Pedang Pembunuh Naga Jilid 23

Jilid 23

T I E - M O saat itu juga sudah mengetahui keadaan Hui Kiam yang ternyata sanggup menahan serangannya, maka ia lalu berkata:

“Bocah, kau ternyata sanggup melawan seranganku Tui-hong Im-hong.”

“Iblis perempuan, malam ini kejahatanmu akan berakhir,” jawab Hui Kiam dingin.

“Bocah, apa kau kira berhak berkata demikian?”

“Berhak atau tidak, kenyataannya nanti yaug akan menjawab.” Iblis wanita itu mundur selangkah. Kedua tangannya perlahan-

lahan diangkat naik sampai ke batas dada. Sebentar kemudian kedua telapakan tangannya tiba-tiba membesar dua kali lipat. Telapakan tangan itu berubah hitam, sedangkan parasnya menunjukkan sikap amarahnya yang sudah memuncak.

Hui Kiam yang menyaksikan keadaan itu, diam-diam bergidik. Ia dapat menduga bahwa musuhnya itu akan mengeluarkan kepandaiannya yang paling ampuh dan sangat berbisa. Kuku terbang Hiat Ie Nio cu yang belum lama berselang yang dihadapinya, masih menggetarkan pikirannya, maka seketika itu ia segera memusatkan ilmunya Thian Gee Sin-ciang, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pertempuran kali ini pasti akan merupakan pertempuran antara mati dan hidup.

Sepuluh lebih orang-orang Persekutuan Bulan Bintang berbaris di kedua samping dengan perasaan tegang.

Sementara itu Ao Yu Ciu juga sudah dibawa menyingkir dua orang perempuan muda.

Tie-mo maju satu langkah.   Kedua tangannya mendorong lurus ke depan. Hembusan angin yang keluar dari tangannya mengandung hawa hitam.

Hui Kiam yang selalu waspada terhadap serangan yang menggunakan racun, buru-buru menutup pernapasannya. Kakinya segera bergerak melompat ke samping dua tombak lebih, kemudian berdiri di tengah-tengah pekarangan.

Tie-mo memperdengarkan suara tertawanya yang aneh, kemudian melesat tinggi dan menukik ke bawah untuk menerkam.....

Hui Kiam tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk melancarkan serangan. Selagi lawannya bergerak ke atas ia sudah menyerang dengan menggunakan ilmu serangannya Thian Gee Sin Ciang.

Serangan yang meluncur keluar itu, telah membuat terpental diri Tie-mo sehingga melayang turun ke tempat semula.

Hui Kiam mundur lagi. Ia sekarang berada di tempat yang agak luas. Dengan cepat ia menghunus pedang To-liong Kiamnya untuk menghadapi tangan beracun lawannya.

Baru saja pedang terhunus keluar dari sarungnya, kabut hitam yang disertai oleh hembusan angin hebat menggulung ke rah dirinya.

Racun yang tidak dapat ditundukkan oleh hanya kekuatan tenaga saja, maka ia terpaksa harus menyingkir lagi. Baru saja ia lompat menyingkir tiba-tiba terdengar beberapa kali suara jeritan ngeri. Ternyata sepuluh lebih anak buah Tie-mo yang berdiri di belakang Hui Kiam. Tatkala Hui Kiam lompat di samping, mereka sudah tidak keburu menyingkir, sehingga tujuh di antara mereka segera jatuh roboh dan binasa seketika itu juga.

Apabila Hui Kiam tidak mengandalkan gerakan kakinya yang luar biasa itu, barangkali juga tidak lepas dari serangan tangan beracunnya itu.

Sisanya orang-orang yang masih hidup, sudah merasa ketakutan.

Mereka mundur ke dekat pintu.

Tie-mo yang tidak berhasil melukai musuhnya sebaliknya sudah membinasakan tujuh anak buahnya sendiri, seketika itu menjadi kalap. Setelah memperdengarkan suara bentakan keras, ia maju menerjang lagi….

Hui Kiam menghitung tepat gerakan lawannya. Ia bergerak menyingkir, memutar mengitari pohon bunga, kemudian menyerang dari samping.

Tie-mo yang bergerak dengan cepat, tetapi tidak keburu menghentikan kakinya, sementara itu hawa pedang Hui Kiam sudah mengancam dirinya dalam keadaan yang kritis itu dirinya jatuh ke belakang hampir rata dengan tanah, kemudian melesat bagaikan meluncurnya anak panah….

Hui Kiam sudah tentu tidak mau melepaskan begitu saja setiap kesempatan yang didapatkan. Selagi sang lawan dalam keadaan kerepotan seperti itu, ia sudah melancarkan serangan pedangnya dengan gerak tipu Bintang Beterbangan di Langit.

Titik-titik bintang yang menyilaukan mata memenuhi ruangan yang hanya satu tombak persegi itu, sementara hawa pedangnya yang membelah udara menimbulkan perasaan jeri setiap orang yang berada di situ.

Tie-mo yang sama sekali tak mendapat kesempatan melancarkan serangannya, hanya mengandalkan kepandaiannya yang sudah tinggi sekali ketika mengetahui dirinya terancam, ia cuma bisa merobah gerakan badannya….

Akan tetapi sang waktu tidak memberikan kesempatan lagi baginya.

Selagi badannya melayang turun, satu tangan kanannya sudah terlepas sepotong oleh pedang Hui Kiam sehingga darahnya menyembur keluar.

Karena putusnya tangan itu ia sudah tidak mampu lagi mengerahkan hawa racunnya, hingga tangan itu pulih kembali dengan warna yang  biasa.

Hui Kiam bergerak maju. Ujung pedang mengancam dada lawannya. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Iblis, kau harus menerima nasibmu!”

Paras iblis Tie-mo merah padam, tetapi ia sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, sehingga hanya menunggu kematian saja.

Beberapa anggota Persekutuan Bulan Emas yang menjaga pintu, juga tak berdaya. Mereka tidak berani bertindak, juga tak berani mengundurkan diri. Semuanya berdiri terpaku di tempat masing- masing.

Selagi Hui Kiam hendak membinasakan iblis itu, suatu kekuatan hebat tiba-tiba menarik diri Hui Kiam mundur beberapa langkah, sehingga ujung pedangnya dengan sendirinya terpisah agak jauh dari dada si iblis wanita itu. Kesempatan itu digunakan oleh si iblis wanita. Ia lalu melompat mundur delapan kaki.

Bukan kepalang terkejutnya Hui Kiam. Dengan cepat ia memutar tubuhnya.   Ternyata seorang tinggi besar yang memakai kerudung di mukanya, berdiri di belakangnya sejarak kira-kira satu tombak jauhnya.

Kedatangan orang berkerudung itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun juga, bahkan dapt mengeluarkan kekuatan tenaga sedemikian hebat menarik mundur dirinya, kekuatan ini sesungguhnya sangat mengejutkan.

Hui Kiam setelah menenangkan pikiran, baru ia berkata: “Tuan orang kuat dari manakah?”

Orang berkerudung itu sepatah demi sepatah menjawab: “Aku Lengcu Persekutuan Bulan Emas!”

Hui Kiam terperanjat. Ia mundur sampai tiga langkah, baru bisa berkata:

“Oh, jadi tuan adalah Lengcu Persekutuan Bulan Emas?” “Benar.”

Hui Kiam benar-benar tak menduga bahwa di sini ia akan berjumpa dengan Lengcu Persekutuan Bulan Emas. Manusia berbahaya ini, telah mengacau balau rimba persilatan sedemikian rupa, sehingga seolah-olah sedang menghadapi hari Kiamat. Pertemuan secara tiba-tiba ini membuat ia untuk sementara menjadi tertegun.

Manusia aneh yang selama itu belum pernah mengunjukkan muka kepada orang luar, adalah pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang ingin menguasai dunia....

Perasaan gusar dan nafsu ingin menentang maksud usaha manusia buas itu mendadak timbul dalam hati Hui Kiam ....

Malam itu apabila ia berhasil membunuh raja iblis ini, maka bencana yang mengancam dunia rimba persilatan dengan sendirinya pasti akan lenyap. Hal ini sesungguhnya sangat berharga dari tindakan apapun juga.

Sampai dimanakah tingginya kepandaian dan kekutan raja iblis ini? Biar bagaimana malam ini harus diuji. Ia sendiri yang sudah berhasil memahami seluruh kepandaian ilmu yang tertulis dalam kitab Thian-Gee Pokip, kalau masih belum mampu menandingi kepandaian raja iblis ini, maka segala usaha dan gerakan untuk membasmi kejahatan, tidak akan membawa harapan banyak. Malam itu, seharusnya merupakan ujian pertama baginya untuk menguji sampai di mana tinggi kepandaiannya.

Selagi masih berpikir, pemimpin persekutuan itu sudah berkata lagi:

“Apakah kau adalah itu orang yang bernama Hui Kiam dengan gelarnya Penggali Makam?”

“Benar!”

“Betulkah kau sengaja bermusuhan dengan persekutuan kami?” “Membasmi kejahatan menegakkan keadilan dan kebenaran, itu

adalah tugas dan kewajiban setiap orang gagah yang mempelajari ilmu silat!”

“Apakah kau pandang kami sebagai iblis yang memipin kejahatan?”

“Kau boleh tanya kepada dirimu sendiri, apakah sepak terjangmu ini benar atau salah.”

Pemimpin Bulan Emas itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, “Ha, ha, ha, sesungguhnya sangat unik. Untuk pertama kali kami mendengar oraug berani mengucapkan perkataan sedemikian sombong terhadap diri kami!”

“Soal unik bukan cuma itu saja.”

“Hem, hem, Penggali Makam, katakanlah masih ada apa lagi?” “Aku telah bersumpah hendak mengubur semua jenazah orang-

orang jahat di dunia ini!”

“Sombong! Kami sebetulnya tidak tega membunuh kau!”

“Tuan tentunya sudah pernah mendengar orang berkata bahwa memaafkan musuh berarti suatu kekejaman terhadap diri sendiri!”

“Sekarang kau tidak perlu banyak bicara, ceritakanlah apa maksudmu malam-malam datang kemari?”

“Hendak menghancurkan sarang penjahat!” “Apakah kau yakin dapat melaksanakannya?” “Aku yakin sedalam-dalamnya!”

“Penggali Makam, kami sesungguhnya merasa sayang terhadap kcpandaianmu ini. ”

“Apakah artinya perkataanmu ini?”

“Jikalau kau suka menjadi anggota persekutuan kami, kau pasti bisa malang melintang di dalam rimba persilatan hanya di bawah seorang saja.”

“He, he, aku selamanya tidak sudi di bawah perintah orang!”

“Ini bukan tidak mungkin, satu hari kelak mungkin kau akan menjagoi di dalam dunia ini!”

“Apakah kau bermaksud setelah kau menguasai dunia rimba persilatan, kau hendak menyerahkan kedudukanmu kepada orang lain?”

“Itu tidak mungkin!”

“Aku masih belum mengerti.”

“Jikalau kau suka melepaskan anggapanmu sendiri, dan suka menjadi anggota persekutuan kami, kenyataannya akan membuktikan bahwa soal itu bukan mustahil!”

“Ini agak aneh kedengarannya bagiku!”

“Di dalam dunia tidak ada apa-apa yang aneh, apabila sudah mengerti persoalan: pikirlah dulu masak-masak!”

“Tidak perlu dipikir lagi, aku tidak mempunyai kegemaran untuk menjadi jago, aku hanya bercita-cita untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, supaya selama-lamanya tinggal hidup subur!”

Sinar tajam tampak dari kedua mata orang berkerudung itu melalui dua lobang kecil di bagian matanya, menatap Hui Kiam. Untuk pertama kali Hui Kiam merasakan bahwa siuar mata itu agaknya mengandung wibawa, membuat orang memandangnya tergoncang pikirannya sehingga tanpa disadari Hui Kiam sudah mundur satu langkah akan tetapi kemudian segera mencari apakah sebetulnya telah terjadi. Ia segera menenangkan pikirannya dengan kekuatan tenaga dalamnya coba menentang pengaruh sinar mata itu.

Kedua pihak saling berpandangan…. Seperempat jam!

Setengah jam!

Sedetik demi sedetik telah berlalu. Dahi Hui Kiam sudah penuh peluh, wajahnya yang merah berubah menjadi pucat.

Muka pemimpin Persekutuan Bulan Emas karena tertutup oleh kain kerudung, tidak dapat dilihat perubahan sikapnya.

Keduanya tidak turun targan, tapi ini adalah lebih hebat daripada pertandingan dengan menggunakan kaki tangan atau senjata tajam.

Mengadu kekuatan semacam ini, juga karena hanya orang berkepandaian tinggi seperti Hui Kiam dan pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang dapat melakukan. Bagi orang yang berkepandaian tinggi yang biasa saja, tidak sanggup melakukan.

Apabila di suatu pihak ada yang kurang teguh pikirannya atau tak cukup kuat tenaganya, tidak usah lawannya turun tangan, sudah cukup menimbulkan luka dalam bagi yang kalah.

Hui Kiam mencoba untuk bertahan sekuat tenaga. Ia berkata kepada diri sendiri bahwa ia tidak boleh kalah, jikalau tidak habislah semua.

Setengah jam sudah berlalu lagi.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas tiba-tiba berseru: “Untuk sementara kita hentikan dulu.”

Kedua pihak dengan serentak menarik kembali kekuatan masing-masing. Ketua Persekutuan Bulan Emas berkata pula:

“Penggali Makam, kau bisa melukai anggota badan pelindung hukum tertinggi persekutuan kami, ilmu pedangmu pasti bagus sekali. Apakah berani mengadu ilmu pedang dengan kami?”

“Sudah tentu!” “Tetapi kita lebih dulu harus bicarakan syaratnya!” “Syarat?”

“Hem, pertandingan itu hanya dibatas tiga jurus saja.” “Maksudmu bukan begitu saja….”

“Kau ingin bagaimana?”

“Diantara kita berdua cuma boleh ada satu yang berlalu dari sini dalam keadaan hidup!”

“Itu berarti mengadu jiwa?” “Tepat!”

“Selanjutnya kau tidak dapat membunuh kami bagaimana?” “Terbunuh!”

“Jikalau kami tidak suka membunuh kau?”

Hui Kiam bungkam.   Tiba-tiba ia ingat bahwa sudah beberapa kali pernah mendengar kata orang-orang Persekutuan Bulan Emas telah mendapat perintah tidak boleh bermusuhan dengannya. Kecurigaan itu selama itu belum lenyap dari pikirannya, maka malam ini, selagi

bermusuhan dengan pemimpin Persekutuan Bulan Emas, seharusnya ia mencari tahu sebab-sebabnya.

Setelah berpikir demikian, ia lalu balas bertanya: “Apa sebabnya Tuan tidak suka membunuhku?” “Ada dua sebab.”

“Bolehkah kau terangkan apa sebabnya?”

“Pertama, kau merupakan salah seorang berbakat luar biasa selama seratus tahun ini. Aku merasa sayang kalau kau mati begini.”

“Hem! Dan sebab yang lainnya lagi?” “Pada saat itu belum perlu aku ceritakan, kecuali apabila kau suka menjadi anggota persekutuan kami.”

“Apakah tuan pernah memberi perintah kepada anak buah tuan, tidak boleh bermusuhan denganku?”

“Hal itu memang ada.” “Mengapa?”

“Berdasarkan atas sebabnya yang kedua, tetapi pada saat ini belum waktunya kuberitahukan kepadamu.”

Hui Kiam tidak berdaya. Karena orang itu tidak mau mengatakan, sudah tentu ia tidak suka bertanya lagi. Bagaimanapun juga pertempuran malam itu merupakan pertempuran antara mati dan hidup, jikalau menang segalanya akan menjadi terang, tetapi jikalau kalah habislah semua-muanya….

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas berkata pula:

“Penggali Makam, kau boleh bertempur secara bebas. Tiga jurus sudah cukup untuk menentukan siapa yang mati dan siapa yang hidup. Sudah tentu ini adalah menurut gerak tipu serangan oleh pihak yang menggunakannya juga kekuatan tenaga dalam dan lain- lainnya merupakan faktor utama untuk merebut kemenangan.”

Hui Kiam pikirannya bekerja keras. Kepandaiannya dalam ilmu pedang, juga hanya tiga jurus saja. Jikalau tiga jurus tidak mendapat kemenangan, selanjutnya tidak usah dibicarakan lagi. Maka ia lalu berkata:

“Aku setuju usulmu itu!”

“Syarat yang kusebutkan tadi, yang kumaksudkan ialah apabila salah satu pihak tidak dapat membinasakan lawannya.”

“Coba tuan jelaskan!”

“Apabila kau bisa menang atau seri, rekening yang terdahulu semua akan kami hapus, lain waktu kita bertanding lagi.”

“Bagaimana andaikata aku yang kalah?” “Kau harus menjadi anggota persekutuan kami.”

Hui Kiam seketika itu lalu bungkam. Apa pun yang akan terjadi syarat serupa itu juga tidak dapat diterima. Karena apabila ia menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas, ini berarti ia telah membantu kejahatan. Bagaimana ia dapat melakukan? Bukankah ini akan bertentangan dengan cita-cita semula? Berpikir demikian ia lalu menjawab:

“Untuk menjadi anggota persekutuan Bulan Emas, hal ini tidak mungkin sama sekali!”

“Apakah kau sudah bertekad bermusuhan dengan persekutuan kami?”

“Aku tidak menyangkal pertanyaanmu ini!” “Kau tidak pikir lagi?”

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas perlahan-lahan menghunus pedangnya. Di bawah sinar lampu pelita, pedang itu memancarkan sinarnya yang gemerlapan. Kira-kira setengah kaki dekat ujung pedang ada satu tanda bulan sabit yang memancarkan sinar emas.

Dalam hati Hui Kiam berkata: “Inikah pedang Bulan Emas?”

Persekutuan itu dinamakan Bulan Emas, namanya mungkin diambil dari nama pedang itu.

Keadaan menjadi gawat pada saat pemimpin Bulan Emas menghunus pedangnya. Menghadapi raja iblis rimba persilatan yang sangat misterius itu, hati Hui Kiam merasa agak kurang tentram karena dalam pertempuran itu bukan saja menyangkut mati hidupnya ia sendiri, tetapi juga menyangkut kepentingan dan nasib seluruh rimba persilatan.

Pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu menggerakkan tangannya. Pedang yang berada di tangannya menimbulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Hui Kiam terkejut, karena gerakan itu nampaknya sangat aneh dan hebat, tidak kalah dengan gerakan ilmu pedangnya sendiri. Tubuh tinggi besar pemimpin Persekutuan Bulan Emas maju mendekati Hui Kiam. Dengan suaranya yang nyaring ia berkata:

“Hui Kiam, apakah kau tidak menyesal?”

“Siapa yang kuat akan hidup dan siapa yang lemah akan binasa, inilah tata tertib yang tidak dapat dirubah dalam rimba persilatan. Bagi siapa yang bertempur mati-matian, tidak kenal istilah menyesal.”

“Sayang kepandaianmu yang luar biasa.”

“Tuan terlalu omong besar, membuat aku merasa geli.” “Apa yang dibuat geli kami jikalau bukan lantaran….” “Lantaran apa?”

“Lantaran budak itu.” “Siapa?”

“Tong-hong Hui Bun!”

Sekujur badan Hui Kiam gemetar, ia mundur satu langkah. Tentang diri Tong-hong Hui Bun tidak ada hubungannya dengan Persekutuan Bulan Emas, dari apa yang disaksikan beberapa kali sudah merupakan sesuatu kenyataan yang tidak dapat dibantah. Tetapi kenyataan yang keluar dari mulut pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu, lain pula sifatnya.

Bagaimanakah asal-usul sebenarnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas ini?

Ada hubungan apa dia dengan Tong-hong Hui Bun?

Tong-hong Hui Bun meskipun mempunyai kecantikan luar biasa, tetapi menurut pengakuannya sendiri bahwa ia mempunyai ilmu supaya dirinya awet muda. Ia sebetulnya sudah berusia empat puluh tahun lebih, tetapi pemimpin Persekutuan Bulan Emas ini menyebutnya budak, ini suatu bukti bahwa pemimpin Bulan Emas ini adalah orang tingkatan tua bagi Tong-hong Hui Bun....

“Ada hubungan apa ia dengan tuan?” demikian ia bertanya. “Tentang ini seharusnya ia yang memberitahukan kepadamu.” Hui Kiam tidak berdaya.  Akhirnya ia berkata pula:

“Ini sudah tidak penting lagi. ”

“Tidak penting?” “Benar!”

“Maksudmu apakah. ”

“Oleh karena keadilan dan kebenaran yang lebih penting daripada perhubungan pribadi, maka malam ini, di antara aku dan tuan harus

bertempur sampai ada salah satu yang mati!” “Kau tidak memperhitungkan akibatnya?” “Sudah tentu!”

Pedang di tangan pemimpin Persekutuan Bulan Emas agak gemetar. Pemimpin itu lalu berkata:

“Apakah kau masih ada pesan apa-apa yang kau akan tinggalkan, nanti kami sampaikan?”

Apa yang dimaksud pesan oleh pemimpin itu, sudah tentu pesan terhadap Tong-hong Hui Bun.

Hui Kiam berpikir.   Hubungannya antara ia dengan Tong-hong Hui Bun, hanya sedikit saja yang mengetahui. Sungguh tak disangka orang

yang berkedudukan tinggi seperti pemimpin Bulan Emas ini, sudah mengetahui begitu jelas. Ini bukti betapa dalam hubungannya Tong-hong Hui Bun  dengan persekutuan itu.

Mendengar pertanyaan itu Hui Kiam lalu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata:

“Sebaliknya adalah tuan sendiri, apakah ada pesan apa-apa yang perlu ditinggalkan untuk anak buahmu?” Pemimpin Persekutuan Bulan Emas agaknya sudah gusar benar- benar. Sepasang sinar matanya tajam menatap wajah Hui Kiam seolah-

olah menembus ke ulu hatinya....

Pada saat itu dua sosok bayangan orang mendekati mereka berdua. Mereka adalah iblis Tiee-mo dan muridnya.

Iblis Tiee-mo dengan sinar matanya buas menyapu Hui Kiam, kemudian berkata kepada pemimpin Bulan Emas:

“Izinkanlah hambamu yang membereskannya!”

Mata pemimpin Bulan Emas masih tetap menatap mata Hui Kiam, sementara itu mulutnya menjawab si iblis Tiee-mo:

“Silahkan kau mundur dulu. Urusan ini biarlah kami sendiri yang menyelesaikan!”

Iblis Tiee-mo nampak tercengang.   Ia terpaksa mengundurkan diri bersama muridnya.

Hui Kiam telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya.

Dengan sepasang mata yang tajam mengawasi musuh besarnya.

Sebentar kemudian, ia juga sudah menghunus pedangnya. Entah siapa yang bertindak lebih dahulu, tahu-tahu keduanya sudah bergerak dan kemudian berpencar lagi. Daun-daun di atas pohon telah berterbangan tersapu oleh hembusan angin yang keluar dari kedua

pedang itu.

Dalam satu gerakan itu, kekuatan kedua pihak sudah berada di batas tertentu. Kekuatan kedua pihak nampaknya selisih sedikit sekali, tetapi reaksinya bagi kedua pihak jauh berlainan. Pemimpin Bulan Emas dikejutkan oleh kepandaian ilmu pedang Hui Kiam, yang temyata dapat menandingi ilmu pedangnya Bulan Emas yang dianggapnya sudah tanpa tanding. Hal ini sesungguhnya di luar dugaannya semula. Sedangkan bagi Hui Kiam, yang ini hanya merupakan dorongan semangat. Ia tahu bahwa kepandaiannya sendiri setidak-tidaknya sudah cukup untuk menghadapi pemimpin Persekutuan Bulan Emas yang sangat berpengaruh itu.

Suasana semakin tegang. Ini merupakan suatu pertempuran dari dua jago yang jarang tampak selama seratus tahun ini. Apalagi masing-masing telah bertekad hendak membinasakan lawannya, maka itu sesungguhnya sangat berbahaya.

Kedua pihak setelah mengadu kekuatan babak pertama, keduanya berpencar lagi dan berdiri bagaikan patung hidup. Masing-masing memusatkan pikiran dan kekuatan tenaganya.

Asal satu pihak lengah saja, segera dapat serangan lawannya yang mematikan.

Dalam suatu pertempurnn pedang kelas tinggi, selalu mengutamakan ketenangan hati, pikiran semangat, dan ketenangan mengendalikan pikirnya. Apabila musuh tidak bergerak, pihaknya sendiri juga tidak bergerak, tetapi begitu melihat musuhnya bergerak, harus bisa bergerak lebih dulu.

Karena kedua pihak yang bertempur malam itu semua adalah ahli pedang nomor satu maka kedua-duanya berpikiran serupa. Masing- masing menantikan kesempatan untuk melancarkan serangannya.

Sang waktu sedetik demi sedetik telah berlalu.

Dalam pertandingan ini bagi Hui Kiam besar sekali sangkut pautnya. Bukan saja akan menyangkut mati hidupnya tetapi juga ada hubunganuya dengan nasib orang-orang seluruh rimba persilatan. Oleh karenanya, dengan sikap sungguh-sungguh ia menerima ujian berat itu.

Suara bentakan singkat, tiba-tiba memecahkan suasana yang sunyi. Di bawah sinar lampu percikan sinar emas bertebaran bagaikan kembang api yang meletus di tengah udara.

Setelah pemandangan itu lenyap, pemimpin Persekutuan Bulan Emas mundur lagi ke tempat semula ia berdiri. Kaki kiri yang digeser mundur ke belakang, melesat ke dalam tanah sampai batas mata kaki. Di lain pihak badan Hui Kiam nampak sempoyongan. Wajahnya yang tampan nampak pucat.

Suasana sunyi lagi. Masing-masing berdiri lagi bagaikan patung, seolah-olah tak pernah kejadian apa-apa.

Dalam jurus ini, Hui Kiam berada di atas angin.

Pada saat itu cuaca mulai terang, sehingga sinar lampu pelita nampak suram.

Tiba-tiba dari belakang pekarangan terdengar bentakan keras, kemudian disusul oleh suara orang berteriak riuh. Api nampak berkobar. Di pagi hari yang masih belum terang betul diliputi oleh warna kemerah-merahan.

Siapakah gerangan yang berani membakar wisma pahlawan itu? Kejadian yang tidak terduga-duga ini nampaknya mengejutkan

Hui Kiam.

Dalam keadaan serupa itu, bagi orang pandai biasa, mungkin tidak dapat membedakan terkejutnya perasaan Hui Kiam itu, tetapi di mata pemimpin Bulan Emas, ini merupakan suatu kesempatan baik untuk melancarkan serangannya.

Begitulah dengan kecepatan yang luar biasa pemimpin Bulan Emas itu melancarkan serangannya.

Tanpa banyak pikir bahkan boleh dikata timbul dari kemauannya sendiri. Hui Kiam juga dengan kecepatan bagaikan kilat, menangkis serangan itu dengan menggunakan gerak tipunya Satu Tiang Menyangga Langit yang terampuh.

Sudah tentu pada saat itu ia hanya mengambil sikap defensif, bertahan untuk membendung serangan lawannya yang berbahaya itu.

Oleh karena ampuhnya gerak tipu itu, sekalipun sangat sederhana, tetapi dalam keadaan demikian mendesak masih dapat menahan serangan lawannya. Namun setelah kedua pedang sambil beradu, pedang Tong-liong Kiam Hui Kiam peninggalan ayahnya telah terpapas putung menjadi dua potong.

Maka seketika itu juga semangatnya terbang seolah-olah meninggalkan raganya.

Keringat mengucur deras, wajahnya semakin pucat, badannya gemetar.

Sementara itu ujung pedang pemimpin Persekutuan Bulan Emas sudah mengancam di bagian jalan darahnya yang terpenting.

lni agaknya merupakan suatu akibat yang sudah pasti, maka ia tak terkejut, hanya heran mengapa pemimpin itu tak segera ambil jiwanya. Apakah masih mengandung lain maksud?

Api yang membakar gedung itu berkobar. Seluruh gedung yang luas itu sudah berada di dalam lautan api.

Hui Kiam sambil menindas perasaan gusarnya berkata dengan suara keras:

“Mengapa tidak segera turun tangan?”

“Apakah pedangmu itu pedang To-liong-Kiam?” demikian pemimpin Bulan Emas berkata tanpa menghiraukan pertanyaan Hui Kiam.

Hui Kiam terperanjat. Ia mau menduga bahwa To-liong Kiam Khek pada masa hidupnya pasti jago kenamaan sehingga pedangnya juga sangat terkenal.

Dengan patahnya pedang To-liong Kiam itn, ini adalah suatu bukti bahwa pedang itu adalah terbuat dari besi biasa bukan merupakan pedang pusaka. Hanya karena pedang itu yang digunakan secara mahir sekali sehingga membuat namanya terkenal.

Pedang peninggalan ayahnya yang diberikan oleh Orang Menebus Dosa kini telah rusak di tangannya, ini benar-benar merupakan sesuatu kemenyesalan besar baginya. Atas pertanyaan pemimpin Bulan Emas itu ia lalu menjawab: “Benar, ini adalah pedang To-liong Kiam. Kau juga kenal?” “Darimana kau dapatkan pedang itu?”

“Hadiah dari seorang sahabat!” “Sahabat.”

“Ya, mengapa? Apakah ada salahnya?”

“Hui Kiam, kau harus mengerti kedudukanmu sekarang ini.” “Sudah tentu mengerti. Tetapi satu laki-laki boleh dibunuh tetapi

tidak boleh dihina. Silahkan bertindak!”

“Sekali lagi kami tegaskan, apabila kau suka menjadi anggota persekutuan kami. ”

“Tidak bisa!”

“Kau tidak akan menyesal?”

“Kekalahanku bukan karena kalah kepandaian dan tenaga. Kekalahanku itu semata-mata karena senjataku yang tidak sebanding dengan senjatamu!”

“Kau tidak menerima kalah?” “Sudah tentu!”

“Dan kalau tidak terima kalah kau mau apa lagi?”

Hui Kiam menggertak gigi. Dengan suara dingin dan sikap tenang sekali ia menjawab:

“Silahkan bertindak!”

“Nampaknya kau benar-benar tidak boleh hidup lagi....” Namun, walaupun mulutnya berkata demikian hatinya tidak segera turun

tangan. Sebentar kemudian, di luar dugaan ia tarik kembali pedangnya dan berkata:

“Kali ini kami bebaskan kau. Hitung-hitung ada satu pemberesan bagi budak itu.” Sehabis mengucapkan demikian, ia lalu menghilang.

Hui Kiam berdiri terpaku. Apa yang dirasakan dalam hatinya sesungguhnya sulit dilukiskan. Apakah sebetulnya kedudukan Tong- hong Hui Bun dalam Persekutuan Bulan Emas sehingga pemimpinnya sendiri juga mengalah terhadap dirinya?

Api berkobar semakin hebat. Seluruh gedung itu sudah takkan tertolong lagi.

Hui Kiam pelahanu-lahan memungut potongan pedangnya. Hatinya merasa sangat pilu. Barang peninggalan ayahnya seharusnya dihargakan, tetapi sang ayah itu yang dalam hati sanubarinya hanya merupakan bayangan aneh saja, sehingga ia lebih menghargakan Orang Menebus Dosa yang memberikan pedang itu kepadanya.

Karena pedangnya telah patah, ia teringat kepada pedang sakti yang berada di dalam Makam Pedang. Andaikata ia membawa pedang sakti itu, malam itu mungkin pemimpin Bulan Emas tidak akan lolos dari tangannya.

Oleh karenanya, maka hasratnya ingin mendapatkan pedang sakti itu semakin kuat. Ia lalu mengerahkan kepandaiannya menerjang keluar dari dalam lautan api.

Setelah meninggalkan gedung yang sudah terbakar itu, ia lari menuju ke bagian barat pintu kota. Hari itu matahari sudah naik tinggi.

Tiba di tempat yang dijanjikan dengan Ie It Hoan dan Orang Tua Tiada Turunan, sudah disambut oleh Ie It Hoan seraya berkata dengan sikap tergopoh-gopoh:

“Toako, untung kau tidak terjadi apa-apa.” Hui Kiam agak tercengang, katanya:

“Apa maksudmu?”

“Kau pikir kecuali kau, siapa yang dapat menandingi pemimpin Persekutuan Bulan Emas?” “Apakah kau tahu?”

“Tahu semuanya. Orang Menebus Dosa benar-benar merupakan seorang peramal yang sangat jitu. Ia berkata bahwa pemimpin Bulan Emas tidak akan membunuh kau….”

“Dia….”

“Kebakaran di gedung wisma pahlawan itu adalah rencananya. Waktu kau berhadapan dengan pemimpin Bulan Emas, ia telah berhasil menghalangi Iblis Tie-mo, sehingga aku mendapat kesempatan untuk berbuat sesuka aku dan akhirnya aku bakar gedung itu.”

“Dimana sekarang Orang Menebus Dosa itu?” “Sudah pergi!”

“Ia sebetulnya orang dari golongan mana?!”

“Entahlah, ia belum pernah menunjukkan muka. Segala berita dan rencana, semua disampaikan oleh orangnya.”

“Ow… dan di mana sekarang Orang Tua Tiada Turunan locianpwe?”

“Mari ikut aku!”

Dengan berbagai pertanyaan dalam hatinya Hui Kiam mengikuti Ie It Hoan lari menuju ke suatu ladang. Berjalan kira-kira seputuh pal lebih, baru tiba di depan sebuah kuil yang sudah tua. Hui Kiam sudah perhatikan, semua tanda-tanda rahasia dan jebakan sekitar kuil itu yang keadaannya tua dan rusak itu ternyata diadakan demikian keras sesungguhnya di luar dugaannya. Tetapi ia tidak bertanya.

Begitu masuk ke pintu kuil pemandangan di dalam kuil itu menunjukkan seolah-olah kuil itu sudah rusak karena terlalu tua usianya. Di situ jnga tidak terdapat orang merawatnya.

Setelah melalui pendopo yang penuh galagasi, di depan mata Hui Kiam terbentang sebuah pekarangan yang sudah penuh rumput alang-alang. Di satu sudut pekarangan ada terdapat satu sumur tua.

Ie It Hoan lalu berkata sambil menunjukan sumur tua itu: “Mari kita lompat masuk ke dalam sumur tua itu!”

“Apa artinya ini?”

“Masuk saja, nanti kau akan tahu sendiri?”

Tanpa banyak bicara lagi, Ie It Hoan lebih dahulu sudah melompat masuk ke dalam sumur tua.

Hui Kiam mau tidak mau juga turut lompat masuk. Sumur itu sedalam kira-kira delapan tombak. Dasar sumur hanya terdapat pasir yang halus, tiada terdapat setetes airpun juga.

Berada di dalam sumur itu, Ie It Hoan segera menggeser sebuah batu yang merupakan dinding sumur. Setelah terdengar suara keretekan, terbukalah sebuah pintu. Di dalam lorong yang panjang samar-samar ada titik sinar lampu.

“Toako, silahkan masuk!” demikian Ie It Hoan berkata:

Hui Kiam semakin heran, tetapi ia tidak menunjukkan perasaan itu, la hanya menganggukkan kepala dan masuk ke dalam pintu.

Berjalan kira-kira sepuluh tombak lebih, di depan matanya terbentang satu ruang luas yang terang benderang dengan sinar lampu. Di situ ternyata sudah terdapat banyak orang. Orang-orang yang moudar-mandir di situ, semuanya mengenakan pakaian berwarna lila. 

Di dasar sumur kuil tua itu, ternyata ada suatu tempat yang diperlengkapi demikian rupa, sesunguhnya di luar dugaan.

Kedatangan Hui Kiam itu, segera disambut oleh Orang Tua Tiada Turunan. Berkata orang tua itu:

“Siaohiap? Aku merasa girang kau kembali dalam keadaan selamat. Mari kita omong-omong ke dalam!”

Hui Kiam mengerutkan alisnya. Ia segera bertanya: “Ini tempat apa?”

“Kalau aku terangkan harap kau jangan kecil hati. Tempat ini adalah kediaman Orang Berbaju Lila yang dirahasiakan!”

Hui Kiam mendadak memancarkan sinar matanya beringas ia bertanya dengan suara gemetar:

“Kediaman Orang Berbaju Lila?” “Ya!”

“Dimana ia sekarang?” “Tidak ada di sini!”

“Apakah cianpwee sudah lama mengadakan hubungan dengannya?”

“Tidak, itu hanya si Orang Menebus Dosa yang mengatur, kedatanganku di sini juga belum lama.”

“Maaf boanpwee tidak bisa berdiam lama-lama di sini. ”

Orang Tua Tiada Turunan melintang di hadapannya seraya berkata:

“Siaohiap, harap kau pentingkan nasib rimba persilatan. Mengenai permusuhan pribadi, berulang kali Orang Menebus Dosa berkata dan memberi jaminan, setelah membereskan Persekutuan Bulan Emas, ia dapat memerintahkan Orang Berbaju Lila untuk membuat penyelesaian!”

Hui Kiam sebetulnya masih hendak mengatakan sesuatu, tetapi ia membatalkan maksudnya. Ie It Hoan dengan perlahan mendorong kepadanya seraya berkata kepadanya:

“Toako, mari kita masuk melihat-lihat!”

Apa boleh buat, Hui Kiam menuruti kehendak saudara angkatnya. Apa yang disaksikan oleh matanya ia rasakan bulu romanya pada berdiri. Di dalam sebuah kamar ada rebah terlentang beberapa puluh perempuan muda. Ada yang setengah telanjang, ada juga yang telanjang bulat, semua dalam keadaan tidak sadar agaknya sudah ditotok semua jalan darahnya.

Hui Kiam dengan muka merah membara, berpaling dan bertanya kepada Ie It Hoan:

“Apa yang telah terjadi?”

'“Ini adalah perempuan-perempuan pasukan Im-hong Tui!”

“Apa? Apakah mereka ini perempuan-perempuan yang berada di dalam wisma pahlawan itu?”

“Benar!”

“Mengapa tidak dibunuh saja?”

“Mereka tidak berdosa. Mereka telah dihilangkan sifatnya semula oleh kekuatan obat, hingga dijadikan alat oleh kawanan manusia jahat itu, kalau kita bunuh bukankah itu terlalu kejam?”

“Bagaimana kita harus perlakukan mereka?”

Orang Menebus Dosa hendak mencarikan obat pemunahnya untuk menolong mereka supaya kembali dalam keadaan semula, kemudian diantar pulang ke keluarga masing-masing!”

“Apa semua sudah ada di sini? “Mungkin sudah semuanya!”

“Sesungguhnya tidak kusangka urusan ini sedemikian mudah diselesaikannya.”

“Toako, Orang Menebus Dosa sudah memasang mata-mata dalam markas musuhnya, di samping itu juga menggerakkan tenaga anak buahnya hampir seratus orang jumlahnya. Sekalipun tindakannya itu berhasil, tapi sudah menempuh bahaya besar. Apabila salah hitung akibatnya hebat sekali. Umpama munculnya pemimpin Persekutuan Bulan Emas itu, sebetulnya di luar perhitungan. Untung kau berhasil menahannya. Kalau tidak, rencana kita akan gagal seluruhnya.” “Aku sendiri hampir mati di bawah tangan pemimpin persekutuan itu. ”

“Toako, aku benar-benar sangat khawatir. Untung Tuhan masih melindungi kita.”

“Soal mengenai pasukan lm-hong Tui ini kini sudah boleh dikata selesai!”

“Ya, tapi kita harus siap sedia untuk menghadapi rencana mereka selanjutnya. Masih ada suatu hal yang menguntungkan pihak kita. ”

“Hal apa itu?”

“Tong-hong Hui Bun tidak menampakkan diri. Jikalau tidak, mungkin rencana kita ini akan gagal.”

Hui Kiam diam saja, pikirannya terguncang hebat. Kali ini ia masuk ke dalam wisma pahlawan seorang diri maksud sebetulnya hendak mencari Tong-hong Hui Bun. Tidak disangka yang dicari tidak ketemu, sebaliknya hampir mengantar jiwa. Akhirnya malah orang lain yang menghancurkan wisma pahlawan itu. Dipikir-pikir memang sangat malu.

Sementara itu Orang Tua Tiada Turunan juga turut bicara:

“Siaohiap, kiranya kau tentu sudah lapar, mari kita makan dulu.”

Hui Kiam segera menggoyang-goyangkan tanganuya seraya berkata:

“Tidak usah, boanpwee akan segera pergi lagi.” Ie It Hoan lalu berkata:

“Toako, sentimenmu itu terlalu keras.”

“Ini bukan sentimen. Permusuhan antara aku dengan Orang Berbaju Lila sudah terlalu dalam.”

Orang Tua Tiada Turunan berkata:

“Sebagai seorang laki-laki sejati harap dapat membedakan dengan tegas antara budi dengan musuh. Siaohiap sudah berjanji hendak mengutamakan kepentingan umum lebih dahulu baru urusan pribadi, maka soal permusuhan itu sebaiknya ditunda dulu, apa salahnya?”

“Boanpwee masih ada dua urusan yang perlu dibereskan dengan segera.”

“Urusan apa?”

“Kesatu, aku harus pergi ke gereja Siaolim-sie hendak menyelidiki jejak Pek-leng-lie untuk mencari pembunuh ibuku, dan kedua hendak ke Makam Pedang untuk minta pedang sakti guna menghadapi pemimpin Bulan Emas.”

“Ini adalah urusan penting kau harus lakukan.” “Maka boanpwee ingin minta diri.”

Ie It Hoan lalu berkata:

“Apakah toako mengijinkan siaotemu ini ikut?” “Aku pikir hendak kuurus sendiri.”

“Maksud toako, apakah keberatan jalan bersama-sama dengan siaote?”

“Ini adalah urusanku pribadi, kau jangan salah mengerti.” “Pertempuran antara kebenaran dan kejahatan sudah tidak akan

dapat ditunda lagi, sedangkan toako merupakan orang terpenting

dalam pertempuran ini.”

“Aku tidak berani menjadi orang terpenting dalam soal ini, tetapi aku bersedia menyumbaugkan tenaga dan kepandaian, setiap waktu aku bersedia menerima  panggilan.”

“Kalau begitu.... toako tidak akan menolak apabila ada urusan penting aku boleh menjumpaimu?”

“Sudah tentu.”

'“Kalau begitu mari siaote antar toako keluar!” “Baik!” Hui Kiam lalu memberi hormat dan pamitan pada Orang Tua Tiada Turunan.

Hui Kiam dan Ie It Hoan keluar melalui jalan rahasia lain yang menembus ke bagian belakang kuil tua itu.

Hui Kiam tiba-tiba berkata dengan sikap sungguh-sungguh. “Adik Hoan, jawablah pertanyaanku.”

“Silahkan toako!”

“Bukankah sudah lama kau tahu asal-usul Tong-hong Hui Bun?” “Ini… ini... siaote tidak menyangkal, akan tetapi ”

“Bolehkah kau beritahukan kepadaku apa hubungannya antara dia dengan Persekutuan Bulan Emas?”

“Toako, tentang ini ”

“Aku harus mengetahui!”

“Tetapi siaote tidak berani melakukan perbuatan yang melanggar perintah suhu.”

“Kalau aku berjumpa dengannya, ia juga akan memberitahukan kepadaku, ini kan tak ada perlunya untuk dirahasiakan?”

“Ini bukan sengaja aku rahasiakan. Siaote tidak berani memikul tanggung jawab.”

“Tanggung jawab apa?”

“Toako, kalau kau suruh aku mati aku akan mati tanpa mengerutkan alis, tetapi harap toako jangan desak aku untuk melakukan perbuatan ini.”

Hui Kiam tidak berdaya. Jawaban Ie It Hoan sudah jelas kalau ia mendesak lagi berarti akan mengganggu persahabatan mereka. Tetapi soal itu tidak selalu mengganggu pikirannya, benar-benar sangat tidak enak. Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya ia berkata:

“Ia pasti berada di tempat sekitar kota Lam Sia. Aku harus segera mencarinya!” Tepat pada saat itu, dari tempat yang tidak jauh, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara bentakan orang perempuan.   Suara itu sudah tidak asing bagi Hui Kiam, maka ia segera minta diri kepada adik angkatnya itu.

Secepat kilat ia sudah lompat melesat ke arah datangnya suara bentakan itu.

Untuk sesaat Ie It Hoan berdiri tertegun. Setelah Hui Kiam berlalu, ia segera menyusul.

Di dalam sebuah rimba, di tengah-tengah lapangan ada dua orang sedang bertempur. Tatkala Hui Kiam berada dekat, segera dapat melihat bahwa yang sedang bertempur itu adalah seorang pria dengan seorang wanita.

Sang pria mengenakan baju panjang berwarna lila, mukanya dikerudungi oleh kain berwarna lila juga. Sedang sang wanita berdandan dengan pakaian berwarna lila muda, parasnya cantik, tetapi mengandung nafsu membunuh. Pedang di tangannya bergerak dengan cepat menyerang kepada lawannya, tetapi lawannya, sang pria itu nampaknya terus mengalah. Ia berkelit kesana kemari untuk menyingkirkan serangan pedang, hanya kadang-kadang hanya satu dua kali ia balas menyerang.

Hui Kiam mendekati tempat pertempuran itu tanpa mengeluarkan suara. Setelah menyaksikan siapa orang yang sedang bertempur, seketika itu juga darahnya bergolak.

Sang pria, ternyata adalah musuh besarnya sendiri, si Orang Berbaju Lila, sedang sang wanita bukan lain daripada murid kepala Penghuni Loteng Merah Siu bie.

Orang Berbaju Lila dengan akal keji membinasakan Penghuni Loteng Merah bersama-sama dengan To-liong Kiam Khek. Siu-bie mencari si Orang Berbaju Lila, sudah tentu karena hendak membalas dendam suhunya.

Jikalau ditilik kepandaiannya mereka, sudah tentu Siu-bie bukan tandingan Orang Berbaju Lila. Tetapi Orang Berbaju Lila itu agaknya tidak mau melukai dirinya, sesungguhnya tidak dapat dimengerti olehnya.

Setelah pertandingan itu berlangsung kira-kira sepuluh jurus, Orang Berbaju Lila itu tiba-tiba mengeluarkan bentakan keras:

“Tahan!”

Sementara itu kedua jari tangannya menjepit kedua ujung pedang Siu-bie. Perbuatan itu sesungguhnya sangat mengejutkan, sebab ilmu pedang Siu-bie tidaklah dapat dipandang ringan. Dalam kalangan Kang-ouw, ia sudah terhitung salah satu jago pedang kelas satu.

Siu-bie yang tidak berhasil melepaskan pedangnya dari jepitan jari tangan lawannya tiba-tiba menyerang dengan tangan kirinya sementara mulutnya berseru:

“Orang Berbaju Lila, nonamu bersumpah hendak menuntut balas sakit hati suhu!”

Orang Berbaju Lila itu dengan seenaknya mengangkat tangan kirinya untuk menangkis serangan Siu-bie mo.   Katanya dengan nada suara dingin:

“Nona Siu, aku perlu menyelesaikan kepadamu kau akan mendapat kesempatan untuk membalas dendam sakit hati suhumu, tetapi bukan

sekarang!”

Siu-bie menjawab dengan suara bengis:

“Orang Berbaju Lila, semula kau menggunakan To-liong Kiam- khek sebagai umpan. Kau memancing suhu ke dalam gua di atas gunung itu, kemudian kau menguburnya hidup-hidup. Apakah maksudmu? Ada permusuhan apa antara kau dengan suhu? Mengapa kau tega turun tangan demikian kejam?”

Orang Berbaju Lila melepaskan pedang yang dijepit oleh kedua tangannya. Ia mundur beberapa langkah dan berkata dengan suara gemetar: “Di kemudian hari pasti akan kuselesaikan!”

Hui Kiam segera melompat ke tengah lapangan.

Orang Berbaju Lila berseru: “Kau…” kemudian dengan cepat sudah menghilang.

Hui Kiam membentak dengan suara keras:

”Kau hendak lari kemana?!” segera lari mengejar. Tetapi si Orang Berbaju Lila itu sudah tidak tampak bayangannya lagi sehingga ia terpaksa balik kembali.

Siu-bie yang masih belum berlalu, ketika melihat Hai Kiam balik kembali, segera rnenyongsongnya seraya berkata:

“Kiranya Hui siaohiap.”

“Nona Siu masih ingat kepadaku.”

“Nama Hui siaohiap telah menggemparkan dunia rimba persilatan sehingga Orang Berbaju Lila itu ketakutan dan lari terbirit-birit.”

“Hakekatnya bukan begitu. Kepandaian Orang Berbaju Lila itu tidak boleh dianggap ringan. Pada waktu belakangan ini ia sudah mendapatkan seluruh kepandaian Tee-hong. Jika ia bertempur benar-benar denganku, tidak tahu siapa yang akan kalah.”

“Kalau begitu kenapa lari?”

“Pada dewasa ini orang-orang rimba persilatan golongan kebenaran sedang berusaha mengadakan perlawanan terhadap Persekutuan Bulan Emas, dan Orang Berbaju Lila berdiri di pihak golongan kebenaran. ”

“Dengan orang yang mentalitetnya seperti dia kini juga turut berbicara tentang membasmi kejahatan, ini bukankah merupakan suatu lelucon?”

“Ya, tetapi ia sudah menunjukkan perbuatannya yang patut kita hargai. Oleh karenanya maka ia menghindarkan diri jangan sampai kebentrok denganku.” “Aku juga merasa heran. Terhadap semua seranganku ia tidak membalas. Dengan kekuatan dan kepandaiannya seperti dia, aku tahu bahwa aku bukan tandingannya.”

“Nona Siu, tunggu sajalah kesempatan yang baik.”

Siu-bie menghela napas yang panjang, lalu berkata dengan suara duka:

“Kalau begitu, aku barangkali sudah tidak dapat menuntut balas kematian suhu dan tiga saudaraku, karena perbedaan kekuatan terlalu jauh….”

“Nona Siu, jangan kau berputus asa. Barang siapa yang membunuh pasti akan mati terbunuh pula itu hanya soal waktu saja. Aku percaya hutang darah orang yang berbaju lila yang mengutangkan pasti bukan hanya kita berdua saja.”

“Ya, tetapi aku tidak dapat membinasakan musuh dengan tangan sendiri, biar bagaimana merupakan suatu kemenyesalan.”

“'Nona Siu, aku sebetulnya ingin minta keterangan darimu, tetapi tidak selalu mendapat kesempatan ”

“Siaohiap ingin bertanya apa? Silahkan.”

“Aku hanya ingin bertanya apa hubungannya antara suhumu almarhum dengan To-liong Kiam Khek Suma-suan?”

“Kekasih.”

Mendengar jawaban singkat itu, hati Hui Kiam tergetar. Ia berkata pula:

“Suhumu mengasingkan diri di Loteng Merah itu sudah sepuluh tahun lamanya, apakah sebabnya?”

“Apakah siaohiap ingin tahu?” “Ya.”

Siu-bie nampak sangat berduka. Ia seperti mau menangis.

Dengan suara sedih ia berkata:

“'Hidup suhu telah dikorbankan karena asmara ” “Boleh nona menjelaskan keadaannya?”

“Ah! Barang siapa yang terlibat dalam asmara pasti akan meninggalkan kemenyesalan. Sepuluh tahun berselang suhu telah berkenalan dengan To-liong Kiam Khek. Mereka berdua saling jatuh cinta, oleh karenanya suhu telah membangun gedung Loteng Merah itu, maksudnya akan dijadikan kediaman sepasang kekasih itu. Setelah Loteng Merah berdiri, suhu minta dikawin secara sah oleh To-liong Kiam Khek. Tapi pada waktu itu To-liong Kiam Khek baru memberitahukan bahwa ia sudah beristri dan beranak pula ”

“Oh!”

Hui Kiam merasa seperti ditikam oleh pedang tajam. Ini adalah suatu bukti lagi yang amat kuat bahwa antaranya dengan To-liong Kiam Khek masih ada hubungan antara anak dengan ayah. Tapi mengenai hubungan ini dapat menyatakan juga tidak perlu untuk menyatakan. Akhirnya ia bertanya pula:

“Dan selanjutnya?”

“Waktu itu suhu sedih sekali, tetapi perasaan dukanya yang begitu besar sudah tentu tidak dapat dihapus begitu saja, juga tak menyesalkan To-liong Kiam Khek. ”

“Suhumu nampak besar sekali cintanya. ”

“To-liong Kiam Khek minta suhu menunggu sementara waktu. Ia hendak pulang untuk memperkenalkan istri dan anaknya, kemudian balik lagi untuk hidup bersama-sama. Suhu terima baik dan bersumpah hendak menunggu. Mulai saat itu suhu belum pernah melangkah keluar

dari Loteng Merah. ”

“Dan kemudian?”

“la telah pergi tak kembali. Suhu menunggu sehingga bertahun- tahun lamanya dan akhirnya mati di bawah tangan kejam Orang Berbaju Lila.”

“Kalau begitu To-liong Khiam Khek sudah mengecewakan hatinya!” “Tetapi suhu tidak membencinya. Sepuluh tahun lamanya ia merana, ia hanya sesalkan nasibnya sendiri yang tidak beruntung. Ia masih percaya bahwa kekasihnya itu pasti akan kembali. ”

“Tetapi ia toh tidak kembali. ”

“Ya, aku pernah beranikan diri berkata kepada suhu, seorang lelaki yang tidak setia kepada anak istrinya, mungkinkah setia terhadap diri perempuan lain? Tetapi segera digebah oleh suhu. Suhu masih percaya kekasihnya itu pasti menemukan halangan di luar dugaan. Jikalau tidak pasti tidak akan mengingkari janji.”

Hui Kiam diam-diam berpikir. Dahulu ketika Orang Berbaju Lila menggunakan dirinya untuk menyampaikan pesan kepada Penghuni Loteng Merah, menurut keterangannya, ayah Hui Kiam karena hendak menuntut balas kepada Manusia Teragung, akhirnya dimusnahkan kepandaiannya, dibutakan kedua matanya dan ditawan dalam goa di puncak gunung batu itu dengan demikian sudah tentu tidak bisa

menepati janji Penghuni Loteng Merah. Apakah karena itu maka ibunya timbul salah paham dan dianggapnya ayahnya itu menyia-

nyiakan dirinya dan oleh karena itu pula lalu timbul bencinya, sehingga dalam pesan-pesannya yang terakhir minta ia membunuhnya? Kemungkinan ini ada, juga merupakan keterangan satu-satunya.

Karena berpikir demikian, maka rasa benci terhadap ayahnya telah lenyap seketika. Apa yang menyedihkan ialah ibuuya sehingga pada saat kematiannya masih belum tahu keadaannya yang sebenarnya, sedangkan sang ayah yang dibenci itu pada sepuluh tahun kemudian binasa di tangan Orang Berbaju Lila....

Oleh karena itu pula, rasa bencinya terhadap Orang Berbaju Lila semakin tebal. Musuh terhadap perguruannya, musuh terhadap ibunya telah tertumpuk pada dirinya.

Apa sebab Orang Berbaju Lila harus membunuh Penghuni Loteng Merah? Ia mengaku merupakan sahabat akrab dengan Hui Kiam, tetapi mengapa harus dibunuh sekalian?

Apakah di dalam ini ada menyangkut soal asmara?

“Nona Siu, apakah maksudnya Orang Berbaju Lila membinasakan suhu dan To-liong Kiam Khek?” demikian ia coba mencari keterangan dari Siu-bie.

“'Entahlah!”

“Umpamanya, suhumu sebelum berkenalan dengan To-liong Kiam Khek apakah pernah berkenalan dengan lelaki lain?”

“Suhu pernah berkata, dalam seumur hidupnya ia cuma kenal dan jatuh cinta kepada To-liong Kiam-khek seorang saja!”

“Tetapi perbuatan Orang Berbaju Lila itu tentu ada sebabnya?” “Ya, namun ia tidak mau mcnjelaskan, sedangkan aku sendiri

juga tidak mempunyai pegangan untuk menduga-duganya.”

“Aku akan berusaha supaya hal ini dapat kubikin terang. Nona Siu, dewasa ini lebih baik kau jangan menjumpainya lagi.”

“Mengapa?”

“Maafkan aku harus berkata terus terang, kau masih bukan tandingannya.”

“Ya, tentang ini aku tahu, tetapi musuh suhu adalah merupakan yang terbesar, bagaimana aku boleh tinggal diam begitu saja?”

“Aku sendiri dengan dia juga mempunyai permusuhan sangat dalam. Satu hari kelak ia pasti akan mendapatkan balasannya yang setimpal.”

Siu-bie menghela napas panjang. Air mata mengalir berlinang membasahi kedua pipinya.

Hui Kiam benar-benar ingin balik kembali ke ruang bawah tanah kuil tua untuk menyelesaikan persoalan dengan Orang Berbaju Lila. Tetapi ia segera teringat bahwa perbuatan itu pasti akan mendapat rintangan dari Orang Tua Tiada Turunan dan Ie It Hoan. Sedangkan ditilik dari peristiwa yang terjadi di Wisma Pahlawan, pengaruh Orang Berbaju Lila itu sebetulnya tak boleh dipandang ringan. Untuk menghadapi Persekutuan Bulan Emas, menghindari bencana yang mengancam dunia rimba persilatan merupakan salah satu tenaga yang cukup kuat. Karena itu maka untuk menyelesaikan persoalan pribadinya sendiri itu, terpaksa harus menunggu sampai lain waktu.

Karena berpikir demikian maka ia lalu berkata kepada Siu-bie: “Nona Siu, sampai bertemu lagi, karena masih ada urusan aku

hendak jalan lebih dahulu!”

Siu-bie menggerakkan bibirnya, tapi tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, akhirnya baru dapat mengeluarkan perkataan:

“Silahkan!”

Jantung Hui Kiam bergoncang. Seolah-olah hendak menyingkir dari bahaya ia cepat-cepat berlalu, karena dari sikap dan mata Siu- bie, ia dapat merasakan pikiran gadis itu. Sekarang terhadap soal wanita ia mencoba menghindarkan diri sedapat mungkin, sebab Tong-hong Hui Bun dan Cui Wan Tin sudah cukup memusingkan kepalanya, bagaimana ia berani melibatkan diri dalam urusan perempuan lagi?

---ooo0dw0ooo---