Pedang Pembunuh Naga Jilid 29

Jilid 29

HUI KIAM menganggukan kepala, ia duduk disebuah kursi dalam ruangan tamu itu. Belum berapa lama, seoraug padri wanita muda itu, hatinya terperanjat paras padri wanita itu agaknya pernah melibatnya, tetapi ia sudah tak ingat lagi dimana pernah bertemu.

Padri wanita yang masih muda itu mempunyai potongan raut muka yang cantik sekali, berada didalam kuil itu seolah-olah pelayannya dewi Koan-im yang menjelma ke dunia.

Padri perempuao muda itu meletakkan cawan tehnya, kemudian mengundurkan diri, parasnya tidak mengunjukkan perubahan sikap apa-apa.

Hui Kiam berpaling lagi mengawasi Hoan ceng yang duduk dihadapannya, kemudian bertanya:

"Apakah Suthay ketua kuil ini?" "Benar'!"

”Oleh karena aku masih ada urusan penting yang perlu segera diurus, tidak bisa berdiam lama-lama, harap Suthay suka segera memberi keterangan seperti apa yang Sathay janjikan."

Paderi wanita itu mengangkat cawannya dan berkata:

"Sicu minum teh dulu, ini adalah teh wangi keluaran dari daerah ini yang namanya sudah lama terkenal, meskipun bukan barang berharga tetapi juga bukan sembarang teh.”

Hui Kiam terpaksa bersabar, ia minum teh nya, bau harum dari teh itu dirasakan menusuk hidungnya, teh itu berwarna hijau, nampaknya memang benar bukan teh sembarangan air teh, itu membawa rasa segar dalam tenggorokkannya sehingga ia perlu mengeluarkan pujian: "Sesungguhnya teh ini enak sekali!"

Hoan-ceng menyalakan dupa diatas mejanya asap dupa itu mengeluarkan bau harum sehingga sebentar saja bau harum itu sudah memenuhi ruangan tamu tersebut.

Hui Kiam setelah minum tehnya berkata: "Tadi suthay berkata bahwa   maksud   mengajak   aku kemari adalah hendak memberitahukan jejak Pek-leng-lie? " ia menjawabnya tenang.

Sikap tenang padri wanita itu menimbulkan rupa-rupa dugaan dalam hati Hui Kiam. Tetapi sebagai orang yang berkepandaian tinggi dan keberanian besar, ia tak merasa takut, lalu melanjutkan pertanyaannya: "Mengapa suthay mengetahui aku nginap dirumah penginapan itu?”

”Pinnie tadi sudah berkata bahwa inilah yang dinamakan jodoh, kita bertemu secara tak terduga duga."

"Ini sesungguhnya sangat aneh ..." "Pinnie juga mempunyai kesan demikian!

"Suthay mengajakku datang kemari, apakah semata-mata hanya hendak memberi tahu jejak Pek-leng lie saja?"

"Benar."

"Tetapi bagaimana suthay tahu kalau aku sedang mencari jejak Pek-leng lie?"

"Karena apa yang sicu lakukan digereja siao liem-sie itu sudah tersiar luas dikalangan Kang ouw."

"Oh, suthay hendak memberi tahukan kabar itu pasti ada sebabnya?"

"Sebabnya sudah tentu ada!"

"Bolehkah aku bertanya apa sebabnya?"

Paras Hoanceng-segera berubah menjadi dingin jawabnya: "Benarkah sicu pernah menabas kutung lengan tangan Hiat-ie

Niocu?" "Ya!"

”Tahukah sicu hubungan Hiat ie Nio cu dengan Pak leng lie?" ”Tahu, mereka berdua adalah ibu dengan anak!"

Hoan-ceng kembali tersenyum yang susah di duga orang apa maksudnya, kemudian berkata:

"Ada urusan apa sicu mencari Pek-leng-lie?"

Sejenak Hui Kiam nampak ragu ragu, kemudian berkata: "Untuk mencari keterangan tentang peristiwa yang lama!" ”Peristiwa lama! Peristiwa apakah itu?"

"Tentang ini maaf aku tidak dapat memberiiahusannya."

”Tetapi sicu tokh ingin mengetahui jejak Pek leng-lie dari mulut pinnie?"

"Itu adalah suthay sendiri yang mencari aku." "Itu memang betul ”

”Suthay dengan aku satu sama lain masih belum saling kenal mengenal, suthay hendak memberitahukan jejak Pek leng-lie, pasti ada sebabnya?"'

”Apakah yang sicu maksudkan dengan perkataan itu?” "Andaikata, tujuan ataukah ancaman syarat ataukah lainnya . . .

."

"Sicu sungguh cerdik, sudah dapat memikirkan sampai disitu,

tujuan dan syarat kedua-duanya memang ada." ”Bolehkah suthay memberi sedikit keterangan?" Hoan ceng berpikir sejenak, kemudian berkata;

'"Lebih dulu kita bicarakan soal syarat, itu adalah suara pikiran yang baru saja timbul dari hati pinnie, harap sicu terangkan dulu apa sebabnya sicu mencari Pek-leng lit?” Hui Kiam merasa sulit, ini adalah suatu rahasia yang sangat penting, seandainya padri wanita itu mempunyai maksud tertentu, akan membawa akibat sangat luas, maka setelah berpikir ia lalu berkata sambil mengerutkan keningnya;

”Pertanyaan suthay dalam urusan ini apakah tertarik oleh perasaan heran, ataukah. ,"

”Anggaplah begitu." "Bolehkah kiranya "

"Sicu jangan lupa bahwa ini merupakan syarat mutlak."

Hui Kiam menarik napas, nampaknya tidak boleh tidak ia harus menerangkan juga, maka akhirnya ia berkata:

"Pada sepuluh tahun berselang ada seorang yang binasa karena senjata rahasia tusuk konde mas berkepala burung Hong, dan senjata rahasia ini, kabarrya miliknya Pek-leng-lie."

Paras Hoan-ceng menunjuksan sedikit perobahan, katanya: ”Siapakah yang binasa karena senjata itu?”

"Ibuku almarhum!"

"Siapakah ibu almarhum sicu itu?" "Yok sok Sian-cu Hui-un Kheng !”

Hoan ceng tiba-tiba bangkit, ia berkata dengan suara gemetar:

"Apa? Sicu adakah anak laki laki To-long Kiam Khek Su-ma Suan?”

Hui Kiam terperanjat, ia sungguh tidak menduga bahwa padri wanita itu dapat menyebut nama ayahnya, maka ia juga bangkit dan berkata :

"Apakah suthay kenal dengan ayah ibu almarhum ?" "Sicu,,...berkata ayah bibi almarhum apakah Su-ma Suan juga

sudah meningnggal”

"Ya !" "Meninggal dengan cara bagaimana?"

"Terbinasa bersama sama seorang perempuan yang menamakan diri Penghuni loteng merah karena perbuatan Orang berbaju lila."

Paras Boan ceng berubah, badannya gemetar matanya terus menatap wajah Hui Kiam,

Sikap demikian sangat mengherankan Hui Kiam, apakah sebetulnya hubungan padri wanita itu dengan ayahnya? Nampaknya padri wanita ini bukan saja telah mengena! ayah bundanya tetapi mungkin masih terjalin hubungan apa apa didalamnya.

Hoan ceng agaknya berusaha mengendalikan perasaannya, diwajahnya beberapa kali telah berubah, nampaknya mengandung kebencian tetapi juga kedukaan, akhirnya kedua matanya memancarkan sitiar kebencian yang meluap luap, ia berkata sambil mengatupkan gigi

'Bagaimana macamnya Orang berbaju lila itu?

"Tidak tahu, ia adalah seorang, yang selalu berpakaian warna lila, dan memakai kerudung berwarna lila juga,"

”Apakah kau ingin menuntut balas dendam kepadanya?" "Sudah tentu"

"Tadi kau berkata bahwa Yok-sok Sian cu terbunuh karena senjata rahasianya tusuk konde mas itu."

"Apakah kau anggap pasti itu adalah perbuatan Pek leng-lie?' "Itulah yang aku perlu selidiki sendiri."

"Hem!"

"Suthay dengan ibu almarhum dahulu."

"Kita jangan bicarakan soal ini dulu jika kau ingin tahu maksud dan tujuan pinni mencari kau untuk memberi keterangan soal ini.”

Hui Kiam yang benar-benar tidak mengerti maksud yang dikandung dalam hati Paderi wanita itu, maka ketika mendengar perkataan itu, ia segera menjawabrya: "Sudah tentu aku ingin tahu." “Duduklah”

Dengan perasaan heran Hui Kiam mengawasi paderi wanita itu, akhirnya ia duduk di atas kursi singa itu”

Hoan ceng menambah dupa dalam pendupaan asap yang sudah mulai buyar kini mengepul lagi.

Hui Kiam merasakan badannya agak letih dalam hati merasa heran, karena sekarang ia merasa lelah karena habis melakukan perjalanan jauh tetapi dengan kepandaian dan kekuatannya pada saat itu, tidak akan timbul perasaan demikian . . . , .

Hoan-ceng berkata sambil menuding pedang dipinggang Hui Kiam.

"Apakah pedang itu pedang Thian Khie Le Kiam yang menggemparkan itu.?”

Hui Kiam diam-diam lalu berpikir. mungkin inilah tujuan padri wanita itu.

Dengan seketika ia menjawabnya dengan nada suara dingin: ”Benar, ini adalah pedang sakti Thian Khie se Kiam!”

”Apakah dengan sicu menabas buntung lengan tangan Hiat le Nio-cu?”

”Betul,"

”Kalau begitu dengarlah dengan pedang ini untuk membereskan perhitungan, inilah maksud dari tujuan pinnie!"

Hui Kiam bangkit, sepasang matanya melotot dengan nada suara dingin ia lalu berkata;

"Apakah suthay hendak menuntut balas terhadap aku atas perbuatanku yang menabas buntung lengan tangan Hiat-ie Nin-cu!"

”Sedikitpun tidak salah!” ”Dengan cara bagaimana?” ”Aku minta kau bayar hutang itu ditambah dengan bunganya, kutungilah kedua lenganmu?”

”Apakah suthay kira suthay sanggup melakukan perbuatan ini?” ”Sudah tentu!”

”Kalau begitu apa yang kau katakan tentang Pek leng-lie itu, hanya merupakan omonganmu kosong melompong belaka!”

”Bukan kosong!” ”Kalau begitu. . ” ”Kau. siapa?”

”Pinnie adalah perempuan yang pada sepuluh tahun berselang disebut Pek Leng-lie Khong Yang Hong itu.”

Sekujur badan Hui Kiam dirasakan gemetar ini adalah suatu kejadian yang sama sekali tidak pernah diduganya......

Hoan ceng berkata pula: "Kau tentunya tidak menduga bukan?"

Hui Kiam teringat Kematian ibunya yang menyedihkan dan pesannya yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah terhapus dari dalam otaknya, rnaka sesaat itu meluaplah napsunya membunuh, wajahnya menunjukkan sikapnya yang dingin dan kaku lagi, dengan suara dingin ia menjawab:

"Memang benar aku tidak menduganya."

"Mengapa kau tidak memakai she Su-ma sebaliknya memakai she Hiu ?"

”Ini bukan urusanmu, aku hanya ingin bertanya kepadamu apakah kau yang membunuh mati ibuku?"

"Bukan."

"Kau rupanya hendak menyangkal?” "Tidak perlu aku menyangkal” "Dari dalam sakunya Hui Kiam mengeluarkan tusuk konde mas berkepala burung Hong ia mengunjukkan benda itu kepada Hong- ceng seraya beikata dengan suara bengis:

"Apakah ini milikmu?' "'Memang betul!"

"Mengapa kau tidak berani mengakui perbuatanmu sendiri?" ”Sebab aku belum pernah melakukan perbuatan itu.”

”Dan bagaimana halnya tentang tusuk konde mas ini?”

”Tentang ini pinnie harus memberitahukan kepadamu dengarlah, pada lima belas tahun berselang, ada kakak beradik dalam satu penguruan dengan serentak jatuh cinta kepada seorang pria. tetapi satu sama lain tidak mengetahui kalau masing-masing jatuh cinta kepada diri satu orang dan lelaki itu bergaul diantara kedua kakak beradik dalam sepenguruan itu, dengan senangnya, tetapi rahasia itu akhirnya diketahui oleh perempuan yang rrenjadi suci nya. oleh karena sifat lelaki itu yang memang romantis, lelaki itu bukan saja beristri, tetapi juga dengan bersamaan pula ia mempermainkan hati kedua gadis yang masih putih bersih sang suci itu, dalam keadaan murka pengi bertanya kepada lelaKi itu, keduanya semula ribut mulut kemudian mengadu kekuatan, perbuatan lelaki itu meskipun rendah, tetapi hati nya tidak jahat, diwaktu bertempur segan menurunkan tangan kejam."

Berkata sampai disitu paderi wanita itu berdiam, seolah-olah sedang mengumpulkan kembali ingatannya, setelah berdiam cukup lama, ia berkata:

"Kepandaian lelaki itu memang berimbang dengan kepandaian sang suci itu, dengan demikian, dia telah salah hitung, sang suci itu dalam keadaan murka sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, maka akhirnya terluka parah, sang suci itu dalam hati sebenarnya masih cinta kepada lelaki itu, maka ia merasa menyesal atas perbuatannya sendiri, kejadian itu telah diketahui oleh sang Sumoy, karena ia sendiri tidak berhasil untuk melepaskan diri dari jaring asmara, cintanya yang sudah sangat mendalam terhadap lelaki itu, maka akhirnya bukan saja sudah memaafkan perbuatan lelaki itu, bahkan untuk menyembuhkan lukanya, ia perlu pengi sendiri kekuil Siao lim sie, untuk meminta obat pel Tay-boan tan.”

"Oh !"

Hui Kiam sudah tahu apa yang diceritakan itu maka ia mendengarkan dengan sabar.

Dengan rada suara penuh rasa gemas Hoan ceng melanjutkan ceritanya.

"Untuk mendapatkan pel yang sangat mujarab itu, perempuan yang menjadi sumoy itu, hampir saja binasa didalam kuil Siao-lim sie. tetapi akhirnya tercapailah juga maksudnya, dan lelaki itu setelah sembuh dari lukanya. bukan saja tidak menyatakan terima kasihnya kepada sang sumoy, sebaliknya memberikan selluruh cintanya kepada Sang suci, perobahan sikap yang terjadi diluar dugaan itu telah membuat patah hati sang sumoy sehingga akhirnya sang sumoy itu mencucikan diri!"

Hui Kiam untuk sesaat lamanya tidak tahu bagaimana harus membuka mulut, sebab lelaki itu adanya ayahnya sendiri, sedangkan perrempuan yang menjadi suci itu sudah tentu yang dimaksudkan adalah penghuni loteng merah itu. sedangkan yang menjadi sumoy sudah tentu adalah Hoan-ceng.

Akan tetapi dalam penuturan Hoan ceng tidak pernah menyebut tentang tusuk Konde mas itu, oleh karena tusuk konde mas itu telah mengakibatkan kematian ibunya, sudah tentu Hui Kiam tidak bisa melepaskan begitu saja.

Dengan nada suara penuh amarah Hon ceng berkata pula. "Sudah sepuluh tahun lebih pinnie mencucikan diri, hati pinnie

sebetulnya sudah tenang jernih bagaikan air danau, kau telah

melukai ibuku, disamping itu juga membangkitkan kebencian terhadap Su-ma Siiau!'

"Orang yaog kau benci semua sudah tidak ada didalam dunia lagi

! " ”Sekarang pinnie sudah terjerumus lagi kedalam kedosaan dalam hidupku ini sudah tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. . .”

Suara paderi wanita yang kedengarannya sangat menakutkan itu, membuat hati Hui Kiam menggigil.

Dari penuturan paderi wanita itu, Hui Kiam dapat membayangkan potongan muka ayahnya dimasa muda, karena mempunyai potongan muka yang tampan, dan berkepandaian tinggi, dimana mana ada kekasihnya, tetapi ternyata berperasaan sangat tipis sehingga menimbulkan banyak kericuhan dalam asmaranya.

Hoan-ceng berkata dengan suara bengis: ”Aku benci kepadanya untuk selama lamanya!”

Kata-kata dan sikap padri wanita itu sudah bukan merupakan seorang yang mencucikan diri.

Hui Kiam tidak ingin menyaksikan keadaan demikian itu. berlangsung terus maka ia mengalihkan pertanyaan kelain soal tusuk konde.

"Suthay belum menyebutkan tusuk konde mas berkepala burung Hong itu "

"Tusuk konde mas itu adalah barangku yang Kuberikan kepada Su-ma Suan sebagai tanda mata yang selama iiu belum kuminta kembali hanya itu saja keteranganku tentang tusuk konde.”

Hati Hui Kiam tengoncang hebat, apakah orang yang membunuh ibunya itu adatah ayahnya sendiri? Rasanya ini tidak mungkin? Didalam dunia dimana ada makhluk manusia berhati srigala yang demikian rupa buasnya? Apa lagi diwaktu hendak menutup mata sang ibu Itu sempat mengucapkan perkataan iblis wanita, tusuk konde mas.....

”Apakah suthay dalam hal ini hendak cuci tangan begitu saja?" "Penggali makam aku tidak perlu cuci tangan lagi kau sudah

masuk perangkap tidak perlu aku berbuat demikian” ”Aku tidak percayai” 'Kalau begitu kau tanyalah sendiri kepada ayalmu yang berada dalam tanah!"

”Hoan ceng kau dapat membuktikan ?"

”Ucapan seorang yang sudah mencucikan diri sudah cukup dianggap sebagai bukti”

”Tiada guna kau menyangkal!” "Kau mau apa?"

'Aku akan membunuhmu untuk membalas dendam saku hati ibu!"

"Kaku begitu bau boleh coba turun tangan!”

Hui Kiam yang sudah meluap marahnya segera menghunus pedang saktinya dan berkata suara gemetar:

"Kalau aku sudah turun tangan kau sudah tidak mendapat kesempatan lagi!"

Hoan ceng mendengarkan suara dari hidung katanya dengan suara mengejek

"Kau coba saja!”

H»i Kiam maju selangkah, ia mengangkat pedangnya, seketika itu ia baru mengetahui bahwa kedua tangannya tidak bertenaga kekuatan tenaga dalamnya sedikitpun tidak ada, ia merasa terkejut dan segera mengerti bahwa dirinya sudah terjebak dalam tangan wanita itu, maka segera berkata dengan suara bengis,

"Hoan ceng kau telah menggunakan suatu akal yang sangat memalukan .”

”Penggali makam memalukan atau tidak aku sudah tidak hiraukan lagi. maksudku hanya menagih hutang kepadamu, teh yang kau minum tadi didalanmya kucampuri obat yang bisa memunahkao kepandaianmu. sedangkan asap dupa ini adalah asap dupa menyabut nyawa yang sangat terkenal itu, Sekarang, kau sedialah membayar hutangmu! Tetapi, ada suatu hal perlu aku menerangkan, orang yang membinasakan ibumu bukanlah aku, apa yang aku ceritakan tadi semua adalah benar."

Hui Kiam mau tidak mau harus percaya, memang benar, tidak ada perlunya Hoan ceng harus membohong atau menyangkal. Karena dirinya pada saat itu sudah tidak dapat lolos dari tangan padri wanita itu..

Pada suat itu tiba-tiba muncul bayangan seseorang.

Ketika Hui Kiam nampak siapa adanya bayangan orang itu, semangatnya dirasakan seperti terbang, dengan badan sempoyongan kakinya menendang sebuah kursi dan ia sendiri juga hampir roboh, hawa dingin yang luar biasa dirasakan disekujur badannya.

Bayangan orang yang baru muncul itu bukan lain daripada Hiat-ie Niocu yang sudah terkutung lengan tangan kirinya, Dengan munculnya hantu wanita itu, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hiat-ie Nio cu menunjukkan parasnya yang bengis dan menakutkan muka itu tidak dapat dilupakan selama lamanya.

"Bocah aku sudah berkata, bahwa dendam sakit hati itu aku hendak menuntutnya, kau tentunya masih belum lupa bukan?" demikian hantu wanita itu berkata.

Hui Kiam menggertakan gigi tidak menjawab. Hari itu sewaktu terjadi peristiwa dikuil Siao lim-sie, kaiena Hui Kiam mengingat kedatangnya, dan mengingat pula hubungan luar biasa antara ayahnya dengan penghuni loteng merah, dan karena mengingat penghuni loteng mtran itu adalah mund hantu wanita itu hari itu sudah binasa didalam gereja Siao liem-sie. Selain dari pada itu, hari itu apabila ia tidak datang kegereja Siao liem sie, hantu waniita itu juga sudah pasti binasa ditangan iblis Gajah. Dan sekarang, semua tidak ada gunanya maka ia menganggap tidak perlu membuka mulut.

Hiat ie Nio cu berkata pula: "Mengingat perbuatanmu yang sudah membantu aku didalam gereja Siao liem-sie itu hari ini aku tidak akan mengambil jiwamu, aku hanya hendak menguntung! kedua lengan tanganmu tunailah sudah hutangmu!”

'Hiat ie-Nio cu, hari itu dalam kuil Siao-liem sie aku seharusnya membunuh mati diri mu ."

"Apa kau menyesal?"

"Aku telah mengabaikan pepatah kuno bahwa menumpas kejahatan harus sampai diakar akarnya .”

"Tetapi sekarang sudah terlambat."

Setelah berkata demikian hantu wanita itu berjalan mendekati Hui kiam.

Hui Kiam pada saat itu sekujur badannya sudah lemah, kekuatan tenaga untuk membela diri saja juga sudah tidak ada, maka ia hanya menunggu kematiannya tanpa dapat berbuat apa apa.

Tiba tiba dari kuil terdengar suara jeritan melengking, Hiat ie Nio cu dan Hoan ceng terperanjat, mereka saling berpandangan sejenak seolah oiah saling menanya apa sebetulnya telah terjadi?

Sesosok bayangaa orang muncul dengan tiba-tiba dan berkata dengan suara ketakutan: "Orang berbaju lila!"

Hiat-ie Nio cu bertanya dengan suara keras "'Apakah orang berbaju     lila     yang     mencela'kakan      suhumu      itu?' "Benar!'

"Dimana?"

'Dalam rimba pohon bunga cho itu. kedatangannya itu agaknya tidak disengaja ia tak tahu sucow berada disini, tetapi ia sudah melihat cucu mundmu ini "

Hiat-ie Nio cu lalu berkata kepada Hoan ceng:

"Hong-jie, mari kita pengi, kita tak dapat melepaskannya begitu saja harus menuntut balas sakit hati sucimu.'* Ibu dan anak itu lalu lari keluar dari kuil Hui Kiam sudah melihat dengan tegas bahwa orang yang datang menyampaikan kabar itu adalah Siu Bie, murid kepala penghuni loteng merah, selagi dalam hatinya merasa heran mengapa orang berbaju lila itu bisa dacang kemari. Siu Bie sudah berada didekatnya dan berkata dengan tengesa-gesa:

"Siang-kong, mengingat hubungan suhu almarhum dengan ayah Siang-kong, aku tidak boleh tidak menempuh bahaya ini, kau lari dari pintu sudut kiri pendopo. disana ada orang yang akan menantikan kedatanganmu, aku takut sucow nanti curiga, maka aku harus menyusulnya!"

Setelah berkata demikian ia buru-buru lari keluar.

Hui Kiam sudah tidak sempat memikirkan soal lainnya, dengan cepat ia keluar dari ruangan itu, dan lari menuju kepintu yang ditunjuk oleh Siu Bie.

Setelah keluar dari pintu itu, disitu terdapat satu pekarangan kecil, dibelakangnya lagi adalah pagar tembok, selagi berada dalam ke sangsian, sesosok bayangan orang muncul tiba

Tiba dihadapanrya yang ternyata adalah paderi wanita muda yang menyuguh teh kepadanya, saat itu padri wanita itu menundukkan roman gugup dan perasaan tegang.

"Apakah Hui-siaohiap masih ingat diri sianni?" 'Kau. ... adalah...

"Kakekku adalah Sam Goan lojin.'"

"Ah! Nona adalah nona Tan-hiang Kun, pantas aku tadi merasa seperti pernah melihatnya.”

Munculnya Tan-hiang Kun sebagai padri wainita sesungguhrya diluar dugaan Hui Kiam.

”Gelar sianni adalah Khie Tin!" "Oh! "Siauhiup mari ikut sianni. apabila ketahuan oleh suhu bahwa ini adalah suatu akal untuk memancing keluar suhu, habislah semuanya“

Jikalau demikian halnya, maka berita atas munculnya orang berbaju lila, itu ternyata bohong belaka, ia hanya tidak tahu mengapa Tan hiang Kun berani menempuh bahaya besar untuk menolong dirinya?

Ia mengikuti Tan-hiang Kun masuk kedaalam sebuah kamar yang bertumpukan banyak kelakar, Tan-hiang Kun menutup pintu lebih dulu mengintai dari lubang pintu kemudian baru memberikan dua obat pel kepada Hui Kiam segera berkata :

"Ini adalah obat pemunahnya harap lekas dimakan, jangan bergerak, nanti sianni akan mencari kesempatan untuk membantu siaubiap meloloskan diri."

Hui Kiam segera menelan dua butir obat pel itu, sulit dibayangkan bagaimana bersukurnya pada waktu itu ia sungguh tidak menduga sama sekali bahwa Hoan ceng itu adalah jelmaan dari pada diri Pek leng-lie. yang juga tak tahu bahwasannya dalam teh dan dupa itu ada racunnya.

Waktu Siu Bie yang mengikuti diri Tan hiang Kun hendak mencucikan diri didalam biara itu semuanya diluar dugaannya.

Sesaat kembali apa yang telah terjadi dimana ia baru muncul didunia Kang ouw, oleh karena hendak menyelidiki musuhnya, ia pengi mendatangi perkampungan Ie hun San chung dalam perjalanan ia telah diperalat oleh wanita tanpa sukma dengan kepala bakal pengantin dia yang akan menjadi suami Tan hiang kun mengantarkan barang antaran dalam pesta perkawinan hingga menerbitkan huru-hara besar, setelah Sam Goan lo jin dan ayah Tan hiang Kun telah binasa, dan perkampungan itu telah musnah entah oleh perbuatan tangan jahat siapa.

Menghadapi wanita muda bernasib malang itu, ia menghela napas. Ketika obat itu masuk kcdalam perutnya, segera nampaklah khasiatnya, dalam waktu sangat singkat sekali kekuatan tenaganya sudah pulih kembali.

Tidak lama kemudian diluar kamar terdengar suara orang bicara, tetapi karena letak nya terlalu jauh, lagi pula terpisah ruangan. maka tidak terdengar nyata, ia dapat menduga bahwa dalam pembicaraan itu apaknya sedang mencari keterangan tentang munculnya orang berbaju lila dan apa sebabnya Hui Kiam bisa menghilang secara tiba-tiba.

Selagi Hui Kiam masih memikirkan soal ini tiba tiba terdengar suara jeritan ngeri.

Ia terkejut, apakah perbuatan Tan-hiang Kun yang mencuri obat pemunah itu telah ketahuan?

Dengan tanpa ragu-ragu lagi Hui Kiam segera membuka pintu kamar dan lompat melesat keatas genteng ruangan tetamu, ketika menyaksikan apa yang telah terjadi, dadanya di rasakan hampir meledak, diatas tanah menggeletak bangkai Siu Bi dalam keadaan remuk batok kepalanya, sebelah tangan Hiat-ie Nio-cu masih terdapat tanda darah.

Disanping, berdiri Tan-hiang Kun dalam keadaan ketakutan setengah mati, wajahnya pucat pasi badannya gemetar.

Saat itu Hiat-ie Nio cu sedang menanyakan lepadanya dengan suara bengis:

"Jawab. dirnana bocah itu kau sembunyikan ?”

Tan-hiang Kun tidak menjawab ia tetap berdiri dengan badan gemetar.

Hoan-ceng lalu berkata:

"Tidak usah tanya tanya lagi, kekuatan dan kepandaian bocah itu sudah tidak ada karena pengaruh obat. rasanya tidak mungkin ia bisa terbang jauh, murid durhaka ini berani melakukan perbuatan demikian, sudah seharusnya dihukum mati!" Sewaktu ucapan yang terahir itu keluar dari mulutnya, ia sudah menghampiri Tan hiang Kun

Dengan rasa ketakutan Tan-hiang Kun mundur beberapa langkah.

”Jangan bergerak" demikian terdengar suara bentakan keras, yang kemudian disusul oleh Hui Kiam yang melayang turun dari atas dan berdiri menghalang dihadapan Tan-biang Kun.

Hiat-ie Nio-cu dan Hoan ceng terperanjat, mereka mundur beberapa langkah.

Hoan-ceng berkata dengan suara gemetar: "Apakah . . . kekuatanmu masih ada?"

"Tidak disangka seorang yang sudah mensucikan diri masih mempuayai hati demikian jahat dan kejam, sipat manusia benar- benar susah diraba."

Hiat le Niocu menyela dengan suara bengis. "Bocah, selama masih hidup nenekmu pasti akan menuntut dendam sakit hati ini.*'

Mata Hui Kiam menyapu Hiat-ie Nio cu sejenak, kemudian berkata:

"Aku sudah mengampuni dirimu satu kali dari kematianmu. itu karena semata-mata memandang muka dan kebaikan Penghuni loteng merahi"

"Aku sebaliknya sudah bersumpah hendak mengambil jiwamu." "Kau barangkali sudah tidak dapat melakukan lagi!"

”Bocah, kau coba saja !'

Ucapan hantu wanita icu ditutup dengan satu serangan bebat.....

Hui Kiam sudah pernah merasakan racunnya kuku terbang hantu wanita itu, ia sudah bertekad tidak akan memberi kesempatan kepadanya menggunakan senjatanya yang ampuh itu, maka begitu bengerak sudah menggunakan serangan yang mematikan. Suara jeritan mengerikan keluar dari mulut Hiat ie-Nio cu sebentar kemudian badan hantu wanita itu nampak terhuyung huyung mata nya melotot satu tangannya yang diangkat ke atas masih terkatung ditengah udara, sedang-kan badannya gemetar, berkernyit, lama sekali baru jatuh roboh ditanah, darah menyembur keluar dari dadanya.

"Kau telah membunuh ibuku! "demikian terdengar suara jeritan Hoan ceng bagaikan orarjg kalap, kemudian melancarkan serangannya dengan menggunakan telapak dan jari tangan dengan serentak.

Pedang Hui Kiam memutar kebawab dan kemudian menyontek keatas, gerakan yang nampaknya sangat sederhana ini, namun mengandung gerak tipu yan sangat ampuh untuk menutup dirinya dan serangan yang dilancarkan oleh lawannya, juga sewaktu-waktu dapat melancarkan serangannya yang dapat mengambil jiwa musuhnya. Tetapi karena ia tiada maksud hendak mengambil jiwa paderi wanita itu, sebab dimasa hidupnya Su-ma Suan, ialah ayahnya sendiri pernah berhutang budi kepadanya.

Sementara itu, Tan-hiang Kun masih berdiri bagaikan patung menyaksikan semua kejadian itu.

"Hoan-ceng, aku tidak ingin mengambil jiwamu." demikian Hui Kiam berseru.

"Tetapi aku bersumpah jikalau tidak berhasil mengambil jiwamu, aku tidak mau jadi manusia lagi- Su rna Soan sudah mati, kaulah yang seharusnya menggantikannya membayar hutangnya.”jawab Hoan-ceng dengan suara bengis.

"Dimasa hidupnya ayah memang berlaku keterlaluan terhadap dirimu, tetapi sekarang toh sudah meninggal "

"Tetapi rasa benci ini tidak dapat dihapus selama-lamanya” "Jangan lupa bahwa kau adalah orang yang sudah mencucikan

diri."

"Aku sudah berdosa, tidak bersedia memperbaiki diriku lagi." Satu tangannya bengerak, tetapi tidak mengadung kekuatan.

Sebelum Hui Kiam sempat berpikir, hidung nya dapat mencuim bau harum, seketika itu juga bumi yang diinjaknya merasa seperti berputar, maka ia segera berseru: "Racun."

Belum lagi menutup mulutnya, satu kekuatan tenaga menyerang hebat kepada dadanya.

Hui Kiam mengeluarkan seruan tertahan, badannya mundur tiga langkah, mulutnya mengeluarkan darah.

"Serahkan jiwamu.' demikian terdengar suara Hoan ceng, lima jari tangannya dipentang bagaikan gaetan, menyambar batok kepala Hui Kiam.

Gerak tipu serangannya itu sangat aneh dan ganas tampaknya, mungkin Siu-Bi terbinasa akibat serangan ini.

Hui Kiam meski sudah terkena racun, tetapi berkat latihan kekuatan tenaganya yang telah sempurna, daya tahannya sangat menakjubkan, dengan sendirinya dalam pandangan matanya yang samar samar karena sudah mulai gelap, ia mengeluarkan serangannya dengan gerak tipunya bintang bertebaran dilangit.

Telinganya hanya menangkap suara jeritan yang mengerikan, badan Hoan ceng sempoyongan dan akhirnya jatuh roboh dalam keadaan mandi darah.

Hui Kiam sendiri juga merasa gelap matanya sehingga roboh ditanah.

Ketika ia tersadar kembali pertama yang dilihatnya adalah raut muka yang dingin dia adalah Tan Hiang Kun yang sudah bergelar Khie Tim.

Hui Kia berdiri, kecuali kepalanya yang masih dirasakan berat, tidak punya perasan apa-apa lagi. Sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata kepada Tan Hiang Kun :

”Terima kasih atas pertolongan nona ” "Kau sudah boleh pengi.” jawab Khie Tim dengan nada suara dingin,

"Nona       "

"Siaonie sekarang bernama Khie Tim!"

Perobahan sikap secara mendadak ini sangat membingungkan Hui Kiam.

Khie Tim memejamkan matanya, ia menenangkan pikirannya, masih dengan nada yang dingin ia berkata :

”Belum lama berselang, didalam istana rahasia atas bantuan sicu, siaonie terlepas dari tangan kejam itu majikan Tong-Hong Hui Bun, hari ini hitung-hitung sebagai membayar kembali hutang budi siaonie kepada sicu, dan untuk selanjutnya sudah tidak ada hutang- hutang lagi. Kematian suhu mungkin atas kesalahannya sendiri, tetapi biar bagaimana adalah merupakan orang yang mencucikan diri siaonie. Siaonie tidak bersedia menuntut balas, tetapi untuk selanjutnya akan menutup pintu untuk mencari kebenaran, sicu sekarang kau boleh pengi!"

Hui Kiam tidak dapat menjawab ia berjalan perlahan lahan hatinya tak merasa enak.

Su Bi sudah mati, Tan hiang Kun masuk biara menjadi paderi, demikianlah akhirnya penghidupan kedua wanita itu.

Hiat-ie Nio cu yang seumur hidupnya sudah menimbun banyak dosa. kematiannya tak perlu disayangkan. hanya kematian Hoan ceng membuat tidak enak perasaan Hui Kiam.

Ia teringat kembali cerita Hoan ceng, tusuk konde mas berkepala burung Hong itu adalah barangnya yang dahulu diberikan kepada ayahnya sebagai tanda mata cinta kasih antara mereka apakah benar ayahnya begitu tega hati membunuh isterinva sendiri?"

Ini sesunggunnya terlalu menakutkan, hati nya seperti dikoyak koyak.

Jikalau demikian halnya, ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang sangat tragis. Tragedi ini tidak dapat diucapkan dengan mulut, juga tidak boleh masuk kedalam telinga siapapun juga, hanya ditelannya sendiri bicara diam-diam sehingga berakhir jiwanya.

Pesan ibunya kembali berkumandang dalam telinganya: 'Iblis wanita... tusuk konde mas bunuhlah.To-liong Khiam-khek!"'

Dirasa hidupnya ibunya belum pernah menyebut ayahnya, dan ia harus mengikuti she ibunya tetapi tidak memakai she ayahnya, suatu bukti bagaimana bencinya ibu itu kepada suaminya, tetapi apa sebabnya? Apakah hanya semata mata karena ditelantarkan saja?

Iblis wanita dalam pesan ibunya, apakah yang dimaksudnya ini adalah Pek-leng lie ? ?

Sang ibu sudah meninggal dunia, begitu pula sang ayah, idem dito Pek leng lie.

Teka teki yang sangat kejam itu, nampak nya tidak akan terungkap lagi orang yang sebagai anaknya, hanya akan merasa menyesal seumur hidup.

Sekalipun di kemudian hari masih ada ke sempatan untuk membuktikan bahwa kematian ibunya itu terbunuh oleh suaminya, apa yang ia bisa berbuat terhadapnya?

Hui Kiam untuk pertama kali mengucurkan air mata kesedihan karena memikirkan nasibnya.

Semacam perasaan kosong timbul dalam p kirannya, ia bertanya pada diri sendiri:

"Apa adanya dalam penghidupan? Apakah artinya? Semuab hanya kosong melompong. Semangatnya dalam waktu sekejap itu seolah olah sudah runtuh.

Semua budi kebaikan, cinta kasih, dendam sakit hati dan permusuhan, seolah-olah juga sudah kehilangan artinya semula, ia kini telah memahami apa sebabnya ada orang yang mencukur rambutnya menjadi padri atau pergi mengasingkan diri ke tempat yang sunyi, Apa yang terbentang dihadapan matanya adalah kekosongan bagaikan lautan yang tak ada ujung pangkalnya. Kemana harus pergi?

Keluar dari rimba pohon bunga Trio dan daerah pegunungan, tibalah dijalan raya. Bagaikan setan gentayangan Hui Kiam menggerakkan kakinya, jalarnya limbung, kepalanya menunduk kebawah, ia telah kehilangan semua kegagalannya yang ada pada dirinya.

"Siaugkong tak kusangka bisa berjumpa denganmu lagi!" demkian pula terdengar suara seorang wanita menegurnya, sehingga Hui Kiam tersadar dari lamunannya.

Ketika ia mengangkat kepala, seorang pelayan perempuan muda berdiri dihadapannya. pelayan itu, adalah salah satu pelayan Tong hong Hui Buo, karena jumlah pelayan Tong-hong Hiu Bun entah berapa banyak, ia sendiri juga tidak jelas, hanya dalam ingatannya sudah banyak jumlahnya yang mati aiau luka-luka, terhadap pelayan-pelayan itu Hui Kiam tidak dapat menyebutkan namanya satu persatu dalam matanya ada yang dikenal baik olehnya, dan ada juga yang baru melihat hanya satu dua kali saja dan pelayan wanita yang dihadapan nya itu merupakan salah seorang pelayan yang sudah dikenalnya.

Ia teringat bahwa ia sudah memutuskan hubungannya dengan Tong-hong Hui Bun tiada artinya melanjutkan hubungan lagi kecuali itu pada saat itu pikirannya juga sedang kusut sekali, maka sedapat mungkin ia hendak menghindari segala hubungannya dengan orang luar!

Ia hanya mengawasi pelayan itu sejenak, mulutnya tidak berkata apa-apa. bahkan hendak melanjutkan perjalanannya....

"Siangkong!" demikian pelayan itu memanggil lagi dengan perasaan heran, kemudian menyusul dan menghadang dihadapanya seraya berkata.

"Benarkah siangkong telah mengambil keputusan demikian tegas terhadap ibu majikan?” Hui Kiam terpaksa menghentikan kakinya, katanya dengan suara dingin:

"Apa maksudmu?"

Pemuda itu menyibirkan mulutnya, dengan sikap yang agak marah ia berkata:

"Apakah siangkong hendak memutuskan hubungan dengan ibu majikan untuk selama lamannya?"

"Begitulah ”

”Apakah siangKong sedikitpun juga tidak merasa berat dalam hati siangkong?"

"Karena keadaan memaksa, tidak boleh tidak harus begitu." Pelayan ini berkata dengan menunjukan sikap berduka:

Tak disangka cinta kasih ibu majikan yang demikian besar, ternyata tersia-sia belaka”

Hati Hui Kiam tergoncang, ia teringat sewaktu perpisahan dengan Tong-hong Hui Bun semua ucapannya yang menyedihkan dan ancamannya yang mengerikan, sekarang kalau di ingat ia juga merasa bengidik. Tong-tong Hui Bun sudah menyatakan hendak menuntut balas hendak musnah bersama sama, juga hendak menyulitkan kedudukan orang-orang yang berhubungan dengannya, pula hubungannya dengan sang ayah. masih tetap merupakan suatu teka teki...,"

Memikirkan itu semua, maka ia berkata dengan sikap yang dingin seolah olah sudah tak mempunyai perasaan:

”Hidup manusia tidak tertentu kalau ada jodoh bisa bersatu kalau tiada jodoh terpaksa beipisah tidak perlu kita pandang terlalu serius

!"

"Ini...rasanya tidak mirip kata-kata siangkong pada waktu biasanya""

"Mirippun baik, tidak mirip juga tidak apa, kenyataannya memang demikianl" "Apakah siangkong tidak ingin menjumpai majikan untuk penghabisan kalinya?"

"Untuk penghabisan kali, katamu!”

"Ya, sebab ia sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi didalam dunia!"

Hui Kiam terperanjat biar bagaimana Tong hong Hui Bun pernah menempati dalam hati nya bayangannya tidak mudah dihapus dalam ingatannya.

"Apa, apakah dia, sudah mau mati?" ”Ya.”

"Ini agaknya tidak mudah, kita tokh baru berpisab belum lama?" "Memang langitpun setiap saat bisa terjadi perobahan?'

"Apa yang telah terjadi?"

"Karena siangkong, ibu majikan telah di hukum oleh bengcu. sehingga terluka parah, jikalau bukan menggunakan kesempatan untuk kabur niscaya jiwanya sudah melayang. Sekarang ibu majikan sudah tiada harapan untuk hidup lagi, dalam keadaan tidak sadar selalu menyebut siangkong, maka kita berpencaran pergi untuk mencari siangkong .."

"Apakah itu kehendaknya?"

"Bukan, itu adalah kemauan kita sendiri!'

Hui Kiam menundukkan kepalanya untuk berpikir, lama sekali tidak beikata apa-apa ia tak tahu harus pergi menemuinya atau tidak? '

Pelayan wanita itu berkata pula dengan suaranya:

”Apakah siangkong merasa berat untuk menjenguk bekas kekasih siangkong yang sudah mendekati ajalnya?"

Hui Kiam mengangkat kepala, katanya sambil menggertak gigi: "Baiklah aku bendak pengi menengoknya di mana berada

sekarang?" "Dikota Lam shia!"

Mendengar disebutnya kota itu, peristiwa pertandingan diatas panggung Lui-thay, terbayang lagi dalam otaknya maka segera bertanya:

"Apakah diwisma pahlawan?"

"Bukan wisma pablawan sudah hancur menjadi tumpukan puing, ibu majikan berdiam disebuah satu tempat yang tersembunyi."

„Kau bawa aku '." "Baik!"

Keduanya lalu berjalan diatas jalan raya tidak lama kemudian, sebuah kereta berkuda, tiba tiba lari mendatangi kearah mereka, ketika tiba sejarak beberapa tombak dihadapapan mereka, kereta itu mendadak berhenti pintu kereta terbuka, dari dalam melompat seseorang yang ternyata juga seorang pelayan wanita.

Hui Kiam terkejut, dia bertanya kepada pelayan disamping dirinya:

„Apakah artinya ini?“

"Minta siangkong naik kekereta!"

"Kedatangan kereta ini mengapa demikian kebetulan?"' "Siangkong jangan terlalu banyak curiga. kereta serupa ini

sedikitnya ada sepuluh buah yang dijalankan diberbagai jalanan

penting sekitar kota ini "

Hui Kiam setelah berpikir sejenak akhirnya naik keatas kereta, dua pelayan waivia itu juga turut naik, dan sebentar kemudian kereta itu sudah dilarikan lagi.

Didalam kereta Hui Kiam masih merasakan pikirannya kusut, sedikitpun tidak merasa tenang.

Kereta itu berjalan terus, cuaca perlahan lahan mulai gelap dan akhirnya gelap sama sekali, suatu tanda bahwa malam telah tiba. Kereta nu masih melanjutkan perjalanannya ditafsir mungkin sudah berjalan beberapa puluh pal jauhnya.

Hui Kiam yang berada didalam kereta, dari sela-sela lubang keretanya masuk penerangan sinar lampu, telinganya menangkap suara orang banyak sehingga ia menduga bahwa kereta itu sudah memasuki kota Lam-shia.

Jalan Kereta mulai perlahan, suara kaki kuda terdengar nyata.

Suara ramai itu perlahan telah lenyap akhirnya hanya terdengar suara kaki kuda, mungkin kereta itu sudah memasuki jalanan dalam gang yang sunyi.

Tidak lama kemudian, kereta telah berhenti. Hui Kiam melompat turun, dihadapannya ada sebuah bangunan yang acaknya sudah lama tidak terawat, dari dalam rumah itu nampak ada sinar pelita, sedangkan kamar lainnya keadaannya gelap sekali,

Untuk pertama kali, ia menyaksikan kediaman Tong-bong Hui Bun yang demikian buruk keadaannya

Seorang pelayan wanita menyambut kedatangannya dan berkata padanya sambil menunjuk salah satu kamar dalam rumah itu.

”Silahkan siangkong masuk!.'

Sehingga saat itu perasaan Hui Kiam hari mulai tengerak pikirnya, entah bagaimana keadaan luka Tong-hong Hui Bun! Dan bagaimana nanti setelah bertemu muka?

Memasuki ruangan rumah itu, keadaan rumah jtu ternyata sangat kotor, diatas sebuah meja persegi ada sebuah lilin, yang memancarkan sinarnya yang lemah, sehingga keadaan rumah itu sangat suram.

Pelayan wanita itu berkata sambil menunjuk kekamar sebelah kanan

"Didalam !" Hui Kiam masuk kedalarn kamar yang di tunjuk ketika dia menyaksikan keadaan dalam kamar darahnya dirasakan mendidih, ia berdiri terpaku dengan mata terbuka lebar.

Dalam kamar itu keadaannya sangat bersih di tengah ada sebuah meja makan yang sudah penuh dengan arak dan hidangan, penerangan juga cukup, oleh karena lubang jendela ditutup dengan kain hitam, maka sinar pelita tak kelihatan dari luar sedangkan Tong-hong Hui Bun nampak duduk dengan tenang sambil menunjukkan senyumnya yang berseri-seri dan sangat menggiurkan.

"Adik, kau akhirnya datang juga.” demi kian Tong-hong Hui Bun berkata dengan suara merdu.

Sekujur badan Hui Kiam gemetar, lama sekali ia baru membuka mulut: "Apakah artinya ini”

"Adik, kau duduklah dulu, tenanglah sedikit."

"Kitanya apa yang dikatakan hampir mati itu ternyata hanya. ”

"Ucapan itu memang tidak salah, kenyataan nya juga tidak bohong"

"Kau. sebetulnya sedang main sandiwara apa?"

Tong-hong Hui Bun masih menunjukkan senyumnya, dibawah sinar lampu, nampaknya semakin cantik dan menggiurkan, sambil menunjukkan sebuah kursi dibahapannya, ia berkata dengan suara lemah lembut:

"Adik, apakah kau tidak suka duduk untuk beromong omong?" "Aku tidak sempat.'

"Duduk sebentar saja toh boleh "

''Kalau kau ingin bicara silahkanlah kalau tidak aku hendak pergi lagi"

"Adik." Mata Tong tong Hui Bun memancarkan sinar aneh dengan nada suara bagaikan mengigau ia melanjutkan ucapannya: "Segala-galanya sudah berlalu, malam ini aku minta kau beromong-omong denganku dengan tenang, sekalipun sejenak saja juga tak halangan."

"Kau mempunyai maksud apa?"

"Maksud? Sedikitpun tidak ada aku hanya mengharap sebelum sandiwara ini berakhir, kita mengulangi kembali hubungan mesra kita untuk sejenak saja, kalau toh harus terpisah-berpisahlah secara senang, jikalau tidak terlalu menyedihkan, kuulangi lagi, ini adalah pertemuan kita yang terakhir, aku sudah memberikan seluruh cinta kasihku kepadamu dan aku sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi, apakah kau rnerasa sayang "

Hati Hui Kiam mulai tengoncang. api cinta yang sudah mulai padam kini telah menyala lagi, ia ingin menindas tetapi agaknya tidak sanggup.

"Kau kata ... ini adalah pertemuan yang .terakhir, apakah artinya?"

Sambil tertawa getir Tong-hong Hui Bun Berkata:

"Sebab untuk selanjutnya kita takkan bisa berkumpul lagi seperti sekarang ini."

"Kenapa?”

”Sebab semuanya akan berakhir pada malam ini”.

”Yang kau maksudkan itu apakah tentang hubungan kita ataukah

.... "

”Semua termasuk didalamnya!'

”Kau sebetulnya hendak berbuat apa?”

"Aku undang kau mengawani aku makan dan minum arak. '

Dalam hati Hui Kiam timbul perasaan curiga sebab katanya yang tidak terang dan tidak tanduknya yang aneh, sedikit banyak sudah menunjukan suatu gambaran apakah yang akan terjadi selanjutnya? Tetapi kecurigaan itu masih susah untuk dibuktikannya. "Aku harap kau suka berkata berterus terang tentang maksud dan tujuanmu yang sebenarnya!"

"Aku cinta kepadamu dengan setulus hati ku, aku sudah pernah menikah, pernah mencinta orang, juga pernah dicinta, tetapi aku belum pernah mencintakan orang demikian setulus hati seperti terhadap dirimu, dalam hidupku cinta kasih ini merupakan barang satu satunya yang paling berhanga bagiku, sekalipun itu merupakan suatu kesalahan besar atau suatu kedosaan akan tetapi yang lalu biarlah tinggal lalu, baiknya aku sudah tidak mempunyai harapan yang akan datang lagi, maka itu aku hendak berkumpul sekali lagi denganmu.”

Hui Kiam akhirnya tak berdaya mengukuhi pikirannya sendiri lagi, namun demikian dalam hatinya sudah waspada, ia hanya ingin melayani sejenak, kemudian melanjutkan perjalanannya lagi

Maka ia lalu duduk ditempat yang ditunjuk.

Tong-hong Hui Bun menuangkan arak putih dalan dua cawan, kemudian berkata:

”Adik, mari kita minum bersama-sama!"

Hui Kiam sedikit ragu ragu, tetapi ia akhir nya minum juga arak itu.

Setelah mengeringkan cawan yang pertama. Tong hong Hui Bun menuangkan lagi araknya seraya berkata:

"satu cawan lagi!"

Masing masing mengeringkan satu cawan lagi. kedua pipi Tong- hong Hui Bun sudah nampak kemerah-merahan, kelihatannya semakin cantik, sepasang matanya memancarkan sinar api membara.

Sebaliknya dengan Hui Kiam, ia merasakan tidak enak ia harus menindas rasa cintanya yang berkobar lagi, juga harus berusaha melawan jangan sampai terpikat oleh kecantikan Tong hong Hui Bun, ia harus menjaga jangan sampai akal budinya terpengaruh, maka ia tundukan kepalanya tidak berani memandang langsung kearah Tong-bong Hui Bun.

Perempuan cantik mengangkat, cawannya lagi sambil berkata: "Adik inilah cawan yang ketiga, juga merupakan cawan yang

terahir!"

"Baik!'-

Hui Kian minum habis lagi arahnya.

”Dan sekarang adik marilah kita makan ala kadarnya !" "Aku pikir tidak usah saja!"

"Apakah kau berat dalam pertemuan penghabisan ini memanggil aku enci?'

Biar Hui Kiam bengerak beberapa kali, tetapi tidak sepatah perkataan yang keluar dari mulutnya, suatu perasaan aneh timbul dalam hatinya, bukankah ia juga pernah jatuh cinta kepada perempuan cantik itu, tetapi cinta kasih itu harus dimusnahkan oleh kenyataan, ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengahiri cintanya itu. Dipandang dari sudut pendirian masing masing, satu sama lain saling bertentangan, dipandang dari sudut dirinya sendiri, nasehat orang menebus dosa itu besar sekali mempengaruhi hatinya, meskipun Tong hong Hui Bun tetap menyangkal pernah menjadi istrinya ayahnya, tetapi biar bagaimana soal ini merupakan persoalan sangat penting, sekali salah bertindak, akan membuat penyesalan seumur hidupnya.

Jikalau benar ayahnya pernah berhubungan suami istri dengan Tong-hong Hui Bun, maka ini berarti bahwa perempuan cantik itu adalah ibu tirinya sendiri.

Pikirannya itu membuat yang sudah akan menyerah dihadapan itu berbangkit kembali, ia segera berkata dengan nada suara dingin:

”Biarlah semua yang sudah lalu itu kita kubur dalam hati sendiri!"

Paras Tong-hong Hui Bun segera berobah, ia berkata dengan suara kalap. "Tidak mungkin dikubur, siapakah yang mampu mengubur perasaanku, itulah tak mungkin!"

"Bukankah kau tadi mengatakan bahwa semuanya kita harus akhiri malam ini?"

"Ya. semuanya akan berakhir hanya satu hal yatg tak dapat diakhiri!"

”Apakah yang tidak d»pat diakhiri?” "Kebencianku!"

Hui Kiam bengidik katanya dengan suara gemetar. ”Kebencian! Siapa yang kau benci?”

Sepatah demi sepatah Tong-hong Hui Buu mulai menjawab:

"Benci kepadamu, benci kepada setiap orang juga benci kepada diriku sendiri."

"Apa akibatnya kebencian itu?" ”Aku hendak menuntut balas."

"Jadi inikah maksud dan tujuanmu yang sebenarnya pada malam ini?"

"Sedikitpun tidak salah!"

Hui Kaim segera bangkit, tetapi badannya tengoncang-goncang terpaksa duduk lagi, ia merasakan gelagat tidak baik, kepalanya dirasakan berat, matanya berkunang-kunang, pandanganya juga mulai kabur.

Ia memukul meja api lilin diatas meja lalu padam hingga keadaan dalam kamar itu gelap gulita, tetapi pikirannya masih belum hilang sama sekali, ia coba berusaha untuk berdiri sambil berkata:

"Tong-hong Hui Bun; kau.,..hendak berbuat apa?"

Dengan nada suara mengejek Tong-hong Hui Bun menjawab: "Adik, apakah kau masih ingat apa yang aku katakan ketika kita

berpisah? Aku hendak menuntut balas, ha, ha, ha. " Hui Kiam saat itu merasa lelah dan ngantuk. pikirannya kusut Terdengar pola suara Tong liong Hui Bun berkata:

”Adik, apakah kau membenci aku?”

"Aku. aku benci, aku hendak membunuh..'

"Adik, karena menyinta kau sehingga hampir gila jikalau tiada denganmu aku tidak bisa hidup lagi,...”

”Enci ..”

“Ah adikku yang baik”

Saat itu api lilin menyala legi. paras Tong hong Hui Bun nampak merah, matanya nampak merah, matanya memancarkan sinar berapi api.

Hui Kiam sepasang matanya mengawasi Tong-rorsg Hui Bun dari kepala sampai ke-ujung kaki perlahan lahan matanya memancarkan sinar liar, wajahnya merah membara, otot otot dijidatnya nampak nonjol, napasnya memburu.

Dengan sekonyong-konyong ia membentang ke dua lengannya, kakinya menggeser menghampiri Tong-hong Hui Bun mulurnya mengeluar kan kata-kata hampir tidak kedengaran:

”Enci. aku cinta kepadamu!"

Tong-hong Hui Bun kembali menunjukkan senyumnya yang menggiurkan tetapi mengandung kekejaman, tetapi saat itu Hui Kiam sudah tidak dapat kendalikan perasaannya sendiri perasaan dan akal budinya semua sudah dipengaruhi oleh napsu birahinya.

Bagaikan harimau kelaparan ia menubruk Tong-hong Hui Bun, kemudian memondongnya dan diletakkan diatas pembaringan.

Tapi masih kamar itu-itu juga, sambil menghadapi meja y«ng penuh hidangan. Tong-hong Hui Bun duduk berhadapan dengan Hui Kiam seolah-olah pengantin baru.

Apa yang berbeda ialah sinar matahari sudah masuk kekamar melalui lubang jendela, suatu tanda bahwa hari sudah terang. Rambut Tong-hong Hui Bun nampak kusut, sikapnya semakin menggiurkan sebaliknya dengan keadaan Hui Kiam, pemuda itu seperti orang linglung.

"Adik aku akhirnya mendapatkan dirimu." "Hem. Ya.'

”Adik, sukakah kau hidup selama lamanya denganku?”

''Sudah tentu enci, seumur hidupku ini, tidak akan berpisah lagi denganmu!"

"Apakah kan masih ingat sidia?' "Sidia siapa''

---ooo0dw0ooo---