Pedang Pembunuh Naga Jilid 26

Jilid 26

H U I Kiam menganggukkan kepala. Ia berpikir sejenak, segera mengambil keputusan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Pertama, ia harus mengusir pergi Hiat-ie Nio-cu lebih dulu, sebab kedatangan hantu wanita itu yang hendak mencari keterangan anak perempuannya masih dapat dimengerti, dan yang paling penting, sebab murid hantu wanita itu ialah Penghuni Loteng Merah dahulu dengan To-liong Kiam Khek, ayahnya pernah ada hubungan kasih, dan sekarang kedua-duanya sudah meninggal. Dengan adanya dua sebab itu maka hari ini ia patut membebaskannya.

Dengan mata menatap wajah Hiat-ie Nio-cu, Hui Kiam berkata dengan nada suara dingin:

“Hiat-ie Nio-cu, harap kau segera meninggalkan tempat ini.”

Hiat-ie Nio-cu perdengarkan suara tertawa mengejek, kemudian berkata:

“Apa? Kau suruh aku meninggalkan tempat ini?” “Benar.”

“'Bocah, apa maksud permintaanmu ini?”

“Sebab hari ini aku tidak bersedia membunuhmu.” Jawaban sombong itu, mengejutkan semua orang. “Kau? Hendak membunuh aku? Ha, ha, ha.”

“Ini toh tidak ada apa-apanya yang menggelikan.” “Bocah, jikalau aku hendak membunuhmu, bagaimana?” “Kalau begitu aku terpaksa merubah maksudku semula!”

Hiat-ie Nio-cu tiba-tiba lompat melesat ke hadapan Hui Kiam.

Katanya dengan suara dingin:

“Bocah, apakah kau sengaja datang hendak turut mati bersama- sama dengan kawanan kepala gundul ini?” “Kuulangi sekali lagi, harap kau segera imeninggalkan tempat ini!”

Hiat-ie Nio-cu melototkan matanya. Katanya dengan suara bengis:

“Kuhajar mampus kau dulu.”

Di antara suara bentakan, hantu wanita itu segera mengerakkan dua tangannya….

“Ow ...!”

Demikian suara itu, telah menggetarkan hati setiap orang yang ada di situ, karena mereka segera menyaksikan suatu kejadian yang sangat ganjil. Hiat-ie Nio-cu berdiri dengan badan gemetar. Wajahnya yang sudah keriputan nampak semakin buruk dan menakutkan, sedangkan lengan bagian kanannya, telah terputung batas pundak, terjatuh di tempat tiga kaki depan dirinya. Darah mengucur deras dari bekas lukanya.

Sementara pedang sakti Thian Gee Po-kiam Hui Kiam masih tetap dalam keadaan gerakan menyabet, tetapi berhenti di tengah jalan, sedangkan wajahnya yang dingin dan mengandung nafsu membunuh masih tetap tidak berubah. Tiada seorang pun dapat melihat bagaimana dia menghunus pedangnya dan bagaimana melakukan serangannya.

Di pihaknya Persekutuan Bulan Emas, mulai si Iblis Gajah ke bawah, menunjukkan sikap keheran-heranan.

Demikian pula dari pihaknya kawanan padri Siao-lim-pay.

Akan tetapi, perubahan yang terjadi di muka orang-orang kedua pihak itu sangat berbeda maksudnya. Kalau satu pihak dikejutkan oleh perbuatan pemuda itu, sedang di lain pihak ini merupakan suatu dorongan bagi semangatnya.

Terjadinya perubahan itu, sesungguhnya di luar dugaan kawanan padri Siao-lirn-sie yang semula sudah putus harapan. Dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, Penggali Makam dalam satu gerakan saja sudah berhasil merobohkan Hiat-ie Nio-cu dalam keadaan terluka parah. Ini berarti menyingkirkan satu ancaman berat.

Sebabnya Hui Kiam melakukan perbuatan ganas itu dalam waktu sekejap karena ia tidak dapat membiarkan Hiat-ie Nio-cu mendapat kesempatan menggunakan senjata ampuhnya kuku terbang beracun itu. Sudah tentu, tidak hanya itu sudah cukup dalam arti kata memandang muka kepada hbantu wanita itu, sebab jikalau tidak, Hiat-ie Nio-cu pada saat itu pastilah sudah menggeletak sebagai mayat.

Hiat-ie Nio-cu mengulur tangan kirinya menotok ke beberapa bagian jalan darahnya untuk menghentikan mengalirnya darah, kemudian ia memungut lengan tangannya yang telah terputung itu. Dengan wajah yang penuh kebencian mengawasi Hui Kiam, lalu berkata kepada Bu-siang Sian-su:

“Bu-siang, urusan di antara kita belum beres.”

Walaupun dalam kealaan terluka parah, sikap bengis dan kejam hantu wanita itu masih tetap menimbulkan rasa ngeri bagi yang menyaksikannya.

Sehabis berkata demikian, ia membawa lengannya yang penuh darah, berjalan keluar dengan tindakan lebar....

Hui Kiam memang tiada maksud hendak mengambil jiwanya, maka ia menurunkan pedang dan membiarkannya pergi.

Si Iblis Gajah tiba-tiba bergerak menghadang di hadapan Hiat-ie Niocu.

“Kau mau apan?”

“Hiat-ie Nio-cu, perbuatanmu yang telah menghancurkan cabang persekutuan kami, sekarang bagaimana kau hendak membereskan?”

“Bagaimana membereskannya?”

“Utang darah harus dibayar dengan darah!” “Anjing, tindakanmu ini berarti mendorong orang yang berada dalam keadaan luka. ”

“Terserah bagaimana kau katakan. Kalau kau hendak pergi, tinggalkanlah dulu jiwamu!”

Kejadian itu benar-benar di luar dugaan semua orang. Bagi Siao- liem-pay, ini merupakan suatu keajaiban, sebab itu berarti menarik kembali nasib Siao-liem-pay dari kehancuran. Walaupun bagaimana kesudahannya masih belum dapat diduga, tetapi bagaimanapun juga keadaannya sudah tidak berbahaya seperti tadi lagi. Kini musuh kuat sudah kurang seorang, yang terpenting adalah tindakan apa yang akan diambil oleh Penggali Makam selanjutnya.

Sekujur badan Hiat-ie Nio-cu gemetar, bagaikan seekor binatang buas yang terluka.

Hui Kiam segera bertindak. Ia menghadapi si Iblis Gajah dan berkata kepadanya:

“Biarkan ia pergi!”

Iblis Gajah itu agaknya terperanjat. Katanya: “Bocah, apakah artinya perbuatanmu ini?” “Aku suruh kau melepaskanya!”

“Hutangmu sendiri dengan persekutuan kami, apakah….” “Apakah kaupun ingin menagih?”

“Benar!”

“Nampaknya hutang ini kau tidak akan dapat menagihnya. Aku bahkan sengaja hendak menambah hutangku lagi. Di kemudian hari, biar pemimpinmu sendiri yang datang menagih.”

“Bocah, kau sungguh sombong!”

Sehabis berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak menyerang ke arah Hiat-ie Nio-cu. Dalam keadaan parah demikian, sudah tentu Hiat-ie Niocu tidak dapat menghindarkan serangan itu. Iblis Gajah itu sesungguhnya kejam, tetapi juga rendah perbuatannya. Ia ingin menggunakan kesempatan itu untuk membereskan Hiat-ie Nio-cu.

“Kau cari mampus!” demikian bentak Hui Kiam. Secepat kilat melancarkan serangannya dengan menggunakan jari tangan yang ditujukan di kedua mata Iblis Gajah.

Hembusan angin yang keluar dari jari tangan itu bagaikan anak panah yang meluncur dengan hebatnya.

Iblis Gajah itu terpaksa harus melindungi dirinya lebih dulu. Dengan cepat menarik kembali serangannya dan menggeser kakinya satu langkah.

Walaupun terhindar dari serangan Hui Kiam, tetapi seorang Utusan Bulan Emas yang berdiri di belakangnya, telah jatuh roboh karena dadanya tertembus oleh serangan Hui Kiam tadi.

Hui Kiam maju setindak lagi mendekati si Iblis Gajah.

Iblis Gajah merasa ngeri oleh sikap Hui Kiam yang galak itu.

Dengan tanpa sadar ia mundur satu langkah.

Hiat-ie Nio-cu hendak meninggalkan tempat itu lagi....

Dua dari antara Utusan Bulan Emas telah bergerak dengan pedang mereka menyerang Hiat-ie Nio-cu.

Terdengar dua kali jeritan ngeri yang menggetarkan hati semua orang yang ada di situ.

Tanpa menoleh sedikitpun juga, Hui Kiam berdiri sambil mengacungkan ujung pedangnya ke bawah, seolah-olah belum pernah digunakan tetapi ujung pedang masih berlumuran darah.

Dua orang Utusan Bulan Emas yang menyerang Hiat-ie Nio-cu tadi sudah menggeletak di tanah dalam keadaan tak bernyawa.

Ilmu pedang semacam itu, kecuali hanya satu dua orang saja di antara mereka, jangankan pernah dilihatnya, sedangkan mendengar pun belum pernah. Apa yang telah terjadi sudah jelas menunjukkan bahwa pemuda Penggali Makam itu dengan Persekutuan Bulan Emas, sudah berhadapan dengan musuh. Para padri Siao-liem-sie diam-diam merasa lega dan mengucapkan syukur kepada Budha, sedangkan di pihak orang-orang Persekutuan Bulan Emas timbullah kegemparan hebat.

Hiat-ie Nio-cu yaog dikejutkan oleh kejadian itu, sejenak agaknya ia merasa tertegun, tetapi kemudian ia berkata dengan suara keras:

“Penggali Makam, aku tidak sudi menerima budimu ini!”

Mata Hui  Kiam masih  tidak  bergeser dari badan Iblis Gajah.

Dengan tanpa menoleh ia menjawab:

“Aku tidak ingin kau menerima budiku! Di kemudian hari apabila berjumpa lagi, mungkin aku akan membunuhmu!”

“Mengapa tidak sekarang?”

“Karena aku memandang muka Penghuni Loteng Merah yang sudah meninggal, kali ini aku bebaskan kau!”

“Mengapa?”

“Tentang ini kau tidak perlu bertanya lagi!”

“Kau telah mengutungi lengan tanganku, dendam sakit ini aku pasti akan menuntut balas!”

“Setiap waktu aku menantikan kedatanganmu!” “Sampai ketemu lagi!”

Kali ini ketika Hiat-ie Nio-cu berlalu sudah tiada orang yang berani merintangi lagi. Sementara itu pendopo Wie-tho-tian masih tetap terkurung rapat oleh orang-orang Persekutuan Bulan Emas tetapi tidak ada yang bertindak. Mereka hanya mengawasi berlalunya Hiat-ie Nio-cu dengan tanpa bisa berbuat apa-apa. Sudah tentu walaupun Hiat-ie Nio-cu sudah terlalu parah, tetapi cukup tenaga untuk menghadapi orang-orang Persekutuan Bulan Emas dari golongan kelas dua atau tiga. Hantu wanita itu sudah berlalu, tetapi suasana masih tetap tegang, masih tetap diliputi oleh rasa kekhawatiran.

Biji mata Iblis Gajah berputaran beberapa kali, kemudian dengan tiba-tiba berkata:

“Penggali Makam, senjatamu itu bukankah pedang sakti dari Makam Pedang itu?”

“Benar, ini adalah pedang sakti Thian Gee Im-kiam!” jawab Hui Kiam dingin.

Begitu mendengar disebutnya pedang sakti itu, mata semua orang terbelalak. Jikalau bukan si Iblis Gajah yang menanyakan itu, siapapun tak dapat menduga bahwa pedang yang nampaknya tidak menarik itu adalah pedang sakti dari Makam Pedang yang menggemparkan itu.

Saat itu timbullah perasaan tamak dalam hati Iblis Gajah yang ingin mendapatkan pedang sakti itu.

Hanya iblis tua itu saja yang berani berpikir demikian.

Hui Kiam dalam hati sudah bertekad hendak menyingkirkan iblis itu. Dalam pertempuran antara golongan benar dan sesat, membunuh satu lawan berarti mengurangi satu tenaga kejahatan. Selain daripada itu, perbuatan iblis tua itu yang ditunjukkan pada hari ini, sekalipun mati juga masih belum cukup untuk menebus dosanya.

Di pihak Siao-liem-pay, setiap orang menantikan perubahan yang akan terjadi. Hakekatnya di antaranya semua murid-murid Siao-lim- pay, sesungguhnya juga sulit didapatkan seorangpun yang sanggup melawan kekuatan Utusan Persekutuan Bulan Emas, jangankan untuk menghadapi Iblis Gajah. Maka pada saat itu mereka juga tidak menunjukkan sikap apa-apa,

Tetapi diam-diam mereka sudah menaruh harapan kepada diri Hui Kiam, supaya dapat mnghindarkan bencana yang mengancam Siao-liem-sie.

Dengan nada suara yang masam dingin Hui Kiam berkata: “Iblis Gajah, kalian Delapan Iblis setelah terkena senjata jarum melekat tulang Jin Ong, ternyata masih hidup dan masih berani melakukan kejahatan, ini sesungguhnya merupakan suatu kejadian ajaib di luar dugaan semua orang.”

Ucapan itu telah menimbulkan kebencian si Iblis Gajah. Wajahnya yang sudah bengis, berubah semakin menakutkan. Jawabnya dengan suara gusar:

“Kali ini aku dan saudara-saudaraku turun gunung lagi, maksudku adalah hendak menagih hutang ini!”

“Nampaknya maksudmu itu tidak akan tercapai!” “Bocah, apa artinya perkatanmu ini?”

“Sebab kematianmu hari ini sudah pasti.”

Wajah Iblis Gajah tiba-tiba berubah. Ia membentak dengan suara bengis:

“Setan cilik, hari ini aku akan telan kau hidup-hidup.”

“Tidak usah banyak bicara. Hunuslah pedangmu, jagalah dirimu baik-baik.”

Sejenak Iblis Gajah merasa ragu-ragu, tetapi akhirnya ia hunus juga pedangnya.

Dengan mata melotot Hui Kiam berkata:

“Iblis tua, jikalau dalam tiga jurus kau tidak mati, hari ini kau terhitung satu-satunya orang yang sanggup melalui rintangan dari pedang ini.”

Iblis Gajah mengayunkan pedangnya, tetapi kemudian menurunkan kembali lalu berkata:

“Tunggu dulu, aku ingin menanyaimu….”

“Kalau kau ada pesan apa-apa, tidak halangan sekarang kau terangkan.”

“Tadi kau telah menyebutkan tentang dirinya Jien Ong si anjing tua itu.” “Benar, tapi kau berkata agak sedikit sopan.” “Di mana sekarang ia berada?”

“Pertanyaanmu ini tidak ada gunanya. Sekalipun kau tahu di mana Jien Ong berada, juga percuma.”

“Mengapa?”

“Kau tidak akan bisa hidup lagi, apalagi berlalu dari sini!” “Hem!”

“Iblis Gajah, jikalau dalam tiga jurus kau tidak mati, aku nanti akan memberitahukan di mana adanya Jin Ong.”

“Benarkah?”

“Aku tidak akan berdusta terhadapmu.”

“Bocah, jikalau aku kesalahan tangan, bukankah itu berarti aku akan kehilangan seorang yang dapat menunjukkan jalan bagiku untuk mencari Jin Ong?”

“Percayalah, hal itu takkan terjadi!”

Ini telah menjadi suatu kenyataan. Apabila Iblis Gajah tidak membereskan Hui Kiam lebih dulu, sudah tentu tidak dapat melanjutkan tindakan terhadap Siao-lim-pay, untuk menunaikan tugasnya. Ditambah lagi permusuhan yang sudah ada antara Hui Kiam dengan Persekutuan Bulan Emas dan pedang sakti yang ada di tangan anak muda itu membuat Iblis Gajah tak mempunyai pilihan lain. Selain dari pada itu Hui Kiam menantang terang-terangan. Dengan derajat dan kedudukannya iblis itu tidak mungkin tidak akan menyambut tantangan itu.

Tetapi iblis tua yang namanya sudah terkenal sejak enam puluh tahun berselang, terhadap pemuda yang baru berusia dua puluhan tahun itu, masih belum yakin untuk merebut kemenangan.

Apa yang telah terjadi atas diri Hiat-ie Niocu, membuat hatinya merasa bimbang. Akan tetapi anak panah yang sudah siap dibusurnya toh tak boleh tidak harus dilepaskan. Iblis Gajah segera mengerahkan kekuatan tenaganya. Ia lalu melancarkan serangannya sambil membentak:

“Serahkan jiwamu!”

Hui Kiam sudah tentu juga tak berani berlaku gegabah. Ia juga menggunakan sepenuh tenaga untuk menyambut serangan itu.

Pedang itu ternyata belum sampai beradu satu sama lain, hanya hawanya saja yang baru saling bentur, tetapi toh sudah menimbulkan suara hebat. Hembusan angin yang timbul ternyata begitu hebat pengaruhnya, sehingga orang-orang yang berada di tempat sekitar tiga tombak, terpaksa harus mundur.

Jurus pertama berkesudahannya seri.

Semua orang yang berada di situ, telah dikejutkan oleh kejadian yang luar biasa itu sehingga semuanya mengawasinya dengan mata dan mulut terbuka lebar.

Hui Kiam mengeluarkan suara bentakan keras: “Sambutlah jurus kedua ini!”

Jurus kedua dari ilmu pedang Thian Gee Kiam-hoat, dilancarkan dengan menggunakan kekuatan tenaga seratus persen penuh.

Semua orang dari Persekutuan Bulan Emas hatinya merasa kecut menyaksikan gerak tipu serangan yang luar biasa itu,

Iblis Gajah juga merasa ngeri, tetapi ia terpaksa menyambut serangan itu dengan sepenuh tenaga.

Tatkala kedua senjata saling beradu timbullah suara amat ngeri. Pedang di tangan Iblis Gajah patah menjadi beberapa potong, jatuh berhamburan di tanah. Di tangannya hanya tinggal gagang pedangnya saja. Tubuhnya yang tinggi besar lemah dan gemetar. Wajahnya yang bengis berubah menjadi pucat pasi menakutkan.

Semua orang menyaksikan hampir tidak bisa bernapas. Sebentar kemudian Iblis Gajah menyemburkan darah segar dari mulutnya. Sepotong gagang pedang yang tergenggam di tangannya jatuh di tanah.

Ujung pedang Hui Kiam perlahan-lahan diarahkan ke ulu hati lawannya….

Iblis Gajah bagaikan patung, sedikitpun tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Ia berdiri diam tidak bergerak.

Terang bahwa iblis itu telah terluka parah dalam tubuhnya oleh serangan pedang sakti tanpa tandingan itu, sehingga sudah tak mempunyai tenaga perlawanan lagi.

Pada saat yang kritis demikian, tiga orang Utusan Bulan Emas telah melancarkan serangan dari sudut yang berlainan dengan maksud untuk menolong jiwa Iblis Gajah.

Hui Kiam dengan cepat membalikkan badannya sambil menggerakkan pedang di tangannya. Gerakaan yang nampaknya sangat sederhana itu sebctulnya justru merupakan tipu yang paling dahsyat dari ilmu pedang Thian Gee Kiam-hoat.

Hampir bersamaan dengan gerakannya itu, terdengar pula suara jeritan ngeri. Seorang utusan yang melancarkan serangannya tadi telah tertikam dadanya oleh ujung pedang Hui Kiam lalu jatuh roboh dan binasa seketika itu juga. Dua yang lain yang bergerak belakangan terluput dari bahaya, mereka hanya terpental mundur oleh hawa pedang itu.

Iblis Gajah yang merupakan salah seorang kuat yang pernah mendapat nama dalam kalangan Kang-ouw, biar bagaimana bukan oleh orang sembarangan. Hanya dalam waktu sekejap itu saja, sudah cukup untuk digunakan mengambil tindakan. Dengan menggunakan kedua tangannya ia melancarkan satu serangan hebat. Serangan itu merupakan serangan yang terakhir untuk menolong jiwanya, maka ia telah menggunakan seluruh sisa kekuatan tenaganya. Sudah tentu serangan demikian itu lebih hebat dari serangan biasa. Hui Kiam menyambut serangan itu dengan pedangnya, sehingga buyar ke empat penjuru. Tetapi hidungnya dapat mencium bau aneh. Seketika itu kepalanya pusing, badannya tergoncang.

Sepintas lalu dalam otaknya teringat akan serangan beracun, maka seketika itu hatinya berdebar. Tentang racun itu seharusnya waspada, tetapi ternyata ia sudah melalaikan itu.   Untung Iblis Gajah itu tidak menggunakan racun dari dedaunan. Jikalau tidak, entah bagaimana akibatnya.

la buru-buru menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk menutup jalan darahnya guna mencegah menjalarnya racun.

Iblis Gajah sambil memperdengarkan suara yang aneh berkata: “Bocah, kau sudah terkena racunku yang merupakan kabut

beracun. Dalam waktu singkat nyawamu akan melayang. Sekalipun kau menggunakan kekuatan tenaga dalam menutup jalan darahmu, paling-paling juga hanya bisa hidup setengah jam lagi.”

Hati Hui Kiam tergoncang hebat. Terhadap racun, ia sedikitpun tiada daya.

Iblis Gajah itu berkata pula:

“Sebelum putus napasmu, kau beritahukanlah tempat kediaman Jien Ong.”

Perubahan yang terjadi secara tidak terduga-duga itu, membuat kawanan padri Siao-liem-pay saling berpandangan dengan perasaan heran. Oleh karena kematian empat orang dari enam Utusan Bulan Emas sedangkan Iblis Gajah juga terluka parah, maka orang-orang Bulan Emas yang mengurung pendopo kuil itu paling-paling hanya orang-orang golongan kelas dua atau kelas tiga saja. Ini berarti tekanan tenaga yang mengancam Siao-liem-sie sudah banyak berkurang. Apabila Bu-siang Siansu mengambil keputusan melawan mati-matian, nasib Siao-liem-pay mungkin masih dapat tertolong....

Bu-sian Sian-su yang menyaksikan kejadian demikian, benar saja ia segera mengambil keputusan dengan cepat. Ia mengeluarkan perintah kepada semua untuk muridnya supaya siap untuk mengadakan perlawanan. Sementara itu Iblis Gajah masih tetap mengawasi Hui Kiam.

Dengan suara yang bengis ia berkata lagi:

“Penggali Makam, kau dengar perkataan atau tidak?”

Hui Kiam hanya dapat memandang musuhnya dengan mata beringas.

Iblis Gajah terus mendesak:

“Kau boleh coba jalankan pernapasanmu, lihat kekuatanmu masih ada berapa? Aku peringatkan padamu, jikalau kau sembarangan menggunakan kekuatan tenaga dalammu, ini berarti mempercepat kematianmu!”

Hui Kiam diam-diam mengatur pernapasannya. Ia merasa bahwa kekuatannya tidak kurang suatu apapun juga hanya karena beberapa bagian jalan darahnya tertutup untuk menahan masuknya racun, tiba-tiba ia teringat bahwa ilmu pelajaran yang dipelajarinya berbeda dengan pelajaran biasa meskipun terkena racun yang bagaimanapun tak akan mati dalam waktu setengah jam, apalagi dengan keadaan badan sendiri sekarang ini, rasanya masih cukup untuk membinasakan musuhnya.

Oleh karena itu, pedang di tangannya menunjukkan sikap untuk melancarkan serangan. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Iblis tua, racunmu tak akan bisa berbuat apa-apa terhadap diriku. Kau jangan merasa bangga.   Jurus ketiga masih ada, apa kau tahu benar bahwa kau masih bisa hidup?”

“Bocah, kau boleh coba turun tangan!” “Sambutlah serangan terakhir ini!”

Ucapan itu segera disusul dengan serangan pedangnya dengan kecepatan bagaikan kilat.

Iblis Gajah memperdengarkan suara tertawa aneh, dengan cepat segera melompat mundur.

Akan tetapi, ia ternyata sudah salah menghitung kekuatan tenaga Hui Kiam. Ia juga terlalu percaya pada keampuhan senjata racunnya. Itulah sebabnya ia menganggap bahwa serangan terakhir Hui Kiam itu tentunya tak berarti apa-apa ....

Hui Kiam yang nampaknya seperti orang terluka memang semua tak menduga akan dapat melakukan serangan hebat itu.

Semua orang yang ada di situ pada menahan napas menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bu-siang Sian-su mengibaskan lengan jubahnya. Ia berkata dengan suara keras kepada anak muridnya:

“Bertindak!”

Begitu mendengar perintah itu, tiga orang anggota sesepuh yang masih belum luka segera menerjang kepala Iblis Gajah, sedangkan semua kepala bagian masing-masing memberi komando untuk menyerbu kepada orang-orang Persekutuan Bulan Emas.

Pertempuran mati-matian telah terulang.

Tepat pada saat itu tubuh Iblis Gajah yang tinggi besar nampak roboh di tanah. Batok kepalanya yang lebih besar daripada manusia biasa menggelinding jauh, sedang darah menyembur keluar dari lehernya.

Salah satu dari barisan Delapan Iblis negara Thian-tik yang sekian tahun lamanya namanya sangat terkenal, dengan demikian tamatlah riwayatnya. Ia merupakan orang kedua yang mati di ujung senjata pedang sakti Thian Gee sin Kiam sesudahnya Iblis Singa.

Kiranya serangan Hui Kiam tadi sudah menebas putus kepala Iblis Gajah.   Kalau sedemikian lama masih belum jatuh, ini satu bukti betapa tajamnya pedang sakti itu dan betapa tingginya ilmu pedang Hui Kiam.

Setelah tubuh Iblis Gajah itu roboh, semua orang baru mengeluarkan suara terkejut dengan keheran-heranan.

Tetapi pada saat itu mata Hui Kiam dirasa sudah berkunang- kunang, tenaganya mulai lenyap. Racun yang berada dalam dirinya agaknya sudah dicegah menjalarnya. Sekalipun pemimpinnya sudah binasa, tetapi orang-orang berbaju hitam itu semua merupakan tenaga pilihan dalam Persekutuan Bulan Emas, dalam pertempuran itu masih mengunjukkan keganasannya.

Hui Kiam mencoba berusaha untuk mempertahankan dirinya. Ia dapat melihat dua orang Utusan Bulan Emas yang melawan tiga orang anggota sesepuh Siao-liem-sie, ternyata masih menunjukkan keunggulannya. Jikalau mereka dibiarkan saja, walaupun Siao-liem- sie tidak sampai hancur tetapi juga akan mengalami kerugian besar.

Hui Kiam dengan sisa tenaganya yang masih ada, lompat melesat menerjang kedua utusan itu. Dengan tidak banyak bicara ia menggerakkan pedangnya, dalam waktu sekejap saja dua utusan itu sudah binasa di ujung pedangnya.

Dengan kematian dua utusan yang termasuk orang kuat, besar sekali pengaruhnya bagi orang-orang Persekutuan Bulan Emas lainnya. Mereka sudah mulai terdesak, satu persatu dibinasakan oleh kawanan padri kuil Siao-liem-sie. Yang masih hidup, segera lari tunggang-langgang untuk menyelamatkan jiwanya sendiri.

Kawanan padri Siao-liem-sie juga tidak mengejar. Mereka membiarkan musuhnya kabur.

Hui Kiam yang sudah terkena racun, karena dua kali menggunakan kekuatan tenaganya, racun menjalar semakin cepat, sehingga badannya sempoyongan, keringat dingin mengalir keluar.

Karena ia merupakan satu-satunya orang yang menjadi pusat perhatian orang yang ada di situ, keadaan itu sudah tentu tidak dapat mengelabui mata orang.

Tiga anggota sesepuh segera menghampirinya. Satu di antaranya lalu berkata dengan suara cemas:

“Siao-sicu, kau telah terluka.”

Hui Kiam coba mempertahankan diri. Ia menjawab dengan suara gemetar:

“Aku terkena racun!” “Racun!” demikian tiga anggota sesepuh itu serentak berseru.

Bu-siang Sian-su memerintahkan anak muridnya untuk mengubur orang-orang yang terbinasa dan mengobati anak muridnya yang terluka. Setelah selesai memberikan perintahnya, baru menghampiri Hui Kiam, kemudian berkata sambil merangkapkan dua tangannya:

“Siao-sicu dengan seorang diri telah menolong nasib kuil dan partay kami dari bahaya kehancuran, maka dengan ini kami atas nama semua murid Siao-liem-pay untuk mengucapkan terima kasih banyak-banyak.”

Hui Kiam balas menghormat seraya berkata:

“Siansu jangan berkata begitu.”

Partay Siao-lim-pay selama itu merupakan suatu partay besar dan sebagai pemimpin semua partay golongan benar dalam rimba persilatan daerah Tionggoan. Meskipun dewasa itu kekuatannya agak mundur, tetapi dengan kedudukan pemimpin suatu partai besar, maka ucapan Bu-siang Sian-su tadi bagi Hui Kiam sebetulnya merupakan suatu penghormatan besar!

Bu-siang Sian-su tiba-tiba dapat melihat keadaan Hui Kiam yang tidak sewajarnya.

“Siao sicu, kau….”

“Boanpwe terkena racun berbisa Iblis Gajah tadi!” “Racun! Racun apa?”

“Racun berupa kabut yang sangat berbisa!” “Ah!”

Bu-siang Sian-su terkejut. Agaknya ia kenal baik dengan racun itu, maka ia segera memerintahkan kepada tiga anggota sesepuh, supaya Hui Kiam dibawa ke dalam kamar.

Hui Kiam menolak. Ia berkata:

“Tidak usah, boanpwe ingin... minta diri!” “Tidak! Racun berkabut ini, kami dahulu pernah dengar. Kata suhu. ”

Berkata sampai di situ, ia tidak melanjutkan lagi. Hui Kiam lalu berkata:

“Siapa terkena racun itu sudah tiada obatnya. Dalam waktu setengah jam pasti akan binasa!”

Tiga anggota sesepuh itu terperanjat, wajah mereka berubah. Bu-siang Sian-su setelah memuji nama Budha lalu berkata dengan suara berat:

“Karena menolong kuil kami dari bencana kehancuran sehingga Siao sicu terkena racun ini, maka biar bagaimana kami pasti hendak berusaha untuk menyembuhkan racun ini!”

“Tahukah Ciangbunjin dengan obat apa dapat memunahkan racun ini?”

“Tentang ini   ”

Hui Kiam sudah tentu tahu bahwa tindakan Bu-siang Sian-su itu hanya karena hendak membalas budi, sebetulnya juga tidak yakin benar dapat menghindarkan dirinya dari kematian. Maka kalau toch memang benar mesti mati, perlu apa harus mengotori tempat suci itu? Bukankah lebih baik selagi masih bisa jalan, pergi saja ke tempat sepi untuk menantikan ajalnya dengan tenang?

Karena berpikir demikian maka ia berkata sambil tertawa getir: “Kuil ini baru saja mengalami pertempuran hebat, perlu diadakan

pembersihan, maka boanpwee ingin berusaha sendiri. ”

“Apakah siao-sicu yakin dapat menyembuhkan lukamu?” “Terserah kepada nasib.”

“Tetapi. ”

“Ciangbunjin masih ada petunjuk apa?”

Bu-siang Siansu nampak ragu-ragu, tapi akhirnya ia mentabahkan hatinya dan berkata dengan suara sedih: “Siao-sicu barangkali tidak bisa turun dari gunung ini!”

Hui Kiam matanya dirasakan gelap, badannya sempoyongan hingga hampir tak dapat berdiri tetapi ia sudah mengambil keputusan tidak ingin menyusahkan kawanan padri itu maka ia menjawab dengan mantap.

“Budi kebaikan siansu, boanpwee terima kasih banyak-banyak.

Tetapi boanpwee sudah mempunyai rencana sendiri.” “Tetapi kami anggap itu tidak baik?”

Tiba-tiba Hui Kiam teringat akan maksud kedatangannya ke kuil itu. Meski tahu ajalnya telah dekat, tetapi ia masih ingin mendapat kesenangan. Ia menenangkan pikirannya dan berkata:

“Kedatangan boanpwee ini sebetulnya ingin menanyakan sesuatu. ”

“Silahkan, kami pasti akan memberi keterangan apa yang kami tahu.”

“Itu adalah soalnya Pek-leng-lie Khong Yang Hong yang pada lima belas tahun berselang datang seorang diri ke kuil ini.”

“O! Lie-sicu pada waktu terjadinya itu, hari itu juga sudah kami bebaskan dari gunung ini!”

Hui Kiam merasa kecewa, tetapi perasaan itu hanya sepintas lain saja timbul dalam hatinya sebab kekecewaan itu sekarang sudah tidak penting lagi baginya. Ia sudah merupakan seorang yang sudah hampir mati. Semua dendam permusuhan dan budi kebaikan juga akan musnah bersama-sama jiwanya.

Maka ia lalu mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata:

“Boanpwee mohon diri!”

Ia segera membalikkan badannya berjalan keluar. Tetapi berjalan belum sampai satu tombak ia sudah jatuh roboh di tanah.

“Ah!” Bu-siang Sian-su dan tiga anggota sesepuh serta beberapa anak murid Siao-liem-pay memperdengarkan suara seruan terkejut.

Dua anggota sesepuh lari memburu. Dengan seorang sebelah ia membimbing Hui Kiam yang saat itu nampak sudah tak ingat lagi.

Wajah Bu-siang Sian-su berubah pucat pasi. Mulutnya berulang- ulang menyebut nama Budha.

Hari itu apabila tidak kedatangan Hui Kiam, kuil Siao-liem-sie pasti tidak luput dari nasib kehancurannya. Mungkin partay besar yang pernah terkenal namanya itu, selanjutnya akan lenyap dari dunia rimba persilatan. Kecuali Hui Kiam, barangkali tak mendapatkan lagi orang lain yang mempunyai kekuatan tenaga untuk menghindarkan bencana tersebut. Jikalau Hui Kiam mati oleh karenanya, boleh ia telah berkorban bagi Siao-liem-sie. Maka Busiang Sian-su yang saat itu menjabat sebagai pemimpinnya, kita dapat membayangkan bagaimana perasaannya pada saat itu.

“Lekas bawa ia ke dalam kamar!” demikian ia perintahkan kepada dua anggota sesepuh itu.

Tiba-tiba satu suara terdengar dari luar kuil:

“Tay-hweshio, apakah Siao-liem-sie turut bergabung untuknya?”

Seorang tua berambut putih dengan sebuah buli-buli di punggung kanan dan pundak kiri tergantung kantong besar, telah muncul dengan tiba-tiba di belakang orang tua itu diikuti oleh delapan orang berbaju hitam.

Bu-siang Sian-su dan tiga anggota sesepuh terkejut ketika melihat kedatangan orang tua itu. Seorang di antara tiga anggota sesepuh lalu berkata:

“Ciok siecu, apa maksud kedatanganmu ini?”

Orang tua itu memang benar adalah Manusia Gelandangan Ciok Siao Ceng yang kini menjabat ketua pelindung hukum Persekutuan Bulan Emas.

Semua anak murid yang sedang membersihkan lantai kuil itu, buru-buru meninggalkan kewajibannya dan maju mengurung. Suasana kembali tegang.

Delapan orang berpakaian hitam yang mengikuti Manusia Gelandangan itu, setiap orang mengawasi kawanan padri Siao-liem- sie dengan mata beringas.

Dengan sinar mata yang tajam Manusia Gelandangan itu menatap wajah Bu-siang Sian-su kemudian berkata dengan suara keras:

“Ciangbunjin, serahkan dia padaku!”

“Tidak bisa!” jawab Bu-siang Sian-su tegas.

“Ia masih ada waktu setengah jam lagi untuk hidup!” “Bagaimana dengan maksud Ciok-siecu?”

“Tak usah merepotkan kalian untuk rnengadakan upacara penguburan segala!”

“Kami kata tak bisa!”

“Apakah kau tak memikirkan apa akibatnya?”

Ucapan itu mengandung ancaman. Dengan tanpa dipikirkannya lagi Bu-siang Siansu segera menjawab:

“Betul!”

“Kalau begitu sudah pasti ia akan mati,” berkata Manusia Gelandangan sambil tertawa dingin.

“Maksud sicu apakah ”

“Kalau kau serahkan kepadaku aku jamin ia tidak akan mati.” “Apakah aku harus menyerahkan dirinya kepada musuh?” “Anggaplah begitu!”

“Bagaimana kalian hendak melakukannya?”

“Itu adalah urusan persekutuan kami. Tay-hweeshio tidak perlu tanya.”

“Kuulangi lagi jawabanku. Tidak bisa.” “Apakah Tay-hweeshio menghendaki aku turun tangan?” “Kami bersedia bertempur.”

“Hem, Siao-liem-sie berapapun banyaknya padri juga akan musnah. ”

Dari berbagai penjuru terdengar suara pernyataan amarah dari kawanan padri. Pembunuhan akan terulang lagi.

Ingatan Hui Kiam masih belum hilang seluruhnya, ia masih mengenali Ciok Siao Ceng. Rasa bencinya sudah sangat mendalam, tetapi saat itu ia masih tidak dapat menyatakan kemarahannya sebab untuk membuka mulutpun sudah tidak mempunyai tenaga.

Manusia Gelandangan lalu memberi perintah kepada orang- orangnya untuk membawa pergi Hui Kiam.

Empat orang yang berpakaian hitam telah menerjang kepada dua anggota sesepuh yang membimbing Hui Kiam. Empat lagi masing- masing berdiri di tempat sendiri-sendiri sambil melintangkan pedangnya. Sedangkan Manusia Gelandangan tiba-tiba melancarkan serangan ke arah Bu-siang Sian-su.

Sisa anak murid Siao-liem-sie yang masih ada segera bergerak memberi perlawanan.

Dengan demikian pertempuran hebat berkobar lagi. Beberapa jurus kemudian, Bu-siang Sian-su tetdesak mundur, sedangkan empat orang berpakaian hitam yang turun tangan lebih duiu, saat itu sudah berhasil mendesak mundur dua anggota sesepuh dan menguasai diri Hui Kiam.

Manusia Gelandangan yang maksudnya telah tercapai, lalu memerintahkan orang-orangnya menghentikan pertempuran.

Orang-orang kedua pihak segera berhenti bertempur. Dalam pertempuran yang singkat itu kawanan padri Siao-liem-sie terluka sepuluh orang lebih, untung tiada yang binasa.

Manusia Gelandangan memasukkan tangannya ke dalam kantong besar itu. Dari dalam mengeluarkan sebuah benda bundar berwarna merah, ia berkata dengan suara bengis: “Ini adalah bom Pek-lek-tan. Manusia tidak sanggup mempertahankan dirinya dari ledakan bom ini, maka ciangbunjin suruhlah mereka mundur.”

Dada Bu-siang Sian-su dirasakan hampir meledak, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa dengan hati mendongkol ia memerintahkan anak muridnya mundur sejauh satu tombak lebih tetapi masih tetap dengan kedudukannya yang mengurung, agaknya tidak sayang melakukan pertempuran lagi.

Manusia Gelandangan berkata pula:

“Ciangbunjin, pil obat Tay-hoan-tan kuil Siao-liem-sie dapat menyambung nyawanya dua jam lagi.”

“Apa artinya?”

“Harap ciangbunjin berikan dua butir kepadaku.”

“Apakah supaya kalian ada waktu untuk permainkan diriku?” “Ini adalah satu jalan untuk menolong dirinya.”

“Siapa mau percaya ucapanmu ini?”

“Percaya atau tidak, terserah kepadamu sendiri.”

“Kami lebih suka melihatnya mati tetapi tak suka menyerahkan kepadanya ke tangan iblis.”

Manusia Gelandangan berkata sambil mengancam dengan senjata peledaknya:

“Benda permainan semacam ini semuanya ada lima buah. Untuk meratakan kuil Siao-liem-sie tak menjadi soal.”

“Kuil kami lebih baik hancur untuk membela kebenaran tetapi tidak akan menyerah dengan ancaman!”

“Ciangbunjin, kau nanti akan menyesal!” “Tidak.”

“Sekalipun seluruh anak murid kuil Siao-liem-sie turut mengorbankan jiwa, juga tak dapat menolongnya. Ciangbunjin, kau pikirlah baik-baik.” Bu-siang Sian-su berdiam dan berpikir sejenak. Agaknya ia telah tersadar, maka lalu berkata:

“Apakah Persekutuan Bulan Emas tidak mengijinkan ia mati?” “Tadi aku toh sudah mengatakan.”

“Hendak menolong?” “Tidak salah.”

“Apa maksudnya?”

“Ciangbunjin, sudah tidak ada waktu lagi!”

Bu-siang Sian-su lalu berpaling dan memerintahkan pengawalnya untuk mengambil dua butir pil Tay-hoan-tan.

Semua anak murid Siao-liem-sie, telah dikejutkan oleh keputusan pemimpinnya itu.

Tidak lama kemudian seorang padri telah memberikan pil itu kepada pemimpinnya. Bu-siang Sian-su lalu memasukkan pil itu ke dalam mulut Hui Kiam.

Manusia Gelandangan lalu memerintahkan orang-orangnya membawa pergi Hui Kiam.

Empat orang berpakaian hitam lalu membawanya pergi.

Manusia Gelandangan berkata kepada Bu-siang Sian-su dengan nada suara dingin:

“Persekutuan kami tidak akan membiarkan musuhnya hidup.

Ciangbunjin, kau tunggu saja!”

Sehabis berkata demikian, ia membawa empat anak bualnnya berlalu meninggalkan kuil tersebut.

Bu-siang Sian-su termangu-mangu beberapa lama, kemudian berkata dengan suara nyaring:

“Perhatian semua anak murid. Setelah semua urusan selesai, kecuali anak murid yang telah kami tunjuk tinggal di dalam kuil, yang lainnya harus meninggalkan kuil ini. Soalnya yang lainnya, nanti setelah kami berunding dengan para sesepuh, akan mengeluarkan petunjuk lagi.”

Semua anak murid Siao-liem-sie lalu bubaran untuk melakukan kewajiban masing-masing.

Ketua anggota sesepuh Ngo-ien-taysu dengan sikap yang sungguh-sungguh berkata kepada Bu-siang Sian-su:

“Ciangbunjin, siao-sicu itu berbudi besar terhadap kuil kita.

Seharusnya kita tolong dirinya supaya terhindar dari bahaya, tetapi

mengapa ciangbunjin menyerahkannya kepada Manusia Gelandangan?!”

“Sebab kami mendapat firasat baik!” “Tolong jelaskan firasat apakah itu!”

“Kalau ia berdiam di dalam kuil pasti binasa, tetapi kalau kuberikan kepada Manusia Gelandangan belum tentu akan binasa!”

“Sebabnya?”

“Seorang yang mempunyai bakat luar biasa seharusnya bukanlah orang sembarangan. Kami juga melihat dia bukanlah seorang yang pendek umurnya.”

“Tetapi dari kejadian dan perbuatan yang dilakukan Siok-sicu itu ada kemungkinan Persekutuan Bulan Emas akan menggunakan kekejaman lagi untuk menyiksa dirinya….”

“Apakah Tianglo tadi tidak dapat melihat tanda-tanda yang mencurigakan?”

“Tidak!”

“Pertama, Ciok siaocu dengan kedudukan yang tinggi begitu tiba lalu menyatakan maksudnya hendak minta orang. Ini sudah jelas bahwa tujuannya hanya terhadap pemuda itu saja. Tidak perduli dengan maksud apa ia menghendaki sie-cu itu, tetapi apabila Penggali Makam tidak sampai mati, niscaya masih ada kesempatan hidup baginya. Kedua, Iblis Gajah yang berkedudukan sebagai anggota pelindung hukum tertinggi, seharusnya dihormat oleh orang-orang Persekutuan Bulan Emas. Tetapi, Ciok siaocu dan anak buahnya ketika berlalu dari sini, tidak membawa jenasahnya. Ini adalah suatu bukti bahwa Persekutuan Bulan Emas hanya menggunakan tenaga iblis itu saja, sedikitpun tak ada perasaan hormat atau menjunjung tinggi persahabatan.

Maka persekutuan itu belum tentu hendak menuntut balas bagi Iblis Gajah. Ketiga, ucapan Ciok siaocu selagi hendak meninggalkan kami mengatakan bahwa persekutuan itu tak akan melepaskan orang yang dipandang sebagai musuhnya. Ucapan itu kalau kita tinjau dari sudut buruk, ini merupakan ucapan yang mengandung ancaman. Tetapi kalau kita tinjau dari sudut baik, dia seolah-olah bermaksud memperingatkan kita supaya mengawasi diri. Inilah pandangan kami.”

“Apakah berdasarkan pemandangan itu maka ciangbunjin mengambil keputusan membubarkan anak murid kita untuk menghindarkan tindakan pembalasan kejam dari Persekutuan Bulan Emas?”

“Tepat!”

“Tetapi bagaimana apabila kenyataan nanti merupakan kebalikannya dari apa yang kita bayangkan?”

“Semoga jangan sampai begitu!”

“Apabila Penggali Makam mendapat siksaan hebat, ini berarti bahwa ia telah berkorban untuk Siao-liem-sie, bagaimana kita nanti mesti menghadapi orang-orang rimba persilatan? Dan di mana akan kita taruh muka kita?”

Wajah Bu-siang Sian-su segera berubah. Ia berkata:

“Tiauglo tak usah banyak bicara. Kami yakin bahwa Penggali Makam pasti tak akan mengalami kematian!”

“Semoga demikian!” berkata Ngo-in taysu sambil memuji nama Budha. Mari kita kembali kepada Hui Kiam yang dibawa oleh Ciok Siao Ceng. Dalam keadaan gusar dan sakit hati, ingatannya yang sedikit masih ada akhirnya lenyap seluruhnya.

Ketika ia tersadar kembali, ia telah mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan yang empuk. Kepalanya masih dirasakan pusing, badannya lemas sehingga bergerak sedikit saja juga hampir tak bertenaga. Dengan berusaha sekuat tenaga ia menggeser badannya ke pinggir pembaringan. Sinar pelita membuat kabur matanya perlahan-lahan dapat melihat di hadapan sebuah meja dekat jendela tampak bayangan belakang seorang wanita berbadan langsing.

Siapakah bayangan itu? Tempat apakah itu?

Hui Kiam berusaha menenangkan pikirannya. Akhirnya ia telah membuktikan bahwa itu bukan mainan atau khayalan. Perlahan- lahan dari bayangan belakang itu ia dapat menerka siapa dia adanya orang itu. Seketika itu hatinya dirasakan hampir melompat keluar, keringat dingin mengucur keluar.

Apa yang harus diperbuatnya kini?

Apakah maksud mereka membawanya kemari? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Belum lama berselang, hampir tiap detik setiap menit ia memikirkan diri si ‘dia’. Tetapi sekarang sebaliknya ia ingin menyingkir. Andaikata ia mempunyai tenaga untuk bergerak, tanpa ragu-ragu lagi ia pasti akan meninggalkan tempat itu.

Ia pernah tergila-gila kepadanya. Tetapi sekarang kenyataan telah memaksanya mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan dengannya. Sebab ‘dia’ adalah putrinya pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang menjadi musuh utama rimba persilatan, dan celakanya, ‘dia’ juga turut ambil bagian melakukan perbuatan yang terkutuk dan disumpahi oleh semua orang rimba persilatan. Ini justru merupakan suatu perbuatan yang bertentangan dengan pendiriannya sendiri. Memutuskan perhubungan cinta kasih yang sudah sangat mendalam mudah sekali diucapkan juga enak sekali kedengarannya, tetapi penderitaan batin bagi orang yang bersangkutan takkan dapat dirasakan oleh orang luar. Manusia adalah makhluk yang berperasaan, sejak dahulu kala hingga sekarang, berapakah jumlahnya yang dapat memikirkan benar -benar dengan akal yang sebat-sebat?

Bayangan di depan matanya itu membalikkan badannya. Di bawah sinar pelita, wajahnya yang cantik agaknya lebih cantik. Kecantikannya menyilaukan mata, hanya di balik wajah yang cantik itu samar-samar diliputi perasaan dingin.

Hui Kiam setelah mengalami goncangan hebat dalam hatinya, akhirnya ia seperti orang yang tak berpikiran lagi. Orang berada keadaan demikian, akal budinya memang mudah dikaburkan.

Hui Kiam tidak merasa berhutang karena mendapatkan dirinya masih hidup. Ia tahu bahwa kalau sampai pada saat itu dirinya masih bisa mempertahankan jiwanya, itu semata-mata karena khasiat pil Tay-hoan-tan kuil Siao-liem-sie yang sangat mujijat, sedangkan racun dalam tubuhnya masih belum lenyap. Bagaimana akibatnya, masih susah diduga.

la memejamkan matanya, sedikitpun tidak berani bergerak. Karena teraling oleh kelambu, bayangan perempuan itu tidak dapat tahu bahwa ia sudah sadar.

Pada saat itu, seorang pelayan wanita diam-diam masuk ke dalam kamar, lalu berkata dengan suara perlahan-lahan:

“Ibu majikan, apakah ia belum sadar?”

Bayangan itu yang bukan lain daripada Tong-hong Hui Bun, menjawab dengan suara sedih:

“Aku tidak tahu bagaimana harus berbuat!”

“Apakah Beng-cu tahbu bahwa ia di tangan ibu majikan?” “Mungkin tahu!”

“Maksud Beng-cu?” “Tidak mengijinkan ia hidup lagi!”

“Ibu majikan seharusnya segera mengambil keputusan!” “Tetapi... aku cinta kepadanya!”

“Maaf, budakmu berkata terus terang. Pikiran Beng-cu adalah betul.”

“Jadi harus membunuhnya?”

“Ibu majikan adalah seorang cerdik, tentunya dapat memikirkan akibat yang menakutkan di kemudian hari.”

“Tetapi aku tidak bisa turun tangan.”

“Ia mungkin tidak akan sadar lagi untuk selama-lamanya. Tidak perlu ibu majikan turun tangan!”

“Tetapi. ”

“Harap ibu majikan pikir masak-masak, sebentar Beng-cu datang.”

“Kau keluarlah!”

Pelayan perempuan itu melirik ke atas pembaringan sejenak lalu mengundurkan diri dan menutup pintu kamar.

Tong-hong Hui Bun berdiri termangu-mangu mengawasi Hui Kiam yang dianggapnya belum sadar. Mukanya menunjukkan perubahan berulang-ulang. Mungkin ia sedang memikirkan suatu keputusan menolong atau membinasakannya.

Hui Kiam melirik. Semua gerak-gerik Tong-hong Hui Bun telah dilihatnya, tetapi semua itu sudah tidak membangkitkan reaksi pada dirinya. Ucapan pelayan perempuan tadi memang betul, tidak perlu orang lain turun tangan, apabila batas waktu telah tiba, ia juga akan binasa.

Dari sela-sela kelopak mata Tong-hong Hui Bun nampak mengembang butiran air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya. Hui Kiam yang menyaksikan pemandangan yang menyedihkan itu, tergeraklah hatinya.

Apa yang ia sedang pikirkan? Mengapa ia menangis?

Tong-hong Hui Bun menggeser kakinya menghampiri pembaringan. Ia membuka kelambu. Dengan mata sayu memandang Hui Kiam sejenak, kemudian berkata dengan suara sedih:

“Adik, mengapa aku jatuh cinta terhadapmu? Mengapa pula kau berkedudukan demikian? Salah, sejak permulaan sudah salah, tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk membenarkan kesalahan ini. ”

Ia menundukkan kepala dengan perlahan mencium pipi Hui Kiam.

Ciuman itu hampir meruntuhkan pikiran dan semangat Hui Kiam.

“Adik, bencilah aku! Supaya kau tidak terlalu menderita, aku terpaksa membantu kau mengakhiri hidupnya!”

Darah sekujur badan Hui Kiam dirasakan semakin cepat mengalir. Dalam hatinya timbul perasaan seperti terkoyak-koyak. Wanita yang pernah menjadi kekasihnya, sekarang hendak turun tangan mengakhiri hidupnya sendiri, betapakah kejam nasib itu?

Apakah ia harus melawan?   Tidak mempunyai tenaga!    Ya!

Matilah! Biar dengan cara demikian mengakhiri hidupnya.

Mati terbunuh oleh orang yang dicintai, atau mati karena racun, meskipun ada bedanya, tetapi akhirnya toh sama saja.

Ia tidak bergerak menantikan ajalnya.

Tong Hong Hui Bun mengangkat tangannya. Jari manisnya ditujukan kepada pelipis kiri Hui Kiam. Hanya satu totokan ringan saja sudah cukup untuk mengakhiri jiwa Hui Kiam dan semua persoalan dengan sendirinya akan menjadi beres.

Jari perempuan cantik itu gemetar hebat, lama tidak dapat melanjutkan gerakannya…. Parasnya berubab pucat pasi, pikirannya bergerak-gerak, sinar matanya yang menggiurkan berubah demikian guram. Dalam waktu sekejap itu, seolah-olah ia sudah berubah menjadi lain rupa.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang amat perlahan, kemudian terdengar suara pelayan wanita itu:

“Ibu majikan, Beng-cu datang berkunjung.”

Paras Tong-hong Hui Bun berubah pucat. Sambil menggigit bibir, jari tangannya meluncur ke arah Hui Kiam. Sesaat ketika ujung jari hendak menyentuh jalan darah di pelipis kiri Hui Kiam, tiba-tiba ia menariknya kembali. Dengan suara perlahan yang hampir tidak kedengaran ia berkata:

“Adik, aku tak sanggup bertindak, tetapi mungkin juga tidak dapat menolongmu. Aku sekarang berikan kepadamu sebutir obat pemunah racun sebagai tanda cintaku. Hidup atau mati, tergantung kepada nasibmu sendiri!”

Dengan cepat dari dalam sakunya dikeluarkannya sebutir pil, dimasukkan ke mulut Hui Kiam, kemudian meninggalkannya.

Seorang tinggi besar yang berkerudung di mukanya, telah muncul di dalam kamarnya.

“Ayah!” demikian Tong-hong Hui Bun berkata menyambut orang itu.

“Anak, keberanianmu terlalu besar!” “Ayah, kau. ”

“Aku bertanya kepadamu, dari tangan Ciok Siao Ceng kau menahan bibit bahaya ini, apakah maksudmu?”

Tong-hong Hui Bun menundukkan kepala menjawab dengan suara gemetar.

“Anakmu tidak sanggup mengendalikan perasaan sendiri!”

“Kau seorang anak yang durhaka. Dengan perbuatan ini berarti kau sengaja hendak menghancurkan usaha yang dibangun oleh ayah sendiri!” “Anakmu tidak berani!”

“Dan lagi, apabila rahasia kita terbuka, dengan kepandaian dan kekuatannya pada dewasa ini, tahukah kau apa akibatnya?”

Dengan tak dirasa sekujur badan Tong-hong Hui Bun gemetaran.

Ia mundur satu tindak.

Sang ayah itu berkata pula:

“Tahukah kau sampai di mana gilanya perbuatanmu ini?

Tahukah kau bahwa kau sedang bermain dengan api?” “Ayah!”

“Minggir!” “Kau?”

“Dia tidak boleh tidak harus mati.”

“Anakmu ingin memajukan satu permintaan!” “Permintaan apa?”

“'Biarlah anakmu sendiri… yang turun tangan mengakhiri hidupnya!”

Hui Kiam seolah-olah dicemplungkan ke dalam kuali minyak mendidih. Hatinya hancur lebur.

Dengan suara keras sang ayah berkata:

“Kau jangan coba main gila…!”

Sehabis berkata demikian, ia mendorong Tong-hong Hui Bun kemudian berjalan menghampiri pembaringan,

Tong-hong Hui Bun yang menyaksikan itu, lalu memanggil ayahnya dengan suara sedih:

“Ayah, benarkah kau hendak membunuhnya?!” “Apakah aku perlu main-main?”

“Lebih baik kau bunuh anakmu lebih dulu!” “Benarkah kau sehingga mati belum mau insaf?” “Ia sudah terkena racun Iblis Gajah, sehingga sudah merupakan seorang yang sudah mendekati kematiannya….”

“Tetapi ayahmu hendak turun tangan sendiri untuk menghabiskan jiwanya!”

Hui Kiam yang rebah terlentang di pembaringan hanya pura-pura pingsan. Semua pembicaraan antara ayah dan anak itu didengarnya jelas sekali. Cinta kasih Tong-hong Hui Bun yang begitu besar terhadap dirinya merupakan suatu penderitaan batin yang sangat hebat, sebab kenyataan telah menunjukkan bahwa percintaan itu biar bagaimana harus diputuskan.

Tetapi manusia tetap manusia. Bagaimana dapat menghilangkan perasaannya? Betapapun juga tindakan itu merupakan suatu tindakan yang tidak mudah dilakukan oleh siapapun juga.

Sementara itu obat pemunah racun yang diberikan oleh Tong- hong Hui Bun dengan tergesa ternyata sudah menunjukkan kedahsyatannya. Perasaan lemas di badannya dengan cepat telah lenyap, kekuatan tenaga dalamnya sudah mulai normal lagi. Selain disebabkan karena latihannya yang sempurna, juga karena berkat khasiatnya dua pil Tay-hoan-tan yang dipandang sebagai barang pusaka kuil Siao-lim-sie.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan racun dari dalam badannya dan memulihkan kembali kekuatan tenaganya.

Apabila pada saat itu pemimpin Persekutuan Bulan Emas benar- benar turun tangan, masih belum mempunyai kekuatan tenaga untuk melawan sebab kekuatan pemimpin itu masih terlalu tinggi baginya. Dalam keadaan yang sudah pasti mati, ia telah mendapat sedikit kesempatan untuk hidup, sudah tentu ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

Di satu pihak ia berusaha mengeluarkan seluruh kekuatan, di lain pihak ia mengharapkan Tong-hong Hui Bun menghalangi ayahnya untuk bertindak.

Jaraknya antara mati dan hidup pada saat itu dirasakan pendek sekali harapannya. Dalam keadaan putus asa Hui Kiam belum pernah merasa takut menghadapi kematian. Tetapi di mana masih mendapat sedikit kesempatan hidup, ia bcrusaha sekuat tenaga untuk mengejarnya kesempatan itu.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas sudah mengangkat tangannya. Ia mengayunkan ke arah pembaringan, tetapi kemudian tiba-tiba ditarik kembali dan berkata kepadanya:

“Budak, aku melupakan suatu urusan besar….”

Tong-hong Hui Bun yang menyaksikan orang yang dicintainya itu segera akan binasa di tangan ayahnya sendiri, hatinya hancur luluh. Ketika mendengar perkataan ayahnya, segera bertanya dengan perasaan bingung.

---ooo0dw0ooo---