Pedang Pembunuh Naga Jilid 22

Jilid 22
 “SILAHKAN!”

“Benarkah bahwa menurut peraturan yang ditetapkan kalau dalam tiga jurus dapat memenangkan pertandingan, lalu diberi hak sebagai penantang Taycu?”

“Tidak salah!”

“Tidak menurut peraturan adalah sahabat yang naik ke atas panggung yang turun tangan lebih dahulu!”

“Kalau begitu susah ini, karena aku yang rendah seumur hidupku belum pernah turun tangan lebih dulu terhadap siapapun juga.”

“Tetapi peraturan tidak boleh dirusak!” “Kalau begitu terpaksa pertandingan ini kita batalkan, seharusnya tuan yang mengaku kalah, wajah Ma Yu Ciu kembali berobah, ia berkata:

“Hari ini akulah yang mendapat giliran sebagai penantang di atas panggung, sebelum bertanding bagaimara harus mengaku kalah?”

“Kalau begitu tuan harus merobah peraturan, ini supaya turun tangan lebih dulu.”

Ma Yu Ciu setelah berpikir, akhirnya berkata:

“Kalau sahabat kukuh tidak mau turun tangan lebih dulu terpaksa aku yang beitindak.”

“Masih ada lagi yang kuperlu terangkan lebih dulu. ”

“Masih ada apalagi?”

“Kalau tuan turun tangan, harus menggunakan seluruh kekuatan tenaga, ingat aku hanya bersedia tiga jurus untuk menetapkan kemenangan atau kekalahan.”

Ma Yu Ciu agaknya sudah tidak sabar lagi. Ia berkata:

“Sahabat juga ingat bahwa kaki dan tangan tidak ada matanya. Apabila kesalahan tangan masing-masing harus menerima nasib!”

“Tentang ini aku mengerti!”

“Nah, sekarang aku hendak mulai!”

Begitu menutup mulutnya, Ma Yu Ciu sudah melancarkan serangannya yang diarahkan ke depan dada Sukma Tidak Buyar, tetapi serangan itu baru sampai di tengah jalan tiba-tiba dirobah gerakannya, dari serangan merobah dari gerak mencakar dengan jari tangan, dengan cepat jari-jari itu mengarah jalan darah terpenting di badan lawannya, sementara tangan kirinya juga menyusul melancarkan serangan dari samping, sekali pukul ia menggunakan dua macam gerak tipu serangan, bukan saja aneh juga ganas dan telengas.

Sukma Tidak Buyar ternyata tidak berkelit atau menyingkir, juga tidak menangkis. Di bawah panggung banyak suara orang berteriak: “Apakah ini bukan mencari mampus?”

Serangan Ma Yu Cui benar-benar mengenakan Sukma Tidak Buyar dengan telak. Badan Sukma Tidak Buyar terhuyung-huyung hampir saja roboh ke bawah panggung.

Ma Yu Ciu berdiri bingung, karena serangannya dengan dua rupa gerak tipu berlainan itu, cukup untuk merenggut nyawa lawannya, tetapi kini ternyata lawannya itu agaknya tidak terluka.

Sukma Tidak Buyar maju setindak, berdiri di tempat semula, lalu berkata:

“Mari! Jangan berhenti!”

Di bawah panggung terdengar suara riuh. Belum pernah dengar atau menyaksikan ada orang yang bertanding di atas Lui-tay dengan cara membiarkan dirinya dipukul.

Orang Tua Tiada Turunan berkata kepada Hui Kiam: “Oh dia setan cilik itu!”

“Apakah Ie It Hoan?” Hui Kiam bertanya dengan heran. “Benar!”

“Boanpwee mengapa tidak tahu?”

“Menerima pukulan dan pura-pura mati, adalah ilmu kepandaian tunggal setan cilik itu dalam rimba persilatan. Hanya dia saja yang mempunyai kepandaian demikian.”

Hui-Kiam segera teringat bagaimana Ie-It Hoan pernah mati beberapa kali tetapi toh bisa hidup lagi. Maka ia lalu tersadar.

“Benar dia, tetapi apakah maksudnya ia naik ke atas panggung?”

Sementara itu di atas panggung Ma-Yu Ciu sudah melancarkan serangannya yang kedua kalinya ia agaknya menggunakan seluruh kekuatan tenaga. Sementara terdengar suara nyaring disusul dengan suara seruan tertahan, Sukma Tidak Buyar terhuyung-huyung mundur dua langkah,

mulutnya menyemburkan darah.

Hui-Kiam terperanjat sehingga mengeluarkan suara jeritan.

Tetapi sekejap mata kemudian Sukma Tidak Buyar tiba-tiba mengeluarkan suara aneh. Kedua tangannya melancarkan serangan dengan berbareng.

Perbuatan itu, di luar dugaan semua orang. Ma Yu Cui yang sudah menyaksikan lawannya terluka parah dan menyemburkan darah, sudah tentu tidak menduga bahwa lawannya itu masih dapat membalas serangannya dengan secara tiba-tiba. Serangannya itu bahkan mengandung kekuatan tenaga yang hebat sekali.

Tidak ampun lagi, serangan itu mengenakan dengan telak. Ma- Yu-Ciu mengeluarkan seruan tertahan. Mulutnya menyemburkan darah, badannya terhuyung-huyung hampir roboh.

Sukma Tidak Buyar lalu menunduk dan berkata: “Terima kasih!”

Dari bawah pauggung terdengar suara tepuk tangan riuh dan gegap gempita suara yang memuji.

Wajah Ma-Yu Ciu pucat pasi, tetapi apa boleh buat mengeluarkan perkataan dari mulutnya:

“Kepandaian sahabat benar-benar hebat. Harap kau mendapat kemenangan yang terhormat dari tangannya Taycu sendiri ke belakang panggung.

Tiba-tiba suasana seluruh lapangan menjadi sunyi senyap.

Seorang wanita yang mempunyai kecantikan luar biasa, dalam sekejap sudah berada di tengah-tengah panggung.

Kecantikannya, potongan badannya membuat semua orang yang ada di situ hampir tidak bisa bernapas. Jikalau tidak menyaksikan dengan mata sendiri siapa pun tidak berani percaya bahwa di dalam dunia ada perempuan begitu cantik.

Setelah hening cukup lama entah siapa yang mengeluarkan suara keluhan napas, lalu disusul oleh suara tepuk tangan dan sorak-sorai, lama masih menggema di udara....

Hui Kiam merasa kepalanya pusing, jantungnya berdenyut keras, darahnya berjalan semakin cepat.

Ya Allah. Taycu yaug menjadi pemimpin atau jagoan utama dalam pertandingan ini ternyata adalah kekasihnya sendiri, Tong- hong Hui-Bun. Hal ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang tak terduga-duga.

Mengapa ia mendirikan Lui-tay di kota Lam-shian ini? Apakah maksudnya?

Mengingat ucapan Orang Menebus Dosa, seketika badannya gemetaran.

Sukma Tidak Buyar yang berada di atas panggung menunjukkan sikap tidak senang.

Orang Tua Tiada Turunan menatap wajah Hui-Kiam tetapi tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

Jikalau benar Sukma Tidak Buyar yang kini berada di atas panggung itu adalah Ie-It Hoan, jelas ia bukan tandingan Tong- hong Hui Bun. Jika diingat bagaimana perbuatan Tong-hong Hui- Bun terhadap musuh-musuhnya, maka kedudukan Ie-It Hoan sesungguhnya sangat berbahaya.

Karena munculnya Tong-hong Hui Bun membuat Hui-Kiam pandangannya terhadap pertandingan di atas panggung itu berobah seluruhnya. Ia yakin sedalam-dalamnya bahwa dalam hal ini mengandung maksud lain, bukan sekedar hanya pertandingan di atas Lui Tay yang biasa.

Apakah ia harus menurut perkataan Orang Menebus Dosa?

Menghancurkan Lui-tay ini? Tong-hong Hui Bun mengangkat tangannya. Suara yang tadi ramai telah menjadi sirap.

Suara kata-katanya yang keluar dari mulutnya, begitu merdu dan jelas masuk ke dalam telinga setiap orang:

“Tuan-tuan, sahabat ini adalah orang pertama yang menjatuhkan penantang di atas panggung hanya dalam tiga jurus selama tiga hari sejak dimulai pertandingan ini. Menurut peraturan, sahabat ini berhak sebagai penantang Tay-cu.”

Setelah berkata demikian, ia berpaling lalu bertanya kepada Sukma Tidak Buyar:

“Apakah tuan ingin jadi penantangku?”

Sukma Tidak Buyar lama membungkam, akhirnya baru berkata dengan suara tidak lancar:

“Aku   akan melepaskan hakku.”

Di bawah panggung kembali terdengar suara riuh. Jawaban Sukma Tidak Buyar ini, sesungguhnya di luar dugaan semua orang. Setiap orang memang sudah menantikan saat di mana mereka ingin menyaksikan bagaimana kepandaian Taycu yang molek itu, tetapi dengan jawaban Sukma Tidak Buyar itu, apa yang diharap-harapkan itu ternyata tak akan menjadi kenyataan.

Apakah Sukma Tidak Buyar merasa takut? Ataukah dipengaruhi oleh kecantikan wanita itu?

Di antara penonton itu hanya Hui Kiam seorang yang berpikir lain. Ketika mendengar jawaban itu ia menarik napas lega.

Tong-hong Hui Bun menggapai, dua gadis yang sangat cantik membawa barang hadiah.

Di belakang panggung terdengar suara tetabuhan musik. Dengan tangan sendiri Tong-hong Hui Bun menyematkan bunga merah dan sutra merah di badan Sukma Tidak Buyar.

Selanjutnya Sukma Tidak Buyar diajak masuk ke dalam wisma pahlawan. Tong-hong Hui Bun memberi hormat kepada para penonton, kemudian berkata:

“Sahabat dari mana lagi yang ingin memberi pelajaran, silahkan naik!”

Sehabis mengucapkan demikian, ia mengundurkan diri ke belakang panggung. Wajah semua penonton menunjukkan rasa kecewa, karena mereka mengharap mendapat kesempatan lebih lama untuk menikmati kecantikan perempuan itu.

Saat itu Ma Yu Ciu muncul di atas panggung lagi.

Orang Tua Tiada Turunan menyentuh Hui Kiam dengan sikutnya seraya berkata:

“Bagaimana, kau ingin mengambil tindakan apa?”

Hui Kiam tersenyum getir tidak menjawab. Pikirannya merasa kalut.

Menghancurkan Lui-tay ini berarti menjatuhkan Lui-tay yang didirikan oleh Tong-hong Hui Bun. Sebelum jelas duduk perkaranya, bagaimana boleh berlaku sembrono?

Orang yang diundang masuk ke dalam wisma pahlawan itu, benarkah Ie It Hoan?

Bagaimana latar belakang wisma pahlawan ini?

Tong-hong Hui Bun mendirikan panggung Lui-tay ini mengandung tujuan lain ataukah dikendalikan orang?

Pada saat itu sudah ada orang yang naik ke atas panggung bertanding dengan Ma Yu Ciu. Tapi Hui Kiam sudah tidak mempunyai perhatian dalam soal itu. Ia hanya memikirkan bagaimana harus menghadapi persoalan ini?

Jikalau ia diperalat oleh Orang Menebus Dosa, bukankah akan mengecewakan dirinya?

Orang Menebus Dosa tidak mau menampakkan diri, juga tidak mengambil tindakan sendiri, sebaliknya menyuruh orang lain yang melakukan, hal ini sesungguhnya tidak habis dimengerti. Maka ia lalu berkata kepada Orang Tua Tiada Turunan: “Cianpwee, aku ingin menemui dia untuk beromong-omong

sebentar.”

Dia yang dimaksudkan sudah tentu Tong-hong Hui Bun. Orang Tua Tiada Turunan berikir sejenak baru berkata:

“Barangkali kau tidak dapat mengorek keterangan yang sebenarnya?”

“Tetapi boanpwee tidak dapat bertindak serampangan!” “Hm! Nampaknya terpaksa harus begitu, hanya ….” “Hanya apa?”

“Maaf aku akan berkata terus-terang. Dewasa ini semua orang rimba persilatan yang sama haluan, meletakkan harapannya di atas dirimu untuk membasmi kawanan orang jahat itu. Harap kau mengingat kepentingan rimba persilatan jangan sampai kena dipengaruhi oleh paras cantik. Kau adalah seorang yang mempunyai bakat dan kecerdikan luar biasa, tidak perlu aku jelaskan kau tentunya sudah mengerti sendiri, kebaikan atau kejahatan bedanya sedikit sekali.”

“Ucapan cianpwee ini, rasanya bukan tak ada sebabnya?” “Sudah tentu!”

“Kalau begitu cianpwee pasti sudah paham asal -usul dirinya?” “Dewasa ini, untuk sementara aku harus pegang rahasia!” “Mengapa?”

“Dalam urusan ini tidaklah pantas aku harus membuka rahasia.

Berat sekali resikonya.”

“Kalau begitu berarti menyuruh boanpwe bertindak secara membabi buta?”

Dengan sinar mata aneh Orang Tua Tiada Turunan menatap wajah Hui Kiam:

“Apakah kau percaya kepada diriku si tua bangka ini?” “Sudah tentu!”

“Kalau begitu aku harap supaya kau berbuat seperti apa yang dikatakan oleh Orang Menebus Dosa. Itu tidak akan salah.”

“Menjatuhkan Lui-tay ini?”

“Aku tidak ingin minta kau berbuat demikian. Ini memang sudah menjadi kodrat manusia bahwa kau tidak sampai hati bertindak demikian, maka bertindaklah menurut pikiranmu sendiri.”

“Boanpwe sekarang hendak menjumpainya.”

“Dengan wajahmu seperti sekarang ini atau wajah aslimu?” “'Sudah tentu dengan wajah asliku.”

Pada saat itu tiba-tiba ada seorang yang maju menghampiri dirinya dan bertanya kepadanya:

“Apakah tuan seorang she Hui?”

Hui Kiam terkejut, matanya mengawasi orang itu sambil bertanya:

“Ada urusan apa?”

“Ada seorang tuan yang minta aku antarkan surat ini.”

Sehabis berkata tangannya mengangsurkan segulung kertas yang segera disambutnya oleh Hui Kiam.

“Dimana orang yang menyuruh kau mengantarkan surat ini?” demikian Hui Kiam bertanya dengan suara cemas.

“Ow.... barangkali sudah berlalu. Aku tidak kenal dengannya   ”

“Orang itu bagaimana rupanya, bagaimana pakaiannya?”

“Ia.... ada seorang yang hampir bersamaan dengan tuan, tetapi aku tidak terlalu perhatikan sehingga tidak dapat menjelaskan.”

“Baiklah, kau boleh pergi.”

Hui Kiam membuka surat itu. Di atas kertas cuma terdapat beberapa perkataan yang ditulis dengan tergesa-gesa. Surat itu berbunyi: “Kau hendak mengetahui keadaan yang sebenarnya, lekas keluar benteng kota sebelah barat. Di situ ada sebuah kereta besar tertutup dengan tenda kain hitam. Kau nanti tahu sendiri.”

Surat itu kembali ditanda tangani oleh Orang Menebus Dosa. Hui Kiam lalu berkata:

“Lagi-lagi dia. Ada apa lagi sekarang?”

Orang Tua Tiada Turunan itu segera melihat surat itu sejenak lalu berkata:

“Nampaknya Orang Menebus Dosa itu sudah berobah tujuannya semula. Mari kita keluar kota.”

Hui Kiam merobek-robek surat itu menjadi berkeping-keping. Ia menerima baik permintaan orang tua itu, lalu keluar dari rombongan orang banyak terus menuju ke pintu kota sebelah barat.

Di sepanjang jalan, Hui Kiam memikirkan persoalan itu. Pikirannya semakin kalut, karena ia sendiri tidak mengerti duduk perkara yang sebenarnya. Ia tidak suka menuruti petunjuk dalam surat Orang Menebus Dosa, dengan secara gegabah untuk menjatuhkan panggung Lui-tay itu. Tetapi pikirannya itu ternyata sudah ditebak jitu oleh Orang Menebus Dosa. Dari sini ternyata bahwa segala gerak-geriknya semua berada di tangan Orang Menebus Dosa itu. Kalau ia benar, sesungguhnya terlalu menakutkan.

Kereta besar dengan tendanya kain hitam bisa memberikan petunjuk yang sebenarnya. Apakah sebenarnya yang ada di dalam kereta itu...?

Setelah keluar dari pintu kota, keadaan di sekitarnya nampak sepi. Kecuali beberapa petani hampir semuanya merupakan daerah rimba. Hutan rimba yang lebat itu terus sampai di bawah bukit. Di situ keadaannya sepi sekali, juga tidak terdapat jalan raya. Bagaimana ada kereta?

Dua orarg itu berjalan seenaknya. Orang Tua Tiada Turunan tiba-tiba berkata sambil menunjuk ke tanah: “Lihat, apakah ini bukan bekas roda kereta?”

Roda kereta itu memberikan tanda yang jelas di dalam hutan belukar itu, terus menuju ke dalam rimba. Hui Kiam setelah memeriksa tanda bekas toda itu lalu berkata:

“Mari kita periksa mengikuti bekas roda-roda ini.”

Belum lagi menutup mulut, di belakangnya terdengar suara menggelinding kereta. Ketika ia berpaling, matanya segera dapat lihat dua buah kereta besar dengan tutupnya yang berwarna hitam. Kereta itu masing-masing dijalankan oleh seorang yang berpakaian hitam, sedang dilarikan ke jurusannya.

Orang Tua Tiada Turunan memberi isyarat dengan lirikan mata kepada Hui-Kiam. Dua orang itu pura-pura berlaku sebagai orang yang sedang menikmati pemandangan hutan itu, belok ke lain jurusan.

Kereta itu dilarikan cukup kencang, sebentar kemudian sudah masuk ke dalam hutan rimba yang tidak jauh dari tempat Hui Kiam berdiri.

Setelah kereta itu berlalu, Hui-Kiam dan Orang Tua Tiada Turunan baru balik lagi. Mereka lalu bergerak menyusul kereta itu. Baru tiba di pinggiran rimba, tiba-tiba terdengar suara orang membentak: “Berhenti!”

Kemudian dari lain arah muncul empat orang berpakaian hitam.

Hui Kiam berdua menghentikan kakinya. Salah satu dari empat orang berpakaian hitam itu menegurnya dengan suara bengis:

“Kalian berdua ada keperluan apa?”

Dengan sinar mata dingin Hui-Kiam mengawasi orang-orang itu, kemudian balas bertanya:

“Kalian berteriak-teriak mengganggu orang di jalan, apa pula artinya?”

“Sahabat, kau jangan main gila, kalau kau tahu diri lebih baik lekas menyingkir!” “Jikalau aku tidak mau?”

“Terpaksa akan kupaksa dengan kekerasan!”

“Dengan kekuatan kalian berempat, apa kalian kira sanggup merintangi aku?”

“Kalau begitu, jangan sesalkan kalau kami berlaku kejam.

Saudara-saudara, maju dan tangkap mereka!

Empat bilah pedang, dua ditujukan kepada Orang Tua Tiada Turunan dua ditujukan kepada Hui Kiam. Dari gerak serangan mereka, empat orang itu sudah terhitung orang-orang kuat dalam rimba persilatan, sayang lawan yang dihadapinya terlalu tangguh bagi mereka. 

Hanya dalam waktu satu serangan saja, dua orang yang menyerang Hui Kiam, sudah roboh tidak berkutik. Dan dua orang yang menyerang Orang Tua Tiada Turunan, juga roboh hanya dalam waktu tidak lebih dari tiga jurus.

Setelah membereskan empat orangnya lawannya, Hui Kiam dan Orang Tua Tiada Turunan lompat melesat ke dalam rimba.

Kira-kira lima puluh tombak masuk ke dalam rimba, tampak olehnya dua buah kereta besar yang tadi masuk ke dalam rimba sedang berhenti di tanah lapangan seluas kira-kira lima tombak persegi.

Kira-kira sepuluh orang berpakaian hitam sedang menggali lobang. Tidak lama kemudian setelah pekerjaan menggali lobang besar itu selesai, pintu kereta terbuka. Orang-orang berpakaian hitam itu pada naik ke atas kereta. Beberapa sosok bangkai manusia ada yang telanjang bulat, ada yang setengah telanjang, diangkut keluar, dilemparkan ke dalam lobang….

Hui Kiam yang menyaksikan pemandangan itu, darahnya mendidih. Dadanya hampir meledak.

Jadi inilah yang dimaksudkan oleh Orang Menebus Dosa sebagai keadaan yang sebenarnya, ternyata adalah suatu pembunuhan besar-besaran yang sangat kejam dan mengerikan. Apakah semua korban ini adalah orang-orang kuat yang menang dalam pertandingan di panggung lui-tay, dan yang kemudian diundang ke dalam wisma pahlawan?

Apa yang dikatakan oleh Orang Menebus Dosa, bahwa menghancurkan Lui-tay berarti menolong jiwa sesama kawan yang tidak berdosa, di sini sudah mendapat keterangannya.

Suatu pembunuhan yang sangat kejam, dan sebagai algojo dari pembunuhan ini justru adalah orang yang menjadi idam-idamannya, Tong-hong Hui-Bun.....

Hui Kiam berdiri tertegun. Sesaat sekujur badannya dirasakan kaku.

Adakah hal itu yang sebenarnya? Bagaimana seorang perempuan cantik bagaikan bidadari bisa melakukan perbuatan ganas yang melebihi dari perbuatan iblis? Jikalau itu adalah perbuatan orang lain, dengan mudah Hui Kiam dapat membereskannya. Tetapi sekarang yang tersangkut itu justru orang yang dipandang sebagai kekasihnya.....

“Ini adalah snatu perbuatan sangat kejam yang tidak mempunyai rasa perikemanusiaan,” berkata Orang Tua Tiada Turunan. “Jikalau tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan percaya? Siaohiap, tidak salah toh perkataan Orang Menebus Dosa? Jikalau kau bertindak siang-siang mungkin dapat menolong jiwanya orang-orang ini. Tetapi, ah! Celaka!”

“Cianpwee ingat apa?”

“Apakah si setan cilik Ie-It Hoan itu juga terdapat di antara orang-orang yang menjadi korban ini?”

Hui Kiam bagaikan terpagut ular. Ia segera lompat melesat.....

Orang Tua Tiada Turunan dengan cepat mencegahnya seraya berkata:

“Tinggal seorang yang tinggal hidup untuk kita tanya.”

Hui Kiam hampir seperti kaya orang kalap dengan cepat sudah berada di samping lubang: “Siapa!”

Suara teguran tercampur dengan suara bentakan yang menunjukkan rasa terkejut orang-orang yang sedang melemparkan bangkai-bangkai itu semua pada berhenti dan maju mengurung Hui- Kiam.

Dengan mata membara, Hui-Kiam perlahan-lahan menghunus pedangnya....

Seorang tua berpakaian hitam, yang agaknya selaku pimpinan rombongan orang-orang itu, maju ke depan Hui-Kiam dan bertanya sambil tertawa mengejek:

“Tuan mau apa?”

“Hendak membunuh kalian kawanan anjing yang sudah tidak mempunyai hati manusia itu.”

Demikian Hui-Kiam menjawab dengan suara dingin. “Tuan. ”

Sebelum dapat melanjutkan kata-katanya, orang tua itu sudah mengeluarkan suara jeritan ngeri, tubuhnya terkurung menjadi dua potong. Yang lainnya ketika menyaksikan kejadian tersebut, semangatnya seolah-olah terbang semua, tetapi mereka sudah tidak mendapat kesempatan sama sekali, di mana ujung pedang itu berkelebat, di sini lantas jatuh korban....

Selagi Hui Kiam hendak menghabiskan jiwa semua orang yang berbaju hitam itu, satu tenaga kekuatan tenaga dalam meluncur dari sampingnya untuk menahan serangan Hui Kiam.

“Jangan kau habiskan semuanya. Tinggalkan satu hidup untuk diminta keterangannya!” demikian ia dengar suara Orang Tua Tiada Turunan.

Hati Hui Kiam tergerak. Ia membatalkan serangannya, meninggalkan seorang yang terakhir seperti apa yang diminta oleh Orang Tua Tiada Turunan. Orang Tua Tiada Turunan lalu menanyakan kepada orang berbaju hitam yang masih hidup itu:

“Beritahukanlah nama dan asal-usulmu?”

Orang berbaju hitam itu meski ketakutan sehingga badannya gemetar, tetapi ia tidak menjawab. Hui Kiam dengan cepat menggunakan pedangnya mengancam orang itu....

Orang Tua Tiada Turunan segera berseru:

“Jangan dibunuh!”

Orang berbaju hitam itu terhuyung-huyung tetapi tidak roboh, juga tiada darah mengucur dari tubuhnya, hanya baju bagian dadanya robek oleh ujung pedang. Di dadanya segera tampak satu tanda yang berbentuk bulan sabit.

Orang Tua Tiada Turunan berseru kaget:

“Ini anak buah Persekutan Bulan Emas!”

Daging di wajah orang berbaju hitam itu beberapa kali berkerenyit, keringat dingin sudah membasahi sekujur badannya.

Dengan nada suara dingin Hui Kiam bertanya:

“Apakah kau tidak menyangkal asal-usulmu apa yang dikatakan oleh locianpwee ini?”

“Benar, aku memang anak buah Persekutuan Bulan Emas!” jawab orang berbaju hitam itu.

“Apakah semua bangkai ini diangkut dari wisma pahlawan?”

Badan orang berbaju hitam itu tiba-tiba menggigil bagai orang kedinginan, kemudian jatuh rubuh di tanah.

Orang Tua Tiada Turunan lalu berkata:

”Orang berkepala batu ini, dalam sekejap sudah menelan racun?”

Hui Kiam tidak bisa berbuat apa-apa. Badannya dirasakan gemetar. Rasanya tidak salah bahwa wisma pahlawan ini merupakan salah satu rencana keji Persekutuan Bulan Emas untuk membunuh orang pandai rimba persilatan, sedangkan Tong-hong Hui Bun-lah yang merupakan salah seorang pemegang peranan penting dalam rencana itu.

Apakah hubungannya antara ia dengan Persekutuan Bulan Emas? Andaikata ia merupakan salah seorang anggota persekutuan itu tetapi mengapa ia justru membunuh anak buah persekutuan itu yang tidak sedikit jumlahnya? Andaikata bukan, mengapa ia rela bertindak sebagai algojo melakukan perbuatan yang sangat ganas ini?

Orang Tua Tiada Turunan memeriksa muka orang-orang yang menjadi korban pembunuhan itu, kemudian baru berkata sambil menarik napas panjang:

“Masih untung, di antara korban ini tidak terdapat dirinya si setan cilik itu!”

“Dalam rombongan yang akan datang mungkin terdapat dirinya!” “Mengapa orang-orang ini masih dalam keadaan telanjang?” “Inilah yang merupakan suatu teka-teki bagi kita!”

“Menurut pikiranku tua bangka, malam ini kita harus mengadakan penyelidikan ke dalam wisma pahlawan.”

“Boanpwee juga mempunyai maksud demikian!”

“Orang yang sudah mati ini tidak berdosa. Kita tidak boleh membiarkan tinggal dalam keadaan begini. Marilah kita kubur jenazah mereka!”

Keduanya lalu turun tangan. Dalam waktu sebentar saja semua bangkai itu sudah dikubur selesai. Mereka lalu menghancurkan kereta besar itu dan mengusir lari kuda yang menariknya setelah semua selesai, mereka balik lagi ke dalam kota.   Saat itu sudah senja hari, keduanya menginap di rumah penginapan semula.

Di waktu makan malam, di situ terdapat banyak orang yang sedang makan. Karena ruangan luas, sehingga tidak terlalu berisik. Hui Kiam berdua, makan minum seenaknya karena maksud mereka hanya untuk melewatkan waktu. Mereka malam itu akan mengadakan penyelidikan di dalam wisma pahlawan.

Kejadian-kejadian selama beberapa hari ini sangat mengganggu pikiran Hui Kiam. Pertandingan di atas panggung Lui-tay, bangkai dalam keadaan telanjang dan Tong-hong Hui Bun, ini merupakan mata rantai yang ada hubungannya dengan satu sama lain. Apakah sebetulnya yang tersembunyi di balik semua kejadian itu?

Orang Tua Tiada Turunan nampaknya juga sedang berpikir keras.

Bulu alisnya yang sudah berwarna putih dikerutkan rapat-rapat.

Pada saat itu seorang sastrawan berjenggot panjang dengan tiba-tiba datang. Ia mengawasi keadaan di situ sejenak lalu berjalan menuju ke tempat duduk Hui Kiam dan Orang Tua Tiada Turunan, kemudian berkata:

“Toako, aku sudah menduga pasti kalian berdua tentu akan datang ke kota Lam-sia ini!”

Hui Kiam  seketika  itu semangatnya  terbangun. “Adik Hoan!

Kau. ”

Pelayan rumah makan itu segera menyediakan cawan mangkok dan sumpit untuk tetamunya yang baru datang itu.

Orang Tua Tiada Turunan lalu berkata sambil melotot matanya: “Bocah, bukankah kau masuk ke wisma pahlawan?”

Ie It Hoan lebih dulu meneguk araknya sampai tiga cawan, kemudian baru menjawab:

“Ya, aku di sana berputar-putaran, menikmati hidangan yang disediakan dengan sepuas-puasnya.”

“Aku si orang tua justru sedang siap-siap untuk menyambut bangkaimu!”

“Menyambut bangkaiku? Mengapa?”

“Kau ceritakan dahulu dengan cara bagaimana kau bisa keluar dari dalam wisma itu?” “Boanpwee diajak masuk ke dalam gedung wisma itu, dengan seorang diri makan hidangan lezat yang disediakan, kemudian diantar keluar.”

“Apa di sana kau tidak melihat apa-apa?”

“Hem, hem... hanya dengar suara tertawanya orang-orang laki dan perempuan serta suara ramai seperti dalam medan pesta.”

Orang Tua Tiada Turunan itu menatap wajah Hui-Kiam sejenak, lalu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata:

“Kau sendiri mengapa tidak dijamu bersama-sama para pahlawan itu, sebaliknya disediakan makanan seorang diri?”

“Soal ini aku sendiri juga tidak mengetahuinya!”

“Apakah di dalam gedung wisma itu kau tidak berjumpa lagi dengan Taycu?”

Ie It Hoan melirik kepada Hui Kiam lalu berkata :

“Tidak, ia hanya mengutus orangnya untuk menyampaikan pesannya. Katanya pada belum lama berselang ia telah menerima budi bantuannya, maka ia menyuruh utusannya untuk menyampaikan terima kasihnya. Boanpwee sendiri hingga saat ini masih belum mengerti apa sebetulnya yang dimaksudkan dalam pesan Taycu itu.”

Hui Kiam segera mengerti. Tatkala Tong-Hong Hui Bun bertempur dengan Hiat-ie Nio-Cu, yang tersebut belakang ini telah melukai Tong-hong Hui Bun dengan kuku terbangnya yang sangat berbisa. Ia segera turun tangan memberi pertolongan.   Di kala itu ia yang sudah memakai kedok lain rupa, telah menggunakan nama julukan Sukma Tidak Buyar. Selanjutnya, ia sudah menolong lagi jiwa perempuan cantik itu dari tangan si Orang Berbaju Lila. Nampaknya ia sudah dianggap Sukma Tidak Buyar yang sebenarnya, sehingga perlu membalas budi kepada Sukma Tidak Buyar yang peranannya ini sudah dipegang lagi oleh Ie It Hoan. Tetapi ia tidak mau menjelaskan persoalan itu.

Orang Tua Tiada Turunan bertanya lagi: “Bocah, apa sebabnya dengan secara gegabah kau turut dalam pertandingan di atas Lui Tay itu?”

“Hanya tertarik oleh perasaan aneh, kemudian baru tahu tidak beres, tetapi sudah tidak keburu menarik diri. Untung ”

“Untung kau segera melepaskan hakmu, tidak menentang Taycu, itukah yang engkau maksudkan?”

“Betul!”

“Tahukah kau siapa yang tersembunyi di belakang layar permainan itu?”

“Kemudian aku baru tahu kalau panggung Lui-tay itu didirikan oleh Persekutuan Bulan Emas!”

“Apakah setan arak tua itu tidak memberitahukan kepadamu?” “Baru saja kita mengadakan hubungan!”

“Bocah, bagus sekali perbuatanmu. Di atas panggung kau telah mempertunjukkan kepandaian istimewa untuk menerima gebukan itu, apa kau tidak takut akan menggagalkan rencana si setan arak itu?”

le-It Hoan segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian berkata sambil memberi hormat:

“Boanpwee tahu salah!”

“Ada perintah apalagi dari si setan arak tua?”

Ie It Hoan melirik ke kanan-kiri sejenak, lalu berkata dengan suara sangat perlahan:

“Gedung wisma pahlawan itu diduduki oleh iblis Tie-mo salah satu dari Delapan Iblis Negara Thian-Tik. Mendirikan Lui-tay itu, juga merupakan suatu usul iblis itu. Mereka hendak menggunakan panggung Lui-tay itu untuk menarik banyak orang berkepandaian tinggi supaya digunakan untuk yang akan diambil kekuatan tenaganya yang diperlukan oleh anggota pasukan Im-hong-tui. ”

Mata Hui Kiam mendelik. Dengan suara marah ia berkata: “Pantas semua orang yang menjadi korban itu mati dalam keadaan telanjang.”

Ie It Hoan terkejut. Ia bertanya:

“Dalam keadaan telanjang? Apa sebetulnya telah terjadi?”

Dengan suara perlahan Orang Tua Tiada Turunan menceritakan kepadanya apa yang disaksikannya di dalam rimba sebelah barat kota.

Ie It Hoan mendengar hal itu bulu romanya berdiri. Ia berkata dengan suara gemetar:

“Ya Allah, sungguh berbahaya sekali. Hanya boanpwee mempunyai keyakinan, terhadap paras cantik boanpwe masih sanggup menahan diri. ”

“Hem, kalau sudah tiba waktunya, kau sendiri barangkali sudah tidak akan berdaya.   Bagaimaua dengan si setan atak tua, masih ada pesan apa lagi atau tidak?”

“Perjalanan ke gunung Bu-lim-san dibatalkan. Kita harus berusaha menghancurkan wisma pahlawan ini.”

Hui Kiam tiba-tiba menggebrak meja, lalu berkata:

“Sungguh tak disangka ia telah mernbantu Persekutuan Bulan Emas melakukan perbuatan terkutuk ini. ”

“Siaohiap, tenanglah sedikit, mari kita mencari tempat untuk merundingkan tindakan kita selanjutnya!” berkata Orang Tua Tiada Turunan.

“Aku harus membunuhnya!” berkata Hui Kiam sambil menggertakkan giginya.

“Semoga toako sanggup turun tangan. Ini akan merupakan suatu kebahagiaan bagi rimba persilatan,” berkata Ie It Hoan dingin.

Dengan sinar mata tajam Hui Kiam menatap Ie It Hoan sejenak.

Ie It Hoan buru-buru menundukkan kepalanya. Sesudah makan dan minum, tiga orang itu berjalan menuju ke luar kota. Mereka berkumpul di suatu tempat yang sepi, untuk merundingkan tindakan yang diambil selanjutnya.

Telah diambil keputusan Ie It Hoan dan Orang Tua Tiada Turunan menunggu di luar kota sebelah barat. Untuk memasuki gedung pahlawan itu, diberikan kepada Hui Kiam sebab gedung wisma itu diduduki oleh Iblis Tie-mo. It It Hoan dan Orang Tua Tiada Turunan semua bukan tandingan iblis itu, sedangkan kepandaian Tong-hong Hui Bun berimbang dengan kepandaian iblis itu, bahkan masih lebih tinggi satu tingkat, ditambah lagi dengan beberapa orang kuat dalam wisma itu yang tidak diketahui berapa banyak jumlahnya. Apabila tiga orang bertindak serentak, ini berarti menambah beban Hui Kiam.

Lagi pula Tong-hong Hui Bun sudah dapat dipastikan tidak akan bertindak terhadap diri Hui Kiam sehingga Hui Kiam boleh menghadapi Iblis Tie-mo dan para pembantunya dengan hati tenang. Apabila It It Hoan dan Orang Tua Tiada Turunan ikut serta, Tong-hong Hui Bun yang terdesak oleh keadaan pasti akan bertindak kejam terhadap mereka.

Bagi Hui Kiam, kalau ia ingin bertindak seorang diri, sebabnya ialah bahwa Tong-hong Hui Bun. Karena dianggapnya harus menyelesaikan hubungan antara ia dengan perempuan cantik itu, apabila ada orang yang ketiga berada di sampingnya, sudah tentu tidak leluasa.

Jam dua malam....

Meskipun malam sudah larut dan banyak orang sedang tidur lelap, tetapi keadaan di gedung wisma pahlawan masih terang benderang dengan sinar lampu. Pesta pora masih berlangsung dengan ramainya. Pemenang-pemenang dalam pertandingan di atas Lui-tay yang dianggap sebagai pahlawan, makan dan minum, lupa daratan, mereka itu ditemani oleh perempuan-perempuan muda yang cantik dan rupawan. Orang-orang gagah, arak dan perempuan cantik, ditambah lagi dengan nyanyian serta tarian, pesta pora itu merupakan suatu pesta yang penuh kemesuman.

Perlahan-lahan setiap orang telah mabuk oleh arak sehingga hampir melupakan dirinya sendiri. Karena pengaruh air arak itu, mereka sudah melupakan diri sendiri, sehingga medan pesta itu berubah sifatnya. Perbuatan-perbuatan yang mesum telah merupakan suatu pemandangan yang dianggap tidak apa-apa lagi bagi mereka.

Kesopanan dan akal manusia telah terampas. Harga diri sebagai seorang gagah musnah sama sekali.   Kelemahan sifat manusia di sini telah ditunjukkan semuanya. Segala-galanya seperti telah terbalik ke jaman purbakala. Perbuatan mereka hampir tidak ada bedanya dengan binatang.

Selagi pesta yang tak senonoh itu sedang berlangsung sangat ramainya, sesosok bayangan putih muncul bagaikan bayangan hantu perlahan-lahan keluar dari tempat gelap. Di bawah sinar lampu terang, ini telah tampak dengan tegas bahwa bayangan itu bukan lain daripada seorang yang berpakaian putih, wajahnya tampan dan potongan badannya tegap sangat menarik. Hanya sayang wajahnya yang tampan itu nampaknya sangat dingin, sedang matanya berapi-api menunjukkan betapa besar kemarahannya yang terpendam dalam hatinya.

Dia bukan lain daripada Penggali Makam Hui Kiam.

Oleh karena hendak menjumpai Tong-hong Hui Bun sendiri, ia telah balik dengan dandanannya semula.

Ia telah menyaksikan orarg-orang gagah yang mendapat kehormatan sebagai pemenang dalam pertandingan dan kemudian dijamu di dalam wisma pahlawan itu. Semua sudah berada dalam keadaan mabuk. Dengan tindakan kaki terhuyung-huyung setiap orang menggandeng pasangan masing-masing ke kamar setiap orang dengan sikap memuakkan. Apa yang dilakukan selanjutnya, tidak perlu disebut lagi. Memang sejak dahulu kala arak itu merupakan suatu umpan yang utama untuk membikin mabuk korbannya. Apalagi, di samping arak ditambah lagi dengan perempuan cantik, merupakan senjata yang paling ampuh untuk meruntuhkan martabat manusia.

Malam ini atau besok pagi, orang-orang yang dipandang sebagai pahlawan itu, akan mengikuti jejak orang-orang yang sudah menjadi bangkai dalam keadaan telanjang itu.

Hui Kiam sangat marah terhadap rencana busuk yang sangat rendah yang digunakan oleh Persekutuan Bulan Emas. Di samping itu, ia juga menyesalkan orang-orang gagah itu yang tidak mempunyai keteguhan hati. Apakah di antara mereka tiada satupun yang menyadari bahwa itu adalah suatu jebakan yang akan membawa maut?

Tong-hong Hui Bun, perempuan cantik jelita, yang kecantikannya membuat mengiri sesama kaumnya, sungguh tak disangka ia turut merencanakan perbuatan terkutuk itu. Inilah yang mengherankan Hui Kiam.

Mengapa wajah yang demikian cantik di dalamnya hanya suatu moral yang bejad saja?

Berulang-ulang Orang Berbaju Lila memakinya sebagai perempuan rendah, perempuan cabul dan sebagainya. Benarkah begitu?

Banyak orang lewat di sampingnya tetapi tiada seorangpun yang memperhatikan diri Hui Kiam. Mereka semua beranggapan bahwa pemuda itu juga salah satu pahlawan yang mendapat kehormatan menjadi tetamu wisma itu.

Dengan tindakan kaki berat, Hui Kiam menginjak jalanan yang terdiri dari batu itu, sehingga menimbulkan suara yang terbit dari sepatunya.

Seorang lelaki kasar, dalam keadaan mabuk, kedua tangannya memondong seorang perempuan muda, ketika lewat di samping Hui Kiam, lelaki itu merendek dan menegur Hui Kiam: “Sahabat, bunga indah di hadapan mata kita, mengapa kau masih berlagak seperti seorang alim, tidakkah kau ingin mencicipi keindahan ini?”

Hui Kiam melototkan matanya, pandangan matanya yang dingin dan bengis itu juga mengandung ejekan. Laki-laki itu menundukkan kepala dan berjalan terus sementara mulutnya menggumam sendirian, “Bocah itu tajam sekali sinar matanya, wajahnya juga sangat tampan!”

Ketika Hui Kiam berjalan sampai ke ujung, ternyata itu merupakan sebuah pintu. Di atas terpancang sebuah papan dengan tulisan: “Para tetamu diminta berhenti di sini saja”.

Hui Kiam mengawasi papan sejenak, tetapi ia berjalan terus....

“Sahabat berhenti!” demikian suara telah menegurnya. Seorang pemuda berpakaian sangat perlente muncul dari balik pintu dan menghalang di depan Hui Kiam.

Hui Kiam dengan sendirinya lalu berhenti. Dengan sinar mata tajam ia mengawasinya.

Pemuda itu lalu mengunjukkan perasaan terkejutnya. Entah dikejutkan karena sinar mata tajam Hui Kiam, ataukah dikejutkan oleh wajah yang tampan dan gagah yang dimiliki oleh Hui Kiam. Untuk sesaat lamanya, ia terpaku kemudian baru ia berkata:

“Apakah tuan juga salah satu seorang tetamu di dalam wisma ini?”

“Aku hendak bertemu dengan Taycu!” jawab Hui Kiam dingin: “Para tetamu hanya boleh berjalan sampai di situ saja. ”

“Tetapi aku bukan tetamu dalam gedung ini.” “Apakah tuan ”

“Aku adalah Penggali Makam!”

Pemuda berpakaian perlente itu terperanjat dan mundur satu langkah kemudian dan berkata dengan suara agak gemetar: “Benarkah tuan orang yang mempunyai julukan Penggali Makam itu?”

“Benar!”

Pemuda itu setelah mengunjukkan beberapa kali perubahan wajahnya baru berkata:

“Aku yang rendah bernama An Yu Ciu sudah lama mendengar nama besarmu. ”

“Apakah Tong-hong Taycu berada di dalam?” “Eh, sungguh aneh….”

“Mengapa aneh?”

“Mengapa Tong-hong Taycu tidak beserta dengan tuan…?” “Aku mencarinya, bukankah itu sama saja?”

“Tetapi ia tidak berdiam di dalam wisma ini.” “Di mana ia berdiam?”

“Tentang ini maaf aku tidak dapat memberitahukan.”

“Kalau tidak suka memberitahukan, ataukah tidak berani mengatakan?”

“Bukan tidak berani, aku sebetulnya tidak tahu!”

Hui Kiam berpikir keras. Benar Tong-hong Hui Bun tidak berada di sini, ini juga merupakan suatu kesempatan baik untuk menghancurkan sarang penjahat ini lebih dulu. Dengan tidak adanya perempuan cantik, ia boleh bertindak sesukanya. Maka ia lalu berkata dengan suara dingin:

“Siapa yang bertanggung jawab di sini?” “Suhuku!”

“Kau murid si iblis Tiee-mo?”

“Tuan bicara harus tahu aturan sedikit!” “Apakah ini masih kurang aturan?” “Tuan sebetulnya bermaksud apa?”

“Kujumpai dulu suhumu, nanti kita bicara lagi.”

“Aku sebetulnya karena memandang muka Tong-hong Taycu, maka barulah aku berlaku merendah terhadap tuan.”

“Ini tidak perlu, aku bahkan masih hendak perhitungan dengannya!”

“Orang she Hui, kedatanganmu ini sebetulnya bermaksud apa?” “Hendak menghancurkan sarang kejahatan dan kemesuman ini!”

An Yu Ciu mengunjukkan wajah bengis. Ia mundur satu langkah dan berkata:

“Apakah perkataanmu ini bukan main-main?” Sepatah demi sepatah Hui Kiam menjawab:

“Ini adalah sebenar-benarnya!” “Apakah kau kira sanggup melakukan?” “Mungkin tidak menjadi soal.”

“Kalau saatnya tiba mungkin Tong-hong Taycu juga tidak sanggup melindunginya. ”

“Omong kosong!”

Pada saat itu dari dalam kamar terdengar suara seorang wanita yang menegur:

“Ciu ji, apa yang telah terjadi?”

An Yu Ciu menjawab dengan suara nyaring:

“Suhu, ada orang datang hendak menghancurkan wisma pahlawan!”

“Bagaimana macamnya orang itu?” “Orangnya Tong-hong Taycu sendiri!” “Apa? Kau kata siapa?” “Penggali Makam!”

“Hem, suruh ia masuk. Suhumu ingin minta keterangan darimu.”

An Yu Ciu minggir ke samping dan mempersilahkan Hui Kiam masuk.

Hui Kiam tahu bahwa orang yang berbicara di dalam itu adalah Iblis Tie-mo, maka seketika itu tanpa ragu-ragu ia lalu masuk ke dalam pintu. Berjalan melalui gang yang bertaburkan batu halus- halus, di tengah-tengah taman bunga yang indah ada sebuah bangunan rumah yang indah. Sinar lampu yang terang benderang bagaikan siang hari. Di depan pintu rumah itu, ada berdiri dua wanita muda. Begitu melihat Hui Kiam, semula nampak seperti terkejut kemudian memandangnya dengan mata liar. Satu di antaranya berkata kepada kawannya:

“Pilihan Taycu, benar-benar bukan orang sembarangan.” Sang kawan melirik kepadanya, lalu berkata:

“Kau jangan coba main gila, pilihan Taycu siapa yang berani menjamahnya?”

AnYu Ciu maju selangkah seraya berkata:

“Tuan tunggu sebentar!”'

Hui Kiam menghentikan kakinya. Ia mendongakkan kepala untuk melihat cuaca. Ia sebetulnya tidak sudi melihat sikap tengik dua perempuan muda itu.

An Yu Ciu berjalan masuk ke kamar. Ketika lewat di depan perempuan itu, dengan lagaknya yang tengik ia menoel pipi dua perempuan muda itu, setelah itu baru melanjutkan jalannya ke dalam kamar.

Hui Kiam di samping memikirkan tindakannya malam itu, ia juga memikirkan nasib orang-orang gagah itu. Setelah mengumbar kepuasannya malam itu, besok akan menggeletak sebagai bangkai yang tidak berdaya..... Sementara itu An Yu Ciu sudah keluar lagi dan berkata kepadanya:

“Suhu mempersilahkan kau masuk!”

Hui Kiam tahu bahwa pemuda itu bersikap demikian karena hubungan ia sendiri dengan Tong-hong Hui Bun. Tetapi ada hubungan apa antara Tong-hong Hui Bun dengan Persekutuan Bulan Emas?

Ia sudah tidak bisa berpikir banyak lagi karena harus menjumpai iblis Tie-mo.

Dengan tindakan lebar ia masuk ke dalam. Di ruangan tengah ia segera dapat lihat seorang perempuan setengah tua duduk di atas kursi. Perempuan itu meski sudah tidak muda lagi, tetapi masih pandai bersolek. Dari sikap dan dandanannya, telah mengunjukkan tegas kwalitet apa perempuan itu.

Apakah benar perempuan ini adalah Tie-mo, yang merupakan salah satu dari Delapan Iblis Negara Thian Tik?

Kalau dihitung usianya iblis perempuan ini seharusnya sudah merupakan seorang nenek-nenek, tetapi mengapa nampaknya masih seperti perempuan setengah tua?

Hui Kiam berdiri di ambang pintu ruangan. Ia tidak langsung masuk ke dalam. Matanya mengawasi perempuan yang berpakaian serbamerah itu, agaknya menantikan pertanyaan perempuan itu.

Perempuan berbaju merah itu terpesona oleh wajah tampan dan sikap gagah Hui Kiam.  Lama sekali ia baru membuka mulut:

“Hui Siaohiap, mengapa tidak sudi masuk? Silahkan. Mari kita bicara secara terus terang.”

“Tidak perlu,” jawab Hui Kiam dingin.

“Kiranya siaohiap sudah tahu asal-usul diriku si orang tua?” “Mengapa tidak mau masuk?”

“Tidak ada perlunya.” “Kalau begitu dengan maksud apa siaohiap datang kemari?” “Ingin belajar kenal dengan cara bagaimana kau melatih pasukan

Im-hong Tui?”

Paras perempuan itu berubah seketika, tapi kemudian ia memperdengarkan tertawanya yang genit, kemudian berkata:

“Apakah siaohiap sudah tahu urusan tentang Im-hong Tui?” “Hem.”

“Siaohiap tentunya tidak akan bermusuhan dengan Tong-hong Taycu, bukan?”

Hui Kiam terkejut: “Ini perlu aku lihat dulu kenyataan, baru dapat menetapkan apa yang harus bertindak selanjutnya.”

“Aku tidak mengerti?”

“Sederhana sekali. Aku selamanya tidak akan melepaskan begitu saja kawan-kawan orang jahat.”

“Hem... beberapa anak buah persekutuan kami telah tewas di dalam rimba sebelah barat.”

“Ya, itu adalah perbuatanku sendiri.”

Iblis wanita itu bangkit dari tempat duduknya lalu berkata: “Apabila siaohiap benar-benar cinta Tong-hong Taycu, tidak

seharusnya berbuat demikian.”

“Bagiku antara cinta dengan benci itu mempunyai garis pemisah yang jelas, aku tidak akan mengabaikan tugasku sebagai orang gagah.”

“Kalau demikian halnya kau beimaksud hendak bermusuhan dengan persekutuan kami, Bulan Emas?”

“Aku memang tidak menyangkal.”

“Apakah kau sudah memikirkan akibatnya?” “Sudah kupikirkan masak-masak.” “Kalau begitu kedatanganmu malam ini sudah tentu ada maksudnya?”

“Sudah tentu.” “Apa maksudmu?”

“Hendak menghancurkan sarang kejahatan ini untuk menuntut balas bagi kawan-kawan yang tidak berdosa dan untuk menegakkan keadilan serta kebenaran dalam persilatan.”

“Ha, ha, ha, ha….”

Iblis Tie-mo itu tertawa terbahak-bahak namun dalam suara tertawanya itu mengandung sikap memandang rendah, juga mengandung nafsu membunuh.

“Apa yang kau tertawakan?” demikian tegur Hui Kiam.

An Yu Ciu yang sejak tadi terus berdiri tenang di samping, tiba- tiba berkata dengan suara nada gusar:

“Penggali Makam, apakah kau sedang menggali makam untukmu sendiri?”

“Kau masih belum pantas berbicara denganku,” demikian jawab Hui Kiam tanpa menoleh.

“Kau terhitung manusia apa? Jikalau bukan karena memandang muka Tong-hong Taycu, sejak tadi aku sudah bunuh kau untuk umpan anjing.”

Hui Kiam perlahan-lahan membalikkan badannya untuk menghadapi An Yu Ciu.  Katanya dengan suara dingin:

“Orang pertama yang hendak kubunuh malam ini adalah kau!”

Seraut wajah An Yu Ciu merah membara, matanya memancarkan sinar buas, maju selangkah seraya berkata:

“Tuan mudamu segera akan kirim kau ke akherat.   Di sanalah kau nanti boleh membual sesukamu ”

Iblis Tiee-mo lintangkan tangannya dan berkata kepada muridnya: “Ciu jie, kau mundur!”

An Yu Ciu dengan sikapnya yang sombong menjawab: “Suhu, muridmu tidak sanggup menelan kehinaan ini. ”

“Kau mundur, nanti akan tahu sendiri!”

An Yu Ciu terpaksa mengundurkan diri tetapi matanya buas, masih tetap ditujukan kepada Hui Kiam.

Iblis Tiee-mo bertindak keluar dari ruangan. Ia menghampiri Hui Kiam dan berkata dengan suara dalam dan perlahan:

“Apakah kau tidak sayang jiwamu sendiri!?”

Hui Kiam membalas dengan tertawa dingin kemudian baru berkata:

“Aku lebih sayang jiwanya sahabat-sahabat rimba persilatan daerah Tiong Goan.”

“Kalau kau memang sengaja mencari mampus, Tonghong Hui Bun tidak akan sesalkan perbuatanmu. ”

“Aku hanya melakukan tugasku untuk membasmi kejahatan.

Mungkin ia menyesalkan tindakanku terlalu ganas.”

“Kau jangan membual. Tahukah kau bahwa aku membunuh orang bagaikan pekerjaan biasa?”

“Kau iblis dari daerah luar. Kau berani masuk ke daerah Tiong Goan melakukan kejahatan, sehingga banyak jiwa jadi korban keganasanmu. Maka itu kecuali mati sudah tiada jalan lagi bagimu!”

“Bocah, aku hendak cincang tubuhmu ”

Pada saat itu, An Yu Ciu tiba-tiba maju menghampiri suhunya dan berkata:

“Suhu, biarlah muridmu yang menghadapinya!” “Kau harus berlaku hati-hati.”

“Suhu terlalu banyak pikiran!” Setelah berkata demikian, tangannya lalu bergerak menyambar dada Hui Kiam.

Gerakannya ini sebetulnya merupakan suatu gerakan biasa. Tetapi gerakan yang keluar dari tangan An Yu Ciu itu, keadaannya sangat berlainan. Gerakan yang sederhana itu, ternyata mengandung serangan sangat ganas. Jika orang manganggap serangan iru serangan biasa, pasti akan terbinasa olehnya.

Hui Kiam juga tahu bahwa kedatangannya seorang diri ke dalam goa harimau malam itu karena harus menghadapi banyak lawan tangguh, ia tidak akan menggunakan kekuatan tenaganya dengan cuma-cuma maka ia sudah memperhitungkan dengan masak- masak. Pada saat serangan si pemuda she An itu tiba, ia segera menutup dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya melancarkan serangan dengan menggunakan jari tangan.

Kepandaian An Yu Ciu ternyata tinggi juga. Ia segera merasakan agak aneh hembusan angin yang keluar dari tangan itu. Ia segera menggeser kakinya, dengan kecepatan luar biasa ia lompat minggir hingga terhindar dari serangan maut itu.

Kepandaian Hui Kiam sudah mencapai taraf yang tinggi. Ketika serangan itu mengenakan tempat kosong, segera menghentikan serangan dari samping itu dengan kecepatan luar biasa.

An Yu Ciu yang berhasil mengelak dari serangan jari tangan, tetapi tidak berhasil menyingkir serangan dari samping itu. Ia sudah tidak keburu menangkis, sehingga serangan itu mengena dengan telak.

Tidak ampun lagi badan An Yu Ciu sempoyongan dan membentur tiang rumah, sehingga ruangan itu menimbulkan getaran hebat. Setelah terhuyung-huyung sejenak baru berhasil pertahankan dirinya, tetapi mulutnya mengeluarkan darah.

Dua perempuan muda yang menyaksikan kejadian itu, wajah mereka pucat seketika, mulutnya mengeluarkan suara jeritan.

Paras Tie-mo berobah. Ia dapat kenyataan bahwa kekuatan Hui Kiam jauh di luar perhitungan. Sebaliknya dengan Hui Kiam, ia agak merasa kecewa karena tidak berhasil membinasakan lawannya dengan serangan itu. Selagi semua orang dalam keadaan terkejut dan terheran-heran, Hui Kiam sudah mengayunkan pula tangannya, melancarkan serangannya ke arah An Yu Ciu.....

Tie-mo dengan cepat pula melancarkan serangannya dari samping untuk menyambut serangan Hui Kiam itu:

An Yu Ciu menyeka darah yang mengalir di bibirnya dan kemudian menghunus pedangnya.

Tie-mo dengan wajah pucat berkata sambil menuding ke arah Hui Kiam:

“Bocah, kalau aku tak berhasil membunuhmu, percuma aku mendapat nama gelaranku ini!”

“Iblis wanita, kau memang tak pantas menjadi manusia!” “Serahkan jiwamu!”

Iblis itu segera melancarkan serangannya kepada Hui Kiam. Gerak tipu serangannya itu nampaknya sangat aneh dan ganas seolah-olah sulit untuk  dihindarkan.

Hui Kiam menggunakan ilmu gerak kakinya yang amat luar biasa. Bagaikan hantu, ia sudah mengelakkan diri dari serangan tersebut kemudian balas menyerang.

Kebetulan pada saat itu Tiee-mo juga melancarkan serangan lanjutannya, sehingga serangan kedua pihak saling membentur. Setelah menimbulkan suara benturan nyaring, kedua pihak mundur satu langkah.

An Yu Ciu menggunakan kesempatan itu. Pedang di tangannya secepat kilat menikam jalan darah Beng-bun-hiat di belakang punggung Hui Kiam.

Hui Kiam minggir ke samping, kemudian melancarkan satu serangan hebat. An Yu Ciu memperdengarkan suara jeritan ngeri. Badannya tersapu dan jatuh di pekarangan.

Bersamaan dengan itu, hawa dingin yang luar biasa, menyerang tubuh Hui Kiam dengan tanpa suara. Hui Kiam hanya merasakan dingin sekujur badannya, kemudian kepalanya dirasakan pusing.

Sementara yang mengandung hawa dingin ini, adalah tipu serangan ciptaan Tiee-mo yang dinamakan Tui-hong Im-hong. Siapa yang terkena serangan itu, hawa dingin yang mengandung racun itu segera menyusup melalui urat-urat nadi dan jalan darah. Betapapun tinggi kepandaian orang terkena serangan itu juga tidak akan sanggup bertahan sampai setengah jam lamanya.

Tetapi Hui Kiam yang melatih ilmu kepandaianrya berdasarkan kepandaian dari pelajaran Thian Gee, jalan darah berlainan dengan orang biasa, sehingga racun hawa dingin itu tidak berdaya masuk ke dalam jantung hatinya.   Daya perlawanan yang keluar dari badan Hui Kiam, segera mendesak keluar hawa dingin yang mengandung racun itu, maka ia hanya merasa pusing sebentar saja, kemudian pulih seperti biasa.

Tiee-mo yang belum mengetahui itu, masih menegurnya dengan suara seram.

“Bocah, kau bersedia mati dengan cara bagaimana? Aku justru tidak tahu dengan cara bagaimana untuk mengambil jiwamu baru aku merasa puas.”

Hui Kiam memperdengarkan suara dari hidung kemudian berkata:

“Kau sedang mimpi.”

Pada saat itu sepuluh lebih bayangan orang melayang masuk ke dalam pekarangan itu. Salah satu di antara mereka, seorang yang lanjut usianya, maju dan berkata sambil memberi hormat:

“Kami anak buah badan pelindung hukum tunggu perintah.” “Kalian tunggu saja.”

“Baik.” “Hem. bagaimana dengan tamu-tamu yang baru ini?”

“Semua berjalan seperti biasa. Sudah diperintahkan orang untuk memasukkan ke dalam kereta!”

Hui Kiam yang mendengarkan pembicaraan itu, dadanya dirasakan mau meledak. Dalam waktu yang sangat singkat itu, orang-orang gagah itu ternyata sudah binasa di tangan perempuan- perempuan muda itu. Semuanya tidak berdosa, karena mereka sudah lupa diri sendiri dengan pengaruh obat, sehingga berobah menjadi alatnya iblis wanita itu.....

---ooo0dw0ooo---