Pedang Pembunuh Naga Jilid 21

Jilid 21

HATI Hui Kiam bergidik, apakah ia sendiri benar-benar harus turun tangan terhadap kekasihnya itu? Ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat ganjil. Tetapi pendirian perempuan cantik itu sudah nyata, berdiri di pihak Persekutuan Bulan Emas. Dan kedatangannya malam ini, sudah jelas karena mendapat kabar terjadinya pertempuran dalam kuil ini. Jika ia hendak menghindarkan pertempuran dengannya, satu-satunya jalan ialah kabur, tetapi persoalan tusuk konde emas berkepala burung hong itu, harus dibereskan lebih dulu....

Mata Tong-hong Hui Bun beralih ke wajah Siu Bie, kemudian berkata kepadanya:

“Nampaknya kau adalah anak murid Penghuni Loteng Merah?” “Benar!” jawab Siu Bie sambil mengertak gigi.

Tong-hong Hui Bun beralih pula pandangan matanya ke arah Hiat-ie Nio-cu seraya berkata: “Kau mengejar Orang Berbaju Lila apakah karena hendak membalas dendam Penghuni Loteng Merah?”

Mata Hiat-ie Nio-cu segera menunjukkan kebuasan, katanya dengan suara gemetar:

“Tidak salah!”

“Ada hubungan apa kau dengan Penghuni Loteng Merah?” “Tidak perlu kau tahu!”

“Hem, aku juga tidak mempunyai kegembiraan untuk mencampuri urusanmu! Di sini ada seratus jiwa lebih, hanya kau berdua yang bisa dibuat ganti, ini terlalu murah. Hiat-ie Nio-cu dua puluh tahun berselang, namamu sudah menggetarkan dunia Kang- ouw karena perbuatanmu yang terlalu kejam dan ganas. Malam itu kau boleh merasakan sendiri bagaimana caranya diperlakukan sekejam itu seperti apa yang dahulu pernah kau lakukan terhadap orang lain.”

Sehabis berkata, ia lalu memberi perintah kepada empat pelayannya:

“Tangkap hidup-hidup!” “Baik!”

Dengan serentak empat wanita muda maju menjadi dua rombongan, untuk menghadapi Hui Kiam dan Siau Bie.

Ketika empat pelayan wanita itu sudah serempak, suasana menjadi tegang.

Hiat-ie Nio-cu agaknya sudah marah benar-benar. Sambil menggeram hebat dan pentang jari tangannya menubruk Tong- hong Hui Bun.

Begitu dua jago betina itu bertarung, terjadilah suatu pertempuran yang jarang tampak dalam rimba persilatan.

Siu Bie sambil menenteng pedangnya menyambut kedatangan dua pelayan wanita itu. Tiga bilah pedang bagaikan tiga ekor ular yang baru keluar dari gua, saling tikam dan saling menyambar, hanya sinarnya saja yang tampak berkelebatan.

Hui-Kiam merasa ragu-ragu. Ia sedang memikirkan baik turun tangan atau tidak?

Sebelum dapat meggambil keputusan, dua bilah pedang sudah mengancam dirinya. Ia segera menggeser kakinya bagaikan seekor belut sudah melesat ke lain tempat, menyingkir dari serangan tersebut.

Dua pelayan perempuan itu dikejutkan oleh gerak kaki Hui-Kiam yang luar biasa itu. Mereka segera mengetahui bahwa lawan ini bukanlah lawan sembarangan. Namun demikian, mereka tidak takut, lagi sekali melancarkan serangannya yang lebih hebat.

Dengan tenang Hui-Kiam berkelit kesana kemari. Meski dua pelayan perempuan itu sudah mengeluarkan seluruh kepandaian mereka namun masih belum berhasil menyentuh bajunya.

Siu-Bi yang menghadapi dua lawan, meski sukar merebut kemenangan, tapi juga tidak akan kalah. Untuk sementara keadaan masih berimbang.

Tong-hong Hui Bun dengan Hiat-ie Nio-cu yang merupakan tandingan setimpal, mereka bertempur sengit sekali. Nampaknya kekuatan kedua pihak berimbang, tetapi dari sudut kelincahan, Tong-hong Hui Bun nampak lebih unggul.

Pertempuran berjalan belum beberapa lama, dua pelayan wanita yang melawan Hui Kiam sudah terengah-engah napas mereka. Keringat membasahi sekujur badan, karena lari kesana kemari tanpa berhasil menyentuh Hui Kiam.

Dua pelayan itu tidak menyangka bahwa kepandaian Sukma Tidak Buyar itu ternyata jauh lebih tinggi dari apa yang pernah didengarnya. Lawannya itu sejak mulai pertempuran belum pernah balas menyerang, hanya menggunakan kelincahan gerak kakinya, lari berputar-putaran, seolah-olah tidak pandang ilmu pedang kedua lawannya. Seandainya lawan itu mau turun tangan, mungkin mereka sudah tidak dapat melanjutkan pertempurannya lagi. Karena Hui Kiarn tidak ingin melukai mereka, tetapi juga tidak mau membuang tempo, maka lalu membentak dengan suara keras.:

“Tahan!”

Seruannya itu berhasil. Dua pelayan wanita itu segera menarik kembali serangannya dan lompat mundur dengan berbareng. Satu di antaranya berkata dengan suara gemetar:

“Sukma Tidak Buyar, apa maksudmu?”

“Aku tidak ingin mengambil jiwa kalian berdua. Kalau kalian tahu diri, lekas mundur ke samping untuk beristirahat!” jawabnya dingin.

Dua pelayan wanita itu meski tahu bukan tandingan lawannya, tetapi di bawah perintah keras Tong-hong Hui-Bun, siapa yang berani mundur?

Satu di antaranya lalu menyahut:

“Apa kau kira ucapanmu ini cukup kuat memerintah kami?”

“Hm! Kalau tidak percaya kalian boleh keluarkan seluruh kepandaian kalian. Kalau kalian sanggup meryambut seranganku sekali saja, aku akan melemparkan pedangku.”

Hati kedua perempuan itu tergerak. Dengan kepandaian mereka berdua yang di dalam kalangan jarang menemukan tandingan, apakah benar sampai tidak mampu menyambut serangan lawannya itu satu kali saja? Kesombongan lawannya itu merupakan satu kesempatan baik, maka mereka berdua saling berpandangan sejenak, satu di antaranya lalu berkata:

“Katamu hanya satu kali saja?”

“Benar, mungkin juga sudah cukup setengah saja!” “Ucapan ini apa benar?”

“Aku tidak perlu main-main!”

“Kalau begitu silahkan tuan bertindak!”

Hui-Kiam perlahan-lahan mengangkat pedangnya. Katanya dengan suara dingin: “Avvas, aku hendak mulai!”

Setelah itu, pedangnya diputar dan membuat garis setengah lingkaran.

Dua pelayan itu mungkin karena terlalu tegang perasaannya, kedua-duanya sudah siap dengan pedangnya untuk menuntut serangan Hui-Kiam.

Sesaat kemudian, terdengar suara ‘Trang! Trang!’ lalu disusul oleh dua kali jeritan terkejut. Pedang dua pelayan itu terlepas dari tangannya dan terbang sejauh dua tombak. Orangnya juga terpental mundur satu tombak lebih. Kedua-duanya berdiri terpaku dengan paras pucat pasi.

Hui Kiam hanya sejenak saja melirik kedua lawannya itu, kemudian mengalihkan pandangan matanya ke medan pertempuran yang lain.

Tong-hong Hui-bun agaknya dikejutkan oleh kejadian di luar dugaannya itu, hingga gerakannya agak terlambat. Kesempatan itu memberikan kesempatan bagi lawannya, Hiat-ie Nio-cu, merebut posisi yang menguntungkan. Ia terdesak mundur. Setelah menggunakan tiga rupa gerak tipunya yang terampuh, baru berhasil memperbaiki kedudukannya.

Di lain pihak, Siu-Bi yang melawan dua pelayan wanita, masih berjalan seru dalam keadaan berimbarg.

Hui-Kiam menenangkan pikirannya. Ia mulai menganalisa persoalan yang menyangkut tusuk konde emas berkepala burung hong. Dari ucapan Hiat-ie Nio-cu, taksirannya yang semula nampaknya saling bertentangan, agaknya sudah menemukan sedikit titik terang.

Siu Bie adalah murid kepala Penghuni Loteng Merah, dan munculnya kembali Hiat-ie Nio-cu ke dunia Kang-ouw, hanya semata-mata hendak menuntut balas kepada Orang Berbaju Lila atas kematian Penghuni Loteng Merah. Hiat-ie Nio-cu mengaku bahwa tusuk konde emas termaksud adalah senjata tunggalnya. Menurut dugaan yang sudah-sudah, dimisalkan To Liong Kiam Khek adalah ayahnya sendiri, dan Penghuni Loteng Merah itu adalah kekasih ayahnya, mungkin karena ingin mendapat cinta kasih sepenuhnya dari sang ayah atau sebab lain, sehingga membunuh ibunya, semua ini mungkin saja bisa terjadi.

Menurut keterangan Hiat-ie Nio-cu, tusuk konde emas itu hanya ada dua buah. Sebuah di badannya sendiri, satu langkah diberikan kepada putri sulungnya Pek-leng lie-Kong Yong Hong. Sedangkan tusuk konde yang digunakan oleh Penghuni Loteng Merah untuk membunuh ibunya mungkin didapatkan dari Pek-leng-lie. Tetapi menurut Hiat-ie-Niocu, Pek leng-lie itu agaknya sudah menghilang tidak diketahui jejaknya, maka ketika-Hiat-ie Nio cu mendengar kabar bahwa Orang Tua Tiada Turunan sedang melakukan penyelidikan tentang siapa pemilik tusuk konde emas itu, sehingga ia turun tangan dan memaksa Orang Tua Tiada Turunan untuk memberitahukan dimana adanya tusuk konde itu.

Dalam hal ini, sudah tentu kalau Pek-leng-lie itu yang melakukan kejahatan tersebut, kemungkinan juga ada.

Pendek kata, Hiat-ie Nio-cu dan putrinya tidak terlepas dari sangkaan tersebut. Kini Penghuni Loteng Merah sudah binasa, maka soal menuntut balas itu cukup ditujukan kepada mereka berdua.

Ia teringat pula kepada diri Orang Tua Tiada Turunan. Hian-ie Nio-cu telah menyangkal membawa lari orang tua itu, kalau begitu siapakah yang melarikan dirinya seorang tua yang sudah terluka parah itu?

Ini kembali merupakan suatu teka-teki yang memusingkan kepala.

Suara rintihan perlahan, telah memutuskan lamunan Hui Kiam. Ia segera dapat melihat Tong-hong Hui Bun yang parasnya sudah berobah dan  mundur terhuyung-huyung....

Hiat-ie Nio-cu setelah memperdengarkan suara tertawanya yang mengunjukkan kepuasan hatinya, lalu berkata: “Sayang parasmu yang cantik ini, akan rusak membusuk bersama-sama dengan daging tubuhmu!”

“Tua bangka, kau menggunakan senjata rahasia beracun apa?” demikian Tong-hong Hui Bun bertanya dengan suara bengis.

“Tidak halangan kuberitahukan kepadamu. Senjata itu bernama kuku terbang. Paling lama kau cuma bisa hidup setengah jam lagi, tetapi jika tidak ingin kau menderita lebih lama, sebaiknya kau turun tangan sendiri untuk mengakhiri hidupmu!”

Dua pelayan yang sedang bertempur dengan Siu Bi segera meninggalkan lawannya, bersama-sama dengan dua pelayan lain lompat melesat ke samping Tong-hong Hui Bun untuk memberi pertolongan kepada majikannya.

Hui Kiam sendiri hampir saja binasa oleh senjata beracun istimewa itu, ketika menyaksikan kekasihnya terluka oleh senjata itu, merasa sangat pilu, juga merasa gemas......

Hiat-ie Nio-cu maju lagi satu langkah.....

Empat pelayan wanita itu dengan serentak mengambil tindakan untuk melindungi Tong-hong Hui Bun.

Hiat-ie Nio-cu ayun tangan kirinya, tangan kanannya menyambar. Tiga pelayan perempuan itu segera terpental mundur, dan yang satu lagi tersambar mukanya.

Pelayan yang malang itu menjerit ngeri, mukanya rusak karena tersambar oleh jari tangan Hiat-ie Nio-cu yang berkuku runcing itu. Ia bergelimpangan di tanah dalam keadaannya sangat mengerikan.

Hampir bersamaan pada waktu pelayan itu tersambar, Tong- hong Hui Bun menggunakan seluruh sisa kekuatan tenaganya melancarkan satu serangan.

Hiat-ie Nio-cu terpental mundur empat lima langkah, sedang Tong-hong Hui Bun setelah melancarkan serangannya itu, badannya sudah sempoyongan hendak roboh. Keadaan serupa itu sudah pernah dialami sendiri oleh Hui Kiam, karena menggunakan kekuatan tenaga dalam, sehingga racun di dalam tubuhnya menjalar semakin kuat.

Hiat-ie Nio-cu tertawa terbahak-bahak. Ia maju lagi sambil mementang jari tangannya, hendak menyambar Tong-hong Hui Bun.....

“Kau cari mampus!”

Itu adalah suara bentakan yang keluar dari mulut Hui Kiam. Secepat kilat ia telah bertindak, pedangnya menyerang Hiat ie Nio- cu.

Hiat-ie Nio-cu dapat merasakan bahwa serangan Hui Kiam itu luar biasa hbebatnya. Dengan tanpa banyak pikir, ia segera melompat mundur. Meskipun gerakannya itu sudah cukup gesit, tetapi pedang Hui Kiam bergerak lebih cepat.

Di antara suara seruan terkejut, Hiat-ie Nio-cu berdiri di tempat sejauh delapan kaki. Baju berdarahnya robek sebagian, darah merah menetes keluar. Hantu wanita yang biasa menggunakan darah musuhnya untuk menandai bajunya, sekarang baju itu sudah menjadi merah oleh darahnya sendiri. Kalau semula baju itu masih putih dengan bintik-bintik warna merah, tetapi sekarang sudah menjadi merah seluruhnya.

Hui Kiam berpaling kepada Tong-hong Hui Bun dan bertanya kepadanya:

“Bagaimana lukamu?”

Paras Tong-hong Hui Bun pucat pasi, keringat dingin membasahi badannya. Dengan tidak bertenaga dia memandang Hui Kiam sejenak, lalu berkata:

“Kau. mengapa sudi menolong aku?”

Hui Kiam sedih sekali. Ia ingin membuka kedoknya dan memeluk Tong-hong Hui Bun....

Tong-hong Hui Bun sudah berkata lagi: “Sukma Tidak Buyar, aku sebetulnya hendak membunuh kau.”

Hui Kiam sebisa-bisa menindas perasaannya sendiri, supaya suaranya tidak gemetar. Dengan tenang ia menjawab:

“Aku tahu.”

“Kalau begitu kau masih hendak menolong aku?” “Sebab aku hendak membunuhnya.”

Jawaban itu tidak tepat, tetapi tidak disadari olehnya.

Tong-hong Hui Bun mengunjukkan senyumnya. Ia berkata: “Aku ingat budimu ini!”

“Tidak perlu!”

“Kekuatanmu sesungguhnya di luar dugaan.” “Kau terlalu memuji!”'

“Aku harap kau selanjutnya tidak bermusuhan lagi dengan Bulan Emas!”

“Ini barangkali tidak mungkin!”

“Mengingat akan bantuanmu ini, aku beri sedikit nasehat kepadamu. Dalam rimba persilatan dewasa ini tiada orang yang sanggup melawan kekuatan pemimpin Bulan Emas. Bagaimana akibatnya orang yang berani bermusuhan dengan persekutuan itu, kau dapat membayangkan sendiri.”

“Terima kasih atas nasehatmu. Tetapi seorang yang ingin menguasai dunia dengan tangan berlumuran darah, bagaimana akhirnya juga dapat kau bayangkan sendiri. Sejak dahulu kala kejahatan tidak bisa memenangkan kebenaran, keadilan dan kebenaran tidak bisa musnah untuk selama-lamanya.”

Tong-hong Hui Bun agaknya sudah tidak sanggup menahan penderitaannya lagi. Badannya gemetaran, sehingga perlu segera dibimbing oleh pelayan-pelayannya. Pada saat itu, Hui Kiam baru mengetahui bahwa Hiat-ie Nio-cu dan Siu Bi, sudah menggunakan kesempatan selagi ia bicara dengan Tong-hong Hui Bun diam diam sudah berlalu!

Dengan berlalunya hantu wanita itu, agaknya sulit untuk menemukan lagi, dengan demikian maka teka teki meliputi tusuk konde emas itu, akan diperpanjang waktunya lagi.

Ia juga menyesal, karena seluruh perhatiannya tadi ditujukan kepada Tong-hong Hui Bun, sehingga agak lengah terhadap dirinya hantu wanita itu.

Tiba-tiba ia teringat akan pengalamannya sendiri, maka segera berkata dengan hati cemas:

“Dalam waktu setengah jam, apa kau dapat mencari sesuatu barang?”

Tong-hong Hui Bun coba kuatkan dirinya. Ia bertanya dengan perasaan heran:

“Barang apa?”

“Obat pemunah racun dedaunan!”

“Kau maksudkan obat pemunah racun dedaunan rumput?” “Benar!”

“Untuk apa?”

“Racun kuku terbang ini, siapapun tidak sanggup bertahan Iebih dari setengah jam, tetapi obat itu dapat menyembuhkan racun yang amat berbisa ini!”

Hingga saat itu, Hui-Kiam baru menyadari gawatnya kejadian ini. Apabila dalam waktu setengah jam tidak mendapatkan obat pemunahnya, Tong-hong Hui-bun pasti akan binasa.

Berpikir demikian, hatinya merasa sangat gelisah. Apabila benar ia akan mati karena racun itu, apakah ia sendiri masih ada keberanian untuk hidup terus!

“Kataku, dalam waktu setengah jam, setengah jam!” Tong-hong Hui-bun menunjukkan sikap agak bingung. Katanya dengan suara perlahan:

“Boleh!”

“Itu... bagus sekali!”

Dahulu ketika kedua mata Hui-Kiam buta karena racun si Iblis Singa, Tong-hong Hui Bun pernah menyatakan keyakinannya bahwa ia sanggup menyembuhkan matanya, maka dia mengetahui bahwa Tong-hong Hui Bun pasti sanggup mendapatkan obat pemunah itu. Apa yang dikhawatirkan hanya soal waktu, tetapi setelah ia memberi keterangan, kini boleh merasa lega.

Tetapi apa yang ditunjukkan oleh Hui Kiam itu, sangat membingungkan Tong-hong Hui Bun dan para pelayannya, sebab belum lama berselang Hui Bun, merupakan orang yang harus disingkirkan juga, sudah tentu Tong-hong Hui Bun tidak menduga sama sekali bahwa orang yang kini berada di hadapan matanya itu adalah kekasihnya sendiri, si Penggali Makam Hui Kiam.

Tong-hong Hui Bun segera pamitan dengan Hui Kiam. Dia berlalu di bawah bimbingan para pelayannya.

Pelayan wanita yang tadi kena tercakar oleh jari kuku Hiat-ie Nio- cu, entah sekejap sudah putus jiwanya.

Hui Kiam dengan hati pilu mengawasi berlalunya sang kekasih itu. Ia ingin membuka kedoknya sendiri, untuk merawat kekasihnya itu tetapi ia mengendalikan perasaannya. Ia ingat masih banyak urusan yang belum diselesaikan, terutama Cui-Wan Tin, tadi di dalam makam pedang itu, ia merasa, ia harus berlaku hati-hati, jangan sampai menimbulkan rasa dengki Tong-hong Hui-Bun, karena kalau hal itu itu terjadi, akibatnya hebat sekali.

Beberapa lama ia berdiri terpaku, pikirannya sangat kalut.

Akhirnya ia dapat juga mengambil keputusan, lain kali apabila bertemu lagi dengan Tong-hong Hui-Bun, harus minta keterangan kepadanya mengenai hubungannya dengan Persekutuan Bulan Emas dan asal-usulnya yang sebenarnya. Jikalau kedua belah pihak berdiri berhadapan sebagai musuh, akibatnya sudah dibayangkan.

Ia juga teringat akan diri Sukma Tidak Buyar yang juga mengejar Hiat-ie Nio-cu. Karena hantu wanita itu sudah diketemukan olehnya, sudah tentu Sukma Tidak Buyar tidak mendapatkan apa- apa. Keduanya sudah berjanji akan berjumpa di bawah bukit Bu- ling-san untuk merencanakan usahanya mencegah gerakan Im- hong-tui, yang dipimpin oleh Bi-mo, salah satu dari Delapan Iblis Negara Thian-tik. Apabila gerakan iblis itu berhasil, lebih sulit lagi ditumpasnya.

Kalau hanya dengan satu dua orang saja tidak mungkin dapat mencegah sepak terjang kawanan penjahat yang sudah mulai menjalar pengaruhnya ke seluruh negri itu.

Apabila dilihart dari tindak tanduk Sukma Tidak Buyar, agaknya di belakang layar sudah ada orang kuat golongan benar yang mengatur rencana untuk membasmi kawanan penjahat itu.   Kalau itu benar, sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang patut dihargakan.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking.

Hui Kiam terkejut, sambil berseru: “Celaka!” segera lompat melesat keluar dari dalam kuil.

Belum lama Tong-hong Hui Bun bersama pelayannya berlalu, dan Hiat-ie Nio-cu yang sudah menyingkir lebih dulu, ada kemungkinan besar, menyembunyikan diri di dekat tempat itu. Suara jeritan itu sudah terang keluar dari mulut pelayan-pelayan Tong-hong Hui-Bun. Hal itu sudah tentu mencemaskan Hui Kiam.

Begitu tiba di luar kuil, suatu pemandangan yang mengerikan terbentang di adapan matanya.

Dua di antara tiga pelayan Tong-hong Hui Bun sudah mati dalam keadaan mandi darah, yang lainnya berdiri terpaku di tempat sejauh dua tombak sedangkan Tong-hong Hui-Bun rambutnya sedang dipegang erat-erat oleh si Orang Berbaju Lila, ujung pedang mengancam dadanya.

Hui Kiam seketika itu dadanya dirasakan hampir meledak darahnya naik seketika dengan tanpa ayal ia membentak dengan suara keras:

“Bebaskanlah dia!”

Orang Berbaju Lila itu mengangkat kepala. Matanya memancarkan sinar aneh yang tidak dapat dimengerti oleh Hui- Kiam. Lama baru berkata:

“Apa kau kira mungkin akan kubebaskan?”

Hui Kiam sungguh tidak menduga bahwa orang yang menyerang Tong-hong Hui Bun adalah si Orang Berbaju Lila, bukan Hiat-le Nio- cu seperti yang diduganya semula.

Otang Berbaju Lila itu pernah dipaksa terjun ke dalam jurang oleh Tong-hong Hui Bun dan kini mendapat kesempatan menuntut balas, sudah tentu tidak gampang-gampang melepaskannya.

Orang Berbaju Lila itu merupakan musuh besar perguruannya. Hampir setiap saat Hui Kiam memikirkan hendak menuntut balas dendam.

“Lepaskan!” “Tidak bisa!”

“Kalau kau berani ganggu seujung rambutnya saja, aku akan cincang tubuhmu!”

“Biar bagaimana kau tokh akan membunuh aku, betul tidak? Tidak perduli aku membunuhnya atau tidak, tokh tidak akan berobah hasratmu.”

Hui Kiam bergidik, apakah Orang Berbaju Lila itu sudah mengetahui siapa dirinya yang sebetulnya? Jikalau tidak, bagaimana ia berani berkata demikian? Untuk membebaskan Tong- hong Hui Bun dari tangannya, nampaknya tidak mudah lagi. Waktu itu cuaca sudah mulai remang-remang, agaknya sudah mendekati pagi hari.

Orang berbaju lila itu berkata kepada Tong-hong Hui Bun:

“Tong-hong Hui Bun, jikalau kau ingin hidup, kau harus terima baik syaratku.”

Tong-hong Hui Bun yang sudah susah bernapas, berkata dengan suara sangat perlahan sekali:

“Syarat apa?”

“Kau harus bersumpah untuk memutuskan hubunganmu dengan Hui Kiam.”

Tergerak hati Hui Kiam, pikirnya: Orang berbaju lila itu belum tahu wajahku yang sebenarnya, apa maksudnya memajukan syarat itu?

Karena rasa dengki? Ataukah belum dapat melupakan Tong- hong Hui Bun?

Mendengar perkataan itu, Tong-hong Hui Bun menjawab dengan suara bengis:

“Tidak bisa, aku cinta kepadanya. Ia merupakan satu-satunya orang dalam seumur hidupku yang kucinta dengan setulus hati, siapapun tidak dapat ”

Hati Hui Kiam tergetar. Tong-hong Hui Bun yang sedang menghadapi ancaman bahaya maut tetapi masih tetap setia kepada cintanya, apakah kecintaan itu dapat diabaikan begitu saja?

Mata Orang Berbaju Lila nampak beringas. Ia berkata dengan suara keras:

“Perempuan hina, apa kau ingin mencari mati?” “Kau......bunuhlah! Dia nanti juga membunuhmu sebagai

pembalasan atas perbuatanmu ini.”

“Perempuan hina, tahukah kau sedang berbuat apa?” “Aku tidak perduli.” “Kalau begitu aku terpaksa harus membunuh kau.” “Kau bisa menyesal!”

“Setidak-tidaknya lebih baik dari pada membiarkan kau hidup melakukan perbuatan durhaka!”

Darah Hui-Kiam dirasakan mendidih. Ia hampir saja menekan hancur gagang pedang yang dipegangnya. Dalam keadaan demikian ia benar-benar tidak berdaya karena ia khawatir akan mencelakakan diri Tong-hong Hui-bun. Ia tidak berani bertindak tetapi ia juga tidak dapat melihat kekasihnya binasa di tangan orang lain ….

Dalam keadaan tidak berdaya itu, ia telah mengambil keputusan untung-untungan.

Tong-hong Hui-bun sudah terkena racun kuku terbang Hiat-ie Nio-cu yang sangat berbisa perlu segera ditolong pada waktunya, apabila diperpanjang lagi waktunya, sekalipun orang berbaju lila itu tidak bertindak, ia juga tidak bisa hidup lagi.

Maka, dengan diam-diam ia mengerahkan semua kekuatan tenaga dalamnya, dan dipusatkan ke jari tangannya sambil menantikan kesempatan baik.....

Orang berbaju lila itu sekonyong-konyong menghela napas panjang, katanya:

“Aku minta, kau jangan berbuat demikian!” “Kau suruh aku bersumpah?”

“Benar.”

“Lepaskan aku dulu!”

Orang berbaju lila itu entah disengaja atau tidak, matanya melirik Hui Kiam sejenak lalu berkata:

“Tidak bisa!”

“Kalau tidak bisa sudah saja. Seumur hidup aku belum pernah minta pertolongan orang, mengapa harus minta belas kasihan?” “Sekalipun kau mati juga masih belum cukup untuk membayar hutang dosamu. Akhiri sendiri jiwamu yang penuh dosa ini!”

Tepat pada saat itu, Hui Kiam melancarkan serangannya dengan jari tangan.

Tindakannya itu boleh dikata sangat berbahaya. Dengan berkepandaian seperti orang berbaju lila itu, kalau ia mau dapat saja mengambil jiwa Tong-hong Hui-bun, di mana ia merasa dirinya sendiri terancam. Sekalipun serangan Hui Kiam itu tepat, tiada mungkin lebih cepat daripada gerakan ujung pedang Orang Berbaju Lila.

Akan tetapi, apa yang terjadi selanjutnya, ternyata di luar dugaan.

Pada saat serangan jari tangan Hui Kiam meluncur keluar, satu- satunya pelayan Tong-hong Hui-Bun yang masih hidup tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan melengking. Suara ini bukan saja sudah mengalihkan perhatian Orang Berbaju Lila tetapi juga menutupi suara hembusan angin yang keluar dari jari tangan itu.

“Ow....” demikian terdengar suara yang keluar dari mulut Orang Berbaju Lila yang segera mundur terhuyung-huyung. Bersamaan dengan itu tubuh Tong-hong Hui-Bun, jatuh rubuh di tanah.

Hui-Kiam dengan cepat segera menubruk sambil berseru: “Serahkan jiwamu!”

Pedangnya segera menerjang dengan menggunakan gerak tipu melempar pecut memutuskan aliran.

Orang Berbaju Lila menyambut serangan itu dengan pedangnya.

Kedua senjata saling beradu, percikan api memancar keluar, bersamaan dengan itu mata Hui Kiam merasa seperti tertutup, dua jari tangan sudah mengancam di depan matanya.

Bukan kepalang terkejutnya, dengan cepat ia menyingkir menggunakan gerak kakinya yang luar biasa itu. Sesaat itu ia melihat kelebatnya bayangan berbaju lila, yang segera menghilang dari depan matanya.

Tiba-tiba ia teringat gerak tipu serangan yang digunakan oleh orang berbaju lila itu, adalah serangan yang khusus untuk mengorek biji mata musuh ciptaan Tee-hong, yang telah dicurinya.

Dengan menggunakan waktu beberapa puluh tahun Tee-hong baru berhasil menciptakan gerak tipu serangannya itu„ maksudnya ingin mengorek biji mata Thian Hong untuk menunrut balas atas perbuatan yang kejam itu. Ia sebetulnya sudah mendapat petunjuk dari Tee-hong bagaimana harus memecahkan serangan tersebut, akan tetapi dalam keadaan tergesa-gesa ia sudah lupa menggunakan.

Ketika ia ingat itu, ternyata orang berbaju lila itu sudah merat, ia tidak bisa berbuat lain kecuali mengejarnya.

Karena rimba itu sangat lebat, cuaca juga belum terang, sehingga dalam waktu sekejap mata saja sudah kehilangan jejak si Orang Berbaju Lila.

Ia tahu bahwa ia tidak akan berhasil mengejarnya, sementara itu hatinya memikirkan keselamatan diri Tong-hong Hui Bun. Terpaksa ia balik kembali dengan hati penasaran. Tetapi ketika ia balik di tempatnya, ia berdiri dengan mulut ternganga, karena Tong-hong Hui Bun dan pelayannya sudah tidak tampak bayangannya.

Ia berdiri di situ seperti patung, otaknya bekerja memikirkan kembali setiap patah kata si Orang Berbaju Lila yang diucapkan kepada Tong-hong-Hui Bun. Ia coba menganalisa, ia merasa di antara Orang Berbaju Lila dengan Tong-hong Hui Bun, agaknya pernah terjalin suatu perhubungan, rasanya tidak begitu sederhana seperti yang dibantah oleh Tong-hong Hui Bun tempo hari.

Tetapi, ia segera menghibur dirinya sendiri. Perlu apa menyelidiki asal-usul dirinya yang lalu, asal satu sama lain sudah saling menyinta dengan tulus hati sudah cukup. Sekarang, tetapi sekarang dan yang lalu tetap sudah lalu. Hanya sayang, sekali lagi musuh besarnya itu dapat lolos lagi.

Inilah yang membuat hatinya tetap merasa penasaran.

Pada saat itu, sinar matahari pagi sudah mulai menyinari seluruh jagat, suara burung bersahutan di dalam rimba, mengurangi keseraman yang diciptakan oleh penumpahan darah besar-besaran tadi malam.

Sambil menarik napas dalam-dalam Hui Kiam menyimpan pedangnya, lalu meninggalkan tempat tersebut.

Tiba-tiba satu suara yang dikenal memanggilnya: “Siaohiap, tunggu sebentar!”

Hui Kiam menghentikan kakinya. Ia merasa heran bahwa ia sendiri sudah merobah mukanya mengapa ada orang yang menyebut dirinya siaohiap? Ketika berpaling, bukan kepalang terkejutnya, karena orang yang memanggilnya itu ternyata justru Orang Tiada Turunan yang sedang dicarinya.

Orang tua itu nampaknya sudah pulih kesehatannya, maka ia segera bertanya dengan perasaan heran:

“Cianpwee, kau. ”

Orang Tua Tiada Turunan itu batuk-batuk sebentar baru berkata: “Kau barangkali merasa heran mengapa aku bisa muncul di sini?” “Ya.”

“Orang yang tadi malam memancing keluar kau berdua dengan menyaru suara tertawanya Hiat-ie Nio cu kemudian membawa lari keluar aku dan menyembuhkan luka-lukaku, adalah orang yang mengaku bernama Orang Menebus Dosa.”

“Orang Menebus Dosa?”

“Benar, ia sendiri yang mengaku begitu. Aku sebetulnya juga hanya dengar suaranya tetapi tidak kelihatan orangnya.”

“Dia mengapa harus berlaku demikian misterius?”

“Aku sendiri juga tidak mengerti.” Kembali Hui Kiam harus putar otak. Perbuatan orang yang mengaku sebagai Orang Yang Menebus Dosa itu, sudah jelas memang sengaja menyingkiri dirinya, tetapi mengapa? Dari segala tindak-tanduknya dapat ditarik kesimpulan, bahwa Orang Menebus Dosa itu bukan saja mengetahui jelas asal-usul Hui Kiam, bahkan agaknya tidak jauh terpisah dari dirinya. Hal ini sudah pasti bukan tanpa sebab, tetapi apakah sebabnya?

Orang Tua Tiada Turunan itu berkata pula:

“Orang Menebus Dosa mengatakan bahwa ia ingin agar aku menyampaikan kepadamu. ”

“Perkataan apa?”

“Ia minta kau untuk sementara jangan menuntut balas kepada Orang Berbaju Lila.”

“Ow! Ini apa sebabnya?”

“Sebab pada dewasa ini tujuan satu sama lain adalah sama.” “Bertujuan sama?”

“Ya, terhadap bencana yang dihadapi dunia rimba persilatan pada dewasa ini, dia merupakan salah satu kekuatan yang tidak boleh dibiarkan begitu saja.”

“Orang Berbaju Lila itu berhati kejam dan ganas perbuatannya, kelakuannya rendah, ia tidak pantas turut berbicara dalam soal membasmi kejahatan.”

“Sekalipun seorang jagal ada kalanya juga bisa meletakkan goloknya.”

“Ucapan cianpwee itu apakah dikarenakan merasa besar hutang budi terhadap Orang Menebus Dosa?”

“Siaohiap, kau sesungguhnya terlalu memandang rendah diriku si tua bangka ini. Aku hanya menyampaikan ucapan Orang Menebus Dosa itu saja.”

“Boanpwee minta maaf atas kesalahan omong boanpwee tadi.” “Ini tidak perlu. Sekarang kita ambil cabang Persekutuan Bulan Emas di tempat ini saja. Orang Berbaju Lila itu menggunakan siasat meminjam tangan Hiat-ie Nio-cu menghancurkan markas dan semua orangnya yang berada di cabang itu. Perbuatannya itu di satu pihak menyingkirkan sebagian pengaruh dan kekuatan lawan, di lain pihak, menambah satu lawan kuat bagi Persekutuan Bulan Emas.”

“Tetapi perbuatan semacam itu, tidak akan dilakukan oleh orang golongan benar.”

“Siaohiap, dengan terus terang pikiranmu itu karena sudah terpengaruh oleh perasaan sentimen!”

“Apakah Boanpwee harus melepaskan musuh perguruan Boanpwe itu”

“Bukan, itu adalah soal lain. Orang Berbaju Lila dahulu telah membunuh tiga supekmu, sekalipun perbuatan itu timbul karena pikiran serakah tetapi biar bagaimana pertempuran itu dilakukan dengan mengandalkan kekuatan dan kepandaian masing-masing. Sementara mengenai suhumu dan supekmu yang terbinasa karena senjata jarum melekat tulang, tentang ini ia telah bersumpah tidak pernah melakukan. Teranglah sudah, di waktu pertempuran sedang berlangsung, diam-diam ada orang lain yang melakukan perbuatan busuk itu.   Siapakah orang yang melakukan perbuatan itu, katanya ia sudah mempunyai perkiraan yang mungkin tidak akan keliru ”

“Dalam anggapannya, siapakah orangnya menggunakan senjata jarum melekat tulang itu?

“Sebelum tiba waktunya, ia tidak mau menerangkan.” “Tapi hutang darah ini?”

“Katanya kemudian hari ini akan menyelesaikannya sendiri!”

Hui-Kiam diam-diam berpikir. le-It Hoan pernah menyampaikan pesan suhunya, supaya berserikat dengan Orang Berbaju Lila untuk menghadapi Persekutuan Bulan Emas. Orang Berbaju Lila itu sendiri juga pernah minta diberi waktu, dan sekarang Orang Tua Tiada Turunan itu kembali membawa usul Orang Menebus Dosa. Keinginan ketiga pihak ini serupa, apakah di antara mereka sudah ada persetujuan antara satu sama lain. Ataukah pikiran mereka kebetulan ada sama?

“Bagaimana pikiran cianpwee sendiri?”

“Aku percaya perkataan Orang Menebus Dosa itu tidak bohong. Dewasa ini dunia rimba persilatan memang sudah mendekati jurang kemusnahan. Kita harus bersatu pikiran dan tenaga untuk menolong bahaya. Ini memang suatu pikiran yang tepat, maka aku mengharap supaya siaohiap ingat kepentingan umum lebih dahulu baru mengurusi soal prihadi. ”

“Boarpwee bukan   dewa   juga   merupakan   manusia   biasa.

Boanpwee khawatir tidak dapat mengendalikan perasaan sendiri!”

“Siaohiap, sahabat-sahabat dunia Kang-ouw yang sepaham pada dewasa ini, semua memandang kau sebagai tiang penegak kebenaran, mereka mengharap kau dapat mencegah bencana yang mengancam ini….”

“Ini sesungguhnya merupakan penilaian yang terlalu tinggi bagi boanpwee!”

“Tidak, dewasa ini meski siaohiap agak kurang dalam pengalaman, tetapi untuk kepandaian ilmu silat, boleh dikata merupakan orang nomor satu dalam barisan golongan kebenaran.”

“Boanpwee bersedia menyumbangkan tenaga tetapi tidak berani menerima pujian ini.”

“Ini tidak penting, tidak perlu dihiraukan terlalu mendalam.” “Menurut keterangan cianpwe ini, dewasa ini tentunya sudah ada

orang yang diam-diam sudah menyusun rencana untuk menghadapi Persekutuan Bulan Emas?”

“Itu memang benar.”

“Mengapa Orang Menebus Dosa tidak mau menampakkan diri?” “Tentang dia… dia berkata masih mempunyai kesulitan yang

tidak bisa dijelaskan!” “Orang Berbaju Lila itu karena sejilid kitab Thian-khie Po-kip, sudah tidak segan mencelakakan diri suhu dan supek, menteror perkumpulan Sam-goan-pang, membunuh jago kota Go-see membisakan suami-istri Liang gie Sie-seng... dosanya sudah bertumpuk-tumpuk. Orang semacam ini juga berani turut berbicara soal pembasmian kejahatan, bukankah itu merupakan suatu sindiran bagi kaum golongan kebenaran?”

“Ucapan siaohiap ini memang benar. Tetapi aku tadi sudah berkata, seorang jagal ada kalanya juga bisa meletakkan goloknya.”

Hui Kiam berpikir sejenak, baru berkata:

“Boanpwee terima baik permintaan cianpwe untuk sementara akan menahan sabar.”

“Itu bagus, aku si orang tua, di sini atas nama kawan-kawan persilatan, mengucapkan terima kasih banyak-banyak.”

“Ucapan Cian-pwee ini terlalu berat bagi boan-pwee.” “Bagaimana dengan peristiwa yang ada hubungannya dengan

tusuk konde emas berkepala burung Hong     ?”

“Aaaaaaa!” demikian Hui Kiam berseru, kemudian mengangguk dalam-dalam dan berkata dengan sikap menghormat:

“Oleh karena urusan ini sehingga Cianpwe dianiaya oleh hantu wanita itu, boanpwee sesungguhnya merasa sangat tidak enak. Budi Cianpwee ini boanpwee hanya dapat mengucapkan banyak- banyak terima kasih dan akan ingat selama-lamanya.”

“Itu adat istiadat yang sudah usang, sudah tidak usah saja! Kau berkata sudah bertempur dengan Hiat-ie Nio-cu, apakah hantu wanita itu tidak mengatakan soal ini?”

“Ia mengaku bahwa tusuk konde emas berkepala burung hong itu senjata tunggalnya. Semuanva ada dua buah, sebuah ada di badannya sendiri, sebuah lagi disimpan oleh putri sulungnya Pek- leng-lie Khong Yang Hong. Tusuk konde yang sekarang berada di tangan boanpwe ini, tidak usah ditanya sudah tentu adalah tusuk konde yang berada di tangan Pek-leng-lie itu. Jadi orang yang membunuh ibu, sudah tentu adalah Pek-leng-lie. Menurut tindakan hantu wanita pada dewasa ini, kita boleh menarik kesimpulan bahwa Pek-leng-lie itu tentunya sudah menghilang, maka hantu wanita itu baru memaksa cianpwee untuk memberi keterangan di mana adanya tusuk konde itu. ”

Orang Tua Tiada Turunan itu berpikir sejenak, lalu berkata: “Pek-leng-lie Khong Yang Hong ”

“Apakah cianpwee kenal dengan perempuan itu?” “Nanti kupikir-pikir dulu ”

Setelah diam agak lama tiba-tiba ia menepok tangan dan berkata pula: “Betul, ada perempuan semacam itu, sekarang aku sudah ingat. Tetapi, ini adalah kejadian yang sudah lama sekali.”

“Coba cianpwee ceritakan.”

“Pada lima belas tahun berselang, ada seorang gadis berusia kira-kira duapuluh tahun, datang berkunjung ke gereja Siao-lim-sie, dengan secara paksa minta pil ‘Tay-goan-tan’. Dalam peristiwa itu pihak Siao-lim-sie banyak yang luka. Menurut keterangan murid- murid Siao lim-sie, gadis itu adalah Pek-leng-lie Khong Yang Hong.”

“Selanjutnya?”

“Sepuluh sesepuh dan delapan anggota pelindung hukum, telah membentuk barisan Lo-han. Dalam pertempuran yang berlangsung tiga hari tiga malam lamanya, gadis itu akhirnya tertangkap.

Namun demikian, karena Siao-lim-sie mengerahkan tenaga sepuluh sesepuh dan delapan anggota pelindung hukum hanya untuk menghadapi seorang gadis yang masih muda, maka hal itu pada kala itu merupakan suatu kejadian besar dalam sejarah partay persilatan itu. Bagi Siao-lim-sie sendiri, dan juga merupakan suatu kejadian yang belum pernah dialami.”

“Bagaimana setelah Pek-leng-lie tertangkap?” “Selanjutnya tidak ada kabar lagi tentang diri gadis itu.” “Menurut dugaan boanpwee, setelah Pek-leng-lie tertangkap, kalau tidak dibunuh mati, tentunya dijebloskan dalam tahanan.”

“Emmm! Itu mungkin! Hanya, ibumu meninggal pada sepuluh tahun berselang.”

“Boanpwee ingin mengunjungi gereja Siao-lim-sie, mungkin bisa dapat sedikit keterangan.”

“Kalau Pek-leng-lie sudah dibinasakan pada lima belas tahun berselang, sudah tentu dia tidak dapat melakukan pembunuhan itu setelah beberapa tahun kemudian. Jikalau ditahan mungkin masih dalam tahanan atau sudah bebas.”

“Cianpwee benar, semua ini asal sudah berada di Siao-lim-sie, dengan sendirinya akan menjadi terang.”

“Apakah kau hendak berangkat sekarang juga?”

“Tidak, boanpwee masih hendak menjumpai Ie It Hoan di bawah gunung Bu-leng-san untuk memenuhi janjinya.”

“Ada urusan apa?”

“Empat dari Delapan Iblis negara Thian Tik dahulu, iblis Singa, iblis Gajah, iblis Pie, dan Iblis Siu, kini sudah menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas dan diangkat sebagai anggata badan pelindung hukum tertinggi.”

“Tentang ini aku sudah tahu!”

“Satu di antara mereka, ialah iblis Pie, kini di gunung Bu-leng-san dengan semacam ilmu hitam melatih serombongan kaum wanita yang dinamakan rombongan Im-hong-tui. ”

“Im-hong-tui? Nama ini agak aneh!”

“Kabarnya, barisan Im-hong-tui ini terdiri dari rombongan kaum wanita yang mempunyai bakat sangat bagus. Dengan menggunakan pengaruhnya obat, mereka kehilangan sifat aslinya kemudian dididik ilmu peperangan. Dengan kecantikan paras mereka memancing orang-orang kuat rimba persilatan lalu diisap tenaga murni kaum lelaki yang terjatuh ke dalam tangan mereka supaya lekas berhasil, setelah itu dididik ilmu hitam. Jika semua latihan itu berhasil, entah bagaimana akibatnya nanti?”

“Ada kejadian demikian, mari kuturut!”

“Ada cianpwee jalan sama-sama sungguh baik!”

''Beritamu ini apakah kau dapatkan dari Ie It-Hoan si setan cilik itu?”

“Ya.”

“Emmmm! Kalau begitu bukan bohong. Mari kita berangkat!”

Hari itu, baru saja lewat tengah hari, kota Lam-shia yang terletak kira-kira seratus pal dari daerah gunung Bu-leng-san, kedatangan tetamu seorang tua berambut putih dan seorang sastrawan miskin setengah tua. Mereka berdua adalah Orang Tua Tiada Turunan dan Hui Kiam yang sudah berganti rupa.

Mereka sebetulnya ingin melanjutkan perjalanannya ke desa Ma kee-cip, tempat yang dijanjikan sebagai tempat untuk pertemuan dengan Ie It Hoan, si Sukma Tidak Buyar. Sebab sepanjang yang didengarnya ramai orang bercerita tentang diadakan 'lui-tay' atau panggung pertandingan ilmu silat di kota Lam-shia, maka mereka menuju ke kota tersebut untuk menonton keramaian itu.

Selagi orang-orang dan partay rimba persilatan sedang terancam oleh Persekutuan Bulan Emas yang hendak menguasai rimba persilatan, ternyata masih ada orang yang mempunyai kegembiraan mengadakan permainan demikian. Bukan mustahil kalau dalam hal ini mengandung maksud tertentu.

Dalam kota ramai orang mondar-mandir, sebagian besar orang- orang Kang-ouw yang jalan mendongakkan kepala dan rnelembungkan dada.

Hui Kiam dan Orang Tiada Turunan karena hanya seorang sastrawan miskin dan seorang tua lanjut usianya, sedikitpun tidak menarik perhatian orang.

Mereka masuk ke sebuah rumah makan untuk mengisi perutnya. Para tamu dalam rumah makan itu sedang ramai membicarakan urusan pertandingan di atas panggung lui-tay itu. Kiranya pertandingan itu sudah memasuki hari ketiga. Hui Kiam dan Orang Tua Tiada Turunan sebetulnya ingin dengarkan pembicaraan mereka agar mengerti keadaannya, tetapi karena terlalu ramai, hanya sedikit saja yang dapat didengar dari mereka.

Kebetulan seorang pelayan yang membawa makanan untuknya memajukan pertanyaan.

“Tuan-tuan berdua apakah baru tiba di sini?”

“Ya, baru saja sampai!” jawabnya Hui Kiam sambil menganggukkan kepala.

“Ingin menonton pertandingan Lui-tay?” “Hm, hm!”

“Kedatangan tuan-tuan sangat kebetulan, hari ini boleh menonton dengan puas. Dengan sejujurnya aku sejak dilahirkan di dalam dunia belum pernah….”

“Puas, katamu? Apa maksudmu?”

“Oh! Tuan-tuan kiranya masih belum tahu hari ini taycu (pemimpin atau jagoannya) akan memberikan hadiah kepada pemenang. ”

“Apakah yang diherankan?”

Pelayan itu tertawa menyeringai lalu berkata:

“Taysu sejak dimulainya pertandingan itu, hanya sekali menampakkan muka, selanjutnya tidak kelihatan di panggung lagi. Hari ini kabarnya hendak turun tangan sendiri untuk memberikan hadiah kepada yang menang, soal ini menggemparkan seluruh penduduk kota. Tuan-tuan, taycu itu ada aku pikir tentunya entah bidadari siapa yang menjelma di dalam dunia. Kalau manusia biasa, tentu tidak mempunyai kecantikan demikian. Siapa yang melihatnya saja sejenak, pasti akan terbang semangatnya.

“Lho, Taycu seorang wanita?” “Betul. Ha, ha, ha, bidadari yang turun ke dalam dunia itu kalau aku mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan perempuan secantik itu, tak sia-sia hidupku di dalam dunia.”

Mendengar keterangan pelayan itu, Hui Kiam mengerutkan keningnya. Katanya:

“Siapa yang mendirikan Lui-tay itu?” “Ini ha ha, tidak tahu.”

“Di mana letaknya Lui-tay itu?”

“Di tanah lapang depan wisma pahlawan.” “Wisma pahlawan?”

“Ya, gedung itu sebetulnya peninggalan seorang pembesar di dalam kota ini, sekarang dirobah jadi wisma pahlawan.   Barang siapa yang berkepandaian tinggi dapat memenangkan dalam pertandingan di atas Lui-tay itu, diterima masuk ke dalam wisma pahlawan itu dan akan disambut serta dijamin oleh Taycu sendiri. Ah! Sayang aku tidak mengerti ilmu silat….”

“Di mana letaknya wisma pahlawan itu?”

“Di kota bagian barat. Tuan-tuan boleh mengikuti orang-orang banyak itu ke mana arah mereka berjalan, pasti tidak salah lagi.”

Sebelum meninggalkan tamunya pelayan itu menambahkan keterangannya.

“Ini merupakan suatu kejadian besar di dalam kota ini selama beberapa ratus tahun paling belakang.”

Setelah pelayan itu berlalu, Hui Kiam berkata kepada Orang Tua Tiada Turunan dengan suara perlahan sekali:

“Bagaimana pikiran cianpwee dalam urusan ini?”

Orang Tua Tiada Turunan itu berpikir sejenak baru menjawab: “Menurut keterangan pelayan tadi itu, taycunya adalah seorang

wanita, bahkan wanita yang cantik sekali. Selagi rimba persilatan sedang banyak urusan seperti sekarang ini, kejadian ini pasti mengandung maksud tertentu. Tidak ada larangan, kita coba pergi menyaksikan, mungkin saja bisa menemukan bahan apa-apa.”

“Kalau begitu mari kita pergi ke sana!”

Keluar dari rumah makan, jalan besar telah sesak. Orang berduyun-duyun menuju ke barat. Hui Kiam berdua juga mengikuti arus manusia itu, berjalan seenaknya....

Dekat tembok kota bagian barat, ada sebuah gedung tua yang sangat besar bentuknya tetapi gedung itu sudah diperbarui.   Di pintu gerbang terpancang satu papan merek besar yang terdapat tulisan huruf emas: Wisma Pahlawan.

Di depan pintu, berdiri delapan orang gagah yang masing-masing membawa senjata pedang.

Di depan wisma itu, ada satu lapangan luas. Di satu sudut lapangan itu berdiri satu panggung. Itulah panggung Lui-tay yang digunakan untuk pertandingan ilmu silat.

Di atas panggung itu juga terpancang satu papan merek yang ada tulisannya, ‘mengadakan pertandingan untuk mencari kawan’.

Di bawah panggung, sudah penuh dengan manusia.

Hui-Kiam dan Orang Tua Tiada Turunan mendesak masuk. Di bawah keadaan demikian bagi orang biasa pasti merupakan suatu usaha yang tidak mudah, karena harus berdesak-desak di dalam gelombang manusia.

Tiba-tiba tangan Hui-Kiam merasa ada barang yang disesakkan. Dalam keterkejutannya ia segera berpaling untuk mencari siapa orangnya yang menyesakkan benda itu. Tetapi orang-orang itu semuanya nampak masih asing, sehingga ia tidak tahu siapa yang telah berbuat. Ketika ia memeriksa benda apa yang diberikan itu, ternyata hanya segulung kertas. Dengan perasaan heran ia membuka dan membacanya. Di atasnya tertulis tulisan yang berbunyi:

“Berusahalah menghancurkan Lui-tay ini, untuk menolong kawan-kawan kita yang tidak berdosa.” Di bawah surat tertanda Orang Menebus Dosa.

Hui-Kiam merasa bingung. Ia berikan surat itu kepada Orang Tua Tiada Turunan seraya berkata:

“Cianpwee, kau pikir bagaimana?”

“Berbuat seperti apa yang tertulis dalam surat itu!” “Kita harus bertindak?”

“Hem! Di situ bukan saja jelas menyuruh kau berusaha sekuat tenaga, untuk menghancurkan Lui-tay ini.”

“Menolong kawan-kawan yang tidak berdosa, apa maksud perkataan ini?”

“Ini yang merupakan soal pokok, juga teka-teki yang harus kita selidiki, setelah usaha kita selesai pasti akan tahu!”

“Mengapa Orang Menebus Dosa tidak mau mengunjukkan dirinya?”

“Mungkin masih ada keperluan lain yang harus diaturnya sendiri.” “Ia benar-benar seperti Sukma Tidak Buyar yang selalu mengikuti

diriku, agaknya selalu berada di sampingku ”

“Aku percaya tindakan Orang Menebus Dosa ini pasti mengandung maksud dalam, mungkin pertandingan diatas panggung Luitay ini merupakan salah satu maksud jahat Persekutuan Bulau Emas biarlah kita menantikan dulu setelah pertandingan dimulai, kita nanti akan bertindak dengan melihat suasana.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar tiga kali bunyi suara gembreng. Suara riuh orang bicara seketika sirap, semua mata ditujukan ke atas panggung pertandingan.

Seorang laki-laki berpakaian ringkas, keluar dari belakang panggung dan berjalan dengan tindakan perlahan, dari gerak-gerik dan sikap orang itu, mengunjukkan ia ada seorang berkepandaian tinggi yang mempunyai kekuatan luar dan dalam sudah cukup sempurna. Orang tua itu setelah memberi hormat kepada penonton lalu berkata:

“Aku yang rendah Ma Yu Ciu, hari ini mendapat giliran yang memimpin pertandingan ini. Harap bapak-bapak, saudara-saudara, suka memberi pelajaran. Hari ini taysu kami akan memberikan hadiah sendiri kepada pemenangnya, sekarang silahkan siapa yang hendak mulai lebih dulu!”

Orang-orang di bawah panggung terdengar suara riuh, agaknya sedang memperbincangkan urusan taysu.

Tiba-tiba sesosok bayangan orang lompat melesat naik ke atas panggung. Ternyata adalah seorang pahlawan muda berusia duapuluh tahun.

Ma-Yu Ciu segera menyambut dan berkata sambil memberi hormat:

“Harap memberitahukan nama dan asal-usul saudara, sekedar untuk memenuhi tata tertib pertandingan!”

“Aku yang rendah bernama Chie-Leng, tidak berpartay!” “Saudara Chie ingin mengadakan pertandingan cara bagaimana?” “Dengan sepasang tangan kosong!”

“Silahkan!” “Tunggu dulu!” “Ada apa?”

“Jikalau aku yang menang, bolehkah minta pelajaran dari taycu sendiri?”

“Boleh, jikalau saudara dapat menjatuhkan aku dalam tiga jurus, baru berhak menantang taycu!”

“Tiga jurus?”

“Ya, kalau sudah sampai sepuluh jurus itu dihitung seri, saudara juga berhak mendapat undangan untuk masuk ke dalam wisma pahlawan. Semua peraturan ini sudah diterangkan sejak hari pembukaan pertandingan ini. Saudara barangkali orang luar kota yang baru sampai.”

“Tahu, sekarang mari kita mulai.”

Pemuda itu segera membuka serangannya. Ia mengarah bagian dada lawannya. Gerakan pemuda itu nampaknya sangat aneh. Ma- Yu Ciu nampaknya sangat tenang, ia menantikan sampai tangan lawannya sudah dekat, baru mengerahkan tangannya untuk menangkis.

Kepandaian pemuda itu sesungguhnya cukup hebat, dalam demikian ia masih bisa merobah gerakannya sementara tangan kirinya dengan kecepatan bagaikan kilat memotong dari samping.

Di bawah panggung para penonton memuji gerakan pemuda itu.

Ma Yu Ciu nampaknya juga satu lawan tangguh, tangan kiri yang digunakan untuk menangkis serangan cepat sekali membacok ke bawah sedang tangan kanannya dengan cepat menyambar urat nadi tangan kiri lawannya. Kecepatan orang she Ma itu, sesungguhnya sangat mengagumkan.

Chie Leng mengelakkan dirinya ke belakang tiga kali. tubuhnya hampir rata dengan permukaan lantai panggung, kemudian dengan satu gerakan jumpalitan, dengan beruntun kakinya melakukan tendangan delapan kali, semua tendangan itu ditujukan jalan darah terpenting bagian atas dan tengah anggota badan lawannya. Serangannya itu sangat berbahaya dan ganas, dari sini dapat dilihat kepandaiannya.

Ma Yu Ciu berputaran bagaikan gangsing, kemudian membentak dengan suara keras:

“Pergilah!”

Di antara suara seruan tertahan, Chie Leng dipukul turun ke bawah panggung oleh Ma Yu Ciu dengan satu gerakan aneh. Pemuda itu buru-buru nyerusup lari ke dalam orang banyak.

Ma Yu Ciu lalu berkata sambil bersenyum: “Siapa lagi yang ingin maju?” Baru saja menutup mulutnya dari bawah terdengar suara nyaring.

“Aku Gu Ji hendak mengawani kau main-main beberapa jurus!”

Seorang laki-laki bertubuh besar melompat naik ke atas panggung.

“Sahabat. ”

“Aku bernama Gu Ji, sahabat-sahabat dunia Kang-ouw memberikan nama julukan aku kerbau besi, aku datang dari luar perbatasan.”

''Menggunakan senjata apa?” “Sepasang kepalan tangan!”

Jawabnya yang kasar itu menimbulkan suara tertawa riuh. Ma Yu Ciu berkata sambil memberi hormat:

“Silahkan!”

Gu Ji menggerakkan dua kepalan tangannya. Ia mulai membuka serangan. Meski orang yang kasar, tetapi gerakannya tidak kasar, dengan cara teratur ia menghujani lawannya dengan serangan yang hebat sekali. Itu adalah serangan yang menggunakan kekuatan tenaga luar tetapi sedikitpun sukar dicari lowongannya. Karena hebatnya serangan itu sehingga keadaan di sekitar panggung itu seperti ada angin menyampar.

Ma Yu Ciu juga segera merobah siasatnya. Ia sekarang menggunakan kekerasan untuk menyambuti setiap serangan lawannya sehingga merupakan suatu pertandingan keras lawan keras yang amat seru.

Sebentar saja pertandingan itu sudah berjalan delapan jurus. Ma Yu Ciu yang mendapat kesempatan, tangannya menerobos masuk sampai ke depan dada Gu Ji. Akan tetapi, ia tidak mengerahkan kekuatan tangannya, hanya dalam waktu sekejap mata saja ia merobah lagi gerakannya. Ma Yu Ciu sengaja melepaskan kesempatan baik untuk merobohkan lawannya, apa sebabnya?

Perbuatannya itu, kecuali Hui Kiam, barangkali tidak ada berapa orang yang dapat melihatnya termasuk Orang Tua Tiada Turunan.

Kemudian terdengar suara tambur berbunyi, lalu ada pengumuman bahwa pertandingan itu berakhir dengan keadaan seri. Selanjutnya Gu Ji diantar oleh dua orang berpakaian hitam, melompat turun dari panggung dan terus menuju ke wisma pahlawan. Para penonton menyambutnya dengan tepuk tangan riuh.

Perasaan curiga timbul dalam hati Hui Kiam. Dilihat sepintas lalu, pertandingan di atas panggung Lui-tay ini tiada apa-apanya yang luar bisa. Kepandaian Gu Ji memang jauh lebih tinggi daripada Chie Leng, sehingga jurus ke delapan baru tampak kelemahannya, tetapi sedikit lowongan itu hanya seorang berkepandaian tinggi semacam Ma Yu Cui yang bisa menggunakan, tetapi Ma Yu Cui yang seharusnya menang ia tidak suka memenangkan pertandingan itu, malah dibikin seri, terang ini adalah perbuatan Ma Yu Cui yang menghargai kepandaian lawannya apa lagi orang she Ma itu juga tidak mengunjukkan sifat-sifat kejahatannya, jadi apa maksud Orang Menebus Dosa menyuruhnya menghancurkan Lui-tay ini untuk menolong kawan sesamanya yang tidak berdosa?

Selagi masih berpikir, seorang setengah tua berusia kira-kira empat puluh tahun, dan berjenggot panjang dengan berpakaian seorang sastrawan, melayang ke atas panggung.

Seperti biasa Ma Yu Ciu menyambut sambil memberi hormat kemudian berkata:

“Silahkan memberitahukan nama dan golongan!”

Sastrawan berjenggot panjang itu membalas hormat sebagaimana layaknya, baru menyahut:

“Aku yang rendah bergelar Sukma Tidak Buyar, tiada berpartay tiada bergolongan!” Disebutnya nama Sukma Tidak Buyar itu sungguh mengejutkan Hui Kiam, karena nama julukan itu adalah nama julukan yang biasa digunakan oleh Ie It Hoan, apakah sastrawan berjenggot panjang ini adalah Ie It Hoan yang menyaru? Kepandaian Ie It Hoan menyaru sesungguhnya luar biasa, hanya dari luarnya saja orang tidak akan dapat mengetahui, apalagi ia pandai sekali merobah gaya dan logat pembicaraannya, maka juga tidak mudah untuk mengenali dari suaranya.

Setelah mendengar perkataan sastrawan berjenggot panjang itu, wajah Ma Yu Ciu agak berobah. Ia berkata:

“Sahabat bernama Sukma Tidak Buyar?” “Benar!”

“Sahabat mau menggunakan senjata apa?”

“Sudah cukup dengan sepasang tangan kosong saja!” “Kalau begitu silahkan saja!”

“Tunggu dulu, aku ingin minta penjelasan lebih dulu!”

---ooo0dw0ooo---