Pedang Pembunuh Naga Jilid 35 (Tamat)

Jilid 35 (Tamat)

“HA HA HA, bocah, bau air tetekmu masih belum hilang, kau sudah berani berbicara dengan orang tua. Dengan sikapmu demikian, kau benar-benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi.”

“Jikalau aku mengatakan tidak bisa, bagaimana?” “Kau masih belum pantas mengucapkan perkataan ini di hadapanku!”

“Belum tentu!”

“Aku si orang tua tidak perlu banyak bicara denganmu.”

Setelah mengucapkan demikian, ia lalu mengacungkan tangannya, kemudian sesosok bayangan orang dengan cepat muncul di sampingnya. Ternyata ada seorang laki-laki pertengahan umur yang mukanya buruk sekali.

Laki-laki setengah umur itu dengan sinar matanya yang tajam mengawasi Hui Kiam, kemudian memandang Bu-lim Cin-kun.

Bu-lim Cin-kun lalu berkata dengan nada suaranya yang tak enak didengarnya:

“Bocah, sudahkah kau pikir masak-masak atau belum? Kalau kau suka meninggalkan pedangmu, aku akan mengampuni dosamu sehingga kau boleh keluar dari sini dalam keadaan hidup.”

“Sudah kupikir masak-masak, tidak bisa!” “Kau sudah tak ada kesempatan lagi lho!”

“Aku juga ingin mengatakan sekali lagi kepada tuan dengan sungguh-sungguh. Hidup atau mati hanya tergantung pada keputusan sendiri, harap tuan pikir baik-baik nasehatku tadi.”

”Ha ha ha, anak yang tak tahu diri.” “Jadi tuan tidak perlu menimbang lagi?”

“Aku sedang memikirkan dengan cara bagaimana harus membereskan kau.”

“Baik, inilah pengakuanmu sendiri. Kau jangan sesalkan bila aku sampai berlaku kejam terhadapmu.”

“Apa kau juga pantas mengucapkan demikian?” Sekali lagi ia memberi isyarat dengan tangannya kepada laki- laki muka buruk itu. Serta merta laki-laki muka buruk itu menyerbu Hui Kiam dengan gayanya bagaikan seekor singa menerkam kambing.

Dengan kecepatan bagaikan kilat kedua tangannya menyambar dengan gerak tipunya yang aneh dan ganas luar biasa.

Hui Kiam melesat mundur, hampir saja dirinya kesambar.

Laki-laki itu dengan suaranya yang terdengarnya hanya aa uu saja, untuk kedua kalinya melakukan serangannya. Dari suaranya itu dapat diketahui bahwa laki-laki bermuka buruk itu adalah seorang gagu.

Serangannya kali ini, lebih hebat dari serangan yang pertama. Hui Kiam menangkis dengan gerak tipunya yang ampuh,

membuat laki-laki muka buruk itu terpental mundur tiga empat

langkah.

Pada saat itu, jalanan yang menuju lembah itu terdengar suara tindakan orang berjalan. Hui Kiam bertiga tujukan matanya keluar pintu. Sebentar kemudian tertampak dua bayangan orang dengan cepat sudah tiba di hadapan mereka. Dua orang itu bukan lain daripada Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan.

Ketika dua orang itu tiba, Bu-lim Cin-kun lalu berkata sambil tertawa cekikikan:

“Kiranya yang datang hendak mencari mampus bukan hanya kau bocah seorang saja.”

Otang Tua Tiada Turunan berkata sambil memberi hormat: “Selamat bertemu.”

“Orang tua, beritahukan namamu.”

“Aku yang rendah adalah Orang Tua Tiada Turunan.” “Apakah kalian bertiga merupakan serombongan?” “Benar.”

“Kalian memilih tempat ini sebagai kuburan, benar-benar sangat tepat.”

Orang Tua Tiada Turunan memandang Hui Kiam, seolah-olah menanyakan hasil perundingannya.

Dengan nada suara dingin Hui Kiam berkata: “Cianpwee, tak ada gunanya kita berbicara dengannya.”

Dari ucapan pemuda itu, segera dapat diketahui bahwa pembicaraan mereka telah gagal.

Laki-laki gagu bermuka buruk itu, karena dua kali menyerang Hui Kiam telah gagal, nampaknya sangat penasaran. Otot-otot di pelipisnya nampak menonjol, matanya beringas, hanya saja yang dapat mengeluarkan aa uu kemudian melancarkan serangannya yang ketiga kalinya.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan aneh. Badan si gagu itu terhuyung-huyung, kemudian jatuh di tanah menyemburkan darah.

Bu-lim Cin-kun nampaknya marah sekali. Sepasang matanya memancar sinar yang menakutkan….

Pedang sakti di tangan Hui Kiam sudah balik dalam keadaan semula seperti bersiap-siap hendak melakukan serangan. Darah segar masih menetes dari ujungnya. Orang tidak tahu bagaimana tadi ia menghunus pedangnya dan melakukan serangannya.

Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan dengan serentak mundur beberapa langkah. Apa yang akan terjadi selanjutnya, sudah tidak perlu dikatakan lagi.

Bu-lim Cin-kun mulai menggerakkan kakinya. Gerakan itu perlahan tetapi mantap. Suasana di luar gubuk batu itu nampak tegang dan menyeramkan.

Hui Kiam masih berdiri tegak dengan sikapnya yang dingin bagaikan sebuah patung. Pedang di tangannya tampak gemetar. Ini suatu tanda bahwa ia telah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya ke awak pedang.

Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan yang berdiri di samping, hampir tidak berani bernapas.

Bu-lim Cin-kun dari dalam tenggorokannya mengeluarkan suara geram yang hampir tidak terdengar. Kemudian badannya bergerak dan tangannya melancarkan serangan.

Hui Kiam menyambuti serangan itu dengan gerak tipunya Bintang Beterbangan di Langit.

Bu-lim Cin-kun benar-benar seorang tokoh yang sangat tangguh. Serangannya tadi yang nampaknya sangat ganas ternyata hanya gerak tipu belaka, karena baru setengah jalan serentak dengan bergeraknya Hui Kiam, ia lompat melesat, sehingga serangan Hui Kiam yang sudah terkenal ampuhnya itu dielakkan dengan baik.

Ketika serangan Hui Kiam meluncur keluar, badan Bu-lim Cin- kun yang berada di tengah udara memutar, dan melancarkan serangan dari atas dengan kedua tangannya.

Di bawah serangan yang hebat itu Hui Kiam menarik kembali serangannya. Bu-lim Cin-kun masih tetap mengapung di tengah udara, bagaikan seekor burung raksasa berputaran di atas, kemudian melancarkan serangannya untuk ke dua kalinya.

Hui Kiam diam-diam terkejut. Gerak tipunya dirubah menjadi gerak tipu Satu Tiang Menunjang Langit, dari bawah mnyerang ke atas.

Gerak tipu ini merupakan gerak tipu yang paling aneh, juga yang paling hebat dalam tiga jurus ilmu pedangnya Hui Kiam, karena gerak tipu ini mengandung daya ofensif dan defensif yang sama-sama hebatnya.

Bu-lim Cin-kun dengan cepat melayang turun ke tanah, hingga serangan Hui Kiam kembali tidak berhasil mengenai sasarannya.

Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan yang menyaksikan itu berdebar hatinya. Ditinjau dari kepandaiannya Bu-lim Cin-kun ini ternyata tidak di bawahnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas. Kecuali pemimpin Bulan Emas dan Cin-kun, apakah masih ada orang yang bisa mengalahkan dua kali serangan Hui Kiam yang hebat, tanpa terluka?

Hui Kiam sudah tentu juga mengetahui bahwa orang tua yang sebagai lawannya itu merupakan lawan kuat kedua yang pernah ia dijumpainya sejak ia berhasil mendapat kepandaiannya yang sekarang ini.

Sebaliknya Bu-lim Cin-kun terlebih-lebih terkejutnya karena kepandaiannya sendiri yang dianggapnya tanpa tandingan, ternyata masih selisih sedikit dengan seorang anak muda saja.

Hui Kiam sudah kembali lagi dengan sikapnya semula, ujung pedang menunjuk ke bawah. Persiapan melakukan serangan dengan sikap demikian itu jarang tampak dalam pelajaran ilmu silat.

Badan Bu-lim Cin-kun mendadak menunduk. Bentuk badannya yang memang sudah pendek dan kurus nampaknya semakin pendek kecil bagaikan satu anak-anak yang tingginya tidak lebih dari tiga kaki. Tetapi Hui Kiam tak berani berlaku gegabah, karena perubahan sikap semacam ini adalah permulaan untuk menggunakan semacam ilmu kepandaian tunggal.

Memang benar demikian halnya. Bu-lim Cin-kun setelah menundukkan badannya, kedua tangannya bergerak berulang- ulang membuat satu lingkaran....

Dari gerakan itu meghembuskan kekuatan hawa memutar bagaikan gelombang arus atau badai yang menggulung hebat. Hui Kiam menggerakkan pedang saktinya. Ia ingin menggunakan kekuatan hawa pedangnya untuk melawan kekuatannya yang bagaikan badai itu. Tapi kekuatan hawai bagaikan badai itu sudah tentu mempunyai semacam kekuatan untuk menahan kekuatan lawannya dengan demikian hingga pedang sakti Hui Kiam kehilangan kegesitannya dan hilang pula daya kekuatannya.

Kekuatan hawa bagaikan badai itu menggulung semakin hebat, sehingga menimbulkan gelombang yang amat dahsyat.

Karena hebatnya gelombang itu, sehingga banyak pohon bambu yang terjebol berikut akar-akarnya.

Badan Hui Kiam ikut terbawa berputaran. Betapapun ia berusaha, masih tidak berhasil menahan arusnya kekuatan itu.

Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan yang sementara itu sudah mundur ke tempat sejauh tiga tombak, hanya dapat menyaksikan keadaan itu dengan perasaan gelisah. Apabila Hui Kiam tidak dapat melawan, nasib mereka juga sangat berbahaya.

Ie It Hoan berkata dengan hati cemas:

“Cianpwe, toako nampaknya sudah tidak berdaya sama sekali menghadapi serangan aneh orang tua itu.”

“Dia tidak mungkin dikalahkan dengan mudah!” “Itu kepandaian ilmu apa?”

“Kepandaian ilmu silat tidak ada batasnya.   Ilmu kekuatan yang baru setiap waktu ada orang yang berhasil menciptakan, terutama ilmu kepandaian yang merupakan ciptaan tunggal semacam ini, kecuali penciptanya sendiri jarang diketahui oleh orang lain. Orang tua itu sudah mengasingkan diri beberapa puluh tahun lamanya, siapa yang tahu itu adalah kepandaian apa?”

“Apabila toako. ” Ucapan Ie It Hoan yang belum dijelaskan itu, tetapi sudah cukup dimengerti oleh Orang Tua Tiada Turunan, hingga dalam hati diam-diam juga bergidik. Ia ingat akan tugasnya dalam perjalanan ini gagal atau berhasilnya ikut menyangkut nasib seluruh rimba persilatan, maka dengan cara bagaimana ia dapat membiarkan begitu saja? Apabila ia menantikan sampai Hui Kiam benar-benar dikalahkan semua telah terlambat….

Karena berpikir demikian, maka ia segera memasang kuda- kuda. Seluruh kekuatan tenaga dalamnya dipusatkan di kedua tangannya, kemudian dilancarkan ke dalam gulungan hawa itu.

Dengan kekuatan tenaga Orang Tua Tiada Turunan yang dilancarkan sepenuh tenaga, dapat dibayangkan betapa hebatnya kekuatan itu. Akan tetapi tidak demikian kenyataannya. Ketika kekuatan tenaga itu meluncur keluar dan beradu dengan kekuatan hawa dalam ke gelombang itu, seketika telah musnah tanpa bekas. Yang lebih mengherankan ialah serangannya orang tua itu sebaliknya malah membantu kekuatan tenaga yang menggulung, sehingga badan Hui Kiam berputar semakin cepat.

Ie It Hoan yang melihat gelagat tidak baik lantas berseru supaya Orang Tua Tiada Turunan menghentikan serangannya.

Orang Tua Tiada Turunan juga sudah mengetahui keadaannya yang aneh itu.   Ia sangat terkejut dan terheran-heran, seketika itu ia berdiri tanpa berdaya.

Hui Kiam yang berputaran merasa pusing kepalanya, keringatnya mengucur membasahi sekujur badannya. Tidak usah dikata bagaimana gelisah pikirannya, tetapi ia tidak boleh mengendorkan kekuatannya. Ia harus menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk melawan tenaga hawa yang berputaran itu, jikalau tidak ia pasti akan berputar terus tanpa daya. Ia tahu apabila kekuatan tenaga dalamnya sudah habis, hanya tinggal menunggu kematiannya saja. Dalam keadaan yang demikian otaknya terus bekerja untuk mencari jalan dengan cara bagaimana harus menggagalkan serangan musuhnya yang aneh itu…. Dalam keadaan demikian, pedang sudah kehilangan khasiatnya, gerak tipunya juga tidak dapat digunakan sama sekali.

Akan tetapi Hui Kiam bertiga tidak tahu, pada saat itu yang paling gelisah bahkan justru Bu-lim Cin-kun sendiri, karena menggunakan ilmu semacam itu kekuatan tenaga murni yang dihamburkan sesungguhnya tidak sedikit. Ia sungguh tidak menduga bahwa Hui Kiam mempunyai daya bertahan demikian hebat sampai dapat bertahan demikian hebat. Ia sampai dapat bertahan sekian lama masih belum dapat ditundukkan oleh kekuatan hawa yang memutar itu. Apabila keadaan demikian itu berlangsung lebih lama ia sendiri pasti tidak sanggup melanjutkan serangannya lagi. Apabila hal itu telah terjadi, karena kekuatan tenaga murninya sudah hampir habis, bagaimana dapat menahan serangan balasan lawannya?

Hui Kiam yang memutar otak untuk mencari jalan keluar, akhirnya diketemukannya suatu jalan yang paling tepat.   Tetapi ia harus berani menempuh bahaya karena mati hidupnya tergantung dengan tindakannya kali ini berhasil atau tidaknya menggagalkan serangan lawannya yang aneh itu.

Ia mulai pusatkan kekuatan tenaga dalamnya, tetapi menghentikan daya perlawanannya sehingga badannya berputaran bagai titiran.

Bu-lim Cin-kun sangat girang sehingga memperdengarkan suara tertawanya yang bangga.

Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan terkejut. Wajah mereka berubah seketika. Dengan tanpa sadar sudah mengeluarkan jeritan terkejut.

Hui Kiam yang membiarkan dirinya diputar demikian hebat, dengan tiba-tiba ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya lalu memutar badannya lalu melesat keluar dari gelombang putaran tenaga itu. Setelah berada di luar gelombang tenaga, dengan cepat memasukkan pedang ke dalamnya kemudian dengan kedua tangan ia melancarkan serangan dengan menggunakan ilmunya Thian Khie sin Ciang.

Ilmu Thian Khie sin Ciang ini mempunyai daya luar biasa. Apabila menemukan daya pertahanan lebih kuat, pengaruhnya daya membalik semakin hebat.

Setelah serangan Hui Kiam meluncur keluar, tiba-tiba terdengar suara ledakan hebat bagaikan gunung pecah.

Setelah suara ledakan itu sirap, mulut dan hidung Bu-lim Cin- kun mengeluarkan banyak darah, sekaligus kumis dan jenggot putih telah berubah merah seluruhnya. Sepasang matanya memancar sinar buas yang menakutkan, wajah tuanya yang penuh keriput di pipinya diliputi perasaan seram.

Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan waktu itu baru merasa seperti terjatuh dari tengah udara.

Hui Kiam menghampiri Bu-lim Cin-kun. Ia berkata dengan nada suara yang dingin:

“Mengingat kau adalah seorang tokoh terkuat dari angkatan tua, aku tak ingin kau binasa di ujung pedangku ”

Orang Tua Tiada Turunan lalu berkata dengan suara keras: “Bunuh saja!”

Hui Kiam berpaling dan mengawasi sejenak kepada Orang Tua Tiada Turunan, kemudian melanjutkan kata-katanya:

“Toako boleh totok jalan darahnya sendiri. Musnahkan semua kepandaianmu, baik-baik melewatkan sisa hidupmu.”

“Bocah, tidak bisa!” jawab Bu-lim Cin-kun bengis. “Apakah kau ingin aku turun tangan?”

“Kau boleh turun tangan, tetapi kau harus menerangkan dulu sebab-sebabnya.” “Sebabnya? Sederhana sekali, sebab tuan sudah menerima baik permintaan Thian Hong akan turun gunung dan membantu usahanya melakukan kejahatan di dalam rimba persilatan.”

“Hanya itu saja?”

“Itu saja sudah cukup.”

“Ha ha ha. Bocah, tahukah kau apakah aku sudah pasti suka dijadikan alat orang lain?!”

“Tetapi kau tadi tokh bisa menerima baik sendiri.”

“Terima baik adalah satu hal sendiri, tetapi aku melakukan atau tidak itu adalah soal lain.”

“Ucapanmu ini sesungguhnya sangat merendahkan kedudukanmu sebagai orang rimba persilatan.”

“Aku sekarang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Kalau kau hendak turun tangan tidak perlu mencari alasan banyak-banyak.”

Hui Kiam sebaliknya merasa serba salah. Ia dengan orang tua itu tidak mempunyai permusuhan apa-apa hingga benar merasa berat untuk mengambil jiwa orang tua yang usianya sudah lanjut semacamnya.

Ie It Hoan berkata dengan nada suara dingin:

“Toako, apabila kau tadi tidak berhasil mengalahkannya, pada saat ini kita bertiga sudah tamat riwayatnya. Tiada seorangpun yang akan berbicara soal jiwa ‘besar’ denganmu.”

Orang Tua Tiada Turunan menyambungnya:

“Karena perasaan kasih sayangmu, nanti akan membawa bencana seluruh rimba persilatan!”

Ie It Hoan berkata pula:

“Toako, jenazah enci Un masih belum dingin.” Ucapan itu membangkitkan kebencian dan amarah Hui Kiam. Ia teringat tulisan darah di dinding batu. Darah itu adalah darah Pui Ceng Un, sucinya sendiri. Tiba-tiba ia berubah bagaikan orang lain, wajahnya yang dingin diliputi oleh hawa nafsu pembunuhan. Dia ingat bahwa Tong-hong Hui Bun hendak membunuh habis orang-orang yang ada hubungan dengan dirinya, mengapa ia sendiri tak boleh membunuh orang-orang yang ada hubungan dengan Persekutuan Bulan Emas?

Sekejap kemudian, pedang saktinya sudah berada dalam tangannya.

Bu-lim Cin-kun mundur satu langkah.

Hui Kiam tidak berkata apa-apa lagi. Kebencian dan nafsunya membunuh telah bangkit kembali karena kematian Pui Ceng Un yang sangat menyedihkannya. Pedang di tangannya sebentar digerakkan dan dimasukkan kembali ke sarungnya.

Bu-lim Cin-kun hanya menjerit sebentar, batok kepalanya sudah jatuh menggelinding di tanah sejauh satu tombak, tubuhnya perlahan-lahan jatuh di tanah.

Orang Tua Tiada Turunan berpaling dan berkata kepada Ie It Hoan:

“Beset kulit muka berikut rambut kepalanya mereka berdua yang merupakan guru dan murid!”

“Beset kulit mukanya untuk apa?” Ie It Hoan balas bertanya dengan perasaan heran.

“Kau lakukan dulu nanti baru bertanya lagi. Ini adalah usul setan tua pemabukan, tak ada hubungannya denganku.”

Apa boleh buat, Ie It Hoan melakukan perintah orang tua itu. Orang Tua Tiada Turunan lalu berkata kepada Hui Kiam: “Mari kita beristirahat di dalam rumah!” Hui Kiam menurut bersama-sama orang tua itu masuk ke dalam rumah aneh yang terbuat dari batu itu. Ia masih dapat melihat bahwa kotak kayu merah masih ada di atas meja, lalu bertanya:

“Cianpwe, benda apa yang dinamakan Liat- yan-cie itu?” “Apa katamu?”

'“Liat-yan-cie!”

“Dari mana kau dengar nama itu?”

“Nah!   Itu adalah benda yang berada di dalam kotak merah ini. Barang itu merupakan barang hadiah yang dibelikan oleh pemimpin Persekutuan Bulan Emas kepada Bu-lim Cin-kun!”

“Oh! Barang semacam ini boleh dikata adalah barang pusaka sangat berharga yang jarang ada. Aku juga hanya pernah dengar saja namanya tetapi belum pernah melihat rupanya.”

Ia lalu membuka kotak merah itu.   Bau harum yang keluar dari dalam kotak itu dalam waktu sekejap sudah memenuhi dalam ruangan batu itu. Di dalam kotak itu, ada sebatang rumput aneh yang rupanya seperti batu kumala putih bersinar bening.

Hui Kiam setelah melihatnya barang aneh itu, karena tertarik oleh perasaan ingin tahu maka ia bertanya pula:

“Di mana berharganya Liat-yang-cie ini?”

Orang Tua Tiada Turunan itu berkata sambil menghela napas:

“Durhaka, tetapi tokh masih terhitung barang berharga.” “Yang boanpwe tanyakan adalah apa sebabnya barang ini

dianggap berharga?”

“Di jaman purbakala setiap raja rnempunyai banyak istri dan selir, kaisar itu kebanyakan menggunakan Liat-yang-cie ini tetap malam hidup bersenang-senang dengan para selirnya yang berjumlah banyak. Sekalipun lelaki yang usianya sudah lanjut dan tenaganya sudah berkurang tetapi setelah makan barang ini, segera pulih lagi tenaga kekuatan mudanya. Bagaimana khasiatnya barang ini kau tentunya bisa mengerti sendiri. Bu-lim Cin-kun ini yang merupakan orang tiada mempunyai pendirian tentu, bagaimana tidak tergerak hatinya?”

Hui Kiam setelah berpikir sejenak, lalu memukul hancur kotak itu berikut isinya, kemudian berkata:

“Barang ini ditinggalkan bisa membawa bencana, sebaiknya dihancurkan saja.”

Orang Tua Tiada Turunan menganggukkan kepala memuji tindakan pemuda itu.

Hui Kiam tiba-tiba ingat sewaktu di dalam ruangan kamar rahasia Orang Berbaju Lila pernah mengajukan pertanyaan kepada Orang Tua Tiada Turunan, kemudian karena diserang secara mendadak oleh pemimpin Persekutuan Bulan Emas, sehingga orang tua itu belum sempat menjawabnya dan kinilah merupakan kesempatan yang paling baik, maka ia segera mengajukan lagi pertanyaan itu:

“Cianpwe, boanpwe hendak mengajukan pertanyaan hari itu. Tolong cianpwe beri tahukan apakah benar ayah almarhum dahulu pernah mempunyai hubungan suami istri dengan Tong- hong Hui Bun?”

Sejenak Orang Tua Tiada Turunan itu melengak, kemudian berkata:

“Mengapa kau selalu menanyakan soal itu?”

“Boanpwe harus mengetahui dengan pasti, ya atau tidak?” “Apakah kau tak percaya dengan perkataanku?”

“Bukan tidak percaya. Karena urusan ini sangat penting, maka boanpwe ingin mendapat bukti yang nyata.”

“Kau ingin mendapatkan bukti orang atau bukti barang?” “Yang manapun juga boleh.”

“Soal ini boleh dibicarakan lagi setelah selesai urusan Persekutuan Bulan Emas!”

“Boanpwe ingin tahu sekarang juga!”

Dengan sinar mata tajam orang tua itu menatap wajah Hui Kiam, kemudian berkata dengan suara berat:

“Apakah. kau dengannya benar-benar….”

Ia tidak melanjutkan perkataannya. Sudah terang ia harap supaya Hui Kiam mengerti sendiri lalu memberikan jawabannya.

Hati Hui Kiam merasa perih tetapi ia berusaha menenangkan pikirannya, lama baru ia berkata:

“Boanpwe hanya ingin membuktikan rahasia ini!” “Tetapi kau masih belum menjawab pertanyaanku.”

“Boanpwe juga belum memberikan bukti kepada boanpwee!” “Ini ”

“Cianpwe, maaf boanpwe hendak berterus terang, apakah dalam soal ini masih ada hal-hal yang perlu dirahasiakan?”

“Apakah maksudmu itu hendak menanyakan mengandung maksud lain?”

“Memang benar boanpwe berpikiran demikan. Misalnya ayah dahulu benar pernah mempunyai hubungan suami istri dengan perempuan hina itu, mengapa di dalam dunia Kang-ouw tiada orang yang mengatakan, sedangkan kedua pihak merupakan bukan orang yang tak terkenal namanya. ?”

“Adakalanya ada sesuatu urusan belum tentu bisa tersiar di kalangan Kang-ouw, apabila orang-orang yang bersangkutan sengaja merahasiakan perbuatannya.”

Perasaan curiga Hui Kiam semakin besar. Dalam hatinya mengharap bahwa soal itu merupakan desas-desus yang sengaja disiarkan oleh orang-orang tertentu, dengan maksud tertentu pula. Maka ia bertanya lagi:

“Perkataan cianpwe yang semula, apakah ini berdasar?” “Sudah tentu!”

'“Boanpwe ingin tahu!”

Orang Tua Tiada Turunan berpikir sejenak, lalu berkata: “Apabila aku kata benar ada kejadian itu, apakah kau hendak

merubah pendirianmu itu?”

Hui Kiam memikir bolak-balik pertanyaan orang tua itu. Akhirnya ia menarik suatu kesimpulan, bahwa apa yang diduganya semula ternyata tidak salah. Kiranya Orang Tua Tiada Turunan, Orang Berbaju Lila dan Orang Menebus Dosa merupakan orang-orang sehaluan. Perkataan mereka yang diucapkan kepadanya tak lain hanya untuk memperteguh tekadnya sendiri untuk melawan Persekutuan Bulan Emas.

Dikhawatirkan karena hubungannya dengan anak perempuan persekutuan itu sehingga merubah pendiriannya, lagi apabila ditimbang dengan pikiran waras betapapun rendah moralnya Tong-hong Hui Kiam juga tidak akan melakukan perbuatan amoral terhadap seorang laki-laki yang diketahui sebagai anak tirinya sendiri.

Karena berpikir demikian, hatinya mulai lega.   Tetapi urusan ini masih perlu dibikin terang, maka ia segera berkata:

“Perempuan hina itu sekalipun mati seratus kali juga dapat mengimbangi dosanya, bagaimana boanpwee sampai berubah pendiriannya?”

“ltu bagus!” “Akan tetapi…”

“Akan tetapi apa?”

“Biar bagaimana soal ini harus dibikin terang!” “Tentang ini harap kau sabar dulu, biar Orang Menebus Dosa yang memberi keterangan kepadamu. Kau pikir bagaimana?”

Hui Kiam diam-diam berpikir, jawaban orang tua ini terang hendak mengelakkan tanggung jawabnya, tetapi agar supaya jangan sampai menyulitkan kedudukan orang tua itu, terpaksa ia menerima baik.

Siapakah sebetulnya Orang Menebus Dosa? Hingga saat itu ia masih belum tahu sama sekali.

Pada saat itu Ie It Hoan dengan kedua tangan berlumuran darah masuk ke dalam rumah. Dengan muka masam ia berkata kepada Orang Tua Tiada Turunan:

“Cianpwee, dua lembar kulit muka dua orang itu, boanpwee sudah beset semuanya.”

“Masih ada dua pekerjaan yang kau harus lakukan. Pertama, kau buka pakaian korban itu, kemudian kubur jenazahnya, jangan meninggalkan bekas. Kedua, dua lembar kulit muka itu kau segera membuatnya menjadi kedok muka.”

Ie It Hoan berkata sambil mengerutkan keningnya:

“Untuk membuat kedok kulit manusia memerlukan banyak waktu….”

“Ini juga usul dari suhumu. Tidak perduli menggunakan berapa banyak waktu, kau harus kerjakan. Pergilah, jangan banyak bicara!”

Ie It Hoan terpaksa berlalu dengan perasaan segan. Hui Kiam dengan pikiran terheran-heran bertanya:

“Membuat kedok kulit manusia dengan kulit muka Bu-lim Cin- kun dan muridnya, sebetulnya untuk apa?”

Orang Tua Tiada Turunan menunjukkan tertawanya yang misterius kemudian berkata: “Besar sekali gunanya. Kau segera dapat mengetahui dirinya sendiri. Dan sekarang adalah menjadi giliranmu untuk memberitahukan kepadaku urusan yang kau bicarakan di tengah jalan itu….”

“Cianpwee maksudkan apakah urusan di gunung Kui-im-san itu?”

“Benar.”

Lama Hui Kiam menenangkan pikirannya, kemudian baru berkata:

“Ketika suci pergi ke Gua Raja Iblis untuk minta tumbuhan Hiat-ay, pernah menerima baik permintaan penghuni gua itu. Soal itu sekarang boanpwe sampaikan kepada locianpwe!”

“Apakah urusan itu ada hubungannya denganku?”

“Ya, penghuni gua itu ingin sekali bertemu muka dengan cianpwee!”

“Apa? Ingin bertemu muka denganku?” “Ya!”

“Siapa penghuni gua itu?”

“Nanti setelah cianpwe bertemu muka dengannya segera dapat mengetahuinya sendiri.”

“Apakah Pui Ceng Un pernah menyebut ada maksud apa penghuni gua itu ingin bertemu muka denganku?”

“Hal ini... ia hanya mengatakan bahwa penghuni gua itu adalah kawan lama cianpwe, di samping itu juga minta supaya boanpwee mengawasi cianpwee pergi bersama-sama!”

Orang Tua Tiada Turunan berpikir sejenak, kemudian berkata: “Apakah dari sini untuk ke sana tidak jauh perjalanannya?” “Tidak jauh! Ie It Hoan tahu jalannya.” “Baiklah, setelah urusan di sini selesai, kita pergi bersama- sama.”

Hui Kiam diam-diam merasa bersedih memikirkan nasib orang tua itu, tetapi ia tidak boleh mengutarakan apa-apa lebih dulu kepadanya.

Ie It Hoan setelah mengumpulkan jenazah dua orang itu, mulailah pekerjaannya membuat kedok kulit manusia. Tiga orang itu makan ransum kering yang telah dibawanya dan bermalam di dalam gubuk itu. Esok harinya, pembuatan kedok kulit manusia telah selesai.

Orang Tua Tiada Turunan menyuruh Ie It Hoan membawa bekas pakaian Bu-lim Cin-kun dan muridnya, kemudian keluar dari lembah itu melanjutkan perjalanannya ke gunung Kui-im- san.

Di waktu senja, mereka sudah berada di gunung itu. Ie It Hoan lalu berkata:

“Keadaan alam di tempat ini sangat aneh, gunung seolah-olah bertumpukan dengan gunung lain lembah terdapat di sana-sini, seolah-olah suatu barisan gaib yang membingungkan. Dahulu hampir saja aku tidak dapat keluar dari tempat ini. Daripada kita menempuh bahaya, lebih baik minta toako menyampaikan kabar kedatangan locianpwe dengan menggunakan suara yang disampaikan dengan kekuatan tenaga dalam, minta supaya penghuni gua itu keluar untuk menemui.”

Hui Kiam mengawasi Orang Tua Tiada Turunan sejenak, seolah-olah minta pendapatnya.

Orang Tua Tiada Turunan itu menganggukkan kepala dan berkata:

“Begitupun boleh, kita harus minta bertemu menurut aturan, jangan sampai kehilangan muka!” Hui Kiam lalu memusatkan kekuatan tenaga dalamnya dan berkata ke dalam lembah:

“Orang yang tongcu minta datang, kini ingin bertemu!” Berulang-ulang hingga tiga kali ia mengucapkan perkataan itu,

kemudian berdiam menantikan jawabannya.

Tidak lama kemudian dari dalam lembah terdengar suara seolah-olah menusuk telinga.

“Beritahukan namanya orang yang datang itu!”

Hui Kiam lalu minta Orang Tua Tiada Turunan yang memberitahukan namanya sendiri.

Orang Tua Tiada Turunan itu lalu berkata:

“Aku adalah Orang Tua Tiada Turunan!” “Nama aslimu?”

Hui Kiam segera berkata:

“Cianpwe harus memberitahukan nama dan julukan yang dahulu.”

Wajah orang tua itu berkernyit beberapa kali, jelas ia merasa berat untuk menyebutkan nama asli dan julukannya yang lama. Setelah berdiam sebentar, ia balas bertanya:

“Sahabat siapa? Mengapa tidak memberitahukan namamu lebih dahulu?”

Dari dalam lembah itu terdengar suara yang kedengarannya sangat aneh:

“Tidak salah, aku kenali suaramu. Masuklah!”

Orang Tua Tiada Turunan sejenak merasa ragu-ragu kemudian berjalan menuju ke lembah.

Hui Kiam memberi isyarat kepada Ie It Hoan supaya menunggu, kemudian ia sendiri lompat melesat bagaikan burung elang melayang di belakang Orang Tua Tiada Turunan. Ketika memasuki jalanan yang kedua sisinya terapit oleh bukit, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras:

“Berhenti!”

Tetapi hanya terdengar suaranya, tidak tampak orangnya.

Orang Tua Tiada Turunan dan Hui Kiam lalu berhenti bertindak.

Terdengar pula suara orang tadi.

“Siapa anak muda itu? Aku hanya hendak bertemu dengan seorang saja.”

Hui Kiam buru-buru berkata:

“Boanpwe Hui Kiam, sute Nona Pui yang hari itu datang kemari dan kemudian telah menerima janji locianpwee untuk mencari jejak seseorang. Dia sudah mendapat kecelakaan, dalam pesannya minta boanpwe supaya bersama locianpwe ini datang untuk memenuhi janji!” 

“Tidak usah, kau keluarlah.”

“Riwayat cianpwe dan segala-galanya sudah diberitahukan oleh sucie almarhum, rasanya tidak perlu dirahasiakan lagi. Sucie almarhum minta boanpwee datang bersama-sama dengan locianpwee ini untuk memenuhi janji. Betapa pedih perasaannya, mungkin cianpwee dapat membayangkan sendiri.”

Sunyi, tak terdengar suara jawaban apa-apa. Dengan perasaan terheran-heran Orang Tua Tiada Turunan memandang Hui Kiam, kemudian dengan tiba-tiba ia berseru.

Cepat ia lompat melesat dengan diikuti oleh Hui Kiam.

Di hadapan mereka samar-samar tampak sesosok bayangan orang, agaknya sedang menunjuk jalan. Hui Kiam diam-diam memperhatikan jalanan yang dilalui supaya jika perlu dapat meloloskan diri. Tidak berapa lama, tibalah di hadapan sebuah gua. Di mulut gua itu terpancang sebnah tulisan yang menyolok: GUA RAJA IBLIS.

Dengan tanpa ragu-ragu Orang Tua Tiada Turunan lari masuk ke dalam gua. Hui Kiam tetap mengikuti di belakangnya.

Dalam gua itu nampak duduk seorang perempuan berkerudung dengan pakaiannya beraneka warna.

Orang Tua Tiada Turunan begitu masuk ke dalam, ketika berhadapan dengan wanita berpakaian beraneka warna itu, sekujur badannya gemetar lemas tidak bisa membuka mulut.

Hui Kiam berdiri di sampingnya dengan mulut membisu. Ia merasa tidak perlu turut bicara, sebab ia sudah mengetahui seluruh kisahnya.

Wanita berkerudung itu berkata dengan suaranya yang lirih tetapi penuh emosi:

“Cho Hong, mengapa kau tidak bicara?”

“Ada keperluan apa kau minta aku datang kemari?” “Hendak bicara sepatah kata saja denganmu!” “Hanya untuk keperluan bicara sepatah kata saja?” “Ya.”

“Katakanlah.”

Dengan suara sedih wanita itu berkata:

“Aku salah. Aku berdosa. Seharusnya aku sudah lama mati untuk menebus dosaku, tapi karena aku ingin supaya kau tahu bahwa aku sudah menyesali, maka aku bertahan dan hidup terus hingga hari ini. Selama beberapa tahun ini, aku hidup merana, hidup dalam kemenyesalan, tetapi semua itu kuanggap sebagai pembalasan atas perbuatanku. Aku tidak minta ampun kepadamu, juga tak berhak untuk mendapat ampun, aku ingin menebus dosaku di hadapanmu.” Badan Orang Tua Tiada Turunan gemetar semakin hebat. Wajahnya yang sudah keriputan berkernyit beberapa kali, sepatah katapun tak keluar dari mulutnya. Kita tidak tahu bagaimana perasaannya pada waktu itu, entah sedih ataukah gemas?

Wanita berkerudung itu tidak terdengar suaranya lagi. Ia duduk tenang bagaikan patung.

Lama sekali, barulah Orang Tua Tiada Turunan membuka mulut:

“Hong Gie, apakah hanya itu beberapa patah kata saja?” Tiada jawaban.

Hui Kiam tiba-tiba berteriak: “Darah!”

Darah merah, setetes demi setetes menetes turun dari wajah wanita yang tertutup oleh kain kerudung.

Tubuh Orang Tua Tiada Turunan sempoyongan hampir jatuh di tanah. Ia menubruk dan membuka kerudung di muka wanita itu.

“Aaaaa!”

Demikianlah Orang Tua Tiada Turunan dan Hui Kiam berseru dengan serentak.

Apa yang tampak di hadapan mereka, adalah seraut muka bagaikan muka setan yang menakutkan. Muka itu penuh tanda luka. Darah merah keluar dari lubang hidung dan mulutnya, sepasang biji matanya yang melotot keluar sudah tiada bercahaya lagi.

Sambil menundukkan kepala, Hui Kiam berkata:

“Tidak disangka Thio locianpwe telah menghabiskan jiwanya sendiri dengan jalan memutuskan urat nadinya sendiri. Boanpwee tidak keburu memberi pertolongan, sehingga tak berhasil mencegah terjadinya peristiwa yang menyedihkan ini. ” Dengan air mata bercucuran dan suara terisak-isak Orang Tua Tiada Turunan berkata:

“Manusia yang sudah berbuat dosa, memang susah untuk mendapat keampunan. Bagus! Kematianmu bagus sekali! Sandiwara di atas panggung penghidupan ini, berakhirlah sudah. Kalau kita tahu akan ada kejadian seperti hari ini, mengapa dahulu….” ucapan putus sampai di situ, kemudian berpaling dan berkata kepada Hui Kiam.

“Bagaimana dengan mukanya?”

Hui Kiam terpaksa menuturkan hubungan asmara antara wanita itu dengan Raja Pembunuh Oe-tie Siang yang berakhir sangat menyedihkan.

Orang Tua Tiada Turunan lalu mengulapkan tangannya dan berkata lagi:

“Siaohiap, kau boleh pulang!” Hui Kiam terperanjat. Tanyanya:

“Bagaimana dengan cianpwee?”

Dalam waktu sangat singkat itu, Orang Tua Tiada Turunan seolah-olah sudah berubah bagaikan seorang tua biasa. Ia tampak sangat lemah badannya.

“Permainanku sudah selesai, aku tidak akan muncul lagi di dunia Kang-ouw. Dia adalah istriku. Karena telah bermain api membakar dirinya sendiri, ia menyesal setelah terlambat. Tetapi dengan kematian ia menebus dosanya, aku masih dapat memaafkannya. Di sini di tempatku bersemayam seumur hidup, kita bisa berada dalam satu liang kubur dengannya, juga terhitung masih sebagai suami istri!” demikianlah orang tua itu berkata dengan suara sedih.

Hui Kiam juga merasa pilu. Ia sangat bersimpati kepada orang tua yang hidupnya sangat tak beruntung itu, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menghiburnya dengan kata-kata:

“Yang sudah lalu biarlah ia berlalu, cianpwee. ”

“Keputusanku sudah tetap, tak usah banyak bicara!” “Cianpwee dahulu pernah mengajar boanpwee sebagai

seorang gagah supaya mengutamakan kepentingan dunia rimba persilatan. Pada dewasa ini kita sedang menghadapi pertempuran untuk membasmi kejahatan ”

“Aku si orang tua tidak mempunyai kepandaian apa-apa, biasanya hanya gembar-gembor membantu memberi semangat saja, segala-galanya sudah ada Orang Menebus Dosa yang mengurus rencana dan dalam pertempuran itu nanti tergantung kepada dirimu sendiri. Beberapa hari lagi, adalah waktunya Persekutuan Bulan Emas mengundang semua orang-orang gagah untuk mendirikan perserikatan dengan resmi. Kau dengan Ie It Hoan harus menyaru sebagai Bu-lim Cin-kun dan muridnya, pergi kepada Persekutuan Bulan Emas untuk memenuhi undangannya, kemudian bergerak dari dalam. Aku doakan semoga usahamu itu berhasil baik.”

Kini barulah Hui Kiam mengerti apa sebabnya Orang Tua Tiada Turunan menyuruh Ie It Hoan membuat kedok kulit manusia dengan kulit mukanya Bu-lim Cin-kun dan muridnya serta membuka pakaian mereka.

“Apakah Cianpwe tetap berdiam di sini?”

“Ya! Mengenai teka-teki yang meliputi segala urusan yang bersangkutan dengan dirimu, nanti akan diterangkan oleh Orang Menebus Dosa. Kepergianmu dengan Ie It Hoan kali ini, harus ingat baik-baik suatu pepatah, apabila tidak sabar dalam urusan kecil, niscaya akan merusak rencana besar, maka itulah kau sekali-kali jangan bertindak menuruti kemauan hati dan emosi. Berhasil atau gagalnya dalam gerakan ini tergantung kepada dirimu. Tindakan selanjutnya, orang lain yang akan berhubungan denganmu, dan lagi tentang orang yang membunuh ibumu dengan tusuk konde emas berkepala burung Hong….”

Sekujur badan Hui Kiam gemetar. Belum lagi selesai ucapan orang tua itu sudah dipotong:

“Siapa?”

“Orang Menebus Dosa nanti bisa memberitahukan kepadamu.” “Apakah dia tahu?”

“Benar, ia tahu. Sekarang kau boleh pergi.”

Hui Kiam tahu bahwa orang tua itu pada saat ini sudah padam semangatnya, tiada guna untuk dibujuk lagi. Maka ia hanya berkata:

“Kalau begitu boanpwe kini hendak mohon diri.   Boanpwe pasti melaksanakan tugas menurut garis pelajaran yang cianpwee telah berikan tadi itu. Setelah tugas selesai, boanpwe nanti akan berkunjung lagi.”

Setelah itu ia berlutut untuk memberi hormat. Orang Tua Tiada Turunan cepat-cepat membimbing bangun. Hui Kiam ingat bahwa wanita tua yang dahulu adalah bidadari cantik itu pernah memberi Hiat-ay kepadanya, maka ia juga berlutut dan bersujud di depan jenazahnya.

Selesai memberi hormat, ia keluar dari gua itu dengan hati pilu.

Ie It Hoan yang sudah menunggu dengan hati tidak sabaran, begitu melihat segera maju menyambut seraya bertanya:

“Bagaimana hasilnya?”

Hui Kiam dengan hati pilu menceritakan apa yang telah terjadi. Ie It Hoan yang mendengarkannya berulang-ulang menghela napas.

Hening sejenak, Ie It Hoan lalu berkata: “Toako, mari kita bersiap melakukan penyamaran.” Hui Kiam setelah berpikir sejenak, lalu berkata:

“Adik Hoan menurut bentuk dan tinggi badan harus menyaru sebagai Bu-lim Cin-kun, aku menyaru sebagai muridnya yang gagu itu.”

“Bukankah ini berarti akan merendahkan diri toako? “

“Omong kosong! Sebaliknya denganmu, kau harus ingat baik- baik segala kelakuan dan gerak-gerik serta nada suara orang tua yang aneh itu, jangan sampai terbuka rahasia kita.”

“Bagaimana dengan pedang sakti toako?” “Kita bungkus dengan kain.”

Jalan yang menuju ke bukit Bu-leng-san hari itu ramai keadaannya. Berbagai macam dan golongan orang-orang rimba persilatan berduyun-duyun berjalan ke satu jurusan yang sama.

Di antara rombongan orang-orang itu, terdapat dua orang yang sangat menarik perhatian banyak orang. Dua orang itu yang satu adalah seorang tua kurus kecil dengan rambutnya yang sudah putih seluruhnya dan yang lain adalah seorang laki- laki setengah umur yang berperawakan tegap tapi wajahnya buruk sekali.   Laki-laki berwajah buruk itu membawa barang yang dibungkus oleh kain. Barang itu nampaknya semacam senjata.

Mereka berdua adalah Hui Kiam dan Ie It Hoan yang sudah menyaru sebagai Bu-lim Cin-kun dan muridnya.

Bu-lim Cin-kun sudah beberapa puluh tahun mengasingkan diri, maka sepanjang jalan tiada seorangpun yang mengenalinya.

Hari itu adalah hari didirikannya Persekutuan Bulan Emas. Orang yang datang untuk menghadiri upacara itu semua adalah orang-orang yang mewakili berbagai partay dan golongan serta jago-jago dari berbagai pelosok dunia. Bagian tengah gunung Bu-leng-san, di tempat jalanan bersilang yang menuju ke daerah pegunungan itu, didirikan sebuah pintu gerbang yang dipajang indah. Di tengah-tengah terpancang huruf-huruf besar yang merupakan tulisan: DUNIA MERUPAKAN SATU KELUARGA BESAR. Di bagian tengah-tengah pintU gerbang ada tanda yang berbentuk bulan sabit.

Masuk tidak jauh dari pintu gerbang itu, kedua sampingnya dibangun delapan buah bangunan rumah untuk tempat menginap para tamu.

Di sepanjang jalan sekitar daerah itu terdapat banyak orang berpakaian hitam yang bertugas sebagai penjaga keamanan dan menyambut kedatangan tetamu.

Semua tetamu yang di tempat itu disambut oleh mereka. Setelah beristirahat dan makan di dalam bangunan itu, barulah melanjutkan perjalanannya ke atas gunung.

Hui Kiam dan Ie It Hoan yang juga tiba di tempat tersebut dengan rombongan banyak orang segera disambut oleh seorang berbaju hitam. Sambil memberi hormat orang itu menegurnya seperti biasa:

“Tuan wakil dari golongan mana?”

Ie It Hoan melototkan matanya dan berkata:

“Aku si orang tua tidak berpartay juga tidak mempunyai golongan. Aku mewakili diriku sendiri.”

Wajah orang berbaju hitam itu berubah seketika, tapi ia masih tetap mengendalikan dirinya dan berkata sambil tertawa berseri- seri.

“Harap tuan memberitahukan nama dan menunjukkan surat undangan.”

“Nampaknya aku dan muridku terpaksa harus kembali!”

“Tuan sudah datang kemari, biar bagaimana harus sedikit memberi keterangan!” “Keterangan? Keterangan apa?” “Datang dari mana?”

“Aku tidak suka dengan tata cara semacam ini. Beritahukan kepada pemimpinmu bahwa aku si orang tua sudah balik lagi!”

Setelah itu benar-benar ia memutar badannya dan berjalan.

Empat orang berbaju hitam bergerak dengan serentak menghalangi mereka, sedangkan orang yang menyambuti tadi masih berkata:

“Tuan jangan pergi dulu!”

“Eh, apakah kamu hendak menahanku?” “Ada kemungkinan.”

“Kalau begitu apakah kalian mencari mampus!?”

Empat laki-laki itu seketika maju mengurung dengan wajah penuh amarah.

Hui Kiam segera turun tangan dengan cepat. Tangannya menyambar seorang di antaranya lalu dilemparkan keluar. Tiga yang lainnya lalu menghunus pedang masing-masing….

Beberapa orang wakil yang datang ke tempat itu telah maju pula mengurung.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara bentakan:

“Tidak boleh berlaku tidak sopan terhadap Sun cianpwee.”

Seorang tua yang pakaiannya sangat aneh, muncul di hadapan orang banyak.

Hui Kiam segera mengenali bahwa orang tua itu adalah Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng. Seketika itu matanya nampak beringas. Tetapi perubahan sikapnya tak menarik perhatian orang.

Ciok Siao Ceng terlebih dulu memberi hormat dan berkata kepada wakil yang sudah maju berkerumun: “Tuan-tuan silahkan beritirahat di pondok dulu, tidak ada urusan apa-apa!”

Kemudian ia berpaling pada Ie It Hoan dan menunduk seraya berkata:

“Aku yang rendah adalah Ciok Siao Ceng kepala anggota pelindung hukum Persekutuan Bulan Emas, atas perintah pemimpin kami, datang menyambut kedatangan tuan, dan minta maaf atas kesalahan pemimpin kami yang tak datang menyambut sendiri!:

“Akh, kau terlalu merendah!” demikian jawab Ie It Hoan.

Orang berbaju hitam yang dilempar keluar saat itu sudah balik kembali bersama-sama tiga orang yang sudah siap hendak bertindak. Ketika menyaksikan gelagat tidak baik, mereka merasa malu sendiri sehingga dengan cepat mengeluyur pergi.

“Silahkan tuan segera ke pusat markas kami!” demikianlah Manusia Gelandangan berkata dengan sikap menghormat sekali. Kemudian tangannya menggapai, dua orang berbaju hitam dengan membawa sebuah tandn datang mrenghampiri.

“Silahkan naik ke atas tandu!”

Ie It Hoan dengan tanpa berkata apa-apa terus naik ke tandu.

Manusia Gelandangan lalu menegur pada empat orang berbaju hitam. Katanya dengan suara bengis:

“Kau ditugaskan untuk apa, mengapa berani berbuat dosa terhadap tetamu terhormat bengcu kita?”

Empat orang itu dengan badan gemetar berkata dengan sikap menghormat dan ketakutan:

“Maafkan kesalahan kami!”

Beberapa wakil yang masih ada di situ menyaksikan kejadian itu dengan sikap terheran-heran. Mereka tak dapat menduga siapa adanya tetamu orang tua yang aneh itu. Manusia Gelandangan segera memberi perintah kepada dua orang yang menggotong tandu supaya berangkat, kemudian ia sendiri bersama Hui Kiam mengikuti di belakangnya.

Sepanjang jalan, rombongan itu banyak menarik perhatian orang.

Kira-kira sepuluh pal mendaki jalan pegunungan di hadapan tampak sebuah jalannya yang diapit oleh lereng gunung, sehingga merupakan sebuah pintu alam. Di hadapan pintu, berdiri berderet delapan belas orang yang masing-masing membawa senjata pedang. Orang-orang itu ketika menyaksikan Manusia Gelandangan dengan serentak semua memberi hormat.

Hui Kiam yang menyaksikan keadaan itu, diam-diam menyumpahi orang tua itu.

Melalui pintu itu adalah sebuah jalan sepanjang kira-kira lima puluh tombak. Setelah melalui jalanan itu, di antara lereng gunung terdapat sebuah lapangan yang luas. Satu sudut lapangan itu terdapat bangunan rumah berderet-d«ret. Di tengah-tengah lapangan di bangun sebuah panggung tinggi. Di situ banyak orang berkumpul yang jumlahnya beberapa ratus orang.

Tandu itu telah melalui tanah lapang, terus menuju ke hadapan sebuah bangunan gedung besar. Di sinilah tandu itu baru berhenti.

Di hadapan gedung besar itu penjagaan keras sekali, tetapi di matanya Hui Kiam, semua itu tak ada harganya sama sekali.

Setelah Ie It Hoan turun dari tandu, tandu itu segera disingkirkan.

Beberapa puluh orang muncul di tangga gedung besar. Yang berjalan paling depan adalah pemimpin Persekutuan Bulan Emas sendiri. Ia kini tidak mengenakan kerudung lagi, ia muncul di hadapan umum dengan wajah aslinya. Di sampingnya adalah Tong-hong Hui Bun yang saat itu nampaknya lebih cantik. Di belakangnya terdapat banyak orang dari golongan padri, imam, manusia biasa, padri wanita, pengemis, lelaki perempuan tua dan muda, komplit semuanya ada. Nampaknya orang-orang itu adalah kepala setiap bagian yang tadinya merupakan pemimpin atau ketua berbagai partai dan golongan, yang kemudian menyerah kepada Persekutuan Bulan Emas.

Dari caranya pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang sudah keluar menyambut sendiri, suatu bukti betapa besar penghargaan pemimpin Bulan Emas terhadap Bu- lim Cin-kun, tetapi dalam mata dan hati Ie It Hoan dan Hui Kiam saat itu yang menyaru sebagai Bu-lim Cin-kun dan muridnya, sudah tentu tidak merasa bangga.

Siapapun tidak akan menduga bahwa Bu-lim Cin-kun dan muridnya yang kini berhadapan dengan pemimpin Bulan Emas ternyata hanya barang tiruan belaka.

Ketika Hui Kiam menyaksikan Tong-hong Hui Bun, hampir saja tidak dapat kendalikan rasa bencinya, tetapi dia harus bersabar menindas perasaannya sendiri, satu-satunya jalan ialah tidak mengawasi perempuan itu. Ia menngikuti di belakang Ie It Hoan, matanya ditujukan kepada orang-orang gagah yang dahulu berkedudukan sebagai pemimpin atau ketua berbagai partai dan golongan.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas ketika menampak kedatangan Bu-lim Cin-kun yang palsu, tertawa terbahak-bahak kemudian berkata sambil memberi hormat:

“Saudara Sun, sudah lama kita tak jumpa, selama itu kiranya baik-baik saja. Hari ini aku mendapat kunjungan saudara Sun, benar-benar sangat girang sekali.”

Ie It Hoan memperdengarkan suara ketawanya yang aneh, kemudian berkata:

“Saudara Tong Hong, saudara terlalu memuji diriku si orang tua yang tidak berguna ini sehingga aku merasa malu sendiri!” “Dan saudara ini. ”

“Oh, dia adalah muridku. Mempunyai mulut tidak bisa bicara, tapi telinganya masih bisa mendengar. Jadi gagu namun tidak tuli!”

“Silakan masuk!”

Pemimpin itu lalu minggir ke samping dan segera ditiru oleh orang-orang yang berdiri di belakangnya.

Hati Ie It Hoan berdebar, tetapi dalam keadaan demikian ia harus berlaku tabah. Setelah berlaku merendah sebentar, lalu berjalan memasuki ruangan, sedangkan Hui Kiam terus berdiri di belakangnya.

Setelah semua orang duduk di tempatnya masing-masing, barulah pemimpin Persekutuan Bulan Emas memperkenalkan Bu- lim Cin-kun palsu kepada orang-orangnya.

Sudah tentu nama ini segera menarik perhatian semua orang, sebab dalam rimba persilatan belum pernah seorangpun yang dapat penghormatan demikian dari pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang hendak menguasai dunia.

Bu-lim Cin-kun yang berperawakan kecil dan kurus, duduk berdampingan dengan pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang perawakannya tinggi besar, nampaknya sangat tidak berimbang, tetapi siapapun tidak berani memandang rendah.

Di sebelah kiri Bu-lim Cin-kun, duduk Tong-hong Hui Bun. Hui Kiam yang berdiri di belakang Ie It Hoan yang memegang peranan Bu-lim Cin-kun, hanya terpisah beberapa kaki saja dengan perempuan cantik itu, sudah tentu dapat mencium bau harum yang keluar dari badannya. Semua itu dirasakan bagaikan siksaan bagi Hui Kiam, sehingga hampir saja tidak dapat mengendalikan perasaannya.

Ie It Hoan dengan meniru suara tertawanya Bu-lim Cin-kun, saat itu ia berkata: “Aku si orang tua memberi selamat kepada bengcu yang sudah berhasil mempersatukan dunia rimba persilatan!”

“Akh, aku mana berani menerima penghormatan semacam itu. Kami hanya karena mengingat semua partay dan golongan masing-masing hendak memperkuat kedudukan sendiri, sehingga selalu timbul pertikaian dan pembunuhan tak habis-habisnya, kami tanpa mengukur kekuatan sendiri, telah berusaha untuk mempersatukan dunia rimba persilatan supaya sama-sama mempelajari ilmu kepandaian dan mengamankan rimba persilatan. Semua ini berkat bantuan para saudara yang telah menyumbangkan tenaganya. Sementara mengenai kedudukan ketua... kami pikir hendak menyerahkan kepada saudara Sun ”

Ucapan itu tidak perduli benar atau bohong sesungguhnya sudah mengejutkan semua orang-orang gagah yang ada di situ.

Sementara itu Ie It Hoan cepat menjawab sambil menggoyang-goyangkan tangannya:

“Kalau bengcu berkata demikian, aku terpaksa mohon diri.” “Apakah saudara Sun anggap ucapan kami tadi bukan dengan

sejujurnya?”

“Bukan itu yang kumaksudkan. Aku Sun It Hoa mempunyai kebijaksanaan dan kepandaian apa? Ucapan itu membuat aku merasa malu.   Hari aku telah mendapat undangan bengcu, ini saja tidak cukup membuat aku merasa berhutang budi. Aku hanya ingin turut meramaikan saja. Setelah upacara selesai aku hendak kembali ke gunung, tidak ingin kedudukan apa-apa.”

---ooo0dw0ooo---

Jilid: 36 TAMAT

U C A P A N itu justru yang diharapkan oleh pemimpin Persekutuan Bulan Emas. Maka ia lalu tertawa terbahak-bahak kemudian ia menyatakan terima kasihnya. Saat itu Tong-hong Hui Bun mulai bicara dengan suaranya yang merdu:

“Orang-orang yang berusaha merintangi usaha besar ini terdiri dari rombongan orang-orang yang dipimpin oleh Manusia Teragung dan Orang Berbaju Lila. Di antara orang-orang mereka yang merupakan lawan yang paling berbahaya, adalah seorang dari angkatan muda yang menamakan diri Penggali Makam, sedang namanya sendiri adalah Hui Kiam. ”

Semua mata ditujukan kepada perempuan cantik bagaikan bidadari itu. Kecantikannya yang menyilaukan mata, sesungguhnya sangat mempesona semua orang yang hadir.

Hui Kiam diam-diam merasa gemas.   Dari mulut perempuan itu ia mengetahui bahwa Manusia Teragung itu adalah guru Orang Berbaju Lila. Hal ini sesungguhnya di luar dugaannya.

le lt Hoan pura-pura tak tahu, bertanya:

“Bengcu, apakah ini putrimu?” “Benar, dia adalah putriku.” “Sungguh cantik, juga berbakat baik.” “Saudara Sun terlalu memuji.”

“Pemuda yang tadi disebut Penggali Makam itu orang dari golongan mana?”

“Dia adalah murid Lima Kaisar Rimba Persilatan.” “Dengan kekuatan dan kepandaian bengcu apakah….”

Sambil tersenyum masam pemimpin Persekutuan Bulan emas berkata:

“Ilmu Siang-sim Hian-kang saudara Sun mungkin bisa menundukkannya.”

Ilmu Sian-sim Hiang-kang. Ketika Hui Kiam mendengar itu segera ia teringat ilmu yang digunakan oleh Bu-lim Cin-kun sewaktu bertempur dengannya. Memang benar, andaikata waktu itu Hui Kiam tidak mendapat akal cerdik untuk melepaskan diri dari serangan ilmu itu, benar-benar ia sudah mati di tangannya.

Semua orang yang di situ, karena takut oleh pengaruh pemimpin Persekutuan Bulan Emas, tiada seorangpun yang berani membuka mulut. Mereka hanya mengekor saja.

Hui Kiam yang menyaksikan itu merasa terharu. Rimba persilatan daerah Tionggoan sampai mengalami nasib yang menyedihkan itu bukanlah tak ada sebabnya. Apa yang biasanya digunakan partay-partay besar ternama, sebetulnya hanya nama kosong belaka. Partay-partay besar yang dahulunya sangat jaya itu ternyata keadaannya sudah rontok, tiada orang kuat dan pandai yang melanjutkan usaha bekas suhu-suhunya, sehingga mengalami nasib seperti ini.

Pada saat itu dari jauh terdengar suara genta. Pemimpin Persekutuan Bulan Emas segera berkata:

“Upacara pembentukan persekutuan akan segera dimulai. Setelah upacara selesai kita nanti akan minum-minum sepuasnya, dan sekarang mari kita pergi ke tempat upacara.”

Tiba-tiba seorang pelayan wanita tiba di belakang Tong-hong Hui Bun bicara bisik-bisik dengannya. Paras Tong-hong Hui Bun mendadak berubah, buru-buru berkata kepada ayahnya. Pemimpin Bulan Emas yang mendengarnya hanya tertawa dingin. Setelah berpikir sejenak, baru berkata:

“Para lengcu dan para tetamu yang terhormat, kami persilahkan berangkat ke tempat upacara lebih dulu. Kami masih ada urusan penting yang harus dibereskan, nanti akan menyusul belakangan. Ciok Siao Ceng harap berdiam di sini sebentar!”

Orang-orang yang ada di situ setelah memberi hormat lalu meninggalkan ruangan.

Dengan alis berdiri Ie It Hoan pura-pura bertanya: “Bengcu ada utusan penting apakah?”

“Tidak halangan saudara Sun, diam di sini dulu.”

Demikian jawaban pemimpin Bulan Emas yang kemudian duduk lagi di tempatnya.

Dalam ruangan pada saat itu hanya tinggal ia sendiri bersama putrinya, Bu-lim Cin-kun tiruan bersama muridnya dan Manusia Gelandangan.

“Ciok Siao Ceng!” demikian pemimpin Bulan Emas berkata: “Ya, kami ada di sini,” jawab Ciok Siao Ceng.

Ie It Hoan diam-diam mengulurkan tangannya ke belakang menarik Hui Kiam, tapi Hui Kiam tak mengerti apa maksudnya. Ia hanya merasa dan mendapat firasat akan terjadi sesuatu.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas berkata sambil tertawa masam.

“Kami selalu anggap pandangan mata kami tak salah, tetapi sungguh tak diduga bisa terdapat kesalahan. Ciok Siao Ceng, sungguh besar keberanianmu, kau berani berlaku sebagai mata- mata dalam persekutuan kami!”

Hati Hui Kiam tergerak. Ia segera menduga bahwa maksud Ie It Hoan menarik dirinya mungkin menyuruh ia tertindak dengan melihat gelagat. Sebetulnya dengan waktu pertama kali ia berjumpa dengan Manusia Gelandangan di pusat perkumpulan Sam-goan-pang, kesannya terhadap orang tua itu tidak jelek. Tapi kemudian Ciok Siao Ceng yang melihat harta telah melupakan dirinya, lalu menggabungkan diri dengan Persekutuan Bulan Emas. Semula ia merasa curiga, kemudian merasa benci, dan sekarang agaknya tersadar. Mata-mata? Mungkinkah jago tua itu berbuat demikian sudah mempunyai perhitungannya sendiri? Ciok-siao Ceng berkata dengan suara gemetar: “Bagaimana bengcu bisa berkata demikian. Hamba benar-benar tidak mengerti.”

Tong-hong Hui Bun memperdengarkan suara di hidung, lalu berkata:

“Ciok Cong-hok-hoat, ada orang telah melihat kau yang membunuh anak buah kita yang menjaga pintu rahasia, dan kemudian kau diam-diam membuka pintu rahasia itu….”

“Siapa?”

“Anggota badan pelindung hukum tertinggi!”

Hui Kiam terkejut. Apa yang dikatakan anggota pelindung hukum tertinggi oleh Tong-hong Hui Bun, yang dimaksudkan pastilah Iblis Bi Mo karena empat dari delapan Iblis dari negara Thian-tik yang menjabat kedudukan itu, tiga di antaranya sudah binasa. Yang masih ada hanya Bi Mo seorang saja.

Mata Ciok Siao Ceng melirik kepada Hui Kiam dan Ie It Hoan sejenak, kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Memang benar, aku mengakui melakukan perbuatan itu.”

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas tiba-tiba berdiri. Sambil memukul meja ia berkata:

“Orang she Ciok, apa maksudmu?”

“Thian-hong yang terhormat, impianmu hendak menguasai dunia kini seharusnya dihancurkan!” jawab Ciok Siao Cing tidak takut.

“Kami akan bunuh kau lebih dulu!”

Ie It Hoan segera mengacungkan tangannya dan berkata: “Tunggu dulu!”

Sinar mata pemimpin Bulan Emas yang tajam berputaran, kemudian berkata: “Bagaimana menurut pikiran saudara Sun?”

Dengan nada suara dingin dan lambat-lambat Ie It Hoan berkata:

“Karena dia sudah mengaku membuka pintu rahasia, jelas sekali sudah ada musuh yang menyelinap masuk. Seharusnya ditanya dulu berapa banyak musuh yang sudah menyelinap masuk, dan orang-orang dari golongan mana musuh itu, supaya kita bisa siap-siap untuk rnenghadapinya. Jikalau tidak, bisa menghebohkan dan mengacaukan upacara pembentukan perserikatan ini, bukankah akan membuat buah tertawaan rimba persilatan?”

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas menepuk tangan. Tak lama kemudian Ie Khie Kun segera muncul di hadapannya. Sambil membongkokkan badan memberi hormat, orang itu berkata:

“Hamba menghadap bengcu!”

“Tidak perlu banyak peradatan. Keluarkan perintah atas nama kami. Upacara ditunda dahulu. Semua anak buah persekutuan kita berkumpul ke masing-masing pos penjagaannya sendiri untuk menantikan perintah. Selanjutnya wakil-wakil dari seluruh cabang berkumpul di masing-masing tempat sendiri. Tetamu- tetamu yang agak terkenal, untuk sementara dipersilahkan masuk ke tempat penginapan. Kau pimpin semua anak buah kita segera bergerak melakukan penyelidikan. Barang siapa yang tidak jelas asal usulnya, bunuh saja habis perkara.”

“Baik, hamba menerima perintah.”

Ie It Hoan lalu berpaling dan berkata kepada Hui Kiam:

“Pergi kau menjaga pintu ruangan ini. Barang siapa yang berani keluar masuk secara sesukanya dalam ruangan ini, kau bunuh saja.”

Ucapan itu, pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang lainnya ternyata sudah tidak dapat membedakan bahwa dalam ucapan itu ada mengandung maksud tertentu, sebab kalau dipikirkan masak-masak ini berarti suatu perintah untuk memblokir ruangan itu.

Hui Kiam segera bergerak bediri melintang di pintu ruangan.

Ie Khie Kun selagi hendak keluar dari ruangan untuk melakukan perintah pemimpinnya, ketika tiba di pintu, tiba-tiba dia menjerit dengan suara mengerikan. Ternyata sudah dihajar mampus oleh Hui Kiam.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang menyaksikan kejadian itu lantas berteriak:

“Sun lt Hoa, apakah artinya ini?”

“Oh, kesalahan tangan. Muridku pasti salah dengar maksud perkataanku tadi. Perintahku tadi kumaksudkan orang luar yang keluar masuk dalam ruangan ini segera dibunuh,” jawab Ie It Hoan acuh tak acuh.

Tong-hong Hui Bun memperdengarkan suara dari hidung. Ia menyerbu ke pintu ruangan....

Hui Kiam sudah tidak dapat kendalikan perasaannya lagi. Tadi karena waktunya belum tiba ia terpaksa menindas perasaannya. Tetapi sekarang, tibalah saat baginya untuk bergerak sesukanya. Maka ia segera memutar tangannya menyambut serangan Tong- hong Hui Bun.

Tidak ampun lagi Tong-hong Hui Bun terpental balik sambil mengeluarkan seruan terharu.

Ie It Hoan melesat dari tempat duduknya, berdiri bahu- membahu dengan Ciok-siao Ceng.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas berseru: “Kiranya kau adalah sekomplotan!”

Dengan sikap yang angkuh dan dingin Manusia Gelandangan berkata kepada pemimpin Persekutuan Bulan Emas: “Bengcu yang terhormat, sejak dahulu kala barang siapa yang berbuat jahat dan banyak melakukan perbuatan yang melanggar hukum Tuhan pasti hancur. Kebenaran dan keadilan tidak bisa dimusnahkan begitu saja.”

Dengan muka merah membara pemimpin Persekutuan Bulan Emas berkata:

“Ciok-siao Ceng, kau masih belum pantas berkata demikian terhadap kami.”

Pemimpin ini tidak berani segera bertindak terhadap Manusia Gelandangan, sebab ia masih merasa khawatir terhadap Bu-lim Cin-kun tiruan itu. Sudah tentu ia tidak menduga sama sekali bahwa orang yang benar-benar ditakuti justru adalah orang gagu bermuka buruk yang menjaga di pintu itu.

Hui Kiam perlahan-perlahan membuka pedangnya yang dibungkus dengan kain kemudian pedang itu ditarik keluar dari sarungnya. Ketika berada di tangannya, mata Hui Kiam memancar sinar yang menakutkan.

Tong-Hong Hui Bun yang menyaksikan pedang itu lalu berseru:

“Thian Khie Sin Kiam!”

Seruan itu mengejutkan pemimpin Persekutuan Bulan Emas. Matanya dialihkan ke arah Hui Kiam, karena pedang sakti itu merupakan satu-satunya pedang yang dapat mengalahkan pedangnya sendiri. Tetapi dengan cara bagaimana pedang itu bisa terjatuh di tangan murid Bu-lim Cin-kun? Apa sebabnya Bu- lim Cin-kun mendadak berobah sikapnya, berdiri di pihak musuh? Maksudnya ia mengundang Bu-lim Cin-kun, justru disuruh menghadapi Hui Kiam, tidak disangka malah menambah kekuatan musuh yang lebih menakutkan. Dari semua tanda- tanda ini, sudah terang bahwa musuh lebih dulu sudah menyusun suatu rencana yang sangat rapi. Maka apa yang terjadi hari ini masih belum tahu bagaimana akibatnya, apakah usahanya yang direncanakan dengan susah payah selama berapa puluh tahun itu, akan ludes dalam satu hari saja?”

Pada saat itu beberapa puluh orang berpakaian hitam datang mengeroyok ke ruangan itu. Ketika menyaksikan laki-laki muka buruk yang berdiri bagaikan malaikat dan bangkainya Ie Khie-kun yang menggeletak di tanah, semua berhenti, menunjukkan sikap terheran-heran.

Suara bentakan keras terdengar dari lapangan tempat upacara kemudian disusul oleh suara hiruk-pikuk dan berteriaknya orang saling membunuh, seolah-olah sedang menghadapi medan pertempuran. Pertempuran dahsyat antara dua golongan benar- benar sudah dimulai.

Wajah pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang keren dan angkuh nampak berkernyit beberapa kali, kemudian berkata dengan suara keras:

“Sun It-hoa, kau kawan ataukah lawan?”

“Bengcu yang terhormat, kuberitahukan kepadamu bahwa aku berdiri di pihak yang benar.”

Demikian Ie It Hoa menjawab sambil tertawa dingin. “Baik!”

Pemimpin itu segera menghunus pedang Bulan Emas menyerang Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan.

Keadaan Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan sesungguhnya sangat berbahaya. Mereka sudah tentu tidak dapat mengelakkan serangan pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang dilakukan dengan hati panas itu.

Hui Kiam yang berdiri di luar pintu terpisah dengan mereka sedikitnya masih tiga tombak jauhnya, tetapi ia sedikitpun sudah tak bisa menunda lagi. Dengan tanpa ragu-ragu, cepat bagaikan kilat melancarkan serangannya kepada pemimpin Persekutuan Bulan Emas dengan ilmu serangan jari tangannya. Suara ledakan nyaring terdengar. Hembusan angin yang keluar dari jari tangannya telah beradu dengan pedang sehingga serangan pedang itu terhambat. Dalam saat yang sangat kritis dan berbahaya itu telah digunakan sebaik-baiknya oleh Manusia Gelandargan dan Ie It Hoan, yang segera jatuhkan diri dan menggelinding ke depan pintu.

Anak buah Persekutuan Bulan Emas yang berada di luar pintu kini mulai menyerbu.

Hui Kiam mengamuk bagaikan banteng terluka. Pedang saktinya bergerak berulang-ulang, banyak korban telah jatuh. Dalam waktu sekejap mata lima orang sudah roboh binasa. Dengan demikian anak buah Persekutuan Bulan Emas merasa jerih, sehingga serangan mereka tertahan.

Maksud Hui Kiam hanya mencegah agar pemimpin Persekutuan Bulan Emas dan Tong-hong Hui Bun jangan sampai keluar dari ruangan. Maka setelah berhasil menahan anak buah Bulan Emas, ia tidak menggeser kakinya dan tetap berdiri di tempatnya.

Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan saat itu sudah berada di luar ruangan, sehingga di dalam ruangan itu hanya tinggal pemimpin Persekutuan Bulan Emas dan anak perempuannya.

Scmentara itu pertempuran di lapangan tempat upacara semakin seru.

Sambil menghunus pedangnya, pemimpin Bulan Emas menyerbu ke pintu.

“Balik!” demikian Hui Kiam membentak dengan suara keras. Dengan mengayunkan pedangnya, ia menyambut kedatangan pemimpin persekutuan itu.

Setelah terdengar suara keras beradunya kedua pedang sakti itu, Hui Kiam mundur dua langkah, sedangkan pemimpin Bulan Emas terdesak balik lagi ke dalam ruangan. Dari gerakan pedangnya, Tong-hong Hui Bun sudah mengenali bahwa si gagu bermuka buruk itu adalah Hui Kiam. Maka ia segera berseru:

“Dia adalah Hui Kiam si bocah itu!”

Hui Kiam membuka kedok di mukanya dan berkata dengan suara gemetar:

“Perempuan hina, sudah tiba hari terakhirmu!”

Paras Tong-hong Hui Bun yang cantik saat itu sudah berubah bagaikan hantu. Melihat gelagat tidak baik, ia coba menyingkir dari pintu samping....

Tiba-tiba sesosok bayangan orang kecil langsing melayang ke arahnya. Ia segera mengayunkan tangannya. Ketika bayangan orang itu jatuh di tanah, ternyata tidak mengeluarkan suara apa- apa. Kiranya bayangan orang yang melayang ke arahnya tadi adalah bangkainya seorang pelayan wanita. Terang sudah dilemparkan oleh tangan jahil yang sengaja ditujukan padanya.

Serentak pada saat Tong-hong Hui Bun balik ke dalam ruangan karena terhalang oleh sambitan bangkai tadi, sesosok bayangan orang muncul di samping pintu. Dia bukan lain daripada Orang Berbaju Lila.

Tong-hong Hui Bun terkejut. Ia mundur beberapa langkah seraya berkata:

“Kau … kau….”

Orang Berbaju Lila tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

“Perempuan hina, baik atau jahat pada akhirnya tentu mendapat balasannya.  Itu hanya soal waktu saja!”

Tidak lama kemudian, Kak Hui taysu juga muncul. Dengan demikian pemimpin Bulan Emas dan anaknya sudah terkurung dalam ruangan kamar, tiada jalan lagi untuk keluar.

Ie It Hoan juga pada saat itu telah membuka kedoknya.

Sambil tertawa cengar-cengir ia berkata:

“Aku yang rendah adalah bernama Sukma Tidak Buyar!”

Mata pemimpin Persekutuan Bulan Emas melotot. Wajahnya berobah sangat menakutkan.

Sementara itu, pertempuran di lapangan sudah meluas sekitar ruangan kamar itu, hingga suara bentakan, jeritan dan rintihan terdengar nyata.

Pemimpin Bulan Emas seolah-olah sudah mendapat firasat bahwa impiannya hendak menguasai dunia cepat akan buyar.

Beberapa orang berpakaian hitam berhasil menyerbu ke depan ruangan. Rombongan itu dikepalai oleh Iblis Bi Mo. Dengan tanpa banyak bicara, iblis itu sudah menyerbu Hui Kiam yang berdiri di tengah-tengah pintu.

Hui Kiam menyambut dengan pedangnya. Dalam waktu tiga jurus, Bi Mo sudah terdesak mundur....

Pemimpin Bulan Emas saat itu segera menyerang Kak Hui taysu.

Tong-hong Hui Bun juga sudah turun tangan menyerang Orang Berbaju Lila.

Sedangkan Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan menyerbu kepada anak buah perserikatan Bulan Emas.

Dengan demikian, terjadilah pertempuran hebat yang terdiri dari beberapa kelompok.

Rasa benci yang meluap melewati takaran, membangkitkan nafsu membunuh Hui Kiam. Semakin berkobar dendam yang sudah lama disimpan di dalam hatinya, saat itu sudah tiba waktunya untuk diudal keluar. Dengan pedang saktinya, ia mengumbarkan nafsu dan melampiaskan dendamnya.

Jurus ke empat dan ke lima Bi Mo masih sanggup menahan serangan Hui Kiam yang menggila. Tetapi dalam jurus ke enam, ia tidak sanggup lagi. Badannya tertabas kutung menjadi dua potong. Tamatlah riwayatnya.

Pada saat itu, beberapa puluh anak buah Persekutuan Bulan Emas terkuat, sudah berhasil merobos masuk ke dalam ruangan.

Hui Kiam dengan merah membara, melesat masuk ke dalam sambil memutar pedangnya. Dalam waktu sekejap mata saja, beberapa puluh anak buah Persekutuan Bulan Emas itu sudah disapu habis.

Kak Hui taysu yang melawan pemimpin Persekutuan Bulan Emas seorang diri, karena kepandaiannya agak rendah setingkat, keadaannya sangat berbahaya.

Hui Kiam setelah membereskan semua lawannya, segera maju dan menahan serangan pemimpin Bulan Emas dan minta supaya Kak Hui taysu mundurkan diri.

Kak Hui taysu meninggalkan lawannya, menyerbu keluar untuk membantu Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan.

Dengan kepandaian dan kekuatan Kak Hui taysu, meski belum cukup untuk menghadapi pemimpin Bulan Emas, tetapi untuk menghadapi anak buah persekutuan itu lebih dari cukup. Sebentar saja, barisan anak buah Persekutuan Bulan Emas sudah berantakan.

Pertempuran ini merupakan satu pertempuran besar yang belum pernah terjadi dalam rimba persilatan selama seratus tahun ini. Yang ambil bagian hampir meliputi tokoh-tokoh terkuat berbagai partay dan orang-orang pilihan dari rimba persilatan serta jago-jago dari berbagai generasi.

Suatu hal yang tidak diduga oleh pemimpin Persekutuan Bulan Emas adalah semua wakil berbagai partay rimba persilatan yang dahulu sudah menyerah kepada persekutuan itu kini telah berbalik membantu pihak Orang Berbaju Lila.

Pertempuran yang semua terdiri dari beberapa kelompok itu, kini kecuali rombongan Manusia Gelandangan, yang berhadapan dengan anak buah Persekutuan Bulan Emas yang jumlahnya jauh lebih banyak, hanya tinggal pasangan lawan antara Hui Kiam dengan pemimpin Persekutuan Bulan Emas dan Orang Berbaju Lila yang berhadapan dengan Tong-hong Hui Bun.

Pasangan lawan antara Hui Kiam dengan pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang keadaannya jauh berbeda dengan pertempuran biasa.

Mereka berdiri berhadapan dengan mata beringas. Masing- masing menantikan lowongan untuk melakukan serangan yaug mematikan kepada lawannya.

Dilihatnya Orang Berbaju Lila saat itu sudah mendesak Tong- hong Hui Bun sehingga tidak mampu balas menyerang sama sekali.

Keadaan Tong-hong Hui Bun sangat menyedihkan. Rambutnya awut-awutan, badannya penuh darah. Kecantikannya yang memikat hati setiap lelaki, kini sudah lenyap sama sekali.

Di antara suara Orang Berbaju Lila, tubuh Tong-hong Hui Bun rubuh tersungkur, menindih dan menghancurkan tiga buah kursi tetapi ia masih berusaha untuk berdiri. Dengan susah payah ia coba merayap bangun. Napasnya terputus putus.

Orang Berbaju Lila maju menghampiri. Ujung pedang mengancam dadanya sembari berkata dengan suara bengis:

“Perempuan hina, akhirnya kau harus menebus dosamu dengan cara seperti ini….” Pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang menyaksikan keadaan putrinya, pikirannya terganggu.

Inilah suatu kesempatan yang baik yang dinantikan oleh Hui Kiam. Dengan cepat pedang di tangannya bergerak melakukan serangan.

Setelah terdengar suara ‘trang’ beradunya dua pedang yang diselang dengan suara keluhan tertahan, pedang di tangan pemimpin Bulan Emas telah terpapas kutung di tengah- tengahnya, ujungnya terjatuh di tanah. Sedangkan dadanya pemimpin itu terdapat tanda luka sedalam setengah kaki, dan mengucur keluar.

Hui Kiam sama sekali tak mempehitungkan bagaimana akibatnya serangan itu. Dengan cepat ia lompat ke arah Orang Berbaju Lila dan menyontek pedang Orang Berbaju Lila yang mengancam Tong-hong Hui Bun. Katanya dengan suara gemetar:

“Kau minggir.”

Orang Berbaju Lila mundur satu langkah. Katanya dengan suara bengis:

“Hui Kiam, kau mau apa?”

“Aku hendak membunuhnya dengan tanganku sendiri!”

“Kau tidak boleh...” berkata Orang Berbaju Lila dengan badan gemetar.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang keluar dari mulut Hui Kiam. Badannya terhuyung-huyung hampir jatuh. Sepotong pedang pemimpin Persekutuan Bulan Emas menembus pundak sehingga ke atas dada hanya setengah dim lagi mengenai bagian jantung.

Jikalau perhatian Hui Kiam tidak dipusatkan kepada diri Tong- hong Hui Bun, tidak nanti dapat dibokong oleh pemimpin Bulan Emas itu. Orang Berbaju Lila dengan cepat menusukkan pedangnya ke ulu hati Tong-hong Hui Bun.

Tatkala pedang dicabut keluar dari dalam dada Tong-hong Hui Bun, perempuan cantik itu rubuh terkulai di tanah. Sebelum menarik napas yang penghabisan, ia masih dapat mengucapkan kata-kata:

“Kau… kau... sudah merasa puas ”

Ia telah binasa. Sukmanya yang jahat meninggalkan raganya yang cantik bagaikan bidadari.

Mata Hui Kiam merasa berat. Badannya sempoyongan. “Toako!” Demikian terdengar suara seruan Ie It Hoan yang

segera membimbing Hui Kiam ke satu sudut. Setelah mencabut potongan pedang yang menancap di pundaknya, dengan cepat menotok bagian jalan darahnya untuk menghentikan mengalirnya darah. Setelah itu ia berikan beberapa butir obat pil kepadanya.

“Toako, tiada halangan apa-apa?”

“Aku tidak akan mati karena hanya pedang ini saja.”

Ie It Hoan memutar badannya dan menghampiri Tong-hong Hui Bun. Kemudian ia menghajar dengan tangannya, sehingga paras Tong-hong Hui Bun yang pernah menimbulkan tergila-gila banyak pemuda, berikut kepalanya telah hancur berantakan.

Ie It Hoan dalam sikap setengah berlutut, mulutnya berkemak-kemit: “Enci Un, aku sudah balaskan sakit hatimu.”

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang sudah menyerbu ke ambang pintu akhirnya terpaksa balik kembali.

Manusia Teragung dengan tongkat rotan hitam di tangannya bersama Kak Hui taysu melintang di tengah pintu.

Di belakang mereka berdua, masih ada para wakil berbagai partay persilatan dan anak buah Orang Berbaju Lila yang masih hidup. Akan tetapi setiap orang hampir sudah penuh tanda darah. Dengan sinar mata penuh kebencian, menatap pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu.

Orang Berbaju Lila melemparkan pedang panjangnya. Ia menghampiri dan berdiri di hadapan pemimpin Persekutuan Bulan Emas. Sambil menuding dengan jari tangan ia berkata:

“Tua bangka jahanam, kau sekarang mengerti apa artinya keberaran dan keadilan. Karena hendak memenuhi keinginanmu untuk menguasai dunia, kau telah kehilangan sifat kemanusiaanmu. Dengan tindakan yang sangat kejam, kau perlakukan sesamamu.”

“Anjing, kau masih belum pantas!” bentak pemimpin Persekutuan Bulan Emas.

“Tutup mulut! Sekarang soal pertama yang aku hendak lakukan adalah mewakili Tee-hong locianpwee menagih hutang kepadamu, karena kau telah membutakan kedua matanya kemudian menghabiskan jiwanya. Aku sudah berjanji hendak menagih hutang ini, gunakan satu jurus serangan ilmu jari tangan. Ilmu ini dinamakan koan-jit-cuan-gwat, locianpwee yang dipelajarinya setelah kedua matanya buta. ”

Setelah berkata demikian, tangan kanannya bergerak dengan gaya luar biasa anehnya.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas walaupun berkepandaian tinggi sekali, tetapi agaknya tidak berdaya menghadapi serangan yang belum pernah dilihatnya itu. Sebelum ia berhasil menangkis serangan itu, dan jari tangan Orang Berbaju Lila sudah menancap dalam matanya dan menggerakkan keluar biji matanya, sehingga dua mata itu merupakan dua lubang yang berlumuran darah.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas sambil mengeluarkan suara jeritan yang mengerikan mundur terhuyung-huyung dan menyender ke tembok ruangan. Tubuhnya yang besar gemetar tidak hentinya.

Tetapi Orang Berbaju Lila sendiri juga terpental jatuh di tanah karena serangan pembalasan pemimpin persekutuan itu, tetapi dengan cepat ia sudah berdiri lagi.

Sementara itu suara pertempuran di luar ruangan dalam sekejap sudah reda, hanya kadang-kadang terdengar satu dua kali suara rintihan, rintihan orang-orang yang terluka.

Hui Kiam yang sudah pulih kembali kekuatannya maju menghampiri pemimpin Persekutuan Bulan Emas. Katanya dengan suara bengis:

“Tua bangka, dahulu yang menyerang secara menggelap kepada empat dari Lima Kaisar Rimba Persilatan dengan menggunakan senjata jarum melekat tulang, apakah itu perbuatanmu?”

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas tiba-tiba memperdengarkan suara tertawanya bagaikan orang gila.

Untuk kedua kalinya Hui Kiam membentaknya: “Jawab pertanyaanku!”

Lama sekali pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu baru berhenti tertawa, kemudian berkata dengan suara serak:

“Karena kesalahan satu tindak, telah mengakibatkan kesalahan seluruhnya.   Seharusnya aku bertindak lebih kejam lagi. Seandainya waktu itu aku tidak meninggalkan hidup seorang korban dari perbuatanku, tidak nanti akan mengalami kejadian seperti hari ini.” 

Kak Hui taysu lalu berkata setelah memuji nama Buddha:

“Kau sudah cukup kejam, tetapi dasar sifat jahatmu sudah terlalu dalam, sehingga sudah hampir mati juga masih belum mau insaf.” Hui Kiam mengajukan pertanyaannya yang kedua:

“Tua bangka, aku menghendaki kau mengaku dari mulutmu sendiri, benarkah kau yang melakukan perbuatan itu?”

“Ya, benar!” jawabnya sambil menggerakkan tangannya, dan kemudian menggumpal asap putih meluncur keluar dari tangannya.

Orang Berbaju Lila lalu berseru:

“Awas racun dari dedaunan!”

Hui Kiam yang sudah siap siaga, selagi tangan pemimpin itu bergerak, ia sudah lompat melesat sejauh beberapa tombak.

Tatkala kabut putih itu buyar, Hui Kiam balik kembali dan berkata lagi dengan suara keras:

“Tua bangka, kau sekarang boleh menyerahkan jiwamu!” Pedang sakti Hui Kiam bergerak, badan pemimpin Persekutuan

Bulan Emas terdapat beberapa puluh tanda luka, sehingga

sekujur tubuhnya penuh darah. Dalam keadaan demikian pemimpin itu telah jatuh dan dengan demikian tamatlah sudah riwayatnya seorang berambisi besar yang hendak menguasai seluruh dunia.

Di luar ruangan terdengar suara kegirangan dari semua orang- orang yang merasa bersyukur atas kematian orang jahat itu.

Hui Kiam mulai reda hawa nafsu membunuhnya. Rasa bencinya yang meluap juga mulai buyar.

Ie It Hoan maju menghampirinya, dengan suara terharu memanggil kepadanya:

“Toako!”

Dengan rasa penuh bersyukur Hui Kiam mengawasinya dengan tidak berkata apa-apa. Ie It Hoan menunjuk Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng yang saat itu sedang melangkah masuk ke dalam ruangan seraya berkata:

“Toako, marilah siaote memperkenalkan toako dengan guru siaote!”

Hui Kiam agaknya dikejutkan oleh perkataan Ie It Hoan itu. “Oh! Jadi Ciok cianpwee itu adalah suhumu?”

“Ya, suhu sudah lama mengetahui bahwa rimba persilatan akan menghadapi bencana besar, maka ia rela dirinya dicaci maki dihiua oleh semua sahabat dan orang-orang rimba persilatan, pura-pura menyerah kepada Persekutuan Bulan Emas. Maksudnya hendak melakukan pekerjaan sebagai mata-mata di dalam persekutuan itu supaya dapat menghindarkan bencana itu. Maka dari itu semua gerakan dan tindakan Persekutuan Bulan Emas lebih dahulu tidak diketahui oleh siaote, itu adalah berita yang disampaikan oleh suhu.”

Hui Kiam ternganga. Ia menghampiri Manusia Gelandangan, lalu memberi hormat seraya berkata:

“Boanpwe tidak tahu bahwa Ciok cianpwe sedang menjalankan tugas berat untuk menyelamatkan dunia rimba persilatan. Atas kesalahan dahulu, harap locianpwee memaafkannya.”

Manusia Gelandangan menepuk pundak Hui Kiam seraya berkata:

“Bocah, kau tidak berdosa apa-apa. Aku dahulu waktu pertama kali melihat kau di gedungnya Sam Goan lojin, aku sudah tahu bahwa kau bukan orang sembarangan, di kemudian hari kau pasti akan menjadi tiang penegak kebenaran dalam rimba persilatan. Ha ha ha, benar saja pandanganku tidak salah. Bocah, kalau aku katakan kau sebagai orang pertama dalam rimba persilatan, rasanya tidak terlalu berlebih-lebihan!” Hui Kiam yang luka di pundaknya belum sembuh, ketika ditepak, timbul pula rasa sakitnya, tetapi ia menahan rasa sakit itu, ketika mendengar perkataan orang tua itu lalu berkata:

“Cianpwee terlalu memuji!”

“Em, em! Peraturan kita tidak boleh buang, oleh karena kau dengan Ie It Hoan adalah merupakan saudara angkat, aku terima sebutan cianpwee ini!”

Hui Kiam teringat sifat dan adat aneh orang tua itu, hampir saja ia merasa geli.

Ie It Hoan berkata kepada suhunya:

“Suhu, oleh karena suhu berpesan wanti-wanti harus memegang rahasia, toako terhadapku tidak mau mengerti.   Hal ini benar-benar membuatku sangat penasaran!”

“Bocah, tutup mulutmu, jangan membikin malu di hadapan orang banyak!”' jawab Manusia Gelandangan sambil melototkan matanya.

“Suhu, bagaimana selanjutnya kita harus membereskan persoalan ini?”

“Ini adalah urusan Manusia Teragung dengan muridnya!”

Hui Kiam tiba-tiba teringat kepada dendam sakit hati ibunya. Di wajahnya timbul pula nafsunya hendak membunuh, lalu berpaling dan berkata kepada Orang Berbaju Lila:

“Urusan di antara kita sudah tiba waktunya untuk dibereskan!” “Ya, aku sudah siap hendak menyelesaikan persoalan itu!”

berkata Orang Berbaju Lila tenang.

Ie It Hoan segera menyela dengan suara cemas: “Toako, kau kira cianpwee ini ”

Orang Berbaju Lila mengangkat tangannya, mencegah Ie It Hoan melanjutkan perkataannya.  Katanya: “Hiantit, kau tidak boleh sembarangan membuka mulut!” Manusia Gelandangan baru berkata:

“Biarlah aku Ciok Siao Ceng yang mendamaikan, bagaimaua?”

Orang Berbaju Lila berkata sambil menggelengkan kepala: “Dalam urusan ini siapapun tidak dapat mendamaikan,

hanya….” Matanya lalu beralih kepada Hui Kiam dan berkata: “Kita bicara di lain tempat, bagaimana?”

“Boleh,” jawab Hui Kiam dingin.

Orang Berbaju Lila berkata pula kepada Manusia Gelandangan:

“Harap kau dengan muridmu bertindak sebagai saksi!” “Baik!”

Orang Berbaju Lila lalu berkata kepada Manusia Teragung: “Suhu ”

Manusia Teragung dengan wajah pucat bertanya: “Ada urusan apa?”

“Maafkan muridmu yang telah berdosa, urusan di sini selanjutnya mohon suhu bersama Kak Hui cianpwee yang membereskan!” berkata Orang Berbaju Lila dengan suara duka.

“Apakah kau tetap hendak berbuat menurut rencanamu yang semula?”

“Ya... murid di sini hendak mengucap terima kasih lebih dulu kepada suhu!”

Setelah berkata demikian Orang Berbaju Lila lalu berlutut di hadapan Manusia Teragung.

Kak Hui taysu setelah memuji nama Budha lalu berkata: “Manusia yang telah bertobat masih dapat pengampunan Tuhan Yang Maha Esa. Semoga sicu bertindak menurut usul lolap.”

“Boanpwe akan berusaha sedapat mungkin,” berkata Orang Berbaju Lila dengan suara gemetar.

Semua pembicaraan itu, kecuali orang-orang yang bersangkutan, tidak seorangpun mengerti apa yang dimaksudkan, hanya Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan, dua orang yang sangat cerdik itu dapat menduga sebahagian, sehingga wajah mereka nampak sangat serius.

Dengan tanpa disadari mata Hui Kiam ditujukan kepada jenazah Tong-hong Hui Bun yang sudah tidak keruan macamnya itu. Dalam hatinya timbul semacam perasaan yang tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata.

Ia, Tong-hong Hui Bun, boleh dikata merupakan perempuan cantik utama dalam rimba persilatan, jnga seorang perempuan jahat, kejam dan cabul.

Dia pernah tergila-gila terhadap Hui Kiam dan cinta itu telah dibalas dengan cinta pula oleh Hui Kiam.

Tetapi kemudian perempuan itu telah menggunakan pengaruhnya obat menjerumuskan Hui Kiam ke dalam neraka.

Kenyataan memang kejam, juga jahat dan buruk. Cinta yang dahulu kini telah berubah kebencian yang memuncak, sehingga terciptalah tragedi sangat menyedihkan itu. Akan tetapi tragedi itu masih belum berakhir….

Pada saat itu seorang perempuan setengah tua berpakaian hitam masuk ke dalam ruangan. Setelah menyaksikan keadaan dalam ruangan sejenak lalu berkata:

“Biang keladinya sudah mati, semuanya sudah berakhir!” Perempuan itu bukan lain daripada ibu angkat Wanita Tanpa Sukma, juga merupakan anak angkat Kak Hui taysu sebelum ia menjadi padri.

“Bagaimana keadaan di luar?” bertanya Kak Hui taysu.

“Anak sudah memeriksa ke segala pelosok.   Semua orang yang bersalah sudah tiada yang hidup kecuali orang yang terluka dan yang sudah insaf kesalahannya. Yang dapat meloloskan diri jumlahnya sangat sedikit sekali, rasanya tidak akan membuat bencana!”

“Berapa banyak korban bagi kedua pihak?”

“Pihak musuh kematian kira-kira empat ratus jiwa, yang terluka seratus lebih. Di pihak kita yang mati juga ada kira-kira dua ratus orang, dan yang terluka tidak sampai seratus orang. Di antara korban itu satu pertiga adalah wakil-wakil berbagai partai rimba persilatan!”

“O Mi To Hud. Ini adalah suatu bencana terbesar dalam rimba persilatan selama seratus tahun ini.”

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Manusia Teragung:

“Urusan di sini selanjutnya sicu tolong membereskan. Lolap hendak bertapa untuk memikirkan dosa lolap, maka dengan ini lolap mohon diri.”

Kemudian dia berkata pula kepada Hui Kiam dan Orang Berbaju Lila:

“Dosa bagaikan lautan, lekaslah kembali ke tepi. Semoga sicu berdua dapat memahami kehendak Tuhan Yang Maha Esa.”

Setelah berkata demikian, padri tua ini merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat kepada semua orang yang berada di situ.

Semua orang yang ada di situ membalas hormat sambil membungkukkan badan. Setelah Kak Hui taysu dan anak pungutnya berlalu, Orang Berbaju Lila segera berkata dengan nada suara dingin:

“Mari kita pergi.”

Manusa Teragung dengan suara terharu berkata kepada Orang Berbaju Lila:

“Murid durhaka, ingat pesan suhumu, kau harus berusaha baik-baik untuk menyelesaikan persoalan ini.”

“Ya,” jawab Orang Berbaju Lila dengan nada suara sedih.

Ia berjalan lebih dahulu dengan diikuti oleh Hui Kiam dan Manusia Gelandangan dengan muridnya. Sekeluarnya dari ruangan itu, lalu lari menuju keluar lembah.

Manusia Teragung menghela napas panjang.

Semua orang yang ada di situ telah menyaksikan berlalunya empat orang itu dengan perasaan terheran-heran. Tiada satupun yang tahu apakah sebetulnya mereka hendak lakukan.

Hui Kiam berempat setelah keluar dari jalan lembah, lari menuju ke sebuah bukit.

Tiba di atas bukit, Hui Kiam berdiri berhadapan dengan Orang Berbaju Lila.

Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan berdiri di samping dengan perasaan gelisah.

Dalam suasana yang penuh misterius itu, juga diliputi oleh perasaan tegang.

Setelah melalui keheningan yang cukup lama, baru terdengar suara Manusia Gelandangan:

“Ijinkan aku untuk berkata beberapa patah kata saja.”

Orang Berbaju Lila mengangkat ke atas tangannya seraya berkata: “Saudara Ciok, semua sudah tidak ada gunanya. Harap kalian berdua sebagai saksi saja, sekali-kali jangan turut campur tangan….”

“'Apakah kau tidak boleh tidak harus bertindak menurut rencanamu semula?”

“Ya. Ini adalah takdir yang telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, tidak dapat dilawan oleh kehendak manusia.”

“Kau gila    ”

“Tidak! Harap saudara Ciok dapat memahami perasaanku.” Ie It Hoan juga berkata dengan suara gemetar:

“Toako….”

Tetapi baru berkata demikian sudah dicegat oleh Orang Berbaju Lila:

“Kau tidak boleh campur bicara!”

Ie It Hoan terpaksa diam, hanya mukanya saja menunjukkan perasaan hatinya yang gelisah.

Hui Kiam berkata sambil menggertak gigi:

“Sekarang anda boleh membuka kain kerudung di mukamu!”

Orang Berbaju Lila tidak berkata apa-apa, ia membuka kerudung di mukanya. Di balik kerudung itu ternyata merupakan seraut wajah seorang laki-laki setengah umur yang sangat tampan, hanya dari kedua matanya menunjukkan perasaan hatinya yang diliputi oleh kedukaan.

Hui Kiam tercengang. Dalam bayangannya dianggapnya muka Orang Berbaju Lila yang ditutup oleh kain kerudung itu tentunya sangat buruk, tak disangka dugaan itu meleset jauh. Tetapi semua ini tidak mempengaruhi tekadnya yang hendak menuntut balas dendam. Maka ia lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Sekarang anda boleh mulai memberi keterangan.” Wajah Orang Berbaju Lila beberapa kali telah berubah, kedukaan dalam hatinya nampak semakin besar, lama sekali ia baru membuka suara:

“Ada beberapa hal aku perlu menerangkan lebih dahulu.” “Katakanlah.”

“Pertama, dahulu karena aku ingin memenuhi nafsu Tong- hong Hui Bun yang mempunyai hobi mengumpulkan segala kitab pusaka pelajaran ilmu silat, setelah aku mengetahui bahwa kitab pusaka Thian Gee pokip berada di tangan Lima Kaisar Rimba Persilatan, timbullah pikiranku hendak merampasnya.”

“Em.”

“Kaisar Boh Tee dan Cui Tee, memang benar binasa di bawah pedangku, tetapi itu di dalam suatu pertempuran secara adil.”

Hui Kiam tidak dapat menahan sabar. Ia memotong sambil menggertak gigi:

“Meskipun kau katakan tadi, tetapi maksudmu tidak bersih.” “Sementara jarum melekat tulang yang mengenai diri suhumu

Tho Tee dan supekmu Hwee Tee, kiranya kau sudah tahu sendiri

bahwa itu adalah perbuatan pemimpin Persekutuan Bulan Emas Thian Hong.”

“Tentang ini aku tahu.”

“Sementara itu Toa-supekmu Kim Tee sebaliknya telah binasa di tangan Thian Hong.”

“Dengan kepandaian yang kau miliki pada waktu itu, kau dapat membinasakan dua supek, apa yang kau katakan sebagai pertempuran adil, sesungguhnya sangat mencurigakan?”

“Kau benar, setelah hal itu terjadi aku baru tahu bahwa mereka berdua lebih dulu sudah terkena serangan jarum melekat tulang maka kepandaian dan kekuatannya jauh berkurang.” “Menurut keteranganmu ini, jadi semua dosa itu harus ditimpahkan kepada diri Thian-hong seorang saja?”

“Tidak! Aku tidak ada maksud untuk mengelakkan tanggung jawab.”

“ Aku kira kau juga tak dapat mengelakkan!”

“Kedua, peristiwa pembunuhan Sam-goan-pang, Ouw-yang Hong dan Liang-khie-si-seng suami istri serta lain-lainnya, semua itn adalah aku yang melakukan atas perintah Thian-hong!”

“Siapa pula yang membunuh Oey Yu Hong dengan jarum melekat tulang?”

“Itu adalah perbuatan Tong-hong Hui Bun si perempuan hina itu.”

“Bagaimana dengan kematian yang menyedihkan atas diri Penghuni Loteng Merah dengan ayah almarhum?”

Orang Berbaju Lila memejamkan matanya, lama ia baru menjawab dengan suara sedih:

“Sudah tentu aku!”

“Kau pernah berkata bahwa kau adalah sahabat baik ayah almarhum, mengapa kau melakukan perbuatan sekeji itu atas dirinya?”

“Sebab ia seharusnya mendapatkan kematian semacam itu.” “Mengapa ia harus mendapat kematian?”

“Sebab ia meninggalkan anak istrinya, melakukan perbuatan yang melanggar hukum Tuhan. Perbuatannya itu tidak dapat diampuni oleh siapapun juga, mengapa tak harus dibunuh?”

“Tutup mulut! Tentang itu tidak seharusnya kau membunuh secara demikian, karena aku lihat tujuan yang utama agaknya ditujukan kepada Penghuni Loteng Merah, itu apa sebabnya?” Orang Berbaju Lila untuk sesaat bungkam, akhirnya berkata sambil menggertak gigi:

“Keteranganku di sini sudah habis….”

“Jadi kau anggap sudah habiskah keteranganmu?” “Sudah habis!”

“Sekarang aku hendak membunuhmu, kau tentunya tidak akan sesalkan perbuatanku?”

“Kau... bunuhlah!”

Ie It Hoan tiba-tiba menjerit:

“Toako jangan!”

Manusia Gelandangan juga berseru dengan suara gemetar: “Hui Kiam,  mengapa kau tidak  bertanya dulu  asal-usulnya

orang?”

Orang Berbaju Lila berkata dengan nada suara bengis:

“Ciok Siao Ceng, apakah kau menghendaki aku mati penasaran?”

“Ini terlalu kejam, tidak seharusnya kau. ”

“Aku hendak menyelesaikan, tak demikian tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan ini.”

“Tetapi. ”

“Tutup mulut!”

Hui Kiam yang pada saat itu pikirannya sudah diliputi oleh perasaan dendam karena kematian ayah bundanya dan suhunya serta kawan-kawan rimba persilatan, sama sekali tak dapat memikir percakapan antara dua orang itu yang mengandung rahasia dan banyak mencurigakan, serta sikap Orang Berbaju Lila yang jauh berbeda daripada kebiasaannya. Ia lalu berkata: “Kali ini tindakanmu terhadap pergerakan untuk membasmi Persekutuan Bulan Emas guna menghindarkan bencana yang mengancam rimba persilatan, jasamu tak dapat dilupakan, tetapi itu hanya terhitung suatu perbuatan untuk menebus dosa atas segala perbuatanmu di waktu yang lampau, sementara itu mengenai hutang jiwa terhadap keluargaku dan perguruanku, kau harus membayar dengan darahmu!”

Manusia Gelandangan berteriak dengan suara keras:

“Aku tidak akan tinggal diam untuk membiarkan terjadinya peristiwa yang menyedihkan ini. Hui Kiam, ia adalah. ”

Tetapi semua usaha orang tua itu ternyata sia-sia belaka, sebelum habis ucapannya, ia dengar suara jeritan ngeri. Orang Berbaju Lila sudah roboh di tanah dengan lobang di dada.

Sementara itu Hui Kiam masih berdiri tegak dengan pedang di tangannya. Ujung pedangnya masih meneteskan darah segar.

Ie It Hoan berkata dengan suara parau:

“Toako, kau   salah.”

Manusia Gelandangan berkata sambil menghela napas: “Demikianlah kehendak Tuhan! Manusia bisa berbuat apa?

Apa yang akan terjadi, biar bagaimana tidak dapat dicegah lagi.”

Setelah berkata demikian, ia membungkukkan badan menotok beberapa bagian jalan darah badan Orang Berbaju Lila untuk menghentikan mengalirnya darah, kemudian berkata kepadanya:

“Kau tak seharusnya bertindak demikian.”

Wajah Orang Berbaju Lila terlintas senyum getir kemudian terdengar suaranya yang halus hampir tidak kedengaran:

“Aku... sudah merasa puas, inilah... suatu... tindakan....

untuk. menebus dosaku!”

Hui Kiam tiba-tiba berpaling dan bertanya kepada Ie It Hoan: “Mengapa sejak tadi aku tidak melihat Orang Menebus Dosa?”

Dengan air mata berlinang-linang Ie It Hoan berkata dengan suara duka:

“Itulah dia!”

Hui Kiam terperanjat. Katanya dengan suara terharu: “Apakah dia Orang Menebus Dosa?”

“Benar, Orang Menebus Dosa, dengan kematian telah menebus dosanya!”

“Ia tetap harus mampus!” berkata Hui Kiam dengan melawan perasaan hatinya.

“Kaulah yang harus mampus!” berkata Manusia Gelandangan dengan suara bengis.

Hui Kiam mundur satu langkah. Katanya dengan suara dingin: “Perkataan Cianpwe ini agaknya kurang dipikir….”

Manusia Gelandagan menghela napas panjang, kemudian berkata:

“Anak, tahukah kau dia siapa?”

“Dia adalah algojo, pembunuh nomor wahid, penjahat besar, orang yang berupa muridnya Manusia Teragung….”

“Tutup mulut! Dia adalah ayahmu sendiri, To-liong Kiam Khek Su-ma Suan.”

Hui Kiam pada saat itu seperti disambar geledek. Ia mundur beberapa langkah kemudian bertanya dengan suara gemetar:

“Apa?”

Dengan wajah pucat pasi Ie It Hoan berkata: “Ia adalah ayahmu sendiri, To-liong Kiam Khek.” “Tidak mungkin, tak mungkin, dia adalah….” Hui Kiam berteriak-teriak bagaikan orang kalap. Matanya dirasakan gelap, pedang di tangannya terlepas jatuh, badannya juga hampir rubuh!

Dalam waktu sekejap itu kaki dan tangannya seolah-olah dipereteli, tubuhnya seolah-olah ditusuk barang tajam, jiwanya juga seolah-olah terbang meninggalkan raganya.

Pada saat itu, otaknya dirasakan kosong melompong, semua pikiran dirasakan tidak ada. Perasaannya menjadi beku.

Ini suatu kejadian yang menakutkan, juga suatu kenyataan yang sangat kejam. Sebagai anak telah membunuh ayahnya sendiri, ini merupakan suatu kejadian yang belum pernah ada di dalam rimba persilatan. Pedang anaknya telah tersiram oleh darah ayahnya.

Mata Orang Berbaju Lila yang suram, mengeluarkan dua butir air mata. Bibirnya bergerak-gerak.

“Suruh dia kemari,” demikian kata-kata yang hampir tidak kedengaran keluar dari mulutnya.

Manusia Gelandangan dengan nada suara yang tidak berubah, berkata kepada Hui Kiam:

“Hui Kiam, kemari! Dengarlah pesan ayahmu yang terakhir.”

Hui Kiam menyemburkan darah dari mulutnya. Apa yang telah terjadi semua seperti impian. Ya, satu impian buruk yang nenakutkan, tetapi benar-benar merupakan sesuatu kenyataan yang tidak bisa dibantah lagi.

Dengan badan sempoyongan ia menghampiri ayahnya, lalu menjura dan berlutut di hadapannya. Air mata mengalir deras.

Manusia Gelandangan berkata dengan suara gemetar: “Tenanglah sedikit, waktunya tidak banyak lagi.” Hui Kiam mengangkat kepalanya, dengan menggunakan kekuatan yang paling besar baru dapat mengeluarkan perkataan dari mulutnya.

“Ayah, sekalipun mati seratus kali anakmu juga tidak dapat menebus dosa ini.”

Semangat Orang Berbaju Lila agaknya terbangun dengan mendadak. Dengan suara yang lemah dan gemetar ia berkata:

“Anak, ayahmulah yang harus menerima kematian ini. Sebetulnya aku pikir hendak membiarkan selamanya menganggap bahwa To-liong Kiam Khek sudah binasa di dalam gua di puncak gunung batu itu, akan tetapi, demikianlah akhirnya kehendak Tuhan, benar-benar merupakan suatu hal yang patut disesalkan, kau tidak perlu menyusahkan dirimu sendiri, kau tidak salah, justru ayahmu sendiri yang harus mati, seharusnya siang- siang harus mati, ibumu dengan secara tidak langsung telah binasa di tanganku.”

“Ibu….”

“Kau sudah tahu sendiri, tusuk konde emas yang berkepala burung Hong itu adalah barang Pek-leng-lie yang diberikan kepadaku. Sungguh tidak disangka kemudian telah dicuri oleh Tong-hong Hui Bun dan digunakan sebagai senjata untuk membunuh ibumu.   Tong-hong Hui Bun memang mempunyai sifat iri hati yang tidak ada taranya. Ia tidak mengijinkan orang lain membagi kekasihnya. Aku telah dibikin mabuk oleh kecantikannya sehingga menuju ke perjalanan untuk menghancurkan diriku sendiri. Penghuni Loteng Merah juga merupakan salah satu korban kelakuanku, semua ini sudah tiada alasan bagiku untuk hidup terus. Hanya, terhadap kau, terhadap ibumu, kemenyesalanku membuat aku mati tidak bisa meram.”

“Ayah!”

“Perempuan hina itu telah menggunakan jenazah seorang perempuan muda, katanya ibumu telah dibinasakan orang. Aku percaya kebenarannya, sehingga aku membuat kuburan di atas gunung itu. Ketika aku mengetahui asal-usulnya dirimu, semuanya sudah terlambat. Anak, kau seorang she Hui, she Su- ma bagimu merupakan suatu kehinaan, kau lupakan itu, aku tidak takut!”

Ucapannya berhenti dengan mendadak. Kepalanya terkulai dan untuk yang kesekian kalinya ia pingsan lupa diri.

Hui Kiam menjerit, mulutnya kembali menyemburkan darah segar, hatinya hancur luluh selagi masih tetap dalam keadaan berlutut. Ia merasakan seolah-olah dirinya di lain dunia. Semuanya nampak guram, seram menyedihkan, sepi sunyi….

Entah berapa lama telah berlalu, Hui Kiam masih terus berlutut bagaikan orang yang sudah kehilangan semangat.

Ie It Hoan yang merasa kasihan lalu maju menghampiri dan berkata:

“Toako, sudahlah, jangan terlalu bersedih. Pikirkan hari kemudianmu.”

Hui Kiam mendadak lompat bangun. Dengan suara seperti orang kalap berkata:

“Aku bukan manusia, aku adalah binatang, aku bukan manusia

....”

Tiba-tiba ia memungut pedang saktinya. Pedang itu digunakan untuk menggorok lehernya sendiri ....

Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan dengan serentak menjerit. Keduanya menerjang. Hui Kiam sambil mengacungkan pedangnya, berkata deogan suara bengis:

“Jangan mendekati aku!”

Sikap dan suaranya demikian bengis, sehingga suhu dan murid itu terpaksa membatalkan maksudnya dan mundur beberapa langkah. Hui Kiam memandang pedang di tangannya. Tiba-tiba ia ingat bahwa pedang itu adalah benda pusaka peninggalan perguruannya, seharusnya ada pemberesannya, jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain. Karena berpikir demikian, maka pedang itu dimasukkan lagi ke dalam sarungnya.

Manusia Gelandangan dan Ie It Hoan ketika menyaksikan Hui Kiam sudah membatalkan maksudnya hendak nembunuh diri, baru menarik napas lega.

Hui Kiam kemudian mengangkat tubuh ayahnya, dan secepat kilat lalu turun dari puncak bukit.

“Toako! Toako!” demikian Ie It Hoan berseru sambil mengejar. Tetapi ia dan Manusia Gelandangan tidak berhasil mengejarnya, sebentar saja Hui Kiam sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.

T A M A T