Pedang Pembunuh Naga Jilid 27

Jilid 27

“URUSAN APA?"

“Bukankah ia sudah mendapatkan pedang sakti Thian kie Sin- kiam?"

"Ya !"

“Dimana pedang itu sekarang?" "Itu disana!"

Tong-hong Hui Bun menjawab sambil menunjuk kedinding gi belakang pembaringan.

Hui Kiam seketika itu sangat gelisah, apabila pedang sakti itu jatuh ditangan pemimpin Bulan mas, habislah segalanya. Sekalipun kekuatannya sendiri sudah pulih juga susah untuk melawan kekuatan pemimpin itn. Apabila ia tidak menggunakan pedang sakti itu, maka ia tidak mampu mengeluarkan seluruh kepandaiannya dengan ilmu pedangnya, lebih tak berdaya untuk menghadapi pedang Bulan mas pemimpin itu.

Tetapi biar bagaimana ia juga tidak mungkin mengambil pedang itu dari atas dinding tembok, sebab apabila ia bergerak sedikit saja tidak nanti dapat lolos dari serangan pemimpin Bulan mas yang mematikan.

Karena kegelisahan dalam hatinya itu keringat mengalir sangat deras diluar dugaan sisa racun yang masih dalam dirinya, semakin cepat terdepak keluar dari dalam tubuhnya.

Dengan suara gemetar pemimpin Bulan mas itu berkata: "Coba kau ambil untuk kulihatnya!"

Dengan badan lesu Tong hong Hui Bun rnenggerakan kakinya, dari atas dinding tembok ia mengambil pedang sakti....

Hui Kiam sudah tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lagi, ia tidak menghiraukan kekuatan tenaganya yang masih belum pulih kembali, dengan kecepatan bagatkan kilat melancarkan serangan dengan telapak tangan dan jari tangan.

Perbuatannya iiu sesungguhnya diluar dugaan siapapun juga. Pemimpin Bulan mas sama sekali tidak menduga tindakan Hui

Kiam itu, menghadapi serangan demikian hehat, secara tergesa- gesa ia balas menyerang sambil mundur tiga langkah, sehingga kakinya menubruk meja, hingga meja itu terbalik pelitanyapun padam.

Hui Kiam sudah lompat turun dari pembanngannya, kemudian menyambar pedang saktinya dari tangan Tong hong Hui Bun.

Entah disengaja atau tidak. Tong hong Hui Bun membiarkan pedangnya diambil dengan mudah.

Meskipun pelitanya sudah padam, tetapi di dalam mata Hui Kiam yang sudah berkepandaian demikian tinggi sedikitpun tidak merintangi pandangan matanya lagi. Sepasang mata pemimpin Bulan mas memancarkan sinarnya yang bengis dan menakutkan sudah terang bahwa kemarahannya sudah memuncak. Sedangkan Tonghong Hui Bun berdiri termangu- margu ditempatnya tak bergerak juga tak sepatah perkataanpun yang keluar dari mulutnya, perasaan hatinya sangat kalut.

Hui Kiam tidak melepaskan kesempatan untuk memulihkan kekuatan tenaganya sekalipun kesempatan itu hanya amat singkat saja. ia memeggang pedang saktinya dengan sikap hendak membuka serangan, diam-diam mengatur pernapasannya untuk memusatkan kekuatan tenaga dalamnya.

Keadaan dalam kamar itu meskipun luas, tetapi karena disitu terdapat pembaringan dan meja kursi, maka sisanya yang terluang hanya tinggal seluas kira kira satu tombak persegi saja

Tiga orang itu berdiri dalam posisi saling berhadapan, dengan bentuk segi tiga.

Sementara itu pemimpin persekutuan Bulan mas juga sudah menghunus pedangnya.

Dalam ruangan kamar yang tidak berapa luasnya itu, sesaat itu telah diliputi oleb suasana pembunuhan dan kematian.

Suasana nampak sunyi sepi.

Semakin lama waktunya saling berhadapan dalam keadaan demikian semakin menguntungkan Hui Kiam.

Dengan nada suara dingin pemimpin Bulan mas. berkata kepada anaknya:

"Btidak hina. apakah kau sudah memberikan obat pemunah kepadanya?''

Tong-hong Hui Bun tidak menjawab. Deugan mata tidak tergeser dari Hui Kiam pemimpin itu melanjutkan kata-katanya.

"Btidak hina akibat dari perbuatanmu yang menuruti hatimu sendiri ini. akan membuat habis segala usaha yang kupupuk dengan susah payah sekian lamanya, kau jangan sesalkan aku tidak mempunyai perasaan sebagai ayah daripada dikemudian hari kau akan mengalami kematian yang mengerikan. lebih baik kau sekarang habiskan jiwamu sendiri, nah bertindaklah”

Badan Tong-hong Hui Bun gemetar parasnya pucat pasi, dengan sinar mata yang sayu memandang Hui Kiam.

Hati Hui Kjuid sangat kalut, dengan tanpa dirasa mulutnya menyetuskan perkataan:

"Cici, kau tidak boleh mati!"

"Bocah apakah kau pikir masih bisa hidup?" berkata pemimpin Bulan mas dengan suaranya yang menakutkan sekali.

”Malam ini kita harus rnelakukan Suatu pertempuran yang menentukan!"

"Aku bersumpeh tidak akan membiarkau kau hidup lebih dari satu jam!"

"Aku pikir juga begitu." "Mari kepekarangan luar!” "Silahkan!"

Dua orang itu segera keluar dari dalam kamar menuju kepekarangan.

Pekarangan itu dilapisi batu berwarna hijau tempatnya luas sekali.

Tong-hong Hui Bun juga ikut keluir. ia ber kata kepada dua pelayan wanita yang berada dipintu pekarangan:

"Keluarkan perintah, menutup pekarangan tengah dan belakang!" "Baik!"

Dua pelayan wanita itu segera berlalu Apakah sebetulnya tempat ini? Dilihat bentuk bangunannya, agaknya merupakan rumah penginapan, tetapi juga tidak mirip. Kalau mau dikata tempat itu adalah markas pusatnya persekutuan itu, atau gedung cabangnya, perlu apa perintahkan orang-orangnya untuk menutup..... Hui Kiam tidak ingin memikirkan soal itu. apa yang dihadapinya sekarang, ialah ia harus menghadapi pertempuran mati-matian itu dengan sepenuh tenaga,

Kedua pihak sama-sama tangguh semua tidak menunjukkan rasa takut.

Meskipun dalam lapangan itu hanya terdapat tiga orang saja, tetapi seluruh lapangan itu seolah olah sudah diliputi ketegangan yang luar biasa.

Ini adalah suatu pertempuran mati matian antara kekuatan tenaga dan ketajaman otak dan keteguhan semangat, sedikit lengah saja, dapat mengakibatkan kematian.

Dalam suatu penandingan antara dua jago yang berkepandaian sangat tinggi, apabila kekuatan dan kepandaian kedua pihak selisih tidak banyak, kematian dan kemenangan dapat diputuskan dalam waktu sekejap saja, sebab kekuatan kedua pihak sudah mencapai suatu batas maksimum, bagaimanapun menyerang, sulit untuk merebut kemenangan, maka yang terpenting adalah mencari kelengahan dipihak lawan nya, apabila mendapat kesempatan sedikit saja segera melakukan serangan yang mematikan. Demikian keadaan Hui Kiam dan pimpinan Bulan mas pada waktu itu.

Hampir satu jam lamanya, kedua pihak sama sama tidak bergerak, namun demikian kekuatan dan semangat yang digunakan oleh ke dua pihak cukup banyak.

Justru karena demikian maka Hui Kiam tidak berhasil memulihkan seluruh kekuatannya bahkan sebaliknya.

Perlahan- lahan ia merasakan tekanan keras ini adalah suatu tanda yang menakutkan, apabila keadaan demikian berlangsung terus, maka, akibatnya, dalam waktu satu jam semangat nya akan tunrun!

Satu-satunya jalan, hanya segera melakukan serangan.

Karena pikirannya bekerja, semangatnya sedikit banyak turut terganggu, bagi pemimpin persekutuan Bulan mas, ini sudah merupakan suatu kesempatan baik untuk bertindak. Sudah tentu pikiran Hui Kiam dan tindakan juga hampir timbul dan melakukan dalam waktu bersamaan.

Kedua senjata ampuh kedua pihak saling beradu, dalam benturan ini menimbulkan percikan api.

Meskipun kedua belah pihak hampir tidak ketahuan siapa yang mau bertindak lebih dulu, tetapi sedikit perbedaan tokh ada juga, pihak pemimpin persekutuan Bulan mas yang beitindak lebih dulu, juga justru kerena perbedaan yang sedikit itu saja, maka Hui Kiam terpental mundur dua langkah.

Hampir bersamaan waktunya masing-masing mata ditujukan kepada senjatanya sendiri karena senjata yang digunakan masing- masing merupakan senjata sakti dari jaman purbakala, maka dalam pertempuran yang mengunakan seluruh kekuatan tenaga itu, dapat di lihat senjata siapa yang lebih baik atau ampuh.

Hui Kiarn setelah mengawasi pedangnya sendiri dengan cepat mengarahkan perhatiannya kepada lawannya.

Tubuh pemimpin Bulan mas tampak sedikit bergetar, ia telah dapat kenyataan bahwa pedang Bulan mas yang dipandang sebagai jiwanya sendiri, ternyata sudah terdapat sedikit gompal, dengan demikian pemimpin yang berambisi besar ingin menguasai seluruh rimba persialtan telah menjadi kalah, disamping itu, tekadnya hendak membinasakan Hui Kiam semakin bulat, karena tindakan itu kecuali menyingkirkan satu bahaya dan rintangan besar bagi usahanya, juga berarti akan mendapatkan sebilah pedang pusaka dan jaman purbakala, berdasar dua tujuan ini saja sudah cukup baginya untuk mencapai maksud nya.

Karena mukanya tertutup oleh kain kerudung sehingga tidak dapat dilihat perobaban apa yang terjadi diwajahnya itu. tetapi dan sinar matanya yang menembus dan lubang Kain kerudung itu. sudah cukup untuk rnengukur sampai dimana perasaannya,

"Serahkan jiwamu!" Demikian pemimpin itu berseru, pedang Bulan mas bergerak sekelebat, dengan memancarkan sinar kuning yang berbentuk Bulan sabit, dengan hebatnya mengancam Hui Kiam.

Tong-hong Hui-Bun yang menyaksikan itu parasnya berubah seketika.

Sambil menggigit bibir, Hui Kiam mengeluarkan gerak tipunya yang paling hebat. gerak tipu serangan itu, boleh dikata merupakan gerak tipu paling dasyat dan segala gerak tipu serangan berbagai ilmu silat, ampuh digunakan untuk menyerang tetapi juga kokoh kuat untuk menjaga serangan, dalam taktik defensif gerak tipu ini merupakan suutu taktik yang rapat tak mudah ditembusnya, dan keistimewaannya gerak ini, dalam posisi defensif mengandung gerak tipu menyerang apabila sang lawan lebih kuat, biar bagaimana juga tak dapat merobohkannya, dan kalau kekuatan lawannya berimbang, pasti dapat rnerebut kemenangan dan apabila menghadapi musuh yang agak lemah, tak nanti dapat lolos dari serangan kematian.

Namun demikian ilmu pedang Bulan mas Juga merupakaci suatu ilmu pedang luar biasa yang jarang ada dalam rimba persilacan.

Kembali dua pedang itu saling beradu, dalam waktu yang sangat singkat dua senjata itu sudah beradu tidak kurang dari tiga puluh kali, setiap kali merupakan hantaman-hantaman yang amat dahsyat.

Akhirnya kedua pihak, masing-masing mundur satu langkah, ini merupakan suatu bukti bahwa dalam pertempuran jurus itu, kekuatan dua pihak ternyata berimbang.

Apabila kekuatan Hui Kiam sudah pulih Seluruhnya, keadaan tidak demikian.

Setelah mereka mundur istirahat sebentar, keduanya maju lagi. mereka sama-sama mempunyai satu tujuan, ialah hendak mengakhiri pertempuran itu dalam waktu selekas mungkin.

Sejurus demi sejurus telah berlangsung, tiba tiba dari medan pertempuran itu terdengar suara seruan tertahan, dua orang yang bertempur sengit itu terpencar mundur satu tombak lebih, ptidak Hui Kiam mengucurkan darah, sedangkan depan dada pemimpin persekutuan Bulan mas juga penuh darah ternyata kedua duanya telah terluka.

Dalam beberapa jurus yang sangat singkat kedua pihak sudah mengeluarkan seluruh kepandaian masing-masing yang paling ampuh juga mengeluarkan tenaga sepenuhnya, maka waktu mundur untuk mengaso, keduanya menggunakan kesempatan itu untuk mengatur pernapasannya mereka nampaknya gemetar, seolah olah baru habis melakukan pertempuran sengit yang lama dalam waktu beberapa jam lamanya.

Sejenak setelah berada dalam keadaan yang demikian, keduanya bergerak lagi, setindak demi setindak mendekati sehingga sejarak dekat sekali.

Terdengar pula suara beradunya kedua senjata, kedua bayangan orang terpental terhuyung-huyung, kali ini terpisahnya agak lebih jauh kira-kira dua tombak lebih, suara bernapas dua orang terdengar nyata.

Wajah Hui Kiam putih bagaikan kertas sudah kehilangangan sikapnya yang angkuh seperti semula.

Muka pemimpin persekutuan Bulan mas yang tertutup oleh kain kerudung hanya tampak sinar matanya saja yang sudah guram, tubuhnya yang besar gemetar hebat.

Hanya Tong-hong Hui Bun yang masih berdiri tegak ditemparnya bagaikan patung, pikirannya sangat kalut karena kedua orang yang sedang bertempur mati matian itu, satu adalah ayahnya, dan yang lain adalah kekasihnya, ia tidak ingin kekasihnya terbunuh, juga tak ingin ayahnya mendapat celaka. Ia tak dapat memilih satu diantaranya, kedua-duanya sama beratnya. Andaikata hatinya tidak dipengaruhi asmara, saat itu asal ia turun tangan, sudah pasti Hui Kiam akan binasa.

Tetapi, apakah ia bisa berbuat demikian?

Suasana semakin tegang, kedua pihak mulai bergerak lagi. Kedua duanya perlahan lahan saling mendekati, kemudian secepat kilat keduanya saling menyerang lagi.

Kali ini agak berkurang banyak kekuatan tenaga mereka masing masing mundur terhuyung huyung lagi beberapa langkah, kemudian kedua duanya jatuh dan duduk lemas ditanah. Mulut Hui Kiam mengalir darah, wajahnya nampak bengis, sedangkan kain kerudung yang menutupi muka Pemimpin persekutuan Bulan mas sudah basah kuyup seluruhnya.

Kedua pihak sama sama berusaha untuk berdiri lagi, tetapi ternyata tidak berhasil, hingga terpaksa duduk lagi, nampaknya kedua pihak semua sudah kehabisan tenaga, bahkan terluka parah bagian dalamnya.

Dalam pertempuran antara kedua jago pedang yang sama kuatnya, memang menghamburkan tenaga dalam tidak sedikit maka kekuatan tenaga dalam dihamburkan oleh kedua orang ini, sesungguhnya besar sekali.

Hui Kiam mengerti keadaannya sendiri, apabila musuhnya masih ada sedikit tenaga saja ia sendiri pasti tidak akan bisa lolos dan tangannya, dan apabila ia sendiri juga masih mempunyai sedikit kekuatan, pasti juga dapat membinasakan lawannya.

Meskipun ancaman maut iru sama-sama mereka hadapi, akan tetapi keadaan luka tidak mengijinkan mereka untuk memikirkan bagaimana harus menyingkir dari kematian itu.

Sedangkan dipihak Tong hong Hui Bun, bagaimanapun gilanya sudah tidak akan melindungi musuh yang membunuh ayahnya.

Dalam hati Hui Kiam berpikir, apabila ia sendiri dengan pemimpin persekutuan Bulan mas mati bersama-sama mungkin dunia rimba persilatan akan tenang dan tentram, pengurbanan itu masih ada harganya, yyalaupun permusuhan dan dendam sakit hatinya sendiri belum terbalas tetapi untuk kepentingan dan keselamatan rimba persilatan dan masyarakat pengorbanan seorang tidak berarti baginya. Karena berpikir demikian, semangatnya timbul kembali, dengan cepat ia mencoba berusaha memulihkan kembali sekuatnya, ia mengharap sebelum pihak lawannya pulih kembali kekuatannya, ia dapat menggunakan sisa tenaganya yang masih ada, untuk menghabiskan riwayatnya biang keladi bencana rimba persilatan.

Piiran semacam itu sekejap telah melupakan kepada sang kekasih yang mempunyai kecantikan bagaikan bidadari itu. ia tidak boleh tidak harus melemparkan jauh-jauh pikiran terhadap kekasihnya, karena itu ia harus menghindarkan diri jangan sampai terbunuh, apa yang terbentang dihadapan matanya sekarang ini hanya antara mati dan hidup.

Tiba tiba terdengar suara pemimpin persekutuan Bulan mas kepada Tong-Long Hui Bun

"Bunuh dia."

Ucapan itu diluar dugaan Hui Kiarn, apabila Tong hong Hui Bun benar-benar turun tangan terhadap dirinya karena takut kepada ayahnya, maka habislah riwayatnya sendiri, ia terkejut dan ketakutan, tetapi semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. ia mengerti harapan untuk hidup dari kematian memang sudah tidak ada harapan, satu satunya yang ada pada saat itu ialah supaya dapat mati bersama-sama dengan pemimpin kejahatan itu, dengan Kemauan dapat merobah nasib rimba persilatan, maka ia harus mempertahankan sedapat mungkin untuk berusaha sekuat tenaga, tetapi kalau sudah tidak bisa, ya apa boleh buat itu terserah kepada takdir.....

Tong hong Hui Bun ketika mendengar perinth ayahnya, sejenak nampak terkejut, kedua matanya terbuka lebar, bibirnya pucat pasi badannya gemetar.

Sementara itu terdengar pula ucapap pemimpin persekutuan Bulan mas,

”Btidak hina kau dengar atau tidak?" "Ayah, aku "

"Bunuh dia! ” Badan Tong hong Bui Bun bergoncang goncang. tetapi kakinya tidak bergerak.

"Btidak apa kau inginkan aku memanggil orang untuk turun taugan?"

Hui Kiam memejamkan matanya, ia tidak menghiraukan itu semua, ia terus berusaha memulihkan tenaga .

Tong hong Hui Bun akhirnya menggeser kakinya perlahan-lahan, kaki dirasakan berat sekali, bagaikan seorang yang berjalan menuju ketiang gantungan, sebab ia disuruh menghabiskan jiwa kekasihnya sendiri yang paling di cintai dalam seumur hidupnya.

Dalam jarak yang sangat pendek itu, seolah olah terpisah beberapa pal jauhnya, ia mengeluarkan banyak tenaga baru berhasil mendekati Hui Kiam.

"Ayoh segera turun tangan!" demikian perintah ayahnya. Ia berdiri bagaikan patung air mata nya bercucuran. ”Btidak, apakah kau berani melawan perintah? '

"Ayah. . . aku minta kau supaya mengijinkan anakmu bersamanya mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw, tidak akan muncul-muncul lagi!”

”Tidak bisa." "Ayah "

"Aku tidak mempunyai anak perempuan durhaka seperti kau ini. pikirlah usiamu sendiri, pikirlah apa yang kau perbuat selama beberapa tahun ini? Kau lupa masih ada yang lain yang tidak puas sebelum mendapatkan dirimu, kalau kau mati memang sudah seharusnya, tetapi aku tidak dapat membiarkan kau merusak cita- citaku karena kebodohanmu sendiri, kau jangan kira aku tidak tega turun tangan membunuh kau. ”

Tong hong Hui Bun agaknya terpengaruh hatinya oleh kata kata ayahnya itu ia menguatkan hatinya, tangannya diangkat naik. Sepasang mata Hui Kiam terbuka lebar menatap paras Tong- hong Hui Bun. Sikaprya nampak bingung tetapi tak mengandung kebencian!

Jantung Tong-hong Hui Bun tergoncang hebat, badannya gemetar, tangan yang sudah di angkat naik berhenti ditengah udara, ia tidak dapat melanjutkan gerakannya. Air mata mengalir deras tidak dapat dibendung lagi.

Suatu kekuatan entah darimana datangnya, membuat Hui Kiam berdiri dengan mendadak! Dengan tanpa sadar Tong hong Hui Bun mundur satu langkah, tangannya masih terangkat tinggi keatas tetapi tidak bergerak.

Pemimpin persekutuan Bulan mas juga berbangkit perlahan lahan, bentaknya dengan suara bengis,

"Minggir."

Tong-tong Hui Bun tidak bergerak, tangan nya perlahan lahan diturunkan kembali.

Sepasang mata Hui Kiam memancarkan sinarnya beringas lagi, wajahnya yang pucat pasi nampaknya demikian dingin kaku, ia mengawasi Tong hong Hui Bon sejenak pedangnya diangkat diatas dada, berjalan menghampiri pemimpin Bulan mas.

Suasana mulai gawat lagi.

Pemimpin persekutuan Bulan mas nampaknya masih belum pulih kembali kekuatan tenaganya ia masih belum mempunyai kekuatan untuk menghadapi serangan yang akan dilancarkan oleh Hui Kiam itu ia menancapkan pedangnya ditanah untuk menunjang dirinya, mulutnya mengeluarkan suara geraman, tangannya dimasukan kedalam saku.

Hui Kiam terperanjat, ia tahu bahwa musuhnya itu pasti hendak menggunakan senjata rahasia, ia tidak boleh membiarkan musuhnya mendapat kesempatan untuk bertindak, maka badannya segera bergerak melesat...,,,,.. ”Kau...” demikian terdengar suara seruan Tong hong Hui Bun yang segera menggerakkan tangannya.

Hui Kiam yang menggunakan sisa kekuatan tenaganya yang baru mulai pulih, untuk memburu pemimpin persekutuan Bulan mas mungkin masih bisa, tetapi untuk melawan kekuatan tenaga Tong- hong Hui Bun itulah tidak mungkin lagi.

Tanpa ampun lagi Hui Kiam terpental sejauh tiga tombak dan jatuh roboh ditanah, mulutnya menyambyrkan darah segar.

Pemimpin persekutuan Bulan mas berkata dengan suara bengis: "Hui Kiam dia masih belum mati."

"Tidak bisa hidup lagi!" jawab Tong-hong Hui Bun dengan suara gemetar.

"Kau buktikan, supaya aku tahu!' "Ini buktinya . . , . "

"Kau totok lagi jalan darah kematiannya.” "Ayah. dia tidak akan bisa hidup lagi,. ”

”Hem, bem."

Pemimpin persekutuan Bulan mas mengangkat kakinya berjalan menuju ketempat dimana Hui Kiam rebah dan terlentang, ia hendak membuktikan sendiri kematian pemuda itu, karena tidak percaya kepada anaknya, ia hanya percaya kepada diri sendiri.

Paras Tong hong Hui Bun berobah pucat, karena ia tahu Hui Kiam tidak mati, pukulannya tadi memang kelihatannya hebat, tetapi sebetulnya ia memperhitungkan dengan tepat tidak akan membahayakan jiwanya, akan tetapi, ia tidak berdaya untuk menghalangi tindakan ayahnya.

Hui Kiam sudah tidak sadar, apa yang terjadi ia sudah tidak tahu sama sekali. Tiba-tiba dipekarangan depan terdengar beberapa suara bentakan orang, lalu disusul oleh suara jeritan yang sangat mengerikan.

Tidak berapa lama bayangan orang menerjang masuk ketempat itu, seorang yang masuk dulu adalah seorang berpakaian warna lila, memakai kerudung kain lila dimukanya. Orang itu bukan lain daripada orang berbaju lila. Dibelakangnya diikuti oleh orang tua tada turunan. Ie It Hoan dan delapan orang lagi yang bersenjatakan pedang.

Kawanan pelayan wanita yang semula menjaga ditempat tersembunyi, segera muncul keluar kawanan pelayan itu ternyata ada delapanbelas orang banyaknya ....

Saat itu dari empat penjuru terdengar suara bentakan dan pertempuran yang sangat riuh. nampaknya orang-orang dari pihak berbaju lila tidak sedikit jumlahnya.

Tong-hong Hui Bun dengan cepat menyambar pedang Bulan mas dari tangan ayahnya....

Orang berbaju lila lompat melesat kehadapan pemimpin persekutuan Bulan mas:

Pemimpin persekutuan Bulan mas itu nampaknya sangat heran, bentaknya dengan suara gemetar:

"Kau ?”

Sementara Ie It Hoan dengan cepat sudah mendukung tubuh Hui Kiam.

Sedangkan delapan orang yang mengikuti orang berbaju lila sudah mulai bertempur dengan delapan orang pelayan wanita.

Orang tua tiada turunan berkata kepada Ie it Hoan. "Bocah lekas lari. biarlah aku yang melindungi."

Baru saja berkata demikian pedang Bulan mas ditangan Tong- hong Hui Bun sudah menyambar kearahnya, serangannya ada begitu hebat dan ganas, dengan seorang berkepandaian demikian tinggi seperti Orang tua tiada turunan, juga masih belum berani gegabah menyambut serangan itu, ia berkelit dan melompat mundur satu tombak lebih

Hampir bersamaan pada saat itu, pedang Tong hong Hui Bun, balik menyerang kepada Ie It Hoan yang baru saja hendak kabur, oleti karena kekuatan maupun kepandaian Ie It Hoan yang baru saja hendak kabur, oleh karena kekuatan maupun kepandaian Ie It Hoan jauh lebih dibawah Tong-hong Hui Bun, sudah tentu ia tidak berani melawan dan balik mundur.

Tong hong Hui Bun karena khawatir pedangnya akan melukai Hui Kiam, maka tidak melancarkan serangannya yang mematikan, tetapi tangan Kirinya sudah bergerak menyertai gerakan pedangnya, sehingga dengan mudah dapat merebut Hui Kiam dari tangan Ie It Hoan!

Sementara itu orang tua tiada turunan sudah dikeroyok o!eh tiga orang pelayan wanita.

Tong-hong Hui Bun menggerakkan pedang nya lagi, mendesak mundur Ie It Hoan sehingga dua tombak lebih dua orang pelayan perempuan segera maju menyerang Ie It Hoan.

Sesaat kemudian terjadilah pertempuran sengit didalam pekarangan itu.

Tong-hong Hui Bun mengawasi lima orang pelayan yang berdiri disampingnya lalu berkata kepada mereka:

"'Bawa dia pergi, dengan jiwa kalian kau melindungi keselamatannya!"

Lima pelayan itu segeia menerima baik perintah majikannya, salah satu diantaranya menggendong diri Hui Kiam, dengan dilindungi oleh empat orang lari menuju ke pintu samping.

Orang tua tiada turunan bersama Ie It Hoan dengan serentak melancarkan serangan hebat, setelah berhasil mendesak mundur lawannya, mereka melepaskan diri dan mengejar kelima pelayan wanita yang membawa lari Hui Kiam. Mari sekarang kita tengok orang berbaju lila, yang menghampiri pemimpin Bulan mas, ia berkata dengan suara gemetar: "Tonghong Bengcu, sekarang aku harus membahasakan kau dengan sebutan ini. " .

"Kau mau apa? ”

"Ada ayah demikian jahat seperti kau ini, maka barulah melahirkan anak perempuan jahat bagaikan ular berbisa, karena perbuatan terkutuk itu Tuhan juga tidak akan membiarkan ia membuat sesukanya sekarang, aku tidak akan menuntut balas dendam tentang permusuhan pribadiku, aku hanya hendak membunuh kau untuk menolong nasib rimba persilatan dari keganasan!"

Pemimpin persekutuan Bulan mas yang saat itu sedang terluka parah, ia tahu tidak berdaya menghadapi orang berbaju lila maka ketika mendengar perkataan itu segera mundur satu langKah dan berkata.

"Kau berani?"

Orang berbaju lila memperdengarkan suara tertawanya yang mengandung sipat hinaan lalu berkata:

"Bengcu, sudah tiba waktunya untuk kau sadar dari mimpimu."

Tangannya lalu bergerak dan menyerang ke arah dada pemimpin persekutuan Bulan mas,..

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang berkata: "Kau benar-benar berani!"

Lalu disusul dengan berkelebatnya sinar pedang kearah Orang berbaju lila, sehingga Orang berbaju lila terpaksa menarik serangannya dan melompat kesamping.

Tong-hong Hui Bun, segera muncul dan menghadang didepan ayahnya.

Ketika orang berbaju lila lompat melesat kesamping, sudah menghunus pedangnya, kemudian berkata dengan suara bengis: "Perempuan hina, aku sekarang hendak mencincang tubuhmu.”

Untuk sesaat Tong-hong Hui Bun nampak tertegnn kemudian berkata dengan suara agak gemetar.

'Malam ini aku tidak membiarkan kau lolos dari pedangku." "Perempuan hina kau sedang bermimpi serahkanlah jiwamu."

jawab Orang berbaju lila sambil tertawa terbahak-bahak.

Ia lalu membuka serangannya, dengan satu gerak tipu yang ganas menikam kearah Tong hong Hui Bun.

Bukan kepalang terkejut Tocg-hong Hui Bun ia telah mendapat kenyataan bahwa kepandaian Orang berbaju lila ini jauh lebih maju dari pada yang sudah lalu, gerakan tangannya yang begitu aneh hampir hampir membuat ia tidak percaya, maka dengan cepat ia segera mengangkat pedangnya untuk menyambut serangan tersebut.

Orang berbaju lila agaknya juga tahu tajam nya pedang mas itu, tidak menantikan sampai pedangnya beradu, ia sudah merobah gerak tipunya. dalam lima jurus ia sudah berhasil mendesak Toug hong Hui Bun sedemikian rupa, jikalau ia tidak takut beradu senjatanya dengan senjata pusaka purbakala ditangan Tong hong Hui Bun, sehingga tak leluasa melancarkan serangannya, didalam ilmu jurus itu, sekalipun Tong-hong Hui Bun tidak mati, tetapi setidak-tidaknya juga akan terluka parah.

Pemimpin Bulan mas yang menyaksikan g rakan pedang Orang berbaju lila lalu berseru:

'Ini adalah ilmu pedang Hian-hong Kiam-hoat warisan Tee-hong."

Sambil melanjutkan serangannya Orang ber baju lila menjawab dengan suara bengis:

"Sedikitpun tidak salah, kalau kau tahu itu lebih baik, aku hampir saja lupa mewakili Tee hong menagih hutang darimu"

"Apa katamu?" "Mewakili Tee-hong menagih hutangmu, kau tahu bagaimana uau harus membayarnya?"

”He, be, be, aku tahu!" Setelah mendengarkan suara tertawanya yang menusuk telinga, keadaan pemimpin Bulan mas bergerak, tangan kanannya diangkat tinggi kemudian menggulung, gerakannya itu tak mengandung kekuatan sedikitpun juga, tetapi luar biasa anennya.

Badan orang berbaju lila itu terbuyung-huyung, ia berkata dengan suara agak gemetar

"Kiranya adalah kau . . . sekarang aku baru mengerti . . . kau . . ,

"

”Seharusnya dari dulu kau sudah mengerti!” "Baik”

Tong-hong Hui Bun menggunakan kesempatan itu melakukan

serangan pembalasan dengan beruntun ia melancarkan serangannya yang mematikan.

Orang berbaju lila ini lalu memerintahkan kepada orang- orangnya:

"Saudara-saudara mundur!"

Dengan sekaligus ia melancarkan tiga kali serangan yang mematikan, sehingga Tong hong Hui Bun terdesak mundur sedikitpun tidak dapat balas menyerang.

Dalam pertempuran tadi, dua pengikut Orang berbaju lila terbinasa sedangkan dipihak pelayan wanita ada lima orang lebih yang roboh. sisanya orang orang berbaju lila setelah mendengar perintah 'mundur' lalu mengundurkan diri.

Orang berbaju lila lalu bergerak meninggalkan Tong hong Hui Bun dua orang pelayan yang coba merintangi dibinasakannya dalam waktu sekejap saja.

Sambil berseru: ' Kau tidak bisa kabur lagi!' Tong-hong Hui Bun lompat melesat mengejar Orang berbaju lila. Setelah mengalami pertempuran sengit yang cukup lama kecuali beberapa orang pelayan wanita tak tampak seorang anak buah persekutuan Bulan mas yang masuk kedalam pekarargan itu, ini satu bukti betapa keras perintah persekutuan Bulan mas.

Suara pertempuran diluar pekarangan juga mulai sirap, nampaknya semua sudah mengundurkan diri.

Mari sekarang kita tengok keadaan Hui Kiam setelah sadar ia telah mendapatkan dirinya rebah terlentang dipembarigan dalam sebuah kamar yang diatur sedemikian rapi dan bersih, kepalanya masih dirasakan pusing, otaknya dil\rasakan kosong melompong, melibat keadaan disekitarnya setiap benda didalam kamar itu tidak terlepas dari perhatiannya, perlahan lahan, ingatannya kembali lagi.

.. .

Apakah ia sedang bermimpi? Tempat apakah ini?

Apakah dirinya sendiri.

Tiba-tiba ia bertanya kepada dirinya sendiri:

"Apakah aku masih hidup?'

Satu suara yaog halus lembut segera menjawab: "Siangkong, kau sudah sadar?"

Hui Kia, terperanjat, ia hendak duduk, tetapi baru bergerak rasa sakit ditubuhnya memaksanya menjatuhkan dirinya lagi. ia hanya dapat mencari dengan matanya, saat itu seorang pelayan perempuan muda sedang menghampiri tempat tidurnya, hatinya lalu bercekat, karena ia tahu bahwa dirinya masih berada ditangan Tong hong Hui Bun, ia hanya ingat selagi ia hendak melakukan serangan teihadap persekutuan Bulan mas. telah terpental oleh serangan Tong-hong Hui Bun, dan apa yang terjadi selanjutnya ia sudah tidak tahu lagi.

Pertama, ia ingat kepada pedang pusakanya Thian Gee Sin Kiam yang dipandang sangat penting bagaikan jiwanya sendiri maka mata nya segera mencari kesekitatnya. . . ”Siaogkt»ng mencari apa?” "Pedangku ..."

*Itu didinding, belakang Siangkong!" "Oh!"

Hatinya merasa lega, kemudian ia berkata pula: "lni tempat apa?"

"Kamar menginap sementara ibu majikan kita." "Dimana sekarang ia berada?"

"Masih dikantor cabang...." berkata sampai disitu pelayan itu tiba-tiba diam.

”Kantor cabang? Apakah itu adalah tempat tadi malam kita bertempur?"

"Ya itulah kantor cabang kedua persekutuan kita” ”Bagaimana aku bisa berada disini?

”Kita telah mendapat perintah untuk mengantar Siangkong kemari."

"Mengapa ibu majikanmu tidak membunuh aku ?'

"Tentang ini...Siangkong tentunya tahu sendiri, seumur hidupnya Ibu majikan hanya bicara dengan sungguh hati terhadap seseoang, orang itu ialah Siangkong sendiri."

Hui Kiam terperanjat, berdiam sejenak, kemudian bertanya pula: "Dan dimana Bengcumu sekarang berada ?”

"Setelah Siangkong pingsan, Oraug berbaju lila tiba-tiba menyerbu dengari orang orangnya ..."

"Orang berbaju lila?" "Ya ..."

”Dan selanjutnya?" ”Kita telah meninggalkan tempat itu selagi pertempuran masih berjalan, bagaimana keaadaan selanjutnya kita masih belum tahu."

Hui Kiam timbul suatu perasaan tidak enak sejak Orang berbaju lila itu mencuri kepandaian ilmu silat Tee hong, kepandaiannya sudah mendapat banyak kemajuan, kalau ia berani melakukan penyerbuan ke cabang persekutuan Bulan mas sudah pasti mempunyai rencana yang sempurna, apabila pemimpin persekutuan Bulan mas mati ditanganoya, ini sudah tentu merupakan suatu kejadian yang menggembirakan, tetapi Tong hong Hui Bun mempunyai permusuhan hebat dengannya ia pasti tidak akan melepaskannya begitu saja, dengan kepandaiannya Tong hong Hui Bun mungkin masih dapat melepaskan diri, tetapi hingga sekarang masih belum tampak bayangannya entah apa yang terjadi sebetulnya.

Hui Kiam sejak peristiwa pertandingan di panggung Lui tay, ia sudah berkeputusan hendak memutuskan hubungan asmara dengan Tong hong Hui Bun, tetapi hingga saat itu ia masih terjalin sedikit hubungan yang masih belum terputus benar-benar, maka terhadap keselamatan dirinya, sedikit banyak ia masih memperhatikannya,

Apalagi Tong hong Hui Bun sudah menolong lagi dirinya, apabila ia tidak menahan dirinya dari tangan manusia gelandangan, tetapi terjatuh ditangan pemimpin Bulan mas. ia pasti sudah mati. Dan apabila ia tak diberi obat pemunah, juga sudah lama mati. karena racun Iblis Gajah lagi pula apabila ia tidak berani menentang perintah ayahnya, juga sudah mati didalam pekarangan cabang persekutuan Bulan mas , . .

Ini bukan berarti ia merasa menanggung budi melainkan karena budi itu timbul lagi rasa cintanya yang sudah mulai muncul.

Seorang jantan tulen yang memang bersipat tegas untuk membedakan antara budi dengan musuh, dengan ditambahnya budi itu maka persoalannya menjadi lebih sulit.

Akan tetapi peibuatan pemimpin persekutuan Bulan mas yang mengganas dan ambisinya yang begitu besar hendak menguasai rimba persilatan merupakan suatu usaha kejahatan yang tidak dapat dibiarkan begitu saja, dalam kenyataanuya antara kejahatan dan kebenaran ini sudah melupakan seperti api dengan air, kalau ia tidak membunuhnya, pasti akan terbunuh, sudah tidak ada jalan lain lagi.

Tetapi penjahat itu justru menjadi ayah kekasihnya, dalam keadaan demikian mungkin kah perhubungan asmara itu bisa kekal

?

Perkembangan yang akan terjadi selanjutnya antara ia dengan perempuan cantik itu, entah akan berubah bagaimana?

Kalau ia memikirkan itu semua pikirannya, kalut sehingga badannya gemetar:

Bagaimana harus berbuat.

Ia berpikir terus berpikir bolak balik hatinya satu jalan saja yang dapat diambil jalan itu ialah ia harus berlalu dari sini sebelum bertemu muka lagi dengannya. Nanti setelah sudah membalas dendam semua sakit hatinya, dan melenyapkan ancaman rimba persilatan dalam suasana tenang tentram itu barulah membayar hutang budinya. .  .

Tiba-tiba ia teringat akan Ciu Wan Tin gadis yang mencintai dirinya begitu besar yang kini masih menantikan kedatangan didalam makam pedang, terhadap anak piatu toa supeknya itu sudah merupakan suatu kewajiban dan keharusan baginya untuk melindunginya.

Berpikir sampai disitu ia merasakan dirinya seperti berada ditengah tengah api yang sedang berkobar. Penderitaan dalam bathin jauh lebih bebat dari penderitaan badan.

Ia lalu mengambil keputusan, tidak memperdulikan apa yang akan terjadi dikemudian hari yang penting adalah membereskan persoalan dihadapan matanya.

Pertama, ia harus menyembuhkan luka-luka nya lebih dulu, supaya kepandaian dan kekuatannya pulih kembali jikalau tidak semuanya berarti nol besar. Maka ia lalu berkata dengan suara hambar:

"Nona, aku ingio beristirahat scbentai, harap supaya jangan diganggu”

"Kalau begitu aku tadi telah mengganggu siangkong.” berkata pelayan itu sambil tertawa.

"Bukan, bukan itu maksudku aku hanya mengharap jangan terlalu sering mengurusi diriku”

”Luka dalam siangkong tidak ringan . . ." "Aku tahu!”

"Sayang, ibu majikan belum pulang, obati untuk menyembuhkan luka ..."

"Tidak perlu"

”Apakah siangkong ingin makan sedikit dulu?” ”Tidak usah!”

"Kalau begitu aku mohon dilindung, apabila siangkong perlu apa apa, boleh mengetok lonceng didekat pembaringan itu!"

"Ow!"

Pelayan wanita itu lalu mengundurkan diri dan menutup pintu kamarnya.

Hui Kiam menenangkan pikirannya, ia bersemedi sambil terlentang tdak lama kemudian rasa sakit dalam tubuhnya perlahan lahan telah hilang, napasnya berjalan seperti biasa, hawa hangat mengalir menyusuri seluruh tubuhnya.

Pulihnya kembali demikian cepat kekuatannya sesungguhnya diluar dugaannya, ia segera mengerti itu pasti hasiatnya dua pel tay-hoan tan yang ia pernah telannya, ia merasa sangat girang ia segera bangun dan duduk melanjutkan semedi.

Dua jam kemudian, badan Hui Kiam sudah terasa segar kembali, kekuatan tenaganya sudah pulih semua, ia lalu turun dari pembaringan, dari sinar matahari yang masuk dari lubang jendela, waktu itu ternyata sudah lewat tengah hari tetapi keadaan sunyi senyap tidak terdengar sedikitpun suara orang, juga tidak tampak bayangan seorangpun juga.

Ketika dilihat keadaan yang demikian kebanyakan Tong hong Hui Bun masih belum pulang.

Hui Kiam pikir, inilah suatu kesempatan baik baginya untuk berlalu.

Maka ia mengambil pedang saktinya yang tergantung didinding tembok, setelah diperiksa sejenak, lalu digantung dipinggangnya, dengan tak disengaja, di kaca melihat bayangannya sendiri ternyata sekujur badannya yang penuh dengan darah, la lalu mengerutkan keningnya kalau ia muncul di tempat umum dalam keadaan seperti itu. bukankah akan mengejutkan orang? Tetapi kamar itu adalah kamar sementara Tong-hong Hui Bun. darimana didapatkannya pakaian lelaki?

Apabila tempat itu merupakan suatu tempat atau desa yang sunyi sepi masih tidak halangan, tetapi apabila sebuah kota ramai, bukankah berabe?

Sesaat lamanya ia merasa bingung.

la mondar-mandir didalam kamar tanpa sadar, tangannya membuka pintu lemari.

Begitu terbuka, ia melengak, sungguh aneh dalam lemari tergantung beberapa potong pakaian panjang kaum pria, yang lebih mengherankan pakaian itu semuanya, berwarna lila.

Ini sangat mengherankan, kepunyaan siapa kah pakaian pria ini, ia masih ingat bahwa dengan mengandalkan ilmu awet mudanya, sehingga Tong hong Hui Bin masih dapat mempertahankan kecantikannya padahal ia sudah merupakan seorang perempuan, yang usianya lebih dari empat puluh tahun.

Ia dipanggil ibu majikan oleh pelayan-pelayannya, Sudah tentu sudah bersuami dan pakaian-pakaian ini mungkin peninggalan suaminya. Siapakah lelaki yang menjadi suaminya itu? Belum pernah menyambutnya. , , ,

la teringat kembali diri orang berbaju lila apa yang telah terjadi dimasa yang silam, terbayang lagi dalam otaknya. ,

Orang berbaju lila itu pernah beberapa kali memaksanya supaya memutuskan hubungannya dengan Tong hong Hui Bun,

Ia juga telah memaki perempuan hina ke pada Tong hong Hui Bun.

Diatas puncak gunung dekat gua batu. Tong hong Hui Bun telah paksa orang berbaju lila terjun kedalam jurang,

Berulang-ulang Tong-hong Hui Bun menyangkal pernah mengadakan hubungan dengan orang berbaju lila, bhikan ia mengatakan sebagai menusia busuk dalam rimba persilatan.

Siapakah yang benar?

Dari manakah pakaian berwarna lila ini?

la merasa telah terhina cintanya yang suci murni telah di nodakan

Apakah dibalik wajah yang cantik molek bagaikan bidadari itu, hanya merupakan satu jiwra seorang jahat dan busuk ?

Wajah Hui Kiam yang tampan seketika berubah menjadi pucat pasi otot-otot kelihatan menonjol keluar.

Sejenak kemudian, amarahnya mulai reda ia tertawa sendiri baik juga. anggaplah semua itu sebagai satu impian buruk, betapapun halnya ia tokh sudah mengambil keputusan hendak memutuskan hubunganya dengan perempuan cantik itu, perlu apa menyusahkan hatinya sendiri?

Sakit bati ibunya masih belum terbalas, begitupun sakit hati suhunya.

Sahabat-sahabat dunia rimba persilatan menaruh pergharapan besar atas dirinya apabila ia terpila-gila oleh kecantikan seorang perempuan bermoral rendah, apakah masih pantas dengan kedudukannya sebagai seorang gagah?

Ia telah insaf, lalu membuka bajunya yang penuh darah, ia ganti dengan pakaian warna lila itu, kemudian menggantung kembali pedang saktinya pada pinggangnya, dengan tindakan lebar berjalan keluar dari kamarnya.

Diluar kamar, terbentang pekarangan yang mempunyai pemancangan, indah, disitu terdapat banyak tanaman bunga dan bangunan yang sangat indah.

Heran, tetap tidak tampak bayangan seorangpun juga.

Mendadak matanya terbuka lebar, bulu romanya dirasakan berdiri, hatinya hampir melompat keluar

Darah berceceran ditanab, bangkai manusia berserakan disana sini, ada bangkai pelayan psrempuan, ada juga bangkai orang berpakaian hitam, pemandangan itu sangat mengerikan.

Ia lalu lompat melesat mengitari pekarangan itu. keluar dari pintu pekarangan, kembali terdapat suatiu pekarangan luas, disitu juga terdapat banyak bangkai manusia bergelimpangan.

Ia berdiri bingung, sungguh tidak menyangj ka bahwa dalam waktu sangat singkat itu telah terjadi pertumpahan darah begitu besar. Siapakah gerangan yang menyerbu tempat ini?

Nampaknya dalam gedung ini sudah tidak terdapat seorangpun yang masih hidup. Dengan kepandaian orang-orang persekutuan Bulan mas dan pelayan wanita itu, tidaklah mungkin demikian mudah dibunuh habis oleh musuhnya Kalau itu benar. entah bagaimana kepandaian dan kekuatan musuhnya itu ?

Dan apakah maksud orasig tiu melakukan pembunuhan besar- besaran ini?

Mengapa ia sendiri tidak tahu?

Ia memikirkan semua kejadian itu, hampir saja melompat, ya! Mengapa musuh itu tidak turun tangan terhadap dirinya? Mengapa pedang saktinya yang menjadi perebutan oieh hampir semua orang Kang ouw tidak ada yang mengganggu?

Semua ini agaknya sangat mustahil, tetapi kenyataannya memang benar:

Ia mengharap dapat menemukan orang hidup untuk diminta keterangannya tetapi seorangpun tidak diketemukan.

Nanti setelah Tong hong Hui Bun pulang dan menyaksikan keadaan demikian entah bagaimana reaksinya?

Dengan tindakan berat ia berjalan keluar diri pekarangan gedung itu Begitu berada diluar ia baru tahu bahwa bangunan itu terletak disebuab kaki gunung, disekitarnya tiada terdapat sebuah bangunan rumahpun juga, tempat ini letaknya terpencil dan sepi sekali didepan pintu pekarangan, terdapat banyak pohon cemara, sehingga dari jauh seperti sebuah rimba didalam rimba itu kembali terdapat banyak bangkai manusia,

Dibakarnya gedung kediaman Tong hong Kui Bun yang lama, kejadian itu terbayang pula dalam otak Hui Kiam, pikirnya, apakah ini perbuatan orang berbaju lila lagi?

Kemungkinan itu besar sekali, dengan kesukaannya orang berbaju lila terhadap warna lila. Hui Kiam segera menarik kesimpulan apabila pakaian warna lila yang tergantung dalam lemari itu adalah kepunyaan orang berbaju lila ini merupakan bukti bahwa antara orang ber baju lila dengan Tong hong Hui Bun terjalin suatu hubungan luar biasa, hubungan itu mungkin hubungan suami istri, mungkin juga hubungan kekasih, hanya sedemikian itu maka orang berbaju lila baru mengetahui tempat tempat, kediaman Tong hong Hui Bun yang sangat dirahasiakan, dan dengan demikian pula, sehingga ia dapat bertindak dengan leluasa.

Jikalau dugaannya itu tidak keliru, menurut keterangan pelayan wanita itu, katanya Orang berbaju lila bersama serombongan anak buahnya menyerbu gedung cabang itu, sedang kan Tong hong Hui Bun hingga saat itu masih belum kelihatan bayangannya, ada kemungkinan sudah celaka ditangan Orang berbaju lila. Berpikir sampai disitu, semacam perasaan aneh timbul dalam hatinya; tidak peduli bagai mana keadaannya sekarang ini, diwaktu yang lalu ia sudah pernah cinta kepada perempuan itu, sudah melupakan suatu kenyataan, juga merupakan kenyataan pula.

Kecantikan Tong-hong Hui Bun yang biasa menimbulkan iri hati bagi siapa yang melihatnya terbayang pula dalam otaknya, sehingga dengan tanpa sadar semangatnya seolah-olah terbang melayang.

Dari Tong hong Hui Bun ia teringat kepada diri pemimpin persekutuan Bulan mas.

Pemimpin persekutuan Bulan mas itu pernah bertempur hebat dengannya, satu sama lain sudah terluka parah, kalau benar Orang berbaju lila melakukan penyerbuan secara mendadak, kepala penjahat itu pasti tak luput dari cengkraman tangan orang berbaju lila. dan kalau itu benar, maka rimba persilatan dikemudian hari akan terlepas dari ancaman bahaya.

Dengan demikian, berarti pula saatnya untuk membuat perhitungan dengan Orang berbaju lila juga sudab tiba.

Yang terakhir tinggal dua persoalan mengenai kemana jatuhnya tusuk konde mas berkepala burung Hong dan jarum melekat tulang yang masih merupakan teka-teki

Jikalau semua persoalan sudah selesai maka ia akan meninggalkan diri dengan Cui Wao Tin didalam makam pedang itu, tidak akan muncul lagi didunia Kang-ouw.

Berpikir sampai disifu. ia tersenyum sendiri

Tiba-tiba dari suatu tempat tidak jauh terdengar suara orang tertawa dingin:

Hui Kiam terkejut, ia segera menyerbu kearah datangnya suara itu, tetapi ternyata tidak menemukan seorangpun juga, ia baru merasa terheran heran, suara itu terdengar pula dan kali ini sudah berada sejauh sepuluh tombak dihadapannya. Ia merasa penasaran kembali melompat melesat ketempat itu, ia hanya dapat melihat berkelebatnya satu bayangan orang yang kemudian menghilang, ia semakin penasaranya lalu mengejarnya.

Bayangan orang itu mempunyai kepandaian yang mengejutkan, hanya beberapa kali berkelebat sudah melalui dan menghilang beberapa tikungan dijalan pegunungan.

Hui Kiam terus mengejar dengan ilmu kepandaian meringankan tubuhnya.

Setelah melalui tikungan terakhir, bayangan orang itu lenyap kedalam rimba.

Teranglah bahwa orang itu sengaja memancing dirinya untuk mengejar sampai disitu, tanpa menghiraukan pantangan yang ada pada orang-orang rimba persilatan yang segan memasuki kedalam rimba lebat yang ada musuh nya, cepat sekali ia menyerbu kedalam rimba.

Rimba itu sangat lebar, keadaan didalaminya amat gelap, apabila orang itu bersembunyi dan tidak bergerak, susah untuk diketahui nya.

Hui Kiam memusatkan pandangan matanya untuk mencarinya tetapi ia tak dapat melihat apa-apa, sehingga akhirnya ia berkata dengan keras:

"Sahabat dari mana mengapa melakukan perbuatan rendah demikian rupa, apakah takut diketahui oleh orang?"

Segera terdengar jawaban seorang tua: "Aku si orang tua ada disini!"

Hui Kiam tanpa menoleh, dengan mengandalkan daya pendengarannya, segera menyerbu ketempat suara itu.

"Bocah bagus sekali kepandaianmu!" demikian satu suara menegurnya, seorang berambut putih dengan wajahnya yang luar biasa telah berdiri dihadapannya.

Orang tua itu mengenakan pakaian panjang berwarna kuning, sepatu dan kaos kaki putih tangannya membawa sebatang tongkat, rotan kasar dan hitam wamanya. sepasang matanya memancarkan sinar tajam,

Hui Kiam mengawasi orang tua itu sejenak. lalu berkata kepadanya:

"Apakah locianpwe memanggil boanpwe?" "Boleh kata begitu!"

"Peristiwa berdarah didalam gedung itu...," "Jangan bicarakan soal itu!"

„Bagaimana sebutan locianpwe yang mulia?:

"Satu manusia agung dalam dunia!"

Sepasang mata Hui Kiam terbuka lebar, wajahnya menunjukan kemurkaan katanya dengan nada suara yang dingin:

"Kau adalah manusia agung dalam dunia?"

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak dan berkata; "Sedikitpun tidak salah "

Hui Kiam sambil menggigit bibir perlahan lahan menghunus pedang saktinya. Kata kata Orang berbaju lila yang diucapkan kepadanya ketika disuruh memancing keluar penghuni Lonceng merah, menggema pula didalam telinganya, Kata-kata itu diantaranya, mengatakan bahwa pada sepuluh tahun berselang, manusia agung didalam dunia itu karena hendak menuntut balas muridnya, telah memusnahkan kepandaian To liong Kiam Khek dan membutakan kedua matanya, kemudian disekap dalam gua diatas puncak gunung batu itu,.,............

Dari bukti bukti yang didapat kemudian telah ternyata bahwaTo- liong Kiam Khek adalah ayahnya sendiri, walaupun karena pesan ibu nya sehingga dalam hatinya pernah timbul kesan tidak baik terhadap ayah yang belum pernah dilihatnya itu, tetapi sang ayah itu sudah binasa ditangan Orang berbaju lila yang menggunakan akal keji, biar bagaimana hutang darah itu pasti dituntutnya. Manusia agung itu ketika menyaksikan perbuatan Hui Kiam yang agak ganjil lalu menegurnya:

''Kau mau apa!"

"Hendak membunuh kau si tua bangka !" jawab Hui Kiam dingin "Hendak membunuh aku? Apa sebabnya!" bertanya manusia

Agung itu dengan wajah tidak berubah.

"Sepuluh tahun berselang kau pernah menggunakan siksaan yang sangat kejam terhadap Tong-hoog Kiam Khek Su Ma Suan ..."

"Tunggu dulu, kau katakan Suma Suan?" "Benar"

”Ada hubungan apa antara kau dengan dia?” "Ayah dan anak."

"Ini tidak benar, dia adalah seorang she Suan, sedang kau seorang she Hui. bagaimana jadi ada hubungannya antara ayah dan anak?"

Hui Kiam terperanjat, mengapa orang tua ini juga mengetahui bahwa dirinya seorang she Hui.

"Tentang ini kau tidak boleh perlu tahu."

"Lucu sekali, mengapa aku tidak boleh perlu tabu, kau hendak membunuh aku, sekalipun aku mati juga harus tahu dulu siapa orangnya yang membunuh aku.',

"Kau jawab saja ada kejadian itu atau tidak?" "Tidak ."

" Kau   tidak beiani mengaku?"

”Ha, ha, ha. apakah artinya tidak berani itu? kau benar- benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya, diwaktu dahulu lima kasar itu ketika melihat aku. juga masih menaruh hormat, kau terhitung orang yang keberapa dalam barisan lima kaisar itu?" Mendengar disebutnya lima kaisar. Hui Kiam semakin marah, hingga saat itu ia masih belum berhasil melaksanakan penututan balas dendam terhadap suhu dan supeknya itu.....

Manusia agung itu berkata pula: "Bocah adatmu dan kepandaianmu, benar benar melebihi lima kaisar dimasa yang lampau arwah lima kaisar dialam baka boleh merasa puas. Sekarang aku hendak menanyamu, apa yang kau katakan tadi apakah ada dasarnya?”

”Sudah tentu ada!" "Berdasar apa?"

”Aku mendengar dan mulut orang berbaju lila sendiri"

"Siapa itu orang berbaju lila?" Hui Kiam terdiam, memang sehingga saat itu, ia sendiri juga masih belum tahu bagaimana asal usulnya Orang berbaju lila itu, sedang kan mukanya saja belum pernah melihatnya, tetapi ini tidak penting, dikemudian hari ia pasti akan dapat membuka kedoknya orang itu dan sekarang ia hanya ingin menagih hutang untuk ayahnya, maka setelah berdiam sejenak lalu berkata:

'"Tidak perduli siapa orang berbaju lila itu aku hanya ingin bertanya kenyataannya "

"Kau toh tidak tahu asal usul orang itu, bagaimana kau tahu perkataannya boleh dipercaya?"

”Aku hanya ingin menanyakan kenyataannya'

”Aku sudah mengatakan tidak ada kejadian semacam itu” "Benarkan kau tidak mau mengaku? '

"Jikalau aku berkata bahwa orang berbaju lila itu membunuh mati lima kaisar apakah kau percaya ? '

”Percaya?" "Sebabnya?”

”Sebab orang berbaju lila itu sudah mengakui sendiri!" "Menurut apa yang aku tahu hanya mengaku pernah berkelahi dengan lima kaisar itu tetapi menyangkal melakukan pembunuhan!"

"Mengapa kau tahu ?"

”Tentu teka teki mengenai jarum melekat tulang sehingga kini toh masih belum terungkap "

Hui Kiam terkejut mundur satu langkah, ia heran mengapa orang tua itu mengetahui juga rahasia itu? Sedangkan ia yakin benar bahwa semua rahasia itu tidak mungkin tersiar kedunia Kang ouw.

”Bagaimana kau mengetahui rahasia ini?"

---ooo0dw0ooo---