Pedang Pembunuh Naga Jilid 30

Jilid 30

”PEREMPUAN muda dalam makam pedang itu"

Hui Kiam menundukkan kepala untuk berpikir, dalam ingatannya agaknya samar-samar terbayang bayangan sesemang, tetapi itu tidak nyata, juga agaknya sangat jaub. Ia memikir kan sedalam dalamnya, perlahan-lahan raut muka pucat tetapi cantik, muncul dalam otaknya, tetapi itu banya sepintas lalu saja, sewaktu ia angkat kepala dan matanya menatap Tong-hong Hui Bun, bayangan itu lenyap lagi, hingga ia menggeleng gelengkan kepala dengan perasaan duka lalu ia berkata: "Mengapa aku tidak ingat lagi?"

"Jangan banyak berpikir, sudahlah lupakan saja dia." ”Ya, melupakan.....nya "

Pada saat itu sesosok bayangan tinggi besar masuk kedalam kamar.

Hui Kiam mendadak bangkit dan menghunus pedang saktinya. Tong-hong Hui Bun sejera mencegahnya sambil kerkata: "Adik, jangan bengerak sembarangan mundurlah!"

Sungguh heran Hui Kiam saat itu benar benar dengar kata, ia memasukkan lagi pedang nya dan mundur kepinggir pembaringan tetapi sepasang matanya masin memancarkan sinar bengis.

Seolah olah sikap seekor binatang buas yang terpaksa tunduk oleh sikap orang yang melatih nya.

Orang yang baru datang itu bukan lain dari pada pemimpin persekutuan Bulan mas, ia muncul masih dengan memakai kerudung di-mukanya .

"Anak benarkah kau berani melakukan perbuatan terkutuk itu?" Tong hong Hui Bun menundukkan kepala tidak menjawab.

"Kau sungguh durhaka, budak hina benar ketika menghendaki ayahmu membikin putung badanmu menjadi dua potong."

Tong-long Hui Bun mengingkar kepala, dua butir air mata menetes keluar dari ujung matanya.

"Ayah" hanya itu saja yang keluar dari mulutnya.

Hui Kiam agaknya dikejutkan oleh ucapan itu, seperti ingat sesuatu, ia coba berusaha mengumpulkan ingatannya, tapi tak berhasil. Ia hanya dapat mengenali kedudukan dan siapa adanya orang tinggi besar itu, tapi apa hubungan dengan dirinya, ia sudah tidak ingat lagi.

Pemimpin persekutuan bulan mas itu berkata dengan suara bengis :

"Budak hioa, kau habiskan jiwamu!" "Tidak!"

"Kau berani melawan perintah?' "Ayah, ia sudah. "

Mata pemimpin persekutuan Bulan mas menatap kearah Hui Kiam sejenak, lalu berkata; "Apa kau sudah ”

"Ya!" "Kau ingin berbuat apa selanjutnya?"

"la boleh ayah gunakan untuk menyingkirkan segala rintangan " "Em! Tetapi, budak, perbuatanmu ini tak dapat dibenarkan ”

”Ayah, ayah tokh sudah tahu adat anakmu lebih baik aku kecewakan orang lain, tetapi aku tidak ijinkan orang lain mengecewakan dirinya!”

"Ini bukan soal mrngecewakan atau tidak mengecewakan tahukah kau berapa besar dosa mu atas perbuatanmu itu.

"Anak lebih suka nanti kalau binasa masuk kedalam neraka, tapi diwaktu masih hidup tidak sudi mengalah sedikitpun juga!'*

"Aw! Anak ibumu yang sudah menutup mata sebetulnya terlalu baik sekali sedangkan kau.”

"Apakah gunanya jadi terlalu baik? Akhir nya tokh mati muda juga!"

"'Budak, apakah kau berani menyalahkan ayahmu?" "Kenyatannya memang demikian.'"

"Hmm! Baiklah! Tiada harimau yang makan anaknya sendiri, sebetulnya aku akan bunuh mati dirimu, tetapi sudahlah, budak, kau harus berjanji suka melakukan dua urusan bagi ayahmu."

"Harap ayah perintahkan seja."

"Kesatu, perbuatan semacam ini tidak boleh kau lakukan lagi ." "Anakmu memang sudah berpikir begitu."

"Kedua, selanjutnya kau harus. '

"Ya, ia sudah merupakan bangkai hidup.”

"Sekarang ayahmu hendak pergi, ingat dua soal ini." ”perlukah anak mengantar?"

"Tidak usah." Setelah berkata demikian pemimpin Bulan mas itu lalu berlalu. Hui Kiam hanya dapat membuka lebar matanya, apa yang diperbincang oleh ayah dan anaknya tadi ia tidak mengerti sama sekali, ia neiasa bahwa dirinya agaknya sudah berubah, tetapi berubah bagaimana dan mengapa bisa beiubah ia sendiri tidak tahu.

"Adik, duduklah." demikian ia mendengar suara Tong bong Hi»i Bun.

Hui Kiam menurut dan duduk ditempatnya lagi, "Adik, kau sekarang merasa bagaimana?'"

"Aku hanya ingm membunuh orang." jawabnya dingin, "Baik, sukakah kau hidup bersama dengan encimu?" "Ya, aku telah bersumpah,"

"Tetapi ada orang yang merasa kurang senang?" "Siapa?"

"Orang berbaju lila, masih ada lagi orang tua tiada turunan. . . dan lain-lainnya."

"Tungu dulu, kau katakan Orang berbaju lila, biarlah kupikir dulu.

. . hem, seorang yang memakai kerudung berwarna lila, ya tidak salah, itulah dia, agaknya aku bermusuhan dengannya... aku bisa mencarinya."

"Adik. apakah kau tahu tempat persembunyiannya orang itu?"

Hui Kiam mengerutkan keningnya untuk berpikir, lama sekali baru kerkata :

”Kuil tua itu yang sudah rusak......ya, ada tempat semacam itu, tetapi ”

"Adik, kau pikirlah perlahan lahan, kau pasti pikirkan tempat itu dan kau harus menyingkirkan manusia jahat itu."

Hui Kiam kepal kedua tangannya matanya terbuka lebar mengawasi keatas, pikirannya bekerja keras, bayangan orang satu persatu muncul dalam ingatannva. perlahan lahan ingatannya kembali sebahagian, tapi banyak bagian yang kecil kecil sudah tidak teringat lagi. Tiba tiba ia berkata:

"Sekarang aku ingat!" "Dimana"

"Tidak jauh dari sini tempat berada dalam tanah abu dapat mencarinya, tetapi tidak dapat mengatakan dimana tempatnya.”

"Disana ada berapa banyak orang?"

"Tidak sedikit mungkin seratus lebih, tetapi mungkin juga lebih dari itu."

'Apakah itu merupakan sarang Orang berbaju lila?” "Ya”

Tiba tiba Hui Kiam teringat soal pertempuran antara golongan benar dengan golongan jahat, meskipun samar samar tetapi ia mempunyai kesan bahwa persekutuan Bulan mas itu adalah musuhnya, sedangkan ia sendiri berdiri dipihak golongan yang benar, baru saja sikapnya menunjukan perubahan, segera diketahui Tong-bong Hui Bun, maka lalu bertanya:

"Adik, kau memikir apa?"

"Aku.....aku teringat kepada persekutuan Bulan mas.     ”

"Adiu, kau jangan pikirkan urusan yang tidak penting itu, lebih baik kita bicarakan urusan kita sendirian, pertama. Orang berbaju lila itu harus disingkirkan, kedua, orang yang membantunya, juga tidak boleh dilepaskan begitu saja."

Oleh karena ucapan itu, pikiran Hui Kiam telah berubah pula, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata:

"Aku pasti dapat melakukan."

"Adik, ada suatu hal kau harus ingat." "Enci, katakanlah." "Kalau kau nanti sudah bertempur dengan Orang berbaju lila ia pasti mengajukan banyak alasan, suruh kau menghentikan pertempuran."

”Enci, kecuali kau, perkataan siapapun aku tidak percaya.' "Benaikah?"

"Apakah aku perlu membohong?"

"Mari adik, minumlah arak ini untuk kebahagian kita berdoa, semoga kau, berhasil."

Sebuah, kereta dilarikan menuju kepintu kota sebelah barat, setiba diluar kota, kereta itu berhenti, dari dalam kereta melompat seorang pemuda gagah tampan berpakaian putih dengan sikapnya yaig tidak wajar, dipinggang pemuda itu tengantung sebilah pedang kuno. pemuda itu adalah Hui Kiam. sipenggali makam yang baru meninggalkan Tong-hong Hui Bun.

Hui Kiam mengawasi keadaan tempat disekitarnya sambil berpikir keras. kemudian lompat melesat dan lari menuju kesuatu tempat. Belum berapa lama, tiba-tiba terdengar suara orang menegurnya:

"Toako berhentilah sebentar."

Hui Kiam merandek, seorang pemuda berpakaian compang- camping bagaikan pengemis maju menghampiri dan berkata dengan gembira:

”Toako, akhirnya kau datang juga, semua sedang mengharap kedatanganmu."

Pengemis itu bukan lain daripada sukma tidak buyar Ie It Hoan.

Hui Kiam memandang Ie It Hoan sejenak, baru berkata agak sangsi:

"Apakah kau Ie It Hoan?"

Sikap itu sangat mengherankan Ie it Hoan, dengan perasaan terkejut ia berkata:

"Toako kau kenapa?" "Tidak apa-apal"

"Mengapa siotee mu sendiri kau sudah tidak mengenali lagi?" "Ow! adiK  Hoan  sangat  menyesal, apakah orang  berbaju lila

ada?''

"Ada! Sucimu Pui Ceng Un juga sedang mengnarap kedatanganmu ,,..”

"Pui Ceng Un?"

Kembali Ie it-hoan merasa terheran-beran, ia telah mendapat firasat tidak baik mungkin terjadi apa-apa terhadap diri Hui Kiam.

”Toako kau sebetulnya mengalami kejadian apa?”

Hui Kiam seolah olah tidak mendengar pertanyaan itu. seluruh pikirannya ditujukan kepada Pui Ceng Un lama sekali ia baru berkata: ”Aku ingat ia telah perlah terkena racun sehingga kepandaiannya musnah, kemudian adalah orang menebus dosa yang mengutus orangnya untuk memberi pertolongan kepadanya mengapa ia berada ditempatnya Orang berbaju lila?"

"Tentang ini ia nanti bisa memberitahukan kepadamu." ”Baik. aku akan membawanya pergi!”

”Apa toako hendak bawanva pergi ?”

”Sudah tentu bagaimana ia bisa tinggal bersama-sama dengan orang berbaju lila."

Ucapan dan kelakuan Hui Kiam itu sangat mengherankan Ie It Hoan, betapapun cerdiknya Sukma tidak buyar itu juga tak dapat menebak sebab musabab perubahan itu.

Mereka berjalan berendeng dengan membungkam satu sama lain, akhirnya Ie It Hoan coba mengorek keterangan:

"Selama bebeiapa hari ini toako kemana saja?" ”Tentang ini tidak perlu kau tahu!“ „Bagaimana dengan persoalan tusuk konde mas berkepala burung Hong itu? Apakah toako sudah mendapat sedikit keterangan?”

Hui Kiam merandek dengan tiba tiba, ia bertanya dengan terheran heran

”Tusuk konde mas apa?"

”Toako kau kenapa?” tanyanya sambil mengkerutkan keningnya. ”Tadi kau berkata tusuk konde mas berkepala burung Hong?

Coba aku pikir dulu. apakah ada persoalan seperti itu? Oh ya, aku sudah menemukan Pek leng lie Khong Yang Hong, ia sudah binasa

....”

"Sudah binasa?"

”Em, akulah yang membunuh !”

”Aku haturkan selamat bahwa toako sudan berhasil menuntut balas dendam ibumu . . . ”.

”Bukan dia bukan pembunuhnya, hanya tusuk konde mas itu adalah miliknya, itu memang benar.” berkata Hui Kiam sambil melototkan matanya.

”Kalau begitu siapakah pembunuhnya?” bertanya le lt Hoan bingung

"Tidak tahu”

le It Hoan ada pemuda cerdik, ia sudah merasa bahwa keadaan Hui Kiam tidak beres hal ini perlu segera dicari tahu sebab sebabnya.

"Toako pengerakan kita kali ini, menang atau kalah tengantung ditangan mu!'' katanya sambil tertawa ha ha h' h i.

”Pengerakan? Pergerakan apa?”

”Kalau begitu kedatangan toako ini untuk apa ?” ”Mernbusuh orang?'

Ie It Hoan terperanjat sekujur badannya gemetar tanyanya; ”Membunuh orang? Siapa yang kau hendak bunuh?” ”Orang berbaju lila dan kawan kawannya!”

”Bukankah toako sudah bersedia bahwa rekening diperhitungkan belakangan? ”

”Omong kosong!”

Hui Kiam menunjukkan sikap beringas sehingga Ie It Hoan diam- diam bergidik. Kini telah membuktikan bahwa kecurigaannya itu tak salah, Hui Kiam telah berubah bahkan perubahannya itu datangnya secara mendadak.

Dilihat keadaan dari kelakuannya, pikiran dan akal budinya agaknya sudah terpengaruh oleh semacam kekuatan entah kekuatan gaib apa.

Ini merupakan soal sangat gawat, pertempuran membasmi kejahatan dan menegakkan kebenaran sudah akan mulai, Hui Kiam merupakan satu-satunya orang yang kepandaian dan kekuatannya dapat melawan pemimpin persekutuan Bulan mas. Karena pertempuran itu menyangkut nasib seluruh rimba persilatan, maka hanya boleh menang tidak boleh kalah.

Seekor burung kucinta terbang diatas kepalanya, ia telah mendapat firasat bahwa keadaan sudah sangat gawat.

Maka ia perlu mengambil tindakkan tegas dan tepat, ia lalu berkata sambil menunjuk kedalam rimba:

"Toako, kita jalan dari situ?' "Kenapa?"

"Sebab kamar rahasia dibawah sumur untuk kita mengadakan pertemuan rahasia itu kini sudah dihancurkan,"

"Mengapa dihancurkan?"

”Sebab sudah diketahui oleh orang luar”. "Benarkah!"

”Bagaimana siaote berani membohongi toako?” ”Jikalau aku nanti mengetahui ucapanmu ini tidak jujur aku akan binasakan kau lebih dulu!" berkata Hui Kiam sambil melototkan matanya.

Kembali Ie It Hoan bergidik, tetapi ia ma sih keraskan kepala. "Terserah bagaimana toako hendak menghukum siaote!' "Nah, Kau tunjukan jalannya!”

"Toako ikut aku!'*

Ie It Hoan berjalan lebih dulu. ia lari menunjuk kedalam rimba. Didalam rimba itu tak ada jalan, ia membelok.ketimur dan kebarat mulutnya berseri-seri tanpa irama, sebentar kemudian, tibalah disuatu tempat lapangan, ia lalu berhenti dan berkata:

"Toako disinil"

Hui Kiam mengawasi keadaan disekitarnya dengan mata beringas, kemudian bertanya:

"Mengapa tidak tampak bayangan seorang pun juga?"

"Sebentar mereka akan menunjukkan diri." berkata le It Hoan dengan suara tidak wajar.

'Kenapa kau tidak mengajakku ke tempat nya? " "Inilah tempatnya!"

"Bohong, lapangan ini nampaknya belum di urus orang. sedikitpun tidak ada bekasnya, sedangkan anak buah orang berbaju lila itu sedikitnya ada seratus jiwa, apakah tiada tempat yang lebih tepat untuk tempat pertemuan ? '

"Toako "

"Tutup mulut, aku tebas batang lehermu dulu, baru pergi ketempat bawah sumur itu untuk membuat perhitungan!"

Wajah Ie It Hoan berubah seketika, dengan-perasaan ketakutan ia mundur beberapa langkah, ia tahu bahwa pada saat itu pikiran Hui Kiam sudah tidak waras, tidak bisa diajak bicara menurut pikiran orang waras. Dengan kepandaiannya itu Ie It Hoan pasti sulit lolos dari tangannya, betapapun cerdiknya Ie It Hoan pada saat itu juga tidak berdaya sama sekali.

Hui Kiam perlahan lahan menghunus pedang nya nampaknya benar-benar ia akan turun tangan.

Dengan perasaan cemas Ie It Hoan mengawasi keadaan disekitarnya, kemudian berkata dengan suara cemas.

"Toako kau dengar dulu keterangan siaotee mu. ”

Hui Kiam sudah menunjukkan sikap hendak menyerang. Keringat dingin mengucur deras dibadan Ie It Hoan .....

Dalam keadaan amat kritis itu, tiba-tiba terdengar suara orang tua:

"Jangan bertindak ”

Hampir bersamaan pada saat itu, seorang tua kurus kering berambut putih melesat masuk kedalam lapangan, It Hoan menghapus keringat dingin yang membasahi dahinya lalu menjatuhkan dirinya ditanah, kemudian berkata dengan nada suara ketakutan:

”Locianpwee, aku sipengemis kecil hampir saja kehilangan jiwa!”

Hui Kiam memandang orang tua itu sejenak. Kemudian berkata dengan nada suaranya yang ketus dingin:

"Adakah kau orang tua tiada turunan Locianpwee”

Orang tua tiada turunan itu mengawas le it hoan dengan perasaan bingung, kemudian matanya ditujukan kepada Hui Kiam, barulah ia mengajukan pertanyaanya;

"Hui Siaolap, kalian berdua ada urusan apa?"

le it hoan segera menjawab: ”Locianpwee toako mungkin salah paham ia hari ini datang hendak membunuh orang'." Sehabis berkata demikian, dengan diam diam ia menghirang dalam rimba.

"Apa? Hendak membunuh orang?" "Benar, kedatanganku ini memang hendak membunuh orang. Mengapa orang berbaju lila tidak menampakkan diri?" Berkata Hui Kiam dingin.

"Apakah kedatanganmu ini semata mata hanya hendak membunuh orang berbaju lila saja?"

"Emmm, masih ada orang-orang sekelompoknya!" "Termasuk aku siorang tua juga?"

"Mungkin!" "Kenapa'” "Harus mampus"

"Kenapa harus mampus?"

"Aku tidak tempo untuk mengadu lidah."

Orang tua tiada turunan sudah banyak makan asam garam didunia Kang Ouw, menyaksikan keadaan Hui Kiam, dalam hati sudah mengerti sebahagian, maka dengan tetap tenang ia berkata:

"Apakah siaohiap masih ingat nasehat orang menebus dosa?" "Orang menebus dosa, hmm! Sama juga harus dibunuh!"

"Dia dengan saohiap agaknya toh tidak bermusuhan apa apa?"

Hui Kiarn agaknya sudah tidak dapat diajak bicara secara wajar, karena ia tahu pertanyaan itu sudah dijawab, bukan mundur malah semakin marah,

"Suruh mereka keluar semua, akan kubereskan kalian, sekarang aku tidak waktu menunggu lama-lama!"

”Mengapa siaohiap tidak menjelaskan dahulu sebab apa mereka harus dibunuh?"

”Nampaknya aku terpaksa akan turun tangan lebih dulu kepada dirimu!"

Pedangnya segera bengerak menyerang orang tua tiada turunan. Karena orang tua itu sudah waspada, maka baru saja Hui Kiam bengerak ia sudah lompat menyingkir, namun demikian karena ilmu pedangnya Thian Kie Kiam Hoat adalah ilmu pedang luar biasa, sekali pun orang tua tiada turunan sudah berlaku gesit, tetapi baju panjang bagian bawahnya tak urung terpapas juga sepotong, hampir saja kakinya juga kena tersambar ujung pedang itu.

Hui Kiam berkata sambil tertawa mengejek ”Kalau kau sanggup mengelakan sekali lagi, itu berarti umurmu masih panjang, maka hari ini boleh kulepaskan dengan keadaan hidup."

la bergerak maju lagi, pedangnya sudah di angkat.. ...

"Tahan!" demkian terdengar suara bentakan keras, sinar pedang meluncur dari samping setelah terdengar suara benturan nyaring ujung pedang Kui Kiam tengetar, sehingga tidak mengenakan sasarannya.

Dengan demikian tertolonglah Orang tua tiada turunan dari bahaya maut, orang yang turun tangan menolongnya itu, ternyata ada lah orang berbaju lila.

Ie It Hoan juga pada saat itu menunjukkan diri lagi.

Mata Hui Kiam segera beradu dengan mata Orang berbaju lila, seketika itu hawa amarah nya meluap, katanya dengan suara bengis:

"Orang berbaju lila akhirnya kau menunjukkan diri juga."

”Hui Kiam apakah kau mendapat perintah dari Tong hong Hui Bun siperempuan cabul itu datang kemari hendak membunuh orang?” bertanya Orang berbaju lila dengan suara gemetar .

"Kau berani menghinanya aku hendak cing cang tubuhmu menjadi bubur "

Badan Orang berbaju lila gemetar, katanya dengan suara gusar: "Hui Kiam aku bersedia dibunuh olehnya sendiri, bawalah aku

menjumpainya. '

”Aku akan bawa balok kepalamu menjumpai dia Pedang Hui Kiam memancarkan sinar gemerlapan, dengan disertai oleh suara rrengaung pedang itu menyambar orang berbaju lila.

Orang berbaju lila menggerakkan tangannya pedang ditangannya juga mengeluarkan sinar gemerlapan menyambut pedang Hui Kiam.

Setelah terdengar beberapa suara nyaring. Orang berbaju lila lompat mundur empat lima langkah, pedang ditangannya tinggal gagangnya saja.

Hui Kiam maju mengancam dengan pedang nya lagi. sikapnya sangat menakutkan.

Sebelum Hui Kiam bertindak tiba-tiba terdengar suara orang memuji budha: ”O Mie To Hud!"

Seorang padri tua beralis putih melayang turun ketanah lapangan.

Dengan suara sedih Orang berbaju lila itu berkata:

"Locianpwe, hati dan pikiran pemuda ini sudah dikendalikan oleh pengaruhnya obat. kita harus tangkap hidup hidup baru bisa dimusnahkan racunnya.”

Padri tua yang baru datang itu adalah Jien Ong yang sekarang sudah mencucikan diri dan bergelar Kak Hui.

Dada Hui Kiam saat itu sudah dipenuhi oleh hawa amarah yang ia sendiri juga ridak mengerti, sepasang matanva merah membara sambil berputaran matanya ia berkata dengan suara bengis;

"Padri tua, kau juga boleh maju sekalian!”

Kak Hui ,berkata sambil rangkapkan kedua tangannya:

”O Mie To Hud. apakah sicu sudah tidak mengenali lolap lagi?" "Perlu apa aku harus mengenalimu, serahkan jiwamu!" Ucapan Hui Kiam itu ditutup dengan serangannya yang hebat. Kak Hui mengibaskan lengan jubahnya yang mengeluarkan hembusan angin, bersamaan dengan itu orangnya juga lompat menyingkir dengan satu gerakan yang aneh.

Tatkala hembusan angin itu beradu dengan sinar pedang, Hui Kiam hanya merandek sebentar kemudian meancarkan serangannya lagi. ,

Kak Hui terpaksa mundur lagi beberapa langkah.

Hui Kiam tidak mau menggendorkan serangannya, bagaikan bayangan ia mendesak terus, suatu pertempuran hebat telah berlangsung sinar pedang telah beradu dengan kekuatan tenaga dalam yang berubah hembusan angin hebat, sehingga daun daun pohon di.sekitar lapangan berterbangan.

Akan tetapi keadaan itu tidak berlangsung lama, hanya tujuh atau delapan gebrakan, Kak Hui sudah sangat berbahaya keadaannya, ia terus mindur, jiwanya terancam.

Orang berbaju lila menggapaikan tangannya kepada orang tiada turunan, kedua duanya lalu turut ambil bagian, dengan demikian, Hui Kiam telah dikerubuti oleh tiga orang jago tua.

Oleh karena Kui Kiam menggunakan senjata jaman purbakala yang luar biasa tajamnya ditambah lagi dengan ilmu pedangnya yang aneh dan ganas, sekalipun menghadapi tiga lawan Juga masih bisa melayani dengan leluasa.

Sememara itu Ie It Hoan berdiri sebagai penontonnya, wajah sebentar-bentar nampak berobah.

Pertempuran sengit semacam ini, siapapun tidak dapat menduga bagaimana kesudahannya namun tidak peduli siapa yang terluka, ini berarti merupakan suatu kerugian besar bagi kekuatan tenaga barisan yang hendak membasmi kejahatan

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri ber-ulang- ulang dan jauh semakin dekat.

Ie It Hoan lalu berseru: "Ada musuh kuat menyerbu!" Baru saja menutup mulut, telah muncul dua bayangan orang, Orang yang datang itu, ternyata adalah pemimpin persekutuan Bulan mas bergsma putri nya Tong-hong Hui Bun.

Begitu tiba ditempai itu, pemimpin Bulan mas segera menghentikan pertempuran itu. Hui Kiam sambil menunjukan tertawanya menghampiri Tong-hong Hui Bun seraya berkata; "Enci bagaimana kau juga datang ”

Tong-hong Hui Bun melirik kepada orang berbaju lila, mulutnya menjawab pertanyaan Hui Kiam:

"Adik, aku takut kau tidak sanggup melawan musuh yang jumlahnya lebih banyak, maka lalu menyusul kemari."

"Untuk menghadapi orang-orang semacam ini apa sebabnya."

Dengan mata beringas Orang berbaju lila menunjuk dan berkata kepada Tong-hong Hui Bun.

"Perempuan hina, dari dulu sampai sekarang, tak ada seorangpun mempunyai moralnya demikian bejat seperti kau. manusia kau boleh perlakukan sesukanya, tetapi Tuhan Allah tak jikalau kau nanti tidak mendapat hukuman yang setimpal, benar benar Tuhan tidak berlaku adil.'

"Orang berbafu lila, aku sudah tidur dalam satu pembaringan dengannya. kau mau apa?" demikian Tong Hong Hui Bun berkaca sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Badan Orang berbaju lila sempoyongan, mulutnya menyemburkan darah, hingga kain lila yang mengerudungi mukanya menjadi merah oleh darah.

Tong-hong Hui Bun berkata puia sambil menepuk nepuk pundak Hui Kiam.

"Adik, kau masih menunggu apa lagi?"

Hui Kiam segera menghadapi Orang berbaju bla dan menyerang dengan pedangnya.....

Orang berbaju lila seolah tidak tahu dirinya terancam ia masih, berdiri bagaikan patung. Dalam keadaan kritis tiba-tiba kelihatan berkelebatnya sesosok bayangan orang, lalu dengan berkelebatnya sinar hitam, pedang Hui Kiam yang menyerang orang berbaju lila, telah beradu dengan senjata yang warna hitam' jengat, dan seketika itu juga Hui Kiam ter pental mundur tiga langkah.

Orang yang menunjukkan diri menolong orang berbaju lila dari bahaya kematian, adalah seorang tua yang berwajah luar biasa orang tua itu mengenakan pakaian baju kasar berwarna kuning, tangannya memegang seba tang tongkat rotan kasar berwarna hitam, dia adalah manusia Agung yang belom lama berselang pernah bertempur dengan Hui Kiam.

Tong hong Hui Bun terkejut, mungkin ia belum pernah melihat orang tua aneh itu. tetapi dari gerakan orang tua itu yang ternyata sudah bisa menyingkirkan pedang sakti Hui Kiam, pastilah bukan orang sembarangan. Setelah sejenak ia merasa heran lalu berkata sambil menunjukkan senyum yang menggiurkan;

"Siapa nama tuan yang mulia ?'

Manusia Agung itu menarik napas panjang ia tidak langung menjawab pertanyaan Tong hong Hui Bun, sebaliknya menggumam sendiri:

"Perempuan-durhaka, perempuan durhaka."

Mata Hui Kiam nampak beringas, dengan tanoa bicara ia sudah menyerang dengan pedang nya. Manusia Agung menyambut dengan tongkatnva, kembali terjadi suatu pertempuran sengit yang tidak ada taranya.

Senjata Hui Kiam adalah pedang sakti Tiao Khie-sin Kiam, kecuali pedang Bulan masnya pemimpin persekutuan Bulan mas dan tongkat rotan hitam manusia Agung itu, sudah tiada senjata lain lagi yang mengimbangi keampuhan senjata Hui Kiam itu. Maka juga hanya manusia Agung itu sajalah merupakan satu satunya orang yang masih bisa melawan Hui Kiam.

Di lain pihak, pemimpin persekutuan Bulan mas telah berhadapan dengan Kak Hui ia berkata sambil tertawa terbabak-babak : "Tidak disangka orang yang sudah menyucikan diri juga masih menyeburkan diri dalam urusan keduniawian."

Kak Hui setelah memuji nama Buddha baru berkata:

"Lautan dosa tiada tepinya, alangkah baik nya apabila segera insyaf kembali, manusia bidup paling lama hanya seratus tahun pada akhirnya raga kita ini akan membusuk didalam tanah kau dengan aku sama-sama merupakan orang-orang yang sudah tidak lama lagi harus menghadap Tuhan '"

Pemimpin persekutuan bulan mas segera memotong peikataan Kak Hui.

"Sahabat, kau tokh sudah tahu benar filsapat ini, mengapa pula kau turun gunung lagi?"

"Itu semata mata karena hendak menyelesaikan soal lama!"

"Ha ha ha, hari ini akan mengantarkan kau pergi menghadap Tuhanl"

"O Mie To Hud!"

"Meskipun Budha itu adalah kasih sayang tetapi barangkali juga tidak dapat menolong diri mu, kau telah meninggalkan pertapaanmu ini sudah berarti takdir bagi dirimu!"

”Perbuatan yang berlawanan dengan kehendak Tunan, ini merupakan suatu perbuatan terkutuk yang tidak dapat dibenarkan siapapun”

"Sahabat, kenyataan akan memberitahukan kepadamu kehendak Tuhan ataukah perbuatan manusia yang benar!"

"Nampaknya lolap terpaksa akan membuka pantangan.   "

”Bagus katamu, jaga dirimu, aku sekarang hendak turun tangan."

Pedang Bulan mas pertahan-lahan digerak-kan, Kak Hui menyambut serangan itu hanya dengan menggunakan lengan jubahnya Kedua pihak mulailah bertarung sengit. Sambil bertempur pemimpin persekutuan Bu lan mas itu berkata

:

"Sahabat,tlidak kusangka kau sudah berhasil melatih ilmu

kekuatan tenaga hawa Ceng kie, ha ha ha ha   "

Dipihakiiya, orang berbaju lila, sementara itu juga dia sudah menyerbu Tong-hong Hui Bun, karena merasa gemas, ia menyerang demikian hebat setiap serangannya ditujukan kebagian jalan darah terpenting badan Tong hong Hui Bun, nampaknya ia telah bertekad hendak membinasakan perempuan cantik, tapi Tong-hong Hui Bun juga bukan seorang lemah ia segera balas menyerang, serangan kedua pihak sama-sama ganasnya dan kejamnya. Pertempuran dua orang inilah yang merupakan pertempuran yang paling seru.

Sementara itu orang tua tiada turunan dan le It Hoan yang berdiri sebagai penonton, telah memusatkan perhatiannya kepada Manusia Agung.

Pertempuran itu meski hanya terdiri dari tiga kelompok, tetapi semuanya merupakan tokoh-tokoh terkuat dalam rimba persilatan, tidaklan heran kalau pertempuran itu merupakan suatu pertempuran sengit yang sudah tidak ada taranya.

Pertempuran itu juga merupakan pertempuran antara kebenaran dan kejahatan.

Baru pertama kali inilah pemimpin persekutuan Bulan mas menunjukkan diri dihadapan umum.

Orang berbaju lila yang nampaknya paiing ganas, ia melakukan serangannya secara nekad ia hanya menyerang tetap tidak perhitungkan penjagaan dirinya, dalam keadaan demikian. tak heran kalau Tong-hong Bui Bun segera terdesak muruur tanpa bisa membalas serangan.

Tiba-tiba seorang berpakaian perlente muncul didalam kalangan, sambil menunjukkan seyumnnya berseri seri orang itu berkata kepada Tong-hong Hui Bun.

"Siaohan, kau mundurlah, biarlah suhumu yang membereskannya

!" Sambil berbicara orang itu menggerakkan tangannya. suatu kepandaian tenaga dalam menghembus keluar memisahkan Tong hong Hui Pun dan Orang berbaju lila yang sedang bertempur setingkat ilmunya.

Orang berbaju lila dengan mata beringas mengawasi orang itu. kemudian berkata dengan suara gemetar!

"Sie mo, kedatanganmu sangat kebetulan, tempat ini akan menjadi kediamanmu untuk selama- lamanya!"

Siu-mo masih tetap dengan wajahnya berseri-seri, katanya dengan sikap menghina:

"Asal kau sanggup melakukan, aku juga senang tempat ini."

Siu-mo itu adalah salah satu dari delapan! iblis negara Thian-tik yang bersama sama dengan Bie-mo, iblis singa, iblis Gajah, diangkat sebagai anggauta pelindung hukum tertinggi persekutuan Bulan mas, kepandaian Siu-mo adalah yang paling tinggi diantara delapan iblis itu, iblis Singa dan iblis Gajah semua binasa di tangan Hui Kiam. Iblis Siu-mo ini meskipun usianya sudah lanjut, tetapi karena mempunyai ilmu menjaga diri, sehingga kelihatannya masih seperti orang berusia empat puluh lebih, ilmu awet muda Tong hong Hui Bun adalah pelajaran dari iblis itu, maka ia bahasakan suhu kepada iblis itu.

Orang berbaju liia telah kehilangan kesempatan membunuh Tong-hong Hui Bun, sehingga ia merasa gemas kepada iblis itu, katanya dengan suara bengis:

"Iblis tua, hari kematianmu sudah tiba!" Siu mo memperdengarkan suara dari hidung lebih dulu ia berkata kepada pemimpin persekutuan Bulan mas.

"Bengcu, kepala gundul itu biarlah tinggal hidup !"

Kemudian ia baru berkata kepada Orang berbaju lila dengan sikap tegang; "Sekarang kau boleh mulai!" Setelah berkata demikian, ia sudah mementang sepuluh jari tangannya, dengan Suatu gerakkan yang sangat aneh ia menyambar orang berbaju lila. Dengan cepat orang berbaju lila menangkis dengan tangan kirinya, tangan kanan menyerang dari samping. Kedua orang itu begitu bergerak, segera melakukan pertempuran mati matian.

Tong-hong Hui Bun rupanya telah yakin bahkan Siu-mo pasti dapat mengambil jiwa orang berbaju lila maka ia geser kakinya menghampiri Hui Kiam dan berkata kepadanya dengan suara nyaring;

”Adik apakah kau tidak sanggup membereskan tua bangka ini?

Perlukah bantuan enci mu? ...“

Hui Kiam merasa tersinggung oleh ucapan itu, sifat sombongnya lalu timbul, tetapi karena pikiran dan semangatnya terpengaruh oleh pengarubnya obat, kekuatannya hanya mencapai kebatas tak lebih tinggi dari biasanya.

„Tidak perlu, dalam waktu tiga jurus aku akan mengambil jiwanya!"

Gerak pedangnya segera dirobah. menyerang lawannya dengan hebat.

Manusia Agung yang sudah merasa berat menghadapi Hui Kiam. kini diserang secara hebat seketika itu sudah terdesak mundur sampai tiga langkah.

Hui Kiam menyusul dengan serangannya jurus kedua.

Wajah Manusia Agung berobah, ia tidak sanggup membendung serangannya itu. terpaksa mundur lagi sampai empat lima langkah.

Keadaan itu mencemaskan Ie It Hoan, dia terpaksa mengeraskan hatinya, siap sedia apa bila perlu dia hendak membantu Manusia Agung.

Pasangan lawan antara pemimpin Bulan mas dengan Kak Hui, nyata pemimpin Bulan masih yang nampak unggul,

Perhatian orang tua tiada turunan kini di tujukan kediri Tong- hong Hui Bun, ia harus waspada serangan menggelap perempuan itu. Siu mo dan orang berbaju lila berimbang kekuatannya, untuk sementara belum diketahui siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Sementara itu Hui Kiam sudah menyusul dengan serangannya jurus ketiga, serangan itu biar bagaimana manusia teragung pasti tidak sanggup menyambutnya.....

Selagi dalam keadaan sangat berbahaya Ie It Hoan mengayun tangannya. . . .

Serentak, pada saat itu tiba tiba terdengar suara seruan nyaring! "Hui Kiam, tahan!'

Seruan itu mengejutkan Hui Kiam, kesempatan iiu digunakan oleh Manusia ter-Agung yang segera lompat menyingkir, seorang wanita berpakaian hijau dan berkerudung melayang turun kehadapau Hui Kiam.

Hui Kiam meskipun sudah hampir hilang ingatannya tetapi karena ditengah perjalanan pernah mendengar perkataan Ie It Hoan. maka begitu melihat wanita berbaju hijau itu segera dapat mengenali sispa orangnya, ia segera menarik kembali serangannya dan berkata: 'Adakah kau Pui-suci?"

Dengan perasaan cemas dan mendongkol Pui Geng Un berkata: "Sutee, apakah kau sudah gila?”

Sementara itu terdengar suaranya Tong-hong Hui Bun kepada Hui Kiam:

"Adik, bunuhlah dia!"

Hui Kiam berpaling, sinar matanya terbentur dengan Tong-hong Hui Bun, seketika itu pikirannya kalut lagi, begitu juga nafsunya membunuh segera timbul.....

Mauusia ter-Agung menggerakkan tongkatnya melancarkan serangan kepada Tong-hong Hui Bun .

Hui Kiam yaog menyaksikan Itu segera mengangkat pedangnya

..... Pui Ceng Un tiba-tiba hatinya tengerak, ia berkata dengau suara cemas :

"Sutee! sutee! aku adaiah Pui-sucimu, apakah kau sudah tidak kenal lagi?"

Pikiran Hui Kiam yang sudah kalut, agaknya terlintas suatu ingatan, dengan sendirinya pedangnya diturunkan kebawah

Manusia ter-Agung melakukan serangan bertubi tubi sehingga Tong hong Hui Bun yang didesak sedemikian rupa sama sekali tak dapat kesempatan untuk membuka mulut.

Pui Ceng Un melanjutkan perkataannya:

"Sutee, dengarlah ucapanku ..." saat itu juga ia sudah berada disamping Hui Kiam.

Sedikit ingatan Hui Kiam tadi agaknya menyadarkan sedikit hati Hui Kiam yang sudah kusut, ia berkata dengan pikiran yang masin bingung:

"Suci, kau harus berlalu dari sini."

”Ya." sahut sang suci, tetapi badannya di geser semakin dekat kepada Hui Kiam.

Tangan Pui Ceng Un meraba sarung pedang dipinggang Hui Kiam lalu berkata:

"Sute apakah ini pedang Thian Thie Sio Kiam peninggalan toasupek."

Hui Kiam menganggukkan kepala seraya berkata: "Suci, kau minggir, tunggu aku membereskan "

Dengan cepat Pui Ceng Un tangannya menotok badan Hui Kiam, hingga seketika itu juga Hui Kiam roboh ditanah.

Sebetulnya Hui Kiam yang mempelajari ilmu silat menurut kitab Thian Gee Po kiu, mengalirnya darah berlainan dengan keadaan biasa, ilmu totokan biasa bagi trya tidak ada gunanya sama sekali, tentang ini diketahui dengar jelas oleh le It Hoan dan orang berbaju lila, sebaliknya dengan Pui Geng Un, ia malah tidak mengetahui sama sekali. Ia mengiira bahwa tindakannya itu sangat cerdik. tetapi ia tidak tahu bahwa perbuatan itu sangat berbahaya, apabila Hui Kiam mengetahui dirinya dibokong, pasti akan melakucan tindakan pembalasan yang menakutkan, tetapi untung selagi ia hendak turun tangan, telinganya mendengar suara aneh yang menunjukkan kepadanya jalan darah mana yang harus ditotoknya itu, maka Hui Kiam lalu roboh

le It Hiari seperti sudah mendapat petunjuk ketika Hui Kiam roboh, dengan cepat segera menyambutnya dan dibawa kabur kedalam rimba.

Orang tua tiada turunan dan Pui Ceng Un segera menyusul.

Tong-hong Hui Bun juga sudah menyaksikan kejadian diluar dugaan itu, tetapi karena diserang hebat oleh manusia ter-Agung. untuk menjaga dirinya sendiri masih sulit, sudah tentu tidak mendapat kesempatan untuk memberikan pertolongannya.

Pada saat ini Kak Hui yang ditekan hebat oleh ilmu pedang pemimpin persekutuun Bulan mas, sudah nampak kewalahan.

Sedangkan dipihaknya Siu-mo dengan orang berbaju lila, juga sudah makin kelihatan siapa yang lebih unggul, orang berbaju lila terus mundur, sedangkan Siu-mo terus mendesak dengan serangannya yang hebat....

Mari kita tengok kepada Ie It hoan yang membawa lari Hui Kiam. tiba disuatu tempat yang sangat tersembunyi ia baru berhenti dan meletakkan Hui Kiam ditanah.

Pui Ceng Un lalu berkaca dengan cemas, "Sekarang bagaimana?"

'Kita harus menunggu kedatangan Orang berbaju lila dahulu, baru mencari pikiran lagi,” berkata Ie It Hoan sambil mengepal- ngepalkan tangannya.

Oreng tua tiada turunan setelah berpikir sejenak lalu berkata : "Biarlah aku yaog menggantikannya!" Sebabis mengucap demikian, orang tua itu lompat melesat dan menghilang.

Pui Ceng Un mengawasi Hui Kiam yang menggeletak ditanah. berkata dengan suara gemetaran.

”Ini benar-berir ada suatu kejadian yang tidak terduga-duga." "Perbuatan perempuan itu, kekejamannya sesungguhnya sudah

tidak ada tandingannya." berkata Ie It Hoan sambit tertawa getir

"Jikalau bukan karena burung kucica yang memberikan firasat kepadaku, ruangan rahasia di bawah sumur itu mungi'n sudah dimusnahkan oleh musuh....aku sudah curiga toako mungkin dibikin hilang pikirannya oleh pengaruh obat beracun, setelah seekor burung kuoica terbang diatas kepalaku, aku segera mendapat firasat bahwa dibelakang toako ada orang yang mengikuti, maka segera aku mencari akal mengajak toako berputaran kedalam rimba ini, disamping itu dengan nada rahasia aku menyarnpaikan kabar kepada orang dalam kamar rahasia, jikalau orang tua tiada turunan lambat setindak saja, jiwaku barangkali sudah melayang dipedang toako. .."

”Ini masih terhitung suatu keberuntungan bagi kita.” "Entah bagaimana keadaan dimedan perternpuran itu?"

"Ada beberapa locianpwe yang menahan orang orang itu, mungkin tidak akan menimbulkan akibat yang membahayakan. "

Tetapi Pui Ceng Un tidak beranggapan demikian, ia berkata: "Susah dikata, kalau hanya dipandang dari sudut kekuatan

bertempur, mungkin kedua pihak berimbang, tetapi andaikata

musuh menggunakan lain akal, kita tidak dapat menduga apa yang akan terjadi selanjutnya."

Ie It Hoan mengangguk anggukkan kepala dan berkata:

"Siaote hanya khawatir Orang tua tiada turunan locianpwee tidak dapat menggantikan kedudukan Orang berbaju lila. karena kepandaian Siu-mo, didalam persekutuan Bulan mas hanya dibawah pemimpinnya seorang saja, kecuali apabila manusia ter-Agung locianpwee berhasil membereskan perempuan jalang itu, mungkin keadaan bisa berobah."

"Tetapi bagaimana apabila musuh masih ada bala bantuan lagi?" "Kalau begitu hari ini merupakan pertempuran besar antara

gotongan kebenaran dan golongan kejahatan."

Sekarang hanya mengharap supaya orang berbaju lila dengan cepat memulihkan kembali keadan Hui sutee karena kecuali dia, sudah tidak ada orang lagi yang dapat mengimbangi kepandaian pemimpin Bulan mas. "

"Ya !"

"O Ya' Adik Hoan, kau katakan anak perempuan toasupek Cui Wan Tin dengan Hui sute."

"Kasihan gadis itu, aku jupa tidak tahu apakah toako nanti tak akan mengecewakannya?"

"Kalau ia berani, akulah orang pertama yang tidak akan mengampuni kesalahannya.”

"Enci Cui berdiam seorang diri didalam makam pedang itu, katanya karena ingin mendampingi arwah ibunya”

Mata Pui Ceng Un nampak suram, ia menundukkan kepala, ucapan pemuda itu telah membangkitkan perasaan sedih terhadap nasibnya sendiri.

Ie It Hoan segera mengetahui gelagat itu, ia mengalihkan pembicaraannya kesoal lain.

"Pos-pos penjagaan kita yang dirusak oleb musuh tidak kurang dari sepuluh tempat."

”Pemimpin persekutuan Bulan mas itu turun tangan sendiri. maksudnya sudah tentu hendak menggunakan tenaga Hui sutee, untuk menumpas bahaya yang mengancam kepada dirinya.”

Sekarang kita balik lagi kepada orang tua tiada turunan, ketika orang tua itu tiba dimedan pertempuran, terjadilah suatu perobaban sangat besar. Kak Hui dengan baju penuh darah berdiri disamping, sudah terang ia telah terluka ditangan pemimpin persekutuan Bulan mas.

Siu mo dan orang berbaju lila, masih bertempur mati-matian tetapi orang berbaju lila nampaknya sudah kehabisan tenaga, sedikitpun sudah tidak bisa melakukan serangan pembalasan sedangkan dipihaknya Siu-mo kelihatannya masih garang.

Sementara itu Manusia ter-Agung sudah berhasil menundukan Tong hong Hui Bun.

Pemimpin persekutuan Bulan mas berdiri berhadapan dengan Manusia ter Agung, mata nya memancarkan sinar beringas yang sangat menakutkan.

Orang tua tiada turunan ketika menyaksikan keadaan demikian, dianggapnya itulah merupakan suatu kesempatan baik untuk menggantikan orang berbaju lila. Ia segera geser kakinya berjalan menghampirinya ....

Saat itu tiba tiba terdengar suara bentakan pemimpin Bulan mas: "'lepaskan dia!'

'Apakah tuan sanggup dia tidak seharusnya dibunuh mati?' Jawab Manusia Ter Agung dingin

”Jikalau kau berani mengganggu seujung rambutnya saja, aku nanti akan membunuh seribu orang sebagai gantinya” Berkata pemimpin Bulan mas sambil menggerak-gerakan pedangnya.

Ancaman pemimpin itu kedengarannya sangat seram sekali, sehingga membikin berdiri bulu roma bagi siapa yang mendengarkannya.

Pada saat itu dimedan pertempuran terdengar suara jeritan yang mengerikan Siu-mo menekap mukanya dengan kedua tangannya, darah mengalir keluar dari sela sela jari tangannya.

Orang berbaju lila agaknya digetarkan hati nya oleh hasil dari serangannya, badannya nampak gemetar, sementara itu semua orang yang ada disitu, satupun tidak tau dengan secara bagaimana ia yang semula terdesak telah berhasil melukai lawannya. 'Mataku' mataku......"Demikian terdengar suara jeritan Siu-mo yang mengerikan

Ketika Siu-mo menurunkan tangannya diwajahnya tertampak dua lobang yang berlumuran darah, kedua matanya sudah rusak seluruhnya.

Serangan yang digunakan oleh Orang berbaju lila, adalah gerak tipu jari tangan yang dapat dicurinya dari kitab pelajaran ilmu silat Tee-horig, hari itu untuk pertama kalinya ia gunakan, ia juga tak menyangka membawa hasil memuaskan, sehingga satu iblis yang sudah lama malang melintaag melakukan kejahatan telah roboh ditanah.

Pemimpin persekutuan Bulan mas memperdengarkan suara geraman hebat ia menyerbu Orang berbaju lila.

Orang berbaJu lila yang telah bertempur sengit sekian lamanya dengan Iblis Siu-mo, kekuatan tenaganya sudah terhambur tak sedikit. sudah tentu tidak sanggup melawan lagi, maka sewaktu hembusan angin yang keluar dari pedung pemimpin persekutuan Bulan mas menyambarnva, ia sudah mundur terhuyung-huyung sejauh hampir sepuluh langkah.

Orang tua tiada turunan melancarkan serangan tangan kosong dari samping, hingga memaksa pemimpin persekutuan Bulan mas merobah serangannya, ia kini ditujukan serangannya itu kepada orang tua tiada turunan. Menghadapi serangan hebat orang tua tiada turunan terpaksa mundur.

Pemimpin persekutuan Bulan mas setelah mendesak mundur Orang tua tiada turunan badannya memutar bagaikan titiran, pedang ditangan kanannya melancarkan serangan hebat sehingga Orang berbaju lila terpaksa lompat kesamping hampir serentak pada saat itu, tangan kirnya menyambar dengan cepat.

Terdengar seruan tertahan, tangan Orang berbaju lila sudah terpegang oleh pemimpin persekutuan Bulan mas.

Kak Hui dan Orang tua tiada turunan lompat melesat bersama . .

, , . "Jangan bergerakl" demikian pemimpin Bulan mas berseru, ujung pedang diletakkan atas-leher Orang beibaju lila.

Kak Hui dan orang tua tiada turunan terpaksa membatalkan maksudnya menyerang pernimpin persekutuan Bulan mas;

Iblis Siu-mo berkata dengan suara keras:

'"Beng-nu, aku hendak. . . membalas dendam ini dengan tanganku sendiri.'

Belum lagi pemimpin persekutuan Bulan mas membuka mulut.

Manusia ter-Agung berkata dengan nada suara dingin:

"Sahabat, ular berbisa ini belum terlepas dari ancaman tanganku."

Setelah mengucap demikian ia gelandang dirinya Tong-hong Hui Bun.

Pemimpin persekutuan Bulan mas hanya dapat menyaksikan dengan mata melotot

Pada saat itu, seandai Kak Hui dan Orang tua tiada turunan hendak menghabiskan jiws Iblis Siu-mo, sebenarnya sangat mudah sekali.

Tetapi kedua orang tua itu masing-masing menghargai dirinya sendiri sudah tentu tidak suka melakukan perbuatan yang sangat merendahkan martabat itu.

Manusia teragung berkata pula : "Sahabat, hari ini kedua fihak jangan bertindak apa apa, kita tukar tawanan bagaimana!"

Biji mata pemimpin bulan mas berputaran, katanya dengan suara bengis:

"Ini enak saja bagi kalian   "

"Sama-sama! ' sahut manusia Teragung sambil tertawa terbahak- bahak.

Lama pemimpin persekutuan Bulan mas itu berpikir, akhirnya ia berkata: "Kau lepaskan!"

Dengan tanpa ragu ragu Manusia Teragung membebaskan Tong- hong Hui Bun. kemudian berkata:

"Sahabat, sebagai laki-laki kau harus bisa menepati janjimu!”

Pemimpin Bulan mas juga rnelepaskan tangannya Orang berbaju lila dengan sikap murung berjalan sambil menundukan kepala sementara itu Tong-hong Hui Bun juga balik kepada ayahnya.

Orang berbaju lila baru berjalan kira sepuluh langkah, badannya terhuyung huyung dan kemudian roboh ditanah.

Kak Hui dan orang Tua tiada turunan berseru dengan serentak wajih mereka berubah Orang tua tiada turunan segera menghampiri dan membimbing bangun Orang berbaju lila, yang saat itu matanya sudah guram badannya gemetar.

Kak Hui segera membentak dengan suara keras:

"Sahabat, kau ternyata sedemikian rendah. Lolap sangat menyesal atas perbuatanmu itu!”

Pemimpin persekutuan Bulan mas itu memperdengarkan suara ketawanya yang mengejek kemudian berkata:

"Rendah atau tidak tiada berarti apa apa aku sudah tidak dapat membiarkan ia hidup sampai lebih lama lagi didunia! Nah nanti ketemu lagi !"

Setelah berkata demikian tangannya menarik iblis Siu mo yang sulah menjadi buta bersama-sama anaknya bertiga meninggalkan rimba tersebut.

Menghadap keadaan Orang berbaju lila. hanya Manusia teragung seorang yang tenang-tenang saja sejak tadi ia tidak pernah membuka mulut.

Orang tua tiada turunan segera menegurnva "Apakah pertukaran tawanan itu diakhiri begini saja ?"

"Tunggu sija mereka pasti segera kembali' Jawab Manusia Teragung tenang. ”Apa Sicu kau.    " berkata Kak Hui dengan alis berdiri.

"Tay-hwee-shio indah yang dinamakan tahu keadaan sendiri juga tahu keadaan musuh, aku sudah menduga ia pasti akan berbuat demikian'

Baru saja menutup mulutnya, benar saja segera melihat tindakan pemimpin Bulan mas yang lari balik sambil memondong anaknya, kemudian dengan mata mendelik berkata kepada Manusia Teragung.

”Orang she Teng, sungguh berani mati kau berani main gila dihadapanku!"

"Sama-sama!" jawab Manusia tetagung acuh tak acuh. "Kau. sebetulnya perlakukan dirinya bagaimana?"

”Dan kau sendiri? Apakah yang telah kau perbuat dengannya?" "Totok perbatasan antara jalan darah Im dan Yang."

"ha, ha, ha, kau sungguh cerdik dengan tindakan memutuskan kedua jalan darah ini akan mengakibatkan orang kehilangan kekuatan tenaga murninya.”

Kak Hui pada saat itu sudah berada dihadapan Orang berbaju lila, ia menotok tiga kali dengan beruntun, Orang berbaju lila itu menarik napas panjang, kemudian melompat bangun.

Manusia teragung berkata sambil tertawa terbahak babak, ”Bengcu, apakah kau sudah pernah rnendengar permainan

menguasai jalan darah dalam waktu tertentu!" "Kau. ..,.."

"Nah, siiabkan diulang. Dalam waktu tak lama lagi,„tanpa kau buka totokan jalan darat itu akan terbebas sendirinya.”

Pemimpin Bulan mas itu membanting-banting kakinya lalu berlalu dengan cepatnya.

Orang berbaju lila lalu berkata dengan cemas: "Bagairnaoa dengan anak itu " "Ia berada didalam rimba itu untuk menantikan pertolonganmu, mari ikut aku." berkata Orang tua tiada turunan.

Orang berbaju lila dengan sikapnya menghormat berkata kepada Manusia ter Agung dan Kak Hui:

"Harap kedua locianpwee balik dulu kekamar rahasia untuk beristirahat.''

Setelah berkata demikian ia lalu mengikuti Orang tua tiada turunan lari kedalam rimba.

'Tidak lama kemudian mereka sudah tiba dimana Hui Kiam telah rebah terlentang, kedatangan mereka segera disambar oleh Pui Ceng Un dan le It Hoan, mereka meskipun masing masing tidak membuka mulut, tetapi perasaan hatinya sudah tampak tegas dalam sinar mata masing-masing.

Orang berbaju lila segera memeriksa keadaan Hui Kiam, kemudian ia berkata sambil menggertak gigi:

"Dugaanku ternyata tidak meleset bocah ini telah dikendalikan oleh pengaruhnya obat Bwe sin-wan dan long sin-tan, dua macam obat sangat berbisa yang hasiatnya menghilangkan semangat dan ingatan serta membuat orang yang makannya menjadi buas. Untung bocah ini mempunyai dasar yang sudah kokoh dan sempurna, jikalau tidak, ia sudah berubah menjadi seorang bangkai hidup yang tiada gunanya, hmm ini kalau bukannya nona Pui yang menggunakan akal cerdik telah menundukkannya, sungguh tidak tahu bagaimana akibatnya," 

Pui Ceng Un berkata:

'"Entah siapa yang memberikan petunjuk dengan suara kedalam telinga supaya aku menotok jalan darah sampingnya, jikalau tidak, mungkin aku sendiri yang akan menjadi korban pertama. '

'Orang itu adalah suhu,' berkata Ie It JHoan dengan suara datar. "Suhumu sebetulnya siapa? Mengapa hingga saat ini belum mau

menunjukkan muka?" Bertanya Pui Ceng Un.

Ie It Hoan mengunjukkan sikap tidak berdaya, lalu berkata: "Enci Un pada dewasa ini masih belum waktunya untuk kuberitahukan!”

Sementara itu orang tua tiada turunan dengan hati gelisah berkata kepada Orang berbaju lila.

''Bagaimana,dapatkah kau merjolongnya?"'

Orang berbaju lila tidak menjawab, badannya gemetar. Pui Ceng Un merasa sedih ia bertanya dengan suara duka: "Apakah sudah tidak dapat ditolong?"

Orang berbaju lila menganggukkan kepala masih tetap tak membuka mulut,, Ie It hoan dan Pui Ceng Un bertanya dengan berbareng;

"Apa, sudah tidak tertolong lagi?'

---ooo0dw0ooo---