu-mangu. Ngrumbini segera menolongnya bangun sambil membujuknya lagi:

"Anakku Lingga. Pamanmu pasti sembuh. Sekarang pergilah mencuci muka. Setelah itu kita makan. Semalam aku menyembelih seekor ayam untukmu. Meskipun aku tak pandai memasak, akan tetapi daging ayam itu sendiri pastilah akan menawan seleramu."

Lingga Wisnu sadar akan maksud baik Ngrumbini. Meskipun masih merasa lemas, ia mencoba menguasai diri. Kemudian mencuci mukanya di sebuah pancuran yang berada di samping rumah. Setelah itu ia duduk bersama dengan ibu dan puterinya.

Ngrumbini pandai mengambil hati. Suaranya sendiri sudah meresapkan pendengaran. Apalagi dia bermaksud membujuk dan membesarkan hati. Lingga Wisnu lantas saja menyerah kalah. Dengan kemauan sendiri ia menceriterakan riw ayat hidupnya.   Dan   mendengar riw ayat hidup Lingga Wisnu, Ngrumbini menghela napas berulangkali. Katanya pilu : "Kalau begitu, tinggallah engkau bersama kami di sini. Jangan engkau mencemaskan apa-apa lagi. Kau tunggu saja pamanmu di sini. Apabila sudah sembuh, pastilah dia akan menjengukmu."

Lingga Wisnu memanggut. Semenjak bayi, ia hidup menderita sekali. Ia dibawa orang tuanya merantau dari tempat ke tempat untuk menghindari lawan-lawan yang datang tiada hentinya. Setelah berumur delapan tahun, dengan cara yang menyedihkan sekali kedua orang tuanya meninggal di depan matanya. Sekarang, ia bertemu dengan Ngrumbini yang halus bidi dan manis sekali sepak terjangnya. Keruan saja ia seperti memperoleh seorang ibu sejati. Disamping dia masih ada seorang puteri yang manis pula. Ialah Suskandari. Gadis itu elok jelita dan senantiasa bersedia menjadi kawannya. Maka tak mengherankan, baru beberapa hari saja Lingga Wisnu merasa betah tinggal di rumah Ngrumbini.

Pada suatu hari Ngrumbini minta kepada Lingga Wisnu agar memperlihatkan ilmu sakti, yang diajari oleh Aria Puguh dihadapannya. Dan Lingga Wisnu tidak berkeberatan. Segera ia mengabulkannya permint aan Ngrumbini. Dengan cermat Lingga Wisnu melakukan jurus-jurus ilmu-sakti Sapu Jagad. Dan menyaksikan cara Lingga Wisnu melakukan atau mengolah jurus-jurus Sapu Jagad, Ngrumbini memuji tiada hentinya. Insyaflah dia bahwa hal itu telah terjadi berkat kecermatan dan ketelitian Aria Puguh tatkala memberi pelajaran. 

Berselang sepuluh hari, Ngrumbini menganjurkan kepada Lingga Wisnu, agar berlatih dengan sungguh- sungguh pada setiap hari. Namun ia tak pernah membenarkan atau menyalahkan. Dengan seksama ia menilik dan mengikuti gerak-geriknya Lingga Wisnu dalam mengolah liku-liku int isari ilmu sakti Sardula Jenar. Sepatah katapun tak pernah terbersit dari mulutnya yang menyinggung tentang latihan itu. Malahan, beberapa hari kemudian jarang sekali ia hadir. Sebaliknya Suskandari mengganti kedudukannya menemani lingga Wisnu. Tetapi tiba-tiba pada hari kedua belas, Suskandari dipanggil ibunya tatkala seperti biasanya menemani Lingga Wisnu berlatih sampai rampung.

Lingga Wisnu tak pernah menduga jelek. Ia merasa pastilah ada alasannya apa sebab Suskandari dipanggil ibunya dan tidak diperkenankan lagi hadir tatkala ia sedang berlatih. Mungkin sekali hal itu merupakan pantangan besar bagi seseorang yang melihat seorang lagi berlatih diri. Pada suatu hari Ngrumbini datang kepadanya dan berkata :

"Anakku Lingga, bibi hendak pergi sebentar. Kau temanilah adikmu Suskandari. Tetapi jangan kau ajak dia keluar rumah, karena di sekitar rumah ini banyak binatang-binatang buas."

Ngrumbini tidak memberi keterangan ke mana dia hendak pergi. Tetapi sebenarnya dia hendak ke kota membeli dua perangkat pakaian buat digunakan oleh Lingga Wisnu, lantaran pakaian yang dikenakan sudah usang.

Lingga Wisnu patuh kepada pesan Ngrumbini. Ia menjaga Suskandari seperti seseorang menjaga adik kandungnya sendiri. Suskandari sendiri kelihatan bersikap manja terhadap Lingga wisnu. Ia berlari-larian ke sana ke mari mengajak bermain petak. Tiba-tiba gadis itu berkata: "Kangmas Lingga, mari kita bermain masak-masakan. Biarlah aku membeli seekor ayam dahulu. Kau nanti yang menyembelih."

Tanpa menunggu persetujuan Lingga Wisnu, gadis itu lari keluar rumah.

"Kau hendak mencari ayam di mana? Lingga Wisnu melayani.

Di pekarangan depan. Di sana banyak ubi hutan," sahut Suskandari.

Maka tahulah Lingga Wisnu, bahwa ubi hutan itu diumpamakan sebagai ayam. Ia lantas pergi ke dapur mencari sebilah pisau. Bukankah dia telah diangkat jadi tukang sembelih ayam? Akan tetapi setelah menunggu sekian lamanya, Suskandari t idak muncul kembali. Ia jadi tak sabaran. Memanggil :

"Suskandari! Suskandari!"

Tetapi panggilannya tiada jawaban. Jantungnya jadi berdegupan. Teringat dia akan pesan Ngrumbini, bahwa disekitar rumah itu banyak berkeliaran binatang-binatang buas. Dengan pisau di tangan ia melompat keluar rumah. Dan begitu berada di pekarangan, ia kaget bukan-main.

Seorang laki-laki bertubuh besar nampak mengempit Suskandari dan sedang memutar tubuh hendak pergi. Keruan saja ia berteriak kalap:

"Hei! Hei! Kau hendak membaw anya kemana?"

Orang itu tidak menghiraukan. Dia melompat keluar halaman. Pada saat itu Lingga Wisnu melesat pula. Bocah itu tidak hanya mengejar, tetapi menyerang pula dengan pisaunya. Keruan saja penculik itu kaget. Sama sekali tak mengira bahwa bocah itu bisa menikam. Untunglah bahwa Lingga Wisnu tidak bermaksud mengarah jiw anya. Ia hanya menikam kaki. Justru demikian penculik itu mendongkol dan gusar karena rasa sakitnya.

"Kurang ajar!" makinya. Dia menurunkan Sukandari. Lalu berbalik sambil menghunus goloknya dan terus menyerang.

Lingga Wisnu tidak takut. Dia menangkisnya dengan tangan kosong. Tentu saja yang dipukul balik adalah lengan si penculik. Itulah salah satu jurus ilmu sakti Sapu Jagad warisan gurunya. Sekali ia menangkis, tangan kanannya segera menyerang.

Heran orang itu! Terpaksalah ia melayani dan terjadilah suatu perkelahian yang ganjil. Seorang dewasa bertubuh besar dan membaw a golok bertempur melawan seorang pemuda tanggung bersenjatakan pisau dapur. Dalam hal tenaga, tentu saja orang itu menang dua kali lipat. Goloknya menerbitkan kesiur angin menderu-deru. Namun dalam hal kegesitan, Lingga Wisnu jauh lebih menang. Ia menghindarkan bentrokan senjata dengan mengelakkan diri dan disaat-saat tertentu ia menikam atau menusuk dengan tiba-tiba.

Selang beberapa jurus, orang itu jadi sibuk sendiri. Ia heran dan penasaran. Kenapa ia tak sanggup merobohkan seorang pemuda tanggung yang hanya bersenjata pisau dapur saja? Karena itu ia berkelahi makin sengit tak ubah sedang berhadap-hadapan dencran seorang musuh tangguh yang memiliki ilmu tinggi, goloknya kini membabat mengarah kaki. Bagus sasarannya akan tetapi sulit untuk dilakukan. Hal itu disebabkan lantaran lawannya lebih pendek dari dirinya sendiri. Untuk dapat menyerang kaki, terpaksalah ia harus bergulingan ditanah. Kemudian ia berjongkok atau membungkuk.

Cara berkelahi demikian itu sebenarnya menghabiskan tenaga. Akan tetapi Lingga Wisnu belum berpengalaman. Ia menjadi sibuk juga. Terpaksalah dia bermain mundur untuk menghindari golok lawan.

Suskandari yang telah terbebas tidak hanya, tinggal menonton saja. Dia lari ke dalam rumah dan datang kembali dengan membaw a pedang panjang. Dengan senjata itu ia menyerang penculiknya dari belakang. Ternyata ia pandai memainkan pedang pula, meskipun belum mahir.

"Hai, setan! Kau perempuan cilik ikut-ikut campur pula? Apa kau ingin mampus?" bentak penculik itu. Cepat ia membalikkan tubuh dan mengayunkan goloknya. Namun ia tidak menggunakannya tenaga sepenuh- penuhnya lantaran tidak menghendaki jiw a Suskandari. Ia hanya menangkis agar pedang Suskandari terlepas dari tangannya.

Akan tetapi Suskandari seorang gadis cerdik. Gerakannya gesit pula. Dia mengelakkan diri dari tangkisan itu sambil melompat ke belakang, ia maju ke samping dan dengan cepat menikam lagi.

Lega hati Lingga Wisnu menyaksikan Suskandari bisa menikamkan pedangnya. Tadi ia khawatir melihat majunya gadis cilik itu. Setelah melihat serangannya beberapa kali, ia menjadi girang. Terus saja ia membarengi dengan tikaman berantai jurus delapanbelas dari ilmu sakti Sardula Jenar. Dan diserang berbareng itu, si penculik jadi kalang-kabut . Untuk membela diri maka terpaksalah dia bergerak dengan sebat sekali.

Lingga Wisnu memperoleh hati. Karena memperoleh hati, serangannya makin gencar. Dan hal in i membuat hati penculik itu bersyukur. Sebab, meskipun mereka berdua pandai berkelahi, namun baik tenaga maupun keulatannya masih kurang jauh. Maka dengan sabar ia hanya membela diri saja, dengan mengelakkan berbagai serangan. Dan dugaannya ternyata benar. Beberapa waktu kemudian kegarangan Lingga Wisnu dan Suskandari makin surut. Sekarang mereka berdualah yang bergilir menghadapi serangan balasan.

Tatkala Suskandari menikam, penculik itu menangkis dengan tenaga penuh. Demikian hebat tenaganya, sehingga Suskandari tak dapat mempertahankan diri. Pedangnya lantas terpental di udara dan jatuh berkelontangan di tanah.

Melihat Suskandari terancam bahaya, Lingga Wisnu menerjang dan menikam. Buru-buru penculik itu menangkis sambil menendang Suskandari dengan sebelah kakinya. Kena tendandannya itu, gadis cilik itu terguling-guling.

Lingga Wisnu kaget dan cemas. Lupa akan penjagaan diri, ia melompat menikam dengan sembrono sekali. Tentu saja hal itu membuat girang si penculik. Ia mengelak lalu merangsak dengan goloknya. Dan menghadapi rangsakan itu Lingga Wisnu buru-buru mengangkat pisau dapurnya untuk menangkis. Inilah bentrokan yang tak dapat dihindarkan lagi. Pisau dapurnya lantas saja terlepas dari tangan dan menancap di atas tanah. Selagi terkejut, pergelangan tangannya kena pula dicengkeram dan diputar .

Lingga Wisnu kesakitan. Namun dalam kesakitan ia tidak menjadi gugup. Tangan kirinya segera menyelonong masuk menghantam tulang rusuk. Penculik itu kaget bukan kepalang. Dalam kagetnya ia melepaskan cengkeramannya dan melompat mundur. Begitu berdiri tegak kembali di atas tanah, segera ia melesat menyambar Suskandari dan dikempitnya. Kemudian ia memanjangkan kakinya.

Walaupun sedang kesakitan, begitu melihat Suskandari kena dibawa lari, Lingga Wisnu menjadi kalap. Segera ia memungut pisau dapurnya lagi yang tertancap di atas tanah, kemudian ia lari mengejar sambil berteriak :

"Hei! Berhenti!"

"Akh, setan cilik!" maki penculik itu. "Apa kau tak sayang jiw amu?"

Dengan tangan kiri mengempit Suskandari tangan kanannya menggerakkan goloknya sambil ia membalikkan tubuhnya. Ia harus melayani Lingga Wisnu yang sudah dapat mengejarnya kembali. Setelah bertempur lima enam jurus, Lingga Wisnu kena pundaknya.

"Bagaimana? Apa engkau masih bandel?" bentak penculik itu.

Lingga Wisnu benar-benar tak mengenal takut. Bajunya terobek dan pundaknya mengucurkan darah. Namun ia menjawab dengan garang pula : "lepaskan Suskandari! Dan aku tidak akan mengejarmu lagi!"

Tentu saja penculik itu tidak menghiraukan ocehannya. Ia memutar tubuh dan memanjangkan langkahnya. Dan Lingga Wisnu pun tetap mengejarnya sambil terus berteriak-teriak. Akhirnya penculik itu menjadi kewalahan juga. Habislah kesabarannya. Dan timbullah pikirannya:

"Jika aku t idak membunuhnya, aku akan di ganggunya terus-menerus." Memperoleh pikiran demikian, ia berhenti dan memutar tubuhnya. Dengan goloknya ia menyongsong serangan Lingga Wisnu. Ia kini tidak mau berkelahi setengah hati. Baru beberapa gebrak saja lagi- lagi pisaunya Lingga Wisnu kena dipentalkan runtuh di atas tanah dan terus saja ia menendang Lingga Wisnu sehingga terguling. Setelah itu ia mengayunkan goloknya hendak menghabisi jiwanya.

Suskandari yang berada dalam kempitannya, melihat ancaman bahaya itu. Dengan mati-matian ia menggelendoti lengan penculik itu dan menggigitnya. Kena gigitannya, penculik itu kesakitan sehingga menjerit. Dan bacokannya gagal pula.

Inilah kesempatan yang bagus bagi Lingga Wisnu. Bocah itu lantas membuang diri dengan bergulingan di tanah. Lalu kembali merangkak-rangkak memungut pisau dapurnya. Tentu saja penculik itu mendongkol bukan main. Dengan penuh dengki ia menjewer telinga Suskandari lalu mengulangi serangannya yang tadi kena digagalkan. Karena sudah berpengalaman, dengan mudah saja ia dapat melukai Lingga Wisnu. Kali ini jidat si bocah yang termakan golok, sehingga ia mengalirkan darah. Menimbang bahwa oleh luka kali ini Lingga Wisnu tidak akan dapat berdaya banyak lagi, segera ia memutar tubuh hendak kabur secepat-cepatnya.

Akan tetapi Lingga Wisnu benar-benar berani dan bandel. Ia melompat dan menubruk kaki yang terus dipeluknya erat-erat. Karena kehilangan pisau dapurnya, ia kini menggunakan ketajaman giginya. Meniru perbuatan Suskandri, ia menggigit kaki penculik itu sekuat tenaganya.

Penculik itu berkaing-kaing kesakitan sambil memaki- maki kalang-kabut. Dengan geram ia mengangkat sebelah kakinya dan diinjakkan ke kepala Lingga Wisnu. Kemudian mendupaknya dengan sekuat tenaga. Dan kena dupakan itu, Lingga Wisnu terpental menggabruk tanah. Penculik itu sudah telanjur dengki kepadanya. Terus saja ia mengejar, dan dengan golok ditangan ia berniat membunuhnya.

Untunglah, pada detik-detik yang sangat berbahaya bagi Lingga Wisnu, terdengarlah suara kesiur angin. Dan tahu-tahu kepala penculik itu terbentur sebuah benda yang menbeletuk. Penculik itu terkejut. Ia menoleh. Dan nampak Ngrumbini sedang mengayunkan senjata bidiknya yang kedua. Ternyata senjata bidik itu sebutir telur. Pantaslah, begitu membentur kepalanya, menerbitkan suara merrbeletuk. Ia jadi kuncup hatinya dan terus saja ia meninggalkan Lingga Wisnu, untuk kabur secepat-cepatnya dengan masih mengempit Suskandari.

Tentu saja Ngrumbini tidak menbiarkan penculik itu kabur dengan membaw a puterinya. Ia melepaskan sambaran telurnya yang ketiga. Kali in i tepat mengenai mata kiri. Penculik itu menjadi gelagapan. Meskipun hanya sebutir telur, akan tetapi timpukan itu cukup keras, sehingga matanya berkunang-kunang. Ia jadi gusar, terus saja ia melepaskan Suskandari. Sedang tangan kirinya digunakan untuk mengucak-ucak matanya yang kena pecahan telur. Ia maju menyerang dengan golok di tangan kanan.

Ngrumbini tak bersenjata. Ia melayani serangan si penculik dengan kelincahan tubuhnya. Dalam pada itu Lingga Wisnu sudah merayap bangun. Segera ia memungut pisau dapurnya kembali dan tanpa memperdulikan luka-lukanya, ia maju menyerang membantu Ngrumbini. Semangat tempurnya makin lama makin menyala-nyala, dan tidak takut segala akibatnya. Suskandaripun tidak tinggal diam. Teringat dia akan pedang panjangnya yang tertinggal di pekarangan rumah tatkala kena gempur penculik itu. Segera ia lari mencarinya dan datang kembali dengan membaw a pedang itu.

Karena didesak Lingga Wisnu, penculik itu tak dapat lagi memusatkan serangannya kepada Ngrumbini seperti semula. Ngrumbini jadi memperoleh kesempatan untuk menerima pedang Suskandari. Dengan pedang ditangan, ia tak ubah seekor harimau tumbuh sayap. Namun ia seorang penyabar. Tak mau ia segera turun ke gelanggang menggunakan pedangnya. Ia menjumput tiga buah batu dan ditinpukkan. Keruan saja si penculik jadi kerepotan setengah mati. Hampir saja ia terkena tikaman pisau dapur Lingga Wisnu.

Selagi penculik itu terpaksa mundur Ngrumbini berkata dengan suara sabar: "Bribil selagi aku tiada di rumah, kenapa engkau hendak menculik anakku? Apakah itu perbuatan seorang laki-laki sejati?"

Ngrumbini tidak memberi kesempatan Bribil menjawab tegurannya. Dengan pedang ditangan ia menyerang. Dan Brib il menjadi sibuk tak keruan. Cepat-cepat ia menendang Lingga Wisnu. Bocah itu roboh terguling. Kemudian ia melayani serangan Ngrumbini dengan sungguh-sungguh.

Ngrumbini nampaknya sedang gusar. Ia berkelahi dengan hebat. Setelah mendesak beberapa kali, berhasillah ia melukai pundak Brib il, dan Bribil jadi berkaok-kaok kesakitan. Karena kesakitan, gerakannya jadi lambat.

Ngrumbini tidak sia siakan kesempatan sebagus itu. Terus saja ia merangsak dan menghantam golok Bribil. Dan kena hantamannya, golok Bribil terlepas dari tangannya. Buru-buru ia melompat sambil berkata :

"Aku berbuat demikian, semata-mata melakukan perint ah suamimu. Engkau hendak membunuhku, nah, bunuhlah! Tetapi aku akan mati penasaran. Apabila aku jadi setan, akan tetap mencarimu di mana saja engkau berada!"

Sepasang alis Ngrumbini berdiri tegak. Dengan wajah merah karena marah, pedangnya menikam. Bribil agaknya sudah menduga demikian, maka cepat-cepat ia menjejakkan kakinya dan melesat mundur, kemudian lari tunggang-langgang menuruni gunung.

Ngrumbini tidak mengejarnya. Dengan menyarungkan pedangnya ia berbalik menghampiri Suskandari dan Lingga Wisnu. Ia bersyukur karena Suskandari sama sekali tidak terluka. Akan tetapi melihat Lingga Wisnu mandi darah, cepat-cepat ia membimbingnya pulang. Dengan tangannya sendiri ia membersihkan luka-lukanya dan mengobati dengan bubuk kuning semalam. Bocah itu itu ternyata mendapat dua luka. Syukur lukanya tidak berbahaya. Benar ia mengeluarkan banyak darah, akan tetapi t idak sampai membahayakan jiw anya.

"Kau rebah saja di pembaringan," kata Ngrumbini dengan suara terharu.

Suskandari segera menceritakan pengalamannya. Dan mendengar tutur kata puterinya, hati Ngrumbini bertambah terharu. Pikirnya di dalam hati :

'Sama sekali tak kusangka bahwa dia berhati mulia. Dia masih begini muda, akan tetapi gagah sekali. Kalau begitu aku harus menolongnya agar mendapat seorang guru yang tepat untuk menjangkau masa depannya. Oleh pikiran itu ia berkata kepada Lingga Wisnu :

"Lingga, kau t idur saja baik-baik. Sebentar malam kita berangkat."

Baik Suskandari maupun Lingga Wisnu heran mendengar perkataan Ngrumbini. Sebenarnya mereka ingin minta keterangan, akan tetapi Ngrumbini telah masuk kembali berkemas-kemas. Ia mempersiapkan dua buntalan dan menunggu datangnya sore hari. Setelah makan petang, bertiga mereka duduk menghadapi pelita. Pintu tidak dikuncinya. Ngrumbini nampaknya seorang wanita gagah yang tidak gentar menghadapi ancaman bahaya apapun juga. Kira-kira menjelang malam hari, tiba-tiba terdengarlah langkah kaki memasuki pekarangan. Ternyata dialah Ganjur, si gagu yang baik hati. Ia nampak angkar berw ibawa dan langkahnya ringan sekali. Jelaslah bahwa ia memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Ngrumbini menyambut kedatangannya dengan berdiri dari tempat duduknya. Ia berbicara dengan Ganjur dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya. GAnjur rupanya mengerti akan isyarat tangan Ngrumbini. Dia nampak memanggut-manggut.

"Paman Aria Puguh kau baw a ke mana?" tanya Lingga Wisnu minta keterangan. "Apakah dia tertolong?"

Ngrumbini segera menterjemahkan perkataan Lingga Wisnu. Setelah memperoleh jawaban, maka Ngrumbini mewakili Ganjur. Katanya:

"Dia dalam keadaan baik. Jangan engkau merasa khaw atir. Sekarang perkenankan aku berbicara denganmu."

Ngrumbini membawa Lingga Wisnu masuk ke dalam kamar. Dia duduk di atas pembaringan, sedangkan Lingga Wisnu berdiri di depannya.

"Lingga, duduklah disampingku," kata Ngrumbini sambil menarik tangan Lingga Wisnu dengan suara manis. "Begitu aku melihat dirimu, entah apa sebabnya hatiku berkenan sekali. itulah sebabnya engkau kupandang tak ubah anak kandungku sendiri. Tadi engkau telah berkorban demi Suskandari. Itulah budimu yang pertama kali yang tidak akan ku lupakan selama hidup. Malam ini kami hendak pergi ke suatu tempat yang jauh sekali. Karena itu pergilah engkau bersama paman Ganjur."

"Oh, jadi bibi tidak mengajak aku bersama?" Lingga Wisnu heran. "Kukira bibi tadi bermaksud mengajak aku pergi."

Ngrumbini menghela napas. Sahutnya:

"Sebenarnya tak sampai hatiku berpisah denganmu. Akan tetapi aku ingin Ganjur membawamu kepada seseorang. Dialah guru pamanmu, Aria Puguh. Baru beberapa bulan saja pamanmu Aria Puguh belajar ilmu kepadanya. Ternyata dia sudah memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi. Orang itu mempunyai ilmu kepandaian yang tiada bandingnya di jagad ini. Dan aku menginginkan engkau berguru kepadanya."

Mendengar kata-kata Ngrumbini, Lingga Wisnu terdiam. Hatinya tertarik. Tatkala hendak membuka mulutnya, Ngrumbini meneruskan :

"Seumur hidupnya, orang itu hanya mempunyai dua orang murid saja. Hal itu terjadi pada belasan tahun yang lampau. Walaupun demikian, sampai kini dia belum mau menerima seorang murid lagi. Kau seorang yang berbakat. Hatimu mulia pula. Aku percaya dia pasti akan menerimamu sebagai muridnya. Ganjur in i bujangnya. Itulah sebabnya, dengan perantaraannya aku mengirimkan engkau kepadanya: Kau pergilah dengan dia. Seumpama orang itu tidak sudi menerimamu sebagai muridnya, Ganjur akan membaw amu kembali kepadaku." 

Sampai disitu Lingga Wisnu telah mengambil keputusan. Dia memanggut. "Bagus" seru Ngrumbini gembira. "Sebelum bertemu dengan orang itu, baiklah kuberitahu tentang tabiatnya. Ia seorang aneh. Seumpama engkau tidak patuh kepadanya, segera ia membencimu sampai tujuh turunan. Sebaliknya, andaikata engkau terlalu menurut, diapun akan mencelamu habis-habisan. Dan pastilah engkau akan di katakan sebagai seorang anak yang sama sekali tak mempunyai semangat hidup. Maka kini segala- galanya tinggal terserah kepada nasibmu belaka. "

Ngrumbini meloloskan sebuah gelangnya dan dikenakan pada pergelangan tangan Lingga Wisnu. Ia memijitnya sedikit, sehingga gelang itu tidak akan lolos lagi dari pergelangan tangan si bocah.

"Di kemudian hari, apabila engkau sudah tamat, engkau akan menjadi seorang pemuda yang tinggi besar." kata Ngrumbini dengan tersenyum. "Janganlah engkau melupakan bibimu dan adikmu Suskandari,!"

"Akh, bibi bergurau," sahut Lingga Wisnu sungguh- sungguh, 'andaikata aku diterima sebagai murid, aku mohon dengan hormat, dikala   senggang   hendaklah bibi mengajak adik Suskandari datang menjengukku."

Kedua mata Ngrumbini berkaca-kaca. Hatinya terharu.

Jawabnya:

"Baik. Aku akan selalu teringat padamu."

Ngrumbini menulis sepucuk surat. Dan kemudian diserahkan kepada Ganjur. Setelah perbekalan selesai disiapkan, segera ia berkata memutuskan :

"Marilah kita sekarang berangkat!" Berempat mereka keluar rumah. Sesampainya di luar halaman mereka berpisah dalam dua jurusan. Masing- masing dengan tujuannya sendiri.

Suskandari bersama ibunya mengarah ke timur, sedang Ganjur mengajak Lingga Wisnu mengarah ke barat. Berat rasa hati Lingga Wisnu berpisah dari Ngrumbini dan Suskandari. Inilah perpisahan yang memilukan untuk yang ke enam kalinya! Yang pertama tatkala berpisah dengan eyang gurunya dan Sitaresmi. Yang kedua dengan Aruji, yang ketiga dengan keempat gurunya. Yang kelima dengan gurunya, Aria Puguh. Dan yang ke enam dengan Ngrumbini dan Suskandari.

Ganjur tahu bahwa Lingga Wisnu mengeluarkan banyak darah tatkala menderita luka. Karena itu ia memondongnya dan dibawanya lari cepat, tak perduli jalan pegunungan sempit dan licin. Kakinya melesat dengan gesit sekali. Ia melakukan perjalanan siang dan malam. Ia baru berhenti beristirahat   pada

larut malam. Tetapi bukannya di hotel atau di rumah

seseorang, melainkan di tengah-tengah tegalan atau di dalam goa-goa. Kalau ia memasuki pedusunan atau kota, semata- mata hanya untuk membelikan barang makanan bagi Lingga Wisnu. Dia sendiri hanya mengisi perutnya sekenanya saja.

Sering Lingga Wisnu minta keterangan tentang dusun- dusun yang dilalu inya atau ke mana arah tujuannya. Ganjur hanya menjawab dengan menudingkan tangannya ke arah depan. Dan setelah tiga hari, jalan yang ditempuhnya makin lama makin menjadi sulit. Pada waktu itu sampailah dia di sebuah pinggang gunung terjal. Jalanan hampir boleh dikatakan tiada. Untuk maju terus Ganjur menggunakan kedua .tangannya merayap atau merangkaki tebing. Kadang-kadang ia merambat lew at akar-akar pepohonan. Pada waktu itu Lingga Wisnu menggunakan kesempatan untuk melongok ke bawah. Hatinya ngeri luar biasa, karena di bawah kakinya adalah jurang yang dalamnya entah berapa ratus meter. Tak terasa ia memeluk leher Ganjur erat-erat karena takut terlepas. Dalam hatinya berdoa panjang dan pendek. Betapa tidak? Sekali terpeleset mereka berdua bakal jatuh di dalam jurang yang sangat dalam. Dan tamatlah riw ayat hidupnya ...

Hampir satu hari lamanya Ganjur memanjat dan merangkaki tebing-tebing terjal. Dan menjelang petang harinya, sampailah dia di sebuah puncak gunung yang tinggi. Lingga Wisnu diturunkan di atas batu. Waktu itu luka-lukanya sudah menjadi kering. Hanya di atas alisnya masih tertinggal luka kecil. Karena itu gerakan kaki dan lengannya tak terhalang lagi. Begitu berdiri di atas batu, segera ia melayangkan penglihatannya. Di depannya tergelar sebidang tanah lebar dengan dipagari hutan- hutan cemara yang tinggi-tinggi. Kesannya sangat indah dan menyenangkan.

Setelah beristirahat sejenak, Ganjur memondongnya lagi. Kemudian melanjutkan perjalanan. Hanya sekali itu ia tidak berlari-lari lagi seperti semula. Setelah melewati enam rumah batu, ia tersenyum gembira. Kesannya seperti seorang perantau yang melihat kampung halamannya kembali.

Di depan sebuah rumah batu, Ganjur membimbing Lingga Wisnu masuk ke dalam pekarangannya. Lantai rumah batu itu kotor dan banyak kayu-kayu yang malang melintang. Itulah suatu tanda bahwa rumah itu lama tiada penghuninya. Segera Ganjur menyapunya. Sekarang rumah batu itu nampak rapih dan menyenangkan. Terus saja ia menyalakan api dan memasak air dan nasi.

Puncak gunung itu tinggi. Perjalanannya sangat sukar pula. Entah bagaimana caranya, si gagu Ganjur dapat menyediakan beras dan lauk-pauk yang dibutuhkan. Lingga Wisnu boleh cerdas, akan tetapi tak mampu menjawab teka-teki itu.

Tiga hari tiga malam lamanya Lingga Wisnu berada dalam rumah batu itu dengan Ganjur. Bagi Lingga Wisnu hal itu merupakan suatu siksaan karena Ganjur tak dapat dielak berbicara. Setelah menjelang hari keempat ia jadi gelisah. Dengan gerakan-gerakan tangannya, ia mencoba berbicara dengan Ganjur. Ia mencoba minta keterangan kepadanya, kapan datangnya guru yang dijanjikan.

Ganjur rupanya mengerti pertanyaan Lingga Wisnu. Dia menunjuk ke bawah gunung. Mengira bahwa-guru yang dijanjikan itu berada di bawah gunung. Lingga Wisnu segera mengajak :

"Mari kita turun saja!"

Akan tetapi Ganjur menggelengkan kepalanya. Maka terpaksalah Lingga Wisnu berdiam saja meskipun hatinya sangat masgul. Hal itu disebabkan karena ia  merasa kesepian. Kalau saja ia bisa berbicara dengan Ganjur, hatinya agak terhibur meskipun berada di tempat yang sunyi dan sepi.

Pada suatu malam ia terperanjat dari tidurnya. Di depan matanya berkelebat cahaya terang. Segera ia menggeliat dan duduk ditepi pembaringan. Di depannya berdiri seorang tua membaw a lilin menyala. Orang tua itu berseri-seri wajahnya, tanda hatinya girang. 

Dasar otak Lingga Wisnu ce rdas, cepat cepat ia turun dari pembaringan. Lantas saja bersimpuh dihadapannya sambil berkata :

"Guru, akhirnya guru datang juga."

Orang tua itu tertaw a terbahak-bahak. Sahutnya : "Eh! Siapa yang mengidzinkan engkau memanggilku

sebagai gurumu? Bagaimana engkau bisa yakin bahwa aku akan menerimamu sebagai murid?"

Lingga Wisnu girang bukan kepalang. Oleh kata-kata orang tua itu, jelaslah sudah bahwa dia bakal diterima sebagai murid. Segera ia menjawab:

"Bibi Ngrumbini yang mengajari aku."

"Hmm!" orang tua itu mengeluh. "Artinya ia menambahi kesulitan lagi kepadaku."

Setelah menggerutu demikian, tiba-tiba ia tersenyum.

Katanya :

"Baiklah, mengingat mendiang ayahmu, aku bersedia menerimamu sebagai murid." Bukan kepalang girang Lingga Wisnu. Terus saja ia bersembah beberapa kali. Tetapi orang tua itu mencegahnya. Katanya:

"Cukup! Cukup! Sampai besok saja!"

Pada keesokan harinya, sebelum terang tanah, Lingga Wisnu sudah bangun dari tidurnya. Segera ia mencari Ganjur. Dan melihat kedatangannya, Ganjur girang bukan kepalang. Untuk menyatakan kegirangannya yang meluap-luap, ia mengangkat tubuh Lingga Wisnu dan dilemparkan tinggi-tinggi di udara dan ditanggapi dengan tangannya. Empat lima kali ia berbuat demikian, sehingga Lingga Wisnu terapung-apung di udara. Lingga Wisnu tahu, bahwa Ganjur ikut bergirang hati karena dirinya diterima menjadi murid. Lalu ia tertaw a cekikikan karena geli.

Guru besar itu segera keluar dari kamarnya, begitu mendengar suara tertaw a riuh. Menyaksikan lagak-lagu si gagu, ia menghampiri. Berkata kepada Lingga Wisnu :

"Bagus! Kau masih begini muda akan tetapi engkau mengerti perbuatan-perbuatan mulia dan gagah. Engkau telah menolong seorang perempuan. Sebelum engkau mengenal namaku, coba perlihatkan kepadaku, kepandaian apa yang telah kau miliki."

Lingga Wisnu menundukkan kepalanya. Wajahnya merah karena malu. Ia segan memperlihatkan ilmu kepandaiannya dihadapan orang tua itu.

"Jika engkau tidak sudi memperlihatkan ilmu kepandaianmu, bagaimana aku bisa mengajari dirimu?" kata orang tua itu sambil tertaw a. Sekarang barulah Lingga Wisnu mengerti dengan maksud orang tua itu. Terus saja menyahut:

"Baiklah, guru."

Setelah berkata demikian, ia mulai memperlihatkan ilmu sakti Sapu Jagad yang diperolehnya dari keempat gurunya dan Aria Puguh. Orang tua itu mengaw asi dengan pandang berseri-seri. Ia menunggu sampai Lingga Wisnu selesai dengan jurus yang terakhir, kemudian barulah dia tertaw a. Katanya :

"Pantas saja Puguh selalu memuji kecerdasanmu. Mulanya aku tidak percaya. Katanya, dia mengajarkan jurus-jurus Sapu Jagad baru beberapa hari saja kepadamu. Nyatanya engkau bisa melakukan begitu rupa. Bagus!"

Mendengar disebutnya nama gurunya, Aria Puguh. Lingga Wisnu tergerak hatinya. Sebenarnya ingin segera ia memperoleh keterangan tentang gurunya. Akan tetapi karena orang tua itu masih berbicara, tak berani ia memutuskan.

"Sekarang, bolehlah engkau mengenal namaku." kata orang tua itu.

"Mulai sekarang panggillah aku, Sambang Dalan"

Lingga Wisnu membungkuk hormat. Kemudian ia minta keterangan :

"Guru tadi menyebut nama paman. Di mana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja?"

Orang tua itu mengerinyitkan dahinya. Biasanya hatinya tidak senang apabila seseorang mengalihkan pembicaraan dengan tak seidzinnya. Akan tetapi mengingat bocah itu sangat memikirkan keselamatan gurunya, diam-diam ia menaruh perhatian. Pikirnya di dalam hati :

"Benar. Dia seorang anak yang mulia hatinya. Sama sekali ia tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Yang ditanyakan adalah keselamatan gurunya." Kemudian ia menjawab:

"Ia tak kurang suatu apa. Ia sudah kembali kepada pasukannya. Kini berada bersama-sama dengan Panglima Sengkan Turunan."

Lingga Wisnu girang bukan main. Hanya saja hatinya menyesal karena tak dapat bertemu lagi dengan gurunya, yang telah mewariskan ilmu sakti Sapu Jagad kepadanya.

"Baiklah," kata orang tua itu. "Karena kau sudah mengenal namaku, dan akupun telah menerimamu sebagai murid, marilah kita melakukan upacara di dalam."

Apa yang dinamakan upacara, bukanlah semacam upacara sembahyangan. Orang tua itu hanya mengeluarkan selembar kertas lukisan seorang ksatrya beroman alim dan agung. Sambil menyulut lilin ia berkata:

"Inilah gambar Pangeran Mangkubumi I yang kini sudah mengangkat senjata menuntut keadilan. Ksatrya inilah yang harus kau hormati dengan sedalam- dalamnya. Nah, perlihatkan hormatmu kepadanya!"

Lingga Wisnu segera bersimpuh di hadapan gambar itu. Ia bersembah berulangkali tiada hentinya sehingga membuat orang tua itu tertaw a terbahak-bahak. Katanya:

"Sudahlah, cukup!"

Masih saja ia tertaw a, atau t iba-tiba dilihatnya Lingga Wisnu bersembah kepadanya sambil berkata :

"Guru!"

Mau tak mau Kyahi Sambang Dalan menerima sembah calon muridnya itu. Katanya :.

"Mulai sekarang kau adalah muridku yang sah, Sebelum kau tiba di sini, aku mempunyai dua orang murid. Dengan demikian engkau adalah muridku yang ketiga. Terpautmu, sangat jauh dengan kedua kakak seperguruanmu itu. Hal itu disebabkan karena belasan tahun lamanya aku belum menemukan calon murid lagi yang berbakat seperti engkau. Kini sudah kuputuskan bahwa engkau menjadi murid penutup. Karena itu engkau harus belajar sungguh-sungguh agar di kemudian hari engkau bisa menjaga martabat perguruanmu."

Lingga Wisnu manggut berulangkali. Janjinya :

"Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan kehendak guru. Dan Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan pula kepadaku untuk bisa menjunjung tinggi martabat perguruan guru."

"Sudah kukatakan tadi, namaku Sambang Dalan. Orang-orang menyebut diriku Kyahi Sambang Dalan. Kau ingat-ingatlah namaku ini. Sebab aku tidak akan menyebutnya lagi dihadapanmu. Di kemudian hari apabila seseorang bertanya kepadamu siapa gurumu, engkau harus bisa menjawab dengan tepat. Jangan sampai kau lupakan namaku!"

Mendengar kata-kata gurunya, Lingga Wisnu tertawa geli di dalam hati. Tak pernah diduganya bahwa orang tua itu pandai juga bersenda gurau. Bukankah Ngrumbini berpesan kepadanya bahwa orang tua itu aneh tabiatnya.

Kyahi Sambang Dalan adalah rekan sejaman dengan Kyahi Basaman. Ia malang-melint ang dua puluh tahun lamanya tanpa tandingan. Karena tak senang menjual lagak, namanya tak begitu tersohor. Ia tidak memperdulikan hal itu. Ia malahan menjadi seorang pendekar yang senang hidup menyendiri. Tetapi terhadap Lingga Wisnu tiba- tiba timbullah rasa ibanya. Bocah ini yatim piatu, pantaslah dia harus dikasihani. Demikianlah pikirnya di daiam hati. Sebagai seorang pendekar besar, sudah tentu ia mendengar kabar tentang kegagahan Udayana. Ia kagum dan menghargai ayah Lingga Wisnu itu. Anak Udayana inipun berbakat bagus dan berotak cerdas. Tabiatnya mulia pula. Oleh pertimbangan-pertimbangan itu mendadak saja- lenyaplah tabiat anehnya. Ia tidak hanya menerima Lingga Wisnu sebagai muridnya akan tetapi bersedia bersenda-gurau pula.

"Kedua kakak seperguruanmu berusia jauh lebih tua dari padamu. Umurnya kini barangkali tigapuluh lima tahun lebih." kata Kyahi Sambang Dalan. "Malahan murid-murid mereka ada d i antaranya yang berusia lebih tua dari pada engkau Maka bisa kejadian mereka akan menyesali aku lantaran aku menerima seorang murid begini muda. Lebih celakanya lagi, apabila engkau tidak berhasil. Seumpama engkau kalah sewaktu diadu dengan murid-murid mereka, kedua kakak seperguruanmu pasti akan mencela diriku."

"Guru, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh," kata Lingga Wisnu dengan semangat berkobar-kobar. Kemudian mengalihkan pembicaraan: "Apakah paman Aria Puguh murid guru?"

"Puguh, salah seorang perw ira andalan Panglima Sengkan Turunan," jawab Kyahi Sambang Dalan. "Tiada waktunya untuk belajar lama-lama kepadaku. Aku hanya mengajari ilmu pukulan Sapu Jagad saja. Karena itu tak dapat dia disebut sebagai muridku." Ia berhenti sebentar, memalingkan pandangnya. Sambil menuding kepada Ganjur, ia meneruskan: "Lihat pulalah dia, Setiap kali kita berlatih, dia menyaksikan. Diam-diam ia menyimpannya di dalam ingatannya. Apa yang diingatnya bukan sedikit. Walaupun demikian, apabila dibanding dengan kedua muridku, bedanya seperti bumi dan langit."

Mendengar kata-kata Kyahi Sambang Dalan, Lingga Wisnu tercengang oleh rasa kagum. Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa perkasa si gagu itu. Kepandaiannya tinggi. Meskipun demikian ia hanya seorang pelayan yang dapat memiliki ilmu kepandaiannya itu dengan jalan mencuri pandang saja. Gurunya sendiri, Aria Puguh, hanya memperoleh pukulan ilmu sakti Sapu Jagad. Meskipun demikian gurunya itu seorang pendekar tangguh dan gagah sekali. Jika ilmu kepandaian mereka berdua hanya dikatakan sebagai satu kepandaian sambil lalu saja, maka betapa tinggi ilmu sakti Kyahi Sambang Dalan, sudah dapat dibayangkan. Diam-diam ia berpikir di dalam hati : 'Jika aku belajar dengan sungguh sungguh, meskipun tidak dapat menjajari kedua kakak seperguruanku, setidak-tidaknya aku akan bisa memiliki kepandaian setaraf dengan paman Ganjur. Kurasa itupun sudah cukup untuk kubuat bekal membalas dendam kematian ayah bunda.'

Dan oleh pikiran ini, ia menjadi girang sekali.

"Rumah perguruan kita ini bernama Sekar Teratai. Selanjutnya engkau bakal disebut orang sebagai kaum Sekar Teratai." kata Kyahi Sambang Dalan. Lalu meneruskan keterangannya :

"Kami kaum Sekar Teratai menpunyai berbagai peraturan yang keras. Selain peraturan peraturan keras, ada pula pantangan pantangannya. Yakni, pantang berbuat cabul, pantang melakukan kejahatan, pantang menjadi hamba sahaya musuh bangsa, pantang minum ganja dan lain lainnya. Di kemudian hari akan kujelaskan lebih lanjut lagi. Sekarang, resapkan segala pesanku kedalam perbendaharaan hatimu. Yang pertama, engkau harus patuh kepada perkataan gurumu! Dan yang kedua, jangan melakukan hal-hal yang tercela”

"Pasti aku akan patuh kepada setiap patah kata guru, dan aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang buruk," kata Lingaa Wisnu dengan suara berkobar-kobar.

Kyahi Sambang Dalan-girang mendengar janji Lingga Wisnu. Serunya:

"Bagus, anakku! Sekarang, marilah kita mulai berlatih. Puguh mengajari pukulan pukulan Sapu Jagad yang dilakukan secara selintas saja. Sebenarnya ilmu pukulan Sapu Jagad yang diajarkan kepadamu itu serupa dengan seseorang yang menyikat jalan panjang. Apabila engkau tidak mulai dari ujungnya atau t idak kau selami dari titik pangkalnya, di kemudian hari engkau tidak akan memperoleh kesempurnaan. Karena itu kini aku akan mengajarimu dengan ilmu sakti Sardula Jenar, sebagai pelajaran dasar dahulu."

"Sardula Jenar?" kata Lingga Wisnu heran. "Dahulu pernah aku memperolehnya dari paman Wirupaksa. Sama sekali t iada keistimewaannya."

"Oh, begitu? Seumpama benar demikian, kukira belum berarti." kata Kyahi Sambang Dalan. "Apakah engkau sudah merasa dapat mempergunakan ilmu Sardula Jenar? Jika merasa begitu, kau keliru jauh. Sebab, jika engkau sudah mahir memainkan ilmu sakti Sardula Jenar, hanya beberapa orang saja yang dapat mengalahkanmu."

Lingga Wisnu tercengang. Ia percaya keterangan gurunya itu. Karena itu tak berani lagi ia membuka mulutnya.

"Apakah engkau kurang yakin?" kata Kyahi Sambang Dalan. "Coba, kau lihatlah! Setelah itu tirukan!" Setelah berkata demikian, Kyahi Sambang Dalan lantas memberi contoh jurus-jurus Sardula Jenar. Dan Lingga Wisnu dengan penuh perhatian mengikuti setiap gerakan Kyahi Sambang Dalan. Semuanya mirip, sama sekali tiada bedanya dengan ajaran yang diperolehnya dari Wirupaksa. Ia jadi heran dan tidak mengerti. Apakah kehebatannya ilmu pukulan Sardula Jenar. Sedang Lingga Wisnu masih'berpikir pulang balik maka Kyahi Sambang Dalan menegurnya: "Apakah engkau mengira aku membohongimu? Mari kau coba. Kau serang aku. Apabila engkau bisa menyentuh ujung bajuku. Maka benarlah engkau dah mahir."

Tentu saja Lingga wisnu tak berani menyerang gurunya. Ia hanya bersenyum saja. Dan sama sekali tak bergerak dari tempatnya.

"Hayo, maju! Aku sudah mengajarimu salah satu jurus ilmu sakti Sardula Jenar."

Mendengar  bahwa gurunya mulai hendak memberi pelajaran. Lingga Wisnu  lantas   saja melompat masuk ke dalam gelanggang, dengan segera ia menyambar baju gurunya yang berpakaian

pendeta. Menurut perasaannya, ia bakal dapat menyentuhnya. Alangkah herannyaa! Setiap kali tangannya nyaris menyentuh ujung baju mendadak saja ujung baju gurunya itu mundur sendiri. lantas melompat menerkam tetapi justeru demikiaian ia kehilangan pengamatan. Tiba-tiba saja tubuh gurunya lenyap dari depannya.

"Aku di sini!" seru gurunya sambil tertaw a. Tangannya menerkam pundaknya. Ternyata ia berada di belakang punggungnya.

Lingga Wisnu mengasah otaknya. Dan cepat ia memutar tubuhnya. Kemudian dengan berjumpalitan ia menghampiri. Gerakannya gesit sekali. Kedua tangannya dipentang untuk memeluk. Tetapi ia hanya memeluk udara kosong melompong. Sama sekali tubuh gurunya tak dapat disentuhnya. Dan apabila ia berpaling, gurunya telah berada kira kira sepuluh langkah di belakang punggungnya.

Lingga Wisnu jadi penasaran. Ia melompat sekali lagi dengan gesit. Tangannya menyelonong ke depan. Dan pada saat itu gurunya tiba-tiba mengebaskan lengan bajunya. Dan tubuhnya ikut melesat. Dengan begitu ia menghindarkan terkaman Lingga Wisnu, sehingga bocah itu hanya menangkap angin.

Sekalipun begitu Lingga Wisnu tidak jadi berputus asa. Lantaran mendongkol, ia malahan jadi bersemangat. Kini ia tertaw a gembira. Ia mengejar, membiluk dan mengikuti gerakan gurunya. Tiba-tiba ia melihat si gagu menggerak-gerakan tangannya di luar gelanggang. Diam-diam ia memperhatikan. Mendadak saja hatinya tergerak. Katanya di dalam hati :

'Paman Ganjur menyuruh aku meniru gerakan guru melakukan ilmu sakti Sardula Jenar. Apakah maksudnya? Memang, guru bergerak dengan langkah langkah Sardula Jenar. Mengapa bisa begini gesit?'

Ia masih mengubar selint asan. Kemudian dengan perilahan-lahan ia mulai memperhatikan gerak-gerik gurunya. Karena otaknya cerdas luar biasa, sebentar saja telah dapat ia memahami semua gerakannya. Setelah merasa diri dapat menirukan, segera ia mencontoh gerakan gurunya. Lantas saja kegesitannya bertambah beberapa kali lipat. Kyahi Sambang Dalan semenjak tadi mengawasi gerak-gerik muridnya. Diam-diam ia manggut-manggut. Pikirnya di dalam hati :

'Anak ini benar-benar cerdas. Ia mengerti apa yang kukehendaki.'

Lingga Wisnu memperhebat pengejarannya karena kini bisa bergerak lebih sebat dan gesit. Akan tetapi gerakan gurunya pun bertambah gesit lagi, sehingga usahanya untuk menangkap atau menyentuh ujung baju gurunya menjadi sia-sia belaka. Tetapi Ganjur yang berada di luar gelanggang bergembira, karena mereka berdua bergerak bagaikan bayangan saja.

Beberapa saat kemudian, mendadak saja Kyahi Sambang Dalan melompat keluar gelanggang. Kemudian berbalik menubruk muridnya dan diangkatnya tinggi- tinggi diudara. Serunya sambil tertaw a :

"Murid yang- baik! Murid yang baik! Engkau seorang anak manis sekali!"

"Guru!" seru muridnya pula yang menjadi girang luar biasa. "Barulah kini aku sadar bahwa ilmu sakti Sardula Jenar tidak boleh dibuat gegabah."

"Bagus, anakku! Cukup sudah untuk hari ini," tungkas gurunya. Ia menurunkan tubuh muridnya sambil berkata lagi :

"Sekarang kau ulangi sendiri!"

Lingga Wisnu segera mengulangi jurus-jurus ilmu sakti Sardula Jenar. Setelah menperhatikan gerak-gerik Lingga Wisnu beberapa kali, Kyahi Sambang Dalan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tetapi Lingga Wisnu tak sudi beristirahat. Ia berlatih terus sampai belasan kali, sehingga makin lama makin mengerti guna faedahnya ilmu sakti Sardula Jenar. Ternyata ilmu sakti Sardula Jenar berpokok pada kegesitan dan kesebatan. Kesadaran ini membuat hatinya bertambah girang. Ia begitu girang sampai tak dapat tidur nyenyak pada malam harinya. Jurus-jurus berkelebatan di dalam benaknya, sehingga dalam mimpinya ia sedang berlatih dengan giat.

Keesokan harinya, tatkala fajar hari baru saja menjenguk di langit timur, Lingga Wisnu sudah bangun dari tidurnya. Terus saja ia melompat dari pembaringannya dan berlatih mengulangi jurus-jurusnya semalam. Ia takut lupa. Maka dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian ia berlatih seorang diri. Selagi tenggelam dalam latihannya, tiba-tiba ia mendengar batuk gurunya di belakang punggungnya. Segera ia berputar dan berseru girang :

"Guru!"

Kyahi Sambang Dalan tertaw a lebar. Sahut orang tua itu :

"Engkau telah paham dan mengerti dengan cepat sekali. Bagus, anakku! Tetapi sebenarnya engkau baru mengerti bagian atas. Bagian bawahnya belum. Karena bagian bawahmu masih kosong apabila menghadapi seorang lawan tangguh engkau bakal celaka. Beginilah seharusnya ..."

Setelah berkata demikian, Kyahi Sambang Dalan lantas menurunkan ilmu sakti Sardula Jenar bagian bawah. Serunya melanjutkan: "Sekarang, hayo kau tirukan!"

Lingga Wisnu segera menirukan gerakan gurunya. Berkat kecerdasan otaknya, ia dapat mengerti dengan cepat sekali. Dengan penuh tekun ia menyelami dan mendalami sehingga dalam waktu satu hari saja, pengertiannya bertambah pesat.

Bersambung ke jilid 5.

***00-dw-00***

Siapakah Kyahi Sambung Dalan sebenarnya? Ada hubungan apakah antara Kyahi Sambung Dalan dengan Kyahi Basaman?

Bagaimana dengan nasib Lingga Wisnu selanjutnya? Apakah tongkat mustika itu memang ada? Dan siapakah pemilik tongkat mustika yang sesungguhnya?

***00-dw-00***