Pedang Pembunuh Naga Jilid 25

Jilid 25

SELAGI ia berjalan seenaknya, tiba-tiba terdengar suara minta ia berhenti.

Hui Kiam merandek. Hatinya diam-diam berpikir nampaknya Persekutuan Bulan Emas masih belum melepaskan pengawasannya terhadap Makam Pedang, tetapi ini sangat kebetulan baginya, karena dengan demikian usahanya untuk menyiarkan berita tentang didapatnya pedang itu, tidak usah repot lagi.

Beberapa bayangan orang muncul keluar dari tempat sembunyi mereka.

Sebagai kepala rombongan itu, tidak asing lagi bagi Hui Kiam, ia adalah Ong Geng Kauw yang menjadi komandan pasukan anak buah Persekutuan Bulan Emas.   Di belakang dirinya diikuti oleh enam orang berbaju hitam. Dengan nada suara dingin Hui Kiam berkata:

“Kiranya adalah kau, sudah lama kita tak berjumpa!”

“Sama-sama! Sudah lama aku menantikan kedatanganmu, hampir saja aku merasa kecewa tetapi akhirnya aku menemukan juga.”

“Jadi kau memang menunggu aku?” “Betul!”

“Ada keperluan apa?”

Mata Ong Geng Kauw ditujukan pada pedang sakti yang tergantung di pinggang Hui Kiam. Katanya dengan sikap cengar- cengir:

“Pedang yang tergantung di pinggangmu itu….” “Pedang Thian-khi Sinkiam, benda pusaka dalam Makam Pedang.”

“Ha, ha, ha, kau benar-benar seorang jujur.”

“Kalau begitu maksudmu menunggu aku ternyata bohong, yang kau tunggu sebetulnya adalah pedang ini, betul tidak?”

“Memang betul.”

“Larangan yang dikeluarkan oleh pemimpin tidak boleh bermusuhan deugan aku ”

Larangan itu telah dicabut kembali.” “Bagus!”

“Kau membawa pedang sakti ini berkelana di dunia Kang-ouw barangkali kurang tepat.”

“Mengapa kurang tepat?”

“Kau barangkali akan menjadi pusat incaran perhatian orang banyak.”

“Ini adalah urusanku sendiri, perlu apa kau pikirkan itu?” “Ini adalah maksud baikku.”

“Maksud baikmu aku terima dengan baik, sebaliknya kau belum menerangkan maksud yang sebenarnya?”

“Kau tentunya tahu sendiri maksud dan tujuan kami yang selalu menjaga Makam Pedang itu?”

“Aku tidak mengerti!”

“Kalau begitu aku boleh beritahukan kepadamu, maksud kami mengadakan penjagaan itu ialah jangan sampai pedang sakti terjatuh kepada tangan lain!”

Hui Kiam meskipun pada saat itu hatinya panas, tetapi ia masih mengendalikan perasaannya. Katanya dengan suara dingin:

“Pedang sudah berada di tanganku, sekarang kau mau apa?” “Kalau begitu harap kau serahkan pedang itu kepada kami!” Hui Kiam hampir saja ketawa geli, tetapi kemudian berkata dengan sikap menghina:

“Perkataan ini sesungguhnya tidak tahu malu, juga tidak mengukur tenagamu sendiri!”

“Belum tentu!”

“Jikalau kau mampu melawan satu jurus saja di bawah pedangku ini, pedang ini aku segera berikan padamu”

“Tetapi aku tidak ingin mengadu kekuatan denganmu.” “Apa itu berarti aku harus menyerahkan begitu saja?” “Begitulah!”

“Ha, ha, ha, Ong Geng Kauw, Persekutuan Bulan Emas sudah melakukan banyak perbuatan yang menimbulkan bencana rimba persilatan. Kejahatannya itu sudah tak dapat didiamkan lagi, maka aku bermaksud untuk menahan kalian semua supaya tak dapat berlalu dari sini.”

Enam orang berbaju hitam yang berada di belakang Ong Geng Kauw tidak mengunjukkan apa-apa. Sikapnya tenang sekali.

Keadaan itu menimbulkan kecurigaan Hui Kiam. Apakah mereka ada yang diandalkan? Dengan sikap tak berobah Ong Geng Kauw berkata:

“Hui Kiam, tafsiran dan kenyataan merupakan dua soal, aku percaya kau pasti akan menyerahkan pedangmu itu!”

“Orang she Ong, kau ada mempunyai akal keji apa, boleh saja kau keluarkan!”

“He he he, akal keji? Bukan, hanya ada seorang nona mengharap kau menyerahkan pedang ini untuk menolong dirinya.”

Hui Kiam terperanjat.   Mungkinkah Cui Wan Tin sudah terjatuh ke dalam tangan mereka?

“Siapa?”

“Saudara seperguruanmu!” “Siapakah dia?”

“Nah, itu dia kau lihat sendiri!”

Dari belakang batu besar, dua orang berpakaian hitam sedang membawa seorang wanita berpakaian hijau, lalu berhenti di hadapan Hui Kiam terpisah sejauh tiga tombak.

Hui Kiam ketika melihat siapa wanita itu, bukan kepalang terkejutnya sebab wanita yang tertawan itu bukan lain daripada anak perempuan sisupeknya, Pui Ceng Un. Kerudung yang menutupi mukanya sudah tak ada, hingga tampak tegas raut mukanya yang terdapat banyak tanda guratan yang buruk sekali dalam pandangan mata.

Sambil tertawa puas Ong Geng Kauw berkata: “Bagaimana?”

Hui Kiam bagaikan seorang kalap, ia menghunus pedang saktinya....

Ong Geng Kauw mengangkat tangannya dan berkata:

“Hui Kiam, kau tentunya tidak ingin melihat darah mengalir dari badannya, bukan?”

Pada saat itu salah satu dari dua orang yang menawan Pui Ceng Un, telah meletakkan tangannya di atas kepala gadis itu.

Hui Kiam dengan badan gemetar dan suara bengis ia berkata: “Kalau aku tidak basmi habis orang-orang Bulan Emas, aku

bersumpah tak mau jadi orang.”

“Hui Kiam itu adalah urusan lain, mari sekarang membicarakan urusan ini.”

“Urusan ini?”

“Hem, ini ada soal yang bersifat perdagangan!” “Ong Geng Kauw, kau sebetulnya mau apa?”

“Dengan pedangmu kau boleh menukar jiwa saudara perempuanmu ini!” “Kau manusia rendah tak bermalu. ”

“Anggaplah begitu!” “Jikalau aku tak mau?” “Itu tak mungkin!” “Mengapa tidak?”

“Ia akan mati di dalam keadaan tak utuh!”

Hui Kiam sangat mendongkol. Percuma saja ia berkepandaian tinggi, karena saat itu ia tak berdaya sama sekali. Ia sungguh tak menduga Pui Ceng Un bisa jatuh di tangan mereka.

Karena gadis itu adalah anak satu-satunya siaupeknya, bagaimana boleh binasa di tangan mereka?

Tetapi pedang sakti Thian-khi Si-kiam juga merupakan barang pusaka sangat penting dalam perguruannya. Suhunya sendiri dan empat supeknya, lantaran pedang itu dan kitab Thian Gee Po-kiep telah mengalami nasibnya yang membawa kematiannya, bagaimana boleh diberikan? Apalagi pedang itu akan digunakan olehnya untuk membereskan persoalan menuntut balas dan membasmi kejahatan.

Betapapun gusarnya pada saat itu, karena Pui Ceng Un berada di tangan mereka, ia tidak berdaya sama sekali.

Hendak membinasakan orang-orang itu baginya sangat mudah sekali, tetapi bagaimana dengan Pui Ceng Un?

Pui Ceng Un sendiri pada saat itu tidak menunjukkan sikap apa- apa. Sinar matanya suram jauh berlainan dengan sikap biasanya. Sudah jelas kalau bukan ditotok jalan darahnya, tentunya sudah dimusnahkan kepandaiannya.

Dahulu dengan mudah ia membikin takut Ko han-san, sehingga dengan rela mengorek biji matanya sendiri dan lari terbirit-birit, sungguh tidak disangka sekarang ia telah terjatuh di tangan musuh- musuhnya.

Yang mengherankan ialah dengan cara bagaimana orang-orang itu dapat mengetahui hubungan ia dengan sucinya itu? “Ong Geng Kauw, apakah kau sudah dapat memastikan bahwa aku akan menyerah?”

“Sudah tentu, sebab ia adalah keturunan satu-satunya dalam perguruanmu.”

“Dari mana kau tahu?”

“Pertama, ia sudah mengakui sendiri. Kedua, jikalau tidak benar, kau tentunya sudah bertindak sejak tadi.”

“Apakah... dia sudah mengaku?”

Terus terang kuberitahukan padamu, di bawah ilmu sihir pemimpin kami, tiada seorangpun yang mampu mempertahankan rahasia dalam hatinya!”

Sekarang Hui Kiam mau tidak mau percaya keterangan itu, karena ia sendiri juga sudah pernah dipengaruhi oleh ilmu sihir itu oleh Orang Berbaju Lila. Ia tidak menyangka bahwa Persekutuan Bulan Emas juga paham ilmu sihir semacam itu.

“Ong Geng Kauw, bebaskanlah dia!”

“Apa kau anggap kau sanggup melakukan?”

“Aku tidak akan lepaskan pedang sakti ini. Kalian semua yang ada di sini, akan menggantikan jiwa baginya!”

Ong Geng Kau tidak menduga Hui Kiam bisa mengeluarkan pikiran demikian. Seketika itu wajahnya berobah dan mundur dua langkah. Kalau benar Hui Kiam tega mengorbankan Pui Ceng Un, mereka satupun tidak bisa lolos dari bawah tangannya, sebab kepandaian pemuda itu ia sudah tahu benar-benar.

Tetapi benarkah Hui Kiam akan berbuat demikian?

Biar bagaimana Ong Geng Kauw adalah seorang yang banyak pengalaman, setelah berpikir sejenak ia berkata dengan suara dingin:

“Kami hanya bekerja melakukan perintah saja, kau dengar atau tidak terserah kepadamu sendiri!” Hui Kiam menggerakkan pedangnya….

Tangan orang berbaju hitam juga bergerak di atas kepala Pui Ceng Un, tetapi gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Hui Kiam dengan hati pilu menurunkan lagi pedangnya.

Ong Geng Kauw sudah dapat lihat bahwa Hui Kiam tidak akan mengorbankan jiwa Pui Ceng Un, maka ia mendesak lagi:

“Hui Kiam, jual beli ini, kau tidak boleh tidak harus melakukan. Kalau kau mempunyai kepandaian, di kemudian hari kau masih bisa mengambil kembali pedang ini, tetapi orang yang sudah mati tidak bisa hidup lagi.”

“Kau berani?”

“Mengapa aku tidak berani? Kalau aku tidak berani aku tidak akan menerima tugas ini.”

Hui Kiam tidak berdaya, kecuali menyerah sudah tiada jalan lain lagi baginya.

Sementara itu Ong Geng Kauw lalu berkata:

“Hui Kiam, kau bersedia melakukan jual beli ini atau tidak? Sepatah jawaban sudah cukup jikalau tidak dia akan kubawa kembali. Hanya aku perlu menerangkan lebih dulu, apa yang akan terjadi selanjutnya, susah untuk diduga….”

“Kau hendak perlukan bagaimana?”

“Dia tak akan dibunuh. Meskipun wajahya telah rusak, tetapi ia seorang gadis yang mempunyai dasar kuat, ini besar sekali gunanya!”

Dada Hui Kiam dirasakan hampir meledak, kemarahannya hampir tak dapat dikendalikannya lagi. Ia teringat kepada pasukan Im- hong Tui, juga teringat kepada Delapan Iblis dari Negara Thian-tik yang pandai rupa-rupa ilmu gaib dari golongan sesat. Jikalau Pui Ceng Un jatuh di tangan mereka, akibatnya akan lebih hebat daripada kematian. Dalam keadaan tidak berdaya, ia hanya memohon kepada suhu dan sisupeknya untuk memberi petunjuk sebaik-baiknya.

Ong Geng Kauw yang menyaksikan Hui Kiam sudah tidak berdaya, lalu berkata:

“Hui Kiam, sampai berjumpa lagi!” “Tunggu dulu!”

“Apakah kau suka menerima jual beli ini?” “Aku... terima!”

Dengan susah payah Hui Kiam akhirnya mengeluarkan perkataan itu.

“Kalau begitu kau serahkan dulu pedangmu!”

“Kau bebaskan dulu orangnya atau tidak akan mengingkari janjiku!”

“Dengan kepandaianmu, sudah tentu kau tidak usah khawatir akan mengingkari janji!”

“Maksudmu bagaimana?”

Ong Ceng Kauw agaknya sudah merencanakan lebih dulu.

Dengan tanpa banyak pikir ia berkata:

“Setelah kau menyerahkan pedang dan menerima kembali saudara seperguruanmu, kalau kau bertindak hendak merampas pedang, mungkin bukan perkara susah….”

“Dan menurut pikiranmu bagaimana?”

“Kau serahkan dulu pedangmu. Setelah kuperiksa betul atau tidak, pedang itu akan kubawa untuk memberi lapor kepada atasanku. Kau boleh tunggu di sini, tunggu sampai aku kembali aku segera bebaskan saudara!”

Hui Kiam benar-berar sangat murka, tetapi ia tidak berdaya sama sekali. Ini benar-benar merupakan suatu tindakan yang sangat jahat. Apabila pedang sakti terlepas dari tangannya dan apabila pemimpin Persekutuan Bulan Emas muncul secara tiba-tiba, jangan kata ia sudah tidak mampu menolong jiwa Pui Ceng Un, bahkan jiwanya sendiri mungkin akan dikorbankan.

Tetapi dapatkah melakukan perbuatan itu? Sementara itu Ong Ceng Kauw sudah mendesak lagi: “Bagaimana? Aku tidak dapat menunggu lama-lama.”

Hui Kiam tidak berdaya. Ia memasukkan lagi pedangnya ke dalam sarungnya ....

Ong Geng Kauw yang sangat licik lalu berkata: “Kau lemparkan kemari!”

Hui Kiam agaknya sudah hilang semangatnya, ia sudah hendak melemparkan pedang itu ke arah Ong Geng Kauw.

Pada saat itu tiba-tiba muncul dua orang berpakaian hitam. Satu di antaranya berkata dengan suara keras:

“Perintah dari panji Kim-hoan-kie!”

Dua orang itu lalu mengangkat tinggi di atas kepalanya sebuah panji segitiga, yang terlukis gambar lingkaran emas melingkari bulan sabit.

Panji ini merupakan tanda perintah paling berwibawa dalam Persekutuan Bulan Emas. Kecuali pemimpinnya sendiri, semua anak buahnya harus tunduk.

Ong Geng Kauw dan enam orang berpakaian hitam, semuanya berlutut menyambut panji itu.

Hui Kiam sebaliknya, berdiri bingung di tempatnya.

Orang berpakaian hitam yang memegang panji itu membacakan firmannya sepatah demi sepatah:

“Perintah, orang tawanan segera dibawa balik ke pusat perkumpulan.”

Hui Kiam terkejut, pikirannya bekerja keras. Keadaan sudah mendesak demikian rupa, ia terpaksa harus bertindak tegas.   Ia tidak akan membiarkan orang-orang itu membawa pergi sucinya. Biar bagaimana ia harus bertindak tanpa memperhitungkan akibatnya.

Ong Geng Kauw lama tidak menjawab. Jelas bahwa perintah yang datangnya secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan dirinya.

Orang berbaju hitam itu menyimpan lagi panjinya. Keduanya menghampiri Pui Ceng Un dengan maksud mengambil nona itu dari tangan dua orang yang semula menjaga dirinya.

Ong Geng Kauw merasa curiga terhadap kedatangan perintah secara tiba-tiba itu. Lama ia tidak mengeluarkan pertanyaan terima kasih.

Hui Kiam sudah mengambil keputusan, jikalau perlu ia akan berlaku nekad, tidak akan membiarkan sucinya terjatuh di tangan kalangan iblis lagi.

Pada saat itu, Ong Geng Kauw telah membuka mulut: “Bolehkah aku bertanya, perintah ini diberikan oleh siapa?”

Orang berbaju hitam yang membawa perintah itu menjawab dengan suara gusar:

“Ong Thong-leng, apakah kau berani lawan perintah?” “Hamba tidak berani.”

“Mengapa kau memajukan pertanyaan demikian?”

“Sebab dalam satu hari ini dengan beruntun hamba menerima perintah yang berlainan!”

“Di mana panji emas ini sampai, itu berarti seolah-olah kedatangan Bengcu sendiri.”

“Hamba tahu.”

“Mengapa kau masih belum menyatakan terima kasih?” “Ong Geng Kauw mentaati perintah!”

“Silahkan kembali ke posmu sendiri!” Pada saat itu Ong Geng Kauw baru berani berdiri. Dengan sinar mata yang tajam ia mengawasi dua orang berbaju hitam, kemudian berkata:

“Tuan-tuan berdua apakah ingin membawa tawanan itu sendiri?” “Benar!”

“Bagaimana tentang keselamatan tawanan?” “Ong Tong-leng tidak usah khawatir!”

“Bolehkah aku bertanya, di mana sekarang Bengcu berada?” “Di markas pusat perkumpulan!”

“Apakah tuan-tuan berdua datang dari markas pusat?” “'Hem!”

Wajah Ong Geng Kauw segera berubah. Dengan suara keras ia berkata:

“Bengcu tidak berada di pusat, kalian kawanan tikus dari mana berani menipu panji emas?”

“Tangkap!”

Dua orang berbaju hitam itu masing-masing menghunus senjatanya. Satu di antaranya dengan cepat mundur sambil menarik diri Pui Ceng Un, yang lain melintangkan pedangnya untuk menghadapi musuhnya.

Dua orang berbaju hitam itu yang semula menawan Pui Ceng Un menerjang lebih dulu. Perbuatan itu segera ditiru oleh enam kawannya.

Kejadian itu di luar dugaan Hui Kiam. Ia sungguh tidak menyangka bahwa panji emas yang merupakan tanda perintah tertinggi itu ternyata adalah palsu.

Di antara suara saling bentak, terjadilah pertempuran kalut.

Dua orang berbaju hitam itu dengan cepat sudah terkurung oleh rombougan anak buah Persekutuan Bulan Emas. Satu di antaranya segera berseru:

“Penggali Makam, kau tunggu apa lagi?”

Hui Kiam pada saat itu seolah-olah baru sadar dari mimpinya. Sambil mengeluarkan suara bentakan keras, ia menghunus pedang saktinya menyerbu Ong Geng Kauw.

“Ahh…!”

Di antara suara jeritan terkejut, wajah Ong Geng Kauw pucat pasi. Pedang di tangannya hanya tinggal gagangnya saja.

Hui Kiam berkata dengan suara bengis:

“Ong Geng Kauw, serahkan jiwamu!”

Pedang sakti itu bergerak 1agi, lalu disusul oleh suara jeritan ngeri.

Darah segar menyembur. Ong Geng Kauw terpapas putung menjadi dua potong.

Hui Kiam menoleh pun tidak, ia sudah menyerbu ke rombongan orang-orang berbaju hitam.

Suara jeritan ngeri terdengar berulang-ulang, darah merah berhamburan, orang-orang berbaju hitam itu, satu persatu roboh bergelimpangan.

Hanya dalam waktu sekejap mata saja tinggal seorang yang masih hidup, tetapi sudah ketakutan setengah mati, sukmanya seolah-olah sudah terbang dari raganya, ia berdiri bagaikan patung.

Hui Kiam memang sengaja meninggalkan seorang yang diberi hidup, seketika itu lalu berkata kepada orang itu sambil menunjukkan dengan pedangnya:

“Tuan mudamu untuk pertama kalinya mencoba kesaktiannya pedang ini. Karena mengingat jangan sampai membunuh orang yang tiada berdosa, aku biarkan kau hidup. Pergilah!”

Orang berbaju hitam itu bagaikan mendapat keampunan besar, segera lari terbirit-birit. Dua orang yang membawa perintah palsu itu segera berkata: “Kegagahan siaohiap, hari ini telah membuka mataku.”

Hui Kiam menyimpan kembali pedang saktinya, lalu menjawab dengan suara merendah:

“Tuan-tuan terlalu memuji. Tuan datang dari mana?”

“Aku yang rendah hanya mendapat perintah untuk menolong nona ini,” menjawab salah seorang di antaranya.

“Atas perintah siapa?” “Orang Menebus Dosa.”

“Orang Menebus Dosa?” demikian Hui Kiam bertanya dengan suara terkejut.

“Ya.”

Terhadap orang yang mengaku sebagai Orang Menebus Dosa itu, Hui Kiam semakin bingung. Orang itu bukan saja sudah mengetahui ten

tang dirinya, bahkan segala gerak geriknya sedikitpun tidak terlepas dari perhatiannya. Siapakah sebetulnya orang itu? Mengapa ia berlaku demikian misterius?

Orang berbaju hitam itu berkata pula:

“Aku yang rendah telah mendapat perintah untuk membawa nona itu.”

“Apa? Kalian hendak bawa ia pergi?”

“Ya, nona ini sudah terkena racun jahat, sehingga pikirannya menjadi linglung, harus dipunahkan racunnya dengan cepat ”

“Dia    sudah terkena racun jahat?”

“Siaohiap seharusnya dapat melihat sendiri pikirannya sudah tidak normal lagi.”

“Apakah majikanmu dapat menolong?” “Begitulah maksudnya.” Hui Kiam mengalihkan pandangannya ke arah Pui Ceng Un lalu menegur:

'Suci, apa kau masih mengenaliku?”

Mata Pui Ceng Un terbuka lebar memandang lurus. Terhadap pertanyaan Hui Kiam sedikitpun tidak ada reaksinya, seolah-olah satu bangkai hidup.

Hui Kiam merasa sedih, hampir saja menitikkan air mata tetapi ia menahannya. Ia tidak suka mengucurkan air mata di hadapan orang luar.

“Siapakah sebetulnya tuanmu itu?” “Orang Menebus Dosa.”

“Yang kumaksudkan adalah kedudukannya dan asal-usulnya?” “Tentang ini, maaf aku tak dapat menjawab!”

Hui Kiam menarik napas panjang. Dengan suara duka ia berkata:

“Sampaikan kepada tuanmu, di sini aku mengucapkan banyak- banyak terima kasih!”

“Siaohiap tidak perlu banyak aturan!”

“Tuan-tuan berdua mendapat perintah untuk membawa pergi suciku ini?”

“Ya!”

“Apakah tidak takut akan dipegat oleh kaki tangan Persekutuan Bulan Emas?”

“Tentang ini sudah diatur sebaik-baiknya oleh tuanku sendiri!”

Hui Kiam merasa sulit. Ia sebetulnya tidak tega sucinya dibawa oleh orang yang belum dikenalnya, tetapi karena sang suci itu ditolong oleh orang tersebut, apalagi memang benar sucinya itu sudah terkena racun yang ia sendiri tidak sanggup menyembuhkan, maka setelah berpikir agak lama baru berkata: “Bolehkah aku ingin bertanya kemana kau hendak membawanya pergi?”

“Maaf, aku tidak dapat memberitahukan.” Hui Kiam agak mendongkol. Katanya:

“Bagaimana jikalau aku tidak setuju tuan-tuan berdua membawanya?”

“Menurut keterangan dari junjunganku, siaohiap pasti tidak akan meuyulitkan kita, sebab nona ini kecuali junjunganku sudah tak ada orang lagi yang bisa menolong!”

Hui Kiam terpaksa bungkam. Tak lama kemudian ia baru mengambil keputusan.  Katanya:

“Sampaikan kepada junjunganmu, tentang budinya itu akan kuingat selama-lamanya!”

“Aku yang rendah pasti akan sampaikan!” “Kalau begitu silahkan!”

Dua orang berbaju hitam itu lalu pamitan kepada Hui Kiam. Salah seorang di antaranya mengempit tubuh Pui Ceng Un dan berlalu meninggalkan Hui Kiam.

Setelah dua orang itu berlalu, Hui Kiam baru melanjutkan perjalanannya menuju ke gunung Siong-san.

Gunung Siong-san, di mana gereja Siao-liem-sie yang sangat terkenal itu telah dibangun di atasnya.

Kuil tua yang lama sudah tersohor dalam rimba persilatan daerah Tiong Goan, waktu itu matahari sudah naik tinggi, tetapi tidak terdengar suara genta berbunyi, begitu pula suara orang membaca kitab suci. Seluruh kuil sunyi senyap. Ini merupakan suatu pemandangan yang belum pernah ada, juga seharusnya tidak ada.

Seluruh kuil yang letaknya di atas bukit Siao-siong di pegunungan Siong-san itu seolah-olah diliputi oleh kabut kedukaan. Dari bawah kaki gunung sehingga pintu tiada tampak bayangan seorangpun juga. Fakta sudan nyatae, bahwa gereja yang merupakan pusatnya partay Siao-liem Pay yang sangat terkenal dan memegang pimpinan semua partay besar rimba persilatan daerah Tiong Goan tentunya telah mengalami suatu peristiwa besar. Memang benar kenyataannya memang demikian, Siao-liem Pay sedang menghadapi ujian berat, antara utuh dan hancur.

Di hadapan pendopo di tengah-tengah pekarangan gereja anak murid Siao-liem Pay berbagai generasi yang jumlahnya ribuan jiwa, telah duduk berderet dua baris berhadapan satu sama lain, di tengah-tengah terdapat tempat kosong dari pendopo depan terus menuju pendopo Wie-tho-thian.

Dalam pendopo itu juga sudah penuh kepala manusia gundul kelimis. Mereka berdiri berbaris dengan rapi. Suasana nampak suram.

Barisan pertama terdiri dari delapan belas padri, anak murid bagian ‘Lo-han-tong’ yang juga merupakan salah satu tenaga inti dalam partay itu.

Barisan kedua terdiri dari para padri yang menjabat jabatan kepala pelbagai bagian.

Di tengah-tengah, di atas tempat duduk yang terdiri tiga lapis kasur, duduk seorang padri yang lanjut usianya, wajahnya agung, ia sambil memejamkan mata, seolah-olah sedang bersemedi.

Dia adalah Ciang-bun-jin, atau ketua Siao-liem Pay generasi itu, Bu-siang Sian-su.

Di kedua sampingnya, berdiri pengawalnya yang terdiri dari sepuluh orang padri.

Di belakang Bu-siang Sian-su, adalah delapan paderi anggota pelindung hukum. Seorang di belakangnya lagi, juga merupakan barisan yang terakhir, adalah sepuluh paderi yang merupakan anggota sesepuh. Dalam ruangan yang berkumpul seribu lebih kawanan paderi itu, suasananya nampak amat sunyi. Ini benar-benar sunyi, sehingga jarum jatuh pun bisa terdengar suaranya.

Dalam suasana sunyi itu tiba-tiba terdengar suara Bu-siang Sian- su membuka mulut, suaranya agak gemetar:

“Beberapa hari berselang, Bu-tong-pay sudah mengikuti jejak perkumpulan golongan pengemis Kay-pang menyerah kepada Persekutuan Bulan Emas. Hanya partay kita yang merupakan partay satu-satunya yang belum menyerah.”

Karena perasaannya terpengaruh, ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula:

“Partay kita sejak didirikan oleh Couwsu, kita meskipun pernah mengalami bencana, tetapi berkat perlindungan Budha yang Maha Mulia, bencana ini kita dapat hindarkan. Tetapi kali ini keadaannya sangat berlainan, malapetaka sudah melanda rimba persilatan. Kami sebagai ketua merasa sangat malu, tidak mampu melindungi nasib Siao-liem. ”

Kembali ia terdiam, suasana nampak semakin suram tegang. “Batas waktu sudah akan habis,” demikian Bu-siang Sian-su

melanjutkan, “Sekali lagi kami menyampaikan maksud kami semula. Kecuali murid-murid pelindung hukum yang sudah ditunjuk, yang lainnya segera meninggalkan kuil!”

Suasana semakin sunyi, juga semakin gawat! Tetapi tidak ada reaksi apa-apa, semua padri yang hadir di situ tetap membungkam bagaikan patung.

Dengan perasaan sedih Bu-siang Sian-su berkata pula:

“Semoga arwah Cowsu kita dapat memaafkan tindakan kami yang sangat terpaksa ini. Nasib Siao-liem Pay tidak boleh dikorbankan atas tindakan kami ini, maka semua murid partay Siao- liem, kecuali yang sudah mempunyai tempat meneduh, semua harus pergi ke Pho-thian, berusaha untuk membangun kembali kekuatan Siao-liem Pay.” Kembali tidak terdengar suara sambutan dari semua murid Siao- liem-pay yang hadir di situ. Setiap orang menunjukkan sikap yang merupakan suatu perpaduan daripada perasaan sedih dan kebulatan tekad yang kuat.

Bu siang Sian-su perlahan-lahan bangkit dari tempat duduk. Matanya menyapu semua hadirin sejenak, kemudian berkata dengan suara nyaring:

“Ini adalah perintah, apakah semua anak murid berani menentang?”

“O Mie To Hud!”

Suara memuji nama Budha itu terdengar riuh sebagai jawaban atas pertanyaan ketuanya!

Bu-siang Siansu tidak berdaya, wajahnya berubah seketika. Ketua anggota sesepuh Ngo-ih lalu berkata:

“Para saudara ingin mempertaruhkan partay kita hingga titik darah yang penghabisan. Semangat jantan ini dapat kita mengerti dan hargakan! Tetapi kita harus melihat dulu keadaannya. Bencana kali ini, bukan hanya mengancam partay Siao-lim saja, melainkan seluruh rimba persilatan. Saudara karena ingin mendapatkan nama baik, rela mengorbankan seluruh partay yang didirikan oleh Cowsu ini bukanlah suatu perbuatan yang patut dipuji. Selain daripada itu, sejak berdiri, partay kita belum pernah terjadi ada murid yang berani menentang perintah. Walaupun peristiwa luar merupakan peristiwa luar biasa, tetapi masih belum diijinkan oleh peraturan partay kita. Maka diharap para saudara pikir dulu masak-masak.”

Bu-siang Siansu membentak dengan suara keras:

“Sesudah keluar perintah, tindakan segera jalankan! Harap saudara segera siap untuk melakukan perintah ini.”

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara genta tiga kali. Dalam keadaan gawat demikian, suara genta itu sesungguhnya sangat menusuk telinga. Wajah Bu-siang Sian-su berubah seketika. Begitu pula para anggota sesepuh dan lain-lainnya.

Ketegangan telah memuncak.

Pengawal yang berdiri di samping ketuanya segera berkata: “Batas waktu belum sampai, mengapa. ?”

Belum lagi habis ucapannya, di depan pintu pendopo Wie-to-tian, dalam salah satu sudut pekarangan, muncul seorang nenek berambut putih. Nenek itu badannya kurus kering, pakaiannya penuh tanda darah, sepasang matanya memancarkan sinar yang menakutkan sehingga bagaikan hantu yang muncul di siang hari bolong.

Padri Bu-kauw yang bertugas sebagai pengawas gereja, lalu bangkit dan berkata kepada ketuanya:

“Ciangbun suheng, orang yang datang itu adalah Hiat-ie Nio-cu.” “Kami tahu,” jawab Bu-siang Sian-su.

“Harap suheng mengeluarkan perintah.” “Tanyakan dulu maksud kedatangannya!” “Baik.”

Bu-kauw mengundurkan diri pergi menghampiri Hiat-ie Nio-cu.

Semua padri yang hadir di situ setiap orang mengunjukkan perasaan gusarnya, karena menurut peraturan dalam Kuil Siao-lim- sie tidak mengijinkan kaum wanita masuk.

Hiat-ie Nio-cu tidak menghiraukan Bu-kauw, sebaliknya berkata dengan suara nyaring:

“Bu-siang, kau sungguh bertingkah. Apakah aku si nenek harus datang menghadap padamu?”

Semua murid Siao-liem-sie hanya bisa mengawasi dengan mata melotot karena perbuatan Hiat-ie Nio-cu yang masuk ke kuil itu, sudah berarti melanggar peraturan kuil. Apalagi perkataannya yang tidak sopan itu terhadap ketuanya, perbuatan itu bagi Siao-liem-pay merupakan suatu penghinaan besar.

Bu-kauw yang sudah berada di hadapan Hiat-ie Nio-cu kira-kira delapan langkah, lalu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya:

“Liesicu tentunya tahu larangan kuil kami.” “Larangan apa?” tanya Hiat-ie Nio-cu dingin. “Kaum wanita dilarang masuk kuil ”

“Omong kosong, kalau aku suka datang, aku harus datang.”

“Kedatangan lisicu ini pasti ada maksudnya?” bertanya Bu-kauw dengan menahan sabarnya.

“Sudah tentu. Suruh Bu-siang yang bicara!”

“O Mie tho hud! Pinceng mendapat perintah di sini sudah menanyakan maksud kedatangan lisicu!”

“Aku bicara selamanya hanya satu kali saja. Kau menyingkir!”

Betapapun sabarnya Bu-kauw juga tidak mudah dihina di hadapan umum, maka lalu berkata dengan sikap keren:

“Liesicu jangan keterlaluan!”

“Apa kau ingin mencari mampus?” jawabnya Hiat-ie Nio-cu sambil tertawa dingin.

Dari dalam rombongan paderi terdengar suara marah. Setelah memuji nama Budha, Bu-kauw berkata:

“Lie-sicu anggap kuil Siao-liem-sie sebagai apa?”

Wajah Hiat-ie Nio-cu tiba-tiba berubah bengis dan menakutkan.

Ia berjalan maju, nampaknya hendak menyerbu ke dalam....

Bu-kauw segera mengangkat kedua tangan. Hiat-ie Nio-cu melanjutkan langkah kakinya, satu tangannya dikibaskan. Gerakan Bu-kauw yang sebetulnya merupakan ancaman saja tapi begitu melihat nenek itu benar-benar turun tangan, ia segera mengerahkan kekuatan tenaganya, dipusatkan ke dua tangannya.

Dengan demikian sehingga kekuatan kedua pihak saling beradu. Setelah menimbulkan getaran hebat, Bu-kauw mundur terhuyung- huyung sampai empat langkah. Kulit di mukanya berkerenyit beberapa kali, ujung bibirnya mengalirkan darah.

Semua murid Siao-liem-sie pada berdiri. Tetapi karena harus mentaati peraturan, tiada satu pun yang bertindak.

Hiat-ie Nio-cu melalui samping Bu Kauw terus menuju ke pendopo di mana ketua kuil sedang memimpin rapat.

Delapan padri dari anggota pelindung hukum segera berteriak. Mereka terbagi menjadi dua golongan maju merintangi hantu wanita itu.

Hiat-ie Nio-cu menggereng dengan matanya yang aneh.

“Bu-siang, apa kau mendesak aku melakukan pembunuhan di sini?”

Bu-siang Siansu sungguh tidak kecewa menjadi seorang pemimpin. Walaupun dalam hati sangat marah tetapi ia masih menunjukkan sikapnya sebagai pemimpin. Dengan sikap yang tenang dan sabar, melambaikan tangannya seraya berkata:.

“Saudara-saudara pelindung hukum, berikan jalan kepadanya!”

Delapan anggota pelindung hukum itu terpaksa mentaati perintah pemimpin, mereka menyingkir ke kanan dan ke kiri.

Bu-siang Sian-su dengan tenang maju menghampiri hantu wanita itu seraya berkata sambil merangkapkan kedua tangannya:

“Harap siecu suka memberitahukan maksud kedatanganmu!”

“Bu-siang, pada lima belas tahun berselang ada seorang wanita muda yang bernama Pek-leng-lie Khong Yang Hong datang ke kuil Siao-liem Sie untuk minta sebutir pil Tay-hoan-tan telah kalian hina dengan mengandalkan kekuatan jumlah orang kalian yang lebih banyak, betulkah ada kejadian seperti ini?” Bu-siang Sian-su setelah memuji nama Budha lalu berkata: “Memang betul ada kejadian ini.   Tetapi apa yang dikatakan

menghina dengan mengandalkan kekuatan orang banyak, inilah

tidak tepat!”

“Tentang ini sekarang jangan dibicarakan dulu. Aku hanya ingin bertanya kepadamu, di mana wanita itu sekarang berada?”

“Maaf, kami tidak dapat menjawab!” “Apa sebabnya?”

“Dulu Siao-lie Sicu itu minta pil Tay-hong-tan dengan secara kekerasan. Ia telah melukai beberapa puluh anak murid golongan kami. Akhirnya kami terpaksa memerintahkan anak murid kami menangkap dirinya dengan menggunakan barisan Lo-han-tin. Tetapi setelah kami tangkap, sebagai orang beribadah yang selalu mengutamakan kasih sayang sebagai pedoman kita, maka pada akhirnya kami berikan juga obat pil yang diminta itu, dan kemudian membebaskannya. ”

“Benarkah begitu?”

“Sebagai orang beribadah dipantang membohong!” “Dan di mana sekarang orangnya berada?”

“Kami tadi sudah katakan bahwa hal ini kami tidak dapat menjawab.”

“Apakah sudah kau bunuh untuk melenyapkan jejaknya?” Sekujur badan Bu-siang Sian-su gemetar. Jawabnya:

“Si-cu jangan sembarangan berkata!”

Mata Hiat-ie Nio-cu tiba-tiba nampak beringas. Ia berkata dengan suara bengis:

“Bu-siang, tidak perlu bicara banyak-banyak, hari ini kau harus mempertanggungjawabkan persoalan ini!”

“Kami tidak dapat, juga tidak perlu menanggung jawab!” “Apakah kau harus cuci tangan begitu saja?” “Kenyataannya memang demikian!”

“Bu-siang, jikalau sekarang tidak bertanggung jawab soal ini, aku beritahukan kepadamu… hem, aku akan membuka pantangan membunuh secara besar-besaran. Aku akan mencuci kuil Siao-liem ini dengan darah kalian!”

Begitu mendengar ucapan hantu wanita itu, suasana menjadi sangat gawat. Dengan tanpa sadar Bu-siang Sian-su telah mundur satu langkah. Delapan anggota pelindung hukum dan seluruh anggota sesepuh serta semua kepala bagian, sudah siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pada lima belas tahun berselang, anak perempuan Hiat-ie Nio-cu Pek-leng-lie Khong Yang Hong telah mengunjungi kuil Siao-liem-sie untuk minta pil obat Tay-huan-tan. Di situ timbul perselisihan, kemudian jadilah pertempuran hebat. Pek-leng-lie berhasil melukai sepuluh lebih anak murid Siao-liem-sie, tetapi akhirnya ia tertangkap dalam barisan Lo-han-tin.

Sekarang Hiat-ie Nio-cu telah datang sendiri untuk menanyakan anak perempuannya. Kepandaian dan kekuatan Hiat-ie Nio-cu masih jauh lebih tinggi daripada anak perempuannya, sekalipun semua anak murid Siao-lim-sie yang berkepandaian tinggi, barangkali juga masih bukan tandingannya. Tentang ini hampir semua orang dalam hati sudah mengerti, namun demikian mereka toh tidak akan membiarkan hantu wanita itu berbuat sesuka hatinya!

Pada saat itu sudah hampir tengah hari. Batas waktu terakhir yang diberikan oleh Persekutuan Bulan Emas sudah hampir tiba. Ini berarti kuil Siao-lim-sie itu sedang menghadapi bencana besar.

Di bawah ancaman dan tekanan hebat dari dua pihak, antara Hiat-ie Nio-cu dan Bulan Emas, semua orang Siao-liem-pay tidak berani membayangkan bagaimana akibatnya.

Ini adalah merupakan suatu kejadian yang sangat menyedihkan bagi partay golongan orang benar di daerah Tiong Goan, juga menggunakan betapa lemahnya keadaan berbagai partay golongan benar pada waktu itu. Bu-siang Sian-su sebagai pemimpin dari partay besar itu, selagi menghadapi nasib antara mati dengan hidup dan hancur atau utuh partainya, penderitaan dalam hatinya sesungguhnya tidak dapat kita membayangkannya.

Ia semula memang bermaksud hendak membubarkan sebagian anak muridnya untuk meninggalkan sedikit sisa kekuatan golongan Siao-lim-pay, supaya di kemudian hari bisa bangkit lagi, tetapi karena kedatangannya Hiat-ie Nio-cu, maksud itu telah buyar.

Baik Hiat-ie Nio-cu maupun Persekutuan Bulan Emas, ancaman dan tekanan kepada Siao-lim pay, tidak ada bedanya. Setiap anak murid Siao-liem Pay yang ada di situ semua telah menunjukkan kemarahan. Mereka telah bertekad bulat hendak mempertahankan kuil Siao-liem-sie dan partay Siao-liem Pay hingga titik darah yang terakhir.

Oleh karena kebulatan tekad ini, telah mengurangi rasa takut untuk menghadapi musuh yang lebih kuat.

Hiat-ie Nio-cu memperdengarkan pula suaranya. Katanya yang bengis:

“Bu-siang, bagaimana kau hendak mempertanggungjawabkan?” “Kami tidak dapat bertanggung jawab!”

“Kalau begitu kau jangan sesalkan aku akan berlaku kejam!”

Begitu menutup mulut, ia segera membentang sepuluh jari tangannya. Bagaikan binatang buas menerkam empat paderi anggota pelindung hukum yang berdiri di barisan depan.

Empat padri anggota pelindung hukum itu mengerakkan tangan dengan serentak untuk menyambut serangan itu.

Dua kali terdengar suara jeritan ngeri. Dua dari empat anggota pelindung hukum itu telah roboh.

Empat anggota pelindung hukum yang lainnya segera maju. Bersama-sama dengan dua anggota pelindung hukum yang pertama, sama-sama melancarkan serangan terhadap dirinya hantu wanita itu. Delapan anggota pelindung hukum itu, kepandaian mereka hanya di bawah sepuluh anggota sesepuh saja, maka kita dapat membayangkan betapa hebatnya kekuatan enam orang yang bertindak serentak itu.

Tetapi Hiat-ie Nio-cu merupakan suatu hantu wanita yang sudah beberapa puluh tahun namanya yang menggetarkan semua orang rimba persilatan baik dalam golongan putih maupun golongan hitam, kepandaian maupun kekuatan hantu wanita itu, masih jauh lebih tinggi daripada delapan anggota pelindung hukum itu.

Selama pertempuran berlangsung, dua di antara enam pelindung hukum itu, kembali sudah binasa di tangan hantu wanita itu, tetapi di pihaknya hantu wanita sendiri juga terpukul mundur.

Semua anak murid Siao-liem-sie yang ada di situ, telah menyaksikan dengan hati panas dan mata melotot.

Sepuluh anggota sesepuh juga sudah bergerak. Mereka berdiri berbaris di belakang pemimpinnya.

Jatuh korban dan mengalirnya darah di pendopo tempat suci itu, telah menjadikan tempat suci itu berubah menjadi tempat penjagalan yang mengerikan.

Pada saat itu, kembali terdengar suara genta yang seolah-olah merupakan pertanda hari kiamat yang akan dihadapi oleh Siao-liem- sie.

Bu-siang Sian-su yang paling terpengaruh perasaan dan pikirannya. Badannya sampai gemetar. Ia lalu mengeluarkan perintah kepada semua anak muridnya supaya balik ke tempat masing-masing.

Suasana balik   seperti   keadaan   sebelum Hiat-ie Nio-cu muncul, hanya kurang empat anggota pelindung hukum. Jenazahnya empat pelindung hukum itu segera digotong masuk ke dalam.

Hiat-ie Nio-cu yang belum mengerti apa sebabnya, sebaliknya malah berdiri dengan mulut ternganga. Pada saat itu, delapan orang berpakaian hitam diam-diam sudah muncul di depan pintu. Yang berjalan paling depan tangannya memegang kedua panji kecil berbentuk segi tiga. Ia mengacungkan tinggi-tinggi panji itu, kemudian berkata dengan suara nyaring:

“Utusan Bulan Emas, di sini dengan membawa perintah pemimpin kami minta kepada pemimpin partay Siao-lim pay untuk memberi jawaban terakhir!”

Lama baru terdengar jawaban Bu-siang Sian-su:

“Partay kami tidak akan merusak ajaran dan larangan serta pantangan yang diwariskan oleh Couwsu kami, untuk mengabdi kepada kawanan iblis!”

Utusan yang membawa panji itu menyimpan kembali panjinya, kemudian berkata dengan suara keras:

“Ciangbunjin, apakah ini merupakan jawaban partaymu?” “Betul!”

“Kau tidak sayang akan terjadi banjir darah di kuil ini?”

Sementara itu banyak orang berpakaian hitam muncul dari berbagai penjuru, sehingga dalam waktu sekejap mata saja sudah merupakan tembok manusia. Orang-orang itu semuanya memegang senjata tajam.

Nampaknya Persekutuan Bulan Emas itu sudah berkeputusan hendak menundukkan Siao-lim-pay dengan kekerasan.

Mata Bu-siang Sian-su perlahan-lahan menyapu kepada semua anak muridnya yang berada di situ. Mukanya telah berobah demikian rupa. Padri tua yang bertindak sebagai pemimpin itu sebetulnya tidak tega mengorbankan nasib murid yang jumlahnya seribu lebih itu, tetapi kecuali menyerah masuk menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas, sudah tentu tiada jalan lain lagi!

Tiba-tiba Hiat-ie Nio-cu berpaling menghadapi delapan orang utusan Bulan Emas. Delapan utusan itu nampaknya agak terkejut. Utusan yang membawa panji itu, terang sebagai kepala rombongan delapan orang itu, saat itu segera menegurnya:

“Nyonya bukankah Hiat-ie Nio-cu?”

Dengan suara bengis Hiat-ie Nio-cu menjawab:

“Betul! Aku masih ada sedikit perhitungan dengan Bu-siang yang masih belum dibereskan. Kalian menyingkir jauh dulu!”

Delapan utusan itu seketika itu berobah wajahnya. Orang yang bertindak sebagai kepala itu lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Nyonya terlalu sombong!”

“Apakah kalian ingin mencari mampus?”

“Belum lama berselang nyonya telah menghancurkan cabang persekutuan kami dan membunuh orang-orangnya, perbuatanmu ini kita masih belum membuat perhitungan denganmu!”

“Apakah dengan kalian sekawanan kelinci ini aku harus membuat perhituongan?”

Tepat pada saat itu tiba-tiba terdengar nada suara yang tajam dan dingin menyahut:

“Hiat-ie Nio-cu, kau jangan omong besar!”

Delapan utusan itu ketika mendengar suara itu, segera menyingkir di kedua samping. Hampir bersamaan pada saat itu, seorang tua bertubuh tinggi besar, telah muncul di situ.

Hiat-ie Nio-cu ketika melihat kedatangan orang itu, wajahnya segera berobah. Katanya dengan nada suara dingin:

“Iblis Gajah, apakah kau masih belum mati?”

'“Ha, ha, aku masih ingin hidup beberapa tahun lagi!” “Apakah maksud kedatanganmu ini?”

“Hendak mengirim kawanan padri untuk menghadap kepada Budha!” Semua anak murid Siaolim-pay mendengarkan percakapan dua orang itu dengan tenang. Meskipun mereka sedang terancam bahaya maut, tetapi tiada satu pun yang menunjukkan perasaan takut, walaupun mereka tahu bahwa mereka tidak ada yang diandal kecuali kebulatan tekad yang hendak hancur bersama-sama musuhnya.

Dengan sikap menghina Hiat-ie Nio-cu |berkata:

“Iblis Gajah, dengan nama, derajat dan kedudukanmu, sungguh tidak kusangka kau juga rela menjadi budak orang!”

Walaupun ucapan iblis itu merupakan suatu penghinaan besar, tetapi Iblis Gajah tidak marah, sebaliknya memperdengarkan suara tertawanya yang aneh, kemudian berkata:

“Nenek tua, kita tidak perlu bicara banyak-banyak. Tadi kau mengatakan hendak membereskan perhitungan dengan Siao-liem- pay, apakah itu betul?”

“Betul!”

“Dengan cara bagaimana kau hendak membereskan perhitungan itu?”

“Kuhendak cuci kuil ini dengan darah mereka untuk menuntut balas anak perempuan itu!”

“Itu bagus sekali, kita justru satu maksud dan satu tujuan. Nah, silahkan!”

Sebagai orang yang berpengalaman, Hiat-ie Nio-cu ketika mendengar perkataan itu segera mengerti maksud Iblis Gajah ku. Maka lalu menjawab sambil berkata:

“Siluman tua, kau jangan mengintip orang dari lubang kunci pintu, sehingga dapat menyaksikan segalanya dengan sepuas- puasnya. Apakah kau kira aku tidak mengerti maksud hatimu yang hendak meminjam tanganku untuk membereskan kawanan kepala gundul itu? Sebaliknya kalian dapat mencapai tujuan kalian tanpa mengeluarkan tenaga, setelah itu kalian baru turun tangan terhadapku, untuk membuat perhitungan perbuatanku di kuil Thian Ong-sie hari itu, betul tidak?”

“Kecerdasanmu ternyata masih tetap seperti dahulu kala. Tentang perbuatanmu, di kuil Thian Ong-sie itu persekutuan kami sudah pasti hendak minta penanggungan jawabmu. Tetapi andaikata kau ingin menyimpan tenagamu, silahkan kau mundur ke rumah kuil.”

Jawaban itu cukup pedas, satu sama lain nampaknya tidak mau mengalah.

Hiat-ie Nio-cu setelah berpikir sejenak lalu berkata: “Ijinkan aku untuk bertanya lagi kepada si gundul itu. ”

“Silahkan.”

Hiat-ie Nio-cu membalikkan badannya, berjalan menghampiri pemimpin Siao-lim-pay, kemudian berkata:

“Bu-siang, kau tentunya sudah melihat sendiri nasib apa yang akan dihadapi oleh Siao-lim-pay?”

“Sebagai orang dari golongan benar, sebagai orang jantan, partay kami lebih suka hancur lebur tidak sudi menyerah bertekuk lutut di hadapan musuh.”

“Katamu kedengarannya sangat agung.   Jawablah terus terang, di mana anak perempuanku itu sekarang? Aku nanti akan keluar dari pertikaian ini.”

“Kami tadi sudah mengatakan, memang benar-benar Pek-leng-lie dahulu pernah ditangkap, tetapi kemudian kami telah memerintah supaya dibebaskan lagi. Bagaimana kami tahu di mana sekarang ia berada?”

“Omong kosong. Mengapa sejak kejadian itu di kalangan Kang- ouw lalu tiada tampak lagi jejak anak perempuan ini?”

“Tentang ini bagaimana aku dapat menjawab?” “Kalau begitu kau jangan menyesal!” “Yang menyesal barangkali sicu sendiri.”

Hiat-ie Nio-cu tiba-tiba membalikkan badannya dan berkata pada si Iblis Gajah:

“Tidak halangan apabila kita bergandengan tangan untuk nembereskan keadaan di sini dulu. Urusan kita pribadi nanti kita bicarakan lagi. Bagaimana kau pikir?”

“Begitupun boleh, bertiindaklah.”

Hiat-ie Nio-cu lalu bergerak menerjang pemimpin Siao-lim-pay.....

Enam anggota pelindung hukum segera bertiindak dengan serentak untuk menyambut serangan musuh itu.

Bersamaan dengan itu, enam orang utusan Bulan Emas juga sudah bertindak.

Dari pihak anak murid Siao-liem-sie, ini juga tidak mau tinggal diam lagi. Mereka juga bergerak untuk menghadapi musuhnya.

Sebentar kemudian, terjadilah suatu pertempuran kalut. Suara beradunya senjata tajam yang diseling dengan suara bentak dan jeritan terdengar di sana sini. Darah mulai mengalir, korban juga jatuh saling menyusul.

Suatu pembunuhan besar-besaran yang sangat mengerikan telah berlangsung di ruangan tempat suci itu.

Dalam waktu singkat Hiat-ie Nio-cu sudah berhasil membereskan enam orang lawannya. Sepuluh anggota sesepuh segera bergerak mengurung dirinya....

Jika dilihat jalannya pertempuran, Siao-liem-pay benar-benar akan mengalami nasib kehancurannya.

Orang-orang Persekutuan Bulan Emas mengurung kuil itu di berbagai penjuru. Tiada satupun yang turut bertempur. Mereka hanya berdiri di tempat semula. Maksudnya tidak akan mengijinkan siapapun juga keluar dari kuil itu.

Kawanan padri yang memegang jabatan kepala bagian dalam kuil itu, juga merupakan kawanan padri yang agak kuat. Bertempur dalam keadaan demikian masih tak dapat mengeluarkan kepandaian masing-masing karena mereka terhalang oleh arusnya banyak manusia.

Iblis Gajah sementara itu sudah bergerak menyerang Bu-siang Sian-su. Karena serangan yang terlalu dahsyat, Bu-siang Sian-su nampak terdesak mundur.

Namun demikian, sebagai pemimpin satu partay besar, sudah tentu juga mempunyai kepandaian yang berarti. Betapapun lihaynya si Iblis Gajah juga tak bisa berbuat apa-apa terhadap Bu- siang Sian-su. Tetapi kenyataan sudah jelas mengunjukkan bahwa jatuhnya Siao-liem-pay hanya soal waktu saja.

Sekalipun Bu-siang Sian-su sanggup melawan Iblis Gajah, tetapi juga tak sanggup menolong nasibnya Siao-lim-pay.

Sementara itu sepuluh anggota sesepuh yang melawan Hiat-ie Nio-cu, tiga di antaranya sudah binasa dan yang empat terluka....

Selagi Siao-lim-pay menghadapi bencana kehancuran, tiba-tiba terdengar suara bentakan bagaikan geledek yang segera mempengaruhi suara pertempuran itu.

Suara bentakan itu bagaikan ketokan palu besar, mengetok hati setiap orang. Jelaslah sudah bahwa orang yang mengeluarkan suara pasti orang yang nempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah sangat sempurna.

Sungguh heran, setelah terdengarnya suara itu, semua orang yang bertempur segera diam dan berhenti.

Pada saat itu dapat dilihat dengan nyata di lantai ruangan yang luas terkapar banyak bangkai manusia. Darah mengalir bagaikan air banjir. Anak murid Siao-liem-pay yang mati terbunuh sedikitnya dua ratus jiwa ke atas.

Semua mata ditujukan ke pendopo Wie-tho-tian, sebab itu merupakan tempat yang harus dilalui bagi siapa yang hendak masuk ke kuil Siao-liem-sie itu. Seorang berpakaian ringkas berwarna putih, muncul secara tiba- tiba.

Dalam rombongan Utusan Bulan Emas segera terdengar suara orang berkata:

“Penggali Makam?!”

Orang itu benar adalah Hui Kiam.

Jawabnya yang dingin, saat itu menunjukkan kemarahannya yang sudah memuncak. Dengan memegang gagang pedang di pinggangnya, setindak demi setindak ia berjalan ke tengah-tengah ruangan itu.

Munculnya pemuda itu agaknya membawa suara pengaruh dan wibawa yang tak terwujud, tetapi cukup menggetarkan semua orang, sehingga seolah-olah sudah melupakan perbuatan mereka yang bertempur demikian kalut, dan kini pada menyingkir untuk membuka jalan.

Mata Hui Kiam dari jauh menatap si Iblis Gajah dan Hiat-ie Nio-cu dengan bergiliran.

Karena ia berada di tengah-tengah demikian banyak orang, sudah tentu dirinya menjadi pusat perhatian semua mata.

Dengan sinar matanya yang tajam, ia menyapu semua orang yang ada di situ. Setiap mata orang yang beradu dengan sinar matanya seolah- olah ditusuk oleh senjata tajam.

Bagi orang-orang Siao-liem-pay, sebagian besar masih asing terhadap nama julukan Penggali Makam. Sedikit di antaranya juga hanya dengar orang berkata saja, sehingga meninggalkan kesan dalam hati mereka. Tetapi bagi orang-orang Persekutuan Bulan Emas nama julukan itu hampir dikenal oleh semuanya ....

Hiat-ie Nio-cu walaupun dulu pernah bertempur dengan Hui Kiam, tetapi waktu itu Hui Kiam berhadapan dengan mengganti rupa, maka baru kali inilah, untuk pertama kalinya ia melihat wajah aslinya. Dahulu ia pernah melukai Hui Kiam dengan kuku terbangnya yang hancur, maka ia tidak ada rasa takut. Sebaliknya dengan si Iblis Gajah, yang belum lama berselang pernah melukai Hui Kiam dalam sepuluh jurus, maka masih dianggapnya sebagai pecundangnya.

Waktu itu mata Hui Kiam masih belum sembuh dari butanya. Jikalau bukan Orang Menebus Dosa memancing pergi si Iblis Gajah, Hui Kiam pasti binasa di tangannya.

Karena nama julukan Penggali Makam yang sangat tidak enak didengarnya itu, sehingga juga mengejutkan kawanan padri Siao- lim-sie. Apakah maksud kedatangannya?

Jikalau ia juga bermaksud hendak menuntut balas., maka Siao- lim-sie berarti akan menghadapi ancaman dari tiga pihak. Dengan demikian sudah tentu akan mempercepat kehancurannya.

Suasana pada saat itu meskipun sepi sunyi, tetapi bahkan semakin seram dan menakutkan.

Akhirnya, Bu-siang Sian-su sebagai tuan rumah, sudah seharusnya menanyakan kedatangan tamunya, maka ia segera menegurnya:

“Ada keperluan apa Siao-sicu datang kemari?”

Sambil mengangkat tangan memberi hormat, Hui Kiam menjawab:

“Ada suatu urusan yang hingga kini masih rnerupakan suatu pertanyaan. Boanpwee ingin minta keterangan Ciangbunjin.”

Dari nada suara jawabannya itu, sudah jelas bahwa kedatangan pemuda itu tidak mengandung maksud jahat.

Bu-siang Sian-su berkata dengan suara berat:

“Keadaan kuil kami dewasa ini, Siao-sicu tentunya sudah mengerti sendiri, barangkali tidak dapat memenuhi permintaan Siao- sicu!”

---ooo0dw0ooo---