Pedang Pembunuh Naga Jilid 33

Jilid 33
 “NANTI pada waktu Persekutuan Bulan Emas mengadakan pertemuan besar untuk mendirikan perserikatannya secara resmi, kita segera bergerak. Gerakan kita ini pasti akan mendapat sambutan dari sebahagian besar partai-partai golongan kebenaran atau orang-orang yang selama ini terpaksa menyerah karena tekanan perserikatan itu. Kita dapat pastikan bahwa gerakan kita ini sekaligus pasti akan berhasil menumpas manusia jahat itu!”

“Kapankah waktunya untuk mendirikan persekutuan itu?”

“Tidak lama lagi. Kita harus sabar menantikan daangnya berita itu!”

“Di manakah sebetulnya letak pusat persekutuan tersebut?” “Sekarang ini masih belum boleh diumumkan!”

“Mengapa?”

“Sebab takut karena menarik selembar rambut akan menggerakkan sekujur badan!”

Hui Kiam diam, sudah tentu ia mengerti maksud ucapan itu, dikhawatirkan ada orang yang karena tidak sabar menunggu lalu menimbulkan onar, sehingga mengejutkan setiap musuh dan merusak seluruh rencana, sedangkan orang yang berani melakukan perbuatan demikian, mungkin justru dirinya sendiri.

Manusia Teragung agaknya sudah dapat menebak isi hati pemuda itu, maka ia berkata dengan sungguh-sungguh:

“Bocah, dalam pertempuran yang akan datang, semua akan tergantung kepala dirimu, aku si orang tua dan lain-lainnya telah mengerti dengan baik kepandaian dan kekuatan sendiri siapapun bukan merupakan tandingan persekutuan itu!”

“Locianpwee terlalu memuji, boanpwee hanya merupakan salah satu anggota dalam barisan penegak kebenaran ini, sudah tentu harus mencurahkan seluruh kepandaian dan kekuatan bagi kita bersama?” Pada saat itu sesosok bayangan orang tiba-tiba lari masuk. Hui Kiam begitu melihat segera mengetahui bahwa orang itu adalah Ie It Hoan.

Ie It Hoan sebetulnya juga turut bertempur dalam ruangan di bawah tanah, tetapi mengapa saat itu muncul dari jurusan luar, pemuda yang banyak akalnya dan susah ditebak tindak tanduknya, benar-benar mirip dengan nama julukannya Sukma Tidak Buyar.

Begitu melihat Hui Kiam, Ie It Hoan lalu berkata dengan napas masih memburu:

“Toako, aku baru saja mendapat suatu berita….” “Berita apa?”

“Tadi pagi Tong-hong Hui Bun dengan membawa delapan anak buahnya yang merupakan pelayannya yarg terkuat, pergi menuju ke Makam Pedang.”

Bukan kepalang terkejut Hui Kiam ketika mendengar berita itu. Ia segera teringat diri Cui Wan Tin yang demikian dalam mencintai dirinya. Hui Kiam yang di saat itu boleh dikata sudah mengetahui jelas bagaimana sifat kelakuan Tong-hong Hui Bun ternyata benar- benar lebih jahat daripada ular berbisa, barang yang tidak bisa dapatkan, atau barang yang dibencinya, ia harus merusaknya. Kepergiannya ke Makam Pedang itu kecuali hendak menyingkirkan Cui Wan Tin, sudah pasti tidak ada maksud lain. Gadis piatu itu merupakan keturunau satu-satunya toa-supek Hui Kiam juga merupakan satu-satunya kekasih pada dewasa ini ......

“Apakah berita ini dapat dipercaya kebenarannya?”

“Toako, apakah siaote perlu main gila terhadapmu?” jawab si Sukma Tidak Buyar sambil mengerutkan alisnya.

Pui Ceng Un merasa gelisah, katanya:

“Apa maksud perempuan jahat itu pergi kesana?”

“Kecuali hendak menyingkirkan enci Cui, masih ada apa lagi? Sedangkan ia tokh sudah tahu bahwa pedang sakti ini sudah berada dalam tanganku.” “Mengapa dia?”

“Sebab ia tahu bahwa enci Cui adalah kekasih toako!”

“Aku harus segera berangkat kesana. Jikalau tidak pasti akan terjadi suatu peristiwa yang menyedihkan!” berkata Hui Kiam dengan perasaan gusar.

“Makam pedang itu dilindungi oleh barisan gaib yang tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang,” berkata Pui Ceng Un dengan hati cemas.

“Dia sudah mendapat keterangan dan penjelasan dari Iblis Sin Mo bagaimana cara-caranya masuk ke dalam barisan gaib itu, justru karena hal itu berita kepergiannya ke sana itu telah bocor,” berkata Ie It Hoan.

“Sutee, aku akan pergi bersama!” berkata Pui Ceng Un.

Hui Kiam menganggukkan kepala lalu berkata kepada Kak Hui Taysu dan lain-lainnya:

“Locianpwee sekalian, untuk sementara boanpwee ingin mohon diri dulu!”

Orang Tua Tiada Turunan melirik kepada Orang Berbaju Lila sejenak kemudian berkata kepada Hui Kiam:

“Siaohiap, ini urusan penting. Kita tak dapat merintangimu, tetapi kau harus lekas pergi dan lekas kembali. Aku usulkan paling baik kau binasakan saja iblis wanita itu!”

“Boanpwee nanti akan melakukan itu!”

“Pakaianmu harus ganti dulu, dengan berpakaian yang penuh darah seperti ini, nanti kau akan mengejutkan orang-orang yang melihatnya….”

“Boanpwe mengerti. Di tengah perjalanan nanti boanpwee akan tukar pakaian!”

“Di sepanjang jalan kau harus awas ada orang yang akan membokong!” “Terima kasih!” “Pergilah!”

Baru saja Ie It Hoan hendak berkata lagi, Orang Tua Tiada Turunan segera berkata sambil menggapaikan tangannya:

“Bocah, kau jangan memikirkan apa-apa lagi. Kau tidak bisa pergi, jikalau tidak siapa yang harus ditugaskan untuk menjadi mata-mata dan mencari keterangan dari pihak musuh?”

“Boanpwe tak akan pergi, hanya ingin mengantar toako saja untuk beberapa pal saja.”

“Itu tidak ada gunanya!”

Hui Kiam dan Pui Ceng Un memberi hormat dan minta diri pada semua orang, lalu pergi menuju ke Makam Pedang. Ie It Hoan juga mengikuti di belakangnya.

Orang Berbaju Lila menghela napas panjang. Orang Tua Tiada Turunan menyaksikan dengan penuh rasa simpati.

Hui Kiam bertiga bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, dalam waktu sekejap sudah lari sejauh empat lima pal. Hui Kiam mendadak berhenti dan berkata kepada Ie It Hoan:

“Adik Hoan, aku ingin bertanya kepadamu.”

Ie It Hoan segera berhenti, tetapi Pui Ceng Un dia sudah jalan sejauh sepuluh tombak dari mereka, hanya berhenti di pinggir jalan untuk menunggu.

“Toako hendak bertanya apa?”

“Apakah kau pernah dengar hubungan antara ayah di masa masih hidup dengan Tong-hong Hui Bun?”

“Tentang ini…. Memang pernah dengar.” “Apakah itu benar?”

“Siaote tidak berani menjamin, tapi mungkin itu tidak salah.”

“Lagi, apakah Orang Berbaju Lila itu dulu merupakan salah satu anggota daripada Persekutuan Bulan Emas?” “Ya, bahkan kedudukannya cukup tinggi.”

“Mengapa kemudian ia berkhianat terhadap Persekutuan Bulan Emas?”

“Tentang ini....aku tidak tahu! Hanya. ”

“Hanya apa?”

“Sebahagian bekas anak buahnya yang setia kepada dirinya, telah berkorban karena perbuatannya itu, seperti Ko Han-san dan lain-lainnya, jikalau tidak orang-orang itu di kemudian hari merupakan suatu kekuatan yang tidak boleh dipandang ringan dan yang bisa memberi banyak hanya bantuan dari dalam untuk pihak kita.”

Hui Kiam saat itu baru sadar, apa sebabnya Tong-hong Hui Bun di kala itu memaksa Ko Han-san dan lain-lain menghabiskan jiwanya sendiri. Waktu itu ia selalu merasa curiga, mengapa mereka saling bunuh-membunuh sendiri, tetapi sekarang setelah mendengar keterangan dari Ie It Hoan, ia baru mengetahui bahwa orang-orang yang dibinasakan itu semua adalah komplotannya Orang Berbaju Lila.

”Kalau demikian halnya, Orang Berbaju Lila tentunya masih ada komplotannya yang berada di dalam Persekutuan Bulan Emas?”

“Ya!”

“Pantas beritanya tentang persekutuan itu diketahuinya demikian jelasnya.”

“Masih ada faktor lainnya, tentang gerak-gerik persekutuan itu, sebagian besar sudah berada di tangan orang-orang pihak kita.”

“Faktor lain apa yang kau maksud?”

“Tentang ini maaf siaote tidak dapat memberitahukan.”

“Lagi-lagi kau main teka-teki. Aku sekarang hendak menanyamu lagi, di manakah letaknya pusat Persekutuan Bulan Emas itu?”

“Hanya Orang Berbaju Lila yang tahu.” “Tetapi dia tidak pernah mengumumkan.” “Saatnya belum tiba.”

“Toako ”

“Ada apa?”

Sesaat wajah Ie It Hoan kemerah-merahan. Lama ia berdiam, kemudian baru berkata:

“Ada suatu urusan siaote minta… bantuan toako.”

“Urusan apa, kau ceritakanlah. Jangan berlaku seperti anak perawan yang kemalu-maluan, aku tak mempunyai banyak waktu lagi.”

Ie It Hoan melirik kepada Pui Ceng Un yang berdiri sepuluh tombak lebih terpisah dengannya, lalu berkata dengan suara perlahan:

“Adalah soal enci Un itu….” “Dia mengapa?”

Setelah Ie It Hoan menunjukkan sikapnya kemalu-maluan, barulah berkata:

“Dahulu waktu cici Un terkena racun, telah dibawa kemari untuk ditolong….”

“O ya,” demikian Hui Kiam memotongnya, “Kau jawab dulu pertanyaanku, mengapa Orang Menebus Dosa hingga saat ini belum menunjukkan diri?”

“la tidak suka menunjukkan muka di hadapan orang banyak.” “Berapa banyak yang kau mengetahui tentang dirinya?” “Hampir semuanya.”

“Kalau begitu kau….”

“Toako, aku pernah menerima baik permintaannya sebelum tiba saatnya tidak akan membocorkan rahasianya.”

Hui Kiam menarik napas panjang katanya: “Sudahlah, teruskan perkataanmu.”

Ie It Hoan mengawasi Hui Kiam sejenak, baru mengutarakan maksudnya yang semula:

“Setelah enci Un dibawa kemari selama diberikan pertolongan, beberapa locianpwee itu itu telah menunjuk siaote yang harus menunggu dan merawatnya.”

“Apakah Orang Berbaju Lila dan lain-lainnya di bawah ini boleh dikata merupakan daerah terlarang bagi kaum wanita?”

“Teruskan!”

“Ini… sudah tentu, selama hari itu banyak urusan-urusan kecil dalam pergaulan hidup manusia, kadang-kadang tidak dapat dihindarkan….”

“Em! Bagi kita asal masing-masing berlaku jujur dalam urusan kecil tak perlu direcoki.”

Berkata sampai di situ, tiba-tiba diam, ia tak dapat melanjutkan, karena pikirannya tiba-tiba teringat kejadian yang tidak patut dengan Tong-hong Hui Bun, akibat perbuatan itu bagaimana selanjutnya, sekarang ini belum diketahui, tetapi biar bagaimana martabatnya sendiri dibikin ternoda oleh perempuan cantik yang jahat itu, sekalipun hal ini bukan kemauannya sendiri, tetapi biar bagaimana noda itu tidak dapat dihapus begitu saja,

Ie It Hoan melanjutkan ucapannya:

“Siaotee......merasa sangat bersimpati terhadap dirinya dan pengalaman hidupnya yang menyedihkan, sebab kita berdua sama- sama merupakan anak-anak piatu yang hidup sebatang kara di dalam dunia ini.”

“Lalu bagaimana kalau sudah merasa simpati?” “Siaotee... pikir... ingin. ”

“Ingin apa?”

Ie It Hoan menundukkan kepala, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Hui Kiam sudah tidak sabar lagi, ia berkata:

“Apa sebetulnya yang kau ingin ucapkan, terus terang saja.

Jikalau tidak aku akan melanjutkan perjalananku.”

Ie It Hoan mengangkat kepalanya, agaknya sudah mengambil keputusan tetap. Maka akhirnya ia berkata:

“Aku bersedia mengawalinya untuk seumur hidup!”

Hui Kiam terperanjat. “Oh, kau berkata hampir setengah harian, maksudmu hanya hendak mengatakan kau cinta kepadanya!?”

“Ya!”

“Bagaimana dengan ia sendiri?”

“Justru inilah yang siaote ingin minta bantuan toako!” “Apakah ia tidak menyatakan apa-apa?”

“Sebentar panas sebentar dingin, tidak menerima juga tidak menolak, sehingga membuat aku sangat menderita!”

“Adik Hoan, sesuatu barang di dalam dunia ini, semua boleh kita dapatkan dengan berbagai macam cara, hanya menyintai sedikitpun tidak boleh dipaksa!”

“Tentang itu aku tahu. Toako, aku hanya ingin mengetahui cinta kepadaku atau tidak. Andaikata karena mukanya bercacat sehingga ia harus menindas perasaannya sendiri, hal itu tidak perlu, sebab siaote tidak memikirkan soal mukanya!”

“Apakah kau menyintainya?”

“Ya. Tuhan boleh menjadi saksi.”

“Adik Hoan, kau harus pikir dulu masak-masak. Soal ini merupakan soal kebahagiaan seumur hidup bagi kedua pihak, tidak boleh menuruti bisikan hati yang timbul dalam waktu sepintas lalu. Jikalau tidak, di kemudian hari akan membawa akibat buruk yang sangat menakutkan!”

Dengan sikap bersungguh-sungguh Ie It Hoan menjawab: “Toako, sudah lama siaote memikirkan persoalan itu. Pikiranku ini sudah tetap, siaote yakin tidak akan berubah!”

“Baiklah, aku terima baik permintaanmu untuk berusaha memberi bantuan sepenuh tenaga!”

“Terima kasih toako!” “Sekarang kau boleh balik!” “Ya!”

Setelah berkata demikian, ia lambai-lambaikan tangannya kepada Pui Ceng Un seraya berkata:

“Enci Un, sampai kita berjumpa lagi!”

Hui Kiam menunggu sampai Ie It Hoan sudah tidak kelihatan bayangannya, baru menghampiri Pui Ceng Un yang segera ditegurnya lebih dahulu oleh sang suci:

“Apa yang dikatakan?”

Hui Kiam menerangkan pikirannya. Ia pura-pura berkata tenang, lalu menjawab:

“Tidak apa-apa, ia hanya minta aku untuk menanyakan kepada suci!”

“Menanyakan soal apa?”

“Ia berkata, hatinya telah merana, ia ingin mengetahui bagaimana sikap suci terhadapnya.”

Pui Ceng Un terdiam, lama baru berkata dengan nada suara dingin:

“Aku tidak pantas.”

“Tidak pantas, apa artinya?”

“Kau toh sudah tahu, mengapa pura-pura bertanya?”

“Suci maksudkan, apakah karena muka suci yang cacat itu?” “Em, nasibku sudah ditentukan oleh peraturan si Raja Pembunuh

ketika aku mengambil keputusan bersedia menjadi muridnya.” “Suci, perlu apa suci menyusahkan diri sendiri, dengan setulus hati ia ”

“Ya aku tahu. Justru karena itu aku lebih merasa tidak pantas. Coba pikir, aku tokh tidak mungkin berdiam dengannya selalu memakai kerudung muka ini, sedangkan wajah asliku malu untuk dilihat orang, lama kelamaan, bukankah akan menimbulkan perasaan jemu dan menyesal?”

“Tetapi ia menyatakan dengan tegas tidak akan terjadi hal demikian.”

“Sute, aku tidak suka menimpakan penderitaanku sendiri kepada orang lain. Aku selamanya belum pernah memikirkan untuk memperbaiki nasibku. Aku berterima kasih atas simpatinya terhadapku, tetapi aku tidak dapat menerimanya.”

“Suci, dia. ”

“Perkataanku cukup sampai di sini saja tak perlu dibicarakan lagi. Aku sangat khawatir akan keselamatan suciku yang belum pernah bertemu muka itu. Kita harus melakukan perjalanan supaya lekas tiba di sana. Sedikit terlambat saja, akan membuat kemenyesalan untuk seumur hidup.”

Ucapan sang suci itu bagaikan ujung pisau belati menikam hulu hatinya, maka segera berkata sambil menganggukkan kepala:

“Mari kita lekas berangkat.”

Baru saja bergerak, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara orang memanggil:

“Toako, tunggu dulu!”

Kiranya itu adalah Ie It Hoan yang balik kemari. “Ada urusan apa?”

Ie It Hoan mengawasi Pui Ceng Un sejenak dengan perasaan tidak enak, kemudian baru berkata dengan tergesa-gesa:

“Aku lupa suatu persoalan besar.” “Soal apa?”

“Aku lupa memberitahukan kepada toako apabila berjumpa dengan orang-orang Persekutuan Bulan Emas, ada orang menunjukkan kode rahasianya secara begini. ”

Ia berkata sambil mengacungkan tangan kirinya. Jari tangan telunjuk dan jempolnya membuat satu lingkaran kecil, tiga jari lainnya diluruskan. Kemudian ia berkata pula:

“Ini adalah kode rahasia untuk mengetahui bahwa orang yang sedang dihadapinya adalah orang sendiri, jangan sampai terjadi kesalahan yang menimbulkan pertumpahan darah antara kawan.”

“Baik, aku tahu!”

“Sampai kita bertemu lagi!”

Hari itu di waktu senja, di jalan lembah sempit di luar Makam Pedang, telah kedatangan dua tetamu sepasang muda mudi. Mereka adalah Hui Kiam dan Pui Ceng Un.

Sambil menunjuk ke jalan lembah yang sempit itu, Hui Kiam berkata kepada sucinya:

“Kita sudah tiba. Setelah kita melalui jalan lembah yang sempit ini, adalah danau air dingin dan Makam Pedang itu.”

“Apakah kita tidak terlambat?” bertanya Pui Ceng Un cemas: “Mari kita lekas berjalan!”

Baru saja mereka tiba di mulut lembah, segera terdengar suara bentakan orang:

“Jangan maju lagi!”

Hui Kiam dan Pui Ceng Un menghentikan tindakannya. Dua pelayan wanita yang masih muda menghalang di mulut lembah. Dua pelayan itu setelah mengetahui siapa adanya dua tetamu yang baru tiba itu wajah mereka berubah seketika. Satu di antaranya lalu berkata:

“Oh, kiranya adalah Hui siangkong.” “Di mana ibu majikan kalian?” bertanya Hui Kiam dingin. Dua pelayan itu mundur dua langkah, tidak menjawab. “Minggir!” bentak Hui Kiam dengan keras.

Salah satu dari dua pelayan itu memasukkan tangannya ke dalam saku. Hui Kiam tahu bahwa pelayan itu hendak memberi kabar dengan tanda rahasia, hawa amarahnya meluap. Seketika tanpa memberi kesempatan sedikitpun juga kepadanya, ia sudah bertindak serentak dengan Pui Ceng Un, hingga dua pelayan itu sebentar sudah terbinasa dalam tangan mereka.

Hui Kiam berdua segera melanjutkan perjalanannya.

Keluar dari jalan lembah yang sempit itu tibalah mereka di tepi danau air dingin.

Seberang danau, terdapat sebuah batu hitam tinggi besar yang berdiri berderet-deret. Itulah barisan batu ajaib yang terkenal kemukzizatannya.

Di luar barisan itu, enam pelayan wanita sedang menjaga dengan berdiri atau duduk.

Hui Kiam yang berjalan di muka, lari mengitari danau diikuti oleh Pui Ceng Un.

Enam pelayan itu ketika mengetahui kedatangan mereka, serentak berdiri bersiap-siap. Satu di antaranya lalu berkata dengan suara gemetar:

“Mengapa dia juga bisa datang kemari?”

“Lekas beri kabar kepada ibu majikan!” berkata yang lainnya.

Tetapi sebelum mereka bertindak, Hui Kiam sudah berada di hadapan mereka, sehingga enam pelayan itu terperanjat. Satu di antaranya segera mengayunkan tangan kirinya sembari membuat lingkaran dengan jari jempol dan telunjuk.

“Hui siangkong, harap beritahukan maksud kedatanganmu.” Kini tahulah Hui Kiam bahwa Tong-hong Hui Bun sudah masuk ke dalam Makam Pedang. Maka seketika itu hatinya dirasakan hampir melompat keluar.

Dengan tanpa menjawab, Hui Kiam segera menghunus pedangnya. Dalam waktu sekejapan saja, pelayan-pelayan wanita itu sudah tamat riwayatnya, tinggal satu yang menegur dengan kode gerakan tangan, segera berkata dengan suara cemas:

“Siaohiap, lekas!”

Hui Kiam menyatakan terima kasih kepada pelayan itu, kemudian melesat ke dalam barisan dengan diikuti oleh Pui Ceng Un.

Dalam kamar batu di dalam Makam Pedang, Cui Wan Tin dengan sekujur badan mandi darah, berdiri menyender di dinding batu, sedangkan Tong-hong Hui Bun nampak berdiri di hadapannya sambil mengancam ujung pedangnya ke depan dadanya. Paras Tong-hong Hui Bun saat itu nampak sangat kejam, sehingga berubahlah seluruhnya kecantikan yang dimilikinya.

Keadaan itu serupa dengan keadaan sewaktu Cui Wan Tin menghadapi ancaman Iblis Gajah, yang memaksanya supaya menyerahkan pedang saktinya.

Dengan sangat hati-hati Hui Kiam menyelinap masuk. Ketika matanya mengawasi Cui Wan Tin, hatinya merasa lega, karena Cui Wan Tin ternyata masih belum mati. Namun demikian ia juga tidak berani bertindak secara gegabah, sebab betapapun gesitnya ia bergerak juga tidak dapat merintangi tindakan Tong-hong Hui Bun yang cukup dengan menusukkan ujung pedangnya ke dalam dada Cui Wan Tin.

Baik Cui Wan Tin maupun Tong-hong Hui Bun, semua tidak mengetahui kedatangan Hui Kiam itu.

Wajah Cui Wan Tin pucat putih bagaikan kertas, luka di badannya membuat tubuhnya gemetar. Apa yang tampak dalam pancaran sinar matanya, bukanlah rasa takut atau kebencian, melainkan rasa sedih dan duka. “Mengapa kau harus membunuh aku baru merasa puas?” demikian terdengar ia bertanya kepada Tong-hong Hui Bun.

“Sebab dia mencintaimu!” jawab Tong-hong Hui Bun dingin. “Kau... tidak mengijinkan dia menyintai aku?”

“Benar!”

“Aku tidak melarang dia mencintai kau karena kau jauh lebih cantik daripadaku sehingga aku merasa sedikitpun tidak berhak untuk merasa dengki terhadapmu.”

“Cantik? Hahahaha ”

Suara tertawa itu kini dalam telinga Hui Kiam telah berubah seluruhnya. Suara itu seolah-olah suara burung hantu di waktu malam atau srigala di tengah hutan.

Setelah berhenti tertawa, Tong-hong Hui Bun berkata pula: “Cantik, apa gunanya kecantikan? Dia toh tidak mencintai

aku. ”

“Apa? Dia tidak mencintaimu?”

“Tidak, dia memang cinta aku, tetapi hatinya telah berubah. Dia sekarang sudah putus hubungan denganku!”

Di wajah Cui Wan Tin yang pucat terlintas suatu senyuman. Meskipun di bawah ancaman pedang, masih menunjukkan betapa gembira perasaannya. Begitu besar cintanya terhadap Hui Kiam, cinta suci murni yang terbit dari hati setulusnya. Maka cintanya itu melupakan dirinya sendiri dalam bahaya, sehingga Hui Kiam yang menyaksikan itu, hampir saja ia mengeluarkan air mata.

“Jangan bangga dulu,” berkata Tong-hong Hui Bun. “Meskipun dia sudah berubah terhadap diriku, namun dia sudah mengadakan perhubungan sebagai suami istri dengan aku.”

Senyum di bibir Cui Wan Tin lenyap seketika diganti dengan getaran bibir, akan tetapi ia segera berkata dengan suara duka:

“Aku tidak sesalkan kepadanya asal ia suka.” “Sedemikian dalamkah cintamu terhadapnya?”

Hui Kiam hampir menyerbu, tetapi ia masih bersabar. Ia harus menantikan suatu kesempatan yang paling baik untuk menolong kekasihnya dari ujung senjata. Ia tidak boleh berlaku gegabah.

Cui Wan Tin nampaknya malah semakin tenang. Katanya: “Mungkin lebih dalam daripada apa yang kau bayangkan.”

“Maka aku juga semakin benci terhadapmu,” berkata Tong-hong Hui Bun bengis.

“Kau boleh memiliki dia. ”

“Sudah terlambat.” “Terlambat? Apa maksudmu?”

“Aku sudah bertekad hendak mengambil jiwanya.” “Kau hendak membunuhnya?”

“Benar, tanpa pilih cara aku bersumpah harus membunuhnya.”

“Tetapi... kau toh pernah mencintainya? Sekarang kau hendak membunuh aku, bukankah juga karena. ”

“Kau keliru, barang yang aku tidak bisa dapatkan, orang lain jangan harap memilikinya. Kau telah menyerobot cintaku, maka aku harus membunuhmu lebih dulu. Andaikata di kemudian hari aku tidak berhasil membunuh dia, kau sudah tidak bisa mendapatkan dirinya lagi.”

Betapa kejam dan hebatnya pengakuan itu.

Cui Wan Tin hampir tidak sanggup pertahankan badannya yang menyender. Air matanya saat itu baru mulai mengalir keluar.

Terdengar pula ucapannya Tong-hong Hui Bun:

“Perkataanku sudah habis. Apakah kau benci aku? Apakah kau akan mati penasaran? Itulah yang memang aku harapkan!”

“Aku masih hendak menanyakan suatu hal.” “Katakanlah!” “Kau akan membunuh aku juga akan membunuh dia, akhirnya kau akan mendapatkan apa?

“Aku? Ha ha ha! Apapun aku tidak akan dapat. Aku hanya ingin menuntut balas, supaya semuanya musnah. Biarlah kematian yang mengakhiri segala-galanya. Cinta sejati yang kuinginkan dalam hidupku, hingga sekarang aku masih belum dapatkan.   Apa yang ada padaku hanya kebencian, kebencian, kebencian.”

“Kau... semuanya hanya merupakan kebencian, bagaimana orang lain terhadapmu?”

“Aku ingin supaya semua orang membenciku. Semakin dalam mereka membenciku, itulah semakin baik. Apa yang aku sekarang butuhkan kecuali benci sudah tidak apa-apa lagi.”

Cui Wan Tin mendadak berteriak histeris:

“Benci! Benar, aku juga seharusnya membenci. Membenci orang lain, juga membenci diriku sendiri!”

Tong-hong Hui Bun tertawa bangga, kemudian berkata:

“Itu benar. Membencilah! Aku paling senang menyaksikan orang mati dalam kebencian. Kau boleh membawa kebencianmu ke dalam liang kubur! Sekarang akan menusukkan pedang ini perlahan-lahan ke dalam ulu hatimu. Pandanglah wajahku. Gunakanlah semua kebencianmu untuk membenci aku, sehingga putus nyawamu. ”

Nampaknya ia benar-benar hendak turun tangan.

Hui Kiam sangat gelisah. Tetapi jika pada saat itu ia bertindak atau bersuara, biar bagaimana sudah tak dapat mencegah perbuatan kejam Tong-hong Hui Bun yang seolah-olah sudah menjadi gila. Namun demikian, apakah ia dapat menyaksikan Cui Wan Tin disiksa oleh perempuan jahat itu?

Dalam keadaan cemas dan gusar, ia telah mendapat suatu pikiran nekad. Dengan sangat hati-hati dan perlahan sekali ia menggunakan jari tangannya untuk menghancurkan batu kecil, kemudian dengan sangat hati-hati dan perlahan sekali dilemparkan ke samping.

Hancuran batu itu terbang dari tangannya tanpa menerbitkan suara. Ketika hancuran batu itu tiba di tanah, menerbitkan suara sangat ringan yang hampir tidak kedengaran.

Tong-hong Hui Bun tiba-tiba menoleh.

Bukan kepalang girangnya Hui Kiam karena usahanya telah berhasil. Secara kilat ia bergerak sambil melancarkan satu serangan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam.

Tong-hong Hui Bun tidak menduga sama sekali adanya perubahan itu, sehingga terhuyung-huyung badannya.

Sementara itu Hui Kiam sudah rintangkan dirinya di hadapan Cui Wan Tin.

Tetapi Tong-hong Hui Bun juga bukan bangsa lemah. Seolah- olah tanpa dipikir lagi, badannya yang terhuyung-huyung bergerak setengah memutar sambil melontarkan pedangnya. Dalam keadaan demikian ia masih dapat melakukan serangan pembalasan yang tidak mudah dilakukan oleh orang lain, hal itu sudah tentu di luar dugaan Hui Kiam. Dalam keadaan cemas, terpaksa ia melintangkan pedangnya untuk menangkis.

Tetapi apa yang terjadi selanjutnya ternyata di luar dugaannya sama sekali.

Pedang yang dilontarkan oleh Tong-hong Hui Bun tadi ternyata cuma merupakan satu serangan pura-pura saja, karena berbareng dengan dilontarkannya serangan pedang itu, tangan kirinya dengan kecepatan bagaikan kilat telah bergerak menyambar pergelangan tangan Cui Wan Tin.

Ketika Hui Kiam menyadari, ternyata sudah terlambat. Pergelangan tangan Cui Wan Tin sudah tergenggam di tangan Tong-hong Hui Bun. “Kalau kau berani mengganggu seujung rambutnya saja, aku nanti akan cincang tubuhmu menjadi berkeping-keping!” berseru Hui Kiam dengan suara keras.

Tong-hong Hui Bun sambil membawa Cui Wan Tin menyingkir sejauh delapan kaki sehingga terpisah sejarak satu tombak lebih dengan Hui Kiam.

“Lepaskan tanganrnu!” demikian Hui Kiam mengancam.

“Hui Kiam, kau sudah berpikir, apakah kau kira aku takut ancamanmu?”

Pada saat itu Cui Wan Tin baru tahu siapa orangnya yang datang di hadapannya. Maka segera memanggil dengan suara gemetar

“Engko Kiam, kau... akhirnya datang juga!”

“Adik Tin, di sini ada aku, jangan takut!” jawab Hui Kiam.

Kulit wajah Tong-hong Hui Bun nampak berkerenyit beberapa kali. Sinar matanya bagaikan tajamnya pedang, seolah-olah hendak menembusi hati orang. Itu adalah suatu tanda bagaimana perasaan bencinya pada saat itu. Sikap itu tidak akan dilupakan untuk seumur hidupnya bagi siapa yang menyaksikannya.

“Hui Kiam, aku ingin kau menyaksikan bagaimana caranya ia menutup mata. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya kebencian!”

“Perempuan hina, asal kau berani, aku akan beset kulitmu hidup- hidup!”

“Perempuan hina? Ahahaha! Adik, sekarang kau memaki aku perempuan hina, ingatkah kau malam yang indah itu? Meski hanya satu malam kita menjadi suami istri, tetapi itu sudah cukup menjadi kenangan untuk selama-lamanya. Kau sesungguhnya seorang laki- laki yang tidak berperasaan.”

Darah Hui Kiam bergolak hebat, hampir saja muntah keluar dari mulutnya.

“Kau... benar-benar bukan manusia!” Tong-hong Hui Bun mengerlingkan matanya. Katanya dengan nada mengejek:

“Aku bukan manusia? Dan kau sendiri? Apakah kau masih terhitung manusia? Adik, kau sudah pikirkan masak-masak atau belum?”

Hui Kiam sudah hampir gila. Ia tidak dengar jelas apa yang diucapkan oleh Tong-hong Hui Bun. Pikirannya sudah dipusatkan ke satu tujuan. Ialah dengan bagaimana harus menolong jiwa Cui Wan Tin?

Tong-hong Hui Bun berkata pula:

“Adik, kau sudah tak memanggil enci lagi?”

“Akan kubunuh kau!” demikian Hui Kiam berteriak kalap. Pedangnya bergerak menyerang Tong-hong Hui Bun....

Tong-hong Hui Bun mendorong Cui Wan Tin sehingga Hui Kiam menarik kembali serangannya. Jikalau Hui Kiam tak bertindak, Cui Wan Tin pasti menjadi korban pertamanya.

Hui Kiam sangat marah, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perempuan jahat itu.

“Hui Kiam, mengapa kau tidak berani turun tangan?” demikian Tong-hong Hui Bun bertanya dengan nada mengejek.

Cui Wan Tin lalu berkata dengan suara bengis.

”Engko Kiam, jangan pedulikan diriku, bunuh saja dia!”

“Ia tidak berani, ia juga tidak ingin kau mati,” berkata Tong-hong Hui Bun sambil tertawa dingin.

Dada Hui Kiam dirasakan hampir meledak. Otot-ototnya menonjol keluar, air peluh bercucuran, matanya merah membara.

Tong-hong Hui Bun berkata pula:

“Adik, mari kita berunding tentang syarat-syaratnya, kau pikir bagaimana?”

“Kau katakan apa syaratnya?” “Sederhana sekali, kau serahkan pedang saktimu untuk menukar jiwanya, nah itu saja.”

“Tidak bisa.”

“Kau tentunya tidak ingin dia mati, bukan? Kalian ada mempunyai hubungan sebagai saudara seperguruan, juga sebagai kekasih.”

Hui Kiam merasa penasaran bila tak dapat membunuh perempuan itu. Rasa benci dalam hatinya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi ia toh tidak berdaya, karena Cui Wan Tin berada dalam tangannya.

Tong-hong Hui Bun berkata pula:

“Pedang kau masih mempunyai kepandaian untuk merebut kembali, tetapi orang kalau sudah mati tidak bisa hidup kembali, kau mengerti atau tidak?”

Wajah Hui Kiam merah padam, badannya gemetar! Memang benar, kehilangan pedang bisa direbut kembali tetapi orang yang sudah mati tidak bisa hidup kembali. Namun demikian, apabila pedang sakti itu terpisah dari tangannya, niscaya ia sendiri sudah tidak berdaya untuk melawan musuh besar satu-satunya, pemimpin Persekutuan Bulan Emas apalagi untuk merebut kembali dari tangannya, sudah tentu tak mungkin lagi! Sekalipun terhadap Tong-hong Hui Bun saja, apabila pedang sakti itu berada di tangannya ia juga belum yakin dapat mengalahkan perempuan itu atau tidak? Apabila dari luar kedatangan bala bantuan, bagaimana akibatnya sungguh tidak dapat dibayangkan ....

“Adik, encimu sudah tidak dapat menunggu lama-lama lagi!” “Tutup mulut! Siapa ada adikmu?

“Sekarang memang bukan, tetapi yang sudah lalu toh betul, bukan?”

“Di dalam dunia susah untuk mencari perempuan begitu jahat dan tidak tahu malu seperti kau ini ” “Tidak perlu banyak bicara lagi. Nah, kita berjumpa lagi sampai di lain waktu.”

Perempuan itu memegang erat-erat tangan Cui Wan Tin, lalu ditarik keluar....

“Jangan pergi!”

“Jadi kau sudah terima baik?”

“Kau hendak berbuat apa terhadapnya?”

“Tidak apa-apa, aku hendak bawa pulang ke markas, kemudian kita akan pikirkan lagi bagaimana harus membereskannya.”

“Kau berani?”

“Dalam hal ini tidak ada persoalan berani atau tidak berani. Asal kau berani bergerak, aku akan bunuh dia lebih dulu.”

Hui Kiam tidak berdaya, maka akhirnya ia terima baik syarat itu.

Katanya dengan suara dingin: “Aku terima baik syaratmu ini.”

“Kalau begitu, kau serahkan pedangmu lebih dulu, lalu kau menunggu di sini. Setelah aku berlalu dari sini dalam keadaan selamat, kuakan lepaskan ia kembali. Aku jamin tidak akan mengganggu seujung rambutnyapun juga, bagaimana?”

Cui Wan Tin menyemburkan darah merah dari mulutnya, kemudian berkata dengan suara bengis:

“Jikalau kau hendak menyerahkan pedang saktimu, lebih dulu harus membunuh aku.”

“Adik Tin, tindakanku semata-mata hanya demi kepentinganmu,” berkata Hui Kiam dengan nada suara duka.

“Tidak bisa, barang peninggalan perguruan kita itu adalah didapatkan dengan susah payah pengucuran darah, apabila kau berbuat demikian sekalipun aku sudah jadi setan juga tidak akan mengampuni perbuatanmu.   Arwah ayah dan empat susiok yang ada di alam baka juga tidak akan memaafkannya.” Kata-kata itu diucapkan dengan nada sangat bernafsu dan semangat kejantanan. Hui Kiam yang mendengarkan, hatinya seperti ditusuk dengan ujung belati. Sesaat itu ia merasa bimbang tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Cui Wan Tin berkata pula:

“Kematianku tidak perlu dibuat sayang, tetapi kau harus menggunakan pedang ini untuk menuntut balas dendam dan membasmi setiap orang jahat dalam rimba persilatan. Nah, sekarang kau boleh turun tangan.”

Dengan mata merah Hui Kiam menjawab:

“Adik Tin, aku... tak bisa. Aku benar-benar tak sanggup!”

“Hui Kiam, atas nama ayah dan kedudukan sebagai suci, aku perintahkan kau untuk turun tangan!”

Tong-hong Hui Bun menotok jalan darah Cui Wan Tin, hingga gadis itu tidak bisa bicara lagi, hanya mengawasi dengan sepasang matanya yang penuh kebencian. Dari ujung bibirnya masih mengeluarkan darah.

Hati Hui Kiam hancur luluh. Ia tahu apabila keadaan itu terus berlangsung secara demikian ia sendiri pasti akan gila. Ia pikir bolak-balik ucapan Cui Wan Tin. Ia merasa bahwa ia sendiri tak seharusnya menempuh bahaya sebesar itu untuk melakukan perbuatan yang bodoh itu, sebab dengan orang berhati jahat seperti Tong-hong Hui Bun, apabila ia benar-benar sudah menyerahkan pedang saktinya kemudian lalu main gila, bagaimana harus bertindak, bukankah membuat penyesalan untuk seumur hidup?

Nafsunya memburu yang begitu berat dapat dilihat dari sinar matanya yang penuh kebencian. Akhirnya ia telah mengambil keputusan yang tetap.

Tong-hong Hui Bun yang menyaksikan sikap Hui Kiam itu, dalam hati juga merasa jeri. Dengan tanpa disadari ia sudah mundur dua langkah seraya berkata: “Hui Kiam, sepatah kata sudah cukup, kau terima baik atau tidak syarat ini?”

Ketika sinar mata Hui Kiam beradu dengan sinar mata Cui Wan Tin yang penuh kebencian, telah membulatkan tekad Hui Kiam, maka itu menjawabnya sepatah demi sepatah:

“Tidak bisa!”

“Apakah kau menghendaki kematiannya?”

“Kau akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Aku akan membuatmu mati perlahan-perlahan. Darahmu yang penuh racun itu akan kukeluarkan setetes demi setetes sehingga habis. Aku hendak membelah dadamu, aku akan menyaksikan bagaimana macam nyalimu!”

“Apakah... kau tidak akan menyesal?” “Tidak.”

Tong-hong Hui Bun tidak berdaya. Perempuan yang cantik bagaikan bidadari tetapi hatinya kejam dan jahat melebihi ular berbisa mempunyai cara berpikir sangat kejam, setelah berpikir bolak-balik akhirnya ia mengambil suatu keputusan. Katanya dengan nada suara dingn:

“Hui Kiam, aku tarik kembali syaratku….” Hui Kiam terheran-heran, mengapa?

“Aku telah merobah pendirianku yang semula!”

“Haha! Tong-hong Hui Bun, kiranya kau juga takut mati.” “Kalau begitu kau ternyata keliru menilai orang!” “Mengapa kau merobah pendirianmu?”

“Karena apabila aku binasa bersama-sama dengannya sedangkan kau sendiri masih hidup, aku sangat penasaran, maka aku hendak tetap hidup untuk menyaksikan kematiannya juga.”

Ucapan itu kedengarannya membangunkan bulu roma, tetapi memang sebenarnya. “Aku percaya kebenaran ucapanmu ini. Orang semacam kau ini sudah tentu tidak akan mau mati begitu saja. Dan sekarang kau berpikir bagaimana?”

“Hui Kiam, kau tentunya tidak akan menyangkal, apabila tidak ada aku kau tidak bisa hidup sampai sekarang, juga tidak akan mendapat kepandaian seperti apa yang kau miliki sekarang.”

Hui Kiam diam. Itu memang benar, beberapa kali Tong-hong Hui Bun pernah menolong jiwanya dari ayahnya yang kejam, maka ia berkata dengan terus terang:

“Aku tidak akan menyangkal, kenyataan tetap kenyataan!” “Sekarang, aku tidak bermaksud minta kau kasihani. Aku juga

tidak perlu akan menggunakan dia sebagai barang tawanan!”

Setelah berkata demikian, benar saja perempuan itu lalu membebaskan Cui Wan Tin.

Cui Wan Tin yang sudah terluka parah lagipula ia masih berusaha mempertahankan dirinya sekian lama, sebetulnya sudah tak sanggup berdiri lebih lama. Hanya perasaan penasaran dan kebenciannya yang membuat ia tetap bertahan. Tetapi sekarang setelah bebas dari tangan musuhnya, tidak sanggup lagi untuk mempertahankan dirinya. Badannya terhuyung-huyung dan kemudian duduk lemas di tanah.

Kejadian itu benar-benar di luar dugaan Hui Kiam. Tetapi ia tidak berani berlaku lengah, ia harus waspada terhadap Tong-hong Hui Bun yang mempunyai banyak akal busuk.

Sementara itu Tong-hong Hui Bun sudah melanjutkan ucapannya:

“Kuulangi sekali lagi, apabila aku tidak binasa, aku bersumpah pasti akan membunuhmu. Jikalau kau takut, sekarang kau boleh turun tangan membunuhku. Jikalau tidak, aku sekarang hendak pergi.”

Setelah berkata demikian, dengan sinar mata yang dingin ia menatap Hui Kiam tanpa berkedip. Pikiran Hui Kiam seketika itu menjadi kalut. Dibunuhnya ataukah dibebaskan? Ia telah menimbang lagi masak-masak segala budi dan permusuhan antara ia dengan perempuan itu. Pada saat itu ucapan Manusia Teragung mengenai jiwanya seorang kesatria, kembali mendengung di dalam telinganya.

Tindakan Tong-hong Hui Bun kali ini sungguh cerdik. Lebih dulu ia mengutarakan maksudnya sendiri, untuk menutup mulut Hui Kiam, kemudian ia menyebut budinya yang pernah menolong jiwa Hui Kiam, untuk menggerakkan hatinya, dan yang terakhir, ia telah membebaskan Cui Wan Tin dengan kemampuannya sendiri, untuk membuktikan bagaimana jiwa dan kelakuannya yang agaknya benar-benar sudah berubah. Ia sudah menduga dengan pasti reaksi Hui Kiam, sebab terhadap seseorang yang tinggi hati dan berjiwa seperti Hui Kiam, tindakan itu pasti berhasil.

Hakekatnya, mau tidak mau ia harus bertindak demikian, sebab ia sudah tahu bahwa usahanya hendak menggunakan diri Cui Wan Tin untuk memaksa Hui Kiam sudah tidak berhasil. Sikap Hui Kiam jelas sudah memberitahukan kepadanya bahwa pemuda itu akan turun tangan tanpa memperhitungkan nasib Cui Wau Tin lagi. Ia mengetahui bahwa kepandaiannya sendiri pada saat itu tidak sanggup melawan Hui Kiam sedangkan ia tidak rela mati sebelum maksudnya tercapai.

Kemudian, semua telah berakhir seperti apa yang diharapkan.

Dengan wajah beberapa kali berubah, akhirnya Hui Kiam berkata:

“Kau pergilah! Hari ini aku mengampuni jiwamu, hingga demikian antara budi dan permusuhan kita berdua sudah impas. Yang masih ada hanya dendam.   Di lain waktu apabila berjumpa lagi, aku pasti akan membunuhmu!”

Tong-hong Hui Bun pura-pura bersikap menentang:

“Aku bukan minta belas kasihanmu.   Kalau kau mau sekarang pun kau boleh turun tangan!”

“Lekas enyah dari sini!” “Apakah kau tidak akan menyesal?”

“Seorang laki-laki tetap akan pegang janjinya, perlu apa merasa menyesal!”

“Kalau begitu aku sekarang hendak pergi!”

Setelah perempuan itu berlalu, Hui Kiam termangu-mangu. Ia pernah tergila-gila terhadapnya, sungguh tidak diduga akhirnya terjadi perubahan demikian rupa.   Tetapi kalau ia ingat bagaimana di bawah pengaruh obat perangsang ia melakukan perbuatan tidak patut dengannya, ia lalu bergidik. Apabila benar perempuan itu mempunyai hubungan suami-istri dengan ayahnya, itu berarti bahwa perempuan itu ibu tirinya sendiri. Melakukan hubungan gelap dengan ibu tiri, bagaimana selanjutnya dia ada muka untuk hidup lagi?

Benarkah Tong-hong Hui Bun sudah mengetahui asal-usul diri Hui Kiam akan tetapi masih melakukan perbuatan binatang itu? Ini rasanya tak mungkin, tetapi ucapan dan nasihat Orang Tua Tiada Turunan serta lain-lainnya hampir semuanya serupa, semua itu maksudnya ialah supaya ia teguhkan tekadnya dalam usahanya menumpas kejahatan. Apakah karena maksud itu, sehingga orang- orang itu perlu membuat cerita bohong yang menakutkan itu? Apabila itu benar, meskipun tujuan mereka baik, tetapi rasanya tak dapat dimaafkan....

“Engko Kiam, pada saat ini kita benar-benar seperti berjumpa lagi dari lain  dunia.”

Demikian terdengar suaranya Cui Wan Tin sehingga Hui Kiam baru ingat bahwa gadis itu masih duduk di tanah. Ia mengawasinya sejenak lalu menghampirinya dan mendukungnya ke dalam tempat tidurnya, kemudian berkata kepadanya dengan dengan nada penuh kasih sayang:

“Adik Tin, aku sungguh menyusahkan kau!?”

“Engko Kiam, aku bisa berada lagi di sampingmu, apapun yang telah terjadi tidak penting lagi bagiku,” berkata Cui Wan Tin dengan penuh mesra, katanya sambil memegang kedua lengan tangan Hui Kiam.

Hui Kiam tidak sanggup mengendalikan perasaannya sendiri, ia mencium pipi gadis itu seraya berkata:

“Masih ingat!”

“Dan sekarang kau sudah balik kembali!”

“Ya, namun demikian budi aku belum berhasil membalasnya. Permusuhan dan dendam sakit hati juga belum berhasil menuntutnya. Kedatangan ini karena aku mendapat berita bahwa kau dalam keadaan bahaya ”

“Kalau begitu… masih hendak meninggalkan aku lagi?” “Aku cepat akan balik lagi ke sampingmu!”

“Tidak! Aku hendak ikut kau bersama-sama berkelana di dunia Kang-ouw. Sejak kau meninggalkan aku, aku melewatkan hari- hariku seperti bertahun-tahun lamanya. Aku benar-benar merasa takut... akan kehilangan kau berarti tidak ada aku….”

“Adik Tin!” Hui Kiam tak dapat melanjutkan ucapannya, sepasang matanya sudah basah.

Cui Wan Tin berkata pula:

“Engko Kiam, sudikah kau membawa aku pergi?”

“Adik Tin, bukankah kau hendak mengawani arwah ibumu, sehingga tidak bersedia meninggalkan tempat ini?”

“Engko Kiam, aku tidak tahu bagaimana sepi, aku sudah biasa aku hanya tak sanggup menyiksa batinku karena selalu memikirkan dirimu. Perbuatanku yang akan berlalu dari sini, pasti dimaafkan oleh ibu!”

Dua butir air mata mengalir keluar dari matanya.

Hui Kiam menundukkan kepala memberikan ciuman hangat. Sekarang ia sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Ia boleh mencurahkan seluruh cinta kasihnya kepada kekasihnya itu. Tiba-tiba ia melompat bangun seraya berkata: “Celaka! Mengapa aku berlaku begini gegabah!”

“Kau maksudkan apakah tidak seharusnya aku melepaskan perempuan itu?” bertanya Cui Wan Tin bingung.

“Bukan, bukan. ”

“Kalau begitu karena apa?”

“Anak perempuan si-supek Pui Ceng Un tadi datang bersamaku. ”

“Oh! Sekarang dji maonakah dia?”

“Aku hanya tujukan perhatianku untuk menolong jiwamu, sebaliknya sudah melalaikan dirinya, sedangkan ia tak paham barisan batu gaib ini ”

“Kebanyakan ia masih terkurung di dalam barisan batu. ”

Gadis itu hendak bangun, tetapi mulutnya mengeluarkan rintihan dan kemudian jatuh lagi.

“Adik Tin, lukamu tidak ringan, kau jangan banyak bergerak, biarlah aku saja yang pergi. ”

“Kau boleh melihat dulu dari kaca rahasia di dalam kamar sebelah itu. Apabila ia berada di dalam barisan batu, kau dapat menyaksikan dengan jelas!”

“Baiklah, aku pergi dulu.”

Tiba di kamar sebelah, dengan penasaran Hui Kiam melihat keadaan dalam barisan dari kaca rahasia itu. Semua keadaan dalam barisan gaib itu, sampaipun bangkainya lima pelayan wanita yang berada di luar barisan, juga dapat dilihat dengan nyata, tetapi tidak tampak bayangan Pui Ceng Un. Bukan kepalang terkejutnya pada saat itu. Dengan hati sangat gelisah ia lari keluar. Ia memasuki barisan gaib itu untuk mencari, tetapi tetap tidak menemukan jejaknya. Ia lalu berpikir, mungkin karena tidak mengerti ilmu barisan itu, hingga Pui sucinya itu tidak ikut masuk.

Terpaksa ia lari keluar dari dalam barisan. Keadaan seluruh pemandangan danau air dingin tertampak di hadapan matanya, tetapi ia tetap tidak dapat melihat bayangan sucinya. Menurut logika, kalau ia tidak masuk dalam barisan, seharusnya menunggu di luarnya. Mengapa sekarang tidak tampak bayangannya? Apakah ia sudah berlalu lebih dulu…?

Ia teringat kepada Tong-hong Hui Bun yang belum lama berlalu, seketika itu ia bergidik.

Dalam soal ilmu kepandaian, kepandaian mereka berdua selisih tak jauh. Setidak-tidaknya, Pui Ceng Un masih bisa mengundurkan diri dalam keadaan selamat. Yang dikhawatirkan ialah akal busuk dan tangan ganas Tong-hong Hui Bun.

Pada saat itu, dari belakang gundukan batu sejauh dua tombak, tiba-tiba terdengar suara rintihan yang sangat lemah.

Hati Hui Kiam semakin cemas. Ia segera melompat melesat ke arah datangnya suara itu.

Tiba di tempat itu, ia menjerit. Di tempat itu ada rebah menggeletak dirinya pelayan wanita dengan kode tanda tangan sebagai kawan sendiri, dalam keadaan menyedihkan. Nampaknya jiwa pelayan itu sudah tak dapat ditolong lagi.

“Nona! Nona!” demikian Hui Kiam memanggil berulang-ulang.

Pelayan wanita itu tidak menjawab. Hanya suara rintihan lemah yang keluar dari mulutnya.

Hui Kiam lalu menggerakkan jari tangannya menotok beberapa bagian jalan darah badan perempuan itu, kemudian menyalurkan kekuatan tenaganya ke dalam tubuhnya.

Pelayan wanita itu tiba-tiba membuka matanya. Ia menatap Hui Kiam dengan pandangan mata sayu.

Hui Kiam mengerutkan alisnya. Ia tahu bahwa jiwa perempuan itu sudah tak tertolong lagi, terpaksa ia bertanya: “Nona terluka di tangan siapa?”

Bibir pucat perempuan itu bergerak-gerak. Dengan susah payah baru ia dapat mengeluarkan suaranya yang sangat lemah.

“Tong-hong... Hui Bun. ”

“Mengapa ia berlaku demikian kejam terhadap nona?” “Karena ”

“Nona., apakah kau adalah orang yang disuruh menjadi mata- mata oleh Orang Berbaju Lila?”

“Ya.”

“Apakah ia telah mengetahui rahasiamu?” “Aku ... karena hendak mencegah dia….” “Mencegah dia bagaimana?” “Kawanmu.... Nona Pui itu telah. ”

Hui Kiam terperanjat, ia bertanya dengan suara gemetar: “Apakah ia telah dibunuh olehnya?”

“Tidak. ia telah dibawa pergi.”

“Apakah nona Pui tidak memberikan perlawanan?” “Dia dibawa keluar dari dalam barisan gaib!”

Hui Kiam mendongakkan kepala, tiada sepatah kata keluar dari mulutnya karena kelalaiannya sendiri yang hanya mempertahankan keselamatan Cui Wan Tin telah melupakan bahwa sucinya itu tak mengenal cara memasuki barisan itu. Kini telah menjadi jelas bahwa sucinya itu pasti mengikuti dirinya masuk ke dalam barisan tetapi tak berhasil mengikuti jejaknya sehingga terkurung di dalam barisan. Waktu Tong-hong Hui Bun berlalu dari dalam Makam Pedang, telah berpapasan dengannya di dalam barisan sehingga akhirnya tertangkap dan dibawa pergi. Apabila di luar barisan, Tong-hong Hui Bun pasti tidak demikian mudah menangkapnya, setidak-tidaknya pasti terjadi pertempuran sengit. Pui Ceng Un telah terjatuh di dalam tangannya, susah dibayangkan bagaimana akibatnya.

Sekarang satu-satunya jalan baginya harus ditempuh ialah menyusul secepat mungkin.

“Nona, perempuan hina itu entah kemana perginya?”

Tidak ada jawaban. Ketika Hui Kiam memeriksanya, pelayan itu ternyata sudah putus nyawanya. Hui Kiam lari balik lagi ke dalam kamar Cui Wan Tin.

Cui Wan Tin menyaksikan sikap Hui Kiam, ia mendapat firasat tak enak. Maka segera menegurnya lebih dulu:

“Bagaimana dengan Pui sumoy?”

“Kalau tahu bakal terjadi kejadian semacam ini, seharusnya aku sudah bunuh mati perempuan hina itu. Pui suci terkurung di dalam barisan, telah tertangkap dan dibawa lari oleh perempuan hina itu.”

“Dibawa lari?”

“Ya. Adik Tin, bagaimana dengan lukamu, apakah kau dapat menyembuhkan sendiri?”

“Boleh ”

“Aku harus segera pergi mengejar, hanya terpaksa harus meninggalkan kau.”

“Engko Kiam, aku dilahirkan seolah-olah sudah ditakdirkan tidak bisa terlepas dari penderitaan. Kau pergilah, kalau luka segera sembuh aku bisa keluar sendiri.”

“Tidak, tidak, adik Tin, di dunia Kang-ouw banyak bahaya, hidupmu sudah cukup menderita. Kau di sini menemani arwah ibumu, menantikan kedatanganku. Tidak lama lagi aku bisa balik kembali dan lain kali kalau balik aku tidak akan meninggalkan kau lagi.”

“Engko Kiam, menantikan kau?”

“Ya, menantikan aku. Apakah kau mau?” “Engko Kiam, aku... akan menantimu. Harap perpisahan kali ini tak akan terlalu lama.”

”Adik Tin, aku akan berusaha selekas mungkin menyelesaikan tugasku. Aku akan segera kembali untuk berkumpul denganmu!”

“Aku, aku… Engko Kiam, aku mendadak merasa takut.” “Takut apa?”

“Aku sendiri juga tidak tahu apa sebabnya, aku hanya merasa takut.”

“Adik Tin, jangan takut. Aku tahu, sebab terlalu lama kau hidup dalam kesunyian seperti ini maka kau merasa takut, betul bukan? Jangan takut, tidak lama lagi aku akan kembali di sampingmu, tidak akan berpisah lagi untuk selama-lamanya.”

“Benarkah kau tidak akan meninggalkan aku untuk selamanya?” “Sudah tentu adik yang baik. Aku tidak tega berpisah

denganmu.”

Cui Wan Tin tertawa. Hui Kiam tidak dapat mengendalikan perasaannya, lalu dipeluknya dan diciumnya berulang-ulang.

“Adik Tin, aku terpaksa tidak dapat merawat lukamu, harap kau. ”

“Engko Kiam, kau pergilah dengan hati lega, aku dapat mengurus diriku sendiri.”

“Aku khawatir musuh-musuhmu itu akan datang lagi.”

---ooo0dw0ooo---