Pedang Pembunuh Naga Jilid 31

Jilid 31

O R A N G Tua Tiada Turunan lalu berkata dengan suara berat: “Kau katakan dia sudah tidak tertolong lagi?”

Orang Berbaju Lila masih mengawasi Hui Kiam sambil menundukkan kepala. Air matanya mengalir keluar. Ia menjawab dengan nada suara aneh:

“Ya!”

“Kau pernah menolong nona Pui yang terkena racun menghilangkan ingatan, apakah….?”

“Racun menghilangkan ingatan mudah dipunahkan, tetapi obat untuk menghilangkan sifat buas bagaikan serigala susah dicari, justru dia sudah makan dua rupa racun itu!”

“Maksudmu apakah hendak membiarkan ia hidup terus secara begini?”

“Tidak!” “Dan kau bagaimana hendak berbuat?”

“Obat racun yang terbuat dari nyalinya serigala itu apabila tak dikeluarkan dari dalam badannya, akan merubah semua sifatnya. Ia hanya mau dengar perintah seorang saja, tak dapat membedakan yang baik dengan yang jahat, kawan atau lawan, hanya orang yang memberikan racun padanya yang bisa membunuh orang tanpa berkesip, dengan kepandaian dan kekuatan seperti dia, apabila digunakan oleh orang yang mempunyai ambisi besar dan maksud jahat, cianpwe boleh bayangkan sendiri apa akibatnya di kemudian hari….”

Puj Ceng Un yang mendengar keterangan itu menangis dengan sedihnya, badannya gemetar.

Ie It Hoan menunjukkan sikap sangat berduka yang belum pernah terjadi pada sebelumnya. Biar bagaimana ia dengan Hui Kiam mempunyai persahabatan sangat dalam, menyaksikan sahabat baiknya demikian rupa, bagaimana ia tidak bersedih.

Orang Tua Tiada Turunan berkata dengan sikapnya masih tetap tenang:

“Menurut kata ini, bukankah ia akan menjadi orang jahat?” “Ya.”

“Paling baik bukankah dihabiskan saja jiwanya?”

“Aku tidak berani memikirkan, juga tidak berani mengatakan, tetapi mungkin itu hanya satu-satunya cara yang paling tepat.”

Pui Ceng Un menyela dengan suara bengis:

“Hendak membunuhnya?”

Ie It Hoan mendongakkan kepala ke atas, dan tampak sepasang matanya basah dengan air matanya.

Orang Tua Tiada Turunan lalu berkata:

“Apakah kau sendiri yang hendak turun tangan membunuhnya?” Orang Berbaju Lila mengangkat mukanya. Dari dua lobang di bagian matanya tampak sinar matanya yang menakutkan.

Hui Kiam rebah di tanah dengan tenang. Ia berada dalam keadaan tidak ingat orang, sudah tentu tidak tahu ada orang yang membicarakan soal mati hidupnya.

Orang Tua Tiada Turunan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Suara tertawanya itu demikian nyaring, sangat berbeda dengan kebiasaannya.

Pui Ceng Un dan Ie It Hoan telah dikejutkan oleh suara tertawa itu. Mereka tidak mengerti mengapa orang tua itu tertawa. Dalam keadaan seperti sekarang ini, hampir semua orang diliputi oleh perasaan duka, tetapi sebaliknya ia malah tertawa seperti orang gila, ini sesungguhnya merupakan kejadian aneh.

Sinar mata Orang Berbaju Lila nampak guram ketika mendengar suara Orang Tua Tiada Turunan itu, badannya juga gemetar. Mungkin ia sudah mengerti sebab-sebabnya orang tua itu tertawa.

Lama sekali, Orang Tua Tiada Turunan baru berhenti tertawa.

Dengan nada suara bengis dan sungguh-sungguh:

“Ada sedikit perkataan yang tidak boleh tidak akan kuucapkan.” Orang Berbaju Lila itu berbangkit dan bertanya:

“Cianpwee hendak memberi nasehat apa?” “Maksudmu bukankah hendak membinasakannya?”

Orang Berbaju Lila itu mundur dua langkah, lalu berkata dengan suara duka:

“Cianpwee, hanya ini rupa-rupanya merupakan jalan satu- satunya.”

“Hem! Apakah karena takut dia akan membawa bencana bagi rimba persilatan?”

“Ya.”

“Apakah bukan karena persoalan pribadi?” “Persoalan pribadi? ... Apakah yang cianpwee maksudkan   ?”

“Andaikata racun nyali serigala yang mengeram dalam tubuhnya nanti akan merubah sifatnya menjadi iblis ganas, memusnahkan saja kepandaiannya, itu adalah cara yang paling baik. Dengan membuat begini saja aku sudah anggap keterlaluan, sebaliknya kau masih hendak membinasakannya.”

Mata Pui Ceng Un dan Ie It Hoan ditujukan kepada Orang Berbaju Lila. Mereka ingin tahu bagaimana ia harus menjawab.

Orang Berbaju Lila menundukkan kepala. Lama sekali ia baru mengangkat kepala dan berkata:

“Seorang yang belajar ilmu silat, apabila dimusnahkan kepandaiannya, sekalipun hidup tetapi juga seperti mati. Apalagi meskipun kepandaiannya sudah musnah, tetapi racun belum hilang, siapa tahu ia nanti dapat melakukan perbuatan yang menakutkan?”

“Sungguh cerdik kau menyanggah! Kalau kepandaiannya sudah musnah, ia masih bisa berbuat apalagi? Lagi pula jikalau racun itu belum bilang, ingatan dan pikirannya masih belum kembali, bagaimana bisa terjadi hidup seperti mati?”

“Biar!”

“Apakah kau tidak menganggap bahwa perbuatan itu terlalu kejam baginya?”

“Keadaan sudah mendesak, kita tidak boleh tidak berbuat demikian!”

“Apakah kau memang sengaja tidak mau menolong dirinya?” berkata Orang Tua Tiada Turunan dengan suara sengit sambil menunjuk Orang Berbaju Lila.

Orang Berbaju Lila terkejut, kedua matanya memancarkan sinar aneh. Katanya dengan suara gemetar:

“Bagaimana Cianpwee mempunyai pikiran demikian?”

“Bukti sudah nyata, bagaimana kau dapat mengelabui mataku?” jawabnya sambil tertawa dingin. “Boanpwe tidak mengerti. ”

“Di dalam dunia tiada suatu racunpun yang tidak dapat dipunahkan. Tentang racun Bit-sin-wan, kau sekarang sudah ada obatnya, tentang racun Long-sim-tan juga pasti ada obat pemunahnya, hanya obat pemunah itu tentu saja berada di tangan orang yang memberikan racunnya. Mengapa kau tidak mencari pikiran keras dengan cara bagaimana harus mendapatkan obat pemunah itu?”

Orang Berbaju Lila itu mundur lagi satu tindak, berkata dengan suara gelagapan:

“Kenyataannya memang kita tidak dapat melaksanakan, sebab tiada seorangpun yang bisa mendapatkan obat pemunah dari tangan pemimpin Bulan Emas.”

“Segala hal tergantung kepada manusia.   Ada harganya atau tidak engkau lakukan.”

“Ini….”

“Maksudmu tidak terlepas dari mataku. Oleh karena sepatah perkataan Tong-hong Hui Bun, kau lalu tega hati hendak membinasakannya?”

Pui Ceng Un dan Ie It Hoan bagaikan terkena strom listrik. Perhatian kedua pemuda itu terhadap diri Hui Kiam sama-sama besarnya. Ucapan yang mengejutkan itu agaknya mengandung arti yang menakutkan, tetapi saat itu mereka masih belum dapat memahami.

Orang Berbaju Lila menunjukkan sikap yang agak ganjil. Sambil mengepal kedua tangannya berulang-ulang digerakkan ke atas, ia berkata seperti orang sudah kalap:

“Boanpwee tidak tahu bagaimana harus berbuat?”

Pernyataan itu berarti ia sudah mengakui bahwa tuduhan Orang Tua Tiada Turunan itu benar.

Ini benar-benar sangat mengejutkan. Sambil mengawasi Orang Berbaju Lila, Orang Tua Tiada Turunan itu berkata:

“Perempuan itu berkata bahwa ia sudah mengadakan gabungan rahasia dengan bocah ini, apakah kau percaya?”

“Dia memang dapat melakukan itu.”

“Anggaplah begitu, tetapi bukanlah dia yang berdosa! Apalagi, itu baru ucapan sepihak saja.”

“Cianpwee, berkata ini. ”

“Sekarang tidak perlu kita meributkan soal ini. Kau harus berusaha menolong dirinya.”

Orang Berbaju Lila itu lama berdiam, kemudian lalu berkata: “Hendak mendapatkan obat pemunah dari tangan pemimpin

Bulan Emas, kenyataannya memang tidak mungkin lagi. ”

“Apakah tahu resepnya obat pemuda itu?”

“Tahu, hanya.... ada semacam ramuan obatnya terpenting yang susah dicari!”

“Coba kau sebutkan namanya!” “Hiat-ay!”

“Apa itu Hiat-ay?” bertanya Orang Tua Tiada Turunan. Setelah sesaat lama terheran-heran baru berkata pula:

“Barang mustika yang mujijat, kadang-kadang bisa ketemu tetapi tidak dapat dicari. Nampaknya kita hanya berusaha ke arah Persekutuan Bulan Emas itu saja.”

Ie It Hoan lalu berkata:

“Boanpwe mempunyai suatu akal.”

“Bocah, kecerdikan dan akal muslihatmu tidak kalah daripada setan pemabukan tua itu, coba kau ceritakan,” berkata Orang Tua Tiada Turunan. “Boanpwe akan mengganti rupa sebagai Hui Kiam, lalu masuk ke Persekutuan Bulan Emas untuk bertindak sambil menantikan kesempatan.”

Orang Berbaju Lila segera berkata:

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa?” bertanya Orang Tua Tiada Turunan.

“Pertama, bentuk badannya jauh berbeda dengan Hui Kiam. Menyaru mengganti muka memang bagus, tetapi bentuk badan orang tidak mudah dirubah. Sekalipun dapat mengelabuhi tetapi itu hanya untuk sementara saja.   Ke dua, kepandaian dan kekuatan juga masih terlalu jauh, setiap saat bisa terbuka rahasianya. Dan ke tiga, kepergianmu kali ini pedang sakti Thian Khie Sin Kiam merupakan barang yang harus dibawa, apabila rahasiamu terbuka, orang dan barang akan musnah semuanya.”

“Kalau begitu kita sudah tiada harapan lagi?” “Kedua tua bangka itu mungkin….”

“Boanpwe sudah berkata dengan mereka berdua. Semua tidak tahu kemana harus dicari tetumbuhan yang dinamakan Hiat-ay itu.”

Pui Ceng Un tiba-tiba menyela:

“Boanpwe pernah mendengar ada semacam tetumbuhan yang dinamakan Hiat-ouw-co.”

“Benar, Hiat-ouw-cu adalah nama gantinya Hiat-ay. Dari mana nona dengar?” bertanya Orang Berbaju Lila.

“Suhu pernah mengatakan itu.” “Di mana kita mencarinya?”

“Di dalam goa si Raja Iblis di gunung Kui-im-san. Dahulu suhu karena minta daun tumbuhan itu, hampir saja mengantarkan jiwa di dalam goa tersebut.”

“Apakah suhumu pernah mendapatkan daun pepohonan itu?” “Tidak, hanya berhasil menyelamatkan jiwanya.” “Apakah barang itu ada pemiliknya?” “Ya.”

“Sudah cukup kalau kita mengetahui tempatnya.” “Itu belum tentu.”

“Kenapa?”

“Gunung Kui-im-san merupakan suatu tempat terpencil. Apabila kita tak mengenal jalannya, di setiap tempat setiap saat bisa mendapat bahaya. Selangkahpun sulit akan bertindak.”

“Apakah nona tahu jalan ke gunung itu?” “Dulu pernah dengar cerita suhu.”

“Kalau begitu nona harap suka menunjukkan jalannya….” “Boanpwee ingin pergi sendiri.”

“Barang yang ada pemiliknya, apalagi tempat itu sangat berbahaya, bagaimana nona boleh pergi menempuh bahaya besar…?”

“Harap cianpwe jangan lupa bahwa dia adalah sute boanpwee. Untuk menolong dia adalah kewajiban boanpwee sebagai sucinya.”

Ie It Hoan berkata dengan sikap sangat gembira:

“Enci Un, biarlah siaote pergi bersama-sama denganmu.” “Kau tidak boleh.”

“Aku... tidak boleh?”

“Ya.   Sebab di gunung Kui-im-san itu ada semacam larangan yang melarang laki-laki masuk ke gunung tersebut. Siapa yang melanggarnya, bisa pergi tidak bisa kembali.”

“Betulkah kejadian serupa itu?” bertanya Ie It Hoan yang agaknya tidak percaya.

“Aku tidak perlu membohongi kau,” jawab Pui Ceng Un sambil menganggukkan kepala. Ie It Hoan nampak berpikir, kemudian berkata:

“Begini saja Enci Un, siaute ikut mengawanimu. Setiba di tempat tersebut, kau mendaki ke atas gunung, dan aku menunggu di luar daerah pegunungan.”

“Hem! Begitupun baik!” Orang Berbaju Lila berkata:

“Nona Pui memerlukan waktu beberapa lama?”

“Apabila tiada halangan, dalam waktu sepuluh hari aku sudah bisa kembali.”

“Jikalau begitu aku harus bawa Hui Kiam ke kamar rahasia untuk menantikan kabar baik darimu.”

“Baik.”

“Padahal orang Persekutuan Bulan Emas sangat membencinya, keselamatanmu di sepanjang jalan….”

“Boanpwee bisa berlaku hati-hati!”

Ie It Hoan lalu berkata sambil menepuk dada:

“Jangan khawatir, jika hanya untuk mengelabuhi mata orang, itu adalah keahlianku. Aku jamin tidak akan terjadi apa-apa.”

Orang Tua Tiada Turunan berkata:

“Bocah, akal bulus semacam itu aku percaya kepadamu, tetapi kau jangan sampai lupa daratan, karena dalam soal ini menyangkut kepentingan banyak orang. Kau sudah pikirkan atau tidak?”

“Boanpwee tahu!”

“Baiklah, kalian berdua lekas balik untuk membereskan barang- barang yang kalian perlu pakai. Malam ini juga harus berangkat.”

Hari itu udara cerah. Di atas jalan raya ada sepasang lelaki dan wanita setengah tua berpakaian seperti orang desa, berjalan dengan cepatnya menuju ke arah gunung Soat-hong-san. Kecepatan bergeraknya benar-benar sangat mengejutkan siapa yang melihatnya. Mereka berdua adalah Ie It Hoan dan Pui Ceng Un yang sudah mengganti rupa dan pakaian, yang hendak pergi ke gunung Kui-im- san untuk minta tetumbuhan yang dinamakan Hiat-ay. Gunung Kui- im-san itu terletak di tengah-tengah gunung Pek-hoa-san di sebelah selatan gunung Soat-hong-san.

Selagi berjalan, Ie It Hoan berkata dengan suara perlahan: “Kita telah diikuti!”

“Aku tahu. Kita berjalan terlalu cepat, sudah tentu menimbulkan perasaan curiga. Entah orang dari golongan mana orang yang menguntit kita itu?”

“Kita jangan ambil pusing!”

Pada saat itu dari belakang mereka tiba-tiba terdengar suara orang berkata:

''Tunggu sebentar! Sungguh gesit gerakan kalian.”

Ie It Hoan dan Pui Ceng Un terpaksa berhenti dan membalikkan badan. Enam orang berpakaian hitam yang masing-masing membawa pedang sudah maju mengurung. Satu di antaranya seorang tua bermuka merah mengawasi mereka sejenak baru berkata:

“Sahabat-sahabat dari mana?”

Ie It Hoan setelah mengawasi orang tua itu lalu berkata:

'“Tuan apakah sesepuh dari partai Heng-san-pay yang bernama Hui-hoa-ciu Ouw Ceng?”

Orang tua itu nampaknya terkejut dan terheran-heran, lalu menjawab:

“Aku si orang tua adalah pemegang kuasa cabang Persekutuan Bulan Emas daerah gunung Heng-san!”

“Oh! Kalau begitu tuan adalah orang pertama yang menduduki kursi kekuasaan ini. Aku yang rendah sungguh kurang ajar tidak mengetahui kedatangan tuan yang terhormat.” Orang tua itu balas bertanya dengan nada suara dingin: “Bagaimana nama sebutan sahabat yang mulia?”

“Satu pion yang tidak bernama, tidak perlu menyebut nama!”

“Sahabat terlalu merendahkan diri. Ditilik dari gerakan kaki kalian berdua tentunya bukan orang-orang sembarangan. Hanya si orang tua yang matanya sudah lamur, tidak mengetahui siapa sebetulnya kalian ini.”

Pui Ceng Un yang nampaknya sudah tidak sadar lalu berkata: “Ouw! Lengcu ada keperluan apa?”

“Apakah kalian berdua adalah suami isteri?” “Kentutmu!”

“Orang perempuan, bagaimana enak saja memaki orang seenaknya saja!?”

“Dan kau mau apa?!”

Ie It Hoan karena khawatir akan menghambat perjalanannya, maka buru-buru berkata:

“Lengcu menghentikan kami berdua suci dan sute, pasti ada keperluan.”

“Beritahukan dulu namamu?”

Pui Ceng Un yang pernah menjadi murid si Raja Pembunuh, sifatnya sedikit banyak ketularan sifat gurunya. Mendengar perkataan itu, segera dijawabnya dengan nada suara ketus dan dingin:

“Kau tidak berhak!”

Hui-hoa-ciu Ouw Ceng merasa malu, seketika itu timbul amarahnya. Maka segera berkata dengan suara bengis:

“Aku si orang tua karena memandang kau adalah kaum wanita. ” “Pui! Jangan berlagak seperti seorang satria padahal kau rela menjadi pembantunya orang jahat melakukan kejahatan terhadap sesama kawan rimba ptisilatan, dan kau masih belum merasa malu dengan nama baikmu yang pernah menjadi sesepuh dari partay golongan baik-baik.”

“Kau mencari mampus?”

“Yang mencari mampus justru kau sendiri!”

Ie It Hoan diam-diam mengeluh, karena ia tahu bahwa pengaruh Persekutuan Bulan Emas besar sekali, orang-orangnya tersebar hampir di pelosok dunia. Apabila mereka datang menyerbu, meskipun tidak perlu ditakuti, dan ini berarti akan menelantarkan urusan penting juga berarti memperpanjang waktu penderitaan Hui Kiam. Tetapi kejadian sudah terjadi, ia juga tidak berdaya.

Orang tua itu menghunus pedangnya. Perbuatan itu segera ditiru oleh kawan-kawannya.

Di dalam partay Heng-San-Pay, Ouw Ceng merupakan jago pedang nomor satu, di kalangan Kang-ouw juga terhitung salah seorang jago pedang kenamaan. Ilmu pedangnya yang dinamakan Hui-hoa Kiam-hoat demikian rupa hebatnya sehingga mendapat gelar Hui-hoa-ciu yang berarti tangan bunga beterbangan.

Ie It Hoan berkata dengarn suara nyaring:

“Orang She Ouw, bicara dulu terus terang baru berkata lagi.

Apakah maksudmu yang sebenarnya?”

Orang tua itu menatap wajah Pui Ceng Un seraya berkata: “Orang-orang yang mencurigakan, semua harus diminta

keterangan asal-usulnya.”

“Apakah dunia rimba persilatan sudah dikuasai oleh Persekutuan Bulan Emas?”

“Kau tahu itu sudah cukup.”

Mata Pui Ceng Un memancarkan sinar gusar. Ia berkata dengan nada suara dingin: “Ouw-Ceng, jikalau kau mampu menyambut seranganku satu jurus saja, nonamu akan ampuni jiwamu!”

Siapa tahu bahwa perkataan ‘nonamu’ itu merupakan suatu kesalahan besar, karena pada saat itu ia sudah menyaru sebagai seorang perempuan setengah tua, bagaimana menyebut diri sendiri ‘nonamu’? Di samping itu suaranya juga menunjukkan suara orang yang masih muda, jelaslah sudah bahwa perempuan itu sedang menyaru.

Dalam keadaan amarah Ouw Ceng tidak mencari keterangan siapa adanya perempuan itu. Dengan tanpa banyak bicara pedangnya segera bergerak melakukan serangan....

Sebentar kemudian terdengar suara jeritan ngeri. Wajah Ouw Ceng sudah hancur dan berlumuran darah. Keadaannya sangat mengerikan.

Pui Ceng Un perlahan-lahan menarik tangannya. Ujung jari tangannya masih penuh tanda darah.

Lima orang orangnya Ouw Ceng ketika menyaksikan keadaan demikian, semua merasa ketakutan, sehingga sudah lupa bertindak juga lupa melarikan diri. Mereka berdiri terpaku di tempatnya.

Ie It Hoan lalu berkata:

“Enci Un, mari kita melanjutkan perjalanan!”

“Aku sudah menyelesaikan tugas membasmi kejahatan. Manusia-manusia semacam ini, entah sudah berapa banyak mengalirkan darah sahabat-sahabat kita dalam rimba persilatan?”

Pada saat itu terdengar pula suara jeritan berulang-ulang. Dalam satu gerakan Pui Ceng Un sudah menamatkan jiwa lima orang berbaju hitam yang lainnya dalam keadaan serupa dengan Ouw Ceng.

Ie It Hoan meskipun dalam hati tidak setuju tindakan sekejam itu, tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa hanya minta supaya lekas melanjutkan perjalanannya.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang berkata: “Jangan pergi dulu.”

Sesosok bayangan orang berpakaian hitam meluncur turun di hadapan mereka. Orang itu setelah mengawasi lima bangkai yang menggeletak di tanah, kemudian menatap wajah Pui Ceng Un seraya berkata:

“Cara membunuh orang si Raja Pembunuh benar-benar sangat kejam. Apakah nona seorang she Pui?”

Pui Ceng Un dikejutkan oleh pertanyaan orang itu. Dari sinar mata orang itu, dapat diduga bahwa orang itu berkepandaian tinggi sekali, tetapi ia tidak takut. Jawabnya dengan terus terang:

“Benar, nonamu adalah seorang she Pui. Kau siapa?” “Utusan nomor tiga belas.”

“Algojo Persekutuan Bulan Emas. ”

Ie It Hoan kembali diam-diam mengeluh. Dengan munculnya Utusan Bulan Emas ini, orang-orang persekutuan tersebut tentunya bukan hanya ia seorang saja, dan orang yang sudah terpilih mendapat pangkat sebagai utusan persekutuan itu termasuk tenaga terpilih dari orang-orang rimba persilatan.

Utusan nomor tiga belas itu berkata sambil tertawa dingin: “Nona Pui, siapa tuan ini?”

Utusan tiga belas itu matanya melirik kepada Ie It Hoan.

Karena urusan sudah berubah demikian rupa, biar bagaimana sudah susah sembunyikan dirinya lagi. Ie It Hoan juga mengatakan terus terang:

“Aku ini adalah Sukma Tidak Buyar.”

“Bagus sekali. Kalian berdua merupakan tetamu penting yang akan diundang oleh persekutuan kita.”

Setelah berkata demikian tangannya bergerak. Sebuah tanda yang berupa benda yang dapat mengeluarkan asap berwarna biru meluncur ke udara. Nyatalah sudah bahwa utusan nomor tiga belas itu telah mengetahui bahwa kepandaiannya sendiri tak sanggup melawan murid si Raja Pembunuh dan Sukma Tidak Buyar, maka ia perlu melepaskan tanda SOS yang berupa anak panah berapi yang dapat mengeluarkan sinar dan asap biru.

Ie It Hoan sangat cerdik, ia sudah mengetahui dengan jelas keadaan pada saat itu. Apabila kepandaian bala bantuan yang akan datang itu berimbang dengan utusan nomor tiga belas itu, sudah pasti akan terjadi suatu pertempuran sengit, dengan demikian berarti akan menghambat perjalanannya. Dan apabila kepandaian bala bantuan itu lebih tinggi daripada utusan ini, susah diduga akibatnya. Apalagi orang-orang Persekutuan Bulan Emas bukan hanya mengandalkan kepandaian ilmu silat saja, segala akal dan perbuatan bisa dilakukan. Dengan kepandaiannya ia sendiri dengan Pui Ceng Un mungkin masih dapat meloloskan diri, tetapi apa selanjutnya yang akan terjadi, susah untuk diduga. Maka ia harus mengambil tindakan dengan tepat.

“Enci Un, waktu kita sangat berharga, tugas kita sangat berat, kita tidak boleh bertindak salah!” demikian ia berkata.

Pui Ceng Un sudah tentu mengerti ucapan pemuda itu.

Sementara itu Utusan nomor tiga belas masih belum memikirkan untuk bertindak, karena ia sedang menantikan kedatangan bala bantuan. Ia mengharap tindakannya sekaligus bisa berhasil.

Oleh karena hubungan dengan Hui Kiam, kedudukan Pui Ceng Un di mata utusan itu dipandangnya penting sekali.

Kedua pemuda itu saling berpandangan sejenak, keduanya lalu menyerbu.

Utusan nomor tiga belas itu dengan cepat menghunus pedangnya untuk membendung dirinya dari serangan. Jelas bahwa ia tiada bermaksud untuk bertempur mati-matian, maksudnya hanya hendak mengulur waktu. Ilmu pedangnya yang digunakan untuk menjaga diri benar-benar sulit dicari lowongannya. Ie It Hoan yang tidak berhasil mencari tempat kosong untuk melancarkan serangannya, untuk sesaat juga tidak berdaya.

Tidak demikian dengan Pui Ceng Un. Ia masih tetap melancarkan serangannya, sehingga utusan itu terpaksa mundur.

Kenyataannya apabila pertempuran itu tidak lekas berakhir, akibatnya memang runyam.

Pui Ceng Un dengan beruntun melancarkan serangannya yang mematikan. Utusan nomor tiga belas yang harus menjaga diri mati- matian, akhirnya terbukalah suatu lowongan. Kesempatan ini sudah tentu tidak dibiarkan begitu saja oleh It It Hoan, maka segera melancarkan serangannya dengan sepenuh tenaga.

Utusan nomor tiga belas itu melompat mundur sejauh tiga tombak. Maksudnya masih tetap hendak mengulur waktu.

Pui Ceng Un membentak dengan suara keras:

“Tidak dapat membereskan dirimu, percuma menjadi murid si Raja Pembunuh!”

Sambil berseru demikian, badannya bergerak bagaikan bayangan menusuk di antaranya berkelebatnya sinar pedang....

Sebentar kemudian suara jeritan ngeri keluar dari mulut utusan nomor tiga belas itu, kemudian badan utusan itu roboh di tanah dalam keadaan hancur muka dan kepalanya.

Ie It Hoan lalu berkata sambil menunjuk ke sebuah rimba yang tidak jauh dari tempatnya:

“Enci Un, lekas!”

Kedua-duanya segera lompat melesat masuk ke dalam rimba.

Di kedua ujung jalan raya, saat itu sudah tampak bayangan manusia....

Ie It Hoan yang sudah berada di dalam rimba, lalu berkata dengan suara cemas: “Enci Un, kita lekas ganti pakaian lagi. Kita jalan berpencaran. Kau jalan menuju ke utara mengitari rimba ini, dan belok lagi ke timur. Kita bertemu di depan.”

Pui Ceng Un segera membuka kedok di mukanya, ia menukar dengan yang lain. Begitu juga dengan pakaiannya, ia segera menukarnya sehingga sudah berubah menjadi seorang perempuan desa tua, yang sebentar kemudian sudah menghilang ke dalam rimba.

Mata Ie It Hoan berputaran, seolah-olah mencari apa-apa. Kemudian ia melihat seorang penebang kayu sedang berjalan ke arahnya sambil memikul kayunya. Pikirannya terbuka seketika. Ia menghampiri dan secepat kilat menotok jalan darah tukang kayu itu.

Tukang penebang kayu itu belum tahu apa yang telah terjadi, sudah roboh pingsan.

Ie It Hoan segera mendukungnya dan disandarkan di bawah sebatang pohon besar. Ia mengeluarkan sepotong uang perak, dimasukkan ke dalam saku tukang penebang kayu itu seraya berkata:

“Sahabat, aku terpaksa menyusahkan dirimu. Duduklah kira-kira setengah jam. Uang ini sebagai ganti kerugianmu.”

Tukang penebang kayu itu dalam hati mengerti, tetapi tidak bisa membuka mulut, bergerak juga tidak bisa.

Ie It Hoan memikul kayu itu dengan cepat meninggalkan tempat itu. Baru saja keluar dari rimba, tiga orang berbaju hitam sudah datang menghampiri.

Ie It Hoan yang memang berpakaian sebagai orang desa, dengan memikul kayu sudah tentu tidak menimbulkan curiga. Dengan tindakan lebar ia berjalan terus menuju ke jalan raya.

Sepanjang jalan itu, sedikitnya ia menjumpai sepuluh rombongan lebib orang berpakaian berwarna hitam itu. Berjalan kira-kira tiga pal, ia lemparkan kayunya, lalu mengambil jalan kecil lagi untuk bertemu dengan Pui Ceng Un. Kemudian melanjutkan perjalanan ke gunung Pek Ma-San. Di waktu senja, sudah memasuki daerah pegunungan, mereka membawa bekal sedikit makanan, malam itu juga terus memasuki pegunungan.

Esok hari pagi-pagi sekali, dua orang itu sudah tiba di atas puncak bukit. Pui Ceng Un lalu berkata sambil menunjuk ke depan:

“Gunung yang tertutup oleh kabut dan awan itu adalah gunung Kui-im-san. Gua raja iblis itu terdapat di bawahnya.”

Ie It Hoan mengawasi gunung yang ditunjuk oleh Pui Ceng Un itu.   Ia segera melihat beberapa gunung anakan besar kecil yang tak sedikitu jumlahnya, berdiri berderet-deret bagaikan biji catur. Satu di antaranya, sebentar nampak nyata sebentar menghilang. Nama gunung Kui-im yang berarti bayangan setan, memang tepat.

“Apakah Enci Un hendak berangkat sekarang juga?” demikian ia bertanya.

“Sudah tentu, waktu sangat berharga, kau tunggu aku di sini saja!”

“Siaote. ”

“Ada apa?”

“Siaote benar-benar tidak tega Enci Un pergi seorang diri untuk menempuh bahaya!” berkata Ie It Hoan dengan sikap sungguh- sungguh.

“Memang benar, dalam perjalanan ini memang menempuh bahaya, tetapi bahaya ini tidak boleh tidak aku harus menempuhnya. Hui sute adalah murid Ngo-tee satu-satunya. Kepandaian Ngo-tee tergantung di tangannya, jangan sampai lenyap dari muka bumi. Tugas menuntut balas bagi perguruannya, juga terletak di atas pundaknya. Di samping itu, pertempuran antara golongan baik dan golongan jahat sudah akan dimulai. Para locianpwe dan para sahabat dunia rimba persilatan menaruh harapan besar kepada dirinya. Ia boleh dikata adalah tiangnya rimba persilatan pada dewasa ini. Sesungguhnya ada harganya untuk mengorbankan segala apa untuknya,” berkata Pui Ceng Un dengan suara agak gemetar.

''Benarkah aku tidak boleh jalan bersama?” “Benar!”

“Apakah Enci Un yakin benar bisa mendapatkan tumbuhan Hiat- ay itu?”

“Susah dikata!” “Seandainya….”

Pui Ceng Un berusaha menindas perasaannya yang bergolak hebat, ia berkata dengan tenang:

“Adik Hoan, besok pagi setelah matahari terbit, apabila kau tidak melihat aku keluar dari gua itu, kau segera pulang menyampaikan kabar, minta kepada para locianpwe itu supaya mencari daya upaya lain.”

Mata Ie It Hoan menampak merah. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Enci Un, besok pagi apabila aku tidak nampak kau keluar, aku. ”

“Bagaimana?”

“Menerjang masuk ke dalam goa!”

Sesaat Pui Ceng Un tercengang, kemudian ia berkata dengan sikap dan suara bengis:

“Kau ingin mati mudah sekali, tetapi Hui Kiam harus hidup, harus sembuh. Maka kau harus pulang untuk memberi kabar!”

Mata Ie It Hoan berkaca-kaca, tetapi ditahan jangan sampai mengeluarkan air mata. Katanya dengan suara gemetar:

“Baiklah, aku hendak pulang, tetapi aku bisa datang lagi.“ “Datang lagi untuk mengantar nyawa?”

“Mati, apa yang harus ditakuti?” Pui Ceng Un tergerak hatinya oleh ucapan pemuda itu. Pikirannya merasa kusut. Sudah tentu ia dapat memahami pikiran pemuda itu. Akan tetapi, sesuatu pikiran yang sudah lama ada dalam hatinya, membuatnya bertahan terus untuk mengendalikan setiap godaan. Ketika mendengar perkataan itu, ia berkata dengan suara sedih:

“Adik Hoan, perlu apa kau berbuat begitu?”

“Enci Un, setiap manusia mempunyai kemauan sendiri-sendiri.”

Badan Pui Ceng Un gemetar, hatinya merasa pilu. Tetapi ia terpaksa harus mengambil keputusan yang mungkin menambah kedukaan Ie It Hoan.

“Aku hanya mengucapkan seandainya saja,” demikian ia berkata. “Siaotee tahu.”

“Selain daripada itu, aku juga tidak ingin hutang budi orang!” “Enci Un, sekarang.... sekarang ”

“Kenapa?”

“Bolehkah siaotemu mengeluarkan kata-kata yang sudah lama tersimpan dalam hati siaote?“

Pui Ceng Un sudah tentu membayangkan perkataan apa yang hendak diucapkan. Ia ingin mendengarnya tetapi ia tidak mau dengar! Ia keraskan hatinya, lalu berkata:

“Tidak, usahaku sekarang harus lekas menyelesaikan tugasku. Jikalau ada untung aku bisa pulang, nanti kita bicarakan lagi perlahan-lahan?”

Ie It Hoan menunjukkan sikap sangat berduka. D«ngan nada suara yang minta dikasihani, ia berkata:

“Enci Un, siaote harus menerangkan sekarang juga.”

'“Aku tidak suka mendengar. Aku toh tidak minta kau ikut, adalah kau sendiri yang ingin turut kemari.”

“Enci Un. ” “Aku hendak pergi!”

Setelah demikian Pui Ceng Un melesat ke bawah puncak gunung. Begitu tiba di bawah ia menengok ke atas, hanya dapat melihat sesosok bayangan orang samar-samar berdiri di atas puncak. Dalam hatinya merasa pilu, air matanya mengalir keluar. Ia berkata kepada diri sendiri:

“Adik Hoan, aku telah melukai hatimu, tetapi aku tidak pantas menerima cintamu. Parasku tidak dapat dilihat orang untuk selama- lamanya!”

Ia toh ingat akan tugasnya, maka segera mengkesampingkan semua pikirannya dan terus lari menuju ke jalan lembah. Ia memutari jalanan dalam lembah yang banyak tikungannya, akhirnya tibalah di mulut selat yang tiada terdapat tumbuh-tumbuhan sedikitpun juga. Di atas dinding batu gunung terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar yang sangat menyolok.

Daerah terlarang bagi kaum pria! Siapa yang melanggar akan dihukum mati!

Hati Pui Ceng Un berdebaran. Ia membuka kedoknya, sehingga tampak wajah aslinya yang buruk dan banyak tanda cacat. Ia masih tetap mengenakan pakaiannya berwarna hijau, begitu pun kerudung mukanya yang berwarna hijau muda juga dipakainya lagi. Dengan memberanikan hati ia melesat memasuki mulut selat itu.

Jalanan yang merupakan terowongan sangat panjang dan gelap serta terdapat banyak cabang. Karena dia sudah tidak menghiraukan jiwanya sendiri, maka ia menenangkan kembali pikirannya untuk mengingat-ingat penuturan suhunya dahulu tentang keadaan dalam terowongan itu. Dengan tindakan sangat perlahan ia maju terus.

Dalam kabut yang amat tebal, samar-samar tampak banyak bayangan orang. Ia tahu bahwa itulah bayangan batu-batu runcing yang terdapat di dinding terowongan itu, maka ia tidak menghiraukannya sama sekali. Berjalan hampir satu jam lamanya, tidak melihat suatu gerakan apa-apa.

Dari keadaan jalan dalam terowongan itu, ia dapat menduga bahwa tempat di mana ia berada sudah jauh lagi dari goa Raja Iblis seperti dituturkan oleh gurunya.

Bentuk dan roman muka penghuni dalam goa itu seperti apa yang dituturkan oleh gurunya dahulu, telah terbayang dalam otaknya, dan lamunannya terpeta satu bayaongan orang berwajah buruk penuh tanda luka, berambut putih, berpakaian warna-warni, berkepandaian sangat tinggi dan bersifat kejam.

Jantung hatinya berdebar semakin keras, bernapasnya juga mulai sesak.

Akan tetapi ia sedikitpun tidak mempunyai rasa takut. Untuk kepentingan Hui Kiam, ia menempuh bahaya ini tanpa menghiraukan jiwanya sendiri hanya satu sebab karena Hui Kiam adalah satu-satunya murid keturunan Lima Kaisar Rimba Persilatan.

Dengan tiba-tiba kabut yang tebal itu telah lenyap. Di hadapan matanya tampak mulut gua yang besar. Kabut yang demikian tebal itu agaknya terhalang sejarak lima tombak oleh semacam kekuatan yang tidak terwujud. Ini benar-benar merupakan sesuatu kejadian langka yang tidak habis dimengerti.

Pui Ceng Un berdiri tegak di depan.   Keringat dingin dengan tanpa dirasa telah mengucur keluar. Dia berada dalam keadaan demikian, akhirnya ia memberanikan hati dan berkata:

“Siaoli Pui Ceng Un, seorang muda tidak berguna dari kalangan Kang-ouw. Karena ada sedikit urusan, ingin menjumpai Tongcu.”

Dari dalam terowongan menggema suara Pui Ceng Un yang memantul balik.  Selain itu, tak ada reaksi.

la mengulangi sekali lagi ucapannya itu tadi:

Tiba-tiba satu suara yang bernada dingin dan tidak jelas terdengar di belakang dirinya.

“Apa kau datang hendak mengantar jiwa?” Bulu roma Pui Ceng Un dirasakan berdiri. Ia mengepal dua tangannya, dengan cepat membalikkan badannya. Sesaat itu mulutnya ternganga, matanya terbuka lebar.

Di hadapannya berdiri seorang perempuan tua yang wajahnya jelek sekali dan penuh tanda cacat dengan rambut putih serta pakaiannya berwarna-warni. Manusia yang berbentuk demikian, bagi orang yang berkeberanian kecil pasti akan mati ketakutan, karena manusia semacam itu sebenarnya tidak patut disebut sebagai manusia lagi.

Wajah Pui Ceng Un sendiri yang telah rusak, meskipun juga berubah buruk, tapi kalau dibanding dengan wajah nenek itu, ternyata masih jauh lebih bagus.

Nenek itu mulutnya nampak bergerak-gerak, mengeluarkan suara samar-samar tetapi masih bisa didengar:

“Ada keperluan apa kau datang kemari?“

Pui Ceng Un seolah-olah baru sadar dari mimpinya. Ia lalu memberi hormat dan berkata:

“Boanpwe Pui Ceng Un dengan setulus hati datang kemari hendak. ”

“Kau terangkan saja ada keperluan apa?” “Minta sedikit Hiat-ay!”

“Hiat. ”

“Ya.”

“Kak, kak, kak, kak!” demikian terdengar suara tertawanya bagaikan burung hantu, sehingga membuat bulu roma berdiri. Setelah memperdengarkan suara tertawanya yang aneh itu baru berkata:

“Di sini tak ada Hiat-ay, hanya satu macam….” “Apa?”

“Kematian! Kak, kak. kak. ” Pui Ceng Un merasa seperti disiram oleh air dingin tetapi ia masih kendalikan perasaannya.

“Harap locianpwee berlaku murah hati dan kasihanilah. ”

“'Nenekmu ini seumur hidupnya tidak kenal apa artinya kasihan.

Budak, karena kau sudah datang kemari, terimalah nasibmu.” “Apakah locianpwe tak sudi memberikan?”

“Hem, tidak bisa.”

Sesaat itu Pui Ceng Un telah kehilangan akal. Mati ia tidak takut karena kedatangannya ini memang sudah diberitahunya akan menempuh bahaya, maka ia tidak memikirkan soal kematiannya. Ia hanya ingat bagaimana racun di dalam tubuh Hui Kiam tidak dikeluarkan, ini berarti mati lebih baik daripada hidup….

Lama ia berdiri dalam keadaan bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus membuka mulut lagi.

Tiba-tiba terdengar pula pertanyaan nenek aneh itu: “Kau minta Hiat-ay untuk keperluan apa?”

“Untuk menolong orang.”

“Siapa orangnya yang hendak kau tolong?” “Sutee dalam seperguruan!”

“Apakah dia kekasihmu?”

“Bukan! Hubungan kami hanya terbatas kepada saudara seperguruan saja.”

“Bagaimana kau tahu di sini ada Hiat-ay?”

Otak Pui Ceng Un bekerja keras. Kalau didengar dari perkataan nenek itu agaknya sudah mulai ada sedikit perbaikan, tetapi orang aneh dengan sikapnya yang aneh sulit sekali untuk diduga pikirannya. Oleh karena kedatangannya itu sudah tidak memikirkan mati hidupnya sendiri, sekalipun ia menerangkan asal-usul diri sendiri yang sebenarnya juga tiada halangan. Tiba-tiba ia ingat bahwa tempat itu merupakan tempat terlarang bagi kaum pria, dengan cara bagaimana dahulu gurunya bisa keluar dalam keadaan hidup? Tentang ini dahulu gurunya belum pernah menerangkan secara terus terang. Dalam hal ini mungkin terselip sesuatu. Jikalau ia menerangkan asal-usul dirinya mungkin dapat mengungkap tabir yang menutupi rahasia ini, dan mungkin pula akan terjadi perubahan yang tidak diduganya.

Karena berpikir demikian ia lalu berkata dengan terus terang: “Adalah suhu yang memberitahukan!”

”Siapa suhumu?”

“Si Raja Pembunuh.”

“Apa? Si Raja Pembunuh ...?!” “Bagaimana dia tahu?”

“Karena... suhu pernah datang kemari!”

“Bohong, di sini tiada seorang lelaki yang datang kemari bisa balik lagi dalam keadaan hidup. Selama aku berdiam di sini, sudah ada duabelas lelaki yang mati di sini. Di antara mereka yang datang tiada terdapat si Raja Pembunuh.“

Pui Ceng Un tercengang. Apakah ucapan suhu itu bohong? Akan tetapi bagaimana keadaan dan cara jalannya menuju ke gua ini sama benar dengan penuturannya, bagaimana bisa membohong?

“Tetapi inilah sesungguhnya, jikalau tidak boanpwee juga tidak akan bisa sampai di sini dalam keadaan selamat!”

Perempuan aneh itu nampak berpikir, kemudian ia berkata: “Siapa namanya?”

“Oet tie Siang!”

Badan nenek itu gemetar, mukanya yang buruk nampak berkerenyit. Perubahan sikap secara mendadak ini mengejutkan Pui Ceng Un.

“Katamu Oet-tie Siang adalah suhumu?” “Ya!” “Apakah... ia sudah meninggal?”

Tiba-tiba nenek itu menyambar pergelangan tangan Pui Ceng Un. Tindakan yang tidak terduga-duga itu sudah tentu tidak dapat dielakkan oleh Pui Ceng Un, sehingga mudah tangannya tergenggam oleh nenek itu.

“Ya, suhu meninggal pada beberapa bulan berselang!” “Meninggal dengan cara bagaimana ?”

“Terbunuh oleh musuhnya, ialah si Iblis Singa, salah satu dari Delapan Iblis negara Thian-tik!”

Lama sekali tidak terdengar suara nenek itu. Tangannya mencekam pergelangan tangan Pui Ceng Un masih belum dilepaskan.

Suasana sepi sunyi dan menyeramkan.

Pui Ceng Un yang menantikan sekian lama masih belum mendengar pertanyaan apa, terpaksa bertanya.

“Apakah locianpwe dengan suhu….”

“Tutup mulut!” demikian nenek itu membentak setelah hening sejenak lalu menggumam sendiri:

“Memang harus mampus, bagus sekali kematiannya.”

Pui Ceng Un bergidik. Ucapan nenek itu kedengarannya tak mengandung maksud baik.

Dengan sinar mata tajam nenek itu menatap Pui Ceng Un, kemudian berkata dengan bengis:

“Dia berkata bagaimana tentang diriku?”

Untuk sesaat Pui Ceng Un merasa bingung, tetapi kemudian ia segera mengerti.

“Boaopwee justru ingin bertanya kepada locianpwee ada hubungan apa dengan suhu almarhum?” “Hubungan? Hem! Aku tidak membunuhnya namun dia sudah mati, dan sekarang kau datang sendiri maka aku juga hendak membunuhmu!”

Pui Ceng Un hampir tidak dapat mengendalikcn perasaan gusarnya, tetapi akhirnya ia masih bcrlaku sabar, karena kepandaiannya sendiri tidak sanggup menandingi kepandaian nenek itu. Dan yang terpenting adalah, selagi masih bisa bernapas, ia tetap akan berusaha mendapatkan Hiat-ay untuk menolong diri Hui Kiam. Jikalau tidak mengingat kepentingan diri Hui Kiam, dengan sifatnya Pui Ceng Un yang sudah ketularan sifat gurunya, sudah tentu tidak bisa berlaku jinak. Maka setelah menenangkan pikirannya ia baru berkata :

“Apakah locianpwe mempunyai permusuhan dengan suhu?”

Nenek aneh itu memperdengarkan suara tertawanya yang aneh dan menyeramkan, kemudian baru berkata dengan suaranya yang mengandung perasaan gemas:

“Selamanya aku hendak menghancurkan bangkainya!”

Kembali Pui Ceng Un terpaksa bungkam. Ia tak dapat mengatakan apa-apa.

“Budak, mengapa kau harus memakai kerudung di mukamu?” Pertanyaan itu bagaikan sengatan kumbang di diri Pui Ceng Un.

Ia menjawab dengan lesu:

“Sebab boanpwe berparas cantik.”

”Jadi kau cantik? Sebelum aku membunuhmu aku ingin melihat bagaimana kecantikanmu.”

Tanpa banyak bicara kain kerudung yang menutupi muka Pui Ceng Un ditariknya dan dirobek menjadi berkeping-keping.

“Astaga!” Demikian nenek itu berseru terkejut. Ia melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah. Matanya memandang tajam kemudian berkata: “Tidak salah, memang inilah perbuatannya. Dia mengapa hendak merusak wajahmu?”

“Karena peraturan. Peraturan menerima murid.” “Peraturan? Ha ha ha. Suatu peraturan yang bagus sekali.”

Setelah berkata demikian, ia menyambar tangan Pui Ceng Un lagi, kemudian ditariknya lari masuk ke dalam goa.

Dalam goa itu terdapat tiga kamar batu. Hanya satu kamar yang keadaan ruangannya teraag. Nenek aneh itu meletakkan diri Pui Ceng Un di ruangan tengah yang luas, kemudian ia sendiri duduk di atas kursi dan bertanya dengan nada suara dingin:

“Badak, apakah kau mempunyai kekasih?”

Pui Ceng Un tidak dapat menebak apa maksud nenek itu bertanya demikian, tetapi biar bagaimana ia harus menjawabnya. Ketika mendengar pertanyaan itu, dalam otaknya terbayang wajah seorang pemuda tampan, tetapi sebentar sudah lenyap lagi. Dengan suara tegas ia menjawab:

“Tidak!”

“Benar-benar tidak?”

“Ini rasanya tidak perlu untuk membohong. Tidak ya tidak!” “Apakah kau memikirkan saja pun tidak?”

“Aku adalah manusia, sudah tentu juga bisa memikirkan soal itu, tetapi aku tidak boleh memikirkan, juga tidak ingin memikirkan!”

“Mengapa?”

“Aku tidak pantas. Tidak pantas mencintai orang, juga tidak pantas dicintai orang.”

Wajah buruk nenek tua itu terjadi perubahan. Tetapi agak sulit untuk membedakan perubahan itu karena tertawa atau gusar ataukah tergerak pikirannya….

“Apakah kau membenci suhumu yang sudah mampus itu yang telah memberikan hadiah semacam ini kepadamu?” “Tidak!”

“Katakan benci, lekas!” “Tidak!”

“Mengapa kau tak membencinya?”

“Suhu merusak wajahku itu adalah peraturannya yang telah digariskan, dan aku juga rela. Apabila aku harus mengatakan benci, aku akan membenci kepada nasibku sendiri. Aku tidak mengeluh, juga tidak meoyesalkan orang.”

Nenek itu berkata dengan suara bengis:

“Apa itu nasib? Nasib adalah di tanganmu sendiri. Jikalau sekarang aku hendak membunuhmu, apakah itu juga nasib?”

“Ya, boleh dikata begitu.”

“Apabila kau tidak datang kemari, apakah kau bisa mati?” “Tetapi aku toh sudah datang kemari.”

“Kalau sekarang aku membunuhmu, apakah kau juga tidak membenci?”

“Tidak.”

“Aku ingin kau membenci. Semakin dalam rasa bencimu semakin baik.”

Ucapan itu bagaikan ucapan yang sudah gila yang sudah tidak waras pikirannya, sehingga membuat orang serba salah tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Aku tidak benci, aku tak pantas untuk membenci!” Demikian akhirnya Pui Ceng Un menjawab.

“Mengapa tidak pantas?”

“Jikalau dalam hatiku sudah timbul perasaan benci, aku seharusnya merusak apa yang kubenci. Tetapi kepandaianku tidak dapat menandingi kepandaianmu!” “Bagus! Bagus! Satu jawaban yang bagus sekali. Ini barulah perasaan benci yang sebenar-benarnya. Jikalau tidak bisa membenci secara demikian, lebih baik tidak membenci. Budak, sekarang aku tidak ingin membunuhmu lagi. Sebelum pikiranku berubah, kau lekas pergi dari sini.”

Pui Ceng Un memandang dengan sinar mata dingin kepada nenek aneh itu, sejenak kemudian berkata sambil menggeleng- gelengkan kepala:

“Aku tidak mau pergi.”

“Kau... tidak mau pergi? Apakah kau ingin mati?”

“Penghidupan bagiku sudah kehilangan artinya. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang jngin kulakukan. Kalau itu tidak dapat kulakukan, apa halangan kalau aku harus mati?”

Biji mata nenek itu berputaran beberapa kali, kemudian berkata: “Urusan apa yang kau tidak dapat melakukan?”

“Soal untuk mendapatkan Hiat-ay.” “Demikian pentingnya sutemu itu bagimu?”

'“Bukan terhadap aku, tapi itu adalah terhadap perguruanku. Apalagi terhadap nasib seluruh rimba persilatan sangat penting sekali.”

“Untuk apa kau hendak meminta Hiat-ay?”

“Untuk dibuat campuran obat ramuan untuk memunahkan racun Long-sin-tan.”

“Apakah ia terkena racun Long-sin tan?” “Ya.”

“Siapa yang menggunakan racun itu?”

“Putri pemimpin Persekutuan Bulan Emas Tong-hong Hui Bun, seoraug siluman perempuan.”

“Sudah lama aku tak menceburkan diri dalam dunia Kang-ouw, siapa pemimpin itu aku sudah tidak tahu. Sebaliknya aku mendadak merasa senang terhadapmu. Sekarang begini saja, aku akan memberikan sebatang Hiat-ay dan kau harus melakukan beberapa pekerjaan untukku. ”

Terjadinya perubahan ini benar-benar di luar dugaau Pui Ceng Un. Maka ia berkata dengan perasaan sangat girang:

“Silahkan Cianpwee memberikan perintah saja, boanpwee pasti akan melakukan.”

“Bagus. Kau tolong carikan seseorang untukku, karena aku masih ada hutang kepada orang itu aku harus mesti bayar lunas hutangku kepadanya.”

Nada suara Pui Ceng Un saat itu juga berubah merendah.

Sikapnya juga menunjukkan sungguh-sungguh dan menghormat. “Siapakah orangnya yang locianpwee ingin cari itu?”

“Kau dengarlah, aku nanti akan ceritakan satu kisah. Duduklah.” “Boanpwee bersedia mendengarnya.”

Setelah itu ia lalu duduk di salah satu kursi di dekatnya.

Nenek itu nampaknya sangat berduka, akan tetapi nada suaranya masih tetap dingin, hanya sedikit banyak mengandung rasa terharu.

“Kisah ini terjadi pada empat puluh tahun berselang. Kala itu, di dalam rimba persilatan ada seorang perempuan yang mempunyai kecantikan luar biasa, dengan kepandaiannya yang tinggi sekali, sehingga kawan kawan dunia Kang-ouw menamakannya Bidadari....

berparas cantik dan berkepandaian tinggi.”

“Ow!   Nama julukan bidadari itu dulu boanpwe pernah dengar dari ayah. Kalau tidak salah bidadari itu bernama Thi Hong Gie.”

“Kau jangan menyela! Dengarkan baik-baik. Bersamaan waktunya dalam rimba persilatan muncul seorang gagah berwajah tampan. Dalam suatu pertandingan persahabatan di antara orang- orang gagah, pemuda gagah itu berhasil mengalahkan dua puluh delapan lawannya, sehingga namanya seketika itu juga menjadi terkenal. Karena wajahnya yang tampan, oleh sahabat-sahabat dunia Kang-ouw dia diberi nama julukan Giok-bin Sin-liong. Di dalam suatu kesempatan, perempuan cantik itu berkenalan dengan pemuda gagah dan tampan itu. Satu sama lain lalu jatuh cinta.”

Berkata sampai di situ, ia berhenti sejenak. Parasnya yang penuh tanda cacat terlintas warna merah. Kemudian ia melanjutkan penuturan.

“Tidak lama kemudian, dua muda-mudi itu menjadi suami istri. Kejadian pada waktu itu merupakan suatu peristiwa romantis yang menggemparkan dunia Kang-ouw. Banyak pemuda rimba persilatan yang merasa iri hati, sudah tentu juga menimbulkan perasaan dengki.”

Pui Ceng Un sangat tertarik oleh cerita itu. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian.

Terdengar pula nenek itu melanjutkan ceritanya:

“Setahun kemudian, pada saat hari terjadilah suatu kejadian yang tidak biasa. Giok-bin Sin Liong Cho Hong di dalam perjalanan pulang ke rumahnya, telah dicegat oleh tiga jago pedang muda yang tidak diketahui asal-usulnya. Terjadilah suatu pertempuran dengan satu melawan tiga. Ketika bidadari yang cantik dan gagah itu mendengar kabar dan menyusul ke tempat kejadian, ternyata Giok-bin Sin Liong sudah rebah di tanah dalam keadaan terluka parah. Dalam murkanya sang istri itu lalu bertempur dengan tiga jago pedang itu.”

“Oh! Dan selanjutnya?”

“Jangan menolak, sudah tiga bulan lamanya Giok-bin Sin Liong rebah di atas pembaringan. Setelah sembuh dari luka-lukanya, terjadilah suatu kejadian yang sangat menakutkan.   Ternyata saat itu meskipun lukanya sudah sembuh, tetapi ia sudah kehilangan kemampuannya sebagai seorang lelaki. Ia telah menjadi impoten. Maka sejak saat itu pasangan suami istri yang membuat iri hati banyak orang itu sudah berubah menjadi suami istri dalam arti kata hanya tinggal namanya saja ”

Pui Ceng Un mukanya merasa panas mendengar penuturan itu. “Perhubungan demikian, berlangsung terus beberapa tahun lamanya ”

Pui Ceng Un lalu menyela dan memberi pujian: “Cinta kasihnya bidadari itu patut dihargakan!”

“Tutup mulutmu, dengar ceritaku. Bidadari yang masih muda belia itu, disuruh menjalani penghidupan yang amat kering itu, sebenarnya memang susah. Pada saat itu, masuklah seorang pemuda gagah lain yang baru rnuncul di kalangan rimba persilatan. Dengan berbagai cara dan akal muslihat, jago muda itu memancing dan memikat bidadari itu, akhirnya salah pikir karena tidak mampu mengendalikan godaan hatinya, telah nelakukan perhubungan gelap dengan jago muda itu.”

“Kejadian ini agaknya sulit untuk menyalahkan pihak yang mana?” Demikian Pui Ceng Un menyelak pula.

---oo0dw0ooo---