Pedang Pembunuh Naga Jilid 32

Jilid 32

“SETELAH kejadian tersebut, bidadari cautiK itu amat menyesal atas perbuatanya sendiri. Dengan terus terang ia memberitahukan kepada suaminya, semua apa yang telah terjadi. Suami itu karena mengetahui cacat kepada dirinya sendiri, akhirnya telah memaafkan perbuatan istrinya, akan tetapi sejak saat itu hubungan suami istri itu sudah timbul sedikit keretakan. Bayangan gelap ini membuat mereka masing-masing berada dalam penderitaan batin yang sangat berat.”

“Dan selanjutnya?” Demikian Pui Ceng Un bertanya. Nenek aneh itu melototkan matanya, lalu berkata pula:

“Bidadari cantik itu sejak melakukan perhubungan gelap dengan jago muda itu, ternyata sudah mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi anak itu di mata suaminya sudah tentu merupakan duri. Dengan demikian keretakan suami istri itu semakin lama semakin dalam. Pada delapan belas tahun berselang, bidadari cantik itu akhirnya pergi meninggalkan suaminya sambil membawa anaknya ia ingin mengasingkan diri untuk merawatnya ”

Nada suaranya telah berubah, air mata mengalir keluar.

“Tetapi… Tuhan rupanya tidak mau mengampuni perempuan yang sudah berdosa. Anaknya yang susah payah dirawatnya itu, kemudian meninggal dunia karena kesalahan makan buah beracun. ”

“Aaaa!” demikian Pui Ceng Un berseru.

Setelah hening cukup lama, nenek itu baru melanjutkan ceritanya:

“Sejak kejadian itu, satu-satunya pengharapan bidadari cantik itu telah musnah. Menyesal, membenci, kedukaan dan kesepian telah mengubah sifatnya yang semula. Ia ingin merusak dirinya sendiri tetapi ia tak mempunyai ketabahan hati untuk berbuat demikian. Urusan belum habis, pemuda yang pernah memancing dirinya dan menjerumuskannya ke jurang kedosaan itu, tiba-tiba datang mencarinya. Waktu itu pemuda itu usianya tidak muda lagi, dan bidadari tahu oleh karena akibat perbuatannya sendiri yang hendak merusak dirinya sudah merupakan seorang perempuan yang sudah banyak ubannya, sehingga tak secantik seperti dahulu lagi….”

Saat itu Pui Ceng Un sudah mulai dapat menduga siapa orangnya yang menjadi peranan utama dalan kisah itu, maka ia tidak berani menyela lagi.

Nenek itu berdiam sejenak untuk menindas perasaannya, demikian berkata pula:

“Setelah kedua pihak saling bertemu, bidadari cantik itu memberitahukannya tentang kematian anaknya, tapi laki-laki itu ternyata sedikitpun tidak tergerak hatinya. Seolah-olah ia menganggap sepi kejadian itu. belum lagi duduk ia sudah hendak berlalu. Semua omongan manis di waktu dahulu, seolah-olah bukan keluar dari mulut lelaki di hadapannya itu. Lelaki itu telah merusak penghidupannya, sebaliknya merasa tidak bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya. Dalam keadaan menyesal dan benci, bidadari itn telah mengambil keputusan menghabiskan jiwa lelaki itu .... Ia turun tangan lebih dahulu, tetapi lelaki itu tak membalas, sehingga bidadari itu hatinya lemas lagi, tidak tega membunuhnya. ”

Paras jelek nenek itu nampak berkerenyit beberapa kali. Dalam matanya Pui Ceng Un pada saat itu, paras nenek itu sudah tidak begitu buruk seperti semula.

Tak disangka bahwa itu adalah akal muslihatnya. Sebab ia sudah tahu bahwa kepandaiannya tidak sanggup melawan kepandaian bidadari itu. Selagi bidadari itu masih ragu-ragu dan bimbang pikirannya, lelaki itu tiba-tiba menggunakan tangannya yang ganas, dengan cara yang menakutkan, telah merusak paras bidadari itu.”

Pui Ceng Un saat itu tidak dapat mengendalikan perasaannya, maka lalu berseru:

“Lelaki sialan!”

Nenek itu melanjutkan ceritanya dengan nada suara meluap- luap.

“Bidadari itu bukan seorang sembarangan. Dalam keadaan terluka, ia masih dapat melakukan serangan pembalasan. Dengan cara yang serupa ia merusak wajah laki-laki itu. Tetapi akhirnya karena luka parah di mukanya, bidadari itu sudah tidak mempunyai tenaga untuk membinasakan laki-laki itu, sehingga laki-laki itu meloloskan diri.”

“Selama sepuluh tahun lebih ini, kebencian bidadari itu terhadap lelaki buas itu sedikitpun tidak luntur, bahkan semakin mendalam. Tetapi ia tidak pergi mencarinya untuk menuntut balas, sebab ia sudah tak mempunyai keberanian lagi untuk menjumpai kawan- kawan lamanya.”

Pui Ceng Un merasa sangat terharu. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Locianpwe kiranya mempunyai riwayat hidup yang demikian memilukan hati!” “Coba kau tebak, siapakah lelaki yang kurusak wajahnya itu?” “Boanpwe tidak bisa menebak!”

“Dia adalah gurumu sendiri.”

Pui Ceng Un mendadak lompat dari tempat duduknya. Ia sangat terkejut, sehingga lama tidak bisa berbicara.

“Ini adalah hadiah pemberian suhumu. Ini adalah bidadari berparas cantik dan berkepandaian tinggi yang dahulu kecantikannya pernah menggemparkan dunia Kang-ouw!”

“Locianpwe. ”

“Kau tidak perlu berkata apa-apa lagi setiap aku berkata satu kali. Biarlah penderitaan ini menebus dosa perbuatanku. Aku berdosa terhadap Giok-bin Sin Liong Cho Hong, aku hendak membayar hutang kepadanya.   Jikalau tidak, sekalipun aku mati juga tidak bisa menutup mata. Orang yang aku ingin kau cari itu adalah dia, suruhlah dia datang kemari.”

“Boanpwe berjanji pasti hendak melakukannya.”

“Apabila dia sudah tidak ada di dalam dunia, kau harus mencari di mana kuburannya.”

“Ya!”

“Baiklah, kisah ini sudah berakhir. Di sini kau menginap satu malam dulu, besok siang kau boleh turun gunung.”

“Menginap satu malam?”

“Hm! Hiat-ay itu setelah dipetik, harus dimatangkan dulu dengan api, jikalau tidak akan lumer tertiup angin.”

“Oh! Kalau begitu di sini boanpwe ucapkan banyak-banyak terima kasih lebih dahulu.”

Malam itu telah dilewatkan tanpa kejadian apa-apa. Nenek itu menggunakan waktu satu malam dan setengah hari, baru mengeringkan Hiat-ay itu, lalu diberikannya kepada Pui Ceng Un. Setelah menyimpan baik-baik Pui Ceng Un segera minta diri. Dalam perjalanannya itu telah berhasil demikian memuaskan, benar-benar di luar dugaannya.

Sepanjang perjalanan pulang itu, perasaan Pui Ceng Un dirasakan sangat berat. Di satu pihak ia merasa kasihan dan bersimpati pada nenek itu, di lain pihak ia sungguh merasa sebal terhadap sifat dan kelakuan gurunya sendiri.

Selagi masih berjalan, di hadapannya tampak seseorang bayangan orang yang lari ke arahnya. Oleh karena kabut tebal, ia tidak dapat melihat tegas wajah orang itu.

“Berhenti!” demikian ia mengeluarkan seruan. “Enci Un. ”

“Apakah Adik Hoan?” “Ya.”

Pui Ceng Un segera maju menghampiri. Sambil menarik tangan Ie It Hoan, ia lari dengan cepatnya sementara itu mulutnya berkata:

“Kau benar-benar mencari mati. Kau sudah berani masuk ke daerah terlarang ini.”

Namun demikian dalam lubuk hatinya merasa sangat terharu, sebab ia mengerti bahwa perbuatan pemuda itu semata-mata hanya karena dirinya.

Setelah keluar dari mulut selat dan tiada melihat bayangan nenek itu, hatinya baru merasa lega. Pui Ceng Un mengenakan kedoknya lagi dan memakai pakaian penyamarannya.   Dengan tidak sabar Ie It Hoan bertanya:

“Bagaimana?” “Beruntung kita berhasil.”

“Oh! Terima kasih kepada Tuhan.” “Mari kita jalan!”

“Enci Lo, bagaimana jalannya sampai kau berhasil mendapatkan benda itu?” Pui Ceng Un tidak suka menjelaskan, sebab dalam kisah itu menyangkut gurunya sendiri yang sudah meninggal dunia. Setelah berpikir sejenak ia berkata sambil berjalan:

“Aku harus menggunakan banyak waktu dan kata-kata untuk menundukkan hati nenek itu. Hampir aku binasa di tangannya. Untung wajahku ini telah menolong aku, akhirnya ia menerima baik permintaanku, tetapi memajukan satu syarat.”

“Syarat apa?''

“Untuk mencari keterangan dirinya seseorang masih hidup atau sudah mati!”

“Bagaimana orangnya?”

“Giok-bin Sin Liong Cho Hong!”

Ise It Hoan mendadak berhenti, ia berkata dengan suara gemetar:

“Enci Un, kau katakan Giok-bin Sin Liong Cho Hong?”

Pui Ceng Un juga dikejutkan oleh sikap Ie It Hoan itu. Ia berkata dengan perasaan heran:

“Betul. Apakah kau kenal orang itu?”

“Coba kau tebak siapa Giok-bin Sin-liong Cho Hong itu?” “Siapa?”

“Dia adalah orang yang sekarang dikenal dengan nama julukannya Orang Tua Tiada Turunan!”

“Aaaaaaaaa!”

Pui Ceng Un sangat girang. Ia tak menduga dengan demikian mudah sudah berhasil menemukan orang yang dicari oleh nenek dalam goa itu. Tetapi jikalau ia ingat penuturan nenek itu, hatinya merasa sedih. Siapa menduga bahwa Oraug Tua Tiada Turunan mempunyai riwayat hidup yang demikian menyedihkan? Apabila ia mendapat kabar tentang diri bekas istrinya itu, apakah suka pergi menjumpainya? Dan apa yang akan terjadi setelah kedua orang tua itu bertemu?

Pui Ceng Un sedang memikirkan sesuatu maka menanyanya dengan perasaan heran:

“Nenek itu mengajukan syarat demikian sebagai gantinya untuk kau mendapatkan Hiat-ay, nyata sekali betapa besar keinginannya hendak berjumpa dengan Orang Tua Tiada Turunan locianpwe. Di dalam hal ini entah terselip rahasia apa?”

“Coba kau tebak siapakah nenek penghuni goa Raja Iblis itu?” “Bagaimana aku dapat menebaknya?”

“Dia adalah istri Orang Tua Tiada Turunan locianpwe yang pada delapan belas tahun lalu telah meninggalkannya dengan membawa anaknya!”

“Oh! Ini benar-benar satu hal di luar dugaan kita semua. Kalau begitu nama julukan orang tua itu boleh dihapus!”

Pui Ceng Un sebetulnya hendak menceritakan apa yang telah didengarnya, tapi ia berpikir karena urusan itu menyangkut urusan pribadi orang lain, bagaimana boleh disiarkan? Maka ucapan yang sudah akan dikeluarkannya, segera ditelan kembali, kemudian berkata dengan sekenanya:

“Hm! Sesungguhnya sangat unik!”

“Enci Un, tiada turunan berubah menjadi mempunyai turunan, orang sudah tua nama julukannya yang dahulu, Giok-bin Sin-liong sudah tidak tepat lagi, sebaiknya dirubah menjadi Orang Tua Mempunyai Turunan, entah bagaimana ia nanti gembiranya?”

Dalam hati Pui Ceng Un berpikir, mungkin dia nanti akan menangis, bagaimana bisa merasa gembira?

Tetapi perkataan itu tidak boleh diucapkan.   Ia segera ingat suatu persoalan yang mengganggu pikirannya. Dengan bekas kekasih pada beberapa puluh tahun berselang ini telah berjumpa lagi dalam usianya yang sudah lanjut, tetapi akhirnya sudah terang ini akan merupakan suatu tragedi yang menyedihkan, seharusnya diusahakan untuk mencegah terjadinya tragedi itu. Satu-satunya cara untuk mencegah ialah nanti sesudah Hui Kiam sembuh, biarlah dia mengawani Orang Tua Tiada Turunan pergi ke goa itu. Dengan kepandaian Hui Kiam, sudah tentu dapat mencegah tindakannya nenek itu ….

Karena berpikir demikian maka ia lalu berkata dengan sikap sungguh-sungguh:

“Adik Hoan, urusan ini untuk sementara jangan diberitahukan dulu kepada Orang Tua Tiada Turunan locianpwee!”

“Kenapa?”

“Karena dalam hal ini mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak terduga-duga. Nanti setelah aku memikirkan caranya yang paling baik untuk menyelesaikan soal ini, baru diberitahukannya, juga jangan kau ceritakan kepada siapapun juga!”

“Enci Un agaknya masih menyimpan rahasia apa-apa….”

“Kau benar-benar sangat cerdik, di kemudian hari kau akan mengetahui sendiri. Sekarang mari kita jalan.”

Ie It Hoan terpaksa menurut, hingga keduanya melanjutkan perjalanannya pulang.

Menurut janji yang ditetapkan semula, mereka akan kembali dalam waktu sepuluh hari. Hari itu adalah hari yang ke sepuluh, Ie It Hoan dan Pui Ceng Un dengan jalan memutar kota Lam-shia langsung menuju ke basis pangkalan Orang Berbaju Lila di luar kota bagian barat.

Tiba di tempat sejarak tiga pal dekat kuil tua itu, seperti biasa Ie It Hoan mengeluarkan tanda rahasia untuk menghubungi orang- orang yang menjaga di pos penjagaan, sementara mulutnya masih menjaga-jaga lagu rakyat tanpa irama, tetapi heran, dari pos penjagaan tidak ada reaksi apa-apa.

Jelaslah sudah bahwa di tempat itu sudah terjadi sesuatu.

Keduanya lalu berhenti. Mereka saling berpandangan. Tiba-tiba dengan kecepatan bagaikan kilat Pui Ceng Un lompat melesat ke dalam sebelah kirinya, kemudian di dalam rimba itu terdengar beberapa kali suara jeritan ngeri. Ie It Hoan segera menyusul. Di situ ia baru dapat melihat empat orang berpakaian hitam sudah binasa di tangan Pui Ceng Un dalam keadaan remuk kepala masing- masing.

Ie It Hoan membuka baju salah satu di antaranya.   Di depan dada bangkai itu terdapat tanda bulan sabit. Ia segera mengetahui siapa adanya orang-orang itu? Dengan alis berdiri ia berkata:

“Ini adalah orang-orang Persekutuan Bulan Emas.” “Bagaimana dengan pos penjagaan kita?”

“Siaote khawatir pangkalan kita itu apakah sudah diduduki oleh mereka.”

“Tidak mungkin. Dengan orang-orang angkatan tua yang berkepandaian tinggi dan cerdik seperti Kak Hui locianpwe dan lain- lainnya, rasanya tak mungkin sampai tidak bisa mempertahankan kedudukannya.”

“Akan tetapi orang-orang yang menjaga pos penjagaan ini sudah diganti dengan orang-orang dari pihak musuh.”

“Ini hanya bagian garis luar saja!”

“Enci Un tadi seharusnya jangan membunuh mati semua.

Tinggalkan salah seorang untuk diminta keterangannya.”

“Ini mudah sekali. Di dalam daerah sekitar ini tentunya bukan cuma mereka empat orang saja.”

Kini mereka berjalan menuju ke timur. Kira-kira sepuluh tombak mereka berjalan, dengan cepat memutar ke sebelah barat. Tiba- tiba terdengar suara seruan tertahan, seorang berbaju hitam sudah tertangkap oleh Pui Ceng Un. Orang itu dilemparkan ke samping empat orang berbaju hitam yang sudah menjadi bangkai itu, lalu berkata:

“Ceritakan apa tugasmu!“ Oraong berbaju hitam itu menyaksikan kematian kawannya yang mengerikan, saat itu sudah terbang semangatnya. Ia lalu menjawab dengan suara gemetar:

“Mengawasi sepuluh pal sekitar daerah ini.” “Mengawasi apa? “

“Untuk mencari sarang Orang Berbaju Lila.”

Pui Ceng Un mengawasi Ie It Hoan sambil menganggukkan kepala, kemudian dengan satu kali pukulan orang itu sudah roboh binasa.

Dengan cepat Ie It Hoan membuka pakaian dua bangkai orang itu kemudian dikumpulkan di suatu tempat dan ditutupi dengan daun-daun kering.

Sekalipun Ie It Hoan tidak berkata apa-apa, Pui Ceng Un juga sudah tahu maksudnya. Keduanya segera memakai pakaian orang- orang sehingga saat itu mereka berubah menjadi orang-orang Persekutuan Bulan Emas. Masing-masing mengambil sebuah pedang kemudian lari menuju kuil tua itu.

Sepanjang jalan samar-samar dapat melihat bayangan orang berbaju hitam bergerak-gerak.

Ie It Hoan lalu berkata dengan suara perlahan:

“Enci Un, nampaknya kuil tua itu sudah di bawah pengawasan yang ketat. Kita terpaksa masuk melalui jalan rahasia di belakang kuil. Aku akan berusaha mengalihkan perhatian orang-orang yang mengawasi itu, kau mencari kesempatan untuk masuk.”

“Baik!”

Ketika mereka berjalan hampir mendekati kuil, Ie It Hoan memberikan isyarat dengan matanya. Pui Ceng Un lalu memutar ke belakang kuil, sedangkan Ie It Hoan lari ke samping.

Dengan bantuan pohon-pohon lebat yang terdapat di tempat itu, Pui Ceng Un berhasil menyusup ke belakang kuil. Tiba di tempat tersebut sudah ada orang yang menegurnya: “Siapa?” “Orang sendiri!”

“Orang sendiri siapa, mana tandanya?

Tepat pada saat itu, dari tempat tak jauh terdengar suara jeritan mengerikan. Suara jeritan itu saling menyusup dari arahnya yang berlainan sehingga semua orang-orang yang menjaga di pos penjagaan yang tersembunyi pada muncul keluar.

Pui Ceng Un segera dapat menduga ini pasti perbuatannya Ie It Hoan yang banyak akal itu. Ia tidak mau membuang kesempatan dengan cepat menyerbu ke arah suatu tempat yang tertutup oleh sebuah batu besar. Selagi hendak membuka pintu rahasia yang terdapat di bawah batu besar….

Satu suara yang sangat perlahan tiba-tiba berkata kepadanya: “Jangan gegabah, ada orang mengawasi perbuatanmu!”

Bukan kepalang terkejut Pui Ceng Un, ketika ia mengangkat kepala, di belakang batu itu ternyata berdiri seorang tua aneh. Orang tua itu pundak kirinya tergantung satu buli-buli arak yang besar, dan pundak kanannya menggantung satu kantong besar. Dia bukan lain daripada Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng yang menjabat pangkat kepala bagian pelindung hukum Persekutuan Bulan Emas.

Ia mundur dua langkah dan menegurnya:

“Tuan bermaksud apa?”

Manusia Gelandangan mengulapkan tangannya, memberi tanda supaya Pui Ceng Un jangan buka suara, kemudian tangannya menunjuk ke kiri dan berkata dengan suara keras:

“Mengurung ke sebelah kiri!”

Sebentar terdengar suara gerakan orang. Benar saja, di situ terdapat banyak orang yang sedang mengintai.

“Boleh masuk, lekas!” demikian orang tua itu berkata pula. Pui Ceng Un terheran-heran. Ia tak tahu Manusia Gelandangan itu sedang bersandiwara apa. Nampaknya orang tua aneh itu sudah mengetahui pintu rahasia ini, tetapi mengapa ia membantu pihaknya?

“Lekas, budak!” demikian orang tua itu berkata pula.

Pui Ceng Un lebih heran lagi. Mengapa orang tua itu sudah mengetahui bahwa dirinya seorang perempuan? Apakah ia sengaja main sandiwara untuk mengetahui rahasianya membuka pintu rahasia itu?

Karena timbulnya perasaan curiga terhadap orang tua itu, maka segera angkat tangan dan menyambar kepala orang tua itu.

Sebelum ia bertindak, tiba-tiba terdengar suara Ie It Hoan: “Enci Un lekas!”

Pui Ceng Un segera menarik tangannya dan pada saat itu juga Ie It Hoan sudah berada di depan matanya. Dengan gerak tangannya yang sangat gesit ia membuka pintu rahasia itu, lalu menarik tangan Pui Ceng Un dan melompat ke dalam batu besar itu tertutup lagi seperti biasa.

“Kau lagi main sandiwara apa?” demikian Pui Ceng Un menegurnya.

“Untuk mengejar waktu, jangan sampai diketahui oleh musuh.” “Manusia Gelandangan itu adalah kepala bagian pelindung

hokum Persekutuan Bulan Emas.” “Siaotee tahu.”

“Kalau begitu perbuatanmu, bukankah terang-terangan sudah memberitahukan kepadanya bagaimana caranya membuka pintu rahasia ini?”

“Jangan khawatir, kalau mereka berani masuk itu berarti mengantar jiwa. Obat peledak yang ada di dalam goa ini sudah cukup untuk merusak segala-galanya.” Hati Pui Ceng Un meski merasa curiga tetapi tidak bertanya lagi, karena saat itu pikirannya sudah melayang ke diri Hui Kiam. Ini semata-mata karena hubungannya persaudaraan dalam satu perguruan, tidak mengandung maksud lain.

Orang pertama yang menyambut kedatangannya adalah Orang Berbaju Lila.

Begitu bertemu muka dengan Orang Berbaju Lila segera bertanya:

“Cianpwee, bagaimana keadaan Hui sute?” “Ia masih disekap dalam kamar tahanan!” “Apa, disekap dalam tahanan?”

“Totokannya di dalam darahnya lama tidak terbuka, bisa melemahkan kekuatan tenaganya, juga bisa membawa akibat cacat seumur hidup, maka totokan jalan darah itu harus dibuka dulu. Tetapi kekuatan tenaganya tiada seorangpun yang dapat mengimbangi, kecuali disekap dalam kamar tahanan dengan pintu besi yang kokoh kuat, sudah tidak ada jalan lain yang lebih baik. Bagaimana dengan Hiat-ay?”

“Masih untung aku tidak mengecewakan pengharapan semua orang. Aku sudah berhasil mendapatkannya!”

“Aaaa! Kalau begitu aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepada nona.”

“Cianpwe terlalu merendah. Siaolie hanya melakukan kewajiban saja.”

“Mari!”

“Daerah seputar sepuluh pal tempat kita ini apakah sudah dikuasai oleh orang-orang Persekutuan Bulan Emas?”

“Benar, sejak pertempuran hebat pada sepuluh hari berselang, musuh telah mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghadapi kita, maka kita terpaksa mundur ke kamar rahasia ini.” “Kalau begitu berarti bahwa kita sudah putus perhubungan dengan dunia luar ?”

“Tidak!   Meskipun jalan rahasia melalui sumur tua di dalam kuil ini sudah ditutup, tapi masih ada lima jalanan yang berlainan untuk kita menghubungkan dengan dunia luar. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan.”

Sementara itu Pui Ceng Un sudah berada di ruangan tamu. Di situ telah duduk menanti Orang Tua TiadaTurunan, Kak Hui taysu, Manusia Teragung dan beberapa orang yang mempunyai kedudukan baik di kalangan Kangouw.

Begitu Pui Ceng Un Ie It Hoan muncul, semua orang pada berlari dari tempat duduknya dan mengawasi mereka dengan sinar mata bertanya-tanya. Jelas sekali betapa besar perhatian mereka terhadap keselamatan diri Hui Kiam. Hal ini bagi Pui Ceng Un yang sebagai sucinya, sudah tentu merasa sangat terharu. Ia merasa turut bangga terhadap perhatian juga penghargaan yang begitu besar itu.

Dua orang itu setelah memberi hornat kepada semua orang yang berada di situ, Pui Ceng Un lalu mengeluarkan Hiat-ay dan diberikan kepada Orang Baju Lila, sementara itu matanya melirik kepada Orang Tua Tiada Turunan.

Orang Berbaju Lila yang bertindak sebagai tuan rumah, lalu berkata:

“Kalian berdua tentunya sudah lelah. Beristirahatlah dahulu. Aku akan segera membuat obatnya, dalam satu jam sudah selesai!”

Pui Ceng Un dan Ie It Hoan keluar dari ruangan tetamu dan lari menuju ke kamar tahanan.

Kamar tahanan itu merupakan kamar batu yang kokoh kuat, ditambah lagi dengan tiga lapis terali besi. Orang yang betapapun tinggi kepandaiannya, dan kuat tangannya juga tidak dapat jebol. Kamar itu dahulu sebetulnya dipakai sebagai kamar tawanan atau murid-murid padre dalam kuil itu yang melanggar peraturan kuil. Penjaga kamar tahanan ketika melihat kedatangan mereka segera membuka pintu besinya.

Setelah melalui pintu besi, mereka segera melihat Hui Kiam. “Toako!” demikian Ie It Hoan berseru.

“Sutee!” demikian Pui Ceng Un menegurnya.

Hui Kiam mengawasi mereka berdua sejenak lalu berkata sambil menggertak gigi:

“Pui Ceng Un, bagus sekali perbuatanmu. Kau telah berkomplot dengan musuh untuk menghadapi aku. Jikalau aku tidak mati aku pasti menghajarmu. Ie It Hoan, demikian juga dengan kau!”

Pui Ceng Un merasa sedih. Hui Kiam yang sudah terpengaruh oleh pengaruhnya obat beracun, sudah tentu tak dapat diajak bicara wajar, juga tidak ada gunanya dijelaskan duduknya perkara. Satu- satunya jalan hanya menantikan sampai Orang Berbaju Lila berhasil membuatkan obat pemunahnya. Ia lalu memberi isyarat dengan mata kepada Ie It Hoan kemudian mengundurkan diri. Dapat diduga bagaimana berat perasaan dalam hati mereka.

Di belakang mereka terdengar suara geram Hui Kiam yang sangat hebat, terali besi juga bergetar, seolah-olah binatang buas hendak melepaskan diri dari kurungan.

Dua jam kemudian, penjaga kamar tahanan itu seperti biasa mengantarkan barang makanan untuk Hui Kiam. Tetapi malam itu berbeda dengan biasanya, di samping barang hidangan masih ada sepoci arak.

“Siao-hiap, di sini ada sepoci arak. Adalah hambamu yang mencuri bawa masuk.”

“Arak?”

“Ya, sukakah siaohiap minum arak?”

“Kau kata hendak membuka pintu besi ini, mengapa?” Penjaga itu berkata dengan suara sangat perlahan: “Siaohiap, nanti tengah malam pasti.”

“Baik, setelah aku nanti keluar dari kamar tawanan ini, aku tidak akan mengambil jiwamu.”

Arak dan barang hidangan itu dimasukkan satu-persatu ke kamar tawanan Hui Kiam melalui sela-sela terali besi. Hui Kiam mengambil poci arak lalu ditenggaknya sampai kering.

Penjaga kamar tahanan itu berkata sambil tertawa terbahak- bahak.

“Siaohiap, arak ini keras sekali, kau harus rebah sebentar!”

Sehabis berkata, penjaga itu undurkan diri dan mengunci dua lapis terali besi yang berada dalam kamar itu.

Tiba-tiba Hui Kiam menggeram dan berseru:

“Bangsat, bagus sekali perbuatanmu. Kau ternyata hendak meracuni aku!”

Kedua tangannya secara kalap memukul terali besi. Kekuatan tangannya sangat besar, membuat terali besi itu menggetar hebat.

Pada saat itu bayangan orang satu persatu muncul di luar terali besi. Setiap orang menunjukkan sikapnya dengan penuh perhatian. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung meledak. Semua orang terperanjat, ternyata dinding batu yang dilapisi oleh terali besi telah roboh. Oleh karena terali besi itu berlapis tidak dengan jarak antara jauh, maka terali besi bagian dalam yang roboh telah menindih terali besi bagian yang ke dua.

Hui Kiam bagaikan binatang buas yang sudah terluka masih belum menghentikan tindakannya yang kalap itu.

Sebentar kemudian, kekuatan tenaganya perlahan-lahan mulai berkurang dan akhirnya ia jatuh roboh di tanah.

Semua orang saat itu baru bisa menarik napas lega.

Ia lalu diangkat dan dipindahkan ke dalam kamar batu yang bersih dan diperlengkapi dengan perabot yang sangat mewah. Ie It Hoan berkata dengan perasaan terheran-heran:

“Sungguh tidak disangka bahwa kekuatan obat pemunah itu sedemikian hebat….”

“Kalau tidak demikian hebat tak dapat mengeluarkan racun yang mengeram dalam tubuhnya!” berkata Orang Berbaju Lila.

“Apakah sekarang sudah tidak dikhawatirkan lagi?”

“Hem, setengah jam kemudian, ia akan tersadar. Aku pikir, biarlah kau seorang saja yang mendatangi!”

“Kalau ia sudah sadar, apakah tidak mungkin….”

“Tidak mungkin lagi, kalau ia sudah sadar itu berarti sudah sembuh hanya keadaan badannya masih lemah.”

“Mari kita keluar!”

Semua orang satu persatu meninggalkan kamar itu. Ie It Hoan menutup pintu kamar, kemudian duduk di atas sebuah kursi dekat pembaringan untuk melihat perubahan selanjutnya. Kalau mengingat bagaimana perubahan kalap Hui Kiam tadi karena pengaruhnya obat, hatinya berdebaran. Apabila nanti ia sadar dan berbuat begitu lagi atau kekuatan obat pemunah tidak seperti apa yang diharapkan, maka akibatnya akan lebih hebat lagi. Karena perasaan itu ia lalu menggeser kursinya untuk mendekati pintu apabila benar Hui Kiam mengamuk lagi supaya ia mempunyai kesempatan untuk kabur.

Waktu setengah jam itu, dirasakan oleh Ie It Hoan seperti satu hari.

Hui Kiam menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, kemudian membuka matanya:

Ie It Hoan segera lompat berdiri. Kita tidak dapat bayangkan bagaimana ketakutannya pada waktu itu.

Keadaan Hui Kiam seperti seorang yang baru bangun tidur, otaknya kosong melompong. Ia mengawasi keadaan dalam kamar dengan mata sayu…. Ie It Hoan mengawasinya dengan penuh ketakutan. Ia tak berani buka suara menegurnya:

Hui Kiam berusaha keras mengendalikan pikirannya. Ia teringat sedikit-sedikit apa yang telah terjadi, tetapi tiada dapat mengingat seluruhnya. Hanya samar-samar ia masih ingat melakukan pertempuran hebat dan pernah ditawan.

Lama sekali, Ie It Hoan yang sudah tidak sabar. Akhirnya ia membuka mulut:

“Toako, kau rasa bagaimana?”

Hui Kiam turun dari pembaringan, tetapi ia sudah tak bertenaga. Ia berdiri terhuyung-huyung, kemudian duduk lagi di atas pembaringan. Ia bertanya dengan perasaan heran:

“Adik Hoan, apa yang telah terjadi?”

Ie It Hoan kini baru berani mendekatinya. Ia menjawab sambil tertawa getir:

”Panjang ceritanya. Toako beristirahatlah dulu sebentar ”

“Tidak, aku ingin tahu sekarang juga!”

Ie It Hoan tak bisa berbuat lain lalu menceritakan sejak ia bertemu mendapat lihat gelagat tidak beres dari perubahan sikap Hui Kiam maka tak berani mengajak masuk ke dalam kamar rahasia, kemudian terjadilah pertempuran hebat di dalam rimba, sehingga akhirnya ia ditawan dan Pui Ceng Un pergi mencarikan obat pemunahnya….

Hui Kiam setelah mendengar penuturan Ie It Hoan, pikirannya mulai terang kembali. Ia kini telah ingat bagaimana di tengah jalan ia berpapasan dengan seorang pelayan yang minta kepadanya menemui Tong-hong Hui Bun untuk penghabisan kali, lalu ia dijamu oleh perempuan cantik itu di salah satu rumah tua dan kemudian….

Berpikir sampai di situ, mendadak ia lompat bangun. Sepasang matanya merah membara, mukanya beberapa kali berubah. Di bawah pengaruh obat perangsang, ia telah melakukan perhubungan tidak pantas dengan Tong-hong Hui Bun. Perubahan sikap tiba-tiba ini kembali menakutkan Ie It Hoan. Ia mengira obat itu timbul lagi pengaruhnya, maka ia menanyakan dengan suara gemetar:

“Toako, kau…!?”

Hui Kiam memukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangannya, lalu berkata dengan suara gusar:

“Aku... aku rusaklah sudah.” “Apamu yang rusak?”

“Aku telah dirusak oleh perempuan jahat bagaikan ular berbisa itu. Ya, aku masih ingat ia pernah menyatakan hendak menuntut balas ketika aku menyatakan hendak memutuskan perhnbungan dengannya. Sungguh tidak kusangka ia telah melakukan pembalasan dengan cara demikian. Aku seharusnya ingat itu, tetapi ternyata sudah tidak ingat lagi ”

“Toako, bolehkah kau ceritakan agak jelas sedikit?”

“Kalau aku tidak membunuhnya, aku bersumpah tidak mau jadi orang!”

“Toako ….”

“Tentang itu sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Apakah di sini tempat rahasia itu?”

“Ya.”

“Tolong kau carikan Pui suci, minta ia datang kemari….” “Sutee, aku ada di sini!”

Bersamaan dengan itu Pui Ceng Un sudah masuk ke dalam kamar dengan muka masih tertutup oleh kerudung kain hijaunya.

Hui Kiam segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan sucinya seraya berkata:

“Suci, lantaraa diriku yang telah memalukan nama baik perguruan kita, kau sampai mencarikan obat dengan menempuh bahaya demikian besar. ” Pui Ceng Un yang tidak menduga kedatangannya disambut secara demikian, saat itu sudah tentu gelagapan. Ia buru-buru segera berlutut juga dan berkata:

“Sute, mengapa kau berlaku demikian?”

Dua orang itu berdiri lagi. Hui Kiam lalu bertanya dengan suara berat:

“Suci, apakah kau ditolong oleh Manusia Menebus Dosa?” “Ya!”

“Bagaimana kau bisa berada di sini?”

“Karena... Orang Menebus Dosa itu juga merupakan salah satu anggota dari sini.”

“Aku sungguh tidak mengerti bagaimana kesabaran bisa berdiam bersama-sama dengan Orang Berbaju Lila? Ia adalah musuh perguruan kita, sedang si supek sendiri juga mati di tangannya. Sebagai turunan si supek, kau merupakan satu-satunya orang yang langsung memikul kewajiban untuk menuntut balas….”

Sejenak Pui Ceng Un nampak tercengang, sikapnya menunjukkan ragu-ragu dan akhirnya ia membungkam.

“Suci, kau kenapa?”

“Tidak apa-apa sute, dewasa ini kita hanya mementingkan tugas kita untuk membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan, tentang permusuhan kita pribadi untuk sementara jangan dibicarakan dulu!”

“Perkataan suci ini agaknya bukan keluar dari hati nurani suci sendiri.”

“Kenapa kau berkata demikian?”

“Jika ditilik dari beranimu, tak mungkin bisa berubah demikian cepat juga tak mungkin mempunyai kesabaran begitu besar menindas perasaanmu sendiri.”

“Sutee, banyak perkara yang tidak dapat ditimbang dengan pemikiran biasa. Praktek dan teori ada kalanya sangat berlainan!” “Ucapan suci ini pasti ada sebabnya?” “Boleh dikata begitu!”

“Apakah sebabnya?”

Pada saat itu si Orang Tua Tiada Turunan juga sudah masuk ke dalam kamar.

Tiga anak muda itu segera memberi hormat kepada Orang Tua Tiada Turunan. Orang tua itu duduk di atas kursi, ia berkata kepada Pui Ceng Un:

“Kau beritahukan kepadanya apa yang telah kau ketahui!”

Pui Ceng Un menenangkan pikirannya, lama baru bisa berkata: “Sute, kuperlihatkan kepadamu suatu barang lebih dulu!”

Dari dalam sakunya ia mengeluarkan serupa barang. Diletakkan di telapakan tangannya kemudian diberikan kepada Hui Kiam. Setelah Hui Kiam menyaksikan barang itu, ia berseru terkejut:

“Ini adalah jarum sakti melekat tulang senjata tunggal milik Jin Ong locianpwe!”

“Benar. Tahukah kau darimana jarum ini?” “Darimana suci dapatkan itu?”

“Apakah kau masih ingat sewaktu kau kena senjata beracun dari tangan Iblis Gajah dan kemudian terjatuh di tangan Tong-hong Hui Bun setelah itu kau telah bertempur mati-matian dengan pemimpin Bulan Emas, lalu Orang Berbaju Lila dan kawan-kawannya datang menyerbu secara tiba-tiba.”

“Ingat, mengapa?”

“Orang Berbaju Lila pada waktu itu terluka oleh senjata rahasia pemimpin Bulan Emas.”

“Peristiwa ini ada hubungan apa dengan jarum melekat tulang?” “Sudah tentu ada hubungnnya?” Hui Kiam seketika itu terbangun semangatnya. Teka-teki mengenai jarum melekat tulang itu sudah lama membingungkan pikirannya. Orang Berbaju Lila itu pernah menyangkal menggunakan jarum itu, sedangkan pemiliknya yang asli ialah Jin Ong yang telah merubah nama julukannya menjadi Kak Hui setelah ia menjadi padri, juga tidak mengetahui bagaimana keadaan sebetulnya, maka ketika mendengar Pui Ceng Un berkata demikian hatinya rasa bergerak.

“Ada hubungan apa?”

“Senjata rahasia yang mengenai Orang Berbaju Lila pada waktu itu, adalah senjata rahasia jarum melekat tulang, juga jarum yang sekerang berada dalam tanganku ini.”

Ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian aneh yang tidaik terduga-duga, tidak heran kalau saat itu Hui Kiam demikian terkejutnya sehingga matanya terbuka lebar dan berkata dengan suara gemetar:

“Apa? Benarkah pemimpin Bulan Emas melukai Orang Berbaju Lila dengan senjata jarum melekat tulang?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Ini adalah sesungguhnya merupakan suatu kejadian yng sangat ganjil.”

“Justru karena itu, barulah mengundang Kak Gui locianpwe turun gunung untuk menerima kembali separuhnya serta menolong Orang Berbaju Lila.”

“Dengan cara bagaimana pemimpin Bulan Emas bisa mendapatkan senjata itu?”

“Menurut hasil daripada perundingan beberapa locianpwe, hanya ada satu pengertian!”

“Pengertian apa?”

“Dahulu ketika Kak Hui locianpwe melukai Delapan Iblis negara Thian-tik dengan senjata jarum itu….” “Tentang ini aku tahu!”

“Tetapi delapan iblis itu tidak mati, dan hari ini beberapa puluh tahun kemudian setelah kejadian itu, empat di antara delapan iblis itu telah muncul lagi di kalangan Kang-ouw, bahkan sudah menjabat jabatan anggota pelindung hukum tertinggi Persekutuan Bulan Emas….”

“Lalu?”

“Penjelasan ini berdasar keadaan Delapan Iblis Negara Thian-tik yang dahulu terkena senjata itu, kemudian mereka telah ditolong oleh pemimpin Persekutuan Bulan Emas, jarum itu dikeluarkan dari tubuh mereka, dengan demikian, maka delapan buah jarum itu terjatuh di tangan pemimpin Persekutuan Bulan Emas. Delapan iblis itu yang merasa menanggung budi sudah tentu ingin membalasnya, demikianlah maka mereka menyediakan tenaga untuk membantu pemimpin persekutuan itu dalam usahanya, hendak menguasai seluruh rimba persilatan….”

“Kalau begitu, pembunuh yang sebetulnya adalah pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu?”

“Benar!”

“Bukankah ini berdasar atas dugaan saja?! “Kenyataannya memang sudah jelas. ”

“Pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu bisa mengeluarkan dan menggunakan senjata jarum itu, tentang ini. ”

“Tahukah kau siapa sebetulnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu?”

“Siapa?”

“Dia adalah Thian Hong, salah seorang dalam barisan Tiga Raja Rimba Persilatan!”

Hui Kiam terperanjat mendengar perkataan itu! “Jadi dia adalah Thian Hong?” “Hem, hem!”

Hui Kiam hampir tidak percaya kepada telinga sendiri, karena hal itu benar-benar ada di luar dugaannya. Seorang gagah kenamaan yang pernah dijunjung tinggi oleh dunia rimba persilatan adalah satu penjahat besar yang membawa bencana seluruh rimba persilatan. Pantas saja ia mempunyai kepandaian sedemikian tinggi.

Hui Kiam lalu mengingat kembali semua peristiwa yang terjadi. Pertama ia memaksa Jin Ong mengasingkan diri menjadi padri. Kemudian ia membuat kedua mata Tee-hong sampai buta dengan racun dedaunan. Pada akhirnya ia masih tidak melepaskan begitu saja sehingga orang tua itu mati terbunuh. Lalu muncul lagi Orang Berbaju Lila karena kitab pusaka Thian Gee-po-kip, telah bertempur dengan Lima Kaisar. Kesempatan itu telah digunakan olehnya untuk menurunkan tangan jahat sehingga Lima Kaisar itu terkena senjata jarum melekat tulang. Dengan demikian satu persatu ia telah menyingkirkan lawan-lawannya yang dianggapnya dapat menghalangi untuk usahanya meguasai dunia.

Ini juga membuktikan bahwa keinginannya hendak menguasai dunia itu, ternyata sudah lama dipikirkannya.

Kemudian Sam Goan Lo-jin dengan anaknya, suami istri Liang- gee Sie-seng, juga dari Goosie, tangan seribu dan lain-lain telah mati dengan beruntun, ini merupakan kelanjutannya untuk menyingkirkan rintangan yang dikiranya hendak menghadapi usahanya.

Yang tidak dimengerti, ialah mengapa saudara perempuan istrinya Liang-gee Sie-seng Oiy Yu Hong, juga terbinasa di bawah senjata jarum itu. Oiy Yu Hong adalah Tong-hong Hui Bun, apakah karena hendak menutup mulutnya saja, sampai pemimpin Persekutuan Bulan Emas perlu menggunakan senjata jarum sakti yang ampuh itu?

Dan lagi, Orang Berbaju Lila itu pernah mengaku membinasakan Sam Goan lo-jin dan lain-lainnya.   Ia juga pernah menggunakan ilmu pedang Bulan Emas. Bagaimana sebetulnya? Karena berpikir demikian, maka ia lalu berkata:

“Suci, tentang kelakuan dan perbuatan Orang Berbaju Lila itu, aku mengharap bisa mengerti.”

Pui Ceng Un lalu memberi keterangan:

“Dahulu, Orang Berbaju Lila itu karena serakah, ia telah merampas kitab pusaka Thian Gee po-kip dengan kekerasan ini memang benar. Tetapi dalam pertempuran itu ia berlaku secara jantan mengandalkan kepandaian dan kekuatannya sendiri untuk mendapatkan kitab pusaka itu, sedikitpun tidak melakukan serangan menggelap.”

“Bagaimana tentang kematian toasupek di bawah gunung Tay- hong-san?”

“Ia mengaku di kemudian hari ia akan membereskan persoalan tersebut!”

“Apakah kau percaya?” “Percaya!”

“Berdasar atas apa?”

“Tentang ini di kemudian hari kau akan mengetahui sendiri!” “Mengapa tidak sekarang?”

“Persoalan menyangkut terlalu luas, sekarang belum tiba waketunya untuk menerangkan.”

“Banyak orang gagah dari golongan benar mati terbunuh, semua ini adalah perbuatannya. Ia toh tidak menyangkal.”

“la mengaku pernah menjadi algojo Persekutuan Bulan Emas.” “Kalau begini dengan persekutuan itu ia mempunyai hubungan

luar biasa?”

“Benar, tetapi sekarang ia sudah insaf. Ia hendak menyumbangkan tenaga dan kepandaiannya untuk kepentingan golongan benar, sekedar untuk menebus dosanya.” “Baiklah, enci Un, tentang ini untuk sementara tidak perlu kita bicarakan.”

Hui Kiam lalu berpaling dan berkata kepada Orang Tua Tiada Turunan:

“Locianpwe, ada satu hal boanpwe minta supaya locianpwe memberi keterangan sejujurnya.”

Orang Tua Tiada Turunan menganggukkan kepala: “Katakanlah, kalau aku tahu pasti aku akan menerangkan.”

“Ayahku To-liong Khiam-khek Su-ma Suan dahulu apakah benar pernah ada hubungan suami-istri dengan Tong-hong Hui Bun?”

Orang tua itu sejenak merasa terkejut, selagi hendak membuka mulut tiba-tiba terdengar suara ledakan hebat, kamar itu seolah- olah hendak roboh. Akhirnya empat orang itu terperanjat.

Suara ledakan itu disusul pula oleh suara tanda bahaya, kemudian suara orang berkata yang amat nyaring:

“Pintu rahasia telah diledakkan, musuh sudah menyerbu ke dalam ruangan di bawah tanah….”

Perubahan yang terjadi tidak terduga-duga ini untuk menmbulkan rasa panik.

Orang Tua Tiada Turunan yang pertama menerjang keluar!

Hui Kiam mengawasi keadaan di sekitarnya sebentar, lalu berkata dengan suara keras:

“Di mana pedangku?”

“Di sini!” demikian dengan cepat Ie It Hoan menyahut dan membuka lemari di dalam dinding tembok batu kemudian memberikan pedangnya kepada Hui Kiam.

Begitu segera keluar dari dalam kamar, di dalam lorong banyak orang berbaju hitam tengah bertempur sengit dengan orang- orangnya Orang Berbaju Lila. Di suatu tempat tak jauh dari itu, keadaannya terang benderang, batu dan tanah bertumpukan, kamar rahasia itu sudah terbuka, hingga kelihatan dari luar. Dari dalam ruangan di bawah tanah itu masih kelihatan asap yang mengepul dari kuil tua itu.

Orang-orang berbaju hitam dalam jumlah banyak sekali sudah menyerbu masuk melalui lobang ledakan itu.

Dalam waktu singkat, ruangan bawah tanah itu sudah berubah menjadi medan pertempuran hingga suara pekikan, suara jeritan dan suara beradunya senjata bercampur aduk menjadi satu.

Hui Kiam menyerbu bagaikan banteng mengamuk dengan pedang terhunus. Bagaikan membabati rumput, siapa yang terbabat oleh oleh pedangnya segera roboh tanpa ampun lagi.

Sementara itu Ie It Hoan dan Pui Ceng Un sudah menyerbu dari lain pintu.

Penyerbuan Hui Kiam telah menimbulkan banyak korban bagi orang-orang berbaju hitam. Bangkai berserakan di tanah, sehingga orang-orang berbaju hitam yang berada di luar ketika menyaksikan keadaan demikian, tidak berani masuk lagi.

Hui Kiam berdiri di depan lobang pintu yang sudah bobol karena ledakan. Dengan sikapnya yang keras itu, tiada seorang yang berani mendekati.

Sementara itu, di dalam ruangan bawah tanah masih berlangsung pertempuran hebat.

Sesosok bayangan orang tinggi besar dengan memakai kerudung mukanya, telah muncul dekat lobang pintu. Orang itu adalah pemimpin Persekutuan Bulan Emas sendiri.

Hui Kiam segera naik pitam, dengan cepat lari menyerbunya. Sambil menggerakkan pedang Bulan Emasnya, pemimpin Bulan

Emas itu menyambut serbuan Hui Kiam.   Meski Hui Kiam dicecer

demikian hebat, tetapi kemarahannya yang sudah meluap telah melupakan segala-galanya. Ia melawan mati-matian dengan ilmu pedangnya yang sangat ampuh itu. Dalam suatu pertarungan hebat, badan Hui Kiam terpental, pundaknya dirasakan sakit tetapi ia masih terus bertahan. Ketika melayang turun ke tanah, baru ketahuan bahwa pundaknya terluka kena pedang lawannya. Darah mengucur deras. Ia buru-buru menotok dengan tangan kiri untuk menghentikan mengalirnya darah.

Dalam keadaan demikian pemimpin Bulan Emas melakukan serangannya lagi.

Hui Kiam menggunakan gerak tipunya yang kedua untuk balas menyerang.

Kini adalah giliran pemimpin Bulan Emas yang terdesak sehingga mundur dua langkah.

Sambil menggeram hebat, pemimpin itu menghardik: “Bocah, kau benar-benar panjang umur!”

“Kau tidak perlu merahasiakan dirimu lagi. Kerudungmu itu sekarang kau boleh buka,” berkata Hui Kiam dingin. “Thian-hong, kedokmu sudah terbuka, sudah waktunya kau sadar dari mimpimu yang gila itu!”

Pemimpin Bulan Emas mundur lagi satu langkah. Katanya dengan suara bengis:

“Benar, aku memang Thian-hong, seorang yang paling berkuasa dalam rimba persilatan.”

“Aku merasa kasihan terhadap nasibmu.” “Jangan banyak bicara, serahkan jiwamu!”

“Tunggu dulu, lebih dulu aku hendak menerangkan. Hari ini aku hendak membunuhmu ada tiga sebab. Pertama, untuk menyingkirkan bencana rimba persilatan. Kedua, untuk menuntut balas terhadap Lima Kaisar Rimba Persilatan dan ketiga, untuk menagih hutangmu kepada Tee-hong locianpwe.”

“Bocah, apakah kau sedang mimpi?” Ucapan itu ditutup dengan satu serangan pedang yang amat dahsyat.

Hui Kiam menyambut dengan sepenuh tenaga.   Baru tiga jurus, ia sudah berhasil mendesak pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu mundur beberapa langkah.

Di luar dugaan, tiba-tiba pemimpin itu mengeluarkan bentakan keras: “Rebah!’ dan berbareng dengan itu, dua bagian jalan darah Hui Kiam merasakan seperti tersengat binatang lebah kemudian kepalanya dirasakan pusing, sehingga jatuh roboh di tanah.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas tertawa terbahak-bahak. Pedangnya meluncur ke arah Hui Kiam yang sudah rebah tidak berdaya....

Tiba-tiba terdengar suara beradunya dua senjata. Pedang pemimpin Bulan Emas yang akan menamatkan jiwa Hui Kiam itu tertahan oleh senjata yang bentuknya hitam jengat. Orang yang menahannya itu adalah Manusia Teragung dengan senjata istimewanya yang berupa tongkat rotan hitam, juga hanya senjata Manusia Teragung itulah yang tidak takut pedang pusakanya pemimpin Bulan Emas.

Sepuluh lebih bayangan orang tiba saling susul. Mereka itu adalah Kak Hui, Orang Berbaju Lila, Orang Tua Tiada Turunan, Pui Ceng Un dan lain-lainnya….

Pui Ceng Un segera melesat ke tempat di mana Hui Kiam jatuh menggeletak.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas masih penasaran. Ia menikam Hui Kiam lagi dengan pedangnya, tetapi juga sudah disingkirkan oleh Manusia Teragung.

Pui Ceng Un, dengan cepat mendukung Hui Kiam dibawa keluar dari medan pertempuran.

Manusia Teragung berkata dengan suara nyaring:

“Dia sudah terkena dua buah jarum melekat tulang, harap Kak Hui taysu segera memberi pertolongan!” Dengan sinar matanya yang tajam Kak Hui taysu menatap wajah pemimpin Bulan Emas, kemudian berkata kepadanya:

“Perbuatanmu sesungguhnya terlalu kejam, sayang Tuhan tidak mengijinkan kehendakmu. Ruangan di bawah tanah itu sangat luas, jalanan rahasia bagian jaring, kau tidak berhasil mengubur hidup- hidup lolap dan lain-lainnya, ini suatu bukti bahwa perbuatanmu yang terkutuk itu telah ditentang oleh Tuhan yang Maha Esa, sekarang kau ingin balik juga sudah terlambat!”

“Dahulu kau seharusnya sudah kubunuh sekalian. Sekarang kalau aku ingat, nampaknya hatiku kala itu kurang kejam!” sahut pemimpin Bulan Emas, seakan menyesal waktu dulu tidak membunuh paderi tua itu sekalian.

“Jahanam, delapan buah jarum melekat tuIang itu sudah kau pakai semua, bukan? Dan sekarang Kak Hui taysu ingin supaya kau juga merasakan bagaimana orang yang terkena senjata itu,“ berkata Orang Berbaju Lila dengan suara keras.

Ucapan Orang Berbaju Lila itu mau tidak mau sangat mengejutkan pemimpin Bulan Emas itu. Jika benar Kak Hui taysu turun tangan, maka hari itu ia benar-benar kedudukannya sangat berbahaya sekali, maka tanpa banyak bicara lagi ia lalu membalikkan badan dan kabur.

Melihat pemimpinnya kabur, anak buahnya juga ikut lari terbirit- birit.

Tetapi kawan-kawannya yang berada di dalam ruangan tanah, tiada satupun yang bisa keluar. Semua sudah menggeletak menjadi bangkai.

Wajah Hui Kiam saat itu pucat pasi, badannya gemetar, hanya dengan mengandal latihan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah cukup sempurna dan latihan ilmu silatnya yang berlainan dengannya, telah berhasil menahan jarum itu tidak sampai masuk ke dalam tulangnya. Kalau bukan Hui Kiam, mungkin sudah lama mati. Kak Hui taysu lalu memerintahkan Pui Ceng Un supaya Hui Kiam direbahkan di atas tanah dalam keadaan terlentang, kemudian menotok delapan belas bagian jalan darahnya terpenting. Setelah itu, telapak tangannya ditempelkan di tempat terluka. Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam, jarum itu perlahan-lahan diangkat keluar dari tubuhnya.

Begitu jarum itu terangkat keluar dari tubuhnya, Hui Kiam segera melompat bangun untuk memberi hormat dan menyatakan terima kasih kepada Kak Hui taysu.

“Tidak usah,” demikian Kak Hui-taysu berkata: “Lolap sudah bertekad hendak menarik kembali seluruh jarum itu kemudian akan lolap musnahkan supaya tidak akan membawa bencana rimba persilatan lagi. Sayang jarum yang ada di tubuh suhumu sekalian, lolap sudah tidak berdaya menariknya kembali lagi.”

Hui Kiam melirik kepada Orang Berbaju Lila. Orang Berbaju Lila itu segera menundukkan kepalanya.

Dalam hati Hui Kiam timbul semacam perasaan yang tidak dapat dilukiskan. Di hadapan musuh besarnya, sebetulnya berat baginya untuk mengendalikan perasaannya, akan tetapi, orang yang sekarang berdiri di hadapannya itu ternyata merupakan satu kawan dalam seperjuangan. Ia masih ingat ucapan bahwa seorang gagah harus mempunyai mentaliteit sebagai orang gagah. Yah, sekalipun berhadapan dengan musuh besarnya, juga harus berlaku sportif, tidak perlu mencaci-maki seperti kelakuan seorang gila.”

Karena berpikir demikian maka akhirnya ia dapat menenangkan hatinya.

“Taysu, sudah tiba saatnya untuk bertindak. Harap taysu memberi petunjuk,” demikian Orang Tua Tiiada Turunan berkata:

“Lolap adalah seorang pertapaan yang tak mencampuri urusan dunia. Hanya suatu ‘sebab’ pada masa yang silam, terpaksa menerjunkan diri lagi ke dalam dunia yang penuh kekotoran ini, bagaimana lolap boleh melanggar haknya tuan rumah yang seharusnya bertindak sebagai pemimipinnya...” jawab Kak Hui taysu sambil memuja nama Budha. Otang Tua Tiada Turunan terpaksa mengangkat pundak lalu berpaling dan berkata kepada Manusia Teragung:

“Kalau begitu, tugas berat ini hanya andalah yang sanggup memikulnya!”

“Bagaimana kalau anda sendiri?” Manusia Teragung balas menanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku sendiri lebih tidak berani menjamah selain daripada itu juga tidak mempunyai kepandaian dan kecakapan sebagai pemimpin!”

“Anda keliru. Dalam pekerjaan membasmi kejahatan melindungi kebenaran, tujuannya adalah untuk menegakkan keadilan, membasmi kejahatan dengan keadilan. Ini bukanlah mengenai urusan pribadi perseorangan, inilah urusan dan usaha serta kewajiban kita bersama.”

“Terima kasih atas keteranganmu, dan bagaimana menurut pandangan anda bagaimana kita harus lakukan!'

Manusia Teragung itu memejamkan matanya kemudian berkata: “Kali ini dalam penyerbuan tiba-tiba oleh pihak musuh, di pihak

kita mengalami kerusakan dan kehilangan tenaga serta jiwa hampir

seratus orang, cukup besar pengaruhnya bagi kita. Untung kekuatan tenaga inti kita tak sampai tergoyah. Menurut pendapatku, kewajiban kita pada dewasa ini terlebih dulu harus mengubur jenazah saudara-saudara kita yang terbinasa dan merawat yang terluka. Setelah itu semua selesai, kita menantikan saat yang terakhir juga yang paling baik untuk bertindak.”

Hui Kiam segera menyela:

“Bolehkah boanpwe bertanya, apakah yang locianpwe maksudkan, dengan saat yang paling baik itu?”

---ooo0dw0ooo---