Pedang Pembunuh Naga Jilid 20

Jilid 20

BANYAK persoalan, nampaknya tiada ujung pangkalnya, tetapi agaknya satu sama lain ada perhubungan. Apa yang membingungkan dirinya ialah tidak jalan untuk mengusutnya.

Ini bukan soal dendam dan permusuhan semata-mata, karena di dalamnya masih terselip asal-usul dirinya. Hari kedua di waktu tengah hari, mereka sudah melalui daerah gunung Keng-san, setelah beristirahat satu malam, mereka melanjutkan perjalanannya.

Sepanjang jalan ramai orang membicarakan soal didudukinya markas perkumpulan kaum pengemis itu.

Setelah berjalan lagi dua hari dua malam tanpa tidur dan istirahat, bagi Hui-Kiam tidak dirasakan apa-apa, tetapi bagi Ie-It Hoan sesungguhnya sudah letih sekali. Sebabnya Hui Kiam dalam keadaan cemas, ia mengerahkan tujuh bagian kepandaiannya untuk melakukan perjalanan itu sedangkan Ie-It Hoan harus menggunakan seluruh kepandaiannya baru dapat mengikuti jejak toakonya. Dengan demikian meskipun Ie-It Hoan juga merupakan seorang berkepandaian cukup tinggi juga hampir tidak sanggup mengikuti.

Setelah Hui Kiam mengetahui itu, dalam hati merasa tidak enak. Di waktu senja ia mencari rumah penginapan untuk menginap. Hal itu memang yang diharap-harapkan oleh Ie-It Hoan, maka tidak memperdulikan pakaiannya sendiri yang berupa seorang pengemis, iapun makan dengan lahapnya.

Di waktu malam suasana amat sunyi. Kira-kira jam dua malam, suasana semakin sunyi. Hui Kiam karena banyak pikiran, ia tidak bisa tidur, dengan seorang diri duduk menghadapi lampu. Tiba-tiba suara rintihan masuk ke dalam telinganya. Ia lalu pasang telinganya. Suara itu keluar dari sebuah kamar, di ujung seberang kamarnya sendiri.

Suara rintihan itu agaknya ditahan sebisa-bisa namun sudah tidak sanggup menahannya. Jikalau bukan di waktu malam yang sunyi benar-benar tidak akan kedengaran.

“Apakah itu tetamu yang sedang sakit, ataukah orang rimba persilatan yang sedang terluka?”

Suara itu terputus-putus, kedengarannya sangat menyedihkan.

Hui Kiam akhirnya tidak dapat mengendalikan perasaannya. Ia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju ke seberang. Dalam kamar itu gelap-gulita. Begitu berada di dekatnya, suara rintihan itu terdengar semakin nyata. Orang itu agaknya sedang menderita hebat.

Hui Kiam selagi hendak mengetok pintu, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara: “St!” yang perlahan sekali. Ketika ia berpaling, ternyata adalah Ie-It Hoan yang entah sekejap sudah berada di belakang dirinya.

“Adik Hoan ”

“St!”

Dengan jari tangan Ie-It Hoan memberi isyarat kepada Hui Kiam supaya jangan bersuara, kemudian tangannya menggapai.

Dengan perasaan heran Hui-Kiam mundur ke samping Ie-It Hoan.

“Apa yang telah terjadi?”

Ie-It Hoan menunjuk dengan jari tangannya. Hui-Kiam melongok ke arah yang ditunjuk olehnya. Seketika itu bulu romanya berdiri mulutnya ternganga.

Di bawah sinar lampu remang-remang, di atas pintu kamar yang mengeluarkan suara rintihan itu, terpancang sepotong pakaian wanita berwarna putih, tetapi pakaian itu terdapat banyak bekas tanda darah yang sangat menyolok mata.

Suara rintihan ditambah dengan sepotong baju berdarah, apalagi kejadian itu di dalam suatu rumah penginapan kecil dekat hutan belukar, keadaan ini sesungguhnya sangat mengerikan.

“Apa yang telah terjadi?” demikian Hui Kiam mengulangi pertanyaannya.

“Mari balik ke kamar kita sendiri ”

“Kau ceritakan di sini bukan sama saja?” “Toako, suaramu perlahan sedikit!”

“Eh! Kau sebetulnya sedang main sandiwara apa lagi?” Sikap le It Hoan mengunjukkan perasaan begitu takut bagaikan ada setan di sekitarnya. Ia menyapu keadaan di sekitarnya sejenak, lalu menarik tangan Hui Kiam sejenak balik ke kamarnya sendiri, setelah menutup kamar, dengan sikapnya yang amat tegang ia berkata:

“Toako, kau sudah melihat baju berdarah tadi?” “Ya! Kenapa?”

“Kita masih ada banyak urusan besar yang belum diselesaikan, tidak ada perlunya mencari orang lagi!”

“Aku tidak mengerti apa maksudnya?”

“Benarkah kau tidak mengerti?” bertanya Ie It Hoan sambil mengerutkan keningnya.

“Kapan aku pernah membohong terhadapmu?” “Tahukah toako asal-usulnya baju berdarah itu?” “Apa asal-usulnya?”

“Itu merupakan tanda Hiat-ie Nio-cu ”

“Hiat ie Nio-cu?” “Ya!”

“Masih sangat asing bagiku.”

“Benarkah toako sedemikian dangkal pengetahuanmu. ”

“Dalam soal pengalaman dunia Kang-ouw, aku tidak dapat dibandirgkan denganmu, ini tidak perlu dikatakan lagi.”

“Hiat-ie Nio-cu adalah seorang hantu wanita yang mempunyai hobi membunuh. Pada dua puluh tahun berselang namanya sudah menggetarkan dan menakutkan orang-orang golongan putih. Sudah duapuluh tahun tidak pernah mendengar orang menyebut namanya, sungguh tak disangka malam ini bisa muncul di sini.”

“Baju berdarah itu mengapa harus digantung di pintu kamar?” “Ini suatu tanda bahwa siapapun dilarang untuk melongok ke dalam kamar itu.”

“Apakah kau tadi mendengar suara rintihan itu?”

“Dengar. Menurut pedengaranku mungkin itu adalah seorang orang tua.”

“Kita sudah menjumpai urusan ini, bolehkah kita campur tangan?”

“Toako, pada duapuluh tahun berselang di dalam rimba persilatan pernah tersiar suatu pepatah yang mengatakan, ‘lebih baik bertemu dengan raja akhirat, jangan sampai berjumpa dengan Nyonya Berdarah’ ”

“Apakah Nyonya Berdarah itu lebih menakutkan daripada raja akherat?”

“Benar!“ “Mengapa?”

“Hiat-ie Nio-cu adalah seorang yang kejam dan telengas, siapa yang diketemukan olehnya tidak ada yang hidup. Selain daripada itu, caranya membunuh orang juga sangat aneh, boleh dikata merupakan suatu kekejaman dan keganasan yang sudah tidak ada bandingannya. ”

“Kalau begitu aku justru lebih ingin belajar kenal dengannya!” “Tetapi urusan perkumpulan kaum pengemis tidak dapat ditunda

lagi!”

“Aku pikir sekarang ada satu orang yang sedang dianiaya, sebagai seorang gagah mana boleh melihat orang dalam bahaya tidak memberi pertolongan? Selain dari pada itu, kalau benar seperti apa yang kau katakan, dosa hantu wanita itu sudah bertumpuk-tumpuk, kalau kita dapat mengakhiri jiwanya, juga merupakan suatu kebajikan bagi kepentingan orang banyak.”

Di luar jendela, suara yang kedengarannya sangat tajam menyeramkan: “Sungguh sombong!”

Wajah Ie It Hoan berubah seketika.

Hui Kiam membuka pintu kamar. Dengan tenang ia berjalan keluar. Di tengah pelataran di depan jendela, nampak berdiri seorang perempuan tua berambut putih dan bertubuh kurus kering, namun kedua matanya memancarkan sinar tajam. Di atas badannya mengenakan pakaian baju berdarah yang tadi tergantung di depan pintu. Keadaannya pada malam itu, hanya tiga bagian yang mirip manusia, yang tujuh bagian mirip dengan hantu.

“Nyonya adakah Hiat-ie Nio-cu?” demikian Hui Kiam bertanya. “Benar,” jawabnya dingin.

“Ada keperluan apa?” “Beri tahukan namamu?” “Penggali Makam!”

“Jadi… kau adalah Penggali Makam yang baru muncul itu?” “Benar!”

“Aku seorang tua selamanya tidak akan melepaskan begitu saja kepada orang yang melanggar pantanganku….”

“Begitu juga dengan aku, selamanya juga tidak pernah melepaskan orang-orang jahat yang terjatuh ke dalam tanganku!“

“Kau terlalu sombong!”

“Terserah apa yang kau katakan!”

“Wajahmu tidak cocok dengan apa yang tersiar di luar. ”

“Ini bukan soal!”

Pembicaraan mereka, telah mengejutkan para tamu yang menginap dalam rumah penginapan itu, tetapi siapapun tidak ada yang berani keluar melihat atau bersuara, apa lagi yang penakut.

Hiat-ie Nio-cu dengan matanya yang bersinar tajam berputaran di badan Hui Kiam, kemudian berkata: “Kau bersedia mati dengan cara bagaimana?” “Menurut pikiranmu?”

“Kupotong-potong tubuhmu dan kubelek perutmu!”

“Apakah kau juga sudah memikirkan bagaimana cara kematianmu sendiri?”

“Hemm!”

Bersama dengan itu kuku jari tangannya kurus kering, lambat- lambat menerkam dada Hui Kiam, kukunya sepanjang satu dim lebih begitu runcing bagaikan lima bilah pedang kecil gerakannya itu sangat lambat sekali, akan tetapi luar biasa anehnya. Dengan kepandaiannya Hui-Kiam pada saat itu ternyata merasa sulit untuk menangkis atau menyingkir.

Ie-It Hoan segera berseru:

“Awas! Kuku jari itu ada racunnya!”

Hui-Kiam terkejut. Dengan menggunakan ilmu gerak kakinya, ia sudah menyingkir jauh ke samping.

“Eh!”

Seruan terkejut Hiat-ie Nio-cu itu, karena dikejutkan oleh tipu Hui-Kiam yang belum pernah disaksikannya itu. Namun demikian ia tidak menarik kembali tangannya, bahkan mengejar terus bagaikan bayangan.

Hui-Kiam juga dikejutkan oleh kepandaian hantu wanita itu. Sekali ia loncat menyingkir kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat jari tangannya menunjuk. Ini adalah serangan yang menggunakan jari tangan menurut ilmu yang ditulis dalam kitab Thian-Gee Po-kip.

Hiat-le Nio-cu benar-benar seorang yang sudah banyak pengalaman, dengan cepat ia membatalkan serangannya dan lompat mundur seraya berkata: “Penggali Makam, kau benar-benar mempunyai kepandaian yang berarti. Munculnya lagi aku kali ini ke dalam dunia Kang ouw, untuk pertama kali gagal dalam seranganku. Kau murid siapa?”

“Tentang ini kau tidak perlu tanya.”

“Hm, jangan kau kira aku akan merobah maksudku tidak membunuh kau. ”

“Sama-sama.”

Pada saat itu terdengar pula suara rintihan. Dengan alis berdiri Hui-Kiam bertanya:

“Siapa yang mengeluarkan suara rintihan di dalam kamar itu?” “Kau tidak perlu campur tangan.”

“Siapa orangnya yang mendapat kehormatan sampai kau bawa ke dalam kamar ini?”

“Kau tidak perlu tanya!”

“Hiat-ie Nio cu, aku berjuluk: Penggali Makam. Menurut perbuatanmu selama ini, ada harganya bagiku, untuk bertindak terhadap dirimu.”

“Ha ha ha, kau jangan menggonggong seperti anjing gila. Aku setiap membunuh satu orang, di atas baju berdarahku ini kuberi tanda setetes darahnya, dan kau, hanya merupakan setetes darah saja.”

Hui Kiam bergidik. Ditinjau dari keterangannya ini, baju berdarah hantu wanita itu, yang hampir seluruhnya penuh dengan tanda darah, kalau dihitung setetes darah merupakan satu jiwa seorang berkepandaian tinggi, berapa banyak orang rimba persilatan yang binasa di tangannya?!

Karena berpikir demikian, timbul amarahnya. Ia berpaling dan berkata kepada le It Hoan:

“Adik Hoan, kau pergi lihat siapakah yang dianiaya itu?” “Baik!” le It Hoan segera bergerak. Hiat-ie Nio-cu membalikkan badannya dan menyambar tubuh le It Hoan, tetapi Hui Kiam yang sudah menduga pasti perempuan itu akan berbuat demikian pada saat yang tepat ia sudah melancarkan satu serangan, Hiat-ie Nio-cu terpental dan mundur terhuyung-huyung. le It Hoan segera melesat ke kamar di seberangnya.

Hiat-ie Nio-cu benar-benar sudah murka. Wajahnya sudah keriputan berkerenyit beberapa kali, lalu membentaknya dengan suara bengis:

“Serahkan jiwamu!”

Sambil membuka kedua tangannya dia menerjang Hui Kiam, nampaknya ia ingin sekaligus dapat membinasakan Hui Kiam.

Hui Kiam sudah siap, menyambut nyonya itu dengan satu serangan hebat.

Terdengar suara benturan keras, Hiat-ie Nio-cu terpental mundur tiga empat langkah, ujung bibirnya mengeluarkan darah, hingga keadaannya semakin menakutkan.

Hui-Kiam maju setindak lagi. Ia berkata dengan suara bengis: “Sambut sekali lagi seranganku ini!”

Ancaman itu ditutup dengan satu serangan tangan yang lebih hebat....

Tidak kecewa Hiat-ie Nio-cu pernah mendapat nama sebagai hantu yang ganas, hanya dalam satu gerakan saja ia sudah dapat mengukur betapa tinggi dan hebatnya serangan tangan Hui Kiam itu maka kini ia tidak berani menyambuti lagi, ia memiringkan badannya, tangan kanannya bergerak dengan cepat, ilmu jari tangannya disodorkan lempang ke depan, dua kuku jarinya tiba-tiba terlepas dan meluncur lengan cepatnya.

Kepandaian yang sangat ganas ini, benar-benar susah dijaganya.

Hui-Kiam melihat lawannya tidak berani menyambuti serangannya, sudah tentu tidak mencapai maksudnya untuk menjatuhkan perempuan ini. Namun demikian serangan itu ternyata merupakan suatu serangan luar biasa, sekalipun tidak mengenakan sasarannya dengan tepat tetapi sudah cukup mematikan lawannya.

Pada saat itu dengan serentak terdengar dua kali suara keluhan tertahan, di belakang pundak Hui Kiam terluka oleh kuku jari Hiat-ie Nio-cu seketika itu rasa sakit seperti menusuk ulu hatinya sehingga mengeluarkan keluhan tertahan, diam-diam ia mengeluh semula ia masih mengira musuhnya itu menggunakan senjata rahasia yang kecil bentuknya, tetapi dari perasaannya ia mengetahui bahwa senjata rahasia itu mengandung racun yang sangat berbisa maka ia buru-buru menutup semua jalan darahnya agar racun itu tidak menyerang jantungnya.

Di pihak Hiat-ie Nio-cu, sesaat ketika ia melancarkan serangannya dengan senjata rahasianya yang istimewa itu, juga tersambar oleh serangan tangan Hui Kiam yang hebat, badannya sempoyongan, terdorong mundur ke lain sudut, mulutnya menyemburkan darah.

Tepat pada saat itu, dari dalam kamar terdengar suara jeritan Ie It Hoan.

Hui Kiam terkejut. Dia harus membunuh hantu wanita itu lebih dulu baru bisa pergi menengok Ie It Hoan.

Maka saat itu dengan menahan rasa sakit, ia melesat sambil melancarkan serangannya.

Hiat-ie Nio cu dengan cepat geser badannya menyingkir sejauh delapan kaki.

Hui Kiam karena memforsir tenaganya, racun dalam tubuhnya menjalar, sehingga kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, kaki dan tangannya kejang.

“Penggali Makm, kau telah paksa aku menggunakan senjata 'kuku terbang’ yang tak gampang-gampang kugunakan. Kuberitahukan kepadamu, siapa yang terkena racun senjata itu, tidak satupun yang hidup. Sekalipun dewa juga tidak sanggup bertahan sampai setengah jam, maka aku boleh menunggu kematianmu,” demikian Hiat-ie Nio cu berkata. Mendengar perkataan itu, Hui Kiam sangat murka. Sambil mengeluarkan geraman hebat, dengan beruntun ia mengeluarkan serangan jari tangan sampai lima kali.

Suara seruan tertahan terdengar beberapa kali dari mulut Hiat-ie Nio-cu. Hantu wanita itu masih dapat mengelakkan empat kali serangan Hui Kiam, tetapi serangan yang ke-lima, ia tidak berhasil mengelakkan lagi. Serangan dahsyat itu membuat separuh bajunya yang sudah penuh tanda darah menjadi merah dengan darahnya sendiri.

Hui Kiam sehabis melakukan serangannya, racun masuk semakin dalam, matanya berkunang-kunang semakin hebat, kekuatan tenaga murninya perlahan-lahan mulai membuyar.

“Habislah!” demikian Hui Kiam dalam hati mengeluh.

Sedangkan Ie It Hoan yang pergi menengok orang sakit itu, setelah mengeluarkan jeritan tadi tak terdengar lagi suaranya. Entah bagaimana keadaannya?

Hui Kiam saat itu dalam keadaan sangat berbahaya. Ia tahu apabila ia menunjukkan kelemahannya, akibatnya terlalu besar.

Karena berpikiran demikian, ia terpaksa mempertahankan dirinya sambil mengatupkan gigi, ia berjalan mengampiri Hiat-ie Nio-cu, mulutnya mengeluarkan ancaman:

“Apa kau tidak ada pesan apa-apa yang perlu kau tinggalkan?”

Perbuatannya itu sebetulnya merupakan satu perbuatannya gertak sambal belaka. Hakekatnya ia sudah tak ada tenaga lagi untuk bertindak terhadap musuhnya.

Sebaliknya dengan Hiat-ie Nio-cu, ia sudah dikejutkan oleh kejadian di luar dugaannya itu.

“Kau tidak takut racun?” demikian ia menegur.

“Racun begini saja, apa yang ia bisa perbuat terhadap diriku?

Hiat-ie Nio cu, hari kematianmu sudah tiba!” Sehabis berkata demikian, ia mengangkat tangannya perlahan- lahan.

Hiat-ie Nio-cu yang lukanya tidak ringan, ia mengerti bahwa ia tidak sanggup menerima serangan itu, maka dengan cepat ia lompat melesat ke atas genteng dan menghilang dalam kegelapan. Sekalipun dalam keadaan terluka parah, ia toh masih bisa bergerak sedemikian gesit. Kepandaian hantu wanita itu benar-benar sangat mengagumkan.

Hui Kiam menyaksikan berlalunya Hiat-ie Nie-cu. Ia menarik napas panjang, badannya terhuyung-huyung lalu duduk di tanah, tidak bisa bangun lagi, keringat dingin membasahi dahinya.

“Toako!” demikian terdengar suara Ie It Hoan yang lari keluar dari kamar.

“Kau tidak apa-apa?” “Aku….”

“Eh, toako kau kenapa?”

“Aku terkena serangan 'kuku terbang’ Hiat-ie Nio-cu.” “Aaaa! Ini ”

“Siapa yang terluka dalam kamar itu?” “Orang Tua Tiada Turunan locianpwee.”

“Apa? Orang Tua Tiada Turunan locianpwee?”

Hui Kiam berusaha hendak berdiri, tetapi baru saja bergerak, sudah duduk lagi.

“Toako, racun dari 'kuku terbang’ itu, bukan saja sangat berbisa, tetapi juga bisa merusak kekuatan tenaga dalam orang.”

“Bagaimana dengan Orang Tua Tiada Turunan locianpwee?”

“Ia telah dipaksa dengan menggunakan siksaan oleh hantu wanita itu supaya mengaku. Lukanya sangat parah!”

“Dipaksa mengaku? Disuruh mergaku apa?” Pada saat itu tiba-tiba satu benda putih melayang ke arah Ie It Hoan. Sukma Tidak Buyar itu segera menyambarnya. Ternyata adalah gumpalan kertas putih. Entah siapa yang menyambitnya.

“Adik Hoan, apa itu?” “Hanya segumpal kertas!” “Coba kau buka apa isinya?”

Ie It Hoan lalu membuka gulungan kertas itu. Setelah dilihatnya tiba-tiba ia berseru girang!

“Toako, kau tertolong!” “Bagaimana sebetulnya?”

“Berita dari Orang Menebus Dosa!”“ “Lagi-lagi dia! Apa yang ditulisnya?”

“Racun 'kuku terbang' juga dapat disembuhkan dengan obat pemunah racun dedaunan itu!”

Semangat Hui Kiam mendadak terbangun, tetapi badannya sangat letih. Perbuatan Orang Menebus Dosa itu, benar-benar sangat membingungkan.

Perjalanannya sendiri kali ini memang benar dengan membawa obat pemunah racun itu, yang sedianya hendak diberikan kepada Tee-hong untuk mengobati matanya. Tidak disangka Tee-hong sudah mati teraniaya, sehingga pengharapannya tersia-sia. Dan tak disangka lagi bahwa obat itu untuk kedua kalinya telah menolong dirinya sendiri. Apakah itu memang kehendak takdir?

Ia lalu mengeluarkan satu botol kecil dari dalam sakunya, mengeluarkan isinya yang ternyata hanya tinggal dua butir saja. Dengan tanpa ayal lagi, obat itu lalu dimakannya.

le It Hoan menyaksikan dengan hati terharu.

Obat pil itu setelah masuk ke dalam perut, di luar dugaan akibatnya tidak sedemikian hebat seperti dahulu, hanya hawa panas yang terasa dalam perutnya. Sebentar saja, rasa lemas dan sakit di sekujur badannya sudah lenyap sama sekali, begitupun kekuatan tenaganya, juga sudah pulih seperti biasa. Ia segera melompat bangun dan berkata:

“Adik Hoan, tolong kau ambilkan pedangku, untuk menjaga kedatangan Hiat-ie Nio cu lagi, aku hendak tengok Orang Tua Tiada Turunan!”

Sehabis berkata, ia lalu bergerak menuju ke kamar seberang. Pelita dalam kamar sudah dinyalakan kembali oleh le It Hoan.

Ketika Hui Kiam berada di dalam kamar segera dapat lihat tubuh Orang Tua Tiada Turunan yang penuh darah, rebah terlentang di pembaringan, matanya suram, seolah-olah orang tua biasa yang sedang menderita sakit payah.

“Lociacpwe, aku adalah Hui-Kiam!”

Mata orang tua itu berputaran sejenak, lalu berkata dengan suara dalam:

“Aku tahu!”

“Bagaimana cianpwee bisa terjatuh dalam tangan hantu wanita itu?”

“Ah, panjang ceritanya. Urusan perkumpulan kaum pengemis apakah kau sudah tahu?”

“Ya, justru karena itu boanpwee melakukan perjalanan ke kota Lam-yang!”

“Tidak perlu pergi lagi!” “Mengapa?”

“Perkumpulan pengemis itu sudah masuk menjadi anggota perkumpulan Bulan Emas. Sesepuhnya Co-Hoa Si Kuping Sakti sudah diangkat sebagai ‘lengcu' bendera kuning ”

Hui-Kiam merasa gusar dan kecewa. Katanya: “Sungguh tidak disangka, perkumpulan kaum pengemis yang begitu besar pengaruhnya, ternyata sudah bertekuk lutut karena tidak tahan tekanan.”

“Siaohiap, itu diambil karena terpaksa!” “Terpaksa?”

“Anak murid perkumpulan kaum pengemis tersebar dari dimana- mana. Apabila Persekutuan Bulan Emas melancarkan aksi pembalasan, kau pikir, bagaimana akibatnya?”

“Maka ia terpaksa masuk menjadi anggota.”

“Masih ada pangcu Ma Bun Pok sekarang dijadikan sebagai barang tanggunggan, anak murid kaum pengemis tidak berani menggunakan jiwa pangcunya sebagai barang taruhan!”

“Oh! Melihat gelagat, nampaknya Bulan Emas tidak lama lagi benar-benar akan menguasai dunia rimba persilatan.”

“Belum tentu, ini harus dilihat bagaimana perkembangan selanjutnya. Semua partai persilatan yang masuk menjadi anggota persekutuan itu, semata-mata karena tak sanggup menerima tekanan yang hebat sekali, sehingga terpaksa menurut kehendaknya, bukan dengan suka rela, apabila ada kesempatan mereka bisa memberontak memukul ke dalam.”

Hui Kiam menganggukkan kepala.

“Marilah kita bicarakan urusan yang menyangkut diri locianpwe!”

Saat itu Ie It Hoan masuk ke kamar danmemberikan pedang kepada Hui Kiam kemudian berdiri di luar kamar untuk melakukan penjagaan.

Orang Tua Tiada Turunan memejamkan matanya, kemudian baru membuka suaranya:

“Apakah kau masih ingat, maksudku pergi kepada perkumpulan kaum pengemis?”

“Ingat, terima kasih atas bantuan locianpwe.” “Setelah aku tiba di perkumpulan kaum pengemis, aku lalu memberitahukan maksud kedatanganku. Permintaanku segera diterima baik oleh ketuanya, Si Kuping Sakti Co Hoa serta merta mengumpulkan anak buah yang pilihan, mereka lalu diberi petunjuk untuk mengadakan penyelidikan yang luas. Suma Suan sejak menghilang, memang betul sehingga sekarang belum ketahuan jejaknya….”

“Suma Suan sudah binasa di tangan Orang Berbaju Lila, dengan menggunakan akal keji.”

“Oh! Sudah berapa lama terjadinya perkara ini?” “Beberapa bulan berselang!”

“Ya!” Selanjutnya, Hui Kiam menceritakan bagaimana Orang Berbaju Lila itu menggunakan dirinya memancing penghuni Loteng Merah ke dalam gua batu di atas gunung Keng-san dan kemudian gunung diledakkan.

Urusan di dalam dunia memang apa saja bisa terjadi perobahan tanpa diduga-duga.

“Harap locianpwee ceritakan lagi.”

“Tentang tusuk konde emas kepala burung Hong seperti apa yang kau katakan oleh hantu wanita untuk membunuh ibumu, iblis wanita itu adalah ”

Baru berkata sampai di situ, matanya tiba-tiba membalik, badannya kejang, mulutnya mengeluarkan rintihan.

Hui Kiam sebetulnya masih ingin bertanya, tetapi karena melihat keadaan orang tua itu yang sangat menyedihkan, terpaksa membatalkan maksudnya, lalu berpaling dan berkata kepada Ie It Hoan:

“Adik Hoan.”

Belum menunggu Hui Kiam melanjutkan ucapannya, sudah dipotong oleh le It Hoan: “Toako, ia terluka parah di bagian dalamnya. Tadi ia pernah mengatakan sedikit kepadamu, Si Iblis Gajah yang kini menjadi anggota pelindung hukum tertinggi Persekutuan Bulan Emas, adalah orang bertanggung jawab dalam perbuatannya yang menumpas perkumpulan kaum pengemis. Locianpwee ini, sebagai tetamu perkumpulan kaum pengemis itu, juga menjadi sasaran serangan mereka. Meskipun sudah berhasil ditolong oleh Orang Berbaju Lila, tetapi ia sudah terluka parah di dalamnya. Demi untuk merawat luka-lukanya dan menghindarkan kejaran musuh, barulah berdiam di rumah penginapan dekat rimba ini, dianggapnya dapat mengelabui musuh-musuhnya, tidak diduga telah diikuti oleh Hiat-ie Nio-cu. Hantu itu dengan menggunakan cara siksaan yang paling kejam supaya mendapat keterangan dari mulutnya ”

“Apakah Hiat-ie Nio-cu juga menjadi anggota Persekutuan Bulan Emas?”

“Bukan!”

“Kalau begitu ia paksa orang memberi keterangan apa?”

“Ia menyuruh locianpwe menyerahkan tusuk konde emas berkepala burung Hong, selain itu juga menerangkan asal-usulnya tusuk konde itu!”

Dengan mata beringas dan suara gemetar Hui Kiam berkata:

“la suruh Orang Tiada Turunan locianpwee menyerahkan tusuk konde emas?”

“Ya!”

“Kalau begitu Hiat-ie Nio-cu ini adalah musuh besarku yang membinasakan ibu?”

“Mungkin dugaanmu itu tidak keliru, ia mengaku bahwa tusuk konde emas itu adalah barang kepunyaannya!”

“Ow! Aku tadi salah sudah melepaskannya.” “Di kemudian hari pasti bisa bertemu lagi.” Badan Hui-Kiam gemetar, karena musuh besar yang membunuh ibunya sudah diketahui jejaknya, untuk menuntut balas hanya tinggal soal waktu saja. Apa yang tidak dimengerti ialah apa sebabnya Hiat-ie Nio-cu minta tusuk konde emas berkepala burung hong itu kepada Orang Tua Tiada Turunan? Apakah Orang Tua Tiada Turunan sudah menerangkan kepadanya peristiwa yang menyedihkan itu? Ataukah ia sudah mengetahui maksud Orang Tua Tiada Turunan yang minta kepada perkumpulan kaum pengemis menyelidiki dirinya? Sayang….

Sambil mengerutkan keningnya Hui-Kiam berkata:

“Adik Hoan, locianpwe nampaknya sangat menderita, sekarang bagaimana?”

“Aku sudah memberikan kepadanya beberapa buah pil yang sangat mujarab untuk mengobati lukanya, sayang belum kelihatan hasilnya. Hantu wanita itu menggunakan siksaan menotok jalan darahnya, pengobatan cara biasa sama sekali tidak ada gunanya.”

“Tetapi biar bagaimanapun juga kita harus berusaha menyembuhkan luka-lukanya. Aku hendak menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk membantu.”

“Tidak boleh. Lukanya sudah sampai ke bagian ulu hatinya, apabila kemasukan tenaga dari luar, itu berarti mempercepat kematiannya.”

“Kalau begitu ia sudah tidak dapat ditolong lagi?“

Sambil menggaruk-garuk kepalanya Ie It Hoan menjawab: “Soalnya memang sangat penting, aku sedang mencari daya

upaya.”

“Jikalau ia ada apa-apa atas dirinya, akan membuat penyesalan besar bagiku untuk selama-lamanya.”

“Ow! Andaikata. ”

“Andaikata apa?” “Andaikata pada saat ini Orang Merebus Dosa ada di sini, ia mungkin dapat menolongnya.“

“Apakah kau kira Orang Menebus Dosa bisa datang kemari?” “Seharusnya bisa datang ”

“Mengapa?”

“Menolong orang harus menolong sebenar-benarnya. Sudah satu kali ia menolong diri Orang Tua Tiada Turunan locianpwee, seharusnya ada awal pasti ada akhirnya. Selain dari pada itu, karena ia sudah menunjukkan diri di tempat ini, bahkan sudah memberitahukan kepada kita caranya mengobati atau menyembuhkan racun dari kuku terbang, tidak mungkin ia tidak mengetahui urusan ini.”

“Sukar untuk dikatakan.” “Bagaimana kita harus bertindak?”

“Kita harus segera balik, harap dapat menjumpai seseorang, jikalau kita menjumpai orang itu segera tertolong.”

“Berjumpa dengan orang bagaimana?”

“Orang itu tidak suka orang lain mengetahui asal-usul dirinya.” “Lagi-lagi teka-teki. Jikalau tidak berhasil menjumpainya?” “Ini ”

Hati Hui Kiam sangat cemas, katanya tanpa banyak pikir lagi: “Tidak bisa, apapun yang harus terjadi aku harus menolongnya.” Ie It Hoan dengan suara sedih ia berkata:

“Toako, hal ini tidak bisa dipaksa.”

Pada saat itu bibir Orang Tua Tiada Turunan tiba-tiba nampak bergerak. Dengan suara sangat perlahan ia berkata:

“Hui Kiam, dengarlah kataku. ”

“Cianpwee hendak pesan apa?” “Hiat-ie Niocu .... adalah musuh besarmu yang membunuh ibumu!”

Hui Kiam tidak dapat menguasai perasaannya yang bergolak hebat. Ia berkata:

“Bagaimana harus menyembuhkan luka locianpwee?” “Barangkali... sudah tidak tertolong. Kau... dengarlah, aku telah

mendapat keterangan anak murid perkumpulan kaum pengemis

yang diutus untuk mencari keterangan, bahwa hantu wanita itu kali ini mengunjukkan diri di dunia Kang-ouw lagi setelah dengan senjata tusuk konde emas membinasakan Manusia Romantis Teragung, aku segera menduga pasti bahwa dia adalah orang kau cari itu. Selagi aku menerima utusan untuk mengabarkan kepadamu, sangat kebetulan perkataanku kepada orang itu dapat didengar oleh hantu wanita itu. Demikian, ia... tidak mau melepaskan aku, bahkan sudah membunuh mati orang yang kusuruh membawa berita itu. Ia... sudah mengaku sebagai pemilik tusuk konde emas itu. ”

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa menyindir yang jelas keluar dari mulut Hiat-ie Nio cu.

Hantu wanita itu setelah pergi balik kembali.

le It Hoan lebih dulu lompat melesat ke atas genteng. Hui Kiam segera menyusul sambil menghunus pedangnya.

Setelah berada di atas genteng, ternyata tidak tampak bayangan seorangpun juga.

le It Hoan sekonyong-konyong tersadar lalu berkata: “Celaka, lekas balik ke kamar.”

Hui Kiam juga agaknya ia mendapat firasat jelek, dengan cepat ia melompat turun naik ke kamar. Tiba di dalam kamar, ia berdiri ternganga, ternyata tempat tidur sudah kosong, Orang Tiada Turunan sudah tidak ada di tempatnya. Ia lalu berkata sambil menggentak kaki.

“Sungguh licin hantu wanita itu.” Dengan suara cemas le It Hoan berkata:

“Toako, Orang Tua Tiada Turunan loocianpwe sudah terjatuh lagi di tangan hantu wanita itu, akibatnya kita tidak dapat bayangkan. Mari kita ”

“Kita kejar secara berpencaran, kau pikir bagaimana?” “Baik, kita akan berjumpa di bawah bukit Bu-ling-san.” “Kit ajangan ayal lagi, mari kita berangkat sekarang juga!”

Karena kedua orang itu tidak membawa barang, setelah balik ke kamarnya membawa barang yang diperlukan dan meninggalkan uang kamar dan makan, lalu keluar melalui lubang jendela ke barat.

Tindakan yang mirip dengan tindakan membabi buta itu, mereka sudah tahu tidak ada gunanya tetapi toh tidak boleh tidak harus dilakukan sekedar menuruti kehendak hati mereka.

Terutama Hui Kiam yang begitu sedih dan marah, karena dengan jatuhnya lagi Orang Tua Tiada Turunan itu ke tangan Hiat-ie Nio-cu, sudah tentu tidak terhindar dari kematian, dan semua itu boleh dikatakan karena urusannya, maka hal ini benar-benar merupakan suatu pukulan hebat bagi dirinya.

Hiat-ie Nio-cu minta tusuk konde emas berkepala burung hong kepada Orang Tua Tiada Turunan, sedangkan tusuk konde itu berada di badan Hui Kiam, apakah maksud dan tujuan hantu wanita itu?

“Musuh yang membunuh ibunya ini sudah merupakan satu musuh terbesar, dan sekarang ditambah lagi dengan perbuatan terhadap Orang Tua Tiada Turunan, ini berarti menumpuk dosanya itu.”

Semula ia salah menduga bahwa Penghuni Loteng Merah adalah pembunuh ibunya, tidak disangka bahwa dugaannya itu keliru semua. Urusan di dalam dunia kadang-kadang memang tidak dapat ditafsir dengan pikiran biasa, entah apa maksud dan tujuan Hiat-ie Nio-cu membunuh ibu Hui Kiam? Sambil memikirkan persoalan itu, Hui Kiam sudah lari sejarak sepuluh pal, tetapi tidak menemukan bayangan seorangpun juga. Dengan berkepandaian seperti Hiat-ie Nio-cu itu, sesungguhnya juga sulit dikejarnya, apalagi tidak diketahui arahnya, dengan mengejar secara membabi-buta tentu akan membuang tenaga cuma-cuma.

Ia kini benar-benar baru merasakan bahwa seorang sekalipun berkepandaian sangat tinggi jika tidak mempunyai pengalaman dunia Kang-ouw yang cukup luas, boleh dikata hanya berhasil separoh saja. Andaikata kejadian ini, andainya sendiri mempunyai pengalaman luas, tatkala le It Hoan keluar kamar pergi memeriksa, ia sendiri seharusnya jangan bergerak untuk menjaga keselamatan orang yang sakit, dengan demikian Hiat-ie Nio-cu pasti tidak akan berhasil.

Tetapi menyesal sudah tidak ada gunanya. Jiwa Orang Tua Tiada Turunan telah berkorban karena keteledoran.

Ia hanya mengharap supaya orang tua itu suka menerangkan di mana adanya tusuk konde emas itu agar Hiat-ie Nio-cu bisa mencari dirinya. Akan tetapi, pengharapan ini tipis sekali, Orang Tua Tiada Turunan yang belum tahu Hui Kiam sudah berhasil memiliki kepandaian seluruhnya dari kitab Thian Gee Po-kip, pasti tidak akan mau mengaku memberi keterangannya, dengan demikian sudah dapat diduga orang tua itu pasti akan disiksa sampai mati.

Semakin berpikir Hui-Kiam semakin merasa tidak enak terhadap orang tua itu. Peristiwa itu merupakan suatu siksaan batin baginya. Ia menyesal tidak bisa menjumpai hantu wanita. Jikalau tidak, ia pasti akan dicincangnya.

Selagi berjalan, dari jauh tiba-tiba terdengar beberapa kali suara jeritan ngeri.

Dengan cepat ia menghentikan kakinya, matanya mencari ke tempat sekelilingnya.

Terdengar pula suara jeritan ngeri di selang dengan suara saling bentak, jelaslah sudah bahwa di tempat dekat itu ada terjadi pertempuran. Dengan mengikuti arah datangnya suara, ia bergerak bagaikan binatang kelelawar yang terbang di waktu malam.

Kira-kira setengah pal, di depan matanya tampak sebuah kuil tua.

Suara jeritan dan bentakan itu keluar dari dalam kuil itu.

Siapakah yang bertempur di tempat dan waktu seperti ini?

Sesosok bayangan orang tiba-tiba lari menghampiri dengan badan terhuyung-huyung.

Hui Kiam segera membentaknya:

“Diam jangan bergerak!”

Bayangan orang itu dengan badan sempoyongan menghentikan kakinya. Ternyata adalah satu padri muda yang sekujur badannya penuh darah.

Hui Kiam setelah menatap padri itu sejenak, lalu bertanya: “Siao suhu, apakah yang telah terjadi?”

Dengan sinar mata terheran-heran padri muda itu mengawasi Hui Kiam, kemudian berkata dengan suara gemetar:

“Tuan orang gagah dari mana?”

Nada suara pertanyaan padri itu, sedikitpun tidak mirip dengan orang yang menyucikan diri. Hui Kiam mengerutkan alisnya, sementara dalam hatinya berpikir. Karena pada saat itu ia memakai kedok muka Ie It Hoan yang mungkin sudah pernah dipakainya, maka ia akan meminjam nama julukan adik angkatnya itu.

“Aku adalah Sukma Tidak Buyar!” demikian jawabnya dingin. Padri muda itu nampaknya terkejut, lalu berkata:

“Tuan Sukma Tidak Buyar?” “Sedikitpun tidak salah.”

“Ada keperluan apa datang kemari?”

“Eh! Bukankah di sini terjadi pertempuran?” “Apakah kedatangan tuan karena mendengar suara pertempuran?”

“Tepat!”

“Kalau begitu silahkan balik.” “Mengapa?”

Badan padri muda itu terhuyung-huyung.   Ia tidak menjawab, tapi segera roboh di tanah.

Hui Kiam memeriksa, ternyata nyawanya sudah melayang.

Sejenak ia nampak sangsi, kemudian melesat ke pintu kuil.

Di depan pintu kuil terdapat enam buah bangkai manusia, semua mati dalam keadaan remuk batok kepalanya, keadaan itu sangat mengerikan.

Di dalam pintu kembali terdapat tiga buah bangkai yang kematiannya lebih mengerikan, semua bangkai itu dalam keadaan hancur, perutnya diduet sehingga isi perutnya berserakan di tanah.

Hui Kiam melihat sejenak, lalu masuk terus. Di situ terdapat pekarangan yang cukup luas, di dalam pekarangan itu terdapat pula bangkai manusia yang jumlahnya lebih dari lima puluh jiwa.

“Orang yang beribadah mengapa mengalami nasib demikian?”

Selagi Hui Kiam masih dalam keadaan terheran-heran, matanya dapat melihat sesuatu. Ia lalu mengangkat kepala. Di pintu tengah yang menuju ke pekarangan, ada berdiri sesosok bayangan orang yang bentuknya langsing. Dapat diduga bahwa bayangan itu adalah bayangan seorang wanita. Apakah wanita itulah yang melakukan kejahatannya?

Ia lalu menghampirinya. Ketika ia mengetahui siapa adanya wanita itu, hampir saja ia menjerit, karena wanita itu bukan lain daripada Siu-Bi, murid kepala Penghuni Loteng Merah.

Saat itu Siu Bi sedang berdiri sambil melintangkan pedangnya.

Wajahnya menunjukkan kegusarannya. Tatkala Penghuni Loteng Merah terjebak dan mati di dalam goa, pengikutnya yang mengikuti hanya Siu Bi seorang yang terhindar dari bahaya. Hui Kiam segera menegurnya:

“Nona Siu.”

Siu Bi nampaknya terperanjat. Dengan perasaan terheran-heran ia bertanya:

“Tuan siapa?”

Hui Kiam kini baru sadar bahwa dirinya sudah ganti muka, maka jawabnya dengan nada suara dingin:

“Sukma Tidak Buyar.“

“Tuan adakah Sukma Tidak Buyar?” “Benar!”

“Bagaimana tuan tahu aku seorang she Siu?”

“Aku mendapat gelar Sukma Tidak Buyar, apakah nona kira soal itu kudapatkan dengan mudah? Kau adalah murid kepala Penghuni Loteng merah, betul tidak?”

Siu Bi semakin terkejut, ia berkata dengan suara gemetar: “Dengan maksud apa tuan datang kemari?”

“Apakah orang-orang beribadat ini kau yang membunuh?” “Sebagian besar benar!”

“Kalau begitu, orang yang melakukan perbuatan ini tidak cuma kau seorang saja?”

“Juga tidak banyak, hanya dua orang saja!”

Pada saat itu, dari ruangan dalam terdengar pula suara jeritan ngeri. Di waktu malam yang sunyi dan keadaan yang menyeramkan itu, suara itu kedengarannya semakin menyeramkan.

“Aku harap nona suka menerangkan apa sebabnya melakukan pembunuhan ini?”

“Kalau aku tidak suka?” “Siapa yang membunuh harus dibunuhnya. Nona tentunya mengerti faIsafat ini. ”

“Eh! Suara tuan kedengarannya tidak asing!”

Hui Kiam tertawa dingin. Sejak ia masuk ke dalam kuil itu, ia tidak merubah suaranya, maka Siu Bi yang mendengarkannya itu tidak merasa asing lagi.

“Perbuatan nona ini, yang nona lakukan terhadap orang yang beribadah agaknya terlalu kejam.”

“Orang beribadah? Hem! Sukma Tidak Buyar, kau nyatakan seorang yang mengetahui segala-galanya sehingga namaku dan asal-usulku juga kau ketahui, tetapi mengapa tidak mengetahui asal-usul kawanan pandri palsu ini?”

“Apa? Padri palsu?”

“Kau tentunya tidak akan dapat menduga kuil Thian-ong-gie ini tempat apa?”

“Tempat apa?”

“Cabang ke-empat Persekutuan Bulan Emas. Kau tentunya tidak menduga, bukan?”

Hui Kiam benar-benar terperanjat. Ia sesungguhnya tidak menduga bahwa kuil itu digunakan sebagai sarang kaum jahat. Kalau begitu kawanan padri yang dibunuh itu, seharusnya adalah anak buah Persekutuan Bulan Emas. Persekutuan yang bercita-cita hendak menguasai dunia, dengan secara ganas menundukkan berbagai partay persilatan dan membunuh orang-orang kuat yang tidak sepaham dengannya. Semua sepak terjangnya itu telah menimbulkan kemarahan orang-orang rimba persilatan.

“Benarkah katamu ini?”

“Percaya atau tidak, terserah kepadamu!” “Tetapi apakah maksud nona bertindak begitu?”

“Tentang ini tuan agaknya tidak perlu bertanya. ” “Jikalau aku pasti ingin mengetahui?” “Perlu apa tuan mencari mati?” “Mencari mati? Mustahil!”

“Aku peringatkan kau sebaiknya kau lekas menarik diri dari sini.” “Jikalau tidak?”

“Barangkali tidak bisa berlalu dari sini lagi!”

Hui Kiam pada saat itu sudah tentu tidak takut lagi kepada Siu Bi. Sekali lagi ia memperdengarkan suara tertawa dingin, lalu berkata:

“Apakah yang berada di dalam ruangan belakang itu adalah kawau nona?”

“Benar!”

“Siapa?”

“Apakah tuan benar-benar hendak mencari mati? “Anggaplah begitu!”

“Jikalau aku sebutkan nama orang itu, kematianmu sudahlah pasti!”

“Aku tidak percaya, siapakah orang itu?” “Hiat-ie Nio-cu!”

Hui Kiam seketika itu darahnya seperti mendidih, nafsunya membunuh berkobar, ia sungguh tidak menyangka di tempat itu akan menemukan orang yang sedang dicari.

“Hiat-ie Nio cu?” “Hmmm!”

“Bagus sekali, aku justru sedang mencarinya!”

Setelah mengucapkan demikian ia bergerak hendak menerjang. “Jangan bergerak!” demikian Siu Bi coba mencegah. Tetapi Hui

Kiam tidak ambil pusing. Sebentar kemudian ia sudah berada di dekat pintu pertengahan. Siu Bi segera menggerakkan pedangnya menyerang diri Hui Kiam sambil berseru: “Kau cari mampus!”

Hui Kiam mengibaskan tangannya untuk mengelakkan serangan tersebut, sehingga Siu Bi terdorong mundur. Dengan menggunakan ilmu gerakan kaki yang luar biasa, Hui Kiam berhasil melalui Siu Bi dan terus masuk ke pekarangannya.

Siu Bi setelah menenangkan pikirannya, lalu mengejarnya sambil menghunus pedang.

Dengan cepat Hui Kiam menghunus pedang To-liong Kiam, dengan perlahan menangkis serangan Siu Bi.

Tangkisan itu ternyata hebat sekali, Siu Bi mundur sampai empat langkah baru bisa berdiri tegak, pedang di tangannya hampir terlepas jatuh.

Di dalam ruangan itu kembali terdapat beberapa puluh bangkai manusia.

Seorang padri tua berjubah warna abu-abu terikat di sebuah tiang, mulutnya mengeluarkan suara rintihan.   Di depan padri tua itu berdiri orang yang sedang dicari, ialah Hiat-ie Nio-cu si Hantu Wanita Baju Berdarah.

Dengan sinar mata dingin Hui Kiam mengawasi Siu Bi sejenak lalu berkata kepadanya:

“Aku tidak ingin membunuh kau, menyingkirlah agak jauh sedikit!”

Sehabis berkata ia segera melesat menghampiri hantu wanita itu. Hiat-ie Nio cu sekonyong-konyong membalikkan badannya.

Dengan sinar mata terheran-heran ia menegurnya: “Kau?”

“Benar, kau tidak menduga tentunya?”

“Ha ha ha, memang benar tidak kusangka malam-malam kau hendak mengantarkan jiwa!” Dengan mata beringas Hui Kiam menatap wajah hantu wanita.

Sepatah demi sepatah ia bertanya:

“Hiat ie Nio-cu, kau perlakukan bagaimana Orang Tua Tiada Turunan?”

“Apa? Apakah anjing tua itu sudah mampus?”

“Aku bertanya kepadamu, bagaimana kau perlakukan dirinya?” “Omong kosong, bukankah ia berada di kamar rumah

penginapan?”

“Hem, sungguh tidak kusangka seorang kenamaan seperti kau juga meniru kelakuan manusia golongan rendah. Kau telah menggunakan akal tipu memancing keluar kita ”

“Aku tidak mengerti apakah katamu?” “Kau tidak berani mengakui?”

“Bocah, apa kau sedang mengoceh? Aku justru ingin minta keterangan tentang dirinya darimu.”

Hati Hui Kiam tergerak. Nampaknya Orang Tua Tiada Turunan tidak dibawa kabur oleh hantu wanita ini. Tetapi siapakah yang melakukan perbuatan itu? Sedang suara tertawa dingin yang memancing keluar ia sendiri dan Hui Kiam, jelas adalah suaranya hantu wanita ini.

“Tunggu, aku hendak membereskan urusan dengan kepala gundul ini.”

Sehabis berkata, ia lalu berpaling dan berkata kepada padri tua yang terikat di tiang itu.

“Anjing tua, kau mau menjawab atau tidak? Di mana orang berbaju lila itu sekarang berada?”

Kembali Hui Kiam dikejutkan oleh pertanyaan hantu wanita itu. Hantu wanita itu ternyata sedang mencari orang berbaju lila dengan minta keterangan dari padri tua itu. Orang berbaju lila itu juga merupakan salah satu musuhnya, yang sedang dicarinya. Nampaknya padri tua itu tentu adalah ketua cabang Persekutuan Bulan Emas. Apakah hubungannya dengan orang berbaju lila?

Saat itu terdengar suara jeritan ngeri, kedua daun telinga padri tua itu telah ditarik sehingga putus oleh Hiat-ie Nio-cu.

“Jawab!”

“Aku tidak tahu!”

Tangan kanan Hiat-ie Nio cu menusuk ke ketiak kiri padri tua itu, hingga padri tua itu kembali mengeluarkan suara jeritan ngeri, kemudian menundukkan kepalanya, entah ia sudah mati atau masih hidup. Perbuatan hantu wanita itu benar-benar memang sangat kejam, seluruh penghuni dalam kuil yang sudah dijadikan cabang Bulan Emas itu, nampaknya sudah tidak ada yang hidup.

Hui Kiam agaknya sudah tidak sabar lagi.   Dengan suara bengis ia berkata:

“Hiat-ie Nio-cu, aku tidak sabar menunggu lebih lama lagi   ”

Hiat-ie Nio cu berpaling dan berkata kepadanya: “Aku hendak mengantar kau jalan lebih dulu.”

“Kau sedang mimpi. Kuberitahukan kepadamu, malam ini kau sudah tidak mendapat kesempatan lagi!”

“Bocah, kau jangan berlagak sombong, aku benar-benar tidak tahu dengan cara bagaimana memperlakukan dirimu untuk melampiaskan rasa benciku.”

“Sama-sama! Tetapi ada beberapa hal kau harus bereskan sebelum kau mati.”

“Kau benar-benar mencari mampus!”

Setelah membentak demikian dengan kecepatan bagaikan kilat, tangan Hiat ie Nio-cu menyambar kepala Hui-Kiam.

Hui-Kiam sudah bertekad tidak akan memberikan kesempatan kepada musuhnya itu. Ia sudah siap dengan pedang To-liong Kiamnya, maka sebagai hantu wanita itu sedang bertindak ia sudah menggerakkan pedangnya. Karena ilmu pedang Thian Gee Kiam Hoat merupakan suatu ilmu pedang yang sangat istimewa, maka gerakan serangan yang dilakukannya itu hebat sekali.

Hiat-ie Nio cu dapat merasakan betapa hebatnya serangan itu, maka ia buru-buru lompat mundur.

Hui Kiam mengejar, ia tarik kembali pedangnya dan berkata: “Dengan suaru cara yang sangat kejam kau perlakukan Orang

Tiada Turunan, apakah maksudmu semata-mata hendak mencari sebuah tusuk konde berkepala burung Hong saja?”

Mula-mula Hiat ie Nio-cu tercengang mendengar pertanyaan itu, kemudian baru menjawab:

“Benar!” “Mengapa?”

“Apakah itu perlu aku memberitahukan kepadamu?” “Perlu sekali!”

“Sebabnya?”

“Aku dapat menjawabmu di mana adanya tusuk konde emas yang kau maksudkan itu, akan tetapi kau harus menjawab dulu beberapa pertanyaannya.”

“Kau... tahu, di mana tusuk konde emas itu berada?” “Tahu!”

“Aku juga ingin bertanya kepadamu ”

“Jawablah dulu pertanyaanku dulu!” “Katakanlah!”

“Apakah tusuk konde emas berkepala burung Hong itu senjata rahasiamu yang tunggal?”

“Bukan senjata rahasia, melainkan senjata terampuh!”

“Sepuluh tahun berselang, apakah kau pernah menggunakan senjata itu untuk membunuh seorang wanita?” “Selama duapuluh tahun lamanya baru kali ini aku mengunjukkan diri lagi di dunia Kang-ouw!”

“Apa selama dua puluh tahun itu kau tidak pernah melakukan pembunuhan?”

“Tidak!”

“Kau mempunyai turunan?” “Ada!”

“Juga pandai menggunakan senjata tusuk konde itu?”

“Tusuk konde emas berkepala burung Hong ini semuanya ada dua buah. Sebuah berada di badanku, yang lain kuberikan kepada anak perempuanku yang sulung. ”

Darah Hui Kiam bergolak, ia bertanya dengan suara gemetar: “Ia bernama siapa?”

“Pek-leng-lie Khong Yang Hong!” “Pek-leng-lie Khong Yang Hong?” “Benar!”

“Apakah ia mempunyai tanda konde semacam itu?” “Benar!”

“Di mana ia sekarang berada?”

Hiat-ie Nio cu tiba-tiba melompat merghampiri.

“Inilah justru yang hendak kutanya kepadamu!” demikian katanya.

Sementara itu Siu Bi tiba-tiba menyela:

“Aku tahu kau siapa, pantas suaramu tadi aku merasa tidak asing lagi.”

Hui Kiam melirik kepadanya sejenak, lalu berkata:

“Nona Siu, kau seharusnya sudah harus mengenalnya baru benar.” Pada saat itu beberapa bayangan orang tiba-tiba menerobos masuk. Ketika Hui Kiam mengetahui kedatangan orang-orang itu, terperanjatlah ia sehingga mundur empat-lima langkah, sekujur badannya merasa kaku.

Orang yang baru datang itu, bukan lain daripada kekasihnya yang tercantik Tong-hong Hui Bun.   Di belakangnya si cantik jelita itu diikuti oleh empat pelayan wanitanya.

Munculnya Tong-hong Hui Bun pada waktu dan tempat seperti ini, sesungguhnya di luar dugaannya.

Pikirannya yang tenang sekian lama tergoncang pula, hampir ia tidak mampu menguasai dirinya sendiri.

Cinta yang sudah begitu mendalam, kenangan indah di masa yang lampau, kembali menggoda hatinya lagi.

Ia tidak mengetahui betapa dalam cintanya kepada si cantik itu, tetapi ia tahu untuk memutuskan percintaan itu tidaklah mungkin dapat dilakukan.

Nasetat yang diterimanya dari banyak orang pada saat bertemu muka dengan perempuan yang mempunyai kecantikan luar biasa itu, seketika telah lenyap seluruhnya.

Usia yang sudah lanjut, asal-usulnya yang sangat misterius, sepak terjangnya yang mendekati kekejaman dan desas-desus mengenai pernilaian martabatnya, semua ini, telah tidak dihiraukan seluruhnya. Cinta, telah menolak segala-galanya, juga menggoyahkan hasratnya yang pernah diputuskannya. Untung, pada saat itu mukanya tidak mudah dikenali, sehingga ia masih mendapat kesempatan untuk berpikir bagaimana harus bertindak.

“Apakah maksud kedatangan Tong hong Kui Bun?”

Perempuan cantik bagaikan bidadari itu, dengan sinar matanya yang tajam menyapu keadaan di situ sejenak. Ketika sinar matanya menatap wajah Hui-Kiam, pemuda itu merasakan kebingungan, hampir tidak bisa bernapas tetapi itu hanya sejenak saja, mata si cantik itu sudah beralih di atas diri Hiat-ie Nio-cu. Hiat-ie Nio-cu agaknya terpesona, mungkin selama hidupnya ia belum pernah menyaksikan wajah sedemikia cantik.

Tong-hong Hui-Bun membuka mulut, suara yang amat merdu tetapi mengandung hawa nafsu pembunuhan melontar keluar:

“Hiat-ie Nio-cu ganas sekali perbuatanmu.”

Hantu wanita itu masih tetap dengan sikapnya yang galak.

Dengan suara seram ia membalas bertanya: “Kau siapa?”

“Kau jangan perdulikan aku siapa, aku hanya ingin bertanya kepadamu, bagaimana kau harus menyelesaikan hutang darah ini?”

“Kalau begitu, kau adalah orang dari Persekutuan Bulan Emas?” “Boleh dikata begitu!”

Hui Kiam yang berdiri di samping, hatinya berdebar keras, nampaknya perempuan cantik ini erat sekali hubungannya dengan Persekutuan Bulan Emas. Persekutuan itu merupakan musuh bersama orang-orang rimba persilatan, juga merupakan musuh besarnya sendiri. Bagaimana ia harus menghadapi perkembangan selanjutnya?”

Sementara itu Tong-hong Hui Bun sudah berkata lagi:

“Apakah kau sengaja hendak bermusuhan dengan Persekutuan Bulan Emas?”

“Tidak perduli kawan atau lawan, aku bertindak selalu menuruti pikiran sendiri.”

“Mengapa kau melakukan pembunuhan ini?”

“Kawanan padri yang tidak punya mata ini telah melindungi musuh besarku seorang berbaju lila.”

“Apa? Orang Berbaju Lila musuh besarmu?” “Benar.”

“Bagaimana kau tahu kawanan padri itu melindungi Orang Berbaju Lila?” “Ketika aku mengejar Orang Berbaju Lila, orang itu sudah masuk ke dalam kuil ini, dan kemudian menghilang.”

Tong hong Hui Bun setelah berpikir sejenak berkata pula sambil tertawa dingin:

“Kau menjadi algojonya Orang Berbaju Lila.” “Apa artinya?”

“Orang berbaju lila itu dengan Persekutuan Bulan Emas bagaikan api dengan air. Ia sengaja berbuat demikian, hendak meminjam tanganmu, membikin hancur tangan ini. Tetapi bagaimanapun juga, pembunuhan terhadap orang-orang cabang ini kau harus tanggung jawab sepenuhnya.”

“Bagaimana caranya bertanggung jawab?” “Hutang darah bayar darah.”

“Hahaha. Suruh aku si nenek membayar hutang darah, ini merupakan satu berita aneh!”

“Bukan berita aneh, kenyataan nanti akan membuktikan perkataanku ini!”

“Aku sesungguhnya tidak tega turun tangan terhadap seorang yang mempunyai kecantikan seperti kau ini ”

“Memaafkan musuh, itu berarti berlaku kejam terhadap diri sendiri.”

“Sungguh tajam lidahmu!”

“Dua orang ini apakah muridmu?”

“Apa, bocah ini bukan orang Persekutuan Bulan Emas?” tanya Hiat-ie Nio-cu sambil menunjuk Hui Kiam.

Mata Tong-hong Hui Bun dialihkan ke wajah Hui Kiam. Katanya dengan suara hambar:

“Sahabat dari golongan mana?”

Hati Hui Kiam seperti mau melompat keluar. Sambil mengatupkan gigi, ia menjawab dengan suara yang sudah dirubah: '“Sukma Tidak Buyar!”

Tong hong Hui Bun mengamat-amati Hui Kiam dengan seksama.

Katanya dengan tenang:

“Sahabat adalah Sukma Tidak Buyar yang selalu berobah-robah muka itu?”

“Benar!” jawab Hui Kiam sambil menganggukkan kepala, selanjutnya ia bertanya: “Dalam Persekutuan Bulan Emas nyonya berkedudukan apa?”

“Tentang ini ... biarlah akan merupakan satu teka-teki bagimu untuk selama-lamanya.”

“Hutang sahabat dengan Bulan Emas juga tidak sedikit, biarlah malam ini kita perhitungkan sekalian.”

---ooo0dw0ooo---