Pedang Pembunuh Naga Jilid 28

Jilid 28

“BOCAH, apakah aku si orang tua tak ada harganya kau sebut locianpwee, mengapa kau selalu menggunakan perkataan kau-kau saja yang kedengarannya sangat tidak enak!”

“Sekarang kau sudah tak pantas lagi!”

“Kau masih belum tepat dianggap seorang gagah dan cakap.” “Kau jangan coba mengelakkan persoalannya. Aku tanya

kepadamu, bagaimana kau mengetahui rahasia ini?”

“Di dalam dunia tiada rahasia yang benar-benar merupakan rahasia, kecuali tidak membungkam.”

“Kalau begitu kau telah mencuri dengar?” “Tidak halangan kau mengatakan begitu!”

“Kalau begitu kau adalah seorang segolongan dengan Orang Berbaju Lila?”

“Aku tak menyangkal!”

Hui Kiam dapat berpikir dengan cepat. Dalam peristiwa di gedung kediaman Tong-hong Hui Bun itu, orang tua ini pasti turut ambil bagian. Manusia Agung ini menyiksa ayahnya lebih dulu, dan kemudian dibinasakan oleh Orang Berbaju Lila. Kedua orang itu sudah terang merupakan satu komplotan, kenyataannya sudah begitu sehingga tak perlu banyak bicara.

Oleh karena berpikir demikian, ia tak mau menghiraukan segala keterangan orang tua itu. Pedang di tangannya menunjuk ke bawah. Ini suatu sikap hendak membuka serangan. Katanya dengan suara gemetar:

“Manusia Agung dalam Dunia, sekarang aku hendak turun tangan, kau siap?”

“Apakah kau pasti menghendaki jiwaku?” “Sudah tentu!”

“Tanpa menunjukkan alasannya?”

“Tidak ada apa-apa yang perlu kutanyakan.” “Kalau begitu kau boleh turun tangan!”

“Kau mengaku telah menyiksa To-liong Khiam Khek?”

“Sama sekali tidak pernah terjadi kejadian itu, bagaimana soal mengaku itu?”

“Orang Berbaju Lila itu dengan akal keji telah membinasakan Penghuni Loteng Merah bersama To-liong Khiam Khek, sedangkan kau dengan dia merupakan satu komplotan, bukankah ini sudah cukup jelas dan bukti?”

“Perkara di dalam dunia mungkin tidak begitu sederhana seperti apa yang kau gambarkan.”

“Tidak perduli sederhana atau rumit, barang siapa yang melakukan pembunuhan harus mengganti dengan jiwanya, barang siapa yang berhutang harus membayar!”

“Aku tidak membunuh orang dan juga tidak punya hutang uang!” “Sekalipun kau mcnyangkal juga tidak akan merobah

pendirianku!” “Seorang yang tidak dapat membedakan mana yang salah dan yang benar, yang baik dan yang buruk, belum terhitung seorang gagah yang sempurna!”

Ucapan orang tua ini mengejutkan Hui Kiam.   Ia hampir tak dapat membedakan orang tua itu kawan atau lawan. Semua ucapannya memang sangat beralasan, tetapi dendam sakit hati harus dituntut, bagaimana tahu kalau ucapan orang itu hanya merupakan ucapan licin yang hendak menundukkan hatinya?

“Kalau begitu apakah kau seorang gagah?” “Boleh dikata begitu!”

“Dalam soal apa aku tidak dapat membedakan yang salah dan yang benar, yang baik dan yang buruk?”

“Kau hanya percaya ucapan Orang Berbaju Lila sepihak saja, sudah menuduh aku sebagai pembunuh. Buat orang lain, masih tidak apa-apa tetapi bagi kau yang berkepandaian sedemikian tinggi dan akan menjadi seorang penting dalam rimba persilatan, jikalau dalam segala hal kau dasarkan dengan pandanganmu sendiri, serta berbuat menurut sesuka hatimu, maka dunia pasti akan menjadi kalut!”

Hui Kiam kembali dikejutkan oleh uraian itu, tetapi ia masih berkata dengan nada suara dingin:

“Jadi kau tetap menyangkal?” “Benar.”

“Kau penasaran?” “Sudah tentu!”

“Baik. Tidak sulit untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, rekening untuk sementara aku tangguhkan.”

Orang tua itu tertawa bergelak-gelak, lalu berkata:

“Em! Ternyata masih bisa diajar. Masih ada lagi, seorang laki- laki harus dapat membedakan budi kebaikan dengan kebencian, tidak boleh mengeluarkan perkataan kotor, ini merusak nama baik seorang gagah….”

Adat Hui Kiam sudah banyak berubah kalau dibandingkan dengan waktu pertama ia muncul di dunia Kang-ouw, semua ini adalah berkat pengalamannya, maka ketika ia mendengar perkataan itu lalu berkata dengan suara datar:

“Bagaimana kalau aku sebut kau tuan?”

'“Mengapa kau tidak menyebut seperti kau baru melihat aku tadi?”

“Sebelum keadaan yang sebenarnya menjadi terang, tuan masih belum pantas mendapat sebutan locianpwee!”

“Ha, ha, ha! Betul juga! Aku tidak akan berkukuh lagi.” “Sekarang kita balik lagi kepada persoalan yang sebenarnya.

Tuan pancing aku datang kemari pasti ada maksudnya?”

“Sudah tentu!”

“Kalau begitu tuan jelaskan apa maksudnya?”

“Kau harus memutuskan perhubungan dengan perempuan she Tong-hong itu!”

Hui Kiam terperanjat. “Adakah hanya ucapan itu saja tuan perlu mencari aku?”

“Boleh dikata begitu.”

“Urusan pribadiku ada hubungan apa dengan tuan?”

“Memang benar itu adalah urusan pribadimu, tapi aku juga pikir untuk kebaikanmu sendiri.”

“Apa sebabnya?”

Wajah orang tua itu berubah menjadi demikian angker dan agung. Katanya dengan suara sungguh-sungguh:

“Kau sudah mengaku bahwa To-liong Kiam Khek Su Ma Suan adalah ayahmu?” “Benar!”

“Kalau begitu kau dengarlah, Tong-hong Hui Bun dahulu pernah menjadi istri Su Ma Suan!”

Hui Kiam ketika mendengar keterangan itu, ia rasakan seolah- olah disambar geledek. Ia mundur terhuyung-huyung beberapa langkah, kemudian berkata dengan suara seperti orang kalap:

“Kau bohong!”

“Aku si orang tua di dalam rimba persilatan juga pernah mendapat kedudukan dan sedikit nama baik, perlu apa harus berkata tak karuan terhadap kau seorang tingkatan muda?”

Sekujur badan Hui Kiam gemetar. Benarkah keterangan itu? Kalau itu benar, ini terlalu menakutkan. Untung ia sendiri belum pernah melakukan perbuatan di luar batas terhadap perempuan cantik itu, jikalau tidak bukankah akan merupakan suatu kemenyesalan untuk seumur hidupnya?

Apakah nasihat Orang Tua Tiada Turunan dan guru Ie It Hoan juga berdasar alasan itu?

Keringat dingin mengucur membasahi badannya.

Dari semua kenyataan ini telah membuktikan bahwa perempuan itu memang benar-benar seorang perempuan genit yang sudah rusak moralnya. Betapakah tidak sesuai dengan yang luarnya sedemikian cantiknya?

Wajah Hui Kiam berubah begitu pucat dan menakutkan. Dia berdiri terpaku bagaikan patung, tiada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Manusia Agung itu berkata pula:

“Apakah kau sudah pernah melakukan perbuatan tidak pantas dengan perempuan itu?”

“Belum!”

“Itu bagus, masih belum terlambat untuk memperbaiki kedudukannya.” “Apakah. semua itu benar adanya?”

“Aku si orang tua mempertaruhkan derajat dan nama baikku.” “Kalau demikian halnya, ayahku itu ternyata adalah seorang

gagah yang kurang baik budinya.”

“Boleh dikata begitu. Dalam hidupnya ia sudah banyak berdosa, sekalipun mati juga masih belum cukup untuk menebus dosanya.”

Perkataan itu sesungguhnya bagi Hui Kiam, untuk pertama kalinya ia mendengar perkataan orang itu yang mengeritik perbuatan ayahnya di masa hidup. Menurut penilaian Manusia Agung ini, ayahnya merupakan satu iblis yang amat jahat. Apakah karena itu sehingga dalam pesan ibunya juga menjurus membunuh ayahnya sendiri? Kalau begitu pesan itu bukanlah tidak ada sebab.

Dengan Penghuni Loteng Merah yang sudah mengadakan perhubungan, begitu juga dengan Tong-hong Hui Bun, dengan demikian jadi teranglah sudah bahwa ibunya disia-siakan oleh ayahnya sendiri. Dari sini dibuktikan bagaimana sifat sang ayah itu. Dan yang lain? Entah perbuatan jahat apalagi yang dilakukan dalam kalangan Kang-ouw?

Sebagai satu anak, ia harus mencari keterangan yang sebenarnya. Apabila hanya terhadap kaum wanita saja, itu hanya terhitung soal kepribadiannya yang kurang baik, tetapi jika melakukan kejahatan terhadap masyarakat, maka tidak boleh menyesalkan orang lain mengutuknya.

“Aku ingin tahu apa maksudnya dengan perkataanmu sudah terlalu banyak dosanya tadi?”

Manusia Agung itu menghela napas panjang, kemudian baru menjawabnya:

“Di kemudian hari kau akan mengerti sendiri.” “Tetapi aku ingin tahu sekarang.”

“Waktunya belum tiba, aku tidak ingin bicara dulu!” “Tuan jangan lupa bahwa aku adalah anaknya!”' “Apa arti perkataanmu ini?”

“Tuan harus bertanggung jawab terhadap ucapanmu sendiri. Aku tidak akan menuduh sembarangan, tentang ucapan tuan tadi sudah pasti ada dasarnya, jikalau tidak, ini berarti suatu penghinaan bagi diriku.”

“Apabila kenyataan memang begitu, bagaimana?” “Aku tidak akan berkata apa-apa.”

“Jikalau tidak?”

“Tuan harus memberi keadilan.”

“Bagaimana kalau rekening ini juga kita tangguhkan dulu sampai kemudian hari?”

“Maaf, aku ingin tahu sekarang juga.”

“Nampaknya pertempuran ini tidak dapat dihindarkan lagi. ”

“Apakah tuan menghendaki pertempuran sebaliknya tidak suka menerangkan keadaan yang sebenarnya?”

“Bukan tidak suka, melainkan tidak bisa!”

“Dalam pertempuran ini merupakan pertempuran mati-matian, ataukah hanya menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah saja sudah cukup?”

Dengan acuh tak acuh Manusia Agung itu menjawab: “Kau berbuat melihat gelagat saja.”

“Kalau begitu jangan sesalkan aku berlaku ganas. Nanti jangan kau katakan lagi sikapku kurang jantan. ”

“Bocah, apakah kau menginginkan bertempur dengan sungguh- sungguh?”

“Sambutlah pedangku ini.”

Hui Kiam segera melancarkan serangannya dengan menggunakan sepenuh-penuh kekuatan tenaganya. Manusia Agung segera menyambut dengan tongkat rotan di tangannya. Gerakan senjata rotannya sangat aneh, ia agaknya mengambil sikap menutup tidak akan melakukan serangan balasan.

Waktu kedua senjata itu saling beradu ternyata menimbulkan suara nyaring, seolah-olah bunyi beradunya dua senjata besi.

Keduanya begitu saling mengadu kekuatan lalu terpencar. Hui Kiam merasakan tangannya kesemutan, sedangkan tongkat rotan di tangan Manusia Agung hampir terlepas terbang.

Manusia Agung memeriksa sebentar tongkat rotannya. Ternyata tempat di mana dua senjata tadi beradu, terdapat satu gompalan, sehingga alisnya yang putih nampak mengkeru. Katanya dengan suara gemetar:

“Sungguh pedang yang sangat bagus. Tongkatku ini untuk pertama kali dalam seumur hidupku mendapat kerusakan.”

Hui Kiam diam-diam juga terkejut. Keampuhan pedang saktinya itu, sekalipun pedang Bulan Emas kepunyaan pemimpin Bulan mas

yang sudah terkenal tajamnya juga tidak terluput dari kerusakan waktu beradu dengan senjatanya, tetapi tongkat yang merupakan tongkat rotan itu tidak terpapas putung hanya mendapat sedikit kerusakan saja, ini merupakan suatu bukti bahwa tongkat itu bukan barang sembarangan yang tidak dapat dirusakkan oleh senjata biasa.

Karena dikagumkan oleh senjata tongkat itu, maka ia lalu berkata:

“Tongkat tuan ini juga merupakan barang pusaka!”

Manusia Agung itu agaknya sayang sekali terhadap tongkatnya itu. Ia memeriksa sekali lagi, kemudian baru menjawab:

“Barang pusaka sudah mendapat kerusakan, bagaimana boleh dianggap barang pusaka lagi?”

“Tidak terpapas putung sesungguhnya juga merupakan suatu keajaiban.” “Hem!”

“Sekarang sambutlah seranganku yang kedua!”

Jurus kedua itu Hui Kiam juga menggunakan tenaga sepenuhnya. Hampir setiap bagian jalan darah orang itu semua berada di bawah ancaman pedang Hui Kiam.

Orang itu juga mengetahui hebatnya serangan itu. Ia tahu tiada guna ia menyingkir apalagi balas menyerang, maka dengan sepenuh tenagnuya ia menjaga seluruh jalan darah dan anggota badannya. Dalam serentetan serangan, kedua senjata itu kembali telah beradu hampir sepuluh kali lebih.

Manusia Agung dengan kaki terhuyung-huyung mundur sampai empat lima langkah. Tongkatnya menunduk ke tanah, rambut dan jenggotnya yang putih berterbangan, wajahnya pucat pasi, napasnya terputus-putus.

Dua kali Hui Kiam turun tangan tidak berhasil melukai lawannya, ini suatu bukti bahwa orang tua itu merupakan seorang kuat lagi di sampingnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas, tetapi apabila pertempuran itu berlangsung terus, asal ia melancarkan serangannya dengan sepenuh tenaga, orang tua itu sekalipun tidak mati juga akan terluka. Seketika itu ia berkata dengan nada suara dingin:

“Sekarang tuan rasanya boleh menerangkan.” “Tidak!”

“Apakah tuan percaya sanggup menyambut seranganku yang ketiga?”

“Sekalipun aku harus terluka, juga ingin berkenalan lagi dengan gerak tipumu ini!”

“Tetapi pedang ini tiada matanya, ada kemungkinan Tuan nanti akan tidur untuk selama-lamanya?”

“Adakah kau bermaksud hendak membunuh aku?” “Tuan sendiri yang memaksa aku berbuat demikian!” “Bagaimana apabila aku sanggup menyambut seranganmu yang ketiga?”

“Itu tidak murgkin!”

“Bocah, apakah kau sudah yakin benar?” “Hampir begitu!”

“Nah, kau boleh turun tangan!”

Hui Kiam bergerak maju. Ia melancarkan lagi serangannya dengan pedang saktinya....

Maksud Hui Kiam hanya ingin supaya orang tua itu memberitahukan kelakuan ayahnya di masa hidupnya. Mengapa dikatakan sekalipun ayahnya mati juga tidak cukup untuk menebus dosanya?

Sebelum ia melancarkan serangannya, ia peringatkan lagi kepada orang tua itu:

“Tuan, kau masih ada kesempatan ”

“Kau jangan mengharap aku tunduk di bawah ancaman pedangmu!”

“Tuan nanti bisa menyesal.”

“Yang akan menyesal mungkin kau sendiri!”

Wajah Hui Kiam berubah. Ia sudah bertekad tidak akan membiarkan lawannya lolos dari bawah pedangnya.

Pada saat itu dari dalam rimba tiba-tiba terdengar satu suara yang sudah tidak asing baginya:

“Hui Kiam, kau tidak boleh berlaku tidak sopan terhadap seorang tingkatan tua!”

Hui Kiam dengan sinar mata tajam mengawasi ke arah datangnya suara itu, lalu berkata:

“Siapa?”

“Orang Menebus Dosa!” Munculnya manusia misterius itu benar-benar di luar dugaan Hui Kiam.

Dari suaranya orang itu, ia sudah mengenali bahwa suara itu memang benar keluar dari mulut Orang Menebus Dosa.

Dari suaranya, Orang Menebus Dosa ini agaknya sangat menghormati Manusia Agung itu.

Akan tetapi derajat orang dan soal permusuhan adalah lain sifatnya. Sekalipun orang tua itu ada seorang yang mempunyai kedudukan baik dan dihormati oleh seluruh orang rimba persilatan, juga tidak dapat mengurangi rasa dendam yang timbul karena kebenciannya.

Apa sebabnya manusia misterius itu dengan tiba-tiba melarang ia turun tangan terhadap Manusia Agung? Ini rasanya bukan hal kebetulan. Ada kemungkinan kedua pihak merupakan orang sekomplotan, sebab kedua-duanya sama-sama mengetahui baik semua rahasia tentang dirinya. Apabila rahasia ini tidak dapat dibongkar, itu akan merupakan suatu penderitaan bagi hatinnya.

Setelah berpikir demikian, ia lalu berkata:

“Mengapa tuan tak mau menampakkan diri?” Terdengar suara jawaban Orang Menebus Dosa:

“Kita masih belum tiba waktunya untuk saling bertemu muka!” “Mengapa?”

“Di kemudian hari kau akan mengerti sendiri.” “Mengapa tuan berlaku demikian misterius?” “Aku berbuat begini karena terpaksa!”

“Apakah untuk bertemu muka juga ada batas waktunya?” “Sudah tentu!”

Hui Kiam menarik napas, matanya mengawasi Manusia Agung itu. Orang tua itu menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap kedatangan Orang Menebus Dosa itu, seolah-olah sudah berada dalam dugaannya. Ini suatu bukti bahwa Orang Menebus Dosa sudah lama sembunyikan diri di dekat situ, maka Manusia Agung itu tenang-tenang saja menghadapi dirinya.

Kecuali itu, Orang Menebus Dosa ini mungkin juga turut ambil bagian dalam pembunuhan besar-besaran di gedung cabang Persekutuan Bulan Emas itu. Dari kepandaian dua orang ini yang sudah diketahuinya, sekalipun Tong-hong Hui Bun berada di situ, barangkali juga tidak sanggup melawan.

Tong-hong Hui Bun adalah anak perempuan pemimpin Persekutuan Bulan Emas, sedangkan Persekutuan Bulan Emas itu merupakan musuh bersama orang-orang rimba persilatan. Kalau cabangnya ataupun markasnya ditumpas memang tak ada harganya mendapat simpatinya.

Demikian ia berpikir, lalu berkata pula:

“Apakah tuan turut ambil bagian dalam pembunuhan di gedung bawah kaki gunung itu?”

“Benar, tempat yang merupakan sumber kejahatan itu kita harus rnembasminya satu persatu.”

“Apakah ini juga merupakan sebahagian tindakan terhadap Persekutuan Bulan Emas?”

“Boleh dikata begitu. Kau tentunya toh tidak akan merasa simpatik terhadap sepak terjangnya?”

“Aku tidak simpatik, tetapi aku pernah menerima budi anak perempuan pemimpin persekutuan itu….”

“Hui Kiam, apakah kau ingin membalas budi?”

“Apakah seorang gagah tidak boleh mempunyai pikiran demikian?” demikian Hui Kiam balas menanya.

Manusia Agung itu tiba-tiba menyela:

“Kau pikir bagaimana hendak membalas budi itu?” “Itu ada urusan pribadiku,” jawab Hui Kiam dingin. “Kau toh tidak akan berbalik memusuhi orang-orang golongan benar?”

“Pendirianku tetap teguh, tidak perlu tuan pikirkan.”

“Itu bagus, aku merasa senang sekali mendengar perkataanmu ini.”

“Tetapi urusan kita masih belum selesai?” Terdengar pula suaranya Orang Menebus Dosa: “Hui Kiam, sukakah kau dengar perkataanku?” “Silahkan.”

“Jangan bermusuhan dengan locianpwee. Segala sebab dan akibat, dalam waktu yang singkat kau nanti akan mengetahui sendiri.”

Sepak terjang Orang Menebus Dosa ini meskipun sangat misterius, tetapi terhadap Hui Kiam pernah memberi banyak pertolongan, sehingga boleh dikata Hui Kiam banyak hutang budi terhadapnya. Betapapun juga budi itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Maka setelah berpikir sejenak, lalu berkata:

“Dengan memandang tuan, aku tidak berkata apa-apa!” “Kalau begitu aku merasa sangat bersyukur.”

“Tuan terlalu merendah. Aku telah menerima budi terlalu banyak darimu, sehingga sekarang aku masih belum berani menyatakan hendak membalas budi itu.”

Setelah hening sejenak, terdengar pula suaranya Orang Menebus Dosa yang kedengarannya sangat aneh:

“Hui Kiam, apakah tadi kau sudah mendengar nasehat lo- cianpwee itu?”

Nasehat yang dimaksudkan itu, sudah tentu tentang hubungannya dengan Tong-hong Hui Bun dengan ayahnya To-liong Khiam Khek Su-ma Suan. Hati Hui Kiam pedih sekali sehingga seketika itu mukanya nampak suram. Jawabnya dengan sedih: “Apakah itu suatu kenyataan?” “Seratus persen benar!”

Ucapan itu keluar dari mulutnya Orang Menebus Dosa. Hui Kiam mau tidak mau harus percaya. Mengenai dirinya sendiri, Tong-hong Hui Bun tidak mungkin tidak tahu, akan tetapi mengapa ia masih bisa jatuh cinta kepada dirinya? Bahkan begitu sungguh hati dan besar sekali cintanya itu? Apakah maksudnya? Bukankah ini merupakan suatu perbuatan yang terkutuk?

“Aku percaya akan dapat membuktikan kebenarannya ini!” “Apakah kau ingin mencari keterangan dari Tong-hong Hui Bun

sendiri?”

“Ya!”

“Hui Kiam, kau barangkali tidak tahu benar tentang dirinya. Kau hati-hati jangan sampai melakukan tindakan yanp membuat sesal seumur hidupmu dan merupakan satu tragedi yang tragis.”

Badan Hui Kiam gemetar. Katanya dengan suara terharu: “Terima kasih atas nasehatmu!”

“Lagi, apakah kau suka berjanji untuk sementara jangan menuntut balas dendam dulu kepada Orang Berbaju Lila?”

“Aku.....terima. ”

“Baik, apakah kau ingat kamar rahasia Orang Berbaju Lila di bawah tanah itu?”

“Ingat!”

“Kalau begitu kau segera berangkat ke tempat itu. Sudah tiba waktunya akan mengeluarkan pengumuman menggempur Persekutuan Bulan Emas.”

Ini merupakan suatu peristiwa besar dalam rimba persilatan. Ini merupakan suatu pertempuran antara golongan kebenaran dengan golongan sesat. Pertempuran ini, akan merubah nasib rimba persilatan. Maka seketika itu semangat Hui Kiam terbangun. Ia masukkan pedang ke dalam sarungnya, kemudian berkata:

“Aku turut perintahmu!” “Sampai ketemu lagi!”

Suara itu kedengaran sangat jauh, mungkin sudah berlalu.

Sambil mengurut jenggotnya yang putih, Manusia Agung itu berkata:

“Bocah, kau mendapat kurnia Allah menemukan pengalaman gaib sehingga menjadi tulang punggung dalam pertempuran untuk menegakkan kebenaran dan keadilan ini. Semoga kau baik-baik membawa dirimu.”

Perkataan orang tua itu mengandung anjuran dan dorongan semangat Hui Kiam, juga merupakan suatu pujian dan penghargaan atas kepandaian anak muda itu. Terlepas dari soal perbincangan antara kedua orang tadi, dengan kedudukan dan derajat seperti Manusia Agung itu, telah mengucapkan perkataan demikian terhadap Hui Kiam yang masih muda belia, sesungguhnya juga merupakan suatu kehormatan sangat besar bagi pemuda gagah itu. Untuk menunjukkan bahwa dirinya benar seorang gagah, sudah tentu ia harus menyatakan apa-apa. Maka ia lalu berkata sambil rnemberi hormat:

“Aku yang rendah tidak berani menerima pujianmu. aku hanya tahu menyumbangkan tenaga untuk membela pihak yang benar.”

“Kalau begitu, rimba persilatan boleh merasa bersyukur dan beruntung menjelmakan seorang kuat seperti kau ini. Nah, sampai berjumpa lagi!”

Sehabis mengucap demikian, lalu menghilang.

Hui Kiam berdiri bingung memikirkan apa-apa yang telah terjadi tadi, kemudian sudah berlalu meninggalkan rimba tersebut.

Matahari sudah mulai silam, burung-burung beterbangan pulang ke kandang, suatu tanda sudah hampir malam lagi. Hui Kiam tidak mempunyai pikiran untuk menikmati pemandangan alam di waktu senja itu. Ia masih membuka langkahnya melanjutkan perjalanannya ke arah berlawanan dengan bukit itu.

Selagi masih berjalan, tiba-tiba terdengar suara orang berkata kepadanya:

“Jangan pergi!”

Mendengar suara itu Hui Kiam segera mengetahui orangnya.

Dalam cuaca yang samar, sesosok bayangan langsing berada di hadapan matanya. Orang itu adalah Tong-hong Hui Bun sendiri. Saat itu parasnya nampak agak pucat. Dengan sikap yang berbeda dengan biasanya, ia menatap wajah Hui Kiam tanpa bicara apa-apa.

Sikap demikian itu, baru pertama kali ini Hui Kiam menghadapinya. Dengan tanpa sadar ia mundur satu langkah dan menegurnya:

“Kau….”

“Sebutan saja kau juga sudah berubah?” berkata Tong-hong Hui Bun dingin.

Hui Kiam ingat nasehat Orang Menebus Dosa dan lain- lainnya. Ia rasakan seperti terguyur air dingin, sesaat itu ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus membuka mulut.

“Kau sudah tidak sudi memanggilku enci, tetapi aku masih tetap panggil kau adik, perbuatanmu sesungguhnya terlalu kejam,” berkata Tong-hong Hui Bun.

Pikiran Hui Kiam yang masih kusut, ketika mendengar perkataan itu segera balas bertanya tanpa dipikir:

“Peerbuatan apa yang kau maksudkan terlalu kejam?” “Adik, kau jangan berlagak pura-pura tidak tahu.” “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” “Aku bertanya padamu, dalam hal mana aku berlaku tidak patut terhadapmu sehingga kau berbuat demikian terhadap diriku?”

Hui Kiam seperti tersadar, katanya:

“Aku kira kau akan berpura-pura seterusnya,” demikian Tong- hong Hui Bun memotong dengan suara bengis.

“Apakah kau kira itu perbuatanku?”

“Kecuali kau, barangkali tidak ada orang lagi yang mampu membunuh sekian banyak orang kuat.”

“Kau keliru.”

“Aku… keliru? Hem! Aku harap supaya kau dapat menjelaskan.” “Itu adalah perbuatan orang lain.”

“Orang lain siapa?”

Sudah tentu Hui Kiam tidak dapat memberitahukan tentang diri Orang Menebus Dosa dan lain-lainnya, sebab itu merupakan suatu perbuatan khianat terhadap sesama orang rimba persilatan.   Maka ia menjawab dengan tegas:

“Tidak tahu!”

Tong-hong Hui Bun gemetar karena menahan hawa arnarahnya. “Kau tidak tahu?”

“Mengapa aku harus tahu?”

“Adik, kau tidak mau mengaku terus terang?” “Mengaku apa?”

“Membunuh orang.”

“Aku tidak melakukan itu, bagaimana harus mengaku?”

“Kalau begitu kau harus tunjukkan, siapa yang melakukan itu?” Jikalau pertanyaan itu diajukan pada waktu yang lalu, mungkin

Hui Kiam dapat memberikan secara terus terang. Tetapi sekarang keadaan sudah berlainan. Nasehat Orang Menebus Dosa dan Manusia Agung seolah-olah duri beracun menusuk ulu hatinya, dan duri beracun itu sudah cukup merupakan apa yang terjadi terhadap perempuan itu di masa yang lalu juga membuat perasaannya terhadap kecantikan perempuan itu, timbul reaksi kebalikannya. Dengan nada suara kaku dan dingin ia berkata:

“Aku sudah berkata bahwa aku tidak tahu.”

“Kalau begitu harap kau suka menerangkan. Kau yang sebetulnya sedang terluka parah, bagaimana sekarang sembuh kembali seperti biasa?”

“Aku sembuhkan lukaku dengan kekuatan tenaga dalamku.” “Anggaplah begitu, mengapa kau tidak turut terbunuh?” “Mungkin tujuan orang itu bukan diriku.”

“Jadi kau mengawasi dengan berpeluk tangan orang-orangku dibunuh seperti hewan?”

“Pembunuhan itu terjadi ketika aku sedang bersemedhi untuk menyembuhkan luka-luka dalamku. Setelah aku sembuh dari lukaku baru aku mengetahui kejadian ini.”

“Apakah kau kira aku merasa puas dengan keteranganmu ini?” “Percaya atau tidak terserah kepadamu!”

“Adik, lantaran kau hampir saja aku putus perhubungan dengan ayahku. Aku telah berniat dan berusaha untuk kebaikanmu dan keselamatanmu, sehingga aku selalu menutupi sikap dan perbuatanmu yang memusuhi persekutuan kami. Untuk kau aku tidak sayang berkorban, justru karena aku cinta kepadamu. Tetapi, sebaliknya kau. ”

Berkata sampai di situ ia menangis dengan sehingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.

Semua itu merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh Hui Kiam. Tetapi nasehat yang bagaikan duri beracun itu telah membuat dingin dan beku hati Hui Kiam. Maka ia berkata dengan sikap yang masih tetap dingin: “Aku tidak menyangkal semua kebenaranmu!”

“Kalau begitu mengapa kau membalas dengan sikap demikian?” “Aku tidak...” jawab Hui Kiam bagaikan orang kalap.

Tong-hong Hui Bun dikejutkan oleh sikap Hui Kiam itu. Ia bertanya pula dengan suara gemetar.

“Adik, betulkah itu bukan perbuatanmu?” “Bukan!”

“Apakah kau   masih tetap cinta kepadaku?”

Sekujur badan Hui Kiam gemetar, sepasang matanya terbuka lebar, lama tidak dapat menjawab.

Paras Tong-hong Hui Bun semakin pucat, matanya memancarkan sinar kebencian, dengan suara bengis tetapi perlahan ia berkata:

“Kau telah berubah. Kau menipu hatiku, kemudian kau melemparkannya dan menginjaknya bagaikan sampah yang tidak berharga.”

“Aku... tidak….”

“Perlu apa menyangkal?”

“Aku mengaku, memang benar aku sudah berubah. Tidak boleh tidak aku harus berubah.”

Tong-hong Hui Bun bergerak maju mendekati Hui Kiam dua langkah. Katanya:

“Aku mengerti, kau tentunya sudah jatuh cinta pada gadis di dalam Makam Pedang itu. Oleh karena itu maka kau mendapatkan pedang sakti itu.”

“Aku tidak menyangkal bahwa aku cinta kepadanya.”

“Bagus! Adik, encimu dengan terus terang beritahukan kepadamu. Barang yang aku tidak bisa dapatkan, aku hendak merusaknya. Siapa pun tidak akan mendapatkannya. Aku bisa berlaku dengki, juga bisa berbuat kejam. Ya, aku pernah mencintai seseorang, tetapi ketika aku mengetahui bahwa diriku tertipu, aku bisa melakukan pembalasan secara hebat. ”

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula:

“Apakah aku cantik?   Ya, tentunya kau tak akan menyangkal. Aku juga merasa bangga dengan kecantikanku ini. Tetapi aku sendiri telah mengetahui bahwa aku sudah bukan seorang perempuan muda lagi. Meskipun aku mempunyai ilmu sehingga aku tetap awet muda, tetapi biar bagaimana aku tidak dapat melawan kehendak Tuhan. Usiaku yang sudah menanjak tua, tidak bisa kembali muda lagi. Seumur hidup aku hanya mencintai seorang laki-laki dengan setulus hati. Laki-laki itu juga merupakan kekasihku yang terakhir. Laki-laki itu adalah kau….”

Jantung Hui Kiam tergunrcang hebat. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.

Tong-hong Hui Bun melanjutkan kata-katanya:

“Aku telah memberikan kepadamu segala-galanya. Aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Adik, encimu seorang yang bisa mencinta tetapi juga bisa membenci berapa dalam cintanya dan berapa dalam bencinya, mengertikah kau maksudku?”

Dengan tanpa sadar Hui Kiam menggigil. Ucapan perempuan itu begitu dingin dan kejam, tetapi juga mengunjukkan betapa besar cinta kasih terhadap dirinya ini.

Cinta yang sudah mendalam, kebenciannya juga lebih mendalam lagi. Rasa benci yang timbul dari akibat rasa cinta yang gagal, adalah kebencian yang lebih daripada segala rasa benci.

Hati Hui Kiam mulai goncang lagi. Memang tiada alasan baginya untuk menyatakan bahwa cinta Tong-hong Hui Bun adalah palsu, akan tetapi duri beracun yang sudah masuk ke dalam otaknya lebih besar pengaruhnya.

Andaikata hanya karena pendirian masing-masing yang bertentangan antara benar dan sesat, mungkin ia tidak akan berlaku demikian tegas, karena segala sesuatunya bisa berubah, hanya hatinya sudah terluka tidak bisa disembuhkan lagi. Tong-hong Hui Bun berkata pula:

“Apakah kau sudah dengar semuanya apa yang aku katakan tadi?”

“Sudah!”

“Kalau begitu kau jawablah! Mengapa kau tidak bicara?” “Tahukah kau asal usul diriku ?”

“Tahu, bahkan sangat jelas sekali.”

“Kalau kau sudah tahu, mengapa kau tidak merubah perbuatanmu?”

Tong-hong Hui-bun berdiam sejenak, baru menjawab:

“Itu adalah soal yang tidak ada hubungannya satu sama lain.

Aku. ”

“Apa, kau kata tidak ada hubungannya?” “Sudah tentu !”

“Berapa banyak sebetulnya yang telah kau ketahui?” “Tahu semuanya!”

“Coba kau ceritakan!”

“Dari   mulut Orang Berbaju Lila aku tahu bahwa kau adalah murid Lima Kaisar Rimba Persilatan. Kau telah menganggap dirimu sebagai orang dari golongan kebenaran dan memandang persekutuan kami sebagai musuh. !”

“Masih ada lagi?”

“Kau adalah anak To-liong Kiam Khek Su Ma Suan!” ”Jadi kau juga tahu?”

“Tadi aku sudah kata bahwa aku tahu semuanya.”

Jawaban itu sesungguhnya di luar dugaan Hui Kiam. Tong-hong Hui Bun ternyata sudah mengetahui asal-usul dirinya, tetapi mengapa tidak merasa malu terhadap dirinya sendiri? Kalau begitu nasehat Orang Menebus Dosa dan lain-lainnya bukankah omong kosong belaka? Apakah dalam hal ini ada terselip soal apa-apa lagi? Tetapi biar bagaimana, ini adalah merupakan persoalan besar, yang tidak boleh tidak harus dijernihkan.

Karena berpikir demikian maka ia segera berkata:

“Kau dengar kabar di dalam rimba persilatan tersiar desas desus….”

“Desas desus apa?”

“Kau pernah mempunyai hubungan suami istri dengan ayahku.” Ucapan itu dengan susah payah baru keluar dari mulut Hui Kiam.

Setelah ucapan itu keluar dari mulutnya, sepasang matanya terus

menatap wajah Tong-hong Hui Bun, agaknya hendak menembus hatinya.

Paras Tong hong Hui Bun pucat pasi, ia mundur hingga tiga langkah.

Hui Kiam yang menyaksikan itu, lalu membentaknya dengan suara keras:

“Betulkah ada kejadian itu?!”

Tong-hong Hui Bun masih berdiam, bibirnya bergerak-gerak, lama baru bisa berkata:

“Siapa mengatakan?”

“Kau jangan perduli siapa yang berkata. Kau katakan saja betul atau tidak?”

Keringat dingin sudah membasahi sekujur badan Hui Kiam, darahnya seperti sudah berhenti mengalir. Betapa hebat dan menakutkan kejadian itu, apabila itu benar adanya, bagaimana ia harus bertindak selanjutnya?

Kemarahan yang timbul dalam hati Hui Kiam hampir saja ia menjadi kalap.......

Tiba tiba Tong-hong Hui Bun berseru: “Omong kosong! Itu fitnahan belaka ”

“Apa? Kau kata omong kosong?” “Ya, satu fitnahan keji.”

“Kau menyangkal?”

“Adik, siapa yang berkata demikian?”

“Tentang ini tidak perlu aku beritahukan kepadamu.” “Orang Berbaju Lila, betul tidak?”

“Jangan tanya siapa. Kau harus menerangkan hal yang sebenarnya, sebetulnya ada kejadian itu atau tidak?”

“Tidak.” “Benarkah?”

“Benar, aku sedikitpun tidak bobong!”

Hui Kiam mulai kusut lagi pikirannya. Ia percaya kepada Orang Menebus Dosa dan Manusia Agung. Kecuali mereka berdua, masih ada lagi gurunya Ie It Hoan yang sangat misterius itu.

Tetapi Tong-hong Hui Bun jupa tidak mungkin merupakan seorang perempuan yang begitu rendah moralnya. Sebetulnya keterangan pihak manakah yang dapat dipercaya? Karena ayahnya sudah meninggal dunia, sudah tentu tidak mungkin diminta keterangannya.

Ia berdiri terpaku, semangatnya entah kemana terbangnya. Tong-hong Hui Bun berkata pula:

“Betapakah kejinya fitnahan itu? Adik, kau percayakah fitnahan itu?”

“Mau tidak mau aku harus percaya!” “Mengapa?”

“Sebab kesalahan ini tidak bisa diperbaiki lagi, kita juga harus jaga jangan sampai terjadi!” “Tetapi aku juga tidak menyangkal. Adik, terlepas dari soal ini, dengan kecantikan yang aku miliki memang sudah cukup membuat orang iri hati. Di samping itu ada juga orang yang ingin memfitnah diriku berbagai cara. Coba kau pikir, To-liong Kiam khek bukan orang sembarangan, jikalau aku mempunyai hubungan suami-istri dengannya, mengapa di dunia Kangouw tiada orang yang mengatakan, hanya seorang saja yang menceritakan kepadamu, kau seharusnya tokh bisa pikir sendiri.”

Pikiran Hui Kiam telah goyah. Ucapan perempuan itu memang benar. Dalam kalangan Kang-ouw, belum pernah ada orang yang menyebutkan soal itu. Berulang-ulang Tong-hong Hui Bun mengatakan itu fitnahan semata-mata, kemungkinan itu memang ada, karena orang mengatakan soal itu, semua adalah orang-orang sekomplotan. Tentang gurunya Ie It Hoan sehingga saat itu dia hanya tahu ada tetapi belum pernah melihat rupanya. Adalah orang itu yang paling dulu mengucapkan berserikat dengan Orang Berbaju Lila untuk melawan orang-orang Persekutuan Bulan Emas.

Tentang Orang Berbaju Lila tidak usah dikata, karena ia dengan Tong-hong Hui Bun sudah lama timbul perselisihan.

Ditinjau dari sudut ini persoalan ini sesungguhnya agak rumit.

Tetapi apakah maksud orang-orang itu perlu merusak hubungan antara ia dengan Tong-hong Hui Bun?

Andaikata maksud mereka takut melihat dirinya terlibat dalam asmara sehingga mengabaikan tujuannya untuk membela kebenaran atau sampai dirinya masuk ke dalam pelukan Persekutuan Bulan Emas hingga membahayakan rimba persilatan maka mereka perlu dengan menggunakan rupa-rupa tindakan yang sangat rendah untuk memutuskan hubungannya dengan Tong-hong Hui Bun. Kalau itu benar, ini berarti bahwa orang-orang itu telah memandang rendah kepribadiannya, juga merupakan suatu perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang-orang gagah.

Kini pikirannya telah teralih pula kepada pertikaian-pertikaian antara orang-orang golongan benar dan golongan sesat. Pergerakan membasmi kejahatan sudah akan dimulai, sedangkan ia sendiri dengan pemimpin Persekutuan Bulan Emas sudah merupakan musuh lama. Ditilik dari pendirian masing-masing, ia sendiri merupakan satu tiang yang kuat dalam barisan golongan benar. Tong-hong Hui Bun adalah anak perempuan pemimpin Persekutuan Bulan Emas, tidak perduli dipandang dari sudut manapun juga, hubungan antara ia dan perempuan cantik itu memang seharusnya diakhiri.

Setelah berpikir demikian ia berkata dengan suara berat dan perlahan:

“Tidak sulit untuk mencari keterangan hal yang sebenarnya.

Aku bersumpah hendak menyelidiki soal ini!”

“Apakah kau tidak percaya perkataanku?” berkata Tong-hong Hui Bun dengan muka pucat pasi.

“Ini sudah tidak penting lagi!” “Tidak penting mengapa?”

Hui Kiam berusaha menenangkan perasaannya. Dengan nada suara tegas ia berkata:

“Enci, memang betul kita sudah pernah mengadakan perhubungan, tetapi untung masih belum melanggar batas peraturan dan adat istiadat. Tidak perduli bagaimana asal-usul diri kita, apa yang sudah lampau simpanlah di dalam hati. ”

Tong-hong Hui Bun tiba-tiba mundur satu langkah. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Maksudmu apakah kita hapuskan hubungan cinta kasih kita?” Hui Kiam merasa berat, tetapi diam-diam dikeraskan hatinya.

Akhirnya ia menganggukkan kepala seraya berkata: “Ya, hubungan antara kita harus diakhiri.”

Sepasang mata Tong-hong Hui Bun yang menggiurkan dan memikat hati, kini telah berubah seluruhnya. Mata itu memancarkan sinar yang menakutkan. Bibirnya nampak gemetar, pipinya berkenyit, lama baru bisa berkata:

“Kau katakan... harus diakhiri?” “Ya.”

“Memang benar, seharusnya yang kita akhiri hubungan itu, tetapi... sekarang... tidak bisa.”

Perkataan yang terakhir itu diucapkan demikian tegas seolah-olah tidak dapat diganggu gugat lagi.

Hui Kiam merasa sangat sedih, tetapi ia harus memegang teguh pendiriannya. Asal ia dapat mengendalikan perasaannya, tindakan menimbulkan akibat yang menakutkan, keputusan yang demikian itu memang berat bagi Hui Kiam.

“Mengapa tidak bisa?” “Sudah terlambat.” “Terlambat! Apa artinya?”

Tong-hong Hui Bun dengan tangannya yang halus membereskan rambutnya yang terurai di pundaknya. Dengan suara berat dan hampa ia berkata:

“Hui Kiam, aku sudah tidak berdaya menolong diriku sendiri.”

Hui Kiam seolah-olah disambar geledek. Pikirannya kalut, matanya berkunang-kunang. Ia gemetaran karena ia merasa bahwa akal budinya hampir runtuh. Semula ia mengira dengan kekerasan hati ia dapat menembusi rintangan yang sangat berat itu, tetapi kenyataannya tidak begitu mudah.

Nasehat Orang Menebus Dosa, berkumandang lagi di dalam telinganya. Lebih baik percaya daripada tidak, pikiran itu merupakan suatu dorongan yang kuat untuk menguatkan kelemahan hatinya. Ia coba menenangkan pikirannya, lalu berkata:

“Kenyataan telah menunjukkan bahwa kita mau tidak mau harus berpisah!” “Apakah kau suka masuk dalam perangkap akal keji orang lain?” “Tidak-tidak!”

“Kalau begitu karena apa?”

“Kau harus tahu, antara aku dengan ayahmu sudah merupakan musuh bebuyutan.”

“Tetapi itu toh masih bisa diperbaiki!” “Sudah tidak mungkin lagi!”

“Aku akan membujuk ayahku supaya melepaskan pendiriannya.” “Tetapi aku tak bisa merubah pendirianku.”

“Pendirianmu yang memusuhi persekutuan kami?”

“Kenyataan sudah begitu jelas, dunia rimba persilatan seolah- olah sudah menghadapi hari kiamat karena perbuatan ayahmu. Sepak terjangnya selama ini, telah menimbulkan kegusaran seluruh rimba persilatan, siapa yang tidak ingin tunduk kepada kejahatan, harus berdiri di pihak yang benar.”

“Aku tidak ingin menundukkan kau dengan kata-kata, tetapi aku ulangi lagi ucapanku yang lama. Kita boleh mengasingkan diri, tak akan mengetahui urusan dunia Kang-ouw lagi.”

“Kalau begitu aku juga akan mengatakan bahwa itu sudah terlambat!”

“Terlambat bagaimana?”

“Aku sudah berjanji hendak bertempur akan membela di pihak yang benar.”

“Kalau begitu... perhubungan antara kita... habislah sudah?” “Jangan kau menggunakan istilah habis, seharusnya kau

menggunakan istilah diakhiri.”

Tong-hong Hui Bun tiba-tiba tertawa bagaikan orang gila. Suara tertawanya itu demikian tajam seolah-olah menusuk telinga juga seolah-olah menikam hati Hui Kiam. Lama sekali, suara tertawa itu baru berhenti dan berkata lagi dengan nada suaranya yang berlainan:

“Adik, sebutan ini sehingga mati aku tidak akan berubah. Dahulu aku pernah berkata, mungkin aku keliru, sejak permulaan sudah keliru, mungkin aku sedang berjalan menuju kehancuran dan kemusnahan, tetapi aku tidak akan merubah perjalananku, biarlah aku musnah! Kau dengan aku, adik, adalah kau yang paksa aku berbuat demikian. Dalam hidupku, aku cuma tahu dua soal, cinta dan benci!”

Hui Kiam kembali gemetaran. Cinta dan kebencian!

Apa yang ia lakukan? Apakah ia sendiri yang salah? Ataukah ia gila?

“Ha, ha, ha. Adik, pada suatu ketika kau dan aku musnah bersama-sama, bersatu untuk selama-lamanya. Tiada suatu kekuatan apapun yang dapat memisahkan kita. Sudah tentu orang- orang yang kubenci, yang berusaha hendak memisahkan kita, akan mendapat ganjaran yang setimpal. Adik, biarlah untuk sementara kita berpisah! Ha, ha, ha. ”

Setelah mengucapkan demikian ia sudah bergerak dan menghilang dari hadapan Hui Kiam. Hanya suara tertawanya yang menyeramkan yang masih kumandang di udara.

Hui Kiam seperti seorang bingung berdiri di tempatnya. Ia seolah-olah sedang berada dalam impian buruk.

Otaknya dirasakan kosong melompong, apapun ia sudah tidak dapat memikirkan.

Hari sudah gelap, keadaan sunyi sepi. Hanya sinar bintang di langit yang merupakan penerangan satu-satunya dalam suasana yang gelap gulit.

Suara burung malam kedengarannya sangat mengerikan telah menggugah Hui Kiam dari mimpinya. Perasaan takut timbul dalam hatinya. Perasaan itu ia belum pernah rasakan pada waktu sebelumnya.

Tong-hong Hui Bun telah meninggalka dirinya dengan penuh kebencian. Perbuatan apakah yang akan dilakukan terhadap dirinya?

Apakah ia akan melakukan pembalasan atas cintanya yang tidak terbalas?

Siapapun tidak akan menduga bahwa cinta kasih itu akan berakhir demikian buruk!

Ditilik dari perbuatannya sejak ia memaksa Orang Berbaju Lila terjun ke dalam jurang dan membunuh orang-orangnya sendiri dengan cara yang sangat kejam, Tong-hong Hui Bun memang merupakan seorang perempuan yang berhati kejam. Ditinjau dari sudut ini, tidak dapat disangkal lagi bahwa ia bukan saja akan melakukan pembalasan atas dirinya, tetapi juga akan melampiaskan kebenciannya kepada orang-orang yang ada hubungannya dengan Hui Kiam. Tetapi pertempuran untuk membasmi kejahatan sudah akan dimulai, satu sama lain memang sudah saling berhadapan sebagai musuh. Tindakan pembalasan Tong-hong Hui Bun tidak perlu ditakuti, hanya terjadinya perubahan itu sedikit banyak menimbulkan perasaan duka bagi Hui Kiam.

Untuk pertama kali Hui Kiam merasa khawatir dan takut, tetapi ia dapat mengatakan apa yang harus ditakuti?

Tong-hong Hui Bun telah menyangkal dengan keras pernah menjadi isteri ayah Hui Kiam, tetapi perkataan Orang Menebus Dosa dan yang lain-lainnya tidak mungkin salah semuanya. $oal ini ia harus selidiki sendiri sehingga menjadi terang.

Kekasih yang juga merupakan ibu tirinya sendiri. Betapakah kejam dan menakutkannya soal ini, meskipun hubungan itu bisa diputuskan, dan dengan sendirinya telah berakhir, tetapi itu masih merupakan suatu penderitaan hatin yang tidak mudah dihapus.

Persoalan ini hanya Orang Menebus Dosa, Orang Berbaju Lila, Manusia Agung dan gurunya Ie It Hoan yang dapat menjawab. Setelah lama berpikir, ia baru melanjutkan perjalanannya.

Hari itu ia tiba di suatu bukit yang terpisah tidak jauh dengan kota Lam-shia. Ia taksir malam hari itu juga bisa tiba ke kuil tua yang merupakan pusat markasnya Orang Berbaju Lila yang dirahasiakan itu.

Sepanjang pinggir jalan di kaki gunung itu terdapat beberapa ratus rumah kediaman rakyat sehingga merupakan suatu perkampungan kecil.

Hui Kiam mencari rumah penginapan untuk bermalam. Ia ingin menggunakan kesempatan itu untuk memikirkan rencana selanjutnya.   Kali ini ia hendak berserikat dengan Orang Berbaju Lila, sama-sama melawan kekuatan Persekutuan Bulan Emas.

Terhadap kekuatan sendiri dan kekuatan lawan ia masih belum jelas. Menurut tafsirannya yang akan bertindak sebagai pemimpin dalam pihaknya sendiri tentunya gurunya Ie It Hoan.

Tetapi hingga saat itu, ia cuma mengetahui adanya orang yang sangat misterius itu dengan segala tindak-tanduknya yang aneh. Selainnya ia tidak tahu lagi.

Ia berserikat dengan musuhnya, sebetulnya merupakan suatu tindakan yang sangat terpaksa, maka sedapat mungkin ia harus mengendalikan perasaannya sendiri.

Tiba-tiba ia teringat dua soal. Dalam pikiran kalutnya tadi ia sudah lupa menanyakan hingga sekarang ia merasa menyesal.

Pertama, sucinya Pui Ceng Un telah dibawa pergi oleh orang suruhan Orang Menebus Dosa untuk diberi pertolongan. Ia terkena racun yang membikin orang hilang ingatan oleh orang-orang Persekutuan Bulan Emas, entah bisa sembuh atau tidak? Dan sekarang di mana ia berada?

Kedua, ia telah lupa menanyakan kepada Tong-hong Hui Bun tentang asal-usulnya pakaian laki- laki warna lila dalam kamarnya itu. Seandainya kala itu ia memajukan pertanyaan, mungkin dapat menangkap rahasia tentang hubungan perempuan itu dengan Orang Berbaju Lila.

Ditinjau dari fakta-fakta yang hingga saat itu telah diketahuinya, di antara Tong-hong Hui Bun dengan Orang Berbaju Lila, agaknya pernah terjalin hubungan apa-apa bukan semata-mata karena tergila-gila atas kecantikan seperti apa yang dikatakan oleh perempuan cantik itu. Selain daripada itu, waktu pertama kali muncul, Orang Berbaju Lila itu pernah menggunakan ilmu pedang Bulan Emas, ini juga merupakan suatu kejadian aneh yang tidak mungkin suatu hal kebetulan saja. Selagi masih hanyut dalam lamunannya sendiri, telinganya tiba-tiba mendengar suara orang memuji Buddha:

“Omitohud!”

Tanpa disengaja Hui Kiam mengangkat kepala. Matanya segera dapat melihat seorang padri wanita setengah tua dengan kantong hijau di punggungnya dan serenceng tasbe di tangannya berdiri di depan pintu. Ia pikir, padri wanita itu tentunya sedang minta sedekah.

Rumah penginapan merangkap rumah makan itu tidak luas. Di sebelah kanan pintu masuk terdapat ruang dapur. Di belakang dapur itu terdapat beberapa puluh meja dan kursi.

Hui Kiam yang duduk di sudut kiri menghampiri pintu, dapat melihat keadaan di luar dan dalam dengan nyata. Apalagi saat itu tetamu yang makan tidak banyak sehingga penglihatannya tidak terhalang.

Ia mengawasi sejenak. Selagi hendak minum lagi, mendadak merasakan gelagat tidak baik. Ketika ia mengawasi lagi, padri wanita itu ternyata sedang mengawasi dirinya dengan sinar mata yang tajam.

Aneh, demikian ia pikir. Padri wanita yang masih asing baginya itu, mengapa mengawasi dirinya dengan penuh perhatian demikian rupa? Dari sinar matanya yang tajam dapat diduga bahwa padri wanita itu tentu orang rimba persilatan. Apakah kenal dengan dirinya? Ataukah….?

Tanpa disadari tangannya meraba-raba gagang pedang di pinggangnya. Pikirnya: apakah padri wanita itu ‘menaksir’ pedangku ini?

Diam-diam ia merasa geli, dianggapnya paderi wanita itu tidak tahu diri.

Seorang pelayan menghampiri padri wanita itu dan menyapanya: “Apakah suthay hendak minta sedekah?”

“Hendak mencari orang,” jawabnya singkat. “Mencari orang?”

“Ya!”

“Mencari siapa?”

“Siaosiecu yang duduk di sudut ruangan itu!”

Paderi wanita itu mengaku tahu di mana adanya Pek-leng-lie. Nampaknya rahasia tentang tusuk konde kepala burung Hong itu segera akan terbuka.

Tetapi satu sama lain masih asing, mengapa perlu datang mencari dirinya? Dalam hal ini pasti bukan tidak ada sebabnya….

Jalan tidak berapa lama, mereka sudah berlalu jauh dari perkampungan itu.

Paderi wanita itu tiba-tiba membelok mengambil jalan ke arah pegunungan.

Hui Kiam terus mengikuti di belakangnya sejarak beberapa langkah saja, saat itu ia lalu bertanya:

“Suthay, di sini rasanya boleh suthay menceritakan perkara itu!” “Jangan kesusu, kita  sudah  akan segera  tiba di  tempatnya!”

jawabnya tanpa menoleh:

“Tempatnya! Tempat apa?” “Itulah tempat mensucikan diri pinnie.” “Oh!”

Hui Kiam tidak berkata apa-apa lagi. Ia terus mengikuti di belakang padri wanita itu, sementara itu dalam hatinya telah mengambil suatu ketetapan. Apabila paderi wanita ini benar-benar mengetahui di mana adanya Pek-leng-lie, demi kepentingan menuntut balas dendam ibunya ia akan mengorek keterangannya dari padri wanita itu tanpa memperhitungkan apa akibatnya. Tetapi apabila paderi wanita itu mengandung maksud lain, ia pasti tidak akan melepaskan begitu saja.

Tidak lama kemudian tibalah di suatu tempat yang terdapat sungai. Di tepi sungai itu penuh pohon bunga Tho. Orang yang masuk di dalam daerah tersebut, seolah-olah berada dalam tengah- tengah taman bunga itu, yang saat itu sudah tumbuh buahnya.

Memasuki taman buah Tho kira-kira lima pal, di situ tampak dinding tembok berwarna merah. Setelah berada dekat, baru diketahui bahwa itu adalah sebuah kuil yang sangat indah bentuknya. Di pintu depan kuil itu terpancang sebuah papan yang terdapat tiga huruf besar PEK THO AM yang ditulis dengan tinta emas.

Nama kuil ini sesungguhnya tepat sekali dengan keadaan dan pemandangan alam tempat itu. Paderi wanita itu berhenti dan berpaling seraya berkata kepada Hui Kiam:

“Inilah tempat mensucikan diri bagi pinnie. Silahkan sicu masuk ke dalam!”

Setelah berkata demikian ia mengajak Hui Kiam masuk ke dalam.

Menurut kebiasaan umum, di dalam kuil paderi wanita atau biara, sebetulnya terlarang bagi kaum laki-laki masuk di dalamnya, tetapi paderi wanita itu ternyata sudah melanggar tata-tertib ini mengajak seorang laki-laki masuk ke dalam biara, sudah tentu mengandung maksud tertentu ....

Tiba di ruangan, paderi wanita itu menyilahkan Hui Kiam duduk. ---ooo0dw0ooo---