Pedang Pembunuh Naga Jilid 34

Jilid 34

“TIDAK apa, dalam kesunyianku selama sepuluh tahun ia ini, aku menemukan keajaiban barisan itu, asal aku merubah sedikit saja, sudah tidak ada orang yang bisa masuk lagi.”

“Mengapa kau tidak melakukannya itu sejak dahulu?” “Aku baru menemukan pada waktu belakangan ini saja.”

“Oh! Adik Tin, harap kau baik-baik jaga dirimu, aku hendak pergi.”

Sekali lagi Hui Kiam memberi ciuman hangat, kemudian baru meninggalkannya. Dalam hati telah berjanji, ia tidak akan meninggalkannya terlalu lama. Sudah sekian tahun lamanya ia hidup menyendiri dalam kesunyian, hal ini tak dapat dilakukan oleh siapapun juga orangnya yang masih berusia demikian muda. Dahulu karena menerima perintah ayahnya yang harus melindungi pedang sakti dan menantikan pemiliknya, tetapi sekarang ia akan menantikan kembalinya sang kekasih.

Hui Kiam panas dan gelisah. Ia harus pergi menyusul Pui sucinya, tetapi kemana harus menyusul?

Sewaktu ia lari ke jalan raya, tiba-tiba melihat sesosok bayangan orang berdiri menyender di sebuah batu besar di pinggir jalan. Baru melihat dandanannya ia sudah berseru dengan perasaan girang:

“Suci, kiranya kau ada di sini!”

Bagaikan seorang yang mendapatkan barang berharga, demikian girang perasaan hati Hui Kiam pada saat itu. Maka ia segera lari menghampirinya.

Akan tetapi apa yang terjadi? Ketika Hui Kiam sudah berada sangat dekat, tiba-tiba ia menjerit, matanya berkunang-kunang, hampir saja roboh di tanah.

Ternyata Pui Ceng Un telah berdiri menyender dalam keadaan tak bernyawa. Di depan dadanya masih terdapat banyak tanda darah, tetapi belum membeku. Sepasang matanya terbuka lebar. Meskipun tak bersinar tapi masih dapat dilihat bagaimana rasa bencinya pada waktu belum putus nyawanya. Di samping jenazahnya, di lamping potongan batu, terdapat sebaris huruf yang tertulis dengan darah:

“Adik, inilah yang pertama. Aku hendak membunuh habis semua orang yang ada hubungan dengan kau, kau membencilah! Dalam hidupku aku cuma kenal dua perkara, ialah cinta dan benci. Kalau bukan cinta aku harus benci, membenci sampai ke akar-akarnya tanpa meninggalkan bekas.”

Sekujur badan Hui Kiam gemetar, nyawa dan semangatnya seolah-olah sudah meninggalkan raganya.

Hui Kiam berlutut di hadapan sucinya. Air mata mengucur deras.

Ia menjawab:

“Suci, akulah yang membunuhmu, akulah algojonya!”

Tetapi sang suci itu sudah mati, biar bagaimana sudah tidak bisa hidup kembali!

Entah berapa lama telah berlalu, pikirannya perlahan-lahan telah pulih kembali. Wajahnya yang tampan telah menjadi dingin angkuh seperti biasanya, bahkan lebih dari itu.

Bunuh! Aku harus bunuh mati dia berikut semua orang Persekutuan Bulan Emas! Demikian ia menggumam sendiri.

Tidak lama kemudian matahari sudah terbenam di ufuk barat. Hui Kiam baru mulai menggali tanah untuk mengubur jenazah sucinya.

Selesai mengubur, ia berlutut di hadapan kuburannya dan menyatakan sumpahnya hendak menuntutkan balas untuknya.

Dalam dada Hui Kiam saat itu hanya dipenuhi oleh rasa dendam dan kebencian, tidak ada perasaan apa-apa lagi.

Seandainya ia tidak lengah dan mengajak sucinya masuk ke dalam barisan, sang suci itu pasti tidak akan mengalami kematiannya yang menyedihkan.

Seandainya ia tidak memegang derajatnya sebagai seorang gagah yang berjiwa besar dan membunuh Tong-hong Hui Bun pada waktu itu juga, sang suci pasti juga tidak akan binasa.

Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur, menyesal tak ada gunanya.

Akhirnya, dengan hati kosong dan pikiran limbung Hui Kiam lari menuju keluar gunung. Bagaikan seekor kelelawar, Hui Kiam terbang di waktu tengah malam. Agaknya hanya dengan cara demikian ia mengurangi kesedihannya. Ia lari tanpa tujuan, hanya lari, lari terus lari.

Tetapi manusia mempunyai semacam kodrat, tidak perlu dalam keadaan mabuk atau gila, dengan sendirinya bisa lari menuju ke tempat yang mempunyai kesan paling dalam dalam hatinya. Begitulah dengan keadaannya Hui Kiam, meskipun nampaknya lari tanpa tujuan, tetapi ia menuju ke arah pulang ke tempat darimana ia berangkat.

Matahari terbit, matahari terbenam dan kemudian terbit lagi.

Tenaga manusia biar bagaimana ada batas-batasnya. Letih membuat ia sadar, lapar dan dahaga datang saling susul. Maka setelah menenangkan pikirannya, ia singgah di satu perkampungan kecil untuk mengisi perutnya.

Rumah makan di perkampungan jauh berbeda keadaannya dengan rumah makan di kota besar, di situ hanya terdapat daging kambing atau sapi dan daging kering untuk teman nasi. Dalam pikiran pepat, Hui Kiam minum arak secawan demi secawan, agaknya sengaja ingin mabuk.

Kala itu hari masih pagi. Dalam ruangan makan hanya terdapat dua tiga orang tamu saja. Mereka makan dengan tergesa-gesa, tiada satupun yang memperhatikan Hui Kiam yang sikapnya agak aneh.

Sudah enam poci arak masuk ke dalam perutnya, tetapi ia masih minta ditambah lagi.

“Tuan ingin tambah arak lagi?” demikian pelayan rumah makan bertanya.

“Apakah kau sudah tuli?!”

“Heh! Hamba takut tuan tidak kuat, sebab arak keluaran tempat ini sudah terkenal kerasnya.”

“Bohong!” “Betul tuan.” Hui Kiam bersikeras. Pelayan itu terpaksa menambah araknya lagi.

Betul saja, mata Hui Kiam mulai berkunang-kunang hingga dalam hatinya menggumam: Apakah benar aku sudah mabuk?

Akan tetapi, ia masih terus minum secawan demi secawan melalui tenggorokannya.

Ia memang sengaja minum sepuas-puasnya, hendak melenyapkan kedukaan dalam hatinya. Tetapi kedukaan yang sudah menggores terlalu dalam itu tidak mudah dihapus. Maka semakin banyak ia minum arak, kedukaannya semakin bertambah.

Dalam keadaan demikian timbullah pikirannya ingin melihat darah. Darah musuhnya.

Seorang laki-laki setengah umur berdandan sebagai sastrawan dengan wajahnya seperti orang berpenyakitan, dia masuk ke rumah makan itu. Setelah matanya menyapu sejenak lalu menuju dan duduk di depan meja Hui Kiam. Sang pelayan segera menyediakan arak dan hidangan.

Laki-laki itu segera menuang arak dan diminumnya tanpa malu- malu lagi.

Hui Kiam sangat mendongkol. Ia menegurnya dengan suara dingin:

“Apa artinya perbuatan tuan ini?”

“Sahabat kecil, apakah kau sayang dengan satu cawan arak saja?” demikian laki-laki berpenyakitan itu balas bertanya.

“Tuan jangan coba-coba cari mampus!”

“Sahabat kecil, apakah lantaran satu cawan arak saja kau hendak membunuh orang?”

“Begitulah, sekarang aku justru ingin membunuh orang!”

Hui Kiam bangkit, tetapi kepalanya mendadak dirasakan berat, bumi yang diinjak seperti berputar, sehingga badannya terhuyung- huyung. Terpaksa ia duduk lagi. Dalam hatinya berpikir: Apakah aku benar-benar sudah mabuk?

Laki-laki setengah umur itu berkata pula:

“Apakah sahabat kecil adalah Hui siaohiap yang mempunyai nama julukan Penggali Makam itu?”

“Benar.”

“Kaluu begitu sungguh kebetulan sekali. Aku yang rendah Teng Coan. Sudah lama aku mengagumi siaohiap, sayang tidak mendapat kesempatan untuk bertemu muka. Tadi di luar aku yang rendah telah mendengar pembicaraan orang yang hendak berlaku tidak baik terhadap siaohiap, maka aku yang rendah sengaja memberanikan diri. ”

“Siapa yang akan berlaku jahat padaku?” bertanya Hui Kiam sambil menatap laki-laki itu dengan matanya yang sudah merah.

“Orang ini besar sekali pengaruhnya!” “Siapa?”

“Minumlah dulu, nanti kau akan kuberitahukan....” katanya laki- laki itu kemudian menuangkan arak ke dalam cawan.   Ia sendiri juga mengisi cawannya, kemudian diangkat dengan dua tangannya seraya berkata:  “Mari!”

Hui Kiam melirik laki-laki berpenyakitan itu sejenak kemudian mengangkat cawannya. Selagi hendak diminumnya, tiba-tiba cawan di tangannya itu hancur berantakan disambit oleh tangan jail. Araknya mengepulkan asap, baju-baju yang tersiram arak itu juga meninggalkan bekas berlubang-lubang.

Laki-laki berpenyakitan itu tiba-tiba mengayunkan tangannya menyerang Hui Kiam. Karena serangan itu dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, apalagi Hui Kiam masih belum sadar benar-benar hingga reaksinya tak secepat dari biasanya, serangan itu nampaknya tak dapat dihindarkan lagi.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri.   Laki-laki berpenyakitan itu mendadak rubuh terjengkang. Hui Kiam yang baru tersadar segera dapat lihat sebatang bambu sumpit menancap di pelipis laki-laki itu. Jelaslah sudah bahwa ada orang yang menolong dirinya secara menggelap. Matanya berputaran mengawasi orang-orang yang masih ada di situ, akan tetapi beberapa tamu yang masih ada ternyata sedang makan dan mengawasi kejadian itu dalam keadaan terkejut. Tidak jauh di tempat ia duduk, berdiri seorang pelayan yang sangat mencurigakan.

Hui Kiam mengawasinya sebentar lalu bertanya padanya: “Kaukah?”

Pelayan itu dengan sikapnya bagaikan orang dungu balas bertanya:

“Hamba ada apa?”

“Oh, oh! Tuhan, bagaimana hamba berani membunuh orang? Ini… ini…” Tiba-tiba ia berteriak: “Tolong, tolong! Ada orang membunuh!”

Beberapa tamu yang masih ada, cepat-cepat meninggalkan tempatnya dan lari keluar. Tetapi para pegawai rumah makan itu termasuk tukang masaknya, bahkan menyaksikan kejadian itu dengan sikap acuh tak acuh.

Hui Kiam berdiri bingung. Siapakah yang menghancurkan cawan di tangannya dan kemudian dengan menggunakan sumpit bambu membunuh laki-laki setengah umur itu?

Setelah semua tetamu pada berlalu, pelayan yang mencurigakan dan yang tadi berteriak itu menggapai kepada Hui Kiam seraya berkata:

“Toako, mari ke dalam!”

Ia lalu berjalan dan masuk ke sebuah pintu yang tertutup oleh tirai.

Hui Kiam ketika mendengar suara itu segera mengetahui siapa adanya pelayan yang mencurigakan itu, maka segera mengikutinya. Di belakang pintu bertirai itu ternyata sebuah pekarangan yang tidak seberapa luas. Pelayan itu menyambut kedatangan Hui Kiam sambil tertawa berseri-seri.

“Toako, sungguh berbahaya, untung berhasil.”

Pelayan itu bukan lain daripada si Sukma Tidak Buyar yang menyaru.

“Apakah sebetulnya?”

“Toako, orang yang bernama Teng Coan itu tadi, adalah orang yang sangat berbahaya. Kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada siaote. Jikalau bukan karena perhatiannya dipusatkan kepadamu, sumpitku itu tadi sudah tentu tidak dapat menamatkan jiwanya.” “Dia orang dari golongan mana?”

“Dia adalah anggota pelindung hukum cabang ke-lima Persekutuan Bulan Emas.”

“Apakah kedatangannya memang sengaja hendak membohong aku?”

“Bagaimana kau bisa berada di sini menyaru sebagai pelayan?”

“Rumah makan ini adalah kepunyaan salah seorang anak buah Orang Berbaju Lila yang digunakan sebagai tempat atau pos penghubung!”

“Oh! Kiranya begitu ”

Ie It Hoan tiba-tiba menanya dengan sikap gelisah:

“Enci Un bukankah jalan bersama-sama dengan toako, mengapa. ?”

Wajah Hui Kiam berubah gusar, dingin, tetapi matanya mengembang air.

Sikap itu mengejutkan Ie It Hoan, tanya pula dengan perasaan cemas:

“Toako, bagaimana dengan dia?” “Sudah meninggal!”

Jawaban itu bagaikan geledek di siang hari bolong. Ie It Hoan saat itu berdiri terpaku dengan mata dan mulut terbuka lebar. Ia terhuyung-huyung hampir rubuh, kemudian baru terdengar suara teriakannya:

“Dia telah meninggal?!”

“Ya, ia sudah meninggal,” jawab Hui Kiam sedih. “Bagaimana cara kematiannya?”

“Aku yang membunuh!” Ie It Hoan mundur beberapa langkah, lama baru berkata: “Kau... telah membunuhnya?”

Hui Kiam membuka lebar matanya tidak menjawab. “Toako, kau... kau... mengapa membunuhnya?”

Hui Kiam menarik napas, ia tetap membungkam, agaknya sedang berusaha menindas perasaannya.

Sekujur badan Ie It Hoan gemetaran matanya memancar sinar kebencian. Tiba-tiba ia berkata:

“Aku hendak mengadu jiwa denganmu!”

Dengan tenaga sepenuhnya ia meninju dada Hui Kiam.

Hui Kiam mengeluarkan seruan tertahan, badannya terhuyung-huyung mundur dua langkah, mulutnya mengeluarkan darah. Ie It Hoan sebaliknya, berdiri bingung mengawasi dengan mata terbuka lebar. Ia sungguh tidak menduga Hui Kiam tidak mengelak dan membalas serangannya. Ia menerima dirinya dihajar demikian rupa.

“Balaslah! Bunuhlah aku! Aku memang bukan lawanmu, mengapa kau tidak membunuhku?”

Hui Kiam tersenyum sedih, kemudian baru berkata:

“Adik Hoan, aku rela kau hajar. Meskipun bukan aku yang turun tangan sendiri, tetapi kematiannya itu disebabkan karena aku.”

“Katakan, bagaimana ia binasa?”

“Ia telah terkurung di dalam barisan batu ajaib. Aku telah lalai bahwa dia tidak paham ilmu barisan itu, aku hanya tujukan perhatianku kepada keselamatan Cui suci. Untung aku keburu datang, sehingga Cui suci terhindar dari kematian. Tidak seharusnya aku melepaskan Tong-hong Hui Bun sehingga Pui suci kemudian terbunuh olehnya.” “Jadi diakah yang membunuhnya?” “Ya.”

“Dimana jenazahnya?” “Sudah kukubur.”

“Kalau begitu untuk melihat wajahnya yang terakhir saja aku sudah tidak bisa lagi.”

Ie It Hoan mengepal-ngepal tangan dan menyambak- nyambak rambutnya sendiri, air mata mengalir bercucuran.

Dengan suara sedih Hui Kiam berkata:

“Adik Hoan, utang darah ini aku sudah bersumpah pasti hendak menagihnya.”

“Tidak, aku hendak turun tangan sendiri untuk membunuhnya. ”

“Kau bukan tandingannya…!”

“Kalau aku mati aku bisa berjumpa lagi dengan enci Un.”

“Adik Hoan, tenanglah, kedukaanku tidak lebih ringan daripadamu, karena di samping kehilangan suciku, aku masih menderita batin karena kealpaanku ”

“Sudahkah kau sampaikan maksudku ?”

“Aku sudah beritahukan kepadanya. Ia hanya berkata ia tidak pantas, tetapi aku sudah dapat lihat bahwa ia juga mencintaimu.”

Ie It Hoan membalikkan badannya, ia melesat keluar melalui dinding tembok pekarangan. Dengan cepat Hui Kiam menghalanginya seraya bertanya: “Kau hendak kemana?”

“Hendak membunuh perempuan jalang itu!” “Apakah kau sudah gila?!”

“Biarlah!”

“Adik Hoan, kenapa hendak membunuhnya?” “Cabang ke-lima persekutuan itu letaknya di satu kuil kira-kira sepuluh pal dari sini. Mungkin dia masih berdiam di sana. Jikalau tidak, tidak nanti akan terjadi usaha pembunuhan Teng Coan atas dirimu. ”

Hui Kiam menganggukkan kepala. “Jalan, mari kau tunjuk jalannya!”

Belum lama mereka berjalan, Ie It Hoan tiba-tiba menghentikan kakinya dan berkata:

“Toako, aku ingin bicara sebentar!”

Hui Kiam juga menghentikan kakinya. Ia bertanya dengan perasaan heran:

“Kali ini siaote pergi, takkan sudah sebelum berhasil membunuh musuh, maka bagaimana kesudahannya masih belum dapat diduga. Ada suatu hal yang tidak boleh tidak aku hendak menyerahkan padamu lebih dulu.”

“Jangan berkata yang bukan-bukan, mari jalan!”

“Tidak! Ini sangat penting, juga merupakan tugas Enci Un yang belum diselesaikan!”

“Oh! Urusan apa?”

“Sewaktu Enci Un pergi ke gua Raja Iblis di gunung Kui-im-san untuk minta obat buat toako, pernah terima baik syarat yang diajukan oleh penghuni goa itu.”

“Syarat-syarat apa?”

“Enci Un telah berjanji kepada penghuni goa itu untuk mencari seorang yang bernama Giok-bin Sin Liong Cho Hong.”

“Nama dan gelar ini….” “Oh!”

“Dia adalah Orang Tua Tiada Turunan.” “Perghuni goa itu bernama Thio Hong Ge. Dahulu julukannya Bidadari Cantik Berkepandaian tinggi, juga adalah istri Orang Tua Tiada Turunan cianpwee yang dahulu pergi meninggalkannya!”

“Mengapa begitu kebetulan sekali? Orang Tua Tiada Turunan locianpwee pasti girang sekali.”

“Tidak, ia masih belum tahu!” “Mengapa?”

“Menurut keterangan Enci Un, mungkin bisa terjadi hal-hal yang tak terduga, maka kita pikirkan dulu sebaik-baiknya baru nanti diberitahukan kepadanya. Tetapi, Enci Un... sudah tidak dapat memikirkan pikiran lagi, maka soal ini aku minta toako yang menyelesaikannya. Menurut pikiran siaote, sebaiknya toako ikut padanya pergi ke gunung Kui-im-san, kemudian toako bisa bertindak dengan melihat gelagat.”

“Bisa terjadi hal-hal yang tidak terduga?” “Kita masih susah untuk menduganya.” “Bagaimana keterangan yang sejelasnya?”

“Semula Enci Un tidak mau memberi keterangan, sebab dalam peristiwa ini menyangkut guru Enci Un, ialah si Raja Pembunuh Ue-tie Siang, kemudian ia memberitahukan juga kepada siaote.”

Ia lalu menceritakan apa   yang telah didengarnya dari Pui Ceng Un.

Hui Kiam lalu berkata sambil menganggukkan kepala:

“Baiklah, aku nanti akan urus. Sekarang mari kita jalan!” “Pihak musuh banyak mata-mata tersebar di mana-mana,

wajah toako pasti tidak akan terlepas dari mata mereka.” “Masih berapa jauh letaknya cabang persekutuan itu?” “Tidak sampai satu jam kita bisa tiba di sana.” “Kita harus menyerbu dengan kecepatan secepat-cepatnya, sudah tentu mereka tidak mendapat kesempatan untuk menyampaikan kabar, sebab mereka pasti tidak tahu tindakan kita.”

“Baik.”

Dua orang itu lari lagi untuk melanjutkan perjalanannya. Sebentar kemudian di depannya terbentang sebuah rimba lebat. Ie It Hoan lalu menunjuk rimba itu seraya berkata:

“Toako, kuil itu terletak di dalam rimba itu! Kalau kita maju lagi, pasti diketahui oleh mereka.”

“Hem! Lekas!”

Hui Kiam dengan cepat melesat ke arah rimba. Begitu tiba di luar rimba, ia sengaja perlahankan gerakannya supaya Ie It Hoan dapat menyusulnya.

“Siapa? Jangan maju!” demikian Hui Kiam mendengar suara teguran. Empat orang berbaju hitam sudah menghalang di depannya. Satu di antaranya setelah menatap wajah Hui Kiam, lalu berseru:

”Penggali Makam!”

Sejak Hui Kiam berlalu dari Makam Pedang, karena kematian sucinya sepanjang hari kecemasan dan kemarahannya terus disimpan dalam hatinya. Dan sekarang ia telah mendapat kesempatan untuk mengumbar hawa nafsunya, maka segera menghunus pedang saktinya mendekati empat orang itu.

Empat orang berbaju hitam itu ketakutan. Mereka mundur beberapa langkah.

Hui Kiam lalu berpaling dan berkata kepada Ie It Hoan:

“Adik Hoan, mulai sekarang, jangan tinggalkan seorangpun hidup, bunuh!” Begitu menutup mulut, lalu terdengar suara jeritan ngeri. Empat orang berbaju hitam itu masih belum sempat bertindak apa-apa, semua sudah mati di ujung pedang Hui Kiam.

Sebuah jalanan yang terbuat dari batu hijau, terus menuju ke pintu kuil. Begitu mendengar suara jeritan ngeri, beberapa puluh orang berpakaian hitam segera lari keluar dari dalam kuil. Dengan cepat Hui Kiam menyambut kedatangan mereka. Dengan tanpa banyak bicara ia sudah gerakkan pedangnya untuk menyapu orang-orang itu.

Sementara itu Ie It Hoan juga sudah bertindak dengan serangannya bagaikan binatang terluka.

Suara jeritan ngeri terdengar saling susul, hanya dalam waktu yang sangat singkat saja semua orang itu sudah menggeletak menjadi bangkai.

Kemudian terdengar riuh suara tanda bahaya. Dari empat penjuru muncul banyak orang. Dalam waktu sekejap mata saja, orang-orang itu sudah merupakan tembok manusia. Seorang tua yang jenggot dan rambutnya sudah putih dan di belakangnya diikuti tiga orang tua lain serta empat orang setengah umur, maju menghampiri Hui Kiam.

“Tuan. ”

“Aku yang rendah adalah Penggali Makam!”

“Aku Ong-sin Hong, ketua cabang kelima Persekutuan Bulan Emas!”

“Suruh Tong-hong Hui Bun perempuan hina itu keluar!”

Orang-orang yang berada di situ, ketika mendengar disebutnya nama Penggali Makam, wajah mereka semua berubah.

Wajah Ong-sin Hong sendiri juga terjadi perubahan. Tetapi ia masih berusaha menenangkan pikirannya, kemudian bertanya:

“Kedatangan siaohiap ada keperluan apa?” “Suruhlah perempuan itu keluar!”

“Pemilik tanda batu kumala pusaka tidak ada di sini!” “Apakah itu benar?”

“Aku si orang tua tidak perlu berkata sembarangan.” “Perbuatan Teng Coan atas perintah siapa?”

Ong-sin Hong terperanjat. Ia mundur beberapa langkah, mulutnya tidak bisa menjawab:

Hui Kiam menggerak-gerakkan pedangnya. Ia berkata dengan nada dan sikap sangat dingin:

“Kau bereskanlah jiwamu sendiri!”

Ong-sin Hong perdengarkan suara tertawa dingin dan berkata: “Penggali Makam, kau sungguh sombong!”

Tiga orang tua yang berdiri di belakang Ong-sin Hong tiba-tiba bergerak maju dengan sikap menentang.

Deogan kecepatan bagaikan kilat pedang Hui Kiam telah bergerak. Entah dengan cara bagaimana ia melakukan serangannya, tiga orang tua itu sudah roboh terjengkang. Tiga butir kepala manusia menggelinding sejauh beberapa kaki, darah masih menyembur dari leher mereka.

Semua yang ada di situ dikejutkan oleh kejadian itu. Suara seruan terkejut terdengar dari mulut mereka.

Dengan sinar mata yang menakutkan Hui Kiam mengawasi Ong Sin Hong seraya berkata:

“Sekarang tiba giliranmu!”

Ong Sin Hong yang sudah ketakutan setengah mati, ketika mendengar ucapan itu, ia segera menghunus pedangnya sambil memerintahkan orang pertengahan umur itu maju bersama.

Empat laki-laki pertengahan umur itu segera memencarkan diri ke kanan dan ke kiri sambil menyerang dengan pedangnya, ditambah dengan pedang Ong-sin Hong sendiri, hingga dengan demikian Hui Kiam telah dihujani serangan pedang dari lima penjuru.

Sementara itu Ie It Hoan juga sudah bergerak menyerbu tembok manusia itu.

Pembunuhan besar-besaran kembali telah berlangsung di dalam rimba itu.

Dengan menggunakan ilmu pedangnya yang luar biasa Hui Kiam telah berhasil menebas putung lima batang pedang yang menyerang dirinya, sehingga yang tergenggam dalam tangan lima musuhnya hanya tinggal gagangnya saja sedangkan pedang sakti Hui Kiam saat itu sudah menembusi dada Ong-sin Hong.

Empat laki-laki pertengahan umur itu mungkin seumur hidupnya belum pernah menyaksikan pertempuran semacam itu, sehingga mereka berdiri terpaku bagaikan patung.

Hui Kiam perlahan-lahan mencabut pedangnya sehingga badan Ong-sin Hong roboh di tanah.

Di empat penjuru terdengar suara riuh.   Ie It Hoan sudah tidak tampak bayangannya dalam arus manusia itu.

Hui Kiam menyaksikan keadaan itu sejenak. Ia menggerakkan lagi pedangnya, empat laki-laki setengah umur itu dengan tanpa berdaya sama sekali, satu persatu tamat riwayatnya di ujung pedang Hui Kiam. Selesai membereskan empat musuhnya itu, Hui Kiam menyerbu ke dalam gelombang arus manusia itu.

Dalam waktu yang sangat singkat, suara jeritan ngeri terdengar saling susul, darah merah membanjiri tanah. Di mana pedang sakti Hui Kiam bergerak, di situ telah jatuh korban. Pedaug itu bergerak bagaikan angin menyapu daun.

Semua anak buah cabang Persekutuan Bulan Emas itu lari ketakutan. Hui Kiam yang sedang panas hatinya, lari kesana kemari, bagaikan seorang gila membunuh semua orang-orang yang menyelamatkan diri. Begitu juga keadaanya dengan Ie It Hoan, perbuatan kedua pemuda itu sedang melampiaskan semua kemarahannya kepada orang-orang itu.

Ketika suara jeritan telah reda, dalam rimba di depan kuil, bangkai bertumpuk-tumpuk, darah membanjir di mana-mana.

Yang beruntung bisa menyelamatkan diri mungkin sedikit sekali jumlahnya.

Ie It Hoan dengan napas tersengal-sengal berkata sambil mengawasi Hui Kiam yang sekujur badannya penuh tanda darah.

“Toako, perempuan jalang itu tidak ada di sini. Kalau ia ada, sejak tadi ia telah, menampakkan diri.”

“Belum tentu.   Kuduga sebelum ia yakin dapat menandingi aku, ia pasti tidak akan berani menampakkan muka.”

“Mari kita mengadakan penggeledahan ke dalam kuil.” “Baik!”

Dan pemuda yang sudah kalap itu menyerbu ke dalam kuil, tetapi mereka tidak menemukan bayangan seorangpun juga, sudah terang mereka pasti sudah kabur semuanya.

“Toako, nampaknya siaote sulit untuk membalas dendam Enci Un dengan tangan siaote sendiri....” berkata Ie It Hoan dengan penuh penasaran.

“Adik Hoan, siapapun yang dapat membinasakan musuhnya, semua serupa saja. Kau sebetulnya apakah tahu atau tidak, di mana letaknya pusat Persekutuan Bulan Emas itu?”

“Toako, aku tidak boleh mengatakan, tetapi sekarang tidak boleh tidak siaote harus membuka rahasia ini. Pada dewasa ini, kecuali berusaha untuk menuntut balas sakit hati Enci Un, semuanya aku tidak pikirkan lagi….” “Katakanlah, di mana letaknya tempat itu?” “Di….”

Sebelum menyebutkan nama tempat itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan Hui Kiam.

“Siapa, lekas keluar!”

Ie It Hoan terkejut, ia membatalkan maksudnya. Sesosok bayangan orang muncul dari sudut pintu.

Orang itu ternyata adalah Orang Tua Tiada Turunan.

Orang Tua Tiada Turunan itu mengawasi Hui Kiam sejenak, kemudian matanya beralih pada Ie It Hoan, lalu berkata:

“Bocah, apakah kau ingin menjadi seorang berdosa dalam rimba persilatan?”

Ie It Hoan mundur satu langkah. Terhadap orang tua ini ia merasa hormat dan takut tetapi juga segan menghadapinya.

Orang Tua Tiada Turunan berkata pula:

“Jangan kau mengumbar nafsumu sendiri sehingga menggagalkan urusan besar yang menyangkut nasib banyak orang sesama rimba persilatan. Apakah kau juga ingin menjerumuskan Setan tua pemabukan ke jurang kenistaan?”

Bukan satu kali ini Hui Kiam dengar dari mulut Orang Tua Tiada Turunan menyebut nama julukan Setan tua pemabukan itu. Ia tahu bahwa yang dimaksudkan dengan setan tua pemabukan itu adalah guru Ie It Hoan, tetapi bagaimana sebetulnya rupa orarg tua itu, ia tidak tahu sedangkan Ie It Hoan sendiri sikapnya juga tidak tegas, ia tidak mau menerangkan keadaan gurunya sekalipun Hui Kiam ingin tahu, tetapi ia tidak suka bertanya.

Benar saja ucapan orang tua itu seketika telah meredakan amarah Ie It Hoan, lalu berkata dengan suara sedih: “Tahukah locianpwee bahwa nona Pui Ceng Un sudah meninggal dunia?”

“Aku sudah mendapat kabar. Memang ini suatu kejadian yang sangat menyedihkan, tetapi kita sebagai orang-orang gagah yang menyediakan tenaga untuk membela keadilan, seharusnya juga dapat memikirkan nasib mereka yang entah berapa banyak jumlah yang sudah dibikin susah oleh mannsia jahat itu.   Kita juga harus menunjukkan perhatian dan kemarahan kita bagi mereka. Apalagi semua peristiwa yarng menyedihkan ini masih terus berlangsung di tempat yang berlainan. Kalau kita ingin menghentikan peristiwa yang menyedihkan ini, harus memusatkan semua kekuatan dan tenaga untuk menolong rimba persilatan dari bencana.”

Ucapan yang penuh semangat dari orang tua gagah yang berjiwa besar itu, mau tidak mau Ie It Hoan harus mengakui kebenarannya.

Sudah tentu, ucapan itu juga ditujukan kepada Hui Kiam secara tidak langsung.

Hui Kiam juga mengerti maksud ucapan orang tua itu, tetapi sebagai seorang yang beribadat tinggi, ia tidak mau menyatakan apa-apa. Selain dari pada itu, karena kematian Pui Ceng Un disebabkan karena kelalaiannya, maka penderitaan batin itu, dirasakan lebih berat. Penderitaan batin itu membuat dirinya hampir gila. Ucapan Orang Tua Tiada Turunan itu meskipun benar, tetapi ia toh tak dapat menyesali tindakannya sendiri dan tindakan Ie It Hoan yang terpengaruh oleh kematian Pui Ceng Un. Ia mengalihkan pembicaraan ke lain soal:

“Mengaopa cianpwe bisa berada di sini?” “Mencarimu untuk suatu urusan yang besar.” “Urusan besar?”

“Benar, satu urusan besar. Ini adalah urusan besar yang akan menentukan kalah atau menang dalam pertempuran antara golongan kebenaran dan golongan jahat yang akan berlangsung, dan urusan ini hanya kaulah yang dapat menyelesaikannya.”

“Bolehkah aku bertanya urusan besar apakah itu?”

“Sebelum aku menjelaskan, kau harus menerima baik satu soal.”

“Apakah yang boanpwe harus terima baik?”

“Segala tindakanmu harus menurut rencana yang telah ditetapkan, tidak boleh bertindak menurut kemauan sendiri. Apakah kau sanggup?”

Hui Kiam bersangsi, tetapi kemudian ia berkata: “Boonpwe terima baik.”

“Hui siaohiap, kau harus mengambil keputusan bulat. Tidak perduli dalam keadaan bagaimana, kau dapat mengendalikan dirimu.”

“Apa yang boanpwe sudah terima baik, pasti boanpwe akan mentaati.”

“Baiklah, atas nama seluruh kawan-kawan rimba persilatan, lebih dahulu aku ucapkan banyak terima kasih.”

“Itu boanpwe tidak sanggup menerima. Harap locianpwe suka memberi penjelasannya.”

Orang Tua Tiada Turunan itu mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak, lalu berkata:

“Kita meninggalkan tempat ini dulu. Kita harus menjaga di balik tembok itu ada telinganya.”

Karena kuil itu merupakan tempat cabang kelima Persekutuan Bulan Emas, meskipuu dewasa ini tidak tampak jejak manusia, tetapi di situ terdapat banyak pintu dan ruangan, apabila ada orang bersembunyi, tidak mudah dilihatnya, maka kekhawatiran Orang Tua Tiada Turunan memang pada tempatnya. Ini juga merupakan suatu bukti bahwa perkataan yang hendak diucapkan itu pasti sangat penting. Hui Kiam dan Ie It Hoan sudah tentu menurut.

Tiga orang itu keluar dari dalam kuil. Setelah melalui rimba, tibalah di suatu tempat yang terbuka. Meskipun jejak mereka mudah terlihat, tetapi tidak usah khawatir ada orang yang berani mencuri dengar suarauya.

Barulah Orang Tua Tiada Turunan itu menyatakan maksudnya:

“Kita pergi mengunjungi seorang luar biasa rimba persilatan yang sedikit sekali diketahui orang ”

“Orang luar biasa, siapa?” “Bu-lim Cin-kun Sun It Hoa.”

“Bu-lim Cin-kun Sun It Hoa? Nama ini masih sangat asing, belum pernah dengar orang menyebutnya.”

“Tadi aku sudah berkata bahwa orang tua ini di dalam rimba persilatan namanya tidak kesohor, tetapi ia adalah seorang satu jaman dengan Tiga Raja Rimba Persilatan, bahkan mungkin munculnya di dunia Kang-ouw lebih dulu daripada Tiga Raja, kalau dihitung usianya sudah seratus tahun lebih!”

“Kita hendak mengunjunginya?” “Benar.”

“Untuk apa?”

“Ini sangat penting, sebab empat dari Delapan Iblis Negara Thian-tik yang diangkat sebagai anggota badan pelindung tertinggi Persekutuan Bulan Emas, tiga di antaranya sudah binasa, hanya tinggal Iblis Bi-mo seorang. Meskipun anggota Persekutuan Bulan Emas banyak sekali, tetapi yang berkepandaian tinggi sekali, jumlahnya tidak seberapa. Maka pemimpin persekutuan itu sudah mengutus orang kepercayaannya Ie Khi Kun pergi membujuk Bu-lim Cin Kun dengan membawa barang pusaka yang sangat berharga, minta supaya orang tua itu turun gunung membantu usahanya, dan dijanjikan kedudukan wakil pemimpin dalam persekutuan itu….”

“Oh!”

“Ie Khie Kun kini sudah bergerak menuju ke perjalanannya. ”

“Kalau begitu apakah maksud kita hendak mengunjunginya?” “Harap supaya dia tidak akan digunakan atau diperalat oleh

Persekutuan Bulan Emas!”

“Bagaimana kelakuan Bu-lim Cin-kun itu?”

“Tidak terlalu jahat, tetapi juga belum termasuk golongan baik-baik!”

“Kepandaiannya?”

“Dahulu berimbang dengan Tiga Raja dari Rimba Persilatan. Selama beberapa puluh tahun ini, sudah tentu bertambah tinggi.”

“Jika sudah terima baik undangan Persekutuan Bulan Emas, bagaimana kita harus berbuat?”

“Bunuh saja!” “Dibunuh?”

“Benar, itulah sebabnya maka harus pergi!”

“Bagaimana seandainya kekuatan dan kepandaian boanpwee tak dapat membunuhnya?”

“Kalau begitu ini berarti dia sudah tanpa tandingan. Dengan munculnya dia di pihak Persekutuan Bulan Emas, itu berarti kekuatan Bulan Emas itu bagaikan harimau tumbuh sayap, dan kita tidak perlu bicara tentang pertempuran menegakkan keadilan itu, karena sudah pasti akan kalah!”

Semangat Hui Kiam terbangun. Katanya dengan nada bernafsu:

“Dimana sekarang dia berada?” “Kabarnya mengasingkan diri di lembah Hui-seng-kok di gunung Suat-hong-san!”

“Gunung Suat-hong-san, bukankah itu...?”

Ie It Hoan tiba-tiba menyela, tetapi baru sepatah kata mendadak bungkam.

“Gunung Suat-hong-san, mengapa?” bertanya Orang Tua Tiada Turunan sambil melototkan matanya.

Ie It Hoan hanya memandang Hui Kiam, tidak menjawab. “Bocah, kau jangan coba main gila terhadap aku si orang tua.

Apa yang kau sedang pikirkan, lekas kau beritahukan!” berkata Orang Tua Tiada Turunan dengan suara keras.

“Tidak... apa-apa. Boanpwe pernah pergi ke gunung Soat- hong-san, tetapi tidak tahu di mana letaknya lembah Hui-seng- kok itu?”

“Bocah, kau jangan coba mengelabui mata aku si orang tua, kelakuanmu dan gurumu aku sudah tahu dengan baik. Katakanlah, apa sebetulnya yang telah terjadi?”

Ie It Hoan kembali memandang ke arah Hui Kiam.

Orang Tua Tiada Turunan yang bermata jeli segera mengerti bahwa dalam soal ini pasti ada sebabnya, maka ia lalu berkata kepada Hui Kiam:

“Mungkin Hui siaohiap tahu pikiran bocah ini?”

Hui Kiam merasa sulit, dalam hati menyesalkan Ie It Hoan terlalu banyak mulut. Sungguh tak disangka, Ie It Hoan yang terkenal cerdik dan banyak akalnya, juga bisa melakukan kesalahan. Karena gunung Kui-im-san itu merupakan sebagian daripada gunung Suat-hong-san, maka kepergiannya ke lembah Hui-seng-kok itu mungkin akan melalui gunung Kui-im-san, sehingga Ie It Hoan kelepasan mulut. Kisah tentang bidadari cantik yang diceritakan oleo Ie It Hoan, segera berputaran dalam otak Hui Kiam. Ia sebetulnya tak ingin menceritakan lebih dulu kepada Orang Tua Tiada Turunan, takut akan timbul hal-hal yang tak diingini sehingga mempengaruhi jalannya pertempuran nanti.   Tetapi sekarang dengan kealpaan Ie It Hoan itu, tidak boleh tidak ia harus menceritakan terus terang, sekalian untuk menyelesaikan tugas Pui Ceng Un.

“Boanpwe tahu,” demikian akhirnya ia menjawab. “Toako, nanti saja kita bicarakan lagi.”

Ie It Hoan buru-buru menyela dengan suara cemas.

“Bocah, tutup mulutmu!” berkata Orang Tua Tiada Turunan sambil mengulapkan tangannya.

Ie It Hoan menyesal telah terlanjur berkata. Pikirannya merasa tidak enak.

“Cianpwe, tahukah di mana letak Gua Raja Iblis di gunung Kui-im-san?” bertanya Hui Kiam.

“Pernah dengar, tetapi kurang jelas,” jawab Orang Tua Tiada Turunan agak heran.

“Penghuni Gua Raja Iblis itu mengharapkan bisa bertemu muka dengan locianpwe.”

“Ingin bertemu muka denganku? Untuk apa?” “Hal ini boanpwe tidak tahu.”

“Bagaimana orangnya penghuni gua itu?”

“Tentang ini nanti setelah locianpwe bertemu muka segera mengetahui sendiri, maka boanpwe tak dapat menceritakan lebih dulu.”

“Emm, sewaktu Nona Pui Ceng Un memintakan tanaman Hiat- ay bagimu, berita ini seharusnya dialah yang menyampaikan kepadaku, tapi entah kenapa ia tidak mau menceritakan?” “Suci mempunyai pertimbangan lain. Ia menantikan suatu kesempatan baik, baru akan memberitahukan kepada locianpwe. Tapi sekarang ia sudah tiada, maka soal ini terpaksa boanpwe yang menyampaikannya, locianpwe tidak perlu tanya apa sebabnya. Di dalam perjalanan kita ke lembah Hui-seng-kok, tentu akan melalui gunung Kui-im-san. Boanpwe minta supaya kita mengurus dulu persoalan Bu-lim Cin-kun. Persoalan locianpwe itu nanti kita bicarakan lagi.”

Orang Tua Tiada Turunan mengerutkan keningnya beberapa kali, terpaksa ia menerima usul Hui Kiam.

“Apakah kita berangkat sekarang juga?” bertanya Hui Kiam. “Sudah tentu, bahkan kita harus mengejar waktu, sebaiknya

bisa tiba lebih dulu sebelum utusan Persekutuan Bulan Emas itu tiba.”

“Kita jalan bertiga?”

“Ya, kita mengambil jalan kecil, untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga menghambat waktu.”

“Bukankah maksud kita hanya mencegah agar Bu-lim Cin-kun jangan sampai diperalat oleh pemimpin Persekutuan Bulan Emas?”

“Sebaiknya kita dapat membujuk orang tua itu supaya turut mengambil bagian di pihak kita. Tetapi, aku juga rasanya tidak mungkin karena orang tua itu bukan saja tidak mempunyai pendirian tetap, tetapi juga adatnya sangat aneh.”

“Mungkin Persekutuan Bulan Emas juga tidak mudah membujuknya.”

“Susah dikata. Pertama, persekutuan itu bertekad hendak menguasai dunia, apabila ia diangkat sebagai wakil pemimpin, itu berarti bahwa kedudukannya hanya di bawah seorang saja. Kedua, antara dia dengan Jing-ong, pernah terjadi perselisihan paham, mungkin ia akan menggunakan kesempatan ini untuk membuat perhitungan. Ketiga, pilihan pemimpin Bulan Emas atas dirinya, mungkin mengandung maksud lain, yang sengaja berserikat dengannya, hal ini nanti setelah tiba waktunya harus diketahui….”

“Kata locianpwee apabila perlu kita binasakan saja dirinya?” “Ya. Membunuh seorang untuk menolong ribuan jiwa orang

yang tak berdosa, tidak terhitung suatu perbuatan KEJAM!” “Kalau begitu, marilah kita berangkat!”

Di daerah gunung Suat-hong-san yang luas, selama dua hari ini tertampak tiga bayangan orang menjelajahi setiap pelosok dari daerah pegunungan itu. Agaknya sedeag mencari sesuatu.

Mereka itu ternyata adalah Hui Kiam, Ie It Hoan dan Orang Tua Tiada Turunan.

Waktu itu, mereka sedang beristirahat di suatu mulut lembah yang tertutup lebat oleh daun-daunan, lalu terdengar ucapan Orang Tua Tiada Turunan:

“Lembah ini merupakan tempat terakhir yang kita belum jelajahi. Apabila masih tidak berhasil, terpaksa kita cari ke tempat lain.”

“Nampaknya kita sudah terjatuh ke belakangnya utusan Bulan Emas!” sahut Hui Kiam sambil mengerutkan keningnya.

“Apa boleh buat. Selama dua hari ini kita sudah menjelajahi seluruh pelosok gunung menurut petunjuk yang kita terima. Seharusnya tidak jauh di sekitar daerah ini.”

“Coba kita periksa ke dalam lembah.”

Mereka bertiga lalu memasuki jalan lembah yang tertutup lebat oleh daun pohon. Berjalan kira-kira satu pal lebih, di hadapan mereka terbentang suatu pemandangan alam yang luar biasa. Puncak-puncak bukit batu berdiri berderet-deret, merupakan suatu jalan aneh. Lamping bukit dan dasar lembah seluruhnya merupakan batu-batu gunung bagaikan diatur oleh tangan manusia. Kecuali lumut hijau, tidak terdapat tumbuhan lain. Pemandangan alam itu menimbulkan rasa seram.

Bertiga saling berpandangan, mereka maju terus. Baru saja menginjak lembah yang tanahnya berupa batu, terdengarlah suara berisik sehingga mereka berhenti. Begitu mereka berhenti jalan, suara itu juga sirap, tetapi tidak tertampak bayangan orang.

“Dalam lembah ada orang!” demikian Ie It Hoan berkata.

Dari dalam jalan lembah itu segera terdengar suara mengaung: “Dalam lembah ada orang! Dalam lembah ada orang!”

Orang Tua Tiada Turunan mengacungkan tangannya memberi tanda supaya jangan bersuara, kemudian dengan suatu gerakan sangat hati-hati melompat balik ke tempat semula. Hui Kiam dan Ie It Hoan yang agaknya juga tersadar, segera meniru perbuatan orang tua itu. 

“Ini mungkin suara yang memantul balik,” berkata Hui Kiam. “Memang benar, sudah tidak salah lagi, lembah inilah yang

disebut lembah Hui-seng-kok. Benar-benar merupakan suatu tempat luar biasa!” berkata Orang Tua Tiada Turunan sambil menganggukkan kepala.

“Bagaimana tindakan kita selanjutnya?”

“Menurut keadaan serupa ini, apabila kita masuk bersama- sama ke dalam lembah, baru beberapa tindak saja barangkali sudah diketahui oleh pihak sana. Dan apabila utusan Persekutuan Bulan Emas sedang berada dalam lembah, bukankah akan mengejutkan mereka? Hal demikian mungkin dapat menimbulkan kejadian di luar dugaan kita. Maka menurut pendapatku, ilmu meringankan tubuh Hui siaohiap yang sudah mencapai taraf kesempurnaan apabila berjalan di atas batu berlumut itu, jangan sampai menyentuh batunya, sudah tentu tidak akan menimbulkan suara echo, setelah berada di dalam lembah, siaohiap boleh bertindak melihat gelagat. Aku dan Ie It Hoan nanti akan menyusul belakangan.”

Hui Kiam memeriksa keadaan di sekitarnya sebentar, baru berkata:

“Baiklah, boanpwe turut perintah locianpwee!”

“Kau harus ingat baik-baik prinsip kita: boleh pakai kita pakai, tapi kalau ia keras kepala masih menolak, kau boleh bunuh saja!”

“Boanpwee ingat!”

“Lagi, apabila kau menemukan utusan Bulan Emas sudah ada di sana, jangan kau mengejutkan mereka juga jangan bertindak.”

“Mengapa?”

“Ada keperluan lain. Nah, sekarang kau boleh jalan.”

Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang didapatkan dari pelajaran dalam kitab pusaka Thian-khi Po-kip, Hui Kiam melesat ke tengah udara, kemudian melayang turun ke atas batu berlumut, lalu berjalan di atasnya dengan sangat hati- hati sehingga tidak menimbulkan suara.

Orang Tua Tiada Turunan yang menyaksikan kepandaian Hui Kiam itu, diam-diam juga memberi pujian. Demikian pula Ie It Hoan.

Dengan sangat hati-hati Hui Kiam masuk ke dalam lembah, jangan sampai menerbitkan suara. Setelah melalui tiga tikungan, di hadapan matanya terbentang rimba bambu. Dalam rimba bambu itu samar-samar tampak sebuah bangunan rumah yang terbuat dari batu.

Dengan sangat hati-hati Hui Kiam mendekati rumah batu yang bentuknya aneh itu.

Bagian muka rumah batu itu terdapat sebuah pintu yang hanya dapat dimasuki oleh seorang saja. Dua samping pintu terdapat dua buah lobang kecil, mungkin itulah jendelanya. Seluruh rumah batu itu sudah berlumutan, nampaknya seperti gundukan tanah kuburan.

Hui Kiam berhasil mendekati lobang jendela. Ia melongok ke dalam. Perabot dalam rumah itu sangat sederhana, hanya terdapat sebuah balai dari bambu, sebuah meja batu, beberapa bangku yang juga terbuat daripada batu.

Dalam ruangan rumah itu ada tiga orang sedang duduk berunding. Orang yang duduk di atas balai bambu, adalah seorang tua pendek kurus berambut putih. Duduk di atas bangku batu adalah seorang tua berusia kira-kira limapuluh tahun, sikapnya garang. Seorang lagi adalah seorang laki-laki berusia kira-kira tigapuluh tahun. Orang ini mengenakan pakaian berwarna hitam.

Hui Kiam menduga bahwa orang tua yang duduk di atas balai bambu, pastilah Bu-lim Cin-kun sendiri, sedang orang tua yang sikapnya garang itu sudah tentu adalah utusan Persekutuan Bulan Emas. Ie Khie Kun, dan laki-laki berbaju hitam itu tentunya adalah anak buah Bulan Emas.

Di atas meja, ada sebuah kotak kayu warna merah dan sebilah pedang berikut sarungnya. Pada saat itu, Ie Khie Kun sedang berbicara dengan Bu-lim Cin-kun:

“Sun locianpwe, bagaimana pikiran locianpwe?”

“Aku si orang tua sudah tidak ingin mengetahui urusan dunia Kang-ouw lagi,” jawab orang tua itu, yang benar memanglah Bu- lim Cin-kun.

“Pemimpin kami kali ini mengutus aku yang rendah, dengan hati setulusnya mengharap locianpwe supaya sudi turun gunung untuk membantu mencurahkan tenaga, bekerja sama-sama dalam usaha untuk mempersatukan dunia rimba persilatan. Di samping itu, juga minta bantuan locianpwe untuk menghadapi si tua bangka Jin-ong.” “Jin-ong! Kau katakan Jin-ong?”

“Ya, dia kini sudah menyucikan diri. Nama gelarnya Kak Hui.”

Mata Bu-lim Cin-kun tiba-tiba memancarkan sinar tajam. Ia berkata seolah-olah terhadap dirinya sendiri:

“Sungguh tidak disangka masih hidup. Hutangnya satu pedang terhadapku pada waktu dahulu, aku ingin menagihnya, tetapi…. Hahaha! Dia sekarang mungkin tidak sanggup melawan aku dalam waktu tiga jurus.”

Ie Khie Kun menunjuk kotak merah di atas meja dan berkata: “Kotak itu berisi sebatang ‘Liat-yan-cie’. Harap locianpwe suka

menerimanya dengan senang hati.”

“Liat-yan-cie? Ha ha ha! Usiaku sudah hampir seratus tahun, tak kusangka masih mempunyai keberuntungan mendapatkan barang berharga ini Hahahaaa….”

Hui Kiam tak tahu benda apa yang dinamakan Liat-yan cie itu, tetapi dari sikap Bu-lim Cin-kun yang demikian girang, ia dapat menduga benda itu pasti sangat berharga.

Ie Khi Kun berkata pula:

“Harap locianpwe suka periksa pedang ini.”

Setelah itu ia mengambil pedang dari atas meja, diperiksanya sarung pedang itu sebentar, kemudian dihunusnya.

Hui Kiam hampir berteriak. Ia terkejut dan terheran-heran. Sungguh tak disangka pemimpin Bulan Emas sudi memberikan pedang pusakanya sebagai hadiah untuk mengundang Bu-lim Cin-kun.

“Pedang sakti Bulan Emas, pedang dewata dari jaman purba.” “Sungguh tajam pandangan locianpwe.   Pedang ini adalah

barang tersayang pemimpin kami yang tak pernah lepas dari

badannya dan kini dibawakan olehku sebagai tanda kepercayaan.” Bu-lim Cin-kun memeriksa pedang itu. Tiba-tiba ia berkata: “Sayang….”

“Sayang apa!?”

“Pedang ini sudah cacat.”

“Apakah yang locianpwee maksudkan adalah tiga bekas gompal junjungan itu?”

“Ehmm! Pedang sakti hanya tinggal namanya saja.”

“Tidak! Pedang ini tajam sekali, dapat memapas besi bagaikan tanah lempungan, bukan hanya nama kosong belaka hanya kebentur dengan musuhnya….”

“Apa musuhnya?”

“Belakangan ini di dunia Kang-ouw muncul seorang tokoh angkatan muda. Ia mendapatkan sebilah senjata luar biasa, namanya pedang sakti Thian-khie Sin-kiam. Pedang itulah yang merusak pedang ini. ”

“Betulkah ada kejadian serupa ini?”

“Nanti setelah locianpwee turun gunung, segera dapat mengetahui sendiri.”

“Pedang Thian-khie Sin-kiam!” demikian Bu-lim Cin-kun menggumam sendiri sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Tiba-tiba ia berkata dengan suara keras:

“Sahabat Thian-hong suruh kau membawa pedang ini apa maksudnya?”

“Pemimpin kami tahu bahwa locianpwe gemar senjata yang aneh-aneh, maka sengaja mengutus aku yang rendah untuk menyampaikan berita ini.”

“Hmmm! Sungguh berani, jadi maksudnya menyuruh aku turun tangan sendiri?” “Tokoh angkatan muda yang memiliki pedang sakti itu kepandaiannya hebat sekali, pemimpin kami sendiri juga agak jeri.”

“Murid siapa?”

“Murid Lima Kaisar rimba persilatan, namanya Hui Kiam, julukannya Penggali Makam.”

“Bagus! Bagus! Oleh karena ‘Liat-yang-cie’ ini dan untuk mendapatkan pedang sakti Thian-khie Sin-kiam itu, ada harganya bagiku turun gunung satu kali. Hanya, tentang kedudukan wakil pemimpin, aku tak mempunyai kegembiraan sama sekali!”

“Ya, ya. Kapan locianpwee hendak berangkat?”

“Kau pulang dulu, dalam tiga atau lima hari ini aku pasti datang!”

“Kalau begitu ijinkanlah aku yang rendah mohon diri.”

Ketika utusan itu keluar, Hui Kiam menyelinap ke belakang rumah. Pikirnya, ditilik dari tingkah lakunya, Bu-lim Cin-kun ini bukanlah orang golongan baik. Melihat Liat-yang-cie saja sudah tergerak hatinya, mendengar pedang Thian-khie Sin-kiam itu lalu timbul keserakahannya. Dengan orang seperti dia ini diajak berunding soal kebenaran dan keadilan, sesungguhnya sia-sia belaka.

Ia berpikir pula, apabila saat itu merampas pedang Bulan Emas dari tangan Ie Khie Kun, ini berarti mengutungi sebelah lengan pemimpin Bulan Emas. Dalam pertempuran pembasmian kejahatan nanti, sangat bermanfaat.

Selagi hendak bertindak, telinganya dapat menangkap suara echo undakan kaki Ie Khie Kun dan anak buahnya, yang sudah lari keluar lembah.

Tiba-tiba di belakang dirinya terdengar suara orang menegur dengan nada dingin: “Bocah, keberanianmu besar sekali. Kau berani masuk kemari.”

Hui Kiam terperanjat. Ia tahu bahwa jejaknya telah diketahui oleh orang tua itu. Ini merupakan suatu bukti bahwa Bu-lim Cin-Kun benar-benar bukanlah orang sembarangan. Seketika itu ia membalikkan badannya, ia lihat Bu-lim Cin-kun berdiri di belakangnya sejarak kira-kira dua tombak. Orang tua itu tinggi badannya tidak cukup lima kaki, kurus kering, rambut kepalanya yang sudah putih seluruhnya awut-awutan tidak terurus, hanya sinar matanya yang tajam, menakutkan.

“Adakah tuan yang disebut Bu-lim Cin-kun?”

“Bocah, perlu apa kau tanya lagi? Kau dapat memasuki lembah ini tanpa menimbulkan suara, nampaknya kepandaianmu cukup tinggi juga. Beritahukan namamu!”

“Aku yang rendah adalah Penggali Makam!”

“Apa? Jadi kau... adalah Penggali Makam yang tadi pernah disebutkan oleh utusan Bulan Emas?”

“Benar.”

Mata Bu-lim Cin-kun yang tajam melirik ke arah pedang sakti di pinggang Hui Kiam.

Hui Kiam berkata dengan nada suara dingin:

“Pedangku ini adalah pedang sakti Thian Khie Sin Kiam!” “Oh! Ada perlu apa kau datang kemari?”

“Hanya ingin memberi sedikit nasehat kepada Tuan.” “Nasehat apa?”

“Jangan turun gunung.” “Mengapa?”

“Sebab Persekutuan Bulan Emas merupakan persekutuan orang-orang golongan jahat yang akan membawa bencana rimba persilatan. Perbuatannya itu sudah lama dikutuk oleh seluruh orang rimba persilatan. Kehancuran persekutuan itu hanya soal waktu saja. Tuan sudah berusia lanjut, tak ada perlunya turut campur tangan membantu melakukan kejahatan.”

Dengan mata tidak terpisah dari pedang sakti, Bu-lim Cin-kun berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

“Bocah, apakah kedatanganmu hanya untuk mengucapkan perkataan ini saja?”

“Benar.”

“Dengan pendirian apa kau mengucapkan perkataan ini?” “Hanya untuk kepentingan umum dan kebenaran serta

keadilan.”

“Aku si orang tua seumur hidupku tidak mengerti apakah itu kepentingan umum atau kepentingan pribadi. Kau menghendaki aku membatalkan maksudku boleh saja, tetapi ada syaratnya!”

Hui Kiam yang memang sudah menduganya tapi ia masih berlaku pura-pura tak mengerti:

“Apa syaratnya?”

“Sederhana sekali, kau tinggalkan pedang saktimu itu!” “Apakah tuan anggap tuan dapat berbuat demikian?”

---ooo0dw0ooo---