Pedang Pembunuh Naga Jilid 24

Jilid 24

IA sekarang berada di persimpangan jalan. Pergi ke Makam Pedang lebih dulu dan kemudian ke gereja Siao-lim-sie, ataukah balik ke kota Lam-sia untuk mencari Tong-hong Hui Bun?

Selagi masih belum dapat mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar suara orang perempuan memanggilnya:

“Siangkong, berhenti dulu!”

Hui Kiam terpaksa berhenti. Dari dalam rimba muncul keluar sesosok bayangan manusia. Orang itu bukan lain dari pada pelayan perempuannya Tong- hong Hui Bun.

Untuk sesaat lamanya Hui Kiam berdiri tertegun. Ia tidak tahu bagaimana harus berbuat. Pelayan perempuan itu setelah memberi hormat lalu berkata:

“Siangkong, tidak disangka di sini aku akan menjumpai kau.” “Ada urusan apa?” bertanya Hui Kiam dingin.

“Budakmu telah mendapat perintah majikan, untuk mencari kau.” “Mencari aku ?”

“Ya, budakmu mendapat perintah mengundang siangkong.”

“Sungguh kebetulan, aku justru hendak mencari dia. Mari tunjukkan jalan.”

Pelayan perempuan itu setelah mengucapkan perkataan baik, lalu lari ke dalam rimba.

Hui Kiam mengikuti di belakangnya. Otaknya masih terbayang peristiwa panggung Lui-tay, wisma pahlawan, bangkai manusia telanjang dan jebakan wanita cantik.

Ia sudah mengambil keputusan bahwa segala persoalan itu, hari ini harus dibereskan.

Setelah melalui rimba lebat sepanjang kira-kira lima pal tibalah di kaki bukit. Di depan matanya segera terbentang sebuah bangunan rumah yang indah berikut pekarangan dan taman bunga yang beraneka warna.

Pelayan itu menghentikan kakinya dan berkata: “Sudah tiba.”

Hui Kiam juga berhenti. Tiba-tiba seorang lelaki berbaju hitam lari di sampingnya dan menyesapkan segulung kertas ke dalam tangannya....

Pelayan perempuan itu segera berpaling dan menegurnya: “Siapa?” Orang berbaju hitam itu sudah berada sejauh tiga tombak, tetapi ketika mendengar teguran itu segera menyahut sambil menundukkan kepala:

“Tecu peronda di bawah perintah anggota pelindung hukum!” “'Kau berani mati, berani berjalan sembarangan di tempat ini!” “Ya, teecu tahu salah!”

“Hem! Hati-hati jiwa anjingmu, pergilah!” “Ya!”

Orang berbaju hitam itu segera berlalu tanpa menengok lagi.

Hui Kiam merasa curiga. Orang berbaju hitam mengaku sebagai peronda terhadap pelayan perempuan itu menyebut dirinya teecu, sikapnya menunjukkan ketakutan sedangkan pelayan wanita itu sendiri hanya merupakan seorang pelayan. Kalau begitu, kedudukan Tong-hong Hui Bun dalam persekutuan itu pasti sangat tinggi.

Tempat apakah ini? Apa yang disesapkan dalam tangannya oleh orang yang berbaju hitam itu tadi?

Hui Kiam tidak sempat untuk memikirkan jawabannya, pelayan itu sudah berkata lagi:

“Siangkong tunggu sebentar, budakmu hendak mengabarkan kepada majikan supaya keluar menyambut.”

Setelah pelayan itu berlalu Hui Kiam membuka gulungan kertas yang ada di tangannya ternyata terdapat tulisan yang berbunyi: ‘Toako, harap berdiri tegak dergan pendirianmu. Ingatlah kepentingan rimba persilatan!’

Hui Kiam segera mengerti itu adalah perbuatan Ie It Hoan. Ia segera menghancurkan kertas itu diam-diam memuji keberanian dan kecerdikan saudara angkatnya itu.

Sementara itu Tong-hong Hui Bun sudah muncul berjalan menghampiri dirinya. Hui Kiam seolah-olah terpagut ular, sesaat lamanya ia berdiri tertegun.

Tong-hong Hui Bun masih tetap cantik seperti biasa, hanya saat itu seperti diliputi oleh kekesalan hatinya. Hal ini sedikit banyak telah mempengaruhi kecantikannya.

Hui Kiam sedapat mungkin menindas perasaannya yang tergoncang hebat.  Ia berkata dengan nada suara dingin:

“Enci, tak disangka kita berjumpa di sini!”

“Ya, memang benar ada saat kejadian di luar dugaan. Mari kita masuk.”

Hui Kiam pada saat itu, karena pikirannya terpengaruh oleh kejadian yang baru saja dialami maka terhadap kekasihnya itu, seperti merasa asing lagi.

Hui Kiam menutup rapat mulutnya. Memasuki rumah yang indah ini, apa yang disaksikannya benar-benar di luar dugaannya. Perlengkapan perabot rumah itu sangat sederhana. Jika dibandingkan dengan istana yang dahulu dibakar oleh Orang Berbaju Lila, perbedaan itu bagaikan langit dan bumi.

“Duduklah!”

Hui Kiam duduk di salah satu kursi warna hijau.

Pelayan wanita itu setelah menyuguhi the wangi lalu mengundurkan diri.

Tong-hong Hui Bun lama memandang Hui Kiam kemudian baru berkata dengan suara dingin:

“Adik, sejak kau terkena racun dedaunan dan kemudian kecebur ke dalam sungai di jembatan panjang, tak sekejap pun aku melupakan dirimu.   Hari ini adalah pertemuan kita pertama kali sejak kau mengalami kejadian itu.”

Disebutnya kejadian yang sudah lampau itu, Hui Kiam tergoncang. Lagi ia menindas perasaan itu katanya dengan tenang: “Ya, untung Tuhan masih melindungi, sehingga aku tidak mati. ”

“Tahukah kau bahwa ada orang merusak perhubungan kita?” “Ini harus dilihat pendirian orang itu!”

“Adik, kau sudah berubah.”

“Yang berubah mungkin enci sendiri!” “Adik, kau agaknya penasaran….”

Perkataan itu justru mengenakan persoalan yang ada di dalam hati Hui Kiam, maka ia lalu berkata:

“Tentang ini aku tidak menyangkal semuanya!”

Bola mata Tong-hong Hui Bun nampak berputaran kemudian berkata:

“Andaikata hari ini bukan pelayanku yang menjumpai kau ”

“Aku justru sedang mencari kau!”

“Kalau begitu kebetulan sekali, kita berdua boleh bicara terus terang!”

“Inilah yang kuharapkan!”

“Adik, pertama jawablah pertanyaanku, apakah di dalam hatimu masih ada aku?”

Sinar matanya yang tadi begitu dingin kini telah berubah sangat menggiurkan. Pandangan matanya itu, sesungguhnya mengandung daya penarik yang luar biasa. Hati Hui Kiam berdebaran, otaknya yang semula diliputi oleh kabar kecurigaan kini mulai buyar lagi. Terapi budi pekertinya masih amat kuat dan sifatnya yang tinggi hati dan sombong, saat itu juga menguasai dirinya, maka ia segera menjawab dengan tenang:

“Ada, sehingga pada saat kita berpisahan di atas jembatan panjang itu, sedikitpun tidak berubah!”

“Dan sekarang?” “Kalau mau dikata tergoncang, itu adalah karena kau sendiri yang menjadi gara-garanya.”

Paras Tong-hong Hui Bun menunjukkan beberapa kali perubahan, tetapi ia tidak meyatakan apa-apa. Ini suatu bukti betapa tenang pikirannya untuk menghadapi semua itu. Lama sekali ia baru membuka suara:

“Aku pernah berkata mungkin aku salah, belum mulai sudah melakukan kesalahan!”

Salah apakah yang dimaksudkan? Hubungan antara dia dan Hui Kiam ataukah….

Hui Kiam tidak dapat menduga maksud yang terkandung dalam perkataan perempuan cantik itu. Hakekatnya pada saat itu ia juga sudah tidak mempunyai pikiran untuk mengenali ucapannya itu. Maka ia segera berkata:

“Enci, aku tahu bahwa enci pernah menjadi Taycu di atas panggung Lui-tay yang didirikan oleh Persekutuan Bulan Emas?”

“Benar!”

“Tahukah kau apa latar belakangnya?” “Sudah tentu tahu!”

“Kau sudah tahu bahwa itu adalah satu perbuatan terkutuk, bukan? Mengapa kau masih melakukannya?”

Dengan tenang dan acuh tak acuh Tong-hong Hui Bun menjawab:

“Ada satu alasan yang harus kulakukan!” “Alasan apa?”

“Aku adalah salah satu anggota Persekutuan Bulan Emas. Aku mendapat perintah untuk melakukan pekerjaan itu!”

Hui Kiam tercengang, tetapi ia tidak merasa heran. Dari segala tanda-tanda dan tindak-tanduknya memang sudah tahu bahwa Tong-hong Hui Bun mempunyai hubungan dengan Persekutuan Bulan Emas. Sekarang hanya dibuktikannya dan diakuinya sendiri saja. Maka ia segera mengerti pesan Ie It Hoan. Dalam tulisannya ia mengatakan supaya ia berdiri teguh dengan pendiriannya: kebenaran dan kejahatan memang tak bisa hidup bersama-sama. Ia takut karena urusan pribadinya sehingga melupakan kepentingan umum.

Ia juga merasa bahwa pergaulan antara mereka mungkin keliru, tetapi perasaan itu menimbulkan penderitaan bagi dirinya, sebab cintanya kepada perempuan itu memang setulusnya dan sekarang kedua pihak harus saling berdiri berhadapan sebagai musuh.

Di masa yang lampau pemimpin Persekutuan Bulan Emas pernah memerintahkan anak buahnya jangan bermusuhan dengannya, semua itu kiranya adalah usul Tong-hong Hui Bun.

Tetapi, mengapa ia paksa orang-orangnya seperti Ko Han San, dan Malaikat Bumi dan Langit, dan beberapa puluh utusan Bulan Emas membunuh diri sendiri? Apa pula maksudnya?

Berpikir demikian ia lalu berkata:

“Tentang kedudukanmu seharusnya aku mengetahui, tetapi. ”

“Tetapi apa?”

“Kau pernah memaksa Ko Han San dan lain-lainnya orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam persekutuan untuk membunuh diri, apa sebabnya?”

“Sebab mereka harus mati. Aku hanya menjalankan perintah saja.”

“Harus mati?”

“Hem, dalam suatu partay ada mempunyai peraturannya sendiri, negara juga ada undang-undang. Tentang ini kau tidak perlu tahu.”

“Kalau begitu kau jadi taycu itu apakah karena terpaksa?” “Benar!”

Mata Hui Kiam menatap wajah Tong-hong Hui Bun.   Sepatah demi sepatah ia berkata: “Enci, aku nempunyai suatu permintaan!”

Tong-hong Hui Bun juga dengan sikap sungguh-sungguh ia berkata:

“Permintaan apa?”

“Meninggalkan Persekutuan Bulan Emas.”

“Itu tidak mungkin!” jawabnya tanpa ragu-ragu.

Hui Kiam tiba-tiba bangkit, wajahnya pucat badannya gemetar. Tong-hong Hui Bun berkata pula dengan suara parau: “Bagaimana jikalau aku mintamu menjadi anggota Persekutuan

Bulan Emas?”

“Aku minta kau meninggalkan persekutuan itu hanya mengharap supaya kau meninggalkan lejahatan, tetapi kau memajukan permintaan sebaliknya. Ini toch tidak aturan, bukan?”

Tepat pada saat itu dari belakang mereka terdengar suara orang tua berkata:

“Dalam rimba persilatan memang tidak ada soal peraturan.”

Hui Kiam terkejut ia memutar, dan apa yang disaksikannya seketika itu darahnya bergolak jantungnya berdebaran, karena di dekat salah satu pintu, berdiri seorang yang tinggi besar yang mengenakan kerudung.

Orang itu tidak lain dari pada pemimpin Persekutuan Bulan Emas sendiri.

Munculnya pemimpin Bulan Emas secara tiba-tiba itu, sesungguhnya di luar dugaannya.

Pertempuran sengit dan mati-matian yang berlangsung di Wisma Pahlawan terbayang kembali di dalam otaknya.

Pemimpin Bulan Emas itu dengan sinar mata yang tajam menatap Hui Kiam, kemudian mengawasi Tong-hong Hui Bun baru berkata:

“Anak, kau terlalu menuruti hatimu sendiri!” Tong-hong Hui Bun menundukkan kepala sambil membungkam. Pemimpin persekutuan itu berdiam sejenak, lalu berkata pula:

“Kau sedang memain aku ” Sekali lagi matanya mengawasi Hui

Kiam, lalu berkata pula dengan suara bengis:

“Kau seharusnya siang-siang memberitahukan asal-usulnya kepadaku.”

Kalau diperhatikan pembicaraan mereka, antara pemimpin Bulan Emas dengan Tong-hong Hui Bun ada hubungan yang dalam sekali.

Dengan nada suara dingin Hui Kiam berkata:

“Tuan pemimpin, tidak disangka sedemikian cepat kita berjumpa lagi.”

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu dengan sinar mata yang dalam, kembali menatap wajah Hui Kiam, lalu berkata dengan suara keren.

“Bocah, tadi aku baru tahu dari budak ini asal usul tentang dirimu. ”

“Kau sudah tahu kau mau apa?”

“Aku tidak akan melepaskan kau lagi. Hari ini kau pasti mati.” Hui Kiam sangat murka. Ia berkata dengan suara bengis. “Apabila nyawaku masih ada, aku juga hendak membunuhmu.” “Tetapi kau sudah tidak mempunyai kesempatan lagi.”

Pemimpin Bulan Emas itu perIahan-lahan menghunus pedangnya, Bulan Emas.

Hui Kiam tatkala meraba gagang pedangnya, ia baru ingat bahwa pedangnya terkerat menjadi dua potong, karena tadi malam terpapas oleh pedang lawannya. Sebetulnya antara mereka berdua ilmu pedangnya selisih sedikit sekali, tetapi karena pedang Bulan Emas adalah sebilah pedang luar biasa tajamnya, maka dewasa itu berarti ia menghadapi lawannya dengan tangan kosong. Jika dengan tangan kosong untuk menghadapi pedang tajam itu, sudah tentu tidak menguntungkan dirinya.

Berpikir demikian ia bergidik sendiri.

Sementara itu pedang Bulan Emas sudah diangkat. Hawa pedang menimbulkan hawa dingin di sekitar ruangan itu.

Hui Kiam yang sudah tiada bersenjata, terpaksa mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya pada dua jari tangannya, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan ....

Paras Tong Hong Hui Bun sebentar-sebentar berubah. Tiba-tiba ia berkata:

“Ayah!”

Ucapan Tong-hong Hui Bun itu bagaikan palu mengetuk hati Hui Kiam. Ia sungguh tak menduga bahwa Tong-hong Hui Bun adalah anak perempuan pemimpin Persekutuan Bulan Emas. Pantas Ie It Hoan, Orang Tua Tiada Turunan, Orang Menebus Dosa berulang kali memperingatkannya supaya jangan jatuh cinta kepada perempuan cantik itu.

Mengapa mereka tidak mau menjelaskan hubungan ini? Apakah takut setelah dirinya mengetahui keadaan yang sebenarnya akan berbalik di pihak Bulan Emas?

Badan Hui Kiam gemetar. Pantas Tong-hong Hui Bun menolak usulnya untuk meninggalkan Persekutuan Bulan Emas.

Kalau demikian halnya, hubungannya dengan perempuan itu seharusnya lekas diakhiri....

Tetapi manusia bukanlah dewa. Walaupun ia sudah bertekad hendak memutuskan perhubungannya dengan si cantik itu, tetapi begitu berhadapan dengan kenyataannya, ia sudah tidak dapat kendalikan perasaannya sendiri. Betapapun juga, orang susah untuk melepaskan diri dari libatan asmara.

Dengan tanpa disadari matanya melirik kepada Tong-hong Hui Bun.... Hanya sekejap itu saja pedang Bulan Emas dengan kecepatan bagaikan kilat sudah menyerang dirinya.

Hampir saja ia binasa di ujung pedang tajam itu. Tetapi bersamaan pada saat itu, sesuatu kekuatan tenaga dalam meluncur dari sampingnya mendorong dirinya sampai tiga kaki. Dengan demikian ia lolos dari ancaman bahaya.

Orang yang mendorong dirinya itu bukan lain daripada Tong Hong Hui Bun sendiri.

Hui Kiam segera perbaiki posisinya. Serangan meluncur keluar dari dua tangannya.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas menyambut dengan pedangnya. Hembusan angin keluar dari jari tangan itu, menimbulkan suara nyaring. Tubuh pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang tinggi besar nampak mundur terhuyung-huyung.

Kekuatan serangan jari tangan Hui Kiam itu sangat ampuh sekali, dapat menembusi logam dan batu keras. Kalau pedang Bulan Emas itu bukan pedang sakti, sudah pasti akan patah. Tetapi walaupun pedangnya tidak rusak, namun orangnya yang memegang pedang sudah mundur sampai dua langkah. Dapat diduga sampai di mana hebatnya serangan jari tangan itu.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas dengan sinar mata tajam mengawasi Tong-hong Hui Bun, lalu berkata dengan suara bengis:

“Apa artinya perbuatanmu itu?”

“Anakmu... anakmu... tidak dapat mengendalikan perasaan sendiri...” jawab Tong-hong Hui Bun dengan suara gemetar.

“Budak, kau sudah salah satu kali, bagaimana bisa salah lagi?” “Tetapi. ”

“Apakah kau sudah memikirkan akibatnya?” “Sudah!”

“Kalau begitu kau menyingkirlah!” “Tidak!”

“'Apakah maksudmu?”

Tong-hong Hui Bun menatap wajah Hui Kiam, lama baru bisa berkata:

“Ayah, ijinkanlah anakmu mengasingkan diri dengan dia, tidak akan muncul lagi di dunia Kang-ouw untuk selama-lamanya!”

Hui Kiam kembali gemetar. Otaknya berpikir keras, perasaannya telah bergolak oleh ucapan itu. Ia sungguh tidak menduga Tong- hong Hui Bun ingin mengasingkan diri dengannya dan tidak mencampuri urusan dunia Kang-ouw lagi ....

Pemimpin Bulan Emas menjawab dengan suara keras: “Budak, apa kau gila?”

“Tidak, anak sudah berpikir masak-masak. Selama hidup anakmu di dalam dunia ini tidak mendapat kebahagiaan apa-apa, hanya dia….”

“Kau sedang mempermainkan jiwamu sendiri!” “Sampai mati anak tidak akan menyesal!”

“Budak, tahukah kau sampai batas mana kekuatan tenaga dan kepandaiannya?”

“Ayahmu apabila tidak mengandalkan pedang Bulan Emas ini, masih belum tahu siapa kalah dan siapa menang. Untuk dewasa ini, dalam dunia persilatan sulit untuk mencari orang yang dapat menandingi kekuatannya, apaolagi. ”

Apa yang dimaksudkan oleh perkataannya itu tidak dilanjutkan.

Percakapan berhenti sampai disitu.

Pada saat itu pesan Ie It Hoan terbayang lagi dalam otaknya Hui Kiam. Semangatnya terbangun. Maka permusuhan perguruannya, permusuhan ibunya dan kepentingan rimba persilatan, telah menguasai dirinya. Terlintas suatu pikiran hendak kabur karena ia merasakan betapa berat tugas dan kewajiban yang dipikulnya. Ia tidak boleh sembarangan pertaruhkan jiwanya.

Tetapi pada saat itu, pemimpin Bulan Emas sudah melakukan serangannya lagi.

Hui Kiam dengan menggunakan gerakan kakinya yang luar biasa, sudah berada di luar pintu ruangan.

Tetapi sebelum berdiri tegak, pemimpin Bulan Emas sudah mengejar sambil menyerang dengan pedangnya.

Hui Kiam mendorong dengan dua tangannya, melakukan serangan dengan menggunakan gerak tipu Thi Gee Si-koan.

Karena serangan itu dilaksanakan tergesa-gesa, kekuatannya tidak dapat dipusatkan. Hanya karena hebatnya kekuatan tenaga dalam serangan itu, hingga membuat serangan pedang pemimpin Bulan Emas untuk sementara tidak berdaya.

Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Hui Kiam. Dengan cepat ia melesat keluar. Tanpa pikir lagi segera melarikan diri.

la berlari sepanjang jalanan pegunungan, entah berapa jauh. Setelah di belakang tidak terdengar suara baru berhenti. Ia berpaling, ternyata tidak ada yang mengejar.   Ia menarik napas lega, bibirnya menunjukkan senyum getir. Ini adalah untuk pertama kalinya ia lari dari hadapan musuhnya.

Ia tahu peninpin Persekutuan Bulan Emas tentu tidak akan berdiam begitu saja, apalagi mengandalkan senjata pedangnya yang sangat ampuh dengan sendirinya kedudukannya cukup kuat, kalau ia sendiri tidak segera mengambil pedang sakti dari Makam Pedang, sebetulnya tidak sanggup menghadapinya.

Pada saat itu ucapan Tong-hong Hui Bun kepada ayahnya berkumandang lagi dalam telinganya. Pikirannya tergoncang keras. Untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu-mangu. Kecantikan Tong-hong Hui Bun yang bagaikan bidadari terbayang lagi dalam matanya.

Tiba-tiba ia ingat bahwa ia dengan pemimpin Persekutuan Bulan Emas sudah merupakan musuh bebuyutan. Kalau tidak berhasil membunuhnya pasti akan mati terbunuh. Andaikata pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu, pada suatu hari nanti binasa di tangannya, bagaimana perasaan Tong-hong Hui Bun.

Berpikir sampai di situ, perasaan takutnya dan pilu timbul dalam hatinya. Semua itu tidak diperhitungkan olehnya, dan sekarang satu-satunya jalan ialah memutuskan hubungan dengannya....

Lama ia berpikir, akhirnya ia telah mengambil keputusan untuk mengakhiri perhubungannya dengan Tong-hong Hui Bun.

Karena ia sudah mengambil keputusan, pikirannya merasa lega.

Ia melanjutkan perjalanannya ke Makan Pedang!

Hari ini, ketika berjalan di bawah kaki gunung Keng-san, tiba-tiba teringat diri ayahnya yang dicelakakan oleh Orang Berbaju Lila bersama Penghuni Loteng Merah. Walaupun ia sendiri belum pernah melihat wajah ayahnya, tetapi hubungan darah daging biar bagaimana masih melekat. Apalagi kalau diingat pedang To-liong Kiam peninggalan ayahnya yang diberikan oleh Orang Menebus Dosa kini telah rusak oleh pedang Bulan Emas, maka ia ingin menengok bekas tempat ayahnya mendapat kecelakaan itu, sekalian untuk menanam pedang itu di tempat tersebut.

Berpikir sampai di sini, ia segera mendaki gunung Keng-san. Di waktu lohor ia sudah di tempat tersebut.

Mengingat dirinya sendiri yang sudah diperalat oleh Orang Berbaju Lila sehingga menjadi pembunuh ayahnya sendiri dan Penghuni Loteng Merah, ia merasa gemas sekali. Ia ingin segera mencari Orang Berbaju Lila untuk membalas dendam.

Tiba di tempat itu ia terkejut, sebab mulut goa yang tertutup oleh batu besar itu ternyata sudah disingkirkan oleh tangan orang.

Siapakah yang membuka tutup dan menyingkirkan batu itu? Jika ditilik orangnya, orang yang menyingkirkan batu itu pasti menggunakan waktu yang cukup lama. Tetapi apakah maksudnya?

Sejenak ia merasa sangsi. Dengan rupa-rupa pertanyaan dalam hatinya, ia berjalan muncul ke mulut goa ....

Ia sengaja menimbulkan suara. Apabila di dalam goa atau dekat tempat itu ada orang, karena mendengar suaranya pasti akan muncul.

Tiba di depan mulut goa, sesosok bayangan orang tiba-tiba melesat keluar. Hui Kiam terkejut. Ia sudah siap untuk menyerang orang itu. Ketika bayangan orang itu berada di hadapannya lalu berhenti, keduanya seketika itu merasa terkejut.

Ternyata orang yang keluar dari dalam goa itu bukan lain daripada murid kepala Penghuni Loteng Merah Siu-bie.

Hui Kiam yang lebih dulu menegurnya.

“Nona Siu, aku tidak sangka kau berada di sini.”

Siu-bie membereskan rambutnya yang terurai di kedua pipinya, lalu berkata:

“Aku juga tak menduga kau datang kemari.”

“Apakah batu-batu ini nona yang menyingkirkan dari tempatnya?”

“Ya, aku menggunakan waktu satu malam dan setengah hari dan baru berhasil memindahkan batu ini.”

“Apakah nona hendak….”

“Aku bermaksud hendak memindahkan tulang-tulang suhu dan dikumpulkan secara selayaknya!”

“Ow! Apa sudah selesai?” “Sudah, nah itulah!”

Hui Kiam mengikuti ke arah yang ditunjuk oleh Siu-bie. Benar saja, tidak jauh dari situ ada tanah kuburan yang masih baru. Ia segera bertanya pula: “Bagaimana dengan tulang-tulang To-liong Kiam-khek?” “Sungguh aneh, di dalam goa itu hanya ada tulang-tulang suhu,

tak terdapat tulang-tulang lainnya. ”

Sekujur badan Hui Kiam gemetar. Ia berkata:

“Apa? Di situ tak ada tulang-tulang To-liong Kiam khek?” “Ya, untuk itu aku melakukan pemeriksaan lama sekali!” “Ini mana mungkin?”

“Aku juga tak rnengerti.   Ketika suhu tiba di dalam gua batu itu, ia pernah mendengar sendiri suaranya To-1iong Kiam khek. Jikalau tidak pasti tidak akan masuk ke gua ini secara gegabah. ”

“Ini tak habis dimengerti….”

Setelah itu Hui Kiam lari masuk ke dalam goa.   Batu-batu di dalam goa itu masih belum dibersihkan tetapi sudah jelas keadaannya. Di bagian atas banyak yang retak, agaknya bisa roboh di setiap saat.

Goa itu dalamnya kira-kira tiga puluh tombak. Di satu bagian, menunjukkan tempat terjadinya peledakan yang sangat hebat.

Siu Bie ikut masuk ke dalam.   Ia berkata sambil menunjuk ke satu tempat:

“Tulang-tulang suhu kudapatkan di tempat ini. Keadaannya masih utuh. Nampaknya waktu terjadi peledakan di mulut goa, mulut goa itu tertutup sehingga suhu mati tidak bisa bernapas. ”

Pikiran Hui Kiam sangat kalut. Sudah tentu ia tidak dapat menceritakan kepada Siu-bie bahwa To-liong Kiam Khek itu adalah ayahnya sendiri. Setelah ia melihat keadaan itu sejenak, baru berkata:

“Hal ini kita tidak dapat memikirkan. Nona Siu, sebelumnya kau, apakah ada orang lain yang datang lebih dulu?”

“Tidak, tumpukan batu ini semua aku yang menyingkirkan.” “Bukankah ini sangat aneh?” “Rasanya ada satu kemungkinan.” “Kemungkinan apa?”

“Apakah siaohiap pernah perhatikan bahwa dalam gua ini ada terdapat banyak cabang jalanan?”

“Ah…”

“Lihatlah, di sini ada satu jalan dalam goa ini tidak besar, telah tertutup oleh runtuhan batu yang tidak dapat digeser oleh tenaga manusia mungkin To-liong Kiam-khek terkubur dalam lobang goa ini. ”

Sekujur badan Hui Kiam dirasakan kaku. Sedapat mungkin ia menindas perasaannya dan menahan jangan sampai menitikkan air mata!

“Ya, kemungkinan itu memang ada.”

Hui Kiam merasa sedih, karena di masa hidupnya ia belum pernah melihat ayahnya, dan sesudah binasa tidak menemukan tulangnya.

Siu-bie agaknya dapat menduga ada apa-apa dalam hati pemuda itu, maka lalu berkata:

“Mengapa siaohiap agaknya sangat memperhatikan To-liong Kiam Khek?”

“Tidak apa-apa, hanva tertarik oleh perasaan aneh saja,” jawab Hui Kiam membohong.

“Jadi dari jauh siaohiap datang kemari, apakah hanya lantaran tertarik merasa heran saja?”

Pertanyaannya itu hampir Hui Kiam tidak bisa menjawab, tetapi karena sudah tak ada lain jalan, ia terpaksa membohong terus. Sambil menepuk pedang di pinggangnya ia berkata:

“Kedatanganku ini, sudah tentu bukan tidak ada sebabnya….” “Bolehkah siaohiap memberitahukannya kepadaku?” “Belum lama berselang, sahabatku telah memberi hadiah pedang ini. Pedang ini bernama To-liong Kiam, katanya adalah peninggalan To-liong Kiam Khek yaug dahulu biasa digunakannya….”

“Ow! To liong Kiam.”

“Beberapa hari berselang, waktu aku bertempur dengan menggunakan pedang ini, pedang ini telah rusak di tangan musuh. Maka kedatanganku kemari ini hendak mengubur pedang ini bersama pemiliknya.”

Dengan perasaan heran Siu-bie mengawasi pedang Hui Kiam, lalu berkata:

“Pedang ini kau dapat dari tangan siapa?” “Dari Orang Menebus Dosa!”

“Orang Menebus Dosa? Nama julukan ini aku belum pernah mendengarnya. Bagaimana macamnya orang itu?”

“Menyesal sekali, aku sendiri juga belum pernah bertemu muka dengannya. Ia adalah seorang yang sangat misterius. Pedang ini dihadiahkan kepadaku melalui tangan orang lain.”

“Dengan cara bagaimana senjata To-liong Kiam Khek bisa berada di tangan Orang Menebus Dosa itu?”

Tentang ini bagi Hui Kiam sendiri juga masih merupakan suatu pertanyaan maka ia tak dapat menjawabnya:

“Di masa hidupnya mereka adalah sahabat akrab, tetapi sampai di mana hubungan mereka, aku sendiri juga tidak tahu!”

Siu-bie menggeleng-gelengkan kepala, tidak berkata apa-apa.

Hui Kiam tiba-tiba ingat suatu soal yang sangat penting, lalu berkata:

“Nona Siu, tempo hari tergesa-gesa ada suatu hal aku lupa menyatakan kepadamu.”

“Siaohiap katakan saja!” “Suhumu Penghuni Loteng Merah dengan Hiat-ie Nio-cu mempunyai hubunban apa?”

“Guru dengan murid!”

“Ow! Pantas saja hendak mencari Orang Berbaju Lila untuk membuat perhitungan. Kabarnya Sucomu masih mempunyai seorang anak wanita?”

“Ya, ia bernama Pek-leug-lie Khong Yang Hong!” “Di mana anak perempuannya itu berada?” “Sudah menghilang!”

“Apa tidak pernah dengar kabar?”

“Suco sudah mengasingkan diri sudah duapuluh tahun lamanya, sedangkan anak perernpuannya menghilang pada lima belas tahun berselang, sehingga kini tidak ada kabar beritanya.”

“Kenapa?”

“Kabarnya pada lima belas tahun berselang Kang Yang Hong dengan Siao-lim-sie timbul perselisihan.”

“Apakah munculnya kembali Sucomu ke dunia Kang-ouw hanya hendak mencari anak perempuannya?”

“Ya!”

“Ia bagaimana hendak bertindak selanjutnya?”

“Kabarnya Suco sudah berangkat menuju ke Siao-lim-sie!” “Ow!”

Hui Kiam terperanjat mendengar kabar itu. Dengan adatnya seperti Hiat-ie Nio-cu itu, kedatangannya ke Siao-liem-sie pasti akan menimbulkan pertumpahan darah hebat. Sedangkan Pek-li Khong Yang Hong itu merupakan pemilik tusuk konde berkepala burung Hong mungkin juga adalah pembuuuh ibunya. Dengan demikian, sudah tentu ia tidak membiarkan Hiat-ie Nio-cu berbuat sesukanya. Meski hati Hui Kiam pada saat itu amat gelisah, tetapi di luarnya tenang-tenang saja. Sebentar kemudian, ia sudah mengambil keputusan hendak mendahului Hiat-ie Nio-cu ke gereja Siao-lim-sie untuk mencari di mana adanya Pek-leng-lie.

Ia lalu bertanya kepada Siu-bie:

“Sudah berapa lama Sucomu pergi ke Siao-liem-sie?” “Belum lama, kira-kira satu jam berselang!”

Hui Kiam menarik napas lega. Ia yakin dapat mengejar. Matanya mengawasi lubang cabang gua yang tertutup oleh batu itu. Memang benar agaknya susah dibuka oleh tenaga manusia, maka niatnya hendak mencari tulang-tulang ayahnya sudah tidak mungkin lagi. Ia lalu berkata:

“Nona Siu, harap kau suka menyingkir. Aku hendak mengubur pedang ini dan menutup goa!”

Siu-bie menganggukkan kepala dan berjalan keluar ....

Setelah Siu-bie berlalu Hui Kiam baru meloloskan pedangnya. Dengan sikap yang menghormat sekali ia meletakkan pedang itu ke tanah kemudian berlutut. Sambil menangis bercucuran air mata ia berkata sendiri:

“Ayah, anakmu bila dapat menuntut balas bagi ayah! Anakmu juga tidak mampu melindungi pedangmu serta tidak mengubur jenazahmu secara baik-baik. Dosa ini besar sekali, semoga ayah hendak mengampuni!”

Sehabis berdoa ia berbangkit dan berjalan keluar. Tiba di luar gua ia lalu mengangkat tangannya menyerang ke mulut gua sehingga mulut gua itu tertutup rapat lagi.

Selesai melakukan itu baru meninggalkan tempat itu….

Selagi hendak berjalan, Siu-bie menghampiri dan berkata kepadanya:

“Apakah siaohiap hendak pergi sekarang juga?” “Ya, nona Siu sampai berjumpa lagi.” “Siaohiap….”

“Nona Siu masih ada pesan apa lagi?”

Kedua pipi Siu-bie nampak merah. Ia berkata dengan suara tidak lancar:

“Siaohiap agaknya masih belum melupakan kejadian waktu pertama kali aku berlaku kasar terhadap siaohiap di hadapan Loteng Merah!”

“Aku sama sekali tiada bermaksud demikian.”

Dimatanya Siu-bie terlintas sinar aneh. Dengan sikap kemalu- maluan ia tersenyum dan berkata:

“Kalau begitu mengapa tergesa-gesa hendak pergi?”

Hati Hui Kiam tergerak, tetapi ia pura-pura tidak mengerti. “Harap nona sudi memaafkan, karena aku masih ada urusan

yang sangat penting, lain waktu saja kita bicara lebih banyak!”

Setelah itu, ia menunduk memberi hormat dan lari turun gunung.

Siu-bie mengawasi berlalunya pemuda itu sambil menghela napas panjang.

Hui Kiam bukan tidak tahu isi hati gadis itu, tetapi bagaimana ia berani bermain api? Cui Wan Tin mempunyai kedudukan penting dalam hati ini, sedangkan Tong-hong Hui Bun membuat hatinya patah....

Setelah meninggalkan gunung Keng-san, ia lari menuju ke lembah Cok-beng-gan. Ia harus berusaha untuk membujuk dan menyadarkan Cui Wan Tin supaya dapat mengambil pedang sakti, jikalau tidak ia pasti akan binasa di tangan pemimpin Bulan Emas.

Dengan berjalan siang malam tanpa istirahat, akhirnya ia tiba di Makam Pedang.

Keadaan di situ tidak terdapat perobahan hanya tiada orang Persekutuan Bulan Emas yang merintangi. Hui Kiam memandang ke arah barisan batu ajaib. Jantungnya berdentang keras. Perkataan Cui Wan Tin yang penuh kasih sayang, agaknya masih berkumandang dalam telinganya.

Dengan putusnya hubungan dengan Tong-hong Hui Bun, sekarang Cui Wan Tin merupakan kekasih satu-satunya. Ia akan mencintai dirinya dengan setulus hati.

Setelah melalui danau dingin, ia tiba di hadapan barisan batu ajaib.

Kedatangannya segera disambut oleh Cui Wan Tin secara tidak terduga-duga.

Hui Kiam merasa sangat gembira, tetapi juga gugup. “Adik Tin, kau baik-baik saja?”

Cui Wan Tin mengangkat kepalanya, parasnya nampak pucat. “Engko Kiam, akhirnya kau kembali.”

Hui Kiam memeluk dirinya dan mengelus-elus pipinya, seraya berkata:

“Adik Tin, kau nampak kurus.”

Muka Cui Wan Tin mengembang air mata tapi ia masih bisa tersenyum. Jawabnya dengan suara parau:

“Engko Kiam, kau pergi juga membawa hatiku. Tahukah kau betapa sukarnya aku melewati hariku sepanjang masa itu?”

Cinta kasihnya dan perhatiannya terhadap pemuda itu, telah ditumpahkan semua dalam ucapannya yang sangat singkat itu.

Hati Hui Kiam merasa tidak enak, sebab kedatangan ini hanya untuk mengambil pedang sakti. Datangnya secara tergesa-gesa, perginya begitu juga. Baru saja berjumpa ia terpaksa harus berpisah lagi. Ini agaknya akan membawa kedukaan lebih hebat baginya.

“Adik Tin, mari kita masuk untuk bicara.” Cui Wan Tin melepaskan diri dari pelukan Hui Kiam. Mereka berjalan bergandengan. Setelah berada di dalam kamar batu, mereka duduk berendapan.

“Engko Kiam, kau tentunya sudah lapar, biarlah aku masak nasi dulu untukmu. ”

“Tidak usah! Di jalanan aku tadi sudah makan, sekarang masih belum lapar. Ada suatu hal ingin kurundingkan denganmu!”

“Hal apa?”

Hui Kiam merasa susah membuka mulutnya tetapi tidak boleh tidak ia harus menyatakan. Maka akhirnya ia berkata:

“Tentang pedang sakti itu!”

Paras Cui Wan Tin berubah. Pikirannya sangat kalut. Parasnya yang sudah pucat bertambah pucat.

“Adik Tin, kau kenapa?” bertanya Hui Kiam. Cui Wan Tin menangis tersedu-sedu, lama baru berkata:

“Engko Kiam, apakah kedatanganmu ini semata-mata hanya karena pedang sakti ini?”

“Adik Tin, aku tidak menyangkal, tetapi cintaku terhadap dirimu masih seperti sediakala!”

“Engko Kiam, aku tidak perlu ribut denganmu tentang soal ini. Sekalipun hatimu berubah akupun tetap mencintai dirimu. Sekalipun dunia akan kiamat cintaku ini takkan berubah.”

“Adik Tin, begitu pula aku.”

“Baiklah, engko Kiam kedatanganmu ini karena semata-mata pedang sakti itu pasti ada syaratnya?”

“Ya, dengan terus terang aku membutuhkan.”

“Engko Kiam, aku tidak dapat melanggar perintah ayah. Kalau kau menghendaki jiwaku, aku akan menyerah kepadamu tanpa ragu-ragu, tetapi pedang ini….” “Adik Tin, hitung-hitunglah pinjam untuk sementara, setelah kupakai nanti kukembalikan!”

“Aku tidak bisa terima. Seandainya pemiliknya datang aku tak dapat menyerahkan bagaimana?”

Hui Kiam menghela napas panjang. Ia tidak berdaya menghadapi kekasihnya yang kukuh dengan pendiriannya itu.

“Sebetulnya siapakah yang berhak memiliki pedang sakti itu?” “Aku juga tidak tahu!”

“Setidak-tidaknya kala itu ayahmu pasti meninggalkan pesan!” “Itu memang ada!”

“Nah, bolehkah kau beritahukan kepadaku?”

“Engko Kiam, aku seharusnya memberitahukan kepadamu, tetapi pesan ayah tidak boleh dilanggar. Harap kau suka memaafkan.”

Hui Kiam menggaruk telinga, ia berkata:

“Adik Tin, jika aku kata bahwa aku adalah orang yang berhak memiliki pedang sakti itu….”

“Kau?!”

“Ya!”

Cui Wan Tin nampak sangat heran. Ia berkata:

“Engko Kiam, aku terhadap kau selalu berlaku jujur dan tulus hati, tetapi kau jangan mempermainkan aku!”

“Tidak, apa yang kukatakan adalah sebenar-benarnya!” “Aku tidak percaya!”

“Kalau nanti aku menceritakan keadaan yang sebenarnya, kau pasti akan percaya.”

“Kau tidak kata apa-apa lagi, di waktu ayah hendak berlalu, hanya meninggalkan pesan, barang siapa yang dapat memberikan barang bukti tanda kepercayaan, pedang itu boleh kuserahkan padanya!” “Bukti baraog tanda kepercayaan?” “Ya!”

“Barang tanda kepercayaan apa?”

“Aku tidak dapat memberitahukan kepadamu!” “Bagaimana dengan ayahmu?”

Cui Wan Tin nampak bersedih, air mata mengalir turun.

Katanya:

“Mungkin sudabh tak ada di dalam dunia!” “Mungkin? Apakah artinya?”

“Di waktu berlalu ayah pernah berkata jikalau dalam satu tahun ia tak balik lagi pasti sudah mengalami pasti buruk, dan sekarang beberapa tahun sudah berlalu.”

“Siapakah nama ayahmu?”

Cu Wan Tin lama memandang Hui Kiam, baru menjawab dengan suara gemetar:

“Kim-tee Cui Pin. Ia menjadi kepala dalam barisan Lima Kaisar Rimba Persilatan pada masa itu.”

Hui Kiam melompat bangun bagaikan disambar geledek. Katanya dengan suara gemetar:

“Kim-tce Cui Pin?”

Cui Wan Tin juga bangkit dan mundur beberapa tindak. Agaknya dikejutkan oleh perubahan sikap Hui Kiam itu.

“Benar!” demikian jawabnya.

Wajah Hui Kiam nampak berkernyit karena pikirannya tergoncang keras. Lama ia baru berkata:

“Seharusnya aku sudah dapat memikirkan itu, tetapi sudah lupa!”

Paras Cui Wan Tin berubah. Ia berkata dengan suara gemetar: “Kau seharusnya ingat apa?” “Tentang dirimu!”

“Kau. ”

“Adik Tin, tahukah kau siapa aku ini?” “Bukankah kau Hui Kiam si Penggali Makam?” “Aku maksudkan asal-usul diriku.”

“Siapa?”

“Aku adalah muridnya To-tee Sun Thian Hiat.”

Sekujur badan Cui Wan Tin gemetar. Sekonyong-konyong ia menubruk Hui Kiam dan memegang dua lengannya. Katanya sambil menggoyangkan dua lengan pemuda itu:

:Engkoh Kiam, kenapa dahulu kau tidak menjelaskannya?” Hui Kiam berusaha menenangkan pikirannya, lalu berkata:

“Sama-sama! Kita tiada kesempatan untuk memberi keterangan!”

Cui Wan Tin berkata sambil memejamkan matanya: “Ya Tuhan, apakah ini benar?”

Hui Kiam mengeluarkan dua potong uang logam kuno. Ia lalu berkata:

“Adik Tin, kau seharusnya tahu asal-usul uang logam ini?”

Cui Wan Tin ketika menyaksikan benda itu, sekonyong-konyong mundur beberapa langkah dan menyenderkan badannya di dinding. Mulutnya menggumam sendiri:

“Uang logam kuno... benda kepercayaan... pemilik pedang sakti. ”

Mata Hui Kiam terbuka lebar. Katanya dengan suara girang: “Apakah benda ini yang kau tunggu sebagai tanda kepercayaan?” “Engko Kiam, aku... hampir gila. Bagaimana dalam dunia ada kejadian begini aneh?”

Hati Hui Kiam berdebaran. Apa yang dimaksudkan oleh Cui Wan Tin sebagai pemilik pedang sakti, ternyata adalah dirinya sendiri. Ini sesungguhnya di luar dugaannya. Untung, selama itu, tak terjadi kejadian hebat karena salah paham.

Seandainya Cui Wan Tin kukuh tidak mau menjelaskan keadaannya yang sebenarnya sedang ia sendiri tak berpikir panjang atau ingat tentang uang logam kuno itu lalu memintanya secara paksa, bagaimana akhirnya?

Waktu pertama kali ia masuk ke dalam Makam Pedang, hampir saja binasa di ujung pedang sakti itu. Kalau mengingat itu semua diam-diam ia juga bergidik.

Ia menenangkan kembali perasaannya dan berkata: “Menuiut aturan aku seharusnya memanggilmu suci.”

“Tidak, tidak! Usiamu lebih tua daripada usiaku, sebaiknya kita tetap dengan panggilan semula.”

“Adik Tin, duduklah. Tenanglah sedikit.” “Aku, aku bagaimana bisa tenang...?” “Duduklah, kita bicara dengan tenang.”

Keduanya duduk lagi. Mereka saling berpandangan dan tersenyum.

“Engko Kiam, beritahukanlah semua pengalamanmu.”

Hui Kiam lalu menceritakan semua pengalamannya sejak ia berguru dengan suhunya. Dan ketika ia menuturkan sampai ke bagian di bawah kaki gunung Tay-hong-san menemukan jenazah Cui Pin ....

Cui Wan Tin lalu menjerit, dan menangis dengan sedihnya. Demikian lama ia menangis. Hui Kiam tahu tidak dapat dicegahnya, maka ia membiarkannya menangis sepuas-puasnya. Setelah puas menangis, Cui Wan Tin baru berkata dengan suara duka:

“Kalau aku tidak dapat membunuh Orang Berbaju Lila, aku bersumpah tidak mau jadi orang lagi!”

“Adik Tin, perkara menuntut balas dendam adalah kewajibanku.”

Cui Wan Tin juga tidak membantah. Ia berdiam sejenak, ia lalu berkata pula:

“Kalau begitu, Lima Kaisar Rimba Persilatan sudah meninggal seluruhnya.”

“Ya.”

“Tadi kau berkata bahwa si-susiok masih ada seorang anak perempuan.”

“Ya, ia bernama Pui Ceng Un. Karena tekadnya hendak menuntut balas, telah mengalami nasib sangat menyedihkan….”

“Coba kau jelaskan duduk perkaranya?”

“Ia telah berguru kepada si Raja Pembunuh, seorang yang sudah terkenal dalam golongan orang jahat. Karena harus menurut perintah iblis, ia telah dirusak mukanya. ”

“Ah!”

“Belum lama berselang, si Raja Pembunuh itu terbunuh oleh Iblis Singa, sehingga sekarang aku sendiri tak tahu di mana jejak Pui suci itu.”

“Kita harus berusaha mencarinya.” “Itu sudah tentu.”

“Kau tadi masih menceritakan tentang jarum melekat tulang.”

Ya, suhu dengan sisupek mati karena jarum melekat tulang. Tetapi Orang Berbaju Lila tetap mengatakan bahwa dalam pertempuran dengan suhu serta sisupek dahulu mengandalkan kepandaian masing-masing. Ia tidak tahu tentang jarum melekat tulang. Aku telah berusaha dan akhirnya menemukan Jien Ong, pemilik jarum melekat tulang itu. Tetapi sudah beberapa puluh tahun Jien Ong tidak menginjak kaki ke dunia Kang-ouw lagi. Ia bahkan sudah cukur rambut menjadi padri.   Maka soal ini hingga kini masih tetap menjadi persoalan. Tetapi aku sudah bersumpah biar bagaimana aku harus menyelidiki persoalan ini.”

“Apakah kau menganggap perkataan Orang Berbaju Lila itu boleh dipercaya?”

“Ia agaknya tak perlu harus menyangkal!” “Bagaimana dengan kepandaiannya?”

“Hem, hem… dalam rimba persilatan dewasa ini, boleh terhitung salah satu orang terkuat!”

“Apakah kau pernah bertempur dengannya?”

“Ya, tetapi belakangan ini ia nampaknya sengaja menyingkir dariku!”

Selanjutnya lalu Hui Kiam menceritakan bagaimana keadaan rimba persilatan dewasa ini yang sudah bersatu bati dan bertekad hendak menentang usaha Persekutuan Bulan Emas yang hendak menguasai rimba persilatan.   Orang-orang yang bertekad maksud itu termasuk juga Orang Berbaju Lila.

Cui Wan Tin menggelengkan kepala dan berkata sambil menarik napas:

“Pertikaian dan pembunuhan dalam rimba persilatan selalu tidak ada habis-habisnya.”

Hui Kiam lalu mengalihkan pembicaraannya ke lain soal. Ia berkata:

“Adik Tin, kau juga ceritakan bagaimana pengalamanmu sendiri?”

“Dahulu ayah telah membawa gambar peta yang terdapat dalam kitab Thian Gie Po kip untuk mencari di mana adanya pedang sakti ini. Setelah mengalami berbagai kesulitan, akhirnya menemukan tempat ini. Karena ayah melihat tempat ini letaknya sangat tersembunyi, sangat cocok digunakan untuk melatih pertandingan, maka bawa ibu dan aku berdiam di sini, kemudian ayah balik seorang diri untuk menghubungi para susiok sekalian.”

Berkata sampai di sini, ia berdiam sejenak lalu berkata:

“Tidak lama kemudian ayah pulang seorang diri. Katanya empat susiok tidak ingin meninggalkan usaha-usahanya ladang mereka untuk tinggal di sini bersama-sama. Pedang sakti yang sudah diketemukan itu, untuk sementara dibawah perlindungan ayah. Sebab ayah dan empat susiok tidak pernah menerima murid, apalagi kitab pelajaran ilmu silat mengandung arti yang sangat dalam tidak dapat dipelajari dengan secara mudah, kemudian mereka pikir hendak mencari keturunan seorang murid yang berbakat luar biasa, lalu dididik bersama untuk menyambung keturunan kepandaian Lima Kaisar.”

“Jadi para supek sekalian sebelum terjadi peristiwa itu sudah ada maksud mencari murid.”

“Pada waktu itu sisusiok telah menunjukkan uang logam kuno yang selalu disimpan dan tidak pernah terpisah dari badannya, menyatakan di kemudian hari apabila menemukan murid yang berbakat, akan diberikan uang logam itu sebagai tanda kepercayaan untuk memiliki pedang sakti ini. Hal ini telah diperhatikan sebaik- baiknya oleh ayah.”

“Selanjutnya?”

“Setengah tahun kemudian, ayah pergi menengok para susiok yang mempelajari Thian Gie Po-kip itu. Di waktu pergi, ayah meninggalkan beberapa perkataan untuk aku menjaga diri. Tak disangka kepergian ayah itu ternyata tidak kembali lagi untuk selama-lamanya. ”

“Urusan di dalam dunia sesungguhnya memang susah diduga.” “Aku dengan ibu menjaga di tempat ini. Lima tahun kemudian,

ibu telah jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Tinggallah aku seorang diri yang harus menuntut penghidupan yang sangat sengsara ini….”

Hui Kiam juga merasa pilu. Ia berkata: “Adik Tin, untung kau adalah seorang perempuan tabah, kau telah sanggup memikul penderitaan itu.”

Air mata Cui Wan Tin berlinang-linang, tetapi ia masih bisa tersenyum. Dengan sikap agak kemalu-maluan ia berkata:

“Untung aku berjumpa dengan engko Kiam. Ini telah berarti memberikan semangat hidup bagiku dengan sesungguhnya. Jikalau bukan karena pesan ayah yang harus menjaga pedang sakti ini, mungkin jiwaku tidak akan hidup sampai sekarang.”

“Adik Tin, selama aku masih bernyawa, aku tidak akan meninggalkan kau.”

“Engko Kiam.”

Begitu girang perasaan Cui Wan Tin. Ia menjatuhkan diri dalam pelukan Hui Kiam. Hui Kiam juga memeluk dirinya erat-erat.

Untuk sementara mereka telah melupakan segala kesengsaraan dan pengalaman getir selama hidupnya. Mereka sedang terbenam dalam lautan asmara.

Seperti apa yang dikatakan Cui Wan Tin, keturunan Lima Kaisar dan muridnya, total jendral hanya ia tinggal sendiri, Pui Ceng Un dan Hui Kiam tiga orang saja, tidak lebih tidak kurang, sedangkan ia sendiri dengan Hui Kiam hubungannya merupakan saudara seperguruan dan juga merupakan kekasih.

Kedua pemuda-pemudi itu tenggelam dalam lautan asmara. Dalam keadaan demikian masing-masing hampir tak dapat kendalikan perasaannya sehingga hampir saja melakukan perbuatan yarg terlarang....

Untung Hui Kiam segera tersadar. Ia menindas perasaannya, setelah itu mendorong Cui Wan Tin dan berkata kepadanya:

“Adik Tin, dendam musuh kita belum terbalas, lima arwah suhu dan sisupek yang di akhirat tentu belum merasa senang. Sebelum selesai tugas kita, kita tidak boleh berlaku sembarangan.”

Cui Wan Tin juga sadar kembali. Sambil menunduk ia berkata dengan suara perlahan: “Engko Kiam, kau sungguh hebat juga bukan seperti lelaki sembarangan.   Pilihan susiok atas dirimu sedikitpun tidak salah… aku merasa sangat malu!”

“Tidak! Adik Tin, kau tidak perlu sesalkan dirimu sendiri. Siapapun juga tidak ada yang salah. Bukankah kita semua masih baik-baik saja?”

Cui Wan Tin tersenyum. Ia melirik kepada Hui Kiam, kemudian menunduk lagi. Sikap kemalu-maluan dari seorang gadis, telah ditunjukkan dengan tegas, sehingga hati Hui Kiam berdebar.

“Adik Tin, di lain ruangan di dalam kamar ini, bukankah itu makam ibumu?”

“Ya, aku masih ingat aku pernah beritahukan kepadamu.” “Bolehkah aku berziarah ke situ?”

“Apakah kau anggap perlu?”

“Adik Tin, peraturan tidak boleh kita tinggalkan begitu saja.”

Ia lalu bangkit, bersama-sama dengan Cui Wan Tin memasuki ke lain kamar di mana terdapat makam ibu Cui Wan Tin.

Hui Kiam segera bertindak maju dan berlutut di hadapan makam sedang Cui Wan Tin berdiri di samping membalas hormat.

Selesai melakukan upacara penghormatan, Hui Kiam berkata kepada Cui Wan Tin:

“Adik Tin, aku terpaksa harus minta diri darimu lagi!”

Paras Cui Wan Tin berubah. Dia berkata dengan suara sedih: “Engkoh Kiam, apa kau hendak pergi lagi?”

Dengan suara lembut Hui Kiam menjawab:

“Adik Tin, aku tidak boleh tidak pergi lagi. Untuk mencari jejak musuhku yang membunuh ibu, aku harus pergi ke gereja Siao-lim- sie mencari Hiat-ie Nio-cu, sebelum hantu wanita itu tiba ke sana.”

“Engko Kiam, ini adalah soal penting, aku tidak boleh merintangi kau!” “Jikalau tidak terpaksa, aku pun tidak akan meninggalkanmu!” “Tunggu dulu sebentar, aku ambilkan pedang untukmu!”

Cui Wan Tin masuk ke lain kamar. Sebentar ia keluar lagi sambil membawa pedang sakti Thian Gee Sin-kiam. Ia berlutut di hadapan kuburan ibunya. Pedangnya diangkat tinggi di atas kepalanya, mulutnya kemak-kemik mendoa:

“Ayah ibu, anak sudah menyelesaikan tugas yang ayah ibu berikan!''

Hui Kiam sangat terharu menyaksikan keadaan itu. Ia berlutut menyambut pedang itu, sementara mulutnya berkata:

“Suhu, supek sekalian dan supek Bo, teecu bersumpah hendak menggunakan pedang ini untuk menuntut balas dendam perguruan dan menegakkan keadilan serta kebenaran.”

Setelah upacara selesai, dengan tangan sendiri Cui Wan Tin menyarungkan pedang itu di pinggang Hui Kiam. Dengan sikap mesra ia berkata:

“Engko Kiam, aku hendak berdiam di sini mengawasi arwah ibu.

Harap kau lekas pulang!”

“Adik Tin, setelah selesai tugasku, aku segera pulang!” “Baiklah, aku akan menunggumu!”

“Harap kau baik-bak merawat diri. Aku sekarang hendak berangkat!”

“Apakah kau tidak makan sedikit saja?”

“Tidak usah. Waktu sudah mendekat, aku khawatir akan terlantar usahaku!”

Cui Wan Tin dengan sikap berat mengantar Hui Kiam sampai di luar makam. Setelah Hui Kiam berlalu jauh dan tidak terlihat olehnya, ia baru masuk kembali lagi.

Hui Kiam juga merasa sangat berduka. Ia dapat membayangkan bagaimana perasaan Cui Wan Tin seorang gadis yang hidup menyendiri di dalam ruangan di bawah tanah yang tidak kelihatan sinar matahari. Ini benar-benar merupakan suatu penderitaan yang tidak mudah dijalani oleh setiap orang. Kalau pada waktu sebelumnya, boleh dikata ia harus mentaati pesan ayahnya untuk melindungi pedang sakti itu dan menantikan pemiliknya yang berhak mendapatkan pedang tersebut, tetapi ia sekarang tugasnya itu telah selesai, yang dinantikan hanya kedatangannya sendiri.

Tiba-tiba suatu pikiran timbul dalam otaknya, membuat ia seketika itu merasa khawatir. Apakah tidak mungkin perbuatan Iblis Singa dulu tidak akan terulang lagi?

Pada waktu sebelumnya, Cui Wan Tin masih bisa mengandalkan barisan gaib yarg melindungi Makam Pedang dan pedang saktinya, itu sudah cukup untuk melindungi keselamatan jiwanya. Tetapi sekarang pedang sakti itu sudah dibawa olehnya, ini berarti ia sudah kehilangan senjata untuk melindungi dirinya. Dengan kepandaian yang dipunyai olehnya, ditambah dengan barisan gaib itu, biar orang-orang biasa dalam rimba persilatan tidak perlu dikhawatirkan tetapi apabila ketemu dengan seorang kuat seperti Iblis Singa, inilah yang berbahaya.

Tetapi ia sendiri tidak boleh meninggalkan pedang sakti itu, juga tidak boleh tidak pergi, sedangkan diajak jalan bersarna-sama juga kurang leluasa….

Setelah berpikir bolak balik, akhirnya ia dapat suatu pikiran. Sedapat mungkin ia hendak menyiarkan berita tentang didapatkannya pedang sakti itu. Asal berita itu sudah tersiar luas di dunia Kang-ouw, dengan sendirinya sudah tentu mengurangi perhatian orang-orang dunia Kang-ouw terhadap pedang sakti itu, dan perhatian itu bahkan ada kemungkinan dialihkan pada dirinya sendiri dengan demikian sehingga ia tidak usah khawatir Cui Wan Tin akan mendapat gangguan lagi.

Karena sudah mendapat pikiran demikian, hatinya merasa lega. Oleh karena hubungan antara ia dengan Cui Wan Tin sudah jelas,

begitu juga cintanya juga sudah kokoh hingga hubungannya terhadap Tong-hong Hui Bun sudah mulai jauh, dan keputusannya hendak mengakhiri hubungannya juga semakin mantap.

---ooo0dw0ooo---